Untitled - Dewan Kesenian Jakarta

advertisement
Meja Bundar Musik - World Music
i
ii
Meja Bundar Musik - World Music
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan
atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana
Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat
1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling
lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum
suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Meja Bundar Musik - World Music
iii
iv
Meja Bundar Musik - World Music
MEJA BUNDAR MUSIK—WORLD MUSIC
Musik Tradisi Nusantara:
Merawat, Mengembangkan, Mengilhami
THE ROUND TABLE OF MUSIC—WORLD MUSIC
Music Tradition of Nusantara:
Fostering, Evolving, Inspiring
Teater Luwes, TIM, 3-4 September 2015
© Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Pembicara / Speakers
I Wayan Balawan, Rahayu Supanggah,
Rence Alfons, Trisutji Djuliati Kamal
Moderator / Moderators
Jabatin Bangun, Nyak Ina Raseuki
Penyunting / Editor
Zen Hae
Penerjemah / Translator
Miagina Amal
Penyelaras Bahasa / Proofreader
Helly Minarti
Desainer Grafis / Graphic Designer
Riosadja
Fotografer / Photographer
Eva Tobing
Videografer / Videographer
Joel Taher, Indra Perkasa
Cetakan pertama: Desember 2015
ix + 130 hlm; 148mm x 210mm
ISBN:
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73 Jakarta 10330
Telepon/Faksimile: (021) 3193 7639
Website: www.dkj.or.i
Meja Bundar Musik - World Music
v
DAFTAR ISI
TABLE OF CONTENTS
Sambutan Dewan Kesenian Jakarta Foreword from Jakarta Arts Council vi
vii
Pengantar Komite Musik DKJ Preface from the Music Committee viii
ix
Diskusi Hari Pertama First Day Discussion 3
29
Diskusi Hari Kedua Second Day Discussion 57
83
Biografi / Biographies 109
vi
Meja Bundar Musik - World Music
SAMBUTAN DEWAN KESENIAN JAKARTA
Dialektika kebudayaan di dunia ini tidak mengenal kategori negara maju, negara
berkembang atau negara miskin. Setiap negara punya kesenian yang saling
memengaruhi, menguatkan dan menjadi ciri khas masing-masing. Menyadari
dunia yang semakin terbuka, kita seperti tinggal dalam satu rumah ketika
kesenian semakin dikenal luas oleh masyarakat dunia. Misalnya, blues dari
Afrika atau reggae dari Kepulauan Karibia yang kini telah dikenal luas di dunia.
Hal ini menegaskan bahwa pada dasarnya kehidupan kesenian itu beragam dan
tidak didominasi hanya oleh kekuatan monoartistik.
Nusantara terdiri atas ribuan jenis musik tradisi yang lahir dan hidup dalam
denyut kehidupan masyarakatnya yang beragam. Musik-musik itu berasal
dari akar budaya yang berbeda, namun berada dalam satu rumah “Bhineka
Tunggal Ika”. Oleh karena fungsi kesenian adalah selalu mencari varian dan
perkembangan, keberagaman artistik yang dihasilkan lewat eksperimentasi
akan akar kesenian sangat penting diperbincangkan dan dijaga kelestariannya.
Upaya menempatkan musik tradisi kita dalam konstelasi musik dunia adalah
juga upaya merekontruksi kebudayaan dunia.
Untuk itu, Dewan Kesenian Jakarta merasa perlu menyelenggarakan program
yang mengangkat musik tradisi Nusantara sebagai persembahan bagi generasi
penerus musik Indonesia. Bersama Komite Musik, gagasan tersebut terpenuhi
dalam “Meja Bundar Musik—World Music”. Kami ucapkan terima kasih kepada
moderator Nyak Ina Raseuki dan Jabatin Bangun; narasumber I Wayan Balawan,
Rahayu Supanggah, Rence Alfons, Trisutji Djuliati Kamal; penyunting Zen Hae
dan para panitia yang telah mewujudkan acara ini.
Irawan Karseno
Ketua Pengurus Harian
Dewan Kesenian Jakarta
2013-2015
Meja Bundar Musik - World Music
FOREWORD FROM JAKARTA ARTS COUNCIL
The classifying of developed, developing and underdeveloped countries is absent
in the dialectic of world cultures. Every country has a unique artistic expresssion
that could influence and support the other - and vice versa - to become one’s
distinct character. With the ever open and approachable world, it seems that we
are living in one mutual home when artistic expression has become appreciated
by a larger society in the world. For instance, blues music from Africa and reggae
from the Caribbean Islands had become world-famous. This underlines that art is
diverse and is not dominated by a monoartistic influence.
The Indonesian archipelago—or as we lovingly call “Nusantara”—is a home of
thousands of traditional music, born and flourishing in the thriving lives of its
diverse communities. The music originated from heterogeneous cultural roots,
yet united in one home, “Unity in Diversity”, our national motto. Since the purpose
of music is to seek for variety and progress, it is crucial to discuss and preserve
the artistic range resulted from exploring the traditional roots. In this sense, our
effort in placing our traditional music within the constellation of world music is
also an effort to reconstruct the world culture.
To honor that, Jakarta Arts Council senses the urgency to run a program that
elevates the traditional music of Nusantara as a tribute to the next generation
of Indonesian musicians. Together with the Music Committee, this initiative is
realized through “The Round Table of Music—World Music”. We sincerely thank the
moderators Nyak Ina Raseuki and Jabatin Bangun; our sources I Wayan Balawan,
Rahayu Supanggah, Rence Alfons, Trisutji Djuliati Kamal; editor Zen Hae and the
organizing committee behind this program.
Irawan Karseno
Chairman
Jakarta Arts Council
2013-2015
vii
viii
Meja Bundar Musik - World Music
PENGANTAR KOMITE MUSIK DEWAN KESENIAN JAKARTA
Salam musik,
Sudah menjadi perhatian setiap penggiat budaya di Indonesia akhir-akhir ini
bahwa warisan budaya memiliki peran yang cukup penting dalam menentukan
arah republik ini. Warisan budaya adalah salah satu kekayaan kita yang terus
digali dan tidak akan kunjung habis. Namun, semua itu memerlukan usaha yang
tak kenal lelah dari para penggiatnya.
Meja Bundar Musik adalah gagasan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta
untuk menyajikan diskusi yang menarik ditonton. Kami mengundang tokohtokoh musik dalam tema yang aktual, dengan membelokkan rute kegiatan
mereka hingga berpotongan satu sama lain di waktu dan tempat yang sama.
Perpotongan sesaat ini tentu saja sebuah perkenalan yang memengaruhi satu
sama lain dan menjadi peristiwa budaya tersendiri. Dua moderator, empat
narasumber, sebuah meja bundar, sejumlah pemirsa.
Pada edisi perdana ini Komite Musik memilih tema “World Music” dengan
subtema “Musik Nusantara: Merawat, Mengembangkan, Mengilhami”. Kami
mengundang empat penggiat musik tradisi. Mereka adalah komponis, pemusik
sekaligus motivator yang bertahun-tahun menempuh jalan dengan gigih untuk
menggali budaya musik Nusantara. World Music adalah istilah yang maknanya
masih luas dan menjadi polemik tersendiri. Judul ini sengaja kami hadirkan
tanpa membahas lebih lanjut asal muasalnya, membiarkan pemerhati Meja
Bundar Musik menyerap obrolan hangat para penampil.
Dokumentasi Meja Bundar Musik ini berupa terbitan dwibahasa dan video dengan
subtitel bahasa Inggris. Suatu usaha untuk menyediakan referensi multimedia
bagi para sarjana-peneliti di kemudian hari.
Komite Musik
Dewan Kesenian Jakarta
3013-2015
Aksan Sjuman
Budi Utomo Prabowo
Aisha Sudiarso Pletscher
Anusirwan
Meja Bundar Musik - World Music
PREFACE FROM MUSIC COMMITTEE OF THE JAKARTA ARTS COUNCIL
Greetings,
It is arguably the concern of every artist in Indonesia nowadays, that our cultural
heritage holds an important role in determining the course of this republic. Our
cultural heritage is a bottomless resource that we have to explore continually.
However, it is an effort that demands an unwavering commitment of the individuals.
The Round Table of Music is the initiative of the Music Committee of Jakarta Arts
Council to present a lively discussion. We invited notable figures in music industry
to discuss a current theme, thus resigning from their busy activities so they could
meet up in a specified moment and place. These points of intersections, however
brief, are indeed an introduction that influenced one another and emerged as a
unique cultural phenomenon. Two moderators, four sources, a round table, and
a group of viewers.
In this first edition, the Music Committee selected the theme of “World Music” with
the subtheme “Nusantara Music: Fostering, Evolving, Inspiring”. We invited four
traditional music figures: composers, musicians and motivators who for years
have strife to explore the music culture of Nusantara. World music is a general
term with flexible meaning and is something of a polemic. We selected this term
without further discussion on the origin, and just let the viewers absorb the lively
discussion between the speakers.
We documented the Round Table of Music in a bilingual print and video with English
subtitle. It is our best effort to provide a satisfactory multimedia references to
scholars and researchers of later day.
Music Committee
Jakarta Arts Council
2013-2015
Aksan Sjuman
Budi Utomo Prabowo
Aisha Sudiarso Pletscher
Anusirwan
ix
x
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
xi
xii
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
xiii
xiv
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
DISKUSI
HARI PERTAMA
/
FIRST DAY
DISCUSSION
1
2
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
DISKUSI HARI PERTAMA
Nyak Ina Raseuki
Selamat siang hadirin semua. Meja Bundar ini harfiah ya.
Sesekali kami harus menengok ke belakang, tanpa bermaksud
membelakangi anda. Konsep diskusi ini adalah bundar, jadi
kita memulai dari dengan sesuatu yang harfiah, bundar.
DKJ tepat memulai ini dengan konsep yang bundar. Kami
tidak harus memberi tahu siapa itu Rahayu Supanggah dan I
Wayan Balawan. Mereka akan bercerita sendiri siapa mereka
sebenarnya. Yang pasti kedua narasumber kita adalah orangorang yang punya dedikasi, yang memberikan seluruh waktu
mereka kepada kesenian; musik Nusantara adalah bagian dari
kehidupan mereka. Yang penting dari diskusi ini sebenarnya
bagaimana kita memahami proses kreatif, kreator, seniman,
produser. Yang tidak pernah kita share dalam pertemuan
adalah apa sih yang pernah dilakukan seniman tradisi. Itu yang
akan kita gali. Obrolan akan sangat cair. Kita tidak akan melihat
yang besar-besar, tapi kita cari dari yang kecil-kecil yang
membuatnya menjadi besar. Mungkin kita bisa mulai dari Mas
Panggah. Bang Jabatin, silakan.
Jabatin Bangun
Baik. Mas Panggah kok bisa terlibat dalam dunia musik. Dari
mana asalnya?
Rahayu Supanggah
Saya lahir dari keluarga seniman. Bapak saya seorang dalang,
ibu saya dalang, nenek saya semuanya keluarga dalang. Jadi
sejak kecil saya sudah mendengar pertunjukan wayang, suara
gamelan, tapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi seniman
karena saya tinggal di desa dan ayah saya miskin, saya takut
miskin. Saya tidak mau belajar kesenian, lebih senang pergi
sekolah daripada berlatih gamelan atau main wayang. Tapi
nasibnya memang sudah begitu. Waktu lulus SMP saya tidak
3
4
Meja Bundar Musik - World Music
punya uang untuk melanjutkan ke SMA, padahal cita-cita saya setelah tamat
SMP dan lanjut SMA adalah menjadi dokter atau insinyur. Akhirnya saya masuk
Konservatori Karawitan Indonesia (kini Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8
Surakarta—ed.) karena itu sekolah yang paling murah. Tidak memerlukan biaya,
malah buku disediakan oleh sekolah. Waktu masuk sekolah itu saya frustrasi.
Nakal sekali.
Selama saya belajar di Konservatori, walaupun saya tidak punya bakat, karena
tidak pernah belajar, saat itu ada misi kesenian kepresidenan ke Jepang, Korea
dan Cina. Saya dilibatkan dalam rombongan itu. Setelah melihat Jepang, Korea
dan Cina saya kok senang dan berangan-angan mungkin dengan menjadi wiyaga
‘pemain musik’ itu bisa juga menjadi orang. Saat itu saya baru serius belajar
gamelan. Dan satu hal yang menyadarkan saya, orang Jepang, Korea dan Cina
memiliki kesenian tradisional yang luar bisa dan hidup semua. Artinya, senimanseniman bisa menghidupi diri mereka dan karya-karya mereka hidup, tidak
hanya di negara mereka tapi juga di Eropa, Amerika dan sebagainya.
Perjalanan itu terjadi pada 1965. Ada satu hal yang menarik perhatian saya.
Ternyata kesenian-kesenian yang disebut tradisional itu—saya benci sekali
dengan istilah “tradisional”—bisa hidup ketika kesenian itu menjadi kontemporer,
menjadi baru. Maka mulai 1965 saya mencoba untuk mengutak-utik keseniankesenian yang menggunakan zaman dengan bentuk dan karakter kesenian yang
kontemporer. Ternyata langkah itu tidak terlalu salah. Kami banyak mendapat
kesempatan dan rezeki dari yang saya perbuat itu.
Jabatin Bangun
Kenapa Mas Panggah memilih menjadi pemusik, tidak menjadi dalang?
Rahayu Supanggah
Menjadi dalang itu susah sekali. Harus bisa ngomong, bisa nembang, memainkan
wayang, tahu cerita, tahu filsafat hidup. Banyak sekali persyaratannya. Kalau
jadi seniman gamelan, memukul-mukul apa yang bisa dipukul, ya bisalah. Jadi
saya mencari yang tidak terlalu mempersulit diri.
Nyak Ina Raseuki
Kita ke I Wayan Balawan. Bagaimana pengalaman bermusik Balawan sejak kecil?
I Wayan Balawan
Saya malu untuk menceritakannya, saya kebalikan dari Pak Supanggah. Saya
dilahirkan di keluarga yang cukup berada. Bapak saya seorang seniman, kepala
desa untuk urusan adat, mengurus pertunjukan, perkawinan. Ibu saya juga
Meja Bundar Musik - World Music
sama. Saudara saya ada tujuh orang. Dahulu tidak ada HP. Jadi, anak-anak harus
belajar menari dengan cara memanggil guru. Itu wajib. Jika setiap purnama, ada
odalan, kami harus bisa menari atau paling tidak menabuh gamelan. Suasana itu
membuat saya terbiasa dengan musik tradisional. Semakin mendarah daging.
Juga saat sekolah di SMP di Denpasar, orang bertanya, “Kamu dari Gianyar?”
“Oh, kamu pegang instrumen ini”. Walaupun tidak jago-jago amat, tapi risiko
orang dari Gianyar, sudah dianggap pintar. Gianyar itu gudangnya penari dan
pemusik. Ya dianggap bisa dan harus bisa.
Saya tinggal di daerah pariwisata, melihat banyak wisatawan, juga seniman
yang membawa gitar atau turis yang bermain musik. Saya memang sekolah
formal tetapi juga terpengaruh oleh lingkungan. Saya punya dua sisi: hari-hari
biasa saya tinggal di Denpasar untuk sekolah, Sabtu-Minggu tinggal di kampung.
Pergaulan saya berbeda. Di kampung tradisional, nongkrong (di) bale banjar,
di sanggar tari, sementara di Denpasar sudah modern, ngeband dan segala
macam.
Yang tradisional dan yang modern berjalan bersamaan sampai saya kelas 1
SMA. Di SMA saya ngeband, setelah itu pakai pakaian tradisional, main gamelan.
Lama-lama banyak yang jealous. Kok serakah banget, sih? Semuanya diambil.
Nyak Ina Raseuki
Jadi Balawan ini hidup di dua sistem musik, pentatonis dan diatonis. Mas Panggah
juga mengalami itu dengan kolaborasi-kolaborasi beliau, seperti dengan Kronos
Quartet. Saya dengar Mas Panggah sedang bekerja sama dengan kelompok
musik dari Australia yang masa kerjanya dua tahun. Boleh Mas Panggah
ceritakan pada kami?
Rahayu Supanggah
Ya, karena kepepet kadang saya mendapat kesempatan. Waktu saya sekolah di
Konservatori Karawitan Indonesia kemudian di ASKI (Akademi Seni Karawitan
Indonesia), berbeda dari Balawan di Bali yang banyak turis asingnya, di Solo turis
belum banyak saat itu. Saya blessing in disguise-lah. Waktu SMA saya senang
belajar bahasa Inggris walaupun jelek. Saat itu banyak sekali peneliti dan
seniman (musisi maupun komposer) yang datang ke Solo untuk belajar gamelan,
untuk main bersama, berkolaborasi dan sebagainya. Tapi di kalangan kami yang
bisa bahasa Inggris tidak banyak. Saya mendapat banyak kesempatan waktu
itu. Saya kenal dengan Ton de Leeuw dari Belanda dan profesor Jarrad Powell
dari Amerika yang menulis tentang patet (mood) dalam musik. Dia menulis
tentang musik di Indonesia, saya menemani mereka sebagai narasumber dan
5
6
Meja Bundar Musik - World Music
menemui seniman-seniman. Sejak itu saya mendapat tawaran banyak sekolah
di Amerika dan Eropa. Tapi tidak diperbolehkan oleh rektor saya karena ASKI
masih berbenah-benah.
Tapi setelah ASKI agak mapan, ada tawaran untuk melanjutkan S2 di Prancis. Di
Prancis saya tidak bisa bahasa Prancis sama sekali, sementara di Amerika saya
sudah ada modal bahasa Inggris. Di Amerika waktu itu tawarannya di Maryland.
Saya pilih ke Paris, yang penting saya bisa bertemu seniman-seniman, dari yang
sangat tua hingga yang baru, film, teater, musik, semua ada. Setelah saya di Paris,
saya banyak teman, kemudian saya mengajar di Amerika. Saya ketemu Rizaldi
Siagian. Saya juga mendapat kesempatan membuat musik untuk film bersama
Robert de Niro dalam film Once Upon a Time in America. Banyak teman untuk jam
session dan memperkenalkan saya kepada dunia yang bukan slendro-pelog. Saat
berkenalan dengan Peter Brook dan terlibat dalam produksi Mahabharata. Tapi
karena saya masih sekolah saya tidak bisa ikut turnya, saya ikut workshop-nya.
Itulah pertemuan saya dengan dunia yang bukan slendro-pelog.
Jabatin Bangun
Bagaimana Bli berkarya untuk dunia yang berbeda?
I Wayan Balawan
Di Bali tradisi tidak jadi masalah. Musik selalu berhubungan dengan adat istiadat.
Musik akan selalu eksis, akan selalu ada pemain-pemain gamelan baru dan
sangat dibutuhkan. Harus ada regenerasi dalam musik untuk keperluan agama.
Setiap enam bulan sekali harus ada. Yang menjadi masalah bagaimana tidak
sekadar eksis atau bisa bermain gamelan, tapi menghasilkan maestro-maestro
yang bisa berkarya sebagai komposer. Kendalanya ada pada sistem gamelan
Bali yang bersifat orkestra. Secara individual tidak begitu kelihatan. Kadang
malah yang komposer biasa-biasa aja, pemainnya malah lebih pintar. Kelebihan
komposer hanya ia bisa membuat komposisi.
Di SMA band saya rock dan main segala macam, setelah lulus saya mendapat
beasiswa ke Australian Institute of Music untuk belajar komposisi jazz. Pada
saat itu segala jenis musik saya mainkan, metal dan sejenisnya, sudah jenuh.
Tantangannya bagaimana kita harus eksplorasi lebih luas lagi. Teman saya
menyarankan saya belajar tentang komposisi jazz. Katanya, “Jika kamu mau
berkembang, ya belajar jazz.” Akhirnya saya belajar jazz dan klasik. Jazz untuk
improvisasi, klasik untuk disiplin dan feel. Setelah saya lima tahun di Sydney,
main di pub, saya sempat berkolabroasi dengan gamelan Jawa. Tapi dengan
gamelan Jawa saya tidak cocok, bikin saya ngantuk.
Meja Bundar Musik - World Music
Rahayu Supanggah
Dalam berkolaborasi yang pertama mesti kita lihat adalah musiknya, budayanya.
Untuk mengenal musik Balawan, misalnya, kita mesti terlebih dulu mengenal
budaya Balawan. Kalau saya berkolaborasi dengan Balawan saya pelajari
musiknya, makanannya apa, kesukaannya apa. Dengan begitu saya mejadi tahu
Balawan. Jika kita bekerja sama ada banyak permasalahan yang akan bertabrakan.
Tergantung pada niat kita. Saya menyebutnya “ereksi budaya”. Selain exciting, kita
maunya apa dengan kolaborasi ini. Mau jatuh cinta sampai pada perkawinan atau
hanya ereksi budaya. Kalau kita mau kerja terus dan menjadi keluarga, kita harus
saling berkorban, saling mengerti, saling menghormati.
Dalam berkolaborasi, jangan sampai kita mencederai atau menyebabkan “sakit
budaya”. Seperti saya belajar kepada orang Bugis dalam proyek I La Galigo. Saya
pelajari teman-teman saya itu, termasuk musik dan kebudayaan mereka. Waktu
kami berproses, semua orang Sulawesi dan kami terjun ke lapangan. Karena I La
Galigo ini karya dari abad ke-14 dan orang sekarang tidak semua tahu karya itu.
Karena pementasan ini, orang Makasar, Luwu, Selayar kembali lagi ke lapangan
untuk belajar musik dan upacara. Tujuannya agar kita tidak salah menggarap
musik, tidak mencederai pemilik budaya tersebut. Jadi, prosesnya memang
lama. Paling tidak dua-tiga tahun. Misalnya dengan Melbourne Orchestra yang
akan pentas pada 2017 kita sudah berkomunikasi dari sekarang. Mereka ke Solo
untuk latihan bersama kami, saya juga ke Melbourne untuk latihan di sana.
Jadi, prinsip dasar kolaborasi adalah karena keterbatasan pengetahuan kita
akan rekan kerja kita. Dengan Kronos Quartet, misalnya, saya tidak tahu sama
sekali musik Barat. Sama sekali nol. Semula saya sudah menolak, tidak bisa
membuat karya untuk mereka. Apalagi Kronos itu grup yang sangat terkenal,
kalau bisa mereka jangan sampai justru jatuh karena membawakan karya saya.
Tapi itulah yang mendorong saya untuk lebih berani. Ketika mereka meminta saya
mereka bilang, “Jangan takut. Kami sudah kerja sama dengan musisi Jepang dan
Afrika. Ini CD-nya. Coba kamu pelajari.” Ternyata setelah saya pelajari, saya bisa.
Saya berani. Tapi saya minta waktu dua tahun: kita dialog dulu, saya kirimkan
CD karya saya, mereka mengomentarinya. Jadi pertemuan kami “gagal” untuk
pertama kali karena ketika saya ke sana tahu-tahu mereka jam 9:00 pagi sudah
siap. Sudah ada biola, biolin, cello di ruangan itu. Terus saya disuruh apa? Saya
kalang kabut. Kita belum ngomong-ngomong. Bagaimana caranya kita bekerja
sama. Hahahaha.
Nyak Ina Raseuki
Saya kira itu pentingnya tradisi oral dan tradisi tulis bagi mereka dan bagaimana
jalan tengah ditempuh oleh Mas Panggah. Saya kira ini terjadi juga pada Bli
7
8
Meja Bundar Musik - World Music
Balawan. Jika kita mendengarkan musik Balawan, ia seperti memindahkan
musik Bali ke gitarnya. Bagaimana prosesnya?
I Wayan Balawan
Awalnya saya bereksperiman setelah pulang dari Australia. Gong kebyar main dan
saya main gitar. Saya waktu itu belum ada rekamannya. Saya bilang ke teman-teman
saya, “Pokoknya kalian main seperti biasa, jangan perhatikan saya.” Ternyata saya
bisa dan mereka tidak terganggu. Lama-lama, dengan teknologi ternyata gitar
bisa untuk suara gamelan juga, jadi semakin tidak terganggu. Itu permulaannya.
Proses kreatif penciptaannya itu yang agak ribet dan banyak orang yang tidak
tahu. Proses penciptaan komposisi saya itu dengan nongkrong berlama-lama.
Jadi, kita nongkrong di rumah saya dekat sawah dan sungai dengan seluruh tim
dari siang, makan siang. Ada suling, gangsa, cengceng. Gangsa dan suling itu
paling sulit karena nadanya harus didikte satu-satu, dipecah.
Kenapa komposisi saya selalu cepat temponya? Karena musik Bali itu agresif,
sebagian besar musik Bali itu untuk berperang. Yang lain untuk religius dan
untuk kematian. Garis besarnya, agresif, temponya cepat.
Sebagai orang Bali kami juga sangat menghargai para pelatih karena latihannya
berjam-jam. Satu per satu, didikte, kemudian digabungkan. Pendekatannya
sangat personal. Apalagi dengan bagian yang namanya “polos sangsih”, bagian
yang kompleks dimainkan oleh dua orang. Jadi, mereka harus menjadi teman
yang sangat baik untuk menyatukan iramanya atau menghasilkan kombinasi
yang cepat. Melodi yang cepat itu berawal dari yang simpel. Jadi, kita mesti
berteman baik. Jika tidak cocok ya tidak bisa.
Nyak Ina Raseuki
Saya kira itu hal yang penting sekali bagi kita para pemusik atau seniman lainnya:
bagaimana kita bergaul sebelum menghasilkan musik atau karya kolaborasi.
Saya punya pengalaman pribadi beberapa waktu lalu. Suatu ketika kolaborasi
kami macet. Akhirnya saya minta rekan saya untuk jalan-jalan ke Borobudur. Di
sana ia mendengar suara gamelan. Sepulang dari sana kolaborasi kami malah
lancar. Jadi, kolaborasi itu adalah proses berteman. Saya ingin tahu bagaimana
proses detail Mas Panggah mencipta komposisi di antara tradisi lisan dan tradisi
tulis saat berkolaborasi dengan Kronos Quartet?
Rahayu Supanggah
Proses kolaborasi kami (dengan) Kronos Quartet lama sekali. Sempat buntu
karena problem komunikasi. Pertama komunikasi bahasa karena bahasa Inggris
Meja Bundar Musik - World Music
saya kurang bagus. Selanjutnya komunikasi budaya karena saya tidak tahu musik
Barat. Sampai akhirnya kami sampai benar-benar buntu. Akhrinya mereka
menawarkan apa perlu mediasi dan mereka menawarkan etnomusikolog John
Bruner, temannya Mbak Ubiet, untuk menjembatani kami. “Apakah kamu butuh
seseorang yang menuliskan musiknya?” tanya salah satu dari mereka. Maka
didatangkan seseorang dari New York, Steve Laplanck. Akhirnya saya minta,
“Bolehkah saya hari ini tidak latihan? Saya mau tidur.” Dan waktu tidur, ada
sesuatu yang seperti pencerahan. Anda kok seperti orang desa saja? Bagaimana
kalau kamu mengajarkan gamelan Jawa kepada mereka? Terus saya main
rebab. Kata saya, “Coba kamu menirukan suara ini dengan biolamu, dengan
bahasamu sendiri. Jangan seperti ini.” Dia kemudian mencoba. Lagunya tidak
sama, karena ini menggunakan bahasa musik Barat. Akhirnya ketika semua
bertemu, dia menangis karena senang sekali.
Saat itu saya hanya memainkan rebab. Tantangannya adalah bagaimana jika
nada-nada yang saya mainkan itu dikembangkan dalam biola. “Ini yang saya
cari,” kata dia. Saat itu, kami harus menggunakan instrumen yang berbeda, tidak
boleh sama. Dalam musik Jawa sama itu tidak boleh. Supaya tiap-tiap instrumen
bisa saling mengisi.
Nyak Ina Raseuki
Jadi seperti yang dibilang Mas Panggah tadi, dalam musik Barat itu ada downbeat
dan harus tepat. Namun, ketika Mas Panggah main tidak ada downbeat yang
mesti ditemukan. Downbeat-nya bermacam-macam, ketukannya bermacammacam. Itu pengalaman yang bisa ditemukan oleh pemusik mana pun. Apakah
hal seperti itu ditemukan pada pengalaman kolaborasi Balawan?
I Wayan Balawan
Saya pernah berkolaborasi dengan alat musik Safe dari Kalimantan. Waktu itu
memang saya baru tahu alat musik itu. Saya berpikir, apa hitungan tempo mereka
beda, apa mereka main suka-suka saja atau saya yang tidak bisa menghitungnya.
Ya, seperti meraba-raba. Saya belum cukup waktu untuk memahaminya.
Jabatin Bangun
Bagaimana pengalaman Mas Panggah berhubungan dengan budaya-budaya
selain budaya Jawa yang menjadi inti musik Mas Panggah Selama ini.
Sebagaimana kita tahu, I La Galigo itu sangat erat dengan kebudayaan BugisMakassar, Toraja dan sekitarnya. Bagaimana interaksi Mas Panggah dengan
budaya-budaya lain di Nusantara?
9
10
Meja Bundar Musik - World Music
Rahayu Supanggah
Saya dan Mas Jabatin ini beruntung karena ngakunya seniman tetapi juga
etnomusikolog. Etnomusikolog kan mempelajari musik dalam ruang budaya,
konteksnya, filosofinya. Jadi kami bisa mengetahui lebih detail musik bukan
sekadar bunyi, tetapi sebagai simbol atau ekspresi sebuah kebudayaan. Makanya,
ketika kami pergi ke Flores, banyak hal yang menarik di luar dugaan kami. Di
sini kita tidak perlu teori, langsung terjun ke lapangan. Jika bergantung kepada
teori, jadi tidak kreatif. Yang penting di antara dua atau lebih kebudayaan tidak
saling memiliki tetapi kita mengadopsi, bisa saling mengisi dan tidak bentrok.
Memang kita harus bertemu dengan berbagai kesenian dan budaya yang makin
beragam agar kita makin kaya, agar kita tidak mengatakan, “Wah enggak, itu
jelek.” Dalam kesenian pernyataan itu sangat peka. Setiap kesenian itu memiliki
kelebihan dan kekurangan. Saya waktu kecil mendengar suara gamelan dan
berkomentar, “Waduh, ini bising.” Sementara Balawan berkomentar, “Wah, ini
ngantuk”. Sementara jika kita mendengar gamelan Sunda, kesenian Sunda,
menyedihkan, bikin menangis. Itu adalah stereotipe sebelum kita menyadari
bahwa keberagaman itu penting. Pada prinsipnya, sekarang ini kita justru harus
mencari hal-hal positif dari setiap budaya untuk menutupi kekurangannya.
Musik itu seperti juga bahasa, mereka berbicara. Contohnya kalau saya ngomong,
“Saya cinta Mba Ubiet”. Itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dengan
memberi bunga, memberi kunci mobil, memberi kunci villa. Yang di Jawa tidak
ada, kita bisa menggunakan cara lain. Begitu juga dengan kematian. Di keluarga
dalang itu kematian bukan sesuatu yang menyedihkan. Jika ada kematian, itu
akan seperti pesta, seperti dalam masyarakat Bali, Batak, Toraja. Ada perayaan
besar karena mati itu hanya menyelesaikan satu tahap hidup, nanti anda akan
hidup lagi. Mati itu bisa bahagia karena sudah berhasil menyelesaikan satu
tahapan kehidupan. Sementara di Barat kematian berarti selesai semuanya.
Nyak Ina Raseuki
Saya ingin menyambung tema kita kali ini dengan kegiatan merawat. Di mana
posisi pendidikan seni? Menurut Mas Supanggah dan Balawan, bagaimana peran
seni sebagai pendidikan?
Rahayu Supanggah
Kadang-kadang kita mengartikan tradisi secara fisik, termasuk di Konservatori.
Konservatorium berasal dari kata conserve ‘melestarikan’, dalam arti seperti
melestarikan makanan. Diawetkan, tidak diubah. Tapi kesenian harus diubah
agar sesuai dengan zaman. Istilanya, living tradition. Bagaimana mengubahnya,
sangat banyak caranya. Yang paling banyak adalah mengubah fungsinya.
