BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Kosep Solidaritas Sosial
a. Pengertian Solidaritas
. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan tidak bisa
hidup secara sendirian di alam dunia ini. Berbagai kekuatan dalam
peningkatan keberdayaan masyarakat tidak dapat diselenggarakan bila tidak
terbangun solidaritas. Ketika pribadi yang satu mempunyai kesamaan dengan
yang lain, maka timbullah rasa solidarias diantara mereka. Pengertian
solidaritas sosial berasal dari dua kata pemaknaan kata yaitu solidaritas dan
sosial merupakn perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang
dibentuk oleh kepentingan bersama Secara etimologi solidaritas adalah
kesetiakawanan atau kekompakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) dijelaskan bahwa solidaritas diambil dari kata Solider yang berarti
mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu. Secara pengertian
solidaritas memang menekankan pada hubungan persaudaraan antara individu
dengan individu hubungan solidaritas ditekankan pada kelompok sosial.
Wacana solidaritas bersifat kemanusiaan dan mengandung nilai muli dan
tinggi, tidaklah aneh kalau solidaritas ini merupakan keharusan yang tidak
bisa ditawar-tawar lagi. Kehidupan dalam masyarakat sangat sangat
ditekankan karena Solidaritas salah satu bagian dari nilai yang terkandung
dalam masyarakat yang mengandung nilai kemanusiaan (humanistic).
Kelompok SH Terate dan SH Winongo merupakan kelompok yang
memiliki jiwa solidaritas yang kuat, lahirnya solidaritas memang didukung
dengan adanya ketertarikan antar individu dalam melakukan hubungan
saudara, ketertarikan individu ini menyebabkan adanya rasa kepemilikan
yang kuat bahkan kelompok kedua SH memiliki ciri-ciri khas yang
menyangkut tentang mitos, sejarah dan legenda. Kelompok menjadikan
kesetiakawanan dalam anggotanya hal ini menjadikan tumbuhnya jiwa
7
8
solidaritas dalam kelompok sosial. Telah diuraikan bahwa penghargaanpenghargaan timbal balik yang menyertai pembentukan struktur kelompok itu
mempunyai hubungan yang erat dengan dapatnya solidaritas tersebut.
Solidaritas kelompok yang tinggi berdasarkan pengalaman-pengalaman
anggotanya bahwa tindakan-tindakan yang diharapkan timbal balik dari
anggota kelompok sesuai dengan fungsi masing-masing dalam kelompok,
memang dilakukan secara memuaskan sesuai dengan perannannya dalam
hirarki strutur kelompok. artinya mengalami bahwa tugas kewajiban yang
diserahkan kepada masing-masing, dalam bermacam-macam keadaan,
memang dikerjakan oleh kawan-kawannya dan oleh diri sediri dengan baikbaik. Dengan kata lain, terdapatnya solidaritas yang tinggi didalam
kemampuan kawan-kawannya utuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kepercayaannya tersebut berdasarkan pula pada pengalaman-pengalaman
anggota kelompok dalam situasi-situasi yang sukar. Makin sesuai dengan
tugas dalam kelompok dengan kecakapan yang nyata dalam bermacammacam keadaan, atau makin jitu penempatan the right man on the fight
place dalam kelompok itu, makin tinggi pula solidaritas kelompok. Proses
dengan sendirinya pula makin efektif pekerjaan kelompok serta makin kokoh
interaksi sosial dalam kelompok tersebut, keadaan kelompok sosial juga
mempertebal sense of belongingness anggota kelompok. selain itu solidaritas
kelompok mempunyai hubungan-hubungan yang erat dengan sikap-sikap
para anggotanya terhadap norma-norma pedoman kegiatan kelompok.
b. Syarat Terbentuknya Solidaritas
1. Penegasan Kelompok
Solidaritas sosial terbentuk karena adanya kelompok sosial Penegasan
struktur kelompok menyinggung masalah mengenai antara hubunganhubungan kelompok berdasarkan peranan-peranan dan status mereka sebagai
anggota kelompok bagian ini merupakan untuk memujudkan tujuan
kelompok itu sendiri. Dengan kata lain struktur mengarah pada susunan
hierarki antara tugas kewajiban yang diserahkan kepada anggotanya itu akan
terselesaikan dengan sewajarnya. Tiap-tiap anggota kelompok sosial itu
9
berdasarkan ciri-ciri kepribadian anggota, kelompok memiliki bentuk ciri-ciri
berbeda hal ini juga mempengaruhi penegasan wilayah kerja masing-masing.
Penegasan ini akan menimbulkan hubungan timbal balik antara anggota
kelompok sehingga terdapat hubungan yang khas dalam kelompok sosial.
Oleh karena itu kuatnya hubungan kelompok ini menjadikan interaksi yang
sama dalam kelompok internal bahkan hubungan kelompok ini menjadikan
pola yang berbeda dengan kelompok luar.
2. In Group dan Out Group
Sejajar dalam struktur kelompok, timbul juga sikap dan perasaan, yang
disebut sikap perasaan in group yang dibatasi dengan sikap out group. sikap
perasaan in group itu berkenaan dengan seluk balik usaha dan orang-orang
yang dipahami dialami oleh anggota pada interaksi didalam kelompoknya,
sedangkan out group ialah usaha dan orang-orang yang tidak termasuk dalam
in group. sikap perasaan terhadap in group adalah sikap terhadap orang dalam
sedangkan sikap perasaan out group adalah sikap perasaan terhadap orang
luar group. Sikap perasaan in group adalah sikap yang seakan-akan sikap
yang ditungankan kepada anggota in group jadi kegiatan apa yang dilakukan
in group yang dilakukan akan menjadi bersama. Perasaan in group merupakan
perasaan yang dipikul bersama, anggota kelompok seakan-akan dibuat untuk
merasakan pahit getirnya bersama dalam melaksanakan tujuan yang dimiliki.
c. Macam-Macam Solidaritas
1. Gotong Royong
Bentuk solidaritas yang banyak kita temui di masyarakat misalnya
adalah gotong-royong. Menurut Hasan Shadily (1993: 205), gotongroyong adalah rasa dan pertalian kesosialan yang sangat teguh dan
terpelihara. Gotong-royong lebih banyak dilakukan di desa daripada di
kota di antara anggota-anggota golongan itu sendiri.
