ringkasan materi pendidikan lingkungan hidup

advertisement
RINGKASAN MATERI
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
(PENGELOLAAN TANAMAN TOGA & SAYURAN)
KELAS X
SEMESTER I & SEMESTER II
Disusun Oleh :
Anis Hidayati, SP.
NIP. 19780703 200710 2 006
MADRASAH ALIYAH NEGERI
NGLAWAK KERTOSONO
2014
STANDAR KOMPETENSI 1: Memahami lingkungan hidup, pendidikan lingkungan
hidup,
undang-undang
lingkungan
hidup,
dan
sekolah berwawasan lingkungan serta pelestarian
dan pemanfaatan tanaman obat keluarga
Kompetensi Dasar: Memahami Lingkungan Hidup
LINGKUNGAN HIDUP
A. PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP
Pengertian lingkungan hidup adalah semua benda, daya dan kondisi yang
terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau makhluk hidup berada dan
dapat mempengaruhi hidupnya. Istilah lingkungan hidup, dalam bahasa Inggris disebut
dengan environment, dalam bahasa Belanda disebut dengan millieu atau dalam bahasa
Perancis disebut dengan l’environment.
Dalam kamus lingkungan hidup yang disusun Michael Allaby, lingkungan
hidup itu diartikan sebagai: the physical, chemical and biotic condition surrounding and
organism.
S.J. McNaughton dan Larry L. Wolf mengartikannya dengan semua faktor
eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan,
pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi organism Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto,
seorang ahli ilmu lingkungan (ekologi) terkemuka mendefinisikannya sebagai berikut:
Lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita
tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Dr St. Munadjat Danusaputro, SH, ahli
hukum lingkungan terkemuka dan Guru Besar Hukum Lingkungan Universitas
Padjadjaran mengartikan lingkungan hidup sebagai semua benda dan kondisi, termasuk di
dalamnya manusia dan tingkah perhuatannya, yang terdapat dalam ruang tempat manusia
berada dan mempengaruhi hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya.
Menurut pengertian juridis, seperti diberikan oleh Undang-Undang tentang KetentuanKetentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982
1. Otto Soemarwoto, Anolisis Mengenal Dampak Lingkungon, Gadjah Mada
University Press, 2001.
2. Michael Allaby, Dictionary of the Environment, The Mac Milian Press, Ltd.,
London, 1979.
3. S.J. McNaughton dan Larry 1_. Wolf, General Ecology Second Edition, Saunders
College Publishing, 1973.
4. Otto Soemarwoto, Permosalohan Lingkungan Hidup, dalam Seminar Segi-segi
Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup, Binacipta, 1977.
5. St. Munadjat Danusaputro, Hukum Lingkungon, Buku I Umum, Binacipta, 1980.
Selanjutnya dalam buku ini disebut UUPLH 1982), lingkungan hidup diartikan sebagai
kesatuan ruang dengan semua benda, daya dan keadaan dan makhluk hidup, termasuk di
dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengertian ini hampir tidak berbeda
dengan yang ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
No.23 Tahun 1997, yang dalam pembahasan selanjutnya dalam buku ini disebut UUPLH
1997.
Dengan demikian lingkungan hidup dapat didefinisikan antara lain sebagai berikut:
1. Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar makhluk hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan makhluk hidup untuk bertahan hidup
di lingkungannya
2. Gabungan dari kondisi social dan budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu
individu makhluk hidup atau suatu perkumpulan atau bahkan komunitas makhluk
hidup.
