Merekonstruksi Kembali Etika Aparat Birokrasi

advertisement
Merekonstruksi Kembali Etika Aparat Birokrasi1
Irawan Widyanto2 dan Ali Rokhman3
Magister Ilmu Administrasi Universitas Jenderal Soedirman
Abstrak
Salah satu cara untuk mewujudkan welfare state (negara kesejahteraan) adalah
dengan menerapkan good governance. Pelaksanaan good governance ini harus
didukung dengan aparatur yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi.
Namun sayangnya, ketika pemerintah sedang menggalakkan pelaksanaan good
governance, kita dihadapkan pada kenyataan pahit dengan munculnya berbagai kasus
yang melibatkan para aparat birokrasi. Kasus Gayus Tambunan, kasus Jaksa Sistoyo
(Pegawai Kejaksaan Negeri Cibinong) dan Ahmad Zaenuri (Sekda Kota Semarang)
yang tertangkap tangan oleh KPK ketika sedang melakukan upaya suap menyuap,
telah menodai usaha pemerintah untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Belum lagi fenomena yang lain, seperti PNS muda yang memiliki
rekening gendut, gaya hidup mewah para PNS dan PNS yang malas bekerja. Semua
hal tersebut jelas telah merusak citra pemerintah dan mereduksi kepercayaan
masyarakat terhadap aparat birokrasi. Bagaimana mungkin kasus-kasus di atas bisa
terjadi sedangkan secara moral para aparat birokrasi telah dibentengi dengan etika
administrasi yang bernama Panca Prasetya KORPRI. Panca Prasetya KORPRI,
sebagai pedoman aparat birokrasi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya,
telah diperkenalkan sejak awal para aparat birokrasi tersebut diterima sebagai PNS.
Artinya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Prasetya KORPRI
seharusnya telah dipahami dan mewarnai setiap pola pikir, pola sikap dan pola tindak
para aparat birokrasi. Dengan melihat fenomena di atas muncul pertanyaan; Apakah
nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI masih relevan dengan
perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana cara efektif untuk
menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI?
Tulisan ini berupaya untuk merekonstruksi kembali nilai-nilai etika administrasi
yang terkandung dalam Panca Prasetya KORPRI dan berupaya untuk mencari cara
yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada para aparat birokrasi.
Keyword : etika administrasi, good governance, aparat birokrasi.
1
Telah dipresentasikan pada Simposium Nasional Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (SIMNAS ASIAN)
ke-2 di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta , pada tanggal 10 Pebruari 2012.
2
Mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi dan Penerima Beasiswa Unggulan dari Biro Perencanaan dan
Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
3
Staf Pengajar dan Ketua Program Magister Ilmu Administrasi Publik (MAP) Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto
1
PENDAHULUAN
Welfare state (negara kesejahteraan) adalah cita-cita besar dari sebuah
negara. Oleh karena itu setiap negara di dunia ini berlomba-lomba untuk
mewujudkan welfare state. Harapannya adalah ketika welfare state ini sudah
terwujud, kondisi masyarakatnya adalah aman, makmur, damai, berkeadilan dan
sejahtera. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan welfare state ini,
salah satunya adalah dengan menerapkan good governance.
Good governance (tatakelola kepemerintahan yang baik) adalah cara-cara
penyelenggaraan pemerintahan secara efisien dan efektif. Prinsip dasar dalam konsep
ini bahwa penyelenggaraan pemerintahan supaya efektif dan efisien, melibatkan
beberapa komponen kelembagaan yang disebut “stake holder” yaitu : komponen
masyarakat, sektor swasta atau private dan pemerintah itu sendiri (Istianto, 2011, hal.
183).
Mengapa harus good governance? Karena good governance sebagai upaya
penciptaan tatakelola kepemerintahan yang baik sangat berperan dalam mewujudkan
masyarakat yang sejahtera. Minimal ada tiga alasan yang mendukung pernyataan itu,
yaitu :
1.
Praktik good governance memberi ruang kepada aktor lembaga non pemerintah
untuk berperan serta secara optimal dalam kegiatan pemerintahan sehingga
memungkinkan adanya sinergi diantara aktor dan lembaga pemerintah dengan
non pemerintah seperti masyarakat sipil dan mekanisme pasar.
2.
Dalam praktik good governance terkandung nilai-nilai yang membuat
pemerintah dapat lebih efektif bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan
bersama. Nilai-nilai seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai
yang penting.
3.
Praktik good governance adalah praktik pemerintahan yang bersih dan bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta berorientasi pada kepentingan
publik.
