8 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori 1. Adversity Quotient a

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Adversity Quotient
a. Pengertian Adversity Quotient
Kemampuan peserta didik dalam merespon menghadapi kesulitan
atau keadaan yang tidak diinginkan disebut dengan adversity quotient.
Adversity quotient menjadi bagian penting bagi peserta didik dalam
kehidupan sehari–hari, untuk menghadapi setiap kesulitan yang sedang di
hadapi. Nashori (2007: 47) menjelaskan bahwa adversity quotient
merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya
untuk mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika
menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya.
Berdasarkan paparan tersebut dapat dimaknai bahwa adversity quotient
merupakan suatu kemampuan individu untuk dapat bertahan dalam
menghadapi segala macam kesulitan sampai menemukan jalan keluar,
memecahkan berbagai macam permasalahan, mereduksi hambatan dan
rintangan dengan mengubah cara berfikir dan sikap terhadap kesulitan
tersebut.
Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, terdapat hal yang
menarik, yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik maupun
psikis dalam menghadapi problematika atau permasalahan yang sedang
dialami. Stoltz (2000: 9) menjelaskan bahwa adversity quotient sebagai
kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara
teratur. Penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa adversity quotient
membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunan dalam
menghadapi tantangan hidup sehari-hari seraya tetap berpegang teguh
pada prinsip dan impian tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi.
8
9
Stoltz (2004: 9) menyebutkan Adversity Quotient (AQ) mempunyai
3 bentuk, yaitu (1) sebagai kerangka kerja konseptual yang baru untuk
memahami dan meningkatkan semua jenis kesuksesan, (2) suatu ukuran
untuk mengetahui respon terhadap kesulitan, (3) serangkaian peralatan
yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon terhadap kesulitan.
Hal tersebut dapat dimaknai bahwa adversity quotient dapat membantu
peserta didik memperkuat respon, kemampuan dan ketekunan dalam
menghadapi tantangan hidup sehari-hari dengan tetap berpegang pada
prinsip-prinsip, kekuatan dan harapan. Semakin tinggi tingkat adversity
quotient maka semakin besar peserta didik untuk bersikap optimis dan
inovatif dalam memecahkan masalah. Sebaliknya, semakin rendah tingkat
adversity quotient maka semakin mudah peserta didik untuk menyerah.
Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
adversity quotient (AQ) adalah kemampuan dan ketahanan seseorang
dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, hambatan, sekaligus mengubah
kesulitan maupun kegagalan tersebut menjadi peluang untuk meraih tujuan
atau kesuksesan.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adversity Quotient
Stoltz
(2005:40)
menyatakan
faktor-faktor
untuk
sukses
digambarkan seperti pohon pinus yang perkasanya tumbuh menganjur dari
tebing granit, pohon tersebut memiliki daun: kinerja, cabang: bakat dan
kemauan, batang: kesehatan dan karakter, akar: genetika, pendidikan dan
keyakinan.
Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
1) Daun
a) Kinerja
Salah satu keberhasilan seseorang dalam menghadapi suatu
masalah dan meraih tujuan hidup dapat dilihat dan diukur lewat
kinerja. Hal tersebut karena kinerja merupakan salah satu hal
yang paling mudah untuk dilihat oleh orang lain.
10
Peserta didik yang dapat mengatasi kesulitan dapat dilihat dari
kinerjanya yang baik, apa bila kinerja peserta didik tidak baik
maka peserta didik belum bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi
tersebut.
2) Cabang
a) Bakat
Kemampuan dan kecerdasan seseorang dalam menghadapi suatu
kondisi yang tidak menguntungkan bagi dirinya salah satunya
dipengaruhi oleh bakat. Bakat adalah gabungan pengetahuan,
kompetensi, pengalaman dan keterampilan.
Peserta didik yang memiliki bakat pada bidang tertentu akan
sangat membantu untuk mencapai kesuksesannya pada bidang
tersebut. Bakat peserta didik harus disalurkan sesuai dengan
bidangnya supaya bisa berkembang, apa bila bakat peserta didik
salah dalam penyaluran maka peserta didik akan terganggu.
b) Kemauan
Kemauan merupakan tenaga pendorong untuk mencapai suatu
kesuksesan dalam hidup. Kemauan menggambarkan motivasi,
antusias, gairah, dorongan, ambisi, semangat yang menyala, dan
mata yang bersinar.
