Kepuasan Pernikahan Pada Wanita Yang Menikah Melalui Proses

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada Bab I telah dikemukakan bahwa tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melihat kepuasan pernikahan pada pasangan yang
menikah melalui proses ta’aruf.
Bagian ini memaparkan deskripsi umum tentang istilah pernikahan,
alasan menikah, fase pernikahan, definisi kepuasan pernikahan, faktorfaktor pendukung kepuasan
pernikahan
serta aspek
kepuasan
pernikahan dan dilanjutkan dengan definisi mengenai ta’aruf.
A. Pernikahan
1. Definisi Pernikahan
Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan
seseorang. Hampir setiap orang mempunyai keinginan untuk
menjalani hal tersebut. Menurut Dariyo (2003) pernikahan
merupakan ikatan kudus antara pasangan dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan yang telah menginjak atau dianggap
telah memiliki umur cukup dewasa. Pernikahan dianggap
sebagai ikatan kudus (holly relationship) karena hubungan
pasangan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan telah
diakui secara sah dalam hukum agama.
Dalam Undang-Undang pernikahan yang dikenal dengan
UU No. 1 tahun 1974, pernikahan merupakan ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
keTuhanan YME (Walgito, 2004).
17
18
Pernikahan merupakan suatu bentuk komunitas sosial yang
melibatkan suami isteri sebagai pelaku utamanya. Sebagaimana
komunitas sosial lainnya maka dalam pernikahan pun terjadi
interaksi sosial pada pelaku
yang terlibat didalamnya.
Sebenarnya interaksi sosial sudah terjadi sejak awal pertemuan
hingga dilakukan dalam ikatan pernikahan. Suatu interaksi
sosial akan berhasil dengan baik bila masing-masing individu
yang terlibat dapat saling menyesuaikan. Pada dasarnya
manusia itu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh
karena itu, dalam interaksi sosial individu-individu yang terlibat
didalamnya akan membawa keterbatasan, kelebihan dan
kebutuhan masing-masing sebagai konsekuensi dari perbedaan
tersebut. kemudian faktor-faktor tersebut akan bertemu dan
berinteraksi
memperoleh
dengan
situasi.
pemenuhan
Bila
yang
individu
kemudian
akan
saling
menghasilkan
kepuasan pada masing-masing pihak. Sebaliknya bila masing
masing individu tidak bisa menyesuaikan diri maka yang terjadi
adalah ketegangan dan ketidakpuasan karena masing-masing
pihak tidak bisa mencapai pemenuhan untuk kebutuhannya.
Olson & DeFrain (2006) mengatakan pernikahan adalah
komitmen emosional dan legal dari dua orang untuk berbagi
keintiman fisik dan emosional, berbagi tugas, dan sumber
ekonomi. Gardiner & Myers (dalam Papalia, Olds & Feldman,
2009)
menambahkan
bahwa
pernikahan
menyediakan
keintiman, komitmen, persahabatan, cinta dan kasih sayang,
pemenuhan seksual,
pertemanan
dan kesempatan untuk
19
pengembangan emosional seperti sumber baru bagi identitas dan
harga diri.
Berdasarkan
pernyataan-pernyataan
di
atas
dapat
disimpulkan bahwa pernikahan adalah ikatan lahir dan batin
yang suci antara pria dan wanita yang melibatkan hubungan
seksual, hak pengasuhan anak dan adanya pembagian peran
suami-istri serta adanya keintiman, komitmen, persahabatan,
cinta dan kasih sayang, pemenuhan seksual, pertemanan dan
kesempatan untuk pengembangan emosional antara suami dan
istri.
2. Fungsi Pernikahan
Menurut Duvall dan Miller (1985) menyatakan bahwa
ada beberapa fungsi pernikahan :
a. Menghasilkan kasih sayang
Menimbulkan kasih sayang antara suami-istri, orang tua
dan anak, antara satu generasi dengan generasi selanjutnya.
Kasih sayang merupakan hasil dari kehidupan berkeluarga.
Pria dan wanita dalam masyarakat barat biasanya melakukan
pernikahan karena perasaan kasih sayang dan anak
merupakan
ekspresi
perasaan
kasih
sayang
diantara
pasangan.
b. Memberikan keamanan secara personal dan penerimaan
Keamanan dan penerimaan yang mereka perlukan untuk
hidup dapat terpenuhi dalam keluarga. Di dalam keluarga,
individu dapat melakukan kesalahan-kesalahan dan belajar
dari kesalahan yang mereka lakukan dalam lingkungan yang
aman dan terlindungi. Benokraitis (1996) menyatakan
20
bahwa keluarga merupakan kelompok yang di dalamnya ada
perasaaan yang saling mencintai, memahami, memberikan
rasa aman, menerima, dan kebersamaan melalui hubungan
yang intim, jangka panjang.
c. Memberikan kepuasan dan tujuan
Rasa kepuasan dan berharga yang ada pada manusia
dapat diperoleh dalam keluarga. Di dalam sebuah keluarga,
orang dewasa dan anak-anak menikmati kehidupan satu
sama
lain
dalam
pertemuan
dan
perayaan-perayaan
keluarga, acara keluarga, jalan-jalan keluarga dan aktifitas
lain dimana anggota keluarga menemukan kepuasan. Di
dalam sebuah keluarga, orang tua juga merasa bahagia
mereka hidup untuk pasangan dan untuk anak-anak menjadi
tanggung jawabnya.
