pengaruh karakteristik good corporate governance

advertisement
PENGARUH KARAKTERISTIK
GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)
TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
DI INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)
pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro
Disusun oleh:
WARYANTO
NIM. C2C006152
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010
PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama Penyusun
:
Waryanto
Nomor Induk Mahasiswa
:
C2C006152
Fakultas/Jurusan
:
Ekonomi/Akuntansi
Judul Skripsi
:
PENGARUH KARAKTERISTIK
GOOD CORPORATE GOVERNANCE
(GCG) TERHADAP LUAS
PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
DI INDONESIA
Dosen Pembimbing
:
Rr.Sri Handayani, SE.,M.Si., Akt.
Semarang, 27 April 2010
Dosen Pembimbing,
(Rr. Sri Handayani, SE., M.Si., Akt.)
NIP. 19741005 199802 2001
ii
PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN
Nama Penyusun
:
Waryanto
Nomor Induk Mahasiswa
:
C2C006152
Fakultas/Jurusan
:
Ekonomi/Akuntansi
Judul Skripsi
:
PENGARUH KARAKTERISTIK
GOOD CORPORATE GOVERNANCE
(GCG) TERHADAP LUAS
PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
DI INDONESIA
Telah dinyatakan lulus ujian pada tanggal:
6 Mei 2010
Tim Penguji:
1.
Rr. Sri Handayani, SE.,M.Si., Akt.
(………….…………………)
2.
Prof. Dr. Muchammad Syafruddin, M.Si., Akt. (…………………………….)
3.
Herry Laksito, SE., M.Adv.Acc., Akt.
iii
(…………………………….)
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini saya, WARYANTO, menyatakan
bahwa skripsi dengan judul: PENGARUH KARAKTERISTIK GOOD
CORPORATE GOVERNANCE (GCG) TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DI INDONESIA adalah hasil
tulisan saya sendiri.dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa
dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang
saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat
atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis
lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan/atau tidak
terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya
ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan penulis aslinya.
Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut
di atas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi
yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri. Bila kemudian terbukti bahwa
saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah
hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan oleh
universitas batal saya terima.
Semarang, 27 April 2010
Yang membuat pernyataan,
WARYANTO
NIM. C2C006152
iv
ABSTRACT
This research aims to analyze the Good Corporate Governance (GCG)
characteristic factors that influencing the disclosure of corporate social
responsibility (CSR) at the corporate’s Annual Reports in Indonesia. The Good
Corporate Governance (GCG) characteristics that was applied in this research
are Board of Commissioner size, Number of Board of Commissioner meetings,
Board of Commissioner independence, Audit Committee size, Number of Audit
Committee meetings, Audit Committee competence, Managerial ownership,
Institutional ownership, Foreign ownership, Concentrated ownership, Firm’s size
and Leverage ratio.
The population in this research are all of Indonesian firms listed in
Indonesian Stock Exchanges (IDX) 2008. Total sample in this research are 116
firms that selected with purposive sampling. Using Content Analysis method to
analyze firm’s Annual report. Data analyzed with test of classic assumption and
examination of hypothesis with multiple linear regression method.
Result of this research indicates that Concentrated ownership, Institutional
ownership, Firm’s size and Leverage ratio had a significant effect to CSR
disclosure in Indonesia.
Keywords: Corporate social responsibility (CSR), Characteristic of GCG
Monitoring mechanism, Board of Commissioner, Audit Committee, Ownership
structure.
v
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor karakteristik Good
Corporate Governance (GCG) dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) pada Laporan Tahunan
perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Faktor-faktor karakteristik Good
Corporate Governance yang digunakan antara lain ukuran Dewan Komisaris,
jumlah rapat Dewan Komisaris, independensi Dewan Komisaris, ukuran Komite
Audit, jumlah rapat Komite Audit, kompetensi Komite Audit, kepemilikan saham
manajerial, kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham asing,
kepemilikan saham terkonsentrasi, ukuran perusahaan dan rasio leverage.
Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008. Total sampel penelitian adalah 116
perusahaan yang ditentukan melalui purposive sampling. Penelitian ini
menganalisis pada laporan tahunan perusahaan dengan metode Content analysis.
Analisis data dilakukan dengan uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan
metode regresi linear berganda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kepemilikan saham
terkonsentrasi, ukuran perusahaan, dan rasio leverage berpengaruh signifikan
terhadap pengungkapan CSR di Indonesia.
Kata kunci: Corporate social responsibility (CSR), Karakteristik GCG,
Mekanisme pengawasan, Dewan Komisaris, Komite Audit, Struktur kepemilikan.
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillaahirabbil ‘Aalamiin.. Segala Puji Syukur bagi Allah SWT,
atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya yang selalu tercurah, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGARUH KARAKTERISTIK GOOD
CORPORATE GOVERNANCE (GCG) TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DI INDONESIA”. Penulisan
skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan studi
sarjana S-1 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Diponegoro
Semarang.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan dengan
baik tanpa adanya dukungan, bimbingan, bantuan, serta doa dari berbagai pihak
selama penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis
dengan ketulusan hati mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1.
Bapak Drs. H.M. Chabachib, MSi., Akt selaku Dekan Fakultas Ekonomi yang
telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
2.
Bapak Prof. Dr. Muchammad Syafruddin, MSi., Akt selaku Ketua Jurusan
Akuntansi dan Dosen Wali yang selalu memberikan nasehat dan motivasi.
3.
Ibu Rr.Sri Handayani, SE.,MSi., Akt selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan waktu dan segenap tenaga serta saran dan dukungan sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
vii
4.
Bapak dan Ibu tercinta yang selalu memberikan doa, materi dan motivasi
yang tak pernah terputus. Sungguh tanpa kalian aku ini bukanlah apa-apa,
terima kasih untuk setiap cucuran keringat kalian.
5.
Seluruh staf pengajar, Bapak dan Ibu dosen, Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat bermanfaat bagi
penulis.
6.
Seluruh staf karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah
memberikan pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa.
7.
Lizna Qu yang selalu memberi semangat, dukungan, doa, perhatian dan
menemani disaat susah dan senang, tempatku meluapkan keluh kesah.
8.
Mbak Atiq, Mas Faiz , dan dek Akmal atas dukungan dan doanya selama ini,
semoga kita bisa membahagiakan orang tua kita.
9.
Sahabat-sahabatku Whisnu Adhinegoro, Ibrahim Adi, Diaz Haryokusumo,
kalian telah banyak memberikan inspirasi dan motivasi dalam hidupku,
semoga kita bisa sukses dunia dan akhirat.
10. Teman-teman di Kos Putera “Rumah Coklat”: Mas Heri, Adi“paw”,
Adi“plengeh”, Diaz“pasha”, Edho”Ndut”, Aldo”gaptek”, Toni”mr.higien”,
Arif”ucil”, Dimas”bewok”, terimakasih atas kebersamaan menjadi penghuni
rumah yang elit dan panas, tetap ingat “gak semua yang Lo denger itu
bener!”
11. Teman-teman Tim Futsal “ Joga Autiz” Manajemen Reg.2 2005: Deddy, Adi,
Toni, Gilang, Dito, Reza, Agung, Hendri, Suryo, Rikky bersama kalian
viii
menjadi pemain Futsal yang keren dan ganteng, tak pernah ku jumpai tim
seunik kalian.
12. Teman-teman D’martines Band (Willy Wonka): Vaza, Gani, Pune, Dimas,
Bima beserta keluarga groupisnya, kalian memberikan warna tersendiri dalam
masa kuliahku, kita akan buktikan akademis Oke, non-akademis juga Oke !!
13. Teman-teman seperjuangan dan satu bimbingan Rizky, Estorina, dan
Rumenta yang bisa menjadi tempat untuk berdiskusi, komunikasi dan saling
support tentang masalah skripsi kita. Dan Seluruh teman-teman Akuntansi
angkatan 2006, terima kasih atas persahabatan, kekeluargaan, dan
kebersamaannya selama di bangku kuliah. Mari kita berjuang pada level
hidup ynag lebih berat, semoga kita semua Sukses. Berbagi info untuk
berbisnis dan job vacancy, keep contact ya prend...
14. Teman-teman
Keluarga
Mahasiswa
Akuntansi
(KMA)
yang
telah
memberikan pelajaran dan pengalaman organisasi yang begitu berharga,
khususnya Mba Kiky 05, Mba Sita 05, Mba Betria 05, Mba Icha 05, Mba
daning 05, Mba Yanti 05, Mas Angga 05, Mas Dedi 05, Dek Listiana 08 yang
telah berbagi ilmu dengan buku-buku yang sangat bermanfaat.
15. Serta semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini
yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
Semarang, April 2010
Penulis
ix
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
“...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan (nasib) suatu
Kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri...”
(QS. Ar Ra’d : 11)
“...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah
(ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka
sesungguhnya Azab-Ku sangatlah pedih” (QS. Ibrahim : 7)
“Seimbanglah dalam segala hal, karena dengan keseimbangan
semua menjadi indah dan nikmat...”
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
•
Bapak dan Ibuku tercinta atas segala cucuran peluh dan air mata, tak
henti membimbingku dalam setiap langkah dan doa...
•
Mba dan Mas, serta Keponakanku tersayang yang memberikan banyak
inspirasi…
•
Sahabat, Kekasih, dan Saudara yang telah memberi semangat, nasihat
dan motivasi dalam hidupku…
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI .............................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN ........................................ iii
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ...................................................... iv
ABSTRACT ............................................................................................................. v
ABSTRAK ........................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................ vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................................... x
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................ 10
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................... 12
1.4 Sistematika Penulisan ..................................................................... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ............................................................................... 15
2.1.1 Teori Agensi ....................................................................... 15
2.2 Corporate Social Responsibility (CSR) .......................................... 18
2.2.1 Pengertian dan Konsep CSR ............................................... 18
2.2.2 Pengungkapan CSR di Indonesia ........................................ 20
2.3 Good Corporate Governance (GCG) ............................................. 25
2.3.1 Pengertian dan Konsep GCG .............................................. 25
2.3.2 Dewan Komisaris ................................................................ 28
2.3.3 Komite Audit ....................................................................... 32
2.3.4 Perkembangan GCG di Indonesia ....................................... 35
2.4 Penelitian Terdahulu ....................................................................... 38
2.5 Kerangka Pemikiran ....................................................................... 43
xi 2.6 Pengembangan Hipotesis ................................................................ 45
2.6.1 Ukuran Dewan Komisaris .................................................... 45
2.6.2 Jumlah Rapat Dewan Komisaris ......................................... 46
2.6.3 Independensi Dewan Komisaris .......................................... 47
2.6.4 Ukuran Komite Audit .......................................................... 49
2.6.5 Jumlah Rapat Komite Audit ................................................ 50
2.6.6 Kompetensi Komite Audit .................................................. 51
2.6.7 Kepemilikan Saham Manajerial .......................................... 52
2.6.8 Kepemilikan Saham Institusional ....................................... 53
2.6.9 Kepemilikan Saham Asing .................................................. 55
2.6.10 Kepemilikan Saham Terkonsentrasi ................................... 56
2.6.11 Ukuran Perusahaan ............................................................. 57
2.6.12 Rasio Leverage .................................................................... 58
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ................................. 59
3.1.1 Variabel Terikat (dependen) ............................................... 59
3.1.2 Variabel Bebas (independen) .............................................. 60
3.1.3 Variabel Kontrol ................................................................. 63
3.2 Populasi dan Sampel penelitian ...................................................... 64
3.3 Jenis dan Sumber Data .................................................................... 65
3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................. 65
3.5 Metode Analisis Data ...................................................................... 65
3.5.1 Uji Asumsi Klasik ............................................................... 65
3.5.1.1 Uji Normalitas ....................................................... 66
3.5.1.2 Uji Multikolinearitas ............................................. 67
3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas ......................................... 67
3.5.2 Analisi Regresi Berganda .................................................... 68
3.5.3 Pengujian Hipotesis ............................................................. 70
3.5.3.1 Uji F (F test) .......................................................... 70
3.5.3.2 Uji Koefisien Determinasi (R2).............................. 71
3.5.3.3 Uji t (t test) ............................................................ 72
xii BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian ............................................................. 73
4.2 Analisis Data ................................................................................... 73
4.2.1 Statistik Deskriptif .............................................................. 73
4.2.2 Hasil Uji Asumsi Klasik ..................................................... 79
4.2.2.1 Hasil Uji Normalitas ............................................. 79
4.2.2.2 Hasil Uji Multikolinearitas ................................... 81
4.2.2.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas ................................ 82
4.2.3 Hasil Pengujian Hipotesis ................................................... 84
4.2.3.1 Hasil Uji F (F test) ................................................ 84
4.2.3.2 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) .................... 84
4.2.3.3 Hasil Uji t (t test) .................................................. 86
4.3 Interpretasi Hasil ............................................................................. 91
4.3.1 Pengungkapan Corporate Social responsibility (CSR) ...... 91
4.3.2 Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris terhadap pengungkapan
CSR ..................................................................................... 93
4.3.3 Pengaruh
Jumlah
rapat
Dewan
Komisaris
terhadap
pengungkapan CSR ............................................................. 94
4.3.4 Pengaruh
Independensi
Dewan
Komisaris
terhadap
pengungkapan CSR ............................................................. 95
4.3.5 Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap pengungkapan
CSR ..................................................................................... 96
4.3.6 Pengaruh Jumlah rapat Komite Audit terhadap pengungkapan
CSR ..................................................................................... 97
4.3.7 Pengaruh Kompetensi Komite Audit terhadap pengungkapan
CSR ..................................................................................... 98
4.3.8 Pengaruh
Kepemilikan
saham
Manajerial
terhadap
pengungkapan CSR ............................................................. 99
4.3.9 Pengaruh
Kepemilikan
saham
Institusional
terhadap
pengungkapan CSR ........................................................... 100
4.3.10 Pengaruh Kepemilikan saham Asing terhadap pengungkapan
CSR ................................................................................... 101
xiii 4.3.11 Pengaruh
Kepemilikan
saham
terkonsentrasi
terhadap
pengungkapan CSR ........................................................... 102
4.3.12 Pengaruh
Ukuran
perusahaan
terhadap
pengungkapan
CSR ................................................................................... 103
4.3.13 Pengaruh Rasio Leverage perusahaan terhadap pengungkapan
CSR ................................................................................... 104
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ...................................................................................... 106
5.2 Keterbatasan .................................................................................. 108
5.3 Saran ............................................................................................. 109
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 110
LAMPIRAN ....................................................................................................... 115
xiv DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu ................................................. 41
Tabel 4.1 Ringkasan Perolehan Sampel Penelitian ....................................... 73
Tabel 4.2 Stastistik Deskriptif ....................................................................... 74
Tabel 4.3 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov.................................................... 81
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas ........................................................... 82
Tabel 4.5 Hasil Uji F (F test) ....................................................................... 84
Tabel 4.6 Hasil Uji Koefisien Determinasi ................................................... 85
Tabel 4.7 Hasil Uji t ..................................................................................... 87
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Struktur Board of Director dalam One Tier System ..................... 28
Gambar 2.2 Struktur BoD dan BoC dalam Two Tiers System Indonesia......... 29
Gambar 2.3 Skema Kerangka Pemikiran ......................................................... 44
Gambar 4.1 Grafik Histogram Uji Normalitas ................................................. 80
Gambar 4.2 Grafik Normal P-P Plot Uji Normalitas ....................................... 80
Gambar 4.3 Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas ................................... 83
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran A : Daftar Indikator Pengungkapan CSR menurut GRI .................... 115
Lampiran B : Daftar Perusahaan Sampel Penelitian .......................................... 120
Lampiran C : Hasil Pengolahan Data Dengan SPSS 17.0 ................................. 123
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility)
merupakan salah satu dari beberapa tanggung jawab perusahaan kepada
pemangku kepentingan (stakeholders). Pemangku kepentingan dalam hal ini
adalah orang atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh
berbagai keputusan, kebijakan, maupun operasi perusahaan (Post et.al.,2002
dalam Solihin, 2009). Menurut The World Business Council for Sustainable
Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan
sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan
ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta
perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat
umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik
bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.
Perusahaan akan mengungkapkan praktik tanggung jawab sosial agar
bentuk kontribusi yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut dapat diketahui
oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Pengungkapan tanggung jawab sosial
atau sering disebut sebagai Corporate social reporting adalah proses
pengkomunikasian efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan
ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan
pada masyarakat secara keseluruhan (Gray et. al., 1987 dalam Rosmasita, 2007).
1
2
Menurut Utama (2007) praktik dan pengungkapan CSR di Indonesia mulai
berkembang seiring dengan semakin meningkatnya perhatian masyarakat global
terhadap perkembangan perusahaan-perusahaan trans-nasional atau multinasional
yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, hal ini juga terkait dengan isu kerusakan
lingkungan yang terjadi di Indonesia, seperti penggundulan hutan, polusi udara
dan air, hingga perubahan iklim. Berbagai kasus pencemaran lingkunagn seperti
yang terjadi pada kasus Free Port di Papua dan Newmond di Sulawesi banyak
menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan disekitar
perusahaan beroperasi telah memberikan pelajaran bagi perusahaan-perusahaan
untuk lebih peduli dengan masyarakat dan stakeholders lainnya.
Perkembangan praktik dan pengungkapan CSR di Indonesia juga dilatar
belakangi oleh dukungan pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya regulasi
terhadap kewajiban praktik dan pengungkapan CSR melalui Undang-Undang
Perseroan Terbatas Nomor 40 tahun 2007, pasal 66 dan 74. Pada Pasal 66 ayat (2)
bagian c disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan
juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Sedangkan dalam Pasal 74 menjelaskan kewajiban untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan
dengan sumber daya alam. Selain itu, kewajiban pelaksanaan CSR juga diatur
dalam Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 tahun 2007 pasal 15 bagian b,
pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setiap penanaman modal diwajibkan untuk
ikut serta dalam tanggung jawab sosial perusahaan.
3
Dengan melakukan praktik dan pengungkapan CSR, perusahaan akan
mendapatkan manfaat tersendiri. Sebagaimana pendapat Kotler dan Lee (2005)
dalam Solihin (2009) menyebutkan bahwa perusahaan akan terdorong untuk
melakukan praktik dan pengungkapan CSR, karena memperoleh beberapa
manfaat seperti peningkatan penjualan dan market share, memperkuat brand
positioning, meningkatkan citra perusahaan, menurunkan biaya operasi, serta
meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor dan analis keuangan.
Praktik dan pengungkapan CSR merupakan konsekuensi logis dari
implementasi konsep Good Corporate Governance (GCG), yang prinsipnya
antara lain menyatakan bahwa perusahaan perlu memperhatikan kepentingan
stakeholders-nya, sesuai dengan aturan yang ada dan menjalin kerjasama yang
aktif dengan stakeholders demi kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan
(Utama, 2007). Selain itu, Utama (2007) juga menyatakan bahwa mekanisme dan
struktur governance di perusahaan dapat dijadikan sebagai infrastruktur
pendukung terhadap praktik dan pengungkapan CSR di Indonesia. Dengan adanya
mekanisme dan struktur governance ini dapat mengurangi asimetri informasi.
Apabila asimetri informasi dibiarkan terjadi, maka dapat menyebabkan terjadinya
adverse selection maupun moral hazard, dengan konsekuensi perusahaan tidak
melaksanakan praktik dan pengungkapan CSR.
Menurut Monks (2003) dikutip dalam Kaihatu (2006) mekanisme Good
corporate
governance
(GCG)
akan
bermanfaat
dalam
mengatur
dan
mengendalikan perusahaan sehingga menciptakan nilai tambah (value added)
untuk semua stakeholders. Untuk mendukung hal tersebut, pelaksanaan GCG
4
harus didukung dengan organ perusahaan yang harus menjalankan fungsinya
sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya
semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Organ perusahaan tersebut terdiri
dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Direksi, dan Dewan
Komisaris, serta organ perusahaan lain yang membantu terwujudnya good
governance seperti sekretaris perusahaan, komite Audit, dan komite-komite lain
yang membantu pelaksanaan GCG.
Dewan Komisaris merupakan suatu mekanisme untuk mengawasi dan
memberikan petunjuk dan arahan kepada pengelola perusahaan atau pihak
manajemen. Dalam hal ini, manajemen bertanggungjawab untuk meningkatkan
efisiensi
dan
daya
saing
perusahaan,
sedangkan
Dewan
Komisaris
bertanggungjawab untuk mengawasi manajemen (FCGI, 2002). Hal ini berarti
Dewan Komisaris dapat melakukan pengawasan sehingga menjamin bahwa
manajemen bertindak sesuai dengan pemilik perusahaan (investor) dan informasi
yang dimiliki oleh manajemen akan diungkapkan semua kepada para
stakeholders, termasuk juga informasi mengenai praktik tanggung jawab sosial
perusahaan.
Dalam menjalankan tugasnya Dewan komisaris dapat membentuk komitekomite yang mendukung tercapainya pelaksanaan GCG oleh perusahaan, salah
satunya adalah Komite Audit. Menurut Alijoyo (2003) Komite Audit mempunyai
fungsi membantu Dewan Komisaris untuk meningkatkan kualitas laporan
keuangan; Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi
kesempatan
terjadinya
penyimpangan
dalam
pengelolaan
perusahaan;
5
Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit; dan
Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris. Dengan
demikian, hasil pengungkapan laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan
dapat memiliki tingkat kehandalan atau reliabilitas yang tinggi. Dalam hal ini juga
termasuk dalam laporan tahunan, sebagaimana hasil penemuan Foker (1992)
dalam Said et.al. (2009) bahwa keberadaan Komite Audit dapat mengurangi
biaya agensi, dan meningkatkan pengendalian internal serta meningkatkan
kualitas pengungkapan.
Konsep corporate governance dilator belakangi oleh masalah pemisahan
antara kepemilikan dengan pengelolaan di dalam perusahaan, yang selanjutnya
dimodelkan dengan Agency Theory (Syakhroza, 2003 dalam Ibrahim, 2007).
Dalam mekanisme GCG, pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian
perusahaan merupakan upaya yang sangat penting untuk mewujudkan tata kelola
perusahaan yang baik. Dengan adanya pemisahan antara kepemilikan dan
pengelolaan ini akan timbul suatu masalah agensi, yaitu terjadinya konflik
kepentingan antara pemilik dan manajer (agen) karena kemungkinan agen
bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya
keagenan (agency cost). Sebagaimana disebutkan oleh Babic (2001) dalam
Nuryaman (2008), bahwa struktur kepemilikan merupakan salah satu mekanisme
internal untuk mengendalikan masalah agensi pada perusahaan.
Kepemilikan manajerial merupakan salah satu bentuk struktur kepemilikan
yang dapat mengatasi masalah agensi yang menyebabkan terciptanya konsep
GCG. Jensen & Meckling (1976) membentuk suatu teori yang menyatakan bahwa
6
kepemilikan saham oleh manajemen akan menurunkan permasalahan agensi
karena semakin banyak saham yang dimiliki oleh manajemen maka semakin kuat
motivasi mereka untuk bekerja dalam meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini
berarti konflik kepentingan akan dapat dikurangi, karena manajemen akan
berusaha menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan perusahaan
(investor), salah satunya dengan melakukan praktik dan pengungkapan CSR.
Mekanisme struktur kepemilikan yang lain yaitu struktur kepemilikan
institusional. Menurut Tarjo (2008), kepemilikan institusional merupakan
kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga
(perusahaan asuransi, bank, perseroan terbatas, perusahaan investasi dan
kepemilikan institusi lain). Kepemilikan saham oleh institusi dianggap sebagai
sophisticated investor karena mereka merupakan investor yang tidak mudah
dibohongi manajer. Menurut Machmud dan Djakman (2008) dengan jumlah
kepemilikan yang cukup signifikan dapat memonitor manajemen sehingga dapat
mengurangi masalah keagenan tersebut. Semakin besar kepemilikan institusional
maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat
bertindak sebagai pencegahan terhadap kecurangan yang dilakukan oleh
manajemen. Hal ini berarti kepemilikan institusional dapat menjadi pendorong
perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial.
Selain struktur kepemilikan tersebut diatas, Menurut Macmud dan
Djakman (2008) struktur kepemilikan asing dalam perusahaan juga akan
mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Hal
ini dikarenakan pihak asing dianggap lebih concern terhadap pengungkapan
7
tanggung jawab sosial perusahaan.
Perusahaan multinasional yang berada di
Indonesia, terutama yang berasal dari Eropa dan United State, lebih
memperhatikan isu-isu sosial seperti: pelanggaran hak asasi manusia, pendidikan,
tenaga kerja, dan isu lingkungan seperti, efek rumah kaca, pembalakan liar, serta
pencemaran air.
Struktur kepemilikan saham yang lain yaitu kepemilikan saham
terkonsentrasi. Penelitian Abdul samad (2002) dalam Said et.al. (2009)
menemukan bahwa kepemilikan saham di Malaysia sebagian besar adalah
terkonsentrasi, sehingga dalam hal ini kepemilikan saham yang terkonsentrasi
pada perusahaan mengakibatkan hak pemegang saham minoritas secara praktis
tidak mempunyai kekuatan atau powerless. Pemegang saham minoritas tidak
dapat ikut serta menentukan keputusan implementasi strategi perusahaan dengan
kuat. Namun demikian, menurut Nuryaman (2008) Konsentrasi kepemilikan dapat
menjadi mekanisme internal pendisiplinan manajemen, sebagai salah satu
mekanisme yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas monitoring,
karena dengan kepemilikan yang besar menjadikan pemegang saham memiliki
akses informasi yang cukup signifikan untuk mengimbangi keuntungan
informasional yang dimiliki manajemen. Dalam hal ini, kepemilikan mayoritas
atau terkonsentrasi dapat mengurangi masalah agensi dan dapat mendorong
pengungkapan CSR secara luas.