Peserta didik yang memiliki kemauan yang kuat untuk mencapai
kesuksesan akan menghantarkan menuju keberhasilan yang akan
diraihnya karena kemauan yang kuat tersebut adalah sikap
optimis peserta didik dalam menghadapi setiap tantangantantangan dan hambatan-hambatan yang di hadapinya, apabila
peserta didik tidak memiliki kemauan yang kuat maka peserta
didik
akan
pesimis
menghadapi
tantangan-tantangan
hambatan-hambatan yang sedang dihadapi.
dan
11
3) Batang
a) Kesehatan
Kesehatan emosi dan fisik juga dapat mempengaruhi kemampuan
dalam menggapai kesuksesan. Jika sakit, penyakitnya akan
mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi.
Kesehatan berpengaruh terhadap peserta didik dalam menghadapi
kesulitan, apabila peserta didik sedang sakit maka berpengaruh
terhadap kesulitan yang sedang dihadapinya karena peserta didik
terganggu dengan kondisi kesehatannya sehingga tidak mampu
menghadapi kesulitan tersebut sedangkan apabila peserta didik
dalam kondisi yang sehat maka peserta didik tidak terganggu
dalam menghadapi setiap kesulitannya.
b) Karakter
Seseorang yang mempunyai karakter baik, semangat, tangguh dan
cerdas akan memiliki kemampuan untuk mencapai sukses.
Karakter merupakan bagian yang penting bagi kita untuk meraih
kesuksesan dan hidup berdampingan secara damai.
Peserta didik yang memiliki karakter yang baik, cerdas, semangat,
tangguh dan cerdas akan memiliki adversity quotient yang tinggi
sehingga peserta didik akan memiliki kemampuan untuk
mencapai sukses.
4) Akar
a) Genetika
Meskipun warisan genetis tidak akan menentukan nasib
seseorang, namun faktor ini pasti memiliki pengaruh terhadap
perilaku seseorang. Salah satu penelitian telah mengkaji anak
kembar, dimana meskipun anak kembar dibesarkan dalam
lingkungan
yang
berbeda,
kemiripan-kemiripan
dalam
berperilaku tetap saja ada.
Penjelasan Faktor genetika tersebut yaitu faktor yang berasal dari
dalam diri peserta didik yang diwariskan oleh orang tuanya yang
12
bersifat bawaan, apabila orang tua nya memiliki adversity
quotient yang tinggi maka anaknya memiliki adversity quotient
yang tinngi juga.
b) Pendidikan
Salah satu sarana dalam pembentukan sikap dan perilaku adalah
melalui pendidikan. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua, di
sekolah maupun masyarakat akan membentuk kemampuan dalam
menghadapi situasi dan mempengaruhi kinerja seseorang.
Melalui pendidikan karakter peserta didik di bentuk, peserta didik
yang semulanya tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan
saat mengalami kesulitan melalui pendidikan peserta didik di
ajarkan bagaimana harus bertindak saat sedang mengahadapi
kesuitan tersebut.
c) Keyakinan
Orang yang sukses, pasti memiliki tingkat keyakinan yang kuat
atas sesuatu. Keyakinan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu masalah serta
membantu seseorang dalam mencapai tujuan hidup.
Keyakinan peserta didik yang kuat dalam menghadapi setiap
tantangan-tantangan dan hambatan-hambatannya merupakan
faktor mencapai kesuksesan bagi peserta didik tersebut. Peserta
didik yang memiliki keyakin kuat dalam menghadapi kesulitan
pasti akan memiliki sikap optimisme daripada peserta didik yang
tidak memiliki keyakinan kuat maka akan pesimis dalam
menghadapi setiap kesulitan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang terdiri dari daun: kinerja, cabang: bakat dan kemauan,
batang: kesehatan dan karakter, akar: genetika, pendidikan dan keyakinan,
merupakan faktor-faktor penting yang mempengaruhi adversity quotient
atau kemampuan dalam mengatasi kesulitan seseorang.
13
Apabila faktor-faktor tersebut dapat terpenuhi pada diri seseorang
maka seseorang tersebut memmiliki adversity quotient yang tinggi untuk
mencapai sukses, Sebaliknya jika faktor-faktor tersebut tidak terpenuhi
maka seseorang tersebut memiliki adversity quotient yang rendah.
c. Aspek-aspek Adversity Quotient
Stoltz (2005:140) menyaebutkan bahwa adversity quotient terdiri
atas empat dimensi CO2RE, dimensi ini menjadi aspek-aspek dari
adversity quotient (AQ). CO2RE yaitu control, origin, ownership, reach
dan endurance. Aspek-aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Control (C) atau kendali
Kemampuan seseorang dalam mengendalikan dan mengelola sebuah
peristiwa yang menimbulkan kesulitan di masa mendatang. Kendali
diri tersebut akan berdampak pada tindakan selanjutnya atau respon
yang dilakukan individu bersangkutan, tentang harapan dan idealitas
individu untuk tetap berusaha keras mewujudkan keinginannya walau
sesulit apapun keadaannya sekarang.
