BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kanker Serviks
1. Definisi
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidaknormalan pertumbuhan
sel-sel jaringan tubuh. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri
jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Namun, sel yang
abnormal (sel kanker) akan membelah terus meski pun tubuh tidak
memerlukannya. Akibatnya terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor
ganas (Soebachman, 2011).
Kanker serviks adalah salah satu jenis keganasan atau neoplasma yang lokasinya
terletak di daerah serviks, daerah leher rahim atau mulut rahim (Imam, 2010).
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim, suatu daerah organ
reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak
antara rahim (uterus) dengan liang sanggama (vagina) (Eros, 2010).
Nama lain kanker serviks adalah kanker leher rahim, kanker ini termasuk dalam
kategori kanker yang ganas. Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang
terjadi pada leher rahim, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat
melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya (Bertiani, 2009).
9
10
2. Stadium
Tabel 2.1
Pembagian stadium klinik menurut The International Federation
Of Gynecology And Obstetrics (FIGO)
Stadium FIGO
0
I
IA
IAI
IA2
IB
IBI
IB2
II
IIA
IIB
III
IIIA
IIIB
IVA
IVB
Kategori
Tumor primer tidak bias digambarkan
Tidak ada bukti adanya Tumor primer
Karsinoma In Situ (preinvasive carcinoma)
Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus
uteri
Karsinoma mikroinvasif
Kedalaman invasi stroma tidak lebih dari 3 mm dan perluasan
horizontal tidak lebih dari 7 mm
Kedalaman invasi stroma lebih dari 3 mm dan tidak lebih dari 5
mm dan perluasan horizontal 7 mm atau kurang
Secara klinis sudh diduga adanya tumor mikroskopik lebih dari
IA2 atau TIa2
Secara klinis lesi berukuran 4 cm atau kurang pada dimensi
terbesar
Secara klinis lesi berukuran lebih dari 4 cm pada dimensi
terbesar
Tumor menyebar keluar dari serviks, tetapi tidak sampai
dinding panggul atau sepertiga bawah vagina
Tanpa invasi paremetrium
Dengan invasi parametrium
Tumor menyebar ke dingding panggul dan/atau sepertiga bawah
vagina yang menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi
ginjal
Tumor menyebar sepertiga bawah vagina tetapi tidak sampai ke
dingding panggul
Tumor menyebar ke dingding panggul menyebabkan penurunan
fungsi ginjal
Tumor menginvasi mukosa buli-buli atau rectum keluar panggul
Metastase jauh
TNM
TX
TO
Tis
TI
Tia
TIaI
TIa2
TIb
TIbI
TIb2
T2
T2a
T2b
T3
T3a
T3b
T4
MI
(Rasjidi, 2009)
3. Teori Perilaku Kesehatan
a. Faktor predisposisi (predisposing factor). Faktor predisposisi mencakup
pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan persepsi, berkenaan dengan motivasi
seorang atau kelompok untuk bertindak. Sedangkan secara umum faktor
predisposisi ialah sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau
kelompok kedalam suatu pengalaman belajar. Hal ini mungkin mendukung
atau menghambat perilaku sehat dalam setiap kasus, faktor ini mempunyai
11
pengaruh. Faktor demografis seperti status sosial-ekonomi, umur, jenis
kelamin dan ukuran keluarga saat ini juga penting sebagai faktor predisposisi.
b. Faktor pemungkin (enabling factor). Faktor pemungkin mencakup berbagai
keterampilan dan sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku
kesehatan. Sumber daya itu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, personalia
klinik atau sumber daya yang serupa itu. Faktor pemungkin ini juga
menyangkut keterjangkauan berbagai sumber daya, biaya, jarak ketersediaan
transportasi, waktu dan sebagainya.
c. Faktor penguat (reinforcing factor). Faktor penguat adalah faktor yang
menentukan tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber
penguat tergantung pada tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan
pasien, faktor menguat bisa berasal dari perawat, bidan dan dokter, pasien dan
keluarga
Sedangkan beberapa teori tentang perilaku lainnya, antara lain dikemukan oleh :
a. Perilaku merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi
manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan,
sikap dan tindakan. perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu
terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya
(Notoatmodjo, 2010).
b. Perilaku
merupakan
fungsi
karakteristik
individu
dan
lingkungan.
