perkebunan_perspektif_Vol10211_N-1

advertisement
Perspektif Vol. 10 No. 2 /Des 2011. Hlm 51 - 57
ISSN: 1412-8004
Crotalaria juncea L.: TANAMAN SERAT UNTUK PUPUK ORGANIK DAN
NEMATISIDA NABATI
DJAJADI
Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat
Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute
Jl. Raya Karangploso, Kotak Pos 199 Malang 65152
E-mail: [email protected]
Diterima : 10 Januari 2011; Disetujui : 30 Agustus 2011
ABSTRAK
Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia mempunyai kandungan bahan organik yang tergolong sangat
rendah (kurang dari 1%). Untuk mendukung pengelolaan lahan yang berkelanjutan, maka tanaman
Clotalaria juncea (enceng-enceng) dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk hijau. Enceng-enceng merupakan salah
satu jenis tanaman serat dan mempunyai beberapa
keunggulan sebagai pupuk hijau, yaitu pertumbuhannya cepat, hasil hijauannya tinggi, dan
meningkatkan
kesuburan
tanah.
Pembenaman
tanaman ini pada saat pengolahan tanah dapat
mengkontribusi kadar N total tanah sebesar 52,7 kg
N/ha dan menghasilkan tebu sekitar 61 t/ha pada
penanaman tahun pertama. Pada lahan pertanian yang
didominasi oleh fraksi pasir (86%), penambahan 1,6%
enceng-enceng bersama dengan 10% tanah liat dapat
memperbaiki sifat fisik tanah (peningkatan stabilitas
agregat dan kadar air tanah, penurunan berat isi) sifat
kimia tanah (peningkatan unsur hara N, K, dan C
organik), serta sifat biologi tanah (berkembangnya
populasi bakteri dan jamur tanah). Selain itu tanaman
ini juga dapat menekan populasi nematoda patogen
dalam tanah. Oleh karena itu pemanfaatan tanaman
enceng-enceng sebagai sumber bahan organik dan
nematisida nabati dapat menjadi salah satu komponen
sarana produksi untuk mendukung pertanian yang
bekelanjutan.
Kata kunci : C. juncea, pupuk hijau, nematisida, kesuburan tanah, pertanian berkelanjutan
ABSTRACT
Crotalaria juncea L.: Fiber Crop for Green
Manure and Botanical Nematicide
Most of Indonesian agricultural land has very low (less
than 1% C) soil organic matter content which is
unsuitable to support sustainability agricultural
system. As a fiber crop, Crotalaria juncea (sun hemp)
possesses many characteristics of a green manure, such
as growing vigorously to provide good ground
coverage, performing symbiosis with rhizobium to fix
nitrogen, and being a source of organic matter.
Incorporation of green biomass of sun hemp with soil
in soil tillage contributed to soil N content of 52.7 kg
N/ha and increased cane yield of 61 t/ha at one year
planting time. In agricultural soil dominated by sand
fraction (86%), addition of 1.6% C. juncea mixed with
10% clay soil, improved soil physical characteristics
(increasing aggregate stability, declining bulk density,
and increasing soil water content), soil chemical
characteristics (increasing soil N, P, and C organic
contents), and soil biological characteristics (increasing
bacteria and fungi population). Furthermore, sun hemp
suppressed population of parasitic soil nematode. The
use of sun hemp as a green manure might be an
essential component of sustainable agricultural system.
Key words: C. juncea, green manure, nematicide, soil
fertility, sustainable agriculture.
PENDAHULUAN
Lahan pertanian di Indonesia mempunyai
kandungan bahan organik yang tergolong sangat
rendah (kurang dari 1%). Hal ini sebagai akibat
dari percepatan proses dekomposisi bahan
organik dalam tanah, baik karena suhu daerah
tropis yang tinggi maupun oleh intensitas
pengolahan tanah. Sebagai contoh, lahan
pertanian di Kabupaten Bondowoso mengandung bahan organik antara 0,2-1% (Djajadi et al.,
2008) dan di Kabupaten Bojonegoro yang
sebagian besar (78,2%) lahan tembakau berkadar
bahan organik yang tergolong sangat rendah
(Djajadi et al., 2009a).
