KEGIATAN COMMUNITY RELATIONS PT. BANK MANDIRI

advertisement
1
KEGIATAN COMMUNITY RELATIONS
PT. BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk.
DALAM MENINGKATKAN CORPORATE IMAGE
(PERIODE JANUARI – DESEMBER 2008)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna menyelesaikan Pendidikan
Program Strata Satu (S1)
DISUSUN OLEH :
NAMA
: DAMARIS AMBARWATI
NIM
: 44205010039
PROGRAM STUDI : PUBLIC RELATIONS
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2009
2
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama
: Damaris Ambarwati
NIM
: 44205010039
Jurusan
: Public Relations
Fakultas
: Ilmu Komunikasi
Judul
: Kegiatan Community Relations PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. Dalam Meningkatkan Corporate Image (Periode
Januari – Desember 2008)
Jakarta, April 2009
Mengetahui,
Pembimbing,
Farid Hamid, S.Sos, M.si
3
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
TANDA LULUS SIDANG SKRIPSI
Nama
: Damaris Ambarwati
NIM
: 44205010039
Jurusan
: Public Relations
Fakultas
: Ilmu Komunikasi
Judul Skripsi
: Kegiatan Community Relations PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. Dalam Meningkatkan Corporate Image (Periode
Januari – Desember 2008)
Jakarta, April 2009
Ketua Sidang
Nama : Marhaeni F. Kurniawati, S. Sos, M.si
(
)
Penguji Ahli
Nama : Juwono Tri Atmodjo, M.si
(
)
(
)
Pembimbing
Nama : Farid Hamid, S.Sos, M.si
4
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI
Nama
: Damaris Ambarwati
NIM
: 44205010039
Jurusan
: Public Relations
Fakultas
: Ilmu Komunikasi
Judul Skripsi
: Kegiatan Community Relations PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. Dalam Meningkatkan Corporate Image (Periode
Januari – Desember 2008)
Jakarta, April 2009
Disetujui dan Diterima Oleh
Pembimbing
Farid Hamid, S.Sos, M.si
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi
(Dra. Diah Wardhani, M.si)
Ketua Bidang Studi Public Relations
(Marhaeni F. Kurniawati, S.sos M.si)
5
MOTTO
☺
Tak
ada
pekerjaan
yang
membuatmu
merasa
berat
menyelesaikannya, selama dirimu sanggup membaginya
menjadi pekerjaan kecil
☺
Prestasi besar tidak diraih dengan paksaan, tetapi diraih
oleh rentetan tindakan kecil yang menyatu
6
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan pada Tuhan YME atas terselesaikannya
skripsi ini. Peneliti menyadari karena berkat dan rahmat-Nyalah, peneliti dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul dari skripsi ini adalah
“Kegiatan Community Relations PT BANK MANDIRI (Persero) Tbk. Dalam
Meningkatkan Corporate Image (Periode Januari-Desember 2008)”. Peneliti
mengangkat judul ini karena, peneliti merasa bahwa kegiatan community relations
merupakan kegiatan perusahaan untuk komunitas, yang sangat penting dilakukan
oleh perusahaan, sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut citra
perusahaan (corporate image) dapat meningkat. Oleh karena itulah, peneliti
merasa tertantang untuk mengangkat judul tersebut dalam skripsi ini.
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti ingin
mengucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang turut membantu peneliti.
Adapun pihak-pihak tersebut adalah :
1.Bp. Farid Hamid, S.Sos, M.si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
banyak masukan kepada peneliti dalam pembuatan skripsi ini.
2.Ibu Dra. Diah Wardhani, M.si dan Bp. Drs. Hardiyanto, M.si selaku Dekan dan
Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana.
3.Ibu Marhaeni F. Kurniawati, S. Sos, M.si dan Bp.Juwono Tri A, M.si selaku
Ketua dan Sekertaris Jurusan Public Relations Fakultas Ilmu Komunikasi,
Universitas Mercu Buana.
7
4.Bpk. Iskandar Tumbuan selaku Team Leader Media Relations yang telah
membantu peneliti dalam mencari data-data yang diperlukan dan wawancara
untuk skripsi.
5.Seluruh karyawan Corporate Secretary Grup PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
yang telah membantu peneliti mencari data-data yang diperlukan dalam skripsi
ini.
6.Bpk. Dr. Soediono selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan
Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan Ibu Gitayana selaku Board
Of Trustees Yayasan Nurani Dunia yang telah membantu peneliti untuk
memberikan informasi yang dibutuhkan dalam skripsi ini
7.Orang Tua dan adikku ”Yudho” yang telah memberikan doa dan dukungan
kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
8.Teman-teman peneliti yang telah memberikan masukan-masukan kepada
peneliti dalam proses pembuatan skripsi ini.
9.Pihak-pihak lain yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu.
Peneliti menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan para pembaca dapat
memberikan beberapa saran dan kritik demi kesempurnaan penelitian ini. Peneliti
juga mengharapkan skripsi ini dapat berguna untuk para pembaca. Akhir kata
peneliti mengucapkan terima kasih.
Jakarta, April 2009
Peneliti
8
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI.................................................................ii
TANDA LULUS SIDANG SKRIPSI..................................................................iii
PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI...........................................................iv
HALAMAN MOTTO............................................................................................v
KATA PENGANTAR...........................................................................................vi
DAFTAR ISI.......................................................................................................viii
ABSTRAKSI..........................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................10
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................10
1.4 Signifikansi Penelitian
1.4.1 Akademis.....................................................................................11
1.4.2 Praktis..........................................................................................11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi..........................................................................................12
2.2 Komunikasi Organisasi........................................................................13
9
2.3 Public Relations
2.3.1 Pengertian Public Relations........................................................16
2.3.2 Tugas dan Fungsi Public Relations…………………………….19
2.4 Khalayak (Public)……………………………………………………23
2.5 External Relations……………………………………………………26
2.6 Community Relations………………………………………………...30
2.7 Corporate Identity……………………………………………………38
2.8 Corporate Image……………………………………………………..39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian……………………………………………………… 43
3.2 Metode Penelitian…………………………………………………….44
3.3 Key Informant (Narasumber)
3.3.1 Key Informant (Narasumber) Internal.........................................46
3.3.2 Key Informant (Narasumber) External........................................47
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer.................................................................................48
3.4.2 Data Sekunder.............................................................................49
3.5 Definisi Konsep dan Fokus Penelitian
3.5.1 Definisi Konsep...........................................................................50
3.5.2 Fokus Penelitian..........................................................................50
3.6 Teknik Analisa Data.............................................................................52
3.7 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data..................................................54
10
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian
4.1.1 Sejarah Perusahaan......................................................................56
4.1.2 Visi dan Misi...............................................................................60
4.1.3 Budaya Organisasi......................................................................60
4.1.4 Filosofi Logo dan Slogan............................................................61
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Kegiatan Community Relations di PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk…………………………………………………...65
4.2.2 Tahap-Tahap Kegiatan Community Relations PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk.................................................................68
4.3 Pembahasan...........................................................................................81
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan.............................................................................................92
5.2 Saran
5.2.1 Akademis........................................................................................94
5.2.2 Praktis.............................................................................................95
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
11
UNIVERSITAS MERCU BUANA
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
BIDANG STUDI PUBLIC RELATIONS
ABSTRAKSI
Damaris Ambarwati (44205010039)
Kegiatan Community Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Dalam
Meningkatkan Corporate Image
95 halaman + 21 lampiran
Bibliografi 19 buku (2000-2008)
Community Relations adalah kegiatan yang ditujukan untuk komunitas
sebagai salah satu bentuk implementasi dari tanggung jawab sosial (CSR)
perusahaan terhadap masyarakat. Kegiatan ini dilakukan oleh Public Relations
suatu perusahaan yang bertujuan untuk membina hubungan baik antara
perusahaan dengan masyarakat.
Berdasarkan anggapan diatas peneliti tertarik untuk mengkaji kegiatan
community relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai salah satu upaya
dalam meningkatkan citra perusahaan (corporate image). Kegiatan community
relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri adalah kegiatan-kegiatan sosial untuk
komunitas baik yang sudah terprogram maupun yang spontan. Tujuan dari
penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui kegiatan community relations yang
dilakukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dalam meningkatkan corporate image
dengan komunitas pada periode Januari sampai Desember 2008.
Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan metode
penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data
dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) bertujuan untuk
memperoleh data dan fakta atas kegiatan community relations yang telah
dilakukan serta citra perusahaan setelah adanya kegiatan tersebut. Penelitian ini
mengambil satu informan yang berkompeten dan dipercayai dari PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk., dua informan dari dua Yayasan sebagai pelaksana
kegiatan community relations dan dua orang masyarakat penerima bantuan. Untuk
analisa datanya menggunakan metode triangulasi untuk membandingkan hasil
wawancara dari narasumber PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan narasumber
dari dua Yayasan dan dua masyarakat penerima bantuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan community relations yang
dilakukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencakup bidang sosial, bidang
lingkungan, bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang olah raga dan bidang
usaha kecil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Bank Mandiri
mengadakan kegiatan community relations sebagai upaya untuk meningkatkan
image perusahaan, sehingga dalam membuat kegiatan tersebut diperlukan
beberapa tahap seperti fact finding, planning, actuating, monitoring dan
evaluating. Saran dari penelitian ini adalah Bank Mandiri selain mengadakan
kegiatan yang bersifat formal juga harus mengadakan kegiatan yang sifatnya
informal seperti pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat dan juga
dengan masyarakat sekitar.
12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi saat ini, banyak sekali terjadi perubahan dalam
bidang teknologi, sosial, ekonomi, keamanan, politik, dan lain sebagainya, yang
berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Maka tidaklah mengherankan, jika
perubahan tersebut memberikan peluang bagi para pemilik modal, yang ingin
mendirikan perusahaan atau organisasi.
Pendirian
perusahaan
tersebut,
juga
memberikan
dampak
bagi
perekonomian suatu negara, karena angka pengangguran dapat berkurang, tingkat
kesejahteraan masyarakat semakin meningkat dan pendapatan negara yang berasal
dari pajak juga bertambah. Untuk itulah, keberadaan perusahaan perlu menjadi
perhatian penting, tidak hanya bagi perusahaan saja tetapi juga bagi masyarakat
dan negara.
Keberadaan sebuah organisasi atau perusahaan tidak lepas dari khalayak
atau stakeholder. Khalayak dibagi menjadi dua yaitu khalayak internal dan
khalayak eksternal. Khalayak internal seperti karyawan, keluarga karyawan dan
investor
sedangkan
khalayak
eksternal
misalnya
konsumen,
komunitas,
distributor, dan lain-lain. Khalayak ini memiliki peranan yang sangat penting bagi
sebuah perusahaan. Oleh karena itu, di dalam sebuah perusahaan perlu memiliki
13
satu divisi khusus, yang dapat berfungsi sebagai penghubung antara khalayak
dengan perusahaan yaitu divisi Public Relations (PR).
Public Relations merupakan mediator yang berada antara pimpinan
organisasi dengan khalayaknya, baik dalam upaya membina hubungan masyarakat
internal maupun eksternal. Sebagai khalayak, mereka berhak mengetahui aktivitas
perusahaan, program kerja dan rencana-rencana usaha suatu organisasi atau
perusahaan berdasarkan keadaan, harapan-harapan, yang sesuai dengan keinginan
khalayak sasarannya.
Fungsi PR tersebut dapat diwujudkan dengan mengadakan berbagai
macam kegiatan PR. Salah satunya adalah kegiatan PR untuk komunitas.
Komunitas yaitu kelompok manusia yang bisa saja tinggal di berbagai lokasi
berbeda atau mungkin juga berjauhan jaraknya, namun dipersatukan minat dan
kepentingan yang sama.1
Dalam konteks PR, tanggung jawab sosial korporat itu diimplementasikan
dalam kegiatan community relations. Beberapa contoh kongkret membangun
hubungan dengan komunitas itu, misalnya: memberikan bantuan untuk keluargakeluarga berpendapatan rendah dan sedang; memberikan pelatihan keterampilan
pada masyarakat sekitar; atau menunjang kepentingan-kepentingan budaya,
pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan komunitas.2
Menurut Natufe dengan mengutip definisi dari WBCSD (World Business
Council for Sustainable Development) menyebut tanggung jawab sosial korporat
sebagai “komitmen berkelanjutan kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan
1
2
Yosal Iriantara, Community Relations Konsep dan Aplikasinya, Bandung : Simbiosa Rekatama
Media, Cetakan Pertama, Oktober, 2004, hal. 21.
Ibid.hal. 32
14
memberikan sumbangan pada pembangunan ekonomi, sekaligus memperbaiki
mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya, serta komunitas lokal dan
masyarakat secara keseluruhan”.3
Kegiatan community relations merupakan sebuah usaha untuk membina
hubungan baik dengan komunitas atau terlibat dalam program pengembangan
komunitas (community development) yang dilakukan suatu organisasi. Oleh
karena itu, community relations merupakan bentuk implementasi dari tanggung
jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal sebagai CSR (Corporate Social
Responsibility). Wajar saja bila berbagai perusahaan di Indonesia kini sudah
menjalankan tanggung jawab sosialnya itu dalam berbagai kegiatan community
relations.
Dalam kehidupan masyarakat, kegiatan community relations merupakan
kegiatan sosial yang dapat membantu meringankan masalah yang ada dalam
kehidupan masyarakat. Saat ini kegiatan community relations, sudah dilakukan
banyak perusahaan dengan cara bekerja sama dengan yayasan atau lembaga sosial
yang khusus menangani program tersebut
CSR merupakan salah satu upaya untuk menciptakan keberlangsungan
usaha dalam menciptakan dan memelihara keseimbangan antara mencetak
keuntungan, fungsi-fungsi sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup (tripple
bottom line)4. Pelaksanaan CSR oleh perusahaan telah memberikan hasil yang
sangat positif terhadap perkembangan perusahaan dan secara nyata meningkatkan
performance atau keuntungan.
3
4
Ibid.hal. 49.
Jackie Ambadar, CSR Dalam Praktik di Indonesia, Jakarta : PT Elex Media Komputindo, 2008,
hal, 32.
15
Dalam pelaksanaannya CSR bersifat partisipatif dan tidak dilakukan
semata-mata oleh dunia industri saja, tetapi harus melibatkan komunitas lokal dan
masyarakat yang lebih luas, karena CSR adalah komitmen dunia bisnis untuk
menyumbang sesuatu bagi kelangsungan pembangunan ekonomi, bekerja sama
dengan para karyawan dan keluarga mereka, serta komunitas lokal dan
masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas hidup. CSR sangat baik bagi dunia
bisnis dan lingkungan.
Chambers melakukan penelitian di 7 negara Asia yakni India, Korea
Selatan, Filipina, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand. Untuk masingmasing negara diambil 50 perusahaan yang berada pada peringkat atas
berdasarkan pendapatan operasional untuk tahun 2002. Lalu dikaji, implementasi
tanggung jawab sosial korporat pada masing-masing Negara. Salah satu
temuannya yang menarik adalah tanggung jawab sosial korporat dalam bentuk
keterlibatan komunitas dijalankan perusahaan-perusahaan itu lebih separuhnya
dalam kegiatan filantropis. Tindakan filantropis itu dijalankan melalui kemitraan
komunitas, menerjunkan sukarelawan pada komunitas dan pendirian yayasan.5
Berdasarkan kajian penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
tanggung jawab sosial korporat atau CSR itu diimplementasikan dalam kegiatan
community relations. Oleh karena itu, kegiatan tersebut perlu dilakukan oleh
perusahaan, karena komunitas merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
perusahaan. Sehingga kegiatan community relations yang dilakukan oleh
perusahaan, dapat membentuk sebuah image atau citra yang positif bagi
5
Yosal Iriantara, op.cit., hal 54
16
perusahaan, karena corporate image sangat penting bagi sebuah perusahaan untuk
mendapatkan kepercayaan dari para khalayak, sehingga mereka dapat mendukung
aktivitas perusahaan.
Pengertian citra perusahaan (corporate image) adalah citra dari suatu
organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan
pelayanannya. Citra ini terbentuk dari banyak hal, seperti sejarah atau riwayat
perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang keuangan,
kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi
sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan turut memikul tanggung jawab sosial
dan komitmen mengadakan riset.6 Sehingga judul yang diambil adalah Kegiatan
Community Relations Di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Dalam Meningkatkan
Corporate Image.
Sesuai dengan judul di atas maka objek riset ini adalah PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk. Alasannya adalah karena PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. adalah
satu bank yang sudah melakukan beberapa kegiatan untuk para komunitasnya
seperti kepedulian sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, olah raga, usaha
kecil, lingkungan dan budaya.7 Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga
hubungan baik serta meningkatkan image atau citra positif bagi para stakeholder,
khususnya komunitas. Oleh karena itu, efek CSR yang ingin dibentuk oleh PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu hubungan baik, dan tanggung jawab sosial
korporat yang dapat memberikan dampak bagi komunitas, selain meningkatkan
6
7
Frank Jefkins, Public Relations, Edisi Kelima, Jakarta : Erlangga, 2002, hal. 20
Annual Report PT Bank Mandiri (Persero) Tbk hal. 146-148
17
image atau citra perusahaan menjadi positif juga dapat membentuk kepercayaan
dari komunitas.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai
program Mandiri Peduli. Mandiri Peduli merupakan tanggung jawab sosial (CSR)
Bank Mandiri yang diimplementasikan dalam kegiatan community relations,
sebagai komitmen berkelanjutan yang dibangun oleh PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. untuk berperilaku etis dan memberikan kontribusi pada pembangunan
nasional sekaligus meningkatkan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat
secara keseluruhan. Hal ini merupakan perwujudan budi baik (goodwill)
perusahaan sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat.
Tujuan dari CSR di Bank Mandiri antara lain adalah memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya dalam mensejahterakan dan memajukan masyarakat
Indonesia umumnya dibidang lingkungan sekitar, pendidikan, olahraga, budaya,
kesehatan, dan usaha kecil, maupun sekitar lingkungan kantor Bank Mandiri
khususnya. Melalui kegiatan ini diharapkan Bank Mandiri dapat memperkuat
reputasinya sebagai perusahaan yang secara konsisten menunjukkan kepedulian
pada masyarakat, memberikan inspirasi kepada stakeholders untuk melakukan
kegiatan dalam kepedulian masyarakat serta menggalang kesatuan diantara insan
Bank Mandiri.8
Program CSR di Bank Mandiri menerapkan dan melaksanakan code of
conduct yang berlaku serta mengimplementasikan praktek good corporate
governance. Bertanggung jawab dan melaksanakan seluruh peraturan perundang-
8
Ibid, hal. 146.
18
undangan yang berlaku, termasuk didalamnya menjalankan kewajiban sebagai
warganegara yang bertanggung jawab, menerapkan tanggung jawab sosial
perusahaan dalam bentuk pembinaan masyarakat dan bantuan sosial yang
memiliki dampak terhadap perubahan ke arah hidup yang lebih baik serta
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Berdasarkan uraian progam CSR di atas, maka dalam penelitian ini
peneliti memfokuskan pada dua program yaitu mandiri peduli lingkungan dan
mandiri peduli kesehatan, alasannya adalah karena ke dua program tersebut sudah
dilakukan oleh Bank Mandiri dan masih berlangsung sampai tahun 2008.
Misalnya untuk program mandiri peduli lingkungan, salah satunya Bank Mandiri
bekerja sama dengan Yayasan Nurani Dunia untuk membangun rumah untuk
masyarakat yang terkena bencana gempa dan tsunami di Aceh, khususnya warga
di Desa Neuheun,
Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh
Besar.
Pembangunan rumah tersebut di mulai pada bulan Juni 2005. Desa Neuheun
dipilih karena letaknya yang berada di pinggir pantai, dan merupakan wilayah
yang mengalami kerusakan paling parah, sebab rumah-rumah warga serta fasilitas
sudah tersapu oleh air bah dan pada saat terjadinya peristiwa gempa dan tsunami.
Program lain yang dijalankan oleh Bank Mandiri adalah program mandiri
peduli kesehatan. Dalam program ini, Bank Mandiri mendukung pemerintah
dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah Bank
Mandiri melalui Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
tergerak untuk ikut membantu biaya pengobatan yang terdiri dari biaya konsultasi
dokter, rontgent dan pemeriksaan dahak serta uang transport bagi penderita TBC
19
dari keluarga miskin atau tidak mampu yang berobat dengan sistem DOTS
(Directly Observed Treatment Shortcources).
Program-program tersebut dilakukan oleh Bank Mandiri sebagai wujud
tanggung jawab sosial korporat pada masyarakat dan lingkungan sebagaimana
yang tersirat dalam visi dan misi serta budaya perusahaan. Selain itu, kegiatan ini
sejalan dengan kampanye PBB stand up Against Poverty (Bangkit Melawan
Kemiskinan) sekaligus membantu Pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
Keunikan kegiatan community relations yang dilakukan oleh Bank
Mandiri dalam program Mandiri peduli antara lain variasi kegiatan yang sangat
banyak seperti program mandiri peduli pendidikan, mandiri peduli kesehatan,
mandiri peduli budaya, mandiri peduli usaha kecil, mandiri peduli olahraga dan
mandiri peduli lingkungan, itu artinya Bank Mandiri memiliki perhatian dan
kepedulian terhadap kehidupan komunitas yang membutuhkan bantuan baik
beruapa dana maupun barang Selain itu, keunikan yang lainnya adalah hambatanhambatan yang timbul pada saat pelaksanaan kegiatan. Hambatan tersebut tidak
membuat Bank Mandiri menghentikan kegiatannya, tetapi Bank Mandiri tetap
terus menjalankan program tersebut sampai selesai, hal ini membuktikan bahwa
Bank Mandiri memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan kegiatannya
dan tidak terpengaruh oleh hambatan apapun.
Hambatan-hambatan yang muncul sangat beragam tergantung dari
kegiatan yang dilakukan misalnya untuk pembangunan sekolah atau rumah
biasanya hambatannya seperti proses perizinan yang sangat sulit, tingginya harga
20
material bangunan, lokasi yang sulit untuk di jangkau, kurangnya partisipasi dari
masyarakat dan lain-lain. Sekalipun hambatan tersebut sedikit mempengaruhi
proses pelaksanaan pembangunan, tetapi Bank Mandiri berusaha mencari solusi
agar hambatan tersebut tidak menghambat proses pelaksanaan kegiatan secara
total.
Sehingga program mandiri peduli yang dijalankan oleh Bank Mandiri,
akan memberikan keuntungan bagi perusahaan, seperti terbentuknya image atau
citra yang positif dari komunitas terhadap perusahaan. Untuk itu, corporate image
harus selalu dibangun dan dijaga, agar tidak terpengaruh oleh issue-issue yang
beredar dalam lingkungan masyarakat.
Periodisasi yang dibutuhkan untuk meneliti judul ini adalah Januari 2008 –
Desember 2008. Periodisasi ini dipilih karena data-data yang akan diambil adalah
data-data terbaru tentang kegiatan Community Relations di Bank Mandiri
(Persero) Tbk. Sehingga hasil yang akan diperoleh lebih akurat dan jelas, karena
kegiatan tersebut belum lama dilakukan.
Selain itu, pemilihan periodisasi atau waktu yang digunakan dalam
pengumpulan data membutuhkan waktu yang cukup lama, sebab penulis perlu
melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui secara langsung, apakah hasil
kegiatan yang dilakukan, dalam waktu tertentu tersebut sudah sesuai dengan yang
diharapakan dalam penelitian atau belum, jika sudah maka peneliti dapat membuat
sebuah konsep atau teori baru dari riset tersebut, tetapi jika belum maka
periodisasi penelitian perlu ditambah.
21
Hal tersebutlah yang membuat seorang peneliti membutuhkan waktu yang
cukup, agar memperoleh hasil yang maksimal dalam penelitiannya. Terlebih lagi,
dalam penelitian ini efek yang ingin peneliti lihat dari kegiatan community
relations ini adalah adanya hubungan yang baik antara perusahaan dengan
komunitas dan sebaliknya, menjadi bukti bahwa perusahaan memiliki tanggung
jawab sosial kepada masyarakat serta adanya kepercayaan dari komunitas
terhadap kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk.
Dengan demikian sasaran dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa
Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar dan Penderita
Tuberkulosis (TBC) .
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :
Bagaimana kegiatan community relations di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
dalam meningkatkan corporate image ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui Kegiatan Community Relations di PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk. Dalam Meningkatkan Corporate Image.
22
1.4 Signifikansi Penelitian
1.4.1Signifikansi akademis :
Dapat memberikan masukan bagi bidang kehumasan mengenai kegiatan
community relations serta untuk memperkaya ilmu pengetahuan
komunikasi mengenai kiat-kiat humas dalam pengadaan community
relations terhadap komunitas setempat.
1.4.2Signifikansi Praktis :
Untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan community relations
bagi perusahaan untuk komunitas di sekitar perusahaan dalam
meningkatkan corporate image.
23
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses transaksional. Dalam konteks ini
komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang
kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi.9 Penafsiran anda atas perilaku verbal
dan nonverbal orang lain yang anda kemukakan kepadanya, juga mengubah
penafsiran orang lain tersebut atas pesan-pesan anda, dan pada gilirannya,
mengubah penafsiran anda atas pesan-pesannya, dan begitu seterusnya.
Kelebihan konseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah bahwa
komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang disengaja atau
respons yang dapat diamati. Artinya, komunikasi terjadi apakah para pelakunya
sengaja atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respons yang tidak dapat
diamati. Berdiam diri, megabaikan orang lain di sekitar, bahkan meninggalkan
ruangan-semuanya bentuk-bentuk komunikasi, semuanya mengirimkan pesan.
Dalam komunikasi transaksional, pengamatan atas aspek tertentu saja,
misalnya pesan verbal saja atau pesan nonverbal saja, tidak menunjukkan
komunikasi yang utuh. Istilah transaksi mengisyaratkan bahwa pihak-pihak yang
berkomunikasi berada dalam keadaan interdependensi atau timbal balik; eksistensi
satu pihak ditentukan oleh eksistensi pihak lainnya. Pendekatan transaksi
menyarankan bahwa semua unsur dalam proses komunikasi saling berhubungan.
9
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung : Remaja Rosdakarya, Cetakan
ketujuh, 2005, hal. 67.
24
Pendapat yang sama juga di kemukakan oleh John R.Wenburg dan
William W.Wilmot bahwa komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh
makna. Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan harus jelas agar informasi
yang disampaikan dapat sesuai dengan keinginan komunikator. Definisi
komunikasi tersebut, kemudian ditegaskan lagi oleh Stewart L. Tubbs dan Sylvia
Moss yang menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pembentukan makna di
antara dua orang atau lebih10
Sehingga berdasarkan definisi tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa
komunikasi merupakan sebuah proses memahami dan berbagi makna, hal ini
disebabkan karena penafsiran masing-masing individu terhadap sebuah kegiatan,
tindakan, perubahan, dan perpindahan berbeda-beda.
2.2 Komunikasi Organisasi
Proses transaksional dalam konteks komunikasi, merupakan bentuk umum
ketika seseorang terlibat dalam penafsiran pesan atau penafsiran pertunjukkan.
Komunikasi dalam konteks tersebut dapat dibedakan dengan semua perilaku
manusia dan organisasi lainnya, karena ia melibatkan proses mental memahami
orang, subjek, dan peristiwa yang kita sebut pertunjukkan pesan. Sehingga dalam
sebuah organisasi diperlukan komunikasi.
Hubungan organisasi dengan komunikasi, menurut William V. Hanney
dalam bukunya, Communication and Organizational Behavior, menyatakan
10
Ibid, hal. 68-69
25
”Organisasi terdiri atas sejumlah orang; ia melibatkan keadaan saling bergantung;
kebergantungan memerlukan koordinasi; koordinasi mensyaratkan komunikasi.11
Koordinasi merupakan bagaian dari kegiatan komunikasi, karena di dalam
koordinasi seseorang berbicara baik secara lisan maupun tulisan kepada
khalayaknya. Dengan adanya koordinasi yang baik, maka akan menimbulkan
hubungan timbal balik antara organisasi dengan khalayak.
