BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA

advertisement
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Berdasarkan penelusuran penulis, beberapa penelitian yang mengkaji film
telah banyak dilakukan namun belum ada yang mengkaji film “ Cahaya Dari
Timur : Beta Maluku “ dengan pesan perdamaian sebagai titik fokusnya.
Berikut beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian ini.
1. Skripsi karya Uyun Latifah (2014) mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam skripsinya yang
berjudul ” Komunikasi Dakwah Dalam Film UMMI AMINAH “ yang
bertujuan untuk mengetahui komunikasi dakwah dan penerapan nilai sabar
dalam film UMMI AMINAH. Penelitian menggunakan metode analisis
semiotika Roland Barthes.
Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa : (1) Tidak semua teori
komunikasi dakwah menurut wahyu Illahi dideskripsikan dalam film Ummi
Aminah. Yaitu hanya komunikasi dakwah qawaln adhima, qawlan baliga,
qawlan karima, qawlan layyina, qawlan maisuro dan qawlan sadidan. (2)
Komunikasi dakwah dengan qawlan adhima mendominasi dalm film Ummi
Aminah. (3) Dan adapun nilai sabar menurut Drs. K.H. Muslim Nurdun,
yaitu sabar terhadap perintah Allah, sabar terhadap larangan Allah, sabar
9
terhadap
perbuatan
orang
lain,
dan
sabar
menerima
musibah
direpresentasikan semua dalam film Ummi Aminah.13
2. Skripsi karya Fita Fatimah, mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014) dalam skripsinya
yang berjudul ” Nilai Optimisme Dalam Film Cinta Suci Zahrana “ yang
bertujuan untuk menemukan nilai-nilai optimisme yang terkandung dalam
film “ Cinta Suci Zahrana “. Penelitian menggunakan metode analisis
semiotik.
Hasil dari penelitian menemukan bahwa nilai-nilai optimisme dalam
film “ Cinta Suci Zahrana “ yang ditandai dengan gambar dan pesan lisan
meliputi pengharapan yang tinggi, tidak mudah putus asa, mampu
memotivasi diri dan tidak bersikap pasarah.14
3. Skripsi karya Dianita Dyah Makhrufi, mahasiswi Fakultas Dakwah dan
Ilmu Komunikasi (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2013) dalam
skripsinya yang berjudul “ Pesan Moral Islami Dalam Film Sang Pencerah
(Kajian Analisis Semiotika Roland Barthes)”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui makna Pean Moral Islami pada tokoh KH. Ahmad Dahlan
dalam film Sang Pencerah.
13
Uyun Latifah. Komunikasi Dakwah Dalam Film Ummi Aminah, Skripsi, (Yogyakarta:
Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), hlm. 115
14
Fita Fatimah. Nilai Optimisme Dalam Film Cinta Suci Zahrana, Skripsi, (Yogyakarta:
Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), hlm. 84
10
Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa pesan moral Islami
dalam film Sang Pencerah meliputi moral Islami (akhlak) yang mengacu
pada sifat tawadhu, beramal shaleh, lemah lembut dan pemaaf.15
4. Skripsi karya Rosyid Rochman Nur Hakim mahasiswa Fakultas Dakwah
dan Ilmu Komunikasi (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2012) dalam
skripsinya yang berjudul “ Representasi Ikhlas Dalam Film Emak Ingin
Naik Haji “. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ikhlas
direpresentasikan tokoh Emak dalam film Emak Ingin Naik Haji.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa tanda-tanda ikhlas melalui
tokoh emak yaitu, pantang menyerah, orang yang ikhlas hatinya baik dan
lembut, istiqomah, berusaha membantu orang lain, selalu memaafkan
kesalahan orang lain, tidak membeda-bedakan dalam pergaulan, tawakal,
dan bersyukur.16
Dari hasil penelitian di atas ada ketertkaitan dengan penelitian yang
akan dilakukan oleh penulis seperti metode yang dipakai yaitu analisis
semiotika dan objek yang akan diteliti adalah film. Perbedaannya hanya ada
Film yang akan penulis kaji disini yaitu film ”Cahaya Dari Timur : Beta
Maluku” karya Angga Sasongko. Penulis akan meneliti film dengan
menggunakan analisis semiotika Roland Bathers dengan
memfokuskan
bagaimana pesan perdamaian dalam film tersebut.
