rencana strategis dinas kesehatan provinsi jawa barat tahun 2013

advertisement
RENCANA STRATEGIS
DINAS KESEHATAN
PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN 2013 - 2018
DINAS KESEHATAN
PROVINSI JAWA BARAT
Jalan Pasteur No. 25
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA DINAS
KESEHATAN PROVINSI
JAWA BARAT
NOMOR
: 050/Kep-12133/RKK/2014
TANGGAL : 30 DESEMBER 2014
TENTANG : RENCANA STRATEGIS
DINAS KESEHATAN PROVINSI
JAWA BARAT 2009-2013
BAB I
PENDAHULUAN
1,1..
LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan pada umumnya.
Pembangunan kesehatan di daerah dilaksanakan sebagai bagian tidak terpisahkan dari
pembangunan nasional. Pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Barat selama ini telah
memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat. Namun demikian masih
banyak kinerja kesehatan yang harus ditingkatkan dan tantangan yang harus dihadapi
sehingga membutuhkan perencanaan secara seksama.
Masa bakti Gubernur/Wakil Gubernur berakhir pada Tahun 2013 dan selanjutnya
Gubernur/Wakil Gubernur terpilih akan menyusun Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dengan kurun waktu 2013 – 2018, sesuai dengan ketentuan
Pasal 15 ayat (2) PP No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian
dan
Evaluasi
Pelaksanaan
Rencana
Pembangunan
Daerah.
Untuk
menghindari terjadinya kekosongan hukum berkaitan dengan dokumen perencanaan jangka
menengah pada masa akhir jabatan kepala daerah, maka disusun RPJMD Transisi untuk
kurun waktu 1 (satu) tahun kedepan setelah periode RPJMD berakhir.
Pembangunan bidang kesehatan dalam kurun waktu 5 tahun menghadapi banyak tantangan
diantaranya tantangan pada era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), adanya perubahan sistem
pembiayaan jaminan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), terjadinya
pergeseran beberapa penyakit menular dan tidak menular serta masih tingginya kematian
AKI dan AKB.
1,1,1..
Pengertian Rencana Strategis OPD
Peraturan Daerah No. 25 Tahun 2013 tentang RPJMD pasal 3
menjelaskan
bahwa RPJMD merupakan pedoman penyusunan Rencana Strategis (Renstra)
Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Rencana Strategis adalah dokumen
perencanaan OPD untuk periode 5 tahun, yang memuat Visi, Misi, Tujuan,
Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan sesuai dengan tugas dan
fungsinya dan berpedoman pada RPJM Daerah, dengan memperhatikan prinsip
prinsip good governance (partisipatif, transparan dan akuntabel).
1,1,2..
Fungsi Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Dalam Penyelenggaraan Pembangunan Daerah
1
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
Fungsi Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
adalah sebagai pedoman dalam melaksanakan prioritas pembangunan bidang
kesehatan selama lima tahun kedepan yang mengacu pada Peraturan Gubernur
Jawa Barat Nomor 58 Tahun 2012 Tentang RPJMD Transisi Provinsi Jawa Barat
Tahun 2014 dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2013
Tentang RPJMD Tahun 2013-2018, sebagai input bagi penyusunan dokumen
RPJMD dan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja (Renja) Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang merupakan dokumen internal dalam
penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat.
1,1,3..
Proses Penyusunan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat
Penyusunan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2013
- 2018 mengacu pada RPJMD Transisi Tahun 2014 dan RPJMD Pemerintah
Provinsi Jawa Barat 2013 - 2018 juga mengakomodasi kebijakan yang ada dalam
RPJMN serta ide dasar visi, misi dan strategis yang tertuang dalam dokumen
Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2010-2014.
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013 - 2018 disusun
melalui tahapan perencanaan partisipatif dengan mengedepankan proses
evaluasi, proyeksi dan analisis terhadap faktor - faktor internal dan eksternal yang
berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan
kesehatan di Jawa Barat.
Prinsip pendekatan perencanaan dalam menyusun Renstra Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat 2013 - 2018 adalah sebagai berikut : (1) Teknokratik yaitu
dengan menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah (2) Demokratis dan
partisipatif yaitu dengan melibatkan seluruh stakeholders, (3) Politik dengan
melibatkan proses konsultasi dengan kekuatan politis terutama dengan Kepala
Daerah terpilih dan DPRD, (4) Bottom up dan Top down yaitu dilaksanakan
menurut jenjang pemerintahan.
Tahapan penyusunan Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sesuai
dengan Permendagri No 54 Tahun 2010 adalah sebagai berikut : Persiapan
Penyusunan Renstra, Penyusunan Rancangan Renstra, Penyusunan Rancangan
Akhir Renstra dan Penetapan Renstra.
A. Tahap Persiapan
Berupa pembentukan Tim Penyusun Renstra Dinas Kesehatan dengan SK
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat No. 050 / Kep-6888 / RKK /
2013 dan penyusunan agenda kerja Tim (Terlampir).
B. Tahapan Penyusunan Rancangan Renstra
Melalui tahapan Perumusan dan Penyajian Rancangan Renstra.
a.
Tahapan Perumusan Rancangan Renstra mencakup :
1)
Pengolahan data dan informasi yang meliputi :
2
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018

Gambaran Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
mencakup :(1) Struktur Organisasi beserta tupoksinya (2)
Pencapaian yang telah dilaksanakan dalam Renstra Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat sebelumnya dan capaian 20092011, (3) aspirasi masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan
barang publik, layanan publik dan regulasi lingkup kewenangan
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

Pengelolaan Pendanaan Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat, mencakup : (1) data pendapatan Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat (2) data belanja Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat (3) data pembiayaan khusus untuk UPT Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
2)
Analisis gambaran pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat, terdiri dari : (1) analisis gambaran umum pelayanan Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat untuk mengidentifikasi potensi dan
permasalahan pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2)
analisis pengelolaan pendanaan pelayanan Dinas Kesehatan
Provinsi
Jawa
Barat.
Untuk
mengidentifikasi
potensi
permasalahan khusus pada aspek pendanaan pelayanan
dan
Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
3)
Review Renstra Kementerian Kesehatan dan Renstra Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota mencakup :

Tujuan dan Sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu
pelaksanaan Renstra Kementerian Kesehatan

Program Prioritas Kementerian Kesehatan dan target kinerja
serta lokasi program prioritas

Tujuan dan Sasaran yang akan dicapai dalam jangka waktu
pelaksanaan Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Program Prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa
Barat dan target kinerja serta lokasi program prioritas
4)
5)
Penelaahan RTRW Provinsi Jawa Barat, mencakup :

Tujuan dan sasaran RTRW Provinsi Jawa Barat

Struktur dan Pola Ruang

Indikasi program pemanfaatan ruang jangka menengah
Analisis dokumen hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
sesuai dengan pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
6)
Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan :

Hasil Analisis gambaran pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat

Hasil Review Renstra Kementerian Kesehatan dan Renstra
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Hasil Penelaahan RTRW Provinsi Jawa Barat
3
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018

Hasil Analisis terhadap dokumen hasil Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS)
7)
Perumusan Visi dan Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
berdasarkan Perumusan isu strategis
8)
Perumusan Tujuan pelayanan jangka menengah Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat;
9)
Perumusan sasaran pelayanan jangka menengah Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat;
10) Perumusan strategi dan kebijakan jangka menengah Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat guna mencapai target kinerja
program prioritas RPJMD Provinsi yang menjadi tugas dan fungsi
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
11) Perumusan
Rencana
Program,
Kegiatan,
Indikator
Kinerja,
Kelompok sasaran dan pendanaan indikatif selama 5 tahun
termasuk lokasi kegiatan;
12) Perumusan indikator kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Provinsi Jawa
Barat
13) Pelaksanaan Forum OPD Provinsi Bidang Kesehatan.
b.
Tahap Penyajian Renstra
Penyajian
rancangan
Renstra
sesuai
dengan
sistematika
pada
Permendagri No 54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan PP No 8 tahun
2008 tentang tahapan, tatacara penyusunan dan Evaluasi Rencana
Pembangunan Daerah;
C. Tahap Penyusunan Rancangan Akhir Renstra
Melalui Tahap Verifikasi Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2013 -2018 :

Bertujuan untuk menilai upaya Dinas Kesehatan dalam mempertahankan
capaian kinerja bidang pelayanan periode sebelumnya dan pada 2 tahun
terakhir, serta melaksanakan amanah yang tercantum dalam RPJMD.