Dalam berbagai literatur dapat dijumpai arti koordinasi di mana disebutksn
bahwa koordinasi bersumber pada perkataan bahasa latin coordinatio yang berarti
”kombinasi atau interaksi yang harmonis”. Interaksi yang harmonis di antara para
karyawan suatu organisasi, baik dalam hubungan secara timbal-balik maupun
secara horizontal di antara para karyawan secara timbal balik pula, disebabkan
oleh komunikasi. Demikian pula interaksi antara pimpinan organisasi, apakah ia
manajer tingkat tinggi (top manager) atau manajer tingkat menengah (middle
manager) dengan khalayak luar organisasi.12
Komunikasi dan organisasi merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan, karena interaksi dalam organisasi membutuhkan komunikasi. Oleh
karena itu dimensi-dimensi komunikasi dalam kehidupan organisasi dibagi
menjadi dua yaitu :
a.Komunikasi internal
Komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam sebuah
organisasi. Artinya organisasi sebagai kerangka (framework) menunjukkan
11
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek), Bandung : Remaja Rosdakarya,
2005, hal. 116
12
Ibid.
26
adanya pembagian tugas antara orang-orang di dalam organisasi itu dan dapat
diklasifikasikan sebagai tenaga pimpinan dan tenaga yang dipimpin.
b.Komunikasi eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi.
Pada instansi-instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar, mereka
memiliki ruang lingkup yang sangat luas, oleh sebab itu komunikasi untuk
khalayak eksternal lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat
(public relations officer) daripada oleh pimpinan sendiri. Kepala humas dalam
kegiatan komunikasi eksternal merupakan tangan kanan pimpinan.13
Dari uraian tersebut, terlihat bahwa komunikasi organisasi sangat
diperlukan untuk membangun hubungan timbal balik dan kerjasama yang
menguntungkan antara pihak-pihak yang terlibat di dalam maupun diluar
organisasi.
2.3 Public Relations
Sebuah organisasi terdiri dari unit-unit atau divisi yang saling bekerja
sama dan berhubungan setiap saat menggunakan komunikasi. Komunikasi
organisasi dapat dilakukan baik secara verbal maupun non verbal. Salah satu
divisi yang selalu berkomunikasi dengan khalayaknya adalah Public Relations
(PR)
13
Ibid, hal. 122 & 128
27
2.3.1 Pengertian Public Relations
Public Relations (PR) dalam suatu organisasi atau perusahaan atau
sebagai PR konsultan sangat dibutuhkan keberadaannya, faktor-faktor yang
menjadi alasan betapa pentingnya keberadaan PR, antara lain:
a. Dinamika organisasi atau perusahaan semakin besar dan berkembang
b. Adanya persaingan antara organisasi atau perusahaan semakin ketat
c. Tuntutan, keinginan, dan harapan publik (masyarakat) terhadap pelayanan
pemenuhan kebutuhan informasi makin tinggi,
d. Publik atau masyarakat semakin kritis, mereka tidak mau terganggu
e. Perkembangan teknologi komunikasi yang luar biasa
f. Besarnya pengaruh opini publik, citra, sikap terhadap keadaan sosialekonomi, keberadaan, dan stabilitas suatu perusahaan semakin besar,
g. Ditunjang lagi media massa berpengaruh terhadap pembentukan opini
publik atau citra masyarakat terhadap suatu organisasi atau perusahaan,
h. Suatu organisasi perusahaan tidak mungkin berdiri sendiri tanpa dukungan
dan citra publik yang berkaitan dengan aktivitas dan perkembangan
organisasi atau perusahaan tersebut.14
Dari beberapa alasan di atas kita dapat melihat bahwa keberadaan
seorang PR dalam organisasi atau perusahaan atau lembaga atau konsultan
sangat diperlukan, karena seorang PR mampu untuk mengatasi berbagai
permasalahan yang ada di sekitar organisasi atau perusahaan, dengan
didukung oleh kemampuan dan ketrampilan yang mereka miliki. Sehingga
14
Soleh Soemirat, dan Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Public Relations, Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2005, hal.3.
28
sebuah masalah, dapat langsung terselesaikan dalam waktu cepat dengan
solusi yang tepat sasaran.
Menurut Glenn dan Denny Griswold didalam bukunya Your Public
Relations mengemukakan definisi sebagai berikut : “Public Relations is the
management function which evaluates public attitudes, identifies the policies
and procedures of an individual organization with the public interest and
executes a program of action to earn public understanding and acceptance.”
(Public Relations adalah suatu fungsi management yang menilai sikap publik,
menunjukkan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas
dasar kepentingan publik dan melaksanakan rencana kerja untuk memperoleh
pengertian dan pengakuan dari publik).15
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Public Relations merupakan fungsi
manajemen yang dapat dijadikan sebagai sarana atau alat penghubung bagi
publik-publik atau pihak-pihak yang berkepentingan di dalam suatu instansi
atau
perusahaan.
Hubungan
yang
efektif
antara
pihak-pihak
yang
berkepentingan itu adalah penting sekali demi tercapainya kepentingan dan
kepuasan bersama.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Rex F. Harlow setelah
menganalisa 472 definisi, Ia membuat satu definisi yang mencakup aspek
konseptual dan operasionalnya yaitu; hubungan masyarakat merupakan fungsi
manajemen khusus yang membantu pembentukan dan pemeliharaan garis
komunikasi dua arah, saling pengertian, penerimaan, dan kerja sama antara
15
Muslimin, Hubungan Masyarakat dan Konsep Kepribadian, Malang : Universitas
Muhammadiyah Malang, Agustus, 2004, hal.3
29
organisasi dan masyarakatnya, yang melibatkan manajemen problem atau
masalah, membantu manajemen untuk selalu mendapat informasi dan
merespon pendapat umum, mendefinisi dan menekankan tanggung jawab
manajemen dalam melayani kepentingan masyarakat; membantu manajemen
mengikuti dan memanfaatkan perubahan dengan efektif, berfungsi sebagai
sistem peringatan awal untuk membantu mengantisipasi kecenderungan, dan
menggunakan riset serta komunikasi yang masuk akal dan etis sebagai sarana
utamanya.16
Dari keseluruhan fungsi-fungsi di atas dalam aspek konseptual dan
operasional, dibutuhkan kerja sam tim yang kuat agar fungsi tersebut dapat
berjalan dengan baik, sehingga dapat membantu organisasi atau perusahaan
untuk mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi perusahaan dari para
stakeholders. Dengan demikian, perusahaan akan memperoleh kepercayaan,
citra yang positif, dan keuntungan (profit)
Unsur-unsur yang serupa dalam berbagai definisi menyiratkan bahwa
hubungan masyarakat bersifat :
1.Melaksanakan program terencana dan berkelanjutan sebagai bagian dari
manajemen,
2.Menangani hubungan antara organisasi dan masyarakatnya,
3.Memantau kesadaran, pendapat, sikap, dan perilaku di dalam dan di luar
organisasi,
16
Scott M. Cutlip, Allen H. Center, Glen M. Broom, Effective Public Relations, PT INDEKS
Kelompok Gramedia, Indonesia, 2005, hal. 4.
30
4.Menganalisa dampak kebijaksanaan, prosedur, dan tindakan terhadap
masyarakat,
5.Menyesuaikan kebijaksanaan, prosedur, dan tindakan yang diketahui
bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan kelangsungan hidup
berorganisasi,
6.Menghasilkan hubungan yang baru dan atau terpelihara antara organisasi
dan masyarakatnya.17
Kesembilan sifat tersebut perlu ditanamkan dalam diri PR, agar
mereka mampu menjadi seorang PR yang profesional artinya seorang PR yang
mau memberikan waktu dan tenaga demi pekerjaan yang dilakukan. Sifat-sifat
itu tidak hanya ditanamkan dalam diri, tetapi juga harus selalu dikembangkan
melalui pendidikan atau pelatihan agar terus berkembang dan berguna bagi
perusahaan atau organisasi.
2.3.2 Tugas dan Fungsi Public Relations
Berdasarkan definisi Public Relations di atas, maka seorang PR
memiliki tugas dan fungsi yang harus dijalankan, sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Tugas dan fungsi ini perlu dilakukan, agar aktivitas atau
kegiatan yang dilakukan oleh seorang PR sesuai dengan tujuan, visi dan misi
yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Selain itu, tugas dan fungsi yang jelas,
dapat membantu seorang PR, menentukan program atau aktivitas yang sesuai
dengan kebutuhan khalayak internal dan eksternalnya.
17
Ibid.
31
Beberapa pihak menjabarkan tugas hubungan masyarakat dalam
bentuk daftar bagian khusus fungsi ini, yaitu hubungan media, hubungan
investor, hubungan komunitas, hubungan karyawan, hubungan pemerintah dan
sebagainya. Berikut ini adalah sepuluh kategori yang mengikhtisarkan
pekerjaan spesialis hubungan masyarakat :
a.Menulis dan menyunting. Menyusun siaran pers cetak dan siar, cerita
khusus,
newsletter
untuk
karyawan
dan
stakeholder
eksternal,
korespondensi, pesan Web-site dan media on-line lainnya, laporan
pemegang saham dan laporan tahunan, pidato, brosur, naskah film dan
tayangan slide, artikel publikasi dagang, iklan kelembagaan, serta produk
dan bahan kolateral teknis.
b.Menjadi penghubung media dan pemuatan. Menghubungi media berita,
majalah, suplemen minggu, penulis lepas, dan publikasi dagang agar mereka
memuat atau menayangkan berita dan feature tentang atau dari organisasi
stakeholder bersangkutan.
c.Melakukan penelitian. Mengunpulkan informasi tentang opini public,
kecenderungan, isu yang muncul, iklim dan legislasi politik, liputan media,
kelompok minat khusus, dan kepentingan lainnya yang berkaitan dengan
stakeholder organisasi.
d.Mengatur manajemen dan administrasi. Membuat program dan perencanaan
melalui kerja sama dengan manajer lainnya, menetapkan kebutuhan,
menentukan prioritas, menetapkan publik, menentukan sasaran dan tujuan,
serta mengembangkan strategi dan taktik.
32
e.Melakukan konseling. Memberi saran bagi manajemen puncak seputar
lingkungan sosial, politik, dan peraturan, berkonsultasi dengan tim
manajemen mengenai cara menolak atau menanggapi krisis, dan bekerja
dengan pengambil keputusan kunci untuk merancang strategi mengelola atau
menanggapi isu yang kritis dan sensitif.
f.Menyelenggarakan kegiatan khusus. Mengatur dan mengelola konferensi
pers, lomba lari 10-K, konvensi, open house, pengguntingan pita dan grand
opening, perayaan, kegiatan pengumpulan dana dan peristiwa khusus
lainnya. 18
Pekerjaan PR tersebut harus selalu dikerjakan, agar terjalin hubungan
yang erat antara perusahaan dengan publiknya. Setiap pekerjaan atau kegiatan
PR itu perlu dianalisa terlebih dahulu siapa khalayak sasarannya dan tujuan
yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Dengan adanya analisis ini maka
setiap kegiatan dapat menghasilkan efek atau dampak yang positif bagi
perusahaan.
Kesepuluh kategori tersebut dapat dirangkum menjadi dua yaitu :
a.Membina hubungan ke dalam (publik internal)
Yang dimaksud dengan publik internal adalah publik yang menjadi bagian
dari unit atau badan atau perusahaan atau organisasi itu sendiri. Seorang PR
harus mampu mengidentifikasi atau mengenai hal-hal yang menimbulkan
gambaran negatif di dalam masyarakat, sebelum kebijakan itu dijalankan
oleh organisasi.
18
Ibid.. hal 31
33
b.Membina hubungan keluar (publik eksternal)
Yang dimaksud publik eksternal adalah publik umum (masyarakat).
Mengusahakan tumbuhnya sikap dan gambaran publik yang positif terhadap
lembaga yang diwakilinya.
Sedangkan fungsi Public Relations menurut Bertrand R. Canfield
dalam bukunya Public Relations, Principles and Problems ada tiga yaitu :
1.Mengabdi kepada kepentingan umum (It should serve the public’s interest)
2.Memelihara komunikasi yang baik (Maintain good communication)
3.Menitikberatkan moral dan tingkah laku yang baik (And stress good morals
and manners).19
Setiap fungsi dalam PR perlu berjalan bersamaan dengan porsi yang
seimbang untuk ketiga fungsi tersebut, agar tidak terjadi tumpang tindih atau
berat sebelah dalam menjalankan aktivitas, sehingga tujuan akhir yang
diinginkan juga dapat maksimal. Fungsi dan peran Public Relations yang ada
harus sesuai dengan kegiatan dan sasaran dari PR.
Menurut H. Fayol beberapa kegiatan dan sasaran PR adalah sebagai
berikut :
a.Membangun Identitas dan Citra Perusahaan (Building Coporate Identity and
Image).
-Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif.
-Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai
pihak.
19
Onong Uchjana Effendy, Human Relations Dan Public Relations, Bandung : CV Mandar Maju,
1993, hal. 137
34
b.Menghadapi krisis (Facing of Crisis)
Menangani keluhan (complaint) dan menghadapi krisis yang terjadi dengan
membentuk manajemen krisis dan PR Recovery of Image yang bertugas
memperbaiki lost of image and damage .
c.Mempromosikan Aspek Kemasyarakatan (Promotion Public Causes)
- Mempromosikan yang menyangkut kepentingan public
- Mendukung kegiatan kampanye sosial anti merokok, serta menghindari
obat-obatan terlarang, dan sebagainya.20
2.4 Khalayak (Public)
Tugas dan fungsi PR tersebut dilakukan oleh seorang PR untuk menjaga
hubungan baik antara khalayak dengan perusahaan, melalui aktivitas PR. Oleh
karena itu, PR perlu membuat klasifikasi atau penggolongan khalayak, agar
kegiatan atau aktivitas PR yang dijalankan sesuai dengan target sasaran aktivitas
tersebut.
Pengertian khalayak (public) itu sendiri adalah sekelompok orang yang
menaruh perhatian pada sesuatu hal yang sama, mempunyai minat dan
kepentingan yang sama. Pengertian khalayak (public) yang lain adalah kelompok
atau orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara
internal maupun eksternal. Publik dapat merupakan group kecil, terdiri atas orangorang dengan jumlah sedikit, atau juga dapat merupakan kelompok besar.
20
Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Komunikasi Konsep dan Aplikasi, Jakarta : Rajawali
Press, 2001, hal. 23-24
35
Setiap organisasi atau perusahaan memiliki khalayak sendiri, kepada
khalayak yang terbatas itulah organisasi senantiasa menjalin komunikasi, baik
secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, suatu organisasi atau
perusahaan tidak hanya menyelenggarakan komunikasi dengan staf atau
konsumennya saja, tapi juga dengan khalayak (public) yang lainnya.
Meskipun khalayak dari suatu organisasi boleh jadi berbeda dari khalayak
organisasi-organisasi lainnya, tetapi kita dapat mengidentifikasi adanya sepuluh
khalayak utama yang paling sering menjadi subject khalayak dari berbagai macam
organisasi secara umum. Kesepuluh khalayak tersebut adalah :
1.Masyarakat luas
2.Calon pegawai atau anggota
3.Para pegawai atau anggota
4.Pemasok jasa dan berbagai macam barang
5.Para investor – pasar uang
6.Para distributor
7.Konsumen dan pemakai produk organisasi
8.Para pemimpin pendapat umum
9.Serikat-serikat pekerja
10.Media massa21
Kesepuluh khalayak ini perlu diklasifikasikan agar ketika terjadi sebuah
masalah atau issue, kita dapat segera mengatasi issue tersebut dengan program
atau kegiatan PR yang sesuai dengan kebutuhan khalayak dan tujuan akhir yang
21
Frank Jefkins, op.cit, hal. 81.
36
ingin diperoleh dari program tersebut setelah adanya masalah atau issue di
perusahaan atau organisasi.
Menurut Rhenald Kasali, public organisasi dibagi menjadi sebagai berikut
ini:
1.Publik internal dan publik eksternal.
Publik internal adalah publik yang berada di dalam organisasi, seperti karyawan,
manajer dan pemegang saham. Publik eksternal adalah publik yang berada di
luar organisasi seperti Bank atau pemasok.
2.Publik primer, sekunder dan marginal.
Dalam menjalankan kegiatan Public Relations tentunya tidak semua stakeholder
akan diterpa oleh pesan-pesan yang disampaikan, sehingga disusunlah prioritas.
Berdasarkan prioritas itu maka ditetapkan mana publik primer yang merupakan
publik yang paling penting, publik yang kurang penting atau publik sekunder,
dan publik yang bisa diabaikan yakni publik marginal.
3.Publik tradisional dan Publik masa depan.
Publik tradisional adalah publik yang pada saat sekarang sudah berhubungan
dengan organisasi seperti karyawan dan pelanggan. Sedangkan publik masa
depan adalah publik yang pada masa depan diperkirakan akan memberikan
pengaruhnya pada organisasi seperti para mahasiswa, peneliti, dan konsumen
potensial.
37
4.Proponents, opponents, dan uncommitted.
Diantara publik-publik itu, tentu ada publik yang menentang organisasi
(opponents), yang berpihak pada organisasi (proponents) dan publik yang tak
peduli (uncommitted).
5.Silent Majority dan Vocal Majority
Dari kalangan publik yang menentang atau memihak organisasi tentu ada yang
menyatakan penentangan atau dukungannya secara vokal namun ada pula yang
menyatakannya secara pasif (silent).22
2.5 External Relations
Dalam sebuah organisasi, khalayak di bagi menjadi dua yaitu khalayak
internal dan khalayak eksternal. Hubungan baik antara perusahaan dengan
khalayak perlu di jaga, agar tidak menimbulkan konflik yang akan merugikan ke
dua belah pihak. Untuk itu PR perlu melakukan komunikasi yang terus menerus
dengan menggunakan pendekatan secara persuasif atau kekeluargaan, kepada
semua khalayak agar tercipta suasana yang harmonis dan rukun.
Dari judul yang diambil oleh peneliti, maka penelitian ini lebih
mengkhususkan tentang membina hubungan baik dengan khalayak eksternal, atau
yang lebih dikenal dengan external relations. External Relations adalah hubungan
yang diselenggarakan atau dijalin antara organisasi atau perusahaan dengan pihak
di luar organisasi. Publik eksternal yang menjadi sasaran Public Relations ialah
para pelanggan (customer), khalayak sekitar (community), instansi pemerintah
22
Yosal Iriantara, op.cit. hal. 8
38
(government), pers (press), dan lain-lain kelompok di luar organisasi. Hubungan
baik dengan mereka sama pentingnya dengan hubungan publik intern; turut
menentukan sukses tidaknya tujuan yang dicapai oleh suatu organisasi.
Bagi suatu perusahaan, hubungan-hubungan dengan publik di luar
perusahaan itu merupakan suatu keharusan di dalam usaha-usaha untuk :
a.Memperluas langganan
b.Memperkenalkan produksi
c.Mencarai modal dan hubungan
d.Memecahkan
persoalan-persoalan
atau
kesulitan-kesulitan
yang
sedang
dihadapi.
Tugas penting Public Relations dalam external relations adalah
mengadakan komunikasi yang efektif, yang sifatnya informatif dan persuasif,
yang ditujukan kepada publik di luar badan itu. Informasi harus diberikan dengan
jujur, berdasarkan fakta dan harus diteliti, sebab publik mempunyai hak untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang sesuatu yang menyangkut
kepentingannya.
Dalam melakukan external relations, kita menggunakan komunikasi
eksternal yang berlangsung atau terjadi dua arah antara pihak organisasi atau
lembaga dengan pihak luar. Keberhasilan dalam membina komunikasi eksternal
ini, juga sekaligus merupakan keberhasilan pihak Pejabat Humas atau PR dalam
upaya memperoleh dukungan, pengertian, kepercayaan, partisipasi dan kerja sama
lain sebagainya dengan pihak publiknya.
39
Komunikasi eksternal ini dapat menggunakan media-media komunikasi
seperti:
1.Iklan
Iklan surat kabar kelembagaan merupakan salah satu media pokok komunikasi
dengan orang-orang dalam komunitas perusahaan. Surat kabar ini mencapai
sebagian besar komunitas dengan harga per pembaca yang terhitung murah.
Meskipun surat kabar merupakan media massa, iklan surat kabar menawarkan
tingkat selektivitas pembaca yang masuk akal melalui pemilihan surat kabar,
posisinya pada surat kabar itu, dan jadwal penyiaran.
2.Publisitas
Publisitas merupakan unsur hubungan komunitas yang amat penting. Publikasi
perusahaan yang disebarkan kepada pemuka pendapat tertentu merupakan media
nyata untuk jenis-jenis publisitas tertentu
3.Gelanggang terbuka dan Wisata pabrik
Cara yang efektif untuk memberikan informasi kepada komunitas yang
berkepentingan dengan bisnis, ialah dengan mengundang mereka mengunjungi
pabrik dan menyaksikan kegiatannya. Wisata pabrik dapat memperlihatkan
dengan meyakinkan bahwa suatu perusahaan menyatakan tempat yang baik
untuk bekerja, dan bahwa perusahaan menaruh perhatian pada kesejahteraan
karyawannya.
4.Pidato umum
Komunikasi lisan yang resmi dengan komunikasi pabrik berbentuk pidato
umum yang dilakukan oleh pemimpin perusahaan dihadapan perkumpulan
40
kemasyarakatan setempat, kelompok para pertemuan makan siang, himpunan
professional, majelis sekolah, serta organisasi kerohanian dan persaudaraan.
5.Pertemuan dengan pemuka pendapat
Untuk meningkatkan pengertian yang lebih baik mengenai kebijaksanaan dan
pelaksanaan perusahaan, banyak perusahaan mengadakan pertemuan dengan
para pemuka komunitas di kota-kota di mana pabrik dioperasikan.
6.Kunjungan para pengusaha ke lembaga-lembaga komunitas
Atas undangan organisasi-organisasi sekolah dan pelayanan sosial, para
pelaksana
bisnis
mengunjungi
lembaga-lembaga
komunitas
ini
untuk
mengetahui pekerjaan dan masalahnya.
7.Film
Pertunjukkan film dan slide yang menggambarkan berbagai aktivitas perusahaan
merupakan media informasi dan pendidikan yang penting. Film tersebut juga
dipergunakan untuk tambahan pidato yang dilakukan oleh pemimpin pabrik
kepada kelompok komunitas.
8.Pameran dan Peragaan
Pameran dan peragaan (display) produk jadi, bahan mentah, dan langkah dalam
proses produksi, diadakan di berbagai etalase toko-toko setempat, pangkalan
udara, dan bank untuk menginformasikan kepada komunitas tentang perusahaan
dan produknya.
41
9.Laporan tahunan
Laporan tahunan yang dikirimkan melalui surat para pemuka komunitas,
redaktur, sekolah, dan perpustakaan dan yang dibagikan kepada karyawan dan
pengunjung pabrik, merupakan media yang efektif.
10.Literatur Kelembagaan
Literatur kelembagaan yang menggambarkan sejarah dan operasi suatu
perusahaan disebarluaskan kepada para redaktur, penyiar radio dan televisi,
pendidik, pengunjung pabrik, dan para pemuka pendapat, sama seperti ke
perpustakaan umum, hotel, sekolah, dan rumah sakit serta pada berbagai rapat di
mana para pelaksana perusahaan berbicara.23
2.6 Community Relations
Dari uraian di atas terlihat bahwa external relations perlu dilakukan oleh
seorang PR, karena khalayak eksternal memiliki pengaruh yang besar terhadap
pembentukan opini, citra, dan reputasi dari sebuah perusahaan. Oleh karena itu,
keberadaan khalayak eksternal perlu menjadi perhatian utama bagi seorang PR di
dalam perusahaan atau organisasi, untuk menyusun dan membuat program atau
aktivitas PR yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan khalayak eksternal. Salah
satu khalayak eksternal tersebut adalah komunitas.
Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup di tempat yang sama,
berpemerintahan sama, dan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang umumnya
23
H. Frazier Moore, Hubungan Masyarakat (Prinsip, Kasus, dan Masalah) , Bandung : PT
Remaja Rosdakarya, Edisi kedua, 2000, hal. 76
42
turun temurun. Orang-orang yang hidup dalam komunitas dengan lembagalembaganya membuat mereka saling bergantung satu dengan lainnya. 24
Berdasarkan definisi di atas, kita dapat mengetahui bahwa komunitas
merupakan kelompok orang yang hidup di dalam sebuah lingkungan atau wilayah
yang sama, sehingga tingkat ketergantungan antara yang satu dengan yang lain
sangat tinggi. Dalam menyelesaikan sebuah masalah, mereka selalu berasaskan
kekeluargaan. Sehingga setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara baik-baik
dan ketika satu orang mengalami kesulitan, mereka akan saling bergotong royong
dengan ikhlas dan sukarela, karena mereka merasa memiliki budaya, tempat
tinggal, pemerintahan, dan sejarah yang sama, dan hal inilah yang akan membuat
rasa gotong royong diantara mereka semakin besar juga.
Menurut mantan staf community relations di Illinois Bell Telephone ini,
komunitas bukan lagi sekadar kumpulan orang yang sama tapi juga menunjukan
terjadinya interaksi di antara kumpulan orang tersebut. Jadi, selain karena faktorfaktor fisik yakni tinggal di lokasi yang sama, komunitas itu juga bisa merupakan
unit sosial yang terbentuk lantaran adanya interaksi di antara mereka.25
Interaksi dapat diartikan hubungan antara satu individu dengan individu
lain tanpa melihat perbedaan budaya, suku, agama, dan ras. Dengan berinteraksi
kita dapat melakukan berbagai hal misalnya bertukar pikiran, membantu
memecahkan masalah, melakukan aktivitas bersama, mengobrol, dan lain
sebagainya. Sehingga masing-masing indidu ini tidak akan disingkirkan dari
lingkungannya, karena ia mampu berinteraksi dengan individu lain secara baik.
24
25
Ibid, hal. 65.
Yosal Iriantara, op.cit. hal. 22
43
Menurut Carol Anne Ogdin ada 5 faktor yang bisa membedakan
komunitas dari kelompok-kelompok lain :
a.Pembatasan dan eksklusivitas yang berdasarkan hal ini bisa dirumuskan siapa
yang menjadi anggota dan bukan anggota komunitas tersebut.
b.Tujuan yang merupakan landasan keberadaan komunitas
c.Aturan yang memberi pembatasan terhadap perilaku komunitas, termasuk
ancaman disingkirkan untuk yang berperilaku melanggar aturan itu
d.Komitmen terhadap kesejahteraan orang lain, sehingga ada kepedulian terhadap
orang lain yang berada dalam komunitas yang sama, atau setidaknya ada
tanggung jawab bagi individu terhadap komunitas secara keseluruhan.
e.Kemandirian yakni memiliki kebebasan sendiri untuk menentukan apa yang
dilakukan dan cara memasuki komunitas.26
Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah sekadar soal
bertetangga belaka. Bila komunitas dimaknai dengan loyalitas, bisa berarti
menjaga hubungan baik, selain itu juga dapat dipandang sebagai wujud tanggung
jawab sosial organisasi.
Tanggung jawab sosial organisasi atau perusahaan perlu diwujudkan, agar
tidak semata-mata bekerja untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya
bagi pemilik modal atau pemegang saham, melainkan juga memberikan manfaat
pada masyarakat umumnya dan komunitas pada khususnya.
Dalam konsep tanggung jawab sosial korporat, terlihat bahwa salah satu
bidang perwujudan tanggung jawab sosial itu adalah menjalin hubungan dengan
26
Ibid, hal. 24
44
komunitas. Namun konsep komunitasnya, bukan komunitas dalam artian
geografis belaka melainkan juga komunitas dalam artian interaksi antarmanusia
yang menjadi anggota satu komunitas yang tak terikat dalam satu wilayah
geografis tertentu.27
Selama ini, tanggung jawab sosial korporat selalu identik dengan usahausaha besar, khususnya perusahaan multinasional atau perusahaan nasional yang
masuk kategori papan atas. Padahal, tanggung jawab ini melekat pada semua
kegiatan usaha tanpa memandang ukurannya. Bahkan usaha kecil dan menengah
sekalipun memikul tanggung jawab tersebut. Hal ini merupakan konsekuensi dari
kenyataan bahwa organisasi bisnis itu selain berdimensi ekonomi juga berdimensi
sebagai institusi sosial. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)
perlu diimplementasikan dalam kegiatan community relations.