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai,
sifat, keperibadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan
kemudian berinteraksi
pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam
menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam
menentukan perilaku, bahkan kekuatannya lebih besar dari karakteristik
individu (Azwar, 2010).
12
Sementara pengertian perubahan perilaku menurut Emilia (2008), ditentukan
oleh konsep resiko, penentu respon individu untuk mengubah perilaku adalah
tingkat beratnya resiko atau penyakit secara umum, bila seseorang mengetahui
ada resiko terhadap kesehatan maka secara sadar orang tersebut akan
menghindari resiko.
Menurut Judge dan Bono ( 2001), teori perubahan perilaku self efficacy yang
menekankan adanya contoh dalam diri seseorang sehingga perilaku seseorang
dicontoh oleh masyarakat sekitar hingga menjadikan sebuah budaya masyarakat.
Teori perubahan perilaku ini biasa digunakan dalam perubahan perilaku
masyarakat khususnya kesehatan dengan memanfaatkan tokoh masyarakat
sekitar yang dianggap mempunyai peran penting dan mempunyai suritauladan
khususnya dibidang kesehatan. Pendekatan perubahan perilaku masyarakat
didasarkan pada tokoh masyarakat sekitar yang mempunyai pengaruh lebih atau
suritauladan dalam perilaku hidup sehat.
4. Faktor-faktor Resiko
Penyebab dari terjadinya kelainan pada sel-sel leher rahim tersebut tidak
diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang dapat
berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks tersebut yaitu:
a. Faktor sosio demografis
1) Usia
Menurut Cuppleson LW dan Brown B (1975) menyebutkan Neoplasia
Intraepitel Serviks NIS akan berkembang dengan bertambahnya usia.
Sehingga NIS pada usia lebih dari 50 tahun sudah sedikit, sedangkan
kanker infiltrasi meningkat dua kali. Mnurut Herbeck GM (1977)
melaporkan bahwa NIS lebih cenderung pada usia kurang dari 30 tahun.
Kanker serviks terjadi paling sering pada wanita-wanita berumur dari 40
tahun, tapi tidak menutup kemungkinan pada usia produktif wanita yakni
35-40 tahun (Anditha, 2010).
13
2) Status sosial ekonomi
Wanita di kelas sosial ekonomi yang paling rendah memiliki faktor resiko
lima kali lebih besar daripada faktor resiko dikelas yang paling tinggi.
Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dengan akses
ke sistem pelayanan kesehatan (Rasjidi, 2009).
Wanita-wanita yang mempunyai penghasilan rendah berada pada tingkat
risiko kanker serviks yang lebih tinggi, karena mereka tidak mempunyai
akses pada perawatan kesehatan yang memadai, seperti test pap smear
secara rutin (Agustina, 2011).
b. Faktor Lifestyle
1) Usia pertama sekali melakukan hubungan seks
Berbeda dengan keyakinan selama ini, dalam studi yang dilakukan oleh
International Agency for Research on Cancer terhadap 20.000 wanita
diketahui tingginya angka kanker serviks (leher rahim) tidak berhubungan
dengan tingginya jumlah Human Papilloma Virus (HPV). Resiko kanker
justru meningkat dua kali lipat pada wanita dari keluarga miskin yang
melakukan hubungan seks pada usia sangat muda. Demikian menurut studi
terbaru yang dipublikasikan dalam the British Journal of Cancer (Fredy,
2009).
Menurut Laila Nuranna salah satu penyebab kanker serviks adalah kawin
di usia muda, terutama di bawah 17 tahun. Semakin muda usia pertama
kali berhubungan seks, semakin besar risiko daerah reproduksi
terkontaminasi virus HPV.
HPV adalah DNA virus yang menimbulkan proliferasi pada permukaan
epidermal dan mukosa. Infeksi virus papiloma sering terdapat pada wanita
yang aktif secara seksual (Rasjidi, 2007).
