bab i pendahuluan - Fakultas Hukum Unhas

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Salah satu kelebihan manusia yang tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk
Tuhan lainnya adalah keingintahuannya yang sangat dalam terhadap
segala sesuatu di alam semesta ini. Sesuatu yang diketahui oleh manusia
itu disebut pengetahuan.
Ditilik dari sumber perolehannya, pengetahuan itu dapat dibedakan
dalam beberapa macam. Apabila pengetahuan itu diperoleh melalui indera
manusia, disebut pengetahuan index a (pengetahuan biasa). Jika
pengetahuan tersebut diperoleh mengikuti metode dan sistem tertentu
serta bersifat universal, disebutlah pengetahuan itu sebagai pengetahuan
ilmiah.
Selanjutnya,
apabila
pengetahuan
itu
diperoleh
melalui
perenungan yang sedalam-dalamnya (kontemplasi) sampai kepada
hakikatnya, muncullah pengetahuan filsafat. Jika pengetahuan itu
bersumber dari keyakinan terhadap ajaran suatu agama, pengetahuan
semacam ini disebut pengetahuan agama.
Pengetahuan manusia, terlepas dari mana sumber perolehannya,
sesungguhnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
manusia. Melalui indera, eksperimen, perenungan, dan agama, manusia
berusaha
mendekati
kebenaran
atas
pertanyaan-pertanyaan
yang
diajukan. Di sini digunakan kata “mendekati” karena dalam banyak hal
sangat sulit mencapai kesepakatan tentang kebenaran sesuatu itu. Jadi,
kebenaran pun dengan demikian dapat berupa kebenaran inderawi,
kebenaran ilmiah, kebenaran filsafat, dan kebenaran agama (wahyu
Tuhan).
Istilah “pengetahuan” (knowledge) tidaklah sama dengan “ilmu”,
atau yang seringkali juga disebut “ilmu pengetahuan” (science). Menurut
Poedjawijatna (1986: 4-5), kebanyakan pengetahuan diperoleh dari
1
pengalaman inderawi manusia. Pengetahuan seorang manusia dapat
berasal dari pengalamannya sendiri atau seringkali juga dari orang lain,
yang biasanya digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari atau sekadar
untuk tahu. Adapun yang disebut dengan ilmu, lebih jauh daripada itu.
Ilmu adalah pengetahuan yang memiliki objek, metode, dan sistematika
tertentu. Unsur lain lagi yang dapat ditambahkan di sini, bahwa ilmu juga
bersifat universal.
Dengan ilmu yang dimiliki manusia, sudah banyak ma-salah yang
berhasil dipecahkan. Rahasia alam semesta, misalnya, telah banyak
diungkapkan melalui kemajuan ilmu tersebut, yang pada gilirannya
menghasilkan teknologi-teknologi spektakuler, seperti bioteknologi, juga
teknologi di bidang komputer, komunikasi, dan luar angkasa.
Sayangnya, sebanyak dan semaju apapun ilmu yang dimiliki
manusia, tetap saja ada pertanyaan-pertanyaan yang belum berhasil
dijawab. Bahkan, sebagian besar pertanyaan-pertanyaan tersebut telah
diajukan sejak berabad-abad 1am-pau, yang sampai sekarang tetap
aktual untuk dibahas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat manusia,
tujuan hidup dan kematiannya, adalah sebagian contoh pertanyaanpertanyaan itu.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu itulah
yang menjadi porsi pekerjaan filsafat. Jadi, seperti yang dikatakan oleh
Harry Hamersma (1990: 13), filsafat itu datang sebelum dan sesudah ilmu.
Dikatakan sebelum ilmu, karena semua ilmu yang khusus, seperti yang
banyak terdapat dewasa ini, bermula sebagai bagian dari filsafat.
Dikatakan filsafat datang sesudah ilmu, karena secara ilmu menghadapi
pertanyaan-pertanyaan yang melewati batas-batas spesialisasi mereka,
yang kemudian ditampung oleh filsafat. Tidak mengherankan, bahwa
banyak filsuf terkemuka di dunia ini, adalah sekaligus ilmuwan-ilmuwan
besar, seperti Aristoteles, Rene Descartes, Augusfe Comte, Hegel,
Leibniz, Pascal, Hume, Immanuel Kant, Whitehead, dan Einstein.
2
Menurut Hamersma
(1990: 9), pertanyaan-pertanyaan
yang
diajukan oleh ilmu (yang khusus) itu mungkin juga tidak akan pernah
terjawab oleh filsafat. Sekalipun demikian, filsafat adalah tempat
pertanyaan-pertanyaan
seperti
itu
dikumpulkan,
diterangkan,
dan
diteruskan. Kalaupun filsafat “berhasil” memberikan suatu jawaban, bukan
berarti pekerjaan filsafat menjadi selesai. Magnis-Suseno (1992: 20)
menegaskan, bahwa jawaban-jawaban filsafat itu memang tidak pernah
abadi. Karena itu, filsafat tidak pernah selesai dan tidak pernah sampai
pada akhir sebuah masalah. Filsafat tidak menyelidiki salah satu segi dari
kenyataan saja, melainkan apa-apa saja yang menarik perhatian manusia.
Artinya, masalah-masalah manusia itu banyak, dan tidak hanya beberapa
saja yang dikaji oleh filsafat. Menariknya lagi, karena jawaban yang
diberikan filsafat tidak pernah abadi, kenyataan itu menyebabkan
masalah-masalah yang dikaji filsafat seringkali terkesan dari itu ke itu saja.
Boleh jadi pendapat ini ada benarnya, tetapi jelas tidak benar seluruhnya.
Anggapan bahwa filsafat pada Abad ke-20 ini masih sibuk dengan
masalah-masalah yang sama seperti yang sudah dipersoalkan 2.500
tahun yang lalu, justru membuktikan bahwa filsafat tetap setia kepada
“metodenya sendiri”. Masalah-masalah filsafat tidak pernah dapat selesai,
justru karena ia bersifat filsafat. Masalah-masalah filsafat adalah masalah
manusia sebagai manusia, dan karena manusia di satu pihak tetap
manusia, tetapi di lain pihak berkembang dan berubah, masalah-masalah
baru filsafat adalah masalah-masalah lama manusia (Magnis-Suseno,
1992:20).
Sebagai contoh dari uraian di atas, dapatlah ditunjukkan bahwa
persoalan asal usul alam semesta yang pernah dipertanyakan oleh
Thales, Anaximander, dan Anaximenes sekitar 600 SM, tetap menjadi
kajian aktual dan dipertanyakan, seperti oleh Stephen Hawking (lahir
1942) yang digelari sebagai ahli fisika teoretis paling terkemuka pada
Abad ke-20 sesudah Einstein. Dengan demikian, persoalan-persoalan
filsafat, sebagaimana akan dibentangkan dalam bab-bab berikut dalam
3
buku
ini,
juga
mengalami
siklus
sejarah.
Hanya
saja,
bentuk
perputarannya tidaklah bulat penuh, melainkan melingkar seperti spiral.
Selalu ada nuansa baru sebagai hasil proses dialektika dari pemikiranpemikiran sebelumnya.
Apabila filsafat ingin dicari perbedaannya dengan ilmu-ilmu yang
lain, secara sederhana Harry Hamersma (1990: 10) membedakannya
sebagai berikut: ilmu (Hamersma menyebutkannya “ilmu pengetahuan”)
adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren (bertalian)
tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan, sedangkan filsafat adalah
pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh
kenyataan. Dap batasan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa
filsafat pun sebenarnya adalah suatu ilmu. Seperti dikatakan di atas, yaitu
ilmu tanpa batas. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat memang telah
memenuhi syarat-syarat untuk itu, yakni memiliki objek, metode, dan
sistematika tertentu, dan terlebih-lebih bersifat universal.
Memang, selain sebagai ilmu, kadang-kadang filsafat juga dapat
berarti sebagai pandangan hidup manusia. Jadi, ada filsafat sebagai ilmu
dan ada filsafat sebagai pandangan hidup. Contoh filsafat sebagai
pandangan hidup ini sangat banyak, yang tercermin dalam pepatah,
slogan, lambang, dan sebagainya. Tut wuri handayani, misalnya, adalah
filsafat sebagai pandangan hidup. Pandangan hidup ini sering disebut
dengan istilah way of life, Weltanschauung, Wereldbes-chouwing, Werelden levenbeschouwing. Pandangan hidup ini merupakan petunjuk arah
semua kegiatan atau aktivitas hidup (manusia) dalam segala bidang
(Darmodiharjo, 1995:4). Demikian juga dengan terminologi filsafat Cina,
filsafat India, filsafat Yunani, filsafat Liberalisme, filsafat Pancasila, adalah
terminologi dalam pengertian filsafat sebagai pandangan hidup.
Seperti diuraikan sebelumnya, filsafat apabila diartikan sebagai
ilmu, salah satu unsurnya adalah ia harus mempunyai objek tertentu.
Objek suatu ilmu, menurut Poedjawijatna (1986: 6-7) dapat dibedakan
menjadi objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan
4
atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut
pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Jadi, dapat terjadi
ada lebih dari satu ilmu yang memiliki objek materia yang sama, tetapi
berbeda objek formanya. Misalnya saja, ilmu hayat (biologi) dan ilmu jiwa
(psikologi) memiliki objek materia yang sama, yaitu tentang mahluk hidup,
tetapi objek formanya berlainan karena yang pertama menyelidiki
kehidupan mahluk hidup dari luar (wujud fisiknya), sedangkan yang kedua
menyelidiki kehidupannya dari dalam (rohani atau batinnya).
Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada
(Poedjawijatna, 1986: 9). Pada intinya, objek materia filsafat ini, menurut
Anshari (1982: 87-88), dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu
tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Objek materia
seperti ini juga dimiliki dan mungkin sama dengan objek ilmu lainnya,
sedangkan yang membedakan suatu ilmu dengan ilmu yang lain adalah
objek formanya saja. Objek forma filsafat adalah sudut pandangnya yang
tidak membatasi diri, dan hendak mencari keterangan sampai sedalamdalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. Jadi, benarlah jika
dikatakan, bahwa filsafat adalah ilmu tanpa batas.
Dalam bahasa lain, filsafat dikenal dengan sebutan philosophy
(Inggris), philosophie (Perancis dan Belanda), filosofie, wijsbegeerte
(Belanda), philosophia (Latin). Kata “filsafat” ini diambil dari bahasa Arab,
yaitu “falsafah”. Secara etimologis, filsafat atau falsafah itu sendiri berasal
dari bahasa Yunani, yaitu philos atau fib yang artinya cinta (dalam arti
seluas-luasnya), dan sophia atau sofia yang artinya kebijaksanaan. Jadi
dari sudut asal-usul katanya, filsafat dapat diartikan sebagai cinta akan
kebijaksanaan.
Uraian tersebut sebenarnya tidak memadai untuk memahami apa
yang dimaksud dengan filsafat. Paling tidak, bagaimana definisi tentang
filsafat belum dapat diberikan secara memuaskan. Gerard Beekman
(1984: 14) mengatakan, bahwa pertanyaan tentang apakah filsafat itu,
sama tuanya dengan filsafat itu sendiri. Pertanyaan ini masih tetap di-
5
ajukan dan telah dijawab dengan cara-cara yang sangat berlainan.
Beekman kemudian memberikan beberapa definisi dari para ahli, yang
satu sama lain berbeda, bergantung pada sudut pandang yang digunakan.
Kiranya terlalu berpanjang lebar untuk menyebutkan definisi tersebut satu
demi satu. Untuk itu, sebagai tahap awal memasuki dunia filsafat,
pengertian yang diberikan oleh Harry Hamersma di atas dapatlah
dipegang sebagai definisi sementara tentang apa yang dimaksud dengan
filsafat. Apabila batasan itu ingin lebih dilengkapi, batasan filsafat menjadi
sebagai be-rikut: filsafat (dalam arti ilmu) adalah pengetahuan yang
metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan (menyeluruh
dan universal), dan kemudian (dalam arti pandangan hidup) adalah
petunjuk arah kegiatan (aktivitas) manusia dalam segala bidang
kehidupannya.
Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat dengan demikian memiliki
paling tidak tiga sifat yang pokok, yaitu: (1) menyeluruh; (2) mendasar;
dan (3) spekulatif (Suriasumantri, 1985: 20-22). Sifat menyeluruh
mengandung arti, bahwa cara berpikir filsafat tidaklah sempit (fragmentaris
atau sektoral), tetapi selalu melihat persoalan dari tiap sudut yang ada.
Tiap sudut itu dianalisis secara mendalam, sampai ke akar-akarnya. Inilah
yang dimaksud dengan sifat kedua, yaitu mendasar atau radikal. Untuk
dapat menganalisis suatu persoalan secara mendasar itu memang tidak
mudah,
mengingat
pertanyaan-pertanyaan
yang
dibahas
adalah
pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar jangkauan “ilmu biasa”; Dalam
hal ini, filsafat menggunakan ciri ketiga, yaitu spekulatif. Tentu saja
langkah-langkah spekulatif tidak boleh sembarangan, tetapi hams memiliki
dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ciri lain yang juga penting untuk ditambahkan adalah sifat: refleksif
kritis dari filsafat. Refleksi berarti pengendapan dari apa yang dipikirkan
secara berulang-ulang dan mendalam (kontemplasi). Pengendapan itu
dilakukan untuk memperoleh pengetahuan atau jawaban atas pertanyaan
yang lebih jauh lagi, dan ini dilakukan secara terus menerus. Kritis berarti
6
analisis yang dibuat oleh filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan
analisis nilai. Jika hanya fakta yang dianalisis, berarti subjek (manusia)
tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya adalah gejala-gejala semata. Pada analisis nilai, hasilnya bukan lagi gejala-gejala, tetapi hakikat.
B. ISTILAH FILSAFAT DAN FILSAFAT HUKUM
Sebagaimana pertanyaan tentang hukum selalu dimulai dengan
apakah “hukum” itu, demikian juga dengan istilah filsafat hukum, kita akan
memulainya dengan perbincangan apakah filsafat hukum itu? Namun
demikian sebelum sampai kepada persoalan ini, mari kita terlebih dahulu
membicarakan istilah filsafat. Hal ini sangat penting mengingat berbicara
filsafat adalah genus dari filsafat hukum itu sendiri. Oleh karena itu tidak
mungkin membicarakan filsafat hukum dengan meninggalkan peristilahan
filsafat itu sendiri, untuk itu kita akan mulai membahas tentang filsafat.
Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan memiliki pengertian yang cukup
luas, misalnya saja apa yang oleh Plato dijelaskan sebagai “ilmu/ajaran
tentang kesunyataan abadi (Soejono Koesoemo Sisworo, 1988:2), atau
sebagaimana dijelaskan oleh Aristoteles sebagai ilmu/ ajaran tentang
kebenaran, dengan demikian meliputi metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik, dan estetika (Soejono Koesoemo Sisworo, Ibid), yang
ruang lingkupnya paling tidak meliputi empat hal yaitu:
a. Apa yang dapat kita ketahui?
b. Apa yang harus kita perbuat?
c. Apa yang dapat kita harapkan?, dan
d. Apa manusia itu?
Filsafat dalam lintasan sejarahnya, selalu membahas problema
sehari-hari, atau situasi manusiawi, dan dalam dasawarsa terakhir
perkembangan filsafat Barat telah mencurahkan perhatiannya kepada
sejarah filsafat atau pembahasan tentang istilah dan bahasa yang dipakai
untuk memaparkan pikiran-pikiran. Pada tahap ini, dirasakan bahwa
filsafat menjadi sangat berat dan semakin menjauh dari realitas kehidupan
7
sehari-hari, filsafat menjadi pokok bahasan yang sulit untuk dipahami,
karena telah memalingkan dirinya dari realitas kehidupan yang nyata, hal
ini pernah dikemukakan oleh Harold F. Titus (1984: 5), dengan beberapa
pertanyaan fundamental; Apakah yang telah terjadi pada filsafat? Yang
telah memalingkan dirinya dari kehidupan pokok? Mengapa disiplin
fundamental ini telah menjadi jauh dari perhatian manusia dan
masyarakat? Dan mengapa para ahli filsafat itu sendiri telah merasa puas
menerima kedudukan itu?
Ada dua kemungkinan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertama, bahwa kegagalan filsafat modern dapat ditafsirkan oleh karena
terlalu memperhatikan “alat” yang dipakai untuk memecahkan persoalan.
Pada akhir abad ke-20, ahli filsafat lebih suka memperhatikan analisis
serta penjelasan dari pendapat-pendapat sains, sejarah atau paham
orang awam. Dalam pengertian ini filsafat tidak dapat memberikan
pengertian baru. la hanya menjelaskan hal-hal yang telah kita ketahui.
Kedua Ciri khas dari eksistensi (keberadaan para filsuf/ahli filsafat), saat
ini mereka lebih sebagai anggota dari jurusan filsafat dalam sekolah tinggi
atau jurusan tertentu di Universitas. Sebagai guru profesional yang
membingungkan, dan akhirnya timbul persepsi bahwa filsafat hanya
membuat ide-ide rumit menjadi sederhana. Sehingga ahli filsafat saat ini
menjelma menjadi seorang profesional seperti dokter, pengacara atau
pemain tenis, yaitu seseorang yang memperoleh gaji spesiais dalam
bidang ide. Hal ini dikritik oleh Barret (1962: 5) dengan mengatakan
bahwa “pekerjaan (profesi) filsafat tidak selalu mempunyai arti yang
sempit dan spesial seperti sekarang. Pada zaman Yunani, karena
keadaannya adalah sebaliknya. Yang ada bukan disiplin teoretis spesial
yang dinamakan filsafat, akan tetapi sesuatu cara hidup yang konkrit (a
concrete way of life), suatu pandangan total tentang manusia dan alam
yang menyinari seluruh kehidupan seseorang.”
Apakah filsafat itu? Kata filosofi diambil dari perkataan Yunani yaitu
Philos (suka, cinta) dan Sophia (kebijaksanaan). Jadi kata itu berarti cinta
8
kepada kebijaksanaan. Suatu definisi filsafat dapat diberikan dari berbagai
pandangan, dalam tulisan ini akan disajikan paling tidak lima pandangan
atau lima definisi untuk memberikan keluasan pemahaman tentang
filsafat.
Pertama, filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan
terhadap kehidupan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.
Kedua, filsafat adalah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan
dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ketiga, filsafat adalah usaha
untuk mendapatkan gambaran keseluruhan yang dibedakan dari filsafat
kritik. Keempat, filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan
tentang arti kata dan konsep. Kelima, filsafat adalah sekumpulan
problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari
manusia yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Uraian di atas
sekalipun tidak begitu rinci menjelaskan tentang filsafat, namun sebagai
sebuah gambaran kita dapat melihat bahwa pengertian filsafat begitu luas
dan digunakan oleh banyak orang untuk menjelaskan berbagai persoalan
yang ada saat ini.
Adapun istilah filsafat yang dikenal, yang ada kaitannya dengan
filsafat hukum antara lain: legal philosophy, philosophy of law, legal
theory, jurisprudence, rechts filosofie dan lain sebagainya. Istilah-istilah
tersebut
dikemukakan
oleh
Gustav
Radbruch,
Roscoe
Pound,
Friedman, Paton, dan Bellefroid. Pengertian filsafat hukum pun ada
berbagai pendapat, yaitu: merupakan ilmu, bagian dari filsafat yang
objeknya hukum, menyangkut hati nurani, merupakan filsafat terapan dan
praktis, merupakan filsafat teoretis, merupakan filsafat khusus yaitu
hukum, merupakan sub spesies dari filsafat etika dan lain sebagainya.
Pengertian
ini
dikemukakan
oleh
Aristoteles,
Plato,
Mochtar
Kusumaatmadja, Gustav Radbruch, para ahli dari dunia Anglo Saxon,
para
ahli
dari
dunia
Eropa
Continental,
Bender,
Zevenbergen.
Permasalahan filsafat hukum di antaranya meliputi:
9
1. Masalah tujuan hukum, mengapa orang menaati hukum, mengapa
negara berhak menghukum, hubungan hukum dengan kekuasaan,
masalah pembinaan hukum.
2. Masalah hakikat hukum, yang didukung oleh teori-teori: Imperatif (asal
mula hukum), Indikatif (kenyataan-kenyataan sosial yang mendalam),
Optatif (tujuan hukum, keadilan).
3. Masalah konsepsi-konsepsi tentang hukum yang dikemukakan oleh
para pendukung aliran-aliran dalam filsafat hukum, mulai dari aliran
Hukum Alam, aliran Positivisme Hukum, Mazhab Sejarah, aliran
Sociological Jurisprudence, aliran Pragmatic Legal Realism, Marxis
Jurisprudence, Mazhab Unpad, Anthropological Jurisprudence.
C. PEMBIDANGAN FILSAFAT DAN LETAK FILSAFAT HUKUM
Untuk mencari kaitan antara filsafat dan filsafat hukum, pertama-tama
perlu dilakukan pembidangan filsafat tersebut. Mengingat luasnya bidang
filsafat itu, masing-masing ahli memberikan pembidangan sesuai dengan
sudut pan-dang sendiri-sendiri pula.
Ada kecenderungan bahwa bidang-bidang filsafat itu semakin
bertambah. Sekalipun demikian, seringkali bidang-bidang telaah yang
dimaksud belum memiliki kerangka analisis yang lengkap, sehingga belum
dapat disebut sebagai cabang. Dalam hal demikian, bidang-bidang
demikian lebih tepat disebut sebagai masalah-masalah filsafat atau tematema filsafat.
D. Runes dalam The Dictionary of Philosophy (1963) membagi
filsafat dalam tiga cabang utama, yaitu: (1) ontologi; (2) epistemologi; dan
(3) aksiologi. Ontologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang
keberadaan sesuatu. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki
tentang asal, syarat, susunan, metode, dan validitas pengetahuan.
Aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang hakikat
nilai, kriteria, dan kedudukan metafisis (keberadaan) suatu nilai. Pada
dasarnya semua cabang filsafat dapat dikembalikan kepada tiga cabang
10
di atas. Misalnya, metafisika dapat dimasukkan dalam ontologi. Kemudian
dalam epistemologi, dapat dimasukkan antara lain logika, metodologi, dan
filsafat ilmu. Selanjutnya, pada aksiologi terdapat cabang etika dan
estetika.
Poedjawijatna (1986: 11-17) membagi filsafat, menurut objeknya
dalam enam bagian, yaitu: (1) filsafat ada umum (ontologia atau metafisika
generalis);
(2)
filsafat
ada
mutlak
(theodicea);
(3)
filsafat
alam
(kosmologia); (4) filsafat manusia (antropologia); (5) filsafat tingkah laku
(etika); dan (6) filsafat budi (logika).
Sebuah
ensiklopedi
yang
sangat
terkenal,
yaitu
Eerste
Nederlandse Systematisch Ingerichte Encyclopaedic (ENSIE) Jilid I
membagi filsafat dalam sembilan bagian, yaitu: (1) metafisika; (2) logika;
(3) filsafat mengenal (kenleer); (4) filsafat ilmu (wetenschapsleer); (5)
filsafat alam; (6) filsafat kebudaya-an dan sejarah; (7) etika; (8) estetika;
dan (9) filsafat manusia (de Vos, 1956).
Harry Hamersma (1990: 14) membagi filsafat dalam se-puluh
bidang, yaitu: (1) epistemologi; (2) logika; (3) kritik ilmu-ilmu; (4) metafisika
umum atau ontologi; (5) teologi metafisik; (6) antropologi; (7) kosmologi;
(8) etika; (9) estetika; dan (10) sejarah filsafat.
Jujun S. Suriasumantri (1985: 32-33) menyatakan, bahwa cabangcabang filsafat yang sekarang dikenal sebagai bidang yang mempunyai
kajian formal pada pokoknya terdiri dari sebelas bidang, yaitu: (1)
epistemologi (filsafat pengetahuan); (2) etika (filsafat moral); (3) estetika
(filsafat seni); (4) metafisika; (5) politik (filsafat pemerintahan); (6) filsafat
agama; (7) filsafat ilmu; (8) filsafat pendidikan; (9) filsafat hukum; (10)
filsafat sejarah; dan (11) filsafat matematika.
Pembagian yang lebih rinci diberikan oleh Louis O. Kattsoff (1987:
71-84), yang membagi dalam tiga belas bidang, yaitu: (1) logika; (2)
metodologi; (3) metafisika; (4) ontologi; (5) kosmologi; (6) epistemologi; (7)
biologi kefilsafatan; (8) psikologi kefilsafatan; (9) antropologi kefilsafatan;
11
(10) sosiologi kefilsafatan; (11) etika; (12) estetika; dan (13) filsafat
agama.
Pembidangan tersebut sekali lagi menunjukkan betapa luasnya
objek pembicaraan filsafat, yang juga memerlukan uraian yang panjang
lebar untuk membahasnya. Secara singkat, gambaran tentang masingmasing bidang itu menurut pembagian yang dilakukan Kattsoff adalah
sebagai berikut:
1. logika, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang tata cara
penarikan kesimpulan yang benar;
2. metodologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang teknikteknik penelitian atau penyelidikan;
3. metafisika, yaitu cabang filsafat yang membicarakan hakikat segala
sesuatu yang ada (dan mungkin ada).
4. ontologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang asas-asas
rasional dari kenyataan (yang ada);
5. kosmologi,
yaitu
cabang
filsafat
yang
membicarakan
tentang
bagaimanakah keadaannya sehingga ada asas-asas rasional dari
kenyataan yang teratur itu;
6. epistemologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang asal
mula, susunan, metode-metode, dan sah-nya pengetahuan;
7. biologi kefilsafatan, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang
hakikat hidup;
8. psikologi kefilsafatan, yaitu cabang filsafat yang membicarakan
tentang jiwa;
9. antropologi kefilsafatan, yaitu cabang filsafat yang membicarakan
tentang hakikat manusia;
10. sosiologi kefilsafatan, yaitu cabang filsafat yang membicarakan
tentang hakikat masyarakat dan negara;
11. etika, yaitu cabang filsafat tentang apa yang baik dan buruk dari
perilaku manusia;
12. estetika, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan;
12
13. filsafat agama, yaitu cabang filsafat yang membicarakan tentang
hakikat keagamaan.
Dari konstelasi bidang-bidang filsafat itu, masih tersisa pertanyaan yang
belum terjawab, yaitu: di mana letak filsafat hukum? Apakah filsafat hukum
itu adalah bagian dari filsafat atau bagian dari ilmu hukum?
Kita mengetahui bahwa hukum berkaitan erat dengan norma-norma
untuk
mengatur
perilaku manusia. Dengan
demikian, kita
dapat
menyimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat
manusia, yang disebut etika atau filsafat tingkah laku. Jadi tepatlah
apabila dikatakan, bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus,
etika sebagai species, dan filsafat hukum sebagai subspecies.
Apabila pembidangan filsafat (menurut objek materianya) yang
dijadikan sebagai dasar (Poedjawijatna, 1986: 17), letak filsafat hukum
akan tampak seperti skema berikut. Di sini objek materia filsafat yang
dapat dibedakan hanyalah yang “ada” karena sesuatu yang “mungkin ada”
sulit untuk di-berikan pembedaannya.
UMUM
ADA MUTLAK
ADA
ADA KHUSUS
ALAM
ADA
TIDAK MUTLAK
Antropologia
MANUSIA
Etika
Filsafat Hukum
Logika
D. GAMBARAN FILSAFAT HUKUM
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa filsafat hukum adalah cabang
filsafat, yakni filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat
hukum. Dengan perkataan lain, filsafat hukum adalah ilmu yang
mempelajari hukum secara filosofis. Jadi, objek filsafat hukum adalah
hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti
atau dasarnya, yang disebut dengan hakikat.
Pertanyaan tentang “apa (hakikat) hukum itu” sekaligus merupakan
pertanyaan filsafat hukum juga. Pertanyaan tersebut mungkin saja dapat
13
dijawab oleh ilmu hukum, tetapi jawaban yang diberikan ternyata serba
tidak memuaskan. Menurut Apeldoorn (1985: 439-440), hal tersebut tidak
lain karena ilmu hukum hanya memberikan jawaban yang se-pihak. Ilmu
hukum hanya melihat gejala-gejala hukum se-bagaimana dapat diamati
oleh pancaindera manusia mengenai perbuatan-perbuatan manusia dan
kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu, pertimbangan nilai di
balik gejala-gejala hukum tersebut, luput dari pengamatan ilmu hukum.
Norma (kaidah) hukum, tidak termasuk dunia kenyataan (Sein), tetapi
berada pada dunia nilai (Sollen dan mogeri), sehingga norma hukum
bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.
Hakikat hukum dapat dijelaskan dengan cara memberikan suatu
definisi tentang hukum. Sampai saat ini, menurut Apeldoorn sebagaimana
dikutipnya dari Immanuel Kant, para ahli hukum masih mencari tentang
apa definisi hukum (Noch suchen die juristen eine Definition zu ihrem
Begriffe von Recht). Definisi (batasan) tentang hukum yang dikemukakan
para ahli hukum sangat beragam, bergantung dari sudut mana mereka
melihatnya.
Ahli hukum Belanda J. van Kan (1983: 13), mendefinisikan hukum
sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat
memaksa,
yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam
masyarakat. Pendapat tersebut mirip dengan definisi dari Rudolf von
Ihering, yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Hans Kelsen
menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus
berperilaku. Pendapat ini didukung oleh ahli hukum Indonesia Wirjono
Prodjodikoro (1992:9), yang menyatakan hukum adalah rangkaian
peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu
masyarakat, sedangkan satu-satunya tujuan dari hukum ia-lah menjamin
keselamatan, kebahagiaan, dan tata tertib dalam masyarakat itu.
Selanjutnya, O. Notohamidjojo (1975;21) berpendapat, bahwa hukum
adalah keseluruhan per-aturan yang tertulis dan tidak tertulis yang
14
biasanya bersifat memaksa untuk kelakuan manusia dalam masyarakat
negara serta antarnegara, yang berorientasi pada dua asas, yaitu keadilan
dan daya guna, demi tata tertib dan damai dalam masyarakat.
Definisi-definisi tersebut menunjukkan betapa luas sesungguhnya
hukum itu. Keluasan bidang hukum itu dilukiskan oleh Purnadi
Purbacaraka dan Soerjono Soekanto (1986: 2-4) dengan menyebutkan
sembilan arti hukum. Menurut mereka, hukum dapat diartikan sebagai: (1)
ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis
atas dasar kekuatan pemikiran; (2) disiplin, yakni suatu sistem ajaran
tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi; (3) norma, yakni
pedoman atau patokan sikap tindak atau perikelakuan yang pantas atau
diharapkan; (4) tata hukum, yakni struktur dan proses perangkat normanorma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta
berbentuk tertulis; (5) petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan
kalangan yang berhubungan erat dengan penegakan hukum (lawenforcement officer); (6) keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi;
(7) proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara unsurunsur pokok dari sistem kenegaraan; (8) sikap tindak ajeg atau
perikelakuan yang “teratur”, yakni perikelakuan yang diulang-ulang
dengan cara yang sama, yang bertujuan untuk mencapai kedamaian; dan
(9) jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak tentang
apa yang dianggap baik dan buruk.
Dengan demikian, apabila kita ingin mendefinisikan hukum secara
memuaskan, kita harus dapat merumuskan suatu kalimat yang meliputi
paling tidak sembilan arti hukum itu. Suatu pekerjaan yang sangat tidak
mudah!
Walaupun hukum dapat didefinisikan menurut sekian banyak
pengertian, tetapi secara umum hukum dipandang sebagai norma, yakni
norma yang mengandung nilai-nilai tertentu. Jika kita batasi hukum dalam
pengertian sebagai norma, tidak lalu berarti hukum identik dengan norma.
Norma adalah pedoman manusia dalam bertingkah laku. Dengan
15
demikian, norma hukum hanyalah salah satu saja dari sekian banyak
pedoman tingkah laku itu.
Diluar norma hukum, terdapat norma-norma lainnya. Purbacaraka
dan Soekanto (1989: 21 et seq.) menyebutkan ada empat norma, yaitu
norma: (1) kepercayaan; (2) kesusilaan; (3) sopan santun; dan (4) hukum.
Tiga norma yang disebutkan di muka dalam kenyataannya belum dapat
memberikan perlindungan yang memuaskan, sehingga diperlukan norma
keempat, yaitu norma hukum. Menurut Sudikno Mertokusumo (1991: 1011), penyebabnya adalah: (1) masih banyak kepentingan-kepentingan lain
manusia yang memerlukan perlindungan, tetapi belum
mendapat
perlindungan dari ketiga norma sosial tersebut; (2) kepentingankepentingan manusia yang telah mendapat perlindungan dari ketiga
norma sosial tersebut belum cukup terlindungi, karena dalam hal terjadi
pelanggaran, reaksi atau sanksinya dirasakan belum cukup memuaskan.
Sebagai contoh, norma kepercayaan tidak memberikan sanksi yang dapat
dirasakan secara langsung di dunia ini. Demikian pula kalau norma
kesusilaan
dilanggar,
hanya
akan
menimbulkan rasa
malu
atau
penyesalan bagi pelakunya, tetapi dengan tidak ditangkap dan diadilinya
pelaku tersebut, masyarakat mungkin akan merasa tidak aman.
Perlindungan yang diberikan oleh norma hukum dikatakan lebih
memuaskan dibandingkan dengan norma-norma yang lain, tidak lain
karena pelaksanaan norma hukum itu dapat dipaksakan. Apabila tidak
dilaksanakan, pada prinsipnya akan dikenakan sanksi oleh penguasa. Di
sini terlihat betapa erat hubungan antara hukum dan kekuasaan itu.
Kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa itupun terbatas sifatnya,
sehingga norma hukum yang ingin ditegakkannya pun memiliki daya
jangkau yang terbatas. Kendati demikian, bukan tidak mungkin terdapat
norma-norma hukum yang berlaku universal dan abadi (tidak dibatasi oleh
ruang dan waktu), yang oleh sebagian ahli hukum disebut dengan hukum
kodrat atau hukum alam. Dari sini timbul hubung-an yang erat antara
hukum kodrat dan hukum positif.
16
Mengingat objek filsafat hukum adalah hukum, maka masalah atau
pertanyaan yang dibahas oleh filsafat hukum itupun antara lain berkisar
pada apa-apa yang diuraikan di atas, seperti hubungan hukum dan
kekuasaan, hubungan hukum kodrat dan hukum positif, apa sebab orang
menaati hukum, apa tujuan hukum, sampai kepada, masalah-masa-lah
filsafat hukum yang ramai dibicarakan saat ini (oleh sebagian orang
disebut masalah filsafat hukum kontemporer, suatu istilah yang kurang
tepat, mengingat sejak dulu masalah tersebut juga telah diperbincangkan),
seperti masalah hak asasi manusia, dan etika profesi hukum. Tentu saja
tidak semua masalah atau pertanyaan itu akan dijawab dalam perkuliahan
filsafat hukum. Sebagaimana telah disinggung di muka, filsafat hukum
memprioritaskan pembahasannya pada pertanyaan-pertanyaan yang
dipandang pokok-pokok saja.
Apeldoorn (1985: 441 et seq.) misalnya, menyebutkan tiga
pertanyaan penting yang dibahas oleh filsafat hukum, yaitu: (1) adakah
pengertian hukum yang berlaku umum; (2) apakah dasar kekuatan
mengikat dari hukum; dan (3) adakah sesuatu hukum kodrat. Lili Rasjidi
(1990: 8-9) menyebutkan pertanyaan yang menjadi masalah filsafat hukum antara lain: (1) hubungan hukum dengan kekuasaan; (2) hubungan
hukum dengan nilai-nilai sosial budaya; (3) apa sebab negara berhak
menghukum seseorang; (4) apa sebab orang menaati hukum; (5) masalah
pertanggung-jawaban; (6) masalah hak milik; (7) masalah kontrak; dan (8)
masalah peranan hukum sebagai sarana pembaruan masyarakat.
Jika kita bandingkan antara apa yang dikemukakan oleh Apeldoorn
dan Lili Rasjidi tersebut, tampak bahwa masalah-masalah yang dianggap
penting dalam pembahasan filsafat hukum terus bertambah. Hal ini
sesungguhnya tidak terlepas dari semakin banyaknya para ahli hukum
yang menekuni filsafat hukum. Pada jaman dulu, filsafat hukum hanyalah
produk sampingan di antara sekian banyak objek penyelidikan para filsuf.
Pada masa sekarang, filsafat hukum sudah menjadi produk utama yang
dibahas sendiri oleh para ahli hukum.
17
Sebagai catatan tambahan, dalam banyak tulisan, filsafat hukum
sering diidentikkan dengan jurisprudence yang diajarkan terutama di
fakultas-fakultas hukum di Amerika Serikat Istilah jurisprudence (bahasa
Inggris) atau jurisprudent (bahasa Jerman) sudah digunakan dalam Codex
Iuris Civilisdi jaman Romawi. Istilah ini dipopulerkan terutama oleh
penganut aliran Positivisme Hukum.
Kata jurisprudence harus dibedakan dengan kata yurisprudensi
sebagaimana dikenal dalam sistem hukum Indonesia dan Eropa
Kontinental pada umumnya, di mana istilah yurisprudensi lebih menunjuk
pada putusan hakim yang diikuti oleh hakim-hakim lain. Huijbers (1988:
129) mengatakan, “... di Inggris jurisprudence berarti: ajaran atau ilmu
hukum. Maka nampaklah, bahwa penganut-penganut positivisme yuridis
tidak mau bicara mengenai suatu filsafat hukum. Oleh mereka kata
yurisprudensi [sic!] dianggap lebih tepat, yakni suatu kepandaian dan
kecakapan yang tinggal dalam batas ilmu hukum.”
Agar tidak membingungkan, sebaiknya istilah jurisprudence tidak
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (seperti yang dilakukan
Huijbers di atas, menjadi yurisprudensi ), tetapi tetap dipertahankan dalam
ejaan aslinya. Hal ini juga berlaku untuk penyebutan aliran filsafat hukum
Sociological Jurisprudence, yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab IV.
Menurut Richard A. Posner (1994: xi), yang dimaksud dengan
jurisprudence adalah, “... the most fundamental, general, and theoretical
plain of analysis of the social phenomenon called law. For the most part it
deals with problems, and uses perspectives, remote from daily concerns of
legal practitioners;. problems that cannot be solved by reference to or by
reasoning from conventional legal materials; perspectives that cannot be
reduced to legal doctrines or to legal reasoning. Many of the problems of
jurisprudence cross doctrinal, temporal, and national boundaries.”
Lalu filsafat, diartikannya dengan “... the name we give to the
analysis
of fundamental
questions; thus the traditional
definition
jurisprudence as the philosophy of law, or as the application of philosophy
18
of law, is prima facie appropriate.” Jadi Posner sendiri tidak membedakan
pengertian dari dua istilah itu, sekalipun banyak juga para ahli hukum
yang mencoba mencari distingsi dari keduanya. Hanya saja, sebagaimana
dikatakan oleh Lili Rasjidi (1988: 23), sekalipun ada perbedaan antara
keduanya, tetap sukar untuk mencari batas-batasnya yang tegas.
19
E. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT HUKUM
Bagi sebagian besar mahasiswa, pertanyaan yang cukup sering
dilontarkan adalah: apakah manfaatnya mempelajari filsafat hukum itu?
Apakah tidak cukup mahasiswa di-bekali dengan ilmu hukum saja?
Seperti telah disinggung di muka, filsafat (termasuk dalam hal ini
filsafat hukum) memiliki tiga sifat yang membedakannya dengan ilmu-ilmu
lain. Pertama, filsafat memiliki karakteristik yang bersifat menyeluruh.
Dengan cara berpikir holistik tersebut, mahasiswa atau siapa saja yang
mempelajari filsafat hukum diajak untuk berwawasan luas dan terbuka.
Mereka diajak untuk menghargai pemikiran, pendapat, dan pendirian
orang lain. Itulah sebabnya, dalam filsafat hukum pun diajarkan berbagai
aliran pemikiran tentang hukum. Dengan demikian, apabila mahasiswa
tersebut telah lulus sebagai sarjana hukum, umpamanya, di-harapkan ia
tidak akan bersikap arogan dan apriori, bahwa disiplin ilmu yang
dimilikinya lebih tinggi dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lainnya.
Ciri yang lain, filsafat hukum juga memiliki sifat yang mendasar.
Artinya, dalam menganalisis suatu masalah, kita diajak untuk berpikir kritis
dan radikal. Mereka yang mempelajari filsafat hukum diajak untuk
memahami hukum tidak dalam arti hukum positif semata. Orang yang
mempelajari hukum dalam arti positif semata, tidak akan mampu
memanfaatkan dan mengembangkan hukum secara baik. Apabila ia
menjadi hakim, misalnya, dikhawatirkan ia akan menjadi hakim “corong
undang-undang” belaka.
Ciri berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah sifat filsafat yang
spekulatif. Sifat ini tidak boleh diartikan secara negatif sebagai sifat
gambling. Sebagaimana dinyatakan oleh Suiiasiimantri (1985: 22), bahwa
semua ilmu yang berkembang saat ini bermula dari sifat spekulatif
tersebut. Sifat ini mengajak mereka yang mempelajari filsafat hukum untuk
berpikir inovatif, selalu mencari sesuatu yang baru. Memang, salah satu
ciri orang yang berpikir radikal adalah senang kepada hal-hal baru. Tentu
saja, tindakan spekulatif yang dimaksud di sini adalah tindakan yang
20
terarah, yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan berpikir spekulatif (dalam arti positif) itulah hukum dapat dikembangkan ke
arah yang dicita-citakan bersama.
Ciri lain lagi adalah sifat filsafat yang reflektif kritis. Melalui sifat ini,
filsafat hukum berguna untuk membimbing kita menganalisis masalahmasalah hukum secara ra-sional dan kemudian mempertanyakan jawaban
itu secara terus-menerus. Jawaban tersebut seharusnya tidak sekadar
diangkat dari gejala-gejala yang tampak, tetapi sudah sampai kepada
nilai-nilai yang ada di balik gejala-gejala itu. Analisis nilai inilah yang
membantu kita untuk menentukan sikap secara bijaksana dalam
menghadapi suatu masalah konkret.
Sebagai bagian dari filsafat tingkah laku, mata kuliah Filsafat
Hukum (berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0325/U/1994 tentang Kurikulum yang Berlaku Secara Nasional Program
Sarjana Ilmu Hukum) juga memuat materi tentang etika profesi hukum.
Dengan mempelajari etika profesi tersebut, diharapkan para calon sarjana
hukum dapat menjadi pengemban amanat luhur profesinya. Sejak dini
mereka diajak untuk memahami nilai-nilai luhur profesi tersebut dan
memupuk terus idealisme mereka, sekalipun disadari bahwa dalam
kenyataannya, mungkin saja nilai-nilai itu telah mengalami penipisanpenipisan.
Seperti yang diungkapkan oleh Radhakrishnan dalam bukunya The
History of Philosophy, manfaat mempelajari filsafat (tentu saja termasuk
mempelajari filsafat hukum) bukanlah sekadar mencerminkan semangat
masa ketika kita hidup, melainkan membimbing kita untuk maju. Fungsi
filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan
arah, dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan
keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak manusiamanusia yang tergolong ke dalam berbagai bangsa, ras, dan agama itu
mengabdi kepada cita-cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya
21
sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun
dalam semangatnya (Poerwantana et al, 1988: 8).
F. ILMU-ILMU LAIN YANG BEROBJEK HUKUM
Setelah memahami filsafat hukum dengan berbagai sifatnya, perlu juga
diketahui keterkaitan antara filsafat hukum ini dengan ilmu-ilmu lain yang
juga berobjek hukum. Suatu pembidangan yang agak lengkap tentang
ilmu-ilmu yang objekhya hukum diberikan oleh Purnadi Purbacaraka dan
Soerjono Soekanto (1989: 9 et secj.). Kedua penulis tersebut memberikan
pembidangan sebagai berikut:
Politik Hukum
DISIPLIN
HUKUM
Filsafat Hukum
Ilmu tentang norma
Ilmu Hukum
Ilmu tentang pengertian hukum
Ilmu tentang kenyataan hukum
Sejarah Hukum
Sosiologi Hukum
Psikologi Hukum
Perbandingan Hukum
Antropologi Hukum
Istilah “disiplin hukum” sendiri sebenarnya dialihbahasakan oleh Purnadi
Purbacaraka dan Soerjono Soekanto dari kata legal theory, sebagaimana
dimaksudkan oleh W. Friedmann. Hal ini juga tampak dalam terjemahan
karya Friedmann oleh Purnadi Purbacaraka dan Chidir Ali (1986: vii) yang
diberi kata sambutan oleh Soerjono Soekanto. Penerjemahan legal theory
dengan “disiplin hukum” di sini mungkin akan membingungkan, mengingat
untuk istilah yang sama oleh penerjemah lain (Mohammad Arifin: 1990)
digunakan istilah “teori hukum”.
Disiplin hukum, oleh Purbacaraka, Soekanto, dan Chidir Ali,
diartikan sama dengan teori hukum dalam arti luas, yang mencakup politik
hukum, filsafat hukum, dan teori hukum dalam arti sempit. Teori hukum
dalam arti sempit inilah yang disebut dengan ilmu hukum.
22
Ilmu
hukum
dibedakan
(Normwissenschaft),
ilmu
menjadi
tentang
ilmu
tentang
pengertian
norma
hukum
(Kamphuysen/Begriffenwissenschaft), dan ilmu tentang kenyataan hukum
(Tatsachenwissenschaft). Ilmu tentang norma antara lain membahas
tentang perumusan norma hukum, apa yang dimaksud norma hukum
abstrak dan konkret itu, isi dan sifat norma hukum, esensialia norma
hukum, tugas dan kegunaan norma hukum, pernyataan dan tanda
pernyataan norma hukum, penyimpangan terhadap norma hukum, dan
keberlakuan norma hukum. Selanjutnya, ilmu tentang pengertian hukum
antara lain membahas tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat
hukum, subjek hukum, objek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum,
dan hubungan hukum. Kedua jenis ilmu ini disebut dengan ilmu tentang
dogmatik hukum. Ciri dogmatik hukum tersebut adalah tooretis rasional
dengan menggunakan logika deduktif.
Ilmu tentang kenyataan hukum antara lain meliputi sosiologi hukum,
antropologi hukum, psikologi hukum, perbandingan hukum, dan sejarah
hukum. Sosiologi hukum mempelajari secara empiris dan analitis
hubungan timbal '' balik antara hukum sebagai gejala dengan gejala-gejala
sosial lainnya. Antropologi hukum mempelajari pola-pola sengketa dan
penyelesaiannya, baik pada masyarakat sederhana maupun masyarakat
yang
sedang
mengalami
proses!
modernisasi.
Psikologi
hukum
mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan perkembangan jiwa
manusia. Perbandingan hukum adalah cabang ilmu (hukum) yang
memperbandingkan sistem-sistem hukum yang berlaku di dalam satu atau
beberapa
masyarakat.
Sejarah
hukum
mempelajari
tentang
perkembangan dan asal usul dari sistem hukum dalam suatu masyarakat
tertentu (Purbacaraka & Soekanto, 1989: 10-11). Berbeda dengan ilmu
tentang norma dan ilmu tentang pengertian hukum, ciri ilmu tentang
kenyataan hukum ini adalah teoretis empiris dengan menggunakan logika
induktif.
23
Politik hukum mencakup kegiatan-kegiatan memilih nilai-nilai dan
menerapkan nilai-nilai. Filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan
nilai-nilai; kecuali itu filsafat hukum juga mencakup penyerasian nilai-nilai,
misalnya penyerasian antara ketertiban dan ketenteraman, antara
kebendaaan
kelanggengan
(materialisme)
nilai-nilai
dan
lama
keakhlakan
(idealisme),
(konservatisme)
dan
antara
pembaruan
(Purbacaraka & Soekanto, 1989: 11). Dapat pula ditambahkan, bahwa
politik hukum selalu berbicara tentang hukum yang dicita-citakan (ius
constituendum), dan berupaya menjadikannya sebagai hukum positif (ius
constitutum) pada suatu masa mendatang.
Dari pembidangan yang diuraikan di atas, tampak bahwa filsafat
hukum tidak dimasukkan sebagai cabang dari ilmu hukum, tetapi sebagai
bagian dari teori hukum (legal theory) atau disiplin hukum. Teori hukum
dengan demikian tidak sama dengan filsafat hukum karena yang satu
mencakupi yang lainnya. Satjipto Rahardjo (1986: 224-225) menyatakan,
teori hukum boleh disebut sebagai kelanjutan dari usaha mempelajari
hukum positif, setidak-tidaknya dalam urutan yang demikian itulah kita
mengkonstruksikan kehadiran teori hukum secara jelas.
Teori hukum memang berbicara tentang banyak hal, yang dapat
masuk ke dalam lapangan politik hukum, filsafat hukum, atau ilmu hukum,
atau kombinasi dari ketiga bidang itu. Karena itulah, teori hukum dapat
saja pada satu ketika membicarakan sesuatu yang bersifat universal,
tetapi tidak tertutup kemungkinan ia berbicara mengenai hal-hal yang
sangat khas menurut tempat dan waktu tertentu. Uraian tentang filsafat
hukum dan teori hukum di atas kiranya akan berguna dalam rangka
menjelaskan kelak mengenai apa dan di mana letak filsafat hukum dan
teori hukum Indonesia.
24
BAB II
PERSOALAN MENDASAR FILSAFAT HUKUM
Adanya istilah legal philosophy, mengundang komentar antara lain dari
Mochtar Kusumaatmadja. Beliau mengatakan bahwa legal philosophy
tidak sama dengan filsafat hukum. Istilah filsafat hukum sebaiknya kalau
diterjemahkan ke dalam bahasa asing yakni: philosophy of law atau
Rechts fiosofie. Selanjutnya, istilah legal dan legal philosophy sama
dengan
undang-undang
atau
resmi,
jadi
kurang
tepat
sebagai
pengertian/peristilahan yang sama dengan filsafat hukum. Hukum bukan
hanya undang-undang, dan hukum bukan hal-hal yang sama dengan
resmi belaka.
Pengertian filsafat hukum sangat beragam, dapat disebutkan di
antaranya adalah:
a. Filsafat hukum merupakan ilmu. Hal ini dikemukakan oleh para filosof
seperti Plato dan Aristoteles. Ilmu di sini diartikan sebagai kegiatan
berpikir;
b. Filsafat
hukum
sebagaimana
berkaitan
dijelaskan
dengan
oleh
persoalan
Gustav
nurani
Radbruch.
manusia
Mochtar
Kusumaatmadja mengatakan bahwa filsafat hukum merupakan bagian
dari filsafat yang objeknya khusus hukum. Memang kalau kita
hubungkan dengan skema filsafat yang dikemukakan Aristoteles,
bahwa filsafat memiliki bagian-bagian sebagai berikut:
1) logika;
2) teoretis
(kosmologi),
yang meliputi: ilmu pengetahuan alam,
matematika, metafisika;
3) Praktis (etika), yang diatur: norma agama, norma kesopanan, norma
kesusilaan, norma hukum; dan juga bisa diartikan yang ada
hubungannnya dengan norma politik dan norma ekonomi.
4) Poetika (aestetika), yang meliputi kesenian, keindahan (pemandangan, lukisan).