Dengan melaksanakan tanggung jawab sosialnya, ada beberapa manfaat
yang akan dirasakan oleh perusahaan. Pertama, perusahaan akan terhindar dari
reputasi negatif perusak lingkungan, yang hanya mengejar keuntungan jangka
pendek tanpa memperdulikan akibat dari perilaku. Kedua, kerangka kerja etis
yang kokoh dapat memandu para manajer dan karyawan menghadapi masalah
sepertu permintaan lapangan kerja dari lingkungan sekitarnya. Ketiga, perusahaan
etis mendapat rasa hormat dari kelompok inti masyarakat yang sangat
membutuhkan perusahaan ini eksis, terutama pelanggan dan karyawannya.
Terakhir yang keempat, banyak perusahaan yang sadar bahwa perilaku etis
27
Ibid, hal. 58
45
membuat perusahaan aman dari gangguan lingkungan sekitar, sehingga dapat
beroperasi dengan lancar.28
Konsep CSR sebetulnya bukan merupakan konsep baru dalam dunia
bisnis, di tingkat International Philip Kotler telah mengungkapkan bahwa CSR
hendaknya bukan merupakan aktivitas yang hanya merupakan kewajiban
perusahaan secara formalitas kepada lingkungan sosialnya, namun CSR
seharusnya merupakan sentuhan moralitas perusahaan terhadap lingkungan
sosialnya sehingga CSR merupakan denyut nadi perusahaan.
CSR dalam versi Bank Dunia,”CSR is the commitmen of business to cont
ribute to sustainable economic development working with employees and their
representatives, the local community and society at large to improve quality of
live, in ways that are booth good for business and good for development.” Dengan
demikian Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebuah konsep
manajemen yang menggunakan pendekatan “tripple bottom line” yaitu
keseimbangan antara mencetak keuntungan, harus seiring dan berjalan selaras
dengan
fungsi-fungsi
sosial
dan
pemeliharaan
lingkungan
hidup
demi
terwujudnya pembangunan yang sustainable (berkelanjutan).29
Kegiatan community relations merupakan investasi sosial perusahaan yang
bersifat jangka panjang. Secara berangsur akan terbentuk citra positif terhadap
kegiatan sosial yang dilakukan. Beberapa kegiatan bisa menjadi trade mark
perusahaan yang berpengaruh dalam memperkuat produk.
28
29
Jackie Ambadar, op.cit., hal xi
Ibid, hal. 33
46
Dalam membuat sebuah program atau kegiatan seorang PR perlu
melakukan beberapa tahapan antara lain :
1.Pengumpulan Fakta
Permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat kita cukup banyak. Mulai dari
permasalahan lingkungan sampai dengan permasalahan ekonomi. Kita bisa
mengumpulkan fakta tentang permasalahan tersebut dari berbagai sumber
seperti berita media massa, data statistik, keluhan langsung dari warga
masyarakat, dan lain-lain.
2.Perumusan Masalah
Masalah secara sederhana bisa dirumuskan sebagai kesenjangan antara yang
diharapkan dengan
yang dialami, untuk menyelesaikannya diperlukan
kemampuan menggunakan pikiran dan keterampilan secara tepat. Jadi, dalam
merumuskan masalah itu kita mulai memfokuskan pada komunitas organisasi.
3.Perencanaan dan Pemrograman
Dalam membuat rencana berarti kita mengandaikan sesuatu akan terwujud atau
terjadi pada kemudian hari. Sesuatu yang akan terwujud atau terjadi kemudian
hari itu adalah tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain, rencana merupakan
sebuah prakiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang
akan terwujud atau terjadi nanti.
4.Aksi dan Komunikasi
Aspek aksi dan komunikasi inilah yang menjadi bagian dari kegiatan community
relations yang dilakukan oleh PR. PR pada dasarnya merupakan proses
komunikasi dua arah yang bertujuan untuk membangun dan menjaga reputasi
47
dan citra organisasi di mata publiknya. Sedangkan aksi sebagai implementasi
program yang sudah direncanakan, pada dasarnya sama saja dengan
implementasi program apa pun.
5.Evaluasi
Evaluasi merupakan keharusan pada setiap akhir program atau kegiatan untuk
mengetahui efektivitas dan efisiensi program. Berdasarkan hasil evaluasi itu bisa
diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan atau dilanjutkan dengan
melakukan beberapa perbaikan dan penyempurnaan.30
Program community relations sebagai bentuk solidaritas sosial perusahaan
bukan hanya berguna bagi masyarakat, tetapi juga sangat bermanfaat untuk
membentuk citra perusahaan, dengan publikasi yang tepat akan sangat membantu
membangun menggalang kerjasama antara perusahaan dengan masyarakat
Menurut Rogovsky manfaat keterlibatan komunitas organisasi, yaitu :
1.Manfaat komunitas pada organisasi
a.Reputasi dan citra organisasi yang lebih baik
b.Lisensi untuk beroperasi secara sosial
c.Memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja lokal
d.Keamanan yang lebih besar
e.Infrastruktur dan lingkungan sosio-ekonomi yang lebih baik
f.Menarik dan menjaga personel berkaliber tinggi untuk memiliki komitmen
yang tinggi.
30
Yosal,Iriantara,op.cit., hal 80-84
48
g.Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa dan mungkin pelanggan lokal
yang bermutu
h.Laboratorium pembelajaran untuk inovasi organisasi
2.Manfaat organisasi pada komunitas
a.Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman kerja dan pelatihan
b.Pendanaan investasi komunitas, pengembangan infrastruktur
c.Keahlian komersial
d.Kompetensi teknis dan personal individual pekerja yang terlibat
e.Representatif bisnis sebagai juru promosi bagi prakarsa-prakarsa komunitas.31
Uraian tersebut menunjukkan bahwa manfaat community relations yang
dibangun berdasarkan visi tanggung jawab sosial korporat itu memang bisa
dipetik kedua belah pihak. Ini sejalan dengan prinsip bersama yang dikembangkan
melalui berbagai program dan kegiatan PR. Karena itu penting untuk disadari
bahwa program-program community relations bukanlah program dari perusahaan
untuk komunitas melainkan program untuk perusahaan dan komunitas.
Dengan manfaat yang dinikmati masing-masing pihak berarti komunitas
memberi kontribusi bagi organisasi. Komunitas bukan hanya kumpulan pelanggan
yang kebutuhannya dipenuhi oleh produk dan jasa yang dihasilkan organisasi
bisnis, tetapi juga dukungan dan kepercayaan yang sangat membantu perusahaan
untuk menjalankan aktivitas usahanya.
31
Ibid. hal. 70
49
2.7 Corporate Identity
Corporate identity atau identitas perusahaan adalah kombinasi logo,
komposisi warna, tipografi atau bentuk huruf, bentuk seragam pegawai, bentuk
khas
peralatan,
kendaraan
dinas,
dan
sebagainya,
yang
semuanya
mengidentifikasikan keunikan dan keberadaan suatu perusahaan atau organisasi
tertentu.32
Berdasarkan pengertian di atas kita dapat mengetahui bahwa identitas
setiap perusahaan memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Sehingga,
pandangan atau persepsi yang dimiliki oleh setiap individu terhadap sebuah
perusahaan juga berbeda.
Identitas korporat juga memancarkan citra kepada publik antara lain citra
di mata konsumen, komunitas, media, investor dan karyawan sendiri sehingga
jadilah citra korporat. Oleh karena itu, menurut Smith corporate image dibangun
dari empat area yaitu :
a. Produk atau service (termasuk kualitas produk, customer care)
b. Social responsibility, corporate citizenship, ethical behaviour, dan community
affairs.
c. Environments (kantor, showrooms, pabrik)
d. Communications (iklan, Public Relations, personal communications, brosur dan
program-program identitas korporat).33
32
M. Linggar Anggoro, Teori dan Profesi kehumasan (Serta Aplikasinya di Indonesia), Jakarta :
Bumi Aksara, 2004, hal. 306.
33
Rachmat Kriyantono, Public Relations Writing (Media PR Membangun Citra Korporat),
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008, hal. 11.
50
2.8 Corporate Image
Tanggung jawab sosial (CSR) yang dilakukan oleh perusahaan merupakan
bagian dari kategori social responsibility yang termasuk dalam corporate identity.
Tujuan dari kegiatan CSR itu antara lain untuk membina hubungan baik antara
perusahaan dengan komunitas, meningkatkan corporate image atau citra
perusahaan dan lain sebagainya. Tujuan inilah yang membuat sebuah program
perlu dilakukan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau komunitas.
Dari tujuan tersebut citra merupakan tujuan pokok sebuah perusahaan.
Oleh karena itu, menurut Bill Canton; citra adalah “image: the impression, the
feeling, the conception which the public has of a company; a concioussly created
created impression of an object, person or organization” (Citra adalah kesan,
perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja
diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi). 34
Pengertian citra sendiri bersifat abstrak atau intangible dan tidak dapat
diukur secara matematis, tetapi wujudnya bias dirasakan melalui penilaian baik
atau buruk seperti: tanda respek dan tanda hormat, dari publik yang ada
disekeliling perusahaan maupun di luar lingkungan perusahaan, kepercayaan,
professional, dan dapat diandalkan dalam pemberian pelayanan yang baik.
Setiap perusahaan mempunyai citra sebanyak jumlah orang yang
memandangnya. Berbagai citra perusahaan datang dari pelanggan perusahaan,
pelanggan potensial, komunitas, staff perusahaan, pesaing, distributor, pemasok,
bankir, yang mempunyai pandangan terhadap perusahaan.
34
Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, op.cit. hal 111.
51
Sehingga citra perusahaan (corporate image) adalah citra dari suatu
organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan
pelayanannya. Citra perusahaan ini terbentuk dari banyak hal, seperti sejarah atau
riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang
keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik,
reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan turut memikul tanggung
jawab sosial, dan komitmen mengadakan riset.35
Citra merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai bagi dunia
hubungan masyarakat atau Public Relations. Dengan demikian, kita perlu
memperkuat citra individu dan citra perusahaan, agar bisa mendapatkan reputasi
dan prestasi yang baik dari khalayak sasaran.
Citra positif mempunyai arti yaitu kredibilitas perusahaan dimata publik
harus baik (credible). Kredibilitas mencakup dua hal :
a.Kemampuan (expertise)
Persepsi publik bahwa perubahan dirasa mempunyai kemampuan dalam
memenuhi kebutuhan, harapan, maupun kepentingan publik. Misalnya, produkproduk yang dihasilkan murah, berkualitas, dan ramah lingkungan.
b.Kepercayaan (trustworthy)
Persepsi publik bahwa perusahaan dapat dipercaya untuk tetap komitmen
menjaga kepentingan bersama. Perusahaan dipersepsi tidak semata-mata
mengejar kepentingan bisnis (profit oriented), tetapi juga mempertimbangkan
kebutuhan
35
dan
kepuasaan
Frank Jefkins, op.cit. hal 20.
konsumen.
Bahkan
perusahaan
dituntut
52
memperhatikan aspek-aspek sosial. Dalam hal ini public relations harus dapat
meyakinkan publik, melalui program komunikasi, bahwa program-program
perusahaan diarahkan mewujudkan investasi sosial (social investment) yaitu
program-program yang ditujukan untuk mendukung kesejahteraan sosial. 36
Kemampuan dan kepercayaan merupakan dua hal yang berbeda tetapi
menjadi penentu sebuah kredibilitas, jika kita memiliki kemampuan dan
kepercayaan yang baik, maka kredibilitas kita dimata khalayak sasaran juga akan
baik, begitu juga sebaliknya.
Kemampuan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, pengalaman dan
lain sebagainya yang akan membantu seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang
baik, sehingga nantinya akan memberikan dampak yang positif juga bagi
perusahaan. Sedangkan kepercayaan tidak dapat dipelajari, melainkan harus lahir
dari dalam individu itu sendiri, ketika seseorang bisa dipercaya, maka ia akan
mendapatkan tanggapan yang positif dari orang-orang yang ada disekitarnya
untuk melakukan sebuah pekerjaan yang besar dan menghasilkan keuntungan
yang besar juga bagi perusahaan.
Untuk itu, seluruh komponen dalam perusahaan harus menciptakan citra
yang positif, maka kegiatan Public Relations dapat bersifat:
a.Public Relations sebagai metode komunikasi, yaitu kegiatan public relations
yang dilakukan melalui divisi public relations. Perusahaan mempunyai divisi
khusus public relations dengan berbagai macam program kegiatan yang
dirancang secara sistematis dan dipimpin oleh seorang manajer public relations.
36
Rahmat Kriyantono, Op.cit., hal. 8.
53
b.Public Relations sebagai teknik komunikasi, yaitu segala perilaku anggota
organisasi berpotensi memengaruhi citra tertentu dimata publik. Di sini berlaku
prinsip “everybody is a PR” atau “You are PR on yourself”. Setiap orang
adalah public relations bagi dirinya dan perusahaan dia bekerja.37
37
Ibid. hal. 12
54
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian
yang bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi
tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. Penelitian ini hanyalah
memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian tidak mencari atau menjelaskan
hubungan, tidak menguji hipotesis atau memberi prediksi.38
Secara harafiah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk
membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian. Sehingga metode ini
berkehendak mengadakan akumulasi data dasar terbuka. Tetapi dalam pengertian
metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode
penelitian yang lebih luas tetapi di luar metode sejarah dan eksperimental, atau
secara lebih umum sering dinamakan metode survei.
Penelitian deskriptif bertujuan untuk :
1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang
ada.
2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi atau praktek-praktek yang
berlaku.
3. Membuat perbandingan atau evaluasi
38
Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta : Kencana Prenada Media
Group, September, 2006, hal. 69
55
4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah
yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana
dan keputusan pada waktu yang akan datang.39
Kerja peneliti bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomenafenomena yang ada, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesahipotesa, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu
masalah yang ingin dipecahkan. Penelitian deskriptif ini juga menitikberatkan
pada observasi dan suasana alamiah dimana peneliti bertindak sebagai pengamat
yang terjun langsung ke lapangan.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian
kualitatif. Dalam penelitian kualitatif tidak mengutamakan besarnya populasi atau
sampling bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas. Jika data yang
terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka
tidak perlu mencari sampling lainnya. Disini yang lebih ditekankan adalah
persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data.40
Peneliti merupakan bagian integral dari data, artinya periset ikut aktif
dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Dengan demikian, periset menjadi
instrumen riset yang harus terjun langsung di lapangan. Karena itu, riset ini
bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan.
39
40
Jalaludin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung : Rosdakarya, 2004, hal. 25
Rachmat Kriyantono, op.cit, hal. 58
56
Secara umum, riset yang menggunakan metodologi kualitatif mempunyai
ciri-ciri:
a. Intensif, partisipasi periset dalam waktu lama pada setting lapangan, periset
adalah instrument pokok riset.
b. Perekaman yang sangat hati-hati terhadap apa yang terjadi dengan catatancatatan di lapangan dan tipe-tipe lain dari bukti-bukti dokumenter.
c. Analisis data lapangan
d. Melaporkan hasil termasuk deskriptif detail, quotes (kutipan-kutipan) dan
komentar-komentar
e. Tidak ada realitas yang tunggal, setiap peneliti mengkreasi realitas sebagai
bagian dari proses penelitiannya. Realitas dipandang sebagai dinamis dan
produk konstruksi sosial.
f. Subjektif dan berada hanya dalam referensi peneliti. Peneliti sebagai sarana
penggalian interpretasi data.
g. Realitas adalah holistic dan tidak dapat dipilah-pilah.
h. Periset memproduksi penjelasan unik tentang situasi yang terjadi dan
individu-individunya.
i. Lebih pada kedalaman (depth) daripada keluasan (breadth)
j. Prosedur riset : empiris-rasional dan tidak berstruktur
k. Hubungan antara teori, konsep dan data; data memunculkan atau
membentuk teori baru.41
41
Ibid, hal.59
57
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif. Artinya, bahwa penelitian ini hanya menggambarkan atau memaparkan
peristiwa atau situasi yang terjadi secara sistematis dan faktual, melalui observasi
dan wawancara mendalam yang dilakukan peneliti kepada narasumber secara
langsung. Sehingga data-data yang terkumpul berupa kata-kata, kalimat-kalimat,
dan gambar.
3.3 Key Informant (Narasumber)
Key informan adalah orang atau mereka-mereka yang memberikan
informasi yang berkaitan dengan topik, yang kategorinya adalah mereka yang
terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan topik “ Kegiatan
Community Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Dalam Meningkatkan
Corporate Image”, dimana mereka begitu banyak memberikan informasi yang
berkaitan dengan topik di atas. Adapun narasumber disini adalah :
3.3.1 Key Informant (Narasumber) Internal
Bapak Iskandar Tumbuan
Team Leader Media Relations
Alasannya, karena tugas beliau adalah mempublikasikan kegiatan
Community Relations melalui media cetak dan media elektronik,
sehingga seluruh masyarakat dapat mengetahui kegiatan Community
Relations yang sudah dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Selain itu, beliau juga banyak memberikan informasi yang dibutuhkan
oleh peneliti.
58
3.3.2 Key Infomant (Narasumber) Eksternal
a. Dr. Soediono
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan
Tuberkulosis Indonesia (PPTI).
Alasannya, karena Perkumpulan tersebut mendapatkan bantuan biaya
pengobatan dari Bank Mandiri sejak tahun 2004. Bantuan biaya yang
diberikan seperti biaya konsultasi dokter, rontgent dan pemeriksaan
dahak serta uang transport bagi penderita TBC dari keluarga miskin
atau tidak mampu.
b. Ibu Gitayana
Member Board Of Trustees Yayasan Nurani Dunia
Alasannya, karena Yayasan Nurani Dunia pernah melakukan kerja
sama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dari tahun 2002 hingga
sekarang. Kerja sama tersebut meliputi tahun 2002 pembangunan
sekolah di Purwakarta, tahun 2003-2005 program beasiswa, tahun
2005-2007 pembangunan rumah di Neuheun Aceh dan tahun 2008
bantuan genset untuk training center di Aceh.
c. Bapak Wahyu
Pasien TBC yang berobat di klinik Jakarta Respiratory Center (JRC)
d. Ibu Maemunah
Pasien TBC yang berobat di klinik Jakarta Respiratory Center (JRC)
59
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data
pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian. Maka data primer yang
akan saya gunakan adalah wawancara mendalam.
Wawancara Mendalam adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti
melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terusmenerus (lebih dari satu kali) untuk menggali informasi dari responden.
Karena itu, responden disebut juga informan, sebab wawancara dilakukan
lebih dari satu kali, maka disebut juga “intensive-interviews”.
Dalam pelaksanaannya, teknik wawancara mendalam ini membutuhkan
waktu yang cukup lama agar diperoleh hasil wawancara yang mendalam.
Bahkan tidak jarang digabung dengan teknik observasi partisipan. Wawancara
mendalam dan observasi ini merupakan wujud pendekatan konstruktivis, yaitu
menganggap bahwa realitas ada dalam pikiran subjek yang diteliti.
Pada wawancara mendalam ini, pewawancara relatif tidak mempunyai
kontrol atas respon informan, artinya informan bebas memberikan jawaban.
Karena itu periset mempunyai tugas berat agar informan bersedia memberikan
jawaban-jawaban yang lengkap, mendalam bila perlu tidak ada yang
disembunyikan. Caranya dengan mengusahakan wawancara berlangsung
informal seperti orang sedang mengobrol.
60
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau
sumber sekunder dari data yang dibutuhkan. Maka data sekunder yang akan
saya gunakan adalah dengan menggunakan studi kepustakaan.
Tinjauan kepustakaan atau studi kepustakaan mengungkapkan teori atau
pendidikan terdahulu yang relevan dengan penelitian anda. Tujuan tinjauan
kepustakaan ialah menghubungkan penelitian anda dengan konteks penelitian
yang lebih luas. Di dalamnya harus terkandung bahan-bahan yang
mengarahkan tujuan penelitian, rancangan penelitian, dan tema penelitian.
Karena itu, suatu tinjauan kepustakaan harus komprehensif walaupun tidak
terlalu banyak tinjauan kepustakaan yang lebih luas dan risnci tidak terdapat
pada proposal, tetapi dimuat dalam skripsi atau disertasi.
Masukkanlah dalam tinjauan kepustakaan itu artikel, kutipan, makalah,
laporan penelitian, wawancara, buku atau data primer yang
1.Memperjelas masalah
2.Menunjukkan mengapa penelitian anda amat penting
3.Mengungkapkan kemampuan penelitian anda untuk memecahkan persoalan
4.Menghubungkan penelitian anda dengan penelitian-penelitian lain yang
memecahkan masalah yang kira-kira sama.42
42
Jalaludin Rakhmat, op.cit. hal. 107
61
3.5 Definisi Konsep dan Fokus Penelitian
3.5.1 Definisi Konsep
a.Kegiatan Community Relations
Adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk komunitas, baik
yang tinggal di sekitar lingkungan perusahaan, maupun yang berada jauh
dari perusahaan. Kegiatan tersebut merupakan bentuk implementasi atau
penerapan dari tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih dikenal
dengan CSR.
b.Corporate Image
Adalah citra ini berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai tujuan
utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan (corporate image)
yang positif agar lebih dikenal serta diterima oleh publiknya, mungkin
tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima, hingga berkaitan dengan
tanggung jawab sosial (sosial care) perusahaan.
3.5.2 Fokus Penelitian
Fokus penelitian bertujuan untuk membatasi masalah apa yang akan
diteliti oleh peneliti, dimana dengan adanya fokus yang jelas dan mantap pada
penelitian, maka seorang peneliti dapat membuat keputusan yang tepat tentang
data mana yang akan dikumpulkan dan data mana yang tidak perlu digunakan.
Untuk itu penelitian difokuskan pada :
a. Pengumpulan data (Fact Finding)
Mencari jawaban atas pertanyaan berikut ini : bagaimana proses
komunikasi sebelum merencanakan kegiatan community relations,
62
identifikasi masalah, rencana program yang akan dilakukan, target
khalayak dari program tersebut, rencana waktu, dan tempat pelaksanaan.
b. Perencanaan (Planning)
Mencari jawaban atas pertanyaan berikut ini : tahapan perencanaan dalam
melakukan kegiatan community relations, tujuan program community
relations tersebut, waktu pelaksanaannya, khalayak sasarannya, media
komunikasi yang digunakan, ukuran keberhasilan dari setiap tahapan
tersebut, tindakan yang akan dilakukan bila tidak sesuai rencana atau tidak
mencapai target, mekanisme monitoring, penanggung jawab pelaksanaan
dan penanggung jawab monitoring
c. Pelaksanaan (Actuating)
Mencari jawaban atas pertanyaan : bagaimana proses pelaksanaan dari
masing-masing kegiatan (bentuk kegiatan, waktu, tempat, komunikator, isi
pesan dari kegiatan tersebut, komunikan, efek yang diinginkan) hambatanhambatan pada saat pelaksanaan, dan cara mengatasi hambatan tersebut.
d. Pengawasan (Monitoring)
Mencari jawaban atas pertanyaan : bagaimana mekanisme monitoring dari
masing-masing kegiatan, penanggung jawab atas monitoring masingmasing kegiatan, langkah setelah monitoring, dan solusi dari permasalahan
yang didapat selama monitoring.
63
e. Evaluasi (Evaluating)
Mencari jawaban atas pertanyaan : mekanisme evaluasi, penanggung
jawab evaluasi, hasil evaluasi dari masing-masing kegiatan, tindakan yang
akan dilakukan setelah adanya evaluasi.
3.6 Teknik Analisa Data
Analisa data kualitatif digunakan bila data-data yang terkumpul dalam
penelitian adalah data kualitatif. Data kualitatif dapat berupa kata-kata, kalimatkalimat, atau narasi-narasi, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam
maupun observasi.
Tahap analisa data memegang peran penting dalam riset kualitatif, yaitu
sebagai faktor utama penilaian kualitas tidaknya penelitian. Artinya, kemampuan
periset memberi makna kepada data merupakan kunci apakah data yang
diperolehnya memenuhi unsur reliabilitas dan validitas atau tidak. Ingat,
reliabilitas dan validitas data kualitatif terletak pada periset sebagai instrument
riset.
Riset kualitatif adalah riset yang menggunakan cara berpikir induktif, yaitu
cara berpikir yang berangkat dari hal-hal yang khusus (fakta empiris) menuju halhal yang umum (tataran konsep). Karena itu, secara garis besar teknik analisis
datanya dapat digambarkan di berikut ini :
64
Proses Analisa Data Kualitatif43
Fakta Empiris
Berbagi Data
di Lapangan
Pemaknaan /
Interpretasi
Ciri-ciri umum
Analisis/Klasifikasi
Data/Kategorisasi
Ciri-ciri umum
Kesahihan data :
-Kompetensi subjek
-Authenticity & Triangulasi
-Intersubjectivity Agreement
BERTEORI &
KONTEKSTUAL
Gambar di atas menunjukkan bahwa analisa data kualitatif dimulai dari
analisis berbagai data yang berhasil dikumpulkan peneliti di lapangan. Data
tersebut terkumpul baik melalui observasi, wawancara mendalam, focus group
discussion maupun dokumen-dokumen. Kemudian data tersebut diklasifikasikan
ke dalam kategori-kategori tertentu. Pengklasifikasian atau pengkategorian ini
harus
mempertimbangkan
kesahihan
(kevalidan),
dengan
memperhatikan
kompetensi subjek penelitian, tingkat autentisitasnya dan melakukan triangulasi
berbagai sumber data.
Setelah diklasifikasikan, peneliti melakukan pemaknaan terhadap data.
Pemaknaan ini merupakan prinsip dasar penelitian kualitatif, yaitu bahwa realitas
ada pada pikiran manusia, realitas adalah hasil konstruksi sosial manusia. Dalam
melakukan pemaknaan atau interpretasi tersebut, periset dituntut berteori untuk
menjelaskan dan berargumentasi. Berteori ini penting untuk membantu peneliti
mempertahankan argumentasinya (Blocking Interpretation). Kegiatan berteori ini
43
Rachmat Kriyantono, op.cit, hal 193
65
dikenal dengan istilah conscientization. Selain itu, interpretasi peneliti juga harus
mendialogkan temuan data dengan konteks-konteks sosial, budaya, politik dan
lainnya yang melatarbelakangi fenomena yang ditelitinya.44
3.7 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Penilaian kesahihan riset kualitatif biasanya terjadi sewaktu proses
pengumpulan data dan analisis-interpretasi data. Jenis-jenisnya adalah :
A. Kompetensi Subjek Riset
Artinya subjek riset harus credible, caranya dengan menguji jawabanjawaban pertanyaan berkait dengan pengalaman subjek. Bagi yang tidak
mempunyai penglaman dan pengetahuan mengenai masalah riset, data dari subjek
tersebut tidak credible.
B. Trustworthiness
Yaitu menguji kebenaraan dan kejujuran subjek dalam mengungkap
realitas menurut apa yang dialami, dirasakan atau dibayangkan. Trustworthiness
ini mencakup dua hal :
1. Authenticity, yaitu memperluas konstruksi
personal yang dia ungkapkan.
Periset memberi kesempatan dan memfasilitasi pengungkapan konstruksi
personal yang lebih detail, sehingga memengaruhi mudahnya pemahaman
yang lebih mendalam. Misalnya, periset memberi peluang subjek untuk
bercerita panjang lebar tantang apa yang dialaminya dalam konteks
wawancara yang informal dan santai.
44
Ibid, hal. 94
66
2. Analisis Triangulasi, yaitu menganalisis jawaban subjek dengan meneliti
kebenarannya dengan data empiris (sumber data lainnya) yang tersedia. Di sini
jawaban subjek di cross-check dengan dokumen yang ada. Dalam penelitian
ini, triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber. Triangulasi Sumber
adalah membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan suatu
informasi
yang
diperoleh
dari
sumber
yang
berbeda.