Penelitian terdahulu telah dilakukan di Indonesia untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan pengungkapan CSR.
Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2006) berhasil menemukan faktor
8
kepemilikan manajemen dan jenis industri menjadi bahan pertimbangan oleh
perusahaan untuk mengungkapkan CSR. Rosmasita (2007) menemukan faktorfaktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR suatu perusahaan dalam hal ini
hanya pada laporan tahunan perusahaan manufaktur antara lain: kepemilikan
manajemen, leverage, ukuran perusahaan, dan profitabilitas. Penelitian lain
dilakukan oleh Puspitasari (2009) menemukan bahwa faktor kepemilikan saham
asing, kepemilikan saham publik, ukuran industri dan tipe industri berpengaruh
signifikan terhadap pengungkapan CSR di Indonesia.
Ketidakkonsistenan
hasil
penelitian
terdahulu
ditunjukkan
dalam
penelitian Amran dan Devi (2008), Machmud dan Djakman (2008), dan Said et.al.
(2009) tidak menemukan adanya hubungan antara faktor kepemilikan saham
Asing terhadap luas pengungkapan CSR. Namun hasil berbeda ditunjukkan oleh
penelitian Puspitasari (2009) yang menemukan bahwa kepemlikan saham Asing
mempunyai pengaruh positif dengan luas pengungkapan CSR.
Penelitian lain yang dilakukan Anggraini (2006) dan Rosmasita (2007)
menemukan hubungan positif antara kepemilikan saham manajerial dengan luas
pengungkapan CSR, namun hasil berbeda ditemukan dalam penelitian Said et.al.
(2009) bahwa kepemilikan saham manajerial tidak berhubungan dengan luas
pengungkapan CSR.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Said et. al.
(2009). Penelitian terdahulu dilakukan oleh Said et.al. (2009) dengan setting di
Malaysia, menggunakan sampel 150 perusahaan yang tercatat di Bursa Malaysia
meneliti beberapa variabel karakteristik GCG antara lain adalah ukuran Dewan
9
Direksi (board size), Independensi Dewan Komisaris, Duality of CEO,
Independensi Komite Audit, dan variabel kepemilikan saham terkonsentrasi,
manajerial, asing, serta kepemilikan oleh pemerintah. Penelitian tersebut
menemukan bahwa hanya dua faktor yang berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR di Malaysia yaitu faktor Kepemilikan oleh Pemerintah dan
Komite Audit.
Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya,
antara lain terdapat pada pengukuran (proxy) yang digunakan untuk mengukur
variabel Dewan komisaris yang sebelumnya hanya mengukur independensi, dalam
penelitian ini akan diukur juga mengenai ukuran dan jumlah rapat Dewan
Komisaris. Variabel ukuran Dewan Direksi (board size) tidak digunakan dalam
penelitian ini, dikarenakan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, dimana
perusahaan-perusahaan di Indonesia menerapkan sistem Dua tingkat atau Two
Tier Board System, yang memisahkan fungsi eksekutif (direksi)
dan fungsi
pengawasan (komisaris).
Pada variabel Komite Audit, diukur dengan ukuran Komite Audit,
frekuensi jumlah pertemuan komite audit, serta kompetensi komite audit. Hal ini
didasarkan pada keputusan Bapepam-LK Nomor Kep-29/PM/2004 nomor IX.I.5
tentang pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit. Selain itu,
pada variabel kepemilikan saham oleh pemerintah tidak diadopsi dikarenakan
jumlah emiten di Indonesia yang dimiliki oleh pemerintah jumlahnya terlalu
sedikit sehingga tidak cukup mewakili sampel penelitian.
10
Penelitian ini dimotivasi karena masih rendahnya kualitas dan kuantitas
praktik pengungkapan tanggung jawab sosial di Indonesia bila dibandingkan
dengan Negara-negara lain (www.csrindonesia.com). Terjadinya fenomena gap ini
dikarenakan perusahaan-perusahaan di Indonesia belum mampu menerapkan tata
kelola perusahaan dengan baik. Sebagaimana disampaikan Utama (2007), bahwa
Corporate Governance perusahaan akan menentukan arah dan kebijakan
perusahaan, termasuk diantaranya kegiatan CSR beserta pelaporannya, maka
apabila perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah menerapkan GCG, seharusnya
praktik pelaksanaan dan pengungkapan CSR akan semakin baik. Selain itu,
penelitian ini juga dimotivasi karena adanya research gap atau ketidakkonsistenan
hasil yang terjadi pada penelitian-penelitian terdahulu.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin mengetahui
bagaimana mekanisme pelaksanaan GCG dapat mempengaruhi pengungkapan
CSR yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Oleh karena itu, penulis mengambil penelitian dengan judul
“Pengaruh Karakteristik Good Corporate Governance (GCG) Terhadap Luas
Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia”.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah “Apakah
karakteristik Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh terhadap luas
pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada laporan tahunan
11
perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI)?”. Sesuai dengan
perumusan masalah tersebut, maka
dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
1.
Apakah
Ukuran
Dewan
Komisaris
dapat
mempengaruhi
luas
pengungkapan CSR di Indonesia?
2.
Apakah Jumlah pertemuan Dewan Komisaris dapat mempengaruhi luas
pengungkapan CSR di Indonesia?
3.
Apakah proporsi Dewan Komisaris Independen dapat mempengaruhi
luas pengungkapan CSR di Indonesia?
4.
Apakah Ukuran Komite Audit dapat mempengaruhi luas pengungkapan
CSR di Indonesia?
5.
Apakah Jumlah Pertemuan Komite Audit dapat mempengaruhi luas
pengungkapan CSR di Indonesia?
6.
Apakah
Kompetensi
Komite
Audit
dapat
mempengaruhi
luas
pengungkapan CSR di Indonesia?
7.
Apakah
Kepemilikan
Manajerial
dapat
mempengaruhi
luas
dapat
mempengaruhi
luas
pengungkapan CSR di Indonesia?
8.
Apakah
Kepemilikan
Institusional
pengungkapan CSR di Indonesia?
9.
Apakah Kepemilikan Asing dapat mempengaruhi luas pengungkapan
CSR di Indonesia?
10. Apakah
Kepemilikan
Terkonsentrasi
pengungkapan CSR di Indonesia?
dapat
mempengaruhi
luas
12
1.3
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, penelitian ini mempunyai tujuan
untuk secara umum untuk memverifikasi teori yang telah ada dalam menjelaskan
mengenai hubungan antara karakteristik GCG terhadap luas pengungkapan CSR.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh
karakteristik Good Corporate Governance (GCG) yang diproksikan melalui
Dewan Komisaris, Komite Audit, Struktur Kepemilikan, Ukuran perusahaan dan
Rasio leverage terhadap luas pengungkapan CSR pada laporan tahunan
perusahaan publik di Indonesia.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak,
antara lain:
1.
Memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu Akuntansi Manajemen,
terutama mengenai bagaimana penerapan GCG dalam suatu perusahaan dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan perusahaan untuk mengungkapkan
praktik CSR-nya dalam laporan tahunan perusahaan.
2.
Memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan/manajemen tentang manfaat
penerapan dan mekanisme Good Corporate Governance (GCG) dan
pengungkapan pertanggungjawaban sosial perusahaan bagi perusahan.
3.
Sebagai bahan pertimbangan Pemerintah dan lembaga-lembaga penyusun
standar akuntansi dalam meningkatkan kualitas standar dan peraturan yang
sudah ada.
13
4.
Sebagai bahan referensi atau acuan bagi pihak-pihak yang akan melakukan
penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan ini.
1.4
Sistematika Penulisan
Penelitian ini terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama merupakan
pendahuluan yang berisi tentang
gambaran penelitian secara garis besar
penelitian yang akan dilakukan. Bagian ini terdiri dari latar belakang masalah
penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika
penulisan.
Bagian yang kedua adalah tinjauan pustaka yang akan menguraikan
mengenai teori-teori yang melandasi dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Dalam bagian ini juga dijelaskan mengenai penelitian terdahulu yang membantu
menjelaskan mengenai permasalahan yang akan diteliti. Selain itu diuraikan juga
mengenai perumusan hipotesis penelitian yang akan diuji dan kerangka pemikiran
yang dipergunakan untuk mempermudah dalam pemahaman penelitian ini.
Bagian yang ketiga dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang
berisi uraian mengenai metode yang digunakan dalam penelitian ini dan juga
membahas mengenai variabel-variabel penelitian dan pengukurannya, penentuan
populasi dan sampel penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data
serta metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini.
Bagian keempat dalam penelitian ini adalah hasil dan pembahasan
penelitian yang berisi tentang deskripsi objek penelitian, analisis data, interpretasi
hasil dan argumentasi terhadap hasil penelitian. Sebelum dilakukan analisis data,
terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang dilakukan meliputi uji
14
normalitas, multikolinearitas, dan heterokedastisitas. Setelah semua uji terpenuhi,
baru dilakukan uji hipotesis.
Bagian kelima merupakan penutup dalam penelitian ini yang berisi tentang
simpulan dari penelitian yang menjawab seluruh pertanyaan penelitian,
keterbatasan penelitian, serta saran-saran untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1 Teori Agensi
Dalam rangka memahami konsep Good Corporate Governance (GCG),
maka digunakanlah dasar perspektif hubungan keagenan. Hubungan keagenan
merupakan hubungan antara dua pihak dimana salah satu pihak menjadi agent dan
pihak yang lain bertindak sebagai principal (Hendriksen dan Van Breda, 2000).
Hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan
orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan
wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut.
Eisenhardt (1989) dikutip dalam Isnanta (2008) menggunakan tiga asumsi
sifat dasar manusia guna menjelaskan tentang teori agensi yaitu: (1) manusia pada
umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya
pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3)
manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar
manusia tersebut, manajer sebagai manusia kemungkinan besar akan bertindak
berdasarkan sifat opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya.
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan adanya konflik kepentingan
dalam hubungan keagenan. Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan
agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan
prinsipal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Teori Agensi mampu
menjelaskan potensi konflik kepentingan diantara berbagai pihak yang
15
16
berkepentingan dalam perusahaan tersebut. Konflik kepentingan ini terjadi
dikarenakan perbedaan tujuan dari masing-masing pihak berdasarkan posisi dan
kepentingannya terhadap perusahaan (Ibrahim, 2007). Sebagai agen, manajer
bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik
(principal), namun demikian manajer juga menginginkan untuk selalu
memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua
kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing -masing pihak
berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang
dikehendaki (Ali, 2002 dalam Isnanta, 2008).
Selain itu, Teori Agensi juga menjelaskan mengenai masalah asimetri
informasi (information asymmetric). Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih
banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu sebagai
pengelola,
manajer
berkewajiban
memberikan
sinyal
mengenai
kondisi
perusahaan kepada pemilik. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang
diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Kondisi ini dikenal
sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi (Hendriksen dan
Van Breda, 2000).
Asimetri informasi antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal)
dapat memberikan kesempatankepada manajer untuk melakukan tindakan
oportunis seperti manajemen laba (earnings management) mengenai kinerja
ekonomi perusahaan sehingga dapat merugikan pemilik (pemegang saham).
Manajer akan berusaha melakukan hal tersebut untuk memaksimalkan
17
kepentingan pribadinya tanpa persetujuan pemilik atau pemegang saham.
Penelitian Richardson (1998) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menunjukkan
adanya hubungan positif antara asimetri informasi dengan manajemen laba.
Dalam hal ini berarti apabila manajer memiliki informasi yang lebih banyak
dibandingkan dengan pemegang saham maka kecenderungan manajer untuk
berbuat curang dengan praktik manjemen laba demi kepentingan pribadi akan
semakin tinggi.
Dengan adanya masalah agensi yang disebabkan karena konflik
kepentingan dan asimetri informasi ini, maka perusahaan harus menanggung
biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan biaya
keagenan dalam tiga jenis yaitu:
1.
Biaya Monitoring (monitoring cost), merupakan biaya yang dikeluarkan
untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan
oleh agen.
2.
Biaya Bonding (bonding cost), merupakan biaya untuk menjamin bahwa
agen tidak akan bertindak merugikan prinsipal, atau dengan kata lain untuk
meyakinkan agen, bahwa prinsipal akan memberikan kompensasi jika
agen benar-benar melakukan tindakan tersebut.
3.
Biaya kerugian residual (residual loss), merupakan nilai uang yang
ekuivalen dengan pengurangan kemakmuran yang dialami oleh prinsipal
akibat dari perbedaan kepentingan.
Teori Agensi juga menyatakan bahwa konflik kepentingan antara agen dan
prinsipal
dapat
dikurangi
dengan
mekanisme
pengawasan
yang
dapat
18
menyelaraskan berbagai kepentingan yang ada dalam perusahaan (Ibrahim, 2007).
Mekanisme pengawasan yang dimaksud dalam teori agensi dapat dilakukan
dengan mekanisme good corporate governance (GCG). GCG sebagai suatu
sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan diharapkan dapat
memberikan kepercayaan terhadap manajemen dalam mengelola kekayaan
pemilik (pemegang saham), sehingga dapat meminimalkan konflik kepentingan
dan meminimumkan biaya keagenan. Herawaty (2008) juga menyatakan bahwa
Good corporate governance (GCG) menghasilkan berbagai mekanisme yang
bertujuan untuk meyakinkan bahwa tindakan manajemen selaras dengan
kepentingan pemegang saham (terutama minority interest).
Konsep GCG berkaitan dengan bagaimana para pemilik (pemegang
saham) yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin
bahwa manajer tidak akan melakukan kecurangan-kecurangan yang akan
merugikan para pemegang saham. Dengan kata lain dengan penerapan Good
corporate governance diharapkan dapat berfungsi untuk menekan atau
menurunkan biaya keagenan (agency cost).
2.2
Corporate Social Responsibility (CSR)
2.2.1
Pengertian dan Konsep CSR
Ada berbagai definisi tentang CSR, antara lain definisi CSR menurut The
World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) sebagai berikut:
Corporate Social Responsibility is the continuing commitment by business to
behave ethically and contribute to economic development while improving the
quality of life of the workforce and their families as well as of the local
community and society at large
19
Berdasarkan pengertian tersebut, tanggung jawab sosial perusahaan merupakan
suatu komitmen bisnis yang berkelanjutan untuk memberikan kontribusi bagi
pembangunan ekonomi, melalui kerja sama dengan para karyawan serta
perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat
umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik
bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan. Sependapat dengan hal tersebut,
Ebert (2003) dalam Rosmasita (2007) mendefinisikan corporate social
responsibility sebagai usaha perusahaan untuk menyeimbangkan komitmenkomitmennya terhadap kelompok-kelompok dan individual-individual dalam
lingkungan perusahaan tersebut, termasuk didalamnya adalah pelanggan,
perusahaan-perusahaan lain, para karyawan, dan investor.
CSR berusaha memberikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke
dalam operasinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Darwin (2004) dalam Anggraini
(2006) Pertanggungjawaban sosial adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk
secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke
dalam operasinya dan interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan, yang
melebihi tanggung jawabnya di bidang hukum. Dengan demkian, operasi bisnis
yang dilakukan oleh perusahaan tidak hanya berkomitmen dengan ukuran
keuntungan secara finansial saja, tetapi juga harus berkomitmen pada
pembangunan sosial ekonomi secara menyeluruh dan berkelanjutan. Berbagai
definisi
di
atas
(www.csrindonesia.com):
sesuai
dengan
definisi
CSR
dalam
ISO
26000
20
Responsibility of an organization for the impacts of its decisions and activities
on society and the environment through transparent and ethical behaviour that
is consistent with sustainable development and welfare of society; takes into
account the expectation of stakeholders; is in compliance with applicable law
and consistent international norms of behaviour; and is integrated throughout
the organization.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian mengenai CSR
pada intinya adalah merupakan suatu upaya tanggung jawab perusahaan atau
organisasi atas dampak yang ditimbulkan dari keputusan dan aktivitas yang telah
diambil dan dilakukan oleh organisasi tersebut, dimana dampak itu pastinya akan
dirasakan oleh pihak-pihak terkait termasuk masyarakat dan lingkungan.
2.2.2 Pengungkapan CSR di Indonesia
Pengungkapan tanggung jawab sosial atau sering disebut sebagai
Corporate social reporting adalah proses pengkomunikasian efek-efek sosial dan
lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok
tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara keseluruhan (Gray et. al.,
1987 dalam Rosmasita, 2007). Kontribusi negatif perusahaan terhadap lingkungan
sekitarnya telah menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat, oleh karena itu
dengan mengungkapkan informasi-informasi mengenai operasi perusahaan
sehubungan dengan lingkungan sebagai tanggung jawab perusahaan diharapkan
dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat. Jadi agar bentuk tanggung jawab
sosial yang telah dilakukan oleh perusahaan dapat diketahui oleh berbagai pihak
yang berkepentingan, maka hal itu diungkapkan dalam laporan tahunan
perusahaan.
Hal serupa disampaikan oleh Darwin (2007) dikutip dalam Machmud dan
Djakman (2008) bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial bertujuan untuk
21
menjalin hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan dengan
publik
dan
stakeholders
lainnya
tentang
bagaimana
perusahaan
telah
mengintegrasikan kepedulian dan tanggung jawab sosial (CSR) dalam setiap
aspek kegiatan operasinya. Pengungkapan kinerja lingkungan, sosial, dan
ekonomi di dalam laporan tahunan atau laporan terpisah adalah untuk
mencerminkan tingkat akuntabilitas, responsibilitas, dan transparansi perusahaan
kepada investor dan stakeholders lainnya. Laporan tahunan merupakan salah satu
alat yang digunakan oleh manajemen untuk melakukan pengungkapan dan
pertanggungjawaban kinerja perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk masyarakat. Para pengguna laporan tahunan seperti analis, investor,
masyarakat dan lainnya membutuhkan informasi yang lengkap mengenai laporan
tentang suatu perusahaan, sehingga pengungkapan yang lebih rinci mengenai
perusahaan akan sangat penting dan bermanfaat untuk melakukan penilaian dan
analisis pengambilan keputusan yang akan mereka lakukan.
Dengan melakukan praktik dan pengungkapan CSR, perusahaan akan
mendapatkan manfaat tersendiri. Menurut Kotler dan Lee (2005) dalam Solihin
(2009) menyebutkan bahwa perusahaan akan terdorong untuk melakukan praktik
dan pengungkapan CSR, karena memperoleh beberapa manfaat seperti
peningkatan penjualan dan market share,
memperkuat brand positioning,
meningkatkan citra perusahaan, menurunkan biaya operasi, serta meningkatkan
daya tarik perusahaan di mata investor dan analis keuangan.
Menurut Taridi (2009) ada beberapa manfaat dari praktik dan
pengungkapan CSR bagi perusahaan, antara lain:
22
1. Pengelolaan sumber daya korporasi secara amanah dan bertanggungjawab,
yang akan meningkatkan kinerja korporasi secara sustainable.
2. Perbaikan citra korporasi sebagai agen ekonomi yang bertanggungjawab
(good corporate citizen) sehingga meningkatkan nilai perusahaan (value of
the firm).
3. Peningkatkan keyakinan investor terhadap korporasi sehingga menjadi
lebih atraktif sebagai target investasi.
4. Memudahkan akses terhadap investasi domestik dan asing.
5. Melindungi Direksi dan Dewan Komisaris dari tuntutan hukum.
Kewajiban pengungkapan CSR di Indonesia telah diatur dalam beberapa
regulasi, antar lain
adalah pernyataan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang
menyarankan kepada perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab
mengenai sosial dan lingkungan, sebagaimana dituangkan dalam Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 1998) Paragraf kesembilan:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya
bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan
penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok
pengguna laporan yang memegang peranan penting.
Secara yuridis formal, pemerintah telah mendukung praktik dan
pengungkapan tanggung jawab sosial melalui Undang undang No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas Bab IV pasal 66 ayat 2(c) dan Bab V pasal 74. Pada
Pasal 66 ayat 2 bagian c disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan
keuangan, perusahaan juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab
sosial dan lingkungan. Sedangkan dalam Pasal 74 menjelaskan kewajiban untuk
23
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan yang
kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam. Selain itu, kewajiban
pelaksanaan CSR juga diatur dalam Undang-Undang Penanaman Modal No. 25
tahun 2007 pasal 15 bagian b, pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setiap
penanaman modal diwajibkan untuk ikut serta dalam tanggung jawab sosial
perusahaan.
Standar pengungkapan CSR yang berkembang di Indonesia adalah
merujuk standar yang dikembangkan oleh GRI (Global Reporting Initiatives).
Ikatan Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Manajemen (IAI-KAM) atau
sekarang dikenal dengan Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) merujuk
standar yang dikembangkan oleh GRI dalam pemberian penghargaan Indonesia
Sustainability Report Awards (ISRA) kepada perusahaan-perusahaan yang ikut
serta dalam membuat laporan keberlanjutan atau sustainability report. Standar
GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai
kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas, rigor, dan pemanfaatan sustainability reporting.
Dalam Standar GRI (GRI, 2006) Indikator kinerja di bagi menjadi 3
komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial yang mencakup
hak azasi manusia, praktek ketenagakerjaan dan lingkungan kerja, tanggung jawab
produk, dan masyarakat. Total indikator kinerja mencapai 79 indikator, terdiri
dari 9 indikator ekonomi, 30 indikator lingkungan hidup, 14 indikator praktek
tenaga kerja, 9 indikator Hak Asasi manusia, 8 indikator kemasyarakatan, dan 9
indikator tanggung jawab produk.
24
Jadi, dalam melakukan penilaian luas pengungkapan CSR, item-item yang
akan diberikan skor akan mengacu kepada indikator kinerja atau item yang
disebutkan dalam GRI guidelines, minimal yang harus ada antara lain:
1) Indikator kinerja ekonomi, meliputi aspek Kinerja ekonomi, Keberadaan
pasar; dan Dampak ekonomi tidak langsung.
2) Indikator kinerja lingkungan hidup, meliputi aspek Material, Energi, Air,
Keanekaragaman Hayati, Emisi, Effluent, dan limbah; Produk dan jasa,
Aspek Kesesuaian, Transportasi, dan Aspek secara keseluruhan.
3) Indikator kinerja praktek ketenagakerjaan dan lingkungan kerja, meliputi
aspek Ketenagakerjaan, Hubungan Tenaga kerja/Manajemen, Keselamatan
dan
kesehatan
kerja,
Pendidikan
dan
pelatihan,
serta
aspek
Keanekaragaman dan kesempatan yang sama.
4) Indikator kinerja hak azasi manusia, meliputi aspek Praktek investasi dan
pengadaaan, Aspek Non-diskriminasi, Kebebasan berserikat dan Daya
tawar kelompok, Tenaga kerja anak, Pegawai tetap dan kontrak, Praktik
keselamatan serta Hak Masyarakat (Adat).
5) Indikator kinerja Masyarakat, meliputi aspek Kemasyarakatan, Kebijakan
mengenai korupsi, Kebijakan umum/publik, Perilaku Anti Persaingan, dan
aspek kesesuaian.
6) Indikator kinerja Tanggung jawab produk, yang meliputi aspek
Keselamatan dan kesehatan konsumen, Labeling produk dan jasa,
Komunikasi pemasaran, Privasi konsumen dan aspek kesesuaian.
25
2.3
Good Corporate Governance (GCG)
2.3.1
Pengertian dan Konsep GCG
Good Corporate Governance atau yang biasa disingkat GCG berasal dari
istilah “corporate governance” yang berarti tata kelola perusahaan, merupakan
suatu bentuk analogi antara pemerintahan suatu Negara dengan pemerintahan
dalam suatu perusahaan (Becht et al., 2002 dalam Solihin, 2009). Sebagaimana
dalam pemerintahan suatu negara, dalam perusahaan juga terdapat berbagai
kelompok dengan berbagai kepentingan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena
itu muncul sebuah konsep corporate governance dalam mengatasi konflik
kepentingan tersebut agar perusahaan dapat dikelola dengan baik.
Menurut
OECD
(Organization
for
Economic
Co-operation
and
Development), corporate governance didefinisikan sebagai berikut:
“Corporate governance is the system by which business corporations are
directed and controlled. The corporate governance structure specifies the
distribution of the right and responsibilities among different participants in the
corporation, such as the board, managers, shareholders, and other
stakeholders”
Dari pengertian tersebut, maka dapat diketahui bahwa tujuan corporate
governance adalah untuk mengendalikan dan mengarahkan peusahaan agar dapat
mendistribusikan hak dan kewajiban pihak-pihak yang
terlibat dalam suatu
perusahaan dengan baik atau dengan kata lain GCG bertujuan untuk menciptakan
nilai tambah bagi seluruh pemegang kepentingan (stakeholders).
Definisi menurut FCGI (Forum for Corporate Governance in Indonesia)
dalam publikasi yang pertamanya mempergunakan definisi Cadbury Committee
tidak berbeda jauh dengan definisi menurut OECD, yaitu:
26
"seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,
pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta
para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan
hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang
mengatur dan mengendalikan perusahaan."
