i. pendahuluan - IPB Repository

advertisement
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu tujuan nasional Negara Indonesia adalah meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, diantaranya melalui pembangunan ekonomi yang
berkesinambungan. Pembangunan ekonomi membutuhkan suatu perencanaan
pembangunan ekonomi yang baik.
Kegiatan ekonomi rakyat yang berbasis potensi lokal yang berkembang di
suatu wilayah akan berperan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat
dan menjadi motor penggerak pengembangan wilayah. Keberlangsungan sektor
ekonomi tersebut perlu didukung dengan perencanaan wilayah yang efektif dan
efisien. Dalam upaya pengembangan ekonomi lokal harus menjadi perhatian dan
penting dilaksanakan oleh daerah. Untuk mengembangkan ekonomi lokal perlu
adanya keterlibatan pemerintah daerah dan kelompok-kelompok masyarakat
setempat dalam mengelola sumberdaya yang ada. Konsep pokok dari
pengembangan ekonomi lokal merupakan kegiatan pembangunan yang bertumpu
kepada kekuatan endogen dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada.
Sumber daya perikanan merupakan sumber daya yang penting bagi hajat
hidup masyarakat dan memiliki potensi dijadikan sebagai penggerak utama (prime
mover) ekonomi nasional. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa pertama,
Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang besar baik ditinjau dari kuantitas
maupun diversitas. Kedua, industri di subsektor perikanan memiliki keterkaitan
dengan sektor-sektor lainnya. Ketiga, industri perikanan berbasis sumber daya
nasional atau dikenal dengan istilah national resources based industries, dan
keempat Indonesia memiliki keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di
subsektor perikanan sebagaimana dicerminkan dari potensi sumber daya yang ada.
Undang Undang No. 25 Tahun 1999 jelas menyatakan bahwa daerah
otonom memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber
keuangan,
mengelola
dan
menggunakannya
sendiri
untuk
pembiayaan
pembangunan daerah. Permasalahan yang muncul di daerah adalah, ketika mulai
merencanakan anggaran pembangunan sektoral harus memahami potensi-potensi
2
sektoral yang ada di daerah terutama sektor-sektor yang memiliki efek sebar
(diffusion effect) untuk menggerakkan sektor-sektor ekonomi lain.
Sibolga merupakan tempat yang paling sibuk di pantai barat Sumatera.
Status Sibolga saat ini tidak terlepas dari sejarah panjangnya sebagai pusat
pengembangan perikanan sejak kolonial Belanda, sesudah kemerdekaan, dan orde
baru. Berbicara tentang armada perikanan kelas menengah dan besar di pantai
barat Sumatera adalah berbicara tentang nelayan Sibolga. Dengan alat tangkap
utamanya purse seine dan long line, nelayan Sibolga menaklukkan perairan pantai
barat Sumatera, bahkan sampai ke selatan Jawa Timur Indonesia (Nikijuluw,
2005).
Jonny et al. (2011) dalam penelitiannya juga mengatakan bahwa kota
Sibolga merupakan salah satu kota yang memiliki usaha perikanan yang relatif
besar dibanding kota-kota lainnya di pantai barat Sumatera. Di kota ini
pengusaha-pengusaha perikanan telah berperan aktif dalam memajukan produksi
perikanan lokal, regional bahkan nasional. Hasil tangkap ikan yang dibongkar dan
ditampung di tangkahan-tangkahan atau tempat pendaratan ikan, disamping
dipasarkan di pasar lokal, hasil produksi ikan ini juga diekspor keluar daerah.
Dengan letaknya yang berada pada wilayah pesisir pantai barat Sumatera
Utara, produksi perikanan yang utamanya terbesar berada pada perikanan tangkap.
Hal ini dapat dilihat dari produksi hasil penangkapan ikan laut di kota Sibolga dari
data BPS mengalami peningkatan sebesar 28,67 persen pada periode 2008 hingga
2010, dari produksi sebesar 40.956,06 ton di tahun 2008 menjadi 52.693,3 ton
pada tahun 2010.
BPS kota Sibolga (2011b) juga mencatat nilai PDRB tahun 2010
berdasarkan harga berlaku berada pada nilai Rp 1,544 trilyun sedangkan jika
dilihat berdasarkan harga konstan 2000 berada pada nilai Rp 740 milyar dengan
laju pertumbuhan PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2000 sebesar 6,04
persen. Peranan sektoral atas dasar harga berlaku, terlihat bahwa sektor pertanian
(subsektor
perikanan)
menjadi
kontributor
terbesar
ekonomi
regional
dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 23,87 persen. Namun
demikian dari data statistik tenaga kerja BPS kota Sibolga dari lima jenis lapangan
usaha yang tercatat, dengan jumlah angkatan kerja yang berusia di atas 15 tahun
3
ke atas sebesar 59.474 jiwa atau 70,40 persen dari jumlah penduduk, subsektor
perikanan yang merupakan bagian dari sektor pertanian (peternakan dan
perikanan) hanya menampung tenaga kerja sebesar 10,57 persen atau menduduki
peringkat keempat tertinggi dari lima jenis lapangan usaha yang ada. Sektor lain
seperti lapangan usaha lainnya yang meliputi pertambangan dan penggalian,
listrik, gas dan air, konstruksi/bangunan, angkutan, pergudangan dan komunikasi,
keuangan asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan
menampung tenaga kerja sebesar 27,43 persen, industri pengolahan menampung
sebesar 5 persen dan sektor jasa kemasyarakatan sebesar 11,89 persen. Sedangkan
sektor perdagangan, rumah makan dan hotel menampung tenaga kerja dengan
angka tertinggi yaitu sebesar 45,11 persen. Dari data ini, peranan subsektor
perikanan belum memberikan kontribusi penyerapan tenaga kerja yang tinggi.
