implikasi aliran filsafat pragmatisme terhadap praksis pendidikan

advertisement
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT PRAGMATISME
TERHADAP PRAKSIS PENDIDIKAN
Dwi Priyanto
Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
[email protected]
This papers aims to describe of implication ideology pragmatic philosophy
toward practical in education. Conception of pragmatic education is education
to purpose for children maturation be come human be autonomous, responsible
and be able to problem solving your live alone. Education must directed in
place where children in a place. Curriculum that used every subject does not
can separated but constitute unit integrated, and experience in the school
always integrated with experience outside school. That Problems appointed by
teacher in classroom is actual problems attractive that interest for children or to
become center of notice for children. That application of method by teacher is
diciplin method but authorization. All subject matter that in display must be
basic facts that in observed, understanded, along with previously discussed and
subject matters talked about probabled contains ideas that can develop
situation for achieve to purpose. Teacher role in pragmatic education but of as
facilitator and motivator children activity. All children activity carry out self in
a row with interest and necessary that chooised, but teacher permanent supply
directive that enable children to growth appropriate with talent and that
possessed interest.
Kata Kunci: aliran filsafat, filsafat pragmatisme, praksis pendidikan
………………………….………………………………………………………………………………...
Pendahuluan
Pendidikan
pada
hakekatnya
merupakan upaya sadar yang diorganisir
secara sistematis untuk mengembangkan
potensi dan kemampuan peserta didik agar
memiliki kompetensi sesuai dengan jenis
dan jenjang pendidikan, baik pada lembaga
pendidikan formal maupun non-formal.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan
potensi-potensi manusiawi peserta didik
baik potensi cipta, rasa, maupun karsanya,
agar potensi itu menjadi nyata dan dapat
berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar
pendidikan
adalah
cita-cita
manusia
universal. Fungsi
pendidikan
adalah
serangkaian tugas atau misi yang diemban
dan harus dilaksanakan oleh pendidikan
(Hadisusanto, 1995 dalam Dardiri, 2010).
Lebih lanjut Dardiri (2010) menjelaskan
bahwa kegiatan atau praktik pendidikan
dimanapun bukanlah kegiatan tanpa makna
dan tanpa tujuan yang jelas, Dalam kegiatan
pendidikan tersirat suatu tugas atau misi
yang harus diwujudkan. Oleh karena itu,
para pendidik, pengelola pendidikan dan
pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan
pendidikan seharusnya selalu menyadari
akan tugas atau misi dari kegiatan
pendidikan yang dilaksanakan atau yang
dikelola.
Pendidikan bertujuan menyiapkan
pribadi dari keseimbangan, yang sudah
barang tentu dalam menjalankan kelanjutan
177
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
pendidikan
sesuai
dengan
tujuan
pendidikan Nasional. Dalam Undangundang No. 2o tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 2 disebutkan
bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan
kemampuan
dan
membentuk watak serta peradaban bangsa
yang
bermartabat
dalam
rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggungjawab.
Fungsi dan tujuan pendidikan
sebagaimana
diamanatkan
oleh
UU
Sisdiknas tersebut di atas adalah merupakan
cita-cita bangsa dalam mencerdaskan
manusia Indonesia yang sungguh mulia dan
hendaknya harus dapat diimplementasikan
dalam lembaga pendidikan secara baik,
mulai dari tahapan perencanaan pendidikan,
implementasi
dalam
proses
penyelenggaraan pendidikan, pengawasan
penyelenggaraan pendidikan, dan kegiatan
evaluasi penyelenggaraan pendidikan. Ini
berarti
bahwa
setiap
penyelenggara
pendidikan di masyarakat baik pendidikan
formal
maupun
non-formal
harus
berorientasi pada tercapainya fungsi dan
tujuan pendidikan nasional tersebut.
Meskipun disadari bahwa untuk mencapai
tujuan pendidikan tersebut tidaklah mudah,
dan harus didukung oleh seperangkat
kebijakan perencanaan pendidikan yang
memadai, seperti misalnya kebijakan
tentang terpenuhinya sarana prasarana
pendidikan yang memadai, kurikulum
pendidikan
yang
baik,
sistem
penyelenggaraan pendidikan di sekolah
yang memadai, manajemen sekolah yang
memadai,
kualitas
pendidik
yang
profesional, dan dukungan dana yang
memadai.
Dunia pendidikan sekarang tak hanya
dimaknai
sebagai
sarana
untuk
178
memanusiakan manusia tetapi lebih dari itu
yakni pendidikan berbasis pada paradigma
education as human investment. Dunia
pendidikan telah menjelma menjadi pabrikpabrik yang siap memproduksi manusiamanusia pesanan pasar. Konsekuensi
logisnya, dengan harga tertentu akan
didapat produk dengan kualitas sebatas
harga yang diberikan. Dengan kata lain,
dalam logika ekonomi, semakin tinggi
masyarakat
berani
membayar
atau
berinvestasi
pada
sebuah
lembaga
pendidikan, semakin tinggi pula kualitas
produknya.
Ketika tantangan globalisasi sekarang
menghendaki penguasaan soft skill dan hard
skill competence bahasa Inggris, IT, keuletan,
kreativitas, profesionalisme, dan lainnya,
lembaga
pendidikan
beramai-ramai
mengakomodasinya.
Inovasi-inovasi
pendidikan dilontarkan agar tak sekadar
keunggulan kompetitif yang didapat tetapi
juga keunggulan komparatif. Jika dilihat
secara filosofis maka sebenarnya masalah
tersebut terjadi karena dunia pendidikan tak
mempunyai landasan filsafat dan ideologi
pendidikan yang kuat. Visi pendidikan kita
pada kurikulum 1994 dan sebelumnya
hingga
menjelang
reformasi
telah
mengandaikan bahwa tujuan pendidikan
adalah membentuk manusia Indonesia yang
sempurna lahir dan batin, mampu
menguasai segalanya, bisa apa saja, intinya
adalah sebentuk ubermensch (superman) yang
digadang-gadang
oleh
Hitler
ketika
mengklaim rasnya sebagai yang terunggul di
dunia.
Intinya pendidikan di negeri ini
ditujukan untuk membentuk manusia super
(superman) yang serba unggul yang ternyata
hal itu pun masih dalam kontroversi secara
filsafati dan mengabaikan realitas sosialbudaya bangsa Indonesia. Rujukan dari
filsafat
pendidikan
yang
berwatak
pragmatis; pengetahuan yang benar adalah
pengetahuan yang berguna, dan hasil dari
pendidikan
adalah
berfungsi
bagi
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
kehidupannya. Karena itu, pendidikan harus
didesain secara fleksibel dan terbuka.
Maksudnya
pendidikan
tidak
boleh
mengurung kebebasan berkreasi anak, lebihlebih membunuh kreatifitas anak.
