(sbis) dan pasar uang antarbank syariah

advertisement
ANALISIS INFLASI, SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS)
DAN PASAR UANG ANTARBANK SYARIAH (PUAS) TERHADAP
FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR) SERTA IMPLIKASINYA
KEPADA RETURN ON ASSETS (ROA) BANK SYARIAH DI INDONESIA
Oleh
Husni Mubarak
106081002337
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011/1432 H
Hari ini Tanggal 8 Bulan Desember 2010 telah dilaksanakan Ujian Komprehensif
atas nama Husni Mubarak NIM : 106081002337 dengan judul skripsi
“ANALISIS INFLASI, SARTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH
(SBIS),
DAN
TERHADAP
PASAR
UANG
FINANCING
IMPLIKASINYA
TO
KEPADA
ANTARBANK
DEPOSIT
RETURN
ON
SYARIAH
(PUAS)
(FDR)
SERTA
RATIO
ASSETS
(ROA)
BANK
SYARIAH DI INDONESIA”. Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut
selama masa ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 8 Desember 2010
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Ela Patriana, MM, AAAIJ
Ketua
Leis Suzanawati, SE, M.Si
Sekretaris
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS
Penguji Ahli
Hari ini Tanggal 16 Bulan Maret Tahun Dua Ribu Sebelas telah dilaksanakan
Ujian Skripsi atas nama Husni Mubarak NIM : 106081002337 dengan judul
skripsi “Analisis Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS),
Dan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) Terhadap Financing to Deposit
Ratio (FDR) Serta Implikasinya Kepada Return On Assets (ROA) Bank
Syariah Di Indonesia”. Memperhatikan penampilan Mahasiswa tersebut selama
masa ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif hidayatullah
Jakarta.
Jakarta, 16 Maret 2011
Tim Penguji Ujian Skripsi
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM
Pembimbing I
Titi Dewi Warninda, SE, M.Si
Pembimbing II
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS
Ketua
Suhendra, S. Ag, MM
Sekretaris
M. Arief Mufraini, LC, M.Si
Penguji Ahli
ANALISIS INFLASI, SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS)
DAN PASAR UANG ANTARBANK SYARIAH (PUAS) TERHADAP
FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR) SERTA IMPLIKASINYA
KEPADA RETURN ON ASSETS (ROA) BANK SYARIAH DI INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh
HUSNI MUBARAK
NIM : 106081002337
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM
NIP 19690203 200112 1 003
Titi Dewi Warninda, SE, M.Si
NIP 19731221 200501 2 002
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432H/2011
SURAT PERNYATAAN
Nama Mahasiswa
: Husni Mubarak
NIM
: 106081002337
Jurusan
: Manajemen
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang
merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan
merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya/hasil penelitian orang lain.
Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi maka skripsi dianggap gugur dan
harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan
serta gelarnya dibatalkan.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul di kemudian
hari menjadi tanggung jawab saya.
Jakarta, 8 Maret 2011
Husni Mubarak
ABSTRACT
The purpose of this study was to analyze the effect of inflation, Bank
Indonesia Certificates Sharia (SBIS) and Interbank Money Market Sharia (PUAS)
deposits of Financing to Deposit Ratio (FDR) and implications for the Return on
Assets (ROA) in Bank Syariah Indonesia. This research used path analysis to
model decomposition. Test results on substructure I shows that the variable
inflation, Bank Indonesia Certificates Sharia (SBIS) significantly affects the
financing, while deposits no significant effect on Financing to Deposit Ratio
(FDR). Test results on substructure II shows that the variable inflation, Bank
Indonesia Certificates Sharia (SBIS) and Financing to Deposit Ratio (FDR)
significant effect on Return on Assets (ROA).
Keywords: Inflation, Bank Indonesia Certificates Sharia (SBIS) and Interbank
Money Market Sharia (PUAS) Financing to Deposit (FDR), Return on
Assets (ROA), path analysis.
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh Inflasi,
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) serta implikasinya kepada
Return on Assets (ROA) di Bank Syariah Indonesia. Penelitian ini menggunakan
metode analisis jalur dengan model dekomposisi. Hasil pengujian pada
substruktur I menunjukkan bahwa variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan, sedangkan Pasar
Uang Antarbank Syariah (PUAS) tidak berpengaruh signifikan terhadap
Financing to Deposit Ratio (FDR). Hasil pengujian pada substruktur II
menunjukkan bahwa variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
dan Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh signifikan terhadap Return on
Assets (ROA).
Kata Kunci : Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang
Atarbank Syariah (PUAS), Financing to Deposit (FDR), Return
on Assets (ROA), analisis jalur.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji hanya kepunyaan Allah. Semoga shalawat dan salam
senantiasa tercurah untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta
keluarga, sahabatnya dan orang-orang yang mencintainya. kepadaNyalah aku
mengucap syukur atas rahmat yang diberikan kepada setiap hamba, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Inflasi,
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank
Syariah (PUAS) Terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) Serta
Implikasinya Kepada Return On Assets (ROA) Di Bank Syariah Indonesia”,
Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program
Sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sesunguhnya Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak bisa
diselesaikan oleh hambanya, dengan demikin walupun penulis menghadapi
beberapa kendala namun masalah tersebut dapat diatasi sehingga skripsi ini dapat
menyampaikan pesan kepada pembaca meski masih jauh dari kesempurnaan.
Penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan berbagai
pihak.
Disamping itu, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi in
telah banyak menerima bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebeaar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada
:
1. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moril maupun materil,
terimaksi kepada bapakku H. Ahmad Zaini dan ibuku Hj. Alawiyah semoga
rahmat tuhan selalu tercurah kepadanya.
2. Prof Dr. Abdul Hamid, MS, selauku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang
memberikan arahan selama penulis menjalani menjalani program SI.
3. Bapak Prof. Dr. Ahamad Rodoni, MM Pudek I Bidang Akademik Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, sekaligus Dosen Pembimbing I, terima kasih atas waktu,
tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dengan
penuh kesabaran.
4. Bapak Suhendera, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi
dan Bisnis yang selalu memberikan arahan dan nasihat, terima kasih atas
nasihat dan saran-saran yang berharga kepada penulis.
5. Ibu Titi Dewi Warninda, SE, M.Si, selaku dosen pembimbing II, terima kasih
atas bimbingan, motivasi dan arahan yang berharga kepada penulis sehingga
menjadi pengalaman yang tak terlupakan di hati penulis.
6. Bapak Drs. Moh. Faisal Badroen, MBA selaku dosen pembimbing akademik,
terima kasih atas arahan selama masih kuliah semoga rahmat tuhan tercurah
padanya.
7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah khususnya jurusan Manajemen yang telah memberikan Ilmu
yamg sangat berharga bagi saya pribadi..
8. Staf tata usaha FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya Mas hery
Pak, Rahmat, Ibu Umi, yang telah membantu memberikan jalan keluar dan
memudahkan mengurus admistrasi dan lain – lain yang berhubungan dengan
urusan keuangan perkulian.
9. Kakak-kakak ku Sivliyanti,SE,i , Widiya, S. Pdi dan adik – adik ku Sayfah
dan Ismiyah, yang turut memberikan dukungan dan doa tulus kepada penulis
semoga segala sesuatunya bernilai ibadah
10. Kepada keluarga Dwi Wahyuni yang telah meberikan dorongan maupun doa
atas segala hormat peneliti mengucapkan trimakasih.
11. Teman-teman FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2006
Manajemen A dan Perbankan A yang selalu ada dalam suka maupun duka
serta memberikan motivasi selama masa perkuliahan. Khususnya Hery,
Amero, Wulan, Mia, Hana, Ahmad Tohari, Ahmad Rudiat, Reksa Ardiansah,
Nannang Hadiwijaya, Subchan Yahya dan Nurianto.
12. Teman – teman FST UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Angkatan 2006 TI
khususnya Wahyu, Imam, Akmal, Mohammad Iqbal, Zikra Aulia, Cerydia
Putra dan Dodi Susanto yang telah memberikan masukan yang sangat
membantu penulis.
13. Teman – teman Pondok Annida Al-Islamy khususnya Abdul Aziz,
Muhammad Zia Emil Ihsan, Ade Maulana Dliya, dan Iboy yang telah rela
meluangkan waktunya untuk berbagi atas masalah yang dihadapi oleh penulis.
14. Pihak – pihak yang tidak disebut namanya namun membantu penulis dalam
hal menyelesaikan penelitian ini saya sebagi penulis mengucapkan banyak –
banyak terima kasih.
Semoga segala amalan yang baik tersebut akan memperoleh balasan
rahmat dan karunia dari Allah SWT, Amien. Penulis menyadari sepenuhnya akan
keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang ada pada penulis sehingga tidak
menutup kemungkinan bila skripsi ini masih banyak kekurangan.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat membuka jalanku
untuk meraih cita-cita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jakarta, 15 Mart 2011
Husni Mubarak
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN......................................................................................... i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................................. v
ABSTRAK ................................................................................................................ vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................. viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 9
C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 10
D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bank Syariah................................................................................ 12
B. Manajemen Asset dan Likuditas Bank Syariah ............................. 17
C. Financing to Deposit Ratio (FDR) ............................................... 22
D. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) ..................................... 34
E. Inflasi........................................................................................... 41
F. Return On Assets (ROA)................................................................. 45
G. Penelitian Sebelumnya ................................................................. 47
H. Kerangka Berfikir ........................................................................ 51
I. Hipotesis ...................................................................................... 54
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 56
B. Metode Penentuan Sampel ........................................................... 57
C. Metode Pengumpulan Data .......................................................... 57
D. Metode Analisis ........................................................................... 58
E. Operasional Variabel Penelitian ................................................... 68
BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Perbankan Syariah di Indonesia ....................................... 71
B. Penemuan dan Pembahasan .......................................................... 73
1. Analisis Deskriptif .................................................................. 73
2. Analisis Jalur Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS) Terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)
serta Implikasinya Pada Return on Assets (ROA)
Di Bank Syariah Indonesia ...................................................... 87
3. Analisis Jalur Setelah Trimming .............................................. 106
C. Interpretasi ................................................................................... 117
BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A. Kesimpulan .................................................................................. 121
B. Implikasi ...................................................................................... 122
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 124
LAMPIRAN-LAMPIRAN .......................................................................................... 128
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Keterangan
Halaman
1.1
Proporsi DPK Perbankan Syariah
5
2.1
Skema Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip Syariah
28
2.2
Kerangka Berpikir
53
2.3
Diagram Jalur
54
3.1
Hubungan Kausal X1, X2, X3, terhadap Y
59
3.2
Hubungan Kausal X1, X2, X3 dan Y terhadap Z
60
4.1
Grafik Inflasi
75
4.2
Grafik Sertifikat Bank Indonesia Syaraih (SBIS)
78
4.3
Grafik Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS)
81
4.4
Grafik Financing to Deposit Ratio (FDR)
83
4.5
Grafik Return on Assets (ROA)
86
4.6
Diagram Jalur dengan Hasil Perhitungan
88
4.7
Diagram Jalur Substruktur I
91
4.8
Diagram Jalur Substruktur II
97
4.9
Hasil Perhitungan Diagram Jalur Setelah Trimming
107
4.10
Diagram Jalur Sub Struktur I Setelah Trimming
108
4.11
Diagram Jalur Sub Struktur II Setelah Trimming
110
DAFTAR TABEL
Nomor
Keterangan
Halaman
2.1
Penghitungan Imbalan Berdarkan Jangka Waktu
30
2.2
Perbedaan PUAS dengan PUAK atau PUAB
33
3.1
Standar Penilaian Kesesuaian (Fit)
67
4.1
Data Inflasi
74
4.2
Data Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
77
4.3
Data Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS)
81
4.4
Data Financing to Dposit (FDR)
83
4.5
Data Return on Assets (ROA)
86
4.6
Hasil Korelasi antara Inflasi, SBIS dan PUAS
88
4.7
Pengaruh antara Inflasi, SBIS dan PUAS terhadap
92
Financing to Deposit Ratio (FDR)
4.8
Pengaruh antara Inflasi, SBIS, PUAS dan Financing to
98
Deposit Ratio (FDR) Pada Return on Assets (ROA)
4.9
Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dengan
103
Endogen
4.10
Hasil Uji Goodness of Fit Pengaruh Inflasi, SBIS dan
104
PUAS terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) serta
Implikasinya Pada Return on Assets (ROA)
4.11
Hasil Uji Goodness of Fit Setelah Trimming
105
4.12
Hasil Perhitungan Pengaruh Antar Variabel Eksogen
106
dengan Endogen Setelah Trimming
4.13
Hasil Korelasi antara Inflasi, SBIS dan PUAS setelah
108
Trimming
4.14
Hasil Uji Pengaruh antara Inflasi, SBIS dan PUAS
109
terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)
4.15
Hasil Uji Pengaruh Inflasi, PUAS dan Financing to
Deposit Ratio (FDR) Pada Return on Assets (ROA)
110
4.16
Hasil Uji Goodness of Fit Setelah Trimming
114
4.17
Rangkuman Dekomposisi dari Koefisien Jalur, Pengaruh
116
Langsung dan Tidak Langsung dan Pengaruh Total tentang
Inflasi (X1), SBIS (X2), PUAS (X3) dan FDR (Y) Pada
ROA (Z)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
: Husni Mubarak
Tempat/Tanggal lahir
: Bekasi, 13 Desember 1987
Jenis kelamin
: Laki-laki
Alamat
: JL. Kaliabang Ceger Rt: 04 Rw: 04 No: 77 Bekasi
Timur
Agama
: Islam
Warga negara
: Indonesia
No. Telp
: 085780279784
Alamat E-mail
: [email protected]
Pendidikan :
1) Tamatan MI Attaqua 08 Bekasi 2000
2) Tamatan MTs Annida Al-Islamy Bekasi 2003
3) Tamatan MA Annida Al-Islamy Bekasi 2006
4) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen Perbankan 2006 – 2011.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Bank sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki fungsi
penghimpunan dana masyarakat. Dana yang telah terhimpun, kemudian
disalurkan kembali kepada masyarakat. Kegiatan bank mengumpulkan dana
disebut dengan kegiatan funding. Sementara, kegiatan menyalurkan dana
kepada masyarakat oleh bank disebut kegiatan financing atau lending.
Menurut Rahmadi Usman (2001:59) bank adalah lembaga keunagan yang
usaha pokoknya adalah memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalulitas
pembayaran dan predaran uang, sementara itu undang-undang perbankan
yang di ubah pada pasal 1 angka 2 mendefinisikan bank sebagai badan usaha
yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatakan taraf hidup orang banyak. Dalam
menjalankan dua aktifitas besar tersebut, bank syariah harus menjalankan
prinsip-prinsip perbankan yang berlaku.
Terdapat beberapa prinsip yang digunakan bank syariah dalam
menjalankan aktifitasnya yaitu dengan mengunakan prinsip Ju’alah, Wadi’ah
dan Mudharabah. Ju’alah adalah suatu upah yang dijanjikan sebagai imbalan
atas suatu jasa kepada seseorang. Wadiah adalah penitipan dana sedangkan
Mudharabah adalah perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana
1
untuk melakukan usaha tertentu, dengan keutungan antara keduabelah pihak
bardasarkan nisbah yang disepakati sebelumnya (Muhammad, 2005:22).
Berdasarkan perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah menjadi
tolak ukur keberhasilan eksistensi ekonomi syariah. Bank Muamalat sebagai
salah satu bank syariah pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah
lainnya yang telah lebih dahulu menerapkan system ini ditengah
menjamurnya bank-bank konvensional. Krisis moneter yang terjadi pada
tahun 1998, telah menenggelamkan bank-bank konvensional dan banyak
yang dilikuidasi karena kegagalan system bunganya. Sementara perbankan
yang menerapkan system syariah dapat tetap eksis dan mampu bertahan. Hal
tersebut terjadi karena sistem yang dianut atau digunakan bank berbeda,
untuk bank konvensional mengandalkan sistem bunga sebagai alat untuk
mengatur stabilitas bank sementara bank syariah menganut sistem bagi hasil
(profit and loss sharing), yang bermakna untung dan rugi ditanggung
bersama yaitu bank dan nasabahnya, oleh karena itu diperkirakan perbankan
syariah mempunyai pengaruh terhadap lonjakan inflasi melalui sektor rill
yang akan memberikan dampak kepada pembiayaan karena setiap pembiyaan
yang diberikan oleh bank syariah harus terdapat underlying transaction
dibelakangnya.
Inflasi menjadi salah satu indikator makro ekonomi yang penting dalam
perekonomian indonesia. Inflasi sangat mempengaruhi aktifitas pelaku
ekonomi baik itu disektor rill maupun disektor moneter. Inflasi adalah suatu
keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti
2
dengan semakin merosotnya nilai riil mata uang suatu negara. (Khalwaty,
2001:5). Inflasi menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap seluruh
sektor perekonomian, sehingga nilai rupiah mengalami penurunan terhadap
valuta asing yang diperkirakan mempengaruhi likuiditas dan profitabilitas
bank syariah di Indonesia.
likuiditas adalah rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan memenuhi permohonan kredit
atau pembiayaan dengan cepat. Sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR)
adalah perbandingan antara kredit yang diberikan dengan dana pihak ketiga
(Giro, Tabungan, Deposito dan kewajiban jangka pendek lainnya). Hampir
sama pengertian LDR dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) diartikan
sebagai perbandingan antara total pembiayaan yang diberikan dengan dana
yang behasil dihimpun oleh bank yang terdiri dari dana pihak ketiga (DPK)
ditambah dengan ekuitas (Lisa Narulia & Suryadi H.S, 2006 dalam penelitian
Dedi Sutomo, 2009).
Rasio merupakan alat yang dinyatakan dalam aritmatika yang digunakan
untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih data keuangan (Lisa
Narulia & Suryadi H.S, 2006 dalam penelitian Dedi Sutomo, 2009). Dari
rasio itulah yang akan dijadikan sumber informasi dan pedoman prosedur
kerja oleh pihak bank serta menjadi dasar pengambilan keputusan oleh pihak
lain yang berkepentingan terhadap bank tersebut. Salah satu rasio yang
digunakan sebagai sumber informasi dan analisis adalah rasio likuiditas atau
lebih spesifiknya Loan to Deposit Ratio (LDR) dan dalam bank syariah
3
sendiri rasio ini lebih sering dikenal dengan istilah Financing to Deposit
Ratio (FDR), dimana jika dilihat secara rumus adalah total pembiayaan dibagi
Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari tabungan, deposito, dan giro.
Sisi pendanaan perbankan syariah mengalami peningkatan cukup tinggi
yang berasal dari nasabah korporasi, dimana pada tahun 2009 DPK
mengalami pertumbuhan sebesar 41,84% dibandingkan tahun 2008 dengan
pertumbuhan DPK 31,56%,. Penyebab meningkatnya DPK salah satunya
disebabkan oleh imbal hasil perbankan syariah relatif lebih menguntungkan
dibandingkan imbal hasil perbankan konvensional, selain itu kegiatan
sosialisasi yang memperkenalkan produk perbankan syariah yang banyak
ragamnya mampu menarik perhatian para nasabah (Kajian Stabilitas Bank
Indonesia, 2009).
Namun demikian pertumbuhan jumlah pembiayaan sedikit mengalami
penurunan yang disebabkan adanya kehati-hatian perbankan syariah dalam
penyaluran pembiayaan. Pertumbuhan penyaluran dana (PYD) pada tahun
2009 hanya sebesar 22,76%, dibandingkan pertumbuhan PYD pada tahun
2008 sebesar 36,68%. Kehati-hatian ini disebabkan perbankan syariah belum
yakin sepenuhnya akan kinerja beberapa sektor ekonomi akibat krisis
ekonomi global pada akhir tahun 2008 (Kajian Stabilitas Bank Indonesia,
2009).
Penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah selama tahun 2009 telah
mencapai nilai Rp 46,9 triliun, bertumbuh 22,74% year on year (yoy)
mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan
4
tahun 2008 sebesar 36,70%. Walaupun demikian pertumbuhan penyaluran
pembiayaan bank syariah masih lebih baik dibandingkan penyaluran kredit
oleh bank konvensional nasional yang hanya bertumbuh 9,96%. Penurunan
penyaluran dana tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh masih lemahnya
permintaan ekspor dan penurunan harga berbagai komoditas, belum pulihnya
daya beli masyarakat, biaya ekonomi tinggi yang berdampak pada adanya
pembatasan ekspansi usaha dan pengurangan konsumsi. (Kajian Stabilitas
Bank Indonesia, 2009).
Deposito Islamic Bank (IB) pada tahun 2009 dengan proporsi akad
mudharabah sebesar 58,33% mengalami peningkatan dibandingkan tahun
2008 dengan proporsi 54,66%. Sedangkan Tabungan Mudharabah pada tahun
2009 proporsinya 24,44% mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008
dengan proporsi 33.84%, sebagaimana digambarkan pada grafik berikut ini:
Gambar 1.1
Proporsi DPK Perbankan Syariah
(Sumber: Bank Indonesia, 2008)
5
Selanjutnya, likuditas bank biasanya disebut alat likuid atau simpanan
uang di Bank Indonesia, diantaranya Giro Wajib Minimum (GWM),
Sertifikat Bank Wadiah Bank Indonesia Syaraiah (SWBI) dan Pasar Uang
Antarbank Syariah (PUAS).
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa bank berfungsi sebagai
lembaga penghimpun dan penyalur bagi pengguna dana ini dalam aktifitasnya
sangat besar sehingga dapat mengalami kekurangan atau kelebihan likuditas.
Kekurangan likuditas dapat terjadi ketika adanya perbedaan jangka waktu
antara penerimaan dan penanaman dana, sedangkan kelebihan likuditas
terjadi ketika dana yang terhimpun belum disalurkan kepada pihak-pihak
yang membutuhkan.
Untuk mengatasi hal tersebut dan mengendalikan uang yang beredar,
Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan moneter dengan melakukan Operasi
Pasar Terbuka (OPT) berdasarkan prinsip syariah, dalam bentuk Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia (SWBI). SWBI mulai diperlakukan pada ketentuan
BI Nomor 2/9/PBI/2000, sebagaimana tercantum dalam Fatwa DSN MUI
Nomor. 36/DSN-MUI/X/2002, tentang SWBI dapat dimanfaatkan oleh bank
syariah untuk mengatasi likuditasnya. Dengan kata lain, ketika bank syariah
mengalami kesulitan dalam menyalurkan dananya dapat disalurkan pada
instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) seperti SWBI
dan PUAS (Kajian Stabilitas Bank Indonesia, 2008).
Posisi SWBI yang ada di Bank Indonesia mengalami peningkatan, dari
bulan November 2004 yaitu Rp 447.000 Juta,sampai dengan bulan Maret
6
2007 yaitu sebesar Rp 3.325.000 Juta, selanjutnya posisi SWBI bergerak
secara fluktuatif
sampai bulan April 2007. Sedangkan tingkat volume
transaksi PUAS mengalami peningkatan pada bulan November 2004 sebesar
Rp 50.000 Juta hingga bulan Maret 2006 yaitu sebesar Rp 84.525.000 Juta.
Faktor lain yang diperkirakan mempengaruhi posisi SWBI adalah
perbankan syariah membutuhkan alokasi dana ketika kelebihan likuiditas
yang dialami, sementara pada saat yang sama terjadi beberapa penyebab yang
membuat perbankan syariah tidak menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan
kepada sektor rill, diantarnaya faktor resiko yang akan dialami bank syariah.
