bab iii gambaran umum lokasi penelitian

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Berbicara tentang keterlibatan perempuan dalam politik pembuatan kebijakan
di parlemen, tidak lepas dari konstruksi sosial perempuan dalam relasi masyarakat.
Konstruksi sosial yang selama ini diteguhkan dalam benak msyarakat adalah konsepkonsep stereotipe tentang perempuan di berbagai sektor, termasuk dalam sektor
politik.Konstruksi sosial yang kebanyakan yang merupakan stereotipe tentang
perempuan, akhirnya ditarik kedunia publik termasuk dalam dunia politik, bahwa
perempuan “tidak layak” memimpin karena perempuan tidak rasional dan lebih
mengndalkan emosinya. (Sumber :Nina Mussolini : Jurnal perempuan63 : 14)
Konsturksi
sosial
yang
semacam
ini
membuat
perempuan
tidak
memungkinkan untuk berperan secara aktif dalam politik.Peran laki-laki sangat
domonan bahkan sangat kuat, sehingga kalaupun ada perempuan yang muncul dalam
karier politik, ini bukan kehebatan perempuannya, tetapi merupakan kebaikan dari
lelaki kepada istri yang berkiprah dalam politik harus mendapatkan izin dari
suaminya.Ini merupakan salah satu konstruksi sosial yang sangat melemahkan posisi
politik perempuan.
Dari segi budaya dalam masyarakat tertentu, perempuan di tempatkan posisi
tidak seimbang dengan lakai-laki. Di masyarakat kita, sejak kecil sudah adanya dibuat
kebebasan apa yang di buat anak laki-laki, sedangkan untuk anak perempuan hanya
boleh tinggal dirumah, mengurusi rumah tangga, menjaga, memilihara, mendidik dan
membesarkan anak. Ini merupakan proses sosialisasi yang menegaskan bahwa posisi
perempuan adalah lemah.
Pandangan yang bersumber dari steriotipe dan keyakinan gender inilah yang
akhirnya banyak menghasilkan ketimpangan gender dibeberapa sektor. Sedangkan
kesempatan perempuan untuk masuk dalam bidang dunia politik sebenarnya ada dan
memungkinkan, namum berbagai factor itu jarang sekali terjadi. Factor pertama
adalah pandangan steriotipe bahwa dunia politik adalah dunia publik, dunia yang
keras, dunia yang memerlukan akal, dunia yang penuh debat, dan dunia yang
membutuhkan pikiran-pikiran yang cerdas, yang kesemuanya itu diasumsikan milik
laki-laki bukan milik perempuan.
Perempuan tidak pantas berpolitik karena perempuan adalah “penghuni”
dapur atau domestik, tidak bisa berpikir rasional dan, kurang berani mengmbil rasiko,
yang kesemuanya itu sudah menjadi steriotipe perempuan.Aibatnya, bailk perempuan
atau laki-laki masyarakat secara umum, sudah menarik kutub yang berbeda bahwa
dunia publik milik laki-laki dan dunia domestik milik perempuan. Factor lain adalah
ketimpangan-ketimpangan gender yang berakar dari sosial budaya mengakibatkan
jumlah perempuan yang mencapai jenjang pendidikan tinggi lebih sedikit
dibandingkan laki-laki. Akibatnya perempuan tidak mempunyai pengetahuan
memadai dan tidak bisa berkiprah di dunia politik. Selain itu pemahaman, politk di
kalangan kaum perempuan juga sangat rendah, mengingat dunia politik adalah “milik
laki-laki”, maka msyarakat memandang tidak perlu memberi pemahaman politik pada
kaum perempuan.Sumber : MB. Wijaksana :Jurnal perempuan63 : 96
Kesadaran politik bagi perempuan juga telah melahirkan kongres perempuan
Indonesia yang pertama, di Yogyakarta pada 22 desember 1928. Kongres perempuan
yang selalu dilaksanakan setiap 22 desember sampai tahun 1943, sebenarnya adalah
kongres yang menghasilkan
keputusan-keputusan politik penting bagi bangsa
Indonesia.
