penentuan rangking berdasarkan waktu lomba renang pada

advertisement
PENENTUAN RANGKING BERDASARKAN WAKTU
LOMBA RENANG PADA RANGKAIAN PUSH-BUTTON
BERBASISKAN MIKROKONTROLER AT89S51
Zulfikar Akbar
Jurusan Sistem Komputer
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi
Universitas Gunadarma
Margonda Raya 100 Depok 16424 telp (021) 78881112, 7863788
ABSTRAKSI
Penentuan rangking berdasarkan waktu lomba renang pada rangkaian PushButton berbasiskan mikrokontroler AT89S51 adalah sebuah sistem yang dirancang untuk
mempermudah pencatatan waktu pada lomba renang dan mendeteksi keberadaan peserta.
Sistem dibuat dengan melibatkan saklar mekanik berupa Push-Button yang berperan
sebagai sensor untuk mekanisme pencatatan waktu dan mendeteksi peserta. Selain itu,
sebuah keluaran suara menggunakan buzzer difungsikan sebagai tanda perlombaan
dimulai. Penekanan Push-Button akan membuat mikrokontoler AT89S51 mengirimkan
data ke komputer melalui komunikasi serial untuk mencatat waktu peserta atau
mendeteksi keberadaan peserta yang akan mempengaruhi penentuan rangking peserta.
Berdasarkan hal di atas, akhirnya disimpulkan untuk membuat tugas akhir dengan judul
"Penentuan Rangking Berdasarkan Waktu Lomba Renang Pada Rangkaian Push-Button
Berbasiskan Mikrokontroler AT89S51”.
Kata Kunci : Data, Deteksi, Mikrokontroler, Push-Button, Waktu
Tanggal pembuatan : 21 September 2012
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Waktu dijadikan faktor kunci
dalam setiap perlombaan karena sifat dari
lomba itu sendiri adalah untuk mencari
peserta atau orang yang mengerjakan
suatu kegiatan yang dilombakan dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya. Peserta
yang tercepat dalam suatu lomba adalah
peserta yang dijadikan pemenang karena
dianggap peserta tersebut adalah yang
terhebat dalam melakukan kegiatan yang
dilombakan sebab bisa melakukan
kegiatan itu lebih cepat dibandingkan
dengan peserta yang lain.
Namun, pencatatan waktu untuk
berbagai kegiatan lomba yang sangat
bergantung dari penentuan waktu seperti
lomba lari atau lomba renang, masih
menggunakan sistem manual, yakni
adanya seseorang yang dijadikan panitia
lomba untuk mencatat waktu peserta
dalam mencapai tujuan. Panitia tersebut
menggunakan
stopwatch
untuk
menentukan waktu yang digunakan
peserta untuk mencapai tujuan lalu
mencatat waktu tersebut secara manual di
kertas. Permasalahan yang muncul adalah
ketika panitia tersebut tidak tepat
menekan stopwatch untuk menentukan
waktu para peserta, bisa terlambat
beberapa detik atau terlalu cepat beberapa
detik yang bisa mengakibatkan kesalahan
dalam menentukan pemenang lomba.
Belum lagi adanya human error atau
kesalahan yang bisa saja terjadi saat
panitia mencatat waktu para peserta
Berdasarkan masalah di atas,
penelitian ini akan membahas sistem
“Penentuan Rangking Berdasarkan Waktu
Lomba Renang Pada Rangkaian PushButton
Berbasiskan
Mikrokontroler
AT89S51”. Sistem tersebut dibuat untuk
memudahkan panitia lomba untuk
mencatat waktu para peserta khususnya,
lomba renang. Dengan sistem ini,
diharapkan bertambahnya persentase
ketepatan dalam penetapan waktu lomba
renang dan meminimalisasi kesalahan
dalam penentuan urutan peserta saat
finish sehingga tidak ada pihak yang
merasa dirugikan panitia karena urutan
finish peserta dan pencatatan waktu
dilakukan secara otomatis oleh sistem
tersebut serta agar peserta tidak bisa
mencuri start sebelum lomba dimulai.
1.2. Batasan Masalah
Untuk lebih terarahnya penulisan
ini maka masalah dibatasi pada
pembahasan alat dari segi perangkat keras
atau
hardware
tentang
cara
pengoperasian alat untuk mencatat waktu
lomba renang menggunakan Push-Button
mulai dari tahap pendeteksian keberadaan
peserta sampai prosedur untuk mencatat
waktu ketika finish.
2. LANDASAN TEORI
Pembuatan sistem Penentuan
Rangking Berdasarkan Waktu Lomba
Renang Pada Rangkaian Push-Button
Berbasiskan Mikrokontroler AT89S51
memerlukan
landasan
teori
dari
komponen-komponen yang digunakan
sehingga dapat mengetahui karakteristik
dan prinsip kerja dari rangkaian tersebut
serta dapat menghasilkan keluaran yang
diharapkan.
2.1. IC AT89S51
Mikrokontroler merupakan suatu
alat atau komponen pengontrol atau
pengendali yang berukuran kecil (mikro).