d. Adanya kepastian kebersamaan
Hanya dalam keluarga kepastian akan kesinambungan
kebersamaan (companionship) didapati. Teman-teman, para
tetangga, kolega dan yang lainnya mungkin akan menjadi
dekat hanya beberapa tahun saja. Adanya kebersamaan yang
didasarkan rasa simpati mendorong anggota keluarga
menceritakan yang terjadi pada hari itu dan untuk saling
berbagi tentang kehidupan yang mereka jalani.
e. Sarana sosialisasi kehidupan sosial
Dalam setiap masyarakat individu belajar apa yang
diharapkan dari mereka dan dimana mereka berada dalam
hirarki sosial melalui keluarganya. Pada saat lahir anak
secara otomatis memperoleh status keluarga secara genetis,
21
fisik, etnik, kebangsaan, agama, kebudayaan, ekonomi,
politik, dan pendidikan yang diwariskan dari keluarga dan
sanak keluarganya. Keluarga merupakan role model bagi
generasi selanjutnya dalam kehidupan sosial seseorang.
3. Motivasi melakukan pernikahan
Motivasi untuk menikah mungkin berbeda-beda pada setiap
individu. Menurut Olson dan DeFrain (2006), dari berbagai
alasan orang menikah, ada yang menikah dengan alasan positif
dan ada juga dengan alasan yang negatif. Orang yang menikah
karena alasan positif cenderung memiliki hubungan pernikahan
yang lebih baik. Turner dan Helms (1995) menyatakan bahwa
ada beberapa motivasi orang untuk memasuki kehidupan
perkawinan, yaitu :
a. Cinta
Cinta dan komitmen diantara pasangan seringkali menjadi
alasan utama dilakukannya perkawinan. Pasangan ingin
selalu saling berbagi dalam hidup dan membina hubungan
yang
dekat
(intimate
relationship)
dalam
lembaga
perkawinan. Cinta merupakan hal yang paling utama
pasangan
melakukan perkawinan
pasangan yang
melakukan
dan
perkawinan
hanya
sedikit
tidak didasari
adanya perasaan cinta (Simpson, Campbell, Berscheld,
dalam Feldman, 1989).
b. Kebersamaan
Perkawinan merupakan lembaga dimana pasangan dapat
menghabiskan waktunya hidup bersama secara permanen.
Kebersamaan dapat menimbuklan kesejahateraan (well
22
being) emosional dan psikologis diantara pasangan, yang
akan berdampak tumbuhnya rasa aman dan nyaman.
Kebersamaan tersebut juga dapat memberikan rasa aman da
kesempatan untuk saling berbagi diantara pasangan. Sejalan
dengan pernyataan tersebut Campbell (dalam Duvall dan
Miller, 1985) menyatakan bahwa pernikahan memberikan
sumbangan penting yang unik bagi perasaan well being pada
kebanyakan pria dan wanita.
c. Konfomitas
Bagi beberapa pasangan, perkawinan merupakan hal yang
memang harus dilakukan atau perkembangan dari suatu
hubungan antara pria dan wanita. Pernikahan tampaknya
merupakan proses pemilihan. Motif sosial juga turut
terpengaruh yaitu tekanan dari keluarga dan teman-teman.
d. Legitimasi hubungan seks
Setiap
masyarakat
mempunyai
norma-norma
yang
berkenaan dengan siapa seseorang yang dapat melakukan
hubungan sosial dan dalam keadaan (circumstance) seperti
apa (Benokratis, 1996) status pernikahan memberikan
legistimasi hubungan seksual. Status pernikahan membuat
pasangan suami-istri dapat melakukan hubungan seksual
secara sah dan dilindungi secara hukum.
e. Legitimasi anak
Anak yang lahir dalam suatu keluarga mempunyai status
identitas. Turner dan Helms (1995) menyatakan bahwa
pasangan yang melakukan pernikahan dengan alasan untuk
memiliki dan mengasuh anak.
23
f. Perasaan siap
Pasangan memutuskan untuk melakukan pernikahan karena
mereka merasa telah siap. Perasaan siap ini merupakan hasil
proses sosialisasi di lingkungan (Blood dalam Donna,2008).
g. Mendapatkan keuntungan
Hal ini bukanlah alasan yang kuat mengapa seseorang
melakukan pernikahan. Akan tetapi, bagi pasangan yang
memperhatikan kesejahteraan ekonomi, alasan ini mungkin
menjadi alasan utama pasangan melakukan pernikahan.
h. Engagement
Tahap ini pasangan memberitahukan kepada orang banyak
bahwa mereka menikah dan secara tradisional biasanya
ditandai dengan cincin berlian atau penggantinya sebagai
pasangan tunangan dan pasangan yang akan dinikahi pada
masa yang akan datang.
