Untitled

advertisement
RISALAH
MANAJEMEN
DAKWAH
FAKULTAS
KEDOKTERAN
Departemen Pengembangan LDFK dan Kaderisasi
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia
2012-2013
BOARD OF EXPERTS
Muhammad Tanri Arrizasyifaa
Pundra Adhisatya P
Sayyid Hakam
Tazkia Fatimah
Cyntia Evinur Ananda
Muhammad Ilman
Rialta Hamda
Heri Wahyudi
Indri Noor Hidayati
Rahayu Purwita Sari
Reqgi First Trasia
Foreword
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah mengkaruniakan nikmat
yang berlimpah kepada hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada suri tauladan
umat manusia sepanjang masa Rasulullah SAW.
Menyeru pada agama Allah adalah sebaik-baik pekerjaan sebagaimana firman Allah SWT:
”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang menyerah diri?’" – QS. Fushilat 41:33
Maka dalam melakukan kegiatan ini hendaknya para aktifis dakwah bersungguh-sungguh
dengan mencurahkan tenaga dan pikiran terbaiknya. Sudah menjadi salah satu karakteristiknya,
bahwa jalan dakwah itu panjang dan banyak tantangan. Untuk mengatasi hal ini maka metode
dakwah yang efektif dan efisien pun perlu dikembangkan, terkhusus dalam lingkungan dakwah di
kampus fakultas kedokeran. Alhamdulillah, saat ini hampir di seluruh fakultas kedokteran di
Indonesia telah ada suatu lembaga dakwah fakultas kedokteran (LDFK) di dalamnya. Namun ternyata
dalam keberjalanannya tetap banyak ditemui permasalahan dalam managemen lembaga dakwah
fakultas kedokteran ini, hal ini terjadi baik pada pada LDFK yang relatif baru ataupun yang sudah
cukup lama berdiri.
FULDFK Indonesia dalam hal ini sebagai wadah LDFK se-Indonesia, merasa perlu untuk
menyusun suatu Risalah Managemen Dakwah Fakultas Kedokteran (RMDFK) yang bisa dijadikan
rujukan dan panduan dalam mengelola LDFK. Hal ini sejalan dengan Renstra FULDFK Indonesia yaitu
”LDFK Berjaya 2017” , dimana diharapkan 80% LDFK berstatus sebagai LDFK Mandiri, karena jika
LDFK tersebut berstrata mandiri berarti kegiatan syiar islam, kaderisasi dan dakwah islam pada
umumnya berjalan dengan produktif, sehingga diharapkan semakin banyak nantinya lulusan fakultas
kedokteran yang berafiliasi kepada islam dan siap mendukung dakwah baik di dalam maupun diluar
profesi.
Setelah digagas lebih dari 2 tahun yang lalu, akhirnya sebuah panduan komprehensif untuk
manajemen dakwah di kampus fakultas kedokteran yaitu Risalah Managemen Dakwah Fakultas
Kedokteran (RMDFK) selesai dibuat. Dalam pembuatannya dihimpun berbagai pemikiran dan
pengalaman dari para kader dakwah terbaik yang telah mendalami dan membaktikan dirinya di
medan dakwah fakultas kedokteran. Di dalamnya dijelaskan bagaimana cara memanagemen LDFK
dari berbagaimacam aspek. LDFK hendaknya dapat dengan bijak menerapkan isi dari RMDFK sesuai
dengan kondisi di masing-masing LDFK, karena kondisi satu LDFK dengan LDFK yang lainnya
tentulah tidak sama seluruhnya. Sehingga semoga kita para aktifis dakwah di lingkungan kampus
fakultas kedokteran dapat menjadi aktifis dakwah yang Profesional, yaitu bagian dari umat yang siap
memberikan bakti terbaik untuk dakwah, sebagaimana firman Allah SWT
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang
yang beruntung.“ – QS. Ali Imran 3:104
Surakarta, 25 Mei 2013
Ketua Umum FULDFK Indonesia
Yasjudan Rastrama Putra
Daftar isi
dakwah kita
1
Muhammad Tanri Arrizasyifaa
manajemen ldfK
5
Pundra Adhisatya P
manajemen tarbiyah
18
Sayyid Hakam
syiar universal
41
Tazkia Fatimah
syiar akademi & profesi
44
Cyntia Evinur Ananda
syiar kemasjidan
51
Muhammad Ilman
sistem organ kepengurusan ekstra ldfk
54
Rialta Hamda
dakwah profesi kedokteran
67
Heri Wahyudi
regulasi keuangan
78
Indri Noor Hidayati
penelitian & pengembangan
81
Rahayu Purwita Sari
syiar media
87
Reqgi First Trasia
syiar kemuslimahan
Reqgi First Trasia
94
DAKWAH KITA | 1
1
DAKWAH KITA
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.
– QS. An-Nahl : 125
"..Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena
kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu
tetap mempelajarinya”.
– QS Ali Imran : 79
S
audaraku, Allah ‘Azza Wa Jalla menakdirkan manusia hidup di dunia dengan disertai pedoman
hidup yang sempurna. Dia utus RasulNya dengan membawa risalah Islam sebagai satu-satunya
jalan keselamatan. Hidup dalam naungan Islam adalah nikmat tak ternilai yang tidak bisa
diganti dengan apapun karena ia adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk itu, kita
sepatutnya bersyukur menjadi seorang muslim. Rasa syukur itu selayaknya kita nyatakan dalam
bentuk berusaha sebaik mungkin untuk menjadi muslim yang sebenar-benar muslim.
Proses menjadi muslim ideal adalah proses berkelanjutan karena tabiat manusia yang tidak
mungkin sempurna. Seiring berjalannya waktu, proses kita berusaha menjadi muslim ideal yang
dicontohkan oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘Alayhi Wa Sallam harus terus berjalan. Selalu ada ruang
untuk terus membina diri dan menambah amal shaleh seiring kehidupan yang masih Allah izinkan
untuk berlanjut. Kuncinya satu saja: Islam.
DAKWAH KITA | 2
Bersamaan dengan proses kita membina diri, kewajiban lain yang tidak dapat terpisahkan dari
keislaman kita adalah berdakwah. Menyampaikan kebenaran Islam kepada orang lain melalui
berbagai cara adalah kewajiban yang tidak boleh kita abaikan. Seperti pada ayat yang tersebut di
atas, generasi rabbani adalah generasi yang mengajarkan Alkitab dan tetap mempelajarinya.
Dalam ayat yang lain, Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman, “Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyerukan kebaikan, menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah yang
munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imran (3) : 104]
Ayat tersebut diperkuat oleh ayat berikut, “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. [QS
Al ‘Ashr (103) : 1-3]
Oleh karena itu, kita harus berdakwah agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.
***
Dakwah secara bahasa berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan
da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut syara’ (istilah), dakwah
memiliki beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman
kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka
beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.
Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan
segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum.
Setelah itu pembinaan masyarakat Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud
kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam
segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan.
Dapat kita simpulkan, dakwah Islam pada hakikatnya adalah seruan untuk berubah. Ia
merupakan usaha mentransformasi manusia pada tataran individu maupun masyarakat dari
kehidupan yang penuh kegelapan jahiliyyah menuju kehidupan yang mencerminkan cahaya Islam.
Perubahan individu menuju pribadi muslim sejati (syakhsiyyah islamiyyah) dilakukan dalam kerangka
transformasi sosial, karena terbentuknya pribadi muslim bukanlah akhir dari perjuangan dakwah.
Pribadi-pribadi muslim harus juga terbentuk menjadi pribadi-pribadi da’i (syakhsiyyah da’iyyah)
sehingga mampu berperan aktif dalam melakukan perubahan sosial.
Cita-cita akhir dari dakwah ini digambarkan oleh ayat, “Dan perangilah mereka itu, sehingga
tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka
berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang
yang zalim”. [QS. Al Baqarah (2) : 193]
Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah syirik, sebagaimana ayat berikut, “Kelak kamu
akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu
dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun
kedalamnya”. [QS. An Nisaa (4) : 91]
DAKWAH KITA | 3
***
Saudaraku, dakwah yang kita lakukan juga merupakan cara kita menyelamatkan diri dari siksa
Allah Subhaanahu Wa Ta’aala baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkanmu? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam
jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai
(yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang beriman. [QS Ash Shaff (61) : 10-13]
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru
kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa sesungguhnya
Allah membatasi antara manusia dan hatinya[606] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan
dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. [QS Al Anfaal (8) :
24-25]
Dalam Al Quran, orang-orang kafir laknatullah juga digambarkan dengan ketidakpedulian
mereka melihat kemungkaran. Allah berfirman, “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang
tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka
perbuat itu”. [QS Al Maaidah (5) : 79]
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita
kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu
menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. [QS An Nisaa (4) : 104]
“Apabila Allah memberi hidayah kepada seorang hamba melalui upayamu, maka itu lebih baik
bagimu daripada yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” (HR. Bukhari – Muslim)
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya
dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan
lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Dan itulah selemahlemahnya Iman dan setelah itu tidak ada lagi iman sedikitpun.” (HR.Muslim)
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada
kemakrufan, mencegah dari kemungkaran atau Allah menyegerakan pengiriman siksa dari sisi-Nya,
kemudian kamu berdoa kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.” (HR. Ibnu Majah dan
Tirmidzi]
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” [QS Ali Imran (3) : 110]
Dakwah bukan aktivitas mubah yang dikerjakan hanya di saat luang atau ibadah sunnah yang
dikerjakan selagi bersemangat saja atau fardhu kifayah yang cukup dilakukan oleh segelintir orang.
DAKWAH KITA | 4
Dakwah adalah aktivitas fardhu’ain yang yang dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku sebagai
muslim.
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu
Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata:
"Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan
lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh
mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. [QS Ash Shaff (61) : 14]
“Hai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” [QS. Al Muddatstsir
(74) : 1-2]
“Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim dalam per-kara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” [QS. An Nisaa (4): 65]
“Sesungguhnya Kami telah Menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) Petunjuk dan Cahaya
(yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang
berserah diri kepada Allah, oleh orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan
mereka diperintahkan memelihara Kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena
itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu
menukar Ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut
apa yang Diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Maa‟idah (5) :
44]
“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt
dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah
diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepa-damu dari Tuhanmu: dan jika engkau
tidak melakukannya (apa yang Diperintahkan itu, berarti), kamu tidak menyampai -kan Amanat-Nya.
Allah Memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak Memberi Petunjuk
kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah 5:67)
“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (dakwah)-mu,
itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan
pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan
barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa
orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
MANAJEMEN LDFK | 5
2
MANAJEMEN LDFK
Visi & Misi
1. Pendahuluan
Peraturan-peraturan dasar LDK merupakan fondasi, kiblat, dan referensi utama –tentunya
selain Qur’an dan As-Sunnah—penyelenggaraan organisasi LDK. Ibarat sebuah rumah, fondasi saja
tidak cukup untuk menjadikan sebuah rumah nyaman ditinggali sekaligus melindungi penghuninya.
Sebuah rumah tidak cukup memiliki lantai dan pilar saja, tetapi juga butuh atap, jendela,
perabotan, bahkan mungkin membutuhkan kolam renang dan taman nan indah di hamparan teras.
Agar sebuah rumah dapat mencapai bentuk idealnya, seorang arsitek –saat mulai memulai proses
pembangunan rumah-- harus mempunyai visualisasi yang jelas, tegas, terencana, dan konsisten
mengenai bentuk akhir rumah yang kelak akan hadir. Tanpa visualisasi yang jelas dari sang arsitek,
lantai dan pilar hanya akan ada tanpa makna, batu bata dan semen akan tersusun tanpa arah tak
berguna, dan pada akhirnya merugikan dan mengecewakan semua pihak.
Visualisasi arsitek tadi, dapat dianalogikan sebagai visi dan misi penyelenggaran LDK yang
ada di kepala rekan-rekan pelaku LDK, terutama rekan-rekan top manager. Visi dan misi bukanlah
semata rangkaian kata sulit nan indah untuk menggambarkan kegagahan gagasan para pelaku
LDK. Rekan-rekan LDK –terutama para top manager—harus paham betul mengenai visualisasi yang
ada di kepala mereka. Visi dan misi organisasi, termasuk LDK, harus dibangun atas kesadaran
penuh dan kecerdasan membaca lingkungan atas peran yang akan diambil LDK untuk
kemanfaatan. Visi harus hidup, sederhana, tergambar jelas bagi seluruh segmen pelaku LDK
terkait, pun begitu dengan misi. Pada bagian ini, kita akan sama-sama belajar membangun dan
memahami visualisasi ini; bagaimana menyepadankan kegagahan gagasan dengan kekuatan
MANAJEMEN LDFK | 6
makna-obyektifitas demi tercapainya LDK yang bekerja dengan efektif dan efisien bagi
kepentingan dakwah.
a. Definisi dan Karakteristik
Menurut Wibisono (2006), visi adalah rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau
impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Bila
disederhanakan, visi adalah penyataan want to be dari sebuah organisasi. Visi merupakan
impian komprehensif, kejelasan dan keluasan pandangan, kejelasan persepsi dan pemahaman
tentang sebuah organisasi. Visi akan digunakan dalam penyelenggaraan organisasi yang
menyentuh banyak aspek, sumber daya, dan sudut pandang. Untuk itu, sebuah visi harus
dapat menjadi sebuah ilham dan inspirasi setiap gerak sumber daya pada sebuah organisasi;
mendamaikan semua sudut pandang dan menjadi prinsip-prinsip yang menggelorakan ghirah
pelaku-pelaku organisasi. Untuk merumuskan visi, menurut B.S Wibowo dalam buku SHOOT,
terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yakni:
- Visi adalah yang tampak di khayal atau kemampuan untuk melihat pada inti persoalan
- Visi adalah bagaimana anggota lembaga tersebut bersepakat untuk mencapainya
- Visi adalah sebuah ekspresi atas harapan
- Visi merupakan penjabaran bagaimana wujud suatu lembaga apabila tujuannya tercapai
- Visi ditulis dalam bentuk tujuan dalam satu kalimat pendek
- Visi sebaiknya pendek, singkat, dan spesifik
- Visi sebaiknya relevan dengan lembaga, dapat dicapai, dan memuaskan
- Visi hendaknya dapat diukur pencapaiannya, sehingga dapat dikembangkan jika sudah
tercapai
- Visi sebaiknya yang kasat mata sehingga semua orang dapat melihat tujuan dan dapat
menyetujui imajinasinya
- Visi tidak lepas dari sejarah pendirian dan perkembangan lembaga
Sedangkan misi menurut Wheelen (dikutip oleh WIbisono, 2006) adalah rangkaian
kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan keberadaan sebuah organisasi. Dalam konteks
perusahaan, misi memuat apa yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat, meliputi
produk maupun jasa. Menurut A.B.Susanto, misi adalah bagaimana untuk menghadirkan
impian-impian pada pernyataan visi menjadi kenyataan Menurut Dengan kata lain, misi
adalah pernyataan tentang apa-apa yang harus dikerjakan oleh sebuah organisasi dalam
rangka usahanya mewujudkan visi. Misi merupakan sesuatu yang nyata dan spesifik untuk
dituju serta dapat menggambarkan garis besar pencapaian visi. Menurut Asropi, pernyataan
misi diawali oleh sebuah kata kerja. Menurut buku RMDFK Gamais ITB, terdapat beberapa
core points dari misi yang harus kita perhatikan. Misi harus dibangun dalam rangka menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut :
- Siapa kita?
- Apa maksud dan tujuan keberadaan organisasi kita ?
- Masalah apa yang ingin kita pecahkan ?
- Apa yang akan kita lakukan untuk memecahkan masalah tersebut ?
- Apa filosofi dan prinsip nilai yang organisasi kita miliki ?
- Kekhususan apa yang organisasi kita miliki yang tidak ada pada organisasi lain ?
MANAJEMEN LDFK | 7
Selain fokus pada objective pernyataan misi, kita juga perlu memperhatikan –meskipun ini
bersifat sunnah-- sisi ‘estetika’ dari sebuah pernyataan misi. Mari kembali kita ingat, pernyataan
misi sejatinya adalah pernyataan langkah-langkah, kepribadian, dan kristalisasi nilai-nilai juang
sebuah organisasi. Pernyataan misi bukanlah sajian puitis kegagahan gagasan para aktivis, justru
para aktivis mempunyai pekerjaan rumah untuk membuat pernyataan misi yang esensial nan
penuh makna menjadi sebuah sajian yang begitu menarik, sederhana, mudah dicerna khalayak,
dan dapat membangun sebuah self-image yang positif bagi LDK.
2. Penyusunan Visi dan Misi
Tidak ada perencanaan yang sempurna, pun tidak ada pula satu cara baku yang wajib –atau
diklaim sebagai cara terbaik- untuk digunakan dalam penyusunan visi dan misi. Namun, penulis
bermaksud menyampaikan beberapa rekomendasi dan wawasan mengenai metode penyusunan
visi dan misi.
a. Penyusunan visi pada dasarnya dilakukan dalam bentuk pola top-down atau bottom-up. Pada
pola top-down, eksplorasi pemikiran dan identifikasi masalah diawali dan didominasi oleh
pimpinan-pimpinan organisasi. Pimpinan organisasi melakukan brainstorming untuk
mengidentifikasi masalah, mendiskusikan solusi, dan merumuskan citra-citra masa depan
yang diinginkan bagi organisasi. Sebaliknya, pada bottom-up¸ para pimpinan organisasi
‘blusukan’ untuk mencari masukan-masukan tentang permasalahan dan keinginan konstituen
mengenai organisasi tempat mengabdi, dalam hal ini LDK. Selain pada konstituen, masukanmasukan pun bisa didapatkan dari rekan-rekan organisasi lain di satu kampus, para alumnusalumnus organisasi, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan organisasi seperti Dekanat
Fakultas/Rektorat Universitas. Kedua pola ini (top-down dan bottom-up) dapat dilakukan
bersamaan dalam metode campuran.
b. Menurut Maruli Tua Silalahi, terdapat langkah-langkah umum yang dilakukan oleh organisasi
atau perusahaan dalam penyusunan misi, meliputi:
- Melakukan proses brainstorming dengan mensejajarkan beberapa kata yang
menggambarkan organisasi
- Penyusunan prioritas dan pemfokusan pada kata-kata yang paling penting
- Mengkombinasikan kata-kata yang telah dipilih menjadi kalimat atau paragraph yang
menggambarkan organisasi/perusahaan
- Mengedit kata-kata sampai terdengar benar atau sampai setiap orang kelelahan untuk
adu argumentasi berkaitan dengan kata atau frase favorit mereka
3. LDK Kedokteran, what so special ?
Bila sedikit kita kilas balik, perlu kita selalu ingat bahwa salah satu tujuan dakwah kampus
ialah terciptanya –atau setidaknya membantu terciptanya—masyarakat yang madani. Pendidikan
kedokteran mempunyai tugas yang cukup penting dalam pencapaian tujuan ini, yang mana tentu
LDK mempunyai peran yang harus diambil disini. Dalam perspektif sosial masyarakat Indonesia
saat ini, dokter dipandang sebagai profesi yang memiliki banyak keutamaan dan kewibawaan sosial
yang menonjol. Hal ini adalah potensi, yang mana berarti bahwa profesi dokter merupakan profesi
strategis untuk menyampaikan kebaikan-kebaikan pada masyarakat. Selain itu, profesi dokter
mempunyai ikatan kolegalisme dan identitas ke-profesi-an yang kuat di kalangan masyarakat.
Terlebih lagi, isu-isu mengenai kualitas etika seorang dokter saat ini sedang menjadi santapan
politik dan sasaran pemberitaan media yang begitu menarik.
MANAJEMEN LDFK | 8
Adalah pekerjaan besar bagi LDK untuk mempunyai visualisasi jauh ke depan mengenai kualitas
dokter –terutama dokter muslim—di kalangan masyarakat kelak. LDK mempunyai titik kontribusi
membentuk kader-kader dokter muslim yang menjadi representasi akhlak dokter Indonesia. Wibawa
sosial yang tinggi membawa konsekuensi luhur bahwa akhlak seorang dokter akan menjadi teladan
bagi masyarakat luas, atau setidaknya masyarakat sekitar. Begitulah sejatinya visi sebuah LDK;
membentuk kader-kader dokter muslim yang kelak akan jadi teladan nan jelita akidah dan akhlaknya
bagi pasien, masyarakat luas, dan bagi wajah keprofesian dokter Indonesia, dalam rangka mengikat
ridha Allah SWT.
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Garis Besar Haluan
Dakwah, dan Rencana Strategis Dakwah
Organisasi –dalam menjalankan roda organisasinya—sebaiknya memiliki aturan-aturan dasar
yang menjadi aturan main dalam menjalankan kegiatannya. Aturan ini tentu meliputi banyak aspek
dan bertujuan supaya organisasi memiliki kekuatan dan konsistensi dalam menjalankan rodanya. Pun
begitu untuk organisasi lembaga dakwah kampus Fakultas Kedokteran. Banyak jenis aturan dasar
yang dilahirkan organisasi, karena sesungguhnya hal tersebut bukanlah kaku, namun dibuat sesuai
kebutuhan organisasi. Pada tulisan ini, penulis akan membahas mengenai Anggaran Dasar (AD),
Anggaran Rumah Tangga (ART), Garis Besar Haluan, dan Rencana Strategis.
Anggaran Dasar (AD)
Anggaran Dasar mencakup prinsip-prinsip fundamental dan mendasar bagi sebuah organisasi.
Didalamnya terkandung hal-hal mendasar bagi sebuah organisasi (termasuk Lembaga Dakwah
Fakultas Kedokteran), seperti: nama organisasi, azas organisasi, waktu pendirian organisasi, struktur
organisasi, pertemuan-pertemuan organisasi, dan hal lainnya. Anggaran Dasar (AD) harus
diformulasikan dengan sangat hati-hati dan selalu diperbaharui secara up-to-date untuk memenuhi
kebutuhan organisasi. Tidak ada susunan baku dan wajib bagi sebuah Anggaran Dasar (AD)
organisasi. Komposisi dan susunan Anggaran Dasar (AD) dibentuk sesuai kebutuhan dan kesepakatan
anggota organisasi pada forum-forum yang telah dilegitimasi. Berikut ini adalah referensi susunan
poin-poin dalam Anggaran Dasar (AD) sebuah organisasi; sebagai contoh dan masukan bagi rekanrekan aktivis dakwah, supaya dapat dijadikan dasar penyempurnaan dan perbaikan Anggaran Dasar
(AD) yang ada.
Menurut Risalah Manajemen Dakwah Kampus FSLDK-Gamais ITB
1. Pendahuluan : Pada bagian ini, dijelaskan mengenai identitas dan karakteristik organisasi, yang
meliputi;
a. Nama Organisasi
b. Tempat dan Kedudukan
c.
Waktu Pendirian
d. Status
e. Lambang
MANAJEMEN LDFK | 9
2. Azas, Sifat, Orientasi, dan Tujuan Organisasi : Bagian ini menggambarkan tentang arahan dan
tujuan sebuah organisasi.
3. Usaha : Bagian ini menjelaskan mengenai usaha-usaha yang dilakukan sebuah organisasi agar
mencapai tujuan yang telah disepakati
4. Objek : Bagian ini menjelaskan mengenai objek yang menjadi sasaran kerja sebuah organisasi.
Sebagai contoh, sasaran dakwah bagi Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran adalah mahasiswa,
dosen, karyawan, dan organisasi-organisasi terkait
5. Kekuasaan Tertinggi Organisasi : Penjelasan mengenai badan tertinggi yang memimpin organisasi.
Dalam organisasi dakwah biasanya menggunakan istilah Majelis Syuro, Majelis Dakwah, dan yang
lainnya
6. Struktur Organisasi : Komponen-komponen struktural sebuah organisasi. Cakupan mengenai
sejauh mana Anggaran Dasar mengatur struktur organisasi dapat disepakati pada masing-masing
organisasi
7. Kepengurusan
8. Keanggotaan : Bagian yang menjelaskan mengenai gambaran tentang keanggotaan (hak,
kewajiban, jenis, dst) sebuah organisasi
9. Pertemuan Organisasi : Bagian ini meliputi agenda-agenda apa saja yang harus dilakukan
organisasi. Didalamnya dijelaskan jenis-jenis pertemuan (Musyawarah Besar, Musyawarah Luar
Biasa, dst.), hierarki permusyawaratan dan ketetapan.
10. Keuangan : Penjelasan mengenai anggaran organisasi; perubahan, mekanisme, dan asal-muasal.
Menurut Lagrange College
1. Preamble
Pernyataan dari anggota organisasi bahwa Anggaran Dasar (AD) telah disepakati dan disahkan
secara sadar sebagai instrument guiding organisasi
2. Article I : Name
Nama organisasi
3. Article II : Purpose and/or Mission Statement
Pernyataaan tujuan sebuah kelompok/organisasi
4. Article III : Membership
Section 1.
Cakupan keanggotaan organisasi, dalam konteks LDK FK –mungkin— adalah
mahasiswa muslim di Fakultas Kedokteran masing-masing.
Section 2.
Pernyataan bahwa keanggotaan oganisasi tidak memberikan diskriminasi pada
ras, agama, warna kulit, asal daerah, cacat fisik maupun mental, dan lainnya
Section 3.
Hal-hal lain yang berkaitan dengan keanggotaan aktif
5. Article IV : Officers
Section 1.
Pernyataan bahwa pengurus organisasi harus dipilih dari anggota-anggota aktif
organisasi (ataupun dengan syarat lain yang telah disepakati)
Section 2.
Pernyataan komposisi minimal sebuah kepengurusan. Sebagai contoh; Ketua,
Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan lainnya.
Section 3
Elections
MANAJEMEN LDFK | 10
Pernyataan mengenai mekanisme pemilihan pengurus organisasi. Penjelasan ini meliputi waktu
pemilihan (periode), persyaratan forum (mayoritas, kuorum, dihadiri anggota aktif, dst.), dan
lainnya sesuai kesepakatan
Section 4.
Officer Duties
Menjelaskan deskripsi kerja badan pengurus harian (Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara).
Dalam aplikasinya, penjelasan mengenai hal ini dapat disesuaikan
Section 5.
Menjelaskan mengenai Badan Pengawas Organisasi
6. Article V : Dues and Finance
Section 1.
Menjelaskan mengenai mekanisme pelaporan keuangan dalam sebuah periode
Section 2.
Menjabarkan cara-cara organisasi memperoleh dukungan dana
7. Article VI : Meetings
Section 1.
Menjelaskan waktu pelaksanaan pertemuan tahunan
Section 2.
Menjelaskan waktu pelaksanaan pertemuan rutin organisasi (mingguan,
bulanan, dan lainnya)
Section 3.
Peraturan-peraturan yang menjadi guideline dilaksanakannya pertemuanpertemuan organisasi. Sebagai contoh, di kampus-kampus biasanya menggunakan mekanisme
sidang.
Section 4.
Penjelasan mengenai agenda-agenda yang HARUS dijalankan pada
pertemuan-pertemuan rutin organisasi
Section 5.
Kriteria kuorum pertemuan-pertemuan organisasi
8. Article VII : Removal from Office
Penjelasan mengenai syarat-syarat diberhentikannya seseorang dari posisinya sebagai anggota
organisasi
9. Constitutional Amendments
Penjelasan mengenai syarat-syarat dan tatacara dilakukannya amandemen/perubahan pada
Anggaran Dasar (AD)
10. Ratification
Lembar pengesahan Anggaran Dasar (AD) pada forum yang telah sah dan memenuhi kriteria kuota
forum. Dilampirkan tanda tangan pihak terkait dan tanggal pengesahan.
Dua contoh diatas hanya merupakan referensi mengenai komposisi dan format Anggaran Dasar
(AD). Setiap organisasi tentu memiliki prinsip, kesepakatan, dan kebutuhan yang berbeda-beda
terkait Anggaran Dasar (AD) yang ada.
Anggaran Rumah Tangga
Anggaran Rumah Tangga (ART) adalah penjelasan yang lebih detail dari Anggaran Dasar (AD)
itu sendiri, meskipun terdapat hal-hal yang sebelumnya tidak disebutkan pada Anggaran Dasar (AD)
namun diatur pada Anggaran Rumah Tangga (ART). Anggaran Rumah Tangga (ART) kurang-lebih
berisi turunan dari Anggaran Dasar (AD) supaya anggota organisasi dapat lebih memahami dan
melaksanakan amanat-amanat dari Anggaran Dasar (AD) secara lebih tepat guna. Selain itu,
Anggaran Rumah Tangga (ART) dapat membantu anggota organisasi untuk lebih mudah
menginternalisasikan pedoman-pedoman kerja organisasi yang terdapat pada Anggaran Dasar (AD)
dengan lebih tepat. Anggaran Rumah Tangga (ART) berisi prosedur-prosedur tetap organisasi. Sama
seperti Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) pun harus diformulasikan dengan
MANAJEMEN LDFK | 11
sangat hati-hati dan selalu diperbaharui secara up-to-date untuk memenuhi kebutuhan organisasi.
Tidak ada susunan baku dan wajib bagi sebuah Anggaran Rumah Tangga (ART) organisasi. Komposisi
dan susunan Anggaran Rumah Tangga (ART) dibentuk sesuai kebutuhan dan kesepakatan anggota
organisasi pada forum-forum yang telah dilegitimasi. Berikut ini adalah referensi susunan poin-poin
dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) sebuah organisasi; sebagai contoh dan masukan bagi rekanrekan aktivis dakwah, supaya dapat dijadikan dasar penyempurnaan dan perbaikan Anggaran Rumah
Tangga (ART) yang ada.
Menurut Risalah Manajemen Dakwah Kampus FSLDK-Gamais ITB
1. Organisasi : Perihal organisasi, penjelasan lambang, menjelaskan lebih rinci mengenai struktur
organisasi (tugas, wilayah kerja, kedudukan, hak, kewajiban, lama kepengurusan, mekanisme
pengunduran diri dan wewenang struktur)
2. Keanggotaan : Jenis-jenis keanggotaan, syarat-syarat keanggotaan, hak dan kewajiban anggota,
sanksi, dan lainnya
3. Pembinaan Anggota dan Kader : Menjelaskan jenis dan perangkat pembinaan yang diberikan
organisasi kepada anggota maupun kader organisasi
4. Musyawarah dan Rapat : Menjelaskan kedudukan, syarat, adab, pimpinan, peserta, dan peraturan
lain yang terkait dengan rapat dan musyawarah organisasi
5. Pertemuan dan Kerjasama : Menjelaskan bentuk-bentuk pertemuan dan lingkup kerjasama yang
akan dijalankan organisasi
6. Ketentuan Penutup : Peraturan pengubahan Anggaran Rumah Tangga (ART) dan ratifikasi
Anggaran Rumah Tangga (ART)
Menurut Student Organization of Ohio State University
Article I – Parliamentary Authority
Penjelasan mengenai peraturan yang digunakan dalam pemerintahan organisasi (khususnya
mengenai forum-forum penting organisasi). Organisasi-organisasi pelajar/mahasiswa di Amerika
Serikat banyak menggunakan Robert’s Rule of Order sebagai panduan tatalaksana forum agar berjalan
dengan baik dan benar-benar memperhatikan dan melibatkan setiap anggota organisasi secara
berkeadilan dan efisien
Article II – Membershipp
Penjelasan mengenai persyaratan, kategori, pembayaran, pengakhiran, dan hal-hal teknis lain terkait
keanggotaan organisasi
Article III – Election / Appointment of Government Leadership
Penjelasan mengenai pemilihan struktur-struktur tertentu pada organisasi; waktu, metode, prosedur,
dan hal teknis lainnya.
Article IV – Executive Committee (if needed)
Penjelasan tentang struktur pimpinan pada organisasi dan tanggungjawabnya
Artivle V – Standing Committees (if needed)
Penjelasan tentang kerja-kerja spesifik struktur-struktur yang ada pada organisasi dan
pertanggungjawabannya
Article VI – Advisor/Advisory Board Responsibilities
MANAJEMEN LDFK | 12
Penjelasan mengenai badan pengawas organisasi
Article VII – Meeting Requirements
Peraturan mengenai kuota forum dan persyaratan-persyaratan lain untuk menyatakan bahwa sebuah
forum dapat diselenggarakan
Article VII – Method of Amending By-Laws
Tatacara dan persyaratan untuk dapat dilakukannya perubahan pada Anggaran Rumah Tangga (ART)
Garis Besar Haluan Dakwah/Organisasi
Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) telah memuat gambaran besar,
tujuan, dan frame besar organisasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi membutuhkan anak
tangga yang terstruktur, tegas, dan sistematis supaya setiap langkah kerja organisasi dapat dibatasi
dan mengarah pada satu tujuan besar yang sama. Anak tangga ini –pada umumnya— bernama Garis
Besar Haluan Organisasi. Dalam konteks lembaga dakwah kampus, tentu tujuan besar dan ruh
perjuangan kita adalah menyampaikan kebaikan pada konstituen organisasi: dakwah. Untuk itu,
pada lingkungan lembaga dakwah kampus, termasuk lembaga dakwah kampus Fakultas Kedokteran,
dikenal pula istilah Garis Besar Haluan Dakwah.
