(Skripsi) Oleh PANJI PRASETYO

advertisement
i
SIMULASI DAN ANALISIS CYCLOCONVERTER 3 FASA
SEBAGAI PENGENDALI KECEPATAN PADA MOTOR
INDUKSI 3 FASA
(Skripsi)
Oleh
PANJI PRASETYO PUTRO
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
ii
ABSTRACT
SIMULATION AND ANALYSIS OF 3 PHASE CYCLOCONVERTER
AS A SPEED CONTROL ON 3 PHASE INDUCTION MOTOR
Oleh
PANJI PRASETYO PUTRO
The development of science and technology in the world has grown rapidly. Science
in every field has its own portion in human life. From the field of engineering
technology that develops, the field of electricity included some aspects of sending
the signals in low power, moreover some applied technologies have also been
developed in industries and fabrication, such as the use of motors in fabrication
processes that require the control of induction motors.
Cycloconverter is a convertible equipments to change the frequency of alternating
electric voltage directly. An induction motor is a device that converts electrical
energy into mechanical energy. The induction motor has the characteristics that
enable it to be controlled at speed with its input frequency. Therefore, the speed of
a 3-phase induction motor can be controlled. The response of the controlled
induction motor is observed by using simulink in Matlab software.
Based on the test results, the voltage response, current and speed of induction motor
is best obtained at cycloconverter output frequency of 25 Hz and 50 Hz. The
harmonic current and voltage generated by the resistive loaded cycloconverter
output were decreased, from the 5 Hz frequency of 72.33% to 0.41% at the 50 Hz
frequency. The voltage drops along the cycloconverter circuit is only 2,078 V,
wherein the input terminal voltage is 219.425 V and the output is 217.345 V with
the resistive load at the output terminal.
Keyword: 3-Phase, Induction Motor, cycloconverter, Simulink MATLAB, motor
response
iii
ABSTRAK
SIMULASI DAN ANALISIS CYCLOCONVERTER 3 FASA
SEBAGAI PENGENDALI KECEPATAN PADA MOTOR INDUKSI 3
FASA
Oleh
PANJI PRASETYO PUTRO
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia sudah semakin pesat. Ilmu
dari segala bidang telah mempunyai porsinya masing-masing dalam kehidupan
manusia. Dari bidang teknologi keteknikan yang berkembang pada bidang
kelistrikan meliputi segi pembangkitan listrik hingga ke ranah pengiriman sinyal
yang berdaya rendah. Berkembang pula teknologi aplikatif yang digunakan pada
industri-industri dan fabrikasi, seperti digunakannya motor dalam proses fabrikasi
yang menuntut adanya pengendalian motor induksi.
Cycloconverter adalah peralatan konsversi untuk mengubah frekuensi tegangan
listrik bolak-balik secara langsung. Motor induksi adalah peralatan yang mengubah
energi listrik menjadi energi mekanik. Motor induksi memiliki karakteristik yang
membuatnya dapat dikendalikan kecepatannya dengan frekuensi masukannya. Oleh
karena itu, motor induksi 3 fasa dapat dikendalikan kecepatannya dan dapat dilihat
bagaimakana responnya jika dikendalikan dengan cycloconverter 3 fasa,
menggunakan simulasi Simulink pada perangkat lunak MATLAB .
Dari hasil pengujian yang dilakukan, respon tegangan, arus dan kecepatan motor
induksi paling baik didapatkan pada frekuensi keluaran cycloconverter sebesar 25
Hz dan 50 Hz. Harmonisa arus dan tegangan yang dihasilkan oleh keluaran
cycloconverter berbeban resistif semakin menurun, dari frekuensi 5 Hz yaitu
sebesar 72,33% menjadi 0,41% pada frekuensi 50 Hz. Tegangan jatuh pada
sepanjang rangkaian cycloconverter hanya sebesar 2.078 V, dimana tegangan pada
terminal masukannya adalah 219,425 V dan pada keluarannya adalah 217,345 V
dengan dibebani oleh beban resistif pada terminal keluarannya.
Kata kunci: 3 fasa, motor induksi, cycloconverter, Simulink MATLAB, respon
motor
iv
SIMULASI DAN ANALISIS CYCLOCONVERTER 3 FASA
SEBAGAI PENGENDALI KECEPATAN PADA MOTOR
INDUKSI 3 FASA
Oleh
PANJI PRASETYO PUTRO
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA TEKNIK
Pada
Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Lampung
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
v
vi
vii
viii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 7 Juni 1994,
sebagai anak pertama dari empat bersaudara, dari Bapak Sumaryo
Gito Saputro dan Ibu Diah Retnowati.
Riwayat pendidikan penulis dimulai dari Sekolah Dasar
Negeri (SDN) 1 Langkapura, Bandar Lampung pada tahun 2000 dan diselesaikan
pada tahun 2006, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Bandar Lampung
dari tahun 2006 dan diselesaikan pada tahun 2009, dan Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN) 9 Bandar Lampung, dari tahun 2009 dan diselesaikan pada tahun
2012.
Tahun 2012, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro
Universitas Lampung melalui jalur tes tertulis. Selama menjadi mahasiswa penulis
pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Dasar Teknik Tenaga Listrik, Mesin
Listrik, dan Elektronika Daya, dan terdaftar sebagai anggota organisasi intra
kampus Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (HIMATRO) Universitas Lampung
sebagai Anggota Departemen Minat dan Bakat HIMATRO periode 2014-2015.
Pada Juli 2015 penulis melaksanakan kerja praktik di Perum Jasa Tirta 2, Divisi
Pembangkitan, Purwakarta, Jawa Barat, dan membuat laporan tentang “Relay
Proteksi Transformator Daya 6,3kV/150kV pada Pembangkit Unit 2 Perum Jasa
Tirta 2”.
Pada September 2016, penulis melaksanakan penelitian ini di
Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung.
ix
PERSEMBAHAN
Dengan Ridho Allah SWT, serta Guru Mursid yang telah memberikan
petunjuk terbaiknya,
Karya tulis ini kupersembahkan untuk:
Ayah dan Ibuku Tercinta
Sumaryo Gito Saputro dan DIah Retnowati
Serta Adikku Tersayang
Hafidz Riza Setiawan
Arjuni Ilham Kusuma
Anggita Prasastya Widyasari
Saudara Sepupu Tersayang
Gigih Wibisono (Alm.), Puri Wibiyanti, Rezky Yudistira, Nadhia Mustika
Putri, Merza Trisnaudy, Ryan Padma Trisnaudy, dan Wulan Ramadhani
Trisnaudy
Teman-teman kebanggaanku
Rekan-rekan Jurusan Teknik Elektro
Almamaterku
Universitas Lampung
Agamaku
Islam
Bangsa dan Negaraku
Republik Indonesia
Terima-kasih untuk semua yang telah diberikan kepadaku.
x
MOTTO
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
( Al-Quran, Surat Al – Insyirah, 94 : 5 – 6 )
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”
(Al-Quran, Surat Al – Mujadilah, 58 : 11)
“Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya
kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih
yang mendoakan dia.”
( HR. Muslim )
“Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dam sabar.”
( Umar bin Khatab RA )
Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji
kekuatan akarnya
(Ali bin Abi Thalib)
xi
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil’alamiin, penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian Tugas Akhir ini.
Tugas akhir dengan judul “SIMULASI DAN ANALISIS CYCLOCONVERTER 3
FASA SEBAGAI PENGENDALI KECEPATAN PADA MOTOR INDUKSI 3
FASA ” ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Lampung.
