75 PENDAHULUAN Ragam bahasa (language variation) secara

advertisement
BAHASA DALAM MASYARAKAT: SUATU KAJIAN
SOSIOLINGUISTIK
Oleh
Nuryadi
Dosen Progam Studi Sastra Inggris, Fakultas Komunikasi, Sastra dan
Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi
Abstract
This paper discusses about language in society which spreads horizontally and
vertically. Horizontally or geographically, this paper explain why we speak
differently in different regions. That means language consists of many dialects
spreading horizontally. Some differences come from word choices, the
pronunciation of words, and grammatical rules. Vertically socially, this paper
explain why we speak differently in different social status. Some differences are
due to age, sex, profession and whether English is a first language or not.
Explaining the way people use language in different social contexts provides a
wealth of information about the way language work, as well as about the social
relationships in a community. This paper explore many aspects of language in
society such as regional and social dialect, standard language, style, register,
slang, jargon, argot, lingua franca, pidgin, Creole, and taboo.
Keywords : social dialect, regional dialect, standard language
PENDAHULUAN
Ragam bahasa (language
variation) secara umum dapat
ditinjau dari dua hal. Yang pertama
dari sudut pandang penuturnya, dan
yang
kedua
menurut
jenis
pemakaiannya. Ragam bahasa yang
ditinjau
dari
sudut
pandang
penuturnya dapat dirinci menurut
patokan daerah, pendidikan dan sikap
penutur (Alwi et al, 2003 :3).
Sementara itu, ragam bahasa menurut
jenis pemakaiannya dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu menurut pokok
persoalan atau bidang, menurut
sarananya, dan yang mengalami
percampuran atau interferensi (Alwi
et al, 2003 : 6).
Dialek dan Idiolek
Ragam
daerah (regional
dialect) adalah ragam bahasa yang
menyebar secara geografis atau
horizontal. Ragam daerah disebut
juga logat (Alwi et al, 2003 : 3) yaitu
bentuk
yang
berbeda
secara
sistematis
yang
dapat
saling
dimengerti (mutually intelegible)
dalam sebuah bahasa (Fromkin et al
2003 : 445). Dengan demikian,
bahasa sebagai sebuah kesatuan
terdiri atas bermacam-macam dialek
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
75
yang pada batas terendahnya adalah
idiolek (Robins, 1989 : 61). Dialek
dapat dikenali berdasarkan ciri
khasnya
yang meliputi tekanan
(stress atau intonation),
turun
naiknya nada (pitch), dan panjang
pendeknya bunyi (duration) yang
membangun aksen yang khas (Alwi
et al 2003 :4). Aksen adalah ciri
wicara yang menunjukkan identitas
dialek
penutur.
Aksen
biasa
digunakan untuk menyebut ciri
bahasa yang diujarkan oleh yang
bukan merupakan penutur aslinya
(Fromkin et al 2003 : 447). Di
Amerika Serikat ada bahasa Inggris
dialek Boston, New York, orangorang kulit hitam keturunan Afrika di
Chicago (Black English), orang-orang
kulit putih di Denver, orang-orang
Hispanik di Albuquergue dan
sebagainya.
Dialek
bukan
merupakan bagian inferior dari
sebuah bahasa karena bahasa
merupakan kumpulan dari banyak
dialek.
Perbedaan
antardialek
berdasarkan letak geografisnya dapat
dilihat dalam peta dialek (dialect
atlase atau dialect maps) yang
dibatasi oleh garis yang disebut
isoglos (Fromkin et al 2003 : 451).
Isoglos membatasi satu dialek dengan
dialek lainnya karena ciri-ciri
linguistik (Romaine, 2000 : 136)
tetapi dapat juga karena kondisi alam
atau politik. Ciri-ciri dialek yang
ditandai dalam isoglos tidak tersebar
secara acak di suatu daerah
melainkan cenderung mempunyai
distribusi yang sama sehingga sebuah
peta dialek memperlihatkan beberapa
isoglos
yang kira-kira mengikuti
garis yang sama, khususnya garisgaris yang berkaitan dengan ciri-ciri
dalam gramatika (grammar) dan lafal
(pronunciation).