25
Jadi filsafat hukum kalau dikaitkan dengan pendapat Aristotetes
tersebut merupakan bagian dan filsafat etika. Etika sendiri adalah
tingkah laku manusia yang baik atau yang buruk. Yang erat
hubungannya dengan (filsafat) hukum dan skema filsafat tersebut di
atas adalah (filsafat) logika dan etika. Logika, mengenal pengertianpengertian hukum, sedangkan etika adalah tingkah laku manusia yang
diatur oleh norma hukum.
c. Filsafat hukum merupakan filsafat khusus, hal ini dikemukakan oleh
Zevenbergen. Kalau kita analisa, ada juga yang khusus yang lainnya
seperti filsafat agama, kesopanan dan kesusilaan.
d. Filsafat hukum merupakan filsafat terapan, hal ini dikatakan oleh
Zoachim Friedrich. Bila kita analisa artinya, bahwa filsafat hukum
dapat diterapkan di dalam masyarakat dengan cara menyusun teori
hukumnya. Seperti kita ketahui teori hukum itu sendiri menyangkut
dasar-dasar bagaimana menyusun hukum positif. Kalau kita ambil
contoh di Indonesia, filsafat hukum yang ada dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945, yaitu pada alinea pertama, kedua dan
keempat yang berisi kata-kata: peri keadilan; adil; keadilan sosial,
dijabarkan dalam pasal-pasal di dalam Batang Tubuhnya.
e. Filsafat hukum merupakan filsafat praktis, hal ini lebih banyak
dikemukakan para ahli dari dunia Anglo-Amerika. Dapat kita artikan,
bahwa filsafat hukum agar mudah diterapkan harus disusun pula teori
hukumnya; atau kalau kita hubungkan dengan pengertian jurisprudence
dapat dikatakan sama artinya. Mochtar Kusumaatmadja memberi
pengertian pada yurisprudensi yaitu ilmu yang mempelajari pengertian
dasar dan sistem daripada hukum secara lebih mendalam. Pengertianpengertian dasar dan sistem hukum tersebut, disebut pula sebagai teori
hukum, seperti subjek hukum; hak dan kewajiban; peristiwa hukum;
hubungan hukum; dan objek hukum yang dapat kita lihat dalam sistem
hukum perdata; pidana; adat; tata negara; internasional; administrasi
negara. Sedangkan pengertian secara lebih mendalam
adalah
26
menyangkut filsafat hukumnya, sebagai contoh Undang-Undang Dasar
1945, filsafat hukum ada pada Pembukaan, teori hukumnya terdapat
pada
Batang
Tubuhnya.
Begitu
pula
undang-undang
sebagai
pelaksanaan Undang-undang Dasar disebut pula sebagai undangundang organiknya, filsafat hukumnya terdapat di dalam konsiderans
undang-undang tersebut yang menunjuk pasal Undang-Undang Dasar
berarti pula jiwanya tidak terlepas dan pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945.
Kalau kita ambil contoh filsafat terapan adalah: peranan
hukum sebagai masyarakat yang aslinya Law as a tool of social
engineering sebagai konsep Roscoe Pound yang menggambarkan
situasi Amerika Serikat, di mana masyarakat Amerika Serikat yang ras
discriminated. Hal ini bertentangan dengan konstitusi Amerika Serikat
sendiri, antara lain dikatakan bahwa semua warga negara Amerika
Serikat “equal before the law” (sama di hadapan hukum). Jadi konsep
ini hanya dapat diterapkan di Amerika Serikat saja. Sedangkan filsafat
praktis, contohnya: konsep hukum sebagai sarana pembaharuan
masyarakat seperti dikemukakan Mochtar di mana hal ini mudah
diterapkan di dalam masyarakat Indonesia yang sedang membangun
dan
menuju
modernisasi
(Mochtar
Kusumaatmadja,
“Hukum,
Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional” [Paper]);
f. Filsafat hukum merupakan filsafat teoretis. Pandangan ini pada
umumnya dikemukakan oleh para ahli yang berasal dari Eropa
Kontinental, antara lain dikemukakan oleh Bellefroid. Menurut
Bellefroid dalam Inleiding tot de Recht Wettenschap, bahwa ilmu-ilmu
hukum meliputi:
1) Recht dogmatiek;
2) Algemeine Recht leer (termasuk di dalamya teori hukum);
3) Recht Sociologie, Recht vergelijking, Recht historie;
4) Recht Politiek;
5) Recht filosofie.
27
Jadi pengertian teoretis di sini, bahwa filsafat hukum dibicarakan
tersendiri begitu pula teori hukum (termasuk bagian dan Algemeine
Recht leer).
Adapun yang menjadi latar belakang mengapa demikian, yakni: di
mana masyarakat Eropa pada umumnya bersifat konservatif. Tujuan
hukum, hanya ketertiban guna mencapai keadilan; tidak akan terjadi
bahwa hukum dapat berperan untuk merubah perilaku konservatif
tersebut. Orientasi masyarakat Eropa adalah pada masa keemasannya
yang terjadi pada abad yang telah lampau; jadi jika ada perubahan
berarti masa keemasan tersebut akan pudar.
g. Bender berpendapat bahwa: filsafat adalah genus, filsafat etika adalah
spesies, dan filsafat hukum merupakan sub spesiesnya.
A. RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM
Menurut Aristoteles, filsafat meliputi:
1) Logika
2) Filsafat teoritis, yang meliputi: ilmu pengetahuan alam, matematika,
metafisika (filsafat kosmologi).
3) Filsafat praktis, yang meliputi: etika, politik, ekonomi. Filsafat hukum,
merupakan bagian daripada filsafat etika (yang mengatur tingkah laku
manusia tentang hal-hal yang baik dan yang buruk); bagian yang
lainnya dari filsafat etika adalah kesopanan, kesusilaan, dan agama.
4) Poetika (aestetika), misalnya: kesenian dan lain sebagainya.
Menurut apa yang terdapat dalam encyclopedic, bahwa filsafat
meliputi:
1) metafisika;
2) logika;
3) filsafat mengenal;
4) filsafat pengetahuan;
5) filsafat alam;
6) filsafat kebudayaan;
28
7) etika;
8) estetika;
9) filsafat manusia.
Filsafat hukum merupakan bagian dari ilmu-ilmu hukum. Hal ini
dikemukakan antara lain oleh: Beilefroid, Zevenbergen, Utrecht.
Adapun yang menjadi masalah filsafat hukum adalah:
1) Masalah tujuan hukum, yang meliputi ketertiban guna mencapai
keadilan (Roscoe Pound), kepastian hukum (aliran Positivisme
Hukum),
kedamaian
(keserasian
antara
ketertiban
dengan
ketentraman, Soerjono Soekanto), kebahagiaan (Jeremy Bentharn),
hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat (Roscoe Pound).
2) Masalah
mengapa
orang
menaati
hukum,
antara
lain
seperti
dikemukakan oleh Demousteneus yakni: karena hukum berasal dari
Tuhan, berasal dari kebiasaan orang yang bijaksana, berasal dari
kesusilaan, berasal dari persetujuan.
3) Masalah mengapa negara berhak menghukum, antara lain seperti
dikemukakan oleh Hans Kelsen (teori kedaulatan negara).
4) Masalah hubungan hukum dengan kekuasaan, seperti dikemukakan
Mochtar Kusumaatmadja (Paper I, 1970) bahwa hukum tanpa
kekuasaan adalah angan-angan dan kekuasaan tanpa hukum adalah
kelaliman.
5) Masalah pembinaan hukum, menurut Mochtar Kusumaatmadja
masalah tersebut meliputi kegiatan-kegiatan:
a. mempertahankan hukum yang pernah ada yang dianggap masih
memadai, contoh diberlakukannya monumen Ordonantie dengan
dasar hukum keputusan Presiden.
b. memperbaharui/merubah hukum-hukum yang pernah ada yang
dianggap masih
bisa
dipergunakan,
contohnya:
UU
tentang
narkotika, UU hak cipta, dan lain sebagainya.
6) Masalah-masalah Hakikat Hukum, dilihat dari (Noto Hamijoyo):
1. Asal mula hukum (teori imperatif), yang didukung oleh teori-teori:
29
a) Teokrasi, berarti asal mula hukum datang dari Tuhan (Thomas
Aquinas, Augustinus);
b) Kedaulatan hukum, berarti asal mula hukum datang dari
kesadaran hukum masyarakat (Hans Krabbe);
c) Kedaulatan negara, berarti asal mula hukum datang dari negara
(Kelsen, Paul Laband, dan Jellinek). Perbedaan antara Kelsen
di satu pihak yang orientasinya normatif di lain pihak Paul Laband
dan Jellinek yang orientasinya politis;
d) Perjanjian masyarakat, berarti asal mula hukum datang atau
karena adanya perjanjian masyarakat (kontrak sosial) seperti
dikemukakan Hobbes, John Locke, dan Rousseau. Pendapat
Hobbes, antara lain dalam teorinya homo homini lupus bellum
omnium contra omnes, lahirlah pactum unionis dan akhirnya
pactum subjektionis. Konstruksinya monarkhi absolut. Contoh:
Louis XIV di Perancis. John Locke, teorinya dimana dikenal
pactum unionis dan pactum subjektionis dan konstruksinya:
monarkhi
konsti-tusional.
konstitusinya
(Common
Contoh:
law).
kerajaan
Rousseau,
Inggris
dengan
teorinya
hanya
mengenal pactum uni onis. Konstruksinya demokrasi mutlak, Mac
Iver menyebut Rousseau adalah nabinya demokrasi.
Kalau Indonesia memodifikasinya dengan melalui MPR. Perlu
diketahui bahwa yang pertama menggunakan istilah imperatif,
adalah Immanuel Kant dengan pendapatnya: Katagoris Imperatif;
Dalam hal ini Immanuel Kant dipengaruhi aliran empiris yang
dipelopori David Hume. Istilah katagorisnya yang merupakan
pencerminan dan arti empiris (sosiologis). Sedangkan imperatif
mencerminkan normatif; demikian halnya dengan Hans Kelsen
sebagai neo Kantian menganut dualis yaitu das sollen dan das sein,
das sollen dilihat dari formalnya (bentuk), das sein dilihat dari
materiilnya (isinya yang mencerminkan grund norm).
30
Mochtar pun definisi hukumnya mengandung normatif dan empiris
(sosiologis) (lihat Buku Kecil ke-ll/1972, “Pembinaan hukum dalam
Rangka Pembangunan Nasional”).
2. Kenyataan-kenyataan sosial yang mendalam (teori indikatif) yang
didukung oleh Carl von Savigny sebagai pelopor mazhab Sejarah,
yaitu yang dikenal dengan istilah Volk geist (jiwa bangsa). Pendapat
von Savigny ini sebagai reaksi dari pendapat Thibout yang akan
memperjuangkan kodifikasi di Jerman karena pengaruh Kodifikasi
Yustinianus - Code Napoleon. Jadi pada waktu itu di Jerman
terdapat hukum-hukum: Kodifikasi Yustinianus (institutionis - digesta
pandec ten - Codex - Novelle); Code Napoleoni Code Civil - Code
Penal - Commerce), Jerman pernah dijajah Perancis. Hukum
kebiasaan/Germania yang macam-macam dan berlaku sebagai
pencerminan jiwa bangsa (volkgeist). Perlu diketahui pendapat
sarjana yang berkaitan dengan pendapat von Savigny antara lain
seorang Perancis yang bernama Leon Duguit tentang solidaritas
sosial.
3. Tujuan hukum dan keadilan (teori optatif) yang didukung oleh
Aristoteles, Bentham, Apeldorn, Gustav Radbruch. Menurut
Aristoteles, dimana beliau sebagai pendukung teori etis, bahwa
tujuan utama hukum adalah keadilan yang meliputi:
a. Distributif, yang didasarkan pada prestasi (jasa-jasa).
b. Komutatif yang tidak didasarkan pada jasa.
c. Vindikatif, bahwa kejahatan harus setimpal dengan hukumnya.
d. Kreatif, bahwa harus ada perlindungan kepada orang yang kreatif
(cipta).
e. Protektif, seperti contoh hangat (aktuil) adanya Bill Jenkins di AS.
f. Legalis, yaitu keadilan yang ingin diciptakan oleh UU.
Menurut Jeremy Bentham, sebagai pendukung teori kegunaan, bahwa
tujuan hukum harus berguna bagi masyarakat untuk mencapai
kebahagiaan sebesar-besarnya. Pandangan ini dipengaruhi oleh John
31
Locke dan situasi masyarakat Yunani yang dikenal dengan nama
endaemonisme. Kebahagiaan yang dimaksud dapat meliputi individu,
juga masyarakat; seperti dikemukakan oleh Halvethius dan Beccaria.
Bentham pantas menjadi Bapak hukum Inggris, karena pandangan
tersebut di atas mendukung hukum yang berlaku di Inggris yaitu
Common law. Apeldorn, sebagai pendukung teori campuran yang
meliputi etis (keadilan) dan kegunaan. Jadi tujuan hukum harus tercapai
bila hukum itu harus memenuhi rasa keadilan dan berguna bagi warga
masyarakat. Gustav Radbruch berpendapat bahwa tujuan hukum
meliputi: keadilan, kegunaan, dan kepastian hukum. Mengenai keadilan
secara khusus dengan melihat masa-masa atau abad dengan mulai
masa Yunani, kemudian abad pertengahan, abad ke-15, 16, 17, 18, 19
dan abad ke-20. Pada masa Yunani seperti dikemukakan oleh Plato
dan Aristoteles. Menurut Plato, keadilan merupakan cerminan tertib
individu dan menggambarkan keadaan harmonis.
Pada masa abad pertengahan, seperti dikemukakan oleh Thomas
Aquinas bahwa ada keadilan menurut Tuhan dan keadilan menurut
ukuran manusia seperti terlihat dalam lex aeterna, lex divina, lex
naturalis, dan lex positive.
Pada zaman modern, seperti dicerminkan pada masa Renaissance
(hukum dan pribadi); juga masa Aufklaerung (hukum dan rasio); masa
abad ke-19 (hukum dan sejarah, hukum dan ilmu pengetahuan).
Pada abad ke-20 (hukum dan humanisme hidup, hukum dan keadilan),
seperti antara lain dikemukakan oleh Kranenburg bahwa keadilan
adalah adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban (teori “ev
postulat'), begitu pula seperti dikemukakan Mochtar Kusumaatmadja
bahwa keadilan adalah suatu keadaan yang mencerminkan nilai-nilai
yang tumbuh dan berkombang bersama-sama dengan masyarakat.
7) Masalah-masalah Filsafat Hukum Dilihat dari Konsep-konsep Hukum
dan Aliran-aliran Hukum.
32
a. Aliran hukum alam, konsepsinya bahwa hukum berlaku universal
dan abadi, para pendukungnya adalah: Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Grotius (Hugo de Groot). Plato dan Aristoteles
merumuskan tentang keadilan sebagai rekaman dialog antara
Socrates dan Kaum Sofi. Kaum Sofi dalilnya: mempertahankan
penguasa, bahwa penguasa adalah orang pilihan, dan pada waktu
itu pilihan terletak pada faktor darah (darah biru, bangsawan) yang
patut menjadi pemimpin/penguasa dikenal dengan nama raja
(masa Yunani). Sedangkan dalil Socrates karena melihat adanya
tindakan sewenang-wenang dan raja tersebut. Selanjutnya Plato
berpendapat, bilamana ada ketidakcocokan antara hukum alam
dengan hukum positif, maka yang akan didahulukan adalah hukum
alam (disebut sebagai seorang idealis). Sedangkan Aristoteles bila
terjadi hal tersebut di atas maka yang akan didahulukan adalah
hukum positif (disebut sebagai seorang realis). Thomas Aquinas
dikenaj pendapatnya membagi hukum (lex) dalam urutan mulai
yang teratas -lex aeterna (hukum abadi), bawahnya lex divina
(Hukum Tuhan), kemudian lex naturalis dan lex positive. Urutannya
demikian disebabkan adanya pengaruh agama. Sebagai contoh lex
aeterna = ten commandemen (10 perintah Tuhan); lex divina yang
ada pada Kitab Suci, seperti Al Qur'an dimana dibuat oleh Tuhan
(yakni Allah) akan tetapi disertai rasio manusia yaitu di dalam
sistimatika Al Qur'an/yang dilakukan oleh para sahabat Nabi
Muhammad SAW, dimana surat pertama bukan merupakan wahyu
pertama, lex naturalis = hukum alam, artinya antara lain mengenai
keadilan bahwa di seluruh dunia ada keadilan, hanya ukuran yang
berbeda-beda sebagai pengaruh pandangan hidup masing-masing
bangsa maupun negara (sistem nilai). Lex positive = hukum yang
dibuat manusia bersifat positif sebagai hukum yang berlaku
(terbatas waktu berlakunya, yaitu sampai dicabut).
33
Grotius (Hugo de Groot), yang dianggap sebagai Bapak Hukum
Internasional, karangannya yang terkenal antara- lain: Belluma
Paccis; bellum = hukum perang, Paccis = hukum damai. Mare
Liberium = laut bebas, artinya setiap kapal berbendera apapun
boleh melalui laut tersebut.
Sebagai contoh di Indonesia, yakni di luar batas 200 mil dengan
mengukurnya dari pantai dan kepulauan Indonesia,
b. Aliran Positivisme Hukum ini konsepnya bahwa hukum merupakan
perintah penguasa yang berdaulat (John Austin) dan merupakan
kehendak daripada negara (Hans Kelsen). Austin, berasal dari
Inggris beranggapan bahwa hukum berisi perintah, kewajiban,
kedaulatan, dan sanksi.
Dalam teorinya yang dikenal dengan nama analitical jurisprudence
atau teori hukum yang analitis, dikenal ada 2 (dua) bentuk hukum,
pertama: positive law (artinya undang-undang), kedua positive
morality (artinya hukum kebiasaan). Jadi logika hukum adalah
undang-undang, hukum kebiasaan akan diakui bila dikukuhkan
menjadi undang-undang oleh pejabat yang berwenang (yaitu badan
legislatif). Istilah kedaulatan di sini mencerminkan adanya pengaruh
Jean Bodin yang dikenal pandangannya tentang souverignity
(kedaulatan) dan pengaruh legisme (yang menganggap satusatunya sumber hukum formil adalah undang-undang). Di samping
hal tersebut Austin juga dipengaruhi situasi pada waktu belajar di
jerman yang pada waktu itu perjuangan kodifikasi (pembukuan
undang-undang yang sejenis) dilakukan Thibout sebagai pengaruh
kodifikasi Romawi Justinianus dan Code Napoleon. Sedangkan
positive morality, bahwa beliau tidak meninggalkan identitasnya
sebagai seorang Inggris yang mengakui sumber hukum Common
Law. Hans Kelsen, orang Jerman yang dikenal dengan 4 (empat)
penda-patnya, yaitu:
34
1)
Teori hukum yang murni, bahwa hukum harus dibersihkan
dari anasir-anasir yang non yuridis. Pengertian non Yuridis,
bahwa tidak ada kaitannya dengan unsur etis, sosiologis, politis,
dan filosofis, jadi harus murni yuridis normatif yang bersih dari
hal-hal yang menyangkut baik buruk nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat, kekuasaan, dan keadilan.
2) Pandangan Kelsen yang kedua yakni tentang rule of law berarti
penegakan hukum. Dalam hal mi mengandung arti sebagai
berikut:
a. hukum itu ditegakkan demi kepastian hukum;
b. hukum itu dijadikan sumber utama bagi hakim dalam memutus
perkara (terompet undang-undang/22 A.B.);
c. hukum itu tidak didasarkan pada kebijaksanaan dalam
pelaksanaannya;
d. hukum itu bersifat dogmatik.
3) Pandangan ketiga yakni Stufen bau des Recht, bahwa hukum itu
bersifat hierarkis artinya katentuan yang paling bawah tidak
boleh
bertentangan
dengan
ketentuan
yang
lebih
atas
derajatnya. Yang paling atas adalah Grundnorm, kemudian
bawahnya konstitusi, selanjutnya bawahnya lagi adalah undangundang dan yang paling bawah adalah putusan hakim
pengadilan.
4) Pandangan keempat disebut sebagai dualis karena Kelsen
menganggap ada dua macam hukum, pertama hukum dalam arti
bentuknya (formil disebut juga sebagai das Soiled, yang kedua
hukum dalam arti isi/nyatanya (materiil) disebut sebagai das
Sein, sebagai pengaruh grundnorm (atau politik hukum). Kelsen
disebut pula sebagai pengikut Neo-Kantian.
c. Mazhab Sejarah yang lahir di Jerman dan dipelopori oleh Carl von
Savigny,
sebagai
reaksi
terhadap
usaha
Thibout
yang
menghendaki adanya kodifikasi di Jerman (sebagai pengaruh
35
adanya kodifikasi Yustinianus dan Code Napoleon, dimana Jerman
pernah dijajah oleh Perancis). Konsep hukumnya, bahwa hukum
tidak dibuat melainkan tumbuh dan berkembang bersama-sama
dengan
masyarakat.
Konsep
ini
dipengaruhi
oleh
agama
(Supernatural), seperti halnya di Indonesia (pengaruh mazhab
Sejarah) dengan berlakunya hukum adat yang ditentukan oleh
keseimbangan magis-religius (kosmis).
Savigny dianggap sebagai pelopor dalam memperkenalkan
sumber hukum formal yakni hukum kebiasaan, yang dicerminkan
dalam volkgeist (jiwa bangsa Germania yang ternyata bermacammacam).
d. Aliran Sociological Jurisprudence, yang dipelopori oleh Eugen
Ehrlich (asal Jerman), akan tetapi ternyata berkembang di Amerika
Serikat (Roscoe Pound). Konsep hukumnya, bahwa hukum yang
dibuat agar memperhatikan hukum yang hidup dalam masyarakat
(living law) baik tertulis maupun tidak tertulis. Hal ini berarti bahwa
aliran ini mengakui sumber hukum formal baik undang-undang
maupun bukan undang-undang asal sesuai dengan living law.
Selanjutnya aliran ini dipengaruhi oleh aliran positif-sosiologis dan
August Comte yang orientasinya sosiologis.
e. Aliran Pragmatic Legal Realism, yang lahir di Amerika Serikat
dengan pelopornya Roscoe Pound. Pengertian “pragmatic” di sini
adalah berguna sesuai dengan kebutuhan masyarakat (kulit
berwarna/hitam terhadap sikap ras diskriminasi dari kulit putih).
Konsep hukumnya, bahwa hukum dapat berperan sebagai alat
pembaharuan masyarakat (law as a tool of social engineering).
Sikap mental masyarakat kulit putih ini sebetulnya bertentangan
dengan Konstitusi AS sendiri (equal before the law, bahwa hukum
menganggap semua warga AS sama).
Perlu diketahui ada realisme hukum yang berkembang di AS yang
dipelopori Holmes, Frank dan Llewellyn, yang menganggap
36
bahwa yang realis itu adalah adanya subjektivitas hakim (sumber
hukum utama dalam praktik adalah yurisprudensi dan Supreme
Court). Realisme hukum ini disebut pula sebagai gerakan (bukan
aliran) karena tidak punya konsep apakah hakim itu harus
bagaimana, meskipun gerakan ini mempunyai pengikut. Begitu pula
halnya yang ada di Skandinavia yang dipeloponi oleh Hagerstrom,
Lundstedt, Olivercrona, dan Alf Ross yang mengatakan bahwa
tidak setuju adanya metafisika dalam hukum (dianggap tidak realis).
Pragmatisme (filsafat pragmatis) yang dikemukakan Wiliam James
dan Dewey mempengaruhi lahirnya aliran Pragmatic Legal
Realism.
f. Aliran Marxis Yurisprudence, yang dipelopori oleh Marx bahwa
Hukum harus memberi perlindungan kepada golongan proletar
(golongan
ekonomis
lemah).
Pandangan
ini
kemudian
dikembangkan dengan adanya Neo - Marxisme seperti: Marxisme
Ortodoks = Lenin, Revisionisme = Bernstein, Neo-marxisme =
Gramsci,
Lukachs,
Bloch,
Garandy.
Frankfurt-Schule
=
Horkheimer, New-Left = Marcuse.
g. Aliran Anthropological Jurisprudence, yang dipelopori Northrop
dan Mac Dougall. Northrop dalam karangannya tentang “Culture
values”,
bahwa
hukum
mencerminkan
nilai
sosial-budaya.
Sedangkan Mac Dougall tentang 'Values System”, bahwa hukum
mengandung
sistem
nilai.
Kedua
ahli
tersebut
di
atas
mempengaruhi pendapat Mochtar Kusumaatmadja seperti terlihat
dalam Buku-kecilnya yang berjudul: “Fungsi dan Perkembangan
Hukum dalam Pembangunan Nasional” (1970), dalam butir empat
tentang hukum dan nilai sosial-budaya yang dicerminkan adanya
berbagai hukum adat (van Vollenhoven mengatakan bahwa di
Indonesia terdapat 19 lingkaran hukum adat). Hal ini tercermin pula
dalam sila Persatuan dan filsafat Bangsa Indonesia yang terdapat
dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat.
37
Seperti kita ketahui bahwa keadilan (sistem penilaian) diukur
dengan adanya keseimbangan kosmis (magis religius).
h. Mazhab Unpad.
1. Lahirnya di Unpad pada tahun 1976, dalam tujuan men-cetak
sarjana hukum yang mampu membina hukum (academic lawyers
d; samping practical lawyers).
2. Pencetusnya: Mochtar Kusumaatmadja (Dekan Fakultas ,
Hukum UNPAD).
3. Konsep hukumnya “Hukum dapat berfungsi sebagai sarana
pembaharuan masyarakat” (sebagai modifikasi konsep Roscoe
Pound, “law as a tool of social-engineering”). (Buku-kecil ke-3,
“Hukum, masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional”).
4. Kemudian
menjadi
mazhab
Pemerintah,
Filsafat
Hukum
Pembangunan terlihat dalam GBHN 1973-1983, dan Teori
Hukum Pembangunannya pada Pelita II Bab 27 dan Pelita III
Bab 23 (mengenai hukum).
B. PERMASALAHAN FILSAFAT HUKUM
a. Paton, dalam bukunya yang berjudul “A Text Book of Jurisprudence”;
Sistematikanya:
Bab I
: Pengantar (membicarakan aliran-aliran filsafat hukum yang
mendukung konsepnya).
Bab II : Tujuan hukum (memperhatikan kepentingan individu dan
kepentingan masyarakat).
Bab III : Sumber hukum.
Bab IV : Teknik hukum.
Bab V : Hukum Publik.
Bab VI : Hukum Perdata.
Yang termasuk masalah filsafat hukum adalah Bab I dan Bab II.
Yang termasuk masalah teori hukum adalah Bab III, IV, V, dan VI.
38
Perlu diketahui tentang pendapat Paton tentang kepentingan
individu (dalam tujuan hukum) meliputi keluarga, hak politik (hak
memilih dan hak dipilih), juga kepentingan masyarakat yang meliputi
kesehatan umum dan kesejahteraan umum.
Definisi hukum menurut Paton, meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: putusan
pengadilan; tujuan hukum; kenyataan-kenyataan sosial. Secara
etimologis atau terminologis, Jurisprudence berasal dan kata “juris”
yang berarti hukum, dan “prudentia” (bahasa Yunani) berarti
pengetahuan. Menurut Mochtar Kusumaatmadja, Jurisprudence
adalah ilmu yang mempelajari pengertian-pengertian dasar dan
sistem dari hukum secara lebih mendalam. Ilmu yang mempelajari
pengertian-pengertian dasar dan sistem dari hukum disebut sebagai
teori hukum; Secara lebih mendalam diartikan sebagai filsafat
hukum.
Begitu pula Harris, bahwa penekanan pengertian Jurisprudence
adalah hukum dalam arti keseluruhan, jadi meliputi teori hukum juga
filsafat hukum. Sedangkan teori hukum, penekanannya pada hukum
dalam arti ajaran dan filsafat hukum penekanannya pada implikasi
nilai. Dia menjelaskan bahwa jurisprudence menyangkut teori hukum
dan keadilan. Pengertian kepentingan menurut Paton mengingatkan
pada pandangan von Ihering tentang “Interesse Jurisprudence”.
b. Friedman, dalam bukunya “Legal Theory” (1967), Sistematikanya:
Bab I: Pengantar Singkat tentang:
1. Tempat dan fungsi legal theory.
2. Filsafat dan masalah yang mendasar dan hukum.
3. Prinsip Antinomi dalam legal theory.
Bab II: Penelitian kritis terhadap legal theory yang meliputi:
1. Aliran hukum alam yang didasarkan pada nilai-nilai abadi.
2. Aliran yang didasarkan pada filsafat idealisme dan masalah
keadilan.
39
3. Aliran yang didasarkan atas pengaruh masyarakat terhadap
hukum.
4. Aliran positivisme dan positivisme hukum.
5. Aliran yang didasarkan atas kegunaan dan kepentingan.
Bab III: Legal theory dan masalah pada masanya:
1. Legal theory pada sistem kenegaraan modern;
2. Legal
theory
-
kebijaksanaan
umum
dan
perkembangan
masyarakat.
3. Legal theory dan pergaulan Intemasional.
- Judul “legal theory”, jika diterjemahkan sebagai teori hukum.
- Bab I - II - III semuanya dapat kita katakan sebagai masalah
filsafat hukum.
Teori hukum menurut Friedman, berada di antara filsafat dengan
kata lain: teori hukum harus dilandasi oleh filsafat dan teori politik
atau ideologi negaranya. Sebagai contoh kalau diterapkan di
Indonesia:
- UUD 1945 - teori hukum (dasar-dasar dalam menyusun hukum
positip) yaitu batang tubuhnya;
- filsafatnya ada pada alinea keempat dan Pembukaan UUD
1945;
- teori politik atau ideologi negara yang berbicara tentang
keadilan seperti apa yang ada pada alinea:
- satu; perikeadilan;
- dua; adil dan makmur;
- empat; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selanjutnya Friedman mengatakan bahwa bila berbicara teori
hukum akhirnya ke filsafat hukum, seperti dalam buku dan
sistematika tersebut di atas mulai dengan judul yang diterjemahkan
sebagai teori hukum, sedangkan bahasannya dalam Bab I - III
menyangkut filsafat hukum.
40
Menurut Friedman teori hukum melahirkan antinomi-antinomi, yaitu
dua nilai yang berdampingan bersitegang, misalnya antara:
1) Individu dan alam semesta.
Peranan menonjol dan individu untuk pertama kali dikemukakan
oleh Descartes: “Cogito, ergo Sum”. Dikembangkan oleh Kant
bahwa individu sebagai pencipta dunia kenyataan yang dapat
dipahami. Kemudian diteruskan oleh Fichte, bahwa dunia
merupakan hasil ciptaan dan kesadaran individu. Proyeksi Hegel
menonjolkan peranan individu dalam alam semesta, yang
dipertajam oleh aliran Fascisme. Teori hukum alam telah
menempatkan alam semesta sebagai suatu tertib yang berada di
atas manusia sebagai individu (diajarkan oleh filosof Yunani dan
ajaran skolastik teori hukum alam rasionil).
2) Voluntarism dan pengetahuan objektif.
Thomas Aquinas berpendapat bahwa kehendak ditentu-kan
oleh pengetahuan tentang kebaikan. Nietzsche beranggapan
bahwa semua pengetahuan merupakan satu teknik yang
dipergunakan demi kepentingan kehendak untuk berkuasa. Neo
Kantian berusaha membentuk ilmu hukum objektif (yang tidak
terpengaruh cita-cita politik). Kelsen mengatakan ajaran filsafat
hukum merupakan ekspresi kehendak subjektif. Skolastik
bertambah pada ketertiban ke-Tuhanan. Rasionalis mengatakan:
berasal dari prinsip akal. Kant mengatakan: bahwa lingkup
kehendak
adalah akal praktis; sedangkan ruang lingkup
pengetahuan adalah akal yang murni. Hegel mengajarkan
supremasi dan kehendak terhadap negara. Jellineck dan
Ladbruck menyerahkan pilihan pada keputusan-keputusan
pribadi, yaitu kehendak.
3)
Pikiran/kecerdasan dan intuisi.
Rasionalisme
abad
ke-18
dan
positivisme
abad
ke-19
menganalisa kehidupan dan berpikir secara intelektual sesuai
41
dengan hukum sebab-akibat. Adanya usaha untuk kembali pada
ajaran elementer tentang hubungan antara manusia dengan
alam semesta, akan tetapi melalui cara-cara yang lebih rumit.
Max Weber (1967) menemukan hukum secara intuitif (seorang
pembentuk hukum yang mempunyai wewenang kharismatis
pada masyarakat-masyarakat sederhana).
Frei rechtslehre; awal abad ke-20 yang tidak puas dengan
penafsiran analitis dan logis (kodifikasi dan UU), menyerukan
agar hakim mempunyai diskresi-bebas perasaannya tentang apa
yang benar dan apa yang salah untuk mencapai keadilan.
Krabbe (orang Belanda) mengemukakan kesadaran hukum
sebagai asas untuk membatasi kedaulatan legislatif negara yang
tidak terbatas. Petrazhitsky (seorang Rusia) mempertentangkan
antara hukum intuitif - subjektif yang tidak mutlak, dengan hukum
positif-objektif yang dipolakan secara intelektual. Del Vecchio
teorinya tentang peranan hukum yang benar dijadikan petunjuk
untuk
menimbang
derajat
kebenaran.
Geny
menerapkan
masalah pasangan nilai naluri.dan akal dalam filsafat hukum.
Fenomenologi, menyerasikan intuisi dengan pengertian dalam
pemahaman yang langsung terhadap suatu objek (Husserl,
Scheler, Hartmann).
4)
Kolektivisme dan Individualisme.
Plato
dalam
bukunya
“Republic”,
supremasi
masyarakat
sedemikian besarnya sehingga hak-hak pribadi dan lembagalembaga pribad1 (keluarga dan harta kekayaan) tidak ada
tempat. Selanjutnya dalam bukunya “Laws” lembaga-lembaga
tersebut diakui akan tetapi di bawah pengawasan yang ketat dari
negara.
Berkuasanya
polisi
rahasia,
pengawasan
negara
terhadap semua kegiatan publik dan pribadi serta pengawasan
politik yang ketat (totaliter modern) dengan menonjolkan
42
supremasi masyarakat dengan memusnahkan hak-hak pribadi
secara menyeluruh.
Gereja (Katolik) berkedudukan tinggi sebagai penafsir yang sah
terhadap hukum Tuhan dan hukum alam. Duguit, menggantikan
tertib masyarakat dan dasar ke-Tuhanan dengan disiplin sosial
dan masyarakat industrial modern, individu, dan hak pribadi tidak
ada tempat. Kelompok sosial merupakan unit yang paling efektif
dalam organisasi Solidanitas Sosial (adanya pembagian kerja).
Mazhab Stoics, semula berpaham: individu sebagai makhluk
berakal, kedudukannya terpisah dari masyarakat. Hobbes,
ajarannya tentang kategori individualisme meskipun mengarah
absolut politis. Locke, individualisme sebagai dasar teori politik
dan hukum Kant-Fichte, individualisme menjadi dasar filsafat
hukum yang diikuti Stammler dan Del Vecchio. Begitu pula
Bentham,
Spencer
(evolusi),
dan
Geny,
hanya
pengungkapannya berbeda-beda. Yang terkuat terdapat dalam
Konstitusi AS.
Hegel, mengkombinasikan cita-cita individu dengan wewenang
yang Superior dan masyarakat yang diekspresikan dalam
negara. Hegel memuji negara Fascis. Fichte, bertitik tolak pada
kebebasan individu yang dianggap sebagai kerangka kehidupan
sosial-ekonomis masyarakat. Radbruch menyebutnya sebagai
ciri pokok filsafat hukum demokratis-sosialistis. Marxism, secara
teoritis
bahwa
subordinasi
individu
terhadap
kolektiva
dibenarkan. Hak-hak pribadi semacam itu ada/tercantum dalam
konstitusi Soviet dari tahun 1936, yang ternyata tidak dapat
diterapkan.
Inggris,
pengalamannya
dalam
menerapkan
Sosialisme secara sempit yang berasas atau meleburkan antara
perlindungan kebebasan individu yang pokok dengan kewajibankewajiban sosial-ekonomis yang dapat dituntut oleh masyarakat.
5)
Demokrasi dan Otokrasi.
43
Locke dan Rousseau gagal dalam menjelaskan, hak tertinggi
mayoritas dapat berproses secara berdampingan dengan hak
asasi manusia. Perkembangan hukum AS, di mana fungsi hakim
didukung hak pribadi yang tidak jarang bertentangan dengan
kehendak mayoritas yang tercermin melalui fungsi legislatif.
Menurut Hobbes, individualisme terkait dengan absolutisme.
Menurut Duguit, kolektivisme bersifat otokratis karena mengikat
penguasa dan warga pada suatu asas objektif.
Adanya kemungkinan untuk membenarkan adanya hak pribadi
tanpa mengadakan pengawasan politik terhadap masyarakat.
Perkembangan-perkembangan sosial dapat menuntut suatu
bentuk pemerintahan yang berbeda dan demokrasi parlementer
tanpa menyinggung masalah perkembangan individu atau
berkuasanya masyarakat sebagai tujuan dan pada kehidupan
politik. Suatu bentuk oligarkhi penguasa, misalnya dapat dipilih
dan masyarakat atas dasar pendidikan penuh dan sama rata
bagi semua.
6)
Nasionalisme dan Intemasionalisme.
Filsafat hukum individual seringkali bersifat kosmopolitan,
sedangkan kolektivis bersifat nasionalis, meskipun tidak selalu
demikian. Secara historis, penonjolan hak asasi seringkali
dihubungkan dengan revolusi terhadap negara, otoritas dan
kepercayaan pada persamaan derajat manusia. Sebagaimana
halnya kaum Stoics dan Kant, cita-cita persamaan derajat
seringkali
menyebabkan
kalangan
demokrat
bersifat
internasionalis.
Fichte - Hegel - Binder, bercita-cita kolektivisme termasuk
golongan nasionalis yang mengagungkan negara nasional.
Hegel, secara esensil bersifat anti individualistis, tidak akan
terpengaruh
apabila
filsafat
tadi
tetap
berpegang
pada
44
perkembangan dialektik dan suatu negara ke suatu liga
internasional atau suatu organisasi internasional lainnya.
Skolastik, mengenai masyarakat yang bersifat anti individualistis
dan otoriter, merupakan konsep yang bersifat internasional.
Secara politis, masalah nasionalisme dan internasionalisme
merupakan
pertentangan
cita-cita
politik.
Secara
yuridis,
masalah bagaimana memberikan kualifikasi pada kedaulatan
hukum.
7)
Positivisme dan Idealisme.
Filsafat hukum mengikuti
antagonisme elementer dengan
kecenderungan bersifat positivis atau metafisis. Pertentangan
antara idealisme dengan materialisme, walaupun tidak identik
berproses secara berdampingan. Filsafat hukum idealistis
mempergunakan metode deduksi di dalam menarik hukum dan
asas-asas yang didasarkan pada manusia sebagai makhluk etis
dan rasionil, filsafat hukum positivis menganggap hukum sebagai
sesuatu yang ditentukan oleh ruang lingkup isinya.
Suatu bentuk ekstrim dan realisme sosial adalah Marxisme, yang
memandang hukum sebagai “super-struktur” yang ditentukan
oleh Subsratum ekonomi, yakni pemilihan fasilitas produksi.
Filsafat hukum materialistis sebenarnya bersifat idealistis, karena
mendeduksikan kaidah-kaidah hukum dan asas-asas yang
ditetapkan secara apriori. Duguit adalah seorang idealis yang
berkedok materialis yaitu seorang empiris karena profesinya,
tetapi dari sudut jiwanya merupakan ahli filsafat yang aprioritas.
Paham solidaritas sosialnya yang merupakan faktor yang dapat
diamati, sebenarnya merupakan suatu ide hukum alam modern.
Spencer, sebagai penerap positivisme biologis, merupakan
suatu ekspresi dan asas-asas metafisik, yaitu kepercayaan pada
evolusi manusia ke arah kebebasan yang lebih besar melalui
organisasi industrial. Pertentangan-pertentangan tersebut di atas
45
tidak henti-hentinya, bila jemu pada cita-cita dan abstraksi akan
berpaling pada hal-hal yang konkrit dan fakta positif (tindakan
dan kekuasaan); dan bila kecewa pada hal yang konkrit kembali
ke cita-cita dan asas-asas metafisik.
8)
Stabilitas dan Perubahan.
Roscoe Pound, berpendapat bahwa adanya ketegangan antara
tradisi dan kemajuan, stabilitas dengan perubahan, kepastian
dengan keluwesan. Tugas hukum antara lain ketertiban, adanya
penekanan pada stabilitas dan kepastian. Ahli-ahli lain yang
berpendapat demikian seperti: Kelsen, Skolastik von Savigny,
Austin; Konstitusi AS.
Hal yang sebaliknya, seperti Max Weber, teori Utility (Bentham),
Leon Duguit, Marxisme, Roscoe Pound. Selanjutnya, dapat
pula dikatakan bahwa Friedman dalam buku karangannya
tersebut di atas bisa dikatakan uraiannya sebagai atau
menyangkut masalah jurisprudence, karena berisi teori (legal
theory) dan filsafat hukum (sistimatika bukunya Bab I - Bab III).
Hal yang menyangkut antinomie bisa diartikan sebagai filsafat
atau juga filsafat hukum.
c. Roscoe Pound
Dalam bukunya: “An Introduction to The Philosophy of Law”, dengan
sistematika sebagai berikut:
BAB I
: Fungsi Filsafat Hukum.
BAB II
: Tujuan Hukum.
BAB III
: Penerapan Hukum.
BAB IV : Pertanggungan Jawab.
BABV
: Milik
BAB VI : Kontrak
Melihat judulnya Roscoe Pound, bahwa beliau setuju dengan istilah
Philosophy of Law. Bab I dan Bab II, dapat kita simpulkan sebagai
masalah filsafat hukum. Bab IV - V - VI, dapat disimpulkan sebagai
46
teori hukumnya. Adapun yang menjadi fungsi filsafat hukum dapat
dikatakan sebagai atau untuk menguji hukum positip tentang
efektivitasnya. Menurut Roscoe Pound fungsi filsafat hukum adalah
untuk mengukur apakah kaidah-kaidah, doktrin-doktrin dan lembagalembaga dapat bermanfaat bagi masyarakat; juga memimpin
penerapan hukum dengan menunjuk pada tujuan hukum (filsafat
hukum sedang menegakkan kepalanya di mana-mana).
Sedangkan tujuan hukum menurut Pound adalah untuk ketertiban
guna mencapai keadilan dan hukum sebagai alat pembaharuan
masyarakat Claw as a tool of social engineering', dalam bukunya
“Task of Law”). Pound juga berpendapat bahwa filsafat dapat
dipergunakan sebagai alat untuk memahami persoalan-persoalan
secara filosofis; dan berdaya upaya untuk dapat memberikan suatu
gambaran (ilustrasi) yang lengkap mengenai suatu peta kesusilaan
hukum - politik untuk sepanjang masa. (Filsafattelah menjadi suatu
alat/perkakas yang berkuasa di dalam gudang persenjataan hukum).
d. Mochtar Kusumaatmadja
Buku-kecil pertama yang diterbitkan pada tahun 1970 (bahan
seminar LIPI tentang pengaruh sosial budaya dalam masyarakat),
yang
berjudul:
Fungsi
dan
Perkembangan
Hukum
dalam
Pembangunan Nasional sistematikanya sebagai berikut:
1) Arti hukum dan fungsinya dalam masyarakat.
2) Hukum sebagai kaidah sosial.
3) Hukum dan kekuasaan.
4) Hukum dan nilai sosial budaya.
5) Hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat.
Buku-kecil kedua (1972) (bahan diskusi Mahindo ke-5 di Jakarta),
berjudul: Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional,
yang sistematikanya sebagai berikut:
1) Hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat.
2) Perkembangan dan pembinaan hukum itu sendiri.
47
3) Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam rangka pembangunan
Nasional.
Buku-kecil ketiga (1976) (bahan Seminar LIPI dan BPHN mengenai
hubungan timbal balik antara hukum dan masyarakat), berjudul:
Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional yang
sistematikanya sebagai berikut:
1) Perkembangan pemikiran tentang hukum secara umum.
2) Konsepsi hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat.
3) Pola pelaksanaan program pembaharuan hukum.
4) Konsekuensi dan konsepsi hukum dan pembaharuan hukum bagi
pengajaran hukum.
Dari ketiga buku-kecil tersebut, dapat dikatakan bahwa:
1) Buku-kecil pertama -1970, yang menyangkut filsafat hukum
adalah:
- poin (butir) satu, fungsi hukum dalam masyarakat, antara lain
sebagai social control dan social engineering. Arti hukum itu
sendiri
dapat
dikategorikan
pada
teori
hukum,
karena
menyangkut pengertian pokok dari hukum.
- poin
(butir)
dua,
hukum
sebagai
kaidah
sosial,
dapat
diungkapkan bahwa kaidah (kaidah sosial) merupakan hakikat
dari hukum, yang dapat berisi: perintah-larangan yang dapat
kita jumpai dalam hukum publik (Hukum Pidana), dan
kebolehan (perizinan)terdapat dalam Hukum Perdata. Jadi
dapat tersirat dalam pasal UU.
- poin (butir) tiga, hukum dan kekuasaan, di mana Mochtar
Kusumaatmadja membuat adagium: “hukum tanpa kekuasaan
adalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah
kelaliman”.
- poin (butir) empat, hukum dan nilai sosial budaya. Nilai itu
sendiri merupakan hakikat dan hukum sistem penilaiannya
sendiri tersirat dalam hukum itu sendiri sebagai ekspresi dan
48
budaya bangsanya/negaranya. Hal ini merupakan pencerminan
pengaruh Northrop (culture values) dan Mac Dougal (values
system).
- poin (butir) lima, hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat.
Konsep aslinya berasal dan Roscoe Pound yaitu “law as a tool
of social engineering”, yang oleh Mochtar diadaptasi (diterima)
dalam menghadapi suasana Pembangunan di negara kita. Jadi
bukan hanya teknologi yang dapat merubah masyarakat, akan
tetapi juga bahwa hukum dapat melakukannya. Pandangan
Roscoe Pound ini secara pragmatis (kegunaan), bahwa hukum
dapat berfungsi untuk merubah pandangan masyarakat kulit
putih yang ras discriminated di AS.
Hal tersebut di atas merupakan masalah tujuan hukum (modern),
sebagai salah satu masalah filsafat hukum.
2) Buku-kecil kedua (1972), yang menyangkut filsafat hukum adalah
tentang definisi hukum Mochtar Kusumaatmadja, bahwa asas
dan kaidah mencerminkan pengaruh aliran positivisme hukum.
Istilah asas itu sendiri berarti: nilai moral tertinggi; sedangkan
kaidah
merupakan
patokan
tentang
perikelakuan
yang
seharusnya, yang berisi perintah-larangan dan kebolehan. Tujuan
hukum yang ingin dicapai adalah kepastian hukum.
Sedangkan istilah lembaga dan proses mencerminkan pengaruh
Sociological
Jurisprudence
dan
Pragmatic
Legal
Realism.
Pengertian lembaga dan proses mengandung makna baik dalam
bidang pengadilan maupun luar pengadilan. Luar pengadilan,
misalnya menyangkut lembaga hukum modern yang berproses
sehingga melembaga di kalangan masyarakat yang menuju
modernisasi. Seperti lembaga hukum: asuransi, kredit, pasar
modal, sertifikat, hipotik, bentuk badan hukum PT dan lain
sebagainya.
Pengertian
lembaga
itu sendiri,
hal-hal
yang
menyangkut kebutuhan pokok manusia baik spiritual dan material;
49
Contoh spiritual = hukum, agama, kesenian, sedangkan contoh
material sandang, pangan, dan papan. Pengertian proses dalam
pengadilan, perlu adanya pembinaan baik aparat penegak hukum
maupun fasilitas dan masyarakat dalam rangka meningkatkan
kesadaran hukum masyarakat secara keseluruhan, sehingga
wibawa hukum dalam suatu negara hukum tercapai.
3) Buku-kecil ketiga (1976), yang menyangkut filsafat hukum adalah:
konsep hukum dalam pengertian fungsinya yaitu sebagai sarana
pembaharuan masyarakat yang merupakan modifikasi dan konsep
Roscoe Pound: 'law as a tool of social engineering''. Pengertian
alat (a tool) mengandung makna adanya sifat mekanistis
(teknologi); fungsi hukum itu sendiri untuk merubah perilaku (sikap
mental) warga masyarakat AS yang ras diskriminasi; sumber
hukum formil yang utama adalah yurisprudensi yaitu putusan
Supreme Court. Sedangkan pengertian Sarana (konsep Mochtar)
mengandung pengertian yang luas yaitu:
a. Menuju kemakmuran (adil dan makmur) dengan tertib dan adil;
b. Sumber hukum formil yang utama adalah undang-undang, juga
Yurisprudensi atau kombinasi;
c. Pembinaan dalam arti legal engineering (perubahan UU yang
sesuai dengan kegunaan dan kebutuhan masyarakat yang
sedang membangun), juga social engineering (perubahan
masyarakat dan tradisionil menuju modernisasi).
Adapun dasar dan pembinaan itu sendiri terdapat di dalam:
1) GBHN 1973 bidang hukum, yang isinya antara lain: bahwa hukum
tidak boleh menghambat proses modernisasi.
2) GBHN 1983 bidang hukum, yang isinya antara lain: bahwa hukum
dapat berfungsi sebagai sarana pembaharuan masyarakat.
Poin 1 dan 2 di atas dikaitkan oleh Mochtar sebagai “filsafat
hukum pembangunan”.
50
3) Pelita II Bab 27 bidang hukum, yang isinya antara lain: bahwa
hukum yang dibuat harus sesuai atau memperhatikan kesadaran
hukum masyarakat.
4) Pelita III Bab 23 bidang hukum, yang isinya antara lain
meneruskan penyusunan RUU (Rancangan UU).
Poin 3 dan 4 di atas dikatakan oleh Mochtar Kusumaatmadja
sebagai “teori hukum pembangunan”.
Pengertian pembinaan hukum itu sendiri menurut Guru Besar
mengandung kegiatan mempertahankan hukum yang pernah ada
yang masih memadai (sesuai dengan kebutuhan pembangunan),
juga memperbaharui hukum yang pernah ada disesuaikan dengan
kebutuhan
dan
perkembangan
masyarakat
yang
sedang
membangun. Hal ini ada kaitannya dengan pemikiran efisiensi
(ekonomis), yaitu kita lebih baik memperbaharui dan mempertahankan hukum yang pernah ada daripada kita membuat hukum
yang murni nasional akan tetapi memakan waktu sehingga akan
ketinggalan pembangunan (mengambil dan pandangan Roscoe
Pound tentang definisi hukumnya yang ke-12, yaitu dengan tenaga
yang
sekecil-kecilnya
kita
mendapat
hasil
yang
sebanyak-
banyaknya).