Peranan bahan organik dalam tanah sangat
penting untuk mempertahankan kesuburan fisik,
Crotalaria juncea L.: Tanaman Serat Untuk Pupuk Organik dan Nematisida Nabati (DJAJADI)
51
kimia, dan biologi tanah. Kadar bahan organik
tanah antara 2,5-3% dipertimbangkan sebagai
kadar yang optimal untuk menjaga kesuburan
tanah (Bhander et al., 1998). Oleh karena itu
mempertahankan bahan organik tanah dengan
kadar minimal 2,5% merupakan salah satu
strategi pengelolaan lahan pertanian yang
berkelanjutan. Salah satu cara untuk menambah
bahan organik tanah di lahan pertanian adalah
dengan pemanfaatan tanaman Crotalaria juncea L.
(Sun hemp atau enceng-enceng).
Tanaman enceng-enceng berasal dari India,
dan sekarang penanamannya juga menyebar ke
daerah sub-tropis (Cook dand White, 1996). Di
beberapa negara; seperti India, China, Pakistan,
Korea, dan Rusia, tanaman enceng-enceng
dibudidayakan untuk dipanen seratnya (Chee
dan Chen, 1992 ). Di Amerika, serat tanaman ini
sudah dimanfaatkan untuk pembuatan kertas
(Cook dan White, 1996). Selain itu dari beberapa
hasil penelitian diketahui bahwa enceng-enceng
dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan
organik (Bokhtiar et al., 2003; Miyazawa et al.,
2010) dan dapat menekan perkembangan
populasi nematoda parasit (Barker dan
Koenning, 1998; McSorley, 1999; Desaeger dan
Rao, 2001).
Di Indonesia, enceng-enceng sebagai
penghasil serat belum dibudidayakan secara
intensif. Pemanfaatan tanaman ini masih terbatas
sebagai tanaman penutup tanah pada lahanlahan bera dan sebagai pupuk hijau yang
ditambahkan ke lahan. Tujuan tulisan ini
menguraikan peranan tanaman enceng-enceng
sebagai pupuk organik dan nematisida nabati.
Uraian dilengkapi dengan diskripsi tanaman
enceng-enceng, kemudian dilanjutkan dengan
peranannya sebagai penyubur lahan pertanian
dan pengendali populasi nematoda dalam tanah.
cm yang ditumbuhi bintil-bintil akar (Cook dan
White, 1996). Batang berbentuk silindris dan
daun berbentuk runcing sampai lonjong yang
tumbuh melingkar di batang, serta bunga
berwarna kuning. Bentuk biji tanaman ini
menyerupai ginjal dengan ukuran kecil (18.000–
30.000 biji/kg), dan mengandung sekitar 35%
protein. Habitus, bunga, percabangan, serta
perakarannya disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Habitus, bunga, percabangan, dan
akar enceng-enceng
Tanaman enceng-enceng merupakan jenis
tanaman semusim yang dapat tumbuh pada
rentang iklim yang lebar, namun akan tumbuh
baik pada daerah dengan suhu 23-30oC dan curah
hujan 400 mm/th (Chee dan Chen, 1992). Selain
itu tanaman ini tahan terhadap kekeringan dan
beradaptasi baik pada daerah panas dan kering,
tetapi tidak tahan tumbuh pada tanah yang
mudah tergenang dan tanah dengan kadar garam
tinggi.
ENCENG-ENCENG SEBAGAI TANAMAN
PENGHASIL SERAT
Diskripsi Tanaman C. juncea
Crotalaria juncea L. merupakan salah satu
jenis tanaman serat yang tergolong dalam sub
ordo Paplionaceae dan ordo Leguminoceae.