Tata cara Verifikasi Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat adalah
:
(1)
Penyampaian Nota Dinas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
kepada
Bapeda
cq
Tim
Penyusun
RPJMD
perihal
penyampaian Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2013 - 2018.
(2)
Tahap Verifikasi Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2013 - 2018.
(3)
Tahap Penyesuaian Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2013 - 2018 hasil Verifikasi.
4
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
D. Tahap Penetapan Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013
- 2018.
Penetapan Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 - 2018
dengan SK Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, No.050/Kep12133/RKK/2014, tanggal 30 Desember 2014 tentang Rencana Strategis
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 – 2018.
Gambar 1.1
Bagan Alir Penyusunan Renstra
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 – 2018
RPJMD
Prov Jabar
2013 – 2018
Usulan Bidang
Kesehatan
pada RPJMD
Prov Jabar
2013 – 2018
Draft 1
RPJMD Prov
Jabar
2013 - 2018
Pengesahan
RPJMD
Prov Jabar
2013 - 2018
1,1,4..
Draft
Renstra
Dinas
Kesehatan
Prov Jawa
Barat
2013 – 2018
Verifikasi
Renstra
Dinas
Kesehatan
Provinsi
Jawa Barat
2013 - 2018
Renstra
Dinas
Kesehatan Prov
Jawa Barat
2013 – 2018
Pengesahan
Renstra
Dinas
Kesehatan Prov
Jawa Barat
2013 – 2018
Keterkaitan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Dengan RPJMD,
Rencana Strategis K/L, Rencana Strategis Kab/Kota Dan Rencana
Kerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 – 2014
telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional, berlandaskan Undang-undang No. 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Barat telah
ditetapkan dengan Peraturan Daerah No. 25 Tahun 2013 tentang RPJMD Provinsi
Jawa Barat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dari tahun 2013 - 2018 yang
memuat visi, misi dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman
kepada RPJPD dengan RPJMN.
Keterkaitan Kebijakan Kementerian Kesehatan, RPJMD Provinsi Jawa Barat,
Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (terlampir). Keterkaitan dengan
Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Renstra Kementerian Kesehatan
sedang dalam proses pengumpulan data/informasi.
1.2.
LANDASAN HUKUM
Rencana Strategis Provinsi Jawa Barat tahun 2013 - 2018 disusun berdasarkan peraturan
perundang-undangan sebagai berikut :
1.
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28 H ayat 1 tentang : Hak untuk hidup
sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan yang baik dan
sehat dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan.
5
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
2.
Undang-Undang No. 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat (Berita
Negara Republik Indonesia tanggal 4 Juli 1950) Jo. Undang-undang No. 20 Tahun 1950
tentang Pemerintahan Jakarta Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950
No. 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 15) sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-undang No. 29 Tahun 2007 tentang
Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara
Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No.
93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4744) dan Undang-undang
No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 No. 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
4010);
3.
Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Wabah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1996 No. 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3632);
4.
Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1997 No. 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3671);
5.
Undang-undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia (Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3796)
6.
Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 No. 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3851);
7.
Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 109);
8.
Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 No. 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4286);
9.
Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 No. 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4355);
10. Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerUndangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 53, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4389);
11. Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 164, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4421);
12. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 No. 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4431);
13. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 No. 125, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undangundang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang No. 32
6
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 No. 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4844);
14. Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
No. 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4438);
15. Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4456);
16. Undang-undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
No.33,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.4700);
17. Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 No. 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4725);
18. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4723);
19. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 No. 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
5062);
20. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 No. 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
5063);
21. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 No. 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.
5072);
22. Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial
(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. 5256);
23. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 No. 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 3253);
24. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 No. 67, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3609);
25. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1996 No. 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3637);
26. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan
Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 No. 138, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3781);
27. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual
serta Hasil Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga
7
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
Penelitian dan Pengembangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
No.43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4497);
28. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 No. 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4578);
29. Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal
30. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Melakukan Kegiatan dan
Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan Pengembangan
Asing, Badan Usaha Asing dan Orang Asing (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006 No. 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4666);
31. Peraturan Pemerintah No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
antara Pemerintah, Pemerintahan
Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4737);
32. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 89, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4741);
33. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 No. 112, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4761);
34. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 19,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4815);
35. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4828);
36. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 No. 124, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 5078);
37. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 20, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4816);
38. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 21, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia No. 4817);
39. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4725);
40. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah
8
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4817);
41. Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
42. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
No. 59 Tahun 2007 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
43. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No. 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian,
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
44. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.03.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis
(Renstra) Kementrian Kesehatan Tahun 2010-2014;
45. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 2 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2003 No. 2 Seri E);
46. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 3 Tahun 2005 tentang Pembentukan
Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2005 Nomor 12 Seri E, Tambahan
Lembaran Daerah Nomor 1);
47. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 10 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan
Perlindungan Cacat (Lembaran Daerah Tahun 2006 No. 7 Seri E);
48. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 10 Tahun 2008 tentang Urusan
Pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 9 Seri D,
Tambahan Lembaran Daerah Nomor 46);
49. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 11 Seri E,
Tambahan Lembaran Daerah Nomor 47);
50. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 21 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 20 Seri
D, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 55);
51. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 21 tahun 2008 tentang Rumah Sakit Daerah
Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 22 Seri D, Tambahan
Lembaran Daerah Nomor 57);
52. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 2009 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 6
Seri E);
53. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 11 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Kesehatan (Lembaran Daerah Tahun 2010 Nomor 11 Seri E)
54. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 – 2029 (Lembaran Daerah Tahun 2010
Nomor 22 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah No. 86);
55. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 24 Tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan
Daerah Nomor 9 tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Tahun 2005 -2025 (Lembaran Daerah Tahun 2010 Nomor Seri );
9
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
56. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 25 Tahun 2013 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 20132018;
57. Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 79 Tahun 2010, tentang Petunjuk Pelaksanaan
Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah;
58. Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 32 Tahun 2009, tentang Tugas Pokok, Fungsi,
Rincian Tugas Unit dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat;
1.3.
MAKSUD DAN TUJUAN
Rencana Strategis Dinas Kesehatan ini dimaksudkan untuk dapat memberikan kejelasan
arah dan sasaran Pembangunan Kesehatan di Provinsi Jawa Barat, dalam upaya
mendukung Visi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat 2013 - 2018 yaitu “Jawa Barat
Maju dan Sejahtera Untuk Semua”
Adapun tujuan penyusunan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat adalah
:
1. Menyelaraskan Visi Misi Dinas Kesehatan dengan RPJMD Provinsi Jawa Barat
2. Menyusun strategi dan program pembangunan kesehatan di Jawa Barat
3. Mewujudkan perencanaan pembangunan kesehatan daerah secara sinergis dan terpadu
dengan tingkat pusat dan daerah kabupaten/kota serta provinsi berbatasan.
1.4
SISTEMATIKA PENULISAN
1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.1.1. Pengertian Rencana Strategis
1.1.2. Fungsi Rencana Strategis dalam Penyelenggaraan Pembangunan Daerah
1.1.3. Proses Penyusunan Rencana Strategis
1.1.4. Keterkaitan Rencana Strategis dengan RPJMD, Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan, Rencana Strategis Kab/Kota dan Rencana Kerja
1.2. Landasan Hukum
1.3. Maksud Dan Tujuan
1.4. Sistematika Penulisan
2. GAMBARAN PELAYANAN DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT
2.1. Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan
2.2. Sumber Daya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2.3. Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2.4. Tantangan Dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Kesehatan Jawa Barat
3. ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS KESEHATAN JAWA
BARAT
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan
3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah
3.3. Telaahan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan Rencana Strategis
Kabupaten/Kota
3.4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
3.5. Penentuan Isu Strategis
10
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013- 2018
4.
VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
4.1. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Jawa Barat
4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas Kesehatan Jawa Barat
4.3. Strategi dan Kebijakan Dinas Kesehatan Jawa Barat
5.
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK
SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF
6.
INDIKATOR KINERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT
11
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
BAB II
GAMBARAN PELAYANAN
DINAS KESEHATAN JAWA BARAT
2.1. Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Dinas Kesehatan provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2008, dengan tugas dan fungsi berdasarkan Peraturan
Gubernur Jawa Barat Nomor 32 Tahun 2009, menjalankan sebagian tugas Pemerintah
Daerah Provinsi Jawa Barat.
Tugas Pokok :
Tugas Pokok Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat adalah melaksanakan urusan
pemerintahan daerah bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi, dekonsentrasi dan
tugas pembantuan.
Fungsi :
Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagai dimaksud, Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat mempunyai fungsi :
a.
Menyelenggarakan perumusan dan penetapan kebijakan teknis urusan
bidang
kesehatan;
b.
Penyelenggaraan urusan kesehatan meliputi regulasi dan kebijakan kesehatan,
pelayanan kesehatan, penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit, serta
sumber daya kesehatan;
c.
Pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas kesehatan meliputi regulasi dan
kebijakan
kesehatan,
pelayanan
kesehatan,
penyehatan
lingkungan
dan
pencegahan penyakit, serta sumber daya kesehatan;
d.
Penyelenggaraan tugas-tugas kesekretariatan;
e.
Pengkoordinasian dan pembinaan UPTD
Struktur Organisasi
Dinas Kesehatan provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2008, dengan struktur organisasi sebagai berikut :
13
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Gambar 2.1
Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Jawa Barat
Kepala Dinas
Sekretaris
Kelompok Jabatan
Fungsional
Sub Bagian
Perencanaan
& Program
Bidang Regulasi dan
Kebijakan Kesehatan
Seksi Akreditasi
Sarana Kesehatan
Seksi Akreditasi dan
Pendayagunaan
Tenaga Kesehatan
Seksi Legislasi dan
Kebijakan Kesehatan
Bidang Bina Pelayanan
Kesehatan
Sub Bagian
Keuangan
Bidang Bina Penyehatan
Lingkungan dan
Pencegahan Penyakit
Sub Bagian
Kepegawaian
& Umum
Bidang Sumber Daya
Kesehatan
Seksi Pelayanan
Kesehatan Dasar dan
Khusus
Seksi Penyehatan
Lingkungan
Seksi Farmasi,
Kosalkes dan Mamin
Seksi Kesehatan
Keluarga dan Gizi
Seksi Pengendalian
Penyakit
Seksi Promosi Kesehatan
dan Pemberdayaan
Mayarakat
Seksi Rumah Sakit
Seksi Pengematan
Pencegahan
Penyakit dan Matra
Seski Teknologi dan
Informasi Kesehatan
UPTD :
1. BAPELKES
2. BLK
2.2.
3. BKKM
4. BKPM
Sumber Daya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Dengan diterapkannya Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 dan Peraturan
Pemerintah No. 38 Tahun 2007 yang mengatur tentang SOTK Organisasi Perangkat
