6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Buah Pisang Pisang (musa

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Buah Pisang
Pisang (musa parasidiaca) adalah tanaman buah berupa herba yang
berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Pisang sebagai
bahan konsumsi adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber
vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang,
pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat
cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai
sebagai pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia. Batang
pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang
telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia
(domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang
tersedia. Secara radisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai
obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan
sebagai obat sakit kencing dan penawar racun (Suyanti, 2008).
Kandungan gizi pisang terdiri dari air, karbohidrat protein, lemak dan
vitamin A, B1, B2 dan C. Komposisi kandungan gizi pisang dapat dilihat pada
tabel 2.1.
6
7
Tabel 2.1
Komposisi Kandungan Gizi Pisang (Per 100g)
Kandungan
Kalori (kkal)
Karbohidrat (g)
Gula (g)
Serat (g)
Lemak (g)
Protein (g)
Vit. B5 (mg)
Vit. B6 (mg)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Vit. C (mg)
Magnesium (mg)
Potasium (mg)
Sumber: Suyanti, 2008
%
90
22,84
12,23
2,26
0,33
1,09
0,334
0,367
8,7
5
0,26
27
358
2.2 Fungsi Permintaan
Jumlah permintaan dari suatu barang adalah jumlah barang yang rela dan
mampu dibayar oleh pembeli. Banyak hal yang menentukan jumlah permintaan
barang, salah satu penentunya adalah harga dari barang itu. Jumlah permintaan
jatuh seiring naiknya harga dan meningkat seiring turunnya harga, dapat kita
katakan bahwa jumlah permintaan berhubungan secara negative terhadap harga.
Hubungan antara harga dan jumlah permintaan ini berlaku untuk kebanyakan jenis
barang dalam perekonomian, dan faktanya hal ini begitu umum sehingga para
ekonom menyebutnya sebagai hukum permintaan: jika semua hal dibiarkan sama,
ketika harga suatu barang meningkat, maka jumlah permintaannya akan menurun,
dan ketika harganya turun, maka jumlah permintaannya akan naik (Mankiw,
2011).
Kurva permintaan menunjukkan banyaknya barang yang dibeli pada suatu
harga, dengan asumsi bahwa semua faktor lain diluar harga yang mempengaruhi
8
keinginan membeli tidak berubah. Kurva permintaan dapat dilihat pada Gambar
2.1. Jika sesuatu terjadi dan mengubah jumlah permintaan pada suatu harga, maka
kurva permintaan akan bergeser. Peningkatan permintaan merupakan perubahan
apapun yang meningkatkan jumlah yang ingin dibeli oleh pembeli pada harga
berapapun menggeser kurva permintaan kekanan. Sedangkan penurunan
permintaan merupakan perubahan apapun yang menurunkan jumlah yang ingin
dibeli oleh pembeli pada harga berapapun menggeser kurva permintaan kekiri.
Gambar 2.2 menunjukkan bagaimana pergeseran kurva permintaan itu terjadi.
P
P1
P2
Q
Q1
Q2
Gambar 2.1 Kurva Permintaan (Mankiw, 2011)
P
Peningkatan
permintaan
D2
Penurunan
permintaan
D1
D3
Q
Gambar 2.2 Pergeseran kurva permintaan (Mankiw, 2011)
9
Mankiw (2011) menyebutkan variabel yang dapat menggeser kurva
permintaan. Berikut adalah beberapa yang penting, yaitu:
1. Pendapatan
Pendapatan yang lebih rendah berarti memiliki sedikit uang untuk dibelanjakan
secara keseluruhan, sehingga akan mengurangi belanja beberapa barang. Jika
permintaan terhadap suatu barang berkurang ketika pendapatn berkurang, maka
barang itu disebut dengan barang normal. Tidak semua barang adalah barang
normal. Jika permintaan suatu barang bertambah ketika pendapatan berkurang,
barang itu disebut barang inferior.
2. Harga barang-barang terkait
Ketika penurunan pada harga suatu barang mengurangi permintaan barang lain,
kedua barang tersebut disebut barang substitusi. Barang substitusi seringkali
berupa pasangan-pasangan barang yang digunakan sebagai pengganti satu
sama lain. Sedangkan ketika penurunan yang terjadi pada harga suatu barang
meningkatkan permintaan barang lain, keduanya disebut barang komplementer.