Tanaman ini tergolong tanaman hari pendek
berupa perdu dengan tinggi 1-4 m, dengan
bagian vegetatif ditutupi oleh bulu-bulu pendek,
serta akar tunjang yang panjang dengan sistem
perakaran serabut yang panjangnya sekitar 2,5
52
Sebagai tanaman penghasil serat, encengenceng merupakan spesies tanaman yang paling
penting secara ekonomis di antara tanaman yang
tergolong dalam genus Crotalaria (Morris dan
Kays, 2005). Bahan serat yang dihasilkan
tanaman ini banyak terkandung di bagian
batang. Setelah melalui proses penyeratan
(rating), serat yang dihasilkan banyak digunakan
Volume 10 Nomor 2, Des 2011 : 51 - 57
untuk tali kapal laut, jaring ikan, matras, karung,
dan kertas (Cook dan White, 1996).
Sebagai penghasil serat tanaman yang
dibudidayakan,
enceng-enceng
mempunyai
beberapa keunggulan dari kenaf (Hisbiscus
cannabinus L.), yaitu sebagai tanaman yang lebih
tahan terhadap serangan nematoda dan dapat
berfungsi sebagai penyubur tanah melalui
simbiose dengan Rhizobium yang dapat mengikat
unsur N dari udara. Di Amerika, tanaman serat
ini sudah digunakan sebagai bahan pembuat
kertas (Atchison, 1992). Namun demikian,
tanaman serat yang lebih banyak dibudidayakan
di Indonesia adalah kenaf, yute, dan rami, karena
hasil seratnya lebih kuat.
ENCENG-ENCENG SEBAGAI SUMBER
BAHAN ORGANIK
Kelebihan dari tanaman enceng-enceng
sebagai pupuk hijau adalah pertumbuhannya
cepat, dan hasil hijauannya juga tinggi. Selain itu
tanaman tersebut digolongkan sebagai pupuk
hijau yang berkualitas sangat tinggi karena
daunnya mengandung 407 g/kg C, 33,4 g/kg N,
47,8 g/kg lignin, 22,2 g/kg polyphenol, dan C/N
ratio sebesar 12,2 (Fonte et al., 2009). Oleh karena
itu bila dibenamkan ke dalam tanah pada saat
pengolahan tanah, residu yang berkualitas tinggi
(termasuk enceng-enceng) dapat memperbaiki
kesuburan kimia (C organik, N, dan P), fisik
(stabilitas makroagregat tanah), dan biologi tanah
(populasi mikroorganisme tanah) (Abbott dan
Murphy, 2003; Six et al., 2004).
Hasil penelitian beberapa jenis pupuk hijau
yang ditanam sebelum penanaman tebu di
Bangladesh (Tabel 1) dilaporkan bahwa hasil
hijauan kering enceng-enceng dua kali lebih
banyak dari Sesbania aculeate (turi), sehingga
kontribusinya terhadap kadar N total tanah 25%
lebih tinggi, serta hasil tebu pada tahun pertama
juga lebih tinggi (Bokhtiar et al., 2003).
Tabel 1 menunjukkan bahwa pemanfaatan
enceng-enceng sebagai pupuk hijau dapat
meningkatkan kadar N total tanah, sehingga
dapat mengurangi kebutuhan pupuk N. Hal ini
dibuktikan dengan penelitian di lahan sawah di
India, yaitu penanaman C. juncea sebelum
penanaman padi dilaporkan telah meningkatkan
efisiensi pupuk N, sehingga dosis pupuk N yang
dihemat sebesar 50%, serta meningkatkan kadar
C organik tanah dan hasil tanaman padi (Kolar et
al., 1993). Kemampuan tanaman enceng-enceng
dalam meningkatkan kadar N tanah tersebut
dimungkinkan karena akarnya mengandung
bintil-bintil yang bersimbiose dengan Rhizobium
sp. yang berfungsi sebagai penambat N udara,
yang potensi pengikatannya mencapai 60% (de
Resende et al., 2003).