Daerah, maka Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berdasarkan Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Barat No. 21 Tahun 2008, telah terbentuk dan secara resmi telah
berjalan, walaupun belum lengkap dengan pengaturan UPTD.
14
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berlokasi di Jalan Pasteur No. 25 Bandung,
mencakup gedung perkantoran di Jl. Pasteur No. 25 Bandung dan 4 (empat) UPTD,
yaitu : Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) di Jl. Pasteur No. 31 Bandung, Balai
Laboratorium Kesehatan (BLK) di Jl. Sederhana No 3 – 5 Bandung, Balai Kesehatan
Kerja Masyarakat(BKKM) di Jl. Rancaekek Bandung dan Balai Kesehatan Paru
Masyarakat (BKPM)di Jl. Satria No. 95 Cirebon.
Jumlah pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2013 sebanyak 575 orang
dengan sebaran pegawai sebagai berikut :
Tabel 2.1
Sebaran Sumber Daya Manusia
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
No.
1.
2.
3.
4.
a.
b.
BAGIAN BIDANG/UPTD
KEPALA DINAS
SEKRETARIS
SUBBAGIAN
a. Kepala Subbagian Perencanaan dan Program
b. Kepala Subbagian Keuangan
c. Kepala Subbagian Kepegawaian dan Umum
d. Staf
BIDANG
Kepala Bidang Bina Pelayanan Kesehatan
1. Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar &Khusus
2. Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi
3. Kepala Seksi Rumah Sakit
4. Staf
Kepala Bidang Regulasi Kebijakan Kesehatan
1. Kepala Seksi Akreditasi Sarana Kesehatan
2. Kepala Seksi Akreditasi Pendayagunaan Tenaga
Kesehatan
3. Kepala Seksi Legislasi Kebijakan Kesehatan
4. Staf
JUMLAH
(Orang)
1
1
1
1
1
174
1
1
1
1
54
1
1
1
1
44
KETERANGAN
Dokter, S2
S2 Kesehatan
Dokter
S2 Kesehatan
S1
- S2 = 7 orang
- S1 = 43 orang
- D3 = 24 orang
- SLTA = 83 orang
- SLTP = 9 orang
- SD = 10 orang
4 4
Dokter, S2
S2 Kesehatan
Dokter, S2
Dokter
- S2 = 6 orang
- S1 = 18 orang
- D3 = 13 orang
- SLTA = 17 orang
S2 Kesehatan
S1 Kesehatan
S2 Kesehatan
Dokter, S2
- S2 = 6 orang
- S1 = 13 orang
- D4 = 1 orang
- D3 = 9 orang
- SLTA = 15 orang
15
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
c.
d.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan
1. Kepala Seksi Farmasi, Kosalkes dan Mamin
2. Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat
3. Kepala Seksi Teknologi dan Informasi Kesehatan
4. Staf
1
1
1
Dokter Gigi, S2
Apoteker, S2
Dokter Gigi,S2
1
40
1
S2 Kesehatan
- S2 = 7 orang
- S1 = 10 orang
- D3 = 4 orang
- SLTA = 17 orang
- SLTP = 1 orang
- SD = 1 orang
Dokter, S2
Kepala Bidang Bina Penyehatan Lingkungan dan
Pencegahan Penyakit
1. Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan
2. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit
3. Kepala Seksi Pengamatan Pencegahan Penyakit dan
Matra
4. Staf
1
1
1
S2 Hukum Kesehatan
S2 Kesehatan
Dokter, S2
58
-
UPTD
Kepala BAPELKES (Balai Pelatihan Kesehatan)
Kepala Seksi dan Staf
1
47
b.
Kepala BLK (Balai Laboratorium Kesehatan)
Kepala Seksi dan Staf
1
70
c.
Kepala BKKM (Balai Kesehatan Kerja Masyarakat)
Kepala Seksi dan Staf
1
49
d.
Kepala BKPM (Balai Kesehatan Paru Masyarakat)
Kepala Seksi dan Staf
1
58
Dokter Gigi, S2
- S2 = 8 orang
- S1 = 19 orang
- SLTA = 11 orang
- SLTP = 6 orang
- SD = 3 orang
Dokter Spesialis Patalogi Klinik
- S2 = 4 orang
- S1 = 7 orang
- D4 = 1 orang
- D3 = 30 orang
- SLTA = 18 orang
- SLTP = 1 orang
- SD = 9 orang
Apoteker, S2
- S2 = 2
- S1 = 13 orang
- D3 = 12 orang
- SLTA = 9 orang
- SLTP = 4 orang
- SD = 1 orang
S2 Kesehatan
- S2 = 4 orang
- S1 = 20 orang
- D3 = 13 orang
- SLTA = 20 orang
- SLTP = 1 orang
JUMLAH
619
5.
a.
S2 = 4 orang
S1 = 20 orang
D3 = 13 orang
SLTA = 20 orang
SLTP = 1 orang
16
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Dengan uraian : PNS di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sebanyak : 391
orang; PNS di UPTD sebanyak 228 orang, dengan rincian : Balai Pelatihan Kesehatan
(BAPELKES) : 48 orang, Balai Laboratorium Kesehatan ( BLK) : 71 orang, Balai
Kesehatan Kerja Masyarakat (BKKM) : 50 orang dan Balai Kesehatan Paru Masyarakat
(BKPM)
Cirebon : 59 orang; PTT : 12 orang, TKK : 3 orang, Outsourching (Tenaga
Keamanan dan Cleaning Service) : 102 orang.
Gambaran ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri dari
Rumah Sakit, Puskesmas, Polindes, Pustu dan jejaring lainnya di Provinsi Jawa Barat
menunjukkan pertumbuhan yang bervariasi antar wilayah kabupaten. Pertumbuhan
sarana pelayanan kesehatan rujukan (rumah sakit) di Jawa Barat pada tahun 2013,
mencapai 306 buah yang tersebar di 26 kabupaten kota. Dibandingkan tahun 2012
terjadi penambahan sebanyak 34 buah. Kabupaten kota dengan jumlah rumah sakit
terbanyak adalah Kabupaten Bekasi dengan 43 RS. Sedangkan kabupaten kota yang
paling sedikit mempunyai rumah sakit adalah Kabupaten Tasikmalaya dengan 1 buah
RS. Ketersediaan jumlah tempat tidur untuk perawatan dari semua sarana rumah sakit
dan puskesmas DTP yang ada di Jawa Barat berkisar 31.362 buah. Bila mengacu
kepada ratio satu tempat tidur untuk 1000 penduduk, Provinsi Jawa Barat masih
kekurangan 11.692 buah tempat tidur.
Jumlah puskesmas di Jawa Barat saat ini mencapai 1050 buah. Dari jumlah
tersebut, 176 puskesmas merupakan puskesmas dengan tempat perawatan dan baru
210 Puskesmas yang sudah terakreditasi. Bila dibandingkan dengan standar ratio satu
puskesmas untuk tiga puluh ribu penduduk, maka satu puskesmas di Jawa Barat harus
melayani 43,6 ribu penduduk. Berarti di Provinsi Jawa Barat masih kekurangan 475
puskesmas untuk bisa mencapai satu puskesmas untuk tiga puluh ribu penduduk.
Berdasarkan wilayah administrasi terdapat beberapa wilayah kerja puskesmas.Terdapat
puskesmas dengan wilayah kerja satu kecamatan, puskesmas dengan wilayah kerja
sebagian kelurahan dalam satu kecamatan (karena satu kecamatan mempunyai dua
puskesmas) dan puskesmas dengan wilayah kerja kelurahan. Pada tahun 2013
dialokasikan 93 Pembangunan Puskesmas Poned baru di kabupaten kota, dengan
realisasi 91 buah. Sehingga jumlah Puskesmas Poned di Jawa Barat mencapai 425
buah.
Gambaran ketersediaan tenaga kesehatan di Jawa Barat pada tahun 2010 adalah,
jumlah dokter di Puskesmas adalah 1.826 orang dari kebutuhan Dokter 2072 orang.
17
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
(Standar 1 PKM 2 Dokter).(Data juni 2010).Sedangkan tenaga bidan di Puskesmas yang
ada 3.434 bidan dari kebutuhan bidan 3.744 (Standar 1 PKM 3 Bidan) (Data Juni
2010).Kecukupan
tenaga
kesehatan
lainnya
di
Puskesmas
masih
memprihatinkan.Begitu pula kondisi ketenagaan RS dengan adanya UU no 44 tentang
RS banyak RS yang tidak memenuhi persyaratan ketenagaan terutama dokter spesialis
dan subspesialis sehingga terancam di degradasi kelasnya bahkan harus ditutup karena
tidak memenuhi perijinan RS. Sampai dengan tahun 2013, dapat dilihat dari ratio tenaga
kesehatan di sarana pelayanan kesehatan, terutama di pelayanan primer. Berdasarkan
indikator sehat, ketersediaan dokter di puskesmas adalah 2 orang dokter. Ratio dokter
terhadap puskesmas di Jawa Barat baru mencapai 1.8, artinya belum semua puskesmas
di Jawa Barat mempunyai dua orang dokter.
Tabel 2.1
REKAPITULASI TENAGA KESEHATAN DI PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN 2013
Pemenuhan dokter gigi di fasilitas puskesmas di Jawa Barat, ratio nya baru mencapai
0.7, sedangkan standarnya satu puskesmas
satu orang dokter gigi. Berarti belum
semua puskesmas di Jawa Barat mempunyai dokter gigi. Berbeda dengan dokter dan
dokter gigi, maka ratio bidan dan perawat dengan puskesmas sudah melebihi standar,
yaitu 10.1 untuk bidan (standar 3) dan 12.8 untuk tenaga perawat (standar 7). Selain
tenaga bidan dan perawat yang sudah mencapai ratio diatas standar, tenaga Gizi di
18
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
puskesmas juga sudah mempunyai ratio diatas 1 yakni 1.2. Untuk tenaga lainya seperti
Apoteker/ Farmasi, Sanitarian dan Kesmas masih belum mencapai ratio satu.Bahkan
untuk tenaga Apoteker masih sangat rendah ratio nya, yaitu 0.08.
Pembiayaaan memegang peranan sangat penting dalam pencapaian tujuan
suatu organisasi. Demikian juga kegiatan pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa
Barat memerlukan sumber dana untuk upaya pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan di Jawa Barat. Sumber dana pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Barat
berasal dari APBN, APBD Provinsi, Hibah dan Pinjaman Luar Negeri. Total semua
sumber anggaran pembangunan kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013 lebih kecil
dibandingkan anggaran 2012 APBD, yaitu sebesar Rp. 1,872,298,014,025. Sedangkan
anggaran tahun 2012 sebesar Rp. 1,971,537,054,157 (turun sekitar 5%). Demikan juga
dengan sumber pembiayan APBD, dibanding tahun 2012, pembiayaan kesehatan 2013
lebih rendah sekitar 8.8 %.Sedangkan untuk sumber APBN terdapat penurunan
pembiayaan sekitar 3.7% serta untuk PHLN menurun sebesar 19.7%.
Tabel 2.2
BESARAN DAN SUMBER ANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
DI PROVINSI JAWA BARAT 2012 - 2013
SUMBER
APBD
BL
BTL
BANKEU
APBN
DEKON
DAK
TP KB/RS
BOK (TP)
ICWRMIP/PAMSTBM (TP)
JAMKESMAS RUJUKAN
JAMKESMAS DASAR
PHLN
TOTAL
Anggaran (Rp) Tahun
2012
427,978,269,470
172,129,178,943
47,012,506,527
208,836,584,000
1,516,216,645,277.0
29,926,417,000
335,366,412,277
112,065,250,000
98,156,700,000
522,289,553,000
418,412,313,000
27,342,139,410
2013
390,378,006,608
75,654,839,471
46,186,661,377
268,536,505,760
1,459,972,401,781.5
35,551,448,000
216,037,124,521.5
206,550,000,000
90,968,300,000
16,414,795,000
587,783,203,260
306,667,531,000
21,947,605,635
1,971,537,054,157
1,872,298,014,025
Pembiayaan kesehatan terdiri dari APBD Kabupaten/ kota APBD Provinsi
APBN Pinjaman/ Hibah Luar Negeri dan Sumber lain. Perbandingan pembiayaan
kesehatan kabupaten kota terhadap total apbd kabkota 2009 sd 2013 berkisar antara
19
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
5% sd 10.5%. Rata alokasi anggaran APB kabkota sebesar 7.7%. Sedangkan standar
aloaksi APBD kesehatan kabupaten kota adalah 10%.
Sedangkan untuk biaya perkapita penduduk berdasarkan anggaran APBD
kesehatan kabupaten kota 2009 sd 2013 besarannya cenderung meningkat. Tahun
2013 mencapai Rp. 113.871 perkapita, lebih tinggi dibanding tahun 2009 yang hanya
mencapai Rp.48.994 perkapitanya. Berarti seelama 2009 sd 2013 terjadi peningkatan
besarnya biaya kesehatan perkapita sebesar Rp. 64.877. Dibandingkan standar WHO,
pembiayaan perkapita Jawa Barat masih belum mencapai Rp. 306.000 perkapita.
Assesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh
kemampuan pembiayaan, menurutSuseda 2009pengeluaran biaya kesehatan rata rata
perkapita penduduk Jawa Barat tahun 2009 adalah Rp 13,314,- hal ini menunjukkan
masih rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan
terutama rujukan, sedangkan 56,19% penduduk Jawa Barat belum mempunyai jaminan
kesehatan. Di Jawa Barat berdasarkan SK Bupati Walikota pada tahun 2010 ada
sejumlah
14.662.442
masyarakat
miskin
(34,76%),
yang
mendapatkan
kuota
jamkesmas 10.700.175 maskin dan sisanya 4.314.157 adalah menjadi urusan
pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) pada tahun 2009 ada 5
Kabupaten/kota tidak mengalokasikan dana untuk masyarakat miskin dan sekitar 11
Kabupaten/Kota menyediakan dana dengan jumlah yang kurang memadai. Anggaran
Kesehatan di Kabupaten/Kota di Jawa Barat pada tahun 2012 kebanyakan masih di
bawah 5%, begitupun di Provinsi walaupun dalam UU nomor 36 tahun 2009 bahwa
anggaran kesehatan minimal 10% dari APBD diluar gaji kenyataanya pada tahun 2009
anggaran kesehatan adalah 3,7% dan tahun 2010 sebesar 4,49% dari APBD Provinsi
Jawa Barat, Tahun 2011 sebesar 8,26% terhadap anggaran pemerintah daerah.
Walupun belum mencapai target sesuai UU nomor 36 tahun 2009 bahwa anggaran
kesehatan minimal 10%, tetapi dari tahun 2009 – 2011 menunjukkan peningkatan yang
significant.
2.3.
Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Pembangunan Kesehatan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal. Dengan ciri bahwa setiap penduduk hidup dalam lingkungan
20
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
yang sehat, berperilaku sehat, mempunyai kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu adil dan merata, serta memiliki kemauan untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimal (Depkes RI, 2004).
Indikator kesehatan yang dapat memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat
antara lain angka harapan hidup (AHH), angka mortalitas seperti angka kematian ibu
dan bayi serta angka morbiditas yaitu insiden atau prevalensi penyakit menular maupun
tidak menular.
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan salah satu indikator kinerja pemerintah dalam
meningkatkan
kesejahteraan
penduduk
pada
umumnya,
khususnya
dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Adanya peningkatan AHH
mengindikasikan adanya peningkatan kesejahteraan penduduk yang berarti pula
meningkatnya derajat kesehatan masyarakat suatu bangsa.
Grafik 2.1
KECENDERUNGAN ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) PENDUDUK
DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2008 SD 2013
Berdasarkan data BPS Jawa Barat, Angka Harapan Hidup (AHH) waktu lahir di Jawa
Barat pada tahun 2013 adalah 68.80 tahun. Kecenderungan AHH Provinsi Jawa Barat
dari tahun ke tahun meningkat.Dibandingkan capaian AHH tahun 2009 dengan capaian
AHH tahun 2013, AHH Provinsi Jawa Barat selama periode 2009 - 2013 meningkat
sebesar 1 poin. Rata rata kenaikan pertahunnya sebesar 0.2 poin.Dengan peningkatan
AHH 0.2 tahun setiap tahunnya.Berarti untuk meningkatkan satu tahun AHH waktu lahir
di Jawa Barat diperlukan waktu 5 tahun.
Untuk mencapai AHH yang panjang dan sehat perlu diperhatikan kondisi input ; ratarata usia kawin pertama, fasilitasi sanitasi dasar (fasilitas BAB dan sumber air minum
yang digunakan), ketersediaan sarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Kondisi proses
21
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
meliputi akses kesehatan, perilaku kesehatan (jumlah kunjungan ke puskesmas dan ke
rumah sakit serta jumlah anak yang diimunisasi).
Sistem pencatatan dan pelaporan rutin menghasilkan informasi dalam bentuk jumlah
absolut atau dengan ratio hasil perbandingan kematian dengan jumlah bayi baru lahir.
Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan representative nasional dan merupakan
salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Berdasarkan SDKI 2007, Indonesia
telah berhasil menurunkan AKI dari 390/100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992
menjadi 334/100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997. Berdasarkan data Kementerian
Kesehatan Tahun 2008 AKI turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup. Namun
berdasarkan SDKI 2012 terjadi kenaikan AKI menjadi 359/100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota, jumlah kematian ibu di Jawa
Barat cenderung menurun setiap tahunnya. Jumlah kematian ibu
2013 dilaporkan
sebanyak 781 kasus. Lebih rendah diibanding jumlah kematian ibu tahun 2011 dan
2012, yaitusebanyak 850 kematian dan 804kematian.
Grafik 2.2
JUMLAH KEMATIAN IBU DI JAWA BARAT
TAHUN 2008 SD 2013
Indikator angka kematian bayi (AKB) merepresentatifkan skala provinsi.Berdasarkan
SDKI
2012,
AKB
Provinsi
Jawa
Barat
2012
adalah
30/1000
kelahiran
hidup.Dibandingkan AKB 2008 (38.5/1000 KH) maka terjadi penurunan sebesar 8.5
point.
22
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Grafik 2.3
JUMLAH KEMATIAN BAYI DI JAWA BARAT
TAHUN 2008 SD 2013
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota, sejak 2009 – 2013 jumlah
kematian bayi cenderung menurun setiap tahunnya.Kematian bayi tahun 2013
dilaporkan sebanyak 4306 kematian, menurunsekitar 16001413 kematian dibanding
jumlah kematian bayi tahun 2009. Perhitungan ratio kematian bayi
dengan cara
membandingkan kematian bayi dengan jumlah bayi lahir hidup tahun 2012 sebesar
5,2 /1000 KH turun menjadi 5,0/1000 KH pada Tahun 2013 ( penurunan sebesar 0.2
point). Berdasarkan SDKI 2012 kematian bayi di Jawa Barat 30/1.000 kelahiran hidup.
Tingginya Prevalensi Gizi buruk balita merupakan salah satu faktor risiko yang
berdampak pada lemahnya sumber daya manusia di masa mendatang (lost generation).
Prevalensi gizi buruk di Provinsi Jawa Barat pada periode 2008 – 2012 menunjukan
adanya kecenderungan menurun, meskipun pada tahun 2011 ke 2012 terjadi
peningkatan sebesar 0.1% dari 0.82% tahun 2011 meningkat menjadi 0.83% pada tahun
2012, dan menurun lagi pada Tahun 2013 menjadi 0.76%
Gambaran permasalahan yang berkaitan dengan beberapa penyakit yang berpengaruh
terhadap upaya pencapaian peningkatan Angka Harapan Hidup antara lain : penyakit