Sebelum mikrokontroler ada, terlebih
dahulu muncul apa yang disebut
mikroprosesor. AT89S51 merupakan
mikrokontroler dengan low power tetapi
memiliki kinerja yang tinggi pada CMOS
8 bit mikrokontroler dengan 4 Kbyte pada
sistem pemrograman memori. Bila
sebuah mikroprosesor dikombinasikan
dengan I/O dan memori (ROM/RAM)
dalam sebuah chip, maka akan dihasilkan
sebuah mikrokomputer yang selanjutnya
disebut dengan mikrokontroler.
Gambar 2.1. IC AT89S51
Tim Peneliti dan Pengembangan
Wahana Komputer (2006)
Pada AT89S51 pengalamatan
memori dibedakan atas dua yaitu untuk
program memori dan untuk data memori.
Pemisahan antara program memori dan
data memori merupakan ciri khas dari
keluarga MCS-51. Masing- masing
program memori dapat mengalamati
hingga 64 KB dengan masing-masing
lebar datanya 8 bit.
2.2. Buzzer
Buzzer merupakan penghasil
bunyi yang dapat dikendalikan oleh
mikrokontroler dengan diberikan logika 0
dan 1. Buzzer yang digunakan memiliki
tegangan masukan DC antara 3 V hingga
12 V. Buzzer ini hanya memiliki kutub
positif dan kutub negatif. Dimana kutub
positif dihubungkan ke VCC 5 Volt dan
kutub negatif dihubungkan ke port
mikrokontroler
2.3. Push-Button
Switch Push-Button adalah saklar
tekan
yang
berfungsi
untuk
menghubungkan atau memisahkan bagian
– bagian dari suatu instalasi listrik satu
sama lain (suatu sistem saklar tekan push
button terdiri dari saklar tekan start, stop,
reset dan saklar tekan untuk emergency).
Push button memiliki kontak NC
(normally close) dan NO (normally
open).
Gambar 2.4. Bentuk Fisik Push-Button
Irfan (2011)
Prinsip kerja Push Button adalah
apabila dalam keadaan normal tidak
ditekan maka kontak tidak berubah,
apabila ditekan maka kontak NC akan
berfungsi sebagai stop (memberhentikan)
dan kontak NO akan berfungsi sebagai
start (menjalankan) biasanya digunakan
pada sistem pengontrolan motor – motor
induksi untuk menjalankan mematikan
motor pada industri – industri
2.4. Kapasitor
Kapasitor (Kondensator) yang
dalam
rangkaian
elektronika
dilambangkan dengan huruf "C" adalah
suatu alat yang dapat menyimpan
energi/muatan listrik di dalam medan
listrik, dengan cara mengumpulkan
ketidakseimbangan internal dari muatan
listrik. Kapasitor ditemukan oleh Michael
Faraday (1791-1867). Satuan kapasitor
disebut Farad (F). Satu Farad = 9 x 10 11
2
cm
yang artinya luas permukaan
kepingan tersebut
Struktur sebuah kapasitor terbuat
dari 2 buah plat metal yang dipisahkan
oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan
dielektrik yang umum dikenal misalnya
udara vakum, keramik, gelas dan lainlain. Jika kedua ujung plat metal diberi
tegangan listrik, maka muatan-muatan
positif akan mengumpul pada salah satu
kaki (elektroda) metalnya dan pada saat
yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu
lagi.
Muatan positif tidak dapat
mengalir menuju ujung kutub negatif dan
sebaliknya muatan negatif tidak bisa
menuju ke ujung kutub positif, karena
terpisah oleh bahan dielektrik yang nonkonduktif. Muatan elektrik ini tersimpan
selama tidak ada konduksi pada ujungujung kakinya. Di alam bebas, fenomena
kapasitor
ini
terjadi
pada
saat
terkumpulnya muatan-muatan positif dan
negatif di awan.
Gambar 2.3. Prinsip Dasar Kapasitor
Richard Blocher (2006)
2.5. Transistor
Transistor
adalah
alat
semikonduktor yang dipakai sebagai
penguat,
pemotong
(switching),
stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi
semacam kran listrik, dimana berdasarkan
arus inputnya (BJT) atau tegangan
inputnya
(FET),
memungkinkan
pengaliran listrik yang sangat akurat dari
sirkuit sumber listriknya.
Gambar 2.4. Transistor
Ahdiat Darmawan Lubis (2010)
Pada
umumnya,
transistor
memiliki tiga terminal. Tegangan atau
arus yang dipasang di satu terminalnya
mengatur arus yang lebih besar yang
melalui dua terminal lainnya. Transistor
adalah komponen yang sangat penting
dalam dunia elektronik modern. Dalam
rangkaian analog, transistor digunakan
dalam amplifier (penguat).
Rangkaian analog melingkupi
pengeras suara, sumber listrik stabil, dan
penguat sinyal radio. Dalam rangkaianrangkaian digital, transistor digunakan
sebagai saklar berkecepatan tinggi.
Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi
sebagai logic gate, memori, dan
komponen-komponen lainnya.
2.6. Resistor
Sebuah resistor sering disebut
werstan, tahanan atau penghambat, adalah
suatu komponen elektronik yang dapat
menghambat gerak lajunya arus listrik.
Resistor disingkat dengan huruf "R"
(huruf R besar). Satuan resistor adalah
Ohm, yang menemukan adalah George
Ohm (1787-1854), seorang ahli Fisika
bangsa Jerman. Tahanan bagian dalam ini
dinamai
Konduktansi.