15
Dianita Dyah Makhrufi. Pesan Moral Islami Dalam Film Sang Pencerah (Kajian Analisis
Semiotika Model Roland Barthes),Skripsi, (Yogyakarta: Fakultas Dakwah, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013), hlm. 49
16
Rosyid Rochman Nur Hakim. Representasi Ikhlas Dalam Film Emak Ingin Naik Haji
(Analisis Semiotik Terhadap Tokoh Emak), Skripsi, (Yogyakarta: Fakultas Dakwah, Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2012), hlm. 33-36
11
B. Kerangka Teori
1. Pengertian Semiotika
Charles Sanders Pierce sebagaimana dikutip Nawiroh Vera17
mendefinisikan semiotika sebagai studi tentang tanda dan segala sesuatu
yang berhubungan dengannya, yakni cara berfungsinya, hubungannya
dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka
yang mempergunakannya.
Jhon Fiske sebagaimana dikutip Nawiroh Vera18 menyatakan bahwa
semiotika adalah studi tentang pertanda dan makna dari sistem tanda ; ilmu
tentang tanda, tentang bagaimana makna dibangun dalam “teks” media; atau
studi tentang bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat
yang mengkomunikasikan makna.
Berdasarkan lingkup pembahasannya, semiotika dibedakan atas tiga
macam berikut.19
a. Semiotika Murni (Pure)
Pure Semiotic membahas tentang dasar filosofis semiotika,
yaitu berkaitan dengan metabahasa, dalam arti hakikat bahasa
secara universal. Misalnya pembahasan tentang hakikat bahasa
sebagaimana dikembangkan oleh Saussure dan Pierce.
17
Nawiroh Vera, 2014. Semiotika Dalam Riset Komunikasi. (Bogor : Ghalia Indonesia), hlm. 2
Ibid.,
19
Ibid., hlm. 4
18
12
b. Semiotika Deskriptif (Descriptive)
Descriptive
Semiotic
adalah
lingkup
semiotika
yang
membahas tentang semiotika tertentu, misalnya sistem tanda
tertentu atau bahasa tertentu secara deskriptif.
c. Semiotika Terapan (Applied)
Applied Semiotic adalah lingkup semiotika yang membahas
tentang penerapan semiotika pada bidang atau konteks terntentu,
mislanya
dengan
kaitannya
dengan
sistem
sosial,
sastra,
komunikasi, periklanan, dan lain sebagainya.
Dalam penelitian ini, mencakup bahasan Semiotika Terapan (Applied
Semiotic) dan teknik analisis data yang dipakai yaitu pendekatan analisis
semiotik dengan menggunakan teori Roland Barthes.
Sobur sebagaimana dikutip Nawiroh Vera20 menjelaskan bahwa Teori
semiotik Barthes secara harfiah diturunkan dari teori bahasa menurut de
Saussure. Roland Barthes mengungkapkan bahwa bahasa merupakan sebuah
sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari masyarakat tertentu
dalam waktu tertentu. Selanjutnya, Barthes menggunakan teori signifiantsignifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi.
Istilah significant menjadi ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun,
Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) tertentu,
sehingga membentuk tanda (sign,Sn). Konsep relasi ini membuat teori
20
Ibid. Hlm. 27
13
tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh
pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan
membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama.
Pengembangan ini disebut sebagai gajala meta-bahasa dan membentuk apa
yang disebut kesinoniman (synonymy).
Sebagaimana pandangan Saussure, Barthes juga meyakini bahwa
hubungan antara penanda dan pertanda tidak terbentuk secara alamiah,
melainkan bersifat arbitrer. Bila Saussure hanya menekankan pada
penandaan dalam tataran denotatif, maka Roland Barthes menyempurnakan
semiologi Saussure dengan mengembangkan sistem penandaan pada tingkat
konotatif. Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan, yaitu “mitos”
yang menandai suatu masyarakat.
Beriku adalah peta tanda Roland Barthes,
1. Signifier
(penanda)
2. Signified
(pertanda)
3. Denotative Sign (tanda denotatif)
2. Connotative Signifier (penanda konotatif)
3. Connotative
Signified
(pertanda konotative)
4.Connotative Sign (tanda konotatif)
Peta Tanda Roland Barthes 21
21
Ibid.,
14
Dari peta Barthes di atas melihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas
penanda (1) dan pertanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda
denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Denotasi dalam pandangan
Barthes merupakan tataran pertama yang maknanya bersifat tertutup.
Tataran denotasi menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti.
Denotasi merupakan makna yang sebenar-benarnya, yang disepakati
bersama secara sosial, yang rujukannya pada realitas. 22
Contohnya jika kita membaca kalimat seperti ‘Mawar sebagai Bunga
Desa ‘, secara denotasi orang akan memaknai bahwa mawar adalah bunga
yang tumbuh di desa, tetapi secara konotasi maknanya berubah, bunga
berarti seorang gadis dan Mawar adalah nama gadis tersebut. Bunga dan
gadis awalnya tidak ada hubungannya sama sekali, tetapi dapat
diinterpretasikan memiliki sifat kesamaan, yaitu cantik atau indah.23
2. Pengertian Pesan
Pesan adalah keseluruhan daripada apa yang disampaikan oleh
komunikator. Pesan idealnya mempunyai isi pesan (tema) sebagai pengarah
di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan.24
Pesan memiliki wujud (physical) yang dapat dirasakan atau diterima oleh
indra.
