pembelajaran kooperatif tipe think pair share dalam - e

advertisement
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Sony Rahadian 1),Yerizon 2),Arnellis 3)
1)
FMIPA UNP, email: [email protected]
Staf Pengajar Jurusan Matematika FMIPA UNP
2,3)
Abstract
The implementation of learning which is done by teacher is still conventional. The result is student
only receive and tend to memorize the material. Students tend to be passive in answering question
given by teacher, they usually only wait the answer from their friends, so it hasn’t seen the students
activeness in studying. Beside that, learning is only dominated by certain student. If it continues
happen, it can impact to the result of students mathematics learning become lower. One of learning
model that can be used to students activeness in learning is cooperative model types Think Pair
Share. This learning model is a combination between study on their own and in a group. This
papers will discuss about the using of cooperative model types Think Pair Share to the result of
students mathematics learning. The kinds of this research is the research master the experiment by
contrivance research of Randomized control-group Only Design. So that, the result of learning
mathematics class VIII SMPN 34 Padang by using cooperative model types Thing Pair Share is
better than the result of students mathematics learning which using conventional learning.
Keywords : Result Learns, Think Pair Share
PENDAHULUAN
Matematika diajarkan di setiap
jenjang pendidikan mulai dari sekolah
dasar, sekolah menengah sampai ke
tingkat perguruan tinggi. Melihat peranan
matematika yang begitu penting, maka
pihak yang terlibat dalam dunia
pendidikan khususnya bidang matematika
selalu berusaha agar pembelajaran
matematika menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Banyak usaha yang telah
dilakukan pemerintah agar tujuan dari
pendidikan tersebut terlaksana dengan
baik,
diantaranya
adalah
dengan
menyempurnakan kurikulum, penataran
guru bidang studi, menambah sarana dan
prasarana, melaksanakan pendekatan dan
metode yang inovatif serta menyediakan
media pembelajaran.
Guru sebagai orang yang terlibat
langsung harus bisa merencanakan suatu
pembelajaran matematika yang menarik,
efektif, dan bermakna, serta memilih
model
pembelajaran
yang
dapat
melibatkan siswa secara aktif. Metode
pembelajaran yang mengaktifkan peserta
didik salah satunya adalah belajar
kooperatif. Menurut Suherman (2003:260)
belajar kooperatif mencakup suatu
kelompok kecil peserta didik yang bekerja
sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan
sebuah masalah, menyelesaikan suatu
tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk
mencapai tujuan bersama lainnya. Melalui
pembelajaran kooperatif, sikap positif
pada diri siswa akan lebih berkembang,
baik terhadap suatu mata pelajaran
maupun terhadap hubungan sosialnya.
Belajar kooperatif menekankan pada
kehadiran teman sebaya yang berinteraksi
antar sesamanya sebagai sebuah kelompok
belajar dalam menyelesaikan atau
membahas suatu masalah atau tugas.
14
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
Kegiatan pembelajaran di sini terpusat
pada peserta didik yang sedang berdiskusi
dengan kelompoknya masing-masing.
Pendidik hanya menjadi fasilitator di
dalam pembelajaran, mengarahkan kepada
hasil belajar yang akan dicapai dan
mengembangkan ide-ide kreatif dari
peserta didik. Pembentukan kelompok
dalam pembelajaran kooperatif ini juga
harus memperhatikan keanekaragaman
anggota kelompok, menurut Ibrahim
(2000:6-7) kebanyakan pembelajaran
yang menggunakan model kooperatif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1)
Kelas dibagi atas kelompok-kelompok
kecil yang anggotanya terdiri dari siswa
dengan kemampuan tinggi, sedang
,rendah. (2) Jika mungkin dalama
pembentukan kelompok juga diperhatikan
perbedaan suku, budaya, jenis kelamin,
latar belakang, sosial ekonomi dan
sebagainya. (3) Siswa bekerja dalam
kelompok secara kooperatif untuk
menguasai materi akademik. (4) Sistim
penghargaan lebih berorientasi kepada
kelompok dari pada individu. Salah satu
pembelajaran kooperatif yang dapat
digunakan oleh pendidik kepada peserta
didiknya dalam proses pembelajaran adalah
tipe Think Pair Share.