Kini zaman sudah mulai berkembang, dengan berasumsi demokrasi dalam
suatu negara.Inti demokrasi adalah upaya menjamin kesetaraan politik bagi seluruh
warga negara, tak terkecuali kelompok marjinal dan kaum minoritas.Maka
diciptakanlah ide-ide untuk memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk
mendapatkan hak politik dalam pengambilan kebijakan dalam parlemen, terutama
gagasan yang muncul adalah keterlibatan perempuan dalam politik. Dibuatlah suatu
trobasan yang baru setelah konvensi PBB tentang penghapusan segala bentuk
diskriminasi terhadap perempuan (The Un Convention on the Elimination of all
Forms of Diskriminatian agsinst Women – CEDAW) disahkan dan diterima oleh
dewan umum PBB pada tahun 1997. Hal ini lebih dari dua puluh tahun sejak
ditandatangani konvensi itu, lebih dari 170 negara meratifikasinya. Konvensi itu
dapat menjadi dasar untuk menwujudkan kesetaraan perempuan dan laki-laki dengan
terbuka akses dan peluang yang sama di arena politik dan kehidupan publik, termasuk
hak untuk memberi suara dan mencalonkan diri. Pemerintah telah bertekad untuk
menempuh semua langkah yang
diperlukan, termasuk
legislasi dan tindakan-
tindakan kusus yang bersipat sementara, sehingga kaum perempuan nanti bisa
menikmati seluruh hak dan kemardekaan hak asasi mereka.
Negara Indonesia meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak-Hak Politik
Perempuan.Hal ini sudah dimulai pada masa pemrintahan Orde Baru pada tahun
1968.CEDAW
diratifikasi
pada
tahun
1984.Kemudian
pemrintah
Habibie
meratifikasi Protokol Opsi yang merupakan bagian dari konvensi perempuan.
Belakangan ini pemerintah indonesia bahkan telah menganbil beberapa langkah untuk
melakukan berbagai tindakan yang ditujukan untuk menyempurnakan yang
menyangkut jender. Terbitlah suatu trobosan baru yang dibuat oleh pemrintah yang
disusun dalam sebuah konstitusi bagi perempuan untuk mendapatkan hak politiknya.
Muncullah undang Seperti UU no.10 tahun 2008 tentang pemilu legislatif dan UU
no.2 tahun 2008 tentang partai politik ( parpol ) bahwasanya kuota keterlibatan
perempuan dalam dunia politik adalah sebesar 30 %, terutama untuk duduk di
parlemen. Bahkan dalam pasal 8 UU no.10 tahun 2008,disebutkan adanya pernyataan
sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan parpol tingkat
pusat sebagai salah satu persyaratan parpol untuk dapat menjadi peserta pemilu, dan
pasal 53 UU menyatakan bahwa daftar bakal calon peserta pemilu juga harus memuat
sedikitnya 30% keterwakilan perempuan. Kesempatan ini jelas adalah peluang emas,
setelah sekian lama perempuan ada dalam baying-bayang superioritas politik
dikotomi perempuan perempuan versus laki-laki.
Namun pada kenyaatannya secara statistik keterlibatan perempuan dalam
politik masih belum mengembirakan. Hal itu dapat dicermati dari hasil pemilu dari
tahun ke tahun.Pran perempuan dibidang politik, termasuk puncak pimpinan penentu
kebijakan di pemerintahan baik tingkat pusat maupun daerah, desa sekalipun, masih
didominasi kaum pria.Bukan bearti tokoh politik perempuan dan pimpinan
perempuan dibidang pemrintahan tidak ada, namun jumlahnya sangat jauh dari
harapan dan tidak berimbang dengan jumlah pimpinan politik laki-laki. Hal ini
ditunjukkan dengan hasil pemilu secara nasional dari tahun 1955-2004 dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
TABEL 1.1
Jumlah Anggota DPR RI, Berdasrkan Jenis Kelamin Hasil Pemilu 19552004
Periode
1950-1955
1955-1950
1956-1959
1971-1977
1977-1982
1982-1987
1987-1992
1992-1997
1997-1999
1999-2004
2004-2009
Jumlah
Anggota DPR
Perempuan
Laki-laki
Jumlah
9
17
25
36
29
39
65
62
54
46
63
Jumlah
236
272
488
460
460
460
500
500
500
500
487
245
289
513
496
489
499
565
562
554
546
550
Sumber : jurnal catatan politik perempuan
Tabel diatas menunjukkan bahwasanya minimnya jumlah perempun sebagai
penentu kebijakan politik, menyebabkan keputusan mengenai kebijakan umum yang
mempengaruhi kesejajaran perempuan masih dipegang oleh laki-laki, yang sebagian
besar menganggap bahwa politik tidak cocok untuk perempuan, sehingga perempuan
manut saja apa keputusan politik yang di ambil oleh laki-laki, karena laki-laki yang
tahu dan layak berpolitik.