2. Kerjasama
Kerjasama merupakan penggabungan antara individu dengan individu
lain, atau kelompok dengan kelompok lain sehingga bisa mewujudkan
suatu hasil
yang dapat
dinikmati
bersama. Setelah tercapainya
10
penggabungan itu barulah kelompok itu dapat bergerak sebagai suatu
badan sosial. Sehingga kerjasama itu diharapkan memberikan suatu
manfaat bagi anggota kelompok yang mengikutinya dan tujuan utama dari
bekerjasama bisa dirasakan oleh anggota kelompok yang mengikutinya.
Kerjasama timbul karena adanya orientasi orang-perseorangan terhadap
kelompoknya
(yaitu
in-group-nya)
dan kelompok
lainnya
(yang
merupakan out-group-nya). keinginan pokoknya tidak dapat terpenuhi
karena adanya rintangan-rintangan yang bersumber dari luar kelompok itu.
Keadaan tersebut menjadi lebih tajam lagi apabila kelompok demikian
merasa tersinggung atau dirugikan sistem kepercayaan atau dalam salah
satu bidang sensitif kebudayaan (Soerjono Soekanto, 2006: 101). Peneliti
juga akan menggunakan konsep teori tentang kerjasama ini untuk
mengetahui tentang bentuk solidaritas sosial yang ada di Desa Melikan,
dikarenakan kerjasama merupakan bentuk paling umum dari solidaritas
sosial.
d. Faktor - Faktor Solidaritas
1. Faktor Keluarga
Keluarga memang merupakan proses sosialisasi pertama dalam
pembentukan individu. Individu dibentuk secara kolektif dalam
kehidupan keluarga. Keluarga merupakan bentuk pengaruh kehidupan
seorang idividu dalam memenuhi proses sosial dalam masyarakat.
Keluarga yang bahagia dilihat dari kekuatan solidaritas yang terwujud
dalam internal sebuah keluarga dan bagaimana seorang individu
melakukan kehidupan berkelompok dilingkungan masyrakat serta
dorongan individu dalam memenuhi tugas pokok fungsi dalam kehidupan
masyarakat
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan bagian seorang individu mengenal sebuah
praktek kehidupan masyarakat. Lingkungan juga dianggap sebagai proses
sosial individu dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsi dalam tata
kehidupan masyarakat. Lingkungan berperan juga dalam pembentukan
11
kehidupan pribadi seorang individu, pembentukan didasarkan pada
keadaan lingkungan. Lingkungan juga berperan bagaimana seorang
individu terlibat dalam soidaritas yang ada didalam masyarkat,
masyarakat yang membentuk solidaritas individu baik solidaritas yang
berbentu positif maupun solidaritas yang berbentuk negatif.
e. Bentuk – Bentuk Solidaritas
Emile Durkheim (1859-1917), Profesor Sosiologi Pertama dari
Universitas
Paris,
mengambil
pendekatan
kolektivitis
terhadap
pemahaman mengenai masyarakat yang melibatkan berbagai bentuk
solidaritas. Solidaritas dalam berbagai lapisan masyarakat bekerja seperti
"perekat sosial", dalam hal ini dapat berupa, nilai, adat istiadat dan
kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota masyarakat dalam ikatan
kolektif. Ada bentuk yang disebut solidaritas mekanis, dimana individu
yang diikat dalam suatu bentuk solidaritas memiliki "kesadaran kolektif"
yang sama dan kuat. Karena itu individualitas tidak berkembang karena
dilumpuhkan dengan tekanan besar untuk menerima konformitas. Contoh
masyarakat yang memiliki solidaritas ini adalah masyarakat pra-industri
dan masyarakat pedesaan.Sementara itu ketika masyarakat semakin
kompleks melalui pembagian kerja, solidaritas mekanik runtuh digantikan
dengan solidaritas organik. Ketika terjadi pembagian kerja maka akan
timbul spesialisasi yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan antar
individu. Hal ini juga menggairahkan individu untuk meningkatkan
kemampuannya secara individual sehingga "kesadaran koletif" semakin
redup kekuatannya. Solidaritas ini ada pada masyarakat Industri. Maka itu
Durkheim mengusulkan perlunya suatu konsensus intelektual dan moral
untuk keteraturan sosial yang bersifat harmonis dan integratif. Pembagian
kerja memiliki implikasi yang sangat besar terhadap struktur masyarakat.
Durkheim sangat tertarik dengan perubahan cara di mana solidaritas sosial
terbentuk, dengan kata lain perubahan cara-cara masyarakat bertahan dan
bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh.
12
Untuk menyimpulkan perbedaan ini, Durkheim membagi dua tipe
solidaritas mekanis dan organis.
Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanis menjadi satu dan padu
karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat ini terjadi karena
mereka terlibat aktivitas dan juga tipe pekerjaan yang sama dan memiliki
tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, “masyarakat yang ditandai oleh
solidaritas organis bertahan bersama justru karena adanya perbedaan yang ada
didalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memilki pekerjaan dan tanggung
jawab yang berbeda-beda” (George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2008: 9091). Durkheim berpendapat bahwa masyarakat primitif memiliki kesadaran
kolektif yang lebih kuat yaitu pemahaman norma dan kepercayaan bersama.