Dalam masa perkuliahan dan penelitian, penulis mendapat banyak hal baik berupa
dukungan, semangat, motivasi dan banyak hal yang lainya. Untuk itu penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1.
Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. selaku Rektor Universitas
Lampung.
2. Bapak Prof. Suharno, M.Sc, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Lampung.
3. Bapak Dr. Ardian Ulvan, S.T.,M.Sc. selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas
Teknik Universitas Lampung.
xii
4. Bapak Ir. Abdul Haris, M.T selaku pembimbing utama skripsi yang telah dengan
sabar membimbing, meberikan ilmunya, motivasi dalam hidup dan arahannya di
sela-sela kesibukan beliau yang sangat padat.
5. Bapak Herri Gusmedi, S.T., M.T., selaku pembimbing pendamping yang telah
mebimbing, memberi ilmunya, cerita inspiratif, arahan spiritual serta sarannya
dalam individu menyusun penelitian ini.
6. Bapak Ir. Noer Soedjarwanto, M.T., selaku dosen penguji skripsi yang telah
memberikan saran, krikitikan yang sangat membangun dalam penyusunan skripsi.
7. Bapak Dodhy Setiawan, S.T., selaku pembimbing di Perum Jasa Tirta II, yang
sabar dalam membimbing dan sangat baik dalam membantu, selama penulis
membutuhkan bantuan beliau baik data maupun pengetahuannya dalam
penyusunan skripsi ini.
8. Segenap dosen dan pegawai di Jurusan Teknik Elektro yang telah memberikan
ilmu dan wawasan yang tak terlupakan oleh penulis.
9. Ayahanda Dr. Ir. Sumaryo Gito Saputro, M.Sc. (Bapak), Ibunda Diah Retnowati,
S.Pd. (Ibu). Tiada terkira jasa yang kalian berikan, hanya doa dan sedikit usaha
meraih presatasi sekarang dan kedepannya serta menyelesaikan kewajiban agar
terpancar senyum bangga di wajah kalian yang sangat saya impikan.
10. Suadara dan saudari tercinta Hafidz, Arjuna dan Anggita yang selama ini telah
memberikan kasih sayang, semangat, doa, nasihat serta dukungan dalam segala
aspek agar selalu istiqomah dalam menuntut ilmu.
11. Saudara sepupu seperjuangan, Gigih Wibisono (Alm), Rezky Yudistira, Merza
Trisnaudy, Ryan Padma Trisnaudy atas segala do’a, dukungan dan bantuannya
selama penulis hidup.
12. Teman dan rekan seperjuangan laboratorium Konversi Energi Elektrik (Rio
Andesta, Aji Penetrap, Yayan, Ahmad Lifani, Surya Andika, Agung Dwi, Rendi,
xiii
dan seluruh staff dan asisten yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu)
terimakasih atas cerita, tawa, berbagi ilmu, pengelaman dan silaturahminya.
13. Pak Sugiono penguasa lab kedua setelah para Dosen, terimakasih mas untuk ilmu,
kopi, gula, dan tehnya.
14. Teman-teman keluarga besar ELANG (Elektro Angkatan) 2012 terimakasih
atas segala yang telah diberikan.
15. Teman-teman KKN Aji Jaya KNPI (Zainal Arifin, Umi Sholehah, Rian Adinata,
Happy Christina, dan Roro Ayu) atas segala ceritanya selama di pengasingan
selama 60 hari.
16. Rekan-rekan setia Earth Hour Bandar Lampung, terimakasih atas semangatnya
dalam proses belajar dari aspek lingkungan hidup.
17. Teman-teman KRIBOJUNIOR (Pacul, Jambu, Dobleh, Kukut, Mas Rio).
18. Teman seperjuangan sampai sampai akhir perkuliahan, saudari Intan Anggraeni
(mbuuul), dalam susah maupun senang, suka dan duka. Dukungan dalam segala
hal, canda tawa yang ga akan pernah ada jika ga ketemu beliau. Thanks for
everything and Hope that’s always been her.
Penulis meminta maaf atas segala kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan
tugas akhir ini. Saran dan kritik membangun sangat diharapkan penulis demi kebaikan
di masa yang akan datang. Terimakasih
Bandar Lampung, 24 Juli 2017
Penulis,
Panji Prasetyo Putro
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................i
DAFTAR TABEL.................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................vi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang..............................................................................................1
1.2
Tujuan..........................................................................................................3
1.3
Manfaat penelitian........................................................................................3
1.4
Rumusan masalah.........................................................................................3
1.5
Batasan masalah...........................................................................................4
1.6
Hipotesis.......................................................................................................4
1.7
Sistematika penulisan...................................................................................4
BAB II. TEORI DASAR
2.1
Cycloconverter.............................................................................................6
2.2
Jenis-jenis cycloconverter............................................................................8
2.2.1
Cycloconverter berdasarkan topologi rangkaiannya........................8
2.2.2
Cycloconverter berdasarkan fasanya..............................................11
2.3
Motor induksi.............................................................................................16
2.4
Pengendalian putaran motor induksi..........................................................19
ii
2.4.1
Mengubah jumlah kutub motor......................................................19
2.4.2
Mengubah frekuensi.......................................................................20
2.4.3
Mengatur tegangan.........................................................................21
2.5
Harmonisa..................................................................................................21
2.6
Tegangan....................................................................................................23
2.7
Frekuensi dan periode................................................................................24
2.8
Deret Fourier..............................................................................................26
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1
Pendahuluan...............................................................................................27
3.2
Waktu dan lokasi....................................................................................... 28
3.3
Alat dan bahan............................................................................................28
3.4
Prosedur penelitian.....................................................................................28
3.4.1
Studi literatur..................................................................................28
3.4.2
Pengumpulan alat dan bahan..........................................................29
3.4.3
Pembuatan model simulasi pada software penguji........................29
3.4.4
Pengujian model.............................................................................29
3.4.5
Pengambilan data...........................................................................30
3.4.6
Analisa hasil data...........................................................................30
3.5
Blok diagram penelitian............................................................................ 30
3.6
Diagram alir penelitian...............................................................................31
BAB IV. HASIL PENELITIAN
4.1
Pendahuluan...............................................................................................32
iii
4.2
4.3
4.4
Perancangan simulasi.................................................................................32
4.2.1
Rangkaian sumber 3 fasa...............................................................32
4.2.2
Rangkaian cycloconverter..............................................................35
4.2.3
Rangkaian pensaklaran (switching)................................................35
4.2.4
Rangkaian motor induksi 3 fasa.....................................................38
4.2.5
Rangkaian keseluruhan..................................................................39
Pengujian rangkaian...................................................................................41
4.3.1
Pengujian rangkaian sumber 3 fasa................................................41
4.3.2
Pengujian rangkaian cycloconverter..............................................42
Hasil simulasi dan analisa..........................................................................43
4.3.1