Pengertian dan konsep corporate governance ini dilandasi dengan Teori
Agensi (agency theory) dimana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan
dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh
kepatuhan terhadap berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku (Solihin,
2009). Dengan adanya mekanisme Corporate governance ini, maka tindakan
kecurangan yang dilakukan agen dapat diminimalisasi, sehingga tidak
menimbulkan kerugian pada kedua belah pihak.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perusahaan harus menerapkan
prinsip-prinsip GCG seperti yang telah disebutkan dalam Pedoman Umum Good
Corporate Governance Indonesia yang disusun oleh Komite Nasional kebijakan
Governance (KNKG) tahun 2006. Prinsip-prinsip tersebut meliputi lima aspek
yaitu:
1) Transparansi (Transparency)
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang
mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan
harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah
yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang
penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan
pemangku kepentingan lainnya.
27
2) Akuntabilitas (Accountability)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar,
terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap
memperhitungkan
kepentingan
pemegang
saham
dan
pemangku
kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3) Responsibilitas (Responsibility)
Perusahaan
harus
mematuhi
peraturan
perundang-undangan
serta
melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan
sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang
dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
4) Independensi (Independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola
secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling
mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
5) Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Dalam
melaksanakan
kegiatannya,
perusahaan
harus
senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Untuk mewujudkan terciptanya Good corporate governace, prinsip-prinsip
tersebut harus dapat dicapai oleh perusahaan, dengan adanya kerjasama yang baik
dari berbagai pihak baik di dalam maupun di luar perusahaan (Solihin, 2009).
28
RUPS atau pemegang saham, Dewan Direksi, Dewan Komisaris dan karyawan
merupakan organ-organ perusahaan yang memegang peranan kunci pelaksanaan
GCG.
2.3.2 Dewan Komisaris
Terdapat dua sistem Manajemen yang berbeda yang berasal dari dua
sistem hukum yang berbeda (FCGI,2002) yang membedakan mekanisme
pengawasan yang dilakukan oleh dewan Komisaris yaitu:
1) Sistem Satu Tingkat atau One Tier System.
Sistem Satu Tingkat berasal dari Sistem Hukum Anglo Saxon. Dalam
sistem ini perusahaan hanya mempunyai satu Dewan Direksi yang pada
umumnya merupakan kombinasi antara manajer atau pengurus senior
(Direktur Eksekutif) dan Direktur Independen yang bekerja dangan prinsip
paruh waktu (Non Direktur Eksekutif). Negara-negara yang menggunakan
One Tier System misalnya adalah Amerika Serikat dan Inggris.
Gambar 2.1
Struktur Board of Director dalam One Tier System
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
DEWAN DIREKSI
DIREKTUR
EKSEKUTIF
DIREKTUR
NON-EKSEKUTIF
Sumber: FCGI (2002)
29
2) Sistem Dua Tingkat atau Two Tiers System.
Sistem Dua Tingkat berasal dari Sistem Hukum Kontinental Eropa. Dalam
sistem ini perusahaan mempunyai dua badan terpisah, yaitu Dewan
Pengawas (Dewan Komisaris) dan Dewan Manajemen (Dewan Direksi).
Dewan Direksi bertugas mengelola dan mewakili perusahaan di bawah
pengarahan dan pengawasan Dewan Komisaris. Dewan Direksi juga harus
memberikan informasi kepada Dewan Komisaris dan menjawab hal-hal
yang diajukan oleh Dewan Komisaris. Sehingga Dewan Komisaris
terutama bertanggungjawab untuk mengawasi tugas-tugas manajemen.
Negara-negara yang menggunakan Two Tiers System adalah Denmark,
Jerman, Belanda, Jepang termasuk juga Indonesia.
Gambar 2.2
Struktur BoD dan BoC dalam TwoTiers System yang berkembang di
Indonesia
Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS)
Dewan Komisaris
(BoC)
Dewan Direksi
(BoD)
Sumber: FCGI (2002)
Dewan
Komisaris
sebagai
organ
perusahaan
bertugas
dan
bertanggungjawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan
nasihat kepada Direksi serta memastikan bahwa Perusahaan melaksanakan GCG
sesuai dengan aturan. Namun demikian, Dewan Komisaris tidak boleh turut serta
30
dalam mengambil keputusan operasional. Kedudukan masing-masing anggota
Dewan Komisaris termasuk Komisaris Utama adalah setara. Tugas Komisaris
Utama sebagai primus inter pares adalah mengkoordinasikan kegiatan Dewan
Komisaris (KNKG,2006). Agar pelaksanaan tugas Dewan Komisaris dapat
berjalan secara efektif, perlu dipenuhi prinsip-prinsip berikut:
1) Komposisi
Dewan
Komisaris
harus
memungkinkan
pengambilan
keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak
independen.
2) Anggota Dewan Komisaris harus profesional, yaitu berintegritas dan
memiliki kemampuan sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik
termasuk memastikan bahwa Direksi telah memperhatikan kepentingan
semua pemangku kepentingan.
3) Fungsi pengawasan dan pemberian nasihat Dewan Komisaris mencakup
tindakan pencegahan, perbaikan, sampai kepada pemberhentian sementara.
Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 Pasal
97, dijelaskan bahwa Komisaris bertugas mengawasi kebijaksanaan Direksi dalam
menjalankan perusahaan serta memberikan nasihat kepada Direksi. Lebih lanjut
Pasal 98 UUPT menegaskan, bahwa Komisaris wajib dengan itikad baik dan
penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan perseroan.
Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 tahun 2007, pada
pasal 108 ayat (5) dijelaskan bahwa bagi perusahaan berbentuk perseroan
Terbatas, maka wajib memiliki paling sedikitnya 2 (dua) anggota Dewan
Komisaris. Oleh karena itu, jumlah anggota Dewan Komisaris dalam tiap
31
perusahaan
berbeda-beda
jumlahnya
karena
harus
disesuaikan
dengan
kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektivitas dalam
pengambilan keputusan.
Dewan Komisaris terdiri dari komisaris independen dan komisaris nonindependen. Komisaris independen merupakan komisaris yang tidak berasal dari
pihak terafiliasi, sedangkan komisaris non-independen merupakan komisaris yang
terafiliasi. Yang dimaksud dengan terafiliasi adalah pihak yang mempunyai
hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, anggota
Direksi dan Dewan Komisaris lain, serta dengan perusahaan itu sendiri. Mantan
anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang terafiliasi serta karyawan perusahaan,
untuk jangka waktu tertentu termasuk dalam kategori terafiliasi (KNKG,2006).
Keberadaan Komisaris Independen telah diatur Bursa Efek Jakarta melalui
peraturan BEJ tanggal 1 Juli 2000 dikutip dari (FCGI,2002). Dikemukakan bahwa
perusahaan yang listed di Bursa harus mempunyai Komisaris Independen yang
secara proporsional sama dengan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham
yang minoritas (bukan controlling shareholders). Dalam peraturan ini,
persyaratan jumlah minimal Komisaris Independen adalah 30% dari seluruh
anggota Dewan Komisaris. Beberapa kriteria lainnya tentang Komisaris
Independen adalah sebagai berikut:
1)
Komisaris Independen tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang
saham
mayoritas
atau
pemegang
saham
pengendali
shareholders) Perusahaan Tercatat yang bersangkutan;
(controlling
32
2)
Komisaris Independen tidak memiliki hubungan dengan direktur dan/atau
komisaris lainnya Perusahaan Tercatat yang bersangkutan;
3)
Komisaris
Independen
tidak
memiliki
kedudukan
rangkap
pada
perusahaan lainnya yang terafiliasi dengan Perusahaan Tercatat yang
bersangkutan;
4)
Komisaris Independen harus mengerti peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal;
5)
Komisaris Independen diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham
minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali (bukan
controlling shareholders) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2.3.3 Komite Audit
Dalam menjalankan tugasnya, Dewan Komisaris dapat membentuk
komite-komite yang dapat membantu pelaksanaan tugasnya. Salah satunya adalah
Komite Audit, yang memiliki tugas terpisah dalam membantu Dewan Komisaris
untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam memberikan pengawasan secara
menyeluruh (FCGI, 2002). Pada umumnya, Komite Audit mempunyai tanggung
jawab pada tiga bidang, yaitu:
1.
Laporan Keuangan (Financial Reporting), adalah untuk memastikan
bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen telah memberikan
gambaran yang sebenarnya tentang Kondisi keuangan, Hasil Usahanya,
serta Rencana dan komitmen jangka panjang;
2.
Tata
Kelola
Perusahaan
(Corporate
Governance),
adalah
untuk
memastikan, bahwa perusahaan telah dijalankan sesuai undang-undang
33
dan peraturan yang berlaku, melaksanakan usahanya dengan beretika,
melaksanakan
pengawasannya
secara
efektif
terhadap
benturan
kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan perusahaan.
3.
Pengawasan Perusahaan (Corporate Control). Tanggung jawab Komite
Audit untuk pengawasan perusahaan termasuk di dalamnya pemahaman
tentang masalah serta hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan
sistem pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang
dilakukan oleh auditor internal. Ruang lingkup audit internal harus
meliputi pemeriksaan dan penilaian tentang kecukupan dan efektifitas
sistem pengawasan intern.
Dalam Pedoman GCG Indonesia (KNKG, 2006) dijelaskan bahwa, Komite
Audit bertugas membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa: (i) laporan
keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, (ii) struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik,
(iii) pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan
standar audit yang berlaku, dan (iv) tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan
oleh manajemen. Menurut Surat Edaran Bapepam Nomor: SE-03/PM/2000
menyatakan bahwa tujuan Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris
untuk:
a) Meningkatkan kualitas Laporan Keuangan;
b) Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi
kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan;
c) Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit;
34
d) Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris.
Selain itu, menurut KNKG (2006) Jumlah anggota Komite Audit harus
disesuaikan dengan kompleksitas Perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektifitas dalam pengambilan keputusan. Bagi perusahaan yang sahamnya
tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang
menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau
jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai
dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, Komite Audit diketuai oleh
Komisaris Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau
pelaku profesi dari luar perusahaan. Salah seorang anggota memiliki latar
belakang dan kemampuan akuntasi dan atau keuangan.
Komite Audit harus terdiri dari individu-indidvidu yang mandiri dan tidak
terlibat dengan tugas sehari-hari dari manajemen yang mengelola perusahaan, dan
memiliki pengalaman untuk melasanakan fungsi pengawasan secara efektif. Salah
satu dari beberapa alasan utama kemandirian ini adalah untuk memelihara
integritas serta pandangan yang objektif dalam laporan serta penyusunan
rekomendasi yang diajukan oleh Komite Audit, karena individu yang mandiri
cenderung lebih adil dan tidak memihak serta obyektif dalam menangani suatu
permasalahan (FCGI,2002). Komite Audit akan bertanggung jawab langsung
kepada Dewan Komisaris. Dengan demikian, apabila fungsi dan tanggung jawab
Komite Audit dapat dilaksanakan dengan baik, maka hal ini akan mendorong
terwujudnya prinsip-prinsip GCG yang akan mendorong perusahan untuk selalu
bertanggung jawab kepada kepentingan seluruh stakeholders.
35
2.3.2 Perkembangan GCG di Indonesia
Terdapat beberapa alasan yang mendorong munculnya GCG sehingga
menarik perhatian dunia dan mendorong desakan untuk mengimplementasikan
GCG (Becht et.al., 2002) dalam Solihin, 2009) antara lain: (1) Munculnya
gelombang privatisasi di Seluruh dunia; (2) Terjadinya reformasi dana pensiun;
(3) Adanya merger dan pengambilalihan perusahanan; (4) Adanya deregulasi dan
integrasi pasar modal; (5) Krisis ekonomi Asia Timur, Rusia, dan Brasil;
(6) Berbagai skandal yang menimpa perusahaan besar.
Perkembangan GCG di Indonesia terpengaruh oleh kejadian-kejadian
tersebut di atas, karena Indonesia merupakan bagian dari perekonomian dunia.
Krisis ekonomi di Asia Timur merupakan faktor utama terjadinya krisis di
Indonesia. Kajian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) dikutip
dari Kaihatu, (2006) menunjukkan beberapa faktor yang memberi kontribusi pada
krisis di Indonesia. Pertama, konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi;
kedua, tidak efektifnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris, ketiga; inefisiensi
dan rendahnya transparansi mengenai prosedur pengendalian merger dan akuisisi
perusahaan; keempat, terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal;
dan kelima, ketidak memadainya pengawasan oleh para kreditor.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan sebuah sistem tata
kelola perusahanan yang baik. Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh
pemangku kepentingan dari sektor swasta turut berpartisipasi bersama pemerintah
dan
lembaga-lembaga independen berhasil membentuk suatu sistem untuk
mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik agar Indonesia terbebas dari krisis
36
(Kaihatu, 2006). Pada tahun 1999, Komite Nasional Kebijakan Corporate
Governance (KNKCG) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menko Ekuin
Nomor:
KEP/31/M.EKUIN/08/1999
telah
mengeluarkan
Pedoman
Good
Corporate Governance (GCG) yang pertama. Pedoman tersebut telah beberapa
kali disempurnakan, terakhir pada tahun 2001. Saat ini KNKCG telah diganti
dengan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) melalui Surat
Keputusan Menko Bidang Perekonomian Nomor: KEP/49/M.EKON/11/2004.
Selain itu, penerapan GCG didukung juga oleh sektor swasta melaui
mekanisme pasar modal seperti PT. BEI dan Bapepam-LK mengeluarkan
regulasi-regulasi guna mendukung implementasi GCG di Indonesia (Taridi,
2009):
a) Pada tahun 2000, Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia)
memberlakukan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor Kep315/BEJ/06/2000 perihal Peraturan Pencatatan Efek Nomor I-A yang
antara
lain
mengatur
tentang
kewajiban
mempunyai
Komisaris
Independen, Komite Audit, memberikan peran aktif Sekretaris Perusahaan
di dalam memenuhi kewajiban keterbukaan informasi serta mewajibkan
perusahaan tercatat untuk menyampaikan informasi yang material dan
relevan.
b) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-63/PM/1996 yang kemudian
dijelaskan dalam Peraturan Nomor IX.I.4 tentang pembentukan sekretaris
perusahaan.
37
c) Surat Edaran Ketua Bapepam-LK Nomor SE-03/PM/2000 tentang Komite
Audit yang berisi himbauan perlunya Komite Audit dimiliki oleh setiap
Emiten.
d) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-40/PM/2003 yang dijelaskan
dalam peraturan Nomor VIII.G.11 tentang Tanggung jawab direksi atas
laporan keuangan.
e) Surat Edaran Ketua Bapepam-LK Nomor SE-07/PM/2004 yang dijelaskan
dalam peraturan Nomor IX.I.5 tentang pembentukan dan pedoman
pelaksanaan kerja Komite Audit.
f)
Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-45/PM/2004 yang dijelaskan
dalam peraturan Nomor IX.I.6 tentang Direksi dan Komisaris pada emiten
dan perusahaan publik.
g) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-134/BL/2006 yang dijelaskan
dalam peraturan Nomor X.K.6 tentang kewajiban penyampaian Laporan
Tahunan bagi emiten dan perusahaan publik.
Selain dengan peraturan-peraturan tersebut, implemenasi GCG di
Indonesia
didukung
pendukung seperti
dengan
munculnya
organisasi-organisasi
independen
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI),
Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), Indonesian Institute for
Corporate Directorship (IICD). Dengan adanya lembaga-lembaga independen
tersebut, maka implementasi GCG di Indonesia diharapkan semakin berkembang
diikuti dengan kesadaran karena manfaat yang diperoleh oleh perusahaan.
38
2.4
Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang telah dilakukan di Indonesia berkaitan dengan
CSR antara lain oleh Sembiring (2005) berusaha meneliti beberapa faktor yang
mempengaruhi pengungkapan CSR pada perusahaan di Indonesia. Variabel
independen yang digunakan yaitu ukuran perusahaan, profil perusahaan, ukuran
dewan komisaris, profitabilitas, dan leverage perusahaan. Hasil dari penelitian ini
adalah berhasil membuktikan bahwa ukuran perusahaan, profil perusahaan, dan
ukuran Dewan Komisaris berpengaruh terhadap pengungkapan CSR pada
perusahaan di Indonesia.
Anggraini (2006) mengamati tingkat pengungkapan CSR dan menguji
faktor-faktor penentu yang digunakan perusahaan sebagai pertimbangan untuk
mengungkapkan CSR. Penelitian ini menggunakan kategori pelaporan kelestarian
perusahaan (corporate sustainability reporting) dari Darwin (2004), antara lain
kinerja lingkungan, kinerja ekonomi, dam kinerja sosial dengan mengambil data
penelitian dari semua sektor perusahaan yang listing di BEI tahun 2000-2004.
Penelitian ini menggunakan lima variabel yang dapat dipertimbangkan, yaitu
faktor
kepemilikan
manajemen,
hutang,
ukuran,
tipe
perusahaan,
dan
profitabilitas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan
manajemen dan jenis industri menjadi bahan pertimbangan oleh perusahaan untuk
mengungkapkan CSR.
Rosmasita
sebelumnya
(2007)
dengan
berusaha
melakukan
mempersempit
penelitian
objek
mengenai
dari
penelitian
faktor-faktor
yang
mempengaruhi pengungkapan CSR suatu perusahaan dalam hal ini hanya pada
39
perusahaan manufaktur. Faktor-faktor tersebut diproksikan dalam kepemilikan
manajemen, leverage, ukuran perusahaan, dan profitabilitas. Sampel yang
digunakan adalah 113 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 20042005. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: (1) pengujian
secara simultan menemukan adanya pengaruh yang signifikan antara faktor-faktor
perusahaan terhadap pengungkapan CSR perusahaan, (2) variabel kepemilikan
manajemen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan sosial.
Amran dan Devi (2008) mencoba menyelidiki mengenai pengaruh
pemerintah dan afiliasi dengan pihak asing, terutama perusahaan multinasional,
dengan perkembangan corporate social reporting (CSR) dalam ekonomi. Amran
dan Devi melakukan studi content analysis pada laporan tahunan perusahaan
publik
yang terdaftar di Bursa Malaysia pada periode 2002/2003. Namun
penelitian ini hanya meneliti pengaruh kepemilikan dari segi pengaruh pemerintah
dan afiliasi asing terhadap pengungkapan tanggung jawab sosisal perusahaan.
Penelitian ini mengungkapkan kebenaran bahwa pemerintah berpengaruh terhadap
perkembangan CSR di Malaysia, sedangkan afiliasi dengan pihak asing tidak
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan CSR di Malaysia.
Machmud dan Djakman (2008) mengadakan penelitian untuk menyelidiki
pengaruh kepemilikan asing dan kepemilikan institutional sebagai pertimbangan
perusahaan dalam pengungkapkan CSR pada laporan tahunan 2006. Sampel
penelitian ini terdiri dari 107 perusahaan yang terdaftar pada BEI tahun 2006.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan asing tidak memiliki
40
pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR, dan kepemilikan institutional
juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2009) menggunakan populasi
penelitian perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 dan 2007 dengan
total sampel 86 perusahaan. Penelitian tersebut berusaha menagnalisis faktor
karakteristik perusahaan yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab
sosial perusahaan pada laporan tahunan. Hasil penelitian ini mengungkapkan
bahwa faktor kepemilikan saham asing, kepemilikan saham publik, ukuran
industri dan tipe industri berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR di
Indonesia, sedangkan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan
CSR di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Said et.al. (2009), berusaha meneliti
hubungan antara CSR dan karakteristik Corporate Governance pada perusahaan
yang listed di Bursa Malaysia. Said et. al. menggunakan karakteristik corporate
governance yaitu board size, independen non-executive director, CEO duality,
audit committee, ownership concentration, managerial ownership, foreign
ownership, dan government shareholding. Penelitian ini menggunakan dasar
analisis regresi dan berhasil menemukan hanya dua variabel yang berpengaruh
terhadap luas pengungkapan CSR di Malaysia yaitu kepemilikan saham oleh
pemerintah (government Shareholding) dan komite audit.
41
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No
1.
Peneliti
(Tahun)
Sembiring
(2005)
Tujuan
Meneliti
beberapa
faktor yang
mempengaruhi
pengungkapan
CSR pada
Perusahaan di
Indonesia
Metode
Analisis
Regresi
Berganda
Regresi
Berganda
2.
Anggraini
(2006)
Meneliti luas
pengungkapan
CSR dan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
nya
3.
Rosmasita
(2007)
Regresi
Mengetahui
Berganda
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
pengungkapan
sosial
suatu
perusahaan.
4.
Menginvestiga
Amran
dan Devi si pengaruh
pemerintah
(2008)
dan afiliasi
asing terhadap
pengungkapan
Regresi
Berganda
Variabel
Hasil Penelitian
• Independen:
Size,
profitabilitas,
Profile
perusahaan,
ukuran
dewan
komisaris
dan leverage
• Dependen:
CSR
Disclosure
• Independen :
kepemilikan
manajemen,
leverage,
ukuran
perusahaan,
tipe industri,
profitabilitas
• Dependen :
CSR
disclosure
• Independen :
kepemilikan
manajemen,
tingkat
leverage,
ukuran
perusahaan,
dan
profitabilitas
• Dependen :
pngungkapan
sosial
Ukuran perusahaan,
profil perusahaan dan
Ukuran Dewa Komisaris
berpengaruh signifikan
positif terhadap luas
pengungkpan CSR,
sedangkan variabel
profitabilitas dan
leverage tidak
menunjukkan
hubungannya dengan
pengungkapan CSR.
Hasil penelitian
Anggraini menunjukkan
bahwa hampir semua
perusahaan
mengungkapkan kinerja
ekonomi. Kepemilikan
manajemen dan tipe
industri menjadi bahan
pertimbangan untuk
pengungkapkan CSR.
(1) Pengujian secara
simultan menemukan
adanya penaruh yang
signifikan antara faktorfaktor perusahaan
terhadap pengungkapan
CSR perusahaan, (2)
variabel kepemilikan
manajemen mempunyai
pengaruh yang signifikan
terhadap pengungkapan
sosial
• Independen :
foreign
shareholders,
government
shareholding,
dependence
Pemerintah berpengaruh
terhadap perkembangan
CSR di Malaysia,
sedangkan afiliasi
dengan pihak asing tidak
menunjukkan pengaruh
42
CSR pada
perusahahaan
publik
Malaysia
5.
6.
7.
Meneliti
kepemilikan
asing dan
institusional
yang dianggap
berpengaruh
terhadap
pengungkapan
CSR
Puspitasari Meneliti faktor
(2009)
-faktor yang
mempengaruhi
pengungkapan
CSR pada
laporan
tahunan
Machmud
dan
Djakman
(2008)
Said et al
(2009)
Meneliti
hubungan
karakterraktik
corporate
governance
dengan
pengungkapan
CSR.
Regresi
Berganda
on
government,
dependence
on foreign
partner,
industry,
size,
profitability
• Dependen :
CSR
• Independen :
kepemilikan
asing.
kepemilikan
institusiona
• Dependen:
pengungkapa
CSR
Regresi
Berganda
• Independen :
kepemilikan
asing,
kepemilikan
saham
publik,
ukuran
industri, tipe
industri,
profitabilita
• Dependen :
CSR
disclosure
Regresi
Berganda
• Independen :
board size,
board
independnce,
duality, audit
committee,
managerial ,
foreign,
government
ownership
• Dependen:
CSR
disclosure
yang signifikan terhadap
perkembangan CSR di
Malaysia
Kedua struktur
kepemilikan (asing dan
institusional) tidak
berpengaruh terhadap
luas pengungkapan CSR
di Indonesia
Hasil penemuan
menyebutkan bahwa
Faktor kepemilikan
saham asing,
kepemilikan saham
publik, ukuran industri
dan tipe industry
berpengaruh signifikan
terhadap pengungkapan
CSR di Indonesia,
sedangkan profitabilitas
tidak berpengaruh
terhadap pengungkapan
CSR di Indonesia.
Government ownership
dan audit committee
berpengaruh positif
signifikan terhadap luas
pengungkapan CSR pada
perusahaan publik di
Malaysia
43
2.5
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan tinjauan pustaka serta beberapa penelitian terdahulu, maka
peneliti mengindikasikan faktor good corporate governance dalam hal ini dilihat
dari Ukuran Dewan Komisaris, Jumlah rapat Dewan Komisaris, Independensi
Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Jumlah rapat Komite Audit,
Kompetensi Komite Audit, Kepemilikan saham manajerial, Kepemilikan saham
institusional, Kepemlikan saham Asing, dan Kepemilikan saham terkonsentrasi
sebagai variabel independen penelitian serta Ukuran dan Leverage perusahaan
sebagai variabel kontrol yang mempengaruhi luas pengungkapan CSR.