Misalnya, tari Bedhaya itu berasal dari keraton dan fungsinya tertentu, tapi
Meja Bundar Musik - World Music
karena raja sudah tidak ada lagi, ia harus berubah untuk keperluan yang lain.
Maka berubahlah fungsi atau kegunaannya, bentuknya, strukturnya, durasinya
juga berbeda.
Nyak Ina Raseuki
Mungkin juga pemanggungannya ya, Mas. Pada dasarnya ketika orang menyebut
pemanggungan yang tergambar adalah panggung prosenium, ada panggung
dan penonton.
Rahayu Supanggah
Jadi, formatnya berubah. Banyak sekali yang berubah, direkreasi, direformasi
formatnya, diciptakan kembali dalam bentuk yang berbeda. Masalahnya, ada
musik dan tari yang bisa berubah, ada yang tidak. Kalau menurut Pak Hadi
Susilo harus dilihat dari unsur kendablegannya, ‘stubbornness’-nya. Dalam musik
Bali atau Jawa yang tidak boleh berubah adalah slendro-pelog. Jika unsur ini
berubah, tidak ada musik Jawa atau Bali.
Jabatin Bangun
Apa yang dilakukan Bli Balawan dalam melihat aspek kebudayaan Bali atau
Barat?
I Wayan Balawan
Kalau saya boleh ngomong, apa yang harus dirawat jika kenal saja tidak. Yang
penting sosialiasi. Contohnya, pada 2012 saya tur ke Amerika, mengunjungi 10
universitas. Delapan universitas punya gamelan Bali-Jawa lengkap. Di Indonesia,
berapa sekolah yang punya gamelan? Peran media juga kurang. Di televisi acara
musik tradisional Jawa-Bali tidak di prime time. Acara wayang mainnya jam 01:00
dini hari, siapa yang mau nonton. Saya punya murid banyak di sanggar yang
belajar modern, saya kasih yang tradisional secara gratis. Supaya mereka tahu.
Anak-anak sekarang ini terlalu banyak les. Mereka tidak punya waktu lagi untuk
belajar seni tradisi. Bayangkan, mereka pulang jam 13:00, jam 15:00-18:00
mereka les. Sampai di rumah mereka mengerjakan PR. Tidak ada waktu lagi
untuk nongkrong, mereka pindah ke gadget. Main musik pun sudah di gadget
sekarang. Jadi, yang tradisional itu semakin menghilang. Karena kesibukan
itulah jika mereka datang ke upacara keagamaan di pura, setelah mereka itu
pulang, nonton televisi. Cara berkomunikasinya beda. Jika ada pertunjukan
musik tradisional jarang ada yang menonton. Meskipun begitu, proses belajar
di banjar masih berjalan terus. Masih ada berlatih seminggu sekali atau dua kali
sebulan. Sekarang ini siapa yang menonjol saja yang meneruskan kuliah ke ISI.
Yang lain sebagai pelengkap saja.
11
12
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Saya kira, merawat itu tidak harus di pendidikan tinggi seni. Sebetulnya, yang
lebih hidup kalau kita mau rajin jalan-jalan untuk memahami Indonesia.
Rahayu Supanggah
Di Inggris ada proyek “Good Vibration”. Orang mau merawat sesuatu jika sesuatu
itu ada gunanya. Orang-orang asing merawat musik kita, jika ada gunanya buat
mereka. Mungkin hal ini tidak dilakukan di Indonesia, ternyata gamelan ada
gunanya untuk terapi. Misalnya, terapi untuk orang yang punya problem mental,
untuk orang yang dipenjara. Orang yang dipenjara itu biasa keras, egoistis,
individualis. Tapi mereka bisa disembuhkan dengan suara gamelan. Bukan
karena belajar gamelan, tapi cara belajar gamelan. Dalam belajar gamelan
kita harus mendengarkan orang lain. Bukan dengan notasi. Ketika main bareng
tidak boleh egoistis atau bermain lebih keras dari yang lain. Cara mendidik
seperti itulah yang akhirnya bisa mengubah karakter seseorang. Itulah attitude
bergamelan. Di Amerika orang mengangkat gamelan menangis karena bahagia.
Di Jawa, kita marah-marah. Mereka di sana tidak pernah merasakan bisa
bekerja sama tanpa ada uangnya.
Jabatin Bangun
Apa program musik yang sedang dilakukan Bli Balawan dalam waktu dekat?
I Wayan Balawan
Sementara ini yang masih saya lakukan adalah proyek gamelan orkestra dengan
konsep “Semar Pegulingan”. Sebenarnya itu do re mi fa sol la si do. Di Bali ada itu,
bukan hanya slendro-pelog. Satu lagi, gamelan yang in tune 440 Hz. Memang ada
pro dan kontra. Kontra karena gamelan Bali itu bisa lebar suaranya karena ada
suara yang fals-fals, seperti chorus. Tapi dari sisi rekaman sangat mengganggu
jika kolaborasi dengan alat musik dalam frekuensi 440 Hz.
Nyak Ina Raseuki
Jadi, ada gamelan yang dibuat khusus untuk ini. Saya kira ini juga perlu
dibicarakan dengan Mas Panggah. Dalam prosesnya, ada alat musik yang
diciptakan kembali. Mas Panggah melakukan itu nggak?
Rahayu Supanggah
Saya pernah membuat gamelan semuanya berbentuk bulatan. Seperti gong Cina
atau Kamboja, flat gong, tidak ada bulatan kecil di tengahnya. Justru yang penting
bukan nadanya tapi ritme dan warna suara. Kalau kita pandai memainkannya,
misalnya dengan posisi mike yang berbeda tempatnya, efeknya akan luas.
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
Dalam I La Galigo kan konsep musik yang sepenuhnya Bugis, tidak ada Jawa sama
sekali. Bagaimana pengalaman Mas Panggah berinteraksi atau memikirkan
komposisi seperti itu?
Rahayu Supanggah
Kasus I La Galigo memang spesial. Ini musik teater untuk durasi empat jam.
Dari sedih, senang, perang hingga pacaran. Karakternya berbeda-beda. Dalam
musik Bugis-Makassar instrumen seperti kecapi dan suling yang bersuara
lembut, untuk mencari mood yang keras dan horor, susah. Akhirnya kita cari
alat baru. Mas Anusirwan, misalnya, membuat alat musik yang bernama rebi. Itu
sebenarnya rebana yang saya minta disunduki dan tampilannya jadi seperti cello.
Ranting, peralatan untuk menghaluskan tembok, jadi alat musik yang bagus.
Seng juga. Tergantung kita mau bikin yang seperti apa, untuk mendapatkan
suara yang bagaimana.
I Wayan Balawan
Ya, gamelan yang kami desain itu kami bisa diganti-ganti kuncinya. Daunnya
biasanya kan diikat, kalau saya tidak diikat tetapi dibolongin, dipaku, diganti.
Misalnya mau nada dasar E, diganti. Zaman dulu, kolaborasi dengan gamelan
Bali hanya dengan kunci A mayor dan Fis minor. Minimal dua jam show dengan
kunci itu. Jadi, semua ini kembali lagi kepada upaya merawat tradisi Nusantara.
Ini tugas yang berat. Suku bangsa di Indonesia banyak sekali. Perjalanan Mas
Jabatin dan Pak Supanggah kan sangat menarik. Bagaimana perjalanan itu
bisa mengangkat maestro-maestro setempat. Saya sendiri tidak mungkin
menganjurkan untuk melestarikan musik Flores atau Dayak. Banyak sekali
yang mesti saya lakukan. Usia kita sekarang paling 75 atau 80, setelah itu
tidak sempat lagi. Di Bali saja belum selesai saya eksplorasi. Masih ada jegog,
gambuh, wayang wong, kotekan, banyak sekali. Saya sudah kehabisan waktu,
bagaimana memikirkan seni tradisi Dayak, misalnya? Maestro generasi muda di
tiap daerah harus diekspos.
Jabatin Bangun
Jadi Bli mau mengatakan bahwa kalau kekayaan budaya di suatu daerah sulit
dikembangkan itu memberi kesempatan bagi yang lain?
I Wayan Balawan
Ya dan saya tidak mau sok-sokan, biar dibilang “Kamu jago banget. Musikmu
gaya Dayak atau Sumatra.” Sekarang kan banyak yang seperti itu. Saya mainkan
apa yang nyaman dan saya pelajari dari kecil.
13
14
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Ada banyak pemusik populer yang menggunakan musik tradisi, seperti dalam lagu
rakyat Yamko Rambe Yamko atau Bungong Jeumpa. Itu ada dua lapis penafsiran.
Sebenarnya mereka menerjemahkan lagu-lagu Papua atau Kalimantan dalam
penciptaan lagu-lagu rakyat, lalu ada pemusik lain yang menerjemahkan lagu
rakyat itu. Ini bukan soal salah dan benar. Tapi apakah mungkin mereka bisa
menggunakan itu tidak hanya 25 lagu daerah, tapi menggali apa yang ada di Bali
dan Flores, tanpa harus mengambil secara harfiah. Mungkin kita berlanjut ke situ.
Rahayu Supanggah
Apa yang dikatakan Bli Balawan itu betul. Saya pernah diserahi tugas untuk
menggarap musik Riau, karena mereka mendengar saya sukses dalam proyek
I La Galigo. Mengangkat musik Riau tidak semudah itu. Saya harus benar-benar
mengerti musik Riau dan itu lebih dari tiga tahun prosesnya. Kalau saya hantam
kromo, saya gunakan estetika musik Jawa atau Bugis, justru estetika musik
Riau akan hancur. Karena itu, pemusik Riau yang harus melakukannya sendiri,
mengambil inspirasi dari tradisi mereka sendiri. Mungkin kita bisa mendampingi
berdasarkan pengalaman yang ada, tapi apakah ini merusak atau memperkaya.
Sebaiknya memang bukan orang luar, harus orang dalam yang melakukannya.
Jika kita tidak hati-hati, bisa merusak tradisi itu.
SESI 2
Jabatin Bangun
Kita lanjutkan diskusi kita. Ada beberapa aspek yang perlu kita diskusikan
juga berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan masing-masing akan
perkembangan musik di berbagai wilayah. Bagaimana pengamatan Bli Balawan
mengenai kelompok seni, sanggar, juga berbagai kesempatan yang diberikan
oleh pengelola, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, bahkan dari luar
negeri?
I Wayan Balawan
Kalau di Bali sendiri saya kurang setuju dengan konsepnya. Di Bali ada tempat
pementasan yang namanya art center. Ini warisan gubernur Bali yang pertama
Anak Agung Bagus Sutedja. Fungsinya sebagai tempat pelaksanaan Pesta
Kesenian Bali, acaranya besar. Mulai dari 15 Juni hingga 15 Juli setiap tahunnya.
Selama sebulan itu tempat itu diisi oleh delapan kabupaten di seluruh Bali.
Memang ada dana subsidi dari pemerintah untuk biaya latihan dan segala
macam, tapi tidak banyak. Tapi sekarang terlalu rancu pengertian antara Pesta
Kesenian Bali dan Pesta Pedagang Bali. Tempatnya itu tidak nyaman. Beberapa
Meja Bundar Musik - World Music
kali saya mengantar wisatawan ke sana. Jika mereka melihat dari luar Bali Arts
Festival kan terkesan wah banget, one month celebration. Tapi, begitu tiba di sana
banyak sekali pedagang asongan. Suasana jadi penuh sesak, tidak nyaman untuk
menonton. Jadi, Pesta Kesenian Bali itu bukan suatu pertunjukan yang dikemas
dengan teratur. Saya lebih setuju jika Pesta Kesenian Bali dibagi-bagi. Misalnya,
dalam setahun dibuat selama delapan bulan, tapi digilir di tiap kabupaten. Tidak
semua ditumplekkan dalam satu bulan, semua kabupaten berjejalan di sana.
Suasananya jadi penuh sesak, seakan-akan itu sudah mewakili Bali. Turis bisa
bilang, “Oh Bali itu like this.” Saya kira, masih kurang. . . .
Nyak Ina Raseuki
Ya, begitu banyak festival kesenian di Indonesia. Apakah betul dengan itu kita
bisa menghidupkan kembali atau merawat kesenian tradisi?
Rahayu Supanggah
Sebenarnya kita punya banyak seniman yang potensial. Tapi mereka tidak atau
belum menemukan wadah atau forum yang sesuai dengan mereka. Festival itu
sangat penting sekali. Di dunia banyak festival besar yang mampu mengangkat
seniman menjadi seniman kaliber dunia. Kelemahanan festival seni di Indonesia
adalah kita punya banyak festival, tapi satu sama lain tidak terkoordinasi dengan
baik. Jadwalnya tidak dibuat sedemikian rupa agar wisatawan dari luar negeri
bisa menonton festival di satu kota, kemudian ke festival di kota lain. Setiap festival
mesti punya karakter yang berbeda. Di Solo saja dalam satu tahun ada 40 festival.
Tapi ya itu. . . . Sebenarnya banyak yang berkesenimbungan tapi hampir semuanya
sama. Ada SIPA, ada SIEM, tapi warnanya sama. Semua di panggung terbuka dan
sebagainya, lebih pada hura-hura. Saya pernah mengundang Bli Balawan ke Solo.
Tapi begitu jadi, mereka malah ribut siapa yang memiliki festival ini.
Jadi, yang penting adalah bagaimana nanti pemerintah pusat bisa mengambil
bagian untuk mengatur semua ini. Desain festival harus bagus, kuratorialnya
harus benar sehingga seniman yang pentas itu merasa nyaman dan mendapat
manfaat dari festival itu. Karena jika festivalnya cuma hura-hura, seperti di Solo,
banyak festival yang bertempat di Benteng Vredeburg dan semua di panggung
terbuka, kesenian yang serius kadang-kadang susah tampil di situ. Karena
semua harus glamor, bermain lampu seperti pentas musik di televisi. Semua
itu terjadi karena tidak ada kuratorial yang jelas, tidak ada penanggung jawab.
Nya Ina Raseuki
Jadi prinsipnya keseragaman, bukan keberagaman ya. Ini sangat berbahaya
karena kita diseragamkan dari barat ke timur. Banyak festival dari barat ke
timur, seperti Mas Panggah katakan tadi, mirip, senimannya sama semua. Yang
15
16
Meja Bundar Musik - World Music
tadinya festival bisa menghidupkan kesenian setempat, pada kenyataannya itu
belum terjadi.
Jabatin Bangun
Anda berdua ini kan sering kali tampil di banyak festival di luar negeri. Apa
resepnya bisa ikut di banyak festival itu? Kami ingin ikut juga.
Rahayu Supanggah
Sebenarnya kata kuncinya kepercayaan. Jika pengelola festival di luar negeri
sudah percaya dan kita mampu, apa yang kita lakukan ada manfaatnya,
undangan dan biaya tidak terlalu masalah. Mereka akan menyediakan dan
honornya banyak. Jaringan yang saya punya hanya dari telinga ke telinga, dari
mulut ke mulut. Saya tidak punya manajemen atau manajer, tidak punya website.
Mereka tahu saya hanya dari mulut ke mulut.
I Wayan Balawan
Ini pengalaman saya di Bali. Karena banyak wisatawan asing, saya biasa main di
sejumlah tempat, termasuk kafe. Sampai sekarang pun saya masih main di kafe.
Kenapa saya suka main di kafe, karena penontonnya tidak resek. Kalau penonton
Indonesia, kita baru main dua lagu sudah diberi kertas request. Orang bule tidak
seperti itu. Kita mau main apa, terserah, mereka ikut. Dari sana banyak bule
yang melihat, membikin video pertunjukan saya. Banyak yang sangat baik, tapi
yang holiday bullshit juga banyak. Ya, dari 10 bule, paling yang benar-benar serius
hanya tiga, tujuh lainnya pembual saja, agar kita senang. Dari sana saya banyak
bertemu orang, salah satunya Profesor David Harnis, etnomusikolog dari San
Diego. Ia yang kemudian mengatur tur saya ke Amerika. Dan koneksi dia banyak.
Dulu saya lebih banyak ke Eropa. Pada 2000-an saya pernah meluncurkan
album di Jerman. Kami memainkan musik gitar gamelan. Dari sendiri kemudian
bertambah hingga delapan orang. Dari situ kami mendapatkan kontak dan
jaringan ke Belanda dan Jepang.
Bandingkan misalnya dengan musisi-musisi Brazil yang diundang ke Eropa.
Mereka mudah karena penerbangan negara mereka mendukung. Sementara
saya sering kali menolak undangan festival-festival dari Kanada karena salah
satu kendalanya adalah tiket pesawat terbang. Mereka menyiapkan honor dan
akomodasi, tapi tidak menyediakan tiket pesawat terbang. Hanya ditanggung
empat orang, sisanya mesti dibiayai dari sini. Sulit. Mencari kelebihan bagasi
saja susah banget, bagaimana mau mendapat tiket gratis.
Saya pernah dua kali ikut program pemerintah untuk pentas di luar negeri. Dari
delapan orang anggota grup saya, pemerintah hanya bisa mendanai empat
Meja Bundar Musik - World Music
pemain. Bingung saya. Berarti satu orang harus memainkan tiga gamelan. Setiap
lagu mereka harus jadi sirkus beneran. Itu pernah kami lakukan. Kenyataannya
kebanyakan rombongan yang ikut kerjanya cuma bagi-bagi brosur di sana. Jika
begitu, saya main langsung bagi-bagi brosur aja. Juga soal bagasi. Itu penting
sekali. Yang sering memberi ekstra bagasi dan tiket murah itu malah Singapore
Airlines. Aneh kan. Negara lain justru menggampangkan, mendukung kita.
Nyak Ina Raseuki
Saya kira mungkin kalau kita mau mengkritik pendistribusian peluang dana yang
belum baik. Ada banyak dana yang bisa digunakan oleh seniman. Saya pikir jika
kesempatan itu dibuka, ada open call, semua orang bisa memasukkan proposal,
ada sebuah tim kurator yang menilai, akan lebih baik. Tim kurator tidak boleh
menerima dana dari situ, mungkin bisa. Saya tidak tahu, ini kan hanya anganangan saja.
Rahayu Supanggah
Di Amerika ada perusahaan-perusahaan yang berkomitmen mengeluarkan
dana untuk keperluan itu, dan seniman bisa mengajukan lamaran untuk dana
tersebut. Saya pernah terlibat dalam proyek ini. Mereka kumpulkan uang
kemudian dikelola oleh orang-orang Asia, pimpinannya Ong Keng Sen dari
Singapura. Dewannya berganti setiap lima tahun, saya pernah jadi anggota
dewan itu. Kelemahan orang Indonesia tidak bisa membuat proposal. Jika
membuat proposal seperti merampok, tidak realistis. Misalnya, ada anggaran
yang sudah tidak perlu karena sudah punya modal dan tidak perlu dimasukkan,
tapi malah dimasukkan.
Jabatin Bangun
Berkaitan dengan dana saya kira juga berkaitan dengan substansi. Artinya,
musik apa yang laku dijual.
Rahayu Supanggah
Ya, setiap yayasan mereka punya selera dan tujuan. Sejumlah yayasan dari
Amerika trennya ke terorisme, lingkungan dan sebagainya. Jika ada karyakarya yang dengan tema itu mungkin lebih gampang untuk diterima. Sementara,
tema-tema Indonesia Timur atau gender akan lebih mudah diterima di Australia.
Jadi, seniman-seniman yang browsing harus tahu yayasan-yayasan ini punya
kepentingan juga.
Dari musiknya yang banyak diterima itu karya kolaborasi, bukan hanya seni dari
Jawa atau Sumatra atau Bali, terutama dengan seniman dari negara pelamar.
17
18
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Saya sepakat dengan Mas Panggah, kita tidak harus mem-bully pemerintah. Kita
tidak pernah mendapat dana itu dari pemerintah. Sebenarnya ada banyak dana
di luar yang terbuka dan bisa kita akses.
I Wayan Balawan
Kita ini sering mempromosikan Indonesia ke luar negeri, tapi salah sasaran.
Saya sudah beberapa kali mengalami kejadian ini, saya tidak kaget—yang
terakhir bulan lalu. Ada EO yang mengontak saya untuk mempromosikan musik
Indonesia ke Australia. Mereka bilang, “Saya mau Bli Balawan dengan musik
etniknya.” Saya bilang, “Oke, Oke.” Setelah itu saya di-WA. “Maaf ya, Mas, yang
dipilih orang kita di sana itu band ini, mungkin Mas next time.” Lha, ini kita mau
menghibur TKW atau apa. Mereka salah sasaran karena mendatangkan band
untuk menghibur orang Indonesia di sana, TKW. Ya, targetnya apa mereka tidak
tahu. Maunya apa, mereka juga tidak tahu. Jika memang bukan untuk itu, saya
tidak usah dipilih dari awal.
Jabatin Bangun
Mengenai pendidikan juga penting sebenarnya. Seperti apa sebenarnya strategistrategi yang dilakukan berkaitan dengan tradisi kita ini? Adakah bahan atau
materinya. Misalnya, jika anak saya mau les biola, di tiang listrik ada iklan
“Guru privat les biola ke rumah, nomor telepon nomor sekian”. Sementara, saat
kelompok ibu-ibu mau belajar kecapi dan suling Sunda, belum ada lembaganya
sampai sekarang. Artinya, ada hal yang hilang dalam tradisi kita. Pertanyaan
saya, usaha-usaha apa yang sudah kita lakukan untuk memberi ruang kepada
tradisi kita supaya diakses oleh lebih banyak orang?
Rahayu Supanggah
Ya itu problem kita. Pendidikan sekolah pun kurang tepat sasaran. Di SD, SMP,
SMA kita mendidik siswa jadi seniman. Itu tidak bisa, karena seminggu hanya
dua jam pelajaran, itu pun dibagi ke dalam seni rupa, tari, musik, teater dan lainlain. Mungkin lebih baik pendidikan apresiasi. Tujuannya bukan untuk menjadi
seniman, tapi bisa mengerti dan menghargai kesenian. Seperti saya, tidak
bisa main bola tapi bisa menghargai siapa sih Christian Ronaldo, karena saya
mendapat informasi yang baik dan benar tentang sepak bola.
Nyak Ina Raseuki
Saya kira sekarang itu tidak hanya kesenian, sains dan lain-lain juga sudah
mengarah ke situ. Bagaimana mereka memahami dan mengapresiasi sesuatu,
bukan sekadar bermain gamelan. Salah satu program sekolah kita yaitu menyanyi
dan main pianika. Itu keseragaman dari barat sampai timur. Maksudnya Mas
Meja Bundar Musik - World Music
Panggah saya paham betul. Bagaimana anak Papua mengerti apa yang terjadi di
Jawa, anak Jawa mengerti apa yang terjadi di Sumatra dan sebaliknya.
Rahayu Supanggah
Ya, kita, Mas Jabatin dan Mbak Ubiet terlibat dalam program kesenian. Kita
berusaha menyusun bahan yang baik dan benar dan mudah dipahami, tapi
diberikan gratis malah tidak diterima. Jika itu dijual malah laku, karena yang
mendistribusikannya mendapat fee.
Jabatin Bangun
Mengenai instrumen pembelajaran. Kalau kita ingin belajar gamelan Jawa
adakah buku-buku atau bahan-bahan yang diakses oleh guru?
Rahayu Supanggah
Itu kekurangannya. Justru ada produk sanggar-sanggar tari, rekaman tentang
bagaimana belajar menari Gambyong. Itu malah banyak dijual.
Nyak Ina Raseuki
Jadi mereka belajar tari bentukan ya. Mereka belajar tari bentukan, bukan belajar
memahami gerak atau bunyi, tapi menjadi seniman. Mungkin Bli Balawan bisa
menceritakan bahwa di Bali semua anak di pangkuan bapaknya sudah terbiasa
main di banjar-banjar.
I Wayan Balawan
Ya itu kan karena memang budayanya. Ear training secara natural. Kan banyak
orang Bali yang tinggal di Australia atau di Amerika, mereka ikut grup gamelan.
Mereka sudah diracuni sejak kecil, jadi otomatis mereka bisa. Sudah masuk
feeling-nya.
Rahayu Supanggah
Saya cemburu kepada teman-teman seniman di Bali. Mereka punya web, ada
sanggar ini, kegiatan itu. Termasuk memberi kursus dengan bayaran sekian.
I Wayan Balawan
Ya, karena persaingan tinggi, Mas. Sanggar itu banyak sekali. Atau alternatifnya
mengajar di luar negeri. Maestro seperti Pak Bandem tidak pernah di Bali.
Dikontrak di kampus ini dua tahun, pindah lagi ke mana. Banyak sekali seniman
Bali mengajar di kampus luar negeri, karena di Bali mereka tidak bisa survive.
Sebenarnya ini kerugian buat Bali. Tapi, alternatifnya itu tadi, menjaring
wisatawan untuk belajar dan tinggal di Bali lebih lama.
19
20
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
Kalau di Jawa belum ada kegiatan seperti itu ya?
Rahayu Supanggah
Belum, belum banyak. Manajemen kesenian itu memang masih sangat lemah. Di
perguruan tinggi pun belum banyak diajarkan manajemen kesenian.
Jabatin Bangun
Jadi dilihat dari sini tema kita “merawat, mengembangkan, mengilhami”, banyak
aspek yang saya kira perlu dikembangkan jika kita ingin melihat musik-musik
kita yang begitu kaya di Nusantara ini agar bisa tampil di Indonesia maupun
internasional. Menurut Mas Panggah, wilayah-wilayah mana yang menonjol di
dunia internasional?
Rahayu Supanggah
Masih seperti dulu, didominasi Jawa, Bali, Sumatra, atau kesenian-kesenian
yang sudah populer. Seperti tadi kita bicara I La Galigo, materinya sudah tidak
ada, tapi ketika itu diangkat ke permukaan dan di-manage dengan baik, baik
manajemen artistik maupun manajemen administrasi, ya berhasil. Bagaimana
membuat kemasan pertunjukan itu sangat penting. Kita juga mesti tahu isu-isu
kesenian apa yang sedang “laku” di dunia.
Jabatin Bangun
Di Bali yang sangat menonjol adalah musiknya. Paling dikenal di dunia. Bagi
negara yang berbudaya tinggi, dalam arti ekonominya baik, selalu Bali yang yang
paling dikenal, ya gamelannya ya tari. Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah
masih didominasi orang Bali atau orang asing yang memanfaatkan kehebatan
Bali dan promosi di dunia internasional dan juga di Bali?
I Wayan Balawan
Untuk acara-acara besar banyak orang asing penyelenggaranya. Mereka
memanfaatkan nama Bali. Istilahnya, meminjam tempat saja di Bali. Manfaat
untuk orang Bali sendiri sedikit. Tidak signifikan.
Jabatin Bangun
Suatu aspek yang perlu kita pikirkan ke depan jangan sampai orang Bali jadi
penonton di negerinya sendiri ya.
I Wayan Balawan
Sudah itu. Hahaha
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Saya ingin kembali lagi ke festival-festival yang ada, apakah itu di Bali, Ambon
atau Solo. Apakah kita bisa mengopi festival-festival yang ada di dunia, atau
memang kita perlu membuat festival yang cocok untuk kita, Mas Panggah?
Rahayu Supanggah
Saya agak lama di Prancis dan saya suka dengan sistem mereka. Di Prancis
kota-kota punya festival yang berkarakter khusus. Misalnya festival kesenian
tradisional ada di Rennes. Festival musik simfoni di Provence, teater di Nancy,
Avignon dan lain-lain. Jadi, tiap-tiap kota itu diberi label dan permulaannya
sangat sederhana sebagaimana yang kami lakukan saat itu di Sainte-Florence.
Mereka membuat festival wayang, teater boneka, cuma lima grup pesertanya.
Lima grup itu disponsori satu keluarga. Mereka tinggal di rumah keluarga, dikasih
makan dan, tidur, grup lain di rumah keluarga yang lain. Praktis pemerintah
tidak mengeluarkan biaya. Kemudian festival ini berhasil dan semakin menjadi
besar. Sekarang kota itu menjadi pusat studi dan kehidupan teater boneka dunia.
UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) ada di sana.
Sebenarnya, di Indonesia juga kita bisa lakukan itu. Di Kalimutu, Flores, mi­
salnya. Kita bisa tawarkan seniman-seniman untuk memilih tinggal di rumah
keluarga. Mereka bisa tinggal bersama penduduk. Di Solo kami pernah mencoba
tapi belum berhasil. Di Solo kan ada banyak dalang hebat, seperti Pak Manteb
Soedharsono, Cermo Subroto dan sebagainya. Ada seorang dalang dari Jepang
yang tinggal di tempat Pak Anom Suroto dan Pak Manteb Soedharsono untuk
belajar. Tapi program ini hanya sekali berjalan, setelah itu tidak.
I Wayan Balawan
Kenapa Prancis bisa seperti itu? Pasti karena dukungan dari walikota dan
gubernur. Izin kegiatan itu pasti dari mereka. Bayangkan jika generasi muda
di Indonesia tidak punya pendidikan apresiasi kesenian seperti itu kemudian
menjadi gubernur. Misalnya, kita mau mengadakan festival lenong, pasti mereka
bilang, “Apaan itu, kuno banget!” Maka, hati-hatilah memilih walikota atau
gubernur sekarang, karena izin dari mereka semua.
Jabatin Bangun
Ini ada pertanyaan dari peserta. Banyak kelompok kesenian tradisional kecil yg
masih terus hidup dalam masyarakat, contohnya Gambang Kromong. Apa usaha
kita untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut?
Rahayu Supanggah
Tradisi itu bukan tradisi yang mati, tetapi hidup. Sepanjang mereka selalu
21
22
Meja Bundar Musik - World Music
mengaktualisasikan kesenian mereka untuk kebutuhan sekarang, mudah-mu­
dahan bisa. Sekarang yang sangat positif adalah perkembangan budaya Jawa
Timur. Pemerintah setempat menyediakan dana dan itu dikelola oleh masyrakat.
Bisa disesuaikan dengan keperluan mereka dan kesenian mereka dikembangkan
dengan cara mereka masing-masing. Contohnya, Barong Banyuwangi. Kesenian ini
didukung penuh oleh masyarakatnya. Jika mereka mentas supporternya sampai 15
truk. Jika mereka pentas, 15 truk itu ikut bernyanyi. Seperti sepak bola di Inggris.
I Wayan Balawan
Saya ingin bicara yang realistis dan tidak banyak orang tahu. Gamelan saya eksis
dengan dua aliran: komposisi yang saya buat sesuka saya, satu lagi yang seperti
“Can’t Take My Eyes Off You” dan “Do [sic!] You Survive” yang diiringi gamelan.
Jika ada acara gathering, akan saya selipkan lagu-lagu saya. Saya kasih gamelan
lagu Maroon 5. Saya gunakan yang komersial untuk membiayai yang idealis.
Bagaimanapun, seniman tradisional juga perlu uang untuk membeli susu
atau membayar SPP anaknya. Untuk acara-acara itu saya anggarkan mereka.
Misalnya, untuk gathering satu pemain mendapat honor Rp750.000, untuk acara
kawinan minimal satu pemain mendapat honor Rp1,5 juta. Grup saya dari 1997
sampai sekarang aman-aman saja. Mau bikin konser yang idealis, ayo, konser
yang tidak ada uangnya juga, ayo. Mencari duitnya pas acara kawinan.
Kalau grup saya tidak saya komersilkan seperti itu, lama-lama ngapain
membuang waktu dari pagi sampai sore. Mending menjadi supir taksi. Ada
beberapa kelompok yang tidak eksis, timbul tenggelam, karena mereka tidak
bisa menyiasati hal ini. Konser yang idealis terus, tidak ada duitnya. Lama-lama
ya tidak bisa latihan. Menurut saya, tetap harus ada unsur komersialnya.
Nyak Ina Raseuki
Ini ada pertanyaan lagi. Perkembangan musik tradisi terkadang terhambat oleh
industri musik yang selalu mendahulukan pasar. Bagaimana kita menyikapi
hal tersebut? Bagaimana cara agar musik tradisi bisa masuk industri musik
nasional?
