IMD - public health journal

advertisement
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
MENYUSU DINI (IMD) DI RSUD DATOE BINANGKANG
PELAKSANAAN
INISIASI
Nontje L. Pangerapan*, Adrian Umboh*, Hesti Lestari*
*Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado
ABSTRAK
Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas
indikasi medis, dan pasal 129, pemerintahbertanggungjawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak
bayi untuk mendapatkan air susu ibu (ASI) secara eksklusif. ASI di Indonesia saat ini memprihatinkan,
presentasi bayi yang menyusui eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%. Hal ini disebabkan kesadaran
masyarakat untuk mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah. Tujuan penelitian ini ialah
untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, pendidikan, paritas, pekerjaan dengan pemberian ASI
Eksklusif. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional yang
dilaksanakan di RSUD Datoe Binangkang dilaksanakan mulai bulan Januari sampai bulan Desember tahun
2016. Populasi pada penelitian ini yaitu ibu yang mempunyai bayi umur 7-12 bulan dan sampel dengan jumlah
64 responden. Sumber data primer diperoleh dari kuesioner dan data sekunder dari data RSUD Datoe
Binangkang. Data bivariat dianalisis dengan menggunakan uji chi Square (X2)sedangkan analisis multivariat
menggunakan uji regresi logistik. Data dianalisis dengan program SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai signifikan paritas (0,488), berat bayi saat lahir (0,649), jenis persalinan (0,221) dan dukungan
petugas kesehatan (0,001) dengan pelaksanaan IMD di ruang bersalin RSUD Datoe Binangkang.
Kesimpulannya tidak terdapat hubungan antara paritas, berat bayi saat jenis persalinan dengan pelaksanaan
IMD di ruang bersalin, sedangkan dukungan petugas kesehatan terdapat hubungan dengan pelaksanaan IMD di
ruang bersalin RSUD Datoe Binangkang. Maka disarankan kepada RSUD Datoe Binangkang, agar lebih
meningkatkan promosi ASI eksklusif pada ibu bekerja maupun tidak bekerja tentang manfaat pemberian ASI
eksklusif, hal ini di mulai sejak ibu hamil memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan.
Kata Kunci: Inisiasi Menyusu Dini
ABSTRACT
Every baby is entitled to exclusive breastfeeding from birth for six (6) months, unless medically indicated, and
Article 129, pemerintahbertanggungjawab established a policy in order to ensure the right to get the baby breast
milk (ASI) exclusively. ASI in Indonesia is alarming, presentation breastfeeding infants exclusively up to six
months is only 15.3%. This is due to public awareness to encourage increased breastfeeding is still relatively
low. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge, education, parity, work with
exclusive breastfeeding. This type of research is descriptive analytic with cross sectional study conducted in
hospitals Datoe Binangkang conducted from January to December 2016. The population in this research that
mothers of infants aged 7-12 months and the sample with 64 respondents. Sources of primary data obtained from
questionnaires and secondary data from the data Datoe Binangkang Hospital. Bivariate data were analyzed
using Chi Square (X2), while multivariate analysis using logistic regression. Data were analyzed with SPSS
version 20. The results showed that significant value parity (0.488), weight of newborn (0.649), type of delivery
(0.221) and the support of health workers (0,001) with the implementation of the IMD in maternity hospitals
Datoe Binangkang. In conclusion there is no relationship between parity, weight baby during childbirth with the
implementation of the type of IMD in the delivery room, while health workers support an association with the
implementation of the IMD in maternity hospitals Datoe Binangkang. It is advisable to hospitals Datoe
Binangkang, in order to further enhance the promotion of exclusive breastfeeding in the mother works and does
not work on the benefits of exclusive breastfeeding, it dates back to the maternal checkups at health workers.
Keyword: Initiation Early Breastfeeding
Masalah tumbuh kembang anak di negara-
PENDAHULUAN
negara yang sedang berkembang menjadi
41
perhatian dunia, kurang lebih 200 juta anak di
siap menyusu. Kontak langsung kulit ibu dan
Negara berkembang berusia di bawah lima
bayi akan memberikan kehangatan dan ikatan
tahun gagal mencapai potensi mereka dalam
antara ibu dan bayi (Maritalia, 2012).
perkembangan kognitif dan sosial akibat
Penelitian Forster, (2015) meneliti “Feeding
kemiskinan, kesehatan yang buruk, gizi, dan
infants directly at the breastduring the
kurangnya perawatan (Pem, 2015).