Garis Besar Haluan Dakwah dapat diartikan sebagai pernyataan kehendak anggota/konstituen
organisasi pada forum yang dilegitimasi untuk menyusun program pengembangan yang menyeluruh,
terpadu, dan berkelanjutan. Didalamnya terdapat rumusan arah dan strategi perkembangan dakwah
secara bertahap untuk mencapai tujuan dakwah organisasi. Sistematika penyusunan dan pola (tahaptahap) pengembangan organisasi ditentukan secara musyawarah oleh anggota organisasi. Berikut
adalah referensi substansi dan susunan Garis Besar Haluan Dakwah/Organisasi menurut Risalah
Manajemen Dakwah Kampus FSLDK-Gamais ITB dan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
(ISMKI).
Menurut Risalah Manajemen Dakwah Kampus FSLDK-Gamais ITB
1. Pendahuluan
a. Pengantar : Latar belakang dan harapan atas GBHD terhadap pencapaian target organisasi
b. Pengertian GBHD
c.
Fungsi GBHD
d. Landasan GBHD
e. Ruang Lingkup : Penjelasan mengenai sistematika susunan bab-bab GBHD
2. Pola Dasar Dakwah LDK : Bagian ini menjelaskan makna dakwah sebagai pijakan dasar kegiatankegiatan dakwah yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus
a. Pengantar : Latar belakang dakwah, tujuan dakwah
b. Definisi Dakwah
c.
Metode Dakwah
d. Karakteristik Dakwah : Bagian ini menjelaskan karakter macam apa yang ingin dimunculkan
pada dakwah LDK terkait dalam rangka memenuhi tujuan atau target dakwah pada
konstituen. Karakter diharapkan dapat sesuai dengan kebutuhan mad’u setempat dan dapat
terinternalisasi dengan baik pada setiap anggota maupun kader lembaga dakwah kampus
MANAJEMEN LDFK | 13
e.
Tahapan Dakwah : Penjelasan tahapan dakwah secara keilmuan, dan juga menjelaskan
tahapan-tahapan dakwah yang akan dilakukan oleh lembaga dakwah kampus
3. Pola Umum Dakwah LDK
a. Pengantar : Penjelasan sedikit spesifik mengenai lembaga dakwah kampus terkait; latar
belakang dan peran yang diharapkan ada pada lembaga dakwah kampus terkait
b. Prinsip-Prinsip Dasar : Prinsip dasar sebagai landasan arah gerak sebuah lembaga dakwah
kampus
c.
Dakwah Kampus : Penjelasan mengenai dakwah kampus meliputi; definisi, tujuan, sasaran,
objek, dan ruang lingkup
d. Tujuan LDK : Visi lembaga dakwah kampus terkait
e. Strategi Implementasi : Penjelasan mengenai strategi lembaga dakwah kampus untuk
mencapai tujuannya. Penjelasan strategi dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.
4. Kerangka Umum Program Satu Tahun : Bagian GBHD sebelumnya telah menjabarkan target-target
capaian organisasi dalam sebuah rentang waktu. Bagian Kerangka Umum Program Satu Tahun
kemudian menjelaskan porsi kerja yang akan dilakukan oleh satu kepengurusan. Kerangka ini dapat
dijadikan acuan membuat program dan evaluasi bagi kepengurusan, supaya tetap synchronized
dengan tujuan besar organisasi
a. Pengantar : Bagian yang menjelaskan visi sebuah organisasi
b. Analisis SWOT (atau dapat dengan metode lain). Analisis ini dilakukan supaya anggota dan
kader LDK dapat mengetahui kondisi LDK secara obyektif, sehingga dapat menjalankan
program sesuai dengan kemampuan dan hambatan yang dihadapi
c.
Sasaran Akhir : Bagian yang menjelaskan harapan yang ingin dicapai saat akhir masa
berlakunya kepengurusan
d. Pengembangan Sektor Spesifik : Dalam menentukan langkah dan porsi kerja, sebuah
organisasi dapat memilih prioritas pengembangan yang tepat sesuai dengan kondisi
organisasi. Bagian ini menjelaskan mengenai bagian-bagian mana yang mendapatkan porsi
khusus untuk pengembangan, atas alasan yang telah disepakati
Sistematika GBHO Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
(ISMKI)
1. Pendahuluan
a. Pengertian : Definisi dan tujuan GBHO bagi ISMKI
b. Hubungan AD/ART dengan GBHO
c. Maksud dan Tujuan GBHO
2. Pola GBHO : Tujuan besar yang tersusun atas langkah-langkah dalam jangka waktu yang telah
ditentukan
a. Pola Dasar Pengembangan ISMKI secara nasional yang memuat hal-hal yang mendasar serta tidak
dibatasi oleh waktu, yang merupakan dasar bagi pengembangan ISMKI dalam mewujudkan tujuan
bersama.
b. Pola Umum Pengembangan Jangka Panjang yang menunjukkan arah dan strategi pengembangan
ISMKI jangka panjang yang meliputi waktu 5 (lima) tahun dan disusun berdasarkan pola dasar
pengembangan ISMKI
MANAJEMEN LDFK | 14
c. Pola Umum Pengembangan Jangka Pendek yang disusun berdasarkan pola umum
pengembangan jangka panjang yang merupakan kelanjutan dan peningkatan ISMKI setiap 1 (satu)
periode kepengurusan dan mencapai sasaran/tujuan yang ditetapkan dalam pola umum
pengembangan jangka panjang.
3. Isi GBHO
a. Pola Dasar Pengembangan ISMKI
- Tujuan Pengembangan ISMKI
- Hakikat Pengembangan ISMKI
- Potensi Dasar Pengembangan ISMKI
b. Pola Pengembangan Jangka Panjang
1) Definisi ‘Jangka Panjang’
2) Arahan Pengembangan Jangka Panjang
3) Sasaran Pengembangan Jangka Panjang
a) Bidang Internal : Sumber daya manusia, aktivitas nyata, kontribusi dalam kebijakan, kultur
organisasi, keorganisasian
b) Bidang Eksternal
c. Pola Pengembangan Jangka Pendek
1) Arah Pengembangan Jangka Pendek
2) Sasaran (per Bidang Internal dan Eksternal)
3) Strategi dan Indikator Keberhasilan (per Bidang Internal dan Eksternal)
4. Penutup
Kebijakan Turunan Lain
Aspek-aspek yang telah kita bahas diatas adalah fondasi dan landasan bergerak organisasi, yang
kelak akan menjadi referensi dari kebijakan-kebijakan turunan dalam rangka mencapai tujuan
organisasi, sampai tingkat program kerja. Kebijakan turunan yang lahir dari rahim fondasi organisasi
tersebut diatas ialah –tergantung istilah— rencana strategis organisasi/prioritas strategis
organisasi/cetak biru organisasi (blueprint), atau istilah lain dengan maksud yang sama. Kebijakan
turunan ini –bagaimanapun format dan proses pembuatannya— berisi komando-komando strategis
untuk memberikan anak tangga yang nyata dan efisien bagi arah gerak organisasi. Bagaimanapun
format dan proses pembuatannya, pada umumnya kebijakan-kebijakan turunan tersebut terdiri atas
beberapa aspek (pada tiap poin kebijakan), yakni:
1. Landasan Dikeluarkannya Kebijakan (dari AD, ART, maupun GBHO)
a. Visi Poin Kebijakan
b. Derivasi Visi (Initiative) : Poin-poin yang harus dilakukan untuk mencapai Visi Poin Kebijakan
c. Luaran (Outcome) : Hasil akhir yang diharapkan pada program dan pada organisasi terkait poin
kebijakan
d. Penanggungjawab
1) Sektor/Bidang Tertentu pada Organisasi
2) Tim Spesifik
- Ketua
- Anggota
MANAJEMEN LDFK | 15
2. Resource : Sumber daya lain yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan poin kebijakan
(contoh: sarana yang mutakhir, penambahan waktu kerja, dan lainnya)
3. Interdependencies : Keterkaitan bidang/sektor lain maupun kebijakan organisasi secara umum
untuk mendukung pelaksanaan poin kebijakan, terutama ketergantungan pada bidang/sektor
pendukung organisasi, seperti HRD, IT, dan bendahara (contoh: penekanan budget oleh bendahara)
4. Target waktu Pelaksanaan dan Penyelesaian : Dapat dibuat dalam beberapa bentuk, yaitu perkuartal, per-bulan, per-minggu, maupun tanggal spesifik
Penyusunan Struktur Kepengurusan
Tujuan sebuah organisasi tentu tidak dapat tercapai bila dijalankan sendirian oleh seorang
kepala organisasi. Untuk mencapai tujuan organisasi, seorang kepala organisasi membutuhkan
sebuah komposisi dan susunan tim yang mendukungnya untuk memenuhi tanggung jawab;
tercapainya tujuan organisasi lembaga dakwah fakultas. Munculnya divisi ini, bagian itu, biro ini, seksi
itu, sepatutnya lahir dari assessment kepala lembaga –dan tim tentunya- yang bersumber dari
kebutuhan organisasi agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Struktur sebuah organisasi
harus berdasarkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya
(function-based structure), bukan berdasarkan kepengurusan organisasi periode sebelumnya atau
menjiplak struktur organisasi serupa di tempat lain. Untuk itu, penting bagi kepala organisasi untuk
melakukan penyamarataan persepsi dan brainstorming bersama tim inti organisasi sebelum memulai
kepengurusan, termasuk sebelum membuat struktur organisasi. Hal ini penting supaya frame yang
dibentuk pada kepengurusan –termasuk struktur- lahir dari kebutuhan aktual organisasi secara
akurat, bukan turunan maupun jiplakan. Kepala organisasi dan tim harus bener-bener paham akan
sampai mana organisasi melangkah. Berangkat dari visi tersebut; rencana kerja, program, dan
struktur organisasi yang relevan akan muncul.
Maka, tidak ada manual atau standar struktur organisasi yang ideal dan dapat berlaku bagi
semua lembaga dakwah, termasuk lembaga dakwah Fakultas Kedokteran. Meskipun demikian,
terdapat beberapa fondasi dasar pembentukan struktur organisasi bagi lembaga dakwah. Menurut
Ridwansyah Yusuf (Mantan Kepala Gamais ITB), pada dasarnya struktur dan fungsi organisasi dakwah
terbagi menjadi tiga segmen sektor; sektor utama/dakwah, sektor pendukung, dan sektor istimewa.
Mari kita bahas satu persatu.
a. Sektor Utama/Sektor Dakwah
Sektor Utama/Dakwah terdiri atas bagian Syiar dan Kaderisasi. Kedua bidang ini merupakan
bagian paling utama pada sebuah Lembaga Dakwah (termasuk lembaga dakwah Fakultas
Kedokteran), karena merupakan ruh dan tujuan utama dakwah itu sendiri. Dari kedua bidang ini,
kelak masing-masing organisasi dapat membuat cabang-cabang spesifik sesuai kebutuhan aktual
lembaga dan kampus, misalnya Syiar (Syiar Media, Syiar Kajian Kedokteran) dan Kaderisasi
(Mentoring, Pengembangan Organisasi).
b. Sektor Pendukung
Sektor Pendukung adalah bidang yang mendukung kinerja organisasi untuk ketercapaian tujuan
organisasi, terutama Sektor Utama. Bagian-bagian yang terdapat pada sektor ini antara lain
pendanaan, jejaring, solid internal organisasi, dan bagian-bagian lain (tergantung ciri khas masingmasing lembaga dakwah).
MANAJEMEN LDFK | 16
c. Sektor Istimewa
Sektor Istimewa adalah bidang-bidang khusus pada organisasi lembaga dakwah, contohnya
Bidang Keakhwatan. Keberadaan sektor ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
khusus pada sebuah organisasi, ditinjau dari budaya dan peluang di kampus/organisasi.
Selain ketiga sektor diatas, organisasi dakwah dapat mempunyai perangkat-perangkat yang
mendukung kinerja organisasi, seperti Badan Semi Otonom, Badan Pertimbangan, Dewan Syariah,
Majelis Syuro, maupun bidang lain.
Terdapat poin-poin pertimbangan bagi kepala organisasi (dan tim) untuk menentukan struktur
organisasi; yang mana akan berkaitan dengan bagaimana organisasi ini akan bekerja.
a. Rencana Kerja Organisasi
Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa struktur organisasi merupakan turunan relevan
dari rencana kerja organisasi dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Maka, komposisi sebuah
struktur harus relevan dengan rencana kerja yang akan dibebankan kepadanya.
b. Kuantitas Sumber Daya Manusia
Struktur organisasi yang kita bentuk perlu mempertimbangkan kuantitas sumber daya manusia
yang kelak siap mengisi pos-pos organisasi. Bagi Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran, hal ini
perlu menjadi perhatian. Dengan kultur dan kondisi akademik Fakultas Kedokteran, biasanya tidak
akan terlalu banyak sumber daya yang menjadi bagian Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran.
Struktur organisasi –dalam konteks fungsional-- harus kita sesuaikan dengan jumlah sumber daya
yang ada, baik dengan penyesuaian vertikal maupun penyesuaian horizontal (dijelaskan
kemudian). Tidak terlalu gemuk, namun tetap dapat memenuhi kebutuhan kerja organisasi.
c. Kapasitas Sumber Daya Manusia
Struktur organisasi pun dapat disesuaikan dengan kapasitas orang-orang yang mengisinya,
terutama bagi kepala-kepala bagian/seksi/sektor. Semakin baik kapasitas kepala
bagian/seksi/sektor, maka kepala organisasi dapat menempatkan sub-bagian/seksi/sektor maupun
staf sejumlah yang dibutuhkan. Bila sekiranya kapasistas yang ada kurang memadai, maka struktur
organisasi dapat disesuaikan, baik secara vertikal maupun horizontal (dijelaskan kemudian).
d. Kegemukan Vertikal dan Horizontal
Struktur organisasi secara vertikal artinya adalah garis koordinasi dari atas ke bawah, artinya dari
satu tingkat struktur ke struktur yang lebih rendah. Dalam struktur organisasi, kegemukan secara
vertikal perlu menjadi perhatian. Struktur vertikal bermakna transfer substansi –bukan hanya
instruksi- dari satu struktur ke struktur yang lebih rendah. Semakin banyak struktur vertikal, maka
pembagian proporsi tugas secara fungsional akan semakin baik (bila berjalan ideal). Panjangnya
struktur vertikal tentu memiliki resiko, yakni rentannya miskoordinasi dan mispersepsi
mengenai sebuah substansi. Untuk menghindari ini, tingkat struktur organisasi secara vertikal
harus dibuat sependek mungkin. Sebagai contoh, mari kita perbandingkan alur koordinasi 3 tingkat
(kepala-kepala bidang-kepala seksi) dengan koordinasi 5 tingkat (kepala-kepala sektor-kepala
bidang-kepala seksi-kepala subseksi); untuk menyampaikan substansi pada dari tingkat teratas
hingga tingkat terbawah, tentu koordinasi 3 tingkat akan lebih efisien dan jauh dari resiko.
Sedangkan secara horizontal, struktur organisasi adalah jumlah keberadaan struktur-struktur
setingkat. Struktur horizontal bermakna pembagian tugas-tugas/diversifikasi pembagian tugas-tugas
organisasi dalam bagian masing-masing. Struktur horizontal perlu dibuat efisien supaya tugas-tugas
MANAJEMEN LDFK | 17
yang telah dibagi sesuai dengan ranah masing-masing bidang pada organisasi, tidak menimbulkan
masalah baru dengan adanya irisan-irisan tugas yang tak dipahami dengan baik oleh anggota
organisasi.
MANAJEMEN tarbiyah | 18
3
MANAJEMEN TARBIYAH
Pengertian Tarbiyyah
Secara bahasa, tarbiyyah berarti pendidikan atau pembinaan. Tarbiyyah Islamiyah berarti
pendidikan atau pembinaan nilai-nilai Islam. Secara istilah, ulama-ulama memiliki penafsiran yang
berbeda terhadap kata tarbiyyah. Namun, Dr. Ali Abdul Halim memberikan penafsiran yang dapat
menunjukkan hakikat dari tarbiyyah itu sendiri, yaitu cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah
manusia, baik secara langsung (melalui kata-kata) maupun tidak langsung (melalui keteladanan) untuk
memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.
Berdasarkan pengertian di atas, terdapat kata kunci-kata kunci yang perlu digarisbawahi:

Cara: metode dalam berinteraksi dan berhubungan

Ideal: sesuatu yang paling baik, paling utama, paling efektif

Interaksi: merupakan persoalan yang paling sulit dan rumit

Fitrah: tabiat manusia beserta segala unsur yang melekat kepadanya

Langsung: berupa pengajaran, pengarahan pribadi

Tidak langsung: berupa contoh dan keteladanan
Tarbiyyah merupakan suatu hal yang paling esensial dalam dakwah. Pengelolaannya harus
menjadi prioritas paling pertama karena ialah inti dari usaha membawa manusia dari kegelapan
menuju cahaya. Tarbiyyah memiliki sifat terstruktur, bertahap, intensif, dan lama. Berbeda dengan
syi’ar yang sifatnya sporadik (acak), tidak ada tahapan, parsial, dan singkat. Output yang diharapkan
dari tabiyyah ini adalah manusia yang tidak hanya memiliki wawasan keilmuan, namun juga
pemikiran, karakter, dan amal islam.
MANAJEMEN tarbiyah | 19
Tarbiyyah pula yang menjaga aktivitas dakwah dan lembaganya kokoh dan tetap eksis. Para
aktivis dakwah yang hanya mendapat nilai-nilai Islam secara parsial dan instan hanya akan menjadi
kader karbitan, yang sangat beresiko untuk berjatuhan di tengah jalan. Manusia yang dibentuk
melalui proses tarbiyyah yang bertahap dan lama adalah kader militant, yang insyaAllah memiliki
pijakan kokoh sepanjang jalan dakwah.
Karakteristik dan keteguhan orang-orang yang telah tertarbiyyah tergambarkan melalui firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka
kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al Maidah: 54)
Tujuan Tarbiyyah
Tarbiyyah islamiyah, sesuai dengan pengertiannya, merupakan proses mempersiapkan orangorang dengan menyentuh seluruh aspek kehidupannya: ruh, fisik, dan akal. Karena itu, tarbiyyah
memiliki tujuan untuk mempersiapkan manusia yang shalih, yang kemudian manusia shalih tersebut
bertanggung jawab untuk menshalihkan yang lainnya.
Secara ringkas, tarbiyyah dilakukan agar dapat mencetak manusia yang memiliki kriteria
sebagai berikut:
a. kepribadian muslim (syaksiyah islamiyah),
b. kepribadian penyeru/da’i (syaksiyah da’iyah).
Kepribadian muslim merupakan karakter yang telah tercelup dalam nilai-nilai Islam seutuhnya
(kaffah). Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208)
Sedangkan kepribadian da’i merupakan karakter yang senantiasa menyerukan orang-orang untuk
keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang fasik.” (Ali Imran: 110)
Paradigma Tarbiyyah Terkini
1. Terbuka
Istilah tarbiyyah bukanlah hal asing bagi lembaga dakwah, termasuk lembaga dakwah kampus
(LDK). Kegiatan tarbiyyah telah diprogramkan oleh departemen khusus melalui berbagai perangkat.
Hampir setiap lembaga dakwah mewajibkan anggota atau pengurusnya untuk mengikuti kegiatan
tarbiyyah.
MANAJEMEN tarbiyah | 20
Tarbiyyah merupakan kegiatan dakwah yang bersifat eksklusif. Hal ini dikarenakan tarbiyyah
berbeda dengan syiar, yang memiliki sasaran umum dengan materi yang umum pula. Pada tarbiyyah,
pesertanya adalah orang-orang tertentu dan materinya bersifat mendalam yang disampaikan secara
bertahap.
Setiap orang memiliki tingkat penerimaan yang berbeda, karena itulah tarbiyyah dijadikan
bertahap. Materi yang disampaikan pun mendalam, sehingga perlu pengkhususan dalam
penyampaian materi.
Meskipun begitu, kesan eksklusif merupakan citra yang negatif bagi masyarakat awam. Para
anggota/pengurus LDK pun dicap sebagai orang-orang eksklusif dan antisosial. Mereka yang tidak
terlibat di LDK akan menganggap bahwa kegiatan pengajian hanya dikhususkan bagi pengurus LDK
yang sudah soleh.
Paradigma ini sangat urgen untuk diperbaiki. Da’wah di era sekarang ialah da’wah terbuka,
artinya setiap aktivis dan aktivitas da’wah wajib menyentuh seluruh manusia dari berbagai kalangan,
mulai dari yang paling “jauh” hingga yang paling “hanif”. Begitu pun tarbiyyah. Setiap pelaku da’wah
harus merekonstruksi pemikirannya bahwa ia harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengajak
setiap manusia kepada tarbiyyah.
Pada konteks kampus, tentu sasarannya adalah mahasiswa. Sasaran dari program tarbiyyah di
kampus bukan hanya pengurus LDK tapi seluruh mahasiswa muslim. Slogan yang perlu ditumbuhkan
di setiap kampus adalan “Tarbiyyah untuk semua!”
Kesimpulannya, rekrutmen peserta tarbiyyah haruslah dibuat seinklusif mungkin. Barulah dalam
pelaksanaannya dibuat “eksklusif” agar mendapat hasil yang optimal.
2. Dinamis dan Produktif
Terdapat dua masalah yang umum ditemukan ketika program tarbiyyah telah dilaksanakan.
Yang pertama ialah statis atau tidak ada perkembangan yang signifikan. Yang kedua ialah jenuh atau
membosankan.
Tarbiyyah bisa menjadi sekedar rutinitas belaka tanpa makna. Tidak punya tujuan yang ingin
dicapai, tidak ada kurikulum yang disusun secara bertahap, tidak ada metode yang jelas, asal jalan,
merupakan penyebab tidak berkembangnya program tarbiyyah. Layaknya berjalan di tempat, tidak
punya tujuan, arah, pencapaian yang diinginkan, selamanya ia takkan pernah beranjak dari
tempatnya.
Ketika suatu LDK mencanangkan program tarbiyyah, orientasi yang pelu diperhatikan adalah
oritentasi proses dan hasil. Pada oritentasi proses, perlu diingat bahwa objek dari proses tersebut
adalah manusia. Berbeda dengan mesin, manusia memiliki sisi kemanusiaan yang perlu disentuh
dengan lembut. Bila sisi ini tidak diperhatikan, masalah-masalah klasik program tarbiyyah kampus
akan selalu bermunculan: jenuh, penurunan semangat, tidak optimal, kehilangan esensi, bahkan
hilang dari jalan dakwah.
Hasil atau ouput tentu tidak bisa diabaikan. Proses tarbiyyah yang asal jalan atau tidak
terencana dengan baik tidak akan pernah bisa membentuk kader yang diharapkan. Tidak akan ada
perkembangan kualitas keimanan, wawasan, dan perilaku peserta tarbiyyah yang tidak punya tujuan.
MANAJEMEN tarbiyah | 21
LDK pun akan semakin terpuruk karena kualitas kadernya yamg tidak mumpuni. Jika LDK mati, para
mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan bangsa akan sama saja seperti para pengisi bangsa saat
ini yang korup. Pada akhirnya, cita-cita kita semua untuk menegakkan nilai Islam di negeri ini hanya
sebuah utopia belaka.
Agar sukses, diperlukan program tarbiyyah yang bersifat dinamis dan produktif. Kegiatankegiatan yang beragam adalah kunci untuk menjadikan tarbiyyah dinamis. Penyusunan tujuan dan
output yang diinginkan dari tarbiyyah dan perencanaan yang baik untuk mencapainya amat vital agar
tarbiyyah bersifat produktif.
Tahapan Tarbiyyah
Secara umum, ada 4 tahap dalam proses tarbiyyah. Keempat tahap tersebut adalah pengenalan
(ta’rif), pembentukan (takwin), pengorganisasian (tanfidz), dan pemberdayaan (tadrib)
Pengenalan (ta'rif)
Pembentukan
(takwin)
Pengorganisasian
(tanfidz)
Pemberdayaan
(tadrib)
Gambar 1 Tahapan Tarbiyyah
a. Pengenalan
Ini adalah tahap yang dimulai ketika mahasiswa baru masuk, atau peserta yang baru memulai
mengikuti tarbiyyah. Perlu digarisbawahi, bahwa penerimaan mahasiswa baru adalah momen yang
sangat krusial. Mahasiswa baru (maba) adalah orang-orang yang akan memulai fase baru dalam
kehidupan mereka, dan di saat-saat seperti inilah mereka mudah untuk diajak kepada sesuatu yang
baru.
Tujuan utama dari tahap pengenalan adalah membuat mereka nyaman dan betah dengan
kegiatan tarbiyyah. Penting diperhatikan bahwa menyampaikan materi yang serius atau memberi
tahu mereka bahwa “ini-itu tidak boleh dalam Islam” di awal hanya akan membuat mereka terpental
dan takkan kembali. Awalnya mereka yang mencoba antusias dengan kegiatan tarbiyyah dapat
berubah menjadi antipasti.
MANAJEMEN tarbiyah | 22
Contoh sederhana: jika ada peserta tarbiyyah yang merokok, pacaran, atau masih melakukan
perbuatan maksiat lainnya, akan lebih bijak untuk dibiarkan terlebih dahulu. Ajak mereka untuk
mengaji, rihlah, mabit (yang ringan), dan kegiatan lainnya yang membuat mereka merasa mendapat
banyak teman. Peringatan untuk hal-hal di atas bisa dilakukan kemudian setelah mereka mulai
menunjukkan komitmen dengan kegiatan tarbiyyah.
Agenda pengenalan tarbiyyah juga bisa berupa atau disatukan dengan agenda syiar LDK.
Contoh: kegiatan balai pengobatan atau khitanan massal yang diselenggarakan LDK dengan
mengajak seluruh mahasiswa muslim, yang di akhir acara dilakukan rekrutmen kegiatan tarbiyyah.
b. Pembentukan
Proses pembentukan kader sesuai dengan tujuan tarbiyyah baru dimulai pada tahap
pembentukan. Output yang hendak dicapai adalah terbentuknya kader dengan kepribadian muslim.
Tahap ini hanya dimulai jika peserta tarbiyyah dirasa sudah nyaman dengan keluarga barunya dan
menunjukkan komitmennya. Materi-materi tarbiyyah mulai dimasukkan pada tahap ini. Pembebanan
seperti tugas dan penumbuhan komitmen seperti kegiatan tarbiyyah harus diprioritaskan di atas
segala kegiatan yang lain juga bisa diberikan jika dirasa objek sudah siap.
Pemberian muatan-muatan tarbiyyah harus dilakukan secara perlahan dan lambat. Perlahan,
agar objek tidak merasa kaget dan tidak nyaman. Objek di sini adalah manusia yang masing-masing
memiliki karakter sangat beragam dan memiliki sisi kemanusiaan yang sulit dimengerti satu sama
lain. Proses tarbiyyah bukan seperti kuliah yang sekedar memberikan ilmu, tapi membentuk manusia.
Karena itu, perlu sentuhan yang memanusiakan objek tarbiyyah.
Lambat, karena kader yang ingin dibentuk bukanlah kader karbitan. Tarbiyyah bukanlah
program supertraining beberapa hari—yang mampu membuat pesertanya berurai air mata hebat—
namun setelahnya lepas kontrol. Tidak ada istilah cepat atau akselerasi dalam tarbiyyah (catatan:
akselerasi hanya bisa diberikan kepada kader yang memang sebelumnya telah mengikuti program
tarbiyyah dengan intensif, misalnya di sekolah). Semua prosesya harus dijalani dengan lambat agar
tiap kader meresapi panjang dan berlikunya jalan yang akan mereka tempuh. Proses yang lambat
juga akan menguji siapa saja yang benar-benar tegar di jalan Allah dan yang berjatuhan di tengah.
Di “akhir” tahap ini, para kader sudah perlu ditumbuhkan kesadaran untuk berdakwah. Dimulai
dengan munculnya sense of crisis, mereka mulai merasa ada yang tidak benar dengan kondisi umat
Islam saat ini. Materi seperti Qadhayatul Ummah (permasalahan umat) dan Ghazwul Fikr (perang
pemikiran) dipahamkan. Setelah itu, mereka mulai dikenalkan dengan da’wah.
Berikut adalah firman Allah yang menyatakan wajibnya dakwah:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al Asr: 1-3)
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali
Imran: 104)
“Telah dilaknati orang-orang kafir dan Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang
demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu
MANAJEMEN tarbiyah | 23
tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu
mereka perbuat itu.” (Al Maidah: 78-79)
Materi-materi yang umum diberikan pada program tarbiyyah kampus akan dibahas lebih detil
pada subbab selanjutnya.
c. Pengorganisasian
Jika kader mulai memiliki wawasan Islami, memahami nilai-nilainya dengan baik, dan
mengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, maka para kader tangguh tersebut harus
dihimpunkan agar tidak berserak. Mereka mulai diajak dengan agenda-agenda LDK. Keterikatan
dengan LDK mulai ditumbuhkan dan dibangun. Hal-hal internal LDK sepert visi-misi, struktur,
rencaca strategis, program-program, dan lain-lain perlu diperkenalkan.
Pada tahap perngorganisasian, konsep yang perlu ditanamkan adalah da’wah harus dilakukan
secara berjamaah. Da’wah yang melulu secara sendiri-sendiri tidak akan efektif, hasilnya sempit, dan
tidak mampu menyebarkan nilai Islam secara luas. Jamaah adalah sesuatu yang mutlak ada dalam
berdakwah.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash Shaff: 4)
Salah satu jamaah yang bisa mereka ikuti adalah LDK masing-masing kampus.
d. Pemberdayaan
Setelah para kader mulai membentuk kepribadian Islami, dipahamkan mengenai urgensi
dakwah, dan diorganisasikan dalam jamaah LDK, saatnya mereka yang bergerak. Jika sebelumnya
hanya sebagai “penikmat dakwah”, giliran mereka yang turun berdakwah kepada sekitar.
Program-program dakwah LDK diamanahkan kepada para kader tersebut, program-program dakwah
selanjutnya sudah harus mereka yang memikirkan, dan sudah waktunya pula mereka menjadi
mentor/murobbi.
Satu poin penting dalam tahap pemberdayaan atau tahap dakwah ini adalah manajemen syuro.
Syuro adalah penopang dakwah Rasulullah saw. dan para sahabat. Tidak pernah syuro ditinggalkan
terutama untuk hal-hal yang krusial. Manajemen syuro yang baik insyaAllah akan menghasilkan
perencanaan yang baik, dan perencanaan yang baik insyaAllah akan membuahkan eksekusi yang
baik.
Perangkat-Perangkat Tarbiyyah
HALAQAH/MENTORING/LIQO/USROH
Halaqah adalah perangkat paling utama dalam tarbiyyah. Ia merupakan sarana yang mutlak ada
dan tidak bisa digantikan dengan sarana lain.
Halaqah, dalam aktivitas sehari-hari, memiliki beragam nama. Halaqah, dari bahasa Arab,
secara bahasa artinya lingkaran. Mentoring, dari bahasa Inggris, merupakan aktivitas membina. Liqo
memiliki arti pertemuan, sedangkan usroh artinya keluarga.
MANAJEMEN tarbiyah | 24
Unsur-unsur yang terdapat pada halaqah adalah murobbi (mentor), mutarobbi (adik
mentor/mentee), dan materi. Terkadang ada juga astor (asisten mentor), yang biasanya merupakan
calon mentor baru. Jumlah mutarobbi tidak boleh banyak. Paling sedikit tiga dan paling banyak dua
belas.
Halaqah harus dijalankan secara rutin, yaitu seminggu sekali, minimal 2 minggu sekali.
Diharapkan dengan demikian terjalin keterikatan kekeluargaan antar unsur halaqah. Murobbi pun
dapat memantau secara berkesinambungan kondisi mutarobbi. Pertemua rutin seminggu sekali juga
bermanfaat untuk me-recharge ruhiyah mutarobbi maupun murobbi.
