V. ANALISIS KEBIJAKAN DAN PERATURAN

advertisement
54
V. ANALISIS KEBIJAKAN DAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN DALAM PEMBERANTASAN ILLEGAL LOGGING
DI INDONESIA
5.1. Pendahuluan
Praktek IL merupakan masalah kejahatan di bidang kehutanan
(forest crime) yang menyebabkan degradasi hutan dan menghilangkan
beragam nilai manfaat hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat
dan
lingkungan
hidupnya.
Rosander
(2008)
menyebutkan
bahwa
walaupun penutupan lahan hutan di Asia selama kurun waktu 2000-2005
bertambah akibat peningkatan luas hutan tanaman, tetapi penebangan
hutan alam terus berjalan. Penurunan penutupan lahan hutan di Asia
dalam kurun waktu tersebut mencapai 2,8 juta ha atau 2% per tahun.
Kehilangan hutan alam tropis tertinggi terjadi di Indonesia (1,87 juta ha
atau 2% per tahun), selanjutnya diikuti oleh Myanmar (0,47 juta ha atau
1,4% per tahun), Kamboja (0.22 juta ha atau 2% per tahun), Filipina (0,16
juta ha atau 2,1%), Malaysia (0,14 juta ha atau 0,7%), dan Republik
Demokrasi Korea (0,13 juta ha atau 1.97%)(FAO, 2007). Cifor (2008)
menyebutkan
bahwa
akibat
kegiatan
kehutanan
ilegal
tersebut
menyebabkan lahan kritis di kawasan hutan. Lahan hutan yang
terdegradasi di Indonesia mencapai 96,3 juta ha yang selain diakibatkan
oleh praktek IL, juga oleh kebakaran hutan, perambahan hutan, konversi
hutan untuk penggunaan non kehutanan, serta perluasan lahan pertanian
yang ekstensif. Hampir 54,6 juta ha dari 96,3 juta ha lahan hutan yang
terdegradasi di Indonesia merupakan kawasan hutan produksi, hutan
lindung, dan hutan konservasi (Cifor, 2008).
Untuk
menanggulangi
permasalahan
IL,
pemerintah
telah
mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menanggulanginya. Pada tahun
2005, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005
tentang Pemberantasan Penebangan Kayu secara Ilegal Di Kawasan
Hutan dan Peredarannya di Indonesia. Instruksi Presiden tersebut
menekankan tentang pentingnya koordinasi diantara institusi/lembaga
pemerintahan dalam memberantas kegiatan penebangan liar. Selain itu
55
beberapa kegiatan represif pemberantasan IL dilakukan, misalnya Operasi
Wana Jaya, Operasi Wana Laga, Operasi Wana Bahari, Operasi Hutan
Lestari (OHL) I, Operasi Hutan Lindung (OHL) II, Operasi Hutan Lestari
(OHL) III. Syarief (2009) menyebutkan bahwa kegiatan operasi wanalaga
telah menangkap 1.031 kasus dan kegiatan operasi wana bahari berhasil
menangkap 971 kasus. Namun sayangnya kedua operasi tersebut tidak
ada yang sampai ke pengadilan. Pada tahun 2003 operasi wana bahari
berhasil menangkap 15 kapal pemuat kayu ilegal dan hanya satu yang
dilimpahkan ke pengadilan (Syarif, 2009).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai kebijakan
berupa peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum
dalam pemberantasan praktek IL di Indonesia.
5.2. Metode Analisis Kebijakan Pemberantasan Illegal logging
a. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder
berupa peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum
pengaturan pengelolan hutan di Indonesia serta kebijakan pemberantasan
praktek IL di Indonesia, meliputi : undang-undang, peraturan pemerintah,
dan instruksi presiden, yang terkait dengan kebijakan pemberantasan IL di
Indonesia. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kebijakan
pemberantasan IL yang dianalisis merupakan peraturan perundangundangan yang bersifat lex specialis dan juga lex generalis yang terkait
dengan
upaya-upaya
pemberantasan
IL
di
Indonesia.
Peraturan
perundang-undangan yang bersifat lex specialis sebagai dasar hukum
pemberantasan IL di Indonesia yaitu : Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan
Pemerntah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan, Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan, Inpres
Nomor 4 Tahun 2005 Tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara
Ilegal Di KawasanHutan Dan Peredarannya Di Seluruh Wilayah Republik
56
Indonesia. Adapun peraturan perundang-undangan yang bersifat lex
generalis dan memiliki keterkaitan dengan pemberantasan IL di Indonesi
yaitu : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undangundang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, Undang-undang
No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang
selanjutnya disempurnakan dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001,
Undang-undang No. 20 tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undangundang No.31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang, Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2003 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 Tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang, serta Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 127 Tahun 1999 tentang Pembentukan Komisi Pemeriksaan
Kekayaan Penyelenggara Negara dan Sekretariat Jenderal Komisi
Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara
Sumber data diperoleh dari beberapa instansi/lembaga yang
berkaitan langsung dengan kebijakan pemberantasan IL di Indonesia,
seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan,
Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI), Departemen Kehutanan,
Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi,
Pusat Informasi Kehutanan Provinsi Jambi, Badan Perencanaan Daerah
Provinsi Jambi, dan EC-FLEGT (EC-Indonesia Forest Law Enforcement,
Governance and Trade). Penelusuran peraturan perundang-undangan
terkait dengan pemberantasan IL di Indonesia dilakukan pula dengan
menggunakan fasilitas penelusuran (browsing) melalui internet.