Untuk membantu dalam memahami dinamika struktur kepemilikan saham
yang mempengaruhi luas pengungkapan CSR diperlukan suatu kerangka
pemikiran. Dari landasan teori yang telah diuraikan di atas, disusun hipotesis yang
merupakan alur pikiran dari peneliti, kemudian digambarkan dalam kerangka
teoritis yang disusun sebagai berikut:
44
Gambar 2.3
Skema Kerangka Pemikiran
Variabel Independen
Variabel Dependen
Ukuran
Dewan Komisaris
Jumlah Rapat
Dewan Komisaris
(+)
(+)
Independensi
Dewan Komisaris
Ukuran
Komite Audit
Jumlah Rapat
Komite Audit
Kompetensi
Komite Audit
Kepemilikan Saham
Manajerial
Kepemilikan Saham
Institusional
(+)
(+)
(+)
(+)
Luas pengungkapan
Corporate Social
Responsibility
(+)
(+)
(+)
(+)
Kepemilikan Saham
Asing
Kepemilikan Saham
Terkonsentrasi
(+)
(-)
Size
Var. Independen
Leverage
Var. Kontrol
45
2.6
Pengembangan Hipotesis
2.6.1 Hubungan Ukuran Dewan Komisaris dengan Pengungkapan CSR
Dewan Komisaris merupakan suatu mekanisme untuk mengawasi dan
untuk memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan atau pihak
manajemen. Dalam hal ini, manajemen bertanggung jawab untuk meningkatkan
efisiensi dan daya saing perusahaan, sedangkan Dewan Komisaris bertanggung
jawab untuk mengawasi manajemen (FCGI, 2002).
Berdasarkan teori agensi, Dewan Komisaris dianggap sebagai mekanisme
pengendalian intern tertinggi, yang bertanggung jawab untuk memonitor tindakan
manajemen. Melalui peran monitoring oleh Dewan Komisaris, perusahaan dapat
berjalan
sesuai
dengan
peraturan
yang
berlaku
dan
dapat
terjamin
kelangsungannya (Sulastini, 2007). Dengan demikian, dikaitkan dengan
pengungkapan informasi oleh perusahaan, semakin
besar ukuran Dewan
Komisaris, maka komposisi pengalaman dan keahlian (experience and expertise)
yang dimiliki oleh Dewan Komisaris semakin meningkat, sehingga dapat
melakukan aktivitas monitoring dengan lebih baik (Akhtaruddin, et. al., 2009).
Dengan proses monitoring yang baik, maka diharapkan pengungkapan informasi
sosial
(CSR)
semakin
luas,
dikarenakan
kemungkinan
manajer
untuk
menyembunyikan informasi dapat dikurangi.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara ukuran
Dewan Komisaris dengan tingkat pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan.
Hasil penelitian Sembiring (2005) dan Sulastini (2007) menemukan adanya
hubungan positif yang signifikan antara ukuran Dewan Komisaris dengan
46
pengungkapan CSR di Indonesia. Hal ini berarti bahwa semakin banyak jumlah
anggota Dewan Komisaris dalam suatu perusahaan, maka monitoring akan
berjalan dengan baik dan pengungkapan tanggung jawab sosial yang dibuat
perusahaan akan semakin luas. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang
diajukan oleh peneliti sebagai berikut:
H1 = Ukuran Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.2 Hubungan Jumlah Rapat Dewan Komisaris dengan Pengungkapan
CSR
Menurut Egon Zehnder dikutip dalam Booklet FCGI (2002) menyatakan
bahwa, Dewan Komisaris merupakan inti dari Corporate Governance
yang
ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi
manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya
akuntabilitas.
Dalam
rangka
menjalankan
tugasnya,
Dewan
Komisaris
mengadakan rapat-rapat rutin untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang
diambil oleh Dewan Direksi dan implementasinya.
Rapat Dewan Komisaris merupakan suatu proses yang dilakukan oleh
Dewan Komisaris dalam pengambilan suatu keputusan mengenai kebijakan
perusahaan. Dalam Rapat Dewan Komisaris (board process) terdapat beberapa
suara yang akan diambil menjadi satu keputusan bulat dengan musyawarah
mufakat. Proses pengambilan keputusan ini merupakan hal yang penting dalam
menetukan
efektivitas
Dewan
Komisaris
dalam
melakukan
mekanisme
47
pengawasan dan pengendalian (Muntoro, 2006). Rapat Dewan Komisaris
merupakan media komunikasi dan koordinasi diantara anggota-anggota Dewan
Komisaris dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas menejemen. Dalam
rapat tersebut akan membahas masalah mengenai arah dan strategi perusahaan,
evaluasi kebijakan yang telah diambil atau dilakukan oleh manajemen, mengatasi
masalah benturan kepentingan (FCGI, 2002). Oleh karena itu, dengan semakin
sering Dewan Komisaris mengadakan pertemuan, diharapkan mekanisme
pengawasan perusahan dapat dilakukan dengan baik.
Penelitian Xie et.al (2003) dalam Widowati (2009) menemukan bahwa
semakin sering Dewan Komisaris bertemu atau mengadakan rapat, maka akrual
kelolaan perusahaan semakin kecil. Hal ini berarti Semakin sering Dewan
Komisaris mengadakan rapat maka fungsi pengawasan terhadap manajemen
menjadi semakin efektif. Dengan demikian diharapkan dengan semakin efektifnya
fungsi pengawasan, maka pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan juga
akan semakin luas. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang disusun
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H2 = Jumlah rapat Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap
luas pengungkapan CSR
2.6.3 Hubungan Independensi Dewan Komisaris dengan Pengungkapan
CSR
Keberadaan Komisaris Independen telah diatur Bursa Efek Jakarta melalui
peraturan BEJ tanggal 1 Juli 2000. Dikemukakan bahwa perusahaan yang
48
terdaftar di BEJ harus mempunyai Komisaris Independen yang secara
proporsional sama dengan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham yang
minoritas (bukan controlling shareholders). Dalam peraturan ini, persyaratan
jumlah minimal Komisaris Independen adalah 30% dari seluruh anggota Dewan
Komisaris.
Penelitian Agrawal dan Knoeber (1996); Baysinger dan Butler (1985)
dalam Rahman dan Ali (2006) menemukan bahwa dengan adanya Dewan
Komisaris Independen, pengelolaan perusahaan lebih efektif dan dapat
meningkatkan kinerja perusahaan. Apabila jumlah Komisaris Independen semakin
besar atau dominan, hal ini dapat memberikan power kepada Dewan Komisaris
untuk menekan manajemen untuk meningkatkan kualitas pengungkapan
perusahaan (Haniffa dan Cooke, 2002).
Komisaris Independen diperlukan untuk meningkatkan independensi
Dewan Komisaris terhadap kepentingan pemegang saham (mayoritas) dan benarbenar menempatkan kepentingan perusahaan diatas kepentingan lainnya
(Muntoro, 2006). Dengan demikian, semakin besar komposisi Independensi
Dewan Komisaris, maka kemampuan Dewan Komisaris untuk mengambil
keputusan dalam rangka melindungi seluruh pemangku kepentingan dan
mengutamakan perusahaan semakin objektif. Dengan kata lain, semakin besar
komposisi Komisaris Independen, maka Dewan Komisaris dapat bertindak
semakin objektif dan mampu melindungi seluruh pemangku kepentingan. Dengan
demikian hal ini mendorong pengungkapan CSR secara lebih luas.
49
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
H3 = Independensi Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap
luas pengungkapan CSR
2.6.4 Hubungan Ukuran Komite Audit dengan Pengungkapan CSR
Dalam Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-29/PM/2004 yang termuat
dalam peraturan Nomor IX.I.5 disebutkan bahwa Komite Audit yang dimiliki oleh
perusahaan minimal terdiri dari tiga orang, dimana sekurang-kurangnya 1 (satu)
orang berasal dari Komisaris Independen dan 2 (dua) orang anggota lainnya
berasal dari luar emiten atau perusahaan publik. Jumlah anggota Komite Audit
harus disesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektifitas dalam pengambilan keputusan.
Keberadaan Komite Audit dapat mempengaruhi pengungkapan yang
dilakukan perusahaan secara signifikan (Ho dan Wong, 2001 dalam Akhtaruddin
et.al., 2009). Komite Audit merupakan komite yang bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam melakukan mekanisme pengawasan terhadap manajemen.
Menurut Forker (1992) dalam Said et. al. (2009), Komite Audit dianggap sebagai
alat yang efektif untuk melakukan mekanisme pengawasan, sehingga dapat
mengurangi biaya agensi dan meningkatkan kualitas pengungkapan informasi
perusahaan.
50
Collier (1993) dalam Nasir dan Abdulllah (2004) menyatakan bahwa
keberadaan
Komite Audit membantu menjamin pengungkapan dan sistem
pengendalian akan berjalan dengan baik. Dengan demikian, diharapkan dengan
ukuran Komite Audit yang semakin besar, maka pengawasan yang dilakukan akan
semakin baik dan kualitas pengungkapan informasi sosial yang dilakukan
perusahaan semakin meningkat atau semakin luas. Berdasarkan penjelasan di atas
maka penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut:
H4 = Ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.5 Hubungan Jumlah Rapat Komite Audit dengan Pengungkapan CSR
Berdasarkan keputusan ketua Bapepam Nomor Kep-24/PM/2004 dalam
peraturan Nomor IX.I.5 disebutkan bahwa Komite Audit mengadakan rapat
sekurang-kurangnya sama dengan ketentuan minimal rapat Dewan Komisaris
yang ditetapkan dalam Anggaran dasar perusahaan. Dalam menjalankan tugasnya
Komite Audit melakukan rapat atau pertemuan untuk melakukan koordinasi agar
dapat menjalankan tugas secara efektif dalam hal pengawasan laporan keuangan,
pengendalian internal, dan pelaksanaan GCG perusahaan. Dengan semakin sering
mengadakan pertemuan, maka diharapkan koordinasi Komite Audit semakin baik
dan dapat menjalankan tugasnya secara efektif.
Penelitian Putri (2009) yang menemukan adanya hubungan antara jumlah
pertemuan Komite Audit yang berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan
informasi laba perusahaan. Hal ini berarti, semakin sering komite audit
51
mengadakan pertemuan maka pengungkapan informasi laba perusahaan semakin
transparan. Dengan demikian, dengan lebih seringnya terjadi rapat atau pertemuan
komite audit maka dapat menambah keefektifan pengawasan manajemen,
penerapan prinsip-prinsip GCG oleh perusahaan dan dapat mendukung
peningkatan pengungkapan CSR. Berdasarkan asumsi tersebut, maka hipotesis
yang diajukan adalah sebagai berikut:
H5 = Jumlah rapat Komite Audit berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.6 Hubungan Kompetensi Komite Audit dengan Pengungkapan CSR
Dalam menjalankan perannya membantu Dewan Komisaris melakukan
mekanisme pengawasan laporan keuangan, pengendalian internal, pelaksanaan
GCG, maka anggota Komite Audit harus mempunyai kompetensi di bidang
keuangan dan atau akuntansi (financial literacy). Komite Audit berperan sebagai
alat untuk me-rivew perusahaan dalam proses pengungkapan data keuangan dan
proeses pengendalian internal. Dengan demikian, keberadaan Komite Audit
dengan kompetensi yang dimilikinya akan dapat meningkatkan kualitas laporan
keuangan.
Menurut Forker (1992) dalam Said et. al. (2009), dalam keberadaan
Komite Audit dapat mengurangi biaya agensi dan meningkatkan pengendalian
internal sehingga dapat meningkatkan kualitas pelaporan. Penelitian Felo et. al.
(2003) dalam Rahman dan Ali (2006) menemukan bahwa persentase anggota
Komite Audit yang memiliki kompetensi dan keahlian di bidang akuntansi atau
52
keuangan berhubungan positif dengan kualitas pelaporan keuangan. Komite audit
yang memiliki pengetahuan dan keahlian terkait proses penyusunan laporan
keuangan dan audit internal sangat mungkin membatasi tindakan oportunistik
yang dilakukan pihak manajemen. Hal ini berarti Komite Audit dapat
mempengaruhi kualitas pelaporan perusahaan, termasuk laporan pengungkapan
CSR-nya. Berdasarkan asumsi tersebut, maka peneliti mengajukan
hipotesis
sebagai berikut:
H6 = Kompetensi Komite Audit berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.7 Hubungan Kepemilikan Saham Manajerial dengan Pengungkapan
CSR
Dalam mekanisme pelaksanaan GCG, kepemilikan manajerial digunakan
sebagai suatu upaya untuk mengurangi konflik agensi atau konflik kepentingan
antara manajer dan pemilik (Said et. al., 2009). Dengan kepemilikan manajerial,
maka manajemen akan secara aktif ikut serta dalam pengambilan keputusan.
Semakin besar kepemilikan manajerial
di dalam perusahaan maka semakin
produktif tindakan manajer dalam memaksimalkan nilai perusahaan, dengan kata
lain biaya kontrak dan pengawasan menjadi rendah.
Selain itu, dengan Kepemilikan manajerial maka tindakan oportunis
manajer untuk memaksimalkan kepentingan pribadi akan berkurang. Manajer
perusahaan akan mengambil keputusan sesuai dengan kepentingan perusahaan
yaitu dengan cara mengungkapkan informasi sosial yang seluas-luasnya dalam
53
rangka untuk meningkatkan image perusahaan, meskipun manajer harus
melakukan pengorbanan sumber dayanya untuk melakukan aktivitas tersebut
(Gray, et al. 1988 dalam Anggraini, 2006).
Penelitian Nasir dan Abdullah (2004) yang menunjukkan hasil signifikan
positif dalam hubungan antara kepemilikan saham manajerial berpengaruh
terhadap luas pengungkapan CSR. Konsisten dengan hal itu, penelitian oleh
Anggraini (2006) dan Rosmasita (2007) menemukan bahwa kepemilikan saham
manajerial berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR di Indonesia.
Berdasarkan asumsi tersebut, maka peneliti mengajukan
hipotesis sebagai
berikut:
H7 = Kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap
luas
pengungkapan CSR
2.6.8 Hubungan Kepemilikan Saham Institusional dengan Pengungkapan
CSR
Menururt Mursalim (2007) kepemilikan institusional dapat dijadikan
upaya mengurangi masalah agensi melalui proses monitoring. Bathala, et.al
(1994) dalam Mursalim (2007) menyatakan bahwa investor institusional
merupakan pengawas dalam pasar modal, karena memiliki saham perusahaan
cukup besar. Disamping itu, pemegang saham institusional memiliki opportunity,
resources dan expertise menganalisis kinerja dan tindakan manajemen (Chung,
Firth dan Kim, 2005 dalam Mursalim, 2007). Investor institusional sebagai
pemilik sangat berkepentingan untuk membangun reputasi perusahaan.
54
Menurut Machmud dan Djakman (2008), perusahaan dengan kepemilikan
institusional yang besar akan lebih mampu
untuk memonitor manajemen.
Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan
aktiva perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai pencegahan
terhadap pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Menurut Herawaty (2008),
Investor institusional yang sering disebut sebagai investor yang canggih
(sophisticated) sehingga tidak mudah untuk dicurangi manajer. Hal ini berarti
dengan jumlah kepemilikan yang cukup signifikan akan dapat memonitor
manajemen sehingga dapat mengurangi masalah keagenan tersebut.
Penelitian Trabelsi et.al. (2005) dan Ajinkya et. al. (2005) dalam Matoussi
dan Chakroun (2008), menemukan bahwa kepemilikan Institusional dapat
meningkatkan kualitas dan kuantitas pengungkapan sukarela. Menurut Summa
dan Ben Ali (2006) dalam Matoussi dan Chakroun (2008), Investor institusional
memiliki power dan experience untuk bertanggung jawab dalam menerapkan
prinsip corporate governance untuk melindungi hak dan kepentingan seluruh
pemegang saham, sehingga mereka menuntut perusahaan untuk melakukan
komunikasi secara transparan. Hal ini berarti, dengan kepemilikan institusional
yang besar dapat mendorong meningkatkan luas pengungkapan CSR yang
dilakukan oleh perusahaan. Berdasarkan asumsi tersebut, penelitian ini
mengajukan hipotesis sebagai berikut:
H8 = Kepemilikan saham institusional berpengaruh positif terhadap
luas pengungkapan CSR
55
2.6.9 Hubungan Kepemilikan Saham Asing dengan Pengungkapan CSR
Perusahaan dengan kepemilikan saham asing biasanya lebih sering
menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan alasan hambatan geografis
dan bahasa (space and language). Oleh karena itu, perusahaan dengan
kepemilikan saham asing yang besar akan terdorong untuk melaporkan atau
mengungkapkan informasinya secara sukarela dan lebih luas (Xiao et al., 2004
dalam Huafang dan Jianguo, 2007).
Selain itu, perusahaan yang memiliki kontrak dengan investor asing
diduga akan lebih concern terhadap praktik dan pengungkapan tanggung jawab
sosial (CSR). Menurut Susanto (1992) dalam Puspitasari (2009), perusahaan yang
memiliki kepemilikan saham asing cenderung memberikan pengungkapan yang
lebih luas dibandingkan yang tidak, dikarenakan beberapa alasan antara lain:
Pertama, perusahaan asing terutama dari Eropa dan Amerika lebih lama mengenal
konsep praktik dan pengungkapan CSR. Kedua adalah perusahaan asing
mendapatkan pelatihan yang lebih baik dalam bidang akuntansi dari perusahaan
induk di luar negeri. Ketiga, perusahaan tersebut mungkin mempunyai sistem
informasi yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan internal dan kebutuhan
perusahaan induk. Keempat, kemungkinan permintaan yang lebih besar pada
perusahaan berbasis asing dari pelanggan, pemasok dan masyarakat umum.
Penelitian Tanimoto dan Suzuki (2005) dalam Machmud dan Djakman
(2008) dalam melihat luas adopsi GRI (Global Reporting Initiative) dalam laporan
tanggung jawab sosial pada perusahaan publik di Jepang, membuktikan bahwa
kepemilikan saham asing pada perusahaan publik di Jepang menjadi faktor
56
pendorong terhadap adopsi GRI dalam pengungkapan CSR. Penelitian lain yang
dilakukan Abdul Samad (2002) dan Haniffa dan Cooke (2005) dalam Said et.al
(2009) juga menemukan hasil yang signifikan antara pengaruh kepemilikan saham
asing (foreign ownership) dengan pengungkapan CSR. Berdasarkan uraian
tersebut di atas, maka penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut:
H9 = Kepemilikan saham asing berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.10 Hubungan
Kepemilikan
Saham
Terkonsentrasi
dengan
Pengungkapan CSR
Struktur kepemilikan saham
mencerminkan distribusi kekuasaan dan
pengaruh di antara pemegang saham atas kegiatan operasional perusahaan. Salah
satu karakteristik struktur kepemilikan adalah konsentrasi kepemilikan yang
terbagi dalam dua bentuk struktur kepemilikan: kepemilikan terkonsentrasi, dan
kepemilikan menyebar (Nuryaman, 2008).
Kepemilikan saham dikatakan
terkonsentrasi jika sebagian besar saham dimiliki oleh sebagian kecil individu
atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang
relatif dominan dibandingkan dengan lainnya.
Menurut Yu dan Shao (2007) struktur kepemilikan yang terkonsentrasi
merupakan cara efektif untuk menurunkan biaya agensi dan melakukan proses
monitoring dengan baik. Dengan kepemilikan saham yang terkonsentrsai, maka
pemegang saham dapat mengimbangi informasi yang dimiliki oleh manajer,
dengan kata lain proses monitoring dari pihak pemegang saham terhadap
57
manajemen dapat berjalan dengan baik dan tindakan oportunis manajemen untuk
menyembunyikan informasi akan berkurang. Dengan demikian dapat mendorong
pengungkapan CSR untuk dilakukan dengan lebih luas. Berdasarkan uraian
tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
H10 = Kepemilikan saham terkonsentrasi berpengaruh positif
terhadap luas pengungkapan CSR
2.6.11 Hubungan Ukuran Perusahaan (Size) dengan Pengungkapan CSR
Ukuran perusahaan (firm’s size) merupakan variabel yang banyak
digunakan untuk menjelaskan pengungkapan pertanggungjawaban sosial dalam
laporan tahunan. Belkaoui dan Karpik (1989), Hackston dan Milne (1996),
Sembiring (2005), Rosmasita (2007), Machmud dan Djakman (2008), dan
Puspitasari (2009) menemukan hasil bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh
signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial. Dalam kerangka
teori agensi, apabila ukuran perusahaan lebih besar, maka biaya keagenan yang
dikeluarkan juga lebih besar, sehingga untuk
mengurangi biaya keagenan
tersebut, perusahaan akan cenderung mengungkapkan informasi yang lebih luas.
Di samping itu, perusahaan yang lebih besar akan mendapat sorotan yang lebih
banyak dari masyarakat. Oleh karena itu, pengungkapan yang lebih besar
merupakan cara untuk mengurangi biaya politis sebagai wujud tanggung jawab
sosial perusahaan (Sembiring, 2005).
58
Menurut Cowen et. al., (1987) dalam Sembiring (2005), secara teoritis
perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan. Perusahaan yang lebih besar
mempunyai aktivitas operasi yang lebih banyak dan memberikan pengaruh yang
lebih besar terhadap masyarakat, serta mungkin akan memiliki pemegang saham
yang lebih banyak yang akan selalu memperhatikan program sosial yang dibuat
perusahaan sehingga pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan
semakin luas. Berdasarkan asumsi tersebut diatas, maka hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:
H11 = Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR
2.6.12 Hubungan Rasio Leverage Perusahaan dengan Pengungkapan CSR
Rasio leverage perusahaan menggambarkan berapa kelebihan kewenangan
yang dimiliki oleh debtholders dibandingkan dengan kewenangan shareholders.
Ketergantungan perusahaan terhadap hutang dalam membiayai kegiatan
operasinya tercermin dalam tingkat leverage. Dengan demikian, Leverage ini juga
mencerminkan tingkat resiko keuangan perusahaan. Berdasarkan teori agensi,
tingkat leverage mempunyai pengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggung
jawab sosial (Sembiring, 2005). Menurut Belkaoui & Karpik (1989), semakin
tinggi tingkat leverage (rasio utang/ekuitas) semakin besar kemungkinan
perusahaan akan melanggar perjanjian kredit, sehingga perusahaan akan berusaha
untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi yang dapat dilakukan dengan cara
mengurangi biaya-biaya, termasuk biaya untuk mengungkapkan informasi sosial.
59
Hasil penelitian Belkaoui & Karpik (1989) dan Waryanti (2009)
menemukan bahwa faktor tingkat leverage perusahaan berpengaruh secara negatif
terhadap luas pengungkapan sosial perusahaan. Belkaoui dan Karpik (1989)
menjelaskan bahwa keputusan untuk mengungkapkan informasi sosial akan
mengikuti suatu pengeluaran untuk pengungkapan yang menurunkan pendapatan.
Sesuai dengan teori agensi maka manajemen perusahaan dengan tingkat leverage
yang tinggi akan mengurangi pengungkapan tanggung jawab sosial yang
dibuatnya agar tidak menjadi sorotan dari para debtholder. Berdasarkan uraian
diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H12 = Rasio Leverage perusahaan berpengaruh negatif terhadap luas
pengungkapan CSR
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
3.1.1 Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat pengungkapan CSR
pada Laporan Tahunan perusahaan yang dinyatakan dalam Corporate Social
Responsibility Index (CSRI) yang akan dinilai dengan membandingkan jumlah
pengungkapan yang dilakukan perusahaan dengan jumlah pengungkapan yang
disyaratkan dalam GRI meliputi 79 item pengungkapan : economic, environment,
labour practices, human rights, society, dan product responsibility. Apabila item
informasi yang ditentukan diungkapkan dalam laporan tahunan maka diberi skor
1, dan jika item informasi tidak diungkapkan dalam laporan tahunan maka diberi
skor 0. Perhitungan Indeks Luas Pengungkapan CSR (CSRI) dirumuskan sebagai
berikut:
CSRI t = Jumlah item yang diungkapkan
79
( 3.1)
Pengukuran indeks pengungkapan CSR dilakukan metode analisis isi
(content analysis) yaitu suatu metode pengkodifikasian teks dengan ciri-ciri yang
sama ditulis dalam berbagai kelompok atau kategori berdasar pada kinerja yang
ditentukan
(Weber,
1988
dalam
Sembiring,
2005).
Pengukuran
luas
pengungkapan CSR dalam penelitian ini dilakukan secara non repeated artinya
hanya menghitung satu kali untuk tiap item tanpa mempertimbangkan item
59
60
tersebut diungkapkan lagi dalam halaman atau bagian lain dengan bahasa yang
berbeda.
Selain
itu,
pengukuran
dilakukan
dengan
melihat
item-item
pengungkapan yang termuat dalam laporan tahunan saja tanpa melihat dan
mengukur kembali luas pengungkapan yang dicantumkan dalam laporan yang
khusus seperti sustainability report, dikarenakan
tidak semua perusahaan
menerbitkan sustainability report tersebut.
3.1.2 Variabel Bebas (Independen)
3.1.2.1 Ukuran Dewan Komisaris
Ukuran Dewan Komisaris yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris dalam suatu perusahaan. Ukuran
Dewan Komisaris dihitung dengan menghitung jumlah anggota Dewan Komisaris
dalam suatu perusahaan yang disebutkan dalam laporan tahunan.
3.1.2.2 Jumlah rapat Dewan Komisaris
Jumlah rapat Dewan Komisaris merupakan jumlah pertemuan atau rapat
internal yang dilakukan oleh Dewan Komisaris dalam waktu satu tahun. Jumlah
rapat Dewan Komisaris diukur dengan cara melihat jumlah rapat yang dilakukan
Dewan Komisaris pada laporan tahunan perusahaan yang tercantum pada laporan
tata kelola perusahaan.