Think Pair Share adalah salah satu
strategi dalam pembelajaran kooperatif
yang memberikan siswa waktu untuk
lebih banyak berpikir, menjawab, dan
saling membantu satu sama lain. Strategi
pembelajaran Think Pair Share ini dapat
mengembangkan potensi siswa secara
aktif dengan membuat kelompok terdiri
dari dua orang yang akan menciptakan
pola
interaksi
yang
optimal,
mengembangkan semangat kebersamaan,
timbulnya motivasi serta menumbuhkan
komunikasi yang efektif.
Pembelajaran model kooperatif tipe
Think Pair Share dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki siswa secara aktif,
karena siswa dibagi ke dalam kelompok
yang beranggotakan dua orang. Dalam
Anita (2002: 45) dipaparkan keuntungan
kelompok yang beranggotakan dua orang
yaitu : (1) meningkatkan partisipasi siswa,
(2) lebih banyak untuk kontribusi masingmasing anggota kelompok, (3) interaksi
lebih mudah, (4) cocok untuk tugas
sederhana, (5) lebih mudah dan cepat
membentuknya. Kelompok berpasangan
ini memungkinkan semua siswa untuk
berinteraksi
dengan
optimal,
mengembangkan semangat kebersamaan
menumbuhkan motivasi belajar siswa dan
komunikasi
yang
efektif
dalam
pembelajaran.
Fogarty
dan
Robin
(1996)
menyatakan bahwa teknik belajar
mengajar Think Pair Share mempunyai
beberapa keuntungan sebagai berikut : (1)
Mudah dilaksanakan dalam kelas yang
besar, (2) Memberikan waktu kepada
siswa untuk merefleksikan isi materi
pelajaran, (3) Memberikan waktu kepada
siswa untuk melatih mengeluarkan
pendapat sebelum berbagi dengan
kelompok kecil atau kelas secara
keseluruhan.
Dengan teknik belajar mengajar
Think Pair Share yang disebutkan Fogarty
dan Robin siswa dilatih untuk banyak
berfikir dan saling tukar pendapat baik
dengan teman sebangku ataupun dengan
teman
sekelas,
sehingga
dapat
meningkatkan hasil belajar ranah kognitif
siawa karena siswa dituntut untuk
mengikuti proses pembelajaran agar dapat
menjawab
setiap
pertanyaan
dan
berdiskusi.
Tahap-tahap
pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share
dijelaskan oleh Muslimin (2000:26) yaitu:
(1) Tahap I Thinking (berpikir), Guru
mengajukan pertanyaan atau isu yang
berhubungan dengan pelajaran, kemudian
siswa
diminta
untuk
memikirkan
pertanyaan atau
isu tersebut secara
mandiri untuk beberapa saat. (2) Tahap II
Pairing (berpasangan), Guru meminta
siswa berpasangan dengan siswa lain
untuk mendiskusikan apa yang telah
dipikirkan pada tahap pertama tadi.
15
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat
berbagi jawaban jika telah diajukan
pertanyaan atau berbagi ide jika suatu
persoalan khusus telah diidentifikasi.
Biasanya guru memberikan waktu 4-5
menit untuk berpasangan. (3) Tahap III
Sharing (berbagi), Pada tahap akhir, guru
meminta kepada pasangan untuk berbagi
dengan seluruh kelas tentang apa yang
telah mereka bicarakan. Ini efektif
dilakukan dengan cara bergiliran pasangan
demi pasangan dan dilanjutkan sampai
sekitar seperempat pasangan mendapat
kesempatan untuk melaporkan.
Salah satu fasilitas yang dapat
mendukung pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share adalah dengan bantuan
LKS, dimana siswa dibagi dalam
kelompok terdiri dari dua orang dan
mendiskusikan LKS yang telah diberikan
oleh guru, setelah itu mempersentasikan
kedepan kelas hasil diskusi mereka.
