peningkatan prestasi belajar ips melalui team games tournament (tgt)

advertisement
178
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI TEAM GAMES
TOURNAMENT (TGT) DI KELAS V SD NEGERI 1 GEMAHARJO KECAMATAN
WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK
Oleh:
Sudarti
SD Negeri 1 Gemaharjo, Watulimo, Trenggalek
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui cara meningkatkan motivasi belajar
siswa Kelas V SDN 1 Gemaharjo Tahun 2013/2014 terhadap materi pembelajaran yang
disampaikan guru. (2) Mengetahui peranan strategi belajar kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT) dalam pembelajaran IPS yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
Kelas V SDN 1 Gemaharjo Tahun 2013/2014. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V
SDN 1 Gemaharjo Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 19 siswa. Ada 5 jenis instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini, yakni pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan,
dan dokumen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif, baik
yang bersifat linear (mengalir) maupun yang bersifat sirkuler. Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilaksanakan selama dua siklus dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan strategi belajar kooperatif tipe team game tournament: (1) Dalam pembelajaran
kooperatif tipe team games tournament cukup mampu memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam
pembelajaran. (2) Penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe team gate tournament dapat
meningkatkan motivasi belajar bidang studi IPS pada siswa Kelas V Semester II SDN 1
Gemaharjo Tahun 2013/2014.
Kata kunci: team games tournament, prestasi belajar, IPS
Tanpa disadari, sering diucapkan kata “prestasi” baik itu dalam kegiatan maupun dalam
pendidikan. Dalam kenyataannya prestasi
yang diperoleh tiap-tiap orang tidak sama,
karena kemampuan seseorang itu tidak sama. Sehingga pada hakikatnya belajar dalam
aktifitas yang menghasilkan perubahan
individu yang belajar yang mana perubahan
itu pada pokoknya diperoleh kemampuan
yang baru dan berlaku dalam waktu yang
relatif lama dan perubahan itu terjadi karena
usaha perubahan tingkah laku tersebut.
Bentuk prestasi belajar itu tidak bisa
dipandang dari nilai yang diperoleh dari
hasil ulangan saja, tetapi prestasi dapat
dilihat dari segi yang lain. Simon Bloom
dalam buku "Supervisi Pendidikan " menjelaskan bahwa bentuk prestasi belajar mencakup tiga mantra, yaitu: kognifikan, afektif
dan psikomotorik (Akhmad, 1986:68).
Prestasi belajar siswa dicerminkan
oleh nilai yang diperoleh dalam evaluasi.
Cara penilaian pada umumnya dipergunakan
dengan cara kuantitatif, artinya hasil evaluasi itu diberikan dalam bentuk angka-angka.
Dalam kegiatan prestasi belajar dan
mengajar tentu saja akan dipengaruhi oleh
beberapa hal dalam pencapaian tujuannya.
Terlebih bagi seorang pelajar, banyak faktor
yang akan mempengaruhi hasil belajarnya
tersebut. Menurut Sumadi Suryabrata, hasil
prestasi belajar akan dipengaruhi oleh faktor
luar yang terdiri dari lingkungan dan
instrumental, dan faktor dalam yang terdiri
dari atas fisiologis dan psikologis. (Sumadi
Suryabrata, 1984:7).
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil
belajar yang ideal meliputi segenap ranah
psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar mengajar
(Syah, 2001:150). Namun demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh
ranah, khususnya ranah rasa murid sangat
sulit.
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
Untuk ukuran dan data hasil belajar
sistem adalah mengetahui garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu)
dihubungkan dengan jenis prestasi yang
hendak diukur.
Menurut Syah (2001:152), setelah
mengetahui indikator prestasi belajar (ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik) perlu
mengetahui bagaimana menetapkan batas
minimum keberhasilan belajar pada siswa/
menetapkan batas minimum keberhasilan
belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya
pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa
alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Di antara norma-norma pengukuran tersebut adalah: (a) Normal skala
angka dari 0 sampai 10. angka terendah
yang menyatakan kelulusan/ keberhasilan
belajar (passing grade) skala 0-10 adalah
5,5 atau 6. (b) Normal skala angka dari 0
sampai 100. angka terendah yang
menyatakan kelulusan/ keberhasilan belajar (passing grade) skala 0-100 adalah 55
atau 60 (Syah, 2001:153).
Sehingga dapat dikatakan bahwa
target minimum keberhasilan belajar siswa
jika seorang siswa dapat menyelesaikan
lebih dari separuh tugas atau dapat
menjawab lebih dari setengah instrumen
evaluasi dengan benar.