Pengujian cycloconverter dengan beban resistif............................44
4.3.2
Pengujian cycloconverter dengan beban motor induksi.................53
4.3.3
Pengujian harmonisa akibat cycloconverter...................................66
4.3.4
Pengukuran nilai tegangan cycloconverter....................................80
BAB V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan................................................................................................83
5.2
Saran..........................................................................................................84
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1
Data hasil perhitungan periode gelombang keluaran cycloconverter
menggunakan persamaan 4.1..........................................................45
Tabel 4.2
Hasil pengujian harmonisa tegangan yang timbul pada sistem akibat
pengoperasian cycloconverter........................................................67
Tabel 4.3
Hasil pengujian harmonisa tegangan yang timbul pada keluaran
cycloconverter dengan beban resistif ............................................69
Tabel 4.4
Hasil perhitungan harmonisa tegangan yang timbul pada keluaran
cycloconverter dengan beban resistif.............................................70
Tabel 4.5
Hasil pengujian harmonisa tegangan yang timbul pada keluaran
cycloconverter 3 fasa akibat pembebanan motor induksi..............71
Tabel 4.6
Hasil pengujian harmonisa arus yang timbul pada sistem akibat
pengoperasian cycloconverter .......................................................73
Tabel 4.7
Hasil pengujian harmonisa arus yang timbul pada sistem akibat
pengoperasian cycloconverter........................................................75
Tabel 4.8
Hasil pengujian harmonisa arus yang timbul pada keluaran
cycloconverter dengan beban resistif.............................................76
Tabel 4.9
Hasil pengujian harmonisa arus yang timbul pada sistem akibat
pengoperasian cycloconverter yang dibebani motor induksi.........78
v
Tabel 4.10
Hasil nilai tegangan Vrms perhitungan dan pengukuran pada sistem
(sumber).........................................................................................80
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Cycloconverter satu fasa..................................................................7
Gambar 2.2
Cycloconverter 3 fasa – 1 fasa non-circulating current...................9
Gambar 2.3
Cycloconverter 3 fasa – 1 fasa circulating current........................10
Gambar 2.4
Cycloconverter 1 fasa – 1 fasa.......................................................12
Gambar 2.5
Hasil gelombang keluaran cycloconverter 1 fasa -1 fasa...............13
Gambar 2.6
Cycloconverter 3 fasa – 1 fasa.......................................................14
Gambar 2.7
Gelombang yang dihasilkan cycloconverter 3 fasa – 1 fasa..........15
Gambar 2.8
Cycloconverter 3 fasa – 3 fasa.......................................................16
Gambar 2.9
Gelombang dengan frekuensi 50 Hz..............................................25
Gambar 3.1
Blok diagram rancangan penelitian................................................30
Gambar 3.2
Diagram alir penelitian...................................................................31
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia sudah semakin pesat. Ilmu
dari segala bidang telah mempunyai porsinya masing-masing dalam kehidupan
manusia. Dari bidang teknologi keteknikan yang berkembang pada bidang
kelistrikan meliputi segi pembangkitan listrik hingga ke ranah pengiriman sinyal
yang berdaya rendah. Pada sisi tersebut, berkembang pula teknologi aplikatif yang
digunakan pada industri-industri dan fabrikasi, seperti digunakannya motor dalam
proses fabrikasi yang menuntut adanya pengendalian motor induksi.
Motor induksi adalah peralatan yang mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik yang banyak digunakan pada industri dan memiliki rancangan yang
sederhana. Motor induksi memiliki karakteristik yang membuatnya dapat
dikendalikan kecepatannya dengan mengubah-ubah besar tegangan masukan
maupun mengubah frekuensi masukannya.
Oleh karenanya motor induksi membutuhkan pengendalian pada frekuensi dan atau
tegangan masukannya, maka perkembangan teknologi merambah bidang
pengendalian motor induksi. Pengendalian motor induksi dalam hal tegangan dapat
dilakukan dengan mengubah tegangan masukannya. Kemudian, pengendalian
2
motor induksi dari segi frekuensi dilakukan tidak dengan serta merta mengubah
frekuensi masukan, karena frekuensi masukan dari pasokan daya listrik tidak bisa
berubah.
Perubahan frekuensi untuk pengendalian motor ini kemudian menjadi salah satu
fokus dalam penelitian. Ada beberapa macam teknik mengubah frekuensi motor
induksi, yaitu dengan cara menggunakan peralatan yang memanfaatkan devais
semikondukor, seperti inverter, ataupun dengan menggunakan cycloconverter.
Kedua peralatan tersebut menggunakan modifikasi perubahan frekuensi tegangan
dan/atau frekeunsi dengan mengubah lebar pulsa pensaklaran pada peralatan
saklarnya, yaitu IGBT ataupun MOSFET.
Namun, karenanya inverter memiliki komponen DC dalam pembentukan
gelombang AC melalui pensaklaran, oleh karena itu inverter mempunyai nilai
harmonisa yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan cycloconverter, yang hanya
mengubah tegangan AC menjadi tegangan AC. Metode pengaturan pada
cycloconverter juga menjadi lebih sederhana. Oleh karena itu, cycloconverter lebih
dipilih pada penelitian ini.
Pada penelitian ini, akan dibahas mengenai desain cycloconverter 3 fasa ke 3 fasa
dengan variabel frekuensi. Perubahan frekuensi akan dilakukan untuk mengubah
kecepatan motor induksi 3 fasa. Dari perubahan frekuensi akan didapatkan
perbedaan unjuk kerja pada motor induksi, yang kemudian akan dianalisa.
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk mendapatkan desain
pengendalian motor induksi 3 fasa dengan metode menggunakan cycloconverter.
3
1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu sebagai berikut.
1.
Membuat simulasi cycloconverter 3 fasa dengan frekuensi keluaran yang
variabel (berubah-ubah) sebagai masukan untuk motor induksi 3 fasa.
2.
Menganalisa unjuk kerja motor induksi 3 fasa berupa arus, tegangan dan
kecepatan putar, dengan masukan variabel frekuensi dari cycloconverter 3
fasa.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1.
Mendapatkan desain pengendalian motor induksi 3 fasa yang lebih sederhana
dengan perubahan frekuensi.
2.
Mendapatkan desain pengendalian kecepatan motor induksi 3 fasa yang
membutuhkan pengendalian yang lebih sederhana dibandingkan konverter
variabel frekuensi lainnya.
1.4 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana desain pengendalian motor 3 fasa menggunakan cycloconverter 3
fasa?
2.
Bagaimana unjuk kerja motor induksi 3 fasa yang dikendalikan kecepatannya
oleh cycloconverter?
4
1.5 Batasan Masalah
Adapun batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Penelitian ini hanya membahas mengenai cycloconverter 3 fasa untuk
pengendalian kecepatan motor induksi 3 fasa.
2.
Penelitian ini tidak membahas mengenai analisis harmonisa yang dihasilkan.
3.
Penelitian ini hanya membahas pengaruh unjuk kerja motor akibat pengaturan
frekuensi masukan motor induksi 3 fasa.
1.6 Hipotesis
Cycloconverter dapat digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor induksi 3
fasa dengan mengubah frekuensi masukan motor induksi 3 fasa.
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika pada penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, manfaat, rumusan
masalah, batasan masalah, hipotesis, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini menjelaskan mengenai landasan teori secara garis besar yang
berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini menjelaskan tentang langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
5
Pada bab ini berisi mengenai hasil pengujian dan pembahasan terhadap hasil
penelitian yang diperoleh.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian serta saran-saran untuk
penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
6
BAB II
TEORI DASAR
2.1
Cycloconverter
Cycloconverter adalah konverter yang mengubah listrik AC menjadi listrik AC
dengan parameter berbeda. Perbedaan paramater antara masukan dan keluaran
cycloconverter yang bisa dibuat adalah frekuensi, tegangan dan fasa.