Tabel 1. Pengaruh jenis pupuk hijau terhadap
hasil hijauan biomasa, kontribusinya
terhadap N total tanah dan hasil tebu
pada musim tanam 1998-1999
Jenis pupuk
hijau
C. juncea
S. aculeata
Hasil kering
hijauan
biomasa
(t/ha)
Kontribusi
terhadap kadar
N tanah (kg/ha)
Hasil tebu
(t/ha)
3,1
1,4
50,7
40,0
62,1
59,6
Sumber: Bokhtiar et al., 2003
Sebagai sumber bahan organik, penambahan enceng-enceng bersama-sama dengan
tanah liat juga telah dilaporkan dapat meningkatkan kesuburan fisik, kimia, dan biologis lahan
pertanian yang didominasi oleh fraksi pasir
(Djajadi et al., 2009b). Seperti diketahui bahwa
lahan pertanian yang didominasi oleh fraksi pasir
adalah jenis tanah yang bertesktur ringan,
mempunyai kapasitas yang rendah dalam
menyimpan air dan unsur hara, dan rentan
terhadap erosi (Farrington and Campbell, 1970).
Beberapa jenis tanah berpasir diketahui mengandung makro agregat yang rendah (McFarlane dan
Carter, 1990). Akibatnya adalah tanah berpasir
rentan terhadap erosi dan kehilangan unsur hara
yang tinggi (Pathan et al., 2002).
Salah satu strategi untuk meningkatkan
kesuburan tanah berpasir antara lain adalah
meningkatkan agregasi tanah (yaitu salah satu
parameter esensial dari sifat fisik tanah),
meningkatkan kadar unsur hara, serta populasi
mikroorganisme tanah. Dari hasil penelitian yang
dilakukan di lahan dengan kadar fraksi pasir
86%, penambahan sebanyak 1,6% enceng-enceng
bersama dengan 10% tanah liat dapat memperbaiki sifat tanah tersebut (Tabel 2). Perbaikan
tersebut diindikasikan dengan meningkatnya
Crotalaria juncea L.: Tanaman Serat Untuk Pupuk Organik dan Nematisida Nabati (DJAJADI)
53
stabilitas agregat tanah (sekitar 2 kali lipat),
menurunnya berat isi tanah (sekitar 14%), dan
meningkatnya kadar air tanah (hampir 3 kali
lipat).
Penanaman enceng-enceng sebagai bahan
organik juga dilaporkan telah meningkatkan
stabilitas makroagregat setelah 4 tahun
pencampuran hijauannya pada saat pengolahan
tanah (Martins et al., 2009). Perbaikan sifat fisik
tanah tersebut terjadi karena enceng-enceng dan
partikel liat merupakan penyusun utama agregat
tanah, sehingga penambahannya dapat meningkatkan stabilitas agregat (Edward dan Bremner,
1967). Mekanisme peningkatan agregasi tanah
tersebut diawali dengan kolonisasi mikroorganisme tanah di bahan organik kemudian
bersama dengan hasil eksudat maupun hasil
dekomposisi mengikat partikel-partikel tanah
(liat, pasir, dan debu), sehingga stabilitas agregat
meningkat (Golchin et al., 1994; Liu et al., 2005).
Oleh karena itu kemampuan tanaman tersebut
untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah
terkait dengan potensinya dalam mening-katkan
kadar C-organik dan polisakarida hidrolisis
(Martins et al., 2009). Dengan mening-katnya
agregat tanah akan terjadi pula peningkatan
porositas tanah (diindikasikan dengan menurunnya berat isi tanah), sehingga kemampuan tanah
untuk menyimpan air juga meningkat.