Model pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) adalah salah satu tipe
atau model pembelajaran kooperatif yang
mudah diterapkan, melibatkan aktivitas
seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams
Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan
keterlibatan belajar.
Teams Games Tournament (TGT)
pada mulanya dikembangkan oleh Davied
179
Devries dan Keith Edward, ini merupakan
metode pembelajaran pertama dari Johns
Hopkins. Dalam model ini kelas terbagi
dalam kelompok-kelompok kecil yang
beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa
yang berbeda-beda tingkat kemampuan,
jenis kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama
dalam kelompok-kelompok kecilnya.
Pembelajaran dalam Teams Games Tournament (TGT) hampir sama seperti STAD
dalam setiap hal kecuali satu, sebagai
ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu
siswa bertanding mewakili timnya dengan
anggota tim lain yang setara dalam kinerja
akademik mereka yang lalu. Nur &
Wikandari (2000) menjelaskan bahwa
Teams Games tournament TGT telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan paling cocok digunakan untuk
mengajar tujuan pembelajaranyang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep IPA.
Pendekatan yang digunakan dalam
Teams Games Tournament adalah pendekatan secara kelompok yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam
pembelajaran. Pembentukan kelompok kecil akan membuat siswa semakin aktif dalam pembelajaran. Ciri dari pendekatan
secara berkelompok dapat ditinjau dari
segi.
Tujuan pembelajaran dalam kelompok kecil yaitu; (a) member kesempatan
kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara
rasional, (b) mengembangkan sikap social
dan semangat bergotong royong (c) mendinamisasikan kegiatan kelompok dalam
belajar sehingga setiap kelompok merasa
memiliki tanggung jawab, dan (d) mengembangkan kemampuan kepemimpinan
dalam kelompok tersebut (Dimyati dan
Mundjiono, 2006).
180
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
Agar kelompok kecil dapat berperan
konstruktif dan produktif dalam pembelajaran diharapkan; (a) anggota kelompok
sadar diri menjadi anggota kelompok, (b)
siswa sebagai anggota kelompok memiliki
rasa tanggung jawab, (c) setiap anggota
kelompok membina hubungan yang baik
dan mendorong timbulnya semangat tim,
dan (d) kelompok mewujudkan suatu kerja
yang kompak (Dimyati dan Mundjiono,
2006).
Peranan guru dalam pembelajaran
kelompok yaitu; (a) pembentukan kelompok (c) perencanaan tugas kelompok, (d)
pelaksanaan, dan (d) evalusi hasil belajar
kelompok.
Ada lima komponen utama dalam
TGT, yaitu: (a) Penyajian kelas, pada
awal pembelajaran guru menyampaikan
materi dalam penyajian kelas, biasanya
dilakukan dengan pengajaran langsung
atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini,
siswa harus benar-benar memperhatikan
dan memahami materi yang diberikan guru, karena akan membantu siswa bekerja
lebih baik pada saat kerja kelompok dan
pada saat game karena skor game akan
menentukan skor kelompok; (b) Kelompok (team), biasanya terdiri atas empat
sampai dengan lima orang siswa. Fungsi
kelompok adalah untuk lebih mendalami
materi bersama teman kelompoknya dan
lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik
dan optimal pada saat game; (c) Game,
terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang
dirancang untuk menguji pengetahuan
yang didapat siswa dari penyajian kelas
dan belajar kelompok. Kebanyakan game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu
bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu
akan mendapatkan skor; (d) Turnamen,
untuk memulai turnamen masing-masing
peserta mengambil nomor undian. Siswa
yang mendapatkan nomor terbesar sebagai
reader 1, terbesar kedua sebagai chalennger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger
2, terbesar keempat sebagai chalenger 3.
Dan kalau jumlah peserta dalam kelompok
itu lima orang maka yang mendapatkan
nomor terendah sebagai reader 2. Reader
1 tugasnya membaca soal dan menjawab
soal pada kesempatan yang pertama.
Challenger 1 tugasnya menjawab soal
yang dibacakan oleh reader 1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah.
Chalenger 2 tugasnya adalah menjawab
soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi
apabila jawaban reader 1 dan chalenger 1
menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3
tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila jawaban
reader 1, challenger 1, chalenger 2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah membacakan kunci jawaban. Permainan dilanjutkan pada soal nomor dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang tadi menjadi chalenger 1
sekarang menjadi reader 1, chalenger 2
menjadi chalenger 1, challenger 3
menjadi challenger 2, reader 2 menjadi
chalenger 3 dan reader 1 menjadi reader
2. Hal itu terus dilakukan sebanyak
jumlah soal yang disediakan guru; (e)
Penghargaan kelom-pok (team recognise),
guru kemudian mengumumkan kelompok
yang menang, masing-masing team akan
mendapat sertifikat atau hadiah apabila
rata-rata skor memenuhi kriteria yang
ditentukan.
