analisa kewenangan penyidik pegawai negeri sipil

advertisement
JURNAL BERAJA NITI
ISSN : 2337-4608
Volume 3 Nomor 6 (2014)
http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja
© Copyright 2014
ANALISA KEWENANGAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL
BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH (BLHD) PROVINSI
KALIMANTAN TIMUR SEBAGAI INSTRUMEN PENEGAKAN HUKUM
LINGKUNGAN
Yulius Patanan1
([email protected])
Rosmini2
([email protected])
Herdiansyah Hamzah3
([email protected])
Abstrak
Kewenangan merupakan kekuatan atau power yang diberikan oleh
Undang-undang kepada perangkat hukum untuk menegakkan hukum, dalam hal
ini kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi
Kalimantan timur untuk melakukan penyidikan khususnya dibidang Tindak pidana
Lingkungan Hidup sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32
tahun 2009 tentang PPLH dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 02 Tahun 2012 tentang Tata Laksana Jabatan Penyidik Pegawai Negeri
Sipil Lingkungan Hidup. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah
Bagaimanakah Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil dibidang lingkungan
hidup sebagai sarana penegakan Hukum Lingkungan dan Kendala apa sajakah
yang dihadapi oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Kalimantan Timur dalam rangka penegakan Hukum Lingkungan.
Berdasarkan hasil penelitian Kewenangan sebagaimana yang tercantum
dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 94, Tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur,
itu terbukti dengan tidak adanya kasus lingkungan yang disidik dan dilimpahkan
ke Pengadilan melainkan hanya melakukan inventarisasi dan klarifikasi pengaduan
kasus lingkungan hidup, dikarenakan Sumber Daya Manusia yang terbatas serta
tidak memiliki kompetensi dibidang hukum khususnya hukum lingkungan.
Kata Kunci : Kewenangan , Penyidik Pegawai Negeri Sipil, Penegakan Hukum,
Badan Lingkungan Hidup.
1
2
3
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Alam semesta yang merupakan ciptaan Yang Mahakuasa,
memegang kunci dalam tata kehidupan manusia. Semua bergerak harmonis
dalam alam yang saling mengisi, saling memberi, dan saling menghormati.
Hanya seringkali manusia berpaling dari lingkungan. Manusia dengan
keunggulan pemikiran dan teknologi menjadi cenderung sebagai subjek dari
perusakan lingkungan demi kepentingan dan keserakahan tertentu dan
sesaat. Dan tidak menyadari bahwa bila lingkungan rusak akan berakibat pula
pada diri sendiri. Perubahan lingkungan sangat ditentukan oleh sikap maupun
perlindungan manusia pada lingkungannya. Alam yang ada secara fisik dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam mengupayakan kehidupan
yang lebih baik dan sehat menjadi lebih baik dan tidak sehat dan dapat pula
sebaliknya, apabila pemanfaatanya tidak digunakan sesuai kemampuan dan
melihat situasinya.4 Manusia menjadi pelaku perusakan lingkungan sekaligus
sebagai korban dari perusakan lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena
penegakan hukum lingkungan belum dilakukan serta bagaimana kemauan
pemerintah dalam menerapkan hukum dan pemberian sanksi yang tegas
sesuai dengan hukum yang berlaku. Kendala yang terjadi saat ini yang
dihadapi oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Timur
melalui PPNSLH dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-
4
Joko Subagio. Hukum Lingkungan dan Masalah Penanggulanganya, Rineka Cipta, Jakarta,
1992, hlm. 1
2
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah adalah perbedaan
presepsi dan masih kurang koordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi,
dan
Pemerintah
Kabupaten/Kota
mengenai
mekanisme
dan
kewenangan dalam Pengelolaan dan Pengaduan kasus lingkungan maupun
dalam hal penegakan baik penerapan sanksi Administratif, sanksi Perdata,
sanksi Pidana. Sehingga banyak permasalahan lingkungan hidup yang
terbengkalai tidak ditindak lanjuti dan hanya sebatas klarifikasi, kurangnya
jumlah PPNSLH, sistem yang cenderung memperlambat proses penindakan,
serta kompetensi personel PPNSLH Sub Bidang Penaatan Hukum.
Dalam prespektif Penegakkan Hukum,permasalahan yang ada
tidak koherens dengan tujuan Hukum itu sendiri, sebagai social control dan
social engineering dan tidak selaras antara aturan dan pelaksanaanya yang
berkaitan dengan stuktur, kultur, dan substansi. Yang terjadi pada PPNSLH
Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, sehingga Penulis tertarik
untuk menganalisa permasalahan ini.