Hal tersebut mengakibatkan bank syariah lebih tertarik untuk menempatkan
dananya pada instrumen likuiditas, dimana diperkirakan tingkat keuntungan
yang diperoleh cukup menarik dan memiliki resiko yang lebih sedikit
dibandingkan menyalurkan kelebihan dananya dalam bentuk pembiayaan
pada sektor rill.
Pada bulan April 2008, bank syariah memiliki alternatif tambahan dalam
pengelolaan likuiditasnya. Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan instumen
moneter berbasis syariah yang disebut dengan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), instumen ini menggantikan SWBI. Sebagaimana Peraturan
Bank Indonesia No. 10/11/PBI/2008 tentang SBIS. instrumen ini diterbitkan
oleh Bank Indonesia, pemerintah, maupun pihak swasta. Terbitnya SBIS
memberikan sinyal positif terhadap posisi SWBI atau SBIS pada bulan April
2008 tercatat sebesar Rp 453Juta dan meningkat sampai bulan Januari 2010
yaitu sebesar Rp 3.373.000 Juta. Selanjutnya bergerak secara fluktuatif
7
samapai Oktober 2010. Jika dibandingkan dengan SWBI posisi SBIS
mengalami peningkatan yang signifikan karena sebelumnya posisi SWBI
paling tinggi terjadi pada bulan Maret 2007 yaitu sebesar Rp 3.325.000 Juta
(Bank Indonesia, 2008). SBIS merupakan instrumen yang dibutuhkan oleh
bank
syariah sebagai sarana
investasi sehingga diperkirakan akan
mempengaruhi tingkat likuditas serta tingkat profitabilitas Bank Syariah.
Profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur
kinerja suatu bank. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah Return on
Equity (ROE) untuk perusahaan pada umumnya dan Return on Asset (ROA)
pada industri perbankan. Keduanya dapat digunakan dalam mengukur
besarnya kinerja keuangan pada industri perbankan. ROA memfokuskan
kemampuan
perusahaan
untuk
memperoleh
earning
dalam
operasi
perusahaan, sedangkan ROE hanya mengukur return yang diperoleh dari
investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Siamat, 2002 dalam
penelitian Budi Ponco, 2008).
Dalam penelitian ini ROA digunakan sebagai ukuran kinerja perbankan
dan mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan
dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Dalam hal ini ROA
merupakan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total asset. Semakin
besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat
pengembalian (return) semakin besar. Apabila ROA meningkat, berarti
profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah
peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham.
8
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mencoba mengetahui variabel
apa saja yang
mempengaruhi likuiditas serta implikasinya kepada
profitabilitas perbankan syariah. Untuk itu penulis memilih judul “(Analisis
Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antar
Bank Syariah (PUAS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) serta
implikasinya kepada Return On Assets (ROA) Bank Syariah di
Indonesia.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian
ini adalah :
1.
Bagaimana pengaruh variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) terhadap Financing
to Deposit Ratio (FDR)?
2.
Bagaimana variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan
Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) berpengaruh terhadap Return On
Assets (ROA)?
3.
Bagaimana pengaruh total secara langsung dan tidak langsung variabel
Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antarbank
syariah (PUAS) dan Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Return
On Assets (ROA)?
9
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat penelitian akan dipaparkan dibawah ini dengan
maksud agar dapat sesuai dengan harapan penulis:
1.
Tujuan Penelitian
a.
Menganalisis pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) terhadap
Financing to Deposit Ratio (FDR).
b.
Menganalisis pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan Financing to
Deposit Ratio (FDR) terhadap Return On Assets (ROA).
c.
Menganalisis pengaruh total hubungan langsung dan tidak langsung
Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang
Antarbank Syariah (PUAS) dan Financing to Deposit Ratio (FDR)
terhadap Return On Assets (ROA).
D. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ganda,
yakni manfaat akademis maupun praktis.
a. Dari segi teoritis pada perspektif akademis, penelitian ini akan bermanfaat
untuk:
1)
Mengetahui secara substantif faktor-faktor yang mempengaruhi
Financing to Deposit Ratio (FDR) Serta Implikasinya Kepada
Return On Assets (ROA).
10
2)
Menambah informasi sumbangan pemikiran dan bahan kajian
penelitian.
b. Kepentingan praktis hasil penelitian ini, bisa dipandang bermanfaat untuk:
1)
Bahan pertimbangan bagi manajemen bank syariah dalam mengambil
keputusan untuk mengelola bank agar mencapai tingkat likuiditas
yang baik.
2)
Memberikan informasi tambahan bagi investor dan masyarakat yang
berkepentingan untuk menginvestasikan dananya di perbankan.
3)
Referensi dasar kelanjutan penelitian pada masa mendatang.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Bank Syariah
Bank syariah adalah bank yang beroprasi dengan tidak mengandalkan
pada bunga, dalam lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan
produknya dikembangkan berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi
SAW. Atau dengan kata lain Bank Islam adalah lembaga keuangan yang
usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu
lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan
dengan prinsip syariah Islam. (Muhammad, 2005:13)
Menurut Veithzal Rivai dkk (2007:733) Bank Syariah adalah bank yang
melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip islam, yaitu aturan
perjanjian (akad) antara bank dengan pihak lain (nasabah) berdasarkan hukum
islam.
a. Jenis – jenis Bank
Berdasarkan pasal 5 Undang – Undang No. 10 Tahun 1998
tentang perbankan, terdapat dua jenis bank berdasarkan undangundang, yaitu :
1) Bank Umum adalah Bank yang dalam penghimpunan dananya
dari simpanan dalam bentuk giro dan deposito, sebagai sumber
terbesar untuk menempatkan dan mengalokasikan dana yang
12
terhimpun dalam bertuk pembiayaan maupun penempatan dana
pada Bank Indonesia (BI).
2) Bank Perkreditan Rakyat adalah Bank yang melaksanakan
kegiatan usahanya dengan mejalankan prinsip syariah atau prinsip
konvensional
yang
memberikan
jasa
dalam
lalulintas
pembayaran.
Sedangkan Unit Usaha Syariah (UUS), adalah bank yang
secara konsep sama dengan bank syariah bedanya terletak pada
pendiriannya UUS berada dibawah naungan bank konvensional.
b.
Falsafah Operasional Bank Syariah dan Kegitan Bank
Setiap lembaga keuangan syariah, mempunyai falsafah mencari
keridhaan Allah SWT untuk memperoleh kebajikan di dunia dan
akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang
dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama, harus dihindari.
1) Menjauhkan diri dari unsur riba, caranya :
(a)
Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan dimuka
secara pasti keberhasilan suatu usaha (QS. Luqman :34).
(b)
Menghindar
penggunaan
sistem
prosentasi
untuk
pembebanan biaya terhadap hutang atau pemberian imbalan
terhadap
simpanan
yang
mengandung
unsur
melipatgandakan secara otomatis hutang/simpanan tersebut
hanya karena berjalannya waktu. (QS. Ali Imran :130).
13
(c)
Menghindari penggunaan sistem perdagangan/penyewaan
barang ribawi dengan imbalan barang ribawi lainnya
dengan memperoleh kelebihan baik kuantitas maupun
kualitas. (HR. Muslim, Bab Riba No. 1551 s/d 1567).
(d)
Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan dimuka
tambahan atas hutang yang bukan atas prakarsa yang
mempunyai hutang secara sukarela. (HR. Muslim, Bab Riba
No. 1569 s/d 1572).
(e)
Menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan, dengan
mengacu pada QS. Al Baqarah ayat 275 dan QS. An Nisa
ayat 29, maka setiap transaksi kelembagaan syariah harus
dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau
transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang
dengan barang. Akibatnya pada kegiatan muamalah berlaku
prinsip ada barang/jasa uang dengan barang, sehingga akan
mendorong produksi barang/jasa, mendorong kelancaran
arus barang/jasa, dapat dihindari adanya penyalahgunaan
kredit, spekulasi dan inflasi. (Muhammad, 2005:75)
c.
Kegiatan Bank
Sebagai lembaga keuangan yang berorietasi bisnis, bank juga
melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan bank tersebut disesuaikan
dengan jenisnya. Karena Bank Umum Syariah (BUS) lebih luas
14
dari Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), kegiatan Bank
Umum diataranya :
1) Menghimpuan Dana (funding)
Merupakan kegiatan bank yang menghimpun dana dari
masyarakat
dan
menawarkan beberapa produk
untuk
meyimpan dana nasabah, diataranya :
(a) Simpanan Giro (Demand Deposit)
Simpanan giro ini merupakan simpanan pada bank
yang cara penarikannya mengunakan cek.
(b) Simpanan Tabungan (Seving Deposit)
Merupakan simpanan kepada bank yang cara
penarikannya ditetapkan oleh bank yang bersangkutan,
penariakan tersebut bisa mengunakan buku tabungan,
kwitansi dan Ajungan Tunai Mandiri (ATM).
Simpana
deposito
(demand
deposit)
adalah
simpanan masyarakat di bank yang penariaknnya dapat
dilakukan setelah jatuh tempo, sebagai bukti deposan
telah menyimpan dalam bentuk deposito, maka bank
memberikan surat berbentuk serifikat (M. Nafarin,
2007:747). Menurut pasal 1 angka 7 undang-undang
perbankan yang diubah, disebutkan deposito (deposito
berjangka) adalah simpanan yang penarikannya hanya
dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan
15
perjanjian nasabah penyimpan dengan bank (Rahmadi
Usman, 2001:228).
Sedangkan menurut undang-undang No. 10 tahun
1998 adalah penarikannya hanya dapat dilakukan dalam
jangka waktu tertentu menurut perjanjian nasabah
dengan bank yang bersangkutan. Berikut jenis-jenis
deposito yang ada di indonesia, sebagai berikut :
i. Deposito Berjangka
Deposito Berjangaka merupakan deposito yang
diterbitkan menurut jangka waktu tertentu. Janka
waktu deposito biasanya bervariasi mulai 1 sampai
24 bulan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama
baik
peseorangan
maupun
lembaga
yang
mendepositkan uangnya pada bank.
ii. Sertifikat Deposito
Sama halya seperti deposito berjangka yaitu
merupakan deposito yang diterbitkan dalam jangka
waktu 2, 3, 6 dan 12 bulan. Sertifikat deposito
diterbitkan atas rujukan sertifikat. Artinya dalam
sertifikat deposito tidak tertulis nama seseorang atau
badan hukum tertentu. Selain itu sertifikat deposito
dapat diperjual belikan pada pihak lain.
16
(c) Menyalurkan Deposito (Time Deposit)
Merupakan simpanan yang berjangka waktu panjang
dan memiliki jangka waktu tertentu.
(d) Menyalurkan Dana (Lending)
Kegitan bank yang menjual dana yang telah dihimpun
pada masyarakat atau memberikan pembiayaan pada
masyarakat.
(e) Memberikan Jasa-jasa Bank Lain (Service)
Merupakan kegiatan penunjang dan menyalurkan
dana. Jasa-jasa yang diberikan oleh bank atara lain adalah
kiriman uang, (tranfer), Kliring, save deposit box, dll.
B. Manajemen Asset dan Likuditas Bank Syariah
A. Manajemen Asset
Menurut Muhammad (2005:262) manajemen asset adalah upaya yang
dilakukan oleh bank syariah dalam mengelola atau mengatur posisi dana
yang diterima dari aktivitas funding untuk disalurkan kepada aktivitas
financing, dengan harapan bank bersangkutan mampu memenuhi kriteriakriteria likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas.
Bagi bank konvensinal, selain modal, sumber dana lainnya cenderung
bertujuan untuk “menahan” uang. hal ini sesuai dengan pendekatan yang
dilakukan Kenynes yang mengemukakan bahwa orang yang membutuhkan
17
uang untuk tiga kegunaan: transaksi, cadangan (jaga-jaga) dan investasi
(Muhamad Syafi’i Antonio, 2001:146).
Menurut Zainul Arifin (2003:144) sebagaimana bank konvensional,
bank syariah pun merupakan lembaga itermediasi antara penabung dan
investor. Perbedaan pokoknya terletak pada prinsip bagi hasil dan berbagi
risiko yang melandasi sistem operasionalnya. Hal ini antara lain tercemin
pada karakteristik berikut:
a. Berbeda dengan bank konvensional, bank Islam hanya menjamin
pembayaran kembali nilai nominal simpanan giro dan tabungan
(wadi’ah), tetapi tidak menjamin pembayaran kembali nilai nominal
dari deposito (investment Deposit/mudharabah Deposit). Bank Islam
juga tidak menjamin keuntungan atas deposito pada bank syariah
tergantung kinerja bank, tidak sebagaimana bank konvensional yang
menjamin pembayaran keuntungan atas deposito berdasarkan tingkat
bunga tertentu dengan mengabaikan performance-nya.
b. Sistem oprasional bank syariah berdasarkan pada sistem equity dimana
setiap modal adalah berisiko. Oleh karena itu hubungan kerjasama
antar bank Islam dengan nasabahnya adalah berdasarkan prinsip bagi
hasil dan berbagi risiko Proft and Loss Sharing (PLS).
c. Dalam melakukan kegiatan pembiayaan (financing) bank Islam
menggunakan model pembiayaan syariah (Islamic models of
financing) yaitu PLS dan non-PLS. sehubungan dengan itu bank Islam
18
melakukan pooling dana-dana nasabah dan berkewajiban menyediakan
manajemen investasi yang profesional.
Berdasrkan karakteristik tersebut, maka risiko yang dihadapi oleh
bank syariah lebih terfokus pada risiko likuditas dan risiko kredit dan
tidak akan pernah mengalami risiko fluktuasi tingkat bunga. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa manajemen asset/liabilitas itu akan
bertemu di suatu kondisi yang singkron untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas bank syariah harus menempatkan dana yang telah dihimpun
lalu menyalurkan ke instrumen-instrumen likuiditas.
B. Manajemen Likuditas
a. Pengertian Likuditas Bank
Menurut Robert Tampubolon (2004:165) likuditas bank merunjuk
pada kemampuan sebuah bank untuk segera dan selalu dapat
menghimpun dana atau menghasilkan uang pada biaya yang wajar.
Menghimpun likuiditas merupakan salah satu aktivitas kunci bank,
karena secara langsung maupun tidak langsung, bank harus mampu
menyediakan likuiditas untuk melayani nasabahnya. Penghimpunan
dana menimbulkan konsekuensi biaya yang akan bergantung kepada
opsi pendanaan yang ada, kombinasi jatuh waktu antara aktiva dan
pasiva (asset and liability). Opsi pembiayaan juga tergantung pada
kondisi keuangan dan tingkat kesehatan bank yang bersangkutan.
Untuk itu, bank harus memiliki akses ke sumber dana yang
memadai. Artinya bank harus dapat menyelesaikan masalah diatas
19
secara tepat waktu. Tindakan ini harus dapat menekan biaya likuidasi
atau biaya penutupan usaha (bankruptcy cost) serendah atau sekecil
mungkin, apabila hal tersebut harus terjadi. Semua hal tidak akan dapat
dipenuhi oleh sebuah bank jika likuiditasnya sangat rendah.
Likuiditas pada umumnya adalah mengenai posisi uang kas suatu
perusahaan
dan
kemampuannya
untuk
memenuhi
kewajiban
(membayar utang) yang jatuh tempo tepat pada waktunya. Apabila
dikaitkan dengan lembaga bank, berarti kemampuan bank setiap waktu
untuk membayar utang jangka pendeknya apabila tiba-tiba ditagih oleh
nasabah atau pihak-pihak terkait. Jadi yang dimaksud likuiditas disini
adalah kemudahan mengubah asset menjadi uang tunai dari masingmasing bank yang bersangkutan. Dalam pengelolaan dana, bank akan
mengalami salah satu dari tiga hal di bawah ini:
1) posisi seimbang (squere), di mana persediaan dana sama dengan
kebutuhan dana yang tersedia.
2) posisi lebih (long), di mana persediaan dana lebih dari kebutuhan
dana yang tersedia.
3) posisi kurang (short), di mana persediaan dana kurang dari
kebutuhan dana.
Dalam kegiatan operasional, bank dapat mengalami kelebihan atau
kekurangan likuiditas. Apabila terjadi kelebihan, maka hal itu dianggap
sebagai keuntungan bank. Sedangkan jika terjadi kekurangan likuiditas,
20
maka bank memerlukan sarana untuk menutupi kekurangan tersebut.
(Wirdyaningsih dkk., 2005:140)
Menurut Zainul Arifin (2005:164) salah satu kendala operasional
yang dihadapi oleh perbankan islam adalah kesulitan dalam mengelola
likuiditasnya secara efisien. hal itu terlihat pada beberapa gejala, antara
lain:
1) Tidak tersedianya kesempatan investasi segera atas dana-dana yang
diterimanya. Dana-dana tersebut terakumulasi dan menganggur
untuk beberapa hari sehingga mengurangi rata-rata pendapatan
mereka.
2) kesulitan mencairkan dana investasi yang sedang berjalan, pada
saat ada penarikan dana dalam situasi krisis.
Memenuhi kebutuhan likuiditas seringkali sama kompleksnya
dengan mengestimasikan kebutuhan likuiditas itu sendiri, tetapi tidak
ada cukup kebijakan dan prosudur untuk memenuhinya. Pada
prinsipnya likuiditas adalah kemudahan mengubah asset menjadi uang
tunai dengan sedikit atau tanpa berkurang nilainya.
Para banker Islam harus memperhatikan beberapa ketentuan
syariah yang harus menjadi pedoman yang telah diatur oleh Bank
Indonesia dan Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam peraturan dan
fatwa yang berlaku, antara lain sebagai berikut:
21
1) Uang tidak boleh menghasilkan apa-apa. Uang hanya berkembang
jika diinvestasikan dalam bidang ekonomi rill (tangible economics
asset).
2) Keberhasilan kegiatan ekonomi diukur dengan Return On
Investment (ROI) return ini boleh diestimasikan tapi tidak boleh
ditentukan didepan.
3) Bagian saham dalam perusahaan, kegiatan mudharabah atau
kemitraan musyarakah dapat dibeli atau dijual untuk kegiatan
investasi dan
bukan untuk
tujuan spekulasi atau
tujuan
perdagangan paper.
4) Piranti keuangan Islami, seperti bagian saham dalam kemitraan
atau perusahaan, dapat dinegosiasikan (dibeli atau dijual) karena ia
mewakili bagian saham dalam jumlah asset dari bisnis nyata.
C. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Pada perbankan syariah tidak mengenal kredit (loan) dalam penyaluran
dana yang dihimpunnya. Oleh karena itu, aktifitas penyaluran dana yang
dilakukan bank syariah lebih mengarah kepada pembiayaan (financing).
Hutang merupakan sesuatu yang harus dihindari dalam perbankan syariah.
Rumus perhitungan likuiditas ini dikonversi karena masih dalam terminologi
yang sama yaitu fungsi intermediasi perbankan, terutama dalam aspek
penyaluran dana yang telah dihimpunnya untuk mendapatkan gain profit.
22
Rumus LDR kedalam dunia syariah menjadi (FDR) Financing to Deposit
Ratio. Sehingga FDR dapat dirumuskan dengan :
FDR = Pembiayaan yang disalurkan
Total Dana Pihak Ketiga
Salah satu kendala operasional bank syariah adalah kesulitan dalam
mengendalikan likuiditasnya secara efisien, dimana gejalanya adalah tidak
tersedianya kesempatan investasi yang sedang berjalan. Penting bagi banker
Islam untuk memahami bahwa instrument likuiditas yang digunakan bank
konvensional itu dibangun untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi
dalam sistem keuangan yang bersifat ribawi. Menjadi tantangan dan tanggung
jawab bagi banker syariah untuk menempatkan dananya pada instrumen
likuiditas yang sesuai dengan akidah islam.
FDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito
berjangka, giro, tabungan dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi
permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio ini menggambarkan
sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman. Rasio ini juga
dapat mengukur tingkat likuiditas. FDR disebut juga rasio kredit terhadap
total dana pihak ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga
yang disalurkan dalam bentuk kredit. Penyaluran kredit merupakan kegiatan
utama bank, oleh karena itu sumber pendapatan utama bank berasal dari
kegiatan ini. Semakin besarnya penyaluran dana dalam bentuk kredit relatif
bila dibandingkan dengan Deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank
membawa konsekuensi semakin besarnya risiko yang ditanggung oleh bank
23
yang bersangkutan. FDR adalah perbandinagan antara pembiayaan yang
diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh
bank. Rasio ini digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana dana yang
bersumber dari dana pihak ketiga. Tinggi rendahnya rasio ini menunjukkan
tingkat likuditas bank tersebut. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.
26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, besarnya FDR ditetapkan oleh Bank
Indonesia tidak boleh melebihi 110%. Yang berarti bank boleh memberikan
kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang berhasil
dihimpun asalkan tidak melebihi 110% (Muhammad, 2005:55).
Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendah
kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena
jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Rasio
yang tinggi menunjukkan bahwa suatu bank meminjamkan seluruh dananya
(loan-up) atau relatif tidak likuid (illiquid). Sebaliknya rasio yang rendah
menunjukkan bank yang likuid dengan kelebihan kapasitas dana yang siap
untuk dipinjamkan. Oleh karena itu, rasio ini juga dapat untuk memberi
isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau
sebaliknya harus dibatasi. Dalam pengertian sehari-hari, bahwa akhir-akhir
ini yang dilihat pada indikator FDR umumnya hanya berisi komponen yang
sangat sederhana. Sebagai indikator pinjaman adalah jumlah atau posisi
pinjaman yang diberikan, sebagaimana yang tercantum pada sisi aktiva.
Sedangkan sebagai indikator pada simpanan adalah giro, deposito, tabungan
yang masing-masing tercantum pada sisi pasiva neraca. Kedua komponen
24
tersebut dalam bentuk rupiah. Yang dalam bentuk valuta asing yang berada di
bank-bank devisa belum diperhitungkan.
Sebagai tindak lanjut pengembangan perbankan syariah Bank Indonesia
(BI) telah mengelurkan beberapa ketentuan yang berkaitan dengan perbankan
syariah.
D. Giro Wajib Minimum (GWM)
Giro wajib minimum adalah simpanan minimum bank umum dalam giro
pada Bank Indonesia (BI) yang besarnya ditetapkan oleh bank indonesia
berdasarkan persentase tertentu dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Giro
minimum ini merupakan kewajiban bank dalam rangka mendukung
pelaksanaan prisnsip kehati-hatian bank dan berperan pula sebagi insrumen
moneter untuk mengendalikan uang beredar (Muhammad 2005:377)
E. Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS)
Menurut Muhammad Syafi’i Antonio (2001:183) Pasar uang (money
market) adalah di mana diperdagangkan surat-surat berharga jangka pendek.
Pasar valuta asing (foregign exchange market) adalah pasar dimana
diperdagangkan surat-surat berharga dalam satu mata uang dengan
melibatkan mata uang lain. Sedangkan
menurut Algaoud dan Lewis
(2001:94) pasar uang adalah sarana yang menyediakan sumberdaya hasil
tabungan bagi para investor.
25
Sedangkan, menurut Herman Darmawi (2006:98) pasar uang antar
bank atau sering disebut interbank call money market merupakan salah
satu sarana untuk memenuhi likuiditas bank-bank karena kalah kliring.
Pasar uang antar bank pada dasarnya adalah kegiatan pinjam-meminjam
dana antar satu bank dengan bank lainnya. Transaksinya bisa dilakukan
secara langsung melalui telepon atau lembaga kliring.
a. Mekanisme Pasar Uang
Mekanisme pasar uang berbeda dengan pasar modal yang
tradingnya dilakukan melalui Bursa atau Stock Exchange. Sesuai
dengan karakteristiknya maka pasar uang ini bersifat abstrak, tidak
ada tempat khusus seperti halnya pada pasar modal. Transaksi pasar
uang secara over the counter market (OTC), dilakukan oleh setiap
peserta melalui desk atau dealing room masing-masing peserta.