tidak menular dan beberapa penyakit menular lainnya yang terjadi di Jawa Barat.
Berdasarkan laporan SP3 dari Kabupaten/Kota terdapat kecenderungan terjadinya
peningkatan kejadian penyakit Hipertensi di Provinsi Jawa Barat pada 2013
dibandingkan tahun 2012.Angka kejadian Hipertensi 2013 mencapai 196 /10.000
penduduk sedangkan tahun 2012 mencapai 193.6/10.000 penduduk. Berdasarkan hasil
Riskesdas 2013 prevalensi hipertensi pada umur ≥18 tahun (pernah didiagnosis nakes)
23
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
adalah 10,5% (Nasional 9,5 %). Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil
pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 29,4 persen.Prevalensi hipertensi pada
perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.
Berdasarkan laporan SP3 dari Kabupaten/Kota gambaran umum permasalahan
Diabetes Mellitus (DM) 2013, cenderung menurun dibanding tahun 2012.Angka kejadian
Diabetes Mellitus 2013 mencapai 23.5 /10.000 penduduk sedangkan tahun 2012
mencapai 32.1/10.000 penduduk. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 prevalensi DM
terdiagnosis dokter atau gejala di Jawa Barat sebesar 2,0 persen (Nasional 2,1).
Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter dan gejala, tertinggi
terdapat di Kota
Bekasi (3,4%), Kota Cirebon (3,2%), dan Kab. Bandung (3,1%). Prevalensi DM pada
perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.
Berdasarlkan Riskesdas Tahun 2013, Prevalensi jantung koroner berdasar wawancara
terdiagnosis dokter sebesar 0,5 persen, dan berdasar pemeriksaan/ terdiagnosis dokter
memiliki gejala sebesar 1,6 persen. Prevalensi gagal jantung berdasarkan wawancara
terdiagnosis dokter di Jawa Barat sebesar 0,1 persen, dan yang terdiagnosis dokter atau
gejala sebesar 0,3 persen.
Prevalensi stroke di Jawa Barat berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan sebesar 6,6 permil dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau
gejala sebesar 12,0 permil.
Permasalahan penyakit
menular di Jawa Barat antara lain masih tingginya dan
cenderung meningkatnya penyakit Demam Berdarah, penyakit TB Paru, HIV AIDS,
Kusta, Aids, Flu Burung, Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. angka kejadian
Malaria
Jumlah penderita penyakit DBD di Provinsi Jawa Barat tahun 2013 mencapai 23.118
kasus.Lebih tinggi dibanding tahun 2012 (19.739 kasus).Demikian juga dengan risiko
kejadian DBD di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan dari 45.0/100.000
penduduk menjadi 50.5/100.000 penduduk. Meskipun pada tahun 2013 di Provinsi Jawa
Barat mengalami peningkatan
kejadian DBD, namun angka tersebut masih berada
dibawah standar angka kejadian 55/100.000 penduduk.
Penyakit Malaria di Provinsi Jawa Barat terfokus di daerah endemis yaitu di Kabupaten
Sukabumi, Garut, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Sedangkan kasus yang ditemukan di
Kabupaten lainnya merupakan kasus malaria impor. Berikut gambaran Annual Parasite
24
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Index (API). Malaria di Provinsi Jawa Barat selama periode 2012-2013 relatif terkendali,
yaitu dengan capaian API < 1/1000. Tahun 2012 capaian API Malaria sebesar
0.70/1000 penduduk, sedangkan tahun 2013 menurun dengan capaian API sebesar
0,62/1000 penduduk. API Malaria di daerah endemis malaria dari tahun 2012 dibanding
2013 cenderung menurun.Selama periode tahun 2012 dan 2013 API tertinggi terjadi di
Kab.Garut, yaitu dengan API 2.46/1000 tahun 2012 dan 1.5/1000 tahun 2013. API Kab.
Garut ini diatas standar API Jawa Bali yaitu 1/1000 penduduk.Sedangkan API terendah
terjadi di Kab.Tasikmalaya dengan API 0.3/1000 tahun 2012 dan 0.13/1000 tahun 2013.
Prevalensi Kusta di Provinsi Jawa Barat selama periode 2006 sd 2013 selalu berada
dibawah 1/10.000. Prevalensi tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 0.62/10.000 dan
terendah terjadi tahun 2010 yaitu 0.47/100.000.Prevalensi Kusta Jawa Barat tahun 2013
dibandingkan tahun 2012, terjadi peningkatan sebesar 0.01/10.000.Yaitu dari 0.50 tahun
2012 menjadi 0.51 pada tahun 2013. Proporsi penemuan Kusta dengan tingkat
kecacatan 2 selama periode 2010 sampai dengan 2013 Provinsi Jawa Barat selalu
berada di atas 5%. Pada proporsi penemuan Kusta dengan tingkat kecacatan 2
terendah pada tahun 2011 angkanya pun masih diatas 5%, yaitu sebesar 7.9%.
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome
(disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul
karena menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Human
Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan
pada tubuh manusia. Kumulatif penderita AIDS di Jawa Barat sampai tahun 2013 yaitu
sebanyak 5.001 kasus. Selama periode sepuluh tahun terakhir penemuan kasus AIDS
relatif meningkat sampai tahun 2008. Tahun 2009 sd 2012 cenderung menurun, kecuali
pada tahun 2011 terjadi peningkatan penemuan kasus. Rerata pertahun di Provinsi
Jawa Barat ditemukan kasus AIDS sebanyak 500 kasus.
Selama periode 2005-2013 kasus Flu Burung di Jawa Barat ditemukan sebanyak 52
kasus.Dengan kejadian tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan 22 kasus. Angka
kematian penyakit Flu Burung di Jawa Barat sangat tinggi. Dari 52 kasus Flu Burung
yang terjadi pada periode 2005-2013, empat puluh lima kasus diantaranya meninggal
(CFR 86.6%). Untuk dua tahun terakhir yaitu tahun 2012 dan 2013 angka kematian Flu
Burung bahkan selalu 100%. Artinya setiap kasus Flu Burung dipastikan meninggal.
Tingginya angka kematian tersebut antaran lain disebabkan deteksi dini kasus Flu
25
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Burung masih lemah, kasus ditemukan terlambat, kasus terlambat dibawa ke sarana
pelayanan kesehatan yang semestinya.
Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang masih merupakan
masalah di Provinsi Jawa Barat antara lain : penyakit Diptheri, campak, dan Tetanus
Neonatorum. Permasalahan penyakit Diptheri selain karena tingkat fatalitasnya yang
tinggi, juga adanya carrier, yaitu orang yang tubuhnya terinfeksi kuman bakteri namun
tidak menampakan gejala diptheri, dan sangat potensial meningkatkan risiko penularan
Diptheri. Penemuan kasus Diptheri sangat dipengaruhi oleh aktivitas surveilans aktif
kabupaten kota. Penemuan kasus Diptheri 2013 lebih tinggi satu kasus dibanding tahun
2012, yaitu dari 31 kasus pada tahun 2012 meningkat menjadi 32 kasus tahun 2013.
Deteksi KLB Campak tahun 2013 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Yaitu 3 kali KLB Campak pada tahun 2012 dan 9 kali KLB Campak pada tahun 2013.
Kabupaten Garut merupakan kabupaten yang selama tahun 2012 dan 2013 konsitensi
menemukan dan melaporkan KLB Campak.Tiga kali KLB Campak tahun 2012 dan 2 kali
KLB Campak tahun 2013.Tahun 2013 kabupaten terbanyak melaporkan KLB Campak
yaitu Kabupaten Ciamis dengan frekwensi 3 kali. Kabupaten kota lain yang melaporkan
KLB Campak pada tahun 2013 adalah Kota Bekasi 2 kali, Kab. Majalengka dan
Kab.Cirebon masing-masing sebanyak 1 kali.
Penemuan kasus Tetanus Neonatorum di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013
menurun di banding tahun 2012, yaitu dari 14 kasus tahun 2012 menjadi 9 kasus pada
tahun 2013.Kabupaten dengan konsisten penemuan kasus TN selama 2 tahun berturutturut yaitu Kab. Cianjur, Kab. Garut, Kab. Cirebon dan Kab.Karawang.Pada tahun 2013
terdapat kabupaten dengan peningkatan penemuan kasus TN, yaitu Kabupaten Subang
dan Kota Cimahi.
Hasil pelayanan kesehatan masyarakat yang terdiri dari pelayanan kesehatan terhadap
kelompok resiko tinggi terutama pelayanan kesehatan ibu dan anak , pengendalian
penyakit, SDM kesehatan, fasilitas kesehatan dan sarana prasarana.
Pelayanan antenatal bertujuan mengantarkan agar
ibu hamil dapat menjalani
persalinan yang aman, dan sehat dan baik untuk ibunya maupun bayinya, , mendeteksi
dan mengantipasi secara dini kelainan kehamilan dan kelainan janin. Kecenderungan
pelayanan kesehatan ibu hamil di Provinsi Jawa Barat setiap tahunnya berada dikisaran
26
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
86% sd 90%. Pencapaian Pelayanan kesehatan ibu hamil (K4) antara Tahun 20082012 berkisar antara 86% - 90%, cakupan tahun 2013 sebesar 87,02% lebih rendah
dari target (target 96%). Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Tahun 20082012 berkisar antara 79,3% – 89,3%. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di
Jawa Barat tahun 2013 baru mencapai 87,9%, masih belum dapat mencapai target
minimal persalinan oleh tenaga kesehatan 90%. Cakupan pelayanan ibu nifas (KF3)
Tahun 2008 – 2012 kecenderungan meningkat, Tahun 2008 19,1%, 2009 menjadi
54,9%, Tahun 2010 sebesar 79,6%, Tahun 2011 sebesar 82,7% Tahun 2012 naik
menjadi 87,3% dan Tahun 2013 sedikit mengalami penurunan menjadi 85,0%
Perkiraan jumlah kasus ibu hamil dengan komplikasi kebidanan adalah 20 % dari
jumlah ibu hamil.Target cakupan pelayanan ibu hamil dengan komplikasi kebidanan
adalah 71.5%. Cakupan pelayanan ibu hamil dengan komplikasi Tahun 2012 adalah
82,0% , Pada tahun 2013 sedikit menurun menjadi adalah 78.7%.
Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal (bayi kurang dari satu
bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar minimal tiga kali dari
tenaga kesehatan yaitu 1 kali pada 6 sd 48 jam, 1 kali pada hari ke 3 sd hari ke 7 dan 1
kali pada hari ke 8 sd hari ke 28 setelah lahir.
Cakupan Kunjungan Neonatal di Jawa Barat pada tahun 2013 baru mencapai 89.6%.
Lebih rendah dibanding capaian 2012 sebesar 90.6% ( target 82%).
Perkiraan jumlah kasus neonatus dengan komplikasi adalah 15 % dari perkiraan jumlah
sasaran bayi.Target cakupan pelayanan neonatus dengan komplikasi adalah 65%.
Cakupan pelayanan neonatus dengan komplikasi Provinsi Jawa Barat tahun 2013
adalah 45.9%, lebih tinggi dibanding dengan capaian 2012 yang hanya mencapai
45.4%. Cakupan kunjungan bayi (29 hari – 11 bulan) dengan pelayanan paripurna 4 kali
kunjungan
Provinsi Jawa Barat tahun 2013 adalah 87.6% lebih rendah dibanding
cakupan 2012 yang mencapai 90.4% (terget 85%).
Indikator Program Gizi pada ibu hamil/ibu nifas antara lain : cakupan pemberian tablet
Fe pada ibu hamil/nifas dan pemberian vitamin A pada ibu nifas.
Anemia pada kehamilan berhubungan dengan kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi
zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan
defisiensi zat gizi lain. Faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi
besi, antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya
27
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya
kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa
penyembuhan dari penyakit. Cakupan pemberian tablet Fe3 di Provinsi Jawa Barat
tahun 2008 - 2012 berkisar antara 70,2% -86,5%, pada Tahun 2013 sebesar 77,9%
(Target 86%).
Vitamin A pada ibu hamil sangat penting dalam proses perkembangan embrionya,
pertumbuhan sel mata, jantung, telinga, memberikan kesehatan kulit, melawan infeksi
serta membantu pertumbuhan tulang dan metabolisme lemak. Sedangkan bagi ibu
nifas, Vitamin A dapat membantu perbaikan berbagai jaringan setelah melahirkan serta
mempertahankan penglihatan normal dan membantu ibu melawan infeksi. Pemberian
vitamin A dosis tinggi diberikan sebanyak dua kali.Pertama segera setelah melahirkan.
Kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A yang pertama. Kemudian
diberikan pada saat masa nifas, bersamaan dengan kunjungan neonates dan pemberian
imunisasi HB pada bayinya.
Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas selama
periode 2008-2012 berkisar antara 66.9% sd 83.3%. dan cakupan Vitamin A tahun
2013 sebesar 84,3%.
Pelayanan kesehatan terhadap anak meliputi pengendalian penyakit, pelayanan
imunisasi dan program gizi.
Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama
pada Balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupakan pembunuh nomor
dua pada Balita (13,2%) setelah diare (17,2%).
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013
Insiden dan prevalensi pneumonia di Jawa Barat tahun 2013 adalah 1,9 persen
(Nasional 1,8%) dan 4,9 persen (Nasional 4,5%).
Faktor risiko yang berkontribusi terhadap insidens pneumonia tersebut antara lain gizi
kurang, ASI ekslusif rendah, polusi udara dalam ruangan, kepadatan, cakupan imunisasi
campak rendah dan BBLR. Cakupan penemuan Pneumoni di Jawa Barat selama 5
tahun (2008 sd 2012) berkisar 44.5% sampai dengan 50.9%. Cakupan tertinggi terjadi
pada tahun 2010 dengan cakupan 50.9%.Sedangkan terendah terjadi pada tahun 2011
yaitu sebesar 44.5%. Cakupan penemuan Pneumoni tahun 2013 sebesar 43,0%.
Kematian diare pada balita 75.3/100.000 dan semua umur 23.2/100.000 penduduk
semua umur (SKRT 2012).Diare merupakan penyebab kematian nomor 4 (13.2%) pada
semua umur dalam kelompok penyakit menular. Tujuan dari program penanggulangan
Diare adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian karena diare serta mencegah
28
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
kejadian luar biasa (KLB) diare. Target penemuan kasus Diare adalah 10% dari jumlah
penduduk. Sedangkan cakupan pelayanan kasus diare harus mencapai 100%. Capaian
pelayanan diare Provinsi Jawa Barat selama 5 tahun terakhir (2008-2012) berkisar
antara 64.10 % sd 80.20%. Sedangkan untuk cakupan pelayanan diare Provinsi Jawa
Barat tahun 2013 mencapai 100%, meningkat sekitar 36%.
Crude Detection Rate (CDR) merupakan indikator yang menggambarkan penemuan
kasus baru BTA+ dan diobati disuatu wilayah dibandingkan dengan perkiraan jumlah
BTA+ di wilayah tersebut. Capaian CDR Provinsi Jawa Barat selama 3 tahun terakhir
(2011-2013) cenderung mengalami penurunan, yaitu 75.3% pada tahun 2011, 71.3%
tahun 2012 dan 69.3% (data masih dalam proses validasi) pada tahun 2013. CDR
(Target 70%). Cure Rate adalah indikator yang menunjukan prosentase kasus baru
BTA+ yang diobati dan sembuh setelah selasai masa pengobatan, termasuk
pengobatan ulang kasus BTA + (kategori2). Cakupan Cure Rate 2013 Provinsi Jawa
Barat mencapai 80.9%. Menurun dibandingkan dengan Cakupan Cure Rate tahun 2012
yaitu sebesar 85.3%. (target Cure Rate 85%)
Program immunisasi merupakan salah satu program prioritas yang dinilai
sangat efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat penyakitpenyakit yang dapat dicegah oleh immunisasi (PD3I), seperti Diptheri, Pertusis, Tetanus
Neonatorum, Polio dan Campak. Indikator keberhasilan program imunisasi yaitu
cakupan DPT/HB1 (Indiaktor Akses), Campak (Indikator kualitas pelayanan)
dan
pencapaian Universal Child Imunization (UCI) (indikator pemerataan). Pemerataan
pelayanan imunisasi dengan indikator pencapaian UCI desa menunjukan cakupan
antara tahun 2008 – 2012 adalah 66,03% s.d 95%, dan Tahun 2013 sebesar 95,5 %
(target 80 %).
Surveilans AFP merupakan pengamatan terhadap kemungkinan adanya
transmisi virus polio liar dipopulasi, dengan cara pembuktian konfirmasi virologi terhadap
2 sampel tinja penderita kasus AFP, apakah terdapat virus polio liar atau tidak. Capaian
kinerja surveilans AFP diukur dengan indikator Non Polio AFP Rate dengan target
minimal
2/100.000
anak
usia<15
tahun.
Non
Polio
AFP
rate
<2/100.000
mengindikasikan kemungkinan adanya transmisi virus polio liar yang tidak teridentifikasi.
Capaian indikator Non Polio AFP Rate Provinsi Jawa Barat selama 5 tahun terakhir
(2008-2012) selalu mencapai target minimal yaitu 2/100.000 anak usia<15 tahun.
Demikian juga untuk capaian tahun 2013 sudah melebihi target minimal, yaitu
29
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
2.5/100.000. Capaian Non Polio AFP rate tahun 2013 menurun dibandingkan capaian
Non Polio AFP rate 2012 yang mencapai 2.6/100.000.
Dari aspek perilaku PHBS kondisi masyarakat Jawa Barat masih sangat memprihatinkan
dengan masih rendahnya persentase Rumah Tangga Sehat (berPHBS) yaitu sebesar
47,4% dari target 50%.
2.4 Tantangan Dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Kesehatan Jawa Barat
2.4.1 Tantangan Pembangunan Kesehatan di Jawa Barat
•
SDM yang dimiliki belum sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan
untuk
melaksanakan
bimbingan,
pengawasan
dan
pengendalian
kesehatan tingkat Provinsi.
•
Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya internal maupun
external dalam manajemen pembangunan kesehatan
•
Akurasi dan up dating data serta informasi
belum selaras dengan
perubahan/kebutuhan manajemen program
•
Pengelolaan sarana prasarana Dinas dan akuntabilitasnya belum optimal
•
Peraturan yang ada belum diimplementasikan secara optimal
•
Belum optimalnya pembinaan dan penilaian terhadap sarana dan tenaga
pelayanan kesehatan
•
Kurangnya advokasi dan sosialisasi program kesehatan