Tabel 2. Pengaruh penambahan tanah liat dan
bahan organik terhadap stabilitas
agregat tanah, berat isi dan kadar air
tanah 90 hari setelah perlakuan
Perlakuan
Tanah pasir
(kontrol)
Tanah pasir + 10%
liat + 1,6% encengenceng
Stabilitas
agregat
(cm)
Berat Isi
(g/cm3)
0,71
1,39
0,10
1,64
1,20
0,29
Kadar air
tanah (%)
Sumber: Djajadi et al., 2009a
Penambahan 1,6% enceng-enceng dan 10%
tanah liat juga dapat meningkatkan kesuburan
kimia (unsur hara) tanah, yang diekspresikan
dengan meningkatnya kadar unsur N (sebesar 1,5
kali lipat), K (sekitar 3 kali lipat) dan kadar Corganik (sekitar 2 kali lipat), dari lahan pada 30
hari setelah perlakuan (Tabel 3). Tanaman ini di
54
Guinea bagian Selatan dapat menghasilkan
biomasa sumber C organik mencapai 11 ton per
ha (Franke et al., 2003).
Tabel 3. Pengaruh penambahan tanah liat dan
bahan organik terhadap kadar N dan K
tanah 30 hari setelah perlakuan
Perlakuan
Tanah pasir
(kontrol)
Tanah pasir + 10%
liat + 1,6% encengenceng
Kadar N
total (%)
Kadar K
(me/100 g)
Kadar C
organik (%)
0,06
3,70
0,69
0,09
13,80
1,42
Sumber: Djajadi et al., 2009a
Tanaman ini juga berperan sebagai sumber
energi bagi perkembangan mikroorganisme
dalam tanah. Dengan kemampuannya menghasilkan biomasa yang tinggi yang digunakan
sebagai sumber energi mikroorganisme tanah,
maka penambahan biomasanya ke dalam tanah
menyebabkan aktivitas mikroorganisme tanah
juga meningkat, sehingga populasinya juga
bertambah (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh penambahan tanah liat dan
bahan organik terhadap populasi
bakteri dan jamur tanah 1 hari setelah
inkubasi
Perlakuan
Populasi bakteri
(cfu)
Populasi jamur
(cfu)
18,80
43,40
1,30
12,30
Tanah pasir (kontrol)
Tanah pasir + 10% liat +
1,6% enceng-enceng
Sumber: Djajadi et al., 2009a
ENCENG-ENCENG SEBAGAI
NEMATISIDA NABATI
Parasit nematoda banyak merugikan
tanaman pertanian dengan gejala benjolan (puru)
pada jaringan tanaman yang terinfeksi (Guirena,
2006). Benjolan jaringan tersebut menahan aliran
air dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman,
sehingga terjadi penghambatan pertumbuhan
tanaman
dan
menyebabkan
daun-daun
menguning dan layu. Selanjutnya akar tanaman
menjadi kasar dan benjol-benjol serta rentan
terhadap kerusakan. Kehilangan hasil tanaman
akibat serangan nematoda berkisar antara 5
Volume 10 Nomor 2, Des 2011 : 51 - 57
Tabel 5. Ketahanan beberapa spesies Crotalaria terhadap M. javanica dan M. incognita yang diekspresikan
dengan tingkat penetrasi dan fase perkembangan nematoda.
M. incognita
Tanaman
C. glaucoides
C. comosa
C. hyssopifolia
C. arenaria
C. ochroleuca
Lycopersicon
esculentum
(tomat)
Tingkat
penetrasi
Masa
Juvenil ke-2
Masa Juvenil
ke-3 dan 4
Betina
dewasa
Tingkat
penetrasi
0,17
0,75
1,33
2,88
7,17
66,7
85,7
76,2
100,0
73,5
33,3
14,3
23,8
0
26,5
0
0
0
0
0
0,58
0,83
3,33
2,42
5,25
1,55
74,2
24,2
97,0
M. javanica
Masa
Masa
Juvenil ke- Juvenil ke2
3 dan 4
57,1
42,9
100,0
0
100,0
0
100,0
0
88,9
11,1
77,0
0,65
86,4
Betina
dewasa
0
0
0
0
0
12,9
Sumber: Germani dan Plenchette (2004).
sampai 12% setiap tahunnya (Barker dan
Koenning, 1998). Namun demikian, khususnya
di daerah-daerah sentra produksi tembakau
temanggung di Indonesia, serangan nematoda
puru akar dapat menyebabkan kematian
tanaman lebih dari 80%.