3.1.2.3 Independensi Dewan Komisaris
Komisaris independen merupakan anggota Dewan Komisaris yang tidak
berasal dari pihak terafiliasi. Independensi Dewan Komisaris yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah proporsi Komisaris Independen dalam suatu Dewan
61
Komisaris perusahaan. Independensi Dewan Komisaris diukur dengan rasio atau
(%) antara jumlah anggota Komisaris Independen dibandingkan dengan jumlah
total anggota Dewan Komisaris.
3.1.2.4 Ukuran Komite Audit
Ukuran Komite Audit merupakan jumlah anggota Komite Audit dalam
suatu perusahaan. Ukuran Komite Audit dihitung dengan menghitung jumlah
anggota Komite Audit dalam laporan tahunan perusahaan yang tercantum pada
laporan tata kelola perusahaan.
3.1.2.5 Jumlah rapat Komite Audit
Jumlah rapat Komite Audit merupakan jumlah pertemuan atau rapat yang
dilakukan oleh Komite Audit dalam waktu satu tahun. Jumlah rapat Komite Audit
diukur dengan cara melihat jumlah rapat yang dilakukan Komite Audit pada
laporan tahunan perusahaan yang tercantum pada laporan tata kelola perusahaan
maupun laporan Komite Audit.
3.1.2.6 Kompetensi Komite Audit
Kompetensi Komite Audit yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
kompetensi dalam bidang akuntansi atau keuangan (financial literacy).
Kompetensi ini harus dimiliki oleh anggota Komite Audit
dalam suatu
perusahaan agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Variabel ini diukur
dengan cara menghitung jumlah anggota Komite Audit yang mempunyai latar
belakang dan keahlian dalam bidang akuntansi dan atau keuangan.
62
3.1.2.7 Kepemilikan Saham Manajerial
Kepemilikan Saham Manajerial adalah tingkat kepemilikan saham pihak
manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan. Kepemilikan
manajerial diukur dengan menghitung persentsae (%) jumlah lembar saham yang
dimiliki oleh pihak manajemen yaitu manajer, komisaris terafiliasi (diluar
komisaris independen), dan direksi dibagi dengan total jumlah lembar saham yang
beredar.
3.1.2.8 Kepemilikan Saham Institusional
Kepemilikan Saham Institusional merupakan kepemilikan saham yang
dimiliki oleh investor institusional. Investor institusional mencakup bank, dana
pensiun, perusahaan asuransi, perseroan terbatas dan lembaga keuangan lainnya.
Kepemilkan Institusional dinyatakan dalam persentase (%) yang diukur dengan
cara membandingkan jumlah lembar saham yang dimiliki oleh investor
institusional dibagi dengan total jumlah lembar saham yang beredar.
3.1.2.9 Kepemilikan Saham Asing
Kepemilikan saham asing adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pihak
asing (luar negeri) baik oleh individu maupun lembaga terhadap saham
perusahaan di Indonesia. Besarnya saham diukur dari rasio (%) dari jumlah
kepemilikan saham yang dimiliki pihak asing terhadap total saham yang beredar.
Kepemilikan saham asing dalam penelitian ini menggunakan persentase rasio
kepemilikan saham asing.
63
3.1.2.10 Kepemilikan Saham Terkonsentrasi
Kepemilikan saham terkonsentrasi merupakan kepemilikan saham yang
sebagian besar saham dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok
tertentu. Kepemilikan saham dikatakan terkonsentrasi apabila dalam perusahaan
terdapat pemegang saham pengendali/utama, yaitu kepemilikan saham yang
besarnya lebih dari 50% hak suara pada suatu perusahaan. Kepemilikan saham
terkonsentrasi diukur dengan menggunakan variabel dummy, yaitu pemberian skor
1 untuk perusahaan yang mempunyai kepemilikan terkonsentrasi dan skor 0 untuk
perusahaan yang mempunyai kepemilikan saham menyebar.
3.1.3
Variabel Kontrol
3.1.3.1 Ukuran Perusahaan (Firm Size)
Ukuran perusahaan diukur berdasarkan total aset yang dimiliki oleh
perusahaan diperoleh dari laporan tahunan perusahaan. Ukuran perusahaan yang
diukur dari total aset akan ditransformasikan dalam bentuk logaritma dengan
tujuan untuk menyamakan dengan variabel lain, karena nilai total aset perusahaan
relatif lebih besar dibandingkan dengan variabel-variabel lain dalam penelitian
ini. Ukuran Perusahaan dirumuskan sebagai berikut:
SIZE = log (nilai buku total aset)
(3.2)
3.1.3.2 Leverage
Leverage yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketergantungan
perusahaan terhadap hutang dalam membiayai kegiatan operasinya. Hal ini
menggambarkan berapa tingkat kelebihan kewenangan yang dimiliki oleh
debtholders dibandingkan dengan kewenangan shareholders. Rasio leverage
64
diukur dengan membagi total utang dengan jumlah ekuitas perusahaan. Leverage
perusahaan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Total Debt
LEV =
x 100%
(3.3)
Equity
3.2
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar (listed) di
Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008. Penelitian ini menggunakan data laporan
tahunan
tahun 2008 dengan pertimbangan bahwa Undang-Undang Perseroan
Terbatas Nomor 40 tahun 2007 dan Undang-Undang Penanaman Modal No. 25
tahun 2007 yang didalamnya memuat kewajiban pelaksanaan dan pengungkapan
tanggung jawab sosial baru berlaku secara efektif pada akhir tahun 2007. Dengan
demikian, peneliti menggunakan laporan tahunan periode 2008 karena pada tahun
tersebut perusahaan dianggap telah mampu dan siap untuk melakukan
pengungkapan dan pelaporan tanggung jawab sosialnya dibandingkan dengan
tahun 2007.
Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah metode judgement sampling, yaitu salah satu bentuk purposive sampling
dengan mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan maksud
dan tujuan penelitian dengan kriteria sebagai berikut:
1.
Perusahaan menerbitkan dan mempublikasikan laporan tahunan
(annual report) periode 2008 secara lengkap.
2.
Laporan tahunan (annual report) yang diterbitkan perusahaan
memenuhi ketentuan Bapepam-LK.
65
3.
Memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang
digunakan dalam penelitian.
Sampel akan diambil dari total populasi perusahaan yang terdaftar di BEI
pada tahun 2008 adalah 407 perusahaan dari berbagai tipe industri. Sampel akan
diambil dari tiap-tiap industri dengan tujuan agar dapat mewakili tipe industri
perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia yang dapat dilihat dari data statistik
BEI.
3.3
Jenis dan Sumber data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder berupa
laporan tahunan atau annual report tersebut diperoleh dari situs resmi Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada (http://www.idx.co.id), data base pasar modal pojok BEI
Fakultas Ekonomi UNDIP Semarang, dan situs web resmi masing-masing
perusahaan.
3.4
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode
dokumentasi, yaitu penggunaan data yang berasal dari dokumen-dokumen yang
sudah ada. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan penelusuran dan pencatatan
informasi yang diperlukan
pada data sekunder berupa laporan tahunan
perusahaan periode 2008.
3.5
Metode Analisis Data
3.5.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik harus dilakukan dalam penelitian ini, untuk menguji
apakah data memenuhi asumsi klasik. Hal ini dilakukan untuk menghindari
66
terjadinya estimasi yang bias, mengingat tidak pada semua data dapat diterapkan
regresi. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji Normalitas, uji
Multikolonieritas, dan Uji Heteroskedastisitas.
3.5.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Dalam uji
normalitas ini ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal
atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik (Ghozali, 2009). Alat uji
yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan analisis grafik histogram dan
grafik normal probability plot dan uji statistik dengan Kolmogorov-Smirnov Z (1Sample K-S).
Dasar pengambilan keputusan dengan analisis grafik normal probability
plot adalah (Ghozali, 2009):
1.
Jika titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2.
Jika titik menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Dasar pengambilan keputusan uji statistik dengan Kolmogorov-Smirnov Z
(1-Sample K-S) adalah (Ghozali, 2009):
1.
Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05, maka H0 ditolak. Hal ini
berarti data residual terdistribusi tidak normal.
2.
Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05, maka H0 diterima. Hal ini
berarti data residual terdistribusi normal.
67
3.5.1.2 Uji Multikolineraritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2009). Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas, dapat dilihat dari nilai tolerance
dan lawannya variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan
setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang
tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang
rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cutoff
yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai
Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10.
3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain (Ghozali, 2009). Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan
lain
tetap,
maka
disebut
Homokedastisitas
dan
jika
berbeda
disebut
Heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau
tidak
terjadi
Heteroskedastisitas.
Untuk
mengetahui
heterokedastisitas pada penelitian ini diuji dengan melihat
ada
tidaknya
grafik scatterplot
antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dengan nilai residualnya
(SRESID). Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut (Ghozali, 2009) :
68
1.
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu
yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka
mengindikasikan telah terjadi heterokdastisitas.
2.
Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di
bawah angka ) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
3.5.2 Analisis Regresi Berganda
Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti
akan melakukan serangkaian tahap untuk menghitung dan mengolah data tersebut,
agar dapat mendukung hipotesis yang telah diajukan.
Adapun tahap-tahap penghitungan dan pengolahan data sebagai berikut:
1.
Menghitung karakteristik implementasi GCG perusahaan yang diproksikan
dalam Ukuran Dewan Komisaris, Jumlah rapat Dewan Komisaris,
Independensi Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Jumlah Rapat
Komite Audit, Kompetensi Komite Audit, Kepemilikan saham manajerial,
Kepemilikan saham institusional, Kepemilikan saham asing, dan
kepemilikan saham Terkonsentrasi.
2.
Menghitung indeks CSR yang diungkapkan perusahan dalam laporan
tahunan dengan memandingkan dengan standar GRI.
3.
Mengitung model Regresi.
Metode regresi linier berganda (multiple regression) dilakukan terhadap
model yang diajukan peneliti dengan menggunakan Software SPSS Versi 17.0
untuk memprediksi hubungan antara variabel independen dengan variabel
69
dependen. Hubungan antara karakteristik GCG dengan pengungkapan CSR
perusahaan, diukur dengan rumus sebagai berikut:
CSRIi
β
β UKOM
β KOMDIT
β SIZE
β RAKOM
β MANJ
β LEV
β INKOM
β INST
β UDIT
β ASING
β RADIT
β KONST
ε
(3.4)
Keterangan:
CSRIi
: Indeks pengungkapan CSR perusahaan i
UKOM
: Ukuran (jumlah) Dewan Komisaris
RAKOM
: Jumlah rapat Dewan Komisaris
INKOM
: Proporsi Dewan Komisaris Independen
UDIT
: Ukuran (jumlah) Komite Audit
RADIT
: Jumlah Rapat Komite Audit
KOMDIT
: Kompetensi Komite Audit
MANJ
: Persentase kepemilikan manajerial
INST
: Persentase kepemilikan institusional
ASING
: Persentase kepemilikan asing
KONST
: Konsentrasi kepemilikan saham, terkonsentasi = 1, menyebar = 0
SIZE
: Ukuran Perusahaan dihitung dengan Log total Aset
LEV
: Rasio Leverage (Debt to Equity Ratio)
: error term
I
: 1,2,…, N dimana N adalah banyaknya observasi
70
3.5.3
Pengujian Hipotesis
Pada dasarnya ada 2 jenis alat uji statistik, yaitu statistik parametrik dan
statistik non parametrik. Statistik parametrik digunakan jika distribusi data yang
digunakan normal, sedangkan data yang bersifat tidak normal, maka uji statistik
yang digunakan adalah statistik non parametrik. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan pengujian statistik parametrik.
Statistik parametrik digunakan apabila peneliti mengetahui fakta yang
pasti mengenai sekelompok data yang menjadi sumber sampel (J. Supranto, 2001
dalam Rosmasita, 2006). Menurut Ghozali (2009) ada beberapa kondisi yang
harus dipenuhi agar uji statistik parametrik dapat digunakan, yaitu:
1.
Observasi harus independen
2.
Populasi asal observasi harus berdistribusi normal.
3.
Varians populasi masing-masing grup dalam hal analisis dengan dua grup
harus sama.
4.
Variabel harus di ukur paling tidak dalam skala interval.
Jika distribusi data bersifat normal, maka digunakanlah uji statistik
parametrik. Uji regresi merupakan salah satu jenis uji statistik parametrik, untuk
menguji hipotesis yang diajukan peneliti maka akan dilakukan uji pengaruh
simultan (F test), uji koefisien determinasi, dan uji pengaruh parsial (t test).
3.5.3.1 Uji Pengaruh Simultan (F test)
Pengujian ini bertujuan untuk menunjukkan apakah semua variabel
independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
71
significance level 0,05 (α=5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan
dengan kriteria sebagai berikut:
1.
Bila nilai signifikansi f < 0.05, maka H0 ditolak atau Ha diterima yang
berarti koefisien regresi signifikan, artinya terdapat pengaruh yang
signifikan antara semua variabel independen terhadap variabel dependen.
2.
Apabila nilai signifikansi f > 0.05, maka H0 diterima atau Ha ditolak yang
berarti koefisien regersi tidak signifikan. Hal ini artinya keempat variabel
independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
3.5.3.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai
yang mendekati satu (1) berarti variabel-variabel independen memberikan hampir
semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam
menerangkan variabel independen, tapi karena R2 mengandung kelemahan
mendasar, yaitu adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang
dimasukkan ke dalam model, maka dalam penelitian ini menggunakan adjusted
R2 berkisar antara 0 dan 1. Jika nilai adjusted R2 semakin mendekati 1 maka
makin baik kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen.
72
3.5.3.3 Uji Parsial (t test)
Pengujian ini bertujuan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi vaiabel
dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05
(α=5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai
berikut:
1.
Bila nilai signifikansi t < 0.05, maka H0 ditolak, artinya terdapat pengaruh
yang signifikan antara satu variabel independen terhadap variabel
dependen.
2.
Apabila nilai signifikansi t > 0.05, maka H0 diterima, artinya terdapat tidak
ada pengaruh yang signifikan antara satu variabel independen terhadap
variabel dependen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Deskripsi Objek Penelitian
Berdasarkan data yang diperoleh dari Indonesia Stock Exchange (IDX)
2008 diketahui bahwa perusahaan yang terdaftar sebanyak 407 perusahaan. Dari
jumlah tersebut, hanya 116 perusahaan yang memenuhi kriteria sampel penelitian
yang telah ditetapkan. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan metode
purposive sampling, sebagai berikut:
Tabel 4.1
Ringkasan Perolehan Sampel Penelitian
KETERANGAN
Jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2008
Data tidak berhasil diperoleh secara fisik baik di BEI maupun Website
Data yang tersedia secara fisik
JUMLAH
407
(162)
245
Data rusak, tidak lengkap, dan tidak memenuhi kriteria
Jumlah data yang digunakan sebagai Sampel
(129)
116
Sumber : Data IDX Statistics yang telah diolah
4.2
Analisis Data
4.2.1
Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif memberikan suatu gambaran atau deskripsi
suatu data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean), standar
deviasi dari masing-masing variabel penelitian. Hasil analisis deskriptif dengan
73
74
menggunakan SPSS 17.0 dari variabel-variabel penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
2
Mean
10
Std. Deviation
UKOM
116
4.72
1.854
RAKOM
116
1
51
8.87
8.963
INKOM
116
.2000
1.0000
.436792
.1285354
UDIT
116
2
7
3.44
.935
RADIT
116
1
51
10.26
9.174
KOMDIT
116
1
5
1.84
.938
MANJ
116
.000
77.700
2.14192
10.350370
INST
116
.0000
99.8900
42.165603
33.3399826
ASING
116
.0000
99.8000
27.280500
30.7995591
KONST
116
0
1
.59
.493
SIZE
116
10.1335
14.5544
12.425369
.8886195
LEV
116
-13.4067
14.9646
2.737468
3.8650753
CSRI
116
.0633
.6076
.206133
.0862054
Valid N (listwise)
116
Sumber: Data yang telah diolah
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan bahwa jumlah observasi (N)
dari penelitian ini ada 116. Dari 116 observasi terhadap sampel, nilai variabel
ukuran Dewan Komisaris yang terkecil adalah 2 dan yang terbesar adalah 10. Hal
ini berarti jumlah Dewan Komisaris yang dimiliki suatu perusahaan paling sedikit
berjumlah 2 orang dan paling banyak jumlah Dewan Komisaris perusahaan
berjumlah 10 orang. Semakin besar nilai ukuran Dewan Komisaris berarti jumlah
anggota Dewan Komisaris semakin banyak. Nilai rata-rata ukuran Dewan
Komisaris sebesar 4,72 berarti rata-rata jumlah Dewan Komisaris yang dimiliki
oleh perusahaan sampel adalah 4,72 orang. Standar deviasi sebesar 1,854
menunjukkan variasi yang terdapat dalam ukuran Dewan Komisaris.
75
Pada variabel Jumlah rapat Dewan Komisaris, nilai yang terkecil adalah 1
dan nilai yang terbesar adalah 51. Semakin besar nilai RAKOM, berarti frekuensi
Dewan Komisaris melakukan rapat internal semakin sering. Hal ini berarti Dewan
Komisaris suatu perusahaan paling sedikit mengadakan rapat 1 kali dan paling
sering mengadakan 51 kali rapat. Nilai rata-rata sebesar 8,87 artinya rata-rata
Dewan Komisaris perusahaan sampel mengadakan rapat sebanyak 8,87 kali.
Standar deviasi sebesar 8,963 menunjukkan variasi yang terdapat dalam variabel
Jumlah rapat Dewan Komisaris.
Pada variabel Independensi Dewan Komisaris, semakin besar nilai
Independensi Dewan Komisaris berarti proporsi Komisaris Independen yang ada
dalam Dewan Komisaris semakin banyak. Hasil statistik menunjukkan nilai yang
terkecil adalah 0,20 dan nilai yang terbesar adalah 1,00. Hal ini berarti proporsi
Komisaris Independen perusahaan paling kecil adalah 20% dan paling besar
adalah 100% yang berarti kesemua anggota Dewan KOmisaris merupakan
Komisaris Independen. Nilai rata-rata Proporsi Dewan Komsaris independen
sebesar 0,436792. Standar deviasi sebesar 0,1285354 menunjukkan variasi yang
terdapat dalam variabel Independensi Dewan Komisaris.
Pada variabel Ukuran Komite Audit, nilai yang terkecil adalah 2, dan nilai
terbesar adalah 7 dengan nilai rata-rata sebesar 3,44. Hal ini berarti jumlah
Komite Audit yang dimiliki perusahaan sampel paling sedikit 2 orang dan paling
banyak memiliki anggota Komite Audit 7 orang dan rata-rata tiap perusahaan
sampel memiliki Komite Audit sebanyak 3,44 orang. Standar deviasi sebesar
0,935 menunjukkan variasi yang terdapat dalam variabel Ukuran Komite Audit.
76
Pada variabel Jumlah rapat Komite Audit, Semakin besar nilainya berarti
frekuensi Komite Audit melakukan rapat internal semakin sering. Nilai yang
terkecil variabel ini adalah 1, dan nilai yang terbesar adalah 51 dengan nilai ratarata sebesar 10,26. Hal ini berarti Komite Audit perusahaan sampel paling sedikit
melakukan rapat sebanyak 1 kal dan paling sering adalah 51 kali dengan rata-rata
rapat yang dilakukan Komite Audit sebanyak 10, 26 kali. Standar deviasi sebesar
9,174 menunjukkan variasi yang terdapat dalam variabel Jumlah rapat Komite
Audit.
Pada variabel Kompetensi Komite Audit, Semakin besar nilai variabel,
semakin banyak anggota-anggota yang mempunyai pengetahuan, latar belakang
dan pengalaman di bidang akuntansi dan atau keuangan (financial literacy). Nilai
terkecil variabel ini adalah 1 dan nilai yang terbesar adalah 5. Hal ini berarti
bahwa pada perusahaan sampel memiliki anggota Komite Audit yang kompeten
paling sedikit adalah 1 orang dan paling banyak adalah 5 orang. Nilai rata-rata
Kompetensi Komite Audit adalah 1,84 dan Standar deviasi sebesar 0,938
menunjukkan variasi yang terdapat dalam Kompetensi Komite Audit.
Pada variabel kepemilikan saham Manajerial, nilai yang terkecil adalah
0,00 persen dan nilai yang terbesar adalah 77,70 persen dengan nilai rata-rata
sebesar 2,14192 persen. Hal ini berarti bahwa pada perusahaan sampel paling
banyak terdapat 77,7 % saham perusahaan yang dimiliki oleh manajer dan paling
sedikit adalah 0% artinya manajer perusahan tidak memiliki sama sekali saham
perusahaan. Rata-rata saham perusahaan yang dimiliki oleh manajer sebsar 2,14%
77
dan Standar deviasi sebesar 10,350370 menunjukkan variasi yang terdapat dalam
kepemilikan saham Manajerial.
Pada variabel kepemilikan saham Institusional, nilai yang terkecil adalah
0,00 persen dan nilai yang terbesar adalah 99,89 persen dengan nilai rata-rata
sebesar 42,165603 persen. Hal ini berarti saham perusahaan yang dimiliki oleh
pihak institusi paling banyak adalah 99,89% dan paling rendah adalah 0% atau
tidak dimiliki oleh pihak institusi sama sekali. Rata-rata saham perusahaan yang
dimiliki oleh pihak institusi sebesar 42,17% dan Standar deviasi sebesar
33,3399826 menunjukkan variasi yang terdapat dalam kepemilikan saham
Institusional.
Pada variabel kepemilikan saham Asing, nilai yang terkecil adalah 0,00
persen dan nilai yang terbesar adalah 99,80 persen dengan nilai rata-rata sebesar
27,280500 persen. Hal ini berarti saham perusahaan yang dimiliki oleh pihak
asing paling banyak adalah 99,80% dan paling rendah adalah 0% atau tidak
dimiliki oleh pihak asing sama sekali. Rata-rata saham perusahaan yang dimiliki
oleh pihak institusi sebesar 27,28% Standar deviasi sebesar
30,7995591
menunjukkan variasi yang terdapat dalam kepemilikan saham Asing.
Pada variabel kepemilikan saham Terkonsentrasi, nilai yang terkecil
adalah 0 dan nilai yang terbesar adalah 1 dengan nilai rata-rata 0,59. Nilai 1
dalam variabel kepemilikan saham terkonsentrasi menunjukkan bahwa perusahaan
tersebut mempunyai kepemilikan saham yang terkonsentrasi, sedangkan nilai 0
menunjukkan bahwa kepemilikan saham perusahaan bersifat tidak terkonsentrasi
78
atau menyebar. Standar deviasi sebesar 0,493 menunjukkan variasi yang terdapat
dalam variabel kepemilikan saham Terkonsentrasi.
Pada variabel ukuran perusahaan (size), semakin besar nilainya, artinya
perusahaan tersebut semakin besar karena mempunyai jumlah asset (log Aset)
yang lebih banyak. Nilai yang terkecil adalah 10,1335 dan nilai yang terbesar
adalah 14,5544 dengan nilai rata-rata sebesar 12,425369. Hal ini berarti jumlah
log Aset yang dimiliki oleh perusahaan paling kecil adalah 10,1335 dan log Aset
yang dimiliki oleh perusahaan paling besar adalah 14,5544 perusahaan .Standar
deviasi sebesar
0,8886195 menunjukkan variasi yang terdapat dalam ukuran
perusahaan.
Pada variabel Rasio Leverage perusahaan, semakin besar variabel tersebut,
berarti nilai perbandingan hutang terhadap ekuitas semakin besar. Nilai yang
terkecil adalah -13,4067 dan nilai yang terbesar adalah 14,9646 dengan nilai ratarata sebesar 2,737468. Hal ini berarti perusahaan sampel mepunyai perbandingan
antara utang dan ekuitas paling sedikit adalah -13% dan perusahaan yang
memiliki perbandingan hutang terhadap ekuitas paling besar adalah 14% dan ratarata perusahaan memiliki rasio leverage tersebut sebesar 2,7%. Standar deviasi
sebesar 3,8650753 menunjukkan variasi yang terdapat dalam Rasio Leverage
perusahaan.
Pada variabel pengungkapan CSR, semakin besar nilai variabel CSRI,
artinya perusahaan lebih banyak melakukan pengungkapan item CSR. Nilai yang
terkecil adalah 0,0633 dan nilai yang terbesar adalah 0,6076 dengan nilai rata-rata
sebesar
0,206133.
Hal
ini
berarti
bahwa
perusahaan
paling
sedikit
79
mengungkapkan CSR yang sesuai dengan pedoman GRI sebesar 6,33% dan
paling banyak mengungkapkan sesuai dengan pedoman GRI adalah 60,76%. Ratarata pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan adalah 20,61% sesuai dengan
pedoma GRI. Standar deviasi sebesar 0,0862054 menunjukkan variasi yang
terdapat dalam indeks. Besarnya indeks menunjukkan besarnya pengungkapan
tanggung jawab sosial oleh perusahaan.
4.2.2
Hasil Uji Asumsi Klasik
4.2.2.1 Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Suatu model
regresi yang baik adalah dimana datanya berdistribusi normal atau mendekati
normal. Distribusi normal dalam penelitian ini didetekesi dengan menggunakan
analisis grafik histogram dan normal probability plot, dan analisis statistik nonparametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Distribusi normal akan membentuk satu
garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis
diagonal.
