8 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Stakeholder

advertisement
8
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Stakeholder
Teori stakeholder adalah teori yang menggambarkan kepada pihak mana
saja (stakeholder) perusahaan bertanggungjawab (Pratiwi, 2012). Perusahaan harus
menjaga hubungan dengan stakeholder-nya dengan mengakomodasi keinginan dan
kebutuhan stakeholder, terutama stakeholder yang mempunyai power terhadap
ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan,
seperti tenaga kerja, pasar atas produk perusahaan dan lain-lain (Ghozali, 2011).
Salah satu strategi untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder perusahaaan
adalah dengan melaksanakan CSR, dengan pelaksanaan CSR diharapkan keinginan
dari stakeholder dapat terakomodasi sehingga akan menghasilkan hubungan yang
harmonis antara perusahaan dengan stakeholder. Hubungan yang harmonis akan
berakibat pada perusahaan dapat mencapai keberlanjutan atau kelestarian
perusahaannya.
2.2 Corporate Social Responsibility (CSR)
Ebert (2003) dalam Pratiwi (2012) mendefinisikan corporate social
responsibility sebagai usaha perusahaan untuk menyeimbangkan komitmenkomitmennya
lingkungan
terhadap
perusahaan
kelompok-kelompok
tersebut,
termasuk
dan
individu-individu
didalamnya
adalah
dalam
pelanggan,
perusahaan-perusahaan lain, para karyawan, dan investor. Perusahaan harus menjaga
hubungan dengan stakeholder dengan mengakomodasi keinginan dan kebutuhan
stakeholdernya, terutama stakeholder yang mempunyai power terhadap ketersediaan
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
9
sumber daya yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan, misal tenaga
kerja, pasar atas produk perusahaan dan lain-lain (Ghozali, 2011).
Penerapan CSR dalam perusahaan-perusahaan diharapkan selain memiliki
komitmen financial kepada pemilik atau pemegang saham (stakeholder), tapi juga
memiliki komitmen sosial terhadap para pihak lain yang berkepentingan, karena
CSR merupakan salah satu bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam jangka
panjang. Hal tersebut didukung oleh Ghozali (2011) yang menyatakan bahwa
“kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan stakeholder”.
2.3 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
2.3.1Pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Perusahaan memiliki kewajiban sosial atas apa yang terjadi disekitar
lingkungan masyarakat. Selain menggunakan dana dari pemegang saham,
perusahaan juga menggunakan dana dari sumber daya lain yang berasal dari
masyarakat (konsumen) sehingga hal yang wajar jika masyarakat mempunyai
harapan tertentu terhadap perusahaan. Hasibuan (2001) menyatakan bahwa tanggung
jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai berikut :
1.Basic responsibility (BR)
Pada level pertama, menghubungkan tanggung jawab yang pertama dari suatu
perusahan, yang muncul karena keberadaan perusahaan tersebut seperti:
perusahaan harus membayar pajak, memenuhi hukum, memenuhi standar
pekerjaan dan memuaskan pemegang saham. Bila tanggung jawab pada level ini
tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak yang sangat serius.
2. Organization responsibility (OR)
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
10
Pada level kedua ini menunjukan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi
perubahan kebutuhan "stakeholder“ seperti pekerja, pemegang saham, dan
masyarakat di sekitarnya.
3. Sociental responses (SR)
Pada level ketiga, menunjukan tahapan ketika interaksi antara bisnis dan
kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga perusahaan dapat
tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan, terlibat dengan apa yang
terjadi dalam lingkungannya secara keseluruhan.
Tanggung jawab perusahaan tidak hanya terbatas pada kinerja keuangan
perusahaan, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap masalah sosial yang
ditimbulkan oleh aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan. Pratiwi (2012)
mendeskripsikan tanggung jawab sosial sebagai kewajiban organisasi yang tidak
hanya menyediakan barang dan jasa yang baik bagi masyarakat, tetapi juga
mempertahankan kualitas lingkungan sosial maupun fisik dan juga rnemberikan
kontribusi positif terhadap kesejahteraan komunitas dimana mereka berada.