2) Origin (Asal-usul) dan Ownership (pengakuan) (O2)
Sejauh mana seseorang mempermasalahkan dirinya ketika mendapati
bahwa kesalahan tersebut berasal dari dirinya, atau sejauh mana
seseorang mempermasalahkan orang lain atau lingkungan yang
menjadi sumber kesulitan atau kegagalan seseorang. Rasa bersalah
yang tepat akan menggugah seseorang untuk bertindak sedangkan rasa
bersalah yang terlampau besar akan menciptakan kelumpuhan. Poin ini
merupakan pembukaan dari poin ownership.
Ownership mengungkap sejauh mana seseorang mengakui akibatakibat kesulitan dan kesediaan seseorang untuk bertanggung jawab
atas kesalahan atau kegagalan tersebut.
3) Reach (R) atau jangkauan
Reach adalah dimensi dari adversity quotient yang mempertanyakan
sejauh mana kesulitan akan menjangkau bagian-bagian dari kehidupan
individu yang bersangkutan. Adversity quotient yang rendah pada
14
individu akan membuat kesulitan merembes ke segi-segi lain dari
kehidupan seseorang.
4) Endurance (E) atau daya tahan
Endurance adalah aspek ketahanan individu, yaitu aspek yang
mempertanyakan berapa lamakah kesulitan akan berlangsung dan
berapa lamakah penyebab kesulitan itu akan berlangsung.Hal ini
berkaitan dengan pandangan individu terhadap kepermanenan dan
ketemporeran kesulitan yang berlangsung. Efek dari aspek tersebut
adalah pada harapan tentang baik atau buruknya keadaan masa depan.
Makin tinggi daya tahan seseorang, semakin mampu menghadapi
berbagai kesukaran yang dihadapinya.
Aspek-aspek tersebut akan digunakan sebagai dasar pemubuatan
angket, terdapat empat aspek tersebut adalah control (kendali), origin (asal
usul) dan Ownership (pengakuan), reach (jangkauan), serta endurance
(daya tahan) kemudian di uraikan menjadi beberapa indikator dan
selanjutnya direalisasi lagi menjadi bebeapa item angket.
2. Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang dapat
membantu peserta didik memecahkan masalah secara bersama di dalam
suatu kelompok. Kegiatan bimbingan kelompok akan terlihat hidup jika di
dalamnya terdapat dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan
media efektif bagi anggota kelompok atau peserta didik dalam
mengembangkan adversity quotient atau kemampuan menghadapi
masalah.
Tatik (2001:3) menjelaskan bahwa bimbingan kelompok
merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu
agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan
kemampuan, bakat, minat serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksankan
dalam situasi kelompok. Pejelasan tersebut dapat dimaknai bahwa
bimbingan kelompok dilaksanakan sebagai salah satu layanan bimbingan
15
yang di berikan kepada peserta didik untuk membantu mencegah
timbulnya masalah pada peserta didik dan mengembangkan kemampuan
yang dimilikinya dengan situasi kelompok yang disebut dengan bimbingan
kelompok.
Prayitno (1995:61) menjelaskan bahwa bimbingan kelompok
merupakan suatu upaya bimbingan kepada individu melalui kelompok
dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan
bimbingan dan konseling. Penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa
dalam kegiatan bimbingan kelompok dinamika kelompok menjadi sarana
untuk mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling, karena
dinamika kelompok mampu menciptakan interaksi antar individu di dalam
kelompok sehingga mampu memahami dirinya di dalam mengadakan
penyesuaian diri dan masalah dapat terpecahkan bersama. Sukardi (2003:
48) mengemukakan bahwa Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan
untuk memungkinkan peserta didik secara bersama-sama memperoleh
berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang
bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun
sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Eddy Wibowo (2005:
17) menjelaskan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan
kelompok untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai
tujuan-tujuan bersama. Berdasarkan paparan tersebut dapat dijelaskan
bahwa bimbingan kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam
pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa bimbingan
kelompok tersebut memberi dorongan dan motivasi kepada individu untuk
mengubah diri dengan memanfaatkan kemampuan yang di miliki secara
optimal, sehingga mempunyai kemampuan dalam mengahadapi setiap
permasalahan.
