STUDI PENGARUH VARIASI PEMBERIAN KADAR EGCG

advertisement
STUDI PENGARUH VARIASI PEMBERIAN KADAR EGCG
(Epigallocatechin gallate) TEH HIJAU DALAM MENGONTROL
LEVEL GLUKOSA PLASMA DARAH POST-PRANDIAL
PADA SUBJEK DEWASA MUDA SEHAT
YOGHATAMA CINDYA ZANZER
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
ABSTRACT
Green tea is widely consumed both in Asian and Western countries. Many
beneficial effects of green tea are related to its catechin, particularly (-)epigallocatechin-3-gallate (EGCG) content. The present study was aimed at
providing evidence of improvement on glucose metabolism in healthy humans
upon green tea beverage consumption in various levels of EGCG (0, 100, and
200 mg EGCG). This study showed that introducing of 100 and 200 mg EGCG
reduced increased blood glucose level on healthy humans (p<0,05). Repeated
ANOVA showed that treatments given were significantly affect blood glucose
response for each minutes of observation (p=0.002).
The ANOVA showed that treatments given were significantly affect AUC
(area under curve) value (p=0.006) and glucose score (p=0.006). There were
significant difference of AUC value (p=0.02) and glucose score (p=0.002)
between 0 mg EGCG (control) and 100 mg EGCG group. Likewise, there were
significant difference of AUC value (p=0.002) and glucose score (p=0.018)
between 0 mg EGCG (control) and 200 mg EGCG group. Although AUC value
and glucose score of 200 mg EGCG group were lower than 100 mg EGCG
group, but there were no significant difference in between (p=0.287 and p=0.33,
respectively).
The clinical value on lowering blood glucose showed that subjects in 100
and 200 mg EGCG groups had relative risk value 0.4-0.7 and 0.3-0.7 compared
to the control group respectively. When EGCG consumed by body, then the
number of hyperglycaemia incidence could be reduced by 40-60% and 30-70%
from the previous incidence respectively, while difference between numbers of
hyperglycaemia incidence were 40-60% and 30-70% between subjects who
received 100 and 200 mg EGCG compared to the control group respectively.
Keywords : blood glucose, green tea, EGCG
RINGKASAN
YOGHATAMA CINDYA ZANZER. Studi Pengaruh Variasi Pemberian Kadar
EGCG (Epigallocatechin gallate) Teh Hijau dalam Mengontrol Level Glukosa
Plasma Darah Post-Prandial pada Subjek Dewasa Muda Sehat. Dibimbing oleh
FAISAL ANWAR dan EVY DAMAYANTHI.
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh
pemberian variasi kadar EGCG (epigallocatechin gallate) teh hijau dalam
mengontrol level glukosa darah post-prandial pada subjek dewasa muda sehat.
Tujuan khusus penelitian ini yaitu: (1) Menentukan dan menganalisis kadar
EGCG pada minuman teh uji; (2) Mempelajari dan menganalisis perbedaan
respon glukosa darah post-prandial dari minuman teh uji yang diberikan dengan
kadar EGCG sebesar 100 dan 200 mg; (3) Menghitung dan menganalisis
glucose score serta respon kurva AUC (area under curve) pada berbagai jenis
perlakuan konsentrasi EGCG yang berbeda; (4) Menghitung dan menganalisis
nilai kepentingan klinis pada perlakuan kadar 100 dan 200 mg EGCG.
Penelitian yang berlangsung pada bulan November 2010 - Februari 2011
ini merupakan uji klinis tingkat satu (Phase 1 Clinical Trials) yang dilakukan
dalam dua tahapan yaitu tahap penelitian pendahuluan dan tahap clinical.
Penelitian pendahuluan dilaksanakan di Laboratorium Analisis Teh dan Kina,
Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Indonesia, sedangkan penelitian tahap
clinical dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Gizi, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor, Indonesia. Penelitian ini telah direview oleh tim Komisi
Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia
dengan dikeluarkannya Ethical Clearance No. LB.03.04/KE/8749/2010 pada
tanggal 31 Desember 2010.
Tahap penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui kandungan
EGCG pada minuman teh hijau serta formulasi minuman teh 100 dan 200 mg
EGCG. Sub tahap pertama adalah analisis kadar EGCG yang terdiri dari: a.
Penetapan metode cara pembuatan minuman teh hijau awal atau minuman teh
hijau biang (Komes et al. 2010, Venditti et al. 2010); b. Proses ekstraksi
(liquid/liquid extraction) untuk mengekstrak EGCG yang terdapat dalam minuman
teh (PPTK 2006); c. Injeksi larutan ekstrak ke HPLC (PPTK 2006). Sub tahap
kedua adalah penetapan formulasi kadar EGCG minuman teh yang akan
digunakan untuk intervensi. Setelah mendapatkan kadar EGCG minuman teh
hijau biang, maka dapat dilakukan perhitungan stochiometry untuk mengetahui
volume yang dibutuhkan dari minuman minuman teh hijau biang untuk membuat
minuman teh hijau dengan kadar EGCG sebesar 100 mg dan 200 mg.
Tahap penelitian clinical bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi
variasi kadar EGCG pada respon glukosa darah post-prandial. Sub tahap
pertama yaitu menentukan jumlah subjek yang akan dilibatkan dalam penelitian.
Subjek yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu sebanyak sepuluh orang yang
akan memperoleh intervensi sebanyak tiga kali (0, 100, dan 200 mg EGCG)
dengan periode wash-out minimal dua hari untuk setiap perlakuan. Penentuan
jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan nomogram ukuran sampel dan
power dalam membandingkan dua atau lebih kelompok perlakuan pada clinical
trials (Day & Graham 1989). Screening subjek dilakukan berdasarkan kriteria
inklusi yang dijabarkan pada metode penelitian. Sub tahap kedua adalah
intervensi minuman teh hijau sesuai perlakuan yaitu dilakukan setelah subjek
menjalani puasa selama 10 jam sebelumnya. Pada perlakuan kontrol, subjek
diberikan intervensi 75 g glukosa murni (anhydrous D-glucose) yang dilarutkan
pada 200 ml air mineral. Pada taraf perlakuan 100 mg EGCG, subjek diberikan
intervensi 200 ml minuman teh hijau yang mengandung 100 mg EGCG, setelah
selang 10 menit kemudian diberikan intervensi 75 g glukosa murni yang
dilarutkan pada 200 ml air mineral. Begitu juga pada taraf perlakuan 200 mg
EGCG, subjek diberikan intervensi 200 ml minuman teh hijau yang mengandung
200 mg EGCG, setelah selang 10 menit kemudian diberikan intervensi 75 g
glukosa murni yang dilarutkan pada 200 ml air mineral. Sub tahap ketiga adalah
pengukuran kadar glukosa plasma darah untuk mengetahui kadar glukosa darah
subjek ketika diberikan perlakuan. Prosedur pengukuran glukosa plasma darah
yang digunakan yaitu prosedur pengukuran OGTT (Oral Glucose Tolerance Test)
yang dirujuk dari standar WHO (Reinauer et al. 2002). Sub tahap keempat
adalah pengeplotan data serta perhitungan luas AUC, nilai glucose score, dan
nilai kepentingan klinis. Data kadar glukosa darah yang didapatkan dari setiap
individu kemudian diplotkan kedalam grafik dengan menit pengukuran pada
sumbu-x dan kadar glukosa darah pada sumbu-y. Perhitungan kurva AUC
dilakukan dengan menggunakan aturan trapezoid rules (Shiang 2004; Wolever
2006), sedangkan nilai glucose score dihitung dengan membandingkan antara
luas AUC dari kelompok perlakuan dengan luas AUC kelompok kontrol (Louie et
al. 2008). Nilai kepentingan klinis dihitung dengan metode yang merujuk pada
Dahlan (2010).
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata kandungan EGCG dari 5 gr
teh hijau yang diseduh dalam 200 ml air mineral (minuman teh hijau biang) yaitu
316,30+13,42 mg EGCG. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume yang
dibutuhkan untuk membuat minuman teh hijau dengan kadar 200 mg adalah
126,5 ml yang diambil dari minuman teh hijau biang, sedangkan untuk membuat
minuman teh hijau dengan kadar 100 mg adalah 63,29 ml yang diambil dari
minuman teh hijau biang.
Karakteristik subjek penelitian yang diamati pada penelitian ini meliputi
variabel jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh (IMT),
tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, dan denyut nadi. Rata-rata usia
subjek laki-laki dan perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini berturutturut adalah 22+0,63 dan 21+0,32 tahun, sedangkan rata-rata usia secara
keseluruhan adalah 21,50+0,40 tahun. Rata-rata berat badan subjek laki-laki dan
perempuan pada penelitian ini berturut-turut adalah 56,62+1,68 dan 50,40+2,65
kg, sedangkan rata-rata berat badan secara keseluruhan adalah 53,30+1,77 kg.
Rata-rata tinggi badan subjek laki-laki dan perempuan pada penelitian ini
berturut-turut adalah 170,00+2,22 dan 154,38+3,36 cm, sedangkan rata-rata
tinggi badan secara keseluruhan adalah 162,19+1,22 cm. Hasil perhitungan IMT
menunjukkan bahwa rata-rata IMT subjek laki-laki dan perempuan pada
penelitian ini berturut-turut adalah 19,46+0,62 dan 21,08+0,43 kg/m2, sedangkan
rata-rata IMT keseluruhan adalah 20,27+0,45 kg/m2. Hasil pengukuran tekanan
darah sistole pada subjek laki-laki dan perempuan berturut-turut menunjukkan
angka rata-rata 116,20+4,38 dan 101,00+4,40 mmHg, sedangkan tekanan
diastole berturut-turut menunjukkan angka rata-rata 72,20+2,43 dan 65,00+2,84
mmHg. Rata-rata keseluruhan tekanan darah sistole dan diastole adalah
108,60+3,87 dan 68,60+2,13 mmHg. Rata-rata denyut nadi subjek laki-laki dan
perempuan pada penelitian ini berturut-turut adalah 80,80+6,15 dan 76,20+2,97
kali per menit, sedangkan rata-rata denyut nadi keseluruhan adalah 78,50+3,31
kali per menit. Karakteristik subjek penelitian yang dijabarkan di atas
menunjukkan bahwa subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini termasuk
dalam kategori normal sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan.
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normalitas distribusi data
yang didapatkan dari hasil penelitian. Uji normalitas yang digunakan pada
penelitian ini adalah uji Saphiro-Wilk. Hasil analisis untuk seluruh perlakuan
intervensi menunjukkan bahwa nilai p>0,05 sehingga dapat dikatakan
keseluruhan data memiliki karakteristik normal. Grafik Q-Q Plot juga
menunjukkan bahwa sebaran data memiliki karakteristik normal dikarenakan
tersebar dan mendekati pada garis normalitas untuk masing-masing karakteristik
data tersebut.
Hasil pengamatan kadar glukosa darah kelompok kontrol untuk setiap
menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 84.4+2.82,
165.2+5.83, 156.6+6.89, 135.2+5.33, 120.6+4.94, 101.4+6.42 mg/dl. Hasil uji
independent-t test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata
antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan untuk
setiap menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
p=0.847, p=0.685, p=0.371, p=0.444, p=0.796, p=0.166. Hasil uji repeated
ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh
yang nyata pada respon glukosa darah untuk setiap menit pengamatan ke-0, 30,
60, 90, 120, 150 (p=0,002). Hasil uji lanjut Sidak-Holm menunjukkan bahwa
kadar glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan
kadar glukosa darah menit 0, menit 120, dan menit 150.
Hasil pengamatan kadar glukosa darah kelompok 100 mg EGCG untuk
setiap menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
86.8+1.65, 157.6+6.82, 155.2+6.25, 124.2+4.66, 111.1+5.06, 85.6+5.56 mg/dl.
Hasil uji independent-t test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
nyata antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan
untuk setiap menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
p=0.501, p=0.589, p=0.515, p=0.848, p=0.177, p=0.244. Hasil uji repeated
ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh
yang nyata pada respon glukosa darah untuk setiap menit pengamatan ke0,30,60,90,120,150 (p=0,002). Hasil uji lanjut Sidak-Holm menunjukkan bahwa
kadar glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 dan menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150.
Hasil pengamatan kadar glukosa darah kelompok 200 mg EGCG untuk
setiap menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
84.1+2.48, 157.4+6.53, 147.1+4.38, 121.9+3.82, 109.2+4.65, 82.2+5.34 mg/dl.
Hasil uji independent-t test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
nyata antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan
untuk setiap menit pengamatan ke-0, 30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
p=0.797, p=0.674, p=0.335, p=0.756, p=0.095, p=0.239. Hasil uji repeated
ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh
yang nyata pada respon glukosa darah untuk setiap menit pengamatan ke-0, 30,
60, 90, 120, 150 (p=0,002). Hasil uji lanjut Sidak-Holm menunjukkan bahwa
kadar glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 dan menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150.
Hasil perhitungan luas AUC kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan 200
mg EGCG berturut-turut adalah 335.25+8.48, 317.15+8.66, 309.37+5.87
mg.dl-1.h. Hasil uji repeated ANOVA menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
yang nyata dari perlakuan yang diberikan terhadap luas AUC (p=0,006). Hasil uji
lanjut Sidak-Holm menunjukkan bahwa perbedaan yang nyata (p=0,02) dapat
ditemui pada perbandingan luas AUC kelompok kontrol dengan kelompok 100
mg EGCG. Begitu juga terdapat perbedaan yang nyata (p=0,002) perbandingan
antara luas AUC kelompok kontrol dengan luas AUC kelompok 200 mg EGCG.
Meskipun luas AUC kelompok 200 mg EGCG lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok 100 mg EGCG, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara
keduanya (p=0,287).
Hasil perhitungan nilai glucose score kelompok kontrol, 100 mg EGCG,
dan 200 mg EGCG berturut-turut adalah 100+0.00, 94.64+1.74, 92.58+1.9. Hasil
uji repeated ANOVA menunjukkan terdapat pengaruh yang nyata dari perlakuan
yang diberikan terhadap nilai glucose score (p=0,006). Hasil uji lanjut Sidak-Holm
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p=0,002) antara nilai
glucose score kelompok kontrol dengan kelompok 100 mg EGCG. Begitu juga
terdapat perbedaan yang nyata (p=0,018) perbandingan antara nilai glucose
score kelompok kontrol dan kelompok 200 mg EGCG. Walaupun nilai glucose
score kelompok 200 mg EGCG lebih rendah dibandingkan dengan kelompok 100
mg EGCG, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara keduanya
(p=0,33).
Nilai kepentingan klinis yang diuji adalah RR (relative risk), RRR (relative
risk reduction), dan ARR (absolute risk reduction). Kelompok intervensi 100 mg
EGCG memiliki nilai RR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
0.6, 0.7, 0.4, 0.5, 0.4. Hal tersebut bermakna bahwa kemungkinan subjek pada
pemberian 100 mg EGCG tidak mengalami penurunan kadar glukosa darah
adalah 0,4-0,7 kali dibandingkan dengan subjek kelompok kontrol (plasebo). Nilai
RRR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.4, 0.3, 0.6, 0.5,
0.6. Nilai RRR antara 0,3-0,6 bermakna bahwa jika tubuh mengkonsumsi 100 mg
EGCG, maka jumlah insiden hiperglikemia dapat diturunkan sebesar 30-60% dari
insiden sebelumnya. Nilai ARR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut
adalah 0.4, 0.3, 0.6, 0.5, 0.6. Hal tersebut bermakna bahwa jika EGCG diminum
setiap harinya, maka selisih jumlah insiden hiperglikemia antara subjek yang
mendapat perlakuan 100 mg EGCG dengan subjek kontrol adalah sebesar 3060%.
Kelompok intervensi 200 mg EGCG memiliki nilai RR pada menit ke-30,
60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.7, 0.5, 0.5, 0.5, 0.3. Hal tersebut
bermakna bahwa kemungkinan subjek pada pemberian 100 mg EGCG tidak
mengalami penurunan kadar glukosa darah adalah 0,3-0,7 kali dibandingkan
dengan subjek kelompok kontrol (plasebo). Nilai RRR pada menit ke-30, 60, 90,
120, 150 berturut-turut adalah 0.3, 0.5, 0.5, 0.5, 0.7. Nilai RRR antara 0,3-0,7
bermakna bahwa jika tubuh mengkonsumsi 200 mg EGCG, maka jumlah insiden
hiperglikemia dapat diturunkan sebesar 30-70% dari insiden sebelumnya. Nilai
ARR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.3, 0.5, 0.5, 0.5,
0.7. Hal tersebut bermakna bahwa jika EGCG diminum setiap harinya, maka
selisih jumlah insiden hiperglikemia antara subjek yang mendapat perlakuan 200
mg EGCG dengan subjek kontrol adalah sebesar 30-70%.
Kata kunci : glukosa darah, teh hijau, EGCG
STUDI PENGARUH VARIASI PEMBERIAN KADAR EGCG
(Epigallocatechin gallate) TEH HIJAU DALAM MENGONTROL
LEVEL GLUKOSA PLASMA DARAH POST-PRANDIAL
PADA SUBJEK DEWASA MUDA SEHAT
YOGHATAMA CINDYA ZANZER
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi
pada Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
Judul
: Studi
Pengaruh
Variasi
Pemberian
Kadar
EGCG
(Epigallocatechin gallate) Teh Hijau dalam Mengontrol Level
Glukosa Plasma Darah Post-Prandial pada Subjek Dewasa
Muda Sehat
: Yoghatama Cindya Zanzer
: I14051844
Nama
NIM
Disetujui,
Dosen Pembimbing I
Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, M.S.
NIP. 19520413 198103 1 003
Dr. Ir. Evy Damayanthi, M.S.
NIP. 19621204 198903 2 002
Diketahui,
Ketua Departemen Gizi Masyarakat
Dr. Ir. Budi Setiawan, M.S.
NIP. 19621218 198703 1 001
Tanggal lulus :
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Studi Pengaruh Variasi
Pemberian Kadar EGCG (Epigallocatechin gallate) Teh Hijau dalam Mengontrol
Level Glukosa Plasma Darah Post-Prandial pada Subjek Dewasa Muda Sehat”
adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juni 2011
Yoghatama Cindya Zanzer
NIM. I14051844
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Malang, 07 Maret 1986 dari Ayah AIPTU Djoko
Santoso dan Ibu Tutik Agustini. Penulis merupakan putra pertama dari dua
bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 3 Malang
pada tahun 2005. Pada tahun 2003-2004 penulis mendapat beasiswa dari
American Field Service untuk mengikuti exchange program di GeschwisterScholl-Schule Konstanz, Landes Baden Württemberg, GERMANY. Penulis
diterima untuk melanjutkan pendidikan tinggi di mayor Ilmu Gizi, Fakultas Ekologi
Manusia, IPB melalui jalur USMI pada tahun 2005. Selama menjadi mahasiswa,
penulis aktif dalam berbagai kegiatan bidang akademik dan non-akademik.
Di bidang non-akademik, pada tahun 2007-2008 penulis pernah menjadi
National Vice Director (Head of Exchange Program) pada International
Association of Students in Agriculture and Related Sciences yang berkedudukan
di Faculty of Bioscience Engineering, Katholieke Universiteit Leuven, BELGIUM.
Pada tahun yang sama penulis mendapatkan beasiswa dari German Ministry of
Family, Woman, and Youth untuk melakukan International Voluntary Internship di
Heinrich-Zschokke-Haus Centre for Anthroposophie and Gerontopsychiatry,
Düsseldorf, Landes Nord-Rhein-Westfallen, GERMANY.
Di bidang akademik, pada tahun 2009 penulis memperoleh beasiswa
untuk mengikuti exchange program di Tokyo University of Agriculture, JAPAN
untuk belajar di bidang Food, Agriculture and Environment. Pada tahun 2010
penulis mendapat beasiswa dari ICAS (International Centre for Advanced Health
Studies) untuk belajar Design and Analysis of Clinical Trials dan Advanced
Method of Epidemiology di Faculty of Medicine, Ulm University, GERMANY.
Pada tahun yang sama penulis mendapat beasiswa dari Tokyo Medical and
Dental University untuk mengikuti Advanced Course in Infection and Immunity di
Tokyo Medical and Dental University, JAPAN.
Pada tahun 2009, penulis mendapat penghargaan sebagai mahasiswa
berprestasi ke-2 di Institut Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa, penulis
juga aktif dalam mempublikasikan karya ilmiah di forum ilmiah internasional.
Beberapa karya ilmiah yang dipublikasikan antara lain: (1) Food Diversification
Using A Sweet Potato (Ipomoea batatas.) Blended with Fermented Soy (Tempe)
For Low-Cost Home Made Weaning Foods Facing Undernutrition and Vitamin A
Deficiency in South-East Asia yang dipresentasikan pada The 1st International
Agricultural Student Symposium diselenggarakan oleh University of Putra
Malaysia, MALAYSIA 2009; (2) Econutrition: An Integrated Approach of Safe,
Sustainable, and Environmentally Friendly Food Supply to Improve Economic
and Health Status in Indonesia yang dipresentasikan pada The 9th International
Student Summit on Food, Agriculture, and Environment diselenggarakan oleh
Tokyo University of Agriculture, JAPAN 2009; (3) Potential Role of Vitamin A
Rich-Weaning Foods Based on Orange-Fleshed Sweet Potatoes and Fermented
Soy (Tempe) in Immune Function and Infection Facing Undernutrition Problems
and Vitamin A Deficiency in South-East Asia yang dipresentasikan pada The 9th
International Surugadai Symposium Infection and Immunity diselenggarakan oleh
Tokyo Medical and Dental University, JAPAN 2010.
PRAKATA
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala atas
limpahan rahmat, hidayah, dan karuniaNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada
suri tauladan kita Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam beserta keluarganya
dan para sahabatnya.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih teriring doa
kepada semua pihak yang dengan keikhlasan telah banyak membantu penulis
selama proses pendidikan, perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
1. Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, M.S. dan Dr. Ir. Evy Damayanthi, M.S. atas
segala ilmu, arahan, masukan, perbaikan, serta motivasi yang selama ini
diberikan dan juga kesabaran dalam pembimbingan.
2. Dr. Ir. Lilik Kustiyah, M.S. atas segala motivasi, inspirasi, pelajaran hidup,
serta dukungan yang tiada hentinya.
3. Prof. Richard Peter dan Prof. TM Fliedner yang telah memberikan
beasiswa studi klinis di Faculty of Medicine, Ulm University, GERMANY.
4. Prof. Shrikant Bangdiwala - University of North Carolina at Chapel Hill,
USA sebagai mentor studi klinis di Ulm University, GERMANY.
5. Prof. Miyuki Azuma yang telah memberikan beasiswa Advanced Course
in Infection and Immunity di Tokyo Medical and Dental University, JAPAN.
6. Prof. Akimi Fujimoto dan Prof. Hiroki Inaizumi yang telah memberikan
beasiswa untuk belajar Food, Agriculture, and Environment di Tokyo
University of Agriculture, JAPAN.
7. dr. Mira Dewi, S.Ked., M.Si. dan dr. Noval, S.Ked. atas saran, masukan,
serta bantuannya pada saat studi klinis.
8. Dr. Ir. Rohayati, M.M. yang memberikan ijin penggunaan fasilitas analisis
EGCG teh hijau di Pusat Penelitian Teh dan Kina – Gambung,
INDONESIA.
9. Subjek atau responden studi klinis ini atas partisipasi aktif serta
dedikasinya untuk perkembangan ilmu human nutrition science dan
preventive medicine.
10. Kedua orang tua, papa (AIPTU Djoko Santoso) dan mama (Tutik Agustini)
serta keluarga di Malang atas segala kasih sayang dan didikan yang tiada
henti serta jerih payah, usaha, kesabaran, dan pengorbanan yang tak
terbalaskan.
11. Ayupry Diptasari atas segala support, semangat, dan memories.
12. Para sahabat International Association of Students in Agricultural and
Related Sciences di Indonesia dan Eropa.
13. Para sahabat di Departemen Gizi Masyarakat IPB.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang
tidak dapat disebutkan satu per satu, semoga Allah membalas kebaikan mereka
semua dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Juni 2011
Yoghatama Cindya Zanzer
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .....................................................................................
xiv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................
xv
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................
xvii
PENDAHULUAN .....................................................................................
1
Latar Belakang ..................................................................................
1
Tujuan ...............................................................................................
3
Hipotesis ...........................................................................................
4
Kegunaan ..........................................................................................
4
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................
5
Chronic Non-Communicable Diseases ..............................................
5
Metabolisme dan Regulasi Glukosa Darah ........................................
6
Patofisiologi Diabetes Mellitus ...........................................................
14
Metode Analisis Glukosa Plasma Darah ............................................
20
Nutraceuticals ...................................................................................
22
Teh ....................................................................................................
25
Flavonoid Polifenol pada Teh ............................................................
29
Proses Optimal pada Penyeduhan Teh .............................................
31
METODE PENELITIAN ...........................................................................
34
Waktu dan Lokasi ..............................................................................
34
Bahan dan Alat ..................................................................................
34
Metode ..............................................................................................
35
Pengolahan dan Analisis Data ...........................................................
47
HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................
49
Analisis EGCG Minuman Teh Hijau dan Perhitungan Stokiometri .....
49
Karakteristik Subjek ...........................................................................
52
Uji Normalitas Data ...........................................................................
57
Pola Kurva Glukosa Darah ................................................................
61
Luas AUC (Area Under Curve) dan Glucose Score ...........................
74
Nilai Kepentingan Klinis .....................................................................
78
KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................
81
Kesimpulan .......................................................................................
81
Saran ................................................................................................
82
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
84
LAMPIRAN .............................................................................................
94
DAFTAR TABEL
Halaman
1
Kadar glukosa darah acuan untuk diagnosis tipe DM .......................
20
2
Penggolongan nutraceuticals berdasarkan mekanisme aksinya .......
23
3
Nilai kepentingan klinis perlakuan kontrol dan eksperimen ...............
45
4
Hasil pengujian kadar EGCG minuman teh hijau awal (biang) .........
51
5
Sebaran subjek berdasarkan karakteristiknya ..................................
54
6
Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada
kelompok kontrol ..............................................................................
62
Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada
kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG .........................................
65
Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada
kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG .........................................
67
Luas AUC kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan 200 mg EGCG ....
75
10 Nilai glucose score kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan 200 mg
EGCG ..............................................................................................
77
11 Hasil perhitungan nilai kepentingan klinis dari kelompok intervensi ..
79
3
Perbandingan DM Tipe 1 dan DM Tipe 2 .........................................
17
4
Kelompok hewan coba dan pemberian perlakuan ............................
30
5
Komposisi ransum standar tikus percobaan .....................................
32
6
Kandungan EGCG, theaflavin, dan thearubigin teh hitam dan teh
hijau (Camellia sinensis) dalam persen berat kering (b.k) ................
37
Pengaruh pemberian ransum ad libitum pada tikus normal dan
hiperglikemik terhadap jumlah glikogen............................................
45
7
8
9
7
8
Pengaruh jenis minuman teh terhadap rata-rata konsumsi ransum,
perubahan bobot tubuh, dan kadar glikogen hati pada pengamatan
di hari ke-8 .......................................................................................
0
9
Pengaruh jenis minuman terhadap rata-rata konsumsi ransum,
perubahan bobot tubuh, dan kadar glikogen hati pada pengamatan
di hari ke-16 .....................................................................................
53
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
Mekanisme sistem regulasi post-absorptive .....................................
7
2
Transpor glukosa di epitel usus dikatalisa oleh SGLT1 yang terletak
pada membran apikal, kemudian glukosa meninggalkan sel difasilitasi oleh transporter glukosa (GLUT2) yang terletak pada membran
basolateral .......................................................................................
9
Mekanisme sekresi insulin pada sel beta pankreas yang diinduksi
oleh glukosa serta efeknya pada jaringan peripheral ........................
12
Patofisiologi hiperglikemia dan peningkatan dan peningkatan sirkulasi asam lemak pada penderita DM tipe 2 .......................................
17
Contoh glukometer dan glucose strip yang digunakan dalam pengukuran kadar glukosa plasma darah ...................................................
21
6
Tiga jenis utama teh (A. Teh hijau; B. Teh oloong; C. Teh hitam) .....
28
7
Struktur dasar flavonoid ...................................................................
29
8
Struktur kimia jenis catechin teh serta jenis epimer turunannya .......
30
9
Struktur kimia flavonols pada teh ......................................................
31
10 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau yang diseduh pada menit ke 3 pada suhu 80oC ........................