Biasanya halaqah dilakukan dalam bentuk lingkaran kecil sambil lesehan. Ini bertujuan agar
tebangun kedekatan antar murobbi dengan mutarobbi dan sesama mutarobbi. Untuk mencairkan
suasana dan membangun ketertarikan peserta, berbagai makanan ringan dapat diletakkan di tengah.
UNSUR-UNSUR HALAQAH
Murobbi
Murobbi adalah pengisi materi halaqah dan pembina para mutarobbi. Tergantung kebiasaan
setempat, dinamisasi kelompok, atau jenjang tarbiyyah, murobbi dapat sekaligus menjadi pemimpin
kegiatan halaqah atau sekedar pemberi materi (kegiatan halaqah dipimpin oleh salah satu murobbi).
Murobbi dapat merupakan sesama mahasiswa yang satu jurusan/fakultas yang satu atau
beberapa tingkat di atas mutarobbi (bahkan bisa satu tingkat yang sama). Biasanya, demi
kenyamanan peserta halaqah, murobbi berada beberapa tingkat di atas mereka. Bisa pula pementor
berasal dari fakultas atau jurusan yang berbeda, dari kampus yang berbeda, bahkan bukan
merupakan mahasiswa.
Umumnya mutarobbi mengekspektasikan murobbi sebagai kakak yang memiliki wawasan Islam
yang banyak. Selain itu, peserta tarbiyyah akan sangat berkaca pada aktivitas dan perilaku sehari-hari
murobbi, terlebih jika berada pada fakultas yang sama. Akibatnya, murobbi dianggap sebagai orang
yang setara dengan ustadz.
Paradigma di atas tidaklah salah, namun jangan sampai hal tersebut membuat para kader
enggan menjadi murobbi. Berbagai jurus dikeluarkan: belum berilmu banyak, belum pantas, belum
bagus bacaan Al Qurannya, dll. Begitu pula ketika dituntut untuk mulai turun berdakwah, alasan yang
sama pun diberlakukan.
Perlu ditekankan, bahwa tujuan utama tarbiyyah kampus bukanlah membuat kadernya menjadi
ustadz atau syaikh. Apabila ada di antara kader yang memang berminat untuk menekuni ilmu syariat
lebih mendalam maka itu adalah persoalan yang berbeda.
Hasil akhir dari dakwah kampus fakultas kedokteran adalah sama seperti mahasiswa kedokteran
lainnya, yaitu menjadi seorang dokter. Namun, dakwah kampus memiliki tujuan bukan untuk
menghasilkan dokter biasa, namun dokter muslim yang berkepribadian Islami dan aktif berdakwah di
dunia profesinya.
Meskpun begitu, menyiapkan materi dan topik halaqah dengan baik merupakan kewajiban tiap
murobbi. Halaqah yang tidak terencana dengan apik hanya akan membuat kegiatan tersebut menjadi
MANAJEMEN tarbiyah | 25
asal jalan; jauh dari kriteria dinamis dan produktif. Karena itu, murobbi dituntut untuk terus
memperbaiki sikap dan perilakunya, membaikkan bacaan Al Qurannya, dan menambah wawasan
keislamannya. Murobbi bukanlah orang yang sudah paripurna, namun menjadi murobbi adalah
bagian dari usaha untuk memperbaiki diri menjadi muslim yang lebih baik.
Bagaimana membentuk murobbi, kriteria yang diperlukan, dan menanggulangi masalah klasik
dari proses pembentukan murobbi akan dibahas pada subbab selanjutnya.
Mutarobbi
Peserta halaqah, yang mendengarkan materi disampaikan murobbi disebut mutarobbi.
Mengikuti paradigma tarbiyyah terbuka, peserta halaqah seharusnya bukan lagi eksklusif pengurus
LDK. Seluruh muslim di kampus, apakah ia aktivis LDK atau aktivis organisasi lain harus dirangkul
dengan semenarik mungkin.
Orang-orang yang paling mudah ditarik untuk menjadi mutarobbi adalah mahasiswa baru.
Mereka, karena memasuki dunia baru, akan mencari teman, kelompok pergaulan, komunitas, dan
kakak yang dapat membimbing mereka selama hidup di kampus. Karena itu, halaqah tidaklah
sekedar aktivitas pengajian belaka, tapi ia juga harus peduli dengan kegiatan sehari-hari tiap
pesertanya. Murobbi bukan sekedar guru ngaji, tapi ia juga teman, sahabat, dan kakak bagi
mutarobbinya. Mutarobbi bukan sekedar anak sekolah pengajian, tapi teman dan adik yang perlu
dibimbing di dalam dan di luar kegiatan halaqah.
Suasana kekeluargaan harus dapat dinikmati mutarobbi. Salah satu indikator sederhana dari
nuansa kekeluargaan adalah ketika mutarobbi mulai mengutarakan masalah-masalahnya ke
kelompok halaqah atau ke murobbi secara pribadi. Terlebih jika ia mulai curhat masalah pribadinya.
Di saat seperti inilah murobbi dapat merangkulnya lebih erat.
Materi Halaqah
Materi disampaikan sesuai dengan tahap yang diberlakukan. Untuk kelompok halaqah yang
baru berjalan, tidak perlu ada materi khusus. Tujuan utama adalah tiap mutarobbi merasa nyaman
dengan kelompok dan teruratama ke murobbinya. Jika mutarobbi sudah menumbuhkan kepercayaan
ke murobbinya, hal-hal lanjut seperti penumbuhan komitmen dan pembebanan tugas akan dilakukan
mutarobbi tanpa banyak keluh kesah.
Jika tahap penyamanan dirasa cukup, maka materi-materi inti tarbiyyah mulai diberikan. Ilmuilmu syariat yang disampaikan berupa aqidah, ibadah, tazkiyatunnafs, dll. Selain itu, dapat pula
materi-materi pengembangan diri. Karena masa mahasiswa ialah masa seseorang memiliki
antusiasme paling tinggi untuk belajar, maka materi-materi peningkatan kualitas diri seperti
kepemimpinan dan organisasi urgen pula untuk disampaikan.
Penting juga menyampaikan bahasan sesuai kondisi yang sedang dialami kampus atau para
mutarobbi. Atau topic materi berasal dari permasalahan yang disampaikan salah seorang peserta.
Intinya, materi dapat dibuat sefleksibel mungkin, dengan catatan materi-materi inti tarbiyyah tetap
memiliki prosi untuk disampaikan.
Kita perlu menggarisbawahi bahwa halaqah bukanlah sarana utama untuk mendalami ilmu
syariat. Murobbi juga merupakan mahasiswa yang sedang belajar ilmu kedokteran atau ilmu lain
MANAJEMEN tarbiyah | 26
sesuai jurusannya. Mungkin hanya sedikit saja murobbi yang merupakan lulusan pesantren atau
sekolah Islam terpadu. Sisanya adalah mahasiswa yang juga sedang mempelajari Islam.
Topik materi yang bisa disampaikan di halaqah adalah yang memang bisa disampaikan oleh
orang awam. Materi-materi advanced seperti fiqh harus disampaikan oleh narasumber yang memang
menguasainya. Sarana yang digunakan pun umumnya bukanlah halaqah melainkan tasqif/kajian.
Sekali lagi yang perlu diingat adalah tarbiyyah kampus tidaklah mencetak syaikh yang mendalami
ilmu syariat.
Pembahasan mengenai apa saja materi yang dapat diberikan akan disampaikan di subba Output
Tarbiyyah.
SUSUNAN ACARA HALAQAH
Selain perangkat, halaqah juga memiliki susunan acara. Ada susunan baku yang banyak diikuti
oleh kelompok-kelompok halaqah di berbagai daerah. Namun, kegiatannya dapat disesuaikan
dengan kenyamanan dan kebiasaan tiap kelompok.
Berikut adalah susunan yang biasa dilakukan pada halaqah:
a. Pembukaan
Kegiatan halaqah dibukan dengan protocol standar membuka acara: hamdalah dan salawat.
Pembukaan bisa dilakukan oleh murobbi, sehingga murobbi yang memegang acara dari awal
hingga akhir, atau dilakukan oleh salah satu peserta. Pada cara yang terakhir, murobbi hanya
berperan sebagai pengisi materi, sedangkan MC diserahkan kepada yang lain.
b. Tilawah Quran
Tilawah umumya dilakukan secara bergiriliran. Masing-masing membaca ½ halaman atau 1
halaman, tergantung kondisi kelompok. Melalui agenda ini murobbi bisa menilai perkembangan
kelancaran tilawah binaannya
Bagi kelompok yang sudah berada di jenjang yang tinggi, disarankan tilawah Quran diganti
dengan setoran hapalan Quran.
c. Tausiyah Singkat atau Pembacaan Hadis atau Pembacaan Berita Terkini
Ada baiknya tiap peserta dilibatkan dalam setiap halaqah. Salah satu cara sederhana adalah
dengan memberikan kesempatan peserta untuk tausiyah singkat sebelum masuk ke penyampaian
materi oleh murobbi. Biasanya susah bila langsung menembak salah satu untuk tausiyah halaqah
berjalan. Karena itu, sebaiknya orang yang akan tausiyah ditentukan pada pertemuan sebelumnya.
Pembacaan hadis selain menambah keterlibatan peserta juga menambah wawasan mengenai
hadis. Hadis yang dibaca dapat dimulai dengan hadis arba’in. Ada juga tambahan agenda berupa
pembacaan berita, terutama berita yang menyangkut dunia Islam. Selain menjadi kelompok up to
date dengan info-info terbaru, kegiatan ini juga dapat menumbuhkan jiwa solidaritas dengan
saudara-saudara seiman di luar tanah air.
d. Materi Utama dan Diskusi
Topik inti halaqah disampaikan oleh murobbi. Dahulu, metode penyamapaian yang umum
digunakan adalah dengan menulis “panah-panah” huruf arab di papan tulis. Sekarang, ada banyak
cara yang bisa digunakan untuk membuat penyampaian materi.
MANAJEMEN tarbiyah | 27
Pada kelompok yang sudah mencapai tahap pembentukan, dianjurkan mutarobbi mencatat
hal-hal penting dari materi yang disampaikan. Menulis di buku catatan ketika materi sedang
disampaikan lebih terasa manfaatnya ketimbang hanya meng-copy materi melalui flashdisk.
Setelah materi utama selesai disampaikan, diskusi 2 arah dapat dibuka. Bersifat 2 arah karena
mungkin tidak semua pertanyaan dapat murobbi jawab. Bisa saja peserta lain lebih luas
wawasannya. Hal ini juga akan membuat kelompok halaqah menjadi hidup. Jika ada hal yang tidak
diketahui oleh murobbi, jangan sungkan menjadikannya sebagai PR bersama untuk didiskusikan di
pertemuan selanjutnya.
e. Penyampaian Rawa’I (Berita Gembira), Qadhaya (Masalah), dan Seputar Aktivitas Kampus
Berbagi berita gembira dan masalah akan mencairkan dan mengakrabkan kelompok halaqah.
Bila ada mutarobbi yang mau mengutarakan masalahnya di kelompok, itu menunjukkan
kepercayaan di dalam kelompok tersebut telah tumbuh. Atau, bisa saja seorang mutarobbi enggan
menyampaikannya di depan semua teman kelompoknya dan hanya ingin berbicara berdua dengan
murobbinya.
Aktivitas sehari-hari peserta halaqah tentu sangat beragam. Kegiatan akademik, kegiatan
kemahasiswaan, kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa; semua hal tersebut jika dibahas bersama
dalam kelompok tentu akan meramaikan suasana. Murobbi karena lebih berpengalaman mungkin
bisa membagikan pengalamannya dalam hal akademik atau kemahasiswaan. Atau, mungkin ada
anggota peserta halaqah yang prestasi akademiknya menonjol atau dikenal sebagai aktivis
kemahasiswaan, yang akan menghidupkan pembicaraan. Tidak perlu sungkan pula untuk
mendiskusikan kegiatan-kegiatan LDK di dalam kelompok.
f. Penutupan
Bila sebuah forum dibuka, maka harus ditutup pula dengan hamdalah. Jika mau, dapat
ditambah dengan pembacaan doa. Kebanyakan kelompok halaqah menutup lingkarannya dengan
membaca doa robitoh.
Penutupan bisa dilakukan oleh murobbi, MC, atau orang lain yang ditunjuk secara khusus.
MENGELOLA HALAQAH KAMPUS
Kualitas kader LDK sangatlah ditentukan oleh kualitas halaqahnya. Kualitas halaqah dtentukan
oleh bagaimana LDK mengelolanya. Sekali lagi ditekankan, halaqah merupakan perangkat tarbiyyah
paling utama dan tak tergantikan. Umumnya, LDK memiki Departeman Tarbiyyah atau Pembinaan
yang mengatur penyelenggaraan halaqah kampus.
a. Rekrutmen Peserta
Waktu yang paling krusial adalah ketika penerimaan mahasiswa baru. Kondisi tiap kampus
berbeda pada saat rekrutmen ini.
Bagi kampus yang terdapat acara “wawancara agama” pada rangkaian penerimaan mahasiswa
barunya, momen ini dapat dimanfaatkan untuk merekrut sekaligus melakukan penjaringan.
“Penjaringan” di sini artinya menetukan secara kasar pemahaman dan penghayatan nila-nila Islam
mahasiswa baru. Tidak sedikit mahasiswa baru yang memang sebelumnya aktif di rohis sekolah,
DKM masyarakat rumah, atau telah mengikuti halaqah sejak lama.
Proses penjaringan amat berperan dalam penentuan kelompok halaqah. Mereka yang
sebelumnya aktif di rohis sekolah, telah intens mengikuti halaqah, bekepribadian hanif, bahkan
telah mengenal dakwah harus dipisah dengan mereka yang belum pernah mengaji sama sekali.
MANAJEMEN tarbiyah | 28
Harapan dari pengelompokan seperti ini adalah agar mereka yang “menjanjikan” memang
difasilitasi untuk berkembang. Jangan sampai peserta yang semangat untuk mengaji terhambat
karena teman-teman sekelompoknya yang malas.
Dahulu, mahasiswa baru yang hanif digabungkan kelompoknya dengan mereka yang “anak
gaul” baru mengaji, dengan harapan anak gaul tersebut terus diajak mengaji oleh yang
hanif.Namun menurut pengalaman penulis, hal tersebut tidaklah efektif dan bahkan menghambat
perkembangan mutarobbi yang hanif tersebut.
Proses “akselerasi” pun memungkinkan dilaksanakan melalui pengelompokan seperti ini.
Jika tidak ada wawancara agama, gunakan metode lain seperti penyebaran lembar kuesioner.
Jawaban lembar kuesioner tersebut dinilai dan diberi kategori sesuai dengan pemahaman
keislamannya. Manfaatkan sesi rohani atau jam istirahat salat di acara penerimaan mahasiswa
baru. Contoh lembar wawancara agama KAMI AsySyifaa FK Unpad dilampirkan di akhir buku
ini.
Beruntung bagi kampus yang berhasil merangkul pihak dekanat agar menjadikan halaqah
sebagai bagian dari kuliah agama untuk mahasiswa baru. Kewajiban mahasiswa baru untuk
halaqah, walau hanya semester pertama, merupakan modal yang sangat berharga. Meskipun pada
pelaksanaannya banyak yang kabur atau enggan lanjut setelah masuk semester dua, setidaknya
memudahkan LDK untuk merekrut peserta. Tinggal bagaimana selama satu semester tersebut LDK
mengelola dan murobbi menyamankan suasana halaqah.
Bila kegiatan halaqah wajib masih belum ada, disarankan kepada LDK untuk tidak bosan terus
memperjuangkannya. Lakukan pendekatan kepada dekanat, misalnya sering mengundang mereka
ke acara-acara LDK.
b. Rekrutmen Murobbi
Fakultas kedokteran memiliki ciri khasnya tersendiri. Menurut pemantauan penulis,
kebanyakan mahasiswa FK bersifat eksklusif dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lain. Jam
kuliah yang padat dan tugas yang banyak membuat mahasiswa FK jarang bergaul dengan
mahasiswa fakultas lain.
Oleh Karena itu, disarankan murobbi untuk mahasiswa FK berasal dari fakultas yang sama.
Murobbi akan lebih mengerti kesibukan mutarobbinya dibandingkan bila murobbi dari fakultas lain.
Mutarobbi juga akan merasa nyaman bila dibina oleh sesama teman sejawat kelak.
Penarikan murobbi dari fakultas lain, atau bahkan nonmahasiswa, hanya dilakukan jika
memang sudah tidak ada stok murobbi di FK. Bila perlu, satu murobbi memegang beberapa
kelompok bila tidak mengganggu kegiatan akademiknya. Hal ini membut proses rekrutmen
murobbi dari kalangan mahasiswa FK sendiri sangat penting.
Rekrutmen murobbi secara lebih detil akan dibahas di subbab “Membentuk Murobbi”.
c. Menggairahkan Perjalanan Halaqah
Ada 2 rumus utama agar halaqah berjalan secara menggairahkan: “dinamis” dan “produktif”.
Dinamis berarti tidak monoton, antijenuh, dan kreatif. Walau secara default halaqah diadakan
dalam bentuk lingkaran sambil lesehan dengan susunan acara pembukaan-penutupan, saat ini ada
banyak cara yang digunakan untuk menjadikannya bergairah.
MANAJEMEN tarbiyah | 29
Gambar 2 Halaqah di Pantai; Asyik, Kan?
Sumber: http://farm4.static.flickr.com/3061/2575878801_2ee1857091.jpg
Metode penyampaian tidak harus berupa ceramah satu arah, tapi bisa juga melalui games,
bedah buku, dll. Media audio-visual, bila digunakan secara optimal, akan meningkatkan antusiasme
peserta. Materi pun tidak perlu selalu terpaku pada muwashaffat. Asalkan topic utama telah
tersampaikan, variasi-variasi materi yang menarik dapat pula dihidangkan. Tempat halaqah
sebaiknya tidak monoton hanya di masjid. Alam terbuka bahkan tempat makan merupakan salah
satu tempat halaqah yang amat menarik. Sesekali, agar terdapat vatiasi, murobbi tamu dapat
diundang untuk mengisi materi.
Produktif memilki arti halaqah berjalan mencapai tujuan yang diharapkan. Dinamisasi dan
variasi memang diperlukan, namun jangan sampai membuat halaqah menjadi keluar jalur.
Agar mencapai tujuan utama, maka diperlukan tujuan-tujuan kecil atau perantara. Dalam
proses tarbiyyah, hal tersebut dikenal sebagai pencapaian tiap jenjang. Pencapaian-pencapaian
tersebut perlu dievaluasi secara berkala oleh murobbi atau LDK. Bila satu jenjang telah tercapai,
maka muatan halaqah yang disampaikan dimaksudkan agar para peserta dapat mencapai jenjang
berikutnya.
Untuk lebih mengetahui bagaimana menggairahkan halaqah, silakan baca buku
“Menggairahkan Perjalanan Halaqah” karya Satria Hadi Lubis, penerbit Pro-U Media.
d. Evaluasi
Proses keberjalanan tiap kelompok halaqah perlu dievaluasi. Hal ini untuk menilai
keberlangsungan halaqah tersebut sesuai tujuan dan pesertanya telah mencapai output yang
diharapkan.
Walaupun kesibukan tiap murobbi bermacam-macam, upayakanlah penyediaan waktu khusus
agar seluruh murobbi dapat berkumpul bersama penyelenggara halaqah kampus secar berkala.
Dengan bertemu langsung, tiap murobbi dapat menyampaikan masalah kelompoknya secara
mendetil. Murobbi lain dapat memberi masukan. Tips dan trik suatu kelompok bisa sukses pun
dapat dibagikan. Penyelenggara halaqah, misalnya departemen tarbiyyah, lebih dapat menangkap
masalah tiap kelompok dan menemukan solusinya bersama.
Memang sangatlah sulit mengumpulkan semua murobbi di satu waktu, terlebih murobbinya
dari fakultas lain atau nonmahasiswa. Jika memang demikian, minimal penyelenggara halaqah
memantau perkembangannya melalui sms, email, dsb. Murobbi menilai antusiasme dan
pencapaian output atau muwashaffat. Murobbi pula yang menentukan apakah binaannya layak
naik jenjang atau tidak. Penyelenggara halaqah hanya menerima laporan dan memfasilitasi bila ada
kader yang sudah waktunya naik jenjang.
MANAJEMEN tarbiyah | 30
Evaluasi juga dapat mendeteksi kelompok yang bermasalah. Misalnya kelompok yang hanya
satu-dua orang yang hadir, murobbi yang jarang hadir, atau adanya ketidakcocokan teman
sekelompok atau mutarobbi dan murobbi. Masalah yang terakhir disebutkan umum dijumpai pada
kelompok akhawat. Diharapkan, dengan adanya evaluasi, murobbi dan penyelenggara halaqah
dapat menemukan solusi bersama.
TASQIF/KAJIAN
Berbeda dengan halaqah, tasqif merupakan agenda tarbiyyah yang ditujukan untuk banyak
orang dengan satu narasumber. Fokus utama tasqif adalah penyampaian wawasan atau ilmu secara
mendalam. Hal-hal seperti mengenal mutarobbi secara mendalam, perhatian terhadap masalahmasalah mutarobbi, dan mengevaluasi perkembangan mutarobbi tidak dilakukan di tasqif.
Narasumber tasqif adalah seorang ulama atau ustadz yang memang menguasai materi yang
disampaikan. Materi yang disampaikan pun berupa ilmu-ilmu syariat yang mendalam dan yang
memang hanya bisa disampaikan oleh ahlinya. Peserta tasqif adalah peserta tarbiyyah, dalam hal
ini adalah peserta halaqah juga.
Tasqif berbeda dengan ceramah atau agenda tabligh yang diselenggerakan syiar. Seperti
halaqah, tasqif dijalankan sesuai dengan kurikulum tarbiyyah dan pesertanya pun khusus peseta
tarbiyyah. Ia juga bersifat rutin, walau tidk serutin halaqah, dan pelaksanaannya bertujuan
mencapai output/muwashaffat tarbiyyah yang tidak bisa dicapai melalui halaqah.
Tasqif juga dapat disamakan dengan agenda halaqah gabungan. Biasanya diadakan seminggu
sekali, namun dapat disesuaikan untuk mencapa tujuan tarbiyyah masing-masing lembaga
kampus.
MABIT/BERMALAM DAN JALASAH RUHIYAH
Mabit, biasa kita kenal sebagai “malam bina iman dan taqwa”, merupakan salah satu sarana
tarbiyyah, namun bukan sarana khusus. Apa yang disampaikan pada mabit adalah materi tarbiyyah
sarana tasqif/halaqah gabungan, dengan modifikasi bentuk berupa bermalam di masjid.
Hal lebih yang bisa didapat dari mabit adalah penguatan atau penyegaran ruhiyah. Agenda
yang biasa ada, selain kajian, adalah qiyamulail (salat malam). Ada pula yang menambahkannya
dengan renungan atau muhasabah malam. Semua kegiatan itu bermanfaat untuk memperkuat
ruhiyah peserta.
Sangat disarankan mabit didakan khusus untuk ikhwan. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan
dam membiasakan adab-adab Islami kepada peserta tarbiyyah. Bagi akhawat, agenda penguatan
ruhiyah dapat dilakukan melalui jalasah ruhiyah. Kegiatan jalasah ruhiyah umumnya diadakan hari
minggu pagi atau siang, setelah ikhwan selesai mengadakan mabit. Agenda utama berupa taujih
dari narasumber/ustadz yang muatan utama materinya untuk menyegarkan ruhiyah.
Jika pada akhirnya mabit tetap diselenggarakan untuk ikhwan dan akhawat, ada beberapa
adab yang perlu diperhatikan. Adab-adab ini bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan peserta
tarbiyyah beradab Islami. Beberapa di antaranya yaitu:
1. agenda gabungan ikhwan-akhawat hanya diselenggarakan di waktu sore dan pagi hari,
2. agenda malam (kajian malam, QL berjamaah, dll) dipisah antara ikhwan-akhawat,
3. ikhwan dan akhawat istirahat malam di gedung yang berbeda. Misal: ikhwan di masjid, akhawat di
gedung kuliah.
MANAJEMEN tarbiyah | 31
RIHLAH/MELAKUKAN PERJALANAN/TAFAKUR ALAM
Salah satu sarana yang amat popular dan disukai adalah rihlah. Umumnya, rihlah merupakan
agenda yang bertujuan untu menumbuhkan ukhuwwah antarpengurus LDK. Namun, rihlah juga
dapat dijalankan untuk memperkut kekeluargaan antarpeserta tarbiyyah dengan murobbi. Halaqah
di alam terbuka juga salah satu bentuk mendinamiskan kegiatan halaqah.
Dengan rihlah juga diharapkan peserta tarbiyyah menyadari pentingnya tarbiyyah jasadiyah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak semua peserta tarbiyyah memiliki fisik yang kuat. Karena
itu, perlu penyesuaian, yang terpenting tujuan dari rihlah tercapai.
MUKHAYYAM/BERKEMAH
Seperti mabit dan rihlah, mukhayyam bukanlah sarana utama. Tujuan-tujuan yang dapat
dicapai dari mukhayyam adalah pembinaan fisik, mempererat ukhuwwah, penguatan ruhiyah
(dengan qiyamulail berjamaah), dan tafakur alam.
JENJANG KADERISASI
Kader adalah seluruh mahasiswa muslim yang mengikuti kegiatan tarbiyyah. Mengikuti
paradigma tarbiyyah terbuka, peserta kegiatan tarbiyyah tidaklah hanya pengurus LDK, melainkan
seluruh muslim yang memang berminat mengikuti tarbiyyah.
Penting untuk membuat jenjang kaderisasi karena pada dasarnya dakwah itu memiliki sifat
bertahap. Adanya tahap-tahap kaderisasi akan lebih memudahkan untuk assessment pencapaian
output tarbiyyah yang diinginkan dari peserta.
Jenjang kaderisasi baiknya memiliki hubungan dengan status kepengurusan di LDK. Contoh:
pengurus yang menjadi badan pengurus harian (BPH) atau ketua organisasi idealnya adalah yang
berada pada jenjang kader tertinggi. Namun, yang biasa menjadi masalah adalah tidak cukupnya
kader jenjang tertinggi untuk menjadi BPH. Atau, jumlah kader jenjang tertinggi sangat sedkit dan
mereka lebih dibutuhkan di posisi lain, kepala departemen tarbiyyah misalnya. Karena itu,
hubungan jenjang pengurus dan posisi kepengurusan bisa dibuat fleksibel.
Keterangan: DS: Dewan Syuro; BPH: Badan Pengurus Harian
Gambar 3 Contoh Keterkaitan Jenjang Kaderisasi dengan Kepengurusan
Tiap LDK memiliki jenjang kaderisasi yang berbeda-beda. Umumnya kaderisasi dibagi menjadi 4
jenjang, yaitu kader mula, kader muda, kader madya, dan kader purna. Pada tulisan ini, penulis akan
membagikan contoh jenjang tarbiyyah KAMI AsySyifaa’ FK Unpad.
Terdapat 3 jenjang kaderisasi di KAMI AsySyifaa’ FK Unpad: Beginner, Learner, dan Leader.
MANAJEMEN tarbiyah | 32
a. Beginner
Kader beginner adalah semua mahasiswa muslim yang masih beradaptasi dalam proses
tarbiyyah dan masih belum ada kewajiban dalam prosesnya. Dengan kata lain, kader beginner
adalah mereka yang baru pertama kali mengikuti kegiatan tarbiyyah.
Fokus pencapaian kader jenjang ini adalah membuat mereka mengenal dan tertarik dengan
tarbiyyah hingga ingin terus mengikuti tarbiyyah. Penyampaian materi bukanlah agenda utama di
jenjang ini, sehingga tidak materi khusus yang disampaikan. Topik materi bisa disesuaikan untuk
membuat peserta nyaman dan tertarik. Begitu pula dengan kegiatan tarbiyyah. Maksimalkan
mungkin pada tahap ini terbangun kedekatan antara murobbi dan mutarobbi.
b. Learner
Kader Learner adalah mahasiswa muslim FKUP yang fokus mengikuti tarbiyyah dan di tengahtengahnya dengan dakwah. Pada jenjang ini, proses tarbiyyah mulai difokuskan ke materi-materi
untuk mencapai target tertentu yang telah disusun penyelenggara. Target-target tersebut berupa
10 muwashaffat.
Di KAMI AsySyifaa’ FK Unpad, kader beginner menjadi kader learner apabila bersedia untuk
mengikuti halaqah lanjutan pasca halaqah wajib selama 3 bulan. Sebelum mengikuti halaqah
learner, tiap kader harus mengikuti proses yang disebut dengan Training for Beginner.
Training for Beginner (TFB) merupakan dauroh/pelatihan 1 hari. Syarat peserta yang boleh
mengikuti TFB adalah presentasi kehadiran halaqah wajib minimal 80%. Tujuan dari TFB adalah
membangun pemahaman akan urgensi tarbiyyah sehingga kader secara sadar mengikuti proses
tarbiyyah secara kontinyu.
Output utama yang diharapkan dari tarbiyyah Learner adalah kader memiliki kepribadian
muslim dan komitmen dengan tarbiyyah.
c. Leader
Merupakan muslim FK Unpad yang memegang amanah dakwah dan memiliki kapasitas
memimpin. Aplikasi utama dari memegang amanah dakwah adalah menjadi murobbi/mentor.
Kader dianggap memiliki kapasitas memimpin jika telah mendapatkan materi kepemimpinan.
Target muwashaffat Leader berbeda dengan Learner, yaitu lebih tinggi secara kuantitas dan
kualitas. Pencapaian yang diharapkan tidak lagi sekedar kepribadian muslim, tapi juga kepribadian
aktivis dakwah. Artinya, kader secara sadar memiliki motivasi yang kuat untuk berdakwah.
Selain kesadaran untuk berdakwah, Leader juga dituntut untuk komitmen dengan tarbiyyah
dan memprioritaskannya di atas kegiatan (di luar kegiatan primer seperti kuliah).
Untuk mencapai jenjang Leader, Learner harus mengikuti proses tarbiyyah selama 1 tahun
secara sehat (kehadiran > 80%) dan direkomendasikan oleh murobbi sesuai dengan pencapaian
muwashaffat. Kader yang memenuhi syarat akan diundang secara khusus untuk mengikuti Training
for Learner (TFL). Pada TFL, konten yang ditekankan adalah penanaman urgensi dan motivasi
untuk berdakwah.
Terdapat 2 dauroh yang diadakan untuk jenjang Leader. Dauroh pertama dilaksanakan di
pertengahan masa Leader, dengan tujuan upgrading dan penjagaan semanga untuk tetap
memegang amanah dakwah. Dauroh kedua dilakukan di akhir masa Leader atau jelang menjadi
koas. Dauroh ini disebut juga dengan dauroh prakoas, bertujuan memberikan gambarakan
kehidupan koas dan mempersiapkan kader untuk menghadapinya dengan tetap menjaga
kesehatan tarbiyyah.
MANAJEMEN tarbiyah | 33
OUTPUT TARBIYYAH
a. 10 Muwashafat
Output atau hasil akhir dari kader tarbiyyah tergambar dari 10 muwashaffat. Muwashaffat
merupakan pilar-pilar asasi yang harus terwujud pada diri seorang aktivis dakwah. Pilar-pilar ini
yang akan menjadikannya teladan dan contoh bagi orang-orang di sekitarnya.
Terdapat 10 pilar yang diharapkan dimiliki oleh kader tarbiyyah, yaitu Salimul Aqidah (aqidah
yang Selamat), Sahihul Ibadah (ibadah yang benar, Matinul Khuluq (akhlak yang tangguh), Qadirun
‘alal Kasbi (kemampuan berpenghasilan), Qawiyul Jism (jasmani yang kuat), Haritsun ala Waqtihi
(efisien menjaga waktu), Mutsaqqaful Fikr (wawasan pikiran yang Luas), Mujahidun Linafsihi
(bersungguh-sungguh atas dirinya), Munazhzham fi syu’unihi (teratur dalam urusannya), dan Nafi’un
lighairihi (berguna bagi orang lain)
i. Salimul Aqidah
Aqidah merupakan inti dari ajaran Islam yang dibawa oleh semua Rasul Allah. Misi utama
mereka adalah menyeru manusia untuk bersujud hanya kepada Allah SWT. Pembersihan aqidah
harus menjadi prioritas dalam dakwah.
Aqidah yang jernih ialah yang tidak terkotori oleh berbagai pemikiran dan pemahaman yang
tidak sesuai dengan Al Quran dan as sunnah. Dengan aqidah yang benar, seseorang akan mampu
menentukan tujuan hidupnya dan meluruskan tata nilai kehidupannya sehingga tidak tersesat dan
tertipu oleh dunia yang fana.