Berdasarkan hal tersebut di atas pengertian lingkungan dapat dikelompokkan menjadi tiga
yaitu:
a. Lingkungan fisik
Adalah lingkungan asal di bumi yang dapat di lihat secara kasat mata
b. Lingkungan hidup
Terdiri dari dua kata lingkungan dan hidup. Menurut istilah bahasa Indonesia,
lingkungan hidup dapat didefinisikan bahwa suatu daerah atau kawasan di mana
makhluk hidup seperti hewan, manusia dan tumbuhan berada serta segala sesuatu
yang mempengaruhi makhluk hidup baik secara langsung maupun tidak langsung
c. Lingkungan sosial
Adalah lingkungan yang bersifat abstrak atau tidak berwujud secara nyata dan
dipengaruhi oleh budaya setempat. Contoh suku baduy, suku asmat, yang sangat
berpegang teguh dengan adat istiadat, cara, kebiasaan dan tingkah laku
B. PENYUSUN LINGKUNGAN DARI KOMPONEN BIOTIK DAN ABIOTIK
a. Komponen Biotik penyusun lingkungan, terdiri dari jenis makhluk hidup yaitu:
1. Individu, adalah satu makhluk hidup tunggal
2. Populasi, adalah kumpulan dari beberapa makhluk hidup yang sejenis dalam satu
tempat
3. Komunitas, adalah kumpulan dari beberapa populasi dalam satu tempat
b. Komponen Abiotik penyusun lingkungan, terdiri dari makhluk tak hidup antara lain:
1. Suhu
2. Air
3. Tanah
4. Udara
5. Kelembaban
6. Salinitas
C. INTERAKSI ANTAR KOMPONEN MAKHLUK HIDUP
1. Interaksi antar spesies, adalah interaksi makhluk hidup yang terjadi antara spesies
yang berbeda jenis, bentuk-bentuk interaksinya antara lain:
a. Komensalisme
b. Mutualisme
c. Parasitisme
d. Netral
e. Kompetisi
f. Predasi
2. Interaksi inter spesies, adalah interaksi makhluk hidup yang terjadi antara spesies yang
sejenis.
Kompetensi Dasar 2. Memahami pendidikan lingkungan hidup dan mendiskripsikan ciri-ciri
sekolah berwawasan lingkungan
Kompetensi Dasar 3: Memahami Undang-undang lingkungan hidup
SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN
MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA
A. MODEL PENGELOLAAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN MENUJU
SEKOLAH ADIWIYATA
Apa itu Adiwiyata ? Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian
Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan
kesadaran warga sekolah dahulu dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam
program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan
sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan
yang negatif.
Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi
sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru,
murid dan pekerja lainnya), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat
turut bertanggung jawab dalam upaya – upaya penyelamatan lingkungan dan
pembangunan
Program
berkelanjutan.
Adiwiyata
berperikehidupan
dikembangkan
yang
antara
lain
berdasarkan
meliputi:
norma
–
kebersamaan,
norma
dalam
keterbukaan,
kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
sumber daya alam.
Sebagai salah satu penghuni planet bumi ini, kita berkewajiban menjaga
kelestarian alam dan lingkungan. Mengikuti pesan KH. Abdulah Gymnasiar yaitu
dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil, dan dimulai saat ini juga.
Empat aspek yang harus menjadi perhatian sekolah untuk dikelola dengan
cermat dan benar apabila mengembangkan Program Adiwiyata yakni ; Kebijakan,
Kurikulum, Kegiatan, dan Sarana Prasarana. Sehingga secara terencana
Pengelolaan aspek-aspek tersebut harus diarahkan pada indikator yang telah
ditetapkan dalam program Adiwiyata.
1) Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan,
2) Kurikulum Berbasis.. Lingkungan,
3) Kegiatan Berbasis Parisipatif dan
4) Sarana dan Prasarana Pendukung Ramah Lingkungan.
1. Pengembangan Kebijakan Sekolah.
Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka
diperlukan model pengelolaan sekolah yang mendukung dilaksanakannya
pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsipprinsip
dasar
Program
Adiwiyata
yakni
Partisipatif
dan
Berkelanjutan.
Pengembangan Kebijakan Sekolah yang diperlukan untuk mewujudkan Sekolah
Peduli dan Berbudaya Lingkungan tersebut antara lain ;
a.
Visi dan Misi Sekolah yang Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
b.
Kebijakan Sekolah dalam mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup.
c.
Kebijakan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) baik Pendidikan
maupun tenaga Kependidikan di bidang Pendidikan Lingkungan Hidup.
d. Kebijakan Sekolah dalam hal penghematan Sumber Daya Alam
e. Kebijakan Sekolah yang mendukung terciptanya Lingkungan Sekolah yang
Bersih dan Sehat.
f.
Kebijakan Sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan
yang terkait dengan lingkungan hidup.
2. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para peserta didik dapat
dilakukan melalui kurikulum belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan
pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan
persoalan
lingkungan
sehari-hari.