14
Virus ini menular terutama melalui hubungan seks, termasuk anal sex, oral
sex, dan hand sex. Sebagian besar di antaranya terinfeksi pada umur 15-30
tahun, yakni dalam kurun waktu empat tahun setelah melakukan hubungan
seks yang pertama. Orang yang terinfeksi HPV genital biasanya tidak tahu
dia terinfeksi, karena infeksi ini tidak menimbulkan gejala sama sekali
(kecuali yang menimbulkan “jengger ayam”), dan sistem kekebalan tubuh
segera menyerang supaya virus ini mati atau lemah sehingga tidak aktif
(Rahayu, 2010).
Pada usia remaja (12-20 tahun) organ reproduksi wanita sedang aktif
berkembang. Rangsangan penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel
menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual
dan kemudian infeski virus HPV. Sel abnormal ini lah yang berpotensi
tinggi menyebabkan kanker serviks (Agustina, 2011).
2) Berganti-ganti pasangan seks
Dari studi epidemiologi, kanker serviks skuamosa berhubungan kuat
dengan perilaku seksual, seperti berganti-ganti mitra seks dan usia saat
melakukan hubungan seks yang pertama. Resiko akan meningkat apabila
berhubungan dengan pria berisiko tinggi yang mengidap kondilomata
akuminatum (Rasjidi, 2007).
Wanita-wanita yang telah mempunyai banyak mitra-mitra sekusal
mempunyai suatu resiko yang lebih tinggi dari rata-rata mengembangkan
kanker serviks (Andhita, 2010).
Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang
dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat
terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital,
oral ke genital, maupun secara manual ke genital. (Eros, 2010).
15
HPV adalah virus yang bersifat onkogenik. Bersifat onkogenik maksudnya
sel-sel tersebut berpotensi menyebabkan kanker. Virus ini berisiko tinggi
ditularkan pada wanita yang berganti-ganti pasangan seksual (Ayesha,
2011).
3) Paritas
Paritas merupakan keadaan dimana seorang wanita pernah melahirkan bayi
yang dapat hidup atau viabel. Paritas yang berbahaya adalah dengan
memiliki jumlah anak lebih dari 2 atau 4 orang atau jarak persalinan
terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan timbulnya perubahan sel-sel
abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan melalui
jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel
abnormal dari epitel pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi
keganasan.
Studi-studi
mengatakan
bahwa
melahirkan
banyak
anak
dapat
meningkatkan resiko kanker serviks diantara wanita-wanita dengan infeksi
HPV (Anolis, 2011).
Wanita yang memilik banyak anak atau wanita yang mejalani 3 atau lebih
kehamilan utuh memiliki peningkatan resiko kanker serviks (Soebachman,
2011).
4) Merokok
Tembakau pada rokok juga mengandung bahan-bahan karsinogenik
(penyebab kanker) baik dihisap sebagai rokok maupun sebagai sigaret
yang dikunyah. Asap rokok sendiri menghasilakan polycylic aromatic
hydrocarbons heterecylic amine yang sangat karsinogen (penyebab
kanker) dan mutagen (penyebab mutasi). Bahan yang berasal dari
tembakau yang diisap terdapat pada mucus serviks wanita perokok dan
dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus. Bahan-bahan tersebut juga
16
terbukti dapat menyebabkan kerusakan DNA epitel serviks sehingga dapat
menyebabkan neoplasma serviks (Rasjidi, 2010).
Wanita yang merokok lebh besar kemungkinannya terkena kanker serviks
dibandingkan wanita yang tidak merokok. Rokok mengandung banyak zat
racun/kimia yang dapat menyebabkan kanker paru. Zat-zat berbahaya ini
dibawa aliran darah keseluruh tubuh, yang berat keorgan-organ lain juga.
Produk sampingan rokok sering kali ditemukan pada mukosa serviks dari
pada wanita perokok, (Soebachman, 2011).
Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan
merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker
serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska
Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada
tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D. Peneliti yang memimpin riset
tersebut, zat nikotin serta racun lain yang masuk ke dalam darah melalui
asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical
neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. Cervical neoplasia
adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh
seseorang (Farham, 2011).
5) Kebersihan Genital
Menurut WHO, Indonesia mendapat peringkat pertama kanker serviks di
dunia dan 62 persennya diakibatkan oleh penggunaan pembalut yang
kurang berkualitas. Menurut penelitian terdapat sebanyak 107 bakteri per
millimeter persegi dipermukaan di atas pembalut wanita biasa. Kondisi
inilah yang menbuat pembalut biasa menjadi sumber sarang pertumbuhan
bakteri merugikan, meski pembalut biasa hanya dipakai selama 2 jam
(Eros, 2010).
17
Pencucian vagina (Douching) dengan obat-obatan antiseptik maupun
deodorant. Kebiasaan mencuci vagina bisa menimbulkan kanker serviks,
baik obat cuci vagina menyebabkan iritasi di leher rahim. Iritasi berlebihan
dan terlalu sering, merangsang terjadinya perubahan sel, yang akhirnya
menjadi kanker (Eros, 2010).
6) Penggunaan Kontrasepsi Oral
Menggunakan pil-pil pengontrol kelahiran untuk suatu waktu yang lama
seperti 5 tahun atau lebih dapat meningkatkan resiko kanker serviks
diantara wanita-wanita dengan infeksi HPV (Andhita, 2010).
Riset menenukan bahwa resiko kanker serviks meningkatkan sejalan
dengan makan lamanya durasi seorang wanita menggunakan pil
kontrasepsi dan cenderung menurun pada saat penggunaan pil distop
(Soebachman, 2011).
B. Pap Smear
1. Pengertian
Pap smear atau (tes Papanicalau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik
terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan pap smear
contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan spatula yang terbuat dari kayu atau
plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat gigi kecil (yang
dimasukkan ke dalam saluran servikal) (Yohanna dkk, 2011).
Pemeriksaan tes pap smear adalah pengamatan sel-sel yang dieksfoliasi dari
genatalia wanita. Tes pap smear telah terbukti dapat menurunkan kejadian
kanker serviks dengan ditemukannya stadium prakanker, NIS dan segera
ditangani (Ramli dkk, 2005).
Pap smear merupakan metode tes pap smear yang umum yaitu menggunakan
pengerik atau sikat utuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher
18
rahim. Kemudian sel-sel tersebut dianalisa di laboratorium. Tes ini dapat
meyingkapi apakah ada infeksi, radang atau sel-sel abnormal (Yuliatin, 2011).
2. Indikasi Penampakan Pap Smear
Beberapa faktor yang dapat memberikan indikasi ditemukannya penampakan
pap smear yang abnormal adalah :
a. Unsatisfactory pap smear
Pada kasus ini pegawai lab tidak bisa melihat sel-sel leher rahim dengan
detail sehingga gagal membuat laporan yang komprehensif.
b. Infeksi atau inflamasi
Jika ada infeksi atau inflamasi kadang-kadang pada pemeriksaan pap smear
memberikan penampakan terjadinya inflamasi. Ini berarti sel-sel di dalam
leher rahim mengalami suatu iritasi yang ringan sifatnya. Kadang-kadang
inflamasi dapat dideteksi melalui pemeriksaan pap smear, biarpun tidak
merasakan keluhan karena tidak terasanya gejala klinis yang ditimbulkan
(Yuliatin, 2011).
3. Manfaat Pap Smear
Pemeriksaan pap smear berguna untuk menemukan sel-sel abnormal atau sel
yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi HPV
Manfaat pap smear secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut (Youvella,
2010):
a. Diagnosis dini keganasan
Pap smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus
endometrium, keganasan tuba fallopi dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah
mendapat kemoterapi dan radiasai.
19
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau
tanpa
ovulasi,
menentukan
maturitas
kehamilan
dan
menentukan
kemungkinan keguguran pada hamil muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai
infeksi bakteri dan jamur.