Sarana yang digunakan dalam melakukan transaksi pasar uang
dapat berupa:
1) Reuters monitor dealing screen (RDMS)
2) Telex
3) Telepon
4) Fax
5) Sarana telekomunikasi lain yang diperkenankan untuk transaksi
tersebut.
26
b. Transaksi Pasar Uang Antarbank Syariah
Menurut Veithzal Rivai dkk (2007:859) PUAB adalah sarana
pinjam meminjam yang dilakukan antarbank dengan menggunkan
telepon atau melalui Ruter. Setiap bank yang meminjam akan
menerbitkan promes, sedangkan bank pemberi akan menerbitkan nota
kredit. Sedangkan PUAS adalah kegiatan investasi jangka pendek
dalam rupiah antarpeserta pasar berdasarkan prinsip mudharabah.
Munurut Fatwa DSN MUI No. 37/DSN-MUI/2002, pengertian
PUAS adalah kegiatan transaksi keuangan jangka pendek antarpeserta
pasar berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
Menurut Pasal 1 butir (4) Peraturan Bank Indonesia No.
2/8/PBI/2000, yang telah diubah menjadi No. 7/26/PBI/2005
pengertian PUAS adalah kegiatan investasi jangka pendek dalam
rupiah
antarpeserta
pasar
berdasarkan
prinsip
Mudharabah.
Sedangkan penegrtian mudharabah pada Pasal 1 butir (5) PBI tersebut
adalah ”perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana untuk
melakukan kegiatan usaha guna memperoleh keuntungan, dan
keuntungan tersebut akan dibagikan kepada kedua belah pihak
berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. (Wirdyaningsih
dkk, 2005:142)
c. Mekanisme Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan Penyelesain
Transaksi
27
Mekanisme perdagangan surat-surat berharga berbasis syariah
harus tetap berkaitan dan berada dalam batas-batas toleransi dan
ketentuan-ketentun berdasarkan syariah, untuk memahami mekanisme
Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dapat digambarkan sebagai
berikut :
Gambar 2.1
Skema Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip Syariah
Pasar Skunder
Pasar Perdana
(9) Tagih Setelah Due
Penanam Dana
Penanam Dana
Penerbit
(3)
Terbit
(7)
Bank
Syariah
Bank
Syariah
Jual Sebelum
Due
Bank
Konvensional
(10) Bayar
Jual Sebelum
Due
Bank
Konvensional
(8)
(8) Bayar
Bank
Syariah
(5)
(6)
(2)
(4) Informasi Rate
Bayar
(1) Laporan
BANK
INDONESIA
(4)
(6) / (10) Bayar
(Sumber: Muhammad, 2005:39)
1) Bank penanam dana pada sertifikat IMA melakukan pembayaran
kepada bank penerbit dengan menggunakan nota kredit melalui
kliring, bilyet giro Bank Indonesia atau tranfer dana secara
elektronis, disertai tembusan sertifikat IMA.
28
2) Pemindahan srtifikat IMA hanya dapat dilakukan oleh bank
penanam
dana
pertama,
sedangkan
dana
kedua
tidak
diperkenankan lagi memindahtangankan kepada bank lain sampai
berakhirnya jangka waktu. Agar bank penerbit sertifikat wajib
memberitahukan kepemilikan sertifikat tersebut kepada bank
penerbit.
3) Pada saat sertifikat IMA jatuh waktu, penyelesain transaksi
dilakaukan oleh bank penerbit dengan melakukan pembayaran
kepada pemegang sertifikat terakhir sebesar nilai nominal
investasi (face value), sedangkan imbalan dibayar pada awal
bulan berikutnya. pembayaran tersebut dapat dilakukan dengan
mengguanakan nota kredit melalui kliring, bilyet giro Bank
Indonesia atau tranfer dana secara elektronis.
d. Perhitungan Imbalan
Besarnya imbalan sertifikat IMA yang dibayarkan pada awal
bulan dihitung atas dasar tingkat realisasi imbalan deposito investasi
mudharabah pada bank penerbit imbalan dimaksud sesuai dengan
jangka waktu deposito investasi mudharabah seperti terlihat pada
tabel berikut:
29
Tabel 2.1
Penghitungan imbalan berdasarkan jangka waktu
Jangka Waktu Sertifikat IMA
Tingkat Imban yang digunakan
1 hari s.d. 30 hari
Deposito Investasi Mudharabah 1 bulan
31 hari s.d. 90 hari
Deposito Investasi Mudharabah 3 bulan
(Sumber: Muhammad, 2005:394)
Rumus perhitungan imbalan Sertifikat IMA adalah sebagai berikut:
X = P x R x t/360 x k
Keterangan :
X = Besarnya imbalan yang diterbitkan kepada bank penenanam
dana
P = Nilai nominal investasi
R = Tingkat realisasi imbalan deposito investasi mudharabah
(sebelum di distribusikan)
t
= Jangka waktu investasi
k = Nisbah bagi hasil untuk bank penanam dana
e. Perbandingan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) Dengan Pasar
Uang Antarbank Konvensional (PUAK).
Dari keseluruhan uraian tentang PUAS diatas, maka dapat kita
tarik perbandingan antara Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip
Syariah (PUAS) dengan Pasar Uang Antarbank Konvensinal
(PUAK/PUAB). Dalam Perbandingan ini dapat kita lihat persamaan
dan perbedaan antara keduanya.
30
Pada prinsipnya terdapat persamaan antar PUAS dengan PUAB.
Persamaan tersebut antara lain sebagai berikut:
1) Keduanya merupakan instrumen likuiditas yang fungsinya
memudahkan perbankan yang mengalami kesulitan likuditas, baik
berupa kekuranagan maupaun kelebihan likuiditas.
2) Keduanya memiliki jangka waktu paling lama 90 hari atau
merupakan investasi jangka pendek.
3) Pembayaran dapat dilakukan dengan nota kredit atau melalui
kliring atau bilyet giro BI atau tranfer dana secara elektronis.
Perbedaan atara PUAS dan PUAK tampak pada beberapa hal,
sebagai berikut:
1) PUAS tidak mendasarkan transaksinya pada suku bunga
melainkan pada pola bagi hasil. Sedangkan PUAB seluruhnya
berdasarkan transaksinya pada bunga.
2) Peserta PUAS meliputi bank syariah dan bank konvensional.
Sedangkan peserta PUAB hanya bank konvensinal.
3) Peranti yang digunakan dalam PUAS adalah sertifikat IMA.
Sedangakan peranti umum yang digunakan dalam PUAB adalah
promes atau promissory notes.
4) Sertifikat IMA sebagai peranti PUAS hnya dapat dialihkan 1 kali.
Sedangkan terhadap promes dapat dipindahtangankan berulang
kali selama belum jatuh tempo.
31
5) Dalam
perhitungan
imbal
peranti
utama
PUAS
tidak
mengikutsertakan sama sekali komponen utama penghitungan
imbalan dalam PUAB.
6) Risiko yang timbul dari aktivitas transaksi pada PUAS relatif
jatuh lebuh kecil daripada risiko transaksi PUAB.
7) Sertifikat IMA sebagai peranti utama PUAS diterbitkan sebagai
tanda bukti penyertaan, oleh karena itu hanya dapat dipindah
tangankan satu kali. Sedangkan promes merupakan suatu
negotible instrument, di mana para pihak tidak dibatasai dalam
menegosiasikannya hingga jatuh tempo berakhir. (Wirdyaningsih
dkk, 2005:147)
Jika perbedaan antara PUAS dan PUAK tersebut digambarkan
dalam bentuk tabel, maka akan tampak seperti di bawah ini.
32
Tabel 2.2
Perbedaan PUAS dengan PUAK atau PUAB
PUAS
PUAB atau PUAK
No
Transaksinya berdasarkan pola Transaksinya berdasarkan suku
1.
bagi hasil
bunga
Pesertannya
meliputi
bank Peserta
hanya
bank
2.
syariah dan bank konvensional
konvensional
Peranti yang digunkan adalah Umumnya
menggunakan
3.
sertifikat IMA
Pranti
4.
PUAS
promes atau promissory notes.
hanya
bisa Peranti PUAB dapat dialihkn
dialihkan 1 kali
berulang kali selama belum
jatuh tempo
Dalam perhitungan imbalan
Bunga merupakan komponen
5.
tidak
mengikuti
komponen
utama perhitungan imbal
bunga
Risiko dari aktifitas transaksi Risiko dari transaksi PUAB
6.
PUAS relatif jauh lebih kecil
Sertifikat
IMA
relatif lebih besar
diterbitkan
Promes merupakan negotiable
sebagai tanda bukti penyertaan
7.
instrument yang dapat dialikan
investasi,
sehingga
hanya
tanpa batas hingga jatuh tempo
dapat dialihkan satu kali
(Sumber: Wirdyaningsih dkk,2005:148)
33
F. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Sebelumnya SBIS dikenal sebagai Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
Syariah (SWBI), Menurut Wirdyaningsih dkk (2005:149) SWBI merupakan
instrumen kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan
kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 2/9/PBI/2000, yang dimaksud
dengan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) adalah sertifikat yang
diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek
dengan prinsip wadiah (Pasal 1 Ayat 4). Sedangkan yang dimaksud wadiah
disini adalah perjanjian penitipan dana antara pemilik dana dengan pihak
penerima titipan yang dipercaya untuk menjaga dana tersebut (Pasal 1 Ayat
3).
Selanjutnya perubahan perundang – undangan tentang pencabutan SWBI
menjadi SBIS, berdasarkan PBI Nomoe 10/11/PBI/2008, SBIS adalah surat
berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam mata
uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. SBIS diterbitkan sebagai
salah satu insrumen oprasi pasar terbuka dalam rangka pengendalian moneter
yang dilakukan berdasarkan prinsip syarih dengan mengunakan akad ju’alah
(Peraturan Bank Indonesia 2008).
Munurut Tak’yudin Abu Bakar (2005:403) menurut bahasa ialah “Apa
yang memberikan oleh seseorang manusia atas perintah yang ia
kerjakannya”, sedangkan menurut istilah ialah “Bahwa menjadikan oleh
seseorang akan kebolehan pengelolaan ukurang yang telah diketahui dari
34
harta bagi orang yang melaksanakannya yang diketahui atau yang tidak
diketahui”.
Ju’alah adalah suatu kontrak dimana pihak pertama menjanjikan imbalan
tertentu kepada kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau
pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama
(Zainul Arifin, 2009:36). Instrumen ini menjadi masukan yang positif bagi
perbankan syariah. Pasalnya, sebelum diterbitkannya SBIS ini sebelumnya
mengunakan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) dimana jika
dibandingkan dengan SBI konvensional memiliki perbedaan bonus atau
return yang sangat berbeda. Untuk itu bank Indonesia menerbitkan SBIS
sebagai ganti SWBI setelah mendapat izin dari Dewan Syraiah Nasional
(DSN). Dalam peraturan Bank Indonesia SBI Syariah diterbitkan melalui
mekanisme lelang. Pihak yang berhak mengikuti lelang adalah Bank Umum
Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) baru dapat mengikuti lelang
SBIS jika memenuhi persyaratan Financil to Deposit Ratio (FDR) yang telah
ditetapkan oleh bank indonesia sebagaimana terdapat pada pasal 7 ayat (1) :
BUS atau UUS dapat memiliki SBIS melalui penjualan pembelian SBIS
secara langsung atau melalui perusahaan pialang pasar uang rupiah dan valuta
asing.
•
Karakteristik Sertifikat Bank Indonesia Syaraiah
•
Menggunakan akad Ju’alah.
•
Satuan unit sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
35
•
Berjangka waktu paling kurang 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua
belas) bulan.
•
Diterbitkan tanpa warkat.
•
Dapat digunakan pada bank indonesia dan
•
Tidak dapat diperdagangkan dipasar sekunder.
1.
Mekanisme dan Penyelesaian Transaksi SBIS
Dalam trnsaksi SBIS yang mengunakan akad Ju’alah terdapat
mekanisme-mekanisme yang harus diikuti dan dipatuhi oleh Bank
Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) didalam
menjalankan mekanisme lelang SBIS, adapun mekanisme yang harus
dijalakan sebagai berikut:
a. Mekanisme Lelang SBIS
1) Bank Indonesia (BI) mengumumkan rencana lelang SBIS
paling lambat pada 1 (satu) hari kerja sebelum pelaksanaan
lelang SBIS, antara lain meliputi :
(a) BUS dan UUS yang dapat mengikuti lelang SBIS (FDR >
80% dan tidak sedang dikenakan sanksi pemberhentian
sementara untuk mengikuti lelang SBIS);
(b) Jangka waktu SBIS;
(c) Tingkat imbal, yang mengacu kepada tingkat diskonto
hasil lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berjangka
waktu sama yang ditebitkan bersama dengan penerbitan
SBIS dengan ketentuan sebagai berikut :
36
• Dalam hal lelang SBI mengunakan metode fixed rate
tender, maka imbal SBIS ditetapkan sama dengan ratarata tertimbang tingkat diskonto hasil lelang SBI.
• Dalam hal lelang SBI mengunakan metode variabel rate
tender, maka imbalan SBIS ditetapkan sama dengan
rata-rata tertimbang tingkat diskonto hasil lelang SBI.
b.
(d)
Tanggal transaksi, dan
(e)
Tanggal setelmen.
Pada hari pelaksanaan lelang SBIS (hari Rabu pukul 10.00 – 12.00),
BUS, UUS, Pialang mengajukan penawaran kuantitas SBIS yang
dibeli kepada Bank Indonesia cq Derektorat Pengawasan Moneter
kepada Biro Oprasional Moneter (BI cq. DPM – BopM) melalui BI –
SSSS.
c.
BI cq DPM – BopM mengumumkan hasil lelang SBIS setelah
window time SBIS ditutup pada hari pelaksanaan lelang, secara
individual kepada pemegang lelang melalui BI – SSSS dan secara
keseluruhan melalui BI – SSSS dan sistem Laporan Harian Bank
Umum (LHBU).
d. BI menetapkan kualitas pemegang lelang SBIS berdasarkan jumlah
penawaran kualitas yang diterima atau berdasarkan perhitungan
kualitas secara proposional.
37
e. BI cq. DPM – PTPM melakukan penyelesain hasil lelang SBIS pada
hari kerja yang sama dengan hari pelaksanaan lelang SBIS, dengan
cara sebagi berikut:
(a)
Mendebet rekening giro pemenang lelang dalam rangka
penyelsaian dana; dan
(b) Mengkredit rekening surat berharga pemenang lelang dalam
rangka penyelesaian surat berharga; masing-masing sebesar
hasil nominal SBIS yang dimenangkan.
f.
Dalam hal BUS atau UUS tidak memiliki saldo rekening giro yang
mencukupi untuk menutup seluruh kewajiban penyelesain dana
sebagimana dimaksud pad butir 1.a sampai dengan cut-off warning
Sistem BI – RTGS, maka hasil lelang SBIS yang dimenangkan BUS
atau UUS yang bersangkutan diyatakan batal.
g.
BI juga dapat membatalkan hasil lelang SBIS antara lain dalam hal
penawaran yang masuk dinilai berada di luar kewajaran dari
pemikiran potensi likuditas. Pembataln tersebut diumumkan oleh BI
setelah window time ditutup pada pada hari pelaksanaan lelang
melalui BI – SSSS dan secara keseluruhan melalui BI – SSSS dan
sistem LHBU.
Adapun pengertian BI-SSSS adalah Bank Indonesia – Scripless Scurities
Settlement Sistem yaitu sistem yang menghubungkan secara langsung secara
elektronik antara peserta, penyelengara dan sistem Bank Indonesia,
sedangkan BI RTGS adalah Real Time Gross Settlement menurut PBI Nomor
38
10/6/PBI/2008 tentang RTGS ialah suatu sistem tranfer dana elektronik
antara peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesainnya dilakukan secara
seketika pertransaksi secara inividu.
1.
Sanksi
BUS dan UUS akan dikenakan sanksi jika transaksi SBIS oleh BUS
atau UUS dinyatakan batal karena dua hal. Pertama, tidak memiliki saldo
rekening giro yang cukup untuk memenuhi kewajiban penyelesain
transaksi pembelin SBIS. Yang kedua, tidak memiliki rekening surat
berharga dan saldo rekening giro yang cukup untuk menyelesaikan
transaksi pembelian SBIS. Sanksi yang akan dikenakan adalah sebagi
berikut:
a.
Terdapat pembatalan hasil lelang SBIS karena saldo rekening giro
yang tidak mencukupi, BUS dan UUS dikenakan sanksi berupa
teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar 1/1000 (satu per
seribu) dari nominal SBIS yang dibatalkan atau paling banyak
sebesar Rp. 1000.000.000,00 (satu milyar rupiah) untuk setiap
pembatalan.
b.
Apabila dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, BUS dan UUS telah
mendapatkan teguran tertulis sebanyak 3 (tiga) kali, maka selain
mendapatkan sanksi teguran tertulis dan kewajiban membayar, BUS
dan UUS juga dikenakan sanksi pemberhentian sementara untuk
mengikuti lelang SBIS sampai dengan lelang minggu berikutnya dan
39
larangan mengajukan Repo SBIS selama 5 (lima) hari kerja berturutturut (Peraturan Bank Indonesia, 2008)
3.
Mekanisme Repo SBIS
Selain mekanisme lelang SBIS juga terdapat mekanisme Repo SBIS
diman BUS dan UUS dapat merepokan SBIS miliknya kepada Bank
Indonesia dengan terlebih dahulu menandatangani perjanjian penggunaan
SBIS dalam rangka Repo SBIS. Terdapat Repo SBIS, bank indonesia
akan mengenakan biaya kepada BUS atau UUS. Adapun mekanisme
Repo SBIS adalah sebagai berikut:
a.
Bank Indonesia (BI) cq. DPM-Bop mengumumkan biaya Repo SBIS
dan jangka waktu Repo.
b.
BUS dan UUS yang sebelumnya telah menandatangani Perjanjian
Pengunaan SBIS dalam tangka Repo dan tidak sedang dalam
pengenaan sanksi.
c.
Terhadap Repo SBIS, dikenakan Biaya repo SBIS.
d.
BI cq. DPM – PTPM melakukan penyelesaaian Surat Berharga dan
penyelsain
dalam
rangka
Repo
SBIS
yaitu
pada
waktu
pelaksanaannya (Bank Indonesia, 2008).
4. Perbedaan Antara Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) dan Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Sebagaimana peraturan yang telah ditetapakan oleh Bnk Indonesia
dalam Peraturan Bank Indonesia No. 10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS) mengantikan kebijakan peraturan
40
sebelumnya yatu peraturan Bank Indonesia No. 6/7/PBI/2004 tentang
Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). Dengan keluarnya peraturan
baru ini maka Peraturan Bank Indonesia No. 6/7/2004 tanggal 16 Febuari
2004 tentang SWBI dicabut dan telah dinyatakan tidak berlaku (Bank
Indonesia, 2008).
Sertifikat
Bank
Indonesia
Syariah
yang
dalam
prakteknya
menggunakan akad ju’alah yaitu mekanismenya dalam bentuk lelang, dan
lelang tersebut akan dimenagkan oleh slah satu BUS dan UUS yang yang
mengkikuti lelang dan tidak sedang kena sanksi. Sedangkan Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia memakai akad wadiah yang berarti titipan yang
bonusnya ditetapkan oleh Bank Indonesia (Bank Indonesia, 2008).
G. Inflasi
1. Definisi Inflasi
Secara umum, inflasi berarti kenaikan harga barang/komoditas dan
jasa dalam periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai
fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan
moneter terhadap suatu komoditas. (Adiwarman A. Karim, 2002:63)
Menurut Marcus Bodie Kane (2004:385) inflation is the rate which
the general level of prices is rising. High rates of inflation often are
associated with “overheated” economies, that is, economies where the
demand for goods and services is outstripping productive capacity, which
leads to upward pressure on prices.
41
2. Jenis-jenis Inflasi
Menurut Paul A. Samuelson dalam Adiwarman Azwar Karim
(200:65) berdasarkan tingkat keparahannya inflasi dapat digolongkan
dalam tiga jenis inflasi berikut:
a. Moderate inflation, disebut juga “inflasi satu digit”, adalah inflasi
dengan karakteristik terjadinya kenaikan harga secara lambat.
b. Galloping inflasion, yaitu inflasi yang terjadi pada tingkat 20%
sampai dengan 200% per tahun.
c. Hyper inflasion, yaitu inflasi dengan tingkat sangat tinggi, berkisar
antara jutaan sampai triliunan per tahun.
3. Efek-efek Buruk Inflasi
Menurut Sukirno (2004:338), efek-efek buruk dari inflasi yaitu sebagai
berikut :
a. Inflasi dan Perkembangan Ekonomi
Inflasi yang tinggi tingakatnya akan menggalakkan perkembangan
ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan
produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya
lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Investasi
produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun.
Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud.
Kenaikan harga-harga juga menimbulkan efek buruk pula ke atas
perdagangan. Kenaikan harga menyebabkan barang-barang negara itu
tidak dapat bersaing di pasaran internasional, selanjutnya ekspor akan
42
menurun. Sebaliknya, harga-harga produksi dalam negeri yang
semakin tinggi sebagai akibat inflasi menyebabkan barang-barang
impor relatif murah, maka lebih banyak impor yang dilakukan. Ekspor
yang menurun dan diikuti oleh impor yang bertambah menyebabkan
ketidakseimbangan dalam aliran mata uang asing. Kedudukan neraca
pembayaran akan memburuk.
b. Inflasi dan Kemakmuran Rakyat
Disamping menimbulkan efek buruk, kegiatan ekonomi negara
akan mengalami inflasi dan menimbulkan efek terhadap individu dan
masyarakat.
c. Inflasi
akan
menurunkan
pendapatan
riil
orang-orang
yang
berpendapatan tetap.
Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan hargaharga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang
berpendapatan tetap. Sehingga daya beli masyarakat juga akan
menurun.
d. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang.
Simpanan di bank, simpanan tunai dan simpanan dalam institusiinstitusi keuangan lain yang merupakan simpanan keuangan. Nilai
riinya akan menurun apabila inflasi berlaku.
43
e. Memperburuk pembagian kekayaan
Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan
menghadapi kemorosotan dalam nilai riil pandapatannya, dan pemilik
kekayaan bersifat keuangan akan mengalami penurunan dalam nilai riil
kekayaannya. Penjual/pedagang dapat mempertahankan nilai riil
pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan pembagian
pendapatan diantara golongan berpendapatan tetap dengan pemilikpemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak
merata.
Menurut para ekonomi islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi
perekonomian karena empat hal berikut:
1) Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap
fungsi tabungan (nilai simpan).
2) Melemahkan masyarakat untuk menabung.
3) Meningkatkan kecenderungan berbelanja, terutama untuk barangbarang nonprimer dan mewah.
4) Mengarahkan investasi kepada hal-hal tidak produktif seperti
penumpukan kekayaan berupa tanah, bagunan, logam mulia, dan
mata uang asing serta mengorbankan investasi produktif seperti
pertanian, industri, perdagangan dan tranportasi (Adiwarman A.
