9 BAB 2 LANDASAN TEORI Teori umum yang

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
Teori umum yang menjadi dasar penulisan adalah sebagai berikut :
2.1. Data
Data merupakan sebuah fakta di dalam kehidupan keseharian kita
yang dapat berbentuk kalimat dan angka. Semua informasi yang kita terima
merupakan hasil dari pengolahan data, hal ini juga sangat menjadi bagian
penting bagi DBMS.
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p70), mengatakan Data adalah
komponen yang terpenting dari DBMS environment dari sudut end-user yang
berguna menghubungkan user.
Menurut Hoffer (2009, p46) data disebut sebagai fakta tentang bendabenda dan peristiwa yang dapat direkam dan disimpan di dalam media
komputer seperti pada database seorang penjual, terdapat data yang
mencakup fakta-fakta seperti nama pelanggan, alamat, dan nomor telepon.
Jadi dapat dikatakan data ialah fakta-fakta yang masih belum di olah
didalam kehidupan sehari-hari dan berpengaruh dalam DBMS environment
yang berguna untuk menghubungkan user.
2.2. Sistem
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling
berkaitan satu dengan lainnya, sehingga menjadi suatu kesatuan dan terpadu.
Sistem juga diperlukan untuk memberdayakan pengguna informasi.
Menurut Connolly & Begg (2010: p266), sistem merupakan tatacara
untuk menjelaskan ruang lingkup dan batas-batas dari sistem database dan
pandangan pengguna.
9
10
Menurut Satzinger, Jackson, & Burd (2010: p6), sistem adalah
sebagai sekumpulan fungsi-fungsi kompleks yang bergantung pada bagian
tersebut dan interaksi diantara bagian tersebut.
Jadi dapat dikatakan sistem adalah sekumpulan dua atau lebih fungsi
kompleks yang saling berinteraksi.
2.3. Sistem Informasi
Pada Sistem Informasi memiliki komponen yang saling berhubungan
dalam berbagai proses termasuk proses mengumpulkan, memproses,
menyimpan dan mendistribusikan informasi merupakan suatu pengertian
dari sebuah informasi.
Menurut
Connolly & Begg (2010 : p338), sistem informasi
merupakan sumber daya yang memungkinkan pengumpulan, pengelolaan,
pengaturan, dan penyebaran informasi diseluruh organisasi yang ada.
Menurut Satzinger (2010 : p6), sistem informasu adalah suatu
kumpulan komponen yang saling berhubungan, mengumpulkan, memproses,
menyimpan dan mendistribusikan informasi sebagai hasil dari informasi.
Jadi dapat disimpulkan sistem informasi adalah komponen yang saling
berhubungan pada setiap proses operasional yang ada dalam organisasi.
2.4. Object-Oriented Analysis and Design (OOAD)
Menurut Satzinger, Jackson, dan Burd (2010, p140) Object Oriented
Analysis adalah mendefinisikan semua jenis objek yang melakukan pekerjaan
dalam suatu sistem dan menunjukkan apa yang interaksi pengguna butuh
untuk menyelesaikan tugas. Diagram yang terdapat dalam OOA berupa:
1.
Activity Diagram
Satzinger, Jackson, & Burd (2010: p141) Activity diagram merupakan
sebuah tipe dari diagram workflow yang menggambarkan tentang
aktivitas dari pengguna ketika melakukan setiap kegiatan dan aliran
sekuensial.
11
Gambar 2.1 : Activity Diagram
(Sumber : Satzinger 2010, p142)
2.5. Basis Data
Pada era atau zaman sekarang data semakin banyak dan semakin
menumpuk, begitu juga pada data pada setiap perusahaan semakin banyak
dan
semakin sulit untuk mengaturnya untuk itu basis data diperlukan.
Kondisi ini mendukung canggihnya teknologi untuk menjadikan data untuk
di simpan dan di atur untuk mempermudah proses pengolahan data.
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p65), basis data adalah kumpulan
data yang saling terkait yang terbagi secara logikal serta deskripsi dari data
tersebut, dibuat atau dirancang untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan
oleh suatu organisasi
Pernyataaan basis data juga diperkuat oleh pendapat (Satzinger,
Robert, dan Burd, 2010, p373), yang menyatakan bahwa basis data
merupakan sekumpulan data yang terintegrasi sebagai tempat penyimpanan
data, diatur dan dikontrol secara terpusat.
12
Jadi dapat dikatakan basis data adalah sekumpulan data yang saling
terintegrasi, serta sebagai tempat penyimpanan, pengaturan, dan pengontrolan data
yang memuat informasi yang berguna dan dibutuhkan untuk suatu organisasi.
2.6. DBMS(Database Management System)
DBMS sangat diperlukan pada saat ini, merupakan tools penyimpanan data
juga dapat mengatur dan memelihara data. Menurut (Satzinger, jackson & burd,
2012, p373), DBMS merupakan sistem perangkat lunak yang dapat mengatur dan
mengontrol satu atau lebih basis data.
Pendapat ini di perkuat oleh pernyataan dari (Connolly & Begg, 2010, p66),
DBMS adalah sistem software yang memungkinkan user untuk mendefinisikan,
membuat, merawat database dan menyediakan kontrol akses ke database. DBMS
juga merupakan software yang berinteraksi dengan aplikasi program dan database
itu sendiri, biasanya sebuah DBMS meyediakan fasilitas seperti :
• DDL(Data Definition Language)
Memungkinkan pengguna untuk menentukan basis data, seperti tipe
data dan struktur.
• DML(Data Manipulation Language)
Memungkinkan pengguna untuk memasukan, mengubah, menghapus,
dan mengambil data dari basis data.
• Menyediakan akses control ke basis data
Memungkinkan untuk mencegah pengguna yang tidak bertanggung
jawab untuk mengakses basis data.
Jadi dapat di katakan bahwa DBMS merupakan sistem perangkat lunak atau
software yang memungkinkan user mengatur akses pada basis data untuk
mendefinisikan, membuat, merawat, dan menyediakan hak akses pada database.
2.6.1. Komponen DBMS (Database Management System)
Sebelum membuat DBMS kita harus menyiapkan komponen yang dapat
mendukung kinerja pada DBMS, komponennya yaitu sebuah perangkat
keras, perangkat lunak serta data dan prosedurnya. Menurut (Connolly &
13
Begg, 2010, p68), ada lima komponen penting didalam lingkungan
DBMS yaitu:
• Hardware (Perangkat keras)
Untuk
membuat
DBMS
dan
aplikasi
berjalan,
maka
membutuhkan perangkat keras. Perangkat keras berupa PC, single
mainframe, dan jaringan komputer. Perangkat keras ini dibutuhkan
tergantung pada kebutuhan organisasi dan DBMS apa yang akan di
pakai.
• Software (Perangkat lunak)
Komponen perangkat lunak meliputi perangkat lunak DBMS
itusendiri dan
program-program aplikasi bersama sistem operasi,
termasuk sistem jaringan jika DBMS dioperasikan menggunakan
jaringan.
• Data
Data
adalah
komponen
yang
terpenting
dari
DBMS
environment dari sudut end-user yang berguna menghubungkan user.
Data juga berperan sebagai penghubung antara komponen mesin dan
komponen manusia.