Misalnya,
membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara; membandingkan apa
yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi.
C. Intersubjectivity Agreement
Semua pandangan, pendapat atau data dari suatu subjek didialogkan
dengan pendapat, pandangan atau data dari subjek lainnya. Tujuannya untuk
menghasilkan titik temu antar data (intersubjectivity agreement).45
45
Ibid, hal. 70
67
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
4.1.1 Sejarah Perusahaan
Bank Mandiri berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari
program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia.
Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank
Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan
Indonesia, bergabung menjadi Bank Mandiri. Keempat Bank tersebut telah turut
membentuk riwayat perkembangan perbankan di Indonesia dimana sejarahnya
berawal pada lebih dari 140 tahun yang lalu.
Proses panjang pendirian Bank Bumi Daya bermula nasionalisasi sebuah
perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara
pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah bank
milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk
melanjutkan operasi bank tersebut. Pada tahun 1965, Bank Umum Negara
digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama menjadi Bank
Negara Indonesia Unit IV. Kemudian pada tahun 1968, Bank Negara Indonesia
Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya.
Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia,
pertama kali dibentuk
dengan nama Nederlandsch
Indische Escompto
Maatschappij di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya
68
berubah menjadi Escomptobank NV, dimana selanjutnya pada tahun 1960
dinasionalisasikan serta berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah
bank Pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.
Sejarah Bank Ekspor Impor Indonesia berawal dari perusahaan dagang
Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun
1842 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870.
Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini, dan
selanjutnya pada tahun 1965 perusahaan ini digabung dengan Bank Negara
Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968, Bank Negara
Indonesia Unit II dipecah menjadi unit, salah satunya adalah Bank Negara
Indonesia Unit II Divisi Expor-Impor, yang akhirnya menjadi Bank Exim, bank
pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara
(BIN), sebuah bank industri yang didirikan pada tahun 1951 dengan misi untuk
mendukung
pengembangan
sektor-sektor
ekonomi
tertentu,
khususnya
perkebunan, industri dan pertambangan. Pada tahun 1960, Bapindo dibentuk
sebagai bank milik Negara dan BIN kemudian digabung dengan Bank Bapindo.
Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional
melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor
manufaktur, transportasi dan pariwisata.
Kini, Bank Mandiri menjadi penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan
dan keuangan yang telah berpengalaman selama lebih dari 140 tahun. Masing-
69
masing dari empat bank bergabung telah memainkan peranan yang penting dalam
pembangunan ekonomi.
Setelah selesainya proses merger, Bank Mandiri kemudian memulai proses
konsolidasi. Diantaranya kami menutup 194 kantor cabang yang overlap dan
mengurangi jumlah pegawai dari 26.000 menjadi 17.620. Selanjutnya diikuti
dengan peluncuran single brand di seluruh jaringan melalui iklan dan promosi.
Salah satu pencapaian penting adalah penggantian secara menyeluruh
platform teknologi kami. Kami mewarisi sembilam sistem perbankan dari
keempat legacy bank. Setelah investasi awal untuk konsolidasi sistem yang
berbeda tersebut, kami mulai melaksanakan program penggantian platform yang
berlangsung selama tiga tahun dengan investasi USD 200 juta, di mana program
pengganti tersebut difokuskan untuk kegiatan consumer banking. Pada saat ini,
infrastruktur teknologi informasi kami sudah mampu memfasilitasi straight
through processing dan interface yang seragam untuk nasabah.
Nasabah corporate kami merupakan penggerak utama perekonomian
Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah kami bergerak di bidang usaha yang
sangat beragam khususnya makanan dan minuman, pertanian, konstruksi, kimia
dan tekstil. Persetujuan kredit dan pengawasan dilaksanakan dengan prinsip ‘four
eyes’, dimana persetujuan kredit dipisahkan dari kegiatan pemasaran dan business
unit kami.
Sejak didirikan, Bank Mandiri terus bertekad untuk membentuk tim
manajemen yang handal dan profesional serta bekerja berdasarkan prinsip-prinsip
good corporate governance, pengawasan dan kepatuhan yang sesuai standar
70
Internasional. Bank Mandiri disupervisi oleh Dewan Komisaris yang terdiri dari
orang-orang yang menonjol di komunitas keuangan yang ditunjuk oleh pemegang
saham termasuk Menteri Negara BUMN. Tingkatan tertinggi dari manajemen
eksekutif adalah Direksi, yang diketuai oleh Direktur Utama. Direksi kami terdiri
dari para banker yang berasal dari legacy bank dan juga para bankir profesional
dari bank lain. Sebagai bagian dari penerapan GCG, Bank Mandiri membentuk
Compliance Grup, Internal Audit dan Corporate Secretary, dan juga dari waktu
ke waktu diperiksa oleh Bank Indonesia dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),
serta diaudit setiap tahunnya oleh auditor independen. Komitmen kami terhadap
GCG ini telah mendapat pengakuan berupa Corporate Governance Award dari
majalah AsiaMoney untuk kategori Best Overall for Corporate Governance in
Indonesia dan Best for Disclosure and Transparency.
Dengan total aktiva yang saat ini telah tumbuh mencapai lebih dari Rp300
triliun, atas kerja keras 21 ribu lebih karyawan yang tersebar di 956 kantor cabang
dalam negeri dan 6 cabang luar negeri termasuk perwakilannya, Bank Mandiri
telah bertekad untuk memberikan pelayanan terbaik dan menyediakan solusi
keuangan yang menyeluruh di bidang investment banking, perbankan syariah serta
bancassurance bagi nasabah perusahaan swasta maupun milik Negara, komersial,
usaha kecil dan mikro serta nasabah consumer. Tekad yang diwujudkan dalam
kerja keras ini telah diakui melalui pemberian peringkat pertama Banking serice
Excellence Award 2007 dari majalah Infobank dan MRI.
71
4.1.2 Visi dan Misi
Visi : Bank terpercaya pilihan anda
Misi :
a. Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
b. Mengembangkan sumber daya manusia professional
c. Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
d. Melaksanakan manajemen terbuka
e. Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan
4.1.3 Budaya Organisasi
Lima (5) nilai budaya dan sepuluh (10) perilaku utama di PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk. :
Trust (Kepercayaan)
1. Saling menghargai dan bekerjasama
2. Jujur, tulus dan terbuka
Integrity (Integritas)
1. Disiplin dan konsisten
2. Berpikir, berkata, dan bertindak terpuji
Proffesionalism (Profesionalisme)
1. Kompeten dan bertanggung jawab
2. Memberikan solusi dan hasil terbaik
72
Customer Fokus (Fokus pada pelanggan)
1. Inovatif, proaktif dan cepat tanggap
2. Mengutamakan pelayanan dan kepuasan pelanggan
Excellence (Kesempurnaan)
1. Orientasi pada nilai tambah dan perbaikan terus menerus
2. Peduli Lingkungan
4.1.4 Filosofi Logo dan Slogan
Seiring tekad kita untuk merefleksikan jiwa baru Bank Mandiri dan menjaga
agar senantiasa menjadi yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan nasabah, Bank
Mandiri mewujudkan jati diri baru dengan memperkenalkan logo yang lebih
modern, menonjol, serta selalu lekat dalam ingatan pada tanggal 14 Januari 2008.
Proses penggantian logo akan dilakukan secara bertahap, efektif, dan efisien.
Dalam beberapa waktu ke depan akan terdapat dua logo yaitu logo lama dan logo
baru.
Perubahan logo ini tidak mengubah nama resmi PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. Pada logo tidak lagi terdapat kata bank dan terangkai dengan huruf kecil.
Tidak digunakan: bank, pada logo, sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia yang
mengijinkan bank menjual produk non bank.
a.Bentuk Logo
Logo baru Bank Mandiri terdiri dua elemen grafis, yaitu logo huruf ”mandiri”
dan logo bentuk ”gelombang emas cair”.
73
bLogo huruf Mandiri
Logo huruf menggunakan huruf kecil sebagai perlambang sikap ramah terhadap
semua segmen bisnis yang dimasuki dan menunjukkan keinginan yang besar
untuk melayani dengan rendah hati sebagai representasi dari nilai fokus pada
nasabah.
c.Logo bentuk gelombang emas cair
Gelombang emas cair merupakan simbol dari kekayaan. Lengkungan emas
melambangkan sifat lincah, progresif, dan unggul. Ini sebagai representasi dari
nilai kesempurnaan, fleksibel, serta ketangguhan dalam segala keadaan.
d.Warna Biru Tua
Melambangkan rasa nyaman, menyejukkan, andal, dan dapat dipercaya. Biru tua
juga merepresentasikan nilai kepercayaan, integritas dan profesionalisme.
e.Warna Kuning Emas Dengan Paduan Warna Jingga
Menunjukkan keagungan, kekayaan, kreatifitas, cemerlang, memiliki nilai
spiritual, dan memberikan kesan optimis terhadap masa depan lebih baik.
e.Slogan atau Tagline
Sesuai dengan visi Bank Mandiri untuk menjadi Regional Champion Bank,
maka slogan baru kita adalah ”Terdepan, Terpercaya. Tumbuh bersama Anda”.
74
Terdepan
Mencerminkan optimisme, kerja keras dan profesionalisme.
Terpercaya
Mencerminkan integritas dan sikap transparan
Tumbuh bersama Anda
Mencerminkan dedikasi seluruh insan Bank Mandiri untuk tumbuh bersama
Indonesia
Harapan kita, tampilan baru ini akan menjadi kunci pemicu keyakinan dan
kepercayaan untuk menjadi terdepan, terpercaya, dan selalu tumbuh bersama
Indonesia.
4.2 Hasil Penelitian
Pada bagian ini berisi uraian atau pembahasan mengenai hasil penelitian
yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif
dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif.
Hasil penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara mendalam
dengan beberapa narasumber dari pihak PT Bank Mandiri (Persero) Tbk adalah
Bp. Iskandar Tumbuan selaku Team Leader Media Relations, selain itu peneliti
juga melibatkan beberapa narasumber yang mewakili komunitas Bank Mandiri
yang berkaitan dengan topik penelitian berjudul ”Kegiatan Community Relations
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Dalam Meningkatkan Corporate Image”,
diantaranya Bp. Dr. Soediono selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan Ibu Gitayana
75
selaku Member Board of Trustees dari Yayasan Nurani Dunia, dimana mereka
banyak memberikan informasi yang peneliti butuhkan untuk melengkapi data
hasil penelitian.
Kegiatan community relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri
merupakan sebuah cara untuk meningkatkan citra atau image perusahaan.
Menurut Bapak Iskandar Tumbuan :
”kegiatan community relations sebagai bentuk tanggung jawab sosial
(CSR) perusahaan sangat mempengaruhi, karena sebagai salah satu
penyumbang dari tingkat citra perusahaan. Jadi, citra perusahaan
disumbang antara lain dengan kegiatan ini, selain hal-hal lain yang
mempengaruhi seperti kinerja operasional”.46
Hal ini terbukti dari tanggapan.yang disampaikan oleh yayasan atau
lembaga sebagai pihak ketiga yang mendapatkan bantuan dari Bank Mandiri,
mengenai citra atau image Bank Mandiri saat ini. Menurut Dr. Soediono :
”Menurut kami secara global tentang Bank Mandiri sendiri, sudah
baik”47
Hal yang sama juga diungkapan oleh Ibu Gitayana Member Board Of
Trustees Yayasan Nurani Dunia :
”Kami memang ada kerja sama dengan Bank Mandiri sampai saat ini,
sehingga kami melihat Bank Mandiri memiliki kepedulian yang tinggi dan
mereka juga memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, sehingga kami
melihat, Bank Mandiri memiliki citra yang baik”48
Oleh karena itu, Bank Mandiri sangat menyadari bahwa kegiatan
community relations sangat penting untuk meningkatkan citra perusahaan atau
46
Hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan selaku Team Leader Media Relations PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk, tanggal 19 Desember 2008.
47
Hasil wawancara dengan Dr. Soediono selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PPTI, tanggal
18 Desember 2008.
48
Hasil wawancara dengan Ibu Gitayana selaku Member Board Of Trustees Yayasan Nurani
Dunia, tanggal 30 Januari 2009.
76
corporate image. Sehingga kegiatan ini dimasukkan sebagai kegiatan rutin Bank
Mandiri yang harus dilakukan terus menerus.
4.2.1Kegiatan Community Relations di PT Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai sebuah Bank terbesar di
Indonesia memiliki khalayak internal dan khalayak eksternal yang banyak.
Sehingga untuk membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan
khalayaknya diperlukan keberadaan Public Relations. PR memiliki tugas
untuk menjembatani antara perusahaan dengan khalayak.
Bapak Iskandar Tumbuan mengatakan :
”Bank Mandiri memiliki PR tetapi namanya adalah komunikasi
korporasi yang mempunyai tugas dan fungsi yang hampir sama
dengan kegiatan PR. Komunikasi Korporasi ini memiliki empat fungsi
yaitu fungsi media relations, fungsi internal communication, fungsi
external communication, fungsi corporate event dan satu lagi, kami
memiliki fungsi administrasi.”49
Keempat fungsi tersebut digabung dalam satu departemen yaitu
Corporate
Communication.
Latar
belakang
pembentukan
Corporate
Communication atau Komunikasi Korporasi adalah Bank Mandiri melihat
bahwa komunikasi merupakan hal yang terpenting untuk membentuk suatu
citra perusahaan agar menjadi lebih baik lagi. Hal inilah yang diutarakan oleh
Bapak Iskandar Tumbuan.
Salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh Departemen Corporate
Communication
adalah
melaksanakan
tanggung jawab
sosial
perusahaan. Menurut Bapak Iskandar Tumbuan pengertian CSR yaitu:
49
Op.cit. hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan
(CSR)
77
”CSR atau Corporate Social Responsibility merupakan kepedulian
sosial perusahaan. Dalam Bank Mandiri sendiri lebih biasa disebut
dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan atau PKBL. PKBL
merupakan produk dari Badan Usaha Milik Negara. Jadi, ada UndangUndang yang mengatur bahwa setiap BUMN diwajibkan untuk
melakukan program-program yang disebut dengan CSR atau tanggung
jawab sosial perusahaan, di BUMN dinamakan Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan, lebih dekatnya CSR itu di Bina Lingkungan. Kegiatan
dibagi menjadi dua yaitu kegiatan yang bersifat reaktif dan kegiatan
proaktif. Kegiatan reaktif artinya bantuan yang diberikan pada saat itu
juga atau langsung misalnya bencana alam sedangkan kegiatan proaktif
artinya yang memang direncanakan atau di program misalnya
Wirausaha Muda Mandiri50
Pendapat yang hampir sama juga di sampaikan oleh Ibu Gitayana,
menurut beliau pengertian CSR adalah :
”Kegiatan CSR atau Corporate Social Responsibility adalah tanggung
jawab dari perusahaan untuk memberikan kembali kepada masyarakat”
51
Berdasarkan kedua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
CSR merupakan tanggung jawab sosial perusahaan yang wajib dilakukan,
karena merupakan wujud dari kepedulian perusahaan terhadap khalayaknya.
Tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan dapat diberikan kepada
khalayak internal seperti karyawan atau khalayak eksternal yaitu komunitas
(masyarakat). CSR yang dilakukan oleh Bank Mandiri saat ini hanya ditujukan
untuk khalayak eksternal yaitu komunitas (masyarakat). Alasan Bank Mandiri
memilih komunitas adalah karena komunitas memiliki pengaruh yang besar
bagi sebuah perusahaan. Oleh karena itu, Bank Mandiri dan komunitas
memiliki hubungan yang sangat erat.
50
51
Ibid
Op.cit. hasil wawancara dengan Ibu Gitayana
78
CSR Bank Mandiri diimplementasikan dalam kegiatan community
relations. Dalam kegiatan tersebut, Bank Mandiri akan membuat programprogram yang sesuai dengan kebutuhan komunitasnya
Berikut petikan wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan :
”Pasti kami memiliki program-program untuk komunitas, tetapi itu
sangat tergantung dari siapa komunitasnya, misalnya dua tahun ini
kami memiliki program Wirausaha Muda Mandiri atau WMM.
Program WMM ini sasarannya adalah para mahasiswa baik yang
sudah selesai maupun yang belum selesai. Oleh sebab itu, komunitas
dalam program WMM adalah mahasiswa.” Program-program
tersebut perlu dirancang sesuai kebutuhan komunitas, agar apa yang
diberikan oleh perusahaan bisa bermanfaat bagi komunitas.52
Kegiatan community relations ini merupakan bagian dari tanggung
jawab sosial (CSR) perusahaan terhadap komunitasnya, yang wajib untuk
dilakukan oleh setiap perusahaan khususnya oleh Bank Mandiri.
Menurut Bapak Iskandar Tumbuan :
”kegiatan PKBL atau CSR di dalam Undang-Undang Kementrian
Negara BUMN, mewajibkan mewajibkan setiap perusahaan untuk
menyisihkan laba bersih perusahaan maksimal 4% untuk CSR. Hal
ini dikarenakan perusahaan tidak dapat hidup sendiri, dia
membutuhkan orang-orang yang ada disekitarnya. Contohnya ketika
Bank Mandiri memiliki cabang disuatu lingkungan, pertokoan atau
kampung ketika kami tidak memiliki hubungan yang baik,
masyarakat akan merasa bahwa Bank Mandiri tidak perlu dijaga,
tetapi jika Bank Mandiri menjadi bagian dari masyarakat, maka
masyarakat akan menjadi lebih dekat dan sangat memperhatikan
kami. 53
Oleh karena itulah, maka Bank Mandiri selalu melakukan pendekatan secara
persuasif kepada masyarakat melalui kegiatan community relations sebagai
wujud dari tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan, sehingga diharapkan
dengan adanya kedekatan hubungan dan perhatian yang diberikan oleh Bank
52
53
Op.cit. hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan.
Ibid.
79
Mandiri untuk komunitas, akan meningkatkan citra atau image yang baik pula
di mata komunitas dan khalayak lainnya.
Berbagai macam kegiatan community relations bisa dilakukan oleh
perusahaan seperti memberikan beasiswa untuk anak-anak yang berprestasi
tetapi tidak mampu, memberikan bantuan untuk korban bencana alam, dan
sebagainnya. Sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti
itu akan memberikan manfaat tidak hanya bagi perusahaan tetapi bagi
komunitas juga, karena adanya hubungan baik yang sangat menguntungkan.
4.2.2 Tahap - Tahap Kegiatan Community Relations PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk.
Community relations pada dasarnya adalah kegiatan PR. Maka langkahlangkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah dalam community
relations. Hal ini juga dilakukan oleh Bank Mandiri dalam membuat kegaitan
PR seperti kegiatan community relations. Berikut adalah tahap – tahap yang
dilakukan dalam membuat program kegiatan community relations :
a. Pengumpulan Data (Fact Finding)
Tahapan ini merupakan kegiatan mendapatkan data dan fakta (fact
finding) yang erat hubungannya dengan aktivitas yang akan dikerjakan
oleh Public Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Semua keterangan
harus diperoleh selengkap mungkin. Dalam tahap penelitian ini, Public
Relations harus mencari keterangan yang merupakan data factual,
80
misalnya data yang diperoleh dari berita media massa, data statistik,
obrolan warga masyarakat, atau keluhan langsung dari warga masyarakat.
Data factual yang sudah diperoleh harus dipertimbangkan dan diuji
kebenarannya, agar kegiatan community relations yang dilakukan oleh
perusahaan sampai pada sasaran dan sesuai dengan kebutuhan komunitas.
Oleh sebab itu, PR perlu mengelompokkan atau mengklasifikasi data yang
sudah diuji kebenarannya berdasarkan tingkat kepentingan, kebutuhan
komunitas dan sasarannya.
Berikut adalah penjelasan Bp. Iskandar Tumbuan mengenai proses
pengumpulan data yang dilakukan oleh Bank Mandiri :
”Kami mendapatkan data untuk kegiatan CSR dari orang lain,
karyawan, komunitas, masyarakat, atau mereka memberikan
informasi dengan surat, lisan, atau dengan proposal. Untuk
informasi dengan surat, lisan, atau proposal biasanya
disampaikan ke kantor cabang atau karyawan Bank Mandiri ke
kantor pusat secara organisasi”.54
Pengumpulan data tersebut perlu dilakukan oleh Bank Mandiri, agar
kegiatan community relations yang dilakukan oleh perusahaan sesuai
dengan misi perusahaan yaitu peduli kepada lingkungan dan masyarakat.
Sehingga apa yang mereka berikan, memang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat dan dapat dipertanggung jawabkan. Proses pengumpulan data
tersebut juga diakui oleh Yayasan atau Lembaga sebagai pihak ketiga yang
menerima bantuan dari Bank Mandiri, seperti yang diutarakan oleh
”Dr. Soediono Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PPTI mengatakan:
awalnya pihak Bank Mandiri mengadakan pembicaraan dengan
ketua umum kami tentang pemberian hibah bantuan, dari
pembicaraan tersebut kami diminta untuk membuat proposal
54
Op.cit. hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan.
81
tentang penanggulangan Tuberkulosis. Pada waktu itu kami
mengajukan proposal sebanyak tiga kali.”55
Hal yang hampir sama juga dikatakan oleh Ibu Gitayana :
”Kami melakukan kerja sama untuk beberapa program dengan
Bank Mandiri, untuk program pembangunan sekolah awalnya
kami menyiarkan sebuah sekolah di Purwakarta yang sudah
hancur di salah satu televisi, dari siaran televisi itulah, Bank
Mandiri tertarik untuk membantu pembangunan sekolah
tersebut, kemudian untuk program pembangunan rumah di
Neuheun Aceh, dan beasiswa awalnya melalui pembicaraan
antara pimpinan Bank Mandiri dengan Bapak Imam
Prasodjo.”56
Pengumpulan data digunakan untuk menentukan kegiatan, target
sasaran, waktu dan tempat sehingga nantinya akan dibuat perencanaan
kegiatan community relations yang sesuai dengan tujuan perusahaan dan
kebutuhan dari komunitas.
b. Perencanaan (Planning)
Dalam proses perencanaan, yang perlu diketahui adalah bagaimana
PR menentukan tahap perencanaan, tema, konsep, penerima bantuan,
kerjasama dengan yayasan atau lembaga lain, biaya dan bantuan apa saja
yang dapat diberikan dalam kegiatan community relations Bank Mandiri.
Public Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dalam membuat
sebuah kegiatan telah mempunyai tahapan perencanaan program kegiatan
kerja sebelum mengadakan suatu kegiatan, tujuannya untuk dapat melihat
proses masalah tahapan agar dapat dinilai, terkoordinasi, evaluasi, dan
standarisasi.
55
56
Op.cit. hasil wawancara dengan Dr. Soediono
Op.cit. hasil wawancara dengan Ibu Gitayana
82
Berikut ini adalah penjelasan dari Bapak Iskandar Tumbuan :
setelah kita memperoleh data baik dari masyarakat, media,
karyawan, atau dari komunitas itu sendiri, kita perlu melakukan
survei untuk meneliti kebenaran data-data tersebut. Setelah datadata tersebut benar, maka kita perlu merencanakan program
yang tepat dan seorang supervisor untuk mengawasi
pelaksanaan program tersebut”57
Aktivitas community relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri
selalu bekerja sama dengan beberapa yayasan atau lembaga sosial, karena
Bank Mandiri menilai bahwa yayasan atau lembaga sosial tidak akan
mencari keuntungan.
Menurut Bapak Iskandar Tumbuan :
biasanya dalam melakukan kegiatan atau program CSR Bank
Mandiri bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu pemerintah,
yayasan atau lembaga sosial. Kadang kala kegiatan CSR juga
dilakukan sendiri oleh tim PKBL dari Bank Mandiri. Biasanya
bantuan yang diberikan langsung kepada masyarakat adalah
bantuan yang sifatnya mendesak atau penting.”58
Bentuk bantuan itu sendiri dijelaskan oleh Bapak Iskandar Tumbuan
tergantung pada masing-masing bidang aktivitas CSR itu sendiri. Bantuan
yang diberikan bisa dalam bentuk uang tunai atau barang. Namun setiap
bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Perencanaan tidak hanya mengenai tema, konsep, dan jenis kegiatan
saja, tetapi perencanaan juga meliputi biaya yang akan digunakan. Oleh
karena itu menurut Bapak Iskandar Tumbuan :
”Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sudah menetapkan
Bank Mandiri harus menyisihkan 2% dari laba untuk kegiatan
PKBL, keputusan ini diambil sesuai dengan UU yang memberi
batas maksimal 4% dari laba untuk kegiatan PKBL”.59
57
Op.cit hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan
Ibid.
59
Ibid.
58
83
Biaya tersebut harus digunakan dengan sebaik-baiknya, karena setiap
biaya yang dikeluarkan akan diaudit oleh tim auditor. Audit ini bertujuan
untuk mengontrol penggunaan dana agar tidak terjadi penggelapan.
c. Pelaksanaan (Actuating)
Setelah melakukan pengumpulan data dan perencanaan tahap
selanjutnya adalah pelaksanaan. Tahap ini merupakan bagian dari
pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dibuat berdasarkan kegiatan
community relations yang akan dilaksanakan.
Dalam tahap ini, biasanya dipilih satu orang yang menjadi
penanggung jawab dari sebuah kegiatan. ini memiliki tugas untuk
mengarahkan, memimpin, dan mengkomunikasikan kepada bawahan agar
mau melaksanakan kegiatan CSR ini sesuai dengan tujuan dan misi
perusahaan.
Berikut adalah penjelasan yang diberikan oleh Bapak Iskandar
Tumbuan mengenai perencanaan yang dilakukan oleh Bank Mandiri :
”Ketika kami sudah mendapatkan data yang pasti dan benar,
kami membuat rencana untuk kegiatan CSR yang akan kami
lakukan, setelah itu dalam pelaksanaannya kami akan memilih
seorang supervisor untuk melihat dan bertanggung jawab
terhadap kegiatan tersebut, misalnya dalam pembangunan
gedung sekolah supervisor harus melihat pelaksanaannya mulai
dari tahap peletakkan batu pertama, membangun, sampai
akhirnya diserahkan, dan pada saat penyerahaan itu supervisor
perlu meyakinkan bahwa semua pembangunan gedung sekolah
sudah baik dan siap pakai. Selain itu, supervisor juga harus
melaporkan pembangunan gedung sekolah itu kepada tim PKBL
karena setiap kegiatan CSR yang dilaksanakan harus diaudit
oleh tim auditor.”60
60
Ibid.
84
Supervisor atau penanggung jawab dalam kegiatan community
relations ini dipilih dari yayasan atau lembaga-lembaga sosial yang
bekerja sama dengan Bank Mandiri, karena program community relations
di Bank Mandiri melibatkan pihak ketiga. Lembaga atau yayasan yang
dipilih adalah lembaga atau yayasan yang memiliki kredibilitas dan
kepercayaan, karena setiap kegiatan yang mereka kerjakan harus membuat
laporan pertanggung jawaban.
Dalam proses pelaksanaan kegiatan community relations harus
dikerjakan secara benar, agar uang yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak
sia-sia, karena biasanya perusahaan menginginkan setiap program yang
dilaksanakan bisa memberikan hasil yang baik yaitu corporate image atau
citra perusahaan.
Penelitian ini memfokuskan kegiatan community relations dalam dua
bidang yaitu lingkungan dan kesehatan. Setiap bidang tersebut memiliki
perbedaan dalam proses pelaksanaan, hal ini disebabkan oleh pelaksana
dari program tersebut dilakukan oleh yayasan atau lembaga yang berbeda
tetapi tetap menjalankan kegiatan tersebut sesuai dengan visi, misi dan
tujuan perusahaan.
1. Pelaksanaan Program Mandiri Peduli Lingkungan
Program Mandiri Peduli Lingkungan meliputi kegiatan pelestarian
lingkungan hidup, bantuan bencana alam, pembangunan sarana dan
prasarana (ibadah dan perumahan). Oleh karena itu, untuk melaksanakan
85
program Mandiri Peduli Lingkungan, Bank Mandiri bekerja sama dengan
Yayasan Nurani Dunia.