Di samping hal tersebut di atas perlu juga diadakan pembinaan
dalam arti meningkatkan sikap mental para penegak hukum agar
sadar pada tugas dan kewajibannya menurut ketentuan-ketentuan
yang berlaku; juga fasilitas baik hardware maupun software dalam
menunjang proses penegakan hukum; masyarakat pun perlu
ditingkatkan kesadaran hukumnya melalui penyuluhan hukum yang
kontinyu (dilakukan oleh Departemen Kehakiman cq Bagian
Penyuluhan bekerjasama dengan Perguruan Tinggi). Konsekuensi
pandangan Mochtar tersebut di atas, perlu direalisir dalam dunia
pendidikan
tinggi
(Fakultas
Hukum
Unpad)
untuk
membentuk/mencetak sarjana hukum yang mampu membina hukum
51
(academic lawyers), yang selalu cepat tanggap atas kebutuhan
pembangunan khusus bidang hukum, misalnya menyusun academicdraft setelah melakukan penelitian-penelitian yang bekerjasama
dengan berbagai departemen, khususnya Badan Pembinaan Hukum
Nasional (yang merupakan mekanisme Mazhab Unpad).
Konsep Mochtar Kusumaatmadja adalah konsep filsafat praktis,
yang berarti filsafat hukum harus disertakan teori hukumnya. Dalam
kurikulum Fakultas Hukum Unpad: 1) filsafat hukumnya adalah
mazhab Unpad; 2) teori hukumnya adalah Sosiologi Hukum sebagai
mata kuliah wajib bagi seluruh Jurusan. Seperti terlihat dalam
rumusan Jurisprudence yaitu: ilmu yang mempelajari pengertianpengertian dasar dan sistem hukum (teori hukum), secara lebih
mendalam
(filsafat
hukumnya).
Mazhab
Unpad
berkembang
kemudian menjadi mazhab Pemerintah menjadi Filsafat Hukum
Pembangunan (GBHN 1973 dan GBHN 1983) dan Teori Hukum
Pembangunan (Pelita II Bab 27 dan Pelita III Bab 23).
52
BAB III
SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Di
dalam
kepustakaan
filsafat
(hukum),
terdapat
berbagai
periodisasi atau pembabakan perkembangan filsafat (hukum) dari dahulu
hingga saat ini. Pada umumnya pembabakan itu terdiri dari:
1. Zaman purbakala
a. Masa Yunani.
1) Masa pra-Socrates (± 500 SM).
2) Masa Socrates, Plato, dan Aristoteles.
3) Masa Stoa.
b. Masa Romawi.
2. Abad Pertengahan.
a. Masa gelap.
b. Masa Skolastik
3. Zaman Renaissance dan zaman baru.
4. Zaman modern (Lili Rasjidi, 1985:9-10).
A. ZAMAN PUBAKALA
1. Masa Yunani
a. Masa Pra-Socrates
Seperti secara sepintas telah diuraikan di muka, pada masa ini
diperkirakan belum ada filsafat hukum karena perhatian para filsuf lebih
ditujukan kepada alam semesta, yaitu apa sesungguhnya yang menjadi
inti alam semesta itu. Jawaban terhadapnya berbeda-beda. Filsuf Thales
mengatakan air, Anaximandros to apeiron, yaitu suatu zat yang tak tentu
sifat-sifatnya, Anaxfmeries mengatakan udara, “sedangkan Pitagoras
menjawab bilangan. Filsuf lainnya seperti Heraklitos berpendapat bahwa
apilah yang menjadi inti alam semesta. Perihal manusia, tingkah laku
(etika), dan hukum, belum memperoleh perhatian. Manusia dianggap oleh
mereka sebagai bagian dari alam semesta. Kalaupun berbicara tentang
53
hukum, maka hukum yang dimaksud adalah hukum dalam arti keharusan
alamiah. Jadi, hukum itu tidak terbatas pada' masyarakat manusia, tetapi
meliputi semesta alam (Theo Huijbers, 1982:2). Hukum yang dikenal
adalah hukum alam.
Di antara para filsuf alam tersebut di atas, Pitagoraslah yang
memulai menyinggung tentang manusia. Menurut pendapatnya, tiap
manusia yang selalu berada dalam proses- katarsis, yaitu pembersihan
diri. Setiap kali jiwa memasuki tubuh manusia, manusia harus melakukan
pembersihan diri agar jiwa tadi dapat masuk ke dalam kebahagiaan. Jika
dinilai tidak cukup melakukan katarsis, jiwa tadi akan memasuki lagi tubuh
manusia yang lain. (Lili Rasjidi, 1985:11).
b. Masa Socrates, Plato, dan Aristoteles
Beberapa penulis sejarah filsafat hukum mengungkapkan, bahwa
Socrates-lah yang mula pertama berfilsafat tentang manusia. Segala
aspek tentang manusia menjadi obyek pembicaraannya. Diperkirakan
filsafat hukum lahir pada masa ini dan berkembang mencapai puncak
kegemilangannya melalui filsuf-filsuf besar setelah Socrates, yaitu Plato,
Aristoteles, dan filsuf-filsuf lainnya di zaman Yunani dan Romawi. Di
antara kedua masa tersebut, masa Yunani merupakan masa yang amat
subur bagi pertumbuhan filsafat hukum. Alasannya ialah:
“Pertama, kecenderungan-kecenderungan untuk berpikir spekulatif
serta persepsi intelektualnya untuk menyadari adanya tragedi
kehidupan manusia serta konflik-konflik dalam kehidupan dunia ini,
seperti terlihat pada karya-karya filsafat dan kesusasteraannya,
Yunani memberi saham yang besar ke arah pemikiran tentang
hukum yang bersifat teoretis. Dengan kecenderungan berpikir yang
demikian itu, orang Yunani melihat bagaimana timbul dan
perkembangan polis, yaitu negara kota di masa itu.
Kekacauan-kekacauan
sosial,
konflik-konflik
di
dalamnya,
bergantian pemerintah yang begitu sering, masa-masa tiranik dan
kesewenang-wenangan, yang semua terjadi pada masa itu,
54
memberikan bahan yang banyak sekali bagi pemikiran yang
bersifat spekulatif mengenai persoalan-persoalan hukum dalam
masyarakat. Dengan demikian orang pun didorong dengan kuat
untuk memikirkan problem yang abadi mengenai hubungan antara
hukum
positif
dengan
keadilan
yang
abadi
itu,
sehingga
memberikan sumbangan pemikiran Yunani di dalam dunia teori
hukum. (Satjipto Rahardjo, 1982:226-227).
c. Masa Stoa
Masa ini ditandai dengan adanya mazhab Stoa, yaitu suatu
mazhab yang mempunyai kebiasaan memberi pelajaran di lorong-lorong
tonggak (stoa) (von Schmid, 1965:48). Pemikir utamanya yang juga
bertindak sebagai pemimpin mazhab adalah Filsuf Zeno. Dengan
mengambil sebagian ajaran Aristoteles, yaitu bahwa akal manusia itu
merupakan bagian dari rasio alam, dikembangkan suatu pemikiran hukum
alam yang bersumber dari akal ketuhanan (logos di mana manusia
dimungkinkan hidup menyesuaikan diri padanya). Hukum alam itu
merupakan dasar segala hukum positif. Pandangan Stoa kemudian amat
berpengaruh pada filsuf Romawi seperti Seneca, Marcus Aurelius, dan
juga Cicero.
2. Masa Romawi
Pada masa ini perkembangan filsafat hukum tidak se-gemilang pada masa
Yunani. Para ahli filsafat Romawi lebih memusatkan perhatiannya pada
masalah bagaimana hendak mempertahankan ketertiban di seluruh
kawasan Kekaisaran Romawi yang sangat luas itu. Mereka dituntut untuk
lebih banyak menyumbangkan konsep-konsep dan teknik-teknik yang
berkaitan
dengan
hukum
positif,
seperti
bidang-bidang
kontrak,
kebendaan, dan ajaran-ajaran tentang kesalahan. (Satjipto Rahardjo
1982:227). Namun, sumbangan pemikiran para filsuf masa ini, seperti
Polybius, Cicerb, Seneca, Marcus Aurelius, dan Iain-Iain, masih banyak
pengaruhnya hingga saat ini.
55
B. Abad Pertengahan
a. Masa Gelap
Masa ini dimulai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi akibat
serangan bangsa lain yang dianggap terbelakang, yang datang dari utara,
yaitu yang disebut suku-suku Germania. Tingkatan peradaban bangsa
Romawi yang tinggi hanyalah tinggal puing-puing semata. Karena
tiadanya peninggalan apa pun dari suku bangsa yang berkuasa, para ahli
masa kini sukar untuk secara pasti menentukan apa yang terjadi di masa
gelap ini. Yang pasti dapat ketahui ialah bahwa pengaruh agama Kristen
mulai berkembang pesat disebabkan oleh suasana kehidupan suku-suku
waktu itu yang selalu tidak tentram akibat peperangan yang terus-menerus
terjadi di kalangan mereka sendiri atau di antara suku-suku. Manusia
dalam keadaan serupa itu memerlukan adanya ketentraman dan
kedamaian, memerlukan adanya suatu pegangan hidup yang akan
mengakhiri ketidaktentraman. Agama Kristen memenuhi tuntutan tersebut.
(Lili Rasjidi, 1985:13).
b. Masa Skolastik
Corak pemikiran hukum pada masa skolastik didasari oleh ajaran Kristen.
Ajaran ini dimulai setelah lahirnya mashab baru yang disebut NeoPlatonisme, dengan Platinus sebagai tokohnya yang utama. Platinus inilah
yang mulai membangun suatu tata filsafat yang bersifat ketuhanan.
Menurut pendapatnya,
Tuhan
itu
merupakan
hakikat
satu-satunya
yang paling utama dan paling luhur, yang merupakan sumber dari segalagalanya. Bertolak dari pendapat Plato bahwa orang harus berusaha
mencapai pengetahuan yang sejati, Platinus mengemukakan bahwa kita
harus berusaha melihat Tuhan. Caranya, selain berpikir, juga harus
beribadah.
Pangkal
tolak
pemikiran
ini
membuka
jalan
bagi
pengembangan agama Kristen dalam dunia filsafat. Neo-Platonisme lahir
di Alexandria sebagai tempat pertemuan antara filsafat Yunani dan agama
Kristen. Para ahli filsafat menganggap St. Egustinus yang menjembatani
filsafat Yunani dan alam pikiran Kristen (Lili Rasjidi, 1985:14).
56
Tokoh lainnya yang amat terkenal di masa ini antara lain ialah
Thomas Aquino, Marsilius Padua, William Occam.
C. Zaman Renaissance dan Zaman Baru
Ciri utama zaman ini ialah manusia menemukan kembali kepribadiannya
(renaissance berasal dari kata re, kembali, dan nasci, lahir - lahir kembali).
Artinya, alam pikiran manusia tidak terikat lagi oleh ikatan-ikatan
keagamaan. Ikatan-ikatan ini demikian kuatnya mempengaruhi segala
aspek
kehidupan
pertengahan
manusia
bagian
kedua
pada
abad
sebelumnya,
(masa Skolastik).
yaitu
Demikian
abad
besarnya
kekuasaan Gereja sehingga manusia merasa dirinya tidak berarti tanpa
Tuhan.
Lahirnya renaissance mengakibatkan perubahan yang tajam dalam
berbagai segi kehidupan manusia. Teknologi berkembang dengan pesat,
benua-benua baru ditemukan, negara-negara baru didirikan, tumbuh
berbagai disiplin ilmu baru, dan Iain-Iain.
Dalam dunia pemikiran hukum, zaman ini ditandai dengan adanya
pendapat bahwa akal manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan
dari akal Tuhan. Akal manusia terlepas dari akal ketuhanan. Akal manusia
inilah yang merupakan sumber satu-satunya dari hukum.- Pangkal tolak
pemikiran ini nampak pada penganut aliran hukum alam yang rasionalistis
(Hugo de Groot atau Grotius) dan para penganut paham positivisme
hukum (John Austin) bahwa logika manusia memegang peranan penting
dalam pembentukan hukum.
D. Zaman Modern
Gerakan kodifikasi pada zaman baru, sebagai akibat tampilnya unsur
logika manusia, ternyata kemudian melahirkan masalah yang berkaitan
dengan soal keadilan. Hal ini disebabkan oleh tertinggalnya kodifikasi itu
oleh
perkembangan
masyarakat.
Kepincangan-kepincangan
dalam
kodifikasi seringkali tampil disebabkan oleh tidak sesuainya lagi dengan
nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Keadaan ini mendorong orang
untuk mencari keadilan melalui filsafat hukum. Rudolf Stammler sering
57
disebut oleh para penulis filsafat hukum sebagai pelopor dari pencarian
ini.
Ciri lain dari pemikiran hukum di abad modern ini ialah tumbuhnya
pemikiran-pemikiran hukum yang berasal dari para ahli hukum yang
memiliki reputasi istimewa. Keadaan ini sangat berbeda dengan masamasa sebelumnya, ketika filsafat hukum merupakan produk dari para ahli
filsafat. Nama-nama seperti Leon Duguit (Solidarete Social), Ripert (Regie
Morale), Kohler (Kulturentwicklung), Hans Kelsen (Grundnorn), dan
Roschoe Pound (Social Engineering), merupakan tokoh penting pada
abad ini.
58
BAB IV
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM
Setelah abad ke-19, masalah-masalah mendasar yang tadinya
menjadi obyek pembahasan para ahli filsafat, kini beralih ke tangan para
ahli hukum biasa. W. Friedmann (1970:4) mengatakan:
“Before the nineteenth century, legal theory was essentially a by
product of philosophy, religion, ethics, or politics. The great legal
thinkers were primarily philosophers, churchmen, politicians. The
decisive shift from the philosopher's of politician's to the lawyer's
legal philosophy is of fairly recent date. It follows a period of great
developments in juristic research, technique and professional
training. The new era of legal philosophy arises mainly from the
confrontation of the professional lawyer, in his legal work, with
problems of social justice.”
Masalah-masalah mendasar yang dikaji hanya sekedar tujuan
hukum (terutama masalah ketertiban dan keadilan), dasar-dasar bagi
kekuatan mengikat dari hukum, hubungan hukum alam dengan hukum
positif, hubungan hukum dengan kekuasaan, mengapa negara berhak
menghukum seseorang, dan Iain-Iain sebagaimana yang biasa dilahirkan
oleh ahli filsafat, melainkan juga meliputi berbagai hal mendasar yang
dihadapi oleh para ahli hukum dalam tugasnya sehari-hari di masyarakat.
Masalah-masalah seperti penerapan hukum, pertanggungjawaban, hak
milik, kontrak, apa sebabnya orang menaati hukum, hubungan hukum
dengan nilai-nilai sosial budaya, peranan hukum sebagai sarana
pembaharuan masyarakat, dan Iain-Iain, menjadi obyek pembahasan para
ahli hukum.
Mengenai masalah ruang lingkup pembahasan filsafat hukum
tersebut, dalam kepustakaan seringkali dikacaukan dengan banyaknya
peristilahan yang digunakan, terutama di belahan dunia Anglo-Sakson,
seperti di Amerika Serikat dan Inggris. Selain istilah philosophy of law atau
legal philosophy, dikenal juga istilah lain seperti jurisprudence dan legal
theory. Beberapa penulis tidak membedakan arti ketiga istilah tersebut
59
seperti ternyata dari obyek pembahasan yang sama yang dikajinya. Akan
tetapi, ada pula yang membedakannya walaupun sukar untuk memberikan
batas-batasnya yang tegas. Khusus yang berhubungan dengan istilah
jurisprudence ini, yang banyak digunakan oleh para penulis hukum di
Amerika, Inggris dan negara-negara lainnya yang menggunakan bahasa
Inggris sebagai bahasa pengantarnya, dianggap perlu penjelasan lebih
lanjut dari segi pengertian, ruang lingkup, klasifikasi, dan manfaat
mempelajarinya.
Pada Bab III berikut ini akan diuraikan pemikiran hukum yang
berkembang di dunia Anglo Sakson (khususnya di negeri Inggris dan
Amerika Serikat) yang ternyata agak berbeda dengan Eropa kontinental.
Di belahan dunia Anglo Sakson mi sebagaimana dapat dikaji pada
berbagai literatur yang ada tidak membedakan secara tegas pengertian
seperti filsafat hukum, teori hukum, dan lain sebagainya. Namun
tampaknya penggunaan istilah “jurisprudence” lebih lazim daripada
“philosophy of law”, “legal philosophy” atau “theory of laws” dan “legal
theory”.
60
Apa yang menjadi ruang lingkup penyelidikan filsafat (teori) hukum,
hingga saat ini juga masih dipersoalkan para ahlinya. Bahwa belum
terdapat kata sepakat, untuk mudahnya dapat dilihat materi yang dibahas
pada literatur-literatur yang menggunakan kata jurispruden sebagai
judulnya.
Lord
Lloyd
of
Hampstead,
Introduction
to
Jurisprudence,
membahas (secara garis besarnya):
(1) Nature of jurisprudence; (2) Meaning of law; (3) Natural law; (4)
Positivism, analytical jurisprudence and the concept of law; (5) Pure theory
of law; (6) Sociological school; (7) American realism; (8) The
Scandanavian realist; (9) Historical and anthropological jurisprudence; (10)
Marxist theory of law and socialist legality; (11) Judicial process.
Dias, Jurisprudence, membahas tentang: (1) Introduction; (2) Advantages
and disadvantages; (3) Distributive justice; (4) The problem of power; (5)
Control of liberty; (6) Justice in deciding disputes; percedent; (7) Statutory
interpretation; (8) Custom; (9) Values; (10) Duties; (11) Persons; (12)
Possession; (13) Ownership; (14) Justice in adapting to change.
Mulai ad 2 s/d 14 digolongkan dalam Part I: Aspects of Justice,
sedangkan Part II, yaitu Legal Theory, meliputi: (1.5) Positivism, British
theories; (16) The pure theory; (17) Historical and anthropological
approaches; (18) Economic approach; (19) Sociological approaches; (20)
Modern realism; (21) Natural law.
G.W. Paton, A Text-book of Jurisprudence:
Book I
: Introduction: (1) The nature of jurisprudence; (2) The
evolution of law; (3) The definition of law.
Book II
: The Purpose of Law: (4) Natural law; (5) Law as the
protection of interests.
Book III
: Sources of Law: (6) The sources of law; (7) Custom; (8) The
judicial method; (9) Statutes and codes; (10) Juristic writing
and professional opinion.
61
Book IV
: The Technique of the Law: (11) Classification; (12) Rights
and duties; (13) Titles, acts, events. Book V: Public Law: (14)
Law and the state; (15) Criminal law.
Book VI
: Private Law: (16) The concept of legal personality; (17)
Rights created by a juristic act; (18) Rights directly created
by law; (19) Remedial rights; (20) Extention of rights; (21)
The concept of property; (22) The concept of possession;
(23) Law of procedure.
Dari perumusan Salmond ataupun Gray yang dikutip terdahulu
sesungguhnya tersirat apa yang menjadi ruang lingkup filsafat (teori)
hukum itu. Yang diselidiki filsafat (teori) hukum sebelum banyak
dipengaruhi oleh disiplin ilmu-ilmu lain, menurut Salmond ialah: “...which
seeks to lay bare the essential principles of law and legal systems.” Jadi,
mengenai prinsip-prinsip dasar dari hukum dan sistem-sistem hukum. Hal
ini barangkali akan nampak jelas perbedaannya apabila dibandingkan
dengan ilmu hukum positif yang membahas bidang-bidang hukum tertentu
yang berlaku pada saat ini di negara tertentu (AX Sarkar, 1970).
Contohnya, misalnya hukum perjanjian (kontrak) atau tort terdiri dari
serangkaian peraturan dan prinsip hukum yang berasal dari pihak yang
berwenang yang ditetapkan kepada situasi faktual untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang timbul dalam praktek. Sebaliknya filsafat (teori)
hukum tidak terdiri atas seperangkat peraturan yang tidak bersumber dari
pihak yang berwenang dan tidak memiliki nilai praktis. Akibat dari
perbedaan ini, karena filsafat (teori) hukum membuka seluas mungkin
kepada
para
ahlinya
untuk
menggunakan
pemikirannya
dan
pendekatannya masing-masing, maka terdapat berbagai variasi ruang
lingkup dalam berbagai buku teks mengenai obyek penyelidikan filsafat
(teori) hukum ini. Konsekuensi lainnya dari perbedaan ini ialah:
“...the method of inquiry apt for jurisprudence will not necessarily be
one used in the study of ordinary legal subject. Thus, whereas in
law we look for the rule relevant to a given situation (e.g. given the
facts we can apply the rules wither a binding contract has been
62
made). In jurisprudence we ask what it is for a rule to be a legal
rule, what distinguishes law from morality, etiquette and other
related phenomena. In this, jurisprudence comprises philosophy of
law.” (A.K. Sarkar, 1979:1)1
Pari kutipan di atas cukup jelas bahwa materi filsafat hukum
tercakup ke dalam obyek penyelidikan filsafat (teori) hukum, sebab filsafat
(teori) hukum juga mencoba menjawab pertanyaan, apakah yang menjadi
dasar berlakunya suatu ketentuan hukum.
Dalam
perkembangannya
kemudian,
yaitu
setelah
banyak
dipengaruhi oleh disiplin-disiplin ilmu lain, ruang lingkup penyelidikan
filsafat (teori) hukum menjadi lebih luas dan lebih empiris. Hal ini
dibuktikan oleh Dias (1976) mengenai masalah-masalah yang harus
diselidiki dan dijawab oleh filsafat (teori) hukum yang meliputi: faktor-faktor
apakah yang menjadi dasar berlakunya suatu hukum, faktor-faktor apa
yang mendasari kelangsungan berlakunya suatu peraturan hukum,
bagaimana daya berlakunya, dan dapatkah hukum itu dikembangkan.
A.
Klasifikasi Bidang Filsafat (teori) Hukum
John Austin (1832) menggolongkan filsafat (teori) hukum itu sebagai
berikut:
a. Expositorial jurisprudence, yaitu mengkaji hukum sebagai-mana adanya
(as it is);
b. Censorial jurisprudence, mengkaji hukum sebagaimana seharusnya (as
it right to be).
Analisis Austin dikenal sebagai pendekatan analitis (analytical approach),
yakni menganalisis struktur formal hukum beserta konsep-konsepnya.
Pendekatan ini banyak diikuti oleh penulis-penulis filsafat (teori) hukum.
Kemudian,
1
seperti
yang
digunakan
oleh
Salmond
dan
Holland,
Setha (1959) mengemukakan ruang lingkup penyelidikan filsafat (teori) hukum dengan
merumuskan: “Jurisprudence is the study of fundamental legal principles including
their philosophical, his teorical and sociological bases and an analysis of legal
concepts.” Menurut penulis ini, aspek-aspek filsafat, historis, sosiologis, dan
analisisnya tercakup ke dalam filsafat (teori) hukum.
63
pendekatan seperti ini dikenal pula sebagai pendekatan teoretis dan
filosofis. Salmond mengemukakan penggolongan yang lain:
a. Analytical jurisprudence, yaitu analisis dari prinsip-prinsip utama hukum
tanpa memperhatikan aspek historis mau-pun aspek etisnya;
b. Historical jurisprudence, yaitu studi tentang perkembang-an konsep
hukum yang fundamental;
c. Ethical jurisprudence, yaitu studi mengenai kegunaan dan tujuan yang
harus dicapai oleh hukum.
Secara tidak langsung Paton (1951:3) mengemukakan tentang adanya
tiga golongan filsafat (teori) hukum yang menuntut pendapatnya ketiganya
sedang berselisih paham mengenai apa yang menjadi obyek utama
pembahasan filsafat (teori) hukum. Ketiga golongan tadi ialah:
a. Pure science of law yang mengonsentrasikan penyelidikannya pada
teori-teori
hukum
yang bersifat abstrak, yaitu berusaha untuk
menemukan elemen-elemen dari ilmu hukum murni berupa faktor-faktor
yang diakui kebenarannya secara universal, terlepas dari preferensi,
pandangan yang etis, dan sosiologis.
b. Functional (sosiological) jurisprudence yang menganggap pandangan
pure science of law sebagai amat terbatas dikaitkan dengan kehadiran
hukum itu, sesungguhnya berfungsi untuk menyelesaikan berbagai
masalah sosial. Menurut para pengikut aliran ini, “We can understand
what a thing is only if we examine what is does.”
c. Theological jurisprudence yang menganggap lingkup penyelidikan
filsafat (teori) hukum adalah bahwa hukum itu merupakan produk dari
pemikiran manusia yang berkaitan erat dengan tujuannya. Pertanyaan
yang harus dijawab dalam hal ini ialah apakah yang menjadi tujuan
utama dari hukum. Pendekatan filsafat (teori) hukum ini filosofis.
3.4 Kegunaan Mempelajari Filsafat (teori) Hukum
Seringkali orang berpendapat bahwa mempelajari filsafat (teori)
hukum itu memiliki nilai praktis yang sangat terbatas. Oleh A.K. Sarkar
64
(1979:3) dikemukakan bahwa walaupun filsafat (teori) hukum itu bersifat
abstrak dan teoretis untuk dipelajari, kegunaannya ialah:
a. filsafat (teori) hukum merupakan obyek studi yang menarik yang hanya
dapat
dicapai
oleh
mereka
yang
sungguh-sungguh
ingin
mempelajarinya. Spekulasi dan teori memiliki daya tarik alami, apa pun
obyeknya. Jika seseorang dapat berspekulasi tentang hakikat cahaya,
mengapa tidak mengenai hakikat hukum?
b. penelitian-penelitian di bidang filsafat (teori) hukum memiliki manfaat
bagi disiplin-disiplin ilmu lainnya. Pemantulannya meliputi keseluruhan
seperti kedokteran, hukum, politik, dan pemikiran-pemikiran sosial.
c. filsafat (teori) hukum juga memiliki nilai praktis. Di bidang hukum/
generaiisasi bermakna kemajuan-kemajuan atau perkembangan. Hal ini
dapat menyatukan atau menyarankan penggunaan konsep-konsep
dasar yang sama guna mendasari berbagai faktor sosial dan membuka
jalan bagi penyelesaian beraneka ragam masalah sosial dengan hanya
menggunakan satu teknik. Jadi, kompleksitas hukum lebih dapat
dikendalikan dan lebih rasional, yaitu teori dapat membantu dalam
praktek.
d. filsafat (teori) hukum juga memiliki nilai pendidikan. Di sini penalaran
konsep-konsep hukum lebih mempertajam teknik yang dimiliki para ahli
hukum itu sendiri.
e. filsafat (teori) hukum akan membawa para ahli hukum dari cara berpikir
hukum secara formal ke realitas sosial. Ini berarti bahwa dalam
menerapkan hukum perjanjian, misalnya, para ahli hukum memerlukan
pula pengetahuan-pengetahuan di bidang ekonomi, kriminologi, pidana,
psikiatri, sosiologi, dan sebagainya.
f. pada akhirnya, filsafat (teori) hukum dapat membawa para ahli hukum
untuk melihat jauh ke depan. Sudah barang tentu pula akan lebih
menyadarkan para ahli hukum dalam kebijaksanaan hukumnya.
Mereka
akan
selalu
menyesuaikan
kebijaksanaan
itu
dengan
65
keperluan-keperluan sosial yang aktual, dan menghindarkan sebanyak
mungkin pemujaan terhadap hal-hal yang silam.
66
BAB V
HAKIKAT KEADILAN DALAM FILSAFAT HUKUM
Jika pokok persoalan dalam hukum adalah manusia, maka pokok
persoalan bagi manusia yang hendak dicapainya melalui hukum adalah
keadilan.2 Hans Kelsen yang merupakan pelopor bagi ajaran hukum murni
menegaskan bahwa pengertian hukum harus dibedakan dari pengertian
keadilan. Dan jawaban bagi pertanyaan mengenai daya-laku dari hukum
sehingga kaidah-kaidahnya harus dilaksanakan dan dipatuhi, sangat
tergantung dari hubungan yang ditetapkan antara hukum dan keadilan.3
Hubungan itu pada dasarnya adalah sederhana saja: Magnis-Suseno
mengutip kata-kata dari Gustav Radbruch yang mengatakan bahwa
“Hukum bisa saja tidak adil..., tetapi hukum hanyalah hukum karena
maunya adil”.4 Meskipun demikian, hubungan antara hukum dan keadilan
seperti yang dirumuskan oleh Radbruch itu belum lagi menjelaskan
banyak persoalan mengenai hakikat dari keadilan itu sendiri, dan dengan
demikian juga mengenai persoalan, kapankah hukum itu kondusif menuju
ke keadilan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rumusan Radbruch
justru baru merupakan awal dari persoalan untuk mencari kejelasan
mengenai hakikat dari keadilan, karena dengan menyatakan bahwa
“hukum hanyalah hukum karena maunya adil” belumlah lagi menjelaskan
mengapa hukum itu niscaya merupakan korelat dari keadilan. Sekalipun
terdapat pembedaan antara hukum dan keadilan, serta adanya upaya
untuk meletakkan keduanya dalam hubungan yang fungsional, keadilan
yang hendak dicapai melalui hukum itu adalah esensial bagi negara mana
pun. Tidak berlebihan jika Hart mengutip Aurelius Augustinus yang dalam
2
Pokok persoalan manusia memang bisa aneka ragam: dalam konteks medisin,
persoalannya adalah kesehatan; dalam konteks ekonomi, persoalannya adalah
kesejahteraan; dalam konteks pedagogi, persoalannya adalah kecerdasan, dan
sebagainya.
3
Kelsen: 402.
4
Magnis-Suseno: 82.
67
abad IV menyatakan secara retoris bahwa “ What are states without
justice but robber-bands enlarged?”5 Dengan kata lain, suatu negara yang
tidak mencerminkan keadilan tidak usah menyebut dirinya negara!
Meskipun banyak buku mengenai filsafat hukum yang antara lain
mengupas juga masalah keadilan, buku dari Hans Kelsen yang mula-mula
diterbitkan pada tahun 1934, Reine Rechtslehre, mungkin merupakan
buku yang penting sehubungan dengan uraiannya mengenai keadilan.
Buku itu mula-mula tenggelam dalam krisis dunia yang dikenal sebagai
'Malaise' dan Perang Dunia II yang menyusulnya. Namun, ketika
diterbitkan ulang dalam tahun 1960, buku tersebut menarik banyak
perhatian dan perdebatan. Di Indonesia ada satu bagian dari buku
tersebut yang mengilhami banyak perdebatan mengenai sistem hukum,
yang biasanya dikenal sebagai Teori Stufenbau’, yang sebenarnya
merupakan bagian dari bab mengenai Rechtsdynamik. Agak aneh bahwa
bagian-bagian yang lebih mendasar sifatnya malahan jarang dibicarakan
di sini. Empat dasawarsa kemudian terbit buku A Theory of Justice dari
John Rawls di Massachusetts dan menjadi buku yang juga banyak
diperdebatkan, bahkan juga masih sampai saat buku ini ditulis.6
Bersamaan dengan penerbitan ulang dari Reine Rechtslehre itu
Kelsen menerbitkan
naskahnya
yang
berjudul
Das
Problem der
Gerechtigkeit (masalah keadilan), dan dalam naskah itu dia membedah
problematik tersebut secara mendasar. Dalam analisanya Kelsen
berangkat dari premis bahwa keadilan mendapatkan relevansinya sebagai
norma moral dalam hubungan antarmanusia.7 Berdasarkan hubungan itu
suatu perbuatan manusia yang satu terhadap manusia yang lain
memperoleh apa yang disebutnya 'nilai keadilan' (D: Gerechtigkeitswert),
5
Hart: 156.
Saya tidak mengesampingkan pentingnya A Theory of Justice dari Rawls, tetapi Das
Problem der Gerechtigkeit dari Kelsen memenangkan relevansi karena
pendekatannya yang menurut hemat saya bersifat metafisik.
7
Daya mengikat suatu norma moral tidak tergantung dari hubungan antar-manusia. Dia
bahkan sudah bekerja manakala seseorang mulai memiliki itikad baik atau buruk,
tanpa harus pernah menyatakannya.
6
68
manakala dia dikaitkan dengan pertanyaan, apakah perbuatan tersebut
sesuai atau tidak sesuai dengan 'norma keadilan' (D: Gerechtigkeitsnorm).
Jadi perbuatan mencederai orang lain memperoleh nilai tidak adilnya dari
norma yang menyatakan bahwa perbuatan mencederai orang lain adalah
perbuatan yang tidak adil. Persoalannya adalah norma keadilan itu
seringkali ditetapkan atau didapatkan sebagai hukum positif yang sematamata bersumber dari akal budi manusia (yang oleh Kelsen disebut
sebagai sejalan dengan Mazhab Realisme Hukum).8 Dalam keadaan
begitu bisa terjadi risiko bahwa norma keadilan adalah bertentangan
dengan hukum positif. Lalu terjadilah bahwa nilai keadilan berbeda
dengan nilai hukum. Inilah yang terjadi dengan contoh yang diberikan oleh
Hart dalam hubungan dengan ayah yang memperlakukan anak-anaknya
secara tidak adil, tetapi sukar untuk dikatakan sebagai telah melanggar
hukum.9 Kelsen beranggapan bahwa dalam pertentangan seperti itu,
norma keadilan harus diunggulkan, dengan penjelasan sebagai berikut.
Karena norma hukum positif dirumuskan berdasarkan akal budi
manusia semata-mata dla tidak mungkin tidak mencerminkan kenyataan
yang ada (D: Seins-Tatsache) secara lengkap. Padahal, norma keadilan
karena merupakan norma moral tidak mendapatkan nilainya semata-mata
dari kenyataan yang ada, melainkan dan” norma yang tertinggi yang
disebutnya norma dasar (D: Grundnorm) yang berasal dari sesuatu (D:
Instant) yang transsenden, artinya sesuatu yang mengatasi hal ada
manusia. Norma dasar itu disebutnya norma keadilan yang metafisik (D:
Die Gerechtigkeitsnorm des metaphysischen Typus) dan sifatnya tidak
tergantung dari pengalaman manusia. Sebaliknya, norma keadilan yang
rasional (D:
Die Gerechtigkeitsnorm des rationaien Typus)
tidak
mengandalkan suatu instansi yang transendental, melainkan bertumpu
8
9
Kelsen: 403.
Wofe bab 630.
69
pada pemahaman akal manusia terhadap dunia pengalaman (yang nota
bene tidak bebas dari kemungkinan salah).10
Kelsen melanjutkan analisanya dengan bertolak dari norma
keadilan yang rasional, yang rumus dasarnya disebut suum cuique
tribuere,11 dan diterapkan dalam hubungan antarmanusia sebagai 'aturan
yang mulia' (D: die goldene Regel, atau E: rule of thumb) yang berbunyi
demikian, “jangan lakukan pada orang lain, apa yang kamu tidak mau itu
dilakukan padamu”. Sebagai demikian, Kelsen menilai bahwa rumusrumus itu sejajar dengan apa yang terkenal sebagai kategorischer
Imperativ (D: keharusan yang mutlak) dari Immanuel Kant. Jadi kalau
begitu
Kelsen
menilai
ajaran
Kant
tidak
bersifat
transendental?
Kelihatannya begitu, tetapi gugatan Kelsen terhadap Kant memang cukup
berat. Terutama karena Kelsen mendapatkan bahwa Kant
tidak
menjelaskan banyak konsep yang justru mempunyai makna sentral dalam
ajarannya, seperti misalnya apa itu keadilan dan apa itu kaidah moral,
atau: apa itu baik dan mana yang buruk.12 Seperti diketahui, rumus
keharusan mutlak dari Kant yang terkenal itu berbunyi: Bertindaklah
berdasarkan suatu dasar, yang pantas kau kehendaki bahwa daripadanya
seharusnya terjadi kaidah yang berlaku umum.13
Kritik dari Kelsen juga tertuju kepada Aristoteles, yang disebutnya
sebagai sang filosof moral.14 Aristoteles memang mempersoalkan
bagaimana manusia harus menilai apa yang adil dan apa yang tidak adil.
10
Ibid: 365-366.
Dari L: masing-masing memperoleh apa yang menjadi haknya. Doktrin ini berasal dari
Cicero: honeste vivere, neminem laedere, suum cuique tribuere (L: hiduplah
terhormat, janganlah merugikan, berikanlah kepada setiap orang apa yang menjadi
haknya). httrMnl.wikipedia.org/wiki/Rechtvaardiqheid. Huijbers, 1982: 41.
12
Ibid.: 367-373.
13
D: Handle so, als ob die Maxime deiner Handlung durch deinen Willen zum
allgemeinen Naturgesetze werden sollte. Kant, Immanuel, 1786: Grundlegung zur
Metaphysik der Sitten, Riga, edisi Redam/Stuttgart 1976: 68. Doktrin ini digugat oleh
Habermas yang pada pokoknya menilai pandangan Kant sebagai terlalu simplistik.
Dalam kenyataan, setiap individu bukan hanya menghadapi situasi yang spesifik,
melainkan juga bahwa manusia terus-menerus menghadapi pilihan antara yang baik
dan adil. Habermas, 1992.
14
Kelsen: 374-380.
11
70
Untuk tujuan itu dia mengusulkan apa yang dikenal sebagai 'ajaran
Mesotes', yang pada pokoknya bertujuan mencari titik tengah di antara
dua ekstrem dalam berbagai keadaan, karena baginya, dunia moral hanya
bergerak di antara dua kemungkinan: kemaksiatan dan kebajikan. Jika
diterapkan dalam praktek, orang dapat menghadapi pilihan seperti ini: Jika
kebohongan adalah kemaksiatan, maka kebenaran adalah kebajikan.
Tetapi, karena sama sekali menghindari yang buruk dan sebaliknya sama
sekali mencapai yang baik itu praktis adalah tidak mungkin, seringkali
orang berhadapan dengan keharusan untuk mencari jalan tengah. Pada
akhirnya, kata Aristoteles: Perilaku yang adil adalah titik tengah antara
berbuat tidak adil dan menderita ketidakadilan.15 Menurut penilaian
Kelsen, doktrin dari Aristoteles itu antara lain mengarah pada pengakuan
akan kaidah 'utang garam bayar garam' dan juga pengakuan akan asas
proporsionalitas yang kemudian dikembangkan oleh Karl Marx, yang juga
menjadi sasaran kritiknya.
Seperti diketahui, alternatif Marx bagi tertib masyarakat kapitalis
yang digugatnya adalah penerapan prinsip persamaan dalam bentuk
keseimbangan proporsional antara hak dan kewajiban dari setiap anggota
masyarakat. Dalam teori Marx, sistem ekonomi harus menjamin bahwa
masing-masing
orang akan menerima
apa
yang sesuai
dengan
kecakapannya dan kebutuhannya.16 Interpretasi Kelsen adalah bahwa
pemenuhan kewajiban oleh setiap individu adalah dependen dari, dan
korelatif terhadap hak individu untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi
pemenuhan kebutuhan hanya dapat terjadi, jika setiap orang konsekuen
memenuhi kewajibannya juga. Dan justru hal itulah yang dianggap
sebagai utopis oleh Kelsen dari teori Marx. Kelsen mengamati bahwa
dalam kenyataannya kebutuhan individu dapat sedemikian beragam,
sehingga potensial juga untuk saling bertentangan. Misalnya, jika dalam
suatu ruangan rapat orang yang satu merokok dan menikmati asapnya,
15
16
Ibid.: 376, dikutip dari Aristoteles: Ethica Nicomacheia.
Ibid.: 382.
71
sementara orang yang lain sungguh-sungguh menderita karenanya
(misalnya, karena alergi atau penyakit asma), hak siapakah yang harus
dihormati? Tampaknya, akal sehat mempunyai jawaban yang jelas untuk
persoalan itu.17 Orang yang merokok tidak akan mati jika tidak merokok,
sementara orang yang tidak merokok bisa sangat menderita jika dipaksa
untuk “ikut merokok”. Pada akhirnya, seperti yang diramalkan oleh Kelsen,
prinsip proporsionalitas itu akan diterapkan sebagai prinsip: Masingmasing memperoleh apa yang akan ditetapkan sebagai harus berlaku
demikian bagi setiap orang.18
Jika prinsip proporsionalitas itu tidak diterapkan kepada suatu
kewenangan yang dapat menetapkan suatu norma, melainkan terhadap
setiap individu, maka yang akan terbit adalah 'cinta kasih terhadap
sesama manusia' (D: Nachstenliebe). Dan itulah justru konsep yang
digugat oleh Kelsen dari ajaran Kristen, yang katanya sering tidak
konsisten.19 Banyak contoh yang dikemukakannya untuk membuktikan
pandangan dari Kitab Injil yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia
sekarang ini adalah suatu kenyataan yang tidak adil, sementara keadaan
yang adil 'masih akan datang'. Misalnya, dalam Injil ditulis bahwa mereka
yang unggul di dunia ini, di akhirat akan menjadi yang terakhir, atau
mereka yang buta di dunia ini, kelak akan menjadi mereka yang melihat.
Untuk Kelsen, janji seperti yang diungkapkan dalam Injil itu justru
merupakan konsep yang tidak adil. Lalu bagaimana gagasan Kelsen
sendiri?
Kelsen menghadapkan norma keadilan yang rasional kepada
norma keadilan yang metafisik seperti yang dirintis penjelasannya oleh
17
Habermas (1992) mencoba mengatasi persoalan ini dengan proyek tindakan
komunikatif (kommunikatives Handeln) yang terus-menerus di antara berbagai
individu yang datang dari berbagai latar belakang. Dalam kasus seperti ini, prinsip
solidaritas dari Habermas akan mengatakan, bahwa penderitaan yang lebih besar
harus dihindarkan. Jadi orang harus berhenti merokok, karena berhenti merokok tidak
mencelakakan si perokok, sementara sebaliknya asap rokok dapat mencelakakan
orang-orang yang tidak sanggup menghirupnya.
18
Kelsen: 385.
19
Ibid: 387.
72
Platon. Dengan latar belakang pengadilan terhadap Sokrates, masalah
keadilan memang menjadi tema sentral dalam Idealisme Platon. Dia
mengajarkan bahwa keadilan menghendaki perlakuan bagi manusia yang
sedemikian rupa, sehingga mencerminkan gagasan kebaikan yang
transsendental,
yang tidak
mungkin
dicapai
melalui
pengetahuan
rasional.20 Dalam kenyataannya, masalah keadilan mempunyai makna
yang sangat mendasar bagi kehidupan bersama manusia. Kerinduan akan
keadilan adalah sebegitu mendalamnya, justru karena kerinduan itu
bersemayam dalam hasrat akan kebahagiaan yang tidak mungkin
dibinasakan. Kelsen menilai bahwa keadilan versi Platon itu adalah suatu
keadilan absolut yang tidak dapat diwujudkan di dunia ini, karena
jaminannya hanya terdapat di alam seberang. Karena itu, tulis Kelsen,
Idealisme Platon mengenai keadilan merupakan suatu ilusi yang abadi.
Karena itu penilaian mengenai adil atau tidak adilnya hukum akan
lebih ditentukan oleh sikap yang kita ambil terhadap hubungan antara
hukum dan keadilan. Dengan kata lain, untuk dapat sampai pada
penilaian mengenai adil atau tidak adilnya hukum, posisi hukum itu sendiri
yang harus dijelaskan lebih dulu. Melalui analisisnya yang rinci terhadap
posisi ajaran hukum alam di satu pihak dan ajaran positivisme hukum di
lain pihak, Kelsen tiba pada konsekuensi berikut: Norma keadilan yang
metafisik pada dasarnya lahir dari ajaran hukum alam yang idealistis.
Karena seperti yang sudah terjadi dengan Idealisme Platon, idealisme
dalam ajaran hukum alam juga menyiratkan dualisme dalam norma
keadilan. Yang satu adalah norma keadilan yang sumbernya bersifat
transendental, dan yang lain lagi adalah norma keadilan yang bersumber
pada akal btidi manusia. Itulah sebabnya mengapa ajaran hukum alam itu
bersifat dualistik. Ajaran positivisme hukum sebaliknya bersifat monistik,
karena ajaran itu hanya mengakui satu macam keadilan, yaitu keadilan
yang lahir dari hukum positif yang ditetapkan oleh manusia.
20
Ibid.,: 399.
73
Kelsen kemudian mengambil sikap dengan mengembangkan
pandangan yang kemudian dikenal sebagai ajaran hukum murni. Dengan
tegas ditulisnya bahwa ajaran hukum murni bersifat monistik, dan
karenanya hanya mengakui satu macam hukum, yaitu hukum positif.
Meskipun demikian, ajaran hukum murni mengakui peranan dari norma
dasar (D: Grundnorm) yang merupakan produk dari proses yang
transendental-logis (dan dengan demikian Kelsen mempertahankan
metode yang digunakan dalam ajaran hukum alam). Norma dasar itu
bukanlah suatu jenis hukum yang lain dari hukum positif. Norma dasar itu
merupakan dasar berlakunya hukum positif. Sebagai demikian, norma
dasar itu tidak memiliki hakikat yang etis maupun politis, melainkan
semata-mata
merupakan
pengetahuan
teoretis
(D:
erkenntnfstheoretisch).21 Dengan pandangannya itu Kelsen mengambil
jarak dari penafsiran terhadap keadilan yang menggunakan aneka macam
legitimasi, baik politik maupun etik (yang dalam pandangan Kelsen tidak
dapat melepaskan diri dari muatan teologis).
Meminjam penjelasan Kelsen mengenai masalah keadilan tidak
dengan sendirinya menyelesaikan masalah itu sendiri. Analisa Kelsen
berharga untuk memahami konsep keadilan secara jernih dan bebas nilai.
Meskipun demikian, dengan mengetengahkan ajaran hukum murni,
Kelsen sendiri sebenarnya adalah seorang idealis juga. Katakanlah bahwa
'hukum murni' (D: reines Recht) memang ada. Kita kemudian akan
menghadapi pertanyaan, apakah lalu ada juga 'sejarah murni' dan karena
itu juga 'politik murni? Terlepas dari apa jawaban yang dapat diberikan
terhadap pertanyaan itu, masalah keadilan dan konsep hukum tidak bisa
dipandang
sebagai
sesuatu
yang
terlepas
dari
konstelasi
dan
kompleksitas kehidupan bersama manusia, lebih-lebih lagi dalam
masyarakat internasional yang berstruktur global seperti yang kita hidupi
sekarang.
21
Ibid.: 43 et seq.
74
Kelsen mungkin boleh ditandai sebagai salah satu tokoh penting
yang terakhir sejak Solon di zaman Yunani kuno yang berusaha
menerangkan substansi metafisik dari keadilan. Kendati begitu, bagaimanapun substansialnya masalah keadilan, dia pada akhirnya tidak bisa
dipandang sebagai suatu masalah yang berdiri sendiri, apalagi untuk
dirinya sendiri. Keadilan boleh jadi merupakan salah satu persoalan utama
bagi manusia sebagai ko-eksistensi, tetapi adalah kompleksitas dari
keadilan itu sendiri juga yang membuatnya terpaut dengan berbagai
aspek dari ko-eksistensi manusia itu. Itulah sebabnya, pemahaman
terhadap masalah keadilan tidak bisa mengesampingkan sudut pandang
yang lain, seperti yang akan dijelajahi dalam bagian-bagian selanjutnya
dari buku ini.
A. Keadilan Individual' dan Keadilan 'Sosial'
Kegiatan membahas filsafat hukum tanpa membahas juga masalah
keadilan sosial adalah mirip dengan mengupas kebenaran sambil
menghindarkan diri dari jenis-jenis kebenaran tertentu. Karena “hukum
adalah hukum karena maunya adil”, sedangkan hukum hanya relevan
bagi kehidupan bersama, maka pembahasan mengenai filsafat hukum
tidak mungkin mengingkari pembahasan mengenai masalah keadilan juga
dalam
konteks
kehidupan
bersama
yang
empiris
dan
sekaligus
multikompleks. Sebagai demikian, masalah itu sudah terlanjur dikenal
sebagai masalah 'keadilan sosial', yang bahkan diadopsi juga dalam
Pancasila sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar
1945.22 Karena ada pengertian 'keadilan sosial' seharusnya dikenal juga
pengertian 'keadilan individual' (seperti yang ternyata memang digunakan
oleh Magnis Suseno), yang jika memang ada dan digunakan, merupakan
22
Kerancuan itu bukan hanya terjadi dalam alam pikiran budaya bahasa Indonesia saja,
melainkan juga dalam alam pikiran bahasa lain. Dengan makna yang sama, dalam
bahasa Inggris 'keadilan sosial' disebut social justice, atau dalam bahasa Jerman
disebut soziate Gerechtigkeit.
75
contradictio in termini.23 Kendati demikian, jika konsistensi itu dilanjutkan,
kerancuan malah akan menjadi lebih besar lagi. Karena, seperti yang
sudah kita bahas di muka, masalah keadilan selalu hanya relevan dalam
hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain, sehingga
sebenarnya tidak ada pengertian 'keadilan sosial' maupun pengertian
'keadilan individual'. Istilah 'keadilan sosial' jadinya malahan merupakan
suatu tautologi yang serba salah.
Karena keadilan adalah suatu konsep yang hanya relevan dengan
hubungan antarmanusia, dia harus dibahas terutama dalam konteks yang
sosial sifatnya. Keadilan, atau dalam pemahaman Rawls fairness, pada
akhirnya memang tidak memiliki relevansi yang individual sifatnya.
Persoalan tentang adil atau tidak adil hanya bisa muncul sebagai akibat
dari rangkaian aksi dan reaksi dalam kompleks perilaku manusia yang koeksistensial. Karena itu, aspek hubungan antarmanusia yang sarat
dengan masalah keadilan membuatnya selalu peka untuk suatu tinjauan
yang bersifat sosiologis. Dan karena tinjauan sosiologis tidak bisa
menghindarkan diri dari pengakuan akan adanya struktur dalam
masyarakat mana pun, termasuk juga dalam 'masyarakat tanpa kelas'
model Marx, masalah keadilan pada akhirnya tidak bisa menghindarkan
diri dari pembahasan dalam konteks yang struktural juga. Itulah yang
tampaknya antara lain telah dilakukan oleh Magnis-Suseno dalam
bukunya Etika Politik dan empat dasawarsa yang lalu oleh Hart.24 MagnisSuseno menggunakan istilah 'keadilan sosial dan membedakannya dari
istilah 'keadilan individual”. Ada dua contoh menarik yang diberikannya.
Masalah 'keadilan individual' terjadi jika seorang pengajar memberikan
angka yang lebih baik untuk suatu prestasi yang sama kepada seorang
mahasiswa tertentu dibanding kepada mahasiswa yang lain semata-mata
23
Contradictio in termini adalah nama untuk suatu kesalahan berpikir yang
diindentifikasi dalam konteks logik yang artinya adalah: kesalahan dalam dirinya
sendiri. Contoh lain untuk bentuk kesalahan ini adalah misalnya pengertian 'es
goreng' atau 'api yang dingin'.
24
Magnis-Suseno: Bab XVII/2; Hart: 165-167.
76
karena favoritisme. Lain lagi dengan Hart yang memberikan contoh di
mana seorang ayah memperlakukan seorang anaknya secara kejam.