• Procedure
Procedure lebih mengarah pada instruksi-instruksi dan aturan
yang mengatur desain dan penggunaan database. Pengguna sistem
dan staff yang mengelola database membutuhkan prosedur-prosedur
yang bagaimana cara menggunakan atau menjalankan sistem tersebut
secara dokumentasi. Berikut instruksi dalam penggunaannya yaitu:
o Log on ke DBMS.
o Menggunakan sebagian fasilitas DBMS atau program
aplikasi.
o Start dan stop DBMS.
o Membuat salinan backup database.
o Mengatasi kegagalan perangkat keras atau perangkat
lunak. Termasuk prosedur mengidentifikasi komponen
yang gagal dan bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana cara merecover database.
14
o Merubah struktur dari tabel, mengatur ulang database ke
beberapa disk, meningkatkan performa, atau mengarsipkan
data ke penyimpanan sekunder awau cadangan.
• People
Terdapat lima tipe orang yang berpartisipasi didalam
lingkungan DBMS yaitu :
o Data dan Database Administrator
Data Administrator adalah orang yang bertanggung
jawab untuk mengatur sumber data, termasuk perencanaan
database, pengembangan dan pemeliharaan, kebijaksanaan,
dan prosedur-prosedur, dan perancangan konseptual/logikal
database yang sesuai standar.
o Database Administrator
Merupakan orang yang bertanggung jawab untuk
hubungan fisikal dari database,termasuk perancangan fisikal
database dan implementasi, keamanan dan mengontrol
integritas, pemeliharaan dari sistem operasi, serta memastikan
kepuasan pengguna dari performa aplikasi tersebut.
Database designers dibagi menjadi 2 tipe designer
yaitu logical database designer dan physical database
designer.
o Logical database designer
Logical database designer adalah lebih berkaitan
dengan identifikasi data (entity dan atribut), hubungan antar
data, dan kendala pada data yang akan disimpan dalam
database.
o Physical database designer
Physical database designer lebih mengarah pada
menentukan bagaimana perancangan logikal database dapat di
rubah dan direalisasikan ke dalam bentuk fisikal. Hal ini
melibatkan:
• Pemetaan perancangan logikal database menjadi
beberapa tabel dan penjelasan integritasnya.
15
• Memilih struktur penyimpanan yang spesifik dan
metode akses untuk performa pengarsipan data yang
baik.
• Merancang segala langkah-langkah keamanan yang
dibutuhkan didalam data.
o End User
End user merupakan orang yang nantinya akan
menggunakan aplikasi yang berhubugan dengan sistem basis
data yang telah dibuat sebelumnya. Kepuasan end-user akan
menjadi sebuah ukuran keberhasilan dari sistem basis data
yang telah dibuat, karena sistem basis data dibuat untuk
memudahkan end-user melakukan pekerjaan secara efektif
dan efisien.
Jadi dengan kelima komponen Hardware, Software, Data,
Procedure dan People, kita perlukan untuk membuat DBMS yang baik.
2.6.2. Fungsi DBMS
Fungsi DBMS ini merupakan tipe dari fungsi service fasilitas dalam
mengelola basis data. Menurut (Connolly & Begg, 2010, p99),
sebagai berikut:
• Penyimpanan, pengambilan dan pengubahan data
DBMS harus memiliki kemampuan untuk menyimpan,
mengambil, dan mengubah data dalam database. Ini merupakan
fungsi fundamental dalam DBMS.
• User dapat mengakses catalog
DBMS harus mempunyai catalog yang berisi dekripsi item
data yang disimpan dan diakses oleh pengguna. Sistem katalog dapat
menyimpan data tentang skema, user, aplikasi, dan sebagainya.
Sistem katalog atau kamus data yang berarti gudang informasi atau
deskripsi data dalam database yang dikenal dengan nama metadata
(data dalam data). Sistem katalog berupa :
16
• Nama, tipe, dan ukuran tipe data.
• Nama penghubung.
• Batasan-batasan integritas dalam data.
• Nama pengguna yang memiliki wewenang
untuk mengakses data.
• Datayang dapat diakses oleh pengguna dan tipe
akses yang di perbolehkan berupa :
o Insert
o Update
o Delete
o Read access
• Eksternal, konseptual, dan skema internal serta
pemetaan antara skema.
• Penggunaan statistik, seperti frekuensi transaksi
dan jumlah pada jumlah akses yang dibuat
untuk objek dalam database.
• Dukungan transaksi
DBMS harus memberikan setiap mekanisme transaksi dapat di
update sesuai dengan transaksi yang sudah di update. Transaksi
merupakan sekumpulan aksi yang dilakukan oleh user atau program
aplikasi yang dapat mengakses dan mengubah isi dari database.
•
Layanan control konkurensi
DBMS harus dapat memastikan bahwa setiap mekanisme
database diupdate secara benar saat beberapa pengguna melakukan
update database secara bersamaan. Salah satu objektif dalam
menggunakan DBMS adalah memungkinkan banyak pengguna untuk
mengakses data. Akses konkurensi relative mudah apabila semua
pengguna hanya membaca data.
•
Layanan recovery
DBMS
harus
memastikan
mekanisme
dari
pemulihan
database apabila terdapat kejadian database rusak dalam berbagai
17
kondisi. DBMS harus menyediakan mekanisme untuk mengembalikan
database ke keadaan yang konsisten.
•
Layanan kepemilikan
DBMS harus memastikan bahwa hanya satu orang yang
berwenang saja yang dapat mengakses database.
•
Dukungan komunikasi data
DBMS harus dapat mendukung integrasi dan berhubungan
dengan software lainnya.
•
Layanan integrasi
DBMS harus memastikan kedua data dalam database dan
perubahan pada data mengikuti aturan yang berlaku. Hal ini juga
menjadi pertimbangan untuk tipe dari sistem proteksi database.
•
Layanan peningkatan independensi data
DBMS
harus
mempunyai
fasilitas
untuk
mendukung
independence atau independensi program dari struktur database.
•
Layanan utilitas
DBMS harus menyediakan beberapa layanan utilitas. Program
utilitas dapat membantu untuk membuat database menjadi lebih
efisien. Contoh kegiatan utilitas adalah :
o Import fasilitas, load database dari file flat, dan eksport
fasilitas, serta tidak load database dari file flat.
o Memantau fasilitas, memantau penggunaan database dan
operasi.
o Analisis statistic program, dan mengevaluasi performa dari
statistik penggunaan database dan operasi.
o Fasilitas index organisasi, untuk mengatur kembali index dan
overflows.
o Alokasi dan relokasi, menghapus physical record dari tempat
penyimpanan.
18
2.6.3. Keuntungan DBMS
Database Management System (DBMS) pasti memiliki
dampak bagi yang menggunakannya beberapa keuntungan dimanfaatkan
perusahaan dalam
pengembangkan dalam perusahaan. Menurut
(Connolly & Begg, 2010, p77), keuntungan DBMS yaitu :
•
Control of data redundancy
Dengan cara mengurangi duplikasi data sebelum data disimpan dalam
database maka DBMS akan mengeliminasi redundance dengan data
terintegrasi cukup disimpan sekali.
•
Data consistency
Dengan cara mengeliminasi atau mengontrol redudansi data. Hal ini
dapat mengurangi resiko inkonsistensi.
•
Sharing of data
Sistem basis data terdapat pada organisasi yang dapat digunakan oleh
seluruh pengguna yang memiliki hak akses.
