penggunaan lahan

advertisement
1
PENGGUNAAN LAHAN:
DINAMIKA DAN PERMASALAHANNYA
Bahan kajian dalam MK Landuse Planning
PSDAL-PDIP-PPS-FPUB-2011
Diabstraksikan oleh
Orof Dr Ir soemarno MS
1. PENDAHULUAN
Hakekat pembangunan di Indonesia adalah pembangunan manusia seutuhnya dan
pembangunan bagi seluruh masyarakat secara adil, merata dan berkelanjutan. Oleh karena
itu strategi pembangunan seharusnya bertumpu kepada pertumbuhan ekonomi, pemerataan,
keadilan dan pemberdayaan masyarakat.
Pelaksanaan pembangunan hingga saat ini telah membuktikan bahwa kebutuhan
sumberdaya lahan semakin banyak dan senantiasa menghadapi berbagai kendala yang
semakin serius. Dalam kondisi seperti ini mutlak diperlukan penajaman prioritas penggunaan
sumberdaya lahan dengan melibatkan secara penuh segenap warga masyarakat dengan
segenap sumberdaya yang dikuasainya dan kebutuhannya.
Salah satu permasalahan serius yang dihadapi oleh wilayah pedesaan di bagian hulu
DAS Brantas dalam mengelola sumberdaya lahan adalah terbatasnya alternatif kesempatan
kerja di luar sektor pertanian, sehingga pertambahan jumlah penduduk pedesaan (dan
kebutuhan hidupnya) akan diikuti oleh meningkatnya tekanan atas sumberdaya lahan.
Kondisi seperti ini memaksa kita untuk senantiasa mencari alternatif-alternatif khusus bagi
penggunaan lahan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus melestarikan
sumberdaya lahannya dan meminimumkan dampak negatif eksternalnya.
Pengelolaan sumberdaya alam di daerah hulu sungai melibatkan banyak pihak
dengan kepentingannya masing-masing. Dalam kondisi seperti ini diperlu-kan pendekatan
sistematik untuk mengevaluasi keadaan yang optimal dengan mengorbankan sebagian
kepentingan beberapa pihak lainnya. Dalam hal sumberdaya air, permasalahan yang ada
berpangkal pada besarnya fluktuasi debit sungai antara musim hujan dan musim kemarau.
Konflik kepentingan tampaknya terjadi antara sektor pertanian, sektor domestik (penggunaan
rumah tangga) dan sektor kepentingan pembuangan limbah. Perkembangan sektor-sektor ini
di DAS Brantas Hulu telah ikut mempertajam konflik kepentingan dalam menggunakan
sumberdaya air, dan pada gilirannya akan menentukan ketersediaan kualitas air dan semakin
menu-runnya kualitas air di sepanjang aliran sungai Brantas bagian hulu.
Pemilihan DAS Brantas Hulu sebagai fokus kajian didasarkan atas beberapa masalah
penting berikut ini :
a. Keberadaan bangunan serbaguna Bendungan dan Waduk Karangkates dan Sengguruh,
harus dijaga kelestariannya. Bangunan ini selesai pembangun-annya pada tahun 1972
dan dengan investasi ratusan milyar rupiah. Fungsi utama bangunan-bangunan ini ialah
untuk pengendalian banjir Sungai Brantas bagian tengah, irigasi sawah seluas tidak
kurang dari 25.000 ha, dan PLTA dengan kapasitas ribuan GWH per tahun.
b. DAS Brantas Hulu merupakan daerah tangkapan dan resepan air hujan yang sangat
penting bagi daerah-daerah di bawahnya. Wilayah ini mempunyai rataan curah hujan
tahunan sebesar 1700-2700 mm, sekitar 75 % terjadi pada musim hujan dan 25 % pada
musim kemarau.
c. DAS Brantas Hulu merupakan salah satu pusat produksi tanaman hor-tikultura, terutama
kentang, kubis, wortel, bawang merah, bawang putih, kacang merah, apel, dan tanaman
perkebunan seperti tebu lahan kering. Kondisi agroekologi di wilayah ini sangat
mendukung bagi pola usahatani tanaman tersebut secara intensif.
Namun demikian sebagian besar wilayah ini mempunyai indeks bahaya erosi yang
sangat tinggi. Keadaan seperti ini telah memaksa dilakukannya berbagai upaya untuk
melestarikan sumberdaya lahan, baik secara teknis, biologis, dan sosial ekonomis.
2
d.
e.
f.
DAS Brantas Hulu merupakan salah satu pusat pengembangan dan pusat produksi susu
di Jawa Timur. Kondisi agroekologinya sangat sesuai bagi kehidupan sapi perah dan
bagi berbagai jenis tanaman hijauan pakan. Perkembangan Usahatani ternak sapi perah
telah terjadi secara mencolok semenjak tahun 1977/1978, dan telah memberikan
sumbangan yang cukup besar terhadap kesejahteraan penduduk setempat dan
perekonomian wilayah. Sehubungan dengan hal ini daya dukung wilayah untuk
menyediakan bahan hijauan pakan harus dijaga kelestarianya.
DAS Brantas Hulu merupakan wilayah yang kepadatan penduduknya sangat tinggi.
Rataan kepadatan agraris penduduk sekitar 800-1100 jiwa/km2. Rataan pertumbuhan
penduduk setiap tahun sekitar 1.06 %. Sebagian penduduk memanfaatkan air sungai
untuk memenuhi kebutuhan airnya sehari-hari, di beberapa titik tertentu ternyata
sejumlah parameter kualitas air telah mendekati ambang batas pencemaran.
Proses degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup di DAS Brantas Hulu
menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Hal ini terlihat dari semakin
tingginya laju sedimentasi dan pencemaran air sungai, serta semakin besarnya fluktuasi
debit sungai yang memasuki Waduk Karang-kates. Sejalan dengan bertambahnya
jumlah penduduk, maka semakin besar pula kebutuhan akan sumberdaya lahan dan air
untuk keperluan pertanian dan pemukiman.
2. PENGELOLAAN LAHAN DAS BRANTAS HULU
Pengelolaan sumberdaya lahan yang berasaskan konservasi ditekankan kepada
usaha perlindungan, peningkatan dan manfaat bagi terwujudnya kondisi sumberdaya lahan
(tanah) dan air yang serasi dan mampu memberikan manfaat secara maksimal yang berkesi
nambungan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan manusia.
Pengelolaan vegetasi dilakukan pada kawasan lindung yang karena kemiringannya,
erodibilitas tanah dan curah hujan, memerlukan perlindungan, pengaturan, pemanfaatan dan
pemeliharaan. Pada kawasan ini diperlukan penutupan vegetasi tetap antara lain berupa
hutan lindung, suaka alam, kebun dan vegetasi tetap lainnya.
Pengelolaan vegetasi harus dapat memberikan manfaat-manfaat ekologis seperti (I)
pengendalian erosi yang efektif, (II) menurunkan puncak banjir, (III) menghasilkan air dengan
kualitas yang layak.
Upaya pemulihan kawasan lindung yang perlu terus ditingkatkan dan disempurnakan
a.l : (a) Reboisasi pada kawasan hutan dengan penanaman atau suksesi alamiah ; (b)
Penghijauan lahan di luar kawasan DAS yang berupa hutan rakyat, agroforestry, dan pola
usahatani konservasi ; dan (c) Peningkatan mutu hutan dengan pengkayaan tanaman yang
dapat berfungsi untuk perlindungan tanah dan air.
Pengelolaan tanah meliputi perlindungan, pengaturan, pemanfaatan, dan
pemeliharaan tanah sehingga fungsi produksi dan media pengatur tata air dapat dilestarikan.
Kegiatan pokok dalam pengelolaan tanah adalah konservasi dan penggunaan lahan
sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Berbagai macam metode dan teknik konservasi tanah dan air yang dianjurkan
dewasa ini masih bersifat umum, sehingga dalam penerapannya perlu di-sesuaikan dengan
keadaan aktual di masing-masing tempat. Metode teknik sipil perlu juga dikembangkan
berdampingan dengan metode biologis vege-tatif. Pengelolaan air meliputi perlindungan,
pengembangan dan penggunaan air untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia, dengan
tujuan terwujutnya kondisi hidrologis DAS yang optimal, diperolehnya hasil air yang sesuai
dengan kebutuhan dan persyaratan, yaitu : jumlah cukup, kualitas air yang memenuhi
persyaratan, tersedia menurut waktu dan tempat. Dalam rangka pengelolaan air melalui
upaya pokok pengembangan sumber-sumber air, maka beberapa kegiatan penting adalah (I)
pengamanan dan pengendalian daya rusak air terhadap sumberdaya di sekitarnya ; (II)
pencegahan terjadinya dan pemulihan lahan kritis ; (III) pencegahan terhadap terjadinya
pencemaran air ; (IV) pengamanan dan perlindungan bangunan pengairan, dan (V)
3
memanfaatkan dan mengembangkan sumber-sumber air. Masalah utama dalam pengelolaan
sumber-daya air adalah mengusahakan keserasian antara pengembangan sumber-sumber
air di daerah hilir dengan usaha-usaha men-jaga kelestarian tanah dan air serta sumbersumber air di daerah hulu sungai.
(1) Pengelolaan DAS Brantas Hulu secara terpadu
Beberapa alasan pokok dilakukannya pendekatan sistem dalam pengelolaan DAS
Brantas Hulu adalah :
a. Adanya keterkaitan antara berbagai kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan
pemberdayaan aktivitas manusia dalam penggu-naannya. Hal ini merupakan akibat logis
dari penerapan konsepsi ekosistem. Setiap tindakan atau perlakuan yang diambil pada
suatu komponen harus sudah diperhitungkan dampak atau umpan balik terhadap atau
dari komponen lainnya.
b. Pengelolaan DAS mempunyai sifat interdisiplin. Berbagai jenis disiplin ilmu terlibat secara
interaktif, seperti ilmu tanah, geomorfologi, hidrologi, ilmu kehutanan, ilmu-ilmu pertanian,
sosiologi pedesaan dan lainnya.
c. Penyelenggaraan pengelolaan DAS bersifat lintas sektoral, sehingga melibatkan berbagai
instansi dan lembaga yang terkait.
