Manfaat keanggotaan indonesia dalam Indian

advertisement
5 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Organisasi Internasional
Kebijakan
umum Pemerintah Republik Indonesia pada organisasi-
organisasi internasional didasarkan pada Peraturan Presiden No.7 tahun 2005
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004-2009, Bab
8 tentang Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama
Internasional. Melalui penetapan RJPM, Pemerintah berusaha meningkatkan
peranan Indonesia dalam hubungan internasional dan dalam menciptakan
perdamaian dunia serta mendorong terciptanya tatanan dan kerjasama ekonomi
regional dan internasional yang lebih baik dalam mendukung pembangunan
nasional.
Prioritas politik luar negeri Indonesia dalam 5 tahun ke depan dituangkan
dalam 3 program utama, yaitu: (1) program pemantapan politik luar negeri dan
optimalisasi
diplomasi
Indonesia,
(2)
program
peningkatan
kerjasama
internasional yang bertujuan untuk memanfaatkan secara optimal berbagai potensi
positif yang ada pada forum-forum kerjasama internasional dan (3) program
penegasan komitmen terhadap perdamaian dunia.
Keanggotaan Indonesia pada organisasi internasional diamanatkan untuk
memperoleh manfaat yang maksimal bagi kepentingan nasional, didasarkan pada
peraturan perundangan yang berlaku dan memperhatikan efisiensi penggunaan
anggaran dan kemampuan keuangan negara (Keppres No. 64 tahun 1999).
Keanggotaan Indonesia pada organisasi internasional diharapkan dapat
memberikan manfaat berupa:
1.
Manfaat politik, secara umum manfaat politik yang diperoleh suatu negara
dalam hubungan internasional adalah yang dapat mendukung proses
demokratisasi, memperkokoh persatuan dan kesatuan, mendukung
terciptanya kohesi sosial, meningkatkan pemahaman dan toleransi
terhadap perbedaan, mendorong terwujudnya tata pemerintahan yang baik,
mendorong penghormatan, perlindungan dan pemajuan HAM di
Indonesia. Sedangkan dalam dunia perikanan, khususnya organisasi
perikanan, manfaat secara politik tidak jauh berbeda dengan manfaat
6 organisasi internasional pada umumnya. Secara politik organisasi
perikanan internasional dapat memperkokoh hubungan antar suatu negara
anggota organisasi perikanan tersebut;
2.
Manfaat ekonomi dan keuangan, dapat mendorong pertumbuhan dan
stabilitas ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan daya saing,
meningkatkan kemampuan iptek, meningkatkan kapasitas nasional dalam
upaya pencapaian pembangunan nasional, mendorong peningkatan
produktivitas nasional, mendatangkan bantuan teknis, hibah (grant) dan
bantuan lain yang tidak mengikat;
3.
Manfaat sosial budaya, dapat menciptakan saling pengertian antar bangsa,
meningkatkan derajat kesehatan, pendidikan, mendorong pelestarian
budaya lokal dan nasional, mendorong upaya perlindungan dan hak-hak
pekerja
migran;
menciptakan
stabilitas
nasional,
regional
dan
internasional; dan
4.
Manfaat kemanusiaan, mengembangkan early warning system di wilayah
rawan bencana, meningkatkan capacity building di bidang penanganan
bencana, membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi daerah bencana;
mewujudkan citra positif Indonesia di masyarakat internasional, dan
mendorong pelestarian lingkungan hidup dan mendorong keterlibatan
berbagai pihak dalam usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup
(www.deplu.go.id).
Melihat harapan-harapan tersebut, kiranya perlu diketahui dengan jelas apa
saja manfaat dari bergabungnya Indonesia pada organisasi internasional di bidang
perikanan tangkap. Belum diketahui dengan pasti jenis manfaat apa yang paling
menonjol yang merupakan sumbangan sektor perikanan kepada negara Indonesia.
Pengusulan Indonesia untuk menjadi anggota dari suatu
organisasi
internasional diatur dalam Keputusan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
Nomor SK. 1042/PO/VIII/99/28/01 tentang Tata Cara Pengajuan Kembali
Keanggotaan Indonesia serta Pembayaran Kontribusi Pemerintah Indonesia pada
Organisasi-Organisasi Internasional.