Karim, 2002:67)
44
4. Kebijakan untuk Mengatasi Inflasi
Kebijakan yang mungkin dilakukan pemerintah untuk mengatasi inflasi
yaitu:
a. Kebijakan fiskal, yaitu dengan menambah pajak dan mengurangi
pengeluaran pemerintah.
b. Kebijakan moneter, yaitu dengan menaikkan suku bunga dan
membatasi kredit.
c. Dari segi penawaran yaitu dengan melakukan langkah yang dapat
mengurangi biaya produksi dan menstabilkan harga seperti mengurangi
pajak impor dan pajak atas pajak atas bahan mentah, melakukan
penetapan
harga,
menggalakkan
pertambahan
produksi
dan
perkembangan teknologi.
H. Retrun On Assets (ROA)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan penjualan, tolal aktiva maupun modal sendiri (Agus
Sartono, 2001:122). Rentabilitas adalah ukuran kemampuan bank untuk
mendapatkan laba atas penepatan asset kepada aktiva produktif yang dimiliki
bank, untuk mengukur profitabilitas bank maka dapat digunakan dengan
mengunakan pendekatan yaitu antara lain adalah dengan rasio Retrun On
Asset (ROA).
Retrun On Asset (ROA) merupakan rasio keuangan yang digunakan
untuk menilai kondisi keuangan dari suatu perusahaan dengan mengunakan
45
skala tertentu atau suatu alat untuk menilai apakah seluruh asset yang dimiliki
perusahaan sudah dipergunakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan
keuntungan (Andy Porman T, 2007:147).
Menurut F. S. Mishkin (2008:306) oleh karena pemilik bank harus
mengetahui apakah banknya dikelola dengan baik, mereka membutuhkan
pengukuran yang baik mengenai profitabilitas bank. Ukuran dasar
keuntungan bank adalah imabal hasil atas asset. Laba setelah pajak adalah
laba rugi bank yang diperoleh dalam Priode berjalan setelah dikurangi pajak.
Total Asset merupakan komponen yang terdiri dari kas, giro pada Bank
Indonesia (BI), penempatan pada bank lain, surat-surat berharga, kredit yang
diberikan, pendapatan yang harus diteriama, biaya dibayar dimuka, uang
muka pajak, aktiva tetap serata penyusutan aktiva tetap dan lain-lain
(Dendawijaya, 2000:120).
ROA adalah salah satu metode penilaian yang digunakan untuk mengukur
tingkat rentabilitas sebuah bank, yaitu tingkat keuntungan yang dicapai oleh
sebuah bank dengan seluruh dana yang ada di bank. ROA membandingkan
laba terhadap total aset, yang dapat dicari dengan rumus berikut. (Bank
Indonesia, 2006)
46
Dapat dikatakan ROA berfungsi unuk mengukur efektifitas perusahaan
dalam mengelola asset yang dimilikinya kemudian menempatkan kepada
aktiva produktif segingga mendapatkan keuntungan, atas pegelolaan yang
baik maka akan menikatkan laba. ketika laba menigkat akan mearik para
investor (nasabah) karena perusahaan memiliki tingat pengembalian yang
baik.
I.
Penelitian Sebelumnya
Indah Nurfitri Adi (2006) meneliti tentang Pengaruh penempatan dana
pada SWBI dan pasar uang antar bank Syariah (PUAS) terhadap FDR
perbankan syariah. Penelitian ini secara khusus ingin mengetahui seberapa
besar penempatan dana pada Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) sebagai
sarana penitipan dana jangka pendek oleh bank syariah yang mengalami
kelebihan likuiditas dan penempatan dana pada Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS) berpengaruh terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) perbankan
syariah. Data penelitian ini bersumber dari Bank Indonesia dan juga dari
berbagai buku, koran, tesis dan internet yang berhubungan dengan topik ini.
Data yang digunakan mulai bulan Januari 2003 hingga Maret 2006. Penelitian
ini menggunakan alat analisis regresi berganda, yaitu suatu metode yang
digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hubungan tersebut
diekspresikan dalam bentuk persamaan yang menghubungkan variabel terikat
Y dengan dua atau lebih variabel bebas X. Dan hasil analisa diketahui bahwa
kedua variabel bebas yaitu variabel SWBI dan PUAS secara bersama-sama
47
dapat mempengaruhi variabel FDR perbankan syariah. Kedua variabel tadi
dapat menjelaskan variabel terikat sebesar 50,6 % dan sisanya yaitu 49,4%
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan kedalarn model.
Walaupun kedua variabel bebas secara bersama-sama dapat mempengaruhi
variabel FDR perbankan syariah, namun hasil uji t menunjukkan bahwa hanya
variabel SWBI yang signifikan dalam mempengaruhi FDR perbankan syariah.
Dian Nuriyah Solissa (2009) meneliti tentang Pengaruh SBI Syariah
terhadap Tingkat FDR Perbankan Syariah (Analisis Simulasi Kebijakan).
Penelitian ini terkait dengan PBI No. 10/11/PBI/2008 tentang SBI syariah ini
berangkat dari permasalahan yang terjadi dalam hubungan antara bonus
(insentif) yang diberikan bank indonesia atas penempatan overlikuditas pada
SBI Syariah dengan tingkat FDR. Kenyataan mengenai ketentuan bonus
(insentif) tinggi, tingkat FDR tinggi dalam peraturan ini semakin tinggi bonus
yang diberikan oleh bank indonesia maka tingkat FDR bank syariah semakin
rendah begitupula sebaliknya. Tingginya tingkat FDR perbankan syariah
disebabkan dua hal yaitu, tingginya imbal hasil pembiayan yang pada Priode
penelitian mencapai 14,71 % dan adanyabbatasan minimal tingkat FDR 80%
guna menyeimbangkan hubungan yang terjadi antar bonus SBIS dengan
tingkat FDR. Agar tingkat kesehatan bank syariah tetap terjaga maka diajukan
sebuah kebijakan yang mencakup beberapa skenario kebijakan tersebut berupa
penurunan batas minimal tingakat tingkat FDR. Mengunakan data statistik
perbankan syariah bulanan April 2008 – Maret 2008 (penerapan SWBI) dan
April 2008 – Maret 2009 (penerapan SBIS) serta mengukur linier programing
48
diproleh batas minimimum tingkat FDR yang optimal adalah 60%. Penurunan
batas minimal tingkat FDR berdampak pada tingkat outstanding SBIS,
sehingga batas maksimum outstanding SBIS adalah 4% dari total DPK.
Toni Hidayat (2007) meneliti tentang Pengaruh Inflasi Terhadap Kinerja
Pembiayaan Perbankan Syariah, Volume Transaksi Pasar Uang Antarbank
Berdasarkan Prinsip Syariah (PUAS) dan Posisi Outsanding Sertifikat Wadiah
Bank Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi
terhadap kinerja pembiayaan perbankan syariah yang diukur dengan kreteria
Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Non Performing Financing (NPF),
Volume transaksi Pasar Uang Antarbank berdasarkan prinsip Syaraiah
(VPUAS) dan posisi Outstanding Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
(OSWBI). Hipotesis awal menyatakan bahwa variabel inflasi berpengaruh
positif dengan variabel NPF, VPUAS adn OSWBI. Tetapi infalsi berpengaruh
negatif terhadap FDR. Berdasrkan pengujian yang mengunakan metode
Vector Autoregression (VAR) teryata inflasi mempunyai pengaruh yang
positif terhadap FDR, NPF, Volume transaksi Pasar Uang Antarbank Syariah
dan posisi Outstanding SWBI.
Ari Cahyono (2009) meneliti tentang Pengaruh Indikator Makroekonomi
Terhadap Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan
Bank Syariah Mandiri.
Penelitian ini bertujuan utuk menganalisa pengaruh indicator makroekonomi
(suku bunga SBI, kurs, inflasi, IHSG dan PDB) terhadap Dana Pihak Ketiga
dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini menggunakan analisis
regresi linier berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa indikator
49
makroekonomi memberikan pengaruh terhadap DPK dan Pembiayaan Bank
Syariah Mandiri, dimana suku bunga SBI memberikan pengaruh negative,
sedangkan inflasi, kurs, IHSG dan PDB memberikan pengaruh yang positif.
Berdasarkan penelitian dengan metode yang sama menunjukkan bahwa PDB
memberian pengaruh positif yang paling besar terhadap Dana Pihak Ketiga
dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri.
Irsadunas (2004) meneliti tentang Analisis terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi posisi outstanding SWBI. penelitian ini bertujuan untuk
melihat kondisi dimana posisi outstanding SWBI yang semakin meningkat
mengindikasikan bahwa perbankan syariah berada dalam situasi over
likuditas. Disi lain PUAS yang semestinya menyerap kelebihan likuditas ini
beleum berperan secara optimal dan tingkat bonus SWBI masih punya daya
tarik bagi bank syariah dari pada dana yang berlebih tersebut tidak
menghasilkan apa-apa. Sementara disisi lain untuk mencapai sasaran-sasaran
moneter yang telah ditetapkan bank Indonesia juga punya piranti dan
kebijakan yang bersipat konvensional. Kebijakan itu antara lain oprasi pasar
terbuka melalui SBI dan mencetak dan mengeluarkan uang kartal (Mo). Jadi
disinyalir ada empat faktor utama yang menyebabkan posisi outstanding
SWBI ini berubah-ubah (1) kondisi likuditas bank syariah yang tercemin pada
Financing to Deposit Ratio (FDR), (2) tingkat imbal bonus SWBI, (3) tingkat
suku bunga SBI, (4) Mo.
50
J.
Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran merupakan bagian dari tinjauan pustaka yang
berisikan rangkuman atas semua teori-teori yang dijadikan landasan dalam
penelitian. Dalam kerangka pemikiran ini diberikan skema singkat mengenai
alur penelitian yang menggambarkan proses penelitian yang akan dilakukan.
Penelitian ini didasarkan atas penelitian-penelitian dan teori-teori yang
telah ada sebelumnya. Dari beberapa teori yang telah ada peneliti
merangkainya menjadi satu kesatuan yang salaing berhubungan. Metode
analisis yang digunakan adalah Analisis Jalur. Hal ini dikarenakan analisis
jalur dapat memperlihatkan hubungan langsung dan tidak langsung antar
variabel.
Setelah menentukan judul dan metode analisis peneliti mengumpulkan
data-data dari variabel-variabel yang akan diteliti. Data variabel Inflasi
didapatkan dari statistik moneter. Variabel Sertifikat Bank Indonesia Syaraiah
(SBIS), Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS), Financing to Deposit Ratio
(FDR) dan Return On Assets Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha
Syariah (UUS) diperoleh dari statistik perbankan syariah.
Setelah data diperoleh kemudian dilakukan analisis. Langkah awal yang
diperlukan adalah menentukan struktur persamaan linier dari paradigma
penelitian yang telah dibentuk berdasarkan teori-teori yang ada. Sebelum
melakukan analisis, terlebih dahulu menguji dengan menggunakan SPSS 17,
kemudian data diolah dengan menggunakan software AMOS 18. Dari output
tersebut dapat dianalisa korelasi, hubungan antara variabel, besarnya R
51
square dan kesesuaian model struktural (Goodness of Fit). Setelah malakukan
analisis tersebut peneliti dapat mengambil kesimpulan dan implikasi dari
hasil penelitian yang telah dilakukan.
52
Gambar 2.2
Kerangka Berpikir
Bank Indonesia
Bank Syariah
Variabel
Makro
Inflasi (X1)
SWBI/SBIS (X2)
PUAS (X3)
FDR (Y1)
ROA (Z)
Analisis Jalur
Pengujian Hipotesa
Uji Kesesuaian Model
Hubungan langsung dan tidak
langusng
Interpretasi
53
Gambar 2.3
Diagram Jalur
Inflasi (X1)
e1
e2
SBIS (X2)
FDR (Y)
ROA (Z)
PUAS (X3)
(Sumber: Diagram Amos 18)
K. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang dirumuskan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar
Uang Antarbank Syariah Terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR).
Ho = Tidak terdapat pengaruh signifikan antara Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) secara
simultan dan parsial.
Ha = Terdapat pengaruh signifikan antara Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah
54
(PUAS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) secara
simultan dan parsial.
2. Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar
Uang Antar Bank Syariah (PUAS) Terhadap Return On Assets (ROA).
Ho = Tidak terdapat pengaruh signifikan antara Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS) terhadap Return On Assets (ROA) secara simultan dan
parsial.
Ha = Tedapat pengaruh signifikan antara Inflasi, Sertifikat Indonesia
Bank Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbank Bank Syariah
(PUAS) terhadap Return On Assets (ROA).
55
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Dalam penelitian ini
akan mencoba menghitung besaran pengaruh. Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS)
terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) serta implikasinya kepada Return
On Assets (ROA). Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup perbankan
syariah selama periode November 2004 – Oktober 2010.
Adapun alasan memilih Priode November 2004 sampai dengan Priode
2010, adalah sebagai berikut:
1. Imbas terjadinya keris pada tahun 1998.Terjadinya inflasi yang tinggi pada
tahun 2005 yang mengakibatkan sektor rill mengalami goncangan.
2. Pada tahun 2008 terjadi kerisi global yang terjadi di Amerika, Yunani,
Irlandia, selajutnya Portugal.
3. Perubahan peraturan dari Bank Indonesia tentang Sertifikat Wadiah Bank
Indonesia (SWBI) Menjadi Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 10/11/PBI/2008/ tentang SBIS
adapun Peraturan Bank Indonesia No. 6/7/PBI/2004 tentang SWBI telah
dicabut dandiyatakan tidak berlaku. Semua istilah yang ada pada SWBI
kini digunakan dalam ketentuan Bank Indonesia yang masih berlaku di
ungkapkan sebagai SBIS.
56
B. Metode Penentuan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan gejala atau satuan yang ingin diteliti.
Sementara sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti. Dalam
penelitian ini penulis menggunakan conviencesampling, yaitu anggota sample
yang
dipilih
berdasarkan
kemudahan
memperoleh
data
dan
tidak
menyusahkan mengukurnya serta bersifat kooperatif (Abdul Hamid, 2007:30).
C. Metode Pengumpulan Data
Isntrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan review
laporan bulanan yang dipublikasikan bank Indonesia. Review dilakukan
dengan mencari dan mengumpulkan data bulanan dari tahun 2004-2010
mengenai inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Pasar Uang
Antar Bank Syariah (PUAS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) serta
implikasinya kepada Return on Assets (ROA). Data tentang variabel-variabel
tersebut didapatkan dari statistik perbankan syariah dan statistik moneter yang
terdapat pada website resmi Bank Indonesia.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang
berasal dari sumber lain yang sudah tersedia. Data tersebut diambil dari
laporan publikasi Bank Indonesia dengan teknik pengumpulan data sebagai
berikut:
1. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain (sudah
tersedia) dan digunakan untuk penelitian lain. Data tersebut meliputi:
57
a. Data diperoleh dari laporan bulanan yang dipublikasikan di
www.bi.go.id.
2. Library Research
Merupkan teknik pengumpulan data yang dilengkapi pula dengan
membaca dan mempelajari serta menganalisis literature yang bersumber
dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Hal
ini dilakukan untuk mendapat landasan teori dan konsep yang tersusun.
Peneliti melakukan penelitian dengan membaca, mengutip bahan-bahan
yang berkenaan dengan penelitian.
D. Metode Analisis
Metode
analisis
yang
digunakan
adalah
analisis
jalur
dengan
menggunakan AMOS 18.
Analisis jalur merupakan pengembangan dari model regresi yang
digunakan untuk kesesuaian (fit) dari matrik korelasi dari dua atau lebih model
yang dibandingkan oleh peneliti. Model biasanya digambarkan dengan
lingkaran dan anak panah yang menunjukkan hubungan kausalitas. Regresi
dilakukan untuk setiap variabel dalam model. Nilai regresi yang diprediksi
oleh model dibandingkan dengan matrik korelasi hasil observasi variabel dan
nilai goodness of-fit dihitung. Model terbaik dipilih berdasarkan nilai
goodness of fit (Imam Ghozali, 2008:21).
Analisis jalur merupakan pengembangan lebih lanjut dari analisis regresi
berganda dan bivariate. Analisis jalur ingin menguji persamaan regresi yang
58
melibatkan beberapa variabel eksogen dan endogen sekaligus sehingga
memungkinkan pengujian terhadap variabel mediating/intervening atau
variabel antara. Disamping itu analisis jalur juga dapat mengukur hubungan
langsung antar variabel dalam model maupun hubungan tidak langsung antar
variabel dalam model. Hubungan langsung antara variabel eksogen terhadap
variabel dapat dilihat pada koefisien beta. Hubungan tidak langsung adalah
seberapa besar pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen melalui
variabel intervening. Pengaruh total dapat diperoleh dengan menjumlahkan
hubungan langsung dan tidak langsung (Imam ghozali, 2008:93).
Dilihat dari kerangka berfikir penelitian ini, maka dapat diperoleh 2 (dua)
substruktur linier sebagai berikut:
Substruktur I :
Gambar 3.1
Hubungan Kausal X1, X2, X3 terhadap Y1
X1
e1
X2
Y1
X3
Y1 = ρY1X1 + ρY1X2 + ρY1X3 + ε 1
Keterangan :
Y1
= FDR
X1
= Inflasi
X2
= SBIS
X3
= PUAS
59
ε1
= Residual Error
Substruktur II :
Gambar 3.2 Hubungan Kausal X1, X2, X3 dan Y1
terhadap Z
e1
X1
X2
e2
Y1
Z
X3
Z = ρZX1 + ρZY1 + ρZX2 + ρZX3 + ε 3
Keterangan :
Z
= ROA
Y1
= FDR
X1
= Inflasi
X2
= SBIS
X3
= PUAS
ε3
= Residual Error
Selanjutnya dengan menggunakan model logaritma natural formulasinya
dapat dibentuk lebih nyata sebagai berikut :
Substruktur I : Y1 = ρY1X1 + ρY1X2 + ρY1X3 + ε 1
Substruktur II : Z = ρZX1 + ρZY1 + ρZX2 + ρZX3 + ε 3
60
Hair et. al (1998) dalam Imam Ghozali (2008:61) mengajukan tahapan
pemodelan dan analisis persamaan structural menjadi 7 (tujuh) langkah yaitu:
Langkah 1: Pengembangan Model Berdasar Teori
Model persamaan structural didasarkan pada hubungan kausalitas, dimana
perubahan satu variabel diasumsikan akan berakibat pada perubahan variabel
lainnya. Hubungan kausalitas dapat berarti hubungan yang ketat seperti
ditemukan dalam proses fisik seperti dalam riset perilaku yaitu alasan
seseorang membeli produk tertentu. Kuatnya hubungan kausalitas antara dua
variable yang diasumsikan oleh peneliti bukan terletak pada metode analisis
yang dia pilih, tetapi terletak pada justifikasi (pembenaran) secara teoritis
untuk mendukung analisis. Jadi jelas bahwa hubungan antar variable dalam
model merupakan dedukasi dari teori.
Langkah 2 dan 3: Menyusun Diagram Jalur dan Persamaan Struktural
Langkah berikutnya adalah menyusun hubungan kausalitas dengan
diagram jalur dan menyusun persamaan strukturalnya. Ada dua hal yang perlu
dilakukan yaitu menyusun model struktural yaitu menghubungkan antar model
konstruk laten baik endogen maupun eksogen dan menyusun measurement
model yaitu menghubungkan konstrak laten endogen atau eksogen dengan
variabel indikator atau manifest.
Langkah 4: Memilih Jenis Input Matrik dan Estimasi Model yang Diusulkan
Model persamaan strukturak berbeda dari teknik analisis multivariate
lainnya, SEM hanya menggunakan data input berupa matrik varian/kovariabn
atau matrik korelasi. Data mentah obesrvasi individu dapat dimasukkan dalam
61
program AMOS, tetapi program AMOS akan merubah dahulu data mentah
menjadi matrik kovarian atau matrik korelasi. Analisis terhadap data outlier
harus dilakukan sebelum matrik kovarian atau korelasi dihitung.
Teknik
estimasi model persamaan structural pada awalnya dilakukan dengan ordinary
least square (OLS) regression, tetapi teknik ini mulai digantikan oleh
Maximum Likelihood Estimation (ML) yang lebih efisien dan unbiased jika
asumsi normalitas multivariate dipenuhi. Teknik ML sekarang digunakan oleh
banyak program komputer.
Namun demikian teknik ML sangat sensitif
terhadap non-normalitas data sehingga diciptakan teknik estimasi lain seperti
weight
least
square (WLS),
generalized
least
square (GLS)
dan
asymptotivally distribution free (ADF).
Langkah 5 : Menilai Identifikasi Model Struktural
Selama proses estimasi berlangsung dengan program komputer, sering
didapat hasil estimasi yang tidak logis atau meaningless dan hal ini berkaitan
dengan masalah identifikasi model structural. Problem identifikasi adalah
ketidakmampuan proposed model untuk menghasilkan unique estimate. Cara
melihat ada tidaknya problem identifikasi adalah dengan melihat hasil
estimasi yang meliputi: (1) adanya nilai standar error yang bvesar untuk satu
atau lebih koefisien, (2) ketidakmampuan program untuk invert information
matrix, (3) nilai estimasi yang tidak mungkin misalkan error variance yang
negatif , (4) adanya nilai korelasi yang tinggi ( > 0,90) antar koefisien
estimasi.
Langkah 6 : Menilai Kriteria Goodness-of-Fit
62
Salah satu tujuan dari Analisis Jalur adalah menentukan apakah model
planusible (masuk akal) atau fit. Suatu model penelitian dikatakan baik,
apabila memiliki model fit yang baik pula. Tingkat kesesuaian model dalam
buku Imam Ghozali (2008) terdiri dari :
1. Absolute Fit Measure
Absolute fit measure mengukur model fit secara keseluruhan (baik
model strultural maupun model pengukuran secara bersamaan).
a. LikeliHood-Ratio Chi-Square Statistic
Ukuran fundamental dari overall fit adalah likeliHood-ratio chisquare ( χ 2 ). Nilai chi-square yang tinggi relative terhadap degree of
freedom menunjukkan bahwa matrik kovarian atau korelasi yang
diobservasi dengan yang diprediksi berbeda secara nyata dan ini
menghasilkan probabilitas (p) akan menghasilkan nilai probabilitas (p)
yang lebih besar dari tingkat signifikansi ( α ) dan ini menunjukkan
bahwa input matrik kovarian abtara prediksi dengan observasi
sesungguhnya tidak berbeda secara signifikan. Dalam hal ini peneliti
harus mencari nilai chi-square yang tidak signifikan (p ≥ 0.05) karena
mengharapkan bahwa model yang diusulkan cocok atau fit dengan
data observasi.
b. CMIN/DF
Adalah nilai chi-square dibagi dengan degree of freedom.
Beberapa pengarang menganjurkan menggunakan ratio ukuran ini
63
untuk mengukur fit. Menurut Wheaton et. Al (1977) dalam Imam
GHozali (2008) nilai ratio 5 (lima) atau kurang dari lima merupakan
ukuran yang reasonable. Peniliti lainnya seperti Byrne (1988)
mengusulkan nilai ratio ini < 2 merupakan ukuran fit.
c. Goodness of Fit Index (GFI)
Goodness of Fit Index (GFI) dikembangkan oleh Joreskog dan
Sorbon (1984) yaitu ukuran non-statistik yang nilainya berkisar antar 0
(poor fit) sampai 1 (perfect fit). Nilai GFI tinggi menunjukkan fit yang
lebih baik dan berapa nilai GFI dapat diterima sebagai nilai yang layak
belum ada standarnya, tetapi banyak peneliti menganjurkan nilai di
atas 90% sebagai ukuran good fit.
d. Root Mean Square Erorrs of Approximation (RMSEA)
Root mean square error of approximination (RMSEA) merupakan
ukuran yang mencoba memperbaikia kecenderungan statistic chisquare menolak model dengan jumlah sampel yang besar. Nilai
RMSEA antara 0,05 sampai 0,08 merupakan ukuran yang dapat
diterima. Hasil uji empiris RMSEA cocok untuk menguji model
konfitmatori atau competing model strategy dengan jumlah sampel
besar.
