TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI PERBANKAN

advertisement
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI PERBANKAN
MELALUI INTERNET BANKING DI INDONESIA
Penulisan Hukum
(Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Syarat-syarat
Guna Memperoleh Derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum
Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Oleh :
Ratna Suryani
NIM : E. 0003274
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2008
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Penulisan Hukum (Skripsi)
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI PERBANKAN
MELALUI INTERNET BANKING DI INDONESIA
Disusun oleh :
RATNA SURYANI
NIM : E. 0003274
Disetujui untuk Dipertahankan
Dosen Pembimbing
Co. Pembimbing
Munawar Kholil, S.H., M.Hum
Pujiyono, S.H., M.H
NIP. 132 086 386
NIP. 132 304 741
ii
PENGESAHAN PENGUJI
Penulisan Hukum (Skripsi)
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI PERBANKAN
MELALUI INTERNET BANKING DI INDONESIA
Disusun oleh :
RATNA SURYANI
NIM : E. 0003274
Telah diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Penulisan Hukum (Skripsi)
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
pada :
Hari
: Kamis
Tanggal
: 31 Januari 2008
TIM PENGUJI
1. ......................................................
(
Djuwityastuti, S.H.
)
Ketua
2. ....................................................... (
Pranoto, S.H., M.H.
)
Sekretaris
3. ........................................................ ( Munawar Kholil, S.H., M.Hum )
Anggota
MENGETAHUI
Dekan,
Mohammad Jamin, S.H., M.Hum
NIP. 131 570 154
iii
MOTTO
”Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah
Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa
yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput
darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu
mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan”
(HR. Tirmidzi)
”Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa diberi
hikmah, maka sungguh telah diberikan kepadanya kebajikan yang banyak. Dan tiada yang
dapat mengambil pelajaran dengan ilmu, kecuali orang-orang yang berakal”
(Q.S. Al-Baqarah : 269)
”Sesungguhnya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
dan berilmu diantara kamu beberapa derajat”
(Q.S. Mujahadah : 11)
PERSEMBAHAN
Secercah pemikiran yang begitu tulus dan sederhana, penulis persembahkan kepada :
Kedua orangtuaku Bapak Suradi Budi Utomo dan Ibu Muryati yang paling kukasihi,
yang senantiasa mendoakan kebaikan untukku dan memberikan
kasih sayang yang tak pernah putus.
Kakakku tersayang Heru Pambudi yang telah memberikan keteladanan, dan selalu
memberikan kesempatan padaku untuk menjadi lebih baik.
Terimakasih untuk Cinta dan Sahabat-sahabatku untuk dukungan dan semangat
yang selalu diberikan padaku, terimakasih...
iv
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas rahmat dan kasih-Nya telah
memberikan kemudahan dan kelancaran kepada penulis dalam menyelesaikan
penulisan hukum ini. Tiada daya dan upaya penulis tanpa kemurahan-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum ini sebagai syarat untuk
meraih gelar kesarjanaan dalam ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta dengan judul ”TINJAUAN YURIDIS TERHADAP
TRANSAKSI
PERBANKAN
MELALUI
INTERNET
BANKING
DI
INDONESIA”.
Banyak permasalahan dan hambatan yang penulis alami, menyangkut
penyelesaian penulisan hukum ini, baik yang langsung maupun yang tidak
langsung. Namun, berkat bimbingan, saran, semangat, dan bantuan dari berbagai
pihak, serta kebersamaan orang-orang di sekitar penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan hukum ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan
perasaan yang setulus-tulusnya dari hati yang paling dalam, penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan dukungan di dalam penyusunan penulisan hukum ini, terutama yang
terhormat :
1. Bapak Mohammad Jamin, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin kepada
penulis untuk penyusunan penulisan hukum ini.
2. Bapak Munawar Kholil, S.H., M.Hum dan Bapak Pujiyono, S.H., M.H.
selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membantu, membimbing, dan
mengarahkan
dengan
penuh
kesabaran
kepada
penulis
dalam
menyelesaikan penulisan hukum ini.
3. Ibu Ambar Budi S, S.H., M.Hum selaku Ketua Bagian Hukum Perdata
sekaligus Pembimbing Akademik yang telah memberikan nasihat, arahan
dan masukan kepada penulis selama menempuh studi di Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret.
v
4. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf dan Karyawan Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret.
5. Bapak dan Ibuk yang mencurahkan perhatian yang tidak kenal lelah untuk
penulis selama ini, semoga penulis dapat mewujudkan apa yang bapak dan
ibuk harapkan.
6. Mas Heru..aku janji akan membuat semuanya lebih baik! Mba ut dan
keponakan kecilku Faris, aku sayang kalian semua!
7. Keluarga besar Eyang Suparjo dan Eyang Markomah yang telah banyak
memberikan perhatian, bantuan, kebaikan, serta doa kepada penulis.
8. Ferry Adrianto..makasih ya phell untuk cinta, sayang dan semua yang
udah diberikan pada penulis.
9. Sahabat-sahabat seperjuanganku..Pipi temen boboku..thanks udah menjadi
sahabat yang baik banget buat aku ya pi! UlisMan yang baek&lucu..aku
kangen ek ul! Nopha temen pertamaku di Solo thanks for joy and
happiness..aku pasti akan merindukan kalian.
10. Sania, sahabat setiaku yang berharga banget..ayo cepetan lulus!!!
11. Mba dytha..makasih semuanya ya mba..tanpa mba dyt, ga tau musti
gimana de.
12. Adek-adekku Chacha cute,muridku Chucyuw, Putri yang sering nemenin
begadang, Nandya yang manis tapi super ceroboh..kalian telah memberi
keceriaan pada mba nat, ayo belajar yang bener!
13. Keluarga Bapak Sutoyo yang telah memberikan tempat di tengah-tengah
keluarga saat penulis jauh dari rumah.
14. Keluarga Besar As-Syamsa..Bapak Ibu Soehono, Cimet yang baik..thanks
ya met!erma mba! Ida yang lucu, Mba Anggie yang bikin aku
mlongo,Tutik dan Heni yang baik, Fepty, Sulis, Nindy, Fuzy, Tiwi dan
para penghuni baru As-Syamsa..maaf kalo slama ini aku belum bisa
menjadi teman, sahabat, dan saudara yang baik untuk kalian, dan semua
pendahulu-pendahulu As-Syamsa yang udah memberi teladan padaku.
15. ”The Big Family” Delik..Iwan, Kunto, Cahyo, Jekek, Genjix, Bebex, Heni,
Mba Metta, Mas Ompiq, Mas Shiro, Mas Coro, Elok, Puput, Sophie,
vi
Ponxy, Surip, Tubbies, Aci dkk, Denox, Nopis, Kucluq, Mbolox, Mas
Didit, Om Jek dan semua temen-temen delik 2004 sampe 2007 yang tidak
bisa penulis sebutkan satu persatu mengingat begitu banyaknya sedulursedulur delik, dan karena ini bukan daftar absensi hehe..
16. Teman-teman di Salatiga..Melanie Assa, Mikow, Krisna, Rama, Bison,
Yamuz, Erick, Ayi’, Athonx, Arum, Ririn, Ambar, Hendro, Fajar, dll
pokoke akeh banget!
17. Teman-teman seangkatan 2003..Aan pembimbing 3 ku, Marina, Deaz,
Donny, Tika, Iman, Aswin, Ria, Adi, Pethonx, Kakek, Aris, Soni, Pring,
Uchin, Rizal, Riska, Nurul, Gading, Agus, Ayu, Intan, Adit..pokoknya
teman-teman angkatan 2003 semuamuanya aja deh.
18. Kakak-kakak tingkatku dan adek-adek tingkatku.
19. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah
memberikan bantuan baik langsung ataupun tidak langsung dalam
penulisan hukum ini.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penulisan
hukum ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan. Demikian semoga penulisan hukum ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Surakarta, Januari 2008
Ratna Suryani
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..............................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .....................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI................................................
iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.....................................
iv
KATA PENGANTAR.............................................................................
v
DAFTAR ISI ...........................................................................................
viii
DAFTAR BAGAN..................................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................
xii
ABSTRAK ..............................................................................................
xiii
BAB I
PENDAHULUAN ...................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah .....................................................
1
B. Pembatasan Masalah ...........................................................
5
C. Perumusan Masalah ............................................................
5
D. Tujuan Penelitian ................................................................
6
E. Manfaat Penelitian ..............................................................
7
F. Metode Penelitian ...............................................................
8
G. Sistematika Penulisan Hukum ............................................
12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................
14
A. Kerangka Teori ...................................................................
14
1. Tinjauan Umum tentang Perjanjian ..............................
14
a. Pengertian Perjanjian ..............................................
14
b. Syarat-syarat sahnya Perjanjian ..............................
16
c. Asas-asas Perjanjian ................................................
19
d. Unsur-unsur dalam Perjanjian .................................
22
e. Jenis-jenis Perjanjian ...............................................
23
f. Subyek dan Obyek Perjanjian .................................
25
g. Pelaksanaan Perjanjian ............................................
26
h. Akibat hukum Perjanjian ........................................
27
viii
i. Cara Berakhirnya Perjanjian ...................................
27
2. Tinjauan Umum tentang Perbankan ..............................
28
a. Pengertian Bank ......................................................
28
b. Jenis-jenis Bank ......................................................
30
c. Fungsi Bank ............................................................
32
d. Jasa-jasa Perbankan .................................................
33
e. Hubungan Bank dengan Nasabah ...........................
34
f. Perlindungan Hukum bagi Nasabah ........................
34
3. Tinjauan Umum tentang Transaksi Perbankan .............
35
a. Tinjauan tentang Transaksi .....................................
35
b. Tinjauan tentang Transaksi Perbankan ...................
36
4. Tinjauan Umum tentang Teknologi Informasi ..............
37
a. Pengertian Teknologi Informasi ..............................
37
b. Dasar Hukum Penggunaan Teknologi Informasi
oleh Bank.................................................................
38
c. Peran Teknologi Informasi dalam Keuangan dan
Perbankan.................................................................
d. Pelaksanaan
Penggunaan
Teknologi
39
Sistem
Informasi .................................................................
39
e. Risiko dalam Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi .................................................................
40
5. Tinjauan Umum tentang Internet Banking ....................
41
a. Pengertian Internet Banking ...................................
41
b. Tipe-tipe Layanan Internet Banking .......................
42
c. Risiko dalam Layanan Internet Banking .................
44
d. Peraturan-peraturan
Terkait
dengan
Internet
Banking di Indonesia ..............................................
6. Tinjauan Umum tentang Keadilan
45
46
a. Pengertian Keadilan.................................................
46
b. Hukum dan Keadilan...............................................
47
7. Tinjauan Umum tentang Upaya Penyelesaian Sengketa
48
ix
a. Proses Adjudikasi ....................................................
48
b. Proses Konsensus ....................................................
49
c. Proses Adjudikasi Semu ..........................................
50
B. Kerangka Pemikiran ............................................................
51
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................
54
A. Transaksi
Perbankan
melalui
Internet
Banking
di
Indonesia .............................................................................
1. Deskripsi
Transaksi
Perbankan
melalui
54
Internet
Banking di Indonesia.....................................................
54
2. Pengaturan Transaksi Perbankan melalui Internet
Banking di Indonesia.....................................................
60
3. Jaminan Kepastian Hukum dan Keadilan bagi Para
Pihak..............................................................................
83
B. Upaya Penyelesaian Sengketa terhadap Permasalahan
Hukum yang Timbul dalam Transaksi Perbankan melalui
Internet Banking ..................................................................
85
BAB IV PENUTUP ................................................................................
93
A. Kesimpulan .........................................................................
93
B. Saran ....................................................................................
94
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
DAFTAR BAGAN
Bagan Kerangka Pemikiran...............................................................
xi
53
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi oleh Bank
Lampiran II
Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi Sistem
Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000
Lampiran III Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20 April
2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas
Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking
xii
ABSTRAK
RATNA SURYANI, E0003274, TINJAUAN YURIDIS TERHADAP
TRANSAKSI PERBANKAN MELALUI INTERNET BANKING DI
INDONESIA. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Penulisan
Hukum (Skripsi). 2008.
Penulisan Hukum (Skripsi) ini bertujuan untuk mengetahui apakah
pengaturan mengenai transaksi perbankan melalui internet banking di Indonesia
dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak yang terkait, serta
untuk mengetahui langkah-langkah hukum atau upaya penyelesaian sengketa yang
diambil jika terjadi permasalahan hukum dalam transaksi perbankan melalui
internet banking.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif yang merupakan
penelitian terhadap sistematik hukum. Jenis data yang digunakan yakni jenis data
sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni melalui studi
kepustakaan baik berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumendokumen dan sebagainya. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi, yang
kemudian data disajikan secara deskriptif.
Transaksi perbankan melalui internet banking belum diatur secara khusus
dalam sistem perundang-undangan di Indonesia. Pengaturan mengenai transaksi
perbankan melalui internet banking di Indonesia yang ada saat ini belum dapat
menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak yang terkait. Upaya
perlindungan hukum telah dilakukan oleh pemerintah, namun substansi-substansi
dari peraturan-peraturan yang ada belum menunjukkan adanya upaya
perlindungan hukum yang optimal bagi para pihak. Hal ini diakibatkan instrumen
perlindungan hukum yang ada dalam ketentuan hukum tersebut masih kurang dan
belum mencerminkan suatu perlindungan hukum yang komprehensif, di mana
perlindungan hukum masih bersifat parsial yang terletak di berbagai macam
perundang-undangan. Peraturan yang ada juga belum mencerminkan asas
keseimbangan, di mana idealnya pembentukan aturan tersebut harus
mencerminkan hak dan kewajiban yang seimbang di antara para pihak yang
terkait. Sengketa yang terjadi antara para pihak jika terjadi permasalahan hukum
dalam transaksi perbankan melalui internet banking dapat diselesaikan dengan
mengacu pada perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak, apakah
penyelesaian sengketa dilakukan melalui pengadilan (litigasi) atau di luar
pengadilan (nonlitigasi). Perjanjian yang telah disepakati bersama merupakan
undang-undang bagi yang membuatnya, sehingga yang dijadikan dasar hukum
dalam upaya penyelesaian sengketa adalah kehendak bebas yang teratur dari para
pihak, dan cara penyelesaian sengketa yang ditempuh sepenuhnya diserahkan
kepada masing-masing pihak untuk memperoleh putusan yang seadil-adilnya.
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara Republik Indonesia merupakan negara berkembang yang telah
menyadari ketertinggalannya di bidang pembangunan. Untuk mengejar
ketertinggalannya tersebut dan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat sejalan dengan perkembangan jaman yang mengarah pada
modernisasi, maka dilakukan usaha yang disebut pembangunan nasional.
Pembangunan
nasional
merupakan
upaya
pembangunan
yang
berkesinambungan yang dilakukan secara menyeluruh terhadap segala sektor
perikehidupan yang meliputi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk
mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam alinea IV
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan
kemerdekaan,
perdamaian
abadi
dan
keadilan
sosial.
Pembangunan nasional bangsa Indonesia dimaksudkan sebagai upaya untuk
membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia
seluruhnya demi terwujudnya suatu masyarakat yang sejahtera, adil, makmur
dan merata baik materiil maupun spiritual.
Pembangunan nasional yang merupakan proses modernisasi telah
membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Perkembangan
jaman yang semakin pesat sebagai akibat dari pembangunan banyak
memberikan pengaruh dalam kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang menimbulkan permasalahan yang multikompleks, sehingga
dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan untuk
terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945 diperlukan suatu peran serta baik dari sektor pemerintah maupun
1
xiv
swasta yang senantiasa memperhatikan keserasian, keselarasan, dan
kesinambungan berbagai unsur pembangunan di bidang ekonomi dan
pembangunan.
Salah satu sarana untuk mewujudkan pembangunan tersebut adalah
adanya peran serta dari lembaga keuangan yang mengatur tatanan sistem
ekonomi yang menunjang pelaksanaan tujuan pembangunan nasional.
Lembaga keuangan pada dasarnya mempunyai peran yang sangat strategis
dalam
mengembangkan
perekonomian
suatu
bangsa.
Tumbuhnya
perkembangan lembaga keuangan secara baik dan sehat akan mampu
mendorong perkembangan ekonomi bangsa. Lembaga keuangan tersebut
dapat berbentuk Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan
Bank. Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi
perseorangan, badan usaha baik milik swasta maupun milik negara, dan
lembaga pemerintah untuk menyimpan dananya yang bertujuan untuk
memberikan kredit dan jasa-jasa. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai
jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan
mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Peran yang
strategis tersebut terutama disebabkan oleh fungsi utama bank sebagai suatu
wadah yang dapat menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat secara
efektif dan efisien, yang menunjang pelaksanaan pembangunan nasional
dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya,
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup
rakyat banyak. Di Indonesia masalah yang terkait dengan bank diatur dalam
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Di dalam industri keuangan yang semakin canggih dewasa ini,
kebutuhan akan jasa perbankan dan persaingan antar bank semakin meningkat,
sehingga perbankan diharuskan untuk senantiasa meningkatkan efisien dan
mutu pelayanannya kepada masyarakat dengan cara menyesuaikan diri agar
mampu menampung tuntutan pengembangan jasa perbankan. Lembaga
xv
keuangan bank memberikan layanannya tidak hanya melalui bentuk-bentuk
konvensional, tetapi sudah mulai beralih pada pemanfaatan teknologi
informasi. Hal ini dipacu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi yang mampu mendukung sistem transaksi perbankan. Kerangka
kerja lembaga keuangan bank harus terus berevolusi mengikuti perkembangan
teknologi terkini, selain itu bank juga harus terus berinovasi sejalan dengan
perkembangan teknologi itu sendiri. Bank-bank masa kini semakin mendorong
peningkatan kualitas dan keterjangkauan yang lebih luas bagi nasabahnya
dalam memperoleh layanan perbankan, sasarannya adalah bagaimana
menjangkau dan memudahkan nasabah untuk menikmati berbagai fasilitas
layanan perbankan tanpa harus terintangi ruang dan waktu.
Semakin pesatnya perkembangan teknologi infomasi pada masa
sekarang ini menjadikan internet banking sebagai alternatif yang banyak
dipakai oleh bank saat ini. Internet banking merupakan pelayanan jasa
perbankan untuk mempermudah nasabah di dalam melakukan transaksi
perbankan, karena internet banking memanfaatkan teknologi sistem informasi
sesuai
dengan
Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh
Bank
dan
Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi Sistem Informasi
Bank dalam Menghadapi Tahun 2000.
Layanan internet banking merupakan wujud dari responsifnya
lembaga keuangan bank terhadap peluang dalam persaingan saat ini. Bagi
sektor
perbankan,
penggunaan
internet
banking
sangat
berpotensi
mengefisiensi biaya sekaligus meningkatkan pendapatan melalui sistem yang
jauh lebih efektif daripada bentuk konvensional. Layanan internet banking
menawarkan berbagai macam kemudahan dalam kegiatan transaksi perbankan
di Indonesia. Kemudahan itu antara lain dimulai dari penawaran jasa
perbankan melalui situs-situs yang dibuat oleh bank yang bersangkutan
sampai pada tawaran untuk melakukan transaksi secara online melalui media
xvi
internet. Di dalam layanan internet banking kita bisa melakukan aktivitas
perbankan hanya melalui komputer yang terhubung dengan internet.
Penggunaan layanan internet banking sangat praktis dan sangat berguna bagi
masyarakat yang malas berantri-antri di bank atau melalui prosedur bank yang
bertele-tele dan berbelit-belit, karena hanya tinggal klik, kita sudah bisa
melakukan transaksi perbankan.
Untuk menjadi nasabah layanan internet banking, terlebih dahulu
nasabah harus mendaftar. Di dalam melakukan pendaftaran itu otomatis bank
dan nasabah terikat dalam suatu perjanjian. Dari sini dapat dilihat bahwa
transaksi perbankan melalui internet banking terkait dengan Hukum
Perjanjian, oleh karena itu perlu diketahui juga secara mendalam mengenai
Hukum Perjanjian.
Dilihat dari suatu sisi, kemunculan teknologi internet banking ini telah
memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan, meningkatkan
efisiensi biaya sekaligus memberikan keuntungan yang tinggi terhadap sektor
perbankan, tetapi di sisi lain transaksi perbankan melalui internet banking
dapat saja menimbulkan sengketa di kemudian hari. Dari berbagai keuntungan
yang diberikan, penggunaan layanan internet banking juga tidak luput dari
risiko munculnya permasalahan hukum dalam transaksi perbankan yang
dilakukan, oleh karena itu dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi
perlu adanya upaya penyelesaian sengketa. Penyelesaian sengketa antara pihak
bank dengan nasabah dapat diselesaikan dengan mengacu pada perjanjian
yang telah disepakati oleh para pihak, apakah penyelesaian sengketa dilakukan
melalui pengadilan (litigasi) atau di luar pengadilan (nonlitigasi).