Peraturan perundang-undangan yang ada belum sepenuhnya dapat
melindungi aktifitas dinas dari delik-delik hukum

Masih adanya opini negatif masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang berimbas terhadap Dinas Kesehatan

Tuntutan terhadap pelayanan kesehatan yang prima dari masyarakat
semakin tinggi

Globalisasi yang berimbas pada daya saing SDM kesehatan professional
dan fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta untuk
dapat tetap diperhitungkan di Provinsi Jawa Barat
30
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018

Berbagai ancaman bencana (termasuk Global warming) dan krisis
ekonomi global yang berimbas pada
meningkatnya kemiskinan yang
berdampak pada penurunan kesehatan masyarakat dan berkurangnya
kemampuan pemerintah untuk menyediakan dana kesehatan.

Perubahan aturan aturan dan suprastruktur yang belum mampu
mengayomi terlaksananya pelayanan kepada masyarakat secara cepat
dan tepat.

Munculnya beberapa penyakit baru dan belum terkendalinya penyakit
menular yang sudah ada

Masih banyaknya penduduk Jawa Barat yang berada dibawah garis
kemiskinan yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan

Tingkat pendidikan ibu (tamat SD maupun tidak tamat SD) masih tinggi

Persentase biaya kesehatan diKabupaten/Kota yang masih rendah

Masih lemahnya koordinasi Provinsi dengan Kabupaten/Kota
2.4.2 Peluang Pembangunan Kesehatan di Jawa Barat

Adanya peraturan Perundangan yang mendukung dalam pembangunan
kesehatan (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, PP 38 Tahun 2007,
Renstra kementrian kesehatan,

Adanya Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai
Tahun 2014 secara bertahap dan seluruh penduduk memiliki jaminan
kesehatan pada Tahun 2019

Adanya
kebijakan
MDGs
yang menjadi komitmen
nasional dan
internasional

Adanya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), meliputi Pos
Pelayanan Terpadu/Posyandu, Pos Kesehatan Desa/Polindes, Pos Obat
Desa, Pos Kesehatan di Pondok Pesantren/Poskestren, Asuransi
Kesehatan/Askes , Pos Upaya Kesehatan Kerja.

Adanya kerjasama dan kemitraan dengan Perguruan Tinggi, LSM,
Organisasi Profesi dan Dunia Usaha di Provinsi Jawa Barat
31
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018

Filosofi dasar masyarakat Jawa Barat yang tertuang dalam moto “Cageur,
bageur, bener, pinter tur singer“ yang sudah lama menjadi harapan
bentuk sumber daya masyarakat Jawa Barat yang di cita-citakan.

Adanya kebijakan Gubernur berupa janji politik dan Rencana Aksi
Multipihak (RAM-IP)

Adanya Pokja lintas sektor yang didukung Pemda Jawa Barat, seperti Tim
Pembina Gizi, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, Tim Penggerak
Usaha Kesehatan Sekolah dll. merupakan peluang lain yang bermanfaat
dalam upaya peningkatan kesehatan di Jawa Barat

Memiliki anggaran operasional yang memadai dalam
menunjang
kegiatan-kegiatan dinas (Bersumber APBD Provinsi, APBN, PHLN).

Memiliki sarana dan fasilitas perkantoran/fasilitas kerja yang memadai.

Memiliki Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur dan Produk regulasi
lainnya yang mendukung bidang kesehatan.

Memiliki SDM yang menguasai teknologi dan metodologi manajemen dan
teknis kesehatan

