PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL

advertisement
1
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL THINK
PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL
BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X-MS4
SMA NEGERI 1 LAWANG, MALANG
Rara Prasetyan1, Noviar Darkuni2, Triastono Imam P.3
Universitas Negeri Malang
E-mail:[email protected]
ABSTRAK: Penelitian ini mengakomodasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK ) yang
terdiri dari 2 siklus yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar
siswa kelas X-MS4 SMA Negeri 1 Lawang, Malang melalui penerapan pendekatan
kontekstual dengan model pembelajaran TPS (Think Pair Share). Pengambilan data
dilaksanakan tanggal 04-25 Maret 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran TPS dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa.
Kata Kunci: Pendekatan Kontekstual, Model TPS, Motivasi, Hasil Belajar.
ABSTRACT: This study is 2 cycle action research which aims to increase
motivation and learning outcomes of students of class X-MS4 SMA Negeri 1
Lawang, Malang, through the application of a contextual approach to the learning
TPS model. Data retrieval is implemented 04-25 March 2014. The result showed
that the application of the contextual approach to the learning TPS model can
increase motivation and learning outcomes of Biology students.
Keywords: Contextual approach, TPS Model, Motivation, and Learning Outcome.
Biologi sering dianggap sebagai suatu pelajaran yang sulit dipahami oleh
siswa karena sering dianggap sebagai hafalan, sehingga siswa merasa jenuh yang
akhirnya akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep. Penggunaan model
pembelajaran yang diterapkan oleh guru menjadi faktor utama yang
mempengaruhi proses belajar mengajar dan minat belajar siswa. Kondisi siswa
saat menerima pelajaran juga akan sangat mempengaruhi hasil belajar yang akan
dicapai. Kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum 2013. SMA Negeri
1 Lawang sudah menerapkan kurikulum 2013 tersebut. Kurikulum 2013
menerapkan Scientific Approach atau lima pendekatan sains yaitu mengamati,
menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pendekatan
Scientific Approach erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual karena dalam
pendekatan Scientific Approach mencakup pendekatan kontekstual yang di
dalamnya terdapat 7 prinsip yang juga berkaitan dengan langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Scientific Approach.
Ketuntasan kelas di SMA Negeri 1 Lawang dikatakan berhasil apabila 85%
atau lebih siswa berhasil melebihi atau sama dengan nilai KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal). KKM di SMA Negeri 1 Lawang adalah 78. Pada saat Ujian
Akhir Semester (UAS) pada semester 1, hasil belajar biologi untuk mata pelajaran
biologi pada kelas X-MS4 SMA Negeri 1 Lawang hanya 11 siswa yang lulus, itu
artinya hanya 36,6 % siswa yang mendapatkan skor diatas KKM. Ketidaktuntasan
hasil belajar siswa ini disebabkan oleh banyak faktor. Faktor tersebut bisa faktor
internal maupun eksternal.
2
Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran di kelas X-MS4 SMA
Negeri 1 Lawang sewaktu PPL bulan Oktober-November 2013 yang dilakukan
seminggu sekali yaitu tanggal 22 dan 29 Oktober serta 5 dan 12 November
melalui hasil pengamatan di kelas dan wawancara dengan guru pelajaran Biologi
kelas X-MS4, diketahui bahwa siswa kurang bersemangat ketika kegiatan pembelajaran biologi berlangsung. Ketika guru memberikan penjelasan tentang materi
yang diajarkan dengan menggunakan metode ceramah, hampir 40% siswa terlihat
malas dan tidak memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru. Kebanyakan
siswa sibuk sendiri dengan kegiatannya, minat untuk belajar Biologi kurang
karena sekitar 20% siswa mengobrol dengan teman sebangku. Konsentrasi belajar
siswa juga kurang karena 13 % siswa mengerjakan tugas pelajaran lain. Perhatian
siswa juga kurang karena 23 % siswa sibuk bermain HP, dan bahkan 4% siswa
ada yang tertidur. Respon dari siswa sangat kurang dalam hal tanya jawab dengan
guru atau siswa yang lain. Ketika guru memberikan pertanyaan tampak hanya dua
siswa saja yang aktif menjawab pertanyaan guru.