Menurut SK Menlu tersebut, dalam hal
suatu instansi bermaksud mengusulkan keanggotaan Indonesia pada organisasi
7 internasional, usulan tersebut disampaikan secara tertulis kepada Menteri Luar
Negeri disertai dengan penjelasan mengenai dasar usulan serta hak dan kewajiban
yang timbul dari keanggotaan itu. Pengusulan tersebut kemudian akan dibahas
oleh Kelompok Kerja Pengkaji Keanggotaan Indonesia dan Kontribusi
Pemerintah Indonesia pada Organisasi-Organisasi Internasional. Pembahasan
mengenai usulan tersebut memperhatikan beberapa hal berikut (Satria et al.,
2009):
1.
Manfaat yang dapat diperoleh dari keanggotaan pada organisasi internasional
yang bersangkutan;
2.
Kontribusi yang dibayar sebagaimana yang disepakati bersama dan diatur
dalam
ketentuan
organisasi
yang
bersangkutan
serta
formula
penghitungannya;
3.
Keanggotaan Indonesia pada suatu organisasi internasional yang mempunyai
lingkup dan kegiatan sejenis; dan
4.
Kemampuan keuangan negara dan kemampuan keuangan lembaga non
pemerintah.
2.2 Dasar Hukum Internasional
Konvensi PBB tentang hukum Laut 1982 (United Nations Convention on
the Law of the Sea/ UNCLOS) banyak memberikan arahan mengenai bagaimana
sebaiknya lautan dikelola. Salah satu klausul dalam upaya pemanfaatan
sumberdaya hayati, negara pantai memiliki kewajiban hukum untuk menjamin
bahwa sumberdaya hayati di ZEE-nya dilindungi dari kegiatan eksploitasi
berlebih, akan tetapi tetap dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Dalam rangka
menciptakan kelestarian sumberdaya ikan di zona ekonomi ekslusif, maka setiap
negara pantai perlu menetapkan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) yang
dihasilkan dari kajian ilmiah terbaik.
Sementara itu, meskipun laut lepas (high seas) memiliki rezim kebebasan
(freedom of the high seas) sebagai perwujudan doktrin “mare liberium”, laut
lepas-pun tidak luput dari pengaturan untuk menciptakan pembangunan
berkelanjutan.
Adapun kebebasan di laut lepas yang diakui secara universal
adalah kebebasan berlayar (freedom of navigation), kebebasan penerbangan
8 (freedom of overflight), kebebasan memasang kabel atau pipa bawah laut (freedom
to lay submarine cables and pipelines), kebebasan membangun pulau buatan dan
instalasi lain (freedom to construct artificial island and other installations
permitted under international law), kebebasan menangkap ikan (freedom of
fishing), dan kebebasan melakukan riset ilmiah (freedom of scientific research).
Asas kebebasan di laut lepas tersebut harus memperhatikan kepentingan
negara lain dalam melaksanakan hak yang sama dan ketentuan internasional yang
berlaku di atasnya. Khusus untuk kegiatan penangkapan ikan, diperkuat lagi hak
dari suatu negara untuk mengirimkan armada perikanan nasionalnya ke laut bebas
(Pasal 116 UNCLOS 1982). Akan tetapi, pelaksanaan kebebasan ini harus diiringi
dengan ketentuan mengenai langkah-langkah konservasi sumberdaya hayati di
laut lepas. Langkah ini dapat dilakukan secara unilateral maupun bekerjasama
dengan negara lain. Dorongan adanya kerjasama antara negara-negara yang
memanfaatkan sumberdaya hayati di laut lepas ditekankan di dalam pasal 118
UNCLOS 1982, yaitu negara-negara harus mengatur pengelolaan dan konservasi
tersebut, apabila memungkinkan dapat membentuk “subregional or regional
fisheries organization (Djalal, 2004).
Meskipun pengelolaan perikanan sudah diatur dalam UNCLOS 1982, masih
saja terjadi konflik atau perbedaan pendapat mengenai kegiatan penangkapan ikan
di antara negara pantai (coastal state) dengan negara-negara yang memiliki
armada perikanan jarak jauh (distant fishing fleets) yang disertai dengan
terjadinya penurunan potensi sumberdaya ikan. Untuk menyelesaikan masalah ini,
maka
dicarilah
konsep-konsep
bagaimana
menerapkan
konservasi
dan
pengelolaan stok yang lestari sepanjang jalur migrasi jenis ikan tersebut, tetapi
tidak mengurangi ataupun melanggar hak-hak berdaulat negara pantai (Djalal,
2004).