Sedangkan menurut Hasibuan (2001) tanggung jawab sosial diartikan
bahwa
perusahaan
mempunyai
tanggung
jawab
pada
tindakan
yang
mempengaruhi konsumen, masyarakat dan lingkungan.
Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial
adalah suatu bentuk pertanggung jawaban yang seharusnya dilakukan
perusahaan, atas dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan dari
aktivitas operasionalnya dan mungkin sedikit banyak berpengaruh terhadap
masyarakat internal maupun ekstemal data lingkungan perusahaan. Selain
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
11
melakukan aktivitas yang berorientasi pada laba, perusahaan perlu melakukan
aktivitas lain misalnya aktivitas untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman
bagi karyawannya, menjamin bahwa proses produksinya tidak mencemarkan
lingkungan sekitar perusahaan melakukan penempatan tenaga kerja secara jujur,
menghasilkan produk yang aman bagi para konsumen, dan menjagalingkungan
eksternal untuk mewujudkan kepedulian sosial perusahaan.
2.3.2 Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Menurut (Anugerah, 2010) tangggung jawab sosial perusahaan sering
disebut juga sebagai corporate social responsibility atau social disclosure, corporate
social reporting, social reporting merupakan proses pengkomunikasian dampak
sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus
yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan. Hal tersebut
memperluas tanggung jawab organisasi dalam hal ini perusahaan di luar peran
tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal
khususnya pemegang saham. Perluasan tersebut dibuat dengan asumsi bahwa
perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya mencari
laba untuk pemegang saham (Hasibuan, 2001).
Menurut (Anugerah 2010) ada dua pendekatan yang secara signifikan
berbeda dalam melakukan penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan. Pertama, pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan mungkin
diperlakukan sebagai suatu suplemen dari aktivitas akuntansi konvensional.
Pendekatan ini secara umum akan menganggap masyarakat keuangan sebagai
pemakai utama pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan cenderung
membatasi persepsi tentang tanggung jawab sosial yang dilaporkan.
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
12
Pendekatan alternatif kedua dengan meletakan pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan pada suatu pengujian peran informasi dalam hubungan
masyarakat dan organisasi. Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber
utama kemajuan dalam pemahaman tentang pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan dan sekaligus merupakan sumber kritik yang utama terhadap
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Banyak
teori
yang
menjelaskan
mengapa
perusahaan
cenderung
mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aktivitasnya dan dampak yang
ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. (Purnasiwi, 20l l) menyebutkan ada tiga studi
yaitu :
1. Decision usefutlness studies
Sebagian dari studi-studi yang dilakukan oleh para peneliti yang
mengemukakan teori ini menemukan bukti bahwa informasi sosial dibutuhkan
oleh para pemakai laporan keuangan. Dalam hal ini para analis, dan pihak lain
yang
dilibatkan
dalam
penelitian
tersebut
diminta
untuk
melakukan
pemeringkatan terhadap informasi akuntansi. Informasi akutansi tersebut tidak
terbatas pada informasi akuntansi tradisional yang telah dikenal selama ini,
namun juga informasi lain yang relatif baru dalam wacana akuntansi. Mereka
menempatkan informasi aktivitas sosial perusahaan pada posisi yang moderately
important untuk digunakan sebagai pertimbangan oleh para users dalam
pengambilan keputusan.
2. Economic theory studies
Studi ini menggunakan agency theory dan positive accounting theory,
dimana teori tersebut menganalogikan manajemen sebagai agen dari suatu
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
13
prinsipal. Dalam penggunaan agency theory, prinsipal diartikan sebagai
pemegang saham atau traditionol users lain. Namun pengertian prinsipal
tersebut meluas menjadi seluruh interest group perusahaan yang bersangkutan.
Sebagai agen manajemen akan berupaya mengoperasikan perusahaan sesuai
dengan keinginan publik (stakeholder).
3. Sacial and political theory studies
Studi di bidang ini menggunakan teori stakeholders, teori legitimasi
organisasi, dan teori ekonomi politik. Teori stakeholders mengasumsikan bahwa
eksistensi perusahaan ditentukan oleh para stakeholders. Perusahaan berusaha
mencari pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi
perusahaannya. Sehingga berakibat semakin besar pula kecenderungan
perusahaan mengadaptasi diri terhadap keinginan para stakeholders.