b. Analisis Data
Muhadjir (2000) mengemukakan bahwa analisis kualitatif yang
relevan untuk penelitian bidang hukum adalah berdasarkan pendekatan
teori kritis di bidang hukum. Pendekatan kritis di bidang hukum tidak
hanya menelaah isi (content analysis) tetapi juga melakukan kritik
57
terhadap teori dan praktek dari peraturan perundang-undangan yang ada
secara
deskriptif,
sehingga
mampu
menggambarkan
fenomena
implementasi kebijakan dan peraturan perundangan tersebut. Muhadjir
(2000) mengemukakan tahapan dalam pendekatan kritis kajian hukum
dan perundang-undangan, yaitu : (a) mengadakan kritik terhadap teori dan
praktek dari peraturan perundang-undangan yang ada, (b) membangun
konstruksi teoritik yang baru, (c) dari kontruksi teori baru dituangkan dalam
program institusional sebagai pijakan pengembangan kelembagaan, dan
(d) menelaah implikasi peraturan perundang-undangan baik berupa
konsekuensi logis internal maupun eksternalnya. Hasil analisis kritis
tersebut dijadikan dasar dalam mengkaji apakah peraturan perundangundangan yang selama ini digunakan dalam pengaturan pengelolaan
hutan dan pemberantasan IL sudah efektif dalam mengendalikan
permasalahan IL di Indonesia.
5.3. Hasil dan Pembahasan Kebijakan Pemberantasan IL di Indonesia
Praktek IL di Indonesia merupakan tindak pidana kehutanan. Pandor
(2008) mendefinisikan tindak pidana kehutanan sebagai segala bentuk
tindakan/perbuatan yang dapat dipidana /dikenakan hukuman yang
berkaitan dengan pengurusan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan.
Lebih lanjut Pandor (2008) menjelaskan bahwa kaitan yang dimaksud
adalah dalam artian memberi dampak negatif terhadap sistem pengurusan
hutan dan menyebabkan kerusakan terhadap hutan sebagai sebuah
ekosistem penyanggga kehidupan. Tindak pidana kehutanan termasuk
dalam tindak pidana khusus. Nurdjana et.al. (2005) menyebutkan bahwa
kriteria yang dapat menunjukkan pidana khusus, yaitu : (a) orangorangnya atau subyeknya yang khusus; dan (b) perbuatannya yang
khusus (bijzonder lijk feiten). Berdasarkan dua kriteria tersebut, maka
perbuatan IL dikategorikan sebagai tindak pidana khusus yang dalam
kategori hukum pidana perbuatannya khusus, yaitu menyangkut delikdelik kehutanan terutama masalah pengelolaan dan pemanfaatan hasil
hutan.
58
Perbuatan IL dalam kenyataannya terkait dengan kegiatan-kegiatan
lainnya di luar pengelolaan hutan. Dalam hal ini, perbuatan IL secara
instrinsik tidak bisa dipisahkan dari kegiatan perdagangan kayu ilegal,
sehingga permasalahan IL secara menyeluruh akan menyangkut tindak
pidana ekonomi termasuk di dalamnya tindak pidana ekonomi pencucian
uang.Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan
IL di Indonesia disajikan pada Gambar 5.
Peraturan Perundang-Undangan terkait
Pemberantasan Illegal Logging di Indonesia
Peraturan Perundang-Undangan Bersifat
Lex Specialis
•
•
•
•
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya
Peraturan Pemerntah Nomor 45 Tahun 2004
tentang Perlindungan Hutan
Inpres Nomor 4 Tahun 2005 Tentang
Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Ilegal
Di KawasanHutan dan Peredarannya di Seluruh
Wilayah Republik Indonesia
Peraturan Perundang-Undangan Bersifat
Lex Generalis
•
•
•
•
•
•
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang
selanjutnya disempurnakan dengan UndangUndang No. 20 tahun 2001.
Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang
Perubahan atas Undang-undang No.31 tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003
tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang
Dasar Hukum Penindakan
Kegiatan Illegal Logging
Gambar 5 . Peraturan Perundang-undangan Pemberantasan
Illegal logging di Indonesia
Gambar 5 menunjukkan bahwa peraturan hukum yang ada
sebenarnya dapat digunakan untuk menjerat pelaku IL dan jaringannya.
Istilah tindak pidana yang diambil dari istilah strafbaarfeit yang terdapat
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda (Wetbook van
Strafrecht), yang kemudian sebagian besar materinya menjadi Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia (KUHP) dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1981. Pandor (2008) menyebutkan bahwa
59
pengertian straftbaafeit diartikan dapat diartikan ke dalam beberapa
istilah, yaitu tindak pidana, perbuatan pidana, perbuatan yang dapat
dihukum, delik dan sebagainya. Namun dalam peraturan perundangundangan istilah yang lebih sering digunakan adalah tindak pidana. Pasal
1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menyatakan bahwa tidak
ada satu perbuatan dapat dipidana, melainkan atas kekuatan ketentuan
dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan itu terjadi.