Menurut pragmatisme, pendidikan
bukan semata-mata membentuk pribadi
anak tanpa memperhatikan potensi yang
ada dalam diri anak, juga bukan
beranggapan bahwa anak telah memiliki
kekuatan laten yang memungkinkan untuk
berkembang dengan sendirinya sesuai
tujuan. Namun, pendidikan merupakan
suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi
dari
pengalaman-pengalaman
individu
(Sadulloh, 2003: 125). Maraknya tuntutan
reformasi dalam bidang pendidikan di
Indonesia
didorong
oleh
keinginan
mendudukkan pendidikan sebagai alat yang
efektif untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Kenyataan ini tentu sangat
bertentangan dengan apa yang terjadi
selama era Orde Baru. Pendidikan lebih
berfungsi sebagai alat pengendali kekuasaan
dan membangun dominasi ketimbang
sebagai
alat
untuk
memberdayakan
masyarakat dan membangun kesadaran
kolektif sebagai sebuah bangsa dan negara
(H.A.R. Tilaar, 2000: 4).
Sejalan dengan bergulirnya masa
transisi kehidupan bermasyarakat
di
Indonesia, dari situasi yang represif berubah
menjadi demokratis, banyak melahirkan
berbagai situasi baru. Di bidang pendidikan
misalnya, lahir berbagai kebijakan baru yang
mendorong pemberian wewenang kepada
sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan
pendidikan seperti; Manajemen Berbasis
Sekolah, Kurikulum Berbasis Sekolah,
Kurikulum
2013,
Sertifikasi
Guru,
Standarisasi Mutu Pendidikan dan lain
sebagainya.
Di bidang pemerintahan, juga lahir
berbagai kebijakan baru, salah satunya
adalah diputuskannya otonomi daerah
sebagai model pemerintahan pasca Orde
Baru, yang tentu juga akan memberikan
pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan
di tingkat daerah. Berbagai perubahan
kebijakan tersebut tentu diharapkan dapat
memberikan harapan baru bagi peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia dan
pencapain tujuan pendidikan nasional yakni
terwujudnya manusia Indonesia yang
memiliki kepribadian yang utuh, beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
(Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Harapan itu tentu sangat ideal, karena
selama ini praktek pelaksanaan pendidikan
di Indonesia hampir kehilangan orientasi
dan tercerabut dari akar sejarahnya. Praktek
pendidikan di Indonesia hampir tidak lagi
diilhami oleh Pancasila sila pertama yakni
Ketuhanan Yang Maha Esa. Penanaman
nilai-nilai luhur serta pembudayaannya
menjadi pandangan yang langka di sekolahsekolah di Indonesia. Proses pembelajaran di
sekolah-sekolah
Indonesia
lebih
diorientasikan pada pembentukan satu
ranah potensi siswa (kognitif) saja,
sementara
aspek
yang
lain;
aspek
pembudayaan
nilai-nilai
luhur
dan
psikomotorik siswa menjadi prioritas yang
tidak begitu diperhitungkan (Soedijarto,
1998:70).
Menyadari hal tersebut, tulisan ini
didedikasikan untuk kembali kepada
landasan filosofis dari filsafat pragmatisme.
Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah
paham dalam filsafat, tentu tidak dapat
dilepaskan dari nama-nama seperti Charles
S. Pierce, William Jamess dan John Dewey.
Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan
dalam kelompok aliran pragmatisme,
namun diantara ketiganya memiliki fokus
pembahasan yang berbeda. Charles S. Pierce
lebih dekat disebut filosof ilmu, sedangkan
William James disebut filosof agama dan
John Dewey dikelompokkan pada filosof
sosial.
Pragmatisme
sebagai
suatu
interpretasi baru terhadap teori kebenaran
oleh Pierce digagas sebagai teori arti. Dalam
179
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
kaitan dengan ini, dinyatakan: bahwa teori
pragmatis tentang kebenaran atau suatu
proposisi dapat disebut benar sepanjang
proposisi
itu
berlaku
(works)
atau
memuaskan
(satisfies),
berlaku
dan
memuaskannya itu diuraikan dengan
berbagai ragam oleh para pengamat teori
tersebut).
Sementara
itu,
James
menominalisasikan pragmatisme sebagai
teori
cash
value.
James
kemudian
menyatakan: "True ideas are those that we can
assimilate, validate, corrobrate, and verify. False
ideas are those that we can not" (Ide-ide yang
benar menurut James adalah ide-ide yang
dapat kita serasikan, kita umumkan
berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa.
Sebaliknya ide yang salah adalah ide yang
tidak demikian).
Sejarah Filsafat Pragmatisme
Setelah melalui Abad Pertengahan
(abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran
gereja
yang dominan,
Barat
mulai
menggeliat dan bangkit dengan Renaissance,
yakni suatu gerakan atau usaha yang
berkisar antara tahun 1400-1600 M untuk
menghidupkan kembali kebudayaan klasik
Yunani dan Romawi. Berbeda dengan tradisi
Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan
perhatian pada masalah metafisik yang
abstrak, seperti masalah Tuhan, manusia,
kosmos, dan etika, Renaissance telah
membuka jalan ke arah aliran Empirisme.
William Ockham (1285-1249 M)
dengan
filsafat
Gulielmusnya
yang
mendasarkan pada pengenalan inderawi,
telah mulai menggeser dominasi filsafat
Thomisme, ajaran Thomas Aquinas yang
menonjol di Abad Pertengahan, yang
mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles.
Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal
bagi lahirnya Renaissance.
Semangat
Renaissance
ini,
sesungguhnya
terletak
pada
upaya
pembebasan akal dari kekangan dan
180
belenggu gereja dan menjadikan fakta
empirik sebagai sumber pengetahuan, tidak
terletak pada filsafat Yunani itu sendiri.
Dalam hal ini Barat hanya mengambil
karakter utama pada filsafat dan seni
Yunani, yakni keterlepasannya dari agama,
atau dengan kata lain, adanya kebebasan
kepada akal untuk berkreasi. Ini terbukti
antara lain dari ide beberapa tokoh
Renaissance, seperti Nicolaus Copernicus
(1473-1543
M)
dengan
pandangan
heliosentriknya, yang didukung oleh
Johanes Kepler (1571-1630 M) dan Galileo
Galilei (1564-1643 M). Juga Francis Bacon
(1561-1626 M) dengan teknik berpikir
induktifnya, yang berbeda dengan teknik
deduktif
Aristoteles
(dengan
logika
silogismenya) yang diajarkan pada Abad
Pertengahan. Jadi, Barat tidak mengambil
filsafat Yunani apa adanya, sebab justru
filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar
filsafat Kristen pada Abad Pertengahan, baik
periode Patristik (400-1000 M) dengan
filsafat Emanasi Neoplatonisme yang
dikembangkan oleh Augustinus (354-430 M),
maupun periode Scholastik (1000-1400 M)
dengan filsafat Thomisme yang bersandar
pada Aristoteles.
Semua filsafat Yunani ini membahas
metafisika, tidak membahas fakta empirik
sebagaimana
yang
dituntut
oleh
Renaissance. Jadi, semangat Renaissance itu
tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu
sendiri, tetapi pada karakternya yang
terlepas dari agama.
Renaissance juga diperkuat adanya
Reformasi, sebuah upaya pemberontakan
terhadap dominasi gereja Katholik yang
dirintis oleh Marthin Luther di Jerman
(1517). Gerakan ini bertolak dari korupsi
umum dalam gereja seperti penjualan Surat
Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven),
penindasannya
yang
merajalela,
dan
dominasinya terhadap negara-negara Eropa.