PEMBAHASAN
1. Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup
Daerah
(BLHD)
Provinsi
Kalimantan
Timur
sebagai
sarana
penegakan Hukum Lingkungan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (KUHAP), Pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa “Penyidik adalah
pejabat polisi Negara Republik Indonesia dan Pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang”. PPNS sebagai
3
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
pengemban fungsi Kepolisian sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang menjadi dasar hukumnya masing-masing diatur dalam Pasal 3 ayat (1)
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia. Keberadaan PPNS terdapat pada 28 Departemen /Instansi/Badan
yang tersebar di pusat maupun daerah. Dalam
pelaksanaan penegakan
hukum, POLRI menegakkan hukum secara umum (KUHP) yang bermitra
dengan PPNS sebagai penegak hukum atas Undang-undang yang menjadi
dasar hukumnya5.
Antara POLRI dan PPNS berada pada organ yang berbeda,
namun mempunyai visi misi yang sama dalam penegakan hukum. Kebutuhan
akan PPNS di bidang lingkungan hidup baru dapat dipenuhi setelah keluarnya
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup pada BAB VIII Pasal 40 yang merupakan payung hukum dari PPNSLH
itu sendiri. Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup sendiri berfungsi
sebagai penegak hukum
lingkungan, khususnya pada pelanggaran tindak
pidana lingkungan. Mengingat semakin menurunnya kualitas lingkungan
hidup yang diakibatkan dari pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.
Pencemaran dan kerusakan lingkungan ini pada umumnya diakibatkan dari
kegiatan industri, pertambangan, perkebunan, kehutanan, serta kegiatan
masyarakat. Untuk mengantisipasi pencemaran dan kerusakan lingkungan
yang semakin luas, pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-Undang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkuungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009
5
4
http://ppnsdepkes.blogspot.com/2010/05/sosialisasi-kode-etik-profesi-ppns.html
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
untuk merubah total Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap masih banyak memiliki
kekurangan dalam hal penegakan hukum baik dari segi administrasi, perdata
maupun pidana. Hal ini dimaksudkan agar upaya pengelolaan lingkungan
hidup lebih efektif, karena dalam aturan sebelumnya belum mengatur
persoalan substansial yang kini telah dimuat dalam UUPPLH. Salah satu yang
paling penting dari perubahan undang-undang ini adalah kewenangan
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup (PPNSLH) maupun pejabat
pengawas lingkungan hidup (PPLH). Penguatan fungsi penegakkan hukum
yang terdapat pada Penyidik Pegawai Negeri Sipil yaitu dengan memberikan
amanat untuk dapat
melakukan penangkapan dan penahanan terhadap
pelaku kejahatan lingkungan hidup. Dari segi sanksi pidana juga diperluas,
tidak hanya berlaku
kepada pelaku kejahatan, tetapi juga berlaku pada
pejabat yang terkait.
A. Ruang Lingkup dan Kewenangan PPNSLH
1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari PPNSLH sebagaimana yang diatur pada peraturan
menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 02
Tahun 2012 tentang Tata Laksana Jabatan Penyidik Pegawai Negeri
Sipil Lingkungan Hidup meliputi, melakukan penyelidikan dan
penyidikan yang berkenaan dengan tindak pidana lingkungan hidup
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan
mengenai
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Wilayah kerja dari
5
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
bidang penegakkan hukum lingkungan hidup berada di pusat atau di
daerah, wilayah kerja pejabat PPNSLH lebih lanjut akan ditentukan
berdasarkan keputusan pengangkatannya yang bukan hanya meliputi
wilayah hukum saja tetapi juga termasuk wilayah zona ekonomi
eksklusif yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. PPNSLH yang berada di tingkat provinsi, ruang lingkup
wilayah kerjanya berada diantara dua kabupaten/kota atau biasa
disebut dengan lintas kabupaten/kota. Dalam hal Badan Lingkungan
Hidup (BLH) kabupaten/kota tidak memiliki PPNSLH, maka mereka
dapat meminta bantuan PPNSLH Provinsi untuk membantu dalam
uapaya penyidikan dugaan tindak pidana lingkungan yang berada di
wilayah
kabupaten/kota.
Sedangkan
PPNSLH
di
tingkat
kabupaten/kota ruang lingkup wilayah kerjanya berada di wilayah
kabupaten/kota PPNSLH itu berada.