Tindak pidana digolongkan dalam dua kelompok yaitu kejahatan dan
pelanggaran.
Di dalam KUHP tidak ditemukan secara khusus tentang tindak
pidana kehutanan, sehingga tindak pidana kehutanan dapat dianggap
sebagai perkembangan baru dalam hukum pidana Indonesia yang
kemudian diatur dalam beberapa undang-undang yang dibuat kemudian,
seperti Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ketentuan-ketentuan
pidana yang ada di dalam undang-undang tersebut adalah peraturanperaturan khusus terkait Tindak Pidana Kehutanan yang sebelumnya tidak
diatur dalam Undang-Undang Pidana Umum (KUHP).
Ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 78 ayat (1) sampai
dengan ayat (15) dan pasal 79 ayat (1) sampai dengan (3), serta ganti tugi
dan sanksi administratif yang diatur dalam pasal 80 ayat (1) sampai
dengan (3) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
biasa dipergunakan dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
berkenaan dengan IL di Indonesia. Proses penyidikan dan penyusunan
dakwaan yang cenderung hanya menggunakan pasal-pasal yang ada
dalam undang-undang kehutanan tersebut menyebabkan banyaknya
terdakwa yang dibebaskan, padahal tindak pidana kehutanan ada kalanya
berkorelasi dengan tindak pidana korupsi yang merugikan negara. Dalam
hal ini Alkostar (2009) menyarankan digunakannya pasal 2 dan atau pasal
3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
60
Pidana Korupsi yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 sebagaimana telah diterapkan dalam perkara IL yang
melibatkan terdakwa Adelin Lis di Sumatera Utara.
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan memiliki
kelemahan dalam menjerat pelaku tindak pidana IL. Masduki (2009)
menyebutkan
bahwa
pendekatan
hukum
dalam
undang-undang
kehutanan tersebut bersifat locus delicti , yaitu (a) menangkap pelaku di
lapangan, padahal kejahatan Illegal logging dilakukan secara sistematis
dan berlapis sehingga sulit menjerat pelaku utama (Pasal 50 ayat 3 UU
41/1999 menduduki kawasan hutan, menebang, membawa, menguasai,
memiliki, mengangkut hasil hutan tanpa izin yang sah); serta (b) tidak
mendefinisikan Illegal logging, sehingga dalam praktek penebangan liar
hanya diartikan secara sempit yaitu penebangan pohon yang tidak ada
izin, padahal dalam praktik IL dilakukan pula oleh mereka yang punya ijin.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk menjerat pelaku IL tidak
hanya dengan undang-undang kehutanan saja, tetapi dengan ketentuan
pidana sebagaimana dideskripsikan dalam Lampiran 1, termasuk
menerapkan undang-undang pemberantasan korupsi dan undang-undang
pencucian uang dalam kasus IL. Undang-undang yang mengatur
kehutanan sendiri perlu direvisi atau disusun undang-undang khusus
tentang pemberantasan IL yang bertujuan untuk : (a) memperkuat sanksi
pidana terhadap praktek IL; (b) meminimalisir vonis bebas dengan alasan
pembalak liar hanya dapat dijerat sanksi administratif; serta (c) menjerat
kejahatan Illegal logging yang sistematis dan berlapis, dan terkait dengan
kejahatan lain (Masduki, 2009). Kelemahan dalam undang-undang
kehutanan sebagaimana disebutkan Masduki (2009) kurang memberikan
efek jera terhadap pelaku IL walaupun dampak negatifnya sangat besar
terhadap kehidupan manusia dan ekosistemnya. Mengingat dampaknya
yang mengancam kelangsungan kehidupan manusia, maka tindakan IL
dapat dikategorikan sebagai tindak pidana kejahatan yang luar biasa
(extra ordinary crime) yang pemberantasannya tidak hanya mengacu
61
kepada undang-undang kehutanan saja tetapi harus dikaitkan dengan
peraturan perundang-undangan lainnya.
Sejauh ini sebenarnya perangkat peraturan perundang-undangan
yang ada apabila ditegakkan akan memberikan efek jera (detterent effect)
terhadap pelaku IL, termasuk pejabat pemerintah yang terlibat di
dalamnya. Pengembangan upaya pemberantasan IL sampai diluar
peraturan teknis kehutanan disebabkan bahwa praktek IL terkait dengan
kegiatan di sektor lainnya, seperti perdagangan, perindustrian, dan
lembaga keuangan. Oleh karena itu di dalam proses penegakan hukum
pemberantasan IL, mulai tahapan proses penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutannya selain menggunakan undang-undang kehutanan juga
undang-undang lainnya seperti undang-undang yang mengatur tentang
lingkungan hidup, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya,
pemberantasan tindak pidana korupsi, dan tindak pidana pencucian uang.
Dengan adanya tuntutan hukum yang berlapis tersebut dapat menjerat
pelaku IL mulai dari pelaku di lapangan sampai dengan pelaku intelektual
dan pemodalnya.