Pengembangan
kurikulum
berbasisi
lingkungan hidup mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan dapat
dicapai dengan melakukan hal-hal berikut ini :
a. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran,
b. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang
ada di masyarakat sekitar,
c. Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya,
d. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk peningkatan pengetahuan dan
kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.
3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Parsitipatif
Untuk mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan, warga sekolah
perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain
itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat di sekitarnya dalam
melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga
sekolah, masyarakat maupun lingkungannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat
dilakukan oleh warga sekolah dalam pengembangan kegiatan berbasis
partisipatif antara lain :
1. Menciptakan kegiatan ekstrakurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup
berbasis partisipatif di sekolah,
2. Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar,
3. Membangun
kegiatan
kemitraan
atau
memprakarsai
pengembangan
pendidikan lingkungan hidup di sekolah.
4. Pengelolaan dan atau pengembangan Sarana Pendukung Sekolah
Dalam mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan sarana
prasarana
yang
mencerminkan
upaya
pengelolaan
lingkungan
hidup.
Pengelolaan dan pengembangan sarana tersebut antara lain :
1. Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan
lingkungan hidup,
2. Peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan
sekolah,
3. Penghematan sumberdaya alam (listrik, air dan ATK),
4. Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat,
5. Pengembangan sistem pengelolaan sampah..
Ada beberapa penghargaan dalam program Adiwiyata. Penghargaan
Adiwiyata terbagi dalam 3 kategori yaitu Sekolah Adiwiyata Mandiri, Sekolah
Adiwiyata, dan Sekolah Calon Adiwiyata. Adiwiyata Mandiri diberikan kepada
sekolah-sekolah yang mampu mempertahankan program-program lingkungan
hidup mereka selama tiga tahun berturut-turut. Meski demikian pada dasarnya
program
Adiwiyata
tidak ditujukan
sebagai suatu kompetisi atau
lomba.
Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai apresiasi kepada sekolah yang mampu
melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar,
sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sebagaimana disebutkan diatas,
penghargaan adiwiyata tahapan pemberdayaan (selama kurun waktu kurang dari 3
tahun) dan tahap kemandirian (selama kurun waktu lebih dari 3 tahun). Pada tahap
awal, penghargaan Adiwiyata dibedakan atas dua kategori, yaitu :
a. Sekolah
Adiwiyata
adalah
sekolah
yang
dinilai
telah
berhasildalam
melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup.
b. Calon sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang dinilai telah berhasil dalam
pengembangan lingkungan hidup.
Capaian akhir program adiwiyata adalah diharapkan terbentuk sekolah
berwawasan lingkungan. Sekolah berwawasan lingkungan hidup adalah sekolah
yang menerapkan nilai-nilai cinta dan peduli lingkungan pada sekolahnya.
Pengajaran yang berbasisi lingkungan dan kesadaran warga sekolah akan
pentingnya lingkungan merupakan bagian terpenting dari sekolah berwawasan
lingkungan hidup.
B. UPAYA MEMBUAT LINGKUNGAN SEKOLAH MENJADI BERSIH DAN INDAH
1. Arti Kebersihan Lingkungan
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat
bekerja, dan berbagai sarana umum lainnya.kebersihan adalah salah satu
tanda dari keadaan higiene yang baik .Manusia perlu menjaga kebersihan
lingkungan dan kebersihan diri agar sehat tidak menyebabkan kotoran atau
menularkan penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain karena itu kita harus
pandai pandai menjaga kebersihan.
Kebersihan lingkungan merupakan hal yang tak terpisahkan dari
kehidupan manusia dan merupakan unsur yang fundamental dalam ilmu
kesehatan dan pencegahan. Yang dimaksud dengan kebersihan lingkungan
adalah menciptakan lingkungan yang sehat sehingga tidak mudah terserang
berbagai penyakit seperti demam berdarah, muntaber dan lainnya. Ini dapat
dicapai dengan menciptakan suatu lingkungan yang bersih indah dan
nyaman. Dalam
agama
Islam
juga
diajarkan
mengenai
kebersihan
lingkungan mencangkup kebersihan makan, kebersihan minum, kebersihan
rumah, kebersihan sumber air, pekarangan dan jalan. Ini semua sesuai
dengan hadits Nabi Muhammad SAW yaitu kebersihan adalah sebagian dari
pada iman.
