SKRIPSI Oleh: Nama: Muhammad Aandi Ihram NIM 109101000087

advertisement
HUBUNGAN TINGKAT SIRKULASI OKSIGEN DAN KARAKTERISTIK
INDIVIDU DENGAN KEJADIAN TB PARU PADA KELOMPOK USIA
PRODUKTIF DI PUSKESMAS PONDOK PUCUNG TAHUN 2013
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
(SKM)
Oleh:
Nama: Muhammad Aandi Ihram
NIM 109101000087
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013 M/1434 H
i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Muhammad Aandi Ihram, NIM : 109101000087
Hubungan Tingkat Sirkulasi Oksigen dan Karakteristik Individu dengan Kejadian
TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
xix + 101 halaman, 18 tabel, 2 bagan,5 lampiran
ABSTRAK
Tuberkulosis paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. WHO dalam
Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara
dikategorikan sebagai high burden countris terhadap TB Paru, termasuk Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan pasien tuberkulosis terbanyak ke-5 di dunia
setelah India, Cina, Afrika Selatan, dan Nigeria. Pada tahun 2012 Puskesmas Pondok
Pucung mempunyai kasus TB Paru terbanyak di wilayah Tangerang Selatan yaitu
sebesar 769 penderita.
Tujuan penelitian ini diketahuinya hubungan tingkat sirkulasi oksigen dan
karakteristik individu dengan kejadian TB paru pada kelompok usia produktif di
Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan. Waktu penelitian dilakukan pada
bulan Mei-Agustus 2013. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional
dengan desain Cross sectional study, jumlah sampel 65 responden dan teknik
pengambilan sampel adalah Simple random sampling. Data diperoleh dari data rekam
medis puskesmas pada bulan April-Juni 2013, data kuesioner (data responden),
pengukuran IMT (timbangan & Microtoice), pengukuran ventilasi dengan meteran
dan suhu dengan Thermohygrometer. Analisis uji statistik menggunakan uji Chisquare dengan derajat kepercayaan 95%.
Berdasarkan hasil penelitian dari 65 responden di Puskesmas Pondok Pucung
diperoleh 23 orang (35,4%) yang mengalami kejadian TB. Faktor yang memiliki
hubungan secara statistik terhadap kejadian TB paru adalah variabel status gizi (p=
0,001), kepadatan hunian (p= 0,001) dan ventilasi rumah (p= 0,014). Sedangkan
faktor lainnya yang tidak berhubungan secara statistik adalah jenis kelamin (0,602),
pendidikan (0,116), pengetahuan (0,729) dan suhu ruangan (0,417).
Disarankan perlu dilakukan upaya peningkatan penjaringan terhadap
penderita tuberkulosis paru, peningkatan perbaikan kondisi lingkungan rumah dengan
lebih memperhatikan aspek sanitasi rumah sehat pada saat membangun rumah dan
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kata Kunci: Kejadian TB Paru, Tingkat Sirkulasi Oksigen, Karakteristik Individu.
Daftar Bacaan: 1988-2013
ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
MAJOR OF ENVIRONMENTAL HEALTH
Muhammad Aandi Ihram, NIM : 109101000087
Association Oxygen Circulation Level and Individual Characteristics with Lung
Tuberculosis in Productive Age Period at Puskesmas Pondok Pucung 2013
xix + 101 pages, 18 tables, 2 chart , 5 attachments
ABSTRACT
Pulmonary tuberculosis caused by mycobacterium tuberculosis. WHO in
Annual Report on Global TB Control 2003 states that there are 22 countries
categorial as high burden countries of Lung Tuberculosis included Indonesian.
Indonesia is the country with the highest tuberculosis patients 5th in the world after
India, China, South Africa and Nigeria. In 2012 the Puskesmas Pondok Pucung has
the highest Pulmonary TB cases in the province of South Tangerang taker 769
patients.
The purpose of this research knowing association oxygen circulation level and
individual characteristics with lung Tuberculosis in productive age period at
Puskesmas Pondok Pucung. The time study was conducted in May-August 2013.
This type of research is a observational study with cross-sectional design, the number
of samples of 65 respondents and the sampling technique was simple random
sampling. Data obtained from the data clinic medical record in April-June 2013,
questionnaires (data respondents), IMT measurements with (weigher and microtoice),
ventilation measurements with meteran and temperature with thermohygrometer.
Statistical analysis using Chi-square with degrees of 95% and alpha of 0.05.
The results, from 65 respondents at Puskesmas Pondok Pucung obtained 23
peoples (35.4%) having lung tuberculosis incidence. Factors that have statistical
association for lung Tuberculosis incidence is variable nutrition status (p= 0,001),
density residents (p= 0,001), and house ventilation (p= 0,014). While other factors not
have statistical association is gender (0,602), education (0,116), knowladge (0,729),
and temperatue room (0,417).
Purposed to promoting for health housing, incidence lung tuberculosis, case
finding of lung tuberculosis, improving house environmental health with house
owners who will renovate their houses are recommended to build a basic of house
will sanitation aspects and follow the healthy life behaviour.
Keywords: Lung Tuberculosis, Oxygen Circulation levels, Individual characteristics.
Refferece : 1988-2013
iii
iv
v
CURICULUM VITAE
PERSONAL IDENTITY
Full Name
:
MUHAMMAD AANDI IHRAM
Place / Date of Birth
:
KURUNGAN JIWA, 23 NOVEMBER 1991
Sex
:
MALE
Religion
:
MOSLEM
JL. PURI INTAN NO.52 KELURAHAN PISANGAN-CIPUTAT:
Address
TANGERANG SELATAN / JL. SEI SAHANG RT/RW 59/14 NO.
5281 KELURAHAN LOROK PAKJO - KOTA PALEMBANG
Citizenship
:
INDONESIAN
Phone Number
:
Mobile : +6281927792154
Email Address
:
[email protected]
Home :
FORMAL EDUCATION (starting from the most recent)
Year
In
Out
Name of Institution
Location
ISLAMIC STATE UNIVERSITY
2009
2013
SYARIF HIDAYATULLAH
Faculty/Majoring
Result
PUBLIC HEALTH /
BANTEN
JAKARTA
ENVIRONMENTAL
HEALTH
ISLAMIC SENIOR HIGH
2006
2009
SCHOOL PRIMARY 3
PALEMBANG
IPA
Graduated
PALEMBANG
-
Graduated
MUARA ENIM
-
Graduated
PALEMBANG
ISLAMIC JUNIOR HIGH
2003
2006
SCHOOL PRIMARY 2
PALEMBANG
1997
2003
ELEMENTARY SCHOOL
PRIMARY 200 BARU LUBAI
vi
ORGANIZATION EXPERIENCES
Year
Organization / Events
2012
Participant in environment health safety field study at PT. Chevron Geothermal Garut
2012
Participant in environment health safety field study at PT. Petrocina Bojonegoro
2011
Committee of learning practice field in eastern Pamulang clinic
2011
Participant in environment health safety field study at PT. Chevron Balikpapan
2011
Mahesa Institude and ABLE “ English Course”
2011
Committee of seminar earth day at Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta
2011-2012
Member Of Environmental health student association Islamic State University Syarif Hidayatullah
Jakarta
2010-2012
Member Of Environmental Health Student Association Indonesia
2010
Committee Of Ceremonial 5th Anniversary Of Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta
2009
Association of Santri’s Scholarship Server Health on Medical Faculty (AS-SHOF)
2009
Association of Santri’s Scholarship Server Health on Medical Faculty Sum-Sel (SJD-SS)
Work experience
Position
Year
Organizer / Institution
HEALTH, SAFETY AND ENVIRONMENTHAL (HSE) OFFICER
2012
PT. PROTON
PT. YAMA ENGINEERING AND ISLAMIC
COMMITTEE OF CORPORATE SOCIAL
2012
RESPONSIBILITY (CSR)
STATE UNIVERSITY SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
JOB PRACTICE IN ENVIRONMENT AND HUMANITY
PROGRAM
vii
2013
ACT (AKSI CEPAT TANGGAP)
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur Kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya kepada seluruh umatnya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan
kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya menuju jalan
yang terang penuh Cahaya Ilahi.
Alhamdulillah pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang
berjudul “Hubungan Tingkat Sirkulasi Oksigen dan Karakteristik Individu
dengan Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tahun 2013” dengan baik dan penuh perjuangan.
Skripsi ini disusun dan disajikan sebagai persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam
penyusuna skripsi ini, penulis banyak mendapatkan saran, bimbingan serta bantuan
baik langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak yang sangat membantu
dalam proses penyusunan skripsi ini. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya saat ini yang selalu senantiasa
mengiringi kehidupan saya.
2. Kedua orang tuaku tercinta yang selalu memberikan semangat, doa, dan
motifasi yang tiada henti serta mencurahkan seluruh kasih sayangnya.
viii
3. Kakak-kakakku (Yuni Zawyah, Yudar Yanti, Rahma Piroza, Muhammad
Ahsanal Arsyi, Raden Kusumajaya, Dian, dan Khoiruddin) yang telah
memberikan semangat, doa dan motifasi yang tiada henti untuk saya.
4. Bidadari-bidadari kecilku tersayang (Raden Fahza Fauziah dan Syifa Haura
Firoza) yang selalu memberi senyuman dan semangat yang luar biasa.
5. Bapak Prof. Dr. Dr. Hc. MK. Tadjudin, Spd. And. Selaku Dekan Fakultas
Kedokteran
dan
Ilmu
Kesehatan
Universitas
Islam
Negeri
Syarif
Hidayatullah Jakarta.
6. Ibu Febrianti, SP. Msi. Selaku kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
7. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes selaku pembimbing sekaligus
pembina peminatan kesehatan lingkungan yang telah memberikan tuntunan
dan bimbingan ilmu pengetahuan dalam penyusunan laporan skripsi ini.
8. Ibu Dewi Utami Iriani, SKM, M.Kes, Ph.D selaku pembimbing yang telah
memberikan tuntunan dan bimbingan ilmu pengetahuan dalam penyusunan
laporan skripsi ini.
9. Bapak Ahmad Ghozali selaku TU Program Studi Kesehatan Masyarakat yang
selalu sabar dan membantu dari awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan.
10. Ibu Umi Lutfi selaku pemegang program TB Paru di Puskesmas Pondok
Pucung yang begitu luar biasa membantu baik dilapangan ataupun
memberikan masukan dalam proses penyelesaian skripsi ini.
ix
11. Sahabat-sahabat terbaikku (Nur Najmi Laila, Kiki Chairani, Tika Widya Sari
dan Muhammad fil socrates) yang selalu membantu, memotivasi dan pemberi
inspirasi dalam penyelesaian Skripsi ini.
12. Teman-teman seperjuangan mahasiswa yang tergabung dalam beasiswa
Santri Jadi Dokter Sumatera-Selatan khususnya angkatan 2009 semangat dan
sukses untuk kita semua. Amin
13. Teman-teman mahasiswa Kesehatan Masyarakat angkatan 2009, Khususnya
Peminatan Kesehatan Lingkungan (Udin, Rudi, Yudi, Ersa, Morris, Agung,
Maya, Nisa, Reni, Yeni, Risma, Tari, Nita, Ratna, Cita, Dila, Ami, Imah, Zia,
Rahmayuni) semangat dan sukses untuk kita semua. Amin.
14. Serta segenap pihak yang telah membantu dalam penyusun dalam
menyelesaikan laporan magang ini.
Hanya do’a yang dapat penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, semoga amal
baiknya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin.
Penulis sadar atas segala kekurangan dan keterbatasan yang ada. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam untuk skripsi ini demi kemajuan
dimasa yang akan datang.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ciputat,
September 2013
Penulis
x
DAFTAR ISI
Hal
LEMBAR PERNYATAAN...................................................................................
i
ABSTRAK...............................................................................................................
ii
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................
iv
RIWAYAT HIDUP................................................................................................
v
KATA PENGANTAR............................................................................................
vii
DAFTAR ISI...........................................................................................................
ix
DAFTAR GRAFIK................................................................................................
xi
DAFTAR BAGAN..................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL………………………………………………………………...
xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang...................................................................................
1
1.2
Rumusan Masalah…………………………………………………..
7
1.3
Pertanyaan Penelitian……………………………………………….
7
1.4
Tujuan Penelitian...............................................................................
8
1.4.1 Tujuan Umum........................................................................
8
1.4.2 Tujuan Khusus.......................................................................
8
Manfaat Penelitian ............................................................................
9
1.3.1 Bagi Masyarakat....................................................................
9
1.3.2 Bagi Instanasi Terkait............................................................
9
1.3.3 Bagi Peneliti..........................................................................
9
Ruang Lingkup...................................................................................
10
1.5
1.4
xi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Penyakit Tuberkulosis.......................................................................
11
2.1.1
Definisi Penyakit Tuberkulosis..........................................
11
2.1.2
Bakteri Tuberkulosis Paru..................................................
11
2.1.3
Cara Penularan Penyakit TB Paru………………………...
11
2.1.4
Gejala dan Tanda………………………………..…….......
13
2.1.5
Diagnosis Penyakit Tuberkulosis Paru………………........
15
2.1.6
Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru……………….….
17
2.1.7
Klasifikasi Penyakit……………………….……………...
17
2.1.8
Tipe Penderita………………………………….…………
18
2.1.9
Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Paru………………..
19
2.1.10
Patologi Penyakit Tuberkulosis Paru……………………..
21
2.1.11
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Paru………………..
23
2.1.12
Pengobatan Penyakit Tuberkulosis Paru………………..
24
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit TB
2.1.13
28
Paru ...................................................................................
2.1.14
Rumah Sehat dan Persyaratannya.......................................
44
2.1.15
Landasan Teori...................................................................
50
BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, HIPOTESIS
3.1
Kerangka Konsep...............................................................................
51
3.2
Definisi Operasional........................................................................
52
3.3
Hipotesis……………………………………………………………
55
xii
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1
Desain Penelitian...............................................................................
56
4.2
Lokasi dan Waktu…………………………………………………..
56
4.3
Populasi dan Sampel..........................................................................
56
4.3.1 Populasi..................................................................................
56
4.3.2 Sampel....................................................................................
56
4.3.3 Perhitungan Sampel………………………………………...
58
Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data……………………...
60
4.4.1 Pengumpulan Data.................................................................
60
4.4.2 Instrument Penelitian…………………….............................
60
4.4.3 Pengolahan Data……………………………………………
62
4.4.4 Analisis Data………………………………………………..
63
4.4
BAB V HASIL PENELITIAN
5.1
Gambaran Umum Wilayah Penelitian...............................................
64
5.2
Analisi Univariat...............................................................................
64
5.2.1 Gambaran Kejadian TB Paru................................................
64
5.2.2 Gambaran Jenis Kelamin......................................................
65
5.2.3 Gambaran Pendidikan...........................................................
66
5.2.4 Gambaran Status Gizi...........................................................
67
5.2.5 Gambaran Pengetahuan........................................................
67
5.2.6 Gambaran Kepadatan Hunian...............................................
68
5.2.7 Gambaran Ventilasi Rumah..................................................
69
5.2.8 Gambaran Suhu...................................................................
70
Analisis Bivariat..............................................................................
70
5.3
xiii
5.3.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan kejadian TB Paru..........
70
5.3.2 Hubungan Pendidikan dengan Kejadian TB Paru...............
72
5.3.3 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian TB Paru...............
73
5.3.4 Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru............
74
5.3.5 Hubungan Kepadatan Hunian dengan Kejadian TB Paru..
75
5.3.6 Hubungan Ventilasi Rumah dengan Kejadian TB Paru.....
76
5.3.7 Hubungan Suhu dengan Kejadian TB Paru..........................
77
BAB VI PEMBAHASAN
6.1
Keterbatasan Penelitian....................................................................
79
6.2
Gambaran Kejadian TB Paru...........................................................
80
6.3
Karakterisitik Individu.....................................................................
81
6.3.1 Jenis Kelamin.......................................................................
81
6.3.2 Pendidikan............................................................................
83
6.3.3 Status Gizi............................................................................
85
6.3.4 Pengetahuan.........................................................................
87
Tingkat Sirkulasi Oksigen................................................................
90
6.4.1 Kepadatan Hunian................................................................
90
6.4.2 Venitilasi Rumah..................................................................
93
6.4.3 Suhu Ruangan.......................................................................
96
6.4
BAB VII KESIMPULAN
7.1
Kesimpulan.......................................................................................
99
7.2
Saran..............................................................................................
101
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xiv
xv
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel
Hal
2.1
Jenis, Sifat dan Dosis OAT.....................................................
25
2.2
Kategori Ambang Batas Index Massa Tubuh untuk
34
Indonesia………………………………………………….
4.1
Perhitungan Sampel..............................................................
59
5.1
Distribusi Frekuensi Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia
65
Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan
Tahun 2013
5.2
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin
65
di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun
2013
5.3
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan
66
di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun
2013
5.4
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Status Gizi
67
di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun
2013
5.5
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan
68
di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun
2013
5.6
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Kepadatan
68
Hunian di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan
Tahun 2013
5.7
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Ventilasi
69
Rumah di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan
Tahun 2013
5.8
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Suhu di
Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
xvi
70
5.9
Analisis Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian
71
TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.10
Analisis Hubungan antara Pendidikan dengan Kejadian TB
72
Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok
Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.11
Analisis Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian TB
73
Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok
Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.12
Analisis Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian TB
74
Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok
Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.13
Analisis Hubungan antara Kepadatan Hunian dengan
75
Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di
Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.14
Analisis Hubungan antara Ventilasi Rumah dengan Kejadian
76
TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
5.15
Analisis Hubungan antara Suhu dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok
Pucung Tangerang Selatan Tahun 2013
xvii
77
DAFTAR GRAFIK
Nomor Grafik
1.1
Hal
Jumlah Kasus TB Paru di Wilayah Tangerang Selatan 2012
xviii
6
DAFTAR BAGAN
Nomor Bagan
Hal
2.1
Kerangka Teori Penelitian.......................................................
50
3.1
Kerangka Konsep Penelitian...................................................
51
xix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menurut sistem kesehatan nasional
adalah tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi
setiap penduduk yang ditandai dengan bertempat tinggal di lingkungan bersih dan
berprilaku sehat. Pada masyarakat mampu untuk untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2010).
Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan kesehatan dilakukan
melalui upaya pelayanan kesehatan yang diarahkan pada program-program seperti
ditegaskan dalam undang-undang kesehatan No. 23 tahun 1992 Bab V pasal 10
menyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
diselenggarakan melalui pendekatan, pemeliharaan dan peningkatan (promotif),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh terpadu dan
berkesinambungan (PP RI, 2000).
Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran
lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah, bahwasanya lingkungan
berpengaruh pada terjadinya penyakit. Interaksi manusia dengan lingkungan
hidupnya merupakan suatu yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan
sampai ia meninggal, hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya
1
2
dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Penyakit berbasis
lingkungan masih menjadi permasalahan hingga saat ini. Hal ini dikarenakan
penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam 10 besar penyakit di hampir
seluruh Puskesmas di Indonesia. Keadaan tersebut mengindikasikan masih
rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Prabu, 2008).
Penyakit tuberkulosis paru atau yang lebih popular dengan nama TBC
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis merupakan salah satu penyakit
menular yang menyebabkan kematian. Satu orang penderita TB paru dengan
status Basil Tahan Asam (BTA) positif dapat menularkan sekurang-kurangnya
kepada 10-15 orang lain dalam 1 tahun. TB paru akan menular ketika orang
tersebut batuk, bersin, berbicara atau meludah (droplet nuclei) (Depkes RI, 2008).
Pada negara berkembang atau yang mempunyai tingkat sosial ekonomi
menengah kebawah, jumlah kasus TB paru semakin meningkat. Sehingga pada
tahun 1993, WHO mencanangkan TB paru sebagai kedaruratan dunia (global
emergency). WHO memperkirakan jumlah paling besar dari kasus TB paru
ditahun 2005 ada di wilayah Asia Tenggara, yaitu 34% dari insiden kasus global
atau sekitar 8,8 juta penderita dan 1,6 diantaranya mengalami kematian dimana
hampir 80% kematian terjadi pada kelompok usia produktif. Sehingga penyakit
ini memberikan dampak yang serius terhadap perkembangan ekonomi negara
tersebut (WHO, 2002). World Health Organization (WHO) memperkirakan 9
(Sembilan) juta orang penduduk dunia setiap tahunnya menderita TBC.
Diperkirakan 95% penderita TBC berada dinegara berkembang . selain itu
ditemukan 8 juta kasus baru TBC setiap tahunnya (Depkes RI, 2007).
3
Indonesia merupakan negara dengan pasien tuberkulosis terbanyak ke-5
di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan, dan Nigeria. Jumlah pasien
tuberkulosis di Indonesia sekitar 5,8% dari total pasien TB di dunia. Estimasi
prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi
insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Tuberkulosis merupakan kematian
nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada
semua kelompok usia, serta nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Pada
tahun 2010 prevalensi tuberkulosis di Indonesia sebesar 289 per 100.000
penduduk Data Riskesdas tahun 2010, tingkat kejadian penyakit tuberkulosis
yang berusia >15 tahun di Provinsi Banten sebesar 7.536 orang (4,2%). Data dari
Dinas Kesehatan Tangerang Selatan (2012) Proporsi BTA positif diantara suspek
(5-15%) di Tangerang Selatan tahun 2011 sebesar 10%, sedangkan triwulan 1
tahun 2012 sebesar 12% (Kemenkes RI, 2012).