LKS ini digunakan oleh guru untuk
menambah keaktifan siswa dalam belajar,
membantu dalam proses pembelajaran
agar bisa berjalan dengan baik dan lancar,
serta untuk menambah variasi kegiatan
sehingga siswa termotivasi dan berminat
untuk belajar matematika.
Keuntungan yang dapat diperoleh
dari menggunakan LKS ini adalah guru
tidak lagi tergantung kepada buku teks
yang terkadang sulit untuk dipahami
siswa, melatih cara berpikir dan bernalar
siswa dalam menarik kesimpulan,
mengembangkan
kemampuan
memecahkan masalah, dan juga bagi
siswa kegiatan pembelajaran menjadi
lebih menarik, mendapat kemudahan
dalam mempelajari setiap kompetensi
yang harus dikuasainya.
Pencapaian tujuan dari belajar dan
pembelajaran dapat dilihat dari hasil
belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar
merupakan kemampuan yang diperoleh
dari proses belajar yang dapat diukur
dengan melakukan test. Suharsimi
(2002:10-14)
mengemukakan
tujuan
dilakukannya penilaian hasil belajar
adalah untuk mengetahui sejauh mana
siswa
telah
berhasil
mengikuti
pembelajaran dan guru dapat mengetahui
kelemahan siswa, serta penyebabnya,
sehingga guru lebih mudah untuk
mengatasinya. Untuk itu diadakan
evaluasi diakhir pembelajaran terhadap
materi yang sudah diberikan dengan
menggunakan model kooperatif tipe Think
Pair Share dengan bantuan LKS.
Berdasarkan
uraian
di
atas
permasalahan yang ingin dibahas melalui
makalah ini adalah “1.Apakah hasil
belajar siswa yang menggunakan model
kooperatif tipe Think Pair Share dengan
bantuan LKS lebih baik dari hasil belajar
siswa yang pada pembelajarannya secara
konvensional? 2.Bagaimanakah aktivitas
belajar
matematika
siswa
yang
menggunakan model kooperatif tipe Think
Pair Share dengan bantuan LKS?”.
Pembahasan ini
sebelumnya telah
dilakukan melalui sebuah penelitian.
METODE PENELITIAN
Untuk menjawab permasalahan di
atas telah dilakukan penelitian kuasi
eksperimen. Dengan model rancangan
yang digunakan adalah Randomized
Control Group Only Design. Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa kelas
VIII.2 sampai kelas VIII.7 SMP Negeri 34
Padang yang terdaftar tahun pelajaran
2011/2012. Cara pengambilan sampel
dengan random sampling, dengan kelas
VIII.2 sebagai kelas eksperimen dan
VIII.5 sebagai kelas kontrol. Jenis data
dalam penelitian ini ada dua yaitu data
primer dan sekunder. Data primer adalah
hasil belajar matematika siswa yang
bersumber dari siswa kelas eksperimen
dan siswa kelas kontrol. Data sekunder
adalah nilai ujian mid semester 1
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri
34 Padang tahun pelajaran 2011/2012.
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini berupa soal tes hasil belajar
siswa, lembar observasi yang dihitung
persentase aktivitas belajar siswa dalam
16
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
HASIL PENELITIAN
Data tentang hasil belajar diperoleh
dari tes yang dilaksanakan pada kelas
eksperimen yang berjumlah 32 siswa dan
kelas kontrol berjumlah 30 siswa. Hasil
perhitungan berupa hasil analisi data tes
akhir yang dapat dilihat pada Tabel 1
berikut :
PEMBAHASAN
Dalam
bagian
ini
dibahas
pendiskripsian dari instrumen penelitian
yang digunakan yaitu lembar observasi
aktivitas belajar siswa. Aktivitas siswa
yang diamati adalah aktivitas positif yang
muncul setiap pertemuan. Data aktivitas
siswa pada kelas eksperimen selama
pelaksanaan penelitian diperoleh melalui
lembar observasi. Pengamatan dilakukan
pada pertemuan I sampai dengan
pertemuan VII.