Salah satu bentuk kerja sama antara Bank Mandiri dengan Yayasan
Nurani
Dunia
adalah
pembangunan
kompleks
perumahan
untuk
masyarakat di Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh
Besar. Program kegiatan ini dipilih oleh Bank Mandiri, karena pada
tanggal 26 Desember 2004 terjadi bencana gempa bumi dan tsunami
dahsyat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias.
Peristiawa inilah yang akhirnya menggugah Bank Mandiri untuk ikut
berpartisipasi membangun kembali NAD dan Nias dalam tahap rehabilitasi
dan rekonstruksi bagi masyarakat Aceh yang selamat (survivors) dari
gelombang tsunami.
Proses pembangunan perumahan bagi survivors, dimulai pada bulan
Juli 2005, setelah adanya penandatanganan kerja sama antara Bank
Mandiri dengan Yayasan Nurani Dunia tanggal 12 April 2005. Berikut ini
adalah penjelasan dari Ibu Gitayana dari Yayasan Nurani Dunia mengenai
proses pelaksanaan pembangunan rumah :
”Desa Neuheun meruapakan desa yang berada di pinggir pantai, di
sana rumah dan fasilitas warga hancur. Oleh karena itu, kami
memutuskan untuk membangun rumah di sana. Sebelum kami
membangun rumah di sana, kami melakukan pendekatan kepada
masyarakat setempat, agar mereka mau membantu dan mengawal
proses pembangunan. Sebagai bentuk realisasi, terbentuklah
Yayasan Nurani Neuheun Mandiri (YN2M). Anggota YN2M terdiri
dari warga Desa Neuheun, warga masyarakat lain yang peduli
terhadap perkembangan di Desa Neuheun dan perwakilan Nurani
Dunia. Setelah YN2M terbentuk, atas kesepakatan bersama antara
YN2M dengan Bank Mandiri, mereka memutuskan untuk membeli
sebidang tanah seluas 51.450 m2. Ketika tanah tersebut sudah dibeli
86
dan ingin dibangun, izin bangunan sangat sulit dan lama, akhirnya
diputuskan selama proses pengurusan izin, dibuat terlebih dahulu
dua rumah contoh di Desa Neuheun. Pembangunan rumah contoh
ini dilakukan untuk menepis keraguan masyarakat tentang
keseriusan nurani Dunia membangun rumah di Desa Neuheun.
Pembangunan rumah contoh ini dimulai pada pertengahan Juni
2005. Dari dua rumah contoh yang dibangun, hanya satu yang
selesai sedangkan yang satu lagi tidak selesai karena
ketidaksetujuan pemilik rumah tentang perubahan spesifikasi bahan
bangunan untuk rumah. Pembangunan rumah contoh selesai,
dilanjutkan dengan pembangunan kompleks perumahan Neuheun
pada bulan September 2005 dengan proses land clearing di tanah
yang berbukit-bukit. Selanjutnya didatangkan relawan tukang dari
luar NAD untuk memulai pembangunan pada November 2005.
Keputusan untuk mendatangkan relawan tukang dari luar NAD
disebabkan antara lain tenaga lokal kurang jumlahnya dan tingginya
standar upah tenaga lokal. Oleh karena itu, relawan yang bekerja
dipilih dari Jawa Tengah. Sampai akhir pembangunan, yang
direncanakan sebanyak 74 unit rumah, tetapi yang terbangun hanya
61 unit rumah. Penyerahan kunci sudah dilakukan pada 25 Agustus
2007 dan masih diawasi sampai saat ini, karena sertifikat tersebut
atas nama Yayasan, sehingga mereka tidak bisa memperjualbelikan
rumah tersebut.61
Dalam proses pelaksanaan pembangunan kompleks rumah di Desa
Neuheun ini banyak sekali mengalami hambatan. Hambatan yang terjadi
pada awal pembangunan antara lain pengurusan izin yang sangat lama, dan
tenaga kerja yang terbatas serta upah yang tinggi, sedangkan hambatan
lainnya yaitu cuaca buruk, kesulitan air, harga material bangunan yang
tinggi, rendahnya partisipasi masyarakat dan lain-lain. Hal inilah yang
memperlambat selesainya pembangunan.
2. Pelaksanaan Program Mandiri Peduli Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, Bank Mandiri bekerja sama dengan
lembaga PPTI (Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia).
61
Op.cit., hasil wawancara dengan Ibu Gitayana
87
Kerja sama yang dilakukan yaitu pemberian bantuan kepada penderita
Tuberkulosis. Bantuan ini perlu dilakukan karena, menurut Dr. Soediono :
”Sebagaian besar penderita TBC di Indonesia adalah masyarakat
miskin dan hampir 75% penderita TBC ditemukan pada usia
produktif (14-49 tahun). Oleh karena itu, jumlah penderita TBC di
Indonesia berada pada urutan ke tiga di dunia, ini merupakan hal
yang sangat memalukan bagi bangsa Indonesia.62
Berdasarkan hal itulah, maka Bank Mandiri memberikan bantuan
kepada penderita Tuberkulosis melalui PPTI. Bantuan yang di berikan
antara lain : biaya pengobatan yang terdiri dari biaya konsultasi dokter,
rontgent, dan pemeriksaan dahak serta uang transport bagi penderita TBC
dari keluarga miskin.
Pelaksanaan kerja sama ini dimulai tahun 2004, saat proposal yang
diajukan oleh pihak PPTI diberikan untuk ketiga kalinya disetujui oleh
Bank Mandiri. Inilah awal kerja sama yang dilakukan antara Bank Mandiri
dengan PPTI. Dr Soediono menjelaskan proses pelaksanaan CSR yang
dilakukan dalam kegiatan community relations :
”Proposal ketiga kami yang disetujui oleh Bank Mandiri adalah
bantuan untuk biaya pengobatan untuk penderita TBC dengan sistem
DOTS. Sistem DOTS ini sudah dilakukan di tiga klinik PPTI kami
yang berada di Baladewa, Muara Angke dan klinik PPTI pusat di
Kebayoran Lama. Dari ketiga klinik tersebut kami melakukan uji
coba terlebih dahulu di klinik PPTI pusat pada tahun 2004, untuk
membebaskan biaya pengobatan bagi penderita TBC. Pengajuan
pertama sebanyak 180 penderita, bantuan yang diberikan antara
lain : pembebasan biaya untuk pemeriksaan dahak, pemeriksaan
rontgent, untuk anak-anak mantoux test, dan pemberian bantuan
untuk transportasi penderita. Biaya transportasi tersebut diberikan
karena selama 6 bulan penderita TBC harus berobat jalan, dan
setiap 1 bulan mereka wajib datang 2 kali, setiap kali datang kami
berikan biaya transportasi Rp. 5.000 serta biaya konsultasi dokter
62
Op.cit., hasil wawancara dengan Dr. Soediono.
88
sebesar Rp. 30.000 selama 6 bulan. Ternyata bantuan ini sangat
meringankan penderita TBC, hal ini dapat dilihat dari adanya
peningkatan jumpal pasien penderita TBC yang mendapatkan
sampai akhir bantuan yaitu sebesar 240 orang penderita dengan
jumlah bantuan Rp. 55.500.000 dengan angka kesembuhan 84,2%.
Berdasarkan kegiatan tersebut lalu kami membuat laporan untuk
Bank Mandiri, dan terlihat Bank Mandiri sangat senang dengan
kegiatan tersebut, kemudian ditingkatkan kembali pada tahun kedua,
yaitu 2005 meliputi klinik PPTI pusat dan klinik di Muara Angke,
awalnya hanya untuk biaya pengobatan 500 orang penderita TBC
tetapi kenyataannya sampai akhir bantuan meningkat menjadi 588
orang penderita TBC yang telah diobati dengan biaya Rp.
152.500.000 dengan angka kesembuhan 79,6%. Mengetahui hasil ini
Bank Mandiri sangat puas dan meningkatkan bantuannya. Pada
tahun ketiga PPTI memasukkan klinik PPTI di Bantul Yogyakarta.
Klinik ini dimasukkan setelah di sana terjadi gempa bumi dan
tsunami, sehingga banyak masyarakat yang masih tinggal di tendatenda menyebabkan pnularan TBC tinggi. Jumlah penderita yang
direncanakan sebanyak 900 orang penderita kemudian sampai akhir
bantua meningkat menjadi 1050 orng penderita, dengan jumlah
bantuan sebesar Rp. 245.250.000 dan angka kesembuhan 86,8%.
Pada tahun ini, tahun 2004 kami memasukkan klinik PPTI Pusat,
PPTI Muara Angke, PPTI Bantul dan PPTI Baladewa dengan target
penderita sebanyak 3.000 orang penderita dengan jumlah bantuan
sebesar Rp. 564.000.000.63
Penjelasan yang disampaikan oleh Dr. Soediono ini memberikan
gambaran tentang pelaksanaan kegiatan community relations yang
dilakukan oleh PPTI dari awal tahun 2004 sampai tahun 2008, dan kerja
sama ini terus berjalan, karena Bank Mandiri merasa puas dengan apa
yang dilakukan oleh PPTI.
d.Pengawasan (Monitoring)
Tahap monitoring atau pengawasan adalah tahap yang harus
dilakukan setelah melaksanakan sebuah kegiatan atau program. Kegiatan
63
Ibid.
89
pengawasan ini bisa dilakukan oleh seorang pengawas yang ditunjuk oleh
perusahaan atau bisa juga melibatkan media baik cetak maupun elektronik.
Media merupakan salah satu alat atau tools dalam menjalankan
fungsi komunikasi dua arah. Dalam kegiatan community relations ini
media dapat digunakan untuk menjembatani antara perusahaan dengan
komunitasnya. Selain sebagai fungsi komunikasi, media juga sebagai
fungsi kontrol sosial di masyarakat.
Seperti yang diutarakan Bapak Iskandar Tumbuan :
”Media massa sangat penting, karena masyarakat khususnya
komunitas akan cepat menerima informasi apabila media massa
yang berada di lingkungan mereka menyiarkan dan
memberitakan bantuan yang diberikan oleh Bank Mandiri, inilah
yang disebut dengan fungsi komunikasi, sedangkan untuk fungsi
kontrol sosial media dapat melakukan cross check kepada
yayasan atau lembaga sosial yang menerima bantuan tersebut,
apakah mereka benar-benar menerima bantuan tersebut atau
tidak”64
Keberadaan media dalam aktivitas Public Relations sangatlah
membantu, khususnya untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan yang
dibuat oleh perusahaan, seperti kegiatan community relations. Kegiatan
community relations merupakan bagian dari kegiatan yang dilakukan
dengan fungsi komunikasi, sehingga hasil yang diharapkan adalah
terciptanya image yang positif bagi perusahaan.
Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh PR untuk memberikan
informasi tentang kegiatan community relations melalui media antara lain
konferensi pers, penulisan artikel di koran, majalah dan tabloid serta
liputan kegiatan community relations yang ditayangkan di televisi. Oleh
64
Op.cit.hasil wawancara dengan Bp. Iskandar Tumbuan
90
karena itu, dalam tahap monitoring ini keberadaan media sangat penting,
karena proses pembentukan citra berasal dari opini yang beredar di
masyarakat tentang sebuah peristiwa. Jika kegiatan community relations
yang dilakukan membentuk opini yang positif maka citra perusahaan atau
corporate image menjadi positif dan begitu juga sebaliknya.
Setelah melakukan proses monitoring, langkah selanjutnya yang
dilakukan oleh pihak Bank Mandiri yaitu melakukan proses evaluasi
monitoring terhadap program kegiatan yang dilakukan yaitu dengan
melakukan rapat kecil antara anggota panitia penyelenggara program
kegiatan agar nantinya program kegiatan yang dilakukan dapat berjalan
dengan lancar, terencana tanpa ada hambatan apapun.
e. Evaluasi (Evaluating)
Tahap evaluasi merupakan tahap paling akhir. Dalam tahap ini
evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan dari sebuah kegiatan oleh
Public Relations. Oleh karena itu, Bank Mandiri juga melakukan evaluasi
untuk setiap kegiatan yang sudah dilakukan, salah satunya adalah kegiatan
community relations.
Evaluasi kegiatan tersebut di bagi menjadi dua yaitu, evaluasi untuk
kegiatan yang dilakukan oleh Bank Mandiri sebagai pelaksana langsung
dan evaluasi untuk kegiatan yang bekerja sama dengan pihak ketiga.
91
1.Sebagai pelaksana langsung dari kegiatan, evaluasi yang dilakukan
antara lain :
a.Mengadakan rapat anggota kepanitian untuk memastikan apakah
kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar, tidak ada
hambatan-hambatan.
b.Berdiskusi dengan divisi lain untuk membicarakan apakah kegiatan
yang dilakukan sudah sesuai dengan visi dan misi perusahaan, serta
kesuksesan kegiatan yang sudah dilakukan. Sukses suatu kegiatan
dapat dilihat, apakah kegiatan tersebut diliput oleh media atau tidak.
Selain itu, apakah kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi
komunitas yang menerima bantuan, atau dengan melihat bagaimana
citra perusahaan setelah melakukan kegiatan tersebut.
2.Bank Mandiri bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu yayasan atau
lembaga yang sudah ditunjuk sebagai pelaksana.
Evaluasi dilakukan melalui laporan pertanggung jawaban yang
sudah dibuat oleh lembaga atau yayasan. Laporan pertanggung jawaban
tersebut berisi tentang uraian kegiatan, laporan keuangan, dan foto-foto.
Contohnya seperti evaluasi untuk kegiatan pemberian bantuan
pemeriksaan untuk penderita TBC yang dilakukan oleh PPTI dan
evaluasi untuk kegiatan pembangunan rumah di desa Neuheun Aceh
yang dilakukan oleh Yayasan Nurani Dunia.
Menurut Dr. Soediono dari PPTI :
”Setiap bulan PPTI harus memberikan laporan tentang program
Tuberkulosis ke Bank Mandiri, tetapi laporan yang kita buat ini
agak berbeda, karena kami ingin membuat laporan yang mudah
92
dimengerti oleh pihak Bank Mandiri. Laporan yang kami buat
isinya tentang total jumlah penderita berapa, dari situ kemudian
kami menghitung jumlah pasien yang gagal, pasien yang
sembuh, pasien yang meninggal, pasien yang pindah dan pasien
yang DO. Selain itu, kami juga melaporkan biaya yang
digunakan unttuk pemeriksaan dahak, pemeriksaan rontgent dan
biaya konsultasi dokter”65
Pernyataan yang hampir sampai juga disampaikan oleh Ibu Gitayana:
”Setiap kegiatan yang kita lakukan, kita pasti memberikan
laporan secara tertulis kepada Bank Mandiri, yang isinya
tentang laporan kegiatan, laporan keuangan dan foto-foto
kegiatan”66
Hasil laporan-laporan tersebut kemudian oleh Bank Mandiri di
evaluasi, apakah sudah sesuai dengan misi perusahaan atau belum. Hal ini
juga dikatakan oleh Bapak Iskandar Tumbuan :
”Setelah data terkumpul, kemudian kami melihat tempatnya
setelah itu baru kita evaluasi, agar bantuan yang diberikan
sesuai dengan kebutuhan komunitas”67
Proses evaluasi tersebut tidak hanya dilakukan satu kali tetapi
berulang kali, agar nantinya program kegiatan yang dilakukan berjalan
lebih baik lagi dan sesuai dengan ketentuan yang ada.
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh dapat dikatakan bahwa
program-program PR PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. telah dirancang sedemikian
rupa dan tetap berpegang pada eksistensinya sebagai bagian dari masyarakat yang
saling membutuhkan satu sama lain. PR Bank Mandiri tidak hanya terfokus pada
program-program yang bersifat praktis, rutin namun ada juga program-program
65
Op.cit. hasil wawancara dengan Dr. Soediono
Op.cit. hasil wawancara dengan Ibu Gitayana
67
Op.cit. hasil wawancara dengan Bapak Iskandar Tumbuan
66
93
yang dibuat secara terstruktur dan terencana dalam upaya meningkatkan citra atau
image perusahaan.
Program atau kegiatan yang dilakukan oleh PR Bank Mandiri ini sesuai
dengan peran atau fungsi mereka. Fungsi tersebut antara lain fungsi internal
communications, fungsi external communications, fungsi corporate event dan
fungsi media relations.
Fungsi internal communications antara lain membantu menyebarluaskan
corporate identity, berita korporasi, insiatif, program dan kegiatan Bank Mandiri
kepada internal stakeholders ; membantu membangun budaya perusahaan yang
kuat diantara internal stakeholders ; menjalin hubungan baik dengan dan diantara
internal stakeholders ; membuat strategi komunikasi untuk program-program
internal ; melaksanakan program internal Membantu Corporate Communications
Department Head untuk meng-update bagian komunikasi internal dalam Buku
Panduan Corporate Communications sesuai perkembangan baru : membantu
Corporate Communications Department Head dalam issues management:
membantu
Corporate
Communications
Department
Head
dalam
crisis
management
Fungsi external communications antara lain : membantu menyebarluaskan
corporate identity, berita korporasi, insiatif, program dan kegiatan Bank Mandiri
kepada external stakeholders ; menjalin hubungan baik dengan external
stakeholders ; membuat strategi komunikasi untuk program-program eksternal ;
melaksanakan program Corporate Social Responsibility dan program korporat
lainnya; membantu Corporate Communications Department Head untuk meng-
94
update
bagian
Communications
komunikasi
sesuai
external
dalam
perkembangan
Buku
baru
;
Panduan
Corporate
membantu
Corporate
Communications Department Head dalam issues management ; membantu
Corporate Communications Department Head dalam crisis management
Fungsi corporate event antara lain : me-manage pengadaan berbagai event
yang dilaksanakan Bank Mandiri. Mulai dari penyelenggaraan road show di
berbagai kota di Indonesia, tempat Bank Mandiri beroperasi, talk show, seminar,
exhibition, internal event, bahkan termasuk pula pengadaan event dari grup lain.
Fungsi media relations antara lain : membantu menyebarluaskan corporate
identity, berita korporasi, insiatif, program dan kegiatan Bank Mandiri kepada dan
melalui media ; menjalin hubungan baik dengan media (media relations) ;
membuat strategi komunikasi dengan media ; monitoring media dan laporan
harian, membuat analisa media berkala berdasarkan PEL (Publicity Effectivenss
Level) dan audit media ; Membantu Corporate Communications Department
Head untuk memperbaharui bagian Corporate Publicity dalam Buku Panduan
Corporate Communications sesuai perkembangan baru ; Membantu Corporate
Communications
Department
Head
dalam
issues
Membantu
Corporate
Communications Department Head dalam crisis
Landasan bagi PR yang efektif adalah kebijaksanaan dan kegiatan yang
terpercaya demi kepentingan publik, tetapi kebijaksanaan dan tindakan yang baik
itu sendiri tidak cukup untuk memperoleh good will. Hanya melalui pemahaman
mengenai kebutuhan, nilai dan aspirasi publiklah manajemen dapat merumuskan
suatu kebijakan yang terpercaya, hanya melalui informasi kepada publik
95
mengenai kebijaksanaan dan kegiatan organisasi atau perusahaan, manajemen
dapat berharap memperoleh pengertian dan good will. Komunikasi yang efektif
merupakan hal yang sangat esensial bagi seorang PR yang baik.
PR merupakan keseluruhan bentuk komunikasi yang terencana baik itu
keluar maupun kedalam, yakni antara organisasi dengan publiknya dalam rangka
mencapai tujuan spesifik atas dasar adanya suatu pengertian. Oleh karena itu,
komunikasi dapat diwujudkan dengan kegiatan atau program-program PR, salah
satunya adalah kegiatan Community Relations merupakan bentuk tanggung jawab
sosial (CSR) perusahaan terhadap publiknya yaitu komunitas.
Kegiatan community relations ini dilakukan juga oleh PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk., karena komunitas merupakan bagian penting dari perusahaan yang
akan memberikan nilai positif dalam jangka panjang. Kegiatan community
relations Bank Mandiri lebih dikenal dengan kegiatan Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan (PKBL), lebih dekatnya CSR itu pada program Bina
Lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan PKBL Bank Mandiri memiliki program
yang disebut Mandiri Peduli.
Program Mandiri Peduli terdiri dari enam kategori yaitu, program mandiri
peduli pendidikan, program mandiri peduli kesehatan, program mandiri peduli
budaya, program mandiri peduli olahraga, program mandiri peduli usaha kecil dan
program mandiri peduli lingkungan.
Kegiatan community relations dalam program Mandiri Peduli tersebut
dilaksanakan oleh tim PKBL yang berkoordinasi dengan Corporate Secretary
Group khususnya Corporate Communication Department atau Komunikasi
96
Korporasi. Dalam Bank Mandiri Corporate Communication dapat diartikan
sebagai PR, karena departemen tersebut juga menjalankan tugas dan fungsinya
yang hampir sama dengan PR. Oleh karena itu, program-program PR yang ada di
Bank Mandiri telah dirancang sedemikian rupa dan tetap berpegang pada
eksistensinya sebagai bagian dari masyarakat yang saling membutuhkan satu sama
lain. Hal ini sesuai dengan visi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu Bank
terpercaya pilihan anda sedangkan misinya adalah peduli terhadap kepentingan
masyarakat dan lingkungan.
Latar belakang CSR atau PKBL Bank Mandiri adalah sebagai bank
terbesar
di
Indonesia,
masyarakat
mengharapkan
Bank
Mandiri
dapat
menunjukkan tanggung jawab sosial dengan berpartisipasi dalam kegiatan dan
program kemanusiaan dan bidang-bidang yang dapat meningkatkan kesejahteraan
Dari Latar belakang tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai adalah
pertama, sebagai salah satu upaya untuk membina hubungan baik dengan berbagai
pihak di lingkungan tempat perusahaan mengembangkan bisnis, dan yang kedua,
sebagai salah satu cara atau upaya untuk memperkuat dan meningkatkan citra atau
image, sebagai perusahaan yang secara konsisten menunjukkan kepedulian pada
masyarakat.
Kegiatan membina hubungan baik dan meningkatkan image bagi suatu
perusahaan adalah suatu keharusan bagi perusahaan yang memiliki banyak
khalayak, sehingga dalam hal ini Public Relations memiliki peranan yang sangat
penting untuk menjalankan kedua hal tersebut, agar apa yang dilakukan oleh
97
perusahaan dapat bermanfaat bagi khalayak khususnya khalayak eksternal seperti
komunitas.
Hasil yang akan diperoleh sebuah perusahaan ketika mengelola hubungan
baik adalah adanya kepercayaan yang kuat dari komunitas, dan loyalitas dan
kepedulian komunitas terhadap perusahaan, karena komunitas menganggap bahwa
perusahaan telah membantu kehidupan mereka dengan maksimal. Hal tersebut
jika dilakukan secara terus menerus akan membantu perusahaan dalam
membangun image yang baik.
Hal inilah yang sangat disadari oleh Bank Mandiri yang memiliki
khalayak eksternal yang sangat banyak seperti komunitas. Sehingga mereka
merasa perlu membuat kegiatan community relations yang sesuai dengan
kebutuhan komunitas. Oleh karena itu, dalam membuat sebuah kegiatan
community relations, Bank Mandiri melakukan lima tahapan yaitu proses
pengumpulan
data
(fact
finding),
perencanaan
(planning),
pelaksanaan
(actuating), pengawasan (monitoring) dan evaluasi (evaluating).
Tahap yang pertama yaitu pengumpulan data (fact finding), dalam tahap
ini Bank Mandiri memperoleh data dari orang lain, karyawan, komunitas atau
masyarakat yang memberikan informasi kepada Bank Mandiri melalui surat,
proposal atau secara lisan yang disampaikan ke kantor cabang atau kantor pusat
secara organisasi.
Proses pengumpulan data yang dilakukan oleh Bank Mandiri ini memiliki
kelebihan yaitu data yang diperoleh oleh perusahaan dapat dipertanggung
jawabkan dan akurat. Sehingga bantuan yang akan diberikan adalah bantuan yang
98
membantu dan bermanfaat bagi komunitas yang menerimanya. Akan tetapi
kekurangannya adalah prosedur yang cukup rumit dan memakan waktu yang
terlalu lama, sehingga untuk kegiatan – kegiatan yang membutuhkan bantuan
cepat, akan mengalami hambatan.
Tahap kedua yaitu perencanaan (planning), dalam tahap ini untuk
membuat sebuah kegiatan community relations, perlu membuat tema, konsep,
jenis kegiatan, bantuan yang diberikan dan penanggung jawab dari kegiatan
tersebut. Oleh karena itu, perencanaan merupakan hal yang penting agar kegiatan
yang dibuat sesuai dengan tujuan, visi dan misi Bank Mandiri.
Tahap ketiga yaitu pelaksanaan (actuating) yaitu melaksanakan program
atau kegiatan sesuai dengan yang direncanakan. Biasanya untuk melaksanakan
sebuah program Bank Mandiri selalu bekerja sama dengan pihak ke tiga yaitu
yayasan atau lembaga-lembaga sosial yang diseleksi terlebih dahulu.
Tahap keempat yaitu pengawasan (monitoring) adalah tahap mengawasi
atau memonitoring pelaksanaan dari kegiatan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung artinya pihak Bank Mandiri melihat secara langsung ke
lapangan kegiatan yang dilakukan sedangkan secara tidak langsung menggunakan
media baik cetak maupun elektronik untuk memantau kegiatan community
relations.
Tahap kelima yaitu evaluasi (evaluating) tahap ini merupaka tahap untuk
menilai atau mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan, apakah sesuai dengan
tujuan, visi, misi perusahaan dan apakah sesuai dengan rencana kegiatan yang
dibuat.
99
Dalam tahap evaluasi tersebut, Bank Mandiri melakukan evaluasi kegiatan
community relations yang dilaksanakan oleh yayasan atau lembaga sosial yang
sudah ditunjuk maupun yang diberikan secara langsung oleh Bank Mandiri.
Evaluasi dilakukan melalui laporan pertanggung jawaban kegiatan dan keuangan
untuk setiap bantuan yang sudah diberikan, kemudian dilakukan audit oleh tim
auditor
untuk
mengecek
keuangan
yang
sudah
terpakai.
Jika
terjadi
penyelewengan dana, maka sanksi akan diberikan kepada pihak yang
mengeluarkan dana yaitu tim PKBL, dan pihak pelaksana kegiatan yaitu lembaga
atau yayasan yang ditunjuk.
Ke lima tahapan tersebut dilakukan oleh Bank Mandiri, karena Bank
Mandiri ingin setiap bantuan yang mereka berikan kepada komunitas dapat
tersampaikan dan digunakan secara baik dan benar. Selain itu, Bank Mandiri juga
menginginkan dana yang mereka keluarkan dapat dipergunakan dengan sebaikbaiknya tanpa ada penyimpangan.
Dalam uraian dari tahapan-tahapan di atas, diketahui bahwa Bank Mandiri
melakukan kerja sama dengan pihak ketiga untuk melaksanakan kegiatan
community relations. Pihak tersebut antara lain yayasan atau lembaga-lembaga
sosial yang berfungsi sebagai perantara dalam menyalurkan bantuan kepada
komunitas.
Lembaga atau Yayasan yang bekerja sama dengan Bank Mandiri ini,
biasanya ditunjuk berdasarkan bantuan yang ingin diberikan oleh pihak Bank
Mandiri, misalnya saja dalam bidang kesehatan, Bank Mandiri bekerja sama
dengan PPTI untuk membantu pengobatan penderita TBC dan dalam bidang
100
lingkungan seperti pembangunan infrastruktur, salah satunya Bank Mandiri
bekerja sama dengan Yayasan Nurani Dunia.
Latar belakang Bank Mandiri memilih yayasan atau lembaga tersebut
adalah bahwa lembaga-lembaga ini sudah memiliki kredibilitas dan dapat
dipercaya bisa menjalankan program yang sesuai dengan keinginan perusahaan,
karena setiap bulan yayasan atau lembaga tersebut akan memberikan laporan
pertanggung jawaban kepada Bank Mandiri, tetapi jika mereka memberikan
bantuan tersebut secara langsung kepada masyarakat ditakutkan tidak sesuai
dengan peruntukkannya dan akan banyak terjadi penyimpangan dalam
penggunaan dana tersebut, karena tidak adanya laporan pertanggung jawaban.