Sekitar 75% penderita tuberkulosis paru adalah kelompok usia produktif
secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang penderita tuberkulosis paru
dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan, hal tersebut
berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%.
Jika meninggal akibat penyakit tuberkulosis paru, maka akan kehilangan
pendapatannya sekitar 15 tahun, selain merugikan secara ekonomis, Tuberkulosis
paru juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial bahkan kadang
dikucilkan oleh masyarakat (Depkes RI, 2008).
Oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia dengan mengkonsumsi
oksigen yang cukup akan membuat organ tubuh berfungsi secara optimal. Dalam
4
keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24 jam) atau
sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume
udara inspirasi dan ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi
oksigen udara inspirasi berkurang. Seiring dengan pertumbuhan populasi
penduduk yang semakin meningkat, terjadi perubahan secara demografik serta
terjadi peningkatan polutan di udara yang dapat mempengaruhi akan ketersediaan
serta kualitas oksigen di udara, yang apabila udara tersebut telah bercampur
dengan zat-zat polutan atau mikroorganisme dapat mempengaruhi kesehatan dan
berbahaya bagi masyarakat. Salah satu nya dapat menstimulus untuk terjadinya
penyakit TB paru, karena penyakit TB paru ditularkan melalui udara .Faktor yang
berperan terhadap tingkat sirkulasi oksigen didalam rumah adalah kepadatan
hunian, ventilasi rumah dan suhu. Oksigen dalam udara yang telah bercampur
dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terhirup dapat menyebabkan
penyakit TBC. Karena kuman TBC media penularannya melalui transmisi udara
akan ikut terhirup bersamaan dengen proses respirasi saat menghirup oksigen
(Farochi, 2012).
Menurut Ahmadi (2005) Faktor risiko yang berperan terhadap timbulnya
kejadian penyakit tuberkulosis paru dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu
faktor risiko kependudukan (jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status
gizi,) dan faktor risiko lingkungan (kepadatan hunian, ventilasi alamiah, suhu dan
kelembaban).
Hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, peningkatan kasus
tuberculosis dapat dipengaruhi oleh faktor demografi (kepadatan penduduk dan
faktor sosial ekonomi), faktor kualitas lingkungan fisik perumahan, faktor
5
kependudukan (karakteristik Individu, perilaku, kemiskinan) dan faktor
karakteristik bakteri. Resiko terjadinya penularan tuberculosis TB paru
dipengaruhi oleh keadaan rumah yang padat huni sebesar 3,2 kali dibandingkan
dengan yang tidak padat penghuni, risiko tersebut sama besarnya dengan ventilasi
rumah yang tidak memenuhi syarat (Karminingsih, 2002).
Penelitian kasus kontak yang dilakukan Chandra Wibowo dkk (2004) di
Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Manado, terdapatnya dalam sputum sumber
kontak BTA (+) secara bermakna akan meningkatkan resiko terjadinya TB Paru
36,5 kali lebih besar. Dalam penelitian tersebut terdapat faktor resiko yang paling
berperan terhadap kejadian TB Paru pada kasus kontak adalah usia, jenis kelamin,
status gizi, status ekonomi, kondisi sanitasi rumah, perilaku, dan pekerjaan.
Begitu juga dengan kondisi sirkulasi didalam rumah beberapa faktor yang
mempengaruhi adalah terdiri dari kepadatan hunian, ventilasi dan suhu.
Berdasarkan laporan 30 besar penyakit yang ada di setiap Pukesmas
Perawatan Dinas Kesehatan Tanggerang Selatan Tahun 2012 didapatkan kasus TB
parusebanyak 3.545 jiwa. Berikut grafik jumlah kasus TB paru pada 25
puskesmas perawatan Dinas Tangerang Selatan tahun 2012 (Dinkes Tangsel,
2012).
6
Grafik 1.1
Jumlah Kasus TB Parudi Wilayah Tangerang Selatan 2012
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
Sumber : Dinkes Tangerang Selatan 2012
Berdasarkan grafik di atas diperoleh Puskesmas Pondok Pucung
mempunyai kasus TB Paru terbanyak di Wilayah Tangerang Selatan yaitu sebesar
769 penderita. Berdasarkan data di atas peneliti memilih Puskesmas Pondok
Pucung sebagai tempat penelitian. Selain dari data tersebut, data laporan bulanan
yang dimiliki oleh Puskesmas Pondok Pucung mengenai kasus TB Parudari bulan
Januari-Desember 2012 terjadi peningkatan setiap bulannya, peningkatan yang
signifikan terjadi di 3 bulan terakhir yaitu pada bulan Oktober sebanyak 121
penderita, november 90 penderita, dan desember 110 penderita.
Berdasarkan uraian dan tren perkembangan penyakit TB ParudiWilayah
Pondok Pucung Tangerang Selatan maka peneliti tertarik ingin melihat hubungan
tingkat sirkulasi oksigen dan karkteristik individu dengan kejadian TB Paru pada
kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan 2013.
7
1.2. Rumusan Masalah
Seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk yang semakin
meningkat, terjadi perubahan secara demografik serta terjadi peningkatan polutan
di udara yang dapat mempengaruhi akan ketersediaan serta kualitas oksigen di
udara, yang apabila udara tersebut telah bercampur dengan zat-zat polutan atau
mikroorganisme dapat mempengaruhi kesehatan dan berbahaya bagi masyarakat.
Salah satu nya dapat menstimulus untuk terjadinya penyakit TB paru, karena
penyakit TB paru ditularkan melalui udara.
Berdasarkan laporan 30 besar penyakit yang ada di setiap Pukesmas
Perawatan Dinas Kesehatan Tanggerang Selatan tahun 2012, Puskesmas Pondok
Pucung
Tangerang
Selatan
memiliki
kasus
terbesar
pada
kasus
TB
Parudibandingkan dengan Puskesmas Perawatan lainnya di Wilayah Tangerang
Selatan tahun 2012 yaitu sebesar 796 penderita.
Faktor yang berperan dalam penentuan tingkat sirkulasi oksigen didalam
rumah adalah kepadatan hunian, ventilasi rumah dan suhu. Oksigen merupakan
kebutuhan dasar bagi manusia yang apabila dalam udara tersebut telah kurang dan
bercampur dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terhirup dapat
menyebabkan penyakit TBC karena kuman TBC media penularannya melalui
transmisi udara akan ikut terhirup bersamaan dengen proses respirasi saat
menghirup oksigen.
8
1.3. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran karakteristik individu (jenis kelamin, pendidikan,
status gizi, dan pengetahuan) pada kelompok usia produktif dengan
kejadian TB Paru di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013?
2. Bagaimana gambaran tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian,
ventilasi rumah dan suhu) dengan kejadian TB Paru pada kelompok usia
produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013?
3. Apakah ada hubungan karakteristik individu (jenis kelamin, pendidikan,
status gizi, dan pengetahuan) pada kelompok usia produktif dengan
kejadian TB Paru di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013?
4. Apakah ada hubungan tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian,
ventilasi rumah dan suhu) dengan kejadian TB Paru pada kelompok usia
produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 ?
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan tingkat sirkulasi oksigen dan
karakteristik individu pada kelompok usia produktif dengan kejadian TB
Paru di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
1.4.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran karakteristik individu (jenis kelamin,
pendidikan, status gizi dan pengetahuan) pada penduduk di
Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
9
2. Mengetahui gambaran tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian,
ventilasi rumah dan suhu)
dengan kejadian TB Paru pada
kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
3. Mengetahui hubungan karakteristik individu (jenis kelamin,
pendidikan dan pengetahuan) dengan kejadian TB Paru di
Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
4. Mengetahui hubungan tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian,
ventilasi rumah dan suhu)
dengan kejadian TB Paru pada
kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang
lingkungan fisik rumah dan
karakteristik individu yang mempengaruhi kejadian TB Paru sehingga
masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan kasus TB Paru di
Wilayah Pd. Pucung.
1.5.2. Bagi Instansi terkait
Memberikan masukan bagi Puskesmas Pondok Pucung Tangerang
Selatandalam perencanaan peningkatan penyuluhan, konseling tentang TB
Paru sebagai upaya pencegahan resiko terjadinya penyakit.
1.5.3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat berguna bagi peneliti dan hasil penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan data dasar dan acuan bagi peneliti selanjutnya
untuk melakukan penelitian lain.
10
1.6. Ruang Lingkup
Penelitian
ini
dilakukan
oleh
mahasiswa
Peminatan
Kesehatan
Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat sirkulasi
oksigen dan karakteristik individu pada kelompok usia produktif dengan kejadian
TB Paru di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan tahun 2013. Penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain studi cross
sectional study. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer dan data
sekunder. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni tahun 2013.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penyakit Tuberkulosis
2.1.1. Defenisi Penyakit Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis), sebagian besar kuman
TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
(Depkes RI, 2008).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman tuberkulosis dan ditularkan melalui udara pada saat pasien TB
batuk atau bersin (PPTI, 2010).
2.1.2. Bakteri Tuberkulosis Paru (TB Paru)
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang dengan ukuran 1-4
micron dan tebal 0,3-0,6 micron. Sifat khusus bakteri ini tahan terhadap
asam, oleh karena itu sering disebut Bakteri Tahan Asam (BTA).
Bakteri TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam
jaringan tubuh, bakteri ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa
tahun (Depkes RI, 2008).
2.1.3. Cara Penularan Penyakit TB Paru
Cara penularan tuberkulosis paru melalui percikan dahak
(droplet) sumber penularan adalah penderita tuberkulosis paru BTA(+),
pada waktu penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin. Droplet yang
11
12
mengandung kuman TB dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam, sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana
percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat
membunuh kuman, percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam
keadaan yang gelap dan lembab. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB
masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut
dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem
peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas atau penyebaran
langsung ke bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 2008).
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil
pemeriksaan dahaknya maka makin menular penderita tersebut. Bila
hasil pemeriksaan dahaknya negatif maka penderita tersebut dianggap
tidak menular. Penularan umum nya terjadi di dalam ruangan, dimana
percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Penilaian risiko TB
setiap tahunnya ditunjukan dengan Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI), yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB
selama satu tahun. Jika ARTI sebesar 1%, berarti terdapat 10 orang
diantara 1000 orang yang terinfeksi setiap taunnya. Nilai ARTI di
Indonesia bervariasi antara 1-3% (Depkes RI, 2007).
13
2.1.4. Tanda dan Gejala Penyakit TB Paru
Menurut Achmadi (2004) secara umum komposisi dari sampah di
setiap kota bahkan negara hampir sama, yaitu :
TB paru sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit
yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga
memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah
penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan
kadang-kadang aimtomatik. Gambaran klinis TB paru dapat dibagi
menjadi 2 golongan yaitu : gejala respiratorik dan gejala sistemik.
1. Gejala respiratorik, meliputi :
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan
yang paling sering dikeluhkan. Batuk bisa berlangsung terus
menerus selama ≥ 3 minggu. Mula-mula bersifat non produktif
kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan. Hal ini sebagai upaya untuk membuang
ekskresi peradangan berupa dahak ataupun sputum.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin
tampak berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah
atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah
terjadi karena pecahnya pembuluh darah, akibat luka dalam
alveoli yang sudah lanjut. Berat ringannya batuk darah
tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
14
c. Dahak
Dahak awalnya bersifat nukoid dan keluar dalam jumlah
sedikit, kemudian berubah menjadi mukopurulen (mengandung
lendir dan nanah) sehingga warnanya kuning atau kuning hijau
sampai purulen (hanya nanah saja) dan kemudian berubah
menjadi kental dan berbau busuk karena adanya infeksi anaerob.
d. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah
luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumothorax, anemia dan lain-lain.
e. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang
ringan.Gejala ini timbul apabila system persarafan di pleura
terkena.
2. Gejala sistemik, meliputi :
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul
pada sore dan malam hari mirip demam influenza.Biasanya
disertai keringat dingin meskipun tanpa kegiatan.Hilang timbul
dan makin lama makin panjang seranganya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
15
b. Keringat dingin dimalam hari
Bukanlah gejala pasti untuk penyakit tuberkulosis paru dan
umumnya baru timbul bila proses telah lanjut. Keringat dingin
ini terjadi meskipun tanpa kegiatan.
c. Anoreksia dan penurunan berat badan
Keduanya merupakan manifestasi dari keracunan sistemik
yang timbul karena produk bakteri atau adanya jaringan yang
rusak. (toksemia), yang biasanya timbul belakangan dan lebih
sering dikeluhkan bila fase progresif.
d. Malaise (rasa lesu)
Hal ini bersifat berkepanjangan/kronik, disertai rasa tidak
fit, tidak enak badan, lemah, lesu pegal-pegal dan mudah lelah.
2.1.5. Diagnosis Penyakit Tuberkulosis Paru
Diagnosis TB paru dilakukan dengan wawancara keluahan pasien,
pemeriksaan pada pasien (anamnesis), pemeriksaan dahak mikroskopis
di laboratorium, pemeriksaan rontgen dada.
1. Diagnosis TB paru pada orang dewasa (Depkes RI, 2008)
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan
dengan
ditemukan
mikroskopis.
Hasil
BTA
pada
pemeriksaan
pemeriksaan
dinyatakan
dahak
positif
secara
apabila
setidaknya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. Bila
hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lanjut
yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang.
16
2. Diagnosis TB paru pada anak (Depkes RI, 2008)
Seorang anak harus dicurigai menderita tuberkulosis apabila :
a. Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB
paru BTA positif.
b. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikan BCG
(dalam 3-7 hari).
c. Terjadi gejala umum TBC
Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek
TB paru.
Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru,
diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi
tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi
sebagai berikut:
-
Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada
kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk
mendukung diagnosis „TB paru BTA positif.
-
Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
-
Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat
yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak,
pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan
17
pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma).
2.1.6. Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru
Penemuan penderita dilakukan secara pasif artinya penjaringan
tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung
ke unit pelayanan kesehatan. Penemuan secara pasif tersebut didukung
dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun
masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka
penderita. Cara ini biasa dikenal dengan sebutan passive promotive case
dinding (penemuan penderita secara pasif dengan promosi yang aktif).
Selain itu, semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala
samaharus diperiksa dahaknya (Depkes RI, 2008).
2.1.7. Klasifikasi Penyakit
Tuberkulosis dibagi berdasarkan organ tubuh yang terkena yaitu :
1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
paru, (tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil
pemeriksaan dahak, TB paru dibagi dalam :
a. Tuberkulosis paru BTA (+)
-
Sekuarang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS
hasilnya BTA positif.
-
Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
rontgen dada menunjukan gambaran tuberkulsis aktif.
18
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
dan foto rontgen dada menunjukan gambaran tuberkulosis
aktif. TB paru BTA negatif rontgen positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan
gambaran kerusakan yang luas, dan atau keadaan umum
penderita buruk.
2. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. TB
ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya,
yaitu : (Depkes RI, 2008)
a. TBC ekstra paru ringan
b. TBC ekstra paru berat
2.1.8. Tipe Penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu : (Amin, 2006)
1. Kasus baru
Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan
OAT (obat anti tuberkulosis) atau sudah perrnah menelan OAT
kurang dari satu bulan.
2. Kambuh (relaps)
Kambuh (relaps) adalah penderita TB paru yang sebelumnya pernah
mendapatkan terapi TB paru dan telah dinyatakan sembuh atau
19
pengobatan lengakap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif.
3. Pindahan
Pindahan adalah penderita TB paru yang sedang mendapatkan
pengobatan dari tempat lain, kemudian pindah berobat ke tempat
tertentu. Penderita tersebut harus membawa surat rujukan/pindahan
(Form TB 09).
4. Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop-out)
Adalah penderita TB paru yang kembali berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA (+) setelah putus berobat 2 bulan atau
lebih.
5. Gagal
a. Adalah penderita BTA (+) yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 atau lebih.
b. Adalah penderita BTA (-) rontgen positif yang menjadi
BTA(+) pada akhir bulan ke-2 pengobatan.
6. Lain-lain
Semua penderitang lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut
diatas. Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik
(penderita yang masih BTA (+) setelah menyelesaikan pengobatan
ulang dengan kategori 2.
2.1.9. Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Paru
Epidemiologi penyakit tuberkulosis paru adalah ilmu yang
mempelajari
interaksi
antara
kuman
(agent)
Mycobacterium
20
tuberculosis, manusia (host) dan lingkungan (environment). Disamping
itu
mencakup
distribusi
dari
penyakit,
perkembangan
dan
penyebarannya, termasuk didalamnya juga mencakup prevalensi dan
insidensi penyakit tersebut yang timbul dari populasi yang tertular.
Pada penyakit tuberkulosis paru sumber infeksi adalah manusia
yang mengeluarkan basil tuberkel dari saluran pernafasan. Kontak yang
rapat (misalnya dalam keluarga) menyebabkan banyak kemungkinan
penularan melalui droplet.
Kerentanan
penderita
tuberkulosis
paru
meliputi
risiko
memperoleh infeksi dan konsekuensi timbulnya penyakit setelah terjadi
infeksi, sehingga bagi orang dengan uji tuberkulin negatif risiko
memperoleh basil tuberkel bergantung pada kontak dengan sumbersumber kuman penyebab infeksi terutama dari penderita tuberkulosis
dengan BTA positif. Konsekuensi ini sebanding dengan angka infeksi
aktif penduduk, tingkat kepadatan penduduk, keadaan social ekonomi
yang merugikan dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Berkembangnya penyakit secara klinik setelah infeksi di
mungkinkan adannya faktor komponen genetik yang terbukti pada
hewan dan diduga terjadi pada manusia, hal ini dipengaruhi oleh umur,
kekurangan gizi dan kenyataan status immunologik serta penyakit yang
menyertainya (Ruswanto, 2010).
Epidemiologi tuberkulosis paru mempelajari tiga proses khusus
yang terjadi pada penyakit ini, yaitu;
a. Penyebaran atau penularan dari kuman tuberkulosis.
21
b. Perkembangan dari kuman tuberkulosis paru yang mampu
menularkan pada orang lain setelah orang tersebut terinfeksi dengan
kuman tuberkulosis.
c. Perkembangan lanjut dari kuman tuberkulosis sampai penderita
sembuh atau meninggal karena penyakit ini.
2.1.10.
Patologi Penyakit Tuberkulosis Paru
1. Infeksi Primer
Pada penyakit tuberkulosis paru sumber infeksi adalah
manusia yang mengeluarkan basil tuberkel dari saluran pernapasan,
kontak yang rapat (misalnya dalam keluarga) menyebabkan banyak
kemungkinan penularan melalui inti droplet. Infeksi primer terjadi
saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman tuberkulosis,
droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan
sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai
saat kuman tuberkulosis paru berhasil berkembang biak dengan cara
pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan didalam
paru, saluran linfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai
komplek
primer.
Waktu
antara
terjadinya
infeksi
sampai
pembentukan komplek primer adalah 4-6 minggu.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya
perubahan reaksi tuberculin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan
setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya
respon
daya
tahan
tubuh
tersebut
dapat
menghentikan
22
perkembangan kuman tuberkulosis. Meskipun demikian ada
beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persistent atau
dormant (tidur), kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa
bulan yang bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis paru.
Masa inkubasinya yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi
sampai menjadi sakit diperkirakan selama 6 bulan.12
2. Tuberkulosis Paru Pasca Primer ( Post Primary Tuberculosis
Paru) :
Tuberkulosis paru pasca primer biasanya terjadi setelah
beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena
daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi
yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis paru pasca primer adalah
kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi
pleura.
3. Komplikasi pada penderita tuberkulosis paru
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :
a. Hemoptisis berat (Perdarahan dari saluran napas bawah) yang
dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau
tersumbatnya jalan nafas.
b. Kolaps dari lobus akibat retraksibronchial.
c. Bronkiektasis (Pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis
(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif)
pada paru.
23
d. Pneumothorak (Adanya udara di dalam rongga pleura) spontan,
kolap spontan karena kerusakan jaringan.
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang,
persendian, ginjal, dan sebagainya.
f. Insufisiensi
Kardio
Pulmoner
(Cardio
Pulmonary
Insufficiency).
2.1.11.
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Paru
Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kata-kata itu selalu
menjadi acuan dalam penanggulangan penyakit TB-Paru di masyarakat.
Adapun upaya pencegahan yang harus dilakukan adalah : (Depkes RI,
2002)
1. Penderita tidak menularkan kepada orang lain:
a. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu
tangan atau tissu.
b. Tidur terpisah dari keluarga terutama pada dua minggu pertama
pengobatan.
c. Tidak meludah di sembarang tempat, tetapi dalam wadah yang
diberi lysol, kemudian dibuang dalam lubang dan ditimbun
dalam tanah.
d. Menjemur alat tidur secara teratur pada pagi hari.
e. Membuka jendela pada pagi hari, agar rumah mendapat udara
bersih dan cahaya matahari yang cukup sehingga kuman
tuberkulosis paru dapat mati.