4. Prosedur Pemeriksaan Pap Smear
Menurut Ramli (2005) prosedur pemeriksaan pap smear adalah:
a. Persiapan alat-alat yang akan digunakan, meliputi spekulum bivalve (cocor
bebek), spatula ayre, kaca objek yang telah diberi label atau tanda dan alkohol
95%.
b. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
c. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior,
serviks uterus dan kanalis servikalis.
d. Periksa serviks apakah normal atau tidak.
e. Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks, dimulai dari
arah jam 12 dan diputar 360˚ searah jarum jam.
f. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah
diberi tanda dengan membentuk sudut 45˚ satu kali usapan.
g. Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10 menit.
h. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor dan dikirim ke ahli
patologi anatomi.
5. Hasil Bacaan Sitologi Pap smear
Menurut Nugroho (2010) hasil bacaan sitologi pap smear adalah sebagai
berikut:
a. Kelas 1 : tidak tampak sel abnormal.
b. Kelas 2 : adanya sel yang atipik tapi tidak ada tanda-tanda keganasan
c. Kelas 3 : adanya sel-sel yang abnormal tapi tidak menyokong untuk
20
keganasan
d. Kelas 4 : hasil sitologi cenderung menyokong suatu keganasan
e. Kelas 5 : jelas ditemukan sel-sel yang menunjukkan keganasan
6. Sasaran Pap smear
Kaum perempuan yang melakukan pap smear test adalah :
a.
Perempuan yang menikah di bawah 20 tahun
b.
Perempuan yang menikah dan berusia 30 tahun atau lebih
c.
Perempuan yang melahirkan lebih dari 3 kali
d.
Perempuan yang belum bisa menghentikan kebiasaan merokok termasuk
jika pasangannya juga perokok (passive smoker) (Izza, 2009).
C. Motivasi
1. Pengertian
Motivasi berasal dari kata latin mover yang berarti dorongan atau
menggerakkan. Berbagai hal yang biasanya terkandung dalam berbagai defenisi
tentang motivasi antara lain adalah keinginan, kebutuhan, tujuan, sasaran dan
dorongan.
Menurut Bernard Berndoom dan Gary A.Stainer yang mengutip pendapat
Soedarmayanti (2001) bahwa motivasi merupakan kondisi mental yang
mendorong aktifitas dan member energi yang mengarah kepada pencapaian
kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Selain itu
menurut Terry (1997) bahwa motivasi yang berasal dari luar diri seseorang
menyebabkan orang tersebut melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan
organisasi, karena adanya rangsangan dari luar yang dapat berwujud benda
maupun bukan benda.
Motivasi merupakan kebutuhan konsumen yang tinggi untuk memperoleh
kepuasan mendapatkan pelayanan kesehatan bila sakit. Karena mencari rasa
aman untuk menyembuhkan penyakitnya seiring perkembangan pengetahuan
mereka tentang mutu pelayanan kesehatan. Menurut Moorman dan Matulich
21
(1993) menyatakan bahwa motivasi mempengaruhi kesehatan Preventive Health
Behavior (PHB) yang positif (Shoham, 2012).
Dalam Health Believe Model (HBM) yang menyatakan bahwa orang tidak akan
mencari pertolongan medis atau pencegahan penyakit bila kurang pengetahuan
dan motivasi tentang kesehatan, bila dipandang keadaan tidak cukup berbahaya,
bila tidak yakin keberhasilan intervensi medis dan bila mereka memandang
adanya kesulitan melaksanakan perilaku yang disarankan (Wijono, 2010).
Menurut Robbin (2006) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang
menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan menurut Samsudin (2007) motivasi sebagai proses mempengaruhi
atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mau
melaksanakan suatu yang telah ditetapkan.
2. Aspek - aspek Motivasi
Menurut Walgito (2004) motivasi mengandung tiga aspek yaitu:
a.
Keadaan yang mendorong dan kesiapan bergerak dalam diri organism yang
timbul karena kebutuhan jasmani, keadaan lingkungan dan keadaan mental
(berfikir dan ingatan).
b.
Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan tersebut.
c.
Sasaran atau tujuan yang dikejar oleh perilaku tersebut.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Menurut Gray (dalam Winardi, 2002:12) motivasi sebagai proses batin atau
proses psikologis dalam diri seeorang, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain:
a. Faktor Internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang terdiri
atas:
1. Persepsi individu mengenai diri sendiri. Seseorang termotivasi atau tidak
untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa
persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan
mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak.
22
2. Harga diri dan prestasi. Faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu
(memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan
memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam
lingkungan masyarakat, serta dapat mendorong individu untuk berprestasi.
3. Harapan. Adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini
merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap
dan perasaan subyektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari
perilaku.
4. Kebutuhan. Manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya
sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya
secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang
untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon
terhadap tekanan yang dialaminya.
Menurut Taufik (2007) motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi
aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motivasi intrinsik datang dari hati sanubari umumnya karena kesadaran,
misalnya ibu mau melakukan pap smear karena ibu tersebut sadar bahwa
dengan melakukan pap smear maka akan mengetahui secara dini kelainan
pada rahim ibu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi intrinsik yaitu :
a) Kebutuhan (need)
seorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktor
kebutuhan baik biologis maupun psikologis, misalnya ibu melakukan
pap smear karena mengetahui faktor resikonya
23
b) Harapan (expentancy)
Seseorang dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan
keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga
diri meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian
tujuan.
c) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal
tanpa ada yang menyuruh (tanpa adanya pengaruh dari orang lain)
(Taufik, 2007)
b. Faktor eksternal, yang berasal dari luar individu yang terdiri atas:
1) Jenis dan sifat pekerjaan, yaitu dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat
pekerjaan tertentu sesuai dengan obyek pekerjaan yang tersedia akan
mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan
yang akan ditekun. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi oleh sejauh
mana nilai imbalan yang dimliki oleh obyek pekerjaan yang dimaksud.
2) Kelompok kerja dimana individu bergabung, yaitu kelompok kerja atau
organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau
mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku
tertentu. Peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu
mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan
serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya
dalam kehidupan sosial
3) Situasi lingkungan pada umumnya, yaitu setiap individu terdorong untuk
berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara
efektif dengan lingkungannya.
4) Sistem imbalan yang diterima, yaitu imbalan merupakan karakteristik atau
kualitas dari obyek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat
24
mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu
obyek ke obyek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar.
Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku
dalam mencapai tujuan. Perilaku dipandang sebagai suatu tujuan sehingga
ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.
D. Kerangka Konsep
Skema: 2.1 Kerangka Konsep
Variabel Independen
-
Karakteristik PUS
Usia
Paritas
Pendidikan
Pengetahuan
Variabel Dependen
Pemeriksaan Pap Smear
Dalam Mendeteksi Kanker
Serviks
Motivasi PUS
E. Hipotesa Penelitian
Ha : Adanya hubungan antara usia PUS dengan pemeriksaan pap smear dalam
mendeteksi kanker serviks di Poli Onkologi RSUD.Dr. Pringadi Medan
tahun 2014
Ha : Adanya hubungan antara paritas PUS dengan pemeriksaan pap smear dalam
mendeteksi kanker serviks di Poli Onkologi RSUD.Dr. Pringadi Medan
tahun 2014
Ha : Adanya hubungan antara pendidikan PUS dengan pemeriksaan pap smear
dalam mendeteksi kanker serviks di Poli Onkologi RSUD.Dr. Pringadi
Medan tahun 2014
25
Ha : Adanya hubungan antara pengetahuan PUS dengan pemeriksaan pap smear
dalam mendeteksi kanker serviks di Poli Onkologi RSUD.Dr. Pringadi
Medan tahun 2014
Ha : Adanya hubungan antara motivasi PUS dengan pemeriksaan pap smear
dalam mendeteksi kanker serviks di Poli Onkologi RSUD.Dr. Pringadi
Medan tahun 2014
Download

BAB II TINJAUAN PUSTAKA