Ketersediaan obat esensial di sarana fasilitas kesehatan

Adanya Pokja Lintas Program seperti Tim Bina Wilayah, JKN, UPM,
Kajian
Teknis
Perizinan
Bidang
Kesehatan,
Koordinasi
Program
Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.
32
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
33
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
BAB III
ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
DINAS KESEHATAN JAWA BARAT
3.1.
Identifikasi Permasalahan
Identifikasi permasalahan berdasarkan Tugas Dan Fungsi Pelayanan Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan masih banyak permasalahan
yang belum dapat teratasi dengan baik.
Permasalahan mendasar dalam pembangunan kesehatan di Jawa Barat, antara lain:
masih tingginya kejadian beberapa penyakit menular, penyakit tidak menular,
gangguan mental serta gangguan gizi. Terdapat beban ganda penyakit diluar
sasaran MDGs 2015, ancaman munculnya penyakit new emerging & re-emerging
serta
Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diakibatkan adanya perubahan perilaku
manusia dan lingkungan.
Sistem Kesehatan belum sesuai dengan kebutuhan
masyarakat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. (3)Sistem Pelayanan kesehatan
belum efektif dan efisien, masih berorientasi kepada kuratif daripada promotif &
preventif(4)Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) belum menjadi budaya di
masyarakat (5)Kualitas kesehatan lingkungan masih rendah sebagai akibat dari
pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan(6) Sumber Daya Kesehatan
belum sesuai dengan standar untuk memenuhi pelayanan kesehatan yang prima (7)
Regulasi kesehatan perlu dilengkapi dan Sistem Informasi Kesehatan
belum
terintegrasi mendukung manajemen kesehatan.
3.1.1. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS
Perkembangan global, regional, nasional dan lokal saat ini merupakan faktor dinamis
yang mengalami perubahan serta sangat menentukan proses pembangunan di satu
daerah, termasuk di Daerah yang berbatasan langsung dengan ibukota Republik
Indonesia.
1.
TINGKAT GLOBAL
o
Komitmen Pemerintah Daerah terhadap pencapaian sasaran MDGs masih
belum optimal/belum sesuai dengan harapan. Hal ini ditunjukkan dengan
masih rendahnya pembiayaan yang dialokasikan oleh Pemerintah Provinsi
maupun Pemerintah Kabupaten/Kota terhadap upaya pencapaian beberapa
70
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
sasaran MDGs. Masalah kesehatan global gizi kurang yang diakibatkan
oleh kemiskinan, kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, penyakit TB dan
HIV yang berpotensi terus meningkat serta kondisi lingkungan yang buruk
merupakan tantangan yang harus tetap memperoleh perhatian dalam 5
(lima) tahun kedepan.
o
Strategi pembangunan pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan belum
sesuai dengan situasi kondisi epidemiologi penyakit maupun angka insiden
dan angka prevalen dari penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Hal ini perlu diantisipasi oleh pemerintah maupun swasta
berkenaan
dengan adanya pasar bebas ASEAN. Bila hal tersebut tidak diantisipasi
akan
berdampak
terhadap
kemungkinan
rendahnya
kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah
maupun swasta.
o
Pasar bebas ASEAN merupakan kebijakan yang harus diantisipasi oleh
pelaku pembangunan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.
2.
TINGKAT NASIONAL
o
Kebijakan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional memberikan daya
dorong terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan serta
jaminan terhadap seluruh masyarakat untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan standar.
o
Perkembangan politik seperti desentralisasi, demokratisasi dan politik
kesehatan. berdampak kepada kebijakan pembangunan kesehatan di
Daerah. Isu kesehatan selalu menjadi janji politik pada setiap PILKADA,
diperlukan adanya komitmen perlindungan, pemeliharaan dan perbaikan
kesehatan masyarakat, bukan hanya pelayanan pengobatan saja.
o
Sinergitas dan keserasian kebijakan pembangunan kesehatan antara
pemerintah pusat , provinsi dan kabupaten/kota akan memberikan daya
dorong
terhadap
Kebijakan
peningkatan
pemerintah
pelayanan
dalam
kesehatan
penetapan
masyarakat.
sasaran
strategis
pembangunan kesehatan Tahun 2014 – 2019 dapat dan sesuai untuk
dijadikan dasar kebijakan pembangunan kesehatan di Provinsi, dan
Kabupaten/Kota.
3.
TINGKAT LOKAL
71
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
o
Proses desentralisasi dan demokratisasi di Daerah diharapkan mampu
memberdayakan
Daerah
dalam
meningkatkan
pelayanan
kesehatan
terhadap masyarakat.
o
Perbaikan kualitas dan sinergitas perencanaan antara Propinsi dan
Kabupaten/Kota melalui mekanisme Musrenbang dan sistem RKPD on line
diharapkan
akan
mampu
menampung
perencanaan
pembangunan
kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan maupun peraturan perundangan
yang memberikan perlindungan terhadap para pelaku pembangunan di
sektor kesehatan.
o
Kebijakan pembangunan pendekatan kewilayahan serta kawasan strategis
,diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan kawasan secara fungsional
dan dapat mendorong peningkatan kuantitas maupun kualitas pelayanan
kesehatan.
o
Koordinasi lintas sektoral melalui kegiatan Rencana Aksi Multi Pihak (RAMIP)
diharapkan
akan
dapat
meningkatkan
keterpaduan
dalam
penanggulangan masalah kesehatan dari hulu ke hilir.
o
Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup besar di Daerah, termasuk
pertumbuhan penduduk yang berpendapatan rendah menjadi salah satu
penyebab kurang optimalnya pelayanan kesehatan.
o
Kesenjangan antara kebutuhan dengan keberadaan tenaga kesehatan yang
terlalu tinggi menjadi salah satu penyebab utama belum optimalnya
pelayanan
kesheatan
di
unit
pelayanan
kesehatan
dasar/Fasilitas
Pelayanan Kesehatan dasar maupun di Unit Pleayanan kesehatan rujukan.
o
Adanya dana kapitasi untuk FKTP diharapkan akan meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan termasuk meningkatnya ketersediaan sarana dan
Prasarana perbekalan dan obat serta distribusi obat..
o
Perlu peningkatan manajemen pengelolaan sarana kesehatan, meliputi
manajemen Perumahsakitan,manajemen Puskesmas, Manajemen institusi
layanan kesehatan yang lainnya serta Institusi aliansi masyarakat dalam
kesehatan.
3.2.
Telaahan Visi, Misi, Dan Program Kepala Daerah
Visi Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2013–2018adalah:
"Jawa Barat Maju dan Sejahtera untuk Semua".
Penjabaran makna dari Visi Jawa Barat tersebut adalah sebagai berikut :
72
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Maju
:
adalah sikap dan kondisi masyarakat yang produktif, berdaya saing dan mandiri,
terampil dan inovatif dengan tetap dapat menjaga tatanan sosial masyarakat yang
toleran, rasional, bijak dan adaptif terhadap dinamika perubahan namun tetap
berpegang pada nilai budaya serta kearifan lokal dan berdaulat secara pangan,
ketahanan ekonomi dan sosial.
Sejahtera
:
adalah sikap dan kondisi masyarakat Jawa Barat yang secara lahir dan batin
mendapatkan rasa aman dan makmur dalam menjalani kehidupan.
Untuk Semua
:
adalah kondisi dimana hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan,
elemen dan komponen masyarakat
Mengacu pada Visi tersebut maka arah yang harus dicapai oleh Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat adalah untuk mewujudkan sikap dan kondisi masyarakat Jawa
Barat
yang
mampu
memenuhi
kebutuhannya
untuk
lebih
maju
dengan
mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, dalam bidang kesehatan.
Misi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat 2013-2018
yang merupakan tahapan kedua dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Provinsi Jawa Barat 2005-2025, berorientasi pada pembangunan dan
peningkatan kompetensi segenap sumber daya yang terdapat di Jawa Barat dalam
segala bidang, guna menyiapkan kemandirian masyarakat Jawa Barat. Hal tersebut
akan dicapai dengan salah satunya adalah menekankan upaya penguatan
suprastruktur dan infrastruktur pelayanan kesehatan, memanfaatkan teknologi
berkelanjutan, meningkatkan kerja sama antara pemerintah dengan swasta dan
masyarakat
dalam
upaya
kesehatan,
meningkatkan
kualitas
lingkungan,
meningkatkan kinerja pemerintahan daerah, menyusun perencanaan yang cerdas
dan mampu menjawab masalah kesehatan serta mengantisipasi peluang dan
tantangan yang muncul secara cermat dan cerdas.
Kebijakan belanja daerah diupayakan dengan pengaturan pola pembelanjaan yang
proporsional, efisien dan efektif, dengan berprinsip pada pro growth, pro poor, pro
73
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
job, pro environment, pro public, melalui alokasi anggaran 10 % untuk peningkatan
kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan.
Perkembangan Indikator Pembangunan Kesehatan Jawa Barat sampai dengan
tahun 2012 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Perkembangan Indikator Pembangunan Kesehatan Jawa Barat
Tahun 2012 sd 2014
N
0
1
2
3
4
5
URAIAN
INDEKS KESEHATAN
UMUR HARAPAN
HIDUP (UHH)
ANGKA KEMATIAN
BAYI (AKB)
AKI ( BPS )
JUMLAH KEMATIAN
MATERNAL/
KELAHIRAN HIDUP
6
% PENDUDUK SAKIT
7
% GIZI BALITA :
KURANG
BURUK
TOTAL
2008
71,33
2009
71,52
TAHUN
2010
72,00
2011
72,34
2012
72,67
67,80
67,91
68,10
68,40
68,60
36,26
-
30,00
804/907,930
87,6/100.000
850/915.280
92,9/100.000
804/..86,3../
100.000
50,10%
-
....
38,51
321,15/100.000 LH
724/783.573
92,4/100.000
828/845964
97,88/100.000
56,44
56,44
9,84
0,98
10,82
9,94
0,97
10,91
7,98
0,,91
8,89
7,16
0,82
7,98
7,01
0,83
7,84
Sumber : BPS Provinsi Jabar
Indeks Kesehatan ( IK ) Indeks Kesehatan Jawa Barat dari tahun 2008
sampai dengan tahun 2012 menunjukan adanya peningkatan sebesar 1,34 point,
yaitu dari 71,33 pada tahun 2008 menjadi 72,67 pada tahun 2012, walaupun telah
terjadi peningkatan dari tahun 2008 sampai 2012, akan tetapi angka tersebut belum
mencapai target yang ditetapkan yaitu 73,40.
Angka Harapan Hidup ( AHH ) sebagai variabel dari Indeks Pembangunan
Manusia, telah terjadi peningkatan dari tahun 2006 sampai tahun 2009, yaitu sebesar
67,40 pada tahun 2006 menjadi 67,91 pada tahun 2009, sehingga ada peningkatan
sebesar 0,51 point. Walaupun telah terjadi peningkatan dari tahun 2006 sampai
2008, tetapi angka tersebut menunjukan bahwa Angka Harapan Hidup (AHH) pada
tahun 2009 belum mencapai target sebesar 0,22 point dari target yang ditetapkan
yaitu 68,13.Tapi bila dibandingkan dengan Sasaran Pembangunan Kesehatan tahun
2009
yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) dimana target UHH adalah 70,6 tahun pada tahun 2009, maka masih ada
kesenjangan yang harus dikejar dari tahun 2009 sampai tahun 2010 yaitu 2,47 point.
74
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) di Provinsi
Jawa Barat dari 89,13 per 1000 kelahiran hidup (Sensus penduduk 1990) menjadi
45,69 per 1000 kelahiran hidup tahun 2000, di tahun 2006 menjadi 40,26 per 1000
kelahiran hidup, AKB tahun 2009 adalah 39/1000 kelahiran hidup (SDKI Tahun
2007). AKB tahun 2010 menurun menjadi 36,26/1000 kelahiran hidup. Tahun 2012
AKB di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan menjadi 30/1000 kelahiran hidup.
Bila dibandingkan dengan Sasaran Pembangunan Kesehatan tahun 2009
tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
yang
(RPJMN)
dimana target AKB adalah 26/1000 kelahiran hidup Provinsi Jawa Barat harus
mengejar ketinggalan yang sangat jauh, yaitu sebesar4 point.
Angka Kematian Ibu ( AKI )atau Maternal Mortality Rate (MMR) Survey
yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat tahun 2003 dalam
Profil Dinas Kesehatan Jawa Barat memperhitungkan AKI Provinsi Jawa Barat
sebesar 321,15
per 100.000 kelahiran hidup dengan pembagian perkelompok
wilayah. Bila dilihat menurut wilayah, AKI terbesar berada di wilayah Pantura dan
Cirebon, sedangkan yang terkecil berada di Bandung Raya dan Bodebek. Bila
dibandingkan dengan Sasaran Pembangunan Kesehatan tahun 2009 yang tertuang
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dimana target
AKI pada tahun 2009 adalah 226/100.000 Kelahiran Hidup, sehingga Provinsi Jawa
Barat harus mengejar ketinggalan yang sangat jauh yaitu sebesar 95,15 point.
Jumlah Kematian Ibu/jumlah kelahiran hidup di Jawa Barat menunjukkan
data yang berfluktuasi, hal ini menggambarkan bahwa pelaporan data institusi
kesehatan masih belum dapat mengakomodasi kebutuhan informasi yang akurat,
sehingga tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan.
Persentase Balita Gizi Kurang dan Buruk. Status balita dengan gizi buruk
dan kurang dari tahun 2008 sampai tahun 2012 berfluktuasi, Status gizi buruk dari
tahun 2008 sampai tahun 2012menunjukkan penurunan tajam dari 1,02 % tahun
2008 menjadi 0,82 % di tahun 2011 dan meningkat kembali menjadi 0,83 % di tahun
2012. Demikian pula dengan Gizi kurang menunjukkan penurunan drastis dari tahun
2008 sampai tahun 2012, yaitu 10,58% tahun 2008 menjadi 7,01% tahun 2012.
75
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
3.3.
Isu Strategis
Berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi kesehatan sebagaimana
dikemukakan diatas maka dapat disampaikan isu strategis sebagai berikut.
1.
Intensitas beberapa penyakit menular dan tidak menular serta malnutrisi makin
meningkat dan terjadi penyebaran beberapa penyakit menular (multiple burden
of disease) diluar sasaran MDGs 2015, ada ancaman meningkatnya atau
munculnya penyakit lain (new emerging dan re-emerging) serta kejadian luar
biasa yang diakibatkan perubahan perilaku manusia dan lingkungan.
2.
Sistem
kesehatan
belum
responsif
terhadap
kebutuhan
masyarakat,
berdasarkan jumlah pelayanan kesehatan belum sesuai dengan kebutuhan
penduduk di Kabupaten/Kota.
3.
Sistem Pelayanan kesehatan belum efektif dan efisien, masih berorientasi
kepada kuratif daripada promotif & preventif
4.
Belum optimalnya Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS) di masyarakat
5.
Belum terpenuhinya Sumber Daya Kesehatan sesuai dengan standar dalam
penyediaan pelayanan kesehatan yang prima
6.
Belum optimalnya aspek regulasi dan sistem informasi kesehatan dalam
mendukung manajemen kesehatan
3.4.
Analisis Lingkungan ( Environmental Scan ):
Analisis Lingkungan Internal Dan Eksternal
Untuk menentukan strategi dalam melaksanakan misi diperlukan analisis lingkungan
internal maupun eksternal. Lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan
yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, sedangkan lingkungan
eksternal berupa peluang dan ancaman. Disamping itu juga memperhatikan
karakteristik
A. Lingkungan Internal
1.
Kekuatan (S)
a)
Memiliki anggaran operasional yang memadai dalam menunjang
kegiatan-kegiatan dinas (Bersumber APBD Provinsi, APBN, PHLN).
b)
Memiliki
sarana
dan
fasilitas
perkantoran/fasilitas
kerja
yang
memadai.
c)
Memiliki Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur dan Produk regulasi
lainnya yang mendukung bidang kesehatan.
d)
Memiliki SDM yang menguasai teknologi dan metodologi manajemen
dan teknis kesehatan
76
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
e)
Ketersediaan obat esensial di sarana fasilitas kesehatan
f)
Adanya Pokja Lintas Program seperti Tim Bina Wilayah, JKN, UPM,
Kajian Teknis Perizinan Bidang Kesehatan, Koordinasi Program
Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.
2.
Kelemahan.
a)
SDM yang dimiliki belum sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan
untuk melaksanakan bimbingan, pengawasan dan pengendalian
kesehatan tingkat Provinsi.
b)
Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya internal maupun
external dalam manajemen pembangunan kesehatan
c)
Akurasi dan up dating data serta informasi belum selaras dengan
perubahan/kebutuhan manajemen program
d)
Pengelolaan sarana prasarana Dinas dan akuntabilitasnya belum
optimal
e)
Peraturan yang ada belum diimplementasikan secara optimal
f)
Belum optimalnya pembinaan dan penilaian terhadap sarana dan
tenaga pelayanan kesehatan
g)
Kurangnya advokasi dan sosialisasi program kesehatan
B. Lingkungan eksternal.
1.
Peluang.
a)
Adanya
peraturan
Perundangan
yang
mendukung
dalam
pembangunan kesehatan (UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, PP 38
Tahun 2007, Renstra kementrian kesehatan,
b)
Adanya Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai
Tahun 2014 secara bertahap dan seluruh penduduk memiliki jaminan
kesehatan pada Tahun 2019
c)
Adanya kebijakan MDGs yang menjadi komitmen nasional dan
internasional
d)
Adanya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), meliputi Pos
Pelayanan Terpadu/Posyandu, Pos Kesehatan Desa/Polindes, Pos
Obat Desa, Pos Kesehatan di Pondok Pesantren/Poskestren,
Asuransi Kesehatan/Askes , Pos Upaya Kesehatan Kerja.
77
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
e)
Adanya kerjasama dan kemitraan dengan Perguruan Tinggi, LSM,
Organisasi Profesi dan Dunia Usaha di Provinsi Jawa Barat
f)
Filosofi dasar masyarakat Jawa Barat yang tertuang dalam moto
“Cageur, bageur, bener, pinter tur singer“ yang sudah lama menjadi
harapan bentuk sumber daya masyarakat Jawa Barat yang di citacitakan.
g)
Adanya kebijakan Gubernur berupa janji politik dan Rencana Aksi
Multipihak (RAM-IP)
h)
Adanya Pokja lintas sektor yang didukung Pemda Jawa Barat, seperti
Tim Pembina Gizi, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, Tim
Penggerak Usaha Kesehatan Sekolah dll. merupakan peluang lain
yang bermanfaat dalam upaya peningkatan kesehatan di Jawa Barat
2.
Ancaman.
a)
Peraturan perundang-undangan yang ada belum sepenuhnya dapat
melindungi aktifitas dinas dari delik-delik hukum
b)
Masih adanya opini negatif masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang berimbas terhadap Dinas Kesehatan
c)
Tuntutan terhadap pelayanan kesehatan yang prima dari masyarakat
semakin tinggi
d)
Globalisasi yang berimbas pada daya saing SDM kesehatan
professional dan fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah
maupun swasta untuk dapat tetap diperhitungkan di Provinsi Jawa
Barat
e)
Berbagai ancaman bencana (termasuk Global warming) dan krisis
ekonomi global yang berimbas pada meningkatnya kemiskinan yang
berdampak pada penurunan kesehatan masyarakat dan berkurangnya
kemampuan pemerintah untuk menyediakan dana kesehatan.
f)
Perubahan aturan aturan dan suprastruktur yang belum mampu
mengayomi terlaksananya pelayanan kepada masyarakat secara
cepat dan tepat.
g)
Munculnya beberapa penyakit baru dan belum terkendalinya penyakit
menular yang sudah ada
78
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
h)
Masih banyaknya penduduk Jawa Barat yang berada dibawah garis
kemiskinan yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan
i)
Tingkat pendidikan ibu (tamat SD maupun tidak tamat SD) masih
tinggi
j)
Masih lemahnya koordinasi Provinsi dengan Kabupaten/Kota
79
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
BAB IV
VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
4.1.
Visi Dan Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Perumusan Visi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Dinas Kesehatan merupakan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah
Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut berperan dalam menyelesaikan permasalahan
yang berkaitan dengan fenomena aktual yang belum dapat diselesaikan pada periode 5
tahun sebelumnya terutama dalam pembangunan bidang kesehatan.
Mengacu pada Visi Kementerian Kesehatan Tahun 2009 - 2014 yaitu
“
Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan ” dan RPJMD Provinsi Jawa Barat
Tahun 2013 – 2018, dengan Visi " Jawa Barat Maju dan Sejahtera Untuk Semua "
dimana Dinas Kesehatan mendukung Misi 1 yaitu Membangun Masyarakat Yang
Berkualitas dan Berdaya Saing, dengan Tujuan (1) Membangun sumber daya manusia
Jawa Barat yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, senantiasa berkarya,
kompetitif, dengan tetap mempertahankan identitas dan ciri khas masyarakat yang
santun dan berbudaya. Sedangkan Sasarannya adalah Meningkatkan kualitas layanan
kesehatan bagi seluruh masyarakat serta perluasan akses pelayanan yang terjangkau
dan merata, maka Visi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sebagai berikut :
”Masyarakat Jawa Barat yang
Mandiri untuk Hidup Sehat”
Mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang mandiri untuk hidup sehat adalah
kondisi masyarakat Jawa Barat yang dalam keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomis, serta tahu, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi
permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan
kesehatan akibat penyakit, bencana, lingkungan dan perilaku yang buruk, juga mampu
memenuhi
kebutuhannya
untuk
lebih
meningkatkan
kesehatannya
dengan
mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri serta dapat secara berkeadilan
memberikan dan memperoleh pelayanan kesehatan.
Untuk itu Dinas Kesehatan harus mempunyai pengetahuan, kemampuan, kemauan,
motivasi, etos kerja yang tinggi, dan menguasai teknologi untuk menjadi pendorong,
penggerak, fasilitator dan advokator untuk terjadinya akselerasi pembangunan
kesehatan di Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Pemerintah bersama masyarakat
termasuk swasta, sehingga Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri untuk Hidup Sehat
dapat segera tercapai.
92
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Perumusan Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Misi SKPD adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan
untuk mewujudkan visi SKPD. Rumusan misi dalam dokumen Renstra Dinas Kesehatan
dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik eksternal
dan internal yang mempengaruhi (kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan)
pembangunan daerah. Misi disusun untuk memperjelas jalan atau langkah yang akan
dilakukan dalam rangka mewujudkan Visi Dinas Kesehatan. Pernyataan Misi
menunjukkan kerja atau upaya untuk mewujudkan Visi tersebut. Perumusan Misi
mengacu pada Pernyataan Visi dan isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat .
Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Misi pembangunan kesehatan pada RPJMD Provinsi Jawa Barat 2013-2018 adalah
untuk mendukung Misi 1 Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu Membangun Masyarakat
Yang Berkualitas dan Berdaya Saing, yaitu untuk menciptakan sosok Jawa Barat yaitu
manusia Jawa Barat yang agamis, berakhlak mulia, sehat, cerdas, bermoral, memiliki
spirit juara dan siap berkompetisi. Dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan disebutkan bahwa Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik,
mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif
secara sosial dan ekonomis. Dengan demikian perumusan misi tersebut selaras dengan
pernyataan Undang-Undang. Untuk itu misi Dinas Kesehatan diselaraskan dengan Misi
pada RPJMD Provinsi Jawa Barat 2013-2018.
Adapun Misi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang ditetapkan pada Renstra
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat ada 4 yaitu :
1. Membangun kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
2. Menjamin pelayanan kesehatan yang prima
3. Mendukung sumber daya pembangunan kesehatan
4. Regulator pembangunan kesehatan di Jawa Barat
Penjabaran Misi Dinas Kesehatan :
Misi
1
yaitu
membangun
kemandirian
masyarakat
untuk
hidup
sehat
mencerminkan upaya Dinas Kesehatan dalam mewujudkan masyarakat jawa barat agar
mampu mengetahui maslaah, menentukan prioritas masalah dan mampu memecahkan
masalah kesehatannya dengan berperilaku hidup bersih dan sehat.
Misi 2 yaitu Menjamin pelayanan kesehatan yang prima mencerminkan upaya yang
akan dilaksanakan Dinas Kesehatan bermitra dengan pihak terkait vertikal dan
horizontal
untuk
mendorong
kemandirian
masyarakat
secara
aktif
menjaga
kesehatannya, mampu memilih dan menjangkau upaya kesehatan yang diperlukan
terutama dari aspek pembiayaan dan upaya untuk menjamin kualitas pelayanan
93
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
kesehatan diberbagai jenjang fasilitas pelayanan melalui akreditasi, lisensi, sertifikasi,
pembinaan dan pengawasan sarana maupun tenaga kesehatan.
Misi 3 yaitu Mendukung sumber daya pembangunan kesehatan mencerminkan
upaya yang dilaksanakan Dinas Kesehatan dalam memenuhi ketersediaan sumber daya
tenaga, sarana dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai dengan
standar yang ditetapkan bermitra dengan pihak terkait secara vertikal dan horizontal.
Misi 4 yaitu Regulator pembangunan kesehatan di Jawa Barat mencerminkan upaya
yang dilakukan Dinas Kesehatan dalam mengatur, mengawasi dan melakukan
pembinaan dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan
di
Jawa Barat.
4.2.
NILAI – NILAI
Untuk mewujudkan Visi dan Misi tersebut diatas, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai :
1.
Iman dan Takwa :
Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan selalu mendasari
setiap pelaksanaan kegiatan dan selalu berpegang bahwa pekerjaan adalah ibadah.
2.
Pofesionalisme :
Bersikap dan bertindak Profesional serta senantiasa melaksanakan perubahan
untuk mencapai keterampilan dan kompetensi yang lebih baik sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
3.
Integritas yang Tinggi :
Memiliki komitmen yang tinggi untuk mencapai Visi dan Misi yang telah ditetapkan
dengan dasar ketulusan hati, kejujuran, kepribadian yang teguh dan moral yang
tinggi.
4.
Kerjasama Tim :
Selalu membina kerjasama Tim yang utuh dan kompak dengan menerapkan prinsip
koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergisme dalam upaya pencapaian Visi dan
Misi.
5.
Transparan dan Akuntabel :
Setiap kegiatan diselenggarakan kegiatan secara transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan dipertanggung-gugatkan kepada masyarakat.
6.
Responsif
Mampu mendeteksi secara dini masalah kesehatan atau masalah yang berkaitan
dengan kesehatan, potensi dan peluang untuk peningkatan pembangunan
kesehatan serta melaksanakan tindakan segera untuk menindaklanjutinya.
94
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
4.3.
Tujuan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Perumusan Tujuan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat :
Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk
mencapai visi, melaksanakan misi, memecahkan permasalahan dan menangani isu
strategis daerah yang dihadapi.
Maka rumusan Tujuan Renstra Dinas Kesehatan mengacu pada RPJMD Provinsi
Jawa Barat Tahun 2013-2018, sebagai berikut :
1.
Terwujudnya kemandirian masyarakat untuk mencapai kualitas lingkungan
yang sehat serta Perilaku Hidup Bersih dan sehat
2.
Tercapainya pelayanan kesehatan yang berkualitas
3.
Terpenuhinya sumber daya kesehatan
4.
Terwujudnya regulasi dan kebijakan kesehatan
Untuk mencapai Tujuan yang telah ditetapkan dalam Renstra, maka perlu ditetapkan
sasaran, indikator dan target selama 5 (lima) tahun kedepan.
Tabel 4.3.1
Tujuan, Sasaran, Indikator dan
Target Dinas Kesehatan Tahun 2014 – 2018
Tujuan
1. Terwujudnya
kemandirian
masyarakat untuk
mencapai kualitas
lingkungan yang
sehat serta
Perilaku Hidup
Bersih dan sehat
Sasaran
Meningkatnya
kemandirian
masyarakat untuk
hidup sehat
Meningkatnya
Kualitas
Penyehatan
Lingkungan
2.Tercapainya
pelayanan
kesehatan yang
berkualitas
Menurunnya ratio
Kematian Ibu dan
Bayi
Indikator
Target
2014
2015
2016
2017
2018
Persentase
Rumah Tangga
yang Berperilaku
Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS)
38%
40%
55%
60%
65%
Persentase Desa
Siaga Aktif
51,9%
63%
66,7%
74,1%
81,0%
58
58,5
59
59,5
60
52,5
53
53,5
54
55
91/
100.000
KH
4/
1000
KH
0,62
90 /
100.000
KH
6/
1000
KH
0,6
89 /
100.000
KH
5,8 /
1000
KH
0,58
88 /
100.000
KH
5,6 /
1000
KH
0,56
87 /
100.000
KH
5,8/
1000
KH
0,54
persentase
penduduk yang
memiliki akses
terhadap air
minum yang
berkualitas
Persentase
penduduk yang
menggunakan
jamban sehat
Rratio kematian
ibu
Ratio kematian
bayi
Prevalensi Gizi
Buruk
95
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Meningkatnya
upaya
pencegahan,
pemberantasan,
pengendalian
penyakit menular
dan tidak menular
3. Terpenuhinya
sumber daya
kesehatan
Meningkatkan
sumber daya
kesehatan sesuai
dengan standar
Menuju universal
coverage JPKM
4. Terwujudnya
Regulasi dan
kebijakan
kesehatan
Terwujudnya
Regulasi dan
kebijakan
kesehatan
Meningkatnya
data kesehatan
yang
komprehensif
Cakupan
Persalinan oleh
Tenaga
Kesehatan
Persentase
desa/kelurahan
yang mencapai
UCI ≥ 90%
Angka
Keberhasilan
Pengobatan Tb
(Treatment
Succes Rate )
80%
Prevalensi
Hipertensi
34,04%
Persentase
Kab/Kota dengan
100% Puskesmas
melaksanakan
pelayanan
kesehatan jiwa
Persentase RSUD
terisi dokter
Spesialis Dasar
sesuai standar
Persentase RSUD
terisi dokter
Spesialis
Penunjang sesuai
standar
Jumlah
Puskesmas yang
sudah
Terakreditasi
Jumlah Rumah
Sakit yang sudah
Terakreditasi
Jumlah RS
mampu
memberikan
pelayanan
kesehatan ibu dan
bayi sesuai
standar
Persentase
ketersediaan obat
esensial di
instalasi farmasi
kabupaten/kota
Persentase
penduduk dengan
jaminan
kesehatan
Jumlah dokumen
regulasi kebijakan
pembangunan
kesehatan
62,96
Jumlah Dokumen
Data Prioritas
Bidang Kesehatan
Provinsi Jawa
Barat
85%
89%
90%
86%
87%
92%
93%
86%
87%
88%
34%
33,06%
33,02%
29,08%
70,38
81,48
92,59
100
85%
91%
88%
85%
97,36
100
100
52,63
57,89
63,15
0
34
64
128
11
21
70
80
90
58
68
88
98
78
256
63%
64%
65%
66%
70%
50%
60%
65%
70%
80%
3
2
2
2
2
1
1
1
1
1
96
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
4.4.
Strategi, Arah dan Kebijakan Kesehatan pada RPJMD Provinsi Jawa Barat
2013 – 2018
Perumusan Strategi dan Kebijakan Jangka Menengah Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
Strategi dan kebijakan dalam Renstra Dinas Kesehatan adalah strategi dan kebijakan
Dinas Kesehatan untuk mencapai tujuan dan sasaran jangka menengah Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang selaras dengan strategi dan kebijakan daerah
serta rencana program prioritas dalam rancangan awal RPJMD.
Perumusan Strategi
Rumusan Strategi Bidang Kesehatan RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
adalah :
Tabel 4.4.1
Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Arah dan Kebijakan Kesehatan
pada RPJMD Provinsi Jawa Barat 2013-2018
MISI I : Membangun Masyarakat Yang Berkualitas dan Berdaya Saing.
Tujuan
Membangun
sumber daya
manusia Jawa
Barat yang
menguasai ilmu
pengetahuan dan
teknologi,
senantiasa
berkarya,
kompetitif, dengan
tetap
mempertahankan
identitas dan ciri
khas masyarakat
yang santun dan
berbudaya
Sasaran
Meningkatnya
kualitas layanan
kesehatan bagi
semua serta
perluasan akses
layanan yg
terjangkau dan
merata
Strategi