4. Tahap-tahap pernikahan
Duval dan Miller (1985) menyatakan ada tujuh tahap
pernikahan yang dikaitkan dengan usia anak, sebagai berikut:
1) Pasangan baru
2) Keluarga memiliki anak
3) Keluarga dengan anak usia pra sekolah
4) Keluarga dengan anak usia sekolah
5) Keluarga dengan anak usia remaja
6) Keluarga dengan anak usia dewasa muda
7) Keluarga dewasa madya
24
8) Keluarga lanjut usia
B. Kepuasan Pernikahan
1. Definisi Kepuasan Penikahan
Pernikahan yang memuaskan merupakan dambaan setiap
pasangan suami istri. Berbagai upaya dilakukan agar pasangan
mencapai kepuasan dalam perkawinan.Menurut Bahr, Chapell,
dan Leigh (dalam Burpee & Langer 2005), Kepuasan
pernikahan
merupakan
suatu
hal
yang
dihasilkan
dari
penyesuaian antara yang terjadi dengan yang diharapkan, atau
dibandingkan dari hubungan yang aktual dengan pilihan jika
hubungan yang dijalani akan berakhir. Kepuasan dalam
pernikahan dipengaruhi oleh harapan pasangan itu sendiri
terhadap pernikahannya, yaitu harapan terhadap nilai-nilai
pernikahan, harapan yang tidak jelas, tidak adanya harapan yang
cukup. dan harapan yang berbeda.
DeGenova & Rice (2005) memberikan definisi tentang
kepuasan perkawinan yaitu “…the extent to which couple are
content and fulfilled in their relationship”. Berdasarkan definisi
tersebut,
memungkinkan
terjadinya
perbedaan
individu
mengenai harapan dan kebutuhan antara pasangan. Menurut
Olson dan Defrain (2006), kepuasan pernikahan adalah perasaan
yang bersifat sujektif dari pasangan suami istri mengenai
perasaan
bahagia,
puas,
dan
menyenangkan
terhadap
pernikahannya secara menyeluruh.
Duvall dan Miller (1986) menyebutkan bahwa masa awalawal dari pernikahan adalah puncak dari kepuasan pernikahan.
25
Disisi lain Hurlock (1999) mengatakan bahwa pada masa awal
pernikahan setiap pasangan memasuki tahap dimana mereka
dituntut menyatukan banyak aspek yang berbeda dalam diri
masing-masing. Kemampuan pasangan untuk menyatukan
aspek yang berbeda ini akan menentukan tingkat harmonisasi
suatu keluarga. Situasi yang dialami suami isteri sehari-hari
dijadikan dasar penilaian tentang kepuasan pernikahan mereka.
Teori pertukaran
sosial (Thibaut dan
Kelly, 1978)
menekankan bahwa tiap individu akan menyeleksi aktivitas dan
interaksi ataupun relasi yang dilakukannya agar dapat
memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Jadi seseorang
dalam
melakukan
hubungan
mempertimbangkan
kerugian
interpersonal
dan
akan
selalu
keuntungan
yang
didapatkannya (West dan Turner 2005). Berdasarkan teori
tersebut dapat diasumsikan bahwa orang yang merasa menerima
keuntungan yang besar (hal-hal yang menyenangkan atau
membahagiakan) dalam kehidupan pernikahan akan merasa
kepuasan.
Adapun
besarnya
tingkat
kepuasan
tersebut
tergantung dari besar atau kualitas dari keuntungan yang
didapatkan. Adapun keuntungan itu sendiri tergantung dari sifat
hubungan yang dijalani. Jika kehidupan pernikahan yang
dijalani seseorang dirasa membahagiakan hingga sebagian besar
bahkan seluruh kebutuhan, keinginan, dan harapan yang
sebelumnya telah dicita-citakan terpenuhi, maka orang akan
merasa puas terhadap pernikahannya.
Dari pemaparan beberapa definisi yang dikemukakan oleh
para ahli tersebut, penulis mengacu pendapat Olson dan Defrain
26
(2006) yang mendefinisikan kepuasan pernikahan sebagai
sebuah evaluasi menyeluruh mengenai hubungan pernikahan
yang dijalani.
2. Kriteria kepuasan Pernikahan
Menurut Skolnick (dalam Lemme, 1995), ada beberapa
kriteria dari pernikahan yang memiliki kepuasan yang tinggi,
antara lain:
a. Adanya relasi personal yang penuh kasih sayang dan
menyenangkan dimana dalam keluarga terdapat hubungan
yang hangat, saling berbagi dan menerima antar sesama
anggota dalam keluarga.
b. Kebersamaan, adanya rasa kebersamaan dan bersatu dalam
keluarga. Setiap anggota keluarga menyatu dan menjadi
bagian dalam keluarga.
c. Model parental role yang baik
Pola orang tua yang baik akan menjadi contoh yang baik
bagi
anak-anak
mereka.