(Dwiyanto, 2006, hal. 18-19)
Dalam praktiknya good governance ini harus didukung dengan sistem yang
kuat, peraturan perundangan, sarana dan prasarana, serta aparatur birokrasi yang
memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. Aparatur birokrasi memegang
2
peranan penting mengingat mereka adalah wakil negara yang langsung berhadapan
dengan masyarakat dalam rangka memberikan pelayanan. Dalam memberikan
pelayanan sudah semestinya para aparatur birokrasi ini selalu mengedepankan moral
dan nurani dengan selalu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat.
Sehingga dalam praktik good governance, aparatur birokrasi harus mendapat
perhatian yang lebih.
Namun sayangnya, ketika pemerintah sedang menggalakkan pelaksanaan
good governance, kita dihadapkan pada kenyataan pahit dengan munculnya berbagai
kasus yang melibatkan para aparat birokrasi. Kasus Gayus Tambunan, kasus Jaksa
Sistoyo (Pegawai Kejaksaan Negeri Cibinong) dan Ahmad Zaenuri (Sekda Kota
Semarang) yang tertangkap tangan oleh KPK ketika sedang melakukan upaya suap
menyuap, telah menodai usaha pemerintah untuk menciptakan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa. Belum lagi fenomena yang lain, seperti PNS muda yang
memiliki rekening gendut, gaya hidup mewah para PNS dan PNS yang malas
bekerja. Semua hal tersebut jelas telah merusak citra pemerintah dan mereduksi
kepercayaan masyarakat terhadap aparat birokrasi.
Pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana mungkin kasus-kasus di
atas bisa terjadi sedangkan secara moral para aparat birokrasi telah dibentengi
dengan etika administrasi negara yang bernama Panca Prasetya KORPRI. Panca
Prasetya KORPRI, sebagai pedoman aparat birokrasi dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya, telah diperkenalkan sejak awal para aparat birokrasi tersebut
diterima sebagai PNS. Artinya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Panca
Prasetya KORPRI seharusnya telah dipahami dan mewarnai setiap pola pikir, pola
sikap dan pola tindak para aparat birokrasi.
Dengan melihat fenomena di atas muncul pertanyaan; Apakah nilai-nilai
yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI masih relevan dengan
perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara? Bagaimana cara efektif untuk
menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI?
PEMBAHASAN
Peradaban manusia bukan hanya ditentukan oleh tingginya nilai seni dari
artefak yang diciptakannya, luasnya ilmu pengetahun yang dijangkaunya, maupun
aplikasi teknologi yang ditemukannya. Dalam banyak segi, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu justeru mendorong manusia untuk bertindak korup
3
dan melawan nuraninya. Itulah sebabnya Rousseau menganjurkan supaya manusia
kembali ke alam, retour a lanature. Bahwa moralitas yang asli dan benar-benar
manusiawi justeru ditemukan dalam manusia yang masih alamiah. Bahwa manusia
harus identik dengan dirinya sendiri untuk mencari kebaikan dan kebenaran sejati
(Kumorotomo, 1994, hal. 2).
Ketika membahas mengenai etika atau moralitas dalam penyelenggaraan
negara, pemikiran Rousseau ini agaknya masih relevan. Setiap aparat birokrasi
seharusnya kembali ke alam (retour a lanature), yang berarti bahwa aparat birokrasi
seharusnya bekerja berlandaskan pada moralitas yang asli dan manusiawi. Moralitas
yang asli dan manusiawi itu merupakan perwujudan dari ide-ide agung.
Ide Agung
Sebuah buku yang berjudul The Great Ideas : A Syntopicon of Great Books
of the Western World yang terbit pada tahun 1952 memuat 120 ide agung dan
menyajikan pembahasan menyeluruh atas masing-masing ide tersebut. Adler
meringkasnya menjadi 6 ide agung, yaitu :
1.
Keindahan (beauty).
Prinsip-prinsip estetika mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan
rasa senang terhadap keindahan. Banyak filsuf mengatakan bahwa hidup dan
kehidupan manusia itu sendiri sesungguhnya merupakan keindahan. Keindahan
alamiah dapat dihayati dari kenyataan bahwa perilaku alam beserta benda mati,
tumbuhan, dan hewan yang terdapat di dalamnya itu mematuhi hukum-hukum
tertentu dari Sang Pencipta. Sementara itu keindahan artistik bersumber pada
pemahaman jiwa manusia terhadap alam semesta. Ia merupakan hasil kecintaan
manusia terhadap pola-pola yang menarik dari pengertiannya mengenai pola
alami. Maka kasih sayang, kedamaian, dan kesejahteraan itu sesungguhnya
merupakan unsur-unsur keindahan.