Cycloconverter banyak dimanfaatkan oleh industri dan pabrik yang menggunakan
motor induksi. Cycloconverter digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor
induksi.
Cycloconverter
peengendalian
berbasis
menggunakan
pulsa,
seperti
devais
PWM
semikonduktor
untuk
dengan
mengendalikannya.
Cycloconverter ini mempunyai kelebihan lebih sederhana dalam aplikasinya untuk
mengontrol, namun lebih membutuhkan banyak komponen semikonduktor.
Konverter jenis ini yang akan menjadi fokus dari penelitian ini, dan akan dibahas
lebih lanjut pada sub-bab selanjutnya.
Cycloconverter adalah peralatan yang digunakan pada industri skala besar untuk
mengatur kecepatan motor. Konverter jenis ini digunakan untuk mengatur frekuensi
pada pengendali frekuensi variabel dengan rating dari beberapa megawatt sampai
dengan puluhan megawatt. Pengendalian yang dilakukan cycloconverter didapat
dengan mengatur pulsa penyalaannya dengan bantuan PWM. Hal ini dapat
7
dilakukan dengan menggunakan devais semikonduktor SCR pada rangkaiannya
[1].
Cycloconverter adalah jenis pengontrol daya dimana tegangan dan frekuensi listrik
AC dari masukannya diubah langsung mengikuti frekuensi beban tanpa melewati
sebuah komponen atau perubahan ke tegangan DC. Cycloconverter juga
mempunyai kemampuan mengatur secara langsung kedua parameter yaitu tegangan
dan frekuensi keluarannya. Menurut [2], frekuensi normal pada cycloconverter
adalah 1/3 dari frekuensi masukannya. Selain itu juga, distorsi harmonik kerap
muncul, namun semakin kecil jika frekuensi keluarannya lebih kecil.
Berikut ini adalah contoh rangkaian sederhana dari sebuah cycloconverter satu fasa
[3].
Gambar 2.1 Cycloconverter Satu Fasa
Pada gambar 2.1, terlihat bahwa cycloconverter sederhana satu fasa digunakan
untuk menyuplai daya ke beban AC. Rangkaian di atas menggunakan 4 buah
thyristor tipe-P dan 4 buah SCR tipe-N. Sinyal hasil dari modulasi pensaklaran di
atas akan menghasilkan sinyal positif oleh SCR tipe-P dan sinyal negatif oleh SCR
tipe-N. Jika digunakan susut penyalaan berdasarkan sudut, kita anggap tipe-P
8
adalah αp, maka sudut penyalaan untuk tipe-N adalah αn dengan besar sudut
penyalaan yaitu π - αp.
Jika ada sebuah cycoconverter satu fasa dengan frekuensi 50Hz, dengan 2 buah
grup pensaklaran negatif dan positif, maka cycloconverter akan bekerja seperti ini:
jika frekuensi akan diturunkan menjadi setngah dari frekuensi awal, maka saat
siklus positif gelombang, konverter grup positif akan dihidupkan, dan kemudian
ketika siklus negatif, maka grup positif akan tetap hidup, namun grup negatif akan
mati. Lalu, saat siklus positif berikutnya, grup konverter positif akan mati, namun
grup negatif akan hidup, dan kemudian saat siklus positif kembali, maka grup
positif akan mati, dan grup negatif akan hidup. Pada akhirnya, gelombang akan
menmpunyai frekuensi setengah dari frekuensi awal. Hidup dan matinya grup
konverter dikendalikan oleh rangkaian pensaklaran.
Rangkaian pensaklaran pada cycloconverter ada yang menggunakan hanya
rangkaian penyelaras untuk mengubah siklus negatif dan positif pada
cycloconverter untuk mengubah frekuensi keluaran, ataupun dengan menggunakan
topologi jembatan, untuk mendapatkan geelombang keluaran seperti sinusoidal
murni. Namun, teknik pensaklaran yang digunakan lebih sederhana dengan
menggunakan rangkaian penyelaras untuk mengubah frekuensi cycloconverter.
2.2 Jenis-jenis Cycloconverter
Ada beberapa jenis cycloconverter, berdasarkan topologinya dan berdasarkan
fasanya [4]. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut terkait cycloconverter.
2.2.1 Cycloconverter berdasarkan topologi rangkaiannya
2.2.1.1 Non-circulating Current
9
Cycloconverter jenis ini adalah cycloconverter dengan hubung paralel antara saklar
semikonduktor tipe positif dan saklar semikonduktor tipe negatif. Bentuk rangkaian
jenis ini akan dijelaskan oleh gambar dibawah ini.
Gambar 2.2 Cycloconverter 3 fasa ke 1 fasa dengan topologi non-circulating
current
Pada gambar 2.2, tiap unit pensaklaran mempunyai 3 buah SCR indentik, dan
terhubung paralel. Rangkaian pensaklaran SCR bagian positif akan konduksi jika
daya mengalir pada bagian positif, dan pensaklaran SCR begain negatif akan
konduksi jika aliran daya mengalir pada bagian negatif. Pada mode ini, harmonisa
yang dihasilkan tinggi. Hasilnya, frekuensi yang rendah dan arus yang mengalir
akan menjadi terbatas, dan membuatnya kurang ideal sebagai pengendalian.
Biasanya, topologi jenis ini mempunyai filter diantara keluaran konverter dan beban
untuk mengurangi dampak kerusakan beban akibat harmonisa yang timbul.
10
2.2.1.2 Circulating Current
Pada topologi jenis ini, bagian pensaklaran positif dan negatif dari kedua jenis
komponen pensaklaran tidak akna terhubung langsung secara paralel, namun akan
terhubung secara paralel dengan kedua bagian secara terpisah. Jadi, semua SCR,
baik bagian positif dan negatif tidak akan terhubung langsung seluruhnya secara
paralel, namun melalui jalur yang telah disederhanakan. Pensaklaran pada topologi
jenis ini juga lebih sederhana, dimana pensklaran jenis ini akan sama-sama
konduksi pada waktu yang bersamaan, dan arus akan mengalir mengelilingi
rangkaian yang dibentuk menjadi 2 grup dan induktor yang terpasang seri. Induktor
yang terpasang seri tadi sedikit besar nilainya untuk membatasi arus sirkulasi untuk
mengamankan rangkaian. Berikut ini adalah gambar topologi jenis circulating
current.
Gambar 2.3 Cycloconverter 3 fasa ke 1 fasa dengan topologi circulating current
Kemudian, harmonisa keluaran dari topologi jenis ini juga akan menjadi lebih kecil
dan frekuensi keluaran yang diatur juga bisa lebih tinggi dari jenis sebelumnya.
Namun, rangkaian ini memiliki faktor daya yang rendah, dan biasanya digunakan
11
kapasitor untuk mengkompensasi faktor daya yang rendah tadi sesuai kebutuhan.
Tegangan keluaran yang dihasilkan di beban akan sama dengan persamaan berikut
ini.
( )=
( )
( )
(2.1)
Dimana,
V(t) = tegangan
Pos = bagian positif pensaklaran
Neg = bagian negatif pensaklaran
2.2.2 Cycloconverter berdasarkan fasanya
Pada bahasan kali ini, akan dijelaskan cycloconverter berdasarkan jenis fasa pada
bagian masukan dan keluaran yang dihasilkan[5]. Beberapa jenisnya adalah sebagai
berikut.
2.2.2.1 Satu fasa - satu fasa
Jenis ini mengubah tegangan AC satu fasa menjadi tegangan AC satu fasa dengen
perbedaan frekuensi antara tegangan masukan dan tegangan keluarannya.