Berdasarkan atas ketiga hal ini di atas maka mencapai hasil akhir yang maksimal dari
pengelolaan DAS maka diperlukan keterpaduan. Terpadu dalam hal ini mengandung
pengertian terbinanya keserasian, keseimbangan, dan koordinasi yang efektif. Pengelolaan
DAS harus dilihat sebagai totalitas yang utuh, bukan sebagai kumpulan dari keping-keping
yang terpisah. Keterpaduan yang dimaksud harus tercermin dalam penyusunan konsepsi
dasar, kebijaksanaan, perencanaan, pelaksanaan di lapangan dan penilaian serta evaluasi
hasilnya.
(2) DAS Sebagai Satuan Pengelolaan
Batas satuan pengelolaan yang jelas sangat penting bagi kegiatan pengamatan,
pengukuran, dan penilaian/evaluasi. Sebagai konsekwensi dari pendekatan ekosistem maka
sebagai satuan wilayah pengelolaan adalah batas ekosistem yang bersangkutan, yang biasanya merupakan batas-batas alamiah. Penarikan batas-batas seperti ini seringkali sulit
dilakukan karena adanya sifat terbuka dari ekosistem dan interaksi dengan ekosistem lain.
Air mempunyai kejelasan batas yang lebih mudah diamati, yaitu dalam hal wilayah
geraknya. Air selalu bergerak dalam suatu daur hidrologi yang meliputi presipitasi, peresapan,
dan pengalirannya yang terbatas dalam wilayah tertentu, yaitu DAS. Secara alamiah
DAS dibatasi oleh punggung-punggung gunung, merupakan garis tidak putus yang
menghubungkan titik-titik tertinggi di daratan.
(3). Sasaran Wilayah Pengelolaan DAS
Salah satu masalah utama dalam pengelolaan DAS adalah perlindungan sumberdaya
lahan terhadap kerusakan. Pengelolaan DAS diperlukan karena adanya ancaman terhadap
kelestarian sumberdaya lahan, pertama oleh tindakan manusia yang kemudian oleh
lingkungan alam sendiri. Dengan demikian pengelolaan DAS lebih ditujukan kepada bagian
dari DAS yang terbuka atau potensial terhadap ancaman kerusakan erosi dengan segala
dampaknya. Faktor utama penentu erosi adalah besarnya kemiringan lapangan, disamping
faktor lain seperti curah dan intensitas hujan, erodibilitas tanah, dan vegetasi. Daerah hulu
sungai yang bergunung-gunung biasanya sangat peka terhadap bahaya erosi. Di daerah DAS
hulu masalah utama adalah “perlindungan”. Dalam hubungan ini maka DAS dapat dibagi
menjadi tiga zona/wilayah menurut besarnya kelerengan, yaitu wilayah hulu sungai (lereng 40
%, wilayah tengah dan hilir (lereng <8 %). Dengan demikian maka sasaran wilayah
pengelolaan DAS untuk tujuan konservasi adalah bagian hulu sungai dan bagian tengah
4
dengan lereng lebih dari 8 % . Peranan hutan lindung sangat mutlak di daerah yang
kemiringannya lebih dari 40 % dan erodibilitas tanahnya sangat tinggi.
3. MAKNA EKONOMIS DAN EKOLOGIS
Dalam sistem perekonomian di DAS Brantas Hulu, Jawa Timur, bidang pertanian
yang berbasis lahan masih memberikan sumbangan paling besar. Jalur utama pembangunan
sektor pertanian ini adalah peningkatan komoditi pertanian yang pelaksanaannya melalui
pembinaan dan pengembangan agribisnis yang meliputi kegiatan terpadu yang tidak dapat
dipisahkan mulai dari penyediaan sarana produksi, pembinaan usahatani, pembinaan
pascapanen, pembinaan agroindustri, dan pemasaran hasil.
3.1. Karakteristik Ekosistem Lahan Pertanian
Berdasarkan kondisi geofisik dan alamiahnya, Wilayah DAS Brantas Hulu Jawa Timur
dapat dibagi menjadi empat sub-wilayah, yaitu:
(1). Wilayah datar yang dikategorikan sebagai daerah subur dan potensi erosi rendah, sudah
berkembang sebagai tegalan dan pekarangan dengan aneka tanaman hortikultura
semusim.
(2). Wilayah bergelombang yang dikategorikan sebagai daerah subur dan potensi erosi
medium.
(3). Wilayah berbukit hingga bergunung yang dikategorikan sebagai daerah subur dan
potensi erosi berat.
(4). Wilayah puncak bukit/ puncak gunung.
Kegiatan ekonomi dalam subsektor pertanian tanaman pangan didominasi oleh
komoditi hortikultura yang memberikan sumbangan pendapatan yang cukup besar bagi
pengelolanya.
Pembagian wilayah tersebut di atas mengisyaratkan adanya potensi ekosistem lahan
yang berbeda-beda dan menghendaki upaya pengelolaan yang berbeda pula. Konsepsikonsepsi tentang ekosistem lahan dan pengelolaannya, mengisyaratkan bahwa lahan di suatu
wilayah merupakan suatu sitem yang kompleks terdiri atas berbagai komponen yang saling
berinteraksi membentuk suatu struktur yang mantap dan perilakunya menghasilkan keluarankeluaran yang tertentu.
(1). Analisis kebutuhan pengelolaan sumberdaya lahan
Konsepsi teoritis tentang ekosistem lahan dan pengelolaannya mengisyaratkan
adanya berbagai kebutuhan yang terlibat di dalamnya. Berbagai kebutuhan ini dapat
dibuktikan dengan jalan wawancara dan diskusi dengan beberapa pihak yang terlibat
langsung dengan penggunaan lahan, instansi pemerintah sebagai penentu kebijakan serta
penduduk setempat sebagai pengelola sumberdaya lahan milik. Dapat dikemukakan di sini
bahwa beberapa kebutuhan penting dalam pengelolaan ekosistem lahan di DAS Brantas Hulu
Jawa Timur adalah sebagai berikut :
a. Kebutuhan dalam hal rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air.
a.1. Fluktuasi debit air sungai sepanjang tahun dalam batas-batas kenormalan (rasio
debit minimum dan debit maksimum dalam setahun tidak kurang dari 1 : 40).
a.2. Tersediannya air-bumi dan air-permukaan sepanjang tahun yang mencukupi
kebutuhan domestik, Industri, pertanian dan ekologi.
a.3. Terkendalinya erosi tanah dari lahan usaha dan sedimentasi di jaringan irigasi dan
Waduk .
5
a.4. Terbinanya sikap mental penduduk sebagai insan pelestari sumberdaya lahan dan
lingkungan.
b. Kebutuhan untuk mencapai pendapatan wilayah dan pendapatan per kapita sesuai
dengan kondisi kelayakan.
b.1. Tercapainya pendapatan perkapita seluruh penduduk sesuai dengan taraf hidup
layak di atas garis kemiskinan.
b.2. Tercapainya produksi pertanian (dan sektor produksi primer lainnya) untuk
mengamankan ketersediaan pangan bagi penduduk setempat .
c. Kebutuhan dalam hal peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk.
c.1. Tersedianya kesempatan kerja di sektor pertanian sepanjang tahun dan minimal
dapat memenuhi penawaran angkatan kerja domestik.
c.2. Tersedianya bahan kebutuhan pokok pada jumlah dan tingkat harga yang layak
bagi seluruh penduduk .
d. Kebutuhan kelestarian dan daya dukung sumberdaya lahan dan lingkungan hidup.
d.1. Terpeliharanya kawasan hutan dan sumberdaya hutan: hutan lindung, dan hutan
produksi.
d.2. Terpeliharanya daya dukung lingkungan pada tingkat layak bagi populasi ternak
dan juga bagi manusia.
(2). Identifikasi ekosistem lahan pertanian
Proses identifikasi sistem lahan yang cermat dan sistematis akan sangat menentukan
keberhasilan langkah-langkah analisis selanjutnya. Teknik diagramatis sangat membantu
dalam identifikasi pengelolaan ekosistem lahan yang rumit.
(a).
Diagram Lingkar Sebab-akibat Pengelolaan Lahan
Diagram lingkar sebab-akibat pengelolaan ekosistem lahan disajikan dalam Gambar 1. Ada
enam komponen utama dalam pengelolaan ekosistem lahan. Keenam komponen utama ini
saling berinteraksi secara dinamis, dimana keterlibatan manusia di dalamnya akan sangat
menetukan kelestarian dan perkembangan sistem. Secara alamiah manusia dituntut untuk
berupaya memenuhi kebutuhan biologisnya dengan jalan memanfaatkan sumberdaya lahan
yang tersedia. Intensitas pemanfaatan sumber daya lahan ini sangat ditentukan oleh tingkat
teknologi dan kebutuhan hidup manusia. Selanjutnya intensitas pemanfaatan ini juga akan
menentukan besarnya manfaat yang diperoleh dan perubahan daya dukung atau kualitas
sumberdaya lahan. Pada giliran selanjutnya, manfaat-manfaat tersebut akan menentukan
tingkat kesejahteraan penduduk dan perubahan daya dukung akan mempengaruhi
kelestarian sumber daya lahan . Kedua kondisi ini secara bersama-sama akan ikut
menentukan tingkat investasi domestik dan eksternal. Peningkatan investasi ini pasti akan
mendatangkan dampak sosial ekonomi dan dampak lingkungan seperti erosi, sedimentasi,
pencemaran dan kemerosotan kualitas lahan .
(b). Diagram Kotak Hitam Masukan-Keluaran
Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengabstraksian ekosistem lahan
seperti di atas dapat disusun suatu model kotak hitam I/O pengelolaan ekosistem lahan
(Gambar 2). Dengan menggunakan diagram ini dapat diabstraksikan bahwa pengelolaan
ekosistem lahan mempunyai komponen utama yang berupa masukan , keluaran , parameter,
dan menejemen kendali. Sistem pengelolaan lahan masih dianggap sebagai kotak hitam,
dimana struktur yang ada di dalamnya dianggap belum diketahui. Dengan melalui proses dan
fenomena tertentu yang terjadi di dalam sistem lahan, maka masukan-masukan yang masuk
akan diolah menjadi keluaran-keluaran sistem. Keluaran ini ada yang sesuai dengan apa
yang diinginkan dan ada pula yang tidak diinginkan oleh pengelola sumberdaya lahan.
Melalui mekanisme umpan balik yang dimotori oleh fungsi menejemen kendali maka keluaran
yang tidak diinginkan akan diolah menjadi informasi yang akan digunakan untuk menentukan
6
kebijakan dalam menetapkan masukan-masukan pengendali, yang biasanya berupa
kebijakan-kebijakan pengelolaan.