Pada tahun 2010 BPS mencatat bahwa dengan garis kemiskinan sebesar Rp
286.825 per kapita per bulan jumlah penduduk yang dikategorikan miskin
mencapai angka 13.910 jiwa atau sebesar 11,71 persen dari jumlah penduduk kota
Sibolga yang ada. Disamping itu juga kota Sibolga yang merupakan daerah
penghasil ikan, masih membutuhkan impor ikan untuk memenuhi permintaan
pasar.
Daryanto dan Hafizrianda (2010) mengatakan bahwa dampak pembangunan
suatu sektor ekonomi wilayah tidak dapat dilihat sebatas pada kemampuannya
menciptakan PDRB semata, hal yang lebih penting adalah bagaimana sektor
tersebut mampu menggerakkan seluruh roda perekonomian wilayah, dengan kata
lain bagaimana sektor tersebut mampu memberikan efek lanjut terhadap aktivitas
pembangunan sektor lain.
Peraturan Presiden No. 13 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Sumatera bahwa kota Sibolga telah ditetapkan sebagai salah satu pusat kegiatan
wilayah (PKW) industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan dan juga
sebagai kawasan andalan Tapanuli dan sekitarnya yang yang terhubung dengan
akses ke dan dari pelabuhan Sibolga. Dengan ketetapan dan dukungan dari
pemerintah pusat, kota Sibolga dapat menjadi pusat pertumbuhan yang potensial
di wilayah barat Sumatera, khususnya sebagai pendukung perkembangan wilayah
Tapanuli dan sekitarnya dengan dukungan pemerintah pusat.
4
Jika dilihat dari fungsi kota yang merupakan tempat pasar dan rantai
perdagangan produk dari pedesaan dan wilayah sekitarnya, peningkatan
pembangunan ekonomi di perkotaan akan memberikan peluang lapangan
pekerjaan, termasuk bagi para migran dari wilayah sekitarnya. Dalam konteks ini
pembangunan kota berdampak positif bagi penduduk sekitar kota dalam
memperoleh pekerjaan (Sadyohutomo, 2008). Sibolga yang fungsi administrasi
fungsionalnya berupa kota dan telah ditetapkannya sebagai salah satu pusat
kegiatan wilayah di pantai barat Sumatera menjadi tantangan kedepan bagi
perencana wilayah daerah untuk menata dan merencanakan pengembangan
sektor-sektor penumbuh perekononian agar tercipta tujuan pembangunan nasional.
Letak Sibolga yang berada di posisi teluk Tapian Nauli, dimana lautan di
teluk ini sangat tenang, aman serta terlindung dari gelombang laut, juga berada di
pertengahan kawasan pantai barat Sumatera, memberikan keuntungan untuk
dijadikan sebagai pelabuhan pendaratan ikan. Dengan kata lain sangat potensial
untuk dijadikan sebagai kota perikanan. Statusnya sebagai kota perikanan bukan
sebagai tempat menangkap ikan, tetapi adalah sebagai tempat pendaratan ikan
serta penyedia logistik yang dibutuhkan untuk mendukung sektor perikanan
tersebut (Bappeda Kota Sibolga, 2010).
Dengan demikian untuk menjadikan subsektor perikanan sebagai motor
penggerak sektor riil dalam pengembangan wilayah harus memperhatikan kaidah
ekonomi dengan memperhatikan keterkaitan dengan berbagai sektor lain. Untuk
pengembangan
subsektor
perikanan
diperlukan
upaya-upaya
yang
berkesinambungan, sistematis dan terencana dalam perencanaan wilayah.
Sehingga diharapkan terciptanya pembangunan wilayah yang berkelanjutan.
1.2 Perumusan Masalah
Dari latarbelakang yang telah diuraikan sebelumnya, subsektor perikanan
perlu dianalisa peranannya terhadap pengembangan wilayah di kota Sibolga
dikarenakan subsektor perikanan merupakan sektor dengan peluang yang
berpotensi, beragam, serta bersifat dapat diperbaharui (renewable resources).
Sehingga pada akhirnya dengan memanfaatkan peluang yang ada, dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menumbuhkan perekonomian
wilayah.