Kegiatan community relations yang dilakukan oleh PPTI dalam
menyalurkan bantuan yang diberikan oleh Bank Mandiri antara lain adalah biaya
pemeriksaan laboratorium dahak atau Mantoux test untuk anak-anak, biaya
pemeriksaan radiologi paru, bantuan transportasi penderita pada saat mengambil
obat dan biaya konsultasi dokter. Bantuan ini sangat diperlukan oleh penderita
TBC yang 75%nya berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu.
Selain kegiatan tersebut, ada beberapa kegiatan lain yang dilakukan oleh
Yayasan Nurani Dunia sebagai pihak ketiga yang ditunjuk oleh Bank Mandiri,
kegiatan tersebut antara lain tahun 2002 pembangunan gedung sekolah di desa
Cisarua, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, tahun 2003 sampai 2005
pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki kepedulian sosial, tahun 2005
sampai 2007 pembangunan rumah untuk korban tsunami di daerah Neuheun,
101
Aceh dan tahun 2008 pemberian genset untuk training center di daerah Menasah
Manyang.
Dilihat dari sisi Public Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dalam
meningkatkan corporate image, maka bisa dikatakan sudah cukup berhasil.
Sebuah keberhasilan dalam meningkatkan corporate image adalah menciptakan
hubungan yang baik, erat, berkesinambungan serta saling menguntungkan.
Hal tersebut juga bisa dilihat dari tanggapan PPTI dan Yayasan Nurani
Dunia sebagai pihak ketiga yang menerima bantuan dari Bank Mandiri kepada
komunitas secara langsung, mereka menyatakan bahwa kegiatan community
relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri merupakan kegiatan positif, karena
program atau kegiatan tersebut sangat membantu mengurangi kesulitan yang
dialami oleh masyarakat khususnya warga miskin atau tidak mampu. Sehingga
image di mata pihak ketiga maupun komunitas sampai saat ini baik.
Dari pernyataan tersebut juga dapat dilihat bahwa yayasan atau lembagalembaga sosial sebagai pihak ketiga serta komunitas sangat setuju dan mendukung
kegiatan CSR tersebut, karena mereka merasa kebutuhannya diperhatikan oleh PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Secara keseluruhan kegiatan community relations dalam meningkatkan
corporate image yang dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., jika
dikaitkan dengan konsep yang ada maka sudah sesuai, hal ini bisa dilihat
bahwasannya Bank Mandiri sudah melakukan suatu kegiatan untuk menjalin
hubungan yang harmonis dan baik antara perusahaan dengan komunitasnya.
Hubungan tersebut dilakukan untuk membuktikan bahwa perusahaan memiliki
102
tanggung jawab sosial (CSR) dan kepedulian terhadap komunitas. Sehingga citra
perusahaan atau corporate image menjadi semakin baik di mata khalayak
eksternal khususnya komunitas.
Dalam pelaksanaan kegiatan community relations ini mengalami beberapa
hambatan yaitu pertama, pengawasan (monitoring), hal ini disebabkan karena
Bank Mandiri tidak bisa mengawasi secara langsung bantuan-bantuan yang
diberikan kepada komunitasnya, karena sampai saat ini pengawasan yang
dilakukan hanya sebatas laporan-laporan berkala yang dibuat oleh lembaga atau
perkumpulan yang ditunjuk dan dipercaya oleh Bank Mandiri. Kedua, bantuan
yang diberikan secara langsung kepada komunitas, biasanya bantuan yang
sifatnya tidak terencana atau responsive, sehingga ketika kita memberikan
bantuan ke mereka, bantuan tersebut tidak dipakai dengan seharusnya. Hal ini
disebabkan tingkat pendidikan dan tingkat pengetahun mereka yang kurang.
Saat ini, hambatan-hambatan tersebut tidak menjadi penghalang bagi Bank
Mandiri untuk selalu memberikan bantuan kepada masyarakat yang sangat
membutuhkan, hal ini didasari atas sikap tanggung jawab sosial (CSR) dan
kepedulian perusahaan terhadap kehidupan masyarakat.
103
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya mengenai
penerapan tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan dalam kegiatan community
relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. untuk meningkatkan corporate image,
maka kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut :
1. Public Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. telah melakukan kegiatan
community relations sebagai bentuk penerapan atau implementasi tanggung
jawab sosial (CSR) perusahaan terhadap komunitasnya, dan menjadikan
kegiatan community relations ini sebagai salah satu agenda resmi
perusahaan yang harus dilakukan setiap tahunnya.
2.Tujuan CSR Bank Mandiri adalah sebagai salah satu upaya untuk membina
hubungan baik dengan berbagai pihak di lingkungan tempat perusahaan
mengembangkan bisnis dan sebagai salah satu cara untuk memperkuat dan
meningkatkan reputasi dan citra, sebagai perusahaan yang secara konsisten
menunjukkan kepedulian pada masyarakat.
3.Kegiatan community relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri biasanya
bekerja sama dengan pihak ketiga seperti yayasan atau lembaga baik milik
pemerintah maupun swasta. Pihak ke tiga tersebut dipilih berdasarkan atas
kepercayaan, keterbukaan dan tidak berorientasi pada keuntungan.
104
4.Kegiatan community relations sebagai implementasi CSR yang dilakukan
oleh Bank Mandiri dibuat dalam program Mandiri Peduli. Mandiri Peduli
terdiri dari beberapa ruang lingkup yaitu Mandiri Peduli Pendidikan,
Mandiri Peduli Kesehatan, Mandiri Peduli Olah Raga, Mandiri Peduli
Lingkungan, Mandiri Peduli Budaya dan Mandiri Peduli Usaha Kecil.
5.Program Mandiri Peduli Lingkungan diwujudkan oleh Bank Mandiri, salah
satunya dalam bentuk pembangunan rumah bagi masyarakat yang selamat
(survivors) akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh, khususnya di
Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Program
ini bekerja sama dengan Yayasan Nurani Dunia.
6.Program Mandiri Peduli Kesehatan merupakan bentuk kepedulian Bank
Mandiri terhadap kesehatan masyarakat, khususnya masyarakat tidak
mampu yang ingin berobat. Oleh karena itu, Bank Mandiri bekerja sama
dengan PPTI, memberikan bantuan untuk biaya pengobatan bagi penderita
TBC yang tidak mampu. Biaya pengobatan seperti pemeriksaan dahak,
konsultasi dokter, rontgent, dan lain sebagainya.
7.Kegiatan community relations dilaksanakan oleh Corporate Communication
Department Bank Mandiri bekerja sama dengan tim PKBL dengan
menggunakan lima tahap yaitu fact finding, planning, actuating, monitoring,
dan evaluating.
a.fact finding yaitu tahap mengumpulkan data dan informasi dari berbagai
baik pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan.
105
b.Planning yaitu merencanakan kegiatan community relations berdasarkan
data-data yang ada. Tahap ini harus dilakukan dengan matang agar,
kegiatan yang direncanakan sesuai dengan visi dan misi perusahaan.
c.Actuating yaitu melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana program
yang sudah dibuat. Pelaksanaan kegiatan biasanya diberikan kepada
lembaga atau yayasan yang suadh ditunjuk oleh Bank Mandiri
d.Monitoring yaitu mengawasi kegiatan yang sudah dilaksanakan baik
secara langsung maupun tidak langsung.
e.Evaluating yaitu mengevaluasi kegiatan melalui laporan pertanggung
jawaban yang dibuat oleh yayasan atau lembaga pelaksana kegiatan
community relations.
8.Kegiatan community relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri sudah
baik, hal ini dapat dilihat dari citra atau image perusahaan yang semakin
baik dan tanggapan positif dari yayasan atau lembaga maupun masayarakat
yang menerima bantuan dari Bank Mandiri.
5.2 Saran
Dari hasil kesimpulan pada penelitian ini, maka penulis memberikan
saran-saran, adapun secara praktis dan secara akademis, sebagai berikut :
5.1.1 Saran Akademis
a.Tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih dikenal dengan CSR memiliki
banyak sisi yang dapat digali serta dipelajari dalam bidang ilmu komunikasi
khususnya dalam bidang Public Relations.
106
b.Penelitian ini juga memberikan wawasan baru bagi akademis untuk
mengelola tanggung jawab sosial perusahaan yang diimplementasikan dalam
kegiatan community relations. Hal ini dikarenakan, kegiatan tersebut dapat
digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan citra perusahaan di
mata stakeholder eksternal, khususnya komunitas.
5.1.2 Saran praktis
Saran praktis yang dapat disampaikan oleh peneliti adalah :
a. Bank Mandiri harus mempublikasikan kegiatannya kepada masyarakat
secara langsung maupun melalui media massa kepada penerima bantuan dan
masyarakat secara umum. Publikasi ini sangat diperlukan, karena dapat
meningkatkan image perusahaan dari kegiatan tersebut.
b.Disamping kegiatan community relations bersifat formal, hendaknya juga
ditempuh jalur-jalur non-formal seperti mengadakan pertemuan dengan para
tokoh masyarakat setempat dan juga warga sekitar setiap beberapa bulan
sekali. Dari pertemuan yang dilakukan diharapkan terbentuk komunikasi
yang efektif antara kedua belah pihak sehingga dapat diketahui apa saja
kebutuhan, keinginan, serta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat
sekitar. Dengan begitu pihak PR PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dapat
menindaklanjutinya dengan membuat program kegiatan community relations
yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dari masyarakat
sekitar. Diharapkan dengan adanya program tersebut masyarakat dapat
mendukung keberadaan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
107
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrachman, Oemi, Dasar-dasar Public Relations, Bandung : PT Citra Aditya
Bakti, 2001
Anggoro, M. Linggar, Teori dan Profesi Kehumasan (Serta Aplikasinya di
Indonesia), Jakarta : Bumi Aksara, 2004
Cutlip, Scott M., Allen H. Center, dan Glenn M. Broom, Effective Public
Relations, Edisi kedelapan, Indonesia : PT INDEKS Kelompok Gramedia,
2005.
Effendy, Uchjana Onong, Human Relations Dan Public Relations, Bandung : CV.
Mandar Maju 1993.
----------, Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek), Edisi Kesembilanbelas, Bandung
: PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Hendrik, Budi Untung, Corporate Social Responsibility, Cetakan Pertama,
Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Iriantara, Yosal, Community Relations Konsep dan Aplikasinya, Cetakan Pertama,
Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2004.
Jackie, Ambadar, CSR Dalam Praktik di Indonesia, Jakarta : PT Elex Media
Komputindo, 2008.
Jalaludin, Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung : Rosdakarya, 2004.
Jefkins, Frank, Public Relations, Edisi kelima, PT. Gelora Aksara Partama, 2002.
Kriyantono, Rachmat, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta : Kencana
Prenada Media Group, 2006.
----------, Public Relations Writing (Media PR Membangun Citra Korporat),
Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008.
Moore, H. Frazier, Hubungan Masyarakat (Prinsip, Kasus dan Masalah) Dua,
Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2007.
Muslimin, Hubungan Masyarakat dan Konsep Kepribadian, Malang : Universitas
Muhamadiyah Malang, 2004.
108
Pace, R. Wayne dan Don F. Faules, Komunikasi Organisasi, Bandung : PT
Remaja Rosdakarya, 2005.
Ruslan, Rosady, Manjemen Humas dan Komunikasi Konsep dan
Jakarta: Rajawali Press, 2001.
Aplikasi.
----------, Manajemen PR dan Media Komunikasi (Konsepsi dan Aplikasi), Edisi
Revisi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Public Relations, Bandung :
PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Sumber Lain :
Annual Report PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. tahun 2007
www.bankmandiri.co.id
www.pkbl-mandiri.co.id
Company Profile PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. tahun 2008
Roles & Responsibility Corporate Secretary
Wakil
WakilDirektur
Direktur
Utama
Utama
Corporate
Corporatesecretary
secretary
Group
Head
Group Head
BOD
BOD //BOC
BOC
Project
Management
Office
Corporate
Corporate
Communications
Communications
- Develop strategy
for corporate
communications
plan & Maintain
- Handle media
relations, internal
& external
communications
- Organize corporate
event (e.g.
Mandiri’s
Independence Day)
Quality Assurance
& Compliance
Corporate Staff
Capital
CapitalMarket
Market
Assurance
Assurance
- Ensure regulatory
compliance &
disclosure (BI,
BAPEPAM, JSX
etc)
- Prepare corporate
documentation
- Execute corporate
action in a timely
manner (including
holding AGMs)
Terdepan, Terpercaya. Tumbuh bersama Anda
Office
OfficeOf
OfThe
The
Board
Board
- Provide secretarial
support to
Directors &
Commisioners
- Arrange meetings,
apointments etc.
- First point of
contact for
external parties
- Arranging visa,
passport, tickets
etc.
Planning
Planning&&
Operations
Operations
- Monitoring and
tracking performance
of corporate
secretary group
- Provide
administrative
support to directors
& commissioners and
provide
administrative
support for
Corporate Secretary
Group (e.g. payment,
reimbursement,
timesheet, lodging,
logistics)
0
Security
Security
- Planning &
Monitoring security
System of Bank
Mandiri
- Held on ISO
9001:2000 For
Security System
Brand
Brand
Standardization
Standardization
- New Brand
Development
- New Brand
Implementation
0
Struktur Organisasi Corporate Secretary
Project
Management
Office
Corporate
Corporatesecretary
secretary
Group
Head
Group Head
BOD
BOD //
BOC
BOC
Unit Baru/penambahan
-Permanen member
-Non permanane member
Quality
Assurance &
Compliance
Corporate
Staff
Tata Usaha
Pimpinan
Corporate
Corporate
Communications
Communications
Media
Relations
External
communicatio
ns
Internal
Communicatio
ns
Capital
CapitalMarket
Market
Assurance
Assurance
Capital
Market
Corporate
Actions
Corporate
Events
Office
OfficeOf
OfThe
The
Board
Board
Planning
Planning&&
Operations
Operations
Security
Security
Pengamanan
Kantor Pusat
Performance
Management
Board
Secretariat 13
Secretary of Dir &
Com (15)
Secr. Pengganti (2)
Pengamanan VIP
Board Support 11
Pengamanan Asset
Clerk (6)
Non Clerk (19)
Outsource(13)
Board Protocol
Clerk (4)
Administration
Clerk (8)
Non Clerk (3)
Outsource(3)
Administration
Clerk (8)
1
Pembinaan Kantor
Cabang
Brand
Brand
Standardization
Standardization
Brand
Development
Brand
Implemetatio
n
Clerk (4)
Administrasi &
Perlengkapan
Investigasi
LitBang
Terdepan, Terpercaya. Tumbuh bersama Anda
1
1
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK PERUSAHAAN
1. Apakah di dalam perusahaan ini terdapat divisi Public Relations ?
2. Apa yang melatarbelakangi pembentukan divisi Public Relations tersebut ?
3. Apakah di dalam kegiatan PR tersebut, terdapat kegiatan untuk komunitas ?
(Alasannya)
4. Menurut anda apa yang dimaksud dengan CSR ?
5. Apakah kegiatan community relations sebagai implementasi dari CSR, wajib
dilakukan oleh suatu perusahaan ? (Alasannya kenapa)
6. Bagaimana proses komunikasi yang dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk. terhadap komunitasnya mengenai kegiatan community relations tersebut ?
7. Bisa anda jelaskan, tahapan-tahapan apa saja yang dilakukan oleh Bank Mandiri,
dalam kegiatan community relations tersebut ?
8. Dalam proses pelaksanaan kegiatan community relations, apakah ada hambatanhambatan yang terjadi pada saat pelaksanaan ? (Sebutkan hambatan-hambatan
tersebut)
9. Apakah kegiatan community relations yang dilakukan oleh Bank Mandiri,
merupakan program rutin perusahaan atau hanya dilakukan pada saat tertentu
saja?
10. Dalam kegiatan community relations tersebut, apakah segala biaya yang
dikeluarkan berasal dari perusahaan atau ada bantuan dari pihak luar ?
11. Apakah kegiatan community relations tersebut berpengaruh terhadap citra
perusahaan? (Alasannya kenapa ) ?
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK YAYASAN
1. kegiatan community relations, apa yang pernah dilakukan oleh Bank Mandiri
untuk Perkumpulan atau Yayasan di tempat anda ? (Alasan)
2. Dari mana anda mengetahui kegiatan community relations tersebut ? (Alasannya)
3. Menurut anda, apakah kegiatan community relations tersebut bermanfaat ?
(Alasannya)
4. Apakah kegiatan community relations tersebut sering dilakukan oleh Bank
Mandiri ?
5. Apakah anda mengetahui kegiatan community relations yang lain, yang pernah
dilakukan oleh Bank Mandiri ? (Berikan contohnya)
6. Apakah anda juga berharap kegiatan tersebut bisa berkelanjutan ? (Alasannya)
7. Menurut anda, bagaimana citra perusahaan yang dimiliki oleh Bank Mandiri saat
ini ? (Alasannya)
8. Apakah anda memiliki saran atau kritik tentang kegiatan community relations
yang dilakukan oleh Bank Mandiri ?
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK MASYARAKAT
1. Kalau boleh tahu nama bapak atau ibu siapa ?
2. Sudah berapa lama bapak atau ibu berobat di klinik JRC ?
3. Selama ini, pengobatan atau pemeriksaan yang bapak atau ibu lakukan, apakah
membayar sendiri atau mendapat bantuan ?
4. Apakah bapak atau ibu tahu, bantuan tersebut berasal dari mana ?
5. Apa, tanggapan bapak atau ibu tentang bantuan tersebut ?
HASIL WAWANCARA
Narasuumber : Bp. Dr. H. Soediono, MPH
Jabatan
: Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PPTI
Lokasi
: Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
JL. Sultan Iskandar Muda No. 66-A Kebayoran Lama Utara.
P : Bapak di PPTI selaku apa ?
J : Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis
Indonesia (PPTI)
P : Bagaimana proses kerjasama antara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dengan
PPTI ?
J :Prosesnya itu panjang. Jadi mula-mula Ketua Umum kita Ibu Ratih
Siswonoyudohusodo itu ada pembicaraan dengan pimpinan Bank Mandiri,
soal Bank Mandiri ingin memberikan bantuan, tapi berupa apa masih belum
tahu. Tapi kita diminta untuk membuat sebuah proposal barangkali sudah
sampai tiga kali, karena proposal untuk penanggulangan TB itu kan harus
suatu proposal yang sedemikian rupa, sehingga dapat dinilai secara tidak
kualitatif tapi kuantitatif, karena dia mau memberikan uang kan, jadi tidak
bisa. Pertama-tama kita usulkan, karena tugas pokok PPTI untuk adalah
penyuluhan kepada masyarakat tentang TBC, kita mengajukan proposal
tentang penyuluhan, setelah saya pikir-pikir, wah bagaimana ini, kita nanti
menilai penyuluhan, apakah banyaknya yang disuluh, kan bukan. Sebenarnya
penyuluhan itu kan target akhirnya seberapa jauh orang-orang yang disuluh itu
bisa membawa penderita TBC untuk berobat dan sampai seberapa jauh orang
yang berobat itu bisa sembuh, itu kan. Ini sukar untuk dikuantifikasi, saya
pikir kalau saya usulkan demikian maka kemungkinan untuk ditolak itu besar
karena tidak bisa dinilai, sebab penyuluhan dan sebagainya itu kan
penilaiannya secara jangka panjang. Oleh sebab itu, suatu kegiatan merubah,
merubah sesorang itu dari orang tidak mengerti, menjadi orang mengerti dari
orang mengerti menjadi orang yang melaksanakan kan perjalanannya panjang,
itu kan bertahun-tahun, itu susah. Terus saya bikin lagi yang kedua, saya mau
mengikutsertakan rumah-rumah sakit Pemerintah ataupun rumah-rumah sakit
Swasta yang ada di Jakarta untuk bersama-sama PPTI melaksanakan
pengobatan TB dengan strategi DOTS, strategi TB itu dengan DOTS
sekarang, DOTS itu (Directly Observe Treatment Shortcources, ya jadi orang
yang diobati itu harus dinilai atau diawasi terus menerus selama 6 bulan, nah
ternyata setelah kami jajaki kembali, yang akan kami usulkan itu ternyata
rumah-rumah sakit itu pada tahun 2004 belum melaksanakan DOTS, kita tidak
bisa sebab secara Internasional para penderita TBC itu harus dengan sistem
DOTS, trus setelah saya cek ke Rumah Sakit A, wah kita belum melaksanakan
ini pak, B ya, ada lagi yang saya sudah melaksanakan tapi nanti kalau ada
yang lain masuk bagaimana kita mempertanggung jawabkannya, wah
pokoknya susah akhirnya. Lalu yang ketiga di Jakarta itu ada 3 klinik PPTI,
satu disini, satu di jalan Baladewa, satu di Muara Angke. Dari ketiga-tiganya
itu sejak tahun 1997 november telah melaksanakan pengobatan penderita
dengan sistem DOTS. Lalu saya membuat proposal untuk 3 Rumah Sakit itu,
eh apa namanya untuk klinik-klinik itu, tapi saya tidak melaksanakan
sekaligus tiga klinik. Saya mengadakan uji coba dulu di klinik yang sini, itu
yang pertama, nah tahun 2004 itu klinik PPTI pusat ini yang kita ajukan untuk
mendapatkan bantuan dari hibah Bank Mandiri dalam rangka CSR itu untuk
membebaskan biaya pengobatan dari penderita. Penderita itu memang obatnya
bebas, karena dapat bantuan dari pemerintah, tetapi untuk pemeriksaan dahak,
pemeriksaan rontgen, pemeriksaan dokter, dan lain-lainnya itu kan gak bebas,
ya dan karena kita tahu, bahwa penderita TBC itu 75%nya itu orang-orang
yang miskin, nah itu yang kita ajukan. Jadi pengajuan pertama itu untuk
klinik, di sini, itu untuk gak banyak banget paling 180an penderita, nanti ada
angka semuanya akan saya sampaikan, terdiri dari pertama membebaskan
penderita untuk pemeriksaan dahak, diagnosa penyakit TB itu harus
pemeriksahaan dahak, membebaskan penderita dari pemeriksaan rontgent, klo
untuk anak-anak kecuali rontgent juga untuk mantoux test, lalu ketiga
memberikan bantuan transportasi untuk penderita. Kalau penderita itu kan
selama 6 bulan harus bolak balik kemari, ya jadi setiap bulan itu 2 klai dia
datang, setiap kali datang kita kasih bantuan uang tidak banyak cuma lima
ribu, lima ribu rupiah.Ya jadi, nah itu, yang keempat bantuan sekedarnya
untuk biaya konsultasi dokter cuma 30.000 selama 6 bulan, jadi gak seberapa
kan sebetulnya, nah itu disetujui, kalau disetujui ya sudah, kita pertama klinik
ini dulu untuk berapa pasien nanti ada angkanya. Dan setiap bulan kita
memberikan laporan, jadi laporan itu lain dengan laporan TB yang ada untuk
program, laporan TB untuk program itu complecated ya, memang seluruh
dunia sama tapi untuk Bank Mandiri, kita harus membuat laporan yang mudah
dicerna oleh seorang pemberi dana. Jadi misalkan bulan ini, kita mendapatkan
penderita sekian ya, terus kan dari sekian ini, yang sembuh nanti berapa, yang
gagal berapa, yang meninggal berapa, yang pindah berapa, yang DO berapa,
dan selama setiap bulan itu, kita laporkan uang yang telah digunakan berapa,
digunakan untuk pemeriksaan dahak berapa, pemeriksaan rontgent berapa,
untuk honor dokter berapa. Jadi, setiap bulan walaupun di dalam proposal,
saya laksanakan setiap bulan, ya jadi supaya dia itu bisa tahu berarti, saya itu
sudah mengobati orang sekian, yang gagal sekian, yang DO sekian. Itu tiap
bulan, terus setelah tahun pertama kelihatannya orang Bank Mandiri puas,
terus kita tingkatkan kembali pada tahun kedua, tahun 2005 kalau tidak salah,
meliputi poliklinik di sini dan poliklinik di Muara Angke, ya, tapi jumlahnya
itu semakin banyak lagi. Pertahun itu misalkan targetnya 100, kita itu bisa
mencapai lebih dari 100 jadi selalu naik, angka kesembuhannya juga baik,
mungkin beliau-beliau di Mandiri juga puas, terus pada tahun ketiga kita
memasukkan klinik PPTI di bantul Yogyakarta. Setelah di sana itu ada gempa
dan tsunami, saya gak tahu, terus memasukkan, karena saya lihat di sana itu
banyak masyarakat yang masih tinggal di tenda-tenda ya kan menyebabkan,
apa namanya penularan TB tinggi. Terus yang tahun keempat, kalau gak salah
tahun ini, kita apa namanya memasukkan juga, kecuali yang ada di sini,
Muara Angke, Bantul, dan yang ada di Jalan Baladewa. Itu sebuah hal yang
besar. Target saya itu 3.000 penderita dan yang diberikan bantuannya itu lebih
dari lima ratus juta, itu prosesnya begitu.
P : Tanggapan dari pasien atau masyarakat sendiri dengan adanya bantuan hibah
dari Bank Mandiri itu ?
J : Saya tidak pernah apa namanya mewawancarai mereka ya, mungkin anda lebih
baik. Kalau saya yang ngomongkan highest, ya. Jadi, tapi kalau saya lihat,
jumlah penderita itu meningkat, apakah meningkat karena orang Mandiri atau
karena memang jumlah penderita meningkat, saya tidak tahu.
P : Harapan bapak, apakah kegiatan ini ingin dilanjutkan terus gitu ?
J : Iya, soalnya begini itu penyakit TB merupakan permasalahan yang berat di
Indonesia, di dunia masuk dalam urutan ke 3 yang memiliki penderita TB
paling besar. Ini merupakan hal yang memalukan, kan ya, kalau penduduk kita
habis karena hal itu. Kemudian dengan adanya krisis ekonomi, krisis
keuangan global dan lain-lain, jelas jumlah penderita TBC bertambah, apalagi
dengan adanya HIV/AIDS ya, itu kalau orang dengan HIV/AIDS daya tahan
tubuh turun, maka akan mudah terserang penyakit TBC, dan kalau sudah
terkena pada penderita HIV, maka angka kematiannya tinggi. Oleh karena itu,
jelas kalau Mandiri masih mau, kita akan bantu. Saya kira demikian.
P : Jadi kegiatan yang dilakukan oleh Bank Mandiri disini, memberikan bantuan
untuk biaya pengobatan ?
J : Iya, biaya pengobatan, sebab obat-obatan kita mendapatkan gratis dari
Pemerintah itu yang dilakukan oleh Bank Mandiri.
P : Kalau Bapak sendiri tahu bahwa Bank Mandiri pernah memberikan bantuan
kepada tempat lain ?
J : Setelah itu baru kita tahu, karena waktu kita sama-sama duduk di sini, dia
mengatakan, bahwa dia juga memberikan seperti untuk pendidikan ya, malah
suatu ketika Bank Mandiri pernah minta saya, tolong pak, saya dibikinkan
suatu contoh bangunan puskesmas. Kelihatannya dia ingin membangun suatu
puskesmas, nanti dikelola sebentar, lalu diserahkan kepada masyarakat, ya,
karena saya dulu bekerja di Depkes, sudah saya serahkan, tapi follow upnya
bagaimana saya gak tahu. Jadi kelihatannya banyak kegiatannya, tapi kita aja
yang tidak tahu, dari situ masyarakat juga menilai.
P : Saran dari Bapak untuk kegiatan CSR yang dilakukan oleh Bank Mandiri ?
J : Saya kira sekarang kita kerjakan saja, memang sebetulnya kita ingin meluaskan
kegiatan tersebut tidak hanya di Jakarta saja, tapi juga di beberapa kota di luar,
tetapi saya juga sebagai orang PPTI harus menyiapkan dulu kan, jangan
sampai kliniknya itu tidak becus, tapi kita minta uang kan gak bagus gitu ya.