1). Mengajukan pertanyaan kepada guru
Aktivitas siswa yang mengajukan
pertanyaan kepada guru, diamati selama
proses
pembelajaran
berlangsung.
Persentase aktivitas dapat digambarkan
sebagai berikut :
Persentase
setiap pertemuan dan lembar kerja siswa
sebagai fasilitas penunjang penelitian
yang diberikan setiap kali pertemuan.
Prosedur penelitian yang dilakukan
terdiri dari (1) tahap persiapan; (2) tahap
Pelaksanaan; (3) tahap penyelesaian.
Adapun langkah yang sudah dipersiapkan
sampai pada saat pelaksanaan penelitian
yaitu; menetapkan sekolah dan observasi,
mengumpulkan data, menetapkan jadwal,
mengurus surat izin, menentukan kelas
sampel,
mempersiapkan
perangkat
pembelajaran, media pembelajaran, soal
tes akhir berupa soal essay yang
sebelumnya sudah divalidasi.
60
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Persentase
Kelas
N
Eksperi
men
32
72,03
90
45
65
43
Kontrol
30
65,83
90
40
35
57
< 70
Tabel 1. Hasil Analisis Data Tes Akhir
Berdasarkan data pada Tabel 1
diketahui bahwa rata-rata nilai matematika
untuk kelas eksperimen adalah 72,03 dan
65,83 untuk kelas kontrol. Nilai tertinggi
di kelas eksperimen yaitu 90 dan kelas
kontrol 90. Sedangkan nilai terendah
untuk kelas eksperimen yaitu 45 dan kelas
kontrol yaitu 40. Simpangan baku untuk
kelas eksperimen 11,2 dan kelas kontrol
12,3 dengan arti kata bahwa kelas
eksperimen mempunyai penyebaran data
lebih kecil dibanding kelas kontrol.
Dilihat
dari
persentasenya
kelas
eksperimen mempunyai persentase lebih
tinggi.
Gambar 1. Persentase Siswa yang
Mengajukan Pertanyaan Kepada Guru
Dari gambar di atas, pada pertemuan
pertama
siswa
yang
mengajukan
pertanyaan kepada guru sedikit yaitu
13,33% karena siswa banyak yang telah
paham mengenai luas permukaan kubus
dan pada pertemuan kedua naik menjadi
17,24%,
disini
kesulitan
siswa
menentukan luas permukaan balok. Pada
pertemuan ketiga kembali mengalami
penurunan menjadi 14,28% karena siswa
sudah banyak yang memahami mengenai
volume kubus dan balok. Pada pertemuan
keempat kembali mengalami kenaikan
menjadi 28,57%. Kesulitan yang mereka
temukan
menentukan
rumus
luas
permukaan prisma tegak. Pertemuan
kelima mengalami penurunan menjadi
21,87%. Pertemuan keenam dan ketujuh
aktivitas siswa mengajukan pertanyaan
17
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
Persentase
Persentase
aktivitas
siswa
memberikan
tanggapan
atas
pertanyaan/pernyataan
guru
atau
temannya dapat digambarkan sebagai
berikut :
20
10
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 2. Persentase Siswa yang
Memberikan Tanggapan
Berdasarkan gambar diatas, terlihat
bahwa
persentase
aktivitas
siswa
memberikan
tanggapan
terhadap
penjelasan guru yang paling tinggi adalah
pada pertemuan ketiga dan keempat. Pada
pertemuan
pertama,
siswa
yang
memberikan
tanggapan
terhadap
penjelasan guru masih 6,66%. Siswa
terlihat ragu-ragu untuk menyatakan
pendapatnya. Pada pertemuan kedua,
aktivitas
siswa
yang
memberikan
tanggapan naik menjadi 10,34%, siswa
menyampaikan
pendapatnya
dalam
menemukan luas permukaan balok. Pada
pertemuan ketiga dan keempat, persentase
aktivitas siswa bertambah 7,51% dari
pertemuan sebelumnya. Sedangkan, pada
pertemuan kelima dan keenam aktivitas
siswa menurun menjadi 12,5% dan 9,37%.
