BAB II TINJAUAN PUSTAKA

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Terhadap Yurisdiksi
Secara etimologis, yurisdiksi dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Inggris yaitu jurisdiction. Jurisdiction sendiri berasal dari bahasa Latin
“Yurisdictio”, yang terdiri atas dua suku kata, yuris yang berarti kepunyaan menurut
hukum, dan dictio yang berarti ucapan, sabda, sebutan, firman. Sehingga jika
didefinisikan secara singkat, maka inti dari yurisdiksi adalah ucapan atau sabda
yang memiliki dasar hukum. Memiliki dasar hukum hukum dapat diartikan sebagai
kekuasaan atau kewenangan berdasarkan hukum. Dalam kekuasaan tersebut di
dalamnya mencakup hak dan wewenang yang didasarkan oleh hukum. Sehingga
kekuasaan yang dimiliki oleh pemegang yurisdiksi bukanlah merupakan kekuasaan
yang berdiri sendiri melainkan kekuasaan yang berdasarkan hukum, dibatasi oleh
nilai - nilai hukum.
Anthony Csabafi, dalam bukunya “The Concept of State Jurisdiction in
International Space Law” mengemukakan tentang pengertian yurisdiksi negara
sebagai berikut : “… state jurisdiction in public international law means the right
of a state to regulate or effect by legislative, executive or judical measures the rights
of person, property, acts events with respect to matters not exclusively of domestic
concern …”.1 Dalam definisi tersebut dapat ditemukan unsur - unsur yurisdiksi
yang ada yaitu hak atau kewenangan, mengatur secara hukum melalui lembaga
1
Anthony Csabafi, The Concept of State Jurisdiction in International Space Law, (The Hague, 1971),
hal.45.
12
legislatif, eksekutif, maupun yudikatif; mempengaruhi hak orang, benda, peristiwa
dan tidak semata - mata merupakan masalah dalam negeri saja. Senada dengan
Anthony Csabafi, Akehurst juga menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis yurisdiksi
yaitu yurisdiksi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Yurisdiksi legislatif mengacu
pada supremasi lembaga negara yang diakui secara konstitusional untuk membuat
undang-undang yang mengikat dalam wilayahnya. Negara mempunyai hak
eksklusif membuat undang-undang dan peraturan dalam banyak bidang. Yurisdiksi
eksekutif berkaitan dengan kewenangan negara untuk bertindak dalam batas-batas
negara lain, Karena masing-masing negara independen dan memiliki kedaulatan
teritorial. Yurisdiksi yudikatif menyangkut kekuasaan pengadilan dari negara
tertentu untuk mengadili kasus-kasus di mana ada faktor asing. Dalam masalah
pidana yurisdiksi ini menjangkau mulai dari prinsip teritorial hingga prinsip
universal sedangkan dalam persoalan sipil mulai dari kehadiran fisik terdakwa di
negara itu hingga prinsip kewarganegaraan dan domisili.2
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yurisdiksi memiliki 2
(dua) pengertian, yaitu3 :
a. Kekuasaan mengadili; lingkup kekuasaan kehakiman; peradilan;
b. Lingkungan hak dan kewajiban, serta tanggung jawab di suatu wilayah atau
lingkungan kerja tertentu; kekuasaan hukum
2
Malcolm N. Shaw, Hukum Internasional, terjemahan oleh Derta Sri Widowati, Penerbit Nusa
Media, Bandung, 2013, hal. 640-641.
3
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, (Jakarta : Balai
Pustaka, 2005), hal.1278.
13
Yurisdiksi adalah ciri pokok dan sentral dari kedaulatan negara, karena
merupakan pelaksanaan kewenangan yang dapat mengubah atau membuat atau
mengakhiri hubungan dan kewajiban hukum.4 Yurisdiksi dapat dicapai dengan
kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Di Indonesia, legislatif merupakan
parlemen yang mengeluarkan undang - undang yang mengikat, eksekutif
merupakan pemerintah yang memiliki yurisdiksi atau otoritas kewenangan untuk
menjalankan undang - undang, dan yudikatif adalah kekuasaan kehakiman yang
mempunyai wewenang untuk memutus dan mengadili. Yurisdiksi sangat lekat
hubungannya dengan teritorial. Yurisdiksi akan sangat kuat keberadaannya
terhadap segala sesuatu yang ada dalam wilayah suatu negara. Tetapi keterkaitan
antara yurisdiksi dengan wilayah negara bukan sesuatu yang bersifat mutlak.
Negara - negara tetap dapat memiliki yurisdiksi untuk menghukum pelanggaran
yang terjadi di luar wilayah mereka contohnya.