Volume dan ukuran kayu ilegal yang besar dan kasat mata tidak
mungkin tidak bisa dilihat dengan kasat mata, sehingga kayu tidak
mungkin lolos apabila tidak terjadi kolusi diantara pelaku dengan oknum
aparat teknis dan aparat penegak hukum. Kolusi di dalam praktek IL
dilakukan
dengan
memberikan
gratifikasi
kepada
oknum
pejabat
pemerintah dengan dokumen legalitas kayu dan oknum aparat hukum.
Kishor (2006) menggambarkan hubungan antara praktek IL dengan
korupsi sebagaimana disajikan pada Gambar 6. Gambar 6 tersebut
menunjukkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada tahun
2002 menduduki peringkat ketujuh negara terkorup dari 102 negara
dengan skor IPK 1,9 dari nilai tertinggi 10 untuk negara yang bebas
korupsi. Fakta ini menunjukkan bahwa upaya pemberantasan IL tidak
akan efektif apabila tingkat korupsi dan kolusi masih tetap tinggi,
sehinggga upaya untuk menjerat jaringan pelaku IL tidak hanya
berdasarkan atas peraturan perundang-undangan kehutanan saja tetapi
62
juga harus dapat dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan
lainnya, seperti tentang lingkungan hidup, pemberantasan korupsi, bea
cukai, dan pencucian uang.
Gambar 6 . Hubungan antara IL dengan Korupsi (Kishor,2006)
Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberantasan
IL di Indonesia tampaknya cukup memadai untuk digunakan sebagai
perangkat hukum untuk menjerat pelaku IL, mulai dari tindakan hukum
terhadap pelanggaran di dalam kawasan hutan sampai dengan tindakan
hukum terhadap pelanggaran di luar wilayah kehutanan namun tetap
terkait sebagai kegiatan turunannya, misalnya pencucian uang hasil IL.
Walaupun aturan hukumnya telah cukup tersedia, tetapi tidak akan efektif
dijalankan apabila sisi penegakan hukum (law enforcement) dan penaatan
hukum (law compliance) tidak berjalan. Pada saat penegakan hukum
pemberantasan IL dilakukan, maka persepsi dan interpretasi diantara
aparat hukum yang disebut criminal justice system belum sepenuhnya
sama terhadap pasal-pasal yang akan digunakan untuk memvonis pelaku
IL, sehingga di tingkat pengadilan banyak pelaku IL divonis bebas atau
dihukum ringan yang tidak sebanding dengan nilai resiko lingkungan yang
ditimbulkannya. Dengan demikian pengaturan tentang hukuman minimal
yang bisa memberikan efek jera harus ditetapkan secara tegas. Selain itu
pemberian sanksi secara kumulatif berdasarkan peraturan perundangundangan yang terkait IL merupakan pendekatan hukum yang segera bisa
dilaksanakan sebelum aturan hukum yang mengatur sanksi minimal bagi
63
pelaku IL ditetapkan. Penetapan sanksi minimal bagi pelaku IL harus
mempertimbangkan kondisi sosiologis masyarakat, sehingga efek jera
dapat
tercapai
yang
diindikasikan
dengan
meningkatnya
tingkat
penaataan hukum (law compliance) pelaku usaha kehutanan, masyarakat,
birokrasi kehutanan, penegak hukum, dan pemangku kepentingan lainnya.
Praktek kolusi dan korupsi berperan pula dalam mereduksi penaatan
hukum, dimana setiap pelanggaran hukum dapat dikompromikan dengan
memberikan gratifikasi kepada oknum pejabat terkait. Tidak berjalannya
kebijakan dan peraturan hukum dalam pemberantasan IL di Indonesia
dapat disebabkan oleh salah satu atau beberapa faktor berikut ini
(Rosander, 2008):
a. Kerangka kebijakan dan hukum cacat. Kebijakan dan aturan yang
dibuat secara teknis tidak realistik, tidak diterima secara sosial, tidak
konsisten, atau terjadi konflik kepentingan antar sektor pada saat
proses legislasinya;
b. Keterbatasan
kapasitas
untuk
menegakkan
kebijakan
atau
Keterbatasan
sumberdaya
mengimplementasikan
aturan
manusia,
yang
telah
keuangan,
dan
atau
ditetapkan.
kapasitas
manajemen untuk menjamin penaatan hukum (law compliance) dapat
dilaksanakan secara efektif;
c. Data dan informasi tentang sumberdaya hutan dan operasi IL tidak
tersedia dengan baik, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan
yang tepat dalam memonitor praktek IL;
d. Korupsi dan kurangnya transparansi dalam tata kelola kehutanan,
termasuk kurangnya tekanan kelompok sipil dalam memonitor
pelaksanaan tata kelola kehutanan yang baik;
e. Kebutuhan kayu murah yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan
industri yang kapasitas terpasangnya lebih tinggi dari ketersediaan
pasokan bahan baku kayunya.