Transaksi perbankan melalui internet banking harus kita lihat lebih
mendalam lagi, karena kita harus mengetahui apakah itu internet banking dan
apakah pengaturan dari transaksi perbankan melalui internet banking tersebut
di Indonesia dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak
yang terkait, serta bagaimana upaya penyelesaian sengketa jika terjadi
permasalahan hukum dalam transaksi perbankan melalui internet banking.
xvii
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik
untuk mengkaji masalah tersebut yang terumus dalam judul :
“TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI PERBANKAN
MELALUI INTERNET BANKING DI INDONESIA”
B. Pembatasan Masalah
Bagi penulis, pembatasan masalah itu akan menjadi pedoman kerja.
Selain itu pembatasan ruang lingkup obyek atau pokok permasalahan bagi
orang lain mencegah terjadinya kerancuan pengertian dan kaburnya persoalan
(Soetrisno Hadi, 1978:8).
Masalah-masalah yang diteliti oleh penulis sesuai dengan judul di atas,
yaitu menitikberatkan pada pembahasan mengenai transaksi perbankan
melalui internet banking ditinjau dari Hukum Perjanjian, Hukum Perbankan,
dan Hukum Penyelesaian Sengketa.
C. Perumusan Masalah
Untuk mempermudah pemahaman terhadap permasalahan yang dikaji
oleh penulis, serta mempermudah pembahasan masalah agar lebih terarah dan
mendalam sesuai dengan sasaran yang tepat, perlu adanya perumusan masalah
yang tersusun secara baik dan sistematis, maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apakah pengaturan mengenai transaksi perbankan melalui internet
banking di Indonesia dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi
para pihak yang terkait ?
2. Bagaimanakah upaya penyelesaian sengketa jika terjadi permasalahan
hukum dalam transaksi perbankan melalui internet banking ?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian merupakan kegiatan ilmiah, dimana berbagai data dan
informasi dikumpulkan, dirangkai dan dianalisa yang bertujuan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga dalam rangka pemecahan
xviii
masalah-masalah yang dihadapi (Soerjono Soekanto, 1986:2). Penelitian
adalah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji
kebenaran suatu pengetahuan, usaha yang dilakukan dengan metode ilmiah
(Soetrisno Hadi, 1989:4).
Berdasarkan
latar
belakang
masalah
dan
permasalahan
yang
dikemukakan penulis di atas, penelitian ini diharapkan dapat mencapai tujuan
sebagai berikut :
1. Tujuan Obyektif
a). Untuk mengetahui apakah pengaturan mengenai transaksi perbankan
melalui internet banking di Indonesia dapat menjamin kepastian
hukum dan keadilan bagi para pihak yang terkait.
b). Untuk mengetahui langkah-langkah hukum atau penyelesaian sengketa
yang diambil jika terjadi permasalahan hukum dalam transaksi
perbankan melalui internet banking.
2. Tujuan Subyektif
a. Sebagai bahan utama dalam penyusunan penulisan hukum untuk
memenuhi persyaratan wajib bagi setiap mahasiswa dalam meraih
gelar kesarjanaan dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Untuk menambah wawasan pengetahuan serta pemahaman penulis
terhadap penerapan teori-teori yang telah diterima selama menempuh
kuliah guna melatih kemampuan dan keterampilan penulis agar siap
terjun di dalam masyarakat.
c. Untuk memberi gambaran dan sumbangan bagi ilmu pengetahuan pada
umumnya dan ilmu pengetahuan hukum pada khususnya.
E. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian diharapkan akan memberikan suatu manfaat yang
berguna bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya,
xix
dikarenakan besar kecilnya manfaat dari penelitian akan memberikan nilai
tambah bagi penelitian tersebut. Adapun manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Dapat
digunakan
sebagai
sumbangan
karya
ilmiah
dalam
perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Hukum khususnya di
bidang Hukum Perdata dan Hukum Perbankan.
b. Dapat bermanfaat dalam mengadakan penelitian sejenis berikutnya,
disamping itu sebagai pedoman penelitian yang lain.
c. Memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber
informasi dan dapat memberi gambaran lebih jelas kepada masyarakat
mengenai transaksi perbankan melalui internet banking.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi para pihak yang terkait dalam menyelesaikan sengketa
yang timbul jika terjadi permasalahan hukum dalam transaksi
perbankan melalui internet banking.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi pembaca yang tertarik maupun berkepentingan dalam
pelaksanaan pembangunan di bidang perbankan khususnya mengenai
transaksi perbankan melalui internet banking.
F. Metode Penelitian
Untuk memperoleh kebenaran yang dapat dipercaya keabsahannya
suatu penelitian harus menggunakan suatu metode yang tepat dengan tujuan
yang hendak dicapai sebelumnya, sedangkan dalam penentuan metode mana
yang dipilih harus tepat dan jelas sehingga hasil dengan kebenaran yang dapat
dipertanggungjawabkan dapat tercapai.
xx
Di dalam suatu penelitian, metode penelitian merupakan salah satu
faktor penting yang menunjang suatu proses penelitian yaitu berupa
penyelesaian suatu permasalahan yang diteliti di mana metode penelitian
merupakan cara yang utama yang bertujuan untuk mencapai tingkat penelitian,
jumlah dan jenis yang dihadapi. Akan tetapi dengan mengadakan klasifikasi
yang didasarkan pada pengalaman dapat ditentukan jenis penelitian (Winarno
Surakhmad, 1992:130).
Pengertian
metode
sendiri
adalah
usaha
untuk
menemukan,
mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana
dilakukan dengan metode ilmiah (Sutrisno Hadi, 1994:130). Dengan demikian
pengertian metode sebenarnya adalah cara bagaimana penelitian dijalankan.
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan
analisis dan konstruksi yang dilakukan secara metodologi, sistematis dan
konsisten. Metodologi berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu.
Sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti tidak
adanya hal-hal yang bertentangan dalam kerangka tertentu (Soerjono
Soekanto, 1991:42).
Metode penelitian adalah suatu cara untuk memecahkan suatu masalah
dengan cara mengumpulkan, menyusun serta menginterpretasikan data-data
guna
menemukan,
mengembangkan
dan
menguji
kebenaran
suatu
pengetahuan, atau dengan kata lain metodologi penelitian merupakan sarana
dan cara yang digunakan untuk memahami obyek yang diteliti, yang hasilnya
dituangkan dalam penulisan ilmiah dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
Adapun metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam
penyusunan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian hukum ini merupakan jenis Penelitian Hukum Normatif
atau Penelitian Hukum Kepustakaan yang merupakan Penelitian terhadap
xxi
Sistematik Hukum, di mana penelitian hukum dilakukan dengan cara
meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum
primer, sekunder dan tersier. Bahan-bahan hukum itu kemudian disusun
secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam
hubungannya dengan masalah yang diteliti. Hal ini sesuai dengan
pandangan Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H., M.A., bahwa penelitian
hukum yang dilakukan dengan ciri meneliti bahan pustaka atau data
sekunder belaka, dapat dinamakan penelitian hukum normatif atau
penelitian hukum kepustakaan. Penelitian hukum normatif atau penelitian
hukum kepustakaantersebut mencakup :
a. Penelitian terhadap asas-asas hukum
b. Penelitian terhadap sistematik hukum
c. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal
d. Perbandingan hukum
e. Sejarah hukum (Soerjono Soekanto, 2001:13).
2. Jenis Data
Di dalam penelitian hukum ini penulis menggunakan jenis data sekunder,
yaitu sejumlah keterangan atau fakta-fakta yang tidak diperoleh secara
langsung dan dapat diperoleh melalui bahan dokumen, peraturan perundangundangan, laporan, buku-buku kepustakaan, dan sebagainya.
3. Sumber Data
Berdasarkan jenis data yang dipergunakan, maka yang menjadi sumber data
dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder yakni sumber data yang
berasal dari bahan-bahan kepustakaan, arsip-arsip, buku-buku, artikel-artikel,
literatur lain yang dapat digunakan sebagai sumber data sekunder, serta
dokumen-dokumen yang berfungsi sebagai pendamping sekaligus pendukung
data primer, yang terdiri dari :
a. Bahan hukum primer
xxii
Bahan hukum primer meliputi peraturan perundang-undangan yaitu :
(1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
(3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia
(4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum
(5) Peraturan
Pemerintah
Nomor
52
Tahun
2000
tentang
Penyelenggaraan Telekomunikasi
(6) Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi oleh Bank
(7) Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi Sistem
Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000
(8) Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20 April
2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas
Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking.
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum yang isinya membahas
bahan hukum primer meliputi karya ilmiah hasil-hasil penelitian
sebelumnya dan bahan yang didapat dari berbagai situs internet serta
artikel-artikel yang berkaitan dengan topik penelitian.
xxiii
c. Bahan hukum tersier
Bahan hukum tersier yakni bahan hukum yang bersifat menunjang
bahan hukum primer dan sekunder terdiri dari kamus, ensiklopedia,
dll.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penulisan hukum ini
adalah melalui Studi Kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan cara
membaca, mencatat, mempelajari, dan mengkaji buku-buku, literatur, catatancatatan serta peraturan perundang-undangan yang erat kaitannya dengan
pokok-pokok masalah yang digunakan untuk menyusun penulisan hukum ini
yaitu undang-undang yang terkait, literatur-literatur dan tulisan-tulisan lain
yang dapat melengkapi data yang diperlukan dalam penulisan hukum ini.
5. Teknik Analisis Data
Di dalam suatu penelitian, teknik analisis data merupakan suatu hal yang
sangat penting untuk menguraikan dan memecahkan masalah yang diteliti
berdasarkan data-data yang sudah dikumpulkan. Pada tahap ini seluruh data
yang telah terkumpul diolah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu
kesimpulan.
Analisis data merupakan tahap yang paling penting dan menentukan, karena
pada tahap ini terjadi proses pengolahan data. Di dalam sebuah penelitian
hukum normatif, pengolahan data pada hakikatnya berarti kegiatan
mengadakan sistematisasi bahan-bahan hukum tertulis (Soerjono Soekanto,
1984:251).
Teknik analisis data dalam penulisan hukum ini penulis menggunakan teknik
analisis isi (Content of Analysis), yaitu berdasarkan prinsip logis sistematis,
yang hasil penelitiannya akan dijelaskan dalam hubungannya dengan kerangka
teoritik atau tinjauan pustaka. Analisis isi merupakan teknik penelitian yang
dimanfaatkan untuk menarik kesimpulan yang replikatif dan sahih dari data
atas dasar konteksnya (Soerjono Soekanto dan Abdulrahman, 2003:13).
xxiv
Mengenai analisis isi dalam penulisan hukum ini adalah dengan jalan
mengklasifikasikan ketentuan-ketentuan dokumen sampel ke dalam kategori
yang tepat. Setelah analisis data selesai maka hasilnya disajikan secara
deskriptif, yaitu dengan jalan menuturkan dan menggambarkan apa adanya
sesuai dengan permasalahan yang diteliti dan data yang diperoleh.
G. Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai keseluruhan isi
penulisan hukum, maka penulis membagi penulisan hukum ini menjadi empat
bab sebagaimana yang tercantum di bawah ini :
BAB I :
PENDAHULUAN
Pada awal bab ini penulis berusaha memberikan gambaran awal
tentang penelitian ini yang meliputi : latar belakang masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan
hukum.
BAB II :
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini penulis menguraikan mengenai teori-teori yang
menjadi landasan dalam penulisan hukum ini, yang berupa kajian
pustaka dan tinjauan umum yang berkenaan dengan judul dan
masalah yang diteliti, memperjelas konsep-konsep dan landasan
kerangka teoritis.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Di dalam bab ini
penulis menjelaskan
dan menjawab
permasalahan yang telah dianalisis, berdasarkan sumber-sumber
data yang telah didapat, yang berisi hasil penelitian yang
diperoleh dan pembahasannya dikaitkan dengan permasalahan
dengan teknik analisa data yang telah ditentukan dalam sub bab
metode penelitian.
xxv
BAB IV :
PENUTUP
Di dalam bab ini penulis memuat kesimpulan dari hasil penelitian
dan pembahasan serta saran-saran berdasarkan kesimpulan yang
ada.
xxvi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum tentang Perjanjian
a. Pengertian Perjanjian
Perjanjian diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata. Buku I mengenai hukum perorangan, Buku II
memuat ketentuan hukum kebendaan, Buku III mengenai hukum
perjanjian, Buku IV mengatur tentang pembuktian dan daluwarsa.
Pengertian tentang perjanjian dapat kita lihat pada Pasal
1313 KUH Perdata bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap
satu orang atau lebih.
Menurut R. Subekti, bahwa perjanjian adalah suatu
peristiwa di mana seseorang berjanji kepada seorang lain atau di
mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.
Dari peristiwa itu ditimbulkan suatu perhubungan antara dua orang
itu yang dinamakan ”perikatan”. Perjanjian tersebut menerbitkan
suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Di dalam
bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang
mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau
ditulis (R. Subekti, 1996:1).
Perjanjian
menganut
sistem
terbuka
seperti
yang
dicantumkan pada Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata yang
mengatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Sistem terbuka mengandung arti bahwa hukum perjanjian
14
xxvii
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat
untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak
melanggar undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan. Pasalpasal dari hukum perjanjian merupakan hukum pelengkap, yaitu
bahwa
pasal-pasal
tersebut
boleh
disingkirkan
manakala
dikehendaki oleh pihak-pihak yang membuat suatu perjanjian (R.
Subekti, 1996:13).
Menurut Prof. Dr. R. Wirjono Pradjodikoro, S.H., bahwa
perjanjian adalah suatu perbuatan hukum mengenai harta benda
kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau
dianggap berjanji untuk melakukan suatu hal atau untuk tidak
melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak yang lain berhak
menuntut pelaksanaan janji itu (A. Qirom Syamsudin, 1995:7).
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa di dalam suatu perjanjian harus terdapat unsur-unsur
(Abdulkadir Muhammad, 1986:94) :
1) Ada pihak-pihak dalam perjanjian
Pihak dalam perjanjian disebut sebagai subyek perjanjian,
yang terdiri dari minimal dua pihak yang dapat berupa manusia
pribadi atau badan hukum.
2) Ada maksud atau tujuan yang hendak dicapai dalam
mengadakan suatu perjanjian
Pihak-pihak yang berjanji itu harus bermaksud supaya
perjanjian yang mereka lakukan itu mengikat secara sah.
Mengikat secara sah adalah perjanjian itu menimbulkan hak
dan kewajiban bagi pihak-pihak yang diakui oleh hukum.
3) Ada persetujuan antara pihak
Pihak-pihak yang mengadakan suatu perjanjian harus
mencapai persetujuan yang tetap, yang ditunjukkan dengan
xxviii
penerimaan tanpa syarat atas suatu tawaran dan tidak sedang
dalam keadaan berunding.
4) Adanya prestasi yang akan dilaksanakan
Prestasi adalah sesuatu yang diberikan, dijanjikan atau
dilakukan secara timbal balik. Perbuatan, sikap tidak berbuat
atau janji dari masing-masing pihak adalah harga bagi janji
yang telah dibeli oleh pihak lainnya itu. Suatu perjanjian harus
menjadi perbuatan kedua belah pihak, tiap-tiap pihak yang
berjanji untuk mematuhi prestasi kepada pihak lainnya harus
memperoleh pula pemenuhan prestasi yang telah dijanjikan
oleh pihak lainnya itu.
5) Ada bentuk tertentu, lisan atau tertulis
Perjanjian dapat dibuat dalam bentuk lisan ataupun
tertulis. Tetapi beberapa jenis perjanjian tertentu hanya berlaku
jika dalam bentuk tertulis.
Misalnya : Perjanjian jual beli
rumah.
6) Terdapat kausa-kausa yang halal di dalam suatu perjanjian
Suatu perjanjian yang dengan jelas bertentangan dengan
kesusilaan dan ketertiban umum tidak dibenarkan sama sekali
oleh hukum.
b. Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian
Di dalam Pasal 1320 KUH Perdata disebutkan :
Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu :
1) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya ;
2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan ;
3) suatu hal tertentu ;
4) suatu sebab yang halal.
Berdasarkan rumusan tersebut, untuk sahnya perjanjian
diperlukan empat syarat, yaitu (R. Subekti, 1996:7) :
xxix
1) Sepakat mereka yang mengikatkan diri
Pihak-pihak yang mengadakan suatu perjanjian harus
sepakat, karena dengan sepakat dimaksudkan bahwa kedua
subyek yang mengadakan perjanjian itu harus sepakat, setuju
mengenai hal-hal pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Apa
yang dikehendaki oleh pihak yang satu juga dikehendaki oleh
pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama
secara timbal balik.
2) Cakap untuk membuat suatu perjanjian
Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap
menurut hukum. Pada asasnya, setiap orang yang sudah dewasa
atau akil baliq dan sehat pikirannya adalah cakap menurut
hukum. Di dalam Pasal 1330 KUH Perdata disebutkan :
Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah :
a) orang-orang yang belum dewasa;
b) mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
c) orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh
undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada
siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjianperjanjian tertentu.
Ketidakcakapan seorang perempuan yang bersuami sudah
dicabut, karena menurut Surat Edaran Mahkamah Agung
Nomor 3/1963 Tanggal 4 Agustus 1963 Kepada Ketua
Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia,
bahwa Mahkamah Agung menganggap Pasal 108 dan Pasal
110 KUH Perdata tentang wewenang seorang istri untuk
melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di depan
pengadilan tanpa izin atau bantuan dari suaminya, sudah tidak
berlaku lagi.
xxx
3) Mengenai suatu hal tertentu
Suatu hal tertentu dalam hal ini yaitu apa yang menjadi
hak dan kewajiban kedua belah pihak jika ada perselisihan.
Ditegaskan lagi dalam Pasal 1333 KUH Perdata bahwa suatu
persetujuan harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang
paling sedikit ditentukan jenisnya. Di dalam Pasal 1333 Ayat
(2) dinyatakan diperbolehkan mengadakan perjanjian, pada
waktu membuatnya jumlah barang belum ditentukan, asal
jumlah itu kemudian dapat dihitung atau ditentukan.
4) Suatu sebab yang halal
Suatu sebab yang halal dalam hal ini yaitu dalam arti isi
dari perjanjian itu sendiri yang menggambarkan tujuan yang
akan dicapai oleh para pihak. Pengertian sebab yang halal
disebutkan secara contrario dalam Pasal 1337 KUH Perdata,
yaitu suatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh
undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan
dan ketertiban umum. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud causa atau sebab yang halal adalah isi perjanjian itu
menggambarkan tujuan yang hendak dicapai, juga tidak
dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan
kesusilaan dan ketertiban umum.
Syarat pertama dan kedua disebut syarat subyektif karena
menyangkut orang atau pihak yang membuat perjanjian, sedangkan
syarat ketiga dan keempat disebut sebagai syarat obyektif karena
menyangkut obyek yang diperjanjikan oleh orang-orang yang
membuat perjanjian tersebut.
Apabila syarat subyektif tersebut tidak dipenuhi maka
perjanjian itu dapat dibatalkan (canceling) oleh salah satu pihak
yang tidak cakap. Apabila pihak yang tidak cakap tersebut tidak
xxxi
membatalkan perjanjian itu maka perjanjian yang telah dibuat tetap
sah. Apabila syarat obyektif tidak dipenuhi maka perjanjian
tersebut adalah batal demi hukum (null and void). Batal demi
hukum artinya perjanjian yang dibuat para pihak sejak awal
dianggap tidak pernah ada, jadi para pihak tidak terikat dengan
perjanjian tersebut.
c. Asas-asas Perjanjian
Untuk menciptakan keseimbangan dan memelihara hak-hak
yang dimiliki oleh para pihak sebelum perjanjian yang dibuat
menjadi perikatan yang mengikat bagi para pihak, oleh KUH
Perdata diberikan berbagai asas umum yang merupakan pedoman
atau patokan, serta menjadi batas atau rambu dalam mengatur dan
membentuk perjanjian yang akan dibuat hingga pada akhirnya
menjadi perikatan yang berlaku bagi para pihak, yang dapat
dipaksakan pelaksanaannya atau pemenuhannya. Di dalam hukum
perjanjian dikenal beberapa asas yang biasanya digunakan sebagai
dasar dalam melakukan perjanjian. Beberapa asas tersebut antara
lain (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003:13) :
1) Asas Personalia
Di dalam Pasal 1315 KUH Perdata yang berbunyi : “Pada
umumnya tak seorang pun dapat mengikatkan diri atas nama
sendiri atau meminta ditetapkan suatu janji selain untuk dirinya
sendiri”. Berdasarkan rumusan tersebut dapat kita ketahui
bahwa pada dasarnya suatu perjanjian yang dibuat oleh
seseorang dalam kapasitasnya sebagai individu, subyek hukum
pribadi, hanya akan berlaku dan mengikat untuk dirinya
sendiri.