Yurisdiksi negara dalam hukum internasional dibagi dalam dua ranah yaitu
yurisdiksi perdata dan yurisdiksi pidana. Dalam yurisdiksi perdata, hukum nasional
suatu negara lebih banyak dipakai untuk menyelesaikan sengketa dibandingkan
dengan hukum internasional. Reaksi yang dihasilkan oleh negara - negara lain juga
jauh lebih sedikit.5 Kasus perdata dalam hukum internasional diselesaikan
menggunakan yurisdiksi negara yang telah disepakati oleh masing-masing pihak
dalam perjanjian. Hampir tidak ada protes diplomatik atau diskusi antar negara
menyangkut hukum privat. Beberapa penulis menyimpulkan bahwa hukum adat
4
5
Op cit. hal. 637.
Ibid, hal. 640.
14
internasional tidak menetapkan peraturan tertentu dalam hal pembatasan yurisdiksi
pengadilan dalam persoalan sipil.6
Ranah yurisdiksi yang kedua adalah yurisdiksi pidana. Sepanjang
menyangkut ranah pidana maka yurisdiksi yang dimiliki oleh suatu negara dapat
berupa bentuk-bentuk seperti ini :
1. Prinsip Teritorial.
Maksud dari prinsip ini adalah suatu negara mempunyai yurisdiksi
penuh terhadap segala semua orang dan benda di dalam batas
teritorialnya dan dalam semua perkara pidana dan perdata yang
timbul di wilayah teritorialnya. Prinsip ini adalah prinsip yang
paling penting dan mapan dalam membicarakan masalah yurisdiksi
dalam hukum Internasional.7 Seiring berjalannya waktu, maka
prinsip ini dikembangkan lagi menjadi dua prinsip yaitu prinsip
teritorial subyektif dan prinsip teritorial obyektif. Prinsip teritorial
subyektif adalah keadaan di mana negara dapat menuntut dan
menghukum pelaku kejahatan yang melakukan tindak pidana di
wilayah
negaranya
tetapi
tindakan
itu
diselesaikan
atau
menimbulkan kerugian di negara lain. Prinsip teritorial obyektif
artinya negara memiliki yurisdiksi terhadap seseorang yang
melakukan kejahatan yang menimbulkan kerugian di negaranya
6
Ibid.
7
DJ Harris, Cases and Materials on International Law,3rd Ed, (London: Sweet &Maxwell,1998), hal.
210.
15
meskipun perbuatan itu dimulai dari negara lain, tetapi dengan
syarat perbuatan tersebut dilaksanakan atau diselesaikan di dalam
wilayah mereka dan menimbulkan akibat yang sangat berbahaya
terhadap ketertiban sosial ekonomi di wilayah mereka.
2. Prinsip Personal (Nasionalitas)
Prinsip ini artinya setiap negara dapat mengadili warga negaranya
terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukannya di mana pun
juga.8 Prinsip nasionalitas ini juga dibagi menjadi dua bagian
menurut prakteknya yaitu prinsip nasionalitas aktif dan prinsip
nasionalitas pasif. Prinsip nasionalitas aktif artinya negara dapat
melaksanakan yurisdiksi terhadap warga negaranya di manapun ia
berada. Prinsip nasionalitas pasif artinya suatu negara dapat
memiliki yurisdiksi untuk mengadili orang asing yang melakukan
tindak pidana terhadap warga negaranya di luar negeri.9
3. Prinsip Perlindungan
Prinsip ini artinya suatu negara dapat melaksanakan yurisdiksinya
terhadap warga negara asing yang melakukan kejahatan di luar
negeri yang di duga dapat mengancam kepentingan keamanan,
integritas, dan kemerdekaan negara yang bersangkutan.10 Prinsip ini
8
Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional, edisi revisi, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2002),hal.162.
9
Ibid. hal.163.
10
Ibid. hal.164.
16
dibenarkan atas dasar perlindungan terhadap kepentingan negara
yang sangat penting.
4. Prinsip Universal
Prinsip ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya berarti bahwa
setiap negara mempunyai yurisdiksi untuk mengadili seseorang
tanpa mengindahkan lokasi maupun warga negara orang tersebut
dalam batasan bahwa tindak pidana tersebut mengusik kehidupan
seluruh komunitas internasional.
2.2 Tinjauan Khusus Terhadap Yurisdiksi Universal
Prinsip Yurisdiksi universal artinya setiap negara memiliki yurisdiksi atas
kejahatan-kejahatan tertentu dengan pertimbangan bahwa sifat kejahatan tersebut
sama-sama mengusik keamanan dan kepentingan seluruh komunitas internasional.