Idiolek adalah ciri ujaran
pribadi dalam berbahasa yang tidak
dipakai dalam pemakaian bahasa
pribadi. Hal tersebut berarti setiap
orang mempunyai ciri ujaran pribadi
yang tidak sama. Idiolek disebut juga
bahasa orang-perseorangan atau
kebiasaan seseorang dalam berbicara
(Robins, 1989 : 61). Bahasa Inggris
mungkin terdiri dari lebih 450 juta
idiolek atau setara dengan jumlah
penutur bahasa Inggris yang akan
terus meningkat dari waktu ke waktu.
Perbedaan gaya perseorangan dan
perbedaan dialek merupakan akibat
dari banyak sekali perbedaan
tersendiri dalam berbicara dan
menulis yang tampak pada segala
tataran : dalam lafal, gramatika dan
makna kata-kata tertentu. Contoh
lafal dalam bahasa Inggris adalah
lafal “r” getar di beberapa bagian
Skotlandia, dan pemakaian kata-kata
setempat yang berbeda maknanya di
wilayah lain. Kata homely pada
bahasa Inggris Britania berarti
‘sederhana’
atau
‘bersahaja’,
sedangkan pada bahasa Inggris di
Amerika Serikat kata tersebut berarti
‘tidak rupawan’ atau ‘kurang
menarik’ (Robins, 1992 : 63).
Dialek regional adalah dialek
yang tersebar secara horizontal.
Dialek regional dapat bercirikan
perbedaan leksikal atau kosa kata
yang digunakan dalam menunjuk
objek yang sama (Fromkin et al 2003
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
76
: 448), perbedaan sintaktik dalam
penyusunan kalimat yang mengacu
sebuah peristiwa yang sama dan
perbedaan fonologis pada kata yang
sama (Fromkin et al 2003 : 453).
Variasi regional meliputi pelafalan,
sintaksis, dan kosakata.
Contoh
perbedaan kosa kata adalah freeway
in Los Angeles tetapi thruway di New
York, parkway di New Jersey tetapi
motorway di Inggris. Variasi juga
terjadi di negara yang menggunakan
bahasa Inggris sebagai bahasa utama
sehingga ada bahasa Inggris aksen
Amerika Serikat, Australia, dan
Selandia Baru. Perbedaan secara
fonologis
dicontohkan
sebagai
berikut : orang Selandia Baru
mengucapkan kata dad
yang
terdengar seperti kata dead bagi
orang Inggris, demikian juga bunyi
bad terdengar seperti bed (Holmes,
2001 : 124). Perbedaan kosa kata
dicontohkan sebagai berikut : untuk
menyebut orang-tua tunggal, orang
Australia menggunakan istilah sole
parents, orang Inggris single parents,
sedangkan orang Selandia Baru solo
parents (Holmes, 2001 : 124).
Contoh perbedaan sintaksis adalah
sebagai berikut
: orang Amerika
Serikat mengucapkan do you have
untuk menanyakan apakah seseorang
mempunyai
atau
mendapatkan
sesuatu, sedangkan orang Inggris
mengucapkan have you got, orang
Amerika Serikat mengucapkan did
you eat untuk menanyakan apakah
seseorang sudah makan, orang
Inggris mengucapkan have you eaten.
Orang Inggris menggunakan lift dan
petrol sedangkan orang Amerika
menggunakan elevator dan gas. Di
Inggris public school adalah sekolah
swasta sedangkan di Amerika Serikat
sekolah negri. Perbedaan dialek pada
awalnya terjadi karena adanya
perbedaan yang terjadi di suatu
daerah tetapi tidak menyebar ke
daerah lain. Ketika perbedaan
terakumulasi di daerah tertentu dan
bahasa tersebut membentuk karakter
yang berbeda maka akhirnya menjadi
dialek tersendiri.
Dialek Sosial
Dialek sosial (social dialect)
adalah dialek yang dipakai oleh kelas
sosial tertentu atau yang menyebar
secara vertical di masyarakat. Yang
dimaksud dengan kelas sosial adalah
sekelompok orang dalam masyarakat
yang mempunyai karakteristik atau
norma-norma tertentu berdasarkan
perbedaan
status
sosialnya.
Kelompok sosial dapat dibedakan
berdasarkan jenis kelamin, jender,
umur, pekerjaan atau profesi,
pendidikan,
pendapatan,
dan
sebagainya (Romaine, 2000 : 67).