Meskipun Reformasi tidak secara langsung
ikut memperjuangkan apa yang disebut
“pembebasan akal”, tetapi gerakan ini secara
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
tak sadar telah memperkuat Renasissance
dengan mempelopori kebebasan beragama
(Protestan) dan telah memperlemah posisi
Gereja dengan memecah kekuatan Gereja
menjadi dua aliran; Katholik dan Protestan.
Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman
sekitar abad XVII juga dianggap implikasi
tak langsung dari adanya Reformasi.
Meskipun demikian, Gereja Katholik dan
tokoh Reformasi memiliki sikap sama
terhadap
upaya
Renaissance,
yakni
menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan
Injil. Calvin, seorang tokoh Reformasi di
Jenewa (Swiss), mendukung pembakaran
hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol
(1553 M), yang menentang Trinitas. Gereja
Katholik dan Reformasi juga sama-sama
menolak ide Copernicus (1543 M) tentang
matahari sebagai pusat tata surya, seraya
mempertahankan doktrin Ptolemeus yang
menganggap bumi sebagai pusat tata surya.
Pada abad XVII, perkembangan
Renaissance telah melahirkan dua aliran
pemikiran
yang
berbeda:
aliran
Rasionalisme
dengan
tokoh-tokohnya
seperti Rene Descartes (1596-1650 M),
Baruch Spinoza (1632-1677 M), dan Pascal
(1623-1662 M), dan aliran Empirisme dengan
tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679
M), John Locke (1632-1704 M). Rasionalisme
memandang bahwa sumber pengetahuan
yang dapat dipercaya adalah rasio (akal),
sedang Empirisme beranggapan bahwa
sumber pengetahuan adalah empirik, atau
pengalaman manusia dengan menggunakan
panca inderanya. Kemudian datanglah Masa
Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII
yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727
M), sebagai perkembangan lebih jauh dari
Rasionalisme dan Empirisme dari abad
sebelumnya.
Pada
abad
sebelumnya,
fokus
pembahasannya
adalah
pemberian
interpretasi baru terhadap dunia, manusia,
dan Tuhan. Sedang pada Masa Aufklarung,
pembahasannya lebih meluas mencakup
segala aspek kehidupan manusia, seperti
aspek pemerintahan dan kenegaraan,
agama, ekonomi, hukum, pendidikan dan
sebagainya.
Bertolak
dari
prinsip-prinsip
Empirisme John Locke, George Berkeley
(1685-1753
M)
mengembangkan
“immaterialisme”, sebuah pandangan yang
lebih ekstrim daripada pandangan John
Locke. Jika Locke berpandangan bahwa kita
dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat)
dari fenomena material dan spiritual,
Berkeley menganggap bahwa substansisubstansi material itu tidak ada, Yang ada
adalah ciri-ciri yang diamati.
Pandangan Locke dan Berkeley
dikembangkan lebih lanjut oleh David
Hume (1711-1776 M), dengan dua ide
pokoknya; yakni tentang skeptisisme
(keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu
mampu menemukan kebenaran tentang apa
saja, dan keyakinan bahwa “pengetahuan
tentang manusia” akan dapat menjelaskan
hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia.
Selain George Berkeley dan David Hume,
Immanuel Kant (1724-1804 M) juga
dianggap salah seorang tokoh Masa
Pencerahan.
Filsafat Kant disebut Kritisisme, yakni
aliran yang mencoba mensintesiskan secara
kritis Empirisme yang dikembangkan Locke
yang bermuara pada Empirisme Hume,
dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant
mulai menelaah batas-batas kemampuan
rasio, berbeda dengan dengan para pemikir
Rasionalisme
yang
mempercayai
kemampuan rasio bulat-bulat. Namun
demikian,
Kant
juga
mempercayai
Empirisme. Walhasil dia berpandangan
bahwa semua pengetahuan mulai dari
pengalaman, namun tidak berarti semua
dari pengalaman. Obyek luar ditangkap oleh
indera, tetapi rasio mengorganisasikan
bahan-bahan
yang
diperoleh
dari
pengalaman tersebut.
Pada abad XIX, filsafat Kant tersebut
dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J.
Fichte (1762-1814 M), F. Schelling (1775-1854
181
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
M) dan Hegel (1770-1831M). Namun yang
mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant
seutuhnya, tetapi lebih memprioritaskan ideide, yakni tidak memfokuskan pada
pembahasan fakta empirik. Karenanya,
aliran mereka disebut dengan Idealisme.
Dari ketiganya, Hegel merupakan tokoh
yang menonjol, karena banyak pemikir pada
abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan
murid-muridnya, baik langsung maupun
tidak.
Mereka
terbagi
dalam
dua
pandangan, yaitu pengikut Hegel aliran
kanan yang membela agama Kristen seperti
John Dewey (1859-1952M), salah seorang
peletak dasar Pragmatisme yang menjadi
budaya Amerika (Kapitalisme) saat ini, dan
pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi
agama, seperti Feuerbach, Karl Marx, dan
Engels dengan ide Materialisme yang
merupakan dasar ideologi Komunisme di
Rusia. Empirisme itu sendiri pada abad XIX
dan XX berkembang lebih jauh menjadi
beberapa aliran yang berbeda, yaitu
Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme.
Positivisme dirintis oleh August
Comte (1798-1857M), yang dianggap sebagai
Bapak ilmu Sosiologi Barat. Positivisme
sebagai perkembangan Empirisme yang
ekstrim,
adalah
pandangan
yang
menganggap bahwa yang dapat diselidiki
atau dipelajari hanyalah “data-data yang
nyata/empirik”, atau yang mereka namakan
positif. Nilai-nilai politik dan sosial menurut
Positivisme
dapat
digeneralisasikan
berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari
penyelidikan
terhadap
kehidupan
masyarakat itu sendiri.
Nilai-nilai politik dan sosial juga
dapat dijelaskan secara ilmiah, dengan
mengemukakan perubahan historis atas
dasar cara berpikir induktif. Jadi, nilai-nilai
tersebut tumbuh dan berkembang dalam
suatu proses kehidupan dari suatu
masyarakat itu sendiri. Materialisme adalah
aliran yang menganggap bahwa asal atau
hakikat segala sesuatu adalah materi. Di
antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872
182
M), Karl Marx (1818-1883 M) dan Fredericht
Engels (1820-1895 M). Karl Marx menerima
konsep Dialektika Hegel, tetapi tidak dalam
bentuk aslinya (Dialektika Ide).
Kemudian
dengan
mengambil
Materialisme dari Feuerbach, Karl Marx lalu
mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika
Materialisme, sebuah proses kemajuan dari
kontradiksi-kontradiksi
tesis-antitesissintesis yang sudah diujudkan dalam dunia
materi.
Dialektika
Materialisme
lalu
digunakan sebagai alat interpretasi terhadap
sejarah manusia dan perkembangannya.
Interpretasi inilah yang disebut sebagai
Historis Materialisme, yang menjadi dasar
ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme).
Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran
yang
berpangkal
pada
Empirisme,
kendatipun ada pula pengaruh Idealisme
Jerman (Hegel) pada John Dewey, seorang
tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir
paling berpengaruh pada zamannya. Selain
John Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya
adalah Charles Pierce dan William James.
Konsep Filsafat Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari bahasa
Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan,
yang dilakukan, perbuatan, tindakan,
merupakan sebutan bagi filsafat yang
dikembangkan oleh William James (18421910 M) di Amerika Serikat. Menurut filsafat
ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau
teori semata-mata bergantung pada manusia
dalam bertindak. Istilah pragmaticisme ini
diangkat pada tahun 1865 M oleh Charles S.
Pierce (1839-1914 M) sebagai doktrin
pragmatisme.
Dalam konsep tersebut ia menyatakan
bahwa, sesuatu dikatakan berpengaruh bila
memang memuat hasil yang praktis. Pada
kesempatan yang lain ia juga menyatakan
bahwa, pragmatisme sebenarnya bukan
suatu filsafat, bukan metafisika, dan bukan
teori kebenaran, melainkan suatu teknik
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
untuk
membantu
manusia
dalam
memecahkan masalah (Ismaun, 2004: 96).
Dari kedua pernyataan itu tampaknya Pierce
ingin menegaskan bahwa, pragmatisme
tidak hanya sekedar ilmu yang bersifat teori
dan dipelajari hanya untuk berfilsafat serta
mencari kebenaran belaka, juga bukan
metafisika karena tidak pernah memikirkan
hakekat dibalik realitas, tetapi konsep
pragmatisme lebih cenderung pada tataran
ilmu
praktis
untuk
membantu
menyelesaikan persoalan yang dihadapi
manusia.
Diulas dalam buku Pengantar Filsafat
(Kattsoff, 1992: 130) bahwa, tampaknya jalan
pikiran Pierce tak lebih dari sebuah
keinginan untuk mewujudkan pragmatisme
sebagai ilmu yang mengorientasikan diri
kepada makna praktis dari konsekuensi
yang ditimbulkan oleh sebuah tindakan. Jika
tidak menimbulkan konskuensi yang praktis
maka tidak ada makna yang dikandungnya.
Karena itu, munculah sebuah semboyan
bahwa, “Apa yang tidak mengakibatkan
perbedaan tidak mengandung makna”.
Sebagian penganut pragmatisme yang
lain mengatakan bahwa, suatu ide atau
tanggapan dianggap benar, jika ide atau
tanggapan tersebut menghasilkan sesuatu,
yakni jalan yang dapat membawa manusia
ke arah penyelesaian masalah secara tepat
(berhasil). Seseorang yang ingin membuat
hari depan, ia harus membuat kebenaran,
karena masa depan bukanlah sesuatu yang
sepenuhnya ditentukan oleh masa lalu
(Kattsoff, 1992:130). Bahkan, Budi Darma
mengatakan bahwa, masa depan itu tidak
ada, masa lalu juga tidak ada, yang ada
adalah masa sekarang maka berjuanglah
untuk saat ini. Inti dari peryataan tersebut
adalah, kebenaran pragmatik merupakan
kebenaran yang bersifat fungsional, berguna
atau praktis.
Segala sesuatu dianggap benar jika
ada konsekuensi yang bersifat manfaat bagi
hidup manusia. Sebuah tindakan akan
memiliki makna jika ada konsekuensi
praktis atau hasil nyata yang bermanfaat
bagi kehidupan manusia. Masa lalu dan
masa depan adalah sesuatu yang telah dan
belum terjadi. Sementara itu, masa sekarang
adalah fakta, maka hadapilah kenyataan
sekarang dengan penuh perjuangan.
Diakui
atau
tidak,
paham
pragmatisme menjadi sangat berpengaruh
dalam pola pikir bangsa Amerika Serikat.
Pengaruh pragmatisme menjalar di segala
aspek kehidupan, tidak terkecuali di dunia
pendidikan. Salah satu tokoh sentral yang
sangat berjasa dalam pengembangan
pragmatisme pendidikan adalah John
Dewey (1859-1952 M). Pragmatisme Dewey
merupakan sintensis pemikiran-pemikiran
Charles S. Pierce dan William James. Dewey
mencapai popularitasnya di bidang logika,
etika epistemologi, filsafat politik, dan
pendidikan.
Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pendidikan
menurut
pandangan
pragmatisme bukan merupakan suatu
proses pembentukan dari luar, dan juga
bukan merupakan suatu pemberkahan
kekuatan- kekuatan laten dengan sendirinya
(unfolding), melainkan merupakan suatu
proses reorganisasi dan rekonstruksi dari
pengalaman-pengalaman individu, yang
berarti bahwa setiap manusia selalu belajar
dari pengalamannya. Menurut John Dewey
(Gutek, 1974: 114), pendidikan perlu
didasarkan pada tiga pokok pikiran yaitu : 1)
Pendidikan merupakan kebutuhan hidup; 2)
Pendidikan sebagai pertumbuhan; 3)
Pendidikan sebagai fungsi sosial.
Pendidikan Merupakan Kebutuhan Hidup
Hidup selalu
berubah menuju
pembaharuan hidup, karena itu pendidikan
adalah merupakan kebutuhan untuk hidup.
Pendidikan berfungsi sebagai alat dan
183
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
sebagai
pembaharuan
hidup.
Dalam
hidupnya manusia selalu berinteraksi,
individu yang satu dengan individu yang
lainnya, dan dengan lingkungannya. Orang
yang sudah dewasa yang telah banyak
memiliki pengalaman hidup berinteraksi
dengan manusia muda yang masih belia
dalam
pengalaman
hidup
untuk
mewariskan
nilai-nilai
budaya
dan
kebudayaan itu sendiri untuk kelangsungan
hidup. Terjadilah pewarisan kebudayaan,
nilai, pengetahuan, dan ketrampilan serta
sikap hidup kepada generasi muda. Hal ini
membawa pembaharuan hidup pada
generasi muda, dan pembaharuan ini akan
semakin pesat perubahannya oleh karena
perubahan yang terjadi dalam hidup dan
kehidupan manusia dengan pengaruh ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni. Untuk
mengisi dan melengkapi kehidupan yang
selalu berubah dan Perkembangan maka
sangat di perlukan adanya pendidikan.
Pendidikan Sebagai Pertumbuhan
Menurut John Dewey (Sadulloh.
2003), pertumbuhan merupakan suatu
perubahan tindakan yang berlangsung terus
menerus untuk mencapai hasil lanjutannya.
Pertumbuhan juga merupakan proses
pematangan oleh karena peserta didik
memiliki potensi berupa kapasitas untuk
berkembang atau bertumbuh menjadi
sesuatu
dengan
adanya
pengaruh
lingkungan.
Hidup
selalu
mengalami
pertumbuhan dan pertumbuhan diwarnai
oleh aktivitas aktif, yang berati bahwa
pertumbuhan akan dipengaruhi intensitas
aktivitas individu yang menimbulkan
pengalaman
yang
akan
membawa
perubahan
pada
dirinya.