2.
Persamaan (equality).
Hakekat kemanusiaan menghendaki adanya persamaan antar manusia yang satu
dengan yang lain. Setiap manusia yang terlahir di bumi ini serta merta memiliki
hak dan kewajiban masing-masing, akan tetapi sebagai manusia ia adalah sama
atau sederajat. Watak, karakter atau pandangan hidup masing-masing etnis di
4
dunia ini memang berlainan namun kedudukannya sebagai suatu kelompok
masyarakat adalah sama.
3.
Kebaikan (goodness).
Secara umum kebaikan berarti sifat atau karakteristik dari sesuatu yang
menimbulkan pujian. Perkataan baik (good) mengandung sifat-sifat seperti
persetujuan, pujian, keunggulan, kekaguman, atau ketetapan. Dengan demikian
ide agung kebaikan sangat erat kaitannya dengan hasrat dan cita manusia.
Lingkup dari ide kebaikan sangat universal. Kebaikan ritual dari agama yang
satu mungkin berlainan dengan agama yang lain. Namun kebaikan agama yang
berkenaan dengan masalah-masalah kemanusiaan, hormat menghormati dengan
sesama, berbuat baik kepada orang lain, kasih sayang, dan sebagainya,
merupakan nilai-nilai kebaikan yang sudah pasti diterima oleh semua pihak.
4.
Keadilan (justice).
Suatu definisi tertua yang hingga sekarang masih relevan untuk merumuskan
keadilan (justice) berasal dari zaman Romawi kuno : “Justitia est constans et
perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi” (Keadilan ialah kemauan yang
tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya).
Keadilan merupakan substansi rohani umum dari suatu masyarakat yang
menciptakan dan menjaga kesatuannya. Masyarakat akan adil bila setiap
anggotanya melakukan segala sesuatu yang terbaik menurut kemampuannya
beserta fungsi yang selaras baginya. Negara yang adil memungkinkan setiap
warga negara dapat melaksanakan satu fungsi dalam masyarakat yang paling
cocok baginya. Aristoteles mengatakan bahwa keadilan merupakan kelayakan
dalam tindakan manusia, dan merinci empat macam keadilan, yaitu keadilan
komutatif, keadilan distributif, keadilan sosial dan keadilan hukum. Sedangkan
Rawls mengemukakan dua asas keadilan. Pertama, bahwa setiap orang
hendaknya memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar. Kedua, bahwa
perbedaan sosial ekonomi hendaknya diatur sehingga memberi manfaat terbesar
bagi mereka yang berkedudukan paling tak menguntungkan serta bertalian
dengan jabatan atau kedudukan yang terbuka bagi semua orang berdasarkan
persamaan kesempatan yang layak.
5.
Kebebasan (liberty).
5
Secara sederhana kebebasan dapat dirumuskan sebagai keleluasaan untuk
bertindak atau tidak bertindak berdasarkan pilihan-pilihan yang tersedia bagi
seseorang. Kebebasan muncul dari doktrin bahwa setiap orang miliki hidupnya
sendiri serta memiliki hak untuk bertindak menurut pilihannya sendiri kecuali
jika pilihan-pilihan tindakan tersebut melanggar kebebasan yang sama dari orang
lain. Itulah sebabnya, hukum sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk membatasi
kebebasan tetapi justeru untuk menjamin kebebasan itu sendiri. Kebebasan
ditantang manakala berhadapan dengan kewajiban moral. Dalam kaitan ini hal
yang selalu dituntut untuk diperolehnya suatu kebebasan adalah tanggung jawab.
Kebebasan manusia mengandung pengertian :
a.
Kemampuan untuk menentukan diri sendiri.
b.
Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.
c.
Syarat-syarat yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan pilihanpilihannya beserta konsekuensi dari pilihan itu.
Oleh karena itu tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab, dan begitu pula
sebaliknya tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan. Semakin besar kebebasan
yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang mesti
dipikulnya.
6.
Kebenaran (truth).
Kebenaran didapat berdasarkan logika filosofis dengan mempertanyakan esensi
dari nilai-nilai moral beserta pembenarannya dalam kehidupan sosial. Kita
hendaknya mampu menjembatani antara kebenaran dalam pemikiran (truth in
the mind) dan kebenaran menurut kenyataan (truth in reality). Betapapun,
doktrin-doktrin etika tidak selalu dapat diterima oleh orang awam apabila
kebenaran yang terdapat di dalamnya belum dapat dibuktikan.