Melalui pembelajaran kontekstual hasil belajar diharapkan lebih bermakna
bagi siswa. Pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan bukan hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Nurhadi,
2004:4). Upaya lain untuk memperbaiki hasil belajar siswa yaitu dengan pembelajaran kooperatif (pembelajaran dengan kerja sama). Pada pembelajaran
kooperatif, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berani berpikir,
menyelesaikan suatu permasalahan, mengembangkan keterampilan kerja sama,
dan kolaborasi serta tanya jawab.
Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah TPS (Think Pair Share).
Model pembelajaran TPS memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir dan
merespon serta saling membantu satu sama lain. Pada pembelajaran kooperatif
model TPS terdapat saling ketergantungan positif siswa karena mereka belajar
dari satu sama lain, menjunjung akuntabilitas individu karena mau tidak mau
mereka harus saling berbagi ide, interaksi antar siswa cukup tinggi karena siswa
akan terlibat secara aktif dalam berkomunikasi antar sesama (sengaja berbicara
atau mendengarkan), memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan semua siswa
mempunyai kesempatan berpartisipasi (dalam hal mengemukakan pendapat dan
merespon/ menanggapi suatu permasalahan) di kelas (Susilo, 2005:3).
Model pembelajaran kooperatif TPS dengan menggunakan pendekatan
kontekstual merupakan suatu kesatuan yang dimungkinkan bisa meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa X-MS4 SMA Negeri 1 Lawang, khususnya untuk
materi Plantae. Plantae merupakan materi yang membahas mengenai bagaimana
cara menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam
divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan peranannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi tumbuhan mulai
dari tumbuhan lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan berbiji terbuka serta tumbuhan berbiji tertutup. Pada pendekatan kontekstual, siswa belajar secara
langsung dengan obyek yang akan dipelajari. Pengetahuan yang didapat siswa
diharapkan akan lebih masuk ke dalam memorinya karena siswa mengamati
obyek pembelajarannya secara langsung.
3
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang
mengadopsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa melalui pendekatan
kontekstual dengan model pembelajaran TPS. Penelitian dilaksakan di SMA
Negeri 1 Lawang dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X-MS4 yang
berjumlah 30 siswa dengan rincian 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.
Penelitian dilaksanakan selama dua siklus, siklus I terdiri dari dua kali pertemuan
dan siklus II dua kali pertemuan. Data penelitian ini berupa keterlaksanaan
pembelajaran oleh guru dan siswa, motivasi belajar siswa yang dinilai dengan
menggunakan lembar observasi dan hasil belajar siswa ranah kognitif berdasarkan
hasil tes setiap akhir siklus.
HASIL
Motivasi Belajar Siswa
Perbandingan motivasi belajar klasikal siswa pada siklus I dan siklus II
dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Perbandingan Motivasi Belajar Klasikal Siswa pada Siklus I dan
Siklus II
Indikator
motivasi
Minat
Perhatian
Konsentrasi
Ketekunan
MBK keseluruhan
MBKI (%)
(Siklus I)
53,33
53,33
74,44
65,56
61,66
MBKII (%)
(Siklus II)
77,78
72,22
88,89
85,56
81,11
Peningkatan (%)
24,45
18,89
14,45
20,00
19,45
Data tentang motivasi belajar siswa diperoleh dari lembar observasi
motivasi yang menunjukkan bahwa persentase minat siswa meningkat sebesar
24,45 % yakni 53,33 % pada siklus I menjadi 77,78 % pada siklus II. Perhatian
siswa yang awalnya 53,33 % pada siklus I meningkat 18,89 % yang menjadi
72,22 % pada siklus II. Konsentrasi siswa meningkat 14,45 % yakni dari 74,44 %
dari siklus I menjadi 88,89 % pada siklus II. Ketekunan siswa dalam belajar juga
meningkat dari siklus I sebesar 65,56 % menjadi 85,56 % pada siklus II, yang
artinya mengalami peningkatan sebesar 20,00 %.