I Wayan Balawan
Kita harus pintar mengolah. Promosi ke anak muda harus banyak. Tips saya
sederhana: ethnical, technical, entertainment, selling point. Ethnical artinya ada
unsur etnisnya. Technical artinya kedengarannya susah. Jadi, orang yang
mendengar tidak berpikir “Apaan itu, gampang banget!” Kotekan Bali yang cepat
itu kan susah. Berikutnya entertainment. Yang terbaru saya kerjakan yaitu lagu
Maroon 5 “Sugar” dengan gamelan. Orang bule bertanya, “What is this?
Meja Bundar Musik - World Music
Mereka belum pernah mendengar yang seperti itu, tapi untuk anak muda itu bisa
masuk. Untuk bisa bersaing di pasar, kita harus mengetahui ngapain saja anak
muda zaman sekarang. Ada Youtube dan Instagram. Kita bisa mengemas dan
memasukkan yang tradisional ke Instagram dan itu banyak yang suka. Semua
orang begitu sekarang, tidak ada yang mendengarkan radio.
Jabatin Bangun
Mas Panggah, bagaimana pandangan anda tentang musik industri? Kan ada satu
zaman, musik dilihat dari sisi pariwisata dan industri. Kita selalu menolak itu.
Rahayu Supanggah
Seharusnya dipisahkan antara musik dan industri. Kesenian seperti musik
dan tari biasanya ada dua jenis: show dan ekspresi. Tinggal kita mau memilih
yang mana. Show itu lebih mementingkan teknik, enak didengar, enak dilihat.
Sementara ekspresi lebih pada pesan moral. Keduanya bagus. Secara show
bagus dan secara ekspresi juga bagus. Pengalaman saya di sebuah grup,
kadang-kadang kami mendapat order dengan honor besar, kadang tidak. Dari
yang berhonor besar biasanya kami sisihkan 15% dan digunakan jika kami akan
membuat eksperimen atau apa. Atau yang jobnya tidak banyak, disubsidi. Jadi
antara show dan ekspresi itu seimbang.
Jabatin Bangun
Perlukah dibuat sebuah wadah untuk generasi penerus bisa belajar dan
melestarikan musik tradisi agar tetap hidup?
I Wayan Balawan
Yang paling gampang adalah sekolah. Anak-anak sekarang menghabiskan
waktu mereka dari jam 07:00 pagi sampai 13:00 siang di sekolah. Harus ada
ekstrakurikuler kesenian di sekolah. Di Bali semua itu bisa dan bertahan karena
memang diperlukan untuk upacara keagamaan. Saya khawatir di Jawa, karena
mereka melakukan itu hanya untuk festival dan tradisinya tidak seperti di Bali.
Untuk 10 atau 20 tahun ke depan yang mengkhawatirkan.
Rahayu Supanggah
Bagi saya yang penting adalah strategi. Bagaimana kita membuat image bagus.
Imej kita tidak bagus karena istilah. Pertama istilah. “Kesenian tradisi” itu kan
istilah yang ketinggalan zaman. Saya benci sekali istilah itu. Seperti juga istilah
tradisi dan modern, daerah dan pusat, rakyat dan pemimpin, industri atau urban.
Istilah “etnik” tidak menguntungkan juga. Ya, harus seperti world music ini.
Semua musik kan serta-merta sudah world music. Musik yang mereka katakan
tradisi itu jika dikelola dan dikemas dengan baik dan bisa go international, bisa
23
24
Meja Bundar Musik - World Music
jadi world music, karena dimiliki oleh dunia. Memang susah dicari istilahnya ya.
Kalau saya lebih senang langsung saja, musik gamelan, gondang. . . .
Nyak Ina Raseuki
Saya kira yang paling tepat merujuk pada tempatnya. Jika di belakangnya ada
istilah “gondang”, kita langsung sebut “gondang”, di Jawa jelas ada gamelan, di
Bali ada gong kebyar. Langsung kita merujuk pada istilah tertentu. Saya sangat
sepakat dengan hal itu. Meskipun demikian, dikotomi itu klise.
Rahayu Supanggah
Yang mengelompokkan itu kan para sarjana dan kritikus, seniman sendiri tidak.
Saya membuat sebuah karya. “Karyamu itu apa?” Saya ditanya wartawan seperti
itu, saya bingung. Ya karya saya seperti ini.
I Wayan Balawan
Agar musik bisa dicintai generasi sekarang, mungkin diperlukan public figure
atau sosok yang sangat dikenal banyak orang. Mereka harus melakukan itu.
ABG kan tidak tertarik menonton saya lagi, sudah tidak cocok lagi sebagai
public figure. Misalnya, siapa sih penyanyi yang suaranya nge-rock, Judica! Jika
dia bernyanyi diiringi musik tradisional Melayu atau Kalimantan, orang akan
lihat seorang public figure melakukan itu dan itu akan lebih cepat meracuni
anak muda. Atau Raisha, misalnya, yang membuat orang tergila-gila. Jika dia
bernyanyi diiringi gamelan, orang akan bilang “Keren juga ya musiknya.” Jadi
kita mesti menciptakan imej bagaimana bermain gamelan atau digabung dengan
tradisi itu cool.
Nyak Ina Raseuki
Pertanyaan berikutnya: Bagaimana jika dalam kreativitas terjadi pergeseran
titilarasnya terus-menerus, sampai tidak diketahui generasi baru, khususnya
pada alat yang mudah dibuat dan mudah hancur seperti bambu. Misalnya,
angklung atau semacamnya.
Rahayu Supanggah
Tadi saya sudah menyinggung, apakah kelangsungan hidup sebuah kesenian
untuk bisa diterima, perubahan dan sebagainya, kita harus bisa melakukan
penelitian terhadapnya. Unsur apa yang ndableg atau stubborn. Kita harus tahu
apa yang tidak boleh dicatut, larasnya atau titilarasnya. Itu yang selalu harus
dijaga. Dokumentasi kita sangat lemah.
Jabatin Bangun
Kalau tidak ada dokumentasinya, hancur karena tidak dijaga. Ini mengenai
Meja Bundar Musik - World Music
titilaras. Pada tiga-empat tahun lalu saya dan Mas Panggah membuat satu grup
untuk berangkat ke festival Makyong di Bangkok. Ternyata grup Makyong ini tidak
punya lagi pemain rebab. Saya bilang oke, kita panggil saja Mas Panggah untuk
memainkan rebabnya. Kami undanglah Mas Panggah. Karena rebab bermain
solo dengan penari itu, selesai, pulanglah Mas Panggah ke Amerika, dan penari
itu ke negaranya, saya balik ke Indonesia. Ternyata ada evaluator dari Filipina
yang memeriksa ini. Dia menelepon saya, “Hai, Pak Jabatin, itu pemain rebabnya
Melayu dari mana?” Saya jawab, “Itu Melayu dari Solo”. “Itu Pak Supanggah yang
main ya. Ini tidak ada Melayunya.” Jadi dikenali karakter itu. Saat main tidak ada
yang tahu. Tapi saat evaluatornya datang, dia tahu bunyi rebab itu. Dia muridnya
Mas Panggah. Walaupun Melayu, dia tahu itu rebabnya rebab Jawa. Nah itu
pentingnya titilaras. Di sini pertanyaannya apakah titilaras itu bisa bertahan jika
instrumennya rapuh.
Nyak Ina Raseuki
Atau dia terus-menerus berubah, atau diubah, seperti Sasando yang diubah
tuning-nya.
Rahayu Supanggah
Sekarang berjalan di Jawa musik campur sari, sejenis musik Jawa yang digabung
dengan banyak instrumen, termasuk keyboard. Karena mereka tidak menemukan
cara menggabungkan slendro-pelog dan diatonis, salah satu harus mengalah.
Jadi gamelannya dilaras seperti keyboard. Bukannya keyboard-nya yang dilaras
seperti gamelan. Itu bisa menghilangkan gamelan dalam tanda kutip. Menurut
banyak orang, unsur yang paling gampang untuk menandai identitas itu adalah
titilaras. Tuning system, tangga nada. (Menyanyikan lagu Mandarin. . .) Orang pasti
tahu kalau itu ada musik Cina. Jika slendro-pelog itu pasti musik Jawa, Bali atau
Sunda. Jika tangga nada itu hilang, kemungkinannya adalah identitas itu bisa
hilang. Jika tidak ada gamelannya tidak apa-apa. Tapi jika tangga nadanya hilang,
tanpa gendang, orang masih bisa tahu bahwa itu gamelan. Termasuk warna
bunyi instrumen.
I Wayan Balawan
Di Bali itu ada yang namanya standar, seperti jazz standar. Setiap tarian ada
standarnya. Sudah baku. Sebelum beraneh-aneh seniman Bali harus tahu
dasarnya. Dasar mereka sudah sangat kuat. Seperti pemain gamelan saya, mau
diganti tangga nadanya, tidak berpengaruh. Mereka main di E, tidak masalah,
karena dasar slendro-pelog mereka sudah sangat kuat.
Nyak Ina Raseuki
Seperti penguasaan bahasa saja, orang bisa poliglot. Bisa berbahasa Prancis,
25
26
Meja Bundar Musik - World Music
Jawa, Sunda atau bahasa lain. Saya kira di musik juga ada, namanya bi-musicality.
Bagaimana orang dengan mudah berpindah dari satu modus ke modus yang lain.
Kalau saya sangat sulit, saya sangat diatonis. Mas Panggah di tengah-tengah,
kiri tidak kanan tidak. Menarik jawaban Mas Panggah tadi. Kita mesti benarbenar mencatat kita mesti bagaimana. Tradisi itu sifatnya living tradition ya. Jadi,
ada yang perlu kita pelihara, Mas Panggah?
Rahayu Supanggah
Yang harus kita pelihara itu yang harus kita cari, ada dokumentasinya.
Nyak Ina Raseuki
Persis. Kita punya pusat arsip tidak? Untuk musik tradisi, misalnya. Museum
yang mengkhususkan diri untuk musik-musik Nusantara kita belum punya.
Jabatin Bangun
Saya ingin Mas Panggah menutup sesi ini dengan satu cerita bagaimana
pengalaman berkolaborasi dengan Kronos Quartet saat pertunjukan di Amerika?
Rahayu Supanggah
Saya malu. Tahu-tahu saya mendapat tawaran membuat komposisi untuk
Kronos. Pertama-tama saya jelas menolak, karena saya tidak tahu musik
Barat dan saya khawatir membuat komposisi untuk grup yang sangat hebat itu,
nanti mengecewakan mereka. Tapi mereka selalu meng-encourage, mereka
memberi contoh seperti komposisinya Tan Dun, komposisinya orang Jepang,
dan sebagainya. Akhirnya, saya mencoba. Kami bertemu untuk mencari
bahasa, mencari cara kerja yang mungkin bisa dilakukan. Cara kerja yang kita
sepakati adalah saya memberi contoh, mereka melanjutkan. Mereka senang,
tapi susah juga karena mereka harus menghafal, bagi orang Barat susah
untuk menghafal. Jadi saya harus membuat detail notasi, tapi saya tekankan,
“Anda tidak harus seperti ini, karena di Jawa pun tidak semua dinotasikan dan
orang bisa menginterpretasikan lagu itu berdasarkan kemampuan seniman itu
sendiri.” Akhirnya jadi notasi dan setiap larik, setiap baris itu didiskusikan hingga
seperempat jam, apakah begini dan sebagainya. Saya mendapatkan kehormatan
yang luar biasa karena untuk komposisi ini mereka membuat gedung khusus
delapan lantai. Ada yang main di lantai 8, 5, 2, 1, 3. Mereka tidak saling melihat,
karena saya minta mereka menggunakan telinga daripada mata. Karena prinsip
musik tradisi lisan yang penting telinga bukan mata. Di dinding gedung itu
kemudian, notasi saya dituliskan dengan menggunakan biji-bijian, ditempelkan.
Nyak Ina Raseuki
Biji-bijian apa itu, Mas?
Meja Bundar Musik - World Music
Rahayu Supanggah
Saya tidak tahu itu biji apa. “Kenapa kamu tulis pakai biji-bijian?” tanya saya.
Mereka jawab, “Karena musikmu itu hidup”. Saya terharu sampai menangis.
Nanti biji itu akan tumbuh, seperti musik yang juga tumbuh.
Jabatin Bangun
Bli Balawan bagaimana pengalaman terakhir ini, soal kolaborasi?
I Wayan Balawan
Saya sih sekarang sering mensosialisasikan musik saya secara teater. Di Bali
kan ada konsep teater, bagaimana seniman tradisi di Bali bisa struggling, make a
living, tanpa harus terpaksa. Bukan hanya bermain gamelan untuk upacara, tapi
bagaimana mereka bisa make a living, eksis, tidak perlu kabur ke luar negeri.
Ke sana fokus saya. Dan juga sanggar untuk anak-anak muda, saya gratiskan.
Sebab tidak kenal maka tidak sayang.
Nyak Ina Raseuki
Baik. Terima kasih Mas Rahayu Supanggah dan Bli I Wayan Balawan atas
percakapan kita yang intens ini. Kita mendapatkan esensi dari proses kreatif
dari kedua seniman ini.
27
28
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
FIRST DAY DISCUSSION
Nyak Ina Raseuki
Good afternoon, ladies and gentlemen. This Round Table is very
literal. Occasionally, we have to look back, although without the
intent to turn our backs on you. The concept of this discussion is
‘round’, so let us start with that word literally, ‘round’. The Jakarta
Arts Council (DKJ) has made the right decision to start this with
a round concept. Now, we don’t have to tell you who Rahayu
Supanggah and I Wayan Balawan are. They will personally tell
who they really are. Our two sources surely are very dedicated
individuals, who give all their time to the arts; the music of
Nusantara is a big part of their lives. The most important thing
we should achieve in this discussion is to understand the creative
process, creator, artist, producer. One thing we never really
share is what does exactly a traditional artist do. That is what
we are going to explore. This discussion will be very relaxed. We
are not going to inspect the great things, but rather the small
things that contribute to the greatness. Perhaps we can start
with Panggah. Jabatin, if you please.
Jabatin Bangun
Alright. Panggah , how did you become involved in music?
1
Rahayu Supanggah
I was born in the family of artists. My father was a wayang
puppet master, my mother was a wayang puppet master, my
grandmother, and they all came from a wayang master family.
Therefore, I grew up listening to the wayang puppet show,
the sound of gamelan, yet I never aspired to become an artist
because I lived in a small village and my father was poor,
and I was afraid that I would be poor as well. I did not want to
study art; I prefer school than gamelan practice or playing the
wayang puppets. However, fate had other plans for me. When
1) Panggah: Rahayu Supanggah’s nickname.
29
30
Meja Bundar Musik - World Music
I finished junior high school, I did not have enough money to continue to senior
high school, although I wanted to be a doctor or a professional engineer after I
have finished high school. Finally I entered the Indonesian Karawitan Conservatory
(now Surakarta Vocational School 8—ed) because at that time it was the cheapest
school available. It did not require you to pay tuition fee, and all the books were
provided by the school. I was frustrated when I joined the school. I became a
disobedient boy.
I had no talents, nor did I study hard.However, during my study there was a
presidential cultural student mission to Japan, Korea, and China. I was involved
in the mission. I thoroughly enjoyed my experience abroad in Japan, Korea, and
China, and I started to dream of being a wiyaga or a musician. From that time, I
began to study the gamelan earnestly. Moreover, one thing that really opened my
eyes was that the Japanese, Koreans, and Chinese traditional arts were fantastic
and thriving. That means the artists could make a decent living from it and
their works flourished, not only in their respective countries but also in Europe,
America, etc.
The cultural mission was back in 1965. One thing that intrigued me was that
all these “traditional” arts—and how I hated that term “traditional” then—could
flourish when they became contemporary, became somehow new. Therefore,
starting from 1965, I experimented and explored the arts that utilize time with the
forms and characters of contemporary arts. It turned out to be a wise decision. We
landed many opportunities and fortunes from it.
Jabatin Bangun
Why did you choose to be a musician, instead of a wayang puppet master?
Rahayu Supanggah
Simply because it was very hard to become a wayang puppet master. You have to
be able to recite, sing, play the puppets, and know the storyline, knowledgeable
about the philosophy of life, so many requirements. However, a gamelan artist is
only required to strike anything he could strike.I chose the easy way.
Nyak Ina Raseuki
Let us move to I Wayan Balawan. How was your musical experience when growing
up?
I Wayan Balawan
I am embarrassed to say that mine was the exact opposite of Mr. Supanggah’s. I
came from a well to do family. My father was an artist; he was the village chief in
Meja Bundar Musik - World Music
charge of the local customs, organizing performances and weddings. So was my
mother. I have seven siblings. There were no cell phones then, so kids had plenty
of time to study traditional dance. A dance teacher used to teach us at home. It was
obligatory. In the odalan [Balinese temple festival/ritual, ed] conducted every full
moon, we have to perform a dance or at least play the gamelan. Therefore, I was
accustomed to traditional music. It is in my blood.
And when I studied in a junior high school in Denpasar, people used to ask, “Are
you from Gianyar?” “Surely you can play this instrument.” It comes with you
being from Gianyar, people expected you to be good in arts, although I was not
exceptionally good. Gianyar is the breeding ground of dancers and musicians.
People have high expectation of you and you have to live up to it.
I lived in a tourism area/an area bustling with tourists, also artists with their
guitars straddled on their backs or tourists playing music. I have a formal
education; however, the environment also greatly influenced me. I have two sides
of me: on weekdays, I stayed in Denpasar to study, and on the weekends I lived in
my old village. I hung out with different people. In the village, I hung out at the local
community center and dance studio, while Denpasar was a modern city with rock
bands and such.
So, the traditional and the modern were parallel influences in my life until I started
high school. I joined a band, and afterwards I would go about in my traditional
attire, playing the gamelan. After some time, people got jealous. They said I was
greedy for playing both traditional and modern music.
Nyak Ina Raseuki
So Balawan, you were raised in two music scales, both pentatonic and diatonic.
Panggah also experienced it in many of his work collaborations, such as with the
Kronos Quartet. I gathered that Panggah is working with an Australian group for
two years period. Could you please tell us more about that?
Rahayu Supanggah
Yes, for me, in the middle of difficulty, lies opportunity. When I studied in Indonesian
Karawitan Conservatory (KOKAR) and continued to Indonesian Karawitan Arts
Academy (ASKI) in Solo, it was different from Balawan’s situation in Bali. Bali was
(already) an island packed with foreign tourists, while Solo was a quiet city at that
time. It was a blessing in disguise for me. I enjoyed studying English although
I was not very good at it. At that time, Solo was teeming with researchers and
musicians who came to study the gamelan, to perform together with the locals,
to collaborate etc, yet only a handful of the locals could speak English. So I was
31
32
Meja Bundar Musik - World Music
presented with many opportunities. I met Ton de Leeuw from the Netherlands and
Professor Jarrad Powell from the USA who wrote about mood (patet) in music.
They wrote about Indonesian music and I accompanied them as a respondent and
took them to the local musicians. Since then, I was offered many scholarships to
study music in the US and Europe. However, the rector did not approve of it since
at that time the ASKI was in the process of improving its administration.
Afterwards when ASKI was administratively established, I had an offer to continue
my master’s degree in France, also from US in Maryland. I could not speak any
French. On the other hand, I could speak decent English if I accepted the offer
from Maryland. However, I chose to go to Paris; I prefer to meet many artists, from
the established-to the emerging ones, artists of various forms of arts: cinema,
theater, music. I had many friends in Paris. Afterwards I took a teaching job in
America, where I met Rizaldi Siagian. I also had the opportunity to do a music
score with Robert de Niro in the movie, Once Upon a Time in America. I had many
friends to do jam sessions with and they introduced me to a world that is not
of gamelan scales, of slendro and pelog. I met the director Peter Brook and got
involved in the production of his stage play, Mahabharata. However since I was still
in school, I was unable to join the world tour and insteadI joined the workshops.
It was my encounter with a different world, one that utilizes scales other than
slendro and pelog.
Jabatin Bangun
Mr. Balawan, how was your experience in creating for an entirely different world?
I Wayan Balawan
There was no major problem with tradition in Bali. Music always has a strong
connection with our daily customs and traditions. Music would always exist;
there would always be new generations of the much needed gamelan players.
A regeneration process is required for our spiritual rituals. It happens every six
months. The real issue is how to generate maestros who could actually create
gamelan compositions, not merely players. It is just harder with Balinese gamelan,
which is orchestral in nature, to spot a maestro individually. The talented ones do
not really stand out; often the regular players looked smarter. The composer’s
advantage is they can create a composition.
In high school, I joined a rock band and played all kinds of music. After graduation,
I accepted a scholarship to study jazz composition at the Australian Institute of
Music. Back then, I played all kinds of music, even metal and stuff, and I was
getting bored. The challenge was I needed to do a wider exploration. A friend of
mine suggested me to study jazz composition. He said, “Study jazz if you want to
Meja Bundar Musik - World Music
grow.” So I took (classes of) jazz and classics, jazz for improvisation and classics
to get the discipline and feel. After five years in Sydney playing at a local pub, I did
collaboration with gamelan. However, Javanese gamelan did not suit me since it
makes me sleepy.
Rahayu Supanggah
In a collaboration work, first thing we need to do is to know our partner’s music
and its culture. For instance, if we want to know Balawan’s music, first we have to
know his cultural background. If I collaborate with him, I would study his music,
his food, and his hobbies. That way I would know him well. If we are to work
together there bound to be disagreements. It really depends on our motives. I call
it “cultural erection”. Aside from the excitement, what do we really want to achieve
in this collaboration? Do we want it to grow into a dynamic marriage or merely as
a cultural erection? So, if we want to nurture it and build a family together, we have
to be willing to make sacrifices, to understand and respect each other.
In doing collaboration, we must never damage or cause “cultural harm”. This is a
lesson I got from the Bugis people involved in the I La Galigo project. I studied my
Buginese musician friends, their music and culture. In the collaboration process,
all musicians were from Sulawesi and I went directly to the field, because I La
Galigo is a 14th century masterpiece and not everybody are familiar with it.
Because of this performance, the musicians from Makassar, Luwu and Selayar
went back to the field to study the traditional music and rituals. The aim was to
keep us from making mistakes when working with the music, to avoid hurting
people from that culture. So, it was quite a lengthy process. It took us around
two or three years. Another example is our collaboration with the Melbourne
Orchestra. The performance will take place later in 2017, yet we already have
started communication. We are already starting to practice; they visit us in Solo
for practice and vice versa.
Thus, the basic principle in collaboration work is we have to realize that we have a
limited knowledge on our partner. With the Kronos Quartet, for an instance, I have
no knowledge about music from Western culture, nothing whatsoever. Initially, I
turned down their offer to write a composition for them. Kronos was already very
famous, and I was afraid that they would become unpopular from performing
my work. However, the same fear also drove me to become bold. When they
approached me they said, “No need to be afraid. We have previously worked with
musicians from Japan and Africa. Here’s the CD, just listen to it.” After I studied
the CD, I knew I could pull it off. I became confident. However, I asked for some
time, - about two years - to talk about our music. I sent them a CD of my works,
and they commented on it. And yet, our first meeting was a “failure” because when
33
34
Meja Bundar Musik - World Music
I showed up, they were ready at nine in the morning, with violas, violins, and cello.
What am I supposed to do? I was at total loss. We haven’t had talked at all, how do
we suppose to collaborate? Ha ha ha.
Nyak Ina Raseuki
I think that shows the importance of both oral and written traditions to them, and
how Panggah took a middle path. I think it also happens to Balawan. When we
listen to Balawan’s music, it sounds as if he has transported Balinese traditional
music into his guitar. Tell us about the process.
I Wayan Balawan
At first, I was experimenting when I got back from Australia. I had the gong kebyar
orchestra and I played guitar. I do not have any recordings of these. I said to my
musician friends in the gong kebyar, “Just play like usual, and do not mind about
me.” It turned out that I could pull it off, and they were not bothered. Gradually I
found out that with the help of technology, guitar could sound like a gamelan, so it
became less of a bother. That is how I started.
It is the creative process that is more complicated, and it is a much-overlooked
process. My compositions always took much time. All the orchestra players and I
hung out near my house, near paddy fields and a river, and we had lunch together.
We had the traditional flute, the gangsa metallophone, and the cengceng cymbals.
Gangsa and cengceng were the hardest instruments since we had to direct them
one by one, to break it down.
Why are my compositions always fast in tempo? Because Balinese music is
aggressive, most of Balinese music is war music. Some are used in religious and
funeral rituals. The main characteristics are aggressive and fast-tempoed.
We, the Balinese, have a very high respect for our musical trainers since each
session could last for hours. We dictated it one by one then combined it together.
It used a very personal approach. Especially in the section called “polos sangsih”,
a very complex part played by two players. The two of them have to become very
good friends to integrate the rhythms, to deliver a solid and fast combination. A
fast melody came from simplicity. Therefore, we have to be good friends. It is
useless if we cannot get along.
Nyak Ina Raseuki
I think it is a very important point for us musicians or other artists: how we get
along before we work together in creating a musical composition or a collaboration
work. I have a personal experience with that a while back. One day we hit a dead
Meja Bundar Musik - World Music
end in our collaboration. So I finally took my partner to the Borobudur temple for
a tour. My partner listened to gamelan there. After the trip, our work together
flourished. So, collaboration is a process of becoming friends. Now I would really
like to know how Panggah wrote a composition in both the oral and written
traditions when he worked together with the Kronos Quartet.
Rahayu Supanggah
My collaboration with the Kronos Quartet was a lengthy process. At one time,
we did not get anywhere because of a communication problem. First is language
problem; my English is poor. Next was cultural communication because I was
ignorant of the music of western culture; we hit a dead end. So finally, they offered
me to have some sort of mediation, and they mentioned the ethnomusicologist
John Bruner, a friend of Nyak Ina’s, to act as a mediator. “Do you need someone
to write the musical notation?” one of the quartet’s members asked. So, they flew
Steve Laplanck from New York. One day I asked, “Can I skip practice today? I want
to sleep.” And in my sleep, I had an epiphany; why did I act like a common villager?
How would you teach Javanese gamelan to them? The next day I played the rebab
fiddle and said to Laplanck, “Now please try to imitate this sound with your viola,
in your own language. Not like the way I played it.” Then he tried to imitate it. The
result was a different song, since it was in a Western musical language. He cried
in joy when finally everything worked out.
At that time, I only played the rebab. The challenge was to explore the notes I
played, but using a viola. “This is what I came here for!” he said. We had to use
different instruments at that time, not the same ones. It was prohibited in the
Javanese musical tradition, so the instruments could compliment each other.
Nyak Ina Raseuki
So, like what Panggah said earlier, in Western music there’s downbeat, and it has
to be precise. However, when Panggah plays his music, there is no downbeat to
be found. There are many types of downbeats, with many tempos. It is something
every musician experienced. Balawan, do you find this when you collaborate?
I Wayan Balawan
Once I did a collaboration using the safe instrument from Kalimantan. At that time,
I just found out about this instrument. I wondered did they count the tap of the
tempo differently, according to their mood or was it me who couldnot count it? I
was at loss. Moreover, I had not enough time to understand it.
Jabatin Bangun
Panggah, please tell us about your experience in dealing with other cultures, aside
35
36
Meja Bundar Musik - World Music
from Javanese culture that is the core of your music. We all know that I La Galigo
was essentially a part of the culture of Bugis-Makasar, Toraja, and nearby areas.
How is your interaction with other culture in Nusantara?
Rahayu Supanggah
Jabatin and I are among the lucky few, we call ourselves both artists and
ethnomusicologists. Ethnomusicology studies music in its cultural space, its
context, and its philosophy. So we have a detailed knowledge about the music, not
only in sonic terms (as sounds) but also as a symbol or an expression of a culture.
This is the reason why there were so many unexpected interesting things when
we visited Flores. We did not need theories here; we went straight into the field.
We lost our creativity when we think too much about theories. The most important
thing between two or more cultures is not to dominate each other, instead to adopt
and complement each other, and not to clash into each other. Indeed, we have
to embrace the diversity of various arts and cultures to enrich ourselves, so we
could not claim, “No, that one is not good.” This is a very sensitive statement in
this art world. Every art has its own positive and negative points. When I was a
child, I listened to the gamelan and said, “What a clamorous noise.” Yet Balawan
commented, “This sound makes me sleepy.” On the other hand, when we listened
to the Sundanese gamelan, Sundanese arts, it is melancholic in nature and it
moves us to tears. These are accepted stereotypes before we realize that diversity
is essential. In short, we must now explore the positive points of every culture to
balance the negative ones.
Much like language, music also ‘speaks’. For instance, when I say,“I love Ubiet ”, I
can apply it to so many things. I could give her a bouquet of flower, buy her a car,
or buy her a villa. If you don’t have this type of expression in Java, you could use
other ways. It is the same thing with death. In a dalang (puppet master) family,
death is not a heartbreaking affair. It would be like party, similar to the culture of
the people in Bali, Batak, and Toraja. There will be a lively celebration, because to
us, death is only a completion of a phase in life, another phase will soon follow.
Death could mean joy for being able to finish a phase of life. In Western culture, on
the contrary, death means the ultimate end.
2
Nyak Ina Raseuki
I would like to continue our theme today, with the act of fostering. Where is the
position of art education? What do you think, Mr. Supanggah and Balawan, how is
the role of art as a way of educating?
2) Ubiet: Nyak Ina Raseuki’s nickname.
Meja Bundar Musik - World Music
Rahayu Supanggah
Sadly, sometimes we take traditions as a physical matter, including in Con­
servatories. Conservatorium came from the word “to conserve”, the same as
when you are conserving food. You conserve the food, not change it. However,
art has to change, up to date with recent times. The term is “living tradition”. How
do we change it, there are so many ways. The most common way is to change
the purpose. For an example, Bedhaya dance originated from the royal palaces
and it has a specific purpose. However, since we no longer have ruling kings, this
dance have to adapt to serve another purpose. So its purpose or use, its form, its
structure and its duration are altered.
Nyak Ina Raseuki
I am sure the staging changes as well, Mr. Supanggah. When we talk about staging,
the first thing that comes to our minds is a proscenium stage; there are the stage
and the audience.
Rahayu Supanggah
Therefore, the format changed. Many aspects changed, recreated, reformed, and
reconstructed into a new structure. The problems are that some music and dance
can change, and some cannot. Mr. Hadi Susilo said that we have to look for the
“stubbornness” factor. In Balinese or Javanese traditional music, we can never
change the slendro-pelog scale. If you change this, it is no longer Javanese or
Balinese music.
Jabatin Bangun
Balawan, what is your view on the aspects of Balinese or Western culture?
I Wayan Balawan
If I may speak freely, how should we foster something if we are not even familiar
with it? When I had a tour in the US back in 2012, for example, we toured ten
universities. Eight of them possess a complete set of Javanese-Balinese
gamelan. What about Indonesia? How many of our school possesses a complete
set of gamelan? The role of the media is also sadly lacking. Javanese-Balinese
traditional music shows do not air in primetime TV. Wayang puppet shows air at
1 AM, who would watch them? I have many pupils at my studio, I tutored them the
traditional music, free of charge. Just so they know.
Kids nowadays have too many study courses. They barely have time to study
traditional music. Just imagine, they finish school at 1 PM, from 3 to 6 PM they
have study courses. They get home and do their homework. They no longer hang
out, now they have their gadgets. You can even play music using your gadget
37
38
Meja Bundar Musik - World Music
nowadays. Therefore, everything traditional is fading away. Being so busy, the kids
rarely attend the religious rituals at the temple. They get home and watch TV. They
even have different way of communication. They rarely watch traditional music
shows. However, fortunately, the gamelan learning process is still conducted at
local community centers. They still have practice, at least once a week or twice
a month. Only selected handfuls are given scholarships to ISI (Indonesian Arts
Institute). The rest are only for accompaniments.
Nyak Ina Raseuki
I think fostering here does not have to be through higher education. In fact, I think
it would be more dynamic if we spend more time in exploring more regions in
order to have a better comprehension of Indonesia.