24
2. Masyarakat tidak tertular dari penderita tuberkulosis paru:
a. Meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain dengan makanmakanan yang bergizi.
b. Tidur dan istirahat yang cukup
c. Tidak merokok dan tidak minum-minuman yang mengandung
alkohol.
d. Membuka jendela dan mengusahakan sinar matahari masuk ke
ruang tidur dan ruangan lainnya.
e. Imunisasi BCG pada bayi.
f. Segera periksa bila timbul batuk lebih dari tiga minggu.
g. Menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita
Tuberkulosis Paru akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan
daya tahan tubuh yang tinggi, dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap
menular.
2.1.12.
Pengobatan Penyakit Tuberkulosis Paru
1. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai
penularan dan mencegah terjadinya resistensi kumanterhadap OAT
(Depkes RI, 2006).
25
Tabel 2.1 Jenis, Sifat dan Dosis OAT
Jenis OAT
Sifat
Isoniazid (H)
Bakterisid
Rifampicn (R)
Bakterisid
Pyrazinamide (Z)
Bakterisid
Streptomycin (S)
Bakterisid
Ethambutol (E)
Bakteriostatik
Dosis yang direkomendasikan
(mg/kg)
Harian
3x Semingu
5
10
(4-6)
(8-12)
10
10
(8-12)
(8-12)
25
35
(20-30)
(30-40)
15
15
(12-18)
(12-18)
15
30
(15-20)
(20-35)
2. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip
sebagai berikut :
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis
obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan
kategori
pengobatan.
Jangan
gunakan
OAT
tunggal
(monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT
– KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment)
oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif
dan lanjutan.
26
Tahap awal (intensif)
-
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari
dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah
terjadinya resistensi obat.
-
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular
dalam kurun waktu 2 minggu.
-
Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA
negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Tahap Lanjutan
-
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih
sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
-
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan
3. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
a. Paduan
OAT
yang
digunakan
oleh
Program
Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis diIndonesia:
-
Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
-
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat
sisipan (HRZE)
-
Kategori Anak: 2HRZ/4HR
b. Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam
bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT),
27
sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam
bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya
disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas
dalam satu paket untuk satu pasien.
c. Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket,
yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol.
Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien
yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan
tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin
kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu
paket untuk satu pasien dalam satu masa pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB :
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga
menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan
resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi
kesalahan penulisan resep.
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga
pemberian
obat
kepatuhan pasien.
menjadi
sederhana
dan
meningkatkan
28
2.1.13.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Tuberkulosis
Paru
Teori John Gordon, mengemukakan bahwa timbulnya suatu
penyakit sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bibit penyakit
(agent), penjamu (host), dan lingkungan (environment). Ketiga faktor
penting ini disebut segi tiga epidemiologi (Epidemiologi Triangle),
hubungan ketiga faktor tersebut digambarkan secara sederhana sebagai
timbangan yaitu agent penyebab penyakit pada satu sisi dan penjamu
pada sisi yang lain dengan lingkungan sebagai penumpunya.
Bila agent penyebab penyakit dengan penjamu berada dalam
keadaan seimbang, maka seseorang berada dalam keadaan sehat,
perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau sakit,
penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan bobot agent penyebab
menjadi lebih berat sehingga seseorang menjadi sakit, demikian pula
bila agent penyakit lebih banyak atau lebih ganas sedangkan faktor
penjamu tetap, maka bobot agent penyebab menjadi lebih berat.
Sebaliknya bila daya tahan tubuh seseorang baik atau meningkat maka
ia dalam keadaan sehat. Apabila faktor lingkungan berubah menjadi
cenderung menguntungkan agent penyebab penyakit, maka orang akan
sakit, pada prakteknya seseorang menjadi sakit akibat pengaruh
berbagai faktor berikut :
1. Agent
Mycobacterium tuberculosis adalah suatu anggota dari
family
Mycobacteriaceae
dan
termasuk
dalam
ordo
29
Actinomycetalis.
Mycobacterium
tuberculosis
menyebabkan
sejumlah penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya
infeksi tersering.
Di luar tubuh manusia, kuman Mycobacterium tuberculosis
hidup baik pada lingkungan yang lembab akan tetapi tidak tahan
terhadap sinar matahari. Mycobacterium tuberculosis mempunyai
panjang 1-4 mikron dan lebar 0,2-0,8 mikron. Kuman ini melayang
diudara dan disebut droplet nuclei. Kuman tuberkulosis dapat
bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap tanpa sinar
matahari
sampai
bertahun-tahun
lamanya.
Tetapi
kuman
tuberkulosis akan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol,
karbol dan panas api (Atmosukarto & Soewasti, 2000). Kuman
tuberkulosis jika terkena cahaya matahari akan mati dalam waktu 2
jam, selain itu kuman tersebut akan mati oleh tinctura iodi selama 5
menit dan juga oleh ethanol 80 % dalam waktu 2 sampai 10 menit
serta oleh fenol 5 % dalam waktu 24 jam.
Mycobacterium tuberculosis seperti halnya bakteri lain pada
umumnya, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan
kelembaban yang tinggi. Air membentuk lebih dari 80 % volume sel
bakteri dan merupakan hal essensial untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidup sel bakteri. Kelembaban udara yang meningkat
merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen termasuk
tuberkulosis. Mycobacterium tuberculosis memiliki rentang suhu
yang disukai, merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur
30
dalam rentang 25 – 40 C, tetapi akan tumbuh secara optimal pada
suhu 31-37 C.
2. Host
Manusia merupakan reservoar untuk penularan kuman
Mycobacterium tuberculosis, kuman tuberkulosis menular melalui
droplet nuclei. Seorang penderita tuberkulosis dapat menularkan
pada 10-15 orang (Depkes RI, 2002).
Hal yang perlu diketahui tentang host atau penjamu meliputi
karakteristik; gizi atau daya tahan tubuh, pertahanan tubuh, higiene
pribadi, gejala dan tanda penyakit dan pengobatan. Karakteristik
host dapat dibedakan antara lain; Umur, jenis kelamin, pekerjaan,
keturunan, ras dan gaya hidup.
Menurut Luciana (2011) TB paru berisiko pada seseorang
dengan karakteristik tertentu, seperti umur, jenis kelamin, status
gizi, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan kontak dengan
penderita.
a. Umur
Umur berperan dalam kejadian TB. Resiko untuk
mendapatkan penyakit TB tinggi di umur awal seseorang
dengan puncak pada kelompok usia dewasa dan menurun
kembali ketika usia tua. Di Indonesia 75% penderita TB paru
adalah kelompok usia 15-50 tahun. Kelompok usia 15-50 tahun
masuk dalam penduduk usia produktif, dimana seseorang yang
termasuk dalam usia produktif banyak melakukan kegiatan
31
seperti bekerja, belajar, ataupun kegiatan lainnya. Seseorang
yang melakukan banyak aktivitas akan sering berinteraksi
dengan orang lain dan lingkungan. Interaksi tersebut dapat
memungkinkan terjadinya penularan TB paru. Penderita TB
paru BTA (+) dengan mudah dapat menularkan kuman TB
kepada lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan orang lain
terinfeksi kuman TB (Depkes RI, 2002).
b. Jenis kelamin
Penderita TB di afrika mayoritas menyerang laki-laki. Dari
hasil laporan WHO di Amerika Serikat tahun 1993-1998
diketahui bahwa penderita TB lebih banyak diderita oleh lakilaki dibandingkan perempuan (Supriyano, 2003). Penderita TB
yang mayoritas terjadi pada pria dapat dipengaruhi oleh pola
aktivitas di luar rumah dan kebiasaan merokok berkaitan dengan
peningkatan kejadian TB, sedangkan aktivitas di luar rumah
yang tinggi dapat menyebabkan seseorang tertular kuman TB
oleh penderita TB paru BTA (+). Akan tetapi angka kematian
akibat tuberkulosis pada kelompok umur 15-50 tahun di Negara
maju lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan lakilaki.
c. Pendidikan
Pendidikan
adalah
usaha
yang
sengaja
(terencana,
terkontrol, dengan sadar dan dengan cara yang sistematis)
diberikan pada anak didik oleh pendidik agar individunya yang
32
potensial itu lebih berkembang terarah kepada tujuan tertentu.
Dalam pelaksanaan pendidikan harus dapat diketahui bentuk
pendidikan yang diberikan, sasaran pendidikan, sifat pelaksaan
pendidikan, tujuan pendidikan. Proses pendidikan berlangsung
dalam suatu lingkungan atau tempat pendidkan berlangsung.
Pendidikan dapat berlangsung di keluarga, sekolah, dan
masyarakat. System pendidikan sekolah yang diterapkan di
Indonesia adalah pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah
menegah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA),
perguruan tinggi (Nasution, 2004).
Pendidkan seseorang mempengaruhi pengetahuan dan
pandangan seseorang. Kelompok masyarakat dengan tingkat
pendidkan rendah umumnya adalah kelompok masyarakat
dengan status ekonomi rendah. Kelompok masyarakat tersebut
sulit untuk menyerap informasi, tidak terkecuali informasi
mengenai kesehatan. Selain itu kelompok masyarakat dengan
tingkat ekonomi dan pendidikan rendah juga tidak mampu
mencukupi gizi dan pengadaan sarana sanitasi yang diperlukan
(Supriyadi, 2003; Abebe et al, 2010).
d. Status Gizi
Indeks Masa Tubuh (IMT) atau Boddy Mass Index (BMI)
merupakan indikator untuk memantau status gizi pada kelompok
umur >18 tahun. Status gizi seseorang akan mempegaruhi risiko
tertular TB. Seseorang dengan status gizi buruk, bahkan
33
mengalami malnturisi, menyebabkan penurunan fungsi paru,
perubahan analisis gas dalam darah, dan produktivitas kerja.
Seperti diketahui kuman tuberkulosis merupakan kuman yang
suka tidur hingga bertahun-tahun, apabila memiliki kesempatan
untuk bangun dan menimbulkan penyakit maka timbulah
kejadian penyakit tuberkulosis paru. Oleh karena itu salah satu
kekuatan daya tangkal adalah status gizi yang baik. Selain itu,
status gizi buruk juga mempengaruhi daya tahan tubuh dimana
penurunan daya tahan tubuh berkaitan erat dengan peningkatan
infeksi kuman TB (Fatimah, 2008).
IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau
status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan
kekurangan dan kelebihan berat badan.Penggunaan IMT hanya
berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun, IMT
tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan
olahragawan (Buku Praktis Ahli Gizi, 2003).Rumus perhitungan
IMT adalah sebagai berikut :
IMT =
Berat badan (kg)
tinggi badan m x tinggi badan (m)
34
Tabel 2.2 Klasifikasi Index Masa Tubuh (IMT) Dewasa
Menurut Kemenkes RI
Kategori
Kurus
IMT
Kekurangan berat Badan
Kekurangan berat badan tingkat ringan
< 17,0
17,0 - 18,5
>18,5 - 25,0
Kelebihan Berat badan tingkat ringan
Kelebihan berat badan tingkat berat
>25,0 - 27,0
>27,0
Normal
Gemuk
Sumber : Kemenkes RI, 2003
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Teten
Zalmi di Puskesmas Padang Pasir tahun 2008 menyebutkan
bahwa proporsi responden dengan keadaan status gizi kurang
pada kelompok kasus adalah 96,8%, sedangkan pada kelompok
kontrol 28,1% (Teten Zalmi, 2008).
Hasil penelitian tersebut sama dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Elvina Karyadi (2002) dari penelitian tersebut
disimpulkan bahwa pengidap TB Paru sebagian besar menderita
gizi kurang (IMT<18, 5kg/m2).
e. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi dari
perilaku. Faktor predisposisi adalah faktor yang menjadi dasar
atau motivasi bagi perilaku (Green, 2005 dalam Astrine 2012).
Pengetahuan tentang tuberkulosis merupakan dasar tindakan
pencegahan
menghalangi
dan
pengobatan.
tindakan
Ketidaktahuan
pencegahan
TB
masyarakat
paru.
Dengan
pengetahuan yang meningkat, masyarakat akan semakin
35
mengerti tentang tindakan pencegahan sehingga tingkat kejadian
TB paru dapat diminimalisasikan.
Pengetahuan akan menimbulkan kesadaran seseorang dan
akhirnya akan menyebabkan orang tersebut berperilaku sesuai
dengan pengetahuan yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dibagi kedalam 6 tingkat (Notoatmodjo, 2005),
yaitu :
a. Tahu : sebagai recall memori yang telah ada sebelumnya
setelah mengamati sesuatu.
b. Memahami : memahami objek bukan sekedar tahu,
bukan hanya sekedar menyebutkan, tapi orang tersebt
harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang
objek yang diketahui.
c. Aplikasi : apabila orang yang sudah memahami objek
yang
dimaksud
dapat
menggunakan
atau
mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi lain.
d. Analisis : kemampuan menjabarkan dan memisahkan
lalu mencari hubungan antar komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.
e. Sintesis
:
kemampuan
untuk
merangkum
atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari
komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.
36
f. Edukasi : kemampuan untuk memberikan justifikasi atau
penilaian terhadap objek tertentu.
Hasil survei prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan,
sikap dan perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat
anggota keluarga yang menderita TB dan hanya 13% yang
menyembunyikan keberadaan mereka. Meskipun 76% keluarga
pernah mendengar tentang TB dan 85% mengetahui bahwa TB
dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang dapat
menyebutkan dua tanda dan gejala utama TB. Cara penularan
TB dipahami oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang
mengetahui bahwa tersedia obat TB gratis (Kemenkes RI,
2011).
f. Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang dimaksud disini adalah untuk
mengetahui tinggi rendahnya mobilitas seseorang, sehingga
mempengaruhi dia untuk terpapar kuman TBC. Semakin tinggi
mobilitas seseorang, semakin banyak orang yang kontak dengan
dia. Bila diantaranya ada yang menderita TBC dan kebetulan
kontak yang dilakukan cukup sering dan lama, maka risiko
penularan akan semakin tinggi. Selain itu pekerjaan juga
menunjukan aktifitas yang dilakukan seseorang, apakah
mempengaruhi daya tahannya atau tidak. Pekerjaan juga bisa
menggambarkan pendapatan yang dihasilkan sehingga bisa
dilihat keadaan sosial ekonominya.
37
g. Kontak dengan Penderita
Kontak dengan sumber penular merupakan salah satu faktor
risiko terjadinya TB paru. Kontak erat adalah tinggal bersama
dalam rumah yang sama atau frekuensi sering bertemu antara
kontak dengan sumber penular (WHO, 2006). Faktor risiko
tersebut semakin besar bila kondisi lingkungan perumahan jelek
seperti kepadatan penghuni, ventilasi yang tidak memenuhi
syarat dan kelembaban dalam rumah merupakan media transisi
kuman TBC untuk dapat hidup dan menyebar. Untuk itu
penderita TBC dapat menularkan secara langsung terutama pada
lingkungan rumah, masyarakat di sekitarnya dan lingkungan
tempat bekerja, makin meningkatnya waktu berhubungan
dengan penderita memberi kemungkinan infeksi lebih besar
pada kontak (Akbar, 2010).
Berdasarkan penelitian Mahpudin dan Mahkota (2007)
didapatkan hasil bahwa ada hubungan bermakna antara kontak
dengan penderita yang tinggal serumah dengan kejadian TB
paru. Temuan ini sesuai dengan penelitin sebelumnya dimana
kontak dengan penderita TB paru yang tinggal serumah berisiko
41,8 kali dari pada yang tidak kontak. Kontak serumah
merupakan ancaman yang sangat serius bagi anggota keluarga
lainnya untuk menderita penyakit TB, karena itu merupakan
sumber penularan intensif yang berada disekitar kehidupan
sehari-hari anggota keluarga lainnya (Ernawati, 2011).
38
3. Environment
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host
baik benda mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana
yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk host
yang lain. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik,
lingkungan fisik terdiri dari; Keadaan geografis (dataran tinggi atau
rendah, persawahan dan lain-lain), kelembaban udara, temperatur
atau suhu, lingkungan tempat tinggal. Adapun lingkungan non fisik
meliputi; sosial, budaya (adat, kebiasaan turun-temurun), ekonomi
(kebijakkan mikro dan lokal) dan politik (suksesi kepemimpinan
yang mempengaruhi kebijakan pencegahan dan penanggulangan
suatu penyakit.
Pada dasarnya berbagai faktor risiko penyakit tuberkulosis
paru saling berkaitan satu sama lainnya. Tingkat sirkulasi
oksigenmerupakan faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi
untuk terjadinya penyakit TB paru.
Sirkulasi
Oksigen
adalah
proses perputaranoksigen yang diperlukan oleh unsur tertentu untuk
mengatur sistem yang ada pada unsur tersebut .Oksigen (O2) atau
zat asam sangat diperlukan makhluk hidup. Oksigen adalah unsur
kimia yang tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, tidak
terbakar tapi dapat membantu pembakaran (Oksidator).Oksigen
merupakan unsur paling melimpah ketiga di alam semesta
berdasarkan massa dan unsur paling melimpah di kerak Bumi. Gas
oksigen diatomik mengisi 20,9% volume atmosfer bumi. Manusia
39
membutuhkan asupan oksigen secara terus-menerus untuk proses
respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai
limbah beracun produk dari proses tersebut (Farochi, 2012).
Menurut teori Maslow oksigen merupakan kebutuhan dasar
manusia atau kebutuhan fisiologis dimana kebutuhan fisiologis
sangat mendasar, paling kuat dan paling jelas diantara sekian
kebutuhan lain untuk mempetahankan hidup. Manusia akan
menekan kebutuhannya sedemikian rupa agar kebutuhan fisiologis
(dasar) nya tercukupi. Dengan mengkonsumsi oksigen yang cukup
akan membuat organ tubuh berfungsi secara optimal (Noverima,
2012). Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc
oksigen sehari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan
tersebut berbanding lurus dengan volume udara inspirasi dan
ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi
oksigen udara inspirasi berkurang atau karena sebab lain, misalnya
konsentrasi hemoglobin darah berkurang (Farochi, 2012).
Udara disekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen dalam
udara tersebut telah kurang dan bercampur dengan partikel atau gas
berbahaya dan bercampur dengan bakteri patogen yang apabila
terhirup dapat berbahaya bagi kesehatan. Bakteri Mycobacterium
tuberculosis yang media penularannya melalui transmisi udara akan
ikut terhirup bersamaan dengen proses respirasi saat menghirup
oksigen.
40
Adapun faktor yang berperan dalam penentuan tingkat
sirkulasi oksigen di dalam rumah yaitu :
a. Kepadatan Hunian
Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai
rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah
tinggal. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan
biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum per orang
sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas
yang tersedia.
Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan
memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang
tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan
berjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping
menyebabakan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah
satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama
tuberkulosis akan mudah menular kepada anggota keluarga yang
lain, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan
kepada 2-3 orang di dalam rumahnya (Ruswanto, 2010).
Kepadatan merupakan pre-requisite untuk proses penularan
penyakit, semakin padat maka perpindahan penyakit khususnya
penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat. Dalam
hubungan dengan penularan TB Paru, maka kepadatan hunian
dapat menyebabkan Cross infection (infeksi silang). Adanya
penderita TB paru dalam rumah dengan kepadatan cukup tinggi,
41
maka penularan penyakit melalui udara ataupun“droplet” akan
lebih cepat terjadi (Rianda, 2011).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sanropie dkk (1991)
bahwa kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat seperti tidak
sebandingnya luas lantai kamar, jenis lantai, penghuni rumah
yang menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, di mana bila
salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi seperti TB
Paru, maka akan mudah menular kepada anggota keluarga lain
(Suyono, 2005).
b. Ventilasi Rumah
Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer
yang menyenangkan dan menyehatkan manusia. Ventilasi
mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk
menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar.
Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh
penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah, disamping itu
kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di
dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan
dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/
bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TB.
Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan
udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen,
42
karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus.
Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi
lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu
tetap di dalam kelembaban (humiditiy) yang optimum.
Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas
lubang ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Untuk luas
ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas
ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai.
Udara segar juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan
kelembaban udara dalam ruangan. Umumnya temperatur kamar
22° – 30°C dari kelembaban udara optimum kurang lebih 60%
(Depkes RI, 2001 ).
Ventilasi mempengaruhi proses difusi udara, dengan kata
lain mengencerkan konsentrasi kuman TB paru dengan kuman
lain sehingga kuman-kuman tersebut dapat terbawa keluar dan
mati terkena siar matahari dan sinar ultraviolet. Ventilasi
merupakan tempat untuk memasukkan cahaya ultraviolet. Hal
ini akan semakin baik apabila konstruksi rumah menggunakan
bahan seperti kaca, hal ini merupakan kombinasi yang baik.
Menurut
Keputusan
Menteri
Kesehatan
No.
829/MenKes/SK/VII/1999 bahwa ventilasi yang baik adalah
10% dari lantai rumah. Adrial (2006) yang menyebutkan
bahawa kelompok yang mempunyai rumah dengan luas ventilasi
kurang dari 10% luas lantai dapat berisiko 4,55 kali untuk
43
terjadi TB paru dengan BTA positif (+) dibandingkan dengan
kelompok yang mempunyai rumah dengan ventilasi lebih dari
10% dari luas lantai rumah.