Hal
ini
bisa
membentuk
keharmonisan dalam keluarga.
d. Penerimaan terhadap konflik-konflik
Konflik yang muncul dalam keluarga dapat diterima
secara normatif, tidak dihindari melainkan berusaha untuk
menyelesaikan dengan baik dan menguntungkan bagi semua
anggota keluarga.
e. Kepribadian yang sesuai
Dimana pasangan memiliki kecocokan dan saling
memahami satu sama lain. Hal yang penting juga yaitu
adanya kelebihan yang satu dapat menutupi kekurangan
27
yang lainnya sehingga pasangan dapat saling melengkapi
satu sama lain.
f. Mampu memecahkan konflik
Levenson (dalam Lemme, 1995) mengatakan bahwa
kemampuan pasangan untuk memecahkan masalah serta
strategi yang digunakan oleh pasangan untuk menyelesaikan
konflik yang ada dapat mendukung kepuasan pernikahan
pasangan tersebut.
3. Aspek-Aspek Kepuasan Penikahan
Menurut
Olson
dan
Fowers
(1993)
komponen-
komponen yang menentukan kepuasan pernikahan, yaitu:
a. Komunikasi
Komunikasi
sangat
penting
pada
setiap
tahapan
hubungan karena komunikasi adalah inti dari sebuah
hubungan (Robinson & Blanton dalam Olson 2006). Area
ini melihat bagaimana perasaan dan sikap individu dalam
berkomunikasi dengan pasangannya. Menurut Duvall dan
Miller (1985) pasangan yang memiliki komunikasi yang
efektif apabila: mereka dapat membicarakan segala hal,
mampu membicarakan segala permasalahan yang dimiliki,
mereka mampu berbagi mengenai perasaannya, berusaha
mendengarkan satu sama lain ketika berbicara, dan saling
memahami satu sama lain.
b. Penggunaan waktu luang
Area ini menilai pilihan kegiatan yang dilakukan untuk
mengisi waktu senggang yang merefleksikan aktivitas yang
dilakukan secara personal atau bersama. Area ini juga
28
melihat apakah suatu kegiatan dilakukan sebagai pilihan
individu atau pilihan bersama serta harapan-harapan dalam
mengisi waktu luang bersama pasangan.
c. Orientasi Agama
Area ini menilai makna keyakinan beragama serta
bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang memiliki keyakinan beragama, dapat dilihat
dari sikapnya yang peduli terhadap hal hal keagamaan dan
mau beribadah. Umumnya, setelah menikah individu akan
lebih memperhatikan kehidupan beragama. Orang tua akan
mengajarkan dasar-dasar dan nilai-nilai agama yang dianut
kepada anaknya. Mereka juga akan menjadi teladan yang
baik
dengan
membiasakan
diri
beribadah
dan
melaksanakan ajaran agama yang mereka anut.
d. Penyelesaian Konflik
Area ini berfokus untuk menilai persepsi suami istri
teradap suatu masalah serta bagaimana pemecahannya.
Diperlukan adanya keterbukaan pasangan untuk mengenal
dan memecahkan masalah yang muncul serta strategi yang
digunakan untuk mendapatkan solusi terbaik. Area ini juga
menilai bagaimana anggota keluarga saling mendukung
dalam mengatasi masalah bersama-sama serta membangun
kepercayaan satu sama lain.
e. Pengaturan keuangan
Area ini menilai sikap dan cara pasangan mengatur
keuangan, bentuk-bentuk pengeluaran dan pembuatan
keputusan tentang keuangan. Konsep yang tidak realistis,
29
yaitu
harapan-harapan
yang
melebihi
kemampuan
keuangan, harapan untuk memiliki barang yang diinginkan,
serta ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
dapat menjadi masalah dalam pernikahan (Hurlock, 1999).
Disisi lain, pasangan yang memiliki kesepakatan dalam
mengatur keuangan akan mempunyai kepuasan pernikahan
yang lebih tinggi (Berry & Williams dalam DeGenova &
Rice, 2005).
f. Hubungan seksual
Area ini berfokus pada refleksi sikap yang berhubungan
dengan masalah seksual, tingkah laku seksual, serta
kesetiaan terhadap pasangan. Penyesuaian seksual dapat
menjadi penyebab pertengkaran dan ketidakbahagiaan
apabila tidak dicapai kesepakatan yang memuaskan
(Hurlock, 1999). Kepuasan seksual dapat terus meningkat
seiring berjalannya waktu. Hal ini bisa terjadi karena kedua
pasangan telah memahami dan mengetahui kebutuhan
mereka satu sama lain, mampu mengungkapkan hasrat dan
cinta mereka, juga membaca tanda-tanda yang diberikan
pasangan sehingga dapat tercipta kepuasan bagi pasanga
suami istri.
g. Keluarga dan teman
Area ini dapat melihat bagaimana perasaan dan
perhatian pasangan terhadap hubungan kerabat, mertua
serta teman-teman. Area ini merefleksikan harapan dan
perasaan senang menghabiskan waktu bersama keluarga
besar dan teman-teman. Pernikahan akan cenderung lebih
30
sulit jika salah satu pasangan menggunakan sebagian
waktunya bersama keluarganya sendiri, jika ia juga mudah
dipengaruhi oleh keluarganya dan jika ada keluarga yang
datang dan tinggal dalam waktu lama (Hurlock,1999).
h. Anak dan pengasuhan anak
Harapan akan kehadiran anak juga akan turut
mempengaruhi
kepuasan
pernikahan
(Hendrick
&
Hendrick, 1992). Area ini menilai sikap dan perasaan
tentang memiliki dan membesarkan anak. Fokusnya adalah
bagaimana orang tua menerapkan keputusan mengenai
disiplin anak, cita-cita terhadap anak serta bagaimana
pengaruh kehadiran anak terhadap hubungan dengan
pasangan.