Selain aturan hukum di tingkat pusat, pengembangan sistem hukum
kelembagaan di tingkat lokal perlu didorong. Hal ini penting dilakukan
karena apabila masyarakat di tingkat lokal memiliki atau memahami
64
bagaimana sumberdaya hutannya dikelola, dijaga, dan dilindungi dengan
baik, maka perusakan sumberdaya hutan dapat ditekan. Apresiasi
terhadap keberadaan sumberdaya hutan yang diwujudkan dengan
penataan kelembagaan masyarakat di tingkat lokal perlu diefektifkan. Di
Provinsi Jambi khususnya di Kabupaten Soralangun, beberapa desa di
Kecamatan Limun telah mengeluarkan peraturan desa (Perdes) tentang
Pengelolaan Hutan Adat. Empat desa yang memiliki Perdes tentang
Pengelolaan Hutan Adat adalah : Desa Napal Melintang, Desa Lubuk
Bedorong, Desa Meribung, Desa Mersip. Keempat perdes tersebut
memuat beberapa materi yang meliputi : (a) luas, batas, dan fungsi hutan
adat; (b) asas pengelolaan, pemanfaatan, dan perijinan; (c) pengelolaan
dan pemanfaatan hutan adat; (d) pemanfaatan hasil hutan kayu di hutan
adat; (e) pemanfaatan hasl hutan bukan kayu di hutan adat; (e) tatacara
perijinan; (f) kelompok pengelola, masa jabatan, dan tugas kelompok
pengelola; (g) bungo kayu dan peruntukannya; (h) peran serta
masyarakat; serta (i) larangan, sanksi, dan penyelesaian pelanggaran.
Setiap desa memiliki aturan adat yang berbeda. Sebagai contoh beberapa
hal penting yang diatur dalam Peraturan Desa Lubuk Bedorong Nomor 2
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Hutan Adat adalah sebagai berikut :
a. Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Adat
(1) Untuk kebutuhan perorangan pemanfaatan kayu di hutan adat
hanya diperbolehkan untuk bahan ramuan rumah dan bahan
ramuan membangun bilik padi yang lokasinya di Desa Lubuk
Bedorong;
(2)
Untuk kebutuhan umum di desa pemanfaatan kayu di hutan adat
hanya diperbolehkan untuk bahan bangunan mesjid, madrasah,
sekolah, kantor desa dan jembatan yang dikerjakan secara
swadaya oleh masyarakat.
(3)
Pengambilan untuk keperluan bahan ramuan rumah dan bahan
ramuan membangun bilik padi maksimal berjumlah 8 meter kubik;
(4)
Maksimal pengambilan kayu di hutan adat di setiap lokasi dalam
satu tahun adalah 80 meter kubik;
65
b. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu di Hutan Adat
(1) Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di hutan adat digunakan
untuk peningkatan kesejahteraan warga masyarakat Desa Lubuk
Bedorong.
(2)
Jenis hasil hutan bukan kayu yang bisa dimanfaatkan dari hutan
adat adalah rotan, damar, karas, jernang, dan tanaman obatobatan.
c. Larangan dalam kawasan Hutan Adat setiap orang dilarang:
1. melakukan kegiatan penebangan, pembakaran dan kegiatan
lainnya yang mengakibatkan rusaknya kelestarian hutan adat;
2. melakukan kegiatan pembukaan lahan baik untuk kepentingan
perkebunan dan atau pertanian;
3. memperjualbelikan lahan;
4. melakukan kegiatan pengambilan kayu untuk kepentingan bisnis
atau diperjualbelikan;
5. melakukan kegiatan penebangan kayu baik untuk diambil kayunya
maupun hasil hutan bukan kayu lainnya tanpa izin dari Kelompok
Pengelola;
6. melakukan pengambilan hasil hutan kayu ataupun hasil hutan
bukan kayu tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan oleh
kelompok pengelola;
7. melakukan kegiatan pengambilan kayu atau hasil hutan bukan kayu
yang
tidak
sesuai
dengan
tata
cara
pengambilan
seperti
dimaksudkan dalam pasal 7 dan pasal 11 (Peraturan Desa Lubuk
Bedorong Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Hutan Adat);
d. Sanksi
Pasal 20 Perdes Lubuk Bedorong Nomor 2 Tahun 2008
(1)
Setiap orang yang melanggar ketentuan pemanfaatan hasil hutan
kayu dan hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan adat di
Desa Lubuk Bedorong seperti disebutkan pada pasal 9, 10, 11,
66
12 dan 19 akan dikenakan denda secara adat sejumlah satu ekor
kambing, beras 20 gantang serta selemak semanis;
(2)
Peralatan yang digunakan dan barang bukti disita oleh kelompok
pengelola
hutan
adat
melalui
seksi
pengamanan
dan
pengawasan untuk selanjutnya diserahkan kepada pemerintah
desa;
(3)
Apabila sanksi yang telah dijatuhkan tidak dipatuhi maka
kelompok pengelola melalui pemerintah desa akan melaporkan
perbuatan pelaku kepada pihak yang berwajib;
Pasal 21 Perdes Lubuk Bedorong Nomor 2 Tahun 2008
(1)
Jika pelaku pelanggaran ketentuan pemanfaatan hasil hutan kayu
dan hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan adat
sebagaimana disebutkan pada pasal 9, 10, 11, 12 dan 19 adalah
Kelompok Pengelola, maka dendanya menjadi 2 kali lipat serta
yang bersangkutan diberhentikan dari jabatannya;
(2)
Jika pelaku pelanggaran ketentuan pemanfaatan hasil hutan kayu
dan hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan adat
sebagaimana disebutkan pada pasal 9, 10, 11, 12 dan 19 adalah
Pemerintah Desa atau Anggota BPD Desa Lubuk Bedorong atau
pengurus Lembaga Adat maka dendanya menjadi 2 kali lipat;
Dasar hukum dalam pemberantasan IL di Indonesia secara umum
sudah memadai, baik yang bersifat lex specialis maupun lex generalis.