Dalam kasus seperti itu tidaklah terjadi ketidakadilan, Meskipun memang
diakui oleh Hart bahwa perlakuan seperti itu adalah “morally wrong, bad or
even wicked'25 Ayah tersebut baru bertindak tidak adil (unjust) jika dia
memperlakukan salah seorang anaknya secara lebih kejam dibandingkan
dengan perlakuan kejamnya kepada anak-anaknya yang lain.26 Hart tidak
menspesifikasikan ketidakadilan dalam kasus ayah-anak itu sebagai
ketidakadilan individual. Meskipun demikian, baik dalam kasus dosenmahasiswa dari Magnis-Suseno maupun dalam kasus ayah-anak dari
Hart, yang terjadi adalah ketidakadilan yang lahir dari pertimbangan
subjektif belaka. Jadi, yang relevan di sini adalah keadilan atau
ketidakadilan yang subjektif, dan bukan keadilan atau ketidakadilan yang
individual. Karena ada keadilan atau ketidakadilan yang subjektif, maka
ada juga keadilan atau ketidakadilan yang objektif.
Magnis-Suseno memperlihatkan masalah 'keadilan sosial' dalam
kasus, di mana seorang pengusaha karena rasa keadilannya mau
memberikan gaji yang memenuhi syarat hidup minimum kepada buruhnya,
tetapi tidak mampu melakukannya, karena struktur politik-sosial-ekonomi
tidak
memungkinkannya.27
'Ketidakadilan
sosial'
itu
disebutnya
'ketidakadilan struktural', karena ketidakadilan itu tidak terjadi karena lahir
dan
kebebasan
individual,
melainkan
karena
paksaan
struktural
masyarakat yang merupakan kenyataan objektif. Artinya, masalah
keadilan sosial adalah masalah keadilan struktural (dan masalah struktural
adalah masalah objektif). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: jika
'ketidakadilan sosial' adalah ketidakadilan struktural, masuk kategori
manakah 'ketidakadilan individual' itu? Magnis-Suseno memang tidak
mempersoalkannya, tetapi untuk filsafat hukum pertanyaan itu relevan,
25
Hart: 157.
Ibid.: 158.
27
Magnis-Suseno: 331 etseq.
26
77
karena berkaitan langsung dengan masalah kewajiban untuk memikul
akibat dari ketidakadilan. Kasus pengusaha-buruh seperti yang diajukan
oleh
Magnis-Suseno
memang
sangat
mungkin
merupakan
suatu
problematik 'ketidakadilan struktural', tetapi belum tentu juga merupakan
refleksi dari pelanggaran terhadap 'keadilan sosial'. Penjelasannya
mungkin dapat diperoleh lewat deskripsi dari Hart. Dengan semangat
utilitarianisme Inggris Hart memperlihatkan problematik ketidakadilan
sosial dalam suatu keadaan, manakala suatu kewajiban belajar oleh
negara untuk semua anak bukan hanya bisa melanggar hak warga negara
tertentu yang hendak mendidik anaknya melalui jalur swasta, melainkan
juga bisa mengorbankan pembiayaan bagi jaminan sosial bagi pekerja
industri, pensiun hari tua atau pelayanan kesehatan cuma-cuma yang juga
diperlukan dalam masyarakat.28
Rawls
mengabstraksikan
deskripsi
dari
Hart
itu
dengan
merumuskan 'keadilan sosial' sebagai “... the way in which the major
social institutions distribute fundamental rights and duties and determine
the division of advantages from social cooperatiori'?29 Dengan major social
institutions itu dimaksudkannya “the political constitution and the principal
economic and social arrangements”. Dalam kerangka serupa itu,
ketidakadilan sosial itu lebih merupakan akibat dari proses legislasi
parlementer yang gagal melaksanakan distribusi dari berbagai sumber
daya, ketimbang konsekuensi dari struktur politik-sosial-ekonomi yang
tidak kondusif. Dengan demikian Rawls cenderung untuk memahami
'keadilan sosial' sebagai keadilan distributif, sikap mana juga tercermin
dari pernyataannya yang nyata sekali disemangati oleh konstitusi Amerika
Serikat: “All social values — liberty and opportunity, income and wealth,
and the bases of self-respect— are to be distributed equally unless an
unequal distribution of any, or all, of these values is to everyone's
advantage. Konsekuensinya adalah, keadilan bukan hanya ditegakkan jika
28
29
Hart: 166 etseq.
Rawls, 1971: 7.
78
semua manfaat didistribusikan secara merata, tetapi juga jika distribusi
yang tidak merata itu berdampak memberi manfaat yang sama bagi
semua orang. Karena itu, ketidakadilan untuk Rawls juga menjadi soal
yang sederhana saja: “Injustice, then, is simply inequalities that are not to
the benefit of all'?30 Artinya, jika ketidakadilan itu dialami oleh semua
orang, keadaan seperti itu menghasilkan keadilan juga. Itulah konsekuensi
final dari konsep iustitia distributiva sebagai salah satu paham keadilan
seperti yang sudah lebih dulu diajukan oleh Thomas Aquinas.
Argumentasi dari Magnis-Suseno bagi penanggung jawab atas
situasi ketidakadilan struktural sangat jelas: karena paksaan yang timbul
dari struktur politik-sosial-ekonomi mengatasi kebebasan individu untuk
membuat keputusan yang secara etis bisa dipertanggungjawabkan,
tanggung jawab itu dicabut dari si individu dan beralih kepada pemerintah.
Tidak
bisa
lain,
karena
pemerintah
memang
ditugaskan
untuk
membangun suatu struktur politik-sosial-ekonomi yang sedemikian rupa,
sehingga tidak menghasilkan ketidakadilan struktural (ketidakadilan
objektif). Dalam kasus yang diajukan oleh Hart, tanggung jawab itu sudah
menjadi lebih jelas lagi, dan tidak sekedar terletak pada negara,
melainkan pada rakyat sendiri sebagaimana mereka (seharusnya) diwakili
dalam
parlemen.
'ketidakadilan
Sebaliknya,
individual'
penanggung
terpulang
jawab
kepada
bagi
penyebab
individu
yang
menyebabkannya, karena individu membuat keputusan yang kemudian
melahirkan 'keadilan individual' atau 'ketidakadilan individual' (yang lebih
tepat disebut sebagai 'keadilan subjektif atau 'ketidakadilan subjektif)
semata-mata berdasarkan kebebasan dan akalnya sendiri, individu yang
bersangkutan juga memikul tanggung jawab etis itu sendiri. Jadi korelat
bagi persoalan ketidakadilan struktural sebagai ketidakadilan objektif (atau
yang umumnya disebut 'ketidakadilan sosial' itu adalah ketidakadilan
subjektif (dan bukannya 'ketidakadilan individual'). Pada akhirnya, baik
'keadilan sosial' sebagai keadilan struktural yang objektif di satu sisi dan
30
Ibid.: 62.
79
'keadilan individual' sebagai keadilan subjektif di sisi yang lain, samasama memiliki esensi etik.
Dari korelasi itu bermula suatu masalah yang berkepanjangan: '
Jika suatu ketidakadilan subjektif bisa menghadapi reaksi dan sanksi dari
hukum positif, sejarah dunia memperlihatkan bahwa hukum positif pada
umumnya tidak memadai untuk mengatasi ketidakadilan struktural. Faktor
itulah juga yang mendorong Karl Marx yang nota bene adalah seorang
ahli
hukum
untuk
menganjurkan
revolusi
proletar
ketimbang
mengusahakan keadilan struktural melalui proses legislasi. Logika dari
Marx adalah: tidak ada orang yang sudan hidup senang cenderung
berbagi kesenangan dengan yang hidupnya tidak senang. Magnis-Suseno
tidak menganjurkan revolusi untuk mengatasi ketidakadilan strukturai,
melainkan mendorong perjuangan kaum korban ketidakadilan strukturai
itu sendiri.31 Anjuran itu bukannya tidak sarat dengan persoalan. Pertama,
korban ketidakadilan strukturai umumnya adalah pihak yang 'tidak
terstruktur' yang harus menghadapi suatu struktur (kekuasaan) yang
mapan, yang karena itu memiliki segala sarana dan menguasai segala
cara untuk mengatasi perjuangan dari kaum korban ketidakadilan
struktural. Salah satu cara yang sah antara lain dengan menerapkan
'hukum yang berlaku'. Padahal, 'hukum yang berlaku' itu sering sarat
dengan unsur ketidakadilan struktural. Itulah sebabnya, mengapa
Foucault
yang
postmodernis
dan
tergolong
dekonstruktif32
mengidentifikasi hukum sebagai kekuasaan juga, bukan hanya karena
hukum itu adalah pranata yang memaksa, tetapi juga lebih-lebih karena
hukum hanya mengharuskan atau melarang, sambil sama sekali tidak
menjanjikan imbalan.33
Di negara-negara yang otoriter, xhukum yang berlaku' itu seringkali
memang legal, tetapi lebih sering lagi adalah tidak legitim. Artinya, 'hukum
31
32
33
Magnis-Suseno: 334 etseq.
Sugiharto: 16.
Filiingham: 125.
80
yang berlaku' itu bisa saja dibuat sesuai dengan prosedur legislasi yang
berlaku, tetapi tidak mencerminkan rasa keadilan yang hidup di
masyarakat. Kedua, struktur yang menjadi mapan secara bertahap itu
pasti juga mempengaruhi kesadaran etis dari masyarakat. Dengan rasa
adil yang tidak bisa disalahtafsirkan, mereka yang lemah secara politissosial-ekonomis bisa saja mempertanyakan: Jika 'mereka' bisa berhurahura dalam gelimang kesenangan hidup, mengapa saya tidak boleh,
padahal kita hidup dalam suatu Republik yang demokratis? Sebenarnya,
interpretasi sepihak yang tidak terlalu salah itulah yang merupakan
sumber dari ketidakpuasan sosial, yang pada gilirannya bisa saja meletus
sebagai kerusuhan massal yang bisa sporadis, namun bisa juga melebar
kronis dan ada kalanya meluap sebagai gesellschaftliche Umwandlung (D:
penjungkirbalikan masyarakat).
Pertanyaan
seperti
itu akan membuka
pintu
bagi
banyak
pertanyaan lain, terutama yang menyangkut transparansi proses politiksosial-ekonomi, yang di kebanyakan negara berkembang tidak terbuka
bagi rakyat yang umumnya tidak terlibat di dalamnya, karena penerapan
demokrasi
baru
sebatas
penegasannya
dalam
konstitusi.
Risiko
berikutnya adalah rakyat yang tidak teremansipasi itu lambat laun juga
akan mempertanyakan kesepakatan politik yang menjadi dasar hukum
bagi struktur politik-sosial-ekonomi yang berlaku itu. Kira-kira pada saat
itulah kesadaran etik-sosial masyarakat akan memasuki kegalauan. Dan
jika kesadaran etik-sosial masyarakat sudah dibingungkan, kesadaran
hukum menjadi kebutuhan sosial yang kurang relevan, sehingga gejolak
sosial dan naiknya tingkat kriminalitas lalu menjadi sebagian dari akibatakibat besar yang dipicunya. Dalam keadaan demikian, aneka operasi
keamanan anti kerusuhan yang musiman sifatnya tidak hanya akan
mempunyai dampak tambal-sulam yang mahal, tetapi juga sekadar
mengabdi kepada struktur yang tidak adil itu.
Itulah sebabnya, mengapa sejumlah pemikir di bidang filsafat
selepas Perang Dunia II menganjurkan pembebasan manusia dari struktur
81
yang dalam kenyataannya menjadi penindasan terselubung atas manusia.
Dimulai dengan Lyotard, Derrida dan Foucault, para pemikir postmodernis
menganjurkan pembebasan eksistensi manusia dari berbagai struktur
yang telah tercipta dalam sejarah. Filsafat hukum baru untuk sebagian
bisa menanggapi pandangan ini, tidak lain terutama karena hukum pada
akhirnya adalah suatu struktur, malahan suatu struktur yang amat ketat.
Habermas berusaha menerobos dilema itu dengan teori komunikasinya
yang menganjurkan diskursus antarmanusia yang tidak hanya terobsesi
oleh keadilan (D: die Gerechtigkeit), melainkan juga memberi tempat bagi
pencarian bersama akan kebaikan (D: das Gute).34 Diskursus serupa
itulah diharapkan akan memungkinkan pelibatan rakyat banyak dengan
para pemimpinnya dalam proses politik-sosial-ekonomi yang merupakan
faktor penting dalam kerangka usaha menjaga stamina etik-sosial
masyarakat. Stamina etik-sosial masyarakat yang terjaga pada giliran
berikutnya akan meningkatkan rasa hormat terhadap hukum, dan rasa
hormat yang merata terhadap hukum akan membuat aneka operasi
keamanan anti kerusuhan yang seringkali sarat dengan konotasi
kekerasan
menjadi
kehilangan
relevansinya.
Mengapa?
Karena
masyarakat tahu bahwa mereka memang tidak perlu membuat kerusuhan.
Jika masyarakat merasakan bahwa aspirasi mereka terakomodasi dalam
proses politik-sosial-ekonomi, dengan sendirinya mereka juga tidak
merasa perlu meletupkan kemarahan mereka, dan operasi keamanan
antikerusuhan juga menjadi tidak perlu. Kita paham, bahwa situasi ideal ini
bagi Indonesia masih merupakan impian, bahkan mirip dengan impian di
siang hari (yang lebih implausibel ketimbang impian di malam hari).
B. Aspek-aspek Keadilan
Diskursus tentang hubungan antara keadilan 'individual' dan
keadilan 'sosial' mau tidak mau akan bersentuhan juga dengan persoalan
34
Habermas, 1992.
82
mengenai dua aspek keadilan yang utama, yaitu aspek pertinensi35
keadilan serta aspek rasa keadilan. Berikut ini hendak dibahas masingmasing aspek tersebut.
1. Pertinensi Keadilan
Pembahasan mengenai pertinensi keadilan menjadi relevan karena
masalah keadilan memang tidak bisa dipandang sebagai suatu hal atau
cita-cita yang berdiri sendiri. Masalah itu selalu terletak dalam suatu pola
hubungan antarmanusia yang tertentu. Huijbers mencatat bahwa Thomas
Aquinas adalah pemikir pertama yang meletakkan gagasan keadilan
dalam kerangka kontekstual tertentu:36
a. Keadilan distributif (L: iustitia distributiva) diterangkannya sebagai
keadilan yang berkenaan dengan pembagian jabatan, pembayaran
pajak, dan sebagainya, sedangkan
b. Keadilan legal (L: iustitia legalis) adalah yang menyangkut pelaksanaan hukum umum.
c. Keadilan
tukar-menukar
(L:
iustitia
commutativa)
adalah
yang
berkenaan dengan transaksi seperti jual-beli, dan yang diletak-kannya
diametral dengan
d. Keadilan balas dendam (L: iustitia vindicativa), yang (di masa itu)
berlaku dalam hukum pidana.
Huijbers juga mencatat bahwa pertinensi keadilan ini kemudian
direvisi oleh pemikir-pemikir Jerman: Samuel Pufendorf dan Gottfried
Wilhelm von Leibniz (1646-1716) sebagaimana kemudian dikembangkan
lebih jauh oleh muridnya: Christian Wolff (1679-1754).37 Di samping iustitia
distributiva dan iustitia commutativa, Pufendorf juga mengemukakan
adanya iustitia generalis, yaitu keadilan dalam artian umum yang
35
Istilah 'pertinensi' saya pinjam dari bahasa Inggris: pertinence. Artinya adalah
‘keterkaitan’ atau 'dalam hubungan dengan'. Maksudnya memang adalah, bahwa
keadilan selalu harus dilihat dalam kaitan dengan suatu hubungan antarmanusia yang
kontekstual.
36
Huijbers, 1993: 43.
37
Ibid.: 70-79.
83
merupakan
suatu
keutamaan
menimbulkan ikatan hukum.
38
moral
saja,
dan
karena
itu
tidak
Untuk Leibniz, keadilan didefinisikan
sebagai cinta kasih dari seorang yang bijaksana.39 Dari pengertian itulah
ditarik pertinensi yang timbal-balik sifatnya (iustitia commutativa) dan yang
distributif sifatnya (iustitia distributiva), serta keadilan yang umum sifatnya
(L: iustitia universalis) Wolff menerima deskripsi dari Leibniz, tetapi lebih
jauh membuat perbedaan antara keadilan yang umum sifatnya dari
keadilan yang berlaku khusus di bidang hukum (L: iustitia specialis).40
Seorang pemikir Jerman di zaman kita, Reinhold Zippelius (1928-)
yang guru besar dalam filsafat hukum dan hukum tata negara di
Universitas Erlangen, Jerman, mengadakan pembedaan aspek keadilan
yang lebih jauh yang mencakup lima pertinensi.
a. Iustitia commutativa (D: Verkehrsgerechtigkeit, keadilan timbal-balik)
yang menurutnya terjadi apabila warga masyarakat melakukan
transaksi
kontraktual,
dihadapkannya
pada
ausgleichende
Gerechtigkeit, yaitu keadilan yang terjadi pada suatu pemulihan dari
keadaan cidera hak, misalnya manakala dilakukan tindakan ganti rugi
kepada
penderita
yang
mengalami
perlakuan
yang
telah
merugikannya.41
b. Iustitia distributiva (D: austeilende Gerechtigkeit, keadilan dalam
pembagian) dinyatakannya sebagai berlaku dalam hukum perdata,
terutama di bidang hukum kebendaan maupun hukum keluarga. Jika
ada orang yang memecahkan jambang bunga di toko, dia akan harus
mengganti harganya, tidak peduli apakah dia hartawan atau orang
gembel. Keadilan distributif juga sangat menonjol dalam bidang hukum
38
Ibid:. 73. Suatu keutamaan moral yang tidak punya konsekuensi hukum sebenarnya
tidak relevan sebagai suatu bentuk keadilan, apalagi kalau kita kembali kepada
pemahaman, bahwa pertimbangan moral mengacu kepada apa yang baik atau buruk
secara batin, bukan adil atau tidak adil dalam konteks sosial.
39
Ibid.: 76 (L:) iustitia est caritas sapientis.
40
Ibid.: 77.
41
Zippelius, 1982: 89 et seq.: Karena itu, katanya, pada iustitia commutative berlaku
juga asas pacra sunt servanda.
84
waris.42 Perlu dikemukakan bahwa untuk Hart yang bertradisi Inggris,
iustitia distributiva itu relevan justru dalam kerangka keadilan sosial,
karena langsung bertautan dengan 'public good atau 'common good',
yang oleh Lloyd didefinisikan sebagai “the greatest happiness of the
greatest number”.43
Zippelius juga mengajukan tiga pertinensi keadilan lain. Yang
ketiga adalah apa yang disebutnya
a. Strafgerechtigkeit, yaitu keadilan pidana, yang terutama ditentukan oleh
dasar serta tujuan dari pengenaan hukuman pidana. Pertimbangan itu
tunduk pada asas nulla poena sine lege praevia.44
b. keadilan hukum acara (D: Verfahrensgerechtigkeit, keadilan dalam
proses hukum). Keadilan hukum acara ditentukan terutama oleh dua
syarat: kesempatan yang sama bagi semua pihak yang berperkara
untuk menegaskan posisinya, serta hakim yang tidak berat sebelah.45
Zippelius menganggap keadilan hukum acara sebagai kemajuan besar
terhadap hukum acara dari Zaman Pertengahan ketika hakim adalah
jaksa sekaligus. Keadilan hukum acara zaman bam dilambangkan oleh
suatu peribahasa Jerman yang berbunyi-Jika tiada penggugat, maka
tiada juga hakim.46 Yang terakhir adalah
c. keadilan
konstitusional
(D:Verfassungsgerechtigkeit).
Keadilan
konstitusional mengemuka dalam hal penentuan syarat-syarat untuk
pemangkuan jabatan kenegaraan. Dalam praktek kenegaraan yang
modern, penentuan syarat-syarat itu dilakukan secara demokratis,
terutama melalui pemilihan umum.47
42
43
44
45
46
47
Ibid.: 90, 114.
Hart: 167; Lloyd: 117. Perlu dikemukakan catatan, bahwa baik Hart maupun Lloyd
berpikir dalam kerangka utilitarianisme Inggris.
Zippelius, 1982: 91.
Dalam tradisi common law, posisi hakim yang demikian tunduk pada adagium “let no
one be judge in his own cause”, Hart: 160.
Zippelius, 1982: 92. D: Wo kein Klager, da kein Richter.
Ibid.
85
Perkembangan pemikiran mengenai pertinensi keadilan dari zaman
Ke zaman seperti yang dikemukakan di atas memperlihatkan, betapa
dimensi dalam hubungan antarmanusia telah berkembang menjadi
semakin kompleks. Pemahaman mengenai persoalan, bagaimana kita
meletakkan persoalan keadilan dalam format yang relevan dengan
demikian semakin lama juga semakin ditentukan oleh pemahaman kita
mengenai perkembangan multidimensional dalam hubungan antarmanusia. Perkembangan ini amat penting bagi para hakim yang
berkewaj.ban memperhatikan segala pertinensi yang relevan dalam kasus
yang harus diputuskannya untuk menghindari, bahwa keputusan yang
dibuatnya ternyata tidak adil, atau bisa juga proses pembuatan
keputusannya yang tidak adil. Hal yang selalu melatarbelakangi perkembangan multidimensional itu adalah rasa keadilan.
2. Rasa Keadilan48
Usaha untuk melaksanakan hukum guna menegakkan keadilan,
termasuk antara lain meletakkannya dalam pertinensi yang relevan, pada
akhirnya tidak dapat dilepaskan dari persepsi sang subjek hukum tentang
keadilan sebagai suatu gagasan yang berlaku umum tetapi pada akhirnya
dapat dirasakan secara subjektif. Dikatakan demikian, karena setiap
pribadi memiliki hati nurani yang berperan sebagai instansi moral dan
yang mampu “memandang sesuatu sebagai benar' (atau tidak benar).49
Axioma itulah yang menjadi dasar bagi Rawls untuk mengasumsikan
bahwa “...in a well-ordered society one effectively regulated by a shared
conception of justice, there is also a public understanding as to what is just
and unjust'?50 Asumsi itulah yang diandalkan, manakala sia-sia, misalnya
bagi
seorang
hakim
untuk
meyakinkan
seorang
kreditur
bahwa
48
Pembahasan mengenai masalah rasa keadilan di sini terutama bertumpu pada uraian
dari Reinhold Zippelius, 1982, dalam Bab IV mengenai Die Gerechtigkeit, anak bab B.
mengenai Das Rechtsgefuht. 120-156.
49
Ibid:. 120: Zippelius menggunakan istilah Rechtsgefuht (D, harfiah: perasaan benar,
sesuai dengan hukum) untuk apa yang di sini disebut rasa adil.
50
Rawls, 1971/56.
86
keputusannya untuk membebaskan seorang debitur yang dinyatakannya
tidak mampu (atau sebenarnya tidak mau) membayar utangnya, dari
segala tuntutan hukum, sebagai suatu bentuk keadilan. Sang kreditur
telah bersedia mengikatkan diri dalam perjanjian kredit, justru karena
percaya kepada rasa keadilannya yang timbal-balik dengan sang debitur,
atas dasar mana keduanya paling sedikit berasumsi bahwa setiap
pinjaman pada suatu ketika tertentu harus dilunasi. Kesamaan asumsi
itulah yang menjamin tegaknya 'a well-ordered society. Karena itu, 'a
shared conception of justice” niscaya memajukan 'a well-ordered society,
tetapi sebaliknya ‘a well-ordered society' tidak niscaya memajukan 'a
shared conception of justice', misalnya karena ketertiban itu dipaksakan
oleh suatu diktatur. Setiap masyarakat yang normal memiliki suatu
perasaan keadilan yang relatif merata terhadap bentuk-bentuk perilaku
yang adil atau tidak adil yang paling umum. Adalah sukar untuk
membayangkan, bahwa seorang
warga masyarakat
yang normal
menganggap suatu perbuatan adalah pencurian, selagi pada saat yang
sama, tetangganya mengatakan itu bukan pencurian. Persoalannya
adalah, dalam masyarakat-masyarakat yang sedang kacau, rasa keadilan
itu mengalami distorsi, sehingga apa yang dianggap tidak adil oleh yang
satu (misalnya: korupsi) dianggap wajar oleh yang lain, dan sebaliknya.51
Zippelius antara lain menggunakan pendekatan sosio-biolbgi untuk
menerangkan adanya instansi moral dasar pada manusia mengenai rasa
keadilan itu, sebagaimana diperlihatkan melalui contoh-contoh, seperti
kasih ibu, pantangan insest, penolakan terhadap kebiasaan perilaku yang
menyesatkan,
51
rasa
hormat
kepada
orang
yang
lebih
tua,
dan
Prof. Dr. Wolfgang Karte, mantan Presiden Bundeskartellamt (Kantor Anti Monopoli)
Jerman yang meninggal tahun 2003 dalam usia 74 tahun, dalam satu diskusi
menjelaskan bentuk korupsi yang di Rusia disebut ‘Deputat‘. Praktek itu meliputi
penggunaan uang suap, supaya si pejabat dapat menjalankan tugas publiknya
dengan layak (misalnya tidak berpakaian sebagai gembel, punya kendaraan, dan
sebagainya).
87
sebagainya.52 Kelsen mengabstraksikannya sebagai dua arti
dari
perasaan keadilan;
• Pertama sebagai sikap batin yang menghendaki perlakuan adil dan
tidak menghendaki perlakuan yang tidak adil.
• Kedua, sikap batin yang terlepas dari hukum positif yang menerima
perlakuan adil atau menolak perlakuan yang tidak adil.53
Di samping itu, Kelsen berpandangan bahwa instensi moral itu juga
bertumpu pada pengalaman empiris, manakala manusia “mengalaminya
melalui pergaulan yang emosional dan hidup dengan alam fisik, alam
psikis atau lainnya, dengan menggandrungi maupun menghindarkan,
dengan mendntai dan membenci”.54 Dalam pergaulan hidup sehari-hari
kita memang tidak pernah dapat bebas dari keputusan untuk menyetujui
dan menerima perilaku orang lain yang benar, pantas, masuk akal, atau
bisa juga sebaliknya: tidak menyetujui dan menolak perilaku yang tidak
benar, tidak pantas, tidak masuk akal. Ada kalanya instansi moral itu
bangkit justru ketika orang mengalami keadaan yang negatif. Zippelius
mengungkapkannya dengan mengutip Riezler yang mengatakan bahwa
“ketidakadilan adalah motivator dari rasa adil yang paling kuat”.55
Meskipun demikian, rasa keadilan tidak dapat dipandang sebagai
sesuatu yang mutlak. Rasa keadilan adalah senantiasa relatif sifatnya.56
Artinya, rasa keadilan itu punya keterkaitan spatial dan temporal, sehingga
tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan pribadi dari sang subjek hukum
52
Zippelius, 1982: 129.
Kelsen: 426-427.
54
Zippelius, 1982: 125, mengutip Max Scheler dalam Der Formalismus in der Ethik und
die materiale Wertethik, (D; Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai) 1954: 88 etseq.,
269.
55
Ibid.: 127: das Unrecht sei der starkste Erwecker des Rechtsgefuhls. Majalah 77me
edisi 21 Oktober 1996 memberitakan peristiwa di penjara Avon Park, Orlando, di
mana Arba Earl Barr, 33 tahun, seorang terpidana 114 tahun, memukuli Donald
McDougall, seorang terpidana 34 tahun, karena 14 tahun yang lalu menganiaya
sampai mati Ursula Sunshine Assaid, yang ketika itu berusia 5 tahun. Barr membunuh
McDougall setelah mendengar acara radio yang mengulas peristiwa pembunuhan
anak itu. Kabarnya, bahkan di penjara, sesama nara pidana memandang kejahatan
terhadap anak-anak sebagai sesuatu yang 'lebih jahat'.
56
Ibid: 148 etseq.
53
88
yang pasti hadir dalam konteks yang spatial dan temporal. Akibatnya,
sebagai pribadi, manusia senantiasa mendapatkan dirinya berada dalam
suatu kerangka tata nilai, baik tata nilai yang diperolehnya sejak lahir (E:
acquired), maupun tata nilai yang diperolehnya karena belajar (E:
achieved)?57 Rasa keadilan yang relatif seperti itu sukar untuk dapat diterapkan dan diberlakukan secara umum, karena setiap orang memiliki
perasaan subjektif yang membedakan perbuatan yang adil dari yang tidak
adil. Padahal, dalam hubungan antarmanusia diperlukan suatu tatanan
objektif yang diterima secara umum, agar rasa keadilan perseorangan itu
tidak pecah sebagai diskrepansi dalam rasa keadilan antarperseorangan,
atau lebih parah lagi, persilangan dalam rasa keadilan antarperseorangan.
Karena itu, paling sedikit diperlukan suatu kesepakatan mengenai ramburambu rasa keadilan itu, supaya lalu lintas antarrasa keadilan itu tidak
saling bertumburan. Berdasarkan konsensus itulah Zippelius mengamati
bahwa warga dari suatu ma-syarakat yang sama dapat sepakat untuk
menerapkan asas perlakuan yang sama bagi setiap orang yang terlibat
dalam suatu kasus yang (hipotetis adalah) sama dengan memberlakukan
norma-norma yang sama.58 Asas itu mirip dengan prinsip yang berlaku
bagi para hakim Inggris: “ Treat like cases alike and different cases
differently?59 Tetapi, dari situ justru Hart mengamati keterbatasan dari
rasa keadilan itu, karena dalam kenyataan tidaklah ada dua kasus yang
persis sama satu dengan yang lainnya. Lagi pula, seperti yang
diperingatkan oleh Rawls, “ Treating similar cases similarly is not a
sufficient guarantee of substantive justice”.60 Dan itulah sebabnya
mengapa dalam kerangka masyarakat, rasa keadilan perseorangan yang
subjektif sifatnya itu harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga
menjadi rasa keadilan yang dapat dirasakan secara umum. Dengan
57
Soal ini akan dibahas lebih jauh dalam bab 810.
Ibid.: 140 etseq.
59
Hart: 159; Lloyd: 122.
60
Rawls, 1971: 59.
58
89
perkataan lain, agar dapat diterima sebagai rasa keadilan yang umum,
rasa keadilan perseorangan yang subjektif harus diimpersonalisasikan.
Habermas juga tampil dengan keberatan terhadap asumsi akan
adanya kasus yang hipotetis adalah sama, justru karena keunikan yang
spatial dan temporal dari setiap individu. Kenyataan itu menghasilkan
konsekuensi bahwa norma yang mengarahkan manusia kepada keadilan
dan kebaikan harus merupakan hasil dari diskursus antarindividu yang
terus-menerus tanpa mengesampingkan keunikan dari masing-masing
individu (dan karena itu juga martabatnya masing-masing).61 Untuk
Habermas, proses impersonalisasi harus memberi tempat kepada proses
komunikasi. Sejumlah pemikir pasca Perang Dunia II yang dimotivasi oleh
semangat perdamaian dan kemerdekaan seperti antara lain Habermas
memang berusaha untuk mendorong manusia untuk kembali kepada
kekuatan bahasa yang dinamis, ketimbang kepada norma-norma yang
terstruktur dan karenanya justru mengandung risiko membelenggu
manusia kembali. Kendati demikian, gagasan seperti yang dilancarkan
oleh Habermas nampaknya belum tentu 'bisa jalan' sekalipun di negaranegara sangat maju dengan penduduk yang rata-rata berpendidikan
sangat tinggi. Karena itu, pada akhirnya masyarakat memerlukan suatu
kerangka normatif (betapa pun relatif sifatnya) untuk lebih dulu bisa
merasa tertib untuk pada langkah berikutnya bisa merasa adil juga.
Dalam kerangka normatif seperti itulah Zippelius menilai praktek
hukum di Inggris sebagai suatu model yang memperlihatkan, betapa
kebiasaan untuk menetapkan keadilan berdasarkan case law yang
diletakkan dalam rangkaian praktek reasoning from case to case (menalar
dari kasus ke kasus) melahirkan prinsip (L:) ex aequo et bono yang
61
Habermas, 1992: 61, “In Argumentationen mussen die Teilnehmer pragmatisch
voraussetzen, daB im Prinzip alle Betroffenen als Freie und Gleiche an einer
kooperativen Wahrheitssuche tellnehmen, bei der einzig der Zwang des besseren
Arguments zum Zuge kommen dari?” (D: Dalam argumen-argumen para peserta
harus memprasyaratkan secara pragmatis, bahwa pada prinsipnya semua yang
terlibat mengambil bagian dalam pencarian kebenaran sebagai orang yang bebas dan
sederajat, pada mana hanya argumen yang lebih baik yang boleh dipaksakan untuk
tampil).
90
sebenarnya sudah dikenal oleh orang Romawi.62 Praktek yang sinambung
itu setelah tahun 1258 melalui Provisions of Oxford mendapatkan bentuk
sebagai apa yang sekarang kita kenal sebagai equity law.63 Dengan tertib
itu seorang hakim yang harus menetapkan keadilan dapat berorientasi
kepada kasus-kasus (yang sudah teruji) sebelumnya untuk mengambil
sikap terhadap kasus yang dihadapinya dengan mengangkat unsurunsurnya yang sama. Memang, segera saja kita akan bertanya, bukankah
usaha mencari keadilan dengan cara membandingkan seperti itu bersifat
relatif, dan karena itu bisa tidak handal? Hal itu sudah dipikirkan oleh para
ahli hukum Romawi, dan mereka mengatasi risiko itu dengan jalan
membuat kesimpulan dari praktek hukum yang sinambung itu dan
menuangkannya ke dalam pengertian-pengertian dan aturan-aturan yang
baku, misalnya pacta sunt servanda, yang sampai sekarang berlaku
sebagai salah satu pilar terpenting dalam hukum perjanjian, baik perdata
maupun internasional publik.64 Kesimpulan yang dapat kita tarik dari
pengamatan yang dilakukan oleh Zippelius dicerminkan oleh hakim yang
dapat memainkan peranan yang besar dalam mempertegas dan juga
membakukan rasa keadilan itu, sebagaimana yang dapat dia cerminkan
dalam keputusan-keputusan pengadilan.
Rasa keadilan yang dirumuskan oleh hakim yang mengacu kepada
pengertian-pengertian serta aturan-aturan yang baku dengan cara
demikian dapat dipahami oleh masyarakat, yang pada giliran berikutnya
berpeluang
untuk
ikut
menghayati
(sharing)
rasa
keadilan
yang
dirumuskan oleh hakim itu dalam keputusannya. Rasa keadilan yang
62
Lloyd: 121 et.seq. Ex aequo et bono yang sering dikutip dalam kontrak-kontrak
internasional artinya: berdasarkan kepantasan dan kebaikan. Asas ini dirumuskan
oleh Sallust, seorang penulis sejarah Romawi yang hidup tahun 86-35 SM: Sellner:
43.
63
Istilah 'equity’ adalah istilah yang sukar dicari padan katanya dalam bahasa kita.
Banyak pengarang menyamakannya dengan 'equality sehingga menerjemahkannya
sebagai 'kesamaan', yang sebenarnya adalah jauh dari sama. Equity law paling dekat
dapat diterjemahkan sebagai 'hukum kepantasan', yang pada akhirnya bertumpu
terutama pada common sense, atau akal sehat. Blumenwitz, Dieter, Einfuhrung in das
Anglo-Amerikanische Recht. Munchen: Beck, 1976.
64
Zippelius, 1982: 123.
91
diketengahkan hakim lalu dapat menjadi rasa keadilan yang juga
dirasakan oleh masyarakat. Sebenarnya, rasa keadilan yang merata itulah
yang menjadi soko guru dari konsep the rule of law.65 Sebaliknya, jika
terdapat kesenjangan yang menganga di antara rasa keadilan yang hidup
dalam diri hakim di satu sisi dan rasa keadilan yang dipahami oleh
masyarakat di sisi lain, terdapat juga risiko bahwa kepercayaan
masyarakat kepada hakim berkurang. Dan karena dalam masyarakat
berlaku kepercayaan umum bahwa hakim adalah lambang dan benteng
dari hukum yang harus (dan ingin) dihormati demi kepentingan mereka
sendiri, timbul juga risiko bahwa masyarakat akan mengabaikan hukum.
Pengakuan dari Ketua Mahkamah Agung bahwa memang terjadi korupsi
di lembaga yang dipimpinnya harus dihargai sebagai kejujuran yang
hanya berguna sebagai langkah pertama untuk mengatasinya.66 Jika
langkah pertama itu tidak dilanjuti, bisa dibayangkan bahwa masyarakat
akan menganggap Mahkamah Agung sebagai lembaga yang hampa
belaka. Semakin besar kesenjangan antara rasa keadilan hakim (apalagi
jika banyak sekali hakim yang korup) dan rasa keadilan masyarakat,
semakin besar juga tingkat ketidakpedulian masyarakat kepada hukum.
Ketika
dalam
bulan
Desember
2009
Pengadilan
Tinggi
Banten
menghukum Prita Mulia Sari untuk membayar ganti rugi IDR204 juta
kepada Rumah Sakit Omni International dalam perkara Prita yang digugat
karena dianggap telah mencemarkan nama baik Omni, masyarakat
bereaksi dengan mengumpulkan IDR500 juta untuk membantu Prita. Prita
ini digugat karena telah “mengomel” melalui media e-/773/7mengenai
kualitas yang mengecewakan dari perawatan yang diterimanya ketika
berobat di Omni. Omelan melalui media internet itu yang meluas dengan
cara “getok tular” kemudian menjadi dasar bagi gugatan pencemaran
nama baik. Reaksi masyarakat itu sebenarnya merupakan fenomen yang
65
66
Hal ini akan kita bahas lebih jauh dalam bab 720.
The Jakarta Post, Suara Pembaruan, 15 Januari 2004.
92
mencemaskan, karena dengan begitu tercipta situasi, di mana “rakyat
berhadapan dengan pengadilan”. Jika para hakim tidak mawas diri dan
memajukan pengetahuan kehakimannya, logika ini bisa berlanjut dan
pada gilirannya bisa tercipta situasi di mana rakyat merasa perlu
“mengadili pengadilan yang tidak adil”. Kemungkinan lain yang tidak kalah
mencemaskannya adalah berkembangnya kebiasaan untuk main hakim
sendiri yang pada akhirnya akan bermuara dalam anarki. Padahal, salah
satu misi utama dari politik melalui pelaksanaan hukum adalah justru
menghindarkan timbulnya anarki. Karena itu kejelasan dalam hubungan
antara hukum dan politik menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan.
93
BAB VI
HUKUM DAN MORAL
Kehendak untuk berlaku baik terhadap sesama manusia bermuara
pada suatu pergaulan antarapribadi yang berdasarkan prinsip-prinsip
rasional dan moral Tetapi kehendak yang sama mendorong orang-orang
juga untuk membuat suatu aturan hidup bersama yang sesuai dengan
prinsip-prinsip moral tersebut. Hal ini dilaksanakan dengan membentuk
suatu sistem norma-norma yang harus ditaati orang-orang yang termasuk
suatu masyarakat tertentu.
Kehendak untuk mengatur hidup menghasilkan tiga macam norma,
yakni:
1. norma moral yang mewajibkan tiap-tiap orang secara batiniah.
2. norma-norma masyarakat, atau norma-norma sopan santun yang
mengatur pergaulan secara umum.
3. norma-norma yang mengatur hidup bersama secara umum dengan
menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Inilah norma-norma
hukum.67
Nyatalah perbedaan antara norma-norma menyangkut baik dasar
norma (objektif-subjektif) maupun bobot norma (menuntut-mengundang).
Norma-norma moral bersifat subjektif, sebab berkaitan dengan suara hati
subjek, lagi menuntut untuk sungguh-sungguh ditaati. Norma-norma
sopan santun bersifat objektif, karena berhubungan dengan masyarakat
dan kebudayaan, lagi tidak menuntut, hanya mengundang saja. Norma67
C.J.T. Kansil menyebutkan empat macam norma, yakni: norma agama, norma
kesusilaan, norma kesopanan, norma hukum. (Pengantar, hlm. 84). Lili Rasjidi
menulis tentang hal ini, bahwa memang ada perbedaan pendapat. Ditulisnya, bahwa
Mochtar Kusumaatmaja menyebut tiga macam norma, yakni: norma kebiasaan,
norma hukum, norma kesusilaan, sama dengan Satjipto Rahardjo: norma kesopanan,
norma hukum, norma kesusilaan, sedangkan Soerjono Soekanto menyebutkan empat
macam norma, yakni: norma kebiasaan, norma hukum, norma kesusilaan, norma
kepercayaan. (Rasjidi, Filsafat, hlm. 35, nota). Lihat juga L.J. van Apeldoorn,
Pengantar, hlm. 34-35 tentang “hukum dan kaidah-kaidah etika lainnya”. Pembagian
norma-norma tergantung dari kemungkinan untuk menggolongkan norma kepercayaan pada norma-norma lainnya atau tidak.
94
norma hukum bersifat objektif, karena kaitannya dengan negara, tetapi
menuntut untuk ditaati.68
Dikatakan bahwa norma-norma berakar dalam suatu kehendak,
oleh sebab suatu “harus” yang ada dalam tiap-tiap norma mengandaikan
bahwa terdapat suatu menghendaki. Di bidang hukum menghendaki itu
adalah suatu menghendaki warga-warga negara bersama-sama untuk
mengatur hidup secara yuridis. Maka suatu kehendak yuridis merupakan
akar dan syarat seluruh hukum (positif).
R. Stammler menerangkan, bahwa kehendak yuridis tersebut
bukanlah suatu realitas psikologis, seperti halnya kalau seorang perampok
menghendaki bahwa aku menyampaikan harta saya. Saya memberikan
harta itu, bukan karena suatu kewajiban yuridis, melainkan semata-mata
oleh sebab aku takut (psikis). Maka kehendak psikologis itu termasuk
bidang “ada”, bukan bidang “harus”. Tampak juga bahwa kehendak
psikologis itu bersifat subjektif, sedangkan kehendak yuridis bersifat netral
dan objektif (Kelsen).
Menurut Stammler kehendak bebas dan otonom yang membangun
hidup bersama secara yuridis bersifat formal belaka (dalam axtiFormen a
priori Kant), dan tidak ada sangkut pautnya dengan isi suatu tatahukum
(yang bersifat materiil). Maka dibedakan dengan teliti antara pengertian
hukum yang formal, dan ide hukum yang material.69
Perbedaan antara hukum dan moral (etika) dapat diterangkan lebih
lanjut dengan mengingat akan suatu perbedaan prinsipiil dalam
menghadapi norma-norma moral dan hukum, sebagaimana dikemukakan
oleh I. Kant. Dalam menghadap norma-norma moral timbullah sikap
“Moralitat”, yakni penyesuaian diri dengan kewajiban batin; di sini hati
68
M. Soebagio Slamet Supriatna mencatat, bahwa norma-norma berbeda satu sama
lain juga karena jenis-jenis sanksi berbeda.
- akibat pelanggaran norma agama timbullah dosa
- akibat pelanggaran norma kesusilaan orang dicela
- akibat pelanggaran norma kesopanan orang dikucilkan dari pergaulan
- akibat pelanggaran norma hukum orang kena tindakan pidana.
Dasar-dasar llmu Hukum, Jakarta 1987, hlm. 11.'
69
Tentang filsafat hukum Stammler, lihat Theo Huijbers, Lintasan, hlm. 150-156.
95
nurani menjadi motivasi yang sebenarnya kelakuan dan tindakantindakan. Dalam menghadap norma-norma yuridis timbullah sikap
“Legalitat”, yakni penyesuaian diri dengan apa yang telah ditentukan
dalam undang-undang.
Uraian Kant ini dapat dilengkapi dengan uraian A. Reinach (18831917) sebagai berikut:
-
norma moral mengena suara hati pribadi manusia, norma yuridis berlaku atas dasar suatu perjanjian.
-
hak-hak moral tidak pernah hilang dan tidak dapat pindah ke orang
lain, sedangkan hak-hak yuridis dapat hilang dan dapat pindah (sesuai
dengan perjanjian).
-
norma moral mengatur baik hidup batin maupun hidup lahir, sedangkan norma hukum hanya mengatur kehidupan lahiriah saja (de internis
praetor non iudicat)70
Norma-norma moral dan norma-norma hukum memang berbeda,
akan tetapi adanya suatu hubungan yang erat antara kedua jenis norma
itu di mana-mana diakui juga. Tentang hal ini Kant menjelaskan bahwa
pembentukan hukum sebenarnya merupakan bagian tuntutan moral
(Imperatif kategoris) yang dialami manusia dan hidupnya. Imperatif itu
mengharuskan orang untuk mengatur hidup bersama sesuai dengan
prinsip-prinsip moral dan karenanya membentuk undang-undang yang
adil. Oleh sebab itu definisi Kant tentang hukum memuat suatu unsur etis,
yakni bahwa kriteria bagi pembentukan hukum adalah kebebasan moral.
Definisi Kant berbunyi sebagai berikut: hukum ialah sejumlah syarat yang
menjamin
70
bahwa
kehendak
seorang
pribadi
disesuaikan
dengan
Seorang hakim tidak mengadili apa yang ada dalam batin. Maksudnya, sejauh
kehidupan batin tidak menyebabkan tindakan-tindakan lahiriah. Tetapi kehidupan
batin ikut diselidiki dalam tindakan-tindakan pidana, yang menjadi perkara di depan
pengadilan. Umpamanya diselidiki apakah suatu tindakan (pembunuhan dll) dilakukan
secara berencana atau tidak. Tentang filsafat Reinach lihat: Theo Huijbers, Lintasan,
hlm. 231-234
96
kehendak pribadi lain menurut norma umum kebebasan. Nyatalah di
sini bahwa tatahukum diartikan sebagai buah sikap moral manusia.71
Hubungan antara moral dan hukum sebenarnya lebih erat lagi,
sebab norma-norma yang berbeda-beda secara abstrak, secara konkret
tidak usah muncul secara terpisah. Seperti terjadi bahwa norma-norma
sopan santun menjadi norma-norma hukum, demikianlah terjadi bahwa
norma-norma yang berlaku secara moral, dijadikan hukum juga. Malahan
justru dengan dijadikan norma hukum norma moral menjadi efektif bagi
hidup bersama. Karenanya kewajiban yang timbul akibat timbulnya normanorma yuridis ada duajenis:
-
yang bersifat ekstern karena sanksi; kewajiban ini bersifat yuridis
belaka.
-
yang juga bersifat intern atau moral; kewajiban ini bersifat etis-yuridis.
Suatu norma yuridis mewajibkan secara etis-yuridis, bila isinya
menyangkut nilai-nilai dasar hidup. Inilah halnya pertama-tama dengan
tatahukum sebagai keseluruhan, yang tertuju untuk mencegah kekacauan
dalam masyarakat. Karenanya sebagai makhluk sosial tiap-tiap manusia
berwajib secara batin menerima tatahukum yang sah sebagai hukum.
Nilai-nilai dasar hidup dijaga dan dikembangkan juga melalui peraturanperaturan yuridis yang isinya ada sangkut-pautnya dengan manusia
individual sebagai pribadi. Tiap-tiap orang berwajib secara batin
menghormati manusia sesuai dengan martabatnya.72
71
“Das Recht ist... der Inbegriff der Bedingungen, unter denen die Willkiir des einen mit
der Will-kiir des anderen nach einem allgemeinen Gesetze der Freiheit zusammen
vereinigt werden kann”. Tentang filsafat Kant mengenai hukum dan moral lihat Theo
Huijbers, Lintasan, hlm. 94-102.
Pandangan Kant tentang hukum berbeda dengan pandangan Hegel dalam hal ini,
bahwa bagi Kant kebebasan-kebebasan orang-orang lebih-lebih saling membatasi,
sedangkan bagi Hegel kebebasan-kebebasan orang-orang lebih-lebih saling membina
dan mewujudkan. Menurut Hegel hukum adalah perwujudan/penjelmaan kebebasan
rasional (Grundlinien, par. 5-9-30). Di-tulisnya: Das Recht ist etwas Heiliges
iiberhaupt, weil es das Dasein der selbstbewussten Freiheit ist, (hukum adalah
sesuatu yang suci, oleh sebab itu penjelmaan kebebasan yang sadar tentang dirinya).
72
D. Scheltens, Pengantar, hlm. 65-66.
Bahwa suatu peraturan yuridis dapat menghasilkan suatu kewajiban etis dibantah
oleh I. Kant. Menurut pendapatnya macam-macam motif diperbolehkan dalam
97
Adanya nilai etis pada hukudm dapat dimengerti, bila kita insyaf
bahwa hukum itu merupakan salah satu hasil kegiatan manusia sebagai
ko-eksistensi etis. Memang benar bahwa hukum secara langsung berasal
dari kehendak yuridis. Tetapi kehendak yuridis itu merupakan bagian
kehendak (etis) manusia untuk mengatur kehidupan bersama dalam
segala relasi-relasinya, supaya relasi-relasi itu baik dan karenanya
kehidupan manusia sendiri-sendiri menjadi baik dan bahagia.73
Dapat dikatakan juga bahwa hukum terkait dengan etika, sebab
melalui norma-norma hukum ditetapkan suatu tatanan sosial yang adil.
Hukum mewajibkan secara etis-yuridis, sebab hukum menciptakan
keadilan.74
A. The rule of law
Sistem hukum Anglo-saxon mengutamakan “the rule of law”.75 “The
rule of law” harus ditaati, bahkan juga bila tidak adil. Sikap ini serasi
dengan ajaran aliran-aliran filsafat empiris. Menurut filsafat itu hukum,
entah tertulis entah tidak tertulis, adalah peraturan-peraturan yang
diciptakan oleh suatu bangsa selama sejarahnya, dan yang telah
mentaati hukum, mp. juga takut akan hukuman. Alasannya ialah bahwa undangundang yang telah tersusun termasuk bidang “ada”, bukan bidang “yang seharusnya”.
Pandangan Kant ini dapat dikritik dengan argumen, bahwa terdapat peraturanperaturan yuridis tertentu yang tidak dapat dimengerti dengan baik selain dalam
hubungannya dengan seorang manusia yang dengan hati nuraninya merasa berwajib
untuk ikut membangun suatu kehidupan bersama yang baik.
73
Bagaimana hukum penggalang etika hidup diuraikan secara lebih terperinci oleh
Fernand van Neste dengan menyebutkan empat unsur etis yang ada pada hukum,
yakni:
1. hukum mengatur relasi-relasi antara orang.
2. hukum memasukkan timbal balik dalam relasi-relasi yang digalang orangorang.
3. hukum menuntut kesetiaan pada janji:
4. hukum menciptakan kebebasan.
Lihat: Bet ethisch gehalte van het recht (1982).
74
Tentang keadilan dalam hubungan dengan moral (etika) dan hukum, lihat juga filsuffilsuf abad ke-17 dan ke-18, a.l. Spufendorff dan Ch. Wolff. Theo Huijbers, Lintasan,
hlm. 72-73; 76-77. Tentang hubungan yang erat antara etika dan hukum lihat buku
yang sama, hlm. 282-285.
75
Istilah “the rule of law” dapat digunakan juga untuk menunjuk hukum secara umum.