Pada
awalnya,
masyarakat
menggunakan bahasa yang seragam
tetapi
pada
saat
masyarakat
berkembang, pendidikan mempunyai
peranan yang menentukan bentuk
bahasa yang dipakai (Holmes, 2001 :
132). Sebagai contoh bahasa yang
berkembang di lingkup vertikal yang
digunakan oleh berbagai profesi
berbeda-beda.
Bahasa
yang
digunakan oleh kalangan militer
berbeda dengan bahasa
yang
digunakan oleh kalangan kedokteran,
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
77
sastrawan, dan politisi. Bahasa yang
digunakan oleh golongan terpelajar
berbeda dengan kaum yang tidak
terpelajar.
Penelitian yang dilakukan
berkenaan dengan dialek sosial di
banyak negara menunjukkan adanya
hubungan yang tetap antara status
sosial dan pola berbahasa. Orang dari
kelompok sosial yang berbeda
berbicara secara berbeda. Perbedaan
yang paling mudah dijumpai adalah
penggunaan kosakata yang berlainan
(Holmes, 2001 : 135). Sebagai
contoh, pada tahun 1950-an di Inggris
orang dari status sosial yang berbeda
menggunakan kosakata yang berbeda
untuk menunjukkan hal yang sama.
Orang dari status sosial atas
menyebut sitting room, sedangkan
orang dari status sosial yang lebih
rendah menyebut lounge, orang dari
status sosial atas menyebut lavatory,
sedangkan orang dari status sosial
yang lebih rendah menyebut toilet
(Holmes, 2001 : 135).
Bahasa Baku
Ragam
bahasa
menurut
pendidikan penuturnya menunjukkan
perbedaan yang jelas antara kaum
yang berpendidikan formal dan yang
tidak, dan ragam bahasa orang yang
berpendidikan atau terpelajar lazim
diterima sebagai ragam baku
(standard language) (Alwi et al 2003
: 45). Bahasa baku sebenarnya adalah
sebuah dialek atau sekelompok dialek
yang banyak persamaannya, yang
mempunyai martabat tinggi sebagai
bahasa orang terpelajar atau sebagai
bahasa suatu kelompok masyarakat
terhormat (Robins, 1992 : 67). Dalam
bahasa Inggris, lafal yang khas ini
disebut lafal yang diakui (received
pronunciation). Ragam bahasa baku
atau bahasa standar disebut juga
dominant dialect atau prestige dialect
(Fromkin et al 2003 : 445), yaitu
merupakan ragam bahasa yang
dijadikan sebagai tolok bandingan
bagi pemakai bahasa yang benar
(Alwi et al 2003 :11). Ragam baku
juga merupakan ragam bahasa yang
diperkenalkan dalam buku ajar untuk
pembelajaran
orang asing yang
mempelajari
bahasa
tertentu
(Bloomfield, 1993 : 41). Ragam
bahasa
baku
memiliki
sifat
kemantapan
dinamis
dan
kecendekiaan. Kemantapan dinamis
berarti kemantapan yang tidak kaku,
yang cukup luwes atau fleksibel
sehingga memungkinkan perubahan
sistematik dan teratur dibidang kosa
kata
dan
peristilahan
serta
mengizinkan perkembangan yang
diperlukan dalam kehidupan modern.
Kecendekiaan berkaitan dengan
perwujudannya
dalam
kalimat,
paragraf, dan satuan bahasa lain yang
lebih besar yang mengungkapkan
penalaran yang teratur dan masuk
akal (Alwi et al 2003 : 13-14).
Ragam bahasa baku memiliki
tiga fungsi yang bersifat simbolik dan
satu fungsi yang bersifat objektif.
Ketiga fungsi yang bersifat simblik
itu adalah (1) sebagai pemersatu yang
menghubungkan semua penutur
dialek bahasa yang bersangkutan, (2)
pemberi kekhasan, fungsi ini
membedakan bahasa itu dari bahasa
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
78
lainnya, dan (3)
pembawa
kewibawaan, fungsi ini berhubungan
dengan usaha orang untuk mencapai
kesederajatan dengan peradaban lain
yang dikagumi lewat pemerolehan
bahasa baku itu sendiri. Fungsi
objektif bahasa baku adalah sebagai
kerangka acuan bagi pemakaian
bahasa melalui norma dan kaidah
yang jelas yang menjadi tolok ukur
bagi benar tidaknya pemakaian
bahasa orang atau golongan (Alwi et
al 2003 : 14-16).