2. Kewenangan PPNSLH
Kewenangan profesi PPNSLH diatur pada Pasal 11 Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2012 tentang Tata Laksana
Jabatan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang meliputi:
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap setiap orang yang diduga
melakukan tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
6
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
c. Meminta keterangan dan barang bukti dari setiap orang berkenaan
dengan peristiwa tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen
lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
e. Melakukan pemeriksaan ditempat tertentu yang diduga terdapat
bahan bukti, pembukuna, catatan, dan dokumen lainnya;
f. Melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran
yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
g. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
h. Menghentikan penyidikan;
i. Memasuki tempat tertentu, memotret, dan/atau membuat rekaman
audio visual;
j. Melakukan penggeledahan terhadap badan, pakaian, ruangan, dan
atau tempat lain yang diduga merupakan tempat dilakukanya
tindak pidana;
k. Menangkap dan menahan pelaku tindak pidana.
PPNSLH berkoordinasi dengan pihak kepolisian sebagai koordinator
pengawas PPNS dan pihak kejaksaan, pada saat memulai penyidikan
dengan mengirimkan surat dimulainya penyidikan kepada masingmasing instansi tersebut. Dalam hal melakukan penagkapan dan
penahanan
sesuai
dengan
wewenang
pejabat
PPNSLH
wajib
berkoordinasi dengan Penyidik Pejabat Polisi Negara Indonesia.
7
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
3. Proses Kerja PPNSLH
Proses kerja dari profesi PPNSLH meliputi Penerimaan laporan aduan
dari
masyarakat
pencemaran
laporan
yang
dan/atau
tersebut
berisikan
perusakan
kemudian
tentang
dugaan
lingkungan.
diklasifikasikan
pengaduan tersebut tergolong pengaduan
terjadinya
Penelaahan
menjadi
dari
apakah
lingkungan hidup atau
bukan pengaduan lingkungan hidup. Setelah pengaduan tersebut
diklasifikasi maka instansi yang bertanggung jawab yang dalam hal
ini adalah Badan Lingkungan Hidup baik itu tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota wajib meneruskan pengaduan ke instansi terkait
dengan tembusan kepada pengadu paling lama 5 (lima) hari kerja
sejak diterimanya pengaduan. Apabila hasil dari klasifikasi aduan
tersebut bukan tergolong pengaduan lingkungan hidup. Sedangkan
apabila
dari
hasil
klasifikasi
lingkungan hidup yang
tersebut
merupakan
pengaduan
bukan kewenangan instansi penerima
pengaduan, maka pengaduan diserahkan kepada instansi yang
bertanggung jawab dan menerima pengaduan untuk ditindaklanjuti
dengan verifikasi pengaduan. Verifikasi pengaduan dilaksanakan oleh
PPLHD, dalam
hal ini instansi yang bertanggung jawab belum
memiliki PPLHD dapat meminta bantuan kepada:
1. Instansi yang bertanggung jawab di provinsi untuk menugaskan
PPLHD dan atau;
2. Kementerian Lingkungan Hidup untuk menugaskan PPLH.
8
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
Hasil verifikasi dari pengaduan dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Tidak terjadi pelanggaran izin lingkungan dan/atau peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
2. Terjadi
pelanggaran
izin
lingkungan
dan/atau
peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
3. Terjadi
pelanggaran
izin
lingkungan
dan/atau
peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan
hidup,
serta
di
indikasikan
dan/atau
telah
menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan/atau lingkungan.
Dari
hasil verifikasi yang dilakukan oleh PPLHD atas kasus
lingkungan yang menjadi kewenangannya maka PPLHD dapat
memberikan sanksi administratif sesuai dengan Pasal 76 s/d Pasal
83
UUPPLH.
Dalam
hal
pelaku
tidak
mengindahkan
sanksi
administratif tersebut, maka PPLHD berkoordinasi dengan PPNSLH
untuk menindak pelaku tersebut sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki oleh PPNSLH.
4. Contoh kasus yang masuk pada Pos P3SLH yang di tangani
oleh PPNS dan PPLHD
Aduan dari ibu Nurhayati Tantri di RT. 12 Desa Bakungan terhadap
aktifitas stock pile dan conveyor milik PT. Indo Perkasa/PT. Karya
Putra Borneo dan PT. Rinjani di desa Bakungan Kec. Loa Janan.