Hasil Belajar Kognitif
Perbandingan Hasil Belajar Klasikal Siswa pada Siklus I dan Siklus II dapat
dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Perbandingan Hasil Belajar Klasikal Siswa pada Siklus I dan Siklus II
HBKI (%)
HBKII (%)
Peningkatan (%)
53,33
86,67
33,34
Hasil belajar siswa pada ranah kognitif diperoleh dari hasil tes yang
dilakukan pada setiap akhir siklus. Dari data tersebut diketahui bahwa hasil
belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 33,34 % yakni dari 53,33 % pada
siklus I menjadi 86,67 % pada siklus II.
4
PEMBAHASAN
A. Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Model TPS Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar siswa pada penelitian ini ditinjau dari empat aspek, empat
aspek tersebut adalah minat, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Motivasi
belajar siswa dapat diciptakan diri sendiri, sebagaimana mereka merasa
membutuhkan belajar. Dimyati (2006) menyatakan bahwa, siswa belajar karena
didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan,
perhatian, kemauan, atau cita-cita. Selain itu kekuatan mental tersebut dapat
tergolong rendah, atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebutkan
kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi
belajar.
Berdasarkan hasil analisis data dapat dijelaskan bahwa motivasi siswa
pada waktu prasiklus sangat rendah. Pada siklus I motivasi klasikal siswa sebesar
61,66 %. Pada siklus I ini motivasi siswa dinyatakan cukup baik, namun belum
semua indikator motivasi dikategorikan cukup baik, indikator minat dan
perhatian masih kurang. Pada siklus II motivasi siswa mengalami peningkatan
sebesar 19,45 %, pada siklus II ini MBK keseluruhan adalah 81,11 %. Penerapan
pembelajaran model TPS dengan pendekatan kontekstual juga dapat membuat
siswa lebih aktif saat legiatan pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat dilihat
dengan bertambahnya jumlah siswa yang sering aktif bertanya maupun
mengemukakan pendapat.
Pada penelitian ini indikator motivasi meliputi empat aspek yaitu minat,
perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Sejalan dengan pernyataan Prayitno (1989)
yang menyebutkan motivasi dalam belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah
laku siswa yang menyangkut minat, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan yang
diuraikan sebagai berikut.
1. Minat
Slameto (2003) mengatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan
rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat
pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
minat. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa penerapan
pembelajaran model TPS dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan
minat siswa, yaitu pada siklus I sebesar 53,33 % dengan kategori kurang
meningkat pada siklus II menjadi 77,78 % dengan kategori baik. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan minat siswa dalam proses pembelajaran sebesar
24,45 %. Adanya peningkatan persentase minat siswa tersebut dapat dikatakan
bahwa penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran TPS dapat
meningkatkan minat siswa dalam belajar Biologi.
2. Perhatian
Gagne dan Barliner dalam Dimyati dan Mudjiono (2006) mengatakan
bahwa perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran.
Tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi aktivitas belajar. Perhatian terhadap
pelajaran akan timbul pada diri siswa apabila bahan pelajaran tersebut sesuai
dengan kebutuhan. Prayitno juga mengatakan bahwa motivasi hendaklah
dianggap sebagai sesuatu yang terkait dengan kebutuhan. Slameto (2003)
mengatakan bahwa perhatian timbul secara langsung, karena pada siswa sudah
ada kesadaran akan tujuan dan keguunaan mata pelajaran yang merangsang siswa
5
berfikir, maupun menghubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran
model TPS dengan pendekatan kontekstual dapat meiningkatkan perhatian siswa,
yaitu pada siklus I sebesar 53,33 % dengan kategori cukup meningkat pada siklus
II menjadi 72,22 % dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan perhatian siswa dalam proses pembelajaran sebesar 18,89 %.
Peingkatan persentase tersebut dapat menunjukkan bahwa perhatian siswa mampu
meningkat setelah diterapkannya pendekatan kontekstual dengan model
pembelajaran TPS. Siswa menjadi lebih memperhatikan jalannya proses
pembelajaran karena dengan diterapkannya model pembelajaran tersebut siswa
dituntut untuk bisa bekerja secara individu maupun kelompok.
3. Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan
menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dalam belajar,
konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap suatu matapelajaran dengan
menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran
(Slameto, 2003). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006), konsentrasi seorang
siswa sangat dipengaruhi leh kondisi jasmani dan rohani siswa. Seorang siswa
yang merasa sakit, lapar, sedih, atau marah akan terganggu konsentrasi belajarnya.
Sebaliknya, seorang siswa yang sedang senang atau gembira dan sehat akan
mudah untuk memusatkan perhatiannya. Berdasarkan hasil analisis data dapat
diketahui bahwa penerapan model pembelajaran TPS dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan konsentrasi siswa, yaitu pada siklus I sebesar
74,44 % dengan kategor baik meningkat pada siklus II menjadi 88,89 % dengan
kategori yang sangat baik. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi
siswa dalam proses pembelajaran sebesar 14,45 %. Siswa yang awalnya kurang
mampu berkonsentrasi saat proses pembelajaran menjadi lebih berkonsentrasi
dengan diterapkannya pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran TPS
saat pembelajaran. Hal ini dapat dilihatpada saat jalannya kegiatan belajar
mengajar berlangsung yang menunjukkan siswa bisa fokus dan berkonsentrasi
terhadap masalah yang dibahas saat pembelajaran.
4. Ketekunan
Prayitno (1989) yang menyatakan bahwa seorang siswa dikatakan
memiliki motivasi kalau ia memperlihatkan tingkat keterlibatan dan ketekunan
yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas belajarnya.
Adanya minat, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan akan menyebabkan
siswa aktif dalam belajar, siswa akan lebih senang belajar, siswa tidak bosan
dalam belajar, siswa lebih terpusat untuk proses pembelajaran, menumbuhkan
rasa percaya diri siswa karena siswa dapat mengetahui kekurangan pada diri
sendiri dan lebih memahami materi yang akan diberikan guru, siswa merasa
tertantang dalam mengikuti pembelajaran karena tiap siswa dituntut untuk
bertanggung jawab terhadap pertanyaan yang diberikan, siswa aktif dalam
berdiskusi dan dapat menumbuhkan minat siswa untuk mempelajari materi yang
diajarkan. Menurut Prayitno (1989), siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi
dalam belajar akan menampakkan minat besar dan perhatian penuh terhadap
tugas-tugas belajarnya, sebaliknya pada siswa yang memiliki motivasi belajar
rendah akan menampakkan keengganan dan berusaha menghindar dari kegiatan
belajar. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa penerapan
pembelajaran model TPS dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan
6
ketekunan siswa, yaitu pada siklus I sebesar 65,56 % dengan kategori cukup
meingkat pada siklus II menjadi 85,56 % dengan kategori sangat baik. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan ketekunan siswa dalam proses pembelajaran
sebesar 20 %. Adanya peningkatan persentase ketekunan siswa tersebut artinya
dapat dikatakan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dengan model
pembelajaran TPS dapat meningkatkan ketekunan siswa dalam belajar Biologi.
Hal ini bisa dilihat dari masing-masing siswa yang mampu mengerjakan tugasnya
dengan baik saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa saat bekerja secara
individu maupun kelompok sudah menunjukkan ketekunannya dengan cara
menyelesaikan semua tugasnya dengan baik.
B.
Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Model TPS Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan analisis hasil belajar pada Tabel 5.1 diketahui bahwa
ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I sebesar 61,66 % meningkat
menjadi 81,11 % pada siklus II. Peningkatan hasil belajar ini juga dapat dilihat
dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 75,3 menjadi 80,8 pada siklus
II. Hal ini berarti dengan adanya penerapan pendekatan kontekstual dengan model
pembelajaran TPS mampu meningkatkan hasil belajar Biologi siswa.
Peningkatan hasil belajar siswa kelas X-MS4 SMA Negeri 1 Lawang
setelah penerapan TPS dengan pendekatan kontekstual sejalan dengan
peningkatan motivasi siswa. Hal ini dikarenakan dalam TPS dengan pendekatan
kontekstual siswa disajikan pemicu masalah dari dunia nyata baik dari lingkungan
yang ada di sekitar mereka maupun lingkungan sekolah. Kegiatan belajar yang
melibatkan siswa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa akan
merasa ingin lebih tahu. Seperti pernyataan yang dinyatakan oleh Sardiman
(2009) yang menyatakan bahwa, memberikan motivasi kepada siswa, berarti
menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu. Hal yang ingin dilakukan dalam
hal ini adalah kegiatan untuk belajar.