Berdasarkan beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas,
dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan
kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan
16
dinamika kelompok yaitu adanya interaksi antara angota kelompok saling
mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, dan saran untuk
memecahkan masalah yang dihadapi oleh anggota kelompok.
b. Pengertian Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama
Sosiodrama merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk
memberikan layanan bimbingan kelompok di sekolah dengan cara
memerankan perilaku yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial.
Djumhur (1986:109) menjelaskan bahwa sosiodrama dipergunakan
sebagai suatu teknik memecahkan masalah-masalah sosial dengan melalui
kegatan permainan peran. Penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa
dengan adanya kegiatan sosiodrama peserta didik dapat memecahkan
masalah sosial melaului permainan peran dalam kelompok. Romlah
(2001:14) menjelaskan bahwa sosiodrama merupakan permainan yang
ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan
antar manusia. Penjeasan tersebut dapat diartikan bahwa sosiodrama dapat
membantu peserta didik yang mempunyai masalah dalam kaitannya
dengan lingkungan atau orang lain yang bersifat sosial.
Herman J. Waluyo (2002:54) menjelaskan bahwa sosidrama
merupakan bentuk pendramatisan peristiwa-peristiwa kehidupan seharihari yang terjadi dalam masyarakat. Tohirin (2009:293) mengemukakan
bahwa sosiodrama merupakan suatu cara membantu memecahkan masalah
peserta didik melauli drama. Winkel (1991: 470) menjelaskan bahwa
sosiodrama merupakan dramatisasi dari persoalan-persoalan yang dapat
timbul dalam pergaulan dengan orang lain termasuk konflik-konflik yang
dialami dalam pergaulan sosial. Berdasarkan paparan tersebut dapat
dimaknai bahwa teknik sosiodrama merupakan salah satu teknik yang
digunakan untuk memberikan layanan bimbingan kelompok di sekolah
dengan cara memerankan perilaku yang berkaitan dengan masalahmasalah sosial.
17
Beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa bimbingan
kelompok teknik sosiodrama merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
oleh sekelompok individu dengan cara bermain peran, yang bertujuan
untuk membantu individu memecahakan masalah sosial yang dihadapinya
melalui dinamika kelompok yang dibangun dari dalam bimbingan
kelompok. Anggota kelompok dapat membangun interaksi dengan orang
lain, belajar menyesuaikan diri dan menghadapi konflik-konflik yang
terjadi dalam kelompok.
c. Tujuan Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama
Sosiodrama sebagai teknik dalam bimbingan kelompok merupakan
kegiatan yang bertujuan untuk memecahkan masalah sosial yang terjadi
pada anggota kelompok. Romlah (2006:104) menjelaskan bahwa
sosiodrama lebih merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mendidik atau
mendidik kembali daripada kegiatan penyembuhan. Penjelasan tersebut
menyatakan bahwa tujuan sosidrama adalah mendidik peserta didik untuk
mengarahkan pserta didik ake arah yang lebih positif dalam menghadapi
masalah sosial.
Sukmadinata (2012:57)
mengemukakan bahwa sosiodrama
merupakan kegiatan yang bertujuan mendidik serta penyembuhan individu
yang mengalami permaslahan sosial. Mendidik yang dimaksud adalah
memberikan pengarahan serta pengetahuan untuk arah yang jelas agar
individu mampu mengahdapi permasalahanya.
Melihat tujuan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas
maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari bimbingan kelompok teknik
sosiodrama bertujuan untuk mendidik dan mengarahkan individu pada
kemampuan menghadapi masalah yang terjadi pada kehidupan sosial
karena rendahnya adversity quotient yang dimiliki peserta didik maka
perlu ditingkatkan dengan cara bermain peran dalam anggota kelompok.
18
d. Prosedur Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Teknik Sosiodrama
Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan tentu dibutuhkan prosedur
atau langkah-langkah yang harus disiapkan terlebih dahulu sebelum
pelaksanaan kegiatan. Bimbingan kelompok teknik sosiodrama merupakan
sebuah kegiatan, yang menggunakan prosedur atau langkah-langkah yang
harus diperhatikan sebelum melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok
teknik sosiodrama. Romlah (2006:104 ) menyebutkan langkah-langkah
pelaksanaan bimbingan
menentukan
anggota
kelompok
kelompok
sosiodrama
yang
akan
adalah
persiapan,
memainkan
peran,
menentukan kelompok penonton, pelaksanaan sosiodrama, evaluasi dan
diskusi serta ulangan permainan.
Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama yang dijelaskan oleh
Romlah dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Persiapan
Kegiatan bimbingan kelompok teknik sosiodrama perlu sebuah
persiapan agar dalam pelaksanaannya nanti berjalan sesuai dengan
tujuan yang diharapkan, yaitu fasilitator menjelaskan masalah yang
akan djadikan tema serta tujuan dari kegiatan bimbingan kelompok
teknik sosiodrama.
b. Menentukan anggota kelompok yang akan memainkan peran.
Pemilihan peran dalam bimbingan kelompok teknik sosiodrama
dilakukan oleh fasilitator secara suka rela kepada anggota kelompok
yang sesuai dengan kebutuhan pada skenario.
c. Menentukkan kelompok penonton
Kelompok penonton adalah anggota dari kelompok lain yang tidak
bermain saat itu, kelompok yang bertugas mengamati jalannya
sosiodrama
seta
mengobservasi
pelaksanaan
sosiodrama
dan
mendiskusikan hasil pengamatannya setelah pelaksanaan sosiodrama
selesai.
d. Pelaksanaan sosiodrama
Pada pelaksanaan sosiodrama antara anggota yang bermain peran
19
dengan anggota sebagai penonton diharapkan terjadi identifikasi dari
peran-peran yang dimainkan. Pemeran diharapkan dapat benar-benar
memerankan sesuai posisi yang dimainkan sehingga dapat terjadi
pemecahan masalah.
e. Evaluasi dan diskusi
Setelah kegiatan sosiodrama selesai diadakan evalusi dan diskusi
dari pelaksanaan sosiodrama berdasarkan hasil pengamatan dan
penilaian anggota kelompok penonton dan peneliti. Evaluasi dan
diskusi di arahkan pada tanggapan-tanggapan mengenai peran yang
sudah dimainkan serta kesan pesan yang bisa di ambil pada permainan
sosiodrama yang sudah dilaksanakan.
f. Ulangan Permainan
Sosiodrama dapat diulang, ulangan sosiodrama dapat dilakukan
berbagai cara. Romlah (2006: 105) menjelaskan bahwa beberapa cara
mengulang sosiodrama yaitu bertukar peran, peran ganda, teknik
cermin, teknik kursi kosong, dan bermain peran sendiri. Penjelasan
tersebut dapat dimaknai bahwa cara mengulang sosiodrama dapat
dilakukan dengan bertukar peran antara peran peserta didik yang
dengan peserta didik yang lain, peserta didik melakukan peran ganda,
peserta didik melakukan peermainan drama dengan teknik cermin dan
peserta didik bermain drama sendiri. Ulangan permainan dilakukan
supaya peserta didik dapat menghayati permainan yang dilakukan dan
peserta didik dapat memperbaiki penampilannya di permainan yang
sebelumnya.
Herman J. Waluyo (2002: 19) menyebutkan beberapa langkah
untuk mengefektifkan sosiodrama:
1) Menetapkan problem
2) Mendiskripsikan situasi konflik
3) Pemilihan pemain
4) Memberika penjelasan dan pemanasan bagi aktor dan pengamat
20
5) Memerankan situasi tersebut
6) Memotong adegan
7) Mendiskusikan dan menganalisis stuasi, kelakuan dan gagasan yang
diproduksi
8) Menyusun rencana untuk testing lebih lanjut atau inplementasi
gagasan baru.
Langkah-langkah tersebut dapat diuraikan secara rinci sebagai berikut:
1) Menetapkan problem
Menentukan masalah sosial yang akan dipecahkan menggunakan
sosiodrama.
2) Mendiskripsikan situasi konflik
Mengambarkan konflik-konflik yang muncul pada saat permainan
drama yang muncul pada naskah drama supaya peserta didik
memahami konflik-konflik yang akan terjadi pada saat permainan
peran berlangsung.
3) Pemilihan permainan
Memilih pemain dapat dipilihkan oleh pembimbing yaitu anggota
kelompok yang mempunyai masalah dan juga dapat dilakukan secara
sukarela, peserta didik memilih peran sesuai kehendaknya.
4) Memberikan penjelasan dan pemanasan bagi aktor dan pengamat
Sebelum memulai sosiodrama, tugas pembimbing memberikan
penjelasan tentang permainan drama yang akan di mainkan kepada
peserta didik supaya peserta didik tidak mengalami kesulitan. Peserta
didik juga diberikan waktu untuk latihan sebagai pemanasan.
5) Memerankan situasi tersebut
Peserta didik memerankan sesuai perannya masing-masing.