(Kumorotomo, 1994, hal. 31-36)
Etika Administrasi
Etika (ethics) adalah kode prinsip dan nilai moral yang membangun perilaku
seseorang atau sebuah kelompok yang berhubungan dengan benar dan salah. Etika
adalah penentu standar-standar darimana yang baik atau buruk dalam tindakan dan
keputusan (Daft, 2010, hal. 171). Menurut Bertens (Bertens, 2005, hal. 6), etika
6
mempunyai 3 pengertian, yaitu : pertama, nilai-nilai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya; kedua, kumpulan asas atau nilai moral; ketiga, ilmu tentang yang baik atau
buruk.
Apa sebetulnya manfaat dari etika? Ada sekurang-kurangnya empat
kegunaan dari etika : pertama, untuk mencapai suatu pendirian dalam pergolakan
pandangan-pandangan moral; kedua, untuk membedakan antara apa yang hakiki dan
apa saja yang boleh berubah dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil
sikap-sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan; ketiga, membuat kita sanggup
untuk menghadapi ideologi-ideologi baru dengan kritis dan obyektif dan untuk
membentuk penilaian sendiri, agar kita tidak terlalu mudah terpancing, tidak naif dan
ekstrem; keempat, membantu menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman
kepercayaan mereka, sekaligus mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan dengan tidak
menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang berubah
(Suseno, 1993, hal. 15-16).
Etika administrasi negara adalah seperangkat nilai (prinsip nilai) yang dapat
digunakan sebagai pedoman, pegangan, referensi, sekaligus sebagai standar penilaian
apakah sikap, tindakan, dan perilaku administrasi negara (birokrasi publik) dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan dapat dikatakan baik dan
buruk (Widodo, 2005). Etika administrasi negara berusaha menempatkan kaidahkaidah moral dalam menghadapi pelbagai dilema dan juga masalah-masalah yang
menyangkut kedudukan pribadi seorang administrator dalam proses interaksinya
dengan negara dan masyarakat (Kumorotomo, 1994, hal. 104).
Asas Etis Administrasi Pemerintahan
Aparat birokrasi memiliki kewajiban-kewajiban etis (ethical obligations)
yang lebih banyak dalam kaitan dengan kelakuannya ketimbang orang swasta.
Demikian pula para aparat birokrasi dengan jabatan tinggi dalam badan-badan
pemerintah mempunyai lebih banyak kewajiban-kewajiban etis dalam daripada orang
lain. Implikasi lebih lanjut dari pendapat itu ialah setiap aparat birokrasi wajib
memiliki sikap mental dan perilaku yang mencerminkan keunggulan watak,
keluhuran budi, dan berbagai asas etis yang bersumber pada kebajikan moral,
7
khususnya keadilan. Tanpa asas-asas etis itu seorang aparat birokrasi tidak mungkin
membina suatu kehidupan bangsa dan keadaan masyarakat yang tentram dan
sejahtera. Bahkan kebalikannya, kehidupan rakyat mungkin dijerumuskan pada
kegelisahan dan kesengsaraan.
Oleh karena itu, setiap aparat birokrasi wajib memahami asas-asas etis yang
bersumber pada berbagai kebajikan moral, kemudian membina diri sehingga
sungguh-sungguh menghayati asas-asas etis itu, dan terakhir benar-benar
menerapkannya sebanyak mungkin dalam tindakan jabatannya.
Berbagai asas etis dalam administrasi pemerintahan adalah :
1.
Pertanggungjawaban (responsibility).
Asas etis ini menyangkut hasrat seorang apat birokrasi untuk merasa memikul
kewajiban penuh dan ikatan kuat dalam pelaksanaan semua tugas pekerjaan
secara memuaskan. Aparat birokrasi harus mempunyai hasrat besar untuk
melaksanakan fungsi-fungsinya secara efektif, sepenuh kemampuan, dan dengan
cara yang paling memuaskan pihak yang menerima pertanggungjawaban.
Pertanggungjawaban itu tertuju kepada rakyat umumnya, instansi pemerintahnya
maupun pihak atasannya langsung. Kecenderungan untuk melepaskan tanggung
jawab atau keinginan untuk melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain
ataupun kebiasaan mengajukan dalih “hanya melaksanakan perintah” (just
following orders) harus dilenyapkan dari diri setiap aparat birokrasi yang baik.
Setiap aparat birokrasi harus siap untuk memikul pertanggungjawaban mengenai
apa saja yang dilakukannya. Ia tidak boleh terjebak pada alasan bahwa ia hanya
menjalankan petunjuk atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah.