Kualitas udara di dalah rumah berkaitan dengan ventilasi
dan kegiatan penghuninya. Bertambahnya jumlah penduduk
dalam pemukiman dalam perkotaan, menyebabkan kepadatan
bangunan dan sulit untuk membuat ventilasi. Perjalanan kuman
TB paru setelah dibatukkan aka terhirup oleh orang sekitarnya
sampai ke paru-paru, sehingga dengan adanya ventilasi yang
baik akan menjamin pertukaran udara dan konsentrasi droplet
dapat dikurangi. Konsentrasi droplet pervolume udara dan
lamanya waktu menghirup udara tersebut memungkinkan
seseorang akan terinfeksi kuman TB paru. (Depkes, 2002).
c. Suhu
Suhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan
dengan satuan derajat tertentu. Suhu udara dibedakan menjadi:
1). Suhu kering, yaitu suhu yang ditunjukkan oleh termometer
suhu ruangan setelah diadaptasikan selama kurang lebih sepuluh
menit, umumnya suhu kering antara 24 – 34 ºC. 2). Suhu basah,
yaitu suhu yang menunjukkan bahwa udara telah jenuh oleh uap
air, umumnya lebih rendah daripada suhu kering, yaitu antara
20-25 ºC. Secara umum, penilaian suhu rumah dengan
menggunakan termometer ruangan.
44
Oksigen merupakan merupakan salah satu gas yang terlarut.
Kadar oksigen yang terlarut tergantung pada suhu dan tekanan
atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitude) serta
semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin
kecil.Peningkatan temperatur sebesar 1 oC akan meningkatkan
konsumsi oksigen sekitar 10%. Hubungan antara kadar oksigen
terlarut jenuh dan temperatur menggambarkan bahwa semakin
tinggi temperatur, kelarutan oksigen semakin berkurang (Boyd,
1988).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis memiliki rentang suhu
yang disukai, tetapi di dalam rentang ini terdapatsuatu suhu
optimum
saat
mereka
tumbuh
pesat.
Mycobacterium
tuberculosismerupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur
dalam rentang 25-40 º C, akan tetapiakan tumbuh secara optimal
pada suhu 31-37 º C (Depkes RI, 2006).
2.1.14.
Rumah Sehat dan Persyaratannya
Pengertian rumah sehat menurut Permenkes No 829/1999 adalah
kondisifisik, kimia, biologi di dalam rumah, lingkungan rumah dan
perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat
memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan kesehatan
perumahan dan lingkungan pemukinan adalah ketentuan teknis
kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan
masyarakat yang bermukim di perumahan dan/atau masyarakat sekitar
dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan kesehatan perumahan
45
yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta
persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan
perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat (Keman, 2005).
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman
menurut
Keputusan
Menteri
Kesehatan
(Kepmenkes)
No.
829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai be rikut :
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran
sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah
gempa, dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir
(TPA) sampah atau bekas tambang.
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah
kebakaran seperti jalur pendaratan penerbangan.
2. Kualitas udara
Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari
gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan
sebagai berikut :
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi.
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 µg maksimum 150 µg/m3.
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm.
d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari.
46
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik .
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1 mg/kg
5. Prasarana dan sarana lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga
dengan konstruksi yang aman dari kecelakaan.
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan
vektor penyakit.
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi
jalan tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak
membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan
harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan tidak
menyilaukan mata.
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air
yang memenuhi persyaratan kesehatan.
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus
memenuhi persyaratan kesehatan.
f. Pengelolaan
pembuangan
memenuhi syarat kesehatan.
sampah
rumah
tangga
harus
47
g. Memiliki
akses
terhadap
sarana
pelayanan
kesehatan,
komunikasi, tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan,
kesenian, dan lain sebagainya.
h. Pengaturan
instalasi
listrik
harus
menjamin
keamanan
penghuninya.
i. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak
terjadi
kontaminasi
makanan
yang
dapat
menimbulkan
keracunan.
6. Vektor penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat.
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.
7. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan
pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan
kelestarian alam.
Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut
Kepmenkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut :
1. Bahan bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang
dapat membahayakan kesehatan, an tara lain : debu total kurang
dari 150 µg/m2, asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam,
plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan.
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan
berkembangnya mikroorganisme patogen.
48
2. Komponen dan penataan ruangan
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.
b. Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar
cuci kedap air dan mudah dibersihkan.
c. Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan
kecelakaan.
d. Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir.
e. Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.
f. Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
3. Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung
dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan
minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata.
4. Kualitas udara
a. Suhu udara nyaman antara 18 – 30 oC.
b. Kelembaban udara 40 – 70 %.
c. Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam.
d. Pertukaran udara 5 kaki3/menit/penghuni.
e. Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam.
f. Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3.
5. Ventilasi Luas
Lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.
49
6. Vektor penyakit
Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di
dalamrumah.
7. Penyediaan air
a. Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal
60 liter/ orang/hari.
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
dan/atau air minum menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan
Kepmenkes 907 tahun 2002.
8. Sarana penyimpanan makanan
Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.
9. Pembuangan Limbah
a. Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari
sumber air, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari
permukaan tanah.
b. Limbah padat harus
dikelola dengan baik agar tidak
menimbulkan bau, tidak mencemari permukaan tanah dan air
tanah.
10. Kepadatan hunian
Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih
dari 2 orang tidur.
50
2.1.15.
Landasan Teori
Mengacu
dari
tinjauan
teori
tentang
faktor-faktor
yang
mempengaruhi kejadian penyakit TB paru Host, Agent, dan Lingkungan
merupakan faktor penentu yang saling berinteraksi, terutama dalam
perjalanan alamiah epidemi TBC baik periode Prepatogenesis maupun
Patogenesis. Interaksi tersebut dapat digambarkan dalam Bagan “Segitiga
Epidemiologi TBC.”
Bagan 2.1
Kerangka Teori Penelitian
Host:
-
Jenis Kelamin
Pendidikan
Status Gizi
Pengetahuan tentang TB
Paru
Agent:
Environment :
Mycobacterium tuberculosis
-
Kepadatan hunian
Ventilasi
Suhu
Kejadian TB Paru
Sumber : Teori Jhon Gordon, Ahmadi 2010
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian TB Paru Variabel
independen adalah tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian, ventilasi rumah
dan suuhu) serta karakteristik individu (jenis kelamin, status gizi, pendidikan, dan
pengetahuan tentang TB Paru).
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Independen
Variabel Dependen
Jenis Kelamin
Pendidkan
Status gizi
Kejadian TB
Paru
Pengetahuan
Kepadatan hunian
Ventilasi rumah
Suhu
51
52
No.
Variabel
Definisi
Operasional
1.
Kejadian TB Paru
Pasien yang tercatat
di data rekam medis
berusia 15-64 tahun
(Depkes, 2010) pada
bulan april-juni 2013
2
Jenis kelamin
3
Pendidikan
Status gender yng
dibawa sejak lahir
(laki-laki atau
perempuan)
Pendidikan terakhir
responden sesuai
dengan ijazah yang
diterima
Alat ukur
Cara ukur
Variabel Dependen
Data rekam
Pengecekan
medis
data rekam
medis
Variabel Independen
kuesioner
Wawancara
Kuesioner
Wawancara
Hasil Ukur
Nominal
0. Ya
1. Tidak
Nominal
0. Laki-laki
1. Perempuan
Nominal
0. Rendah (tidak sekolah,
SD & SMP)
1. Tinggi (SMA &
Perguruan tinggi
Ordinal
(BPS, 2012)
4
Status Gizi
Keadaan tubuh yang
merupakan hasil
akhir dari
keseimbangan antara
zat gizi yang masuk
kedalam tubuh
(Gibson, 1991)
Timbangan
digital,
Microtoise
Pengukuran
IMT
:
BB(kg)/(TB(
cm)/100)2
Ordinal
0. Kurus jika IMT < 18,5
1. Normal jika IMT 18,525
2. Gemuk jika IMT >25
(Kemenkes RI, 2003)
53
Variabel
5
6
7
Pengetahuan
Kepadatan hunian
Ventilasi rumah
Devinisi
Alat ukur
Operasional
Tinggi rendahnya
Kuesioner
skor total dijawab
responden terhadap
pertanyaanpertanyaan mengenai
berbagai hal yang
berkaitan dengan TB
Paru.
Perbandingan jumlah Kuesioner
orang yang menetap
dalam rumah dengan
luas lantai dalam
meter persegi,
Persyaratan minimal
10 meter persegi per
orang (Kepmenkes,
No 829/1999)
Lubang tempat
Meteran
keluar masuknya
udara ke dalam
rumah, Ventilasi
yang memenuhi
syarat jika
perbandingan luas
ventilasi dan luas
ruangan minimal
10% dari luas lantai
rumah (Kepmenkes
No 829/1999)
Cara Ukur
Wawancara
Hasil Ukur
0.
1.
Wawancara
&
Pengukuran
Skala Ukur
Rendah (tingkat
pengetahuan dikatakan
rendah bila skor <
mean
Tinggi (tingkat
pengetahuan dikatakan
tinggi bila skor ≥ mean
0. tidak memenuhi syarat
apabila < 10m2/orang
1. Memenuhi syarat
apabila > 102/orang
Ordinal
(Kepmenkes, 1999)
Pengukuran
0. Tidak memenuhi syarat Ordinal
jika < 10%
1. Memenuhi syarat ≥
10%
(Kepmenkes, 1999)
54
8
Suhu ruangan
Ukuran suhu dalam
Thermorumah saat
hygrometer
pengukuran dengan
tingkat kenyamanan
berkisar antara 18-30
celcius
(Kepmenkes No
829/1999)
Pengukuran
0. Tidak memenuhi syarat Ordinal
bila <18oC atau >30oC
1. Memenuhi
syarat
o
o
apabila 18 C -30 C
(Kepmenkes, 1999)
55
3.3 Hipotesis
A. Ada hubungan antara karakteristik individu (jenis kelamin, pendidikan, status
gizi dan pengetahuan) pada kelompok usia produktif dengan kejadian TB Paru di
Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013.
B. Ada hubungan antara tingkat sirkulasi oksigen (kepadatan hunian, ventilasi
rumah dan suhu) pada kelompok usia produktif dengan kejadian di Puskesmas
Pondok Pucung tahun 2013.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional yaitu metoda studi analitik
dengan menggunakan desain cross sectional study (potong lintang) yaitu suatu
penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dan efek
dengan pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point
time approach) (Notoatmodjo, 2010).
4.2 Lokasi dan Waktu
Lokasi penelitian ini di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok pucung, Kota
Tangerang Selatan, sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli tahun
2013.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini semua orang tercatat sebagai pasien di
Puskesmas Pondok Pucung kota Tangerang Selatan yang berkunjung pada bulan
april-juni 2013
4.3.2 Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple
random sampling atau pengambilan sampel secara acak sederhana yaitu
56
57
pengambilan sampel dilakukan dengan mengundi anggota populasi sehingga
setiap responden mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi menjadi
sampel (Notoatmojo, 2010).
Peneliti membuat sampling frame dengan melihat data rekam medis
kunjungan pasien yang ada di Puskesmas Pondok Pucung pada bulan april-juni
2013. Dari data tersebut diperoleh 351 pasien yang menjadi sampling frame yang
memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai populasi penelitian. Pada tahap
berikutnya ditetapkan responden yang akan dijadikan sampel penelitian dengan
mengambil responden yang ada didalam sampling frame kemudian dilakukan
pengambilan secara acak sesuai dengan jumlah sampel yang dibutuhkan yaitu 65
reponden.
Dalam menetapkan subjek penelitian sebagai sampel, peniliti menetapkan
kriteria inklusi dan eksklusi, Adapun kriteria dipilih berdasarkan kriteria inklusi
dan eksklusi sebagai berikut :
1.
Kriteria Inklusi
a. Usia 15-64 tahun
b. Pengunjung Puskesmas Pondok Pucung yang tercatat dalam data rekam
medis pada bulan april-juni 2013
c. Bertempat tinggal di wilayah Pondok. Pucung kota Tangerang Selatan
d. Bersedia diwawancara
58
2.
Kriteria Eksklusi
a. Usia <15 tahun atau >64 tahun
b. Pengunjung Puskesmas Pondok Pucung yang tidak tercatat dalam data
rekam medis pada bulan april-juni 2013
c. Bertempat tinggal di luar wilayah Pondok Pucung kota Tangerang
Selatan
d. Tidak bersedia diwawancara
4.3.3
Perhitungan Sampel
Perhitungan penentuan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus
uji hipotesis beda 2 proporsi. rumus sebagai berikut:
n
Z 1-α/2
= Jumlah sampel
=nilai Z dari pada derajat kemaknaan (CI) 95% dengan α = 0,05 yaitu
sebesar 1,96
Z 1-β/2
= nilai Z pada kekuatan uji (power) 1-β = 80% yaitu 0,84
P1
= Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu
P2
= Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu
P
= Rata-rata P1 dan P2 (P1+P2)/2
59
Adapun nilai P1, P2, yang didapatkan dari penelitian terdahulu, berkaitan dengan
variable yang ingin diteliti dengan kejadian TB Paru yaitu :
Tabel 4.1 Perhitungan Sampel
NO
1
2
3
4
5
Variabel
Status gizi
Pengetahuan
Kepadatan
hunian
Ventilasi
Suhu
P1
0,74
0,70
0,63
P2
0,26
0,30
0,36
n
16
24
42
Ket
Setiawan, 2010
Ruswanto, 2010
Niko, 2011
0,68
0.32
0,31
0.67
22
25
Niko, 2011
Ruswanto, 2010
Dari tabel 4.1 diambil P1 dan P2 dari n terbesar yaitu P1=0,63 dan P2=0,36 dan
kemudian dimasukan kedalam rumus. Berdasarkan perhitungan sampel diatas maka
didapatkan jumlah sampel sebesar 42 responden (P1 = Proporsi kepadatan hunian yang
memenuhi syarat dengan kejadian TB Paru, P2 = Proporsi kepadatan hunian yang tidak
memenuhi syarat dengan kejadian TB Paru). Dari hasil tersebut kemudian dilakukan
perhitungan sampel minimal dengan menggunakan perbandingan dari hasil penelitian
Fatimah 2008 yaitu hasil dari responden yang tidak menderita TB Paru 65,2 %
n = 42 / Persentase yang tidak menderita TB Paru
n = 42 / 0,652
n = 64 responden
Berdasarkan perhitungan sampel diatas diperoleh jumlah sampel minimal sebesar
65 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode
simple random sampling.
60
4.4 Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data
4.4.1 Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan cara wawancara langsung, observasi
dan pengukuran kepada responden dengan menggunakan alat ukur. Data
mengenai identitas, alamat, umur, jenis kelamin, status gizi, pendidikan,
pengetahuan dan kondisi kepadatan hunian dilakukan dengan wawancara
langsung kepada responden.Sedangkan data mengenai luas ruangan, ventilasi
rumah dan suhu dilakukan dengan cara observasi dan pengukuran dirumah
responden.
b. Data Sekunder
Data sekunder yaitu pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari
instansi kesehatan yang bersangkutan di dinas kesehatan Tangerang Selatan dan
Puskesmas Pondok Pucung. Data yang di ambil meliputi data jumlah kasus TB
Paru yang ada di masing-masing Puskesmas di Kota Tangerang Selatan dan data
rekam medis kunjungan pasien yang ada di Puskesmas Pondok Pucung pada
bulan april-juni tahun 2013.
4.4.2 Instrumen Penelitian
Alat pengumpulan data menggunaan instrumen sebagai berikut :
1. Kuisioner
Kuisioner adalah alat pengumpul data yang berisi daftar pertanyaan yang
akan diajukan kepada responden dan sudah tersusun dengan baik, sehingga
61
responden tinggal memberikan tanda-tanda yang ada pada petunjuk
pengisian kuisioner.
2. Alat Pengukuran
Peralatan yang digunakan untuk mengukur kepadatan penghuni, ventilasi,
suhu, dan status gizi yaitu timbangan digital, microtoise, thermo-hygrometer
dan meteran. Adapun cara pengukuran sebagai berikut:
-
Status gizi
Mengukur berat badan menggunakan timbangan digital, tinggi badan
menggunakan microtoise lalu dilakuan perhitungan menggunakan
indikator IMT (Indeks Masa Tubuh)
-
Kepadatan hunian
Pengukuran luas ruangan yang tersedia dengan penghuni atau anggota
keluarga yang berada dalam rumah tersebut dengan menggunakan
meteran.
- Ventilasi
Luas ventilasi meliputi luas lubang angin yang dapat masuk kedalam
rumah dibagi dengan luas lantai dikalikan 100%, diukur pada tempat
dimana
responden
menghabiskan
sebagian
waktunya
dengan
menggunakan meteran.
- Suhu
Suhu dalam ruangan diukur pada tempat dimana penghuni menghabiskan
sebagian
besar
waktunya
di
rumah
Thermohygrometer dalam satuan derajat celcius.
dengan
menggunakan
62
4.4.3 Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini meliputi tahapan sebagai berikut :
1. Editing, yaitu peniliti memeriksa data yang terkumpul tentang hasil isian
kuesioner apakah jawaban yang ada sudah terisi lengkap, jelas terbaca,
relevan dengan pertanyaan, dan konsisten.
2. Coding, yaitu pemberian kode-kode tertentu untuk memudahkan dalam
tahap pengolahan data yaitu dengan cara memberikan kode angka pada data
yang berbentuk huruf. Pada variabel independen yaitu jenis kelamin, peniliti
memberikan kode angka 0 untuk laki-laki dan 1 untuk perempuan. Variable
pendidikan dikategorikan menjadi dua kategori yaitu 0 rendah jika (tidak
sekolah, SD, SMP) dan 1 tinggi jika (SMA dan Perguruan tinggi). Variabel
status gizi di kategorikan menjadi 3 kategori yaitu 0 untuk sataus gizi kurus
(IMT <18,5) 1 untuk normal(IMT 18,5-25,0), 2 untuk gemuk(IMT >25).
Variabel pengetahuan dikategorikan menjadi dua kategori yaitu 0 jika
pengetahuan rendah, 1 jika pengetahuan tinggi. Variabel kepadatan hunian
dikategorikan menjadi dua kategori yaitu 0 jika tidak memenuhi syarat
(<10m2/orang), 1 jika memenuhi syarat (>10m2/orang). Variabel ventilasi
rumahdikategorikan menjadi dua kategori yaitu 0 tidak memenuhi syarat
(<10%), 1 jika memenuhi syarat (≥10%). Variabel suhudikategorikan
menjadi dua kategori yaitu 0 tidak memenuhi syarat (<18°C atau >30°C), 1
jika memenuhi syarat (18°C-30°C).
3. Entry, yaitu Memasukkan data yang telah diedit dan dicoding dengan
menggunakan fasilitas komputer. Kemudian melakukan transformasi data
63
sesuai dengan definisi operasional yang telah ditetapkan. Transformasi data
yang dilakukan adalah mengelompokkan data variabel jenis kelamin,
pendidikan, status gizi, pengetahuan, kepadatan hunian, ventilasi rumah, dan
suhu selanjutnya memberi value label untuk masing-masing variabel yang
sudah dikategorikan.
4. Tabulating, yaitu setelah data tersebut masuk kemudian direkap dandisusun
dalam bentuk tabel agar dapat dibaca dengan mudah.
4.4.4 Analisa Data
1.
Analisis Univariat
Analisis Univariat dimaksudkan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari
tiap variabel.
2.
Analisis Bivariat
Analisisbivariat untuk mengetahui hubunagn antara variabel independen dan
variabel dependen yang telah dianalisis. Analisis uji bivariat menggunakan uji
statisticChi Square (x2) dengan derajat kepercayaan 95% (α=0,05) untuk
melakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian terhadap dua variabel yang
diduga berhubungan atau berkolerasi. Jika P value < 0,05 maka perhitungan
secara statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan antara variable
independen terhadap variabel dependen.
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Puskesmas Pondok
Pucung terletak di kelurahan Pondok Pucung kecamatan
Pondok Aren Kota tangerang Selatan. Luas wilayah 245 Ha2 dengan jumlah penduduk
sebanyak 30683 jiwa yang terdiri dari 13122 KK, 95 RT dan 16 RW. Alamat Puskesmas
Pondok Pucung di Jl. Santunan Jaya RT01/03 Kelurahan Pondok Pucung, Kec. Pondok
Aren, Kota Tangerang Selatan, Propinsi Banten. Dibangun di atas tanah seluas 1000 m2
dengan luas bangunan 600 m2. Adapun letak Puskesmas Pondok Pucung berada dengan
batas-batas sebagai berikut:
-
Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat
-
Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Jombang, Kec.Ciputat
-
Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Parigi, Kec Pondok Aren.
-
Utara : Berbatasan dengan kelurahan Pondok Jaya.
5.2 Analisis Univariat
5.2.1
Gambaran Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tahun 2013
Distribusi frekuensi kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di
Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013, disajikan dalam bentuk tabel 5.1 berikut
ini :
64
65
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Ya
23
35,4
Tidak
42
64,6
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa lebih banyak responden
yang tidak mengalami kejadian TB Paru sebesar 64,6%.