2. Incremental Fit Measures
Incremental fit measures membandingkan proposed model dengan
baseline model sering disebut dengan null model. Null model merupakan
model realistic dimana model-model yang lain harus diatasnya.
64
a. Adjusted Goodness of Fit Indes (AGFI)
Adjusted
Goodnbess
of
Fit
Index
(AGFI)
merupakan
pengembangan dari GFI yang disesuaikan dengan ratio degree of
freedom untuk propsed model dengan degree of freedom untuk null
model. Nilai yang direkomendasikan adalah ≥ 0,90.
b. Tucker-Lewis Index (TLI)
Tucker-Lewis Index atau dikenal dengan nonnormed fit index
(NNFI). Pertama kali diusulkan sebagai alat untuk mengevaluasi
analisis faktor, tetapi sekarang dikembangkan untuk SEM. Ukuran ini
menggabungkan ukuran parsimony kedalam indek komparasi antara
proposal model dan null model dan nilai TLI berkisar dari 0 sampai
1.0. Nilai TLI yang direkomemdasikan adalah ≥ 0,90.
c. Normed Fit Index (NFI)
Normed Fit Index merupakan ukuran perbandingan antara
proposed model dan null model. Nilai NFI akan bervariasi dari 0 (no
fit at all) sampai 1.0 (perfect fit). Seperti halnya TLI tidak ada nilai
absolute yang dapat digunakan sebagai standar, tetapi umumnya
direkomendasikan ≥ 0,90.
3. Parsimony Fit Measures
Ukuran ini menghubungkan goodness-of-fit model dengan sejumlah
koefisien estimasi yang diperlukan untuk mencapai level fit. Tujuan
dasarnya adalah untuk mendiagnose apakah model fit telah tercapai
65
dengan “overfitting” data yang memiliki banyak koefisien. Prosedur ini
mirip dengan “adjustment” terhadap nilai R2 didalam multiple regression.
Namun demikian karena tidak ada uji statistic yang tersedia maka
penggunaannya hanya terbatas untuk membandingkan model.
a. Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI)
Parsimonious goodness-of-fit index (PGFI) memodifikasi GFI
atas dasar parsimony estimated model. Nilai PGFI berkisar antara 0
sampai 1.0 debngan nilai semakin tinggi menunjukkan model lebih
parsimony.
b. Parsimony Normed Fit Index (PNFI)
Parsimonious normal fit index (PNFI) merupakan modifikasi dari
NFI. PNFI memasukkan jumlahb degree of freedom yang digunakan
untuk mencapai level fit. Semakin tinggi nilai PNFI semakin baik.
Kegunaan utama dari PNFI adalah untuk membandingkan model
dengan degree of freedom yang
berbeda.
Digunakan untuk
membandingkan model alternative sehingga tidak ada nilai yang
direkomendasikan sebagai nilai fit yang diterima. Namun demikian
jika membandingkan dua model maka perbedaan PNFI 0,60 sampai
0,90 menunjukkan adanya perbedaan model yang signifikan.
66
Tabel 3.1
Standar Penilaian Kesesuaian (Fit)
Laporan Statistik
Nilai yang Direkomendasikan
Imam Ghozali (2008)
Keterangan
Cut of value
Absolut Fit
Probabilitas χ
2
Tidak signifikan (p > 0.05)
χ 2 /df
- Ukuran yang reasonable
<2
- Ukuran fit
- good fit
- very good fit
< 0.05
- outstanding fit
< 0.01
0.05
GFI
dengan data observasi
≤5
< 0.1
RMSEA
Model yang diusulkan cocok/fit
≤x≤
- reasonable fit
0.08
> 0.9
good fit
AGFI
≥ 0.9
good fit
TLI
≥ 0.9
good fit
NFI
≥ 0.9
good fit
PNFI
0-1.0
lebih besar lebih baik
PGFI
0-1.0
lebih besar lebih baik
Incremental Fit
Parsimonious Fit
(Sumber : Imam Ghozali, 2008)
Langkah 7 : Interpretasi dan Modifikasi Model
Ketika
model
telah
dinyatakan
diterima,
maka
peneliti
dapat
mempertimbangkan dilakukannya modifikasi model untuk memperbaiki
penjelasan teoritis atau goodness-of-fit. Modifikasi dari model awal harus
dilakukan setelah dikaji banyak pertimbangan. Jika model dimodifikasi, maka
model tersebut harus di cross-validated (diestimasi dengan data terpisah)
sebelum model modifikasi diterima.
67
E. Operasional Variabel
1. Variabel Endogen
a. FDR (Y1)
FDR disebut juga rasio pembiayaan terhadap total dana pihak
ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang
disalurkan dalam bentuk pembiayaan. Penyaluran pembiayaan
merupakan kegiatan utama bank, oleh karena itu sumber pendapatan
utama bank berasal dari kegiatan ini. Data FDR yang digunakan adalah
jumlah FDR pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
periode Januari 2005 – Oktober 2010. Data tersebut diperoleh dari
Statistik Perbankan Syariah pada situs www.bi.go.id
a. ROA (Y2)
ROA adalah salah satu metode penilaian yang digunakan untuk
mengukur tingkat rentabilitas sebuah bank, yaitu tingkat keuntungan
yang dicapai oleh sebuah bank dengan seluruh dana yang ada di bank.
ROA membandingkan laba terhadap total aset, yang dapat dicari
dengan rumus berikut (Bank Indonesia, 2006) :
Data digunakan adalah perkembangan ROA yang terjadi pada
Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah periode Januari 2005 –
Oktober 2010. Data tersebut diperoleh dari Statistik Keuangan dan
Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id.
68
2. Variabel Eksogen
b. Inflasi (X1)
Menurut Sukirno (2004:27) inflasi adalah kenaikan harga-harga
secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu periode ke
periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan
harga-harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun
sebelumnya. Data inflasi yang digunakan adalah perkembangan inflasi
per bulan periode November 2004 - Oktober 2010. Data tersebut
diperoleh dari situs www.bi.go.id.
c. Pasar Uang Antarbank Syariah (X2 )
Menurut Pasal 1 butir (4) Peraturan Bank Indonesia No.
2/8/PBI/2000, yang telah diubah menjadi No. 7/26/PBI/2005
pengertian PUAS adalah kegiatan investasi jangka pendek dalam
rupiah antarpeserta pasar berdasarkan prinsip Mudharabah. Sedangkan
penegrtian mudharabah pada Pasal 1 butir (5) PBI tersebut adalah
”perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana untuk melakukan
kegiatan usaha guna memperoleh keuntungan, dan keuntungan tersebut
akan dibagikan kepada kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang
telah disepakati sebelumnya. (Wirdyaningsih dkk, 2005:142). Data
PUAS yang digunakan adalah data volume transaksi pasar uang pada
Bank syariah Indonesia periode November 2004 – Oktober 2010. Data
tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah pada situs
www.bi.go.id.
69
d. SBIS (X3)
Menurut Wirdyaningsih dkk(2005:149) Sertifikat Wadiah Bank
Inonesia adalah sertifikat yang diterbitkan sebagai bukti penitipan dana
berjangka pendek dengan mengunakan prinsip wadiah. Sedangkan
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah surat berharga
berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang
rupiah yang diterbitkan oleh bank indonesia (Bank Indonesia, 2008).
Data SWBI atau SBIS yang digunakan adalah data statistik perbankan
per bulan periode November 2004 – Oktober 2010. Data tersebut
diperoleh dari situs www.bi.go.id
70
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Perbankan Syariah di Indonesia
Di Indonesia, bank syariah yang pertama didirikan pada tahun 1992
adalah Bank Muamalat. Walaupun perkembangannya agak terlambat bila
dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya. Perbankan syariah
pertama kali muncul di Mesir. Karena adanya kekhawatiran rezim yang
berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. Pemimpin
perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank simpanan
yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun
1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah
berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak
memungut maupun menerima bunga, sebagian besar berinvestasi pada usahausaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk partnership
dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung.
Masih di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan
dan mendeklarasikan diri sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun
dalam akta pendiriannya tidak disebutkan rujukan kepada agama maupun
syariat islam.
Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun 1974
disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi
Islam, walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang
71
bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negaranegara anggotanya. IDB menyediakan jasa finansial berbasis fee dan profit
sharing untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri
berdasar pada syariah islam. Dibelahan negara lain pada kurun 1970-an,
sejumlah bank berbasis islam kemudian muncul. Di Timur Tengah antara lain
berdiri Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977),
Faisal Islamic Bank of Egypt (1977) serta Bahrain Islamic Bank (1979). Di
Asia-Pasifik, Phillipine Amanah Bank didirikan tahun 1973 berdasarkan
dekrit presiden, dan di Malaysia tahun 1983 berdiri Muslim Pilgrims Savings
Corporation yang bertujuan membantu mereka yang ingin menabung untuk
menunaikan ibadah haji.
Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia.
Berdiri tahun 1991, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)
dan pemerintah serta dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Bank ini sempat terimbas oleh
krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa
sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada
bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba.
Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah di atur dalam Undangundang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tahun 1992
tentang Perbankan. Hingga tahun 2007 terdapat 6 institusi bank syariah
Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 25
bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia
72
(Persero), Bank Rakyat Indonesia (Persero)dan Bank swasta nasional: Bank
Tabungan Pensiunan Nasional (Tbk). Sistem syariah juga telah digunakan
oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah berkembang 139 BPR Syariah.
(www.wikipedia.com)
B. Temuan dan Pembahasan
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan bantuan
Microsoft Excel 2003, SPSS 17.0 dan Software Amos 18 untuk dapat
mengolah data dan memperoleh hasil dari variabel-variabel yang diteliti, yaitu
terdiri dari variabel eksogen yaitu Inflasi, Sartifikat Wadiah Bank Indonesia
(SBIS) atau Sartifikat Bank Syariah Indonesia (SBIS) dan Pasar Uang
Antarbank Syariah. Sedangkan variabel endogen yaitu Financing to Deposit
Ratio (FDR) dan Return on Assets (ROA). Penjelasan lebih lanjut sebagai
berikut.
1. Analisis Deskriptif
a. Analisis Deskriptif Variabel Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara
umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi
masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi
barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya
nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu
peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga
73
yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap
terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus
dan saling pengaruh-mempengaruhi. Inflasi dapat digolongkan menjadi
empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi.
Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka
10% setahun; inflasi sedang antara 10% -30% setahun; berat antara
30% - 100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi
apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Data Inflasi yang digunakan adalah tingkat Inflasi yang terjadi di
Indonesia periode November 2005 – Oktober 2010. Data tersebut
diperoleh dari statistik moneter pada situs www.bi.go.id.
Tabel 4.1
Data Inflasi (Dalam Desimal)
Bulan
2004 2005
0,0061
Jan
0,006
Feb
0,0073
Mar
0,0068
Apr
0,0062
May
0,0062
Jun
0,0065
Jul
0,0069
Aug
0,0076
Sep
0,0149
Oct
0,0052 0,0153
Nov
0,0053 0,0143
Dec
(Sumber: data diolah)
2006
0,0142
0,0149
0,0131
0,0128
0,013
0,0129
0,0126
0,0124
0,0121
0,0052
0,0044
0,0055
Tahun
2007
0,0052
0,0053
0,0054
0,0058
0,005
0,0048
0,0051
0,0054
0,0058
0,0057
0,0056
0,0055
2008
0,0061
0,0062
0,0068
0,0075
0,0087
0,0092
0,0099
0,0099
0,0101
0,0098
0,0097
0,0092
2009
0,0076
0,0072
0,0066
0,0061
0,005
0,003
0,0023
0,0023
0,0024
0,0021
0,002
0,0023
2010
0,0031
0,0032
0,0029
0,0033
0,0035
0,0042
0,00567
0,00644
0,0058
0,00567
-
74
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut
dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut :
Gambar 4.1
Grafik Inflasi
Inflasi
0,0180
0,0160
0,0140
0,0120
0,0100
0,0080
0,0060
0,0040
0,0020
0,0000
Nov-04
Mar-05
Jul-05
Nop-05
Mar-06
Jul-06
Nop-06
Mar-07
Jul-07
Nop-07
Mar-08
Jul-08
Nop-08
Mar-09
Jul-09
Nop-09
Mar-10
Jul-10
Inflasi
(Sumber: data diolah)
Tabel 4.1 menunjukkan perkembangan tingkat Inflasi di Indonesia
periode November 2004 – Oktober 2010. Pada masa penelitian ini
tingkat inflasi
terendah terjadi pada bulan November 2009 yaitu
sebesar 0.002 atau 0.2%, inflasi pada tahun 2009 terbilang rendah,
terjadinya inflasi ini didukung faktor internal yaitu pemerintah tidak
menaikan tarif dasar listrik dan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dan
diperkirakan laju pertumbuhan ekonomi pada sektor rill meningkat
pada tahun 2009 yang mengakibatkan harga makanan tidak mengalami
kenaikan sehingga berimbas pada stabilnya daya beli masyrakat,
dengan setabilnya daya beli masyarakat perbankan lebih banyak
75
menghimpun uang dari masyarakat dan stabilnya peyarun dan untuk
masyarkat yang membutuhkannya.
Sedangkan tingkat inflasi tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2005
yaitu sebesar 0,015 atau 0,15% jika diperhatikan pada grafik 4.1 infalsi
meningakat pada Priode Juli 2005 sampai akhir tahun mengalami
peningkatan yang paling tinggi, kenaikan ini disebabkan karena
naiknya harga bensin dari Rp 2.200an ke angka Rp 4.000an
pengeluaran
masyarakat
otomatis
menjadi
meningakat
40%
(detik.com), meningakatnya harga bensin berdapak pada terganggunya
biaya produksi menjadi meningkat sehingga mengakibatkan kenaikan
pada harga makan dan berimbas pada daya beli masyarakat yang
melemah, daya beli masyarakat yang merelemah mengakibatkan porsi
saving lebih kecil dibandingkan dengan porsi konsumsi.
b. Analisis Deskriptif Variabel Sartifikat Wadiah Bank Indonesia
(SWBI) atau Sartifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Menurut (Wirdyaningsih dkk, 2005:149) SWBI merupakan
insrumen kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan
kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah.
SBIS adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka
waktu pendek dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia. SBIS diterbitkan sebagai salah satu insrumen oprasi pasar
terbuka dalam rangka pengendalian moneter
yang dilakukan
76
berdasarkan prinsip syarih dengan mengunakan akad ju’alah (Bank
Indonesia 2008).
SBIS merupakan salah satu mekanisme yang digunakan oleh bank
Indonesia dalam mengatur likuditas Bank Umum (BUS) dan Unit
Usaha Syariah (UUS) dalam menyediakan media untuk mengelola
likuditas bank dengan mengunakan akad ju’alah.
Data posisi SBIS yang digunakan adalah perkembangan posisi
SBIS 1 bulan periode November 2004 – Oktober 2010. Data tersebut
diperoleh dari situs www.bi.go.id.
Tabel 4.2
Data SWBI atau SBIS (Dalam Juta Rupiah)
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
2004
447000
1094000
2005
2006
Tahun
2007
883000
628000
487000
449000
413000
538000
439000
360000
507000
317000
532000
2395000
2156000
1696000
1148000
1171000
1092000
1188000
871500
1117000
1046000
1190000
1547000
2358000
2663000
3002000
3325000
3166000
2801000
2036000
1555000
982000
1311000
1761000
1644000
1761000
2008
2009
2010
3189000
3717000
2135000
2496000
3119000
3079000
2557000
1820000
413000
453000
1063000
2824000
3488000
3192000
2704000
2058000
2539000
1819000
1253000
2321000
2635000
2835000
2142000
3076000
3373000
2972000
2425000
3027000
1656000
2734000
2576000
1882000
2310000
2783000
-
(Sumber: data diolah)
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat
kita lihat melalui grafik sebagai berikut :
77
Gambar 4.2
Grafik SBIS
SBIS
4000000
3500000
3000000
2500000
2000000
1500000
SBIS
1000000
500000
Nov-04
Mar-05
Jul-05
Nop-05
Mar-06
Jul-06
Nop-06
Mar-07
Jul-07
Nop-07
Mar-08
Jul-08
Nop-08
Mar-09
Jul-09
Nop-09
Mar-10
Jul-10
0
(Sumber: data diolah)
Tabel 4.2 menunjukkan fluktuasi Sartifikat Wadiah Bank Indonesia
(SBIS) pada periode November 2004 – Maret 2008. Posisi SWBI
mulai melemah sejak Januari 2005 terendah terjadi pada bulan Oktober
2005 yaitu sebesar Rp. 317.000 Juta, jika dilihat nominal Financing to
Deposit (FDR) pada Priode Oktober 2005 adalah sebesar 111,31%.
Artinya, jumlah FDR diatas 80% yaitu posisi ideal yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia (BI) tetapi hal tersebut tidak medorong posisi
SWBI meningkat karena Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha
Syariah (UUS) menempatkan dananya tersebut pada pembiayaan
tercatat porsi pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah pada
bulan Oktober 2005 sebesar Rp 15.121.483 Juta, jumlah pembiayaan
meningkat dari bulan sebelumnya yaitu sebesar Rp 14.753.299 Juta
(Setatistik Perbankan Syariah, 2005). posisi tersebut disebabkan
78
karena sektor rill mengalami peningkatan yang mengakibatkan
perbankan lebih memilih menyalurkan dana tersebut pada sektor
pembiayaan walaupun risiko yang akan dihadapi cukup besar
dibanding penempatan pada bonus SWBI tetapi keutungan yang
didapat lebih besar dibandingkan dengan bonus SWBI begitu juga
sebaliknya.
Selanjutnya SWBI cenderung bergerak fluktuasi dari
bulan ke bulan, tingkat SWBI tertinggi terjadi pada Januari 2008 yaitu
sebesar 3.189.000 Juta, jika pada Priode Febuari 2007 mengalami
penikatan maka hal tersebut dapat diprediksikan bahwa sektor rill yaitu
bagi hasil kurang memberikan keuntungan dan risikonya terlalu besar
terhadap perbankan sehingga Bank Umum Syariah (BUS) dan (Unit
Usaha Syariah) lebih baik menepatkan dananya pada insurumen
likuditas antara lain SWBI.
Pada bulan April 2008 Bank Indonesia menerbitkan instrumen
likuiditas untuk bank syariah yaitu Sertifikat Bank Indonesia Syariah
sebagaimana Peraturan Bank Indonesia No. 10/11/PBI/2008 tentang
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS). Pada periode April 2008 –
Oktober 2010, posisi SBIS terendah terjadi pada September 2008 yaitu
sebesar Rp. 413.000 Juta, pada Priode Septembar 2008 Financing to
Deposit
(FDR)
mengalami
peningakatan
yang
yaitu
Priode
sebelumnya 111,3 % menurun dari bulan sebelumnya 112,2 %.
Artinnya, bank syariah lebih banyak menempatkan dananya pada
pembiayaan, tercataat pada Priode sebelumnya Rp 36.571.761 Juta
79
meningkat menjadi 37.680.587 Juta. Artinya, perbankan syariah lebih
banyak menempatkan dananya pada pembiayaan ini diperkirakan
pertumbuhan ekonomi pada sektor rill meningakat (Setatistik
Perbankan Indonesia, 2008). posisi SBIS cenderung bergerak fluktuatif
dari bulan ke bulan, SBIS tertinggi terjadi pada Febuari 2008 yaitu
sebesar Rp. 3.717.000 juta, pada kondisi ini SBIS lebih menarik
dibandigkan menepatkan dananya pada sektor rill.
c. Analisis Deskriptif Variabel Pasar Uang Antarbank Syariah
(PUAS)
Menurut Pasal 1 butir (4) Peraturan Bank Indonesia No.
2/8/PBI/2000, yang telah diubah menjadi No. 7/26/PBI/2005
pengertian PUAS adalah kegiatan investasi jangka pendek dalam
rupiah
antarpeserta
pasar
berdasarkan
prinsip
Mudharabah.
Sedangkan penegrtian mudharabah pada Pasal 1 butir (5) PBI tersebut
adalah ”perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana untuk
melakukan kegiatan usaha guna memperoleh keuntungan, dan
keuntungan tersebut akan dibagikan kepada kedua belah pihak
berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. (Wirdyaningsih
dkk, 2005:142). Data PUAS yang digunakan adalah volume transaksi
antar bank berdasarkan prinsip syaria yang digunakan periode yaitu
November 2004 – Oktober 2010. Data tersebut diperoleh dari situs
www.bi.go.id.
80
Tabel 4.3
Data PUAS (Dalam Juta Rupiah)
Bulan
Tahun
2004
-
2005
4000
Jan
84500
Feb
35000
Mar
166600
Apr
101500
May
82000
Jun
78100
Jul
121850
Aug
450600
Sep
577200
Oct
50000 419500
Nov
24000 677950
Dec
(Sumber: data diolah)
2006
578800
724700
845250
1026500
1487700
1556850
108800
1506500
2288900
700800
699800
761600
2007
764450
728500
680800
375800
806600
651900
780500
933800
1062600
794400
1139300
1168800
2008
1470500
603400
651000
1749000
1962800
1506200
2391400
3419700
3811500
2401000
3197000
3828000
2009
2782000
3016000
3538000
4031000
3127000
2809000
1793000
2854000
2518000
2479000
2582000
2889000
2010
1570000
3074000
3619000
3540000
2049000
2053000
2126000
2994000
3394000
5750000
-
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut dapat
kita lihat melalui grafik sebagai berikut :
Gambar 4.3
Grafik PUAS
PUAS
7000000
6000000
5000000
4000000
3000000
PUAS
2000000
0
Nov-04
Mar-05
Jul-05
Nop-…
Mar-06
Jul-06
Nop-…
Mar-07
Jul-07
Nop-…
Mar-08
Jul-08
Nop-…
Mar-09
Jul-09
Nop-…
Mar-10
Jul-10
1000000
Pada tabel 4.3 jika dilihat secara keseluruan terjadi peningkatan
dari tahun ketahun yang artinya perbakan syariah menempatkan dana
81
yang mengagur untuk mendapatkn keuntungan atas penempatan
dananya pada insumen pasar uang syriah dimana akad yang digunakan
mengunakan akad mudharabah sehingga lebih aman dan memberi
keutungan bagi bank.
d. Analisis Deskriptif Financing to Deposit Ratio (FDR)
FDR disebut juga rasio pembiayaan terhadap total dana pihak ketiga
yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam
bentuk pembiayaan. Penyaluran pembiayaan merupakan kegiatan utama
bank, oleh karena itu sumber pendapatan utama bank berasal dari kegiatan
ini. Semakin besarnya penyaluran dana dalam bentuk kredit relatif bila
dibandingkan dengan deposit atau simpanan masyarakat pada suatu bank
membawa konsekuensi semakin besarnya risiko yang ditanggung oleh
bank yang bersangkutan. Sehingga FDR dapat dirumuskan dengan :
FDR = Pembiayaan yang disalurkan
Total Dana Pihak Ketiga
Data
Financing
to
Deposit
Ratio
yang
digunakan
adalah
perkembangan FDR pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
yaitu periode November 2004 – Oktober 2010. Data tersebut diperoleh
dari situs www.bi.go.id.