Pada
pertemuan
ketujuh
kembali
meningkat
menjadi
16,12%.
Dari
gambaran diatas terlihat bahwa siswa
mengalami kesulitan pada pertemuan
ketiga, keempat dan ketujuh yaitu pada
materi volume kubus dan balok, luas
permukaan prisma dan volume limas.
Persentase
aktivitas
siswa
mencatat/menyalin penjelasan guru dapat
digambarkan sebagai berikut:
Persentase
2). Memberikan Tanggapan
3). Mencatat / menyalin penjelasan guru
100
50
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 3. Persentase Siswa yang
Mencatat/Menyalin Penjelasan Guru
Berdasarkan gambar diatas, aktivitas
menyalin penjelasan guru pada pertemuan
pertama sebesar 26,66% dan pertemuan
kedua meningkat menjadi 34,48%. Pada
pertemuan ketiga aktivitas siswa menurun
5,91% dibanding sebelumnya. Pada
pertemuan ini ditemukan siswa yang
mengerjakan pekerjaan selain matematika.
Pertemuan keempat aktivitas siswa
meningkat 14,28% dari pertemuan
sebelumnya. Pada pertemuan kelima
hingga pertemuan ketujuh aktivitas siswa
yang mencatat terus meningkat hingga
67,74%.
4). Menyelesaikan soal yang diberikan
secara individu
Persentase aktivitas siswa yang
mengerjakan soal secara individu untuk
menyelesaikan
permasalahan
yang
diberikan di LKS dapat dilihat pada
gambar berikut ini :
Persentase
kembali meningkat menjadi 43,75% dan
48,38%.
Berdasarkan
pertanyaanpertanyaan siswa yang muncul terlihat
bahwa siswa masih kesulitan dalam
membedakan tinggi limas dengan tinggi
bidang tegak limas.
100
50
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar
4.
Persentase
Siswa
Menyelesaikan Soal Secara Individu
18
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
Persentase
5). Berdiskusi dengan pasangan
Aktivitas siswa berdiskusi dengan
pasangannya dapat digambarkan sebagai
berikut :
100
50
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 5. Persentase Siswa Berdiskusi
dengan Pasangannya
Berdasarkan gambar diatas terlihat
bahwa aktivitas berdiskusi dengan
pasangannya pada pertemuan pertama
sebesar 66,66%. Pada pertemuan pertama
siswa masih ada yang tidak mau bekerja
sama
dengan
pasangannya.
Pada
pertemuan
kedua,
aktivitas
siswa
berdiskusi
dengan
pasangannya
meningkat 9,2%. Hal ini menunjukkan
siswa mau berbagi dengan pasangannya.
Pada pertemuan ketiga, aktivitas siswa
meningkat dari pertemuan sebelumnya
sebesar 2,71%. Aktivitas siswa semakin
meningkat pada pertemuan keempat
sebanyak 7,14% dari pertemuan ketiga,
dimana siswa yang masih kurang
memahami konsep luas permukaan limas
dapat berdiskusi dengan pasangannya.
Akan tetapi, pada pertemuan kelima
aktivitas berdiskusi siswa mulai berkurang
sebesar 7,59%. Pada pertemuan keenam
kembali meningkat sebesar 3,13% dari
pertemuan kelima. Pada pertemuan
ketujuh aktivitas berdiskusi siswa
meningkat 2,62%.
6). Bertanya kepada pasangannya
Aktivitas siswa yang bertanya
kepada pasangannya dapat digambarkan
sebagai berikut :
Persentase
Berdasarkan gambar diatas, terlihat
persentase siswa yang mengerjakan soal
pada LKS secara individu cukup besar.