Bahasa nasional (national
language) adalah bahasa yang
menjadi standar atau lingua franca di
negara yang mempunyai banyak
bahasa karena perkembangan sejarah
: kesepakatan bangsa atau ketetapan
undang-undang
(Kamus
Besar
Bahasa Indonesia, 2002). Di negara
dengan banyak bahasa, pemerintah
mendeklarasikan bahasa tertentu
sebagai bahasa nasional dengan
alasan politik (Holmes, 2001 : 97).
Bahasa nasional adalah bahasa
politik, kebudayaan dan unit-unit
sosial yang lain. Bahasa nasional
dikembangkan
dan
digunakan
sebagai
simbol
nasional
dan
fungsinya adalah sebagai identitas
bangsa
dan
alat
pemersatu.
Sementara itu, bahasa resmi (official
language) adalah bahasa yang
digunakan dalam komunikasi resmi,
seperti dalam perundang-undangan
dan surat-menyurat dinas, dan diakui
sebagai sarana interaksi yang
berhubungan dengan pelaksanaan
fungsi jabatan (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2002). Ada suatu negara
yang mengunakan satu bahasa
sebagai bahasa resmi dan sekaligus
bahasa nasional. Akan tetapi ada juga
negara yang menggunakan bahasa
yang berbeda sebagai bahasa nasional
dan bahasa resmi. Di India, bahasa
Hindi tidak berhasil dengan baik
digunakan sebagai bahasa nasional.
Empat belas bahasa daerah akhirnya
diakui sebagai bahasa nasional
berdampingan dengan bahasa Inggris
dan Hindi (Holmes, 2001 : 97).
Gaya dan Laras
Ragam bahasa menurut sikap
penutur disebut langgam atau gaya
(style) (Fromkin et al 2003 :472).
Pemilihannya bergantung pada sikap
penutur terhadap lawan bicaranya
yang dapat meliputi umur (age),
jenis kelamin (sex) dan kedudukan
lawan bicara (social status), tingkat
keakraban (social distance), pokok
persoalan yang dibicarakan (topic),
dan tujuan penyampaian informasi
(formal or informal) (Alwi et al,
2003 : 5). Sebagai contoh, bahasa
yang digunakan oleh seorang siswa
ketika bertutur dengan gurunya
berbeda dengan bahasa
yang
digunakan ketika ia sedang bertutur
dengan temannya, bahasa laki-laki
berbeda dengan perempuan, dan
bahasa anak-anak berbeda dengan
orang tua.
Gaya berbahasa adalah cara
seseorang berbahasa, baik secara
lisan atau tertulis
yang berbeda
dengan orang lain. Gaya berbahasa
ditentukan oleh dua unsur yaitu
pilihan kata (diksi) dan pilihan
kalimat (sintaksis). Ada seseorang
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
79
yang kalimatnya tersusun panjangpanjang tetapi ada yang tersusun
pendek-pendek. Contoh dalam bahasa
Indonesia, ada seseorang yang lebih
senang menggunakan kata senantiasa
daripada selalu, ada orang yang lebih
senang menggunakan kata sudah
daripada telah.
Gaya juga berkaitan dengan
diglosia yaitu situasi yang menuntut
pemakaian dua ragam pokok bahasa
secara berdampingan untuk fungsi
kemasyarakatan
yang
berbeda.
Ragam pokok yang pertama disebut
ragam tinggi (formal style), yaitu
ragam yang biasa dipakai untuk
sarana kepustakaan dan kesusasteraan
yang muncul pada satuan masyarakat
bahasa. Ragam pokok yang kedua
disebut ragam rendah (informal style)
yang muncul dan tumbuh dalam
berbagai rupa dialek rakyat. Ragam
tinggi digunakan untuk berbagai
keperluan seperti, pidato resmi,
khotbah atau ceramah, penyiaran,
penulisan yang bersifat
resmi
termasuk tajuk rencana dan artikel
dalam surat kabar, dan susastra.