Hal ini juga di ikuti pemilihan umum DPRD Kkota Tanjungpinang tahun
2014 menunjukkan ketidak seimbangan jumlah anggota di parlemen Kota
Tanjungpinang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat pada table di
bawah in:
Table 1.2
Jumlah Anggota DPR Kota Tanjungpinang, Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil Pemilu 2014
Periode
Jumlah Anggota
Perempuan
Laki-laki
DPR
Jumlah
Jumlah
30
8
22
2014-20019
Sumber : htt//.www.kpu.go.id
Berdasarkan tabel diatas, dari hasil pemilu 9 april 2014 yang lalu, pesta
demokrasi
dimulai
dengan
pemilihan
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Kota
Tanjungpinang. Yang menghasilkan delapan (8) keterwakilan perempuan sebagai
mewakili masyarakat Kota Tanjungpinang sekaligus mewakili dari kaumnya
sendiri.hal ini bisa dikatakan dengan jumlah yang tidak seimbang dibandingkan
dengan kaum laki-laki.
Delapan orang perwakilan perempuan yang terlibat secara lansung di lembaga
legeslatif, tidak hanya sekedar memenuhi amanat konstitusi yang telah diberikan
kesempatan oleh negara, bukan hanya sekedar pelengkap di parlemen.Tapi
bagaimana mereka bisa membuat terobosan-terobosan barau bagi kaumnya
sendiri.Inilah yang menjadi tantangan yang terbesar bagi kaum perempuan untuk
mendapat hak politiknya di lembaga legeslatif. Kebijakan yang akan muncul, akan
menentukan nasib kaum perempuan di kota tanjungpinang, serta berperen secara aktif
di lembaga legeslatif. Hal inilah yang menjadi ketertarikan peneliti untuk meneliti
lebih lanjutdengan judul : “KETERLIBATAN PEREMPUAN di PARLEMEN
KOTA TANJUNGPINANG DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN”
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan, maka perumusan
masalah pada peneliian ini adalah :
1) Bagaimana keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusandi
parlemen Kota Tanjungpinang ?
1.3
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan saran untuk merealisasikan aktifitas yang
akandilaksanakan suatu penelitian, sehingga diperlukan perumusan yang jelas dan
tepat. Karena tujuan berfungsi sebagai acuan fokok terhadap masalah yang diteliti,
maka tujuan merupakan bagianpentingdalam penelitian, sehingga dengan tujuan yang
ada, akan dapat bekerja secara terarah baik dalam mencari data-data sampai
pemecahan masalahnya. Tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di
parlemen Kota Tanjungpinang.
1.3.2.Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian adalah :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan informasi bagi
para mahasiswa, serta pemerhati masalah-masalah kaum perempuan di dalam
dunia politik.
2. Penelitian ini diharapkan pula dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak
dan para pengambil kebijakan, agar kedapanya tdak ada lagi termaljinalnya
perempuan dalam politik, beserta ada kesetaraan perempuan dengan laki-laki
untuk mendapatkan hak yang sama dalam perpolitikan.