Satuan
konduktansi ditulis dengan kebalikan dari
Ohm yaitu mho.
Kemampuan
resistor
untuk
menghambat disebut juga resistensi atau
hambatan listrik. Besarnya diekspresikan
dalam satuan Ohm. Suatu resistor
dikatakan memiliki hambatan 1 Ohm
apabila resistor tersebut menjembatani
beda tegangan sebesar 1 Volt dan arus
listrik yang timbul akibat tegangan
tersebut adalah sebesar 1 ampere, atau
sama dengan sebanyak 6.241506 × 1018
elektron per detik mengalir menghadap
arah yang berlawanan dari arus.
Hubungan
antara
hambatan,
tegangan, dan arus, dapat disimpulkan
melalui hukum berikut ini, yang terkenal
sebagai hukum Ohm adalah R = V / I.
Dimana V adalah beda potensial antara
kedua ujung benda penghambat, I adalah
besar arus yang melalui benda
penghambat, dan R adalah besarnya
hambatan benda penghambat tersebut.
Gambar 2.5. Resistor
Anonymous (2012)
Pada resistor biasanya memiliki 4
gelang warna, gelang pertama dan kedua
menunjukkan angka, gelang ketiga adalah
faktor kelipatan, sedangkan gelang ke
empat menunjukkan toleransi hambatan.
Pertengahan tahun 2006, perkembangan
pada komponen resistor terjadi pada
jumlah gelang warna. Dengan komposisi:
Gelang Pertama (Angka Pertama), Gelang
Kedua (Angka Kedua), Gelang Ketiga
(Angka Ketiga), Gelang Keempat
(Multiplier)
dan
Gelang
Kelima
(Toleransi). Berikut Gelang warna
dimulai dari warna Hitam, Coklat, Merah,
Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu
(violet), Abu-abu dan Putih Sedangkan
untuk gelang toleransi hambatan adalah:
Coklat 1%, Merah 2%, Hijau 0,5%, Biru
0,25%, Ungu 0,1%, Emas 5% dan Perak
0%. [1]
Tabel 2.1.
Gelang Warna Resistor
menerima masukan dari Push-Button,
mengirim keluaran berupa logika kepada
rangkaian buzzer, serta mengirim data
dari mikrokontroler ke antarmuka secara
serial. Data yang dikirim ke antarmuka
didapat dari pembacaan Push-Button.
Push-Button memiliki tiga fungsi yakni
untuk
mengetahui
peserta
yang
didiskualifikasi, sebagai pengatur ulang
mikrokontroler dan penanda mulai lomba,
serta untuk mencatat waktu peserta saat
finish.
Gambar 3.1. Rangkaian Alat
3.2. Analisa Diagram Blok
3.2.1. Analisa Blok Masukan
Sumber : Anonymous (2012)
3. PERANCANGAN ALAT
3.1. Perancangan Alat
Pembuatan alat dirancang secara
sederhana agar mudah dioperasikan oleh
pengguna dalam kehidupan sehari-hari.
Alat ini dirangkai dengan menggunakan
mikrokontroler AT89S51 yang telah
terintegrasi dengan port serial untuk
Alat ini menggunakan Push-Button
sebagai masukan yang nantinya akan
diproses oleh mikrokontroler. PushButton mempunyai tiga fungsi pada
rangkaian masukan alat ini. Fungsi PushButton yang pertama adalah sebagai
penanda mulainya lomba dan pengatur
ulang mikrokontroler. Fungsi kedua
adalah sebagai pendeteksi keberadaan
peserta sebelum lomba dimulai dengan
maksud untuk mengetahui peserta mana
yang didiskualifikasi karena telah
memulai terlebih dahulu sebelum lomba
dimulai. Fungsi ketiga adalah untuk
mencatat waktu yang ditempuh peserta
saat mencapai finish. Push-Button yang
difungsikan sebagai pencatat waktu
diletakkan pada titik finish yang telah
ditentukan. Push-Button yang digunakan
sebagai masukan dalam alat ini
menggunakan rangkaian RC atau
rangkaian
resistor-capasitor
untuk
menghilangkan efek
floating
dan
bouncing yang biasa ditimbulkan oleh
Push-Button yang merupakan saklar
mekanik.
Gambar 3.2.Rangkaian Push-Button
Satu peserta menempati satu
lintasan dan satu lintasan membutuhkan
dua push-button untuk mengecek
keberadaan peserta serta mencatat waktu
peserta.
Sedangkan
total
pin
mikrokontroler AT89S51 berjumlah 32
dan pin yang telah terpakai untuk tombol
start, reset, serta buzzer berjumlah tiga
sehingga untuk mencari jumlah maksimal
lintasan yang bisa diaplikasikan pada alat
ini dapat dihitung melalui persamaan :
Lintasan max = (jumlah pin – jumlah pin
terpakai) / 2
= (32 – 3) / 2
= 14 lintasan
3.2.2. Analisa Blok Proses
Dalam
hal
ini
cara
kerja
mikrokontroler AT89S51 hampir sama
dengan otak manusia, mikrokontroler
akan mengendalikan seluruh rangkaian.