Kesepakatan
antara
pasangan
dalam
hal
mengasuh dan mendidik anak penting halnya dalam
pernikahan. Orang tua biasanya memiliki cita-cita pribadi
terhadap anaknya yang dapat menimbulkan kepuasan bila
itu dapat terwujud.
i. Kepribadian
Area ini melihat penyesuaian diri dengan tingkah laku,
kebiasaan-kebiasaan serta kepribadian pasangan. Biasanya
sebelum menikah individu berusaha menjadi pribadi yang
menarik untuk mencari perhatian pasangannya bahkan
dengan berpura-pura menjadi orang lain. Setelah menikah,
kepribadian yang sebenarnya akan muncul. Setelah
menikah perbedaan ini dapat memunculkan masalah.
Persoalan tingkah laku pasangan yang tidak sesuai harapan
dapat menimbulkan kekecewaan, sebaliknya jika tingkah
31
laku pasangan sesuai yang diinginkan maka akan
menimbulkan perasaan senang dan bahagia.
j. Pembagian peran
Area ini menilai perasaan dan sikap individu terhadap
peran
yang
beragam
dalam
kehidupan
pernikahan.
Fokusnya adalah pada pekerjaan, tugas rumah tangga,
peran sesuai jenis kelamin dan peran sebagai orangtua.
Suatu peran harus mendatangkan kepuasan pribadi. Pria
dapat bekerjasama dengan wanita sebagai rekan baik di
dalam maupun di luar rumah. Suami tidak merasa malu jika
penghasilan istri lebih besar juga memiliki jabatan yang
lebih tinggi. Wanita mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan
potensi
yang
dimilikinya
serta
memanfaatkan kemampuan dan pendidikan yang dimiliki
untuk mendapatkan kepuasan pribadi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan dari Yoger dan Brecht (dalam Hidayah &
Hadjam,
2006),
kepuasan
perkawinan
pada
isteri
dipengaruhi oleh keterlibatan suami dalam membantu
tugas-tugas rumah tangga. Sementara kepuasan perkawinan
pada suami dihubungkan dengan kesadaran isteri untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lebih banyak
dibandingkan suami
4. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kepuasan Pernikahan
Terdapat beberapa tokoh yang mengemukakan tentang
faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pernikahan. Salah
satu diantaranya adalah Duvall dan Miller (1985). Duvall dan
Miller mengatakan bahwa kepuasan pernikahan dipengaruhi
32
oleh
dua
faktor,
yaitu
latar
belakang
(background
characteristic) dan keadaan saat ini (current characteristic).
Yang
dimaksud
dengan
faktor
latar
belakang
adalah
karakteristik yang dimiliki oleh pasangan sebelum menikah
yaitu kondisi pernikahan orang tua, kehidupan masa kanakkanak, penerapan disiplin orang tua, pendidikan seks, tingkat
pendidikan, dan masa perkenalan sebelum menikah.
Pernikahan orang tua akan menjadi role model bagi
pasangan suami istri dalam menjalani pernikahannya sendiri.
Seorang
yang
memiliki
orang
tua
bercerai,
memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami perceraian
(Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Masa kanak-kanak juga
dapat memengaruhi kepuasan pernikahan. Duvall dan Miller
(1986) mengatakan bahwa penerapan disiplin sejak kecil dengan
cara yang sesuai dapat juga membantu proses penyesuaian diri
dalam kehidupan pernikahan. Selain itu, seseorang yang
mendapatkan pendidikan seks dengan cara yang baik cenderung
memiliki kepuasan pernikahan yang tinggi.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam
pemilihan pasangan dan dapat memengaruhi hubungan dalam
pernikahan. Jika terdapat kesenjangan tingkat pendidikan yang
besar diantara pasangan, maka hubungan pernikahan sangat
rentan untuk mengalami ketegangan (Khana & Varghese dalam
Vaijayanthimala, 2004). Masa perkenalan sebelum menikah
merupakan masa untuk melakukan adaptasi dengan pasangan.
Hal tersebut memungkinkan pasangan untuk saling mengenal
33
sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah (Duvall dan
Miller, 1985).
Sementara itu, yang dimaksud dengan faktor keadaan saat
ini adalah karakteristik yang dimiliki pasangan selama
menjalani
pernikahan
kepercayaan,
meliputi
kesetaraan,
ekspresi
hubungan
kasih
seksual,
sayang,
komunikasi,
kehidupan sosial, pendapatan dan tempat tinggal. Menurut
Duvall dan Miller (1985), faktor latar belakang merupakan
suatu hal yang sudah terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah,
sedangkan faktor masa kini lebih mendasari tingkat kepuasan
pernikahan.