Menurut (Cahya,201l) dalam media Akuntansi, pengungkapan kinerja
perusahaan seringkali dilakukan secara sukarela (voluntary disclosare) oleh
perusahaan. Adapun alasan-alasan perusahaan mengungkapkan kinerja sosial
secara sukarela antara lain:
1. Internal Decision Making : Manajemen membutuhkan informasi untuk
menentukan efektivitas informasi sosial tertentu dalam mencapai tujuan
sosial perusahaan. Walaupun hal ini sulit diidentifikasi dan diukur, namun
analisis secara sederhana lebih baik dari pada tidak sama sekali.
2. Product Diffirentiation : Manajer perusahaan memiliki insentif untuk
membedakan diri dari pesaing yang tidak bertanggung jawab secara sosial
kepada masyarakat. Akuntansi kontemporer tidak memisahkan pencatatan
biaya dan manfaat aktivitas sosial perusahaan dalam laporan keuangan,
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
14
sehingga perusahaan yang tidak peduli sosial akan terlihat lebih sukses dari
pada perusahaan yang peduli. Hal ini mendorong perusahaan yang peduli
sosial untuk mengungkapkan informasi tersebut sehingga masyarakat dapat
membedakan mereka dari perusahaan lain.
3. Enlightened Self Interest : Perusahaan melakukan pengungkapan untuk
menjaga keselarasan sosialnya dengan para stakeholder karena mereka dapat
mempengaruhi pendapatan penjualan dan harga saham perusahaan.
Pertanggungjawaban sosial berhubungan juga dengan social contract
theory. Menurut teori ini, diantara bisnis perusahaan dan masyarakat terdapat
suatu kontrak sosial yang secara implisit maupun eksplisit. Dimana dalam kontrak
sosial, akuntansi sosial digunakan sebagai serangkaian teknik pengumpulan dan
pengungkapan data sehingga memungkinkan masyarakat untuk mengevaluasi
kinerja sosial organisasi dalam memberi penilaian mengenai kelayakan operasi
organisasi menurut (Purnasiwi,2012). Disamping itu, pertanggungjawaban
perusahaan diperlukan untuk menilai apakah kegiatan perusahaan telah
memenuhi ketentuan standar, dan peraturan yang berlaku. Misalnya mengenai
polusi, kesehatan dan keselamatan, bahaya penggunaan bahan-bahan yang
beracun.
Pada saat perusahaan mulai berinteraksi dan dekat dengan lingkungan
luarnya (masyarakat), maka berkembang hubungan saling ketergantungan dan
kesamaan minat serta tujuan antara perusahaan dengan lembaga sosial yang ada.
Interaksi ini menyebabkan perusahaan tidak bisa lagi membuat keputusan atau
kebijakan yang hanya menguntungkan pihaknya saja. Menurut Purnasiwi (2012)
perusahaan juga harus memikirkan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan (stakeholder needs). Jika tekanan dari stakeholder
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
15
berpengaruh kuat terhadap kinerja perusahaan maka perusahaan harus bisa
menyusun kebijakan sosial dan lingkungan yang terarah.
Perkembangan praktek dan pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan di Indonesia juga mendapat dukungan dari pemerintah, yaitu dengan
dikeluarkannya regulasi terhadap kewajiban praktek dan pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan melalui Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40
Tahun 2007, pasal 66 dan 74. Pada pasal 66 ayat 2 bagian c disebutkan bahwa
selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga diwajibkan melaporkan
pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sedangkan dalam pasal 74
menjelaskan tentang kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan bagi semua perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan
sumber daya alam. Undang-undang tersebut juga mewajibkan semua perseroan
untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial tersebut di laporan tahunan
(Lingkar Studi CSR, 2007).