postpartum hospital stay isassociated with
Pem, (2015) mencatat tingkat prevalensi
increased
breastfeeding
at
6
months
masalah perkembangan kognitif di Bhutan
postpartum” dengan tujuan untuk menyelidiki
sebesar 15%, 33,5% dari anak-anak kurang
apakah asupan makanan hanya secara langsung
dari lima tahun tumbuh kembangnya terhambat
dari payudara di 24-48 jam pertama kehidupan
dan 9,9% bayi yang lahir dengan berat badan
meningkatkan proporsi bayi yang menerima
rendah kurang dari 2.500 gram. Lima faktor
setiap ASI di 6 bulan yang dilakukan di 3
utama yang diidentifikasi dalam memberikan
rumah
kontribusi
dan
menunjukkan bahwa bayi yang diberi makanan
perkembangan di usia dini adalah gizi, perilaku
hanya ASI lebih mungkin untuk terusmemiliki
orang tua, parenting, praktek-praktek sosial
ASI pada 6 bulan daripada mereka yang
dan budaya, dan lingkungan. Memahami
menerima makanan formula bayi. Peneliti
tingkat dan besarnya masalah ini terutama
menyimpulkan bayi cukup bulan sehat yang
dalam 1000 hari anak termasuk dari tanggal
makanan hanyalangsung dari payudara 24-48
pembuahan sampai anak masuk usia 2 tahun
jam
merupakan hal yang sangat penting.
menyusui pada 6 bulan dari mereka yang
terhadap
pertumbuhan
Inisiasi menyusu dini (IMD) merupakan
sakit
setelah
menerima
proses alami mengembalikan bayi manusia
bersalin
lahir
susu
di
Melbourne,
berpeluang
formula
akanterus
diawal
periode
postpartum.
untuk menyusu yaitu dengan memberikan
ASI mengandung zat gizi dan zat protektif
kesempatan pada bayi untuk mencari dan
yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh bayi
menghisap ASI sendiri dalam satu jam pertama
sehingga
pada awal kehidupannya (Lowdermilk, 2013).
Penelitian di negara Afrika, IMD dapat
WHO-UNICEF mengeluarkan protocol tentang
menurunkan resiko kematian bayi usia 2-28
“ASI Segera” yang harus diketahui tenaga
hari akibat infeksi saluran nafas akut dan diare
kesehatan (bidan). Protocol tersebut adalah
(Edmond , 2014). Kontak kulit ibu dan kulit
melakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi
bayi serta ASI pertama (kolostrum) dapat
segera setelah lahir selama paling sedikit satu
menstimulasi sistem kekebalan tubuh bayi (
jam dan bantu ibu mengenali kapan bayinya
Edmond 2014).
42
jarang
sakit
(Maritalia,
2012).
Inisiasi menyusui dini merupakan salah satu
Datoe Binangkang bergantung pada kualitas
program pemerintah dalam menurunkan AKB
kerja bidan. Namun sampai saat ini belum ada
terkait target pencapaian MDGs 2015. Program
laporan tentang hasil cakupan pelaksanaan
IMD secara signifikan akan dapat mengurangi
IMD di RSUD Datoe Binangkang sehingga
beban penyakit menular karena segera setelah
belum ada evaluasi tentang kinerja bidan di
lahir bayi telah mendapatkan kolostrum yang
RSUD Datoe Binangkang dalam pelaksanaan
terbukti mampu meningkatkan immunitas bayi
IMD.
baru lahir. Immunoglobulin yang terdapat
dalam kolostrum akan mengalami penurunan
METODE PENELITIAN
setelah hari pertama kehidupan bayi, pada hari
Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif
kedua akan menurun sebayak 50% (Edmond,
analitik dengan pendekatan potong lintang
2014).
(Cross sectional).Tempat penelitian di RSUD
Pemerintah Indonesia telah mencanangkan
Datoe Binangkang dilaksanakan mulai bulan
inisiasi menyusu dini sebagai bagian dari
Januari sampai bulan Desember tahun 2016.
upaya mengoptimalisasi pemberian ASI secara
Populasi pada penelitian ini yaitu ibu yang
eksklusif dan sebagai bagian manajemen
mempunyai
laktasi.
2013,
Pengambilan sampel ini dilakukan dengan
persentase proses mulai menyusu pada anak 0-
metode total populasi dengan jumlah 64
23 bulan di Indonesia kurang dari satu jam (< 1
responden. Sumber data primer diperoleh dari
jam) setelah bayi lahir masih sangat rendah
kuesioner dan data sekunder dari data RSUD
yaitu
Datoe Binangkang. Data bivariat dianalisis
Menurut
29,3%,
data
sementara
Riskesdas
untuk
Provinsi
Sulawesi Utara sebesar 9,59% (Anonimous,
dengan
2
2013).
tahun
2014
sebanyak
uji
analisis
7-12
chi
bulan.