Jadi, saya juga belum berani untuk meluaskan ke klinik tersebut, padahal di
Baladewa itu baru tahun ini juga membutuhkan biaya yang banyak, tapi
karena saya gak, belum siap, nanti kalau uang tersebut diberikan gimana,
karena uang itu kan amanah.
P : Menurut bapak, Bank Mandiri itu seperti apa pak ?
J : Saya tidak tahu ya, yang jelas, yang saya itu jadi nasabah Bank Mandiri sejak
tahun 1990an, karena Pegawai Negri itu perlu membuka rekening untuk gaji
saya apa masuk, sampai sekarang juga, jadi gak ada masalah, ya. Jadi, kalau
secara global tentang Bank Mandiri sendiri, saya kira sudah baik. Saya tidak
berani menilai, saya tidak mempunyai pembanding dengan Bank lain, ya.
HASIL WAWANCARA
Narasumber
: Bp. Iskandar Tumbuan
Jabatan
: Team Leader Media Relations PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Lokasi
: Kantor Pusat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
JL. Gatot Subroto Kav 36-38 Jakarta
P : Apakah di dalam perusahaan ini terdapat divisi Public Relations ? Dan apa
yang menjadi latar belakang pembentukan divisi tersebut ?
J : Disini memang ada PR, tapi namanya bukan PR, namanya komunikasi
korporasi yang tugas dan fungsinya hampir sama dengan kegiatan PR.
Komunikasi korporasi ini memiliki empat fungsi yaitu fungsi media relations,
fungsi internal communications, fungsi external communications, fungsi
corporate event, dan satu lagi, kami memiliki fungsi administrasi yang
tugasnya adalah membantu dalam proses administrasi atau keuangan dari
setiap kegiatan PR yang kami jalankan. Latar belakang pembentukan
komunikasi korporasi, ini mungkin Bank Mandiri melihat bahwa komunikasi
merupakan hal yang terpenting untuk membentuk suatu citra perusahaan agar
menjadi lebih baik lagi. Oleh sebab itu, komunikasi korporasi di bentuk di
Bank Mandiri, kira-kira begitu ya.
P : Dari program-program yang dilakukan oleh komunikasi korporasi, apakah ada
kegiatan yang ditujukan untuk komunitas ? (Alasannya, kenapa)
J : Pasti kami memiliki program-program, tapi jika dikaitkan dengan komunitas,
maka itu sangat tergantung dari siapa komunitasnya. Misalnya kami dua tahun
ini memiliki program Wirausaha Muda Mandiri atau WMM. Program WMM
ini sasarannya adalah para mahasiswa baik sudah selesai maupun yang belum
selesai. Program Wirausaha Muda Mandiri ini kita laksanakan, agar para
mahasiswa dapat berwirausaha sehingga dapat membuka lapangan kerja tidak
hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Oleh sebab itu, komunitas
dalam program WMM adalah mahasiswa.
P : Menurut anda apakah yang dimaksud dengan CSR tersebut ?
J : Corporate Social Responsibility merupakan kepedulian sosial perusahaan. Klo
untuk Bank Mandiri lebih biasa disebut bukan dengan kata-kata CSR, tapi
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan itu merupakan produk dari Badan Usaha Milik Negara. Jadi, ada
Undang-Undang yang mengatur bahwa setiap BUMN itu, mereka diwajibkan
untuk melakukan program-program seperti yang disebut dengan CSR
tanggung jawab sosial perusahaan. Nah, di BUMN, Badan Usaha Milik
Negara dinamakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, lebih dekatnya
CSR itu di Bina Lingkungannya yaitu antara lain tadi memberikan bantuanbantuan kepada misalnya bencana alam yang langsung sporadis, reaktif
artinya suatu yang harus kita bantu pada saat itu, seketika kita bantu. Di Bank
Mandiri, selain yang reaktif ada juga proaktif. Proaktif itu artinya yang
memang benar-benar kita program. Kita bukan, programnya sekarang sudah
berjalan 2 tahun, kita namakan program Wirausaha Muda Mandiri, apa sih
Wirausaha Muda Mandiri, dan apa niatnya, kenapa, bagaimana, sasarannya itu
adalah klo kita sebut komunitas, yang tadi dikatakan, yang kita sasar adalah
para mahasiswa, yang mereka masih belajar bahkan mereka yang sudah
selesai S1, itu kita berikan pengetahuan tentang wirausaha. Kenapa harus
dilakukan hal itu, karena disadari oleh Bank Mandiri bahwa kalau kita
melakukan beberapa survei dan beberapa hal yang dilihat ternyata saat ini di
Indonesia, pertama juga orang-orang yang akan, yang selalu setelah selesai,
mencari pekerjaan, nah dengan kita kita memberikan workshop bagaimana
berwirausaha, kita harapkan nantinya para mahasiswa tidak mencari pekerjaan
tapi mereka membuat sendiri usahanya, nah kemudian apa, kita mengambil
contoh-contoh para mahasiswa yang sudah punya usaha, ini kita lombakan
agar para mahasiswa ini pun melihat bahwa ada teman-temannya yang sudah
berhasil, sehingga ini membuka alat motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa itu
untuk lebih melihat contoh yang positif. Selama 2 tahun ini sudah kita
lakukan, terakhir kemarin di bulan November itu ada 6 juaranya dari dua
kategori. Kategori pertama adalah S1 dan kategori kedua adalah yang pasca
S1, di dalam workshop kita, kita datangi ke beberapa kota besar, kemudian
kita minta para pakar-pakar untuk berbicara di hadapan para mahasiswa itu
lebih kurang di dalam kegiatan kita, di 10 kota besar itu, seperti Jakarta,
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makasar, Palembang, Medan, 8
kota besar ya. Dari kegiatan workshop kita selama beberapa hari lebih kurang
hampir 1.000, sorry lupa saya angka berapa mahasiswa yang ikut dalam
workshop itu. Nah, mereka kita undang untuk ikut dalam workshop, kemudian
pembicaranya pun, kita cari pembicara yang bagus seperti siapa Ciputra,
kemudian ahli marketing kita Rhenald Kasali, itu kita ajak antara lain yang
kita ajak mahasiswa untuk mendengarkan pengalaman-pengalaman bahkan
beberapa hal yang mereka lihat dari mahasiswa ini, pembicaranya sangat
kompeten, mereka senang, ada satu contoh, ada satu model. Nah dari
serangkaian kegiatan itu, di kota-kota besar itulah, kita mencari para usahausaha mahasiswa itu untuk kita lombakan, siapa yang akan menjadi pemenang
di tahun 2008, nanti ada datanya ada, nah kira-kira itulah kegiatan yang
dilakukan oleh Bank Mandiri baik yang secara langsung membantu maupun
yang sudah kita program. Wirausaha Muda Mandiri itu lebih dekat kepada
bidang perbankan ya, CSR kita itu kita cari yang tepat, kalau kita lihat
Unilever, program dia program CSRnya lebih banyak ke sesuatu yang
berdekatan dengan air ya, karena apa produk-produk Unilever itu, produk
yang membutuhkan air kosmetik, sabun. Oleh sebab itu, mereka bikin
program air bersih. Program bikin air bersih di seluruh Indonesia, supaya
apa?, supaya selain mereka peduli dengan lingkungan sekitarnya, masyarakat
juga aware kepada produk yang dia miliki, mereka ingat bahwa, oh ada sabun
ini, itu buatannya si Unilever, kemudian Unilever juga cenderung sangat
peduli bahwa air kotor itu gak baik, walaupun pada akhirnya dia akan ini loh
gunakan sabun, tapi masayarakat tetep diajak, tetep harus bersih, awalnya
adalah membersihkan lingkungannya sendiri. Nah, itulah kegiatan CSR yang
sangat berdekatan dengan perusahaan. Mandiri juga melihat hal seperti itu,
CSR kita berdekatan dengan perusahaan. Ketika para mahasiswa ini sudah
punya usaha, mereka nanti harus mencari dan membesarkan usahanya
kemana, ke Bank, kita bina mereka yang tadinya skalanya mikro menjadi
menengah, jadi small, jadi besar. Nah, CSR ini erat kaitannya dengan kegiatan
Bank sendiri, produk itu sendiri, dan kebutuhan dari lingkungan ya kira-kira
begitu.
P : Apakah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) wajib dilakukan oleh
suatu perusahaan ? (Alasannya kenapa)
J : Wajib, di dalam Undang-Undang Kementrian Negara, BUMN memang
mewajibkan setiap perusahaan untuk menyisihkan sampai dengan 4 persen
dari laba bersih kepada lingkungan, untuk lingkungan diwajibkan, kenapa
wajib ?, wajibnya kenapa, karena perusahaan tidak dapat hidup sendiri ya,
perusahaan gak bisa hidup sendiri, dia butuh orang-orang yang ada di
sekitarnya. Pabrik klo dia sendiri, dan hal-hal CSR gak ada, kemudian apa
yang terjadi polusi, dia gak mau bertanggung jawab, masyarakat dianggap gak
ada, artinya apa biarin aja deh asap, biarin aja, tapi kalau dia peduli, dia peduli
dengan lingkungan, dia akan menjaga, menjaga bahwa disekitarnya harus
nyaman, bahwa disekitarnya harus sehat, agar tertata lingkungannya, misalnya
di satu pabrik pengairannya kurang baik, irigasinya kurang baik, tempat dia
membuang limbahnya juga kurang baik yang terkena siapa ?, masyarakat.
Padahal di sekitar pabrik itulah para karyawannya tinggal, ya. Jadi ini wajib
dilakukan oleh perusahaan, menurut saya, begitu juga untuk Bank Mandiri,
wajib kita lakukan sebagai contoh sederhana, ketika kita punya cabang ya
disuatu lingkungan, pertokoan atau di lingkungan kampung tentunya, ketika
kita gak punya hubungan baik, orang tidak merasa bahwa ini perlu dijaga, ini
Bank Mandiri, bahwa Bank Mandiri bagian dari kami di lingkungan ini,
bahwa dengan adanya bank kami cepat sewaktu-waktu kebutuhan untuk
mengambil uang apa segala macam, mereka akan melihat Bank Mandiri itu
lebih enak dan lebih dekat dan dia juga sangat memperhatikan kami di
lingkungan itu. Kira-kira begitu, oleh sebab itu, ada program-program bantuan
dari Bank Mandiri untuk masyarakat di sekeliling kantor, masyarakat di
sekeliling kompleks perumahan. Setiap Idul Adha, lebaran kurban selalu
Mandiri mendekatkan diri kepada masyarakat di lingkungan terdekat dari
Mandiri, memberikan bantuan kurban ya, artinya memang secara teori dalam
PR memang ada bahwa lingkungan itu menjadi bagian dari suatu perusahaan.
Secara sadar kita memang paham itu penting dan wajib diadakan, untuk tahun
ini Mandiri sendiri sudah diberikan keputusan dalam Rapat Umum Pemegang
Saham yang memang punya mandat untuk memberikan keputusan kepada
perusahaan bahwa sebesar 2% dari laba Bank Mandiri harus disisihkan untuk
kegiatan PKBL, 2% dari laba sekian milyar rupiah angkanya. Kegiatan CSR
mandiri sekian milyar rupiah, karena apa labanya Mandiri sendiri tahun lalu
hampir tiga sekian trilyun dengan begitu dari tiga sekian trilyun, 2%nya untuk
program PKBL atau yang biasa disebut CSR.
P : Apakah dalam proses komunikasi tersebut menggunakan media massa sebagai
salah satu tools ? (Alasannya)
J : Ini media massa, itu penting dan wajib karena apa ?, salah satunya masyarakat,
publik komunitas akan cepat tahu apabila koran-koran yang berada di
lingkungan mereka menyiarkan, memberitakan bahwa bantuan ini merupakan
sesuatu yang diberikan oleh Bank Mandiri untuk mereka, kita langsung
sampaikan ke mereka bisa juga tapi jangkauan kita ke komunitas atau
masyarakat di luar komunitas, itu akan lebih cepat bila kita menggunakan apa,
media. Misalnya kegiatan kita di Bandung, ada koran Pikiran Rakyat yang
lokal Bandung, tapi ada juga koran-koran Nasional dengan kegiatan workshop
kita Wirausaha Muda Mandiri dilakukan di Bandung, hampir orang yang
punya koran Kompas, koran Bisnis Indonesia, koran Republika yang berada di
luar Bandung juga tahu. Nah, ketika mereka tahu, mereka yakin bahwa, oh
Mandiri suatu perusahaan besar yang sangat peduli dengan lingkungan, nah
kita wajib kasih tahu semuanya, sehingga ketika kita lakukan sesuatu dan
mereka tahu, begitu tahu bahwa Mandiri adalah perusahaan yang sangat
peduli dengan lingkungan, masyarakat pun akan menjaga mudah-mudahan,
menjaga, Mandiri ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Saya kira, apa
yang akan kita raih, imagenya ya, karena kegiatan CSR itu adalah bagian dari
kegiatan yang dilakukan dengan fungsi komunikasi, kegiatan bagian dari
Public Relations definisi awal, definisi sederhana Public Relations itu adalah
ujung-ujungnya adalah image, ya. Komunikasi terus menerus, kontinu,
message, image ya sederhana kan. Nah, CSR ini adalah kita ikutkan dengan
kegiatan PR agar tingkat penerimaan, agar image tercipta, image yang positif.
Sehingga komunitas itu juga akan tahu persis bahwa kepedulian ini perlu
dilaksanakan dengan baik.
P : Bagaimana proses atau tahapan yang dilakukan oleh Bank Mandiri dalam
membuat suatu program CSR atau PKBL ?
J : Tahapannya pengumpulan data ini seperti contohnya begini bantuan-bantuan
kayak bantuan renovasi masjid, gereja atau yang lainnya. Nah, data kita
kumpulkan, data kita kumpulkan bisa dari orang lain, bisa dari karyawan, bisa
dari komunitas, bisa dari masyarakat, mereka memberikan informasi ke kami
dengan surat, dengan lisan atau dengan proposal itulah bahwa gereja kami,
masjid kami runtuh dan perlu dibangun, kerena lingkungan kami tidak
mempunyai dana yang cukup, kami minta bantuan kepada Bank Mandiri, gitu
kira-kira ya. Nah, surat atau informasi lisan atau tertulis tadi akhirnya
disampaikan entah dari cabang atau dari karyawan ke Bank Mandiri, ke kantor
secara officially, secara organisasi dari situ tim PKBL tadi akan merespon, dia
akan meneliti bener gak sih sekolah ini, gereja ini, masjid ini, kuil ini perlu
dibantu, ternyata benar, ketika benar kita gak serta merta memberikan uang
itu, kita harus yakinkan bahwa apa yang kita sampaikan ke mereka itu benarbenar jadi, barang itu jadi benar. Oleh sebab itu, ketika kita bantu, itu ada ada
supervisinya, ada supervisor yang melihat dari tahap peletakkan batu pertama,
membangun, sampai akhir itu diserahkan. Pada saat penyerahannya pun itu
benar-benar kita yakinkan bahwa itu semua sudah baik dan siap dipakai. Jadi,
gak serta merta terus kita tinggalin, karena apa, karena PKBL ini, karena CSR
ini diaudit. Kita keluarkan uang sekian milyar itu bukan artinya bisa dipakai
begitu saja, tapi juga ada proses audit tim, dilihat oleh auditor benar gak sih
uang ini, klo gak benar itu bisa jadi masalah bagi si pemegang uang tadi,
PKBL, bisa apa, dia bisa masuk delik-delik pidana, karena apa dipakai untuk
kepentingan apa pribadi. Nah, untuk menghindari itulah perlu adanya kita
kumpulkan data, kita survei tempatnya, setelah survei, kita evaluasi, evaluasi
baru kita berikan bantuan, kemudian kita terus ikut monitoring sampai
sejauhmana program itu, bantuan itu, kita selesaiin, kita yakinkan sesuai gak
dengan peruntukkan, sesuai gak dengan kalau bikin bangunan harus berapa
kali berapa, ukurannya, paku, segala macam gitu yah, supaya gak runtuh, 2
bulan sudah runtuh, jebol. Nah, seperti itu sehingga apa uang yang kita
keluarkan itu gak sia-sia. Itupun kita masih harus panggil media, kenapa selain
fungsi publikasi juga sebagai kontrol sosial sama seperti salah satu fungsi dari
media adalah apa fungsi kontrol, fungsi pengawasan, benar gak sih Mandiri.
Kadang kala informasi itu justru datangnya dari mana, dari pemberitaan
media, bahwa bangunan sekolah, bahwa anak-anak SD di kecamatan A,
sekolah dengan atap langit dan ketika kita lihat, kita baca dan kita perhatikan
di koran, di majalah atau di televisi. Kemudian dari kantor pusat bisa
melakukan, hei kamu coba lihat, kita perintahkan orang cabang untuk melihat
lokasi tadi, benar gak ini seperti yang disampaikan oleh media, kemudian
laporan dari cabang itu benar sangat-sangat memprihatinkan, bisa kita bantu
pak, oh seberapa besar bantuan, coba lihat usulkan, lihat bangunan
sekolahnya, berapa kali berapa, diukurlah bangunan itu, pak untuk sekolah
bangunannya ada 2, 3 lokal pak yang perlu dibantu karena yang tiga lokal itu
sudah gak layak lagi digunakan untuk tempat proses belajar mengajar, setiap
saat runtuh, setiap saat ambruk, setiap saat apa, ok, 3 lokal, satu lokalnya
berapa kali berapa, 4 x 6 meter kalikan 3, 4 x 6 x 3 sekian meter persegi
dikalikan rupiahnya untuk bangunan yang ideal, layak itu tiap meter
perseginya berapa ratus ribu misalnya, ketemulah angkanya dari angka itulah
yang diusulkan ya. Sampai proses yang terakhir.
P : Dalam proses pelaksanaan CSR, apakah ada hambatan-hambatan yang terjadi
pada saat pelaksanaan ? (Sebutkan hambatan-hambatan tersebut)
J : Hambatannya antara lain apabila satu lingkungan itu tidak bisa melaksanakan
prosedur-prosedur yang kita kita inginkan. Mereka nganggep uang ini sudah
kita terima, ya kita habisin aja, kita bangun aja, itu salah satu hambatan.
Hambatannya karena tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan di lingkungan
itu, gak seperti yang kita pikirkan bagi mereka, klo mereka sudah mendapat
bantuan ya, bantuan itu menjadi hak mereka, tapi untuk perusahaan bantuan
tadi bukan semata-mata dikasih karena kita harus bertanggung jawab atas apa
yang kita keluarkan, sehingga kadang kala akhirnya situasi itu menjadi
hambatan, kira hambatannya antara lain itu.
P : Kalau untuk hambatan-hambatan di bidang lain misalnya bidang kesehatan itu,
hambatannya seperti apa ?
J : Bidang kesehatannya seperti gini, kita gak bisa monitor langsung sampai
seberapa jauh, misalnya klo kita terakhir memberikan bantuan kepada TBC
ya, monitoring kita dengan pihak Rumah Sakit itu atau apa PPTI, itu mereka
akan memberikan laporan per berapa bulan kepada PKBLnya. Nah, kita gak
bisa yakin bahwa apakah sudah betul, apakah sudah sehat semuanya karena
hasil dari apa yang kita berikan. Kira-kira hambatan-hambatannya gak terlalu
banyak sebenarnya. Kami kan perlu diyakini uang yang kita berikan itu,
bantuan yang kita berikan itu tidak merupakan bantuan yang sia-sia artinya
dari pihak PPTI itu juga harus segera memberikan laporan kepada kita, bahwa
ini loh penggunaannya. Nah, laporan itu sudah pasti sampai ke kita. Jadi
hambatan besarnya sih gak sebenarnya ada, gak ada karena kita yakin PPTI itu
adalah lembaga yang juga dapat dipercaya, mereka bisa lakukan itu, mungkin
bukan di lembaga-lembaga yang formal kali, tapi ketika kita memberikan
bantuan sosial di bidang kesehatan, karena misalnya ada banjir, kemudian kita
berikan obat-obatan begitu saja, nah mungkin hambatannya adalah kita gak
tau sampai seberapa jauh obat-obatan itu bisa dimiliki oleh si orang yang
terkena musibah seperti itu, karena kita full kepada misalnya di daerah itu ada
panitianya, nah panitianya sendiri yang bisa kita lihat sampai sejauhmana
mereka mendistribusikan barang-barang tadi kepada orang-orang yang
memang memerlukan barang-barang itu, klo lembaga tadi sorry, sebenarnya
gak ada hambatan sama sekali. Malah kami lebih suka berhubungan dengan
lembaga-lembaga yang memang sudah punya nama, yang jelas penggunaan
uangnya pun gak lari kemana-mana.
P : Apakah aktivitas CSR yang dilakukan oleh Bank Mandiri, merupakan program
rutin perusahaan atau hanya dilakukan pada saat tertentu saja ?
J : Yang rutin, yang memang terprogram tadi Wirausaha Muda Mandiri, klo yang
bukan terprogram seperti bantuan-bantuan langsung ya, bencana alam
misalnya di Tapanuli, Tangerang, itu yang langsung.
P : Dalam aktivitas CSR tersebut, apakah segala biaya yang dikeluarkan berasal
dari perusahaan atau ada bantuan dari pihak luar ?
J : Batas maksimalnya 4 % itu Undang-Undangnya, kemudian tergantung kepada
RUPS ketika RUPS menentukan program CSR itu untuk tahun ini misalnya
hanya ditetapkan 2 % dari laba saja, kita harus menggunakan 2 % tersebut,
kita gak boleh ambil uang dari tempat lain. Jadi gak ada sumber lain.
P : Apakah aktivitas CSR tersebut berpengaruh terhadap citra perusahaan ?
(Alasannya kenapa )
J : Sangat, bukan sangat adalah salah satu penyumbang dari tingkat citra
perusahaan. Jadi, citra perusahaan adalah disumbang antara lain satu-satunya
adalah dengan kegiatan ini, masih ada hal-hal lain yang mempengaruhi citra,
kinerja termasuk ya, kinerja operasional. Itu termasuk penyumbang saran,
sumbang citra perusahaan. Nah, CSR termasuk, gak-gak, gak semuanya itu
dari CSR.
P : Mengapa CSR di bidang kesehatan ini Bank Mandiri tidak mencantumkan,
pemberian bantuan seperti kepada penderita HIV AIDS, narkoba itu juga kan
bagian dari kesehatan ?
J : Kalaupun itu belum ada artinya program itu memang belum diusulkan, artinya
apa kalau kita membuat itu menjadi banyak, konsentrasi kepada programprogram CSR juga akan luas itu juga gak baik dalam pembentukan penyatuan
citra ya, akan baik sebenarnya apabila program CSR itu dibuat sedemikian
rupa terprogram, sehingga kita yang melakukan pun jelas, fokus. Nah, klo
yang cepluk, cepluk, cepluk itu ada di mana-mana kita bantu, bantu, bahkan
kadang kala salah dan kurang tepat sasaran kita bantu, karena apa saking
terlalu pedulinya kita kepada lingkungan, itu harus dibantu, gak taunya pas
kita bantu, kita lihat-lihat lagi, wah itu cuma bantuan bikin lapangan basket,
bantuan bikin lapangan badminton. Lingkungan yang sebenarnya itu dia
sendiri yang harusnya bangun, karena kompleks perumahan yang bagus, yang
setiap rumahnya, klo diurun-urun dapatlah jadi lapangan badminton, karena
kita sok peduli, udah bantu, itu akibat klo gak ada program khusus yang
benar-benar terpadu tentang CSR. Nah, oleh sebab itu, Bank Mandiri dengan
contoh programnya CSR Wirausaha Muda Mandiri, itu yang menjadi alat kita
untuk membantu supaya fokus, pembentukan citranya juga jelas bahwa
Mandiri, bank punya program CSR sangat dekat dengan bidang usaha,
wirausaha-bank, ya, yang dibantu siapa mahasiswa, komunitasnya mahasiswa,
kemudian programnya apa wirausaha, wirausaha ini sangat dekat dengan
Bank, karena apa dia butuh biaya ketika si mahasiswa punya usaha, dia gak
punya uang, dia langsung ingat oh Mandiri ya. Sehingga apa citra Mandiri,
dilingkungan calon-calon nasabah kita nanti 5,6 tahun kemudian, malah
nggak, ini publik yang sangat potensial ya. Sasaran kita yang sangat potensial
di kemudian hari adalah para pelajar. SD sudah dikasih tahu tentang Bank,
SMP mereka sudah tahu tentang Bank, SMA sudah tahu tentang Bank, klo
kita punya program-program itu, kita sampaikan ke mereka, ke anak-anak dari
SD, TK bahkan yang ditancap di kepala mereka, yang di tahu apa, oh Mandiri,
oh Bank Mandiri, ya, itu calon-calon yang bakal, kita akan mendapatkan
keuntungan di kemudian hari, gak langsung. Ketika SD, kita gak bisa dapat
apa-apa dari dia, dia gak bisa nabung, yang nabung bapak ibunya, benar gak,
tapi kalau kita tanamkan ke mereka dengan program CSR, program
pendidikan dibidang cara menabung seperti apa, misalnya seperti itu SD,
SMP, SMA sampai dengan kuliah, dia punya usaha yang paling dekat di
kepala dia Mandiri, lima tahun kemudian, dia jadi usaha baru, dia akan
berbank dengan Bank Mandiri. Itu salah satu unsur CSR yang paling dekat
dengan perusahaan, itu sangat efektif dan efisien untuk membuatkan menjadi
suatu citra yang lebih terukur, klo kita dengan beberapa, apa segala macam itu
gak terukur, kita gak bisa ngukurnya dengan baik.
HASIL WAWANCARA
Narasumber
: Ibu Gitayana, M.L.I.S
Jabatan
: Member Board Of Trustees Yayasan Nurani Dunia
Lokasi
: Yayasan Nurani Dunia
Jl. Proklamasi No. 37 Jakarta Pusat
P: Menurut Ibu, pengertian kegiatan CSR sendiri apa ?
J: Kegiatan CSR itu adalah Corporate Social Responsibility ya, jadi itu
memberikan tanggung jawab dari si perusahaan untuk memberikan kembali
kepada masyarakat. Klo, jadi dia itu sebetulnya sich, klo yang baik itu bukan
kewajiban ya cuma sekarang kan jadi semacam kewajiban dari Pemerintah,
ya, tapi kalau yang baik itu bukan kewajiban tapi itu memang eheh... jadi
tanggung jawab merekalah, apa yang sudah mereka dapat keuntungan yang
sudah mereka dapat dari masyarakat itu ada yang dikembalikan untuk
masyarakat.
P: Kegiatan CSR yang dilakukan oleh Bank Mandiri di Yayasan Nurani Dunia ?
J: Jadi kita kerja samanya udah cukup lama ya. Ini tadi saya baru lihat, 2002 kita
mulai, 2002 itu kita mulai dengan membangun ada satu sekolah di desa
Cisarua, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta daerah terpencil lah, gitu.