Meskipun secara sederhana dikatakan bahwa ketentuan
Pasal 1315 KUH Perdata menunjuk pada asas personalia,
xxxii
namun lebih jauh dari itu, ketentuan Pasal 1315 KUH Perdata
juga menunjuk pada kewenangan bertindak dari seseorang yang
membuat
atau
mengadakan
perjanjian.
Secara
spesifik
ketentuan Pasal 1315 KUH Perdata ini menunjuk pada
kewenangan bertindak dari individu pribadi sebagai subyek
hukum pribadi yang mandiri, yang memiliki kewenangan
bertindak untuk dan atas nama dirinya sendiri.
2) Asas Konsensualitas
Ketentuan yang mengatur mengenai asas konsensualitas
terdapat dalam ketentuan angka 1 (satu) dari Pasal 1320 KUH
Perdata. Asas konsensualitas memperlihatkan bahwa pada
dasarnya suatu perjanjian yang dibuat secara lisan antara dua
atau lebih orang yang telah mengikat dan karenanya telah
melahirkan kewajiban bagi salah satu atau lebih pihak dalam
perjanjian tersebut, segera setelah orang-orang tersebut
mencapai kesepakatan, meskipun kesepakatan tersebut telah
dicapai secara lisan semata-mata. Ini berarti pada prinsipnya
perjanjian yang mengikat dan berlaku sebagai perikatan bagi
para pihak yang berjanji tidak memerlukan formalitas.
Walaupun demikian, untuk menjaga kepentingan pihak debitur
diadakanlah bentuk-bentuk formalitas, atau dipersyaratkan
adanya suatu tindakan nyata tertentu.
3) Asas Kebebasan Berkontrak
Asas
kebebasan
berkontrak
mendapatkan
dasar
eksistensinya dalam rumusan angka 4 (empat) Pasal 1320 KUH
Perdata. Berdasarkan asas kebebasan berkontrak ini, para pihak
yang membuat dan mengadakan perjanjian diperbolehkan
untuk menyusun dan membuat kesepakatan dan perjanjian
yang melahirkan kewajiban apa saja, selama dan sepanjang
xxxiii
prestasi yang dilaksanakan tersebut bukanlah sesuatu yang
terlarang.
Ketentuan Pasal 1337 KUH Perdata menyatakan bahwa
”Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undangundang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau
ketertiban umum”. Memberikan gambaran umum kepada kita,
bahwa pada dasarnya semua perjanjian dapat dibuat dan
diselenggarakan oleh setiap orang, hanya perjanjian yang
mengandung prestasi atau kewajiban pada salah satu pihak
yang melanggar undang-undang, kesusilaan dan ketertiban
umum saja yang dilarang.
Jika kita perhatikan, KUH Perdata menunjuk pada
pengertian sebab atau causa yang halal. Secara prinsip dapat
dikatakan bahwa yang dinamakan dengan sebab atau causa
yang dipergunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, yang
menunjuk pada sesuatu yang melatarbelakangi terjadinya suatu
peristiwa
hukum,
berubahnya
keadaan
hukum
atau
dilaksanakannya suatu perbuatan hukum tertentu. Hukum tidak
pernah berhubungan dan tidak perlu mengetahui apa yang
melatarbelakangi dibuatnya suatu perjanjian, melainkan cukup
bahwa prestasi yang dijanjikan untuk dilaksanakan yang diatur
dalam
perjanjian
yang dibuat
oleh
para
pihak
tidak
mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan undangundang, kesusilaan dan ketertiban umum.
4) Perjanjian Berlaku sebagai Undang-Undang (Pacta Sunt
Servanda)
Asas yang diatur dalam Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata
menyatakan : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
xxxiv
Ketentuan
Pasal
1233
KUH
Perdata
memiliki
konsekuensi logis bahwa setiap perikatan dapat lahir dari
undang-undang maupun karena perjanjian, jadi perjanjian
adalah sumber dari perikatan. Sebagai perikatan yang dibuat
dengan sengaja, atas kehendak para pihak secara sukarela,
maka segala sesuatu yang telah disepakati, disetujui oleh para
pihak harus dilaksanakan oleh para pihak sebagaimana telah
dikehendaki oleh mereka. Dalam hal salah satu pihak di dalam
perjanjian tidak melaksanakannya, maka pihak lain dalam
perjanjian berhak untuk memaksakan pelaksanaan melalui
mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.
d. Unsur-unsur dalam Perjanjian
Di dalam suatu perjanjian terdapat unsur-unsur perjanjian,
yaitu (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003:83) :
1) Unsur Esensialia
Unsur esensialia dalam perjanjian mewakili ketentuanketentuan berupa prestasi-prestasi yang wajib dilakukan oleh
salah satu atau lebih pihak yang mencerminkan sifat dari
perjanjian tersebut, yang membedakannya secara prinsip dari
jenis perjanjian lainnya. Unsur esensialia ini pada umumnya
dipergunakan dalam memberikan rumusan, definisi atau
pengertian dari suatu perjanjian.
Unsur esensialia adalah unsur yang wajib ada dalam suatu
perjanjian, bahwa tanpa keberadaan unsur tersebut, maka
perjanjian yang dimaksudkan untuk dibuat dan diselenggarakan
oleh para pihak menjadi berbeda, dan karenanya menjadi tidak
sejalan dan sesuai dengan kehendak para pihak.
xxxv
2) Unsur Naturalia
Unsur naturalia adalah unsur yang pasti ada dalam suatu
perjanjian tertentu, ada setelah unsur esensialia diketahui secara
pasti.
3) Unsur Aksidentalia
Unsur aksidentalia adalah unsur pelengkap dalam suatu
perjanjian, yang merupakan ketentuan-ketentuan yang dapat
diatur secara menyimpang oleh para pihak, sesuai dengan
kehendak para pihak, yang merupakan persyaratan khusus yang
ditentukan secara bersama oleh para pihak.
e. Jenis-jenis Perjanjian
Perjanjian dapat dibedakan menurut berbagai cara, yaitu (R.
Setiawan, 1994:25) :
1) Perjanjian Sepihak dan Perjanjian Timbal Balik
Perjanjian sepihak merupakan perjanjian di mana
kewajibannya hanya ada pada satu pihak saja. Sedangkan
perjanjian
timbal
balik
merupakan
perjanjian
yang
menimbulkan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak.
2) Perjanjian Cuma-cuma dan Perjanjian atas Beban
Perjanjian
cuma-cuma
merupakan
perjanjian
yang
memberikan keuntungan bagi salah satu pihak saja. Sedangkan
perjanjian atas beban merupakan perjanjian di mana terdapat
prestasi dari pihak yang satu dan terdapat kontra prestasi dari
pihak lain, dan antar kedua prestasi itu ada hubungannya
menurut hukum.
3) Perjanjian Khusus dan Perjanjian Umum
Perjanjian khusus merupakan perjanjian yang mempunyai
nama
sendiri.
Sedangkan
xxxvi
perjanjian
umum
merupakan
perjanjian yang tidak diatur dalam KUH Perdata, tetapi terdapat
di dalam masyarakat.
4) Perjanjian Kebendaan dan Perjanjian Obligatoir
Perjanjian kebendaan merupakan perjanjian dengan mana
seseorang menyerahkan haknya atas sesuatu kepada pihak lain.
Sedangkan perjanjian obligatoir merupakan perjanjian dengan
mana
pihak-pihak
mengikatkan
diri
untuk
melakukan
penyerahan hak kepada pihak lain.
5) Perjanjian Konsensual dan Perjanjian Riil
Perjanjian konsensual merupakan perjanjian di mana di
antara kedua belah pihak telah tercapai kesesuaian kehendak
untuk mengadakan perikatan. Sedangkan perjanjian riil
merupakan perjanjian di mana selain diperlukan kata sepakat,
barangnya pun harus diserahkan, misalnya perjanjian pinjam
pakai, penitipan barang dan pinjam pengganti.
f. Subyek dan Obyek Perjanjian
1) Subyek perjanjian
Subyek perjanjian yang berupa manusia pribadi maupun
badan hukum supaya sah dalam melakukan perbuatan hukum
harus memenuhi syarat-syarat tertentu, syarat-syarat tersebut
adalah sebagai berikut:
a) Orangnya harus sudah dewasa ;
b) Orangnya sehat pikirannya atau mengetahui dan mengerti
apa yang diperbuatnya ;
c) Tidak dilarang oleh peraturan hukum atau dibatasi untuk
melakukan perbuatan hukum yang sah (A. Qirom
Syamsudin Meilala, 1995:15).
xxxvii
Berdasarkan pengertian di atas, subyek perjanjian dapat
disimpulkan menjadi dua macam:
a) Manusia Pribadi
b) Badan Hukum
2) Obyek perjanjian
Obyek dalam suatu perjanjian adalah hal yang diwajibkan
kepada debitur dan dalam hal mana terhadap pihak kreditur
mempunyai hak.
Sesuai dengan Pasal 1234 KUH Perdata bahwa obyek
suatu perjanjian adalah:
a) Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu ;
b) Untuk berbuat sesuatu atau melakukan perbuatan tertentu;
c) Untuk tidak berbuat sesuatu atau menurut perjanjian ia
tidak boleh melakukan sesuatu.
g. Pelaksanaan Perjanjian
1) Prestasi
Berdasarkan macam hal yang dijanjikan untuk
dilaksanakan, perjanjian dibagi dalam tiga macam, yaitu:
a) Perjanjian untuk memberikan atau menyerahkan suatu
barang,
b) Perjanjian untuk berbuat sesuatu, dan
c) Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu.
Hal yang harus dilaksanakan itu dinamakan “prestasi” (R.
Subekti, 1996 : 34).
xxxviii
2) Wanprestasi
Apabila si berutang (debitur) tidak melakukan apa yang
dijanjikan akan dilakukannya, maka dikatakan bahwa ia
melakukan “wanprestasi”. Ia adalah “alpa” atau “lalai” atau
“bercidera-janji”. Atau juga ia “melanggar perjanjian”, yaitu
apabila ia melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak boleh
dilakukannya.
Wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur
dapat berupa empat macam:
a) Tidak
melakukan
apa
yang
disanggupi
akan
dilakukannya;
b) Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak
sebagaimana dijanjikan ;
c) Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat ;
d) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukannya (R. Subekti, 1996 : 43).
3) Risiko
Risiko ialah kewajiban memikul kerugian yang
disebabkan karena suatu kejadian di luar kesalahan salah satu
pihak. Berdasarkan pengertian di atas persoalan risiko
berpokok pangkal pada terjadinya suatu peristiwa di luar
kesalahan salah satu pihak yang telah mengadakan perjanjian,
yang dalam hukum perjanjian dinamakan “keadaan memaksa”
(R. Subekti, 1996 : 56).
Di dalam KUH Perdata, persoalan risiko diatur dalam
Pasal 1237 KUH Perdata, yang berbunyi “Dalam hal adanya
perikatan untuk memberikan suatu barang tertentu, maka
barang itu semenjak perikatan dilahirkan, adalah atas
xxxix
tanggungan si berpiutang”. Pernyataan “tanggungan” dalam
pasal ini adalah sama dengan “risiko”.
h. Akibat Hukum Perjanjian
Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi
syarat dalam Pasal 1329 KUH Perdata. Perjanjian yang dibuat
secara sah mempunyai akibat hukum :
a) Perjanjian mengikat para pihak ;
b) Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik ;
c) Perjanjian tidak bisa dibatalkan sepihak (J.Satrio, 1992:357).
i. Cara Berakhirnya Perjanjian
Berakhirnya perjanjian dapat diketahui yaitu jika semua perikatan
dari persetujuan telah dihapus, maka persetujuan telah berakhir.
Hapusnya persetujuan dapat pula disebabkan karena hapusnya
perikatan apabila persetujuan tersebut berlaku surut, misalnya
pembatalan persetujuan akibat wanprestasi yang terdapat di dalam
Pasal 1266 KUH Perdata (R. Setiawan, 1994:68).
2. Tinjauan Umum tentang Perbankan
a. Pengertian Bank
Kata bank berasal dari bahasa Itali “banca”, yang berarti
bence yaitu suatu bangku tempat duduk. Hal ini disebabkan pada
zaman pertengahan, pihak banker Itali yang memberikan pinjamanpinjaman melakukan usahanya tersebut dengan duduk di bangkubangku di halaman pasar (Abdurrahman A, 1993:80).
Di
dalam
dimaksudkan
perkembangan
sebagai
suatu
dewasa
jenis
ini,
pranata
istilah
bank
finansial
yang
melaksanakan jasa-jasa keuangan yang cukup beraneka ragam,
seperti memberi pinjaman, mengedarkan mata uang, mengadakan
pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat
xl
penyimpanan untuk benda-benda berharga, dan membiayai usahausaha perusahaan (Abdurrahman A, 1991:80).
Definisi bank menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
bahwa bank adalah usaha di bidang keuangan yang menarik dan
mengeluarkan uang di masyarakat, terutama memberikan kredit
dan jasa di lalu lintas pembayaran dan peredaran uang
(Hermansyah, 2005:8).
Definisi bank menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk
kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak.
Menurut O. P Simorangkir, bahwa bank merupakan salah
satu badan usaha lembaga keuangan yang bertujuan memberikan
kredit dan jasa-jasa. Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik
dengan modal sendiri atau dengan dana-dana yang dipercayakan
oleh pihak ketiga maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat
pembayaran baru berupa uang giral (O. P Simorangkir, 1979:18).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat dikatakan
bahwa pada dasarnya bank adalah badan usaha yang menjalankan
kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
kembali kepada pihak-pihak yang membutuhkan dalam bentuk
kredit dan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran
(Hermansyah, 2005:8).
Menurut Gunarto Suhardi, terdapat beberapa alasan pokok
mengapa para nasabah harus menggunakan jasa perbankan, yaitu
(Gunarto Suhardi, 2003:109) :
xli
1) Alasan Keamanan
Bagi nasabah yang menganggap uang sebagai store of
value atau alat simpanan, maka tidak ada jalan lain untuk
mempercayakan uangnya di bank. Bank sanggup menyediakan
tempat penyimpanan uang yang kuat dan fire-proof, penjagaan
personal keamanan dan asuransi cash in vault.
2) Alasan agar tidak terjadi loss of interest
Bila uang disimpan di rumah, maka uang tersebut tidak
menghasilkan apapun. Namun bila disimpan di bank, maka
bank bersedia memberikan bunga atau imbalan jasa.
3) Titel hak atas uang masih di tangan nasabah
Meskipun status kepemilikan dananya sudah pindah ke
bank, tetapi hak penagihan dan perolehan dana dari bank dalam
rekening giro setiap saat masih ada pada nasabah.
4) Alasan untuk memperlancar pembayaran
Pembayaran melalui bank menjadi lebih mudah dan lebih
lancar, karena pemilik dana tidak lagi harus membawa-bawa
uang tunai untuk dibayarkan kepada seseorang apabila
jumlahnya cukup besar dan pembayarannya tersebut harus
menempuh jarak yang jauh.
5) Pembayaran dalam valuta asing
Bank juga menyediakan transfer atau pembayaran dalam
valuta asing, dimana valuta asingnya terlebih dahulu harus
dibeli pada suatu bank.
xlii
b. Jenis-jenis Bank
1) Dilihat dari bidang usahanya
Di dalam Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Perbankan
disebutkan, menurut jenisnya bank terdiri dari :
a) Bank Umum
Di dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang
Perbankan, yang dimaksud dengan bank umum adalah
bank
yang
melaksanakan
kegiatan
usaha
secara
konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
b) Bank Perkreditan Rakyat
Di dalam Pasal 1 Ayat (4) Undang-Undang
Perbankan, yang dimaksud dengan Bank Perkreditan
Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah
yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam
lalu lintas pembayaran.
2) Dilihat dari kepemilikannya
Dilihat dari kepemilikannya bank dapat dibagi dalam tiga
golongan (Sentosa Sembiring, 2000:6), yakni :
a) Bank Milik Pemerintah (Negara)
Bank Milik Pemerintah artinya modal
yang
bersangkutan berasal dari pemerintah.
b) Bank Milik Swasta
(1) Swasta Nasional, artinya modal bank ini dimiliki oleh
orang ataupun Badan Hukum Indonesia.
xliii
(2) Swasta Asing, artinya modal bank tersebut dimiliki
oleh Warga Negara Asing dan atau Badan Hukum
Asing.
c) Bank Campuran
Bank Campuran adalah bank umum yang didirikan
bersama oleh satu atau lebih bank umum yang
berkedudukan di Indonesia dan didirikan oleh Warga
Negara Indonesia dan atau Badan Hukum Indonesia yang
dimiliki sepenuhnya oleh Warga Negara Indonesia,
dengan satu atau lebih bank yang berkedudukan di luar
negeri.
3) Dilihat dari segi operasional
Dilihat dari ruang lingkup operasional bidang usahanya,
maka bank dapat dibagi dalam dua golongan (Sentosa
Sembiring, 2000:7), yakni :
a) Bank Devisa
Bank Devisa adalah bank yang memperoleh surat
penunjukan dari Bank Indonesia untuk melakukan usaha
perbankan dalam valuta asing.
b) Bank Nondevisa
Bank Nondevisa adalah bank yang tidak dapat
melakukan usaha di bidang transaksi valuta asing.
c. Fungsi Bank
Definisi perbankan menurut Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan bahwa Perbankan adalah segala
sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan,
xliv
kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan
usahanya.
Fungsi perbankan dilihat dari ketentuan Pasal 3 UndangUndang Perbankan bahwa fungsi utama perbankan Indonesia
adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Hal ini
berarti kehadiran bank sebagai suatu badan usaha tidak sematamata bertujuan bisnis, tetapi juga untuk menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan
stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak.
Perbankan memiliki kedudukan yang strategis, yakni
sebagai penunjang kelancaran sistem pembayaran, pelaksanaan
kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem keuangan,
sehingga diperlukan perbankan yang sehat, transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan (Bank Indonesia, 2004:5).
d. Jasa-jasa Perbankan
Jasa-jasa yang diberikan bank dalam rangka lalu lintas
pembayaran
dan
peredaran
uang
antara
lain
mencakup
(Hermansyah, 2005:76) :
1) Pengiriman uang (Transfer)
Pengiriman uang adalah salah satu pelayanan bank
kepada masyarakat dengan bersedia melaksanakan amanat
nasabah untuk mengirimkan sejumlah uang, baik dalam rupiah
maupun dalam valuta asing yang ditujukan kepada pihak lain di
tempat lain di dalam maupun luar negeri.
2) Inkaso
Inkaso
perusahaan
adalah
atau
pemberian
perorangan
kuasa pada bank oleh
untuk
menagihkan,
atau
memintakan persetujuan pembayaran atau menyerahkan begitu
xlv
saja kepada pihak yang bersangkutan di tempat lain atas suratsurat berharga, dalam rupiah atau valuta asing seperti wesel,
cek, kuitansi, surat aksep, dll.
3) Kliring
Kliring adalah sarana perhitungan warkat antarbank yang
dilaksanakan oleh Bank Indonesia guna memperluas dan
memperlancar lalu lintas pembayaran giral.
4) Bank Garansi
Bank Garansi adalah garansi atau jaminan yang diberikan
oleh bank.
5) Kotak Pengaman Simpanan (Safe Deposit Box)
Kotak pengaman simpanan adalah salah satu sistem
pelayanan bank kepada masyarakat, dalam bentuk menyewakan
boks dengan ukuran tertentu untuk menyimpan barang-barang
berharga
dengan
jangka
waktu
tertentu
dan
nasabah
menyimpan sendiri kunci boks pengaman tersebut.
6) Kartu Kredit
Kartu Kredit adalah alat pembayaran pengganti uang
tunai atau cek.