•
Improved data integrity
Database integrity lebih mengarah untuk meningkatkan validitas dan
konsistensi data tersebut. Integritas biasanya dijabarkan ke dalam
constraints,
yang mana aturan konsistensi database tidak
mengijinkan untuk dilanggar.
•
Improved security
Database security adalah bagian dari keamanan database dengan
meningkatkan database security, memproteksi basis data dari
pengguna yang tidak dikenal.
•
Enforcement of standards
Karena
adanya
pemakaian
data
secara
bersamaan,
terdapat
penambahan tabel, field, tipe data, hak akses harus dibuat standar dan
dokumentasinya.
•
Increased productivity
Dengan file-based-systems, deskripsi data dan logika akses data telah
dibuat ke dalam beberapa program aplikasi, dan mengurangi waktu
pengembangan.
19
•
Improved backup dan recovery services
Dengan meningkatkan backup data maka dapat mengurangi suatu
kegagalan sistem atau program aplikasi. Jika terjadi kesalahan maka
backup data dapat di-restored
Jadi dengan keuntungan dari DBMS kita dapat memanfaatkan dari
keuntungan tersebut untuk meningkatkan kinerja dari perusahaan atau
organisasi.
2.6.4. Kelemahan DBMS
Selain mempunyai keuntungan, DBMS juga mempunyai
kelemahan sebagai berikut: (Connolly & Begg, 2010, p80)
o Kompleksitas
Fungsi dari Database Management System (DBMS) yang baik
menghasilkan kompleksitas struktur data dan perancang basis data
harus sesuai.
o Ukuran
Kompleksitas menyebabkan ukuran data menjadi besar
sehingga membutuhkan media penyimpanan yang besar juga.
o Biaya
Biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk implementasi
DBMS serta pemeliharaan.
o Biaya tambahan hardware
Biaya hardware tambahan untuk pengimplementasian DBMS
tergolong besar.
o Biaya konversi
Terdapat Biaya untuk DBMS dan tambahan hardware untuk
menggabungkan applikasi yang berjalan ke DBMS dan hardware
yang baru.
o Performa
Secara umum memang baik tetapi ada beberapa aplikasi yang
tidak berjalan secepat seperti biasanya.
o Dampak kegagalan
20
Pemusatan dari sumber daya pengguna yang tersedia dapat
menyebabkan kegagalan yang besar apabila pengelolaannya tidak
benar.
2.7. Fact Finding Technique
Fact Finding Technique ialah cara-cara untuk mengumpulkan
informasi penting dalam suatu perusahaan untuk dianalisa. Biasanya ini
dilakukan diawal sebelum proyek dilaksanakan.
Menurut (Connolly & Begg, 2010,p341), Fact-Finding Technique
adalah proses formal yang menggunakan teknik seperti wawancara dan
kuesioner untuk mengumpulkan fakta-fakta tentang sistem, kebutuhan, dan
preferensi. Ada 5 teknik dalam Fact-Finding Technique yang biasa dipakai
untuk mencari fakta (Connolly & Begg, 2010,p344):
o Examining Document
Pemeriksa Dokumen dapat berguna saat kita mencoba untuk mencari
informasi tentang bagaimana perlunya kebutuhan akan basis data. Kita
juga dapat mencari dokumentasi yang dapat membantu memberikan
informasi di dalam bagian masalah. Jika masalah masih berkaitan dengan
sistem saat ini, harus ada hubungan dokumentasi pada sistem tersebut.
Dengan memeriksa dokumentasi, formulir, laporan, dan asosiasi file
dengan sistem saat ini. kita dapat dengan cepat memperoleh beberapa
pemahaman tentang sistem.
o Interviewing
Wawancara adalah teknik pencarian fakta yang paling umum
digunakan dan biasanya paling berguna. kita dapat mewawancarai untuk
mengumpulkan informasi dari wajah individu untuk wajah. bisa ada
beberapa tujuan yang ingin menggunakan wawancara, seperti mencari
fakta, memverifikasi fakta, antusiasme generasi, mendapatkan pengguna
akhir yang terlibat, mengidentifikasi kebutuhan, dan mengumpulkan ide
dan pendapat.
o Observing the enterprise in operation
Observation adalah teknik pencarian fakta yang paling efektif untuk
memahami sistem. Dengan teknik ini, mungkinkan untuk berpartisipasi
21
baik untuk belajar aktifitas dari sistem. Teknik ini juga sangat berguna
ketika validitas data yang dikumpulkan melalui metode lain, seperti
dalam pertanyaan atau ketika kompleksitas pertanyaan pada aspek
tertentu dari penjelasan yang jelas oleh pengguna akhir.
o Research
Berguna untuk penelitian aplikasi dan masalah. jurnal komputer, buku
referensi, dan internet adalah sumber informasi yang baik. Mereka dapat
memberikan informasi tentang bagaimana memecahkan masalah yang
sama, ditambah apakah paket perangkat lunak yang ada untuk
memecahkan atau bahkan sebagian memecahkan masalah.
o Questionnaires
Merupakan teknik pencarian untuk melakukan survei melalui
kuesioner.
Kuesioner
adalah
dokumen
special
purpuse
yang
memungkinkan fakta yang dikumpulkan dari sejumlah besar orang dan
tetap menjaga kontrol atas tanggapan mereka.
2.8. Database System Development Lifecycle
Seperti namanya sebuah lifecycle pastinya memiliki langkah awal
untuk dimulai lau di lanjutkan dengan langkah-langkah selanjutnya sampai
kembali pada langkah awal. Hal ini juga terjadi ada pembuatan basis data,
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p313), Database system development
lifecycle berkaitan secara inheren dengan siklus hidup sistem informasi.
Sangat penting untuk mengenali tahapan siklus hidup aplikasi database tidak
selalu berurutan, tetapi juga melibatkan beberapa jumlah tahapan sebelumnya
melalui loop feedback atau umpan balik.
Jadi, dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Database System
Development Lifecycle merupakan siklus hidup yang menggambarkan
tahapan-tahapan di dalam melakukan perancangan aplikasi basis data yang
baik. Berikut tahapan-tahapan Database System Development Lifecycle:
22
Gambar 2.2 Database System Development Lifecycle
Sumber : Connolly & Begg (2010:314)
2.8.1. Database Planning
Langkah pertama sebelum merancang, kita harus terlebih dulu
menentukan database planning proyek. Menurut (Connolly & Begg, 2010,
p313), database planning adalah aktivitas manajemen yang memungkinkan
tahapan dari lifecycle yang akan direalisasikan secara efisiensi dan seefektif
mungkin.
Database planning harus diintegrasi dari keseluruhan IS strategi dari
organisasi. Jadi, dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Database
Planning merupakan suatu tahapan perencanaan dalam pengembangan
database secara efektif dengan adanya integrasi System information.
23
2.8.2. System Definition
Penentuan System definition adalah penjelasan jangkauan dan batasan
dari aplikasi basis data serta pandangan-pandangan utama para pengguna.
Sebelum
mendesain
suatu
aplikasi
basis
data,
terlebih
dahulu
mengidentifikasikan batasan- batasan dari sistem yang sedang diteliti dan
bagaimana kaitannya dengan bagian lain dari sistem informasi perusahaan.
Hal ini diperkuat oleh pendapat (Connolly & Begg, 2010, p316), yang
mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada
pengguna utama basis data yang terlupakan ketika dilakukan pengembangan
aplikasi.