Konverter ini menggnakan 4 buah SCR (Sillicon Controlled Rectifier), dimana
masing-masing 2 buah bertipe-P dan 2 buah bertipe-N. bagian dengan tipe-P akan
menghasilkan gelombang selama siklus positif, dan bagian negatif akan
menghasilkan gelombang selama siklus negatif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 2.4 di bawah ini.
12
Gambar 2.4 Cycloconverter satu fasa – satu fasa
Pada gambar di atas, misalnya yang akan dihasilkan di beban adalah gelombang
dengan frekuensi 1/5 dari frekuensi gelombang masukannya, maka T1 dan T2 harus
hidup selama 5,5 siklus untuk menghasilkan gelombang positif, dan sisanya untuk
menghasilkan, dan sisanya selama 5,5 siklus berikutnya, T3 dan T4 harus hidup
untuk membentuk setengah siklus positif. Penyalaan dilakukan pada SCR yang
dikendalikan dengen menggunakan pemicu dengan waktu tunda. Lalu, gelombang
keluaran yang dihasilkan akan menjadi seperti berikut.
13
Gambar 2.5 Hasil gelombang keluaran cycloconverter satu fasa – satu fasa
2.2.2.2 Tiga fasa - satu fasa
Konverter ini mengubah gelombang tegangan masukan AC 3 fasa menjadi
gelombang tegangan masukan AC yang lebih rendah frekuensinya. Frekuensi
masukan dan keluaran tergantung pada proses penyalaan SCR, sesuai dengan
kebutuhan. Konverter ini memiliki masing masing 3 buah komponen pensaklaran
tipe-P, dan 3 buah tipe-N. Berikut ini adalah topologi cycloconverter jenis 3 fasa –
1 fasa.
14
Gambar 2.6 Cycloconverter 3 fasa – 1 fasa
Pada gambar terdapat grup konverter tipe-P dan tipe-N, dengan masing masing grup
memiliki SCR 3 buah. Tegangan yang diubah berasal dari tegangan 3 fasa dengan
hubung Y (Wye). Tegangan yang akan dirasakan pada beban adalah tegangan yang
mempunyai frekuensi sesuai dengan pengaturan pensaklaran pada SCR. Jika
dianggap frekuensi yang akan digunakan pada keluaran adalah 1/6 dari frekuensi
masukan, maka gelombang pada rangkaian adalah sebagai berikut.
15
Gambar 2.7 Gelombang yang dihasilkan cycloconverter 3 fasa – 1 fasa
2.2.2.3 Tiga fasa - tiga fasa
Cycloconverter jenis ini menggunakan sumber 3 fasa dan tegangan keluaran 3 fasa
dengan frekuensi berbeda[6]. Jenis ini menggunakan 6 buah SCR per fasa, dengan
masing masing 3 buah frup positif SCR dan 3 buah grup negatif SCR. Frekuensi
keluaran yang dihasilkan dari rangkaian diatur dengan sudut penyalaan pada SCR
yang dibangkitkan oleh gate driver. Gambar rangkaian dari cycloconverter 3 fasa –
3 fasa adalah sebagai berikut.
16
Gambar 2.8 Cycloconverter 3 fasa – 3 fasa
2.3
Motor Induksi
Motor induksi dewasa ini sudah banyak digunakan pada industri dan di pabrikpabrik besar. Motor ini juga kerap digunakan pada industri menengah dan bahkan
di rumah tangga. Mulai dari peralatan dapur, sampai dengan peralatan
perbengeklan, sudah banyak menggunakan motor induksi. Motor ini memerlukan
suplai berupa tegangan AC yang memiliki frekuensi nominal sesuai dengan
karakteristik motor tersebut.
Motor induksi memiliki bagian penting yang sama dengan motor listrik lainnya.
Bagian penting tersebut adalah rotor, stator dan celah udara. Rotor adalah bagain
motor yang bergerak karena adanya interaksi medan listrik yang timbul akibat gaya
gerak listrik karena timbul fluks akibat lilitan yang dialiri arus listrik. Stator adalah
17
bagain diam yang memiliki gaya gerak listrik yang timbul karena adanya lilitan
padanya yang dialiri arus listrik dan menimbulkan gaya gerak listrik. Celah udara
adalah tempat terjadinya fluks magnet yang menimbulkan gaya gerak listrik, tanpa
celah udara, maka tidak akan ada fluks dan gaya gerak listrik yang timbul.
Prinsip kerja motor induksi secara singkat dalah sebagai berikut. Lilitan pada stator
yang dialiri arus listrik akan menginduksi fluks magnet dan akan memotong lilitan
pada rotor dan mengakibatkan adanya gaya gerak listrik. Kemudian, karena adanya
aliran arus pada rotor yang merupakan lilitan dengan rangkaian tertutup, maka
rotor akan ada pada garis fluks stator tadi, yang kemudian akan timbul gaya
Lorentz. Lalu, rotor akan bergerak searah dengan gerak medan induksi yang
ditimbulan stator dan menimbulkan torsi gerak akibat gaya Lorentz. Persamaan
umum gaya Lorentz yaitu sebagai berikut.
=
. . .
Ɵ
(2.2)
Dengan keterangan sebagai berikut.
F = Gaya Lorentz (N)
B = Kerapatan Fluks Magnet (W/m2)
I = Arus pada penghantar (A)
L = Panjang konduktor (m)
Ɵ = sudut fasa
Kemudian, kecepatan putaran motor induksi ditentukan pada jumlah kutub yang
ada pada stator. Semakin banyak jumlah kutub pada stator, maka kecepatan putar
18
motor akan semakin rendah (dalam frekuensi yang tetap). Kecepatan putaran motor
diukur dengan satuan banyaknya putaran per menit atau siklus putaran yang
dilakukan oleh motor saat berpuar dalam waktu satu menit. Persamaan yang
digunakan untuk menghitung putaran motor dapat dilihat di bawah ini.
=
(2.3)
Persamaan dari keterangan di atas adalah sebagai berikut.
Ns = kecepatan putaran motor (rpm)
f = frekuensi (Hz)
P = jumlah pasang kutub (1 pasang adalah utara dan selatan)
Selain itu, pada motor induksi juga mengenal adanya istilah slip. Slip adalah
perbedaan kecepatan putaran sinkron dengan kecepatan pada rotor. Karena adanya
rugi-rugi, baik rugi-rugi pada lilitan, rugi-rugi mekanik, dan bahkan rugi-rugi dari
magnetik, oleh karena itu slip menjadi pertimbangan dalam motor induksi. Slip
dinyatakan dengan persentase dari 0% hingga 100%. Persamaan untuk menghitung
slip adalah sebagai berikut.
%
=
Dimana,
Ns adalah kecepatan sinkron dan,
Ns – N adalah kecepatan slip.
× 100
(2.3)
19
Pada motor induksi 3 fasa, perbedaannya ada pada konstruksi motor induksinya.
Motor induksi 3 fasa memerlukan sumber 3 fasa karena kumparannya sedemikian
rupa dibuat untuk 3 buah fasa dengan perbedaan sudut antara masing-masing fasa
adlah 120o. Motor induksi 3 fasa membutuhkan tegangan suplai dengan besar 380V
antarfasa dan memiliki tegangan 220V antara fasa ke netral. Selebihnya, semua
variabel dan parameternya kurang lebih hampir sama dengan motor induksi satu
fasa.