82
Bulan
2004
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
1,040
Nov
0,969
Dec
(Sumber: data diolah)
Tabel 4.4
Data FDR (Dalam Desimal)
Tahun
2005
2006
2007
2008
0,981
0,994
0,986
0,979
1,032
1,033
0,972
0,976
1,057
1,070
0,951
1,003
1,054
1,092
0,970
0,999
1,091
1,097
0,971
1,019
1,068
1,105
1,011
1,032
1,085
1,122
1,020
1,070
1,085
1,113
1,057
1,130
1,104
1,094
1,037
1,122
1,113
1,065
1,027
1,117
1,109
1,054
1,042
1,119
0,978
0,989
0,998
1,037
2009
1,000
1,005
1,033
1,014
1,011
1,002
0,996
0,997
0,981
0,973
0,955
0,897
2010
0,887
0,910
0,951
0,956
0,967
0,961
0,953
0,989
0,954
0,948
-
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat
melalui grafik sebagai berikut :
Gambar 4.4
Grafik FDR
FDR
1,200
1,000
0,800
0,600
FDR
0,400
0,200
Jul-10
Mar-10
Nop-09
Jul-09
Mar-09
Nop-08
Jul-08
Mar-08
Nop-07
Jul-07
Mar-07
Nop-06
Jul-06
Mar-06
Nop-05
Jul-05
Mar-05
Nov-04
0,000
(Sumber: data diolah)
83
Perkembangan Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Umum
Syariah (BUS) Dan Unit Usaha Syariah (UUS) Indonesia periode
November 2004 - Oktober 2010. Pada masa penelitian ini jumlah FDR
terendah terjadi pada bulan Januari 2010 yaitu sebesar 89,1 % atau 0,891,
hal ini disebabkan karena total pembiayaan yang disalurkan lebih kecil
dibandingkan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terhimpuan, untuk
total pembiayaan adalah sebesar Rp 47.140 Milyar. Sementara DPK yang
terhimpun dari nasabah sebesar Rp 53.163 Milyar. Artinya, pada kondisi
ini BUS dan UUS lebih berhati-hati menempatkan dananya pada sektor rill
dan lebih tertarik untuk menempakan dananya pada insumen likuditas
salah satunya adalah SBIS, dengan DPK sebesar Rp 53.163 Milyar BUS
dan UUS menempatkan dana pada SBIS sebesar Rp 3.373.000 Juta
meningkat dari Priode sebelumnya yaitu Rp 3.076.000 Juta (Setatistik
Bank Indonesia, 2010). Sedangkan jumlah FDR tertinggi terjadi pada
bulan Agustus 2008 yaitu sebesar 113% atau 1,130. Hal ini terjadi karena
total pembiayaan yang disalurkan lebih besar dari pada DPK yang
terhimpun, untuk total pembiayaan adalah sebesar Rp 38.528.984 Juta.
Sementara DPK yang terhimpun dari nasabah sebesar Rp 34.422.283 Juta.
Artinya, BUS dan UUS lebih tertarik penyaluaran pada sektor rill, pada
kondisi ini terbukti posisi SBIS yaitu Rp 1.820.000 Juta, lebih besar
dibandingkan Priode sebelumnya yaitu sebesar 2.557.000 Juta (Setatistik
Perbankan, 2008). Secara keseluruhan pergerakan FDR bergerak pada
84
kisaran 90% samapai dengan 100% ini berarti bank syariah masih berhatihati menjaga likuditasnya selain itu agar untuk menarik nasabah.
c. Analisis Deskriptif Return On Assets (ROA)
ROA adalah salah satu metode penilaian yang digunakan untuk
mengukur tingkat rentabilitas sebuah bank, yaitu tingkat keuntungan yang
dicapai oleh sebuah bank dengan seluruh dana yang ada di bank. return on
assets membandingkan laba terhadap total aset, yang dapat dicari dengan
rumus sebagai berikut :
Data digunakan adalah perkembangan Return On Assets (ROA) yang
terjadi pada Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS)
periode November 2004 -Oktober 2010. Data tersebut diperoleh dari situs
www.bi.go.id.
85
Tabel 4.5
Data ROA (Dalam Decimal)
Tahun
Bulan
2004
2005
2006
2007
2008
0,0099 0,0106 0,0169 0,0175
Jan
0,0112 0,0140 0,0168 0,0185
Feb
0,0121 0,0132 0,0175 0,0183
Mar
0,0097 0,0132 0,0175 0,0183
Apr
0,0081 0,0143 0,0176 0,0182
May
0,0014 0,0151 0,0186 0,0181
Jun
0,0035 0,0147 0,0188 0,0182
Jul
0,0053 0,0138 0,0190 0,0176
Aug
0,0066 0,0141 0,0185 0,0184
Sep
0,0075 0,0138 0,0193 0,0212
Oct
0,0098 0,0085 0,0144 0,0186 0,0223
Nov
0,0082 0,0078 0,0155 0,0178 0,0142
Dec
(Sumber: data diolah)
2009
0,0156
0,0172
0,0244
0,0229
0,0222
0,0216
0,0212
0,0208
0,0138
0,0146
0,0148
0,0148
2010
0,0165
0,0176
0,0213
0,0206
0,0125
0,0166
0,0167
0,0164
0,0180
0,0185
-
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat
melalui grafik sebagai berikut :
Gambar 4.5
Grafik ROA
ROA
0,0300
0,0250
0,0200
0,0150
0,0100
ROA
0,0050
Nov-04
Mar-05
Jul-05
Nop-05
Mar-06
Jul-06
Nop-06
Mar-07
Jul-07
Nop-07
Mar-08
Jul-08
Nop-08
Mar-09
Jul-09
Nop-09
Mar-10
Jul-10
0,0000
(Sumber: data diolah)
86
Perkembangan Return On Assets (ROA) pada Bank Umum Syariah
(BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) periode Oktober 2004 - Oktober
2010. Pada masa penelitian ini ROA semakin menurun sejak Priode April
2005 sampai Priode Juni 2005 yaitu sebesar 0,0014 atau 0,14% hal ini
disebabkan karena pada Priode 2005 terjadi krisis ekonomi sehingga
sektor
pembankan
mengalami
gocangan
dan
berdampak
pada
profitabilitas perbankan sedangkan ROA tertinggi terjadi pada Priode
April 2009 yaitu 0,0229 atau 2,29 % ini sebabkan karna laba yang
didapatkan lebih besar daripada total assets.
2. Analisis Jalur Pengaruh Inflasi, Sartifikat Wadiah Bank Indonesia
(SBIS) dan Pasar Uang Atarbank Syariah(PUAS) Terhadap Financing
to Deposit Ratio (FDR) Serta Implikasinya Kepada Return On Assets
(ROA) Bank Syariah di Indonesia.
Analisis jalur ini dibagi menjadi dua substruktur. Substruktur yang
pertama menganalisis pengaruh Inflasi, SBIS dan PUAS sebagai variabel
eksogen terhadap FDR sebagai variabel endogen. Substruktur yang kedua
menganalisis pengaruh Inflasi, SBIS, PUAS dan FDR sebagai variabel
eksogen terhadap ROA sebagai variabel endogen. Dari hasil perhitungan
dengan menggunakan AMOS 18, maka dapat digambarkan diagram jalur
sebagai berikut :
87
Gambar 4.6
Diagram Jalur dengan Hasil Perhitungan
.00
e1
Inflasi
.00
e2
-.29
.45
-.35
.75
-.65
SBIS
-.20
.13
.45
.55 FDR
.50
.41
ROA
.40
PUAS
(Sumber : Output AMOS 18)
a. Analisis Korelasi
Korelasi antara Inflasi, SBIS dan PUAS. Dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut :
1) Analsis Korelasi
Tabel 4.6
Hasil Korelasi Antara Variabel Eksongen
Korelasi Antar Variabel
Estimasi
Probabilitas
Inflasi
<-->
PUAS
-0,196
0,104
PUAS
Inflasi
< - ->
< - ->
SBIS
SBIS
0,426
-0,354
0,000
0,005
(Sumber : Output AMOS 18)
Untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai
berikut:
0 – 0,25
: Korelasi sangat lemah (dianggap tidak ada)
88
> 0,25 – 0,5
: Korelasi cukup kuat
> 0,5 – 0,75
: Korelasi kuat
> 0,75 – 1
: Korelasi sangat kuat
Untuk pengujian lebih lanjut, maka diajukan hipotesis:
Ho
:Tidak ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara dua
variabel.
Ha
:Ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara dua
variabel
Pengujian berdasarkan signifikan:
•
Jika probabilitas penelitian < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha
diterima.
•
Jika probabilitas penelitian > 0,05 maka H0 diterima dan Ha
ditolak.
(a) Korelasi Inflasi dengan Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS)
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara
variabel Inflasi dan SBIS sebesar -0,354 mempunyai maksud
hubungan antara variabel Inflasi dan SBIS cukup kuat dan
berlawanan. berlawanan artinya apabila terjadi kenaikan
Inflasi, maka nilai SBIS akan mengalami penurunan, dan
sebaliknya.
Korelasi
dua
variabel
tersebut
mempunyai
probabilitas sebesar 0,005 < 0,05 maka telah cukup bukti untuk
menolak Ho dan menerima Ha sehingga korelasi signifikan.
89
(b) Korelasi Sertifikat Bank Indonesia Syarih (SBIS) dengan
PUAS
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara
variabel SBIS dan PUAS sebesar 0,426 mempunyai maksud
hubungan antara variabel SBIS dan PUAS sangat kuat.
Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar
0,000 < 0,05 maka telah cukup bukti untuk menolak Ho dan
menerima Ha sehingga korelasi signifikan.
(c) Korelasi Inflasi dengan PUAS
Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara
variabel Inflasi dan PUAS sebesar -0,196 mempunyai maksud
hubungan cukup
kuat.
Korelasi dua
variabel tersebut
mempunyai probabilitas sebesar 0,104 > 0,05 maka tidak cukup
bukti untuk menolak Ho dan menerima Ha sehingga korelasi
tidak signifikan.
2) Analsis Jalur Pengaruh Inflasi, Sartifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) dan Pasar Uang Antarbnk Syariah (PUAS)
terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)
Untuk gambar hasil analisis diagram jalur sub struktur pertama
adalah sebagai berikut :
90
Gambar 4.7
Diagram Jalur Substruktur I
Inflasi
.00
e1
.45
-.35
.72
-.63
SBIS
-.20
FDR
.13
.45
PUAS
(Sumber : Output AMOS 18)
Analisis jalur sub struktur yang pertama adalah menganalisis
pengaruh Inflasi, SBIS dan PUAS terhadap FDR baik secara
simultan maupun secara parsial. Untuk melihat besarnya pengaruh
secara simultan dapat terlihat pada kolom estimasi pada tabel
Square Multiple Correlation. Besarnya pengaruh antara variabel
secara individu dapat terlihat dari besarnya angka estimasi pada
tabel Standardized Regression Weight. Sedangkan untuk melihat
signifikansi pengaruh antar variabel dapat terlihat pada angka di
tabel Regression Weight kolom Probability. (Lihat Lampiran).
Adapun hasil perhitungan dengan menggunakan Software AMOS
18 adalah sebagai berikut :
91
Tabel 4.7
Pengaruh antara Inflasi, SBIS dan PUAS terhadap FDR
Pengaruh antar variable
Estimasi Probabilitas R Square
Inflasi
-->
FDR
0,448
0,000
SBIS
-->
FDR
-0,630
0,000
0,724
PUAS
-->
FDR
0,126
0,067
(Sumber : data diolah)
Untuk melihat pengaruh Inflasi, SBIS dan PUAS secara
gabungan terhadap FDR, kita dapat melihat hasil perhitungan pada
tabel 4.7 khususnya angka R square.
Besarnya angka R square (r2) adalah 0,764. Angka tersebut
digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel Inflasi, SBIS
dan PUAS secara gabungan terhadap FDR dengan cara menghitung
koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus berikut:
KD = r2 x 100%
KD = 0,724 x 100%
KD = 72,4%
Angka tersebut mempunyai maksud bahwa pengaruh variabel
Inflasi, SBIS dan PUAS terhadap FDR secara gabungan adalah
72,4%,
sedangkan
sisanya
sebesar
27,6%
(100%-72,4%)
dipengaruhi oleh faktor lain. Dengan kata lain, variabilitas
pengaruh yang dapat diterangkan dengan menggunakan variabel
Inflasi, SBIS dan PUAS adalah sebesar 72,4%, sementara pengaruh
yang disebabkan oleh variabel-variebel lain di luar model ini
adalah sebesar 27,6%.
92
Untuk melihat besarnya pengaruh inflasi, SBIS dan PUAS
terhadap FDR secara parsial, digunakan kolom estimasi pada tabel
4.8, sedangkan untuk melihat signifikansi digunakan kolom
probabilitas.
1) Pengaruh antara variabel Inflasi dengan FDR
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel
Inflasi dengan FDR, dapat melakukan langkah-langkah analisis
sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho
: Tidak ada hubungan linier antara inflasi dengan
FDR.
Ha
: Ada hubungan linier antara inflasi dengan FDR.
Dengan kriteria sebagai berikut:
•
Jika probabilitas penelitian < 0,05 maka H0 ditolak
dan Ha diterima.
•
Jika probabilitas penelitian > 0,05 maka H0 diterima
dan Ha ditolak.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 > 0,05. Maka
telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara variabel inflasi dengan
FDR. Besarnya pengaruh inflasi dengan FDR sebesar 0,405
atau 40,5%.
93
Inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap FDR. Artinya, apabila inflasi mengalami kenaikan,
maka jumlah FDR khususnya pembiayaan akan mengalami
kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono (2009) bahwa
inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan. Setiap
kenaikan pada inflasi akan meningkatkan pembiayaan. Bila
inflasi naik, maka konsep perbankan syariah adalah bagi hasil.
Dengan konsep
ini,
sesungguhnya bank dan nasabah
melakukan pengikatan dalam suatu ikatan investasi bersama,
dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama, sehingga
konsep ini jelas lebih adil dan memberi ketenangan bagi
nasabah.
Sedangkan dalam kondisi inflasi turun, maka bank syariah
kurang menjadi pilihan, karena nasabah biasanya lebih
memilih bank konvensional, sebab pendapatan atau laba
perusahaan akan cendrung tinggi. Namun, sesungguhnya
konsep berbagi yang diterapkan bank syariah lebih adil dan
menguntungkan kedua belah pihak dalam berbagai kondisi.
2) Pengaruh antara Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)
94
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara SBIS
terhadap FDR, dapat melakukan langkah-langkah analisis
sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho : Tidak ada hubungan linier antara SBIS terhadap
FDR.
Ha :
Ada hubungan linier antara SBIS terhadap FDR.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 > 0,05. Maka
telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara SBIS terhadap FDR.
Besarnya pengaruh SBIS terhadap FDR sebesar atau -0,630
atau -6,3%.
SBIS memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan
terhadap penyaluran FDR. Artinya, apabila terjadi kenaikan
SBIS, maka FDR akan mengalami penurunan, begitu juga
sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh
Muhammad (2005:399), SWBI atau SBIS dapat dijadiakan
sarana penitipan dana jngka pendek khususnya bagi bank yang
mengalami kelebihan likuditas. Dan sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Indah Nurfitri Adi (2006) bahwa SBIS
memiliki
pengaruh
negatif
dan
signifikan.
Dalam
perkembangannya, perbankan syariah kesuliatan untuk segera
menyalurkan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam bentuk
95
pembiayaan
karena
bank
syariah
sebagaimana
bank
konvensional harus berhati-hati untuk menyalurkan DPK
melalui pembiayaan, sehingga dana yang dimilikinya lebih
mudah jika disalurkan dalam bentuk pembiayaan. Dalam hal
ini, return yang lebih pasti yaitu SBIS. Dapat disimpulkan
bahwa meningkatnya posisi SBIS akan menurunkan tingkat
FDR.
3) Pengaruh antara PUAS dengan Financing to Deposit Ratio
(FDR)
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel
PUAS dengan FDR, dapat melakukan langkah-langkah analisis
sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho
: Tidak ada hubungan linier antara PUAS dengan
FDR.
Ha
: Ada hubungan linier antara PUAS dengan FDR.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,067 > 0,05. Maka
tidak cukup bukti untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, tidak ada hubungan linier antara variabel PUAS
dengan FDR. Besarnya pengaruh PUAS dengan FDR sebesar 0,126 atau 12,6 %.
96
PUAS memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan
terhadap FDR Artinya, apabila terjadi kenaikan PUAS, maka
jumlah FDR akan menurun, begitu juga sebaliknya.
Gambar 4.8
Diagram Jalur Substruktur II
Inflasi
.00
e2
-.29
-.35
.72
SBIS
--.20
.55
FDR
.41
ROA
.43
.40
PUAS
(Sumber : Output AMOS 18)
Analisis jalur sub struktur yang kedua adalah menganalisis
pengaruh inflasi, SBIS, PUAS dan Financing to Deposit Ratio
(FDR) pada Return on Assets (ROA) baik secara simultan
maupun secara parsial. Untuk melihat besarnya pengaruh secara
simultan dapat terlihat pada kolom estimasi pada tabel Square
Multiple Correlation. Besarnya pengaruh antara variabel secara
individu dapat terlihat dari besarnya angka estimasi pada tabel
Standardized Regression Weight. Sedangkan untuk melihat
signifikansi pengaruh antar variabel dapat terlihat pada angka di
97
tabel Regression Weight kolom Probability. Untuk melihat
besarnya pengaruh Ketiga tabel tersebut dapat dilihat pada
lampiran.
Adapun
Ringkasan
hasil
perhitungan
dengan
menggunakan Software AMOS 18 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8
Pengaruh antara Inflasi, SBIS, PUAS dan FDR pada ROA
Pengaruh antar variable
Estimasi
Probabilitas R Square
Inflasi
-->
ROA
-0,288
0,012
SBIS
-->
ROA
0,548
0,000
0,502
PUAS
-->
ROA
0,405
0,000
FDR
-->
ROA
0,411
0,010
(Sumber : data diolah)
Untuk melihat pengaruh variabel inflasi, SBIS, PUAS dan
FDR pada ROA secara gabungan dapat dilihat pada tabel 4.8
kolom R Square.
Besarnya angka R square (r2) adalah sebesar 0,502 Angka
tersebut menjelaskan bahwa pengaruh inflasi, SBIS, PUAS dan
FDR pada ROA secara gabungan adalah 50,2% (0,502 x 100%),
sedangkan sisanya sebesar 49,8% (100% - 50,2%) dipengaruhi
oleh faktor lain. Dengan kata lain, variabilitas yang dapat
diterangkan dengan menggunakan variabel inflasi, SBIS, PUAS
dan FDR pada ROA sebesar 50,2%, sementara pengaruh 49,8%
disebabkan oleh variabel-variabel lain di luar model ini.
Untuk melihat besarnya pengaruh inflasi, SBIS, PUAS dan
FDR pada ROA secara parsial, digunakan kolom estimasi pada
tabel 4.9, sedangkan untuk melihat signifikansi digunakan kolom
probabilitas.
98
1) Pengaruh antara variabel Inflasi dengan Return on Assets
(ROA).
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara
variabel PUAS dengan ROA, dapat melakukan langkahlangkah analisis sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho : Tidak ada hubungan linier antara inflasi dengan ROA.
Ha : Ada hubungan linier antara inflasi dengan ROA.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,012 < 0,05.
Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara variabel inflasi dengan
ROA. Besarnya pengaruh inflasi dengan ROA sebesar -0,
288 atau -28,8%.
Inflasi memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan
pada ROA. Artinya, apabila terjadi kenaikan inflasi, maka
ROA akan mengalami penurunan, begitu juga sebaliknya.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Epos,
Mardika (2010) bahwa inflasi memiliki pengaruh yang
negatif dan signifikan terhadap ROA. Menyatakan bahwa
inflasi
merupakan
variabel
yang
signifikan
dalam
mempengaruhi ROA. Inflasi mempengaruhi profit margin
99
perbankan, ketika inflasi naik secara terus menerus nasabah
secara bersama-sama menarik uang mereka pada bank.
2) Pengaruh antara variabel Sartifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) dengan Return on Assets (ROA).
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara
variabel SBIS dengan ROA dapat melakukan langkahlangkah analisis sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho : Tidak ada hubungan linier SBIS dengan ROA.
Ha : Ada hubungan linier antara SBIS dengan ROA.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 < 0,05.
Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara variabel nilai tukar rupiah
dengan ROA. Besarnya pengaruh SBIS dengan ROA sebesar
0,548 atau 54,8%.
SBIS memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan
pada ROA. Artinya, apabila terjadi kenaikan SBIS, maka
ROA akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal
ini sesuai dengan teori menurut Tomas Suyanto, dkk
(1997:123) Aktiva produktif adalah semua aktiva dalam
rupiah maupun dalam valuta asing yang dimiliki oleh bank
dengan maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai
dengan fungsinya meliputi kredit yang diberikan, surat-surat
100
berharga dan penempatan dana pada bank lain dalam negri
maupun luar negri.
3) Pengaruh antara variabel PUAS dengan Return on Assets
(ROA).
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara
variabel PUAS dengan ROA, dapat melakukan langkahlangkah analisis sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho: Tidak ada hubungan linier antara PUAS dengan ROA.
Ha: Ada hubungan linier antara PUAS dengan ROA.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 < 0,05.
Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara variabel PUAS dengan
ROA. Besarnya pengaruh PUAS dengan ROA sebesar 0,405
atau 40,5%.
Bagi hasil PUAS memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan pada ROA. Artinya, apabila terjadi kenaikan bagi
hasil pada deposit maka ROA juga menglami peningkatan,
begitu juga sebaliknya. Ini sesuai dengan teori Muhammad
(2005:392) piranti yang dalam PUAS adalah Sertifikat IMA.
Serttifikat ini digunakan sebagai sarana investasi bagi bank
yang kelebihan dana untuk mendapat keuntungan. Artinya
101
ketika bank kelebihan dana bank memilih pasar uang untuk
mendapatkan keuntungan atas ivestasinya.
4) Pengaruh antara variabel Financing to Deposit Ratio (FDR)
dengan Return on Assets (ROA).
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel
FDR dengan ROA, dapat melakukan langkah-langkah
analisis sebagai berikut:
Ketentuan Hipotesis:
Ho : Tidak ada hubungan linier antara FDR dengan ROA.
Ha : Ada hubungan linier antara FDR dengan ROA.
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,010 < 0,05.
Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha.
Artinya, ada hubungan linier antara variabel FDR dengan
ROA. Besarnya pengaruh FDR dengan ROA sebesar 0,411
atau 41,1%.
FDR memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap ROA. Artinya, apabila terjadi kenaikan FDR, maka
ROA juga akan mengalami kenaikan. penelitian yang
dilakukan oleh Anisyah Harahap (2006) dan Adi Stiawan
(2009) menyatakan bahwa penyaluran kredit lebih besar dari
dana yang disimpan oleh nasabah, sehingga dengan hal ini
bank disatu sisi akan memperoleh bagi hasil yang cukup
besar dari debitur daripada bagi hasil yang diberikan kepada
102
nasabah yang menyimpan dananya di bank syariah. Namun
tentunya ini juga mengandung risiko kredit yang cukup besar
karena semakin besarnya dana pembiayaan yang disalurkan.