32
11 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau serbuk (Matcha), potongan daun (Gyokuro), dan kemasan kecil
(Twinning of London) yang dipengaruhi oleh suhu penyeduhan pada
60oC, 80oC (penyeduhan ke-1, ke-2, dan ke-3), 100oC pada menit
ke-3 ..................................................................................................
32
12 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau serbuk (Matcha), potongan daun (Gyokuro), dan kemasan kecil
(Twinning of London) yang dipengaruhi oleh waktu penyeduhan pada
menit ke-3, 5, 10, 15, dan 30 pada suhu 80oC ..................................
33
13 Cara pembuatan minuman teh hijau awal ........................................
35
14 Prosedur analisis kadar EGCG di dalam minuman teh hijau awal ....
36
15 Nomogram ukuran sampel dan power ..............................................
41
16 Ilustrasi tahapan pengambilan sampel darah ...................................
43
17 Bagan alur tahapan penelitian pendahuluan dan klinis .....................
46
18 Grafik Q-Q Plot kelompok kontrol .....................................................
58
19 Grafik Q-Q Plot kelompok 100 mg EGCG ........................................
59
20 Grafik Q-Q Plot kelompok 200 mg EGCG ........................................
60
3
4
5
21 Kurva respon glukosa plasma darah post-prandial subjek dewasa
muda sehat pada kelompok kontrol ..................................................
63
22 Kurva respon glukosa plasma darah post-prandial subjek dewasa
muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG .............
66
23 Kurva respon glukosa plasma darah post-prandial subjek dewasa
muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG .............
68
24 Kurva perbandingan respon glukosa plasma darah post-prandial
subjek dewasa muda sehat pada kelompok kontrol, 100 mg EGCG,
dan 200 mg EGCG ...........................................................................
69
25 Model absorpsi glukosa intestinal apikal GLUT2 pada kondisi sebelum makan (A) dan sesudah makan (B) ...........................................
71
26 Jalur pensinyalan translokasi GLUT4 ...............................................
74
27 Pengaruh intervensi minuman teh hijau dengan berbagai konsentrasi
EGCG terhadap luas grafik AUC ......................................................
76
28 Pengaruh intervensi minuman teh hijau dengan berbagai konsentrasi
EGCG terhadap nilai glucose score .................................................
78
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
Ijin etik penelitian (Ethical Clearance) ...............................................
94
2
Contoh perhitungan luas kurva AUC ................................................
95
3
Contoh perhitungan nilai glucose score ............................................
96
4
Contoh perhitungan nilai kepentingan klinis .....................................
97
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perubahan pola makan yang tinggi lemak dan kalori serta diikuti dengan
gaya hidup yang rendah aktivitas fisik merupakan penyebab timbulnya penyakit
kronis (chronic non communicable diseases) seperti obesitas, diabetes mellitus,
penyakit kardio vaskuler, hipertensi dan stroke, serta beberapa tipe kanker
(Morewitz 2006; WHO Technical Report Series 2003; WHO Technical Report
Series 2005). Angka prevalensi dari penyakit kronis tersebut menunjukkan
peningkatan yang sangat mengkhawatirkan dengan prediksi peningkatan
sebesar 57% hingga tahun 2020 (WHO Technical Report Series 2003). Hal
tersebut tidak hanya terjadi di negara yang sudah maju, tetapi juga di negara
yang sedang berkembang. Salah satu penyakit kronis yang menjadi perhatian
kesehatan masyarakat di dunia adalah
diabetes mellitus. WHO telah
memprediksi angka prevalensi penyakit diabetes mellitus di negara berkembang
akan meningkat sebesar dua setengah kali dari 84 juta di tahun 1995 menjadi
228 juta di tahun 2025 (Aboderin et al. 2001). WHO memperkirakan bahwa
prevalensi terbesar dari penyakit diabetes mellitus tersebut akan didominasi oleh
negara-negara di benua Asia dan Afrika (Amos et al. 1997).
Melihat semakin meningkatnya prevalensi penyakit kronis, khususnya
diabetes mellitus dan obesitas maka banyak sekali upaya yang dilakukan untuk
menurunkan angka prevalensi, contohnya obat-obatan yang dalam hal ini
tercakup sebagai aspek kuratif. Lebih dari itu, dari sisi preventif dan manajemen
awal maka penanganan dengan berbasiskan pengaturan diet dan sumber
pangan menjadi salah satu alternatif utama (Eckel et al. 2005; Grundy et al.
2005). Salah satu contohnya pada Finnish Study yang menunjukkan bahwa
kelompok intervensi yang menerima instruksi intensif mengenai penurunan berat
badan, asupan diet, serta panduan untuk aktivitas fisik mengalami 58%
penurunan insiden terkena diabetes mellitus dibandingkan dengan kelompok
kontrol setelah mengalami follow-up selama 3,2 tahun (Tuomilehto et al. 2001).
Mengutip kata-kata bijak dari Hippokrates (460-360 SM), “let your food be
your medicine and your only medicine be your food” maka tersirat makna bahwa
pangan adalah sumber hidup yang sangat baik dan di setiap bahan pangan
terkandung komponen yang dapat memberikan nilai positif pada kesehatan serta
sistem metabolisme tubuh manusia. Salah satu contoh bahan pangan yang
memiliki sifat fungsional bagi kesehatan tubuh adalah teh, yaitu produk minuman
yang berasal dari tanaman Camelia sinensis (Sharangi 2009; Stote 2008;
Thielecke & Boschmann 2009; Wang & Helliwell 2000). Berdasarkan berbagai
studi
yang
telah
dilakukan,
kandungan
polifenol
terutama
EGCG
(epigallocatechin gallate) di dalam teh memiliki peran utama terhadap kesehatan
(Sharangi 2009). Berkaitan dengan aspek kesehatan, pengontrolan kadar
glukosa darah pada kondisi normal merupakan salah satu indikator utama dalam
memonitor fungsi normal metabolisme tubuh untuk mencegah terjadinya
komplikasi penyakit kronis seperti diabetes mellitus (Gropper et al. 2009). Selain
itu, hasil studi DCCT (Diabetes Control and Complication Trials) dan UKPDS
(United Kingdom Prospective Diabetes Study) menunjukkan bahwa kontrol
glikemik merupakan faktor yang esensial untuk memperbaiki hasil secara klinis
pasien yang menderita diabetes mellitus (DCCT Research Group 1993; UKPDS
Group 1998). Oleh karena itu, kajian mengenai manfaat teh terhadap sistem
metabolisme manusia menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut, khususnya
mengenai manfaat spesifik mengkonsumsi teh dalam mengontrol kadar glukosa
plasma darah (Bryans et al. 2007; Tsuneki et al. 2004).
Studi observasi epidemiologi di Jepang menunjukkan bahwa subjek yang
mengkonsumsi lebih dari enam gelas teh hijau setiap harinya dapat menurunkan
resiko diabetes mellitus (Iso et al. 2006). Studi lainnya secara cross-sectional
pada 3.224 subjek menunjukkan hasil yang sejalan yaitu subjek yang
mengkonsumsi teh hijau lebih banyak dibandingkan subjek lainnya akan memiliki
konsentrasi glukosa darah puasa yang lebih terjaga (Yamaji et al. 2004).
Mekanisme pengontrolan kadar glukosa darah yang diinduksi oleh teh secara
molekuler sudah diteliti baik secara in vitro maupun in vivo pada hewan coba.
Penurunan absorpsi karbohidrat melalui penghambatan beberapa enzim
pencernaan menjadi hal yang menarik sebagai pencegahan diabetes mellitus.
Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian in vivo pada hewan coba
menunjukkan bahwa catechin teh hijau dapat menurunkan aktivitas alfa-amilase
dan sukrase di intestinal tikus percobaan (Matsumoto et al. 1993). Studi lainnya
menunjukkan bahwa EGCG dapat menurunkan pengambilan glukosa di intestinal
tikus percobaan melalui mekanisme penghambatan sodium-dependent glucose
transporter (Kobayashi 2000).
Studi manfaat teh pada subjek manusia telah dilakukan untuk mengetahui
efek anti hiperglikemik. Hosoda et al. (2003) melakukan intervensi randomized
cross-over study kepada duapuluh subjek yang menderita diabetes mellitus
dengan memberikan intervensi teh oolong yang mengandung 386 mg EGCG
dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan intervensi air mineral
selama empat minggu dengan periode wash-out selama dua minggu. Hasil dari
penelitian tersebut menunjukkan bahwa subjek yang telah diberikan perlakuan
selama tigapuluh hari mengalami penurunan plasma glukosa dari 229 menjadi
162 µmol/l (p<0.001) dan penurunan fruktosamin dari 409,9 menjadi 323,3 µmol/l
(p<0.01). Selain itu, studi yang dilakukan oleh Tsuneki et al. (2004) menunjukkan
bahwa intervensi teh hijau single dose yang mengandung 84 mg EGCG kepada
duapuluh dua subjek sehat dapat mengontrol peningkatan glukosa darah postprandial secara signifikan. Bertolak dari hal tersebut diatas, maka studi mengenai
pengaruh konsentrasi EGCG dalam mengontrol metabolisme glukosa darah
menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut sehingga diperoleh data komprehensif
yang nantinya dapat dijadikan sebagai dasar studi lanjut salah satu alternatif
pencegahan diabetes mellitus.
Tujuan
Tujuan Umum :
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi pemberian
kadar EGCG (epigallocatechin gallate) teh hijau dalam mengontrol level glukosa
darah post-prandial pada subjek dewasa muda sehat.
Tujuan khusus :
1. Menentukan dan menganalisis kadar EGCG pada minuman teh hijau.
2. Mempelajari dan menganalisis perbedaan respon glukosa darah postprandial dari kelompok kontrol dan kelompok yang mendapat minuman
teh hijau dengan konsentrasi EGCG yang berbeda.
3. Menghitung dan menganalisis luas AUC (area under curve) serta glucose
score dari kelompok kontrol dan kelompok yang mendapat minuman teh
hijau dengan konsentrasi EGCG yang berbeda.
4. Menghitung dan menganalisis nilai kepentingan klinis dari kelompok
kontrol dan kelompok yang mendapat minuman teh hijau dengan
konsentrasi EGCG yang berbeda.
Hipotesis
Terdapat penghambatan penyerapan glukosa pada subjek yang diberikan
intervensi teh hijau dibandingkan dengan subjek yang tidak diberi intervensi
(kontrol). Penghambatan penyerapan glukosa akan lebih besar pada konsentrasi
polifenol EGCG teh hijau yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi
polifenol EGCG teh hijau yang lebih rendah.
Kegunaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang akurat
kepada masyarakat mengenai efek positif teh hijau dalam mengontrol level
glukosa plasma darah post-prandial pada subjek normal. Dengan demikian
hasilnya dapat dijadikan referensi asupan diet dalam jangka pendek untuk
mencegah hiperglikemia dan dalam jangka panjang untuk menurunkan resiko
terhadap timbulnya penyakit kronis, khususnya DM tipe 2.
TINJAUAN PUSTAKA
Chronic Non-Communicable Diseases
WHO Technical Report Series (2005) mendefinisikan chronic noncommunicable diseases sebagai suatu penyakit yang muncul akibat dari
kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat dan dipengaruhi oleh beberapa faktor
lingkungan yang mendukung munculnya penyakit tersebut. Chronic noncommunicable diseases membutuhkan periode yang lama dan berakumulasi
untuk bisa terlihat dampak secara nyata dari penyakit tersebut. Tidak seperti
communicable diseases yang bisa ditularkan dari satu individu ke individu
lainnya, chronic non-communicable diseases tidak dapat ditularkan dari satu
individu ke individu lainnya. Pada tahun 2005, chronic non-communicable
diseases merupakan penyebab 60% atau 35 juta kematian dari 58 juta total
kematian di dunia. Saat ini, jumlah tersebut diproyeksikan akan meningkat
sebesar 17% dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang di berbagai negara,
baik pada negara berkembang maupun pada negara industri yang sudah maju.
Beberapa
penyakit
utama
yang
tergolong
dalam
chronic
non-
communicable diseases adalah penyakit jantung, stroke, kanker, penyakit
pernapasan kronis, dan diabetes mellitus. Penyakit jantung memiliki banyak jenis
seperti contohnya penyakit jantung koroner atau sering disebut sebagai penyakit
jantung iskemik yang diakibatkan oleh penyumbatan pembuluh darah atau yang
sering disebut dengan aterosklerosis. Penyakit jantung koroner merupakan
penyebab utama kematian secara global yaitu 30% dari total kematian di dunia.
Stroke merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada suplai darah
di otak. Stroke dan penyakit jantung merupakan bentuk utama dari penyakit
kardiovaskuler. Riskesdas 2007 menyatakan bahwa prevalensi untuk penyakit
jantung di Indonesia (subjek dewasa >18 tahun) menempati angka nasional 7,7%
dengan prevalensi pada perempuan (8,1%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki
(6,2%), sedangkan penyakit stroke menempati angka prevalensi sebesar 8,3%.
Hal tersebut berbeda dengan kondisi di Indonesia yang merupakan prevalensi
tertinggi adalah penyakit sendi dan hipertensi dengan angka prevalensi masingmasing 30,3% dan 29,8% (DEPKES 2007).
Kanker merupakan penyebab utama kedua setelah penyakit jantung
koroner dengan 13% dari total kematian di dunia. Riset kesehatan dasar tahun
2007 yang dilakukan pada 33 propinsi melaporkan bahwa prevalensi nasional
kanker sebesar 0,4% (DEPKES 2007). Kanker dideskripsikan sebagai penyakit
yang diakibatkan oleh abnormalitas dari proliferasi sel sehingga sel tumbuh dan
menyebar secara tidak terkendali. Selain kanker, beberapa istilah lain yang
sering digunakan adalah tumor dan neoplasma. Beberapa contoh dari
bermacam-macam tipe kanker adalah kanker servik, kanker kulit, dan kanker
oral.
Penyakit chronic non-communicable diseases yang menempati posisi
ketiga penyebab kematian di dunia adalah penyakit paru-paru kronis dengan
persentase sebesar 7% dari kematian di seluruh dunia (WHO Technical Report
Series 2005). Penyakit paru-paru kronis yang menjadi fokus perhatian utama
yaitu penyakit paru-paru kronis obstruktif dan asma. Prevalensi penyakit asma di
Indonesia menempati angka sebesar 4 % (DEPKES 2007). Penyakit paru-paru
kronis obstruktif disebabkan oleh keterbatasan sirkulasi udara pernapasan yang
tidak reversibel secara penuh, sedangkan asma disebabkan oleh obstruksi
reversibel dari sirkulasi udara pernapasan (WHO Technical Report Series 2005).
Diabetes mellitus merupakan penyebab kematian sebesar 2% dari total
kematian di dunia. Diabetes mellitus dikarakterisasi oleh peningkatan level
glukosa darah yang disebabkan oleh kurangnya hormon insulin yang mengontrol
level glukosa darah dan ketidakmampuan jaringan tubuh dalam merespon insulin
atau yang disebut dengan kondisi resistensi insulin. Terdapat dua tipe penyakit
diabetes mellitus yaitu diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) dan diabetes mellitus
tipe 2 (DM tipe 2). DM tipe 2 merupakan jenis penyakit yang sering dijumpai
dengan proporsi 90% dari total penyakit diabetes mellitus. DM tipe 2 merupakan
manifestasi dari seseorang yang memiliki pola makan buruk secara berlebihan
dengan berat badan yang berlebihan dan aktivitas fisik yang kurang. DM tipe 1
merupakan penyakit diabetes mellitus yang disebabkan oleh kurangnya insulin
secara absolut sehingga merupakan penyakit genetik atau bawaan (WHO
Technical Report Series 2005). Prevalensi untuk penyakit diabetes mellitus di
Indonesia yang dilaporkan dalam Riskesdas 2007 menempati angka prevalensi
nasional 1,1% dengan prevalensi yang sama pada perempuan dan laki-laki yaitu
1,1% (DEPKES 2007).
Metabolisme dan Regulasi Glukosa Darah
Karbohidrat memiliki peranan yang sangat penting sebagai sumber energi
utama dalam sistem metabolisme tubuh manusia. Sebagai contoh kebutuhan
utama energi beberapa jaringan tertentu seperti sel darah, otak, dan sistem
syaraf sangat tergantung pada glukosa. Karbohidrat yang terdapat dalam alam
dihasilkan melalui proses fotosintesis yang ada pada tumbuh-tumbuhan. Asupan
karbohidrat yang dapat dicerna dimanifestasikaan dalam bentuk glukosa,
galaktosa, dan fruktosa yang ditrasportasikan melalui sistem vena porta hepatika
ke hati dimana bentuk galaktosa dan fruktosa siap dikonversi menjadi bentuk
glukosa. Oleh karena itu pencernaan makromolekul menjadi unit yang bisa
diserap oleh tubuh menempati posisi yang sangat penting serta merupakan
sistem kombinasi dari pemecahan secara mekanis dan enzimatis (Murray et al.
2003). Tahapan mekanisme sistem regulasi post-absorptive secara umum dapat
dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Mekanisme sistem regulasi post-absorptive (Biesalski & Grimm 2005)
Karbohidrat sederhana (disakarida) serta beberapa karbohidrat komplek
(polisakarida yang berupa pati dan glikogen) mengalami pemecahan di dalam
tubuh menjadi gula sederhana (glukosa, fruktosa, dan galaktosa) oleh enzim
yang secara kolektif disebut glikosidase atau karbohidrase. Pencernaan
polisakarida (amilosa dan amilopektin) dimulai dari mulut yaitu dengan
dikeluarkannya α-amilase oleh kelenjar ludah sehingga menghidrolisis ikatan α1,4 glikosida pada amilosa dan amilopektin menghasilkan dekstrin. Dekstrin
kemudian melewati lambung yang memiliki pH rendah sehingga aktivitas
enzimatik α-amilase dihambat oleh asam lambung, tetapi bentuk dekstrin tidak
mengalami perubahan dan perjalanan dilanjutkan menuju usus halus. Dalam
perjalanannya dekstrin mengalami hidrolisis oleh α-amilase yang dikeluarkan
oleh pankreas menjadi maltosa (untuk dekstrin yang berasal dari hidrolisis
amilosa) serta maltosa dan limit dekstrin (untuk dekstrin yang berasal dari
hidrolisis amilopektin) (Gropper et al. 2009).
Pada vili usus halus, maltosa yang berasal dari amilosa dan amilopektin
dihidrolisis oleh maltase membentuk glukosa sederhana sedangkan limit dekstrin
yang berasal dari hidrolisis amilopektin dihidrolisis menjadi glukosa sederhana
oleh α-dekstrinase. Sementara itu, pencernaan disakarida berbeda dengan
polisakarida yaitu terjadi di usus halus bagian atas dengan aktivitas dari enzim
disakaridase terkonsentrasi di bagian mikrovili dari sel mukosa usus halus.
Beberapa enzim yang terdapat di permukaan sel yaitu laktase, sukrase, maltase,
dan isomaltase. Laktase berperan dalam mengkatalisa pemecahan laktosa
menjadi jumlah ekuimolar galaktosa dan glukosa, sementara itu sukrase
menghidrolisis sukrosa untuk mendapatkan glukosa dan fruktosa. Lain halnya
dengan maltase yang menghidrolisis maltosa untuk mendapatkan dua unit
glukosa, isomaltase berperan menghidrolisis ikatan α-1,6 isomaltosa (ikatan pada
disakarida
dari
pemecahan
amilopektin
yang
tidak
sempurna)
untuk
menghasilkan dua molekul glukosa. Glukosa dan galaktosa hasil pemecahan
kemudian diabsorpsi mukosa sel melalui transport aktif yang difasilitasi oleh
sodium-glucose transporter 1 (SGLT1), sedangkan fruktosa diabsorpsi dengan
difasilitasi oleh GLUT5. Mutasi yang terjadi pada gen SGLT1 akan berpengaruh
terhadap malbasorpsi glukosa dan galaktosa (Gropper et al. 2009).
Glukosa memegang peranan utama dalam metabolisme dan homeostasis
seluler tubuh. Oleh karena itu monitoring kosentrasi glukosa dalam darah
merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui kenormalan fungsi
metabolisme dan homeostasis seluler tubuh. Pengambilan glukosa secara
seluler harus melewati membran plasma dari sel. Molekul glukosa yang memiliki
kepolaran tinggi tidak dapat begitu saja melintasi membran seluler yang tersusun
dari matrik non-polar lipid bilayer dengan difusi sederhana. Oleh karena itu,
supaya glukosa dapat digunakan oleh sel maka harus melewati fasilitator
transpor glukosa atau glucose carrier. Terdapat dua jenis fasilitator transpor
glukosa atau glucose carrier yaitu SGLT yang tergantung pada Na+ (Na+
Dependent) dan GLUT yang tidak tergantung pada Na+ (Na+ Independent)
(Zierler 1999).
SGLT yang dikenal juga sebagai co-transporters atau symporters
merupakan protein membran integral yang memediasi transpor glukosa dengan
afinitas yang rendah serta galaktosa melewati membran plasma melalui
mekanisme transport aktif (Wright 1994). Proses transpor ini merupakan kotransport molekul glukosa dengan ion natrium. Perpindahan ion natrium melintasi
membran plasma ke dalam sel didorong oleh gradien konsentrasi dan potensial
membran serta akan berpasangan dengan perpindahan molekul glukosa. Pada
kondisi stabil, ion natrium yang ditransportasikan ke dalam sel melintasi
membran sel apikal dipompa oleh pompa Na+/K+ ATPase melintasi membran
basolateral. Glukosa yang terkonsentrasi di dalam sel kemudian akan berpindah
melintasi membran basolateral dengan difasilitasi oleh fasilitator transpor glukosa
GLUT (Scheepers et al. 2004). Mekanisme transpor glukosa secara molekuler
dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2
Transpor glukosa di epitel usus dikatalisa oleh SGLT1 yang terletak
pada membran apikal, kemudian glukosa meninggalkan sel
difasilitasi oleh transporter glukosa (GLUT2) yang terletak di
membran basolateral (Scheepers et al. 2004).
Pada saat ini terdapat empat belas jenis fasilitator transpor glukosa GLUT
yang teridentifikasi dengan terbagi menjadi tiga kelas utama yaitu : a. Fasilitator
transpor glukosa kelas 1 (GLUT1, GLUT4, GLUT3, GLUT14, GLUT2); b.
Fasilitator transpor glukosa kelas 2 (GLUT5, GLUT7, GLUT9, GLUT11); c.
Fasilitator transpor glukosa kelas 3 (GLUT6, GLUT8, GLUT10, GLUT12, HMIT)
(Scheepers et al. 2004). GLUT1 bertanggung jawab terhadap suplai dasar
glukosa pada sel yang terekspresikan pada eritrosit, sel endotelial otak, dan
plasenta. GLUT2 terekspresikan pada organ hati, sel beta pankreas, ginjal, dan
usus halus. GLUT3 merupakan fasilitator transpor glukosa yang memiliki afinitas
glukosa tinggi sehingga terekspresi pada organ otak yang memiliki tingkat
ketergantungan tinggi pada glukosa darah. GLUT4 merupakan satu-satunya
fasilitator transpor glukosa yang konsentrasinya dipengaruhi oleh hormon,
terutama hormon insulin sehingga ketika glukosa ekstraseluler meningkat maka
insulin akan menstimulasi translokasi GLUT4 dari membran intraseluler menuju
membran plasma (Gambar 3), sehingga dihasilkan peningkatan transpor glukosa
hingga mencapai sepuluh sampai dua puluh kali lipat (Scheepers et al. 2004;
Simpson & Cushman 1986; Sheperd & Kahn 1999; Bryant et al. 2002). GLUT4
terekspresikan pada organ dan jaringan otot rangka, hati, dan jaringan adiposa.
Berikutnya adalah fasilitator transpor glukosa lainnya beserta organ dan jaringan
tempat transporter tersebut ditemukan yaitu: GLUT5 (intestinal, testis, ginjal, dan
otot); GLUT6 (limpa, periferal leukosit, dan otak); GLUT7 (intestinal, testis,
prostat); GLUT8 (testis, otak (neural), blastosis, dan adiposit); GLUT9 (hati dan
ginjal); GLUT10 (hati dan pankreas); GLUT11 (pankreas, ginjal, plasenta,
jantung, dan otot); GLUT12 (jantung, prostat, dan kanker payudara); HMIT (otak);
GLUT14 (testis) (Joost & Thorens 2001; Scheepers et al. 2004).
Pemantauan secara konstan terhadap konsentrasi gula darah melalui
mekanisme glukosensing spesifik sangat diperlukan untuk menjaga homeostasis
glukosa dalam tubuh. Sistem deteksi pengontrolan glukosa yaitu melalui sel beta
pankreas yang mengontrol sekresi insulin. Sensor dari sistem pengontrolan
glukosa yaitu termasuk didalamnya fasilitator transpor glukosa (GLUT2), enzim
glukokinase, dan channel ATP-sensitif K+ (KATP). Ketika konsentrasi ekstraseluler
glukosa meningkat, maka glukosa akan masuk ke dalam sel beta pankreas
melalui
transporter
glukosa
GLUT2
dan
difosforilasi
oleh
glukokinase.
Metabolisme glikolitik dan oksidatif glukosa meningkatkan rasio ATP terhadap
ADP sehingga menyebabkan ATP berikatan dengan kompleks KATP. Hal ini akan
menyebabkan inaktivasi channel ATP-sensitif K+ (KATP) yang berujung pada
depolarisasi membran, influk kalsium, dan sekresi insulin (Scheepers et al. 2004;
Thorens 2003; Postic et al. 2001; Seino et al. 2000).
Mempertahankan level glukosa pada darah merupakan salah satu
pengaturan sistem homeostatik yang melibatkan organ hati, jaringan di luar
organ hati, serta beberapa hormon. Dalam sistem regulasi glukosa darah, yang
menjadi fokus adalah jalur proses metabolik yang memindahkan glukosa dari
darah untuk sintesis glikogen dan pengeluaran energi serta jalur proses yang
mengembalikan
glukosa
ke
dalam
darah
seperti
glikogenolisis
dan
glukoneogenesis (Gropper et al. 2009). Terdapat beberapa hormon yang terlibat
dalam pengaturan glukosa darah, yaitu hormon insulin, glukagon, glukokortikoid,
hormon pertumbuhan, epinefrin, dan kemungkinan hormon diabetogenik lainnya.
Hormon insulin diproduksi oleh sel beta Pulau Langerhans di pankreas
sebagai respon yang distimulasi oleh kondisi hiperglikemia. Sintesis dan sekresi
insulin menstimulasi pengambilan Ca2+ ekstraseluler pada sel beta pankreas.
Kation ini memicu mekanisme kontraktil pergerakan granula yang mengandung
insulin menuju membran sel dimana granula dilepaskan ke ruang ekstraseluler
melalui eksositosis (Greenstein & Wood 2006). Insulin mengontrol kondisi
glukosa post-prandial melalui tiga mekanisme aksi kerja. Mekanisme pertama,
insulin mengirimkan sinyal kepada sel jaringan perifer yang sensitif terhadap
insulin, khususnya otot untuk meningkatkan pengambilan glukosa ke dalam
jaringan. Mekanisme kedua, insulin akan bekerja di organ untuk melakukan
proses glikogenesis (konversi glukosa menjadi simpanan glikogen). Mekanisme
ketiga, insulin secara simultan akan menghambat sekresi glukagon dari sel alpha
pankreas, sehingga akan memberikan sinyal kepada organ hati untuk
memberhentikan proses produksi glukosa melalui jalur glikogenolisis (konversi
glikogen menjadi glukosa) dan glukoneogenesis (konversi asam amino dan laktat
menjadi glukosa) (Aronoff et al. 2004).
Aksi kerja insulin lainnya yaitu dengan menstimulasi sintesis lemak,
menstimulasi penyimpanan trigliserida ke dalam adiposit, menstimulasi sintesis
protein di organ hati dan otot, serta proliferasi pertumbuhan sel. Mekanisme
sekresi insulin sangat terkontrol dan hanya akan dikeluarkan jika konsentrasi
glukosa sistem sirkulasi melebihi 3,3 mmol/l. Sekresi insulin post-prandial terjadi
melalui dua fase, fase pertama yaitu initial rapid release dari preformed insulin
yang diikuti dengan peningkatan sintesis dan pengeluaran insulin sebagai respon
dari glukosa darah. Fase kedua yaitu pengeluaran insulin secara long-term
sebagai respon jika konsentrasi glukosa dalam sistem sirkulasi masih tetap tinggi
(Aronoff et al. 2004). Mekanisme sekresi insulin oleh sel beta pankreas yang
diinduksi oleh glukosa serta efeknya pada jaringan peripheral ditunjukkan oleh
Gambar 3.