Pemikiran yang mendasari munculnya prinsip yurisdiksi universal adalah adanya
anggapan apabila kejahatan tersebut telah menjadi kejahatan bagi seluruh umat
manusia (hostis humani generis).11 Kejahatan universal atau kejahatan bagi seluruh
umat manusia menjadi bagian dari yurisdiksi universal tidak terlepas dari hukum
kebiasaan. Amnesty Internasional mendefinisikan yurisdiksi universal sebagai
yurisdiksi di mana pengadilan nasional di mana pun dapat menginvestigasi,
menuntut seseorang yang dituduh melakukan kejahatan internasional tanpa
11
Jahawir Thontowi dan Pranonto Iskandar, Hukum Internasional Kontemporer, Refika Aditama,
Bandung, 2006, hal. 163.
17
memerhatikan nasionalitas pelaku, korban, maupun hubungan lain dengan negara
di mana pengadilan tersebut berada.12 Beberapa ciri unik dari yurisdiksi universal
adalah :
1.
Setiap negara berhak untuk melaksanakan yurisdiksi universal
dengan bertanggung jawab untuk tidak mencoba memberikan
perlindungan di wilayah negaranya.
2.
Setiap negara yang melaksanakan yurisdiksi ini tidak perlu
mempertimbangkan kewarganegaraan pelaku dan korban serta di
mana kejahatan itu dilakukan. Satu-satunya yang harus dipastikan
adalah pelaku kejahatan berada dalam wilayah teritorial negaranya.
3.
Yurisdiksi universal hanya berlaku bagi kejahatan internasional.13
Prinsip universal pertama kali muncul pada abad ke-17 dalam kaitannya
dengan pembajakan di laut lepas. Sehingga pembajakan di laut lepas dianggap
sebagai tindak pidana awal di mana asas yurisdiksi universal muncul untuk
melindungi kepentingan komunitas internasional. Perlu ditekankan di sini bahwa
hanya pembajakan di laut lepas saja yang masuk dalam lingkup yurisdiksi
universal. Dalam hukum positif pembajakan di laut lepas masuk dalam juris
gentium sesuai dengan pasal 105 UNCLOS (United Nations Convention on the Law
of the Sea) yang berbunyi "On the high seas, or in any other place outside the
12
Amnesty International, Universal Jurisdiction, Question and Answer, December, 2001,
sebagaimana dikutip oleh Ridarson Galingging "Universal Jurisdiction in absentia; Congo v Belgium,
ICJ, Feb 2002, dalam Jurnal Hukum Internasional, Vol. I No.2, Agustus 2002, FH Universitas
Padjadjaran, Bandung, Hal. 104.
13
Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar,Raja Grafindo Persada,Jakarta, 2014, hal. 245.
18
jurisdiction of any State, every State may seize a pirate ship or aircraft, or a ship
or aircraft taken by piracy and under the control of pirates, and arrest the persons
and seize the property on board. The courts of the State which carried out the
seizure may decide upon the penalties to be imposed, and may also determine the
action to be taken with regard to the ships, aircraft or property, subject to the rights
of third parties acting in good faith." Asas yurisdiksi universal dalam pembajakan
di laut lepas bertujuan untuk mengisi kekosongan yurisdiksi jika ada kejahatan yang
dilakukan di wilayah yang tidak bertuan atau wilayah yang ada di luar yurisdiksi
teritorial negara-negara di dunia,sehingga pelaku kriminal yang melakukan
kejahatan di wilayah tersebut tetap dapat dihukum sesuai dengan kejahatannya.
Setelah pembajakan di laut lepas menjadi lingkup yurisdiksi universal, dalam
hukum internasional modern, asas yurisdiksi universal berkembang kegunaannya
seiring dengan adanya kejahatan-kejahatan yang sangat serius dan mematikan
seperti genosida, kejahatan perang, dan lain-lain. Dalam yurisdiksi universal
modern, asas yurisdiksi universal dapat digunakan untuk mengadili pelaku-pelaku
kejahatan internasional yang sangat serius sehingga tidak ada lagi tempat di mana
pelaku kejahatan tersebut berlindung sehingga ia tidak dapat diadili dan dihukum
sesuai dengan kejahatannya.14 Asas yurisdiksi universal digunakan dalam
mengadili pelaku kejahatan internasional yang serius pada awalnya adalah saat
pengadilan Israel mengadili Adolf Eichmann dan menjatuhkan putusan hukuman
14
Noora Arajarvi, Looking Back from Nowhere: Is There a Future for Universal Jurisdiction over
International Crimes?, Tilburg Law Review, vol.16,2011,hal. 8.
19
mati15 dan Pengadilan Nuremberg yang mengadili mantan pejabat-pejabat Nazi
yang melakukan tindakan genosida walaupun pengadilan Nuernberg dibentuk oleh
negara-negara pemenang Perang Dunia yang kedua yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan pelaku kejahatan, korban, dan lokasi kejadian tindak
kejahatan tersebut. Berangkat dari dua peradilan tersebut maka asas yurisdiksi
universal juga mencakup kejahatan internasional yang sangat serius (kejahatan
perang), selain juga digunakan untuk pembajakan di laut lepas.