(c). Diagram Struktur Ekosistem Lahan
Bagan berikut ini mengabstraksikan enam subsistem penting dalam pengelolaan
ekosistem lahan, dua subsistem terkait langsung dengan tingkat kebutuhan penduduk, dan
empat subsistem lainnya terkait dengan daya dukung lahan. Uraian subsistem disajikan di
bawah ini.
7
Pengelolaan :
Sawah, Tegalan,
Kebun, Pekarangan
Produktivitas
Lahan
Hasil tanaman
Pendapatan
Kesempatan kerja
Kehilangan tanah,
Air,Bahan organik,
Unsur Hara
Solum tanah,
Kesuburan tanah
Kepekaan erosi
Kesejahteraan
petani dan
buruhtani
Agroteknologi:
- pupuk, bibit
- teras bangku
SDA Air
SDA Tanah
SDA Vegetasi
Investasi:
Privat:
saprodi
tenaga
publik:
teras
dam pengendali
saluran air
Gambar 1. Diagram Lingkar Sebab Akibat Pengelolaan Ekosistem Lahan (Soemarno. 2002)
Masukan Lingkungan Biofisik
Sosbud , Sospol, Sosek
Tataguna lahan
Sarana produksi
Agroteknologi
Kapital /tenagakerja
Hasil tanaman ,
Ternak, Hutan
Kesempatan kerja
EKOSISTEM
8
LAHAN JATIM
Hasil sedimen
BOD,fosfat,
banjir
Harga saprodi
sayuran,susu perah
Lokasi JATIM
PEMDA, BRLKT, Petani
Gambar 2. Diagram Kotak Hitam Masukan-Keluaran Sistem Pengelolaan Lahan (Soemarno.
2002)
9
Masukan lingkungan Biofisik
Sosbud, Sospol, Sosek
Subsistem
Hidrologi
Masukan
Agroekologis
Masukan
Agroteknologis
Subsistem
Erosi dan
Sedimentasi
Subsistem
Lahan
Subsistem
Pertanian
Masukan
Demografis
Subsistem
Sosial-Ekonomi
Produktivitas
lahan
Keluaran:
Hasil padi, sayuran,
kopi, susu
Kes. Kerja
Debit air, fosfat
sedimen, BOD
Kebutuhan
Pangan, pemukiman,kesempatan kerja
Subsistem
Demografi
PEMDA Jatim
BRLKT Wilayah VI ,
Petani, Dinas Pengairan
Gambar 3. Kerangka Model Konseptual Perencanaan dan Pengelolaan Ekosistem Lahan
(Soemarno. 2002)
C.1. Subsistem Hidrologi dan Erosi-Sedimentasi
Kedua subsistem ini mempunyai hubungan yang sangat erat, dan keduanya juga ber
interaksi dengan subsistem produksi primer (sistem pertanian). Kedua subsistem ini
mempunyai masukan alamiah berupa hujan dan faktor agroekologi lainnya yang terkait, serta
masukan kebijakan berupa alokasi penggunaan lahan, teknologi konservasi tanah dan air,
dan alokasi penggunaan sarana produksi. Masukan utama dari subsistem hidrologi adalah
faktor-faktor agroklimat. Keadaan agroeklimat di wilayah ini dicirikan oleh tipe iklim Muson
Tropis yang memiliki musim kering dan basah yang jelas. Musim hujan ber-langsung selama
bulan Nopember hingga akhir Maret, dan musim kemarau mulai awal Juni hingga akhir
September. Rataan curah hujan tahunan di daerah aliran berkisar secara spasial antara
2000 hingga 2500 mm. Berdasarkan sistem Oldeman (1975), daerah ini digolongkan ke
dalam zone agroklimat C2 dengan empat bulan kering dan 5-6 bulan basah setiap tahun.
Keluaran utama subsistem hidrologi adalah hasil air permukaan yang dapat diukur dalam
bentuk debit air sungai dalam fungsi waktu.
10
Subsistem erosi-sedimentasi mempunyai keluaran utama berupa kehilangan tanah dari
lahan atau hasil sedimen yang diukur di petak erosi atau di outlet sungai. Laju erosi pada
lahan sangat berfluktuasi menurut waktu (musim) dan menurut tipe penggunaan lahan. Erosi
pada lahan pekarangan dan lahan tegalan paling besar. Erosi dan limpasan permukaan di
daerah tangkapan akan menentukan besarnya sedimen yang memasuki wduk setiap tahun.
Dengan mempertimbangkan karakteristik DAS Brantas Hulu, Jawa Timur dapat diper
kirakan rataan erosi tanah aktual di seluruh daerah aliran tidak kurang dari 25 ton/ha/th atau
setara dengan lebih dari 2 mm/th. Secara struktural kedua subsistem ini saling bertautan dan
sangat dipengaruhi oleh perilaku subsistem produksi primer. Peranan vegetasi (alam dan
budidaya) sangat besar dalam fungsi transfer yang mengubah masukan sistem berupa hujan
menjadi hasil air .
C.2.Subsistem Sumberdaya Lahan
Dalam hubungan dengan pendekatan ekosistem ini, lahan di Jawa Timur dipandang
sebagai suatu sistem yang mempunyai atribut dan dimensi ganda; di dalamnya terdapat
komponen-komponen yang saling berinteraksi menyusun struktur tertentu. Perilaku dinamis
sumberdaya lahan ini tercermin dalam tipe penggunaan lahan, sistem perta nian, produktivitas
lahan dan laju degradasi lahan . Abstraksi skematis subsistem lahan ini secara diagramatis
disajikan dalam Gambar 4. Masukan-masukan utamanya berupa tanah, relief, iklim, dan
teknologi/investasi. Unsur-unsur dari tanah, relief, dan iklim akan menentukan kualitas lahan
dan neraca lengas lahan. Sebagian besar tanah berkembang dari bahan abu volkanik muda.
Perbedaan bentuk lahan dan curah hujan mengakibatkan berkembangnya tiga zone tanah ,
yaitu (i) Andosol (Eutrandepts) pada lahan bergunung, (ii) Andosol dan Kambisol (Eutropepts)
pada lahan berbukit, (iii) Kambisol (Inseptisols) pada dataran inter-volkanik, dan (iv) EntisolInseptisol di daerah dataran/lembah sungai.
Andosol umumnya terdapat pada ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. meliputi area
seluas sekitar 10-15% dari seluruh lahan. Tanah ini mempunyai porositas dan permeabilitas
yang tinggi, menahan banyak air tersedia, berat isinya rendah, agregasinya lemah, dan
erodibilitasnya tinggi. Tingkat kesuburannya baik, pH tanah berkisar antara 5.6 hingga 6.5,
kaya bahan organik dan nitrogen.
Kambisol terdapat pada ketinggian di bawah 1000 m dpl., meliputi luasan sekitar
25-30% dari seluruh lahan. Tanah ini solumnya masih tebal, terksturnya berlempung,
drainasenya baik, erodibilitasnya tinggi. Kesuburan ta-nahnya baik, kaya bahan orga nik dan
unsur hara tersedia, pH tanah 5.5 - 6.6. Tanah ini juga terdapat di daerah yang lebih rendah,
banyak dijumpai di Dataran Ngantang. Teksturnya lempung hingga lempung berliat,
drainasenya cukup baik, struktur tanah porus dan mantap, kejenuhan basa tinggi, dan pH
tanah 5.7-6.8.
11
Pancausaha
pertanian
Pupuk
Bibit
Terras bangku
rumput gajah
Pengolahan tanah,
Polatanam
Iklim C2,
Andosol
Lereng
8-25%
Kesesuaian lahan
Jenis tanaman:
Padi, Jagung, Sayuran
Kopi, Kedelai
Produktivitas
Tanaman
dan ternak
Produktivitas
Lahan
Hasil Tanaman
Padi, Jagung,
Kentang, Kopi
Susu perah,
Sayuran
Pergiliran tanaman:
. Padi-Padi-Sayuran
. Jagung-Sayuran-bera
. Sayuran-Sayuran-bera
. Kopi+Jagung
Limpasan
Permukaan
Kehilangan
tanah, BO,
hara
Hasil Air
Debit sungai
Waduk
Hasil Sedimen
BOD, Fosfat,
ke waduk-waduk
Gambar 4. Diagram Lingkar Pemanfaatan Lahan Untuk Pertanian (Soemarno. 2002).
Perilaku sistem sumberdaya lahan tersebut hingga batas-batas tertentu dapat
dikendalikan oleh manusia melalui berbagai upaya intensifikasi dan ekstensifikasi dalam
penggunaan lahan pertanian. Usaha-usaha pengelolaan sumberdaya lahan ini dilakukan oleh
pemiliknya dengan menggunakan berbagai input material dan managerial untuk memodifikasi
perilaku alamiah lahan ke arah perilaku yang dapat menghasilkan produk-produk bioekonomi
yang bermanfaat bagi manusia.
4. PENGELOLAAN EKOSISTEM PERTANIAN
4.1. Karakteristik dan Luasan
Sistem produksi primer pada hakekatnya identik dengan land utilization type" atau
sistem pertanian (farming system) dalam arti yang umum, termasuk kehutanan, perkebunan,
dan peternakan. Dalam sistem ini, manusia dengan teknologi dan kapital yang dimilikinya
12
mengelola sumberdaya lahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluaran utama dari
sistem ini berupa berbagai komoditi pertanian, material (air , sedimen, polutan atau limbah),
uang dan informasi. Sedangkan masukannya dapat dibedakan menjadi sumberdaya alam,
material (saprodi), pengelolaan (teknologi, tenagakerja dan skills), dan masukan informasi.
a. Ekosistem Hutan
Total kawasan hutan di DAS Brantas Hulu, Jawa Timur sebagian besar merupakan
hutan pegunungan di bagian hulu daerah aliran sungai. Kawasan ini berupa hutan alam
pegunungan (motane forest), hutan tanaman seluas, dan lahan semak-belukar. Sebagian
lahan semak-belukar berada di kawasan lindung, dan lainnya berada di kawasan hutan
produksi-konversi.
Berdasarkan arahan penggunaan lahan ternyata terdapat kawasan hutan lindung
dan kawasan penyangga. Kawasan hutan lindung sebagian besar merupakan hutan alam
pegunungan, diperkirakan sekitar 50% dari kawasan ini mempunyai tingkat penutupan tajuk
pohon lebih dari 50%, dan 20% mempunyai tingkat penutupan tajuk pohon kurang dari 20%.