Barang komplementer seringkali berupa pasangan-pasangan barang yang
saling melengkapi dan digunakan secara bersamaan.
3. Selera
Hal yang paling menentukan permintaan tentunya adalah selera. Para ekonom
biasanya tidak mencoba menjelaskan selera masyarakat karena selera
didasarkan atas kekuatan-kekuatan historis sekaligus psikologis yang berada
diluar ranah ilmu ekonomi.
10
4. Harapan
Harapan mengenai masa depan tentunya mempengaruhi tingkat permintaan
terhadap suatu barang atau jasa pada masa kini.
5. Jumlah pembeli
Karena permintaan pasar diperoleh dari permintaan masing-masing individu,
maka permintaan pasar bergantung pada semua faktor yang menentukan
permintaan individu, termasuk penghasilan, selera ,dan harapan individu, serta
harga dari barang-barang yang terkait. Sebagai tambahan, permintaan pasar
juga bergantung pada jumlah pembeli.
2.3 Konsep Elastisitas
Elastisitas adalah ukuran kuantitatif yang menunjukkan seberapa besar
pengaruh perubahan harga atau faktor-faktor lainnya terhadap perubahan
permintaan dan penawaran dari suatu komoditas.
Elastisitas mengukur dan menjelaskan hingga seberapa jauh reaksi
perubahan kuantitas terhadap perubahan
harga
dan faktor-faktor
yang
mempengaruhi permintaan lainnya (Lipsey RG et al. 1995). Ada tiga macam
elastisitas yang berhubungan dengan permintaan yaitu elastisitas harga, elastisitas
silang dan elastisitas pendapatan (Boediono 2000).
Apabila terdapat fungsi permintaan sebagai berikut (Baye and Prince,
2016) :
=
11
Dimana :
= Permintaan
C = Konstanta
= Harga barang itu sendiri
= Harga barang substitusi
= Pendapatan
= Variabel lain
Dengan mentransformasikan model tersebut dalam bentuk logaritma natural,
sehingga menjadi lebih sederhana sebagai berikut :
=
+
+
+
+
Nilai elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan elastisitas silang bisa didapatkan
melalui penurunan rumus sebagai berikut :
,
=
=
=
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai elastisitas harga adalah sebesar
elastisitas pendapatan adalah
, dan nilai elastisitas silang adalah
, nilai
.
2.3.1 Elastisitas Permintaan
Menurut Lipsey RG et al. (1995) elastisitas permintaan juga disebut
elastisitas permintaan terhadap harga merupakan ukuran besarnya respon
(tanggapan) jumlah yang diminta dari suatu komoditas tertentu, terhadap
perubahan harga. Nicholson W (2002) menyatakan bahwa untuk mengukur
responsi perubahan harga terhadap jumlah permintaan bisa digunakan konsep
elastisitas permintaan harga.
12
2.3.1.1 Elastisitas harga
Elastisitas harga atau elastisitas permintaan adalah persentse perubahan
jumlah yang diminta yang disebabkan oleh perubahan harga barang tersebut
sebesar satu persen. Oleh karena kurva permintaan berlereng menurun, maka
kenaikan harga akan mengakibatkan penurunan jumlah yang diminta, dan
sebaliknya, karena persentase perubahan harga dan kuantitas memiliki tanda yang
berlawanan, elastisitas permintaan merupakan angka yang negatif. Dalam
prakteknya dapat diabaikan tanda negatif tersebut dan menyatakan ukuran itu
dengan angka positif (nilai absolut). Besarnya elastisitas dapat bervariasi antara
nol hingga tak terhingga. Elastisitas sama dengan nol jika jumlah yang diminta
tidak tanggap sama sekali terhadap perubahan harga. Sepanjang persentase
perubahan kuantitas lebih kecil dari pada persentase perubahan harga, besarnya
elastisitas permintaannya akan lebih kecil daripada satu. Jika kedua persentase
perubahan kuantitas melampai persentase perubahan harga, nilai elastisitas
permintaannya lebih besar daripada satu. Apabila persentase perubahan kuantitas
lebih kecil daripada persentase perubahan harga (elastisitas kurang dari satu),
permintaannya disebut inelastis. Apabila persentase perubahan kuantitas lebih
besar daripada persentase perubahan harganya (elastisitas lebih besar dari satu),
permintaannya disebut bersifat elastis (Lipsey RG et al. 1995).