Menurut Wisnoetoro (2011) anggaran CSR dalam perusahaan akanjauh
lebih baik dan lebih aman diambil dari laba setelah pajak atau Earning After Tax
(EAT), sehingga penentuannya pun dihitung berdasarkan keuntungan bersih
perusahaan bukan dari asumsi keuntungan yang akan didapat. Hal ini akan lebih
menenangkan bagi perusahaan itu sendiri, karena bagaimanapun program CSR
memerlukan konsistensi dan komitmen yang jelas. Dana CSR tersebut digunakan
untuk menjaga citra perusahaan di mata konsumen, pembentukan citra sebagai
perusahaan yang peduli terhadap masyarakat membuat bisnis berjalan lebih
lancar. Pembentukan citra tersebut yaitu dengan cara memberikan dana beasiswa
untuk siswa berprestasi, dana bantuan untuk korban bencana alam, dana
kesehatan dan dana untuk lingkungan alam dan sosial kemasyarakatan.
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
16
2.4 Kinerja Keuangan yang Mempengaruhi Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan
Aktivitas sosial perusahaan merupakan salah satu komponen yang
digunakan dalam laporan tahunan. Belum adanya standar baku yang mengatur
tentang
pelaporan
aktivitas
sosial
perusahaan
menyebabkan
adanya
keanekaragaman bentuk pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan.
Setiap
perusahaan
mempunyai
kebijakan
yang
berbeda-beda
mengenai
pengungkapan sosial sesuai dengan karateristik perusahaan.
Hal ini menimbulkan masalah dalam pengukuran pengungkapan sosial.
Oleh sebab itu, pengukuran pengungkapan sosial dilakukan dengan menggunakan
instrumen penelitian berupa daftar item pengungkapan sosial berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh (Cahya, 2011).
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pertanggungiawaban sosial,
seperti size perusahaan, profitabitity, ukuran dewan komisaris maupun profile yang
dianggap sebagai variabel penduga dalam pengungkapan pertanggungjawaban
sosial. Dalam penalitian ini penulis meneliti tiga variabel, yang terdiri dari :
2.4.1 Size
Menurut Hesti (2010) size atau ukuran perusahaan adalah suatu
skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan. Ukuran suatu
perusahaan dapat dinyatakan dengan besar kecilnya perusahaan yang dapat
dilihat dari total aktiva, total aktiva tetap, omset penjualan dan jumlah
karyawan di dalam suatu perusahaan. Dalam penelitian ini menggunakan log
natural of total assets. Sesuai dengan ketentuan BAPEPAM No.11/PM/l997,
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
17
disebutkan bahwa kategori perusahaan besar adalah perusahaan yang
memiliki total aktivanya lebih dari Rp 100.000.000.000,00 sedangkan
perusahaan kecil dan menengah total aktivanya tidak lebih dari Rp
100.000.000.000,00. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan
informasi lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Hal ini karena
perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding
perusahaan kecil.
Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan
politis, yaitu tekanan untuk melakukan pertanggungjawaban sosial.
Pengungkapan sosial yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis
bagi perusahaan (Hasibuan,2001). Dengan mengungkapkan kepedulian pada
lingkungan melalui pelaporan keuangan maka perusahaan dalam jangka
waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari
tuntutan masyarakat.
Menurut Hasibuan (2001) ada dugaan bahwa perusahaan yang kecil
akan mengungkapkan lebih rendah kualitasnya dibanding perusahaan besar.
Hal ini karena ketiadaan sumber daya dan dana yang cukup besar dalam
laporan tahunan. Manajemen khawatir dengan mengungkapkan lebih banyak
akan
mernbahayakan
posisi
perusahaan
terhadap
kompetitor
lain.
Ketersediaan sumber daya dan dana membuat perusahaan merasa perlu
membiayai penyediaan informasi untuk pertanggungjawaban sosialnya.
Di samping itu, perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung
memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibanding
perusahaan yang berukuran lebih kecil. Alasan lain adalah perusahaan besar
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
18
dan memiliki biaya keagenan yang lebih besar tentu akan mengungkapkan
informasi yang lebih luas hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya
keagenan yang dikeluarkan.
Menurut Sembiring (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang
lebih besar mungkin akan memiliki pemegang saham yang memperhatikan
program sosial yang dibuat perusahaan dalam laporan tahunan yang
merupakan media untuk menyebarkan informasi tentang tanggung jawab
sosial keuangan perusahan.
Penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial menunjukan
hasil yang beragam. Penilitian Darwis (2009), Nurkhin (2010), Anugerah
(2010), Pratiwi (2012) dan Nur (2012) membuktikan bahwa size
berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
2.4.2Profitability
Profitability diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba atau profit dalam upaya meningkatkan nilai pemegang
saham. Pengungkapan mengenai pertanggungjawaban sosial perusahaan
mencerminkan suatu pendekatan perusahaan dalam melakukan adaptasi
dengan lingkungan yang dinamis dan bersifat multidimensi. Hubungan
antara pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan dan profitability
perusahaan telah diyakini mencerminkan pandangan bahwa reaksi sosial
memerlukan gaya manajerial yang sama dengan gaya manajerial yang
dilakukan pihak manajemen untuk membuat suatu perusahaan memperoleh
keuntungan (Anugerah, 2010). Terdapat beberapa ukuran untuk menentukan
profitabititas perusahaan, yaitu: return of equity, return on assets, earning
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
19
per shore dan net profit margin. Return On Equity (ROE) merupakan suatu
pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik
perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen)
atas modal yang mereka investasikan dalam perusahaan (Syamsuddin,
2011). ROE dapat dirumuskan sebagai berikut :
ROE =
Laba Bersih Setelah Pajak
ModalSendiri
Return On Investment (ROI) atau yang sering disebut jugadengan
"Return On Assets (ROA)" merupakan pengukuran kemampuan perusahaan
secara keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin,
2011). ROA dapat dirumuskan sebagai berikut :
ROA =
Laba Bersih Setelah Pajak
Total Aktiva
Earning Per Share (EPS) merupakan alat analisis perusahaan yang
menggunakan konsep laba konvensional. EPS adalah salah satu dari dua alat
ukur yang sering digunakan untut mengevaluasi saham biasa. EPS atau laba
perlembar saham adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar
sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya.
Laba per lembar saham atau EPS di peroleh dari laba sesudah pajak
dikurangi deviden saharn preferen dibagi dengan jumlah saham biasa yang
beredar. EPS dapat dirumuskan sebagai berikut :
ROE =
laba bersih setelah pajak − deviden saham preferen
jumlah lembar saham biasa yang beredar
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
20
Net Profit Margin adalah merupakan ratio antara laba bersih (net
profit) yaitu penjualan sesudah dikurangi dengan seluruh expenses termasuk
pajak dibandingkan dengan penjualan. Semakin tinggi net profit margin,
semakin baik operasi suatu perusahaan (Syamsuddin, 201 l) dirumuskan
sebagai berikut :
π‘π‘’π‘‘π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘–π‘› =
Laba Bersih Setelah Pajak
Penjualan
Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan
cerminan suatu pendekatan manajemen dalam menghadapi lingkungan yang
dinamis dan multi dimensional serta kemampuan untuk mempertemukan
tekanan sosial dengan reaksi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian,
ketrampilan manajemen perlu dipertimbangkan untuk survive dalam
lingkungan perusahaan masa kini (Hasibuan, 2001).
(Cahya, 2011) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan faktor
yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk
mengungkapkan pertanggung jawaban sosial kepada pemegang saham. Hal
ini berarti semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin
besar pengungkapan informasi sosial.
Riset penelitian empiris terhadap hubungan pengungkapan sosial
perusahaan profitabilitas menghasilkan hasil yang sangat beragam.
Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh (Yuliani,2003) menunjukan
hasil bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial
dan lingkungan perusahaan.
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
21
Darwis (2009) menyatakan berdasarkan teori legitimasi, salah satu
argumen dalam hubungan antara profitabilitas dan tingkat pengungkapan
tanggung jawab sosial adalah ketika perusahaan memiliki laba yang tinggi,
perusahaan tidak perlu melaporkan hal-hal yang mengganggu informasi
tentang suksesnya keuangan perusahaan. Sebaliknya pada saat tingkat
profitabilitas rendah, mereka berharap para pengguna laporan akan membaca
"good news" kinerja perusahaan. Misalnya dalam lingkup sosial, ketika
investor membaca laporan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan
diharapkan mereka tetap berinvestasi di perusahaan tersebut. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif
terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun hal ini bertentangan dengan teori agensi yang menyatakan
bahwa semakin besar perolehan laba yang didapat perusahan, maka semakin
luas informasi sosial yang diungkapkan perusahaan. Ini dilakukan untuk
mengurangi biaya keagenan yang muncul. Mengingat adanya perbedaan
hasil dari hasil penelitian para ahli yang telah dikemukakan di atas, maka
dalam penelitian ini menguji kembali pengaruh profitabilitas terhadap
pengungkapan social responsibility dalam laporan tahunan di Bursa Efek
Indonesia.
Penilitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial juga dikaitkan
dengan profitability. Penelitian yang dilakukan oleh Nurkhin (2010),
Anugerah (2010), Novrianto (2012) dan Nur (2012) menunjukan bahwa
profitability berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
2.4.3Leverage
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
22
Menurut Cahya (2011) Leverage keuangan (ratio leverage) adalah
perbandingan antara dana-dana yang dipakai untuk membelanjai/membiayai
perusahaan atau perbandingan antara dana yang diperoleh dari ekstern
perusahaan (kreditur) dengan dana yang disediakan pemilik perusahaan.
Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur
modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak
tertagihnya suatu utang. Oleh karena itu perusahaan dengan rasio leverage
yang tinggi memiliki kewajiban untuk melakukan ungkapan yang lebih luas
daripada perusahaan dengan rasio leverage yang rendah.
Leverage dibagi menjadi dua, yaitu Operating Leverage dan
Financial Leverage. Menurut Cahya(2011), operating leverage adalah
tingkat sampai sejauh mana biaya-biaya tetap digunakan di dalam operasi
sebuah perusahaan. Operating leverage juga dapat diartikan sebagai
penggunaan dana dengan biaya tetap dengan harapan pendapatan yang
dihasilkan dari penggunaan dana tersebut dapat menutup biaya tetap dan
biaya variabel. Menurut Cahya (2011), financial leverage adalah tingkat
sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (utang dan saham preferen)
digunakan dalam struktur modal sebuah perusahaan.
Sedangkan menurut Syamsuddin (2011) financial leverage adalah
kemampuan perusahaan dalam menggunakan kewajiban-kewajiban finansial
yang sifatnya tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT (Earning
Before Interest and Taxes) terhadap pendapatan perlembar saham biasa
(Earning Per Share/ EPS). Financial leverage terjadi pada saat perusahaan
menggunakan dana yang menimbulkan beban tetap, apabila perusahaan
menggunakan utang, maka perusahaan harus membayar bunga. Bunga harus
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
23
dibayar berapapun laba perusahaan. Tingkat risiko dan return saham
perusahaan merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan calon
investor sebelum mengambil keputusan investasi saham. Return saham dan
risiko berhubungan secara linier dengan leverage yang akan digunakan oleh
perusahaan. Apabila risiko tinggi maka para pemegang saham akan meminta
return saham yang tinggi pula disamping itu penggunaan leverage juga
dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Penelitian Rawi dan Muchlis (2010) memberikan hasil bahwa
leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sembiring
(2005) dan Angraeni (2006), yang dalam penelitiannya tidak menemukan
hubungan signifikan antara leverage dengan pengungkapan informasi sosial.
Debt Equity Ratio(DER) adalah rasio yang menunjukkan hubungan
antara jumlah pinjaman jangka panjang yang diberikan oleh para kreditur
dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan
(Syamsuddin, 2011). Rumusnya adalah sebagai berikut:
π·π‘’π‘π‘‘πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦π‘…π‘œπ‘‘π‘–π‘œ (𝐷𝐸𝑅) =
totaluang
π‘‘π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™π‘’π‘˜π‘’π‘–π‘‘π‘Žπ‘ 
Degree of Operating Leverage (DOL) merupakan presentase
perubahan
EBIT
dibagi
dengan
presentase
perubahan
penjualan
(Syamsuddin, 20ll). DOL dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
DOL =
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žπ‘•π‘Žπ‘›πΈπ΅πΌπ‘‡
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘ π‘’π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žπ‘•π‘Žπ‘›π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
24
Degree of Financial Leverage (DFL) adalah presentase perubahan
Earning Per Share (EPS) dibagi dengan presentase perubahan Earning
Before Interest andTaxes (EBIT) (Syamsuddin, 2011). Formulanya adalah
sebagai berikut:
DFL =
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘’π‘›π‘‘π‘œπ‘ π‘’π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žπ‘•π‘Žπ‘›πΈπ‘ƒπ‘†
Prosentase Perubahan EBIT
Penelitian tentang pengaruh leverage terhadap pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan yang dilakukan Cahya (2011), Suhaenah (2011), dan
Putra (2011) menunjukan hasil bahwa leverage berpengaruh positif terhadap
CSR.