Agar dapat mengerjakan suatu perintah
maka mikrokontroler harus diisi program
dahulu. Mikrokontroler AT89S51 hanya
memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1
resistor dan 1 kristal serta catu daya 5
Volt. Kristal dengan frekuensi 11,0592
MHz dan dua buah kapasitor 33pF di
pakai untuk melengkapi rangkaian
oscillator. Pembentuk clock yang
menentukan
kecepatan
kerja
mikrokontroler. Kapasitor 10μF dan
resistor 10 KOhm di pakai untuk
membentuk rangkaian reset dimana
rangkaian ini pada saat pertama kali catu
daya di hidupkan, akan me-reset
rangkaian
mikrokontroler
sehingga
program di pastikan akan bekerja dari
awal.
Prinsip kerja rangkaian reset adalah
proses pengisian kapasitor yang di tunda
oleh sebuah resistor sehingga pada saat
pengisian kapasitor akan terjadi proses
keadaan dari tegangan rendah (low) ke
tegangan tinggi (high), keadaan inilah
yang
akan
mereset
rangkaian
mikrokontroler. Port 0 mikrokontroler
AT89S51 merupakan keluaran untuk
alamat (address AD0-AD7) tidak
mempunyai tahanan yang terhubung ke
Vcc, seperti pada konstruksi port-port
yang lain. Pada saat port 0 di pakai
sebagai port output tegangan pada kaki
P0.x tidak mungkin menjadi high
(tegangan ambang), untuk mengatasi hal
ini maka harus dipasangkan tahanan ke
Vcc diluar chip IC mikrokontroler.
Skema
rangkaian
mikrokontroler
AT89S51 diperlihatkan pada Gambar 3.3.
sebab itu dipasang sebuah resistor pada
pin basis. Skema rangkaian buzzer di
perlihatkan pada Gambar 3.5.
Gambar 3.3.Mikrokontroler AT89S51
3.2.3. Analisa Blok Keluaran
Keluaran dari alat ini terdiri dari
buzzer dan data yang dikirim dengan
komunikasi serial dari mikrokontroler
AT89S51 untuk kepentingan informasi
yang digunakan pada aplikasi antarmuka.
1. Buzzer
Pada alat ini buzzer berfungsi untuk
indikator bunyi atau penanda apabila
lomba sudah dimulai. Buzzer terhubung
pada port 2.5 mikrokontroler, rangkaian
buzzer menggunakan transistor A733
(general purpose), pada dasarnya, buzzer
di hubungkan ke tegangan Vcc 5 Volt
(dengan batasan arus oleh resistor 47
ohm), karena adanya transistor, maka
buzzer mendapatkan arus atau tidaknya
tergantung dari kondisi transistor saat itu,
jika transistor ON atau dalam keadaan
saturasi, maka buzzer mendapat tegangan
Vcc, namun sebaliknya jika transistor
OFF atau dalam keadaan cut-off, maka
buzzer juga akan mati.
Transistor A733 merupakan jenis
transistor PNP sehingga keadaan saturasi
aktif ketika basis mendapatkan arus
rendah dengan pemberian logika low dari
mikrokontroler. Sedangkan, keadaan cutoff aktif ketika basis mendapatkan arus
tinggi dengan pemberian logika high dari
mikrokontroler. Arus yang mengalir ke
basis harus lebih kecil daripada arus yang
mengalir dari emitor ke kolektor, oleh
Gambar 3.4.Rangkaian Buzzer
2. Data Serial
Selain buzzer sebagai keluaran dari
mikrokontroler, alat ini juga mempunyai
keluaran data berupa karakter yang
dikirimkan ke aplikasi antarmuka Delphi
dengan cara komunikasi serial melalui
port serial yang telah terintegrasi di
mikrokontroler AT89S51. Data yang
dikirimkan ke aplikasi antarmuka Delphi
berguna untuk memberi tahu informasi
keberadaan peserta saat akan memulai
lomba dan untuk mencatat waktu yang
telah ditempuh peserta, baik saat
checkpoint atau waktu saat menekan
tombol finish. Pengiriman data serial ke
komputer menggunakan usb to serial
converter untuk mengantisipasi jika
komputer yang digunakan tidak memiliki
port serial atau port DB9.
3.3. Flowchart Program
Gambar 3.5.Diagram Alur Program
Langkah pertama yang dilakukan
program
adalah
inisialisasi
mikrokontroler
AT89S51
untuk
pendeklarasian port yang digunakan dan
untuk menentukan mode komunikasi
serial serta baudrate yang digunakan
untuk mengirim data ke aplikasi
antarmuka Delphi. Selanjutnya, akan
dilakukan
pengecekan
keberadaan
peserta, apakah peserta telah di tempat
start atau tidak. Jika peserta sudah di
tempat, dilakukan pengecekan terhadap
Push-Button yang difungsikan sebagai
tombol mulai perlombaan, apakah sudah
ditekan atau belum.
Apabila start belum ditekan, namun
sudah ada peserta yang loncat terlebih
dahulu, maka mikrokontroler akan
mengecek dari keempat Push-Button
yang ditempatkan pada posisi peserta,
mana yang tidak tertekan. Dengan begitu,
mikrokontroler akan mengirim informasi
ke aplikasi antarmuka Delphi sesuai
dengan data peserta yang didiskualifikasi
karena telah mencuri start.