Demikianlah dalam buku Dr. Sunarjati Hartono, Apakah the rule of law itu? (Bandung
1968). Jawabannya: bahwa pemerintah pun harus tunduk pada hukum. (hlm. 1)
98
bermuara pada suatu perundang-undangan tertentu dan suatu praktek
pengadilan tertentu. Hukum adalah undang-undang (lex/wet). Adil tidak
merupakan unsur konstitutif pengertian hukum.76
Bahwa adil tidak termasuk pengertian hakiki suatu tata hukum tidak
berarti bahwa suatu tata hukum dapat dibentuk begitu saja. Memang jelas
bahwa suatu tata hukum harus dibentuk dengan tujuan keadilan. Oleh
sebab itu diterima juga, bahwa pembentukan suatu tata hukum
berpedoman pada prinsip-prinsip umum tertentu, yakni prinsip-prinsip
yang menyangkut kepentingan umum suatu bangsa. Prinsip-prinsip yang
digunakan untuk mencapai tujuan tersebut diambil dari keyakinankeyakinan yang hidup dalam masyarakat tentang suatu kehidupan yang
adil dan baik.77
Bahkan usaha untuk menggalang keadilan dalam masyarakat tidak
berhenti di sini. Sesudah dibentuknya suatu tata hukum yang sebaik
mungkin, masih dapat terjadi bahwa suatu undang-undang tidak
mengembangkan suatu kepentingan bersama malahan menentangnya.
Alasannya undang-undang selalu bersifat abstrak, sedangkan perkaraperkara yang muncul selalu bersifat konkret. Karena pengalaman ini
pemerintah-pemerintah tertentu
sampai
pada
kebijaksanaan
untuk
memberikan wewenang kepada para hakim untuk menerapkan kaidah76
Aliran-aliran yang berhaluan Marxis sebenamya menurut pandangan ini juga.
Bedanya dengan aliran positivisme ialah, bahwa para ahli hukum positivisme insyaf
tentang kemungkinan adanya ketidakadilan dalam undang-undang, sedangkan oleh
para Marxis hukum negara dianggap nyaris sempurna, sebagai ungkapan kehendak
rakyat yang tulen.
77
Ajaran ini telah nampak pada para filsuf utilitarisme abad ke-19 yakni pada J.
Bentham dan J. Stuart Mill. Filsuf-filsuf tersebut merumuskan dan mengembangkan
pikiran ini dengan melontarkan semboyan: tujuan negara dan hukum ialah mencapai
kebahagiaan yang paling besar bagi sejumlah orang yang sebesar mungkin (the
greatest happiness of the greatest number). Lihat: F. Copleston tentang “the utilitarian
movement” dalam A history., vol. 9, part 1, hlm. 17-112.
John Rawls dalam bukunya yang terkenal tentang Keadilan (A theory of justice,
1973) dalam garis-garis besarnya mengikuti ajaran empirisme ini juga. Apa yang
nampak dalam uraiannya ialah, bahwa semua sistem hukum akan gagal, bila tidak
disemangati suatu sikap moral pribadi yang sejati (justice as fairness).
Diterangkannya bahwa beberapa prinsip konkret harus membimbing para penguasa
untuk mewujudkan suatu keadilan sosial yang memadai. Lihat: Theo Huijbers,
Lintasan, hlm. 193-202.
99
kaidah hukum pada kasus-kasus yang konkret menurut keyakinan hati
nurani sendiri. Suatu juri rakyat mengawasi pelaksanaan hukum para
hakim tersebut.78 Dengan demikian dapat terjadi bahwa hakikat hukum
yang sebenarnya tidak terletak lagi dalam kaidah-kaidah hukum,
melainkan dalam praktek para hakim (realisme hukum Amerika) dan/atau
kesadaran rakyat (Duguit).
Melihat praktek hukum ini tidak dapat mengherankan bahwa kata
hukum dalam arti “ius” dalam bahasa Inggris diganti dengan kata
“jurisprudence”
(kebijaksanaan
hukum).
Kata
“jurisprudence”
ini
menandakan praktek hukum berlandaskan filsafat empirisme dan
pragmatisme yang umumnya dianut para sarjana Inggris dan Amerika,
yang intinya ialah bahwa kebenaran berasal dari pengalaman dan praktek
hidup. Karenanya apa yang diutamakan dalam menangani hukum ialah
hubungan dengan realitas hidup, bukan dengan prinsip-prinsip abstrak
tentang keadilan. Terdapat dua golongan: “sociological jurisprudence” dan
“realistic jurisprudence”. Yang terakhir ini lebih memperhatikan rasa etis
para warganegara. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam aliran yang
terakhir ini pandangan atas hukum sebagai gejala empiris tidak berubah.
Apa yang dianggap sebagai yang tetap tertinggi ialah: “the law”. Kalau
karena kebijaksanaan yang salah tujuan keadilan tak tercapai, “the law”
tetap berlaku. Maka adil atau tidak adil tidak berpengaruh atas pengertian
tentang hukum.79
Konsekuensi-konsekuensi pandangan ini ialah:
78
Kiranya tidak semua pakar di bidang hukum menganggap sistem juri rakyat sebagai
yang paling istimewa. Umpamanya Roscoe Pound. Juri itu dibentuk mencari equity
(kepatutan, keadilan). Namun sistem juri itu, di samping mahal, seringkali juga
merupakan “pengadilan yang tidak memuaskan dalam banyak golongan perkara...
mengakibatkan banyak sekali ketidakadilan” (Pengantar, hlm. 71).
79
Tercatat oleh Rasjidi tentang kata “jurisprudence”, bahwa tidak terdapat kata
Indonesia yang tepat bagi pengertian ini (hlm. 24, nota). Tetapi menurut hemat kami
hal ini tidak mengherankan, sebab di Indonesia pengertian tentang hukum bukanlah
hasil suatu pendekatan empiris terhadap hukum. Jurisprudence berarti suatu teori
hukum yang menyusul praktek hukum. Di Indonesia pengertian hukum tidak lepas dari
cita-cita keadilan.
100
1. pada prinsipnya hukum tidak melebihi negara (yang dianggap sama
dengan rakyat). Hukum adalah sarana pemerintah untuk mengatur
masyarakat secara adil. Tidak ada instansi yang lebih tinggi. Karena
kemungkinan akan ketidakadilan tetap ada, diharapkan bahwa dalam
praktek hukum keyakinan-keyakinan rakyat dan kebijaksanaan para
hakim meng-hindari penyimpangan yang terlalu besar.80
2. hukum adalah apa yang berlaku de facto, dan itulah akhirnya tidak lain
daripada keputusan hakim dan juri rakyat. Orang-orang yang hidup
dalam negara-negara yang menganut sistem hukum ini, sadar tentang
hal ini juga; hukum tidak lain daripada apa yang ditentukan.81
3.
menurut
aliran-aliran
empirisme
hukum
sebagai
sistem
tidak
mewajibkan secara batiniah, sebab tidak dipandang sebagai bagian
tugas etis manusia. Hukum harus ditaati oleh sebab terdapat sanksi
bagi pelanggaran berupa hukuman. Bila ada orang yang taat secara
batiniah, hal ini terjadi karena keyakinan agama.82
B. Hukum sebagai “ius”
Dalam sistem hukum yang disebut kontinental, hukum ditanggapi
sebagai terjalin dengan prinsip-prinsip keadilan: hukum adalah undangundang yang adil. Pengertian hukum ini serasi dengan ajaran filsafat
tradisional, di mana pengertian hukum yang hakiki berkaitan dengan arti
hukum sebagai keadilan. Hukum ialah Ius atau Recht. Bila suatu hukum
yang konkret, yakni undang-undang bertentangan dengan prinsip-prinsip
80
Roscoe Pound menulis bahwa di U.S.A. “apa yang lebih dinyatakan (dalam hukum)
adalah sifat pemerintah”. Pengantar, hlm. 21.
81
Dr. David Cleveland menulis dalam suatu makalah (1988), bahwa kepercayaan rakyat
Inggris pada badan-badan peradilannya, khususnya para hakim-hakimnya, besar
sekali.
82
Bahwa hukum tidak mewajibkan secara batiniah berkaitan dengan tanggapan bahwa
kewajiban yuridis tidak mendapat akarnya dalam suatu nilai idiil yang perlu
diwujudkan, melainkan dalam kenyataan-kenyataan yang ditanggapi secara empiris.
Menurut para sosiolog yang berusaha menerangkan kewajiban hukum ada dua
kemungkinan. Ada teori kekuasaan: hukum mewajibkan karena ditentukan oleh yang
berkuasa (Machtstheorie); ada teori ketaatan: hukum mewajibkan, sebab pada
kenyataannya orang sudah biasa mentaati peraturan (Anerkennungstheorie). Lihat:
C.S.T. Kansil, Pengantar, hlm. 499-500.
101
keadilan, maka hukum itu tidak bersifat normatif lagi, dan sebenarnya
tidak dapat disebut hukum lagi. Undang-undang hanya hukum, bila adil.
Dengan kata teknis: adil merupakan unsur konstitutif segala pengertian
tentang hukum.83
Terutama
pengalaman
sesudah
pahit
perang
dengan
dunia
kaum
Nazi
kedua,
yang
seringkali
akibat
menyalahgunakan
kekuasaannya untuk membentuk undang-undang yang menginjak normanorma keadilan, makin banyak orang sampai pada keyakinan bahwa
hukum harus berkaitan dengan prinsip-prinsip keadilan untuk dapat
dipandang sebagai hukum. Bila tidak, undang-undang dianggap tindakan
kekerasan saja.84
Walaupun pengertian yang tradisional ini menyangkut segala
peraturan yang disusun oleh orang untuk mengatur hidup bersama
mereka, kebanyakan orang zaman kini insyaf juga, bahwa tidak terdapat
hukum dalam arti yang penuh di luar tata hukum negara. Alasannya pada
zaman modern ini memang dalam negaralah tempatnya di mana cita-cita
yang menimbulkan hukum, harus diwujudkan. Tetapi hal ini tidak berarti
bahwa hukum harus dimengerti sebagai bagian negara. Hukum harus
dimengerti secara prinsipiil sebagai bagian kehidupan manusia sebagai
keseluruhan. Oleh sebab itu selalu diusahakan untuk menggabungkan
hukum dengan prinsip-prinsip susila yang telah ditentukan sebagai citacita hukum dan yang ingin digalang antara lain melalui peraturanperaturan umum, yakni melalui hukum.85
83
Bahwa hukum bersifat etis, sebab harus digabungkan dengan keadilan, sudah
dikemukakan oleh para tokoh filsafat Yunani: Sokrates, Plato, Aristoteles; kemudian
dipertahankan dalam sistem hukum Romawi, yang membedakan antara hukum
sebagai ius dan hukum sebagai lex. Hukum yang benar adalah ius. Hukum Romawi
itu dengan tanggapan-tanggapan fundamentalnya menjadi sumber utama hukum
perdata Eropa kontinental.
84
Demikianlah pandangan aliran-aliran eksistensialisme, neo-kantianisme, ajaran
hukum alam, bersama penganut-penganutnya, seperti a.l. Radbruch, Gurvitch,
Reinach/Hommes, Geny, Messner, Brunner, Bender, Luypen dll. (Lihat Theo Huijbers,
Lintasan).
85
Bahwa memang demikian halnya dikemukakan a.l. oleh P. Bohannan dalam
karangannya: Hukum dan Pranata Hukum. Menurut pendapatnya terdapat dua definisi
102
Dapat disimpulkan bahwa menurut pandangan ini suatu peraturan
tidak menjadi hukum secara otomatis, karena berasal dari pemerintah.
Hanya peraturan yang adil disebut hukum. Maka hukum dapat
didefinisikan sebagai berikut: hukum adalah peraturan-peraturan (undangundang) yang dibentuk sebagai norma untuk mengatur masyarakat secara
adil (oleh instansi yang berwenang).
Mengapa sifat adil itu dianggap bagian konstitutif hukum?
Alasannya ialah bahwa hukum dipandang sebagai bagian tugas etis
manusia di dunia ini. Artinya: manusia berwajib membentuk suatu hidup
bersama yang baik dengan mengaturnya secara adil. Maka “adalah
menurut keinsyafan keadilan yang timbul secara spontan dalam hati
manusia, bahwa hukum merupakan pernyataan keadilan. Hukum yang
tidak adil itu bukan hukum”.86
Sebagai alasan penunjang dapat disebut:
1. pemerintah-pemerintah negara mana pun selalu membela tindakantindakannya dengan memperlihatkan keadilan yang nyata di dalamnya.
2. undang-undang yang tidak cocok lagi dengan prinsip-prinsip keadilan
seringkali dianggap usang dan tak berlaku lagi.
3. dengan bertindak secara tidak adil suatu pemerintah sebenarnya bertindak di luar wewenangnya, maka secara tidak sah juga.
Bila telah ditetapkan secara prinsipil bahwa undang-undang hanya
dapat disebut hukum dan karenanya mewajibkan, bila sungguh-sungguh
adil, jangan ditarik kesimpulan bahwa tiap-tiap orang pada tiap-tiap saat
dapat menilai undang-undang sebagai tidak adil, dan karenanya tidak sah.
Menurut para pemikir yang menuntut supaya undang-undang adil untuk
tentang hukum: definisi Austin sebagai perintah dari penguasa dan pengertian hukum
sebagai berkaitan dengan moral. Tentang yang terakhir dituliskannya, bahwa di sini
hukum “masuk jauh ke dalam bidang filsafat moral”. (Ihromi, Antropologi, hlm. 54)
86
W. Luypen, Rechtvaardigheid, Hilversum 1970.
1. hukum mengatur relasi-relasi antara orang.
2. hukum memasukkan timbal balik dalam relasi-relasi yang digalang orangorang.
3. hukum menuntut kesetiaan pada janji.
4. hukum menciptakan kebebasan.
Lihat: Het ethisch gehalte van het Recht. (1982)
103
dapat disebut hukum, selalu harus diandaikan bahwa undang-undang
yang dibentuk oleh instansi yang berwenang adalah adil dan sah, asal
saja dasar-nya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan. Hal ini memang
wajar, sebab pemerintah yang sah diberi mandat oleh rakyat untuk
mengatur masyarakat secara bijaksana. Karenanya rakyat tidak berhak
mencabut mandat itu, atas dasar perasaan individual saja. Di samping itu
suatu pemerintah berhak dan berwajib menjaga kepastian hukum.87
Konsekuensi pandangan ini memang nyata
1. Hukum melebihi negara, sebab ada kaitannya dengan manusia sebagai
manusia. Memang hukum bertempat tinggal di dalam negara, tetapi
negara (pemerintah) bukan hanya tidak boleh, melainkan juga tidak
berwenang membentuk suatu tata hukum yang tidak adil. Inti
pandangan ini ialah bahwa orang-orang yang menganggap hukum
sebagai “ius” lebih percaya pada prinsip-prinsip moral - walaupun
abstrak - daripada pada kebijaksanaan manusia. Karenanya menurut
mereka makna hukum sebagai hukum yang adil lebih terjamin dalam
perumusan-perumusan
abstrak
daripada
dalam
putusan-putusan
seorang hakim. Mutlak perlu bagi seorang hakim untuk menyesuaikan
diri dengan perumusan-perumusan yang telah terwujud dalam undangundang.88
87
Menurut Radbruch, yang menerima berlakunya hukum kodrat, kemungkinan untuk
menolak suatu tata hukum sebagai tidak bermoral, maka tidak sah, sangat terbatas.
Bahwa suatu tata hukum tidak adil hanya dapat ditentukan oleh suatu lembaga
khusus, yakni suatu pengadilan yang ditunjuk untuk itu. Bila menurut pandangan
pengadilan ini ternyata terdapat suatu tata hukum yang tidak adil, maka undangundang tersebut, boleh (harus) dipandang sebagai bukan hukum, dan tidak berlaku.
Pertimbangan ini mungkin menunjuk ke pengadilan Neuremberg sesudah perang
dunia kedua, yang menyatakan ketidakadilan dalam tata hukum rezim nazi.
88
Ternyata pengertian hukum pada orang masih diwarnai cita-cita idiil, sebagaimana
digambarkan pada zaman dulu oleh Plato. Memang dalam fenomenologi modern
yang kami ikuti di sini, tidak diterima adanya suatu dunia ide yang terpisah dari dunia
riil. Juga tidak diterima lagi adanya ide-ide tentang sesuatu yang terang belaka.
Namun diterima adanya ide-ide yang tidak bersifat empiris semata-mata, sebagai
campuran dari terang dan gelap (clair-obseur), umpamanya ide keadilan. Sebab itu
serangan para penganut realisme Skandinavia terhadap pengertian idealistis tentang
hukum ada dasarnya. Adanya kebenaran “metafisika” dalam pengertian manusia
merupakan bagian pandangan hidup tradisional. Lihat Theo Huijbers, Lintasan, hlm.
181-187.
104
2. Sikap kebanyakan orang terhadap hukum mencerminkan pengertian
hukum ini. Mereka memandang hukum sebagai semacam moral hidup.
Oleh sebab itu orang-orang berpandangan juga bahwa apa yang
dirumuskan dalam undang-undang tidak dapat tercapai sepenuhnya
seperti halnya cita-cita moral, karena kelemahan manusia. Tiap-tiap
peraturan hukum memang disusun sebagai norma untuk ditaati, tetapi di
antaranya terdapat juga yang lebih-lebih ditanggapi sebagai norma idiil,
yang perlu dikejar akan tetapi belum tentu dapat ditaati sepenuhnya.
3. Oleh
sebab
prinsip-prinsip
pembentukan
hukum
(prinsip-prinsip
keadilan) bersifat etis, maka hukum sebagai keseluruhan mewajibkan
secara batiniah.89
Menurut pertimbangan kami pengertian hukum sebagaimana
dipapar-kan dalam pengertian hukum tradisional cocok dengan pengertian
hukum yang ada pada orang-orang Indonesia.
1. Seperti umumnya di dunia modern demikian juga di Indonesia hukum
secara spontan digabungkan dengan negara/pemerintah. Namun
tekanan diletakkan pada nilai hukum dan tujuan hukum, yakni keadilan
sosial. Pemerintah berwajib membentuk suatu tatanan sosial yang adil
melalui hukum. Hukum dikaitkan dengan pemerintah, oleh sebab hanya
pemerintah mempunyai sarana untuk menciptakan tatanan sosial yang
adil itu.90
Di Indonesia sebagai negara yang luas dan dengan kebudayaankebudayaan yang berbeda-beda, lagi pula dalam taraf pembangunan,
dapat dimengerti bahwa orang lebih percaya kepada kaidah-kaidah
abstrak yang mencerminkan keadilan daripada kepada putusan-putusan
89
90
Tentang hukum dan kewajiban lihat Theo Huijbers, Lintasan, hlm. 279-285.
Satjipto Rahardjo menulis: Setiap kali kita berbicara mengenai hukum, tidak sesuatu
lain yang kita pikirkan atau bayangkan kecuali hukum negara (1980).
Lagipula ditulisnya: Pada sistem Eropa kontinental hukum didasarkan pada
sistem perundang-undangan, sedangkan pada sistem common law hukum lebih
dilandasi pada norma yang mencuat dalam praktek. Dengan demikian arah dan
perkembangan masyarakat kita lebih ditentukan oleh perundang-undangan ketimbang
konvensi-konvensi dari dan oleh praktek sebagaimana terjadi di Amerika. (Merajut...,
hlm. 31).
105
seorang hakim. Demi pembangunan negara tidak dapat diberikan suatu
wewenang besar kepada para hakim. Makna hukum muncul pertamatama dalam tata hukum.91
2. Hukum pertama-tama ditanggapi sebagai sesuatu yang dicari dan dicita-citakan oleh rakyat, sesuatu yang idiil. Hal ini nampak dalam hal ini,
bahwa pembentukan hukum berdasarkan Sila kelima Pancasila, yakni
keadilan sosial.
Apakah orang-orang Indonesia pada umumnya merasa berwajib
secara moral untuk mentaati tata hukum negara, memang sulit untuk
dipastikan. Kiranya keyakinan ini sangat tergantung dari penyuluhan yang
diadakan guna meningkatkan kesadaran hukum.
Kesadaran hukum itu tidak dapat disamakan dengan pengetahuan
tentang undang-undang yang berlaku. Kesadaran hukum dimulai dengan
kesadaran bahwa hukum mewajibkan secara batin sebagai bagian tugas
etis manusia di dunia ini.
C. Hakikat hukum
Bila
kita
mengikuti
gagasan-gagasan
sistem
hukum
yang
tradisional, maka dapat disimpulkan bahwa inti pengertian hukum, yakni
hakikat hukum, ialah menjadi sarana bagi penciptaan suatu aturan
masyarakat yang adil. Pengertian tentang hakikat hukum ini berazaskan
pada beberapa pertimbangan.
1. Ternyata semua orang ingin mewujudkan suatu aturan masyarakat
yang adil. Inilah pertama-tama ditujui dengan pembentukan undangundang, yang harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan. Lagipula
dengan tujuan yang sama didirikan pengadilan. Pengadilan itu
tugasnya ialah memecahkan perkara-perkara yang timbul akibat
91
Menurut alm. Yap Thiam Hien pengadilan tidak bisa terlalu diandalkan. Perlu
menggalang keterbukaan komunikasi antara lembaga negara dan fihak-fihak yang
berhubungan dengan penegakan hukum. (April 1988).
106
perbedaan pandangan antara warga-warga negara, sesuai dengan
prinsip-prinsip keadilan.
Dari gambaran hukum ini sudah jelas bahwa hukum menurut
hakikat- , nya, yakni sebagai hukum, melebihi negara, walaupun berasal
dari negara. Sama seperti sebuah patung melebihi pemahat patung.
Memang benar bahwa sebuah patung dibuat oleh seorang seniman, akan
tetapi dalam membuat patung seniman itu terikat akan norma-norma
estetis. Maka hakikat patung sebagai patung ditentukan oleh normanorma estetis, bukan oleh seniman.92
2. Pada umumnya hukum dialami' sebagai berwibawa, sedemikian rupa
sehingga hukum secara psikologis berpengaruh terhadap orang-orang
yang tinggal di bawah hukum tersebut. Wibawa hukum itu tidak terletak
dalam kekuasaan pemerintah yang menciptakannya. Bila demikian
halnya, hukum ditakuti, bukan dihormati. Tetapi sebaliknya wibawa ada
pada hukum, oleh sebab hukum itu mengatur dan membimbing
kehidupan bersama manusia atas dasar prinsip-prinsip keadilan (yang
sebagai norma kesusilaan sebagian diambil dari norma-norma
agama).93
Catatan: Biasanya dikatakan bahwa hukum “memaksa”. Apakah
benar? Memang hukum mengharuskan. Akan tetapi mengharuskan itu
dapat berarti: menuntut, dan dapat berarti: memaksa. Mana yang benar?
Kalau umpamanya
pemerintah menuntut supaya
semua anggota
masyarakat hidup dalam damai, dan bahwa mereka tidak boleh saling
menyiksa dan membunuh, sulit mengatakan bahwa pemerintah memaksa.
Pemerintah menuntut, sebab peraturan-peraturan yang bersangkutan
mengharuskan, tetapi pada umumnya orang-orang tidak merasa dipaksa.
Perbedaan antara kedua kata itu terletak dalam sikap psikologis orang92
Konsekuensi pandangan ini ialah bahwa pengadilan pidana itu bukan yang terpenting
dalam menata hukum; hakikat hukum adalah menegakkan keadilan.
Lihat: Van Eck, Lex deux formes principales, hlm. 243-244.
93
Hal ini dikemukakan secara singkat oleh Max Weber: “wewenang adalah intisari
hukum”. Lihat O. Notohamidjojo, Makna Negara Hukum, hlm. 72-86.
107
orang yang diharuskan untuk mentaati peraturan-peraturan. Kata
“menuntut” bersifat objektif, tanpa memandang sikap orang; kata
“memaksa” mengandung suatu unsur subjektif, yakni mengandaikan
bahwa orang mau melanggar peraturan yang ditentukan. Maka hukum
sebagai paksaan mengandaikan pelanggaran. Bila terdapat pelanggaran
hukum memaksa dengan ancaman penggunaan kekerasan (denda,
penjara). Tetapi menurut perasaan kebanyakan orang hukum tidak
memaksa, melainkan menuntut. Hukum hanya memaksa bagi orang yang
tidak mau taat kepada hukum.
3. Sejak
pertengahan
abad
ini
timbullah
kecenderungan
untuk
menyamakan hukum dengan suatu upaya (a tool) membangun
masyarakat, khususnya menurut aspek sosio-ekonominya (social
engineering). Perkembangan ini berjalan terus, sejajar dengan
perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang bersangkutan.94
Terhadap tendens ini dapat dikatakan, bahwa memang benar
bahwa hukum main peranan dalam “social engineering” tersebut. Namun
dengan ini hukum tidak menjadi bagian sosiologi atau politik hukum.
Hukum menunjuk suatu aspek hidup yang istimewa yang tidak terjangkau
oleh ilmu-ilmu sosial dan ekonomis. Yakni intisari hukum ialah “membawa
aturan yang adil dalam masyarakat”. Karenanya pengertian tradisional,
yang menggabungkan hukum dengan etika (yakni keadilan), tetap dapat
dipertahankan.
Kesimpulan: hakikat hukum ialah: membawa aturan yang adil dalam
masyarakat (rapport du droit, inbreng van recht). Semua arti lain menunjuk
kearah ini sebagai arti dasar segala hukum.95
94
Adanya tuntutan pada hukum sudah nampak dalam istilah-istilah yang berasal dari
hukum Romawi, seperti “iuris vinculum” (ikatan hukum) dan “obligatio” (kewajiban).
Lihat Pospisil (Ihromi, Antropologi dan Hukum, hlm. 153-157).
95
Lihat a.l. Roscoe Pound, Pengantar.
108
BAB VII
PROFESI DAN PROFESI HUKUM
A. PEKERJAAN DAN PROFESI
Bekerja merupakan kodrat manusia, sebagai kewajiban dasar.
Manusia dikatakan mempunyai martabat apabila dia mampu bekerja
keras. Dengan bekerja manusia dapat memperoleh hak dan memiliki
segala apa yang diinginkannya. Bekerja merupakan kegiatan pisik dan
pikir yang terintegrasi.
Pekerjaan dapat dibedakan menurut:
(a) kemampuan, yaitu pisik dan intelektual;
(b) kelangsungan, yaitu sementara dan tetap (terus-menerus);
(c) lingkup, yaitu umum dan khusus (spesialisasi).
(d) tujuan, memperoleh pendapatan dan tanpa pendapatan.
Dengan demikian, pekerjaan dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis,
yaitu:
(a) Pekerjaan dalam arti umum, yaitu pekerjaan apa saja yang mengutamakan kemampuan pisik, baik sementara atau tetap dengan tujuan
memperoleh pendapatan (upah).
(b) Pekerjaan dalam arti tertentu, yaitu pekerjaan yang mengutamakan
kemampuan pisik .atau intelektual, baik sementara atau tetap dengan
tujuan pengabdian.
(c) Pekerjaan dalam arti khusus, yaitu pekerjaan bidang tertentu
mengutamakan kemampuan pisik dan intelektual, bersifat tetap,
dengan tujuan memperoleh pendapatan.
1. Kriteria Profesi
Dari tiga jenis pekerjaan tersebut, profesi adalah pekerjaan yang
tercantum pada butir (c), dengan kriteria sebagai berikut:
(a) meliputi bidang tertentu saja (spesialisasi);
(b) berdasarkan keahlian dan keterampilan khusus;
109
(c) bersifat tetap atau terus-menerus;
(d) lebih mendahulukan pelayanan daripada imbalan (pendapatan);
(e) bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat;
(f) terkelompok dalam suatu organisasi.
Berdasarkan kriteria tersebut, profesi dapat dirumuskan sebagai
pekerjaan tetap bidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang
dilakukan secara bertanggung jawab
dengan tujuan memperoleh
penghasilan. Pekerja yang menjalankan profesi disebut profesional.
Berikut ini dibahas satu demi satu kriteria profesi tersebut.
(a) Spesialisasi
Pekerjaan bidang tertentu adalah spesialisasi yang dikaitkan
dengan bidang keahlian yang dipelajari dan ditekuni. Biasanya tidak ada
rangkapan dengan pekerjaan lain di luar keahliannya itu. Contoh
spesialisasi bidang keahlian tertentu itu antara lain adalah bidang hukum,
ekonomi, farmasi, kedokteran, keteknikan, kependidikan. Tidak ada
rangkapan, misalnya dokter tidak merangkap apoteker, notaris tidak
merangkap pengacara, akuntan tidak merangkap pengusaha. Hal
demikian itu, tidak memungkinkan yang bersangkutan melakukan
pekerjaannya secara profesional.
(b) Keahlian dan keterampilan
Pekerjaan bidang tertentu itu berdasarkan keahlian dan keterampilan
khusus, yang diperolehnya melalui pendidikan dan latihan. Pendidikan
dan latihan itu ditempuhnya secara resmi pada lembaga pendidikan dan
latihan yang diakui oleh pemerintah berdasarkan undang-undang.
Keahlian dan keterampilan yang diperolehnya itu dibuktikan oleh sertifikasi
yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga lain yang diakui
oleh pemerintah. Contoh keahlian itu antara lain :
(1) Notaris, keahliannya dibuktikan oleh ijazah program pendidikan
notariat Fakultas Hukum.
(2) Akuntan, keahliannya dibuktikan oleh ijazah program pendidikan
akuntansi Fakultas Ekonomi.
110
(3) Dokter, keahliannya dibuktikan oleh ijazah program pendidikan
kedokteran Fakultas Kedokteran.
(4) Apoteker, keahliannya dibuktikan oleh ijazah program pendidikan
farmasi Fakultas Farmasi.
(5) Arsitektur, keahliannya dibuktikan oleh ijazah program pendidikan
keteknikan arsitektur Fakultas Teknik.
(c) Tetap atau terus-menerus
Pekerjaan bidang tertentu itu bersifat tetap atau terus-menerus,
Tetap artinya tidak berubah-ubah pekerjaan, misalnya sekali berkiprah
pada profesi notaris seterusnya tetap sebagai notaris. Sedangkan terusmenerus artinya berlangsung Untuk jangka waktu lama sampai pensiun,
atau berakhir masa kerja profesi yang bersangkutan.
(d) Mengutamakan Pelayanan
Pekerjaan bidang tertentu itu lebih mendahulukan pelayanan
daripada imbalan (pendapatan). Artinya mendahulukan apa yang harus di
kerjakan, bukan berapa bayaran yang diterima. Kepuasan konsumen atau
pelanggan lebih diutamakan. Pelayanan itu diperlukan karena keahlian
profesional, bukan amatir. Seorang profesional selalu bekerja dengan
baik, benar, dan adil. Baik artinya teliti, tidak asal kerja, tidak sembrono.
Benar artinya diakui oleh profesi yang bersangkutan. Adil artinya tidak
melanggar hak pihak lain. Sedangkan imbalan dengan sendirinya akan
dipenuhi secara wajar apabila konsumen atau pelanggan merasa puas
dengan pelayanan yang diperolehnya.
(e) Tanggung jawab
Dalam memberikan pelayanannya, profesional itu bertanggung
jawab kepada diri sendiri dan kepada masyarakat. Bertanggung jawab
kepada diri sendiri, artinya dia bekerja karena integritas moral, intelektual,
dan profesional sebagai bagian dari kehidupannya. Dalam memberikan
pelayanan, seorang profesional selalu mempertahankan cita-cita luhur
profesi sesuai dengan tuntutan kewajiban hati nuraninya, bukan karena
sekadar hobi belaka.
111
Bertanggung
jawab
kepada
masyarakat
artinya
kesediaan
memberikan pelayanan sebaik mungkin sesuai dengan profesinya, tanpa
membedakan antara pelayanan bayaran dan pelayanan cuma-cuma serta
menghasilkan layanan yang bermutu, yang berdampak positif bagi
masyarakat. Pelayanan yang diberikan tidak semata-mata bermotif
mencari keuntungan, melainkan juga pengabdian kepada sesama
manusia. Bertanggung jawab juga berarti berani menanggung segala
risiko yang timbul akibat pelayanannya itu. Kelalaian dalam melaksanakan
profesi menimbulkan dampak yang membahayakan atau merugikan diri
sendiri, orang lain, dan berdosa kepada Tuhan.
(f) Organisasi Profesi
Para profesional itu terkelompok dalam suatu organisasi biasanya
organisasi profesi menurut bidang keahlian dari cabang ilmu yang
dikuasai.
Bertens menyatakan, kelompok profesi merupakan masyarakat
moral (moral community) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama.
Kelompok profesi memiliki kekuasaan sendiri dan tanggung jawab khusus.
Sebagai profesi, kelompok ini mempunyai acuan yang disebut kode etik
profesi.
Contoh organisasi profesi antara lain adalah :
(1) Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin);
(2) Ikatan Notaris Indonesia (INI);
(3) Ikatan Dokter Indonesia (IDI);
(4) Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi);
(5) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
(6) Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi).
Pengakuan terhadap organisasi profesi didasarkan pada nilai moral
yang tercermin pada keahlian dan keterampilan anggota profesi yang
bersangkutan bukan karena ketentuan hukum positif
112
2. Nilai Moral Profesi
Profesi menuntut pemenuhan nilai moral dari pengembannya. Nilai
moral merupakan kekuatan yang mengarahkan dan mendasari perbuatan
luhur. Franz Magnis Suseno (1975) mengemukakan tiga nilai moral yang
dituntut dari pengemban profesi, yaitu :
(a) Berani berbuat untuk memenuhi tuntutan profesi.
(b) Menyadari kewajiban yang harus dipenuhi selama menjalankan
profesi.
(c) Idealisme sebagai perwujudan makna misi organisasi profesi.
Atas dasar ini setiap profesional dituntut untuk bertindak sesuai
dengan cita-cita dan tuntutan profesi serta memiliki nilai moral yang kuat.
Dalam melakukan tugas profesi, profesional harus bertindak objektif,
artinya bebas dari rasa malu, sentimen, benci, sikap malas, dan enggan
bertindak.
B. PROFESI HUKUM
Apabila profesi itu berkenaan dengan bidang hukum, maka
kelompok profesi Itu disebut kelompok profesi hukum. Pengemban profesi
hukum bekerja secara profesional dan fungsional. Mereka memiliki tingkat
ketelitian, kehati-hatian, ketekunan, kritis, dan pengabdian yang tinggi
karena mereka bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada
sesama anggota masyarakat, bahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mereka bekerja sesuai dengan kode etik profesinya. Apabila terjadi
penyimpangan
atau
pelanggaran
kode
etik,
mereka
harus
rela
mempertanggungjawabkan akibatnya sesuai dengan tuntutan kode etik.
Biasanya dalam organisasi profesi, ada Dewan Kehormatan yang akan
mengoreksi pelanggaran kode etik.
1. Nilai Moral Profesi Hukum
Profesi hukum merupakan salah satu profesi yang menuntut
pemenuhan nilai moral dari pengembannya. Nilai moral itu merupakan
kekuatan yang mengarahkan dan mendasari perbuatan luhur. Setiap
113
profesional hukum dituntut supaya memiliki nilai moral yang kuat. Franz
Magnis Suseno (1975) mengemukakan lima kriteria nilai moral yang kuat
yang mendasari kepribadian profesional hukum. Kelima kriteria tersebut
dijelaskan seperti berikut ini.
(a) Kejujuran
Kejujuran adalah dasar utama. Tanpa kejujuran maka profesional
hukum mengingkari misi profesinya, sehingga dia menjadi munafik, licik,
penuh tipu diri. Dua sikap yang terdapat dalam kejujuran, yaitu :
(1) Sikap terbuka. Ini berkenaan dengan pelayanan klien, kerelaan
melayani secara bayaran atau secara cuma-cuma.
(2) Sikap wajar. Ini berkenaan dengan perbuatan yang tidak berlebihan,
tidak otoriter, tidak sok kuasa, tidak kasar, tidak menindas, tidak
memeras.
(b) Otentik
Otentik artinya menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan
keaslian-nya, kepribadian yang sebenamya. Otentiknya pribadi profesional
hukum antara lain:
(1) tidak menyalahgunakan wewenang;
(2) tidak melakukan perbuatan yang merendahkan martabat (perbuatan
tercela);
(3) mendahulukan kepentingan klien;
(4) berani berinisiatif dan berbuat sendin dengan bijaksana, tidak sematamata menunggu perintah atasan;
(5) tidak mengisolasi diri dari pergaulan sosial.
(c) Bertanggung Jawab
Dalam
menjalankan
tugasnya,
profesional
hukum
wajib
bertanggung jawab, artinya:
(1) kesediaan melakukan dengan sebaik mungkin tugas apa saja yang
termasuk lingkup profesinya;
(2) bertindak secara proporsional, tanpa membedakan perkara bayaran
dan perkara cuma-cuma (prodeo);
114
(3) kesediaan
memberikan
laporan
pertanggungjawaban
atas
pelaksanaan kewajibannya.
(d) Kemandirian moral
Kemandirian moral artinya tidak mudah terpengaruh atau tidak
mudah mengikuti pandangan moral yang terjadi di sekitarnya, melainkan
membentuk penilaian dan mempunyai pendirian sendiri. Mandiri secara
moral berarti tidak dapat dibeli oleh pendapat mayoritas, tidak terpengaruh
oleh pertimbangan untung rugi (pamrih), menyesuaikan diri dengan nilai
kesusilaan dan agama.
(e) Keberanian moral
Keberanian moral adalah kesetiaan terhadap suara hati nurani
yang menyatakan kesediaan untuk menanggung risiko konflik. Keberanian
tersebut antara lain:
(1) menolak segala bentuk korupsi, kolusi, suap, pungli;
(2) menolak tawaran damai di tempat atas tilang karena pelanggaran lalu
lintas jalan;
(3) menolak segala bentuk cara penyelesaian melalui jalan belakang yang
tidak sah.
2. Bidang-bidang Profesi Hukum
Manusia hidup bermasyarakat pada hakikatnya terikat oleh hukum.
Di setiap pojok kita hidup di situ ada hukum. Hukum ada di mana-mana.
Jika demikian halnya, masyarakat merupakan jaringan hukum (web of
law). Ahli hukum dengan sendirinya berperan penting karena berhadapan
dengan tata kehidupan. Ahli hukum selalu terlibat dengan kegiatan menciptakan hukum, melaksanakan hukum, mengawasi pelaksanaannya, dan
apabila terjadi pelanggaran hukum, maka perlu ada pemulihannya
(penegakannya). Terakhir adalah kegiatan pendidikan hukum yang menghasilkan para ahli hukum. Semua kegiatan tersebut merupakan bidangbidang profesi hukum. Betapa pentingnya ahli hukum, sehingga tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa “peradaban manusia ditentukan oleh para
115
ahli hukum. Baik buruk peradaban masyarakat bergantung pada baik
buruk perilaku para ahli hukumnya.
Hukum mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia.
Peraturan hukum mengatur dan menjelaskan bagaimana seharusnya :
(a) legislator menciptakan hukum;
(b) pejabat melaksanakan administrasi negara;
(c) notaris merumuskan kontrak-kontrak harta kekayaan;
(d) polisi dan jaksa menegakkan ketertiban hukum;
(e) pengacara membela kliennya dan menginterpretasikan hukum; .
(f) hakim menerapkan hukum dan menetapkan keputusannya;
(g) pengusaha menjalankan kegiatan bisnisnya;
(h) konsultan hukum memberikan nasihat hukum kepada kliennya;
(i) pendidik hukum menghasilkan ahli hukum.
Pekerjaan yang ditangani oleh para profesional hukum tersebut di
atas tadi merupakan bidang-bidang profesi hukum, yang jika dirincikan
adalah sebagai berikut ini:
(a) profesi legislator;
(b) profesi administrator hukum;
(c) profesi notaris;
(d) profesi polisi;
(e) profesi jaksa;
(f) profesi advokat (pengacara);
(g) profesi hakim;
(h) profesi hukum bisnis;
(i) profesi konsultan hukum;
(j) profesi dosen hukum.
3. Etika Profesi Hukum
Kita semua hidup dalam jaringan keberlakuan hukum dalam
berbagai bentuk formalitasnya. Semua berjalan sesuai dengan aturan
hukum yang berlaku. Namun, yang namanya manusia dalam menjalani
kehidupannya tidak lepas dari kecenderungan menyimpang . atau
116
menyeleweng.
Profesional
hukum
yang
tidak
bertanggung
jawab
melakukan pelanggaran dalam menjalankan profesinya karena lebih
mengutamakan kepentingan pribadi atau golongannya. Padahal adanya
norma hukum secara esensial menuntun ke arah mana seharusnya
berbuat yang membahagiakan semua pihak. Dengan berpedoman pada
norma hukum, masyarakat berharap banyak kepada profesional hukum
agar masyarakat dapat dilindungi oleh hukum, hidup tertib, teratur, dan
bahagia.
Setiap kelompok profesi memiliki norma-norma yang menjadi
penuntun perilaku anggotanya dalam melaksanakan tugas profesi.
Norma-norma tersebut dirumuskan dalam bentuk tertulis yang disebut
kode etik profesi. Kode etik profesi hukum merupakan bentuk realisasi
etika profesi hukum yang wajib ditaati oleh setiap profesional hukum yang
bersangkutan. Notohamidjojo (1975) menyatakan, dalam melaksanakan
kewajibannya, profesional hukum perlu memiliki:
(a) sikap manusiawi, artinya tidak menanggapi hukum secara formal
belaka, melainkan kebenaran yang sesuai dengan hati nurani;
(b) sikap adil, artinya mencari kelayakan yang sesuai dengan perasa-an
masyarakat;
(c) sikap patut, artinya mencari pertimbangan untuk menentukan keadilan
dalam suatu perkara konkret;
(d) sikap jujur, artinya menyatakan sesuatu itu benar menurut apa
adanya, dan menjauhi yang tidak benar dan tidak patut.
Dalam
mengemban
profesi
pendidikan
tinggi
hukum
agar
menghasilkan ahli hukum etis (bermoral), Etika Profesi Hukum perlu
diajarkan sebagai mata kuliah wajib. Dengan demikian, ahli hukum yang
dihasilkan nantinya sejak dini sudah dibekali dengan akhlak dan
pengamalan etika profesi hukum. Ahli hukum yang dihasilkan diharapkan
menguasai ilmu hukum, ahli dan terampil secara profesional, bijaksana
dalam
mengambil
keputusan,
berkelakuan
tidak
tercela
dalam
117
mengemban profesi hukum. Keadaan ini adalah gambaran isi normanorma yang terhimpun dalam kode etik profesi hukum.
C. MASALAH-MASALAH PROFESI HUKUM
Dalam
pembahasan
profesi
hukum,
Sumaryono
(1995)
menyebutkan lima masalah yang dihadapi sebagai kendala yang cukup
serius, yaitu :
(a) kualitas pengetahuan profesional hukum;
(b) terjadi penyalahgunaan profesi hukum;
(c) kecenderungan profesi hukum menjadi kegiatan bisnis;
(d) penurunan kesadaran dan kepedulian sosial;
(e) kontinuasi sistem yang sudah usang.
Kelima masalah tersebut dijelaskan satu demi satu berikut ini.
(a) Kualitas pengetahuan profesional hukum
Setiap profesional hukum harus memiliki pengetahuan bidang
hukum sebagai penentu bobot kualitas pelayanan hukum secara
profesional. Hal ini sudah menjadi tujuan pendidikan tinggi bidang hukum.
Menurut ketentuan Pasal 1 Keputusan Mendikbud No.17/Kep/0/1992
tentang Kurikulum Nasional Bidang Hukum, program pendidikan sarjana
bidang hukum bertujuan untuk menghasilkan sarjana hukum yang :
(1) menguasai hukum Indonesia;
(2) mampu menganalisis masalah hukum dalam masyarakat;
(3) mampu menggunakan hukum sebagai sarana untuk memecahkan
masalah konkret dengan bijaksana dan tetap berdasarkan prinsipprinsip hukum;
(4) menguasai dasar ilmiah untuk mengembangkan ilmu hukum dan
hukum;
(5) mengenal dan peka akan masalah keadilan dan masalah sosial.
Tujuan tersebut dapat dicapai tidak hanya melalui program
pendidikan tinggi hukum; melainkan juga berdasarkan pengalaman
118
setelah sarjana hukum bekerja menurut masing-masing profesi bidang
hukum dalam masyarakat.
Hukum adalah norma yang mengatur segala aspek kehidupan
masyarakat. Tugas utama profesional hukum adalah mengartikan undangundang secara cermat dan tepat. Di samping itu, profesional hukum juga
harus mampu membentuk undang-undang baru sesuai dengan semangat
dan rumusan tata hukum yang telah berlaku. Keahlian yang diperlukan
adalah kemampuan teoritis dan teknis yang berakar pada pengetahuan
yang mendalam tentang makna hukum, dan membuktikan kemampuan
diri menanamkan perasaan hukum dalam masyarakat sebagai bagian dari
kebudayaan bangsa.
Profesional hukum yang bertugas di bidang perundang-undangan
berusaha agar undang-undang yang dibuat itu tepat dan berguna. Pada
kesempatan ini prinsip-prinsip Etika (ketaatan moral) digunakan sebagai
ukuran hukum yang baik. Apabila pembentuk undang-undang tidak
dibekali dengan ketaatan moral, maka undang-undang buatannya itu tidak
lebih dari nasihat atau petunjuk belaka, tidak memiliki kekuatan apa-apa.
Dapatkah
ketaatan
moral
itu
dipaksakan
dalam
hukum?
Jawabannya diketahui dari rumusan hukum positif. Ada dua macam
rumusan hukum positif, yaitu :
(1) Hukum Positif Deklaratif
Pernyataan rumusannya menggambarkan ketentuan hukum kodrat,
yang hanya memuat larangan. Ketaatan moralnya terdapat pada
larangan. Tetapi ketaatan moral hukum positif terdapat pada pemaksaan,
yang mencantumkan sanksi keras jika dilanggar. Contoh adalah larangan
membunuh, jika larangan ini dilanggar, sanksi keras berupa hukuman
penjara atau hukuman mati.
(2) Hukum positif determinatif
Pernyataan rumusannya menentukan cara berperilaku yang sesuai
dengan hukum kodrat. Ketaatan moral hukum kodrat terdapat pada
119
perintah atau larangan berdasarkan baik buruknya perbuatan. Tetapi
ketaatan moral hukum positif terdapat pada penting tidaknya masalah dan
kehendak pembentuk undang-undang. Apabila masalah itu penting bagi
kesejahteraan umum (masyarakat), maka pembentuk undang-undang
cenderung memaksakan ketaatan secara ketat dengan ancaman sanksi
kepada
pelanggarnya.
Contohnya
adalah
cara
melangsungkan
perkawinan, cara berlalu lintas, cara membayar pajak. Dalam hal ini
profesional hukum (pembuat undang-undang) dituntut kemahirannya
menganalisis masalah hukum dalam masyarakat dan peka terhadap
masalah keadilan.
Pelayanan
hukum
secara
profesional
dan
bermutu
tinggi
bergantung pada jenis profesi hukumnya dan bobot pengetahuan hukum
yang dikuasai oleh profesional hukum yang bersangkutan. Apabila
penguasaan pengetahuan hukum itu kurang memadai, maka pelayanan
yang diberikan akan salah arah atau salah sasaran, sehingga bukan
keadilan yang dicapai, melainkan ketidakadilan, suatu hal yang fatal.
Untuk meluruskan kembali kesalahan atau penyimpangan itu, Dewan
Kehormatan profesi hukum mengevaluasi perbuatan yang telah dilakukan
oleh profesional hukum yang bersangkutan guna menyatakan perbuatan
itu sesuai atau melanggar kode etik profesi hukum yang digelutinya.
(b) Penyalahgunaan profesi hukum
Dalam kehidupan profesi hukum pernah terjadi dua orang hakim
berkelahi di kantor mereka dalam waktu kerja karena konflik kepentingan.
Pernah pula terjadi terdakwa melempar jaksa dengan kursi di ruang
sidang pengadilan. Juga tak terelakkan seorang pengacara dikeroyok
massa karena membela perkara terdakwa yang dibenci mereka. Pernah
juga terjadi kegemparan di lembaga peradilan tertinggi kita mengenai
masalah kolusi. Peristiwa-peristiwa tersebut menyentuh kewibawaan
hukum dan menunjukkan kepada kita bahwa ketidakadilan telah terjadi di
kalangan profesional hukum. Apakah faktor-faktor penyebabnya?.
120
Sumaryono menyatakan, penyalahgunaan dapat terjadi karena
persaingan individu profesional hukum, atau karena tidak ada disiplin diri.
Dalam profesi hukum dapat dilihat dua hal yang sering berkontradiksi satu
sama lain, yaitu di satu sisi cita-cita Etika yang terlalu tinggi, dan di sisi lain
praktek penggembalaan hukum yang berada jauh di bawah cita-cita tersebut. Dalam hal ini tidak seorang profesional hukum pun yang menginginkan perjalanan kariernya terhambat karena cita-cita profesi yang terlalu tinggi dan karenanya memberikan pelayanan yang cenderung
mementingkan diri sendiri. Banyak profesional hukum menggunakan
status profesinya untuk menciptakan uang atau untuk maksud-maksud
politik.
Penyalahgunaan profesi hukum dapat juga terjadi karena desakan
pihak klien yang menginginkan perkaranya cepat selesai dan tentunya
menang. Dia tidak segan-segan menawarkan bayaran yang cukup
menggiurkan baik kepada penasihat hukum atau pun kepada hakim yang
memeriksa perkara. Dalam hal ini terjadilah pertarungan, siapa yang
membayar mahal itulah yang bakal menang. Penegakan hukum dijadikan
ajang bisnis pelecehan hukum secara brutal. Di satu sisi penegak hukum
beralih haluan dari keadilan ke penghasilan, dan di sisi lain klien menjadi
perongrong wibawa hukum dan penegak hukum pokoknya menang.
Bagaimana keadilan bagi yang tidak mampu? Wahai pengemban
profesi. hukum: “kembalilah kepada Etika Profesi Hukum''.
(c) Profesi hukum menjadi kegiatan bisnis
Yang dimaksud dengan kegiatan bisnis adalah kegiatan yang
tujuan utamanya mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Apabila
kegiatan itu adalah kegiatan profesi hukum, maka dikatakan profesi
hukum itu kegiatan bisnis. Jadi ukuran untuk menyatakan profesi hukum
itu kegiatan pelayanan bisnis atau kegiatan pelayanan umum terletak
pada tujuan utamanya.
Memang diakui bahwa dari segi tujuannya, profesi hukum
dibedakan antara profesi hukum yang bergerak di bidang pelayanan bisnis
121
dan profesi hukum yang bergerak di bidang pelayanan umum. Profesi
hukum pelayanan bisnis menjalankan pekerjaan berdasarkan hubungan
bisnis (komersial), imbalan yang diterima sudah ditentukan menurut
standar bisnis. Contohnya para konsultan yang menangani masalah
kontrak-kontrak dagang, paten, merek. Sedangkan profesi hukum
pelayanan umum menjalankan pekerjaan berdasarkan kepentingan umum
baik dengan bayaran atau tanpa bayaran. Contoh profesi hukum
pelayanan umum adalah pengadilan, notaris, LBH, kalaupun ada bayaran,
sifatnya biaya pekerjaan atau biaya administrasi.
Sekarang ini boleh dikatakan profesi hukum cenderung beralih
kepada kegiatan bisnis dengan tujuan utama: berapa yang harus dibayar,
bukan apa yang harus dikerjakan. Hal ini sudah menggejala merasuk
segala jenis profesi hukum bidang pelayanan umum, biaya pembuatan
akta notaris mahal, biaya perkara di pengadilan mahal, biaya pengacara
mahal, biaya administrasi KTP, SIM, 1MB, mahal, karena dibisniskan.