Berdasarkan hasil dari uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat
bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti
arah garis diagonal. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penyebaran data
mendekati normal atau memenuhi asumsi normalitas. Hal ini didukung dengan
tampilan grafik histogram yang menunjukkan pola distribusi normal. Berikut
80
m
masing-mas
ing tampilaan garfik hiistogram daan normal pprobability plot yang
d
ditunjukkan
dalam Gam
mbar 4.1 dan Gambar 4.2.
Gambar 4.1
4
G
Grafik Histo
ogram
S
Sumber
: da
ata yang telah diolah
Gambar 4.2
4
Grafik
G
Norm
mal P-P Ploot of Regresssion Standaardized Residual
S
Sumber
: da
ata yang telah diolah
81
Tabel 4.3
Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N
116
Normal Parametersa,,b
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
.0000000
.06230516
Absolute
.073
Positive
.073
Negative
-.042
Kolmogorov-Smirnov Z
.790
Asymp. Sig. (2-tailed)
.560
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : data yang telah diolah
Pada hasil uji statistik non-parametrik Kolmogorov - Smirnov (K-S) dapat
dilihat bahwa nilai Kolmogorov - Smirnov sebesar 0.790 dan tidak signifikan pada
0,05 (karena
p = 0,560 > 0,05), maka dapat dinyatakan bahwa residual
berdistribusi normal.
4.2.2.2 Hasil Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah di dalam model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
Multikolinearitas dapat dilihat dengan membandingkan nilai tolerance dan
variance inflation factor (VIF). Multikolinearitas terjadi jika nilai Tolerance <
0,10 atau nilai VIF > 10.
82
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolinearitas
a
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
1(Constant)
Std. Error
-.418
.129
UKOM
.002
.004
RAKOM
.001
.001
INKOM
-.019
UDIT
RADIT
Beta
Collinearity Statistics
t
Sig.
Tolerance
VIF
-3.238
.002
.051
.560
.576
.615
1.625
.147
1.641
.104
.629
1.589
.058
-.029
-.334
.739
.672
1.487
.006
.010
.063
.580
.563
.432
2.317
.001
.001
.130
1.524
.131
.693
1.443
-.017
.009
-.184
-1.847
.068
.512
1.954
MANJ
.000
.001
.060
.786
.434
.876
1.141
INST
.000
.000
-.287
-2.392
.019
.353
2.829
ASING
.000
.000
-.202
-1.746
.084
.379
2.641
KONST
.033
.013
.189
2.544
.012
.921
1.086
SIZE
.053
.011
.544
4.738
.000
.384
2.602
LEV
-.008
.002
-.365
-3.961
.000
.596
1.678
KOMDIT
a. Dependent Variable: CSRI
Sumber : data yang telah diolah
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa UKOM, RAKOM, INKOM,
UDIT, RADIT, KOMDIT, MANJ, INST, ASING, KONST, SIZE, dan LEV
menunjukkan nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model regresi
penelitian ini adalah terbebas dari multikolinearitas atau dapat dipercaya dan
obyektif.
4.2.2.3 Hasil Uji Heterokedastisitas
Uji heterokesastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
83
l
lain
tetap,
maka
diisebut
Hom
mokedastisitas
dan
jiika
berbedda
disebut
H
Heterokedas
stisitas. Moddel regresi yang
y
baik addalah yang Homokedastisitas atau
y
yang
tidak terjadi Heteerokedastisittas. Penelitiaan ini mengggunakan caara dengan
m
melihat
grrafik
plot
untuk
meendeteksi
ada
a
tidaknnya
heterok
kedastisitas
(
(Ghozali,200
07).
Gambar 4.3
plot
Scattrep
S
Sumber
: da
ata yang telah diolah
Berdaasarkan hasil pengujiaan dengan tingkat proobabilitas signifikansi
s
v
variabel
inddependen < 0,05
0
atau 5%
%, pada gam
mbar 4.3 dappat dilihat baahwa tidak
a pola yanng jelas atau
ada
u menyebarr, titik-titik penyebaran
p
berada di atas
a dan di
b
bawah
angk
ka 0 pada su
umbu Y. oleeh karena ittu dapat disiimpulkan baahwa tidak
t
terjadi
hetero
okedastisitass.
84
4.2.3 Hasil Pengujian Hipotesis
4.2.3.1 Hasil Uji F (F test)
Pengujian ini bertujuan untuk menunjukkan apakah semua variabel
independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel dependen. Dari hasil pengujian ini pada tabel 4.6 dapat
dilihat pada nilai F hitung sebesar 7,848 dan signifikan pada 0,000. Dengan
menggunakan tingkat α (alfa) 0,05 atau 5%, maka H berhasil ditolak dan H
gagal ditotak. Penolakan H dibuktikan dengan hasil perhitungan bahwa nilai sig
(0,000) < dari α (alfa) = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel
UKOM, RAKOM, INKOM, UDIT, RADIT, KOMDIT, MANJ, INST, ASING,
KONST, SIZE, dan LEV secara bersama-sama (simultan) mempengaruhi variabel
pengungkapan CSR (CSRI).
Tabel 4.5
Hasil Uji F (F test)
b
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
.408
12
.034
Residual
.446
103
.004
Total
.855
115
F
7.848
Sig.
.000
a. Predictors: (Constant), LEV, MANJ, KONST, ASING, RADIT, UKOM, KOMDIT, INKOM, RAKOM,
UDIT, SIZE, INST
b. Dependent Variable: CSRI
Sumber : data yang telah diolah
4.2.3.2 Hasil Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness of- fit dari
model regresi, yaitu seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen.
a
85
Tabel 4.6
Hasil Uji Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model
1
R
R Square
.691a
.478
Adjusted R Square
.417
Std. Error of the
Estimate
.0658346
a. Predictors: (Constant), LEV, MANJ, KONST, ASING, RADIT, UKOM, KOMDIT,
INKOM, RAKOM, UDIT, SIZE, INST
b. Dependent Variable: CSRI
Sumber : data yang telah diolah
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat besar nilai adjusted R2 sebesar 0,417
yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel
independen sebesar 41,7%. Hal ini berarti 41,7% pengungkapan tanggung jawab
sosial perusahaan dipengaruhi variabel ukuran Dewan Komisaris, Independensi
Dewan Komisaris, Jumlah rapat Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Jumlah
rapat Komite Audit, kompetensi Komite Audit, kepemilikan saham manajerial,
kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham asing, kepilikan saham
terkonsentrasi, ukuran (size) perusahaan dan rasio Leverage perusahaan.
Sedangkan sisanya 58,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini.
Standar Error of the Estimate (SEE) menunjukkan nilai 0,658346 hal ini
menunjukkan nilai yang kecil sehingga dapat disimpulkan model regresi layak
digunakan untuk memprediksi variabel dependen. Sementara itu, nilai R sebesar
0,691 menunjukkan hubungan antara variabel dependen yaitu pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan dengan variabel independen yaitu ukuran
Dewan Komisaris, Independensi Dewan Komisaris, Jumlah rapat Dewan
86
Komisaris, Ukuran Komite Audit, Jumlah rapat Komite Audit, kompetensi
Komite Audit, kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional,
kepemilikan saham asing, kepilikan saham terkonsentrasi, ukuran (size)
perusahaan dan rasio Leverage perusahaan cukup kuat.
4.2.3.3 Hasil Uji t
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan signifikansi dari
masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan
untuk memeriksa lebih lanjut manakah diantara kedua belas variabel independen
yang berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dari kedua belas variabel independen
yang dimasukkan dalam model dengan signifikansi 5% dapat disimpulkan bahwa
variabel INST, KONST, SIZE, LEV berpengaruh signifikan terhadap variabel
CSRI, sedangkan variabel UKOM, RAKOM, INKOM, UDIT, RADIT, KOMDIT,
MANJ, ASING, tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel CSRI.
87
Tabel 4.7
Hasil Uji t
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Keputusan
Terhadap Ha
Model
B
1(Constant)
Std. Error
Beta
t
Sig.
-.418
.129
-3.238
.002
UKOM
.002
.004
.051
.560
.576
Ditolak
RAKOM
.001
.001
.147
1.641
.104
Ditolak
INKOM
-.019
.058
-.029
-.334
.739
Ditolak
UDIT
.006
.010
.063
.580
.563
Ditolak
RADIT
.001
.001
.130
1.524
.131
Ditolak
KOMDIT
-.017
.009
-.184
-1.847
.068
Ditolak
MANJ
.000
.001
.060
.786
.434
Ditolak
INST*
.000
.000
-.287
-2.392
*.019
Ditolak
ASING
.000
.000
-.202
-1.746
.084
Ditolak
KONST*
.033
.013
.189
2.544
*.012
Diterima
SIZE*
.053
.011
.544
4.738
*.000
Diterima
LEV*
-.008
.002
-.365
-3.961
*.000
Diterima
Sumber : data yang telah diolah
* signifikan
Hasil pengujian terhadap hipotesis-hipotesis penelitian adalah sebagai
berikut:
Variabel Ukuran Dewan Komisaris (UKOM) memiliki nilai t
sebesar 0,560 dan nilai sig sebesar 0,576. Nilai sig 0,576 >
(0,05), hal ini
berarti variabel Ukuran Dewan Komisaris (UKOM) tidak signifikan pada level
5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan bahwa
variabel Ukuran Dewan Komisaris tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H1 “Ukuran Dewan
Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Jumlah rapat Dewan Komisaris (RAKOM) memiliki nilai t
sebesar 1,641 dan nilai sig sebesar 0,104. Nilai sig 0,104 >
(0,05), hal ini
88
berarti variabel Jumlah rapat Dewan Komisaris (RAKOM) tidak signifikan pada
level 5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan
bahwa variabel Jumlah rapat Dewan Komisaris tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H2
“Jumlah rapat Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan
CSR” ditolak.
Variabel Independensi Dewan Komisaris (INKOM) memiliki nilai t
sebesar -0,334 dan nilai sig sebesar 0,739. Nilai sig 0,739 >
(0,05), hal ini
berarti variabel Independensi Dewan Komisaris (INKOM) tidak signifikan pada
level 5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan
bahwa variabel Independensi Dewan Komisaris tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H3
“Independensi Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan
CSR” ditolak.
Variabel Ukuran Komite Audit (UDIT) memiliki nilai t
0,580 dan nilai sig sebesar 0,563. Nilai sig 0,563 >
sebesar
(0,05), hal ini berarti
variabel Ukuran Komite Audit (UDIT) tidak signifikan pada level 5% sehingga
penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan bahwa variabel Ukuran
Komite Audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan
CSR perusahaan. Dengan demikian, H4 “Ukuran Komite Audit berpengaruh
positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Jumlah rapat Komite Audit (RADIT) memiliki nilai t
sebesar 1,524 dan nilai sig sebesar 0,131. Nilai sig 0,131 >
(0,05), hal ini
89
berarti variabel Jumlah rapat Komite Audit (RADIT) tidak signifikan pada level
5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan bahwa
variabel Jumlah rapat Komite Audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H5 “Jumlah rapat Komite
Audit berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Kompetensi Komite Audit (KOMDIT) memiliki nilai t
sebesar -1,847 dan nilai sig sebesar 0,680. Nilai sig 0,680 >
(0,05), hal ini
berarti variabel Kompetensi Komite Audit (KOMDIT) tidak signifikan pada level
5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan bahwa
variabel Kompetensi Komite Audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H6 “Jumlah rapat Komite
Audit berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Kepemilikan saham Manajerial (MANJ) memiliki nilai t
sebesar 0,786 dan nilai sig sebesar 0,434. Nilai sig 0,434 >
(0,05), hal ini
berarti variabel Kepemilikan saham Manajerial (MANJ) tidak signifikan pada
level 5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan
bahwa variabel Kepemilikan saham Manajerial tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H7
“Kepemilikan saham manajerial berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan
CSR” ditolak.
Variabel Kepemilikan saham Institusional (INST) memiliki nilai t
sebesar -2,392 dan nilai sig sebesar 0,019. Nilai sig 0,019 <
(0,05), hal ini
berarti variabel Kepemilikan saham Institusional (INST) signifikan pada level 5%
90
tetapi dengan arah koefisien yang negatif, sehingga penelitian ini tidak dapat
menolak H . Dapat disimpulkan bahwa variabel Kepemilikan saham Institusional
berpengaruh signifikan negatif terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan.
Dengan demikian, H8 “Kepemilikan saham Institusional berpengaruh positif
terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Kepemilikan saham Asing (ASING) memiliki nilai t
sebesar -1,746 dan nilai sig sebesar 0,084. Nilai sig 0,084 >
(0,05), hal ini
berarti variabel Kepemilikan saham Asing (ASING) tidak signifikan pada level
5% sehingga penelitian ini tidak dapat menolak H . Dapat disimpulkan bahwa
variabel Kepemilikan saham Asing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian, H9 “Kepemilikan saham
asing berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Variabel Kepemilikan saham Terkonsentrasi (KONST) memiliki nilai
t
sebesar 2,554 dan nilai sig sebesar 0,012. Nilai sig 0,012 <
(0,05), hal
ini berarti variabel Kepemilikan saham Terkonsentrasi (KONST) signifikan pada
level 5% sehingga penelitian ini berhasil menolak H . Dapat disimpulkan bahwa
variabel Kepemilikan saham Terkonsentrasi berpengaruh secara signifikan
terhadap
luas
“Kepemilikan
pengungkapan
saham
CSR
terkonsentrasi
perusahaan.
berpengaruh
Dengan
positif
demikian,
H10
terhadap
luas
pengungkapan CSR” diterima.
Variabel Ukuran perusahaan (SIZE) memiliki nilai t
dan nilai sig sebesar 0,000. Nilai sig 0,000 <
sebesar 4,738
(0,05), hal ini berarti variabel
Ukuran perusahaan (SIZE) signifikan pada level 5% sehingga penelitian ini
91
berhasil menolak H . Dapat disimpulkan bahwa variabel Ukuran perusahaan
berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan.
Dengan demikian, H11 “Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR” diterima.
Variabel Rasio Leverage perusahaan (LEV) memiliki nilai t
-3,961 dan nilai sig sebesar 0,000. Nilai sig 0,000 <
sebesar
(0,05), hal ini berarti
variabel Rasio Leverage perusahaan (LEV) signifikan pada level 5% sehingga
penelitian ini berhasil menolak H . Dapat disimpulkan bahwa variabel Rasio
Leverage perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan
CSR perusahaan. H12 “Rasio leverage perusahaan berpengaruh positif terhadap
luas pengungkapan CSR” diterima.
4.3
Interpretasi Hasil
4.3.1 Pengungkapan CSR (Corporate Social Responsibility)
Berdasarkan hasil content analysis yang dilakukan terhadap 116
perusahaan sampel yang terdaftar di BEI tahun 2008, diperoleh hasil yang
menggambarkan tingkat pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaanperusahaan di Indonesia yang tersaji pada Lampiran C Daftar Pengungkapan CSR
perusahaan. Jumlah pengungkapan paling luas atau banyak dilakukan oleh Antam
Tbk. yaitu sebanyak 48 item atau sebesar 0,61 dari total pengungkapan yang
dianjurkan oleh GRI, sedangkan paling sedikit adalah 5 item atau sebesar 0,06
dari total pengungkapan yang dilakukan oleh Asuransi Dayin Mitra Tbk dan
Indocitra Finance Tbk. Berdasarkan analisis secara fisik laporan tahunan yang
92
dipublikasikan perusahaan tersebut sudah dapat menggambarkan tingkat
pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaaan, sehingga perbedaan antara nilai
pengungkapan maksimum dan minimum pada penelitian ini dapat dibuktikan
lebih lanjut.
Berdasarkan Tabel 4.2 tentang statistik deskriptif penelitian ini diketahui
bahwa rata-rata perusahaan di di Indonesia melakukan pengungkapan CSR pada
laporan tahunannya hanya sebesar 20,61% saja. Hal ini berarti tingkat
pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Indonesia
tergolong masih rendah.
Walaupun secara yuridis formal, pemerintah sudah
mewajibkan kepada perusahaan di Indonesia khususnya yang terdaftar di BEI
untuk melakukan praktik dan pengungkapan tanggung jawab sosial melalui
Undang undang No. 40 Tahun 2007 dan Undang-Undang Penanaman Modal No.
25 tahun 2007, namun hasil penelitian membuktikan bahwa tingkat pengungkapan
CSR di Indonesia masih tergolong rendah.
Masih rendahnya tingkat pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan
di Indonesia ini berarti menunjukkan bahwa peraturan yang dibuat oleh
pemerintah masih belum efektif. Perusahaan kemungkinan akan melakukan
kegiatan praktik dan pengungkapan CSR hanya untuk memenuhi aturan yang
telah ditetapkan oleh badan regulasi seperti Pemerintah, BEI, Bapepam. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena belum ada peraturan baku dari pemerintah yang
benar-benar mengatur pelaksanaan dan pengungkapan CSR, mengenai hal apa
saja yang harus dilakukan dan dilaporkan. Selain itu, dimungkinkan karena
perusahaan juga masih memikirkan dan memperhitungkan biaya untuk melakukan
93
pelaporan tersebut, karena melakukan praktik dan pelaporan tersebut menyangkut
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan yang jumlahnya cukup signifikan
sehingga harus dipertimbangkan dengan baik oleh manajemen perusahaan.
4.3.2 Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris terhadap Pengungkapan CSR
Berdasarkan hasil pengujian variabel Ukuran Dewan Komisaris (UKOM)
terhadap tingkat pengungkapan CSR (CSRI), dapat diketahui bahwa variabel
Ukuran Dewan Komisaris tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas
pengungkapan CSR perusahaan. Oleh karena itu,hipotesis pertama (H1) “Ukuran
Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Ukuran Dewan Komisaris yang mempunyai arah koefisien positif namun tidak
signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Hasil Penelitian ini konsisten dengan penemuan Matoussi dan Chakroun
(2008), yang menyatakan bahwa ukuran Dewan Komisaris tidak mempengaruhi
luas pengungkapan sukarela. Ketentuan di Indonesia dalam UU No. 40 tahun
2007 menyebutkan bahwa Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan
menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, menerbitkan surat pengakuan
utang kepada masyarakat atau Perseroan Terbuka wajib mempunyai paling sedikit
2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris. Hal ini berarti besar kecilnya Ukuran
Dewan Komisaris tidak dapat menjamin adanya mekanisme pengawasan yang
lebih baik, karena bukan merupakan faktor penentu utama dari efektivitas
pengawasan terhadap manajemen perusahaan.
Efektivitas mekanisme pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh
Dewan Komisaris tergantung pada nilai, norma dan kepercayaan yang diterima
94
dalam suatu organisasi (Jennings 2004a; 2004b; 2005a; Oliver, 2004 dalam
Ujiyantho dan Pramuka, 2007). Dengan demikian, untuk mencapai transparansi
dan pengungkapan CSR yang lebih luas, maka pembantukan Dewan Komisaris
harus memperhatikan komposisi, kemampuan, dan integritas anggota, sehingga
dapat melakukan fungsi pengawasan, pengendalian dan mampu memberikan
arahan kepada manajemen dengan baik demi kepentingan perusahaan.
4.3.3 Pengaruh Jumlah Rapat Dewan Komisaris terhadap Pengungkapan
CSR
Berdasarkan hasil pengujian parsial antara variabel Jumlah rapat Dewan
Komisaris terhadap pengugkapan CSR yang disajikan dalam tabel Tabel 4.7 dapat
diketahui bahwa Jumlah rapat Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia. Dengan
demikian, hipotesis kedua (H2) “Jumlah rapat Dewan Komisaris berpengaruh
positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak. Hal ini berarati bahwa
berapapun frekuensi rapat yang dilakukan oleh Dewan Komisairis, tidak akan
mempengaruhi luas pengungkapan CSR yang disajikan dalam laporan tahunan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Mizrawati (2009)
yang menunjukkan temuan bahwa tidak terdapat hubungan antara frekuensi
pertemuan Dewan Komisaris dengan tingkat pengungkapan sukarela. Hal ini
terjadi dimungkinkan karena rapat-rapat yang dilakukan oleh Dewan Komisaris
kurang efektif, dikarenakan adanya dominasi suara dari anggota Dewan Komisaris
yang
mementingkan
kepentingan
pribadi
atau
kelompoknya
mengesampingkan kepentingan perusahaan (Muntoro, 2006).
sehingga
95
4.3.4 Pengaruh Independensi Dewan Komisaris terhadap Pengungkapan
CSR
Dalam penelitian ini, Independensi Dewan Komisaris yang dimaksud
adalah proporsi Komisaris Indenpenden terhadap jumlah total anggota Dewan
Komisaris. Variabel ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas
pengungkapan CSR perusahaan dan memiliki arah koefisien negatif. Dengan
demikian, hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan bahwa “Independensi Dewan
Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Hasil ini konsisten dengan penelitian Said et.al. (2009) yang menunjukkan
bahwa Independensi atau proporsi Komisaris Independen tidak dapat berpengaruh
terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan. Dengan demikian keberadaan atau
proporsi Komisaris Independen tidak dapat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan dikarenakan mereka tidak mempunyai hubungan dengan aktivitas atau
operasi sehari-hari perusahaan (Che Ahmad et. al., 2003 dalam Hashim dan Devi,
2007).
Alasan yang dapat menjelaskan hal ini adalah dimungkinkan karena
pemilihan dan pengangkatan Komisaris Independen yang kurang efektif (FCGI,
2002). Hal ini merupakan isu atau hal yang penting, bahwa banyak anggota
Dewan Komisaris tidak memiliki kemampuan, dan tidak dapat menunjukkan
independensinya atau sebenarnya tidak independen (not truly independent),
sehingga fungsi pengawasan tidak dapat berjalan dengan baik (Vethanayagam et.
al., 2006 dalam Hashim dan Devi, 2007). Dengan demikian, keberadaan atau
proporsi Komisaris Independen tidak dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan mengenai pengungkapan CSR.
96
4.3.5 Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Pengungkapan CSR
Pada uji parsial (t test) Tabel 4.7, penelitian ini menunjukkan bahwa
Variabel Ukuran Komite Audit (UDIT) memiliki hubungan arah positif namun
tidak signifikan. Hal ini berarti variabel Ukuran Komite Audit tidak berpengaruh
terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan di Indonesia. Dengan demikian,
hipotesis keempat (H4) yang diajukan “Ukuran Komite Audit berpengaruh positif
terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Hasil penelitian ini, mendukung hasil penelitian Mohd-Nasir dan Abdullah
(2004) dan Akhtaruddin et.al., (2009) yang menemukan bahwa tidak terdapat
pengaruh antara ukuran Komite Audit dengan tingkat pengungkapan sukarela. Hal
ini berarti berapapun jumlah anggota Komite Audit tidak akan mempengaruhi luas
pengungkapan CSR karena belum dapat menjadikan mekanisme pengawasan
yang efektif terhadap manajemen perusahaan.
Alasan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah
berdasarkan Tabel 4.2 statistik deskriptif, dari data yang telah diolah diketahui
bahwa rata-rata Ukuran Komite Audit perusahaan adalah 3 orang, yang artinya
bahwa sebagian besar perusahaan memiliki jumlah anggota Komite Audit yang
sama yaitu 3 (tiga) orang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ukuran
Komite Audit akan menjadi tidak berpengaruh terhadap mekanisme pengawasan
dan pengungkapan CSR karena dimungkinkan jumlah anggota Komite Audit
tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi peraturan Bapepam nomor
IX.I.5 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanan kerja Komite Audit, tanpa
mempertimbangkan efektivitas dan kompleksitas perusahaan.
97
4.3.6 Pengaruh Jumlah Rapat Komite Audit terhadap Pengungkapan CSR
Berdasarkan hasil pengujian variabel Jumlah rapat Komite Audit (UDIT)
terhadap tingkat pengungkapan CSR (CSRI), ditemukan bahwa Jumlah rapat
Komite Audit tidak signifikan pada level 5% dengan arah hubungan positif,
sehingga hipotesis kelima (H5) yang menyebutkan bahwa “Jumlah rapat Komite
Audit berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara frekuensi
rapat yang dilakukan Komite Audit dengan luas pengungkapan CSR.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Rahman dan Ali (2006) dan Widowati (2009). Rahman dan Ali (2006)
menyatakan bahwa tingkat frekuensi atau jumlah pertemuan yang dilakukan oleh
Komite Audit tidak menjamin bahwa pelaksanaan monitoring terhadap
manajemen untuk melakukan kecurangan akan berjalan secara efektif. Sehingga
peluang manajemen untuk melakukan kecurangan dengan menyembunyikan
informasi masih dapat dimungkinkan. Alasan yang dapat menjelaskan hal ini
dimungkinkan adalah faktor kompetensi Komite Audit yang diteliti juga dalam
penelitian ini, menemukan hasil bahwa kompetensi yang dimiliki oleh Komite
Audit kurang memadai sehingga tidak mampu menjalankan tugasnya secara
efektif. Sebab untuk menjadikan fungsi Komite Audit yang efektif tidak hanya
memperhatikan ukuran, jumlah pertemuan saja, tetapi juga kualitas dan
kompetensi anggota Komite Audit.