Sebagai tanaman penutup tanah dan
pupuk organik, tanaman Crotalaria mempunyai
beberapa karakteristik yang menguntungkan,
yaitu berperan sebagai tanaman bukan inang dari
sebagian besar patogen tular tanah, dapat
menekan pertumbuhan gulma, sebagai pengikat
N udara, dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
hijau (Wang et al., 2002). Kemampuannya sebagai
pengendali nematoda di dalam tanah telah
menjadi fokus penelitian sejak lama. Sebagian
besar nematoda parasit yang dapat ditekan oleh
Crotalaria adalah nematoda endoparasit yang
menetap, termasuk Meloidogyne sp. (McSorley et
al., 1994). Namun demikian sebagian besar
populasi nematoda parasit yang bersifat migrasi
tidak dapat ditekan oleh Crotalaria, termasuk di
dalamnya
adalah
Helicotylenchus
spp.,
Mesocriconema xenoplax, P. minor, Pratylenchus
spp., Radopholus similis, Scutellonema spp., dan X.
americanum (Wang et al., 2002).
Berdasarkan hasil penelitian bahwa
mekanisme penekanan populasi nematoda oleh
Crotalaria telah diuraikan oleh Wang et al. (2002)
secara rinci. Mekanisme tersebut adalah (1)
Crotalaria tidak berperan sebagai tanaman inang
atau sebagai tanaman inang yang merugikan, (2)
Akar Crotalaria memproduksi alelopati yang
bersifat racun atau penghambat perkembangan
nematoda, (3) Akar Crotalaria sebagai tempat
berlindung bagi flora dan fauna antagonis, dan
(4) Crotalaria sebagai perangkap bagi nematoda.
Potensi ketahanan beberapa spesies
tanaman Crotalaria terhadap nematoda parasit
dilaporkan oleh Germani dan Plenchette (2004).
Dengan cara menginokulasikan suspensi yang
mengandung
Meloidogyne
javanica
dan
Meloidogyne incognita pada media tumbuh,
mereka memperoleh hasil bahwa tanaman
Crotalaria dapat menekan tingkat penetrasi dan
perkembangan nematode jauh lebih rendah
daripada tanaman tomat yang rentan (Tabel 5).
Dari tabel tersebut diketahui bahwa tingkat
penetrasi nematoda terhadap akar Crotalaria
bervariasi antara 0,17-7,17% dan 0,58-5,25%
masing-masing untuk M. javanica dan M.
incognita, sedangkan tingkat penetrasi nematoda
terhadap akar tanaman tomat mencapai 97 dan
77%. Selain itu dari tingkat masa perkembangannya diketahui bahwa nematoda yang
terdapat di akar Crotalaria adalah pada fase
juvenile, terutama pada tingkat ke-2, serta tidak
dijumpai nematoda dewasa betina yang
menginfeksi
akar
Crotalaria.
Sebaliknya,
nematoda yang terdapat di akar tanaman tomat
umumnya sudah pada fase pra dewasa dan
dewasa betina. Oleh karena kemampuannya
yang antagonistik terhadap nematoda tersebut,
tanaman enceng-enceng dapat digunakan sebagai
nematisida nabati.
KESIMPULAN
Sebagai tanaman serat, C. juncea biasa
dimanfaatkan sebagai pupuk hijau karena
mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan
Crotalaria juncea L.: Tanaman Serat Untuk Pupuk Organik dan Nematisida Nabati (DJAJADI)
55
sebagai
sumber
bahan
organik,
yaitu
pertumbuhannya cepat, menghasilkan biomasa
hijauan tinggi, dan mampu meningkatkan
kesuburan fisik, kimia serta biologi tanah.