22
Ibid., hlm. 28
Ibid.,
24
Muslimin. 2010. Komunikasi Pembangunan .(Yogyakarta : Jurusan Ilmu Komunikasi UMM),
hlm. 19
23
15
Dominick mendefinisikan pesan sebagai: the actual physical product
that the source encodes. (produk fisik aktual yang telah di enkoding
sumber).25 Enkoding dapat diartikan sebagai sebuah penerjemahan ide-ide
atau pikiran kedalam bentuk yang dapat diterima oleh panca indera.
Misalkan ketika kita menulis surat, ide-ide kita akan dituangkan kedalam
sebuah buku tulis melalui media pulpen, atau pensil.
Pesan yang disampaikan manusaia dapat berbentuk sederhana
maupun bisa memberikan pengaruh yang cukup efektif. Pesan dapat pula
bersifat rumit dan kompleks.
26
Pesan dapat disampaikan kepada individu
atau kelompok. Adapun pesan dapat disampaikan dengan cara langsung
atau face to face atau tidak langsung yaitu melalui perantara sebuah media.
Penerima pesan memiliki kontrol yang berbeda-beda terhadap
berbagai bentuk pesan yang diterimanya. Ada pesan yang mudah sekali
diabaikan atau ditolak oleh penerima, dalam hal ini penerima memiliki
kontrol yang besar terhadap pesan yang diterimanya namun ada pula pesan
yang sulit untuk dikontrol dan dihentikan.27
Dalam penyampaiannya, bentuk pesan dikelompokan menjadi
beberapa sifat, seperti informatif, persuasif, dan coersif.28
25
Moorisan. 2014. Teori Komunikasi .(Jakarta : Prenada Media Group), hlm. 19
Ibid., hlm. 20
27
Ibid.,
28
Muslimin. 2010. Komunikasi Pembangunan .(Yogyakarta : Jurusan Ilmu Komunikasi UMM),
hlm. 19-20
26
16
a. Informatif
Memberikan
keterangan-keterangan
dan
kemudian
komunikan dapat mengambil kesimpulan sendiri. Dalam situasi
tertentu pesan informatif lebih berhasil daripada pesan persuasif.
b. Persuasif
Pesan
yang
bersifat
bujukan,
yakni
membangkitkan
pengertian dan kesadaran seorang bahwa apa yang disampaikan
akan memberikan pendapat, pandagan atau sikap sehingga terjadi
perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi itu adalah atas kehendak
senidri.
c. Coersif
Pesan yang bersifat memaksa dengan menggunakan sanksisanksi. Bentuk pesan dengan cara memaksa atau coersif dapat
berbentuk perintah, instruksi yang biasanya terjadi pada sebuah
organisasi.
Pesan yang disampaikan harus tepat, sama halnya ketika seseorang
akan menembak, maka ia harus membidik sasaranya dengan baik sebelum
melepaskan tembakannya, sehingga ketika ia melepaskan peluru dari
17
senjatanya dia yakin bahwa peluru itu akan mengenai sasarannya. 29 Pesan
yang mengena harus memenuhi sayarat diantaranya :
a. Pesan harus direncanakan (dipersiapkan) secara baik, sesuai yang
diinginka.
b. Pesan itu menggunakan bahasa yang dapat dimengerti kedua belah
pihak.
c. Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima
sehingga dapat menimbulkan kepuasan.30
Agar pesan sampai sesuai dengan keinginan kita, maka pesan perlu
memiliki rancangan. Ada tiga logika dalam merancang pesan dimulai dari
yang paling tidak terpusat pada orang (least person-centered) hingga yang
sangat terpusat (most person-centered).
a. Logika Ekspresif (Expressive Logic),
Logika
ekspresife
adalah
logika
yang
memandang
komunikasi sebagai suatu cara untuk mengekspresikan diri dan
menyatakan perasaan dan pikiran. Pesan yang terdapat pada logika
ekspresif ini bersifat terbuka dan reaktif, dengan hanya
memberikan sedikit perhatian pada kebutuhan dan keinginan
orang lain. Contoh, Anda marah kepada seorang teman yang tidak
mengembalikan buku yang dipinjamnya dari Anda.