Rahayu Supanggah
There is this project in the UK called “Good Vibration”. People are willing to foster
something if it gives them something in return. Foreigners are fostering our music
if they get something in return. I never see this happen in Indonesia, but it turns out
that gamelan is beneficial for therapy, for instance, for people with mental health
issues, or for prison inmates. Inmates are rough, egoistical and individualistic
people. Yet they could become better through gamelan, not because of learning
gamelan, but rather because of the manner of the learning process. In learning
gamelan, we have to listen to other people, not through reading a notation. When
we play together as an orchestra, we cannot be selfish or play louder than any
players. It is this sort of learning that could eventually change a person, his or her
character. It is the attitude of gamelan. In the US, people are celebrating gamelan,
they cry out of joy. Here in Java Island, we are angry. Over there they could never
understand why bother to collaborate on pro bono basis?
Jabatin Bangun
What is the project you are currently working on, Balawan?
I Wayan Balawan
Currently I am working on a gamelan orchestra with the concept of “Semar
Pegulingan”. It is actually a do re mi fa so la ti do. We have it in Bali, not only
slendro-pelog. Another project is a gamelan that is in tune to 440 Hz. There are
advantages and disadvantages, of course. The disadvantage is because Balinese
gamelan could be very wide ranging, because it has out of tune melodies, as in
the chorus. Yet from the recording point of view, it would interfere in collaboration
with an instrument in the frequency of 440 Hz.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
So there is a gamelan specially made for this project. I think we need to talk about
this with Panggah. In the process, an instrument is recreated. Have you done that?
Rahayu Supanggah
Once I created a gamelan set with round shape. It was like a Chinese or Cambodian
gong - flat gongs - without the small round protrusion in the center. It was not the
tune that is important, but the rhythm and timbre. If we play the set skillfully, for
instance with different mike positions, the effect would be enormous.
Jabatin Bangun
In I La Galigo, the music concept was entirely Bugis in origin, not Javanese. How
was your experience in interacting or concepting such composition?
Rahayu Supanggah
I La Galigo was indeed a special case. It was four hours music for a performance;
the mood ranged from melancholy, joy, war, to amorous, different characters.
Bugis-Makassar instruments - like the kecapi zither or flute - are soft in sound,
so it was hard to get an intense or horror mood. So finally, we looked for another
instrument. Mr. Anusirwan, for instance, fashioned an instrument called rebi. It
was actually arebana drum assembled to look like a cello. Twigs, tools for wall
polishing can be good instruments as well, also zinc sheets. It depends on what
type we want to make, and to yield what type of sound.
I Wayan Balawan
Yes, we can change the key of the gamelan set we made. We would usually tie
the bars in the conventional set, but in the new one, we drilled a hole and nailed
it. In the old days, collaboration with Balinese gamelan could only be conducted
in A major key and Fis minor. In those keys, we could play a minimum of two
hours in a performance. So, it all came back to our effort to foster the traditions
of Nusantara. This is no easy task. There are so many ethnic groups in Indonesia.
Jabatin and Mr. Supanggah’s tour was immensely fascinating. This tour could
support the local maestros. Being a Balinese, of course I could not advise to
preserve the music from Flores or Dayak. I still have so much to do. In this age,
human can only live to 75 or 80 years old top. After that, there is nothing we
can do. I haven’t finished my exploration in Balinese music. We still have jegog,
gambuh, wayang wong, kotekan, and many more. I will not have the time to think
about the arts and traditions of the Dayak people. Therefore, we have to expose
young maestros from all ethnicities.
39
40
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
So are you saying that it would benefit other region(s) when the cultural wealth in
a region is hard to develop?
I Wayan Balawan
Yes, and I’m not doing it so people could come and ask me “You are so good at
it. Is your music in the style of Dayak or Sumatra?” A lot of musicians are doing
it nowadays. I only play what I’m comfortable with and what I had learned since
childhood.
Nyak Ina Raseuki
There are a lot of pop musicians who worked on traditional music, such as in
the case of the folk song Yamko Rambe Yamko or Bungong Jeumpa. There are two
layers of interpretation in this. They are actually representing the songs of Papua
or Kalimantan in the folk song writing, and then there are other musicians who
interpret those folk songs. This is not a matter of right or wrong. But could they
apply it to not only twenty five regions, but to really dig and explore the music of
Bali and Flores, without taking it too literally. Perhaps we can continue our talk in
this area.
Rahayu Supanggah
What Balawan said is true. Once I had a task to work on music from Riau, because
they heard about my success with the I La Galigo project. Yet, bringing music from
Riau to light was not as easy as that. I really have to appreciate the music, and it
took me three years to do that. If I did not care less, just went ahead, and did the
project using the aesthetics of Javanese or Buginese music, it would have ruined
the Riau music aesthetic. That is why musicians from Riau had to do it themselves,
taking inspirations from their own tradition. I could supervise with the experience
I have. The local musicians should do the job, not outsiders. We could damage the
music if we are not careful.
SECOND SESSION
Jabatin Bangun
Let us continue our discussion. We should talk about some aspects regarding our
experiences and insights on the growth of music in several regions. Balawan, what
is your observation on the numerous art groups, studios, and the opportunities
given by the government, local, central, or even from abroad?
Meja Bundar Musik - World Music
I Wayan Balawan
Personally, I cannot say that I agree with the system in Bali. There is a
performance stage in Bali, the Arts Center. This is a policy from the first
governor, a legacy of Anak Agung Bagus Sutedja. It serves as a venue for the
Bali Arts Festival (PKB), a very large event that takes place every year from
June 15 to July 15. Eight residences from all over Bali utilize the place for one
whole month. There is a subsidy funding from the government for practices and
such, but it is far from sufficient. Now the overall impression about that event
has changed from Bali Arts Festival to Bali Bazaar Festival. The place was
unpleasant. I took some tourists to the place several times. Foreigners would
have a high expectation of this event, it sounded very promising: an art festival,
one whole month of celebration. However, when they got there, the venue is
swarming with hawkers. The place became overcrowded, not comfortable for
watching performances on stage. Thus, the Bali Arts Festival is not a wellmanaged event. I am more in favor of the concept where we divide the Bali Arts
Festival across the eight regencies. We could conduct it for eight months in a
year, each regency taking turn for a month. So we don’t cram the performances
from all eight regencies in a single month.Then the tourists could say, “Ah, so
this is Bali.” I think it is far from that...
Nyak Ina Raseuki
Yes, there are so many art festivals in Indonesia. Could we really revive or nurture
our traditional arts?
Rahayu Supanggah
Actually, we have many potential artists. They just haven’t found the right forum.
Festivals are very important. Many world festivals could launch an artist into a
world-class artist. I think our weakness is that we have numerous festivals but
they are not coordinated as a whole. The calendar is not designed to allow foreign
tourists to see a festival in a town and then go to another festival afterwards.
Every festival should have its own character. There are 40 festivals a year in Solo
alone. However, all of them are similar, although sustainable. We have SIPA (Solo
International Performing Arts), SIEM (Solo International Contemporary Ethnic
Music), but they have similar programs. All stages are open air etc, and with a
party atmosphere. I invited Balawan to Solo. Nevertheless, as soon as it was
confirmed, they had a dispute over the ownership of the festival.
Thus, the most important thing is how the central government could take part
to manage all these festivals. The festivals have to be well designed, with good
curation so all the artists involved feel comfortable and benefited from it. Because
if it is only for partying, like in Solo - many festivals took place at the Vredeburg
41
42
Meja Bundar Musik - World Music
Fort in open air stages - so sometimes it is hard for serious arts to join. Since
everything has to be glamour, with sophisticated lighting like a musical TV show.
This happens because there is no accountable curator, no person in charge.
Nya Ina Raseuki
Thus, if I may conclude, in principal what is happening is similarity, not diversity.
It is utterly dangerous when we are treated as homogenous, from west to east.
Many festivals from east to west, like what Panggah said earlier, are similar; all
the artists involved are the same. The festivals are supposed to support and
revive local arts, but in reality, it is not happening.
Jabatin Bangun
Panggah and Ubiet, you two have participated in various festivals abroad. How do
you manage to do that? Please share because we would also love to do that.
Rahayu Supanggah
Actually, the key point is trust. If the festival committee abroad have trusted us and
we are competent to perform, and what we do is beneficial, then the invitation and
funding should be no problem. They will provide it and the compensation is great.
The network I have is based solely from ear to ear, mouth to mouth. I don’t have
a management or a manager, or a website. They only know me from reputation.
I Wayan Balawan
Here is my experience in Bali. Due to the teeming tourists in Bali, I perform in many
places, including cafes. I still perform in cafes. I love playing in cafes because the
audience have a cool attitude. As with Indonesian audience, (the attitude is like...)
we haven’t finished our second number and they already gave us song requests.
Foreigners are not like that. They don’t care what you play. A lot of them are nice,
but there are some who only make holiday bullshit as well. Well, generally only
three out of ten foreigners who are serious, the rest are only sweet mouthing
you. I met a few (good) people that way; one of them is Professor David Harnis,
an ethnomusicologist from San Diego. He was the one who arranged my tour in
America. In addition, he has many connections. I used to go to Europe more often.
In the 2000s, I launched an album in Germany. We played guitar gamelan music.
I started all by myself and now there are eight people in my group. From these
connections, we managed to have contacts and network in the Netherlands up to
Japan.
Compare that to Brazilian musicians invited to Europe. It is much easier for them
with their national airline’s support. While me, on the other hand, I have to often
turn down invitations from festivals in Canada because of the airplane ticket. The
Meja Bundar Musik - World Music
committee provide us with compensations and accommodations, but airline tickets.
They only provide four people at the most, and we have to finance everything else.
It is hard to find a free excess baggage, let alone free airline tickets.
I participated twice in a government’s program to perform abroad. From eight of
my supporting artists, the government only funded four. I was exasperated. That
means one musician has to play three gamelans. Every number we played turn to
a circus. We did that, it happened. Moreover, it turned out that the government’s
team members who joined were only handing out brochures there. If I had known
that would be the case, I myself could do the brochures distribution. Then, there
was the problem of baggage. It is a very important thing. The one airline who often
gives free baggage and cheap tickets is Singapore Airlines. How strange. Other
countries are the ones who facilitate and support us.
Nyak Ina Raseuki
I think we need to criticize the uneven distribution of potential funding. There
should be more funding that artists could use. I think if the opportunity is made
available, - there is open call - everyone can submit their proposals, and it would
be better if there were a team of curators who will select the best proposals. The
curators should not accept fee from the funding, or perhaps they could. I don’t
know, this is just a dream.
Rahayu Supanggah
There are business corporations in America who are committed to fund arts
projects, and artists can directly apply to them. I was involved in it once. The
corporations raise money and the Asians, led by Ong Keng Sen from Singapore,
manage the fund. The board was restructured every five years, and I had been a
member. The weakness of Indonesian artists is they don’t know how to make a
good reasonable proposal. If your proposal is unrealistic, it will look like you are
trying to rob them. For instance, there are posts that you don’t need to list because
it has already been covered, but it is still listed.
Jabatin Bangun
Funding is closely connected with the essentials, meaning what kind of music is
the best selling.
Rahayu Supanggah
Yes, every art foundation has their own preferences and purposes. A number
of foundations from America have interests in the issue of terrorism, the
environment, etc. Works with that theme have a better chance to be accepted.
On the other hand the theme of eastern Indonesia and gender would get better
43
44
Meja Bundar Musik - World Music
reception in Australia. Consequently, artists who are looking for funding must
know that these foundations have their own interests.
From the musical aspect, they mostly welcome collaboration works, especially
collaboration with artists from their own country.
Nyak Ina Raseuki
I agree with Panggah that we cannot keep pointing our fingers at our government.
We never get the funding from our government. However, there are actually many
open funding opportunities abroad that we could access.
I Wayan Balawan
We frequently promote Indonesia abroad, but we often aim the wrong target
audience. I have experienced this several times, I am not surprised—the last
one was last month. An event organizer contacted me to promote Indonesian
music to Australia. They said, “I want you to play your ethnic music.” I said, “Okay.”
Afterwards I received a Whatsap text. “I’m sorry, but the Indonesians in Australia
chose another band. I hope we’ll work together some other time.” I was confused,
were we supposed to entertain our migrant workers there? They missed target
by sending a band to entertain the Indonesians there, the migrant workers. They
didn’t even know their target audience, or their purpose there. If it was to entertain
the Indonesians, they shouldn’t have asked me at all.
Jabatin Bangun
In fact, education also plays an important role. What kinds of strategies are being
applied in terms of preserving our traditions? Are there notes or materials? If my
kid wants to learn to play violin, there are ads glued to many utility poles written
“Private at-home violin tutor, call this number.” On the other hand, there is no
institution that could help a group of mothers who want to learn the kecapi zither
and Sundanese flute. That means there is something missing in our tradition. My
question is what efforts have we done to give our tradition a space so it could be
explored by more people?
Rahayu Supanggah
Yes, that certainly is a problem, even in our formal schools. In elementary, junior
high and high schools, we educate students to become artists. That is not fitting,
because they only give two hours, and they are then split into fine arts, dance,
music, theater, etc. Perhaps it is better to teach them how to appreciate the arts.
The purpose is not to turn them into artists, but for them to understand and
appreciate the arts. Like me, I cannot play football but I can appreciate Christian
Ronaldo, because I get good valid information about football.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
I think the same situation also start to happen in science education etc, not only
arts education; how students perceive and appreciate gamelan, for instance, not
only play it. One of our school programs is singing and playing the melody. It is
uniformity from the west to east. I know very well what Panggah was talking
about. It is about how the Papuan children understand the conditions in Java, the
children in Java understand the conditions in Sumatra and vice versa.
Rahayu Supanggah
Yes, we, Jabatin and Ubiet were involved in arts programs. We tried to compile a
good and easy to understand materials, yet the schools would not accept it even
when we gave them away free of charge. It would do better to sell it, since the
distributor would get a fee.
Jabatin Bangun
Let us talk about teaching tools. Are there any books or materials that teachers
can access when they teach Javanese gamelan?
Rahayu Supanggah
That is one of the shortcomings. There are many materials from dance studios;
recordings on how to dance the Gambyong, many of them are on sale.
Nyak Ina Raseuki
So the students learn about the configuration of a dance. They learn its configu­
ration, not the comprehension of movement or sound, but the way to be an artist.
Perhaps Balawan could share with us how it is that in Bali, little children who still
cling to their fathers are already accustomed to play in the community centers.
I Wayan Balawan
Well it is a long held tradition, natural ear training. Many Balinese who live in Australia or in America join a gamelan group. They were “poisoned” since childhood,
so it was natural for them. They already got the feeling for it.
Rahayu Supanggah
I am jealous with my fellow artists in Bali. They have their own websites, studios,
and events. In addition, they teach courses with decent pay.
I Wayan Balawan
Yes, but we have high competition, Mr. Supanggah. There are countless studios.
Alternatively, you could teach abroad at universities. A maestro like Mr. Bandem
45
46
Meja Bundar Musik - World Music
never stays in Bali. He got a two-year contract to teach at a university, and then
followed by another teaching contract. There are loads of Balinese artists who teach
at universities abroad, simply because they could not make a decent living in Bali.
This fact is actually a setback to Bali. Therefore, the alternative is what we were
talking about earlier, attract tourists to study arts and spend more time in Bali.
Jabatin Bangun
Do we have similar phenomenon in Java?
Rahayu Supanggah
Only a few. Our art management is still ineffectual. Very few universities teach art
management.
Jabatin Bangun
So if we consider the theme of our discussion, “fostering, evolving, inspiring”,
I think there are still many aspect that we need to work on if we want to see
the rich music of Nusantara could finally be under the spotlight in Indonesia and
international stage. Panggah, what are the regions in our country that are most
prominent in the international stage?
Rahayu Supanggah
There is no recent change; it is still dominated by Java, Bali, Sumatra, or other
well-known arts. Like I La Galigo, there were no available materials at first, yet
it worked out when excellently promoted and managed both artistically and
administratively. Packaging a production is very important. We have to be aware
of the current international trends, what is selling the most.
Jabatin Bangun
Music stood out most in Bali. It is world famous. In a high cultured and economically
stable nation, the most famous art from Bali is either gamelan or dancing. How
is the present condition? Are Balinese still dominating it, or are strangers taking
advantage of Bali’s magnificence and promote it internationally and locally?
I Wayan Balawan
The organizers for big events are mainly foreigners. They took advantage of Bali’s
name. It is as if they only borrow Bali for the venue. There are only a few or even
none advantages for the locals. Very insignificant.
Jabatin Bangun
An aspect that we should work on in the future is to prevent the situation where
Balinese become mere spectator in their own land.
Meja Bundar Musik - World Music
I Wayan Balawan
Sadly, that is already happening. Ha ha ha.
Nyak Ina Raseuki
Let us go back to the existing festivals, whether in Bali, Ambon, or Solo. Could we
copy festivals abroad, or should we create festivals that are fitting for us?
Rahayu Supanggah
I spent quite some times in France, and I admire their system. In France, each
town has a specific theme for its festival. For example, traditional arts festival is
in Rennes. Symphony music festivals are in Provence, theaters in Nancy, Avignon,
etc. Each town was given a label and it started very simply, just like what we did
in Saint-Florence. They made a puppet festival, marionette puppets, with only five
participating groups. A family sponsored each of these five groups. They stayed
at the host’s home, provided with meals. So did the rest of the other groups. That
way, the government did not have any expenses at all. This festival was a success
and it has grown bigger recently. Now the town has became the center of the
world’s puppet art life and studies. UNIMA (Union Internationale de la Marionnette)
has an office there.
Why can’t we do the same thing in Indonesia? For instance, in Kalimutu, Flores.
We could offer the artists to board in family homes. They could stay at the locals’
homes. We have tried once in Solo, but unfortunately, it did not continue. There
are a lot of prominent wayang puppet masters, such as Mr. Manteb Soedharsono,
Cermo Subroto, and many more. There was a puppet master from Japan who
lodged in the homes of Mr. Anom Subroto and Mr. Manteb Soedharsono to study.
However, this program was only tried once and it wasn’t continued.
I Wayan Balawan
How could France manage to do it? They must have the support of the mayor and
governor. They issued the permit for these festivals. Imagine if Indonesian youth
do not have the educationof arts appreciation, and they grow up to be a governor.
As a result, when we want to hold a festival of lenong traditional theater, he would
react, “Lenong festival? That is so outdated!” Thus, we have to be careful when
electing a mayor or governor, because they issue all the permits.
Jabatin Bangun
Next, we have a question from the audience. There are numerous small-scaled
traditional arts groups that still thrive among the populace, like Gambang
Kromong. What is our effort to develop these potentials?
47
48
Meja Bundar Musik - World Music
Rahayu Supanggah
Tradition is alive, not dead. As long as they continue to actualize their arts with
contemporary needs, I believe they can survive. A very positive recent development
is happening in the East Javanese culture. The local government provides a
funding and the locals manage it. They use the funding by tailoring to their specific
needs, and their arts are supported with their own ways. For example, the masked
dance Barong Banyuwangi performance. This art tradition has the full support of
the locals; each performance could gather fifteen truckloads of supporters. These
fifteen truckloads of supporters join the performance with their singing. It is just
like the British football.
I Wayan Balawan
I want to talk realistically, and not many people know this. My gamelan consists of
two styles; a composition that I created with my creative drive and the other style
is popular numbers like “Can’t Take My Eyes off You” and “Do [sic!] You Survive” with
gamelan arrangement. I would play some of my own compositions in big gathering
events. I played Maroon 5 with gamelan set. I use the commercial numbers to
finance the idealist style. Traditional artists also need money for buying their kids’
milks and school tuitions. I make budgets for these big events. For instance for
a gathering a player could get a Rp. 750.000, - fee, and for weddings they each
get Rp. 1.500.000, - at minimum. My gamelan group havesurvived since 1997. We
can do both idealist concert, and even a free concert. We get our payment from
weddings.
What is the use of practicing for a whole day if we all don’t get a decent pay out
of it? Being a taxi driver pays you better. That is the reason I work commercially.
There are some groups with intermittent existence, chiefly because they could
not work this payment thing out. Continually doing idealist concert gives you no
payment, and soon you cannot practice. Therefore, I think there still has to be
commercial gigs.
Nyak Ina Raseuki
Here is another question from the audience. The development of traditional music
is sometimes held back by the music industry that always prioritizes the market.
How do we suppose to react to that? How can traditional music get a decent spot
in the national music industry?
I Wayan Balawan
We have to manage it smartly. There has to be a lot of promotion to the young
generation. I have very simple guidelines: ethnical, technical, entertainment, selling
point. Ethnical means there is an ethnic element. Technical means it sounds
Meja Bundar Musik - World Music
sophisticated. Hence, the listener cannot think, “there’s nothing to it, they use very
easy technique!” The kotekan is very fast and complicated. Next is entertainment.
The latest number I worked on is Maroon 5’s “Sugar” in gamelan. The foreigners
would ask me, “What is this?”.
3
They have never heard anything like that, but it works well with the younger
segment. To be able to compete in the market, we have to know their current
habits. There are YouTube and Instagram’s generation. We could pack and put the
traditional in Instagram, and many people love it. Nowadays everyone is online; no
one is listening to the radio anymore.
Jabatin Bangun
Panggah, what is your view on the music industry? We had a phase a while back
when we perceived music from the tourism and industry’s point of view. We
musicians have always rejected that.
Rahayu Supanggah
We should be able to separate the music and the industry. The art forms like music
and dance are usually divided into two types: show and expression. It is up to us,
which type to choose. A show emphasizes on technique, it has to be easy to listen to
with a pleasant visual. On the other hand, expression is more to the moral message.
Both types are equally good. From my experience in a group, sometimes we are
paid handsomely, sometimes none at all. Therefore, we set aside 15% of the big
payment, to be used when we want to experiment a little, or to subsidize whenever
we don’t have gigs. We have to balance between the show and the expression.
Jabatin Bangun
Do we need an institution as means for young generation to study and preserve
traditional music?
I Wayan Balawan
The easiest way is school. Nowadays kids spend their time at school from 7 am to
1 pm. There have to be arts extracurricular activities at school. In Bali, tradition
can survive out of necessity; we need it for our religious rituals. I fear for Java,
because its people do it only because of festivals, and its traditions are different
from Bali. Ten or twenty years ahead would be the turning point.
Rahayu Supanggah
The most important thing for me is strategy. How do we make good image. Ours
3) Kotekan: Balinese music’s technique: the interlocking of two or more instruments in the ensemble.
49
50
Meja Bundar Musik - World Music
is not a very good one, mainly because of the technical term. “Traditional arts”
is such an outdated term. I so hate that term. Like the term ‘traditional’ and
‘modern’, ‘central’ and ‘local’, ‘government’ and ‘citizen’, ‘industry’ or ‘urban’. The
term ‘ethnic’ is not that beneficial as well. A better term is ‘world music’. All kinds
of music are inevitably world music. Music that they categorized as traditional
could make it to international stage, if properly managed and packaged. It could be
world music because it is enjoyed throughout the world. It is hard to come up with
a correct and fitting term. I personally prefer to use a direct term, i.e. gamelan
music, gondang orchestra...
Nyak Ina Raseuki
I think the correct way is to refer to the place of origin. If it follows by ‘gondang’, we
can say ‘gondang’, obviously in Java there is gamelan, and there is gong kebyar in
Bali. We should always refer to a certain term. I very much agree with that. Even
so, dichotomy is a cliché.
Rahayu Supanggah
Scholars and critics were the ones making the separation, not artists. I create.
“What is your creation?” a journalist once asked me, and it baffled me. Well, this is
my work, my creation.
I Wayan Balawan
We need a public figure or a famous person to make the young generation love
music. They have to do it. Teenagers have no interest in watching me perform;
I no longer fit as a public figure. For instance, who’s the singer with the rocker
voice? Judika! If he sings accompanied by traditional Melayu or Kalimantan music,
people would appreciate him as a public figure doing that and it would quickly
influence the teenagers. And the famous pop singer Raisha; she would drive
people crazy. If she sings accompanied by gamelan orchestra, people would say,
“That’s a cool music.” Therefore, we must create an image that playing gamelan
or music combined with tradition is a cool thing.
Nyak Ina Raseuki
Next question: What happens if there’s a continuous shift of the music scales during
the process of creativity, so subtle that it is not known by the new generation,
especially for easy to make instruments from fragile materials like bamboo, for
instance the bamboo ensemble angklung and the likes?
Rahayu Supanggah
I spoke about this earlier, for an art form to survive and still accepted, with the
changes etc, we need to conduct a proper research on this issue. Which element
Meja Bundar Musik - World Music
is the stubborn element? We have to know which one we cannot alter, the scale
or the notes. We must always preserve it. In addition, our documentation effort is
ineffective.
Jabatin Bangun
It will be ruined without proper documentation. This is about the scale of
notes. Three or four years ago, Panggah and I put together a group to perform
in the Makyong Festival in Bangkok. It turned out that this group did not have a
rebab fiddler. So I said okay, let us ask Mr. Panggah to play the rebab. Thus, we
invited Panggah. It was for a rebab solo with a dancer, and when the festival is
over, Panggah returned to the US, the dancer to her country, and I returned to
Indonesia. Then an evaluator from the Philippines evaluated the performances.
And he called me, “Hi, Mr. Jabatin, from which part of Melayu is the rebab fiddler?”
I answered “From Solo.” “Was that Mr. Panggah playing? There was no Melayu
sound to it at all.” So he could identify the character. No one noticed it at the time
of the performance. Yet the evaluator worked it out, he knew it was a Javanese
rebab. See,that is the importance of scale of notes. The question here is whether
it could survive intact if the instrument itself is fragile.
Nyak Ina Raseuki
Or it is changing continuously, or changed, like changing the tune of the harp-like
instrument Sasando.
Rahayu Supanggah
Campur sari is very popular nowadays in Java. Its musicians could not come up
with the way to mix slendro-pelog and diatonic, so one of them had to be given
up so they harmonize the gamelan like the keyboard, not the other way around. It
could “dismiss” the gamelan. Many people think that the easiest element to mark
a musical identity is by the scale of notes. Tuning system, scale of notes. (Sings a
Mandarin tune. . .).Everyone knows it’s a Chinese song. If it is slendro-pelog then it
must be Javanese, Balinese, or Sundanese. If you lost the scale then it is possible
that you lost its identity. It is okay to lose the gamelan. However, if you lost the
scale, without the gendang drum, people could still know it is gamelan, including
the color of the sound of the instruments.
4
I Wayan Balawan
In Bali, we use this term “standard”. Like standard jazz. Every dance has its
standard. It is already established. Before they improvise, all Balinese artists
must know the basics. They have very good basics. Like my gamelan players,
4) Campur sari: Javanese music formed from many instruments including the keyboard.
51
52
Meja Bundar Musik - World Music
they play equally well in different scales. They have no problem playing in E chord,
because they have solid slendro-pelog basics.
Nyak Ina Raseuki
Just like in language, people can be a polyglot. They can speak French, Javanese,
Sundanese, and other languages. I think it exists in music as well; it is called bimusicality. It is how a person could move from one mode to another. It is a hard
thing for me to do, since I am very diatonic. Panggah would be in the middle, not to
the left or right. Panggah’s answer was very interesting. We really have to record
what we would do. An enduring tradition is a living tradition. So is there anything
we should preserve, Panggah?
Rahayu Supanggah
We should find what we could preserve, with documentations.
Nyak Ina Raseuki
Exactly. Do we have an archive center for traditional music? We also don’t have a
museum that focused on the music of Nusantara as well.
Jabatin Bangun
I want Panggah to close this session with a story of your experience in collaborating
with the Kronos Quartet when you performed in the US.
Rahayu Supanggah
I was embarrassed. Unexpectedly,I got an offer to create a composition for
Kronos. At first, I turned it down because I have no knowledge about western
music and I worried that my work would disappoint the famous group. However,
they kept encouraging me, they gave example like the Japanese composition,
Tan Dun, etc. Finally I decided to try it. We met to share our vision, and to find a
possible working system. Consequently, we decided that I would give an example
and they would continue from there. They were happy about it, but it was hard for
them to memorize it; it is hard for Westerners to memorize notations. So I have
to write a detailed notation, but I told them, “You don’t have to follow this rigidly.
Not everything is notated, even in Java. Each artist can make an interpretation
based on his or her own skill.” So the notation was completed and they discussed
every line for fifteen minutes minimum, what they should do about it. It was a
great honor for me because of this project they built an eight-floor building. Some
artists played in the eighth, fifth, second, first, and third floor. They did not contact
to each other, because I asked them to use their ears rather than their eyes. They
literally glued my composition to the wall; they shaped the notations with seeds.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
What kind of seed was it?
Rahayu Supanggah
I don’t know. “Why did you use seeds?” I asked. They answered, “Because your
music is alive.” I was so touched I cried. Later the seeds would grow, just as the
music would.
Jabatin Bangun
Balawan, how was your experience in your last collaboration?
I Wayan Balawan
Recently I’ve been socializing my music through theater. There is a theatrical
concept in Balinese tradition, of how Balinese artists struggle to make a living
without feeling forced to. Not only playing gamelan for the religious ceremonies,
but also how can you continue to be an artist and able to support yourself, and not
having to work abroad. That is my focus. I’m also working with studios for youth
where I give free courses. You cannot love something you are not familiar with.
Nyak Ina Raseuki
Very well. Thank you, Mr. Rahayu Supanggah and Mr. I Wayan Balawan, for this
intense discussion. We get the essence of the creative processes of these two
great musicians.
53
54
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
DISKUSI
HARI KEDUA
/
SECOND DAY
DISCUSSION
55
56
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
DISKUSI HARI KEDUA
Jabatin Bangun
Baik, terima kasih. Selamat sore, Bu Trisutji Kamal, selamat
sore, Bung Rence. Hari ini kita mulai lagi diskusi kita. Tapi saya
kira pada bagian pertama kita lihat dulu video beberapa menit,
setelah itu ada presentasi sedikit, dan kita lanjutkan dengan
diskusi. Silakan.
(Pemutaran video tentang Trisutji Djuliati Kamal bermain piano.)
Trisutji Kamal: Kalau kita bicara mengenai karya seni itu sahsah saja. Tapi belum tentu orang yang tradisional menulis
tradisinya. Bisa saja. Everything is possible. Nothing is new
under the sun. (Suara piano lagu “Rambadia”.) Mulanya saya
membuat karya sebenarnya ya tidak semua pakai musik
tradisi, tetapi akhir-akhir ini saya mengembangkan musik,
memasukkan instrumen tradisionil akhir-akhir ini. Perannya
sebenarnya untuk memberikan nuansa etnik untuk musik
saya. Perkembangan musik di mana pun akan ada karya baru,
instrumen baru lahir. Dalam musik Romantik, misalnya, akan
ada yang baru lagi. Dan sebagainya sampai sekarang pun.
(Lanjutan suara piano. Tepuk tangan penonton.)
(Pemutaran video musik Inafuka dari Buru.)
Nyak Ina Raseuki
Baiklah. Setelah dua tayangan barusan kita akan diskusi
lebih lanjut. Seperti kemarin, kita akan jauh menyelami kedua
seniman, Ibu Trisutji Kamal dan Bung Rence Alfons. Mereka
akan menceritakan pengalaman mereka bermusik, proses
kreatif mereka dan untuk yang pertama kita persilakan Bung
Rence menyampaikan Power Point-nya.
Rence Alfons
Baiklah. Terima kasih, Kak Ubiet, Bang Jabatin dan Ibu Trisutji
57
58
Meja Bundar Musik - World Music
Djuliati Kamal. Bapak-bapak, ibu-ibu semua, saya pertama merasa sangat
bingung, diminta oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk hadir di sini karena terus
terang saya sudah lama tidak biasa menulis. Namun, saya mencoba membuat
judul diskusi ini dengan tulisan Revitalisasi Suling Bambu di Daerah Ambon.
Musik di daerah Ambon ada beberapa yang dipengaruhi oleh Islam, Kristen,
musik asli. Kalau kita lihat tadi musik Inafuka dari Buru, itu masih sangat orisinal,
tidak terpengaruh oleh apa pun. Kalau dari Ambon ke Buru itu naik ferry bisa
semalaman baru sampai. Yang keempat adalah musik pop sangat berpengaruh;
budaya pop sekarang yang menjadi konsumsi masyarakat Ambon.