6) Memotong adegan
Memotong adegan yaitu menghentikan permainan drama pada saat
sosiodrama berlangsung ketika terjadi permasalahan dalam permainan
seperti peserta didik yang tidak jelas dengan perannya kemudian
21
dijelaskan lalu dilanjutkan lagi.
7) Mendiskusikan dan menganalisis stuasi, kelakuan dan gagasan yang
diproduksi
Tugas kelompok pengamat tugasnya berdiskusi dan menganalisis
tentang sosiodrama yang dimainkan kelompok pemain.
8) Menyusun rencana untuk testing lebih lanjut atau inplementasi
gagasan baru.
Pembimbing menyusun rencana tindak lanjut atas hasil yang
diperoleh dari pengamatannya.
Berdasarkan paparan dari beberapa ahli tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa prosedur atau
langkah pelaksanaan bimbingan
kelompok teknik sosiodrama adalah
persiapan, membuat skenario,
menentukan kelompok pemain dan kelompok penonton, melaksanakan
sosiodrama, melakukan evaluasi dan refleksi serta rencana tindak lanjut.
Dalam penelitian ini menggunakan prosedur atau atau
langkah
pelaksanaan bimbingan kelompok teknik sosiodrama menurut Herman J
Waluyo.
3. Karakteristik Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama
Fase remaja adalah masa kehidupan individu menjelang dewasa. Pada
jenjang tersebut kebutuhan remaja semakin kompleks, interaksi sosial dan
pergaulan remaja cukup luas. Pada akhirnya remaja perlu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma
pergaulan yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam
keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan dalam pergaulannya
dengan sesama remaja.
Remaja memiliki karakteristik yang berbeda-beda, hal tersebut dapat
dilihat dari perilaku yang ditunjukan oleh remaja dalam merespon peristiwa
yang ada di sekitarnya. M. Ali dan M. Asrori (2004: 16) menyebutkan perilaku
yang ditunjukan oleh remaja yaitu 1) kegelisahan, 2) pertentangan, 3)
22
mengkhayal, 4) Aktivitas berkelompok, dan 5) Keinginan mencoba segala
sesuatu. Perilaku remaja tersebut dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut :
1) Kegelisahan
Remaja memiliki keinginan yang banyak, namun remaja belum memiliki
kemampuan yang cukup untuk mencapai semua keinginannya tersebut.
Hal tersebut menyebabkan timbulnya perasaan gelisah pada diri remaja.
2) Pertentangan
Remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa,
terkadang remaja mengagap dirinya sudah dewasa sehingga memiliki
keinginan untuk mandiri dan lepas dari orang tua, tetapi remaja tidak
berani mengambil resikonya sendiri dan masih bergantung pada orang tua.
Hal tersebut menimbulkan pertentangan dalam diri remaja.
3) Mengkhayal
Remaja memiliki banyak harapan dan impian yang ingin dicapai, tetap
remaja belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mencapai semua
harapan dan impiannya tersebut. Hal tersebut menyebabkan remaja
mengkhayalkan harapan-harapan dan impian-impiannya.
4) Aktivitas berkelompok
Aktivtas kelompok pada dasarnya dapat merupakan kegiatan yang positif
untuk saling berinteraksi antar teman dalam kelompok untuk bertukar
pikiran, tetapi aktivitas kelompok dapat disalah gunakan menjadi kegiatan
yang negaitif seperti perkumpulan remaja bersifat anarkis atau gank.
5) Keinginan mencoba segala sesuatu
Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga remaja mudah
tertarik untuk mencoba hal yang baru yang bersifat positif seperti belajar
dari buku yang baru dan bersifat negatif seperti merokok.
Peserta Didik SMP termasuk pada fase remaja awal, merupakan masa
perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang meliputi
perubahan fisik, psikis, dan perubahan sosial. Peserta didik sekolah menengah
pertama pada umumnya berkisar 12–15 tahun, peserta didik tergolong remaja
awal pubertas. yang sering disebut sebagai masa yang penuh gejolak. Masa
23
remaja merupakan salah satu periode yang penting dalam rentang kehidupan
individu. Hurlock (2003:207) menjelaskan bahwa Semua periode yang terjadi
dikehidupan adalah penting, periode remaja memberikan akibat yang
langsung terhadap sikap dan perilaku untuk jangka panjang.
Penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa akibat yang ditimbulkan dari
perkembangan fisik dan psikologis pada remaja adalah perkembangan fisik
berlangsung
cepat
yang
disertai
dengan
perkembangan
mental.
Perkembangan tersebut memerlukan perlunya penyesuian diri dengan orang
lain dan lingkungan yang akan membentuk sikap positif remaja.