Selain UNCLOS 1982, ada beberapa kesepakatan-kesepakatan khusus
lainnya yang mengatur tentang pengelolaan perikanan di laut lepas dan berkenaan
dengan jenis ikan bermigrasi jauh dan bermigrasi terbatas, yaitu:
1.
Agreement to Promote Compliance with International Conservation and
Management Measures by Fishing Vessel on the High Seas (FAO
Compliance Agreement 1993);
9 2.
Agreement for the Implementation of the provision of the UNCLOS of 19
December 1982 relating to Conservation and Management of Straddling
Fish Stocks and Highly Migratory Fish Stock 1995 (UNIA 1995);
3.
The Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF 1995); dan
4.
International Plan of Action (IPOA) dari FAO yang meliputi IPOA for
Management of Fishing Capacity, IPOA for Conservation and Management
of Shark, IPOA for Reducing Incidental Catch of Seabird in Long-Line
Fisheries, dan IPOA for Illegal, Unreported and Unregulated Fishing.
Selain itu, terkait dengan pengelolalaan perikanan terdapat beberapa
organisasi-organisasi sub-regional dan regional perikanan yang terbentuk di
wilayah laut lepas yang berdampingan dengan perairan Indonesia, diantaranya
adalah Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Western and Central Pacific
Fisheries Commission (WCPFC), dan Commission for the Conservation of
Southern Bluefin Tuna (CCSBT) (Satria et al., 2009). Sebagai bagian dari anggota
masyarakat internasional, Indonesia juga berupaya mengikuti ketentuan hukum
internasional yang berlaku, termasuk peraturan-peraturan penangkapan ikan di
laut lepas, seperti kelayakan kapal-kapal penangkapan dan ketaatan kapal-kapal
tersebut pada ketentuan pengelolaan dan konservasi yang ada akan tetapi terdapat
hal yang menjadi kendala, yaitu Indonesia baru meratifikasi UNCLOS 1982 dan
sedang mempertimbangkan untuk ikut serta dalam beberapa hukum internasional
lain, khususnya UNIA 1995.
Indonesia juga belum ikut serta dalam pengelolaan dan konservasi
perikanan regional seperti WCPFC. Dengan demikian, untuk menyiapkan
kemungkinan peningkatan pemanfaatan perikanan di laut lepas serta dalam rangka
meningkatkan strategi diplomasi atau posisi tawar (bargaining position) Indonesia
terhadap organisasi-organisasi perikanan regional yang wilayah pengaturannya
berdampingan dengan Indonesia (Djalal, 2004).
Daftar sumber informasi untuk beberapa RFMO di atas disajikan pada Tabel
1.
10 Tabel 1. Situs internet empat regional fisheries management organization
(RFMO)
No.
RFMO
Jenis sumber daya ikan Website
1
2
3
4
IOTC (Indian
Ocean Tuna
Comission)
WCPFC (Western
and Central Pacific
Fisheries
Commission)
CCSBT
(Commission for
the Conservation of
Southern Bluefin
Tuna)
NAFO (North
Atlantic Fisheries
Organization)
Tuna
www.iotc.org
Ikan beruaya jauh
www.wcpfc.int
Tuna sirip biru
www.ccsbt.org
Salmon, tuna dan hiu
www.nafo.int
2.2.1 UNCLOS 1982
Konvensi PBB tentang hukum laut 1982 atau United Nations Convention on
the Law of the Sea (UNCLOS 1982) merupakan hasil kerja keras masyarakat
internasional dalam menyusun perangkat hukum yang mengatur segala bentuk
penggunaan laut dan pemanfaatan kekayaan yang terkandung didalamnya (Agoes,
1991). UNCLOS 1982 adalah karya hukum masyarakat internasional terbesar di
abad ke 20, karena diikuti oleh sekitar 160 negara, dimana delegasinya berasal
dari berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan seperti diplomat, ahli
hukum, pertambangan, perikanan, perkapalan, aktivis lingkungan hidup dan
berbagai profesi lain. Selain itu UNCLOS 1982 juga dapat dikatakan sebagai
Konvensi terpanjang karena melalui 11 sesi antara tahun 1973 hingga 1984
(Brown, 1994).