1.4
KONSEP OPERASIONAL
Definisi konsep merupakan hal yang paling penting dalam penelitian yang
dipakai untuk menggambarkan secara abstrak keadaan kelompok atau individu yang
menjadi pusat perhatian ilmu social. Adapun definisi konsep yang digunakan untuk
mempermudah dalam menjelaskan permaslahan yang diteliti. Mengenai keterlibatan
perempuan di parlemen dalam pengambilan keputusan antara lain keterlibatan dalam
pengambilan keputusan, keterlibatan dalam pelaksanaan, dan evaluasi Di DPRD Kota
Tanjungpinang.
1. Perempuan dalam parlemen
Perempuan dalam parlemen merupakan suatu kelompok atau individu yang
terlibat dalam lembaga legislatif, dalm pembuatan kebijakan dan sekaligus mewakili
dari kaumnya sendiri.
2. DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)
Merupakan lembaga legislatif tingkat daerah baik itu tingkat Provinsi maupun
Kabupaten/Kota.Dalam penelitian ini DPRD yang dimaksud adalah DPRD Kota
Tanjungpinang yakni keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.
a. participant in Decision Making
Merupakan partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah keterlibatan
dalam pembuatan keputusan melalui rancangan pembangunan dan penentuan arah,
strategi dan kebijakan politik yang yang akan diputuskan.
b. Participation in Implementation
merupakanPartisipasi dalam pelaksaan keterlibatan perempuan dalam
memikul beban dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan. Partisipasi
dalam pelaksanaan ini dapat berupa kontribusi.Yaitu perempuan memberikan
dukungan setiap pelaksanaan kegiatan.
c.
Participation in Evalutation
Merupakanketerlibatan dalam evaluasi merupakan keikutsertaan perempuan
dalam parlemen mengawasi dan menilai pelaksanaan hasil-hasil perencanaan.
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Perempuan Dalam Parlemen
Secara angka representasi perempuan di parlemen memang mengalami
peningkatan, tapi secara kualitas pemahaman mengenai tujuan ideal representasi
perempuan di parlemen masih sangat jauh dari harapan.Idealnya representasi
perempuan dapat menjadi lebih signifikan dalam memperjuangkan isu perempuan
dan gender. Lovenduski (2008) menyebutkan bahwa perempuan memiliki paras
ganda, yaitu sebagai representasi deskriptif dan substanstif. Pada representasi
deskriptif, diasumsikan bahwa hanya perempuan yang mampu mewakili kepentingan
perempuan, sehingga seharusnya apa yang direpresentasikan atau diperjuangkan
perempuan sebanding dengan jumlah perempuan yang ada di parlemen. Sementara
secara substantif, tidak mempermasalahkan peningkatan kuantitas perempuan, tidak
harus perempuan yang menjadi perwakilan perempuan.Representasi substantif hanya
fokus pada ide dan tujuan isu perempuan.
Sistem pemrintahan yang terdiri dari Eksekutif, Legeslatif
dan Yudiktif,
namun dalam penelitian ini penulis focus pada permasalahan mengenai Partisipasi
Perempuan dalam parlemen untuk menentukan kebijakan mereka di Legeslatif.
Cohen dan Uphoff (1997:99), dalam Muhaammad Mulyadi (2009:25) dalam
kegiatan pengambilan keputusan di parlemen ada beberapa indicator, indikatornya
adalah sebagai berikut :
1. Participant in Decision Making
partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah keterlibatan aktif dalam
pembuatan keputusan melalui rancangan pembangunan dan penentuan arah, strategi
dan kebijakan politik yang akan diputuskan.
Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan
proses penentuan arah kesejahteraan masyarakat tercermin dari :
a. Keikutsertaan perempuan dalam parlemen dalam menghadiri kegiatan
rapat paripurna untuk kesejahtraan kaum perempuan dan msyarakat.
b. Keikut sertaan perempuan dalam proses atau perumusan pembuatan
keputusan atau kebijakan.
2. Participation in Implementation
Partisipasi dalam pelaksaan merupakan keterlibatan dalam memikul beban
dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan.Partisipasi dalam pelaksanaan ini
dapat berupa kontribusi. Menurut Mubyiarto dan Kartodirjo (1999:37) bahwa :
“kontribusi dapat diketahui dari kesediaan perempuan memberikan dukungan pada
setiap tahap plaksanaan kegiatan sesuaikempuan setiap orang tanpa mengorbankan
diri sendiri”.