Menguatkan
pemberdayaan
masyarakat, kerjasama
& kemitraan serta
penyehatan lingkungan

Menguatkan pelayanan
kesehatan,
pencegahan,
pengendalian penyakit
menular dan tidak
menular, gangguan
mental serta gangguan
gizi
Menguatkan
pembiayaan dan
sumber daya
kesehatan
Menguatkan
manajemen, regulasi,
teknologi informasi
kesehatan dan
penelitian
pengembangan
kesehatan


Arah Kebijakan

Penguatan
pemberdayaan
masyarakat,
kerjasama &
kemitraan serta
penyehatan
lingkungan
 Penguatan pelayanan
kesehatan,
pencegahan,
pengendalian penyakit
menular dan tidak
menular, gangguan
mental serta
gangguan gizi
 Penguatan
pembiayaan dan
sumber daya
kesehatan
 Penguatan
manajemen, regulasi,
sistem informasi bidang
kesehatan dan
penelitian
pengembangan
kesehatan
Sumber : RPJMD Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Berdasarkan Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan Kesehatan pada RPJMD
Provinsi Jawa Barat 2013-2018 maka telah ditentukan Strategi dan Arah Kebijakan
Kesehatan pada Renstra Dinas Kesehatan sebagai berikut :
97
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2013-2018
Tabel 4.4.2
Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
pada Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
Sasaran
Strategi
Arah Kebijakan

Menguatkan pemberdayaan
masyarakat, kerjasama &
kemitraan serta penyehatan
lingkungan

Penguatan pemberdayaan
masyarakat, kerjasama &
kemitraan serta penyehatan
lingkungan

Menguatkan pelayanan
kesehatan, pencegahan,
pengendalian penyakit menular
dan tidak menular, gangguan
mental serta gangguan gizi

Penguatan pelayanan
kesehatan, pencegahan,
pengendalian penyakit
menular dan tidak menular,
gangguan mental serta
gangguan gizi
Meningkatkan sumber daya
kesehatan sesuai dengan
standar

Menguatkan pembiayaan dan
sumber daya kesehatan

Penguatan pembiayaan dan
sumber daya kesehatan
Terwujudnya regulasi dan
kebijakan kesehatan

Menguatkan manajemen,
regulasi, sistem informasi di
bidang kesehatan dan
penelitian pengembangan
kesehatan