Kemudian, ketika tombol start
ditekan, maka buzzer akan berbunyi yang
menandakan bahwa lomba telah mulai
sehingga peserta sudah diperbolehkan
untuk mulai loncat. Kondisi selanjutnya,
mikrokontroler mengecek semua Push-
Button yang diletakkan di tempat finish
untuk mendeteksi peserta yang telah
mencapai finish sekaligus mencatat waktu
peserta tersebut dengan mengirim data ke
aplikasi antarmuka Delphi menggunakan
komunikasi serial.
Bersamaan dengan pengecekan
Push-Button yang digunakan untuk
mencatat waktu peserta, dilakukan
pengecekan juga terhadap Push-Button
yang difungsikan untuk reset, yakni
kembali ke langkah pertama dari
program. Jika tombol reset tidak ditekan,
maka akan tetap berulang dengan
pengecekan Push-Button untuk mencatat
waktu. Jika ditekan, maka program akan
kembali ke langkah pertama, siap untuk
memulai sesi perlombaan yang baru.
4. UJI COBA ALAT
4.1. Cara Kerja Alat
Sistem
Penentuan
Rangking
Berdasarkan Waktu Lomba Renang Pada
Rangkaian Push-Button Berbasiskan
Mikrokontroler AT89S51 ini bekerja
dengan menggunakan rangkaian RC atau
Resistor-Capacitor untuk penggunaan
Push-Button dan transistor A733 sebagai
saklar elektronik untuk buzzer yang
berfungsi sebagai tanda bahwa lomba
telah dimulai. Pemasangan Push-Button
dan
buzzer
dirangkai
dengan
menggunakan PCB atau Printed Circuit
Board yang dihubungkan dengan kabel
black housing untuk pengiriman data
sebagai masukan ke mikrokontroler dan
penerimaan data sebagai keluaran dari
mikrokontroler.
Push-Button terhubung dengan pin
0.4 – 0.7, pin 1.0 – 1.3, pin 3.0, dan pin
3.4 pada mikrokontroler AT89S51
sebagai masukan dan buzzer terhubung
dengan pin 2.5 pada mikrokontroler
sebagai output. Masukan dari Push-
Button akan diproses dan untuk keluaran
buzzer didapat dari masukan Push-Button
yang difungsikan sebagai tombol start
yakni pada pin 3.0. Langkah pertama
yang dilakukan dalam uji coba alat ini
adalah memberikan tegangan pada alat
agar dapat menjalankan program yang
telah ada.
4.2. Uji Coba Alat
Uji coba alat bertujuan untuk
mengetahui kesesuaian alat dengan hasil
yang diinginkan. Uji coba dilakukan
dengan menetapkan dua gangguan yang
mungkin terjadi dalam pengaplikasian
alat ini yaitu gangguan terhadap PushButton dan gangguan air terhadap PushButton. Gangguan terhadap Push-Button
diujikan untuk melihat independensi dari
fungsi-fungsi Push-Button yang telah
dipasang, apakah saling mengganggu
fungsi satu sama lain atau tidak saling
mengganggu.
Gangguan kedua adalah gangguan
air terhadap Push-Button, dikarenakan
alat ini ditujukan untuk perlombaan
renang, maka alat ini harus dilakukan uji
coba terhadap gangguan air sehingga bisa
diketahui apakah air bisa mengganggu
alat sehingga tidak mengeluarkan
keluaran yang seharusnya atau tidak
mempengaruhi kerja alat. Berbagai
kondisi yang mungkin terjadi dalam
pengaplikasian alat diujikan terhadap
kedua gangguan tersebut. Kondisi-kondisi
yang diujikan terhadap gangguan tersebut
disajikan dalam tabel yang akan dibahas
selanjutnya
4.2.1. Pengiriman Data Serial
Tabel 4.1.
Kondisi Diskualifikasi Peserta
Ko
ndi
si
Sta
rt
Peserta
H
as
1 2 3 4
il
a a a a
d d d d a a a a
Bel
um
star
t
a a a
d d d a
a a a
a
d a
-
-
bc
d
a a a a
d d d d a a a a
a a a a jk
d d d d l
a a a a m
Sta
rt
B
uz
ze
a a a
r
- d d d
m
a a a
en
ya
la
B
a
a uz
d - - d ze
a
a r
m
Keter
angan
Semu
a
pesert
a
masih
di
tempa
t
Pesert
a
1
didisk
ualifi
kasi
Pesert
a 1, 2,
3
didisk
ualifi
kasi
Semu
a
pesert
a
masih
di
tempa
t
Buzz
er
tidak
meny
ala
Idea
l
Eror
-
-
a
-
bcd
-
-
-
Buz
zer
men
yala
ya
-
Buz
zer
men
yala
-
-
Buz
zer
-
a
d a
-
-
en
ya
la
B
uz
ze
r
m
en
ya
la
a a a a jk
d d d d l
a a a a m
B
uz
ze
a a a a
r
d d d d
m
a a a a
en
ya
la
men
yala
-
Buzz
er
tidak
meny
ala
Buz
zer
men
yala
-
Buz
zer
men
yala
ya
-
Buz
zer
men
yala
-
Tabel 4.1 menunjukkan kondisi
Push-Button yang terpenuhi, selama
Push-Button yang difungsikan sebagai
tombol start yang berada di pin 3.0 belum
ditekan atau masih bernilai logika 1,
maka program akan mengirim data
berupa nilai heksadesimal ke komputer
untuk
mengetahui
peserta
yang
didiskualifikasi. Dan ketika tombol start
ditekan, walaupun kondisi masukan dari
Push-Button bernilai 1, mikrokontroler
tidak akan mengirim data ke komputer
yang berarti jika tombol start ditekan,
pengiriman data peserta yang telah
didiskualifikasi
berupa
nilai
heksadesimal, tidak diberlakukan lagi
sehingga para peserta diperbolehkan
untuk memulai lomba.