Pada pertemuan pertama sebagian siswa
sudah bekerja secara individu, tetapi
masih ada juga siswa yang bertanya pada
temannya. Pada pertemuan kedua sedikit
menurun 4,37%. Pada pertemuan ketiga
aktivitas siswa mengerjakan LKS secara
individu meningkat menjadi 78,57%,
dimana sebagian besar siswa mampu
menggunakan rumus volume kubus dan
balok. Pada pertemuan keempat aktivitas
siswa menurun 14,29%. Ini menunjukkan
perubahan yang sangat besar. Siswa
kesulitan dalam menggunakan rumus luas
permukaan prisma. Hal yang sama juga
terjadi pada pertemuan kelima, siswa
kesulitan untuk menggunakan rumus luas
permukaan limas, sehingga ditemukan
siswa
yang
berdiskusi
dengan
pasangannya. Pada pertemuan keenam
aktivitas siswa meningkat dari pertemuan
kelima sebesar 3,13%. Pada pertemuan
ketujuh, aktivitas siswa menurun 1,21%
dari pertemuan keenam.
80
60
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 6. Persentase Siswa Bertanya
Kepada Pasangannya
Berdasarkan
gambar
diatas,
persentase
aktivitas
mengajukan
pertanyaan kepada pasangan cenderung
mengalami
peningkatan
setiap
pertemuannya kecuali pada pertemuan
kedua. Pada pertemuan pertama aktivitas
siswa yang
mengajukan pertanyaan
kepada pasangannya sebesar 23,33%.
Aktivitas ini menurun 2,65% pada
pertemuan kedua. Hal ini disebabkan
siswa banyak yang bertanya langsung
kepada guru. Pada pertemuan ketiga
mengalami peningkatan sebesar 7,89%.
19
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
60
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 7. Persentase Siswa Menanggapi
Pertanyaan Pasangannya
Pada gambar di atas terlihat bahwa
aktivitas
siswa
yang
menanggapi
pertanyaan
pasangannya
mengalami
peningkatan dari pertemuan pertama
hingga pertemuan keempat. Pertemuan
pertama aktivitas siswa menanggapi
pertanyaan pasangannya sebesar 16,66%.
Pada pertemuan kedua masih tetap sama
dengan
pertemuan
sebelumnya.
Peningkatan terjadi pada pertemuan ketiga
sebesar 4,18%. Pertemuaan keempat
kembali mengalami peningkatan sebesar
10,72%. Pada pertemuan kelima aktivitas
siswa
menanggapi
pertanyaan
pasangannya menurun sebesar 4%.
Pertemuan keenam kembali meningkat
menjadi 34,37% dan pertemuan ketujuh
meningkat lagi menjadi 38,7%
8). Menanggapi penjelasan kelompok
yang tampil
Persentase
Aktivitas siswa yang menanggapi
penjelasan kelompok yang tampil dapat
digambarkan sebagai berikut :
40
20
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 8. Persentase Siswa Menanggapi
Penjelasan Kelompok yang Tampil
Berdasarkan
gambar
diatas
persentase
aktivitas
siswa
yang
menanggapi penjelasan kelompok yang
tampil selalu meningkat pada setiap
pertemuan. Pada pertemuan pertama
persentase siswa yang menanggapi hanya
6,66%. Pertemuan kedua aktivitas
menanggapi meningkat 7.13% dan
pertemuan ketiga persentase aktivitas
menanggapi hanya naik 0,49%. Pada
pertemuan keempat persentase aktivitas
menanggapi siswa naik menjadi 21,42%.
Siswa banyak menanggapi mengenai luas
permukaan
limas
yang
telah
ditemukannya. Pada pertemuan kelima
aktivitas siswa menurun 5,8% dan
pertemuan keenam juga turun sebanyak
3,12%. Pada pertemuan ketujuh aktivitas
siswa meningkat sebesar 3,62%.
9). Mengajukan pertanyaan kepada
kelompok yang tampil
Aktivitas siswa yang mengajukan
pertanyaan kepada kelompok yang tampil
dapat digambarkan sebagai berikut :
Persentase
Persentase
Pertemuan keempat meningkat menjadi
39,28%, hal yang banyak ditanyakan
siswa adalah rumus bangun datar untuk
mencari luas permukaan prisma tegak.