Salah satu harapan sebagian orang yang telah menikah
adalah memiliki pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan
akan cinta dan kasih sayang. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Bell, Daly, dan Gonzales ( dalam DeGenova & Rice, 2005)
ditemukan bahwa ekspresi kasih sayang secara fisik maupun
verbal sangat penting untuk mewujudkan pernikahan yang
bahagia. Selain itu adanya rasa saling percaya dari suami
kepada istri dan juga sebaliknya merupakan hal yang penting
karena kecurigaan yang timbul diantara pasangan dapat memicu
konflik dalam kehidupan pernikahan. Pasangan yang saling
mempercayai
dalam
menjaga
komitmen
akan
memiliki
kehidupan pernikahan yang bahagia (DeGenova & Rice, 2005)
Suatu pernikahan sebaiknya tidak ada dominasi dari salah
satu pasangan, baik dari suami maupun istri. Setiap keputusan
yang diambil dalam kehidupan pernikahan harus dilakukan
melalui kesepakatan antara suami dan istri. Pernikahan yang
34
bahagia dapat tercipta jika pasangan memiliki keinginan untuk
saling membantu dan memenuhi kebutuhan (Bell, Daly, &
Gonzales, 1987 dalam DeGenova & Rice, 2005).
Pihak suami maupun istri harus saling menikmati kehidupan
seksual yang mereka jalani. Menurut Komarovsky (dalam
Phelan,1979),
kepuasan
hubungan
seksual
merupakan
barometer dari kebahagiaan pernikahan. Dengan kata lain,
hubungan seksual sangat berpengaruh terhadap kepuasan
pernikahan. Begitupula dengan komunikasi diantara pasangan
suami istri. Komunikasi yang efektif dapat memengaruhi
kepuasan pernikahan. Masalah yang terjadi dalam suatu
pernikahan seringkali disebabkan oleh komunikasi yang buruk
antar pasangan. Komunikasi dapat dikatakan efektif jika
pasangan memiliki kemampuan untuk bertukar ide, perasaan,
sikap, dan informasi sehingga pesan yang disampaikan dapat
didengar dan dipahami dengan baik. Perkataan yang mengkritik,
menyakitkan, dan menyingung perasaan dapat merusak
hubungan pernikahan (DeGenova & Rice, 2005)
Keluarga yang bahagia seharusnya memiliki kehidupan
sosial yang menyenangkan. Dukungan sosial berhubungan
signifikan dengan kepuasan pernikahan. Dukungan sosial
berhubungan signifikan dengan kepuasan pernikahan (Acitelli
dalam Polk, 2008) mengatakan bahwa hubungan dengan
masyarakat dan tetangga dapat meningkatkan kepuasan
pernikahan karena mereka dapat membantu pasangan dalam
beradaptasi dengan tuntutan dan tekanan hidup, seperti
membantu jika ada anggota keluarga yang meninggal atau sakit,
35
menitipkan rumah ketika semua anggota keluarga sedang pergi,
memberikan nasehat ketika istri memiliki masalah dengan
suami, membantu menjaga anak ketika ibu bekerja di luar
rumah, dsb.
Pasangan yang telah menikah harus memiliki pendapatan
yang dapat mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga dapat
meminimalisasi timbulnya konflik dalam kehidupan pernikahan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pasangan yang sepakat
dalam mengatur keuangan akan memiliki kepuasan pernikahan
yang lebih tinggi ( Berry & Williams dalam DeGenova & Rice,
2005). Ditemukan pula bahwa kepuasan lingkungan tempat
tinggal berpengaruh positif terhadap kepuasan hidup dalam
berkeluarga (Toth dalam Minnotte, 2008). Tempat tinggal yang
menetap dan memberikan rasa aman serta nyaman berkontribusi
positif terhadap kepuasan pernikahan karena pasangan tidak
harus selalu menghadapi situasi baru yang membutuhkan proses
adaptasi.
C. Ta’aruf
1. Definisi Ta”aruf
Ta’aruf berasal dari Bahasa Arab, yang artinya saling
mengenal. Berkenalan bisa dengan siapa saja, laki-laki atau
perempuan. Namun, makna ta’aruf menjadi lebih spesifik ketika
ditujukan untuk orang yang sedang mencari pasangan hidup,
tanpa melalui proses pacaran. Jadi, ta’aruf diartikan sebagai
berkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon
suami atau istri. Atau untuk lebih jelasnya lagi, ta’aruf adalah
36
proses pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang akan
menikah (pra khitbah atau lamaran) (Imtichanah, 2006).
Takariawan (2006) menambahkan bahwa ta’aruf pada asasnya,
adalah proses yang dijalani seseorang yang telah mantap hati
dan memastikan diri sehingga siap untuk melangkah kejenjang
pernikahan. Hal tersebut sesuai dengan surat Al-Hujarat: 13
yang berbunyi :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)
Ta’aruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk
melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang
dijadikan pengenalan tak hanya terkait dengan data global,
melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masingmasing pihak cukup penting, misalnya masalah kecantikan
calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan
cara yang saksama, bukan cuma sekadar curi-curi pandang atau
melihat fotonya. Islam telah memerintahkan seorang calon
suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung, bukan
melalui media foto, lukisan, atau video. Karena pada hakikatnya
wajah seorang wanita itu bukan aurat (Imtichanah, 2012).