5.2.2
Gambaran Jenis Kelamin pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi jenis kelamin pada kelompok usia
produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang
disajikan pada tabel 5.2 berikut ini :
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Jenis Kelamin
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Laki-laki
26
40,0
Perempuan
39
60,0
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa responden yang ikut dalam
penelitian ini lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 60%.
66
5.2.3
Gambaran Pendidikan pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi pendidikan pada kelompok usia
produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang
disajikan pada tabel 5.3 berikut ini :
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Pendidikan
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Rendah
39
60,0
Tinggi
26
40,0
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa responden yang memiliki
pendidikan rendah lebih banyak 60%.
5.2.4
Gambaran Status Gizi pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas
Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi status gizi pada kelompok usia
produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang
disajikan pada tabel 5.4 berikut ini :
67
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Status Gizi
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Satus Gizi
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Kurus
25
38,5
Normal
36
55,4
Gemuk
4
6,2
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa dari ketiga kategori status
gizi responden, yang memiliki status gizi normal lebih banyak 55,4%.
5.2.5
Gambaran Pengetahuan Mengenai TB Paru pada Kelompok Usia Produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Berdasarkan hasil uji normalitas diperoleh p value sebesar 0,031 artinya
distribusi pengetahuan berbentuk tidak normal. Analisis univariat distribusi
frekuensi Pengetahuan pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok
Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang disajikan pada tabel 5.5 berikut ini :
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Pengetahuan tentang TB Paru
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Rendah
26
40,0
Tinggi
39
60,0
Total
65
100,0
68
Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa lebih banyak responden
yang memiliki pengetahuan tinggi yaitu sebesar 60%.
5.2.6
Gambaran Kondisi Kepadatan Hunian Rumah pada Kelompok Usia
Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi kepadatan hunian pada kelompok
usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang
disajikan pada tabel 5.6 berikut ini :
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Kondisi Kepadatan Hunian
Rumah di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kepadatan Hunian
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Tidak Memenuhi Syarat
25
38,5
Memenuhi Syarat
40
61,5
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa kondisi kepadatan hunian
rumah responden yang memenuhi syarat lebih tinggi 61,5%.
5.2.7
Gambaran Kondisi Ventilasi Rumah pada Kelompok Usia Produktif di
Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi ventilasi rumah pada kelompok
usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang
disajikan pada tabel 5.7 berikut ini :
69
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Kondisi Ventilasi Rumah
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Ventilasi Rumah
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Tidak Memenuhi Syarat
23
35,4
Memenuhi Syarat
42
64,6
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa kondisi ventilasi rumah
responden yang rumah memenuhi syarat lebih tinggi 64,6%.
5.2.8
Gambaran Keadaan Suhu Ruangan Rumah pada Kelompok Usia Produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Analisis univariat distribusi frekuensi suhu pada kelompok usia produktif
di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013 diperoleh hasil yang disajikan pada
tabel 5.8 berikut ini :
Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Keadaan Suhu Ruangan Rumah
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Suhu Ruangan
Jumlah Sampel (n)
Persentase (%)
Tidak Memenuhi Syarat
21
32,3
Memenuhi Syarat
44
67,7
Total
65
100,0
Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa keadaan suhu ruangan
rumah responden yang memenuhi syarat lebih tinggi 67,7%.
70
5.3 Analisis Bivariat
5.3.1
Analisis Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.9 berikut ini :
Tabel 5.9
Analisis Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Jenis
Kelamin
Ya
Total
Tidak
P
N
%
N
%
N
%
Laki-laki
8
30,8
18
69,2
26
100,0
Perempuan
15
38,5
24
61,5
39
100,0
Total
23
35,4
42
64,6
65
100,0
value
0,602
Berdasarkan tabel 5.9 hasil analisis antara jenis kelamin dengan dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 dapat diketahui bahwa dari 26 responden yang berjenis kelamin lakilaki, terdapat 8 responden (30,8%) yang menderita TB Paru. Sedangkan dari 39
responden yang berjenis kelamin perempuan, terdapat 15 reponden (38,5%) yang
menderita TB Paru.
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,602, artinya pada
α = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin
dengan kejadian TB Paru.
71
5.3.2
Analisis Hubungan antara Pendidikan dengan Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan pendidkan dengan kejadian
TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun
2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.10 berikut ini :
Tabel 5.10
Analisis Hubungan antara Pendidikan dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Pendidikan
Ya
Total
Tidak
N
%
N
%
N
%
Rendah
17
43,6
22
56,4
39
100,0
Tinggi
6
23,1
20
76,9
26
100,0
Total
23
35,4
42
64,6
65
100,0
P
value
0,116
Berdasarkan tabel 5.10 hasil analisis antara pendidikan dengan kejadian
TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung tahun 2013
menunjukkan bahwa dari 39 responden yang ber pendidikan rendah , terdapat 17
responden (43,6%) yang menderita TB Paru. Sedangkan dari 26 responden yang
ber pendidikan tinggi, terdapat6 reponden (23.1%) yang menderita TB Paru.
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,116, artinya pada
α = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan
kejadian TB Paru.
72
5.3.3
Analisis Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.11 berikut ini :
Tabel 5.11
Analisis Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Status Gizi
Ya
Total
Tidak
N
%
N
%
N
%
Kurus
16
64,0
9
36,0
25
100,0
Normal
17
19,4
29
80,6
36
100,0
Gemuk
0
0,00
4
100
4
100,0
Total
23
35,4
42
64,6
65
100,0
P
value
0,001
Berdasarkan tabel 5.11 hasil analisis antara status gizi dengan kejadian
TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok tahun 2013
menunjukkan bahwa dari 25 responden yang ber status gizi kurus, terdapat 16
responden (64,0%) yang menderita TB Paru. Diatara 36 responden yang ber
status gizi normal, terdapat17 reponden (19,4%) yang menderita TB Paru.
Sedangkan dari 4 responden yang ber status gizi gemuk tidak terdapat responden
yang menderita TB Paru.
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p value sebesar 0,001, artinya
pada α = 5% menunjukkan ada hubungan antara status gizi dengan kejadian TB
Paru.
73
5.3.4
Analisis Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.12 berikut ini :
Tabel 5.12
Analisis Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Pengetahuan
Ya
Total
Tidak
N
%
N
%
N
%
Rendah
10
38,5
16
61,5
26
100,0
Tinggi
13
33,3
26
66,7
39
100,0
Total
57
35,4
63
64,6
65
100,0
P
value
0,792
Berdasarkan tabel 5.12 hasil analisis antara pengetahuan dengan kejadian
TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok tahun 2013
menunjukkan bahwa dari 26 responden yang ber pengetahuan rendah , terdapat
10 responden (38,5%) yang menderita TB Paru. Sedangkan dari 39 responden
yang ber pengetahuan tinggi, terdapat13 reponden (33.3%) yang menderita TB
Paru.
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,792, artinya pada
α = 5% dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan
kejadian TB Paru.
74
5.3.5
Analisis Hubungan antara Kondisi Kepadatan Hunian Rumah dengan
Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara kepadatan hunian
dengan kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok
Pucung tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.13
berikut ini :
Tabel 5.13
Analisis Hubungan antara Kondisi Kepadatan Hunian Rumah dengan
Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Kepadatan Hunian
Ya
Total
Tidak
N
%
N
%
N
%
Tidak Memenuhi Syarat
15
60,0
10
40,0
25
100,0
Memenuhi Syarat
8
20,0
32
80,0
40
100,0
Total
57
35,4
63
64,6
65
100,0
P
value
0,001
Berdasarkan tabel 5.13 hasil analisis antara kepadatan hunian dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 dapat diketahui bahwa dari 25 responden yang kepadatan hunian
tidak memenuhi syarat, terdapat 15 responden (60,0%) yang menderita TB Paru.
Sedangkan dari 40 responden yang kepadatan hunian memenuhi syarat, terdapat8
reponden (20,0%) yang menderita TB Paru.
75
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p value sebesar 0,001, artinya
pada α = 5%
menunjukkan ada hubungan antara kepadatan hunian dengan
kejadian TB Paru.
5.3.6
Analisis Hubungan antara Kondisi Ventilasi Rumah dengan Kejadian TB
Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara ventilasi rumah
dengan kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok
Pucung tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.14
berikut ini :
Tabel 5.14
Analisis Hubungan antara Ventilasi Rumah dengan Kejadian TB Paru
pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Ventilasi Rumah
Ya
Total
Tidak
N
%
N
%
N
%
Tidak Memenuhi Syarat
13
56,5
10
43,5
23
100,0
Memenuhi Syarat
10
23,8
32
76,2
42
100,0
Total
23
35,4
42
64,6
65
100,0
P
value
0,014
Berdasarkan tabel 5.14 hasil analisis antara ventilasi rumah dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 dapat diketahui bahwa dari 23 responden yang ventilasi rumah tidak
memenuhi syarat, terdapat 13 responden (56,5%) yang menderita TB Paru.
Sedangkan dari 42 responden yang ventilasi rumah memenuhi syarat, terdapat 10
reponden (23,8%) yang menderita TB Paru.
76
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,014, artinya pada
α = 5% menunjukkan ada hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian TB
Paru.
5.3.7
Analisis Hubungan antara Keadaan Suhu Ruangan Rumah dengan
Kejadian TB Paru
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara suhu dengan
kejadian TB Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung
tahun 2013 menggunakan uji Chi-Square disajikan pada tabel 5.15 berikut ini :
Tabel 5.15
Analisis Hubungan antara Keadaan Suhu Ruangan Rumah dengan
Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013
Kejadian TB Paru
Suhu
Ya
Total
Tidak
P
value
N
%
N
%
N
%
Tidak Memenuhi Syarat
9
42,9
12
57,1
21
100,0
Memenuhi Syarat
14
31,8
30
68,2
44
100,0
Total
23
35,4
42
64,6
65
100,0
0,417
Berdasarkan tabel 5.15 hasil analisis antara suhu dengan kejadian TB
Paru pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang
Selatan tahun 2013 dapat diketahui bahwa dari 21 responden yang suhu tidak
memenuhi syarat, terdapat 9 responden (42,9%) yang menderita TB Paru.
Sedangkan dari 44 responden yang suhu memenuhi syarat, terdapat 14 reponden
(31,8%) yang menderita TB Paru.
77
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,0417, artinya pada
α = 5% menunjukkan tidak ada hubungan antara suhu dengan kejadian TB Paru.
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Rancangan dari penelititan ini adalah Cross sectional (potong lintang) dimana
pada penelitian ini tidak dapat ditentukan arah hubungan sebab akibat antara variabel
independen dengan variabel dependen, kondisi ini disebabkan karena variabel
independen dan variabel dependen di ukur secara bersamaan sehingga tidak dapat
ditentukan urutan waktu variabel mana yang terjadi terlebih dahulu. Kemungkinan yang
bisa terjadi adalah responden yang menderita TB Paru melakukan perubahan terhadap
faktor risiko utama seperti memperbaiki sistem ventilasi rumah, perpindahan tempat
tinggal, pengurangan atau pertambahan jumlah penghuni rumah, dan keadaan status gizi
sebelum responden sakit tidak diketahui sehingga pada saat penelitian dilakukan berbeda
dengan kondisi yang sebenarnya.
2. Bias
Dalam penelitian ini ada beberapa jenis bias yang mungkin dapat terjadi. Bias
yang mungkin terjadi adalah bias informasi. Bias informasi yang dapat terjadi bisa
dilihat dari aspek responden, pewawancara, instrumen penelitian dan pengumpulan
data.
Bias pada responden terjadi karena responden tidak memahami pertanyaan
pewawancara atau lupa terutama untuk pertanyaan yang digali secara retrosfektif
78
79
berdasarkan ingatan, terjadi bias ini bisa pada kelompok terpajan maupun pada
kelompok tidak terpajan. Bias karena pewawancara disebabkan karena adanya
kecenderungan dari pewawancara untuk mengarahkan jawaban dari pertanyaan yang
dilontarkan. Hal ini dipengaruhi karena keyakinan pewawancara terhadap suatu faktor
risiko yang sedang dibuktikan oleh peneliti. Bias ini juga bisa disebabkan karena
pewawancara adalah petugas puskesmas, ada kemungkinan yang diwawancara tidak
menjawab dengan sebenarnya.
Bias instrumen bisa terjadi karena ada beberapa responden kurang mengerti atau
paham maksud dari kuesioner dan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kondisi
fisik rumah.
Bias seleksi mungkin terjadi pada saat penetuan sampel penelitian. Penentuan
sampel dalam penelitian ditetapkan berdasarkan data rekam medis puskesmas dimana
penetapan sampel dilakukan secara acak sederhana, kemungkinan pada saat
pengambilan sampel terjadi bias seleksi. Bias ini juga mungkin terjadi karena fisik
rumah yang ditempati responden telah direnovasi atau telah pindah rumah selama kurun
penelitian ini.
6.2 Gambaran Kejadian TB Paru
Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosi). Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia
telah terinfeksi oleh Mycobacteriumtuberculosis dan 75% pasien TB adalah kelompok
usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).Tuberkulosis paru (TB paru)
80
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis dan ditularkan
melalui udara pada saat pasien TB batuk atau bersin (Depkes RI, 2006).
Pada penelitian ini, hasil uji univariat menunjukkan bahwa sebanyak 35,4% dari
responden mengalami kejadian TB paru yaitu sebesar 23 orang dari 65 orang responden.
Penelitian ini dilakukan pada responden yang berusia produktif yaitu usia 15-64 tahun
yang tercatat pada data rekam medis Puskesmas Pondok Pucung pada bulan april- juni
2013.
Temuan ini sejalan dengan beberapa penelitian seperti penelitian yang dilakukan
oleh Musadad (2006) yang menemukan sekitar 90,2% penderita TB paru terjadi pada
kelompok usia produktif. Selanjutnya penelitian Sutiningsih (2012) menyebutkan bahwa
proporsi responden pada usia produktif cenderung lebih banyak 76,7% terhadap kejadian
TB paru. Serta penelitian Putranto Perdana (2008) di Jakarta Timur yang menyatakan
bahwa usia produktif berisiko besar terhadap penularan penyakit TB Paru daripada pada
usia yang tidak produktif. Umur produktif sangat berbahaya terhadap tingkat penularan
karena pasien mudah berinteraksi dengan orang lain, mobilitas yang tinggi dan
memungkinkan untuk menular ke orang lain serta lingkungan sekitar tempat tinggal.
6.3 Karakteristik Individu
6.3.1
Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian variabel jenis kelamin diperoleh proporsi kejadian
TB Paru tinggi pada jenis kelamin perempuan (38,5%) dibandingkan pada jenis
kelamin laki-laki (30,8%). Hal ini disebabkan karena responden yang berjenis
kelamin perempuan lebih banyak jumlah nya (60%) dibandingkan dengan
81
responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak (40%). Dalam pengambilan
sampel penelitian ini diambil secara acak sehingga jumlah responden perempuan
yang menjadi responden sedikit lebih banyak dibandingkan responden laki-laki.
Dari hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara
jenis kelamin dengan kejadian TB Paru (p value = 0.602). Menurut peneliti, tidak
adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian TB Paru dikarenakan
proporsi antara responden laki-laki dan perempuan yang ikut dalam penelitian ini
lebih didominasi oleh perempuan. Berdasarkan hal tersebut sehingga jumlah
responden perempuan menjadi lebih banyak yang mengalami kejadian TB Paru
dibandingkan laki-laki. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
retnaningsih dkk (2010) yang menyebutkan tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kejadian TB Paru dimana proporsi responden perempuan lebih
banyak yaitu 58 responden dibandingkan laki-laki yang hanya 42 responden
dengan angka kejadian TB Paru pada perempuan 81% lebih tinggi dibanding
pada laki laki yang hanya 78,6%.
Selain itu peneliti berpendapat bahwa jumlah responden perempuan lebih
banyak yang mengalami kejadian TB Paru dibandingkan laki-laki dikarenakan di
puskesmas pondok pucung jumlah kunjungan pasien per april-juni lebih banyak
di dominasi oleh perempuan dibandingkan laki-laki hal tersebut dikarenakan
laki-laki malas untuk pergi ke puskesmas kalau belum benar-benar sakit parah
dengan alasan masalah pekerjaan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
zuliana (2009) bahwa perempuan 80% lebih patuh untuk pergi ke pelayanan
kesehatan dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 20%. Ini dapat diasumsikan
82
bahwa perempuan dengan mobilitas yang rendah memiliki banyak waktu untuk
memperhatikan kesehatannya sehingga lebih disiplin untuk melakukan
pemeriksaan/pengobatan ke pelayanan kesehatan di bandingkan dengan laki-laki
yang lebih banyak mobilitas diluar.
6.3.2
Pendidikan
Dari hasil penelitian variabel pendidikan diperoleh proporsi kejadian TB
Paru tinggi pada responden yang berpendidikan rendah yaitu (43,6%)
dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi sebanyak (23,1%).
Dari hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan
dengan kejadian TB Paru (p value = 0,116). Walaupun secara statistik
pendidikan tidak berhubungan dengan kejadian TB paru tetapi secara gambaran
responden yang memiliki pendidikan rendah angka kejadian TB paru lebih tinggi
dibandingkan responden yang ber pendidikan tinggi. Hal ini sesuai dengan teori
yang menyatakan TB paru menyerang sebagian besar kelompok ekonomi rendah
dan berpendidikan rendah (Depkes RI, 2000).
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahan
seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan,
penyakit TB paru dan penularan TB paru sehingga dengan pendidikan yang
tinggi maka seseorang akan lebih mudah memahami tentang penyakit TB paru
dan mencoba untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu
tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi jenis pekerjaannya. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sutiningsih (2012) yang
menyatakan tingkat pendidikan rendah lebih berisiko 0,579 kali lebih besar untuk
83
terjadinya TB paru dibandingkan tingkat pendidikan tinggi. Penelitian ini juga
diperkuat oleh data RISKESDAS (2007) dimana TB Paru empat kali lebih sering
menyerang pasien dengan tingkat pendidikan rendah dibandingkan pendidikan
tinggi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Notoatmojo (1993) dalam
Bagoes (2006) yang menyatakan bahwa pendidikan pada individu atau kelompok
bertujuan untuk mencari peningkatan kemampuan yang diharapkan. Seseorang
yang telah menyelesaikan pendidikan dalam satu bidang akan mempunyai
pengetahuan dan ketrampilan tertentu pula. Pendapat Kasno Diharjo (1998)
dalam Bagoes (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor dominan yang
mempengaruhi perilaku positif adalah tingkat pendidikan. Sedangkan menurut
Green (1991), menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam
menentukan perilaku kesehatan individu dan kelompok adalah faktor pendidikan.
Firman Allah swt. yang berhubungan dengan Pendidikan, sebagaimana
firman Allah swt. dalam Q.S.Al-Kahf ayat 66 sebagai berikut :
‫ُه ِبِّل ْل َق ُهر ْلشدًا‬
‫و ٰى َق ْل َق َّت ِب ُه َق َق َق ٰى َق ْل ُه َق ِبِّل َق ِب ِب َّت‬
‫َق َقا َق ُه ُه َق‬
“Musa berkata kepada Khidir “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu”
Dari ayat diatas dapat diambil beberapa pokok pemikiran; Pada arti kata
“mengajarkan” dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah
84
fasilitator, tutor atau pendamping.Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya
sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa Negara dan agamanya.Selanjutnya
arti kata “ilmu yang telah diajarkan” dari apa yang telah dia ketahui dan dia
pelajari maka dia akan mengetahui berbagai macam hal dan dapat
mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah. Dan kesemua hal
tersebut dapat diwujudkan dengan menempuh pendidikan secara formal sesuai
dengan tingkatan-tingkatannya.
6.3.3
Status Gizi
Status gizi dalam penelitian ini adalah Keadaan derajat kesehatan
responden dengan pengukuran berat badan (Kilogram) dibagi dengan tinggi
badan (meter) atau Indek Masa Tubuh (IMT). Berdasarkan hasil penelitian
variabel status gizi diperoleh proporsi kejadian TB Paru tinggi pada responden
yang ber status gizi kurus yaitu (64%) dibandingkan dengan responden yang
berstatus gizi normal yaitu (19,4%). Dari hasil uji statistik menunjukan bahwa
ada hubungan antara status gizi dengan kejadian TB Paru (p value = 0,001).
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneltian yang dilakukan Ruswanto
(2010) yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan
kejadian TB Paru dimana penduduk yang berstatus gizi buruk mempunyai risiko
14,654 kali lipat dibandingkan dengan penduduk yang status gizi baik terhadap
kejadian TB paru. Penelitian ini ditunjang oleh Warta Gerdunas Januari 2003
(dalam Unita 2004) bahwa gizi kurang dan makanan yang tidak adequate
memperlemah sistem kekebalan yang akan meningkatkan infeksi dan dapat
85
terjadi infeksi dan terjadi reaktifasi yang akan berkembang menjadi TBC aktif.
Hasil penelitian Elvina (2002) dari pusat gizi regional universitas
Indonesia menyebutkan bahwa jumlah penderita TB Masalah kekurangan atau
kelebihan gizi pada orang dewasa (18 tahun ke atas) merupakan masalah
penting,karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat
mempengaruhi produktivitas kerja.