Penguatan manajemen,
regulasi, sistem informasi di
bidang kesehatan dan
penelitian pengembangan
kesehatan
Meningkatnya kemandirian
masyarakat
Meningkatnya kualitas
penyehatan lingkungan
Menurunnya Ratio Kematian Ibu
dan Bayi
Meningkatnya upaya
pencegahan, pemberantasan,
pengendalian penyakit menular
dan tidak menular
Adapun Program dan Sasaran Program pada Renstra Dinas Kesehatan adalah
sebagaimana diuraikan dalam lampiran
98
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
BAB V
RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA,
KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF
Prioritas
pembangunan
kesehatan
Tahun
2013
-
2018
merupakan
penajaman, peningkatan cakupan dan kelanjutan dari prioritas pembangunan
kesehatan periode 2008 - 2013. Prioritas pembangunan kesehatan tersebut
dijabarkan ke dalam program, kegiatan, indikator, kelompok sasaran dan pendanaan
indikatif.
Berdasarkan Visi, Misi, Tujuan, Strategi, Program dan sasaran program diatas
serta dengan memperhatikan isu strategis yang ada maka pembangunan kesehatan
Jawa Barat untuk mencapai Masyarakat Jawa Barat Sehat diarahkan pada “JKN
Jawa Barat” dengan program unggulan untuk penajaman kegiatan adalah :
1.
Penurunan AKI, AKB dan Gizi Buruk
2.
Pengendalian Penyakit Menular dan tidak menular
3.
Peningkatan PHBS secara massal
Untuk mencapai program unggulan tersebut dilakukan 8 rencana intervensi strategis
bidang kesehatan melalui :
1.
Pemenuhan Pelayanan Kesehatan terutama Poned dan Ponek
2.
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat
3.
Restrukturisasi Pelayanan Kesehatan
4.
Rancang Bangun Lembaga Sertifikasi Tenaga dan Sarana Kesehatan (LSSK)
Jawa Barat untuk Perlindungan Masyarakat
5.
Pemantapan Penerapan Regulasi Bidang Kesehatan
6.
Penyusunan Regulasi Skala Provinsi
7.
Penguatan Pelaksanaan Program Nasional
8.
Pengembangan Sistem Pelayanan Kesehatan, Fasilitas Kesehatan dan Tenaga
Kesehatan Berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Barat
Dengan adanya kegiatan yang menjadi prioritas serta sesuai dengan urusan
pada PP No.38 Tahun 2007 yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Daerah
Jawa Barat No.10 Tahun 2009, dan Keputusan Menteri Kesehatan No.267 Tahun
2007, serta Peraturan Gubernur Jawa Barat No.32 Tahun 2009 maka telah disusun
kegiatan pada Dinas Kesehatan pada tahun 2013 sampai 2018 sebagai berikut :
54
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
5.1
RENCANA PROGRAM KEGIATAN
Mengacu kepada RPJMD Transisi Tahun 2014, maka Program dan Kegiatan Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 meliputi :
5.1.1
A.
PROGRAM POKOK
PROGRAM UPAYA KESEHATAN
Kegiatan Pokok program ini adalah :
1.
Pembinaan Progran Kesehatan Ibu dan Anak
2.
Gerakan Penyelamatan Masa Depan (Gema Mapan) melalui UKS dna PKPR
3.
Peningkatan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
4.
Pencegahan Kurang Gizi
5.
Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian, Penggunaan Obat secara
Rasional, Peredaran Sediaan Farmasi, Kosalkes dan Mamin
B.
6.
Pendukung Peningkatan Pembiayaan Kesehatan Masyarakat
7.
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Dasar
8.
Persiapan Pelaksanaan Kegiatan PON XiX Tahun 2016
9.
Peningkatan Penunjang Layanan BKPM Cirebon
PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Kegiatan Pokok Program ini adalah :
1.
Pemeriksaan Sarana Kesehatan dalam Rangka Sertifikasi
2.
Peningkatan Kualitas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED)
3.
Pengembangan Pelayanan Laboratorium Kesehatan
4.
Peningkatan Kualitas Manajemen Puskesmas DTP
5.
Peningkatan Kapasitas BLK sebagai centre of Excellent Pelayanan Penunjang
Diagnostik dan Kesehatan Masyarakat
6.
Peningkatan Pelayanan Kesehatan Rujukan
7.
Fasilitasi Penyusunan Perencanaan Pembangunan Bidang Kesehatan
8.
Monitoring dan Evaluasi Bantuan Keuangan Pembangunan Bidang kesehatan
9.
Penyusunan Regulasi Manajemen Jaminan Kesehatan Nasional
10. Akreditasi dna Sertifikasi Pelayanan Kesehatan, Kefarmasian dan Alkes
11. Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan
C. PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR
Kegiatan Pokok dari Program ini adalah :
55
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
1.
Kegiatan Peningkatan Pencegahan dan Pengendalian penyakit yang dapat
dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
2.
Peningkatan Upaya Kesehatan Lingkungan
3.
Pelayanan Kesehatan Kerja yang Prima dan Komprehensif
4.
Peningkatan Sistem Kewaspadaan dini bencana dan kesehatan matra
5.
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular
6.
Surveilans Penyakit dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
D. PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA
Kegiatan Pokok dari program ini adalah :
E.
1.
Revitalisasi BKPM
2.
Peningkatan Pelayanan Kesehatan di BKKM
3.
Peningkatan Sarana dan Prasarana BAPELKES Dinas Kesehatan Prov Jabar
4.
Peningkatan Sarana dan Prasarana Penunjangn Medis BKPM Cirebon
PROGRAM SUMBER DAYA KESEHATAN
Kegiatan Pokok dari program ini adalah :
1.
Peningkatan kualitas kompetensi tenaga kesehatan
2.
Ketersediaan, Pemerataan Keterjangkauan & Mutu Sediaan Farmasi, Kosalkes
dan Mamin
3.
5.1.2
Peningkatan Kuantitas dan Kualitas SDM Kesehatan
PROGRAM PENUNJANG
A. PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS SUMBER DAYA APARATUR
1.
Peningkatan Kinerja & Kemampuan Aparatur Dinkes. Prov. Jabar.
2.
Peningkatan Kinerja dan Kemampuan Aparatur BKKM
3.
Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur BKPM Cirebon
4.
Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur BLK
5.
Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur BAPELKES
B. PROGRAM PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
1.
Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
2.
Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BKKM
3.
Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BKPM
4.
Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BLK
5.
Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran Bapelkes
56
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
C. PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA APARATUR
1.
Peningkatan Sarana Dan Prasarana Gedung Dinas Kesehatan
Provinsi
Jawa Barat
2.
Peningkatan Sarana Dan Prasarana Gudang Dinas Kesehatan
Provinsi
Jawa Barat
3.
Revitalisasi BKKM
4.
Pengembangan Gedung Pelayanan BKPM
5.
Revitalisasi BLK
6.
Revitalisasi Bapelkes
D. PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA PERKANTORAN DINAS KES. PROV.
JABAR
1.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
2.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Kantor BKKM
3.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Perkantoran Bapelkes
4.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Aparatur BKPM
5.
Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Aparatur BKPM Provinsi Jawa Barat
E. PROGRAM PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN
KINERJA DAN KEUANGAN
1.
Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2.
Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan
Mengacu kepada RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018, maka Program
dan
Kegiatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2015-2018 meliputi :
5.2 PROGRAM POKOK
A. PROMOSI KESEHATAN
Kegiatan Pokok dan program ini adalah :
1. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
2. Fasilitasi Peningkatan desa/Kelurahan siaga aktif
57
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
B. PROGRAM PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT
Kegiatan Pokok dan program ini adalah :
1.
Pengawasan kualitas kesehatan lingkungan di sasaran prioritas provinsi
2.
Penguatan kegiatan STBM dalam pelaksanaan Program Percepatan
Pembangunan Sanitasi
C. PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN
Kegiatan Pokok dan program ini adalah :
1. Pencegahan Kurang Gizi
2. Pendukung Peningkatan Pembiayaan Kesehatan Masyarakat
3. Peningkatan kualitas Pelayanan kesehatan DasaKhusus
4. Pembinaan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Lansia
5. Gerakan Penyelamatan Masa Depan (Gema Mapan)
6. Peningkatan kualitas Pelayanan kesehatan dasar
7. Peningkatan kualitas Pelayanan kesehatan Khusus
8. Bantuan Keuangan penunjang operasi katarak bagi masyarakat miskin di
Kab/kota
9. Peningkatan Pelayanan Kesehatan rujukan
10. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Kerja yang Prima dan Komprehensif
D. PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR
Kegiatan Pokok dan Kegiatan Indikatif program ini adalah :
1.
Kegiatan Peningkatan Pencegahan dan Pengendalian penyakit yang dapat
dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
E.
2.
Kegiatan Surveilas Penyakit dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
3.
Kegiatan Peningkatan sistem Kewaspadaan dini bencana dan kesehatan Matra
4.
Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung
5.
Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Bersumber Binatang
6.
Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular
7.
Peningkatan Pelayanan Kesehatan Paru di BKPM
8.
Upaya Peningkatan Kesehatan Paru Masyarakat di BKPM
PROGRAM SUMBER DAYA KESEHATAN
Kegiatan Pokok dan kegiatan indikatif program ini adalah :
1.
Peningkatan kuantitas dan Kualitas Tenaga Kesehatan
58
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
2.
Peningkatan kualitas kompetensi tenaga kesehatan
3.
Pengembangan pelayanan kesehatan di Balai Laboratorium Kesehatan
4.
Peningkatan sarana dan sarana Bapelkes
5.
Peningkatan Pelayanan Kesehatan di BKKM
6.
Peningkatan sumber daya penunjang pelayanan kesehatan paru di BKPM
7.
Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian, Penggunaan Obat secara
Rasional, Peredaran Sediaan Farmasi, Kosalkes dan Mamin
8.
Bantuan Keuangan untuk Peningkatan Pelayanan Kesehatan bagi masyarakat
miskin
F.
PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Kegiatan Pokok dan kegiatan indikatif program ini adalah :
1.
Akreditasi dan Sertifikasi sarana pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat
kesehatan
2.
Kegiatan Penyusunan Regulasi Manajemen Kesehatan
3.
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan
4.
Peningkatan Kapasitas BLK sebagai centre of Excellent Pelayanan Penunjang
Diagnostik dan Kesehatan Masyarakat
5.
Peningkatan Kapasitas BKKM sebagai Pelayanan Kesehatan untuk Penanganan
Penyakit Akibat Kerja (PAK), Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK), Trauma
Center dan IPTEK Kesehatan Kerja
6.
Kegiatan Peningkatan Kapasitas Bapelkes sebagai Pusat Pelatihan Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
7.
Fasilitasi Penyusunan Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Bidang
Kesehatan Provinsi Jabar
8.
Kegiatan monitoring dan evaluasi Bantuan Keuangan Pembangunan Bidang
Kesehatan
5.3 PROGRAM PENUNJANG
G. PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS SUMBER DAYA APARATUR
1. Peningkatan Kesejahteraan & Kemampuan Aparatur Dinkes. Prov. Jabar.
2. Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur Bapelkes Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat
3. Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur BLK Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
4. Peningkatan Kinerja dan Kemampuan Aparatur BKKM
5. Peningkatan Kesejahteraan dan Kemampuan Aparatur BKPM Provinsi Jabar
6. Peningkatan Kinerja Dan Kemampuan Aparatur Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
59
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
H. PROGRAM PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
1. Pelayanan Administrasi Perkantoran Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2. Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat
3. Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BLK Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
4. Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BKKM
5. Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran BKPM Provinsi Jawa Barat
I.
PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA APARATUR
1. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Gedung Dinas Kesehatan
Provinsi
Jawa Barat
2. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Gudang Dinas Kesehatan
Provinsi
Jawa Barat
3. Revitalisasi BKKM
4. Pengembangan Gedung Pelayanan BKPM
5. Revitalisasi BLK
6. Revitalisasi Bapelkes
J. PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA PERKANTORAN DINAS KES. PROV.
JABAR
1. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Perkantoran Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat
2. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Perkantoran Bapelkes
3. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Perkantoran Pada BLK
4. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Kantor BKKM
5. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Aparatur BKPM Provinsi Jawa Barat
6. Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan Internal Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
K. PROGRAM PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN
KINERJA DAN KEUANGAN
1. Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan Internal Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat
60
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
L. RENCANA BANTUAN TIDAK LANGSUNG/BANTUAN KEUANGAN
Bantuan keuangan merupakan bantuan yang bersifat umum dan khusus ke
kabupaten/kota
dalam
rangka
pemerataan
dan/atau
peningkatan
keuangan
kabupaten/kota melalui percepatan pembangunan yang bertujuan untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat
Kegiatan unggulan maupun penunjang/tupoksi Tahun 2013 - 2018
disesuaikan
dengan isu strategis setiap tahun pada Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat Tahun 2013 - 2018, dilaksanakan melalui penajaman kegiatan yang disesuaikan
dengan isu strategis pada RKPD Jawa Barat tahun tersebut.
Uraian Program, kegiatan dan pendanaan indikatif Renstra Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat Tahun 2013 - 2018 secara terinci dapat dilihat pada lampiran.
61
Draft Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawan Barat Tahun 2013 - 2018
BAB VI
PENUTUP
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Perubahan Rencana Strategis Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Barat 2013 - 2018
yang sekaligus pula merupakan Rencana
Strategis Pembangunan Kesehatan Propinsi Jawa Barat telah dapat disusun, dan telah
ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan pada tanggal
30 Desember tahun
2014. Rencana Strategis ini disusun untuk lebih memfokuskan upaya Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat dalam menghadapi tantangan dan masalah pembangunan kesehatan
yang makin kompleks terutama dalam menghadapi tantangan global dan nasional.
Rencana Strategis Dinas Kesehatan ini diharapkan akan dapat dijadikan acuan oleh
seluruh petugas atau pelaksana program/kegiatan kesehatan di Propinsi Jawa Barat dalam
kemitraan dengan sektor sektor pembangunan lainnya serta lembaga masyarakat dan
masyarakat pada umumnya dalam melaksanakan upaya pelayanan kesehatan. Kiranya
rencana strategis ini dapat pula menjadi acuan bagi provinsi , kabupaten / kota, sehingga
dalam semangat desentralisasi ini ibaratnya sebuah armada dengan menggunakan berbagai
jenis kapal yang melaju menuju satu tujuan yang sama yaitu menjadikan pembangunan
kesehatan sebagai upaya pemenuhan hak azasi setiap orang untuk dapat Cageur, Bageur,
Bener, Pinter tur Singer.
Penghargaan yang setinggi-tingginya kami haturkan kepada semua pihak yang
terkait dalam penyusunan Perubahan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat 2013-2018. Semoga tujuan dari penyusunan Perubahan Rencana Strategis ini
tercapai, dan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengabulkannya sehingga dapat terlaksana dengan baik.
Amiiin.
62
Download