Padahal tujuan diciptakannya undang-undang yang mengatur kepentingan
umum itu untuk menyejahterakan masyarakat, bukan menyengsarakan
masyarakat. Dengan demikian, jasa pelayanan umum yang diberikan oleh
profesional hukum berubah dari bersifat etis menjadi bersifat bisnis.
Mengapa terjadi demikian?
Dalam kenyataan sekarang, profesi boleh dikatakan terdesak oleh
bisnis karena imbalan atas pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan
nilai kebutuhan layak dewasa ini. Hal ini menjadi penyebab mengapa kode
etik profesi hanya menjadi pajangan, sulit diamalkan dalam memenuhi
tugas. profesi. Di samping itu, keahlian yang berbeda pada setiap profesi
mengakibatkan terjadi perbedaan mencolok antara imbalan yang diterima
oleh profesional yang berlainan profesi. Misalnya :
(a) Keahlian dosen berbeda dengan keahlian dokter spesialis, akuntan,
hotaris, pengacara.
(b) Keahlian pilot, nakhoda, berbeda dengan keahlian pengemudi bus di
jalan raya.
122
(c) Keahlian penerjemah, operator komputer berbeda dengan keahlian
pengarang buku.
(d) Kurang kesadaran dan kepedulian sosial
Kesadaran dan kepedulian sosial merupakan kriteria pelayanan
umum profesional hukum. Wujudnya adalah kepentingan masyarakat lebih
didahulukan daripada kepentingan pribadi, pelayanan lebih diutamakan
daripada pembayaran, nilai moral lebih ditonjolkan daripada nilai ekonomi.
Namun, gejala yang dapat diamati sekarang sepertinya lain dari apa yang
seharusnya
diemban
oleh
profesional
hukum.
Gejala
tersebut
menunjukkan mulai pudarnya keyakinan terhadap wibawa hukum.
Di antara gejala itu adalah para profesional hukum mulai menjual
jasa demi penghasilan yang lebih tinggi. Dalam masyarakat mereka
menyediakan diri bagi kesejahteraan umat manusia, dalam kegiatan profesional mereka menjadi orang sewaan yang dibayar mahal oleh klien
mereka. Para profesional hukum banyak menghabiskan waktu memberi
konsultasi kepada klien pengusaha secara pribadi melaksanakan hukum
dengan cara-cara yang justru melanggar hukum, misalnya bagaimana
cara berkolusi menyelesaikan masalah kredit melalui jalan belakang,
menghindari pajak mahal. Apapun jenis profesi hukumnya, profesional
hukum adalah abdi masyarakat dan abdi hukum yang berorientasi kepada
kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi semata-mata.
Dalam negara hukum yang sedang membangun seperti Indonesia,
profesional hukum yang sadar dan peduli kepada kepentingan masyarakat
sangat dibutuhkan. Mereka dibutuhkan masyarakat untuk membela
memperjuangkan nasib bagaimana berurusan dengan birokrasi yang tidak
berbelit-belit, berperkara dengan biaya wajar, memperoleh ganti kerugian
yang memadai akibat penggusuran hak-hak mereka. Demi tegaknya
hukum dan keadilan, profesional hukum yang berpihak kepada masyarakat golongan bawah sangat dibutuhkan guna memperjuangkan hak-hak
mereka yang tergusur dan tersingkir.
(e) Kontinuasi sistem yang telah usang
123
Profesional hukum adalah bagian dari sistem peradilan yang
berperan membantu menyebarluaskan sistem yang sudah dianggap
ketinggalan zaman karena di dalamnya terdapat banyak ketentuan
penegakan hukum yang tidak sesuai lagi. Padahal profesional hukum
melayani kepentingan masyarakat yang hidup dalam zaman serba
modern. Dahulu tidak dikenai bermacam ragam alat kontrasepsi yang
sekarang justru menjadi kebutuhan masyarakat pengikut program
keluarga berencana, tetapi tidak di-dukung oleh ketentuan hukum pidana
tentang delik kesusilaan yang sekarang masih berlaku. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi bidang komputer yang dapat menimbulkan
kejahatan model baru, bidang kedokteran yang menimbulkan obat-obat
terlarang seperti ecstacy, pelaku-pelaku kejahatan tersebut belum dapat
dijangkau oleh hukum pidana yang berlaku sekarang.
Demikian juga, istilah-istilah hukum yang digunakan di kalangan
profesional hukum masih banyak menimbulkan kerancuan, misalnya
kolusi,
korupsi,
zina,
kawin,
kecelakaan,
karena
konotasi
dan
interpretasinya dapat bermacam-macam. Hal ini dapat terjadi karena
perkembangan masyarakat yang begitu cepat akibat pengaruh globalisasi
informasi yang datang dari berbagai penjuru dunia ini.
Sistem penghukuman juga sudah usang karena tidak dapat
menjangkau pelaku kejahatan, kalau pun dapat dijangkau hukuman tidak
sepadan dengan kejahatan yang dilakukannya. Hal ini mengundang emosi
masyarakat yang merasakan hukuman yang tidak adil, tidak sebanding
dengan kejahatan yahg telah dilakukan. Akibatnya ada pengacara
dikeroyok massa, ada hakim dilempar dengan sepatu, ada jaksa dilempar
dengan kursi di ruang sidang.
124
BAB VIII
KODE ETIK PROFESl
A. ARTI KODE ETIK PROFESl
Bertens (1995) menyatakan, kode etik profesi merupakan norma
yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan
atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya
berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata
masyarakat.
Apabila
satu anggota kelompok
profesi
itu
berbuat
menyimpang dari kode etiknya, maka kelompok profesi itu akan tercemar
di
mata
masyarakat.
Oleh
karena
itu,
kelompok
profesi
harus
menyelesaikannya berdasarkan kekuasaannya sendiri.
Kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena
dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi. Kode
etik profesi dapat berubah dan diubah seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga anggota kelompok profesi tidak
akan ketinggalan zaman. Kode etik profesi merupakan nasi! pengaturan
diri profesi yang bersangkutan, dan ini perwujudan nilai moral yang hakiki,
yang tidak dipaksakan dari luar. Kode etik profesi hanya berlaku efektif
apabila dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan
profesi itu sendiri. Kode etik profesi merupakan rumusan norma moral
manusia yang mengemban profesi itu. Kode etik profesi menjadi tolok ukur
perbuatan anggota kelompok profesi. Kode etik profesi merupakan upaya
pencegahan berbuat yang tidak etis bagi anggotanya.
Setiap kode etik profesi selalu dibuat tertulis yang tersusun secara
teratur, rapi, lengkap, tanpa cacat, dalam bahasa yang baik, sehingga
menarik perhatian dan menyenangkan pembacanya. Semua yang
tergambar adalah perilaku yang baik-baik. Tetapi di balik semua itu
terdapat kelemahan sebagai berikut:
(a) Idealisme yang terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan
dengan fakta yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga
125
harapan sangat jauh dari kenyataan. Hal ini cukup menggelitik para
profesional untuk berpaling kepada kenyataan dan mengabaikan
idealisme kode etik profesi. Kode etik profesi tidak lebih dari pajangan
tulisan berbingkai.
(b) Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak
dilengkapi dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata
berdasarkan kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi
peluang kepada profesional yang lemah iman untuk ber-buat
menyimpang dari kode etik profesinya.
B. FUNGSI KODE ETIK PROFESI
Mengapa kode etik profesi perlu dirumuskan secara tertulis?
Sumaryono (1995) mengemukakan tiga alasannya, yaitu :
(a) sebagai sarana kontrol sosial;
(b) sebagai pencegah campur tangan pihak lain;
(c) sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik.
Kode etik profesi merupakan kriteria prinsip profesional yang telah
digariskan, sehingga dapat diketahui dengan pasti kewajiban profesional
anggota lama, baru, ataupun calon anggota kelompok profesi. Dengan
demikian dapat dicegah kemungkinan terjadi konflik kepentingan antara
sesama anggota kelompok profesi, atau antara anggota kelompok profesi
dan masyarakat. Anggota kelompok profesi atau anggota masyarakat
dapat melakukan kontrol melalui rumusan kode etik profesi, apakah
anggota kelompok profesi telah memenuhi kewajiban profesionalnya.
sesuai dengan kode etik profesi.
Kode etik profesi telah menentukan standardisasi kewajiban
profesional anggota kelompok profesi. Dengan demikian, pemerintah atau
masyarakat tidak perlu lagi campur tangan untuk menentukan bagaimana
se-harusnya
anggota
kelompok
profesi
melaksanakan
kewajiban
profesionalnya. Hubungan antara pengemban profesi dan masyarakat,
misalnya antara pengacara dan klien, antara dosen dan mahasiswa,
126
antara dokter dan pasien, tidak perlu diatur secara detail dengan undangundang oleh pemerintah, atau oleh masyarakat karena kelompok profesi
telah menetapkan secara tertulis norma atau patokan tertentu berupa
kode etik profesi.
Kode etik profesi pada dasarnya adalah norma perilaku yang sudah
dianggap benar atau yang sudah mapan dan tentunya akan lebih efektif
lagi apabila norma perilaku tersebut dirumuskan sedemikian baiknya,
sehingga memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan. Kode etik profesi
merupakan kristalisasi perilaku yang dianggap benar menurut pendapat
umum karena berdasarkan pertimbangan kepentingan profesi yang
bersangkutan.
Dengan
demikian,
kode
etik
dapat
mencegah
kesalahpahaman dan konflik, dan sebaliknya berguna sebagai bahan
refleksi nama baik profesi. Kode etik profesi yang baik adalah yang
mencerminkan nilai moral anggota kelompok profesi sendiri dan pihak
yang membutuhkan pelayan-an profesi yang bersangkutan.
C. KODE ETIK PROFESI KURANG BERFUNGSI
Dewasa ini mulai menggejala bahwa kode etik profesi kurang
berfungsi sebagaimana mestinya di kalangan para profesional. Beberapa
contoh gejala yang dapat dikemukakan antara lain adalah hubungan yang
berikut ini.
(a) Hubungan dokter dan pasien
Dokter menyuruh pasiennya agar membeli obat resep di apotek yang
ditunjuknya. Hal ini menimbulkan dugaan ada kolusi bermotif bisnis
antara dokter dan apoteker, bukan motif profesional. mi berarti kode
etik profesi dokter kurang berfungsi sebagaimana mestinya.
(b) Hubungan insinyur pemborong dan pimpro
Insinyur
pemborong
bangunan
membangun
gedung
menurut
konstruksi yang ditetapkan dalam kontrak. Ketentuan kontrak
menyatakan bahwa semua bahan kayu adalah standar kelas satu.
Nyatanya kayu kusen adalah standar kelas dua. Di sini terjadi
127
pengurangan nilai yang dianggap biasa oleh pemimpin proyek. Hal ini
menimbulkan dugaan ada kolusi bermotif bisnis antara insinyur dan
pimpro. Ini berarti kode etik profesi insinyur kurang berfungsi
sebagaimana mestinya.
(c) Hubungan hakim dan terdakwa
Hakim memutus perkara perkosaan dengan hukuman percobaan.
Pada-hal saksi penderita dengan tegas dan gamblang menerangkan
di bawah sumpah perbuatan kekerasan terdakwa menyetubuhinya
bertentangan dengan kehendaknya. Di sini tampak tidak sebanding
antara kehormatan yang ternoda dengan hukuman tanpa dijalani. Hal
ini menimbulkan dugaan, ada suap terdakwa kepada hakim.. Ini
berarti kode etik profesi hakim kurang berfungsi sebagaimana
mestinya.
(d) Hubungan dosen dan mahasiswa
Seorang dosen perguruan tinggi tertentu baru bersedia memberi ujian
kepada mahasiswanya apabila sudah terdaftar minimal 10 mahasiswa
dan sudah lunas membayar biaya ujian. Padahal menguji mahasiswa
itu tidak perlu diukur dengan jumlah minimal terdaftar dan lunas
membayar
uang
ujian.
Kewajiban
profesional
dosen
menguji
mahasiswa berdasarkan jadwal ujian yang ditetapkan oleh peraturan
akademik. Hal ini menimbulkan dugaan, profesi dosen bergeser ke
kegiatan bisnis, hanya menguji jika dibayar, tanpa bayaran tidak akan
ada ujian. Ini berarti kode etik profesi dosen kurang berfungsi
sebagaimana mestinya.
Gejala-gejala tadi menunjukkan bahwa betapa bagusnya kode etik
dibuat oleh kelompok profesi yang diharapkan berfungsi sebagai ukuran
perilaku, nyatanya diabaikan. Hal ini terjadi pasti ada alasan yang paling
mendasar. Alasan tersebut akan diungkapkan dan dibahas terbatas pada
profesi hukum saja. Alasan tersebut akan dibahas dalam studi tentang
Etika Profesi Hukum dengan menelusuri naskah-naskah kode etik profesi
hukum dan hubungannya dengan keberlakuan hukum positif.
128
D. KODE ETIK PROFESI DAN HUKUM POSITIF
Dalam pembahasan yang terdahulu telah dikemukakan tiga
rumusan pengertian etika, salah satu di antaranya adalah sebagai
kumpulan asas atau nilai moral, dan ini ada dua bentuknya, yaitu tertulis
dan tidak tertulis. Apabila diberi bentuk tertulis, maka kumpulan asas atau
nilai moral itu disebut kode etik. Karena berkenaan dengan profesi, maka
kode etik itu disebut kode etik profesi. Dengan demikian, kode etik profesi
bidang hukum disebut kode etik profesi hukum, misalnya Kode Etik
Advokat, Kode Etik Notaris, Kode Etik Hakim, Kode Etik Jaksa, Kode Etik
Akademik Dosen.
Seperti telah diuraikan terdahulu, kode etik profesi merupakan
bagian dari hukum positif tertulis tetapi tidak mempunyai sanksi yang
keras. Keberlakuan kode etik profesi semata-mata berdasarkan kesadaran
moral anggota profesi, berbeda dengan keberlakuan undang-undang yang
bersifat memaksa dan dibekali dengan sanksi yang keras. Jika orang tidak
patuh kepada undang-undang, dia akan dikenai sanksi oleh negara.
Karena tidak mempunyai sanksi keras, maka pelanggar kode etik profesi
tidak merasakan akibat dari perbuatannya. Malahan dia merasa seperti
tidak apa-apa dan tidak berdosa kepada sesama manusia.
1. Alasan Mengabaikan Kode Efik Profesi
Menggejalanya perbuatan profesional yang mengabaikan kode etik
profesi karena beberapa alasan yang paling mendasar, baik sebagai
individu anggota masyarakat maupun karena hubungan kerja dalam
organisasi profesi, di samping sifat manusia yang konsumeristis dan nilai
imbalan jasa yang tidak sebanding dengan jasa yang diberikan. Atas
dasar faktor-faktor tersebut, maka dapat diinventarisasi alasan-alasan
mendasar mengapa profesional cenderung mengabaikan dan bahkan
melanggar kode etik profesi.
(a) Pengaruh sifat kekeluargaan
Salah
satu
ciri
kekeluargaan
itu
memberi
perlakuan
dan
penghargaan yang sama terhadap anggota keluarga dan ini dipandang
129
adil. Perlakuan terhadap orang bukan keluarga lain lagi. Hal ini
berpengaruh terhadap perilaku profesional hukum yang terikat pada kode
etik profesi, yang seharusnya memberi perlakuan sama terhadap klien.
Contoh, Amat keluarga notaris minta dibuatkan akta hibah, notaris
membebaskannya dari biaya pembuatan akta dengan alasan tidak enak
menarik biaya dari keluarga sendiri. Kemudian datang Bondan, juga minta
dibuatkan akta dengan membayar biaya yang telah ditentukan jumlahnya.
Amat dan Bondan keduanya adalah klien yang seharusnya mendapat
perlakuan sama menurut Kode Etik Notaris, tetapi nyatanya lain. Kode etik
profesi diabaikan oleh profesional.
Seharusnya masalah keluarga dipisahkan dengan masalah profesi
dan ini adalah adil. Dalam contoh kasus tadi, notaris seharusnya menarik
bayaran dari kedua mereka karena sama-sama klien. Setelah pulang dari
kantor, notaris tadi datang kepada Amat keluarganya, menghadiahkan
uang bayaran akta yang telah diterimanya dari Amat. Ini masalah
keluarga, bukan profesi. Dengan cara demikian, notaris tidak perlu
mengabaikan Kode Etik Notaris.
(b) Pengaruh jabatan
Salah satu ciri jabatan adalah bawahan menghormati dan taat pada
atasan dan ini adalah ketentuan Undang-undang Kepegawaian. Fungsi
eksekutif terpisah dengan fungsi yudikatif. Seorang hakim memegang dua
fungsi sebagai pegawai negeri sipil dan sebagai hakim. Menurut Kode Etik
Hakim, hakim memutus perkara dengan adil tanpa pengaruh atau tekanan
dari pihak manapun.
Perkara yang diperiksa oleh hakim tadi ternyata ada hubungannya
dengan seorang pejabat yang adalah atasannya sendiri. Dalam kasus ini
di satu pihak hakim cenderung hormat pada atasan dan bersedia
membela atasan sebab kalau tidak, mungkin hakim tadi akan dipersulit
naik pangkat atau akan dimutasikan. Di lain pihak, pejabat mempunyai
pengaruh terhadap bawahan dan karena itu mengirim katebelece (nota)
kepada hakim, tolong selesaikan perkara tersebut dengan sebaik-baiknya
130
(konotasinya bela atasanmu), bukan seadil-adilnya. Seharusnya hakim
berlaku adil dan tidak memihak, tetapi nyatanya memihak atasannya.
Sekali lagi, kode etik profesi diabaikan oleh profesional.
Seharusnya masalah jabatan dipisahkan dengan masalah profesi
dan ini adalah adil. Hakim memeriksa perkara dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan Kode Etik Hakim, dan sesuai pula dengan saran
katebelece atasannya (dengan sebaik-baiknya), sehingga putusannya pun
sebaik-baiknya (versi hakim seadil-adilnya) karena hakim bekerja secara
fungsional bukan secara struktural. Dengan demikian, hakim tidak
mengabaikan atasannya dan tidak pula mengabaikan Kode Etik Hakim.
(c) Pengaruh Konsumerisme
Gencarnya
perusahaan-perusahaan
mempromosikan
produk
mereka melalui iklan media massa akan cukup berpengaruh terhadap
peningkatan kebutuhan yang tidak sebanding dengan penghasilan yang
diterima oleh profesional. Hal ini mendorong profesional berusaha
memperoleh penghasilan yang lebih besar melalui jalan pintas atau
terobosan profesional, yaitu dengan mencari imbalan jasa dari pihak yang
dilayaninya.
Contoh, seorang dosen dengan gaji yang diterimanya cukup untuk
biaya hidup, tetapi karena kebutuhan hiburan mendorongnya, untuk
membeli televisi besar stereo multisistem lengkap dengan antena
parabola yang sekarang sedang trendy. Untuk memperoleh uang dia
menawarkan kolusi dengan mahasiswa yang diujinya : kalau ingin dibantu,
Bapak bersedia membantu supaya lulus mendapat nilai A asalkan ada
tanda terima kasihnya (maksudnya imbalan berupa uang yang sudah
ditentukan tarifnya) sambil menahan daftar nilai dan kertas ujian
mahasiswa. Ternyata dosen yang bersangkutan mengabaikan kode etik
akademiknya.
Seharusnya pemenuhan kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan
melakukan kerja ekstra apa saja yang dapat menjadi sumber penghasilan
tambahan, baik berkenaan dengan profesi maupun di luar profesi,
131
misalnya menjadi dosen luar biasa, pemimpin di suatu PTS, konsultan
hukum, melaksanakan proyek penelitian atau pengabdian kepada
masyarakat, penyalur buku pelajaran, penceramah agama (da'i), penulis
buku. Kerja keras adalah kodrat manusia dan ini menjadi lambang
martabat manusia. Semua hal ini merupakan sumber penghasilan tanpa
melanggar kode etik profesi.
(d) Karena lemah iman
Salah satu syarat menjadi profesional itu adalah taqwa kepada
Tuhan-Yang Maha Esa, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi
larangan-Nya. Ketaqwaan ini adalah dasar moral manusia. Jika manusia
mempertebal iman dengan taqwa, maka di dalam diri akan tertanam nilai
moral yang menjadi rem untuk berbuat buruk. Dengan taqwa manusia
makin sadar bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, sebaliknya
keburukan akan dibalas dengan keburukan. Sesungguhnya Tuhan itu
maha adil. Dengan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, profesional
memiliki benteng moral yang kuat, tidak mudah tergoda dan tergiur
dengan bermacam ragam bentuk materi disekitarnya. Dengan iman yang
kuat kebutuhan akan terpenuhi secara wajar dan itulah kebahagiaan.
2. Upaya Untuk Mematuhi Kode Etik Profesi
Seperti telah diuraikan sebelumnya, kode etik profesi adalah bagian
dari hukum positif, tetapi tidak memiliki upaya pemaksa yang keras seperti
pada hukum positif yang bertaraf undang-undang. Hal ini merupakan
kelemahan kode etik profesi bagi profesional yang lemah iman. Untuk
mengatasi kelemahan ini, maka upaya altematif yang dapat ditempuh
ialah memasukkan upaya pemaksa yang keras ke dalam kode etik profesi.
Altematif tersebut dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu
memasukkan klausula penundukan pada hukum positif undang-undang di
dalam rumus-an kode etik profesi, atau legalisasi kode etik profesi melalui
Pengadilan Negeri setempat. Kedua upaya tersebut diuraikan satu demi
satu berikut ini.
132
(a) Klausula penundukan pada undang-undang
Setiap undang-undang mencantumkan dengan tegas sanksi yang
diancamkan
kepada
pelanggarnya.
Dengan
demikian,
menjadi
pertimbangan bagi warga, tidak ada jalan lain kecuali teat, jika terjadi
pelanggaran berarti warga yang bersangkutan bersedia dikenai sanksi
yang' cukup memberatkan atau merepotkan baginya. Ketegasan sanksi
undang-undang ini lalu djproyeksikan kepada rumusan kode etik profesi
yang memberlakukan sanksi undang-undang kepada pelanggamya.
Dalam rumusan kode etik profesi dicantumkan ketentuan :
“pelanggar kode etik dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
undang-undang yang berlaku1'. Ini berarti, jika pelanggar kode etik
profesi itu merugikan klien atau pencari keadilan, maka dia dapat
dikenai sanksi undang-undang, yaitu pembayaran ganti kerugian,
pembayaran denda, pencabutan hak tertentu, atau pidana badan. .
Untuk itu harus ditempuh saluran hukum yang berlaku bahwa yang
berwenang membebani sanksi itu adalah pengadilan. Dengan kata
lain pelanggar kode etik profesi dapat diajukan ke muka pengadilan
untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
(b) Legalisasi Kode Etik Profesi
Kode etik profesi adalah semacam perjanjian bersama semua
anggota bahwa mereka berjanji untuk mematuhi kode etik yang telah
dibuat bersama. Dalam rumusan kode etik tersebut dinyatakan, apabila
terjadi pelanggaran, kewajiban mana yang cukup diselesaikan oleh
Dewan Kehormatan, dan kewajiban mana yang harus diselesaikan oleh
pengadilan.
Untuk
memperoleh
legalisasi,
ketua
profesi
yang
bersangkutan mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri
setempat agar kode etik itu disahkan dengan akta penetapan pengadilan
yang berisi perintah penghukuman kepada setiap anggota untuk
mematuhi kode etik itu. Jadi, kekuatan berlaku dan mengikat kode etik
mirip dengan akta perdamaian yang dibuat oleh hakim. Apabila ada yang
melanggar
kode
etik,
maka
dengan
surat
perintah,-pengadilan
memaksakan pemulihan itu.
133
E. Etika Profesi Hukum
Profesi hukum adalah profesi yang keberadaannya berhubungan
erat dengan kehidupan kita semua. Ada satu pernyataan yang mungkin
ada benarnya juga bahwa: “para sarjana hukum menyelenggarakan
peradaban bagi kita semua” atau “maju mundurnya peradaban kita ada di
tangan para sarjana hukum” (Titus, 1947, hlm. 321). Bila kita coba
mengamati sejenak segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kehidupan
di dalam masyarakat dan negara, kiranya akan kita lihat kenyataan
sebagai berikut: para sarjana banyak yang duduk di pemerintahan, karena
para pembentuk hukum/undang-undang adalah sarjana hukum. Mereka
mengatur dan memerintah kita, karena posisi mereka sebagai kepala
negara, gubernur serta menjadi anggota lembaga-lembaga peradilan.
Para sarjana hukum jugalah yang membuat interpretasi hukum dan
memaksakan berlakunya hukum (misalnya para hakim). Banyak pula
sarjana hukum yang ambil peranan penting dalam perkara-perkara industri
dan bisnis. Peraturan-peraturan hukum secara detail mengatur dan
menjelaskan
bagaimana
kegiatan-kegiatan
bisnis
seharusnya
dilaksanakan. Bilamana saja terjadi transaksi niaga atau pertukaran harta
benda, maka hukum - dan biasanya juga sarjana hukum (seperti
penasihat hukum dan notaris) - terlibat di dalamnya. Banyak juga sarjana
hukum yang menjadi direktur sebuah perusahaan, dan semua perusahaan
mempunyai konsultan hukum untuk mengawasi dan menuntun kegiatankegiatannya. Lebih lanjut, kita menikah atau bercerai, mewariskan harta
milik atau menguasakan semuanya itu kepada anak-anak kita, semuanya
ini juga memerlukan peranan para sarjana hukum. Kita ini seakan-akan
hidup dalam jaring-an peraturan perundangan dan bentuk-bentuk
formalitas yang diciptakan oleh para sarjana hukum.
Meskipun demikian, dalam praktik penggembalaan hukum tidak
jarang terjadi berbagai macam penyimpangan atau penyelewengannya.
Tidak jarang terjadi sentimen dalam penciptaan norma-norma atau kanon
134
dalam etika hukum dari waktu ke waktu selama masih ada pokrol hukum
“amatiran”
ataupun
para
pemegang
profesi
hukum
yang
tidak
bertanggungjawab pada profesi hukumnya (sebagai akibat adanya
kepentingan pribadi atau golongan tertentu, dan sebagainya). Padahal
penataan norma-norma adalah esensial untuk memperjelas apa yang
dituntut oleh pengadilan kepada para ahli hukumnya, apa yang
diharapkan para ahli hukum dari para koleganya, serta apa yang dapat
diharapkan oleh masyarakat umum dari anggota profesional hukum.
Menurut Oemar Seno Adji, peraturan-peraturan mengenai profesi
pada umumnya mengandung hak-hak yang fundamental dan mempunyai
peraturan-peraturan mengenai tingkah laku atau perbuatan dalam
melaksanakan profesinya yang dalam banyak hal disalurkan melalui Kode
Etik (Oemar SA, 1991, hlm. 15).
Selanjutnya, untuk menjadi pemelihara hukum yang benar para
sarjana hukum dituntut harus mempunyai:
a. Sikap kemanusiaan, supaya ia jangan menanggapi hukum secara
formal belaka.
b. Sikap keadilan, untuk mencari apa yang layak bagi masyarakat.
c. Sikap kepatutan, sebab diperlukan pertimbangan tentang apa yang
sungguh-sungguh adil dalam suatu perkara konkret.
d. Sikap kejujuran, jangan ikut korupsi (atau ikut berperilaku pada apa
yang sering diistilahkan sebagai “mafia peradilan”, dan sebagainya)
(Theo, 1990, hlm. 145, atau Notohamidjojo, 1975, hlm. 52-55).
Dalam konteks ini Purwoto S. Gandasubrata, mantan Ketua
Mahkamah Agung RI, menghimbau supaya fakultas hukum sebagai
lembaga yang menghasilkan para sarjana hukum secara dini membekali
mahasiswanya dengan pendidikan akhlak dan pengenalan mengenai etika
profesi hukum. Ini dimaksudkan supaya sarjana hukum yang dihasilkan itu
adalah para sarjana hukum yang sujana dan susila, menguasai ilmu
hukum, terampil profesional, arif bijaksana dan berkelakuan tak tercela
karena berakhlak baik. Selain itu M. Kharis Suhud, juga menekankan
135
bahwa pembaharuan terhadap sistem hukum nasional harus didukung
oleh adanya aparat penegak hukum yang profesional, berke-mampuan,
berwibawa, serta bersikap dan berperilaku sebagai penegak hukum yang
dapat
menjadi
pengayom
masyarakat
(Pidato
pembukaan
masa
persidangan DPR-RI tahun sidang 1988-1989).
1. Persoalan-persoalan Pokok dalam Profesi Hukum
Pelaksanaan profesi hukum menghadapi persoalan-persoalan
pokok antara lain: pengetahuan yang harus dimiliki sebagai penentu
kualitas pelayanan profesional hukum, dampak penyalahgunaan profesi
hukum,
kecenderungan
pelaksanaan
profesi
berkembang
menjadi
kegiatan bisnis, menurunnya kesadaran dan kepedulian sosial yang
melanda sebagian ahli hukum, serta adanya kontinuasi sistem yang
sebetulnya sudah ketinggalan zaman tetapi masih dipertahankan oleh
beberapa ahli hukum yang konservatif dan tidak mengembangkan diri.
a. Kualitas Pengetahuan Bidang Ilmu Hukum
Keputusan Dirjen P dan K no. 30/DJ/Kep/1983, pasal 1
menentukan bahwa kurikulum inti program pendidikan sarjana bidang
hukum adalah untuk menghasilkan sarjana hukum yang:
(1)
menguasai hukum Indonesia
(2)
mampu menganalisis masalah-masalah hukum dalam masyarakat
(3)
mampu menggunakan hukum sebagai sarana untuk memecahkan
masalah-masalah
yang
konkret
dengan
bijaksana
dan
tetap
berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum
(4)
menguasai dasar-dasar ilmiah untuk pengembangan ilmu hukum
dan hukum
(5)
mengenal dan peka akan masalah-masalah keadilan dan masalah-
masalah sosial.
Hukum merupakan suatu gejala yang muncul dalam hidup manusia
sebagai norma bagi kehidupan bersama. Sebagaimana hidup manusia
mempunyai banyak seginya, demikian pula dengan norma-norma bagi
136
kehidupan itu. Hukum itu seluas hidup itu sendiri. Oleh karenanya,
terdapat bermacam-macam pendekatan terhadap gejala hukum, bahkan
beberapa macam ilmu. Tugas utama seorang sarjana hukum ialah
menafsirkan undang-undang yang berlaku secara cermat dan tepat.
Namun di samping tugas pokok itu seorang sarjana hukum juga harus
sanggup
untuk
membentuk
undang-undang
baru
sesuai
dengan
semangat dan rumusan tata hukum yang telah berlaku. Keahlian yang
diminta di sini bukan hanya suatu kemampuan teknis saja, melainkan juga
kemampuan menentukan sikap yang mendapatkan akarnya pada
pengetahuan yang mendalam tentang makna hukum, serta membuktikan
diri dalam kerelaan hati untuk menanamkan perasaan hukum dalam
masyarakat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa (Theo Huijbers).
Penguasaan bidang hukum adalah suatu seni tersendiri. Dalam
pengertian ini seorang ahli hukum dapat diperbandingkan dengan seorang tukang atau seorang seniman yang memiliki keterampilan khusus
pada bidang pekerjaannya. Bila seorang tukang kayu terampil dalam
mempergunakan alat-alat pertukangan dan mampu membuat perabot
rumah tangga yang baik, atau seorang seniman yang dapat menciptakan
sebuah patung yang indah sekali, maka seorang ahli hukum adalah
“tukang” atau “seniman” yang terampil dalam hal mengatur masyarakat
dan menciptakan undang-undang.
Meskipun seorang ahli hukum tidak berwenang menentukan isi
suatu tata hukum, seperti halnya seorang tukang kayu atau seniman
patung yang membuat karyanya tergantung pada pesanan, namun ia
ditugaskan untuk bekerja dibidang perundang-undangan supaya peraturan atau undang-undang itu dibuat sedemikian rupa sehingga tepat
dan berguna. Pada kegiatan inilah prinsip-prinsip etika dipergunakan
sebagai ukuran sebuah peraturan atau hukum/undang-undang yang baik.
Sebab, jika para pembentuk undang-undang membuat hukum atau
peraturan tanpa disertai ketaatan moral, maka karyanya itu akan sia-sia
saja dan hukum atau peraturan perundangan yang dibuatnya itu tidak
137
ubahnya sebuah nasihat atau petunjuk pengenal. Meskipun demikian,
kecenderungan orang untuk membuat undang-undang yang tanpa ikatan
moral masih tetap terjadi juga. Hal ini antara lain di-dukung oleh adanya
keyakinan yang menekankan bahwa hukum yang sebenarnya itu adalah
hukum yang dimengerti sebagai undang-undang negara (John Austin dan
para penganut positivisme hukum lainnya).
Dapatkah hukum publik memaksakan ketaatan moral? Untuk ini
baiklah kita lihat bentuk rumusan hukum positif pada umumnya. Ada dua
macam bentuk rumusannya, yaitu:
Pertama, hukum positif deklaratif, yaitu hukum positif yang me-lalui
susunan kata-katanya hanya menyatakan apa yang digambarkan oleh
hukum kodrat. Contoh hukum jenis ini adalah hukum yang melarang
pembunuhan, pencurian, sumpah palsu dan sebagainya Hukum ini
berbeda dari hukum kodrat hanya dalam hal pengundangannya saja.
Kedua, hukum positif determinatif, yaitu hukum yang menentukan atau
menggariskan cara-cara berperilaku yang disesuaikan dengan apa yang
diatur oleh hukum kodrat. Contoh hukum jenis ini antara lain: peraturan
lalu-lintas, aturan pengumpulan pajak, aturan main dalam pemilihan
pimpinan, persyaratan pembuatan kontrak yang sah, dan sebagainya (A.
Fagothey, 1975, hlm. 198 dan 201).
Tekanan moral atau ketaatan moral dalam hukum positif deklaratif
sudah diatur dalam hukum kodrat, yaitu bahwa: ketaatan moral akan
ditekankan bila hal itu memang diperlukan; bila tidak diperlukan, tidak
perlu ada ketaatan moral. Sedang dalam hukum determinatif, di mana
persoalannya mempunyai kekhasan moral dan baik-buruknya didasarkan
atas pernyataan diperintahkan atau dilarang, penekanan ketaatan-nya
akan tergantung pada dua faktor, yaitu: penting-tidaknya masalah yang
ada
serta
bagaimana
kehendak
pembentuk
undang-undang.
Persoalan/masalahnya mungkin sangat penting bagi kebaikan umum sehingga para pembentuk undang-undang cenderung memaksakan ketaatan yang ketat. Dalam kasus ini hukum berlaku sangat mengikat. Jadi,
138
dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kesungguhan ketaatan moral
biasanya didasarkan atas pertimbangan penting-tidaknya persoalan yang
ada. Di sinilah para sarjana hukum dituntut untuk mahir dalam
menganalisis masalah-masalah hukum dalam masyarakat, serta peka
akan masalah-masalah keadilan dan sosial.
Jadi, pelayanan profesional yang bermutu tinggi dalam bidang hukum tergantung baik pada ciri khas jenis profesi tersebut maupun pada
pengetahuan yang dimiliki oleh para ahlinya. Jika penguasaan bidang
pengetahuan hukum ini kurang memadai atau bahkan sangat minim, hal
ini akan menimbulkan tindakan salah-pembinaan, salah arah atau bahkan
salah sasaran dalam penegakan keadilan. Untuk meluruskan kembali
penegakan keadilan yang diselewengkan itu perlu dibentuk dewan
pertimbangan dan evaluasi atas pemberlakuan peraturan per-undangan
yang sudah ditetapkan/dirancang. Dewan ini akan bertugas untuk menguji
dan memberi izin sarjana hukum untuk memangku jabatan sebagai
profesional hukum sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.
(Bandingkan dengan tindakan Mahkamah Agung terhadap seorang hakim
yang menjatuhkan putusan yang dinilai me-lecehkan Undang-Undang dan
mengabaikan keadilan yang seharusnya ditegakkan demi wibawa hukum
dan lembaga-lembaga peradilan.)
b. Terjadinya Penyalahgunaan Profesi
Penyalahgunaan dapat terjadi karena persaingan yang melanda individu
profesional hukum ataupun karena tidak adanya disiplin diri. Dalam profesi
hukum dapat dilihat dua hal yang sering kontrast satu sama lain, yaitu:
cita-cita etika yang terlalu tinggi di satu sisi dan praktik-praktik
pelaksanaan penggembalaan hukum yang berada jauh di bawah cita-cita
tersebut di sisi lain. Tak seorang ahli hukum pun yang menginginkan
perjalanan kariernya menemui hambatan sebagai akibat terjerat oleh citacita profesi yang terlalu tinggi dan menghindari pelayanan yang jauh dari
semangat mementingkan diri sendiri. Banyak ahli hukum mempergunakan
139
status profesinya untuk menciptakan uang atau untuk maksud-maksud
politik.
Kalau kita mau mencoba melihat ke belakang pada peristiwaperistiwa yang menyentuh kewibawaan hukum, seperti terjadinya pada
peristiwa beberapa perawat yang mencoba membunuh beberapa pasien
tua yang rewel, polisi yang memperlakukan tahanan secara tidak
manusiawi meskipun tahanan tersebut belum terbukti bersalah, wartawan
atau reporter yang memberitakan hal-hal yang dapat mengganggu
stabilitas nasional sehingga menyebabkan beberapa media cetak dicabut
SlUP-nya, ataupun adanya berita yang mengkisahkan terjadinya dua
orang hakim yang berkelahi secara fisik karena kepentingan pribadi
masing-masing dirasakan terganggu, serta seorang saksi yang melempari
hakim dengan menggunakan sepatunya karena ia merasa ditipu oleh
penegak hukum dan keadilan tersebut, dan sebagainya Semua peristiwa
tersebut dapat mendorong klien untuk selalu bersikap waspada dan
mempertanyakan pelayanan profesional yang selayaknya diterima. Meskipun demikian, banyak juga para penegak hukum dan keadilan yang
berusaha keras untuk meneliti semua berkas perkara secermat-cermatnya dengan maksud untuk mencari dasar penerapan hukum dan un-dangundang sebagaimana mestinya, sehingga kewibawaan hukum dan aparat
penegaknya tetap terjaga dan terpelihara. Sementara yang lain membaca
berkas-berkas dengan maksud untuk meluruskan pemberlakuan hukum,
atau untuk meneari “episode-episode” yang diperlukan di dalam
kehidupan antara pria dan wanita sehingga dapat diketahui sebabmusababnya terjadinya perceraian. Semuanya ini dapat mendorong
perkembangan interpretasi dan penerapan hukum atau undang-undang
secara tepat dan memadai. Dalam upaya mencegah penyalahgunaan
profesi hukum, kiranya perlu dirumuskan kanon etika profesional yang
dapat menghapus atau menghambat pengucilan para klien dari hakhaknya baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
140
Semua peristiwa atau kejadian tersebut di atas sangat erat
berhubungan dengan kontingensi penghasilan. Dalam beberapa kasus
sering terlihat para klien menyetujui untuk membayar sejumlah uang
dengan harapan perkaranya segera terselesaikan dan tidak hanya
terkatung-katung saja. Dengan kondisi seperti ini hubungan antara
penasihat hukum dengan kliennya bisa menjelma menjadi hubungan
“partnership” dalam hubungan bisnis, dan ini mendorong para penasihat
hukum untuk memenangkan perkara supaya dapat memperoleh imbalan
finansial yang tinggi. Penghasilan yang sifatnya kontinggen terhadap
penyelesaian perkara tidak sepenuhnya dikecam, selama ada pula orangorang miskin yang memenangkan perkaranya dan tidak perlu membayar
banyak setelah perkaranya diputus oleh hakim. Yang dimaksudkan
dengan perbuatan-perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh para penegak
hukum antara lain bila ada penasihat hukum yang membiarkan kliennya
terhambat oleh hal-hal yang bersifat teknis, penundaan-penundaan
persidangan, atau sarana-sarana lain yang memungkinkan para klien
melakukan penyuapan dan menempuh prosedur penyelesaian perkara di
luar jalur hukum atau bahkan melawan hukum/ketentuan yang berlaku.
Orang-orang semacam inilah yang dapat dikatakan mencoba membawa
hukum turun pamornya dan membuat pelecehan terhadap keadilan.
Realitas tersebut di atas dapat kiranya dipergunakan untuk mengamati aktivitas para pokrol di kantor-kantor polisi/pengadilan, aktivitas para
“body-guard” hukum pada beberapa perusahaan yang menuntut gaji yang
tinggi dengan dalih demi keselamatan perusahaan, ataupun untuk
mengamati para penegak hukum yang berusaha menggunakan saranasarana tertentu dengan maksud melindungi kelompok kriminal tertentu.
(Titus, 1947,p.327)
Mengingat akan bahaya yang mengancam keadilan dalam praktik
penggembalaan
hukum
itu,
serta
untuk
mencegah
terjadinya
penyalahgunaan atau penyelewengan dalam praktik tersebut, kiranya
perlu di-tegaskan kembali kode-kode etik profesi hukum “yang sudah ada.
141
Sebagai contoh misalnya dalam profesi advokat, dikenal adanya
“normative ethics” yang di dalamnya terkandung ketentuan-ketentuan
seperti:
(1)
kewajiban pada diri sendiri
(2)
kewajiban-kewajiban bagi masyarakat umum
(3)
ketentuan-ketentuan tentang partnership
(4)
kewajiban terhadap orang atau profesi yang dilayani (Oemar S.A,
1991, hlm. 16).
Kewajiban pada diri sendiri adalah sesuatu yang dimaksudkan
untuk mendisiplinkan diri sendiri pada sumpah jabatannya. Dalam
menjalankan tugasnya seorang advokat wajib menjunjung tinggi hukum
berdasarkan Pancasila, UUD' 45, serta sumpah jabatannya dan advokat
harus bersedia memberi bantuan dan nasihat hukum tanpa mengadakan
diskriminasi yang berdasarkan agama, suku, keturunan dan sebagainya
Demikian juga dengan penegak hukum yang lainnya, misalnya Polisi,
sebagai penegak hukum ia mempunyai tugas fundamental melayani
anggota masyarakat, yaitu dalam hal memberi perlindungan hidupnya dan
harta miliknya; melindungi yang benar dan jujur dari segala bentuk
penipuan, yang lemah dari segala bentuk penindasan dan intimidasi, yang
hidup damai dari kekerasan dan kebrutalan. Ia juga berkewajiban untuk
menghormati hal-hak konstitusional setiap orang untuk kebebasannya,
kesamaan derajat dan keadilan (Oemar S.A. 1991, hlm. 19).
Oleh karenanya, jika setiap person penegak hukum melaksanakan
tugas pokok dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, maka tidak akan
terjadi penyimpangan dan penyelewengan kode etik jabatan atau
profesinya. Dari sini tampak bahwa ukuran moralitas profesi akhirnya
terletak pada kodrat manusia sebagai manusia, yaitu dilihat dari segi
tindakannya, motivasi tindakan dan ruang lingkup atau lingkungan di
mana tindakan itu dilakukan.
c. Kecenderungan Profesi menjadi Kegiatan Bisnis
142
Kecenderungan ini terjadi sedikit-banyak ditentukan atau disebabkan oleh
person-personnya sendiri, baik di dalam profesinya maupun di luar profesi.
Memang tidak kita sangkal bahwa kegiatan para ahli hukum hampir dapat
dihubungkan dengan kehidupan dalam dunia bisnis, bahkan selalu siap
untuk “mengadopsi” penampilan lahiriahnya. Woodrow Wilson pernah
mengamati bahwa “para penasihat hukum sudah lama dalam keadaan
bahaya terdampar karena kepentingan-kepentingan bisnis khusus”. Sudah
banyak orang dalam
profesi ini menggunakan kemahirannya untuk
menghindarkan diri dari ketentuan pajak khusus, ketentuan tarif dan
sebagainya.
Sekelompok
penasihat
hukum
pernah
menghabiskan
waktunya hanya untuk menolong kelompok bisnis tertentu untuk
melakukan kegiatan yang sesuai dengan kehendak mereka sendiri, tanpa
peduli akan dampak sosial yang bisa terjadi.
Sebuah pernyataan pernah muncul dalam majalah “The Annals”
yang diterbitkan oleh The American Academy of Political and Social
Science, menaruh perhatian banyak pada profesi penasihat hukum dengan menyebutkan bahwa: dari berbagai penjuru kita mendengar keluhan
tentang norma-norma peradilan yang semakin diremehkan, etika semakin
melemah, penyalahgunaan biaya yang dibebankan kepada klien, sulitnya
bantuan medis pada saat terjadi kecelakaan, cerita-cerita teror yang
disampaikan kepada klien, komersialisasi praktik hukum, bahkan sampai
pada adanya pernyataan tuduhan bahwa banyak penasihat hukum
dianggap terlibat dalam kelompok-kelompok yang bersekongkol dalam
tidak kejahatan dan menjatuhkan nama baik profesi tersebut. Dengan kata
lain, kondisi tersebut menunjukkan gejala pelecehan hukum dan
pemeliharaannya. Bahkan profesi ahli hukum tidak lagi dianggap sebagai
profesi yang terpuji (Maurice Wormser: “Legal Ethics in Theory and in
Practice”, dalam The Annals, Vol. 165-167, Jan.-May 1933, hlm. 195).
Sasaran umum legislasi adalah kesejahteraan umum. Legislasi hukum positif bertujuan untuk melindungi dan mempromosikan kesejahteraan umum dengan cara:
143
(1)
mempertegas definisi hak-hak asasi dan kewajiban azasi yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat, serta menjamin kebebasan
yang diperlukan untuk memungkinkan pertanggungjawaban tindakan,
(2)
mempertahankan kedamaian batin dan tertib masyarakat, serta
menciptakan keamanan eksternal,
(3)
menciptakan kondisi-kondisi yang memadai demi kemajuan dalam
bidang sosial-ekonomi dan kebudayaan, serta kehidupan moral dan
religius (Karl H. Peschke, 1987, hlm. 182).
Dari sini dapat disimpulkan bahwa kehendak pembuat undang-
undang bukanlah merupakan dasar yang eksklusif dan utama terciptanya
tertib hukum. Kebaikan atau kesejahteraan umum termuat dalam realisasi
tujuan yang objektif, individual dan sosial, yang mengikat para pembentuk
hukum/undang-undang dalam pemberlakuan norma-norma hukum.
Setiap hak menghasilkan objek hukum, yaitu sesuatu yang berada
di bawah wewenang seseorang. Objek hukum dapat berupa bendabenda, dan dapat juga berupa pelayanan atau jasa. Yang dimaksudkan
'benda-benda' dapat berupa benda material (seperti mesin, bahan
pakaian, dan sebagainya) dan dapat berupa hal yang bersifat imaterial
(seperti misalnya: pendapat, dan sebagainya). Manusia sebagai pribadi
tidak pernah dapat dijadikan objek hukum. Yang dapat menjadi objek
hukum hanya jasa atau pelayanan yang diberikan oleh person kepada
person lain. Bila objek hukum ini pada akhirnya berubah menjadi kegiatan
bisnis. Barang dan jasa-pelayanan yang diberikan oleh para profesional
hukum menjadi bernilai ekonomis.
d. Kurangnya Kesadaran dan Kepedulian Sosial
Terlalu sedikitnya kesadaran sosial di kalangan para anggota profesi
hukum dapat dianggap sebagai sebuah “state of affairs”. Kondisi ini
ditandai oleh adanya gejala di mana orang meninggalkan keyakinannya
tentang wibawa hukum. Hal ini terjadi tidak hanya pada saat kegiatan para
pokrol amatiran mulai dilarang, melainkan juga saat karier para pakar
hukum atau penasihat hukum terkenal mulai diuji sehingga banyak dari
144
antara anggota profesi hukum mulai “menjual” jasa mereka demi
perolehan penghasilan yang lebih tinggi. Di luar profesi mungkin mereka
menyediakan dirinya bagi kesejahteraan umat manusia, namun dalam
kegiatan-kegiatan profesionalnya mereka justru menjadi orang-orang
sewaan yang dibayar mahal oleh kliennya sendiri. Orang-orang yang
terkemuka dalam profesi hukum dan yang memiliki kedudukan yang baik
dalam assosiasi peradilan mungkin banyak menghabiskan waktunya
untuk menasihati orang lain secara individual atau untuk menjadi
penasihat hukum beberapa perusahaan tentang bagaimana memperoleh
sertifikat, sambil mengarahkan praktik hukumnya dalam cara-cara yang
justru bertentangan dengan semangat dan isi hukum. Bila secara teoretis
seorang advokat itu menjadi bagian dari kantor pengadilan dan jasa
pelayanannya diabdikan untuk menegakkan keadilan, dalam pelaksanaan
praktiknya
tidak
seluruhnya
berhubungan
dengan
konsekuensi-
konsekuensi sosial, melainkan hanya pada orang tertentu kepada siapa ia
'menjual' jasa profesionalnya.
Kepincangan-kepincangan tersebut diatas tidak akan terjadi bila
para penegak hukum dan keadilan sebagai penyandang profesi
membatasi diri pada perkara-perkara teknis, menutup segala bentuk
permainan “pintu belakang”, serta menghindarkan diri dari tindakan yang
menyimpang dari ketentuan hukum yang berlaku, untuk kemudian
memupuk rasa kesadaran yang tinggi tentang kepentingan anggotaanggota masyarakat pada umumnya. Kode Etik Kepolisian Internasional
antara lain menyebutkan sebagai berikut:
“A police officer is both a citizen and a law enforcement officer who
on behalf of his fellow citizens, prevents crime, reserves the public
peace, protects the persons and property and detects and
apprehends offenders. It is the tradition of the police profession to
be helpful, beyond the call of duty to all persons” (Oemar S.A, 1991,
hlm. 20).
Jadi, seorang anggota polisi adalah sekaligus seorang warga negara dan
seorang petugas penegakan (penerapan) hukum yang demi sesama
warga negara ia mencegah kejahatan, menjamin ketenteraman umum,
145
melindungi anggota masyarakat dan harta miliknya serta melacak dan
menangkapi para pembangkang hukum. Tradisi profesi kepolisian semacam ini haruslah bersifat benar-benar membantu, sesuai dengan
panggilan tugas bagi pengabdian kepada semua orang. Bukan yang
sebaliknya terjadi sebagaimana kita lihat pada waktu-waktu yang telah
lalu. Semua kode etik profesi hukum pada dasarnya menggariskan dan
menegaskan bahwa setiap person penegak hukum, apa pun jenis
profesinya, adalah abdi masyarakat dan abdi hukum, bukan bisnisman.
Seorang hakim dalam tugasnya sehari-hari memiliki “kekuasaan yang
besar terhadap para pihak yang berhubungan dengan masalah atau
konflik yang dihadapkan kepada hakim atau para hakim tersebut”,
(Mochtar Kusuma Atmadja, 1974, hlm. 17). Ini berarti bahwa dalam
tugasnya, seorang hakim memikul tanggungjawab yang besar dan harus
menyadari tanggungjawab itu. Sebab, setiap keputusan yang diambil-nya
mempunyai dampak sosial yang sangat besar, yaitu dapat membawa
akibat yang sangat jauh pada kehidupan para pihak yang terkena
jangkauan keputusan tersebut. Keputusan hakim yang tidak adil bahkan
dapat mengakibatkan penderitaan lahir batin pada para yustisiabel yang
bersangkutan sepanjang perjalanan hidupnya (Arief Sidharta, 1992, hlm.