Peningkatan pembagian kerja menyebabkan menyusutnya kesadaran kolektif.
Kesadaran kolektif lebih terlihat dalam masyarakat yang ditopang oleh solidaritas
mekanik dari pada masyarakat yang ditopang oleh solidaritas organik. Masyarakat
modern lebih mungkin bertahan dengan pembagian kerja dan membutuhkan
fungsi-fungsi yang yang dimiliki orang lain dari pada bertahan pada kesadaran
kolektif. Oleh karena itu meskipun “masyarakat organik memiliki kesadaran
kolektif, namun dia adalah bentuk lemah yang tidak memungkinkan terjadinya
perubahan individual” (George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2008: 92).
Masyarakat yang dibentuk oleh solidaritas mekanik, kesadaran kolektif
melingkupi seluruh masyarakat dan seluruh anggotanya, dia sangat diyakini,
sangat mendarah daging, dan isinya sangat bersifat religious. Sementara dalam
“masyarakat yang memiliki solidaritas organik, kesadaran kolektif dibatasi pada
sebagian kelompok, tidak dirasakan terlalu mengikat, kurang mendarah daging,
dan isinya hanya kepentingan individu yang lebih tinggi dari pedoman moral”
(George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2008: 91-92).
Besar kecilnya konflik pada anggota SH Terate dan SH Winongo merupakan
bentuk kuatnya solidaritas antar individu dalam organisasi SH Terate dan SH
Winongo, kesetian kepada organisasi merupakan bagian dari pembelaan terhadap
nama baik organisasi. Kuatnya soldaritas antar individu yang mengarah pada
kelompok merupakan dampak dari lahirnya konflik yang membesar dan sangat
13
kuat. Pandangan Durkheim tentang kajian solidaritas terdapat dua pokok
pemikiran yaitu dua solidaritas yang pertama menekankan pada solidaritas
mekanis, yang lahirnya dari masyarakat kesukuan elementer yang diorganisasikan
diseputar kesamaan homogenitas dan yang kedua merupakan solidaritas organik
dengan pembagian kerja yang luas dan memliki pola saling ketergantungan.
Pertumbuhan populasi dalam masyarakat primitif meningkatkan perbedaan sosial,
mengurangi kemungkinan bagi solidaritas mekanis dengan melemahkan adat
istiadat dan budaya tradisional yang menyatukan mereka. Pola yang dikembangan
pada teori Durkheim tentang solidritas merupakan contoh masyarakat dalam
industri (pembagian kerja). Pandangan konflik mengenai solidaritas tidak
berkembang hanya pada sistem pembagian kerja tetapi penulis mencoba
menganalisis megunakan teori solidaritas karya Durkheim dengan konflik yang
terjadi dalam anggota kelompok SH.
B. Dampak Solidaritas Terhadap Konflik
Perpecahan diantara kelompok atau golongan semakin bertambah banyak jika
tidak ada solidaritas yang dimulai dari dalam internal dan lingkungan kelompok.
Perasaan solidaritas, senasib seperjuangan, setia, sifat satu rasa yang solider
diberbagai macam kalangan, sangat mengutamakan golongan dan banyak
dilupakan demi kepuasan diri sendiri atas kepentingan diri sendiri bahkan
kepentingan kelomponya. Solidaritas itu penting karena sangat mempengaruhi
perubahan sosial budaya. Perubahan sosial yang mencakup sikap setiap orang dan
kondisi suatu lingkungan yang didominasi oleh perbedaan, dan perbedaan budaya
yang menyebabkan solidaritas itu sendiri hilang seiring berjalannya waktu, dari
generasi ke generasi karena tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika
menghadapi perbedaan. Menciptakan keadaan sosial yang teratur dan satu,
merupakan tujuan dari solidaritas. Perbedaan yang ada disekitar kita bukan untuk
ditertawakan dan diasingkan, namun disitulah peran penting solidaritas, yaitu
menyamakan dan mempersatukan perasaan toleransi. Peran penting solidaritas
dapat diukur keberhasilannya jika solidaritas dapat menciptakan kesatuan dan
kesamaan perjuangan dalam masyarakat. Hal-hal yang terjadi jika tidak ada
14
solidaritas
disekitar
kita
adalah
timbulnya
stereotype,
prasangka,
dan
primordialisme. Mempertahankan apa yang menurutnya paling baik, tidak mau
membuka diri dan selalu mencaci maki golongan lain, adalah contoh hal-hal yang
berpotensi akan terjadi jika tidak dilandasi oleh solidaritas.
Solidaritas antar manusia sudah harus diterapkan dari semenjak dini.
Mengingat pentingnya solidaritas yang mengatasnamakan perbedaan dapat
memperkaya relasi, budaya dan persatuan, maka solidaritas harus diusahakan dan
dipertahankan. Cara untuk membangun solidaritas dari yang paling sederhana
adalah menghormati orang yang sedang beribadah, mengucapkan selamat kepada
orang yang merayakan hari raya, dan tidak memilih-milih teman. Saling
menghargai terhadap orang yang tidak sesuku, berbeda kepercayaan dan status,
juga sangat ditekankan dalam hal solidaritas. Kesadaran dari dalam diri setiap
manusia juga merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk menciptakan
solidaritas. Berbicara tentang solidaritas mungkin merupakan hal yang sangat
mudah dilakukan oleh banyak orang, tetapi setelah kita mengerti betapa
pentingnya solidaritas itu dikehidupan kita, sudah selayaknya kita mengusahakan
agar solidaritas itu tetap ada dan tidak hilang. Faktor-faktor yang mendukung
adanya solidaritas dari dalam diri hendaknya ditumbuh kembangkan menjadi
suatu kebiasaan yang positif. Solidaritas tidak hanya sebatas teori saja yang
memiliki tujuan dan peranan penting dalam kehidupan setiap orang, melainkan
juga suatu praktik yang bersifat rendah hati, tulus dari dalam diri dan terusmenerus.