2.4
Pengendalian Putaran Motor Induksi
Ada beberapa macam teknik pengendalian motor induksi, karena dilihat dari
konstruksi motor, karakteristik motor dan juga proses pembangkitan torsi pada
motor. Khusus untuk pengendalian frekuensi secara langsung, maka motor induksi
dapat diatur melalui tegangan masukannya, frekuensi masukannya, bahkan diatur
keduanya secara bersamaan.
Menurut Zuhal (1995: 120) [7], ada beberapa cara dalam pengontrolan putaran
motor induksi, yaitu sebagai berikut.
2.4.1 Mengubah jumlah kutub motor
Pengaturan untuk mengubah jumlah putaran pada motor induksi dengan mengatur
jumlah kutub adalah berdasarkan pada persamaan keccepatan putan motor, yaitu
pada persamaan (2.3), dimana kecepatan putar motor dipengaruhi oleh banyaknya
kutub. Berdasarkan persamaan (2.3), maka untuk memercepat putaran motor, maka
kutub yang ada harus diperkecil, misalnya dari 2 menjadi 4. Begitupun sebaliknya,
untuk memperlambat putaran motor, yaitu memperbanyak kutub motor, misalnya
dari 2 menjadi 4.
20
2.4.2 Mengubah frekuensi
Berdasarkan persamaan (2.3) pengaturan putaran motor dapat dilakukan pula
dengan mengubah frekuensi motor, dimana untuk menambah kecepatan, frekuensi
masukan harus diperbesar, karena kecepatan putar dan frekuensi nilainya
sebanding. Begitupun sebaliknya, untuk memperlambat putaran motor, maka
frekuensi masukannya dapat dikurangi menjadi frekuensi yang diinginkan.
Persoalan lebih lanjut adalah pengaturan frekuensi dengan cara yang mudah dan
biaya yang murah.
Frekuensi dari gelombang sinusoidal yang disuplai pada motor, akan menentukan
kecepatan putar motor. Hal itu terjadi karena fluks yang timbul pada motor akan
lebih kecil dan lebih lambat, pada jumlah kutub yang tetap. Pada penelitian kali ini,
akan digunakan pengubahan frekuensi untuk mengontrol putaran motor induksi 3
fasa. Motor induksi berputar sebanding dengan frekuensi yang diberikannya. Saat
1 siklus frekuensi diberikan, maka motor induksi akan berputar memotong kutub
magnet utara dan selatan sebanyak 1 kali. Jika diberikan frekuensi lebih tinggi
dengan jumlah kutub pada stator yang tetap, maka motor induksi akan berputar
lebih cepat. Perubahan frekuensi untuk mengendalikan motor dipilih karena untuk
mengubah kutub magnet pada stator tidak mungkin dilakukan secara cepat dan
mudah, karena berhubungan dengan konstruksi motor.
2.4.3 Mengatur tegangan
Mengatur tegangan untuk mengatur putaran motor induksi dapat dilakukan dengan
jalan mengubah besaran tegangan masukan pada terminal motor induksi. Tegangan
21
yang diubah besarannya pada motor induksi akan mengakibatkan adanya
penurunan torsi karena adanya perubahan GGL yang timbul pada motor induksi.
Kemudian, karena adanya penurunan GGL pada motor tadi akan mengakibatkan
kecepatan motor semakin rendah, karena gaya yang diakibatkan pada stator motor
induksi menjadi semakin rendah. Namun, pengaturan tegangan kurang diminati
karena mengakibatkan adanya perubahan kecepatan yang kurang dapat
dikendalikan secara akurat, dan memiliki torsi yang rendah. Oleh karena itu,
pengendalian kecepatan putaran motor induksi lebih banyak dilakukan dengan
mengubah besar nilai frekuensi pada terminal masukan motor induksi.
2.5
Harmonisa
Menurut standar IEC 1000.4-11, harmonisa adalah gangguan distorsi gelombang
yang merupakan termasuk distorsi bentuk gelombang[8]. Harmonisa sendiri terjadi
karena adanya gelombang dengan frekuensi kelipatan periodik sistem (misalnya
100 Hz, yang merupakan kelipatan dari frekuensi asal 50 Hz), akibat adanya
pengoperasian beban non-linear pada sistem. Frekuensi dasar yang telah berkalilipat tadi yang mempengaruhi gelombang tegangan asal disebut frekuensi
harmonisa. Sedangkan, pengali dari frekuensi dasar yang mengakibatkan
harmonisa tadi adalah urutan harmonisa, atau yang biasa disebut orde harmonisa.
Beban non-linear pada sistem muncul karena adanya perkembangan devais
semikonduktor, yang dipergunakan untuk merekayasa gelombang tegangan untuk
keperluan pensaklaran dan pengaturan kecepatan pada motor. Beberapa contoh
beban non-linear yang ada saat ini adalah contohnya inverter, adjustable speed
drive, thyristor, SCR dan konverter lain yang menggunakan devais semikonduktor
22
sebagai pensaklaran dengen frekuensi tinggi. Beban-beban tersebut berubah-ubah
dari waktu ke waktu dengan cepat secara non-linear.
Tolak ukur pengukuran harmonisa pada suatu sistem dinyatakan dengan THD
(Total Harmonic Distortion). THD adalah satuan ukur dalam harmonisa yang
dinyatakan dengan persentase (0% - 100%). Nilai THD sendiri mencakup kedua
aspek pada kelistrikan, yaitu tegangan dan arus. Masing-masing tegangan dan arus
memiliki nilai THD-nya masing-masing pada sistem dengan beban non-linear.
THD juga memiliki standarisasi yang diperbolehkan ada pada sistem, dengan
ketentuan lebih lanjut yang dibahas pada IEEE-519.
Harmonisa arus menimbulkan adanya panas yang berlebihan pada bagian
konduktor mesin-mesin induksi, seperti transformator, motor dan generator.
Pemanasan yang berlebih tadi mengakibatkan adanya rugi-rugi yang membuat
penurunan efisiensi pada peralatan mesin induksi.
Persamaan untuk menghitung besarnya harmonisa adalah sebagai berikut[8].
=
∑
Dengan keterengan,
THD = Distorsi Harmonisa Arus Total (%)
= Arus frekuensi dasar (A)
= Arus harmonisa ke-h (A)
h
= Bilangan integer 2, 3, 4, 5,.....
× 100%
(2.4)
23
Untuk menghitung THD tegangan, persamaan 2.4 dapat digunakan juga, namun
dengan mengganti nilai arus (i) pada persamaan 2.4 dengan nilai tegangan (v).
Maka, akan didapatkan nilai harmonisa tegangan.
2.6
Tegangan
Tegangan adalah satuan yang dinyatakan untuk mengukur perbedaan potensial pada
suatu sistem, beban, atau pun rangkaian. Tegangan dapat diukur dengan
menggunakan alat bernama voltmeter. Pengukuran tegangan pada sesuatu
dilakukan dengan menghubungkan seri alat ukur voltmeter dengan sesuatu yang
akan diukur. Tegangan pada dasarnya memiliki persamaan seperti di bawah ini.
=
(2.5)
Tegangan ada dua jenis, yaitu tegangan AC (Alternating Current) dan tegangan DC
(Direct Current). Tegangan AC adalah tegangan yang timbul akibat adanya
aktivitas induksi magnetik pada generator, yang membuat tegangan mempunyai
frekuensi, karena nilainya mempunyai nilai positif dan negatif secara periodik.