2.5 Kerangka Pemikiran
Penelitian ini dilakukan pengungkapan tanggung jawab untuk
memberi gambaran tentang praktek sosial yang dilaksanakan oleh
perusahaan di Indonesia dan mengetahui pengaruh karakteristik perusahaan
(size, profitability, dan leverage) terhadap pengungkapan tanggung jawab
sosial perusahaan. Size perusahaan merupakan variabel yang banyak
digunakan untuk menjelaskan pengungkapan sosial yang dilakukan
perusahaan dalam laporan tahunan yang dibuat. Secara umum perusahaan
besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan
kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi risiko politis yang
lebih besar dibanding perusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar
tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk melakukan
pertanggungjawaban sosial. Pengungkapan sosial yang lebih besar
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
25
rnerupakan
pengurangan
biaya
politis
bagi
perusahaan
(Hasibuan,200l).Dengan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan
melalui pelaporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka waktu panjang
bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat.
Teori keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan rasio
leverage yang lebih tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi,
karena biaya keagenan perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih
tinggi. Tambahan informasi diperlukan untuk menghilangkan keraguan
pemegang obligasi terhadap dipenuhinya hak-hak mereka sebagai kreditur
(Anggraini, 2006).Oleh karena itu, perusahaan dengan rasio leverage yang
tinggi memiliki kewajiban untuk melakukan ungkapan yang lebih luas
daripada perusahaan dengan rasio leverage yang rendah.
Item dan kualitas informasi yang diungkapkan dalam laporan yang
disiapkan manajemen dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan
kebijakan perusahan. Manajemen memiliki dorongan untuk mengungkapkan
informasi yang menguntungkan dan menyembunyikan informasi yang tidak
menguntungkan. Informasi yang menguntungkan akan diungkap seluasluasnya, sedangkan informasi yang tidak menguntungkan kelihatannya tidak
diungkap dan sebagai hasilnya, para pemegang saham tidak akan
mengetahui secara khusus informasi yang disembunyikan. Untuk mengatasi
hal tersebut, pemegang saham mendelegasikan wewenang mereka dalam
memonitor aktivitas manajemen kepada dewan komisaris.
Dari penelitian terdahulu, hasil penelitian tentang pengungkapan
tanggung jawab sosial menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
26
Sembiring (2003 dan 2005), Nurkhin (2008), Pratiwi (2012) dan Darwis
(2009) membuktikan bahwa ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif
terhadap pengungkapan CSR.
Penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial juga
dikaitkan dengan profitabilitas. Penelitian Nurkhin (2008), Veronica (2009),
dan Kartadjumena et.al. (2011) yang menunjukkan bahwa profitabilitas
berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
Penelitian tentang pengaruh leverage terhadap pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan yang dilakukan Cahya (2011), Suhaenah
(2011), dan Putra (2011) menunjukan hasil bahwa leverage berpengaruh
positif terhadap CSR.
Berdasarkan beberapa teori dan temuan penelitian yang menguji
pengaruh antara size, profitability, dan leverage dengan pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan, maka bisa dibuat model kerangka pikir
seperti dalam gambar berikut ini :
Size (X1)
H
2
Profitability (X2)
H3
H1
Pengungkapan Tanggung
Jawab sosial Perusahaan
(Y)
H4
Leverage (X3)
(Y)
Gambar 2.1
Model Penelitian
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
27
2.6 Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
H1:Size, profitability, dan leverage, secara simultan berpengaruh terhadap corporate
social responsibility
H2 : Size berpengaruh positif terhadap corporate social responsibility
H3 :Profitability berpengaruh positif terhadap corporate social responsibility
H4: Leverage berpengaruh positif terhadap corporate social responsibility
Pengaruh Size, Profitability ..., Rizka Firdayanti, FE UMP, 2015
Download