Setiap manusia tak terlepas dari suatu kesulitan atau permasalahan di
dalam hidupnya tak terkecuali peserta didik SMP. Berbagai tantangantantangan yang dapat menimbulkan kesulitan di sekelilingnya dapat
menimbulkan masalah bagi peserta didik, baik secara pribadi maupun secara
sosial.
Apabila peserta didik memiliki kemampuan untuk menghadapi setiap
kesulitan tersebut maka peserta didik dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh
pergaulan negatif, begitu juga sebaliknya. Kemampuan tersebut merupakan
kecerdasan dan daya tahan dalam mengahadapi kesulitan (adversity quotient)
diperlukan oleh peserta didik karena sangat menentukan pencapaian
keberhasilan belajar.
4. Bimbingan
Kelompok
Teknik
Sosiodrama
untuk
Meningkatkan
Adversity Quotient
Stoltz (2005: 26) menjelaskan bahwa cara mengembangkan dan
menerapkan AQ dapat diringkas dalam kata LEAD, yaitu : Listened
(dengar), explored (gali), analized (analisa), do (lakukan). Cara
mengembangkan dan menerapkan AQ
dapat dijelaskan secara rinci
sebagai berikut:
1) Listened (dengar)
Mendengarkan respon terhadap kesulitan merupakan langkah yang
penting dalam mengubah AQ individu.individu berusaha menyadari
24
dan menemukan jika terjadi kesulitan, kemudian menanyakan pada
diri sendiri apakah itu respon AQ yang tinggi atau rendah. Melalui
sosiodrama peserta didik akan mendengarkan permasalahan yang
disampaikan antar anggota kelompok, karena pada sosiodrama terjadi
interakasi antar individu untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam
drama.
2) Explored (gali)
Pada tahap ini, individu didorong untuk mencari penyebab masalah.
Setelah itu menemukan mana yang merupakan kesalahannya, lalu
menggali alternatif tindakan yang tepat. Pada saat sosiodrama peserta
didik belajar mengatasi konflik yang terjadi, peserta didik menggali
informasi-informasi berkaitan dengan konflik yang terjadi untuk
menemukan cara yang sesuai untuk mengatasi konflik yang sedang
terjadi pada saat bermain peran.
3) Analized (analisa)
Individu
diharapkan
mampu
menganalisa
bukti
apa
yang
menyebabkan individu tidak dapat mengendalikan masalah. Setelah
peserta didik menggali informasi-informasi berkaitan konflik yang
terjadi pada saat bermain peran, peserta didik akan menganalisis
informasi-informasi tersebut supaya dapat meberikan alternatif
pemecahan masalah yang sesuai dengan konflik yang terjadi pada
saat bermain peran.
4) Do (lakukan)
Individu diharapkan dapat mengambil tindakan nyata setelah
melewati tahapan-tahapan sebelumnya yaitu listened (dengar),
explored (gali), analized (analisa). Peserta didik melakukan tindakan
nyata setelah pada saat sosiodrama peserta didik saling berinteraksi,
mendengarkan
kemudian
menggali
informasi-informasi
yang
berkaitan tentang penyebab konflik dan melakukan analisa terhadap
informasi-informasi tersebut untuk menentukan alternatif yang sesuai
dalam mengatasi konflik yang terjadi pada saat bermain peran,
25
kemudian langkah terakhir yaitu maelakukan tindakan nyata untuk
menghadapi konflik tersebut.
Setiap manusia tak terlepas dari suatu kesulitan atau permasalahan di
dalam hidupnya tak terkecuali peserta didik SMP, permasalahan yang timbul
pada peserta didik bisa terjadi dalam kehidupan sosial di lingkungan sekolah,
salah satunya permasalhan yang terjadi di kehidupan sosial adalah
permasalahan sosial yaitu ketidakmampuan peserta didik dalam menghadapi
kesulitan (adversity quotient) yang terjadi di dalam kelompok.
Adversity Quotient menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan
sosial peserta didik. Adversity quotient merupakan salah satu faktor mencapai
kesuksesan. Leman (2007: 115) menjelaskan bahwa
adversity quotient
merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah. Hal tersebut
dapat dimaknai bahwa kemampuan seseorang untuk menghadapi konflikkonflik yang terjadi di sekelilingnya merupakan adversity quotient. Adversity
quotient merupakan kemampuan merespon, berpikir, mengelola, dan
mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola-pola tanggapan kognitif
dan perilaku atas stimulus peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang
merupakan tantangan dan kesulitan yang dihadapi, yang dapat ditafsirkan
dalam bentuk adversity quotient.