2.
Pengabdian (dedication).
Pengabdian adalah hasrat keras untuk menjalankan tugas-tugas pekerjaan
dengan semua tenaga (pikiran dan otot atau mental dan fisik), seluruh semangat
kegairahan, dan sepenuh perhatian tanpa pamrih apa-apa yang bersifat pribadi
seperti misalnya ingin cepat naik pangkat atau diberi tanda jasa. Setiap aparat
birokrasi dalam pelaksanaan tugasnya harus selalu dan terus menerus
menunjukkan keterlibatan diri (involvement of self) dan penuh antusiasme.
Kecenderungan bekerja setengah hati atau asal jadi tidak boleh terdapat dalam
8
diri setiap aparat birokrasi yang baik. Pengabdian ini terarah pada jabatannya,
keahliannya, dan bidang profesinya.
3.
Kesetiaan (loyalty).
Asas etis ini adalah kesadaran seseorang petugas untuk setulusnya patuh kepada
tujuan bangsa, konstitusi negara, peraturan perundangan, badan instansi, tugas
jabatan maupun atasan demi tercapainya cinta-cita bersama yang ditetapkan.
Pelaksanaan tugas pekerjaan dengan ukuran rangkap, pertimbangan untung rugi
atau bahkan dengan kebiasaan sabotase harus tidak dikenal dalam diri setiap
aparat birokrasi yang baik. Kalau seseorang aparat birokrasi tidak dapat
menjalankan tugas jabatannya dengan sepenuh kemampuan, tidak bersedia
terikat patuh pada badan instansinya atau tidak merasa cocok dengan
kebijaksanaan pimpinannya, maka tindakan yang etis adalah mengundurkan diri
dari jabatannya.
4.
Kepekaan (sensitivity).
Asas etis ini mencerminkan kemauan dan kemampuan seorang aparat birokrasi
untuk memperhatikan serta siaga terhadap berbagai perkembangan yang baru,
situasi yang berubah, dan kebutuhan yang timbul dalam kehidupan masyarakat
dari waktu ke waktu dengan disertai usaha-usaha untuk menanggapi sebaikbaiknya. Sikap tidak peduli asalkan tugas rutin sudah selesai atau tidak mau
susah payah melakukan pembaharuan harus pula disingkirkan dari diri setiap
aparat birokrasi.
5.
Persamaan (equality).
Salah satu kebajikan yang pokok dari badan pemerintahan yang bertujuan
mengabdi kepada seluruh rakyat dan melayani kepentingan umum ialah
perlakuan adil. Perlakuan yang adil itu biasanya dapat diwujudkan dengan
memberikan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan atau pilih kasih
kepada semua pihak. Jadi persamaan dalam perlakuan, pelayanan, dan
pengabdian harus diberikan oleh setiap aparat birokrasi kepada publik tanpa
memandang hubungan kerabat, ikatan politik, asal-usul keturunan atau
kedudukan sosial. Perbedaan perlakuan secara semena-mena atau berdasarkan
kepentingan pribadi tidak boleh dilakukan oleh setiap aparat birokrasi yang adil.
6.
Kepantasan (equity).
9
Persamaan perlakuan terhadap semua pihak sebagai suatu asas etis tidak selalu
mencapai keadilan dan kelayakan. Persoalan dan kebutuhan dalam masyarakat
sangat beraneka ragam sehingga memerlukan perbedaan perlakuan asalkan
berdasarkan pertimbangan yang adil atau alasan yang benar. Dengan demikian,
terhadap suatu kelompok tertentu dan untuk suatu keadaan tertentu perlu
dilakukan perlakuan yang sama. Tetapi terhadap suatu golongan lain dan
berdasarkan kondisi khusus yang berlainan mungkin perlu ada perlakuan yang
tak sama. Untuk itu asas yang harus diperhatikan adalah kepantasan. Asas
kepantasan mengacu pada suatu hal yang sepatutnya menurut pertimbangan
moral atau nilai etis yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
(Gie, 1988, hal. 7.1-7.4)
Panca Prasetya KORPRI.
KORPRI dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden nomor 82 tahun 1971
tanggal 29 Nopember 1971 sebagai wahana yang mewadahi seluruh pegawai yang
bekerja dalam dinas-dinas pemerintah untuk mencapai dayaguna dan hasil guna yang
sebesar-besarnya dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan menyelenggarakan
pembangunan. Sebagai pedoman sikap dan tingkah laku yang mengikat bagi segenap
PNS, maka dibuatlah kode etik berupa Panca Prasetya KORPRI yang berbunyi :
PANCA PRASETYA KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA
Kami anggota Korps Pegawai Republik Indonesia,
adalah insan yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
1.