2.8.3. Requirement Collection and Analysis
Proses ini merupakan proses dimana setiap analisis harus dapat
didukung dengan informasi yang akurat dimana dalam membangun sistem
baru akan dibutuhkan pengumpulan informasi yang mendukung penyataan
tujuan perusahaan. Menurut (Connolly & Begg, 2010, p316), Requirement
Collection and Analysis Merupakan proses mengumpulkan dan menganalisis
informasi tentang bagian dari organisasi yang harus didukung oleh sistem
database, dan menggunakan informasi ini untuk mengidentifikasi untuk
sistem baru. Ada tiga pendekatan utama untuk mengelola persyaratan sistem
database dengan pandangan beberapa pengguna, yaitu :
o The centralized approach (Pendekatan terpusat)
Kebutuhan untuk setiap tampilan pengguna yang bergabung ke dalam
satu persyaratan untuk sistem database baru.
o The view integration approach (Pendekatan integrasi tampilan)
Persyaratan untuk setiap pengguna tetap sebagai daftar yang terpisah.
o combination of both approaches (Kombinasi dari 2 pendakatan)
Setiap persyaratan tambahan untuk sistem basis data baru.
24
2.8.4. Database Design
Setelah melakukan Requirement Analysis dilanjutkan perancangan
basis data dimana data diperoleh dari data yang telah dikumpulkan dan
analisis. Menurut (Connolly & Begg, 2010, p320), perancangan basis data
merupakan proses pembuatan suatu desain atau rancangan untuk sebuah basis
data yang akan mendukung operasional dan sasaran suatu perusahaan. Ada 4
pendekatan dalam perancangan database yaitu:
o Top-down
Diawali dengan pembentukan model data yang berisibeberapa entity
high level dan relasi yang kemudian menggunakan pendekatan top-down
secara berturut-turut untuk mengidentifikasi entity lower level, relasi, dan
atribut lainnya.
o Bottom-up
Dimulai dari atribut dasar yaitu sifat-sifat entity dan relasidengan
analisis dari penggabungan antar atribut, yang dikelompokkan ke dalam
suatu relasi yang merepresentasikan tipe dari entity dan relasi antar entity.
o Inside-out
Berhubungan dengan pendekatan bottom-up tetapi sedikit berbeda
dengan identifikasi awal entity utama yang kemudian menyebar ke entity,
relasi, dan atribut terkait lainnya yang lebih dulu di identifikasi. Karena
itu cara pendekatan ini merupakan salah satu cara yang tepat jika
identifikasi awal merupakan entity utama yang akan dibuat menjadi entity
khusus.
o Mixed
Menggunakan pendekatan bottom-up dan top-down untuk bagian yang
berbeda sebelum pada akhirnya digabungkan. Proses perancangan
database terdiri dari 3 tahapan yaitu:
•
Conceptual database design
Proses pembuatan model informasi yang digunakan agar tidak
tergantung pada semua masalah fisik. Secara garis besar
perancangan ini terdiri dari tiga langkah sebagai berikut:
o Penentuan entity pada database.
o Pendefinisian hubungan/relasi antar entity.
25
o Penerjemahan hubungan ke dalam entity.
•
Logical database design
Proses tahapan model informasi yang digunakan
berdasarkan model khusus, dan menggambarkan proses yang
terjadi dalam database secara rinci. Proses yang digambarkan
akan dijelaskan secara berurutan dan menjelaskan atribut yang
ada di dalam basis data.
•
Physical database design
Proses pengukuran performa basis data yang akan
dibuat. Dengan mempertimbangkan spesifikasi penyimpanan
sekunder yang akan digunakan. Kecepatan transfer data juga
akan menjadi tolak ukur, karena kecepatan transfer data akan
mempengaruhi performa maupun kinerja sebuah sistem basis
data secara efektif dan efisien.
2.8.5. DBMS selection (Optional)
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p. 325), seleksi DBMS
adalah kegiatan memilih DBMS yang akan digunakan dalam
pembuatan basis data. Pemilihan DBMS yang tepat sangat
mendukung aplikasi basisdata. Menurut (Connolly & Begg, 2010, p.
326), langkah utama dalam pemilihan DBMS adalah sebagai berikut :
•
Mendefiniskan waktu untuk melakukan studi referensi.
•
Mencatat 2 atau 3 jenis produk yang akan dievaluasi untuk
digunakan.
•
Mengevaluasikan produk tersebut.
•
Merekomendasikan produk yang dipilih dan membuat laporan
yang mendukung DBMS tersebut.
2.8.6. Application Design
Pada tahap ini dilakukan perancangan antarmuka bagi
pengguna dan program aplikasi yang menggunakan dan memproses
database. Perancangan database dan perancangan aplikasi adalah
26
aktivitas bersamaan pada siklus hidup pengembangan sistem
database.
Dalam kasus sebenarnya, adalah tidak mungkin untuk
menyelesaikan perancangan aplikasi sebelum perancangan database
selesai.
Dalam
perancangan
aplikasi
harus
memastikan
semuapernyataan fungsional dari spesifikasi kebutuhan pengguna
yang menyangkut perancangan aplikasi program yang mengakses
database dan merancang transaksi yaitu cara akses ke database dan
perubahan terhadap isi database (retrieve, update, dan mixed).
•
Retrieval: Mendapatkan data untuk tampilan di layar.
•
Update: insert, delete, dan update record pada database.
•
Mixed: Gabungan dari retrieval dan update.
Artinya bagaimana fungsi yang dibutuhkan bisa terpenuhi dan
merancang antarmuka pengguna (user interface). Antarmuka yang
dirancang harus memberikan informasi yang dibutuhkan dengan cara
untuk menciptakan user-friendly. Rancangan antarmuka pengguna
yang dalam pembuatannya tidak diperhatikan secara rinci dapat
menimbulkan masalah. Oleh karena itu, antarmuka harus diakui
sebagai komponen dari sistem yang penting. Hal ini bertujuan agar
aplikasi mudah dipelajari, mudah digunakan, sehingga penggunapun
akan cenderung untuk memberdayagunakan informasi yang disajikan.
2.8.7. Prototyping (Optional)
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p333), prototyping
merupakan pembuatan model kerja dari aplikasi basis data, yang
mengijinkan perancang atau pengguna untuk mengevaluasi hasil akhir
sistem baik dari segi tampilan maupun fungsi yang dimiliki
sistemtersebut. Tujuan utama dari prototype yaitu :
•
Menuntun
pengguna
menggunakan
prototype
untuk
mengidentifikasi fitur-fitur agar sistem berjalan dengan baik.
•
Sebagai sarana pengembangan atau mungkin menambah fitur
baru pada aplikasi basis data.
27
Ada dua strategi prototype yang umum digunakan yaitu :
•
Requirement prototyping, menggunakan prototipe untuk
menetapkan kebutuhan dari tujuan aplikasi basis data. Ketika
kebutuhan sudah terpenuhi, prototipe tidak digunakan lagi atau
dibuang.
•
Evolutionary
prototype,
menggunakan
prototipe
untuk
menetapkan kebutuhan yang selanjutnya dikembangkan
menjadi aplikasi basis data yang bekerja.
2.8.8. Implementation
Pada tahap ini dilakukan pembuatan definisi database secara
eksternal, konseptual, internal, dan program aplikasi. Implementasi
merupakan realisasi dari database dan perancangan aplikasi.