7) Letter of Credit (L/C)
L/C adalah suatu kontrak, dengan mana suatu bank
bertindak atas permintaan dan perintah dari seorang nasabah
yang biasanya berkedudukan sebagai importir untuk melakukan
pembayaran kepada pihak pengekspor atau pihak ketiga atau
membayar atau pengaksep wesel-wesel yang ditarik oleh pihak
ketiga.
xlvi
8) Internet Banking
Internet banking merupakan pelayanan jasa bank yang
memungkinkan nasabah memperoleh informasi, melakukan
komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui
internet.
e. Hubungan Bank dengan Nasabah
Hubungan antara bank dengan nasabah adalah suatu
perjanjian (kontrak) yang diatur oleh hukum perjanjian yang berarti
para pihak dalam hal ini bank dan nasabah mempunyai hak dan
kewajiban.
Di dalam praktik, pada umumnya bank telah membuat
formulir tersendiri. Di dalam formulir tersebut telah tertera segala
persyaratan-persyaratan yang harus ditentukan oleh bank. Inilah
yang oleh para ahli hukum disebut sebagai perjanjian baku artinya
perjanjian yang isinya telah dibakukan dan dituangkan dalam
bentuk formulir (Mariam Darus Badrulzaman, 1983:48).
f. Perlindungan Hukum bagi Nasabah
Menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H., bahwa hukum
melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan
suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka
kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan
secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan kedalamannya.
Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Dengan
demikian, tidak setiap kekuasaan dalam masyarakat itu bisa disebut
hak, melainkan kekuasaan tertentu saja, yaitu yang diberikan oleh
hukum kepada seseorang (Hermansyah, 2005:121).
Berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap nasabah
penyimpan dana, terdapat dua macam perlindungan hukum
(Hermansyah, 2005:123), yaitu :
xlvii
1) Perlindungan tidak langsung, yaitu suatu perlindungan hukum
oleh dunia perbankan yang diberikan kepada nasabah
penyimpan dana terhadap segala risiko kerugian yang timbul
dari suatu kebijaksanaan atau timbul dari kegiatan usaha yang
dilakukan oleh bank.
2) Perlindungan langsung, yaitu suatu perlindungan oleh dunia
perbankan yang diberikan kepada nasabah penyimpan dana
secara langsung terhadap kemungkinan timbulnya risiko
kerugian dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank.
3. Tinjauan Umum tentang Transaksi Perbankan
a. Tinjauan tentang Transaksi
Berbicara mengenai "transaksi" umumnya orang akan
mengatakan bahwa hal tersebut adalah perjanjian jual beli antar
para pihak yang bersepakat untuk itu. Di dalam lingkup hukum,
sebenarnya istilah transaksi adalah penamaan terhadap keberadaan
suatu perikatan ataupun hubungan hukum yang terjadi antara para
pihak. Jadi jika berbicara mengenai transaksi sebenarnya adalah
berbicara mengenai aspek materiil dari hubungan hukum yang
disepakati oleh para pihak, sehingga sepatutnya bukan berbicara
mengenai perbuatan hukumnya secara formil, kecuali untuk
melakukan hubungan hukum yang menyangkut benda tidak
bergerak. Sepanjang mengenai benda tidak bergerak maka hukum
akan mengatur mengenai perbuatan hukumnya itu sendiri yakni
harus dilakukan secara "terang" dan "tunai" (http://www.lkht.net).
Transaksi adalah suatu tindakan yang menimbulkan
tindakan timbal balik atau penyelenggaraan bisnis. Transaksi juga
mencakup unsur-unsur merundingkan, mengelola, memproses
sesuatu yang telah diputuskan. Transaksi adalah sesuatu yang telah
terjadi, di mana suatu sebab tindakan telah timbul. Suatu transaksi
xlviii
hanya dapat timbul apabila ada persetujuan di antara para pihak
(Budiono Kusumohamidjojo, 1998:5).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, transaksi adalah
persetujuan antara dua pihak.
b. Tinjauan tentang Transaksi Perbankan
Transaksi perbankan meliputi setiap transaksi yang
dilakukan melalui lembaga perbankan, yang dilakukan oleh orang
atau badan sebagai subyek hukum. Hampir semua transaksi
perbankan pada hakikatnya merupakan derivatif dari transaksi yang
disebut dalam Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Perbankan, sesuai
dengan fungsi utama perbankan Indonesia yaitu menghimpun dana
dan menyalurkannya kepada masyarakat.
Di dalam transaksi perbankan, semua persetujuan dan
hubungan antara bank dengan nasabah dilakukan dengan
memperhatikan
peraturan
perundang-undangan
yang
yang
berlaku
berlaku,
di
yakni
peraturan
Republik
Indonesia,
khususnya di bidang perbankan, termasuk tetapi tidak terbatas pada
peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan
ketentuan-ketentuan dari asosiasi-asosiasi dengan siapa bank
bergabung serta aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan lain yang
berlaku pada waktu dan di tempat tindakan atau persetujuan
tersebut dilaksanakan (Try Widiyono, 2006:22).
4. Tinjauan Umum tentang Teknologi Informasi
a. Pengertian Teknologi Informasi
Teknologi informasi mempunyai beberapa pengertian dari
para ahli, yaitu (Abdul Kadir dan Terra Ch. Triwahyuni, 2003:2) :
Menurut Haag dan Keen bahwa teknologi informasi adalah
seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi
xlix
dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan
informasi.
Menurut Martin bahwa teknologi informasi tidak hanya
terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat
lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan
informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk
menyimpan informasi.
Menurut Williams dan Sawyer bahwa teknologi informasi
adalah teknologi yang menggabungkan komputer dengan jalur
komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara dan
video.
Sedangkan menurut Wawan Wardiana dalam seminar dan
pameran teknologi informasi 2002 di Fakultas Teknik Universitas
Komputer Indonesia menyebutkan bahwa teknologi informasi
adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data
termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,
memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan
informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat
dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis
dan pemerintahan, serta merupakan informasi yang strategis untuk
pengambilan keputusan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa teknologi informasi baik secara implisit
maupun eksplisit tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi
juga mencakup teknologi informasi (Abdul Kadir dan Terra Ch.
Triwahyuni, 2003:2).
b. Dasar Hukum Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank
Penggunaan teknologi sistem informasi oleh bank sesuai
dengan
Surat
Keputusan
l
Direksi
Bank
Indonesia Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi oleh Bank dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia
Nomor 31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi
Sistem Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000.
Penggunaan teknologi sistem informasi dimaksudkan
adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan
data kegiatan usaha perbankan sehingga dapat memberikan hasil
yang akurat, benar, tepat waktu, dan dapat menjamin kerahasiaan
informasi.
Sehubungan dengan pengertian teknologi sistem informasi
sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1 Surat Keputusan Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995
tentang
Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh Bank tersebut dapat
dijelaskan bahwa pengolahan data keuangan secara elektronis
meliputi pemrosesan transaksi keuangan secara lengkap sejak
pencatatan transaksi sampai dengan penyusunan laporan keuangan,
sedangkan pengolahan data elektronis atas pelayanan jasa
perbankan dengan menggunakan sarana komputer, telekomunikasi
dan sarana elektronis lainnya meliputi penggunaan Automated
Teller Machine (ATM), Electronic Fund Transfer (EFT),
dan
Home Banking Service, termasuk Phone Banking dan Internet
Banking.
c. Peran Teknologi Informasi dalam Keuangan dan Perbankan
Pengertian teknologi sistem informasi
menurut Surat
Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 27/164/KEP/DIR/1995
tentang Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh Bank bahwa
teknologi sistem informasi adalah suatu sistem pengolahan data
keuangan dan pelayanan jasa perbankan secara elektronis dengan
menggunakan sarana komputer, telekomunikasi dan sarana
elektronis lainnya.
li
Saat ini telah banyak pelaku ekonomi, khususnya di kotakota besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam
transaksi pembayarannya, tetapi telah memanfaatkan layanan
perbankan modern. Untuk menunjang keberhasilan operasional
perbankan, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal
yang dapat diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada
akhirnya akan bergantung pada teknologi online (Abdul Kadir dan
Terra Ch. Triwahyuni, 2003:22).
Internet banking merupakan salah satu layanan perbankan
yang menggunakan teknologi informasi. Dengan menggunakan
layanan internet banking, maka nasabah dapat melakukan transaksi
perbankan seperti transfer antar rekening di bank yang sama,
membayar tagihan telepon, rumah atau membayar angsuran kredit
rumah, mobil, motor, membayar tagihan telepon seluler, melayani
pengisian voucher isi ulang, dll.
d. Pelaksanaan Penggunaan Teknologi Sistem Informasi
Di dalam Pasal 3 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia
Nomor 27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi
Sistem Informasi oleh Bank, sebelum bank menyelenggarakan
suatu sistem teknologi informasi, perlu diadakan suatu perencanaan
yang dilakukan oleh manajemen bank. Tugas manajemen bank
adalah wajib:
1) Menerapkan
pengendalian
manajemen
yang
meliputi
perencanaan, penetapan kebijaksanaan, standar dan prosedur,
serta organisasi dan personalia.
2) Melaksanakan fungsi audit intern teknologi sistem informasi,
dengan memperhatikan kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku.
lii
Setelah diadakannya suatu perencanaan oleh manajemen
bank, maka yang selanjutnya dilakukan adalah pelaksanaan
penggunaan sistem dan aplikasi teknologi sistem informasi. Tetapi
sebelum itu, manajemen bank wajib :
1) Memiliki sistem kontrol terhadap sistem dan aplikasi tersebut
yang mencakup pengadaan, pengembangan, pengoperasian dan
pemeliharaan.
2) Menerapkan
prinsip-prinsip
sistem
pengawasan
dan
pengamanan terhadap penggunaan sistem dan aplikasi yang
mengandung risiko tinggi, khususnya yang menyangkut
teknologi database, komputer mikro dan komunikasi data.
3) Memiliki Disaster & Recovery Plan yang sudah teruji dan
memadai.
e. Risiko dalam Penggunaan Teknologi Sistem Informasi
Di dalam penggunaan teknologi sistem informasi terdapat
risiko yang bersifat teknis dan khusus, yang berbeda dengan
penggunaan sistem manual. Risiko yang dimaksud adalah
(http://www.lkht.net) :
1) Risiko yang dapat terjadi dalam tahap perencanaan dan
pengembangan sistem ;
2) Risiko kekeliruan pada tahap pengoperasian ;
3) Risiko akses oleh pihak yang tidak berwenang ;
4) Risiko kerugian akibat terhentinya operasi teknologi sistem
informasi secara total atau sementara, sehingga mengganggu
kelancaran operasional bank ;
5) Risiko kehilangan atau kerusakan data.
liii
5. Tinjauan Umum tentang Internet Banking
a. Pengertian Internet Banking
Internet merupakan suatu jaringan komunikasi yang
berbasiskan pada kecanggihan teknologi digital dan bersifat global,
karena mampu menjangkau masyarakat seluruh dunia. Menurut
Peraturan
Pemerintah
Nomor
52
Tahun
2000
tentang
Penyelenggaraan Telekomunikasi, internet dimasukkan ke dalam
jenis jasa multimedia, yang didefinisikan sebagai penyelenggaraan
jasa telekomunikasi yang menawarkan layanan berbasis teknologi
informasi.
Internet banking merupakan saluran distribusi bank untuk
mengakses rekening yang dimiliki nasabah melalui jaringan
internet dengan menggunakan perangkat lunak browser pada
komputer.
Internet banking merupakan bagian dari electronic banking
channel dan juga merupakan inovasi dari jenis rekening tabungan
atau rekening giro rupiah, yang dimaksudkan agar nasabah pemilik
rekening dapat mengakses rekeningnya melalui jaringan internet
dengan menggunakan perangkat lunak browser pada komputer
(Try Widiyono, 2006:211).
Berdasarkan
Surat
Edaran
Bank
Indonesia
Nomor
6/18/DPNP Tanggal 20 April 2004 tentang Penerapan Manajemen
Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank melalui Internet
Banking, yang dimaksud internet banking adalah salah satu
pelayanan jasa bank yang memungkinkan nasabah untuk
memperoleh informasi, melakukan komunikasi dan melakukan
transaksi perbankan melalui jaringan internet, dan bukan
merupakan bank yang hanya menyelenggarakan layanan perbankan
melalui internet.
liv
b. Tipe-tipe Layanan Internet Banking
Sejalan dengan keberadaan layanan jasa perbankan dengan
media elektronik, tipe-tipe layanan jasa perbankan melalui internet
banking (Budi Agus Riswandi, 2005: 35) terdiri dari :
1) Informational Web
Informational
Web
merupakan
tipe
layanan
jasa
perbankan tingkat dasar yang sudah melalui web, tetapi hanya
menampilkan informasi saja.
2) Transactional Web
Transactional
Web
merupakan
tipe
layanan
jasa
perbankan yang memperbolehkan nasabah untuk melakukan
pembelian barang dan jasa serta transaksi perbankan secara
online.
3) Wireless
Wireless merupakan tipe layanan jasa perbankan untuk
menawarkan mengenai produk dan jasa baru kepada nasabah
melalui wireless divice, seperti telepon selular, pager dan
personal digital assistants yang mempunyai akses wireless
pada bank.
4) PC Banking
PC Banking merupakan tipe layanan jasa perbankan yang
menyediakan pengembangan channel secara tertutup melalui
telepon (home banking) yang dibatasi untuk komunikasi e-mail,
transfer uang, meninjau dan menyeimbangkan rekening, dan
pembayaran tanpa cek.
Berdasarkan
Surat
Edaran
Bank
Indonesia
Nomor
6/18/DPNP tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas
lv
Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking, tipe-tipe layanan
internet banking dapat berupa :
1) Informational Internet Banking
Informational Internet Banking adalah pelayanan jasa
bank kepada nasabah dalam bentuk informasi melalui jaringan
internet dan tidak melakukan eksekusi transaksi.
2) Communicative Internet Banking
Communicative Internet Banking adalah pelayanan jasa
bank
kepada
nasabah
dalam
bentuk
komunikasi
atau
melakukan interaksi dengan bank penyedia layanan internet
banking secara terbatas dan tidak melakukan eksekusi
transaksi.
3) Transactional Internet Banking
Transactional Internet Banking adalah pelayanan jasa
bank kepada nasabah untuk melakukan interaksi dengan bank
penyedia layanan internet banking dan melakukan eksekusi
transaksi.
Menurut Try Widiyono, transaksi perbankan yang dapat
dilakukan melalui layanan internet banking yaitu (Try Widiyono,
2006:212) :
1) Transfer dana rupiah atau pemindahbukuan antar rekening bank
yang sama serta up date daftar transfer.
2) Pembayaran tagihan-tagihan, misalnya tagihan telepon, listrik,
air, berbelanja lewat e-commerce, dan lain sebagainya ;
3) Pembukaan deposito berjangka, sesuai dengan fitur produk
deposito pada bank yang bersangkutan ;
4) Informasi rekening, misalnya posisi saldo rekening, suku bunga
dan kurs valuta ;
lvi
5) Pendaftaran
layanan
notifikasi
SMS,
yaitu
melakukan
pendaftaran atau perubahan layanan notifikasi SMS ke ponsel
nasabah pengguna ;
6) Permintaan buku cheque/ bilyet giro ;
7) Up date profil, antara lain mengubah PIN atau mengubah
alamat e-mail.
c. Risiko dalam Layanan Internet Banking
Di dalam layanan internet banking ditemukan beberapa
kategori risiko (Budi Agus Riswandi, 2005:29), antara lain :
1) Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko terhadap pendapatan atau
modal yang timbul dari kegagalan nasabah untuk menyepakati
setiap kontrak dengan bank atau sebaliknya untuk performan
yang disetujui.
2) Risiko Suku Bunga
Risiko suku bunga adalah risiko terhadap pendapatan atau
modal yang timbul dari pergerakan dalam suku bunga.
3) Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko yang dihadapi oleh bank
dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditasnya.
4) Risiko Transaksi
Risiko transaksi adalah risiko yang prospektif dan banyak
berdampak pada pendapatan dan modal.
5) Risiko Komplain
Risiko komplain adalah risiko yang berdampak terhadap
pendapatan dan modal akibat adanya pelanggaran terhadap
hukum, regulasi atau standar etik.
lvii
6) Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah sebagian besar dari prospek risiko
yang berdampak kepada pendapatan dan modal akibat adanya
pendapat negatif dari publik.
d. Peraturan-peraturan Terkait dengan Internet Banking di
Indonesia
1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia
4) Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Telekomunikasi
5) Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi oleh Bank
6) Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi
Sistem Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000
7) Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20
April 2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada
Aktivitas Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking
6. Tinjauan Umum tentang Keadilan
a. Pengertian Keadilan
Keadilan berasal dari kata “adil” yang berarti tidak berat
sebelah atau tidak memihak. Di dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, keadilan diartikan sebagai sifat (perbuatan, perlakuan,
lviii
dsb) yang adil, yang mempertahankan hak dan keadilan, serta
menciptakan keadilan bagi masyarakat.
Menurut
ajaran
Aristoteles,
keadilan
tidak
boleh
dipandang sama arti dengan persamarataan. Keadilan bukan berarti
bahwa tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama. Keadilan
dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Keadilan Distributif
Keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang jatah
menurut jasanya, bukan menuntut tiap-tiap orang mendapat
bagian yang sama banyaknya, bukan persamaan, melainkan
kesebandingan.
2) Keadilan Komutatif
Keadilan yang memberikan pada setiap orang sama banyaknya
dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan. (L. J van
Apeldoorn, 2001:11).
Peraturan yang adil adalah peraturan pada mana terdapat
keseimbangan antara kepentingan-kepentingan yang dilindungi,
pada mana setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang
menjadi bagiannya (L. J van Apeldoorn, 2001:12).
b. Hukum dan Keadilan
Pembentukan hukum harus selalu dibimbing oleh suatu
rasa keadilan, yakni rasa tentang yang baik dan pantas bagi orangorang yang hidup bersama. Karenanya berlaku prinsip keadilan,
bahwa kepada yang sama penting diberikan yang sama, kepada
yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama (Soetiksno,
1986:48).
Di dalam sistem hukum kontinental, hukum ditanggapi
sebagai terjalin dengan prinsip-prinsip keadilan, hukum adalah
lix
undang-undang yang adil, di mana pengertian hukum yang hakiki
berkaitan dengan arti hukum sebagai keadilan. Bila suatu undangundang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan, maka hukum
itu tidak bersifat normatif lagi, dan sebenarnya tidak dapat disebut
hukum. Undang-undang hanya hukum bila adil. Sedangkan dalam
sistem hukum Anglo-saxon, hukum harus ditaati, bahkan juga bila
tidak adil.
Bila adil merupakan unsur konstitutif hukum, suatu
peraturan yang tidak adil bukan hanya hukum yang buruk, akan
tetapi semata-mata bukan hukum, sehingga orang tidak tidak
terikat akan peraturan yang bersangkutan, dan tindakan balasan
tidak sah. Sebaliknya, bila adil merupakan unsur regulatif bagi
hukum, suatu peraturan yang tidak adil tetap hukum walaupun
buruk, dan tetap berlaku dan mewajibkan (Theo Huijbers,
1995:69).
Bila suatu kaidah menurut isinya menggalang suatu
aturan yang adil, maka kaidah itu bernilai dan dapat ditanggapi
sebagai mewajibkan secara batin.
7. Tinjauan Umum tentang Upaya Penyelesaian Sengketa
Upaya penyelesaian sengketa merupakan suatu pencarian
metode alternatif
untuk mencegah dan menyelesaikan sengketa.
Penyelesaian sengketa perdata di samping dapat diajukan ke peradilan
umum juga terbuka kemungkinan diajukan melalui arbitrase dan
alternatif penyelesaian sengketa.
Proses penyelesaian sengketa untuk menyelesaikan sengketa
yang timbul terdiri dari (Suyud Margono, 2000:23) :
lx
a. Proses Adjudikasi
1) Litigasi
Litigasi adalah proses gugatan atau suatu konflik yang
diritualisasikan untuk menggantikan konflik sesungguhnya,
dimana para pihak memberikan kepada seorang pengambil
keputusan dua pilihan yang bertentangan. Litigasi mempunyai
karakteristik adanya pihak ketiga yang mempunyai kekuatan
untuk memutuskan solusi di antara para pihak yang
bersengketa.
2) Arbitrase
Arbitrase merupakan salah satu bentuk adjudikasi privat,
dimana
para
pihak
menyetujui
untuk
menyelesaikan
sengketanya kepada pihak netral yang mereka pilih untuk
membuat keputusan. Di dalam arbitrase, para pihak dapat
memilih hakim yang mereka inginkan.
Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum, yang
dimaksud dengan arbitrase adalah cara penyelesaian suatu
sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak
yang bersengketa.
b. Proses Konsensus
1) Ombudsman
Ombudsman adalah suatu badan atau institusi yang
tugasnya menginvestigasi keberatan dan mencegah terjadinya
sengketa para pihak atau memfasilitasi pemecahan masalahnya.
2) Pencari Fakta Bersifat Netral (Neutral Fact Finding)
lxi
Pencari fakta bersifat netral merupakan penunjukan saksi
ahli yang netral oleh pengadilan untuk menyelidiki persoalanpersoalan
yang
ditetapkan
dan
melaporkan
penemuan-
penemuannya, sehingga dengan penemuan-penemuan tersebut
pihak ketiga dapat memperoleh fakta-fakta yang obyektif.
3) Negosiasi
Negosiasi adalah proses konsensus yang digunakan para
pihak yang bersengketa untuk memperoleh kesepakatan di
antara mereka. Menurut Fisher dan Ury, negosiasi adalah
komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai
kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki berbagai
kepentingan yang sama maupun berbeda.
4) Mediasi
Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah di
mana pihak luar yang tidak memihak bekerjasama dengan
pihak
yang
bersengketa
untuk
membantu
memperoleh
kesepakatan perjanjian yang memuaskan.
5) Konsiliasi
Konsiliasi mengacu pada pola proses penyelesaian
sengketa secara konsensus antara pihak, di mana pihak netral
dapat berperan secara aktif maupun tidak aktif. Pihak-pihak
yang bersengketa harus menyatakan persetujuan atas usulan
pihak ketiga tersebut dan menjadikannya sebagai kesepakatan
penyelesaian sengketa.
lxii
c. Proses Adjudikasi Semu
1) Mediasi-Arbitrase
Mediasi-Arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa
campuran atau kombinasi mediasi dan arbitrase yang dilakukan
setelah proses mediasi tidak berhasil.
2) Persidangan Mini (Mini Trial)
Persidangan mini merupakan proses pemeriksaan yang
melibatkan para pihak dalam penilaian pokok-pokok perkara
mereka melalui informasi yang diberikan dalam presentasi
secara ringkas oleh pengacara di hadapan suatu panel yang
terdiri atas wakil masing-masing pihak untuk merundingkan
dan menyelesaikan perkara tersebut.
3) Pemeriksaan Juri secara Sumir (Summary Jury Trial)
Persidangan
ini
merupakan
suatu
sarana
yang
dimaksudkan untuk menghemat waktu pengadilan dan sumber
daya, di mana dalam proses pemeriksaan pengacara membuat
presentasi ringkas tentang perkara di hadapan juri penasihat
yang akan memberikan pertimbangan atas informasi-informasi
yang dipresentasikan pengacara.
4) Evaluasi Netral Secara Dini
Evaluasi
netral
secara
dini
merupakan
proses
penyelesaian sengketa yang terjadi pada awal proses litigasi
dengan penunjukan pengacara yang netral dan berpengalaman
dalam menilai materi atau pokok perkara oleh pengadilan, yang
bertujuan untuk memberikan para pihak yang berperkara suatu
pandangan yang obyektif mengenai perkara masing-masing.
lxiii
B. Kerangka Pemikiran
Lembaga keuangan bank mempunyai peran yang sangat strategis
dalam mengembangkan perekonomian suatu bangsa, oleh karena itu
diperlukan peran aktif bank dalam praktik perekonomian. Di dalam
masyarakat dunia yang semakin berkembang ini, perbankan diharapkan
selalu terdepan di dalam inovasi. Semakin pesatnya perkembangan
teknologi informasi belakangan ini, membuat bank-bank yang ada semakin
terpacu dalam membuat inovasi, sehingga transaksi perbankan dapat
secara praktis dilakukan.
Di antara berbagai macam inovasi yang dibuat oleh bank,
layanan internet banking adalah salah satunya. Internet banking
memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan. Hanya
melalui komputer yang terhubung dengan internet, kita bisa melakukan
aktivitas perbankan tanpa harus melalui prosedur bank yang bertele-tele,
karena hanya tinggal klik kita sudah bisa melakukan transaksi perbankan,
seperti transfer antar rekening di bank yang sama, membayar angsuran
kredit rumah, membayar tagihan telepon seluler, dll.
Di dalam transaksi perbankan di Indonesia dewasa ini,
penggunaan layanan internet banking merupakan alternatif yang banyak
dipakai karena dirasa sangat praktis, sehingga memberikan kemudahan
baik bagi bank maupun bagi nasabah pengguna layanan internet banking.
Selain itu, internet banking dapat meningkatkan efisiensi biaya dan waktu
sekaligus memberikan keuntungan yang tinggi terhadap sektor perbankan.
Untuk menjadi nasabah layanan internet banking, terlebih dahulu
nasabah harus mendaftar. Di dalam melakukan pendaftaran itu otomatis
bank dan nasabah terikat di dalam suatu perjanjian. Dari sini dapat dilihat
bahwa transaksi perbankan melalui internet banking juga terkait dengan
hukum perjanjian.
lxiv
Transaksi perbankan melalui internet banking dapat saja
menimbulkan sengketa di kemudian hari, dari berbagai kemudahan yang
diberikan, layanan internet banking tidak luput dari risiko. Di dalam
layanan internet banking terdapat kemungkinan muncul permasalahan
hukum dalam transaksi perbankan yang dilakukan, oleh karena itu dalam
menyelesaikan
permasalahan
yang
terjadi
perlu
adanya
upaya
penyelesaian sengketa. Penyelesaian sengketa antara pihak bank dengan
nasabah dapat diselesaikan dengan mengacu pada perjanjian yang telah
disepakati oleh para pihak, apakah penyelesaian sengketa dilakukan
melalui pengadilan (litigasi) atau di luar pengadilan (nonlitigasi).
Berdasarkan pemikiran di atas maka transaksi perbankan melalui
internet banking harus dikaji secara mendalam, sehingga dapat
memperoleh kejelasan tentang layanan internet banking, mengetahui
apakah pengaturan transaksi perbankan melalui internet banking di
Indonesia dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak
yang terkait, serta mengetahui upaya penyelesaian sengketa terhadap risiko
jika terjadi permasalahan hukum dalam transaksi perbankan melalui
internet banking.
Untuk lebih jelasnya, maka kerangka pemikiran dapat disusun
sebagai berikut :
lxv
Bagan Kerangka Pemikiran
UUD 1945
Pembangunan Nasional di segala bidang
Peran serta Perbankan
UU Bank Indonesia
UU Perbankan
KUH Perdata
Perkembangan TI dalam
transaksi perbankan
SK Direksi BI
& SEBI
Nasabah
Transaksi perbankan melalui
internet banking
Permasalahan Hukum
Upaya Penyelesaian Sengketa
Litigasi
Non Litigasi
Solusi Masalah/Sumbangan Pemikiran
lxvi
Bank
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Transaksi Perbankan melalui Internet Banking di Indonesia
1. Deskripsi Transaksi Perbankan melalui Internet Banking di
Indonesia
Di dalam melakukan aktivitas rekening khususnya tabungan baik
penyetoran maupun penarikan, nasabah harus datang sendiri (atau melalui
kuasanya yang dibuktikan adanya surat kuasa) dan mengisi aplikasi atau
formulir sesuai dengan transaksi yang akan dilakukan. Namun dalam
perkembangan fungsi dari tabungan dimaksud, di samping sebagai tempat
menyimpan dana, juga dikembangkan suatu sistem untuk melakukan
beberapa transaksi perbankan yang dapat dilakukan tanpa kehadiran
nasabah ke kantor bank serta tidak perlu menandatangani formulir
permohonan, bahkan transaksi tersebut dapat dilakukan dimana saja dan
kapan saja.
Perkembangan layanan perbankan dewasa ini mengalami kemajuan
yang pesat sekali. Ini dibuktikan dengan adanya layanan perbankan lewat
sarana internet atau yang lebih dikenal dengan internet banking. Dengan
adanya keuntungan dan kemudahan yang ditawarkan oleh layanan internet
banking ini maka dunia perbankan saling berlomba untuk menawarkan
berbagai macam layanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi
perbankan.
Definisi internet banking menurut Surat Edaran Bank Indonesia
Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20 April 2004 tentang Penerapan Manajemen
Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking yakni
bahwa internet banking merupakan salah satu pelayanan jasa bank yang
memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan
komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui jaringan internet.
54
lxvii
Di Indonesia saat ini terdapat beberapa bank yang telah
menyelenggarakan layanan internet banking untuk mempermudah
transaksi perbankan yang dilakukan oleh bank dan nasabah, di antaranya
yakni Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), HSBC, Citibank, Bank
Negara Indonesia (BNI), Bank Internasional Indonesia (BII), Bank
Permata, dan Bank Lippo.
Internet banking merupakan bagian dari electronic banking yang
merupakan inovasi dari jenis rekening tabungan dan atau rekening giro
rupiah. Sebagai sistem layanan yang bersumber pokok pada kedua
rekening tersebut, maka salah satu syarat bagi nasabah yang menginginkan
layanan internet banking ini terlebih dahulu harus mempunyai rekening
tabungan dan atau rekening giro serta harus mempunyai alamat e-mail dan
hardware/software dengan kualifikasi tertentu. Meskipun demikian,
nasabah yang telah memiliki jenis rekening tabungan dan atau rekening
giro serta alamat e-mail tidak secara otomatis dapat diberikan layanan
internet banking ini, nasabah harus melakukan pendaftaran atau registrasi
terlebih dahulu untuk menjadi nasabah internet banking, kecuali jika
secara tegas dinyatakan dalam syarat dan ketentuan produk rekening
tabungan dan atau rekening giro yang dinyatakan bahwa fasilitas kedua
rekening tersebut secara otomatis melekat layanan internet banking.
Pendaftaran atau registrasi dapat dilakukan melalui jaringan mesin
ATM dengan menggunakan kartu ATM atau dapat pula pendaftaran
dilakukan melalui kantor cabang yang bersangkutan, dengan memenuhi
dan menyetujui syarat dan ketentuan yang merupakan perjanjian baku
yang telah ditetapkan oleh pihak bank untuk disetujui oleh nasabah yang
ingin menjadi nasabah internet banking. Syarat dan ketentuan ini biasanya
terdapat pada screen ATM bank yang bersangkutan, situs internet bank
yang bersangkutan, atau dalam bentuk formulir yang dapat diperoleh dari
kantor cabang bank yang bersangkutan.
lxviii
Setelah terdaftar menjadi nasabah internet banking, nasabah akan
memperoleh User ID (identitas pengguna) dan PIN (nomor identitas
pribadi) yang merupakan kode rahasia dan kewenangan pengguna yang
hanya diketahui oleh nasabah yang bersangkutan sebagai verifikasi pada
saat nasabah akan melakukan transaksi perbankan melalui internet
banking, yang dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan identitas dan
semua informasi keuangan nasabah, sehingga semua transaksi perbankan
hanya dapat dilakukan oleh nasabah yang bersangkutan. Mengenai jumlah
digit dan atau sistem aktivasi melalui User ID dan PIN serta tata cara
pengiriman User ID dan PIN tersebut, masing-masing bank berbeda antara
yang satu dengan yang lain. Hal ini terkait dengan sistem teknologi dan
pilihan
sistem
pengamanan
yang
dimiliki
setiap
bank
yang
menyelenggarakan layanan internet banking. Untuk mengamankan
transaksi pengguna layanan internet banking, maka terdapat bank yang
mewajibkan penggunaan token PIN, yaitu alat pengaman yang berfungsi
menghasilkan PIN yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi
perbankan melalui internet. Dengan token PIN ini, maka PIN nasabah akan
selalu berganti-ganti setiap saat, sehingga keamanan transaksi perbankan
lebih aman dan terjamin.
Jenis layanan internet banking yang ditawarkan oleh bank dan
dapat diakses oleh nasabah antara bank satu dengan yang lain pun
berbeda-beda. Sebagai contoh di dalam layanan Internet Banking Mandiri,
layanan
yang
terdapat
dalam
Internet
Banking
Mandiri,
yaitu
(http://www.bankmandiri.com) :
a. Informasi saldo
Informasi saldo yang dapat dilakukan adalah saldo tabungan, giro,
deposito, dan pinjaman.
lxix
b. Informasi sepuluh transaksi terakhir
Nasabah dapat mengetahui informasi sepuluh transaksi terakhir untuk
rekening tabungan dan giro.
c. Transaksi transfer
Transaksi transfer yang dapat dilakukan oleh nasabah, yaitu :
1) Transfer antar rekening sendiri
2) Transfer ke rekening pihak ketiga yang telah didaftarkan
d. Pembayaran
Pembayaran yang dapat dilakukan oleh nasabah yaitu pembayaran
tagihan listrik, telepon selular, pajak, dan tagihan-tagihan lain.
e. Pembelian
Pembelian disini meliputi pembelian voucher pulsa telepon selular.
f. Mengubah PIN
Melakukan perubahan PIN dapat dilakukan sesuai dengan keinginan
nasabah.
Sedangkan contoh lain, jenis transaksi perbankan yang ditawarkan
dalam Internet Banking BNI, antara lain (http://www.bni.co.id) :
a. Transaksi Nonfinansial, terdiri dari :
1) Informasi saldo
2) Informasi mutasi rekening
3) Mengubah PIN
4) Mengubah alamat e-mail
5) Daftar rekening
6) Daftar pembayaran
lxx
b. Transaksi Finansial, terdiri dari :
1) Transfer dana antar rekening BNI
2) Pembayaran tagihan (tagihan listrik, kartu kredit, telepon selular,
dll.)
3) Pembelian
Fitur dan jenis layanan internet banking selalu berkembang sesuai
dengan perkembangan teknologi informasi, di mana setiap saat dapat
berubah. Di samping itu, informasi dan transaksi perbankan melalui
internet banking hanya bersifat pemberitahuan, sehingga nasabah
sebaiknya tetap meminta data transaksi tersebut ke cabang bank yang
bersangkutan menyangkut hal pembuktian. Berkaitan dengan pembuktian,
di dalam ketentuan layanan internet banking biasanya terdapat ketentuan
mengenai pembuktian, sebagai contoh di dalam Internet Banking BCA
terdapat ketentuan sebagai berikut (http://www.klikbca.com) :
a. Setiap transaksi finansial dari nasabah yang tersimpan pada pusat data
BCA dalam bentuk apapun, termasuk namun tidak terbatas pada
catatan, tape/cartridge, print out komputer, komunikasi yang ditransisi
secara elektronik antara BCA dan nasabah, merupakan alat bukti yang
sah, kecuali nasabah dapat membuktikan sebaliknya.
b. Nasabah menyetujui semua komunikasi dan instruksi dari nasabah
yang diterima oleh BCA merupakan alat bukti yang sah meskipun
tidak dibuat dokumen tertulis ataupun dikeluarkan dokumen yang
ditandatangani.
Internet banking memberikan berbagai manfaat bagi nasabah
sebagai
pengguna
layanan
internet
banking
dan
bank
sebagai
penyelenggara layanan internet banking, manfaat tersebut antara lain
(http://www.cert.or.id) :
a. Manfaat bagi nasabah yang menggunakan layanan internet banking,
yaitu :
lxxi
1) Dapat melakukan transaksi perbankan kapan saja, dimana saja
selama 24 (dua puluh empat) jam sehari dan 7 (tujuh) hari
seminggu
2) Proses transaksi perbankan menjadi lebih cepat
3) Fitur layanan di dalam layanan internet banking sangat beragam
dan lengkap
b. Manfaat bagi bank yang menyelenggarakan layanan internet banking,
yaitu :
1) Menurunkan biaya transaksi di dalam perbankan
2) Meningkatkan image bank
3) Meningkatkan loyalitas nasabah kepada bank
4) Menghasilkan fee based income
Penghentian akses layanan internet banking bagi nasabah dapat
dilakukan oleh pihak bank apabila (http://www.cert.or.id) :
a. Nasabah meminta kepada bank untuk menghentikan akses layanan
internet banking, karena :
1) Nasabah menutup semua rekening yang dapat diakses melalui
layanan internet banking
2) User ID dan atau PIN nasabah pengguna lupa
b. Nasabah salah memasukkan PIN sebanyak tiga kali atau sesuai
ketentuan bank yang bersangkutan
c. Diterimanya laporan dari nasabah mengenai dugaan atau diketahuinya
User ID dan PIN oleh pihak lain yang tidak berwenang
d. Bank melaksanakan suatu keharusan sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.
lxxii
2. Pengaturan Transaksi Perbankan melalui Internet Banking di
Indonesia
Di dalam pembahasan ini penulis meninjau mengenai transaksi
perbankan melalui internet banking berdasarkan beberapa peraturan yang
ada di Indonesia yang terkait dengan permasalahan yang diteliti, yang akan
diuraikan sebagai berikut :
a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Transaksi perbankan melalui internet banking, bagaimanapun
termasuk ruang lingkup hukum perdata. Esensi dalam transaksi
perbankan tersebut adalah adanya suatu perikatan yang lahir dari suatu
perjanjian, sehingga permasalahan hukum utama dalam transaksi
perbankan melalui internet banking adalah permasalahan “kontrak”,
dimana semua transaksi perbankan yang dilakukan oleh nasabah
semata-mata berdasarkan hukum perjanjian yang konvensional (Try
Widiyono, 2006:214).
Menurut Pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian adalah suatu
perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang atau lebih. Berdasarkan rumusan tersebut
ditegaskan bahwa perjanjian mengakibatkan seseorang mengikatkan
dirinya pada orang lain, sehingga lahir kewajiban atau prestasi dari
satu atau lebih pihak kepada satu atau lebih pihak lain. Perjanjian
dibuat dengan pengetahuan dan kehendak bersama dari para pihak,
dengan tujuan untuk menciptakan atau melahirkan kewajiban pada
salah satu pihak atau kedua belah pihak yang membuat perjanjian
tersebut.
Untuk sahnya suatu perjanjian menurut Pasal 1320 KUH
Perdata diperlukan empat syarat, yaitu :
lxxiii
1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
Kesepakatan dalam perjanjian merupakan perwujudan dari
kehendak dua atau lebih pihak dalam perjanjian mengenai apa yang
mereka
kehendaki
untuk
dilaksanakan,
bagaimana
cara
melaksanakannya, dan siapa yang harus melaksanakan. Pada
dasarnya sebelum para pihak sampai pada kesepakatan mengenai
hal-hal tersebut, maka salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian
tersebut akan menyampaikan terlebih dahulu suatu pernyataan
mengenai apa yang dikehendaki oleh pihak tersebut dengan segala
macam persyaratan yang mungkin dan diperkenankan oleh hukum
untuk disepakati oleh para pihak (Kartini Muljadi dan Gunawan
Widjaja, 2003:94).
Sepakat mereka yang mengikatkan diri merupakan sumber
hukum dari salah satu asas dalam perjanjian, yaitu asas
konsensualitas. Asas konsensualitas pada dasarnya mempunyai arti
bahwa perjanjian yang dibuat secara lisan antara dua orang atau
lebih orang telah mengikat, dan karenanya telah melahirkan
kewajiban bagi salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian
tersebut, segera setelah orang-orang tersebut mencapai kesepakatan
atau consensus, meskipun kesepakatan tersebut telah dicapai secara
lisan semata. Ini berarti bahwa pada prinsipnya perjanjian yang
mengikat dan berlaku sebagai perikatan bagi para pihak yang
berjanji tidak memerlukan formalitas, walaupun demikian untuk
menjaga kepentingan pihak debitur (atau yang berkewajiban untuk
memenuhi prestasi) diadakanlah bentuk-bentuk formalitas, atau
dipersyaratkan adanya suatu tindakan nyata tertentu (Kartini
Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003:34).
Di dalam transaksi perbankan melalui internet banking,
yang menjadi subyek perjanjian adalah nasabah dan bank,
sedangkan obyek perjanjian adalah layanan internet banking.
lxxiv
Sebelum nasabah menjadi nasabah internet banking, terlebih
dahulu harus mendaftar untuk menjadi nasabah internet banking.
Nasabah dapat melakukan pendaftaran layanan internet banking
dengan memenuhi dan menyetujui syarat dan ketentuan yang
ditetapkan pihak bank, yang tertulis dalam perjanjian baku syarat
dan
ketentuan
layanan
internet
banking.