5
Dari sejarah Sibolga yang sejak dahulu dijadikan sebagai sentra alir aktivitas
barang dan jasa perikanan serta tempat bongkar ikan yang sangat aktif di wilayah
pantai barat Sumatera, aktivitas membongkar hasil tangkapan ikan dan memuat
kebutuhan nelayan untuk melaut kembali sangat aktif, baik kapal yang berasal
dari kota Sibolga maupun kapal-kapal yang hanya menjual hasil tangkapannya di
pelabuhan perikanan. Bagi pihak perencana daerah posisi ini menjadi tantangan
dalam
menentukan
skala
prioritas
pembangunan.
Diharapkan
dengan
mengembangkan subsektor perikanan, kedepannya sektor ini dapat menjadi sektor
strategis daerah untuk meningkatkan pengembangan perekonomian kota Sibolga
dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Untuk menjadikan subsektor
perikanan sebagai sektor yang strategis bagi perekonomian kota Sibolga, selain
melalui peningkatan peranan dan sumbangannya dalam perekonomian, juga harus
dilakukan dengan meningkatkan keterkaitan dengan sektor-sektor lain dalam
internal wilayah. Keterkaitan subsektor perikanan harus ditingkatkan agar mampu
menarik sektor-sektor di hulunya (sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang)
dan mendorong sektor-sektor di hilirnya (sektor yang memiliki keterkaitan ke
depan). Semakin kuat keterkaitan subsektor perikanan dengan sektor-sektor lain,
akan makin besar pula pengaruhnya dalam perkembangan wilayah kota Sibolga.
Oleh karena itu, untuk mengetahui peranan dan sumbangan subsektor perikanan
dalam perekonomian wilayah serta keterkaitannya dengan sektor lain dan prospek
serta potensi pengembangan pembangunan wilayah, perlu dilakukan identifikasi
sehingga dapat disusun arahan pembangunan yang tepat dan akurat.
Untuk mendukung salah satu misi pemerintahan kota Sibolga yaitu
“Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sibolga melalui pertumbuhan
ekonomi yang lebih merata, mengurangi pengangguran serta penataan ruang
yang berwawasan lingkungan” diperlukan optimalisasi pembangunan kearah
peningkatan kesejahteraan masyarakat di kota Sibolga, peran partisipasi aktif
masyarakat secara langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasannya telah menjadi sasaran utama dalam pencapaian pembangunan
yang berkelanjutan. Pelibatan masyarakat dan stakeholders pembangunan akan
menjadikan pembangunan berjalan dengan lebih baik dan lebih aspiratif. Dalam
kaitannya dengan subsektor perikanan, stakeholders yang dimaksud adalah
6
masyarakat nelayan, pihak swasta, pemerintah daerah dan lembaga swadaya
masyarakat. Oleh karena itu dalam menyusun rencana pembangunan subsektor
perikanan, pendapat dan persepsi seluruh stakeholders yang terlibat harus dapat
diketahui. Dari hasil identifikasi terhadap kondisi dan peluang subsektor
perikanan, peranan dan keterkaitannya dengan sektor-sektor perekonomian lain
serta persepsi stakeholders perikanan serta lokasi yang tepat dalam pengembangan
sarana dan prasarana perikanan maka disusun arahan pengembangan subsektor
perikanan di kota Sibolga.
Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, penelitian ini diharapkan
akan menjawab dan merumuskan permasalahan dan solusi perencanaan wilayah di
kota Sibolga dalam meningkatkan perekonomian wilayah dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Untuk itu perlu dicarikan solusi dari pertanyaanpertanyaan sebagai berikut:
1.
Bagaimana pengembangan subsektor perikanan di kota Sibolga?
2.
Bagaimana peran subsektor perikanan dan keterkaitan sektoralnya ke
belakang dan ke depan (backward and forward linkage) dalam perekonomian
kota Sibolga?
3.
Bagaimana persepsi stakeholders terhadap pembangunan subsektor perikanan
di kota Sibolga?
4.
Bagaimana rencana pembangunan dan pengembangan subsektor perikanan,
dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi subsektor perikanan di kota
Sibolga?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan
yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk:
1.
Mengidentifikasi pengembangan subsektor perikanan di kota Sibolga.
2.
Menganalisis peran subsektor perikanan dan keterkaitannya ke belakang dan
ke depan (backward and forward linkage) dalam perekonomian kota Sibolga.
3.
Menggali persepsi stakeholders terhadap pembangunan subsektor perikanan
di kota Sibolga.
4.
Merumuskan arahan pembangunan subsektor perikanan di kota Sibolga.
7
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan hasil analisis keterkaitan antar sektor-sektor ekonomi regional kota
Sibolga dengan menggunakan analisis tabel Input-Output Tahun 2010 kota
Sibolga yang di turunkan dari tabel I-O Provinsi Sumatera Utara 2010 yang
merupakan hasil update dengan metode semi survei dan potensi-potensi prospek
dimasa yang akan datang dalam pengembangan subsektor perikanan di kota
Sibolga, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan strategi pengembangan pembangunan di kota Sibolga.
Download