Square
multivariat
menggunakan uji regresi logistik.
jumlah persalinan normal di RSUD Datoe
Binangkang
umur
menggunakan
(X )sedangkan
Berdasarkan survei yang telah dilakukan
bayi
Data
dianalisis dengan program SPSS versi 20.
542
persalinan. Dari jumlah tersebut sebanyak 73,2
HASIL DAN PEMBAHASAN
% ditolong oleh bidan dan sisanya sebanyak
Karakteristik Responden
20% ditolong oleh dokter. Data yang diperoleh
Gambaran
sebanyak 172 bayi usia 0-6 bulan yang
menunjukkan bahwa mayoritas responden
melakukan kunjungan di Poliklinik Bayi
berumur >26 tahun sebanyak 18 (60,0%)
RSUD Datoe Binangkang tahun 2015. Salah
sedangkan untuk responden yang berumur <26
satu kunci keberhasilan Program IMD diRSUD
sebanyak 12 responden (40,0%) dan gambaran
43
karakteristik
responden
karakteristik responden menurut pendidikan
responden memiliki partisipasi yang tinggi.
terakhir menunjukkan bahwa palilng banyak
Responden sebagian kecil partisipasi rendah
responden
berpendidikan
(n=7, 33,33%). Mayoritas perilaku kurang
13(43,3%)
dan
yang
SMP
sedikit
sebanyak
responden
partisipatif
pada
partisipasi
ibu
dalam
berpendidikan SD sebanyak 1 responden
berkomunikasi dengan bayi Perilaku kurang
(3,3%).
partisipatif ibu tidak melakukan komunikasi
Usia responden pada penelitian ini adalah
dengan bayi karena ibu beranggapan bahwa
antara usia 20-40 tahun. Dalam penelitian di
bayi
Amerika IMD usia ibu mempunyai hubungan
Komunikasi dengan bayi dapat mempererat
yang kuat terhadap keberhasilan IMD. Dalam
kasih sayang dan rasa aman bagi bayi dan ibu.
penelitian ini usia pada usia lebih dari 20 tahun
Komunikasi akan meningkatkan hubungan
(Orun
batin bayi dan ibu, pada pelasanaan IMD ini
et.al,
2011).
Usia
20-40
tahun
belum
diajak
bayi
menengah kematangan dari fisik maupun
hormonal dan diyakini dapat mengurangi
psikologis
akan
kejadian depresi saat melahirkan (Hidayat,
pengetahuannya
yang
partisipasi
sehingga
berpengaruh
pada
penelitian
pada
mengalami
komunikasi.
merupakan usia menengah dimana pada usia
mempengaruhi
akan
bisa
penurunan
stress
2012).
ini
Hubungan Antara Paritas dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe Binangkang
Tabel 1 Hubungan Antara Paritas Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe Binangkang
Paritas
Primipara
Multipara
Total
IMD
Melakukan IMD
Melakukan IMD
n
%
n
%
9
30,0
1
3,3
16
53,3
4
13,4
25
83,3
5
16,7
Total
n
10
20
30
Nilai p
%
33,3
66,7
100,0
0,488
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara
multipara sebanyak 20 responden (66,7%)
paritas dengan pelaksanaan IMD Di RSUD
dengan yang melakukan IMD sebanyak 16
Datoe Binangkang, diperoleh data bahwa
responden (53,3%) dan yang tidak melakukan
jumlah responden yang primipara sebanyak 10
IMD
responden (33,3%) dengan yang melakukan
Berdasarkan hasil analisis uji chi-square
IMD sebanyak 9 responden (30,0%) dan yang
didapatkan hasil dengan nilai p=0,488>α=0,05
tidak melakukan IMD sebanyak 1 responden
yang menunjukkan tidak terdapat paritas
(3,3%), sedangkan jumlah responden yang
44
sebanyak
4
responden
(13,3%).
dengan pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe
karena
Binangkang.
memperoleh
Mumpuni dan Utami (2016) menganalisis
sebagian
besar
konseling
(60%)
ASI
sejak
sudah
masa
kehamilan.
pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan
Mujur, dkk (2014) meneliti tentang faktor
faktor sosial demografi terhadap ketahanan
keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di
pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Hasil
Puskesmas Jumpandang Baru tahun 2014
penelitian ini menunjukkan bahwa bayi yang
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang
mendapat IMD dalam waktu lebih dari satu
bermakna antara paritas dengan keberhasilan
jam setelah kelahiran memiliki risiko 1,6 kali
IMD. Pernyataan diatas berbanding terbalik
lebih besar untuk tidak menyusu secara
dengan teori oleh Prawirohardjo mengatakan
eksklusif dibandingkan dengan bayi yang
berdasarkan jumlah paritas, ibu dengan paritas
diberi ASI pertama dalam waktu satu jam
> 3 kali cenderung tidak berhasil melakukan
setelah kelahiran, sedangkan faktor sosial
IMD
demografi yang mempengaruhi ketahanan
kesulitan dalam kehamilan dan persalinannya
pemberian ASI Eksklusif adalah paritas, IMD
terutama kelelahan yang berlebihan sehingga
dan status pekerjaan ibu. Persentase bayi yang
mempengaruhi kestabilan emosinya untuk
berumur 0-6 bulan di Indonesia tahun 2012
melakukan IMD. Sebaliknya, ibu dengan
yang mendapat ASI segera setelah kelahiran
paritas 1 – 3, biasanya memiliki motivasi yang
adalah sebanyak 48,9 persen dan 51,1 persen
besar untuk melakukan dan mengetahui apa
tidak mendapat ASI segera setelah kelahiran.
saja yang bermanfaat bagi bayinya. Selain itu,
Hal
hampir
rentang kelahiran yang ideal dari aspek
sebagian besar ibu belum menyadari akan
kejiwaan memberikan kesempatan kepada
pentingnya pelaksanaan IMD. Bayi yang
orang tua untuk lebih intensif mencurahkan
mendapatkan ASI pertama pada 1 jam setelah
waktu bagi anak pada awal usianya.
ini
menggambarkan
bahwa
karena
biasanya
akan
menghadapi
kelahiran memiliki persentase lebih besar
Penelitian Fitriyani dan Aisyah (2016)
untuk masih diberi makanan ASI saja (41
dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi
persen)
yang
sikap ibu hamil Trimester III dalam persiapan
mendapat ASI pertama lebih dari 1 jam setelah
ladktasi di Kabupaten Pekalongan menemukan
kelahiran (32,2 persen)
bahwa berdasarkan status paritas menunjukkan
dibandingkan
dengan
bayi
Menurut Fahriani dkk. (2014), bahwa tidak
bahwa 61,3% subjek penelitian berstatus
terdapat perbedaan pemberian ASI eksklusif
multigravida. Data uji bivariate menunjukkan
antara primipara dan multipara. Proporsi ASI
hubungan antara paritas dengan sikap ibu
eksklusif yang tinggi pada ibu primipara
dalam
45
mempersiapkan
IMD
dan
ASI
Eksklusif, sebagian ibu hamil (50%) yang
jauh lebih tinggi dibandingkan ibu yang
hamil kedua atau lebih (multigravida) memiliki
melahirkan pertama kali. Jumlah persalinan
sikap baik, begitu juga ibu hamil multigravida
yang pernah dialami ibu juga memberikan
sebagian memiliki sikap kurang, ibu hamil
pengalaman dalam memberikan ASI kepada
yang bekerja. Ibu hamil primigravida lebih dari
bayi. Berdasarkan penelitian dengan semakin
separuh (51,7%) memiliki sikap yang kurang
banyak
dalam mempersiapkan IMD dan ASI Ekslusif.
berpengalaman dalam memberikan ASI dan
Hasil
square
mengetahui cara untuk meningkatkan produksi
menunjukkan terdapat hubungan positif antara
ASI, sehingga tidak ada masalah bagi ibu
paritas
dalam
dalam memberikan ASI (Hastuti, 2006). Pada
mempersiapkan IMD dan ASI Eksklusif
ibu dengan jumlah paritas satu seringkali
namun
menemui masalah dalam memberikan ASI
analisis
dengan
dengan
secara
sikap
uji
ibu
statistik
chi
hamil
tidak
signifikan
(p=0,884).
Hasil
paritas
ibu
akan
semakin
pada bayinya. Masalah yang sering muncul
penelitian
ini
sejalan
dengan
adalah puting susu lecet akibat kurangnya
penelitian Proverawati (2010) bahwa ibu yang
pengalaman yang dimiliki atau belum siap
melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI
menyusui
secara
fisiologis.
Hubungan Antara Berat Bayi Saat Lahir Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe
Binangkang
Tabel 2 Hubungan Antara Berat Bayi Saat Lahir Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe
Binangkang
Berat Bayi Saat Lahir
>2500 gram
<2500 gram
Total
Melakukan IMD
n
%
24
80,0
1
3,3
25
83,3
IMD
Melakukan IMD
n
%
5
16,7
0
0
5
16,7
Total
n
29
1
30
melakukan
berat bayi saat lahir dengan pelaksanaan IMD
(16,7%), sedangkan jumlah responden yang
di RSUD Datoe Binangkang, diperoleh data
berat bayi saat lahir <2500gram sebanyak 1
bahwa jumlah responden yang berat bayi saat
responden (3,3%) dengan yang melakukan
lahir >2500gram sebanyak 29 responden
IMD
(97,3%)
IMD
Berdasarkan hasil analisis uji chi-square
sebanyak 24 responden (80,0%) dan yang tidak
didapatkan hasil dengan nilai p=0,649>α=0,05
yang
melakukan
46
sebanyak
sebanyak
0.649
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara
dengan
IMD
Nilai p
%
97,3
3,3
100,0
1
5
responden
responden
(3,3%).