Dampak mengutamakan solidaritas pada satu golongan maupun terhadap
kelompoknya yaitu konflik. Perbedaan pendapat menyebabkan adanya satu
kegagalan dalam membanggun kerukunan didalam masyarakat. solidaritas
memang sangai baik digunakan didalam masyarkat jika solidaritas ini dalam
bentuk tinakan positif yang tidak mengatasnamakan golongan, bahkan solidaritas
yang positif dapat menciptakan keharmonisan didalam masyarakat. sebaliknya
jika kita memandang solidaritas hanya dalam satu golongan atau kelompoknya
akan memicu kecemburuaan sosial, kecemburuan sosial inilah penyebab dari
perbedaan-perbedaan yang menjadikan timbulnya gesekan-gesekan kelompok
15
didalam masyarakat. Contoh dari kasus konflik antar anggota SH Terate dan SH
Winongo merupakan konflik yang didasari pada kuatnya solidaritas internal
mereka. Proses pembangunan konflik dimulai dari internal kelompok, dimana
kekuatan internal individu dimulai dari proses pelatihan individu untuk menjadi
anggota SH. Organisasi SH memang merupakan organisasi massa yang memiliki
jumlah massa yang begitu besar hubungan anggota antar anggota begitu kuat.
Jiwa solidaritas yang dimiliki internal kelompok begitu kuat, tetapi seharusnya
bentuk solidaritas ini digunakan sebagai kegiatan positif bukannya digunakan
sebagai tindakan konflik. Damapak dari kuatnya solidaritas menimbulkan adanya
konflik antar anggota dalam kelompok organisasi SH. Konflik antar organisasi SH
apabila terjadi secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara
negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.
Konflik memang hal yang tak bisa dihindarkan didalam kehidupan
masyarakat. Konflik selalu lahir dalam setiap fungsi dan struktur dalam proses
tata kehidupan dalam masyarakat. Masyarakat merupakan sebuah struktur dengan
bagian-bagian yang saling berhubungan dan setiap bagian terkadang tidak
berfungsi selalu berbenturan dengan norma adat dan kebudayaan yang mengakar
dalam masyarakat. Kegagalan fungsi menjadikan masyarakat rentan untuk
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan tata nilai yang terdapat dalam
masyarakat dan timbul konflik sosial. Dalam konflik yang terjadi dalam tubuh
anggota organisasi SH Terate dan SH Winongo merupakan konflik yang lahir dari
perpecahan kedua organisasi, berdasarkan sejarah sebelum adanya konflik, kedua
perguruan ini dipersatukan dengan nama perguruan silat SETIA HATI yang
didirikan oleh Ki Ngabehi Soero diwiryo, atau biasa disebut Eyang Soero, dimana
Eyang Soero memiliki dua murid kesayangan. Konflik antara kedua murid Eyang
Soero terjadi pada saat Eyang Soero meninggal. Sehingga perguruan silat SETIA
HATI terpecah menjadi dua, yakni perguruan silat Setia Hati Terate dengan
perguruan silat Setia Hati Tunas Muda Winongo, dimana kedua murid ini saling
mengklaim bahwa perguruan yang mereka anut adalah ajaran SETIA HATI yang
asli dari Eyang Soero, konflik ini merambah sampai ke pengikut masing masing
pergurun yaitu SH Terate dan SH Winongo.
16
Sejarah menjadikan konflik kedua organisasi semakin kuat dan besar,
konflik kedua organisasi memang identik dengan sebuah kekerasan dan kekuatan
masa. Lahirnya konflik merupakan penyebab lahirnya masalah kecil dari individu
mengakar ke masalah kelompok, rasa gengsi dan pengeklaiman ajaran
menyebabkan konflik sering terjadi bahkan dengan gaya-gaya yang berbeda.
Konflik sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, konflik sangat memberikan
kerugian materi bahkan non materi bagi masyarakat.
Konflik memang lahir dari individu yang mengarah pada kelompok besar,
konflik yang berjalan bertahun-tahun tidak ada titik temu tentang perdamaiaan.
Kultural konflik yang dibentuk sejak perpecahan organisasi menjadikan konflik
semakin tahun semakin besar dan kuat. Terciptanya konflik dalam organisasi SH
Terate dan SH Winongo merupakan konflik bersekala besar, konflik kedua
organisasi menyebabkan massa sangat besar, kekuatan massa kedua organisasi
merupakan bentuk kekuatan kelompok. Intensitas konflik menjadikan hubungan
individu dalam kelompok menjadi sangat erat, pembangunan solidaritas kelompok
terjadi ketika anggota memiliki rangkaian kegiatan yang melibatkan nama
organisasi. Konflik kedua organisasi juga menyangkut rasa gengsi yang tinggi,
solidaritas yang kuat menyebabakan kekuatan masa yang sangat besar bahkan
menentukan keunggulan kelompok.