Hukum yang tercantum dalam teks peraturan perundang-undangan
tersebut tidak akan memiliki kekuatan apabila tidak ditegakkan. Namun
penegakan hukum dalam pengendalian dan pemberantasan IL di
Indonesia sejauh ini berjalan tidak efektif dalam memberikan efek jera
terhadap pelaku IL dan jaringannya. Penegak hukum masih melihat
penegakan hukum secara tekstual, sedangkan secara kontekstual dalam
kaitannya dengan dampak negatif kegiatan IL belum terintegrasi dalam
proses penegakan hukumnya akibat masih kurangnya pemahaman
67
penegak hukum terhadap aspek kelestarian ekosistem hutan. Selain itu
tingkat ketaatan hukum (law compliance) masyarakat, pelaku usaha, serta
oknum aparat pemerintah dan oknum penegak hukum turut memberikan
kontribusi terhadap lemahnya penegakan hukum dalam pemberantasan IL
di Indonesia. Oleh karena itu hukum hanya akan memberikan manfaat
positif apabila aparat penegak hukumnya mampu untuk menegakkannya
yang dimaksimalkan sinergis dengan law compliance masyarakat.
5.4. Kesimpulan
Praktek IL merupakan kejahatan kehutanan yang berdampak negatif
secara ekologis, ekonomi, dan sosial. Pemerintah telah mengeluarkan
sejumlah kebijakan untuk memberantas praktek IL tersebut, termasuk
dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005 Pemberantasan
Kayu Illegal dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia.
Selain kebijakan tersebut, berbagai aturan hukum baik yang bersifat lex
specialis maupun lex generalis telah cukup memadai untuk memberantas
IL di Indonesia. Selain aturan hukum tingkat nasional, beberapa desa di
Provinsi Jambi melalui kelembagaan adatnya menetapkan larangan dan
sanksi terhadap kegiatan yang merusak hutan adatnya.
Kecukupan aturan hukum yang ada tidak akan memberikan efek jera
bagi pelaku IL dan jaringannya, apabila penegakan hukum (law
enforcement) lemah dan tingkat ketaatan hukum (law compliance) rendah.
Kondisi tata kelola pemerintahan yang masih bersifat koruptif-kolutif turut
menyuburkan praktek IL di Indonesia. Oleh karena itu kebijakan
pemberantasan IL di Indonesia harus dilakukan secara terpadu dan
komprehensif dengan mempertimbangkan beberapa hal lainnya yang
terkait, seperti penerapan tata kelola pemerintahan yang baik, sistem
perdagangan berwawasan lingkungan, sistem koordinasi antar instansi
terkait pemberantasan IL di Indonesia, restrukturisasi industri berbasis
hutan, sistem perbankan yang anti-IL, sistem pemantauan pencucian
uang yang diduga dari hasil IL, serta dukungan dunia internasional melalui
kerjasama bilateral dan multilateral. Tata kehidupan administrasi Negara
dapat dipastikan atau dengan perkataan Hukum lingkungan merupakan
68
cabang hukum administrasi Negara sebagai bagian dari hukum publik,
oleh karena itu substansi peraturan dan atau norma-norma hukum yang
terdapat
di
dalam
per-undang-undangan
yang
mengatur
tentang
pengelolaan lingkungan hidup lebih didominasi oleh kerangka berfikir dari
pembuat undang-undang yang menggambarkan hak dan kewajiban serta
proses penyelenggaraan administrasi Negara.Namun dalam tatanan
kehidupan dan penyelenggaraan administrasi Negara hukum mungkin
dapat
dilepaskan
dari
berbagai
macam
aktivitas
yang
sifatnya
keperdataan, disamping itu dalam menyelenggarakanlain tidak semua
pihak akan menyadari, memahami dan mematuhi terhadap tatanan
administrasi Negara tersebut.
Perbuatan yang semacam itu dapat
dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum administrasi Negara.