9
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
Proses kerja dalam menangani kasus di atas:
Setelah menerima aduan yang masuk, PPLHD melakukan penelaahan
dan klasifikasi terhadap aduan tersebut. Kemudian dari hasil telaah
dan klasifikasi ini ditetapkan bahwa aduan tersebut merupakan kasus
lingkungan. Langkah selanjutnya dilakukan verifikasi atas kebenaran
dari aduan tersebut dengan fakta di lapangan. Dimana dari hasil
verifikasi aduan kasus tersebut di indikasikan telah mencemari
lingkungan dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan/atau
lingkungan. Dalam hal ini pihak BLH (PPLHD) memfasilitasi antara
warga desa bakungan yang terkena dampak dengan PT. Indo
Perkasa/PT. Karya Putra Borneo dan PT. Rinjani untuk membuat
kesepakatan dalam hal penyelesaian sengketa dan hasilnya sebagai
berikut:
1. PT. Indo Perkasa diwajibkan melakukan cek kesehatan pada warga
yang terdekat di lokasi stock pile.
2. PT. Indo Perkasa/PT. Karya Putra Borneo akan melakukan
pembayaran ganti rugi tanam tumbuh, kebisingan, dan kerusakan
rumah senilai
Rp. 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah)
3. PT. Indo Perkasa/PT. Karya Putra Borneo wajiib melakukan
pengelolaan lingkungan hidup pada lokasi kegiatan dan sekitarnya.
4. Ibu Hj. Nor hayati Tantri dan Bapak Imama meminta kompensasi
debu dan kebisingan kepada PT. Rinjani.
5. Dalam hal pelaksanaan dari kesepakatan yang dibuat di atas,
pengawasannya akan dilakukan oleh BLH Kutai Kartanegara dan
BLH Provinsi Kalimantan Timur.
10
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
Kendala yang dihadapi oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan
Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur dalam rangka penegakan
Hukum Lingkungan
a. Kendala-Kendala Yang Dihadapi
Dalam menjalankan tugas dan fungsi PPNSLH, tidak selalu berjalan
dengan baik. Melainkan permasalahan serta kendala-kendala selalu ditemui
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup Provinsi Klimantan Timur.
yang mana kendala-kendala yang dihadapi diantaranya adalah:
1. Kurangya koordinasi antara PPNS KLH, PPNS LH Provinsi, PPNS LH
Kabupaten/Kota;
2. Jumlah anggota PPNS LH, di BLHD Provinsi Kaltim yang tidak memadai
3. Kurangnya kompetensi bidang keahlian (SDM) pada subbidang penaatan
hukum
4. Proses penegakan hukum lingkungan yang berbenturan dengan sistem
yang ada
5. Pencairan dana anggaran yang diperlukan untuk menjalankan proses kerja
PPNSLH Provinsi Kalimantan Timur dalam menindaklanjuti aduan-aduan
masyarakat terkait masalah lingkungan hidup sering terlambat sehingga
mempengaruhi kinerja PPNS LH itu sendiri.
6. Maraknya pengaduan kasus lingkungan hidup oleh oknum masyarakat yang
bermuatan kepentingan, sehinga menyulitkan proses kerja PPNS LH
Provinsi Kalimantan Timur.
7. Lokasi kasus yang sulit dijangkau.6
6
BLH Prov Kaltim, Laporan akhir kegiatan penaatan hukum dan penegakan
hukum lingkungan, samarinda, 2012, hlm. 6
11
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
b. Peluang dan Tantangan Profesi dari aspek analisa SWOT
1. Strengths ( Kekuatan / Kelebihan)
Analisa dari aspek kekuatan atau kelebihan yang dimiliki oleh PPNSLH
dalam menegakan hukum lingkungan yang ada di Provinsi Kalimantan
Timur adalah:
a. Diberikan kewenangan lebih oleh Undang-undang untuk melakukan
penyidikan, serta dapat menagkap dan menahan pelaku tindak
pidana lingkungan hidup
b. Dapat efektif dalam menangani kasus lingkungan hidup karena
tugasnya yang spesifik terhadap kasus lingkungan hidup
c.
Dapat menindak kasus lingkungan tanpa adanya teguran, serta
klarifikasi terlebih dahulu, sesuai dengan azaz strick liability
2. Weaknesses (Kelemahan/Kekurangan)
Analisa aspek kelemahan atau kekurangan yang dihadapi oleh PPNSLH
Provinsi Kalimantan Timur baik dari sisi regulasi maupun kelembagaan.
a. Kurangya koordinasi antara PPNS KLH, PPNS LH Provinsi, PPNS LH
Kabupaten/Kota
b. Jumlah anggota PPNS LH, di BLHD Provinsi Kaltim yang tidak
memadai
c.