Pembenaman tanaman ini pada saat pengolahan
lahan, dapat memberikan kontribusi pada kadar
N total sebesar 52,7 kg N/ha dan hasil tebu
sekitar 61 ton/ha. Pada lahan dengan kandungan
pasir 86%, penambahan sebanyak 1,6% encengenceng bersama dengan 10% tanah liat dapat
memperbaiki sifat fisik tanah (peningkatan
stabilitas agregat, penurunan berat isi, dan kadar
air tanah), sifat kimia tanah (peningkatan kadar
N, K, dan C organik), serta sifat biologi tanah
(berkembangnya populasi bakteri dan jamur
tanah). Selain itu, tanaman ini mampu menekan
perkembangan nematoda parasit, sehingga dapat
digunakan sebagai nematisida nabati.
DAFTAR PUSTAKA
Abbott, L.K. and D.V. Murphy. 2003. What is soil
biological fertility? In: Abbott, L.K. and
D.V. Murphy (Eds.) A key to Sustainable
Land Use in Agriculture: pp 1-15. Kluwer
Academic Publishers, The Netherlands.
Atchison, J.E. 1992. Pulp and Paper. Agriculture
Journals, 66 (9) p.139.
Barker, K.R. and S.R. Koenning. 1998. Developing
Sustainable Systems for Nematode.
Annu. Rev. Phytopathol, 36:165–205.
Bhander, P.K., M.S.U. Bhuiya, and M.A. Salam.
1998. Effect of Sesbania restrata biomass
and nitrogen fertilizer on the yield and
yield attributes of transplant Amam rice.
Progressive Agriculture 9, p.89-93
Bokhtiar, M., M.A. Gafur, and A.B.M.M. Rahman.
2003. Effects of Crotalaria and Sesbania
aculeata green manures and N fertilizer
on soil fertility and the productivity of
sugarcane. Journal of Agricultural
Science, 140: 305–309.
Chee Y.K. and C.P. Chen. 1992. Crotalaria juncea
L., p.98-100. In L.’t Mannetje and R.M.
Jones (Eds.). Plant Resources of SouthEast Asia. 4. Forages. Pudoc Scientific
Publishers, Wageningen, The Netherlands,
56
Cook, C.G. and G.A. White. 1996. Crotalaria
juncea: A potential multi-purpose fiber
crop. p. 389-394. In: J. Janick (Ed.),
Progress in new crops. ASHS Press,
Arlington, VA.
de Resende, A.S., P.X. Rogerio., D.M. Queseda, S.
Urquiaga, B.J.R. Alves, and R.M. Boddey.
2003. Use of green manures in increasing
inputs of biologically fixed nitrogen to
sugar cane. Biol. Fertil. Soils, 37: 215–220
Desaeger, J. and M.R. Rao. 2001. The potential of
mixed covers of Sesbania, Tephrosia, and
Crotalaria
to
minimize
nematode
problems on subsequent crops. Field
Crops Research, 70: 111 – 125.
Djajadi, A.S. Murdiyati, Sudarto, Djumali, dan S.
Tirtosuprobo. 2008. Identifikasi Sumber
Daya Lahan untuk Pengembangan
Tembakau di Kabupaten Bondowoso.
Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian
Tanaman Tembakau dan Serat. 112 pp.
(Tidak Dipublikasikan).
Djajadi, A.S. Murdiyati, Sudarto, Djumali, dan S.
Tirtosuprobo. 2009a. Identifikasi Sebaran
Lahan dan Usahatani Tembakau di
Kabupaten Bojonegoro. Laporan Hasil
Penelitian. Balai Penelitian Tanaman
Tembakau dan Serat, 124 pp. (Tidak
Dipublikasikan).
Djajadi, Djumali, dan N. Hidayah. 2009b.
Pengaruh Tanah Liat dan Bahan Organik
terhadap
Kesuburan
Tanah
dan
Pertumbuhan Jarak Pagar. Laporan Hasil
Penelitian. Balai Penelitian Tanaman
Tembakau dan Serat, 18 pp. (Tidak
Dipublikasikan).
Edward, A.P. and J.M. Bremner. 1967. Microaggregates in soils. Journal of Soil Science,
18: 64-73.