Implementasi pada database dilakukan dengan menggunakan
DDL(Data Definition Language) dari DBMS yang dipilih atau
dengan menggunakan GUI (Graphical User Interface). DDL
digunakanuntuk membuat struktur database dan file database yang
kosong. Selain itu, pada tahapan ini semua spesifikasi pandangan dari
pengguna juga di implementasikan.
•
Data Definition Language (DDL)
Data Definition Language (DDL) adalah satu paket
bahasa DBMS yang berguna untuk melakukan spesifikasi
terhadap skema basis data. Hasil kompilasi dari DDL adalah
satu set tabel yang disimpan dalam file khusus yang disebut
Data Directory/Dictionary. Secara umum perintah dalam
DDLberhubungan
dengan
operasi-operasi
dasar
seperti
membuat basis data baru, menghapus basis data, membuat
tabel baru,menghapus tabel, membuat indeks, mengubah
struktur tabel. Contoh perintah DDL misalnya, Create Table,
Create Index,Alter, dan Drop Database.
•
Data Manipulation Language (DML)
Data Manipulation Language (DML) adalah satu paket
DBMS yang memperbolehkan pemakai untuk mengakses atau
memanipulasi data sebagaimana yang telah diorganisasikan
28
sebelumnya dalam model data yang tepat. Berikut merupakan
beberapa contoh dari Data Manipulation Languange :
o Select
Select merupakan salah satu perintah yang
sering digunakan di dalam manipulasi basis data.
Dalam
implementasinya,
select
bertujuan
untuk
memunculkan maupun melihat data yang ada di dalam
basis data tersebut. Biasanya perintah select akan
berfungsi
untuk
memeriksa
apakah
data
yang
dimaksud ada di dalam basis data.
o Update
Update merupakan perintah yang ada di dalam
DBMS yang sering digunakan untuk mengubah isi data
yang ada didalam basis data. Dalam implementasinya,
perintah update biasanya digunakan jika ada kesalahan
atribut yang ada didalam basis data.
o Insert
Insert merupakan perintah yang ada di dalam
DBMS yang digunakan untuk memasukkan data baru
ke dalam sistembasis data yang telah ada. Dalam
implementasinya, perintah insert biasanya digunakan
jika ada stok barang baru yang belum pernah ada di
dalam basis data.
o Delete
Delete merupakan perintah yang ada di dalam
DBMS yang digunakan untuk menghapus data yang
telah ada sebelumnya di sistem basis data. Dalam
implementasinya, perintah delete biasanya digunakan
jika ada stok produk yang sudah tidak diproduksi lagi
29
2.8.9. Data Conversion and Loading
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p334) data conversion and
loading mencakup pengambilan data dari sistem yang lama untuk
dipindahkan ke dalam sistem yang baru. Tahapan ini memungkinkan
pengembang
untuk
mengkonversi dan menggunakan aplikasi
program lama untuk digunakan pada sistem baru. Ketika conversion
and loading dibutuhkan, prosesnya harus direncanakan untuk
memastikan kelancaran transaksi dari keseluruhan operasi.
2.8.10. Testing
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p334) testing adalah proses
menjalankan aplikasi untuk menemukan kesalahan – kesalahan.
Sebelum digunakan, aplikasi basis data yang baru dikembangkan harus
diuji secara menyeluruh. Dalam kenyataan testing tidak luput dari
kesalahan. Di Dalam merancang basis data, user dari sistem baru
seharusnya terlibat didalam proses testing. Jika data yang asli
digunakan, perlu backup untuk mengantisipasi kesalahan atau error.
Setelah testing selesai, sistem aplikasi telah siap digunakan oleh
pengguna akhir.
2.8.11. Operational Maintenance
Tahapan terakhir di dalam database life cycle adalah
operational maintenance. Menurut (Connolly & Begg, 2010, p335)
operational
maintenance
adalah
proses
memantau
dan
memeliharasistem setelah di install. Pada tahap ini sistem beralih ke
tahapanpemeliharaan diantaranya:
•
Memantau kinerja dari sistem
•
Pemeliharaan dan upgrade aplikasi basis data (jika diperlukan)
ketikabasis data sepenuhnya bekerja, pemantauan harus
memastikankinerjanya dapat berada dalam tingkat yang dapat
diterima.
30
2.9. Entity Relationship Modeling
Menurut Thomas (Connolly & Begg , 2010, p371), salah satu aspek yang
sulit dalam perancangan database adalah menentukan sebuah entity.
2.9.1. Entity Type (Tipe Entity)
Menurut (Connolly & Begg,2010, p372), entity type adalah
sekumpulan obyek dengan properti yang sama, yang diidentifikasi oleh
perusahaan yang memiliki keberadaan yang tidak bergantung dengan
yang lainnya.
2.9.2. Relationship Types (Tipe Hubungan)
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p374), relationship type adalah
sekumpulan asosiasi antara satu atau lebih entity type yang
berpartisipasi. Setiap relationship type diberi nama yang menjelaskan
fungsinya.
G
ambar 2.3 Relationship Type
Sumber : Connolly & Begg (2010:374)
Degree of relationship adalah banyaknya entity
berpartisipasi di dalam relationship.
type yang
31
Recursive relationship adalah relationship type dimana entity type
yang sama berpartisipasi lebih dari satu different role.
2.9.3. Attribute (Atribut)
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p379-382), macam-macam
atribut yaitu:
•
Attribute Domain adalah sekumpulan nilai yang diperbolehkan
untuk satu atau lebih atribut.
•
Simple Attribute adalah atribut yang terdiri dari satu
komponen tunggal dengan keberadaan yang bebas.
•
Composite Attribute adalah atribut yang terdiri dari beberapa
komponen dengan keberadaan yang bebas. Dalam hal ini
beberapa
atribut
dapat
dipisahkan
menjadi
beberapa
komponen yang lebih kecil lagi dengan keberadaan yang
bebas.
•
Single Value Attribute adalah atribut yang memiliki nilai
tunggal untuk masing-masing kejadian dari entity.
•
Multi Value Attribute adalah atribut yang memiliki banyak
nilai untuk masing-masing kejadian dari entity.
•
Derived Atrribute adalah atribut menggantikan sebuah nilai
yang diturunkan dari nilai sebuah atribut yang berhubungan,
tidak perlu pada jenis entity yang sama.
2.9.4. Key (Kunci)
•
Candidate Key adalah satu atau lebih atribut yang ada di dalam
field dan bersifat unik, sehingga menjadi identifier pada suatu
relasi antar field dalam basis data.
•
Primary Key adalah candidate key yang diidentifikasi secara
unik pada setiap field dalam basis data yang hanya ada satu dan
itu bersifat unik pada setiap field.
•
Foreign Key adalah suatu atribut dalam sebuah table yang
melengkapi satu relationship yang menunjuk pada induknya.
32
•
Composite Key adalah candidate key yang ada di dalam field
•
Alternate Key adalah candidate key yang tidak terpakai sebagai
primary key pada suatu basis data.
2.9.5. Strong and Weak Entity Type
•
Strong entity type adalah setiap kejadian yang unik mampu
diidentifikasikan menggunakan atribut primary key pada entity.
•
Weak entity type adalah tipe entity yang keberadaannya
bergantung pada tipe entity lainnya. Karakteristik dari entity
yang
lemah
adalah
setiap
kejadian
entity
tidak
bisa
diidentifikasikan secara unik hanya dengan menggunakan atribut
yang bergantung pada entitynya.