2.
3.
4.
5.
Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh
rahasia jabatan dan rahasia negara;
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan
pribadi dan golongan;
Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan Korps
Pegawai Republik Indonesia;
Menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta meningkatkan
kesejahteraan dan profesionalisme.
10
(Sumber : Keputusan Musyawarah Nasional VI KORPRI Nomor : KEP08/MUNAS/2004 tentang Kode Etik KORPRI dan Penjelasannya).
Merekonstruksi Nilai-Nilai Panca Prasetya KORPRI.
Panca Prasetya KORPRI diawali dengan janji bahwa setiap aparat birokrasi
adalah insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini
menjadi semacam kontrak kerja bahwa setiap aparat birokrasi dalam menjalankan
tugas sehari-hari berlandaskan pada norma-norma agama. Ajaran agama menjadi
benteng moral bagi aparat birokrasi. Atau lebih jauh lagi bahwa aparat birokrasi
dalam melaksanakan tugas sehari-hari selalu merasa diawasi oleh Tuhan Yang Maha
Esa.
Kesetiaan dan ketaatan kepada NKRI dan pemerintah menjadi inti dari poin
yang pertama. Kesetiaan diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini
untuk menjamin bahwa semua tugas yang didistribusikan oleh atasan (sebagai wakil
negara dalam organisasi birokrasi) kepada para aparat birokrasi di bawahnya dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Namun hal penting yang perlu mendapat
perhatian adalah kesetiaan dan ketaatan terhadap pimpinan disini bukanlah kesetiaan
dan ketaatan buta. Artinya bahwa aparat birokrasi harus tetap kritis, cerdas dan
mengedepankan nurani dalam memberikan kesetiaan dan ketaatannya kepada
pimpinan. Ketika perintah dari pimpinan adalah benar (sesuai dengan peraturan
perundangan) dan dalam rangka menjalankan roda organisasi, maka perintah itu
harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Namun ketika perintah itu telah menyalahi
etika atau bahkan peraturan perundangan, maka perintah itu harus ditolak.
Poin kedua berbicara tentang menjaga kehormatan bangsa dan negara serta
memegang rahasia jabatan dan rahasia negara. Menjaga kehormatan bangsa dan
negara merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bangsa yang besar
adalah bangsa yang bisa menjaga kehormatannya di depan bangsa-bangsa lain di
dunia ini. Namun mengenai hal memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara,
hal ini menurut penulis, bertentangan dengan semangat keterbukaan dalam era
demokrasi ini. Undang-undang Kebebasan Informasi Publik telah mengamanatkan
bahwa setiap organisasi publik harus memberikan informasi kepada publik dengan
sejelas-jelasnya. Artinya ada kewajiban bagi aparat birokrasi untuk menjelaskan
kegiatannya kepada publik. Etika memegang teguh rahasia dan rahasia jabatan
11
dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tameng bagi pejabat publik untuk menutupi
tindakan-tindakan illegal yang dilakukannya. Poin ini termasuk point karet yang
perlu penjelasan lebih lanjut tentang apa yang harus dirahasiakan dan apa yang harus
dijelaskan ke publik.
Inti dari poin ketiga dari Panca Prasetya KORPRI adalah mengutamakan
kepentingan negara dan masyarakat. Kepentingan negara dan masyarakat merupakan
inti dari negara kesejahteraan. Karena itu kepentingan negara dan masyarakat harus
menjadi prioritas utama oleh aparat birokrasi.
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat terkait erat pengabdian
kepada negara dan masyarakat. Menurut penulis, pengabdian disini ternyata banyak
disalah-artikan oleh aparat birokrasi. Pengabdian kepada negara, yang diwakili oleh
pemimpin (atasan), ternyata lebih dominan daripada pengabdian kepada masyarakat.
Hal ini mengakibatkan aparat birokrasi cenderung lebih melayani pimpinan daripada
melayani masyarakat. Seharusnya, pengabdian kepada negara dan masyarakat ini
posisinya adalah sejajar. Artinya kedua-duanya harus dilaksanakan oleh aparat
birokrasi.
Poin keempat, adalah menjaga keutuhan NKRI dan kesetiakawanan
KORPRI. Menjaga keutuhan NKRI merupakan hal yang mutlak harus dilakukan oleh
aparat birokrasi. Sedangkan kesetiakawanan KORPRI diperlukan selama itu untuk
memperkuat soliditas KORPRI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sedangkan apabila kesetiakawanan ini diartikan sebagai soliditas dalam melakukan
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan etika, maka hal ini harus ditolak.