Karena pengaturan hukum administrasi Negara mencakup tataran yang
begitu luas dalam kehidupan bernegara dan berbangsa (penyelenggaraan
administrasi Negara, penyelenggaraan kegiatan sosial, penyelenggaraan
kegiatan budaya, penyelenggaraan kegiatan politik dan penyelenggaraan
kegiatan ekonomi), maka dimungkinkan di dalam norma-norma hukum
administrasi Negara untuk menuangkan sanksi-sanksi lain diluar sanksi
yang sifatnya administratif (tujuan yang utama), juga sanksi-sanksi
perdata dan sanksi pidana.Dari berbagai peraturan perundang-undangan
yang mengatur tentang larangan terhadap Illegal logging dapat disarikan
beberapa pengertian dan atau klarifikasi maupun kategori tentang apa itu
Illegal loging.Pertama: IL dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak
sama sekali mempunyai hak untuk melakukan penebangan kayu di
hutan(baik berupa hutan produksi maupun hutan lindung) Kedua: IL
seringkali
muncul
dan
atau
dilakukan
oleh
pihak-pihak
yang
melakukannya atas dasar hak yang telah diperoleh berdasarkan izin
penyelenggara administrasi Negara (baik yang diberikan oleh Departemen
yang bertanggung jawab yaitu Departemen Kehutanan ataupun yang
pemberian izinnya diberikan oleh Gubernur/Bupati sebagai penguasa
territorial wilayah itu), akan tetapi area pemotongan kayu berada diluar
konsesi yang telah diberikan kepadanya. Ketiga: Bahwa kegiatan IL yang
69
dilakukan oleh pihak-pihak tersebut banyak dapat dibuktikan bersandar
dari hak atas konsesi hutan berupa HTI dan HPH yang bermotivasi untuk
melakukan penjualan hasil IL (yang sebagian terbesar kepentingan
konsumen Luar Negeri). Hal ini dapat dibuktikan dengan atau dari hasil
tangkapan kayu-kayu illegal yang berupa jenis-jenis kayu tertentu yang
mempunyai pasaran tinggi di Luar Negeri (kayu merbau, kayu hitam, kayu
eboni dll) disamping juga merupakan pemasok untuk kebutuhan bahan
baku pabrik pulp and paper. Oleh sebab itu, berdasarkan uraian terdahulu
untuk melakukan pemberantasan IL tidak hanya dapat ditelusuri dari
pihak-pihak yang melakukan saja akan tetapi juga dipandang penting
untuk melakukan penelusuran siapa yang menampung baik yang ada di
dalam maupun di luar negeri. Itulah sebabnya perbuatan melanggar
hukum di bidang kehutanan, Illegal logging, melibatkan sindikat-sindikat
dan/atau jaringan-jaringan yang sangat rapi, dan dari mulai pelaksanaan
penebangan, pengangkutannya, pengumpulannya, pendistribusiannya,
pemanfaatannya, maupun tujuan yang melatarbelakanginya. Karenanya,
bentuk dan susunan organisasi dari sindikat-sindikat tersebut sangatlah
kompleks, yang dapat melibatkan dari hulu sampai ke hilir. Orang atau
badan hukum yang terorganisir secara rapi, bahkan sampai dengan
kegiatan pencucian uang yang melibatkan pihak perbankan (money
laundering).Dari uraian tersebut kemudian kita dapat mengasumsikan
bahwa pemberantasan terhadap perbuatan melawan hukum, Illegal
logging. Penegakkan hukum tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena di samping organisasi sindikat yang disebutkan terdahulu dapat
pula melibatkan oknum-oknum pejabat tertentu dalam pemerintahan yang
ikut andil dalam melancarkan kegiatan operasionalnya. Karena hukum
lingkungan merupakan bagian dari hukum administrasi negara, maka tidak
mudah kita dapat mengkriminalisasikan perbuatan melanggar hukum
lingkungan. Oleh sebab itu perlu untuk dipahami bahwa penyelesaian
sengketa lingkungan hidup itu sifatnya kasuistis
dan tidak mudah
digeneralisasikan.Atas dasar pemahaman tesebut maka sanksi terhadap
perbuatan melanggar hukum lingkungan,yang diancam dengan sanksi
70
pidana seperti termuat dari Pasal.4 sampai dengan pasal 48 UU PLH 23
tahun 1997 membedakan sifat dari perbuatan melanggar hukum itu dalam
2 kategori yaitu pelanggaran dan kejahatan. Bertolak dari ketentuan pasalpasal yang mengatur tentang
sanksi pidana dalam undang-undang
No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka berdasarkan
penjelasan umum dari undang-undang dimaksud pada nomor 7 alinea
yang ke-5 disebutkan bahwa norma-norma hukum yang terdapat di dalam
undang-undang ini merupakan sanksi pidana sebagai penunjang bagi
penegakan hukum administrasi Negara. Karena itu berlakunya ketentuan
hukum pidana harus tetap memperhatikan azas subsidiaritas, yang artinya
bahwa hukum pidana hendaknya didaya gunakan apabila sanksi bidang
hukum lain dapat sanksi administratif dan sanksi perdata, serta alternatif
penyelesaian
sengketa
lingkungan
tidak
effektif,
dan/atau
tingkat
kesalahan pelaku relatif besar dan atau perbuatannya telah menimbulkan
keresahan masyarakat.Banyak pihak termasuk para ahli terutama ahli
hukum pidana menginginkan sifat perbuatan melawan hukum pidana yang