Sejak saat Kristenisasi di Maluku, lagu-lagu upacara keagamaan semuanya
dari Barat. Coba salah satu contohnya diputarkan. (Pemutaran lagu liturgi.) Lagu
ini dalam liturgi Protestan biasanya dimainkan pada saat menghadap Yang
Mahakuasa. Yang berikut adalah musik yang dipengaruhi oleh musik Islam yang
banyak menggunakan rebana. Sementara musik etnik Maluku, Inafuka, adalah
salah satu musik asli di Maluku. Kemudian musik pop. Contohnya lagu Sio Mama.
Lagu ini sudah sangat familiar dari Merauke sampai ke Sabang.
Suling bambu yang berkembang di daerah Ambon itu ada dua. Yang vertikal
berkembang di daerah masyarakat muslim, dan yang horizontal berkembang di
masyarakat Kristen. Saya kebetulan entah mengapa harus menjadi Kristen dan
belajar sedikit tentang musik suling bambu horizontal. Musik vertikal ini untuk
mengiringi tari Sawat. Terus terang saya tidak atau belum menggali lebih dalam
tentang suling vertikal ini. Mungkin sistem tangga nadanya menggunakan magam
yang biasa digunakan oleh musik di Timur Tengah atau bagaimana. Saya sering
berkomunikasi dengan musisi-musisi jenis ini, terutama jika ada acara tamutamu penting. (Pemutaran video pertunjukan tari dan musik Sawat.) Musik Sawat
ini tumbuh di semua komunitas Muslim di Maluku, di Maluku Utara dan Maluku
Tengah juga berkembang musik ini. Jadi, kalau ada daerah yang beragama Islam
di kawasan Maluku, pasti ada musik Sawat.
Musik horizontal itu berkembang di masyarakat Kristen. Menurut informasi,
musik suling bambu vertikal pertama dikembangkan oleh Joseph Kam. Oleh
kalangan Kristen Katolik di Maluku dia disebut sebagai “Rasul Maluku” karena
dia merupakan salah satu misionaris yang menyebarkan agama Kristen di
daerah Maluku. Kenapa Joseph Kam sampai mengembangkan suling bambu
vertikal yang tangga nadanya sangat diatonik, karena untuk kebutuhan liturgi
Calvinis harus ada musik. Dia punya latar belakang flute yang kuat. Pada saat
dia sampai di daerah Ambon, kultur flute tidak ada. Tapi begitu melihat bambu
tumbuh liar di Ambon, dia berpikir ada sejenis flute yang bisa dikembangkan. Dia
Meja Bundar Musik - World Music
mengembangkan suling bambu yang bertangga nada diatonik khususnya untuk
peribadatan.
Dalam liturgi Protestan di Maluku pemegang suaranya menggunakan sistem
lama. Ada suara satu, suara dua, suara tiga, suara empat. Tapi yang saya amati
mereka itu terkesan asal ada melodi (menyenandungkan melodi), secara feel
mereka ikut melodi, secara paralel. Suara mengikuti turun-naiknya melodi.
Mengenai pembuatan instrumen, saya amati bahwa orang tua-tua di Ambon
jika akan membikin suling itu mereka menjemur bambu-bambu itu di bawah
panas matahari. Di daerah saya panas matahari paling banter 32Ëš C. Proses
pelubangannya itu menggunakan besi yang dipanaskan. Namanya pula-pula.
Saking panasnya besi ini, bambu bisa terbakar. Untuk proses tuning mereka
mengandalkan telinga masing-masing. Itu teknologi mereka waktu itu.
Mengenai sistem permainan, mereka sangat awam terhadap ilmu harmoni
konvensional. Mereka menggunakan paralel semua. Suara satu naik, suara
dua, tiga dan empat ikut naik, begitu seterusnya. Bangunan harmoni menjadi
tidak jelas. Anehnya, mereka biasa menggunakan satu nada saja. Mereka
menggunakan satu nada F. Nah, bayangkan saja jika dalam satu ibadah itu bukan
satu lagu saja. Syukur jika lagu itu pas di nada F, enak dinyanyikan. Tapi jika
nada lain, ya tinggi sekali atau rendah sekali, sampai seperti orang ngorok. Itu
kesulitan dari sistem lama yang digunakan oleh orang tua-tua saya dulu.
Jadi, mereka tidak menggunakan sistem suara high, middle, low. Ketika pertama
saya bikin suling dengan menggunakan besi yang dipanaskan, sulit sekali
mendapat nada yang pas. Umpamanya saya butuh nada D, sulit sekali. Kenapa?
Saya teringat teori Fisika pada zaman saya SMP dulu, bahwa jika sebuah benda
padat dipanaskan dia akan memuai, jika didinginkan dia mengerut. Mungkin saja
ini penyebabnya karena jika besi yang sudah dipanaskan itu kemudian mengenai
bambu itu akan berpengaruh kepada semua tekstur bambu itu. Suara yang
dihasilkan cenderung menjadi fals.
Yang paling celaka karena generasi muda sekarang ini sudah bisa mengakses
musik apa saja melalui Youtube. Jika dikasih musik suling seperti itu, mereka
pasti ogah. Generasi muda memang tidak tertarik. Setelah saya pulang ke
Ambon ternyata pemain-pemain musik suling bambu di gereja itu sudah sepuh
semua.Tidak ada generasi muda satu pun. Anak muda punya apresiasi tersendiri
terhadap musik di Youtube itu. Yang penting juga, suling bambu sudah tergeser,
termarginalkan oleh keyboard dan trompet. Jadi kalau di GPM itu sekarang
trennya saat mengiringi liturgi mereka memakai trompet dan keyboard. Jika
59
60
Meja Bundar Musik - World Music
satu jemaat tidak punya trompet, mereka merasa rendah diri. Itu menggejala
dan sangat mengkhawatirkan saya.
Saya membuat instrumen ini tidak dengan menjemurnya di bawah panas
matahari, tapi saya panaskan di oven. Ya, suatu ketika saya jalan-jalan ke
Yogyakarta dengan mantan pacar saya, masuk ke toko Progo dan saya temukan
oven yang besar sekali. Saya pikir, kayaknya bisa nih masukin bambu di sini. Saya
beli dan saya coba di Ambon. Saya juga pakai alat ukur kadar air di dalam bambu.
Jadi, bambu yang saya ambil dari hutan itu saya panaskan di dalam oven, saya
kasih indikator suhu yang naik perlahan-lahan sampai 200Ëš C. Ternyata bambu
saya hangus. Saya melakukan itu hingga tiga atau empat kali. Jika bambu sudah
dingin saya masukkan lagi. Ternyata bambu itu tidak habis kadar airnya. Bambu
yang sudah terbakar itu saja masih 15% kadar airnya. Saya juga menggunakan
bor listrik yang besaran mata bornya itu saya ukur dengan frekuensi skala Hertz.
Saya membuat suling itu dengan menggunakan frekuensi suara high, middle, low.
Suling suara satu pada frekuensi high, suara dua dan suara tiga pada frekuensi
middle dan suara empat pada frekuensi low. Saya menggunakan G String yang
saya unduh dari internet untuk mengukur tiap nada.
Saya lalu berbicara dengan teman-teman dan mereka ternyata menginginkan
memainkan lagu yang memang dibuat secara serius, tidak asal-asalan seperti
orang tua-tua mereka. Akhirnya, saya menggunakan harmoni konvensional yang
pernah saya pelajari. Pemilihan repertoar juga ada strateginya. Tahun kemarin
kami konser mengambil sebagian Simfoni No. 5 karya Beethoven, kemudian
kami buat medley dengan Eine Kleine Nachtmusil karya Mozart. Mereka ternyata
sangat antusias memainkan ini. Mereka mau berlatih dan memainkan secara
serius. Sekarang saya bikin dalam tiga nada D, F dan G. Memang, tidak semua
repertoar bisa kami mainkan dengan suling ini.
Moluccas Bamboowind Orchestra ini saya dirikan pada 2005 dan tampil perdana
di perayaan HUT Kota Ambon yang ke-430. Saya bikin kelompok besar dengan
100 pemain suling bambu. Suara satu, dua, tiga, empat dan lima, masing-masing
20 orang. Musisi saya sangat beragam. Ada mahasiswa, pelajar, PNS aktif, PNS
pensiunan, guru, polisi aktif, polisi pensiunan, tukang ojek, tukang pemeras enau
yang biasa bikin sopi itu, terakhir ada montir bengkel. Usia mereka pun sangat
beragam. Yang paling muda berumur 11 tahun dan yang paling sepuh berumur
73 tahun.
Dalam membuat aransemen saya juga menggunakan small band: stringnya 10 orang, ada tifa, rebana, flute, saksofon, totoboang, hawaiian, vokalis,
choir, ya tergatung pada arranger dia mau menggunakan instrumen apa. Saya
Meja Bundar Musik - World Music
bersyukur karena pemerintah daerah mendukung kami sejak 2007 sampai
sekarang, mereka memberikan kami dana untuk tampil satu tahun satu kali.
Pada Desember 2011, saya berkolaborasi dengan Ony and Friend di JCC pada
perayaan Natal nasional dan pada 2012 itu kami diberikan kesempatan oleh
Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif untuk tampil dalam acara Sound from
the East di Ritz Carlton Hotel di Kuningan, Jakarta.
Kesimpulannya, bagi saya, musik suling bambu tidak kaku dan bisa beradaptasi
dengan tuntutan musik kekinian. Jika berbicara revitalisasi harus melihat
instrumennya macam mana kemudian menyangkut musiknya, komposisi
maupun aransemen.
Yang tidak kalah penting adalah bahwa sesuatu yang tradisional di zaman ini
tidak boleh alergi terhadap manajemen seni pertunjukan. Jika alergi, musik
tradisional akan menjadi masalah di zaman sekarang. Terkadang pemerintah
daerah tidak berpikir bahwa musik-musik tradisonal kita itu kalau dikemas
secara serius, mestinya akan menjadi daya tarik. Karena musik tradisi kita punya
keunikan masing-masing. Kalau itu digarap secara serius bisa menjadi salah satu
tujuan wisata. Memang kami punya cita-cita begini, jika mau menonton konser
suling bambu, datanglah ke Ambon. Sekarang ini kami sedang mendesain suatu
panggung permanen semacam amfiteater. Tanahnya kami sudah dapat. Kami
sedang merancang budgeting-nya. Tujuan saya akhirnya adalah musik bambu
atau suling bambu ini akan menjadi salah satu destinasi pariwisata di Ambon,
Maluku.
Mbak, tolong putarkan lagu Rame-Rame. Audionya memang sangat sulit karena
dua kali saya konser di Jakarta soundman juga bingung bagaimana cara menata
mikrofon yang ideal. Mungkin karena bahan-bahannya baru bagi mereka dan
mereka butuh adaptasi yang lama untuk itu. Saya sendiri kecewa sekali karena
tidak ada balancing dari suling bambu dengan instrumen lain. Saat itu ada juga
totobuang, flute, biolin.
Di grup saya itu orang tuanya sudah sedikit. Saya tidak mengusir mereka. Mereka
sendiri karena merasa sudah tua dengan sendirinya mengundurkan diri. Sudah
capeklah. Silakan saja, saya tidak mengusir. Kalau mengusir ya tidak manusiawi.
Nyak Ina Raseuki
Sambil menunggu, saya kira nanti kita kembali ke Bung Rence dan mendiskusikan
apa yang disampaikannya. Saya ingin ke Ibu Trisutji Kamal. Sebenarnya yang
paling penting dari kedua seniman ini bagaimana kita memahami proses kreatif
di dalam mereka berkarya. Mereka menghabiskan seluruh waktu, seluruh hidup,
61
62
Meja Bundar Musik - World Music
untuk kesenian yang mereka geluti, tekuni. Ibu, mungkin Ibu mau cerita dari awal
dari Binjai Medan, silakan. Tapi kalau Ibu mau memulai dari kapan sebetulnya Ibu
tertarik menggunakan elemen-elemen musik Nusantara di dalam musik-musik
Ibu, juga boleh. Terserah Ibu mau memulai dari mana.
Trisutji Kamal
Saya sebenarnya mau cerita dari awal. Saya mulai bikin lagu waktu saya umur
enam tahun di Binjai. Tapi waktu itu saya belum bisa menulis not balok. Saya
main piano untuk almarhum ibu saya. Tapi karya itu sudah hilang. Waktu remaja
saya mulai belajar main piano. Setelah bisa main piano saya mulai mengarang
lagu. Lingkungan saya itu sebenarnya Jawa. Ibu dari Jawa, dari Keraton.
Pendidikan pertama dari keluarga saya itu Jawa. Jadi yang pertama masuk ke
saya itu sebenarnya Jawa. Namun, dari remaja lingkungan saya Melayu, Batak,
Islam dan sejak itu saya tampung secara tidak sadar. Bahkan salah satu karya
yang saya tulis dan sering dimainkan sebagai lagu wajib di sekolah musik, Tarian
Fantasi, itu sangat Jawa.
Nyak Ina Raseuki
Ya, hampir semua murid piano pasti memainkan karya itu.
Trisutji Kamal
Setelah saya remaja dan melanjutkan studi ke Eropa (Belanda, Paris, Roma), yang
saya tampung sejak saya kecil itu sudah menjadi bagian dari diri saya sehingga
bahasa musik saya itu sudah Indonesia, tapi belum menggunakan instrumen
tradisional. Setelah saya dilatih untuk mencipta lama-lama saya pikir apakah
saya punya bakat. Tapi guru saya melarang ini gak boleh, itu gak boleh. Menurut
saya, ini bagus, tapi menurut guru saya mesti dicoret. Sedih banget rasanya.
Demi menguasai teknik, saya lakukan itu.
Jabatin Bangun
Sebelum jauh karena ada beberapa yang hilang belum kita pahami, nanti orang
lain bingung. Jadi Ibu itu berangkat dari Jawa ke Langkat, tinggal di Kesultanan
Langkat, ya? Kenapa pindah dan umur berapa Ibu pindah ke Langkat itu?
Trisutji Kamal
Mungkin pada umur dua tahun saya pindah ke Langkat. Saya mulai belajar
musik sekitar umur enam tahun. Tapi ayah saya senang musik sejak lama, beliau
kan main biola dan passion-nya di situ. Waktu muda beliau ingin jadi musikus.
Nenek saya sering ngumpetin biolanya. Ayah saya dokter di Kesultanan Langkat.
Saya belajar piano pada orang Jerman yang sangat ketat. Memang sudah
direncanakan, waktu remaja saya ingin belajar ke Eropa. Ketika itu belum banyak
Meja Bundar Musik - World Music
wanita yang belajar ke Eropa. Sebagai wanita saya masih sangat muda, tapi
keluarga saya mendukung saya. Waktu itu seharusnya saya sekolah di Belanda.
Waktu itu ada semacam pergantian politik yang menyebabkan siswa musik atau
siswa seni tidak boleh sekolah Belanda. Itu sekitar 1955. Maka saya ke Paris,
setahun kemudian saya pindah ke Italia.
Nyak Ina Raseuki
Setelah bertahun-tahun menulis musik piano, Ibu merasakan ada warna Jawa di
sana, tanpa disadari. Yang menarik, kapan Ibu betul-betul mulai sadar betul ingin
menggunakan elemen musik Nusantara?
Trisutji Kamal
Sudah dari awal. Selain Tarian Fantasi, karya saya yang paling terkenal berjudul
Sungai. Itu menggambarkan sungai di Binjai. Karya itu sangat Jawa. Waktu itu
saya sudah mulai berfilsafat. Ia menggambarkan kehidupan manusia. Sebagai
setetes air dari gunung turun melewati lembah yang curam. Saya membuat
musik itu tanpa saya sadari ya. Saya ingin membuat musik dari asal saya, Jawa,
meskipun saat itu saya tinggal di Deli. Ketika saya berumur 16 tahun ibu saya
meminta agar saya tetap menjadi wanita Indonesia, wanita Jawa, dan setiap hari
Minggu saya harus masuk dapur dengan memakai kain.
Nyak Ina Raseuki
Selain Jawa, Ibu juga di kemudian hari tertarik menggunakan anasir musik
Melayu atau Bali. Bisakah Ibu ceritakan itu?
Trisutji Kamal
Kalau musik Bali dan Jawa kayaknya sudah menyatu tanpa saya sadari sejak
awal. Saaat itu ada seorang cellist dari Spanyol, Gaspar Cassadó, konser di
Medan dan sempat mampir ke rumah. Saya mainkan karya saya di depan dia
dan dia bilang saya ada bakat. Saat itu saya sekitar 14 tahun.
Jabatin Bangun
Dengan teknologi sekarang orang gampang sekali mendengar musik Afrika,
Eropa, India. Zaman Ibu itu dari mana? Mungkin di Kesultanan Langkat selalu
ada musik. Tapi bagaimana dengan musik Jawa dan musik-musik lainya yang
Ibu dengar.
Trisutji Kamal
Karena saya juga belajar tari Jawa dan di rumah saya ada seperangkat gamelan.
63
64
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Saya ingin kembali ke Bung Rence. Sebetulnya yang paling menarik buat saya
kenapa Bung Rence melakukan revitalisasi ini?
Rence Alfons
Saya belajar musik Barat di ISI Yogyakarta dan lulus 1997 dengan mayor gitar.
Setelah saya balik ke Ambon pada 1998 dan ternyata meletus kerusuhan 1999.
Saat itu saya merenungkan diri saya. Saya ini siapa? Dari nama saja saya itu kok
tidak Maluku. Dari nama saya itu dikasih Bapak saya itu Maynard Reynold Nataneil
Alfons itu sudah tidak Maluku lagi. Saya merasa bahwa saya ini Barat tidak ya
Maluku juga tidak. Apalagi musiknya. Saya seperti kehilangan sesuatu terus saya
mau garap. Menggarap apa? Musik tradisi, musik etnik di Ambon itu sudah tidak
ada lagi. Saya kebetulan asli orang Ambon yang tinggal di daerah pegunungan,
kira-kira 500-600 di atas permukaan laut. Saya terus berpikir lagi, malu sendiri
saya mendapat gelar S.Sn. ini. Lebih bagus dikatakan “Sarjana Sinting” ya daripada
“Sarjana Seni”. Saya merasa malu terhadap diri saya sendiri dan tidak tahu mau
ngapain. Mau main gitar klasik siapa yang mau dengar. Siapa yang membayar
saya? Ada untungnya juga kerusuhan itu karena saya jadi tinggal di rumah melulu.
Kalau saya dengar bom meledak ya dengar ada bom di sana, di sana.
Saya suatu ketika ke gereja—kebetulan saya tidak rajin-rajin ke gereja. Saya
lihat tidak ada suling lagi. Saya tanya kenapa sudah tidak ada suling lagi? Mereka
bingung menjawab pertanyaan itu. Saya pergi ke gereja lain, ada yang memainkan
suling tetapi sudah sepuh semua pemainnya. Yang napasnya sudah tidak jelas,
pasti menentukan produksi nada sulingnya juga tidak jelas. Mereka ini generasi
terakhir. Jadi, sulingnya dibuat oleh orang yang tidak jelas dan dimainkan oleh
orang yang tidak jelas juga. Akhirnya melahirkan musik juga yang tidak jelas.
Yang paling celaka lagi, Mbak, musik yang tidak jelas itu mainnya di gereja.
Waduh, celaka. (Tertawa bersama.)
Jabatin Bangun
Perkenalan saya dengan Bung Rence ini sangat pribadi dan sangat sulit dilupakan.
Suatu saat saya menjadi kordinator untuk pembuatan film dokumenter di 23
provinsi tentang seni-seni tradisi di Indonesia. Saya sudah berjalan di beberapa
provinsi selama dua bulan. Dari Sulawesi terus ke Ambon. Saya bertemu dengan
Bung Rence dan satu teman lain yang sekarang menjadi kepala Taman Budaya
Ambon. Lalu saya minta mereka berdua menjadi koordinator untuk membuat
upacara di pulau Nusa Laut. Setelah itu saya tergeletak, lelah sekali. “Anda
saja berdua ke sana menggarap musiknya,” kata saya, saat itu. Mungkin saat
itu Bung Rence sudah terpengaruh. Kok ada seorang gila datang dari Jakarta
mengurusi musik di pulau yang jauh. Lalu saya pulang ke Jakarta, mereka pergi
Meja Bundar Musik - World Music
ke Nusa Laut. Ternyata tiba di Jakarta, KTP saya diperiksa. Kerusuhan Ambon
pertama kali meledak dan hotel tempat saya tinggal itu terbakar habis. Mereka
terkatung-katung di pulau Nusa Laut dan tak bisa lagi kembali ke keluarga yang
ditinggalkan. Saya kira ada hikmahnya, mereka jadi belajar musik tradisi di
sana. Setelah itu saya berulang-ulang bilang kepada dia, “Jangan lupakan tradisi
walaupun kau belajar musik Barat.” Belakangan kami juga bekerja sama untuk
revitalisasi totobuang. Jadi, Bung Rence datang dari Barat dan pergi ke wilayah
yang tidak mengenal apa-apa.
Nyak Ina Raseuki
Ya, sebetulnya seperti yang sudah kita diskusikan kemarin, ini soal bagaimana
kita datang dari sebuah masyarakat. Misalnya, saya orang desa dari ujung
Sumatra tiba-tiba belajar musik Barat. Saya tidak sama sekali menolak musik
Barat, ini bagian dari kehidupan kita. Kita orang kontemporer, kita orang
Indonesia. Tapi bagaimana jika saya ada di dalam satu masyarakat, ada dalam
satu budaya, tapi saya tidak tahu budaya itu. Mungkin seperti yang dikatakan Ibu
Trisutji tadi, sebenarnya mungkin bukan tidak tahu tapi ia ada di dalam memori
kita, memori audio kita, dalam semua ingatan yang bisa kita keluarkan pada satu
saat. Saya kira Bang Jabatin sama saja.
Jabatin Bangun
Saya besar di Medan. Orang gunung Sinabung.
Nyak Ina Raseuki
Yang satu di Gunung Seulawah yang satu di Gunung Sinabung. Saya kira hampir
semua seniman yang kita temui di seluruh penjuru Indonesia, apa pun latar
belakang mereka akan menemui itu: pencarian identitas. Agak klise, ya. Apa
yang sudah mereka alami begitu lama itu seperti muncul kembali. Apakah yang
seperti itu yang Bung Rence rasakan?
Rence Alfons
Ya. Memang daerah Ambon budaya intinya sudah dikibas habis. Pengaruh Islam
dan Kristen sudah habis semua. Saya inilah korbannya. Saya sebenarnya iri
kepada gamelan Bali dan gamelan Jawa, juga kepada gondang Batak. Mereka
itu ada ciri khas.
Nyak Ina Raseuki
Tapi begini, Bung. Saya potong dulu. Kalau kemarin Balawan dan Mas Rahayu
Supanggah mengatakan musik-musik yang mereka mainkan atau yang mereka
praktikkan setiap hari itu ada konteksnya, ada konteks budayanya. Ada banyak
ritual di Indonesia yang sebetulnya juga sudah tidak ada. Jadi, dengan demikian,
65
66
Meja Bundar Musik - World Music
keseniannya juga bisa tidak ada. Tapi seperti yang sudah dijelaskan oleh Mas
Supanggah kemarin, dia terheran-heran di Korea, di Jepang, di Cina, orang
malah beramai-ramai memeliharanya karena mereka ingin memelihara,
menghidupkannya kembali, meskipun konteksnya sudah hilang. Mungkin yang
terjadi di Maluku begitu.
Rence Alfons
Jika kita melihat musik tradisional atau musik etnik di daerah lain, masih adalah.
Misalnya, musik Inafuka dari Buru itu. Tapi kalau bicara konteks Ambon, sama
sekali sudah tidak ada. Entah itu di daerah pegunungan atau daerah pantai itu
sudah habis. Saya akhirnya berpikir, ya sudahlah. Saya berusaha untuk bangga
dengan suling bambu ini. Saya berusaha walaupun memang dari sisi tangga
nadanya tidak asli lagi. Saya pernah datang di Seram lalu saya melihat lagulagu yang sangat tradisonal. Mereka selalu mendendangkan (bersenandung lala
lalalala. . . ). Cuma tiga-empat nada saja, tapi itu masih ada.
Balik ke suling bambu tadi. Akhirnya saya harus mengambil pilihan. Karena musik
Maluku Tenggara saya juga tidak tahu, kemudian Maluku Utara atau di Pulau
Seram saya juga tidak tahu, akhirnya saya memosisikan diri untuk menggarap
yang ini sajalah. Nanti mau jadi apa, yang penting saya garap dulu. Karena saya
punya pengalaman waktu di gereja. Sejak SD saya sudah ikut-ikut bapak saya
memainkan suling bambu. Tapi saya sangat berbangga karena sebagian musisi
saya itu pelajar dan mahasiswa. Setiap tahun biasanya kami mengambil pemain
baru karena biasanya ada yang keluar. Entah dia sudah selesai studi mahasiswa,
kerja di luar daerah, sudah tua. Jika mereka mengundurkan diri, kami merekrut
lagi yang baru.
Biasanya, untuk yang baru saya bikin kelas khusus. Saya mengajar mereka
bagaimana meletakkan bibir di suling, posisinya harus benar. Bagaimana
bernapas dengan baik sehingga menghasilkan tiupan yang baik. Setelah itu baru
saya ajarkan bagaimana cara membaca notasi sampai mereka bisa tampil.
Nyak Ina Raseuki
Kelihatannya, seperti yang kemarin, Bung Rence ini mengambil jalan tengah. Dia
merekonstruksi sesuatu yang hampir hilang, masih ada, generasi terakhir. Tetapi
Bung Rence berusaha membuat rekonstruksi secara teknis. Pembuatan suling
bambunya tadi kita sudah lihat, teknik bermainnya, lalu lagu-lagunya sudah
dicatat juga. Lalu regenerasi, ia mengajarkannya kepada masyarakat sekitar. Itu
juga kita bicarakan dengan Mas Panggah dan Bli Balawan. Tapi masalah di luar
pulau Jawa sangat pelik. Kalau tidak ada orang-orang seperti Bung Rence ini,
bagaimana jadinya.
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
Di Indonesia timur dia cuma sendiri. Kita cari-cari ke daerah lain, tidak ketemu.
Di bawah bantal juga tidak ada. Ya, Bung Rence ini kan bekerja di Taman Budaya
sebagai PNS, tapi sedikit sekali yang paham kesenian di situ. Nah, sekarang
kita ke Ibu Trisutji Kamal. Apa yang terjadi selama berada di Eropa? Apa yang
dilakukan? Lalu bagaimana dengan kehidupan musikal di sana?
Trisutji Kamal
Saya sulit memainkan alat musik sendiri. Dan tadi saya bilang bahwa semenjak
guru saya berlaku seperti itu, saya takut. Saya jadi berpikir, saya sebenarnya
punya bakat atau tidak. Sampai saya dua tahun tidak bisa nulis.
Di Italia saya belajar bermain piano dan membuat komposisi. Belajar piano itu 10
tahun, belajar komposisi juga 10 tahun. Untuk komposisi ada tiga ujian, di tingkat
4 tingkat, tingkat 8, tingkat 10. Ujiannya sangat ketat. Tingkat 4 ujiannya itu soal
Harmoni dan Kontrapung. Hari keempat tanya jawab. Waktu ujiannya 10 jam.
Yang terakhir, ujiannya dua hari dan kami harus menginap di Konservatori. Saya
harus menghasilkan karya orkes yang sudah siap dan bagus. Jadi, memang
berat.
Jabatin Bangun
Selama di konservatori sudah adakah karya-karya yang berdasar kepada
musik-musik di Nusantara, atau dari Timur Tengah, atau dari mana? Bagaimana
Ibu membuat karya di zaman itu?
Trisutji Kamal
Di Kelas Komposisi kami dididik harus bisa menciptakan karya seperti Mozart
atau Beethoven. Kami harus bisa sebelum mengembangkan diri sendiri. Saya
menemui kesulitan untuk itu sebab saya tidak hidup di zaman Mozart. Saya pilih
yang paling dekat dengan saya, Debussy. Masih bisa.
Nyak Ina Raseuki
Itu sangat dekat apa yang sudah Ibu dengar dari kecil karena kita sudah tahu
Debussy sangat terpengaruh gamelan Jawa. Meski tidak secara harfiah, dia
menemukan tone atau timbre gamelan Jawa dan sesuatu yang dia gambarkan
itu warna bunyi. Saya kira itu yang bisa kita temukan di musik-musik Ibu Trisutji.
Terutama karena kita paham musiknya Ibu Trisutji berlatar belakang musik klasik.
Saya ingat ketika Ibu bertemu dengan Pak Kompyang Raka, misalnya. Itu sudah
tahun 80-an, jadi kita agak lompat. Menurut Ibu, apa perbedaan yang sangat
mendasar di komposisi Ibu?
67
68
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
Sebelum Ibu cerita barangkali perlu kita sampaikan, mungkin Bung Rence juga
belum tahu. I Gusti Kompyang Raka ini seorang musisi tradisional Bali yang
pindah ke Jakarta lalu membuat sekolah musik tradisioal di Jakarta. Nah itulah
yang akhirnya Ibu Trisutji membuat karya bersama dia.
Trisutji Kamal
Sebenarnya saya tertarik dari dulu pada musik Bali. Dan waktu saya pertama
kali ke Bali pada tahun 1953-1954, saya sudah jatuh cinta pada Bali. Saya senang
musiknya yang dinamis, saya senang orangnya. Sampai sekarang. (Tertawa
bersama). Itulah yang terjadi antara Pak Kompyang dengan saya. Dan saya lihat
Pak Kompyang orangnya sangat mudah menerima masukan dari saya dalam
bekerja sama. Juga waktu itu beliau mengajak musisi lain yang main perkusi,
namanya Ketut Budiasa. Dia hebat sekali. Dia main gendang dan segala macam.
Proses kerja sama saya dengan Pak Kompyang ya dia mendengarkan musik
saya, saya kasih pengarahan, saya akan memasukkan ini dan itu. Tidak ada
tulisan. Saya hanya tahu istilah pendetan. Itu bisa dimasukkan di mana saja.
Kalau cengceng, vokal, aksentuasi, semuanya dicoba. Secara teknis, di skor saya
beri tanda silang untuk gendang Bali. Mereka punya catatan sendiri.
Ya, musik Bali itu dinamis sekali. Saya sudah ada konsepnya kapan mesti
menggunakan yang keras. Salah satu karya saya yang pertama kali menggunakan
perkusi Bali adalah Dialogue for Two Pianos and Balinesse Percussion. Itu karya
dalam tiga bagian dan dasarnya adalah surat Al-Fatihah. Yang kedua tasbih,
yang ketiga salawat Nabi.
Nyak Ina Raseuki
Ini menarik, Bung Jabatin. Bagaimana Ibu Trisutji mencampurkan yang Bali, yang
Jawa, yang Melayu, kemudian disatukan dengan elemen-elemen Quran atau
dari ritual-ritual yang ada di dalam Islam. Saya ingat ada satu karya Ibu yang
inspirasinya adalah tawaf di Kakbah. Bagaimana Ibu mendapat inspirasi itu dan
bagaimana Ibu menuangkan teksturnya.
Trisutji Kamal
Tawaf itu untuk piano solo. Yang Dialogue ini pertama kali dasarnya adalah AlFatihah sebab ini saya temukan setelah belajar Quran. Saya ini orang Islam tetapi
tidak pernah belajar Quran. Satu tahun saya tidak pegang musik sama sekali. Itu
sekitar 1992. Saya katakan pada diri saya sendiri waktu itu bahwa saya harus
bisa baca Quran. Terus apa yang terjadi? Saya pikir saya belajar Quran seperti
bermain piano, berjam-jam. Itu saya lakukan dari subuh sampai maghrib, tidak
Meja Bundar Musik - World Music
berhenti baca Quran, sampai saya bisa baca. Saya baca satu halaman dengan
stopwatch, kira-kira berapa menit saya bisa baca satu halaman. Lama-lama bisa
lebih cepat, lebih cepat. Setelah saya bisa baca Quran dengan menggunakan
tajwid.
Nyak Ina Raseuki
Jadi Ibu menemukan dalam dua tanda kutip, unsur musikal di dalam qira’ah
Quran yang Ibu terjemahkan kembali ke musik piano atau ke musik Ibu yang lain?
Trisutji Kamal
Di dalam Quran tidak ada habis-habisnya inspirasi membikin musik.