Tabel 1 Kriteria Predikat
Kriteria ( Rerata Kelompok )
≥ 45
40 – 45
30 – 40
Predikat
Super Team
Great Team
Good Team
Dalam pengimplementasian yang hal
yang harus diperhatikan, yaitu (a) Pembelajaran terpusat pada siswa; (b) Proses
pembelajaran dengan suasana berkompetisi;
(c) Pembelajaran bersifat aktif (siswa
berlomba untuk dapat menyelesaikan
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
persoalan); (d) Pembelajaran diterapkan
dengan mengelompokkan siswa menjadi
tim-tim; (e) Dalam kompetisi diterapkan
sistem point; (f) Dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal
kesetaraan dalam kinerja akademik; (g)
Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh
seluruh kelas melalui jurnal kelas yang
diterbitkan secara mingguan; (h) Dalam
pemberian bimbingan guru mengacu pada
jurnal; (i) Adanya sistem penghargaan bagi
siswa yang memperoleh point banyak.
Riset tentang pengaruh pembelajaran
kooperatif dalam pembelajaran telah banyak
dilakukan oleh pakar pembelajaran maupun
oleh para guru di sekolah. Dari tinjuan
psikologis, terdapat dasar teoritis yang kuat
untuk memprediksi bahwa metode-metode
pembelajaran kooperatif yang menggunakan
tujuan kelompok dan tanggung jawab
individual akan meningkatkan pencapaian
prestasi siswa. Dua teori utama yang
mendukung pembelajaran kooperatif adalah
teori motivasi dan teori kognitif.
Dari pespektif motivasional, struktur
tujuan kooperatif menciptakan sebuah
situasi di mana satu-satunya cara anggota
kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka
adalah jika kelompok mereka sukses. Oleh
karena itu, mereka harus membantu teman
satu timnya untuk melakukan apa pun agar
kelompok berhasil dan mendorong anggota
satu timnya untuk melakukan usaha
maksimal.
Sedangkan dari perspektif teori
kognitif, Syah (2001) mengemukakan
bahwa pembelajaran kooperatif menekankan
pada pengaruh dari kerja sama terhadap
pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi
dasar dari teori pembangunan kognitif
adalah bahwa interaksi di antara para siswa
berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai
mengingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan siswa
yang heterogen mendorong interaksi yang
kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau
kognitif. Penelitian psikologi kognitif
181
menemukan bahwa jika informasi ingin
dipertahankan di dalam memori dan
berhubungan dengan informasi yang sudah
ada di dalam memori, orang yang belajar
harus terlibat dalam semacam pengaturan
kembali kognitif, atau elaborasi dari materi.
Salah satu cara elaborasi yang paling efektif
adalah menjelaskan materinya kepada orang
lain.
Namun demikian, tidak ada satupun
model pembelajaran yang cocok untuk
semua materi, situasi dan anak. Setiap
model pembelajaran memiliki karakteristik
yang menjadi penekanan dalam proses
implementasinya dan sangat mendukung
ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara
psikologis, lingkungan belajar yang
diciptakan guru dapat direspon beragama
oleh siswa sesuai dengan modalitas mereka.
Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif
dengan teknik TGT, memiliki keunggulan
dan kelemahan dalam implementasinya
terutama dalam hal pencapaian hasil belajar
dan efek psikologis bagi siswa.
Syah (2001), melaporkan beberapa
laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut. (a) Para siswa di
dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT
memperoleh teman yang secara signifikan
lebih banyak dari kelompok rasial mereka
dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional. (b) Meningkatkan perasaan/ persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya
pada keberuntungan. (c) TGT meningkatkan
harga diri sosial pada siswa tetapi tidak
untuk rasa harga diri akademik mereka. (d)
TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap
yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal,
kompetisi yang lebih sedikit). (e) Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama,
tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak. (f) TGT meningkatkan kehadiran
siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan
182
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
gangguan emosional, lebih sedikit yang
menerima skors atau perlakuan lain.
Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT
adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan
demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat
pencapaian belajar siswa secara individual.