UNCLOS 1982 ini berhasil diadopsi pada tanggal 30 April 1982, namun
baru berlaku efektif secara umum pada tanggal 16 November 1994. Hal ini sesuai
dengan pasal 308 ayat (1) UNCLOS 1982, bahwa konvensi ini berlaku 12 bulan
setelah tanggal pendepositan piagam ratifikasi atau aksesi yang ke-60, yaitu
Guyana pada tanggal 16 November 1993 (Brown, 1994).
Terkait dengan pengelolaan perikanan di laut lepas (high sea), UNCLOS
1982 mengaturnya pada Bab VII, yang terbagi dalam dua bagian yaitu, bagian 1
11 mengenai “Ketentuan-ketentuan Umum” (Pasal 86-115) dan bagian 2 mengenai
“Konservasi dan Pengelolaan sumber-sumber kekayaan hayati di laut lepas”
(pasal 116-120). Menurut Pasal 86, ketentuan mengenai laut lepas berlaku bagi
semua bagian yang tidak termasuk dalam Zona Ekonomi Ekslusif, dalam laut
teritorial atau dalam perairan suatu negara kepulauan. Dengan kata lain, laut lepas
adalah suatu rezim hukum yang berlaku di luar laut territorial suatu negara yang
status kewenangannya adalah kedaulatan (sovereignty) dan ZEE yang status
kewenangannya adalah hak berdaulat (sovereignty rights) (Djalal, 2004).
Menurut pasal 116, semua negara mempunyai hak atas sumberdaya ikan di
laut lepas, namun kebebasan di laut lepas tersebut dibatasi oleh : (1) kewajiban
berdasarkan perjanjian internasional, (2) kewajiban ketetapan pengaturan spesifik
spesies yang bermigrasi sebagaimana yang dituangkan pada Pasal 63 ayat (2), dan
Pasal 64 sampai pasal 67, serta (3) ketetapan pada bagian ini untuk perikanan laut
lepas.
Pelaksanaan hak kebebasan untuk melakukan penangkapan ikan ini harus
disertai dengan diindahkannya kewajiban untuk melaksanakan tindakan
konservasi sumberdaya laut hayati di laut lepas (Pasal 117). Tindakan konservasi
tersebut dapat dilakukan secara unilateral maupun bekerjasama dengan negara
lain. Menurut pasal 118, negara-negara harus mengatur pengelolaan dan
konservasi tersebut, apabila memungkinkan dengan membentuk organisasiorganisasi pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management
Organizations/RFMO) di berbagai kawasan yang mempunyai aturan sendiri
dalam mengelola kegiatan perikanan. Pasal 119 ayat (1), UNCLOS 1982
memberikan persyaratan khusus untuk konservasi sumberdaya ikan di laut lepas,
yaitu dalam menetapkan jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan menetapkan
tindakan konservasi sumberdaya kekayaan hayati lainnya di laut lepas, negaranegara harus mengambil tindakan yang direncanakan berdasarkan bukti ilmiah
terbaik yang tersedia pada negara yang bersangkutan untuk memelihara atau
memulihkan populasi yang dapat memberikan hasil tangkapan lestari secara
maksimum. Hal ini ditentukan oleh faktor lingkungan dan ekonomi yang relevan,
termasuk kebutuhan khusus dari negara berkembang. Selain itu, dalam
memperhatikan pola-pola penangkapan ikan adanya saling ketergantungan antara
12 stok
jenis
ikan
dan
standar
minimum
internasional,
secara
umum
direkomendasikan pada taraf sub-regional, regional dan global (Satria et al.,
2009).
2.2.2 FAO Compliance Agreement 1993
Menurut Xue (2004), meskipun UNCLOS 1982 telah mengatur pengelolaan
perikanan di laut lepas, pengaturan tersebut dihadapkan pada tidak adanya
kerangka kelembagaan yang efektif yang memiliki kewenangan dalam
menerapkan tindakan pemaksaan terhadap setiap negara untuk melaksanakan
langkah-langkah pengelolaan. Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi
permasalahan tersebut serta dalam rangka mewujudkan kelestarian, sumberdaya
ikan di laut lepas, maka perlu dibentuk RFMO, sesuai dengan Agreement to
Promote Compliance with Fishing Vessel on the High Seas 1993 (FAO
Compliance Agreement 1993), yang ditetapkan pada tanggal 24 November 1993.