2. Upaya Menjaga Kebersihan Lingkungan
Lingkungan ialah alam sekitar tempat manusia dan makhluk hidup
lainnya tumbuh dan berkembang . Lingkungan terdiri dari alam sekitar yang
berwujud hidup dan tak hidup.
Manusia dengan makhluk hidup lainnya
memerlukan alam sekitar yang berwujud tidak hidup, meskipun kehadirannya
dapat berubah menjadi rusak, berkurang, berlebih, atau tidak baik, dan
semua itu tergantung pada ulah makhluk hidup, khususnya manusia sebagai
makhluk yang di ciptakan Tuhan lebih sempurna dari makhluk lain.
Alam sekitar yang tak hidup seperti air, tanah, udara, merupakan
faktor penentu bagi kebersihan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
Baik buruknya tergantung pada pengolahan manusia.
dapat
memanfaatkannya
dengan
baik
disertai
Jika manusia
perhitungan
untuk
kelestarian alam bagi hidup di masa yang akan datang, alam sekitar ini akan
menjadi baik bahkan lebih baik bagi kelayakan hidup manusia dan makhluk
hidup
lainnya. Sebaliknya
alam
akan
rusak
atau
memburuk
jika
pengolahannya dilakukan tanpa kesadaran akan kepentingan untuk hidup di
masa depan, khususnya bagi generasi berikutnya.
3. Upaya menjaga lingkungan sekolah
Sekolah adalah
lembaga formal pendidikan dengan fungsi
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anak sebagai bekal dimasa
depan. Disekolah anak-anak hidup dari pagi hingga sore terkadang,
sehingga perlu diajarkan juga dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pendidikan Lingkungan Hidup sekarang ini banyak diajarkan oleh guru-guru
disekolah dengan program-program yang diintergrasikan dalam pelajaran.
Biasanya sekolah ada kebiasaan piket pagi secara bergiliran, jumat bersih
kerja bakti dan lain-lain.
Untuk menciptakan kebersihan di sekolah, hal-hal yang dapat dilakukan
antara lain :
a.
Membuat tata tertib kebersihan dan buang sampah sembarangan
b.
Memberi contoh membuang sampah pada tempatnya
c.
Memberikan
nasehat
apabila
ditemukan
pelanggaran
membuang
sampah sembarangan,
d.
Memberikan reward kepada petugas piket yang rajin dan besih dalam
membersihkan kelasnya
e.
Membiasakan diri cuci tangan sehingga murid juga meniru
Adapun pemerintah telah menetapkan UU. No. 32 tahun 2009 mengatur
tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam undangundang ini berisi 17 bab yang terbagi dalam 127 pasal.
Kompetensi dasar 4: mendiskripsikan teori penerapan dan pelaksanaan etika
lingkungan dalam berbagai aktifitas.
Tiga Teori Etika Lingkungan:
Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris
A. Teori etika Lingkungan
Teori etika lingkungan hidup ini diharapkan mampu menimbulkan
pemahaman baru terhadap masalah lingkungan hidup yang tidak terpisah dari
kosmologi tertentu yang dalam kenyataannya tidak menumbuhkan sikap
eksploitatif terhadap alam lingkungan. Pengembangan etika lingkungan hidup
diperlukan utuk mengendalikan adanya perubahan secara mendasar dari
pandangan kosmologi yang menumbuhkan sikap hormat dan bersahabat dengan
alam lingkungan (J. Sudriyanto, 1992:13).
Krisis ekologi dewasa ini telah meluas dan sangat berpengaruh pada
pandangan kosmologi yang menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan.
Relevansi pemikiran untuk memberikan landasan filosofis yang lebih mahal dan
cocok semakin diperlukan. Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai
peletak dasar dari semua permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam
seluruh keserasian alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Maka, suatu etika
yang mampu memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang
nilai-nilai, asas dan norma-norma moral bagi perilaku manusia terhadap alam
lingkungan ini akan sulit didapatkan tanpa melibatkan manusia.
Masalah ekologi tidak cukup dihadapi dengan mengembangkan etika
lingkungan
hidup. Kalau
sudah menyangkut
kesejahteraan masyarakat,
pemikiran etis saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum
yang dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarnya. Untuk itu perlu
diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika lingkungan
hidup.