Farrington, P. and N.A. Campbell. 1970.
Properties of deep sandy soils and the
growth of Lovegrass, Eragrostis curvula
(Schrad.) Nees. Australian Journal of Soil
Research, 8: 123–132.
Franke, A.C., S. Schulz, B. Oyewolw, M.A.
Husaini, and L. Tobe. 2003. The potential
of Crotalaria juncea to provide mulch and
facilitate conservation tillage in the
northern Guinea savanna. African Crop
Volume 10 Nomor 2, Des 2011 : 51 - 57
Science Conference Proceedings, 6:508513.
Fonte, S.J., E.Y.P.O.G.W. Quansah, B. Vanlauwe,
and J. Six. 2009. Fertilizer and residue
quality effects on organic matter
stabilization in soil aggregates. Soil Sci.
Soc. Am. J. 73: 961-966.
Germani, G. and C. Plenchette. 2004. Potential of
Crotalaria spesies as green manure crops
for the management of pathogenis
nematodes and beneficial mycorrhizal
fungi. Plant and Soil, 266: 333-342.
Golchin, A., J.M. Oades, J.O. Skjemtad, and P.
Clarke. 1994. Soil structure and carbon
cycling. Australian Journal Soil Research.
32: 1043-1068.
Guirena, M. 2006. Nematodes: Alternative
Controls. National Sustainable Agriculture Service. 18 pp
Kolar, J.S., H.S. Greival, and B. Singh. 1993.
Nitrogen
substituion
and
higher
productivity of a rice wheat cropping
system
through
green
manuring.
Tropical Agriculture, 70(4): 301-304.
Liu, A., B.L. Ma, and A.A. Bomke. 2005. Effect of
cover crops on soil aggregate stability,
total organic carbon, and polysaccharides. Soil Sci. Soc. Am. J. 69:20412048.
Martins, M.D.R., J.E. Cora, R.F. Jorge, and A.V.
Marcelo. 2009. Crop type influences soil
aggregation and organic matter under
no-tillage. Soil and Tillage Research, 104:
22-29
McFarlane, D.J. and D.J. Carter. 1990. The effect of
erosion on soil productivity in south-
western Australia. In: Working papersErosion
productivity
and
erosion
prediction workshop. 5th Australian Soil
Conservation Conference, Perth, March
1990, p. 3-14.
McSorley, R., D.W. Dickson, and J.A. de Brito.
1994. Host status of selected tropical
rotation crops to four populations of rootknot nematodes. Nematropica, 24: 45–53.
McSorley, R. 1999. Host Suitability of Potential
Cover Crops for Root-knot Nematodes.
Supplement
to
the
Journal
of
Nematology, 31(4S):619–623.
Miyazawa, K., T. Murakami, M. Takeda, and T.
Murayama. 2010. Intercropping green
manure crops-effects on rooting patterns.
Plant Soil, 331:231–239.
Morris, J.B. and S.E. Kays. 2005. Total Dietary
Fiber Variability in a Cross Section of
Crotalaria juncea Genetic Resources. Crop
Science, 45: 1826 - 1829.
Pathan, S.M., L.A.G. Aylmore, and T.D. Colmer.
2002. Reduced leaching of nitrate,
ammonium, and phosphorus in a sandy
soil by fly ash amendment. Australian
Journal of Soil Research, 40:1201-1211.
Six, J., H. Bossuyt, S. Degryze, and K. Denef. 2004.
A history of research on the link between
(micro) aggregates, soil biota, and soil
organic matter dynamics. Soil and Tillage
Research, 79: 7-31.
Wang, K.H., R. McSorley, and R.N. Gallaher.
2003. Effect of Crotalaria juncea amendment on nematode communities in soils
with different agricultural histories.
Journal of Nematodes, 35 (3): 294-301.
Crotalaria juncea L.: Tanaman Serat Untuk Pupuk Organik dan Nematisida Nabati (DJAJADI)
57
Download