Saat ini dua tindak pidana yang jelas masuk dalam lingkup prinsip universal
adalah pembajakan di laut lepas dan kejahatan perang. Sedangkan pembajakan di
laut teritorial suatu negara tunduk kepada yurisdiksi teritorial negara yang
bersangkutan. Masuknya kejahatan perang sebagai delik jure gentium dikukuhkan
oleh Konvensi Jenewa 1949 yang berkenaan dengan tawanan perang, perlindungan
penduduk sipil dan personel yang menderita sakit dan luka-luka. Ditambahkan juga
dengan Protokol I dan Protokol II yang disahkan pada tahun 1977 oleh Konferensi
Diplomatik di Jenewa tentang Penetapan dan Pengembangan Hukum Humaniter
Internasional yang berlaku dalam Konflik-Konflik bersenjata (Diplomatic
Conference at Geneva on the Reaffirmation and Development of International
Humanitarian Law Applicable in Armed Conflicts).16
Selain dua kejahatan yang telah disebutkan di atas, kejahatan-kejahatan
internasional yang serius lainnya seperti contohnya kejahatan yang melawan
15
Israel v Eichmann , Israel Supreme Court Judgment of 29 May 1962 in (1968) International Law
Reports 291.
16
J.G Starke, Pengantar Hukum Internasional, terjemahan oleh Bambang Iriana Djajaatmadja, Sinar
Grafika, Jakarta, 2010, hal. 305.
20
kemanusiaan, kejahatan agresi, dan perdagangan manusia masih menjadi
perdebatan di kalangan komunitas internasional. Meskipun sebenarnya saat ini
prinsip yurisdiksi universal sedang didorong untuk dapat menindak pelaku-pelaku
kejahatan internasional serius lainnya yang belum diadili oleh negara yang
berwenang mengadili.
2.3 Permasalahan dalam Yurisdiksi Universal
Yurisdiksi universal dianggap sebagai yurisdiksi yang cukup kompleks
karena yurisdiksi universal bersifat kontradiktif dengan yurisdiksi nasional suatu
negara. Yurisdiksi nasional suatu negara memberikan ruang lingkup yang sangat
jelas bagi suatu negara untuk mengadili pelaku kejahatan internasional. Yurisdiksi
nasional negara seperti yurisdiksi teritorial, nasional, dan perlindungan memiliki
batas-batas yang sangat jelas dan juga merupakan suatu tanda atas kedaulatan
negara. Tidak ada negara yang mau jika kedaulatannya dilanggar. Secara
kontradiktif, eksistensi yurisdiksi universal mengusik yurisdiksi nasional suatu
negara. Yurisdiksi universal memiliki batasan-batasan tersendiri tidak berdasarkan
nasionalitas atau kepentingan suatu negara. Yurisdiksi universal memberikan ruang
bagi suatu negara untuk melangkahi yurisdiksi nasional negara lain dengan dalil
melindungi kepentingan seluruh komunitas internasional. Sifat kontradiktif dari
yurisdiksi universal terhadap yurisdiksi lainnya ini dapat menimbulkan masalah
jika tidak dikaji secara baik dan benar pelaksanaannya.
Permasalahan selanjutnya yang akan muncul terhadap eksistensi yurisdiksi
universal adalah ketika suatu negara telah menerapkan prinsip tersebut dalam
undang-undang nasional negaranya. Akan terjadi benturan kepentingan antara
21
negara tersebut dengan negara lain yang tidak mengakui yurisdiksi tersebut dalam
hukum positif negaranya. Di sinilah terdapat perbedaan yang sangat menonjol
antara yurisdiksi universal dengan pembentukan peradilan internasional. Peradilan
internasional seperti contohnya ICC dapat dibentuk dengan persetujuan dari
beberapa negara. Dengan menyetujui dibentuknya peradilan internasional tersebut
maka negara-negara yang menyetujuinya tunduk dalam perjanjian internasional dan
tunduk kepada yurisdiksi perjanjian internasional tersebut. Hal yang sangat berbeda
aplikasinya terhadap yurisdiksi universal. Suatu negara dengan kemauan dan itikad
yang baik untuk melindungi kepentingan komunitas internasional dapat
memasukkan yurisdiksi universal sebagai hukum positif dengan memasukkannya
dalam undang-undang nasional negaranya. Situasi ini yang dapat menyebabkan
konflik di kemudian hari karena belum tentu negara lain mengakui atau menyetujui
penerapan yurisdiksi universal.
22
Download