Gambar 3
Mekanisme sekresi insulin oleh sel beta pankreas yang diinduksi
oleh glukosa serta efeknya pada jaringan peripheral (Scheepers et
al. 2004).
Keterangan :
GK (glucokinase)
GSK3 (glycogen synthase kinase-3)
G6P (glucose-6-phosphate)
IRS (insulin receptor substrate)
PI3-K (phosphoinositide-3-kinase)
PKB/Akt (protein kinase-B)
Kir6.2 (KATP channel)
Glukagon merupakan hormon yang diproduksi oleh sel alfa pankreas
sebagai hasil dari pembelahan preproglukagon. Kandungan glukagon pada
pankreas orang dewasa sehat berkisar antara 3-5 µg/g. Sekresi hormon
glukagon distimulasi secara cepat ketika konsentrasi glukosa darah turun dan
akan dihambat ketika konsentrasi glukosa darah meningkat. Di organ hati,
hormon tersebut menstimulasi glikogenolisis melalui pengaktifan fosforilase.
Glukagon juga meningkatkan glukoneogenesis dari asam amino. Insulin dan
glukagon adalah antagonis melalui interaksi resiprokal (timbal-balik) parakrin
antara sel alpha pankreas dan sel beta pankreas, sehingga pengaruh yang
berlawanan inilah yang menjaga keseimbangan metabolisme karbohidrat
(Greenstein & Wood 2006).
Epinefrin yang disebut sebagai hormon fight or flight merupakan hormon
yang yang dikeluarkan oleh medula kelenjar adrenal yang terletak tepat di atas
ginjal. Kondisi stress akan menyebabkan pelepasan epinefrin dengan segera
sehingga mempersiapkan tubuh untuk aktivitas fisik dan mental yang luar biasa.
Pada kondisi tersebut mobilisasi glukosa ditingkatkan melalui stimulasi
pelepasan glukagon dan penghambatan pelepasan insulin. Tugas utama
epinefrin adalah memobilisasi simpanan energi melalui proses lipolisis dan
glikogenesis. Dengan demikian, epinefrin meningkatkan glukosa darah dan
menghambat sintesis insulin oleh sel beta pankreas (Greenstein & Wood 2006;
Silbernagl & Despopoulos 2009).
Glukokortikoid (kortisol dan kortikosteron) merupakan hormon steroid
yang diproduksi oleh korteks adrenal (Silbernagl & Despopoulos 2009). Hormon
tersebut memiliki fungsi vital dalam sistem metabolisme salah satunya pada
sistem regulasi glukosa darah. Pada konsentrasi basal, hormon tersebut bersifat
permisif dalam menstimulasi glukoneogenesis dan lipolisis pada kondisi postabsorptive. Peningkatan konsentrasi hormon glukokortikoid di dalam plasma
akan menyebabkan manifestasi terhadap peningkatan katabolisme protein,
peningkatan glukoneogenesis, penurunan pengambilan glukosa oleh sel otot dan
adiposa, serta peningkatan pemecahan triasilgliserol (Vander et al. 2001).
Hormon pertumbuhan merupakan salah satu hormon yang disintesis di
kelenjar anterior pituitary yang terletak di hipotalamus. Hormon pertumbuhan
memiliki fungsi utama dalam menstimulasi pertumbuhan dan anabolisme protein.
Selain kedua fungsi tersebut, hormon pertumbuhan juga memiliki fungsi dalam
metabolisme karbohidrat dan lipid walaupun pengaruhnya tidak sebesar fungsi
utamanya dalam hal menstimulasi pertumbuhan. Hal ini dibuktikan bahwa kondisi
defisiensi ataupun kelebihan dari hormon pertumbuhan tidak terlalu berpengaruh
secara nyata dalam metabolisme karbohidrat dan lipid. Hormon pertumbuhan
mempengaruhi metabolisme lipid dan karbohidrat melalui tiga mekanisme aksi
kerja. Mekanisme pertama, hormon pertumbuhan akan menjadikan adiposit lebih
responsif terhadap stimuli lipolisis. Mekanisme kedua, hormon pertumbuhan
meningkatkan glukoneogenesis yang terjadi di organ hati. Mekanisme ketiga,
hormon pertumbuhan akan menurunkan kemampuan insulin, sehingga akan
mempengaruhi pengambilan glukosa di sel otot dan jaringan adiposa (Vander et
al. 2001).
Tubuh manusia memerlukan batas-batas tertentu untuk mempertahankan
kadar glukosa darahnya. Dalam keadaan puasa, kadar glukosa darah normal
berada pada kisaran nilai 70-110 mg/dl, sedangkan glukosa darah sewaktu
berkisar antara 110-199 mg/dl. Penurunan kadar glukosa darah hingga level 5054 mg/dl akan menyebabkan gugup, pusing, lemas, dan lapar. Kadar glukosa
darah yang naik diatas nilai kisaran normal disebut dengan hiperglikemia,
sedangkan kondisi kadar glukosa darah yang turun dibawah kisaran normal atau
yang memiliki nilai ambang dibawah 2,2 mmol/l (39,6 mg/dl) disebut hipoglikemia
(Caballero 2005).
Patofisiologi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai oleh peningkatan
level glukosa pada darah. Hal tersebut disebabkan oleh ketidaknormalan
produksi insulin pada pankreas ataupun ketidaksensitifan insulin yang diproduksi
terhadap respon glukosa pada darah. Secara umum, diabetes mellitus terbagi
menjadi diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus tipe 2, dan gestational
diabetes mellitus.
Diabetes Mellitus Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Diabetes mellitus tipe 1 merupakan penyakit multi faktorial autoimun yang
dikarakterisasi oleh defisiensi insulin dikarenakan rusaknya sel beta pankreas
yang dimediasi oleh T-lymphocites (T-cell) yang bereaksi secara spesifik
terhadap salah satu atau beberapa protein sel beta (Mathis et al. 2001; Urcelary
et al. 2005). Kemungkinan persentase terjadinya penyakit DM tipe 1 yaitu sekitar
10% dari total kejadian penyakit diabetes mellitus (Gillespie 2006). DM tipe 1
merupakan jenis penyakit diabetes mellitus yang berat karena penderita DM tipe
1 harus menerima injeksi insulin tiap waktu dalam sisa hidupnya (Radha et al.
2003). DM tipe 1 terbagi menjadi dua jenis yaitu DM tipe 1a dan DM tipe 1b.
Mayoritas kasus yang terjadi pada DM tipe 1 adalah kerusakan sel beta pankreas
yang disebabkan oleh autoimun yang termediasi (DM tipe 1a), sedangkan 10%
hingga 20% kasus merupakan antibodi negatif yang disebut juga dengan
idiopatik (DM tipe 1b) (Morwessel 1998).
Pada DM tipe 1, penurunan sekresi insulin secara progressif akan terjadi
selama 12 tahun sebelum munculnya tanda penyakit secara klinis (Al-Mutairi et
al. 2007). Inflammasi yang terjadi pada islet pankreas (insulitis) melibatkan
limfosit CD4+ dan CD8+, limfosit B, serta makrofag (Schatz & Winter 1995;
Winter et al. 1993). Berdasarkan penelitian, terdapat dua mekanisme yang
diajukan sebagai proses timbulnya penyakit DM tipe 1. Mekanisme pertama yaitu
disebabkan oleh faktor lingkungan yang mendorong proses autoimun. Hal ini
biasanya terjadi pada masa anak-anak sebelum menginjak usia 10 tahun.
Mekanisme
tersebut
timbul
setelah
melewati
periode
prodromal
yang
dikarakterisasi oleh kerusakan sel beta pankreas secara bertahap (Morwessel
1998). Mekanisme kedua adalah reaksi superantigen yang menyebabkan
kerusakan sel beta pankreas secara cepat pada selang waktu beberapa minggu
atau bulan sebelum akhirnya timbul penyakit secara klinis (Trucco & Laporte
1995).
Insiden timbulnya DM tipe 1 memiliki variasi musiman dengan tingkat
tertinggi menyerang anak-anak pada musim gugur dan musim dingin. Hal
tersebut diprediksi oleh infeksi virus yang mempercepat terjadinya DM tipe 1 (AlMutairi et al. 2007). Hingga saat ini terdapat empat belas jenis virus, termasuk
picornaviruses, rotaviruses, herpesvirusis, mumps, rubella, dan retroviruses yang
dilaporkan berhubungan dengan timbulnya penyakit DM tipe 1 pada manusia dan
hewan percobaan. Virus tersebut terlibat dalam patogenesis penyakit DM tipe 1
melalui dua jalan yaitu menginduksi autoimunitas spesifik sel beta pankreas
dengan atau tanpa menginfeksi sel beta pankreas (contohnya pada Kilham rat
virus), sedangkan jalan kedua yaitu melalui infeksi sitolitik dan perusakan sel
beta pankreas (contohnya encephalomyocarditis virus mice) (Hee-Sook & Ji-Won
2002).
Faktor genetika memegang peranan yang penting sebagai faktor
timbulnya DM tipe 1. Berdasarkan beberapa penelitian, pada saat ini terdapat
250 jenis gen yang diperkirakan memiliki hubungan dengan timbulnya penyakit
DM tipe 1 (Al-Mutairi et al. 2007). Para peneliti tidak dapat menjustifikasi bahwa
gen tertentu memiliki peran utama terhadap timbulnya DM tipe 1, hal ini
dikarenakan oleh mekanisme yang belum jelas apakah timbulnya penyakit DM
tipe 1 dimediasi oleh gen yang bekerja secara independen, terkoordinasi oleh
gen resisten, ataukah mekanisme gabungan dari keduanya (Khardori & Pauza
2003). Oleh karena itu, kombinasi dari gen resisten dan faktor lingkungan
dimungkinkan akan menginisisasi proses penyakit yang berhubungan dengan
pembentukan respon autoimun terhadap sel beta pankreas yang memproduksi
insulin. Reaksi autoimun tersebut direfleksikan oleh adanya antibodi terhadap
antigen utama pada sel beta pankreas (Radha et al. 2003).
Diabetes Mellitus Tipe 2 (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Patofosiologi DM tipe 2 dikarakterisasi oleh resistansi insulin periferal,
terganggunya regulasi glukosa darah, serta penurunan fungsi sel beta pankreas
yang akan menyebabkan rusaknya sel beta pankreas (Mahler & Adler 1999).
Kejadian-kejadian utama tersebut dipercaya sebagai defisit awal sekresi insulin,
serta defisiensi relatif insulin dalam hubungannya dengan resistensi insulin
periferal pada kebanyakan pasien (Reaven 1998). Insulin merupakan salah satu
hormon kunci untuk pengaturan glukosa darah yang pada kondisi fisiologi normal
akan menjaga keseimbangan antara kuantitas insulin yang disekresikan dengan
kualitas atau kemampuan insulin dalam proses pengambilan glukosa dari sistem
portal ke dalam sel dan jaringan. Hal penting dalam mekanisme molekular
tersebut adalah bahwa sel beta pankreas dapat beradaptasi jika terjadi
perubahan sensitivitas dari insulin yang disekresikan. Dalam hal ini dapat
dicontohkan jika sensitivitas insulin menurun, maka secara otomatis sel beta
pankreas akan mengkompensasi atau mengimbangi dengan mengekskresikan
insulin yang lebih banyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan untuk
penyerapan glukosa oleh sel dan jaringan (Stumvoll et al. 2005). Pada awalnya
hal tersebut akan menimbulkan kondisi hiperglikemia yang menyebabkan
konsentrasi glukosa darah pada kondisi puasa dan dua jam setelah asupan
glukosa akan sedikit meningkat. Jika kondisi tersebut berlangsung secara kronis,
maka sel beta pankreas yang memproduksi insulin akan mengalami kelelahan
sehingga akan menimbulkan kerusakan pada sel beta pankreas. Kondisi
disfungsi seluler kronis irreversible dari sel beta pankreas yang disebabkan oleh
pengaruh konsentrasi glukosa yang tinggi pada setiap waktu diistilahkan dengan
glukotoksisitas (Robertson et al. 2003).
Kondisi glukotoksisitas yang terjadi akan menyebabkan disfungsi pada sel
beta pankreas sehingga mengakibatkan sensitivitas insulin yang diproduksi oleh
sel beta pankreas menurun. Mekanisme menurunnya sensitivitas dari insulin
yang diproduksi disebabkan oleh kondisi glukotoksisitas sehingga menyebabkan
terganggunya jalur sintesis insulin serta penurunan ekspresi gen yang berperan
dalam sintesis insulin. Lebih spesifik lagi, terjadinya gangguan ekspresi gen
tersebut yaitu terdapat defek posttranscriptional pada maturasi mRNA pancreas
duodenum homebox-1 (PDX-1). PDX-1 merupakan faktor transkripsi gen untuk
promoter insulin, sehingga terjadinya gangguan pada mekanisme molekuler
tersebut
akan
menyebabkan
insensitivitas
dari
insulin
yang
diproduksi
(Robertson et al. 2003). Oleh karena itu, sel beta pankreas merupakan
komponen kritis dalam patofisiologi DM tipe 2. Konsep tersebut diatas telah
diverifikasi melalui penelitian baik secara cross-sectional maupun longitudinal
(Weyer et al. 1999).
Gambar 4 menunjukkan patofisiologi hiperglikemia dan peningkatan
sirkulasi asam lemak pada DM tipe 2. Terlihat berbagai faktor yang berkontribusi
terhadap patogenesis DM tipe 2 yang mempengaruhi sekresi insulin dan aksi
insulin. Penurunan sekresi insulin akan menurunkan pensinyalan insulin pada
jaringan target yang menyebabkan peningkatan sirkulasi asam lemak dan
hiperglikemia diabetes. Peningkatan asam lemak dan glukosa dalam sirkulasi
darah kemudian akan menimbulkan umpan balik serta memperburuk sekresi
insulin dan resistensi insulin.
Gambar 4
Patofisiologi hiperglikemia dan peningkatan sirkulasi asam lemak
pada DM tipe 2 (Stumvoll et al. 2005)
Gestational Diabetes Mellitus
Gestational diabetes mellitus (GDM) didefinisikan sebagai tingkatan
intoleransi glukosa yang terjadi atau terdeteksi pada saat awal kehamilan. GDM
diperkirakan terjadi pada sekitar 7% kehamilan setiap tahunnya (ADA 2003).
Setelah kehamilan (postpartum), toleransi glukosa akan kembali lagi ke kondisi
normal pada mayoritas penderita GDM (Cheung & Helmink 2006). Meskipun
demikian, penderita GDM memiliki resiko yang tinggi untuk terkena IGT (impaired
glucose tolerance) yang bisa berkembang menjadi penyakit DM tipe 2 di
kemudian hari (Cheung & Helmink 2006). Berdasarkan meta analisis terkini,
wanita yang menderita GDM akan memiliki resiko enam kali lebih besar untuk
menderita DM tipe 2 dibandingkan wanita yang memiliki toleransi glukosa normal
pada saat kehamilannya (Cheung & Byth 2003). Prevalensi GDM sangat
bervariasi tergantung pada kelompok etnis atau populasi tertentu (Cousins et al.
1991).
Kehamilan merupakan kondisi yang dikarakterisasi oleh resistensi insulin
berkelanjutan yang dimulai pada awal pertengahan kehamilan dan berlanjut
hingga trimester ketiga (Perkins et al. 2007). Pada kehamilan yang termasuk usia
lanjut, sensitifitas insulin akan turun hingga sekitar 50% (Di Cianni et al. 2003).
Terdapat dua kontributor utama yang mempengaruhi resistensi insulin yaitu
peningkatan adipositas dari wanita yang sedang hamil serta pengaruh dari
hormon yang diproduksi oleh plasenta. Melihat penurunan insulin yang nyata
setelah melahirkan (post-delivery), maka kontributor utama terhadap resistensi
insulin adalah hormon yang diproduksi oleh plasenta (Perkins 2007). Plasenta
memproduksi hormon HCS (human chorionic somatomammotropin, sebelumnya
disebut human placental lactogen), kortisol bebas dan terikat, estrogen, serta
progesteron. Hormon HCS menstimulasi sekresi insulin pankreas di fetus dan
menghambat pengambilan glukosa periferal di tubuh ibu yang sedang
mengandung (Lapolla et al. 2005). Seiring dengan berkembangnya kehamilan
serta peningkatan ukuran plasenta, maka begitu juga diiringi dengan peningkatan
hormon yang diproduksi oleh plasenta sehingga akan menyebabkan keadaan
insulin yang lebih resisten (Perkins et al. 2007).
Pada wanita hamil yang normal, respon sekresi insulin pada fase pertama
(initial rapid release) dan fase kedua (long term release) akan mengkompensasi
jika terjadi penurunan pada sensitivitas insulin. Sekresi insulin fase pertama
merupakan initial rapid release dari preformed insulin yang diikuti dengan
peningkatan sintesis serta pengeluaran insulin sebagai respon dari glukosa
darah, sedangkan fase kedua yaitu pengeluaran insulin secara long-term
sebagai respon jika konsentrasi glukosa dalam sistem sirkulasi masih tetap tinggi
(Aronoff et al. 2004). Kedua fase tersebut berhubungan dengan hipertropi dan
hiperplasia sel beta pankreas. Oleh karena itu, wanita yang memiliki defisit pada
kapasitas sekresi insulin tambahan akan menderita GDM (Lapolla et al. 2005).
Disfungsi sel beta pankreas pada wanita yang didiagnosa menderita GDM
kemungkinan termasuk salah satu dalam tiga kategori yaitu autoimun,
monogenic, atau terjadinya resistensi insulin (hal yang sering dijumpai pada saat
kehamilan) (Buchanan & Xiang 2005). Kehilangan respon insulin fase pertama
akan menyebabkan post-prandial hiperglikemia yang akan mengakibatkan
penekanan produksi glukosa hepatik sehingga akan menyebabkan fasting
hiperglikemia. Dikarenakan insulin tidak melintasi plasenta, maka fetus akan
terkena kondisi hiperglikemia dari ibu. Pada saat kehamilan minggu ke-11 dan
ke-12, pankreas dari fetus mampu untuk merespon kondisi hiperglikemia tersebut
sehingga fetus akan menjadi hiperinsulinemik yang akan menyebabkan
pertumbuhan pada fetus menjadi makrosomia (Scollan-Koliopoulos 2006).
Perkins et al. (2007) menggolongkan kategori resiko serta karakteristik
klinis GDM menjadi tiga golongan yaitu resiko tinggi, resiko rata-rata, dan resiko
rendah. Pada kelompok resiko tinggi ditandai oleh karakteristik klinis yang berupa
obesitas, memiliki sanak famili diabetes tingkat satu, glukosuria, sejarah
menderita GDM atau IGT sebelumnya, memiliki bayi sebelumnya dengan
makrosomia. Pada kelompok resiko rendah ditandai oleh usia kurang dari 25
tahun, termasuk dalam etnis resiko rendah (etnis selain Hispanic, African
American, Native American, South Asian, East Asian, Pacific Islander atau suku
asli Australian), tidak memiliki sejarah abnormalitas toleransi glukosa, memiliki
berat badan normal dan peningkatan yang normal saat kehamilan, tidak memiliki
sejarah hasil obstetrikal yang parah. Pada kelompok resiko rata-rata ditandai
oleh ciri-ciri selain dari kedua kelompok di atas. Kadar glukosa darah yang
dijadikan patokan dalam mendiagnosis tipe DM terlihat pada Tabel 1.
Berdasarkan rekomendasi ADA (2011), wanita yang memenuhi dua atau lebih
indikator diagnosis kadar glukosa darah pada Tabel 1 berikut dipastikan
terdiagnosa menderita GDM. Meskipun demikian, hasil studi juga menunjukkan
jika wanita memenuhi salah satu indikator diagnosis untuk GDM diprediksi
memiliki resiko tinggi dalam melahirkan bayi yang makrosomia (Perkins et al.
2007).
Tabel 1 Kadar glukosa darah acuan untuk diagnosis tipe DM
Konsentrasi glukosa
DM tipe 1 atau DM tipe 2
GDM
> 200 mg/dl
> 126 mg/dl
>92 mg/dl
>180 mg/dl
>153 mg/dl
Waktu pengukuran
Random
Setelah puasa satu malam
1 jam setelah 75 gr glukosa OGTT
2 jam setelah 75 gr glukosa OGTT
Keterangan :
DM tipe 1 (Diabetes mellitus tipe 1)
DM tipe 2 (Diabetes mellitus tipe 2)
GDM (Gestational diabetes mellitus)
OGTT (Oral glucose tolerance test)
Sumber: ADA (2011)
Metode Analisis Kadar Glukosa Plasma Darah
Sebagian besar glukometer yang digunakan untuk mengukur glukosa
plasma darah pada saat ini menggunakan proses elektrokimia atau elektoda
enzim. Level glukosa plasma darah diukur berdasarkan potensial daya listrik
yang dihasilkan oleh reaksi glucose-reagent. Glukometer tersebut terbagi
menjadi dua tipe berdasarkan prinsip elektrokimia yang digunakan yaitu
amperometri
dan
kolorimetri.
Teknologi
yang
menggunakan
biosensor
amperometri membutuhkan sampel darah yang sedikit lebih banyak (4-10 µl).
Lebih jauh lagi, perubahan pada suhu dan level hematokrit memungkinkan hasil
yang kurang akurat jika menggunakan metode ini. Jenis glukometer yang
menggunakan metode ini adalah Sidekick Testing System® dan Prestige IQ®.
Teknologi yang menggunakan metode kolorimetri yaitu dengan mengkonversi
kandungan glukosa sampel ke dalam bentuk potensial daya listrik yang
selanjutnya potensial daya listrik ini akan diproses untuk pengukuran kadar
glukosa pada sampel. Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan
metode ini yaitu penggunaan jumlah sampel plasma darah yang sedikit (0,3 ml).
Metode kolorimetri ini tidak terpengaruh oleh perubahan suhu dan level
hematokrit.
Glukometer
yang
menggunakan
metode
kolorimetri
dapat
menggunakan sampel darah baik di lengan, jari, maupun di paha. Beberapa
glukometer yang menggunakan prinsip kolorimetri adalah Reli-On Ultima®, One
Touch Ultra®, Freestyle®, dan Accu-Chek Advantage RD® (Lee 2009). Contoh
dari glukometer dan glucose strip yang digunakan untuk analisis kadar glukosa
darah ditunjukkan pada Gambar 5..
Gambar 5
Contoh glukometer dan glucose strip yang digunakan dalam
pengukuran kadar glukosa plasma darah (Howell et al. 2008; Kuhn
1998)
Prinsip dasar reaksi kimia pada glukometer dapat dijelaskan secara
sederhana dengan analogi enzim dan mediator (Howell et al. 2008; Kuhn 1998).
Reaksi yang terjadi dapat disederhanakan dengan tiga tahapan yaitu :
1. Dengan bantuan enzim gluko-dehidrogenase, glukosa akan dioksidasi
menjadi asam glukonik, sedangkan enzim gluko-dehidrogenase akan
direduksi oleh dua elektron dari glukosa tersebut.
2. Enzim yang tereduksi kemudian akan bereaksi dengan mediator (Mox)
yang kemudian akan mentransfer elektron tunggal ke masing-masing
kedua ion mediator. Enzim kemudian dikembalikan pada keadaan
semula sedangkan dua Mox direduksi menjadi Mred.
3. Pada permukaan elektroda, Mred dioksidasi kembali menjadi Mox
sedangkan arus yang timbul dan terukur kemudian digunakan untuk
menentukan konsentrasi glukosa pada sampel.
Pada reaksi tersebut, enzim gluko-dehidrogenase dipilih karena spesifisitasnya
yang tinggi sehingga akan mempercepat oksidasi glukosa menjadi asam
glukonat. Gluko-dehidrogenase juga sangat tahan dan tidak terpengaruh oleh
adanya komponen asing pengganggu dalam sampel darah. Mediator yang
digunakan dalam reaksi tersebut adalah natrium ferisianida. Pasangan redok
ferisianida/ferosianida mampu secara cepat mentransfer elektron dengan
elektroda. Hasil akhirnya adalah elektron kemudian akan ditransfer antara
glukosa dan elektroda melalui enzim dan mediator. Setelah berselang waktu
selama beberapa detik kemudian konsentrasi glukosa akan ditampilkan pada
layar monitor glukometer (Howell et al. 2008; Kuhn 1998).
Nutraceuticals
Istilah nutraceutical merupakan hibrid atau gabungan antara ilmu gizi dan
farmasi. Istilah tersebut pertamakali dikemukakan oleh DeFelice dan Foundation
for Innovation in Medicine pada tahun 1989. Hal tersebut kemudian dinyatakan
kembali dalam konferensi pers yang dirilis pada tahun 1994 bahwa nutraceutical
merupakan segala substansi yang dapat digolongkan sebagai pangan atau
bagian dari pangan yang memberikan nilai tambah secara medis dan kesehatan
termasuk juga dalam hal pencegahan dan pengobatan. Produk pangan atau
bagian dari pangan tersebut dapat berupa isolated nutrients, pangan yang
termodifikasi secara genetis, produk herbal, serta dalam bentuk pangan yang
sudah mengalami proses pengolahan seperti sereal, sup, dan produk minuman.
Nutraceutical juga dapat didefinisikan sebagai zat kimia dalam bentuk komponen
alam yang terdapat dalam bahan pangan atau bentuk yang ditambahkan dalam
bahan pangan yang dapat dikonsumsi serta dapat memberikan manfaat kepada
tubuh manusia dalam mencegah atau mengobati satu atau lebih jenis penyakit
serta juga dapat memperbaiki dan meningkatkan fungsi fisiologis tubuh (Wildman
& Kelley 2007).
Konsep nutraceutical berkembang dengan pesat pada akhir dekade abad
ke-20. Seiring dengan perkembangan tersebut, banyak sekali laboratorium
penelitian besar yang melakukan investigasi terhadap komponen-komponen
substansi aktif
yang terdapat dari alam. Wildman dan Kelley (2007)
mengklasifikasikan nutraceutical berdasarkan struktur kimianya menjadi tujuh
golongan yaitu: (1) Turunan isoprenoid (terpenoid) terdiri dari karotenoid,
saponin, tokotrienol, tokoferol, dan terpene sederhana; (2) Komponen fenol
terdiri dari coumarins, tanin, lignin, antosianin, isoflavon, flavonones, dan
flavonols; (3) Protein atau yang berbasiskan asam amino terdiri dari asam amino,
allyl-S compounds, capsaicinoids, isothiocyanates, indoles, folat, dan kolin; (4)
Karbohidrat dan turunannya terdiri dari asam askorbat, oligosakarida, dan
polisakarida non-pati; (5) Asam lemak dan lipid yang terstruktur terdiri dari n-3
PUFA, CLA, MUFA, sphingolipids, dan lesitin; (6) Mineral terdiri dari Ca, Se, K,
Cu, dan Zn; (7) Mikrobiologis terdiri dari probiotik dan prebiotik. Selain itu,
nutraceutical dapat digolongkan berdasarkan mekanisme aksinya yang disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2 Penggolongan nutraceuticals berdasarkan mekanisme aksinya
Anti kanker
Capsaicin
Genestein
Daidzein
α-Tocotrienol
γ-Tocotrienol
CLA
L. acidophilus
Sphingolipids
Limonene
Diallyl sulfide
Ajoene
α-Tocopherol
Enterolactone
Glycyrrhizin
Equol
Curcumin
Ellagic acid
Lutein
Carnosol
L. bulgaricus
Pengaruh
positif pada
profil lipid
darah
β-Glucan
γ-ocotrienol
δ-ocotrienol
MUFA
Quercetin
ω-3 PUFAs
Resveratrol
Tannins
β-Sitosterol
Saponins
Guar
Pectin
Aktivitas
antioksidan
Anti
inflammasi
CLA
Ascorbic acid
β-Carotene
Polyphenolics
Tocopherols
Tocotrienols
I3C
α-Tocopherol
Ellagic acid
Lycopene
Lutein
Glutathione
Hydroxytyrosol
Luteolin
Oleuropein
Catechins
Gingerol
CA
Tannins
Linolenic acid
EPA
DHA
GLA
Capsaicin
Quercetin
Curcumin
Osteogenetik
atau
perlindungan
terhadap
tulang
CLA
Soy protein
Genestein
Daidzein
Calcium
CP
FOS
Inulin
Keterangan :
CA (chlorogenic acid)
CLA (conjugated linoleic acid)
CP (casein phosphopeptides)
DHA (docosa hexenoic acid)
EPA (eicosa pentaenoic acid)
FOS (fructooligosaccharides)
GLA (gamma linolenic acid)
I3C (Indole-3-carbonol)
MUFA (monounsaturated fatty acid)
PUFA (polyunsaturated fatty acid)
Sumber : Wildman & Kelley (2007)
Dalam istilah ilmu gizi dan ilmu pangan, sering dijumpai juga istilah
pangan fungsional. Pada saat ini belum ada definisi yang disepakati secara
umum mengenai nutraceutical dan pangan fungsional, meskipun istilah tersebut
sering digunakan dengan merujuk pada berbagai organisasi profesional yang
berorientasi pada kesehatan. Berdasarkan International Food Information
Council (IFIC), pangan fungsional merupakan pangan atau komponen pangan
yang memberikan manfaat kesehatan diluar fungsi nilai gizi normalnya. Definisi
lainnya dikemukakan oleh The International Life Sciences Institute of North
America (ILSI) yang mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang
melalui kandungan komponen aktifnya secara fisiologis dapat memberikan
manfaat kesehatan di luar fungsi nilai gizi normalnya. Definisi yang sedikit
berbeda dikemukakan oleh Health Canada yang mendefinisikan pangan
fungsional sebagai pangan yang memiliki wujud penampakan sama dengan
pangan konvensional dan dikonsumsi sebagai bagian dari asupan makanan
yang memiliki nilai tambah manfaat secara fisiologis di luar fungsi nilai gizi
normalnya sehingga dapat menurunkan resiko penyakit kronis (Wildman & Kelley
2007). Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat ditarik makna bahwa pangan
fungsional merupakan bagian dari nutraceuticals.