Dalil perlunya melihat calon istri/suami antara lain hadits
berikut ini:
a. “Apabila salah seorang di antara kamu hendak
meminang seorang perempuan, kemudian dia dapat
melihat sebahagian apa yang kiranya dapat menarik
untuk mengawininya, maka kerjakanlah”. (HR Ahmad
dan Abu Daud)
37
b. “Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bertanya
kepada seseorang yang hendak menikahi wanita,
“Apakah kamu sudah pernah melihatnya?” “Belum,”
jawabnya. Nabi SAW bersabda, ‘Pergilah melihatnya
dahulu.’” (HR. Muslim)
c. Mughirah bin Syu’bah RA berkata, “Aku meminang
seorang wanita. Dan Rasulullah SAW bertanya padaku,
“Apakah kamu sudah melihatnya?” Aku menjawab
‘Tidak.” Lalu beliau berkata, “Lihatlah dia karena
melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan
kamu berdua.” (HR. Ibnu Majah)
Didalam proses ta’aruf ada aturan main yang melindungi
kedua belah pihak dari pelanggaran atau bermaksiat. Setiap
pertemuan dalam ta’aruf, pria dan wanita tidak bertemu berdua
saja melainkan harus selalu didampingi mediator. Mediator
adalah orang yang menjadi pembina selama proses ta’aruf
berlangsung. Mediator dalam proses ta’aruf adalah orang yang
paling dekat dan mengenal kepribadian calon pasangan yang
akan melakukan ta’aruf, bisa orang tua atau wali laki-laki dan
perempuan yang akan berta’aruf, guru ngaji dari kedua belah
pihak atau sahabat karib yang dipercayai, sehingga diharapkan
mereka dapat memberikan informasi yang benar, akurat serta
menyeluruh mengenai diri calon tersebut (Imtichanah, 2012).
Menurut Ajaran Islam, hal ini sesuai dengan Hadist
Rasulullah Saw yang berbunyi:
“Janganlah seorang laki-laki bertemu sendirian (bersepisepian)dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya,
karena yang ketiganya adalah setan. ”(HR Imam Ahmad
dari Amir bin Robi’ah ra).
38
Hal yang biasanya menjadi pertimbangan untuk diketahui
calon pasangan dalam ta’aruf meliputi kepribadian, pandangan
hidup, pola pikir dan cara penyelesaian terhadap suatu masalah.
Namun proses ta’aruf juga memungkinkan seseorang untuk
menolak ketika ia tidak berkenan dengan calon yang akan
dijodohkan. Selama pelaksanaan proses ta’aruf calon yang akan
berta’aruf tidak diperbolehkan membuka kontak fisik dalam
bentuk apapun sehingga para calon tidak dapat bebas
melakukan apa saja. Hal ini bertujuan agar pasangan yang
melakukan ta’aruf tidak mengembangkan rasa cinta sebelum
menikah (imtichanah, 2012).
Dalam pernikahan Islami ta’aruf adalah anak tangga
pertama agar pernikahan itu mencapai barakah. Dengan ta’aruf
kita membuka pintu pertama untuk mengenal dan mengetahui
calon pasangan, mencoba mencari kecocokan, mencoba
meneliti keinginan hati masing–masing pihak, serta menggali
harapan-harapan dalam menyusun pernikahan. Pernikahan
dalam ajaran Islam bertujuan untuk ibadah, maka Islam
menghendaki bahwa perkawinan antara laki-laki dan perempuan
hendaknya sesuai dengan tuntutan yang telah diajarkan sesuai
dengan syariat dalam agama sehingga pernikahan itu tidak
hanya sebagai penyalur keinginan manusiawi tetapi juga
bernilai ibadah. Dalam kehidupan beragama Islam ta’aruf
merupakan tuntutan agama bagaimana mencari pasangan hidup
yang baik sesuai dengan anjuran Rosulullah dalam sebuah
hadist yang artinya :
39
“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena
hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena
agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya
beruntung kedua tanganmu. “ ( H.R. Ahmad ).
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara
ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an
dan As-Sunnah yang shahih
Dengan adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang bercermin dalam agama yang dianut, maka akan menuntun
ataupun membimbing kepada orang yang memeluknya. Agama
akan menuntun ataupun hal yang baik ke hal-hal yang tidak
tercela, demikian pula bila dikaitkan dalam perkawinan, maka
agama yang dianut akan memberikan tuntunan atau bimbingan
bagaimana bertindak secara baik. Banyak tindakan yang dapat
dicegah
karena dilatarbelakangi oleh kuatnya agama yang
dianutnya (Walgito, 2004)
2. Ketentuan Ta’aruf
Berikut ini adalah kaidah sesuai syariah yang harus dipatuhi
saat ta’aruf :
a. Niat ingin menikahi
Hanya pria yang benar-benar berniat menikahi sang
perempuan saja yang dibolehkan melihat. Sedangkan
mereka yang cuma sekadar iseng-iseng atau coba-coba,
padahal di dalam hati belum berniat menikahi, tentu tidak
dibenarkan melihat.