FAO Compliance Agreement 1993 merupakan hukum internasional yang
mengikat (legally binding). Adapun tujuan meletakkan dasar-dasar praktik
penangkapan ikan di laut lepas dan menerapkan tindakan-tindakan pengelolaan
dan konservasi sumberdaya hayati laut. Hal ini sesuai dengan pembukaan FAO
Compliance Agreement 1993, yaitu “mindful that the practice of flagging or
reflagging fishing vessels as a means of avoiding compliance with international
conservation and management measures for living marine resources, and the
failure of flag States to fulfil their responsibilities with respect to fishing vessel
entitled to flay their flag, are among the factors that seriously undermine the
effectiveness of such measures”. Dengan kata lain, pengaturan mengenai tanggung
jawab negara bendera untuk menyiapkan pengaturan, termasuk perizinan
pengoperasian kapal di laut lepas, untuk memastikan kapal-kapal mereka tidak
mengancam efektivitas pengaturan pengelolaan dan konservasi internasional
(Satria et al., 2009).
Sebagai ketentuan hukum yang mengikat, FAO Compliance Agreement
1993 berlaku untuk semua kapal penangkap ikan yang digunakan atau akan
digunakan untuk penangkapan ikan di laut lepas, kecuali bagi kapal-kapal dengan
ukuran kurang dari 24 meter. Secara garis besar, FAO Compliance Agreement
13 1993 mempunyai dua unsur utama, yaitu: pertama, meningkatkan tanggung jawab
negara bendera. Menurut Pasal III, setiap negara bendera harus menjamin kapalkapal perikananannya tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan
efektifitas pengelolaan dan konservasi. Selain itu, tidak ada satu negara pihak
manapun yang memperbolehkan kapal ikannya digunakan untuk menangkap ikan
di laut lepas kecuali telah diberi izin untuk itu oleh otorita yang tepat dari negara
tersebut. Lebih lanjut, setiap negara pihak tidak boleh memberi izin kepada kapal
ikan manapun yang mengibarkan benderanya untuk menangkap ikan di laut lepas
kecuali jika negara tersebut mampu melaksanakan kewajibannya sesuai dengan
ketentuan FAO Compliance Agreement 1993.
Kedua, pertukaran informasi tentang aktivitas penangkapan ikan di laut
lepas. Menurut pasal 4 negara-negara disyaratkan untuk membuat catatan untuk
kapal-kapal ikan yang telah diberi izin untuk menangkap ikan di laut lepas. Dalam
tukar menukar informasi termasuk bahan bukti yang terkait dengan kegiatan
kapal-kapal ikan suatu negara bendera, para pihak harus melakukan kerjasama.
Tujuan kerjasama tersebut untuk memudahkan identifikasi pencatatan kapal-kapal
ikan dalam rangka mencegah kegiatan yang dapat mengurangi tindakan
pengelolaan dan konservasi (Djalal, 2004).
2.2.3 UN Fish Stock Agreement 1995
United Nations for the Implementation of the Provision of the UNCLOS of
19 December 1982 relating to the Conservation and Management of Straddling
Fish Stocks atau yang dikenal dengan sebutan UNIA atau UN Fish Stock
Agreement 1995 ditetapkan pada tanggal 4 Desember 1995. Perjanjian ini merinci
asas dasar yang ditetapkan dalam UNCLOS 1982, bahwa negara-negara harus
bekerjasama untuk menjamin pelaksanaan konservasi serta menggalakkan tujuan
pemanfaatan sumberdaya ikan yang optimal baik yang terdapat di dalam maupun
di luar Zona Ekonomi Ekslusif.