Namun, terdapat tiga kesalahan dari
8 kali percobaan percobaan yang
dilakukan. Kesalahan tersebut adalah
ketika keempat peserta berada di tempat
dan tidak ada yang didiskualifikasi
kemudian tombol start ditekan, buzzer
yang difungsikan sebagai sinyal untuk
lomba dimulai tidak mengeluarkan suara
dan juga terjadi pengiriman data ‘j’, ‘k’,
‘l’, dan ‘m’ karena Push-Button yang
terhubung dengan pin 0.4 – 0.7 juga
difungsikan sebagai pencatat waktu.
Kondisi ideal atau kondisi yang
seharusnya adalah ketika keempat peserta
masih berada di tempat dan tombol start
ditekan, maka buzzer akan mengeluarkan
suara sebagai tanda perlombaan telah
dimulai
sehingga
peserta
sudah
diperbolehkan memulai lomba, dan
selama tombol start ditekan, buzzer akan
tetap berbunyi dan tidak ada pengiriman
data dari Push-Button peserta yang masih
tertekan.
Tabel 4.3.
Kondisi Gangguan Push-Button Empat
Peserta
Kondisi
Kondisi
1
2
Empat
peserta
berada di
tempat
Hasil
Ideal
Ero
r
Tombol
catat
Tidak
Tidak
waktu
tergang
tergang
peserta 1
gu
gu
Tidak
Tidak
tergang
tergang
gu
gu
Tidak
Tidak
tergang
tergang
gu
gu
-
ditekan
Tombol
Empat
catat
peserta
waktu
berada di
peserta 1
tempat
dan 2
-
ditekan
Empat
Tombol
peserta
catat
berada di
waktu
tempat
peserta 1,
-
2, dan 4
bisa
mengenai
pengaplikasiannya.
ditekan
alat
dalam
Empat
peserta
berada di
Tombol
Tidak
Tidak
reset
tergang
tergang
ditekan
gu
gu
-
tempat
Empat
peserta
berada di
tempat
Tombol
start
ditekan
Buzzer
tidak
berbun
yi
Buzzer
berbun
ya
yi
Empat
peserta
berada di
Tombol
Buzzer
Buzzer
start
berbun
berbun
ditekan
yi
yi
-
tempat
Tabel 4.3 menampilkan hasil dari
uji coba yang dilakukan dengan
mengaplikasikan berbagai kondisi yang
dapat terjadi. Maksud dari hasil tidak
terganggu dalam kondisi ideal adalah
penekanan Push-Button lainnya tidak
menganggu status diskualifikasi peserta.
Dan kondisi ideal lainnya adalah ketika
tombol start ditekan, maka buzzer akan
mengeluarkan suara yang menandakan
lomba sudah dimulai. Terjadi tiga
kesalahan dalam 20 kali percobaan.
Kesalahan tersebut terjadi ketika empat
peserta berada di tempat dan tombol start
ditekan, buzzer tidak mengeluarkan suara
dalam 3 kali percobaan.
4.2.3. Gangguan Air Terhadap PushButton
Alat ini diperuntukkan untuk
perlombaan renang yang berhubungan
dengan air karena air adalah konduktor
atau penghantar listrik yang cukup baik.
Oleh karena itu, harus dilakukan uji coba
alat terhadap gangguan air yang mungkin
4.2.3.1. Gangguan Air Terhadap PushButton Bagian Atas
Uji coba gangguan air terhadap
alat dilakukan dengan memercikkan air
ke bagian atas dari Push-Button untuk
melihat apakah air dapat masuk ke dalam
Push-Button dan merusak Push-Button
atau tidak.
Tabel 4.8.
Kondisi Gangguan Air Terhadap PushButton Bagian Atas
Kondisi 1
Deteksi
Peserta 3
terkena air
Deteksi
Peserta 3
dan
4
terkena air
Deteksi
Peserta 1,
2, 3, dan 4
terkena air
Hasil
Ideal
Eror
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Start
terkena air
Tidak
Terganggu
Reset
terkena air
Tidak
Terganggu
Catat
Waktu
Peserta 1
terkena air
Catat
Waktu
Peserta 2
terkena air
Catat
Waktu
Peserta 3
terkena air
Catat
Waktu
Peserta 4
Tidak
Tergangg
u
Tidak
Tergangg
u
-
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
terkena air
Catat
Waktu
Peserta 3
dan
4
terkena air
Catat
Waktu
Peserta 1,
2, 3, dan 4
terkena air
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Tergangg
u
-
Tabel 4.8 menampilkan hasil uji
coba yang dilakukan dengan meneteskan
air ke permukaan bagian atas dari
masing-masing
Push-Button.