terdapat di undang-undang hukum lingkungan tersebut adalah premium
remedium artinya keberlakuan sanksi pidana yang diaturbdalam undangundang
ini
harus
didahulukan
penyelesaian
hukumnya
sehingga
mempunyai fungsi yang sifatnya penjera (detterent effect.) Pendapat ini
tidak selalu benar, bahwa hukum selalu penyelesaian pidana akan
memberikan detterent effect seperti halnya juga sanksi pidana yang diatur
dengan per-undang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana
korupsi. Seharusnya kita harus kembali kepada bentuk isi, sifat dan fungsi
dari hukum lingkungan itu sendiri yang merupakan bagian dari hukum
administrasi Negara yang artinya bahwa hukum administrasi Negara
bukan hukum pidana akan tetapi memuat sanksi pidana, karena tujuan
dari hukum administrasi Negara adalah untuk menyelenggarakan tatanan
administrasi yang diutamakan. Sedangkan penuangan azas-azas hukum
pidana yang termuat di dalam norma-norma hukum administrasi
merupakan pelengkap dalam penyelenggaraan administrasi manakala
perbuatan melanggar hukum itu dapat mengakibatkan terancamnya
71
keselamatan
manusia
ataupun
terancamnya
segi-segi
keuangan
Negara.Bukti tentang terancamnya keselamatan jiwa manusia adalah :
bahwa erosi dan banjir banyak dibuktikan sebagai akibat dari illegal
loging, sedangkan kayu dan pohon-pohon yang ada dihutan merupakan
aset negara yang dapat di hitung dengan uang, oleh karena itu dengan
adanya illegal loging maka Negara telah kehilangan asset yang
sedemikian besar seperti halnya dengan korupsi terhadap keuangan
Negara.Menurut hemat penulis : ketentuan-ketentuan sanksi pidana yang
terdapat didalam undang-undang lingkungan hidup itu masih memerlukan
perangkat-perangkat hukum lain dalam hal ini hukum pidana yang
menjabarkan lebih lanjut hal-hal sebagai berikut : 1.Pengaturan lebih
lanjut dalam hukum pidana tentang kejahatan dan pelanggaran yang kita
sebut sebagai Illegal logging. 2.Dimasukkannya dalam ketentuan hukum
acara pidana, tata cara penyelesaian dan /atau pengadilan mengenai
pelanggaran
dan
kejahatan
lingkungan
hidup
(KUHAP)
sehingga
pelanggaran lebih-lebih kejahatan Illegal logging dapat dipandang sebagai
extraordinary crime, yang dalam konteks ilmu hukum lingkungan
merupakan salah satu bentuk dari eco crime.
Penulis berpendapat bahwa pelanggaran dan kejahatan lingkungan
yang sanksi hukumnya diatur dalam norma-norma pada UU LIngkungan
hidup dengan mempertahankan azas subsidiaritas cukup memadai namun
masih diperlukan pengaturan hukum lebih lanjut terhadap ketentuan
pidana terutama yang telah dipaparkan dalam penjelasan umum UU
tersebut angka ketujuh alinea kelima terutama dalam kaitannya dengan
masalah parameter tentang tingkat kesalahan pelaku yang relative berat
atau akibat perbuatannya relative besar dan atau perbuatannya tersebut
telah menimbulkan keresahan masyarakat . Hal ini penting dalam rangka
kepastian hukum tentang pengertian mengenai tingkat kesalahan pelaku,
tingkat perbuatan yang relatif besar dan tingkat keresahan masyarakat.
Dengan menggunakan teori dari Prof. Dr. Soerjono Soekanto tentang
faktor-faktor yang memengaruhi penegakkan hukum, uraian yang
terdahulu telah menggambarkan bahwa dari segi faktor hukum telah
72
memperlihatkan
bahwa
kelengkapan
norma
hukum
tentang
penyelenggaran penegakan hukum terhadap Illegal logging yang terdapat
baik di dalam UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup maupun dalam KUHP serta KUHAP perlu untuk menindaklanjuti
dan/atau melengkapi dengan ketentuan-ketentuan atau norma-norma
hukum baru untuk memperjelas dan mempertegas parameter dan atau
ukuran tentang tingkat kesalahan pelaku, besaran dampak yang
ditimbulkan,
akibat
perbuatan
pelaku,maupun
pengaturan
tentang
beracara pada penyelesaian hukum terhadap tindak pidana Illegal logging.
Oleh sebab itu, karena menurut teori Prof. Dr. Soerjono Soekanto juga
menyangkutkan faktor-faktor menghukum yang kemungkinan besar
berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan penegakan hukum Illegal
logging maka berdasarkan penelitian di lapangan dengan melakukan
observasi yang mendalam telah dapat dibuktikan bahwa jaringan sindikasi
perbuatan melanggar hukum Illegal logging telah melibatkan berbagai
pihak termasuk di dalamnya yang menurut ilmu lingkungan merupakan
stakeholder yang wajib secara aktif ikut untuk melestarikan lingkungan.
Dari uraian terakhir ini dapat disimpulkan bahwa penegakan hukum
lingkungan tidak selalu bergantung atau lengkap atau tidak lengkapnya
norma-norma yang tertuang di dalamnya tetapi juga bergantung kepada
tingkat kesadaran dan kepatutan hukum dan fasilitas yang menunjangnya.
(antara lain kelembagaan, finansial dan hubungan antar lembaga penegak
hukum).
Download