Aqidah yang bernar pula yang akan menghasilkan dokter-dokter berakhlak mulia, yang
menjalankan profesinya hanya karena keuntungan melainkan ridho Allah dan kebahagiaan di
akhirat.
ii. Shahihul Ibadah
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.
Adz-Dzariyat: 56)
Hakikatnya hidup ini adalah ibadah, sesuai dengan firman Allah SWT di atas. Ibadah tidak
hanya sebatas aktivitas ritual seperti salat, puasa, dan haji. Namun, seluruh aktivitas dalam hidup
ini haruslah menjadi ibadah. Makan, tidur, belajar, bahkan bermain sekalipun hanya akan sia-sia di
hadapan Allah jika tidak diniatkan untuk ibadah.
Prioritas utama dalam ibadah tentu adalah ibadah wajib. Ketika berusaha memperbaiki ibadah
diri sendiri ataupun orang lain, ibadah wajib dululah yang perlu diperbaiki. Setelah ibadah-ibadah
wajib sudah tidak lagi tersa berat untuk dijalankan, barulah menumbuhkan keinginan dan usaha
untuk menjalankan ibadah sunnah.
Melaksanakan ibadah-ibadah khusus merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas
iman dan menghidupkan ruh yang mati. Kualitas iman yang baik dan ruh yang hidup tergambar dari
kondisi ibadah keseharian.
iii. Matinul Khuluq
Akhlak merupakan hal yang paing mudah dilihat untuk menggambarkan kualitas seseorang.
Orang-orang cenderung akan senang bergaul dan respek terhadap orang yang berakhlak baik dan
menyenangkan. Sering kali orang yang paling didengar oleh komunitas atau masyarakat bukanlah
orang yang paling banyak atau luas ilmunya, tapi yang berakhlak baik.
Akhlak baik juga membuat orang-orang segan, hingga perilaku lemah lembut dan bijaksana
seorang aktivis dakwah akan diteladani. Dakwah yang paling efektif ialah melalui keteladanan,
MANAJEMEN tarbiyah | 34
bukan dengan ceramah panjang lebar. Kader tarbiyyah hendaknya memperhatikan akhlaknya,
selain sebagai bentuk ibadah kepada sesama manusia, juga akan menumbuhkan rasa simpat
orang-orang terhadap tarbiyyah.
“Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang baik, dan
sesungguhnya pemilik akhlaq yang baik benar-benar akan mencapai derajat (orang-orang yang
mengerjakan) puasa dan shalat.” (HR. Tirmidzi)
iv. Qadirun ‘alal Kasbi
Salah satu ciri orang mukmin ialah produktif dan tidak meminta-minta. Kerja yang produktif
erat kaitannya dengan bersabar terhadap rasa malas. Orang-orang saleh terdahulu menjaga
kehormatan dengan mengharamkan mereka dari meminta-minta. JIka sedang membutuhkan,
mereka akan minta diperkerjakan atau mencari kerja.
Ibadah juga mendorong seseorang kepada profesionalisme kerja.
“Sesungguhnya Allah menyukai bila salah seorang di antara kamu bekerja dan membagusi
kerjanya.” (Majma‟uz Zawa‟id, 4/10)
Jika belum mampu berpenghasilan dan masih ditanggung oleh keluarga, maka minimal yang
perlu dimiliki adalah kemampuan merencanakan keperluan dan pemenuhannya. Pengaturan
pengeluaran dan pemasukan sebaiknya dipelajari sedini mungkin.
v. Qawiyul Jism
“Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari seorang mukmin yang
lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)
Fisik yang kuat merupakan hal yang vital bagi setiap manusia. Bagaimana mungkin seseorang
menjadi produktif bila sering sakit-sakitan? Dakwah Rasulullah saw. dan para sahabat pun tidak
bisa dipisahkan dengan kekuatan fisik. Jika tidak ada tarbiyyah jasadiyah, sudah tentu Islam tidak
akan menyebar seperti saat ini.
Rasulullah saw. pun mewajibkan bagi setiap muslim untuk menjaga kesehatan fisiknya.
“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
vi. Haritsun ala Waqtihi
Waktu bukanlah uang, karena ia lebih berharga daripada itu. Waktu adalah kehidupan; jika
seseorang menyia-nyiakan waktunya, maka ia telah menyia-nyiakan hidupnya. Kewajibankewajiban yang dimiliki oleh seorang muslim jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia.
Tujuan-tujuan dakwah agar terealisasi membutuhkan segenap jiwa, harta, dan waktu. Karena
itu, nikmat yang Allah berikan berupa lapangnya waktu hendaknya dipersembahkan untuk dakwah.
Waktu hanya dapat digunakan untuk 2 hal: kegiatan yang bermanfaat atau kegiatan yang sia-sia.
Jika tidak ada manfaat yang dihasilkan dari suatu aktivitas, berarti ia tidak bernilai apa-apa di mata
Allah.
“Ada dua nikmat di mana banyak manusia yang terlena dengan kedua nikmat itu: yaitu kesehatan
dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam satu hari. Dalam 24 jam
itu ada orang yang bisa mengatur negara, namun ada juga yang mengatur dirinya sendiri tidak
mampu. Kemampuan mengatur waktu akan sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik merupakan kunci dari orang-orang sukses.
vii. Mustsaqqaful Fikr
Islam sangat menyerukan penganutnya untuk menuntut ilmu dan pengetahuan. Ketika
seorang aktivis dakwah akan mengajak orang-orang pada kebaikan, hendaknya ia memiliki
MANAJEMEN tarbiyah | 35
wawasan yang luas. Hal ini akan mempermudah komunikasi aktivis dakwah dan sekitarnya, juga
akan menumbuhkan simpati mereka dengan dakwah.
Di masa sekarang, sudah bukan zamannya lagi aktivis Islam yang kurang pergaulan dan
mengasingkan diri. Penting untuk memiliki beragam informasi yang ada, karena itu akan
mempermudah interaksi dengan sekitar. Islam adalah agama yang terasing, namun bagi muslim
“terasing” di sini adalah secara hati, sedangan fisik harus berbaur dengan sekitar.
Wawasan yang luas juga dapat dlihat dari kepeduliannya terhadap sekitar dengan selalu
mengakses berita dan informasi. Kondisi umat muslim saat ini di berbagai belahan dunia—
Rohingnya, Pattani, Gaza, Suriah, Mesir—seharusnya mendapat perhatian bagi setiap peserta
tarbiyyah.
viii. Mujahidun Linafsihi
Besungguh-sungguh terhadap diri sendiri merupakan cerminan kesungguhan seseorang
mengendalikan hawa nafsunya. Sedangkan nafsu merupakan formulasi antara kecendeungankecendeungan baik dan jahat. Karena itu, bersungguh-sungguh untuk melawan kecenerungan
yang buruk dan bersabar untuk melaksanakan kecenderungan yang baik merupakan perwujudan
muslim yang berjihad atas dirinya sendiri.
Orang yang akalnya merdeka ialah ia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, bukan
sebaliknya.
ix. Munazhzham fi Syu’unihi
Tujuan dan cita-cita besar haruslah disusun, direncanakan, dan dilaksanakan dengan sangat
rapi. Urusan dan pekerjaan yang dapat diatur sedemikian rupa akan menghasilkan efisiensi waktu,
tenaga, bahkan dana.
x. Nafi’un Lighairihi
“Siapa yang sedang menyampaikan hajat saudaranya maka Alalh akan melaksanakan hajatnya.
Dan siapa yang membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan kesusahannya di
hari Qiamat.” (HR. Bukhari)
Layaknya pohon kokoh yang berbuah: daunnya yang rindang memberi keteduhan bagi orang
yang kepanasan dan buah yang dihasilkannya memberi gizi bagi orang yang lapar, begitu pula
muslim yang bermanfaat. Bahkan ketika orang-orang melempar pohon itu dengan batu, ia
membalasnya dengan buah.
Seorang muslim hakikatnya dituntut untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia
hingga nafas terakhirnya berhembus. Kehidupan seseorang tidak diperhitungkan dengan bilangan
tahun yang dilaluinya sejak kelahiran hingga kematiannya, tetapi diperhitungkan dengan karyakarya yang dilakukannya selama hidupnya.
Dan manfaat apakah yang lebih utama bagi manusia daripada mendakwahkan manusia
kepada Allah dan menunjukkan mereka kepada jalan lurus yang akan mewujudkan kebahagiaan di
dunia dan akhirat?
“Barang siapa memberikan satu contoh perbuatan yang baik dalam Islam, maka ia akan
mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang melakukan perbuatan itu setelahnya tanpa
mengurangi sedikit pun pahala orang yang melakukannya. Dan barang siapa yang memberikan satu
conto perbuatan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang
melakukan perbuatan itu setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa orang yang
melakukannya.” (HR. Muslim)
MANAJEMEN tarbiyah | 36
b. Assessment Muwashaffat
Muwashaffat merupakan indikator tersampaikannya materi-materi tarbiyyah dan tercapainnya
hasil tarbiyyah yang dinginkan. Penilaian pencapaian muwashaffat penting dilakukan untuk menilai
apakah kegiatan tarbiyyah tersebut bersifat produktif atau tidak. Jika muwashaffat jenjang tertentu
yang diharapkan telah tercapai, kader tersebut telah layak untuk menapaki jenjang selanjutnya.
Evaluasi muwashaffat, berdasarkan pengalaman penulis, bukanlah hal yang sederhana. Ia tidak
seperti penilaian yang dilakukan guru agama terhadap lembar ujian muridnya. Walaupun sebaiknya
penilaian dilakukan seobjektif mungkin (secara kuantitatif tercapai atau tidak), assessment
subjektif dari mentor atau murobbi sangatlah penting. Murobbi adalah orang yang dharapkan
sangat memahami kondisi binaannya. Karena itu, evaluasi muwashaffat haruslah dilakukan oleh
murobbi.
Berikut beberapa cara mengassess muwashaffat peserta tarbiyyah:
a. bertanya langsung; murobbi bertanya langsung kepada setiap binaannya mengenai pencapaian
muwashaffat yang diharapkan. Pertanyaan ini bisa dilakukan di setiap akhir halaqah,
b. menanyakan kondisi peserta tarbiyyah melalui teman-teman dekatnya. Pada umumnya, temanteman dekatlah yang paling mengetahui kondisi seseorang, dan yang paling mampu
menggambarkan keadaan sebenarya,
c. lembar kuesioner. Teknik ini mirip dengan bertanya langsung, hanya melalui kuesioner,
d. penilaian subjektif. Proses ini juga amatah penting. Beberapa hal yang perlu dinilai oleh murobbi
secara subjektif:
- antusiasme mutarobbi terhadap kegiatan halaqah
- pemahamannya terhadap materi-materi tarbiyyah yang disampaikan
- rasa percaya mutarobbi terhadap murobbi
- motivasinya untuk terus belajar Islam
- awareness terhadap permasalahan umat di sekitarnya
Pengelola tarbiyyah (misal: departemen pembinaan), melakukan evaluasi semacam ini melalui
murobbi. Waktu dan mekanismenya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing LDFK.
MEMBENTUK MUROBBI
Posisi murobbi sangatlah penting dalam proses tarbiyyah. Inti dari tarbiyyah, yaitu halaqah,
tidak akan berjalan bila tidak ada murobbi. Berapa banyak orang-orang yang terhambat untuk
halaqah karena tidak adanya murobbi?
Kader yang sedikitnya telah menjalani satu tahun halaqah harus dipersiapkan untuk menjadi
murobbi. Satu tahun dirasa cukup bagi kader untuk meresapi konten-konten tarbiyyah, terutama
bagi mereka yang menjalani halaqah dengan sehat dan antusias. Murobbi pun berperan untuk
menilai binaan-binaannya yang potensial—dan harus—menjadi murobbi selanjutnya.
a. Menghalau Keraguan
Kelangkaan murobbi yang mengakibatkan banyaknya kader yang tidak bisa halaqah umumnya
disebabkan oleh proses regenarasi murobbi yang kurang baik. LDFK mungkin terlalu bergantung
pada murobbi yang berasal dari luar FK atau kampus. Padahal, mahasiswa FK cenderung lebih
nyaman bila dibina oleh sesame mahasiswa FK. Hal ini dikarenakan mahasiswa FK cenderung
MANAJEMEN tarbiyah | 37
eksklusif, tidak banyak yang bergaul dengan mahasiswa fakultas lain, dan juga jadwal akademik
yang padat. Bila murobbi berasal dari fakultas yang sama, mereka berharap sang murobbi tersebut
lebih dapat mengerti dan memenuhi kebutuhan mereka.
Namun, banyak hambatan yang menghadang untuk mencetek murobbi. Penghalau utama
tersebut adalah “alasan-alasan klasik”. Jawaban apa yang didapat ketika seorang kader ditawari
untuk menjadi murobbi?
“Belum siap”
“Belum pantas”
“Wah, masa orang kayak saya jadi murobbi”
Kebanyakan menganggap bahwa murobbi itu adalah “orang suci”, “seorang ustadz atau
syaikh, “tidak pernah salah”, atau “bagaikan malaikat”. Kemudian, mereka pun menilai diri mereka
sendiri: “baca Quran belum lancar”, “masih banyak maksiat (kecil)”, “hafalan belum banyak”, “tidak
bisa menulis arab”, dll.
Hal-hal seperti inilah yang harus segera diberantas dari dalam benak setiap kader.
Murobbilah yang harus menepis keraguan ini. Bila masih menolak juga walau telah diyakinkan
sedemikian rupa, ajaklah ia untuk bicara empat mata. Pendekatan hati amatlah diperlukan.
Sadarkan bahwa ia telah dipercaya oleh murobbinya sendiri untuk memegang binaan. Benarkan
pemahamannya, bahwa menjadi murobbi bukanlah berarti sudah harus berilmu tinggi dan bebas
dari kesalahan. Justru menjadi murobbi merupakan sarana untuk terus menuntut ilmu dan
memperbaiki diri. Bahkan, menjadi murobbi merupakan “jalan pintas” untuk meningkatkan kualitas
diri.
Jika sudah ada keinginan untuk menjadi murobbi, namun masih ada kendala dalam hal teknis—
seperti tidak biasa memimpin forum, tidak bisa bicara di depan orang banyak, tidak tahu
bagaimana mencairkan suasana, dll—ajaklah ia untuk menjadi asisten mentor (astor).
Sistem astor dapat dijadikan salah satu sarana pelatihan untuk menjadi murobbi. Contoh, pada
kelompok baru, yang menjadi mentor atau murobbi utama merupakan yang sudah lebih siap atau
lebih senior, sedangkan calon murobbi tersebut mendampinginya ketika halaqah dilangsungkan.
Astor tersebut juga bisa dibuat lebih aktif dengan menambahkan materi yang telah disampaikan
mentor utama. Diharapkan calon murobbi tersebut dapat mempelajari hal-hal teknis secara
langsung dan menjadi siap untuk membina.
b. Sekolah Murobbi
Agar dapat mempersiapkan murobbi dengan lebih matang, ada baiknya pengelola tarbiyyah
mengadakan sekolah murobbi. Konten utama dari sekolah ini adalah menepis keraguan, motivasi
menjadi murobbi, teknik mengelola halaqah, dan bagaimana membina dengan hati.
Sekolah ini diadakan beberapa bulan sebelum kehadiran kelompok baru atau mahasiswa baru
ke kampus. Pesertanya adalah kader-kader yang direkomendasikan oleh murobbi untuk
mengikutinya. Dengan kata lain, rekrutmen sekolah ini bersifat undangan atau tertutup.
Bentuk kegiatan dapat dibuat one day/two days training atau beberapa pertemuan dalam
sekian minggu/bulan. Penulis lebih memilih bentuk terakhir karena efeknya yang lebih berjangka
panjang. Di akhir pertemuan, baiknya diadakan semacam simulasi halaqah: peserta sekolah
memimpin pertemuan halaqah. Peserta simulasi dapat berasal dari peserta atau panitia sekolah,
MANAJEMEN tarbiyah | 38
sehingga simulasi dilakukan bergiliran. Setelah simulasi selesai, panitia atau peserta lain
memberikan evaluasi dan masukan.
Jika ingin simulasi terasa lebih nyata, panitia sekolah dapat mendatangkan anak-anak SMA
untuk dijadikan peserta simulasi halaqah.
c. Maintenance Murobbi
Salah satu hal yang sebaiknya tidak dilupakan adalah bagaimana menjaga kualitas murobbi,
termasuk motivasi.
Idealnya, pengelola tarbiyyah rutin mengadakan pertemuan talaqi materi untuk murobbi
dengan mengundang narasumber (ustadz/ulama). Materi yang ditalaqi tidaklah perlu semuanya
yang akan disampaikan dalam halaqah. Yang utama adalah materi yang memang butuh referensi
dari pihak yang memang menguasainya.
Selain talaqi, pertemuan ini juga bisa digunakan untuk training motivasi bagi murobbi. Baiknya,
training motivasi ini lebih ke dalam bentuk penguatan ruhiyah murobbi agar tetap istiqomah
berdakwah. Evaluasi keberlangsungan halaqah juga dapat dilakukan di pertemuan ini jika waktunya
cukup lapang.
Memang yang paling baik adalah pengelola dan para murobbi rutin bertatap muka untuk
agenda-agenda di atas, satu atau dua bulan sekali misalnya. Namun jika sulit untuk mengumpulkan
mereka, talaqi dapat disampaikan via tulisan, email, dll. Peningkatan motivasi dapat dilakukan
secara tidak langsung melalui komunikasi yang intens antara pengelola dan murobbi, begitu juga
dengan evaluasi.
Intinya, perlu komunikasi yang aktif antara pengelola dengan para murobbi.
PROSES TRANSFER KELOMPOK HALAQAH
a. Urgensi Halaqah Pascakampus
Proses tarbiyyah di kampus tidaklah selamanya, mengingat masa kuliah di kampus hanya
beberapa tahun saja. Amat mudah bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan halaqah, karena ada
lembaga yang mengatur dan menyelenggarakannya (yaitu LDFK). Namun, setelah masa
mahasiswa berakhir, bagaimana kelanjutan halaqah? Kepada siapa mereka harus mengaji? Apakah
masih ada pihak penyelenggara halaqah setelah selesai masa kampus? Dan pertanyaan paling
dasar: apakah masih perlu ikut halaqah setelah keluar kampus nanti?
Untuk pertanyaan terakhir, tentu saja jawabannya: YA! Proses mengaji atau belajar Islam
bersifat seumur hidup. Ilmu Allah amat luas dan tidak akan pernah habis untuk digali. Terlebih,
dunia luar adalah dunia yang “jauh dari ideal”, tidak seperti kampus.
Jika menuntut ilmu Islam harus terus dilakukan seumur hidup, apakah memang harus dalam
bentuk halaqah? Bukankah saat ini belajar Islam begitu mudah, bisa melalui buku, radio, TV,
internet, atau pengajian-pengajian terbuka di masjid-masjid?
Seperti yang disampaikan di atas, bahwa halaqah merupakan sarana utama dalam tarbiyyah.
Keberadaannya mutlak dan tidak bisa diganti oleh sarana lain. Tidak hanya karena ia bersifat
intensif sepekan atau dua pecan sekali (halaqah yang sehat adalah sepekan sekali), namun juga
keberadaan murobbi yang terus memberi penyegaran ruhiyah, perhatian, dan juga lingkaran
orang-orang soleh adalah sangat dibutuhkan. Terlebih, kita sering mendengar bahwa kampus
MANAJEMEN tarbiyah | 39
adalah “dunia idealita” sedangkan dunia kerja adalah “dunia realita”. Keberadaan halaqah tidak
bisa dihilangkan pada setiap kondisi.
Bagi mahasiswa kedokteran, setelah melewati masa kampus/sarjana, akan memasuki dunia
koasisten atau profesi. Ada FK yang letaknya berjauhan dengan rumah sakit pendidikan, ada juga
yang dekat. Mahasiswa yang mengikuti masa profesi di RS yang letaknya berjauhan dengan FK
lebih sulit dikondisikan proses transfer halaqahnya.
b. Masa-Masa Berjatuhan
Kampus memiliki atmosfer yang sangat ideal, setidaknya bila dibandingkan dengan di luarnya.
Kebanyakan mahasiswa kuliah tidak sambil mencari penghasilan. Dunia kerja yang penuh intrik pun
tidak dikenal di kampus.
Masa profesi/koasisten merupakan masa peralihan. Namun, semangat dan antusiasme yang
pernah dirasakan ketika masa sarjana perlahan-perlahan mulai luntur di masa ini. Kemudian,
semangat untuk belajar Islam pun menghilang, lepaslah sudah ikatan terhadap tarbiyyah.
Kita masih bisa bersyukur apabila kader, yang dulunya aktif tarbiyyah bahkan berdakwah,
putus halaqah namun masih bersifat hanif. Namun, tidak sedikit pula yang mengundurkan diri dari
halaqah kemudian bersikap dan beraktivitas seolah tidak pernah mengikuti tarbiyyah.
Walaupun keingianan untuk tetap tarbiyyah memang berasal dari dalam hati masing-masing,
namun pengelola tarbiyyah harus memfasilitasi sedemikian rupa agar tiap kader ketika memasuki
masa baru langsung bisa halaqah. Jika dari awal saja halaqah para kader terhambat akibat tidak ada
yang memfasilitasi proses transfer, itu hanya akan mempermudah langkah mereka untuk
berjatuhan dari jalan dakwah.
c. Mentransfer Binaan
Seharusnya proses transfer amatlah simple. Proses ini sepenuhnya berada di tangan murobbi.
Hal ini dikarenakan pengelola tarbiyyah (departemen tarbiyyah) tidak lagi memiliki wewenang
terhadap dunia pascakampus. Namun proses halaqah haruslah tetap berjalan, sehingga murobbilah
yang harus mencari penggantinya.
Perlu diperhatikan bahwa transfer binaan harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum mutarobbi
tersebut pergi. Pihak murobbi harus diingatkan untuk mencari murobbi pengganti,
mengkontaknya, dan memberikan informasi-informasi terkait mutarobbi ke murobbi yang baru.
Bila sudah ada murobbi baru yang siap memegang, maka murobbi lama setidaknya mesti
memastikan bahwa mutarobbi dan murobbi baru tersebut dapat bertemu.
Keberhasilan proses transfer ini bergantung pada 2 hal: antusiasme murobbi dan antusiasme
mutarobbi. Untuk menumbuhkan antusiasme murobbi, merupakan tugas pengelola untuk terus
mengingatkan. Jika pada akhirnya murobbi tidak mencari penggantinya sama sekali—biasanya
karena murobbi tersebut sudah lama tidak komunikasi dengan mutarobbi—pengelolalah yang
berkewajiban untuk mencari murobbi pengganti.
Untuk antusiasme mutarobbi, hal tersebut tentu bergantung pada kesehatan halaqahnya.
Kader yang aktif mengikuti halaqah pada umumnya akan lebih mudah ditransfer, bahkan kader
tersebut akan menanyakan bagaimana kelanjutan halaqahnya pascakampus. Kesehatan halaqah
bergantung pada 2 faktor: murobbi dan mutarobbi. Murobbi yang jarang sekali mengadakan
MANAJEMEN tarbiyah | 40
pertemuan akan berimbas pada turunnya semangat mutarobbi untuk halaqah. Akibatnya, walau
difasilitasi untuk transfer kelompok, kader tersebut sudah enggan untuk mengaji.
Poin terpenting dari proses ini adalah keaktifan pengelola tarbiyyah untuk terus memfollow up
para murobbi untuk mencarikan murobbi pengganti. Jika ada kader yang ingin lanjut halaqah,
namun sudah lama tidak halaqah karena sudah lama tidak ada pertemuan atau murobbinya sulit
dihubungi, kewajiban pengelolalah menyelamatkan kader tersebut.
Selain itu, pengelola pun harus memastikan bahwa halaqah yang ada di kampus berjalan
dengan baik. Seperti telah disebutkan, mutarobbi atau kelompok yang sudah jarang melakukan
pertemuan, entah karena hambatan di murobbi atau mutarobbinya, prognosisnya akan lebih buruk
untuk ditransfer. Jika menemukan kelompok yang jarang pertemuan karena faktor murobbi, segera
cari murobbi pengganti atau gabungkan dengan kelompok lain yang berjalan dengan baik.
Syiar UNIVERSAL | 41
4
SYIAR UNIVERSAL
Urgensi
Syiar merupakan ujung tombak dari sebuah gerakan dakwah. Melalui mekanisme ia bekerja :
1. Sebagai pembungkus kado
Apabila pembinaan keislaman merupakan sebuah kado, syiar adalah pembungkusnya. Kertas kado
cantik yang akan membuat orang penasaran dengan isi sebuah kado. Sesuatu yang akan membuat
orang tertarik untuk memulai langkahnya mendalami Islam dengan lebih jauh, dalam, dan serius.
Syiar menonjolkan hal-hal yang bisa membuat orang tertarik pada Islam : hal yang berkaitan
dengan kehidupan mereka sehari-hari, hal yang sedang tren, hal yang penuh kontroversi, dsb.
2. Sebagai corong sebuah gerakan dakwah
Ada dua fungsi dari mekanisme ini :
a. Yang pertama adalah sebagai media propaganda
Merubah orang dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tahu menjadi peduli. Dari peduli menjadi
terinspirasi untuk beraksi.
b. Yang kedua adalah sebagai pengcounter
Segala kesalahpahaman yang tersebar sehingga merongrong agama kita, harus diluruskan.
Departemen syiar harus menjadi yang terdepan dalam hal ini.
3. Sebagai wadah pendidikan bagi para subyek syiar
Jangan sampai para juru syiar menyampaikan hal yang dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan
tentangnya. Sehingga, tradisi keilmuan bagi juru-juru syiar harus ditumbuhsuburkan : membaca
buku, berdiskusi, dll.
Contoh : Jangan sampai terjadi seorang juru syiar bersuara lantang tentang kemerdekaan Palestina
(misalnya), namun ketika seorang obyek syiar bertanya tentang “sejarah penjajahan
Syiar UNIVERSAL | 42
palestina/bedanya yahudi dengan zionis/dsb”, juru-juru syiar itu bengong tidak bisa menjelaskan.
Hal ini justru akan berbalik menjadi bumerang bagi kegiatan dakwah.
Syiar paling baik dan efektif adalah masing-masing individu juru syiar itu sendiri. Sehingga
pendidikan dan pembinaan terus menerus bagi juru-juru syiar adalah mutlak. “Sebuah contoh lebih
manjur daripada sejuta nasehat”.
Lingkup Kerja
Lingkup cara bersyiar : banyak sekali. Cara memoles apapun yang bisa digunakan untuk menjadi
bungkus yang cantik.
Lingkup bahan bersyiar : Syiar bisa membahas apa yang dibahas tarbiyah. Aqidah, syariah, bisa.
Bedanya : kita menangkap suatu realita dan kemudian mengembalikannya pada quran dan
sunnah. Kalau kajian tarbiyah : mereka memaparkan quran dan sunnah dan memberi contohcontoh realita.
Kajian
Bagaimana menyelenggarakan kajian yang bermakna bagi anggota dan obyek syiar? (idealnya)
- Menentukan tema : berdasarkan isu-isu panas yang sedang terjadi/tren, berdasarkan
momentum (hari kartini, musim ujian, nakba day, dll), mengangkat tema sendiri.
- Menentukan apa saja yang harus dibahas dari tema tersebut. Poin-poin ini diberi nama :
learning issue.
- Berbagi learning issue. Akan lebih baik jika 1 learning issue dikerjakan oleh lebih dari satu
orang. Supaya wawasan dan ilmu lebih bertambah.
- Setiap anggota divisi syiar mengerjakan learning issue : studi literatur, bertanya pada orang
yang kompeten, dll.
- Kajian : setiap anggota mempresentasikan LInya. Mengambil kesimpulan. Lebih baik lagi
sampai menentukan sikap. Menyusun rencana publikasi.
- Melakukan konfirmasi : mengkroscek hasil kajian dengan ilmunya orang yang lebih
berkompeten.
- Mendokumentasikan hasil kajian menjadi dokumen rapi yang bisa dibaca siapa saja dan kapan
saja
Usulan Program Kerja
- Kajian rutin anggota
- Publikasi hasil kajian dengan cara yang sekreatif mungkin : seminar, propaganda media,
festival poster,sehari berkafiyeh, dll.
- Bulan syiar : rentang waktu tertentu dimana departemen-departemen syiar meningkatkan
intensitas syiarnya sehingga tidak ada obyek syiar yang tidak terpapar oleh syiar.
- Peringatan hari besar islam&hari-hari penting yg sekiranya bisa dieksplorasi untuk
menyebarkan nilai-nilai keislaman (hari kartini, world hijab day, nakba day, dll)
- Syiar pelayanan : menyentuh kehidupan sehari-hari dan kebutuhan “dasar” obyek-obyek
syiar.
- Optimalisasi media
- Upgrading pengurus : terutama membekali juru-juru syiar dengan kemampuan yang
menunjang seperti kemampuan edit foto, disain sederhana, dll. Hal-hal kecil semacam ini
selalu jadi masalah klasik.
Syiar UNIVERSAL | 43
- Pengumpulan hasil-hasil kajian syiar menjadi sesuatu yang bisa diakses siapa saja sehingga
bisa menjadi media rujukan. (contoh : seorang mahasiswa ingin tahu hukum rokok dalam
islam. Dia teringat dulu departemen syiar DKM pernah mengkajinya, dia mengakses blog
departemen syiar, atau pergi ke perpustakaan masjid untuk membaca dokumen-dokumen
hasil kajian)
Syiar AKADEMI & PROFESI | 44
5
syiar akademi & profesi
Urgensi
Islam adalah agama yang syammil (sempurna). Universalitas islam ini meliputi 3 dimensi yaitu
syumuliyatul zaman (universal dalam zaman), Syumuliyatul Minhaj (pedoman hidup yang universal)
dan syumuliyatul makan (Universal dalam tempat). Dalam syumuliyatul Minhaj ini, kita diminta untuk
berdakwah sehingga ajaran islam ini terus tersebar.
Dakwah bertujuan mengajak manusia kepada kebenaran dan mencegah mereka melakukan
perbuatan yang dilarang Allah. Dikatakan bahwa dakwah harus disampaikan dengan Hikmah. Jangan
sampai ada cara yang tidak baik karena bisa menyebabkan kontraproduktif dengan dakwah.
Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS
an-Nahl [16]: 125).
Sebagai muslim kita harus menjalani kehidupan sesuai dengan pedoman agama kita yaitu Al
Qur’an. Begitu juga dalam menjalankan aktivitas kita sebagai dokter nantinya. Ketika melakukan
suatu tindakan harusnya hal yang kita jadikan pertimbangan untuk menjalankannya adalah Islam.
Nah, untuk bisa mencapai tingkatan ini tentunya kita mulai dari hal-hal dasar dulu dan dekat dengan
bidang kita. Sesuai bidang kita yaitu syiar maka disini kita untuk mendekatkan muslim kepada Islam
itu lewat hal-hal yang berkaitan dengan kedokteran. Jadi concern kita disini memang benar- benar
hal-hal dalam kemudian ditinjau dari aspek kedokteran.
Di Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan mengenai ilmu yang kita pelajari
dikedokteran. Contoh tersering adalah ayat mengenai embrio.
Syiar AKADEMI & PROFESI | 45
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik. (QS 23 : 12-14)
Kalau kita bandingkan dengan yang kita pelajari maka terlihat bahwa ilmu yang baru diketahui
ilmuwan sudah ada didalam Al Qur’an. Aspek ini bisa terus kita gali untuk semakin meningkatkan
keimanan dan meningkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT. Aspek ini juga bisa menggaet temanteman yang menyukai ilmu-ilmu kedokteran untuk mulai mempelajari islam. Lewat aspek ini,
kecintaan kita baik terhadap ilmu kedokteran maupun Islam akan terus meningkat. Sehingga tidak
ada kata bosan untuk terus mencari ilmu. Ini juga merupakan bagian dari usaha kita untuk berdakwah
sesuai ‘bahasa kaumnya’.
Konsep kedokteran Islam tidak terbatas pada thibbun nabawi saja, namun lebih luas lagi.
Misalnya bagaimana dalam kehidupan sehari-hari dalam keprofesian kita menggunakan Islam dalam
kerangka pemikiran kita. Misalnya dalam penggunaan kertas kita seefektif mungkin untuk menjauhi
hal-hal yang mubazir.
Contoh lainnya menggunakan paradigm positif dalam menghadapi penyakit.