yang menunjukkan tidak terdapat hubungan
kemampuan untuk menyusu sangat kurang
antara berat bayi saat lahir dengan pelaksanaan
sehingga ASI harus dikeluarkan dan diberikan
dengan pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe
kepada
Binangkang. Hal ini sesuai dengan temuan
mempertahankan kualitas laktasi sampai bayi
Mujur, dkk (2014) yang meneliti tentang faktor
sanggup untuk menghisap sendiri secara
keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di
langsung dari
Puskesmas Jumpandang Baru tahun 2014
Refleks tergantung pada usia gestasi yaitu
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang
refleks
bermakna berat bayi lahir dengan keberhasilan
gestasi minggu 32, koordinasi refleks untuk
IMD. Demikian juga Fauziah, (2009) meneliti
menghisap, menelan dan bernapas biasanya
faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu
terbentuk
menyusui pertama kali pada bayi baru lahir di
(Doengoes & Moorhouse, 2001).
Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta
bayi
secara
manual,
demi
payudara (Moehji, 1988).
rooting terjadi dengan baik pada
pada
gestasi
minggu
ke-
32
Bayi dengan berat badan lahir rendah
Tahun 2009 Desain penelitian adalah deskriptif
(prematur), seharusnya
cross
ibunya sendiri. Bila tidak terdapat komplikasi
sectional
dengan
jumlah
sampel
diberikan ASI dari
sebanyak 77 ibu. Hasil analisa bivariat
seperti
menunjukkan bahwa berat badan bayi saat
malformasi.
lahir
waktu
prematur biasanya mampu menyusui dengan
menyusui bayi baru lahir (p value=0,457).
segera (Supriadi, 2002 dalam Rahardjo, 2005).
Hasil ini berbeda dengan Menurut penelitian
Menurut Brinch (1986) bayi yang lahir dengan
Ratri (2000) bahwa ada hubungan bermakna
berat badan
antara
ataupun bayi kembar dapat tetap diberikan ASI
tidak
berhubungan
dengan
pemberian ASI pertama kali dengan
berat badan bayi saat lahir.
Bayi
yang
lahir
kesulitan pernapasan, sepsis dan
Maka
sebagian
besar
bayi
lahir rendah atau prematur
segera setelah lahir, apalagi bayi dengan berat
sebelum
waktunya
lahir normal dapat segera diberikan ASI pada
(prematur) atau lahir dengan berat badan yang
1 jam pertama setelah kelahirannya, kecuali
sangat rendah mungkin masih terlalu lemah
bayi tersebut lahir dalam kondisi
apabila harus
bermasalah.
menghisap ASI dari ibunya.
yang
Berat badan yang kurang dari 1200 gram
Hubungan Antara Jenis Persalinan Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe Binangkang
Tabel 3 Hubungan Antara Jenis Persalinan Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe Binangkang
Jenis Persalinan
Melakukan IMD
n
%
IMD
Melakukan IMD
n
%
47
Total
n
Nilai p
%
Normal
Tindakan
Total
21
4
25
70,0
13,3
83,3
3
2
5
10,0
6,7
16,7
24
6
30
80,0
20,0
100,0
0,221
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara
persalinan sebanyak 6 responden (20,0%)
jenis persalinan dengan pelaksanaan IMD Di
dengan yang melakukan IMD sebanyak 4
RSUD Datoe Binangkang, diperoleh data
responden (13,3%) dan yang tidak melakukan
bahwa jumlah responden yang jenis persalinan
IMD
normal
(80,0%)
Berdasarkan hasil analisis uji chi-square
dengan yang melakukan IMD sebanyak 21
didapatkan hasil dengan nilai p=0,221>α=0,05
responden (70,0%) dan yang tidak melakukan
yang
IMD
persalinan dengan pelaksanaan IMD Di RSUD
sebanyak
sebanyak
sedangkan
24
3
jumlah
responden
responden
responden
(10,0%),
yang
jenis
sebanyak
2
menunjukkan
responden
tidak
(6,7%).
terdapat
jenis
Datoe Binangkang.
Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan Dengan Pelaksanaan IMD Oleh Bidan Di
RSUD Datoe Binangkang
Tabel 4.Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan Dengan Pelaksanaan IMD Di RSUD Datoe
Binangkang
Dukungan Petugas
Kesehatan
Baik
Kurang Baik
Total
Melakukan IMD
n
%
24
80,0
1
3,3
25
83,3
IMD
Melakukan IMD
n
%
2
6,7
3
10,0
5
16,7
Total
n
26
4
30
Nilai p
%
86,7
13,3
100,0
0,001
Hasil penelitian menunjukkan antara dukungan
dan yang tidak melakukan IMD sebanyak 3
petugas kesehatan dengan pelaksanaan IMD Di
responden (10,0%). Berdasarkan hasil analisis
RSUD Datoe Binangkang, diperoleh data
uji chi-square didapatkan hasil dengan nilai
bahwa jumlah responden yang menjawab baik
p=0,001<α=0,05 yang menunjukkan terdapat
sebanyak 26 responden (86,7%) dengan yang
dukungan
melakukan IMD sebanyak 24 responden
pelaksanaan
(80,0%) dan yang tidak melakukan IMD
Binangkang.
petugas
IMD
kesehatan
Di
RSUD
dengan
Datoe
sebanyak 3 responden (6,7%), sedangkan
Hasil penelitian di atas sejalan dengan hasil
jumlah responden yang menjawab kurang baik
penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2012),
sebanyak 4 responden (13,3%) dengan yang
bahwa dukungan tenaga kesehatan yang
melakukan IMD sebanyak 1 responden (3,3%)
menolong persalinan sebagai faktor penguat
48
untuk pemberian ASI Eksklusif kepada bayi.
bayi yang baru lahir di Rumah Sakit Umum
Tenaga kesehatan juga memerlukan sikap yang
Daerah Makassar dengan populasi seluruh ibu
mendukung
melalui
yang telah melakukan persalinan dengan
pengalaman dan pengertian mengenai berbagai
besaran sample sebanyak 100 responden. Hasil
keuntungan emberian ASI. Tenaga kesehatan
penelitian
membina
hubungan antara dukungan layanan dengan
terhadap
atau
menyusui
membangun
kembali
kebudayaan menyusui dengan meningkatkan
menunjukkan
bahwa
terdapat
pemberian IMD (p = 0. 000).
sikap positif yang sekaligus dapat menjadi
Yunus (2013) meneliti faktor-faktor yang
teladan bagi wanita lainnya (Anonim, 2004).
Berhubungan dengan Pelaksanaan Inisiasi
Syafrina
bahwa
Menyusu Dini (IMD) di Wilayah Kerja
keberhasilan dalam pelaksanaan IMD tidak
Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun 2013.
hanya dari dukungan suami dan keluarga tetapi
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai
juga dari petugas kesehatan.
χ2hitung=62,956 dan ρ
(2011),
Penelitian
yang
menyatakan
dilakukan
oleh
χ2tabel dan ρ
Ratri
Value
Value=0,000
maka χ2hitung >
< α 0,05, berarti ada hubungan
(2000), menemukan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara dukungan petugas
bermakna antara pemberian ASI pertama kali
kesehatan terkait pelaksanaan IMD. Setelah
dengan pemberian nasehat ASI yang diterima
diuji keeratan hubungan dengan uji koefisien
saat
Phi
pemeriksaan
kehamilan.
Ibu
yang
(RØ)
diperoleh
nilai
0,903
yang
menerima nasehat tentang ASI memiliki rata-
menunjukkan bahwa antara pengetahuan ibu
rata pemberian ASI pertama kali paling cepat
dan pelaksanaan IMD mempunyai tingkat
yaitu 26,25 jam setelah lahir.
hubungan sangat kuat.
Penelitian Khoniasari, (2015) menunjukkan
Aprina (2015) melakukan penelitian untuk
bahwa peran tenaga kesehatan khususnya
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
bidan memiliki hubungan positif dan secara
dengan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini
statistik
(IMD)
hubungan
pelaksanaan
IMD
peran
bidan
terbukti
dengan
di
RSIA
Mutiara
Putri
Bandar
signifikan.
Lampung. Populasi penelitian adalah semua
Berdasarkan data hasil penelitian tersebut,
ibu post partum di RSIA Mutiara Putri Bandar
peran bidan yang besar memiliki kemungkinan
Lampung pada tahun 2014 yaitu sebanyak 360
meningkatkan pelaksanaan IMD oleh ibu 34.27
orang dengan besar sampel sebanyak 78 orang.