Uraian tersebut memberikan arti bahwa peserta didik dengan memiliki
Adversity Quotient dapat merespon menghadapi kesulitan atau keadaan yang
tidak diinginkan, tetapi
tidak
semua
peserta
didik
memmpunyai
kemampuan menghadapi kesulitan dengan baik. Hal tersebut dikarenakan
masing- masing peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda
dalam mengahadapi permasalhannya.
Untuk mengatasi peserta didik yang memiliki adversity quotient
rendah pembimbing dapat menggunakan layanan bimbingan
Bimbingan
berkelompok
kelompok
dengan
merupakan
kegiatan
memanfaatkan
kelompok.
yang dilakukan
dinamika
menghasilkan terjadinya interaksi antar anggota kelompok.
secara
kelompok, yang
26
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa bimbingan kelompok dapat
menciptakan sebuah interaksi untuk meningkatkan kemampuan adversity
quotient. Di dalam layanan bimbingan kelompok terdapat beberapa teknik,
salah satu teknik yang diharapkan tepat untuk meningkatkan adversity
quotient adalah teknik sosiodrama, teknik tersebut tepat untuk mengatasi
permasalahan
sosial,
karena
bimbingan kelompok
teknik
sosiodrama
bertujuan untuk membantu individu menghadapi dan memecahakan masalah
sosial peserta didik.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah:
Tri Yuniati (2013) skripsi berjudul Teknik Sosiodrama Untuk Meningkatkan
Kemampuan Penyesuaian Diri Di Sekolah Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 2
Matesih Tahun Pelajaran 2013/2014. Hasil analisis menunjukkan t hitung -4,974
dengan signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak Ha diterima. Demikian
dapat disimpulkan bahwa teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan
penyesuaian diri di sekolah peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Matesih tahun
pelajaran 2013/2014. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Bimbingan Kelompok
Teknik Sosiodrama direkomendasikan sebagai salah satu kerangka kerja dalam
rangka pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah.
C. Kerangka Berpikir
Penelitian ini mengkaji tentang peserta didik kelas VIII SMP N 1
Kebakkramat yang masuk dalam kategori remaja. Remaja merupakan masa
penyesuaian dan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Setiap
manusia tak terlepas dari suatu kesulitan atau permasalahan di dalam hidupnya tak
terkecuali peserta didik SMP.
Berbagai tantangan-tantangan yang dapat menimbulkan kesulitan di
sekelilingnya dapat menimbulkan masalah bagi peserta didik, baik secara pribadi
maupun secara sosial. Sangat
dimungkinkan
terjadi ketidakmampuan dalam
menghadapi kesulitan oleh peserta didik SMP kelas VIII.
27
Salah satu upaya untuk meningkatkan adversity quotient atau kemampuan
menghadapi kesulitan dengan pemberian layanan bimbingan kelompok teknik
sosiodrama. Peserta didik dapat bermain peran bersama anggota kelompok dengan
tema mengelola kempampuan peserta didik dalam mengatasi kesulitan yang
sedang di hadapi. Kerangka berpikir pada penelitian teknik sosiodrama efektif
untuk meningkatkan adversity quotient pada peserta didik kelas VIII SMP N 1
Kebakkramat tahun ajaran 2015/ 2016 dapat dilihat sebagai berikut:
Penyebab Adversity Quotient rendah:
Peserta
Didik
Adversity
Quotient
Rendah
1. Sering menunda-nunda dalam
menyelesaikan masalah.
2. Kurang percaya diri dengan
kemampuannya
sendiri
dan
memilih bergantung pada teman.
3. Daya tahan yang rendah dalam
menghadapi kesulitan
4. Respon yeng negatif terhadap
masalah yang sedang dihadapi.
Akibat Adversity Quotient rendah:
1. Peserta didik tidak bisa bertahan pada tekanan
dan bagaimana mengatasi tekanan tersebut.
2. Prestasi belajar peserta didik terganggu
3. Peserta didik mengalami kegagalan dalam
mengatasi setiap permasalahan.
4. Peserta didik mudah menyerah dalam
mengatasi kesulitan.
Sosiodrama
Teknik bermain peran dengan tema pengelolaan adversity
quotient atau kemampuan mengatasi kesulitan.
Adversity Quotient Meningkat
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir.
28
D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban atau kesimpulan sementara atas suatu
permasalahan. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya, maka diperoleh hipotesis sebagai berikut:
“ Teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan Adversity Quotient pada
peserta didik Kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2015/2016”
29
Download