Pertemuan kelima mengalami peningkatan
sebesar 4,47%. Siswa masih kesulitan
dalam membedakan tinggi limas dengan
tinggi bidang tegak limas untuk mencari
luas permukaan limas. Pada pertemuan
keenam aktivitas siswa bertanya kepada
pasangannya meningkat menjadi 53,12%
dan pertemuan ketujuh mengalami
peningkatan sebesar 4,94%.
7). Menanggapi pertanyaan pasangannya
Aktivitas siswa yang menanggapi
pertanyaan
pasangannya
dapat
digambarkan sebagai berikut :
30
20
10
0
1
2
3
4
5
6
7
Pertemuan ke-
Gambar 9. Persentase Siswa yang
Mengajukan
Pertanyaan
Kepada
Kelompok yang Tampil
20
Vol. 1 No. 1 (2012) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21
Berdasarkan gambar diatas, terlihat
aktivitas
siswa
yang
mengajukan
pertanyaan pada tahap sharing mengalami
peningkatan di setiap pertemuannya.
Aktivitas tertinggi terjadi pada pertemuan
ketujuh. Pertemuan pertama hanya 10%
siswa yang mengajukan pertanyaan pada
kelompok yang tampil. Pada pertemuan
kedua dan ketiga persentase aktivitas
siswa sama dengan sebelumnya, meskipun
ada kenaikan persentasenya sangat kecil.
Pada pertemuan keempat aktivitas siswa
mengajukan pertanyaan kepada kelompok
yang tampil menjadi 17,85%. Pertemuan
kelima persentase meningkat sebesar 1%,
disini siswa banyak bertanya tentang
tinggi yang digunakan untuk menentukan
luas permukaan limas. Pada pertemuan
keenam dan ketujuh persentase meningkat
menjadi 25%.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan di atas, disimpulkan
bahwa hasil belajar matematika siswa
dengan menggunakan model kooperatif
tipe Think Pair Share dengan bantuan
LKS lebih baik dari hasil belajar
matematika siswa yang menggunakan
pembelajaran konvensional dan juga
aktivitas belajar siswa pada kelas
eksperimen dengan menggunakan model
kooperatif tipe Think Pair Share dengan
bantuan LKS cenderung mengalami
peningkatan yang cukup baik. Dengan
menggunakan model kooperatif tipe Think
Pair Share aktifitas-aktifitas negatif siswa
dapat berkurang dan berangsur-angsur
tidak terlihat. Hal ini dapat dilihat dari
persentase aktivitas siswa yang diamati
selama proses pembelajaran.
Kesimpulan di atas, maka disarankan
beberapa hal. Pertama, guru bidang studi
matematika
diharapkan
dapat
menggunakan model kooperatif tipe Think
Pair Share sebagai alternatif untuk
meningkatkan aktivitas dan pemahaman
konsep matematika siswa serta dapat
meningkatkan hasil belajar sisw. Kedua,
peneliti lain yang ingin melanjutkan
penelitian ini diharapkan dapat melakukan
penelitian yang lebih luas cakupannya.
REFERENSI
[1].Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian
(Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta:
Rineka Cipta
[2].Fogarty dan Robin. 1996. Think/Pair/Share. [online].
Tersedia:
www.Broward
kl2.fl.us/Ci/Whatsnew/strategies and
such/ strategies/thinkpairshare. html [2
November 2009]
[3].Ibrahim,
[4].Lie,
Muslimin dkk. 2000. Pembelajaran
Kooperatif.
Surabaya:
UNESA
University Press
Anitas. 2002. Cooperative Learning,
“Mempraktikan Cooperatif Learning
Di Ruang-Ruang Kelas.Jakarta: PT
Gramedia Widasarana Indo
[5].Suherman, Herman. 2003. Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer. Bandung :
JICA-Universitas
Pendidikan
Indonesia.
21
Download