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau
kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahankesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)
Dengan memahami hal ini tentunya kita yang sedang diuji dengan sakit akan cenderung lebih
sabar dalam menghadapinya. Kalau dokternya sudah paham, perlahan-lahan hal ini bisa ditanamkan
kepada pasiennya. Sehingga apapun yang terjadi terhadap diri kita, kita akan lebih positif dalam
menghadapinya dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sang maha penyembuh.
Atau ketika menghadapi masalah etika, misalnya Aborsi. Kondisi yang bisa saja kita hadapi ini
akan kita pertimbangkan berdasarkan aturan Islam. Penting untuk menyiarkan Islam lewat aspek
kedokteran ini, khususnya bagi para calon dokter. Perlahan-lahan kita ‘meracuni’ pola fikir para calon
dokter dengan hal-hal yang baik .
Lingkup kerja
Sasaran : Syiar akademi dan profesi di lingkungan kampus bisa melibatkan banyak pihak
diantaranya : mahasiswa kedokteran, dokter, staf di Fakultas Kedokteran tersebut.
Syiar AKADEMI & PROFESI | 46
Kajian (how to? teknis? Rekomendasi bahan kajian)
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk kajian. Tergantung kepada kenyamanan internal
departemen tersebut. beberapa hal yang pernah penulis lakukan saat menjadi kadiv medical islam
DKM Asy Syifaa’ FK Unpad adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tema kajian.
Penentuan tema kajian ini bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Menyebar angket kepada mahasiswa fakultas kedokteran. Bisa dilakukan lewat
kotak angket maupun menyebarkan secara langsung kepada tiap tingkat. Didalam
angket tersebut diberikan beberapa pilihan tema disertai pertanyaan terbuka
mengenai topik yan ingin diketahui oleh mahasiswa tersebut….
Tentukan berdasarkan system yang sedang dibahas saat itu.
Timbang kebutuhan lapangan saat itu apa, sehingga hasil kajian yang didapatkan
diharapkan bisa menjawab kebutuhan di lapangan
2. Tanamkan terlebih dahulu urgensi kenapa tema itu dipilih terutama kepada peserta kajian
(pengurus departemen tersebut).
3. Tentukan waktu yang fix untuk kajian.
4. Dalam satu tema, contohnya “manfaat puasa terhadap kesehatan”. tema ini akan dibahas dari
sisi kedokteran dan sisi islamnya, baik berupa fiqih atau masalah lainnya.
Untuk sisi kedokteran bisa dibahas dari sudut pandang anatomi, fisiologi ataupun hal
lainnya yang disesuaikan dengan tujuan kajian tersebut.
Begitu juga dengan sisi islamnya, bisa dibahas dari tinjauan fiqih.
5. Dari tema yang diangkat, ditentukan hal-hal yang ingin digali. Pada pertemuan pertama, hal-hal
tersebut di list lalu ditugaskan kepada masing-masing anggota untuk mengerjakan tugas-tugas
tersebut.
6. Pada pertemuan selanjutnya, masing-masing anggota melakukan presentasi tugas-tugas
tersebut. setelah dipresentasikan, lakukan tanya jawab. Setiap pertanyaan maupun jawaban
dinotulensikan. Apabila ada pertanyaan yang belum bisa dijawab, maka pertanyaan tersebut
dicatat dan dijadikan tugas untuk pertemuan selanjutnya.
7. Setiap argumen yang dikeluarkan dalam kajian harus bisa dipertanggungjawabkan (disertai
referensinya)
Referensi untuk tugas:
untuk sisi kedokterannya : merujuk pada buku kedokteran atau website/blog/buku
dari penulis yang sudah valid kebenarannya berdasarkan hasil konfirmasi ke buku
kedokteran
untuk sisi Islam : merujuk pada Alqur’an dan Hadist atau buku-buku keislaman
lainnya
Dalam kajian, peserta tidak menafsirkan ayat didalam Alqur’an. apabila ada hal yang
dibingungkan mengenai suatu ayat,langsung dibaca lagi tafsirnya dan harus
mengetahui asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya ayat).
Beberapa buku maupun situs yang bisa dijadikan referensi :
Al Qur’an
Riyadhus Shalihin
Tafsir Al Qur’an
textbook kedokteran tercinta .
zadul maad jilid 4 karangan ibnu qayyim al jauziyah.
Buku ‘bunga rampai kedokteran islam’
Situs : http://omarkasule.tripod.com/
Buku karangan pak Tauhid Nur Azhar.
Syiar AKADEMI & PROFESI | 47
Hasil penelitian yang udah dipublikasikan diinternet (jurnal)
Dan banyak sumber lainnya.
8. ada mekanisme konfirmasi kepada ahli dibidang masing-masing:
Sisi kedokteran (basic science dan lain lain) dikonfirmasikan kepada dokter yang
mempunyai kompetensi sesuai bidang yang sedang dikaji
Sisi Islam dikonfirmasikan kepada ustad yang mempunyai kompetensi sesuai bidang
yang sedang dikaji
9. Keputusan kajian yang akan dipublikasikan disepakati dulu oleh semua peserta kajian dan setelah
dikonfirmasi lagi ke Dokter dan / ustad.
10. Setelah selesai mengkaji suatu tema, maka sampailah kita pada fase publikasi hasil kajian.
Publikasi bisa dilakukan pada satu pertemuan rutin. Waktu melakukan kajian berama divisi
medical islam DKM Asy Syifaa’ FK Unpad, kami mengerjakannya dalam waktu 3 minggu. Lalu
hasil kajiannya dipublikasikan melalui ta’lim dari divisi kedokteran islam.
Berikut beberapa contoh publikasi dari kajian yang pernah dilakukan :
Tema aktivasi otak tengah ini masih merupakan kontroversi. Tema ini berhasil mengundang
banyak orang pada ta’lim pertama divisi Medical islam DKM Asy Syifaa’ FK Unpad. Ta’lim ini
mempunyai 2 sesi. Sesi pertama merupakan presentasi hasil kajian oleh mahasiswa kemudian
dilanjutkan oleh narasumber yaitu seorang dokter.
Syiar AKADEMI & PROFESI | 48
Medical Islam Exhibition 2 ini merupakan puncak syiar kedokteran islam yang dilakukan oleh
divisi Medical Islam DKM Asy Syifaa’ tahun 2011. Event ini dilaksanakan seharian dengan
menampilkan beberapa rangkaian acara dengan tema besar mengenai “Keajaiban Sholat”. Lewat
event ini saya semakin menyadari bahwa antusias mahasiswa maupun masyarakat umum
terhadap kedokteran islam sangat tinggi.
11. Notulensikan semua hasil kajian, baik berupa file maupun foto. Hasil kajian ini bisa diturunkan
kepada pengurus tahun selanjutnya. Sebaiknya dibuat juga situs yang memuat semua kegiatan
yang pernah dilakukan oleh departemen tersebut supaya notulensi kegiatan tersebut tersusun
rapid an mudah diakses oleh pengurus selanjutnya 
Usulan program kerja
1.
Kajian rutin setiap minggu
2. Ta’lim rutin sebagai media syiar hasil kajian
3.
Pembuatan buletin kedokteran islam
4. Pelatihan untuk peningkatan kompetensi dokter muslim
Adapun untuk aspek yang bisa dikembangkan dalam pemilihan tema meliputi banyak hal.
Berikut merupakan contoh aspek yang dibuat oleh dr Hilmi Sulaiman Rathomi (ketua Tim core
competence FK UI) .
Syiar AKADEMI & PROFESI | 49
1.
Aspek aqidah
Artinya kita berusaha meningkatkan pemahaman tauhid dan level keimanan melalui ilmu
kedokteran. Memahamkan kepada manusia untuk terus memikirkan penciptaan Allah dimuka
bumi.
Aspek ini dicapai dengan cara mengkaji ayat Al Qur’an maupun hadist yang berkaitan dengan
kesehatan, mencari hikmah kesehatan dari ibadah.
Contoh tema :
- Manfaat shalat terhadap kesehatan
- mengkaji ayat mengenai embriologi, kulit dan lain-lain
- Mengkaji mengenai potensi otak dan perintah kepada manusia untuk terus berfikir dan
mengambil hikmah di muka bumi.
2. Aspek akhlaq
Aspek ini dicapai dengan mengkaji bagaimana etika praktik kedokteran yang dilakukan oleh
para dokter muslim.
3. Aspek Fiqih,
Aspek ini dicapai dengan mengkaji hukum halal/haramnya suatu tindakan medis
(kontemporer) lewat kacamata syari’ah.
4. Aspek shirah
kita belajar dan mengambil hikmah dari praktik pengobatan di masa nabi dan para sahabat,
serta periode emas kedokteran islam, sehingga dapat kita terapkan di masa sekarang untuk
kembali mencapai puncak kedokteran islam.
5. Aspek kafa’ah
kita berupaya mendorong peningkatan kompetensi para dokter muslim, baik dari sisi medis
dan non medis agar memiki kualifikasi yang mumpuni untuk melakukan praktik kedokteran
secara maksimal.
Contoh aplikasinya : pemahaman manfaat khitan terhadap kesehatan kemudian dilanjutkan
dengan pelatihan khitan.
Syiar AKADEMI & PROFESI | 50
Kurikulum Kedokteran Islam
Kurikulum kedokteran islam merupakan kurikulum yang memuat mengenai aspek-aspek islam
dari setiap pembahasan kedokteran yang didapatkan ketika kuliah. Kurikulum kedokteran ini bisa
dipakai sebagai acuan untuk mentoring atau dimasukkan kedalam kurikulum pelajaran agama di
masing-masing universitas. Saat ini departemen kajian kedokteran islam DEP FULDFK telah
membuat contoh kurikulim kedokteran islam yang bisa diterapkan. Harapannya dengan adanya
kurikulum ini, syiar kedokteran islam bisa menjangkau sasaran yang lebih luas dan dilaksanakan
dengan konsisten.
Syiar KEMASJIDAN | 51
6
SYIAR kemasjidan
Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak
takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka
merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk
golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
– QS. At-Taubah : 18
Urgensi
Hampir seluruh muslim sivitas akademika fakultas pasti mengunjungi masjid atau setidaknya
pernah mengunjungi masjid kampus baik untuk melakukan ibadah shalat ataupun kegiatan lainnya.
Dikarenakan dapat dipastikan ramainya muslim yang datang ke masjid setiap harinya, membuat
masjid yang lembaga dakwah fakultas miliki ini menjadi sarana yang potensial untuk dimanfaatkan
dalam bersyiar. Masjid merupakan sarana utama yang dapat digunakan untuk melaksanakan semua
kegiatan dari lembaga dakwah fakultas. Lembaga Dakwah Fakultas dapat Mengoptimalkan fungsi
masjid menjadi sarana yang produktif dalam pelaksanaan agenda-agenda syiar keislaman. Untuk
mengoptimalkan serta memberikan manfaat besar dalam penyelenggaraan syiar islam di fakultas,
Lembaga dakwah fakultas berperan dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas syiar islam di
dalam masjid serta diimbangi dengan tersedianya fasilitas penunjang berbagai aktivitas di dalam
masjid. Bukan hanya menjadikan masjid sebagai sarana untuk beribadah wajib saja namun juga LDF
mengupayakan terciptanya berbagai aktivitas islami lainnya, seperti aktivitas kajian islami dan politik,
aktivitas pendidikan dan pembinaan islam, aktivitas sosial dan budaya, tepat untuk syuro’ serta
Syiar KEMASJIDAN | 52
aktivitas umum seperti perekonomian maupun akademik. Masjid oleh sebagian orang juga
difungsikan sebagai tempat beristirahat sejenak dari kegiatan perkuliahan ataupun menjadi tempat
untuk silaturrahim dan sekadar bertegur sapa dengan teman-teman kampus. Dimasjidlah berbagai
aktivitas islami maupun umum tersebut terlaksana. Hal umum lainnya yang mungkin sering kita
temukan adalah mahasiswa menggunakan masjid sebagai tempat diskusi mengenai materi akademik
kita, tempat belajar bersama dan juga tempat untuk mengerjakan tugas kuliah. Dengan adanya
beragam aktivitas di masjid dapat menciptakan masjid yang ramai setiap waktu tidak hanya saat
shalat berjamaah saja. Dengan pengelolaan masjid yang baik dan profesional ditunjang dengan
aktivitas dan fasilitas yang baik pula diharapkan masjid bisa menjadi salah satu tempat yang paling
nyaman untuk sivitas akademika dan menarik banyak massa untuk belajar islam. Peran Syiar masjid
juga menyangkut perihal manajemen masjid bagaimana mengelola sarana ibadah ini menjadi tempat
yang bermanfaat. Disini kita menempatkan sarana masjid yang LDF miliki sebagai sarana yang
bermanfaat besar bagi seluruh sivitas akademika dan juga sebagai pusat kegiatan dari dakwah LDF.
Lembaga Dakwah Fakultas
harus menjadi penggerak utama dalam membangun dan
mengembangkan sebuah masjid menuju masjid ideal. Melalui sarana masjid yang dikelola secara
optimal dengan berbagai aktivitas islam dan ditunjang fasilitas yang membuat sivitas akademika
nyaman dan tertarik untuk beraktivitas dimasjid, kita dapat membangun peradaban islam dimulai
dari masjid-masjid fakultas yang kita miliki.
Lingkup kerja
Dari uraian mengenai urgensi syiar kemasjidan diatas maka, lingkup kerja dari syiar kemasjidan
dapat diktegorikan menjadi dua hal:
1. Manajemen pengelolaan masjid: syiar kemasjidan bertanggung jawab dalam memastikan
membuat masjid menjadi nyaman, memastikan tersedianya fasilitas penunjang kegiatan di
masjid seperti alat shalat, pengeras suara, serta fasilitas penunjang lainnya yang dibutuhkan.
Selain itu juga kemasjidan bertanggung jawab atas kebersihan serta kerapihan dari masjid
dengan cara meregulasi piket untuk kebersihan masjid membuat aturan-aturan sebagai upaya
membuat masjid menjadi rapih dan bersih, serta mengelola fasilitas tambahan seperti
perpustakaan masjid dan koperasi masjid.
2. Melaksanakan agenda-agenda yang bertujuan sebagai upaya membuat masjid menjadi tempat
ramai dan aktif untuk kegiatan-kegiatan islami, menjadikan masjid sebagai sarana kegiatan
utama dalam bersyiar.
Usulan program kerja
1.
Tahsin: memfasilitasi semua mahasiswa yang ingin memperbaiki bacaan al-qur’an
2. Kajian Islam/ta’lim: bisa dijadikan agenda rutin pekanan atau bulanan, untuk materi yang
diberikan dapat berupa kajian fiqh-fiqh dengan menghadirkan ustad yang ahli dibidangnya.
Kajian Islam/ta’lim juga bisa dikemas sekaligus dengan kegiatan buka bersama puasa sunnah
senin-kamis dengan menyediakan ta’jil gratis bagi mahasiswa yang menghadiri kegiatan kajian
islam/ta’lim tersebut.
3.
Pelaksanaan shalat jum’at: meregulasi pelaksanaan kegiatan shalat jumat rutin, menyediakan
khatib dan muazin.
Syiar KEMASJIDAN | 53
4. Perpustakaan masjid: menyediakan berbagai buku islami maupu buku umum dan juga al-qur’an
yang dapat dipinjam dan dibaca bebas oleh sivitas akademika
5.
Pembacaan hadist/kultum setiap ba’da shalat: pemberian siraman rohani singkat diwaktu yang
singkat. Waktu-waktu ba’da shalat merupakan waktu dimana mahasiswa berdatangan ke masjid.
6. Pengadaan air minum gratis: menyediakan air minum isi ulang yang dapat dimanfaatkan oleh
mahasiswa sebagai penghilang dahaga
7.
Bersih-bersih masjid: membersihkan masjid secara rutin untuk menciptakan lingkungan yang
nyaman
8. Pelatihan khatib dan menjadi khatib jum’at: membuka kesempatan untuk mahasiswa yang ingin
belajar menjadi khatib dan langsung mempraktikkannya disaat khutbah jum’at
9. Gebyar Ramadhan: tarawih, buka bersama, i’tikaf, penerimaan zakat
10. Qurban: pelaksanaan pemotongan hewan qurban, menjadi panitia penerima hewan qurban.
11. Pengadaan mading keislaman: mengisi masjid dengan informasi-informasi seputar islam melalui
papan pengumuman atau papan informasi di dalam masjid.
12. Pengadaan kotak infak masjid: sarana mahasiswa untuk beramal
13. Mabit: mengadakan agenda rutin malam bina iman dan taqwa berupa kajian malam, shalat
malam.
14. Kegiatan sosial: kita dapat membuat agenda bakti sosial didalam masjid seperti mengundang
anak jalanan, anak yatim-piatu, warga sekitar kampus dalam kegiatan keislaman atau kegiatan
kesehatan.
15. Tahfidz
16. Penyediaan fasilitas penunjang masjid: wi fi, kipas angin, pengeras suara, Air conditioner
17. Penyediaan alat sholat: sarung,sajadah dan mukena
18. Event syiar: bedah buku, bedah film ataupun training motivasi
19. Konsultasi keislaman: penyediaan kotak tanya ustad, kita dapat menyediakan sebuah kotak
didepan masjid beserta dengan kertas dan alat tulisnya. Hal ini bertujuan apabila ada mahasiswa
yang ingin menanyakan beberapa hal seputar keislaman, kertas-kertas pertanyaan nantinya akan
diberikan ke ustad yang sesuai dan hasilnya diberikan kepada mahasiswa yang bertanya
20. Pengadaan koperasi islami: menyediakan keperluan-keperluan mahasiswa berupa alat tulis,
fotokopi, makanan serta minuman
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 54
7
sistem organ kepengurusan
ekstra ldfk
“dan (bagi) orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan
mereka, melaksanakan shalat, serta urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antar mereka; dan
mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami
berikan kepada mereka.”
– QS. Asy-Syura : 38
-Al Baqarah : 233“…Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar
persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya…”
-Ali Imran : 15“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah, engkau (Muhammd) bersikap lemah lembut terhadap mereka.
Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (tertentu). Kemudian apabila engkau telah
membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal kepada-Nya.”
M
ari awali pemahaman kita pada bagian ini dengan kembali kepada hal yang asasi,
pegangan umat islam, yakni Al Qur’an.
Al Baqarah : 233 menjelaskan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami istri
saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, seperti menyapih
anak. Ali Imran : 15 mengisahkan tentang perintah Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 55
untuk memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat atau anggota
masyarakatnya. Asy-Syura : 38 menyatakan bahwa Allah memberikan ganjaran yang lebih baik dan
kekal di sisiNya bagi orang-orang yang dinyatakan dalam ayat tersebut. Ayat ini turun sebagai pujian
kepada kelompok muslim Madinah (anshar) yang bersedia membela Nabi SAW dan menyepakati hal
tersebut melalui musyawarah yang mereka laksanakan di rumah Abu Ayyub Al-Anshari.
Dari ketiga ayat di atas dapat disimpulkan bahwa musyawarah adalah hal yang sangat penting
dalam setiap segi kehidupan. Penghasilan suatu keputusan haruslah dibuahkan dari musyawarah.
Baik itu dalam hal kecil hingga besar, mulai dari urusan rumah tangga dan anak-anak, hingga urusan
pemerintahan dan negara.
DR. Taufiq Asy-Syawi dalam bukunya yang berjudul “Syura” menjelaskan tentang asas
musyawarah dalam arti universal yaitu eksistensi jamaah, hak-hak, dan pertanggungawabannya
diambil dari solidaritas seluruh individu. Pendapat, kehendak, maupun pemikiran orang-orang yang
terlibat dalam musyawarah merupakan representasi dari solidaritas kolektif. Ketetapan yang diambil
didasarkan kepada hasil tukar pikiran dan perbincangan di antara mereka, yang dalam hal ini setiap
peserta musyawarah memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat dan membantah pendapat orang
lain.
Saya tidak bermaksud mengulangi pembahasan sebelumnya mengenai “Manajemen Syura”,
akan tetapi, apa yang akan dijelaskan pada bab ini tidak terlepas dari pemahaman kita mengenai
musyawarah. Urgensi, bentuk, serta fungsi dari organ ekstra kepengurusan LDFK bisa jadi merupakan
hal yang sangat rumit atau mungkin simpel sama sekali. Kondisi ini sangat ditentukan oleh variasi
SWOT masing-masing LDFK. Oleh karena itu, yang ingin saya tegaskan disini bahwa prinsip organ
ekstra tersebut adalah “Musyawarah”. Kondisi idealnya adalah setiap keputusan yang dihasilkan oleh
sebuah LDFK merupakan keputusan yang terbaik secara proses maupun hasil dan itu tak akan
mungkin diraih tanpa suatu musyawarah yang baik pula. InsyaAllah, keberadaan organ ekstra ini
merupakan sarana untuk menghadirkan musyawarah-musyawarah yang baik, sehingga dapat
menghasilkan keputusan-keputusan yang juga baik.
Definisi
Sebelum melangkah lebih jauh, mari sedikit kita pudarkan kebingungan, “apa sih organ ektsra
yang dimaksud dalam bab ini?” Saya yakin, sebagai mahasiswa kedokteran teman-teman sudah tidak
asing lagi dengan kata ‘organ’. Kamus Kedokteran Dorland mendefinisikan kata organ sebagai bagian
tubuh yang mempunyai fungsi khusus. Terjawab sudah kata organ. Lalu, “apa maksudnya ‘ekstra’?”
Ekstra disini berasal dari kata eksternal (di luar dari sesuatu). Jadi, organ ekstra adalah suatu badan
yang mempunyai fungsi khusus di luar ‘sesuatu’. Apakah sesuatu itu? Seperti judul bab ini, sesuatu itu
adalah kepengurusan LDFK. Berarti organ ekstra kepengurusan LDFK bisa didefinisikan sebagai
sesuatu apapun itu yang berada di luar kepengurusan LDFK namun keberadaannya memiliki fungsi
tertentu. Kepengurusan yang saya maksud disini adalah Pengurus Harian -begitulah saya
membahasakannya-, it means orang-orang yang terlibat dalam kerja-kerja rutin / eksekutif /
pelaksana dari LDFK, mulai dari ketua hingga staf.
Terkait dengan pembahasan sebelumnya, kenapa akhirnya saya membahas ini, karena sesuatu
yang berada di luar pengurus harian tersebut akan membantu terwujudnya keputusan-keputusan
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 56
terbaik melalui berbagai macam variasi mekanisme musyawarah yang bisa tercipta. Variasi
musyawarah bergantung dari bagaimana variasi bentuk organ ekstra dan hubungannya dengan
pengurus harian. Namun, sebelum hal itu kita bahas, mari kita dalami dulu mengenai urgensinya,
karena hal tersebut yang akan menjadi faktor signifikansi bermanfaat atau tidaknya keberadaan
suatu organ ekstra. Bisa jadi suatu LDFK tidak butuh ada organ ekstra, karena tidak mencapai
urgensinya, seperti yang akan saya paparkan setelah ini. Penasaran? Yuuuk, lanjut terus bacanya 
Urgensi dan Peran Organ Ekstra
Banyak LDFK menerapkan sistem yang inklusif dalam keangotaannya. Maksudnya, LDFK
tersebut tidak hanya beranggotakan orang-orang yang terlibat dalam pengurus harian saja, namun
juga mahasiswa muslim yang tidak mengikuti kepengurusan. Karena banyak yang berpikiran bahwa
LDFK bukanlah milik mereka yang aktif atau ikut kepengurusan saja. LDFK adalah wadah keagamaan
di fakultas yang seyogyanya menghimpun seluruh muslim, milik semua muslim, namun di banyak
kampus yang jumlah mahasiswa muslimnya cukup banyak, tidak semua berminat / bersedia untuk
terlibat aktif di LDFK, beda halnya seperti organisasi keagamaan lain seperti keluarga mahasiswa
katolik, protestan, atau budha yang cenderung jumlah mahasiswanya lebih sedikit dibanding muslim
sehingga semua orang secara otomatis terlibat dalam organisasi himpunan mereka masing-masing.
Tapi, kondisi ini tidak bisa digeneralisir, karena tidak semua kampus fakultas kedokteran memiliki
jumlah mahasiswa muslim yang lebih banyak.
Kembali kepada topik pembahasan LDFK yang inklusif. Pertanyaannya adalah, “apakah hakikat
dari LDFK yang beranggotakan semua muslim?”, “apakah ini hanya sekedar simbol atau sebatas
slogan pencitraan?” Fenomena yang mungkin terjadi adalah anggota non pengurus tak pernah
terdeskripsikan secara jelas peran serta yang bisa mereka perbuat untuk LDFK maupun hak yang
mereka bisa dapat dari adanya LDFK. Setiap aturan harus memiliki konsekuensi tertentu terhadap
adanya aturan tersebut. Jika akhirnya keberadaan sebuah aturan tidak signifikan dampaknya, ada hal
yang harus dievaluasi, entah itu ‘aturannya memang tidak perlu ada’ atau ‘ada sesuatu yang kurang
tepat dalam pelaksanaannya’. Begitu juga dengan AD/ART LDFK yang mengatur bahwa anggotanya
adalah seluruh muslim. Harus ada konsekuensi nyata dari hal tersebut. Entah itu akhirnya anggota
non pengurus menjadi punya peluang untuk berkontribusi kepada LDFK maupun mereka menjadi
punya hak tertentu terhadap LDFK. Jika salah satu dari dua hal tersebut tak ada pada anggota non
pengurus, saya pikir tak perlulah menylogankan ‘LDFK kita adalah milik semua muslim’, karena pada
akhirnya tak ada bedanya dengan ‘LDFK ini beranggotakan orang-orang yang terlibat aktif di
dalamnya’ saja. Bukan bermaksud skeptis, setidaknya kita mencoba untuk berintegritas dalam level
lembaga dan mungkin secara kinerja akan menjadi lebih baik jika kita mengakui bahwa LDFK kita
memang eksklusif karena program bisa difokuskan untuk internal pengurus. Kondisi ini mungkin
untuk terjadi pada LDFK yang jumlah mahasiswa muslim di fakultasnya minoritas.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 57
Menciptakan hak anggota non pengurus adalah hal yang mudah. Hak anggota non pengurus
bisa kita rancang dengan mencantumkan di AD/ART bahwa setiap muslim di fakultas berhak untuk
mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh LDFK seperti mentoring, ta’lim, ataupun acaraacara yang lainnya . Mudah, karena tak perlu menuntut effort dari anggota non pengurus. Lalu
bagaimana dengan peran? Anggota non pengurus bukanlah orang yang mendaftarkan diri secara
volunteer untuk meluangkan tenaganya secara sukarela demi keberlangsungan LDFK. Aneh
memang, menuntut peran dari orang yang tak punya kewajiban terikat kepada organisasi. Namun,
kita sedang mencoba menjalankan konskuensi AD/ART yang menginginkan semua muslim menjadi
anggota dari LDFK. Untuk itulah organ ekstra hadir, mencoba menjembatani kesempatan untuk
berperan di LDFK tanpa harus menjadi pengurus harian. Berperan disini, bukan berarti memberi
kewajiban kepada anggota non pengurus, akan tetapi, cukup memberikan peluang kepada mereka.
Mereka akhirnya ingin berperan atau tidak, itu akhirnya pilihan masing-masing. At least, setidaknya
kita telah mencoba menjalankan konsekuensi dari AD/ART.
Lalu, peran apa saja sebenarnya yang bisa dilakukan oleh angota non pengurus dengan adanya
organ ekstra? Yang perlu diingat, pengurus harian sebagai eksekutif bertanggung jawab terhadap
berlangsungnya aktifitas harian LDFK. Berarti, organ ekstra berperan untuk hal-hal yang di luar
aktifitas keseharian tersebut, dalam hal ini, sepertinya tak salah jika saya bahasakan sebagai ‘hal-hal
strategis’. Hal strategis apa saja yang dapat dilakukan oleh organ ekstra? InsyaAllah akan saya bahas
di bagian selanjutnya 
Perangkat Organ Ekstra
Terdiri dari apa saja organ ekstra, bagaimana fungsinya, bagaimana mekanisme kerjanya bisa
sangat bervariasi, tergantung kondisi LDFK masing-masing, yang pada prinsipnya melibatkan orangorang di luar kepengurusan harian untuk hal-hal strategis. Hal yang saya paparkan di bawah ini
bukanlah suatu hal yang mutlak, mungkin masih banyak hal yang luput dari pengamatan,
pembelajaran, serta pengalaman saya. Meski tak sempurna, insyaAllah tak ada salahnya membagi hal
tersebut lewat tulisan ini.
Berikut adalah perangkat-perangkat yang dapat diadakan pada organ ekstra beserta fungsifungsi terkait hal strategis organisasi yang dapat dilaksanakannya:
1. Musyawarah Besar atau Muktamar
Tak ada perbedaan yang signifikan antara musyawarah besar atau muktamar, hanya beda
nama dan mungkin pencitraan saja. Untuk membuat lebih simpel serta menyeragamkan
penggunaan sebutan perangkat jenis ini pada tulisan ini, saya akan mengistilahkannya dengan
“Mubes” (Musyawarah Besar).
Core point dari Mubes adalah:
a.
Musyawarah insidental
Musyawarah insidental adalah musyawarah yang tidak terus-terusan dilaksanakan
oleh pengurus. Musyawarah yang tidak terus-terusan ini dapat diadakan dengan berbagai
macam tujuan. Contoh, jika ada suatu hal di luar dugaan yang terjadi pada LDFK, dan hal
tersebut berkaitan dengan eksistensi organisasi, maka LDFK dapat melangsungkan suatu
musyawarah istimewa. Namun, tujuan tersebut juga tak mesti selalu hal yang di luar
dugaan, seperti musyawarah awal atau akhir tahun sebuah LDFK. Musyawarah tersebut
rutin diadakan setiap tahun dan tentunya harus terencana dengan baik, it means bukan hal
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 58
yang di luar dugaan. Agenda-agenda yang biasa ada disana seperti penetapan AD/ART atau
GBHD baru maupun revisi, pemilihan ketua, pelaporan LPJ, pengesahan proker setahun ke
depan, dan lain-lain. Oleh karena itu, mungkin kurang tepat jika saya sebut Mubes sebagai
musyawarah yang ‘insidental murni’ karena dia dapat bersifat rutin yang tahunan. Namun,
saya tetap memilih kata insidental karena pada prinsipnya dia hanya musyawarah yang
dilaksanakan pada momen-momen tertentu saja.
b.
Tidak berbadan pengurus tetap
Karena musyawarah-nya insidental, maka panitia yang bertugas melaksanakan
musyawarahnya pun cukup bersifat temporary, dibentuk ketika akan dilangsungkan acara
dan seketika bubar setelah musyawarah selesai. Musyawarah diadakan oleh panitia khusus,
namun dapat dihadiri oleh orang-orang yang tidak terlibat di Pengurus Harian.
2. Dewan Pertimbangan / Penasihat Organisasi (DPO) atau Majelis Syura
Seperti perangkat sebelumnya, Dewan Pertimbangan / Penasihat Organisasi (DPO) dan
Majelis Syura tak memiliki perbedaan yang signifikan. DPO sendiri, mau namanya
‘pertimbangan’ atau ‘penasihat’, cukup sesuaikan dengan keadaan masing-masing LDFK. Oleh
karena itu, dengan alasan yang sama seperti perangkat sebelumnya, dalam tulisan ini, untuk jenis
perangkat ini saya memilih istilah “MS” (Majelis Syura).
Core point dari MS mungkin akan berkebalikan dengan Mubes, namun mereka tak
sepenuhnya berseberangan dalam hal fungsi, karena MS dapat mengambil beberapa fungsi dari
Mubes atau MS membantu terlaksananya Mubes sesuai fungsi-fungsi yang telah dipaparkan di
atas. Selain itu, MS juga bisa menjalankan fungsi selain yang dapat dilaksanakan Mubes, yaitu
‘pengawasan’.
Jadi, apa saja core point MS yang berkebalikan dengan Mubes tersebut?
a.
Musyawarah rutin
Musyawarah yang diadakan majelis syura bukan hanya musyawarah-musyawarah
yang dilaksanakan pada momen tertentu saja. Akan tetapi ada bahasan yang harus
dirapatkan oleh MS dalam pertemuan yang tak hanya satu atau dua kali saja setahun.
Bahasan apa saja yang dibahas dalam MS? Hal tersebut akan sangat berhubungan dengan
peran apa yang dibebankan kepada MS. Apa saja yang diperankan oleh MS insyaAllah akan
lebih terjelaskan pada bagian selanjutnya tentang struktur organ ekstra.
b.
Berbadan pengurus tetap
Jika Mubes diadakan oleh panitia insidental, MS diurus oleh suatu kepengurusan yang
menjabat dalam jangka waktu tertentu, mostly satu tahun atau sama dengan lama masa
jabatan pengurus harian. Orang-orang yang telah diamanahkan di MS pada awal masa
kepengurusan bertanggung jawab terhadap kelangsungan MS termasuk kewenangankewenangan strategis yang dimilikinya.