kali lebih besar dari pada peran bidan yang
Hasil penelitian menunjukkan responden yang
kecil. Adam dkk (2016) meneliti pengaruh
tidak mau melaksanakan IMD sebanyak 53
pengetahuan, dukungan tenaga kesehatan dan
responden (67,9%), tidak pernah melakukan
social budaya terhadap pemberian IMD pada
IMD sebelumnya 51 responden (65.4%),
49
bersikap positif terhadap pelaksanaan IMD 42
hingga kesehatan yang baik terkait IMD,
responden (53,8%), mendapatkan dukungan
terdapat
dari petugas kesehatan terhadap pelaksanaan
(64,3%) yang melaksanakan IMD dan 15
IMD 48 responden (61,5%). Hasil analisis
responden (35,7%) yang tidak melaksanakan
bivariate menunjukkan terdapat hubungan
IMD, sedangkan dari 29 responden yang tidak
yang signifikan antara
dukungan petugas
IMD. Keadaan yang tampak dari lingkungan
kesehatan (p value 0,040) dengan pelaksanaan
sekitar mendapatkan dukungan dari petugas
IMD di RSIA Mutiara Putri Bandar Lampung
kesehatan ibu khususnya lingkungan sosial
(p value 0,006).
dapat dinilai terkait IMD, terdapat 2 responden
27
pasca
persalinan
responden
Petugas kesehatan penolong persalinan
(6,9%) yang mempengaruhi pengetahuan ibu.
merupakan kunci utama keberhasilan IMD
Sebagian besar melaksanakan IMD dan 27
karena dalam waktu tersebut peran dan
responden (93,1%) yang ibu yang memiliki
dukungan penolong persalinan masih sangat
pengetahuan
dominan.
persalinan
melaksanakan IMD. Berdasarkan hasil uji
memfasilitasi ibu untuk segera memeluk
statistik dengan chi square diperoleh nilai ? =
bayinya
bayi
21,069 dan = hitung Value 0,000. Tingkat
diharapkan segera terjadi. Dengan pelaksanaan
kepercayaan 95% (a=0, maka diantara mereka
IMD, ibu semakin percaya diri untuk tetap
beranggapan bahwa tidak perlu diperoleh
memberikan ASI nya sehingga tidak merasa
=3,841.
perlu
atau
memeriksakan kehamilan di posyandu, yang
minuman kepada bayinya dan bayi akan
lainnya pengambilan keputusan penelitian
merasa nyaman menempel pada payudara ibu
hipotesis
dan tenang dalam pelukan ibu segera setelah
demikian yang pada (Budiarto, 2002) bahwa
lahir. (Roesli, 2010)
jika ? (21,069) > hitung tabel dan ? (0,000) <
Apabila
maka
untuk
penolong
interaksi
memberikan
ibu
dan
makanan
kurang
Sesuai
pun
terkait
dengan
akan
IMD
dasar
beranggapan
tidak
table
seperti
Rusada dkk (2016) meneliti faktor yang
0,05 maka H ditolak atau Ha akhirnya tidak
berhubungan dengan pelaksanaan program
salah seorang pun diantara mereka Value
inisiasi menyusu dini (IMD) di puskesmas
0diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa
Poasia Kota Kendari Tahun 2016. Hasil
ada yang mendapatkan informasi mengenai
penelitian menunjukkan adanya hubungan
IMD dari petugas kesehatan di posyandu yang
antara dukungan petugas kesehatan dengan
berdampak hubungan yang bermakna antara
pelaksanaan IMD (p = 0,000). Dari 47
dukungan
responden yang memiliki dukungan petugas
pelaksanaan IMD di wilayah kerja puskesmas
menangani responden mulai dari persalinan
Poasia Kota Kendari tahun 2016.
50
petugas.
kesehatan
dengan
Apabila petugas kesehatan tidak terampil
3. Tidak terdapat hubungan antara jenis
dalam penerapan langkah – langkah dalam
persalinan dengan pelaksanaan IMD di
IMD maka kemungkinan besar IMD akan
ruang bersalin RSUD Datoe Binangkang
gagal dilaksanakan pascapersalinan, selain
4. Terdapat
hubungan
antara
dukungan
dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, sikap ibu
petugas kesehatan dengan pelaksanaan
serta dukungan suami. Rahmaania (2014)
IMD di ruang bersalin RSUD Datoe
meneliti gambaran sistem pelatihan terkait
Binangkang
inisiasi menyusui dini (IMD) di RSIA Srikandi
Kabupaten Jember. Hasil dari penelitian
SARAN
menunjukkan, bahwa tahap pengkajian terdiri
Bagi Dinas Kesehatan Kota Kotamobagu untuk
dari penentuan kebutuhan, tujuan, dan kriteria
lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan
evaluasi.
mengenai inisiasi menyusu dini (IMD) bagi
Kekurangannya
dalam
kriteria
evaluasi, RSIA Srikandi hanya mentapkan
calon
kriteria
mendapatkan
evaluasi
pengetahuan.