Konsep pangan fungsional pertama kali diperkenalkan di Jepang pada
tahun 1984 dengan istilah FOSHU (Food for Special Dietary Uses). Hal ini
dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya populasi orang tua di Jepang yang
berpotensi terhadap peningkatan chronic non-communicable diseases seperti
diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi, osteoporosis, dan kanker. Berlatar
belakang hal tersebut, maka Japanese Ministry of Education pada tahun 1984
mencanangkan proyek pengembangan dan penelitian yang memfokuskan pada
sifat fungsional pada pangan. Proyek tersebut merupakan proyek penelitian
mengenai pangan fungsional yang pertama kali di dunia dengan melibatkan
peneliti antar disiplin ilmu seperti ilmu gizi, farmakologi, psikologi, dan kedokteran
(Yamada et al. 2008).
Pangan secara umum dapat dikatakan memiliki tiga sifat. Fungsi utama
pangan
yaitu
sebagai
keberlangsungan
hidup
asupan
zat
manusia.
gizi
Fungsi
yang
sangat
kedua
dari
esensial
untuk
pangan
dapat
diidentifikasikan sebagai sensori atau pemuasan sensori seperti rasa yang enak,
flavor, dan tekstur yang baik. Fungsi ketiga adalah secara fisiologis seperti
regulasi bioritme, sistem saraf, sistem imun, dan pertahanan tubuh. Pangan
fungsional dapat digolongkan ke dalam pangan yang termasuk pada fungsi
ketiga (Yamada et al. 2008). The Insitute of Food Technologist USA (2005)
medefinisikan pangan fungsional adalah pangan atau komponen pangan yang
dapat memberikan nilai tambahan lainnya disamping fungsi dasar zat gizi
pangan utama untuk populasi tertentu. Contoh dari pangan fungsional adalah
dapat berupa pangan konvensional yang difortifikasi, diperkaya, disuplementasi,
atau ditambahkan nilai manfaatnya. Substansi yang terdapat di dalamnya dapat
berupa komponen bioaktif untuk memelihara fungsi normal tubuh dan
pertumbuhan serta dapat memberikan efek postif pada kesehatan dan fisiologis
yang dikehendaki.
Goldberg (1993) menyatakan bahwa suatu pangan dapat dikategorikan
sebagai pangan fungsional jika memiliki tiga syarat utama yang harus dipenuhi
yaitu: (1) Merupakan makanan atau minuman (bukan kapsul, tablet, atau serbuk)
yang mengandung senyawa bioaktif tertentu yang berasal dari bahan alami; (2)
Harus merupakan bahan yang dikonsumsi dari bagian diet sehari-hari; (3)
Memiliki fungsi tertentu setelah dikonsumsi, seperti meningkatkan mekanisme
pertahanan biologis, mencegah dan memulihkan penyakit tertentu, mengontrol
fisik dan mental, serta memperlambat proses penuaan dini. Hingga akhir tahun
2007, Jepang sudah memberikan label FOSHU pada 755 produk pangan. Klaim
kesehatan untuk produk FOSHU di Jepang diklasifikasikan menjadi delapan
kelompok yang memberikan efek kesehatan untuk kondisi indeks glikemik,
tekanan darah, kadar serum kolesterol, kadar glukosa darah, absorpsi mineral,
darah yang bebas lemak, kesehatan gigi, serta kesehatan tulang (Yamada et al.
2008).
Teh
Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer dikonsumsi dua
pertiga populasi di dunia. Selain itu, teh juga merupakan jenis minuman yang
memiliki sejarah tua yang panjang di dunia (Sinija et al. 2007). Teh berasal dari
tanaman Camellia sinensis yang dapat tumbuh secara optimal di wilayah tropis
dan sub-tropis. Tanaman Camellia sinensis merupakan tanaman asli dari Asia
Tenggara yang didominasi di daerah timur laut India, utara Myanmar, selatan
Cina, dan Tibet (Mondal 2007). Berdasarkan studi budidaya teh di Cina, tanaman
teh yang ditanam pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut akan
menghasilkan kualitas teh yang baik, karena pada ketinggian ini tanaman teh
akan tumbuh secara lambat sehingga akan dihasilkan kualitas flavor yang baik.
Jenis dari teh dapat ditentukan berdasarkan proses pembuatnnya setelah
daun teh dipetik dari pohonnya. Daun teh yang baru dipetik akan cepat
mengalami reaksi oksidasi jika tidak dikeringkan secara cepat, sehingga daun teh
secara progresif menjadi lebih gelap yang disebabkan oleh pemecahan klorofil
dan dikeluarkannya komponen tanin. Proses oksidasi enzimatis atau yang sering
disebut dengan fermentasi tersebut tidak disebabkan oleh mikroorganisme dan
juga bukan merupakan proses anaerobik. Wan et al. (2009) mengungkapkan
bahwa jenis teh dapat diklasifikasikan berdasarkan proses pembuatan serta
karakteristik kualitasnya menjadi enam jenis yaitu: 1) Teh putih (dilayukan dan
tidak teroksidasi); 2) Teh kuning (tidak dilayukan dan tidak teroksidasi tetapi
dibiarkan hingga berwarna kuning); 3) Teh hijau (tidak dilayukan dan tidak
teroksidasi); 4) Teh oolong (dilayukan, dimemarkan dan teroksidasi parsial); 5)
Teh hitam (dilayukan, terkadang agak sedikit diremukkan dan teroksidasi secara
penuh); 6) Teh pasca fermentasi (teh hijau yang dibiarkan untuk terfermentasi).
Dari berbagai jenis teh diatas, secara umum pada prinsipnya dapat
digolongkan menjadi tiga jenis utama yang paling populer dan sering dikonsumsi
yaitu teh hitam (terfermentasi sempurna), teh oolong (semi terfermentasi), dan
teh hijau (tidak terfermentasi) (Cheng & Chen 1994). Dalam proses pembuatan
teh hijau, daun teh segar yang sudah dipetik harus segera diproses dengan
perlakuan uap dan panas. Metode yang dapat digunakan yaitu metode firing
(perlakuan dengan panas) dan steaming (pelayuan dengan uap panas). Hal
tersebut bertujuan untuk menghindari proses oksidasi enzimatis dari catechins
yang terjadi secara alami. Setelah melalui proses tersebut daun teh akan menjadi
lebih lentur dan lembek sehingga mudah tergulung. Daun teh yang sudah
tergulung kemudian dilonggarkan oleh roll breaker / ball breaker serta disertai
dengan proses pendinginan. Setelah itu daun teh dikeringkan dengan
menggunakan charcoal-fired baking baskets / electrical heaters / coal heaters /
liquid petroleum gas heaters / natural gas heaters hingga kadar air produk
akhirnya kurang dari 6% (Wan et al. 2009). Hasil dari proses tersebut dapat
ditemukan di pasaran dengan nama roasted green tea dan steamed green tea.
Salah satu contoh dari produk tersebut adalah Sencha yang dikonsumsi secara
luas di Jepang (Wang et al. 2000).
Proses pembuatan teh hijau di atas sedikit berbeda dengan yang
diterapkan oleh PPTK (Pusat Penelitian Teh dan Kina) Gambung. PPTK
Gambung menerapkan proses pembuatan teh hijau untuk menghasilkan
kandungan catechins yang optimal dengan menggunakan proses steaming yang
terdiri dari tiga tahap, yaitu: (1) Pelayuan selama kurang lebih lima menit pada
suhu 80-100oC dengan menggunakan Rotary Panner; (2) Penggulungan selama
kurang lebih 15-17 menit dengan menggunakan mesin Open Top Roller 26 tipe
single action; dan (3) Pengeringan dua tahap dengan suhu masuk 130-135oC
dan suhu keluar 50-55oC selama 25 menit (PPTK 2006). Untuk menghasilkan teh
hijau dengan kualitas yang baik, maka yang harus digunakan sebagai bahan
bakunya adalah kuncup utama dan dua helai daun teh muda di bawah kuncup.
Di Jepang dan China, untuk menghasilkan teh hijau dengan kualitas yang tinggi
bahkan hanya digunakan kuncup utama dan satu helai daun teh muda di bawah
kuncup sebagai bahan bakunya (Wan et al. 2009).
Berbeda dengan proses pembuatan teh hijau, teh hitam diproses secara
penuh dengan melibatkan aktivitas enzim untuk membentuk pigmen (theaflavin
dan thearubigin) dan karakteristik khas dari teh hitam. Bahan baku yang
digunakan untuk pembuatan teh hitam yaitu kuncup utama dan dua helai daun
teh muda di bawah kuncup. Setelah proses pemetikan, daun teh diletakkan pada
tray dan diangin-anginkan di bawah sinar matahari atau kipas angin dengan suhu
hangat yang terkontrol sehingga daun teh akan menjadi lebih lentur dan lembek.
Setelah itu daun teh dapat diproses dengan menggunakan orthodox roller /
rotorvane, CTC (crushing, tearing, curling) machine, atau LTP (Lawrie tea
processor) machine. Tujuan dari proses rolling adalah untuk memecah sel pada
daun sehingga akan mengeluarkan oksidase seperti polifenol oxidase dan
peroksidase yang kemudian akan menginisiasi proses oksidasi catechins dengan
oksigen di udara. Setelah melalui proses rolling, daun teh ditransfer ke ruangan
fermentasi dengan suhu 25-35oC dengan kelembapan udara >95%. Proses
fermentasi sangat bervariasi dengan kisaran waktu setengah hingga tiga jam. Hal
tersebut tergantung pada jenis varietas teh, usia daun teh, ukuran partikel yang
pecah dalam daun teh, serta kondisi fermentasi. Proses oksidasi yang terjadi
akan menyebabkan perubahan daun teh yang tadinya hijau menjadi kuning
keemasan dan membentuk aroma khas dari teh hitam. Setelah proses fermentasi
optimum tercapai, daun teh kemudian dikeringkan untuk memberhentikan proses
fermentasi sehingga enzim yang terdapat didalamnya menjadi inaktif. Dalam
proses ini digunakan electrical heater atau coal fumace sehingga daun yang
tadinya berwarna kuning keemasan akan berubah menjadi coklat gelap atau
hitam, aroma khas teh hitam menjadi lebih jelas, dan kandungan airnya
diturunkan hingga mencapai kurang dari 6% (Wan et al. 2009).
Berbeda dengan teh hijau dan teh hitam, teh oolong memiliki karakteristik
yang khas dengan kombinasi freshness dari teh hijau dan aroma dari teh hitam
(Wan et al. 2009). Teh oolong berasal dari provinsi Fujian, China yang memiliki
arti makna naga hitam. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan teh oolong
yaitu kuncup utama dan dua atau tiga helai daun teh muda di bawah kuncup dari
jenis kultivar Tieguanyin dan Fenghuang Shuixian. Setelah itu daun teh akan
dilayukan di bawah sinar matahari selama 30 hingga 60 menit. Setelah dauh teh
menjadi lebih lentur dan lembek serta kandungan airnya mencapai 10-20%,
kemudian dipindahkan ke dalam ruangan untuk proses rotating. Proses rotating
dilakukan pada suhu 20-25oC dengan kelembapan 75-85%. Proses rotating ini
bertujuan untuk menjadikan friksi pada sel daun teh sehingga akan terjadi proses
fermentasi. Proses ini berlangsung selama 6-8 jam dengan pengulangan
sebanyak 5-6 kali. Kemudian daun teh yang sudah melalui proses rotating akan
melalui proses fixing yaitu dipanaskan selama 3-7 menit pada suhu 180-220oC
sehingga aktivitas enzim akan terdeaktivasi dan proses fermentasi akan berhenti.
Setelah itu daun teh akan melalui proses rolling dan drying yang bertujuan untuk
membentuk ukuran dari serbuk teh oolong (Xu & Chen 2002).
B
A
C
Gambar 6
Tiga jenis utama teh (A. Teh hijau (http://www.nihaoteahouse.com);
B. Teh oolong (http://www.naturafresh.com); C. Teh hitam
(http://www.preparefor allthings.com)
Flavonoid Polifenol pada Teh
Daun teh mengandung komponen kimia yang terdiri dari polifenol
(catechins dan flavonoides), alkaloides (caffeine, theobromine, theophylline,
dsb.), volatile oils, polysaccharides, amino acids, lipids, vitamins (contohnya
vitamin C), inorganics element (contohnya aluminium, fluorine, dan manganese),
dsb. (Sharangi 2009). Flavonoid merupakan metabolit sekunder dari suatu
tanaman yang terbagi menjadi enam kelas yaitu: flavones, flavanones,
isoflavones, flavonols, dan anthocyanins. Hal ini berdasarkan struktur dan
konformasi molekul dasar yang berbentuk cincin oksigen heterosiklik yang
ditunjukkan pada Gambar 7 (Rice-Evans & Miller 1997).
Gambar 7
Struktur dasar flavonoid (Rice-Evans & Miller 1997).
Teh hijau mengandung enam komponen catechin utama yaitu catechin,
gallocatechin (GC), epicatechin (EC), epigallocatechin (EGC), epicatechin gallate
(ECG), dan epigallocatechin gallate (EGCG) seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 8. Catechins merupakan komponen kimia yang larut dalam air, tidak
berwarna, serta memberikan rasa bitterness dan astringency. Selain itu teh hijau
juga mengandung teanin, caffeine serta pyrroloquinoline quinone yaitu jenis
vitamin yang baru ditemukan (Kasahara & Kato 1993). Epigallocatechin gallate
(EGCG) merupakan komponen paling aktif yang ditemukan pada teh hijau.
Kandungan polifenol pada teh hijau bervariasi, yaitu antara 30% hingga 40%
(Stote & Baer 2008). Beberapa literatur juga menyebutkan bahwa kandungan
catechin teh hijau secara khusus flavanol yaitu 20% hingga 30% berat basis
kering (Balentine et al. 1997; Sanderson 1972). Hal tersebut berbeda dengan
kandungan polifenol utama teh hitam yang terdiri dari theaflavin dan thearubigin.
Theaflavin dan thearubigin merupakan hasil dari proses fermentasi yang
melibatkan reaksi oksidasi enzimatis dari catechins sehingga terbentuk produk
dengan pigmen yang berwarna coklat (Chen et al. 2002). Kandungan theaflavin
yang terdapat pada berat kering teh hitam berkisar antara 0,3% hingga 2%,
sedangkan kandungan thearubigin berkisar antara 10% hingga 20% (Chen et al.
2002; Wang et al. 2000).
Gambar 8
Struktur kimia jenis catechin teh serta jenis epimer turunannya
(Wang 2000)
Pada umumnya, karakteristik dari teh termasuk rasa, warna, dan aroma
secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan modifikasi
komponen
catechins.
Sebagai
contoh,
penurunan
kandungan
catechin
berhubungan dengan peningkatan kandungan monoterpene alcohols selama
proses pembuatan teh hitam yang dapat memperbaiki kualitas aroma dari teh
hitam (Wang et al. 1998). Selain itu, degalloation dari ester catechins menjadi
non-ester catechins dapat menghasilkan penurunan rasa pahit (bitterness) dan
astringency dari teh hijau (Nakagawa 1975; Wang et al. 1998). Epimerisasi yang
merupakan konversi catechin teh menjadi isomernya dapat terjadi selama proses
produksi, penyeduhan, maupun penyimpanan dari teh (Suematsu et al. 1992;
Wang & Helliwell 2000).
Flavonol pada daun teh yang struktur molekulnya ditunjukkan pada
Gambar 9 terdiri atas quercetin, kaempferol, dan myricetin. Komponen ini
merupakan penyusun 2-3% dari ekstrak larut air pada teh. Flavonol terwujud
lebih ke dalam bentuk glikosida dibandingkan bentuk non-glikosida (aglycones).
Bentuk flavonol aglycones tidak ditemukan secara signifikan pada minuman teh
dikarenakan sifat tidak larutnya pada air. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa flavonol yang terdapat pada daun teh berat basis basah bervariasi yaitu
0,83-1,59 g/kg myricetin, 1,79-4,05 g/kg quercetin, dan 1,56-3,31 g/kg
kaempferol untuk teh hijau, sedangkan pada teh hitam yaitu 0,24-0,52 g/kg
myricetin, 1,72-2,31 g/kg quercetin, dan 1,56-3,31 g/kg kaempferol (Wang dan
Helliwell 2000).
Gambar 9
Struktur kimia flavonols pada teh (Wang 2000)
Proses Optimal pada Penyeduhan Teh
Kebudayaan merupakan salah satu aspek yang sangat mempengaruhi
terhadap pola makan serta proses penyiapan dari makanan tersebut. Minuman
teh yang dikonsumsi di seluruh dunia saat ini sangat bervariasi jenisnya,
tentunya hal ini juga dipengaruhi oleh berbagai budaya serta kebiasaan dari
masyarakat yang ada di suatu tempat, negara, ataupun kawasan. Di wilayah Asia
seperti di Jepang, Cina, India, Indonesia, Thailand jenis teh yang banyak
dikonsumsi adalah teh hijau dan teh oolong, sedangkan untuk negara-negara
barat seperti Inggris dan Amerika lebih banyak dikonsumsi dari jenis teh hitam
(Sharangi 2009). Berbagai jenis teh tersebut tentunya sangat bervariasi dalam
kandungan polifenolnya. Semakin banyak melalui proses fermentasi, maka
kandungan polifenol dari teh juga semakin sedikit.
Begitu juga dengan cara penyiapan minuman teh yang bervariasi, maka
akan sangat mempengaruhi kandungan polifenol yang ada pada teh. Penelitian
yang dilakukan oleh Komes et al. (2010) membuktikan bahwa terdapat
perbedaan kandungan polifenol yang ditunjukkan oleh angka GAE (Gallic acid
equivalent) dari kondisi proses penyeduhan teh yang berbeda (suhu air yang
digunakan,
jumlah
ulangan
penyeduhan
(single
atau
multiple),
waktu
penyeduhan, waktu penyimpanan dari seduhan). Hasil singkat dari penelitian
Komes et al. (2010) disajikan dalam Gambar 10, 11, dan 12.
Gambar 10 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau yang diseduh pada menit ke-3 pada suhu 80oC (Komes et al.
2010)
Gambar 11 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau serbuk (Matcha), potongan daun (Gyokuro), dan kemasan
kecil (Twinning of London) yang dipengaruhi oleh suhu penyeduhan
pada 60oC, 80oC (penyeduhan ke-1, ke-2, dan ke-3), 100oC pada
menit ke-3 (Komes et al. 2010)
Gambar 12 Total kandungan flavonoid dan non-flavonoid dari berbagai tipe teh
hijau serbuk (Matcha), potongan daun (Gyokuro), dan kemasan
kecil (Twinning of London) yang dipengaruhi oleh waktu
penyeduhan pada menit ke-3, 5, 10, 15, dan 30 pada suhu 80oC
(Komes et al. 2010)
Hal senada juga ditunjukkan oleh penelitian Venditti et al. (2010) yang
menunjukkan bahwa suhu air yang digunakan untuk menyeduh teh sangat
mempengaruhi kandungan dari polifenol dan flavonoid yang terkandung. Teh
yang diseduh dengan menggunakan air panas (suhu 90oC) memiliki kandungan
total polifenol yang lebih tinggi dibandingkan dengan teh yang diseduh dengan
menggunakan air dengan suhu ruangan.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Lokasi
Penelitian Studi Pengaruh Variasi Pemberian Kadar Teh Hijau dalam
Mengontrol Level Glukosa Plasma Darah Post-Prandial pada Subjek Dewasa
Muda Sehat dilaksanakan dalam dua tahap (tahap pendahuluan dan tahap
clinical) pada bulan November 2010 sampai Januari 2011. Penelitian tahap
pendahuluan dilaksanakan di Laboratorium Analisis Teh dan Kina, Pusat
Penelitian Teh dan Kina Gambung, Indonesia. Penelitian tahap klinis
dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Gizi, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor, Indonesia. Penelitian ini merupakan uji klinis tingkat satu
(Phase 1 Clinical Trials) yang telah direview oleh tim Komisi Etik Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Kementerian Kesehatan Indonesia dengan dikeluarkannya Ethical Approval atau
Ethical Clearance No. LB.03.04/KE/8749/2010 yang diterbitkan di Jakarta pada
tanggal 31 Desember 2010 (Lampiran 1).
Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teh Camellia
sinensis var. Assamica klon Gambung 7 yang diperoleh dan diproses di
Laboratorium Mini Processing Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung,
Indonesia. Sampel merupakan bahan yang sama dengan yang digunakan pada
penelitian Studi Pengaruh Teh Hijau, Teh Hitam, Teh Daun Murbei, serta
Campurannya terhadap Pengendalian Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes
(Kustiyah et al. 2009). Bahan pereaksi kimia yang digunakan untuk analisis
EGCG (epigallocatechin gallate) teh hijau terdiri dari kloroform p.a., etil asetat
p.a., air bebas ion, standar EGCG, pelarut polifenol (asetonitril 12 ml, etil asetat 2
ml, H2PO4 0,05% 86 ml). Alat yang digunakan untuk analisis EGCG teh hijau
adalah Erlenmeyer 500 ml, timbangan elektronik, timbangan mikro Mettler H34,
labu ukur 50 ml dan 250 ml, corong biasa, corong pisah 250 ml, gelas ukur 50 ml,
pipet gondok 25 ml, labu didih bundar (alas datar) 250 ml, Millex HA 0,45 µm,
rotavapor, strirrer, sonicator, kolom MetaChem PolarisTM Amide C18-5 µm-4,6 x
250 mm, HPLC UV-Vis Waters. Bahan dan alat yang digunakan untuk analisis
glukosa darah adalah D(+)-glucose anhydrous-Charge/Lot K40684937029-Series
1.08337.5000 - Merck KgaA - Darmstadt - GERMANY, glucometer OneTouch®
Ultra™ Blood Glucose Monitoring System-Series BJJ86C8TT-Lot T10062023X
LifeScan Inc.-Milpitas CA-USA-Johnson and Johnson Company, glucose strip
OneTouch® Ultra™ Lot 3068957 LifeScan Inc.-Milpitas CA-USA-Johnson and
Johnson Company.
Metode
Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu tahap penelitian pendahuluan
dan tahap penelitian klinis.
A. Tahap penelitian pendahuluan
Tahap penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui kandungan EGCG
pada minuman teh hijau awal (biang) dan menentukan perhitungan untuk
mengencerkan minuman teh hijau awal (biang) sehingga didapatkan cara
membuat minuman teh hijau intervensi dengan kadar 100 dan 200 mg/200 ml.
1. Analisis kadar EGCG minuman teh hijau awal (biang)
Mula-mula dilakukan penetapan metode cara pembuatan minuman
teh hijau awal (biang) yang merupakan modifikasi dari penelitian Komes
et al. (2010) dan Venditti et al. (2010), yaitu metode penyeduhan teh hijau
dengan hasil perolehan EGCG yang maksimal (Gambar 13).
Teh hijau ditimbang sebanyak 5 g
↓
Diseduh dengan 200 ml air panas (~90oC)
↓
Diaduk selama satu menit dan didiamkan selama dua menit
↓
Penyaringan
↓ ampas (dibuang)
Minuman teh hijau awal (biang)
Gambar 13
Cara pembuatan minuman teh hijau awal (modifikasi
Komes et al. 2010 dan Venditti et al. 2010)
Tahap selanjutnya untuk analisis kadar EGCG dari minuman teh hijau
awal (biang) yaitu proses ekstraksi (liquid/liquid extraction) untuk
mengekstrak EGCG yang terdapat dalam minuman teh hijau awal (biang).
Tahapan tersebut ditunjukkan pada Gambar 14.
Minuman teh hijau di atas disaring dengan menggunakan kertas saring
dan larutannya dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml
↓
Larutan dipipet sebanyak 25 ml dan dimasukkan ke dalam corong pisah
250 ml
↓
Ditambahkan 50 ml kloroform p.a. dan dikocok selama + 2 menit,
kemudian dipisahkan larutan bawahnya (kloroform) untuk dibuang
(proses tersebut dilakukan sebanyak tiga kali)
↓
Larutan contoh kemudian ditambahkan 50 ml etil asetat p.a. kemudian
dikocok selama + 7 menit, kemudian dipisahkan larutan atasnya (etil
asetat) dan ditampung ke dalam labu didih bulat 250 ml
↓
Larutan etil asetat pada labu didih bulat 250 ml diuapkan dengan
menggunakan rotavapor sampai kering (tidak berbau etil asetat)
↓
Kemudian dilarutkan dengan solven (etil asetat, asetonitril, H2PO4) ke
dalam labu ukur 50 ml, diimpitkan dan dikocok
↓
Kemudian disaring dengan Millex HA 0,45 µl
↓
Larutan siap disuntikkan ke HPLC
Gambar 14
Prosedur analisis kadar EGCG di dalam minuman teh hijau
awal (biang) (PPTK 2006)
Setelah didapatkan luas area puncak dari analisis EGCG dan tg α zat
standar EGCG, maka untuk menghitung konsentrasi EGCG dalam satuan
ppm (part per million) digunakan persamaan berikut:
x=
y
b
Keterangan:
x = konsentrasi EGCG-epigallocatechin gallate (ppm)
y = luas area puncak
b = tg α standar EGCG-epigallocatechin gallate (4,4752)
2. Penetapan cara perhitungan kadar EGCG minuman teh intervensi.
Konsentrasi EGCG yang diperoleh memiliki satuan ppm. Satuan ppm
(part per million) setara dengan satuan mg/l dengan asumsi berat jenis
minuman teh sama dengan berat jenis air (Satterfield 2004). Oleh karena
itu, untuk mengkonversi kadar EGCG dalam satuan ppm (part per million)
menjadi satuan mg/200ml yaitu dengan membagi angka satuan ppm (part
per million) dengan angka lima.
Setelah mendapatkan kadar EGCG minuman teh hijau awal (biang),
maka dapat dilakukan perhitungan stokiometri untuk mengetahui volume
yang dibutuhkan untuk membuat minuman teh hijau dengan kadar 100
dan 200 mg EGCG di dalam 200 ml. Pertama dilakukan perhitungan
molaritas dari minuman teh hijau awal dengan persamaan berikut:
M1 =
g
Mr x V
Keterangan:
M1 = molaritas minuman teh hijau awal (mol/l)
g = kandungan EGCG pada minuman teh hijau awal (g)
Mr = masa molekul EGCG (g/mol)
V = volume minuman teh hijau awal (l)
Selanjutnya untuk mengetahui volume yang harus diambil dari minuman
teh hijau awal (MTHj awal / minuman teh hijau biang) sehingga
didapatkan minuman teh hijau dengan kadar EGCG sebesar 100 mg dan
200 mg di dalam 200 ml, maka dilakukan perhitungan dengan persamaan
berikut:
VX =
g
Mr x M1
Keterangan:
M1 = molaritas minuman teh hijau awal (mol/l)
g = kandungan EGCG pada minuman teh hijau yang diinginkan
(0,1 g atau 0,2 g)
Mr = masa molekul EGCG (mol/l)
Vx = volume minuman teh hijau untuk kadar yang diinginkan (l)
B. Tahap penelitian klinis
Tahap penelitian klinis bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi EGCG
pada respon glukosa darah post-prandial. Tahap penelitian klinis terdiri dari
empat sub tahap yaitu:
1. Penentuan jumlah subjek yang akan dilibatkan dalam penelitian
Populasi target adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang
memenuhi kriteria inklusi penelitian. Kriteria inklusi diberlakukan bagi
subjek penelitian sehingga hasil dari pengukuran glukosa plasma darah
subjek benar-benar valid dan tidak terpengaruh oleh faktor-faktor luar
selain dari intervensi yang diberikan yang menyebabkan fluktuasi dari
kandungan glukosa plasma darah. Kriteria subjek adalah: a. Individu
sehat dengan IMT 18,5-23 kg/m2 (WHO Expert Consultation 2004); b.