Sehigga
pertumbuhan merupakan karakteristik dari
hidup, sedangkan pendidikan adalah hidup
itu sendiri, bukan untuk suatu persiapan.
184
Pendidikan Sebagai Fungsi Sosial
Menurut John Dewey (Sadulloh. 2003)
lingkungan
merupakan
syarat
bagi
pertumbuhan, dan fungsi pendidikan
merupakan suatu proses membimbing dan
mengembangkan.
Melalui
kegiatan
pendidikan masyarakat membimbing peseta
didik yang masih belum matang menurut
susunan sosial tertentu. Dalam keadaan
yang belum matang peserta didik selalu
berinteraksi dengan lingkungan dan selalu
berhubungan dengan individu lainnya.
Dalam aktivitas pendidikan selalu ada
interaksi yang dapat mempengaruhi dan
membimbing
peserta
didik
dapat
mengembangkan diri sebagai pribadi yang
dipengaruhi dan mempengaruhi dalam
situasi dan lingkungan sosial.
Sekolah sebagai suatu lingkungan
pendidikan dan sekaligus sebagai alat
transmisi, memiliki tiga fungsi, yakni: 1)
Menyederhanakan
dan
mengarahkan
faktor–faktor bawaan yang diharapkan
untuk berkembang; 2) Membimbing dan
mengarahkan kebiasaan masyarakat yang
ada sesuai dengan yang diharapkan; 3)
Menciptakan suatu lingkungan yang lebih
luas, dan lebih baik yang diperuntukan bagi
peserta didik untuk mengembangkan
kemampuan mereka.
Implikasi Aliran Filsafat Pragmatisme
Terhadap Praksis Pendidikan
Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Power (Sadulloh, 2003: 133) bahwa,
implikasi
dari
filsafat
pendidikan
pragmatisme
terhadap
pelaksanaan
pendidikan mencakup lima hal pokok.
Kelima hal pokok tersebut, yaitu: 1) Tujuan
pendidikan.
Tujuan
pendidikan
pragmatisme
adalah
memberikan
pengalaman untuk penemuan hal-hal baru
dalam hidup sosial dan pribadi; 2)
Kedudukan siswa. Kedudukan siswa dalam
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
pendidikan pragmatisme merupakan suatu
organisasi yang memiliki kemampuan yang
luar biasa dan kompleks untuk tumbuh; 3)
Kurikulum.
Kurikulum
pendidikan
pragmatis berisi pengalaman yang teruji
yang dapat diubah. Demikian pula minat
dan kebutuhan siswa yang dibawa ke
sekolah dapat menentukan kurikulum. Guru
menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan
minat dan kebutuhan anak tersebut, dan
kurikulum pendidikan pragmatisme sertamerta menghilangkan perbedaan antara
pendidikan liberal dengan pendidikan
praktis atau pendidikan jabatan; 4) Metode.
Metode yang digunakan dalam pendidikan
pragmatisme adalah metode aktif, yaitu
learning by doing (belajar sambil bekerja); dan
5) Peran guru. Peran guru dalam pendidikan
pragmatisme adalah mengawasi dan
membimbing pengalaman belajar siswa,
tanpa
mengganggu
minat
dan
kebutuhannya.
Dari uraian di atas, menunjukkan
bahwa tujuan pendidikan pragmatisme
adalah menumbuhkan jiwa yang aktif dan
kreatif; membentuk jiwa yang bertanggung
jawab; sosial; dan mengembangkan pola
pikir eksploratif yang mandiri kepada anak.
Dengan tujuan tersebut pola perkembangan
anak akan berjalan sesuai dengan pilihan
hidup yang telah direncanakan.
Tujuan Pendidikan Pragmatisme
Tujuan
pendidikan
pragmatisme
inheren dengan pandangan realitas, teori
pengetahuan dan kebenaran, serta teori
nilai. Menurut pandangan realitas, manusia
selalu berintraksi dengan lingkungan tempat
mereka berada. Lingkungan baru memiliki
arti jika manusia peduli dan memahami
kegunaan dari lingkungan itu sendiri untuk
kejayaan hidupnya. Selama manusia tidak
melakukan sesuatu terhadap lingkungan,
selama itu pula lingkungan tidak pernah
memberi sesuatu yang bermanfaat bagi
manusia. Kebenaran tidak pernah mutlak,
tidak berlaku umum, tidak tetap, tidak
berdiri sendiri serta tidak terlepas dari akal
yang mengenal, yang ada hanyalah
kebenaran yang bersifat khusus dan setiap
saat dapat diubah oleh pengalaman
(Sadulloh, 2003: 128).
Paparan itu mengandung makna
bahwa, ukuran kebenaran sangat nisbi
bergantung dari masing-masing yang
memandang. Baik menurut seseorang,
mungkin akan sebaliknya menurut orang
lain, demikian seterusnya, sehingga patokan
kebenaran tidaklah dapat berlaku untuk
semua orang dan keadaan. Demikian pula
nilai, menurut pragmatisme bersifat relatif,
karena kaidah-kaidah moral dan etika tidak
pernah tetap, tetapi terus berubah seperti
berubahnya kebudayaan seiring dengan
berubahnya masyarakat yang membentuk
kebudayaan itu.
Bertolak dari paparan tersebut, tujuan
pendidikan pun harus disesuaikan dengan
keadaan masyarakat dimana anak itu
berada.
Hakekatnya
pendidikan
berlangsung dalam kehidupan. Karena itu,
tujuan pendidikan menurut pragmatisme
harus pula disesuaikan dengan lingkungan
tempat dilangsungkannya pendidikan itu.
Menjadi sesuatu yang ironis jika sebuah
pendidikan diterapkan dengan tanpa
mempertimbangkan keadaan lingkungan
kehidupan anak.
Menurut pragmatisme, tidak ada
tujuan pendidikan yang berlaku secara
umum, dan tidak ada pula tujuan
pendidikan yang bersifat tetap dan pasti.
Yang ada hanyalah tujuan khusus, dan
bersifat nisbi serta tidak pasti. Karena itu,
mustahil
tujuan
pendidikan
dapat
ditetapkan untuk semua masyarakat. Tujuan
pendidikan selalu bersifat temporer, dan
tujuan merupakan alat untuk bertindak. Jika
suatu tujuan telah dicapai, maka hasil tujuan
akan menjadi alat untuk mencapai tujuan
berikutnya, demikian seterusnya, karena
185
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
pragmatisme tidak mengenal tujuan akhir,
dan yang ada adalah tujuan antara.
Suryabrata (Jalaluddin, 2003: 119)
mengatakan bahwa, pendidikan adalah
suatu kegiatan yang sadar akan tujuan,
bahkan tujuan merupakan salah satu hal
yang teramat penting dalam kegiatan
pendidikan, guna memberikan arah dan
ketentuan yang pasti dalam memilih materi
(isi), metode, alat, evaluasi terhadap
kegiatan yang dilakukan. Dengan arah yang
pasti, harapan untuk memperoleh hasil yang
maksimal dari usaha penyelenggaraan
pendidikan akan dapat dicapai.