Perjanjian
baku
merupakan perjanjian yang hampir seluruh klausul-klausulnya
sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak lain pada dasarnya
tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta
perubahan, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 10
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen. Perjanjian baku biasanya dituangkan dalam bentuk
formulir. Di dalam layanan internet banking, perjanjian baku dapat
dilihat dalam screen ATM dari bank yang bersangkutan, situs
internet bank yang bersangkutan, atau dalam bentuk formulir yang
dapat diperoleh dari kantor cabang bank yang bersangkutan.
Kesepakatan antara para pihak dalam layanan internet
banking memang berbeda dengan kesepakatan pada umumnya,
karena di dalam layanan internet banking, nasabah harus
menyetujui syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
perjanjian baku yang dibuat oleh bank, sehingga tidak memberikan
kebebasan sama sekali kepada nasabah untuk melakukan negosiasi
atas syarat dan ketentuan tersebut. Meskipun demikian bagi
nasabah yang sudah setuju dengan syarat dan ketentuan tersebut,
maka dianggap bahwa nasabah tersebut telah melakukan
kesepakatan dengan pihak bank untuk menjadi nasabah internet
banking dan harus mematuhi syarat dan ketentuan yang terdapat di
dalamnya.
lxxv
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut
hukum. Pada asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akil
baliq dan sehat pikiran adalah cakap oleh hukum. Kecakapan
bertindak dalam banyak hal berhubungan dengan masalah
kewenangan bertindak dalam hukum. Meskipun kedua hal tersebut
secara prinsipil berbeda, namun dalam membahas masalah
kecakapan bertindak yang melahirkan suatu perjanjian yang sah,
maka masalah kewenangan untuk bertindak juga tidak dapat
dilupakan. Jika masalah kecakapan untuk bertindak berkaitan
dengan masalah kedewasaan dari orang perseorangan yang
melakukan suatu tindakan atau masalah hukum, masalah
kewenangan berkaitan dengan kapasitas orang perseorangan
tersebut bertindak atau berbuat dalam hukum. Di dalam Pasal 1330
KUH Perdata disebutkan orang yang tidak cakap untuk melakukan
perjanjian, yaitu :
a) Orang-orang yang belum dewasa ;
b) Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan ;
c) Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh
undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa
undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian
tertentu. Di dalam hal ini, sejalan dengan persamaan hak antara
laki-laki dan perempuan, baik yang sudah menikah maupun
yang belum menikah, maka ketentuan ini menjadi tidak berarti
lagi (Kartini Muljadi dan Gunawan widjaja, 2003:126).
Setiap pihak yang akan melakukan hubungan hukum,
termasuk untuk membuat kesepakatan atau perjanjian harus
terlebih dahulu memastikan bahwa lawan pihak terhadap siapa
perbuatan hukum atau perjanjian akan disepakati adalah cakap
lxxvi
untuk bertindak dalam hukum. Begitu pula di dalam layanan
internet banking, pihak bank harus memastikan bahwa nasabah
yang akan mendaftar sebagai nasabah internet banking adalah
cakap dalam membuat perjanjian yakni dengan menetapkan syarat
dan ketentuan pendaftaran dalam perjanjian baku mengenai
kecakapan seseorang dalam membuat suatu perikatan, sehingga
dimulai dari pendaftaran, pengaktifan, hingga transaksi perbankan
yang dilakukan dalam layanan internet banking hanya dapat
dilakukan oleh orang yang cakap melakukan perjanjian. Ini berarti
semua nasabah yang menjadi nasabah internet banking adalah
orang
yang
cakap
melakukan
perjanjian
yang
memiliki
kewenangan bertindak dalam hukum.
3) Suatu hal tertentu
KUH Perdata menjelaskan maksud hal tertentu dengan
memberikan rumusan dalam Pasal 1333 KUH Perdata yang
menyebutkan bahwa “Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai
pokok perjanjian berupa suatu kebendaan yang paling sedikit
ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah
kebendaan tidak tentu, asal jumlah itu kemudian hari dapat
ditentukan atau dihitung”. Suatu hal tertentu artinya apa yang
diperjanjikan hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak jika timbul
perselisihan. Barang yang dimaksud dalam perjanjian paling
sedikit harus ditentukan jenisnya (R. Subekti, 1996:19).
Di dalam perjanjian antara pihak bank dengan nasabah
dalam layanan internet banking, sedikitnya harus ditentukan dalam
isi perjanjian mengenai jenis layanan internet banking, pihak-pihak
dalam layanan internet banking, hak dan kewajiban para pihak
dalam layanan internet banking apabila terjadi perselisihan,
sehingga apabila terjadi perselisihan antara para pihak di kemudian
hari dapat diselesaikan dengan mengacu pada perjanjian yang telah
lxxvii
disepakati para pihak. Sesuatu yang belum pasti ditentukan tidak
dapat dijadikan obyek perjanjian. Perjanjian hanya sah dan
mengikat jika obyeknya berupa kebendaan telah ditentukan
jenisnya.
4) Suatu sebab yang halal
Sebab yang halal adalah dalam arti isi dari perjanjian itu
sendiri menggambarkan tujuan yang hendak dicapai, tidak dilarang
oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan kesusilaan dan
ketertiban umum. Di dalam Pasal 1337 KUH Perdata dinyatakan
bahwa “Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh
undang-undang atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik
atau ketertiban umum”. Rumusan tersebut memberikan pengertian
bahwa pada dasarnya semua perjanjian dapat dibuat dan
diselenggarakan oleh setiap orang, hanya perjanjian yang
mengandung prestasi atau kewajiban pada salah satu pihak yang
melanggar undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum yang
dilarang. Hal ini berkaitan dengan isi perjanjian yang dilakukan
para pihak dalam layanan internet banking. Isi perjanjian yang
disepakati para pihak dalam layanan internet banking harus
mengandung suatu sebab yang halal, dalam arti isi perjanjian itu
menggambarkan
tujuan
yang
hendak
dicapai
dan
tidak
mengandung prestasi atau kewajiban pada salah satu pihak yang
melanggar undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum.
Syarat-syarat sahnya perjanjian yang telah dikemukakan di
atas merupakan syarat subyektif dan syarat obyektif dari perjanjian.
Syarat subyektif terdiri dari syarat pertama dan kedua, sedangkan
syarat ketiga dan keempat merupakan syarat obyektif. Pakar-pakar
hukum Indonesia berpendapat bahwa apabila persyaratan subyektif
perjanjian tidak dipenuhi, tidak mengakibatkan batalnya perjanjian,
tetapi perjanjian hanya dapat dibatalkan melalui putusan pengadilan.
lxxviii
Sementara itu, apabila persyaratan yang menyangkut obyek perjanjian
tidak dipenuhi, perjanjian tersebut batal demi hukum.
Di dalam layanan internet banking, setiap nasabah yang
menjadi nasabah internet banking mendapatkan User ID dan PIN
(Personal Identification Number) yang merupakan kode rahasia dan
kewenangan pengguna yang hanya diketahui oleh nasabah yang
bersangkutan sebagai verifikasi pada saat nasabah internet banking
akan melakukan transaksi perbankan untuk menjaga kerahasiaan
identitas dan semua informasi keuangan nasabah, sehingga semua
transaksi perbankan hanya dapat dilakukan oleh nasabah yang
bersangkutan. Hal ini sesuai dengan rumusan Pasal 1315 KUH Perdata
yang menyebutkan ”Pada umumnya tak seorang pun dapat
mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkan suatu janji
selain untuk dirinya sendiri.” Berdasarkan rumusan tersebut dapat
diketahui bahwa pada dasarnya suatu perjanjian yang dibuat oleh
seseorang dalam kapasitasnya sebagai individu, subyek hukum pribadi,
hanya akan berlaku dan mengikat untuk dirinya sendiri atau yang lebih
dikenal dengan asas personalia.
Perjanjian menganut sistem terbuka, di mana setiap pihak
yang melakukan perjanjian diberikan kebebasan yang sebebasbebasnya melakukan perjanjian asalkan tidak melanggar undangundang, ketertiban umum dan kesusilaan. Ini artinya perjanjian
menganut asas kebebasan berkontrak yang menyatakan bahwa para
pihak yang membuat dan mengadakan perjanjian diperbolehkan untuk
menyusun dan membuat kesepakatan atau perjanjian yang melahirkan
apa saja, selama dan sepanjang prestasi yang wajib dilakukan tersebut
bukanlah sesuatu yang terlarang. Pasal-pasal dari hukum perjanjian
merupakan hukum pelengkap. Pasal-pasal itu boleh dikesampingkan
apabila dikehendaki oleh para pihak yang membuat perjanjian, mereka
lxxix
diperbolehkan membuat ketentuan sendiri yang menyimpang dari
pasal-pasal hukum perjanjian (R. Subekti, 1996:13).
Di dalam layanan internet banking, perjanjian antara pihak
bank dengan nasabah berbeda dengan perjanjian pada umumnya. Pihak
bank telah membuat syarat dan ketentuan yang dibakukan pada suatu
formulir perjanjian (dalam hal ini termasuk syarat dan ketentuan yang
terdapat dalam screen ATM dari bank yang bersangkutan dan situs
internet bank yang bersangkutan) untuk disetujui oleh nasabah, dengan
hampir tidak memberikan kebebasan kepada pihak nasabah untuk
melakukan negosiasi atas syarat dan ketentuan tersebut. Meskipun
demikian, bagi nasabah yang sudah setuju dengan syarat dan ketentuan
tersebut yang secara sukarela telah mengikatkan diri, maka dianggap
bahwa nasabah tersebut telah melakukan kesepakatan dengan pihak
bank.
Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata menyatakan ”Semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.” Sebagai perjanjian yang dibuat secara
sengaja atas kehendak para pihak secara sukarela, maka segala sesuatu
yang telah disepakati, disetujui oleh para pihak harus dilaksanakan
oleh para pihak sebagaimana telah dikehendaki oleh mereka (Kartini
Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003:59). Pada layanan internet
banking, nasabah dan bank yang setuju dan sepakat menggunakan
layanan internet banking harus mematuhi syarat dan ketentuan yang
telah ditetapkan dalam perjanjian, karena syarat dan ketentuan tersebut
bersifat mengikat dan sah demi hukum. Dalam hal salah satu pihak di
dalam perjanjian tidak melaksanakannya, maka pihak lain dalam
perjanjian
berhak
untuk
memaksakan
mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.
lxxx
pelaksanaannya
melalui
b. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan merupakan
wujud dari aturan yang menjadi landasan hukum dalam bidang
perbankan, yang menjadi hukum positif perbankan di Indonesia. Di
Indonesia, masalah-masalah yang terkait dengan bank diatur dalam
undang-undang ini, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan transaksi
perbankan melalui internet banking. Di dalam Undang-Undang
Perbankan diatur beberapa hal yang berhubungan dengan transaksi
perbankan melalui internet banking, antara lain mengenai pengertianpengertian yang berhubungan dengan perbankan, jenis dan usaha bank,
pembinaan dan pengawasan bank, serta mengenai rahasia bank.
Di dalam Pasal 1 Undang-Undang Perbankan dinyatakan
bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Di samping
memberikan uraian tentang bank, juga di dalam ketentuan itu diberikan
definisi perbankan. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut
tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan
proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Berdasarkan dua
definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian bank
dan perbankan merupakan dua peristilahan yang berbeda. Pengertian
bank lebih diorientasikan pada badan usahanya dan kegiatan bank,
sementara pengertian perbankan lebih luas lagi di dalamnya meliputi
kelembagaan dan cara serta proses dalam melaksanakan kegiatan
usahanya.
Selanjutnya, di dalam Pasal 5 Undang-Undang Perbankan
dinyatakan bahwa menurut jenisnya, bank terdiri dari :
lxxxi
1) Bank Umum, yakni bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2) Bank Perkreditan Rakyat, yakni bank yang melaksanakan kegiatan
usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang
dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
Berdasarkan rumusan di atas, dapat dilihat bahwa jenis bank
yang dapat menyelenggarakan dan menawarkan layanan internet
banking kepada nasabahnya adalah Bank Umum, sedangkan Bank
Perkreditan Rakyat dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam
lalu lintas pembayaran. Pembagian jenis bank tersebut mendasarkan
pada segi fungsi bank, yang dimaksudkan untuk memperjelas ruang
lingkup dan batas kegiatan yang diselenggarakannya.
Setelah mempunyai pemahaman atas klasifikasi bank dalam
Undang-Undang Perbankan, yang perlu dikaji juga melingkupi
kegiatan usaha bank. Di dalam Pasal 6 Undang-Undang Perbankan
disebutkan Usaha Bank Umum meliputi :
1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu ;
2) Memberikan kredit ;
3) Menerbitkan surat pengakuan hutang ;
4) Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk
kepentingan dan atas perintah nasabahnya ;
a) Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank
yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan
dalam surat-surat dimaksud ;
b) Surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa
berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan
surat-surat dimaksud ;
c) Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah ;
d) Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ;
e) Obligasi ;
f) Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun ;
lxxxii
g) Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai
dengan 1(satu) tahun ;
5) Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah ;
6) Menempatkan dana pada, meminjam dari, atau meminjamkan dana
kepada bank lain baik dengan menggunakan surat, sarana
telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana
lainnya ;
7) Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan
melakukan perhitungan dengan pihak ketiga ;
8) Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga ;
9) Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain
berdasarkan suatu kontrak ;
10) Melakukan penempatan dana dari nasabah lainnya dalam bentuk
surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek ;
11) Dihapus ;
12) Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan
wali amanat ;
13) Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain
berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia ;
14) Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank
sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan lingkup kegiatan usaha bank tersebut, transaksi
perbankan yang dapat dilakukan melalui layanan internet banking,
antara lain (Try Widiyono, 2006:212) :
1) Transfer dana rupiah atau pemindahbukuan antar rekening bank
yang sama serta up date daftar transfer. Di samping itu, terdapat
internet banking yang dapat melakukan transfer ke bank lain di
dalam negeri, melalui kliring dan transfer terjadwal ;
2) Pembayaran tagihan-tagihan, misalnya tagihan telepon, listrik, air,
berbelanja lewat e-commerce, dan lain sebagainya ;
3) Pembukaan deposito berjangka, sesuai dengan fitur produk
deposito pada bank yang bersangkutan ;
4) Informasi rekening, misalnya posisi saldo rekening, suku bunga
dan kurs valuta ;
lxxxiii
5) Pendaftaran layanan notifikasi SMS, yaitu melakukan pendaftaran
atau perubahan layanan notifikasi SMS ke ponsel nasabah
pengguna ;
6) Permintaan buku cheque/ bilyet giro ;
7) Up date profil, antara lain mengubah PIN atau mengubah alamat email.
Mengenai pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan
usaha bank dilakukan oleh Bank Indonesia dengan menetapkan
ketentuan yang wajib dipenuhi oleh bank sesuai Pasal 29 UndangUndang Perbankan sebagai berikut :
1) Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan
ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen,
likuiditas,
rentabilitas,
solvabilitas,
dan
aspek
lain
yang
berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan
usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
2) Di dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip
Syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib
menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan
nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank.
3) Untuk kepentingan nasabah, bank wajib menyediakan informasi
mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan
dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank
Pembinaan dan pengawasan bank ini perlu dilaksanakan agar
bank sebagai penyelenggara layanan internet banking dapat menjamin
keamanan transaksi perbankan yang dilakukan oleh nasabah, serta
nasabah dapat mengetahui mengenai risiko-risiko yang mungkin
timbul dalam transaksi perbankan yang dilakukan dalam layanan
internet banking melalui informasi layanan internet banking yang
diberikan oleh bank.
lxxxiv
Di samping mengatur aspek-aspek di atas, Undang-Undang
Perbankan juga mengatur masalah kerahasiaan bank. Menurut Pasal 1
Ayat 28 Undang-Undang Perbankan, rahasia bank adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah
penyimpan dan simpanannya. Rahasia bank merupakan hal yang
penting,
karena
bank
sebagai
lembaga
kepercayaan
wajib
merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan nasabah
penyimpan dan simpanannya. Di dalam Pasal 40 Undang-Undang
Perbankan
dinyatakan
“Bank
wajib
merahasiakan
keterangan
mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya”. Bank dilarang
memberikan keterangan yang tercatat pada bank tentang keadaan
keuangan dan hal-hal lain dari nasabahnya, yang wajib dirahasiakan
oleh bank menurut kelaziman dalam dunia perbankan. Berdasarkan
ketentuan tersebut, Undang-Undang Perbankan telah secara konsisten
menjelaskan bahwa pengertian rahasia bank hanya menyangkut
nasabah penyimpan dan simpanannya. Selanjutnya, penjelasan Pasal
40 Undang-Undang Perbankan menyatakan bahwa keterangan
mengenai nasabah, selain sebagai nasabah penyimpan, bukan
merupakan keterangan yang wajib dirahasiakan.
Rachmadi Usman mengemukakan bahwa rahasia bank yang
saat ini diberlakukan hanya meliputi tiga hal, yakni :
1) Keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya,
termasuk keterangan mengenai nasabah debitur dan pinjamannya ;
2) Kewajiban pihak bank terafiliasi untuk merahasiakan keterangan
tersebut, kecuali hal itu tidak dilarang oleh undang-undang ;
3) Situasi tertentu di mana informasi mengenai nasabah penyimpan
dan simpanannya boleh saja dibeberkan oleh pihak yang terkena
larangan jika informasi tersebut tergolong pada informasi yang
dikecualikan atau informasi nasabah penyimpan dan simpanan
lxxxv
yang tidak termasuk dalam kualifikasi rahasia bank (Rachmadi
Usman, 2001:155).
Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 40 Undang-Undang
Perbankan tersebut mencerminkan akan asas atau prinsip kerahasiaan
bank, yang sekiranya mampu dipergunakan untuk menetapkan dan
memberikan perlindungan hukum atas data pribadi nasabah dalam
melakukan transaksi perbankan melalui internet banking, mengingat
bank terutama bekerja dengan dana dari masyarakat yang disimpan
pada bank atas dasar kepercayaan. Mengenai kerahasiaan bank ini,
untuk perkembangan saat ini tidak cukup lagi mengantisipasi dinamika
bisnis sektor perbankan. Prinsip kerahasiaan bank ini dalam konteks
perlindungan hukum atas data pribadi nasabah dapat saja diterapkan,
namun penerapannya di dalam penyelenggaraan internet banking
menjadi tidak optimal, sebab perlindungan hukum atas data pribadi
nasabah yang ada pada ketentuan ini terbatas hanya pada data yang
disimpan
dan
dikumpulkan
oleh
bank,
padahal
di
dalam
penyelenggaraan internet banking, data nasabah yang ada tidak hanya
data yang disimpan dan dikumpulkan, tetapi termasuk data yang
ditransfer oleh pihak nasabah dari sarana komputer yang terhubung
dengan internet dimana nasabah melakukan transaksi perbankan. Bank
tidak mapu lagi untuk mengantisipasi dampak dari pemanfaatan
layanan internet banking. Ketidakmampuan ini disebabkan karena
karakteristik layanan internet banking untuk memfasilitasi transaksi
perbankan yang berbeda dengan perbankan secara konvensional.
Melihat pada kondisi demikian, dapat disimpulkan bahwa UndangUndang Perbankan belum mampu memberikan perlindungan hukum
sepenuhnya atas data pribadi nasabah dalam penyelenggaraan internet
banking.
lxxxvi
c. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia
Bank Indonesia merupakan bank sentral yang memiliki
kedudukan independen untuk menjamin keberhasilan tujuan mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Berdasarkan rumusan Pasal 8
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2004, Tugas Bank Indonesia antara lain :
1) Menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter
2) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
3) Mengatur dan mengawasi bank
Untuk menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter
yang efektif dan efisien diperlukan sistem keuangan yang sehat,
transparan, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan yang
didukung oleh sistem pembayaran yang lancar, cepat, tepat dan aman,
serta pengaturan dan pengawasan bank yang memenuhi prinsip kehatihatian. Dalam rangka melaksanakan tugas mengatur dan mengawasi
bank, Bank Indonesia menetapkan peraturan memberikan dan
mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari suatu
bank, melaksanakan pengawasan bank dan mengenakan sanksi
terhadap bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Bank Indonesia berwenang memberikan izin kepada bank
untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu. Di dalam
menyelenggarakan internet banking, suatu bank harus memperoleh izin
dari Bank Indonesia berkaitan dengan kegiatan usaha yang akan
diselenggarakan. Bank Indonesia melaksanakan pengawasan terhadap
penyelenggaraan internet banking tersebut baik dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung sesuai dengan rumusan Pasal 27
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2004 tentang Bank Indonesia.
lxxxvii
d. Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan Teknologi Sistem
Informasi oleh Bank
Masalah transaksi perbankan melalui internet banking sudah
mendapat perhatian yang serius dari Bank Indonesia sebagai lembaga
yang mempunyai tugas mengawasi bank-bank umum. Hal ini dapat
dilihat dengan diberlakukannya Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia Nomor 27 /164/KEP/DIR/1995 tentang Penggunaan
Teknologi Sistem Informasi oleh Bank.