Sekitar 10% dari hutan pegunungan merupakan hutan pinus (Casuarina junghuhniana)
berlokasi di puncak bukit dan lereng yang terjal. Aksesibilitas hutan pegunungan pada
umumnya buruk, sehingga pengelolaan secara ekonomis sangat sulit. Pada saat sekarang
kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan lindung. Penebangan jenis-jenis pohon komersial di
kawasan ini juga terjadi secara illegal. Dalam hutan alam pegunungan DAS Konto
diperkirakan sekitar 25% dari jumlah pohon asli telah ditebang, tingkat pengurangan luas
bidang dasar sekitar 8% setahun (Proyek Kali Konto, 1987).
Hutan tanaman (man made forest) dikelola oleh Perum Perhutani KPH Malang,
diperkirakan mempunyai total volume tegakan sekitar 135.000 m 3 dengan laju pertambahan
tahunan sekitar 15.000 m 3 kayu (timber) dan produksi kayu bakar sekitar 3.250 m 3 setahun.
Tiga jenis kayu komersial yang ditanam adalah Eucalyptus, Albizia, dan Mahogany sp.
Hasil-hasil hutan seperti kayu bakar, arang dan kayu komersial dipasarkan ke luar daerah
(Proyek Kali Konto, 1987). Hutan tanaman kaliandra (Calliandra callothyrsus) dikelola
Perum Perhutani KPH Malang pada kawasan semak-belukar. Hutan tanaman ini dipotong
setiap tahun setelah umur tiga tahun, diper-kirakan menghasilkan kayu bakar sekitar 35 m 3
per hektar per tahun (Perhutani KPH Malang). Sejumlah lahan semak-belukar tersebar pada
kawasan hutan lindung dan kawasan hutan produksi-konversi. Lahan semak-belukar ini
merupakan sumber kayu bakar dan bahan hijauan pakan ternak bagi penduduk sekitarnya,
sedangkan bagi Perum Perhutani lahan semak- belukar ini tidak mempunyai nilai komersial.
b. Eko-Sistem Perkebunan, Kebun Campuran dan Kebun Rakyat
Sistem Kebun campuran ditanami tanaman semusim yang dicampur dengan tanaman tahunan, sedangkan kebun kopi ditanami kopi sebagai tanaman utama dengan
tanaman naungan dadap atau lamtoro. Biasanya kebun campuran terletak lebih dekat
dengan pemukiman, karena memerlukan lebih banyak perawatan tanaman dan perlindung-an
terhadap gangguan babi hutan. Tanaman semusim di kebun campuran biasanya jagung,
ubikayu dan ubi-ubian lainnya, kacang-kacangan, cabai, dan sayuran. Sedangkan tanaman
tahunannya dapat dikelompokkan menjadi (i) tanaman industri: kopi, cengkeh, dan vanilla; (ii)
pohon buah-buahan: apel, alpokad, pisang, dan jeruk; (iii) kayu komersial: mahoni, nyampo,
dan mindi; dan (iv) kayu bakar: lamtoro, dadap, akasia, dan kaliandra.
Kebun kopi milik rakyat menghasilkan kopi jenis Robusta dan jenis Arabusta. Ke
padatan tanaman kopi di kebun milik rakyat ini berkisar antara 600 hingga 1000 pohon per
hektar. Pohon naungan yang lazim digunakan adalah dadap dan lamtoro. Tingkat
pengelolaan dan produktivitas kebun kopi milik rakyat ini masih sangat beragam, demikian
juga umur dan kesuburan tanaman kopi yang ada sekarang. Sekitar 25% dari total kebun
kopi sudah tidak produktif lagi (umur tanaman lebih dari 15 tahun) dan sekitar 20% dari total
kebun kopi masih belum berproduksi (umur tanaman kurang dari 5 tahun). Rataan produksi
kebun kopi milik rakyat setiap tahun sekitar 312 kg biji kopi kering (Dinas Perkebunan
Kabupaten Malang, 1991). Gambaran tentang usahatani kebun kopi rakyat disajikan dalam
13
Tabel 5. Usahatani ini biasanya berjangka waktu 10 tahun, tanaman berproduksi umur 4
hingga 10 tahun, rataan populasi tanaman 1.200 pohon per hektar.
Tabel 5. Rekapitulasi Masukan-Keluaran Usahatani Kopi Rakyat di Ngantang, Kabupaten
Malang
Uraian Kegiatan
Rataan Petani
Kebutuhan tenaga kerja;
HOK/th
Biaya produksi; rp/ha/th
Produksi; kg/ha/th
Penerimaan; rp/ha/th
Penerimaan lain; rp/ha/th
Tenaga kerja tambahan; HOK
Total penerimaan; rp/ha/th
Total tenagakerja; HOK/ha/th
SUmber: (Soemarno. 2002)
Tingkat BPP
146.6
215.8
329 880.0
300.8
601 600.0
245 500.0
102.5
527 808.0
525.6
1 051 200.0
275 600.0
80.4
847 000.0
251.1
1 326 800.0
296.2
c. Eko-Sistem Tegalan
Pengelolaan ekosistem lahan tegalan mengisyaratkan adanya tiga hal penting, yaitu
(i) ketergantungan langsung kepada curah hujan, (ii) ancaman bahaya erosi dan limpasan
permukaan, dan (iii) pelestarian kesuburan tanah dan bangunan terras bangku yang ada.
Kondisi curah hujan merupakan determinan pokok dalam pengelolaan tegalan. Para petani
menggunakan berbagai teknik untuk mengoptimalkan penggunaan air hujan di lahan tegalan.
Pemilihan jenis tanaman dan pola pergiliran tanaman, terrasering, dan pengaturan jadwal dan
cara pengolahan tanah merupakan tiga cara untuk memanfaatkan air hujan secara optimal.
Beberapa pola pergiliran tanaman yang banyak dilakukan oleh petani lahan tegalan di
DAS Brantas Hulu adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
Sub DAS Konto :
Kentang-Kubis
Jagung-Kubis
Jagung-Kac.merah
Kentang-Jagung
Jagung-Jagung
Pinjal:
Jagung-Jagung
Bw.merah-Jagung
Kubis-Jagung
Bw.merah-Kc.merah
Jagung-Bw.merah
Kwayangan:
Jagung-Jagung
Jagung-Bw.merah
K.merah-Jagung
Jagung-Kac.merah
Jagung-Sayuran
Rataan produktivitas tanaman di lahan tegalan ini pada umumnya masih rendah
dibandingkan dengan potensi genetiknya. Dari analisis usahatani dapat dikemukakan
beberapa nilai produktivitas tanaman (Tabel 6). Rendahnya produktivitas tanaman tersebut
diperkirakan berkaitan dengan tersedianya air dalam tanah selama pertum buhannya, dan
rendahnya dosis pupuk yang digunakan.
14
Tabel 6. Produktivitas Beberapa Jenis Tanaman
Jenis Tanaman
Musim Tanam
Jagung
Kentang
Kentang
Kubis
Kacang merah
Kacang merah
Bawang merah
Wortel
Sumber: Soemarno. 2002
MT-1
MT-1
MT-2
MT-1
MT-1
MT-1
MT-2
MT-1
Lokasi
Ngantang
Pujon
Pujon
Pujon
Ngantang
Pujon
Pujon
Pujon
Produksi
(kg/ha)
1 365.00
7 015.38
5 408.40
16 148.60
1 981.75
1 913.59
3 065.43
3 475.34
Sehubungan dengan kondisi hujan, lazimnya petani mengolah tanah jauh sebelum
musim tanam pada awal musim hujan. Hal ini dilakukan karena (i) memungkinkan lebih
banyak penetrasi air hujan pada awal musim, (ii) menghemat waktu, dan (iii) musim kemarau
merupakan masa sepi kerja bagi petani yang hanya mempunyai lahan tegalan. Selama
musim hujan proses erosi dan limpasan permukaan di lahan tegalan sangat intensif. Laju
kedua proses ini pada hakekatnya merupakan fungsi dari (i) jumlah dan pola hujan, (ii) tipe
tanah dan bentuk lahan, dan (iii) agroteknologi yang dilakukan petani, termasuk teknik-teknik
konservasi tanah dan air.
d. Ekosistem Sawah
Total luas lahan sawah di Jawa Timur beragam dari tahun ke tahun. Sebagian dari
lahan sawah ini mempunyai irigasi teknis dan semi-teknis, dan sebagian lainnya tadah hujan.
Umumnya intensitas tanaman padi pada lahan sawah ini berkisar antara 2.0 dan 3.0.
Beberapa macam pola pergiliran tanaman yang banyak dilakukan petani di lahan sawah ialah
:
Lokasi Sub DAS Konto Hulu:
1. Kubis-Kentang-Kacang merah
2. Padi-Kentang-Jagung
5. Padi-Padi-Jagung
Sub DAS Pinjal:
Padi-Padi-Jagung
Padi-Padi-Kacang merah
Padi-Bawang merah-Kubis
Padi-Jagung-Bawang merah
Bawang merah-Padi-Jagung
3. Padi-Kentang-Kubis
4. Kubis-Padi-Kacang merah
Sub DAS Kwayangan:
Padi-Padi-Jagung
Padi-Bawang merah-Jagung
Padi-Jagung-Kacang merah
Padi-Jagung-Jagung
Padi-Baw.merah-Kac.merah
Rataan produktivitas padi di Kecamatan Pujon sekitar 3.800 kg/ha/musim, dan di
Kecamatan Ngantang sekitar 4.200 kg/ha/musim tanam (BPP Ngantang, 1998). Di DAS
Brantas Hulu, sebagian sawah pada musim hujan tidak ditanami padi tetapi ditanami sayursayuran seperti kentang, wortel, kacang merah, dan kubis. Dua alasan pokok yang dapat
dikemukakan ialah (i) kondisi tanah yang sarang air dan (ii) komoditi sayuran dianggap
mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dan mudah memasarkannya. Kondisi terras bangku di
lahan sawah umumnya berkualitas baik, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan
tebing terras diperkuat dengan jenis-jenis rumput lapangan. Pengukuran erosi pada lahan
sawah menunjukkan nilai yang jauh lebih rendah daripada tegalan dan pekarangan.