Kurangnya kompetensi bidang keahlian (SDM) pada subbidang
penaatan hukum
d. Proses penegakan hukum lingkungan yang berbenturan dengan
sistem yang ada
e. Pencairan dana anggaran yang diperlukan untuk menjalankan proses
kerja PPNS LH Provinsi Kalimantan Timur dalam menindaklanjuti
aduan-aduan masyarakat terkait masalah lingkungan hidup sering
terlambat sehingga mempengaruhi kinerja PPNS LH itu sendiri.
12
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
f.
Maraknya
pengaduan
kasus
lingkungan
hidup
oleh
oknum
masyarakat yang bermuatan kepentingan, sehinga menyulitkan
proses kerja PPNS LH Provinsi Kalimantan Timur.
g. Lokasi kasus yang sulit dijangkau.
3. Opportunities (Peluang /Kesempatan)
Analisa peluang dan kesempatan kedepanya yang akan dihadapi PPNSLH
Provinsi Kalimantan Timur sebagai penegak hukum lingkungan.
a. Semakin besarnya ekspolitasi Sumber Daya Alam di Kalimantan
Timur, maka keberadaan PPNSLH semakin dibutuhkan
b. PPNSLH merupakan garda terdepan dalam menegakan hukum
lingkungan Khususnya tindak Pidana Lingkungan
c.
Kuantitas PPNSLH masih sangat minim di Kalimantan Timur sehingga
menjadi perhatian dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Pemerintah
Daerah untuk menambah kuantitasnya.
4. Threats ( Ancaman)
Analisa kendala serta ancaman yang akan dihadapi baik dari eksternal
kelembagaan maupun internal kelembagaan.
a. Adanya kebijakan mutasi dari Pemerintah Daerah terhadap Satuan
Kerja Perangkat Daerah sehingga mempengaruhi kinerja dalam
melaksanakan tugas
b. Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja PPNSLH dalam
menjalankan tugas dan fungsinya
c.
Tidak berkompetenya PPNSLH dalam menyidik kasus lingkungan,
sehingga membuat penyidik Polisi yang menangani kasus lingkungan
yang berdampak pada tidak dibutuhkanya PPNSLH.
13
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mempelajari dan menganalisa kewenangan Penyidik Pegawai Negeri
Sipil di Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Timur sebagai
instrumen Penegakan hukum Lingkunngan dan dari analisa yang ada maka
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kewenangan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor
32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Pasal 94, tetapi Tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, itu
terbukti dengan tidak adanya kasus lingkungan yang disidik dan
dilimpahkan ke Pengadilan melainkan hanya melakukan inventarisasi dan
klarifikasi pengaduan kasus lingkungan hidup, dikarenakan Sumber Daya
Manusia yang terbatas serta tidak memiliki kompetensi dibidang hukum
khususnya hukum lingkungan.
2. Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan tugas Pokok dan Fungsi
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan
Timur dalam subbidang Penaatan Hukum adalah :
a. Kurangnya jumlah personel PPNSLH, di Badan Lingkungan Hidup
Daerah Provinsi Kalimantan Timur sehingga banyak kasus yang
terbengkalai dan tidak di tindak lanjuti
14
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
b. Pengetahuan Sumber Daya Manusia yang ada di subbidang penaatan
hukum
yang
terbatas
mengenai
Hukum
Lingkungan,
Sehingga
menyulitkan dan menjadi kendala dalam penegakan Pidana Lingkungan
c. Sistem koordinasi yang kurang baik antara Bidang Pencemaran,
Kerusakan dan Penaatan Hukum, sehingga mempengaruhi proses kerja
PPNSLH
d. Belum dimilikinya Pos pengaduan Masyarakat terhadap kasus-kasus
lingkungan hidup dibeberapa Kbupaten dan kota yang ada di Provinsi
Kalimantan Timur sehingga banyak kasus yang masuk di Pos P3SLH
Provinsi dan terjadi penumpukan kasus.