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran TGT Metode pembelajaran kooperatif
Team Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut
Suarjana (2000:10) dalam Istiqomah (2006),
yang merupakan kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain: (a) Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas; (b)
Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu; (c) Dengan waktu yang
sedikit dapat menguasai materi secara mendalam; (d) Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa; (e) Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain; (f) Motivasi belajar lebih
tinggi; (g) Hasil belajar lebih baik; (h) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan
toleransi. Sedangkan kelemahan TGT adalah: (1) Bagi Guru, sulitnya pengelompokan
siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan
dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup
banyak sehingga melewati waktu yang
sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi
jika guru mampu menguasai kelas secara
menyeluruh. (2) Bagi Siswa, masih adanya
siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa
dan sulit memberikan penjelasan kepada
siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan
ini, tugas guru adalah membimbing dengan
baik siswa yang mempunyai kemampuan
akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa
yang lain. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan salah satu mata pelajaran yang
diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai
SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi
yang berkaitan dengan isu sosial. Pada
jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat
materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan
Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS,
peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi
warga Negara Indonesia yang demokratis,
dan bertanggungjawab, serta warga dunia
yang cinta damai.
Di masa yang akan datang peserta
didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu
mengalami perubahan setiap saat. Oleh
karena itu mata pelajaran IPS dirancang
untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap
kondisi social masyarakat dalam memasuki
kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Mata pelajaran IPS disusun secara
sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam
proses pembelajaran menuju kedewasaan
dan keberhasilan dalam kehidupan di
masyarakat. Dengan pendekatan tersebut
diharapkan peserta didik akan memperoleh
pemahaman yang lebih luas dan mendalam
pada bidang ilmu yang berkaitan.
Mata pelajaran IPS bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut, (a) Mengenal konsep-konsep yang
berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya. (b) Memiliki kemampuan
dasar untuk berfikir kritis dan logis, rasa
ingin tahu, inkuiri. (c) Memiliki komitmen
dan kesadaran terhadap nilai-nilai social dan
kemanusiaan. (d) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat
lokal, nasional, dan global.
Ruang lingkup mata pelajaran IPS
meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (a)
Manusia, tempat, dan lingkungan; (b) Waktu, keberlanjutan dan perubahan; (c) Sistem
sosial dan budaya; (d) Perilaku Ekonomi
dan kesejahteraan
Dari permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui cara meningkatkan prestasi belajar sis-
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
wa Kelas V SD Negeri I Gemaharjo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Tahun 2013/2014 terhadap materi pembelajaran yang disampaikan guru dan mengetahui peranan strategi belajar kooperatif tipe
team Games tournament (TGT) dalam
pembelajaran IPS yang dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa Kelas V SD Negeri I
Gemaharjo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Tahun 2013/2014.
METODE PENELITIAN
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap
perencanaan, meliputi: (1) Refleksi awal.
Peneliti bersama dengan kolaborator mengidentifikasi permasalahan yang dialami siswa SD Negeri I Gemaharjo; (2) Peneliti dan
mitra guru merumuskan permasalahan secara operasional, relevan dengan rumusan masalah penelitian; (3) Peneliti dan mitra guru
merumuskan hipotesis tindakan. Karena
penelitian tindakan lebih menitik beratkan
pada pendekatan naturalistik, maka hipotesis
tindakan yang dirumuskan bersifat tentatif
yang mungkin mengalami perubahan sesuai
dengan keadaan lapangan; (4) Menetapkan
dan merumuskan rancangan tindakan yang
di dalamnya meliputi: (a) Menetapkan indikator-indikator tentang pembelajaran dengan menggunakan strategi Team Games
Tournament; (b) Menyusun rancangan metode penyampaian dan pengelolaan pembelajaran IPS (rancangan program, bahan,
metode belajar mengajar, dan evaluasi); (c)
Menyusun metode dan alat perekam data
yang berupa angket, catatan lapangan,
pedoman wawancara, pedoman analisis
dokumen, dan catatan harian; (d) Menyusun
rencana pengolahan data, baik yang bersifat
kualitatif maupun kuantitatif.
Kegiatan yang dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Peneliti menyusun perencanaan pembelajaran dengan
menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament; dan (2)
Mitra guru selaku kolaborator penelitian
melakukan kegiatan pengamatan sesuai
183
dengan format yang telah dirancang oleh
peneliti.
Peneliti dan kolaborator penelitian
mendiskusikan hasil pengamatan yang telah
dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan,
dan penyimpulan data dan informasi yang
berhasil dikumpulkan. Hasil yang diperoleh
berupa temuan tingkat efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe team Games tournament. Pembelajaran kooperatif tipe team
Games tournament yang dirancang dan
daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dapat dipakai
sebagai dasar untuk melakukan perencanaan
ulang.
Penelitian ini dilaksanakan di SD
Negeri I Gemaharjo pada siswa Kelas V
Semester II bidang studi PKn materi
Lembaga Negara Tahun Pelajaran pelajaran
2013/2014 dengan jumlah siswa sebanyak
14 siswa. Ada 4 jenis instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini, yakni
pedoman observasi, pedoman wawancara,
catatan lapangan, dan dokumen.
Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teknik analisis data kualitatif,
baik yang bersifat linear (mengalir) maupun
yang bersifat sirkuler. Secara garis besar
kegiatan analisis data dilakukan dengan
langkah-langkah berikut: (1) Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan dilakukan dengan cara menganalisis,
mensintesis, memaknai, menerangkan, dan
menyimpulkan. Kegiatan penelaahan pada
prinsipnya dilaksanakan sejak awal data
dikumpulkan; (2) Mereduksi data yang didalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian
dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh
berupa pola-pola dan kecenderungan-kecenderungan yang berlaku dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan strategi
Kooperatif, menyimpulkan dan memverifikasi. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya
diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian terhadap temuan penelitian.
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
Meja pembaca Soal
Meja Pembawa Kunci
Jawaban
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses Pembelajaran Siklus I
Refleksi Awal
Sebelum melakukan kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran di kelas dengan menggunakan format catatan lapangan. Dari hasil
kajian ini ditemukan adanya penurunan
prestasi belajar siswa pada pembelajaran
IPS. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa
merosotnya prestasi belajar siswa disebabkan oleh penerapan metode pembelajaran
yang tidak tepat serta terkesan monoton.
Untuk diperlukan perombakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pembelajaran di Kelas V. Salah satu metode
pembelajaran yang akan digunakan adalah
pembelajaran kooperatif tipe team Games
tournament. Selanjutnya, peneliti akan menyusun rencana tindakan untuk pembelajaran IPS di Kelas V pada Siklus I.
Perencanaan
Persiapan yang perlu dilakukan oleh
peneliti sebelum pelaksanaan tindakan ini
adalah sebagai berikut. (a) Peneliti (kepala
sekolah) bersama mitra guru (guru kelas)
menyusun perangkat pembelajaran yang
terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); (b) Peneliti (kepala sekolah)
menyusun petunjuk kegiatan siswa; (c)
Peneliti (kepala sekolah) menyiapkan
instrumen penelitian, yaitu lembar observasi
guru dan siswa. (d) Peneliti (kepala sekolah)
menyiapkan alat tes. (e) Peneliti (kepala
sekolah) membuat perangkat sistem
penilaian. (f) Menyusun jadwal penelitian.
Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus
I, mengacu pada rencana pembelajaran yang
telah dibuat oleh peneliti secara kolabortif
dengan guru Kelas V. Berikut ini peneliti
diskripsikan proses pembelajaran di Kelas V
dengan menerapkan metode kooperatif: (a)
Kegiatan Awal/ Pendahuluan: Apersepsi,
menanyakan tokoh-tokoh proklamator dan
menyanyikan lagu Kemerdekaan Indonesia;
Motivasi: diajak untuk membaca naskah
proklamasi. (b) Kegiatan Inti, siswa membaca buku mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sekitar Proklamasi, siswa
mengkomunikasikan kejadian-kejadian tersebut secara klasikal, siswa mendiskusikan
materi dan permasalahan dalam LKS, guru
meminta kelompok untuk mempersiapkan
perwakilan kelompoknya dalam kegiatan
tournament. Masing-masing perwakilan terdiri dari pembaca 1, penantang 1, penantang
2, penantang 3 dan pembawa kunci jawaban.
Guru meminta siswa untuk menempati meja
tournament.
Meja Panantang
184
Gambar 1 Meja Tournament
Guru meminta siswa untuk memulai
tournament; Siswa bersama guru membuat
kesimpulan. (c) Kegiatan Akhir / Penutup,
siswa bersama guru melakukan refleksi
terhadap jalannya pembelajaran; Guru
mengumumkan hasil pertandingan; Guru
memberikan reward.
Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti
terhadap aktivitas pembelajaran di Kelas V
baik untuk aktivitas siswa atau guru. Untuk
aktivitas guru, tampak guru sudah mampu
menerapkan metode pembelajaran dengan
baik. Akan tetapi guru dalam memotivasi
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan
diskusi masih kurang. Guru belum mampu
memberikan kesempatan kepada siswa yang
berkemampuan rendah untuk terlibat secara
aktif dalam pembelajaran. Untuk aktivitas
guru dalam pembelajaran pada siklus I
memperoleh prosentase sebesar 67,50% dan
termasuk dalam kriteria aktivitas yang baik.