Dari uraian diatas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa konflik lahir
dari sebuah perpecahan yang lahir dari keinginan kedua murid perguruan SH yang
ingin mendirikan perguruan sendiri. Berjalannya waktu konflik menjalar pada
anggota kedua perguruan, pengakuan ajaran kebenaran dan rasa gengsi antar
anggota penyebab utama konflik pecah. Konflik kedua organisasi juga lahir dari
sebuah masalah individu yang menjalar ke kelompok besar. Rasa solidaritas
kelompok merupakan perwujudan bentuk individu dalam kepemilikan organisasi
sehingga ketika menemui masaslah yang menyangkut tentang nama organisasi
atau masalah individu yang tergabung dalam kelompok SH akan melibatkan
massa yang sangat besar, bahkan apabila terjadi konflik, konflik akan mejadi
besar dan kuat. Penelitan yang melibatkan konflik kedua organisasi SH Winongo
dan SH Terate merupakan penelitian yang menggunakan teori konflik dengan
17
pandangan Lewis A Coser, Selama dua puluh tahun Lewis A Coser tetap terikat
pada model sosiologi dengan tekanan pada struktur sosial. Pada saat yang sama
dia menunjukan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik
sosial. Berbeda dari ahli tokoh sosiologi yang menegaskan eksistensi dua
prespektif teori fungsional struktural versus teori konflik Coser mengungkapkan
komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut. Coser
mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan
kosnsensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsional struktural tetapi
juga menunjuk pada proses konflik sosial.
Coser (1956 : 16-19 ) “dalam membahas ahli teori (bangsa Amerika) yang
lebih awal, menyatakan pemahaman mereka tentang konflik sebagai kesadaran
yang tercermin dalam semangat pembaharuan masyarakat. “Coser juga
menyatakan sosiologi dilahirkan dalam semangat modern untuk memeperbaikai
masyarakat” (dikutip dalam coser, 1956 : 17) Akan tetapi para ahli sosiologi
kontemporer sering mengacuhkan analisa konflik sosial, secara implisit,
melihatnya sebagai sebagai destruktif atau patologis bagi kelompok sosial. Coser
memilih menunjukan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif
untuk membentuk serta mempertahankan struktur, selain itu Coser dalam
memahami konflik secara positif juga melakukan tindakan dengan membangun
diatas karya sosiologi klasik, pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan
konflik sosial, dan terutama melalui pada ahli sosiologi jerman yang terkenal yaitu
Geroge Simmel.
Coser juga tidak mencoba untuk menghasilkan teori menyeluruh dan
mencakup seluruh fenomena sosial karena yakin bahwa setiap usaha untuk
menghasilkan suatu teori sosial yang holistis adalah prematur. Simmel juga
mempertahankan pendapatnya bahwa sosiologi bekerja untuk menyempurnakan
dan menggambarkan bentuk – bentuk atau konsep – konsep sosiologis dimana isi
dunia empiris dapat ditempatkan. Konflik adalah salah satu bentuk sosiologis
yang dibahas oleh Simmel. Konflik merupakan bentuk interaksi dimana tempat,
waktu, bahan sebagaimana dengan isi segitiga yang dapat berubah. Coser
mengambil pembahasan konflik dari Simmel dan mengembangkan proporsi dan
18
memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi-kondisi
dimana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara
negatif akan memperlemah kerangka masyarakat. Konflik dalam masyarakat
secara alami memang terjadi dalam masyrakat tetapi menurut Coser konflik secara
potensial positif untuk membentuk serta mempertahankan struktur. Lewis Coser
sebagai seorang tokoh yang mendalami teori konflik memiliki cara pandang yang
sangat bertolak belakang dengan Parsons dalam hal melihat konflik di dalam
masyarakat atau kelompok tertentu. Parsons menganalogikan perubahan sosial
pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen
untama parsons melihat diferensiasi, Parsons juga mengungkapkan bahwa stiap
masyarakat tersusun dari sekumpulan sub-sistem yang berbeda berdasarkan
strukturnya maupun bedasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang luas.
Ketika masyarkat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan
kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi masalah hidupnya. Dapat
dikatakan parsons termasuk golongan yang memandang optimis sebuah proses
perubahan.
1. Menjadikan Bentuk Positif
Konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif
akan memperlemah kerangka masyarakat. Konflik dalam masyarakat secara alami
memang terjadi dalam masyrakat tetapi menurut Coser konflik secara potensial
positif untuk membentuk serta mempertahankan struktur. Maksud Coser dalam
hal ini ialah bahwa ketika terjadi konflik dalam suatu masyarakat, maka hal
tersebut akan membangun identitas dan otonomi. Akibatnya adalah terlihat
dengan jelas batas-batas kelompok yang mungkin tadinya samar-samar, tetapi
ketika itu menjadi jelas mereka akhirnya memiliki identitas dan bersifat otonom
dalam suasana kesatuan. Konflik yang dilakukan oleh anggota SH Terate dan SH
Winongo juga dapat mengakibatkan terjadinya penyatuan. Peneliti mencoba
melihat bahwa konflik yang tejadi dalam perguruan pencak silat wilyah
Kresidenan Madiun kususnya Kabupaten Ponorogo merupakan bentuk konflik
secara besar dan memberikan dampak, baik dampak segi positif maupun bentuk
dari sisi negatif. Coser memandang konflik sangat berbeda dengan ahli sosiologi
19
kontemporer lainnya. Para ahli sosiologi kontemporer memandang konflik secara
implisit melihatnya secara desdruktif atau patologis.