98
4.3.7 Pengaruh Kompetensi Komite Audit terhadap pengungkapan CSR
Variabel Kompetensi Komite Audit dalam penelitian ini adalah yang
menyangkut bidang akuntansi dan atau keuangan (fianacial literacy). Hasil
penelitian ini menunjukkan variabel Kompetensi Komite Audit tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan dengan arah
koefisien negatif. Dengan demikian,hipotesisi keenam (H6) “Jumlah rapat Komite
Audit berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan Kompetensi Komite Audit yang
menyangkut bidang akuntansi dan atau keuangan tidak dapat meningkatkan luas
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia. Hasil ini
sesuai dengan hasil penelitian Rahman dan Ali (2006) menemukan bukti bahwa
Kompetensi Komite Audit dalam hal keuangan atau akuntansi (financial literacy)
tidak menjamin adanya mekanisme pengawasan yang lebih baik untuk mencegah
pihak manajemen melakukan tindakan yang dapat merugikan pemilik atau
perusahaan.
Hal ini dapat dijelaskan karena fungsi Komite Audit tidak hanya
bertanggung jawab dalam pengawasan pelaporan keuangan, namun juga termasuk
pengawasan pelaksanaan GCG dan pengendalian internal perusahaan. Dengan
demikian, keahlian dan kompetensi Komite audit di bidang keuangan dan
akuntansi (financial literacy) saja tidak cukup untuk menjamin dan membantu
pengawasan yang dilakukan Dewan Komisaris. Oleh karena itu, agar mekanisme
pengawasan berjalan dengan baik, maka Komite Audit juga tidak hanya harus
kompeten dalam bidang akuntansi atau keuangan saja, namun harus kompeten
99
juga pada keahlian dan pemahaman lain dibidang hukum, peraturan pasar modal,
serta proses bisnis terkait (Alijoyo, 2003).
4.3.8 Pengaruh Kepemilikan Saham Manajerial terhadap Pengungkapan
CSR
Berdasarkan hasil pengujian parsial antara variabel Kepemilikan saham
Manajerial terhadap pengugkapan CSR yang disajikan dalam tabel Tabel 4.7
diketahui bahwa Kepemilikan saham manajerial memiliki arah hubungan yang
positif, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap luas pengungkapan
CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia. Oleh karena itu, hipotesis
ketujuh (H7) yang menyebutkan bahwa “Kepemilikan saham manajerial
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berapapun persentase saham
perusahaan dimiliki oleh pihak manajer, tidak akan mempengaruhi luas
pengungkapan CSR yang disajikan dalam laporan tahunan. Hasil penelitian ini
konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Huafang dan
Jianguo, 2007) dan Said et.al. (2009) yang membuktikan bahwa kepemilikan
saham oleh pihak manajemen tidak mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Hal
ini dimungkinkan karena secara statistik jumlah kepemilikan saham manajerial
rata-rata pada perusahaan-perusahaan di Indonesia jumlahnya relatif kecil, hanya
sebesar 2,14% dan hanya beberapa perusahaan saja yang memiliki kepemilikan
manajerial yang cukup besar. Hal ini berarti, dengan kepemilikan manajerial yang
relatif kecil, maka masih terjadi konflik kepentingan antara pemilik dengan
manajer, dimana kepentingan pribadi manajer belum dapat diselaraskan dengan
100
kepentingan perusahaan atau pemilik. Dengan demikian, dengan kepemilikan
manajerial yang relatif kecil, tindakan manajer untuk berusaha memaksimalkan
nilai perusahaan yang selaras dengan kepentingan pemilik untuk melakukan
pengungkapan CSR masih belum dapat dilakukan.
4.3.9 Pengaruh Kepemilkan Saham Institusional terhadap Pengungkapan
CSR
Variabel Kepemilikan saham Institusional (INST) memiliki nilai yang
signifikan pada level 5% tetapi dengan arah koefisien yang negatif, sehingga
hipotesis kedelapan (H8) yang menyatakan“Kepemilikan saham Institusional
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa variabel Kepemilikan saham Institusional berpengaruh
signifikan negatif terhadap luas pengungkapan CSR perusahaan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Bushee et. al., (2003) dan
Bouri dan Khlifi, (2007) dalam Matoussi dan Chakroun (2008) yang menemukan
bahwa terdapat hubungan negatif antara kepemilikan saham institusional dengan
luas pengungkapan sukarela. Artinya semakin tinggi tingkat kepemilikan saham
oleh institusi, maka akan mengurangi tingkat pengungkapan sukarela yang
dilakukan perusahaan.
Hal ini dikarenakan semakin banyak saham perusahaan yang dimiliki oleh
pihak institusi, maka institusi mempunyai kemampuan untuk melakukan
intervensi terhadap jalannya perusahaan dan mengatur proses penyusunan laporan
keuangan. Akibatnya manajer terpaksa melakukan tindakan tertentu demi untuk
memenuhi keinginan pihak-pihak tertentu, diantaranya pemilik (Boediono, 2005).
Dengan demikian, apabila kepemilikan saham Institusi dalam perusahaan
101
jumlahnya semakin besar, maka hanya memaksimalkan keuntungan pribadi, tanpa
mempedulikan tanggung jawabnya kepada stakeholders lain.
4.3.10 Pengaruh Kepemilikan Saham Asing terhadap Pengungkapan CSR
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Kepemilikan saham Asing tidak
mempengaruhi luas pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan di
Indonesia. Berdasarkan hasil dari pengujian variabel kepemilikan saham asing
(ASING) dalam Tabel 4.7 memiliki nilai tidak signifikan pada level 5% dengan
arah koefisien negatif. Dengan demikian, hipotesis kesembilan (H9) “Kepemilikan
saham asing berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” ditolak.
Dengan kata lain, pihak asing yang memiliki saham di perusahaan Indonesia
cenderung tidak mempengaruhi atau menuntut pengungkapan CSR secara luas
dalam laporan tahunan, khususnya item pengungkapan yang sesuai dengan
indikator GRI.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan
oleh Amran dan Devi (2008); Machmud dan Djakman (2008); dan Said et.al.
(2009) dimana secara statistik adanya kepemilikan saham asing pada perusahaan
tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR perusahaan. Apabila
dihubungkan dengan teori agensi, maka kepemilikan oleh pihak asing tidak
mampu menjadikan proses monitoring menjadi lebih baik, sehingga informasi
yang dimiliki oleh pihak manajemen tidak diberikan secara menyeluruh kepada
pemilik demi tujuan tertentu.
Variabel kepemilikan saham Asing mempunyai arah hubungan yang
negatif terhadap pengungkapan CSR. Hal ini menjadi suatu anomali, karena
102
investor asing terutama yang berasal dari Eropa dan United State cenderung lebih
mempedulikan masalah lingkungan dan sosial sehingga dapat akan mendorong
meningkatkan pengungkapan CSR perusahaan. Alasan yang dapat digunakan
untuk menjelaskan hal tersebut adalah bahwa kemungkinan kepemilikan asing
pada perusahaan di Indonesia secara umum belum mempedulikan masalah
lingkungan dan sosial sebagai isu kritis yang harus secara ekstensif untuk
diungkapkan dalam laporan tahunan (Machmud dan Djakman, 2008). Alasan lain
dimungkinkan jika kepemilikan asing dikonsolidasikan dengan perusahaan induk
di negara asal maka kemungkinan persentase kepemilikan tersebut sangat kecil,
sehingga mereka menjadi kurang memperhatikan pengungkapan CSR sebagai
suatu hal yang penting untuk diungkapkan kepada publik.
4.3.11 Pengaruh
Kepemilikan
Saham
Terkonsentrasi
terhdap
Pengungkapan CSR
Pada hasil uji parsial (t test) Tabel 4.7, menunjukkan nilai signifikan pada level
5%. Hal ini berarti kepemilikan saham yang terkonsentrasi berpengaruh secara
signifikan terhadap luas pengungkapan CSR pada perusahaan di Indonesia.
Dengan demikian, hipotesis kesepuluh (H10) “Kepemilikan saham terkonsentrasi
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR” diterima. Dengan kata
lain, semakin terkonsentrasi saham perusahaan kepada pemilik tertentu baik
perorangan maupun kelompok, maka akan semakin luas tingkat pengungkapan
CSR yang akan dilaporkan dalam laporan tahunan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Said et.al. (2009) yang menemukan hubungan yang positif dan
103
signifikan antara konsentrasi kepemilikan saham dengan luas pengungkapan CSR.
Menurut Matoussi dan Chakroun (2008), kepemilikan saham terkonsentrasi dapat
mengurangi masalah konflik kepentingan antara pemegang saham dengan
manajemen . Hal ini berarti kepemilikan saham terkonsentrasi menjadi
mekanisme internal pendisiplinan manajemen, sebagai salah satu mekanisme yang
dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas
monitoring, karena dengan
kepemilikan yang besar menjadikan pemegang saham memiliki akses informasi
yang cukup signifikan untuk mengimbangi keuntungan informasional yang
dimiliki manajemen sehingga dapat mengurangi masalah agensi dan hal ini dapat
mendorong pengungkapan CSR secara lebih luas.
4.3.12 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan CSR
Banyak penelitian yang meneliti mengenai hubungan pengaruh antara
ukuran perusahaan (firm’s size) dengan pengungkapan CSR. Berdasarkan hasil
pengujian pengaruh parsial variabel ukuran perusahaan (SIZE) terhadap
pengungkapan CSR (CSRI), dapat diketahui bahwa variabel ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Hasil ini mendukung
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Belkaoui dan Karpik (1989),
Hackston dan Milne (1996), Sembiring (2005), Rosmasita (2007), Amran dan
Devi (2008), Machmud dan Djakman (2008), dan Puspitasari (2009) menemukan
hasil bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan terhadap luas
pengungkapan CSR.
Terdapat hubungan signifikan antara variabel ukuran perusahaan dan
pengungkapan CSR mengandung arti bahwa semakin besar suatu perusahaan,
104
maka akan cenderung melakukan pengungkapan CSR yang lebih luas. Dalam
kerangka teori agensi, apabila ukuran perusahaan lebih
besar, maka biaya
keagenan yang dikeluarkan juga lebih besar, sehingga untuk mengurangi biaya
keagenan tersebut, perusahaan akan cenderung mengungkapkan informasi yang
lebih luas. Di samping itu perusahaan besar merupakan emiten yang banyak
disoroti, pengungkapan yang lebih besar merupakan cara untuk mengurangi biaya
politis sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan (Sembiring, 2005).
Menurut Cowen et. al., (1987) dalam Sembiring (2005), secara teoritis
perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan. Perusahaan yang lebih besar
mempunyai aktivitas operasi yang lebih banyak dan memberikan pengaruh yang
lebih besar terhadap masyarakat, serta mungkin akan memiliki pemegang saham
yang lebih banyak yang akan selalu memperhatikan program sosial yang dibuat
perusahaan sehingga pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan
semakin luas
4.3.13 Pengaruh Rasio Leverage Perusahaan terhadap Pengungkapan CSR
Dalam penelitian ini, leverage yang diproksi dengan rasio hutang terhadap
modal sendiri atau ekuitas. Pada uji parsial (t test) Tabel 4.7, penelitian ini
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan CSR dengan nilai
signifikan pada 5% Hal ini berarti hipotesis H
yang menyatakan bahwa rasio
leverage perusahaan berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan CSR dapat
diterima. Dengan kata lain, semakin rendah tingkat leverage perusahaan, maka
pengungkapan CSR yang dilakukan akan semakin luas dan sebaliknya, semakin
105
tinggi rasio leverage perusahaan maka pengungkapan CSR yang dilakukan
menjadi lebih sedikit atau rendah.
Hasil penelitian ini berhasil mendukung teori agensi dan hasil penelitian
Belkaoui & Karpik (1989) dan Waryanti (2009) menemukan bahwa faktor tingkat
leverage perusahaan mempengaruhi secara negatif terhadap luas pengungkapan
sosial perusahaan. Menurut Belkaoui & Karpik (1989), semakin tinggi tingkat
leverage (rasio utang/ekuitas) semakin besar kemungkinan perusahaan akan
melanggar perjanjian kredit,
sehingga perusahaan akan berusaha untuk
melaporkan laba sekarang lebih tinggi yang
dapat dilakukan dengan
cara
mengurangi biaya-biaya, termasuk biaya untuk mengungkapkan informasi sosial.
Keputusan untuk mengungkapkan informasi sosial akan mengikuti suatu
pengeluaran untuk pengungkapan yang menurunkan pendapatan. Dalam hal ini
dengan pengungkapan informasi sosial (CSR) berarti dapat menurunkan laba
perusahaan. Leverage juga mencerminkan tingkat resiko keuangan perusahaan.
Berdasarkan teori agensi, tingkat leverage mempunyai pengaruh negatif terhadap
pengungkapan tanggung jawab sosial. Manajemen perusahaan dengan tingkat
leverage yang tinggi cenderung mengurangi pengungkapan tanggung jawab sosial
yang dibuatnya agar tidak menjadi sorotan dari para debtholders.
BAB V
PENUTUP
5.1
Simpulan
Dalam konsep GCG, perusahaan diharuskan untuk memenuhi prinsip-
prinsip yang akan membangun tata kelola perusahaan yang baik yaitu:
Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness.
Dengan demikian, sebelum perusahaan mempraktikkan CSR, manajemen internal
perusahaan harus sudah dikelola dengan baik atau memenuhi prinsip good
corporate
governance
yang
berhubungan
dengan
segi
Transparency,
Accountability, dan Responsibility. Dengan adanya prinsip-prinsip tersebut salah
satu kewajiban perusahaan adalah untuk melakukan pengungkapan (disclosure)
secara akurat, tepat waktu, dan transparan terhadap semua informasi kinerja
perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Dengan terwujudnya GCG ini
diharapkan akan membawa pengembangan bisnis perusahaan ke arah yang
berkesinambungan sehingga akan mempermudah perusahaan dalam menerapkan
CSR.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor Ukuran Dewan Komisaris,
Jumlah rapat Dewan Komisaris, Independensi Dewan Komisaris, Ukuran Komite
Audit, Jumlah rapat Komite Audit, Kompetensi Komite Audit, Kepemilikan
saham manajerial, Kepemilikan saham institusional, Kepemlikan saham Asing,
dan Kepemilikan saham terkonsentrasi serta Ukuran dan Leverage secara
bersama-sama mempengaruhi pengungkapan CSR hanya sebesar 41,7%. Dengan
106
107
demikian faktor-faktor karakteristik GCG tersebut diatas masih belum dapat
meningkatkan
mekanisme
pengawasan
dengan
baik
untuk
mendorong
pengungkapan CSR secara luas.
Berdasarkan hasil pengujian statistik secara parsial variabel karakteristik
GCG terhadap luas pengungkapan CSR di Indonesia dengan menggunakan
analisis regresi berganda, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Faktor Ukuran Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
2.
Faktor Jumlah rapat Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
3.
Faktor Independensi Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
4.
Faktor
Ukuran
Komite
Audit
tidak
berpengaruh
terhadap
luas
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
5.
Faktor Jumlah rapat Komite Audit tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
6.
Faktor Kompetensi Komite Audit yang menyangkut bidang keuangan
(fianacial literacy) tidak mempengaruhi luas pengungkapan CSR dalam
laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
7.
Faktor Kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR pada laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
8.
Kepemilikan saham Institusional secara tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
108
9.
Faktor Kepemilikan saham Asing tidak
berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia.
10.
Faktor Kepemilikan saham terkonsentrasi berpengaruh signifikan terhadap
luas pengungkapan CSR pada perusahaan di Indonesia.
11.
Faktor Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan
CSR pada perusahaan di Indonesia.
12.
Faktor Leverage perusahaan berpengaruh signifikan terhadap luas
pengungkapan CSR pada perusahaan di Indonesia.
5.2
Keterbatasan Penelitian
Beberapa keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini antara lain:
1.
Jumlah sampel yang relatif terbatas, hanya 116 dari 407 perusahaan yang
ada, dikarenakan kesulitan memperoleh data annual report secara lengkap.
2.
Terdapat unsur subjektifitas dalam menentukan indeks pengungkapan. Hal
ini dikarenakan tidak adanya ketentuan baku yang dapat dijadikan standar
atau acuan, sehingga penentuan indeks untuk indikator dalam kategori
yang sama dapat berbeda untuk setiap peneliti.
3.
Periode pengamatan terbatas hanya satu tahun, yaitu hanya pada tahun
2008, sehingga mungkin tidak dapat menggambarkan keadaan yang
sebenarnya mengenai praktik dan pengungkapan tanggung jawab sosial.
4.
Tingkat Adjusted R2 yang rendah dari model yang diuji 0,417 dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa variabel lain yang tidak digunakan
109
dalam penelitian ini mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
5.3
Saran
Dari simpulan dan keterbatasan dalam penelitian ini, maka saran yang
dapat diberikan antara lain:
1.
Pemerintah hendaknya menetapkan regulasi yang secara tegas dan jelas
mengatur mengenai praktik dan pengungkapan, serta pengawasan CSR
pada perusahaan di Indonesia sehingga praktik dan pengungkapan CSR di
Indonesia semakin meningkat.
2.
Penelitian selanjutnya sebaiknya memperluas periode pengamatan agar
dapat lebih menggambarkan kondisi pengungkapan CSR di Indonesia.
3.
Rendahnya Adjusted R2 dari model yang diuji dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian
ini mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan, sehingga penelitian selanjutnya
sebaiknya mempertimbangkan untuk menggunakan variabel lainnya juga
diluar variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
DARTAR PUSTAKA
Akhtarudin, Mohamed., Monirul Alam Hossain., Mahmud Hossain., dan Lee Yao.
2009. “Corporate Governance and Voluntary Disclosure in Corporate
Annual Reports of Malaysian Listed Firms”. JAMAR. Vol. 7, November.
Alijoyo, F. Antonius. 2003. Seminar Nasional GCG “ Keberadaan dan Peran
Komite Audit dalam rangka Implementasi GCG”. Surabaya.
Amran, Azlan dan S. Susela Devi. 2008. “The Impact Of Government And
Foreign Affiliate Influence On Corporate Social Reporting (The Case Of
Malaysia)”. Accounting, Auditing and Accountability Journal. Vol. 23,
No. 4, hal. 386-404.
Anggraini, Fr. RR. 2006. “Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pengungkapan Infromasi Sosial dalam Laporan
Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang
Terdaftar pada Bursa Efek Jakarta)”. Simposium Nasional Akuntansi 9.
Padang.
Belkaoui, A. dan PG. Karpik. 1989. “Determinants of the Corporate Decision to
Disclose Social Information”. Acoounting, Auditing and Accountability
Journal. Vol. 2, No. 1, hal. 36-51.
Boediono, Gideon SB. 2005. “Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme
Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba Dengan
Menggunakan Analisis Jalur”. Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo.
Forum Corporate Governance Indonesia (FCGI). 2002. Peranan Dewan
Komisaris dan Komte Audit dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan
(corporate governance). Jakarta
Ghozali, Imam. 2007. SPSS. Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Badan
Penerbit Undip: Semarang.
Ghozali, I dan A. Chariri, 2007. Teori Akuntansi. Badan Penerbit Undip.
Semarang.
Global Reporting Initiatives (GRI). 2006. Sustainability reporting Guidelines.
Amsterdam.
Gray, R., R. Kouhy, dan S. Lavers. 1995. “Corporate Social and Environmental
Reporting. A Review of the Literature and a Longitudinal Study of UK
110 111 Disclosure”. Accounting, Auditing and Accountability Journal. Vol. 8,
No. 2, Hal. 47-77
Hackston, D., dan M.J. Milne. 1996. “Some determinants of social and
environmental disclosures in New Zealand companies”. Accounting,
Auditing and Accountability Journal. Vol. 9, No. 1, hal 77-108.
Haniffa, R.M. dan Cooke, T.E. 2002. “Culture, corporate governance and
disclosure in Malaysian corporations”, Abacus, Vol. 38 No. 3.
Hashim, Hafiza Aishah dan Devi, S. Susela. 2007. “Corporate Governance,
Ownership Structure And Earnings Quality: Malaysian Evidence”.
Universiti Malaya.
Hendriksen, Eldon S.,dan Michael F.Van Breda. 2000. Teori Akunting terjemahan
dari Accounting Theory. Interaksara. Jakarta
Herawaty, Vinola. 2008. “Peran Praktek Corporate Governance sebagai
Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management terhadap
Nilai Perusahaan”. Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak.
Huafang, Xiao dan Jianguo, Yuan. 2007. “Ownership structure, board
composition and corporate voluntary disclosure: Evidence from listed
companies in China”. Managerial Auditing Journal Vol. 22 No. 6.
Ibrahim, Majid. 2007. “Pengaruh struktur internal governance terhadap earning
manajemen” Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Diponegoro.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2007. Standar Akuntansi Keuangan per 1
September 2007. Jakarta: Salemba Empat.
Inawesnia, Kania. 2008. “Motif Dibalik Praktik dan Pengungkapan Corporate
Social Responsibility : dari Stakeholder ke Award”. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Universitas Diponegoro.
Isnanta, Rudi. 2008. “Pengaruh Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan
terhdapa manajemen laba dan kinerja keuangan”. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Universitas Islam Indonesia.
Jensen, Michael C., dan Meckling William H. 1976. “Theory of The Firm:
Managerial Behavior, Agency Costs, and Ownership Structure”. Journal
of Financial Economics 3. hal 305-360.
Kaihatu, Thomas S. 2006. “Good corporate governace dan penerapannya di
Indonesia”. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol.8 No.1 Maret
2006.
112 Komite Nasional Kebijakan Governace (KNKG). 2006. Pedoman UMum Good
Corporate Governance di Indonesia. Jakarta.
Machmud, Novita dan Chaerul D. Djakman. 2008. “Pengaruh Struktur
Kepemilikan Terhadap Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial
(CSR Disclosure) Pada Laporan Tahunan Perusahaan: Studi Empiris
Pada Perusahaan Publik Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2006”. Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak.
Matoussi, Hamadi, dan Chakroun, Raida. 2008. ” Board Composition, Ownership
Structure And Voluntary Disclosure In Annual Reports: Evidence From
Tunisia” Laboratoire Interdisciplinaire De Gestion Université-Entreprise
(LIGUE).
Maulana, M. Maki Y.P. 2008. “Corporate Social Responsibility: Kepatuhan
terhadap Perturan, Legitimasi, ataukah Award?”. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Universitas Diponegoro.
Mayasto, Hartawan Hari. 2008. “Pengaruh struktur kepemilikan manajerial,
struktur kepemilikan institusional ukuran perusahaan dan jumlah dewan
komisaris perusahaan terhadap pengaturan laba (earning manajemen)”.
Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mizrawati, Alfathira. 2009. “ Pengaruh Dewan Komisaris terhadap Transparansi
Perusahaan (Tinjauan dari Agency Theory dan Stewardship Theory)”.
Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Diponegoro.
Muntoro, Ronny Kusuma. 2006. Makalah “Mebangun Dewan Komisaris yang
Efektif”. Universitas Indonesia.
Mursalim. 2007. “ Simultanitas Aktivisme Institusional, Struktur Kepemilikan,
Kebiakan Deviden dan Utang dalam Mengurangi Konflik Keagenan”.
Simposium Nasional Akuntansi 10. Makassar.
Nasir, Mohd N.A. dan Abdullah, S.N. 2004. ”Voluntary disclosure and corporate
governance among financially distressed firms in Malaysia” Financial
Reporting, Regulation and Governance, Vol. 3 No. 1.
Nuryaman. 2008. “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan,Ukuran Perusahaan, dan
Mekanisme Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba”.
Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak
Oktapiyani, Desi. 2009. “ Pengaruh penerapan corporate governance terhadap
likuiditas perbankan nasional”. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas
Diponegoro.
113 Puspitasari, Apriani Daning. 2009. “Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR pada laporan
tahunan perusahaan di Indonesia”. Skripsi Tidak Dipublikasikan.
Universitas Diponegoro.
Putri, Anggi Miharsa. 2009. “Pengaruh Independensi dan efektivitas Komite
Audit terhadap Manajemen Laba”. Skripsi Tidak Dipublikasikan.
Universitas Diponegoro.
Rahayu, Sovi Ismawati. 2008. “Pengaruh Tingkat Ketaatan Pengungkapan Wajib
dan Luas Pengungkapan Sukarela terhadap Kualitas Laba”. Simposium
Nasional Akuntansi 11. Pontianak
Rahman, Rashidah Abdul dan Ali, Fairuzana Haneem Mohamed. 2006. “Board,
Audit Committee, culture and earning management: Malaysian
evidence”. Managerial Auditing Journal. Vol. 21, No. 7, hal. 783-804.
Ristyaningrum, Arin. 2009. “Pengaruh Karakteristik Dewan Komisaris, Komite
Audit, dan Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba pada
Perusahaan Manufaktur”. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas
Diponegoro.
Rosmasita, H. 2007. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial
(Social Disclosure) Dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan
Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta”. Skripsi tidak dipublikasikan.
Universitas Islam Indonesia.
Said, Roshima.,Yuserrie Hj Zainuddin., dan Hasnah Haron. 2009. “The
Relationship between Corporate Social Responsibility and Corporate
Governance Characteristics in Malaysian Public Listed Companies”.
Social Responsibility Journal. Vol. 5, No. 2, hal. 212-226.
Sayekti, dan Wondabio. 2007. “Pengaruh CSR Disclosure Terhadap Earnings
Response Coefficient”. Simposium Nasional Akuntansi 10. Makassar.
Sembiring, Eddy Rismanda. 2005. “Perkembangan Corporate Social
Responsibility di Indonesia”. Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo.