Tahap
ibu,
ibu
hamil
informasi
dan
suami
mengenai
agar
IMD
implementasi terdiri dari penentuan metode,
sehingga dapat menambah pengetahuan ibu,
pengaturan, dan penyelenggaraan pelatihan.
mengubah sikap ibu terkait IMD dan ibu dapat
Pada tahap implementasi terdapat beberapa
mempersiapkan kondisi fisik dan mentalnya
hambatan
untuk melaksanakan IMD serta suami dapat
yakni
penyusunan
jadwal
dan
pemberian umpan balik. Terakhir, tahap
mendampingi
evaluasi yang terdiri dari evaluasi reaksi dan
kepada istri pada saat pelaksanaan IMD
belajar.
berbekal informasi yang diperoleh.
tersebut
Kekurangannya
tidak
dapat
adalah
evaluasi
dan
memberikan
dukungan
mengevaluasi
keterampilan, kompetensi, dan komitmen.
DAFTAR PUSTAKA
Fitriyani dan Aisyah. 2015. Faktor-Faktor
KESIMPULAN
Yang Mempengaruhi Sikap Ibu Hamil
1. Tidak terdapat hubungan antara paritas
Trimester III Dalam Persiapan Ladktasi Di
dengan pelaksanaan IMD di ruang bersalin
Kabupaten Pekalongan. MOTORIK, VOL
rumah sakit RSUD Datoe Binangkang
.11 NOMOR 22. STIKES Muhammadiyah
2. Tidak terdapat hubungan antara berat bayi
Klaten.
saat lahir dengan pelaksanaan IMD di
http://ejournal.stikesmukla.ac.id/index.php/
ruang bersalin RSUD Datoe Binangkang
motor/article/view/251
Anonimous. 2016. Profil dan Laporan RSUD
Datoe Binangkang Kota Kotamobagu
51
Anonimous. 2013a. Laporan Riset Kesehatan
Dasar
2013,
Balitbangkes
Rahmaania, R., Y. T. Herawati, dan C. Sandra.
Kemenkes
2014. Gambaran Sistem Pelatihan Terkait
RI.Jakarta
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di RSIA
Edmond. K. 2014. Effect of early infant
feeding
practice
neonatal
on
mortality
Srikandi
infection-specific
in
rural
Kabupaten
Jember.
Bagian
Administrasi dan Kebijakan Kesehatan,
Ghana.
Fakultas
American Journal Nutrition vol.86
Kesehatan
Masyarakat,
Universitas Jember
Forster, D.A., H.M. Johns., H. L. McLachlan.,
Ratri,
C.
2000.
Faktor-Faktor
A.M. Moorhead., K. M.McEgan and L. H.
Berhubungan
Amir. 2015. Feeding infants directly at the
Pertama Kali di Purwakarta Jawa Barat
breast during the postpartum hospital stay is
tahun
associated with increased breastfeeding at 6
Pengembangan Survei Cepat Untuk Menilai
months postpartum: a prospective cohort
Kualitas Pelayanan KIA di DT II). Skripsi.
study BMJ Open 2015;5:e007512. doi:
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat
10.1136/bmjopen-2014-007512
Universitas Indonesia
Lowdermilk.
P.
C.
2013.
Keperawatan
Editor
Sujono
Dini (IMD) Di Puskesmas Poasia Kota
Kendari
Mumpuni, R. S. dan E. D. Utami. 2016.
Demografi
Tahun.
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat Universitas Halu Oleo
Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (Imd) Dan
Sosial
Sekunder
Pelaksanaan Program Inisiasi Menyusu
Riyadi.Yogyakarta: PustakaBelajar.
Faktor
Data
ASI
2016. Faktor Yang Berhubungan Dengan
Maritalia, D. 2012. Asuhan Kebidanan Nifas
Menyusui.
(Analisa
Pemberian
Rusada, D. A., S. Yusran, dan N. N. Jufri.
Maternitas. Singapura: Elsevier Mosby
dan
1998
Dengan
yang
Taringan, I. 2012. Pengetahuan Dan Sikap
Terhadap
Perilaku Ibu Dan Bayi Terhadap Pemberian
Ketahanan Pemberian Asi Eksklusif E-
ASI Ekslusif. Jakarta : Pusat Humaniora,
Journal Widya Kesehatan Dan Lingkungan
Kebijakan Kesehatan Dan Pemberdayaan
116 Volume 1 Nomor 2 April
Masyarakat,
Pem, D. 2015. Factors Affecting Early
Childhood
Growth
and
Pengembangan
Development:
Keseharan RI
Golden 1000 Days”. Adv Practice Nurs
1:101. Faculty of Nursing and Public
Health, Khesar Gyalpo University of
Medical
Sciences
of
Bhutan.
doi:10.4172/apn.1000101
52
Badan
Penelitian
Kesehatan,
Dan
Kementerian
Download