Sedangkan, tegangan DC adalah tegangan yang timbul karena adanya elemen
penyimpan tenaga, seperti baterai, dan tidak memiliki frekuensi. Tegangan DC juga
biasa kita sebut tegangan searah.
Parameter tegangan AC ada beberapa macam, yaitu Vmaks, Vrms, dan Vavg.
Vmaks adalah tegangan puncak yang terukur pada osiloskop, dimana nilainya
adalah nilai puncak tertinggi dari suatu tegangan AC. Kemudian, tegangan Vrms
adalah tegangan yang memiliki nilai 70,7 % dari Vmaks. Sedangkan, Vavg adadlah
tegangan yang nilainya 63,6 % dari Vmaks. Sebagai contoh, sebuah tegangan
24
memiliki puncak (Vmaks) 380 V. Maka, nilai Vrms dan Vavg adalah sebagai
berikut.
= 0.707
380
= 0.636
380
= 268,66
= 230,28
2.7
(2.6)
Frekuensi dan periode
Frekuensi adalah sebuah satuan yang dinyatakan untuk menggambarkan seberapa
banyaknya gelombang melakukan siklusnya adalam satuan waktu. Frekuensi hanya
dimiliki gelombang yang memiliki puncak positif dan negatif yang periodik, seperti
gelombang sinusoidal contohnya. Frekuensi terdapat pada gelombang bunyi dan
gelombang listrik. Jika kita pernah mendengar sebuah bunyi mengeluarkan
frekuensi sebsar 5 Hz, artinya bunyi tersebut mempunyai puncak gelombang positif
dan negatif sebanyak 5 kali dalam 1 detiknya. Pada listrik, hanya listrik AC saja
yang memiliki frekuensi. Frekuensi pada listrik AC di Indonesia adalah 50 Hz, yang
berarti ada 50 kali siklus gelombang positif dan negatif dalam 1 detiknya. Frekuensi
listrik di Indonesia terjadi karena adanya kerja putaran dari generator (pembangkit
listrik) yang mempunya frekuensi 50 Hz.
Periode adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah gelombang untuk
menyelesaikan sebuah siklus gelombang. Periode dan frekuensi berbanding
terbalik. Jika semakin besar frekuensi, maka periode sebuah gelombang memiliki
nilai yang semakin kecil. Berikut ini adalah contoh gelombang tegangan yang
mempunya frekuensi 50 hz.
25
(Sumber http://jorisvr.nl/images/grid-frequency/sine.png)
Gambar 2.9 Gelombang dengen frekuensi 50 Hz
Oleh karena frekuensi dan periode berbanding terbalik, maka penentuan frekuensi
pada gambar 2.9 dapat ditentukan oleh persamaan seperti berikut ini.
=
1
(2.7)
Dari persamaan di atas, untuk mencari besarnya periode, dapat dicari dengan
persamaan kebalikannya, yaitu seperti berikut ini.
=
1
(2.8)
Jika sebuah tegangan mempunyai frekuensi sebesar 50 Hz, maka periodenya jika
menggunakan persamaan 2.8, adalah sebesar 0,02 detik. Jadi, frekuensi 50 Hz
mempunyai periode sebuah gelombang penuh, yaitu positif dan negatif, selama 0,02
detik.
26
2.8
Deret Fourier
Deret fourier adalah salah satu bagian dari transformasi Fourier yang dapat
digunakan untuk menjelaskan suatu fungsi periodik ke sebuah sinyal. Deret fourier
digunakan dalam pencarian koefisien suatu harmonisa atau gangguan harmonik
yang terdapat pada suatu sinyal, baik itu tegangan ataupun arus. Selain itu,
gelombang harmonisa adalah gelombang yang periodik dan kontinyu dan
menjadikan sebuah gelombang memiliki bentuk lain dari gelombang aslinya.
Fungsi gelombang harmonisa sesuai dengan deret Fourier, dan dapat dinyatakan
dengan persamaan sebagi berikut[9].
( )=
+∑
(
cos ℎ
+
sin ℎ
)
(2.9)
Dimana, a0 adalah amplitudo gelombang sinyal asli dan komponen setelahnya
adalah gelombang sinyal harmonisa yang terdapat pada suatu gelombang. Nilai h
adalah nilai harmonik ke-h, dimana dari 1 (gelombang asli) sampai tak terhingga
nilainya. Karenanya, gelombang yang berharmonisa adalah penjumlahan dari
sebuah gelombang asli dan gelombang periodik kelipatan dari gelombang asli. Nilai
a dapat berupa tegangan atau arus, sesuai dengan fungsi sebuah sinyal yang akan
diuraikan.
Untuk mencari nilai harmonisa total, digunakan juga persamaan berdasarkan
persaman deret fourier pada persamaan 2.9, yaitu sebagai berikut.
∑
Dimana a adalah amplitudo sinyal harmonisa dan h adalah orde harmonisa.
(2.10)
27
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Pendahuluan
Penelitian ini akan dilakukan dengan mencari literatur dan referensi yang sesuai
dengan penelitian yang akan dilakukan. Selanjutnya kemudian penelitian akan
dilanjutkan dengan mencari komponen yang tepat, alat dan bahan yang sesuai yang
dibutuhkan untuk pembuatan peralatan. Lalu, penelitian dilanjutkan dengan
merangkai semua peralatan yang akan diuji dengan simulasi pada Simulink
MATLAB. Setelah rangkaian berhasil dibuat, akan dilakukan pengujian rangkaian.
Setelah semua rangkaian berhasil dan lolos uji, dilakukan pengujian terhadap
parameter yang sudah ditentukan, dan kemudian dilakukan analisis terhadap data
hasil yang didapatkan.
3.2
Waktu dan Lokasi
Pelaksanaan penelitian berlokasi pada Laboratorium Konversi Energi Elektrik,
Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Lampung pada hari kerja sejak hari
Senin sampai dengan hari Jumat, dimulai sejak bulan November 2016 dan
diperkirakan akan selesai hingga pada akhir bulan Februari 2017.
28
3.3
Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam melaksanakan penelitian
ini adalah sebagai berikut.
1.
Notebook TOSHIBA Satellite L840 64-bit dengan spesifikasi
a. OS Windows 10 64-bit
b. Processor Intel Core i5
c. RAM DDR3 2GB
d. HDD 1TB
e. LCD Screen 13”
f. AMD Radeon Graphics
2.
Perangkat lunak MATLAB R2014 64-bit
3.4
Prosedur penelitian
Dalam pengerjaan penelitian ini, ada beberapa prosedur yang dilakukan, yaitu
sebagai berikut.
3.4.1 Studi literatur
Tahap ini dilakukan untuk mencari referensi dan sumber untuk mendukung dalam
hal teori dalam perancangan dan pembuatan model rangkaian yang akan dibuat
pada tahapan berikutnya. Pada tahap ini juga dilakukan pencarian rancangan model
yang sesuai yang akan digunakan pada saat pemodelan pada perangkat lunak
dengan mempertimbangkan teori diantaranya yaitu seperti berikut ini.
1.
Cycloconverter
2.
Motor Induksi
3.
Pengontrolan Motor Induksi
29
4.
Simulink MATLAB
3.4.2 Pengumpulan alat dan bahan
Tahapan ini dilakukan dengan mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan yang
dibutuhkan setelah mempelajari beberapa literatur dan mencari referensi untuk
mendapatkan karakteristik peralatan yang diinginkan. Setelah semua peralatan dan
bahan tersedia dan dapat digunakan, maka dilanjutkan ke tahap kemudian setelah
ini.