Nyak Ina Raseuki
Saat itu Ibu membaca Quran dengan lagu seperti Bayati atau apa?
Trisutji Kamal
Ya, Bayati itu tujuh macam. Sangat menarik, ya. Setiap yang membaca, pasti
beda. Jadinya style. Saya pikir dari kata-kata bismillah saja kita bisa bikin tema.
Nyak Ina Raseuki
Jadi Ibu mengambil selain tekstur juga ritme yang ada. Bagaimana Ibu
mendapatkan inspirasi tajwid yang kalau kita terjemahkan ke musik Barat atau
musik klasik Ibu menggunakannya sebagai tekstur, ritme?
Trisutji Kamal
Lebih ke tema.
Jabatin Bangun
Yang menarik dari Ibu Trisutji adalah sesuatu yang menggugah. Sebagai anak
muda sering kita belajar musik itu serasa belajar enak-enak, gampangan.
Padahal Ibu Trisutji bilang cara belajar musik itu penuh kedisiplinan, penuh
aturan, intensitas yang panjang. Saya kira yang penting itu bisa diterapkan
dalam kehidupan. Bisa juga belajar baca Quran. Kalau kita melihat orang belajar
musik sekarang ini kan seolah-olah hanya ingin output-nya saja, bunyinya saja,
tapi proses bagaimana menjadi seorang komposer atau musisi itu yang sering
mungkin dilupakan orang. Itu adalah sebuah latihan kedispilinan yang menuntut
sepanjang hidup.
Nyak Ina Raseuki
Mereka berdua melakukan riset yang panjang, yang di dunia sebelah sana
disebut aspek ilmiah di dalam berkesenian. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba
69
70
Meja Bundar Musik - World Music
terjadi. Ada proses yang sangat panjang sebelum mereka menuangkannya ke
dalam komposisi. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu yang lain, di dalam kesenian
mereka membuat riset agar setiap nada, setiap bunyi, setiap tekstur itu mesti
diperhitungkan.
Jabatin Bangun
Kak Ubiet, Ibu Trisutji dan Bung Rence, kita istirahat 15 menit ya. Setelah itu kita
lanjut ke tema-tema berikutnya.
SESI II
Jabatin Bangun
Pada sesi kedua kita ingin mendengarkan musik bambu yang sudah digarap di
Ambon oleh Bung Rence supaya kita tidak melayang-layang apa maksudnya
bunyi musik itu sendiri. Silakan diputar. (Pemutaran video.)
Rence Alfons
Oke. Suatu ketika saya didatangi Vidy Bapidaya. Kebetulan dia pernah belajar
di IKJ. Dia bilang kepada saya, Bung saya boleh improvisasi gak? Improvisasi
gimana? Mbok jangan improvisasi saja. Saya bikin aransemennya tapi pakai
sequencer.Ya, bikin saja. Ya jadilah seperti itu salah satunya. Sebelumnya saya
tidak menggunakan squencer, akhirnya menggunakan squencer. Jadi, saya
memilih repertoar yang sekiranya menantang diri saya untuk belajar secara
serius. Kemudian juga tidak asing, artinya lagu itu tidak terlalu asing lagi terutama
bagi mereka. Pak, coba yang keduanya. (Pemutaran video. Tepuk tangan.)
Jabatin Bangun
Di sini kita lihat bersama bahwa kreativitas itu tidak membatasi anasir Barat,
Timur, instrumen keras, bambu. Bahkan, di sini ada instrumen yang belum
pernah saya lihat, totobuang, yang merupakan ciri khas musik di Ambon. Apakah
dalam prosesnya Bung Rence mengalami kendala?
Rence Alfons
Ya. Pertama, sebelum bermusik saya berdialog dengan mereka dulu bahwa
musik ini penting. Pendekatan saya sambil minum tuak, Bang. Minum sopi.
Terus saking bersemangatnya, saya menggunakan bahasa agak tinggi menurut
mereka. “Kalian tahu tidak, kita akan membuat suatu paradigma baru dalam
musik di Maluku,” kata saya. “Ngomong apa kau, heh?” (Tertawa bersama.)
Maksud saya, “Kalian mau tidak main suling bambu?” Ada yang mau ada yang
bilang, “Ahh, musik itu. Ada tidak musik lain yang modern,” kata mereka. Saya
Meja Bundar Musik - World Music
berkata dalam hati, biola itu bukan modern lagi, sudah kuno banget. Okelah kita
coba. Nah, pada tahun 2005 itu kebetulan Pak Walikota Ambon minta saya untuk
bikin acara yang ada nuansa musik Ambonnya. Untuk itu, saya mengumpulkan
beberapa puluh teman.
Ini memang kendala pemahaman. Latar belakang mereka adalah musik Barat.
Mereka sudah sangat Barat. Masalah berikutnya, mereka datang dari berbagai
strata sosial. Mengumpulkan mereka itu susah. Kami baru bisa berkumpul setelah
jam 07:00 malam. Bayangkan, ada yang jalan kali tanpa alas kaki sepanjang 5 km
untuk latihan. Terkadang saya tanya kenapa tidak datang latihan? Mereka jawab,
“Saya pulang sudah capek, ya saya langsung tidur.” Bagaimanapun latihan kami
perlu kedisiplinan. Dulu kami latihan satu hari enam jam. Mereka harus disiplin
seperti saya. Tapi akhirnya saya sadar, mereka punya latar belakang sosial yang
sangat berbeda. Setelah itu, jika ada yang baru bergabung, saya langsung latih
mereka. Kebetulan saya punya asisten pelatih khusus suara satu, dua, tiga,
empat dan lima.
Yang berikutnya, mereka tidak bisa membaca sama sekali. Saya mulai dari
huruf-angka. Saya bikin notasi balok dan di bawahnya saya tuliskan notasi
angkanya. Saya berharap suatu ketika ada yang bisa langsung membaca notasi
balok karena saya tidak punya waktu untuk kasih belajar khusus untuk itu. Tapi
ada beberapa orang yang karena keseriusan mereka akhirnya bisa membaca
not balok.
Yang berikutnya, memang manusiawi ya, mereka terkadang merasa jenuh untuk
apa latihan. Tantangan saya yang berikut adalah saya bilang kepada temanteman bahwa sudah sejak 2007 pemerintah daerah kasih dana untuk MBO agar
bisa konser satu tahun satu kali, tapi sampai kapan. Lantas saya pikir ayo kita
bikin panggung. Jika kita punya panggung, kita pentas bukan satu tahun satu kali
kami bisa konser kapan saja.
Nyak Ina Raseuki
Jika kita mendengarkan rekaman yang sebelumnya mungkin karena masalah
teksnis kita tidak bisa mendengar semua suara-suara bambu tadi. Tapi yang
kedua, lumayan. Memang salah satu masalah kita adalah bagaimana masalah
teknis sound-nya. Bagaimana sound engineer atau sound designer memahami
alat-alat musik yang ada di Nusantara ini. Bagaimana mereka bisa masuk ke
dalam bunyi-bunyian atau timbre-timbre yang ada di Nusantara. Itu sebenarnya
masalah yang agak klise, tapi selalu kita bicarakan dan kita tidak pernah
menemukan solusinya.
71
72
Meja Bundar Musik - World Music
Di sini ada beberapa ahli akustik, kita nanti bisa bicarakan itu. Kita sebenarnya
bisa mengubah cara pandang kita terhadap pementasan musik. Kita selalu mau
melihat pertunjukan itu di panggung prosenium. Padahal kalau di Nusantara
itu pertunjukan musik itu di arena, amfiteater. Kita bisa memainkan musik di
museum-museum yang ada di kota, misalnya. Saya tidak tahu di Ambon, apakah
ada gedung-gedung seperti itu. Bukan gedung pertunjukan, tapi gedung-gedung
yang bisa kita manfaatkan untuk bunyi-bunyi akustik seperti bambu.
Rence Alfons
Bambu itu, seperti yang saya bilang, dimainkan oleh sedikit orang. Jika dimainkan
di amfiteater tidak kedengaran.
Nyak Ina Raseuki
Rasanya Ibu Trisutji juga pernah melakukan itu ya, bagaimana tata panggungnya
diubah. Pak Kompyang atau gamelan Bali ada di satu sudut, piano di sudut yang
lain, penonton boleh ada di mana-mana.
Trisutji Kamal
Ya, saya pernah lakukan itu di JakArt. Itu terjadi juga saat saya pentas di Cirebon,
Semarang, Solo, Bali, di dalam stagebus. Itu bus biasa yang dijadikan panggung.
Ada teaternya, ada sound system-nya, sehingga saya bisa main piano di situ.
Pernah juga saya main di pasar dan tempat parkir.
Nyak Ina Raseuki
Saya kira ada banyak hal yang bisa kita ambil dari penampilan musik Nusantara.
Apa yang Bung Rence sudah lakukan ada di antara itu. Jasa anda besar sekali
dalam menemukan jalan tengah di antara yang klise, Timur dan Barat atau
modern. Seperti Mas Panggah kemarin menolak istilah-istilah “tradisi” dan lainlain itu. Tapi bagaimana kita menemukan jalan tengah itu?
Jabatin Bangun
Sama seperti suling bambu, kan. Karena secara tradisional suaranya lain
dan tidak mencapai estetika bunyi yang anda perlukan, lalu Bung melakukan
eksperimen dan lain-lain akhirnya sampai. Saya kira semua pertunjukan itu
selalu juga kita harus mengikuti pola eksperimen ini. Karena dalam beberapa
repertoar sebelumnya saya pernah dengar metode ruang.
Dalam kehidupan belakangan tadi Ibu cerita bagaimana pengalaman Ibu
menemukan kembali jalan agama dalam kehidupan. Bagaimana Ibu bisa sampai
pada ide itu?
Meja Bundar Musik - World Music
Trisutji Kamal
Ya, setelah saya naik haji. Mulanya saya kira haji itu seperti turis. Tapi ternyata
bukan. Saat bulan haji tiba-tiba kok saya kepingin menangis. Kenapa ya?
Ternyata pada saat itu saya jadi peka sekali. Tiap kali mendengar azan saya
menangis. Saya terharu. Setiap kali saya mengaji Quran, ayat-ayat tertentu yang
dibacakan, saya terharu. Saya pikir saya mau kembali ke rumah Allah. Kami
berempat waktu itu dan sempat bertemu dengan rombongan Pak Harto. Di tahun
berikutnya saya pergi lagi. Itu suatu mukjizat benar-benar. Habis itu saya pulang,
terus saya terharu.
Setelah saya alami ternyata banyak sekali masukan. Pada 2003 saya diundang
oleh sebuah asosiasi di Italia. Mereka meminta saya membikin karya setelah
akhirnya saya bisa membaca dan menulis Quran. Aneh, kan. Saya ciptakan itu
terus dipentaskan di gereja. Waktu itu ada aktor Italia yang terlibat di dalam
pementasan itu akhirnya ikut baca syahadat, tapi dia kan tidak tahu artinya.
Nyak Ina Raseuki
Tadi ketika istirahat kami juga ngobrol-ngobrol, ternyata Ibu Trisutji juga pernah
membuat komposisi yang terinspirasi oleh chanting-chanting Hindu. Bisa cerita
itu, Bu.
Trisutji Kamal
Saya mempelajari musik Hindu, Buddha, segala macam. Kebetulan di Roma
saya suka belajar budaya. Jadi saya bikin karya. Saya juga bermusik di gereja
dan musiknya itu berat-berat. Untuk itu saya mempelajari gereja, saya jalani
semua. Akhirnya saya membuat lagu judulnya SKPB. Setiap minggu dinyanyikan
di gereja. (Tepuk tangan.)
Nyak Ina Raseuki
Saya juga tadi sempat ngobrol dengan Ibu Trisutji, ternyata guru mengaji
Ibu orang Bali. Luar biasa kehidupan Ibu ini. Inspirasi yang tertuang di dalam
musiknya itu berkelindan, bersaing, berputar, berbaur, interlocking, kait-mengait.
Ada kotekan yang interlocking, kait-mengait. Sangat khas dindonesia. Saya tidak
bisa membayangkan lagi bagaimana Ibu mengalami itu dan menuangkannya ke
dalam musik. Mungkin Bung Jabatin mau menyambung.
Jabatin Bangun
Ya, kisah ini bisa menjadi inspirasi. Mas Supanggah kemarin lupa menceritakan
dia terlibat dalam sebuah program musik selama dua tahun Sulawesi Selatan
dan di Flores. Sementara Ibu Trisutji mengambil inspirasi dari naik haji dan pergi
ke gereja. Ini membuktikan bahwa inspirasi karya bisa datang dari mana saja.
73
74
Meja Bundar Musik - World Music
Dan pengalaman hidup yang miskin, saya kira, sulit untuk menghasilkan sebuah
karya yang luar biasa.
Nyak Ina Raseuki
Intinya, bagaimana kita dengan cara-cara masing-masing melakukan penelitian.
Penelitian dengan tanda kutip, tidak harus secara ilmiah seperti yang dilakukan
orang-orang akademik. Tapi bagaimana setiap seniman itu melakukannya
dengan caranya sendiri. Bung Rence dengan caranya sendiri, Bu Trisutji, Mas
Supanggah, Wayan Balawan juga sangat unik. Dia hidup di antara banjar dan
musik populer dan dia mencari solusi di dalam tubuhnya. Seperti Ibu yang
poliglot, Balawan juga seorang yang dwimusikal. Dia bisa berpindah-pindah dari
slendro-pelog ke diatonis dengan mudah. Saling silang.
Jabatin Bangun
Bagi kaum akademisi itu masalah. Tapi bagi dia yang praktik itu biasa saja. Tidak
ada bedanya.
Nyak Ina Raseuki
Bagi saya itu masalah. Dari slendro-pelog saya harus balik lagi. Saya ngobrol
dengan Budi Utomo Prabowo kemarin, saya ini apa. Diatonisnya sudah kalau
ukuran mereka intonasinya sudah fals.
Jabatin Bangun
Ketika Ibu Trisutji dihadapkan kepada pengalaman yang banyak, dengan musik
Melayu dan lain-lainnya, bagaimana Ibu menggarap komposisi-komposisi itu?
Trisutji Kamal
Saya rasa itu bergantung kepada siapa yang membawakan musik itu. Kita bisa
bikin musik apa saja, tetapi yang paling penting kita bisa menginterpretasikannya.
Apakah orang itu terbiasa mendengarkan musik itu atau tidak. Saya pernah
punya pengalaman, kalau tidak salah pada 1994. Kami latihan di sini TIM, ada
penyanyi dari Aceh, ada dari Jawa. Saya waktu itu punya konsep menyatukan
Nusantara lewat musik. Tidak harus orang dari daerah itu yang menyanyikan.
Yang penting, dia bisa menyanyikan atau memainkan musik daerah tersebut.
Ternyata tidak bisa. Ia ingin menyanyi berdasarkan apa yang ditafsirkannya. Ya,
penyanyi artis itu tidak dapat soul-nya. Akhirnya saya minta orang lain.
Nyak Ina Raseuki
Ya, saya sempat beberapa kali bekerja sama dengan Ibu Trisutji. Saya alami
bagaimana prosesnya betul-betul tidak hanya Ibu dengan tradisi klasiknya
yang kuat, tetapi ada gendang, turis. Tapi Ibu punya kemampuan untuk melihat
Meja Bundar Musik - World Music
itu secara rileks. Sesuatu itu dicoba. Jadi, ada trial. Jika tidak cocok, Ibu
menyesuaikan dengan musik lain, misalnya musik Bali atau musik Aceh.
Trisutji Kamal
Saya mengenal jazz ini sangat sulit. Saya juga belajar, tapi saya tidak terlalu dan
tidak selalu mengenal jazz. Setelah mengenal, jazz itu membutuhkan improvisasi
dan saya mendapat banyak masukan. Tapi itu masalahnya, saya dari musik
klasik dan harus memberikan kebebasan kepada penyanyi untuk berekspresi
demikian, walaupun itu bukan karya dia.
Nyak Ina Raseuki
Seperti yang saya lakukan terhadap karyanya Ibu, ya. Saya obrak-abrik. (Tertawa
bersama.)
Jabatin Bangun
Kita akan melihat pertanyaan-pertanyaan yang datang dari akun Twitter DKJ
sehingga kita bisa mendiskusikan dan diamati oleh khalayak yang lebih luas.
Silakan. Ada pertanyaan? Sebelum muncul, Bung Rence saya kira juga menarik.
Apakah selama ini karya-karya yang ditampilkan di dalam orkestra musik
bambu itu adalah karya Bung Rence sendiri atau sudah ada dari karya orang
lain? Mana tahu nanti Bu Trisutji mau menawarkan satu bentuk komposisi untuk
ditampilkan oleh kelompok Bung Rence.
Rence Alfons
Saya pernah juga membuat komposisi untuk piano, totobuang, suling. Tapi
karena konsentrasi saya sekarang ini adalah untuk instrumen saya. Saya harus
perjuangkan suling saya itu bisa bertahan lebih satu tahun. Setelah satu tahun,
karena cuaca, kualitas suling itu menurun. Namun, saya kira kenapa tidak jika
ada yang membikin komposisi atau memainkan komposisi saya. Sekarang ini
saya jika kami konser kami tidak sendirian membuat aransemen. Ada komposer
dari UKSW Salatiga, ada dari Jakarta, ada dari ISI Yogyakarta. Kami berenam.
Dalam sekali pentas masing-masing bikin dua komposisi.
Nyak Ina Raseuki
Ini ada pertanyaan: Apakah perlu bagi musisi tradisi untuk juga belajar secara
Barat? Kenapa musik tradisi harus beradaptasi? Tradisi jadi seperti outsider
yang mesti beradaptasi di ruangnya sendiri.
Rence Alfons
Musik itu berkembang dari manusianya. Jadi kalau bicara etnik atau tradisi
mungkin kita bisa bilang tidak. Sejak dalam kandungan saya sudah dikasih
75
76
Meja Bundar Musik - World Music
musik Barat di gereja. Unsur tradisi tidak bisa menutup diri terhadap dunia luar.
Kecuali itu etnik, ya. Etnik itu sangat spesifik. Misalnya, gamelan. Kalau kita
lihat campur sari itu sudah sangat pop. Kalau saya mendengarkan campur sari
saya membayangkan oh, ini menggunakan slendro atau slendro ala Barat. Jika
digabung dengan keyboard, kord progresifnya itu sudah jelas.
Jabatin bangun
Sebenarnya, Bung Rence datang dari wilayah budaya tempat tradisi dan etnik
dibedakan. Di Jawa kan tidak terlalu dibedakan. Karena etnik sebagai budaya Ambon
itu sudah habis dikikis oleh agama sehingga semua yang terjadi dalam musik itu
adalah Barat. Nyanyian gereja yang berasal dari Barat dianggap sebagai tradisi.
Sedangkan etnik itu adalah sesuatu yang belum mendapat pengaruh dari Barat.
Nyak Ina Raseuki
Tapi saya juga sepakat dengan Bung Rence bahwa sebenarnya tergantung
konteksnya. Musik Inafuka tadi sudah begitu, berarti sudah tidak bisa diubah,
mau kita apakan lagi. Dia akan hidup di masyarakatnya dengan konteksnya. Tapi
yang dilakukan oleh Bung Rence berada di antara diatonis dan bukan-diatonis,
kita bisa namakan apa pun itu. Ya, saya kira, itu tergantung konteksnya.
Trisutji Kamal
Saya punya pengalaman diundang ke sebuah festival musik. Saya tidak
menyajikan musik tapi saya tampilkan di panggung basically slendro. Hindu.
Perasaannya tidak masuk karena suasana festival. Justru karya saya yang
bukan sacred, tapi saya bikin berdasarkan soul, malah mendapat penghargaan.
Aneh, kan? Padahal itu bukan karya saya, itu ada nuansa agama Hindu. Tapi yang
lain-lain, seperti yang ada di gereja, ya itu udah biasa. Tapi itu ada yang tidak
biasa, itu langsung masuk.
Nyak Ina Raseuki
Maksud Ibu, musik itu bisa kehilangan konteksnya? Memang musik dimainkan
karena konteks tertentu, kalau musik itu dibuat untuk sebuah pemanggungan,
dia akan menjadi sebuah panggung. Ketika chanting-chanting Hindu dimainkan di
sebuah panggung mungkin bisa kehilangan suasana.
Rence Alfons
Saya pernah membuat aransemen yang melodinya dari grup Masada, mereka
adalah keturunan Ambon yang tinggal di Belanda. Melodinya seperti ini (tari
nanana. . .menyenandungkan), seperti itu kira-kira. Terus saya bikin melodi itu
untuk biolin dan vokal. Nah, sulingnya saya bikin pelog ala saya. Karena kebetulan
saya pernah belajar dua semester dan saya bikin karya itu untuk diri sendiri.
Meja Bundar Musik - World Music
Kemudian suara (menyenandungkan), ya seperti itulah artinya. Bang Jabatin,
kemarin waktu kita bicara soal bahasa, mari kita hubungkan itu dengan bahasa
melodi-melodi itu. Jangan menutup diri kita dengan melodi lain.
Jabatin Bangun
Bagaimana upaya pemerintah untuk mengomunikasikan antar-kesenian secara
seimbang agar bukan satu atau dua kesenian saja yang menonjol, terawat,
berkembang dan menjadi ilham?
Rence Alfons
Jadi malu saya. Memang saya kira sistem kita ini sudah agak runyam. (Tertawa).
Bayangkan saja seorang kepala dinas pariwisata itu dijabat oleh orang yang
latar belakangnya kelautan. Dari mana ini hubungannya. Saya sendiri tidak
suka dengan sistem pemerintahan ini. Karena mereka berbuat setahu mereka.
Mereka berpikir mereka itu tahu padahal sebenarnya tidak tahu. (Tertawa
bersama.) Sebenarnya saya seperti orang kesepian di kantor itu. Mau ngajak
ngomong, ngomong sama siapa, mereka tidak ngerti. Ya, ngomonglah saya
dengan diri sendiri. (Tertawa bersama.)
Jabatin Bangun
Untungnya sekarang, dia superstar di sana. Orang sudah lihat konsernya, orang
yakin. Jika tidak, dia sendiri saja di puncak gunung itu.
Untuk Ibu Trisutji, mengapa kok hanya satu-dua kesenian saja yang menonjol. Kita
sebagai seniman tentu tidak dibatasi oleh satu-dua kesenian yang diperkenalkan
oleh pemerintah. Ibu sendiri pernah mengalami?
Trisutji Kamal
Kalau menurut saya sih semua bisa diapresiasi. Musik yang sederhana sekalipun.
Jabatin Bangun
Seperti Sungai tadi. Sebagai sebuah inspirasi itu tidak ada hubungannya dengan
pemerintah. (Tertawa.) Tapi pengalaman saya bekerja dengan pemerintah itu
terbatas sekali. Kemarin Balawan menyentil dalam dan menarik sekali. Katanya,
jika di Eropa banyak sekali kegiatan-kegiatan kesenian itu diputuskan oleh kepala
daerah yang sejak kecil sudah dididik untuk apresiatif terhadap kesenian. Coba
bayangkan di sini orang kelautan jadi gubernur kok mau mengatur kesenian.
Mengatur musik. Ini sangat memprihatinkan. Lebih sulit lagi saya ketemu
seorang bupati yang bilang kita bikin program kesenian begini-begini. Bapak
tidak usah datang uangnya saja ke sini. Kesenian itu tidak ada masa depannya.
Jadi, itu persoalan yang sangat serius. Jika kita bersama-sama dari setiap sisi
77
78
Meja Bundar Musik - World Music
memberikan ide, gagasan, dorongan kepada pemerintah, mungkin lama-lama
timbul kesadaran. Tapi sampai sekarang itu memang masih kecil.
Nyak Ina Raseuki
Atau begini Bang Jabatin, seperti yang kemarin kita diskusikan dengan Mas
Supanggah. Mengapa kita harus menuntut, selalu menuntut pemerintah, mereka
kerjanya sudah banyak. Kenapa tidak kita saja yang berbuat. Seperti cerita Mas
Panggah kemarin, dia menemukan begitu banyak festival kecil yang dilakukan
oleh komunitas-komunitas kecil yang ada di Paris, di Lyon, di mana-mana. Dia
cerita, ada festival yang tumbuh karena masyarakat, dari kecil tanpa dana, nol
dana. Kita punya begitu banyak festival, menurut Mas Panggah, tapi sama semua.
Satu pemusik akan main dari festival ini ke festival lain, lama festivalnya sama.
Jabatin Bangun
Ya, kebetulan saya sudah, menyombongkan diri, menjelajahi Indonesia ini
untuk membuat film, merekam, bermacam-macam. Jadi, secara pribadi saya
mengalami sendiri, bertemu dengan tokoh-tokoh, hidup berhari-hari dengan
mereka, hidup berhari-hari di Flores. Saya kira sedikit sekali kesempatan
diberikan kepada orang Indonesia. Misalnya, apakah orang-orang yang ingin
terlibat dengan musik Bung Rence punya kesempatan? Belum tentu. Yang paling
berat lagi sebenarnya sekarang tidak ada usaha yang mencukupi. Jadi orangorang lokal itu tidak punya kapabilitas, tidak punya uang, untuk memperkenalkan
musik mereka. Misalnya, bagaimana orang Mentawai bisa membawa musiknya
ke Jakarta. Tidak mungkin.
Nyak Ina Raseuki
Atau dibalik. Kita yang bisa.
Jabatin Bangun
Ya itulah maksud saya. Jadi harus ada usaha juga dilakukan bagaimana kita bisa
mencari inspirasi, mencari jalan. Saya dan Nyak Ina Raseuki baru menyelesaikan
satu seri film. Kami pergi ke suatu daerah, dari Medan itu 16 jam perjalanan
jika naik mobil, dan masyarakatnya mandi di sungai, tapi musiknya, tempatnya,
indah sekali. Kita perlu melakukan ini walaupun memerlukan dana dan usaha
yang besar, dan saya kira inilah tanggung jawab kita. Kita harus memberikan
apresiasi, harus mencari jalan bagaimana mengangkat musik-musik ada yang
itu supaya bisa diakses oleh orang banyak.
Rence Alfons
Kalau saya begini, Bang. Kalau kamu tidak bisa, kamu kasih ke orang lain yang bisa
mengerti tentang musik. Kasihlah. Masalah yang sok tahu inilah yang bikin bahaya.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
Ya, para pembuat keputusan, mungkin mereka punya wawasan, mungkin mereka
punya prioritas yang berbeda dari orang-orang seperti Bung Rence yang punya
kepedulian akan kesenian yang ada di Ambon. Mungkin kita harus ke pertanyaan
berikutnya: Para pemain dalam Molucca Bamboowind Orchestra bisa terdiri dari
berbagai profesi, bagaimana cara Bung Rence mengajari mereka?
Rence Alfons
Ya, seperti saya sudah katakan tadi, kalau ada yang baru, langsung saya latih.
Kebetulah saya punya beberapa asisten pelatih. Contohnya, ada seorang anak
berumur 10 tahun datang ke rumah saya sore-sore. “Om, saya mau belajar
suling,” katanya. “Mau belajar suling.” Saya berpikir kalau dia datang ke rumah
saya itu niatnya sudah luar biasa. “Disuruh sama siapa?” “Ndak ada, saya sendiri
saja, saya ingin belajar flute.” Saya kasih suling, dia megangnya salah. Megang
suling aja salah. Tak apa-apalah. “Nanti hari sekian, jam sekian, kamu datang.”
Kebetulan saya punya asisten pelatih instrumen flute lulusan ISI Yogyakarta,
jadi saya sharing sama dia. “Kau kasihlah sedikit ilmu kau itu kepada temanteman itu. Bagaimana cara memegang, cara duduk, kemudian bagaimana cara
memegang suling itu, kemudian bibir ini basic-nya itu macam mana diletakan di
suling itu.” Dia mau. Dan memang kami mengajarkan mereka itu satu per satu
dari nol. One by one, kami dengan kesabaran yang ekstralah, tenaga ekstra,
semuanya ekstra. Biasanya kalau kami sudah pentas, kami kumpul dan nonton,
mereka bangga setengah mampus.
Saya punya pengalaman yang sangat menarik. Ada dua kampung. Kampung
saya kampung Tumi dan sebelah lagi ada kampung Atalay. Kami dulunya
berantem terus. Tapi semenjak ada Molucca Bamboowind Orchestra tidak ada
lagi berantem. Karena pemainnya dari dua komunitas itu, dari anak-anak muda.
Nyak Ina Raseuki
Sudah banyak negara yang mengumpulkan anak-anak jalanan. Misalnya,
Venezuela. Dudamel adalah salah satu orang yang penting dan pernah terlibat
dalam proyek ini. Bagaimana anak-anak itu diajak tanpa harus dipaksa,
sebetulnya seperti yang dilakukan oleh Bung Rence. Jadi, ketika ada kegiatan
musik itu dengan sendirinya orang akan datang. Tapi kalau kita tidak memulai,
ya tidak akan ada yang mereka datangi. Apa yang dilakukan Bung Rence baru di
satu daerah. Bayangkan jika Bung Rence bisa punya kaki tangan yang banyak.
Mungkin tidak harus musik bambu seperti ini tapi bagaimana ide itu ditularkan
ke kampung atau ke masyarakat yang lain menjadi proyek-proyek yang lain atau
percobaan-percobaan yang lain.
79
80
Meja Bundar Musik - World Music
Jabatin Bangun
Apakah mungkin membuat peraturan yang mewajibkan setiap lembaga
pendidikan musik yang ada untuk menyediakan pilihan kelas instrumen
tradisional Indonesia? Ibu dengan Pak Kompyang Raka itu bagaimana kira-kira?
Trisutji Kamal
Beliau sudah mendirikan sekolah musik tradisi LKB Saraswati.
Jabatin Bangun
Tapi itu maksudnya musik Barat, Bu. Yang paling dominan sekarang kan musik
Barat. Kalau musik tradisi kan terbatas sekali. Ada Sunda, ada Bali. Apakah
musik seperti itu ada gagasan untuk diadopsi?
Trisutji Kamal
Saya rasa bisa.
Jabatin Bangun
Bisa ya, Bu. Kalau Bung Rence?
Rence Alfons
Bisa ya bisa tidak. Artinya ya memang ini kan sistem, pemerintah. Suka-suka
lembaga itu saja. Tapi yang saya lakukan itu bahwa saya waktu itu kaget dengan
konsepnya Bang Jabatin tentang PSM (Pendidikan Seni Musik). Dari Merauke
sampai ke Sabang kita kan tidak saling memahami. Tapi kalau umpamanya kita
memahami musik saja, kita bisa memahami saudara kita. Jika umpamanya
pemerintah membuat itu, baik juga. Umpamanya muatan lokal itu tidak hanya
soal Maluku saja atau lokal Jawa saja atau tidak lokal Sumatra saja tapi
persilangannya. Misalnya, anak-anak di Sumatra Utara bisa belajar musik Bali
seperti Ibu Trisutji Kamal.
Nyak Ina Raseuki
Prinsipnya adalah bagaimana pendidikan atau kurikulum musik itu diberikan
dengan cara apresiasi, seperti yang kemarin dikatakan oleh Mas Panggah.
Kami di IKJ sudah sama-sama belajar musik Barat. Dosen-dosen kami juga
mewajibkan kita belajar yang lain. Silakan jalan-jalan. Ibu selalu mengatakan
pergi ke sana, pergi ke sini. Apakah itu LPM, apakah itu pendidikan tinggi seni,
saya kira kalau memang memungkinkan kenapa tidak.
Jabatin Bangun
Nah, menurut saya itu kan kalau kita lihat apresiasi yang berkembang, kasus
Ambon itu selalu kita berpikir untuk melihatnya secara ekonomi dan politik. Tapi
kalau secara musik, kalau orang-orang yang berbudaya dari Maluku mengajar
Meja Bundar Musik - World Music
masyarakat di budaya lain dalam program-program lembaga pendidikan musik,
akan tumbuh apresiasinya.
Nyak Ina Raseuki
Jadi prinsipnya keragaman kita sebetulnya tidak pada jargon, tapi bagaimana
dalam praktik musik bisa mengantarkan kita untuk saling mengenal. Baik,
apakah ada pertanyaan ada yang lain?