Solihin, Ismail. 2009. Corporate social responsibility from charity to
sustainability. Salemba Empat. Jakarta.
Sulastini, Sri. 2007. “Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Social
Disclosure Perusahaan Manufaktur Yang Telah Go Public”. Skripsi
Tidak Dipublikasikan. Universitas Negeri Semarang.
114 Surya, Indra., dan Ivan Yustiavananda. 2006. Penerapan Good Corporate
Governance. FHUI. Jakarta.
Taridi, Tirmidzi, 2009. Perkembangan GCG di Indonesia. Seminar Nasional
“Rejuvenating Our Teaching Research in Financial Accounting and
Modeling GCG in Indonesia”. Yogyakarta.
Tarjo. 2008. “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional dan Leverage
terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham serta Cost of Equity
Capital”. Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak Ujiyantho, Muh. Arief., dan Bambang Agus Pramuka. “Mekanisme Corporate
Governace, Manajemen Laba dan kinerja keuangan. Simposium Nasional
Akuntansi 10. Makassar.
Untung, Hendrik Budi. 2008. Corporate social responsibility. Sinar Grafika.
Jakarta.
Utama, Sidharta. 2007. “Evaluasi infrastruktur pendukung pelaporan tanggung
Jawab sosial dan lingkungan di Indonesia”. Pidato ilmiah pengukuhan
guru besar FEUI. Jakarta
Wahyudi, Untung dan Hartini Setyaning Prawesti. 2006. “Implikasi Struktur
Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan dengan Keputusan Keuangan
Sebagai Variabel Intervening”. Simposium Nasional Akuntansi 9.
Padang.
Waryanti. 2009. “ Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan
Sosial pada Perusahaan Manufaktur di BEI”. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Universitas Diponegoro.
Widowati, Nungki. 2009. “ Pengaruh corporate governance terhadap manajemen
laba pada perusahaan manufaktur di BEI”. Skripsi Tidak Dipublikasikan.
Universitas Diponegoro.
World
Business Council for Sustainable Development (WBCSD).
2000.“WBCSD’s first report-Corporate social Responsibility”. Geneva.
Www.csrindonesia.com
Yu, Guanghua dan Shao, Li. 2007. “Against Legal Origin: Of Ownership
Concentration And Disclosure”. University of Hong Kong.
LAMPIRAN
115
LAMPIRAN A
Daftar Indikator Pengungkapan CSR menurut GRI
INDIKATOR KINERJA EKONOMI
Kinerja Ekonomi
EC 1
Nilai ekonomi yang dihasilkan dan didistribusikan secara langsung, termasuk
pendapatan, biaya operasi, kompensasi kepada karyawan, donasi dan investasi ke
masyarakat, laba ditahan serta pembayaran ke penyedia modal dan pemerintah.
EC 2
Implikasi keuangan dan berbagai risiko dan peluang untuk segala aktivitas perusahaan
dalam menghadapi perubahan iklim.
EC 3
Daftar cakupan kewajiban perusahaan dalam perencanaan benefit yang sudah
ditetapkan.
EC 4
Bantuan keuangan finansial signifikan yang diperoleh dari pemerintah.
Keberadaan Pasar
EC 5
Parameter standar upah karyawan di jenjang awal dibandingkan dengan upah karyawan
minimum yang berlaku pada lokasi operasi tertentu.
EC 6
Kebijakan, penerapan dan pembagian pembelanjaan pada subkontraktor (mitra kerja)
setempat yang ada di berbagai lokasi operasi.
EC 7
Prosedur penerimaan tenaga kerja lokal dan beberapa orang di level manajemen senior
yang diambil dari komunitas setempat di beberapa lokasi operasi.
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
EC 8
Pengembangan dan dampak dari investasi infrastruktur dan pelayanan yang disediakan
terutama bagi kepentingan publik melalui perdagangan, jasa dan pelayanan atau pun
yang sifatnya pro bono.
EC 9
Pemahaman dan penjelasan atas dampak ekonomi secara tidak langsung, termasuk
luasan dampak.
INDIKATOR KINERJABIDANG LINGKUNGAN
Material
EN 1
Material yang digunakan dan diklasifikasikan berdasarkan berat dan ukuran.
EN 2
Persentase material bahan daur ulang yang digunakan.
Energi
EN 3
Pemakaian energi yang berasal dari sumber energi utama baik secara langsung maupun
tidak langsung
EN 4
Pemakaian energi yang berasal dari sumber utama secara tidak langsung.
EN 5
Energi yang berhasil dihemat berkat adanya efisiensi dan konservasi yang lebih baik.
EN 6
Inisiatif penyediaan produk dan jasa yang menggunakan energi efisien atau sumber
daya terbarukan, serta pengurangan penggunaan energi sebagai dampak dari inisiatif
ini.
EN 7
Inisiatif dalam hal pengurangan pemakaian energi secara tidak langsung dan
pengurangan yang berhasil dilakukan.
Air
EN 8
Total pemakaian air dari sumbernya.
EN 9
Pemakaian air yang memberi dampak cukup signifikan pada sumber mata air.
EN 10 Persentase dan total jumlah air yang didaur ulang dan digunakan kembali.
116
Keanekaragaman Hayati
EN 11 Lokasi dan luas lahan yang dimiliki, disewakan, dikelola, atau berdekatan dengan area
yang dilindungi dan area dengan nilai keanekaragaman hayati yang tinggi di luar area
yang dilindungi.
EN 12 Deskripsi dampak signifikan yang ditimbulkan oleh aktivitas, produk, dan jasa pada
keanekaragaman hayati yang ada di wilayah yang dilindungi serta area dengan nilai
keanekaragaman hayati di luar wilayah yang dilindungi.
EN 13 Habitat yang dilindungi atau dikembalikan kembali.
EN 14 Strategi, aktivitas saat ini dan rencana masa depan untuk mengelola dampak terhadap
keanekaragaman hayati.
EN 15 Jumlah spesies IUCN Red List dan spesies yang masuk dalam daftar konservasi
nasional dengan habitat di wilayah yang terkena dampak operasi, berdasarkan risiko
kepunahan.
Emisi, Effluent, dan Limbah
EN 16 Total emisi gas rumah kaca secara langsung dan tidak langsung yang diukur
berdasarkan berat.
EN 17 Emisi gas rumah kaca secara tidak langsung dan relevan yang diukur berdasarkan
berat.
EN 18 Inisiatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan pengurangan yang berhasil
dilakukan.
EN 19 Emisi dari substansi perusak lapisan ozon yang diukur berdasarkan berat.
EN 20 NO, SO dan emisi udara lain yang signifikan dan diklasifikasikan berdasarkan jenis
dan berat.
EN 21 Total air yang dibuang berdasarkan kualitas dan tujuan.
EN 22 Total berat dari limbah yang diklasifikasikan berdasarkan jenis dan
metode pembuangan.
EN 23 Total biaya dan jumlah yang tumpah.
EN 24 Berat dari limbah yang ditransportasikan, diimpor, diekspor atau diolah yang
diklasifikasikan berbahaya berdasarkan Basel Convention Annex I, II, III, dan VIII,
dan persentase limbah yang dikapalkan secara internasional.
EN 25 Identitas, ukuran, status yang dilindungi dan nilai keanekaragaman hayati yang
terkandung di dalam air dan habitat yang ada disekitarnya secara signifikan terkena
dampak akibat adanya laporan mengenai kebocoran dan pemborosan air yang
dilakukan oleh perusahaan.
Produk dan Jasa
EN 26 Inisiatif untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan yang diakibatkan oleh
produk dan jasa, dan memperluas dampak dari inisiatif ini.
EN 27 Persentase dari produk yang terjual dan materi kemasan dikembalikan berdasarkan
kategori.
Kesesuaian
EN 28 Nilai moneter dari denda dan jumlah biaya sanksi-sanksi akibat adanya pelanggaran
terhadap peraturan dan hukum lingkungan hidup.
Transport
EN 29 Dampak signifikan terhadap lingkungan yang diakibatkan adanya transportasi produk,
benda lain dan materi yang digunakan perusahaan dalam operasinya mengirim para
pegawainya.
117
Keseluruhan
EN 30 Jumlah biaya untuk perlindungan lingkungan dan investasi berdasarkan
jenis kegiatan.
INDIKATOR PRAKTEK TENAGA KERJA DAN KINERJA PEKERJA YANG
LAYAK
Ketenagakerjaan
LA 1
Komposisi jumlah tenaga kerja berdasarkan tipe pekerjaan, kontrak kerja
dan lokasi.
LA 2
Jumlah total dan rata-rata turnover tenaga kerja berdasarkan kelompok usia, jenis
kelamin dan area.
LA 3
Benefit yang diberikan kepada pegawai tetap.
Hubungan Tenaja Kerja / Manajemen
LA 4
Persentase pegawai yang dijamin oleh ketetapan hasil negosiasi yang dibuat secara
kolektif.
LA 5
Batas waktu minimum pemberitahuan yang terkait mengenai perubahan kebijakan
operasional, termasuk mengenai apakah hal tersebut akan tercantum dalam perjanjian
bersama.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
LA 6
Persentase total pegawai yang ada dalam struktur formal manajemen, yaitu komite
keselamatan dan kesehatan kerja yang membantu mengawasi dan memberi arahan
dalam program keselamatan dan kesehatan kerja.
LA 7
Tingkat dan jumlah kecelakaan, jumlah hari hilang, dan tingkat absensi yang ada
dilihat berdasarkan area.
LA 8
Program pendidikan, pelatihan, pembimbingan, pencegahan dan pengendalian risiko
diadakan untuk membantu pegawai, keluarga mereka dan lingkungan sekitar dalam
menanggulangi penyakit serius.
LA 9
Hal-hal mengenai keselamatan dan kesehatan kerja tercantum secara formal dan tertulis
dalam sebuah perjanjian bersama serikat pekerja.
Pendidikan dan Pelatihan
LA 10 Jumlah waktu rata-rata untuk pelatihan setiap tahunnya, setiap pegawai berdasarkan
kategori pegawai.
LA 11 Program keterampilan manajemen dan pendidikan jangka panjang yang mendukung
kecakapan para pegawai dan membantu mereka untuk maju dan terus berkarir.
LA 12 Persentase dari para pegawai yang menerima penilaian atas performa dan
perkembangan karir mereka secara berkala.
Keanekaragaman dan Kesempatan Yang Sama
LA 13 Komposisi badan tata kelola dan penjabaran pegawai berdasarkan kategori seperti jenis
kelamin, usia, kelompok minoritas dan indikasi keanekaragaman lainnya.
LA 14 Perbandingan upah standar antara pria dan wanita berdasarkan
kategori pegawai.
INDIKATOR KINERJA HAK ASASI MANUSIA
Praktik Investasi dan Pengadaan
HR 1
Persentase dan total jumlah perjanjian investasi yang ada dan mencakup pasal
mengenai hak asasi manusia atau telah melalui evaluasi mengenai hak asasi manusia.
HR 2
Persentase dari mitra kerja dan pemasok yang telah melalui proses seleksi berdasarkan
prinsip-prinsip HAM yang telah dijalankan.
118
HR 3
Total jumlah waktu pelatihan mengenai kebijakan dan prosedur yang terkait dengan
aspek HAM yang berhubungan dengan prosedur kerja, termasuk persentase pegawai
yang dilatih.
Non-Diskriminasi
HR 4
Total jumlah kasus diskriminasi dan langkah penyelesaian masalah yang diambil.
Kebebasan Berserikat dan Daya Tawar Kelompok
HR 5
Prosedur kerja yang teridentifikasi di mana hak untuk melatih kebebasan berserikat dan
perundingan bersama menjadi berisiko dan langkah yang diambil untuk mendukung
hak kebebasan berserikat tersebut.
Tenaga Kerja Anak
HR 6
Prosedur kerja yang teridentifikasi memiliki risiko akan adanya pekerja anak dan
langkah yang diambil untuk menghapuskan pekerja anak.
Pegawai Tetap dan Kontrak
HR 7
Prosedur kerja yang teridentifikasi memiliki risiko akan adanya pegawai tetap dan
kontrak, dan langkah yang diambil untuk menghapuskan pegawai tetap.
Praktik Keselamatan
HR 8
Persentase petugas keamanan yang dilatih sesuai dengan kebijakan atau prosedur
perusahaan yang terkait dengan aspek HAM dan prosedur kerja.
Hak Masyarakat (Adat)
HR 9
Total jumlah kasus pelanggaran yang berkaitan dengan hak masyarakat adat dan
langkah yang diambil.
INDIKATOR KINERJA KEMASYARAKATAN
Kemasyarakatan
SO 1
Sifat, cakupan, dan keefektifan atas program & kegiatan apapun yang menilai &
mengelola dampak operasi terhadap masyarakat, termasuk saat memasuki wilayah
operasi, selama beroperasi & pasca operasi.
Korupsi
SO 2
Persentase dan total jumlah unit usaha yang dianalisa memiliki risiko terkait tindak
penyuapan dan korupsi.
SO 3
Persentase jumlah pegawai yang dilatih dalam prosedur dan kebijakan perusahaan
terkait penyuapan dan korupsi.
SO 4
Langkah yang diambil dalam mengatasi kasus tindak penyuapan dan korupsi.
Kebijakan Publik
SO 5
Deskripsi kebijakan umum dan kontribusi dalam pengembangan kebijakan umum dan
prosedur lobi.
SO 6
Perolehan keuntungan secara finansial dan bentuk kentungan lainnya yang diperoleh
dari hasil kontribusi kepada partai politik, politisi dan instansi terkait oleh negara.
Perilaku Anti persaingan
SO 7
Total jumlah tindakan hukum terhadap sikap anti kompetisi dan praktek monopoli dan
kecurangan-kecurangan yang dihasilkan dari praktek-praktek tersebut.
Kesesuaian
SO 8
Nilai moneter dari denda dan jumlah biaya sanksi-sanksi akibat pelanggaran hukum
dan kebijakan.
119
INDIKATOR KINERJA TANGGUNG JAWAB DARI DAMPAK PRODUK
Keselamatan dan Kesehatan Konsumen
PR 1
Proses dan tahapan kerja dalam mempertahankan kesehatan dan keselamatan
konsumen dalam penggunaan produk atau jasa yang dievaluasi untuk perbaikan dan
persentase dari kategori produk dan jasa yang terkait dalam prosedur tersebut.
PR 2
Jumlah total kasus pelanggaran kebijakan dan mekanisme kepatuhan yang terkait
dengan kesehatan dan keselamatan konsumen dalam keseluruhan proses, diukur
berdasarkan hasil akhirnya.
Labelling Produk dan Jasa
PR 3
Jenis informasi produk dan jasa yang dibutuhkan dalam prosedur kerja, dan persentase
produk dan jasa yang terkait dalam prosedur tersebut.
PR 4
Jumlah total kasus pelanggaran kebijakan dan mekanisme kepatuhan yang terkait
dengan informasi produk dan jasa, dan pelabelan, diukur berdasarkan hasil akhirnya.
PR 5
Praktek-praktek yang terkait dengan kepuasan konsumen, termasuk hasil survey
evaluasi kepuasan konsumen.
Komunikasi Pemasaran
PR 6
Program-program yang mendukung adanya standar hukum dan mekanisme kepatuhan
yang terkait dengan komunikasi penjualan, termasuk iklan, promosi dan bentuk
kerjasama.
PR 7
Jumlah total kasus pelanggaran kebijakan dan mekanisme kepatuhan yang terkait
dengan komunikasi penjualan, termasuk iklan, promosi dan bentuk kerjasama, diukur
berdasarkan hasil akhirnya.
Privasi Konsumen
PR 8
Jumlah total pengaduan yang tervalidasi yang berkaitan dengan pelanggaran privasi
konsumen dan data konsumen yang hilang.
Kesesuaian
PR 9
Nilai moneter dari denda dan jumlah biaya sanksi-sanksi akibat pelanggaran hukum
dan kebijakan yang terkait dengan pengadaan dan penggunaan produk dan jasa.
Sumber : GRI (Global Reporting Initiatives) G3 Guideliness
120
LAMPIRAN B
Daftar Perusahaan Sampel Penelitian
Agriculture
Mning
Basic Industry &
Chemical
Miscellaneous
Consumer Goods
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
Tipe
Industri
Property, Real Estate,
& Construction
No
Nama Perusahaan
Astra Agro Lestari Tbk.
Bakrie Sumatra Plantation Tbk.
Central Proteinaprima Tbk.
Multibreeder Adirama Indonesia Tbk.
Sampoerna Agro Tbk.
SMART Tbk.
Aneka Tambang Tbk.
Bayan Resources Tbk.
Bukit Asam Tbk.
Elnusa Tbk.
Energi Mega Persada Tbk.
Asahimas Flat Glass Tbk.
Dynaplast Tbk.
Fajar Surya Wisesa Tbk.
Holcim Tbk.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Semen Gresik Tbk.
Sierad Produce Tbk.
Sorini Agro Asia Corporindo Tbk.
Tri Polyta Indonesia Tbk.
Astra Internasional Tbk.
Astra Otoparts Tbk.
Gajah Tunggal Tbk.
Kabelindo Murni Tbk.
Selamat Sempurna Tbk.
Voksel Electric Tbk.
Aqua Golden Mississippi Tbk.
Bentoel International Investama Tbk.
Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.
Indofarma Tbk.
Kalbe Farma Tbk.
Mandom Indonesia Tbk.
Merck Tbk.
Unilever indonesia Tbk.
Adhi Karya Tbk.
BakrieLand Development Tbk.
Bhuwanatala Indah Permai Tbk.
Cowell Development Tbk.
Duta Anggada realty Tbk.
Duta Graha Indah Tbk.
Global Land Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism Development Tbk.
Intiland Development Tbk.
Kode
Saham
AALI
UNSP
CPRO
MBAI
SGRO
SMAR
ANTM
BYAN
PTBA
ELSA
ENRG
AMFG
DYNA
FASW
SMCB
INTP
SMGR
SIPD
SOBI
TPIA
ASII
AUTO
GJTL
KBLM
SMSM
VOKS
AQUA
RMBA
HMSP
INAF
KLBF
TCID
MERK
UNVR
ADHI
ELTY
BIPP
COWL
DART
DGIK
KPIG
GMTD
DILD
Finance
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
Infrastructure,
Utilities, &
Transportation
121
Jakarta International Hotels & Development Tbk.
Pakuwon Jati Tbk.
Surya Semesta Internusa Tbk.
Suryamas Dutamakmur Tbk.
Wijaya Karya Tbk.
Excelcomindo Pratama Tbk.
Indonesia Air Transport Tbk.
Indosat Tbk.
Mobile-8 Telecom Tbk.
Panorama Transportasi Tbk.
Pelayaran Tempuran Mas Tbk.
Perusahaan gas Negara Tbk.
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Adira Finance Tbk.
Asuransi Bintang Tbk.
Asuransi Dayin Mitra Tbk.
Asuransi Harta Aman Pratama Tbk.
Bank Artha Graha Internasional Tbk.
Bank central Asia Tbk.
Bank Negara Indonesia Tbk.
Bank Rakyat Indonesia Tbk.
Bank Bukopin Tbk.
Bank Bumi Arta Tbk.
Bank Bumiputera Indonesia Tbk.
Bank CIMB Niaga Tbk.
Bank Danamon Indonesia Tbk.
Bank Ekonomi Raharja Tbk.
Bank Himpunan Saudara Tbk.
Bank Internasional Indonesia Tbk.
Bank Kesawan Tbk.
Bank Mandiri Tbk.
Bank Mega Tbk.
Bank OCBC NISP Tbk.
Bank Pan Indonesia Tbk.
Bank Permata Tbk.
Bank Swadesi Tbk.
Bank UOB Buana Tbk.
Bhakti Capital Indonesia Tbk.
Buana Finance Tbk.
Duta Kirana Finance Tbk.
Equity Development Investment Tbk.
Indocitra Finance Tbk.
Kresna Graha Sekurindo Tbk.
Lippo General Insurance Tbk.
Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk.
Pacific Utama Tbk.
Panin Sekuritas Tbk.
JIHD
PWON
SSIA
SMDM
WIKA
EXCL
AITA
ISAT
FREN
WEHA
TMAS
PGAS
TLKM
ADMF
ASBI
ASDM
AHAP
INPC
BBCA
BBNI
BBRI
BBKP
BNBA
BABP
BNGA
BDMN
BAEK
SDRA
BNII
BKSW
BMRI
MEGA
NISP
PNBN
BNLI
BSWD
BBIA
BCAP
BBLD
DKFT
GSMF
INCF
KREN
LPGI
MREI
LPPF
PANS
122
Trade, Service, & Investment
91
Ace Hardware Indonesia Tbk.
92
Agis Tbk.
93
Alfa Retailindo Tbk.
94
Anta Express Tour and Travel Service Tbk.
95
Astra Graphia Tbk.
96
Bakrie and Brothers Tbk.
97
Bhakti Investama Tbk.
98
Centrin Online Tbk.
99
Enseval Putera Megatrading Tbk.
100
Hexindo Adiperkasa Tbk.
101
Hotel Sahid Jaya International Tbk.
102
Jakarta Setiabudi Internasional Tbk.
103
Mas Murni Indonesia Tbk.
104
Metrodata Electronic Tbk.
105
Milennium Pharmacon International Tbk.
106
Modern Internasional Tbk.
107
Multi Indocitra Tbk.
108
Pelita Sejahtera Abadi Tbk.
109
Pembangunan Jaya Ancol Tbk.
110
Plaza Indonesia Realty Tbk.
111
Pool Advista Indonesia Tbk.
112
Tempo Inti Media Tbk.
113
Tigaraksa Satria Tbk.
114
Tira Austenite Tbk.
115
Tunas Ridean Tbk.
116
United Tractors Tbk.
Sumber : IDX Statistics 2008, diolah
ACES
TMPI
ALFA
ANTA
ASGR
BNBR
BHIT
CENT
EPMT
HEXA
SHID
JSPT
MAMI
MTDL
SDPC
MDRN
MICE
PSAB
PJAA
PLIN
POOL
TMPO
TGKA
TIRA
TURI
UNTR
123
LAMPIRAN C
Hasil Pengolahan Data Dengan SPSS 17.0
Descriptives
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
2
Mean
10
Std. Deviation
UKOM
116
4.72
RAKOM
116
1
51
8.87
8.963
INKOM
116
.2000
1.0000
.436792
.1285354
UDIT
116
2
7
3.44
.935
RADIT
116
1
51
10.26
9.174
KOMDIT
116
1
5
1.84
.938
MANJ
116
.000
77.700
2.14192
10.350370
INST
116
.0000
99.8900
42.165603
33.3399826
ASING
116
.0000
99.8000
27.280500
30.7995591
KONST
116
0
1
.59
.493
SIZE
116
10.1335
14.5544
12.425369
.8886195
LEV
116
-13.4067
14.9646
2.737468
3.8650753
CSRI
116
.0633
.6076
.206133
.0862054
Valid N (listwise)
116
Regression
Variables Entered/Removed
Model
1
Variables Entered
Variables Removed
LEV, MANJ, KONST, ASING, RADIT,
Method
. Enter
UKOM, KOMDIT, INKOM, RAKOM,
UDIT, SIZE, INSTa
a. All requested variables entered.
Model Summaryb
Model
1
R
R Square
.691
a
.478
Adjusted R Square
.417
Std. Error of the
Estimate
.0658346
a. Predictors: (Constant), LEV, MANJ, KONST, ASING, RADIT, UKOM, KOMDIT,
INKOM, RAKOM, UDIT, SIZE, INST
b. Dependent Variable: CSRI
1.854
124
ANOVAb
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Regression
.408
12
.034
Residual
.446
103
.004
Total
.855
115
Sig.
7.848
.000
a
a. Predictors: (Constant), LEV, MANJ, KONST, ASING, RADIT, UKOM, KOMDIT, INKOM, RAKOM,
UDIT, SIZE, INST
b. Dependent Variable: CSRI
a
Coefficients
Model
1(Constant)
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
-.418
.129
UKOM
.002
.004
RAKOM
.001
.001
INKOM
-.019
UDIT
RADIT
Beta
Collinearity Statistics
t
Sig.
Tolerance
VIF
-3.238
.002
.051
.560
.576
.615
1.625
.147
1.641
.104
.629
1.589
.058
-.029
-.334
.739
.672
1.487
.006
.010
.063
.580
.563
.432
2.317
.001
.001
.130
1.524
.131
.693
1.443
-.017
.009
-.184
-1.847
.068
.512
1.954
MANJ
.000
.001
.060
.786
.434
.876
1.141
INST*
.000
.000
-.287
-2.392
*.019
.353
2.829
ASING
.000
.000
-.202
-1.746
.084
.379
2.641
KONST*
.033
.013
.189
2.544
*.012
.921
1.086
SIZE*
.053
.011
.544
4.738
*.000
.384
2.602
LEV*
-.008
.002
-.365
-3.961
*.000
.596
1.678
KOMDIT
a. Dependent Variable: CSRI
125
Charts
C
126
NPar Tests
N
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstand
dardized Resid
dual
N
116
a,,b
Normal Parameters
Mean
Std. Deviiation
Most Extrreme Difference
es
.00
000000
.062
230516
Absolute
.073
Positive
.073
Negative
-.042
Kolmogorrov-Smirnov Z
.790
Asymp. Sig.
S (2-tailed)
.560
a. Test disstribution is No
ormal.
b. Calcula
ated from data..
Download