Keinginan untuk belajar akan mempengaruhi peningkatan hasil belajar
siswa. Pengaruh motivasi terhadap hasil belajar dikemukakan oleh Winkel (1989)
dalam Sutrisnawati (2006) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi
perbedaan hasil belajar adalah motivasi belajar. Oleh karena itu peningkatan
motivasi belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran TPS
mampu memberikan wadah dari berbagai aspek pembelajaran. Prinsip-prinsip
dalam pembelajaran kontekstual juga mampu dilaksanakan dengan baik. Dalam
tahap pengamatan, siswa bisa mengkonstruksi sendiri pemikirannya dan bisa
menemukan jawaban atas soal-soal yang diberikan oleh guru pada lembar
pengamatan. Tahapan TPS itu sendiri juga memberikan tempat yang luas bagi
siswa untuk bertanya dan belajar bersama-sama. Pembelajaran kooperatif sangat
bagus untuk dilakukan karena banyak manfaat positif dari pembelajaran tersebut.
Refleksi juga dilakukan di akhir pembelajaran guna untuk memperbaiki apa saja
yang bisa diperbaiki di pertemuan yang akan datang karena pada tahap ini guru
dan siswa bersama-sama merefleksi pembelajaran yang dilakukan hari ini.
Authentic Assesment juga dilakukan, misalnya saja saat tes guru membawakan
bahan amatan yang harus diamati siswa secara langsung untuk menjawab soal tes.
Hasil belajar adalah suatu produk akhir dari sebuah proses pembelajaran.
Apabila kita ingin hasil belajar meningkat, proses pembelajaran harus diperbaiki.
7
Dalam suatu proses pembelajaran tersebut siswa memerlukan motivasi dalam
belajar. Saat motivasi siswa meningkat, siswa tersebut akan lebih memperbaiki
diri pada saat proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran siswa bisa menjalankan perannya dengan baik, siswa tersebut akan lebih bersemangat dalam
mengikuti pembelajaran. Hal tersebut pasti akan berpengaruh terhadap pencapaian
akhir siswa, yakni meningkatnya hasil belajar.
PENUTUP
Motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-MS4 SMA Negeri 1
Lawang, Malang mampu meningkat dengan diterapkannya pendekatan
kontekstual dengan model pembelajaran TPS.
Berdasarkan kesimpulan dikemukakan saran-saran sebagai berikut; a)
penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran TPS dapat
digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa; b) Guru
harus lebih memperhatikan masing-masing tahapan dalam sintaks pembelajaran
menggunakan pendekatan kontekstual dengan model TPS agar kegiatan
pembelajaran benar-benar sesuai dengan sintaks; c) Pemberian penghargaan
kepada siswa sebaiknya perlu dilakukan agar motivasi dan hasil belajar yang
dicapai lebih meningkat; d) Pada saat tes akhir siklus guru sebaiknya membawa
bahan amatan untuk tes agar semua prinsip kontekstual yang didalamnya
termasuk penilaian otentik (Authentic Assesment) dapat terpenuhi.
DAFTAR RUJUKAN
Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati dan Moedjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Sardiman, A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bhineka
Cipta.
Susilo, H. 2005. Pelatihan PBMP (Perberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) Pada
Pembelajaran Dengan Tema Pemberdayaan Kemampuan Berpikir Selama
Pembelajaran Sebagai Langkah Strategi Implementasi Kurikulum 2004 Bagi
Para Guru dan Mahasiswa Sains Biologi dalam RUKK VA. Malang 2005.
Sutrisnawati, A. 2006. Penerapan PBL (Problem Based Learning) pada matapelajaran
SAINS untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa III SD
Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang.
Jurusan Biologi FMIPA UM.
Winkel. 1989. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.
Download