Berusia antara 20-35 tahun (Shephard 1998); c. Tidak menderita diabetes
mellitus (Lee 2009); d. Tidak sedang hamil atau menyusui (Lee 2009); e.
Tidak merokok (Lee 2009); f. Tidak mengkonsumsi alkohol (Lee 2009); g.
Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan (Lee 2009); h. Aktivitas fisik
sedang (Lee 2009); i. Tidak mengalami tekanan psikis (Radahmadi et al.
2006). Open call untuk individu yang tertarik untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini dilakukan pada minggu terakhir bulan November 2010.
Apabila individu memenuhi kriteria inklusi dan bersedia menandatangani
Informed Consent, maka individu tersebut ditetapkan sebagai subjek
penelitian.
Penentuan jumlah subjek dilakukan dengan menggunakan nomogram
ukuran sampel dan power dalam membandingkan dua atau lebih
kelompok perlakuan pada clinical trials (Day & Graham 1989).
Perhitungan awal dilakukan untuk menghitung difference parameter
(ψ Plan = λ ) dengan menggunakan persamaan berikut:
ψ Plan =
∑ (µ
i
− µ)
2
( g − 1)σ 2 Plan
Keterangan:
ψ Plan = nilai difference parameter
µi
µ
σ Plan
g
= nilai rata-rata kelompok ke-i 151, 133, 113 mg/dl
= nilai rata-rata antar kelompok 133 mg/dl
= tetapan untuk menentukan standar deviasi 15
= jumlah kelompok penelitian yang akan diberikan perlakuan
100 mg, 200 mg
kontrol,
Dalam perhitungan jumlah sampel dengan menggunakan rumus
diatas maka untuk mendapatkan nilai difference parameter (ψ Plan = λ ),
indikator seperti µ i dan µ harus merujuk pada penelitian-penelitian
sebelumnya. Penelitian yang dijadikan rujukan adalah penelitian yang
dilakukan oleh Tsuneki et al. (2004) dalam mengevaluasi kadar glukosa
darah subjek sehat yang diberikan intervensi minuman teh hijau ekuivalen
dengan 84 mg EGCG yang kemudian setelah jeda 10 menit diberikan 225
ml Trelan-G75 yang mengandung glukosa murni 75 g. Hal tersebut
dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan intervensi
225 ml Trelan-G75 yang mengandung glukosa murni 75 g. Hasil dari
penelitian Tsuneki et al. (2004) menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar
glukosa plasma darah puncak untuk kelompok perlakuan kontrol yaitu
151 mg/dl, sedangkan untuk kelompok perlakuan 84 mg EGCG yaitu 133
mg/dl. Selisih dari kedua perlakuan tersebut adalah 18 mg/dl, sehingga
dengan menetapkan hipotesis semakin tinggi kadar EGCG yang diberikan
maka akan memberikan efek penurunan glukosa darah yang sebanding
maka untuk perlakuan 168 mg EGCG diasumsikan dapat menurunkan
nilai glukosa plasma darah menjadi 115 mg/dl. Nilai tersebut dimasukkan
ke dalam perhitungan
∑ (µ
i
− µ)
2
sehingga didapatkan nilai sebesar
648. Tetapan umum yang sering digunakan dengan lebar rentang
interkuartil sebesar 2SD adalah dengan menggunakan nilai σ Plan sebesar
15. Setelah semua indikator tersebut dimasukkan dalam rumus ψPlan di
atas, maka diperoleh nilai ψPlan sebesar 1,2. Kemudian nilai ψPlan
dimasukkan pada nomogram ukuran sampel dengan ditetapkan power
99% dan nilai α 5%, maka didapatkan jumlah sampel minimal untuk tiap
kelompok perlakuan yaitu 8 (delapan) subjek. Untuk menghindari drop-out
pada saat penelitian, maka ditambahkan 2 (dua) subjek untuk masingmasing kelompok perlakuan, sehingga jumlah subjek yang dibutuhkan
untuk masing-masing kelompok yaitu sebanyak 10 (sepuluh) subjek.
Penelitian ini menggunakan disain paired samples clinical trials sehingga
hanya dibutuhkan sepuluh subjek, dengan aturan kesepuluh subjek
tersebut akan mendapatkan seluruh taraf perlakuan intervensi (kontrol,
minuman teh hijau 100 mg EGCG, minuman teh hijau 200 mg EGCG)
dengan periode washout antar perlakuan selama dua hari. Perhitungan
dan pengeplotan dari ψ Plan = λ dijabarkan sebagai berikut:
ψ Plan =
∑ (µ
i
− µ)
2
( g − 1)σ 2 Plan
ψ Plan =
(151 − 133) 2 + (133 − 133) 2 + (115 − 133) 2
(3 − 1)152
ψ Plan =
(18) 2 + (0) 2 + (18) 2
450
ψ Plan =
324 + 0 + 324
450
ψ Plan =
648
450
ψ Plan = 1,44
ψ Plan = 1,2
Keterangan:
Untuk mendapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan per kelompok, hasil
perhitungan nilai ψPlan (difference parameter) = 1,2 yang didapatkan ditarik garis
lurus secara vertikal. Kemudian nilai power yang telah ditetapkan (99%) ditarik
garis lurus horisontal. Setelah itu titik kelompok dan nilai α yang telah ditentukan
(g=3 dan α=5%) ditarik garis memotong perpotongan garis vertikal ψPlan dan garis
horisontal power menuju garis horisontal kelompok dan nilai α. Kemudian
dilanjutkan dengan menarik garis vertikal untuk mendapatkan jumlah sampel
minimal yang dibutuhkan per kelompok (8 subjek).
Gambar 15 Nomogram ukuran sampel dan power (Day & Graham 1989)
2. Intervensi minuman teh hijau sesuai taraf perlakuan intervensi
Perlakuan dalam penelitian ini adalah konsentrasi EGCG dalam 200
ml minuman teh hijau. Perlakuan tersebut terdiri dari tiga taraf yaitu:
kontrol (0 mg EGCG), 100 mg EGCG, dan 200 mg EGCG. Sebelum
mendapatkan intervensi, subjek dipuasakan selama 10 jam sebelumnya
dengan makan terakhir pukul 23.00 pada hari sebelum pengambilan
darah (ADA 2001). Selama waktu puasa, subjek tidak diperkenankan
mengkonsumsi jenis makanan apapun kecuali air mineral (CCNIH 1999).
Pada pagi hari subjek dikumpulkan di Laboratorium Biokimia Gizi,
kemudian intervensi dilakukan pada pukul 09.00 pagi.
Pada kelompok kontrol, subjek diberikan intervensi 75 g glukosa
murni (anhydrous D-glucose) yang dilarutkan pada 200 ml air mineral.
Pada kelompok 100 mg, subjek diberikan intervensi minuman teh hijau
yang mengandung 100 mg EGCG dalam 200 ml, kemudian setelah
selang 10 menit subjek diberikan intervensi 75 g glukosa murni
(anhydrous D-glucose) yang dilarutkan pada 200 ml air mineral. Begitu
juga pada kelompok 200 mg EGCG, subjek diberikan intervensi minuman
teh hijau yang mengandung 200 mg EGCG dalam 200 ml, kemudian
setelah selang 10 menit subjek diberikan intervensi 75 g glukosa murni
(anhydrous D-glucose) yang dilarutkan pada 200 ml air mineral.
3. Pengukuran kadar glukosa plasma darah
Tujuan dari pengambilan sampel darah adalah untuk mengetahui
kadar glukosa darah subjek ketika diberikan perlakuan. Prosedur yang
digunakan dalam pengukuran glukosa plasma darah yaitu berdasarkan
prosedur pengukuran OGTT (Oral Glucose Tolerance Test) yang dirujuk
dari standar WHO (Reinauer et al. 2002). Pengukuran kadar glukosa
plasma darah ini terdiri dari dua bagian, yaitu persiapan sebelum
pengambilan darah dan pada saat pengambilan darah.
Berikut merupakan poin penting persiapan sebelum pengambilan darah:
a. Ruangan dipastikan pada suhu ruangan yang sejuk dengan
dilengkapi oleh AC pada suhu maksimal 20oC. Hal ini untuk menjaga
kestabilan plasma darah yang akan diuji pada alat uji glukometer
(Reinauer et al. 2002).
b. Subjek diharuskan dalam kondisi rileks selama 5 menit sebelum
pengambilan darah.
c. Subjek disarankan untuk menggunakan jari tangan tengah atau jari
tangan yang menurut subjek tidak terasa dingin. Hal ini untuk
menghindari terjadinya hematoma.
d. Subjek
disarankan
menggelantung
ke
untuk
memposisikan lengan tangan rileks
samping
selama
beberapa
saat
untuk
melancarkan aliran darah.
e. Lancet yang digunakan hanya sekali pakai untuk
pengambilan darah (disposable).
satu kali
Berikut merupakan tahapan pada saat pengambilan darah:
a. Sebelum mendapat perlakuan intervensi, subjek diambil darahnya
untuk mengetahui glukosa plasma darah menit ke-0.
b. Kemudian subjek diberi intervensi sesuai dengan taraf perlakuan
konsentrasi EGCG pada minuman teh hijau yang harus diminum dan
dihabiskan dalam waktu lima menit (Provan & Krentz 2002).
c. Selama 150 menit pasca pemberian perlakuan, sampel darah
sebanyak 2 µl diambil dengan menggunakan finger-prick capillary
blood samples method—dengan berturut-turut diambil pada menit ke
30, 60, 90, 120, 150 (Louie et al. 2008; Provan & Krentz 2002;
Reinauer et al. 2002; Wolever 2006).
d. Tahapan yang dilakukan oleh paramedik saat mengambil darah
adalah : 1) Strip glukosa dibuka dari kemasan; 2) Strip glukosa
kemudian dipasangkan pada glukometer; 3) Lancet sekali pakai
(disposable) dipasangkan pada pen lancet, kemudian ditusukkan
secara otomatis ke jari subjek; 4) Tetesan darah ditempatkan pada
sensor yang terdapat pada strip glukometer; 5) Dalam hitungan
sekitar 30 detik, hasil dari pengukuran dapat terbaca pada layar
glukometer (Clayton 2007). Gambar 16 berikut merupakan ilustrasi
dari tahapan pengambilan sampel darah.
Tahap 1
Tahap 4
Gambar 16
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 5
Ilustrasi tahapan pengambilan sampel darah
(Clayton 2007)
4. Pengeplotan, perhitungan luas kurva AUC ( area under curve), dan
perhitungan nilai glucose score
Data kadar glukosa darah yang didapatkan dari setiap individu
kemudian diplotkan ke dalam grafik dengan menit pengukuran pada
sumbu-x dan kadar glukosa darah pada sumbu-y. Setelah itu dilakukan
perhitungan luas AUC untuk setiap individu pada masing-masing
perlakuan. Luas AUC digunakan untuk mengetahui luasan di bawah
kurva dari grafik respon glukosa darah. Metode yang digunakan untuk
mengitung luas AUC adalah Trapezoid Method / Trapezoid Rules (Shiang
2004; Wolever 2006). Perhitungan luas AUC dengan menggunakan
Trapezoid Method / Trapezoid Rules dilakukan dengan menggunakan
persamaan berikut:
 (a + b)

x t
Luas AUC = ∑ 
2


Keterangan:
a dan b = dua sisi sejajar, yaitu kadar glukosa darah antar dua periode
pengukuran (mg/dl)
t
= tinggi, yaitu jarak periode pengukuran kadar glukosa darah (jam)
Nilai
glucose
score
digunakan
untuk
mengetahui
persen
perbandingan antara nilai glukosa kelompok kontrol dengan kelompok
yang diberikan intervensi (Louie et al. 2008). Perhitungan nilai glucose
score dilakukan untuk setiap individu dengan cara membandingkan luas
AUC kelompok intervensi dibandingkan dengan luas AUC kelompok
kontrol yang kemudian dikalikan dengan angka 100. Penjabaran
perhitungan nilai glucose score dapat dilihat pada persamaan berikut:
Nilai glucose score =
A
x 100
B
Keterangan:
-1
A = luas AUC kelompok intervensi (mg.dl .h)
-1
B = luas AUC kelompok kontrol (mg.dl .h)
Nilai kepentingan klinis yang diuji adalah RR (relative risk), RRR
(relative risk reduction), dan ARR (absolute risk reduction). Dalam
menentukan nilai kepentingan klinis, peneliti menetapkan jika subjek
kelompok intervensi pada penelitian memiliki perbedaan kadar glukosa
darah sepuluh poin dibandingkan dengan kadar glukosa darah kelompok
kontrol maka dinyatakan bermakna dalam menurunkan kadar glukosa
darah. Selisih sepuluh poin tersebut dirujuk berdasarkan penelitian
Venables et al. (2008). Nilai kepentingan klinis dihitung dengan
menggunakan tabel dan formulasi yang merujuk pada Dahlan (2010).
Tabel 3 Nilai kepentingan klinis perlakuan kontrol dan eksperimen
Perlakuan
Perlakuan eksperimen
Perlakuan kontrol
Keluaran
Tidak
Ya
a
b
c
d
Total
a+b
c+d
Keterangan :
Keluaran : penurunan kadar glukosa darah
a
: jumlah subjek yang tidak mengalami penurunan kadar glukosa
darah pada kelompok intervensi
b
: jumlah subjek yang mengalami penurunan kadar glukosa
darah pada kelompok intervensi
c
: jumlah subjek yang tidak mengalami penurunan kadar glukosa
pada kelompok kontrol
d
: jumlah subjek yang mengalami penurunan kadar glukosa
darah pada kelompok kontrol
EER =
a
a+b
CER =
c
c+d
RR =
EER
CER
RRR = 1 – RR
ARR = | EER – CER |
Keterangan :
CER
: control event rate (proporsi pada kelompok kontrol)
EER
: experiment event rate (proporsi pada kelompok eksperimen)
RR
: relative risk
RRR
: relative risk reduction
ARR
: absolute risk reduction
Bagan alur tahapan penelitian ini secara keseluruhan dapat dilihat
pada Gambar 17.
TAHAP PENELITIAN PENDAHULUAN
Analisis EGCG minuman teh hijau
Perhitungan stokiometri untuk
membuat minuman teh hijau yang
digunakan intervensi yang
mengandung 100 mg EGCG dan
200 mg EGCG
TAHAP PENELITIAN KLINIS
Populasi subjek
Normal dewasa muda sehat
Kriteria inklusi:
2
- Sehat (IMT 18,5 – 23 kg/m )
- Usia 20-35 tahun
- Aktifitas fisik sedang
Randomized assigned
Kriteria eksklusi:
- Memiliki riwayat DM
- Sedang hamil atau menyusui
- Memiliki kebiasaan merokok
- Mengkonsumsi alkohol
- Mengkonsumsi obat-obatan
- Mengalami tekanan psikis
Sampel 10 subjek
(single dose oral response)
Clinical trials paired samples
Kelompok
Kontrol
n = 10
wash-out
(dua hari)
Kelompok
100 mg EGCG
n = 10
wash-out
(dua hari)
Kelompok
200 mg EGCG
n = 10
Subjek diukur kadar gula darah post-prandial pada menit ke-0, 30, 60, 90, 120, 150
Keterangan :
1. K. Kontrol
= Kelompok kontrol pada subjek yang tidak mendapat intervensi
minuman teh hijau (75 g glukosa yang dilarutkan dalam 200 ml
air mineral)
2. K .100 mg EGCG = Kelompok subjek yang mendapat intervensi teh hijau A (75 g
glukosa yang dilarutkan dalam 200 ml air, kemudian setelah jeda
10 menit diberikan 200 ml minuman teh hijau yang mengandung
100 mg EGCG)
3. K. 200 mg EGCG = Kelompok subjek yang mendapat intervensi teh hijau B (75 g
glukosa yang dilarutkan dalam 200 ml air, kemudian setelah jeda
10 menit diberikan 200 ml minuman teh hijau yang mengandung
200 mg EGCG)
Gambar 17
Bagan alur tahapan penelitian pendahuluan dan klinis
Pengolahan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah pendekatan Rancangan
Acak Lengkap Faktorial yang terdiri atas dua faktor perlakuan. Percobaan
faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua
kemungkinan kombinasi dari dua faktor atau lebih. Penetapan rancangan
didasarkan pada asumsi bahwa unit percobaan yang digunakan relatif homogen
yaitu dengan memberlakukan kriteria inklusi subjek penelitian yang tertulis pada
metode tahap penelitian klinis pada halaman 38 dan bagan alur tahapan
penelitian pada halaman 46.
Perlakuan yang diberikan adalah :
A. Faktor perlakuan intervensi (air mineral / kontrol, 200 ml minuman teh
hijau yang mengandung 100 mg EGCG dan 75 gr anhydrous D-glucose
yang dilarutkan dalam 200 ml air, minuman teh hijau yang mengandung
200 mg EGCG dan 75 gr anhydrous D-glucose yang dilarutkan dalam 200
ml air).
B. Faktor waktu pengambilan darah (menit ke-0, menit ke-30, menit ke-60,
menit ke-90, menit ke-120, menit ke-150).
Model matematika dari rancangan tersebut adalah sebagai berikut:
Yijk = µ + α i + βj + ε
ijk
Keterangan:
Yijk = nilai pengamatan pada pemberian intervensi taraf ke-i, waktu (menit) taraf ke-j
dan ulangan ke-k
µ
= nilai rata-rata
α i = pengaruh pemberian intervensi taraf ke-i
βj
= pengaruh waktu (menit) ke-j
ε ijk = galat error dari pemberian intervensi taraf ke-i, waktu (menit) ke-j, dan ulangan
ke-k
i
= taraf intervensi, yaitu = 0, 100, dan 200 mg EGCG
j
= periode atau waktu pengamatan, yaitu = 0, 30, 60, 90, 120, 150
k
= ulangan
Keseluruhan data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk nilai rerata ±
standard error mean (rata-rata ± SEM). Sebelum dilakukan uji analisis statistik,
dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Saphiro-Wilk. Data
kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik repeated ANOVA (Analisis
of Variance) dan uji t-test untuk mengetahui signifikansi antar perlakuan. Bila
terdapat perbedaan nyata antara perlakuan, maka untuk mengetahui perbedaan
rerataan diantara perlakuan dilakukan uji lanjut Post-Hoc Test (Sidak-Holm).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis EGCG Minuman Teh Hijau dan Perhitungan Stokiometri
Teh yang digunakan pada penelitian ini merupakan teh hijau yang
diproses dari daun teh jenis Camellia sinensis var. Assamica. Jenis teh Camellia
sinensis var. Assamica merupakan jenis teh yang paling banyak dikembangkan
di Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung menyatakan bahwa
varietas teh Camellia sinensis var. Assamica memiliki kandungan polifenol
catechins yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis teh yang dikembangkan di
Jepang dan China (Camellia sinensis var. Sinensis). Pada saat ini terdapat
sebelas jenis tanaman teh yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Teh dan
Kina Gambung. Jenis teh yang digunakan untuk penelitian ini merupakan jenis
klon Gambung 7 yang memiliki produktivitas dan kandungan catechins yang
tinggi (PPTK 2006). Teh Camellia sinensis var. Assamica klon Gambung 7 yang
digunakan berasal dari kebun teh blok 9 milik Pusat Penelitian Teh dan Kina
(PPTK) Gambung, Bandung, Jawa Barat.
Proses pembuatan teh hijau di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung
dilakukan dengan menggunakan proses steaming yang terdiri dari tiga tahap,
yaitu: (1) Pelayuan selama kurang lebih lima menit pada suhu 80-100oC dengan
menggunakan Rotary Panner; (2) Penggulungan selama kurang lebih 15-17
menit dengan menggunakan mesin Open Top Roller 26 tipe single action; dan
(3) Pengeringan dua tahap dengan suhu masuk 130-135oC dan suhu keluar 5055oC selama 25 menit (PPTK 2006). Proses steaming diatas dilakukan untuk
mencegah reaksi oksidasi enzimatis catechins yang terdapat pada daun teh (Ho
et al. 2009). Hal tersebut berbeda dengan proses pembuatan teh hitam yang
memang sengaja untuk melalui proses fermentasi. Proses fermentasi pada teh
hitam terjadi ketika daun teh segar yang sudah dilayukan kemudian digiling
sehingga jaringan daun menjadi rusak dan konsekuensinya polifenol serta enzim
akan bercampur sehingga menyebabkan proses fermentasi (Ho et al. 2009).
Proses
fermentasi
tersebut
akan
menyebabkan
kandungan
EGCG
(epigallocatechin gallate) dan beberapa jenis catechins yang terdapat pada daun
teh teroksidasi menjadi theaflavin dan thearubigin (Wang 2002). Secara umum,
persentase kandungan dari total catechins yang terdapat pada teh hijau
didominasi oleh empat komponen utama yaitu 59% (-)-epigallocatechin-3-gallate
(EGCG), 19% (-)-epigallocatechin (EGC), 13,6% (-)-epicatechin-3-gallate (ECG)
dan 6,4% (-)-epicatechin (EC) (McKay & Blumberg 2002).
Tahap awal sebelum dilakukan analisis EGCG minuman teh hijau yaitu
ditetapkan prosedur pembuatan minuman teh hijau awal (biang) untuk nantinya
dijadikan sebagai prosedur praktis dalam intervensi kepada subjek penelitian.
Prosedur pembuatan minuman teh hijau awal (biang) dapat dilihat pada metode
penelitian. Metode yang digunakan merupakan modifikasi yang merujuk pada
penelitian Komes et al. (2010) dan Venditti et al. (2010) yaitu metode
penyeduhan teh hijau dengan hasil perolehan EGCG yang maksimal sesuai
dengan metode pada halaman 34. Analisis EGCG pada minuman teh hijau awal
(biang) dilakukan dengan menggunakan metode HPLC (High Performance Liquid
Chromatography). Tahapan yang harus dilakukan sebelum dilakukan analisis
HPLC yaitu preparasi sampel dengan metode liquid/liquid extraction seperti yang
terurai pada metode penelitian. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan
kloroform dan etil asetate untuk mengisolasi komponen organik (epigallocatechin
gallate) yang terlarut (Fessenden et al. 2001).
Hasil analisis minuman teh hijau awal (biang) yang disajikan pada Tabel 4
menunjukkan bahwa rata-rata kandungan EGCG dari 5 g teh kering yang
dilarutkan dengan 200 ml air dengan suhu 90oC yaitu 316,30+13,42 mg EGCG,
sehingga kurang lebih didapatkan 6,326 g EGCG dari 100 g daun teh kering.
Kandungan EGCG tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh Wu dan Wei (2002). Penelitian Wu dan Wei
menyatakan bahwa satu gelas teh hijau yang dibuat dari 2,5 g daun teh dalam
200 ml air mengandung kira-kira 90 mg EGCG, sehingga kurang lebih
didapatkan 3,6 g EGCG dari 100 g teh daun teh kering.
Tingginya kadar EGCG yang terdapat pada teh hijau yang digunakan
dalam penelitian ini sesuai dengan klaim PPTK Gambung yang menyatakan
bahwa jenis teh yang dikembangkan di Indonesia memiliki kandungan catechins
yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis teh yang dikembangkan di Jepang
dan China (PPTK 2006). Klaim hasil penelitian PPTK menunjukkan bahwa teh
hijau klon Gambung 7 yang diproduksi oleh PPTK mengandung 15,9 g polifenol
total dari 100 g daun teh kering, sehingga didapatkan kandungan EGCG sekitar
7,63-8,74 g EGCG dari 100 g daun teh hijau kering dengan persentase 48-55 %
EGCG dari polifenol total (PPTK 2006). Kandungan EGCG dari teh hijau klon
Gambung 7 klaim hasil penelitian PPTK tersebut sedikit lebih tinggi tetapi tidak
terlalu besar jika dibandingkan dengan kadar EGCG teh hijau klon Gambung 7
yang digunakan pada penelitian ini, dengan selisih 1,3-2,4 g EGCG dari 100 g
daun teh hijau kering. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kondisi penanaman
serta ketinggian yang berbeda akan menyebabkan bervariasinya kandungan
polifenol, khususnya EGCG (Xu & Chen 2002). Selain jenis teh hijau klon
Gambung 7, terdapat dua jenis teh hijau dengan kandungan total polifenol
tertinggi yaitu teh hijau klon Gambung 4 dan klon Gambung 9 dengan kadar
polifenol total masing-masing 17,1 g dan 17,0 g dari 100 g daun teh hijau kering.
Waktu retensi hasil analisis EGCG menunjukkan angka kisaran 9,63-9,83
menit. Kisaran waktu retensi tersebut sesuai dengan standar waktu retensi
analisis EGCG secara umum yang menggunakan kolom kromatografi MetaChem
PolarisTM Amide C18-5µm-4,6 x 250 mm yaitu pada kisaran waktu retensi 9,410 menit (BCAD Team 2001). Gelombang deteksi yang digunakan untuk analisis
EGCG pada HPLC yaitu pada panjang gelombang 280 nm (Yao et al. 2004).
Tabel 4 Hasil pengujian kadar EGCG minuman teh hijau awal (biang)
Keterangan
Sampel 1
Sampel 2
Sampel 3
Sampel 4
Rata-rata +SEM
Kadar EGCG (epigallocatechin gallate)
ppm
1712,50
1450,55
1681,06
1482,06
1581,54+67,14
mg/200 ml
342,50
290,11
336,21
296,41
316,30+13,42
Perhitungan stokiometri dengan tahapan yang telah dijabarkan pada
metode dilakukan untuk menghitung volume yang dibutuhkan dari minuman teh
hijau awal (biang) untuk membuat minuman teh hijau dengan kadar EGCG
sebesar 100 mg dan 200 mg yang nantinya akan dijadikan sebagai intervensi
pada subjek penelitian. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa molaritas (M) dari
minuman teh hijau awal (biang) yaitu sebesar 3,4469 x 10-3 mol/l. Setelah
diperoleh konsentrasi minuman teh hijau awal (biang), maka dapat dilakukan
perhitungan untuk mengetahui volume yang dibutuhkan dari minuman teh hijau
awal (biang) tersebut untuk membuat minuman teh hijau dengan kadar 100 dan
200 mg EGCG. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume yang dibutuhkan
untuk membuat minuman teh hijau dengan kadar 200 mg EGCG adalah 126,5 ml
yang diambil dari minuman teh hijau awal (biang), sedangkan untuk membuat teh
hijau dengan kadar 100 mg EGCG dibutuhkan volume 63,29 ml yang diambil dari
minuman teh hijau awal (biang).
Karakteristik Subjek
Uji klinis yang digunakan pada penelitian ini merupakan uji klinis tingkat 1
(Phase 1 Clinical Trials) atau yang sering diistilahkan sebagai percobaan
pertama kali pada manusia (first in man). Uji klinis ini dilakukan untuk melihat
aksi pengaruh secara biologis dan farmakologis dari suatu perlakuan yang dalam
hal penelitian ini merupakan kadar EGCG teh hijau. Uji klinis tingkat 1 yang
merupakan studi secara eksplorasi yang dilakukan setelah terdapat bukti-bukti
secara ilmiah pada beberapa penelitian secara in vitro dan hewan coba. Subjek
yang sering digunakan merupakan subjek sehat. Jika hasil dari penelitian
menunjukkan indikasi positif bermanfaat, maka dapat dilanjutkan dengan
menggunakan subjek yang memiliki jenis penyakit tertentu sesuai dengan
hipotesis kemanfaatan perlakuan yang diberikan (Hackshaw 2009).