Rangkuman seluruh pengujian pengaruh antar variabel
eksogen dan endogen dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4.9
Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dengan Endogen
Kesimpulan
Pengaruh Variabel
Estimasi Probabilitas
0,405
0,000
Signifikan
Inflasi
FDR
-0,630
0,000
Signifikan
SBIS
FDR
-0,126
0,067
Tidak Signifikan
PUAS
FDR
0,411
0,010
Signifikan
FDR
ROA
-0,288
0,012
Signifikan
Inflasi
ROA
0,548
0,000
Signifikan
SBIS
ROA
0,405
0,000
Signifikan
PUAS
ROA
(Sumber : data diolah)
d. Uji Kesesuain Model (Goodness of Fit)
Setelah menguji dengan Amos 18 dengan melihat tabel estimasi, maka
diketahui varibel yang memiliki hubungan yang sangat kecil atau
dianggap tidak berhubungan dan memiliki probabilitas yang tidak
signifikan langkah selanjutnya adalah menguji dengan kesesuain
model dengan Goodness of Fit untuk mengatuhi apakah model yang
akan di uji sudah sesuai atau belum sesuai dengan model yang
digunakan, adalah sebagi berikut :
103
Tabel 4.10
Hasil Uji Goodness of Fit Pengaruh Inflasi, SBIS dan PUAS terhadap Financing to
Deposit Ratio (FDR) serta implikasinya kepada Return On Assets (ROA)
Laporan Statistik
Nilai yang Direkomendasikan
Imam Ghozali (2008)
Cut of value
Hasil
Keterangan
Absolut Fit
Probabilitas χ
χ
2
2
Tidak signifikan (p > 0.05)
reasonable
<2
- Ukuran fit
- good fit
< 0.1
- very good fit
< 0.05
RMSEA
GFI
- outstanding fit
< 0.01
0.05
≤x≤
Cocok
- Ukuran yang
≤5
/df
Model tidak cocok
0.08
- reasonable fit
> 0.9
good fit
AGFI
≥ 0.9
good fit
TLI
≥ 0.9
good fit
NFI
≥ 0.9
good fit
PNFI
0-1.0
lebih besar lebih baik
PGFI
0-1.0
lebih besar lebih baik
Incremental Fit
Parsimonious Fit
(Sumber : Imam Ghozali, 2008)
Hasil uji Goodness of Fit tersebut masih ada variabel yang melebihi
batas ketentun yang sudah di tentukan maka hasil tersebut dianggap
kurang Fit. Hal ini disebabkan dalam model tersebut masih ada pengaruh
variabel yang tidak signifikan. Langkah selanjutnya ilah peneliti
melakukan analisis jalur model trimming. Analisis jalur Model Trimming
adalah model yang digunakan untuk memperbaiki suatu model struktur
bila koefisien betanya (eksogen) tidak signifikan. Dalam hal ini peneliti
104
menghilangkan salah satu jalur (panah) yang memiliki koefisien betanya
tidak signifikan dan memiliki probabilitas terbesar. Rangkuman hasil
triming model dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.11
Hasil Uji Goodness of Fit Setelah Trimming
Laporan Statistik
Nilai yang Direkomendasikan
Imam Ghozali (2008)
Hasil
Keterangan
0,070
Model cocok
3,276
good fit
0,179
good fit
> 0.9
0,982
good fit
AGFI
≥ 0.9
0,734
poor fit
TLI
≥ 0.9
0,853
poor fit
NFI
≥ 0.9
0,980
good fit
PNFI
0-1.0
0,098
lebih besar lebih baik
PGFI
0-1.0
0,065
lebih besar lebih baik
Cut of value
Absolut Fit
Probabilitas χ
2
Tidak signifikan (p > 0.05)
≤5
χ 2 /df
<2
< 0.1
< 0.05
RMSEA
< 0.01
0.05
GFI
≤x≤
0.08
Incremental Fit
Parsimonious Fit
(Sumber :data diolah)
Pada trimming, jalur (panah) PUAS pada FDR dihilangkan karena
memiliki probabilitas 0,070 > 0,05 (tidak signifikan). Dari hasil trimming
dihasilkan indeks kesesuain yang cukup baik dan sudah tidak menujukan
105
probabilitas yang lebih 0,05. Dari hasil trimming dapat diperoleh hasil
perhitungan dalam tabel sebagi berikut :
Tabel 4.12
Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dengan Endogen
Kesimpulan
Pengaruh Variabel
Estimasi Probabilitas
0.442
0.000
Signifikan
Inflasi
FDR
-0.579
0.000
Signifikan
SBIS
FDR
-0.293
0.011
Signifikan
Inflas
ROA
0.418
0.008
Signifikan
FDR
ROA
0.558
0.000
Signifikan
SBIS
ROA
0.412
0.000
Signifikan
PUAS
ROA
(Sumber : data diolah)
Penelitin ini derjadi beberapa triming bagi jalur yang tidak signifikan,
maka penelitian selanjutnya bertujuan sebagai berikut :
1.
Untuk menganalisis pengaruh Inflasi dan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR).
2.
Untuk menganalisis pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS) dan
Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Returen On Assets
(ROA).
3. Analisis Jalur Setelah Trimming
Pengujin analisis jalur setelah rimming terdiri dari 2 (dua) sub struktur,
yaitu :
•
Pengaruh variabel antara Inflasi dan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)
baik secara simultan maupun secara parsial.
106
•
Pengaruh variabel antara Inflasi, Sertifikat bank Indononesia
Syariah (SBIS), Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan
Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Return On Assets
(ROA) baik secara simultan maupun secara parsial.
Dari hasil penghitungan setelah trimming dengan mengunakan Amos
18, maka dapat digambarkan diagram jalur setelah trimming sebagai
berikut :
Gambar 4.9
Hasil Perhitungan Diagram Jalur Setelah Trimming
.00
e1
Inflasi
.00
e2
-.29
.442
-.35
.71
SBIS
--.20
.43
-.579
FDR
.48
.42
ROA
.41
PUAS
(Sumber : Output Amos 18)
Agar lebih jelas diagram jalur tersebut disajikan dalam bentuk
ringkasn tabel sebgai berikut :
107
Tabel 4.13
Hasil Korelasi Antara Variabel Eksongen
Korelasi Antar Variabel
Estimasi
Probabilitas
Inflasi
<-->
SBIS
-0,354
0,005
Inflasi
< - ->
PUAS
<-->
(Sumber : Output AMOS 18)
PUAS
-0,196
0,104
SBIS
0,426
0,000
Korelasi antara variabel Inflasi, Pasar Uang Atarbank Syariah (PUAS)
dan SBIS tidak ada perubahan setelah dilakukan Trimming.
a. Analisis Jalur Pengaruh Inflasi dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) Secara simultan
dan parsial.
Adapun gambar hasil analisis diagram jalur sub struktur pertama
adalah sebagia berikut :
Gambar 4.10
Diagram Jalur Sub Struktur I Setelah Trimming
.00
e1
Inflasi
.44
-.35
.71
SBIS
-.20
-.58
FDR
.43
PUAS
(Sumber: Output Amos 18)
Agar lebih jelas diagram jalur tersebut disajikan dalam bentuk
ringkasn tabel sebgai berikut :
108
Tabel 4.14
Hasil Uji Pengaruh antara Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
dan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) terhadap Financing to Deposit
Ratio (FDR)
Pengaruh antar variable
Estimasi Probabilitas R Square
Inflasi
-->
FDR
0,442
0,000
0.711
SBIS
-->
FDR
-0,579
0,000
(Sumber : data diolah)
Besarnya pengaruh variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia
(SBIS),dan Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) terhadap Financing to
Deposit Ratio (FDR) secara simultan adalah 71,1 % sedangkan sisanya
sebesar 28,9 (100% - 71,1) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dimasukan dalam penelitia. Besarnya pengaruh masing-masing variabel
secara simultan antra lain, Inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio
(FDR) sebesar 0,442 atau 44,2% dan pengaruh SBIS terhadap FDR
sebesar -0,579 atau -57,9%.
b. Anlisis Jalur pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan Financing to
Deposit Ratio (FDR) pada Return On Assets (ROA) Secara Simultan
dan Parsial.
109
Gambar 4.11
Diagram Jalur Sub Struktur II Setelah Trimming
.00
.00
e1
Inflasi
.00
e2
-.29
-35.
.48
.56
SBIS
-.20
FDR
.42
ROA
.43
.758
.41
PUAS
(Sumber : data diolah)
Agar lebih jelas diagram jalur tersebut disajikan dalam bentuk
ringkasn tabel sebgai berikut :
Tabel 4.15
Hasil Uji Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar
Uang Antarbank Syariah dan Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Return
On Asset (ROA)
Pengaruh antar variable
Estimasi
Probabilitas R Square
Inflasi
-->
ROA
-0,293
0,011
SBIS
-->
ROA
0,558
0,000
0.484
PUAS
-->
ROA
0,412
0,000
FDR
-->
ROA
0,418
0,008
(Sumber : data diolah)
Besarnya pengaruh variabel Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan Financing to Deposit
Ratio (FDR) pada Return On Assets (ROA) secara simultan sebesar 48,4%
sedangkan slisihnya sebesar 51,6% (100% - 48,4%) dipengaruhi oleh
110
variabel lain yang tidak dimasukan dalam penelitian. Besarnya penagruh
masing – masing variabel secara parsial antara lain, Inflasi terhadap ROA
sebesar -0,293 atau -29,3%, pengaruh SBIS terhadap ROA sebesar 0,558
atau 55,8%, PUAS terhadap ROA sebesar 0,412 atau 41,2%, sedangkan
FDR terhadap ROA sebesar 0,418 atau 41,8%.
1) Pengaruh antara variabel Inflasi dengan Return On Asset (ROA).
Hasil menujukkan angka sebesar 0,011 > 0,05. Maka telah cukup data
untuk menolak H0 dan meneriama Ha. Artinya, ada hubungan linier antara
variabel inflasi dengan ROA. Besarnya pengaruh inflasi dengan ROA
sebesar -0,293 atau -29,3%.
Inflasi memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan pada ROA.
Artinya, apabila terjadi kenaikan pada inflasi maka ROA akan mengalami
penurunan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian dari
Epos
Mardika
(2010),
terjadinya
inflasi
yang
terus
menerus
mengakibatkan ROA akan menurun.
2) Pengaruh variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dengan
Return On Assets (ROA).
Hasil menujukkan angka sebesar 0,000 > 0,05. Maka telah cukup data
untuk menolak H0 dan meneriama Ha. Artinya, ada hubungan linier antara
variabel SBIS dengan ROA. Besarnya pengaruh SBIS dengan ROA
sebesar 0,558 atau -55,8%.
Posisi SBIS mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan pada
ROA. Artinya, apabila terjadi keanikan posisi SBIS, maka ROA akan
111
mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori
Menurut Tomas Suyanto, dkk (1997:123) Aktiva produktif adalah semua
aktiva dalam rupiah maupun valuta asing yang dimiliki oleh bank dengan
maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya yang
meliputi kredit yang diberikan, surat-surat berharga dan penempatan pada
bank lain baik dalam negeri maupun luar negeri.
3) Pengaruh antara variabel Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dengan
Return On Assets (ROA)
Hasil perhitungan menunjukan angka 0,000 < 0,05. Maka telah cukup
data untuk menolak H0 dan menerima Ha. Artinya, ada hubungan linier
antara variabel PUAS denagan ROA sebesar 0,366 atau 36,6%.
PUAS mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.
Artinya, apabila terjadi kenaikan pada PUAS, maka ROA juga mengalami
kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesui dengan teori Muhammad
(2005:392)Piranti yang digunakan dalam PUAS adalah Sertifikat IMA,
sertifikat ini digunakan sebagai sarana investasi bagi bank yang kelebihan
dana untuk mendapat keuntungan, permodalan yang tinggi bank dapat
leluasa
untuk
menempatkan
dananya
dalam
investasi
yang
menguntungkan, hal tersebut mampu meningkatkan kepercayaan nasabah
karna memungkinkan bank memperoleh laba sangat tinggi dan
kemungkinan bank tersebut terlikudasi juga kecil.
4) Pengaruh antara variabel Financing to Deposit Ratio (FDR) dengan
Return On Assets (ROA).
112
Hasil perhitungan menunjukan angka 0,008 < 0,05. Maka telah cukup
data untuk menolak H0 dan menerima Ha. Artinya, ada hubungan linier
antara variabel FDR denagan ROA sebesar 0,418 atau 41,8%.
FDR mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.
Artinya, apabila terjadi kenaikan FDR maka ROA juga mengalami
kenaiakan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian Aisyah
Harahap (2006) dan Adi Setiawan (2009). Hal ini ini terjadi ketika kinerja
bank dalam menempatkan dananya berupa pembiayaan semakin baik
sehingga laba yang diperoleh bank semakin meningkat.
c. Uji Kesesuaian Model ( Goodness of Fit) setelah Trimming.
Untuk mengetahui apakah model tersebut sudah sesui atau belum,
maka dilakukan uji kesesuain model (Goodness of Fit) sebagai berikut :
113
Tabel 4.16
Hasil Uji Goodness of Fit Setelah Trimming
Laporan Statistik
Nilai yang Direkomendasikan
Imam Ghozali (2008)
Hasil
Keterangan
0,070
Model cocok
3,276
good fit
0,179
good fit
> 0.9
0,982
good fit
AGFI
≥ 0.9
0,734
poor fit
TLI
≥ 0.9
0,853
poor fit
NFI
≥ 0.9
0,980
good fit
PNFI
0-1.0
0,098
lebih besar lebih baik
PGFI
0-1.0
0,o65
lebih besar lebih baik
Cut of value
Absolut Fit
Probabilitas χ
2
Tidak signifikan (p > 0.05)
≤5
χ 2 /df
<2
< 0.1
< 0.05
RMSEA
< 0.01
0.05
GFI
≤x≤
0.08
Incremental Fit
Parsimonious Fit
(Sumber :data diolah)
Dilihat dari nilai chi-square sebesar 3,276 denagan probabilitas 0,070
yang jauh diatas 0,05 bahwa data empiris sesuai dengan model. Begitu
juga bila dilihat ukuran Fit lainnya seperti CMIN / DF ( χ 2 /df) sebesar
3,276 yang dapat disimpulkan model sangat kurang baik karena berada
dibawah 2 (dua). Begitu juga bila dilihat dari ukuran Fit lainnya seperti
GFI, TLI, NFI, AGFI, yang berada diatas 0.90 dapat dikatakan model
114
sangat baik. Nilai PNFI dan PGFI masih relatif kecil yang menujukan
tidak ada perbedaan model yang signifikan. Menurut Imam Ghojali (2008)
apabila salah satu kreteria tidak Fit maka dapat melihat kreteria Fit
lainnya.
d. Hubungan Langsung dan Tidak Langsung
Pengaruh langsung dan tidak langsung (melalui Financing to deposit
Ratio, Return On Asset) serta pengaruh total Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS) dan
Financing to Deposit Ratio pada Return On Assets (ROA) dapat dilihat
pada tabel dan uraian sebagai berikut:
1) Pengaruh antara variabel Inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio
(FDR).
Inflasi memiliki pengaruh langsung terhadap FDR sebesar 0,442.
2) Pengaruh anatara variabel Inflasi pada Return On Assets (ROA).
Inflasi memiliki pengaruh langsung terhadap ROA sebesar -0,293.
Pengaruh tidak langsung inflasi pada ROA melalui FDR sebesar 0,185
(0,442 x 0,418). Pengaruh total inflasi pada ROA sebesar -0,108
(0,185 + (-0,293)).
3) Pengaruh antara variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
pada Financing to Deposit Ratio (FDR).
SBIS memiliki pengaruh langsung pada FDR sebesar -0,579.
4) Pengaruh antara variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
pada Returen On Assets (ROA).
115
SBIS memiliki pengaruh tidak langsung pada ROA sebesar 0,558.
Pengaruh tidak langsung SBIS melalui FDR sebesar -0,242 (-0,558 x
0,418). Pengaruh total SBIS pada ROA sebesar -0,316 (0,558 + (0,242)).
5) Pengaruh antara variabel PUAS terhadap Return On Assets (ROA).
PUAS memiliki pengaruh langsung terhadap ROA sebesar 0,412
6) Pengaruh antara variabel Financing to Deposit Ratio (FDR) pada
Return On Assets (ROA).
FDR mempunyai pengaruh langsung pada ROA sebesar 0,418.
Tabel 4.17
Rangkuman Dekomposisi dari Koefisien Jalur, Pengaruh Langsung dan
Tidak Langsung dan Pengaruh Total tentang Inflasi (X1), SBIS (X2) PUAS
(X3) dan FDR (Y) terhadap ROA (Z)
Pengaruh Kausal
Pengaruh
Tidak Langsung
Total
variable
Langsung
Melalui Y
X1 terhadap Y
0,442
-
0,442
X1 terhadap Z
-0,293
-0,185
-0,108
X2 terhadap Y
-0,579
-
-0,579
X2 terhadap Z
0,558
-0,242
-0,316
X3 terhadap Z
0,412
-
0,412
Y terhadap Z
0,418
-
0,418
(Sumber : data diolah)
Berdasarkan urain tersebut maka dapat disusun persamaan path
analysis setelah trimming sebagai berikut :
116
1. Persamaan Sub Struktur I
FDR = 0,442 (Inflasi) + -0,579 (SBIS) ε 1 ; R square = 0,711
2. Persamaan Sub Struktur II
ROA = -293 (inflasi) + 0,558 (SBIS) + 0,412 (PUAS) + 0,418
(FDR) ε 1 ; R square = 0,484
C. Interpretasi Hasil
Berdasarkan urain tersebut maka dapat disusun persmaan path analysis
setelah trimming sebagia berikut :
1. Persamaan Sub Struktur I
FDR = 0,442 (Inflasi) + -0,579 (SBIS) ε 1 ; R square
= 0,711
Hasil pengujian setelah trimming secara simultan, diketahui variabel
Inflasi dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) berpengaruh
signifikan terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Umum
Syariah (BUS) dan Unit Usaha syariah (UUS).
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Inflasi memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap FDR. Artinya, apabila
terjadi kenaikan Inflasi, maka jumlah FDR khususnya pembiayaan juga
mengalami kenaikan. Hal ini sesuai dengan penelitian Ari Cahyo (2009),
bahwa inflasi memiliki pengaruh positif pada pembiayaan, bila inflasi naik
maka konsep perbankan syariah adalah bagi hasil. Dengan konsep ini,
sesungguhnya bank bank dan nasabah melakukan pengikatan dalam satu
117
ikatan investasi bersama, dimana laba dan rugi ditanggung bersama
sehingga konsep ini jelas lebih adil dan ketengan bagi nasabah.
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel SBIS memiliki
pengaruh yang negatif dan signifikan tehadap FDR khusnya pada
penyaluran dana pembiayaan. Artinya, apabila terjadi peningkatan
penempatan dana pada SWBI atau SBIS, maka jumlah penyaluran dana
pada pembiayaan akan mengalami penurunan. Secara teori menurut
Muhammad (2005:399) SWBI atau SBIS dapat dijadikan penitipan dana
jangka pendek khususnya bagi bank yang mengalami kelebihan likuditas.
Menurut penelitian sebelumnya yaitu Indah Nurfitri Adi (2006) bahwa
semakin banyak unag yang dihimpun oleh perbankan syariah dalam SWBI
atau SBIS maka jumlah pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah
juga akan berkurang. Sedangkan jumlah pembiayaan adalah bagian dari
Financing to deposit ratio (FDR) yang mencerminkan pembiayaan kepada
masyarakat dan menjadi ukuran likuditas perbankan syariah dalam
menjalankan fungsi intermediasinya.
2. Persamaan Sub Struktur II
ROA = -293 (inflasi) + 0,558 (SBIS) + 0,412(PUAS) + 0,418 (FDR) ε 1 ;
R square = 0,484
Hasil pengujian setelah trimming secara simultan, diketahui variabel
Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antarbank
Syariah dan Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh signifikan
118
pada Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit
Usaha Syariah (UUS).
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel inflasi memiliki
pengaruh yang negatif dan signifikan pada Return On Assets (ROA).
Artinya, apabila terjadi kenaikan inflasi, maka ROA akan mengalami
penurunan, begitu juga sebaliknya. Hasil ini sesuai dengan penelitian Epos
Mahardika (2010) yang meneliti tentang hubungan tingkat inflasi, nilai
tukar rupiah, suku bunga terhadap profitabilitas bank yaitu ketika inflasi
meningkat maka pendapatan bank akan berkurang ditandainya terjadinnya
inflasi yang terus menerus.
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
pada Return On Asset (ROA). Artinya, apabila terjadi kenaikan
penempatan dana pada SBIS, maka ROA akan mengalami peningkatan,
begitu juga sebaliknya. Hasil ini sesuai teori menurut Tomas Suyanto, dkk
(1997:123), aktiva produktif adalah semua aktiva dalam rupiah maupun
valuta asing yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk memperoleh
penghasilan sesuai dengan fungsinya yang meliputi kredit yang diberikan,
surat-surat berharga dan penempatan dana pada bank lain baik dalam
negeri maupun luar negeri.
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Pasar Uang
Antarbank Syariah (PUAS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Return On Assets (ROA). Artinya, apabila terjadi kenaikan pada Pasar
119
Uang Antarbank Syariah, maka ROA akan mengalami peningkatan, begitu
juga sebaliknya hasil ini sesuai dengan teori Muhammad (2005:392) yang
menyatakan bahwa piranti yang digunakan dalam PUAS adalah Sertifikat
IMA. Sertifikat ini digunakan sebagai sarana investasi bagi bank yang
kelebihan dana untuk mendapat keuntungan, artinya dengan permodalan
yang tinggi bank dapat leluasa untuk mendapatkan dananya kedalam
investasi yang menguntungkan, hal tersebut mampu meningkatkan
kepercayaan nasabah karena kemungkinan bank memperoleh laba sangat
tinggi dan kemungkinan bank tersebut terlikudasi juga kecil.
Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Financing to
Deposit Ratio (FDR) berpengaruh positif dan signifiakan terhadap Return
On Assets (ROA). Artinya, apabila terjadi kenaikan pada FDR, maka ROA
akan mengalami peningkatan, begitu juga sebaliknya. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Anisyah Harahap (2006) dan Adi Setiawan (2009),
menyatakan bahwa peyaluran kredit syariah dari bank-bank syariah cukup
baik artinya penyaluran kredit lebih besar daripada dana yang disimpan
oleh nasabah. Sehingga dalam hal ini bank disatusisi akan memperoleh
bagi hasil yang cukup besar dari debitur, dari pada bagi hasil yang
diberikan kepada nasabah yang menyimpan dananya di Bank Syariah.
Namun tentunya ini juga mengandung risiko kredit yang cukup besar
karena semakin besarnya dana pembiayaan yang disalurkan.
120
BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil pengujian pada sub struktur I setelah trimming, diketahui
variabel Inflasi dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
memiliki
pengaruh
secara
bersama-sama
(simultan)
terhadap
Financing to Deposit Ratio (FDR) sebesar 0,711. Hasil pengujian
secara parsial, diketahui variabel inflasi memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap FDR sedangakan variabel SBIS memiliki
pengaruh negatif signifikan terhadap FDR pada Bank Syariah di
Indonesia.
2.
Hasil pengujian pada sub struktur II setelah trimming, diketahui
variabel inflasi, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang
Antarbank Syariah (PUAS) dan Financing to Deposit (FDR) memiliki
pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap Return On Asset
(ROA) sebesar 0.484. Hasil pengujian secara parsial, diketahui bahwa
variabel SBIS, PUAS dan FDR memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap ROA sedangkan inflasi berpengaruh negatif
signifikan terhadap ROA Bank Syariah di Indonesia.