Gambar 2.4 Contoh Strong dan Weak Entity
Sumber : Connolly & Begg (2010:314)
2.9.6. Structural Constraints
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p385), tipe utama dari constraint
di dalam relationship disebut multiplicity.
Multiplicity adalah jumlah occurrence yang mungkin dari sebuah tipe entity
yang berhubungan dengan sebuah occurrence dari tipe entity lain yang
terasosiasi melalui hubungan tertentu.
33
•
One-to-One (1:1) Relationship terjadi apabila setiap himpunan
entity A hanya boleh berhubungan dengan satu himpunan
entity B.
•
One-to-Many
(1:*) Relationship
terjadi apabila
setiap
himpunan entity A boleh berhubungan lebih dari satu
himpunan entity B. Sebaliknya setiap himpunan dari entity B
hanya boleh berhubungan dengan satu himpunan entity A.
•
Many-to-Many (*:*) Relationship terjadi apabila setiap
himpunan entity A berhubungan lebih dari satu himpunan
entity B, sebaliknya setiap himpunan dari entity B juga boleh
berhubungan lebih dari satu himpunan entity A.
2.10.
Normalisasi
Normalisasi menurut (Connolly & Begg, 2010, p415), adalah sebuah
teknik untuk memproduksi sejumlah relasi dengan kebutuhan yang
diinginkan, untuk memberi kebutuhan data dari suatu organisasi.
Proses Normalisasi menurut (Connolly & Begg, 2010, p430), terdapat
beberapa bentuk yaitu:
•
Unnormalized Form (UNF)
Sebuah tabel yang berisi satu atau lebih kelompok pengulangan
(repeating groups). Pada tabel UNF ini dibuat dengan mentransformasi data
dari sumber informasi ke dalam tabel berbentuk baris dan kolom.
•
Bentuk Normal Pertama (1NF)
Sebuah relasi di mana persimpangan setiap baris dan kolom berisi
satu dan hanya satu nilai. Pada tabel 1NF ini dibuat dengan menghilangkan
repetisi dan data yang merupakan hasil kalkulasi serta menentukan atribut
yang menjadi primary key.
•
Bentuk Normal Kedua (2NF)
Bentuk 2NF didefinisikan berdasarkan ketergantungan fungsional
yang penuh (Full Functional Dependency). 2NF merupakan sebuah relasi
34
antara bentuk normal pertama dan setiap atribut yang bukan primary key atau
secara fungsional tergantung primary key. Dengan kata lain, tabel 2NF ini
dibuat dengan menghilangkan ketergantungan partial.
•
Bentuk Normal Ketiga (3NF)
Bentuk 3NF didefinisikan berdasarkan ketergantungan transitif
(Transitive Dependency). 3NF merupakan sebuah relasi antara bentuk normal
pertama dan bentuk normal kedua, dimana tidak ada atribut yang bukan
primary
key
atau
secara
transitif
bergantung
pada
primary
key.
Gambar 2.5 Ilustrasi dari Hubungan antara Bentuk Normal
Sumber : Connolly & Begg (2010:415)
2.11.
Metodologi Perancangan Basis data
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p466), metodologi perancangan basis data
merupakan pendekatan terstruktur yang menggunakan prosedur, teknik, tools dan
dokumentasi untuk mendukung dan memfasilitasi proses design. Perancangan basis
data terbagi 3 tahap yaitu:
•
Perancangan Konseptual/ Conseptual Database Design.
•
Perancangan Logikal/ Logical Database Design.
•
Perancangan Fisikal/ Physical Database Design.
35
1. Perancangan Konseptual/ Conseptual Database Design
Menurut (Connolly & Begg, 2010, p 467), perancangan konseptual
adalah proses untuk membangun sebuah data model yang digunakan dalam
perusahaan, independent dari semua pertimbangan phisikal. Perancangan
konseptual model dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan
oleh perusahaan. Konseptual model terdiri dari Entity type, Tipe relasi,
Atribut dan Atribut domain, Primary keys dan alternate keys, Batasan
Integrity. Untuk membuat konseptual design, maka langkah – langkah yang
diperlukan adalah:
•
Identifikasi Entity Type
Bertujuan untuk menentukan entity type utama yang
dibutuhkan
dengan
cara
memeriksa
user
requirement
specification. Setelah terdefinisi, entity tersebut diberikan
nama yang tepat dan jelas seperti mahasiswa, dosen,
mata_kuliah.
•
Identifikasi Tipe Hubungan ( Relasi )
Bertujuan untuk mengidentifikasi suatu relasi yang
penting yang ada antar entity yang telah teridentifikasi. Nama
dari suatu relasi menggunakan kata kerja seperti mempelajari,
memiliki, mempunyai, dan lain – lain.
•
Identifikasi dan associate atribut dengan tipe relasi
Associate atribut bertujuan untuk menghubungkan
atribut dengan entity atau relasi yang tepat. Dalam langkah ini
juga dilakukan identifikasi simple / composite attribute, single
/ multi – valued attribute, dan derived attribute.
•
Menentukan atribut domain
Bertujuan untuk menentukan domain suatu atribut
dalam model data konseptual. Domain adalah sekumpulan
nilai dari satu atau lebih atribut yang menggambarkan
nilainya.
Contohnya
yaitu
menentukan
nilai
atribut
jenis_kelamin pada entity mahasiswa dengan ‘M’ atau ‘F’ atau
36
nilai atribut sks pada entity mata_kuliah dengan ‘1’,’2’,’3’,
dan ‘4’.
•
Menentukan atribut candidate, primary, dan alternate key.
Bertujuan untuk mengindentifikasi candidate key pada
setiap entity dan memilih primary key jika ada lebih dari satu
candidate key. Pemilihan primary key didasari pada panjang
dari atribut dan keunikan key masa datang.
•
Mempertimbangkan
untuk
menggunakan
concept
modeling.
Pada
Spesialisasi,
langkah
ini
Generalisasi,
bertujuan
Aggregasi,
untuk
menentukan
dan composition.
Dimana masing – masing pendekatan dapat dilakukan sesuai
dengan kebutuhan yang ada.
o Spesialisasi dan Generalisasi adalah proses dalam
mengelompokkan berapa entity dan menghasilkan
entity
baru.
Beda
dari
keduanya
adalah
cara
pendekatannya, dimana spesialisasi menggunakan topdown dan generalisasi menggunakan pendekatan
bottom-up.
o Spesialisasi adalah proses memaksimalkan perbedaan
antar anggota entity dengan mengidentifikasi sifat –
sifat yang membedakan satu sama lain.
o Generalisasi adalah proses meminimalkan perbedaan
antara anggota entity dengan mengindentifikasi sifat –
sifat yang sama satu dengan yang lain.
o Aggregasi menggambarkan relasi ‘ memiliki’ atau
‘bagian-dari’ antar tipe entity dimana suatu relasi
hanya akan ada jika ada relasi lainnya.
o Composistion adalah suatu bentuk Aggregasi yang
spesifik yang mewakili asosiasi antar entity dimana ada
37
kepemilikan yang kuat da nada hubungan – hubungan
antara ‘keseluruhan’ dan ‘bagian’nya.
•
Cek model untuk redundansi.