Tidak
kalah
penting,
menurut
pragmatisme materi yang akan disajikan
harus berdasarkan fakta-fakta yang sudah
diobservasi, dipahami, serta dibicarakan
sebelumnya,
serta
materi
tersebut
dimungkinkan mengandung ide-ide yang
dapat mengembangkan situasi untuk
mencapai tujuan. Sebagai misal, jika materi
yang akan diberikan dikaitkan dengan
demokrasi, maka materi tersebut hendaknya
merupakan seperangkat tidakan untuk
memberi isi terhadap kehidupan sosial yang
ada pada waktu itu dilingkungan tinggal
anak. Intinya sekolah secara umum, dan
materi ajar secara khusus tidak dipisahkan
dari
kehidupan,
karena
hakekatnya
pendidikan bukan persiapan untuk suatu
kehidupan,
melainkan
pendidikan
merupakan kehidupan itu sendiri.
Pendidikan
yang
bercorak
pragmatisme selalu memandang bahwa
anak bukanlah individu yang silent,
melainkan individu yang memiliki pikiran
yang aktif dan kreatif. Pengetahuan
sebenarnya merupakan hasil dari transaksi
manusia dengan lingkungannya, termasuk
kebenaran menjadi bagian dari pengetahuan
itu sendiri. Karena itu, seorang guru yang
memiliki pandangan pragmatis akan selalu
memperhatikan
situasi
lingkungan
masyarakat anak, serta mendorong agar
anak turut memecahkan persoalan yang ada
disekitar tinggal mereka.
186
Kurikulum Pendidikan
Menurut para filosuf paragmatisme,
tradisi
demokrasi
adalah
tradisi
memperbaiki diri sendiri (a self-correcting
trdition).
Pendidikan
berfokus
pada
kehidupan yang baik pada masa sekarang
dan masa yang akan datang. Kurikulum
pendidikan
pragmatisme
“berisi
pengalaman-pengalaman yang telah teruji,
yang sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa. Adapun kurikulum tersebut akan
berubah”.
Dalam
pandangan
pragmatisme
model kurikulum yang digunakan setiap
pelajaran tidak boleh terpisah-pisah antara
satu dengan yang lain, tetapi merupakan
satu kesatuan yang saling terkait, dan
pengalaman di sekolah selalu dipadukan
dengan pengalaman anak di luar sekolah
atau di tempat lingkungan kehidupan anak.
Selain itu, masalah yang dijadikan pusat
kegiatan oleh guru di kelas adalah masalahmasalah aktual yang menarik minat anak
atau menjadi pusat perhatian anak.
Model pembelajaran pragmatisme
adalah anak belajar di dalam kelas dengan
cara berkelompok. Dengan berkelompok
anak akan merasa bersama-sama terlibat
dalam masalah dan pemecahanya. Anak
akan terlatih bertanggung jawab terhadap
beban dan kewajiban masing-masing.
Sementara, guru hanya bertindak sebagai
fasilitator
dan
motivator.
Model
pembelajaran ini berupaya membangkitkan
hasrat anak untuk terus belajar, serta anak
dilatih berpikir secara logis.
Metode pendidikan
Metode pembelajaran merupakan
penyusunan
bahan
pelajaran
yang
memungkinkan diterima oleh para siswa
dengan lebih efektif. Suatu metode tidak
pernah terlepas dari bahan pelajaran, kita
dapat membedakan cara berbuat, tetapi cara
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
ini hanya sebagai cara berhubungan dengan
bahan atau materi tertentu. Metode
mengajar harus fleksibel dan menimbulkan
inisiatif peserta didik. Pada aliran filsafat
pragmatisme
lebih
mengutamakan
penggunaan metode pemecahan masalah
(problem solving method) serta metode
penyelidikan dan penemuan (inquiri and
discovery
method).
Dalam
praktiknya
(mengajar), metode ini membutuhkan guru
yang memiliki sifat pemberi kesempatan,
bersahabat,
seorang
pembimbing,
berpandangan terbuka, antusias, kreatif,
sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar,
bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar
belajar berdasarkan pengalaman dapat
diaplikasikan oleh siswa dan apa yang
dicita-citakan dapat tercapai.
Kalangan pragmatis berorientasi pada
pemberian kebebasan besar untuk memilih
kepada subjek didik dalam mencari-cari
situasi pengalaman belajar yang akan
menjadi hal yang paling berguna bagi
mereka. Ruang kelas (yang dilihat tidak
hanya sebagai sebuah setting ‘sekolah’,
melainkan juga tempat dimana segala
pengalaman belajar dapat diselenggarakan)
dipandang dalam kaca mata sebuah
laboratorium ilmiah dimana ide-gagasan
siap diuji coba untuk melihat apakah
terbukti sanggup diverifikasi. Karyawisata,
misalnya, terbukti memberikan keuntungankeuntungan belajar seperti membaca dan
pengalaman audio-visual karena subjek
didik mempunyai kesempatan yang lebih
baik untuk berpartisipasi dalam interaksi
langsung dengan lingkungan.
Disamping itu, pengalaman langsung
dianggap lebih memotivasi karena memiliki
nilai instrinsik, dan lebih bermakna karena
melibatkan subjek didik dalam pengalaman
langsung. Misalnya, seseorang akan lebih
banyak belajar tentang pembuatan susu dan
sapi, peran dengan pergi ke perusahaan
pembuatan susu dan memerah susu,
membaunya, mendengar suara sapi, dan
sebagainya. Jadi, metodologinya berkaitan
langsung dengan metodologi eksperimental
mereka. Metode unggulannya yaitu dengan
metode proyek. Subjek didik harus belajar
secara bertahap berangkat dari belajar atas
dasar pengalaman-pengalaman langsung
menuju ke metode-metode belajar atas dasar
pengalaman orang lain. Demikian pula
metode yang diterapkan oleh guru adalah
metode disiplin bukan kekuasaan, karena
metode kekuasaan cenderung memaksakan
anak untuk mengikuti kehendak guru. Cara
yang demikian itu tidak mungkin dapat
membangkitkan perhatian dan minat anak.
Sedangkan metode disiplin, semua kemauan
dan minat datang dari dalam diri anak
sendiri, dan anak akan belajar apabila ia
memiliki minat terhadap suatu hal untuk
dipelajari.
Peranan Guru dan Siswa
Dalam pembelajaran, peranan guru
bukan
“menuangkan”
pengetahuanya
kepada siswa. Setiap apa yang dipelajari
oleh siswa haruslah sesuai dengan
kebutuhan, minat dan masalah pribadinya.
Pragmatisme menghendaki agar siswa
dalam menghadapi suatu pemasalahan,
hendaknya
dapat
merekonstruksi
lingkungan untuk memecahkan kebutuhan
yang dirasakannya.
Untuk membantu siswa, guru harus
berperan:
(a)
Menyediakan
berbagai
pengalaman yang akan memuculkan
motivasi, misalnya dengan cara: Field trips,
film-film, catatan-catatan, dan tamu ahli
merupakan contoh-contoh aktivitas yang
dirancang untuk memunculkan minat siswa,
(b) Membimbing siswa untuk merumuskan
batasan masalah secara spesifik, (c)
Membimbing merencanakan tujuan-tujuan
individual dan kelompok dalam kelas guna
memecahkan suatu masalah, (d) Membantu
para siswa dalam mengumpulkan informasi
berkenaan dengan masalah, dan (e)
Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang
187
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
telah
dipelajari,
bagaimana
mereka
mempelajarinya, dan informasi baru yang
ditemukan oleh setiap siswa.