Pengertian etika lingkungan: Etika Egosentris, Ekosentris, dan Homosentris
1. Etika egosentris
Etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self).
Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri
dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim
bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika
egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih
didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok
privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto,
1992:4). Inti dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31)
menjelaskan:
Bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar
kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri. Dengan demikian, etika
egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku rasional
untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini didasarkan pada
berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan dengan
teori sosial liberal. Pengetahuan mekanistik didasarkan pada asumsi bahwa
segala sesuatu merupakan bagian yang berdiri sendiri secara terpisah. Atomatom merupakan komponen riil dari alam. Begitu juga manusia yang
merupakan komponen riil dari masyarakat. Keseluruhan adalah penjumlahan
dari bagian-bagian. Hukum identitas logika (A=A) mendasari penggambaran
alam secara matematis. Demikian pula masyarakat, yang tidak lain
merupakan penjumlahan dari banyak pelaku rasional individu. Mekanisme
mempunyai asumsi bahwa banyak sebab eksternal berlaku dalam berbagai
bagian internal. Serupa dengan masyarakat, hukum dan berbagai aturan
yang dipaksakan oleh penguasa akan ditaati oleh rakyat secara positif.
Perubahan dapat terjadi dengan cara menyusun kembali bagian-bagiannya.
Bangunan
tuntutan
masyarakat
ditentukan
oleh
bagian-bagiannya.
Ilmu mekanis selalu dualistik, seperti, pengetahuan mekanis menempatkan
bagian individu sebagai komponen utama dalam pembangunan timbul
korporat. Etika egosentris menempatkan manusia sebagai individu paling
utama dalam pembangunan lingkungan sosial (J. Sudriyanto, 1992:15).
2. Etika homosentris
Etika homosentris mendasarkan diri pada kepentingan sebagian masyarakat.
Etika ini mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan sosial dan
pendekatan antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar
masyarakat manusia.Etika homosentris sama dengan etika utilitarianisme,
jadi, jika etika egosentris mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu
tindakan itu pada tujuan dan akibat tindakan itu bagi individu, maka etika
utilitarianisme ini menilai baik buruknya suatu tindakan itu berdasarkan pada
tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang. Etika
homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan universalisme etis. Disebut
universalisme karena menekankan akibat baik yang berguna bagi sebanyak
mungkin orang dan etis karena ia menekankan akibat yang baik. Disebut
utilitarianisme karena ia menilai baik atau buruk suatu tindakan berdasarkan
kegunaan atau manfaat dari tindakan tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).
Seperti halnya etika egosentris, etika homosentris konsisten dengan asumsi
pengetahuan mekanik. Baik alam mau pun masyarakat digambarkan dalam
pengertian organis mekanis. Dalam masyarakat modern, setiap bagian yang
dihubungkan secara organis dengan bagian lain. Yang berpengaruh pada
bagian ini akan berpengaruh pada bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya,
namun karena sifat uji yang utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada
pengurasan berbagai sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan
kebaikan masyarakat (J. Sudriyanto, 1990:16).
3. Etika Ekosentris
Etika ekosentris mendasarkan diri pada kosmos. Menurut etika ekosentris ini,
lingkungan secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut
aliran etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang paling
mungkin sebagai alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologis. Menurut
ekosentrisme, hal yang paling penting adalah tetap bertahannya semua yang
hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat, seperti
halnya manusia, semua benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya
sendiri (J. Sudriyanto, 1992:243).
Menurut etika ini, bumi memperluas berbagai ikatan komunitas yang
mencakup “tanah, air, tumbuhan dan binatang atau secara kolektif, bumi”.
Bumi mengubah perah “homo sapiens” dari makhluk komunitas bumi,
menjadi bagian susunan warga dirinya. terdapat rasa hormat terhadap
anggota yang lain dan juga terhadap komunitas alam itu sendiri (J.
Sudriyanto, 1992:2-13). Etika ekosentris bersifat holistik, lebih bersifat
mekanis atau metafisik. Terdapat lima asumsi dasar yang secara implisit ada
dalam
perspektif
holistik
ini,
J.