Sedangkan untuk aktivitas siswa
dalam pembelajaran IPS dengan menerima
tindakan perbaikan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru mendapatkan apresiasi
sebesar 65,00% dan termasuk dalam criteria
aktivitas yang baik. Aktivitas siswa yang
masih perlu ditingkatkan adalah keberanian
siswa dalam kegiatan tournament
Dari aktivitas pembelajaran yang
semakin berkembang di Kelas V dalam
pembelajaran IPS menunjukkan perkembangan prestasi yang baik. Hal ini dapat dilihat
dari perolehan prestasi belajar siswa pada
tabel berikut ini.
Tabel 2 Nilai Siswa Pada Siklus I
No
Nama Siswa
Nilai
1
2
Dwiana Putri
Eri Puspitasari
Fauzan Harmin
K.
Fauzul Zahru R.
Anisa Tiarawati
Erika Silvia M.
Fidalin Aljazira
Sal Sabila S.P
Sinta Faulina
Windu Panggia
D.
Julia Ekna
Oresa S.
Amelia
Kurniasari
M. Lazuardi
Akbar
Ribut Indra W
Jumlah
Rata-rata
70
80
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
% Ketuntasan
Tidak
Tuntas
Tuntas
T
T
70
T
80
90
60
80
90
80
T
T
TT
T
T
T
60
90
TT
T
60
TT
70
T
80
1060
75.71
T
11
78.57
3
21.43
Refleksi
Dari hasil pengamatan dapat direfleksikan bahwa pembelajaran IPS di Kelas
185
V sudah mengalami peningkatan menuju ke
arah yang baik. Hal ini dapat dilihat dari
aktivitas pembelajaran dan perolehan prestasi belajar siswa pada siklus I yang meningkat. Akan tetapi dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe team
Games tournament di Kelas V masih ditemui kendala sehingga prestasi belajar siswa
tidak maksimal. Hal ini terlihat dari ketuntasan belajar siswa yang hanya mencapai
78,57% dari 85% yang ditentukan. Untuk itu
diperlukan tindakan perbaikan pembelajaran
pada siklus selanjutnya.
Proses Pembelajaran Siklus II
Perencanaan
Perencanaan tindakan pada siklus II
secara garis besar sama dengan siklus I,
hanya saja pada siklus II ditambah dengan
rencana perbaikan untuk mengatasi kendala
pemb-elajaran yang muncul pada siklus I.
Penambahan rencana perbaikan tindakan
adalah guru akan lebih meningkatkan peran
sebagai motivator dalam pembelajaran.
Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II
akan peneliti diskripsikan dalam uraian
berikut ini: (a) Kegiatan Awal/ Pendahuluan
apersepsi: Menanyakan tokoh-tokoh proklamator dan menyanyikan lagu Kemerdekaan
Indonesia, motivasi: Diajak untuk membaca
naskah proklamasi. (b) Kegiatan Inti: siswa
membaca buku mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sekitar Proklamasi,
siswa mengkomunikasikan kejadian-kejadian tersebut secara klasikal, siswa mendiskusikan materi dan permasalahan dalam
LKS, guru meminta kelompok untuk mempersiapkan perwakilan kelompoknya dalam
kegiatan tournament. Masing-masing perwakilan terdiri dari pembaca 1, penantang 1,
penantang 2, penantang 3 dan pembawa
kunci jawaban. Guru meminta siswa untuk
menempati meja tournament. Guru meminta
siswa untuk memulai tournament, siswa
bersama guru membuat kesimpulan. (c) Kegiatan Akhir/ Penutup: siswa bersama guru
melakukan refleksi terhadap jalannya pem-
186
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
belajaran, guru mengumumkan hasil pertandingan, guru memberikan reward.
Pengamatan
Pengamatan pada siklus II dilakukan
oleh peneliti dengan menggunakan format
yang sama pada siklus I. Pada siklus II ini,
guru telah mampu menjadi motivator yang
baik dalam pembelajaran. Hal ini dapat
dilihat dari siswa berkemampuan rendah
sudah berani mengemukakan gagasan dan
jawaban dalam kegiatan tournament, sehingga pembelajaran di kelas menjadi aktif.
Untuk aktivitas guru dalam pembelajaran
pada siklus II memperoleh prosentase
sebesar 70,00% dan termasuk dalam criteria
aktivitas yang baik.
Sedangkan untuk aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS dalam menerima tindakan perbaikan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru mendapatkan apresiasi
sebesar 70,00% dan termasuk dalam criteria
aktivitas yang baik. Dalam kegiatan diskusi
semua siswa mampu terlibat secara aktif
dalam kegiatan, sehingga tidak lagi
didominasi oleh siswa tertentu saja.