Lebih lanjut, diungkapkan bahwa perjanjian ini ditujukan agar tujuan
tersebut dapat dicapai dengan menyediakan suatu kerangka kerja sama dalam
konservasi dan pengelolaan sumberdaya ikan. Ketentuan yang dituangkan dalam
UN Fish Stock Agreement 1995 dapat dikatakan hampir sama dengan FAO
14 Compliance Agreement 1993. Perbedaannya yaitu, UN Fish Stock Agreement
1995 hanya mengatur stok ikan yang bermigrasi jauh dan bermigrasi terbatas,
sementara FAO Compliance Agreemet 1993 mengatur semua kegiatan perikanan
tangkap di laut lepas (Kuemlangan, 2001 dalam Satria et al., 2009).
Pengelolaan jenis ikan, baik yang bermigrasi jauh maupun bermigrasi
terbatas dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian (precautionary approach).
Pelaksanaan
pendekatan
kehati
hatian
merupakan
bentuk
perlindungan
sumberdaya hayati laut dan konservasi lingkungan lautnya. Persyaratan
pelaksanaan pendekatan kehati-hatian yang dituangkan pada UN Fish Stock
Agreement 1995 merupakan alternatif lain dari ketentuan UNCLOS 1982, yang
mensyaratkan “best scientific evidence available” dalam pengelolaan dan
konservasi sumberdaya ikan.
UN Fish Stock Agreemet 1995 juga mengamanatkan akan pentingnya
kerjasama dalam pengelolaan ikan yang bermigrasi jauh dan bermigrasi terbatas.
Berdasarkan pasal 8, kerjasama antara negara-negara pantai dan negara-negara
yang melakukan penangkapan di laut lepas bisa dilakukan secara langsung atau
melalui organisasi pengelolaan perikanan sub regional atau regional, dengan
mempertimbangkan karakter khusus dari subregion atau region tersebut untuk
memastikan pengelolaan dan konservasi stok ikan secara efektif.
Sementara itu, berdasarkan Pasal 21, pada wilayah laut lepas yang termasuk
dalam wilayah pengelolaan RFMO atau pengaturan subregional atau regional,
inspektur yang berwenang dari suatu negara pihak pada perjanjian ini atau
anggota dari RFMO tersebut dapat menaiki kapal dan memeriksa kapal-kapal
perikanan yang mengibarkan negara pihak lain pada perjanjian ini, tanpa
memperhatikan apakah negara tersebut juga menjadi anggota RFMO atau menjadi
peserta pada pengaturan tersebut. Apabila suatu kapal terbukti melakukan
kegiatan yang bertentangan dengan langkah-langkah pengelolaan dan konservasi,
negara pemeriksa harus mengamankan bukti dan segera memberitahu negara
bendera kapal mengenai pelanggaran yang dituduhkan. Adapun tindakan
pelanggaran yang dikategorikan sebagai tindakan yang serius dituangkan dalam
pasal 11, yaitu:
15 1.
Melakukan penangkapan ikan tanpa lisensi yang sah, otorisasi atau izin yang
dikeluarkan oleh negara bendera berdasarkan Pasal 18 ayat 3 (a);
2.
Gagal untuk memelihara catatan yang akurat mengenai hasil tangkapan dan
data yang berkaitan dengan tangkapan, sebagaimana disyaratkan oleh RFMO
atau pengaturan pengelolaan perikanan sub-regional atau regional yang
terkait atau memberi laporan tangkap yang tidak benar, bertentangan dengan
persyaratan-persyaratan pelaporan dari organisasi atau pengaturan tersebut;
3.
Melakukan penangkapan ikan pada suatu wilayah yang tertutup, selama
musim yang tertutup atau setelah pencapaian dari suatu kuota yang ditetapkan
oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan subregional atau
regional;
4.
Mengarahkan penangkapan ikan suatu stok yang tunduk pada moratorium
atau pelarangan terhadap kegiatan penangkapan ikan;
5.
Menggunakan alat tangkap yang dilarang;
6.
Memalsukan atau menyembunyikan tanda-tanda, identitas atau pendaftaran
dari kapal perikanan;
7.
Menyembunyikan atau merusak atau membuang bukti-bukti yang berkaitan
dengan suatu penyelidikan;
8.
Melakukan pelanggaran yang berulang-ulang yang bersama-sama membentuk
suatu pelanggaran yang serius terhadap tindakan pengelolaan dan konservasi;
dan
9.
Pelanggaran-pelanggaran lainnya yang mungkin ditetapkan dalam prosedur
yang ditentukan oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan
subregional atau regional terkait.