Keadaan status gizi dan penyakit infeksi merupakan pasangan yang
terkait. Penderita infeksi sering mengalami anoreksia, penurunan gizi atau gizi
kurang akan memiliki daya tahan tubuh yang rendah dan sangat peka terhadap
penularan penyakit. Pada keadaan gizi yang buruk, maka reaksi kekebalan tubuh
akan menurun sehingga kemampuan dalam mempertahankan diri
terhadap
infeksi menjadi menurun (Rusnoto, dkk, 2006).
Untuk memperbaiki status gizi masyarakat diperlukan upaya yang
terpadu dari berbagai pihak antara lain dari kesehatan dan pemerintah setempat.
Pihak puskesmas harus selalu memberikan penyuluhan terhadap masyarakat
pentingnya tubuh mendapatkan asupan gizi yang baik serta memberikan
makanan tambahan kepada para penderita TB Paru. Peningkatan gizi masyarakat
tidak terlepas dari pendapatan masyarakat, oleh karena itu pemerintah setempat
harus mengupayakan lapangan kerja bagi masyarakat yang tidak bekerja.
Diharapkan dengan pendapatan masyarakat yang cukup mereka akan mampu
membeli makanan yang cukup bergizi.
86
Firman Allah swt. memerintahkan kita untuk menkonsumsi makanan
yanghalal juga baik (Halalan Thoyyiban), sebagaimana firman Allah swt. dalam
Q.S.Al-Maidah ayat 88 sebagai berikut :
‫َق ْل ُه ْل ِب ِب ُه ْل ِب ُه َق‬
‫َق ِبِّل ً ۚ َق ا َّت ُه ا َّت‬
‫ااَق ا َّت ِب‬
ً ‫ااُه َق َق‬
‫َق ُه ُه ا ِب َّت َقر َق َق ُه ُه َّت‬
“dan makanlah makanan yang halal lagi baik, dari apa yang telah dirizkikan
kepada mu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepadaNya”
Dalam tafsir Syaikh Nashir as-Sa‟dy (2005) makanan yang halal adalah
yang diproses maupun diperoleh atau sumber nya dengan cara yang halal, yaitu
tidak dari hasil curian, korupsi dan mendzlimi orang lain atau apabila hewan
potong harus menyebut asma Allah swt. saat dilakukan pemotongan. Selain itu
makanan juga harus baik, yaitu cukup bergizi, makanan yang lengkap dan
seimbang porsi dengan kebutuhan aktivitas bekerja, tidak mengandung zat-zat
membahayakan, alami dan tidak berlebihan.
6.3.4
Pengetahuan
Pengetahuan
merupakan
salah
satu
faktor
yang
diduga
dapat
mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak atau melakukan suatu hal.
Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu hasil dari tahu mengenai
hal-hal yang berhubungan dengan penyakit TB Paru mulai dari pengertian,
penyebab, gejala, penularan dan pencegahan penyakit TBC. Pada penelitian ini
diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki pengetahuan tinggi lebih banyak
87
(60%) dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan rendah
(40%).
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara pengetahuan dengan kejadian TB
paru dapat diketahui bahwa kejadian TB paru lebih banyak dialami oleh
responden yang memiliki pengetahuan rendah yaitu sebesar 38,3%. Sementara
itu kejadian TB paru hanya dialami oleh 33,3% responden yang memiliki
pengetahuan tinggi. Hasil uji statistik menunjukkan p value sebesar 0,792 yang
artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian TB paru.
Ada beberapa asumsi yang menyebabkan variabel pengetahuan pada
penelitian ini tidak berhubungan dengan kejadian TB Paru, antara lain; pertama,
dapat dilihat pada beberapa jawaban responden yang masih kurang tepat pada
pertanyaan pengetahuan tentang TB, terutama pada pertanyaan penyebab TB
paru dan syarat ventilasi rumah yang baik sehingga berpengaruh pada
pengetahuan responden secara kumulatif, selain itu angka kejadian TB paru di
puskesmas pondok pucung tidak jauh berbeda antara responden yang
berpengetahuan tinggi dan responden yang berpengetahuan rendah dikarenakan
responden yang mengalami TB paru sudah sering mendapatkan penyuluhan
terkait masalah penyakit TB paru sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap
tingkat pengetahuan responden.
Tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan kejadian TB paru
sejalan
dengan
teori
Notoatmodjo
(2003)
dalam
Aini
(2009)
yang
mendefinisikan bahwa perilaku manusia adalah refleksi dari berbagai gejala
kejiwaan seperti keinginan, minat, kehendak, pengetahuan, emosi, berfikir, sikap,
88
motivasi, dan reaksi sehingga setiap tindakan manusia baik yang positif maupun
negatif didasarkan oleh salah satu faktor tersebut. Responden yang mengalami
kejadian TB paru dengan pengetahuan tinggi tertutupi oleh gejala kejiwaaan
yang lain seperti keinginan, kehendak, emosi, sikap, motivasi, dan reaksi. Hal ini
didukung oleh pendapat Green (1991) dalam Aini (2009) yang mengatakan
bahwa peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan perilaku.
Meskipun pada penelitian ini tingkat pengetahuan responden tidak
memiliki hubungan dengan kejadian TB Paru, tetapi pengetahuan tetap memiliki
peran dalam penularan TB Paru. Penelitian Rajagukguk (2008) dalam Manullang
(2011) di Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir menjelaskan bahwa
semakin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TB Paru untuk
dirinya, keluarga dan masyarakat di sekitarnya, maka semakin besar bahaya
sipenderita sebagai sumber penularan penyakit, baik di rumah maupun di tempat
pekerjaannya, untuk keluarga dan orang-orang sekitarnya. Demikian juga dengan
penelitian Tobing (2009) di Kabupaten Tapanuli Utara yang menyatakan bahwa
potensi penularan TB Paru 2,5 kali lebih besar pada yang berpengetahuan
rendah.
Allah SWT. berfirman Q.S. Az-Zumar: 9 :
‫ا‬
‫ا َّت ِبي َق يَق ْل َق ُه َق َق ا َّت ِبي َق َق يَق ْل َق ُه َق ۗ ِبإ َّت َق يَق َق َق َّت ُه ُه ُه ْلاا َق ْل َق ِب‬
‫َق ْل يَق ْلس َق ِب‬
“Apakah sama; antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui ? Sesungguhnya tiada lain yang bisa mengambil pelajaran (mereka
yang mau beri’tibar) hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran/akal“
89
Ayat diatas menunjukan atas kesempurnaan manusia apabila mempunyai
ilmu pengetahuan. Kedudukan orang berilmu akan mendapatkan pahala yang
besar, dan Allah akan meninggikan derajat nya, baik disisi Allah maupun
dihadapan manusia. Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan
(istifham) untuk menunjukan bahwa orang-orang yang mencapai derajat tertinggi
adalah orang yang mempunyai ilmu, sedang yang lain jatuh kedalam jurang
keburukan (orang yang tidak berilmu).
Hadits Nabi pun mengatkan “Barang siapa yang menginginkan dunia,
hendaklah ia berilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia
berilmu, dan barang siapa menginginkan kedua-duanya sekaligus, ia pun harus
berilmu”.
6.4 Tingkat Sirkulasi Oksigen
6.3.1
Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan
jumlah anggota keluarga satu rumah tinggal (Lubis,1989). Kepadatan penghuni
dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuinya. Luas
rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan
berjubel (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan
kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena
penyakit infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah menular kepada anggota
keluarga lain.
90
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki
kondisi kepadatan hunian memenuhi syarat lebih banyak (61,5%) dibandingkan
dengan responden yang memiliki kepadatan hunian tidak memenuhi syarat
(38,5%). Berdasarkan hasil tabulasi silang antara kepadatan hunian dengan
kejadian TB paru dapat diketahui bahwa kejadian TB paru lebih banyak dialami
oleh responden yang memiliki kepadatan hunian tidak memenuhi syarat yaitu
sebesar 60%. Sementara itu kejadian TB paru hanya dialami oleh 20% responden
yang memiliki kepadatan hunian memenuhi syarat. Hasil uji statistik
menunjukkan P value sebesar 0,001 yang artinya ada hubungan antara kepadatan
hunian dengan kejadian TB paru.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Niko (2011) di kota solok
yang menyimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara kepadata hunian
dengan kejadian TB paru, diman risiko untuk terkena TB paru 5,95 kali lebih
tinggi pada responden yang tinggal pada kepadatan rumah yang tidak memenuhi
syarat kesehatan. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Adrial
(2005) di batam yang mendapatkan bahwa orang yang tinggal dengan tingkat
kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat mempunyai 4,55 kali lebih besar
untuk terkena TB paru bandingkan dengan orang yang tinggal dengan kepadatan
hunian yang memenuhi syarat kesehatan.
Adanya hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian rumah
dengan kejadian TB paru karena kepadatan hunian merupakan pencetus awal
pada proses penularan penyakit. Semakin padat tingkat hunian, maka
perpindahan penyakit khususnya penyakit melalui udara akan semakin mudah
91
dan cepat terjadi. Oleh karena itu, kepadatan hunian dalam rumah merupakan
variabel yang berperan dalam kejadian TB paru. Untuk itu Departemen
Kesehatan telah membuat peraturan tentang rumah sehat dengan rumus jumlah
penghuni/ luas bangunan. Syarat rumah dianggap sehat adalah 10m2 per orang.
Kepadatan hunian ditentukan berdasarkan jumlah penghuni rumah per
luas lantai ruangan merupakan faktor yang penting. Luas bangunan yang tidak
sebanding dengan jumlah penghuni akan menyebabkan overcrowded yang dapat
menyebabkan tidak terpenuhinya konsumsi oksigen yang dibutuhkan anggota
keluarga sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi kepada
anggota keluarga lain (Depkes, 2002).
Menurut Putra Prabu dalam buku Kesehatatan Lingkungan Soemirat,
2000 luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya,
artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah
penghuniny agar tidak menyebabkan overload. Persyaratan kepadatan hunian
untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per
orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia.
Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang, untuk kamar tidur
diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang
Allah swt. berfirman Q.S. Al-A‟raaf : 31 :
‫َق َق ُه ْلس ِب ُه ا ۚ ِبإ َّت ُه َق يُه ِب ُّب ا ْل ُه ْلس ِب ِب َق‬
“dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang
yang berlebih-lebihan.”
92
Dalam Al-Qur‟an dan Tafsirannya (2011), pada kosakata Al-Mufsiriin
yaitu berasal dari kata asrafa-yusrifu yang dapat di artikan dengan melampaui
batas atau berlebih-lebihan. Seseorang yang mengerjakan sesuatu atau
menggunakan sesuatu dengan sikap yang tidak wajar dan melebihi batas yang
normal, dapat dikatakan ia telah bersikap isra’f, demikian Allah swt.
membolehkan manusia untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ukurannya dan
kemudian diikuti dengan celaan terhadap orang yang melakukan sesuatu secara
berlebihan. Hal ini tentu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang,
karena kadar tertentu. Atas dasar itu dapat dikatakan bahwa kata tersebut (isra’f)
mengajarkan sikap proporsional dalam semua aspek perbuatan.
6.3.2
Ventilasi Rumah
Ventilasi bermanfaat bagi sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta
mengurangi kelembaban, keringat manusia juga mempengaruhi kelembaban.
Semakin banyak manusia dalam satu ruangan kelembaban semakin tinggi,
khususnya karena uap air baik dari pernafasan maupun dari keringat.
Kelembaban dalam ruangan tertutup dimana banyak terdapat manusia
didalamnya lebih tinggi kelembabannya dibanding di luar ruangan.
Ventilasi mempengaruhi proses dilusi udara, juga mengencerkan
konsentrasi kuman TBC dan kuman lain, dimana kuman tersebut akan terbawa
keluar dan mati terkena sinar ultraviolet. Oleh karena itu apabila konstruksi
rumah menggunakan genteng kaca, maka hali ini merupakan kombinasi yang
baik (Whardana, 2006).
93
Ventilasi rumah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah luas ventilasi
yang meliputi luas lubang angin yang dapat masuk kedalam rumah dibagi dengan
luas lantai yang dikelompokan atas dua kategorik yaitu tidak memenuhi syarat
dan memenuhi syarat. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa responden yang
memiliki ventilasi rumah memenuhi syarat lebih banyak (64,6%) dibandingkan
dengan responden yang memiliki ventilasi rumah tidak memenuhi syarat
(35,4%).
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara kondisi ventilasi rumah dengan
kejadian TB paru dapat diketahui bahwa kejadian TB paru lebih banyak dialami
oleh responden yang memiliki ventilasi tidak memenuhi syarat yaitu sebesar
56,5%. Sementara itu kejadian TB paru hanya dialami oleh 23,8% responden
yang memiliki ventilasi rumah memenuhi syarat. Hasil uji statistik menunjukkan
p value sebesar 0,014 yang artinya ada hubungan antara ventilasi rumah dengan
kejadian TB paru.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Darwel (2012) di sumatera
yang menyatakan adanya hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian TB
paru, penelitian ini mendapatkan risiko untuk terkena TB Paru 1.314 kali pada
penghuni yang memiliki ventilasi tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan
responden yang berventilasi memenuhi syarat kesehatan. Sejalam dengan Adrial
(2005) menyatakan bahwa luas yang tidak memenuhi syarat kesehatan memiliki
risiko untuk terkena TB Paru sebesar 4.55 kali dibandingkan dengan luas
ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan. Menurut Silviana (2006) orang
94
dengan ventilasi rumah yang kurang atau sama dengan 10% berisiko 18.11 kali
lebih besar untuk menderita TB Paru dibandingkan orang dengan ventilasi rumah
lebih dari 10% luas lantai. Penelitian Budiyanti (2003) juga menyatakan adanya
hubungan antara ventilasi kamar tidur dengan kejadian TB Paru dimana
disimpulkan bahwa orang yang tinggal dengan ventilasi kamar tidur yang tidak
memenuhi syarat mempunyai risiko terkena TB Paru sebesar 2.58 kali
dibandingkan dengan yang memenuhi syarat.
Adanya hubungan yang signifikan antara ventilasi dengan TB Paru
karena ventilasi bermanfaat bagi sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta
mengurangi kelembaban sehingga bisa mengencerkan konsentrasi kuman TBC
dan kuman lain yang akan terbawa keluar dan mati terkena sinar matahari
(Whardana, 2006)). Perjalanan Kuman TB paru setelah dikeluarkan penderita
melalui batuk akan terhirup oleh orang disekitarnya dan sampai ke paru-paru.
Dengan adanya ventilasi yang baik maka akan menjamin terjadinya pertukaran
udara sehingga konsentrasi droplet dapat dikurangi sehingga dapat mengurangi
kemungkinan seseorang akan terinfeksi kuman TB paru (Depkes, 2002).
Ventilasi yang memenuhi syarat memungkinkan adanya pergantian udara
dalam kamar sehingga dapat mengurangi kemungkinan penularan pada orang
lain seiring dengan menurunnya konsentrasi kuman. Kamar dengan luas ventilasi
yang tidak memenuhi syarat menyebabkan kuman selalu dalam konsentrasi
tinggi sehingga memperbesar kemungkinan penularan kepada orang lain.
Ventilasi rumah yang tidak cukup menyebabkan aliran udara tidak terjaga
sehingga kelembaban udara didalam ruangan naik dan kondisi ini menjadi media
95
yang baik bagi perkembangan kuman patogen. Untuk memungkinkan pergantian
udara secara lancar diperlukan minimum luas lubang ventilasi tetap 10% dari
luas lantai (Simbolon, 2007).
6.3.3
Suhu
Suhu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah temperatur dalam
ruangan tempat responden sering menghabiskan waktunya, yang diukur secara
langsung menggunakan alat pengukur suhu dengan pengukuran sewaktu. Suhu
dikelompokan atas dua kategorik yaitu tidak memenuhi syarat dan memenuhi
syarat. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa responden yang suhu ruangan
memenuhi syarat lebih banyak (67,7%) dibandingkan dengan responden yang
suhu ruangan nya tidak memenuhi syarat (32,3%).
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara keadaan suhu ruangan rumah
dengan kejadian TB paru dapat diketahui bahwa kejadian TB paru lebih banyak
dialami oleh responden yang suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat yaitu
sebesar 42,9%. Sementara itu kejadian TB paru hanya dialami oleh 31,8%
responden yang memiliki suhu ruangan yang memenuhi syarat. Hasil uji statistik
menunjukkan p value sebesar 0,417 yang artinya tidak ada hubungan antara suhu
dengan kejadian TB paru.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Fatimah (2008) yang
menyatakan suhu mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian TB
paru dimana seseorang yang tinggal di dalam rumah dengan suhu udara tidak
memenuhi syarat mempunyai risiko 2,674 kali lebih besar untuk menderitaTB
Paru dibanding seseorang yang tinggal di rumah dengan suhu memenuhi syarat.
96
Serta penelitian yag dilakukan Ruswanto (2010) menunjukkan bahwa suhu
ruangan dalam rumah memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian
penyakit tuberkulosis paru dan berisiko 2,93 kali lebih besar pada suhu ruangan
yang tidak memenuhi syarat dibandingkan rumah dengan suhu ruangan
memenuhi syarat.
Meskipun pada penelitian ini suhu tidak memiliki hubungan dengan
kejadian TB Paru, suhu tetap memiliki peran dalam penularan TB Paru. Menurut
Gould dan Brooker (2003), bakteri Mycobacterium tuberculosa memiliki rentang
suhu yang disukai, tetapi pada rentang suhu ini terdapat suatu suhu optimum
yang memungkinkan mereka tumbuh pesat. Mycobacterium tuberculosa
merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang 25 – 40º C,
tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31 – 37 º C.
Menurut peneliti, tidak adanya hubungan suhu dengan kejadian TB Paru
dikarenakan terjadi homogenitas atau proporsi kejadian TB paru antara suhu
memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat memiliki sebaran yang hampir
sama. Selain itu peneliti berpendapat bahwa jumlah responden yang memiliki
suhu memenuhi syarat lebih banyak dibandingkan yang tidak memenuhi syarat
dikarenakan pada saat melakukan pengukuran kondisi cuaca dilapangan sedang
musim hujan sehingga mempengaruhi kecepatan angin yang dapat berpengaruh
terhadap hasil pengukuran. Asumsi lain dari peneliti tidak adanya hubungan dari
variabel suhu dikarenakan pengkuruan dilakukan tanpa berpatokan dengan waktu
dan hanya dilakukan satu kali pengukuran sehingga hasil pengukuran yang
97
didapat bisa jadi tidak valid atau homogen. Sedangkan menurut teori pengukuran
yang baik tidak hanya dilakukan hanya satu kali pengukuran atau sewaktu,
karena suhu di pagi hari berbeda dengan suhu pada siang hari dan juga pada
malam hari.
Menurut Subaid (2002) Faktor meteorologis yang memegang peran
dalam proses peningkatan atau penurunan suhu adalah faktor angin (kecepatan
dan arah), turbulensi, stabilitas atmosfer dan inversi. Selain itu ada pula faktorfaktor meteorologi sekunder yang mempengaruhinya, antara lain hujan, kabut
dan radiasi surya. Maka, dapat disimpulkan bahwa faktor iklim dan meteorology
mempengaruhi konsentrasi suhu pada suatu lingkungan tertentu.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan
penelitian sebagai berikut:
1. Gambaran kejadian TB paru di Puskesmas Pondok Pucung-Tagerang Selatan tahun
2013, didapatkan dari 65 responden penelitian yang mengalami kejadian TB paru
sebanyak 23 orang (35,4%) sedangkan 42 orang (64,6%) tidak mengalami kejadian
TB Paru.
2. Gambaran karakteristik individu (Jenis kelamin, pendidikan, status gizi, dan
pengetahuan) pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung adalah
sebagai berikut :
a. Responden dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak 39 orang (60%) dari
pada laki-laki yang hanya 26 orang (40%).
b. Responden yang memiliki pendidikan rendah lebih banyak 39 orang (60%) dari
pada pendidikan tinggi yang hanya 26 orang (40%).
c. Status Gizi responden yang memiliki status gizi kurus 25 orang (38,5%), status
gizi normal 36 orang (55,4%) dan status gizi gemuk 4 orang (6,2%).
d. Responden yang memiliki pengetahuan tinggi lebih banyak 39 orang (60%)
dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan rendah sebanyak 26 orang
(40%).
98
99
3. Gambaran tingkat sirkulasi oksigen (Kepadatan hunian, ventilasi rumah, dan suhu)
pada kelompok usia produktif di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan
tahun 2013 adalah sebagai berikut :
a. Responden yang kepadatan hunian memenuhi syarat lebih tinggi 40 orang
(61,5%) dibandingkan responden dengan kepadatan hunian tidak memenuhi
syarat 25 orang (38,5%).
b. Responden yang ventilasi rumah memenuhi syarat lebih tinggi 42 orang (64,6%)
dibandingkan responden dengan ventilasi rumah tidak memenuhi syarat 23 orang
(35,4%).
c. Responden yang suhu ruangan memenuhi syarat lebih tinggi 44 orang (67,7%)
dibandingkan responden dengan suhu ruangan tidak memenuhi syarat 21 orang
(32,3%).