Tidak
adanya kesalahan yang terjadi dalam 16
kali percobaan. Kondisi ideal tidak
terganggu dalam artian bahwa PushButton tidak mengirim masukan jika tidak
ditekan. Hasil uji coba menunjukkan
bahwa air yang bersifat konduktor dan
dapat menghantarkan arus listrik tidak
masuk ke dalam Push-Button sehingga
tidak menimbulkan kesalahan.
4.2.3.2. Gangguan Air Terhadap PushButton Bagian Bawah
Uji coba terakhir dilakukan
dengan gangguan air terhadap lempeng
besi dari Push-Button atau bagian bawah
dari Push-Button. Uji coba dilakukan
dengan meneteskan air ke masing-masing
Push-Button.
Tabel 4.9.
Kondisi Gangguan Air Terhadap PushButton Bagian Bawah
Kondisi
1
Deteksi
Peserta 1
terkena
air
Deteksi
Peserta 1
Eror
Hasil
Ideal
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
dan
2
terkena
air
Deteksi
Peserta
1, 2, 3,
dan
4
terkena
air
Start
terkena
air
Reset
terkena
air
Catat
Waktu
Peserta 4
terkena
air
Catat
Waktu
Peserta 3
dan
4
terkena
air
Catat
Waktu
Peserta
1, 2, 3,
dan
4
terkena
air
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
Tidak
Terganggu
Tidak
Terganggu
-
Terganggu
Tidak
Terganggu
ya
Terganggu
Tidak
Terganggu
ya
Tabel 4.9 menampilkan hasil dari
16 kali uji coba yang dilakukan dengan
meneteskan air ke masing-masing
lempeng besi dari setiap Push-Button.
Terjadi 6 kali kesalahan dari uji coba
yang dilakukan sehingga hasil uji coba
menunjukkan adanya gangguan pada alat.
Kesalahan yang terjadi menyebabkan alat
mengirim informasi yang salah tentang
peserta. Sebagai contoh, dalam percobaan
ke lima belas, ketika Push-Button untuk
mencatat waktu dari peserta ketiga dan
keempat diteteskan air, alat akan
langsung mengirim informasi bahwa
peserta ketiga dan keempat telah finish
meskipun
ditekan.
Push-Button tersebut tidak
4.3. Analisis Hasil Uji Coba
Dari uji coba alat dengan berbagai
kondisi yang telah dilakukan, masingmasing memiliki hasil dan persentase
kesalahan yang berbeda-beda. Berikut
akan dilakukan analisis terhadap hasil uji
coba yang telah diperoleh dan dilakukan
perhitungan persentase eror dari setiap
hasil uji coba dengan menggunakan
rumus I, yakni sebagai berikut :
ℎ
%
=
∗100%
ℎ
4.3.1. Analisis Hasil Uji Coba
Pengiriman Data Serial
Dari Tabel 4.1 dan Tabel 4.2,
diperoleh hasil yang sesuai dengan
kondisi ideal sebanyak dua puluh 3 kali
percobaan dari dua puluh 8 kali
percobaan. 5 kali percobaan mengalami
gangguan atau terjadi kesalahan dalam
pengiriman data. Kesalahan terjadi ketika
tombol start ditekan, buzzer tidak
berbunyi sehingga terjadinya pengiriman
data yang salah dan pengiriman data juga
terjadi saat tombol reset ditekan. Dengan
menggunakan rumus I, maka didapatkan
persentase kesalahan dalam uji coba ini
adalah :
5
%
=
∗100%
28
= 17,86 %
Jumlah kesalahan yang terjadi
masih sedikit jika dibandingkan dengan
jumlah percobaan yang dilakukan
sehingga bisa disimpulkan bahwa uji
coba pengiriman data serial dapat
dikatakan berhasil.
4.3.2. Analisis Hasil
Gangguan Push-Button
Uji
Coba
Berdasarkan data yang didapat
pada Tabel 4.3 sampai Tabel 4.7,
diperoleh
hasil yang sesuai dengan
kondisi ideal sebanyak 100 kali
percobaan dari 110 kali percobaan. 10
kali percobaan mendapatkan hasil yang
tidak sesuai dengan kondisi ideal.
Kesalahan terjadi saat tombol start
ditekan untuk peserta berjumlah empat.
Penekanan
Push-Button
lainnya
mempengaruhi dan mengganggu kerja
alat ketika buzzer tidak berbunyi. Dengan
menggunakan rumus I, maka didapatkan
persentase kesalahan dalam uji coba ini
adalah sebesar :
10
%
=
∗100%
110
= 9,09 %
Jumlah kesalahan yang terjadi
masih sedikit jika dibandingkan dengan
jumlah percobaan yang dilakukan
sehingga bisa disimpulkan bahwa PushButton
yang
digunakan
bersifat
independen atau tidak saling terhubung
dan tidak saling mengganggu fungsi satu
sama lain.