15
e. Eko-Sistem Pekarangan
Pekarangan dapat diartikan sebagai sebidang lahan yang di dalamnya terletak rumah
tempat-tinggal (pemukiman) yang dikuasai oleh keluarga. Ukuran luas penguasaan peka
rangan sangat beragam, rataan setiap keluarga sekitar 400-750 m2 . Pekarangan mempunyai fungsi ganda bagi kehidupan keluarga, yaitu (i) sebagai tempat tinggal (pemukiman),
(ii) sebagai kebun campuran dengan aneka tanaman palawija, sayur-sayuran , obat- obatan,
buah-buahan, dan kayu bakar; dan (iii) sebagai tempat memelihara ternak. Di berbagai
wilayah ternyata aktivitas usahatani yang utama di lahan pekarangan adalah sapi perah,
sedangkan di Kecamatan Ngantang adalah usahatani kebun campuran. Tingginya intensitas
kegiatan manusia di lahan pekarangan telah mengakibatkan tingginya laju erosi dan
limpasan permukaan. Beberapa faktor penting yang menyebabkannya adalah (i) pemadatan
permukaan tanah oleh manusia dan ternak sehingga kapasitas infiltrasinya rendah, (ii) tingkat
penutupan permukaan lahan oleh vegetasi yang relatif rendah, (iii) penutupan lahan oleh atap
rumah penduduk dan bangunan lainnya, (iv) penimbunan kotoran ternak di pekarangan
secara terbuka, dan (v) penyaluran air hujan langsung dari halaman rumah ke jalan-jalan
desa.
f. Usahatani Ternak
Usahatani ternak merupakan usaha sampingan yang mampu memberikan
sumbangan pendapatan keluarga cukup baik. Usahatani ini dilakukan di lahan pekarangan
dengan melibatkan tenagakerja dari dalam keluarga. Penyebaran jenis ternak di beberapa
lokasi DAS Brantas Hulu dan total kebutuhan hijauan pakan disajikan dalam Tabel 7.
Secara keseluruhan usahatani ternak sapi perah lebih dominan dibandingkan ternak
lainnya, terutama di bagian hulu daerah aliran sungai. Usahatani ternak sapi perah di Jawa
Timur mulai diperkenalkan sekitar tahun 1970-an melalui komunikasi inter-personal.
Perkembangan usahatani ini tampaknya memberikan prospek yang baik ditinjau dari
berkurangnya aktivitas penduduk merambah hutan, kegairahan menanam rumput gajah, serta
tersedianya sumber pendapatan dan kesempatan kerja.
Peluang-peluang positif ini
tampaknya dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendorong keterlibatan penduduk dalam
program konservasi tanah dan air. Perkembangan selanjutnya ditandai oleh berkem bangnya
koperasi susu di Kecamatan Pujon yang semula berfungsi sebagai penghubung antara
peternak sapi perah dengan wilayah wilayah di sekitarnya . Sebagian besar sapi perah di
wilayah Kecamatan Pujon (Sub DAS Konto Hulu) adalah Jenis Peranakan Frisian Holstein
(PFH) lokal dan impor. Sapi jenis impor tersebut diterima peternak melalui Program KIK,
Banpres, PUSP, dan Kredit Koperasi. Pengusahaan sapi perah di wilayah ini umumnya
masih merupakan usaha sampingan. Tujuan pokok pemeliharaan sapi perah ini adalah hasil
susu, sedangkan tujuan sampingannya ialah hasil rabuk kandang dan anak sapi (pedet).
Perkembangan usaha sapi perah didukung sepenuhnya oleh Koperasi Susu SAE
(Sinau Andandani Ekonomi). Koperasi ini mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu
sebagai jembatan penghubung yang menyalurkan hasil susu ke pabrik susu NESTLE di
Surabaya, dan juga ke beberapa agen susu segar di Kota Malang, Pasuruan dan Surabaya.
Berbagai upaya dilakukan para peternak untuk menjaga mutu hasil susu, di antaranya ialah
pemberian ransum pakan secara tepat, biasanya berupa hijauan dan konsentrat.
Pemerahan susu dilakukan pagi dan sore hari oleh tukang pemerah yang mempunyai
ketrampilan khusus dalam hal pemerahan susu dan masalah-masalah higienisnya.
16
Tabel 7. Penyebaran Ternak Penting di DAS Brantas Hulu
Jenis Ternak
Sub DAS
Konto
Sapi perah
Sapi kerja
Kambing dan
Domba
Total
Kebutuhan
5 479.70
882.60
830.60
7 192.90
131 270.425
Sub DAS Pinjal
Sub DAS Kwayangan
.............. ST ................
123.75
902.40
422.00
1 448.15
26 428.738
415.15
515.20
382.50
1 312.85
23 959.513
pakan, ton/th
Sumber: Soemarno. 2002.
Perkembangan populasi ternak sapi perah di wilayah ini berlangsung melalui tiga cara
(i) kelahiran dari induk yang ada, (ii) penambahan dari luar daerah, dan (iii) penambahan
ternak melalui program sumbangan/bantuan/kredit.
Kenaikan jumlah ternak ini
mengakibatkan meningkatnya kebutuhan hijauan pakan. Sumber pakan hijauan ini adalah
lahan usaha pertanian dan di luar lahan usaha pertanian termasuk lahan semak-belukar,
serta hijauan dari luar daerah. Perkiraan daya dukung hijauan di Sub DAS Konto Hulu
dengan sistem tertutup (close-system) memberikan hasil seperti dalam Tabel 8 (Widodo,
1988). Produksi hijauan pakan ternak berfluktuasi sesuai dengan kondisi musim dalam
setahun, dan jumlah produksi hijauan di lahan usahatani berhubungan erat dengan sistem
pertanian dan pola tanam yang dilakukan petani.
Praktek pemberian makanan kepada ternak sapi perah masih beragam di antara para
peternak, biasanya jumlah hijauan pakan yang diberikan dihitung dengan satuan pikul atau
keranjang atau ikat yang beratnya sangat beragam. Biasanya pakan hijauan diberikan tiga
kali dalam sehari, yaitu pagi, siang, dan sore. Akan tetapi ada pula yang memberikan pakan
hijauan ini secara terus menerus sepanjang hari. Pakan konsentrat biasanya dibe rikan dua
kali, yaitu pagi dan sore hari.
Tabel 8. Perkiraan Daya Dukung Sub DAS Konto Hulu Berdasarkan Produksi Hijauan Pakan.
Jenis Daya Dukung
Lahan Usahatani
Luar Lahan Usahatani:
2.1. Tanpa hutan
2.2. Dengan hutan
Daya dukung Aktual
Daya dukung Potensial
Sumber: Widodo, 1988
Hasil hijauan
(ton/tahun)
71 778.09
Kesetaraan
(ST)
4 916
7 123.00
128 329.00
78 901.09
200 107.38
488
8 790
5 404
13 706
Biaya-biaya produksi tersebut lazimnya dikelompokkan menjadi 10 kelompok, yaitu (i)
biaya penyusutan ternak, (ii) biaya penyusutan kandang, (iii) biaya penyusutan peralatan, (iv)
biaya makanan ternak (v) biaya tenaga kerja, (vi) biaya pelayanan perkawinan, (vii) biaya
17
perawatan dan pengobatan, (viii) biaya angkutan hasil, (ix) biaya angsuran kredit, dan (x)
biaya lain-lain .
Biasanya perhitungan biaya produksi tersebut didasarkan pada satu masa calving interval.
Perhitungan biaya tenaga kerja hanya dilakukan terhadap tenagakerja luar kelu arga.
Tenagakerja ini digunakan untuk aktivitas membersihkan kandang, pemerahan, memberi
makanan sapi, memandikan sapi, dan perawatan sapi sehari-hari. Satuan-satuan
usahatani sapi perah tersebut di atas ialah keluarga-keluarga petani-peternak.
Umumnya mereka mengupah tenagakerja tetap yang berasal dari luar keluarga untuk
merawat sapi sehari-hari.
Tabel 9.
Rekapitulasi Rataan Masukan-Keluaran Usahatani Ternak Sapi Perah pada
Tingkat Peternak dan BPP Pujon (1997/1998)
Uraian Kegiatan
Nilai Rataan per tahun:
Peternak
BPP
......(rp/ST)......
Bibit
150 000
150 000
Hijauan pakan
129 600
151 750
Pakan konsentrat
150 000
195 600
Tenagakerja
200 000
250 000
Biaya lain-lain
75 000
140 000
Total biaya
704 600
887 350
Hasil susu segar
962 500
1 347 500
Hasil anakan; rata-rata per tahun
66 700
67 500
Hasil rabuk kandang
43 200
57 400
Hasil daging akhir
75 000
75 000
Total penerimaan
1 147 400
1 547 400
Pendapatan
442 800
660 050
B/C-rasio rataan
1.63
1.74
Keterangan: Diolah dari hasil survei yang dilakukan oleh KOPSAE Pujon tahun.
Beberapa hal penting yang dapat dikemukakan tentang usahaternak sapi perah
(1997/98) adalah :
1. Harga bibit sapi perah antara Rp 650 000 - 800 000
2. Umur produktif sekitar 56 bulan dengan 4.2 kali laktasi
3. Produksi susu 2 750 liter tiap masa laktasi 275 hari.
4. Nilai daging pada akhir umur produktif Rp 300 000.
5. Interest rate diperhitungkan sebesar 10.5%
6. Hijauan pakan 40 kg/ST/hari, dengan harga rataan setiap satu kilogram Rp 10 pada
musim kemarau dan Rp 8 pada musim hujan .
7. Selama masa laktasi dan 25 hari sebelum beranak diberi makanan penguat sebanyak 5
kg/ST/hari, rataan harganya setiap kilogram sekitar Rp 90 hingga Rp 100.
8. Semua anakan jantan dan sepertiga anakan betina untuk penggemukan dengan nilai
masing-masing Rp 50 000; sedangkan duapertiga anakan betina untuk breeding
dengan nilai satuan Rp 150 000. Rataan nilai anakan sapi minus resiko 20%, sekitar
Rp 66 700
9. Rataan nilai rabuk kandang sekitar Rp 120 setiap hari
10. Biaya tenagakerja diperkirakan setiap hari sebesar Rp 350 - Rp 450 atau setara dengan
0.5 HOK/ST.
18
4.2. Produktivitas Ekosistem Lahan Pertanian
Produktivitas merupakan ukuran utama dari tingkat kleruskaan sumberdaya lahan,
terutama kalau fenomena kerusakan ini masih tersembunyi. Oleh karena itu berbagai usaha
dan upaya dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan tingkat produktivitas lahan yang
layak dan lestari. Sebagai salah satu perwujudan dari Panca Bhakti Pertanian di Jawa Timur
adalah dikeluarkannya berbagai kebijakan dan dilakukan usaha-usaha pengelolaan lahan
pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman pangan.