4. Berdasarkan hasil uji statistik bivariat hubungan tingkat sirkulasi oksigen dan
karakteristik individu dengan kejadian TB paru pada pada kelompok usia produktif
di Puskesmas Pondok Pucung Tangerang Selatan tahun 2013 adalahsebagai berikut :
a. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian TB parudengan nilai p
value 0,602.
b. Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian TB paru dengan nilai p
value 0,116.
c. Ada hubungan antara status gizi dengn kejadian TB paru dengan nilai p value
0,001.
d. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian TB paru dengan nilai p
value 0,792
100
e. Ada hubungan antara kondisi kepadatan hunian rumah dengan kejadian TB paru
dengan nilai p value 0,001
f. Ada hubungan antara kondisi ventilasi rumah dengan kejadian TB paru dengan
nilai p value 0,014
g. Tidak ada hubungan antara keadaan suhu ruangan rumah dengan kejadian TB
paru dengan nilai p value 0,417
7.2 Saran
1. Bagi pengambil kebijakan
a. Perlu ditingkatkan upaya penjaringan terhadap penderita tuberkulosis paru baik
secara aktif di lapangan maupun pasif di tempat pelayanan kesehatan dengan
melibatkan langsung para kader dan ahli kesehatan setempat.
b. Membuat program-program yang berbasis kesehatan masyarakat seperti;
diadakan perlombaan RW/RT sehat, program rumah sehat, program penyehatan
lingkungan secara rutin minimal setiap 1 bulan sekali, program penyuluhan
tentang makanan sehat serta memberikan makanan tambahan kepada pasien TB.
c. Menetapkan kebijakan sanitasi rumah menjadi persyaratan dalam IMB kepada
masyarakat sesuai dengan standar baku yang ada.
d. Melatih para kader terkait informasi tentang TB dengan komunikasi aktif kader
terhadap masyarakat seperti; penyuluhan tetang pencegahan penyakit TB,
penemuan kasus TB, serta pengawasan dalam minum obat pasien TB.
2. Bagi masyarakat
101
a. Saat merenovasi atau membangun rumah untuk lebih memperhatikan aspek
sanitasi rumah sehat sepertiventilasi, pencahayaan, kebiasaan membuka jendela
dan lebih meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk menghindari
penularan penyakit tuberkulosis paru dengan memperhatikan asupan makanan
yang bergizi.
b. Memisahkan tempat tidur dan alat makan bagi anggota keluarga yang menderita
TB Paru .
c. Melakukan pengawasan minum obat secara partisifatif bagi anggota keluarga
atau tetangga terdekat.
3. Bagi peneliti selanjutnya
a. agar dapat meneliti faktor-faktor atau variabel lain seperti perilaku, kontak
penderita, kepatuhan berobat,dll yang mempengaruhi kejadian Tuberkulosis Paru
di pondok pucung. Dengan menggunkan disain penelitan yang lebih akurat
seperti; case control dan kohort.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. (2010). Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Gramedia, Jakarta
Adrial, (2005). Hubungan faktor lingkungan rumah terhadap kejadian Tuberkulosi
Paru
BTA Positif di kota batam propinsi kepulauan riau thun2005. Tesis.
Depok : FKM UI.
Aditia. (2010). Sanitasi Perumahan dan Pemukiman. Jurnal Kesehatan Lingkungan
(Online).http://www.scribd.com/doc/22075956/SanitasiPerumahanpemukimn
diakses tanggal 1 Maret 2013.
Akbar. (2010). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tbc-Paru di
Wilayah Kerja Puskesmas Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara Tahun 2010. Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Gorontalo
Aini. (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kecenderungan Perilaku
Makan Menyimpang pada Mahasiswi Penghuni Asrama Putri UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2009. (Skripsi). FKIK UIN SYAHID, Jakarta.
Ayunah, yuyun. (2008). Hubungan antara Faktor-faktor Kualitas Lingkungan Fisik
Rumah dengan Kejadian TB Paru BTA Positif di Kecamatan
Cilandak
Jakarta Selatan tahun 2008. Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia
Bagoes Widjanarko (2006). Pengaruh Karakteristik, Pengetahuan Dan Sikap
Petugas Pemegang Program Tuberkulosis Paru Puskesmas Terhadap
Penemuan Suspek TB Paru Di Kabupaten Blora. Jurnal Promosi Kesehatan
Indonesia. 2006;1:1.
Boyd, C.E. (1988). Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Fourth Printing.
Auburn University Agricultural Experiment Station, Alabama, USA.
Chandra W., Maria CH Winarti., H Mewengkang. (2004). Kasus Kontak
Tuberkulosis paru di klinik paru Rumah Sakit Umum Pusat Manado.
Majalah Kedokteran Indonesia
Darwel, (2012). faktor-faktor yang berkolerasi terhadap hubungan lingkungan fisik
rumah dengan kejadian tuberkulosis paru di sumatera (analisis data riskesdas
2010)
Departemen Kesehatan RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2000). Visi Misi Indonesia Sehat 2010. Jakarta
Departemen Kesehatan RI, Ditjen P2MPL. (2002). Pedoman Teknis Penilaian Rumah
Sehat. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Nasional Penanggulangan TBC, Edisi
2, Cetakan ke-2, Depkes RI, Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2007). Pedoman Nasional Penanggulangan TBC, Edisi
2, Cetakan pertama. http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2007.pdf. 31
Januari 2013
Departemen
Kesehatan
RI.
(2009).
Profil
Kesehatan
Indonesia
2008.
http://www.depkes.go.id/download/publikasi/Profil_Kesehatan_Indonesia_20
08.pdf 31 Januari 2013
Departemen Pekerjaan Umum, Pedoman Teknik Pembangunan perumahan Sederhana
Tidak Bersusun, SK menteri Pekerjaan Umum No 20/kep/1986. Jakarta.1986.
______, 2000. Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, Tentang Kesehatan,
Jakarta.
Elvina K. (2002). Pusat Kajian Gizi Regional. Universitas Indonesia
Ernawati, Dwi. (2011). Kualitas Lingkungan Fisik Rumah dan Karakteristik Individu
dengan Kejadian TB Paru BTA (+) di Desa Tanggul Kulon Kecamatan
Tanggul Kabupaten Jember tahun 2011. Skripsi FKM UI, Depok
Farochi. (2012). Kebutuhan Oksigen Manusia. Jurnal Kedokteran (online).
http://www.fakultaskedokteran.com/jurnal/jurnal-kebutuhan-oksigenmanusia/ diakses tanggal 2 Maret 2013
Fatimah, Siti. (2008). Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah yang Berhubungan
dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja,
Cipari, Kedungreja, Patimun, Gandrungmangu, Bantasari) Tahun 2008.
Program Pascasarjana Universitas Diponegor Semarang.
Junediyono. (2003). Faktor Risiko Timbulnua Penyakit TB Paru di Kabupaten
Pekalongan Jawa Tengah Tahun 2002.
Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999
tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan Kerangka kerja penanggulangan
TBC di Indonesia 2006-2010
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Laporan Situasi Terkini
Perkembangan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan
RI.
Karminignsih. (2002). Hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dengan kejadian
TB
Paru BTA (+) di Kecamatan Koja Kodya Jakarta utara tahun 2002.
Universitas Indonesia Jakarta
Keman, Soedjajadi. (2005). Kesehatan Perumahan Dan Lingkungan Pemukiman.
Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1, 34 Juli 2005 : 29 -42. Kesehatan
Lingkungan FKM Universitas Airlangga
Manullang, S. (2011). Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Masyarakat
Tentang
Faktor
Tuberkulosis Paru
Lingkungan
di
Fisik
Wilayah
Rumah
Kerja
Terhadap
Puskesmas
Kejadian
Sukarame
Kecamatan
Kualuh Hulu Kabupaten
Labuhanbatu
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29778
Utara.
/7/.pdf
[online].
[diakses
6
agustus 2013].
Musadad (2006). Environmental Factor Relation of House with Infection of TB
Paru
through Housing Contact. Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol.5 No 3,
Desember 2006 : 486-496
Nasution, Siti Khadijah. (2004). Meningkatkan Sataus Kesehatan Melalui Pendidikan
Kesehatan dan Penerapan Pola Hidup Sehat. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas
Sumatera
Utara.
11
februari
2013.
http://respository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3761/1/fkmsiti%20khadijah.pdf
Niko, Rianda. (2011). Hubungan Perilaku dan Kondisi Sanitasi Rumah dengan
Kejadian Tb Paru di Kota Solok Tahun 2011. Skripsi FKM Universitas
Andalas
Noverima, Utami. (2012). Konsep Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Maslow.
http://utaminoverima.wordpress.com/2012/11/28/konsep-kebutuhan-dasarmanusia-menurut-maslow-henderson/ diakses tanggal 2 Maret 2013
Notoatmodjo. (2002). Metodelogi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Citra. Jakarta
Prabu, Putra. (2008). Penyakit Berbasis Lingkungan.
http://putraprabu.wordpress.com/2008/10/10/penyakit-berbasislingkungan/,
diakses tanggal 25 Desember 2012
Perdana P (2008). Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kepatuhan Berobat
Penderita TB Paru selama Pengobatan di Puskesmas Kecamatan Ciracas
Jakarta Timur. [Skripsi Tidak diterbitkan]. Jakarta: UI
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 565/Menkes/Per/Iii/2011
Tentang Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis Tahun 2011-2014
Rikha, Nurul. (2012). Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene dan
Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Tuberculosis di Kecamatan Semarang
Utara Tahun 2011. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1, Nomor 2,
Tahun
2012,
Halaman
435
-
445
Online
Di
Http://Ejournals1.Undip.Ac.Id/Index.Php/Jkm
Retnaningsih (2010).
Model Prediksi Faktor Risiko TB Paru Kontak Serumah
untuk Perencanaan Program di Kabupaten OKU Provinsi Sumatera
Selatan tahun 2010.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian
dalam negeri. Jakar.
Ruswanto, Bambang. (2010). Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru
ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah di Kabupaten
Pekalongan. Tesis Pascasarjana Magister Kesehatan Lingkungan, Universitas
Diponegoro Semarang
Setiawan, Dwi. (2010). Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Rumah dan Respons
Terhadap Praktik Pengobatan Strategi DOTS dengan Penyakit Tb Paru di
Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan Tahun 2010. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Indonesia Vol. 11 No. 1 / April 2012, Program Magister
Kesehatan Lingkungan UNDIP
Simbolon (2007). Faktor risiko tuerkulosis paru dikabupaten rejang lebong. Jurnal
Kesehatan Masyarakat nasional. Vol 2 No.3 Desember 2007).
Slamet, Juli Soemirat. 2000. Epidemiologi Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Silviana, Ike (2006). Hubungan lingkungan fisik dalam rumah dengan kejadian TB
Paru
dikabupaten muaro jambi tahun 2005. Tesis. Depok : FKM UI.
Supriyono, Didik. (2003). Lingkungan Fisik Rumah Sebagai Faktor Risiko
Terjadinya Penyakit TB Paru BTA Positif di Kecamatan Ciampea Kabpaten
Bogor Tahun 2002. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Soemirat. (2000). Epidemiologi Lingkungan. Gajah Mada Universitas. Press,
Yogyakarta
Sutiningsih, (2012).
Dan
Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene
Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Tuberculosis Di Kecamatan
Semarang
Utara
Tahun
2011.
JURNAL
KESEHATAN
MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 435 445 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm
Suyono. (2005). Pokok Bahan Modul Perumahan dan pemukiman Sehat, Pusdiknakes
Subaid M S. (2002). Pengaruh Suhu Udara, Curah Hujan, Kelembaban Udara dan
Kecepatan Angin Terhadap Fluktuasi Konsentrasi Gas-gas NO2, O3 dan SO2
di Area PLTP Gunung Salak Sukabumi. Skripsi. FMIPA IPB. Bogor.
Teten, Zalmi. (2008). Faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis
paru diwilayah Kerja Puskesmas Padang Pasir.
Tobing, T. L. (2009). Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan Kondisi Rumah
terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB Paru pada Keluarga
diKabupaten Tapanuli Utara. [online].
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6656/1/09E01348.pdf.
[diakses 6 agustus 2013].
Wardhana Isha, (2006). “Hubungan antara faktor fisik rumah, karakteristik individu
dan
faktor lainnya terhadap kejadian TB Paru diwilayah kerja puskesmas
sukaratu kabupaten tasik Malaya: Pascasarjana FKM UI)
Zuliana (2009). Pengaruh Karakteristik Individu, faktor Pelayanan Kesehatan dan
Faktor Peran Pengawas Menelan Obat terhadap Tingkat Kepatuhan
Penderita TB Paru dala Pengobatan di Puskesmas Pekan Labuhan Kota
Medan tahun 2009.
FKM Universitas Sumatera Utara.
LAMPIRAN I
KUESIONER PENELITIAN
Saya Muhammad Aandi Ihram, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Peminatan Kesehatan
Lingkungan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, ingin menyampaikan bahwa
saya akan melaksanakan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Sirkulasi Oksigen dan
Karakteristik Individu dengan Kejadian TB Paru pada Kelompok Usia Produktif di
Puskesmas Pondok Pucung Tahun 2013” yang merupakan tugas akhir untuk memperoleh
gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Semua jawaban ibu/bapak akan dijamin kerahasiannya.
Atas perhatian dan kerjasama bapak/ibu saya ucapkan terima kasih.
Responden
(____________________)
KUESIONER
HUBUNGAN TINGKAT SIRKULASI OKSIGEN DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU
DENGAN KEJADIAN TB PARU PADA KELOMPOK USIA PRODUKTIF DI
PUSKESMAS PONDOK PUCUNG TAHUN 2013
Tanggal wawancara : ………………………………..
Nomor Responden : ..................................................
A. IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama Responden : ......................................................................
2. Alamat
: ......................................................................
Kelurahan : ....................
RT ....... RW.......
Kecamatan : Pondok Pucung
3. Jenis Kelamin
:
0. Laki-laki
1. Perempuan
4. Umur responden : .............................Tahun
5. Pendidikan responden
6. Status Gizi
: 1. Tidak pernah sekolah
2. SD
3. SMP
4. SMA
5. Perguruan tinggi
: BB = ........kg
TB =........cm
IMT =..........
B. PENGETAHUAN
1. Apakah saudara/saudari tahu penyakit Tuberkulosis Paru ?
a. Tahu
b. Ragu-ragu
c. Tidak tahu
2. Menurut saudara/saudari apa yang dimaksud dengan Tuberkulosis Paru ?
a. Penyakit batuk berdahak bercampur darah.
b. Penyakit batuk-batuk akibat merokok.
c. Batuk dengan gatal ditenggorokan
d. Tidak tahu
3. Menurut saudara/saudari apa penyebab penyakit Tuberkulosis Paru ?
a. Kuman atau bakteri
b. Debu, asap dan udara kotor
c. Guna-guna
d. Tidak tahu
4. Menurut saudara/saudari penularan Tuberkulosis Paru melalui ?
a. Udara
b. Pakaian
c. Makanan/minuman
d. Tidak tahu
5. Menurut saudara/saudari penyakit Tuberkulosis Paru dapat menular
apabila ?
a. Tidur sekamar dengan penderita Tuberkulosis Paru
b. Tidak tidur sekamar dengan penderita Tuberkulosis Paru
c. Tidur beramai-ramai.
d. Tidak tahu
6. Menurut saudara/saudari penyakit Tuberkulosis Paru dapat menular
kepada anggota keluarga lain karena ?
a. Terhirup percikan ludah atau dahak penderita Tuberkulosis
b. Bicara berhadap-hadapan dengan penderita Tuberkulosis.
c. Sudah ada dari masih dikandungan
d. Tidak tahu
7. Menurut saudara/saudari bagaimana tanda-tanda / gejala penyakit
Tuberkulosis Paru ?
a. Batuk berdahak lebih dari 3 (tiga) minggu ,bercampur darah, sesak
napas, rasa nyeri dada, badan lemas, nafsu makan menurun, berat
badan turun, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam
lebih dari sebulan.
b. Batuk yang disertai demam.
c. Batuk dengan gatal di tenggorokan.
d. Tidak tahu
8. Menurut
saudara/saudari
bagaimana
cara
pencegahan
penyakit
Tuberkulosis Paru ?
a. Menutup
mulut/hidung
saat
batuk/bersin
dan
tidak
meludah
disembarang tempat.
b. Tidak menutup mulut/hidung saat batuk/bersin dan meludah
disembarang tempat.
c. Tidak tahu
9. Menurut saudara/saudari penyakit Tuberkulosis dapat disembuhkan melalui ?
a. Pengobatan teratur disertai dengan perbaikan lingkungan dan perubahan
perilaku.
b. Berobat kalau ada waktu.
c. Dibiarkan saja.
d. Tidak tahu
10. Menurut saudara/saudari apakah dalam minum obat TB Paru perlu
diawasi dan dikontrol terus oleh saudara atau salah seorang yang
mempunyai hubungan kerabat dan bertempat tinggal sama dengan
bapak/ibu ?
a. Perlu, karena minum obat perlu dikontrol terutama oleh saudara
terdekat agar obat bisa diminum teratur
b. Tidak perlu perlu, karena obat bisa kita minum sendiri dan tidak akan
lupa
c. Tidak tahu
11. Menurut saudara/saudari luas kamar tidur 10 m2 cukup untuk berapa
orang?
a. 2 orang dewasa
b. 3 orang dewasa
c. 4 orang dewasa
d. Tidak tahu
12. Menurut saudara/saudari apakah fungsi ventilasi ?
a. Tempat keluar masuknya udara sehingga ruangan tidak pengap dan
sirkulasi udara lancar
b. Agar tidak bau
c. Sebagai hiasan
d. Tidak tahu
13. Menurut saudara/saudari bagaiman ventilasi yang baik ?
a. 10% dari luas lantai
b. Harus ada disetiap ruangan
c. Hanya diruang kamar dan depan saja
d. Tidak tahu
14. Menurut saudara/saudari udara yang masuk ke ruangan rumah haruslah ?
a. Harus bersih tidak dicemari oleh asap dari pembakaran sampah atau
pabrik, dari kanlpot kendaraan dan debu
b. Yang penting tidak bau dan tidak pengap
c. Yang penting udara bisa masuk
d. Tidak tahu
15. Menurut saudara/saudari apakah manfaat sinar matahari terhadap ruangan
rumah ?
a. Mematikan bakteri dan mikroorganisme yang terdapat dilingkungan
rumah
b. Untuk penerangan
c. Tidak ada manfaatnya
d. Tidak tahu
C. OBSERVASI DAN PENGUKURAN KONDISI RUMAH
1. Kepadatan penghuni dalam rumah ? (peneliti menghitung luas rumah dan
membaginya dengan jumlah penghuni yang tinggal di dalam rumah)
- Luas rumah :………… m2
- Jumlah penghuni : …………orang
Jadi ukuran kepadatan dalam ruangan = ………. m2 / orang
0. tidak memenuhi syarat apabila < 10m2/orang
1. Memenuhi syarat apabila > 102/orang
2. Luas ventilasi dalam ruangan ? (luas lubang angin dan luas jendela dibagi
dengan luas lantai)
- Luas ventilasi :……….. m2
- Luas lantai : ………... m2
Jadi ukuran ventilasi tetap dalam ruangan = ………%
0. tidak memenuhi syarat apabila < 10%
1. Memenuhi syarat apabila ≥ 10%
3. Suhu udara ruangan dalam rumah ? (peneliti mengukur dengan alat
thermohygrometer) = …………. °C
0. tidak memenuhi syarat apabila < 8°C atau >30°C
1. Memenuhi syarat apabila 18°C - 30°C
LAMPIRAN 2
HASIL SPSS
ANALISIS UNIVARIAT
1. Kejadian TB Paru
Statistics
kjdiantbparu
N
Valid
65
Missing
0
Mean
.65
Median
1.00
Std. Deviation
.482
Minimum
0
Maximum
1
kjdiantbparu
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Percent
ya
23
35.4
35.4
35.4
tidak
42
64.6
64.6
100.0
Total
65
100.0
100.0
2. Jenis kelamin
Statistics
jeniskelamin
N
Valid Percent
Valid
Missing
Mean
65
0
.60
Median
1.00
Std. Deviation
.494
Minimum
0
Maximum
1
jeniskelamin
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
laki-laki
26
40.0
40.0
40.0
perempuan
39
60.0
60.0
100.0
Total
65
100.0
100.0
3. Pendidikan
Statistics
pendidikanres
N
Valid
65
Missing
0
Mean
.40
Median
.00
Std. Deviation
.494
Minimum
0
Maximum
1
pendidikanres
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Percent
rendah
39
60.0
60.0
60.0
tinggi
26
40.0
40.0
100.0
Total
65
100.0
100.0
4. Status Gizi
Statistics
statusgizires
N
Valid Percent
Valid
Missing
Mean
65
0
.68
Median
1.00
Std. Deviation
.589
Minimum
0
Maximum
2
statusgizires
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
kurus
25
38.5
38.5
38.5
normal
36
55.4
55.4
93.8
gemuk
4
6.2
6.2
100.0
65
100.0
100.0
Total
5. Pengetahuan
Statistics
katpengetahuan
N
Valid
65
Missing
0
Mean
.60
Median
1.00
Std. Deviation
.494
Minimum
0
Maximum
1
katpengetahuan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
rendah
26
40.0
40.0
40.0
tinggi
39
60.0
60.0
100.0
Total
65
100.0
100.0
Descriptives
Statistic
pengetahuanres
Mean
Std. Error
7.77
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
6.81
Upper Bound
8.73
5% Trimmed Mean
7.82
Median
7.00
Variance
.482
15.118
Std. Deviation
3.888
Minimum
0
Maximum
14
Range
14
Interquartile Range
6
Skewness
Kurtosis
-.070
.297
-1.070
.586
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov
Statistic
pengetahuanres
.116
a. Lilliefors Significance Correction
df
Shapiro-Wilk
Sig.