Ragam rendah biasa digunakan untuk
percakapan yang akrab, tawarmenawar dalam jual beli, tulisan tak
resmi
seperti
dalam
surat
antarpribadi, dan dalam kolom
khusus surat kabar yang sengaja
memeragakan ragam itu (Alwi et al
2003 : 10). Pada ragam tinggi
digunakan standar baku sesuai
dengan kaidah tatabahasa, sedangkan
pada ragam rendah tidak berpedoman
pada kaidah tatabahasa baku, seperti
seringnya terjadi penyingkatan kata
atau susunan kalimat. Sebagai contoh
pada ragam rendah Are you going to
take the Linguistics I course
disingkat menjadi Gonna take Ling I,
Are you running the marathon?
disingkat menjadi Running the
marathon? atau You running the
marathon? tetapi menyingkatnya
bukan menjadi Are running the
marathon ?
Laras (register) merupakan
tipe khusus dari gaya. Laras dicirikan
oleh masyarakat pemakai bahasa
dengan menggunakan kosakata atau
pilihan kata dan kalimat yang berlaku
untuk satu bidang khusus yang khas
dalam golongan sosial. Laras
bertalian dengan profesi (Holmes,
2001 : 124). Sebagi contoh bahasa
yang digunakan oleh pengacara,
dokter dan ulama, masing-masing
mempunyai kekhasan sendiri. Ulama
dalam
menjelaskan
konsep
keagamaan akan memakai istilah
Arab yang dilafalkan ke Arab-araban.
Lingua Franca, Pijin dan Kreol
Lingua franca berasal dari
kata Frankish language yaitu bahasa
Perancis
yang
pada
mulanya
digunakan sebagai bahasa diplomasi
ketika Perancis berkuasa di daratan
Eropa. Dalam pengertian dewasa ini,
lingua franca adalah bahasa yang
dipakai sebagai alat komunikasi antar
kelompok
masyarakat
yang
mempunyai bahasa yang berlainan
dan disepakati untuk digunakan
bersama dalam suatu kawasan.
Lingua franca kebanyakan dipakai
oleh penutur asli bahasa lain. Pada
awalnya, lingua franca adalah bahasa
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
80
kacukan dan akhirnya menjadi bahasa
perantara yang dipakai oleh penutur
asli bahasa lain (Fromkin et al 2003 :
469). Lingua franca pada awalnya
adalah bahasa untuk kepentingan
perdagangan (Fromkin et al 2003 :
468) yaitu ketika bangsa-bangsa
Eropa
mengadakan
kegiatan
penjelajahan
samudera
dan
imperialisme. Bahasa Inggris menjadi
lingua franca di negara-negara yang
dijajah oleh Inggris, demikian juga
dengan bahasa Perancis. Bahasa
Latin juga menjadi lingua franca di
zaman kekaisaran Romawi. Bahasa
apapun dapat menjadi lingua franca.
Di Afrika Timur didiami oleh ratusan
perkampungan,
masing-masing
penduduk di perkampungan tersebut
berbicara dengan bahasanya sendiri.
Akan tetapi sebagian besar orang
Afrika di daerah ini belajar bahasa
Swahili sebagai bahasa kedua untuk
berkomunikasi
dengan
penutur
bahasa lain di tempat itu. Pada kasus
ini bahasa Swahili juga menjadi
lingua franca yang digunakan di
pusat-pusat perdagangan. Situasi
yang sama juga terjadi di Nigeria,
bahasa Hausa juga menjadi lingua
franca di negara ini.
Pada kasus tertentu, ketika
transaksi sosial antar-penutur asli
bahasa yang berlainan dimulai,
penutur
tersebut
biasanya
menciptakan sebuah bahasa bersama
yang baru dipahami oleh pembuatnya
saja. Bahasa ini belum mempunyai
penutur
asli
dan
sepenuhnya
merupakan bahasa yang marginal
atau disebut pijin (pidgin) (Fromkin
et al 2003 : 469). Pijin terjadi bila
dua kelompok penutur yang berbeda
bahasa
bertemu
dan
terjadi
percampuran kosakata dan tata
bahasa antara bahasa yang satu
dengan yang lain. Terdapat banyak
pijin di seluruh dunia, termasuk yang
mendasarkan pada bahasa Inggris.