Hal inilah yang akhirnya membuat requirement keanggotaan MS dan Pengurus Harian
berbeda, karena orang-orang yang berada di MS memiliki kewenangan khusus terkait hal-hal
yang strategis bagi organisasi. Oleh karena itu, kita tidak bisa memilih orang secara
sembarangan untuk terlibat di MS. Seperti yang terjadi di Keluarga Muslim (KAMI) Asy-Syifaa’ FK
Unpad yang mensyaratkan: 1) Jenjang kader tarbiyah tertinggi, dan 2) Pernah menjadi Pengurus
Harian, untuk dapat dipilih menjadi anggota MS.
Jika akhirnya LDFK teman-teman menjadikan jenjang kader tarbiyah tertinggi sebagai
syarat dan ternyata kader pada level tersebut berjumlah cukup banyak, MS bahkan dapat
dipersempit dengan membentuk TIMS (Tim Inti Majelis Syura). TIMS dibentuk untuk
menciptakan syura kecil dengan jumlah orang terbatas dengan kewenangan khusus, supaya
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 59
efektifitas dapat dicapai. Bayangkan jika kader level tertinggi di kampus teman-teman berjumlah
50 orang dan syura harus berlangsung dengan frekuensi 1x1 bulan atau bahkan 1x2 minggu,
sudah pasti sang pemimpin syura akan kewalahan untuk melangsungkan pertemuan.
Jika sekarang pertanyaannya adalah kenapa tidak dari awal membentuk MS dengan jumlah
yang sedikit? Kenapa harus rumit-rumit membentuk lingkaran di dalam lingkaran (baca: TIMS di
dalam MS)? Hal tersebut menjadi alternatif bagi LDFK yang ingin memberikan peluang kontribusi
yang sama kepada setiap kader level tertinggi terhadap hal srategis organisasi, namun tetap
efektif dalam keberjalanannya. Jadi, kesehariannya MS dijalankan oleh TIMS, dan beberapa
kewenangan khusus dimusyawarahkan di MS. Ingat, kondisi ini baru bisa terjadi pada LDFK yang
mensyaratkan jenjang kader tarbiyah tertinggi pada keanggotaannya dan orang-orang yang
berada pada jenjang tarbiyah tertinggi tersebut berjumlah banyak.
3.
Dewan Syariah
Jika perangkat 1 & 2 diadakan dalam rangka meningkatkan kesempatan kontribusi bagi
anggota non pengurus harian, perangkat 3 & 4 lebih ditujukan kepada penambahan
pertimbangan bagi organisasi dari komponen non mahasiswa.
Dewan Syariah, seperti namanya, dia adalah perangkat yang terdiri dari orang-orang yang
paham ‘syariah islam’. Oleh karena itu, LDFK dapat melibatkan ustadz/ah dalam perangkat ini,
seperti Gamais ITB yang mencantumkan hal tersebut dalam Blueprint 2008-2013 nya. Tidaklah
sebuah keharusan, akan tetapi, jika LDFK teman-teman sudah berada dalam kondisi yang cukup
establish untuk meningkatkan arus koordinasi, insyaAllah akan lebih baik jika proker atau hal
strategis di LDFK ikut dipertimbangkan sesuai atau tidaknya dengan syariat oleh orang yang
memang berkapabilitas untuk itu, seperti ustadz/ah. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan
integritas lembaga yang kental dengan kegiatan-kegiatan islami.
4. Pembina
Dewan Syariah dan Pembina dapat serupa fungsinya, meskipun pembina dapat memiliki
peran yang lebih. Mereka sangat terbedakan oleh komponen yang terlibat di dalamnya. Jika
Dewan Syariah melibatkan ustadz/ah karena kapabilitas keislamannya, Pembina melibatkan
dosen fakultas. Selain dapat menambah pertimbangan organisasi, Pembina insyaAllah juga
dapat memudahkan kita dalam hal birokrasi, karena lembaga kita bukanlah lembaga independen
yang lepas di masyarakat, akan tetapi merupakan organisasi kemahasiswaan yang terikat dengan
lembaga pendidikan. Semoga dengan keberadaan Pembina, LDFK mendapatkan bargaining
position yang lebih baik di dekanat maupun kemahasiswaan.
Bentuk Struktur dan Alur Hubungan antara Organ Ekstra dengan
Pengurus Harian
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa pengadaan perangkat organisasi dapat
bervariasi tergantung bagaimana kondisi LDFK masing-masing. Ketika perangkat organisasi lebih
dari satu, maka penting untuk memperhatikan organigram karena beda bentuk akan menghasilkan
mekanisme kerja yang juga berbeda. Oleh karena itu, dalam organisasi tidak ada benar dan salah,
yang ada hanya tepat dan tidak tepat, tergantung analisis ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’ LDFK masingmasing.
Di bawah akan diuraikan apa saja opsi yang dapat dipilih terkait pengadaan perangkat
organisasi dan alur hubungannya. Karena kondisi LDFK berbeda-beda, maka silahkan teman-teman
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 60
sesuaikan organigram di bawah dengan situasi kampus masing-masing. InsyaAllah, apa yang akan
dipaparkan di bawah diurutkan mulai dari yang paling urgen sehingga teman-teman dapat
menganalisis dan menentukan berdasarkan prioritas.
Note:
Garis panah tidak putus-putus: alur komando / instruksional
Garis putus-putus: alur koordinasi
Penjelasan Simbol Organigram
1.
LDFK dengan perangkat organisasi tunggal
PH
Jika fase dakwah Rasulullah memiliki fase Makkiyah, dimana pada saat awal itu jumlah
pengikut Rasul masih sangat sedikit, begitu juga hal yang dapat terjadi pada LDFK. Pada saat
suatu LDFK baru terbentuk, maka hal yang paling urgen untuk dikokohkan dan distabilkan
keberlangsungannya adalah ‘Pengurus Harian’. Karena yang menjadi fokus kita pada saat itu
adalah untuk memunculkan dan mempertahankan eksistensi organisasi dan itu akan berkaitan
dengan pembinaan para kader dan pengurus. Jadi, pada situasi ini, semua hal dikerjakan oleh PH.
Mulai dari eksekusi proker hingga hal-hal strategis seperti regenerasi kepengurusan, LPJ, dan
lain-lain.
2.
LDFK dengan 2 perangkat organisasi
Jika LDFK telah berada dalam kondisi yang cukup establish dan SDM cukup, maka LDFK
dapat mengembangkan organigram dengan menambah satu perangkat organ ekstra dengan
tujuan: 1) Mengurangi beban kerja Pengurus Harian dan meningkatkan fokus kerja masingmasing perangkat, dan 2) Menjawab urgensi seperti yang telah disampaikan di atas.
Jika hanya ingin menambah satu perangkat organisasi, maka kita harus memilih antara
Mubes dan MS. Manapun Berikut analisis masing-masingnya:
Mubes
MS
MS
PH
PH
Dalam hal ini Mubes
memiliki
garis
komando
terhadap PH. Mubes menjadi
lembaga
tertinggi
LDFK
sehingga setiap hal yang
diputuskan
dalam
Bentuk
organigram seperti di
atas mirip dengan yang
di sebelah kiri, MS
memiliki
komando
terhadap PH. Akan
PH
Pada bentuk struktur
di
atas,
tidak
ada
perangkat yang berperan
sebagai lembaga tertinggi,
karena hubungan yang
muncul antara PH dan MS
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 61
musyawarah tersebut harus
dipatuhi oleh PH. Berikut halhal strategis yang dapat
menjadi tanggung jawab
Mubes:
a.
Pemilihan dan penetapan
ketua LDFK.
b.
LPJ kepengurusan
c.
Pengesahan
revisi
AD/ART
atau
dasar
organisasi lain seperti
GBHD, Renstra, dan lainlain.
d.
Perumusan
dan
penetapan amanat atau
rekomendasi
kepengurusan.
e.
Mengatasi
keadaan
tertentu yang dianggap
darurat,
termasuk
pembubaran organisasi.
f.
Dan lain-lain.
Selain hal yang telah
diuraikan di atas (baca:
eksekusi
program
kerja),
menjadi tanggung jawab PH.
tetapi, jika sebelumnya
Mubes sebagai lembaga
tertinggi berupa forum
insidental yang dapat
dihadiri oleh banyak
orang sehingga banyak
dapat
berpartisipasi
terhadap hal strategis di
organisasi,
pada
organigram ini MS
sebagai
lembaga
tertinggi
diisi
oleh
kalangan
terbatas
(orang-orang yang telah
ditetapkan
dalam
musyawarah
sebelumnya,
sesuai
kualifikasi
yang
diharapkan).
Jika
berpegangan
pada
urgensi yang telah
disampaikan
sebelumnya,
maka
seharusnya MS pada
bentuk struktur seperti
ini dapat melibatkan
orang yang tidak berada
di PH. Untuk tetap
menjaga kualitas hasil
keputusan,
maka
dibuatlah persyaratan
keanggotaan
yang
support untuk hal itu.
Wewenang yang
dapat diemban pada MS
disini mirip dengan
Mubes
sebelumnya,
hanya berbeda pada
orang yang terlibat
dalam memutuskan hal
strategis tersebut.
adalah
koordinasi.
hubungan
Pada kasus ini, MS
tidak bisa menghasilkan
kebijakan-kebijakan
strategis,
karena
hal
strategis antar lembaga
hanya dapat dijalankan
dengan
hubungan
instruksional. Lalu, apa
saja
yang
dapat
dikoordinasikan?
Yaitu
adalah hal-hal yang tidak
menjadi keharusan bagi
PH
untuk
menjalankannya, seperti
‘saran’. Maka, dalam hal
ini, sebenarnya MS hanya
berfungsi
sebagai
‘penasihat’,
sedangkan
hal-hal strategis seperti
yang
telah
diuraikan
sebelumnya diputuskan di
internal PH.
Namun,
agar
inklusifitas dapat dicapai,
MS
tetap
dapat
melibatkan orang non PH
dengan
kualifikasi
tertentu.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 62
3.
LDFK dengan 3 perangkat organisasi
LDFK dengan 3 perangkat organisasi melibatkan semua perangkat yang telah dijelaskan di atas:
PH, Mubes, dan MS. Variasi bentuk struktur di bawah lebih kepada mekanisme kerja dan alur
hubungan antar perangkat organisasi. Dalam hal ini, sama seperti sebelumnya, Mubes dihadiri oleh
PH ditambah dengan muslim non PH, sedangkan MS adalah tim kecil yang beranggotakan orangorang dengan kualifikasi tertentu, baik dari PH maupun anggota non PH.
Mubes
MS
MS
Mubes
PH
PH
Pada organigram ini, PH bertanggung
jawab kepada MS, dan MS bertanggung
jawab kepada Mubes. Oleh karena itu, yang
berperan sebagai lembaga pemegang
kekuasaan tertinggi adalah Mubes. Apa saja
konsekuensi yang bisa muncul dari hal
tersebut?
a.
Mubes sebagai lembaga tertinggi
bertugas untuk memilih ketua MS dan
menetapkan anggota MS yang
terpilih. Dan MS bertugas untuk
memilih ketua PH dan melantik
anggota PH.
b.
Karena telah memiliki organ ekstra,
yang jelas sekarang PH tak perlu lagi
pusing tentang hal-hal yang sifatnya
strategis, karena beban tersebut telah
di share kepada MS dan Mubes. Jadi,
PH cukup fokus terhadap eksekutif.
c.
Tentang interaksi antara PH dan MS,
MS memiliki jalur instruksional
kepada PH. Dalam kesehariannya, MS
Pada organigram ini, PH bertanggung
jawab kepada Mubes, dan Mubes
bertanggung jawab kepada MS. Oleh
karena itu, yang berperan sebagai lembaga
pemegang kekuasaan tertinggi adalah MS.
Salah satu latar belakang memunculkan
MS sebagai pemegang kekuasaan tertinggi
adalah
mengusahakan
pemutusan
kebijakan tertinggi oleh orang-orang yang
ahli atau representatif. Hal ini berguna
untuk meminimalisir hasil keputusan yang
tidak berkualitas dikarenakan tidak
capable-nya peserta musyawarah atau
mencegah orang yang punya niatan tidak
baik terhadap LDFK dengan hadir di
Mubes.
Lalu apa saja konsekuensi yang bisa
muncul dari hal yang telah dipaparkan di
atas?
a.
Regenerasi ketua dan anggota MS
dibicarakan dan disepakati internal
MS. Sedangkan pemilihan ketua PH
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 63
dapat menjadi pengawas / penasihat
PH yang memiliki hak intervensi.
Selain menjadi pengawas proker, MS
pun dapat menjadi guardian of value
PH terhadap dasar organisasi seperti
AD/ART, GBHD, atau Renstra. Untuk
LPJ, PH akan mempertanggung
jawabkan kepada MS.
d.
Untuk menyelenggarakan Mubes, MS
bisa langsung menjadi panitia
penyelenggara atau membentuk
sebuah tim khusus untuk hal tersebut.
Di Mubes akan ada LPJ MS dan juga
LPJ dari PH yang telah diserahkan
kepada MS. Jika ada hal-hal darurat
yang terjadi, itu dibicarakan di Mubes,
karena disini Mubes adalah pemegang
kekuasaan tertinggi.
dimusyawarahkan di dalam Mubes,
namun karena kekuasaan tertinggi
masih dipegang oleh MS, maka setiap
keputusan yang dihasilkan di Mubes
juga harus disetujui oleh MS yang
juga hadir pada Mubes tersebut,
termasuk perihal pemilihan ketua PH.
Perlu diingat, karena pada Mubes
banyak kalangan yang dapat
menghadirinya (tidak hanya PH), hal
ini
dapat
bermanfaat
untuk
mengurangi citra eksklusif yang
mungkin
muncul
pada
MS
dikarenakan
superioritas
wewenangnya.
b.
Sama dengan sebelumnya, disini PH
cukup fokus dengan tanggung jawab
eksekutifnya.
c.
MS tidak memiliki jalur interaksi
langsung dengan PH. Oleh karena itu,
MS tidak memiliki fungsi pengawasan
seperti struktur sebelumnya. Jika MS
memiliki keinginan untuk berinteraksi
dengan PH, maka itu bisa
disampaikan pada amanat atau
rekomendasi kepengurusan yang
disepakati pada Mubes.
d.
LPJ PH disampaikan pada Mubes
yang ditujukan kepada MS sebagai
lembaga tertinggi.
e.
Revisi atau penetapan AD/ART,
GBHD, dan Renstra dapat dilakukan
di Mubes dengan persetujuan MS
yang juga hadir pada musyawarah.
f.
Jika ada hal darurat yang terjadi pada
LDFK, hal tersebut dapat dibicarakan
internal
MS
ataupun
pada
Muysawarah Istimewa yang diinisiasi
atas kehendak MS.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 64
MS
Mubes
MS
Mubes
PH
PH
Pada organigram ini, MS dan PH
sama- sama bertanggung jawab kepada
Mubes. Oleh karena itu, disini, yang
menjadi lembaga pemegang kekuasaan
tertinggi adalah Mubes. Bedanya dengan
struktur sebelumnya yang sama-sama
Mubes sebagai lembaga tertinggi adalah
‘jenjang birokrasi’ yang lebih singkat.
Dalam hal ini, MS tak perlu menjadi
perantara antara PH dan Mubes. Lalu, apa
saja hal yang dapat menjadi konsekuensi
dengan bentuk organigram di atas?
a.
Pemilihan ketua MS dan
dilaksanakan di dalam Mubes.
b.
Masih sama dengan sebelumnya,
disini PH cukup fokus dengan
tanggung jawab eksekutifnya.
c.
Pada organigram ini, MS adalah
lembaga pemegang kekuasaan tertinggi.
Mubes bertanggung jawab kepada MS.
Uniknya organigram ini adalah, PH
memiliki 2 garis komando ke atas, yaitu
kepada Mubes dan MS. Bagaimana
maksundnya?
1.
Garis komando menuju Mubes yang
dilanjutkan dengan MS bermakna,
jika ada hal yang PH pertanggung
jawabkan di dalam Mubes, maka hal
tersebut masih perlu di-acc oleh MS.
Hal ini mirip dengan apa yang telah
dijelaskan pada organigram dengan 3
perangkat
sebelumnya,
yang
lembaga tertingginya adalah MS.
2.
Nah, yang menjadi beda dengan
organigram sebelumnya adalah garis
komando MS yang langsung ke PH.
Hal ini lebih kepada aktifitas
instruksional yang dapat dilakukan
oleh MS terhadap PH, seperti
pengawasan. Jika sebelumnya MS
tidak bisa menjadi pengawas karena
PH
Pada organigram ini, hal-hal strategis
diputuskan di dalam Mubes, jika ada
diskusi-diskusi
panjang
yang
dibutuhkan di luar Mubes, bisa
dilaksanakan oleh MS, namun MS
tidak
memiliki
power
untuk
pengesahan. Contoh, ketika ada hal
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 65
darurat terjadi pada LDFK, maka
dilaksanakanlah suatu Musyawarah
Istimewa dengan format Mubes. Jika
ternyata keputusan pending karena
banyak pertimbangan yang harus
dipikirkan lagi berdasarkan analisisanalisis ilmiah, maka MS dapat
menjadi
tim
khusus
untuk
mengemban
amanah
tersebut.
Setelah MS membuat analisis situasi,
maka itu disampaikan di Mubes dan
keputusan dibuat saat Mubes. Contoh
lain, jika Mubes memutuskan bahwa
AD/ART perlu di revisi, atau perlu
dirancangnya suatu Renstra, maka MS
dapat
menjadi
tim
yang
melaksanakan
tugas
tersebut,
merevisi AD/ART atau meng-create
Renstra. Setelah revisi AD/ART selesai
atau Renstra berhasil dibuat, maka
pengesahan dasar organisasi tersebut
dilakukan di Mubes, tidak serta merta
apa yang telah dihasilkan MS
langsung sah dan siap untuk
dieksekusi oleh PH.
d.
Garis koordinasi antara MS dan PH
menggambarkan bahwa MS tidak
punya hak instruksional kepada PH.
Oleh karena itu, seperti yang telah
dijelaskan
sebelumnya,
hal-hal
interventif yang dihasilkan oleh MS
harus dibawa ke Mubes terlebih
dahulu. Dalam hal ini, MS dapat
menjadi badan pengawas atau
penasihat bagi PH, akan tetapi,
evaluasi
yang
dihasilkan
dan
disampaikan oleh MS kepada PH
hanya bersifat saran, bukan suatu hal
yang harus dilaksanakan oleh PH.
tidak memiliki garis hubungan
langsung kepada PH, maka pada
organigram ini, MS dapat menjadi
badan pengawas karena memiliki
garis komando langsung kepada PH.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 66
4.
Pilihan tambahan perangkat organisasi
Selain dari perangkat-perangkat yang telah dijelaskan dalam variasi bentuk organigram di atas,
masih ada tiga perangkat lagi yang dapat ditambahkan kepada LDFK. Tiga perangkat tersebut adalah
TIMS (Tim Inti Majelis Syura), DS (Dewan Syariah), dan Pembina. Saya sengaja tidak membuat variasi
bentuk organgiram yang dapat diadakan dengan keberadaan tiga perangkat ini, karena pada
prinsipnya tiga perangkat ini adalah perangkat yang dapat ditambahkan ke delam bentuk struktur
manapun. Khusus TIMS, dia dapat ditambahkan ke struktur yang ada MS-nya, jika tidak ada MS,
maka tak perlu ada TIMS. Ingat, sebelum menambahkan salah satu atau lebih dari tiga perangkat
tersebut, jangan lupa untuk melakukan analisis kebutuhan serta fungsi dari perangkat yang akan
diadakan, seperti yang telah disampaikan pada sub bab sebelumnya.
TIMS
DS
Pembina
Sekian dulu yang bisa saya tulis tentang sistem organ ekstra kepengurusan LDFK. Saya yakin
ada banyak kekurangan dari tulisan ini, oleh karena itu saya harap teman-teman dapat
memaafkannya. Tulisan pada bab ini mengandung beberapa hal yang prinsip, namun juga ada hal
yang didasarkan kepada pemikiran dan pengalaman pribadi saya. Sekali lagi saya mengingatkan,
bahwa apa yang telah disampaikan pada bab ini bukanlah hal yang mutlak, karena mungkin banyak
hal yang luput oleh saya. Namun, dibalik segala kekurangan tersebut, semoga masih ada manfaat
yang dapat diterima oleh teman-teman di LDFK masing-masing.
Salam semangat untuk para penerus dakwah islam di LDFK seluruh Indonesia. Semoga
jerih payah yang kita lakukan saat ini, tidak hanya sekedar menyedot energi kehidupan kita dan
akhirnya membuat kita berhenti. Meski tak begitu nyata manfaat yang terasa saat ini, semoga
banyak misteri kebahagiaan Allah yang terkuak nanti. Semoga langkah kecil kita di LDFK saat ini
dapat menjadi batu pijakan menuju kedokeran Indonesia yang madani, pelayanan kesehatan yang
rahmatal lil alamin, dan menghimpun kita di surgaNya kelak, ammin ya rabb…
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 67
8
dakwah profesi kedokteran
A
lhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Saya merasa gembira bisa
bercengkerama dengan ikhwan wa akhwat sekalian melalui rangkuman ini dengan suasana
ukhuwah yang sangat berkesan. Pertama, ijinkan saya menyampaikan rasa bangga kepada
para muharriq dakwah yang tulisannya saya muat dan kepada antum/na semua bahwasanya tidak
ada cinta yang dapat saya sembunyikan. Kita bermu’ahadah dalam dakwah sebab cinta, dan atas
nama cinta lillahi ta’ala pastilah kemenangan dakwah ini dapat kita raih. Aamiin.
Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat.
Analisis Medan Dakwah Keprofesian
1. Makna
Mari kita mulai pengenalan dakwah ini perlahan. Dakwah bila diartikan secara etimologis
(bahasa) dapat berarti panggilan, seruan, atau permohonan. Artinya bila seseorang mengatakan
“da’autu fulaanan”, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Dalam pengertian ini dakwah secara
alamiah ditafsirkan sebagai tabligh. Sedangkan menurut syara’ (istilah), dakwah memiliki beberapa
definisi. Namun, dari semua pengertian dakwah pada hakikatnya adalah mengajak manusia kepada
penghambaan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thagut
dan beriman kepada Allah dalam rangka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju Dienul Islam.
“Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari
Jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl : 125)
Berdakwah merupakan syariat yang diajarkan dan hukumnya fardhu kifayah. Jadi saya akan
coba membahas sedikit tentang fardhu kifayah menurut Imam Abu Hanifah. Menurut beliau, fardhu
‘ain adalah sesuatu yang menjadi wajib bagi dirinya. Misalnya, sebelum seseorang menikah, dia tidak
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 68
memiliki fardhu apapun terhadap calon istrinya. Tetapi ketika telah menikah, maka menafkahi
istrinya, mempergauli istrinya dengan baik itu menjadi kewajban yang harus ditunaikan. Pada saat itu
kewajibannya tersebut menjadi fardhu ‘ain. Apabila contoh fardhu ‘ain itu shalat, shaum di bulan
ramadhan, haji, itu fiqih klasik, anak SD pun tahu. Tetapi kita advance sedikit, yang namanya fardhu
‘ain itu adalah suatu kewajiban yang sudah ditimpakan kepada kita, maka itu menjadi fardhu ‘ain bagi
kita. Oleh sebab itu yang menjadi fardhu ‘ain bagi kita belum tentu menjadi fardhu ‘ain bagi orang
lain.
Sedangkan fardhu kifayah sendiri contohnya bagaimana? Ya.. shalat mayit, memandikan
jenazah, itu disebutnya fiqih klasik. Tapi dalam fiqih yang lebih advance, fardhu kifayah itu misalnya
ilmu kebidanan. Kalau umat Islam tidak ada yang belajar ilmu kebidanan, maka semua umat Islam
berdosa. Tapi kalau ada umat Islam yang sudah belajar ilmu tersebut, maka ilmu tersebut menjadi
fardhu ‘ain untuk dirinya dan menjadi fardhu kifayah bagi orang lain.
Ikhwah sekalian, oleh karena itu ketika antum berada dalam profesi antum masing-masing, itu
sebenarnya menjadi fardhu ‘ain bagi diri antum dan menjadi fardhu kifayah (menutupi) yang lainnya.
Jadi ada kewajiban untuk meningkatkan keilmuan karena ilmu itu dinamis dan terus berkembang.
Jadi, kewajiban bagi orang yang sudah ada dalam profesinya, kewajibannyalah (fardhu ‘ain) untuk
terus mengembangkan keilmuan dan profesionalitasnya. Sebagai umat Islam, apalagi dari kalangan
ilmuwan, tidak boleh ada rasa puas. Artinya bahwa dakwah ini tidak boleh diabaikan, diacuhkan, dan
dikurangi bobot kewajibannya. Karena hal itu disebabkan terdapat sedemikian banyak perintah
dalam Al-Qur’an dan Sunah rasululah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, saling
menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
2. Hakikat
Perkembangan teknologi telah semakin mutakhir. Pada saat ini jika diperhatikan, keadaan
dunia saat ini sudah jauh lebih berkembang dan alur masuknya informasi begitu cepat. Maka hal
tersebut pun berdampak kepada cara berdakwah. Imam Hasan Al Banna pernah menyampaikan:
“Sarana-sarana propaganda saat ini tidak seperti dahulu yang hanya melalui khutbah-khutbah,
ceramah-ceramah, pertemuan, ataupun surat-menyurat. Tetapi saat ini, seruan itu disebarkan
melalui majalah, koran, film, panggung teater, radio dan media lain yang beragam. Sarana-sarana itu
telah berhasil menembus semua jalan menuju akal dan hati khalayak, baik pria maupun wanita, di
rumah-rumah, di toko-toko, di pabrik-pabrik, bahkan di sawah-sawah mereka. Maka adalah wajib
bagi para pengemban misi dakwah ini untuk juga menguasai semua sarana tersebut agar dakwah
mereka membuahkan hasil yang memuaskan.”
Jika diperhatikan, benarlah apa yang beliau sampaikan. Untuk mencapai kesuksesan dakwah
saat ini, para kader dakwah harus menguasai semua bidang yang ada. Dari kesehatan, politik,
perekonomian, media massa, perdagangan, bahkan sampai bidang kesenian. Dalam pengoptimalan
dakwah kekinian, ternyata begitu banyak bidang yang harus dikuasai oleh ummat Islam untuk mensukseskan dakwah ini. Bagaimana caranya agar kita dapat mengoptimalkan semua itu? Dakwah
profesi merupakan salah satu yang menjawab pertanyaan tersebut.
Dalam hal ini, dakwah profesi adalah dakwah yang berorientasi untuk menggunakan segenap
sumber daya berpusat pada disiplin ilmu tertentu yang bertujuan untuk kemaslahatan ummat.
Sehingga mengapa dikatakan bahwa dakwah profesi ini dapat menjadi solusi dari permasalahan
dakwah Islam? Ini dikarenakan bidang-bidang ilmu diatas tentu akan sulit dikuasai hanya oleh
segelintir orang saja, demi kesuksesan dakwah ini, oleh karena itu dengan membentuk gerakan
dakwah yang berorientasi pada minat dan bakat dari setiap orang terhadap profesinya, maka langkah
untuk menguasai setiap bidang ilmu yang ada akan lebih mudah. Hingga kemaslahatan ummat dapat
lebih mudah dicapai.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 69
3. Urgensi
Muncul lagi pertanyaan, seberapa pentingkah dakwah profesi ini? Narasinya ialah sebuah
keharusan. Dakwah profesi ini sangat penting, dikarenakan setiap profesi pastinya akan terjun
langsung ke masyarakat, entah itu dengan cara menggunakan pendekatan ruhaniah seperti seorang
ustadz, menggunakan pendekatan politik dan kenegaraan seperti politikus dan anggota dewan,
entah itu menggunakan pendekatan kesehatan seperti dokter dan tenaga kesehatan lain, entah itu
menggunakan pendekatan media dan jurnalistik seperti wartawan atau penulis, ataupun dengan cara
lain tergantung dari minat dan bakat setiap orang tersebut. Dengan menggunakan orientasi profesi,
maka seruan dakwah bisa mengalir ke setiap aliran disiplin ilmu hingga mencapai tujuan kita, yaitu
masyarakat dunia. Begitu hebatnya dakwah profesi ini.
Sehingga dalam menjalankan dakwah profesi ini, perlu suatu langkah yang tertata dan teratur
agar dakwah ini tidak putus di tengah jalan. Karena sasaran perubahan kita begitu luas, yaitu
masyarakat, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat perubahan, yaitu markaz
at taghyir. Dalam tahap awal, pusat perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu kampuskampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah sya’biyah (masyarakat umum)
melalui masjid-masjid dan pengajian umum.
Lembaga Pendidikan itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu, dakwah dalam amal
thullabi dilanjutkan dengan amal mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan
amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan profesional harus dimulai sejak masa
mahasiswa.
Sedangkan dakwah Profesi adalah dakwah pasca kampus, setelah mahasiswa lepas dari dunia
kampus. Dakwah profesi sendiri termasuk ke Amal mihani yg terdiri dari dakwah di kalangan
perusahaan (tenaga kerja) dan pengembangan profesi.
Misi dakwah sendiri adalah kemaslahatan dan membuktikan bahwa islam itu solusi dari
permasalahan yang terjadi saat ini. Ada beberapa modal awal dakwah profesi untuk menjawab
tantangan tadi, yakni meliputi wilayah private sector, public sector dan sector ketiga dan untuk
kesemua sector itu diperlukan SDM-SDM yang strategis. Dan yang utama dari kita adalah mengenal
diri sendiri terlebih dulu.
Untuk mewujudkan misi itu semua dilakukan grand strategi dakwah melalui strategi mobilitas
dakwah vertical dan horizontal. Strategi mobilitas vertical adalah penyebaran kader dalam kebijakankebijakan publik. Para kader disebar ke berbagai bidang ilmu, sesuai dengan kemampuan, minat, dan
bakatnya. Sedangkan strategi dakwah horizontal adalah kader terjun ke kalangan masyarakat dan
menyiapakan masyarakat supaya menerima manhaj islam.
Untuk menjalankan hal tersebut, maka diperlukan semangat totalitas dan tidak setengahsetengah dalam berjuang. Selalu berusaha melakukan yang terbaik di setiap detik dan waktu yang
tersedia. Selalu membuka pikiran untuk menerima masukan-masukan membangun dari bidang ilmu
lain dan dinalarkan dengan ilmu yang ia miliki untuk kepentingan seruan ini. Diperlukan pula
manajemen waktu yang baik untuk mengatur waktu antara berjuang dalam bidangnya, belajar untuk
memperluas dan memperdalam spesialisasinya, dan waktu istirahat untuk memulihkan sejenak
kondisi badan, tenaga, dan pikiran yang lelah untuk menyegarkan diri agar dapat melangkah lebih
jauh dan lebih jauh lagi.
Namun, harus disadari bahwa perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan
lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi dengan karir, ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan
pengembangan kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah memasuki lembaga-lembaga
profesi. Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya sekarang lembagalembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul,
bagi-bagi proyek, dan kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan lembaga
profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di mana-mana.
Dakwah Islamiyah memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan keharusan
perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 70
dakwah profesi. Lembaga-lembaga profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian
menjadi kuat dan hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat yang
masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis Kristen Koptik di Mesir pun
memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos
perjuangan.
Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan yang luar biasa
terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik (persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada
bidang teknik, tetapi juga membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena
aktivis dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu bertindak seperti
partai politik dan pressure groups terhadap pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai
banyak lembaga profesi, maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok
penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.
Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga lembaga-lembaga profesi mau
dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik.
Kalau dibubarkan sulit, karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk lembaga yang baru
lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor
yang baru, atau menguasai dan mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan
dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan proyek, dan pengacara)
akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses
pembangunan pun bisa terhambat.
Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan berkembang sampai
bisa mengikuti tender penyediaan software di Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan
paling baik, akhirnya menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik aktivis
dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel kantornya. Peristiwa itu menjadi
berita besar, karena secara beramai-ramai lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga
profesi teknik, komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka kembali.
Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk kasus Bosnia sampai terkumpul
dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi,
karena dibela oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya. Kasus itu
dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun dananya terpaksa dibagi dua
(fifty-fifty) untuk lembaga pemerintah dan lembaga dakwah.