4.2.1. Kualitas Sumberdaya Lahan
Secara garis besar, kualitas sumberdaya lahan pertanian ditentukan oleh faktor faktor geomorfologi, togografi, jenis tanah, agroklimat, dan lokasi. Selanjutnya kualitas ini
akan menentukan kapabilitasnya untuk memproduksi tanaman dan potensinya untuk menjadi
kritis oleh faktor-faktor alam dan pengelolaan. Sekitar dua-pertiga wilayah Jawa Timur
merupakan daerah pegunungan dan bukit, dan sisanya merupakan dataran rendah dan
lembah-lembah sungai.
19
Tabel 11. Luas Panen, Rataan Produksi dan Produktivitas tanaman Sayuran dan Buahbuahan.
No
.
Komoditi
Sayuran
1.
Bw.putih
2.
Kentang
3.
Kubis
4.
Bw.merah
5.
Lombok
Luas Panen (ha)
Produksi (ton)
1987
1997
1987
1997
1987
1200
5107
4948
15359
40420
4280
9034
10648
16895
34898
5977
33367
55842
74890
121719
26785
120794
143747
153802
59690
49.77
65.34
112.86
48.76
30.11
4478975
4436922
8507301
39379520
83963217
820867
1591349
20063671
99075
73412
268083
1641609
35786
66471
30896
963473
69375
122847
620805
507199
100361
60508
20218
1120409
0.18
0.21
0.63
0.14
0.01
0.16
0.09
0.16
Buah-buahan (Pohon):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
8
Apel
Jeruk
Mangga
Pisang
Nanas
Rambutan
Salak
Lainnya
5582187
3563533
4273665
119462472
54739371
4238674
3306296
61717741
Sumber: Hasil analisis data sekunder.
Jenis tanah di DAS Brantas Hulu Jawa Timur sebagian besar adalah Inseptisol, dan
Andosol. Kedua jenis tanah ini subur dan erodibilitasnya cukup tinggi.
Hasil pemantauan terhadap lahan –lahan pada areal pertanian tanaman pangan
menunjukkan bahwa di DAS Brantas Hulu terdapat lahan kritis yang masih cukup luas dan
perlu penanganan yang lebih seksama.
5. PERMASALAHAN PENGELOLAAN LAHAN
Pembangunan daerah dan masyarakat pada hakekatnya merupakan bagian integral
dari upaya pembangunan secara nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia
yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam wadah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Visi dalam pembangunan daerah adalah "pembangunan daerah untuk
pemberdayaan masyarakat".
Untuk itu misi yang harus dijalankan adalah dengan
meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah yang dapat mengembangkan kemampuan
masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia baik yanq
berasal dari pelayanan pemerintah, kapasitas sosial-ekonorni masyarakat, serta sumberdaya
lain yang ada di daerah.
Pembangunan daerah merupakan upaya terpadu yang menggabungkan dimensi
kebijakan pengembangan masyarakat, perwujudan pemerintahan yang baik, integrasi
ekonomi antar sektor, pelayanan lokal, pengelolaan sumberdaya lahan secara lestari, serta
penanganan secara khusus daerah-daerah lahan kritis.
5.1. Permasalahan Pengelolaan Lahan
20
Di wilayah DAS Brantas hulu diperkirakan terdapat cukup banyak lahan kritis dan
potensial kritis di luar kawasan hutan, hampir seluruhnya dikelola dengan berbagai tipe
usahatani lahan kering secara subsistensi oleh masyarakat pemiliknya.
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah keadaan bio-fisik lahan kering yang
sangat beragam dan sebagian sudah rusak atau mempunyai potensi sangat besar untuk
menjadi rusak. Dalam kondisi seperti ini mutlak diperlukan penajaman teknologi pemanfaatan
sumberdaya lahan kering dan pembenahan kelembagaan penunjangnya.
Lima syarat yang harus dipenuhi dalam upaya penerapan dan pengembangan teknologi pengelolaan lahan kritis, adalah
(i) Secara teknis dapat dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan sesuai dengan kondisi
agroekosistem setempat (site specific),
(ii) Secara ekonomis menguntungkan pada kondisi tatanan ekonomi wilayah pedesaan
(ecological economic),
(iii) Secara sosial tidak bertentangan dan bahkan mampu mendorong motivasi dan
partisipasi petani (social participation),
(iv) Ramah dan aman lingkungan (sustainable),
(v) Mampu membuka peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah secara
berkelanjutan (economic linkages).
Sumberdaya lahan mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan manusia.
Segala macam bentuk intervensi manusia secara siklis dan permanen untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat materiil maupun spirituil yang berasal dari lahan
tercakup dalam pengertian penggunaan lahan, atau land use. Dengan peranan ganda
tersebut, maka dalam upaya pengelolaannya, sering terjadi benturan di antara sektor-sektor
pembangunan yang memerlukan lahan. Fenomena seperti ini seringkali mengakibatkan
penggunaan lahan kurang se- suai dengan kapabilitasnya. Dalam hubungannya dengan
penggunaan lahan ini, ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai lahan, yaitu (i) kualitas fisik
lahan, (ii) lokasi lahan terhadap pasar hasil-hasil produksi dan pasar sarana produksinya, dan
(iii) interaksi di antara keduanya. Nilai lahan semakin besar apabila kualitas biofisiknya
semakin baik dan lokasinya semakin dekat dengan pasar. Sehubungan dengan kualitas fisik
lahan, keberhasilan suatu sistem pengelolaan lahan kering (seperti misalnya usahatani
konservasi) juga dibatasi oleh persyaratan-persyaratan agroekologis (terutama kesesuaian
tanah dan ketersediaan air) . Persesuaian syarat agroekologis menjadi landasan pokok dalam
pengembangan komoditas pertanian lahan kering. Penyimpangan dari persyaratan ini bukan
hanya akan menimbulkan kerugian ekonomis, tetapi juga akan mengakibatkan biaya-sosial
yang berupa kemerosotan kualitas sumberdaya lahan. Di lokasi-lokasi tertentu, seperti lahan
kering di bagian hulu DAS, biaya sosial tersebut bisa bersifat internal seperti kemunculan
tanah-tanah kritis dan bersifat eksternal seperti sedimentasi di berbagai fasilitas perairan.
Atas dasar problematik seperti di atas, maka evaluasi kesesuaian agroekologis lahan
kering untuk penggunaan pertanian masih dipandang sebagai bottle neck dalam kerangka
metodologi perencanaan sistem pengelolaan lahan kering. Beberapa metode dan prosedur
evaluasi agroekologis dapat digunakan untuk kepentingan ini. Metode-metode ini masih
bertumpu kepada aspek agroekologi, sedangkan aspek sosial-ekonomi-budaya masih belum
dilibatkan secara langsung. Demikian juga sebaliknya, pendekatan agroekonomi untuk
mengevaluasi usahatani lahan kering yang lazim digunakan hingga saat ini biasanya juga
belum melibatkan secsara langsung aspek-aspek agroekologis. Selama ini penelitianpenelitian untuk memanipulasi lingkungan tumbuh pada lahan kering dilakukan dengan
metode eksperimental di lapangan yang sangat tergantung pada musim, memerlukan waktu
lama dan sumberdaya penunjang yang cukup banyak. Kondisi lahan kritis biasanya ditandai
oleh infrastruktur fisik dan sosial yang rendah dan keterbatasan-keterbatasan akses lainnya.
Keterisolasian penduduk dari sumber informasi mengakibatkan mereka kurang mampu
mengembangkan wilayahnya secara mandiri. Kondisi seperti ini diperparah oleh keterbatasan
kemampuan aparat pemerintah untuk menjangkau masyarakat di lahan kering yang sebagian
besar relatif miskin. Pada kondisi seperti itu, siperlukan rancangan khusus sistem usahatani
21
konservasi di lahan kering untuk menciptakan produksi pertanian yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan disertai dengan dukungan pengembangan peranan wanita
pedesaan, fasilitas perkreditan, jalan dan transportasi desa, sarana air bersih pedesaan dan
sarana penunjang lainnya.
Dalam proses produksi pertanian, masukan-masukan yang berupa material,
teknologi, menejemen dan unsur-unsur agro ekologi akan diproses untuk menghasilkan
keluaran-keluaran yang berupa hasil-hasil tanaman dan ternak. Hasil-hasil sampingan dan
limbah dari proses produksi tersebut dapat berupa hasil sedimen, hasil air, dan bahan-bahan
kimia yang dapat menjadi pencemar lingkungan. Limbah ini biasanya diangkut ke luar dari
sistem produksi dan menimbulkan biaya eksternal dan efek eksternalitas. Biasanya sistem
produksi pertanian di daerah hulu sungai mempunyai efek eksternal yang cukup luas dan
akan diderita oleh masyarakat di daerah bawah. Dalam suatu daerah aliran sungai yang
mempunyai bangunan pengairan seperti bendungan, waduk dan jaringan irigasi, efek
eksternalitas tersebut menjadi semakin serius, karena dapat mengancam kelestarian
bangunan-bangunan tersebut.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan efek eksternalitas tersebut,
namun hasilnya masih belum memadai. Hal ini disebabkan oleh karena mekanisme pasar
tidak dapat bekerja untuk mengalokasikan eksternalitas (Soemarno, 1990). Sehingga
produsen pertanian di daerah hulu tidak mau menanggung biaya eksternal yang ditimbulkannya. Disamping itu, biaya untuk mengendalikan efek eksternalitas tersebut relatif sangat
besar dibandingkan dengan biaya produksi dan penerimaan usahatani. Dalam kondisi
seperti ini diperlukan campur tangan kebijakan pemerintah. Davies dan Kamien (1972)
mengemukakan beberapa macam campur tangan pemerintah untuk mengendalikan efek
eksternalitas, yaitu:
(i) larangan,
(ii) pengarahan,
(iii) kegiatan percontohan,
(iv) pajak atau subsidi,
(v) pengaturan (regulasi),
(vi) denda atau hukuman, dan
(vii) tindakan pengamanan.