Sebagai contoh adalah Tok Pisin. Tok
Pisin adalah pijin yang mendasarkan
pada bahasa Inggris yang digunakan
secara luas di Papua Nugini. Dalam
kasus ini, banyak kosakata dan
struktur kalimat hanya berdasarkan
pada satu bahasa dalam hal ini bahasa
Inggris. Tok Pisin mempunyai sistem
penulisan, dan kesusasteraan sendiri,
bahkan digunakan untuk rapat-rapat
di tingkat nasional. Dalam kasus ini,
arti sebuah kata terkadang dimaknai
sendiri oleh penuturnya. Misalnya,
sun diartikan sebagai lamp belongs
Jesus.
Pada tahap selanjutnya, meski
tidak selalu terjadi, pijin dapat
menjadi kreol (creole), yaitu jika
bahasa tersebut mendapatkan penutur
asli (Fromkin et al : 472). Pijin yang
muncul dari kontak antara dua bahasa
dan jika hal itu menjadi stabil
kemudian
diturunkan
kepada
keturunannya maka bahasa itu
disebut kreol. Istilah kreol berasal
dari bahasa Portugis yang berarti
orang kulit putih keturunan Eropa
yang besar di daerah koloni tropis
atau semi tropis.
Dibandingkan
dengan pijin, kreol memiliki lebih
banyak unsur leksikal dan memiliki
batasan gramatikal yang lebih luas
dan jelas, sehingga lebih berpeluang
menjadi bahasa yang mandiri secara
utuh (Fromkin et al 2003 : 472).
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
81
Sebagai contoh bahasa Melayu pasar
yang tersebar ke seluruh Nusantara
dari Malaka sampai Menado, bahasa
Melayu tersebut bercampur dengan
bahasa
setempat
kemudian
diturunkan kepada keturunannya,
sehingga ada bahasa Melayu Ambon,
Melayu Menado, dan sebagainya.
Dahulu di Amerika Serikat, Kreol
sering juga muncul pada budak
perkebunan dari Afrika di area
tertentu. Pada awalnya, banyak suku
bangsa yang berbeda berkomunikasi
dengan pijin-perkebunan, kemudian
pijin diturunkan kepada keturunannya
dan menjadi kreol. Kreol di Haiti
berdasarkan
bahasa
Perancis,
sedangkan Gulah adalah kreol
berdasarkan bahasa Inggris pada
keturunan Afrika yang tinggal di
pantai di Georgia dan South Carolina,
Amerika Serikat.
Slang, Jargon dan Argot
Slang adalah bahasa gaul
(colloquial language) atau bahasa
prokem, yaitu bahasa tidak resmi dan
tidak baku yang sifatnya musiman,
dipakai oleh kaum remaja
atau
kelompok sosial tertentu
untuk
komunikasi internal dengan maksud
agar yang bukan anggota kelompok
tidak mengerti (Robins, 1992 : 62).
Bahasa prokem dicirikan oleh
penggunaan leksikon tertentu. Slang
dapat terjadi melalui pemberian
makna baru terhadap kata lama
seperti rave menjadi an all-night
dance
party,
grass
menjadi
marijuana, pig dan fuzz digunakan
untuk menyebut police officer. Slang
juga dapat terjadi melalui penciptaan
kata-kata baru seperti barf, flub, dan
pub dan penggabungan kata-kata
lama dengan makna baru seperti
spaced out, right on, hang-up dan
rip-off.
Jargon adalah laras bahasa
yang sengaja dipakai oleh kalangan
tertentu tetapi tidak dipahami oleh
kalangan di luar kalangan tersebut.
Jargon biasanya berkenaan dengan
kosakata khusus yang digunakan
dalam bidang kehidupan tertentu
(Robins, 1992 : 62). Sebagai contoh
airstream
mechanism
yang
digunakan oleh ahli fonetik. Contoh
jargon dalam linguistik adalah
phoneme, morpheme, lexicon, dan
phrase structure rule. Slang dan
jargon dipakai oleh kelompokkelompok
yang
mempunyai
hubungan yang erat dalam sebuah
masyarakat. Pemakaian slang dan
jargon pada kesempatan yang sesuai
oleh orang yang bersangkutan
membantu
memberikan
‘orang
dalam’ rasa kesatuan kelompok dan
dapat membedakan mereka dengan
orang luar.