Memandang konflik yang terjadi dalam pencak silat bahwa sebenarnya
konflik malah memperkuat struktur yang terjadi didalam ikatan kelompok sosial
yang terlibat di dalamnya. Seperti kasus yang di atas menjelaskan, beberapa hal
yang berpotensi menimbulkan konflik merupkan bentuk solidaritas dari setiap
anggota pencak silat. Pada kasus ini konflik bisa menjadi fungsional, karena
menurut Coser konflik memiliki fungsi sosial. Konflik ini juga dapat mencegah
pembekuan sistem social dengan adanya inovasi dan kreativitas dan menghadapi
musuh bersama dapat mengintegrasikan orang menghasilkan solidaritas dan
keterlibatan dan membuat orang lupa akan perselisihan intern mereka sendiri.
Konflik yang dilakukan anggota organisasi SH Terate dan SH Winongo
merupakan bentuk konflik yang begitu besar, konflik melibatkan beberapa pihak
baik dari anggota masayarakat, kepolisian bahkan anggota SH Terate dan SH
Winongo. Kekuatan jumlah massa menjadikan konflik menjadi besar dan kuat.
Kekuatan konflik antara anggota SH disebabkan oleh kekuatan jumlah anggota,
solidaritas yang diberikan kepada individu terhadap kelompok merupakan
perwujudan dari sebuah kecintaan anggota dalam bentuk ikatan kelompok internal
bahkan dalam internal organisasi SH adanya hubungan persaudaraan yang begitu
kuat.
Setiap individu memperoleh sebuah pendidikan yang menyangkut tentang arti
sebuah persaudaraan sehingga menyebabkan para anggota SH mengenal arti
solidaritas dalam internal kelompok SH. Lewis A Coser memandang bahwa
konflik memberikatan ikatan – ikatan yang kuat dalam internal kelompok konflik
dengan kelompok lain juga menegaskan struktur kelompok dan memberi reaksi
kepada hubungan internal sehingga Lewis A Coser memandang bahwa konflik
dapat memeberikan dampak ikatan kelompok dan menjaga fungsi kelompok itu
sendiri.
2.
Ikatan Kelompok dan Pemeliharaan Fungsi – Fungsi Kelompok Sosial
Konflik merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan,
penyatuan, dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan dan
20
menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok
lain dapat memperkuat kembali ke identitas kelompok dan melindunginya agar
tidak lebur kedalam dunia sosial sekelilingnya. Seluruh fungsi positif konflik itu
( keuntungan dari situasi konflik yang memperkuat struktur ) dapat dilihat dalam
ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan out-group.
Konflik yang berlangsung dengan out-group dapat memperkuat identitas para
anggota kelompok. Konflik yang terjadi dalam kelompok pencak silat telah
memperkuat identifikasi in group dalam anggotanya. Konflik yang terjadi didalam
kalangan anggota pencak silat berhasil mengatasi hambatan fungsi negatif dalam
kelompok in group. Secara fungsi konflik malah memeperkuat indentitas in
group.
Coser mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan
dan consensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsionalis structural,
tetapi ia juga menunjukkan pada proses lain yaitu konflik social. Menurut Coser,
konflik itu bersifat fungsional (baik) dan bersifat disfungsional (buruk), bagi
hubungan-hubungan dan struktur yang tidak terangkum dalam sistem social
sebagai suatu keseluruhan. Perhatian Coser cendrung melihat dari sisi fungsi
bukan dari sisi disfungsinya. Karena Cosar mendefinisikan konflik sosial sebagai
suatu perjuangan terhadap nilai dan pengakuan terhadap status yang langka,
kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan dinetralisasikan atau
dilangsungkan, atau dieliminasi saingan-saingannya. Coser dengan konflik
fungsionalnya menyatakan, bahwa konflik dapat merubah bentuk interaksi,
sedangkan ungkapan perasaan permusuhan tidaklah demikian. Coser merumuskan
fungsionalisme ketika membincangkan tentang konflik disfungsional bagi struktur
sosial ketika terdapat toleransi atau tidak terdapat konflik. Intensitas konflik itu
lantas mengancam adanya suatu perpecahan yang akan menyerang basis
konsensus sistem sosial berhubungan dengan kekuatan suatu struktur. Apa yang
mengancam kondisi pecah belah bukanlah konflik melainkan kekacauan konflik
itu sendiri, yang mendorong adanya permusuhan yang terakumulasi dan tertuju
pada suatu garis pokok perpecahan yang dapat meledakkan konflik.
21
Pandangan Coser dalam memahami konflik tidak semata-mata hanya
konflik menjadikan suatu hubungan kelompok internal menjadi positif tetapi
memandang dalam arti sebuah hubungan sebab akibat yang menjadikan sebuah
konflik lahir dari tuntutan maupun kepentingan. Menurut Lewis A Coser
membagi konflik menjadi dua yaitu konflik realitas dan nonrealitas. Yang
dimaksud dengan konflik realitas adalah konflik yang muncul dari tekanan sebuah
tuntutan khusus dalam hubungan kelompok dan perkiraan (pencapaian
keuntungan) oleh anggota yang merupakan objek penderita. Sedangkan konflik
non realistis disebabkan oleh kepentingan kesadaran adanya tekanan dalam
hubungan satu orang atau lebih. Tekanan serangan utama tidak secara langsung
terikat kepada objek yang menjadi sasaran dengan kejadian berdasarkan situasi.
Penyebab lahirnya konflik antara anggota kedua SH merupakan lahir dari akar
sebuah sejarah yang masih belum ada titik temunya, konflik antar anggota SH
selalui didasari adanya sebuah masalah-masalah kecil yang menjadi tuntutan
untuk melakukan konflik yang menjadi sebuah besar dan konflik antar anggota
SH juga lahir dari sebuah kepentingan yang tidak bertanggung jawab.