2.3.1.1 Elastisitas pendapatan
Elastisitas pendapatan adalah derajat reaksi permintaan terhadap
perubahan pendapatan. Untuk kebanyakan jenis barang, kenaikan pendapatan
berakibat kenaikan permintaan dan elastisitas terhadap permintaan akan positif.
Barang-barang
demikian
disebut
barang
normal.
Barang-barang
yang
13
konsumsinya menurun sebagai tanggapan terhadap kenaikan pendapatan memiliki
elastisitas pendapatan yang negatif dan disebut barang inferior. Elastisitas barang
normal terhadap pendapatan bisa lebih besar daripada satu (elastis) atau lebih
kecil daripada satu (inelastis), tergantung pada apakah persentase perubahan
jumlah yang diminta lebih besar atau lebih kecil daripada persentase perubahan
pendapatan yang menyebabkannya (Lipsey RG et al. 1995).
2.3.1.1 Elastisitas silang
Elastisitas silang adalah besarnya reaksi permintaan terhadap perubahan
harga-harga dari komoditas lain. Elastisitas silang dapat bervariasi mulai dari
minus tak terhingga sampai positif tak terhingga. Komoditas-komoditas yang
tergolong komplementer mempunyai elastisitas silang yang negatif, sedangkan
komoditas-komoditas yang tergolong substitusi mempunyai elastisitas silang yang
positif (Lipsey RG et al. 1995).
2.3.2 Faktor-faktor yang memengaruhi Elastisitas Permintaan
Jika kita mengambil keputusan dari uraian di atas, ternyata barang/ jasa
tertentu tidak memiliki elastisitas yang sama (Baye and Prince, 2016). Faktor
yang memengaruhinya adalah sebagai berikut:
1. Ketersediaan barang subtitusi atas suatu barang dan juga semakin tinggi
tingkat kemampuannya mensubtitusi maka permintaan barang tersebut
semakin elastis.
2. Intensitas kebutuhan (desakan kebutuhan)
Kebutuhan pokok bersifat inelastis, artinya semakin penting kebutuhan pokok
itu semakin inelastis permintaannya. Artinya, meskipun harga naik,
masyarakat tetap membutuhkan dan tetap membelinya. Sebaliknya, barang
14
mewah lebih bersifat elastis karena tidak mesti diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan hidup dan pembelinya dapat ditunda dan jumlah pembeli banyak
seandainya harga turun.
3. Pendapatan konsumen
Jika pendapatan konsumen relatif besar dibandingkan dengan harga barang,
permintaan akan inelastis. Sebaliknya, konsumen yang berpendapatan kecil
dengan terjadinya perubahan harga sedikit saja akan memengaruhi
permintannya terhadap barang sehingga permintaan bersifat elastis.
4. Tradisi
Barang yang sudah menjadi kebiasaan (tradisi) untuk dipergunakan, barang
tersebut harganya akan naik. Orang akan tetap membelinya sehingga untuk
barang ini permintaannya cenderung inelastis.
2.4. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah kecenderungan konsumen dalam melakukan
konsumsi untuk memaksimumkan kepuasannya. Perilaku konsumen akan
mempengaruhi konsumsi konsumen, permintaan barang dan jasa, dan pendapatan
serta laba perusahaan dalam yang memproduksi barang dan jasa tersebut (Noor,
2007). Kepuasan dan perilaku konsumen dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Nilai guna (utility) barang dan jasayang dikonsumsi. Kemampuan barang dan
jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
b. Kemampuan konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa. Daya Beli dari
income konsumen dan ketersediaan abarang di pasar.
15
c. Kecenderungan konsumen dalam menentukan pilihan konsumsi. Menyangkut
pengalaman masa lalu, budaya, selera serta nilai-nilai yang dianut seperti:
agama, adat istiadat, kebiasan, dan sebagainya.
2.4.1 Nilai Guna (Utility)
Nilai guna barang dan jasa adalah kemampuan barang dan jasa tersebut
dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Barang dan jasa nilai
gunanya berkurang atau meningkat bagi konsumen tergantung dari kondisi yang
dihadapi konsumen (Noor. 2007). Terdapat dua pendekatan dalam teori perilaku
konsumen, yaitu :
a. Pendekatan utiliti (nilai guna) kardinal atau Marginal Utility, bertitik tolak pada
anggapan bahwa kepuasan (utiliti) setiap konsumen dapat diukur dengan uang
atau dengan satuan lain (utiliti yang bersifat kardinal) seperti kita mengukur
volume air, panjang jalan, atau berat sekarung beras.
b. Pendekatan utiliti ordinal atau kurve kepuasan sama (Indifference Curve),
bertitik tolak pada anggapan bahwa tingkat kepuasan konsumen dapat
dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tanpa mengatakan berapa lebih tinggi
atau lebih rendah (utiliti yang bersifat ordinal).