40
b. Tidak harus seizin wanita
Mughirah menemui calon istrinya spontan, tanpa
pemberitahuan lebih dahulu. Dari sini jumhur ulama
berpendapat, tak ada ketentuan bahwa wanita mesti tahu
sejak awal bahwa dia akan dilihat. Sebagian ulama
berpandangan sebaiknya sang wanita memang tidak
diberitahu, agar dia tampil alami di mata yang melihat,
sehingga tidak perlu menutupi apa yang ingin ditutupi.
Sebab kalau wanita itu mengetahui bahwa dirinya sedang
dilihat, secara naluri dia akan berdandan sedemikian rupa
untuk menutupi aib-aib yang mungkin ada pada dirinya.
Maka dengan begitu, tujuan inti dari melihat malah tidak
akan tercapai. Namun mazhab Maliki berpendapat kalau
pun bukan izin dari wanita yang bersangkutan, setidaknya
harus ada izin dari pihak walinya. Hal itu agar jangan
sampai tiap orang merasa bebas memandang wanita mana
saja dengan alasan ingin melamar
c. Sebatas wajah dan kedua tangan hingga pergelangan
Jumhur ulama sepakat bahwa batasan yang boleh
dilihat dalam ta’aruf adalah bagian tubuh yang bukan aurat.
Bila calon suami ingin melihat calon istrinya, maka dia
hanya boleh melihat wajah dan kedua tangannya hingga
pergelangan. Sedangkan bila calon istri ingin melihat calon
suaminya, maka batasan auratnya adalah antara pusar dan
lututnya.
41
d. Tidak boleh menyentuh
Yang dibolehkan hanya melihat bagian tubuh yang
bukan aurat, sedangkan menyentuh, apalagi dengan nafsu
justru dilarang.
e. Melihat berulang-ulang
Pria boleh melihat calon pasangan lebih dari sekali,
sebab bisa saja penglihatan yang pertama akan berbeda
hasilnya dengan penglihatan kedua, ketiga dan seterusnya.
Oleh karena itu, pada prinsipnya asalkan bertujuan mulia
dan terjaga dari fitnah, dibolehkan melihat calon istri
beberapa kali, hingga si pria betul merasa mantap dengan
pilihan.
f. Tidak boleh berduaan
Sebagian kalangan ada yang dengan sangat ketat
melarang calon pasangan untuk saling bertemu muka
langsung. Alasannya karena takut nanti menimbulkan
gejolak di dalam hati. Padahal sebenarnya pertemuan
langsung itu tidak dilarang secara mutlak. Apabila ada ayah
kandung, atau laki-laki mahram yang ikut mendampingi,
maka pertemuan yang bersifat langsung boleh saja
dilakukan. Pasangan itu bisa saja berjalan-jalan sambil
bercakap-cakap, misalnya sambil berbelanja, berekreasi,
atau melakukan perjalanan bersama. Yang penting tidak
berduaan, dan pihak calon istri didampingi oleh laki-laki
yang menjadi mahramnya. Yang dilarang adalah posisi
berduaan dan bersepi-sepi di tempat yang tidak ada orang
tahu.
42
g. Mengirim utusan untuk melihat
Untuk hal-hal yang lebih dalam, terkait dengan aib dan
cacat, apabila dirasa kurang etis untuk dibicarakan secara
langsung, maka masing-masing pihak baik suami atau istri
boleh mengirim utusan untuk melihat secara langsung.
Pihak calon suami boleh mengirim kakak atau adik
perempuannya kepada pihak calon istri, untuk melihat halhal yang sekiranya masih haram dilihat langsung oleh calon
suami sehingga detail keadaan fisik calon istri bisa
diketahui oleh sang utusan. Demikian pula sebaliknya,
calon istri boleh mengirim kakak atau adiknya yang lakilaki untuk mendapatkan informasi lebih detail tentang sang
calon suami.
3. Model-Model Ta’aruf
Menurut Imtichanah (2012) ada beberapa model ta’aruf
yaitu :
a. Otoritas Pembina
Pembina disini adalah guru ngaji atau ustadz. Proses
ta’aruf pada model pertama ini berjalan sangat ketat.
Interaksi antara kedua pasangan yang akan ta’aruf mendapat
pengawasan intensif. Pertemuan-pertemuan harus dengan
sepengetahuan pembina.
b. Rekomendasi teman
Pada
model
ta’aruf
ini
calon
pendamping
direkomendasikan oleh teman. Jika orang tersebut setuju
maka proses dilanjutkan dengan memeberitahukan kepada
Pembina. Apabila Pembina setuju maka proses ta’aruf
43
dilanjutkan
dengan
mempertemukan
kedua
pasangan
tersebut dengan didampingi Pembina atau teman yang
merekomendasikan tersebut.
c. Pilihan pribadi
Model ini tidak jauh beda dengan model kedua. Dimana
orang yang akan ta’aruf tersebut sudah pernah melihat calon
yang akan berproses dalam ta’aruf kemudian meminta
bantuan Pembina atau orang lain.
Download