3. Bentuk Realistis Dan Non Realistis
Dalam membahas berbagai situasi konflik Coser membedakan konflik yang
realistis dan non realistis. Konflik realistis berasal dari kekecewaan terhadap
tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan
kemungkinan keuntungan para partisipasi dan ditunjukan pada objek yang
dianggap mengecewakan. Konflik non realistis adalah konflik yang bukan berasal
dari tujuan-tujuan saingan yang antagonistis tetapi dari kebutuhan untuk
meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak (coser 1959 : 59 Poloma
M Margaret, Sosiologi Kontemporer ). Contoh dari konflik realistis dalam konflik
yang terjadi dikalangan anggota pencak silat adalah kegagalan seorang anggota
pencak silat mengaplikasikan bentuk nilai ajaran SH didalam masyarakat. Konflik
yang dilakukan anggota merupakan konflik yang
karena sebuah gengsi dan
doktrinasi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
sehingga memicu rasa persaudaraan dalam hubungan kelompok serta timbul bola
panas yang memicu terjadinya konflik.
22
Melihat teori Coser dari sudut pandang konflik realistis konflik lahir dari
sebuah tuntutan-tuntutan khusus dalam hubungan dan dari perkiraan keuntungan
anggota dan yang diarahkan pada objek frustasi. Di samping itu, konflik
merupakan keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Konflik kedua organisasi lahir
bukan karena kesalahan sebuah organisasi tetapi bentuk dari kesalahan
pengaplikasian nilai ajaran SH dalam masyarakat yang tujuannya ingin
mendapatkan kekuasaan yang lebih sebagai kekuatan kelompok. Konflik dalam
pencak silat juga merupakan bentuk frustasi terhadap hasil nilai ajaran SH dalam
bentuk pengaplikasian yang akhirnya diluapkan dalam bentuk konflik.
Tindakan konflik yang dilakukan oleh beberapa anggota SH merupakan
bagian dari sebuah dendam atau permusuhan yang muncul dari rasa gengsi
masalah individu bahkan pengeklaiman ajaran. Berbagai cara sudah dijalankan
dari pihak pengurus, kepolisian bahkan dari masyarakat umum untuk
menyelesaikan konflik antar anggota organisasi SH. Hasil yang didapatkan
dilapangan konflik bukannya mereda malah menjadikan konflik semakin
menyebar bahkan semakin membesar. Kekuatan yang dihasilkan konflik memang
sangat kuat dikarenakan dalam konflik antar anggota SH sangat didukang dengan
jumlah msasa yang begitu banyak, jumlah massa yang begitu besar
mempengaruhi bentuk konflik itu sendiri. Dalam teori Lewis A Coser konflik
sebagai sebuah indeks stabilitas hubungan. Dalam hal ini konflik dianggap
sebagai sesuatu yang dapat dilihatsebagai ukuran stabilitas hubungan dalam suatu
kelompok. Ketidak hadiran konflik dalam sebuah hubungan tidak dapat
menunjukkan stabilitas. Konflik tidak menekankan bahwa kehadiran konflik
menunjukkan dasar stabilitas, tetapi kehadiran perasaan yang bertentangan dalam
sebuah hubungan akan dinyatakan dalam konflik bila keadaan kelompok stabil.
4. Permusuhan Dalam Hubungan-Hubungan Sosial Yang Intim
Menurut Coser terdapat kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik
realistis tanpa permusuhan dan agresif. Akan tetapi bila konflik berkembang
dalam hubungan sosial yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan
non realitis)
23
Semakin dekat hubungan semakin besar rasa kasih sayang yang sudah
tertanam, sehingga semakin besar juga kecendrungan untuk menekan
ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubunganhubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis permusuhan
semakin bebas diungkapkan. Hal ini tdak selalu bisa terjadi dalam
hubungan-hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipasipan
membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi
hubungan tersebut
Semakin dekat hubungan semakin sulit rasa permusuhan itu diungkapkan
tetapi semakin lama perasaan ditekan, maka semakin penting pengungkapannya
demi mempertahankan hubungan itu sendiri karena dalam satu hubungan yang
intim keseluruhan kepribadian sangat boleh jadi terlibat, maka konflik itu, ketika
benar-benar meledak, mungkin sekali akan sangat keras. Pandangan Coser, bila
segala sesuatu dianggap sama, konflik antara dua orang yang tidak saling kenal
akan kurang tajam. Dalam bagian ini penulis menekankan bahwa konflik dalam
pencak silat merupakan konflik yang berwatakkan dendam. Konflik antara
organisasi pencak silat merupakan bentuk konflik yang dimotori dari doktrin
maupun dogma yang belum terbukti kebenarannya. Dalam konflik pencak silat
munculnya rasa dendam sudah tertanam dari beberapa tahun sehingga
menyebabkan isu-isu yang tidak jelas bermunculan sehingga timbul konflik yang
sangat besar sehingga kelompok membiarkan konflik terus berkembang dengan
membiarkan isu-isu lahir tanpa hal yang mendasar.
5. Kondisi-Kondisi yang Mempengaruhi dengan Kelompok Luar dan
Struktur Kelompok
Coser menjelaskan bahwa konflik dengan kelompok luar akan membantu
pemantapan batas-batas struktural. Sebaliknya konflik dengan kelompok dalam
juga dapat mempertinggi integrasi di dalam kelompok. Coser (1956:92-93).
berpendapat bahwa “tingkat konsensus kelompok sebelum konflik terjadi
merupakan hubungan timbal balik paling penting dalam konteks apakah konflik
dapat mempertinggi kohesi kelompok. Coser menegaskan bahwa kohesi sosial
dalam kelompok mirip sekte itu tergantung pada penerimaan secara total seluruh
aspek-aspek kehidupan kelompok. Untuk kelangsungan hidupnya kelompok
“mirip-sekte” dengan ikatan tangguh itu bisa tergantung pada musuh-musuh luar.