4.3.3. Analisis Hasil Uji Coba
Gangguan Air Pada Push-Button
Berdasarkan Tabel 4.8 dan Tabel
4.9, diperoleh hasil yang sesuai dengan
kondisi ideal sebanyak 26 kali percobaan
dari 32 kali percobaan. 6 kali percobaan
mendapatkan hasil yang tidak sesuai.
Kesalahan terjadi ketika lempeng besi
atau bagian bawah dari Push-Button
terkena air. Kerja alat menjadi terganggu
dan membuat alat mengirim data yang
salah disebabkan Push-Button yang
terkena air seperti terhubung padahal
tidak ditekan. Dengan menggunakan
rumus I, maka didapatkan persentase
kesalahan dalam uji coba ini sebesar :
6
%
=
∗100%
32
= 18,75 %
Jumlah kesalahan yang terjadi
masih sedikit jika dibandingkan dengan
jumlah percobaan yang dilakukan
sehingga bisa disimpulkan bahwa PushButton tahan terhadap air, namun model
alat harus dirancang sedemikian rupa agar
bagian bawah Push-Button tidak terkena
air untuk meminimalisasi kesalahan yang
dapat terjadi.
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari analisa dan hasil uji coba
yang telah dilakukan, dapat diambil
kesimpulan bahwa alat ini dapat
mengirimkan data ke laptop atau
notebook
secara
serial
dengan
menggunakan usb to serial converter
untuk memberikan informasi status
peserta yang didiskualifikasi dan status
peserta yang telah mencapai finish pada
aplikasi antarmuka Delphi.
Alat ini juga mempunyai PushButton sebagai masukan yang bekerja
secara independen atau tidak saling
mempengaruhi. Ketika salah satu PushButton ditekan, penekanan Push-Button
lainnya tidak akan mempengaruhi data
yang
dikirimkan
sehingga
bisa
meminimalisasi kesalahan pengiriman
data dari status peserta.
Desain model dari alat ini juga
harus dirancang sedemikian rupa agar
bagian bawah Push-Button yang terdapat
lempeng besi untuk mengalirkan arus
listrik
dapat
terlindungi
untuk
meminimalisasi kesalahan masukan dari
Push-Button karena air merupakan
konduktor atau penghantar listrik yang
baik sehingga bisa membuat Push-Button
menjadi aktif meskipun tidak ditekan.
5.2 Saran
Setelah pembuatan dan uji coba
alat ini, ada beberapa hal yang bisa
ditambahkan
untuk
mempermudah
penggunaan alat ini dan mempercanggih
sistem yang telah dibuat, yakni :
1. Penggantian catu daya atau
sumber tegangan untuk alat dari
menggunakan adaptor menjadi
menggunakan batu baterai dengan
batas tegangan antara 9V – 12 V
agar alat ini bisa digunakan tanpa
memerlukan sumber listrik.
2. Menggunakan
usb-to-serial
converter
apabila
alat
dihubungkan dengan laptop atau
notebook yang tidak memiliki port
serial DB9.
3. Penggantian Push-Button dengan
sensor sentuh atau sensor berat
untuk
mempercepat
waktu
tanggap
dari
mekanisme
diskualifikasi dan pencatatan
waktu para peserta.
4. Perancangan model alat ini harus
diperhatikan agar bagian bawah
dari Push-Button dapat terlindung
untuk meminimalisasi kesalahan
dari Push-Button yang terkena air.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Blocher Richard. 2006. Dasar
Elektronika. Andi, Yogyakarta.
[2] Budiharto
Widodo.
2005.
Perancangan Sistem dan Aplikasi
Mikrokontroler.
Elex
Media
Komputindo, Jakarta.
[3] Budiharto Widodo. 2010. Elektronika
Digital dan Mikroprosesor. Andi,
Yogyakarta.
[4] Setiawan
Rachmad.
2006.
Mikrokontroler MCS-51. Graha
Ilmu, Yogyakarta.
[5] Tim Laboratorium Mikroprosesor.
Pemrograman
Mikrokontroler
AT89S51. Andi Offset, Yogyakarta.
[6] Tim Peneliti dan Pengembangan
Wahana Komputer. 2006. Teknik
Antarmuka Mikrokontroler dengan
Komputer
Berbasis
DELPHI.
Salemba Infotek, Jakarta.
[7] Anonymous. 14 Juli 2012. Resistor.
http://mulokelektro.blogspot.com/2012/07/resisto
r_19.html.
[8] Irfan. 15 Juli 2012. Push Button.
http://soulful89.wordpress.com/2011/
09/24/push-button/.
[9] Mujiatno, Sigit. 21 Juli 2012. Prinsip
Kerja
Kapasitor.
http://bocahisonan.blogspot.com/201
1/09/prinsip-kerja-capasitor.html.
[10] Tjahyadi, Christanto. 22 Juli 2012.
Saklar Bounce dan Debounce.
http://christianto.tjahyadi.com/mikro
kontroler/bounce-dan-debounce.html.
[11] Yudhi. 22 Juli 2012. Pull-up Resistor
dan
Pull-down
Resistor.
http://lab.binus.ac.id/pk/diskusi/foru
m_posts.asp?TID=19.
[12] Darmawan Lubis, Ahdiat. 6 Agustus
2012.
Transistor.
http://ahd1at.blogspot.com/p/transist
or.html.
Download