Dari aktivitas pembelajaran yang
semakin berkembang di Kelas V dalam
pembelajaran IPS siklus II menunjukkan
perkembangan prestasi yang baik. Hal ini
dapat dilihat dari perolehan prestasi belajar
siswa pada tabel berikut ini:
Tabel 3 Nilai Siswa Pada Siklus II
No
Nama Siswa
1
Erfandu
Kurniawan
Ibnu Nurul Imani
Ricky Ardana
Putra
Wisnu Prawadhika
Ekayani
Angga Eka Putra
Cahyo Widodo
Dian Dwi Wahyu
Agustin
Dwi Jatmiko
Fadilatul Astute
Dewi
Joko Prasetyo
Kamilina Amalia
Lely Arianti
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Nilai
80
70
70
70
70
70
90
100
100
100
100
90
%Ketuntasan
Tidak
Tuntas
Tuntas
T
T
T
T
T
T
T
T
T
T
T
T
No
13
14
15
16
17
18
19
Nama Siswa
Mahruf Angga
Pratama
Sindi Nurul
Hidayah
Sefia Retno Ayu
Wilujeng
Yukie Anggia
Yuke Indria
Romadona
Yusuf Baedowi
Zahrul Mu’alimin
Jumlah
Rata-rata
Nilai
90
100
70
70
70
70
90
1570
82.63
%Ketuntasan
Tidak
Tuntas
Tuntas
T
T
T
T
T
T
T
19
100.00
0
0.00
Refleksi
Dari hasil pengamatan pada siklus II
dapat direfleksikan bahwa metode pembelajaran dapat diterapkan secara optimal di
Kelas V. Hal ini dapat dilihat dari teratasinya kendala yang muncul pada siklus I sehingga prosentase ketuntasan belajar siswa
sebesar 100,00% pada akhir siklus II dapat
tercapai. Untuk itu tidak diperlukan lagi
perbaikan tindakan pada siklus selanjutnya.
Dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil memudahkan guru
untuk menguasai kelas dan menjadi fasilitator dan motivator secara merata. Dalam
pembelajaran kooperatif ini kelas dibagi
dalam 4 kelompok. Setiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk
menyelesaikan permasalahan yang diberikan
oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif
setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam kelompoknya,
dalam artian adanya kebergantungan yang
positif dalam diri siswa. Selain itu dalam
pembelajaran kelompok, kepala sekolah senantiasa memotivasi guru kelas untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan
dengan memberikan reward tersendiri kepada siswa yang aktif. Dengan cara ini cukup
mampu memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Dengan diterapkannya metode belajar kooperatif aktivitas belajar di kelas menjadi semakin aktif. Hal ini dapat dilihat dari
perolehan prosentase aktivitas guru pada
siklus I sebesar 50,00% meningkat menjadi
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
70,00%. Sehingga rata-rata aktivitas guru
adalah 60,00% dan termasuk dalam criteria
yang baik. Sedangkan untuk aktivitas siswa
pada siklus I mendapatkan prosentase
sebesar 50,00% meningkat menjadi 70,00%
atau rata-rata aktivitas siswa sebesar 60,00%
dan termasuk dalam criteria yang baik. Hal
ini membuktikan bahwa metode kooperatif
mampu diterapkan dan diterima dengan baik
di Kelas V dalam pembelajaran IPS. Pada
Gambar 2 berikut ini peneliti menampilkan
grafik perkembangan aktivitas belajar di
Kelas V.
AKTIVITAS GURU;AKTIVITAS SISWA;
SIKLUS II; 70,00 SIKLUS II; 70,00
AKTIVITAS GURU;
AKTIVITAS SISWA;
SIKLUS I; 50,00
SIKLUS I; 50,00
AKTIVITAS GURU
AKTIVITAS SISWA
Gambar 2 Perkembangan Aktivitas Belajar
NILAI RATARATA; SEB.
SIKLUS; 61,79
187
%KETUNTASAN
NILAI RATA; SIKLU SII;
SII;
%KETUNTASANRATA; SIKLU100,00
82,63
NILAI RATA- ; SIKLUS I;
RATA; SIKLUS I; 73,68
67,37
%KETUNTASAN
; SEB. SIKLUS;
36,84
Gambar 3 Peningkatan Hasil Belajar
NILAI RATA-RATA
%KETUNTASAN
188
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 4, NO. 2, AGUSTUS 2015
Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan
bahwa hasil penelitian (Classroom Action
Research) dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar bidang studi IPS sebelum siklus
diperoleh nilai rata-rata: 61,79 dengan
prosentase ketuntasan belajar siswa 36,84%
, siklus I diperoleh nilai rata-rata: 67,37
dengan prosentase ketuntasan belajar siswa
sebesar 73,68% dan pada siklus II
mengalami peningkatan menjadi: 82,63
dengan prosentase ketuntasan belajar siswa
sebesar 100,00%. Hal ini menunjukkan
bahwa penggunaan metode pembelajaran
kooperatif tipe Team Games Tournament
dapat meningkatkan prestasi belajar bidang
Sementara Gambar 3 menunjukkan
bahwa hasil angket yang diberikan kepada
siswa dapat diketahui seberapa jauh respon
siswa terhadap pembelajaran. Setelah
dilakukan verifikasi terhadap hasil angket,
diketahui bahwa siswa merespon sangat positif penerapan pembelajaran IPS dengan
menggunakan metode kooperatif tipe Team
Games Tournament. Untuk respon pembelajaran mendapatkan apresiasi sebesar 1,98.