Jika terjadi bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis selalu terdepan
bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan
dakwah profesi. Yang lebih penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi akan
sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa menjawab dan menjelaskan
tantangan zaman melalui kacamata Islam. Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan
sebagai solusi bagi persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk
terjun dalam lembaga profesi demi mengoptimalkan potensi dakwah didalamnya.
Rekomendasi Bentuk dan Manajemen Wajihah Dakwah Profesi
1. Dakwah Profesi di Mesir dan Tunisia
Antum tahu, gerakan Islam Tunisia hampir 40 tahun ditekan, tidak bergerak. Untuk shalat
shubuh saja di mesjid susah, apalagi anak muda, pasti dicurigai. Di Tunisia pernah ada kasus ada anak
muda digebukin aparat karena shalat shubuh di mesjid. Ternyata dia anak dubes Saudi. Akhirnya jadi
masalah. Tetapi ketika kerannya dibuka, Gerakan Islam yang paling siap adalah Nahdhah, yang
selama 40 tahun ditekan. Kenapa? karena pengorganisasian yang mereka lakukan. Induknya dihabisi
tapi jaringannya tetap hidup, walaupun pemimpinnya di luar negeri. Syeikh Rashid Ghannouchi itu
divonis hukuman mati kemudian lari ke Inggris. setelah selesai revolusi Tunisia, kembali ke negerinya,
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 71
luar biasa sambutannya. Yang harus kita ambil pelajaran dari mereka adalah kesiapan mereka. Keran
dibuka, ternyata siap, semua lini profesi siap.
Di Mesir, gerakan Islam tidak bisa muncul sehingga yang digunakan, mulai 1975, adalah
kendaraan ikatan profesi. Mereka merancang grand design bagaimana gerakan profesi ini menjadi
pengganti gerakan Islam. Sehingga tidak ada satu ikatan profesi pun yang tidak dikuasai oleh gerakan
Islam. Kemarin kita tanya, kalau kita rencanakan di tingkat kabupaten/kota itu pengurusnya ada 15,
dan yang dari gerakan Islam minimal 8 diantaranya. Itu sudah 50% + 1. Untuk tingkat propinsi
pengurusnya sekitar 28 orang, minimal 16-nya dari gerakan Islam. Tingkat pusat 45 orang, minimal
23 dari gerakan Islam. Jadi ketika keran dibuka mereka siap, di lini apapun karena gerakan profesi ini
mereka bangun dengan baik.
Di sana, ikatan sarjana hukum, yang menguasainya adalah gerakan Islam. Sehingga jika ada
orang-orang gerakan Islam yang diadili, tidak ada yang dimasukan ke pengadilan sipil, semua militer.
Karena kalau di pengadilan sipil, sudah pasti lolos. Karena memang tidak ada buktinya. Kalau di
militer itu sistemnya main comot, masukin penjara, selesai urusan. Yang dipakai adalah undangundang darurat yang sampai sekarang masih ada. Sehinga ribuan orang yang dulu divonis kemudian
lari belum bisa kembali karena undang-undangnya masih ada. Pelajaran yang ingin kita ambil adalah
persiapan infrastruktur yang mereka bangun sebelum akhirnya memenangkan bidang-bidang
dakwah yang ada.
2. Kepemimpinan dan Ketokohan Melalui Jalur Profesi
Ikhwah sekalian, jalur-jalur profesi ini harus kita jadikan sebagai panggung untuk memunculkan
tokoh di dalam keprofesiannya. Ketua IDI dari Gerakan Islam, hingga pucuk pimpinan Kementerian
kesehatan adalah kader kita. Kita ini ahli dalam memunculkan tokoh. Kenapa tidak kita munculkan
dokter yang memiliki intima terhadap gerakan Islam yang kita jadikan tokoh?
Yang bagus pengelolaan profesinya itu misalnya Yordania, dimana rata-rata semuanya itu
dikuasai. Jadi kalau kata ikatan profesi besok kita mogok kerja, itu sudah merupakan suatu pressure
bagi pengambil kebijakan. Apoteker mogok semua, ya sudah tidak ada apotek yang buka. Itu untuk
menuntut sebuah kebijakan. Akhirnya para pengambil kebijakan juga berpikir tentang kekuatan
profesi ini. Public pressure, begitu sebutannya.
Kenapa di Mesir itu ikatan profesi memiliki kekuatan yang luar biasa? karena misalnya ada
sarjana farmasi, ketika dia tamat kuliah dan mau membangun usaha yang bergerak dalam bidang
farmasi, usahanya itu tidak bisa mendapatkn ijin kalau tidak ada rekomendasi dari ikatan farmasi.
Kalau di kita profesi yang sudah tersertifikasi baru sedikit, misalnya dokter. Kalau di sana semua
seperti itu, sehingga ada kebutuhan untuk begabung di ikatan profesi, dan ini kemudian menjadi
wadah untuk melakukan nasyrul fikrah. Berapa banyak mahasiwa yang di kampusnya tidak tersentuh
dakwah, dia tersentuh dakwah ketika masuk ikatan profesi tersebut. Karena bagi kita, ada misi
nasyrul fikrah di ikatan-ikatan profesi tersebut, disamping sebagai panggung untuk memunculkan
tokoh dari gerakan Islam.
Kita di Indonesia dan FULDFK khususnya ini masih meretas jalan. Walaupun ini sudah digarap sejak
dulu, tetapi tidak secara fokus dan belum terorganisir dalam sebuah rencana jangka panjang. Nah kita
sekarang ingin fokus memunculkan tokoh-tokoh yang capable di dalam profesinya, mampu
melahirkan organisasi-organisasi profesi yang akan memberikan pengaruh terhadap perubahan yang
ada di Indonesia.
3. Dakwah Core Competence
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan pengetahuan mereka. Adakah kalian suka jika Allah
dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari)
“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya
memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka..”
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 72
(QS. Ibrahim:4)
Pada kesempatan kali ini ijinkan saya meminjam rule model kurikulum dakwah profesi sahabat
di FSI FKUI. Dakwah Core Competence sendiri adalah Dakwah berbasis kompetensi utama atau
profesi. Dua dalil naqli di atas menjadi latar belakang utama mengapa Dakwah core competence
perlu diaplikasikan.
Dakwah berbasis kompetensi ini dapat mempermudah kita dalam bersosialisasi dan berdakwah.
Sekaligus. Adalah sebuah sunnatullah jika kita lebih mudah menerima suatu hal yang masih berkaitan
dengan pengalaman kita sebelumnya. Jika ada dua hal yang diutarakan kepada kita, yang satu belum
kita kenal sama sekali, dan yang lain sudah cukup familiar dengan dunia kita, maka secara otomatis
kita akan lebih mudah mencerna hal yang kedua. Sebagai mahasiswa kedokteran (baca: calon
dokter), yang memiliki medan Dakwah primer kampus FK, kompetensi utama kita tentunya adalah
ilmu kedokteran yang kita pelajari. Maka dari itu, entry point dari kegiatan syiar islam kepada
masyarakat kampus FK adalah melalui isu-isu kedokteran, bukan yang lain.
Konsep Dakwah CC yang dirumuskan ini dapat dilihat dalam gambar 1. Di ilustrasi ini,
digambarkan bahwa minimal ada 5 aspek yang mesti tercakup dalam pelaksanaan Dakwah CC.
Gambar 1.
1.
2.
3.
Aqidah
(Believe)>>Meningkatkan pemahaman tauhid dan keimanan melalui ilmu
kedokteran
Mengemukakan berbagai isyarat kedokteran dan kesehatan dalam Alquran/Hadits
Mengungkap hikmah setiap ibadah, serta perintah dan larangan Allah dari segi medis
Mencari ibrah dari peristiwa di bidang medis yang terjadi dalam keseharian
Akhlaq (Attitude)>>Menyempurnakan etika, sikap, dan perilaku dokter muslim
Menjadi shalih secara pribadi dan sosial
Menerapkan etika kedokteran islami
Memiliki etos kerja dokter muslim
Fiqh (Law)>>Aplikasi syariah dalam praktik kedokteran
Mengkaji penerapan syariat islam dalam dunia kedokteran
Melakukan pengkajian hukum islam yang masih kontroversi dalam bidang kedokteran
kontemporer
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 73
4.
5.
Shirah (History)>>Refleksi sejarah perkembangan kedokteran islam
Mengkaji praktek kedokteran pada masa nabi&sahabat
Membahas profil para dokter muslim pada masa kejayaan islam untuk menumbuhkan
motivasi
Mencari solusi peningkatan mutu berkesinambungan dunia kedokteran dengan bercermin
pada shirah
Kafa'ah (Competence)>>Meningkatkan kualitas kompetensi dokter muslim
Meningkatkan kompetensi non-medis (komunikator, pemimpin masyarakat, manajer,
pembuat keputusan, pengayom, berjiwa peneliti)
Meningkatkan penguasan kompetensi dalam hal keilmuan&tindakan di bidang medis
Menyuplai motivasi untuk berprestasi dalam bidang kedokteran/kesehatan
Dakwah CC ini dapat menjadi gambaran paling layak. Sebuah model penguatan dakwah pra dan
nantinya pasca kampus, terutama dalam pembentukan kepribadian seorang dokter muslim.
Menjaga Keistiqamahan Dakwah dan Tarbiyah Dalam Menjalani Dunia
Profesi
1. Prolog
Istiqamah adalah berlaku lurus dalam nilai-nilai Islam dan meneguhkan pendirian dalam berlaku
lurus tersebut. Menurut tafsir al-misbah Quraish Shihab, istiqomah difahami dalam arti kesungguhan
dalam konsistensi dan setia melaksanakan (keimanan kepada Allah).
“Tetap luruslah engkau sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud: 112)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka ….” (QS. Fushshilat: 30-32)
“Katakanlah aku beriman, kemudian beristiqomahlah (dalam keimanan itu).” (HR. Muslim)
Sedangkan Istiqomah dalam profesi merupakan cermin kesungguhan dalam konsisten dan setia
berlaku lurus pada segenap upaya mengembangkan dan mengaplikasikan nahi mungkar serta amar
ma’ruf dengan cara “law as social engineering” yaitu mencapai keseimbangan nilai-nilai kesehatan :
tujuan mulia kedokteran, keselamatan pasien & martabat profesi.
Dalam hal ini tidak sedikit kita menyaksikan. Di ranah-ranah kampus, kader-kader dakwah
berguguran karena tidak tahannya dalam menanggung amanah dakwah. Dalam menjalani dunia
profesi, bermunculan kasus-kasus malpraktik akibat tuntutan kerja, beban kerja dan lemahnya iman.
Saya boleh bilang. Sedikit banyak kita keliru. Ketika kita memahami aktivitas da’wi malah menjadi
stressor kehidupan profesi kita, maka sebenarnya kita belum menjadikan profesi sebagai sarana
memenangkan dakwah. Akhirnya saat kita bergerak dengan setiap helaan nafas, tiap-tiap energinya
berasal dari dakwah. Dakwah yang hidup dan dakwahlah yang menghidupi segenap waktu kita dalam
menjalani aktivitas yang berkualitas.
2. Sebuah Cerita
Dalam sejarah kenabian Nabi Muhammad SAW adalah lukisan seorang manusia biasa yang
mendapat keistimewaan dengan diangkat menjadi rasul untuk menyampaikan risalah-Nya kepada
ummat manusia. Sehingga dalam menghadapi permasalahan dakwah, Rasulullahlah yang paling
patut menjadi panutan kita dalam memberi inspirasi kehidupan.
Mungkin agak berbeda dari kisah-kisah pembawa agama lain yang didewakan atau dituhankan
oleh pengikutnya yang justru menimbulkan kesulitan tersendiri bagi ummatnya untuk mengikutinya
karena tokoh panutannya bukanlah manusia biasa. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 74
manusia biasa yang seperti ummatnya juga, maka segala ucapan, dan tindakan baginda bisa menjadi
suri tauladan dan bisa diikuti bagi ummatnya, tidak terkecuali dalam berdakwah.
Hal pertama yang dapat diambil ibrah pada dakwah Rasulullah SAW adalah ketegaran diri, baik
fisik maupun psikis, untuk menghadapi orang-orang yang akan didakwahi. Ketegaran ini bukan
didapatkan begitu saja bagaikan durian runtuh, namun hasil gemblengan dengan teriring berjalannya
waktu. Sejak sebelum lahir Rasulullah SAW sudah diuji dengan menjadi anak yatim, yang
ditinggalkan oleh ayahnya, Abdullah bin Abdul Mutthalib, selagi baginda masih dua bulan dalam
kandungan ibunya. Pada usia enam tahun yaitu saat usia yang sangat membutuhkan kasih saying ibu
bapak, ibu tercintanya meninggalkan baginda untuk selama-lamanya. Setelah ibunya meninggal,
baginda diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib. Belum lagi seumur jagung bersama kakeknya,
kakeknya lebih dahulu menghadap Ilahi.
Hanya pada usia delapan tahun Rasulullah telah berpindah untuk yang ketiga kalinya yaitu ke
asuhan pamannya Abu Thalib. Baginda dapat bersama pamannya hingga dewasa. Walaupun
Rasulullah SAW adalah keturunan bani Hisyam yang mulia diantara suku bangsa yang terhormat,
Quraisy, baginda di masa remajanya mau menjadi penggembala kambing kepunyaan orang lain
untuk mendapatkan upah.
Ikhwah? Apakah kita masih harus mencari inspirasi yang lebih hebat dari seorang manusia
biasa? Rasulullah masih manusia biasa, bukan malaikat. Maka kodrat kita pun tak akan jauh berbeda
dalam menghadapi permasalahan dakwah ini insya Allah. Ikhwah sekalian, yang kini saya pahami
adalah bahwa saya yakin kita semua adalah orang-orang yang telah mewakafkan diri kita untuk
dakwah. Artinya dimanapun posisi, pekerjaan kita, semua kita perjuangkan untuk keberhasilan
dakwah ini. Maka, bila tujuan dakwah ini adalah Yang Maha Tinggi, tidak ada lagi ruang tersisa untuk
kita mengeluh di dalam hati.
3. Muwashafat Tarbiyah
Maka dari itu, antum harus membuat benteng dalam menghadapi gangguan-gangguan dalam
dakwah dan tarbiyah selama menjalani aktivitas profesi. Sedangkan benteng seorang mukmin adalah
muwashafat-nya. Kepribadian Islam. Kepribadian yang akan menjadi benteng dalam menjaga
keistiqamahan dakwah dan tarbiyah. Kepribadian yang terbentuk oleh pola pikir (aqliyah) dan pola
sikap (nafsiyah). Bentuk tubuh, wajah, keserasian fisik dan sebagainya bukan unsur pembentuk
kepribadian.
Pola pikir Islam (Aqliyah Islamiyah) adalah jika seseorang selalu berlandaskan aqidah Islam
dalam memikirkan sesuatu hal dalam upaya mengambil suatu keputusan. Sehingga jika landasannya
bukan Islam, maka pola pikirnya merupakan pola pikir yang lain. Sedangkan pola sikap Islami
(Nafsiyah Islamiyah) adalah jika seseorang dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan
nalurinya berdasarkan Islam. Jika pemenuhan tersebut tidak dilakukan dengan cara seperti itu, maka
pola sikapnya merupakan pola sikap yang lain. Tidaklah cukup jika kepribadian Islam hanya tercermin
pada pola sikapnya yang Islami, sementara pola pikirnya tidak. Karena nantinya malah beribadah
kepada Allah dengan kebodohan. Misalnya, kita berpuasa pada hari yang diharamkan. Bisa juga kita
bersodaqoh dengan riba, dengan anggapan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain,
sebenarnya melakukan kesalahan tetapi menyangka telah melakukan kebajikan. Akibatnya, dalam
memenuhi tuntutan naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) tidak sesuai dengan
perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini kesalahan yang banyak terjadi di sekitar kita. Sesungguhnya
kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus, kecuali jika pola pikir orang tersebut adalah pola
pikir Islami dan pola sikapnya adalah pola sikap Islami.
Dokter yang berkepribadian Islami bukan berarti didalam dirinya tidak pernah ada kesalahan.
Tetapi (kalau ada), kesalahan tersebut tidak akan mempengaruhi kepribadiannya selama kesalahanya
bukan perkara pangkal, melainkan pengecualian (kadang terjadi, kadang tidak). Alasannya, karena
manusia bukanlah malaikat. Dia bisa saja melakukan kesalahan, lalu memohon ampunan dan
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 75
bertaubat. Bisa juga dia melakukan kebenaran, lalu memuji Allah atas kebaikan, karunia, dan
hidayah-Nya.
Poin kepribadian seorang muslim seperti yang disampaikan oleh Hasan al-Banna yaitu, Seorang
kader inti harus memiliki aqidah yang bersih (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ibadah),
akhlak yang baik (matinul khuluq), kekuatan jasmani (qowiyyul jismi), intelek dalam berfikir
(mutsaqqal fikri), bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi), pandai menjaga
waktu (harishun ala waqtihi), teratur dalam segala urusan (munazhzhamun fi syuunihi), mandiri
(qadirun ala kasbi), bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi), kesemuanya harus sesuai dengan
parameter syariah. Contoh sederhana, seorang dokter dengan keahliannya mengobati orang sakit
dituntut selalu menjaga kerahasiaan rekam medis pasiennya. Hal ini belum dapat dikatakan dokter
yang berakhlak baik ketika dokter tersebut hanya menjaga rahasia medis atas dasar kemanusiaan
dan atas dasar etika profesi dokter. Namun dokter bisa dikatakan berakhlak baik ketika dokter yang
bersangkutan meyakini dengan betul bahwa menjaga rahasia adalah perintah syariat Islam. Dengan
keyakinan inilah maka predikat baik bisa didapat. Karena parameter baik atau tidak baik dengan
neraca yang pasti, yakni syariah Islam.
Dakwah profesi merupakan dakwah tahap lanjutan dari fase dakwah kampus. Pada fase inilah
idealisme yang dulu terhujam dengan kuat di dada para aktivis dakwah akan diuji. Keimanan menjadi
modal utama untuk merealisasikan pendidikan (tarbiyah) dan persaudaraan (ukhuwah) di medan
dakwah yang sangat berbeda dari medan dakwah kampus yang dulu pernah digeluti. Baik itu berbeda
dari segi lingkungan, budaya, maupun berbeda dari segi individu-individunya.
Peran Strategis Dakwah Dokter dan Dunia Kedokteran
1. Awal Perkembangan Sebelum Islam
Keilmuan yang berkembang dan praktek-prakteknya tidak tanpa mula. Tapi mempunyai sejarah
panjang yang dihasilkan para pendahulu hingga hasilnya dapat dilihat saat ini. Awal mula
kelahirannya dimulai pada masa peradaban Yunani. Dan bangsa-bangsa lain sekitar pada masa itu.
Dalam peradaban Yunani, orang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan.
Pada era ini, menurut penulis Canterbury Tales, Geoffrey Chaucer, di Yunani telah muncul beberapa
dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusi mengembangkan ilmu
kedokteran adalah Hippocrates atau `Ypocras' (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasardasar pengobatan.
2. Pada Masa Peradaban Islam
Perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut. Periode pertama dimulai
dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa
Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan
Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa
Arab.
Rujukan pertama kedokteran terpelajar dibawah kekuasaan khalifah dinasti Umayyah, yang
memperkerjakan dokter ahli dalam tradisi Helenistik. Pada abad ke-8 sejumlah keluarga dinasti
Umayyah diceritakan memerintahkan penterjemahan teks medis dan kimiawi dari bahasa Yunani ke
bahasa Arab. Berbagai sumber juga menunjukkan bahwa khalifah dinasti Umayyah, Umar ibn Abdul
Aziz (p.717-20) memerintahkan penterjemhan dari bahasa Siria ke bahasa Arab sebuah buku
pegangan medis abad ketujuh yang ditulis oleh pangeran Aleksandria Ahrun.
Pengalihbahasaan literatur medis meningkat drastis dibawah kekuasaan Khalifah Al-Ma'mun
dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Para dokter dari Nestoria dari kota Gundishpur dipekerjakan
dalam kegiatan ini. Sejumlah sarjana Islam pun terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer
pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti, Yuhanna Ibn Masawayah (w. 857), Jurjis Ibn-
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 76
Bakhtisliu, serta Hunain Ibn Ishak (808-873 M) ikut menerjemahkan literatur kuno dan dokter masa
awal.
Karya-karya original ditulis dalam bahasa Arab oleh Hunayn. Beberapa risalah yang ditulisnya,
diantaranya al-Masail fi al-Tibb lil-Mutaallimin (masalah kedokteran bagi para pelajar) dan Kitab alAsyr Maqalat fi al-Ayn (sepuluh risalah tentang mata). Karya tersebut berpengaruh dan sangat
inovatif, walaupun sangat sedikit memaparkan observasi baru. Karya yang paling terkenal dalam
periode awal ini disusun oleh Ali Ibn Sahl Rabban al-Tabari (783-858), Firdaws al-Hikmah. Dengan
mengadopsi satu pendekatan kritis yang memungkinkan pembaca memilih dari beragam praktek,
karya ini merupakan karya kedokteran Arab komprehensif pertama yang mengintegrasikan dan
memuat berbagai tradisi kedokteran waktu itu.
Perkembangan tradisi dan keberagaman yang nampak pada kedokteran Arab pertama, dikatan
John dapat dilacak sampai pada warisan Helenistik. Dari pada khazanah kedokteran India. walaupun
keilmuan kedokteran India kurang terlalu mendapat perhatian, tidak menafikan adanya sumber dan
praktek berharga yang dapat dipelajari. Warisan ilmiah Yunani menjadi dominan, khususnya
helenistik, John Esposito mengatakan “satu kesadaran atas (perlunya) lebih dari satu tradisi
mendorong untuk pendekatan kritis dan selektif “. Seperti dalam sains Arab awal.
Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah
RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan
dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru. Tak
heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru.
Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di
dunia kedokteran, hingga sekarang.
Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, AlZahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon. Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat
dengan nama Razes. Ia pernah menjadi dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa
Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi
khalifah. Buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul “Al-Mansuri” (Liber Al-Mansofis) dan “AlHawi”.
Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia
adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia
menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan
untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.
Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, 'Al-Tastif Liman Ajiz'an AlTa'lif' - ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga
abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga
menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah
tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang tentang operasi gigi.
Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M).
Salah satu kitab kedokteran fenomela yang berhasil ditulisnya adalah Al-Qanun fi Al-Tibb atau Canon
of Medicine. Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta
kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.
Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Dokter
kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia
kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul 'Al- Kulliyat fi Al-Tibb' (Colliyet). Buku itu berisi
rangkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul 'Al-Taisir' mengupas praktik-praktik
kedokteran.
Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami
masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan
Islam di abad pertengahan.
DAKWAH PROFESI KEDOKTERAN | 77
3. Kekhasan Dakwah Kedokteran
Dunia telah berabad-abad mengakui betapa pentingnya profesi seorang dokter. Serta
Menyaksikan kejayaan Islam dalam era keemasan dunia kedokteran. Hassan Al Banna
menyampaikan, “Menjadilah engkau 2 hal, karena keduanya memudahkan engkau dalam
berdakwah: Guru atau Dokter.”
Dakwah kedokteran menjadi penting karena izzah dokter yang memiliki superioritas amal
dalam masyarakat. Dalam kelangsungan dakwah, medan strata yang menjadikan dokter sebagai
qudwah intelektual dan patut menjadi pemimpin di kalangannya. Antum boleh menyaksikan video
Bung Tomo, bagaimana beliau dalam membakar semangat arek-arek suroboyo. Beliau dikenal baik
sebagai pahlawan sekaligus dokter yang dihormati. Maka, penjagaan dakwah dan tarbiyah ini
menjadi perhatian khusus, terlebih dalam menyuburmakmurkan calon-calon Bung Tomo masa
depan. Yaitu dokter muslim yang memiliki afiliasi terhadap dakwah dan dokter muslim yang
menjadikan profesinya, sebagai sarana demi menjemput kemenangan dakwah. Sebuah Profesi
Langit.
……………………………………………………………………………………………………………
“Kita di Masa Depan Adalah orang Yang Memiliki Pekerjaan Membanggakan. Suatu Pekerjaan
yang Sempat Menjadi Cita-Cita banyak Orang. Warna Seragam Kita nanti sudah menunjukkan betapa
mulia dan berharganya aktivitas kita Dan Siraman Warna Putih itu telah Membuat Semua Orang
Dengan Rela Menyandarkan Kepercayaan pada Kita”
(Eko Prasetyo dalam “Orang Miskin Dilarang Sakit”, Resist book 2004)
REGULASI KEUANGAN | 78
9
REGULASI KEUANGAN
S
ebuah organisasi ibarat tubuh manusia, dimana terdiri dari bagian-bagian tubuh yang saling
melengkapi sehingga manusia tersebut mampu menjalankan kehidupan sehari-harinya
dengan baik. Dan salah satu bagian dari tubuh organisasi tersebut adalah bidang keuangan.
Keuangan adalah salah satu bagian vital organisasi karena setiap kegiatan dibutuhkan dana untuk
menjalankannya. Oleh karena itu, dana menempati peran yang besar dalam sebuah organisasi.
Namun, masalah keuangan adalah hal yang sangat sensitif sehingga sangat diperlukan ketelitian dan
pertanggungjawaban dalam mengelola serta menggunakannya.
1.
Rencana anggaran
Merencanakan anggaran merupakan langkah awal dalam pengelolaan dana. Rencana anggaran
dibuat untuk memprediksi dana yang akan masuk dan keluar selama satu kepengurusan sehingga
dana yang didapat mampu mencukupi kebutuhan dana yang akan dikeluarkan, tak lain adalah untuk
memperlancar kinerja kegiatan-kegiatan FULDFK. Rencana anggaran disusun oleh bendahara dan
departemen-departemen.
a.
Rencana anggaran oleh bendahara
Anggaran yang dibuat oleh bendahara adalah anggaran yang akan didapatkan oleh organisasi
selama satu kepengurusan dimana anggaran tersebut akan digunakan untuk menjalankan programprogram FULDFK.
Dana didapatkan dari iuran wajib kepada seluruh LDF yang menjadi anggota FULDFK. Iuran
wajib yang dibebankan disesuaikan berdasarkan kemapanan keadaan keuangan masing-masing LDF.
Hal ini dilakukan karena FULDFK tidak ingin memberatkan LDF dengan adanya iuran wajib tersebut.
Namun, dibutuhkan dana untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang telah disepakati menjadi
REGULASI KEUANGAN | 79
program kerja FULDFK. Setiap LDF yang telah membayar iuran wajib akan mendapat e-kwitansi
sebagai tanda bukti pembayaran.
b.
Rencana anggaran oleh departemen
Anggaran yang dibuat oleh departemen adalah anggaran yang akan digunakan oleh
departemen tersebut selama satu kepengurusan dimana anggaran tersebut disesuaikan berdasarkan
program kerja tiap departemen. Anggaran yang dibuat diharapkan berdasarkan kebutuhan dan
disusun dengan sangat relevan.
2. Rencana pengelolaan dana
Dana yang didapat dan dikeluarkan diharapkan sesuai dengan anggara yang telah dibuat. Oleh
karena itu, diperlukan pengelolaan dana yang baik dan benar. Dana akan didapatkan dari iuran wajib
dan donatur.
a.
Iuran wajib
Dana yang didapatkan dari iuran wajib digunakan untuk melaksanakan program-program
FULDFK dimana dana yang akan diberikan berdasarkan oleh anggaran yang telah dibuat. Kegiatankegiatan yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan oleh tiap kepengurusan. Iuran
wajib diharapkan mampu membantu kegiatan nasional maupun wilayah FULDFK dalam hal
keuangan.
b.
Donatur
Dana yang berasal dari donator adalah dana yang bersifat spontan maupun individual. Dana
donatur yang bersifat spontan adalah dana yang didapatkan karena adanya kegiatan yang dilakukan
secara spontan tanpa ada rencana sebelumnya, contoh penggalangan dana untuk korban bencana
alam. Sedangkan dana donatur yang bersifat individual adalah dana yang didapatkan dari donatur
karena keinginan sendiri dari donatur tersebut untuk mendonasikan uangnya dengan tujuan untuk
membantu memperlancar kegiatan-kegiatan FULDFK diluar program kerja rutin.
Dana donatur yang bersifat spontan didapatkan dalam jangka waktu yang ditentukan dan hanya
sesaat karena dana tersebut akan disalurkan langsung dalam waktu dekat. Seluruh dana yang
didapatkan akan disalurkan seluruhnya secara langsung kepada target yang dituju.
3.
Pelaporan keuangan
Bendahara berkewajiban mencatat setiap dana yang masuk dan keluar. Dan setiap individu atau
departemen yang menggunakan dana berkewajiban untuk membuat rekapan dana yang masuk dan
keluar sebaik mungkin sehingga dana tersebut dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Rekapan
tersebut dilaporkan kepada bendahara supaya dapat diketahui dengan jelas untuk apa dan
bagaimana dana tersebut digunakan. Pelaporan keuangan sebaiknya dilampirkan dengan bukti-bukti
pembayaran sehingga rekapan dana dapat dikonfirmasi dengan baik oleh bukti-bukti pembayaran
tersebut.
4. Manajemen keuangan
FULDFK merupakan organisasi yang besar dan luas sehingga terbagi menjadi empat wilayah
besar. Dimana setiap wilayah memiliki bendahara wilayah yang akan mengatur perihal keuangan
REGULASI KEUANGAN | 80
dalam wilayah tersebut. Selain itu, bendahara wilayah bertugas untuk memonitoring keuangan LDF
karena diharapkan bahwa LDF-LDF yang menjadi anggota FULDFK memiliki kemapanan dalam hal
organisasi, khususnya tentang keuangan. Oleh karena itu, sharing antar LDF sangat berpengaruh
untuk progresivitas kemajuan LDF.
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 81
10
PENELITIAN & PENGEMBANGAN
S
etiap masa mempunyai cara tersendiri dalam menulis, sejalan dengan cara penduduk masa
tersebut dalam memahami dan memberikan sesuatu. Karenanya, harus ada pembaruan sejalan
dengan kemajuan akal manusia dan perubahan metode riset, berpikir, dan mengambil
kesimpulan. Untuk menjawab perubahan dan kemajuan tersebut tidak cukup hanya dengan kata-kata
yang keluar secara refleks, atau ceramah yang membangkitkan perasaan, atau kata-kata yang dapat
mengobarkan emosi. Akan tetapi, para aktivis dakwah berkewajiban memberikan gambaran kepada
manusia dengan gambaran yang logis, cermat, dan jelas; yang dibangun di atas kaidah-kaidah riset
ilmiah; dan membeberkan kepada manusia cara-cara yang aplikatif dan produktif yang telah mereka
persiapkan untuk mewujudkan apa yang diinginkan; dan agar dapat mengatasi tantangan yang akan
mereka hadapi, maka hal-hal di atas harus ada dalam perjalanan dakwah.”
(Risalah Da’watuna fi Thaurin Jadid, Hasan Al-Banna)
Sejarah perjuangan dakwah Rasulullah sesungguhnya memberikan banyak hikmah dan
pelajaran bagi aktivis dakwah saat ini. Perjalanan dakwah selama lebih kurang 23 tahun yang
dilakukan Rasulullah dan para sahabat amatlah bernilai bila dikaji dan dianalisis sengan cermat. Atas
tuntunan Allah, Rasulullah berhasil melakukan inovasi untuk setiap tahapan dakwah pada zamannya.
Ketika dakwah beliau di kota Mekah dan perkampungan sekitarnya tidak begitu mendapatkan
sambutan yang positif, beliau melihat ada potensi lain yang bisa dilakukan, yaitu mendakwahi para
kabilah yang datang dari luar kota Mekah pada musim-musim haji. Pertemuan ini dilakukan
Rasulullah di luar kota Mekah bersama kaum Auz dan Khazraj tepatnya di daerah yang bernama al
‘aqabah dan dalam catatan sejarah dikenal dengan bai’atul aqabah al ula. Perwakilan kaum Auz dan
Khazraj terdiri dari 12 orang yang telah menyatakan keislaman mereka. Kreativitas dakwah
Rasulullah tidak terhenti sampai di situ saja, lalu ia mengutus Mus’ab bin ‘Umair yang dikenal sebagai
duta Islam pertama untuk kembali ke Yatsrib bersama kaum Auz dan Khazraj. Peristiwa hijrah kaum
muslimin menuju Yatsrib juga menganding nilai-nilai dakwah kreatif dan inovatif. Pertama kali yang
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 82
dilakukan Rasulullah saw di Madinah atau tepatnya di qubah adalah membangun Masjid. Dalam
perspektif Islam, masjid tidak sebatas sebagai tempat ibadah vertikal antara hamba dan Rabb-Nya.