Poin kelima adalah menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta
meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme. Nilai-nilai kejujuran, keadilan,
disiplin dan profesionalisme merupakan perwujudan dari good governance. Dan
menurut penulis, disinilah inti dari peran aparat birokrasi dalam mendukung
pelaksanaan good governance. Sedangkan nilai meningkatkan kesejahteraan, telah
menimbulkan pengertian ganda. Meningkatkan kesejahteraan disini artinya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau kesejahteraan anggota KORPRI? Jika
yang dimaksud adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka hal itu harus
kita dukung. Namun jika yang dimaksud adalah meningkatkan kesejahteraan
KORPRI, hal ini menurut penulis kurang etis. Karena poin kelima ini bisa
12
disalahgunakan sebagai dasar oleh aparat birokrasi untuk meningkatkan penghasilan
dengan melalui hal-hal yang bertentangan dengan etika dan hukum, misalnya
korupsi.
Secara umum, nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI
sudah mewakili nilai-nilai agung dan etika pemerintahan, dan bisa dikatakan masih
relevan dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dua hal
yang perlu dipertimbangkan kembali, yaitu :
1.
Memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara.
Penulis menyarankan perihal memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia
negara sebaiknya dihapuskan saja dan dimasukkan ke dalam Peraturan
Pemerintah (PP). Perihal memegang teguh rahasia jabatan sudah tercantum di
dalam PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil,
sedangkan perihal memegang teguh rahasia negara belum tercantum.
2.
Meningkatkan kesejahteraan.
Perihal meningkatkan kesejahteraan kalau dalam konteks meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sebaiknya diberi keterangan tambahan, misal
“meningkatkan kesejahteraan masyarakat”. Sedangkan kalau meningkatkan
kesejahteraan disini dalam konteks meningkatkan kesejahteraan aparat birokrasi
sebaiknya dihapus saja.
Penulis mengusulkan satu nilai lagi di dalam Panca Prasetya KORPRI yang
berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat, yang berbunyi “Meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat berdasarkan semangat pengabdian, kesetiaan dan
persamaan”. Karena menurut penulis pelayanan adalah hal penting dan merupakan
salah satu indikator terwujudnya negara kesejahteraan. Oleh karena itu sudah
sepantasnya bila pelayanan masuk dalam Panca Prasetya KORPRI.
Internalisasi Nilai-Nilai Panca Prasetya KORPRI.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prsetya KORPRI tidak akan
bernilai apa-apa jika tidak dijalankan oleh para aparat birokrasi. Oleh karena itu perlu
dilakukan langkah-langkah konkrit untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut
kepada para aparat birokrasi. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk
menginternalisasikan nilai moral (Panca Prasetya KORPRI), diantaranya yaitu :
13
indoktrinasi, klarifikasi nilai, teladan atau contoh, dan pembiasaan dalam perilaku
(Siswoyo, 2005, hal. 72-81).
1.
Indoktrinasi nilai.
Pendekatan ini dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Panca Prasetya
KORPRI secara tegas dan konsisten kepada para aparat birokrasi. Aturan mana
yang boleh dilakukan dan yang dilarang disampaikan secara tegas, terus menerus
dan konsisten. Pendekatan ini dilakukan sejak aparat birokrasi ini diterima
sebagai PNS (melalui diklat prajab) sampai dengan akhir masa tugasnya. Hal
penting yang perlu dicatat adalah bahwa nilai-nilai Panca Prasetya KORPRI
harus benar-benar ditanamakan dalam arti dikenalkan, dihayati, dipahami dan
diamalkan. Jadi bukan sekedar untuk dihafalkan. Hal penting yang lain adalah
bahwa indoktrinasi tidak hanya dilakukan dalam diklat pra jabatan saja, namun
harus tetap dilaksanakan sampai akhir masa tugas aparat birokrasi tersebut.
2.
Klarifikasi nilai.
Dalam pendekatan ini seorang pimpinan tidak langsung menyampaikan kepada
bawahan bahwa sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, namun bawahan
diberi kesempatan untuk menyampaikan penilaiannya sendiri. Bawahan diajak
berdiskusi untuk mengungkap kenapa sesuatu itu benar atau salah, baik atau
buruk. Sesuatu itu berkaitan dengan isu-isu moral yang sedang berkembang.
3.
Contoh atau keteladanan.