110).
Kode Etik Notaris antara lain juga menyebutkan bahwa: Dalam
menjalankan tugasnya, Notaris harus menyadari kewajibannya, bekerja
mandiri, jujur tidak berpihak dan dengan penuh rasa tanggungjawab;
memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya
dengan sebaik-baiknya: memberikan penyuluhan hukum untuk men-capai
kesadaran hukum yang tinggi, agar anggota masyarakat menyadari hak
dan kewajibannya; serta harus memberikan pelayanan kepada anggota
masyarakat yang kurang mampu.
Sementara itu, Kode Etik dan Doktrin Ikatan Penasihat Hukum
Indonesia Bab I, Pasal 3, ayat (1) menyatakan sebagai berikut.: Anggota
Ikatan Penasihat Hukum Indonesia lebih mengutamakan pengabdiannya
146
kepada masyarakat daripada kepentingan sendiri dan golongan (Dalam
semangat “Pengabdian kepada masyarakat di atas kepentingan pribadi).
Sedang dalam Pasal 4, ayat (6) disebutkan sebagai berikut: Anggota
Ikatan Penasihat Hukum Indonesia dalam memperhitungkan imbalan
terhadap jasa yang diberikan, dengan mengingat segi kelayakan dan
kemanusiaan (Dalam semangat TRI DHARMA PROFESI: Kebenaran,
Keadilan dan Kemanusiaan).
Oleh karenanya, demi tegaknya hukum dan keadilan, sangat dibutuhkan lebih banyak lagi ahli hukum yang tidak menggunakan para klien
dan pencari keadilan sebagai “objek” kegiatannya, melainkan yang
bersedia membantu dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab untuk
mempertemukan hukum dengan tuntutan masyarakat yang urgent.
e. Kontinuasi Sistem Peradilan
Para ahli hukum bukan hanya sekedar menjadi bagian dari sebuah
sistem
peradilan,
melainkan
juga
berperanan
dalam
membantu
menyebarluaskan sistem yang sering sudah dianggap ketinggalan zaman
dan yang di dalamnya terdapat banyak kasus penegakan keadilan yang
kurang memadai lagi. Sebagai contoh misalnya pernyataan yang
diungkapkan oleh seorang Hakim Tinggi Mahkamah Agung Amerika
Serikat sebagai berikut: bahwa administrasi hukum pidana di AS adalah
simbol dari “noda peradaban”. Pernyataan ini bertolak dari adanya realitas
persidangan tindak pidana sehari-hari yang biasanya terdiri dari dua
kelompok yang berperkara yang masing-masing mencoba memenangkan
perkaranya, yang seharusnya persidangan ini dilangsungkan oleh para
ahli dalam bidang kriminologi dengan menggunakan sarana-sarana yang
memadai untuk menentukan fakta hukum dari perkaranya dan kondisi
terdakwa,
serta
perkara/kasusnya
merekomendasikan
sesuai
sebuah
dengan ketentuan
yang
disposal
atas
mengacu
pada
kepentingan masyarakat dan terdakwa.
Atau, mengenai gagasan tentang pidana cambuk, yang bila
dilaksanakan pencambukan itu akan mengakibatkan luka bilur-bilur yang
147
akan membekas selamanya. Pidana yang menimbulkan rasa sakit/derita
ini memang dikehendaki oleh penghukum dengan maksud agar terpidana
menjadi jera dan tidak melakukan tindak pidana lagi. Apakah pidana
cambuk ini tepat bila masih dipergunakan pada era hukum yang sudah
maju dalam memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan hak-hak asasi
manusia saat ini?
Dalam konsep hukum pidana modern, ada dua hal yang harus
diperhatikan/dipertimbangkan oleh hakim sebelum ia menjatuhkam
pidana, yaitu: (1) masalah perbuatannya, dan (2) masalah pelaku
perbuatan itu.
Untuk masalah yang pertama, yang penting untuk diperhatikan di
sini adalah apakah perbuatan yang dilakukan itu merupakan perbuatan
yang bertentangan dengan hukum, khususnya hukum pidana, atau tidak
(atau sekedar pelanggaran biasa sebagai akibat kealpaan, misalnya).
Pasal I, ayat (1) KUHP menyatakan: Tiada suatu perbuatan dapat
dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam per-undangundangan yang telah ada sebelum perbuatan yang dilakukan. Dari
ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan dinilai
sebagai perbuatan pidana bila ada rumusannya dalam suatu perundangundangan. Demikian juga perlu diperhatikan akan adanya keadaan atau
hal-hal tertentu yang menyertai perbuatan tersebut serta menentukan
berat-ringannya pidana yang akan dijatuhkan.
Perlu diingat di sini bahwa istilah “hukuman” yang merupakan istilah
umum dan konvensional dapat mempunyai arti luas dan berbedabeda/berubah-ubah, karena istilah ini dapat berkonotasi dengan bidang
yang cukup luas pula. Istilah tersebut tidak hanya sering digunakan dalam
bidang pendidikan, moral, agama atau istilah-istilah lain dalam kehidupan
sehari-hari, namun dapat kita lihat pula terutama dalam kaitannya dengan
bidang hukum (Muladi & Bafda, 1984, hlm. 2).
Dalam istilah hukum, “hukuman” lebih banyak diartikan atau bahkan
diganti dengan istilah “pidana”, sehingga dengan pengertian ini ada
148
banyak batasan yang diajukan untuk menerangkan arti hukuman itu.
Salah satu batasan yang dikemukakan oleh Alf Ross ialah: “The
punishment is an expression of disapproval of actions for which it is
imposed.” Sementara H.L. Packer menyatakan bahwa pengenaan hukuman dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kejahatan atau perbuatan yang tidak dikehendaki atau salah. Jadi, fokus pidana adalah
perbuatan yang salah (menurut hukum). Pemberian pidana itu dimaksudkan untuk mencegah terulangnya kembali perbuatan itu, maupun
untuk mengenakan penderitaan, atau untuk kedua-duanya (Ibid., hlm. 46).
Dalam kaitannya dengan pidana cambuk, pidana jenis ini di Singapore diancamkan pada perbuatan-perbuatan tertentu, seperti misalnya:
vandalisme atau pengrusakan harta benda orang lain, meraba dengan
sengaja alat-alat vital orang lain karena kebuasan seks, pembunuhan,
menetap lebih dari 120 hari di Singapura tanpa izin pihak imigrasi, dan
pemerkosaan. Di Malaysia, pidana cambuk dikenakan antara lain pada
perbuatan penganiayaan yang disengaja, memeras dengan kekerasan,
mencoba memperkosa serta melakukan tindak pencurian berencana
(Forum Keadilan, no.4, Th. Ill, 1994, hlm. 42-43).
Tentang masalah yang kedua, yaitu tentang pelaku perbuatan,
pelaksanaan pidana dikaitkan dengan kemampuan bertanggungjawab
orang tersebut. Biasanya suatu negara menentukan batas umur minimal
terdakwa untuk dapat dikenakan sanksi pidana. Ini berarti bahwa usia
tertentu seseorang dianggap kurang mampu bertanggungjawab, sehingga
belum layak untuk dikenai pidana. Di Singapura, anak berusia 17 tahun
atau kurang dari itu dan pria berusia di atas 50 tahun tidak dikenai pidana
cambuk. Sedang mengenai derajat kesalahannya sebagai perwujudan
sikap batinnya, sebagian besar negara yang mengenai pidana cambuk
tidak membedakan secara prinsipial pidananya. Di negara-negara
tersebut orang yang melakukan perbuatan yang dikategorikan tindak
149
pidana, baik yang disertai dengan kesalahan yang berat maupun yang
ringan, dapat dikenai pidana cambuk.
Bila dilihat dari aspek kemanusiaan norma kemanusiaan menuntut
supaya dalam penggembalaan hukum manusia selalu diperlakukan
sebagai manusia. Sebab, sesuai dengan hak-hak asasinya, manusia itu
mempunyai keluhuran dan keluhuran ini harus selalu dihormati. Jadi,
pelaksanaan pidana cambuk itu dari sudut pandang moral dan bila
dilaksanakan pada zaman di mana hak-hak azasi manusia sebagai
makhluk hidup yang mempunyai keluhuran diri, akan menunjukkan
adanya gejala kemunduran sistem peradilan yang ada. Orang harus ingat
bahwa ada banyak cara lain yang lebih manusiawi, yang dapat
dipergunakan untuk mengenakan sanksi pidana.
Sebagai makhluk yang memiliki keluhuran, manusia memiliki dua
sifat hakiki, yaitu sebagai individu dan sebagai pribadi. Sebagai individu, ia
adalah otonom dan “self-centered”, dan sebagai pribadi ia memiliki kodrat
rasional dan “self-transcending”. Hukum sebagai ukuran per-buatan
manusia merupakan salah satu prinsip dalam perbuatan manusia. Oleh
karenanya, hukum dan pemberlakuannya juga harus mengacu pada
kodrat rasional itu (J. de Torre, 1984, hlm. 26 dan 33-34). Demikian pula
dengan pengenaan sanksi pidana, terutama pidana yang bersifat retributif
(pembalasan), J. Adenaes berpendapat bahwa tujuan utama pemidanaan
adalah untuk memuaskan tuntutan keadilan dan I. Kant menyatakan
bahwa pemberian pidana sesuai dengan tuntutan kesusilaan. Maka dalam
kasus pidana cambuk tersebut di atas, sistem ini dikategorikan kuno atau
tidak, dapat dilihat dengan kriteria kesusilaan dan keadilan yang diterima
oleh terdakwa.
2. Legislator dan Subjek Hukum
Pelayanan profesional hukum akan berkualitas atau tidak seringkali tergantung pada kondisi “kesiapan” person pemegang atau penyandang profesi serta pada kesadaran subjek hukum sendiri. Analisisnya
adalah sebagai berikut:
150
a. Legislator
Hukum dapat diberlakukan oleh mereka yang memiliki wewenang sah
dalam sebuah masyarakat atau mereka yang memiliki wewenang
yurisdiksi. Namun para legislator hanya mempunyai kompetensi atau
kewenangan yang berhubungan dengan hal-hal yang dapat mendukung
cita-cita masyarakat yang terorganisasi.
Kekuasaan legislatif mempunyai tugas merumuskan hukum-hukum
atau peraturan perundangan atas dasar kepercayaan yang diberikan oleh
anggota masyarakat dan atas dasar keunggulan kemahiran pemegang
kekuasaan tersebut dalam bidang hukum dan perundangan-
151
Bab V
Norma-norma Bagi Para Penegak Hukum
Ada beberapa perbuatan yang pada hakikatnya mempunyai ciri khas dan
mengandung moralitas ekstrinsik karena telah diperintahkan atau dilarang oleh
sebuah kekuasaan yang sah. Namun ada juga perbuatan yang memiliki moralitas
secara intrinsik, yaitu perbuatan-perbuatan yang menurut kodratnya memang
bersifat moral. Persoalan kita kemudian adalah: norma-norma manakah yang
dapat dipergunakan untuk mengukur moralitas sebuah perbuatan? Apakah
sarananya supaya sebuah perbuatan itu dapat diukur nilai moralnya? Dengan
pertanyaan-pertanyaan ini kita akan dihadapkan justru pada norma-norma itu
sendiri.
1. Hakikat Norma
Sebuah norma adalah sebuah aturan, patokan atau ukuran, yaitu sesuatu
yang bersifat “pasti dan tak berubah” (=fixed), yang dengannya kita dapat
memperbandingkan sesuatu hal lain yang hakikatnya, ukurannya, atau
kualitasnya, dan sebagainya, kita ragukan. Dengan ini, maka yang dimaksudkan
“Norma-norma bagi para penegak hukum” adalah sebuah aturan, patokan atau
ukuran yang harus dipergunakan dan dipegang teguh oleh para penegak hukum
dalam penghayatan profesi mereka sebagai penegak hukum dan keadilan.
Norma-norma ini akan dipergunakan juga untuk menilai baik-buruknya tindak
perbuatan para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya, bahkan juga
dapat menjadi kriteria moral dalam penegakan hukum.
Sebuah norma dapat bersifat 'dekat' dan dapat 'jauh'. Norma dekat atau
norma turunan adalah norma yang dapat diterapkan secara langsung pada hal
atau benda yang diukur. Atau dengan kata lain, norma dekat adalah norma yang
“siap pakai”. Sedang yang dimaksudkan norma jauh adalah upaya penalaran
tentang sebab terakhir mengapa norma yang siap pakai itu 'begini' atau 'begitu'.
Di samping itu, dalam kehidupan sehari-hari terdapat pula jenis-jenis norma yang
lainnya, seperti misalnya: norma teknis dan norma umum. Yang dimaksudkan
dengan norma teknis adalah norma yang hanya berlaku untuk mencapai tujuantujuan tertentu atau untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya sementara dan
152
terbatas. Sebagai contoh norma teknis misalnya: aturan main sepak bola.
Sedang norma yang berlaku umum ada tiga macam, yaitu: norma sopan santun,
norma hukum dan norma moral/agama. Norma sopan santun biasanya berlaku
atas dasar kebiasaan atau adat istiadat, atau menurut pendapat kebanyakan
orang. Norma hukum adalah norma yang ditetapkan oleh orang yang memiliki
wewenang yurisdiksi dan mempunyai tugas membina kehidupan masyarakat.
Norma yang kedua ini pelaksanaannya biasanya secara dipaksakan dan bila
dilanggar maka sanksinya bersifat pasti. Sedang norma moral adalah norma
yang mengarahkan tindak perbuatan manusia ke arah tujuan akhir hidup
manusia (APTIK, Buku Panduan MK Pancasila, hlm. 76). Norma-norma dapat
bersifat objektif dan dapat pula bersifat subjektif. Norma objektif adalah norma
yang dapat diterapkan secara langsung dan apa adanya. Sebagai contoh
misalnya: mistar atau penggaris sebagai norma atau pengukur panjang sebuah
benda. Sedang norma subjektif adalah norma yang bertolak dari unsur batin atau
suara hati manusia. Bahkan seringkali suara hati itu sendiri dianggap sebagai
norma subjektif, walaupun ada pandangan yang menyatakan juga bahwa:
pertimbangan suara hati tidak lain adalah kesimpulan sebuah sillogisme tentang
baik dan tidak baiknya perbuatan manusia.
Di antara norma subjektif, ada yang disebut perasaan moral, namun
sebagai norma: perasaan moral tidak dapat memberikan ukuran atau patokan
yang memadai. Sebab, perasaan moral selalu mempunyai banyak variasinya,
tergantung pada kondisi fisik dan suasana emosi manusia.
Sebenarnya sarana normatif yang seharusnya dipergunakan untuk
membedakan perbuatan yang baik dari yang tidak baik (misalnya), adalah intelek
atau akal pikiran manusia sendiri. Hal ini pernah dikemukakan oleh Aristoteles,
serta kaum Stoa dan para filsuf abad pertengahan, maupun filsuf-filsuf modern,
yang pada umumnya menyatakan bahwa sebuah perbuatan itu dinilai baik jika
perbuatan itu sesuai dengan putusan akal sehat. Bahkan dalam arti tertentu,
putusan akal sehat juga menjadi norma moralitas.
Sebuah norma biasanya tersusun pada saat kita hendak mengukur
sesuatu dan tujuannya adalah untuk mengetahui ukuran sesuatu itu dengan
tepat. Secara umum, satu-satunya hal yang ingin kita ukur dalam kaitan
pembahasan topik ini adalah tindak perbuatan manusia sendiri, dengan tujuan
utamanya untuk menilai baik-buruknya perbuatan tersebut. Mengapa sesuatu
153
perbuatan disebut baik? Mungkin karena: menjadi tujuan atau menjadi sarana
untuk mencapai tujuan tertentu, atau diinginkan, dan sebagainya.
Adanya fakta bahwa sesuatu itu diinginkan, mungkin karena sesuatu hal
itu secara ontologis memang baik, bukan karena secara moral itu baik. Setiap
perbuatan yang kita lakukan, sejauh bertujuan untuk memenuhi apa yang kita
inginkan, adalah baik secara ontologis. Meskipun demikian, di sini kita masih
memerlukan sarana pengukur yang lainnya supaya perbuatan kita baik juga
secara moral. Hal inilah yang merupakan kesulitan kita.
Seandainya saja perbuatan kita dinilai baik karena sesuai dengan
peraturan atau ketentuan yang berlaku, hal ini hanya menunjuk pada ukuran
moralitas yang bersifat ekstrinsik, belum dianggap baik secara intrinsik. Tindak
perbuatan manusia baru dinilai baik secara moral bila sesuai dengan kodrat
manusia sendiri. Jadi, sekurang-kurangnya dalam arti tertentu, kodrat manusia
adalah norma moralitas.
2. Nilai-nilai sebagai Sumber Norma
Dalam kehidupan sehari-hari sering terlihat manusia tidak berhasrat atau tidak
berminat untuk berbuat sesuatu, karena ia merasa hal itu percuma saja, tidak
ada gunanya, sia-sia, tidak mendatangkan keuntungan pribadi, terpaksa berbuat
sesuatu karena sesuatu alasan tertentu yang bersifat sangat mendesak, atau
diperintahkan oleh sesuatu kekuasaan tertentu. Namun di lain pihak, terlihat juga
manusia sangat ingin atau berhasrat untuk berbuat sesuatu, karena ia
mengharapkannya, menginginkannya, mendambakannya serta menghendakinya dengan sungguh-sungguh. Ia ingin melakukan sesuatu perbuatan itu karena
ia merasa perbuatan itu sangat berharga atau bernilai.
Sebenamya secara psikologis, di dalam diri manusia terdapat tiga macam
kecenderungan
(tendenz),
yaitu
kecenderungan
individualis
(tendenz
individualis), kecenderungan untuk membaurkan diri dengan yang lain (tendenz
kolektif), serta kecenderungan untuk berlaku tertib sehingga kepentingan masingmasing pihak dapat terpenuhi di dalam kehidupan bersama dalam masyarakat
(orde tendenz). Di dalam kecenderungan individualis, masing-masing individu
bersikap aktif. Setiap orang mempunyai kecenderungan bereksistensi untuk
memperjuangkan
kepentingan
pribadinya.
Roscoe
Pound
menyebut
kecenderungan ini sebagai “insting agresif atau naluri menyerang. Masing-
154
masing orang ingin mementingkan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain,
sehingga hal ini sering kali menimbulkan persaingan dan bahkan pertentangan
antarindividu. Dalam kecenderungan ini tiap orang meng-anggap kepentingan
individual adalah hal yang paling bernilai.
Dalam
kecenderungan
kolektif,
tekanannya
justru
terletak
pada
kebersamaan di mana tiap orang lebih bersikap pasif saja. Menurut Aristoteles,
manusia itu mempunyai bawaan sifat sebagai “Zoon Politikon” atau makhluk
yang bermasyarakat. Dalam kecenderungan ini orang lebih suka berbuat sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat secara
keseluruhan. Setiap perbuatan terarah pada usaha untuk memenuhi kebutuhan
orang lain dan kebu-tuhan bersama. Di dalam masyarakat setiap orang
meluluhkan “ego”-nya secara pasif dan diwarnai oleh keadaan selalu berkontak
dengan orang lain. Jadi, kecenderungan ini menunjukkan bahwa kepentingan
bersama adalah hal yang paling penting di dalam hidup manusia.
Berbeda dengan dua kecenderungan terdahulu, dalam kecenderungan
yang ketiga ini orang lebih suka untuk mengatur individu yang satu di antara
individu-individu yang lainnya dengan maksud supaya terjadi keseimbangan
antar kepentingan, tidak terdapat pertentangan atau konflik antar-individu, serta
tercipta kesesuaian kepentingan. Jadi, di sini yang penting adalah adanya damai,
tata serta tertib di dalam masyarakat. Oleh karenanya, kedamaian dan ketertiban
hidup di dalam masyarakat menjadi sesuatu yang bernilai. Untuk tujuan atau citacita itu, setiap individu harus tertib dan taat, serta untuk cita-cita itu pula manusia
kemudian menciptakan norma-norma untuk berbuat (=norma agendi), yang
selanjutnya disebut hukum.
Keberadaan nilai pada dasarnya tergantung pada dua hal, yaitu pada
hasrat dan kelangkaan. Sesuatu benda fisik akan mempunyai nilai bila memiliki
kedua kualitas tersebut, dan tidak bernilai bila kedua kualitas tersebut tidak ada
(Ency. Americana,1991, vol. 27, hlm. 653). Setiap nilai terbentuk, dasarnya
adalah pertimbangan, kemampuan kreasi, perasaan, kehendak bebas manusia
serta keyakinan individu ataupun masyarakat. Secara teoretis, pembentukan
nilai-nilai terjadi melalui cara tertentu dan didasarkan atas kesadaran dan
keyakinan manusia. Jadi, nilai tidak terbentuk jika karena suatu paksaan.
155
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan
sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk selanjutnya mengambil keputusan.
Dalam hal ini John Dewey menyatakan:
“Judgement about values are judgement about the conditions and the results of experienced objects; judgements about that which should regulate
the formation of our desires, affections and enjoyments” (Sahakian,
1968).
Selanjutnya, manusia menggunakan nilai-nilai sebagai landasan, alasan ataupun
motivasi di dalam segala perbuatannya. Dalam pelaksanaan operasionalnya,
nilai-nilai tersebut dijabarkan dalam bentuk kaidah atau norma-norma sehingga
dapat bersifat memerintahkan, mengharuskan, bahkan melarang, karena sesuatu
tidak diinginkan atau dicela.
C.H. Von Wright dalam tulisannya yang berjudul “On norms in general”,
menyatakan bahwa term “norma” digunakan dalam banyak makna dan sering
kali dengan arti yang tidak begitu jelas. Multi makna dan tidak jelasnya arti nilai
tersebut terjadi sebab dalam beberapa aspek tertentu, term nilai itu mempunyai
sinonim dengan term-term lainnya seperti misalnya: pola, patokan, tipe, serta
mempunyai kemiripan pengertian dengan kata-kata “pengaturan”, “aturan” dan
“hukum”. Menurut Von Wright, norma-norma pada umumnya terdiri dari tiga jenis,
yaitu: hukum, pengaturan, serta petunjuk pelaksanaan atau norma-norma teknis
(Louis Z. Hammer, 1966, hlm. 141-142).
Segugusan norma-norma yang dalam satu aspek mirip dengan atur-anaturan dalam masyarakat dan di lain aspek merupakan pengaturan itu sendiri
disebut adat istiadat. Adat istiadat juga dapat disebut sebagai perwujudan dari
kebiasaan. Di satu sisi kebiasaan pertama-tama merupakan regularitas perilaku
individu, namun di lain sisi merupakan kecenderungan untuk melakukan hal-hal
yang sama, pada kesempatan yang hampir bersamaan serta ruang lingkup
kehidupan masyarakat yang selalu berulang. Adat istiadat dapat dipandang
sebagai kebiasaan sosial yang berupa pola-pola perilaku anggota-anggota
sebuah masyarakat. Dalam pengertian ini, adat istiadat dan kebiasaan dapat
disebut sebagai pengaturan yang bersifat 'implisit' (Ibid, hlm. 143-146).
3. Norma-Norma bagi Penegak Hukum
Yang dimaksudkan di sini adalah norma-norma atau kaidah-kaidah yang wajib
ditaati oleh para penegak atau pemelihara hukum. Norma-norma tersebut perlu
156
ditaati terutama dalam 'menggembalakan' hukum, menyusun serta memelihara
hukum. Menurut O. Notohamidjojo, ada empat norma yang penting dalam
penegakan hukum yaitu:
a. Kemanusiaan
Norma kemanusiaan menuntut supaya dalam penegakan hukum, manusia
senantiasa diperlakukan sebagai manusia, sebab ia memiliki keluhuran pribadi.
b. Keadilan
Keadilan adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada orang
lain apa saja yang menjadi haknya (Ulpianus, 200 AD).
c. Kepatutan
Kepatutan atauequity adalah hal yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan
undang-undang dengan maksud untuk menghilangkan keta-amannya. Kepatutan
ini perlu diperhatikan terutama dalam pergaulan hidup manusia dalam
masyarakat.
d. Kejujuran
Pemelihara hukum atau penegak hukum harus bersikap jujur dalam mengurus
atau menangani hukum, serta dalam melayani 'justitiable' yang berupaya untuk
mencari hukum dan keadilan. Atau dengan kata lain, setiap yurist diharapkan
sedapat mungkin memelihara kejujuran dalam dirinya dan menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang curang dalam mengurus perkara.
Jadi, norma-norma tersebut perlu ditekankan dan dituntut pada setiap
pemelihara atau penegak hukum, terutama pada zaman atau kurun waktu di
mana norma-norma Etika melemah dalam masyarakat. Para yurist, melalui
penyadaran atas norma-norma tersebut, diharapkan dapat menjaga moralitasnya
yang setinggi-tingginya di dalam menggembalakan hukum.
4. Kemanusiaan sebagai Norma
Pembicaraan tentang norma kemanusiaan dapat dilakukan melalui pokok
bahasan yang meliputi antara lain: pengertian tentang individu, “person”, hak-hak
asasi manusia.
a. Individu dan Person: berciri khas dan memiliki sifat utuh
Dalam hubungan antara person dengan kesejahteraan umum, ma-ka
diperlukan adanya.penjernihan makna tentang individu dan person supaya
konsep tentang kedua hal tersebut secara tepat dapat dipergunakan sebagai
157
norma fundamental untuk setiap kegiatan pemelihara atau penegak hukum.
Pembedaan antara pengertian “individu” dan “person” terutama tampak dalam
makna kedua term tersebut itu sendiri.
Tentang kedua term tersebut, Thomas Aquinas menyatakan sebagai
berikut: bahwa term “person” dalam arti umum adalah substansi individual
sebuah kodrat rasional, yaitu manusia sendiri. Jika term “individu” berarti “utuh”,
“tak terbagi-bagi” dan berbeda dari yang lainnya maka term “person” pada
hakikatnya berarti “sesuatu yang menurut kodratnya berbeda”. Jadi, atas dasar
analisis ini, maka:
(1) Individu: term ini diambil dari pernyataan dalam bahasa Latin “indivisum in se,
divisum ab aliis”, yang artinya: tidak terbagi-bagi dalam dirinya sendiri, tetapi
terpisah (= berbeda) dari yang lain, bahkan tidak mungkin dihubungkan
dengan yang lain, self-centered dan otonom.
(2) Person: adalah perwujudan dari pernyataan dalam bahasa Latin “rationalis
naturae individua substantia”, artinya: substansi individual dari sebuah kodrat
rasional, yaitu sebuah makhluk individual yang dilengkapi dengan kodrat
inteligen, dan yang melalui intelegensinya itu serta cinta kepada sesama,
substansi tersebut mempunyai sifat dapat berkomunikasi, bersifat sosial,
serta self-transcending (de Torre, 1984, hlm. 26). Kata “person” sebetulnya
berasal dari bahasa Yunani “prosopoon” yang artinya “wajah” dan dari
ekspresi wajah ini tampaklah ciri karakteristik tiap-tiap individu.
Atas dasar dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada
dasarnya manusia itu mempunyai dua dimensi metafisis, yaitu “individualitas' dan
'sosialitas', berbeda dari yang lain namun tidak terpisahkan dari yang lain, satu
sama lain bersifat saling menentukan. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat
analisis berikut di bawah ini.
b. Individualitas
Individualitas berakar di dalam unsur-unsur yang dalam susunan
biokhemis badan manusia menentukan perilaku temperamental dan menyatakan
dirinya dalam bentuk-bentuk emosi yang bersifat “infra-rasional”.
Driyarkara memberikan gambaran tentang manusia sebagai berikut:
a. Manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri, artinya:
manusia dapat bertanya tentang dirinya sendiri. Bahkan tidak hanya
berhadapan dengan dirinya, melainkan juga menghadapi dirinya sebagai
158
yang berhadapan dengan dunianya. la berbeda dari hewan karena manusia
sadar akan dirinya sendiri, sedang hewan tidak.
b. Manusia berada dan menghadapi alam, menyatu dengan alam, meskipun
sekaligus juga terpisah dari alam. Manusia mengambil jarak dari alam, sebab
ia mengalami dunianya bukan sebagai “fixed nature” (sebagaimana dialami
oleh hewan). Manusia dapat mengatasi dunianya (yaitu kodratnya) dengan
cara mengolahnya, memperbaiki, maupun menilai dunianya sendiri itu. Jika ia
terikat pada alam, namun ini hanya sejauh menyangkut keterbatasanketerbatasan kemampuannya secara fisik saja. Oleh karenanya ia tidak
sepenuhnya terikat pada sifat-sifat kodratnya.
c. Kenyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia itu selalu hidup dan
mampu mengubah dirinya dalam arus situasi yang konkret. Di samping itu, ia
sendiri dapat berubah justru karena diubah oleh situasinya. Manusia selalu
terlibat dalam situasinya dan situasi itu berubah serta mengubah manusia.
Dengan titik tolak inilah maka manusia dapat disebut menyejarah, serta
dalam kondisi seperti inilah manusia disebut makhluk yang memiliki
kebebasan.
Selain itu, ditinjau dari aspek sosialitasnya, manusia pribadi itu senantiasa
hidup dalam masyarakat atau persekutuan manusia. Sebagai akibatnya: antara
manusia-pribadi dan masyarakat dapat timbul baik kerjasama maupun
ketegangan atau konflik. Ini dapat terjadi, karena di satu pihak manusia memiliki
sikap hidup yang menilai “individu”nya bernilai tinggi, primer, sedang masyarakat
dinilai sekunder. (Sementara “Kolektivisme'' memandang masyarakat sebagai
yang primer dan bernilai paling tinggi, sedangkan individu itu sekunder atau
bahkan tidak bernilai).
Meskipun demikian, penemuan manusia sebagai 'individuum' merupakan
unsur yang sangat penting bagi perkembangan masyarakat. Sebab, pada
kenyataannya, manusia sebagai pribadi memiliki kesamaan dengan pribadipribadi lain, seperti misalnya: kesamaan dalam tujuan hidup, martabat,
tanggungjawab, bahkan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan dan
di hadapan hukum.
c. Personalitas
Personalitas berakar di dalam “semangat”, yaitu pemahaman dan cinta akan
pribadinya sendiri (Summa Theologiae, 1,65,2). Dari pokok pengertian inilah
159
manusia itu juga disebut “bebas” dan menjadi “tuan” atas segala cita-citanya,
pembangun karakternya sendiri. Begitu pula dengan kodrat sosialnya yang
membawanya mengarahkan diri ke ke-baikan umum, maka kodrat inipun bertolak
dari kebebasan dirinya, bukan dari individualitasnya. Kodrat sosial manusia
mempunyai akar-nya di dalam kemampuannya untuk mencintai apa saja yang
baik (de Torre, 1984, hlm. 26-28).
Manusia memang mempunyai kodrat bebas atau merdeka, namun dalam
realitas kehidupan sehari-harinya ia “tidak bebas” juga. Manusia itu bebas karena
ia memiliki hak-hak individual, namun dalam pelaksanaannya hak-hak tersebut
berbenturan dengan hak-hak orang lain dan tidak boleh membahayakan hak-hak
orang lain itu. Oleh karena-nya manusia dapat bertindak bebas, tetapi sejauh
dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh sesuatu yang mengaturnya
(norma, hukum, adat istiadat, dan sebagainya). Adanya hukum merupakan
syarat mutlak dan sarana bagi terciptanya masyarakat yang aman dan sejahtera.
Sebaliknya, kehidupan manusia dalam masyarakat hanya akan aman dan
sejahtera bila hukum dapat berdiri tegak (Dali, 1953, hlm. 41).
Jika
sesuatu
hukum
diberlakukan,
maka manusia
terikat
untuk
melaksanakannya. Jika moralitas mengikat manusia tanpa menggunakan
paksaan secara fisik, lalu bagaimana efektivitasnya? Menurut Rousseau, bahwa
dalam keadaan alamiahnya, manusia itu bebas dan otonom dalam arti ia tidak
taat kepada siapapun (Notohamidjqjo, 1975, hlm. 38). Kebebasan adalah hak
milik setiap manusia sejak lahirnya. Tidak ada satu pun hukum buatan manusia
yang dapat merampas hak tersebut, sebab hak kebebasannya itu diperolehnya
dari hukum alam (Ibid., hlm. 41).
Ada beberapa kemungkinan alasan manusia menerima “keharusan”
mentaati hukum, baik hukum moral maupun hukum positif:
Pertama, jika keharusan itu berasal dari luar dirinya, pasti hal itu berasal dari
Tuhan sendiri atau dari sesamanya. Namun jika keharusan tersebut berasal dari
sesamanya, pastilah berasal dari sesama yang secara politis terorganisasi di
dalam sebuah negara, atau berasal dari tuntutan hidup bersama di dalam
masyarakat atau negara. Dari pengertian ini kaum positivis moral berkesimpulan
bahwa semua ketaatan moral berasal dari negara. Sedang kaum utilitaris
berkesimpulan bahwa ketaatan moral itu berasal dari kebutuhan manusia dalam
160
masyarakat, terutama dalam upayanya mengusahakan kesejahteraan hidup
bersama yang menuntut partisipasi setiap individu.
Kedua, menurut Immanuel Kant, hukum moral memerintahkan ketaatan dalam
bentuk 'imperatif kategoris' yang dinyatakannya dalam maksim: berbuatlah
sedemikian rupa sehingga apa yang kau perbuat itu dapat menjadi hukum
umum. Yang menjadi dasar imperatif kategoris ini adalah kepribadian atau
personalitas manusia sendiri, sebab seorang person tidak dapat dijadikan objek
bagi person yang lain, se-bagai akibat dari otonomi yang dimilikinya. Otonomi
adalah dasar dari keluhuran kodrat manusia sebagai makhluk rasional. Otonomi
dalam kehendaknya menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai kebebasan
untuk memilih. Setiap pribadi atau person mempunyai kehendak bebas dan ini
berlaku bagi siapa saja tanpa dibatasi oleh usia atau keadaan lingkungannya
(Sahakian, 1968, hlm. 46-47).
Dari beberapa uraian tersebut di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa
di hadapan hukum: manusia harus dimanusiakan, artinya, manusia oleh
penegakan hukum perlu dihormati sebagai pribadi dan sekaligus makhluk sosial.
Dalam definisi hukum yang berbunyi: “Hukum adalah pembatasan kebebasan
setiap orang untuk menjadikannya benar-benar bebas”, dapat dirumuskan dasar
hak-hak manusia di mana martabat manusia yang terkandung di dalamnya
menjadi prinsip dasar hukum, yaitu dasar kemanusiaan yang murni. Hal ini
secara konkret dapat kita amati melalui kutipan-kutipan berikut ini:
Bill of Rights (Virginia) 1776, alinea I:
“That all men are by nature free and independent, and have certain inherent
rights, of which, when they enter into a state of society, they can not, by any
compact, deprive or divest the imposterity; namely, the enjoyment of life and
liberty, with the means of acquiring and processing property, and pursuing and
obtaining happiness and safety”.
Declaration of Independent (USA), 1776:
“We hold this truths to be self-evident: that all men are created equal; that they
are endowed by their Creator with certain inalienable rights, that among these are
life, liberty, and the pursuit of happiness”.
Declaration des Droits de L'Homme et du Citoyen, 1789. pasal 6 (Deklarasi
Hak-hak Azasi Manusia dan Warga Negara):
“La Loi est 1'expression de la volonte generale. Tous les citoyens ont droit de
concourir personellement, ou par leurs representants, a sa formation. Elle doit
etre la meme pour tous, soit qu'elle protege, soit qu'elle punisse....”
161
(Hukum adalah perwujudan kehendak rakyat. Semua warga negara mempunyai
hak untuk bersaing atas namanya sendiri, atau melalui perwakilannya, sesuai
dengan bentuknya masing-masing. Hukum harus berfungsi untuk semuanya,
entah melindungi, entah memberikan sanksi hukuman .....)
Lebih lanjut dalam pasal 7 disebutkan:
“Nul homme ne peut etre accuse, arrete ni detenu que dans les cas determines
par la Loi...”
(Tidak seorang pun dapat dituduh, ditangkap ataupun ditahan kecuali bila
(terkait) dalam perkara-perkara yang ditentukan/diatur oleh Undang-Undang)
Pembukaan UUD 1945, Alinea I:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa.....”
UUD 1945, Pasal 27:1:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan dengan tidak ada
kecualinya”.
UUD 1945, Pasal 29:2:
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk , agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu”.
Jadi, di dalam kehidupannya manusia selalu berusaha untuk menyesuaikan
sikap dan tingkah lakunya, serta semua perbuatan-perbuatannya terhadap
lingkungan dan dunianya. Tujuan penyesuaian tersebut adalah untuk menjaga
nilai moral. Sebagai anggota masyarakat, manusia adalah pendukung segala
macam hak yang dimilikinya justru karena fungsinya sendiri di dalam
masyarakat.
5. Keadilan sebagai Norma
Norma yang kedua yang perlu diperhatikan dalam menggembalakan hukum
adalah “keadilan”. Sebagai ilustrasi konseptualnya dapat diambil contoh misalnya
kasus berikut ini: seorang pejabat yang cukup terkenal dan ramah-tamah
terhadap setiap bawahannya pada suatu saat dituntut sekretarisnya untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya telah menghamili sekretaris tersebut.
Pada awalnya, pejabat tersebut memang konsekuen, ia memberikan sejumlah
uang untuk biaya perawatan janin yang dikandung sekretarisnya itu, Karena
merasa jumlah uang yang diterimanya itu kurang, sekretaris itu menuntut jumlah
162
uang lebih banyak lagi, bahkan menuntut dua kali lipat dari jumlah uang yang
telah diterimanya. Akhirnya pejabat tersebut balik menuntut karena ia merasa
telah diperas oleh sekretarisnya itu. Ia kemudian lapor polisi dan sekretarisnya
ditangkap. Dalam proses verbalnya, sekretaris (atau bekas sekretaris) itu
dinyatakan bersalah telah melanggar pasal-pasal 335 dan 369 KUlHP. Aneh,
korban diadili, sementara sang pejabat bebas. Apakah ini adil? (Minggu Pagi,
September, 1994).
Dalam tulisannya yang berjudul “On the Book of Job” (8,1) Th. Aquinas
menyatakan bahwa: keadilan akan musnah dalam dua kemungkinan, yaitu
karena sebuah kebijaksanaan yang tidak bijaksana (kebijaksanaan palsu) atau
karena perbuatan tidak terpuji dari seseorang yang mempunyai kekuasaan
(seorang pejabat).
Dalam hidup sehari-hari, bila orang berusaha mengukur realitas dengan
patokan “keadilan”, maka ia segera akan melihat bahwa kejahatan dan
penderitaan di dunia ini mempunyai banyak nama atau istilah, dan yang paling
sering dijumpai manusia adalah dalam bentuk “ketidakadilan”. Hal inilah yang
paling banyak menyusahkan hidup manusia. Namun, justru dengan semakin
banyaknya bentuk-bentuk ketidakadilan, maka bila kite mau menyadarinya
konsep tentang keadilan akan semakin tampak jelas. Sebaliknya, semakin
keadilan itu dianalisis, semakin banyak makna bermunculan dan menunjukkan
bahwa menjadikan keadilan terwujud seadil-adilnya di dalam masyarakat adalah
pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan.
Konsep “keadilan” menurut Th. Aquinas dapat dianalisis sebagai berikut:
a. Th. Aquinas mendefinisikan keadilan sebagai berikut: Keadilan adalah
kebiasaan di mana orang satu sama lain saling memberikan apa yang
menjadi haknya didasarkan atas kehendak yang bersifat ajeg dan kekal (Th.
Aquinas, Corpus luris Civilis Inst, II, 58,1). Jika demikian, tindakan yang adil
atau pelaksanaan keadilan itu seharusnya didahului oleh tindakan lainnya
yang dengan tegas menunjukkan hak seseorang untuk melakukannya. Dari
sini dapat disimpulkan bahwa 'hak' dan 'keadilan' itu mempunyai hubungan
yang erat satu sama lain. Adanya hak mendahului adanya keadilan. Hak
yang dimiliki setiap orang itu sifatnya melekat pada kodrat manusia sendiri,
jadi bukan semata-mata berasal dari “luar diri” manusia. Meskipun demikian,
realisasi hak tersebut dapat terwujud dalam berbagai macam bentuk. Dari
163
satu sisi, hak merupakan sesuatu yang seharusnya dimiliki seseorang
sebagai akibat adanya perjanjian, kontrak, janji, keputusan-keputusan hukum,
dan sebagainya Dan di sisi lain, hak juga dapat berarti sesuatu yang seharusnya dimiliki atau melekat pada diri seseorang atas dasar hakikat
kodratnya. Hak dalam arti yang kedua inilah yang sering disebut dengan
istilah “ius naturale” atau “hukum kodrat”. Dalam hal ini Thomas Aquinas
menekankan bahwa: segala sesuatu yang bertentangan dengar hak kodrat,
tidak pernah dapat dianggap adil. Oleh karenanya, kita tidak dapat
merumuskan dasar sebuah hak maupun ketaatan yudisial, jika dalam
rumusan itu tidak disebutkan konsep tentang manusia, serta kodrat manusia
(J.P. Sartre, Existentialism, 1947, hlm. 18 atau J. Leclerq, Note sur la Justice,
1926, hlm. 269).
Manusia, sebagai seorang person, dan sekaligus sebagai makhluk
ciptaan Tuhan, mempunyai hak kodrat yang berasal dari Tuhan sendiri.
Namun sebagai ciptaan pula ia menyandang 'kewajiban' terhadap hak orang
lain (sebagai sesama ciptaan Tuhan).
b. “Keadilan sebagai salah satu bentuk kebajikan yang menuntun manusia
dalam berhubungan dengan sesamanya;.... sementara kebajikan-kebajikan
lainnya menyempurnakan manusia hanya dalam hal-hal yang dapat
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia di dalam hubungan
antarmanusia”. Inilah makna yang terkandung dalam pernyataan “Iustitia est
ad alterum” yang terdapat di dalam “Summa Theologica” 11,57,1. Dalam
pengertian ini seseorang disebut adil bila ia mengenali dan mengakui 'yang
lain' sebagai “yang benar-benar berbeda' dari dirinya sendiri. Oleh karenanya,
seorang hakim dapat disebut adil bila ia memberi sanksi hukuman kepada
pelanggar hukum, atau membantu seseorang untuk memperoleh apa yang
menjadi haknya, melalui segala keputusan yang dibuatnya.
Jadi, keadilan itu dapat diketemukan di dalam kehidupan bersama antara
manusia yang satu dengan yang lainnya. Manusia yang adil adalah manusia
yang dapat bergaul dengan sesamanya. Ada dua jenis tuntutan keadilan, yaitu
mentaatinya secara hukum dan secara moral. Sebagai contoh misalnya: seorang
pejabat disumpah untuk menjadi pengayom setiap warga negara, termasuk
bawahannya sendiri, maka baik secara legal maupun secara moral tidak dapat
dibenarkan bila ia “lari” dari tanggung jawab setelah perbuatannya ternyata
164
merugikan atau mendatangkan penderitaan bagi bawahannya (Lih. Kasus
sebelumnya). Atau petugas yang meminta biaya tambahan yang tidak jelas
penggunaannya kepada para pencari SIM, petugas parkir yang tidak
memberikan karcis parkir kepada pemakai jasa, kondektur bus yang tidak
memberikan tiket kepada penumpangnya, dan sebagainya Semua perbuatan
tersebut dapat dikategorikan (secara umum) sebagai tindak “penipuan” terhadap
orang lain.
Dalam bentuk kewajiban, keadilan bagaikan “hutang” yang harus dibayar
kepada orang lain. Hal ini mengingatkan kita pada makna sank-si pidana dalam
fungsi retributif, yaitu bahwa: hukuman yang dikenakan berfungsi sebagai
“pembayaran kembali” atas suatu tindakan kriminal. Di sini, hukuman juga dapat
berfungsi untuk mengembalikan keadilan yang telah dirusak oleh tindak kriminal.
John Kaplan mengatakan bahwa pemidanaan mengandung arti: 'hutang*
penjahat telah dibayarkan kembali (Muladi & Barda, 1984, hlm. 10-13). Jadi,
pemberian hukuman adalah perbuatan yang adil.
Meskipun demikian, cara melaksanakan tindak keadilan melalui peraturan
perundangan selalu mengacu dan disesuaikan dengan 'hak'; dan ini belum tentu
dapat dikategorikan kedalam kebiasaan keadilan. Sebab, dalam pelaksanaan
peraturan perundangan sering didapatkan bahwa untuk “melakukan hal-hal yang
adil (menurut hukum)” orang merasa tidak perlu “berperilaku adil”. Sebagai
contoh misalnya: untuk kepentingan penyidikan, dalam rangkaian usaha
penegakan keadilan, petugas melakukan cara-cara penyiksaan fisik dengan
maksud supaya terdakwa mengaku atau terpaksa mengaku. Padahal untuk
mengorek kebenaran, ada cara lain yang lebih moral dan manusiawi, yaitu misalnya dengan pendekatan personal melalui psikolog/psikiater. Semen-tara tindakan
yang dapat menyebabkan penderitaan fisik dapat dikategorikan kedalam tindak
kekerasan dan ini masuk dalam perkara pidana. Lalu, adakah bentuk keadilan
yang paling adil?
c. Dalam hidup manusia terdapat tiga kebajikan moral dan keadilan merupakan
kebajikan tertinggi. Cicero mengatakan bahwa orang dinilai 'baik', dilihat dari
perilaku keadilannya. Tiga kebajikan moral tersebut adalah: keadilan,
pengendalian diri, dan sopan-santun dalam bertutur kata dan berperilaku
pada umumnya.
165
d. Tempat keadilan adalah di dalam kehidupan bersama, yaitu: di dalam
keluarga, organisasi perdagangan dan industri, bahkan di dalam masyarakat
yang terorganisasi atau negara. Jadi, pada umumnya orang membahas
keadilan selalu dalam kaitan dengan masyarakat atau komunitas, meskipun
sebenarnya hanya seorang person atau individu saja yang dapat benar-benar
berlaku adil.
Atas dasar pengalaman hidup manusia, Thomas Aquinas menyata-kan
bahwa keadilan “menyadarkan” masyarakat atau negara bilamana tiga hubungan
dasar atau tiga struktur fundamental hidup bersama dalam masyarakat diabaikan
atau bahkan dicampakkan. Tiga hubungan dasar atau struktur fundamental
tersebut adalah:
(1) hubungan antarindividu (“ordo partium ad partes”)
(2) hubungan antara masyarakat sebagai keseluruhan dengan individu (“ordo
totius ad partes”)
(3) hubungan antara individu terhadap masyarakat secara keseluruhan (“ordo
partium ad totum”).
Ketiga hubungan dasar tersebut berhubungan dengan tiga bentuk dasar
keadilan, yaitu:
(1) Keadilan tukar secara timbal balik (“Iustitia Commutativa”), yaitu keadilan
yang mengatur hubungan antara individu dengan individu lain sebagai
partner.
(2) Keadilan pelayanan atau distributif (“Iustitia Distributiva”), yaitu keadilan yang
menertibkan hubungan di antara masyarakat atau negara dengan individu
sebagai warga masyarakat atau warga negara.
(3) Keadilan legal atau keadilan umum (“Iustitia legalis, Iustitia Generalis”), yaitu
keadilan
yang
menertibkan
hubungan
antara
individu
terhadap
masyarakat/negara.
e. Bila kita membicarakan tentang Keadilan Distributif, di sinilah saatnya orang
membahas tentang Keadilan Pemerintah/Negara. Kiranya dari keadilan jenis
ini pula segala jenis teori keadilan itu bermula.
Dalam keadilan distributif, keadilan dan kepatutan ('equity') tidak tercapai
semata-mata dengan penetapan nilai yang aktual, melainkan juga atas dasar
“aequalitas rei ad rem” atau kesamaan antara hal yang satu dengan hal yang
lainnya. Ada dua bentuk kesamaan, yaitu:
166
(1) Kesamaan proporsional (“Aequalitas proportionis”)
(2) Kesamaan kuantitatif atau jumlah (“Aequalitas quantitatis”)
Bila dihubungkan dengan cita-cita bangsa dan negara untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, keadilan distributif itu tidak lain justru
merupakan bentuk penghormatan terhadap “person” manusia (“acceptio
personarum”) dan keluhurannya (“dignitas”). Tentang 'penghormatan terhadap
person', Thomas Aquinas menyatakan bahwa: penghormatan itu terwujud
bilamana ada sesuatu dibagikan/diberikan kepada seseorang sebanding dengan
yang seharusnya ia terima (Praeter propotionem dignitatis ipsius). Dengan
alasan itu, kebijakan pemerintah (“prudentia regnativa”) harus mengarah pada
pengakuan terhadap kepatutan (equity), kemudian pelayanan dan penghargaan
didistribusikan secara proporsional atas dasar harkat dan martabat manusia
sebagai warga negara.
f.
Di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang bersifat tidak terbatas. Demikian juga
halnya dengan keadilan. Ada dua aspek yang mewarnai situasi ini, yaitu:
(1) Ada beberapa ketaatan yang menurut hakikatnya tidak mungkin dilaksanakan
sepenuhnya. Maka, jika keadilan diartikan sebagai “memberikan kepada
seseorang apa yang menjadi haknya” (debitum reddere), ini menunjukkan
bahwa keadilan memuat perasaan “selalu berhutang”.
(2) Adanya disparitas yang menjadi ciri khas dan fundamental dari keberadaan
manusia.
Yang menjadi sasaran atau objek legislasi hukum positif adalah
kesejahteraan umum. Di sini legislasi hukum positif harus dapat men-jamin dan
sekaligus menyebarluaskan kesejahteraan umum itu antara lain dengan cara:
(1) Menunjukkan dengan jelas dan tegas batasan pengertian hak dan kewajiban
yang melekat pada diri setiap anggota masyarakat, serta dapat menjamin
terselenggaranya kebebasan dengan maksud supaya manusia bertanggung
jawab atas tujuan keberadaannya.
(2) Melindungi kedamaian batin dan tertib sosial, serta menetapkan jaminan
keamanan atas hal-hal yang bersifat lahiriah.
(3) Menciptakan kondisi-kondisi yang menguntungkan bagi kemajuan bidang
sosial-ekonomi, serta kehidupan moral, kultural dan religius.
Ini berarti bahwa kehendak pembentuk hukum itu bukan merupakan
dasar yang eksklusif dan primer dari sebuah tertib hukum. Dalam hal ini J.
167
Messner mengatakan bahwa hukum yang berlaku sah dapat disebut hukum yang
benar, jika hukum itu sesuai dengan pola-pola keinginan atau cita-cita manusia
yang terkandung di dalam realitas hakiki (esensial) kodrat manusia, serta sesuai
dengan rasa tanggung jawab yang didasarkan atas pola-pola tersebut (J.
Messner 1965 I, c, 191 f).
Setiap hak mengandaikan adanya sebuah sasaran atau objek hukum.