2.3 RFMO (Regional Fisheries Management Organization)
RFMO dibentuk karena sifat ikan yang selalu bergerak (migrasi) dan
melintasi batas negara (transboundary). Akibatnya, kegiatan penangkapan ikan
yang berlebihan di suatu negara dapat menyebabkan kerusakan/kepunahan ikan
di negara lain. Hal inilah yang mendorong kepentingan bersama dalam
membentuk RFMO di suatu kawasan.
16 Hingga saat ini, di dunia internasional telah terdapat berbagai bentuk
organisasi regional maupun internasional yang menunjukkan perhatiannya pada
perlunya pengelolaan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Dapat kita lihat
pada Gambar 1, bahwa hampir semua wilayah perairan di dunia telah diatur oleh
organisasi tersebut. Aturan-aturan itu jelas mengikat para anggota di dalamnya
yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di wilayah perairan tersebut.
Umumnya keanggotaan RFMO tidak terlalu terkait dengan pertimbangan
geografis negara yang bersangkutan, namun lebih pada di wilayah perairan mana
suatu negara melakukan aktivitas penangkapan ikan. Bagi negara yang tidak
menjadi anggota dan melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah perairan
tertentu, saat ini sudah mulai dipikirkan adanya sanksi perdagangan internasional.
Gambar 1 Peta kawasan pengelolaan sejumlah regional fisheries managaement
organization (RFMO). Sumber: FAO (2002)
RFMO yang terbentuk di laut lepas dan berdampingan dengan perairan
Indonesia, sebagai berikut:
1. Indian Ocean Tuna Comission (IOTC)
IOTC merupakan institusi regional yang mengatur yang berwenang
mengatur kegiatan penangkapan ikan tuna dan sejenisnya di perairan Samudera
Hindia dan sekitarnya. Lebih jelasnya mengenai IOTC dibahas pada bab IV.
2. The Convention for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT)
17 Di luar wilayah perairan Indonesia yang berdampingan dengan kawan
Pasifik terdapat CCSBT (Gambar 2). Pembentukan CCSBT didasari oleh
menurunnya jumlah ikan tuna sirip biru (southern bluefin tuna) dewasa, dan
tangkapan tahunan mulai jatuh secara cepat pada awal tahun 1960-an. Penurunan
hasil tangkapan semakin meningkat, dimana pada pertengahan tahun 1980-an
diperlukan pembatasan tangkapan. Hal inilah yang menuntut Australia, Jepang
dan Selandia Baru melakukan tindakan pengelolaan dan konservasi untuk
meningkatkan stok ikan SBT pada tahun 1985, dengan cara membatasi kuota hasil
tangkapan kapal ikannya.
Pada tanggal 10 Mei 1993, Australia, Jepang dan Selandia Baru
menandatangani Convention for The Conservation of Souhtern Bluefin Tuna,
namun Konvensi ini baru efektif berlaku pada tanggal 20 Mei 1994 setelah ketiga
negara tersebut melakukan formalisasi pembentukan Commission for The
Conservation of Southern Bluefin Tuna. Efektifitas pelaksanaan Konvensi ini
dihadapkan pada beberapa negara yang melakukan penangkapan tuna sirip biru,
namun belum menjadi anggota seperti Korea, Taiwan dan Indonesia.
3. Commission for the Conservation and Management of Highly Migratory Fish
Stock in the Western and Central Pasific Ocean (WCPFC)
Negara-negara pantai di Pasifik Barat dan Pasifik Tengah dan negara-negara
yang menangkap ikan di sekitarnya melakukan negosiasi selama empat tahun dan
berhasil menyepakati Convention on the Conservation and Management of Highly
Migratory fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean yang
ditandatangani pada tanggal 5 September 2000 di Honolulu, Amerika Serikat.
Namun demikian konvensi ini baru berlaku efektif pada tanggal 19 Juni 2004.
Negara yang sudah meratifikasi atau menyepakati konvensi ini, yaitu Australia,
Cook Islands, Federated States of Micronesia, Fiji Islands, Kiribati, Marshall
Island, Tonga dan Tuvalu. Sedangkan negara yang yang berstatus sebagai noncooperating parties adalah Belize dan Indonesia.
Indonesia belum menetapkan status sebagai non-cooperating parties.