Untuk lebih jelasnya kontribusi perempuan ini bentuk keterlibatanya dapat
dilihat dari :
a. Kontribusi pemikiran, tenaga serta keputusan yang pro terhadap kaum
perempuan dan masyarakat.
3. Participation in Evalutation
Keterlibatan dalam evaluasi merupakan keikutsertaan dalam parlemen
mengawasi dan menilai pelaksanaan hasil-hasil perencanaan.Bagai mana kaum
perempuan dan msyarakat dapat memetik hasil dan manfaat pembangunan secara
berkeadalan. Memberikan saran dan kritik terhadap pelaksanaan agar sesuai dengan
apa yang telah di rencanakan dan mencapai hasil yang telah ditetapkan.
Keikutsertaan perempuan dalm bentuk ini dapat dilihat, ketika perempuan
melakukan :
a. Melakukan kritik atau koreksi terhadap jalannya pelaksanaan kegiatan
dengan membrikan saran dan penilayan sebagai bahan pengwasan dan
evaluasi.
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1. Deskripsi Tentang DPRD Kota Tanjungpinang
Tanjungpinang adalah kota tua
yang banyak menyimpan jejeak sejarah
panjang kejayan kesultanan melayau dikawasan semenanjung Malaya. Kini
tanjungpinang merupakan bagian dari propensi Kepulauan riau (Kepri) dengan status
kota otonaom dan tanjungpinang sendiri sekaligus adalah Ibu Kota Propensi
Kepulauan Riau.
Sejarah Tanjungpinang sendiri cukup beragam.Selain pernah menjadi pusat
kendali pemrintahan Belanda di kawasan Kepulauan Riau, Tanjungpinang juga
pernah menjadi Ibu Kota Propensi Kepulauan Riau (Kepri), meski hanya
sebentar.Setelah itu tanjungpinang juga pernah menjadi kabupaten kepri.Awalnya
status Tanjungpinang adalah Kota adminiitratif yang berada di kabupaten Kepri.
Namun seiring dengan rencana pemekaran Kabupaten Kepri yang di ikuti
pembentukan Propensi Kepulauan Riau, maka terjadi sejumlah pemekaran daerah
otonom. Selain Karimun, Bintan, dan Natuna juga saat itu ikut dimekarkan
Tanjungpinang sebagai Kota otonom. Pemekaran ini terjadi setelah pemerintah pusat
mengeluarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2001 tentang pembentukan Kota
otonom di Tanjungpinang pada tanggal 21 juni 2001.
Seiring dengan pembemtukan Kota otonom itu, maka prangkat Pemrintahan
juga
disiapkan. Karena itu, pada Tahun 2002, terbentuklah DPRD Kota
Tanjungpinang pertama kali.Kantor DPRD terletak disebelah selatan utara kecamatan
tanjungpinang Kota kelurahan senggarang. Sejarah terbentuknya DPRD
cukup
panjang mulai dari perjuangan pembentukan Kota Otonom pada tahun 2002, pada
saat itu juga terbentuklah DPRD Kota Tanjungpinang, yang berasal dari anggota
kabupaten Kepri di pindahkan di daerah masing-masing.
Seiring berjalannya waktu, tepat pada tanggal 5 april tahun 2004 terjadi di
gelarnya pemilihan legislatif yang pertama kali di tanjungpinang, yang pada saat itu
hanya 25 kursi yang di perebutkan masing-masing calon legislatif periode 2004-2009,
tercatat satu (1) orang perempuan yang terpilih menjadi anggota DPRD Kota
Tanjungpinang yang pertama kali adalah Maria Tuti Puji Angeti.