Sasaran-sasaran tersebut dapat berupa benda (barang) ataupun jasa yang
diberikan oleh seorang person. Barang-barang ini dapat berwujud benda-benda
material (misalnya: mesin, dan sebagainya), atau benda-benda non-material
(misalnya: pengaruh, nasihat, anjuran, dan sebagainya). Pribadi manusia tidak
akan pernah dapat dijadikan sebagai objek atau sasaran hukum seperti terjadi
pada masa di mana masih ada penjualan budak-budak. Yang benar-benar dapat
menjadi objek hukum hanyalah jasa-jasa pribadi yang telah diberikan olehnya.
g. Beberapa kondisi tertentu yang harus dipenuhi oleh hukum ditekankan
dengan maksud supaya hukum itu dapat mengikat subjeknya. Menurut
“tradisi”, biasanya ada empat jenis kondisi yang penting:
(1) sasaran atau objek hukum harus merupakan sesuatu yang dihalalkan oleh
moral atau tidak bertentangan dengan pertimbangan moral,
(2) sasaran itu harus merupakan sesuatu yang mengarahkan diri pada
perwujudan keadilan,
(3) sasaran itu harus bersifat nyata, dan
(4) harus berguna.
Namun, jika sebuah hukum sudah dinilai adil, kondisi-kondisi seperti
tersebut di atas sudah tidak diperlukan lagi. Yang menjadi persoalan kita adalah
jika sasaran hukum itu tidak mungkin untuk dicapai atau secara moral tidak dapat
dibenarkan. Hukum semacam inilah yang dinilai tidak adil. Sebagai contoh
misalnya: pelaksanaan hukuman cambuk atau pidana cambuk, pidana pancung.
Supaya keadilan benar-benar terwujud, orang sering menggabungkan beberapa
macam tuntutan hukum, seperti misalnya bahwa hukum yang berlaku harus
selalu berada dalam ikatan yurisdiksi dan mendistribusikan beban atas dasar
kesamaan yang proporsional, bukan beban atau pidana yang sifatnya 'retroaktif
atau semata-mata sebagai “pembalasan”.
Jika dalam legislasi hukum positif terdapat dua pengertian keadilan, yaitu
keadilan substantif dan keadilan prosedural, maka yang berhubungan dengan
168
objek legislasi hukum positif itu adalah keadilan substantif yang terkandung di
dalam setiap bentuk hukum: yang berlaku. Dengan keadilan substantif, setiap
bentuk hukum yang berlaku pada dasarnya merupakan manifestasi ikatan
yurisdiksi dan mendistribusikan beban atas dasar kesamaan yang proporsional.
Sementara tuntutan supaya hukum tidak boleh (dalam penerapannya) bersifat
'retroaktif berhubungan dengan keadilan prosedural (Vide: Lon L Fuller, The
Morality of Law, 1964, hlm. 110).
Meskipun perbedaan antara keadilan substantif dan keadilan prosedural
sifatnya konseptual saja, sebuah hukum yang adil masih harus memenuhi
beberapa persyaratan berikut ini, yaitu:
(1) Setiap hukum pada hakikatnya hanya dapat memerintahkan hal-hal yang
dihalalkan oleh moral. Oleh karenanya, sebuah hukum hanya dapat
memerintahkan perbuatan-perbuatan yang menurut kodratnya baik, dan tidak
boleh memerintahkan atau mengatur perbuatan-perbuatan yang menurut
prinsipnya tidak baik (atau jahat), seperti misalnya: 'euthanasia' yang
dilakukan terhadap pasien yang sudah tidak mungkin lagi disembuhkan atau
bila sembuh ia akan cacat sehingga tidak dapat menghidupi minimal dirinya
sendiri. Setiap hukum yang diberlakukan sedapat mungkin di-upayakan untuk
mencegah atau bahkan melarang semua perbuatan jahat. Meskipun begitu,
atas dasar alasan-alasan tertentu, seringkali hukum bersifat toleran terhadap
beberapa perbuatan yang tidak dilarang dalam masyarakat, seperti misalnya:
takhayul, pelacuran, perilaku konglomerat yang menyimpang dari ketentuan
yang terdapat di dalam Konstitusi atau Undang-Undang Dasar, pungutan liar
yang sudah memasyarakat, dan sebagainya
(2) Setiap hukum harus selalu memuat di dalamnya ikatan yurisdiksi para
legislator, di mana wewenangnya dibatasi hanya oleh sifat kodrat masyarakat
yang dipercayakan pada pengelolaannya dan cita-cita kesejahteraan/
kebaikan umum. Jadi, para- penguasa ne-gara tidak memiliki wewenang
untuk menetapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan liturgi agama.
(3) Setiap hukum harus menghormati tuntutan keadilan distributif, artinya: setiap
hukum yang berlaku harus dapat mendistribusikan beban dan privilese
secara sama di antara subjek hukum dan didasarkan atas kemampuan
masing-masing subjek. Ini dapat terjadi misalnya dalam penerapan ketentuan
tentang beban pajak (Vid., Hukum Pajak).
169
(4) Dalam upaya mendukung terciptanya kesejahteraan umum, pada prinsipnya
hukum tidak boleh menghalangi hak-hak manusia, kecuali dalam hal-hal
tertentu hak seseorang itu memang harus dibatasi. Seperti misalnya
pembatasan berpendapat atau hak mengeluarkan suara (misalnya melalui
mass media) dengan alasan demi stabilitas nasional, larangan melaksanakan
kegiatan keagamaan yang meresahkan masyarakat umum, dan sebagainya.
(5) Hukum yang adil adalah hukum yang dapat dijalankan baik secara fisik
maupun secara moral. Dikatakan dapat dijalankan secara fisik, bila hukum
tersebut memerintahkan perbuatan-perbuatan sebatas kekuatan dan sarana
yang dimiliki oleh seorang person. Jadi, hukum tidak dapat memerintahkan
seorang tunawicara (bisu) untuk menyanyi. Bila secara moral dapat
dilakukan, berarti hukum tersebut memerintahkan perbuatan atau hal-hal
yang tidak memuat banyak kesulitan untuk dilakukan. Contoh UU yang
sempat meresahkan masyarakat misalnya UULAJR no. 14 Tahun 1993.
(6) Oleh karenanya, supaya sebuah hukum dinilai adil, maka harus berguna dan
mendatangkan keuntungan bagi kesejahteraan umum. Jadi, jika setiap
pemilik kendaraan bermotor diwajibkan untuk membayar asuransi kecelakaan
lalu lintas, maka seharusnya pengurusan klaim yang diajukan seseorang
untuk mendapatkan santunan tidak akan menemui macam-macam hambatan
proseduralnya (Karl H. Peschke, 1987, hlm. 182-186).
Tentang 'keadilan prosedural', Lon L. Fuller dalam bukunya yang berjudul
“The Morality of Law” menyatakan bahwa: yang dimaksudkan adalah keadilan
yang berkaitan dengan prosedur yang jujur dan benar dalam menggembalakan
hukum. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk sebuah proses atau
prosedur hukum yang jujur dan benar, yaitu:
(a) Semua hukum yang dinyatakan berlaku harus diundangkan.
(b) Akibat hukum tidak boleh mencerminkan sebuah upaya “pembalasan” (atau
tidak boleh bersifat retroaktif).
(c) Isi hukum harus koheren, tidak boleh ada pertentangan di dalam-nya.
(d) Hukum yang adil harus memiliki “kontinuitas”.
Lebih lanjut Fuller menyatakan bahwa di antara legalitas dan keadilan
terdapat hubungan yang sedemikian erat. Moralitas internal sebuah hukum
menuntut bahwa aturan harus ada, diumumkan atau diundangkan, serta dapat
dilaksanakan oleh mereka yang mempunyai tugas sebagai penegaknya.
170
Kekuasaan yang tak terbatas dan mengabaikan hukum yang berlaku pada
dasarnya merupakan pernyataan ketidakadilan.
Dalam praktik penyelenggaraan negara kita, para penegak hukum banyak
mendapat pengaruh dari tuntunan hukum yang tidak tertulis. Dari satu sisi,
hukum tidak tertulis ini tidak jelas substansinya. Di lain sisi, aturan-aturan yang
tidak diumumkan ini justru jauh dari “kemurniannya”, artinya: aturan-aturan ini
sering sudah “diwarnai” oleh penegaknya. Sebagai contoh misalnya: jika
seseorang ditahan dan harus “menginap” di ruang tahanan, sering terjadi ia
dipaksa untuk membuat sebuah pernyataan yang isinya membebaskan polisi dari
perkara-perkara perdata yang mungkin terjadi selama ia ditahan dan dalam
proses penyidikan. Keadilan prosedural semacam ini kiranya banyak dilalaikan
oleh beberapa penegak hukum. Demikian juga dengan person-person lainnya
yang menduduki sebuah fungsi yuridis tertentu sering kedapatan telah
mengkhianati sumpah jabatannya sebagai pe-ngayom rakyat, yaitu dengan
“melaksanakan aturan tidak tertulis” yang sudah berlaku umum untuk menuntut
biaya tambahan yang tidak be-gitu jelas kegunaannya pada saat seseorang
memproses surat-surat berharga (SIM, dan sebagainya). Disadari atau tidak,
praktik semacam itu sebenar-nya sudah menodai apa yang disebut keadilan,
dalam segala jenisnya.
6. Kepatutan (Equity, Billijkheid) sebagai Norma
a. Pengertian Dasar
Kepatutan (“equity”) dan keadilan adalah dua term yang secara tegas tidak dapat
dibedakan satu sama lainnya. Pengertian tentang “equity” (atau: equitas,
kepatutan, dan sebagainya) dalam kaitannya dengan pengertian kemampuan
yustifikatoris pada dasarnya merupakan sebuah koreksi terhadap keadilan legal.
Penerapannya secara praktis biasanya berupa nilai atau pernilaian atas berbagai
macam kasus tertentu yang bukan merupakan pokok bahasan putusan hakim
yang didasarkan atas keberadaan sesuatu hukum tertentu. Segala bentuk hukum
pada dasarnya merupakan generalisasi universal, yang keberlakuannya tidak
mengenal pengecualian perkara. Bila ternyata orang sampai pada kasus-kasus
istimewa, barulah orang kemudian menengok pada makna “equity” atau “apa
yang patut atau layak” (Sahakian, 1968, hlm. 34).
171
Dalam upaya kita untuk membahas keadilan (dan sekaligus juga
ketidakadilan), mau tidak mau kita harus menganalisis berbagai macam
perbuatan manusia yang relevan, mengenali macam-macam keadilan dan
masing-masing maknanya, dan sebagainya Namun secara umum Aristoteles
mengidentifikasi “keadilan” sebagai ciri khas yang menyebabkan manusia
melakukan perbuatan-perbuatan yang dianggap adil. Demikian pula tentang hal
yang
sebaliknya,
yaitu:
ketidakadilan.
Dalam
pengertian
ini
Aristoteles
menyatakan bahwa yang “adil” adalah yang “menurut hukum yang berlaku” dan
“fair”. Artinya: jika pelanggar hukum dianggap sebagai orang yang berperilaku
tidak adil dan orang yang taat pada setiap hukum yang berlaku dianggap adil,
jadi jelas bahwa segala sesuatu atau peristiwa yang ada terjadi sesuai dengan
hukum yang berlaku disebut “adil”. Karena, semua peristiwa yang terjadi sesuai
dengan tertib hukum yang ada merupakan hal yang memang dimaksudkan
dengan adanya legislasi. Menurut Aristoteles, orang yang berperilaku legal atau
“lawful” adalah orang yang:
(1) bertanggung jawab atas fungsinya sendiri di dalam masyarakat sosial dan
politik.
(2) mampu melaksanakan pengendalian diri.
(3) mempunyai sifat 'ksatria' (dalam arti tidak pernah menjatuhkan harkat dan
martabat manusia lain sebagai sesamanya), serta me-miliki sikap bersahaja
atas kebajikannya dan mengakui segala kekurangan dirinya (M. Ostwald,
1962, hlm. 111-113).
Jadi, keadilan itu pada dasarnya merupakan kebajikan yang terwujud
dalam sikap objektif, apa adanya (“zakelijk”) dan umum. Sikap ini yang mengatur
hubungan yang hakiki di dalam masyarakat. Jika keadilan dipahami seperti ini,
maka makna keadilan akan sangat abstrak dan kurang mengenai situasi dan
keadilan manusia secara individual.
Yang diperlukan oleh manusia adalah 'koreksi' dan/atau perhatian khusus
bagi dirinya, sesuai dengan kualitas, situasi serta keberadaan-nya sendiri. Dalam
hal ini pula orang memerlukan “equity” atau kepatutan, billijkheid. Sebab,
kepatutan memperhatikan dan memperhitungkan situasi dan keadilan manusia
individual dalam penerapan keadilan. Kepatutan merupakan kebajikan yang
menggerakkan manusia untuk berbuat secara rasional dalam menggunakan 'apa
172
yang adil'. Kepatutan akan menyingkirkan kekerasan dan kekejaman hukum
terutama dalam situasi dan kondisi khusus (Notohamidjojo, 1971, hlm. 13).
b. Nilai yang Terkandung
Soerjono Soekanto melihat kepatutan atau equity sebagai nilai-nilai
kepentingan pribadi/bagian. Di dalam hukum, biasanya nilai-nilai digambarkan
sebagai berpasang-pasangan, tetapi dalam formasi selalu bertegangan, seperti
misalnya antara kesebandingan atau kesetimpalan (rechtvaardigheid, billijkheid)
dengan kepastian hukum (rechtszeker-heid). Kedua nilai tersebut dikatakan
bertegangan,
sebab
kesebandingan
mengarah
pada
kekhususan
atau
pembedaan, sedangkan kepastian hukum justru mengarah pada hal yang
bersifat umum atau penyamarataan. Tegangan antara nilai-nilai kepentingan
pribadi dengan nilai-nilai kepentingan umum dapat pula dihubungkan dengan
tegangan antara kebebasan dan ketertiban (di dalam Ilmu Politik) (S. Soekanto,
1982, hlm. 14-15). Sebagai contoh misalnya: KUHP 359: “Barangsiapa karena
salahnya menyebabkan matinya seseorang dihukum penjara selama-lamanya
lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun”. Kematian seseorang di
sini sebenarnya sama sekali tidak dimaksudkan oleh terdakwa, tetapi hanya
merupakan akibat dari keteledoran atau kekuranghati-hatian terdakwa (delik
culpa). Jika kematian orang tersebut dimaksud oleh terdakwa, maka ia dikenai
pasal tentang pembunuhan (KUHP: 338 atau 340). Misalnya pernah terjadi di
Medan, polisi menahan tiga orang anak karena kasus pencurian, kemudian
ketiga anak tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kamar tertutup; selanjutnya
melalui sebuah lubang ventilasi yang ada dimasukkan asap knalpot sepeda
motor dengan maksud untuk mendidik supaya ketiga anak tersebut menjadi jera
dan tidak akan mencuri lagi. Selang lima belas menit, ternyata ketiga anak
tersebut meninggal dunia.
Dalam kasus tersebut, petugas polisi sebagai seorang pribadi dapat
dikenai sanksi pidana seperti yang tertulis dalam pasal 359 KUHP tersebut. Ini
adil, dalam arti ada kepastian hukum yang bersifat menyamaratakan. Namun adil
pula bila petugas polisi itu diserahkan kepada wewenang Kepolisian RI. Dalam
hal ini keadilan diartikan sebagai kesebandingan yang bersifat membedakan.
Jadi, atas dasar ketentuan dan kasus tersebut, “keadilan” dipahami
sebagai:
(1) bukan sekedar identik dengan kesebandingan semata-mata,
173
(2) juga bukan sekedar merupakan keseimbangan, (Soerjono, 1982, hlm. 17)
(3) melainkan keadilan sebagai 'bagian' dari kebajikan, sebab dalam bidang
hukum ada bidang yang mengutamakan jenis keadilan yang diterapkan
sesuai dengan fungsi seorang person dalam transaksi yang telah dibuatnya.
Dengan kata lain: kepatutan tindakan adil yang dikenakan pada individu
disesuaikan dengan prinsip 'keadilan distributif (M. Ostwald, 1962, hlm. 115
dan 117).
Dengan menggunakan equity atau kepatutan, maka perhubungan yang
meruncing
antara
manusia
yang
satu
dengan
manusia
yang
lainnya
dikembalikan kepada proporsi yang sewajarnya/seharusnya. Dalam hal ini,
terutama
dikaitkan
dengan
pengembangan
paham
tentang
kepatutan,
selanjutnya secara kasuistik dapat pula dikemukakan contoh-contoh lain
penggunaan kepatutan itu:
(a) Yurisprudensi, yang merumuskan penyalahgunaan hak, pada mulanya
terbatas pada pelanggaran undang-undang, serta hukum, selanjutnya
terbatas pula pada kepatutan dalam pergaulan antar-subjek hukum.
(b) Dalam pemberian pidana, sesuai dengan prinsip keadilan vindikatif (atau
keadilan pembalasan, yaitu keadilan yang dikenakan dalam bidang hukum
pidana), perlu diperhitungkan keadaan dan situasi terdakwa.
(c) Dalam penerapan keadilan legalis, yaitu keadilan yang mempunyai dua
aspek: pemerintah wajib membuat undang-undang yang baik dan wajib
memeliharanya sendiri dengan baik, dan warga negara wajib menaati
undang-undang tersebut, perlu juga memperhitungkan kepatutan. Artinya:
baik dalam hukum perdata maupun dalam hukum pidana, seorang hakim
harus memperhitungkan situasi dan kondisi orang-orang yang melanggar
hukum perdata maupun hukum pidana (Notohamidjojo, 1971, hlm. 11).
Dengan kata lain, kepatutan atau equity itu merupakan “penjaga* 1
pelaksanaan undang-undang, serta merupakan gagasan tentang “fairness”
dalam menyusun pelaksanaan hukum. Meskipun pada dasarnya kepatutan itu
terletak di luar undang-undang, namun menuntut keadilan dalam keadaan dan
situasi tertentu. Kepatutan mewujudkan “rektifikasi” atau pelurusan bagi undangundang yang tertulis, serta menyediakan kemungkinan untuk pernilaian yang
sifatnya melengkapi sifat umum undang-undang atau hukum yang tertulis.
174
c. Yang Patut vs Yang Adit
Dalam “Etika Nicomachea”, Buku V, Aristoteles memperbandingkan
antara “kepatutan” dan “yang patut” dengan “keadilan” dan “yang adil”, bahkan di
satu aspek membedakannya, dan di lain aspek kedua term tersebut dianggapnya
“tidak ada bedanya”. Sebagai ilustrasi misal-nya, kita sering terlalu menjunjung
tinggi sesuatu hal atau seseorang sebagai “yang sudah sepatutnya” sehingga
nilai tertinggi yang diterapkan pada hal atau orang tersebut seakan-akan
menggantikan kualitas “baik” atau “lebih baik” (dalam arti yang lebih luas).
Contoh: persoalan tentang UMR, bahwa upah yang patut adalah upah yang tidak
merugikan pekerja atau yang sesuai dengan komponen berdasarkan Keputusan
Menaker RI no. 100/Men/1994 tanggal 9 Maret 1994. Upah disebut “baik” bila:
- jumlah tunjangan-tunjangan upah diperhitungkan dari upah pokoknya,
- jika upah pokoknya besar, maka upah lembur juga besar,
- jika pekerja sakit atau tidak masuk karena sesuatu alasan yang sah, mereka
tetap mendapatkan upah pokok dan tunjangan tetap, upah pokok yang
dimaksud adalah 75% dari UMR dan tunjangan tetap sebesar 25% dari UMR.
(Lih. Harian Umum Kedaulatan Rakyat, 19 Juli 1994)
Sedang nilai tertinggi “yang patut” atau “yang baik” bila diterapkan pada
pribadi seseorang akan menimbulkan kecenderungan “kultus individu”. Namun
jika kita mengikuti konsekuensi-konsekuensi logis, sering terjadi “yang patut”
berbeda pengertiannya dari “yang adil”, dan jika demikian, menurut Aristoteles,
“yang adil” tidak memiliki nilai moral serta “yang layak” itu belum tentu adil. Jadi,
jika pemberian UMR tersebut didasarkan atas hukum primer yang menyatakan
bahwa “Setiap pekerja patut mendapatkan upahnya”, maka pemberian/
penerimaan UMR itu semata-mata merupakan konsekuensi logis dari seseorang
yang bekerja. Keadilan dalam keseimbangan atau kesetimpalan hubungan kerja
dan upah ini tidak mengandung nilai moral. Demikian juga seandainya ada
pekerja yang tidak masuk kerja dan tidak mendapatkan upahnya atau gajinya
dipotong, ini patut atau layak, tetapi tidak adil. Kemudian dalam pemberian
sanksi atau pidana: jika sanksi hukuman diartikan sebagai “pembalasan” (fungsi
retributif hukum) ini berarti bahwa pemberian hukuman dimaksudkan untuk
membalas kejahatan yang telah dilakukan sehingga dapat memuaskan tuntutan
keadilan.
Sementara
itu,
jika
pemberian
hukuman
dimaksudkan
untuk
menempatkan kembali wibawa pembentuk hukum yang telah diremehkan oleh
175
tindak kejahatan (fungsi vindikatif hukuman), ini sudah sepatutnya, meskipun
belum tentu adil (Lebih-lebih bila pembentuk hukum sendiri korupsi atau
mementingkan dirinya sendiri).
Dari hal-hal tersebut di atas, muncullah alasan orang mengangkat
permasalahan tentang “equity” maupun “the equitable”. Sebab, dalam banyak hal
orang dapat bertanya tentang sebab-sebab yang melatarbelakangi pengertian
bahwa yang patut itu belum tentu adil menurut hukum. Menurut faktanya, “yang
patut” itu dapat berfungsi korektif terhadap apa yang adil menurut hukum.
Alasannya: hukum pada hakikatnya berlaku umum/universal, namun dalam
realitas hidup manusia ini banyak terdapat hal-hal yang tidak mungkin disebut
dengan term-term yang bersifat universal. Oleh karenanya, dalam situasi di mana
term-term universal harus dipergunakan, tidak mungkin kita mempergunakan
term-term tersebut secara tepat atau persis sama pengertian-nya (Seperti
misalnya term “Hukum Perdata” tidak persis sama dengan pengertian yang
dimaksudkan dalam “Civil Law” atau “Code Civil”). Hukum menangani kasuskasus menurut garis besarnya, yaitu dengan cara meluruskan atau menemukan
kembali apa yang hilang atau rusak dari apa yang seharusnya terlaksana.
Hukum berlaku pada dasarnya untuk mengoreksi penyebab putusnya “benang
merah” yang terdapat di dalam hubungan antara “Sollen” dan “Sein”, atau antara
apa yang seharusnya dengan apa yang senyata terjadi dalam kehidupan
manusia. Kesalahan bukannya terletak pada hukum itu sendiri ataupun pada
pembuat hukum, melainkan pada hakikat kasus yang ada, yaitu “materi”
perbuatan atau tindakan.
Oleh karenanya, di dalam sebuah situasi di mana hukum berlaku
universal/umum, sering didapatkan ada kasus yang “pernyataannya” terjadi di
luar rumusan hukum umum itu. Jika demikian, hukum harus meluruskannya;
sementara kelalaian dan kesalahan pembentuk hukum justru terletak di dalam
“keumuman” pernyataan-pernyataan yang dikeluarkannya. Sebagai contoh
misalnya kasus berikut ini:
Urgensi Eksekusi Kedungombo dan Kewibawaan MA
Sejak akhir tahun 1980-an, kasus pembangunan waduk Kedungombo di
Kabupaten Boyolali belum juga tuntas, karena banyak di antara warga yang tidak
mau menerima ganti rugi. Masalahnya ganti rugi yang ditetapkan Pemda Jateng
itu sangat kecil dan tak sebanding dengan pengorbanan mereka merelakan
tanah leluhur. Selama itu pula berbagai upaya dilakukan Pemda untuk
“menjinakkan” warga agar tidak mbalelo.
176
Upaya yang dilakukan Pemda di satu sisi memang berhasil “menjinakkan”
sebagian warga yang kemudian menyerahkan tanahnya dengan ganti rugi yang
kecil. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula warga yang tetap mbalelo tak mau
menerima ganti rugi. Bukan itu saja, 54 KK warga yang ngotot memperjuangkan
ganti rugi itu bahkan memperdatakan Pemda Jateng dan Departemen PU ke
Mahkamah Agung (MA). Per-juangan itu terasa berat, hingga jumlah 54 KK
warga penggugat itupun akhirnya berkurang hingga menjadi 34 KK saja.
Perjuangan panjang 34 warga itu akhirnya membuahkan hasil, setelah
beberapa waktu lalu keluar keputusan MA yang mengabulkan gugatannya.
Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dari tekanan berbagai pihak, baik dalam
negeri maupun luar negeri, terhadap pelaksanaan HAM di Indonesia. Para aktivis
di negeri ini tak bosan-bosannya menuntut hak-hak sipil dan pelaksanaan HAM
sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Demikian pula berbagai kalangan
internasional pun juga selalu menekan Indonesia agar menghormati hak-hak
warga negara. Tekanan luar negeri yang paling ampuh adalah lewat jumlah
bantuan yang disalurkan kepada Indonesia.
Jika benar demikian, berarti harus diakui bahwa Indonesia tak bisa ngotot
terus-menerus menerapkan pendekatan pembangunan yang mengorbankan
rakyat kecil dan memakan human coast tinggi, karena jika itu tetap terjadi,
berbagai pihak di luar negeri akan mengurangi jumlah bantuannya kepada
Indonesia.
Namun apapun yang melatarbelakangi keluarnya putusan itu, yang jelas
ia merupakan hal yang menggembirakan baik bagi warga Kedung-ombo sendiri
maupun berbagai kalangan yang mempunyai kepedulian terhadap rakyat kecil.
Meskipun begitu, Gubernur Jateng tidak dapat menerima keputusan
tersebut dan meminta MA melakukan Peninjauan Kembali (PK). Di samping itu
Gubernur Jateng juga mempertanyakan ketepatan keputusan hukum MA.
Bahkan ia juga akan mengajukan permohonan penundaan eksekusi, antara lain
dengan alasan bahwa anggaran Pemda tidak dapat dikeluarkan sewaktu-waktu,
apalagi sebesar Rp 9,1 milyar (Suara Merdeka, 13/7).
Sementara itu, LBH Semarang sebagai kuasa hukum 34 warga
Kedungombo yang memenangkan perkara tetap menghendaki agar eksekusi
segera dilaksanakan meskipun nantinya Gubernur mengajukan PK. Apa yang
diinginkan LBH Semarang itu memang berdasar. Setidaknya UU No. 14 tahun
1985 tentang MA menyebutkan bahwa permohonan PK tidak menangguhkan
atau menghentikan eksekusi.
Artinya, meskipun diajukan permohonan PK, eksekusi tidak boleh
tertunda atau ditangguhkan.
Urgensi melaksanakan eksekusi sesegera mungkin, terutama untuk
memenuhi hak-hak hukum 34 KK warga Kedungombo dan juga untuk
menunjukkan konsistensi pemerintah dalam melaksanakan setiap putusan
hukum di negeri ini. Eksekusi juga semakin mendesak dilakukan untuk
menghindari setiap sikap, langkah dan kebijakan anti-konstitusi yang dapat
merugikan hak-hak hukum penggugat.
Tarik menarik antara Gubernur yang menginginkan penundaan eksekusi
dan warga yang menghendaki eksekusi dilaksanakan sesegera mungkin akan
semakin menarik. Sebab di sinilah wibawa igezag) lembaga hukum di Indonesia
dipertaruhkan, bukan saja di depan publik Indonesia sendiri, tetapi juga di mata
internasional.
177
Di sini pula kenyataan akan membuktikan konsistensi MA sebagai
lembaga hukum tertinggi terhadap pelaksanaan hukum itu sendiri. Artinya, kalau
beberapa waktu lalu kenyataan telah membuktikan bahwa MA begitu serius dan
adil menanggapi tuntutan warga, maka kali ini hal itu akan diuji kembali.
Persoalannya, mampukah MA tetap mempertahankan keputusannya secara adil
tanpa dipengaruhi oleh kepentingan atau unsur-unsur yang tidak menguntungkan
rakyat kecil?
(Raja Munthe, BERNAS, 18 Juli '94)
Pelurusan hukum (rektifikasi) yang terkandung di dalam kasus tersebut di
atas pada dasarnya berhubungan dengan apa yang sebenar-nya hendak
dikatakan sendiri oleh para pembentuk hukum serta apa yang sebenarnya
hendak diberlakukan jika ia benar-benar mengetahui duduk persoalan kasus
tersebut. Dalam kasus ini, term “apa yang patut” atau “apa yang layak” dapat
bermakna: baik sebagai “yang adil” maupun sebagai “yang lebih baik”. Jadi,
bukan saja adil menurut hukum, melainkan juga adil secara moral. Inilah hakikat
“yang patut” atau “yang layak”, yaitu suatu pelurusan atau rektifikasi hukum di
mana hukum itu sendiri secara hakiki berfungsi sesuai dengan alasan
universalitasnya: hukum adalah penataan hidup sosial; hukum adalah norma
untuk berbuat (Roscoe Pound); hukum adalah perintah akal sehat yang
dimaksudkan demi kebaikan (kesejahteraan) umum, yang diundangkan di-buat
oleh mereka yang mempunyai tugas untuk mengelola masyarakat (Thomas
Aquinas); hukum adalah keseluruhan peraturan yang tertulis dan tidak tertulis
yang biasanya bersifat memaksa untuk kelakuan manusia dalam masyarakat,
negara serta antarnegara, yang berorientasi pada dua asas yaitu keadilan dan
daya guna, demi tata dan damai dalam masyarakat (Notohamidjojo).
Hal-hal tersebut di atas juga menunjukkan bahwa ternyata tidak semua
hal dapat ditentukan, diatur ataupun dibatasi oleh hukum saja. Ada beberapa
perkara yang tidak sepenuhnya dapat diatur oleh hukum, atau bahkan tidak
mungkin semata-mata hanya digantungkan pada penataan hukum saja. Sebab,
bila perkara atau kasus tersebut menyangkut hal yang sifatnya tak-terbatas
seperti
misalnya
hak
asasi
manusia
(HAM),
maka
hukum
yang
dipergunakannyapun juga bersifat tak terbatas. Maka hukum yang diberlakukan
itu haruslah yang se-banding dan tepat-guna pada situasi yang terkait.
Jadi, kini jelas apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan kepatutan
(equity) maupun yang sepatutnya (equitable), serta apa yang adil (just) maupun
'yang lebih baik' (Lihat juga pembahasan tentang “Epikeia” pada Bab, IV).
178
Putusan hakim akan disebut patut atau layak jika menunjuk dan menampilkan
perbuatan yang memang sudah sepatutnya dibuat, tidak mengandung cacat bagi
keadilan, melainkan sedikit banyak dapat bersifat memuaskan ketentuan
perundangan
yang
menyertainya
serta
andil
pribadinya
sebagai
manusia/anggota masyarakat. Inilah ciri karakteristik pengertian “equity”, yaitu
yang juga merupakan ciri karakteristik keadilan. Oleh karenanya, equity atau
equitas ialah kepatutan yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan hukum dan
per-undang-undangan dengan maksud untuk menghilangkan ketajaman-nya.
Contoh misalnya interpretasi terhadap pelanggaran sebagaimana diatur dalam
KUH Perdata pasal 1365 tentang “Perbuatan melanggar hukum yang membawa
kerugian kepada seseorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya
menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.” Pasal ini tidak hanya
mengungkapkan pelanggaran undang-undang atau hukum saja, melainkan juga
kepatutan (billijkheid) yang perlu diperhatikan dalam pergaulan antarmanusia di
dalam masyarakat.
7. Kejujuran sebagai Norma
Yang dimaksudkan dengan “kejujuran” ialah hal yang berhubungan dengan
pengertian tentang kebenaran. Setiap pemelihara hukum perlu jujur dalam
mengurus hukum, dalam melayani justitiable yang mencari hukum dan keadilan,
serta diharapkan menjauhi perbuatan-perbuatan yang curang dalam pengurusan
perkara.
Bila kita berbicara tentang kejujuran, terutama dalam kaitannya dengan
bidang hukum dan moral, pembicaraan ini selalu berkaitan juga dengan
pengertian-pengertian tentang keadilan dan kepatutan. Dalam bahasa Yunani
term-term tersebut memiliki pengertian atau makna yang saling berdekatan satu
sama lain. Dalam bahasa Yunani terdapat term-term sebagai berikut:
“dikaiosyne”, “epieikes”, “isos”, “so-phron” dan “sophrosyne”. Masing-masing
term ini mempunyai arti yang berdekatan atau bahkan saling berkaitan satu sama
lain.
“Dikaiosyne”: biasanya diterjemahkan dengan “keadilan” namun dalam arti
sempit. Dalam bukunya yang berjudul “Ethica Nicomachea”, Aristoteles
mengartikan 'dikaiosyne' sebagai keadilan yang pada hakikatnya identik dengan
pengertian “keugaharian”, “kejujuran” (honesty), yaitu kebajikan yang mengatur
179
semua kehendak yang jujur yang terdapat di dalam pergaulan masyarakat,
terutama dalam hubungan antar-individu, bahkan juga sebagai sikap atau
perangai “bersih” dari seorang individu yang menunjukkan ketulusan pribadinya.
“Epieikes”, atau epieikeia, atau epikeia, yaitu term yang dipergunakan untuk
menggambarkan seorang person yang perbuatan-perbuat-annya selalu tampak
jujur, benar, patut (equitable), senonoh (decent), sopan-santun (honest), beradab
dan berbudaya tinggi, dan sebagainya Aristoteles mempergunakan term tersebut
untuk term “baik”, meskipun dalam arti yang kurang persis dan kurang ilmiah.
Term ini menimbulkan gagasan tentang 'equity', terutama dalam penggunaannya
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan dan ketidakadilan,
benar dan salah, yang kiranya sulit ditentukan definisinya, yang “definisi-nya”
hanya dimengerti melalui “perasaan jujur” (sense of fair play).
“Isos”: dan lawan-katanya “Anisos”, pada umumnya diterjemahkan sebagai
“sama” dan “tidak sama”. Term ini bila dihubungkan dengan perkara-perkara
'distribusi' dapat diartikan sebagai “jujur” (fair) dan “tidak jujur” (unfair), atau
bahkan sebagai pembagian yang adil dan pembagian yang tidak adil, yang di
dalamnya termuat juga konotasi “perlakuan adil” dan “perlakuan tidak adil”.
“Sophron”: term yang dipergunakan untuk menyebut seorang pribadi yang
sadar akan keterbatasannya, yaitu orang mengetahui apa yang harus dikerjakan
dan apa yang tidak boleh dikerjakan diukur dari kemampuannya dan hakikat
kodratnya sendiri. Ia adalah orang yang memiliki “pengendalian diri” atau
kesadaran tenting hal itu, dalam arti bahwa ia tidak akan melakukan hal yang
pada dasarnya tidak mungkin ia lakukan ataupun hal yang tidak boleh ia lakukan.
Aristoteles membedakan pribadi jenis ini dari pribadi yang disebutnya sebagai
“Enkrates”, yaitu orang yang juga mengetahui kemampuan dan hakikat kodratnya
sendiri untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, namun lebih dari itu ia
juga mempunyai keteguhan moral untuk meno-lak segala godaan dan untuk
mengatasi godaan itu ia mempergunakan akal sehatnya. (Dalam arti umum,
seorang 'enkrates' adalah ia yang memiliki keteguhan iman.) Jadi kedua term
tersebut di samping membedakan individu yang satu dari yang lainnya atas
dasar
ukuran
kebajikannya,
juga
membedakan
individu
atas
dasar
kepribadiannya. Seorang 'sophron' adalah orang yang senantiasa memiliki
“keseimbangan diri” dalam batinnya, yang selalu dapat mengendalikan diri,
namun sesudah ia berjuang keras untuk itu, terutama untuk mengatasi godaan.
180
“Sophrosyne”: term ini dipergunakan untuk menggambarkan pengetahuan
yang penuh tentang keterbatasan. Secara harfiah kata 'sophrosyne' dapat
diartikan sebagai 'gema akal', 'gema sanubari atau suara hati'. Seorang sophron,
yaitu orang yang memiliki kabajikan atau kearifan ini, adalah orang yang dapat
dengan tepat mengetahui atau mengakui secara jujur apa yang dapat ia lakukan
dan apa yang tidak dapat ia lakukan, atau apa yang harus ia lakukan (karena ia
berwenang untuk itu) dan apa yang tidak boleh ia lakukan (karena bukan
wewenangnya). Di samping dalam arti positif seperti ini, kata 'sophrdsyne' Juga
memiliki arti yang berkonotasi negatif, yaitu: misalnya mengendalikan diri atas
kebiasaan minum-minuman keras
(di
sini
sophrosyne
indentik
dengan
'temperantiaVtemperance'), dan kelambanan bertindak karena kondisi fisik yang
gemuk ataupun perilaku canggung, sehingga dalam kondisi seperti ini orang
lebih senang bersikap 'santai' atau bahkan seenaknya sendiri saja (moderation).
Namun pada dasarnya, kata 'sophrosyne' akan lebih tepat bila diterjemahkan
dengan kata “ penguasaan diri”.
8. Hubungan dengan Jenis-jenis Keadilan
Dalam membahas perkara-perkara keadilan dan ketidakadilan (dikaiosyne), perlu
diingat di sini bahwa kedua hal tersebut berhubungan juga dengan jenis-jenis
perilaku manusia. Jenis-jenis perilaku itu perlu dibahas untuk menentukan jenisjenis makna keadilan yang ada. Pada umumnya orang mengartikan “keadilan”
sebagai ciri karakteristik perilaku adil dan menjadikan orang berperilaku adil,
serta mewujudkan hal yang diharapkan bersifat adil; demikian juga sebaliknya
tentang ketidakadilan, yang berhubungan dengan perilaku yang tidak adil.
Term keadilan dan ketidakadilan dipergunakan dalam banyak arti sesuai
dengan perbedaan makna praktis yang terbawa di dalam penggunaannya itu.
Sebagai contoh analogis misalnya kata “kunci”, kata ini dapat menunjuk pada
alat untuk menutup atau membuka pintu, namun dapat juga menjadi “pembuka”
untuk memahami sebuah teks musik. Bila analogi ini diterapkan pada
pemberlakuan hukum, hal ini juga dapat dihubungkan dengan orang yang dinilai
“tidak adil” karena ia “melawan hukum” atau “melanggar hukum”. Bila orang yang
melawan hukum disebut orang yang bertindak tidak adil dan yang bertindak
menurut hukum disebut adil, maka segala sesuatu yang bersifat “lawful” dapat
juga disebut bersifat adil. Sebab, kata “lawful” memberikan makna tentang apa
181
yang menjadi tujuan sebuah legislasi. Hukum diundangkan dan diberlakukan di
dalam setiap ruang lingkup kehidupan manusia dan memiliki sasaran menjamin
kebaikan dan kesejahteraan umum, baik bagi setiap anggota masyarakat
rnaupun bagi para penyelenggara negara. Oleh karenanya, dapat dikatakan pula
di sini bahwa term “lawful” sebagai “yang adil” dapat menimbulkan dan menjamin
kebahagiaan sosial masyarakat pada umumnya, maupun bagi masyarakat politis
(negara).
Hukum menjamin hidup kita sehingga kita dapat menyempurnakan diri
sebagai manusia yang bertanggungjawab, yang mampu mengendalikan diri,
bersifat ksatria (dalam arti tidak pernah berperilaku culas terhadap sesama).
Hukum memerintahkan dan melarang sesuatu, serta akan berlaku begitu bila
dirangkai secara benar dan berdaya guna. Dalam keadilan, semua kebajikan
atau semua pengertian tentang kebajikan dirangkum menjadi satu. Oleh
karenanya, memang logis kalau sering kita dengar adanya pernyataan yang
berbunyi: “Kebijakan Peme-rintah akan menunjukkan juga orangnya (yang duduk
di dalam peme-rintahan itu)” (M.Ostwald, 1962, hlm. 114). Kebijakan ini akan
sangat mempengaruhi perilaku warga masyarakat, secara keseluruhan.
Meskipun demikian, keadilan yang menurut konsepnya merangkum
semua kebajikan itu, pada pelaksanaannya tidak dapat sepenuh-nya terjadi.
Yang ada di dalam masyarakat hanyalah “keadilan partial” atau keadilan
'sebagian', yaitu keadilan yang terdapat di dalam perilaku adil dalam keadilan
distributif dan penegakannya. Sebagai contoh misalnya permasalahan tentang
“kebenaran formil” dalam Hukum Acara Perdata. Para pihak yang mempunyai
masalah atau sengketa perdata tentu saja sangat berharap bahwa penyelesaian
melalui pengadilan akan lebih memberikan perlindungan hukum, keadilan serta
kepastian hukum. Pengadilan oleh masyarakat dianggap sebagai benteng
terakhir untuk memperoleh perlindungan hukum, keadilan dan kepastian hukum.
Para yustisiabel mengetahui bahwa Pengadilan akan menyelesaikan sengketa
mereka berdasarkan hukum yang berlaku, tidak subjektif dan lebih adil jika
dibandingkan dengan penyelesaian di luar pengadilan dengan cara main hakim
sendiri (“eigenrechting”) yang cenderung merugikan pihak yang lemah. Namun
yang sering terjadi di dalam praktik beracara di Pengadilan, tidak sedikit para
pencari keadilan tidak memahami hukum acara yang dipergunakan, bukti-bukti
yang dapat diajukan, serta penilaian terhadap kekuatan pembuktiannya.
182
Untuk lebih jelasnya, baiklah kita ambil contoh kasus berikut ini:
seseorang telah meminjam uang kepada seorang piutang sebesar Rp. 500.000,-;
karena sudah sekian lama ternyata ia tidak sanggup mengembalikan uang
tersebut, maka pihak piutang mengajak peminjam menghadap notaris dengan
membawa sertifikat tanah untuk menandatangani sebuah SKMH dan yang diberi
kuasa untuk membuat hipotik adalah piutang tersebut. Permasalahan atau
sengketa timbul pada saat I pemilik tanah itu hendak meminta kembali tanahnya
(sertifikat tanah). Karena kebenaran yang hendak dicari dalam Hukum Acara
Perdata adalah kebenaran yang bersifat formal, yaitu kebenaran berdasarkan
alat-alat bukti yang dapat diajukan oleh kedua belah pihak (penggugat dan
tergugat) atau semata-mata berdasarkan alat-alat bukti saja dan tanpa disertai
keyakinan hakim (“Preponderance of Evidence”), dapat terjadi pihak yang lemah
(pemilik sertifikat) atau penggugat dapat dikalahkan dalam persidangan. Macammacam alat bukti yang dikenal dalam Hukum Acara Perdata, khususnya yang
diatur di dalam pasal ,164 HIR jo. pasal 284 RBg jo. pasal 1866 BW adalah:
a. Surat atau Tulisan
b. Saksi
c. Persangkaan
d. Pengakuan
e. Sumpah.
SKMH adalah bukti tulisan, sebab di dalamnya termuat tanda bacaan
yang
menyatakan
buah
pikiran
seseorang
(pemilik
tanah)
dan
dapat
dipergunakan untuk membuktikan suatu hak atau peristiwa (Lih. Sudikno M.,
1993, hlm. 120). Bukti tulisan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: tulisan yang
berbentuk akta dan yang bukan akta. Akta sebagai alat bukti juga dapat dibagi
dua, yaitu: akta autentik dan akta di bawah tangan. Akta autentik adalah akta
yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang menurut ketentuan
Undang-Undang (Lih. pasal 165 HIR, 285 RBg, maupun pasal 1868 BW).
Tentang keyakinan hakim, yang menyadari posisi lemah penggugat
dalam kasus tersebut di atas, tidak diperlukan lagi jika kebenaran peristiwanya
sudah terbukti berdasarkan atas alat-alat bukti menurut undang-undang (Bdk.
“Sistem Pembuktian berdasarkan Undang-Undang secara positif”), yaitu bahwa
apa dan berapa alat bukti yang diperlukan untuk membuktikan kebenaran suatu
peristiwa sepenuhnya di-tentukan oleh Undang-Undang. Sistem pembuktian ini
183
dimaksudkan untuk menghilangkan subjektivitas hakim dalam memberikan
keyakinannya (Andi Hamzah, 1990, hlm. 229).
Atas dasar contoh kasus tersebut di atas, jika putusan hakim tidak dapat
memenangkan pihak yang lemah (penggugat/pemilik tanah), apakah putusan
hakim itu dapat disebut “tidak adil” karena dirasakan “tidak jujur” (unfair)?
Dalam pembahasan ini, pengertian “adil” dikonotasikan dengan term
“lawful”, dan pengertian “tidak adil” dengan “unlawful'. Dilema antara pengertian
“unfair” dan “unlawful” dapat terjadi, karena: meski-pun setiap hal yang dapat
dikategorikan “unfair” dapat disebut “unlawful”, namun tidak setiap yang
“unlawful” dapat disebut “unfair”. Oleh karenanya, term “yang tidak adil” dan
“ketidakadilan” tidak selalu mempunyai makna yang sama. Penalarannya adalah
sebagai
berikut:
hukum
memerintahkan
manusia
untuk
hidup
dengan
menyesuaikan diri dengan setiap kebajikan yang ada dan melarangnya
menentang kebajikan-kebajikan tersebut. Di dalam kehidupan sosial, hukum
sebenarnya menciptakan kebajikan-kebajikan melalui fungsinya sebagai “norma
agendi” atau ukuran-ukuran perbuatan. Pendidikan mau-pun penyuluhan hukum
dilakukan dengan maksud terutama untuk mendidik warga masyarakat atau
warga negara supaya menyadari manfaat pemberlakuan hukum dalam
kehidupan sosial.
Perlu juga kiranya dicatat bahwa seseorang disebut “baik” dalam kualitas
pada umumnya, namun belum tentu baik menurut ukuran kualitas sebagai
seorang Warga Negara. Dapat saja seseorang disebut 'baik' karena gagasangagasan dan pandangannya, namun dengan kualitas personalnya itu ia oleh
sebuah sistem pemerintahan yang berkuasa justru dapat dimasukkan dalam
kategori “daftar cekal” atas dasar pertimbangan demi stabilitas nasional.
Salah
satu
bentuk
keadilan
partial
misalnya
dalam
distribusi
penghargaan, distribusi barang-barang material atau hal-hal lainnya yang dapat
dibagikan atas dasar keadilan distributif kepada mereka yang memiliki andil
dalam suatu sistem politik. Sebab, dalam sistem politik, andil setiap orang dapat
sama dengan yang lain dan dapat berbeda. (Bdk. pengertian “isos” dan “anisos”
yang realisasi faktualnya dapat diartikan dengan term-term “jujur” dan “tidak
jujur”). Sedang, bentuk tindakan yang adil secara parsial mempunyai dua fungsi
“meluruskan”, seperti misalnya di dalam transaksi privat sebagai berikut:
184
a. transaksi yang didasarkan atas kemauan bebas yang terjadi dalam proses
jual-beli, pemberian jaminan keamanan, peminjaman uang dengan atau
tanpa bunga, menabung di sebuah bank karena percaya pada validitas bank
tersebut, menyewakan peralatan komputer, dan sebagainya
b. transaksi yang tidak didasarkan atas kemauan bebas, seperti misalnya: orang
terpaksa. berbuat sesuatu karena sesuatu tujuan atau alasan tertentu yang
sifatnya
mendesak
atau
dipaksakan.
Contoh:
pencurian
berencana,
perzinahan, perlakuan tidak senonoh terhadap pembantu rumah tangga,
pembunuhan berencana, ataupun memberikan kesaksian palsu. Ada juga
contoh tindakan lain yang dilakukan karena ada tekanan dari pihak Iain
seperti
terjadi
pemerkosaan,
pada:
penyerangan,
perampokan,
embargo
pemenjaraan,
bahan-bahan
pembunuhan,
pokok
sehingga
menyebabkan be-berapa anggota masyarakat mengalami kelaparan secara
masal, ataupun tindakan-tindakan “kotor” dalam kancah politik.
9. Tindakan Adil sebagai Wujud Distribusi yang Jujur
Jika pelaku ketidakadilan dan tindakannya diidentikkan dengan pelaku
ketidakjujuran dan tindakan tidak jujur, maka diantara term-term tersebut terdapat
apa yang disebut “term antara” yang menjembatani kedua ekstrem tersebut.
Term yang dimaksud adalah kata “adil” atau kata “jujur”. Untuk memperjelas hal
ini, baiklah kita lihat kasus berikut ini: “Transaksi jual-beli tanah di bawah tangan”.
Transaksi semacam ini tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, bahkan
selebihnya akan menyulitkan proses lebih lanjut (misal: mutasi, dsb), serta
seringkali terjadi tanah yang sama yang sudah dijual kepada orang yang satu
dijual lagi kepada orang yang lainnya. Jika hal yang terakhir ini benar terjadi,
dapat menyebabkan timbulnya kasus pemilikan tanah ganda yang kemudian
tidak jarang menyebabkan munculnya kasus-kasus lain yang sulit diselesaikan.
Transaksi jual-beli tanah di bawah tangan tersebut pada umumnya dilakukan
dengan maksud hanya untuk menghindari pemungutan retribusi, atau sekedar
upaya mencari jalan pintas dari pihak-pihak yang terkait.
Analisis kasus: yang menjadi “term antara” dalam kasus tersebut di atas
adalah masalah tentang “pemungutan retribusi”. Dari sisi PPAT, tindakan upaya
menghindari pungutan retribusi dapat dianggap sebagai tindakan tidak adil;
sedang dari sisi pelaku transaksi jual-beli, tindakan tersebut dapat dinilai sebagai
185
tindakan yang tidak jujur. Namun dapat juga terjadi penilaian yang berbeda sudut
tinjauannya,
yaitu
misalnya:
dari
pihak
pelaku
transaksi
menganggap
pemungutan retribusi itu tidak adil, sebab prosesnya sering dirasakan terlalu
berbelit-belit dan tidak jujur, sehingga lebih baik dihindari saja. Dari pihak PPAT,
pemungutan retribusi itu harus dibayar, sebab pungutan itu “sah” atau “lawful”.
Konflik antara pihak-pihak yang terkait dalam perkara pungutan retribusi jual-beli
tanah itu tidak akan terjadi, jika:
a. Pelaku transaksi secara jujur menyadari bahwa campur tangan PPAT itu
perlu demi terhindarinya tindakan wanprestasi dari pemilik tanah.
b. Para petugas yang disebut sebagai PPAT tidak menyalahgunakan ketentuan
yang berlaku untuk proses transaksi jual-beli tanah (dengan maksud demi
kepentingan pribadi atau sebuah sindikat tertentu), dengan antara lain
mencantumkan biaya-biaya tambahan yang tidak jelas alokasinya (Harian
Umum Kedaulatan Rakyat September, 1994).
Jadi, dengan kata lain sesuatu disebut adil apabila secara jujur hal itu
sesuai dengan proporsinya. Proporsi adalah kesetimpalan, maka jika yang adil
bersifat proporsional, juga bersifat mengandung arti “kesetimpalan”. Bertolak dari
pengertian ini, kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap penegak hukum adalah
melaksanakan “asas kesetimpalan” ini sejujur-jujurnya menurut peraturan atau
ketentuan yang berlaku. Bila kewajiban ini tidak dilaksanakan, maka yang sering
terjadi adalah: orang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari segala
bentuk prosedur hukum, hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi di Indonesia
sebagai Negara Hukum.
186
Download