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk menguasai kelas dan menjadi fasilitator
dan motivator secara merata. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament ini kelas dibagi dalam 4 kelompok.
Setiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam
pembelajaran kooperatif tipe team Games
tournament setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam
kelompoknya, dalam artian adanya kebergantungan yang positif dalam diri siswa.
Selain itu dalam pembelajaran kelompok,
guru kelas untuk menciptakan pembelajaran
yang menyenangkan dengan memberikan
reward tersendiri kepada siswa yang aktif.
Dengan cara ini cukup mampu memotivasi
studi IPS pada siswa Kelas V Semester II
SD Negeri 1 Gemaharjo Kecamatan
Watulimo
Peneliti juga menampilkan Gambar 3
tentang perkembangan prestasi belajar
siswa. Dari hasil angket yang diberikan kepada siswa dapat diketahui seberapa jauh
respon siswa terhadap pembelajaran. Setelah
dilakukan verifikasi terhadap hasil angket,
diketahui bahwa siswa merespon sangat positif penerapan pembelajaran IPS dengan
menggunakan metode kooperatif tipe Team
Games Tournament. Untuk respon pembelajaran mendapatkan apresiasi sebesar 1,98.
siswa
untuk
terlibat
aktif
dalam
pembelajaran
Untuk mengetahui motivasi belajar
siswa, peneliti melakukan serangkaian tes
evaluasi. Dari hasil tes evaluasi diketahui
bahwa prestasi belajar bidang studi IPS
sebelum siklus diperoleh nilai rata-rata
61,79 dengan prosentase ketuntasan belajar
siswa 36,84% , siklus I diperoleh nilai rata rata: 67,37 dengan prosentase ketuntasan
belajar siswa sebesar 73,68% dan pada
siklus II mengalami peningkatan menjadi:
82,63 dengan prosentase ketuntasan belajar
siswa sebesar 100,00%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament dapat meningkatkan motivasi belajar
bidang studi IPS pada siswa Kelas V
Semester II SD Negeri 2 Sambitan Tahun
2013/2014.
Saran
Perlu dicoba melakukan kombinasi
pola pembelajaran yang menggunakan strategi belajar kooperatif tipe team Games
tournament dengan model belajar yang lain.
Pembelajaran yang menggunakan strategi
belajar kooperatif tipe team Games tournament perlu dikembangkan untuk mata
pelajaran yang lain, agar dapat meningkatkan pemahaman siswa. Penggunaan model
Pembelajaran yang menggunakan Strategi
Sudarti, Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Team Gate Tournament...
Belajar Kooperatif tipe team Games tournament perlu terus dilakukan karena pembelajaran ini lebih menyenangkan bagi sisDAFTAR RUJUKAN
Akhmadi, Abu. 1986. Teknik Belajar
dengan Sistem SKS. Surabaya: PT.
Bina Ilmu.
Bambang Doroeso. 1988. Dasar Konsep
IPS, Sejarah Nasional Indonesia dan
Umum. Semarang: Aneka Ilmu.
Dimyati, M. & Mudjiono. 2006. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Faisal, Sanipiah. 2002. Metodologi Penelitian Pendidikan
Gofur, Abdul. 1982. Dwain Instruksional.
Solo: Tiga Serangkai.
Hadi,
Sutrisno. 1987/1989. Metodologi
Research II dan III. Yogyakarta.
189
wa, mendorong dan membiasakan siswa untuk belajar mandiri, tidak bergantung kepada
guru.
Joni,
Raka. 1973. Pengukuran dan
Penilaian Pendidikan, Jakarta: Balai
Pustaka.
Poerwodarminto, WJS. 1978. Kamus
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka. Yayasan Penerbit Fak
Psikologi Universitas Gajah Mada.
Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
Surakhmad, Winarno. 1978. Dasar dan
Teknik Interaksi Mengajar dan Belajar. Bandung: CV. Tarsito.
Syah, Muhibbin, M.Ed. 2001. Psikologi
Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Download