Bertujuan untuk memeriksa konseptual model untuk
menghindari dari adanya informasi yang redundan, sehingga
tak membuat informasi yang ada berulang secara terus
menerus. Yang dilakukan dalam langkah ini adalah :
• Memeriksa ulang relasi one to one ( 1:1)
Setelah
entity
diidentifikasikan
maka
kemungkinan ada dua entity yang mewakili satu
object. Untuk itu dua entity tersebut harus di merge
bersama. Dan jika primary key-nya berbeda maka
harus dipilih salah satu dan lainnya dijadikan alternate
key.
• Menghilangkan hubungan yang redundan
Digunakan untuk menekan jumlah model data.
• Menentukan dimensi waktu
Hubungan dimensi waktu adalah sangat penting
ketika mengakses redundan untuk menentukan situasi
dari hubungan model data entity.
•
Validasi data model konseptual terhadap transaksi user.
Bertujuan untuk menjamin bahwa konseptual data
model mendukung kebutuhan transaksi pengguna. Dengan
menggunakan model yang telah di validasi tersebut, dapat
digunakan untuk melaksanakan operasi secara manual. Ada
dua pendekatan yang mungkin untuk menjamin bahwa local
conceptual data model mendukung kebutuhan transaksi yaitu :
• Menggambarkan Transaksi.
Memeriksa seluruh informasi (entity, relasi, dan
atribut) yang diperlukan pada setiap transaksi yang
disediakan oleh model dengan mendokumentasikan
penggambaran dari tiap kebutuhan transaksi.
• Menggunakan Transaksi pathways.
38
Pendekatan ini untuk validasi model data
terhadap
transaksi
yang
dibutuhkan
termasuk
representasi diagram jalur yang digunakan oleh setiap
transaksi langsung pada diagram ER.
•
Review data model konseptual dengan user.
Bertujuan
untuk
melihat
kembali
model
data
konseptual dan memastikan bahwa data model tersebut sudah
benar.
2. Perancangan Logikal/ Logical Database Design
Logical database design adalah proses pembuatan
suatu model informasi yang digunakan pada perusahaan
berdasarkan pada model data yang spesifik, tetapi tidak
tergantung dari database management system (DBMS) dan
pertimbangan fisik lainnya (Connolly & Begg, 2010, p467).
Tujuannya yaitu untuk mengubah data model konseptual menjadi
data model logikal dan kemudian untuk memvalidasi model ini
untuk mengecek apakah struktur nya sudah benar dan bisa untuk
mendukung kebutuhan transaksi. Menurut (Connolly & Begg,
2010, p490) 7 langkah pembuatan logikal data model adalah
sebagai berikut :
•
Penurunan relasi untuk logikal data model.
Bertujuan membuat relasi untuk data model logical
untuk mempresentasikan entity, relasi, dan atribut – atribut
yang telah terindentifikasi. Adapun struktur adalah sebagai
berikut :
• Strong entity types.
Untuk setiap strong entity pada data model,
merupakan suatu entitas yang memiliki relasi kuat dan
mempengaruhi entitas lainnya. Jika sebuah strong
entity dihapus, maka akan mempengaruhi entitas
lainnya secara keseluruhan.
39
• Weak entity types
Untuk setiap weak entity pada data model,
merupakan suatu entitas yang memiliki relasi lemah
dengan entitas lainnya. Jika weak entity dihapus, maka
tidak akan mempengaruhi entitas lainnya secara
keseluruhan.
• One-to-many binary relationship types
Untuk setiap 1:* binary relationship, semua
entity yang ada pada salah satu sisi relationship di
desain sebagai entity parent dan entity yang ada pada
banyak sisi di didesain sebagai entity child.
• One-to-one binary relationship types
Membuat relasi yang mempresentasikan 1:1
lebih kompleks, karena cardinality tidak dapat
digunakan untuk membantu mengindentifikasi entity
parent and child dalam relationship. Cara membuat
relasi
yang
mempresentasikan
partisipasi
membandingkan dengan:
• Mandatory participation pada setiap sisi relasi
1:1. Pada kasus ini entity yang terlibat harus di
kombinasi menjadi relasi dan memilih satu dari
primary key dari entity yang asli untuk menjadi
primary key pada relasi yang baru.
• Mandatory participation pada salah satu sisi
relasi 1:1. Pada kasus ini entity parent dan child
dapat
di
identifikasi
untuk
relasi
1:1
menggunakan participation constraint.
• Optional participation pada setiap sisi relasi
1:1 Pada kasus ini mendesain entity parent dan
child akan mendapatkan sedikit keputusan
tentang relasi yang dapat membantu untuk
memutuskan pilihan apakah menggunakan
suatu jalan atau jalan lainnya.
40
• One-to- one recursive relationship type
Untuk recursive relationship type hanya mengikuti
aturan – aturan untuk partisipasi sebagai gambaran
relasi 1:1 sebelumnya.
• Superclass / subclass relationship types
Untuk setiap relasi superclass / subclass pada
konseptual
data
model,
mengidentifikasi
entity
superclass sebagai entity parent dan entity subclass
sebagai entity child.
• Many-to-many binary relationship types
Untuk setiap relasi binary, setiap entitas dapat
berhubungan dengan semua atribut yang menjadi
bagian dari entitas lainnya.
• Complex relationship types
Membuat relasi untuk mempresentasikan relasi dan
termasuk setiap atribut yang menjadi bagian dari relasi.
• Multi valued attributes
Membuat relasi baru untuk mempresentasikan atribut
multi valued dan termasuk primary key dari entity pada
relasi baru yang berperan sebagai foreign key.
•
Validasi relasi menggunakan normalisasi
Validasi relasi pada model data logikal menggunakan teknik
normalisasi. Dengan menggunakan normalisasi, maka model yang di
hasilkan mendekati model dari kebutuhan perusahaan, konsisten dan
memiliki sedikit redundansi dan stabilitas yang maksimum.
•
Validasi user berdasarkan transaksi user
Memastikan relasi dalam model data logikal telah mendukung
transaksi yang dibutuhkan. Bertujuan untuk menjamin bahwa relasi dalam
mode logikal tersebut mendukung user requirement specification secara
detail. Selain itu juga untuk meyakinkan bahwa tidak ada kesalahan yang
muncul sewaktu membuat suatu relasi.
41
•
Check Integrity Constraint
Menentukan integrity constraint, dimana mencakup pemeriksaan
kelengkapan data, atribut domain constraint, multiplicity, entity integrity,
referential integrity, general constraint.
•
Review data model logikal dengan User.
Pastikan user menyetujui model data logikal merupakan representasi
nyata terhadap persyaratan data perusahaan.
•
Menggabungkan data model logikal ke data model global
(optional step).
Untuk mengabungkan local logical data model kedalam single global
logical data model yang mempresentasikan semua user views dalam basis
data.
•
Cek untuk pengembangan ke depan.
Menentukan apakah ada kemungkinan terjadi perubahan yang besar di
masa depan, dan menilai apakah model data logikal dapat menyesuaikan
dengan perubahan tersebut.
3. Perancangan Fisikal/ Physical Database Design
Physical database design adalah suatu proses untuk menghasilkan
gambaran dari implementasi basis data pada tempat penyimpanan,
menjelaskan dasar dari relasi, organisasi file dan indeks yang digunakan
untuk efisiensi data dan menghubungkan beberapa integrity constraint dan
tindakan keamanan (Connolly & Begg, 2010, p467). Physical database
design terdiri dari 6 langkah dan apabila dijabarkan akan menjadi langkah 3-8
yaitu ( Connoly & Begg, 2010, p523) :
Menerjemahkan model data logikal untuk DBMS
target.
