BAB I PENDAHULUAN

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan merupakan suatu perbuatan dimana seseorang atau kelompok
menawarkan pada kelompok/orang lain sesuatu yang pada dasarnya tidak berwujud
dan produksinya berkaitan atau tidak berkaitan dengan fisik produk (Kottler, 2000).
Pelayanan keperawatan merupakan salah satu ruang lingkup pelayanan yang
merupakan inti dari kegiatan pelayanan dirumah sakit. Pelayanan keperawatan
mempunyai posisi yang strategis dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan
dirumah sakit karena perawat adalah yang yang paling banyak kontak dengan
pasien (Triwibowo, 2013).
Kepuasan pasien merupakan indikator pertama dari standar suatu rumah sakit dan
merupakan suatu ukuran mutu pelayanan. Kepuasan pasien yang rendah akan
berdampak terhadap jumlah kunjungan dirumah sakit, sedangkan sikap karyawan
terhadap pasien juga akan berdampak terhadap kepuasan pasien dimana kebutuhan
pasien dari waktu ke waktu akan meningkat, begitu pula tuntutannya akan mutu
pelayanan yang diberikan. Menurut Kotler (1988) dalam Laila (2011), kepuasan
adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang
dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi kepuasan atau ketidakpuasan
merupakan kesimpulan dari interaksi antara harapan dan pengalaman sesudah
memakai jasa atau pelayanan yang diberikan. Untuk menuju pelayanan prima
dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, meliputi ruangan, alat kesehatan
utama, diagnostik dan penunjang diagnostik untuk tindakan medik. Disamping itu
juga tidak kalah pentingnya sumber daya manusia yang memenuhi syarat, baik
kualitas maupun kuantitas.
Perawat dalam menjalankan tugas sehari-hari pada umumnya telah melaksanakan
tugasnya itu dengan baik dan penuh tanggung jawab. Keluhan ketidakpuasan pasien
1
2
baik dirumah sakit maupun di masyarakat sangatlah bersifat kasualitas. Saat ini
lulusan keperawatan dengan kurikulum berbasis kompetensi menjadi topik
pembicaraan di tingkat nasional (Suarli, 2013).
Proses keperawatan merupakan suatu metode sistematis dan ilmiah yang digunakan
perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau mempertahankan
keadaan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang optimal, melalui tahap
pengkajian, identifikasi diagnosis keperawatan, penentuan rencana keperawatan,
melaksanakan tindakan keperawatan. Semakin tingginya tuntutan masyarakat akan
fasilitas kesehatan yang berkualitas dan terjangkau, maka berbagai upaya telah
ditempuh dan memenuhi harapan tersebut. Pelayanan prima pada dasarnya
ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada pasien (Suarli, 2013).
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan
merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam
mendukung
penyelenggaraan
upaya
kesehatan.
Penyelenggaran
pelayanan
kesehatan di rumah sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat
kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan yang
beragam, berinteraksi satu sama lain (Herlambang, 2012).
Pada hakekatnya rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab para
tenaga kesehatan, baik itu dokter, perawat, ahli gizi dan lainnya. Perkembangan
rumah sakit awalnya hanya memberi pelayanan yang bersertifikat penyembuhan
(kuratif) terhadap pasien melalui rawat inap. Selanjutnya, rumah sakit karena
kemajuan ilmu pengetahuan khususnya teknologi kedokteran, peningkatan
pendapatan dan pendidikan masyarakat. Pelayanan kesehatan di rumah sakit saat ini
tidak saja bersifat kuratif tetapi juga bersifat pemulihan (rehabilitatif). Kedua
pelayanan tersebut secara terpadu melalui upaya promosi kesehatan (promotif) dan
pencegahan (preventif) (Herlambang, 2012).
3
Pelayanan keperawatan prima adalah pelayanan keperawatan profesional yang
memiliki mutu, kualitas, bersifat efektif, efisien sehingga memberikan kepuasan
pada kebutuhan dan keinginan lebih dari yang diharapkan pelanggan atau pasien.
Pelayanan prima, sebagaimana tuntutan pelayanan yang memuaskan pelanggan
atau masyarakat, maka diperlukan persyaratan agar dapat dirasakan oleh setiap
pelayan untuk memiliki kualitas kompetensi yang profesional, dengan demikian
kualitas kompetensi profesionalisme menjadi sesuatu aspek penting dan wajar
dalam setiap pelayanan keperawatan prima (Maisayaroh, 2009).
Dalam berinteraksi dengan pasien maka semestinya diberikan pelayanan yang
bermutu atau yang sering disebut pelayanan prima. Pelayanan di rumah sakit tidak
hanya diberikan oleh dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain. Akan tetapi
pelayanan prima sudah didapatkan oleh pasien dan keluarga pasien dari pertama
memasuki gerbang rumah sakit. Tetapi pada kenyataannya, pelayanan prima tidak
bisa diberikan oleh semua tenaga kesehatan (Triwibowo, 2013).
Padahal mayoritas dari tenaga kesehatan Indonesia memiliki pengetahuan yang
baik mengenai pelayanan kesehatan. Tetapi tidak semua tenaga kesehatan
menerapkannya. Inilah yang menjadi masalah yang berdampak buruk bagi citra
rumah sakit Indonesia. Dampak dari pelayanan yang buruk bisa kita rasakan,
contoh seperti sekarang ini, warga negara Indonesia yang memiliki ekonomi di atas
rata-rata lebih memilih rumah sakit di luar negeri dari pada rumah sakit di
Indonesia. Padahal, jika kita tinjau dari segi kognitif, pengetahuan tenaga kesehatan
Indonesia tidak kalah dari tenaga kesehatan yang ada di luar negeri (Herlambang,
2012).
Dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Lakipadada
Kabupaten Tana Toraja tentang hubungan kualitas pelayanan kesehatan dengan
kepuasan pasien pengguna askes sosial pada pelayanan rawat inap di RSUD
Lakipadada Kabupaten Tana Toraja tahun 2013. Ada hubungan antara kualitas
pelayanan kesehatan (Reability, Assurance,Tangible, Emphaty, Responsivenses)
4
dengan kepuasan pasien pengguna Askes Sosial pada pelayanan Rawat Inap di
RSUD Lakipadada Kabupaten Tana Toraja tahun 2013.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Abdul Aziz di RSUP DR. M. DJAMIL
Padang Tahun 2012 tentang Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan
Keperawatan Prima di RSUP dr. M. Djamil padang tahun 2012 bahwa distribusi
tingkat kepuasan pasien menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak 88
orang atau 76,52% beranggapan pelayanan keperawatan di RSUP Dr. M. Djamil
Padang belum prima. Penilain tersebut menunjukkan bahwa pelayanan yang
diberikan oleh perawat kepada pasien masih dalam batas standar pelayanan dan
belum bisa dikatakan prima.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh penulis di Rumah Sakit Umum Sari
Mutiara Medan dari bagian rekam medis di dapatkan data jumlah pasien yang
dirawat inap berjumlah 16.667 orang dimana pada bulan Januari–Desember 2013
berjumlah 11.483 orang dan pada bulan Januari-Mei tahun 2014 berjumlah 5.184
orang . Dengan rata-rata hari rawat inap 3-9 hari. Dengan rata-rata jumlah pasien
yang dirawat inap setiap bulannya adalah 1.388 orang yang memiliki fasilitas ruang
rawat inap sebanyak 11 ruangan dengan kapasitas tempat tidur berjumlah 282 buah,
jumlah tenaga perawat 153 orang dan jumlah BOR (Bed Occupacy Rate) dari
Januari
2013-2014
adalah
59%.
Dalam
misi
rumah
sakit
tercantum
“menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang profesional, bermutu, memberikan
kepuasan kepada pasien dan keluarga dengan biaya terjangkau”.
Pada survey awal ada beberapa kali peneliti mengamati sebagian perawat ada yang
tidak rapi dan tidak dilengkapi dengan atribut pengenal, dalam menghabiskan masa
dinas/shift perawat berkumpul ada perawat yang menulis rawatan, ada beberapa
perawat menunggu dokter visit dan ada beberapa perawat menunggu jam tindakan
injectie (suntikan), pemeriksaan vital sign dan pemberian obat. Penulis juga melihat
keluarga pasien datang ke ruangan perawat meminta air panas dan ada yang
mengatakan bahwa infus pasien sudah hampir habis, penulis juga pernah bertanya
5
pada satu perawat pelaksana bahwa tindakan pemenuhan personal hygiene pasien
dilakukan oleh keluarga pasien. Hal ini menunjukkan belum tercapainya mutu
pelayanan rawat inap.
Hasil wawancara yang dilakukan penulis kepada 13 pasien yang menjalani rawat
inap, 10 pasien rawat inap mengatakan ketidakpuasan pasien akan pelayanan
keperawatan antara lain: (a) perawat jarang menyediakan waktu untuk
mendengarkan keluhan pasien tentang sakit yang dirasakannya, (b) pasien mandi
jika ada keluarga yang memandikan, (c) perawat kurang memberikan penjelasan
tentang tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien, (d) perawat tidak bisa
memberikan keyakinan bahwa tindakan keperawatan yang diberikan adalah untuk
kesembuhan, (e) perawat terkesan membiarkan pasien tanpa ada perhatian dan akan
datang ke ruang perawatan pasien apabila pasien atau keluarga pasien datang
keruang perawatan memanggil, misalnya mengganti infus, menyampaikan keluhan.
Perawat sebagai seorang tenaga profesional dalam bidang pelayanan kesehatan
yang dihadapinya adalah manusia, sehingga dalam hal ini empati mutlak harus
dimiliki oleh seorang perawat. Seorang perawat akan mampu mengerti, memahami
dan ikut merasakan apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan dan apa yang
diinginkan pasien. Seorang perawat harus peka dalam memahami alur pikiran dan
perasaan pasien serta bersedia mendengarkan keluhan pasien tentang penyakitnya
untuk dapat memberikan pelayanan yang prima. Perawat harus mengerti bahwa
keluhan pasien merupakan kondisi yang sebenarnya, sehingga respon yang
diberikan terasa tepat dan benar bagi pasien. (Potter dan Perry, 2005).
Berdasarkan fenomena kutipan diatas, sehingga penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang Hubungan Pelayanan Keperawatan Prima Dengan Tingkat
Kepuasan Pasien Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan
Tahun 2014.
6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang diatas maka
rumusan masalah dalam penelitian ini apakah ada hubungan pelayanan
keperawatan prima dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah
Sakit Umum Sari Mutiara Medan?
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pelayanan
keperawatan prima dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah
Sakit Umum Sari Mutiara Medan Tahun 2014.
2.
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pelayanan keperawatan prima di ruang rawat inap
Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan
2.
Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah
Sakit Umum Sari Mutiara Medan
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini akan memberikan konstribusi terhadap berbagai aspek
yaitu:
1.
Bagi pihak manajemen Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan informasi tambahan
bagi pihak manajemen rumah sakit dapat menerapkan dalam memberikan
pelayanan keperawatan prima guna untuk meningkatkan tingkat kepuasan
pasien.
2.
Penelitian Keperawatan
Dapat digunakan sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya terutama yang
menyangkut perkembangan pelayanan keperawatan prima.
7
3.
Manfaat bagi pasien
Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya dan pengulangan
instruksi dalam pemberian asuhan keperawatan dapat dihindari.
Download