Sementara itu, argot adalah
bahasa dan perbendaharaan kata yang
bersifat rahasia dari suatu kelompok
orang, misalnya bahasa para pencopet
(Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2002). Argot dapat memberikan rasa
aman bagi kelompok pengguna
bahasa tersebut. Sebagai contoh
dalam bahasa Inggris kata plaintiff
yang berarti brought a chide from the
attorney
yang
digunakan
di
pengadilan ketika mengadili kasus
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
82
kriminal. Para pelaku kriminal
biasanya menggunakan argot untuk
alasan
keamanan
sehingga
pengadilan
menggunakan
argot
tertentu
untuk
mengidentifikasi
kelompok kriminal.
Tabu atau Pantang
Sejumlah
kata
dalam
masyarakat mengandung tabu atau
pantang bahasa, yaitu kata atau frasa
yang
tidak dapat sembarang
digunakan (Fromkin et al 2003 :
476). Eksistensi kata yang tabu
mengakibatkan
penggunaan
eufemisme, yaitu kata atau frasa lain
yang digunakan untuk mengurangi
efek yang tidak menyenangkan dari
kata yang tabu tersebut (Fromkin et
al 2003 : 468). Hal tersebut juga
menunjukkan bahwa terdapat banyak
kata dalam sebuah bahasa yang
memiliki
konotasi
yang
menggambarkan nilai rasa yang
terkandung (Fromkin et al : 481).
Tabu berhubungan dengan dua ranah
yaitu ranah supra natural
atau
kepercayaan dan ranah fisiologis.
Ranah supranatural berhubungan
dengan kepercayaan, sebagai contoh
orang Yahudi tidak menyebut nama
Tuhan tetapi dengan menggunakan
istilah YHWH, orang Indonesia
menyebutnya dengan istilah Yang di
Atas. Penggunaan eufemisme pass
away lebih enak kedenganrannya
daripada die Ranah
yang kedua
adalah ranah yang berhubungan
dengan faal manusia (fisiologis)
sehingga dicari kata pengganti yang
lebih halus yang disebut eufemisme.
Misalnya kata BAB (be-a-be) sebagai
pengganti kata berak karena kata
berak terdengar tidak sopan atau
kurang enak. Tabu juga berkenaan
dengan alat reproduksi, yaitu
perbuatan yang dilakukan oleh alat
kelamin dengan menggunakan kata
berjima’ yang artinya bersetubuh,
yang
dalam
bahasa
Inggris
menggunakan istilah making love to
untuk menyebut
having sexsual
intercourse. Digunakan eufemisme
defecates untuk menggantikan shit,
eufemisme breasts untuk tits dan
sebagainya.
SIMPULAN
Bahasa yang digunakan dalam
masyarakat tidak sama, variasi
bahasa tersebut disebut ragam
bahasa.
Ragam
bahasa
yang
menyebar secara horizontal disebut
dengan dialek regional, sedangkan
yang menyebar secara vertikal
disebut dialek sosial.
Perbedaan
yang paling mudah diidentifikasi
adalah penggunaan kosakata yang
berbeda untuk menunjuk hal yang
sama atau penggunaan struktur
kalimat
yang
berbeda
untuk
menyatakan
hal
yang
sama.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh
status sosial yang meliputi umur,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan
atau profesi, dan penghasilan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan., Hans
Lapoliwa,
Anton. M Moeliono, Soenjono
Dardjowidjojo, 2006.
Tata
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
83
Bahasa
Indonesia.
Pustaka
Baku
Jakarta
:
Bahasa
Balai
Bloomfield, Leonard, 1995. Bahasa.
Terjemahan Language oleh I.
Soetikno. Jakarta : Gramedia.
Fromkin, Victoria, R. Rodman, and
N.
Hyams.
2003.
An
Introduction
to
Language
(seventh edition). Boston :
Thomson Heinle.
Holmes, Janet, 2001. An Introduction
to Sociolinguistics. London :
Longman.
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2002. Edisi ke-3. Jakarta. Balai
Pustaka.
Robins, R.H
1992
Linguistik
Umum.Terjemahan
General
Linguistics oleh
Soenarjati
Djajanegara. Yogyakarta :
Kanisius.
Romaine, Suzanne, 2000. Language
in Society: An Introduction to
Sociolinguistic, 2nd edition.
New York : Oxford University
Press.
Jurnal Makna, Volume 1. Nomor 2. September 2010 – Pebruari 2011
84
Download