65
.031
Statistic
.953
df
Sig.
65
.014
6. Kepadatan Hunian
Statistics
kpdtanhunian
N
Valid
65
Missing
Mean
0
.62
Median
1.00
Std. Deviation
.490
Minimum
0
Maximum
1
kpdtanhunian
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tidak memenuhi syarat
25
38.5
38.5
38.5
memenuhi syarat
40
61.5
61.5
100.0
Total
65
100.0
100.0
7. Ventilasi Rumah
Statistics
ventilasirumah
N
Valid
Missing
Mean
65
0
.65
Median
1.00
Std. Deviation
.482
Minimum
0
Maximum
1
ventilasirumah
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tdk memenuhi syarat
23
35.4
35.4
35.4
memenuhi syarat
42
64.6
64.6
100.0
Total
65
100.0
100.0
8. Suhu
Statistics
suhuruangan
N
Valid
65
Missing
0
Mean
.68
Median
1.00
Std. Deviation
.471
Minimum
0
Maximum
1
suhuruangan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
tdk memenuhi syarat
21
32.3
32.3
32.3
memenuhi syarat
44
67.7
67.7
100.0
Total
65
100.0
100.0
ANALISIS BIVARIAT
1. Jenis Kelamin dengan Kejadian TB Paru
jeniskelamin * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
jeniskelamin
laki-laki
Count
% within jeniskelamin
perempuan
Count
% within jeniskelamin
Total
Count
% within jeniskelamin
tidak
Total
8
18
26
30.8%
69.2%
100.0%
15
24
39
38.5%
61.5%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.525
.137
1
.711
.407
1
.523
.404
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.602
Linear-by-Linear Association
.398
b
N of Valid Cases
1
.357
.528
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.20.
b. Computed only for a 2x2 table
2. Pendidikan dengan Kejadian TB Paru
pndidikanres * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
pndidikanres
rendah
Count
% within pndidikanres
tinggi
Total
22
39
43.6%
56.4%
100.0%
6
20
26
23.1%
76.9%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Count
% within pndidikanres
Total
17
Count
% within pndidikanres
tidak
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.090
2.044
1
.153
2.960
1
.085
2.871
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.116
2.827
1
.093
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.20.
b. Computed only for a 2x2 table
.075
3. Status Gizi dengan Kejadian TB Paru
statusgizires * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
statusgizires
kurus
Count
% within statusgizires
normal
Count
% within statusgizires
gemuk
Count
% within statusgizires
Total
Count
% within statusgizires
tidak
Total
16
9
25
64.0%
36.0%
100.0%
7
29
36
19.4%
80.6%
100.0%
0
4
4
.0%
100.0%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
df
sided)
a
2
.001
Likelihood Ratio
16.335
2
.000
Linear-by-Linear Association
14.235
1
.000
Pearson Chi-Square
15.145
N of Valid Cases
65
a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 1.42.
4. Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru
katpengetahuan * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
katpengetahuan
rendah
Count
% within katpengetahuan
tinggi
Count
% within katpengetahuan
Total
Count
% within katpengetahuan
tidak
Total
10
16
26
38.5%
61.5%
100.0%
13
26
39
33.3%
66.7%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.672
.025
1
.874
.179
1
.672
.179
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.792
Linear-by-Linear Association
.177
b
N of Valid Cases
1
.435
.674
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.20.
b. Computed only for a 2x2 table
5. Kepadatan Hunian dengan Kejadian TB Paru
kpdtanhunian * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
kpdtanhunian
tidak memenuhi syarat
Count
% within kpdtanhunian
memenuhi syarat
Count
% within kpdtanhunian
Total
Count
% within kpdtanhunian
tidak
Total
15
10
25
60.0%
40.0%
100.0%
8
32
40
20.0%
80.0%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.001
9.088
1
.003
10.791
1
.001
10.766
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.001
10.600
1
.001
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.85.
b. Computed only for a 2x2 table
.001
6. Ventilasi Rumah dengan Kejadian TB Paru
ventilasirumah * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
ventilasirumah
tdk memenuhi syarat
tidak
Count
% within ventilasirumah
memenuhi syarat
13
10
23
56.5%
43.5%
100.0%
10
32
42
23.8%
76.2%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Count
% within ventilasirumah
Total
Count
% within ventilasirumah
Total
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
df
a
1
.008
5.598
1
.018
6.876
1
.009
6.956
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
.014
Linear-by-Linear Association
6.849
b
N of Valid Cases
1
.009
.009
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.14.
b. Computed only for a 2x2 table
7. Suhu Ruangan dengan Kejadian TB Paru
suhuruangan * kjdiantbparu Crosstabulation
kjdiantbparu
ya
suhuruangan
tdk memenuhi syarat
Count
% within suhuruangan
memenuhi syarat
Count
% within suhuruangan
Total
Count
% within suhuruangan
tidak
Total
9
12
21
42.9%
57.1%
100.0%
14
30
44
31.8%
68.2%
100.0%
23
42
65
35.4%
64.6%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
df
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
sided)
a
1
.384
.352
1
.553
.748
1
.387
.758
b
Asymp. Sig. (2-
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
.417
.746
1
.388
65
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.43.
b. Computed only for a 2x2 table
.275
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4
SAMPLE FRAME DATA REKAM MEDIS BULAN APRIL-JUNI
PUSKESMAS PONDOK PUCUNG TANGERANG SELATAN TAHUN 2013
NO
1
NAMA
ASTARIYAH
UMUR
30
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
2
GUSMAWATI
33
P
TIDAK
3
YULIANTI
35
P
TIDAK
4
PUJI
24
P
TIDAK
5
LILI
33
P
TIDAK
6
EKO
42
P
TIDAK
7
AMANAH
42
P
YA
8
SATIK
55
P
TIDAK
9
KANI
42
P
TIDAK
10
SITI
30
P
YA
11
DEBI
16
L
TIDAK
12
MAMET
43
L
TIDAK
13
PURNAWATI
38
P
TIDAK
14
HARANU
23
L
TIDAK
15
LAMINAH
46
P
YA
16
SOLIYAH
56
P
TIDAK
17
AHMAD AKBAR
25
L
TIDAK
18
NAMA
46
P
TIDAK
19
SUTITI
37
P
YA
20
NYAI
57
P
TIDAK
21
ITI
52
P
TIDAK
22
PRAPTI
54
P
TIDAK
23
YUI
50
P
TIDAK
24
MISNI
54
P
TIDAK
25
NURHASANAH
51
P
TIDAK
26
ATIKAH
32
P
TIDAK
27
GUSMAWATI
33
P
YA
28
TIKA
24
P
TIDAK
29
IRA
21
P
TIDAK
30
NANI
27
P
TIDAK
31
RASUHAINI
44
P
TIDAK
32
SITI PUDJATI
52
P
TIDAK
33
WIDIANA
40
P
TIDAK
34
IKA
25
P
TIDAK
35
ELIYAH
40
P
YA
NO
36
NAMA
UMUR
61
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
YA
LANAH
37
JUBAEDAH
33
P
YA
38
SARNIH
44
P
TIDAK
39
SUKARNA
54
P
YA
40
ROMELIH
43
P
TIDAK
41
IRWANSYAH
27
L
YA
42
SUNARSIH
23
P
TIDAK
43
BAYU SAPUTRA
19
L
TIDAK
44
TONIKA
21
P
TIDAK
45
TARMEZI
57
L
TIDAK
46
MARYATI
43
P
TIDAK
47
MAWARNI
44
P
YA
48
DEDE
59
P
TIDAK
49
SITI NURHASANAH
52
P
TIDAK
50
ERNA
42
P
TIDAK
51
SITI MULYASARI
24
P
TIDAK
52
HINDUN
40
P
TIDAK
53
ROHMAWAN
31
L
YA
54
FIKA
17
P
YA
55
LAMINAH
46
P
YA
56
RIRI
19
P
YA
57
ARUM
17
P
YA
58
KEVIN
60
L
TIDAK
59
MANSUR
30
L
TIDAK
60
MINAH
39
P
TIDAK
61
HANUNU
23
P
TIDAK
62
WARDI
31
L
TIDAK
63
LIA ALIKA
36
P
TIDAK
64
WINDIANA
15
P
TIDAK
65
FADIL
23
L
YA
66
KANUNG
60
P
TIDAK
67
DWU NUR
17
P
TIDAK
68
MARDIAH
45
P
YA
69
SITI
26
P
TIDAK
70
NURIYAH
32
P
TIDAK
71
JAMAL
37
L
TIDAK
72
HADI
32
L
YA
NO
73
NAMA
UMUR
42
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
MUHYATI
74
ASHOBIRIN
36
L
TIDAK
75
ALI
30
L
YA
76
ISTANTO
28
L
YA
77
ANITA
40
P
TIDAK
78
TEGUH
18
L
TIDAK
79
TARAI
32
P
TIDAK
80
SARINAH
35
P
YA
81
YULIANTI
35
P
TIDAK
82
ROSIDAH
37
P
YA
83
YULI
28
P
TIDAK
84
NURMALA
45
P
TIDAK
85
TATI
27
P
YA
86
SAIFUL AMIR
15
L
TIDAK
87
NURHANG
40
P
TIDAK
88
KOMANYATI
36
P
TIDAK
89
MARYATUN
36
P
YA
90
ASIANYAH
30
P
TIDAK
91
NURLELA
29
P
YA
92
YORONAH
43
P
YA
93
RAMENAH
55
P
TIDAK
94
ROZAH
40
P
TIDAK
95
ROMELAH
55
P
YA
96
SARIAH
52
P
TIDAK
97
NURHALIMAH
32
P
TIDAK
98
SAWIYAH
56
P
TIDAK
99
YULI
39
P
TIDAK
100
YENI
23
P
TIDAK
101
SULAIMAN
46
L
TIDAK
102
HUSIN
48
L
TIDAK
103
LESTARI
23
P
TIDAK
104
NURTINAH
52
P
TIDAK
105
MARDIANTI
21
P
TIDAK
106
ZAINAL
60
L
TIDAK
107
RODIAH
50
P
YA
108
SUSILAWATI
23
P
YA
109
NENDA
23
P
TIDAK
NO
110
NAMA
UMUR
27
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
ERNI
111
JONASIAH
40
P
TIDAK
112
MUNASIYATI
36
P
TIDAK
113
SUNARTO
58
L
TIDAK
114
NURHADI
40
L
TIDAK
115
SUKINI
38
P
TIDAK
116
RISMAN
40
P
YA
117
MEGAWATI
21
P
TIDAK
118
SAODAH
43
P
YA
119
NURYANAH
42
P
TIDAK
120
AAS
19
P
TIDAK
121
ERWIN
34
L
YA
122
AISAH
24
P
TIDAK
123
MAULANA
20
L
TIDAK
124
YUYUN
36
P
TIDAK
125
NINING
27
P
TIDAK
126
RAHMAWATI
35
P
YA
127
JAMALUDIN
37
L
YA
128
SARAH
54
P
TIDAK
129
MAMI
45
P
TIDAK
130
YANTO
26
L
TIDAK
131
SARTINEM
35
P
TIDAK
132
SRI MULYANI
23
P
TIDAK
133
ASIH
29
P
TIDAK
134
SUKOSMO
36
L
TIDAK
135
PUJIANTO
36
L
TIDAK
136
NENENG
21
P
TIDAK
137
YONASIAH
40
P
YA
138
ONI
44
P
TIDAK
139
KAMID
62
L
TIDAK
140
DEDE
59
P
TIDAK
141
NURMAH
31
P
YA
142
JAKA SURYA
17
L
TIDAK
143
HARIYANTO
43
L
TIDAK
144
ENDANG
58
P
YA
145
NARTI
43
P
TIDAK
146
ASNAH
41
P
TIDAK
NO
147
NAMA
UMUR
18
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
ENDAH
148
ACIH
35
P
TIDAK
149
MARTOYO
42
L
TIDAK
150
ARIFIN
28
L
TIDAK
151
BAYINAH
41
P
YA
152
DEDO
57
P
TIDAK
153
IYUL
53
P
TIDAK
154
AWALUDIN
26
L
TIDAK
155
SOFI
27
P
TIDAK
156
YANTI
27
P
TIDAK
157
GABRIEL
23
P
TIDAK
158
NIZMA
47
P
TIDAK
159
MANAH
50
P
YA
160
DARLIS
26
L
TIDAK
161
GUMAWATI
32
P
TIDAK
162
YUNI
19
P
TIDAK
163
SAROPAH
30
P
TIDAK
164
AKSAL
17
L
TIDAK
165
RIZKI
17
P
TIDAK
166
HUSIN
48
L
TIDAK
167
SUHARNI
37
P
YA
168
RIANI
18
P
TIDAK
169
SITI ULWIYAH
49
P
TIDAK
170
YANI
26
P
TIDAK
171
ASEP
55
L
YA
172
ENTIN
28
P
TIDAK
173
KHODIJAH
41
P
TIDAK
174
MUNIRAH
42
P
TIDAK
175
ATIN
35
P
TIDAK
176
DESI
16
P
TIDAK
177
MURWATI
35
P
TIDAK
178
SARIPAH
39
P
YA
179
NURHADI
25
L
TIDAK
180
MAMAN
47
L
YA
181
NIAH
62
P
TIDAK
182
RISMAN
40
L
TIDAK
183
QODRATULLAH
27
L
TIDAK
NO
184
NAMA
MAULIDAYAH
UMUR
15
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
185
KAMSIYAH
29
P
TIDAK
186
NURAINI
20
P
TIDAK
187
YULIANTI
35
P
TIDAK
188
DADANG
29
L
YA
189
TUNJIAH
47
P
YA
190
NASRUL
24
L
TIDAK
191
RIKI
22
P
TIDAK
192
JOKO
56
L
TIDAK
193
SHELLA
42
P
TIDAK
194
MURNI
39
P
TIDAK
195
MARWAN
24
L
TIDAK
196
LELA
22
P
TIDAK
197
EMI
19
P
TIDAK
198
MAAH
49
P
YA
199
JUJU
18
P
TIDAK
200
JULEHA
49
P
YA
201
LATIFAH
36
P
TIDAK
202
ROHAYA
40
P
TIDAK
203
NUR SYAMSURI
52
L
TIDAK
204
HARYADI
37
L
TIDAK
205
IRWANSYAH
24
L
YA
206
SARASWATI
18
P
TIDAK
207
ADINDA
19
P
TIDAK
208
RAHMAT
24
L
TIDAK
209
SUHARNI
29
P
TIDAK
210
ASWINI
47
P
TIDAK
211
IWAN
30
L
TIDAK
212
FIRDAUS
30
L
TIDAK
213
LEBAR
33
L
TIDAK
214
FAJRI
18
L
TIDAK
215
PUJIANTI
30
P
TIDAK
216
KUDRIAH
42
P
YA
217
JANASIAH
50
P
YA
218
WIWIN
15
P
TIDAK
219
SYARIFUDIN
34
L
TIDAK
220
HARUN
57
L
TIDAK
NO
221
NAMA
DEDE
UMUR
23
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
222
ASEP
55
L
TIDAK
223
MULYA
52
L
TIDAK
224
ITA
19
P
TIDAK
225
RIKA
20
P
TIDAK
226
AWIYAH
31
P
TIDAK
227
AHMAD KENIN
60
L
YA
228
MINAH
39
P
YA
229
ENOK
32
P
TIDAK
230
INDRA
30
L
TIDAK
231
ISMAIL
40
L
TIDAK
232
SRI APRIYANI
26
P
TIDAK
233
HADI
61
L
YA
234
WINARNI
15
P
TIDAK
235
MARSANAH
41
P
YA
236
NIZMA
47
P
TIDAK
237
ROZAH
40
P
TIDAK
238
GUSMAWATI
33
P
TIDAK
239
ZAINUDDIN
18
L
TIDAK
240
ALIKA
18
P
TIDAK
241
ALI
50
L
YA
242
TONIKA
21
P
TIDAK
243
BADRIAH
17
P
YA
244
MARSELINA
25
P
YA
245
PANDAMUAN
29
L
TIDAK
246
SUTARNO
39
L
TIDAK
247
EDI
31
P
TIDAK
248
FRANCO
31
L
TIDAK
249
SUSILO
37
L
TIDAK
250
OMIH
42
P
TIDAK
251
MASYANTI
37
P
TIDAK
252
ERNIATI
40
P
TIDAK
253
NURHAINI
28
P
TIDAK
254
RAHMA
27
P
TIDAK
255
ELVIA
35
P
TIDAK
256
SARIPAH
35
P
TIDAK
257
SANTIASIH
37
P
TIDAK
NO
258
NAMA
UMUR
36
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
NIA
259
NURDIN
21
L
TIDAK
260
DAROH
50
P
TIDAK
261
ADITYA
34
L
TIDAK
262
CICIH
33
P
TIDAK
263
YAYAT
23
L
TIDAK
264
MIRA
29
P
TIDAK
265
SOMIH
37
P
TIDAK
266
EBET
37
P
TIDAK
267
WATI
23
P
YA
268
SAIDUN
49
P
YA
269
KAMIL
28
L
TIDAK
270
ASEHU
35
L
TIDAK
271
KODAN
40
L
TIDAK
272
INNAH
40
P
YA
273
SELLY
22
P
YA
274
LINDA
17
P
TIDAK
275
YUNIDAH
29
P
TIDAK
276
ISAH
44
P
YA
277
FARRAZ
45
P
TIDAK
278
HARINA
36
P
YA
279
ROMI PERMADI
34
L
TIDAK
280
ENI
20
P
TIDAK
281
NIRI
56
P
TIDAK
282
JAYA
52
L
TIDAK
283
UMI
43
P
YA
284
RATNA
30
P
TIDAK
285
NIA
22
P
TIDAK
286
YADI
33
L
YA
287
LAMINAH
46
P
YA
288
SUNANDAR
27
L
TIDAK
289
EDISON
26
L
YA
290
SITI AISYAH
34
P
YA
291
SATI
60
P
TIDAK
292
AYU
26
P
TIDAK
293
LISNA
26
P
TIDAK
294
NALURI
42
P
YA
NO
295
NAMA
JORASIAH
UMUR
50
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
296
NAWIYAH
39
P
YA
297
RINI
26
P
TIDAK
298
FANDI
51
L
TIDAK
299
AMANAH
42
P
TIDAK
300
MARYAMIH
44
P
YA
301
NARYATI
18
P
TIDAK
302
HERLINAH
36
P
YA
303
SRI
19
P
TIDAK
304
SAPIIH
32
P
TIDAK
305
MULYATI
30
P
YA
306
KOYOM
50
P
TIDAK
307
SANDI
34
P
TIDAK
308
DANISIH
39
P
TIDAK
309
YUSUF
30
L
YA
310
RAMLAN
45
L
TIDAK
311
HELMI
27
P
TIDAK
312
SISKA
37
P
TIDAK
313
DINA
22
P
TIDAK
314
IRA
21
P
TIDAK
315
RINA
37
P
TIDAK
316
ROHANI
60
P
YA
317
NAWI
52
P
YA
318
YORDAN
42
L
TIDAK
319
DORI
60
P
TIDAK
320
ROSDIANA
49
P
TIDAK
321
DEWI S
33
P
TIDAK
322
AYU NILAWATI
26
P
TIDAK
323
AAN
40
L
TIDAK
324
USUP
49
L
TIDAK
325
YANI
27
P
TIDAK
326
MAIMUNAH
16
P
TIDAK
327
JAMRONI
35
L
TIDAK
328
FENTI
23
P
TIDAK
329
MULYADI
24
L
TIDAK
330
DWI SULRIANA
19
P
TIDAK
331
LIA ALIA
36
P
TIDAK
NO
332
NAMA
UMUR
17
JENIS KELAMIN
P
STATUS TB PARU
TIDAK
ALFIAH
333
ROFIQOH
33
P
TIDAK
334
FITRI
22
P
YA
335
SUKIRNO
47
L
TIDAK
336
YANTO
31
L
YA
337
RODIYAH
29
P
YA
338
SAEFUL
19
L
TIDAK
339
KARYATI
20
P
YA
340
ABDUL KHODIR
24
L
TIDAK
341
MARIAH
32
P
TIDAK
342
SUGINEM
33
P
YA
343
LILIS
30
P
TIDAK
344
SUDARMA
25
L
TIDAK
345
DIDI
38
P
TIDAK
346
SUSANTI
25
P
TIDAK
347
RIKA
36
P
YA
348
SULIMIN
45
L
TIDAK
349
SAODAH
43
P
TIDAK
350
EEL LESTARI
21
P
TIDAK
351
NANANG
57
L
TIDAK
LAMPIRAN 5
DOKUMENTASI PENGUMPULAN DATA PRIMER
Foto pada saat proses wawancara
Foto pada saat pengukuran
Foto Kondisi Rumah Responden
Download