Sudriyanto
(1992:20)
menjelaskan:
Segala sesuatu itu saling berhubungan. Keseluruhan merupakan bagian,
sebaliknya perubahan yang terjadi adalah pada bagian yang akan mengubah
bagian yang lain dan keseluruhan. Tidak ada bagian dalam ekosistem yang
dapat diubah tanpa mengubah dinamika perputarannya. Jika terdapat banyak
perubahan
yang
terjadi
maka
akan
terjadi
kehancuran
ekosistem.
Keseluruhan lebih daripada penjumlahan banyak bagian. Hal ini tidak dapat
disamakan dengan konsep individu yang mempunyai emosi bahwa
keseluruhan sama dengan penjumlahan dari banyak bagian. Sistem ekologi
mengalami proses sinergis, merupakan kombinasi bagian yang terpisah dan
akan menghasilkan akibat yang lebih besar daripada penjumlahan efek-efek
individual.
Makna tergantung pada konteksnya, sebagai lawan dari “independensi
konteks” dari “mekanisme”. Setiap bagian mendapatkan artinya dalam
konteks keseluruhan.
Merupakan proses untuk mengetahui berbagai bagian. Alam manusia dan
alam non manusia adalah satu. Dalam holistik tidak terdapat dualisme.
Manusia dan alam merupakan bagian dari sistem kosmologi organik yang
sama.
Uraian di atas akan mengantarkan pada sebuah pendapat Arne Naess,
seorang filsuf Norwegia bahwa kepedulian terhadap alam lingkungan dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Kepedulian lingkungan yang “dangkal”
(shallow ecology) dan Kepedulian lingkungan yang “dalam” (deep ecology).
Kepedulian ekologis ini sering disebut altruisme platener holistik, yang
beranggapan bahwa hal ini memiliki relevansi moral hakiki, bukan tipe-tipe
pengadu (termasuk individu atau masyarakat), melainkan alam secara
keseluruhan (J. Sudriyanto, 1992:22).
Kompetensi dasar 5: mendiskripsikan dan menerapkan upaya pelestarian
TANAMAN OBAT KELUARGA
A. Pengertian Toga ( Tanaman Obat keluarga)
Toga adalah singkatan dari tanaman obat keluarga. Tanaman obat keluarga pada
hakekatnya adalah tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi
keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan
selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan.
B. Jenis dan manfaat Toga
1. Kunyit
Manfaat Tanaman Obat Kunyit. Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan
bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit
tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar
pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal
dari India. Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena
berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan
menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan
obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak,
peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai
anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan
menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.
2. Temulawak
Temulawak (Curcuma xanthorhiza roxb) yang termasuk dalam keluarga Jahe
(zingiberaceae), Temulawak ini sebagai tanaman obat asli Indonesia. Namun
demikian Penyebaran tanaman Temulawak banyak tumbuh di pulau Jawa, Maluku
dan Kalimantan. Karakteristik Temulawak tumbuh sebagai semak tanpa batang.
Mulai dari pangkalnya sudah berupa tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi
tanaman antara 2 m s/d 2,5 m. Daunnya panjang bundar seperti daun pisang yang
mana pelepah daunnya saling menutup membentuk batang. Tanaman ini dapat
tumbuh subur di dataran rendah dengan ketinggian 750 m diatas permukaan laut,
tanaman ini bisa dipanen setelah 8-12 bulan dengan ciri-ciri daun menguning seperti
mau mati. Umbinya akan tumbuh di pangkal batang berwarna kuning gelap atau
coklat muda dengan diameter panjang 15 cm dan 6 cm, baunya harum dan sedikit
pahit agak pedas. temulawak sudah lama digunakan secara turun temurun oleh
nenek moyang kita untuk mengobati sakit kuning, diare, maag, perut kembung dan
pegal-pegal. Terakhir juga bisa dimanfaatkan untuk menurunkan lemak darah,
mencegah penggumpalan darah sebagai antioksidan dan memelihara kesehatan
dengan meningkatkan daya kekebalan tubuh. Dengan banyak manfaat yang nyata
secara medis tersebut maka pemerintah mencanangkan “Gerakan Minum
Temulawak” sejak 2 tahun yang lalu.