Dosis awal yang diberikan pada penelitian klinis biasanya berdasarkan
rujukan pada penelitian-penelitian sebelumnya pada hewan coba. Angka dosis
tersebut biasanya didasarkan pada tingkat mortalitas hewan coba ketika
menerima sejumlah dosis yang diintervensikan. Hal tersebut dapat dicontohkan
dengan angka LD50-lethal dose response 50 yang dapat diinterpretasikan jika
hewan coba menerima dosis tertentu yang diberikan, maka sebanyak 50 persen
dari hewan coba tersebut akan mengalami mortalitas. Penentuan dosis pada
penelitian klinis juga berbeda masing-masing negara. Sebagai contoh di USA,
FDA (Food and Drugs Administration) menetapkan bahwa penelitian klinis harus
didasarkan pada minimal dua penelitian yang dilakukan pada spesies mamalia
hewan coba yang termasuk didalamnya spesies rodensia dan spesies non
rodensia (Hackshaw 2009). Seri dosis yang diberikan dapat ditentukan oleh
banyak metode, salah satunya dengan menggunakan sequence Fibbonaci, yaitu
angka yang ditemukan secara alami di banyak sistem biologis. Seri sequence
Fibbonaci dimulai dengan angka 0 dan 1 yang dilanjutkan dengan penjumlahan
dua angka sebelumnya, sehingga akan didapatkan sejumlah seri 0, 1, 1, 2, 3, 5,
8, dan seterusnya. Sebagai contoh jika penetapan awal dosis 100 mg, maka
dosis selanjutnya adalah 200, 300, 500, 800 dan seterusnya (Hackshaw 2009).
Kadar atau dosis EGCG yang diberikan pada penelitian ini merujuk pada
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tsuneki et al. (2004) di Jepang.
Kadar EGCG yang ditetapkan dalam penelitian ini masih dalam batas normal
kadar EGCG yang adekuat dalam mendukung homeostasis glukosa darah yaitu
84-386 mg EGCG per hari (Hosoda et al. 2003; Tsuneki et al. 2004).
Keseluruhan subjek berpartisipasi dalam penelitian ini dengan baik, sehingga
tidak ada subjek yang menyatakan drop-out. Karakteristik subjek penelitian yang
diamati pada penelitian ini meliputi variabel jenis kelamin, usia, berat badan,
tinggi badan, indeks masa tubuh, tekanan darah sistole, tekanan darah diastole,
dan denyut nadi. Secara keseluruhan, variabel karakteristik dari subjek penelitian
tersaji dalam Tabel 5.
Subjek laki-laki yang berpartisipasi pada penelitian ini memiliki usia ratarata 22+0,63 tahun, sedangkan usia subjek perempuan 21+0,32 tahun. Secara
keseluruhan, rata-rata usia subjek laki-laki dan perempuan yang berpartisipasi
dalam penelitian ini yaitu 21,50+0,40 tahun. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
inklusi untuk golongan usia dewasa muda sehat yang berada pada range 20-35
tahun (Shephard 1998). Uji t-test usia antara subjek laki-laki dan perempuan
menunjukkan nilai p=0,208 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang nyata (p>0,05) antara usia subjek laki-laki dan perempuan yang
terlibat dalam penelitian ini. Kemiripan usia menjadi salah satu faktor yang
penting untuk menjaga validitas internal dari penelitian sehingga dengan usia
pada kisaran yang tidak terlalu jauh diharapkan memiliki kemiripan dalam
metabolisme secara umum walaupun tidak menutup kemungkinan metabolisme
setiap individu berbeda dan sangat beragam.
Penelitian Dreval’ et al. (2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan
positif antara peningkatan level glukosa darah dengan peningkatan usia,
sehingga semakin meningkat usia maka semakin meningkat pula level glukosa
darah. Penyebab utama intoleransi level glukosa pada usia yang semakin
meningkat adalah gangguan pengambilan glukosa yang dimediasi oleh insulin
pada jaringan periferal, khususnya jaringan otot (Katz & Lowenthal 1994). Selain
itu,
penurunan
sensitivitas
insulin
dan
fungsi
sel-beta
pankreas
yang
berhubungan dengan disfungsi mitokondrial juga merupakan penyebab dari
intoleransi level glukosa darah (Shih & Tseng 2009).
Karakteristik berat badan dan tinggi badan merupakan salah satu
indikator untuk pengukuran status gizi melalui perhitungan IMT (indeks masa
tubuh). Rata-rata berat badan subjek laki-laki pada penelitian ini yaitu 56,62+1,68
kg, sedangkan pada subjek perempuan 50,40+2,65 kg. Secara keseluruhan,
rata-rata berat badan subjek laki-laki dan perempuan yang berpartisipasi dalam
penelitian ini yaitu 53,30+1,77 kg. Uji t-test berat badan antara subjek laki-laki
dan perempuan menunjukkan nilai p=0,109 sehingga dapat disimpulkan tidak ter-
Tabel 5 Sebaran subjek berdasarkan karakteristiknya
Keterangan
Perempuan
Laki-laki
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata
(mean+SEM)
Subjek 6
Subjek 7
Subjek 8
Subjek 9
Subjek 10
Sub rata-rata
(mean+SEM)
Rata-rata total
(mean+SEM)
Usia
(tahun)
23
21
20
23
23
Berat badan
(kg)
58
57
56
50
60
Tinggi badan
(cm)
174,2
175,3
170,7
164,3
165,5
Parameter
IMT
(kg/m2)
19,11
18,55
19,22
18,52
21,90
22+0,63
56,62+1,68
170,00+2,22
19,46+0,62
116,20+4,38
72,20+2,43
80,80+6,15
21
21
22
20
21
58
44
49
55
46
161,6
144,7
150,3
162,3
153,0
22,21
21,01
21,69
20,88
19,65
108
88
96
100
113
76
65
61
62
61
88
74
73
72
74
21+0,32
50,40+2,65
154,38+3,36
21,08+0,43
101,00+4,40
65,00+2,84
76,20+2,97
21,5+0,4
53,30+1,77
162,19+1,22
20,27+0,45
108,60+3,87
68,60+2,13
78,50+3,31
Keterangan:
TD: Tekanan darah
2
Nilai normal IMT populasi Indonesia: 18,5-24,90 kg/m (DEPKES 2010)
2
Nilai normal IMT populasi Asia: 18,5-23,00 kg/m (WHO 2004)
Nilai normal tekanan darah sistole: 90-130 mmHg (USDHHS 2004)
Nilai normal tekanan darah diastole: 60-85 mmHg (USDHHS 2004)
Nilai normal denyut nadi: 60-100 per menit (Timby 2009)
TD Sistole
(mmHg)
117
116
108
108
132
TD Diastole
(mmHg)
71
80
66
69
75
Denyut nadi
(per menit)
74
62
96
80
92
dapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antara berat badan subjek laki-laki dan
perempuan yang terlibat dalam penelitian ini. Pengontrolan berat badan
merupakan salah satu aspek penting untuk mencegah timbulnya penyakit
metabolik. Studi meta analisis klinis menunjukkan bahwa 60% hingga 90%
timbulnya DM tipe 2 memiliki hubungan dengan peningkatan berat badan.
Penurunan berat badan sebesar 10% dari berat badan awal secara nyata dapat
memperbaiki kontrol glikemik gula darah dan tekanan darah, serta menurunkan
risiko ko-morbid (Anderson et al. 2003).
Rata-rata tinggi badan subjek laki-laki pada penelitian ini yaitu
170,00+2,22 cm, sedangkan pada subjek perempuan 154,38+3,36 cm. Secara
keseluruhan, rata-rata tinggi badan subjek laki-laki dan perempuan yang
berpartisipasi dalam penelitian ini yaitu 162,19+1,22 cm. Uji t-test tinggi badan
antara subjek laki-laki dan perempuan menunjukkan nilai p=0,006 sehingga
dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) antara tinggi badan
subjek laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam penelitian ini yaitu subjek lakilaki memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek
perempuan.
Indeks masa tubuh (IMT) yang diistilahkan dengan Quetelet’s index
merupakan rasio berat badan dalam hubungannya dengan tinggi badan yang
khususnya bermanfaat dalam pengukuran overweight dan obesitas. Indeks masa
tubuh dihitung dengan membagi berat badan (dalam satuan kg) dengan tinggi
badan kuadrat (dalam satuan meter) (Gibson 2005). Rata-rata indeks masa
tubuh subjek laki-laki pada penelitian ini yaitu 19,46+0,62 kg/m2, sedangkan pada
subjek perempuan 21,08+0,43 kg/m2. Secara keseluruhan, rata-rata indeks masa
tubuh subjek laki-laki dan perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini
yaitu 20,27+0,45 kg/m2. Indeks masa tubuh tersebut termasuk dalam kriteria
inklusi penelitian dan golongan normal untuk kategori populasi Indonesia yang
berada pada kisaran 18,5-24,90 kg/m2 (DEPKES 2010) dan kategori populasi
Asia yang berada pada kisaran 18,5-23,00 kg/m2 (WHO 2004). Uji t-test terhadap
IMT antara subjek laki-laki dan perempuan menunjukkan nilai p=0,069 sehingga
dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antara indeks
masa tubuh subjek laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam penelitian ini.
Rata-rata tekanan darah sistole pada subjek subjek laki-laki yaitu
116,20+4,38 mmHg dan pada subjek perempuan yaitu 101,00+4,40 mmHg,
sedangkan tekanan diastole pada subjek subjek laki-laki yaitu 72,20+2,43 mmHg
dan pada subjek perempuan yaitu 65,00+2,84 mmHg. Rataan keseluruhan
tekanan darah sistole subjek laki-laki dan perempuan yaitu 108,60+3,87 mmHg
dan tekanan darah diastole 68,60+2,13 mmHg. Tekanan darah (sistole/diastole)
subjek tersebut termasuk dalam kelompok normal yaitu pada kisaran 90-130
mmHg untuk tekanan darah sitole dan pada kisaran 60-85 mmHg untuk tekanan
darah diastole (USDHHS 2004). Hasil uji t-test terhadap nilai tekanan darah
sistole antara subjek laki-laki dan perempuan p=0,04 sehingga dikatakan
terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) tekanan darah sistole antara subjek
laki-laki dan perempuan yaitu lebih tinggi tekanan darah sistole pada subjek lakilaki dibandingkan dengan subjek perempuan, sedangkan nilai tekanan darah
diastole antara subjek laki-laki dan perempuan p=0,091 sehingga dikatakan tidak
terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) tekanan darah diastole antara subjek
laki-laki dan perempuan. Tekanan darah (sistole/diastole) yang tinggi dengan
angka parameter lebih besar atau sama dengan 130/85 mmHg merupakan salah
satu dari tanda sindrom metabolik (Caballero 2005). Selain itu konvensi pada
saat ini menyatakan bahwa orang yang memiliki tekanan darah (sistole/diastole)
lebih besar dari 140/90 mmHg digolongkan sebagai hipertensi dan tekanan
darah (sistole/diastole) 120-139/80-89 mmHg digolongkan sebagai pre-hipertensi
(USDHHS 2004).
Denyut nadi merupakan gelombang ritme hasil dari pergerakan darah
pada saat kontraksi jantung yang dapat dirasakan atau dipalpasi pada arteri
periferal. Denyut nadi diukur selama satu menit dengan menekan arteri
superfisial terhadap tulang yang berada dibawahnya dengan menggunakan jari
tangan (Timby 2009). Rata-rata denyut nadi subjek laki-laki pada penelitian ini
yaitu 80,80+6,15 kali per menit, sedangkan pada subjek perempuan 76,20+2,97
kali per menit. Secara keseluruhan, rata-rata denyut nadi subjek laki-laki dan
perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini yaitu 78,50+3,31 kali per
menit. Denyut nadi tersebut termasuk dalam kisaran normal subjek dewasa sehat
yaitu 60-100 kali per menit (Timby 2009). Uji t-test terhadap denyut nadi antara
subjek laki-laki dan perempuan menunjukkan nilai p=0,527 sehingga dapat
disimpulkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antara denyut nadi
subjek laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam penelitian ini.
Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normalitas distribusi data
yang didapatkan dari hasil penelitian. Pada prinsipnya, uji normalitas adalah
melakukan perbandingan antara data hasil penelitian dengan data berdistribusi
normal yang memiliki nilai rata-rata dan varian yang sama dengan data hasil
penelitian. Uji normalitas digunakan sebagai pre-requisite sebelum data dapat
diproses lebih lanjut apakah dengan menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik (Dahlan 2009). Untuk pengujian dengan menggunakan statistik
parametrik disyaratkan bahwa data harus memiliki distribusi normal, sedangkan
statistik non-parametrik digunakan untuk menguji data yang tidak memiliki
distribusi normal. Untuk mengetahui data memiliki karakteristik normal atau tidak
digunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji Spahiro-Wilk. Uji
Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menguji normalitas data yang memiliki
lebih dari lima puluh sampel, sedangkan uji Shapiro-Wilk digunakan untuk
menguji normalitas data yang memiliki kurang dari lima puluh sampel.
Uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Saphiro-Wilk.
Hal ini dilakukan karena jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini
sebanyak sepuluh subjek dijustifikasi oleh variabel menit pengukuran glukosa
darah. Uji Saphiro-Wilk merupakan hasil karya Samuel Saphiro dan Martin Wilk
yang menguji hipotesis null (Ho) apakah populasi data hasil penelitian
terdistribusi dengan normal. Jika nilai-p (p-value) lebih kecil dibandingkan dengan
level alpha yang digunakan dalam penelitian, maka hipotesis null ditolak
(disimpulkan bahwa data tidak berasal dari populasi yang terdistribusi secara
normal). Sebaliknya jika nilai-p lebih besar dibandingkan dengan level alpha
yang digunakan dalam penelitian, maka hipotesis null diterima (disimpulkan
bahwa data berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal) (Wilk &
Saphiro 1965). Selain menggunakan uji analitis dengan uji Saphiro-Wilk,
normalitas karakteristik data juga dapat dilihat melalui deskriptif grafik Q-Q Plot.
Grafik Q-Q Plot merupakan grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah
sampel yang telah digunakan dapat mewakili target populasi yang diinginkan. Hal
ini dapat disederhanakan dengan cara membandingkan antara nilai yang didapat
dalam penelitian dengan nilai yang diharapkan pada populasi yang memiliki nilai
rata-rata dan standar deviasi yang sama dengan nilai yang didapatkan pada
penelitian. Data yang memiliki karakteristik normal akan tersebar dan mendekati
dengan garis normalitas data tersebut. Hasil analisis untuk seluruh perlakuan
intervensi
menunjukkan
bahwa
nilai
p>0,05
sehingga
dapat
dikatakan
keseluruhan data memiliki karakteristik normal. Grafik Q-Q Plot yang ditunjukkan
pada Gambar 18, 19, dan 20 menggambarkan sebaran data memiliki
karakteristik normal dikarenakan tersebar dan mendekati pada garis normalitas
untuk masing-masing karakteristik data tersebut.
Gambar 18 Grafik Q-Q Plot kelompok kontrol
Gambar 19 Grafik Q-Q Plot kelompok 100 mg EGCG
Gambar 20 Grafik Q-Q Plot kelompok 200 mg EGCG
Pola Kurva Glukosa Darah
Pola Kurva Glukosa Darah Kelompok Kontrol
Pada kelompok kontrol, kadar glukosa darah puasa yang diukur pada
menit ke-0 menunjukkan hasil rata-rata 84,40+2,82 mg/dl. Angka tersebut
menunjukkan bahwa subjek memiliki kadar glukosa darah normal kondisi puasa
(<110 mg/dl) berdasarkan rujukan WHO (Reinauer et al. 2002). Angka tersebut
juga sesuai dengan rujukan American Diabetes Association (ADA) yang
menyatakan bahwa subjek normal yang menjalani puasa selama 8 sampai 10
jam akan memiliki kadar glukosa pada kisaran 70-110 mg/dl (ADA 2001).
Puncak kadar glukosa darah berada pada menit ke-30 dengan kadar
glukosa darah 165,20+5,83 mg/dl. Hal tersebut sesuai dengan penelitian
Wolever (2006) yang memberikan uji coba 75 g glukosa pada subjek dewasa
normal sehat bahwa puncak peningkatan kadar glukosa terjadi pada menit ke-30.
Hasil yang sejalan juga ditunjukkan oleh penelitian Tsuneki et al. (2004) yang
memberikan Trelan G-75 yang mengandung glukosa sebesar 75 g menunjukkan
bahwa puncak respon glukosa plasma darah terlihat pada menit ke-30.
Magnitude dan waktu puncak dari kadar glukosa darah post-prandial sangat
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti kuantitas dan komposisi dari
makanan yang dikonsumsi (ADA 2001). Puncak kadar glukosa darah pada
subjek normal penelitian ini termasuk dalam kriteria WHO untuk subjek yang
tidak menderita diabetes mellitus, yaitu setelah diberikan OGTT dengan 75 g
glukosa akan terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang tidak melebihi 11,1
mmol/l (199,8 mg/dl). Data kadar glukosa darah subjek di atas menunjukkan
bahwa subjek termasuk dalam golongan sehat selain juga dilihat dari indikator
IMT, tekanan sistole, tekanan diastole, dan denyut nadi,.
Hasil uji t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata
antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan masingmasing pada menit ke-0 (p=0,847), menit ke-30 (p=0,685), menit ke-60
(p=0,371), menit ke-90 (p=0,444), menit ke-120 (p=0,796), dan menit ke-150
(p=0,166). Dikarenakan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kadar
glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan, maka analisis
selanjutnya digunakan data rata-rata gabungan dari keseluruhan subjek tanpa
memandang jenis kelamin. Nilai kadar glukosa darah subjek kelompok kontrol
dapat dilihat pada Tabel 6, sedangkan kurva respon glukosa darah subjek
kelompok kontrol dapat dilihat pada Gambar 21.
Tabel 6 Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada kelompok kontrol
Keterangan
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 60
Menit 90
154
125
170
150
118
116
157
121
151
142
150,00+8,63
130,80+6,49
Menit 150
109
65
105
73
109
92,20+9,58
157
143
145
147
106
136
133
138
104
99
114
133
111
107
88
139,60+8,73
122,00+8,44
110,60+7,20
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 0
Menit 30
Menit 60
Menit 90
Menit 120
117
125
154
157
85
Subjek 1
122
150
170
185
74
Subjek 2
111
116
118
184
85
Subjek 3
105
121
157
183
84
Subjek 4
141
142
151
130
91
Subjek 5
136
157
196
153
77
Subjek 6
133
143
164
175
91
Subjek 7
138
145
156
165
102
Subjek 8
104
147
171
174
83
Subjek 9
99
106
129
146
72
Subjek 10
a
b
b
c
d
Rata-rata total (rata-rata+SEM)
84,40+2,82
165,20+5,83
156,60+6,89
135,20+5,33
120,60+4,94
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0,05)
Menit 150
109
65
105
73
109
114
133
111
107
88
e
101,40+6,42
Perempuan
Laki-laki
Menit 120
117
122
111
105
141
119,20+6,15
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Subjek 6
Subjek 7
Subjek 8
Subjek 9
Subjek 10
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Keterangan
Menit 0
85
74
85
84
91
83,80+2,74
Menit 30
157
185
184
183
130
167,80+10,80
77
91
102
83
72
153
175
165
174
146
196
164
156
171
129
85,00+5,30
162,60+5,73
163,20+10,86
Kadar glukosa darah (mg/dl)
180
165,2+5,83
160
b
156,6+6,89
b
rata-rata + SEM
140
135,2+5,33
c
120,6+4,94
120
d
101,4+6,42
100
84,4+2,82
80
0
MM 30
e
a
MM 60
MM 90
MMM 120
150
Waktu pengukuran (menit)
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang
tidak nyata (p>0,05)
Nilai kadar glukosa darah di atas merupakan nilai rata-rata kadar glukosa darah
dari sepuluh subjek
Gambar 21
Kurva respon glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda
sehat pada kelompok kontrol
Hasil pengujian dengan menggunakan repeated ANOVA untuk kelompok
kontrol menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh
yang nyata (p=0,002) pada respon glukosa darah. Selain itu, periode
pengamatan juga memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap respon
glukosa darah. Kemudian dilakukan uji lanjut Post-Hoc Test (Sidak-Holm)
dengan hasil kadar glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05)
lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar
glukosa darah menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu,
kadar glukosa darah pada menit 90 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0, menit 120, dan menit 150.
Hal tersebut di atas menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0,05) kadar
glukosa darah antar waktu pengukuran, kecuali pada perbandingan menit 30 dan
60 adalah tidak berbeda nyata (p=0,05) respon glukosa darahnya. Uji lanjut Post-
Hoc Test (Sidak-Holm) digunakan karena memiliki akurasi yang tinggi untuk
pengukuran perbedaan nilai mean difference dibandingkan uji lanjut lainnya
seperti uji lanjut Bonferroni (Glantz 2005).
Pola Kurva Glukosa Darah Kelompok Taraf Perlakuan 100 mg EGCG
Pada kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG, kadar glukosa darah
puasa yang diukur pada menit ke-0 menunjukkan nilai 86,80+1,65 mg/dl. Hal ini
menunjukkan kadar glukosa darah puasa subjek kelompok normal sama dengan
kelompok kontrol, sehingga validitas internal dari penelitian ini telah terkontrol
dengan baik. Hal tersebut dikarenakan selain memenuhi kriteria inklusi, subjek
juga dikontrol kondisinya pada saat penelitian seperti tidak dalam kondisi stress
dan tidak boleh begadang saat malam hari sebelum pengambilan darah pada
keesokan harinya.
Hasil uji t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata
antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan masingmasing pada menit ke-0 (p=0,501), menit ke-30 (p=0,589), menit ke-60
(p=0,515), menit ke-90 (p=0,848), menit ke-120 (p=0,177), dan menit ke-150
(p=0,244). Dikarenakan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kadar
glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan, maka analisis
selanjutnya digunakan data rata-rata gabungan dari keseluruhan subjek tanpa
memandang jenis kelamin. Nilai kadar glukosa darah subjek kelompok taraf
perlakuan 100 mg EGCG dapat dilihat pada Tabel 7, sedangkan kurva respon
glukosa darahnya dapat dilihat pada Gambar 22.
Hasil uji repeated ANOVA untuk kelompok intervensi 100 mg EGCG
menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang
nyata (p=0,002) pada respon glukosa darah. Selain itu, periode pengamatan juga
memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap respon glukosa darah.
Kemudian dilakukan uji lanjut Post-Hoc Test (Sidak-Holm) dengan hasil kadar
glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 dan menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Hal tersebut
di atas menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) kadar glukosa darah antar
waktu pengukuran, kecuali pada perbandingan menit 0 dan 150 (p=0,86), menit
30 dan 60 (p=0,72), serta menit 90 dan 120 (p=0,06).
Tabel 7 Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG
Keterangan
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 60
Menit 90
136
122
184
132
141
128
151
125
142
119
150,8+8,64
125,20+2,26
Menit 150
80
50
90
74
100
78,80+8,45
115
152
133
122
94
114
147
119
119
93
108
106
72
90
86
123,20+9,60
118,40+8,61
92,40+6,67
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 0
Menit 30
Menit 60
Menit 90
Menit 120
109
122
136
154
93
Subjek 1
99
132
184
183
80
Subjek 2
114
128
141
147
84
Subjek 3
92
125
151
156
84
Subjek 4
105
119
142
128
87
Subjek 5
114
115
175
135
91
Subjek 6
147
152
175
186
88
Subjek 7
119
133
164
180
93
Subjek 8
119
122
161
135
90
Subjek 9
93
94
123
172
78
Subjek 10
a
b
b
c
c
Rata-rata total (rata-rata+SEM)
157,60+6,82
155,20+6,25
124,20+4,66
111,10+5,06
86,80+1,65
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0,05)
Menit 150
80
50
90
74
100
108
106
72
90
86
a
85,60+5,56
Perempuan
Laki-laki
Menit 120
109
99
114
92
105
103,80+3,83
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Subjek 6
Subjek 7
Subjek 8
Subjek 9
Subjek 10
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Keterangan
Menit 0
93
80
84
84
87
85,60+2,15
Menit 30
154
183
147
156
128
153,60+8,85
91
88
93
90
78
135
186
180
135
172
175
175
164
161
123
88,00+2,62
161,60+11,08
159,6+9,57
Kadar glukosa darah (mg/dl)
180
160
157,6+6,82
b
155,2+6,25
b
140
rata-rata + SEM
124,2+4,66
120
c
111,1+5,06
c
100
86,8+1,65
80
0
MM 30
a
85,6+5,56
MM 60
MMM 90
MMM 120
a
MM 150
Waktu pengukuran (menit)
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang
tidak nyata (p>0,05)
Nilai kadar glukosa darah di atas merupakan nilai rata-rata kadar glukosa darah
dari sepuluh subjek
Gambar 22
Kurva respon glukosa plasma darah post-prandial subjek dewasa
muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG
Pola Kurva Glukosa Darah Kelompok Taraf Perlakuan 200 mg EGCG
Pada kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG, kadar gula darah puasa
yang diukur pada menit ke-0 menunjukkan nilai 84,10+2,48 mg/dl. Hal ini
menunjukkan kadar glukosa darah puasa subjek kelompok normal sama dengan
kelompok kontrol, sehingga validitas internal dari penelitian ini telah terkontrol
dengan baik. Hal tersebut dikarenakan bahwa kondisi subjek dikontrol pada saat
hari sebelum pengambilan darah pada keesokan harinya.
Hasil uji t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata
antara kadar glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan masingmasing pada menit ke-0 (p=0,797), menit ke-30 (p=0,674), menit ke-60
(p=0,335), menit ke-90 (p=0,756), menit ke-120 (p=0,095), dan menit ke-150
(p=0,239). Dikarenakan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kadar
glukosa darah subjek laki-laki dengan subjek perempuan, maka analisis
selanjutnya digunakan data rata-rata gabungan dari keseluruhan subjek tanpa
memandang jenis kelamin. Nilai kadar glukosa darah kelompok taraf perlakuan
200 mg EGCG dapat dilihat pada Tabel 8, sedangkan kurva respon glukosa
darahnya dapat dilihat pada Gambar 23.
Tabel 8 Kadar glukosa darah post-prandial subjek dewasa muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG
Keterangan
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 60
Menit 90
133
122
148
123
127
113
150
110
155
148
142,60+5,35
123,20+6,68
Menit 150
83
57
85
56
97
75,60+8,15
122
112
137
119
113
121
108
136
111
109
105
76
72
94
97
120,60+4,50
117,00+5,28
88,80+6,33
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Menit 0
Menit 30
Menit 60
Menit 90
Menit 120
Subjek 1
88
153
133
122
106
Subjek 2
71
182
148
123
78
Subjek 3
94
132
127
113
100
Subjek 4
91
155
150
110
109
Subjek 5
80
150
155
148
114
Subjek 6
79
144
174
122
121
Subjek 7
88
194
138
112
108
Subjek 8
92
180
148
137
136
Subjek 9
84
140
160
119
111
Subjek 10
74
144
138
113
109
a
b
b
c
c
Rata-rata total (rata-rata+SEM)
84,10+2,48
157,40+6,53
147,10+4,38
121,90+3,82
109,20+4,65
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (p>0,05)
Menit 150
83
57
85
56
97
105
76
72
94
97
a
82,20+5,34
Perempuan
Laki-laki
Menit 120
106
78
100
109
114
101,40+6,27
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Subjek 6
Subjek 7
Subjek 8
Subjek 9
Subjek 10
Sub rata-rata (rata-rata+SEM)
Keterangan
Menit 0
88
71
94
91
80
84,80+4,16
Menit 30
153
182
132
155
150
154,40+8,01
79
88
92
84
74
144
194
180
140
144
174
138
148
160
138
83,40+3,18
160,40+11,10
151,60+6,91
Kadar glukosa darah (mg/dl)
180
160
157,4+6,53
b
147,1+4,38
b
140
rata-rata + SEM
121,9+3,82
120
c
109,2+4,65
c
100
84,1+2,48
80
0
MM 30
a
82,2+5,34
MM 60
MMM 90
MMM 120
a
MM 150
Waktu pengukuran (menit)
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang
tidak nyata (p>0,05)
Nilai kadar glukosa darah di atas merupakan nilai rata-rata kadar glukosa darah
dari sepuluh subjek
Gambar 23
Kurva respon glukosa plasma darah post-prandial subjek dewasa
muda sehat pada kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG
Hasil uji repeated ANOVA untuk kelompok intervensi 200 mg EGCG
menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang
nyata (p=0,002) pada respon glukosa darah. Selain itu, periode pengamatan juga
memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap respon glukosa darah.
Kemudian dilakukan uji lanjut Post-Hoc Test (Sidak-Holm) dengan hasil kadar
glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 dan 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Hal tersebut di atas
menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) kadar glukosa darah untuk
perbandingan beberapa variabel menit pengukuran kecuali pada perbandingan
menit 0 dan 150 (p=0,77), menit 30 dan 60 (p=0,12), serta menit 90 dan 120
(p=0,05).