Jabatin Bangun
Habis.
Nyak Ina Raseuki
Habis? Kalau habis, sebetulnya waktu kita memang sudah habis. Baik, kita
sangat berterima kasih kepada Bung Rence Alfons, Ibu Trisutji Kamal yang sudah
berbagi cerita kepada kita semua. Juga kepada dua narasumber kita yang lain.
Terima kasih. Selamat sore. (Tepuk tangan meriah.)
81
82
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
SECOND DAY DISCUSSION
Jabatin Bangun
All right, thank you, let us begin. Good afternoon, Mrs. Trisutji
Kamal and Mr. Rence Alfons. We will shortly begin our second
day discussion. However, I think we should watch a short video in
the first session, then a presentation and followed by discussion.
Play the video, please.
(Video screening of Trisutji Djuliati Kamal playing the piano).
Trisutji Kamal:
It is valid if we talk about art works. However, traditional
artists not necessarily write his or her tradition. It is possible.
Everything is possible. There is nothing new under the sun.
(The sound of piano of the song Rambadia). I didn’t start right
away using traditional music, but recently I am expanding my
music, and I’m starting to use traditional instruments. The real
function is to give an ethnic touch to my music. There will always
be new creation in the development of music, a birth of a new
instrument. In Romantic music, for example, there will always
be a new one, etc until now. (The piano sound continues. Audience
applauses).
(Screening of Inafuka music video from Buru Island).
Nyak Ina Raseuki
After the two previous videos, let us continue our discussion.
Like in yesterday’s discussion, we will examine these artists,
Mrs. Trisutji Kamal and Mr. Rence Alfons. They will share their
experience in music, their creative processes. First,I will give the
chance to Rence for his presentation in Power Point.
Rence Alfons
Very well. Thank you, Ubiet, Jabatin and Mrs. Trisutji Djuliati
Kamal. Ladies and gentlemen. At first, I was perplexed when
83
84
Meja Bundar Musik - World Music
the Jakarta Arts Council asked me to write for this program, because frankly, it
has been awhile since I last wrote a presentation. However, here it is, titled The
Revitalization of Bamboo Flute in the City of Ambon.
Ambonese music is an amalgamation of Christian, Islamic, and native music. The
Inafuku music from Buru Island we watched earlier is very pure and original,
untainted by any outside influence. Using the ferry ride, it took a whole night to
reach Buru from the town of Ambon. The fourth influence is pop music; it is a
powerful influence, and pop culture has now been widely appreciated by the
Ambonese community.
Ever since the Christianization in Maluku Islands, all the songs of religious
ceremonies are the music of Western. Now we should listen to one of the
examples. (Recording of a liturgy was being played). This song is a Protestant
liturgy usually played at funerals. The next one is heavily influenced by Islamic
music with its signature instrument, the rebana drum, while Maluku’s ethnic
music, the Inafuka, is one of the native Maluku’s original music. Then we have
pop music, for example, the song Sio Mama. This is a very well known song from
Merauke to Sabang .
1
There are two types of bamboo flutes that we utilize in Ambon area. The vertical
ones are mainly in the Muslim community and the horizontal type in the Christian
community. I happen to be a Christian and I did a little study about the music
of the horizontal bamboo flute. Vertical flute music is used to accompany the
Sawat dance. Frankly, I haven’t done any in depth study about vertical bamboo
flute. It uses the magam scale, distinctive of the Middle Eastern music and the
like. I frequently talked with artists from this genre, particularly in events with VIP
guests. (Video screening of Sawat dance and music). Sawat music flourishes in all
Muslim communities in Maluku, North Maluku, and even in Central Maluku. So, any
Muslim region in the Maluku Islands has their own Sawat tradition.
Horizontal flute flourishes in Christian communities. According to my data,
Joseph Kam first popularized vertical bamboo flute. The Catholics in Maluku
called him “Maluku Prophet” because he was one of the prominent missionaries
who converted many Moluccans into Catholicism. Kam made use of this diatonic
vertical flute out of necessity, because there has to be music in most Calvinic
liturgy. Moreover, he had a solid background in flute playing. At the time of his
arrival, there was no flute-playing culture in Ambon. Yet as soon as he saw
1
The phrase “From Merauke to Sabang” refers to the way of describing the furthest reaches of Indonesia’s
territory:Sabang is in the westernmost, of the province of Nanggroe Aceh and Merauke in Papua, the farthest eastern
province.
Meja Bundar Musik - World Music
bamboo groves grew wild in the area, he came to think that he could fashion some
flutes. Therefore, he developed a diatonic scale flute mainly for worship needs.
Protestant liturgies in Maluku used the old voice system. There were first, second,
third, and fourth voice. However, from my observation, the natives simply followed
a tune (humming a tune); they have the natural tendency or the feel of following a
tune in parallel. Their voice rose and fell according to the tune.
About the making of the instrument, I saw that prior to the making of the flutes,
elderly in Ambon would dry the bamboo stalks under the sunlight. In the area
where I stayed, the heatcould be as high as 32ËšC. They used heated iron to make
the holes. They called it the toolpula-pula. This pula-pula is so hot that it could burn
the stalks. They still relied on their ears for the tuning process. Such was their
technology at that time.
In playing the flutes, the natives were lay people in terms of the conventional
harmonization. They used parallel vocalization. When the first voice ascends,
so does the second, third and fourth voice, and so on. The harmony construct
became indistinguishable. The strange thing is they were used to using only one
chord, which is the F chord. Well, you can imagine if they sing more than one song
in their ceremony. It was great if the song was a good one to perform in F chord.
Nevertheless, it would be like a snoring sound when it was too high or too low to
sing in F chord. This was the problem with the old system my elders used.
Therefore, they didn’t use the high, middle, or low vocal register. It was very
difficult for me to get a solid tune when I first made a bamboo flute using the
heated iron.For instance, I needed the D chord but it was very hard to get. Why was
that? Then I remembered a Physics theory I studied back in junior high, it stated
that when you heat a solid matter, it would expand, and when you cool it, it would
contract. Perhaps this is the reason; the heated iron would affect the texture of the
whole flute. All the tunes would tend to be disharmonious.
The most frightening thing is that the younger generation is now able to access
all kinds of music from YouTube. They would be indifferent with the bamboo flute
music. They are unenthusiastic. When I went back home to Ambon, I found that
all the bamboo flutists in church were old people. There was no single youngster.
The youngsters have their own appreciation of the popular music in YouTube.
Not less worrying is that the role of the bamboo flutes has diminished, slowly
replaced by trumpet and keyboard. A parishioner would feel embarrassed if he or
she does not own a trumpet. It has become a frequent phenomenon recently and
I am worried about it.
85
86
Meja Bundar Musik - World Music
I made this instrument without sun dryingthem; rather I heated it in an oven. Yes,
one day I was in an excursion with my wife in Yogyakarta, I went to the Progo store
and found this huge oven. I thought that it looked like I could put bamboo stalks
in there. So I bought it and used it in Ambon. I also used a moisture meter that I
insert in the stalks. So I took some bamboo stalks from the forest and heat it in
the oven. I used a temperature indicator showing the heat rose slowly up to 200°
C. However, the stalks came out burnt. I tried it three or four times. I put the stalks
back in the oven once they cooled off. Apparently, it is hard to reduce the moisture
content of bamboo stalks. Even the burnt stalks still had 15% moisture content. I
used an electric drill and chose the type of drill points using Hertz frequency scale.
So I made flutes with high, middle, and low sound frequency. The first voice flute
was on high, second and third voice on middle, and fourth voice on low frequency.
I used a G-string I downloaded from the internet to determine every melody.
Then I talked with my friends and they too indeed wanted to play songs with serious
arrangement, not in the haphazard way as their parents did. So finally, I employed
the conventional harmony I had learned. Selecting the repertoire also needed a
particular strategy. Last year we played a medley of selected part of Beethoven’s
Symphony No. 5 in our concert, followed by Eine Kleine Nachtmusilk. They all
played very enthusiastically. They were willing to set aside the time to practice
and played their instruments wholeheartedly. Recently I have been arranging in
three chords, D, F, and G. Although it is true that not all music repertoire can be
played with bamboo flutes.
I founded The Moluccas Bamboowind Orchestra in 2005, and our first performance
was at Ambon’s 430th Anniversary celebration. I assembled a big group with a
hundred flutists. There are each twenty flutists for the first, second, third, fourth,
and fifth voice. The musicians are from a variety of background. We have college
students, students, active civil servants and police officers, teachers, retired civil
servants and police officers, motor cab drivers, palm wine makers, and recently
we have a mechanic. Their age is also diverse, the youngest is 11- and the oldest
is 73 years old.
In writing a music arrangement, I also use a small band: ten strings players, and
we have tifa drum, rebana, flute, saxophone, totobuang drums, Hawaiian, vocalists,
choir; it depends on the arranger which instrument he wanted to use. I am
grateful because the local government has been giving us a tremendous support
since 2007; they fund us to perform a concert once a year. On December 2011, I
collaborated with Ony and Friends at the JCC, Jakarta, for the national Christmas
celebration, and in 2012, the Ministry of Tourism and Creative Economy gave us
the opportunity to perform in the event Sounds from the East at Ritz Carlton Hotel
Meja Bundar Musik - World Music
in Kuningan, Jakarta.
I concluded that for me, bamboo flute music is flexible and can adapt with the
demands of the current music. If we are talking about revitalization, we have to
know the instruments and the music, its composition and arrangement.
Equally important is that traditional music artists in this age should not be ‘allergic’
to art performance management. If they objected, traditional music would be a
problem in this age. Sometimes our local governments do not have the perception
that if seriously formatted, traditional music could become a great tourist
attraction. Each of our traditional music has its own unique points. If managed
properly, it could become a tourist destination. We wish that every time one wants
to see abamboo flute concert, they would go to Ambon. We are now designing a
permanent stage, a sort of an amphitheatre. We already secured the land. Now
we are working on the budgeting. My final aim is to make this bamboo flute music
a tourist attraction in Ambon, Maluku.
Miss, could you please play the song Rame-rame. Unfortunately, the audio is of
poor quality; it is tricky because I did two concerts in Jakarta and the soundmen
were confused about setting the ideal positions of the microphones. Perhaps
because the instruments were new to them and they needed longer time to
adapt. I was very disappointed because there was no balance of the sounds of
the bamboo flutes and other instruments. At the concert, we also had totobuang,
flute, and violin.
There are now only a handful of old people in my team. I did not throw them out.
They resigned themselves, feeling they are getting too old. It’s an exhausting
activity. I am fine with it, I didn’t ask them to. It would be inhumane.
Nyak Ina Raseuki
While we wait for the Rame-rame song, I think we would return to Mr. Rence and
discuss his experience. Let us talk to Mrs. Trisutji Kamal. The most important
thing from these two artists is for us to appreciate their creative process. They
spend all their time and their lives for their art. Mrs. Trisutji, perhaps you want to
share with us how you started your music in Binjai, Medan. However, you are also
welcomed to start at when you began to incorporate the elements of Nusantara
traditional music in your own work. It is up to you.
Trisutji Kamal
I actually prefer to start from the beginning. I wrote my first composition in Binjai,
when I was only six years old. However, at that time I could not write notation. I
played the piano for my late mother. However, the piece is now lost. When I was a
87
88
Meja Bundar Musik - World Music
teenager, I started to study the piano seriously. After I can play piano, I started to
write compositions. My cultural background was actually Javanese. My mother was
from the royal palace, Keraton, Java. Therefore, my first influence was of course
Javanese culture. Yet when I was a teenager my surroundings was a mixture of
Melayu, Batak, and Islam, I have always absorbed them, albeit subconsciously.
One of my most popular compositions, which often played in music schools, is
Tarian Fantasi (Fantasy Dance); it is intensely influenced by Javanese (culture).
Nyak Ina Raseuki
Yes, nearly all of piano students learned to play that song.
Trisutji Kamal
I continued my piano study to Europe (the Netherlands, Paris, and Rome). The ethnic
influence I had absorbed since I was a little child has become a part of me, so my
music character is definitely Indonesian, although I haven’t used any traditional
instruments. After I got the proper training in writing piano composition, I started
to wonder whether I have real talent. My teacher did not agree with many aspects
in my music. What I think was wonderful was challenged. It was disheartening. Yet
I continued my study in order to master the techniques.
Jabatin Bangun
So as not to confuse the audience, we should add more information about you,
before you go further. Thus, you relocated from Java to Langkat, and lived in the
Langkat Sultanate. Why did you relocate and how old were you at that time?
Trisutji Kamal
I was perhaps two years old when I relocated to Langkat. I started to learn music
when I was about six years old. My father was an avid music lover, he played
violin, it was his passion. He used to aspire to be a musician when he was young.
My grandmother used to hide his violin. My father was the doctor in the Langkat
Sultanate. I studied piano under a very strict German teacher. My parents
hadalready planned that I would study piano in Europe. There were only a handful
of women who studied in Europe back then. I was still a very young woman, but I
had my family’s support. At that time, there was a shift in the politics, and music or
arts students were forbidden to study in the Netherlands. It was around the year
of 1955. Therefore, I went to Paris, and a year later to Italy.
Nyak Ina Raseuki
After years of writing piano compositions, you realized that there was a
subconscious Javanese influence in your work. The interesting thing is when did
you fully want to use Nusantara musical elements?
Meja Bundar Musik - World Music
Trisutji Kamal
Since from the beginning, actually. Beside Tarian Fantasi, another famous
composition of mine is Sungai (River). It depicts a river in Binjai, yet very Javanese
in style. I had started to philosophize at that time. The composition portrays the
human life, like a drop of water that trickles from the mountain through a steep
ravine. I wrote the composition without being very conscious of it. I wanted to make
music from my Javanese root, although I was living in Deli at that point in time.
When I turned sixteen, my mother asked me to keep being an Indonesian woman,
a Javanese woman, and every Sunday I had to cook, wearing a batik sarong.
Nyak Ina Raseuki
Beside Javanese music, later you would also incorporate elements of Melayu or
Balinese music. Please tell us more about it.
Trisutji Kamal
Balinese and Javanese music were natural for me since early on. At that time
there was a Spanish cellist, Gaspar Cassadó, performing a concert in Medan and
he visited my house. I played my composition to him and he said that I am talented.
Jabatin Bangun
Recent technology has made it easy for people to listen to African, European, and
Indian music. How was it back in your days? I suppose there was always music
in the Langkat Sultanate. However, how about Javanese and other music that
influenced you?
Trisutji Kamal
We owned a set of gamelan at home, where I also studied Javanese dance.
Nyak Ina Raseuki
Very well, now let us get back to Mr. Rence. What really intrigues me is that what
is the motive behind your efforts in revitalizing the bamboo flutes?
Rence Alfons
I studied the Westerm music at ISI (the arts institute), Yogjakarta and graduated in
1997 majoring in guitar. I returned to Ambon in 1998, and in 1999, the riots broke
out. At that point, I was shaken badly, and I did some soul searching. Who am
I? Even my name doesn’t sound like a Moluccan. My father named me Maynard
Reynold Nataneil Alfons. It is not a Moluccan name. I felt that I didn’t belong to
either Maluku or Western culture. Let alone the music. I lost focus in what I should
do in terms of music. What was left there to work on? Ambonese ethnic music no
longer existed. I happen to be a native Ambonese who lives in the mountain area,
89
90
Meja Bundar Musik - World Music
about 500-600 meters above the sea level. I was ashamed with the Bachelor of
Arts (BA) degree that I held. It would be more appropriate to be called “Bachelor of
Abnormality” than “Bachelor of Arts”. I was ashamed of myself and did not know
what to do. Who would appreciate if I played classical guitar? Who would pay me?
The only good thing of the riots was that it forced me to stay put at home and
reflect. I could hear the sounds of bombs here and there in the city.
One time I went to the church—although I usually wasn’t in the habit of doing so.
I saw that there were no flutes left at all. So I asked around why. Everybody was
baffled about how to answer my question. So, I went to another church; there
were flutists but they were all very old. Their breathing was naturally short and
it definitely played part in the quality of the sound produced. They were the last
generation. It means, these bamboo flutes were flawedly made and played by
flawed flutists as well. Consequently, it produced a flawed, unsatisfactory music.
And to top it off, the flawed music was played in the sacred church. I’ll be damned!
(The sound of collective laughter).
Jabatin Bangun
My first acquaintance with Rence was very personal and unforgettable. I was
the project coordinator of a documentary on traditional arts in 23 provinces in
Indonesia that I was involved. So I’ve been travelling across provinces for two
months. From Sulawesi, I went to Ambon, and met Rence and another friend who
is now the head of Ambon Cultural Arts Center (Taman Budaya Ambon). Then I
asked them to become the coordinators of a ceremony in Nusa Laut Island. I was
exhausted and a sleepy. I said, “You guys just go to the island and work on the
music.” Perhaps at that time Rence was stirred. Why did this lunatic from Jakarta
come all the way to Ambon care so much about the local music? Then I went back
to Jakarta and the two musicians went to Nusa Laut. When I arrived in Jakarta,
the officials searched my personal identifications and belongings thoroughly. It
turned out that the first riot of the Ambon Tragedy broke out, the hotel where I
stayed had been burned to the ground, and Rence and his friends were stranded
in the island of Nusa Laut. They could not return to their family. So there was
a blessing in disguise, they stayed in the island and study its local music. After
that incident, I said to him repeatedly, “Never abandon your tradition, although
you studied the music of Western culture.” Later we also worked together for the
revitalization of totobuang music. Hence, Rence came from the West and went to a
region that was unmindful of their traditions.
Nyak Ina Raseuki
Right, just as we discussed yesterday, this is about how we originate from
a cultural community. For instance, I came from a village in the outskirts of
Meja Bundar Musik - World Music
Sumatra and suddenly I found myself studying the Western music. I am not
against Western music; it is undeniably a part of our lives. We Indonesians are
contemporary people. However, what will happen if I am in a single community,
in a single culture, yet I have no awareness of that culture. Maybe it is what Mrs.
Trisutji said earlier; it is not that we are not aware of it, but it is in our subconscious
memory, our auditorial memory, in our recollection that could surfaces in one
particular moment. It is the same thing with Jabatin, I think.
Jabatin Bangun
I grew up in Medan. I’m a Mount Sinabung folk.
Nyak Ina Raseuki
I’m from Mount Seulawah, Aceh. Thus, one is from Mount Seulawah and one is
from Mount Sinabung. I think that almost all artists from the entire Indonesia,
whatever their backgrounds are, would encounter this aspect: identity search. It
is rather cliché. What they have been experiencing for so long has reemerged. Is
that how you feel, Rence?
Rence Alfons
Yes it does. The core culture of Ambon has eroded completely. The influences of
Islam and Christianity were all gone. I am its victim. I actually am envious of the
Balinese and Javanese gamelan, also to the Batak gondang orchestra. They all
have their unique characteristics.
Nyak Ina Raseuki
However, Rence, pardon me for interrupting. In yesterday’s chat, Balawan and
Panggah told us that the music they play every day has its context, cultural
context. Numerous rituals in Indonesia have perished. Therefore, that means we
also lost its arts. However, as Panggah explained yesterday, it astonished him
that people of Korea, Japan, China, were upholding their traditions because they
want to preserve and reinvigorate them, although their contexts have vanished.
Perhaps Maluku experiences the same phenomenon.
Rence Alfons
Some traditional or ethnic music still exists in other regions, for example the
Inafuka music from Buru Island. However if we speak in terms of Ambon, there’s
nothing left, whether in mountains or coastal areas. So I said, oh well. I tried to
be proud of the bamboo flutes. I’m trying my best although it doesn’t have its
authentic scale. I once visited Seram Island and encountered very authentic
traditional songs. The natives sing like (Hums lala lalala...). Only a short fragment,
three or four tunes, but it survives.
91
92
Meja Bundar Musik - World Music
Back to the bamboo flutes. In the end, I had to make a decision. I have no knowledge
of the southeast Moluccan music, or the music of Seram Island. I finally decided
to work on these bamboo flutes. I didn’t care what it would turn out like, the
important thing was I should start to work on it immediately. I also have previous
experiences with them in church; I used to play them with my father since I was
only in elementary school. Now I took pride of the fact that some of my musicians
are students and college students. Every year we recruit new musicians because
there would be some musicians who resigned for various reasons. It could be
because they were too old, they have finished their college, or they moved out of
town for a new career. When they resign, we recruit new members.
I usually start a special class for the new recruits. I teach them how to position
their lips on the flute; there’s a proper way to do it.I also teach them how to manage
your breathing to produce a solid wind. After all that, then I teach them to read the
notation until they are ready to perform.
Nyak Ina Raseuki
Apparently, like what we learned from yesterday’s discussion, Rence took the
middle way. He reconstructed something that still exists but nearly gone; the
last generation. However, Rence technically reconstructed the instrument. We
watched the process of the remaking of the flutes, its playing techniques.The
songs were also properly notated. Next is the regeneration phase; he taught it to
the surrounding community members. We also talked about that with Panggah
and Balawan. However, problems in regions outside Java are truly complicated. I
cannot imagine if musicians like Rence do not exist.
Jabatin Bangun
He’s practically alone in Eastern Indonesia. We have searched in other regions
to no success, even under the pillows. Yes, Rence works in the Arts Center as
a civil servant, but only a handful of people truly understand what is art. Now
we’re moving to Mrs. Trisutji Kamal. What happened in Europe? What were your
activities? In addition, how was the musical life there?
Trisutji Kamal
It was hard for me to play my instrument. I told you earlier about my teacher who
was very discouraging, and I grew afraid. It made me think whether I had talent or
not. I was unable to write compositions for two years.
In Italy, I studied to play the piano and write compositions. It took me ten years
each to master the skills, so twenty years in total. There were three examinations
in compositions, in grade four, eight, and ten. They were very hard. At grade four,
Meja Bundar Musik - World Music
the exam was about Harmony and Contrapuntal. The fourth day was the interview,
the exams duration was ten hours. The last exam took two days and we had to
spend a night in the Conservatory. I had to create a quality composition for an
orchestra. Yes, it was hard.
Jabatin Bangun
Were there any compositions based on music from Nusantara, or Middle Eastern
at your time in the conservatory? How did you create at that point in time?
Trisutji Kamal
We were taught to create works akin to Mozart or Beethoven’s in the Composition
class. We had to be able to develop our own skill. I had trouble with that because
I wasn’t living in Mozart’s time. Therefore, I chose a composer that I was most
familiar to, Debussy. I finally managed it.
Nyak Ina Raseuki
It is the most familiar music you’ve heard since you were a child, and we know
that Debussy was greatly influenced by Javanese gamelan. He discovered a way
to express the Javanese tone or timbre, something he described as the color of a
sound. I think that is exactly what we could find in Mrs. Trisutji’s music. Particularly
because we know that her background is classical.
I remembered when you worked with Mr. Kompyang Raka, for instance. It was
back in the 1980s, so we have to fast forward. What do you think was the most
fundamental difference in your compositions?
Jabatin Bangun
Perhaps Rence is uninformed of the facts of that question. Allow me to add some
information for clarity’s sake. I Gusti Kompyang Raka is a traditional Balinese
music maestro, who moved to Jakarta and founded a traditional music school
here. That was how he ended up collaborating with Mrs. Trisutji.
Trisutji Kamal
In fact, I have a longtime fascination with Balinese music. I have fallen in love with
Bali the first time I went there in 1953-1954. I love its dynamic music, the people.
I still do now. (Sound of collective laughter). That was what happened between Mr.
Kompyang and me. Mr. Kompyang was very accommodative in the collaborations.
At that time, he also asked another Balinese musician in our collaboration, Mr.
Ketut Budiasa. He was an excellent musician. He plays the gendang drum and
many more.
93
94
Meja Bundar Musik - World Music
Our process of collaboration includes him listening to my music, then me briefing
him which elements I would put in our work. There were no writings in this stage.
All I know was the term pendetan. It could be incorporated anywhere. As for
cengceng cymbals, vocals, accentuation, we tried them out one at a time. On the
technical side, I put a cross mark on segments for the Balinese gendang. They
have their own notes.
Yes, Balinese music is very dynamic. I already concepted when is the time I had to
play loud. My first composition that utilizes Balinese percussion was Dialogue for
Two Pianos and Balinese Percussion. It is a three fragments composition, and based
on the Al Fatiha surah. The second fragment was of Tasbih prayer beads, the third
one was ofShalawat prayer for the Prophet.
Nyak Ina Raseuki
This is fascinating, Jabatin, how Mrs. Trisutji incorporated the Balinese, Javanese,
Melayu elements and fused them with elements from the Quran or Islamic rituals.
I remember one of your compositions was inspired from the Tawaf or the circling
of Kaaba, a part ofthe Islamic Hajjritual. How did you come up with that inspiration,
and how did you transfer the texture into your work?
Trisutji Kamal
Tawaf is for a piano solo. I wrote the first fragment of Dialogue for Two Pianos
and Balinese Percussion, the one that is based on the Al Fatiha, sometime after
I studied to recite the Quran. I am a Muslim yet then, I never studied the Quran.
So I put my music on hold for one year; it was around 1992. I promised myself
that I have to be able to read and recite the Quran. And what happened next?
I studied the Quran just as I played the piano, which was for hours at a time. I
started from the Subh pre-dawn prayer until the Maghrib sunset prayer; I would
read the Quran, no breaks, until I finally managed to read it. I read a page and
timed it with a stopwatch, how many minutes it took me to read an entire page. My
speed increased the longer I studied. Afterwards I could recite the Quran with the
proper tajweed or elocution.
Nyak Ina Raseuki
Hence, you have found the “musicality” of Quran in its qira’at or reading, which you
conveyed in your piano music and other music.
Trisutji Kamal
For me, Quran is a neverending inspiration in making music.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
At that time, did you recite the Quran in the mode like Bayati or anything else?
Trisutji Kamal
Yes, there are seven modes of reciting Quran, very fascinating. Different reciting
brings different mode. It’s a style. I think we could make numerous themes only
from the word bismillah .
2
Nyak Ina Raseuki
Thus, aside from texture, you also made use of the rhythm. How did you get
the inspiration from tajweed, which you would use as texture and rhythm if we
convert them to Western music or classical music?
Trisutji Kamal
I incorporated it more to the theme.
Jabatin Bangun
The interesting appeal of Mrs. Trisutji’s music is its ability to move and inspire.
Young people often feel that studying music is an easy and no sweat process. You,
on the other hand, said that studying music requires discipline, obeying rules, and
time-consuming intensity. I think what is important is that these principles could
be applied in life, for instance like learning to recite the Quran. When we look at
people nowadays who’s studying music, it is like they want to go straight to the
result, the sound, yet people often overlook how hard the process is to become a
composer or a musician. It is simply a practice of discipline for the rest of your life.
Nyak Ina Raseuki
Both of these musicians have conducted an extensive research of their craft, a
process the Westerners call the scientific aspect in the arts. Nothing happens by
chance. There is a very long process before they express it into their compositions.
Just like in any other fields of knowledge, they do research so that every tune,
every sound, every texture can be accounted for.
Jabatin Bangun
Ubiet, Mrs. Trisutji, and Rence, let ustake a 15 minutes break. After that, we will
continue to explore other themes.
2) Bismillah: Arabic, means“in the name of Allah”. It is an invocation used by Muslims at the beginning of any undertaking.
95
96
Meja Bundar Musik - World Music
SECOND SESSION
Jabatin Bangun
In this second session, we will listen to the bamboo flute music created by Rence
so we will have a clear perception of how the music sounds. Play the video, please.
(Video screening).
Rence Alfons
Okay. One day Vidy Bapidaya, who studied at IKJ, came to me. He asked me,
Rence, could I improvise? What kind of improvisation? Do not just do a simple
one. Therefore, I made the arrangement using a sequencer. I just made it like that.
The result is like the one we listened from the preceding video. Previously I didn’t
use a sequencer, but I grew to love using one. Thus, I chose repertoires that could
present a challenge to me to study harder. I also do familiar repertoires, meaning
my players often hear it. Please play the second video. (Video screening. Applause).
Jabatin Bangun
We can see here that creativity does not restrain elements of Western, Eastern,
solid instruments, and bamboo. I even saw an instrument I have never seen before,
the totobuang, which is unique to Ambonese music. Rence, did you encounter
problems in your process?
Rence Alfons
Yes I did. First, before we play music together, I have a discussion with the
players; I stressed that this music is important. I approached them by drinking
traditional palm wine called sopi together. I was so excited that I started to use
too sophisticated words to them. ”Do you know that we’ll make a new paradigm
in the Moluccan music world?” I said. “Para...what? What are you talking about?”
(Sound of collective laughter). “I mean, do you want to play bamboo flute?” Some
said yes, but some said, “Ah that old music. Do you have anything more modern?”
they asked. I said to myself: violin is not a modern instrument, it is ancient. Okay,
let us try it. It so happened that in 2005 the mayor of Ambon asked me to create an
event with traditional Ambonese music in it. Thus, I gathered tens of my friends.
Comprehension was definitely a problem. Their background is of Western music;
it had ingrained in them. The next one was they came from various social strata.
It was very difficult to get them together for practice. Our musicians could only
assemble fully at 7 PM. Just imagine , one of them walked barefoot for five km
every time for practice. When I asked why he didn’t show up for practice, they
replied, “I was tired after practice, so I went straight to bed.” Nevertheless, our
practice requires discipline. We used to practice for six hours. They have to be as
Meja Bundar Musik - World Music
disciplined as I am. However, eventually I realized that they have very different
social backgrounds. So afterwards, I trained the new recruits myself. Fortunately,I
have an assistant trainer for the first, second, third, fourth, and fifth voices.
Next is they could not read notations at all. I started with letters-numbers. I wrote
the notes and added the number notations below. I was hoping that they could
learn to read the notations in no time, because I barely had the time to teach them
that. However, some of them with perseverance could finally read notations.
The next thing is they sometimes felt bored with the practice, and it is completely
understandable. So I challenged them and said that the local government has
been funding us, MBO (Moluccas Bamboo Orchestra), for a concert a year, but how
long would the help lasts? So I said,let us make a stage. We can perform a concert
anytime we want if we have our own stage.
Nyak Ina Raseuki
Because of the poor audio, we couldn’t really distinguish the sounds of all the
flutes in the previous video. However, it got better in the second video. Rence, the
audio technical problem was indeed a problem. How to make sound engineers or
sound designers understand our traditional instruments? How could they capture
the sounds and timbres of Nusantara music? It is a rather cliché problem, but we
always talk about it and never come up with the solution.
There are some acoustic experts here, so we could discuss this problem later. We
could change our perspective about musical performances. We always prefer to
watch performances in a proscenium stage, while in Nusantara, they commonly
held in arenas and amphitheatres. We could perform music in big city’s museums,
for instance. I don’t know whether we have buildings like that; not a playhouse, but
buildings that we could use for acoustics like bamboo.
Rence Alfons
As I previously stated, less people play bamboo orchestra. It would not sound
ideal if performed in an amphitheatre.
Nyak Ina Raseuki
I think Mrs. Trisutji in an occasion had altered her stage set. Mr. Kompyang and
the Balinese gamelan occupied a corner, the piano in another corner, and the
audience could sit anywhere they like.
Trisutji Kamal
Yes, I did that in the JakArt event. In cities like Cirebon, Semarang, Solo, and Bali, I
97
98
Meja Bundar Musik - World Music
performed in a stage bus. It was a regular bus turned to a stage. It got the theatre,
the sound system, so I could perform on it. Once I also performed in a traditional
market and a parking lot.
Nyak Ina Raseuki
I think there is so much we could learn from musical performances in Nusantara.
What you did, Rence, is one of the examples. You have contributed a great service
in finding a middle way between the cliché: Eastern, Western or modern elements.
Just like yesterday when Panggah rejected the terms “tradition” etc. However,
how can we discover this middle way?
Jabatin Bangun
It is the same thing as the bamboo flutes. When traditionally these flutes did not
sound ideal nor achieve the sound aesthetics you wanted, you conducted some
experiments and finally achieved it. All performances need to have this pattern
of experiment, I think, because I have heard a space method in some repertoires
I listened to previously.
Mrs. Trisutji, you have mentioned earlier about your experience in rediscovering
your religious faith in life. How could you get to that idea?