Akan tetapi Masjid juga bisa berfungsi sebagai tempat menata kehidupan sosial masyarakat. Karena
Islam dengan tegas mengakui bahwa manusia terdiri dari dua sisi yang harus selalu seimbang, yaitu
materiil dan sprituil. Setelah sarana dibangun, maka Rasulullah berfikir perlu adanya pembangunan
dan pengembangan sumber daya manusia untuk menjalankan fungsi dalam sebuah sistem kehidupan
yang baru. Maka nabi segera mengambil inisiatif untuk mempersaudarakan antara kaum Muhajirin
dan Anshar. Sebab, persaudaraan ini akan mempercepat proses perubahan sosial di tengah
komunitas masyarakat. Kaum Muhajirin yang lebih memiliki skill dalam sistem perdagangan kembali
menghidupkan pasar, dan bahkan dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah adalah orang pertama
yang membangun pasar sebagai pusat ekonomi di Madinah. Kaum Anshar pun tetap dalam profesi
mereka semula sebagai petani yang lebih spesifik mengurus pertanian.
Dalam proses selanjutnya, karena persaudaraan yang Rasul bina berdasarkan nilai keimanan
dan keikhlasan, secara alami dan bertahap mulai tercipta takaful ijtima’iy (solidaritas sosial) di antara
komunitas sosial yang sangat plural di kota Madinah. Bahkan nilai ukhuwah itu tercatat indah dalam
berbagai kisah mengharu biru bagaimana ketika Saad bin Rabi’ menawarkan harta dan salah satu
istrinya untuk diberikan kepada Abdurrahman bin Auf. Namun akhirnya Abdurrahman bin Auf lebih
memilih untuk memulai kehidupan barunya sebagai pedagang dan menolak secara halus tawaran
saudaranya, sampai akhirnya ia berhasil menjadi saudagar yang berhasil.
Kehidupan yang singkat ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak mungkin kita mampu
bertahan dalam ruang waktu yang begitu pelik ini kecuali ketika kita mampu beradaptasi dengan
dinamika kehidupan yang terjadi. Semuanya berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Hasan Al Banna
pernah berkata, “Janganlah melawan kaidah-kaidah yang berlaku di alam ini, sebab ia akan
mengalahkanmu. Tetapi tundukkanlah dia, manfaatkanlah arusnya, dan gunakanlah sebagiannya
untuk menaklukkan sebagian yang lain…”. Kehidupan dakwah di fakultas kedokteran pun juga
demikian, akan tetap memerlukan pembaruan. Tidak bisa tidak, dinamika kehidupan yang terus
berubah akan senantiasa menuntut kita untuk pandai memanfaatkan momentum, melakukan
pembaruan. Pembaruan dakwah di fakultas kedokteran menuntut kita untuk melakukan penelitian
dan pengembangan demi menghasilkan strategi tepat guna. Strategi yang sesuai jaman dan realitas.
Terkait ini, setiap kampus tentu memiliki strategi tersendiri sesuai dengan keadaan kampus yang
bersangkutan.
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 83
Mind Map Penelitian dan Pengembangan Dakwah
Analisis
internal dan
eksternal
LDFK
Perumusan
grand design
dakwah
Evaluasi
Data
Monitoring
Pelaksanaan
program
dakwah
menentukan
parameter
keberhasilan
Menentapka
n alternatif
program
Menentukan
program
yang tepat
Data
Seringkali kita kurang perhatian tehadap pengumpulan data. Kita tidak terbiasa disiplin
mengumpulkan data-data, karena menganggapnya kurang penting sehingga seringkali lewat begitu
saja. Karena data yang tidak lengkap, aktivis dakwah sering berasumsi keliru. Akibatnya strategi dan
kebijakan dakwah yang diambil tidak tepat. Padahal data membuat segala sesuatu menjadi ilmiah
saat akan membuat kebijakan. Ada dua jenis data yang dibutuhkan LDFK.
1.
Data Rutin
Data rutin diperlukan LDFK dlam mengetahui perkembangan dari sebuah keadaan. Data ini
biasanya diperbarui dalan kurun waktu tertentu. Isi data rutin adalah nominal atau angka-angka.
Contohnya adalah jumlah mahasiswa muslim, jumlah mahasiswa yang mengikuti mentoring, jumlah
civitas akademika yang muslim, jumlah mahasiswi muslim yang berjilbab, jumlah peserta yang hadir
dalam ta’lim atau pelatihan, jumlah uang kas LDFK, dan lain-lain. Data rutin ini bisa dirangkum dalam
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 84
buku data LDFK, dimana setiap departemen atau divisi sebuah LDFK dapat mengambil kebijakan
sesuai rangkuman data tersebut.
2. Data Insidental
Data ini diambil pada saat-saat tertentu berdasarkan kebutuhan LDFK. Data ini berperan dalam
pengambilan kebijakan jangka pendek. Contoh, penentuan tema kajian ilmiah, penentuan tema
buletin jumat, tema mading bulanan, kenyamanan civitas terhadap kondisi masjid/musola dan
sebagainya.
Ada dua metode pengambilan data yang dapat dilakukan LDFK. Pertama adalalah sensus.
Metode ini dilakukan secara menyeluruh terhadap objek data. Misalnya, data mahasiswa baru bisa
kita dapatkan lewat akademik kampus atau bekerja sama dengan BEM. Data mahasiswi muslim yang
berjilbab, bisa kita dapatkan dengan menyebarkan form pada tiap angkatan dan meminta bantuan
mereka untuk mengisinya. Pada data sensus ini benar-benar melibatkan seluruh mahasiswa. Hasil
dari sensus adalah bentuk data kuantitatif. Metode kedua adalah survei. Dalam survei ada 2 hal
penting yang harus diperhatikan yaitu pertanyaan survei dan pengambilan sampel. Pertanyaan yang
diajukan haruslah menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga akan menghasilkan jawaban
sesuai yang kita harapkan. Sedangkan pengambilan sampel dapat dilakukan dengan berbagai cara
dengan memperhatikan nilai objektivitas.
Tinjauan (Analisis) Internal dan Eksternal LDFK
Tahap pertama dalam pembaruan, kita perlu melihat potensi serta kelemahan LDFK kita serta
daya dukung eksternal dan tantangan yang datang dari luar terkait LDFK kita. Barangkali kita lebih
mengenalnya dengan istilah SWOT. Dalam tahap ini LDFK harus mampu melihat potensi yang
dimiliki seperti jumlah kader yang banyak, status LDFK sudah legal atau dana dakwah mencukupi.
Selain itu dilihat pula kelemahan yang ada dengan harapan dapat diperbaiki di masa yang akan
datang, misalnya fasilitas kesekretariatan yang minim, belum memiliki alur kaderisasi yang jelas, atau
budaya hedonisme yang kental di kampus. Setelah melihat keadaan internal, maka kita tinjau
keadaan eksternal, misalnya keberadaan LDK, FULDFK, dan ikatan ikatan alumni. Semua tinjauan ini
harus disertai dengan data dan fakta yang jelas.
Perumusan Grand Design Dakwah
Grand Design Dakwah adalah gambaran umum mengenai pola dan arah gerak LDFK di
beberapa tahun mendatang. Lamanya tahun yang direncanakan sesuai dengan kemampuan LDFK,
misalnya setahun kedepan, 3 tahun kedepan, menurut perkiraan masa yang akan datang. Bentuk
penyusunan Grand Design Dakwah bermula dari konsep global, yakni meliputi gerak umum LDFK,
dimulai dari visi, misi, sistem, alur dan sebagainya. Lalu dilanjutkan dengan penyusunan yang lebih
bersifat sektoral tergantung bidang atau departemen yang ada dalam LDFK. Perumusan Grand
Design Dakwah ini bertujuan agar ada sustainability development atau pembangunan yang
berkelanjutan dari LDFK, sehingga penerus kita di masa yang akan datang bisa melanjutkan
perjuangan LDFK.
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 85
Menentukan Parameter Keberhasilan
Parameter keberhasilan ini diharapkan bisa sebagai pedoman kuantitatif maupun kualitatif
target keberhasilan setiap periode. Jika perencanaan dibuat untuk 3 tahun, maka perlu ada target
pencapaian per satu tahun. Parameter keberhasilan ini harus objektif dan terukur, contoh :
1.
50% kader mula menjadi kader madya
2. Memiliki pemasukan dana 10 juta rupiah
3.
Menerbitkan tentir kuliah
4. Aktif mengikuti kegiatan FULDFK tingkat wilayah dan nasional
5. 75% mahasiswi muslim mengenakan jilbab
Menetapkan Alternatif Program Dakwah
Pada tahapan ini LDFK mulai menyusun dan membuat strategi program yang sekiranya cocok
dan tepat untuk memenuhi parameter keberhasilan yang telah dirancang. Tim perumus masih
mencoba memberikan alternatif yang memungkinkan. Dalam fase ini pula brainstorming ide dan
inovasi program diharapkan dapat berkembang, agar penentuan program bisa tepat. Pengambilan
data untuk melihat preference dan taste dari mahasiswa perlu dilakukan. Perlu diperhatikan bahwa
“give what they need, don’t give them what we need”. Gunakan orientasi outside to inside.
Menentukan Program Dakwah
Tahap ini biasanya dirangkumkan dalam program kerja (proker) tahunan. Biasanya pula,
program kerja dibuat oleh setiap departemen atau divisi di LDFK. Dalam penyusunan proker tahunan
perlu diperhatikan aspek detail seperti dana yang dibutuhkan, deskripsi agenda, parameter
keberhasilan, waktu yang direncanakan dan penanggung jawab agenda dakwah. Dengan sistematika
seperti ini diharapkan dapat memudahkan dalam mengeksekusi dan penerus kita dapat melihat
dokumen peninggalan kita sebagai dokumen yang bisa dipahami. Setelah adanya penentuan proker
ada dua tahap lagi bagi sebuah LDFK yang perlu dilakukan sebelum proker dieksekusi.
1.
Auditing dana. Setiap agenda dakwah memerlukan dana, dan kadang dana yang ada di
LDFK terbatas, oleh karena itu diperlukan auditing keuangan, agar setiap proker
mendapat hak yang proporsional. Dengan adanya auditing ini, departemen bisa konsisten
dalam pengelolaan dana.
2. Sinkronisasi timeline. Untuk menghindari bentrokaan jadwal, maka perlu dilakukan
sinkronisasi timeline agar semua agenda dakwah dapat berjalan dengan baik.
Setelah dua hal ini dilakukan LDFK sudah bisa mengeksekusi proker dakwah yang telah disusun.
Pelaksanaan Program Dakwah
Tahap pelaksanaan adalah tahap yang paling penting dalam dakwah, karena LDK mendidik kita
untuk menjadi kader yang produktif dalam beramal. Dalam tahapan pelaksanaan ini tidak ada
penjelasan khusus, akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1.
Keadaan ruhiyah kader, jangan sampai karena bekerja terlalu banyak, membuat dia
semakin jauh dari Allah.
PENELITIAN & PENGEMBANGAN | 86
2.
3.
Keadaan nuansa kekeluargaan di dalam LDFK, karena nuansa kekeluargaan ini akan
membuat kader nyaman dan produktif.
Kondisi akademik kader. Jangan sampai pula agenda dakwah yang disusun, membuat
kondisi akademik kader menurun, sehingga penempatan kader perlu diperhatikan.
Monitoring
Tahapan ini berfungsi untuk memastikan program kerja berjalan dengan baik, dan parameter
keberhasilan yang sudah direncanakan sesuai target. Monitoring ini pula menjalankan fungsi evaluasi
berkala, agar penyimpangan dan kesalahan yang ada bisa diantisipasi dengan segera.
Evaluasi
Tahap terakhir dalan siklus perencanaan dakwah, adalah evaluasi dakwah. Bentuk evaluasi
dakwah sangat beragam pendekatannya, dimulai dari pendekatan agenda dakwah itu sendiri, dimana
kita menilai apakah agenda tersebut sudah memenuhi parameter keberhasilan, atau melalui
pendekatan kader, terkait hasil rekruitmen kader setelah agenda dakwah, dan pendekatan objek
dakwah, terkait tanggapan mereka terhadap agenda yang ada. Evaluasi untuk LDFK biasanya
termaktubkan dalam LPJ tahunan. Pentingnya evaluasi ini sekaligus memberikan rekomendasi
terhadap rencana dakwah tahun mendatang. Dengan adanya evaluasi yang baik dan data yang kuat,
maka akan memberikan gambaran yang jelas mengenai perencanaan dakwah.
Tahapan-tahapan di atas memberi gambaran bahwa untuk membuat gerak dakwah yang
progresif, kader dakwah perlu membuka pikiran dan cermat memperhatikan kondisi dan kebutuhan
objek dakwah. Inspirasi bisa datang dari mana saja, selama kita tetap berpegang pada nilai-nilai
objektivitas, maka strategi dakwah kita akan tepat sasaran.
SYIAR MEDIA | 87
11
SYIAR MEDIA
D
akwah dalam artian bahasa berarti menyampaikan dan dalam bahasa inggris dapat
diterjemahkan dalam kata marketing. Sebuah makna yang menurut hemat saya sangat tepat,
karena pada konteks dakwah kita di kampus, apa yang kita lakukan di kampus adalah
memang memarketisasi dakwah itu sendiri. Dengan berbagai varian metode yang digunakan dan
dengan berbagai cara pengemasan isi dari dakwah itu sendiri. Beruntunglah Islam diturunkan oleh
Allah dalam keadaan sesempurna mungkin, sehingga isi dari dakwah atau konten dakwah yang kita
lakukan sudah terdapat di Al Qur’an dan As Sunnah. Tinggal bagaimana kita sebagai da’I pandai
merekayasa metode yang tepat agar objek dakwah dapat tertarik dan mudah untuk memahami isi
dari dakwah yang dilakukan.
Salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam memarketisasi dakwah adalah cara
publikasi yang dilakukan oleh lembaga dakwah agar objek dakwah mendapat kesan yang tepat
tentang Islam itu sendiri. Seperti yang sering di perlihatkan di media massa, Islam sering kali di
korelasikan dengan fundamentalis, teroris dan anti-kedamaian. Itu semua merupakan buah dari
suksesnya media mempermainkan Islam itu sendiri. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab bagi
kita seorang da’I untuk bisa meng-antitesis paradigma Islam yang salah dengan merekayasa media
yang bisa digerakkan dengan harapan ada perubahan opini di masyarakat tentang Islam.
Disini bisa kita lihat bahwa dengan membuat publikasi yang efektif dalam men-syiar kan Islam
adalah sebuah cara tersendiri untuk membangun citra Islam. Selain itu publikasi juga berperan dalam
memainkan opini dan propaganda di sebuah komunitas.
Lembaga dakwah kampus harus bisa menampilkan Islam yang humble sehingga objek dakwah
lebih tertarik. Pilih kata-kata yang tepat untuk mempermainkan opini.
SYIAR MEDIA | 88
SYIAR MEDIA | 89
Dengan citra yang baik ini tentu resistensi objek dakwah akan jauh berkurang, dan ketika objek
dakwah sudah jatuh hati dengan citra yang dibangun, maka selanjutnyan untuk menanamkan nilai
Islam lebih lanjut akan lebih mudah untuk dilakukan.
Peran publikasi lainnya adalah untuk menginformasikan sebuah kegiatan kepada masyarakat
kampus. Hal penting yang perlu diperhatikan selain desain dan pemilihan kata adalah isi dari publikasi
itu sendiri, seperti; (1) waktu; (2) tempat; (3) acara; (4) contact person; (5) kelebihan acara ini. Kelima
unsure publikasi acara ini harus ada dalam setiap publikasi acara agar tidak terjadi asymmetric
information pada objek dakwah. Berikut adalah beberapa contoh publikasi acara yang telah dikemas
dengan baik dan telah terbukti berhasil mendatangkan simpatisan objek dakwah.
Pemilihan media publikasi
1. Poster
Poster merupakan sebuah media fisik ( biasanya menggunakan kertas ) dengan ukuran A4,A3,
dan A2. Dipasang atau ditempel di papan pengumuman atau ditempat umum lainnya. Keuntungan
poster adalah dapat dicetak dalam jumlah banyak dan jika di tempatkan di lokasi-lokasi strategis
akan membentuk sebuah nuansa tersendiri. Selain itu poster bisa dicetak dalam bentuk hitam putih
maupun berwarna, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lembaga dakwah. Varian dari poster
sangat beragam, peragaman bentuk poster yang tidak harus persegi empat juga bisa menjadi bahan
kreasi, seperti membuat poster berbentuk segitiga atau lingkaran yang membuat ”eye catching”
tersendiri. Peragaman lain bisa dengan memodifikasi tempat menempel, sebagai contoh dalam
sebuah mading kampus. Dimana semua papan madding ditempel terlebih dahulu dengan kertas
putih, dan ditengah-tengahnya baru ditempel satu buah poster full color, cara ini membuat kesan
tersendiri.
Contoh poster :
2. Baliho
Publikasi dalam ukursan besar, dan dengan bahan yang berkualitas tentunya. Baliho
mempunyai keunggulan dari segi ukuran dan menimbulkan kesan “wah” pada sebuah agenda
tertentu. Karena biasanya baliho hanya dipasang satu buah atau maksimal dua buah saja di kampus,
maka desain yang diberikan haruslah yang terbaik. Isi pesan harus tepat dan kesan yang ditimbulkan
SYIAR MEDIA | 90
dengan permainan warna dan desain ( serta ukuran tentunya ) juga akan berdampak pada objek
dakwah. Baliho ini juga bisa membentuk kesan hegemoni terhadap dakwah pula.
3. Pamflet / Leaflet
Pesan atau publikasi dalam ukuran kecil. Varian dari pamphlet atau leaflet sangat beragam,
dapat dibentuk dalam rupa kertas tausiyah, pembatas buku, kartu ucapan, stiker, dan sebagainya.
Walau memang bentuk dasar pamphlet adalah semacam brosur dan bentuk dasar leaflet adalah
poster dalam ukuran kecil. Pamflet dan leaflet ini di desain untuk diberikan kepada seluruh objek
dakwah, atau bisa dikatakan lebih personal. Sehingga jumlah produksi dari jenis media ini dalam
jumlah yang sangat besar, disesuaikan dengan jumlah objek dakwah itu sendiri.
4. Banner
Jenis media ini bisa bercabang menjadi dua jenis, yakni vertical banner atau sering dikenal
dengan umbul-umbul, dan horizontal banner yang sering disebut dengan spanduk. Pada masa kini
harga produksi untuk spanduk dan umbul-umbul dengan kualitas printed sudah sangat terjangkau.
Harga spanduk sekitar Rp.100.000 per spanduk dan umbul-umbul sekitar Rp.20.000 per umbulumbul. Selain itu karena kemudahan teknologi printing ini, alangkah baiknya jika spanduk dan umbulumbul di desain dengan full warna, atau dengan komposisi gambar dan foto untuk memberikan kesan
elegansi dakwah
SYIAR MEDIA | 91
5.
Instalasi
Bentuk media kreatif yang sangat nyeni. Bisa dalam bentuk semacam patung dari kertas dan
bambu, balon udara, lampion, seni dari sampah atau botol bekas dan lainnya. Memang untuk
membuat instalasi membutuhkan ketekunan dan bakat seni tersendiri, maka dibutuhkan pula kader
yang mempunyai sense of art yang baik. Varian dari instalasi sangat beragam, akan tetapi pastinya
instalasi adalah sesuatu yang bisa dipajang.
6. Buletin
Buletin adalah media tertulis yang memungkinkan untuk memuat banyak tulisan dan pesan.
Biasanya buletin bertransformasi dari bentuk kertas A4 di lipat dua, lalu lebih dai satu A4 yang
ditumpuk sehingga tampak seperti buku, lalu bertrasformasi akhir seperti sebuah majalah. Terkait
buletin sangat banyak varian isi yang bisa dikembangka seperti rubrik khusus,komik, profil kader,
TTS, tips n trick, kisah, humor, tausiyah dan berbagai lainnya. Referensi untuk buletin bisa dari
majalah atau tabloid umum yang beredar, coba adopsi hal-hal yang bisa menjadi daya tarik tersendiri
dalam penyampaian pesan Islam kepada objek dakwah.
Contoh bagian dari buletin :
7.
Multimedia
Pemanfaatan dunia maya sebagai media publikasi, seperti dengan website, blog, CD interaktiif,
slide powerpoint, film, music, animasi dan lainnya. Multimedia saat ini sedang berkembang pesat,
SYIAR MEDIA | 92
dan jika lembaga dakwah bisa memanfaatkan hal ini dengan baik, maka akan menjadi competitive
advantage tersendiri bagi lembaga dakwah tersebut. Keuntungan dari multimedia adalah biaya yang
murah, bahkan bisa cenderung gratis, hanya memang membutuhkan keahilian khusus untuk bisa
membuat media advance ini.
Pengelolaan Publikasi
1.
Content
Isi atau value yang akan disampaikan, biasanya ini tidak menjadi terlalu sulit karena pedoman
kita dalam berislam sudah sangat jelas dan tegas, sehingga Anda tinggal perlu mengemasnya dengan
baik. Ada sebuah catatan tambahan saja tentang prinsip syiar di kampus, yakni give what they need
atau berikan apa yang objek dakwah butuhkan. Terkadang lembaga dakwah sering kali menjalankan
agenda syiar yang tidak sesuai dengan kebutuhan dari objek dakwah sehingga terjadi miss match
antara demand and supply, dan berakibat pada ketidaktertarikan objek dakwah terhadap agenda
yang dilakukan. Pengalaman saya melihat bahwa terkadang kita perlu berpikir sebagaimana objek
dakwah dan konsekuensi nya adalah kita perlu menurunkan sedikit standar keIslaman kita untuk bisa
memahami kebutuhan objek dakwah. Anda tidak bisa langsung memberikan materi yang berat
kepada objek dakwah, harus dimulai dari sesuatu yang ringan terlebih dahulu.
2. Packaging
Pengemasan disini meliputi beberapa hal , antara lain ;
(1) Pemilihan kata, dimana sangat penting untuk membuat opini tertentu. Gunakan kata-kata
yang mudah dipahami dan diingat. Bisa jadi dengan menggunakan istilah yang sedang
berkembang di masyarakat umum bisa membantu untuk mempermudah objek dakwah
megingat pesat yang kita sampaikan.
(2) Pemilihan desain, pilihlah desain yang lembut dan tenang sehingga objek dakwah bisa
melihat citra Islam yang bersahabat. Pilih pula warna yang sesuai, warna cerah bisa menjadi
solusi untuk membuat citra menyenangkan.
(3) Pemilihan bentuk media, media yang digunakan juga harus sesuai, coba pilih media yang
sekirannya unik dan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi objek dakwah.
3. Branding
Penamaan dalam sebuah publikasi sangat penting, biasanya GAMAIS memiliki nama tersendri
untuk setiap agendanya dan bisa berubah setiap tahunnya, semua dilakukan untuk me-refresh citra
yang ada walau memang untuk beberapa agenda yang sudah menjadi tradisi selalu kami gunakan
penamaan yang sama. Sebagai contoh penamaan atau branding ;
Mentoring diberi brand Islamic Learning Group
Penyambutnan Mahasiswa Baru diberi brand Look Inside my Environment
Syiar Ramadhan diberi brand Ramadhan Festival atau METAMORPHISIS
Agenda Idul Adha diberi brand BBQ ( bagi-bagi Qurban )
Agenda sumbangan sosial diberi brand PAY 1 GET 2
Agenda pembinaan kader diberi brand OASIS, GAMAIS Integrated Training, GAMAIS Super
Camp, Youth Islamic Student Camp, Diklat Mahasiswa Muslim, Syahrut Tarbiyah GAMAIS.
4. Positioning
Setelah membuat media beserta isinya, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah
penempatan dari media itu sendiri. Dimana penempatan media jangan terlalu banyak dan jangan
terlalu sedikit, perhatikan juga rasio antara media publikasi dengan objek dakwah. Perhatikan pula
rasio keterjangkauan objek dakwah, rasio jarak perjalanan di kampus, rasio ruang kuliah dan pusat
massa, range waktu mobiliasi mahasiswa, rute utama sirkulasi mahasiswa, gedung kuliah utama dan
sekunder, dan kondisi sosial budaya dari mahasiswa di kampus Anda.
SYIAR MEDIA | 93
5.
Impact
Hasil atau dampak dari publikasi yang dijalankan. Jika publikasi yang dilakukan bersifat isu atau
opini, maka dampak yang diharapkan adalah adanya perubahan opini di objek dakwah. Dan jika
publikasi yang dilakukan bersifat informasi acara maka parameter keberhasilannya adalah dengan
jumlah yang hadir dalam acara tersebut. Buat perangkat penilaian khusus akan dampak yang terjadi.
Untuk publikasi isu bisa menggunakan perangkan angket untuk menilai keberhasilan publikasi,
sedangkan perangkat lembar absensi acara bisa digunakan untuk menilai keberhasilan publikasi yang
bersifat informasi acara.
SYIAR KEMUSLIMAHAN | 94
S
ebenarnya apa urgensi dakwah muslimah dan sejauh mana ruang lingkupnya ? Apakah perlu ada
bidang khusus yang menangani permasalahan muslimah di sebuah lembaga dakwah ?
Sesuai yang disabdakan Muhammad Rasulullah bahwa “Wanita adalah tiang Negara !”. Hancur
atau majunya suatu Negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya.
Seorang penyair bahkan mengatakan bahwa seorang ibu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan
baik. Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya. Begitu juga, orang-orang bijak
banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum
wanita lewat ungkapan “Dibalik keberhasilan setiap pembesar, ada wanita!” Tidak dapat dipungkiri
bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang akan meneruskan tongkat estafet
peradaban ini. Tidak heran jika muncul ungkapan, dibalik kelembutan seorang wanita ia bisa
mengayunkan buaian di tangan kanan dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya. Namun,
kesadaran akan hal tersebut belum dimiliki oleh para perempuan secara umum dan para muslimah
pada khususnya. Untuk itu, da’wah muslimah sebagai bagian dari da’wah semesta memiliki arti
penting mengembalikan pemahaman yang benar tentang peran wanita yang sesuai fitrah dan
posisinya dalam Islam. Proses perubahan tak akan terjadi seketika tapi dibutuhkan studi yang mapan,
terencana, sistematis, terorganisir secara rapi yang direalisasikan melalui gerakan dakwah yang solid.
Karena itu, da’wah muslimah juga harus ditata, dikelola dan diorganisir secara baik dan teratur
dengan kepemimpinan yang kokoh dan manajemen yang baik, yang tertuang dalam suatu wadah
pergerakan.
Urgensi dari dakwah muslimah sangat diyakini menjadi salah satu bagian penting dalam
dakwah, bahkan seorang bijak mengatakan pembagian porsi dakwah muslimah dengan dakwah
SYIAR KEMUSLIMAHAN | 95
keseluruhan, adalah jika dakwah itu adalah lingkaran, maka dakwah muslimah sebesar setengah
lingkaran. Pergerakan dakwah muslimah seperti yang kita ketahui telah bergulir sejak zaman Nabi
Muhammad, dimana Nabi menempatkan Istrinya sebagai pemimpin para muslimah. Peran sentral
dari muslimah yang juga telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan urgensi yang saya
nilai sebagai landasan mendasar mengapa kita perlu menjalankan dakwah khusus muslimah di
kampus.
Wakil ketua lembaga untuk seluruh muslimah. Dimana ia menjadi tangan kanan seorang
ketua lembaga. Ketika zaman Rasul, siti Aisyah memerankan peran ini dengan baik. Ia yang
memberikan arahan untuk para muslimah, memberikan pembinaan, menyampaikan aspirasi
muslimah di syuro, dan sebagai panglima dakwah untuk para muslimah itu sendiri. Posisi seorang
kepala muslimah hanya satu tingkat di bawah seorang kepala lembaga dakwah.
Pemimpin untuk seluruh koordinator akhwat. Jika seorang kepala lembaga mengkoordinir,
membina, dan memimpin langsung kepala departemen di bawahnya. Maka sosok kepala muslimah
ini berperan sebagai pengkoordinir, pembina dan pemimpin bagai para koordinator akhwat seluruh
departemen. Peran ini diharapkan dapat membuat daya rangkul antara kader pria dan perempuan
seimbang.
Sebagai pelakasna bidang dakwah muslimah. Fungsi mendasarnya yang ketiga adalah
menjalankan dakwah muslimah itu sendiri, baik itu agenda kaderisasi, syiar maupun jaringan
muslimah.
Lingkup dakwah muslimah itu sendiri sangat luas dan meliputi seluruh aspek dakwah kampus,
antara lain :
Kaderisasi¸ yang dilakukan khusus untuk para muslimah. Berbagai agenda kaderisasi butuh
ditambahkan kepada para muslimah agar dapat menjadi sosok muslimah ideal. Penambahan agenda
kaderisasi ini diharapkan dapat membuat para muslimah ini dapat memahami perannya sebagai
individu, anak, Istri, Ibu, dan da’iyah. Tuntutan peran dalam berbagai bidang kehidupan, baik
kehidupan rumah tangga, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan pemerintahan, dalam rangka
mengemban amanah da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar, membutuhkan bekal yang cukup bagi
akhwat muslimah untuk menjalankan peran multi dimensi yang di pikul. Sehingga Kampus memiliki
tanggung jawab dalam berpartisipasi dalam membentuk muslimah shalehah yang syamil dengan
kehadiran bidang muslimah lembaga dakwah yang melakukan program berupa Pembinaan dan
Pengembangan Potensi Muslimah.
Syiar, secara metode variasi syiar muslimah tidak berbeda jauh dengan dakwah pada
umumnya. Akan tetapi syiar muslimah ini mempunyai kekhususan di bidang materi yang akan
disampaikan. Karena syiar merupakan bagian dari kaderisasi massal, maka akan tetap mengacu pada
pembentukan karakter muslimah yang memahami perannya sebagai individu, anak, Istri, Ibu, dan
da’iyah. Contoh beberapa materi yang bisa disampaikan antara lain ; konsep diri muslimah, kewajiban
seorang muslimah, fiqih darah wanita, fiqih thaharah, figur muslimah teladan, urgensi dan peran
muslimah dalam dakwah, etika interaksi perempuan dan pria, akhlak seorang muslimah, perawatan diri
seorang wanita, career planning, dakwah dan rumah tangga, basic lifeskill bagi muslimah, dan muslimah
pembelajar.
Jaringan, dalam membangun dakwah kita perlu juga untuk mengembangkan jaringan agar
dakwah yang dilakukan akan lebih kuat dan bermanfaat. Bidang kemuslimahan yang ada diharapkan
pula dapat meluaskan jaringannya ke sesama lembaga dakwah lain. Selama lembaga dakwah
SYIAR KEMUSLIMAHAN | 96
tersebut masih bertujuan untuk menegakkan Islam, cobalah untuk membangun komunikasi dengan
mereka.
Untuk mewujudkan dakwah muslimah yang baik dan tepat sasaran diperlukan langkah yang
bisa ditempuh dalam dakwah muslimah ini sendiri. Bidang muslimah disebuah lembaga dakwah
dapat melakukan tiga hal utama sebagai langkah awal. Langkah awal ini diharapkan dapat dijalankan
untuk menetralisir segala paradigma tentang muslimah yang salah.
a. Meluruskan paradigma muslimah agar sesuai dengan fitrahnya. Saat ini banyak pandangan
yang salah tentang sebenarnya bagaimana seorang muslimah itu. Atau bahkan paradigma
tentang perempuan itu sendiri. Ada sebuah pandangan emansipasi wanita secara berlebihan
yang membuat peran sebagai penopan rumah tangga menjadi lemah. Ada pandangan
feminisme yang perlu diluruskan dengan koridor Islam. Perlu dijelaskan pula kepada objek
dakwah, bahwa Islam tidak memandang perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga, akan
tetapi ada peran perempuan yang sangat besar.
b. Membudayakan gaya hidup islami kepada para muslimah , gaya hidup atau lifestyle dari
seorang muslimah yang baik. Gaya hidup ini bisa dalam dua pendekatan, yakni simbolik dan
kebiasaan. Secara simbolik yakni dengan membudayakan penggunan jilbab, dan terkait
kebiasaan seperti tutur kata, cara tertawa, atau kebiasaan pulang tidak larut malam.
c.
Membentuk karakter muslimah yang tawazun, menyeimbangkan secara individu yakni
keseimbangan antara fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah. Serta keseimbangan perannya sebagai
ibu, istri dan anak. Sehingga terbentuk sosok muslimah yang memiliki pemahaman yang
komprehensif terhadap perannya.
Download