2.4.2 Kurva Kepuasan Sama (Indifirens Curve)
Kurva indiferens merupakan kurva yang mengidentifikasi semua
kombinasi barang dan jasa yang memberikan utilitas yang sama (Pappas and
Hirschey, 1995). Kurva indiferens dapat dilihat pada Gambar 2.3. Menurut Baye
and Prince (2016), asumsi untuk teori indifference-curves adalah :
1. Rasionalitas . Konsumen diasumsikan rasional : ia berusaha memaksimumkan
utilitinya, berdasarkan pendapatannya dan harga pasar tertentu. Ia juga
16
diasumsikan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang semua informasi
yang relevan.
2. Utiliti adalah ordinal. Konsumen dianggap dapat menyusun secara urut (rank)
pilihan-pilihannya terhadap berbagai kelompok barang (basket’s of goods)
berdasarkan tingkat kepuasan setiap kelompok.
3). Tingkat substitusi marginal yang menurun (diminishing marginal rate of
substitution). Pilihan-pilihan (preferences) disusun dalam bentuk kurve
indiferen, yang diasumsikan cembung (convex) pada titik origin. Hal ini
menunjukkan bahwa slope kurve indiferen adalah menaik. Slope kurve
indiferen ini disebut tingkat substitusi marginal dari suatu komoditi. Teori
kurve indiferen didasarkan pada aksioma ini.
4). Total utiliti tergantung pada kuantitas komoditi yang dikonsumsi. Secara
matematis ditulis: U =f(q1 ,q2 ,q3, ……, qn).
5). Konsintensi dan transitivitas dalam pilihan. Konsumen diasumsikan dalam
pilihannya, yaitu, jika pada suatu waktu ia memilih kelompok barang A dari
pada kelompok B, ia tidak akan memilih kelompok barang B dari pada
kelompok A pada saat yang lain. Asumsi konsistensi dapat ditulis dengan
simbol: Jika A>B, maka B > A. Sifat transitivitas : jika A lebih disukai dari
pada B, dan B lebih disukai dari pada C, maka A lebih disuaki dari pada C.
Asumsi ini dapat ditulis dengan simbol: Jika A>B, dan B>C, maka A>C.
17
Gambar 2.3 Kurva indiferens
2.4.3 Tingkat Substitusi Marginal (Marjinal Substitution Rate)
Tingkat substitusi marginal merupakan besarnya pengurangan jumlah
konsumsi barang yang satu untuk menaikkan konsumsi satu satuan barang
lainnya, dengan tetap mempertahankan tingkat kepuasannya (Pappas and
Hirschey, 1995). Dapat dilihat pada Gambar 2.3, untuk perubahan kombinasi A ke
B memiliki tingkat substitusi marginal Y1-Y2, artinya perubahan tersebut
memerlukan pengorbanan Y1-Y2 unit Y untuk menaikkan konsumsi X2-X1 unit X.
Sebagai akibat dari tingkat substitusi marginal yang semakin kecil tersebut
kurve kepuasan sama berbentuk cembung ke titik origin. Secara matematis,
tingkat substitusi marginal (marginal rate of substitution) dari X untuk Y
(MRSxy) adalah -dY/dX, artinya jumlah komoditi Y yang harus diberikan
(dikurangi) jika ditambahkan satu unit komoditi X agar tingkat kepuasan tetap
sama. MRSxy tersebut diperoleh dengan cara sebagai berikut. Dari fungsi U =
f(X,Y) , diperoleh dU = (dU/dX) dX + (dU/dY) dY = (MUx)dX + (MUY)dY.
Untuk kurve kepuasan sama (dU = 0), maka (MUx) dX + (MUy) dY = 0 atau
(MUx) dX = - (MUy) dY atau MUx/MUy = - dY/dX. Tingkat substitusi marginal
18
bertanda negatif (slope negatif) menunjukkan bahwa kurve kepuasan sama
memiliki ciri turun dari kiri atas ke kanan bawah (Pappas and Hirschey, 1995).