3. Kencur
Kencur adalah istilah Jawa untuk rimpang jenis panggilan, jika masyarakat Aceh
disebut Ceuko, nama ilmiahnya adalah Kaempferia galangal. Dia termasuk kerabat
jahe-jahean (gamilia Zingiberaceae), jadi masih saudaranya kunir, jahe, kunci, dan
sebagainya. Seperti saudaranya, nama lain yang masih saudara, kencur punya
kemiripan di sana-sini tanpa pertumbuhan batang dan membentuk rimpang di dalam
tanah. Rimpang ini adalah bagian tubuh yang paling penting, karena keuntungan.
Kencur tanaman dapat hidup di mana saja, selama tanah gembur dan subur,
dengan sedikit teduh. Dengan melakukan proses penyulingan maka dari kencur
tersebut akan menghasilkan minyak Atsiri, Berdasarkan analisis laboratorium,
minyak atsiri dalam rimpang kencur mengandung lebih dari 23 jenis senyawa. Tujuh
di antaranya mengandung senyawa aromatik, monoterpena, dan seskuiterpena.
Kandungan kimia yang terdapat di dalam rimpang kencur adalah: • pati (4,14%) •
mineral (13,73%) • minyak astiri (0,02%) • berupa sineol • asam metal kanil • penta
dekaan • asam cinnamic • ethyl aster • asam sinamic • borneol • kamphene •
paraeumarin • asam anisic • alkaloid, dan • gom Dengan kandungan zat kimia
tersebut maka banyak dimanfaatkan sebagai obat, berikut adalah cara pemanfaatan
kencur berdasarkan penyakit yang dapat diatasinya : Influenza pada Bayi Komposisi:
1 rimpang kencur sebesar ibu jari dan dua lembar daun kemukus (lada
berekor/cubeb). Cara menyajikan : kedua bahan tersebut ditumbuk halus, kemudian
ditambah beberapa sendok air hangat. Cara menggunakan: dioleskan/dibobokkan
diseputar hidung. Sakit Kepala Komposisi: 2-3 lembar daun kencur. Cara menyajikan
:daun kencur ditumbuk sampai halus. Cara menggunakannya: dioleskan (sebagai
kompres/pilis) pada dahi. Keseleo Komposisi: 1 potong rimpang kencur dan beras
yang sudah direndam air. Cara menyajikan : kedua bahan tersebut ditumbuk halus
dan diberi air secukupnya. Cara menggunakan: dioleskan/digosokkan pada bagian
yang keseleo sebagai bedak. Menghilangkan lelah Komposisi: 1 rimpang besar
kencur, 2 sendok beras digoreng tanpa minyak (sangan) dan 1 biji cabai merah.
Cara menyajikan :semua bahan tersebut direbus bersama dengan 2 gelas air
sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring Cara menggunakan:
diminum sekaligus dan diulangi sampai sembuh. Untuk pria dapat ditambah dengan
1 potong lengkuas dan tepung lada secukupnya. Radang Lambung Komposisi: 2
rimpang kencur sebesar ibu jari. Cara menyajikan :kencur dikuliti sampai bersih dan
dikunyah. Cara menggunakan: ditelan airnya, ampasnya dibuang, kemudian minum
1 gelas air putih, dan diulangi sampai sembuh. Batuk a. Komposisi: 1 rimpang
kencur sebesar ibu jari dan garam secukupnya. Cara menyajikan :kencur diparut,
kemudia ditambah 1 cangkir air hangat, diperas dan disaring. Cari menggunakan:
diminum dengan ditambah garam secukupnya. b. Komposisi: 1 rimpang kencur
sebesar ibu jari. Cara menyajikan :kencur dikuliti sampai bersih dan dikunyah. Cara
menggunakan: airnya ditelan, ampasnya dibuang. Dilakukan setiap pagi secara
rutin. Memperlancar Haid Komposisi: 2 rimpang kencur sebesar ibu jari, 1 lembar
daun trengguli, 1 biji buah cengkeh tua, adas pulawaras secukupnya. Cara
menyajikan :kencur dicincang, kemudian dicampur dengan bahan lain dan direbus
bersama dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas, kemudian
disaring. Cara menggunakan: diminum sekali sehari 2 cangkir.
Download