Sumber
:http://www.kepribangkit.com/inilah-anggota-dprd-kota-
tanjungpinang-2014-2019.kb
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Keterlibatan perempuan dalam parlemen
di DPRD Kota Tanjungpinang
dalam menjalankan tugas dan fungsinya antara lain ; membuat suatu kebijakan,
penganggaran, dan pengawasan dapat di katakan belum ikut terlibat dengan baik,
karna ada beberapa faktor yang menjadi hambatan mereka, baik itu internal maupun
eksternal.
Dengan demikian, aspirasi yang ingin diutarakn anggota legislatif perempuan
tersebut belum ditanggapi sepenuhnya dengan baik. Faktor tersebut, antara lain mulai
dari kurangnya pengalaman organisasi politik, struktur jabatan yang kurang strategis,
serta kurang percaya diri dalam pengambilan keputusan, itu menyebabkan
ketimpangan dalam menentukan arah politik perempuan, dan partai politik yang tidak
menjalankan fungsinya dengan baik untuk menyiapkan kader-kader perempuan,
dalam rekrumen politik, ditambah kaum laki-laki yang menjabat di anggota legislatif
tidak mendukang, selain itu, kaum perempuan pada umumnya itu sendiri yang tidak
percaya diri mengenai perpolitikan, dan kurang memahami arti pentingnya
partisipasi, sehingga menimbulkan sikap apatis untuk tidak mau ikut dalam kegiatan
politik aktif dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Hanya pada sebatas ikutserta
dalam pengambilan keputusan, mengepaluasi namun dalam pembutan keputusan
secara aktif masih kurang.
BAB VI
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pemikiran stereotype suatu kelompok masyarakat tentang perempuan
beranggapan bahwasanya perempuan adalah penghuni dapaur, kasur dan sumur, kini
sudah mulai biasa di tepis oleh sebagian kalanan permpuan. Hal ini tentunya dilihat
dari delapan (8) orang kaum perempuan yang bisa menembus di sektor publik yang
hari berada menjabat di jabatan anggota DPRD Kota Tanjungpinang Tahun 20142019. Hal yan positif bagi kalangan kaum perempuan yang untuk membungkam
sekelomp[ok orang yang menganggap perempuan itu hanya ditempatkan di sektor
domistik.
Delapan (8) orang kaum perempuan ini sudah bekerja dengan baik, namun
pada dasarnya belum mampu terlibat secara aktif di dalam pengambilan keputusan.
Hal ini dilihat dari setiap keputusan-keputusan yang dibuat kurangnya berpihak pada
kaum perempuan di DPRD Kota Tanjungpinang. kaum perempuan yang berada di
DPRD Kota Tanjungpinang hanya berperan aktif pada proses pengambilan keputusan
dan mengevaluasi setiap pelaksanaan kebijakan yang dilakukan. Namum pada tahap
inplementasi dalam suatu pembuatan keputusan, kaum perempuan masih belum aktif
dengan baik.
2. Saran
Untuk kedepanya anggota legislatif perempuan kususnya di DPRD kota
Tanjungpinang diharapkan mampu menunjukkan eksistensinya di dalam partisipasi
kebijakan politik serta ikut terlibat bertanggung jawab dalam peremcanaan yang telah
diputuskan dan evaluasi dalam setiap keputusan.
Selanjutnya anggota legislatif pada umumnya kaum laki-laki harus saling
bekerja samadan mendukung upaya yang dilakukan anggota legislatif perempuan.
Member kesempata kepada kaum perempuan untuk berekpresi dan mengutamakan
ide maupun gagasan terkait aspirasi perempuan.
Disisi lain partai politik diharapkan mampu menjalankan fungsinya dengan
baik, dalam hal ini fungsi rekrumen politik untuk menyiapkan kader-kader
perempuan yang akan ditempatkan dijabatan publik. Bukan hanya sekedar
pemenuhan kouta 30% keterwakilan perempuan saja, tetapi melalui proses
pendidikan politik dan kaderisasi sesuai aturan yang ada dan untuk kaum perempuan
lainya diharapkan dari yang bersipat apatis menjadi bersipat dinamis, untuk turut
bergabung di kegiatan politik memperjuangkan aspirasi kaum perempuan yang
selama ini dinomorduakan.
Download