Efek eksternalitas dalam batas-batas tertentu juga berhubungan dengan degradasi
sumberdaya lahan yang pengaruhnya dapat terjadi terhadap proses produksi. Pada lahan
pertanian di daerah hulu sungai efek eksternalitas tersebut biasanya berkaitan erat dengan
intensitas pengusahaan lahan yang pada kenyataanya sangat beragam.
Kondisi sumberdaya lahan kritis yang sangat beragam dan kondisi iklim yang
berfluktuasi tersebut pada kenyataannya sering menjadi kendala yang menentukan tingkat
efektivitas implementasi teknologi pengelolaan yang ada. Khusus dalam hal konservasi tanah
dan air, kendala yang dihadapi adalah erodibilitas tanah dan erosivitas hujan yang sangat
tinggi, faktor lereng dan fisiografi. Dalam kondisi seperti ini maka tindakan konservasi tanah
harus dibarengi dengan intensifikasi usahatani dan rehabilitasi lahan. Salah satu upaya
intensifikasi usahatani lahan kering adalah dengan pemilihan kultivar, pengaturan pola tanam
yang melibatkan tanaman semusim dan tanaman tahunan, serta ternak dibarengi dengan
penanaman rumput/tanaman hijauan pakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh P3HTA
tentang pola usahatani lahan kering pada musim tanam 1985/1986 memberi informasi bahwa
polatanam introduksi : jagung + kacang tanah (atau kedelai) + ubikayu, diikuti jagung +
kedelai (atau kacang hijau), dan diikuti kacang tunggak lebih efisien dalam memanfaatkan
sumberdaya pertanian dan lebih produktif daripada pola tanam tradisional. Suatu peluang
yang tampaknya cukup besar di lahan kering adalah usahatani tanaman pisang dan kelapa.
Kedua jenis komoditas ini ternyata mampu mensuplai pendapatan dan kesempatan kerja bagi
petani lahan kering, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pemupukan urea,
TSP dan KCl ternyata mampu meningkatkan produktivitas kedua tanman ini secara signifikan.
Penelitian-penelitian ini sudah mulai melibatkan aspek konservasi tanah, laju erosi dan
22
limpasan permukaan sudah mulai diamati dan diukur di lapangan, sehingga diperlukan dana
yang cukup banyak dan harus mengikuti irama musiman. Selain itu, penelitian-penelitian ini
masih belum menganalisis hasil-hasil erosi dan limpasan permukaan secara terintegrasi
dengan analisis ekonomis, belum dilakukan analisis kepekaan erosi dan limpasan permukaan
terhadap variasi bentuk kegiatan konservasi tanah, serta belum memperhitungkan
kemungkinan-kemungkinan dampak jangka panjangnya. Tampaknya komponen teknologi
sistem usahatani lahan kering yang cukup baik untuk menunjang program intensifikasi adalah
ternak. Introduksi hijauan pakan ternak, baik yang berupa rumput maupun semak/perdu dan
pepohonan, mampu memberikan manfaat ganda, yaitu mengurangi bahaya erosi dan
limpasan permukaan, serta menghasilkan pakan hijauan. Khusus jenis rumput setaria
ternyata mempunyai peluang yang cukup baik untuk dikembangkan di lakan kering, karena
mempunyai nilai gizi yang cukup baik bagi ternak ruminansia serta mampu memainkan peran
sebagai tanaman penguat teras yang baik. Usahatani domba ternyata mampu memberikan
sumbagan pendapatan keluarga yang cukup besar (bisa mencapai 35% dari total pendapatan
keluarga), dan faktor utama yang sangat berpengaruh adalah jumlah dan jenis (kualitas)
pakan yang terkonsumsi ternak.
Produksi pertanian yang berkelanjutan yang sekaligus memperhatikan aspek
kelestarian lingkungan alam ini akan dicapai melalui pendekatan usahatani yang menyeluruh
denagn menerapkan paket teknologi "Asta-usaha". Penerapan paket teknologi yang terdiri
atas penggunaan benih unggul, pengolahan tanah, pengairan, perlindungan tanaman, cara
bercocok tanam, pengolahan hasil, pemasaran dan konservasi tanah ini diharapkan akan
mampu menjawab tantangan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah. Dalam
hubungan ini diperlukan berbagai petunjuk teknis yang tepatguna. Petunjuk teknis bagi
pengembangan sistem pertanian lahan kering ini terdiri atas Usahatani konservasi dan
produksi pertanian, Produksi Peternakan, Penyuluhan dan transfer informasi, Pembinaan
wanita pedesaan, pengembangan lembaga keuangan pedesaan, Pembangunan prasarana
jalan, dan Pengadaan fasilitas air bersih. Komponen-komponen teknologi ini dikemas dalam
suatu program pembangunan pertanian lahan kering untuk meningkatkan ekonomi wilayah
dan sekaligus kesejahteraan masyarakat setempat.
5.2. Problematik Teknologi Konservasi Tanah dan Air
Permasalahan dan kendala bagi upaya konservasi tanah yang sering dijumpai di
lahan kritis adalah
(I) Kondisi lahan yang curam sehingga pengolahan tanah akan merangsang dan
mempercepat proses erosi dan tanah longsor,
(ii) Rendahnya rataan penghasilan petani lahan kering yang menyebabkan tidak mampu
untuk membiayai kegiatan konservasi tanah,
(iii) Masih terbatasnya keberdayaan petani untuk usaha konservasi tanah sebagai akibat dari
keterbatasan income dan kebutuhan keluarga yang senantiasa terus mendesak, dan
(iv) Keterbatasan sarana dan prasarana pengembangan sistem usahatani konservasi
berbasis agroforestry.
(I)
(ii)
(iii)
(iv)
Lokasi prioritas bagi kegiatan konservasi tanah harus memenuhi kriteria
Terletak dalam Zone Erosi Kritis dengan luasan penggunaan lahan > 75% sebagai
lahan kering;
Sebagian besar diusahakan untuk usahatani kecil;
Kemiringan lahan antara 8% hingga 45% dengan tebal solum kurang dari 50 cm, untuk
daerah yang solumnya kurang 30 cm diarahkan untuk tanaman keras tahunan; dan
Respon masyarakat pedesaan cukup tinggi.
Metode konservasi tanah yang sering digunakan adalah metode sipil-teknis dan
metode vegetatif. Bentuk-bentuk teknik konservasi tanah yang dicobakan dapat berupa teras
bangku, teras gulud, teras kredit, teras individu, teras kebun, saluran diversi, saluran
23
pembuangan air, dan penanaman tanaman penguat teras pada bibir/tampingan, tanaman
penutup tampingan teras dan penanaman berjalur (strip cropping).
5.3. Resume Permasalahan dan Pemecahannya
5.3.1. Permasalahan
1. Rendahnya peran serta masyarakat disebabkan oleh kurang terpenuhinya kebutuhan
jangka pendek dari hasil kegiatan penghijauan, terbukti bangunan konservasi (SPA, drop
structure) dan tanaman tahunan kurang begitu mendapat perhatian dalam
pemeliharaannya.
2. UP-UPSA sebagai wahana dan sarana penyuluhan usahatani konservasi dan teknologi
konservasi lainnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan transfer
informasi kepada masyarakat sasaran .
3. Peran serta Penyuluh Lapangan kurang efektif dalam membangkitkan motivasi dan
mengubah perilaku masyarakaf, karena para Penyuluh lebih banyak berperan dalam
meningkatkan ketrampilan teknis dan pendekatan yang digunakan masih bertumpu pada
“broadcasting systems”.
4. Keterbatasan pengetahuan kelompok tani dalam menuangkan kegiatan administrasi
proyek yang agak rumit, sehingga menimbulkan berbagai kendala administrasi pelaporan
kegiatan.
5. Keterbatasan kemampuan masyarakat untuk meme lihara / mengamankan hasil-hasil
kegiatan penghijauan kerena keterbetasan modal dan ketersediaan tenaga kerja.
6. Sistem pendanaan kegiatan penghijauan merupakan bansus Pusat ke Tingkat II
sehingga pelaksanaan di lapangan sering terlambat sebagai akibat dari persyaratan
birokrasi yang beraneka ragam
5.3.2. Upaya pemecahan masalah
1. Meningkatkan peranan UP-UPSA sebagai “Kebun Teknologi dan Sekolah Lapangan
Penghijauan” serta diikuti dengan peningkatan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat,
sehingga UP-UPSA betul-betul menjadi sarana yang dibutuhkan masyarakat untuk
memberdayakan dirinya.
2. Materi penyuluhan harus bergam sesuai dengan kebutuhan kelompok-kelompok
masyarakat yang beragam, baik aspek ketrampilan maupun afektif dan dilaksanakan
dengna mengadopsi pendekatan “receiving system groups”.
3. Pemilihan jenis tanaman dan teknologi pengusahaannya hendaknya mengacu pada
kesesuaian agroklimat, bernilai ekonomis tinggi, cepat menghasilkan, disukai oleh
masyarakat, serta mempunyai keterkaitan yang luas dengan aktivitas produktif lainnya di
masyarakat.
4. Khusus dalam kaitannya dengan komoditi ekonomis berjangka panjang (seperti pohon
buah-buahan dan kayu-kayuan, ternak sapi kereman) harus diadopsi pendekatan
Kawasan Agribisnis Penghijauan Milik Masyarakat (KAGIMAS), yang berdasar kepada
kaidah-kaidah ecological-economic.
5.4. Permasalahan pada Tingkat Lahan Pekarangan
“Pekarangan” di daerah lahan kritis DAS Brantas Hulu dapat didefinisikan sebagai
"sebidang lahan dengan batas-batas tertentu, yang ada bangunan tempat tinggal dan
mempunyai hubungan fungsional secara ekonomi, biofisik dan sosial-budaya dengan
pemiliknya". Pengertian ini mengisyaratkan betapa penting fungsi dan peranan “lahan
pekarangan” bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
24
Luas lahan pekarangan di daerah kritis ini diperkirakan mencapai sekitar 20-30% dari
luas lahan pertanian yang ada, dan merupakan sumber pendapatan rumahtangga yang
sangat penting
Ciri-ciri pekarangan di daerah lahan kritis ini sama halnya dengan ciri lahan kering
kritis di daerah lainnya, yaitu keadaan fisiografis lahan yang beragam mulai dari
kelerengannya, struktur tanah, kedalaman solum, kesuburan tanah, neraca lengas tanah,
serta cara-cara pengelolaan petani yang seadanya, sedikit penggunaan input produksi
komersial dan dicirikan oleh adanya tatanan “multistrata systems”, strata pertama pohon
kayu-kayuan/buah-buahan, strata ke dua tanaman pangan semusim, dan strata ke tiga
biasanya berupa cover-crops/rumput pakan ternak. Dalam sistem campuran seperti ini
biasanya produktivitas tanaman pangan (ubi kayu, jagung, kacang- kacangan dan sayuran)
dan tanaman tahunan (kelapa, pete, melinjo, buah-buahan) yang dihasilkan dikategorikan
rendah. Namun demikian, hal yang diutamakan adalah kesinambungan hasil produksi
sepanjang tahun.