Manusia itu mempunyai kecenderungan untuk meniru. Ketika pejabat
memberikan contoh (teladan) yang baik, maka bawahan pun akan mengikuti
melakukan hal-hal yang baik. Dan sebaliknya ketika pejabat melakukan hal-hal
yang buruk, maka bawahanpun akan melakukan hal-hal yang buruk bahkan lebih
buruk lagi. Oleh karena itu keteladanan dari pimpinan sangat diperlukan dalam
melakukan proses internalisasi nilai.
4.
Pembiasaan.
Kebiasaan akan membentuk kultur atau budaya kerja. Kebiasaan yang baik akan
membentuk budaya kerja yang baik dan kebiasaan yang buruk akan membentuk
budaya kerja yang buruk. Sehingga diperlukan adanya pembiasaan hal-hal yang
baik untuk membentuk budaya kerja yang baik. Selain itu budaya kerja akan
sangat mempengaruhi karakter seseorang. Seseorang yang mempunyai karakter
baik, ketika berada dalam budaya kerja yang buruk bisa berubah menjadi buruk.
Pun demikian seseorang yang mempunyai karakter buruk, ketika berada dalam
14
budaya kerja yang baik, dia bisa berubah menjadi baik. Dengan pembiasaan
yang baik akan terbentuk budaya kerja yang baik dan pada akhirnya akan
membentuk karakter aparat birokrasi yang baik.
5.
Membuat kode etik aparat birokrasi.
Penyusunan kode etik aparat birokrasi bisa menjadi salah satu metode
internalisasi nilai yang efektif. Misalnya dibuat dua jenis kode etik, yaitu kode
etik untuk pejabat dan kode etik untuk staf. Hal ini perlu dilakukan karena tugas
pokok dan fungsi dari pejabat dan staf sangat berbeda, sehingga kode etiknya
pun juga harus berbeda. Kode etik ini sebaiknya dicetak dalam bentuk buku saku
yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga pejabat dan staf aparat birokrasi bisa
membawanya di dalam saku kemanapun pergi. Harapannya jika kode etik itu
ada di dalam saku, maka ketika akan melakukan hal-hal yang melanggar kode
etik, yang bersangkutan akan segera tersadar atau minimal merasa malu.
15
PENUTUP
Kesimpulan
Dari tulisan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1.
Secara umum, nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya KORPRI
sudah mewakili nilai-nilai agung dan etika pemerintahan, dan bisa dikatakan
masih relevan dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dua
hal yang perlu dipertimbangkan kembali yaitu : memegang teguh rahasia jabatan
dan rahasia negara, dan meningkatkan kesejahteraan.
2.
Proses internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam Panca Prasetya
KORPRI bisa dilakukan secara struktural (indoktrinasi dan pembuatan kode
etik) dan kultural (keteladanan dan pembiasaan).
Rekomendasi
1.
Perlu adanya good-will dan kemauan yang keras dari pemerintah (eksekutif)
untuk melakukan langkah-langkah konkrit dalam rangka menginternalisasikan
nilai-nilai Panca Prasetya KORPRI kepada para aparat birokrasi.
2.
Nilai pelayanan kepada masyarakat sebaiknya dimasukkan ke dalam Panca
Prasetya KORPRI.
3.
Para pejabat publik hendaknya bisa memberikan keteladanan dalam rangka
membangun moral yang baik bagi para arapat birokrasi.
16
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. 2005, Etika, Cetakan ke-9, Jakarta : Gramedia.
Daft, Richard L. 2010, Era Baru Manajemen, Cetakan ke-9, Jakarta : Salemba
Empat.
Dwiyanto, Agus. 2006, Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik,
Cetakan ke-2, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Gie, The Liang. 1988, Etika Administrasi Pemerintahan, Cetakan ke-1, Jakarta :
Karunika Universitas Terbuka.
Istianto, Bambang. 2011, Demokratisasi Birokrasi, Cetakan I, Jakarta: Mitra Wacana
Media.
Keputusan Musyawarah Nasional VI KORPRI Nomor : KEP- 08/MUNAS/2004
tentang Kode Etik KORPRI dan Penjelasannya.
Kumorotomo, Wahyudi. 1994, Etika Administrasi Negara, Cetakan ke-2, Jakarta :
PT RajaGrafindo Persada.
Siswoyo, Dwi dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah. Cetakan
ke-1, Yogyakarta: FIP UNY.
Suseno, FM. 1993, Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Cetakan
ke-4, Yogyakarta : Pustaka Filsafat.
Undang-Undang Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Widodo, Joko. 2005, Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja, Cetakan ke-1, Jakarta:
Banyumedia Publishing.
17
Download