2.5. Konsumen Rumah Tangga
Pelaku ekonomi adalah seorang individu, kelompok, atau lembaga yang
terlibat dalam kegiatan perekonomian baikkonsumsi, distribusi, maupun produksi.
Secara umum, pelaku ekonomi dibagi menjadi lima kelompok besar, yaitu Rumah
Tangga Keluarga, Masyarakat, Perusahaan, Pemerintah, dan Negara. Setiap
pelaku ekonomi tersebut memiliki peran tersendiri dalam kegiatan konsumsi,
distribusi, dan produksi.
Konsumen Rumah Tangga merupakan pelaku ekonomi yang memiliki
ruang lingkup terkecil. Menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, definisi konsumen adalah setiap orang pemakai barang
dan jasa yang tersedia dalam masyarakat baik untuk kepentingan sendiri,
keluarga, orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali. Engel JF, DB
Roger, dan WM Paul (1994) menyatakan rumah tangga adalah semua orang, baik
yang berkerabat maupun tidak, yang menempati suatu unit perumahan.
Lipsey RG et al. (1995) menyatakan bahwa pengertian rumah tangga
adalah semua orang yang bertempat tinggal dalam satu atap dan membuat
keputusan keuangan bersama atau menyebabkan pihak lain mengambil keputusan
bagi mereka. Anggota rumah tangga seringkali disebut sebagai konsumen karena
mereka membeli dan mengkonsumsi sebagian besar barang konsumsi dan jasa.
Ciri-ciri rumah tangga antara lain: setiap rumah tangga mengambil keputusan
19
yang konsisten selain itu rumah tangga menjual jasa-jasa faktor produksi pada
perusahaan dan menerima penghasilan sebagai imbalannya.
2.6 Penelitian Terdahulu
Menurut penelitian yang dilakukan Dhani Perwira Sari (2004) dengan
judul Analisis Permintaan Buah Jeruk Tingkat Rumah Tangga di Kabupaten
Klaten. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, sedangkan
analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa faktor pendapatan, pendidikan ibu rumah tangga, harga buah
pisang dan harga buah pepaya berpengaruh nyata terhadap permintaan buah jeruk.
Sedangkan faktor yang paling berpengaruh adalah pendapatan. Nilai elastisitas
harga buah jeruk adalah -0,110 yang menunjukkan buah jeruk sebagai barang
inelastis dan elastisitas pendapatnnya adalah 0,762 sehingga buah jeruk
dikategorikan barang normal. Nilai elastisitas menunjukkan bahwa buah pisang
sebagai barang substitusi dan buah pepaya sebagai barang komplementer.
Menurut penelitian Eka Jati Nugroho (2005) yang berjudul Analisis
Permintaan Tomat Organik di Supermarket Surakarta. Metode analisis data yang
digunakan adalah regresi linier berganda untuk mengkaji faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap permintaan tomat organik, serta koefisien elastisitas untuk
mengkaji elastisitas permintaan tomat organik. Faktor pembatas yang digunakan
dalam penelitian adalah pendapatan rumah tangga konsumen, harga tomat biasa,
harga tomat organik, pendidikan konsumen dan jumlah anggota rumah tangga
konsumen. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari faktor-faktor pembatas, faktorfaktor yang mempengaruhi permintaan tomat organik adalah pendapatan rumah
20
tangga konsumen dan harga tomat organik. Elastisitas permintaan harga bernilai
-2,53 menunjukkan bahwa tomat organik bersifat elastis. Elastisitas harga silang
bernilai 1,04 menunjukkan bahwa tomat biasa merupakan substitusi bagi tomat
organik.
Dalam Penelitian Sudihastuti (2008) dengan judul Analisis Permintaan
Konsumen Rumah Tangga Terhadap Ikan Laut Segar Di Kecamatan Sukmajaya,
Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian ini untuk mengetahui profil konsumen rumah
tangga di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok yang mengkonsumsi ikan laut
segar, menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan model
permintaan ikan laut segar, menentukan nilai elastisitas harga, elastisitas
pendapatan, dan elastisitas silang dari permintaan ikan laut segar. Berdasarkan
evaluasi model baik secara statistik, ekonometrik, maupun ekonomi, model Coub
Douglas layak digunakan untuk memprediksi permintaan ikan laut segar
berdasarkan masukkan variabel independennya. Berdasarkan kriteria statistik
yaitu terpenuhinya uji – F, berdasarkan kriteria ekonometrika model dugaan telah
memenuhi kriteria ekonometrika yaitu telah memenuhi asumsi-asumsi model
linear klasik yaitu asumsi normalitas, homoskedastisitas, asumsi tidak adanya
multikoliniearitas dan autokorelasi. Berdasarkan kriteria ekonomi dan analisis
respon (elastisitas) diketahui elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan
elastisitas silang bersifat inelastis. Elastisitas harga sebesar -0,129, elastisitas
pendapatan sebesar 0,373, elastisitas silang harga ikan tawar adalah sebesar 0,105, elastisitas silang harga ayam adalah sebesar 0,529 dan elastisitas silang
harga daging sapi adalah sebesar -0,873.