B. Saran
Dari hasil Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan
Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Timur sebagai Instrumen
Penegakan Hukum Lingkungan, maka penulis dapat memberikan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Sumber Daya Manusia yang ada di Subbidang penaatan hukum harus
memiliki kompetensi, khususnya Bidang Hukum Lingkungan
2. Pengawasan dan penaatan hukum harus menjadi satu pintu agar sistem
koordinasi antara pengawas dan penegakan hukum lebih efektif dan tidak
terjadi miskomunikasi
3. Penambahan Jumlah PPNSLH yang memiliki lisensi atau sertifikat penyidik
yang memadai sesuai dengan kebutuhan yang ada
15
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
4. Adanya pelatian dan kerjasama antara PPNSLH dan PPLHD di tingkat
Provinsi serta di tingat Kabupaten Kota, dalam hal pelatihan penyidikan
dan pengawasan
5. Sistem kepegawaian yang ada di bidang penaatan hukum menjadi
struktural agar menghindari subjektifitas serta kebijakan mutasi yang ada
dilingkungan pemerintah Provinsi Kalimantan Timur
6.
Sumber pendanaan penanganan kasus yang menjadi satu, baik itu dana
dari APBN dan Dana Daerah (dekonsentrasi).
7. Menjadikan PPNSLH menjadi Subbidang tersendiri dan fungsional.
Daftar Pustaka
A. Literatur
Assad Ilyas, Penegakan Hukum Yang Berkaitan Dengan Hukum Lingkungan di
Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.
Chan M Sam, Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah,
Raja Wali Pers, Jakarta, 2007, hlm vl.
Erwin Muhamad, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan
Pembangunan Lingkungan Hidup, Rafika Aditama, Bandung,
2009.
Hamzah Andi, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, 2005.
Helmi, Hukum perizinan lingkungan hidup, Sinar Grafika, Jakarta, 2012.
Husin Sukandi, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta, 2009.
Kuntjoro-Jkti Dorodjatun,. Manajemen Pembangunan Untuk Negara
Berkembang,.PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta, 1987.
Machmud Syahrul, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Mandar Maju,
Bandung, 2007.
Mahmud Marzuki Peter, Penelitian Hukum, Prenanda Media Grup, Jakarta,
2007.
Rahmadi Takdir, Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia, Rajawali
Press, Jakarta, 2013.
Rangkuti Siti Sundari, Hukum Lingkungan Dan Kebijakan Lingkungan
Nasional, Airlangga University Press, Surabaya, 2005. Ridwan HR,
Hukum Administrasi Negara, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2006.
16
Analisa Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri (Yulius Patanan)
Siti Sundari Rangkuti. Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan
Nasional, Air Langga University Press, Surabaya, 2005.
Soekanto Soerjono, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2001.
Subagio Joko . Hukum Lingkungan dan Masalah Penanggulanganya, Rineka
Cipta, Jakarta, 1992.
Susanto Mas Achmad, Good Governance dan Hukum Lingkungan, ICEL,
Jakarta, 2001.
Syahrin Alvi, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, PT. Sofmedia,
Medan, 2008.
Thoha Miftah., Prespektif Prilaku Birokrasi., PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002.
Wiratno, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Universitas Trisakti, Jakarta,
2009
B. Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 140 Tahun 2009 tambahan Lembaran Negara
Nomor 5059);
Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia (lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 02
Tahun 2002 tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 02 Tahun 2002);
Undang-Undang Nomor 08 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) (lembaran Negara Nomor 78 Tahun 1981 tambahan
lenbaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 60,
Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 3839);
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan, antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
dan Pemerintah Daerah Kabupaten / kota (Lembaga Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 14);
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2012 tentang
Tata Laksana Jabatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan
Hidup;
Peraturan menteri Negara lingkungan hidup Nomor 09 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Pengaduan & Penanganan Pengaduan Akibat Dugaan
Pencemaran Dan/Atau Kerusakan Lingkungan Hidup.
17
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 6
C. Dokumen Hukum, Laporan Akhir, Jurnal, Makalah
Laporan Akhir T.A. 2012, Kegiatan Dekonsentrasi Bidang Penaatan Hukum
Lingkungan, BLHD Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda.
Laporan Akhir T.A. 2012, Kegiatan Bidang Penaatan Hukum dan penegakan
hukum Lingkungan, BLHD Provinsi Kalimantan Timur,
Samarinda.
Norma Standar Prosedur Kerja (NSPK) Pengaduan BLHD Provinsi Kalimantan
Timur Tahun 2013.
D. Artikel Internet
http://andikawigunatambusai.blogspot.com/p/analisa-swot.html,
diunduh
pada hari senin 16 Desember 2013 pukul 19.00 wit.
http://www.negarahukum.com/hukum/tugas-dan-kewenanganpemerintahan-daerah.html. diunduh pada hari Rabu 8 Januari 2014 pukul
19.00 wit.
18
Download