Edward
J.
Power
(1982)
menyimpulkan pandangan pragmatisme
bahwa “Siswa merupakan organisme rumit
yang mempunyai kemampuan luar biasa
untuk tumbuh, sedangkan guru berperan
untuk
memimpin
dan
membimbing
pengalaman belajar tanpa ikut campur
terlalu jauh atas minat dan kebutuhan
siswa”. Callahan dan Clark menyimpulkan
bahwa orientasi pendidikan pragmatisme
adalah progresivisme. Artinya, pendidikan
pragmatisme menolak segala bentuk
formalisme
yang
berlebihan
dan
membosankan dari pendidikan sekolah yang
tradisional. Anti terhadap otoritarianisme
dan absolutisme dalam berbagai bidang
kehidupan.
Kritik terhadap Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran yang
mengukur kebenaran suatu ide dengan
kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Ide ini
keliru dari tiga sisi. Pertama, Pragmatisme
mencampur adukkan kriteria kebenaran ide
dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran
suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan
praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran
sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu
dengan realitas, atau dengan standarstandar yang dibangun di atas ide dasar
yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan
realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide
untuk memenuhi hajat manusia, tidak
diukur dari keberhasilan penerapan ide itu
sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang
diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide
tidak mengandung implikasi kebenaran ide,
tetapi
hanya
menunjukkan
fakta
terpuaskannya kebutuhan manusia.
Kedua, Pragmatisme menafsirkan
peran akal manusia. Menetapkan kebenaran
188
sebuah ide adalah aktivitas intelektual
dengan
menggunakan
standar-standar
tertentu. Sedang penetapan kepuasan
manusia dalam pemenuhan kebutuhannya
adalah
sebuah
identifikasi
instinktif.
Memang
identifikasi
instinktif
dapat
menjadi ukuran kepuasan manusia dalam
pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi
ukuran kebenaran sebuah ide. Maka,
Pragmatisme berarti telah menafsirkan
aktivitas intelektual dan menggantinya
dengan identifikasi instinktif. Atau dengan
kata lain, Pragmatisme telah menundukkan
keputusan akal kepada kesimpulan yang
dihasilkan dari identifikasi instinktif.
Ketiga. Pragmatisme menimbulkan
relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai
dengan perubahan subjek penilai ide baik
individu, kelompok, dan masyarakat dan
perubahan konteks waktu dan tempat.
Dengan kata lain, kebenaran hakiki
Pragmatisme baru dapat dibuktikan,
menurut Pragmatisme itu sendiri setelah
melalui pengujian kepada seluruh manusia
dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini
mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka,
Pragmatisme berarti telah menjelaskan
inkonsistensi internal yang dikandungnya
dan menafikan dirinya sendiri.
Satu hal yang harus digarisbawahi
adalah bahwa pragmatisme merupakan
filsafat bertindak. Dalam menghadapi
berbagai persoalan, baik bersifat psikologis,
epistemologis, metafisik, religius dan
sebagainya,
pragmatisme
selalu
mempertanyakan bagaimana konsekuensi
praktisnya. Setiap solusi terhadap masalah
apa pun selalu dilihat dalam rangka
konsekuansi praktisnya, yang dikaitkan
dengan kegunaannya dalam hidup manusia.
Dan konsekuensi praktis yang berguna dan
memuaskan
manusia
itulah
yang
membenarkan tindakan tadi. Dalam rangka
itulah, kaum pragmatis tidak mau
berdiskusi bertele-tele, bahkan sama sekali
tidak
menghendaki
adanya
diskusi,
malainkan langsung mencari tindakan yang
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
tepat untuk dijalankan dalam situasi yang
tepat pula. Kaum pragmatis adalah
manusia-manusia empiris yang sanggup
bertindak,
tidak
terjerumus
dalam
pertengkaran ideologis yang mandul tanpa
isi, melainkan secara nyata berusaha
memecahkan masalah yang dihadapi
dengan tindakan yang konkrit.
Karenanya, teori bagi kaum pragmatis
hanya merupakan alat untuk bertindak,
bukan untuk membuat manusia terbelenggu
dan mandeg dalam teori itu sendiri. Teori
yang tepat adalah teori yang berguna, yang
siap pakai, dan yang dalam kenyataannya
berlaku, yaitu yang mampu memungkinkan
manusia bertindak secara praktis. Kebenaran
suatu teori, ide atau keyakinan bukan
didasarkan pada pembuktian abstrak yang
muluk-muluk, melainkan didasarkan pada
pengalaman, pada konsekuansi praktisnya,
dan pada kegunaan serta kepuasan yang
dibawanya.
Pendeknya,
ia
mampu
mengarahkan manusia kepada fakta atau
realitas yang dinyatakan dalam teori
tersebut.
Pragmatisme mempunyai dua sifat,
yaitu
merupakan
kritik
terhadap
pendekatan
ideologis
dan
prinsip
pemecahan masalah. Sebagi kritik terhadap
pendekatan
ideologis,
pragmatisme
mempertahankan relevansi sebuah ideologi
bagi
pemecahan,
misalnya
fungsi
pendidikan. Pragmatisme mengkritik segala
macam teori tentang cita-cita, filsafat,
rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali
tidak memiliki konsekuansi praktis. Bagi
kaum pragmatis, yang penting bukan
keindahan suatu konsepsi melainkan
hubungan nyata pada pendekatan masalah
yang dihadapi masyarakat. Sebagai prinsip
pemecahan
masalah,
pragmatisme
mengatakan bahwa suatu gagasan atau
strategi terbukti benar apabila berhasil
memecahkan masalah yang ada, mengubah
situasi yang penuh keraguan dan keresahan
sedemikian rupa, sehingga keraguan dan
keresahan tersebut hilang.
Dalam
kedua
sifat
tersebut
terkandung segi negatif pragmatisme dan
segi-segi positifnya. Pragmatisme, misalnya,
mengabaikan peranan diskusi. Justru di sini
muncul masalah, karena pragmatisme
membuang
diskusi
tentang
dasar
pertanggungjawaban yang diambil sebagai
pemecahan
atas
masalah
tertentu.
Sedangkan segi positifnya tampak pada
penolakan kaum pragmatis terhadap
perselisihan teoritis, pertarungaan ideologis
serta
pembahasan
nilai-nilai
yang
berkepanjangan, demi sesegera mungkin
mengambil tindakan langsung.
Dalam
kaitan
dengan
dunia
pendidikan,
kaum
pragmatisme
menghendaki
pembagian yang
tetap
terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan
praktis. Pengembangan terhadap yang
teoritis akan memberikan bekal yang bersifat
etik dan normatif, sedangkan yang praktis
dapat mempersiapkan tenaga profesional
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis
itu penting agar
pendidikan tidak
melahirkan materialisme terselubung ketika
terlalu menekankan yang praktis.