24
Konflik dengan kelompok-kelompok lain bisa saja mempunyai dasar yang
realistis, tetapi konflik ini sering (sebagaimana yang telah kita lihat dengan
berbagai hubungan emosional yang intim) berdasar atas isu yang non-realistis.
Pola yang dibentuk dalam hubungan internal kelompok SH Terate maupun
Winongo memang sangat kuat, pembentukan rasa persaudaraan memang sangat
kental hal ini mempengaruhi tingkat integrasi dalam kelompok internal SH,
sehingga terbentuklah suatu kesepakatan ketika salah satu anggota kelompok
dilukai ataupun terkena masalah semua akan ikut serta dalam perpecahan
masalahnya. Konflik merupakan langkah penyatuan kelompok dalam tubuh SH
hal in karena dalam konflik menyangkut nama arti sebuah persaudaraan dan nama
baik organisasi. Dengan hal inilah konflik dalam tubuh anggota SH akan
membantu hubungan struktural dalam internal kelompok sehingga pola hubungan
yang dibangun akan sangat kuat. Ada beberapa pandangan Coser terhadap konflik
dalam hubungan dengan terjalinnya suatu fungsi dalam masyarakat, atara lain
Coser mencoba mengemukakan kondisi-kondisi dimana secara positif konflik
mampu mempertahankan struktur sosial. Konflik sebagai proses sosial dapat
merupakan mekanisme lewat mana kelompok-kelompok dan batas-batasanya
terbentuk dan dipertahankan. Selanjutnya konflik dapat menyatukan para anggota
kelompok lewat pengukuhan kembali identitas kelompok. Apakah konflik
merupakan sumber kohesi atau perpecahan kelompok tergantung atas asal mula
ketegangan, isu tentang konflik, cara bagaimana ketegangan ditangani, dan yang
terpenting tipe struktur dimana konflik itu berkembang. Coser juga membedakan
konflik realistis dengan non realistis, keseluruhan butir-butir tersebut merupakan
faktor-faktor yang menetukan fungsi konflik sebagi suatu proses sosial. Dengan
demikian konflik dan konsensus, integrasi dan perpecahan adalah proses
fundamental walau dalam porsi dan campuran yang berbeda dari setiap sistem
sosial yang dapat dimengerti
C. Kerangka Berpikir
Solidaritas memang berperan kuatnya hubungan individu antar individu dalam
sebuah organisasi kelompok SH Terate dan SH Winongo. Solidaritas sangat
berperan dalam hubungan kekerabatan dan kesetiakawanan dalam kelompok yang
25
menjadi dasar tujuananya untuk menjadi sukses sebuah kelompok. tetapi kita
seharusnya melihat bahwa solidaritas ini sangat berperan baik bagi masyarakat
atau malah menjadikan bentuk negatif didalam masyarakat. Tidak sampai disitu
solidaritas juga mengutamakan hal-hal yang berfanmaat untuk satu golongan dan
golongan lainya. Apabila solidaritas ini lahir hanya untuk mengutamakan
kekuatan kelompok makan yang terjadi akan menciptkan kecemburuaan sosial
dimasyarakat dan meledak menjadi konflik antar kelompok maupun golongan.
Konflik memang tindakan yang tak bisa dihindarkan dari kehidupan
masyarakat tetapi didalam masyarakat terdapat nilai dan norma yang harus
dipatuhi. Muncul berbagai pertanyaan dalam masyarakat jika terdapat nilai dan
norma mengapa masih tetap ada konflik. Pada tahapan ini penulis coba
memberikan gambaran bagaimana bentuk konflik pada kasus pertikaian dalam
dunia pencak silat. Konflik selalu ada hubungan sebab dan akibat Peneliti
mencoba mencari karakteristik dan hubungan solidaritas kelompok ketika konflik.
Organisasi SH dulunya merupakan satu organisasi yang tujuannya sebagai alat
mengolah raga dan bela negara seiring berjalannya waktu pimpinan SH meninggal
organisasi SH pun pecah menjadi dua yaitu SH Terate dan SH Winongo,
perpecahan kedua organisasi mengakibatkan kedua organisasi saling melebarkan
sayap untuk mendapatkan anggota. Kedua organisasi berlomba-lomba untuk
mendapatkan anggota sehingga terjadi kecemburuan sosial diantar kedua
organisasi. Kecemburan sosial ini mengakibatkan timbulnya fitnah, gengsi dan
pengeklaiman tentang ajaran yang asli, hal ini memicu timbulnya konflik dalam
anggota kedua organisasi akibatnya konflik terjadi terus menerus hingga saat ini.
Konflik yang dilakukan oleh kedua organisasi sangat bervariasi karena konflik
sering dilakukan sehingga masyarakat sangat hafal setiap detik-detik menjelang
konflik. Organisasi SH Terate dan SH Winongo merupakan organisasi yang baik
kedua organisasi menanamkan jiwa persaudaraan, kuatnya jiwa persaudaraan ini
sangat memepengaruhi ketika konflik dikarenakan konflik bukan terjadi individu
tetapi dengan jumlah masa yang sangat besar.
26
Gamabar 1.2
Solidaritas Kelompok
Solidaritas Internal
Organisasi SH Terate
dan SH Winongo
Solidaritas Organik
dan Mekanik
Dampak Solidaritas
Fungsi Positif
Konflik
Fungsi Negatif
Konflik
Konflik positif
dapat
memeperkuat
struktur
masyarakat
Dampak Negatif
Memperlemah
kerangka struktur
masyarakat
27
Download