Gambaran kondisi “Pekarangan” di wilayah lahan kritis DAS Brantas Hulu, Jawa
Timur, mempunyai ciri-ciri ekologis sebagai berikut :
Tinggi tempat antara 800 - 1200 m di atas permukaan laut, fisiografi bergelombang
0
hingga berbukit dengan kerelengan 20-35%. Suhu udara rata-rata adalah antara 21 C, dan
0
0
suhu maksimum antara 24 C serta suhu minimum sekitar 18 C. Lama penyinaran matahari
diperkirakan antara 40-60% di musim penghujan sampai 70-85% di musim kemarau. Hal ini
menunjukkan bahwa pada musim penghujan intensitas cahaya bisa berkurang dibanding
musim kemarau karena matahari sering tertutup awan.
Rata-rata hujan tahunan menunjukkan kisaran antara 1.400 mm sampai 2.100 mm
dengan rata-rata bulan basah (lebih 100 mm/bulan) selama 5-6 bulan/tahun. Musim
penghujan umumnya terjadi antara bulan Nopember sampai dengan April. Pada periode ini
jumlah hujan mencapai 80% dari total hujan tahunan yang jatuh di daerah ini sehingga
limpasan hujan yang cukup deras merupakan masalah serius yang dihadapi masyarakat di
daerah ini.
Tata ruang pekarangan umumnya bernuansa tradisional, ditandai rumah yang
menjadi satu dengan kandang ternak (kalau punya ternak), tempat pembuangan limbah
ternak berdekatan dengan sumur atau rumah, tidak terdapatnya parit atau saluran pembuang
air, sampah-sampah yang tidak terkumpul, sistem tanam yang rapat & seolah-olah tidak
teratur, menganut pola agroforestry.
Lebih lanjut ditemukan bahwa jenis tanaman yang dibudidayakan petani di lahan
pekarangan sangat beragam dengan hasil yang relatif rendah namun berkesinambungan
hampir sepanjang tahun. Tanaman tahunan ekonomis seperti pete, kelapa, mangga,
rambutan, pisang, nangka, alpokad, pepaya, melinjo. Jenis lain berupa pohon kayu-kayuan
seperti Sengon, Akasia, Kaliandra, Gliricidae, Turi (Sesbania), Kasuarina, mahoni, lamtoro
gung, dan lainnya. Sedangkan tanaman pangan dan sayuran yang diusahakan adalah
sayuran, jagung, kacang merah, koro-koroan, kacang-kacangan dan rerumputan pakan
ternak seperti rumput gajah, rumput setaria, kolomento dan lainnya.
Berbagai jenis ternak juga diupayakan seperti sapi, kambing dan ayam buras, dalam
jumlah yang relatif kecil. Sebagian penduduk memelihara sapi kereman bukan milik sendiri
tetapi memeliharakan ternaknya orang lain dengan sistem "gaduhan" yaitu pembagian
keuntungan yang antara pemilik dan pemelihara ternak.
Dari segi pendidikan dan ketrampilan maupun pengetahuan masih bersifat tradisional,
hal ini ditandai bahwa kebanyakan petani-petani tersebut berpendidikan SD atau bahkan
hanya sampai kelas III saja. Begitu juga halnya dengan pengetahuan tentang budidaya
tanaman maupun pengolahan tanah masih tradisional, mengingat tanaman yang dibudidayakan tidak menunjukkan pertumbuhan maupun hasil yang baik. Dalam hal pengolahan
lahannya petani sudah tampak mulai berupaya menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah
untuk mengen dalikan proses erosi dan limpasan permukaan. Kursus- kursus ketrampilan
usahatani konservasi pernah diikuti (penyuluhan dari PPL/PLP), namun untuk
25
menerapkannya secara penuh masih terkendala oleh “terbatasnya” insentif ekonomi yang
dapat diperolehnya.
Sistem pengelolaan lahan pekarangan sudah mulai memperhatikan prinsip-prinsip
konservasi tanah dan air terutama untuk tanh-tanah miring (sistem gulud, teras, rorak-rorak,
saluran pembuangan air maupun saluran diversi). Namun praktek-praktek ini masih perlu
penanganan lebih intensif, terarah dan berkesinambungan. Di satu sisi pada musim kemarau
air kurang tersedia, pada musim penghujan air berlebihan dan membawa akibat negatif
seperti runoff, erosi maupun tanah longsor.
Pada lahan pekarangan yang mempunyai kelerengan 30% dengan kedalaman solum
lebih 50 cm dapat digunakan untuk kombinasi tanaman tahunan dan semusim yang ditanam
secara kontur dan menggunakan teras gulud atau teras bangku.
Jenis-jenis tanaman yang mampu bertahan dan dapat berproduksi dengan kondisi
agroklimat yang ada adalah tanaman kelapa, mangga, nangka, alpokad, mlinjo, mente, petai,
pisang dan tanaman hutan seperti jati, mahoni, albizia, gliricidae, flemingia dan akasia; dan
tanaman lain yang tahan adalah ubikayu, kacang tunggak, jagung, dan aneka sayuran.
Sehingga pemilihan jenis tanaman yang tepat sesuai dengan kondisi lahan petani diharapkan
dapat membantu penyediaan pangan, gizi dan peningkatan pendapatan walaupun di wilayah
tersebut sedang dalam keadaan kemarau.
Ciri-ciri pekarangan di daerah yang lebih datar, adalah keadaan fisiografis lahan yang
berupa dataran berombak hingga bergelombang dengan meiringan lahan 8-15%. Cara
pemanfaatan lahan adalah dengan sistem campuran (mixed cropping), ciri yang menonjol
adalah campuran antara tanaman hortikutura sayuran (sebagai tanaman pokok), jagung
sebagai tanaman sela, dan tanaman pagar pembatas pemilikan lahan.
Dengan keadaan tersebut perlu diupayakan cara-cara pemanfaatan yang lebih
intensif dengan pengembangan sistem surjan maupun penganekaragaman budidaya di
wilayah tersebut seperti penggunaan berbagai jenis kultivar secara tumpangsari / tumpang
sisip di bagian surjan (bidang olah di atas) dan mina padi di tabukan (bidang olah di bawah)
dan dikombinasikan dengan pola tanam yang tepat.
Ciri-ciri yang mempunyai kesamaan antara pemilik lahan adalah kebanyakan
penempatan rumah induk yang menjadi satu kandang ternak (sapi/kambing), kamar mandi,
cuci dan kakus yang kurang baik (biasanya menggunakan sungai sebagai MCK) dan kalau
malam sering membakar jerami/campuran kotoran ternak untuk mengusir nyamuk. Dengan
kondisi tersebut jelas kurang baik bagi kesehatan keluarga mereka, sehingga tidak sedikit
yang menderita sakit sesak nafas.
Melihat perkembangan wilayah maupun penduduk yang relatif lambat serta
rendahnya kemampuan penduduk dalam memanfaatkan pekarangan maupun lahan mereka,
dapat ditandai bahwa rendahnya modal yang ada di wilayah tersebut juga menyebabkan
lambatnya pembangunan di desa tersebut.
Berdasarkan uraian-uraian di atas permasalahan crucial dalam pemanfaatan lahan
pekarangan yang kurang menunjang kehidupan petani pemiliknya adalah :
(1). Masalah defisit lengas tanah pada musim kemarau sehingga kegiatan budidaya di
lahan mereka terhenti dan tenaga kerja produktif (laki-laki/perempuan) menganggur
atau mencari pekerjaan ke luar sistem.
(2). Masalah kelebihan air selama musim penghujan, sehingga limpasan air menyebabkan
erosi terutama untuk lahan-lahan pekarangan yang miring dan tanahnya sangat
erodible.
(3). Masalah cara pemanfaatan lahan pekarangan pada saat tersedia air (air hujan) kurang
efisien, efektif dan bermanfaat untuk menunjang pangan, gizi dan peningkatan
pendapatan pemiliknya. Hal ini terpaksa terjadi karena keterbatasan modal dan
sumberdaya untuk menerapkan pengelolaan usaha yang lebih intensif.
(4). Masalah sanitasi lingkungan kurang sehat yang berkaitan dengan tata ruang bangunan
induk dan bangunan penunjang lainnya untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan
di lahan pekarangan.
26
(5).
(6).
(7).
Masalah sosial (persepsi, sikap dan perilaku) terutama yang menyangkut kualitas
sumberdaya manusia seperti pendidikan, kesehatan, pengetahuan & ketrampilan,
budaya dan tradisi yang masih dapat dioptimalkan.
Keterbatasan modal, dan lemahnya posisi tawar dalam mekanisme pemasaran produk,
sehingga potensi pekarangan belum dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Masalah kelembagaan dan peranannya dalam peningkatan pendapatan penduduk,
peningkatan modal investasi eksternal di lahan kritis, produktivitas lahan dan
keberlanjutan usaha produksi berbasis sumberdaya lahan.
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan maka arah pemberdayaan
/pemanfaatan ditekankan pada penyajian informasi dasar tentang kondisi agroekologis, tata
ruang pekarangan, proses produksi pertanian dan pertanian di pekarangan, perilaku sosial
ekonomi petani, status pangan dan gizi keluarga, pekarangan dan kemampuan daya
serapnya terhadap tenaga kerja serta perilaku petani dalam melestarikan sumberdaya alam
dan lingkungannya. Ini semua dapat tercakup dalam SISTEM INFORMASI PEKARANGAN .
Berdasarkan sajian informasi tersebut diharapkan dapat disusun rancanganrancangan tata ruang, jasa produksi, teknologi pascapanen serta alternatif penanganannya di
bidang permodalan, pengelolaan dan kelembagaan yang menunjang proses pemberdayaan
ekonomi masyarakat lahan kritis.
…………… bersambung ………….
Download