3.4.3 Pembuatan model simulasi pada software penguji
Tahapan ini dilakukan setelah mendapatkan seluruh referensi yang tepat. Referensi
tadi digunakan untuk dasar acuan dalam membuat model pengontrolan motor
induksi berbasis cycloconverter. Pembuatan dilakukan pada software simulink
MATLAB. Setelah berhasil dibuat pemodelan yang tepat dan sesuai, tahap ini dapat
diselesaikan, dan melanjutkan ke tahap kemudian setelah ini.
3.4.4 Pengujian model
Pada tahap ini, akan dilakukan pengujian terhadap peralatan. Bagian-bagian
rangkaian yang akan diuji yaitu sebagai berikut.
1.
Rangkaian pensaklaran
2.
Cycloconverter 3 fasa
3.
Motor induksi 3 fasa
30
3.4.5 Pengambilan data
Pada tahapan ini, akan dilakukan pengambilan data yang akan dilakukan dengan
perubahan variabel-variabel yang ditentukan, guna mengetahui karakteristik
peralatan yang dibuat. Pada tahapan ini, nilai data hasil yang didapat akan diolah
menjadi berupa tabel atau grafik.
3.4.6 Analisa hasil data
Tahapan ini dilakukan setelah pengambilan data, dengan tujuan untuk
membandingkan data hasil dengan teori, apakah terjadi penyimpangan atau tidak.
Jika terjadi, apakah penyimpangannya terlalu jauh atau tidak. Selain itu, data yang
didapatkan akan dibandingkan dengan perhitungan manual menggunakan rumusrumus turunan yang digunakan berdasarkan prinsip rangkaian listrik.
3.5
Blok Diagram Penelitian
Berikut ini adalah blok diagram perancangan dari penelitian ini, yaitu seperti
berikut ini.
Rangkaian
Pensaklaran
Sumber 3
Fasa
Cycloconverter 3
fasa - 3 fasa
Motor
Induksi 3
fasa
Gambar 3.1 Blok diagram rancangan penelitian
Analisa
unjuk kerja
motor
induksi 3
fasa
31
3.6
Diagram Alir Penelitian
Diagram alir pelaksanaa penelitian adalah seperti berikut dibawah ini.
Mulai
Studi Literatur
Perancangan
Sistem
Pengujian Alat
Apakah simulasi
Sesuai ?
TIDAK
Ya
Pengambilan
Data
Analisa Hasil
Selesai
Gambar 3.2 Diagram alir penelitian
83
BAB V
PENUTUP
5.1
Simpulan
Adapun kesimpulan dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut.
1.
Dari hasil pengujian, respon tegangan motor induksi 3 fasa menunjukkan
respon yang semakin stabil seiring dengan nilai frekuensi keluaran
cycloconverter yang semakin besar.
2.
Dari hasil pengujian, respon arus dan torsi pada motor induksi 3 fasa
semakin baik dan stabil seiring dengan nilai frekuensi keluaran
cycloconverter yang bertambah besar.
3.
Dari hasil pengujian, kecepatan putar pada motor induksi dengan
pengendali cycloconverter mempunyai kecepatan yang semakin stabil
seiring dengan penambahan nilai frekuensi keluaran pada cycloconverter.
4.
Cycloconverter mengakibatkan harmonisa yang rendah di sistem pada
pengujiannya, dengan nilai harmonisa tegangan maksimum berada pada
nilai 0,13% dan harmonisa arus pada nilai 1,73%, dan berada di bawah 5%
pada setiap fasanya, sesuai dengan IEEE-519 dengan nilai harmonisa
maksimum pada sistem dibawah 20 kV, jika dioperasikan tanpa beban
motor induksi.
84
5.
Berdasarkan pengukuran, semakin besar frekuensi keluaran cycloconverter,
harmonisa tegangan menjadi semakin kecil, dimana harmonisa tegangan
dan harmonisa arus terbesar di frekeunsi 5 Hz adalah 72,33%. Sedangkan
pada perhitungan, nilai yang didapat sedikit lebih kecil, dimana harmonisa
tegangan dan arusnya pada 5 Hz adalah 53,5% dan 50 Hz adalah 0,003%.
6.
Perbedaan nilai perhitungan harmonisa total tegangan dan arus dengan nilai
pengujian, adalah karena pada pengujian, orde harmonisa yang diuji lebih
banyak dibandingkan orde harmonisa yang dihitung, dimana semakin
banyak orde yang diambil akan semakin mendekati nilai yang sebenarnya.
7.
Pembebanan motor induksi 3 fasa pada cycloconverter 3 fasa
mengakibatkan adanya lonjakan nilai harmonisa tegangan dan arus, dan
mengakibatkan adanya ketiddakseimbangan pada setiap fasa pada terminal
keluaran cycloconverter. Hal ini menyebabkan adanya osilasi berlebih pada
respon tegangan pada motor induksi.
8.
Cycloconverter mempunyai efisiensi yang tinggi, dimana Vrms line-toneutral pada ketiga fasa pada terminal masukan adalah 219,42 V, dan pada
terminal keluaran cycloconverter adalah sebesar 217,34 V.
5.2
Saran
Adapun saran pada penelitian ini adalah adanya perancangan penapis (filter) yang
dirancang untuk mengurangi bentuk gelombang frekuensi keluaran dari
cycloconverter yang memiliki puncak lebih dari 1. Dalam hal ini seperti halnya
frekuensi keluaran 25 Hz dari cycloconverter, memiliki puncak sebanyak 2. Akan
lebih baik lagi apabila dapat dirancang filter yang dapat mereduksi jumlah puncak
85
tegangan keluaran cycloconverter ini agar dapat mengurangi dampak respon dari
motor induksi yang berosilasi.
86
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Chapman, Stephen J. 1985. “Electric Machinery Fundamentals – 4th edition”.
United States: McGraw Hill Company.
[2]
Sindura, B. Sai. Kartheek, B. N. 2013. “Speed Control of Induction Motor
Using Cycloconverter”. India: International Journal of Engineering Trends
and Technology (IJETT) K L University.
[3]
Pande, Sandep. Dalvi, Hashit. 2011. “Simulation of Cycloconverter based
Three Phase Induction Motor.” Nagpur: International Journal of Advances in
Engineering & Tecnology (IJAET).
[4]
Skvarenina, Timothy L. 2001. “Power Electronics Handbook – Industrial
Electronics Series”. London: CRC Press LLC.
[5]
Djatmiko, Istanto W. 2010. “Bahan ajar elektronika daya”.Yogyakarta:
Kementrian Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Yogyakarta.
[6]
Rashid, Muhammad H. 2001. “Power Electronics Handbook”. California:
Academic Press – A Hartcourt Science and Technology Company.
[7]
Zuhal. 1995. “Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya.”. Jakarta:
P.T. Gramedia Pustaka Utama.
[8]
Priliasari, Fika. Gusmedi, H. 2007. “Studi pengaruh harmonisa pada arus
listrik terhadap besarnya penurunan kapasitas daya terpasang transformator
87
distribusi (Studi kasus: Trafo distribusi PT. PLN (Persero) wilayah Bekasi
Raya)”. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
[9]
Sudirham, Sudaryatno. 2012. “Analisis Rangkaian Listrik: Jilid 2”. Bandung:
Darpublic
Download