Di dalam memberikan pelayanan jasa perbankan elektronis
melalui teknologi sistem informasi, pihak bank diwajibkan memiliki
sistem kontrol dan pengamanan yang memadai serta efektif terhadap
teknologi sistem informasi. Hal tersebut diperlukan mengingat
transaksi perbankan dilakukan sendiri oleh nasabah. Selain itu, dengan
tersedianya
sistem
kontrol
dan
pengamanan
yang
memadai,
kelangsungan operasional serta kerahasiaan dan integritas data dapat
tetap terjaga. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan
timbulnya risiko yang diakibatkan oleh penyelenggaraan teknologi
sistem informasi oleh bank.
Penggunaan teknologi sistem informasi ini diatur lebih jelas
dalam
Surat
Keputusan
27/164/KEP/DIR/1995
Direksi
tentang
Bank
Indonesia
Nomor
Penggunaan
Teknologi
Sistem
Informasi oleh Bank, dan untuk lebih jelasnya maka terdapat istilahistilah yang dalam hal ini termuat dalam Pasal 1, antara lain :
1) Bank adalah Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan ;
lxxxviii
2) Teknologi Sistem Informasi adalah suatu sistem pengolahan data
keuangan dan pelayanan jasa perbankan secara elektronis dengan
menggunakan sarana komputer, telekomunikasi dan sarana
elektronis lainnya ;
3) Disaster & Recovery Plan adalah suatu rencana penanggulangan
yang telah teruji untuk menjamin kelangsungan kegiatan usaha
bank dan pemulihannya apabila terjadi gangguan atau bencana
terhadap teknologi sistem informasi.
Mengenai kedudukan bank yang akan menyelenggarakan
teknologi sistem informasi diatur dalam Pasal 2 Surat Keputusan
Direksi Bank Indonesia Nomor 27/164/KEP/DIR/1995, yaitu :
1) Bank dapat menyelenggarakan teknologi sistem informasi sendiri
atau menggunakan jasa pihak lain di dalam negeri.
2) Bagi kantor cabang dari bank yang kantor pusatnya berkedudukan
di Indonesia yang beroperasi di luar negeri tunduk pada ketentuan
Ayat (1) dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku di negara
setempat.
3) Khusus bagi kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar
negeri diperkenankan menggunakan jasa pihak lain di luar negeri
dengan syarat :
a) Teknologi sistem informasi tersebut dilakukan oleh kantor
bank yang sama atau kelompok perusahaan dari bank yang
dimaksud ;
b) Tetap memperhatikan kerahasiaan bank ;
c) Tidak mengganggu efektivitas dan efisiensi administrasi kantor
bank yang bersangkutan.
Setelah perencanaan penyelenggaraan tekonologi sistem
informasi, diatur pula standarisasi manajemen yang termuat dalam
lxxxix
Pasal
3
Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995, yaitu :
1) Di dalam menyelenggarakan teknologi sistem informasi sendiri,
manajemen bank wajib :
a) Menerapkan
pengendalian
manajemen
yang
meliputi
perencanaan, penetapan kebijaksanaan, standar dan prosedur,
serta organisasi dan personalia ;
b) Melaksanakan fungsi audit intern teknologi sistem informasi,
dengan memperhatikan kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku;
2) Di dalam menggunakan sistem dan aplikasi teknologi sistem
informasi, manajemen bank wajib :
a) Memiliki sistem kontrol terhadap sistem dan aplikasi tersebut
yang mencakup pengadaan, pengembangan, pengoperasian,
dan pemeliharaannya ;
b) Menerapkan
prinsip-prinsip
sistem
pengawasan
dan
pengamanan terhadap penggunaan sistem dan aplikasi yang
mengandung risiko tinggi, khususnya yang menyangkut
teknologi database, komputer mikro, dan komunikasi data ;
c) Memiliki Disaster & Recovery Plan yang sudah teruji dan
memadai.
Tindakan apa saja yang termasuk dalam kewajiban pengguna
teknologi ini diatur dalam Pasal 5 Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995,
bahwa
bank
wajib
menyampaikan kepada Bank Indonesia dengan menggunakan formulir
isian teknologi sistem informasi, antara lain :
1) Laporan ulang penyelenggaraan teknologi sistem informasi, bagi
bank yang sudah menyelenggarakan teknologi sistem informasi,
xc
selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kalender setelah
berlakunya Surat Keputusan ini ;
2) Laporan rencana teknologi sistem informasi, bagi bank yang akan
menyelenggarakan teknologi sistem informasi, selambat-lambatnya
60 (enam puluh) hari kalender sebelum teknologi sistem informasi
tersebut dioperasikan secara efektif ;
3) Laporan setiap rencana perubahan teknologi sistem informasi, bagi
bank yang akan melaksanakan perubahan mendasar terhadap
konfigurasi dan prosedur pengoperasian komputer, selambatlambatnya 60 (enam puluh) hari kalender sebelum perubahan
tersebut dioperasikan secara aktif ;
4) Laporan realisasi rencana penyelenggaraan teknologi sistem
informasi atau realisasi rencana perubahan teknologi sistem
informasi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender
setelah rencana dimaksud dilaksanakan ;
5) Laporan atas setiap penyalahgunaan yang dilakukan melalui sarana
teknologi sistem informasi yang mengakibatkan timbulnya
kerugian keuangan dan atau mengganggu kelancaran operasional
bank, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender setelah
diketahuinya penyalahgunaan tersebut ;
6) Laporan hasil audit teknologi sistem informasi dalam hal
penyelenggaraannya dilakukan oleh pihak lain, baik audit yang
dilakukan oleh bank yang bersangkutan maupun yang dilakukan
oleh auditor ekstern yang ditunjuk, selambat-lambatnya 60 (enam
puluh) hari kalender setelah audit dilakukan.
Jika terjadi pelanggaran atas ketentuan atau kewajiban di
atas, maka tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia termuat
dalam Pasal 6 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor
27/164/KEP/DIR/1995 :
xci
1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Surat Keputusan ini
dikenakan sanksi administratif yang dapat berupa pembekuan
kegiatan usaha tertentu yang berhubungan dengan teknologi sistem
informasi dan atau penurunan tingkat kesehatan bank.
2) Bagi bank yang tidak menyampaikan laporan-laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 dikenakan sanksi berupa kewajiban
membayar setinggi-tingginya sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta
rupiah) untuk masing-masing laporan.
3) Bagi
bank
yang
terlambat
menyampaikan
laporan-laporan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, kecuali laporan rencana
teknologi sistem informasi dan laporan setiap rencana perubahan
teknologi sistem informasi, dikenakan sanksi berupa kewajiban
membayar sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) per bulan
keterlambatan untuk masing-masing laporan.
e. Surat
Keputusan
Direksi
Bank
Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi Sistem
Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000
Kegiatan
operasional
dan
efisiensi
bank
dalam
menyelenggarakan layanan internet banking sangat tergantung pada
teknologi sistem informasi, sedangkan dari waktu ke waktu teknologi
selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dengan bergantinya
dekade dari 1900 menjadi 2000 bank perlu melakukan penyesuaian
teknologi sistem informasi secara menyeluruh, karena itu Bank
Indonesia menetapkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia
Nomor 31/175/KEP/DIR/1998 tentang Penyempurnaan Teknologi
Sistem Informasi Bank dalam Menghadapi Tahun 2000, yang
merupakan penyempurnaan dari Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia Nomor 27/164/KEP/DIR/1995 yang telah diberlakukan
sebelumnya.
xcii
Di dalam Pasal 3 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia
Nomor
31/175/KEP/DIR/1998
dinyatakan
bahwa
“Petunjuk
penyempurnaan teknologi sistem informasi yang sudah dikeluarkan
oleh Bank Indonesia sebelum berlakunya Surat Keputusan ini dan
pelaksanaan penyempurnaan teknologi sistem informasi yang sudah
dilakukan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Surat
Keputusan ini”.
Di dalam Surat Keputusan ini ditegaskan bahwa manajemen
bank memiliki tanggungjawab penuh untuk melakukan pendefinisian,
perencanaan, dan pengelolaan strategi untuk penanggulangan masalah
tahun 2000 dalam penyelenggaraan teknologi sistem informasi. Di
dalam Pasal 6 disebutkan bahwa “Bank Indonesia melakukan
pemeriksaan atas pelaksanaan penyempurnaan teknologi sistem
informasi bank”.
f. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20 April
2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas
Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking
Sehubungan dengan semakin berkembangnya pelayanan jasa
bank melalui internet (internet banking) dan sebagai pelaksanaan lebih
lanjut dari Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor
27/164/KEP/DIR/1995
tentang
Penggunaan
Teknologi
Sistem
Informasi oleh Bank, maka Bank Indonesia mengeluarkan Surat
Edaran Bank Indonesia untuk mengatur pelaksanaan penerapan
manajemen risiko pada aktivitas internet banking.
Di dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP
Tanggal 20 April 2004 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada
Aktivitas Pelayanan Jasa Bank melalui Internet Banking disebutkan
bahwa internet banking adalah salah satu pelayanan jasa bank yang
memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan
komunikasi, dan melakukan transaksi perbankan melalui jaringan
xciii
internet, dan bukan merupakan bank yang hanya menyelenggarakan
pelayanan perbankan melalui internet.
Bank yang menyelenggarakan internet banking wajib
menerapkan manajemen risiko pada aktivitas internet banking secara
efektif, yang meliputi :
1) Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi ;
2) Sistem pengamanan (Security Control) ;
3) Manajemen risiko, khususnya risiko hukum dan risiko reputasi.
Risiko hukum yakni di mana aspek hukum internet banking
sampai saat ini belum diatur secara jelas. Sedangkan risiko reputasi
yakni yang berkaitan dengan corporate image dari bank itu sendiri
apabila pelayanan internet bankingnya tidak berjalan dengan baik
(Syahril sabirin, 2001:3).
Di dalam Surat Edaran Bank Indonesia nomor 6/18/DPNP
disebutkan pula bahwa sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia
Nomor
27/164/KEP/DIR/1995
tentang
Penggunaan
Teknologi Sistem Informasi oleh Bank, bank wajib menyampaikan
laporan
rencana
perubahan
teknologi
sistem
informasi
yang
menyangkut perubahan konfigurasi dan prosedur pengoperasian
komputer yang terkait dengan rencana penyelenggaraan internet
banking selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kalender sebelum
pelaksanaan. Guna meningkatkan efektivitas penerapan manajemen
risiko, bank wajib malakukan evaluasi dan audit secara berkala
terhadap aktivitas internet banking.
Berbagai peraturan yang telah diuraikan di atas merupakan
government regulation yang merupakan aturan yang dibentuk oleh
pemerintah
dalam
bentuk
undang-undang
atau
keputusan
untuk
memberikan perlindungan hukum bagi para pihak, dalam hal ini pihak
bank dan nasabah.
xciv
Di samping terdapat peraturan yang dibentuk oleh pemerintah,
perbankan yang menyelenggarakan internet banking berupaya melindungi
para pihaknya dengan membuat ketentuan yang dibentuk secara sepihak
oleh pihak perbankan yang dikenal dengan sebutan self-regulation, yang
merupakan aturan yang dibentuk dalam mengantisipasi kekosongan
hukum sebagai upaya perlindungan data pribadi nasabah dan bank. Akan
tetapi, pembentukan aturan berupa self-regulation terkesan lebih berpihak
kepada bank sebagai penyelenggara internet banking yang memiliki
kecenderungan bahwa kepentingan dari pihak pembentuk yang lebih
dominan dilindungi, padahal idealnya pembentukan aturan tersebut harus
mencerminkan hak dan kewajiban yang seimbang di antara para pihak
yang terkait. Hal ini dapat dilihat pada contoh ketentuan self-regulation
yang terdapat dalam situs layanan internet banking BCA dan Bank
Mandiri, sebagai berikut :
“BCA dapat mengubah kebijaksanaan ini setiap saat untuk tetap
menyesuaikan dengan situasi dan teknologi terbaru. Anda selalu dapat
meninjau
kebijakan
BCA
http://www.klikbca.com/privacy.html
dengan
mengirimkan
yang
atau
email
terbaru
di
Anda
dapat
memintanya
ke
[email protected]”
(http://www.klikbca.com).
Di dalam situs Internet Banking Bank Mandiri juga dinyatakan
sebagai berikut :
“Bank Mandiri akan menjaga kerahasiaan data pengguna Internet Banking
Mandiri, dan hanya orang tertentu yang berhak untuk mengakses informasi
tersebut untuk digunakan sebagaimana mestinya. Bank Mandiri tidak akan
memperlihatkan/menjual
data
tersebut
kepada
pihak
ketiga”
(http://www.bankmandiri.co.id).
Analisis atas bunyi ketentuan pada situs http://www.klikbca.com
terlihat bahwa nasabah tidak pernah diberikan kesempatan untuk
mengetahui perubahan kebijakan baru atas data pribadi bila tidak
xcv
mengunjungi situs internet banking BCA tentang privacy. Tanpa melihat
pada situs tersebut nasabah tidak akan mengetahui perubahan kebijakan
baru, yang seharusnya pihak bank dengan cepat memberikan dan
menyediakan informasi tersebut kepada nasabah. Selain itu, efektifnya,
ketentuan self-regulation seharusnya meliputi mekanisme untuk menjamin
komplain dengan peraturan dan sumber yang layak untuk pihak nasabah
ketika peraturan tersebut tidak diikuti, seperti mekanisme yang
memungkinkan nasabah menguji hak privacy mereka. Terlebih lagi, alasan
yang didalihkan dalam perubahan kebijakan baru adalah untuk
menyesuaikan dengan situasi dan teknologi baru. Begitu pula dalam bunyi
ketentuan pada situs http://www.bankmandiri.co.id, di sini pun tampaknya
nasabah sulit untuk dapat mengetahui kebenaran atas tidak terjadinya
penjualan datanya kepada pihak ketiga.
Oleh karena itu, keberadaan self-regulation tidak menjadi suatu
instrumen yang betul-betul dapat memberikan perlindungan penuh
terhadap data pribadi nasabah dan bank jika instrumen undang-undang
tidak segera dibentuk oleh pemerintah, artinya kebutuhan terhadap
undang-undang mengenai perlindungan data pribadi sangat dibutuhkan
terutama dalam industri perbankan yang terus berkembang dengan pesat.
3. Jaminan Kepastian Hukum dan Keadilan bagi Para Pihak
Berdasarkan pada uraian di atas, Penulis berpendapat bahwa
dalam pengaturan mengenai transaksi perbankan melalui internet banking
di Indonesia yang ada saat ini sudah terdapat kesesuaian dari peraturanperaturan yang mengaturnya, baik dari Undang-Undang Perbankan
maupun peraturan atau keputusan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia,
terutama dalam hal perlindungan hukum bagi para pihak. Dengan
diberlakukannya peraturan-peraturan dan keputusan tersebut menunjukkan
bahwa telah dilakukan upaya perlindungan hukum oleh pemerintah.
Beberapa ketentuan yang ada di dalam Undang-Undang Perbankan
sekiranya mampu dipergunakan untuk menetapkan dan memberikan
xcvi
perlindungan hukum atas data pribadi nasabah. Hal ini dapat dicermati
pada ketentuan Pasal 29 dan Pasal 40 Undang-Undang Perbankan
mengenai pembinaan dan pengawasan bank yang menyelenggarakan
internet banking oleh Bank Indonesia dan tentang kerahasiaan bank, begitu
pula dalam Surat Keputusan dan Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Bank
Indonesia. Perlindungan hukum ditempuh melalui upaya-upaya baik
bersifat preventif dalam bentuk ketentuan-ketentuan petunjuk, nasihat,
bimbingan dan pengarahan maupun represif dalam bentuk pemeriksaan
yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. Tetapi di dalam
ketentuan-ketentuan hukum tersebut belum mempunyai instrumen
perlindungan hukum yang berupa upaya penyelesaian sengketa jika terjadi
permasalahan hukum serta sanksi hukum terhadap berbagai bentuk
pelanggaran yang dilakukan. Ketentuan hukum yang ada juga belum
mencerminkan pada suatu perlindungan hukum yang komprehensif, bahwa
hukum masih bersifat parsial yang terletak di pelbagai macam perundangundangan. Berdasarkan hal ini dapat dilihat bahwa pemerintah telah
melakukan upaya perlindungan hukum bagi para pihak, namun substansisubstansi dari peraturan-peraturan yang ada belum menunjukkan adanya
upaya perlindungan hukum yang optimal bagi para pihak.
Pengaturan mengenai transaksi perbankan melalui internet
banking di Indonesia yang ada saat ini juga belum dapat menjamin
keadilan bagi para pihak. Hal ini dapat dilihat melalui self-regulation
sebagai alternatif dalam mengisi kekosongan hukum yang merupakan
aturan atau ketentuan yang dibentuk secara sepihak oleh pihak bank yang
cenderung lebih berpihak kepada kepentingan bank sebagai penyelenggara
layanan internet banking. Hal ini tidak mencerminkan asas keseimbangan,
di mana idealnya pembentukan aturan tersebut harus mencerminkan hak
dan kewajiban yang seimbang di antara para pihak yang terkait, karena
bila suatu aturan atau kaidah menurut isinya menggalang suatu aturan
yang adil, maka kaidah itu bernilai dan dapat ditanggapi sebagai
mewajibkan secara batin.
xcvii
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengaturan mengenai transaksi
perbankan melalui internet banking di Indonesia yang ada saat ini belum
dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak yang
terkait.
B. Upaya Penyelesaian Sengketa terhadap Permasalahan Hukum yang
Timbul dalam Transaksi Perbankan melalui Internet Banking
Internet banking sebagai inovasi dari produk perbankan yang
memanfaatkan teknologi sistem informasi, selain memberikan keuntungan dan
kemudahan dalam transaksi perbankan juga mempunyai dampak risiko yang
dapat merugikan kepentingan pihak bank maupun nasabah sebagai
penyelenggara dan pengguna layanan internet banking dalam transaksi
perbankan yang dilakukan. Transaksi perbankan melalui internet banking
dapat menimbulkan permasalahan hukum yang dapat merugikan para pihak,
sehingga memungkinkan munculnya sengketa antara para pihak di kemudian
hari. Permasalahan hukum yang mungkin muncul dalam transaksi perbankan
melalui internet banking salah satunya yakni menyangkut keamanan sistem
informasi. Internet banking yang memanfaatkan teknologi sistem informasi
membuat transaksi perbankan yang dilakukan semakin berisiko. Dengan
kenyataan seperti ini, faktor keamanan merupakan hal yang penting dan paling
perlu diperhatikan.
Kecanggihan teknologi tak selamanya menjamin keamanan dalam
melakukan transaksi perbankan. Sebagai contoh, pada Tahun 2001, dunia
perbankan diributkan oleh kasus pembobolan internet banking milik Bank
BCA, yang lebih dikenal dengan kasus klikbca. Kasus ini dilakukan oleh
Steven Haryanto yang dengan sengaja membuat situs palsu layanan Internet
Banking BCA dengan membeli domain-domain internet dengan nama mirip
www.klikbca.com
(situs
asli
Internet
Banking
BCA),
antara
lain
wwwklikbca.com, kilkbca.com, clikbca.com, klickbca.com, dan klikbac.com
dengan tampilan yang sama persis dengan situs Internet Banking BCA. Dalam
hal ini pelaku memanfaatkan kesalahan ketik yang mungkin dilakukan oleh
xcviii
nasabah, sehingga pelaku mampu mendapatkan User ID dan PIN dari nasabah
yang memasuki situs plesetan tersebut. Di dalam kasus ini, diperkirakan 130
nasabah tercuri datanya (http://www.wikibooks.com).
Contoh lain, yakni kasus pembobolan uang nasabah Internet Banking
BCA Cabang Purwokerto pada Tahun 2001, yang dilakukan oleh orang tak
dikenal dengan menggunakan fasilitas internet. Nasabah telah kehilangan uang
sebesar Rp 38 juta, yang diambil hampir setiap hari oleh pelaku sampai
rekening tersebut ditutup(http://www.cert.or.id).