Pendidikan
juga
tidak
dapat
mengabaikan
kebutuhan
praktis
masyarakat, sebab kalau demikian yang
terjadi berarti pendidikan tersebut dapat
dikatakan
disfungsi,
tidak
memiliki
konsekuansi praktis. Dewey mendewakan
pendidikan formal berdasarkan minat anakanak dan pelajaran yang diberikan
hendaknya disesuaikan dengan minat anakanak. Dengan pandangan yang demikian
maka pelajaran yang berlangsung di sekolah
tidak difokuskan karena minat setiap anak
itu berbeda-beda. Demikian juga dengan
pelajaran-pelajarn pokok
yang harus
diajarkan kepada anak-anak tidak dapat
diterapkan dengan baik.
189
Dwi Priyanto – Pragmatisme terhadap Praksis Pendidikan
Kesimpulan
Menurut aliran filsafat Pragmatisme
bahwa pendidikan perlu didasarkan pada
tiga pokok pikiran yaitu: (1) Pendidikan
merupakan kebutuhan untuk hidup.
Pendidikan berfungsi sebagai
alat dan
sebagai pembaharuan hidup. Dimana dalam
hidupnya manusia selalu berinteraksi antara
inividu yang satu dengan individu yang
lainnya, dan dengan lingkungannya; (2)
Pendidikan
sebagai
pertumbuhan.
Pertumbuhan juga merupakan proses
pematangan oleh karena peserta didik
memiliki potensi berupa kapasitas untuk
berkembang atau bertumbuh menjadi
sesuatu
dengan
adanya
pengaruh
lingkungan; dan (3) Pendidikan sebagai
fungsi social dan lingkungan merupakan
syarat bagi pertumbuhan, serta fungsi
pendidikan merupakan suatu proses
membingbing dan mengembangkan.
Pragmatisme
tidak
menaruh
perhatian terhadap suatu nilai yang tidak
empiris. Konsep pendidikan pragmatisme
adalah,
pendidikan
bertujuan
untuk
mendewasakan anak menjadi manusia yang
mandiri, bertanggung-jawab, dan dapat
memecahkan persoalan hidupnya sendiri.
Pendidikan harus dilangsungkan di tempat
dimana anak berada. Kurikulum yang
digunakan setiap pelajaran tidak boleh
terpisah-pisah, tetapi merupakan satu
kesatuan, dan pengalaman di sekolah selalu
dipadukan dengan pengalaman di luar
sekolah. Masalah yang diangkat oleh guru di
kelas adalah masalah-masalah aktual yang
menarik minat anak atau menjadi pusat
perhatian anak. Demikian pula metode yang
diterapkan oleh guru adalah metode disiplin
bukan kekuasaan, karena metode kekuasaan
cenderung
memaksakan
anak
untuk
mengikuti kehendak guru.
Dalam pendidikan pragmatisme,
semua materi yang akan disajikan harus
berdasarkan
fakta-fakta
yang
sudah
diobservasi, dipahami, serta dibicarakan
190
sebelumnya,
serta
materi
tersebut
dimungkinkan mengandung ide-ide yang
dapat mengembangkan situasi untuk
mencapai tujuan. Peran guru dalam
pendidikan pragmatisme hanyalah sebagai
fasilitator dan motivator kegiatan anak.
Semua kegiatan anak dilakukan sendiri
seiring dengan minat dan kebutuhan yang
dipilih, tetapi guru tetap memberikan
arahan
yang
memungkinkan
anak
berkembang sesuai dengan bakat dan minat
yang dimiliki.
Daftar Pustaka
Russel, B. (2007). Sejarah filsafat barat;
kaitannya dengan kondisi zaman kuno
hingga sekarang (terj). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Dardiri, A. (2010). Revitalisasi fungsi
pendidikan
untuk
mewujudkan
pendidikan
yang
humanis-religius,
Pidato Pengukuhan Guru Besar,
disampaikan
di
depan
Rapat
Terbuka Senat UNY tanggal 11
Desember 2010.
Drost, J. I. G. M. (1997). Sekolah: mengajar atau
mendidik.
Yogyakarta:
Penerbit
Kanisius.
Knight, G. R. (2007). Filsafat pendidikan (terj).
Yogyakarta: Gama Media.
Gutek, G. L. (1974). Philosophical alternatives
in education. Columbus, Ohio: Charles
E. Merrill Publishing Company.
Gutek, G. L. (1988). Philosophical and
ideological perspectives on education.
New Jersey: Prentice Hall Inc.
Tilaar, H.A.R. (2000). Pendidikan, kebudayaan
dan masyarakat madani Indonesia,
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hadiwijono, H. (1980). Sari sejarah filsafat
barat 2. Yogyakarta: Kanisius.
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?
option=com_content&do_pdf=1
&id=58.
JPII Volume 1, Nomor 2, April 2017
Mantra, I. B. (2004). Filsafat penelitian &
metode penelitian sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Barnadib,
I.
(2002).
Filsafat
pendidikan.Yogyakarta: Adicita.
Ismaun. (2004). Filsafat ilmu. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
Jalal, F., & Supriadi, D. (2001). Reformasi
pendidikan dalam konteks otonomi
daerah. Yogyakarta: Depdiknas –
Bappenas–Adicita Karya Nusa.
Jalaluddin. & Idi, A. (2007). Filsafat
pendidikan;
manusia,filsafat
dan
pendidikan. Yogyakarta: Arruz Media.
Ryan, J. K. (1964). Twentieth-century: Studies
in the work of seventeen modern
philosopher, edited by with an
introduction by John K ryan. Alba
House, State Island, N.Y.
Kattsof, L. O. (1992). Pengantar filsafat.
Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana
Yogyakarta.
Knight, G. R. (1982). Issues and alternatives in
educational
philosophy.
Michigan:
Andrews University Press.
Mudzakir. & Sadali, A. (2004). Filsafat umum.
Bandung: Pustaka Setia.
Power, E. J. (1982). Philosophy of education.
New Jersey: Prentice-Hall. Inc.
Sadulloh, U. (2003). Pengantar filsafat
pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Soedijarto. (1998). Pendidikan sebagai sarana
reformasi
mental
dalam
upaya
pembangunan bangsa. Jakarta: Balai
Pustaka.
Soedijarto. (2008). Landasan dan arah
pendidikan nasional kita. Jakarta:
Kompas.
Sutrisno,
M.
(1987).
Eksistensialisme,
pergumulan untuk menjadi manusia
dalam para filsuf penggerak jaman.
Yogyakarta: Kanisius.
Suyanto. & Hisjam, D. (2000). Refleksi dan
reformasi pendidikan di indonesia
memasuki millenium III. Yogyakarta:
Adicita Karya Nusa.
Syaripudin, T. (2006). Pengantar filsafat
pendidikan. Bandung: Percikan Ilmu.
Tafsir, A. (2002). Filsafat Umum. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Rasyidin, W. (2007). Filsafat pendidikan (dalam
ilmu
dan
aplikasi
pendidikan).
Bandung: Pedagogiana Press.
191
Download