21
Penelitian yang dilakukan Yeni Kusuma Dewi (2009) dengan judul
Analisis Permintaan Jeruk Lokal (Citrus Sp) Di Kabupaten Sleman. Penelitian
tersebut untuk mengkaji faktor harga jeruk, harga salak, harga pisang, jumlah
penduduk dan pendapatan penduduk dalam mempengaruhi permintaan jeruk lokal
di Kabupaten Sleman dan menganalisis elastisitas permintaan jeruk lokal di
Kabupaten Sleman. Metode penelitian dilakukan dengan analisis regresi linier
berganda. Dari hasil penelitian ini diketahui persamaan fungsi permintaan Ln Qi=
-0,891 – 2,445 Ln XHJ + 2,558 Ln XHS + 0,369 Ln XHP + 0,578 Ln XJP + 0,189 Ln
XP. Model ini mempunyai R2 sebesar 81,9% yang berarti bahwa besarnya
sumbangan variabel harga jeruk, harga salak, harga pisang, jumlah penduduk dan
pendapatan per kapita terhadap variasi permintaan jeruk di Kabupaten Sleman
sebesar 81,9%, sedangkan sisanya 18,1% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain
diluar variabel yang diteliti. Pada uji F dikatakan bahwa variabel harga jeruk,
harga salak, harga pisang, pendapatan penduduk, dan jumlah penduduk secara
bersama-sama berpengaruh terhadap permintaan jeruk di Kabupaten Sleman. Pada
uji t diperoleh bahwa variabel harga jeruk, harga salak dan pendapatan perkapita
berpengaruh secara nyata, sedangkan variabel harga pisang dan jumlah penduduk
tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan jeruk di Kabupaten Sleman.
Koefisien elastisitas harga mempunyai nilai sebesar -2,445 yang bersifat elastis.
Koefisien elastisitas silang untuk salak dan pisang berturut-turut mempunyai nilai
sebesar 2,558 dan 0,369 yang menunjukkan bahwa salak dan pisang merupakan
barang substitusi. Untuk koefisien elastisitas pendapatan mempunyai nilai sebesar
0,189 yang menunjukkan bahwa jeruk merupakan barang normal.
22
Dalam penelitian Wirawan (2013) dengan judul Permintaan Buah pisang
Ambon Oleh Rumah Tangga Di Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar,
Provinsi Bali. Penelitian ini untuk mengetahui fungsi permintaan buah pisang
ambon, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan buah pisang ambon,
dan elastisitas permintaan buah pisang ambon di Kecamatan Denpasar Barat.
Model analisis yang digunakan yaitu fungsi permintaan Cobb-Douglas dan fungsi
permintaan linier. Dari hasil penelitian menunjukkan fungsi permintaan buah
pisang ambon oleh rumah tangga yang representatif adalah fungsi permintaan
linier, yaitu (Y) adalah Y = 0,7285729 – 0,00003636X1 + 0,00014478X2 +
0,00000110X3 + 0,19004321X4 + 0,60582075X5 + 0,04631297D. Faktor-faktor
yang mempengaruhi permintaan buah pisang ambon oleh rumah tangga yaitu
harga buah lainnya, pendapatan rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan
tingkat pendidikan ibu rumah tangga. Elastisitas harga atas permintaan buah
pisang ambon oleh rumah tangga adalah inelastisitas, elastisitas pendapatan
menunjukkan bahwa buah pisang ambon termasuk dalam kategori barang normal,
buah lainnya (buah pepaya, semangka, jeruk, dan buah mangga) dapat
dikategorikan sebagai barang substitusi dari buah pisang ambon berdasarkan hasil
analisis elastisitas harga silang.
Download