Berdasarkan contoh-contoh kasus di atas, dapat dilihat bahwa di
dalam hal ini yang paling dirugikan adalah nasabah pengguna layanan internet
banking. Dari sinilah muncul kemungkinan terjadi sengketa antara para pihak,
yakni pihak bank dengan nasabah. Sengketa yang timbul antara pihak bank
dengan nasabah dapat diselesaikan dengan mengacu pada perjanjian yang
telah disepakati oleh para pihak, mengingat belum ada pengaturan secara
khusus tentang transaksi perbankan melalui internet banking dalam sistem
perundang-undangan di Indonesia, sehingga belum ada aturan yang tegas
mengenai upaya hukum ataupun sanksi hukum yang dapat diterapkan.
Perjanjian merupakan prosedur dan undang-undang bagi pihak-pihak
yang membuatnya. Hal ini berarti bahwa pejanjian yang dibuat itu sah dan
mengikat kedua belah pihak, dalam hal ini yaitu pihak bank dengan nasabah.
Kedua belah pihak wajib melaksanakan isi perjanjian dan tidak dibenarkan
untuk membatalkan atau mengakhiri perjanjian tanpa persetujuan kedua belah
pihak ataupun tanpa alasan yang dibenarkan oleh undang-undang. Hal ini
sesuai dengan rumusan Pasal 1338 KUH Perdata. Apabila suatu perjanjian
telah disepakati, maka masing-masing pihak terikat karenanya dan
berkewajiban memenuhi prestasinya. Akan tetapi, di dalam pelaksanaannya
terdapat kemungkinan mengalami hambatan-hambatan yang pada akhirnya
mempengaruhi tujuan perjanjian yang telah disepakati, seperti halnya
munculnya sengketa antara pihak bank dan nasabah akibat permasalahan
hukum yang timbul dalam layanan internet banking, yang pada akhirnya
xcix
mempengaruhi tujuan perjanjian yang telah disepakati para pihak. Di dalam
suatu perjanjian memuat syarat-syarat sahnya perjanjian. Suatu hal tertentu
merupakan syarat obyektif dari perjanjian, yakni mengenai apa yang
diperjanjikan hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak jika timbul
perselisihan. Di dalam perjanjian yang disepakati para pihak dalam layanan
internet banking, sedikitnya juga memuat dalam klausul perjanjian mengenai
hak dan kewajiban para pihak apabila terjadi perselisihan, serta upaya hukum
apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketa antara para pihak.
Sengketa yang terjadi antara pihak bank dengan nasabah dapat diselesaikan
melalui pengadilan (litigasi) maupun di luar pengadilan (nonlitigasi).
Secara konvensional, penyelesaian sengketa biasanya dilakukan
melalui pengadilan (litigasi), di mana posisi para pihak saling berlawanan satu
sama lain. Oleh karena itu, penyelesaian sengketa melalui pengadilan tidak
direkomendasikan, kalaupun akhirnya ditempuh, penyelesaian itu semata-mata
hanya sebagai jalan yang terakhir setelah alternatif atau upaya penyelesaian
sengketa yang lain dinilai tidak membuahkan hasil. Proses penyelesaian
sengketa melalui pengadilan biasanya memerlukan biaya yang relatif mahal
dan membutuhkan waktu yang lama, sehingga para pihak yang bersengketa
mengalami ketidakpastian, padahal sistem penyelesaian sengketa sederhana,
cepat dan biaya ringan adalah salah satu asas peradilan di Indonesia.
Meskipun demikian, keberadaan peradilan sebagai pelaksana kekuasaan
kehakiman tetap dibutuhkan. Tempat dan kedudukan peradilan dalam negara
hukum dan masyarakat demokrasi masih dapat diandalkan, antara lain :
1. Peradilan berperan sebagai katup penekan atas segala pelanggaran hukum,
ketertiban masyarakat, dan pelanggaran ketertiban umum.
2. Peradilan masih tetap diharapkan berperan sebagai tempat terakhir
mencari kebenaran dan keadilan, sehingga peradilan masih tetap
diandalkan sebagai badan yang berfungsi menegakkan kebenaran dan
keadilan (Yahya Harahap, 1997:237).
c
Keputusan dari para pihak, dalam batas tertentu litigasi sekurangkurangnya menjamin bahwa kekuasaan tidak dipengaruhi hasil dan dapat
menjamin ketentraman sosial. Sebagai suatu ketentuan umum dalam proses
gugatan, litigasi sangat baik untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan
masalah-masalah posisi pihak lawan. Litigasi juga memberikan suatu standar
prosedur yang adil dan memberikan peluang yang luas kepada para pihak
untuk didengar keterangannya sebelum diambil keputusan. Litigasi tidak
hanya menyelesaikan sengketa, tetapi juga menjamin suatu bentuk ketertiban
umum yang tertuang dalam undang-undang, baik secara eksplisit maupun
implisit.
Selain melalui pengadilan, sengketa antara para pihak juga dapat
diselesaikan di luar pengadilan. Apabila masing-masing pihak berkeinginan
untuk menyelesaikan sengketa yang timbul secara baik-baik, penyelesaian
sengketa tersebut dapat diperjanjikan untuk diselesaikan di luar hukum acara.
Perjanjian yang telah disepakati bersama merupakan undang-undang bagi para
pihak yang membuatnya. Dasar hukum dalam upaya penyelesaian sengketa ini
adalah kehendak bebas yang teratur dari pihak-pihak yang bersengketa untuk
menyelesaikan perselisihannya di luar pengadilan, sehingga cara penyelesaian
sengketa yang ditempuh sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pihak,
apakah melalui proses peradilan ataukah menggunakan cara penyelesaian
sengketa yang lain.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, penyelesaian sengketa perdata disamping dapat diajukan ke
peradilan umum juga terbuka kemungkinan diajukan melalui arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa. Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor
30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Umum, yang dimaksud arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa perdata di
luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat
secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Di dalam undang-undang ini
disebutkan
pula
Alternatif
Penyelesaian
ci
Sengketa,
yakni
lembaga
penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati
para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi,
negosiasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
Lembaga hukum yang dapat digunakan untuk penyelesaian sengketa
dalam transaksi perbankan melalui internet banking yakni melalui lembaga
Alternetive Dispute Resolution (ADR). Di dalam sudut pandang yang luas,
ADR meliputi segala cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan, dan secara
garis besar ADR dapat dikualifikasikan dalam negosiasi, good offices, mediasi,
konsiliasi, arbitrase, dan kombinasi dari kelima media tersebut minitrial,
summary jury trial, rent-a-judge, mediasi-arbitrase (Nandang Sutrisno,
1999:5).
Penyelesaian sengketa dalam transaksi perbankan melalui internet ini
dapat saja dilakukan secara tradisional, misalnya melalui lembaga arbitrase.
Untuk dapat dilakukan penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase, para
pihak harus melihat apakah ada klausul arbitrase, dalam arti kata selain ada
perjanjian pokok yang bersangkutan diikuti atau dilengkapi dengan
persetujuan arbitrase. Dari berbagai sumber undang-undang, peraturan dan
konvensi internasional dapat dijumpai dua bentuk klausul arbitrase, yakni
Pactum de compromittendo dan Akta kompromis (Yahya Harahap, 1995:100).
Pactum de compromittendo adalah para pihak yang mengikatkan kesepakatan
akan menyelesaikan persengketaan yang mungkin timbul melalui forum
arbitrase. Pada saat mereka mengikatkan dan menyetujui klausul arbitrase,
sama sekali belum terjadi perselisihan. Sedangkan akta kompromis adalah
sebuah perjanjian arbitrase yang dibuat setelah timbulnya perselisihan antara
para pihak. Jika para pihak yang bersengketa dalam layanan internet banking
telah melakukan kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase,
maka perlu ditunjuk arbiter yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau
yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh Lembaga Arbitrase untuk
memberikan putusan mengenai sengketa tersebut. Pasal 4 Ayat (1) UndangUndang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
cii
Sengketa Umum menyatakan bahwa “Dalam hal para pihak telah menyetujui
bahwa sengketa di antara mereka akan diselesaikan melalui arbitrase dan para
pihak telah memberikan wewenang, maka arbiter berwenang menentukan
dalam putusannya mengenai hak dan kewajiban para pihak jika hal ini diatur
dalam perjanjian mereka”. Di dalam Pasal 3 disebutkan pula bahwa
“Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak
yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase”. Akan tetapi, putusan arbiter
hanya mempunyai kekuatan eksekutorial setelah memperoleh izin atau
perintah untuk dieksekusi dari pengadilan.
Selain melalui arbitrase, sengketa yang terjadi antara para pihak
dapat diselesaikan pula melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa, yakni
lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang
disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
Konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara
suatu pihak tertentu (konsultan) dengan pihak lain (klien), di mana konsultan
memberikan pendapat untuk memenuhi keperluan pihak lain tersebut, tetapi
klien bebas menentukan sendiri keputusan yang akan diambil untuk
kepentingannya sendiri. Negosiasi merupakan proses tawar menawar atau
pembicaraan untuk mencapai suatu kesepakatan terhadap masalah tertentu
yang terjadi di antara para pihak, yang dilakukan baik karena telah ada
sengketa di antara para pihak maupun hanya karena belum ada kata sepakat
disebabkan belum pernah dibicarakan masalah tersebut. Konsiliasi merupakan
suatu proses penyelesaian sengketa di antara para pihak dengan melibatkan
pihak ketiga yang netral dan tidak memihak, sebagai fasilitator untuk
melakukan komunikasi di antara para pihak, sehingga dapat ditemukan solusi
oleh para pihak sendiri. Penilaian Ahli merupakan penafsiran dari seseorang
sebagai ahli dari suatu bidang ilmu tertentu, dalam hal ini hukum penyelesaian
sengketa, yang berperan menganalisa suatu peristiwa hukum sesuai ilmu yang
ciii
dikuasai dalam rangka mencapai suatu kesepakatan para pihak yang
bersengketa.
Tahap-tahap penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian
sengketa menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, yakni :
1. Tahap pertama
:
Pertemuan langsung para pihak
2. Tahap kedua
:
Penunjukan penasihat ahli atau mediator oleh
para pihak
3. Tahap ketiga
:
Penunjukan mediator oleh lembaga arbitrase atau
lembaga penyelesaian sengketa
4. Tahap kempat
:
Penyelesaian sengketa oleh lembaga arbitrase
atau oleh arbitrase ad hoc
Setelah tahap-tahap tersebut, kemudian dilakukan pendaftaran ke Pengadilan
Negeri yang berisi kesepakatan tertulis yang telah dicapai para pihak,
selanjutnya dilakukan pelaksanaan kesepakatan yang telah dicapai (Munir
Fuadi, 2003:130).
Alternatif Penyelesaian Sengketa sebagai salah satu mekanisme
penyelesaian sengketa nonlitigasi dengan mempertimbangkan segala bentuk
efisiensinya
dan
untuk
tujuan
masa
yang
akan
datang
sekaligus
menguntungkan bagi para pihak yang bersengketa. Alternatif Penyelesaian
Sengketa ini diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum. Sengketa atau
beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui Alternatif
Penyelesaian
Sengketa
yang
didasarkan
pada
itikad
baik
dengan
mengesampingkan penyelesaian sengketa secara litigasi di Pengadilan Negeri,
di mana sengketa diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak
dengan waktu yang ditentukan dan hasilnya dituangkan dalam suatu
kesepakatan tertulis, yang bersifat final dan mengikat para pihak untuk
dilaksanakan dengan itikad baik serta wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri.
civ
Berdasarkan upaya-upaya penyelesaian sengketa di atas, maka
diharapkan sengketa yang terjadi antara para pihak dapat diselesaikan dengan
memperoleh hasil putusan yang seadil-adilnya melalui upaya penyelesaian
sengketa yang disepakati para pihak.
cv
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada permasalahan dan pembahasan yang telah penulis
uraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Internet banking merupakan salah satu pelayanan jasa bank yang
memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan
komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui jaringan internet.
Transaksi perbankan melalui internet banking sampai saat ini belum diatur
secara khusus dalam sistem perundang-undangan di Indonesia. Pengaturan
mengenai transaksi perbankan melalui internet banking di Indonesia yang
ada saat ini belum dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi
para pihak, baik pihak bank maupun nasabah. Upaya perlindungan hukum
telah dilakukan oleh pemerintah, namun substansi-substansi dari
peraturan-peraturan yang ada belum menunjukkan adanya upaya
perlindungan
hukum yang optimal bagi para pihak. Sudah terdapat
kesesuaian dari peraturan-peraturan mengenai transaksi perbankan melalui
internet banking yang ada, namun instrumen perlindungan hukum yang
ada masih kurang. Ketentuan hukum dari peraturan-peraturan tersebut juga
belum mencerminkan perlindungan hukum yang komprehensif, di mana
perlindungan hukum masih bersifat parsial yang terletak di berbagai
macam perundang-undangan. Peraturan yang ada belum menggalang suatu
peraturan yang adil karena belum mencerminkan asas keseimbangan, di
mana idealnya pembentukan aturan tersebut harus mencerminkan hak dan
kewajiban yang seimbang di antara para pihak yang terkait. Diperlukan
peraturan khusus yang bersifat komprehansif dalam sistem perundang-
93
cvi
undangan di Indonesia yang mengatur tentang transaksi perbankan melalui
internet banking.
2. Internet
banking
sebagai
inovasi
dari
produk
perbankan
yang
memanfaatkan teknologi sistem informasi untuk memberikan kemudahan
dalam transaksi perbankan juga memiliki dampak risiko timbulnya
permasalahan hukum yang dapat menimbulkan sengketa antara para pihak
kemudian hari, salah satunya permasalahan hukum menyangkut keamanan
sistem informasi. Sengketa antara para pihak yang timbul dari
permasalahan hukum tersebut dapat diselesaikan dengan mengacu pada
perjanjian yang telah disepakati para pihak, apakah penyelesaian sengketa
dilakukan melalui pengadilan (litigasi) ataupun di luar pengadilan
(nonlitigasi). Perjanjian yang telah disepakati bersama merupakan undangundang bagi yang membuatnya, sehingga yang dijadikan dasar hukum
dalam upaya penyelesaian sengketa adalah kehendak bebas yang teratur
dari para pihak, dan cara penyelesaian sengketa yang ditempuh
sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pihak untuk memperoleh
putusan yang seadil-adilnya.
B. Saran
1. Pemerintah perlu membuat peraturan khusus dalam sistem perundangundangan di Indonesia yang mengatur transaksi perbankan melalui internet
banking, mengingat kebutuhan perbankan Indonesia akan peraturan yang
bersifat komprehensif yang mengatur transaksi perbankan melalui internet
banking sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya untuk memberikan perlindungan
hukum bagi para pihak agar tercipta kepastian hukum dan keadilan.
2. Pemerintah perlu membuat standarisasi dalam aplikasi internet banking
bagi bank yang menyelenggarakan internet banking serta beberapa prinsip
sistem keamanan yang ada pada internet banking. Kehadiran internet
banking memang telah memberikan kemudahan dalam transaksi
perbankan, baik bagi pihak bank sebagai penyelenggara layanan internet
cvii
banking maupun nasabah sebagai pengguna layanan internet banking.
Namun, kelebihan-kelebihan ini akan menjadi berkurang tatkala sistem
keamanan dalam transaksi tidak terjamin.
3. Selain dibutuhkan sistem pengamanan dari segi hukum, dari segi teknologi
itu sendiri setiap bank yang menyelenggarakan layanan internet banking
perlu meningkatkan sistem pengamanan yang handal, mengingat bank
terutama bekerja dengan dana dari masyarakat yang disimpan pada bank
atas dasar kepercayaan.
4. Bagi nasabah yang ingin menjadi nasabah internet banking suatu bank
sebaiknya berusaha memperoleh informasi selengkap-lengkapnya tentang
layanan inernet banking untuk memperhitungkan terlebih dahulu secara
matang mengenai pilihannya sebelum mendaftar menjadi nasabah internet
banking dengan memperhitungkan kelebihan dan kekurangan internet
banking, serta risiko yang mungkin terjadi dan konsekuensi apa yang
mungkin ditimbulkan. Hal ini perlu dilakukan agar jika terjadi suatu
permasalahan hukum dalam internet banking, nasabah mengetahui upaya
apa yang harus dilakukan, sehingga kerugian yang terjadi tidak lebih besar
jika sejak awal diupayakan pencegahan.
cviii
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Muhammad. 1986. Hukum Perjanjian. Bandung : Alumni.
Abdul Kadir dan Terra Ch. Triwahyuni. 2003. Pengenalan Teknologi Informasi.
Yogyakarta : Andi.
Abdurrahman. A. 1993. Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan. Jakarta :
Yagrat.
A. Qirom Syamsudin Meilala. 1995. Pokok-Pokok Hukum Perjanjian dan
Perkembangannya. Yogyakarta : Liberty.
Bank Indonesia. 2004. Booklet Bank Indonesia. Jakarta : Bank Indonesia.
Budi Agus Riswandi. 2005. Aspek Hukum Internet Banking. Jakarta PT Raja
Grafindo Persada.
Gunarto Suhardi. 2003. Usaha Perbankan dalam Perspektif Hukum. Yogyakarta :
Kanisius.
Hermansyah. 2005. Hukum Perbankan Nasional Indonesia. Jakarta : Kencana.
J. Satrio. 1992. Hukum Perikatan. Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. Buku I.
Bandung : Citra Aditya Bakti.
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. 2003. Seri Hukum Perikatan: Perikatan
yang Lahir dari Perjanjian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Mariam Darus Badrulzaman. 1983. Perjanjian Kredit Bank. Bandung : Alumni.
Munir Fuady. 2003. Arbitrase Nasional. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
cix
Rachmadi Usman. 2001. Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Jakarta :
Gramedia.
R. Setiawan. 1994. Hukum Perikatan. Bandung : Bina Cipta.
R. Subekti. 1996. Hukum Perjanjian. Jakarta : PT. Inter Masa.
_________ dan R. Tjitrosudibio. 2002. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
Sentosa Sembiring. 2000. Hukum Perbankan. Bandung : Mandar Maju.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 1986. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada.
__________. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : UI Press.
Soetrisno Hadi. 1989. Metodologi Research I. Yogyakarta : Fakultas Psikologi
UGM.
Suyud Margono. 2000. ADR Alternatif Dispute Resolution dan Arbitrase roses
Pelembagaan dan Aspek Hukum. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Tri Widiyono. 2006. Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Pernbankan di
Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Winarno Surakhmad. 1992. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar. Metode dan
Teknik. Bandung : Transito.
Yahya Harahap. 1997. Beberapa Tinjauan mengenai Sistem Peradilan dan
Penyelesaian Sengketa. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Perundang-undangan
cx
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2004 tentang Bank Indonesia.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan alternatif
Penyelesaian Sengketa Umum.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Telekomunikasi.
Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 27/164/KEP/DIR/1995 tentang
Penggunaan Teknologi Sistem Informasi oleh Bank.
Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 31/175/KEP/DIR/1998 tentang
Penyempurnaan Teknologi Sistem Informasi Bank dalam
Menghadapi Tahun 2000.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/18/DPNP Tanggal 20 April 2004 tentang
Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank
Melalui Internet Banking.
Makalah
Nandang Sutrisno. 1999. ”Dasar-dasar Penyelesaian Sengketa Alternatif”.
Makalah. Disampaikan pada Pelatihan Alternative Dispute
Resolution (ADR), diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UII pada
tanggal 19 Agustus 1999 di Yogyakarta.
Syahril Sabirin. 2001. ”Aspek Hukum Internet Banking dalam Kerangka Hukum
Teknologi Informasi”. Disampaikan pada Seminar Sehari,
diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran Bandung pada tanggal
13 Juli 2001 di Bandung.
cxi
Wawan Wardiana. 2002. ”Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia”.
Makalah. Disampaikan pada Seminar dan Pameran Teknologi
Informasi, pada tanggal 9 Juli 2002 di Fakultas TI Universitas
Komputer Indonesia.
Rujukan Internet
Andi Fanano. 2004. Tinjauan Terhadap Panduan Pengamanan Penggunaan
Teknologi Sistem Informasi oleh Bank yang dikeluarkan Bank
Indonesia. <http://www.lkht.net> (8 September 2007 pukul 19.30).
Budi Raharjo. 2001. Aspek Teknologi dan Keamanan dalam Internet Banking.
<http://www.cert.or.id> (12 September 2007 pukul 13.30).
http://www.bankmandiri.com (20 Desember 2007 pukul 10.00).
http;//www.bni.co.id (20 Desember 2007 pukul 10.15).
http://www.klikbca.com (20 Desember 2007 pukul 10.20).
http://www.wikibooks.com (22 Desember 2007 pukul 08.30).
cxii
cxiii
Download