Trisutji Kamal
Well, it was after I performed the Hajj ritual. Initially I thought the pilgrimage
would be just like a tourist’s excursion. Nevertheless, it was none of that. In the
Hajj month, I was suddenly overcame with this overwhelming sadness and just
wanted to cry my heart out. Why? I became very sensitive, every time I heard the
adhan call of prayer I would cry. It stirred me intensely. Every time I recited the
Quran, certain verses would move me. I wanted to return to the house of Allah.
There were four people in my group at that time. In our pilgrimage, we met the
group of ex president Suharto. The following year I was also blessed to return to
Kaaba. It was truly a miracle. I went home profoundly changed.
Afterwards, I received many contributions in my creative process. In 2003, an
association in Italy asked me to work on a composition that reflects the changes I
experienced after I could recite the Quran and write in Arabic. How strange! Thus.
I wrote a composition and performed it in an Italian church. An Italian actor who
was involved in the performance gets to recite the shahada .However, he did not
know the meaning, of course.
3
3) Shahada: the Muslim’s profession of faith.
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
I had a little chat with Mrs. Trisutji in the break, and apparently, she also wrote a
composition inspired from Hindu chanting. Please share more about that.
Trisutji Kamal
I studied the music of Hindu, Buddha; all kinds of music. I studied culture since I
was in Rome. So I wrote some compositions. I also played music in church and
the instruments were complicated. So I studied church music, I did it all. Finally,
I wrote a song called SKPB. They used to perform it every week at the church.
(Applause).
Nyak Ina Raseuki
In my little chat with Mrs. Trisutji, I found out that her Quran recitation tutor is
a Balinese. You have such an amazing life! The inspirations in her music have
intertwined, competed, spinned, mingled, interlocking, and interwoven. There
is an interlocking and interwoven kotekan, a true Indonesia character. I simply
cannot imagine how you went through the process and conveyed them to your
music. Perhaps Jabatin would like to add something.
Jabatin Bangun
Yes, it is such an inspirational story. Mr. Panggah yesterday forgot to mention
how he was involved in a two years music project in South Sulawesi and Flores,
while Mrs. Trisutji here took her inspiration from her experience from the Hajj
pilgrimage and performing in church. They proved that inspirations could come
from anything. In addition, I think it is hard to create a phenomenal work with
insignificant life experiences.
Nyak Ina Raseuki
The point is how we, each in our ways, conduct experiments. Just “experiments”,
mind you, not like the real ones academics do, yet how artists do it with their
own means. Rence, Mrs. Trisutji, Panggah, each has their own unique approaches.
Mr. Wayan Balawan also had a unique background. He lives in the middle of the
traditional atmosphere of the community center and pop music he grew up with,
and he’s continually searching for a resolution within him. Like his polyglot mother,
Balawan is also a bimusical; he could shift from slendro-pelog scale to diatonic
scale effortlessly, intercrossing easily.
Jabatin Bangun
For academicians, that would present a huge problem. However, for Balawan who
is actually doing it, it is possible.
99
100
Meja Bundar Musik - World Music
Nyak Ina Raseuki
For me as a vocalist, it would be a problem to go back from slendro-pelog,
definitely. I chatted with Budi Utomo Prabowo yesterday, what kind of singer I am.
In diatonic scale, I am already out of tune.
Jabatin Bangun
Mrs. Trisutji, with your years of experience in Melayu music and others, how did
you write your compositions?
Trisutji Kamal
I think it depends on who will perform it. We could create all types of music, but
it is important that we could make a fair interpretation of it. Is the performer
accustomed to listening to music or not? Once in 1994, if I am not mistaken, we
were practicing with singers from Aceh and Java. My concept at that time was to
unite Nusantara through music. The singers do not have to be a native of the area
they were singing. He or she just has to essentially play or sing the music of the
particular region. It turned out that one singer could not sing it. She preferred to
sing based on her own interpretation, but unfortunately, the celebrity singer could
not get the soul of the music. I finally had to choose another singer.
Nyak Ina Raseuki
Yes, I have the privilege of working together several times with Mrs. Trisutji. I really
experienced it firsthand how not only you have a strong classical tradition, but you
also have the gendang drum, and the tourists. You,somehow, have the capacity to
perceive it in a relaxed way. Everything is open for experiment. Therefore, there
is always a try-out process. If it doesn’t suit you, you would try it out with another
music, for example the music from Bali or Aceh.
Trisutji Kamal
It was hard for me to learn jazz. I wasn’t really into it; I wasn’t familiar with it. After
I know jazz, I discovered that it needs improvisation and I got a lot of input for that.
However, the problem was my background was classical and I needed to allow freedom for the vocalist to express his or herself, although the number was not mine.
Nyak Ina Raseuki
Just like what I did to your composition, I completely messed it up. (Both laugh).
Jabatin Bangun
We will be able to see the questions from the DKJ’s Twitter account, so we could
discuss and observe by a larger public. Does the audience have some questions? It
is also interesting to ask Rence, did every work his bamboo orchestra performed
Meja Bundar Musik - World Music
was his own work or other composer’s? Who knows, perhaps Mrs. Trisutji would
offer one of her composition for your orchestra to play.
Rence Alfons
I wrote compositions for piano, totobuang, and regular flute as well. However, right
now I’m concentrating on my bamboo flute. I have to make sure that my flutes
would last for more than a year. Right now, after one year of usage, the quality
of the flute deteriorates, perhaps because of the weather. I welcome everyone to
play my compositions or for other musician to write compositions for us. I am not
always alone in writing the arrangements for the orchestra to perform. We have
a composer from UKSW (Satya Wacana Christian University) Salatiga, one is from
Jakarta, and the other one is from ISI Yogyakarta. There are in total six of us. Each
of us composes two numbers for each concert.
Nyak Ina Raseuki
We have a question here: do traditional musicians need to learn in Western schools
or environment? Why traditional music needs to adapt? Tradition has become an
outsider that has to readapt in its own space.
Rence Alfons
Its people determine the progress of music. Therefore, when we talk about ethnic
or traditional, I don’t think that it is an outsider. I have listened to music from the
Western culture ever since I was still a baby inside my mother’s belly. Traditional
music cannot shun the outside world. It is another thing with ethnic music, which
is very specific. For example, gamelan, and it is different in comparison with the
extremely pop campur sari music. Whenever I listen to campur sari I can picture,
ah, in this part, they use slendro scale or Western style slendro. You can really
track its progressive chord when combined with keyboard.
Jabatin Bangun
Actually, Rence came from a cultural place where there is a difference between
traditional and ethnic. Religion had trampled the ethnicity of the Ambonese, so
all religious songs are Western, and considered a tradition. While on the other
hand ethnicity is something pure; it is not influenced by the Western culture.
Nyak Ina Raseuki
I have to say that I agree with Rence that it depends on the context. The Inafuka
is a perfect example; it can no longer be altered, what else can we do with it? It
will continue to live among the people with its context. Yet, what Rence could do is
being between diatonic and non-diatonic, we can call it whatever it is. Therefore, I
think it depends on the context.
101
102
Meja Bundar Musik - World Music
Trisutji Kamal
I have an experience I want to share. I was invited to a religious music festival.
At the stage, I didn’t perform any elaborate music, just basically a simple Hindu
slendro. I thought that perhaps what I performed did not really suit the festival’s
atmosphere; it was not a number with sacred tone. It was more soulful. Yet it
won an award. How strange! The other performers were doing church numbers,
nothing new. Yet when there was a varied performance, it was instantly
recognized.
Nyak Ina Raseuki
Do you mean that music could lose its context? Music is indeed played in a certain
context; when the music is performed on a stage, it would become a stage. Hindu
chanting performed on a stage could definitely lose its spiritual aura.
Rence Alfons
I once wrote an arrangement with melodies from the Masada group, the group
members are Ambonese descendants who are living in the Netherlands. It goes
like this (Tari nanana. . . Hums). Then I made it into violin and vocal arrangement.
However, I turned the flute in pelog scale, in my style. I used to study for two
semesters and I made the arrangement only for my personal pleasure. The vocal
goes like (Hums). Jabatin, yesterday we talked about language, let’s connect that
with the language of melody. We cannot afford to ignore other melody.
Jabatin Bangun
How is the government’s effort in making a balanced intercommunicating of
various art forms so that not only one or two art forms that would stand out,
preserved, make progress and become inspirational?
Rence Alfons
I feel guilty now, being a civil servant. I think our system now is somewhat complex.
(Laughs). Just imagine an officer with Marine Studies degree holds the position of
head of the Tourism Board. What does it have to do with Tourism? As for me, I don’t
always agree with this government system, because people would only do what
they are familiar with. They think they know much, but in fact, they don’t. (Collective
laughter). Actually, I feel a bit lonely at my office. I have no one with the same vision
to talk to. So I just talk to myself. (Collective laughter).
Jabatin Bangun
Thank God, he’s now a superstar in Ambon. People have seen his concerts, they
are certain of his worth.Otherwise, he would be alone at the mountain peak.
Meja Bundar Musik - World Music
Mrs. Trisutji, why do you think only one or two of art forms that stand out in
Indonesia? As artists, certainly we wouldn’t want to be restricted by a few art
forms that are being unfairly promoted by the government. Have you any direct
experience in this issue?
Trisutji Kamal
I think we can appreciate all art forms, even the simplest of music.
Jabatin Bangun
Just like your composition, River. It has nothing to do with the government, as an
inspiration. (Laughs). However, I have a very limited experience in working with
the government. Yesterday Balawan pointed out a profound and interesting irony.
He stated that local government heads, people who were taught to appreciate art
since their childhood, organized many arts events in Europe. On the other hand,
here a Marine studies degree holder was appointed as governor and he has to
manage the arts, to manage music.What is more terrible is when I met a regentwho
imposed his rules on the event. He said “.... I don’t even have to show up as long as
the fund is used” and he got his bribe. The arts have no future this way. Hence, this
is a very grave problem. Perhaps in time they will be a new awareness, if we all
join from allsides, contribute ideas, and support the government. However, there
is little chance for that to happen now.
Nyak Ina Raseuki
Another perspective on this, Jabatin, is exactly like what we discussed yesterday
with Mr. Supanggah. Why should we keep making demands to the government?
They already have massive work at hand. Why don’t we act for a change? Panggah
told us yesterday that he found numerous thriving small-scale festivals, organized
by small communities in Paris, Lyon, and many places. He said that many festivals
thrived because of the hard work of the communities, they started without funding,
zero money. Now here we have numerous festivals, he said, but all are alike. One
musician would perform from festival to another and the festivals’ length was
similar.
Jabatin Bangun
Yes, I don’t want to show off, but I have explored Indonesia to shoot a documentary,
to record various aspects. Thus, I have a firsthand experience in meeting many
admirable characters, live with them for days, in Flores. I think Indonesians
have not been given the opportunities they deserve. For example, the people
who want to join Rence’s orchestra, were they given opportunities and support?
Not necessarily, I think. The hardest part is that now we don’t see many decent,
reasonable efforts. The local artists have neither sufficient competence nor
103
104
Meja Bundar Musik - World Music
money to introduce their music. For example, how can the people of Mentawai
bring their music to Jakarta? It is simply impossible.
Nyak Ina Raseuki
Reverse it; WE can.
Jabatin Bangun
Yes, that is what I mean. So we have to make an effort on how we could find
inspirations, solutions. Nyak Ina Raseuki and I have just wrapped up a movie
series. We went to a region, a sixteen hours car trip from Medan. The local still
bathe in the river, but the music, the scenic nature, just beautiful. We need to
continue doing these things although they take a lot of money and great effort;
I think it is a part of our responsibility as artists. We have to appreciate the arts,
find a way to make these multitudes of traditional music accessible to greater
audience.
Rence Alfons
If I may add, Jabatin; if you cannot do the job, give it to someone who understands
music. Share the load. This arrogant attitude is putting our efforts in danger.
Nyak Ina Raseuki
Yes, maybe the decision-makers have other perspectives or priorities that are
different from Rence who has a genuine concern for the Ambonese arts. Perhaps
we should go to the next question: how do you teach your orchestra members who
come from very diverse line of work?
Rence Alfons
Well, as I stated before, I give beginner class to the new members. Fortunately,
I have several assistant trainers. For example, a kid came to my house in the
afternoon and said, “Sir, I want to learn how to play flute.” I think just by coming
to my house is a very good proof of his motivation. “Who ordered you to?” “None, I
myself want to learn the flute.” I handed him a flute, and he held it all wrong. That’s
fine by me. I told him to come at a specified time. My assistant trainer graduated
from ISI Yogyakarta, so I asked him to help me teach. “Please share your skill with
our friends. Teach them the basics on how to hold, to sit, place the flute on their
lips.” He agreed. Therefore, we finally teach the new members from zero, one by
one, with extra patience and time. When they finally performed, we got together
and watched the video. They were very proud of themselves.
Another interesting story: there are two villages, one of them is my village, Tumi,
and the neighboring village is Atalay. The kids from both villages used to fight
Meja Bundar Musik - World Music
all the time. However, there are no more fights ever since I found the Moluccas
Bamboowind Orchestra, since the players came from both villages, the teenagers.
Nyak Ina Raseuki
Many countries have started projects, bringing together street kids. Venezuela,
for instance. Dudamel is one of the prominent artists involved in one of these
projects. The kids joined without force, just like what Rence is doing. Thus, when
there is a music activity, people would show up. However if we don’t start, they
would have no place to come to. What Rence is doing is only in one region. Imagine
if Rence has many arms and legs, figuratively speaking. It does not have to be the
bamboo flutes, but how they could transmit the idea to villages or communities, to
other projects and experiments.
Jabatin Bangun
Is it possible to make a regulation that requires all music schools and institutions
to provide students with optional classes in Indonesian traditional instruments?
How was your experience with Mr. Kompyang Raka?
Trisutji Kamal
He already founded the traditional music school Balinese Arts Institute (LKB)
Saraswati.
Jabatin Bangun
What I meant was that the music of the western culture. It is the most dominant
music nowadays. However, informal schools for transmitting traditional music
are very limited. There are for Sundanese and Balinese music.Is there any ideas
to adopt that types of musical transmission?
Trisutji Kamal
I think it is plausible,locally.
Jabatin Bangun
A yes from Mrs. Trisuci. How about you, Rence?
Rence Alfons
It could go both ways. After all, this is a system and it concerns the government. It
is actually up to the institutions. Nevertheless, I was intrigued with your concept in
Music Basic Education (PSM). We couldn’t even identify with our fellow Indonesians
from Sabang to Merauke. However, if we understand each other’s music, we could
also understand our brothers. It is excellent if the government wants to start the
project. For instance, local contents are not only about the local tradition, but also
105
106
Meja Bundar Musik - World Music
about intersections with other traditions. For example, kids in North Sumatra
could also learn Balinese music, like in Mrs. Trisutji Kamal’s case.
Nyak Ina Raseuki
The main thing is how the education or the curriculum is taught with ways to
appreciate, like what Panggah said yesterday. In IKJ, we learned all about western
music. Our lecturers also required us to study other styles. Go out and explore,
they said. You always say go there, go here. Why not do it if it is attainable, whether
it is LPM, or higher educations?
Jabatin Bangun
When we look at the current perception, we tend to look economically and
politically at the case of Ambon, however, musically speaking, art appreciation
would grow if the artistically enlightened Moluccans teach community members
from other culture in programs at music education institutions.
Nyak Ina Raseuki
So essentially our diversity would not only be a national jargon, because in
practice music could bring us to understand each other better. Very well, any
other questions.
Jabatin Bangun
That was all.
Nyak Ina Raseuki
No more questions? Anyway, we run out of time. Very well, we thank Mr. Rence
Alfons and Mrs. Trisutji Kamal who have shared so much with us, also to our two
other speakers. Thank you, good evening. (Big round of applause).
Meja Bundar Musik - World Music
107
108
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
BIOGRAFI
/
BIOGRAPHIES
109
110
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
I WAYAN BALAWAN
I Wayan Balawan dilahirkan di Gianyar, Bali, 9 September 1973. Menempuh
pendidikan musik di Australian Institute of Music dan lulus pada 1997. Ia
mendirikan sejumlah grup musik, di antaranya, Batuan Ethnic Fusion, Bali Guitar
Club dan Trisum. Ia juga mengelola Yayasan Balawan untuk Musik Indonesia.
Album solo Balawan yang pertama berjudul Balawan dan diterbitkan di Jerman
pada 1997. Album solonya yang lain adalah See You Soon (2009), Magic Fingers
(2005), Self-titled (2001). Sementara bersama Batuan Ethnic Fusion ia menerbitkan
album GloBALIsm (1999); bersama Trisum 1st Edition (2007); bersama Bali Guitar
Club 1st Anniversary Album (2008).
I Wayan Balawan was born in Gianyar, Bali, in September 9 1973. He studied
music in Australian Institute of Music and graduated in 1997. He founded a number
of music groups, including Batuan Ethnic Fusion, Bali Guitar Club, and Trisum. He
also manages the Balawan Foundation for Indonesian Music.
Balawan’s first solo album is Balawan and released in Germany in 1997. His other
solo albums are See You Soon (2009), Magic Fingers (2005), and Self-titled (2001).
With Batuan Ethnic Fusion he released an album GloBALIsm (1999); 1st Edition
(2007) with Trisum; and with Bali Guitar Club 1st Anniversary Album (2008).
111
112
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
RAHAYU SUPANGGAH
Rahayu Supanggah dilahirkan di Boyolali, Jawa Tengah, 28 April 1949. Ia
menamatkan pendidikan musiknya di Akademi Seni Karawitan Indonesia (kini ISI
Surakarta) dan meraih Doktor Etnomusikologi dari Universitas Paris VII (1985).
Di kampusnya ia pernah menjabat sejumlah posisi penting, di antaranya, Rektor,
Direktur Pascasarjana, Guru Besar Etnomusikologi dan Komposisi dan Ketua
Jurusan Musik. Rahayu Supanggah berkolaborasi dengan sejumlah seniman
Indonesia dan luar negeri, termasuk dengan Kronos Quartet dan Melbourne
Orchestra. Karya-karyanya, antara lain adalah, Wayang Buddha, Gambuh,
Gilgamesh, Sesaji Raja Suya, Karawitan New Waves, Passage Through the Gongs,
The Death of Menakjingga, I La Galigo, Megalithikum Kwantum, Opera Jawa.
Rahayu Supanggah juga menulis sejumlah buku, di antaranya, Mutar-muter
(2004), Oblok-oblok (2004), Pendidikan Seni Nusantara (2003), Bothekan I (2002),
Ethnomusicology (editor,1996). Rahayu Supanggah juga meraih sejumlah
penghargaan, di antaranya, Anugerah Akademi Jakarta (2011), Bintang Budaya
Parama Dharma (2010), World Master in Music and Culture di Seoul, dan Penata
Musik Terbaik FFI 2006 untuk film Opera Jawa.
Rahayu Supanggah was born in Boyolali, Eastern Java, in April 28 1949. He
studied at Indonesian Karawitan Art Academy (now ISI Surakarta) and earned his
doctorate degree in Ethnomusicology at Paris VII University (1985). As a lecturer
he held several key positions in his almamater, including as a rector, director
of postgraduate, professor in Ethnomusicology and Composition, and head of
Music Faculty. Rahayu Supanggah had collaborated with various Indonesian and
international artists, such as Kronos Quartet and M Melbourne Orchestra. His
works, among many, are Wayang Buddha, Gambuh, Gilgamesh, Sesaji Raja Suya,
Karawitan New Waves, Passage through the Gongs, The Death of Menakjingga, I La
Galigo, Megalithikum Kwantum, Opera Jawa.
He penned more than a few books; Mutar-muter (2004), Oblok-oblok (2004),
Nusantara Arts Education (2003), Bothekan I (2002), and Ethnomusicology (editor,
1996). He was awarded Anugerah Akademi Jakarta (2011), Bintang Budaya Parama
Dharma (2010), World Master in Music and Culture in Seoul, and Best Film Scores
in Indonesian Film Festival (FFI) 2006 for the movie Opera Jawa.
113
114
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
RENCE ALFONS
Rence Alfons atau Maynard R.N. Alfons dilahirkan di Ambon, 18 Januari 1967.
Saat ini ia bekerja sebagai PNS di Taman Budaya Provinsi Maluku di Ambon. Ia
menamatkan pendidikan Musikologi di ISI Yogyakarta pada 1997. Sepulang ke
Ambon, Rence merevitalisasi suling bambu di Ambon dan mendirikan Molucca
Bamboowind Orchestra pada 2005. Di Molucca Bamboowind Orchestra ia juga
menjadi komposer, arranger dan konduktor. Bersama kelompoknya ini ia tampil
di sejumlah acara kesenian di Ambon, Jakarta dan Belanda. Selain mengelola
Molucca Bamboowind Orchestra, Rence juga menjadi pelatih dan juri untuk
lomba vokal, paduan suara dan qasidah di Maluku.
Rence Alfons or Maynard R.N. Alfons was born in Ambon, 18 January 1967.
Currently he is a civil servant at Maluku Province’s Cultural Arts Center in Ambon.
He finished his study of Musicology from ISI Yogyakarta in 1997. On his return to
Ambon, Rence revitalized the traditional instrument of bamboo flutes in Ambon,
and founded the Moluccas Bamboowind Orchestra in 2005, in which he also serves
as its composer, arranger, and conductor. The Moluccas Bamboowind Orchestra
had performed in numerous arts events in Ambon, Jakarta, and the Netherlands.
Aside from managing the orchestra, Rence is also a trainer and a jury for vocal
contests, choirs, and qasidah contests in Maluku.
115
116
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
TRISUTJI DJULIANTI KAMAL
Trisutji Djulianti Kamal dilahirkan di Jakarta, 28 November 1936. Belajar musik
klasik saat tinggal di Binjai, Sumatra Utara, dan melanjutkannya di Belanda,
Prancis dan Italia. Di Italia ia menamatkan pendidikan musiknya di Conservatorio
de Musica St. Caecelia, Roma. Dalam kariernya yang lebih dari setengah abad,
Trisutji Kamal telah menggubah tak kurang dari 200 karya, yakni lebih dari 130
komposisi untuk piano solo, 10 musik ilustrasi film, 25 vokal dengan piano (art
song), 8 duo piano dengan perkusi dan vokal Bali, 6 ansambel, 5 simfoni, 5 musik
sendratari dan sebagainya.
Beberapa karyanya telah menjadi klasik dan selalu dimainkan di sekolahsekolah piano di Indonesia. Misalnya, Tarian Fantasi. Pada Juli 2015, sejumlah
karyanya dimainkan di Forum World Music di Komunitas Salihara.
Atas pencapaiannya di bidang musik, Trisutji Kamal mendapatkan Anugerah
Yayasan Pendidikan Musik (2012) dan Bintang Budaya Parama Dharma (2010).
Trisutji Djulianti Kamal was born in Jakarta, 28 November 1936. She studied
classical music while she lived in Binjai, North Sumatra, and continued in
the Netherlands, France, and Italy. She graduated her music education in
Conservatorio de Musica St. Caecelia, Rome. In her career that has spanned over
a half century, Trisutji Kamal has composed more than 200 compositions, which
include over than 130 solo piano compositions, 10 movie music illustrations, 25
vocals with piano (art song), 8 piano duo/duet with Balinese percussion and vocal,
6 ensembles, 5 symphonies, 5 dance drama music, etc.
Some of her works have become classics and are always played in piano schools
in Indonesia, such as Tarian Fantasi. In July 2015, a number of her works was
played in Salihara Community’s Forum World Music.
For her accomplishments in music, Trisutji Kamal has received honors from
Yayasan Pendidikan Musik Award (2012) and Bintang Budaya Parama Dharma
(2010).
117
118
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
JABATIN BANGUN
Jabatin Bangun dilahirkan di Kabanjahe, Sumatra Utara, 18 Oktober 1967. Ia
menamatkan pendidikan Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara dan
Program Pascasarjana Antropologi di Universitas Indonesia (tanpa ijazah).
Jabatin juga menempuh Program Pascsarjana di STF Driyarkara.
Sejak 1988 Jabatin aktif dalam berbagai penelitian etnomusikologi di sejumlah
wilayah di Indonesia. Ia juga menjadi pemateri dan tutor untuk sejumlah pelatihan
tentang etnomusikologi dan menyampaikan kertas kerja di sejumlah seminar di
Indonesia dan Belanda. Bersama sejumlah seniman ia menjalankan program
Pendidikan Seni Nusantara (PSN).
Selain mengajar di Institut Kesenian Jakarta, Jabatin pernah menjabat sejumlah
posisi, misalnya Wakil Rektor Bidang Akademik (2009-2013). Ia adalah juga
anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2013).
Jabatin Bangun was born in Kabanjahe, North Sumatra on 18 October 1967.
Majoring in ethnomusicology, he graduated from University of North Sumatra and
Anthropology postgraduate program from University of Indonesia (no certificate).
Jabatin also studied at postgraduate program in Driyarkara Philosophy College
(STF Driyarkara).
Bangun keenly participated in numerous ethnomusicology researches in regions
of Indonesia. He is also a speaker and a tutor for a number of trainings on
ethnomusicology and presented his paper in several seminars in Indonesia and
the Netherlands. Together with several artists, he founded the Nusantara Arts
Education (PSN).
Aside from lecturing in Jakarta Arts Institute (IKJ), Bangun also held previous
positions in the institute, including as Vice Rector for Academic Affairs (20092013). He also served as a member of Jakarta Arts Council (DKJ) (2006-2013).
119
120
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
NYAK INA RASEUKI
Nyak Ina “Ubiet” Raseuki dilahirkan di Jakarta, 24 Mei 1965. Ubiet
menamatkan pendidikan di Jurusan Musik-Vokal Institut Kesenian Jakarta;
Master Etnomusikologi dari Universitas Wisconsin, Madison, dan Ph.D dalam
Etnomusikologi dari universitas yang sama dengan tesis Seudati in Acehnese
Tradition: A Premiliminary Study (2009)
Sejak 1993 hingga sekarang Ubiet mengajar di Program Pascasarjana IKJ.
Selain itu ia juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal Pendidikan Seni Nusantara
(2002-2006) dan anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (2006-2009).
Sebagai pesuara Ubiet telah meluncurkan sejumlah album, di antaranya, Ubiet
Keroncong Tenggara (2007), Two Worlds dan Rhythms of Reformation (2006), Music
for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo (2006), Populer Archipelagongs
(2000), Commonality, The New Jakarta Ensemble (1997).
Born in Jakarta, 24 Mei 1965, Nyak Ina “Ubiet” Raseuki graduated from Jakarta
Arts Institute (IKJ) with Music-Vocal major. She continued both her Master and her
Ph.D in Ethnomusicology at the Wisconsin University, Madison, with her theses
titled Seudati in Acehnese Tradition: a Preliminary Study (2009).
Since 1993 until now, Ubiet teaches at the postgraduate program in IKJ. She also
held the position of Secretary-General of Nusantara Arts Education (2002-2006)
and a member of the Music Committee of Jakarta Arts Council (2006-2009).
As a vocalist, she has released several albums, such as Ubiet Keroncong Tenggara
(2007), Two Worlds and Rhythms of Reformation (2006), Music for Solo Performer:
Ubiet Sings Tony Prabowo (2006), Popular Archipelagongs (2000), Commonality, The
New Jakarta Ensemble (1997).
121
122
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
ZEN HAE
Zen Hae menulis puisi, cerita, dan kritik sastra. Bukunya yang terbaru adalah
kumpulan cerpen tigabahasa The Red Bowl and Other Stories (Yayasan Lontar,
2015). Sebelumnya: kumpulan cerita pendek Rumah Kawin (KataKita, 2004) dan
buku puisi Paus Merah Jambu (Akar Indonesia, 2007)—yang terakhir ini termasuk
lima besar Khatulistiwa Literary Award 2008 dan mendapatkan penghargaan
“Karya Sastra Terbaik 2007” dari majalah Tempo. Ia anggota Komite Sastra Dewan
Kesenian Jakarta (2006-2012); kini Manajer Penerbitan di Komunitas Salihara.
Zen Hae writes poetry, stories, and literary criticisms. His latest work was a
trilingual selected short story The Red Bowl and Other Stories (Lontar Foundation,
2015). The previous ones were selected short story Rumah Kawin (KataKita, 2004)
and poetry book Paus Merah Jambu (Akar Indonesia, 2007)—from which Hae won
“Best Literary Work” from the reputable magazine Tempo. He was a member of
the Literary Committee of Jakarta Arts Council (2006-2012), and currently holds
the position of Publishing Manager in Salihara Community.
123
124
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
125
126
Meja Bundar Musik - World Music
Meja Bundar Musik - World Music
127
128
Meja Bundar Musik - World Music
KERABAT KERJA / THE CREW
PENANGGUNG JAWAB / PERSONS IN CHARGE
Dewan Kesenian Jakarta 2013-2015 / Jakarta Arts Council 2013-2015
Irawan Karseno (Ketua Umum Pengurus Harian / Chairman)
Alex Sihar (Sekretaris Umum dan Administrasi / General Secretary and Administration)
Madin Tsayawan (Ketua Bidang Umum / Head of General Affairs)
Helly Minarti (Ketua Bidang Program / Head of Program)
Komite Musik - Dewan Kesenian Jakarta / Music Committee - Jakarta Arts Council
Aksan Sjuman (Ketua / Head) • Budi Utomo Prabowo (Sekretaris / Secretary)
Aisha Sudiarso Pletscher (Anggota / Member) • Anusirwan (Anggota / Member)
REKAN KERJASAMA / COOPERATION PARTNERS
Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta /
Ethnomusicology Studies Program, Faculty of Performing Arts Jakarta Arts Institute
MODERATOR / MODERATORS
Jabatin Bangun • Nyak Ina Raseuki
NARASUMBER / SPEAKERS
I Wayan Balawan • Rahayu Supanggah
Trisutji Djuliati Kamal • Rence Alfons
TASK FORCE MANAGER Anita Dewi Puspita Hutasuhut
PELAKSANA PROGRAM / PROGRAM OFFICER Winda Anggriani
PELAKSANA MUDA / PROJECT OFFICER Rini Angraini
MANAJER PANGGUNG / STAGE MANAGER Novan Trijaya Seri Putra
KRU PANGGUNG / STAGE CREW Krisna
SOUND Kadir
HUMAS / PUBLIC RELATION Dita Kurnia
DESAINER GRAFIS / GRAPHIC DESIGNER Riosadja
NOTULIS / SCRIBES Ariani • Wa Ode Wulan Ratnaningsih
ADMIN TEKNIS LIVE TWEET / LIVE TWEET TECHNICAL ADMINS Rizaldy Bagus • Dita Kurnia
PROJECTIONIST Camelia
FOTOGRAFER / PHOTOGRAPHER Eva Tobing
VIDEOGRAFER / VIDEOGRAPHERS Joel Taher • Indra Perkasa
MARKETING Anggara Sudiarianto Subowo
KEUANGAN / FINANCE Trisuci Meilawati
KONSUMSI /MEALS COORDINATORS Trisuci Meilawati • Serley Banowati • Meita Rosmala
STAND BUKU / BOOK STAND Reny Rufaidah
PENERIMA TAMU / RECEPTION Yuni
USHER Anne • Ucup
PEMANDU TAMU / GUESTS RELATION OFFICERS Deddy Hendrawan • Syah Putra Ramadhan
PENGEMUDI TRANSPORTASI / DRIVER Sukadi
OFFICE BOY Juliansyah Iyan • Jaelani • Dedi • Syaiful
Meja Bundar Musik - World Music
UCAPAN TERIMA KASIH / ACKNOWLEDGEMENTS
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Provincial Government of Special Capital Territory of Jakarta
Program Studi Etnomusikologi
Ethnomusicology Study Program
Fakultas Seni Pertunjukan - Institut Kesenian Jakarta
Performance Art Faculty – Jakarta Arts Institute (IKJ)
Seluruh kerabat kerja, staf Dewan Kesenian Jakarta, moderator, pembicara, penyunting,
dan sukarelawan yang telah membantu terselenggaranya acara ini.
All crewmembers and staffs of the Jakarta Arts Council, moderators, speakers, editors,
and volunteers who have contributed immensely in this program.
129
130
Meja Bundar Musik - World Music
Download