Perbandingan Pola Kurva Respon Gukosa Darah Subjek
Setelah dilakukan pengeplotan dari kadar glukosa darah terhadap waktu
untuk masing-masing kelompok taraf perlakuan, maka dapat dilihat perbandingan
pola kurva respon glukosa darah subjek pada Gambar 24.
180
Kadar glukosa darah (mg/dl)
Kelompok kontrol (rata-rata+SEM)
Kelompk 100 mg EGCG (rata-rata+SEM)
165,2+5,83
157,6+6,82
157,4+6,53 156,6+6,89
155,2+6,25
147,1+4,38
160
Kelompok 200 mg EGCG (rata-rata+SEM)
140
135,2+5,33
124,2+4,66
120,6+4,94
121,9+3,82
120
111,1+5,06
109,2+4,65
100
101,4+6,42
86,8+1,65
84,4+2,82
84,1+2,48
80
0
85,6+5,56
82,2+5,34
30
60
90
120
150
Waktu pengamatan (menit)
Gambar 24
Kurva perbandingan respon glukosa darah post-prandial subjek
dewasa muda sehat pada kelompok kontrol, 100 mg EGCG dan
200 mg EGCG
Sebelum berbicara mengenai pengaruh EGCG teh hijau terhadap kadar
glukosa darah post-prandial dan metabolismenya di dalam tubuh, maka kita perlu
mengetahui metabolisme glukosa darah normal (Gropper et al. 2009) dan
metabolisme seluler EGCG teh hijau di dalam tubuh seperti yang disampaikan
oleh Kohri et al. (2001). Glukosa sederhana hasil dari pemecahan karbohidrat
kompleks akan diabsorpsi mukosa sel usus halus melalui traspor aktif SGLT1.
Kemudian glukosa masuk ke dalam sistem pembuluh darah untuk disalurkan ke
sel-sel tubuh yang membutuhkan dan sisanya disimpan dalam bentuk cadangan
glikogen di organ hati (proses glikogenesis). Supaya glukosa dapat masuk ke
sel-sel tubuh yang membutuhkan, maka diperlukan glucose transporter spesifik
pada setiap sel (Gropper et al. 2009). Sebagai contoh, untuk bisa diserap oleh
sel otot diperlukan GLUT4, sehingga dalam hal ini mekanisme molekuler glucose
transporter serta hormon yang mempengaruhinya menjadi sangat penting dalam
mengontrol metabolisme glukosa darah di dalam tubuh.
Sejalan dengan metabolisme glukosa darah, EGCG teh hijau yang
dikonsumsi akan masuk kedalam tubuh melewati beberapa mekanisme fisiologis.
Mekanisme awal adalah EGCG akan mencapai sistem gastrointestinal tepatnya
pada usus halus. Di usus halus, EGCG akan berinteraksi dengan glucose
transporter yang terekspresikan pada usus halus. Setelah itu EGCG akan masuk
ke vena porta menuju organ hati yang kemudian akan dilanjutkan dengan
sirkulasi ke jaringan serta organ-organ dalam tubuh. EGCG yang tidak terserap
di usus halus akan menuju cecum dan usus besar yang kemudian akan
didegradasi
oleh
bakteri
intestinal
5-(3’,5’-dihydroxyphenil)- γ -
menjadi
valerolactone (M-1) dengan EGC (epigallocatechin) sebagai intermediate (Kohri
et al. 2001). Pada Gambar 25 dapat dilihat perbedaan pola kurva glukosa darah
antara kelompok kontrol dengan kelompok 100 dan 200 mg EGCG. Sesuai
dengan penelitian Kohri et al. (2001), perbedaan pola dari kurva glukosa darah
(Gambar
24)
menunjukkan
bahwa
EGCG
berinteraksi
dengan
sistem
gastrointestinal sehingga memiliki pengaruh terhadap respon glukosa darah
pada taraf perlakuan yang berbeda.
Dari hal tersebut di atas, kita ketahui bahwa mekanisme interaksi EGCG
dengan sistem pencernaan terjadi di vili usus halus. EGCG akan berinteraksi
dengan
glucose
transporter
(SGLT1
dan
GLUT2)
yang
secara
luas
terekspresikan di vili usus halus. Interaksi EGCG dengan SGLT1 tersebut
didukung oleh penelitian Johnston et al. (2005) yang menguji polifenol teh hijau
(EGCG-epigallocatechin gallate, ECG-epicatechin gallate, EGC-epigallocatechin)
pada human intestinal Caco-2 cells. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
EGCG dapat secara efektif menurunkan pengambilan glukosa sebesar 48 persen
pada kondisi Na+ dependent. Hasil yang sejalan juga ditunjukkan oleh penelitian
yang dilakukan oleh Shimizu et al. (2000) yaitu EGCG teh hijau dapat
menghambat pengambilan glukosa sebesar 65 persen pada Caco-2 cell lines
dan 25 persen pada vesikel membran vili usus halus.
Selain dengan SGLT1, EGCG juga akan berinteraksi dengan GLUT2
yang terekspresikan pada membran basolateral. Pada kondisi puasa atau
sebelum makan, tidak didapati glukosa yang banyak di lumen sehingga GLUT2
berperan sebaliknya yaitu mensuplai dan menjaga kebutuhan internal energi
enterosit dengan glukosa. Mekanisme tersebut akan terjadi sebaliknya ketika
pada kondisi setelah makan dimana glukosa terkonsentrasi sangat banyak pada
lumen usus halus sehingga membantu transpor glukosa dari usus ke sistem
sirkulasi darah (Kellett & Brot-Laroche 2005). Oleh karena itu, SGLT1 dan
GLUT2 yang terekspresikan pada enterosit merupakan target dari pencegahan
pengambilan glukosa ke dalam tubuh. Secara umum, mekanisme molekular
pengambilan glukosa dengan SGLT1 dan GLUT2 dapat dilihat pada Gambar 25.
Gambar 25
Model absorpsi glukosa intestinal apical GLUT2 pada kondisi
sebelum makan (A) dan sesudah makan (B) (Kellett & BrotLaroche 2005)
Pola dari grafik respon glukosa darah pada penelitian ini menunjukkan
bahwa kadar glukosa darah post-challenge dengan menggunakan metode OGTT
akan mengalami peningkatan secara tajam pada menit ke-30. Selanjutnya kadar
glukosa darah akan turun secara bertahap hingga menit ke-150. Penurunan
grafik kadar glukosa darah yang tajam dimulai pada menit ke-60 hingga menit ke150. Pola dari grafik respon glukosa darah pada penelitian ini sejalan dengan
grafik respon glukosa darah pada penelitian Louie et al. (2008), Wolever (2006),
dan Tsuneki et al. (2004). Grafik perbandingan respon glukosa darah yang
disajikan pada Gambar 24 menunjukkan bahwa terjadi penurunan awal level
konsentrasi glukosa darah pada menit ke-30 ketika diberikan perlakuan 100 dan
200 mg EGCG. Hal tersebut diduga merupakan awal dari blokade pengambilan
glukosa oleh EGCG yang berinteraksi dengan SGLT1 dan GLUT2 di lumen usus
halus. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Shimizu et al. (2000).
Penurunan level glukosa darah kemudian terus terjadi pada menit ke-60
hingga menit ke-150. Hal tersebut seiring dengan bukti penelitian farmakokinetik
EGCG yang dilakukan oleh Chen et al. (1997). Penelitian yang dilakukan oleh
Chen et al. (1997) menunjukkan bahwa EGCG yang diberikan pada mencit akan
mencapai puncak pada sistem sirkulasi pada menit ke-70 hingga menit ke-120,
sehingga mekanisme penghambatan pengambilan glukosa selanjutnya akan
bermanifestasi pada sistem endokrin yang melibatkan beberapa organ seperti
hati dan otot. Organ hati memainkan peranan yang sangat penting bagi regulasi
glukosa darah karena kemampuannya yang dapat mengkonsumsi dan
memproduksi glukosa pada tingkat yang substansial (Moore et al. 2003).
Glukosa yang beredar di dalam sistem sirkulasi tubuh berasal dari luar
sistem (pemecahan karbohidrat komplek dari makanan yang dikonsumsi) dan
dalam sistem (produksi glukosa oleh organ hati). Dalam proses metabolisme
glukosa, organ hati berperan dalam proses glikolisis (pemecahan glukosa untuk
menghasilkan energi), glukoneogenesis (pembentukan glukosa dari sumber nonkarbohidrat untuk dikeluarkan ke dalam sistem sirkulasi), dan glikogenolisis
(proses konversi glikogen menjadi glukosa untuk digunakan pada kondisi yang
mendesak seperti pada kondisi puasa), dan glikogenesis (proses konversi
glukosa menjadi dalam bentuk simpanan yaitu glikogen) (Mann & Truswell 2007).
Peningkatan glukoneogenesis merupakan sumber utama peningkatan
produksi glukosa hepatika. Hal tersebut berhubungan erat dengan kemampuan
insulin dalam meregulasi transkripsi tingkat pengontrolan enzim glukoneogenik
yaitu PEPCK (phosphoenolpyruvate carboxykinase) dan G6Pase (glucose-6-
phosphatase) dalam proses glukoneogenesis. G6Pase memainkan peranan
yang penting dalam intra hepatic glucose cycling (glucose glucose-6-
phosphate[G-6-P] glucose). Penggunaan spesifik kinase inhibitor menjelaskan
bahwa PI3K (phosphoinositide 3-kinase) terlibat dalam respon insulin gen
PEPCK (Waltner-Law et al. 2002). Oleh karena itu menjadi sangat substansial
bagi suatu zat bioaktif sebagai target yang dapat menghambat transkripsi gen
PEPCK pada kondisi yang tergantung pada PI3K (PI3K-dependent). Hasil dari
penelitian Waltner-Law et al. (2002) menunjukkan bahwa EGCG merupakan
insulinomimetic yang dapat menurunkan level produksi glukosa pada hepatoma
cell lines (H4IIE) dan dapat menurunkan ekspresi gen dari enzim yang
mengontrol glukoneogenesis seperti PEPCK dan G6Pase.
Sebagai zat yang insulinomimetic, EGCG juga dapat mempengaruhi jalur
pensinyalan biokimia seperti yang dilakukan oleh insulin. Melalui pengaktivan
PI3K, EGCG dapat menginisiasi pensinyalan insulin sehingga akan memicu
translokasi glucose transporter (GLUT4) yang terekspresikan di otot untuk
menyerap glukosa (glucose uptake) yang beredar dalam sistem sirkulasi,
sehingga glukosa dapat digunakan oleh sel otot tanpa harus memicu kerja insulin
yang berat. Sifat insulinomimetic EGCG yang didukung oleh beberapa penelitian
di atas merupakan salah satu manifestasi EGCG dalam penurunan kadar
glukosa darah pada penelitian ini yang terlihat pada menit ke 60-150 untuk
kelompok yang mendapat intervensi 100 dan 200 mg EGCG dibandingkan
dengan kelompok kontrol.
Sifat insulinomimetic EGCG didukung juga oleh penelitian Jung et al.
(2008) yang menyatakan bahwa EGCG dapat menstimulasi pengambilan
glukosa melalui jalur yang dimediasi oleh PI3K (phosphatidylinositol-3-kinase).
Sejalan dengan hal tersebut, Zhang et al. (2010) yang mengujicobakan EGCG
pada L6 cell lines yang telah diberi perlakuan dexamethasone menunjukkan
perbaikan pengambilan glukosa ke dalam sel dengan peningkatan translokasi
GLUT4 ke membran plasma. Dexamethasone yang merupakan kontrol negatif
adalah senyawa kimia yang dapat mempengaruhi sistem kerja insulin dengan
meningkatkan fosforilasi Ser307 pada IRS-1 (insulin receptor substrate-1) serta
menurunkan fosforilasi AMPK (adenosine 5'-monophosphate-activated protein
kinase) dan Akt (protein kinase B) sehingga akan menyebabkan penghambatan
translokasi GLUT4 di sel otot, namun setelah diberi perlakuan EGCG kemudian
terjadi perbaikan pengambilan glukosa ke dalam sel dengan peningkatan
translokasi GLUT4 ke membran plasma. Secara keseluruhan dapat disimpulkan
bahwa EGCG dapat menghambat resistensi insulin yang diinduksi oleh
dexamethasone melalui jalur pensinyalan PI3K/Akt. Penelitian yang dilakukan
oleh Nishiumi et al. (2010) juga menunjukkan hasil bahwa EGCG dapat
meningkatkan regulasi (up-regulate) translokasi GLUT4 di membran plasma
pada tikus percobaan. Selain itu, EGCG juga dapat mencegah penurunan jumlah
IR β dan AMPK α yang merupakan reseptor penting dalam proses translokasi
GLUT4. Jalur metabolisme molekuler translokasi GLUT4 dapat dilihat pada
Gambar 26.
Gambar 26
Jalur pensinyalan translokasi GLUT4 (www.ans.kobe-u.ac.jp)
Keterangan:
Akt/PKB (protein kinase B)
IR (insulin receptor)
IRS (insulin receptor substrate)
PI3K (phosphatidylinositol-3-kinase)
Luas AUC (Area Under Curve) dan Glucose Score
Hasil perhitungan dengan menggunakan repeated ANOVA menunjukkan
bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap
luas AUC (p=0,006). Perbedaan respon glukosa darah yang nyata juga
ditunjukkan oleh penelitian Tsuneki et al. (2004) yang mengujikan 84 mg EGCG
pada subjek dewasa muda sehat. Hal tersebut menunjukkan bahwa regulasi
glukosa darah dapat secara nyata diturunkan oleh EGCG. Hasil perhitungan luas
AUC pada penelitian ini disajikan pada Tabel 9, sedangkan contoh perhitungan
luas AUC dapat dilihat di Lampiran 2.
Tabel 9 Luas AUC kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan 200 mg EGCG
Keterangan
Perempuan
Laki-laki
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata
(rata-rata+SEM)
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Sub rata-rata
(rata-rata+SEM)
Rata-rata total
(rata-rata+SEM)
AUC Kelompok
kontrol
(mg.dl-1.h)
325,00
348,25
312,00
322,25
332,00
AUC Kelompok
100 mg EGCG
(mg.dl-1.h)
303,75
331,50
308,50
301,50
293,75
AUC Kelompok
200 mg EGCG
(mg.dl-1.h)
299,75
297,50
280,75
298,75
327,75
327,90+6,01
307,80+6,38
300,90+7,56
368,75
363,50
355,25
345,50
280,00
319,25
378,50
339,25
313,50
282,00
326,50
317,00
341,50
309,50
294,75
342,60+16,13
326,50+15,91
317,85+7,86
335,25+8,48a
317,15+8,66b
309,37+5,87b
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak
nyata (p>0,05)
Hasil Post-Hoc Test (Sidak-Holm) menunjukkan bahwa luas AUC
kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG berbeda nyata (p=0,02) lebih rendah
dibandingan dengan luas AUC kelompok kontrol. Begitu juga kelompok taraf
perlakuan 200 mg berbeda nyata (p=0,002) lebih rendah dibandingan dengan
luas AUC kelompok kontrol. Walaupun luas AUC kelompok taraf perlakuan 200
mg EGCG lebih rendah dibandingkan dengan luas AUC kelompok taraf
perlakuan 100 mg EGCG, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara
keduanya (p=0,287). Grafik luas AUC disajikan pada Gambar 27.
350
Luas AUC (Area Under Curve)
335,25+8,48
a
340
rata-rata + SEM
330
317,15+8,66
b
320
309,37+5,87
b
310
300
AUC
Kelompok
Kontrol
AUC
Kelompok
100 mg EGCG
AUC
Kelompok
200 mg EGCG
Konsentrasi EGCG pada minuman teh yang diintervensi
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang
tidak nyata (p>0,05)
Nilai kadar glukosa darah di atas merupakan nilai rata-rata kadar glukosa darah
dari sepuluh subjek
Gambar 27
Pengaruh intervensi minuman teh hijau dengan berbagai
konsentrasi EGCG terhadap luas grafik AUC
Hasil analisis nilai glucose score dengan menggunakan repeated ANOVA
menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang
nyata terhadap nilai glucose score (p=0,006). Hasil perhitungan nilai glucose
score pada penelitian ini disajikan pada Tabel 10, sedangkan contoh perhitungan
nilai glucose score dapat dilihat di Lampiran 3.
Hasil Post-Hoc Test (Sidak-Holm) menunjukkan bahwa nilai glucose
score kelompok taraf perlakuan 100 mg EGCG berbeda nyata (p=0,002) lebih
rendah dibandingan dengan nilai glucose score kelompok kontrol. Begitu juga
nilai glucose score kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG berbeda nyata
(p=0,018) lebih rendah dibandingan dengan nilai glucose score kelompok kontrol.
Walaupun nilai glucose score kelompok taraf perlakuan 200 mg EGCG lebih
rendah dibandingkan dengan nilai glucose score kelompok taraf perlakuan 100
mg EGCG, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara keduanya
(p=0,33). Hasil tersebut diatas menunjukkan makna bahwa nilai glucose score
mencerminkan efektifitas penghambatan uptake glukosa pada taraf perlakuan
100 dan 200 mg EGCG. Grafik nilai glucose score disajikan pada Gambar 28.
Perempuan
Laki-laki
Tabel 10 Nilai glucose score kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan 200 mg
EGCG
Glucose Score
Glucose Score
Glucose Score
Keterangan
Kelompok
Kelompok
Kelompok
kontrol
100 mg EGCG
200 mg EGCG
Subjek 1
100
93,46
92,23
100
Subjek 2
95,19
85,42
Subjek 3
100
98,87
89,98
Subjek 4
100
93,35
92,70
Subjek 5
100
88,47
98,71
Sub rata-rata
93,86+1,67
91,80+2,15
100,00+0,00
(rata-rata+SEM)
Subjek
Subjek
Subjek
Subjek
Subjek
1
2
3
4
5
Sub rata-rata
(rata-rata+SEM)
Rata-rata total
(rata-rata+SEM)
100
100
100
100
100
86,57
104,12
95,49
90,73
100,71
88,54
87,20
96,12
89,58
105,26
100,00+0,00
95,52+3,19
93,34+3,35
100,00+0,00a
94,64+1,74b
92,58+1,90b
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak
nyata (p>0,05)
100,00+0,00
a
Nilai Glucose Score
100
98
94,64+1,74
b
rata-rata + SEM
96
92,58+1,90
b
94
92
90
Glucose Score
Kelompok kontrol
Glucose Score
Kelompok 100 mg
EGCG
Glucose Score
Kelompok 200 mg
EGCG
Konsentrasi EGCG pada minuman teh yang diintervensi
Keterangan:
Nilai yang diikuti oleh huruf supersript yang sama menunjukkan perbedaan yang
tidak nyata (p>0,05)
Nilai kadar glukosa darah di atas merupakan nilai rata-rata kadar glukosa darah
dari sepuluh subjek
Gambar 28
Pengaruh intervensi minuman teh hijau dengan berbagai
konsentrasi terhadap nilai glucose score
Nilai Kepentingan Klinis
Manfaat dari penelitian secara klinis dapat dilihat dengan melakukan
pengujian nilai kepentingan klinis yang output-nya merupakan variabel kategorik
yaitu apakah dengan perlakuan intervensi teh hijau dengan kadar 100 dan 200
mg EGCG dapat mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang merupakan
salah satu variabel terpenting dalam manajemen pengendalian diabetes mellitus
tipe 2. Nilai kepentingan klinis yang diuji adalah RR (relative risk), RRR (relative
risk reduction), dan ARR (absolute risk reduction). Contoh perhitungan nilai
kepentingan klinis disajikan pada Lampiran 4, sedangkan hasil perhitungan
variabel RR, RRR, dan ARR disajikan pada Tabel 11.
Menit pengukuran
Teh hijau
200 mg
EGCG
Teh hijau
100 mg
EGCG
Tabel 11 Hasil perhitungan nilai kepentingan klinis dari kelompok intervensi
Parameter
Perlakuan
EER
CER
RR
ARR
RRR
30
0,6
1
0,6
0,4
0,4
60
0,7
1
0,7
0,3
0,3
90
0,4
1
0,4
0,6
0,6
120
0,5
1
0,5
0,5
0,5
150
0,4
1
0,4
0,6
0,6
30
0,7
1
0,7
0,3
0,3
60
0,5
1
0,5
0,5
0,5
90
0,5
1
0,5
0,5
0,5
120
0,5
1
0,5
0,5
0,5
150
0,3
1
0,3
0,7
0,7
Keterangan:
EER
: experiment event rate (proporsi pada kelompok eksperimen)
CER
: control event rate (proporsi pada kelompok kontrol)
RR
: relative risk
ARR
: absolute risk reduction
RRR : relative risk reduction
Hasil perhitungan yang tersajikan pada Tabel 11 menunjukkan bahwa
kelompok intervensi 100 mg EGCG memiliki nilai RR pada menit ke-30, 60, 90,
120, 150 berturut-turut adalah 0.6, 0.7, 0.4, 0.5, 0.4. Hal tersebut bermakna
bahwa kemungkinan subjek pada pemberian 100 mg EGCG tidak mengalami
penurunan kadar glukosa darah adalah 0,4-0,7 kali dibandingkan dengan subjek
kelompok kontrol (plasebo). Dengan demikian, pemberian intervensi 100 mg
EGCG dapat menurunkan risiko terjadinya hiperglikemia. Nilai RRR pada menit
ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.4, 0.3, 0.6, 0.5, 0.6. Nilai RRR
antara 0,3-0,6 bermakna bahwa jika tubuh mengkonsumsi 100 mg EGCG, maka
jumlah insiden hiperglikemia dapat diturunkan sebesar 30-60% dari insiden
sebelumnya. Nilai ARR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah
0.4, 0.3, 0.6, 0.5, 0.6. Hal tersebut bermakna bahwa jika EGCG diminum setiap
harinya, maka selisih jumlah insiden hiperglikemia antara subjek yang mendapat
perlakuan 100 mg EGCG dengan subjek kontrol adalah sebesar 30-60%.
Pada kelompok intervensi 200 mg EGCG memiliki nilai RR pada menit
ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.7, 0.5, 0.5, 0.5, 0.3. Hal tersebut
bermakna bahwa kemungkinan subjek pada pemberian 100 mg EGCG tidak
mengalami penurunan kadar glukosa darah adalah 0,3-0,7 kali dibandingkan
dengan subjek kelompok kontrol (plasebo). Dengan demikian, pemberian
intervensi 200 mg EGCG dapat menurunkan risiko terjadinya hiperglikemia. Nilai
RRR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut adalah 0.3, 0.5, 0.5, 0.5,
0.7. Nilai RRR antara 0,3-0,7 bermakna bahwa jika tubuh mengkonsumsi 200 mg
EGCG, maka jumlah insiden hiperglikemia dapat diturunkan sebesar 30-70% dari
insiden sebelumnya. Nilai ARR pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150 berturut-turut
adalah 0.3, 0.5, 0.5, 0.5, 0.7. Hal tersebut bermakna bahwa jika EGCG
digunakan sebagai asupan, maka selisih jumlah insiden hiperglikemia antara
subjek yang mendapat perlakuan 200 mg EGCG dengan subjek kontrol adalah
sebesar 30-70%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi teh hijau
sebanyak 100 dan 200 mg EGCG (setara dengan 5 dan 10 cangkir teh dengan
kandungan per cangkir 17-20 mg EGCG) maka dapat menurunkan insiden
hiperglikemia masing-masing 30-60% dan 30-70%, sehingga kedepannya dapat
mencegah risiko timbulnya diabetes mellitus tipe 2. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Iso et al. (2006) dan Song et al. (2005).
Studi epidemiologi yang di follow-up selama lima tahun oleh Iso et al. (2006)
menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau pada 6.727 laki-laki dan 10.686
perempuan pada usia antara 40-65 tahun di Jepang berhubungan dengan
penurunan resiko diabetes mellitus tipe 2. Dalam penelitian tersebut dijelaskan
bahwa subjek yang mengkonsumsi teh hijau lebih atau sama dengan 6 cup
dalam sehari dapat menurunkan resiko diabetes mellitus tipe 2 sebesar 30%.
Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan tidak terdapat hubungan antara
konsumsi teh hitam dan teh oolong dengan penurunan resiko diabetes mellitus
tipe 2. Hal senada juga ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh
Song et al. (2005) yang menguji hubungan antara asupan flavonoid dengan
risiko diabetes mellitus tipe 2 pada wanita usia menengah menunjukkan bahwa
subjek yang mengkonsumsi 4 cup teh hijau setiap hari dapat menurunkan 30
persen risiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 dibandingakan dengan subjek
yang tidak mengkonsumsi teh.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Analisis
minuman
teh hijau
awal
menunjukkan bahwa
rata-rata
kandungan EGCG (epigallocatechin gallate) dari 5 g teh kering yang dilarutkan
dengan 200 ml air yaitu 316,30+13,42 mg EGCG. Pola grafik respon glukosa
darah secara umum menunjukkan bahwa respon glukosa darah akan meningkat
pada menit ke-30, selanjutnya glukosa darah akan turun secara gradual hingga
menit ke-150, yaitu pada saat kondisi homeostasis.
Hasil uji repeated ANOVA pada kelompok kontrol, 100 mg EGCG, dan
200 mg EGCG menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (p<0,05) dari
perlakuan yang diberikan terhadap respon glukosa darah. Selain itu, periode
pengamatan juga memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap respon
glukosa darah. Pada perlakuan kontrol, uji lanjut menunjukkan bahwa kadar
glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan
kadar glukosa darah menit 0, menit 120, dan menit 150. Pada perlakuan 100 mg
EGCG, uji lanjut menunjukkan bahwa kadar glukosa darah menit 30 dan menit
60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah
menit lainnya. Kadar glukosa darah menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata
(p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan
menit 150. Selain itu, kadar glukosa darah pada menit 90 dan 120 berbeda nyata
(p<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit 0 dan
menit 150. Pada perlakuan 200 mg EGCG, uji lanjut menunjukkan bahwa kadar
glukosa darah menit 30 dan menit 60 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar glukosa darah menit lainnya. Kadar glukosa darah
menit 30 hingga menit 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150. Selain itu, kadar glukosa
darah pada menit 90 dan 120 berbeda nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar glukosa darah menit 0 dan menit 150.
Hasil analisis AUC menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata
(p=0,02) pada perbandingan luas AUC kelompok kontrol dengan kelompok 100
mg EGCG. Begitu juga terdapat perbedaan yang nyata (p=0,002) perbandingan
antara luas AUC kelompok kontrol dengan kelompok 200 mg EGCG. Meskipun
luas AUC kelompok 200 mg EGCG lebih rendah dibandingkan dengan kelompok
100 mg EGCG, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara keduanya
(p=0,287). Hasil analisis glucose score menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang nyata (p=0,002) pada perbandingan nilai glucose score kelompok kontrol
dengan kelompok 100 mg EGCG. Begitu juga terdapat perbedaan yang nyata
(p=0,018) perbandingan antara nilai glucose score kelompok kontrol dengan
kelompok 200 mg EGCG. Meskipun nilai glucose score pada kelompok 200 mg
EGCG (92,58+1,90) terlihat lebih rendah dibandingkan dengan kelompok 100 mg
EGCG (94,64+1,74), tetapi tidak tidak berbeda nyata diantara keduanya
(p=0,33).
Hasil analisis nilai kepentingan klinis menunjukkan bahwa kemungkinan
subjek pada pemberian 100 mg EGCG tidak mengalami penurunan kadar
glukosa darah adalah 0,4-0,7 kali dibandingkan dengan subjek kelompok kontrol
(plasebo). Jika tubuh mengkonsumsi EGCG, maka jumlah insiden hiperglikemia
dapat diturunkan sebesar 30-60% dari insiden sebelumnya, sedangkan selisih
jumlah insiden hiperglikemia antara subjek yang mendapat perlakuan 100 mg
EGCG dengan subjek kontrol adalah sebesar 30-60%. Analisis pada kelompok
200 mg EGCG menunjukkan bahwa kemungkinan subjek pada pemberian 200
mg EGCG tidak mengalami penurunan kadar glukosa darah adalah 0,3-0,7 kali
dibandingkan
dengan
subjek
kelompok
kontrol
(plasebo).
Jika
tubuh
mengkonsumsi EGCG, maka jumlah insiden hiperglikemia dapat diturunkan
sebesar 30-70% dari insiden sebelumnya, sedangkan selisih jumlah insiden
hiperglikemia antara subjek yang mendapat perlakuan 100 mg EGCG dengan
subjek kontrol adalah sebesar 30-70%. Dengan demikian, pemberian intervensi
100 mg dan 200 mg EGCG dapat menurunkan risiko terjadinya hiperglikemia.