121
3. Hasil pengujian sub struktur I dan II, diketahui pengaruh langsung dan
tidak langsung, yaitu variabel inflasi memiliki pengaruh langsung
terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) sebesar 0,442. Inflasi
memiliki pengaruh langsung pada ROA sebesar -0,242. Pengaruh
tidak langsung inflasi pada ROA melalui FDR sebesar 0,108 dan
pengaruh totalnya adalah -0,108. Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) memiliki pengaruh langsung terhadap FDR sebesar -0,579,
pengaruh langsung SBIS terhadap ROA sebesar 0,558. Pengaruh tidak
langsung SBIS melalui FDR sebesar 0,242 dan pengaruh totanya
sebesar 0,316. PUAS memiliki pengaruh langsung terhadap ROA
sebesar 0,412 dan FDR memiliki pengaruh langsung terhadap ROA
sebesar 0,418.
B. Implikasi
Implikasi pada penelitian ini, peneliti menganalisis 3 (tiga) variabel
eksogen yaitu inflasi, Sertifikat Bnk Indonesi (SBIS) dan Pasar Uang
Antar Bank Syariah (PUAS) terhadap variabel endogen yaitu Financing to
Deposit Ratio (FDR) dan Return On Assets (ROA) pada Bank Syariah di
Indonesia Priode November 2004 sampai Oktober 2010. Agar dapat
memperoleh gambaran yang lebih mendalam serta komprehensif maka
penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kepada Peneliti
a. Penelitian berikutnya diharapkan menggunakan data yang lebih akurat
dengan jumlah yang lebih banyak dan dengan rentang waktu yang lebih
122
panjang. Penggunaan data yang lebih akuran dan dengan rentang waktu
yang lebih panjang memungkinkan hasil penelitian lebih baik.
b. Penelitian berikutnya diharapkan menggunakan metode dan alat uji yang
terbaru dan akurat sehingga diperoleh kesimpulan yang lebih valid.
2. Kepada Pemerintah
Dengan adanya korelasi yang kuat antara bank syariah dan sektor riil,
maka sudah seharusnya bahwa otoritas moneter dan pemerintah
memberikan kesempatan yang
luas kepada bank
syariah untuk
berkembang. Dukungan tersebut bisa dilakukan dengan dikeluarkannya
undang-undang yang mendukung bank syariah.
3.
Kepada Perbankan Syariah
Terjadinya inflasi seharusnya menjadi perhatian yang serius oleh
perbankan karena berpengaruh pada sektor rill sehingga memberikan
dampak pada sistem bagi hasil, serta penelitian ini memberiakan gamaran
likuditas untuk lebih berhati - hati menempatkan dananya pada sektor rill
atau maupun pada insrumen likuditas sehingga mendorong Bank Umum
Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) untuk menjalankan prinsip
syariah agar nantinya bank syariah dapat dijadikan alternatif dalam sistem
perbankan nasional.
123
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar, Tak’yudin. “Kipayatul’ahyar” Darul Kutub Al - Ak’lamiyah, 2005
Algaund, Latifa M dan Mervyn K. Lewis. “Perbankan Syariah: Prinsip, Praktek
dan Prospek”, PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2001
Arifin, Zainul. “Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah”, Cetakan Kedua,
Pustaka Alvabet, Jakarta, 2003
Arifin, Zainul. “Dasar – Dasar Manajemen Bank Syariah”, Cetakan Ketiga,
Pustaka Alvabet, Jakarta, 2005
Arifin, Zainul . “Dasar- Dasar Manajemen Syariah” Azkia Publiser, 2009
Cahyono, Ari. “Pengaruh Indikator Makroekonomi terhadap Dana Pihak Ketiga
danPembiayaan Bank Syariah Mandiri”. Tesis, pasca sarjana FEUI,
Jakarta. 2009
Darmawi, Herman. “Pasar Financial Dan Lembaga-Lembaga Finansial”. PT
Bumi Aksara, 2006
Dendawijaya, Lukman. “Manajemen Perbankan”, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2009
Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 36/DSN – MUI/X/2002 Tentang
SWBI (Sertifikat Wadiah Bank Indonesia)
Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 37/DSN – MUI/2002 Tentang
PUAS (Pasar Uang Antarbank Syariah)
Federic S. Mishkin, “Ekonomi Uang Perbankan, dan Pasar Keuangan”, Jakarta,
Salemba Empat, 2008
Ghozali, Imam. “Model Persamaan Struktural Konsep dan Aplikasi Dengan
Program Amos 16.0”, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 2008
Hamid, Abdul. “Buku Panduan Penulisan Skripsi”, FEIS UIN Press, Jakarta,
2007
Harahap, Anisyah. “Analisis Pengaruh Jumlah Modal Inti, Pertumbuhan Kredit,
Capital Adequacy Ratio, Loan Deposit Ratio, dan Performing Loan
Terhadap Profitabilitas Bank Umum di Indonesia”. Skripsi Universitas
Indonesia, 2006
Hidayat, Toni. “Pengaruh Inflasi Terhadap Kinerja Pembiayaan Perbankan
Syariah, Volume Transaksi Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip
124
Syariah (PUAS) dan Posisi Outstanding Sertifikat Wadiah Bank Indonesia”.
Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Ekonomi Dan Keuangan Syariah
Program Kajian Timur Tengah dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, 2007.
Irsadunas. “Analisis Terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Posisi
Outstanding SWBI”, Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Ekonomi Dan
Keuangan Syariah Program Kajian Timur Tengah dan Islam Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.
Karim, Adiwarman. ”Ekonomi Islami; Suatu Kajian Ekonomi Makro”. IIIT
Indonesia. Jakarta, 2002
Khalwaty, T. “Inflasi Dan Solusinya”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.2001.
Marcus, Bodie Kane. “Essential of Investment”. The McGraw Hill Companies.
2004
Mardika, Epos. “Hubungan Tingkat Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, Suku Bunga
Terhadap Profitabilitas Pada PT. Bank Mandiri (Persero)”, Skripsi
Program Sarjana Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas
Negri Malang, 2010
Muhammad.
2005
“Manajemen Bank Syariah”. (UPP) AMP YKPN, Yogyakarta,
Muhammad. “Manajemen
Yogyakarta, 2005
Pembiayaan
Bank
Syariah”.
AMP
YKPN,
Nafarin, M. “Penganggaran Perusahaan”. Salemba Empat, 2007
Nurfitri Adi, Indah.”Pengaruh Penempatan Dana Pada SWBI dan Pasar Uang
Antarbank Syariah (PUAS) Terhadap FDR Perbankan Syariah”. Tesis
(Magister) Program Pasca Sarjana Ekonomi Dan Keuangan Syariah
Program Kajian Timur Tengah dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, 2006.
Nuriyah Solisa, Dian. “pengaruh SBI Syariah terhadap tingkat FDR perbankan
syariah (analisis simulasi kebijakan)”. Tesis (Magister) Program Pasca
Sarjana Ekonomi dan Keuangan Syariah Program Kajian Timur Tengah dan
Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2009.
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 2/9/PBI/2000 Tetang SWBI (Sertifikat
Wadiah Bank Indonesia)
125
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 10/11/PBI/2008 Tentang SBIS (Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 2/8/PBI/2000 yang diubah menjadi
Nomor 7/26/PBI/2005 Tentang Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS)
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 6/7/PBI/2004 Tentang Pencabutan
(SWBI) Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
Porman T. Andy. “Menilai Harga Saham”, PT Elex Komputindo, anggota IKAPI,
Jakarta. 2007
Ponco, Budi. “Analisis Pengaruh CAR, NPL, BOPO, NIM dan LDR Terhadap
ROA”. Tesis, Pascasarjana Fakultas Manajemen Universitas Diponerogo,
2008
Rivai Veithzal, dkk. “Bank dan Financial Instutition Management Conventional
dan Syariah System”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
Rose, Peter S. “Commercial Bank Management”. The McGraw-Hill Companies,
2002
Sartono, Agus. “Manajemen Keuangan dan Teori Aplikasi”, Yogyakarta. BPFE.
2001
Setiawan, Adi. “Analisis Pengaruh Faktor Makroekonomi, Pangsa Pasar dan
Karakteristik Bank Terhadap Profitabilitas Bank Syariah”. Tesis, pasca
sarjana Fakultas Manajemen Universitas Diponegoro, 2009
Suandani, Astri. “Analisis Kinerja Bank Syariah di Indonesia”. Skripsi. Fakultas
Ekonomi Universitas Muhammadiah, 2010
Sukirno, Sadono. “Teori Pengantar Makro Ekonomi”. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta, 2004
Suyatno Thomas dkk. “Dasar – dasar Perkreditan”. PT. Gramedia Pustaka
Utama Anggota IKAPI, Jakarta, 2007
Sutomo, Dedi. “Analisis Pengaruh Pembiayaan, Tabungan, Giro, Deposito dan
Ekuitas Terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)”. Skripsi, Fakultas
Ekonomi Jurusan Akutansi Universitas Muhammadiah, 2009
Syafi’I, Muhammad Antonio. “Bank Syariah dari Teori ke Praktik” Gema Insani,
Jakarta,2001
126
Tampubolon, Robet. “Risk Management”, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta,
2004
Undang – Undang Republik Indonesia Pasal 5 Nomor 10 tahun 1998 Tentang
Jenis – Jenis Bank
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 Tentang Deposito
Usman, Rachmadi. “Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia”, PT. Gramedia
Pustaka Utama anggota IKAPI, Jakarta, 2001
Wirdianingsih, dkk. “Bank dan Asuransi Islam di Indonesia”, Kencana, Jakarta,
2005
127
LAMPIRAN
Data Inflasi (Dalam Desimal)
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
2004
0,0052
0,0053
2005
0,0061
0,006
0,0073
0,0068
0,0062
0,0062
0,0065
0,0069
0,0076
0,0149
0,0153
0,0143
2006
0,0142
0,0149
0,0131
0,0128
0,013
0,0129
0,0126
0,0124
0,0121
0,0052
0,0044
0,0055
Tahun
2007
0,0052
0,0053
0,0054
0,0058
0,005
0,0048
0,0051
0,0054
0,0058
0,0057
0,0056
0,0055
2008
0,0061
0,0062
0,0068
0,0075
0,0087
0,0092
0,0099
0,0099
0,0101
0,0098
0,0097
0,0092
2009
0,0076
0,0072
0,0066
0,0061
0,005
0,003
0,0023
0,0023
0,0024
0,0021
0,002
0,0023
2010
0,0031
0,0032
0,0029
0,0033
0,0035
0,0042
0,00567
0,00644
0,0058
0,00567
-
Data SWBI atau SBIS (Dalam Juta Rupiah)
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
2004
447000
1094000
2005
2006
Tahun
2007
883000
628000
487000
449000
413000
538000
439000
360000
507000
317000
532000
2395000
2156000
1696000
1148000
1171000
1092000
1188000
871500
1117000
1046000
1190000
1547000
2358000
2663000
3002000
3325000
3166000
2801000
2036000
1555000
982000
1311000
1761000
1644000
1761000
2008
2009
2010
3189000
3717000
2135000
2496000
3119000
3079000
2557000
1820000
413000
453000
1063000
2824000
3488000
3192000
2704000
2058000
2539000
1819000
1253000
2321000
2635000
2835000
2142000
3076000
3373000
2972000
2425000
3027000
1656000
2734000
2576000
1882000
2310000
2783000
-
128
Data PUAS (Dalam Juta Rupiah)
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
2004
50000
24000
2005
4000
84500
35000
166600
101500
82000
78100
121850
450600
577200
419500
677950
2006
578800
724700
845250
1026500
1487700
1556850
108800
1506500
2288900
700800
699800
761600
Tahun
2007
764450
728500
680800
375800
806600
651900
780500
933800
1062600
794400
1139300
1168800
2008
1470500
603400
651000
1749000
1962800
1506200
2391400
3419700
3811500
2401000
3197000
3828000
2009
2782000
3016000
3538000
4031000
3127000
2809000
1793000
2854000
2518000
2479000
2582000
2889000
2010
1570000
3074000
3619000
3540000
2049000
2053000
2126000
2994000
3394000
5750000
-
Data FDR (Dalam Desimal)
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
2004
1,040
0,969
2005
0,981
1,032
1,057
1,054
1,091
1,068
1,085
1,085
1,104
1,113
1,109
0,978
2006
0,994
1,033
1,070
1,092
1,097
1,105
1,122
1,113
1,094
1,065
1,054
0,989
Tahun
2007
0,986
0,972
0,951
0,970
0,971
1,011
1,020
1,057
1,037
1,027
1,042
0,998
2008
0,979
0,976
1,003
0,999
1,019
1,032
1,070
1,130
1,122
1,117
1,119
1,037
2009
1,000
1,005
1,033
1,014
1,011
1,002
0,996
0,997
0,981
0,973
0,955
0,897
2010
0,887
0,910
0,951
0,956
0,967
0,961
0,953
0,989
0,954
0,948
-
129
Data ROA (Dalam Decimal)
Tahun
Bulan
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Jan
-
0,0099
0,0106
0,0169
0,0175
0,0156
0,0165
Feb
-
0,0112
0,0140
0,0168
0,0185
0,0172
0,0176
Mar
-
0,0121
0,0132
0,0175
0,0183
0,0244
0,0213
Apr
-
0,0097
0,0132
0,0175
0,0183
0,0229
0,0206
May
-
0,0081
0,0143
0,0176
0,0182
0,0222
0,0125
Jun
-
0,0014
0,0151
0,0186
0,0181
0,0216
0,0166
Jul
-
0,0035
0,0147
0,0188
0,0182
0,0212
0,0167
Aug
-
0,0053
0,0138
0,0190
0,0176
0,0208
0,0164
Sep
-
0,0066
0,0141
0,0185
0,0184
0,0138
0,0180
Oct
-
0,0075
0,0138
0,0193
0,0212
0,0146
0,0185
Nov
0,0098
0,0085
0,0144
0,0186
0,0223
0,0148
-
Dec
0,0082
0,0078
0,0155
0,0178
0,0142
0,0148
-
Diagram Jalur dengan Hasil Perhitungan sebelum Trimming
.00
e1
Inflasi
.00
e2
-.29
.45
-.35
.75
-.65
SBIS
-.20
.13
.45
.55 FDR
.50
.41
ROA
.40
PUAS
130
Estimates (Group number 1 - Default model)
Scalar Estimates (Group number 1 - Default model)
Maximum Likelihood Estimates
Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate S.E. C.R.
P Label
FDR <--- Inflasi
7,535 1,121 6,719 *** par_3
FDR <--- SBIS
,000 ,000 -8,717 *** par_4
FDR <--- PUAS
,000 ,000 1,831 ,067 par_10
ROA <--- Inflasi
-,387 ,154 -2,511 ,012 par_5
ROA <--- SBIS
,000 ,000 3,921 *** par_6
ROA <--- FDR
,033 ,013 2,577 ,010 par_7
ROA <--- PUAS
,000 ,000 4,266 *** par_8
Standardized Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate
FDR <--- Inflasi
,448
FDR <--- SBIS
-,630
FDR <--- PUAS
,126
ROA <--- Inflasi
-,288
ROA <--- SBIS
,548
ROA <--- FDR
,411
ROA <--- PUAS
,405
Covariances: (Group number 1 - Default model)
Estimate
S.E.
SBIS <--> PUAS 530876805992,648 160842204889,234
SBIS <--> Inflasi
-1203,936
428,377
PUAS <--> Inflasi
-880,580
542,067
C.R.
P Label
3,301 *** par_1
-2,810 ,005 par_2
-1,624 ,104 par_9
Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
SBIS <--> PUAS
,426
SBIS <--> Inflasi
-,354
PUAS <--> Inflasi
-,196
131
Variances: (Group number 1 - Default model)
Estimate
S.E.
SBIS
946775456148,295 158903262658,499
PUAS
1642369437007,490 275649162994,583
Inflasi
,000
,000
e1
,001
,000
e2
,000
,000
C.R.
5,958
5,958
5,958
5,958
5,958
P
***
***
***
***
***
Label
par_11
par_12
par_13
par_14
par_15
Squared Multiple Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
FDR
,724
ROA
,502
Matrices (Group number 1 - Default model)
Implied Covariances (Group number 1 - Default model)
Inflasi
PUAS
SBIS
Inflasi
,000
PUAS
-880,580 1642369437007,490
SBIS
-1203,936
530876805992,648 946775456148,295
FDR
,000
-17332,963
-42041,221
ROA
,000
3613,509
2378,458
FDR
ROA
,003
,000
,000
Implied Correlations (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR ROA
Inflasi
1,000
PUAS
-,196 1,000
SBIS
-,354
,426 1,000
FDR
,647
-,230 -,735 1,000
ROA
-,296
,600
,520 -,271 1,000
Factor Score Weights (Group number 1 - Default model)
Total Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
7,535
,000
,000 ,000
ROA
-,139
,000
,000 ,033
Standardized Total Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,448
,126 -,630 ,000
ROA
-,104
,457
,289 ,411
132
Direct Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
7,535
,000
,000 ,000
ROA
-,387
,000
,000 ,033
Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,448
,126 -,630 ,000
ROA
-,288
,405
,548 ,411
Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,000
,000
,000 ,000
ROA
,248
,000
,000 ,000
Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,000
,000
,000 ,000
ROA
,184
,052 -,259 ,000
133
Model Fit Summary
CMIN
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NPAR
15
15
5
RMR, GFI
Model
Default model
Saturated model
Independence model
RMR
2443,732
,000
137071803279,926
CMIN
,000
,000
164,833
DF
0
0
10
P
CMIN/DF
,000
16,483
GFI
1,000
1,000
,538
AGFI
PGFI
,307
,359
Baseline Comparisons
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NFI
Delta1
1,000
1,000
,000
Parsimony-Adjusted Measures
Model
PRATIO
Default model
,000
Saturated model
,000
Independence model
1,000
NCP
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NCP
,000
,000
154,833
FMIN
Model
Default model
Saturated model
Independence model
FMIN
,000
,000
2,322
RMSEA
Model
Independence model
RMSEA
,467
RFI
rho1
,000
IFI
Delta2
1,000
1,000
,000
PNFI
,000
,000
,000
,000
CFI
1,000
1,000
,000
PCFI
,000
,000
,000
LO 90
,000
,000
116,897
F0
,000
,000
2,181
TLI
rho2
HI 90
,000
,000
200,208
LO 90
,000
,000
1,646
LO 90
,406
HI 90
,531
HI 90
,000
,000
2,820
PCLOSE
,000
134
AIC
Model
Default model
Saturated model
Independence model
AIC
30,000
30,000
174,833
ECVI
Model
Default model
Saturated model
Independence model
ECVI
,423
,423
2,462
BCC
32,769
32,769
175,756
LO 90
,423
,423
1,928
BIC
64,150
64,150
186,216
HI 90
,423
,423
3,102
CAIC
79,150
79,150
191,216
MECVI
,462
,462
2,475
HOELTER
Model
HOELTER
.05
HOELTER
.01
8
10
Default model
Independence model
Analisis Jalur Sesudah Trimming
.00
e1
Inflasi
.00
e2
-.29
.442
-.35
.71
SBIS
--.20
.43
-.579
FDR
.48
.42
ROA
.41
PUAS
135
Estimates (Group number 1 - Default model)
Scalar Estimates (Group number 1 - Default model)
Maximum Likelihood Estimates
Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate S.E. C.R.
P Label
FDR <--- Inflasi
7,423 1,146 6,478 *** par_3
FDR <--- SBIS
,000 ,000 -8,490 *** par_4
ROA <--- Inflasi
-,387 ,152 -2,547 ,011 par_5
ROA <--- SBIS
,000 ,000 4,135 *** par_6
ROA <--- FDR
,033 ,012 2,638 ,008 par_7
ROA <--- PUAS
,000 ,000 4,366 *** par_8
Standardized Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate
FDR <--- Inflasi
,442
FDR <--- SBIS
-,579
ROA <--- Inflasi
-,293
ROA <--- SBIS
,558
ROA <--- FDR
,418
ROA <--- PUAS
,412
Covariances: (Group number 1 - Default model)
Estimate
S.E.
SBIS <--> PUAS 530876811337,770 160842205723,871
SBIS <--> Inflasi
-1203,936
428,377
PUAS <--> Inflasi
-880,580
542,067
C.R.
P Label
3,301 *** par_1
-2,810 ,005 par_2
-1,624 ,104 par_9
Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
SBIS <--> PUAS
,426
SBIS <--> Inflasi
-,354
PUAS <--> Inflasi
-,196
Variances: (Group number 1 - Default model)
Estimate
S.E.
SBIS
946775460599,923 158903263405,643
PUAS
1642369443425,440 275649164071,748
Inflasi
,000
,000
e1
,001
,000
e2
,000
,000
C.R.
5,958
5,958
5,958
5,958
5,958
P
***
***
***
***
***
Label
par_10
par_11
par_12
par_13
par_14
136
Squared Multiple Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
FDR
,711
ROA
,484
Matrices (Group number 1 - Default model)
Implied Covariances (Group number 1 - Default model)
Inflasi
PUAS
SBIS
Inflasi
,000
PUAS
-880,580 1642369443425,440
SBIS
-1203,936
530876811337,770 946775460599,923
FDR
,000
-25098,961
-42041,222
ROA
,000
3358,278
2378,458
FDR
ROA
,003
,000
,000
Implied Correlations (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR ROA
Inflasi
1,000
PUAS
-,196 1,000
SBIS
-,354
,426 1,000
FDR
,647
-,333 -,735 1,000
ROA
-,301
,568
,529 -,319 1,000
Factor Score Weights (Group number 1 - Default model)
Total Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
7,423
,000
,000 ,000
ROA
-,143
,000
,000 ,033
Standardized Total Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,442
,000 -,579 ,000
ROA
-,108
,412
,316 ,418
Direct Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
7,423
,000
,000 ,000
ROA
-,387
,000
,000 ,033
137
Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,442
,000 -,579 ,000
ROA
-,293
,412
,558 ,418
Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,000
,000
,000 ,000
ROA
,244
,000
,000 ,000
Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
Inflasi PUAS SBIS FDR
FDR
,000
,000
,000 ,000
ROA
,185
,000 -,242 ,000
Model Fit Summary
CMIN
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NPAR
14
15
5
RMR, GFI
Model
Default model
Saturated model
Independence model
RMR
2006,255
,000
137071803279,926
CMIN
3,276
,000
164,833
DF
1
0
10
P
,070
CMIN/DF
3,276
,000
16,483
GFI
,982
1,000
,538
AGFI
,734
PGFI
,065
,307
,359
Baseline Comparisons
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NFI
Delta1
,980
1,000
,000
Parsimony-Adjusted Measures
Model
PRATIO
Default model
,100
Saturated model
,000
Independence model
1,000
RFI
rho1
,801
,000
IFI
Delta2
,986
1,000
,000
PNFI
,098
,000
,000
TLI
rho2
,853
,000
CFI
,985
1,000
,000
PCFI
,099
,000
,000
138
NCP
Model
Default model
Saturated model
Independence model
NCP
2,276
,000
154,833
FMIN
Model
Default model
Saturated model
Independence model
FMIN
,046
,000
2,322
RMSEA
Model
Default model
Independence model
RMSEA
,179
,467
LO 90
,000
,406
AIC
Model
Default model
Saturated model
Independence model
AIC
31,276
30,000
174,833
BCC
33,861
32,769
175,756
ECVI
Model
Default model
Saturated model
Independence model
ECVI
,441
,423
2,462
LO 90
,000
,000
116,897
F0
,032
,000
2,181
LO 90
,408
,423
1,928
HI 90
11,936
,000
200,208
LO 90
,000
,000
1,646
HI 90
,410
,531
HI 90
,168
,000
2,820
PCLOSE
,095
,000
BIC
63,150
64,150
186,216
HI 90
,577
,423
3,102
CAIC
77,150
79,150
191,216
MECVI
,477
,462
2,475
HOELTER
Model
Default model
Independence model
HOELTER
.05
84
8
HOELTER
.01
144
10
139
Download