Nah, itu di sana ada satu sekolah yang gedungnya sudah bobrok, lah gitu, udah
kelasnya cuma tiga, muridnya 250 trus gurunya dua, sorry gurunya 2 kepala
sekolah sama guru. Nah, kita pas lihat itu, ya itu udah kondisinya, gitu. Lalu
kita akhirnya kerja sama dengan Bank Mandiri salah satunya. Untuk yang
program ini tidak hanya Bank Mandiri cuma Bank Mandiri yang utamalah, ya,
mulai dari situ kita mulai kerja sama dengan Bank Mandiri untuk membangun
kembali sekolah itu dimulai dari, kita juga membeli tanah dibelakangnya,
kebetulan yang punya tanah kasih harga murah, karena untuk sekolah, terus
mulai mendesignnya, mulai membangunnya. Bangunnya kita juga gotong
royong. Jadi, kita, kita kan dalam kerja ini gak mau kontraktor, gitu ya, kasih
kontrak berapa orang, jadi kasih kontrak ke orang, jadi kontraktor kan. Jadi,
kita maunya, kita lakukan sendiri dan juga dengan masyarakat, ada tukang,
tukangnya ada, tapi masyarakat itu bergiliran, jadi mereka seminggu sekali
ada yang inilah, ada jadwalnya gitu. Apalagi di Purwakarta kasusnya banyak
yang laki-lakinya kerja di luar situ, karena ini cukup jauh gitu dari Purwakarta,
ke sana itu masih cukup jauh, daerahnya terpencil banget. Di situ kita mulai
dengan Bank Mandiri, 2002. Lalu setelah itu 2003 sampai 2005, kita ada kasih
beasiswa, kita kerja sama dengan Bank Mandiri untuk kasih beasiswa untuk
mahasiswa. Jadi, beasiswa ini agak beda dengan yang lain. Biasanya yang lain
itu murid berprestasi, tapi kurang mampu, gitu. Nah, disini kita mau
mengedepankan mahasiswa-mahasiswa yang punya aktivitas-aktivitas sosial,
kegiatan-kegiatan sosial dan ya cukup berprestasi, ya, tapi gak harus sampai
misalnya 3, kalau gak salah kita itu minimum IPKnya itu 2,5, tapi yang
penting dia punya kegiatan, punya kepedulian sosiallah, gitu. Jadi, kita mau
mengedepankan itu, memang dari itu prioritasnya yang kurang mampu, tapi
klo misalnya ada yang kerjanya bagus, ya jadi prioritas yang kita lihat, itu
sebetulnya lebih pada kepedulian sosial mereka, jadi itu kita 2 tahun
2003/2004, terus 2004/2005 sampai 2 tahun itu merekrut mahasiswa yang
pertama itu di empat daerah. Saya lupa daerahnya mana. Tahun ke dua itu
lebih besar, kalau gak salah 12. Sebetulnya mau lagi, kan tahun ke tiga tapi
terus Bank Mandiri waktu itu ada masalah, jadi gak diteruskan. Nah, di
misalnya yang di Jakartalah, gitu ya, yang kita mesti tangani, ini di beberapa
kota gitu tempatnya, eh pertama tuh yang waktu, itu kan 2003 masih banyak
konflik kan. Jadi, waktu itu banyak di daerah konflik, kalau gak salah di
Jakarta, Ternate, Kupang, saya lupa deh tapi yang pasti Jakarta. Jadi, di
Jakarta tiap-tiap wilayah itu 8 orang. Nah, mereka itu dapat dana, dapat
beasiswa tapi mereka harus menyisihkan sebagian dari beasiswa itu, jadi
nilainya cukup lumayan besar, ya 500. Jadi mereka harus 100 itu, mereka
harus kumpulkan bersama, jadi mereka punya kas, jadi sistemnya kelompok
per daerah gitu minimal punya, mereka punya kas, tiap bulan mereka mesti
masukkan, nanti mereka mesti mengorganisir diri dan melakukan satu
kegiatan. Jadi, mereka tetep melakukan kegiatan mereka, aktivitas sosial
merakalah, apapun itu, tapi mereka juga harus melakukan satu kegiatan yang
diorganisir bersama-sama, itu yang jadi emang agak beda ya. Jadi juga gak,
udah gitu dari tiap misalnya Jakarta, kita ya harus memantau mereka juga
terus, terus, gimana mereka bisa kerja sama, karena agak susah kayak di
Jakarta, yang susah kan kampusnya beda-beda ada yang UI, ada yang UNJ,
ada yang UIN, ada yang apa lagi ya, eh ada STIE apa, pokoknya yang
tempatnya itu jauh-jauh dan mereka sibuk semua. Jadi untuk mengorganisir
itu aja, sudah ini sendiri gitu. Jadi uniklah menurut saya itu. Terus setelah itu
kan ada apa ini Aceh kan. Nah, mereka juga bantu waktu itu mereka setelah
rehabilitasi, eh mereka itu, kami bukan mereka ya, kami membangun rumahrumahan di namanya desa Neuheun di Aceh besar. Jadi kan di Neuheun yang
lebih ke dekat pantai itukan banyak yang hancur ya, banyak rumahnya yang
hancur, Jadi agak eheh.... kebukitlah gitu. Nah, kita beli tanah di situ eh kami
deh, kami beli tanah disitu lalu buat rencana untuk bangun rumah. Jadi, itu
perumahan untuk orang-orang ini ya, apa namanya korban, prioritasnya untuk
korban tsunami heeh. Nah, itu juga prosesnya cukup lama ya, kita bangun itu
2005-2007, sebetulnya prosesnya itu lamanya karena izin, karena kita beli
tanah, ya kami beli tanah, lalu untuk mengurus izinnya itu cukup lama terus
sementara itu, izin itu ada setengah tahun sendiri kali ya sampai dapat izin.
Sementara kita juga gak berani bangun klo belum ada izinnyalah gitu. Jadi,
waktu itu akhirnya kita, untuk supaya masyarakat sana juga percaya, kita buat
rumah contoh di daerah perumahan korban. Itu ada dua perumahan yang kami
buat, cuma yang satu itu dia gak sabar, dia gak sabar dan juga dia waktu itu
ada masalahlah, dia merasa expectnya gak seperti yang diawal, padahal kan
semuanya ini kan, yang dua ini sebenarnya namanya rumah contoh. Jadi, kita
untuk contoh dululah gitu, nanti sambil lihat apa sich masalahnya, terus
biayanya gimana, masalah gotong royongnya gimana. Nah, dari situ kita
ngelihat, kan ternyata yang tadinya, kan tingkat ininya, daknya tadi mau dak
cor tapi akhirnya diganti dengan kayu, nah yang satunya marah, padahal
karena itu, bukannya karena apa-apa cuma karena harganya tinggi jadi
perhitungan kita salahlah. Jadi karena perhitungan salah berubah gitu loh. Jadi
bila di lapangan gitu, nah sementara itu, terus yang ini juga udah mulai. Eh,
jadi di situ kami juga pinginnya kan klo Nurani Dunia itu, klo kita melakukan
pembangunan sekolah kembali atau pembangunan baru ya, itu maunya kan
masyarakat itu kan ikut, warga masyarakat tuh ikut. Jadi, tidak hanya kita
kerjain nanti selesai, udah, mereka nonton-nonton aja, gitu. Kita gak mau gitu,
karena kita pingin mereka juga ada keterikatan gitu, ya dengan rumah, dengan
sekolah, dengan rumah. Nah, jadi eh itu yang juga kita harapkan, tapi ternyata
kan, agak sulit ya, karena juga banyak yang meninggal, yang laki-laki terus
mungkin tenaga-tenaganya juga banyak, banyakan waktu sulit gitu, dan
mereka juga biayanya cukup tinggi untuk upah si pekerja di situ. Akhirnya
kita ambil, setelah berapa lama kok kayaknya gak terlalu lancar, akhirnya kita
ambil eheh.... relawan-relawan dari Jawa, itu lumayanlah. Terus akhirnya, ya
banyak masalah ya di sana, artinya cuaca juga bermasalah kalau apalagi, kalau
bulan musim hujan gini, anginnya keras terus hujannya, jadi tukangnya suka
susah kerjanya, terus juga eheh.... setelah udah kita bawa kerja dari Jakarta, ya
memang sudah lebih lancar, tapi gitu ya, ada ajalah gitu ya kadang-kadang,
akhirnya kita baru selesai 2007 kemarin. Nah, ya terus, dan juga pemilihannya
itu, kami itu benar-benar berusaha menseleksi karena khusus di Aceh banyak
satu orang satu keluarga bisa punya beberapa rumah gitu, jadi bisa eheh....
bisa inilah. Saya gak tau caranya, tapi bisa. Nah, kita mau menghindari itu,
jadi kami gak mau-mau ini sendiri, cari sendiri. Jadi, kami melibatkan NGONGO lokal disitu, ada Gerak (Gerakan Anti Korupsi Aceh) terus Sorak itu
juga kayak anti korupsi juga, terus sama di Neuheun itu kami juga
membangun NGO namanya Yayasan Nurani Neuheun Mandiri. Nah, itu
maksudnya supaya mereka, warga itu yang mengawasilah jalannya
pembangunan di sana. Jadi, mereka bertiga yang menseleksi ada beberapa
kriterialah itu mereka, jadi ada yang benar-benar korban, ada yang misalnya
korban dari daerah lain atau yang akan tinggal disana. Jadi, buruh misalnya
gitu, jadi mereka buat seleksi terus akhirnya mereka yang menseleksi sendiri
gitu. Eh yang benar-benar kita harap, jaga supaya janganlah sampai ada itu
dan rumah-rumah itu gak kami berikan, tidak kami berikan, tapi itukan
Yayasan yang mengelola ini sekarang. Nah, mereka ini yang mengorganisir,
masyarakat itu, dan rumah-rumah itu tidak kami ke mereka. Jadi, mereka gak
bisa jual beli karena pengalaman di banyak tempat lain, daerah konflik yang
dibuatkan rumah, terus mereka gitu jual. Nah, ini kami gak mau rumah ini,
atas nama Yayasan, terus dan mereka tidak bisa memperjualbelikan gitu. Nah,
yang terakhir, yang kami ada itu kemarin kan di Aceh itu, kami juga
membangun training center. Ini eheh.... training center ini tempatnya di Aceh
besar juga, tapi di namanya daerah Menasah Manyang, itu training center itu
donasi dari berbagai eh perusahaan ya ada GE, terus ada Unilever, Unilever
Indonesia, ada UI ada satu NGO dari Amerika eh... Jadi, itu satu training
center ada training centernya dua lalu ada kayak guest house-house disana, itu
maksudnya training-training center untuk eh orang-orang Acehlah gitu, dan
dengan kita tidak menarik, jadi biaya yang kita minta itu benar-benar untuk eh
si gedung itu ya, untuk kemandirian gedung itulah ya gitu. Nah, cuma eh
tempatnya cukup besar gitu ya, dan terakhir itu masalahnya masalah listrik,
tunggu sorry bukan, kok saya jadi ingat PLN, soalnya PLN juga bantu gak
masalah air, waktu itu air di sana rupanya gak bagus gitu, jadi kita mesti buat
treatment khusus untuk air. Jadi, waktu itu kita, kami meminta kerja sama
dengan Bank Mandiri, sebentar ya saya lupa air atau listrik, sebentar ya mbak
ya. Pembangunan listrik. Training centernya sudah selesai, dan sudah mulai di
pake. Nah, masalahnya dua waktu itu, listrik yang sering naik turun sama air.
Airnya itu gak bukan air yang bersih. Jadi mesti di apa namanya mesti di
treatment lagilah tuh air sampai bisa jadi air bersih. Jadi, ada dua itu, nah, saya
makanya saya agak bingung, kalau gak salah sich sebetulnya yang untuk si
Bank Mandiri ini sich Genset, supaya gensetnya itu kita dapat genset dari
USA. Nah itu cuma gak ada, gak ada untuk mengoperasikan. Nah, itu cukup
besar sampai dia bisa beroperasi untuk genset ini, akhirnya kami minta
bantuan dari Bank Mandiri di sana itu, di Aceh. Jadi, itu sih, empat itu ya yang
kami, empat ini yang besar-besar, yang kami kerja sama dengan Bank
Mandiri.
P: Berarti kegiatan yang dilakukan oleh Bank Mandiri ini rutin dilakukan ya, Bu?
J: Ya, bisa dibilang bukan rutin dalam arti, klo rutin kan terus-terus ya, ini sih
terpisah-pisah gitu loh, artinya yang di Purwakarta sekolah itukan, ya sekolah
itu, udah selesai, beasiswa sekitar dua tahun udah selesai, terus ada lagi yang
di Neuheun ini dua tahun juga terakhir air, tapi terus ada kegiatan ya tapi eh
kegiatan itu bukan satu kegiatan, tapi kegiatan yang lepas-lepas semuanya.
P: Terus kemudian kegiatan CSR ini, apakah memberikan manfaat yang besar
juga buat Yayasan Nurani Dunia ?
J: Iya sih, ya pasti apalagi yang mulai sekolah ya, itu sekolah yang benar-benar
awal dari pembangunan sekolah-sekolah di sanalah, gitu, karena itu daerah
terpencil orang tidak ada yang mau ngajar di situ kan. Jadi, karena jauh untuk
misalnya dia tinggal di Plered aja itu ongkosnya aja udah sepuluh ribuan
sekali jalan apalagi, pokoknya hampir besarlah, ya. Jadi, hanya ada satu guru
dan kepala sekolah dengan kita bangun kan awal modal, awal bangun itukan
Bank Mandiri yang lainnya ada, yang lainnya, juga perusahaan-perusahaan
lain juga ada yang chif in cuma yang paling besarnya Bank Mandiri. Nah,
dengan itu, kan kita gak hanya bangun, gitu, lalu udah meninggalkan, tapi kita
juga gurunya. Nah, tapi ternyata ini cuma dua, gimana nih, gitukan. Nah jadi
akhirnya kami mengusahakan supaya, eh orang-orang sana yang lulus SMA
dikasih pelatihan untuk mereka bisa menjadi guru, akhirnya waktu itu dengan
Mas Imam ya, kerja sama dengan Diknas, gimana nih supaya paling nggak
ada guru gitu loh, yang lulus SMAlah di training sekarang. Ok, boleh,
akhirnya ada diseleksi, tapi mereka juga harus ada sekolah setelahnya. Jadi,
habis itu, cukup banyak sekolah yang kurangnya guru, mereka yang ini apa,
yang meneruskan jadi S1, mulai D3 terus kebetulan di Purwakarta itu ada
namanya Universitas Pendidikan Indonesia cabang yang di Bandung. Nah,
jadi, guru-guru itu ada yang D3, sekarang ada yang S1 gitu. Jadi, mereka
inilah eh apa, ada dorongan untuk memajukan mereka sendiri. Sekarang juga
sekolahnya udah bagus, terus gurunya udah cukup lengkap dan juga akhirnya
setelah si sekolah ini, yang pertama kita bangun ternyata di tempat lain, di
daerah itu juga banyak gitu. Ada yang cuma kita, kami tambah tiga ruangan
kelas, ruang utamanya masih bagus, terus ada juga yang kami, ada yang satu
yang satu tahun lalu benar-benar, tiba-tiba ambruk. Nah, gitu juga ada. Jadi,
ada sekitar lima, enam sekolah di sekitar itu dengan pusatnya sich yang
Cisarua 2 ini eh yang itu, waktu itu aja murid-muridnya dan waktu itu aja 250
ya, sekarang sudah lebih banyak gitu dan kami sampai sekarang terus
berhubungan, Jadi, kalau ada pelatihan guru, juga mereka pasti kami libatkan
gitu, terus-terusan. Jadi, kebetulan mas Imam itu juga buat ada Yayasan lain,
Yayasan Cahaya Guru yang khusus untuk pendidikan guru. Nah, itu juga
mereka tuh berkelanjutanlah pendidikannya, terus beasiswa ya, ini yang saya
lupa ya angka-angkanya, cuma mungkin seratusanlah yang waktu itu, karena
memang kami, karena ini kan beda ya gak jadi hanya kurang mampu, dan
kurang dan dia berprestasi, jadi ini memang kita seleksi banget gitu. Terus
rumah yang Neuheun itu sekitar 60an rumah dan kemarin sudah dan mereka
senang gitu, karena banyak kasus di Aceh yang ehm... pembangunannya itu
asal-asalan, jadi mereka gak suka dengan rumahnya gitu kan, ada yang di
bongkar, ada yang mungkin di jual, atau apa gitu. Ini kan memang karena
nanti dilihat fotonya, rumahnya itu bagus, konstruksinya bagus, jadi ehm..
sekarang banyak yang bertambah, dua tingkat bawahnya itu blong kosong
cuma ada dapur sama wc, kamar-kamar di atas. Jadi, itu takut klo misalnya
ada banjir, air bisa ngalir, gitu. Nah, sekarang mereka banyak tuh yang
ditutup, ada yang inilah, pokoknya inilah, jadi apa namanya mereka
merawatlah yang pasti dan itu cukup banyak keluarga, memang gak gak, NGO
lain kan mungkin membuat ratusan gitu ya, ini kita 60an terus ya air ini sangat
bermanfaat ya, untuk pelatihan, ah bukan sorry genset ini ya, untuk
kelangsungan dari training center ini, karena training center ini selalu dipake
ya. Ini baru ya tapi juga udah mulai dari beberapa bulan yang lalu tuh, udah
mulai dipake. Saya lihat sih banyak, sangat bermanfaat banget.
P: Kalau yang genset ini tadi, kira-kira bulan apa, bu ?
J: Eh baru, genset tuh baru bulan lalu ya, kalau gak salah akhir tahunanlah ya.
November, Desember, apa keluarnya baru Desember saya, karena waktu
terakhir mas Imam ke sana itu, klo gak salah ada penyerahannya.
P: Kemudian ini balik lagi ke depan bu, proses kerja sama antara Yayasan Nurani
Dunia dengan Bank Mandiri awalnya itu gimana, Bu ?
J: Awalnya ya, waktu dulu sich sebetulnya mas Imam ya, saya gak tau, inikan
awal waktu Purwakarta. Saya kurang tahu ya, jelasnya awalnya gitu, dengan
adanya sekolah yang ambruk itu, lalu mas Imam kan tergerak untuk
membangun lagi, gitu. Nah, itu saya mesti tanya sama mas Imam. Nah, saya
gak tahu, karena sewaktu itu kami cuma manggil salah satu TVlah gitu ya,
apakah terus mereka melihat tayangannya terus, terus mulai. Saat itu ya terusteruslah sampai saat ini.
P: Kemudian, apakah setiap Yayasan Nurani Dunia melakukan kegiatan CSR
memberikan laporan juga ke Bank Mandiri ?
J: Iya, laporannya tertulis, laporan keuangan juga, laporan ini, kalau saya ingat,
kalaulaporan yang Purwakarta ini saya mesti cari dulu ada atau nggak, tapi
kalau Neuheun mestinya ada, cuma, tapi pas saya cari, mungkin waktu itu
dikasih kita belum punya copy ya. Terus yang air ini belum, karena yang air
ini, genset ini belum karena kita baru, yang beasiswa juga waktu progress gitu,
kita kasih laporan.
P: Harapan ibu untuk kerja sama ini gimana, apakah ingin terus berlanjut ?
J: Iya, dari pengalaman kami kerja sama ya dengan Bank Mandiri, klo kami sih,
klo misalnya memang bisa, ya kami akan senang sekali bisa kerja sama terus
ya, dengan Bank Mandiri, karena kami udah tahu masing-masinglah, ya gitu.
Cara kerja masing-masing udah saling mengerti dan mereka juga tahu
bagaimana kami, gitu. Jadi, kami akan senang sekali klo bisa terus.
P: Ibu sendiri tahu Bank Mandiri pernah memberikan bantuan ke Yayasan atau
tempat lain ?
J: Ehm... saya tahu ya, misalnya gini waktu pemberian beasiswa. Ini waktu kayak
launchingnya gitu, mereka tuh juga mengadakan. Jadi, pas launching itu juga
bersama dengan kegiatan Bank Mandiri yang sifatnya pendidikan, yang lain
klo saya lupa. Pokoknya launchingnya beberapa program sekaligus yang itu
cuma sama siapa, saya gak gak inget.
P: Terus, kalau Ibu sendiri melihat Bank Mandiri itu seperti apa, dilihat dari
citranya mungkin, itu seperti apa ?
J: Kalau dari sisi kami ya, artinya bukan Banknya, kalau dari sisi kami sih
melihat mereka kepeduliannya, mereka tinggi ya dan mereka ada, ada ehm..
keinginanlah ya untuk melakukan sesuatu dan itu kayaknya memang sudah
ada di dalam Bank Mandiri itu mungkin, tapi yang kami sayangkan beasiswa
tadinya kan sudah dua tahun 2003/2004, 2004/2005, mereka ada apa masalah
waktu itu berhenti gitu. Padahal itu sayang, waktu itu kita mau meluaskan lagi
wilayah ya lebih banyak dan mahasiswa juga lebih besar, tapi terus ini terhenti
gitu, tapi saya gak tau apakah terus mereka sama NGO lain apa gimana, ya
tapi habis itu yang pasti karena waktu itu masalahnya emang jadi. Setelah itu,
setelah dua tahun ini mulai yang lebih besar, jadi memang dananya lebih besar
kan.
P: Saran Ibu untuk kegiatan CSR yang dilakukan oleh Bank Mandiri ?
J: Saran saya eh... ya klo misalnya Bank Mandiri memang ada dana, ya menurut
saya, ya klo memungkinkan tuh benar-benar yang diperlukan gitu, yang
diperlukan dan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jadi, apa yang mereka
keluarkan itu tepat sasaranlah, jadi gak hanya, jangan kalau bisa jangan hanya
kayak sinterklas aja, kita ngasih, udah gitu ya, tapi kalau bisa itu terus
berkelanjutan. Jadi, gak hanya sampai situ aja dan juga membangun
masyarakatnya, di masyarakat itu tidak hanya di beri kail tapi juga
diorganisasikan supaya mereka bersama-sama bisa membangun, membangun
masyarakat mereka sendiri, kayak Purwakarta. Jadi, di Purwakarta itu supaya
mereka itu bisa sustain dalam kegiatan mereka semua dan yang lain-lainnya,
kami membangun namanya Yayasan Pena Hijau. Nah, Yayasan itu terdiri dari
ada Nurani ada tapi dan juga orang tua, guru, yang masyarakat sekitar situlah
yang peduli. Jadi, kalau mereka ada apa-apa mereka bisa di situ gitu loh
mengorganisasikannya dan ini terjadi di beberapa sekolah-sekolah yang ada di
sana anggota-anggotanya. Nah itu, jadi mereka dan karena Yayasan juga bisa
mencari dana ya, sendiri. Nah, dengan adanya Yayasan itu kami
mengharapkan mereka akan bisa mandiri.
P: Kemudian ini Bu, untuk pertanyaan tambahan saja, yang tadi inikan ada
beberapa kegiatan CSR ini pertamanya direncanakan dulu oleh Yayasan
Nurani Dunia baru disampaikan ke Bank Mandiri atau Bank Mandiri yang ini
untuk program beasiswa sekolah, dengan kata lain sudah ditetapkan, atau
seperti apa ?
J: Kalau yang awalnya sih saya, kalau yang misalnya Neuheun Aceh, klo gak
salah waktu itu, sebentar saya cek lagi. Waktu apa tsunamiAceh itu kan kami
buat posko namanya Indonesia peduli. Jadi, itu gabungan beberapa NGO
terus perusahaan-perusahaan. Nah, waktu itu, ini kantor Lexus ini lagi kosong
gak ada yang nyewa, jadi kita pinjem satu bulananlah untuk naruh barangbarang. Nah, waktu itu Bank Mandiri juga ada relawan-relawan yang datang
gitu. Nah, setelah kan sudah selesai masa tanggap daruratnya, kan
rekonstruksi. Nah, lalu kita ngobrol gitu loh, ngomong ini apa yang bisa kita
lakukan di Bank Mandiri, eh di Aceh kerja sama dengan Nurani untuk Aceh.
Mereka ingin melakukan sesuatu di Aceh, akhirnya kita brainstorming, lalu
lihat daerah ternyata yang paling dibutuhkan perumahan kayak gitu, biasanya,
klo yang beasiswa itu terus terang awalnya tuh untuk memulai mas Imam,
saya gak begitu tahu tapi biasanya kita mulai dengan ngobrol kayak gitu kirakira atau dia yang misalnya saya ingin buat beasiswa gimana, terus kita
rancang bersama-sama, mereka setuju yang ini gitu, nanti jadinya. Nah, saya
lupa banget ini, klo yang Purwakarta saya gak inget ya, gimana awalnya, tapi
pokoknya itu ada sama Bank Mandiri.
HASIL WAWANCARA
Nama : Bapak Wahyu
Alamat : Kebayoran Lama
P : Kalau boleh tahu nama bapak siapa ?
J : Nama saya, bapak Wahyu
P : Sudah berapa lama, bapak berobat di klinik JRC ini ?
J : Saya sudah rawat jalan 6 bulan, karena sakit paru-paru
P : Selama ini, pengobatan atau pemeriksaan yang bapak lakukan, apakah
membayar atau mendapatkan bantuan ?
J : Untuk berobat disini, saya tidaka bayar karena dapat bantuan dari pemerintah.
Waktu saya berobat disini, saya hanya daftar ke loket, kemudian menunjukkan
surat keterangan dari RT atau RW, setelah itu baru ditunjuk dokternya siapa,
setelah itu saya di cek darah dan foto rontgent, setelah itu baru dirawat. Kalau
untuk obat paket selama 6 bulan itu generik gratis, tapi klo untuk obat yang
beli di apotik farmasi bayar sendiri tapi gak mahal sekitar 15.000, biasanya
pasien yang beli obat di farmasi, mereka gak bisa pak obat generik karena
terlalu tinggi dosisnya. Tapi klo saya cocok dengan obat generik.
P : Apakah bapak tahu bantuan tersebut dari mana ?
J : Setahu saya bantuan itu dari pemerintah.
P : Apa tanggapan bapak tentang bantuan tersebut ?
J : Saya merasa senang, karena saya, orang gak mampu jadi kalau ada bantuan
kayak gini, beban saya untuk membayar obat dan pemeriksaan berkurang
begitu.
P : Oh, kalau begitu pak, terima kasih atas waktunya dan semoga lekas sembuh
J : Iya, terima kasih.
HASIL WAWANCARA
Nama : Ibu Maemunah
Alamat : Kebayoran Lama
P : Kalau boleh tahu nama ibu siapa ?
J : Nama saya, Ibu Maemunah.
P : Sudah berapa lama, ibu berobat di klinik JRC ini ?
J : Saya sudah 6 bulan berobat disini.
P : Selama ini, pengobatan atau pemeriksaan yang ibu lakukan, apakah membayar
atau mendapatkan bantuan ?
J : Pengobatan sama pemeriksaan saya disini, gratis, tidak pakai biaya karena
dapat bantuan.
P : Apakah ibu tahu bantuan tersebut dari mana ?
J : Setahu saya, klinik ini kan dari pemerintah, jadi dapat bantuannya juga dari
pemerintah.
P : Apa tanggapan ibu tentang bantuan tersebut ?
J : Saya sih sangat senang, karena berobat disini gratis, jadi saya tidak perlu keluar
uang sedikit pun.
P : Oh, kalau begitu pak, terima kasih atas waktunya dan semoga lekas sembuh.
J : Iya, terima kasih.
KEGIATAN CSR PT BANK MANDIRI (PERSERO) TBK.
PERIODE JANUARI – DESEMBER 2008
No
Nama Kegiatan
1 Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri tahun 2008
2 Pembangunan 40 sekolah Semai Benih Bangsa
3 Program Kemitraan Bank Mandiri untuk Mitra
Usaha Edam Burger
4 Pinjaman Program Kemitraan kepada 8.000 petani
jagung di Bojonegoro
5 Santunan 1.200 anak yatim untuk pendidikan
6 Edukasi Perbankan di kandank jurank doank
7 Bantuan untuk 3.000 Penderita TBC yang tidak
mampu
8 Peduli Pendidikan di Pematang Siantar
9 Bantuan untuk penyediaan sarana air bersih untuk 4
dusun di Kab.Simalungun
10 Bantuan untuk pendidikan di Jambi
11 Bantuan Bus Sekolah untuk SMAN I Keumala NAD
12 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Bandung
13 Bantuan sistem pendaftaran untuk seleksi nasional
masuk Perguruan Tinggi Negri
14 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Makassar
15 Kerja sama Bank Mandiri dengan Ciputra
Foundation untuk pendidikan wirausaha
16 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Medan
17 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Surabaya
18 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Palembang
19 Gerakan kembali UKM Yogya Pasca gempa
20 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Banjarmasin
21 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Bandung
22 Pelatihan seribu debitur untuk mendukung UMKM
23 Workshop Wirausaha Muda Mandiri di Yogyakarta
Tanggal Pelaksanaan
3 Desember 2008
17 November 2008
17 Oktober 2008
11 September 2008
8 September 2008
28 Juli 2008
27 Agustus 2008
25 Agustus 2008
18 Juli 2008
29 Juni 2008
24 Juni 2008
2 Juni 2008
11 Mei 2008
24 April 2008
21 April 2008
10 April 2008
26 Maret 2008
18 Maret 2008
2 Maret 2008
28 Februari 2008
26 Februari 2008
25 Februari 2008
21 Februari 2008
Download