Saran
Penelitian ini menggambarkan respon glukosa darah dengan perlakuan
kadar EGCG teh hijau 100 dan 200 mg pada subjek dewasa muda sehat. Untuk
mengetahui efikasi teh hijau dalam kaitannya dengan respon glukosa darah pada
metabolisme diabetes mellitus tipe 2, maka perlu dilakukan penelitian dengan
subjek penelitian penderita diabetes mellitus tipe 2. Pola pemberian dalam
minuman teh juga dapat dijadikan sebagai penelitian yang menarik untuk
mengetahui respon glukosa darah yaitu apakah teh diminum seiring bersaaman
dengan makan, beberapa menit setelah makan, atau beberapa menit sebelum
makan. Selain itu pemberian kadar EGCG teh hijau yang bervariasi mengikuti
sequence Fibonacci akan menunjukkan respon dosis yang lebih nyata sehingga
dapat diketahui kadar optimum EGCG teh hijau dalam menurunkan kadar
glukosa darah.
DAFTAR PUSTAKA
Aboderin I. 2001. Life course perspectives on coronary heart disease, stroke and
diabetes: key issues and implications for policy and research. Geneva:
World Health Organization.
[ADA] American Diabetes Association. 2001. Post-prandial blood glucose.
Diabetes Care 24 (4):775–778.
[ADA] American Diabetes Association. 2003. American Diabetes Association:
Gestational diabetes mellitus (Position Statement). Diabetes Care 26
(Suppl. 1):S103–S105.
[ADA] American Diabetes Association. 2011. Diagnosis and classification of
diabetes mellitus (Position Statement). Diabetes Care 34 (Suppl. 1):S62–
S69.
Al-Mutairi HF, Mohsen AM, Al-Mazidi ZM. 2007. Genetics of type 1 diabetes
mellitus. Kuwait Medical Journal 39 (2):107-115.
Amos AF, McCarty DJ, Zimmet P. 1997. The rising global burden of diabetes and
its complications: estimates and projections to the year 2010. Diabet Med
14 Suppl 5, S1-85.
Anderson JW, Kendall CWC, Jenkins DJA. 2003. Importance of weight
management in type 2 diabetes: Review with meta-analysis of clinical
studies. J Am Coll Nutr 22(5):331–339.
Aronoff SL, Berkowitz K, Shreiner B, Want L. 2004. Glucose metabolism and
regulation: Beyond insulin and glukagon. Diabetes Spectrum 17(3):183190.
Balentine DA, Wiseman SA, and Bouwens LCM. 1997. The chemistry of tea
flavonoids. Crit Rev Food Sci Nutr 37:693-704.
BCAD Team. 2001. SOP to Determine the Contents of Catechins and Gallic Acid
in Green Tea Products by HPLC Analysis. USA: Botanical Centre for Age
Related Diseases.
Biesalski HK, Grimm P. 2005. Pocket Atlas of Nutrition. Stuttgart: Georg Thieme
Verlag KG.
Bryans JA, Judd PA, Ellis PR. 2007. The effect of consuming instant black tea on
postprandial plasma glucose and insulin concentrations in healthy humans.
J Am C Nutr 26(5):471-477.
Bryant NJ, Govers R, James DE. 2002. Regulated transport of the glucose
transporter GLUT4. Nat Rev Mol Cell Biol 3:267-277.
Buchanan TA, Xiang AH. 2005. Gestational diabetes mellitus. J Clin Invest
115:485-491.
Caballero B, Allen L, Prentice A. 2005. Encyclopedia of Human Nutrition. Oxford:
Elsevier.
[CCNIH] Clinical Centre National Institutes of Health. 1999. Procedure or
Diagnostic Test Oral Glucose Tolerance Test. Bethesda: National Institutes
of Health Clinical Centre.
Chen L, Lee MJ, Li HE, Yang CS. 1997. Absorption, distribution, and elimination
of tea polyphenols in rats. Drug Metabolism and Disposition 25(9):10451050.
Chen ZM, Wang HF, You XQ, Xu N. 2002. The Chemistry of Tea Non-Volatiles
dalam Zhen YS et al., Eds. Tea-Bioactivity and Therapeutic Potential.
London: Taylor and Francis Group.
Cheng QK, Chen ZM. 1994. Tea and Health. Beijing: Press of Chinese
Agricultural Sciences.
Cheung NW, Byth K. 2003. The population health significance of gestational
diabetes. Diabetes Care 26:2005-2009.
Cheung NW, Helmink D. 2006. Gestational diabetes: the significance of
persistent fasting hyperglycemia for the subsequent development of
diabetes mellitus. Journal of Diabetes and Its Complications 20:21-25.
Cousins L, Baxi L, Chez R, Coustan D, Gabbe S, Harris J, Landon M, Sacks D,
Singh S. 1991. Screening recommendations for gestational diabetes
mellitus. Am J Obstet Gynecol 165:493-496.
Dahlan MS. 2009. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika.
Dahlan MS. 2010. Membaca dan Menelaah Jurnal Uji Klinis. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika.
Day SJ, Graham DF. 1989. Sample size and power for comparing two or more
treatment groups in clinical trials. Br Med J 299:663-665.
[DCCT] Diabetes Control and Complications Trial Research Group. 1993. The
effect of intensive treatment of diabetes on the development and
progression of long-term complications in insulin dependent diabetes
mellitus. N Engl J Med 329:977-986.
[DEPKES] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Laporan Hasil
Riset Kesehatan Dasar Nasional Tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan DEPKES.
[DEPKES] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Laporan Hasil
Riset Kesehatan Dasar Nasional Tahun 2010. Jakarta: Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan DEPKES.
Di Cianni G, Miccoli R, Volpe L, Lencioni C, Del Prato S. 2003. Intermediate
metabolism in normal pregnancy and in gestational diabetes. Diabetes
Metab Res Rev 19:259-270
Dreval’ AV, Misnikova IV, Barsukov IA. 2009. Influence of age and body weight
on plasma glucose levels during an oral glucose tolerance test in subjects
without carbohydrate metabolic disturbances. Ter Arkh. 81(10):34-8.
Eckel RH, Grundy SM, Zimmet PZ. 2005. The metabolic syndrome. The Lancet
365:1415-1428.
Fessenden RJ, Fessenden JS, Feist P. 2001. Organic Laboratory Techniques.
California: Thompson Learning Inc.
Gibson RS. 2005. Principles of Nutritional Assessment. New York: Oxford
University Press.
Gillespie KM. 2006. Type 1 diabetes: pathogenesis and prevention (Review).
CMAJ 175:165-170.
Glantz SA. 2005. Primer of Biostatistics. New York: McGraw-Hill Companies.
Goldberg I. 1993. Functional Foods. New York: Chapman and Hall.
Greenstein B, Wood D. 2006. The Endocrine System at a Glance. London:
Blackwell Publishing Ltd.
Gropper SS, Smith JL, Groff JL. 2009. Advanced Nutrition and Human
Metabolism. California: Wadsworth Cengage Learning.
Grundy SM, Cleeman JI, Daniels SR, Donato KA, Eckel RH, Franklin BA, Gordon
DJ, Krauss RM, Savage PJ, Smith Jr. SC, Spertus JA, Costa F. 2005.
Diagnosis and management of metabolic syndrome: an American Heart
Association/National Heart, Lung, and Blood Institute Scientific Statement.
Circulation 112:2735-2752.
Hackshaw A. 2009. A Concise Guide to Clinical Trials. West Sussex: Wiley
Blackwell-BMJ Books.
Hee-Sook J, Ji-Won Y. 2002. A New Look at viruses in Type 1 Diabetes.
Diabetes Metabolism Research and Review 19:8-31.
Ho CH, Lin JK, Shahidi F. 2009. Tea and Tea Products-Chemistry and Health
Promoting Properties. Boca Raton: CRC Press.
Hosoda K, Wang MF, Liao ML, Chuang CK, Iha M, Clevidence B, Yamamoto S.
2003. Antihyperglycemic effect oolong tea in type-2 diabetes. Diabetes
Care 26:1714-1718.
Howell JO, Kissinger PT, Kaufman AD, Yeh H-J. 2008. Glucose Test Strips and
Electroanalytical Chemistry in the Undergraduate Laboratory. Indiana:
Bioanalytical Systems Inc.
http:// www.ans.kobe-u.ac.jp diakses pada tanggal 12 Juni 2011
http://www.nihaoteahouse.com diakses pada tanggal 11 Januari 2011
http://www.naturafresh.com diakses pada tanggal 11 Januari 2011
http://www.preparefor allthings.com diakses pada tanggal 11 Januari 2011
Iso H, Date C, Wakai K, Fukui M, Tamakoshi A. 2006. The relationship between
green tea and total caffeine intake and risk for self-reported type-2 diabetes
among Japanese adults. Ann Intern Med 144:554-562.
Johnston K, Sharp P, Clifford M, Morgan L. 2005. Dietary polyphenols decrease
glucose uptake by human intestinal Caco-2 cells. FEBS Letters 579:16531657.
Joost HG, Thorens B. 2001. The extended GLUT-family of sugar/polyol transport
facilitators: Nomenclature, sequence characteristics, and potential function
of its novel members (Review). Mol Memb Biol 18:247-258.
Jung KH. Epigallocatechin gallate stimulates glucose uptake through the
phosphatidylinositol 3-kinase-mediated pathway in L6 rat skeletal muscle
cells. J Med Food 11:429-434.
Katz MS, Lowenthal DT. 1994. Influences of age and exercise on glucose
metabolism-Implications for Management of Older Diabetics. Southern
Medical Journal 87(5):S70-S73.
Kasahara T, Kato T. 1993. A new redox-cofactor vitamin for mammals. Nature
422:832.
Kellett GL, Brot-Laroche E. 2005. Apical GLUT2- a major pathway of intestinal
sugar absorption. Diabetes 54:3056-3062.
Khardori R, Pauza RE. 2003. Type 1 diabetes mellitus: pathogenesis and
advances in therapy (Review). Int J Diab Dev Countries 23:106-119.
Kobayashi Y, Suzuki M, Satsu H, Arai S, Hara Y, Suzuki K, Miyamoto Y, Shimizu
M. 2000. Green tea polyphenols inhibit the sodium-dependent glucose
transporter of intestinal epithelial cells by a competitive mechanism. J Agric
Food Chem 48:5618-5623.
Kohri T, Matsumoto N, Yamakawa M, Suzuki M, Nanjo F, Hara Y, Oku N. 2001.
Metabolic fate of (-)-[4-3H]epigallocatechin gallate in rats after oral
administration. J Agric Food Chem 49:4102-4112.
Komes D, Horzic D, Belšcak A, Kovacevic GK, Vulic I. 2010. Green tea
preparation and its influence on the content of bioactive compounds. Food
Research International 43:167-176.
Kuhn LS. 1998. Biosensors: Blockbuster or Bomb?-Electrochemical Biosensors
for Diabetes Monitoring. Interface (Winter) 26-31.
Kustiyah L, Damayanthi E, Kusumorini N, Suprihatini R. 2009. Studi Pengaruh
Pemberian Teh Hijau, Teh Hitam, Teh Daun Murbei, serta Campurannya
Terhadap Pengendalian Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes (Laporan
Penelitian Strategis Nasional). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi.
Lapolla A, Dalfra MG, Fedele D. 2005. Insulin therapy in pregnancy complicated
by diabetes: are insulin analogs a new tool? Diabetes Metab Res Rev
21:241-252.
Lee M. 2009. Basic Skills in Interpreting Laboratory Data. Bethesda: American
Society of Health-System Pharmacists.
Louie JCY, Atkinson F, Petocz P, Brand-Miller JC. 2008. Delayed effects of
coffee, tea, and sucrose on postprandial glycemia in lean, young, healthy
adults. Asia Pac J Clin Nutr 17(4):657-662.
Mahler RJ, Adler ML. 1999. Type 2 Diabetes Mellitus: Update on Diagnosis,
Pathophysiology, and Treatment. The Journal of Clinical Endocrinology &
Metabolism 84(4):1165-1171.
Mann J, Truswell AS. 2007. Essentials of Human Nutrition. Oxford: Oxford
University Press.
Mathis D, Vencel L, Benoist C. 2001. Beta -cell death during progression to
diabetes. Nature 414:792-798.
Matsumoto N, Ishigaki F, Ishigaki A, Iwashina H, Hara Y. 1993. Reduction of
blood glucose levels by tea catechins. Biosci Biotechnol Biochem 57:525–
527.
McKay DL, Blumberg JB. 2002. The role of tea in human health: An update. J Am
Coll Nutr 21:1-13.
Mondal TK. 2007. Tea - Biotechnology in Agriculture and Forestry. 60:
Transgenic Crops V. Berlin: Springer.
Moore MC, Cherrington AD, Wasserman DH. 2003. Regulation of hepatic and
peripheral glucose disposal. Best Pract and Res Clin Endocrinol and
Metabol 17(3):343-364
Morewitz SJ. 2006. Chronic Diseases and Health Care: New Trends in Diabetes,
Arthritis, Osteoporosis, Fibromyalgia, Low Back Pain, Cardiovascular
Disease, and Cancer. New York: Springer+Business Media, Inc.
Morwessel N. 1998. The Genetic Basis of Diabetes Mellitus. American
Association of Critical Care Nurses 9:539-554.
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 2003. Harper’s Illustrated
Biochemistry. New York: McGraw-Hill Companies
Nakagawa M. 1975. Contribution of green tea constituents to the intensity of taste
element of brew. Nippon Shokuhin Kogyo Gakkai-Shi 22:59-64.
Nishiumi S, Bessyo H, Kubo M, Aoki Y, Tanaka A, Yoshida KI, Ashida H. 2010.
Green and black tea suppress hyperglycemia and insulin resistance by
retaining the expression of glucose transporter 4 in muscle of high-fat dietfed C57BL/6J mice. J Agric Food Chem 58:12916-12923
Perkins JM, Dunn JP, Jagasia SM. 2007. Perspectives in Gestational Diabetes
Mellitus: A Review of Screening, Diagnosis, and Treatment. Clinical
Diabetes 25(2):57-62.
Postic C, Shiota M, Magnuson MA. 2001. Cell-specific roles of glucokinase in
glucose homeostasis. Recent Prog Horm Res 56:195-217.
PPTK [Pusat Penelitian Teh dan Kina]. 2006. Sustainable Tea. Prosiding
Pertemuan Teknis Industri Teh Berkelanjutan. Wisata Agro Gunung Mas
PTPN VIII Bogor, 12-13 September, Bogor.
Radahmadi M, Farrokh S, Karimian SM, Shahab-e-din Sadr S, Nasimi A. 2006.
Effects of stress on exacerbation of diabetes mellitus, serum glucose and
cortisol levels and body weight in rats. Pathophysiology 13(1):51-55.
Radha V, Vimaleswaran KS, Deepa R. 2003. The genetics of diabetes mellitus.
Indian J Med Res 117:225-238.
Reaven GM. 1998. The role of insulin resistance in human disease. Diabetes
37:1595–1607.
Reinauer H, Home PD, Kanagasabapathy AS, Heuck C. 2002. Laboratory
Diagnosis and Monitoring of Diabetes Mellitus. Geneva: World Health
Organization.
Rice-Evans CA, Miller N. 1997. Structure-antioxidant Activity Relationships of
Flavonoids and Isoflavonoids in Flavonoids in Health and Disease, (RiceEvans CA, Packer L, Eds.) pp. 199-219. New York: Marcel Dekker.
Robertson RP, Harmon J, Tran PO, Tanaka Y, Takahashi H. 2003. Glucose
toxicity in β-cells: type 2 diabetes, good radicals gone bad, and the
glutathione connection. Diabetes 52(3):581-587.
Sanderson GW. 1972. The Chemistry of Tea and Tea Manufacturing in Structural
and Functional Aspects of Phytochemistry, (Runeckles VC, Ed.) pp. 247316. New York: Academic Press.
Saphiro SS, Wilk MB. 1965. An analysis of variance test for normality (complete
samples). Biometrika 52(3/4):591-611.
Satterfield Z. 2004. What does ppm or ppb mean ?. On Tap Fall:38-40.
Schatz D, Winter W. Recent advances in the immunopathogenesis of insulin dependent DM. Curr Opinion Pediatr 1995; 7:459-465.
Scheepers A, Joost H-G, Schürmann A. 2004. The Glucose Transporter Families
SGLT and GLUT: Molecular Basis of Normal and Aberrant Function.
Journal of Parenteral and Enteral Nutrition 28:364-371.
Scollan-Koliopoulos, Guadagno S, Walker E. 2006. Gestational diabetes
management: guidelines to a healthy pregnancy. Nurse Pract 31:14-19.
Seino S, Iwanaga T, Nagashima K, Miki T. 2000. Diverse roles of K(ATP)
channels learned from Kir6.2 genetically engineered ice. Diabetes 49:311318.
Sharangi AB. 2009. Medicinal and therapeutic potentialities of tea (Camellia
sinensis L.) – A review. Food Research International 42:529-535.
Sheperd PR, Kahn BB. 1999. Glucose transporters and insulin action:
implications for insulin resistance and diabetes mellitus. N Engl J Med
341:248-257.
Shephard RJ. 1998. Aging and Exercise. In: Encyclopedia of Sports Medicine
and Science, (Fahey TD, Ed.). Toronto: Internet Society for Sport Science.
®
Shiang KH. The SAS Calculations of Areas Under the Curve (AUC) for Multiple
Metabolic Readings. Duarte: City of Hope National Medical Centre.
Silbernagl S, Despopoulos A. Color Atlas of Physiology. Stuttgart: Georg Thieme
Verlag KG.
Simpson IA, Cushman SW. 1986. Hormonal regulation of mammalian glucose
transport. Annu Rev Biochem 55:1059-1089.
Sinija VR, Mishra HN, Bal S. 2007. Process technology for production of soluble
tea powder. Journal of Food Engineering 82: 276-283.
Song Y, Manson JE, Buring JE, Sesso HD, Liu S. 2005. Associations of dietary
flavonoids with risk of type 2 diabetes, and markers of insulin resistance
and systemic inflammation in women: a prospective study and
crosssectional analysis. J Am Coll Nutr 24:376-84.
Stote KS, Baer DJ. 2008. Tea consumption may improve biomarkers of insulin
sensitivity and risk factors for diabetes. The Journal of Nutrition 138:1584S1588S.
Stumvoll M, Goldstein BJ, van Haeften TW. 2005. Type 2 diabetes: principles of
pathogenesis and theraphy. The Lancet 365:1333-1346.
Suematsu S, Hisanobu Y, Saigo H, Matsuda R, Hara K, Komatsu Y. 1992.
Studies on preservation of constituents in canned drinks. Effects of pH on
stability of constituents in canned tea drinks. Nippon Shokuhin Kogyo
Gakkai-Shi 39:178-182.
Timby BK. 2009. Fundamental Nursing Skills and Concepts. Philadelphia:
Wolters Kluwer Health.
The Institute of Food Technologist. 2005. Functional Foods: Opportunities and
Challanges. Washington: IFT Expert Report Publication.
Thielecke F, Boschmann M. 2009. The potential role of green tea catechins in the
prevention of the metabolic syndrome – A review. Phytochemistry 70:11-24.
Thorens B. 2003. A gene knockout approach in mice to identify glucose sensors
controlling glucose homeostasis. Pflugers Arch 445:482-490.
Trucco M, Laporte R. 1995. Exposure to superantigens as an immunogenetic
explanation of type 1 diabetes miniepidermics. J Pediatr Endocrinol Metab.
8:3-10.
Tsuneki H, Ishizuka M, Terasawa M, Wu J-B, Sasaoka T, Kimura I. 2004. Effect
of green tea on blood glucose levels and serum proteomic patterns in
diabetic (db/db) mice and on glucose metabolism in healthy humans. BMC
Pharmacology 4:18.
Tuomilehto J, Lindstrom J, Eriksson JG, Valle TT, Hamalainen H, Ilanne-Parikka
P. 2001. Prevention of type 2 diabetes mellitus by changes in lifestyle
among subjects with impaired glucose tolerance. N Engl J Med 344:13431350.
[UKPDS] United Kingdom Prospective Diabetes Study Group. 1998. Intensive
blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with
conventional treatment and risk of complications in patients with type 2
diabetes (UKPDS 33). The Lancet 352:837-853.
Urcelary E, Santiago JL, de la Calle H. 2005. Type 1 Diabetes in the Spanish
population: Additional factors to class II HLA-DR3 and DR4. BMC
Genomics 6:1-7.
[USDHHS] U.S. Dept of Health and Human Services, National Institutes of
Health, National Heart, Lung and Blood Institute. 2004. The Seventh Report
of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure. NIH Publication No. 04-5230.
Vander A, Sherman J, Luciano D. 2001. Human Physiology-The Mechanisms of
Body Function. New York: McGrawHill
Venables MC, Hulston CJ, Cox HR, Jeukendrup AE. 2008. Green tea extract
ingestion, fat oxidation, and glucose tolerance in healthy humans. Am J Clin
Nutr. 87:778-784.
Venditti E, Bacchetti T, Tiano L, Carloni P, Greci L, Daminani E. 2010. Hot vs.
cold water steeping of different teas: Do they affect antioxidant activity?.
Food Chem. 119:1597-1604.
Waltner-Law ME. 2002. Epigallocatechin gallate, a constituent of green tea,
represses hepatic glucose production. J Biol Chem 38(20):34933-34940.
Wan X, Li D, Zhang Z. 2009. Green Tea and Black Tea-Manufacturing and
Consumption dalam Ho CT, Lin JK, Shahidi F, Eds. Tea and Tea ProductsChemistry and Health Promoting Properties. Boca Raton: CRC PressTaylor and Francis Group.
Wang H. 2002. Catechins: the essence of tea. FoodInfo-IFIS Publishing.
Wang H, Cai Y, Davies AP, You X. 1998. Study of Bitterness and Astringency of
Green Tea in Proceedings of the 7th Annual Meeting of LSSCB, pp. 58-59,
24-25 July. Cambridge.
Wang H, Helliwell K. 2000. Epimerisation of catechins in green tea infusions.
Food Chem 70:337-344.
Wang H, Provan GJ, Helliwell K. 2000. Tea flavonoids: their functions, utilisation
and analysis. Trends in Food Science & Technology 11:152-160.
Weyer C, Bogardus C, Mott DM, Pratley RE. 1999. The natural history of insulin
secretory dysfunction and insulin resistance the pathogenesis of type 2
diabetes mellitus. J Clin Invest 104:787-794.
[WHO] World Health Organization Expert Consultation. 2004. Appropriate bodymass index for Asian populations and its implications for policy and
intervention strategies. The Lancet 363(9403):157-163.
[WHO] World Health Organization Technical Report Series. 2003. Diet, Nutrition,
and The Prevention of Chronic Diseases. Geneva: WHO.
[WHO] World Health Organization Technical Report Series. 2005. Preventing
Chronic Diseases: A Vital Invesment. Geneva: WHO.
Wildman REC, Kelley M. 2007. Nutraceuticals and Functional Foods dalam
Wildman REC, Eds. Handbook of Nutraceuticals and Functional Foods.
Boca Raton: CRC Press-Taylor and Francis Group.
Winter WE, Chiara T, Schatz D. 1993. The genetics of autoimmune diabetes:
Approaching a solution to the problem. Am J Dis Child 147:1282- 1290.
Wolever TMS. 2006. The Glycaemic Index-A Physiological Classification of
Dietary Carbohydrate. Oxfordshire: CABI Publishing.
Wright EM, Loo DD, Panayotoya-Heiermann M. 1994. Active sugar transport in
eukaryotes. J Exp Biol 196:197-212.
Wu CD, Wei GX. 2002. Tea as a functional food for oral health. Nutrition 18:443444.
Xu N, Chen ZM. 2002. Green Tea, Black Tea, and Semi-Fermented Tea dalam
Zhen YS et al., Eds. Tea-Bioactivity and Therapeutic Potential. London:
Taylor and Francis Group.
Yamada K, Sato-Mito N, Nagata J, Umegaki K. 2008. Health claim evidence
requirements in Japan. The Journal of Nutrition 138:1192S-1198S.
Yamaji T, Mizoue T, Tabata S, Ogawa S, Yamaguchi K, Shimizu E, Mineshita M,
Kono S. 2004. Coffe consumption and glucose tolerance status in middleaged Japanese men. Diabetologia 47:2145-2151.
Yao L, Jiang Y, Datta N, Singanusong R, Liu X, Duan J, Raymont K, Lisle A, Xu
Y. 2004. HPLC analyses of flavanols and phenolic acids in the fresh young
shoots of tea (Camellia sinensis) grown in Australia. Food Chem 84:253263.
Zhang ZF, Li Q, Liang J, Dain XQ, Ding Y, Wang JB, Li Y. 2010.
Epigallocatechin-3-O-gallate (EGCG) protects the insulin sensitivity in rat L6
muscle cells exposed to dexamethasone condition. Phytomedicine
17(1):14-8.
Zierler K. 1999. Whole body glucose metabolism. Am J Physiol Endocrinol Metab
276:409-426.
Lampiran 1 Ijin etik penelitian (Ethical Clearance)
Lampiran 2 Contoh perhitungan luas AUC dengan menggunakan trapezoid rules
Kurva respon glukosa darah
(Subjek 1-Kelompok kontrol)
Kadar glukosa darah (mg/dl)
160
157
154
140
125
117
120
109
100
80
85
a
b
c
d
e
f
M-120
M-150
60
M-0
M-30
t
0,5
M-60
M-90
Menit pengukuran
 (a + b)

x t
Luas AUC = ∑ 
 2

Keterangan:
a dan b = dua sisi sejajar, yang menyatakan kadar glukosa darah (mg/dl) pada periode
pengukuran yang pertama dan setelahnya
t
= tinggi, yang menyatakan jarak waktu pengukuran kadar glukosa darah (jam)
pada periode pengukuran yang pertama dan setelahnya
85 + 157
x 0,5 = 60,5
2
157 + 154
x 0,5 = 77,75
Trapezoid 2 =
2
154 + 125
Trapezoid 3 =
x 0,5 = 69,75
2
125 + 117
Trapezoid 4 =
x 0,5 = 60,5
2
117 + 109
Trapezoid 5 =
x 0,5 = 56,5
2
Total keseluruhan
= 60,5 + 77,75 + 69,75 + 60,5 + 56,5
= 325 mg.dl-1.h
Trapezoid 1 =
Lampiran 3 Contoh perhitungan nilai glucose score
Nilai glucose score =
a
x 100
b
Keterangan:
a = luas AUC kelompok intervensi
b = luas AUC kelompok kontrol
Contoh perhitungan luas AUC untuk subjek 1
Luas AUC kontrol = 325
Luas AUC 100 mg EGCG = 303,75
Luas AUC 200 mg EGCG = 299,75
303,75
x 100 = 93,46
325
299,75
Nilai glucose score intervensi 200 mg EGCG =
x 100 = 92,23
325
Nilai glucose score intervensi 100 mg EGCG =
Lampiran 4 Contoh perhitungan nilai kepentingan klinis
Contoh perhitungan nilai kepentingan klinis untuk menit ke-30
Kadar glukosa darah menit ke-30 untuk subjek 1 hingga subjek 10 pada
perlakuan kontrol yaitu: 157, 185, 184, 183, 130, 153, 175, 165, 174, 146
Kadar glukosa darah menit ke-30 untuk subjek 1 hingga subjek 10 pada
perlakuan 100 mg EGCG yaitu: 154, 183, 147, 156, 128, 135, 186, 180, 135, 172
Sehingga jumlah subjek yang mengalami penurunan glukosa darah dengan
selisih 10 mg/dl antara kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok taraf
perlakuan 100 mg EGCG dapat dimasukkan dalam tabel berikut:
Perlakuan
Perlakuan 100 mg EGCG
Perlakuan kontrol
Penurunan
glukosa darah
Tidak
Ya
6
4
10
0
Total
10
10
Nilai kepentingan klinis :
6
= 0,6
6+4
10
CER =
= 1
10 + 0
0,6
= 0,6
RR =
1
ARR = | 0,6 – 1 |
= 0,4
RRR = 1 – 0,6
= 0,4
EER =
Keterangan :
CER
: control event rate (proporsi pada kelompok kontrol)
EER
: experiment event rate (proporsi pada kelompok eksperimen)
RR
: relative risk
RRR
: relative risk reduction
ARR
: absolute risk reduction
Download