•
Desain dasar relasi.
•
Desain representasi data.
•
Desain general constraint.
Desain organisasi file dan indeks.
•
Analisa Transaksi.
•
Memilih organisasi file.
42
•
Memilih indeks.
•
Memprediksi kebutuhan space disk.
Desain user view.
Desain mekanisme keamanan.
Mempertimbangkan
pengenalan
pengontrolan
redundansi.
•
Memonitor dan mengontrol sistem operasional.
Menerjemahkan model data logikal untuk DBMS target.
Bertujuan untuk menghasilkan skema baris data relasional dalam
global logikal data model yang dapat di implementasikan ke DBMS.
Penerjemahan global logikal data model untuk target DBMS terdiri dari 3
langkah. Langkah tersebut adalah :
•
Desain dasar relasi.
Untuk memutuskan bagaimana cara merepresentasikan dasar relasi
yang telah teridentifkasi pada model data logikal dalam DBMS target.
•
Desain representasi data yang ada.
Untuk memutuskan bagaimana cara mempresentasikan data yang ada
pada model data logikal dalam target DBMS.
•
Desain General Constraint.
Untuk mendesain general constraint untuk target DBMS.
•
Desain organisasi file dan indeks.
Membedakan file organisasi optimal untuk menyimpan relasi dasar
dan indeks yang mana membutuhkan persetujuan pencapaian yang
merupakan jalan dimana relasi akan di pegang dalam secondary storage.
Aktivitas – aktivitas yang terjadi pada langkah 4 adalah sebagai berikut :
Analisa Transaksi.
Mengerti akan fungsi dari transaksi yang akan berjalan
pada database dan untuk menganalisa transaksi yang penting.
Memilih organisasi file.
Untuk membedakan sebuah file yang terorganisasi
pada setiap relasi dasar.
43
Memilih indeks.
Untuk membedakan apakah indeks tambahan akan
meningkatkan performa sistem.
Memprediksi kebutuhan kapasitas disk.
Untuk memprediksi banyaknya kapasitas disk yang
akan dibutuhkan oleh basis data.
•
Desain user view.
Untuk mendesain user views yang telah di indentifikasi selama
permintaan collection dan menganalisis stage dari pengembangan database
lifecycle.
•
Desain mekanisme keamanan.
Mendesain mekanisme security untuk basis data sebagai petunjuk
oleh user selama permintaan dan pengumpulan informasi pada saat
pengembangan database lifecycle.
•
Mempertimbangkan pengenalan pengontrolan redundansi.
Pada langkah physical database design ini mempertimbangkan
denormalisasi skema relasional untuk meningkatkan performa. Hasil dari
normalisasi adalah perancangan basis data logikal secara struktural,
konsisten, dan menekan jumlah redundansi. Faktor yang perlu di
pertimbangkan adalah :
Denormalisasi membuat implementasi lebih kompleks.
Denormalisasi selalu mengorbankan fleksibilitas.
Denormalisasi akan membuat cepat dalam pengambilan data
tetapi lambat dalam update data.
Ukuran performa dari suatu perancangan basis data dapat dilihat dari
sudut pandang tertentu yaitu melalui pendekatan efisiensi data (Normalisasi)
atau pendekatan efisiensi proses (Denormalisasi). Efisiensi data dimaksudkan
untuk meminimalkan kapasistas disk, dan efisiensi proses dimaksudkan untuk
mempercepat proses saat pengambilan data dari basis data.
•
Monitor dan mengatur sistem operasional.
Bertujuan untuk memonitor sistem operasi, meningkatkan performa
dan menentukan perancangan sistem yang tepat atau menggambarkan
perubahan kebutuhan.
44
Teori khusus yang menjadi dasar penulisan adalah sebagai berikut :
2.12.
Pengertian Pembelian
Pembelian merupakan suatu transaksi yang terjadi dalam perusahaan
dimana suatu stock barang yang sudah disediakan sudah habis dan akan
melakukan masukan stock sesuai dengan minimal kebutuhannya.
Menurut (Reeve, 2009, p281), pembelian adalah jumlah yang didebit
dari jumlah faktur pembelian. Semua pembelian akan dimasukan secara
langsung pada persediaan.
Jadi, dari definisi diatas dapat dijelaskan bahwa pembelian merupakan
suatu usaha yang digunakan dalam perusahaan dalam menyediakan stock
barang yang diperlukan.
2.13.
Pengertian Penjualan
Penjualan adalah suatu transaksi yang terjadi pada setiap pelaku
usaha untuk mencapai suatu tujuan yang akan menghasilkan keuntungan.
Penjualan merupakan salah satu kebutuhan suatu perusahaan, karena dari
penjualan akan dapat diperoleh keuntungan serta konsumen untuk
mengetahui daya tarik mereka sehingga dapat mengetahui hasil dari produk
yang dihasilkan.
Menurut Reeve (2009, p255), penjualan adalah total biaya yang
dibebankan kepada customer barang yang dijual termasuk penjualan tunai
maupun penjualan kredit. Sedangkan, menurut Hall (2011, p335), siklus
penjualan merupakan serangkaian aktivitas bisnis yang mengubah barang
atau jasa untuk pelanggan menjadi kas.
Menurut Mulyadi (2007:160) penjualan adalah “Suatu kegiatan yang
terdiri dari transaksi penjualan barang atau jasa, secara kredit maupun tunai”
Jadi penjualan adalah kebutuhan penting untuk suatu usaha karena
dari penjualan yang menghasilkan transaksi akan mendapatkan keuntungan.
45
2.14. Pengertian Persediaan
Inventory atau persediaan barang merupakan asset yang sangat
penting, baik dalam jumlah maupun peranannya dalam kegiatan perusahaan.
Menurut Alfredson, K., et al (2007, p342), persediaan merupakan
asset yang tersedia untuk dijual dalam proses bisnis biasa atau asset yang
ada dalam proses produksi.
Menurut Stevenson (2009, p549), persediaan adalah stok dari barang
yang disimpan.
Jadi, dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persediaan
(Inventory) merupakan jumlah barang dimana barang sudah mulai menipis
atau sudah mendekati jumlah minimal, kemudian akan dilakukan persediaan
ulang kembali yang akan menjadi suatu bekal dalam melakukan transaksi
penjualan.
2.15. Apotek
Apotek rakyat menurut peraturan menteri kesehatan tentang rakyat:
Pasal 1 dalam peraturan menteri ini yang dimaksud:
1.
Apotek
rakyat
adalah
sarana
kesehatan
tempat
dilaksanakannya pelayanan kefarmasian dimana dilakukan penyerahan
obat dan perbekalan kesehatan, dan tidak melakukan peracikan.
2.
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus
pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan
peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan
kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.
3.
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional
dan kosmetika.
4.
Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan
peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
5.
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi,
dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan
obat bagi pasien sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
46
6.
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah
bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam
pelayanan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
7.
Dinas kesehatan adalah Dinas Kesehatan Provinsi,
Kabupaten/Kota dimana Apotek Rakyat berada.
Dewi (2013) yang mengatakan “Sistem juga dikembangkan untuk memenuhi
kebutuhan apotek-apotek yang ada pada umumnya dengan memanfaatkan
teknologi database sehingga data-data lebih terjamin dan aman serta
terintegrasi”.
Download