Padahal beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari keanggotaan Indonesia dalam
WCPFC, antara lain:
18 1.
Aspek politik domestik, akan mendukung kebijakan nasional bagi upaya
konservasi dan pengelolaan perikanan yang bermigrsi jauh di wilayah
Samudera Pasifik Bagian Barat dan Tengah;
2.
Aspek politik luar negeri, akan memperkuat posisi Indonesia dalam forum
organisasi perikanan regional dan internasional, serta menegaskan
komitmen Indonesia sebagai negara pihak pada UNCLOS 1982 bagi
kerjasama internasional dalam kegiatan konservasi dan pemanfaatan
sumberdaya ikan;
3.
Aspek teknis ekonomi, akan memberikan peluang bagi Indonesia dalam
mengakses bantuan teknis dan finansial dari WCPFC, serta untuk
menghindari adanya embargo ekspor produk perikanan Indonesia oleh
negara-negara
anggota
WCPFC
seperti
yang
sudah
diberlakukan
sebelumnya oleh CCSBT untuk ekspor tuna sirip biru Indonesia sejak 1 Juli
2005. Hal ini dimaksudkan demi mempertahankan akses pasar global yang
sudah ada selama ini; dan
4.
Dengan menjadi anggota WCPFC, akan memudahkan proses pertukaran
informasi dan data perikanan yang tepat dan akurat diantara negara anggota
dan adanya alih teknologi untuk Indonesia sebagai negara berkembang
dalam kegiatan konservasi sumberdaya ikan di wilayah Samudera Pasifik
bagian Barat dan Tengah.
2.4 Peraturan mengenai Laut Lepas
Laut lepas merupakan semua bagian laut yang tidak termasuk dalam laut
teritorial atau perairan pedalaman sesuatu negara. Laut lepas terbuka bagi semua
bangsa, tidak satu negarapun boleh mengatakan secara sah bahwa sesuatu bagian
dari laut itu termasuk dalam daerah kekuasaannya (UU nomor 61 tahun 1961).
Kebebasan pada laut lepas, dilakukan atas syarat-syarat yaitu kebebasan
melakukan navigasi, kebebasan melakukan perikanan, kebebasan memasang kabel
dan pipa saluran di bawah permukaan laut, kebebasan melakukan penerbangan di
atas laut lepas. Kebebasan di laut dibuat supaya negara-negara yang berpantai
dengan negara-negara yang tak berpantai memiliki hak yang sama sehingga dapat
bebas mengadakan perjalanan ke laut (UU Nomor 61 Tahun 1961).
19 Setiap kapal yang akan mengadakan perjalanan laut harus mengibarkan
bendera satu negaranya. Sebuah kapal yang berlayar memakai bendera dari dua
negara atau lebih dianggap sebagai kapal tanpa kebangsaan. Jika terjadi sesuatu
pelanggaran atau sesuatu kecelakaan navigasi atas sebuah kapal di laut lepas maka
tidak boleh diadakan tuntutan hukuman atau hukuman disiplin lebih dahulu
terhadap orang-orang itu kecuali di hadapan para hakim atau pejabat yang diberi
tugas dari negara kapal tersebut atau negara orang-orang tersebut (UU Nomor 61
Tahun 1961).
Sebuah kapal perang dari suatu negara yang bertemu dengan kapal dagang
asing di laut lepas, tidak dapat dibenarkan menarik kapal asing tersebut kecuali
bila kapal asing tersebut dicurigai terlibat dalam pembajakan atau terlibat dalam
perdagangan budak. Apabila kapal asing itu telah melanggar peraturan-peraturan
negara tersebut maka boleh dilakukan pengejaran (UU Nomor 61 Tahun 1961).
Pengejaran yang demikian itu dilakukan jika kapal asing itu atau salah satu
sekocinya berada dalam lingkungan perairan pedalaman atau laut teritorial atau
zona perbatasan dari negara yang mengejar dan hanya boleh diteruskan di luar
laut teritorial atau zona perbatasan, apabila pengejaran itu dilakukan secara tidak
terputus-putus. Hak pengejaran dihentikan setelah kapal yang dikejar memasuki
laut teritorial negaranya sendiri atau laut teritorial negara ketiga (UU Nomor 61
Tahun 1961).
Download