29
Ibid., hlm. 20
Ibid., hlm. 20-21
30
18
b. Logika Konvensional (Conventional Logic)
Logika konvensional yaitu logika yang melihat komunikasi
sebagai suatu permainan yang dimainkan dengan mengikuti
sejumlah aturan. Logika jenis ini bertujuan untuk merancang
pesan yang sopan, pantas, dan berdasarkan aturan yang sepatutnya
diketahui setiap orang. Contoh, teman Anda hendak meminjam
buka Anda, namun sebelumnya Anda memperingatkan dia untuk
mengembalikannya dalam waktu tiga hari dan dia setuju.
c. Logika Retorika (rhetorical logic)
Logika retorika yaitu logika yang memandang komunikasi
sebagai suatu car untuk mengubah aturan melalui negosiasi. Pesan
yang dirancang dengan logika ini cenderung lentur atau fleksibel,
memiliki pemahaman dan terpusat pada lawan bicara. Pembicara
yang menggunakan logika ini cenderung untuk membingkai ulang
situasi yang dihadapi agar berbagai tujuan, termasuk persuasi dan
kesopanan, dapat diintegrasikan dalam satu kesatuan. Contoh,
Anda menyarankan teman Anda secara sopan untuk meminjam
buku yang sama diperpustakaan agar ia bisa mengembalikan buku
Anda yang dipinjamnya.31
31
Moorisan. 2014. Teori Komunikasi .(Jakarta : Prenada Media Group), hlm. 186-187
19
3. Pengertian Perdamaian
Perdamaian merupakan gagasan yang ideal dari semua bangsa,
harapan umat manusia di muka bumi ini. Ada yang menggambarkan
perdamaian secara analogis dengan surga, yang diimpikan sebagai sebuah
keadaan yang sangat menyenangkan, aman, tenang, dan damai.32
Perdamaian bukan merupakan sebuah keadaan yang memiliki
perbedaan, tapi menghargai perbedaan. Perdamain tidak harus semuanya
menjadi sama, tetapi saling menghormati.33 Menghormati dalam setiap
perbedaan pendapat atau persepsi. Persepsi yang berbeda bukan berarti
menghalangi sebuah perdamaian, tapi justru menjadi kekuatan untuk hidup
dalam kerukunan
Menciptakan
mengurangi
perdamaian
kekerasan
jelas
(pengobatan)
berhubungan
dan
dengan
menghindari
upaya
kekerasan
(pencegahan).34 Kekerasan yang terjadi di masyakarakat menyebabkan
kerusakan sarana prasarana dan banyak korban yang terluka. Selain itu
kekerasan juga dapat berdampak buruk pada psikis seseorang terutama
pada anak-anak. Maka darti itu perdamaian merupakan solusi terbaik untuk
mengurangi dan mencegah kekerasan.
Konsep tentang perdamaian merentang antara agama dan kebudayaan
karena dia berkaitan dengan nilai-nilai seperti keamanan dan keselarasan,
32
Syafa’atun Elmirzanah, dkk. 2002. Plularisme, Konflik dan Perdamaian .(Yogyakarta :
Pustaka Pelajar), hlm. 11
33
Ibid.,hlm. 12
34
Johan Galtung. 2003. Studi Perdamaian .(Surabaya : Pustaka Eureka), hlm.3
20
martabat dan keadilan. Karena itu tidaklah mengherankan setiap sistem
agama
dan
kepercayaan,
apakah
bersifat
sekuler
atau
religius,
bagaimanapun juga mempunyai ajaran tentang perdamaian baik yang nyata
maupun perdamaian akhirat yang dijanjikan sebagai implementasi tentang
ajaran-ajaran.35
Perdamaian berhubungan dengan konsep kunci dari agama dan
kepercayaan serta kebudayaan, konsep perdamaian seolah diletakan pada
dua perspektif agama dan kebudayaan umat manusia.36 Selain konsep kunci
dari agama, kepercayaan serta kebudayaan, perdamaian juga tidak dapat
dilepaskan dari keadilan, dan keadilan mensyaratkan tidak adanya
penindasan.37
Perdamaian dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu sebagai
berikut :
a. Perdamaian Negatif
Dalam perspektif ini perdamaian tercipta ketika adanya
perjanjian-perjanjian perdamaian dan juga dominasi militer .38
Perdamaian negatif merupakan sebuah keadaan yang tidak ada
perang, tidak ada konflik dan tidak ada juga kekerasan yang
berarti bahwa wilayah itu sudah damai, karena tidak ada perang
35
Alo Liliweri. 2011. Komunikasi .(Jakarta : Kencana Prenada Media Group), hlm. 434
Ibid.,hlm. 435
37
Ibid.,hlm. 451
38
Anak Agung Banyu Perwita, dkk . 2015. Kajian Konflik dan Perdamaian .(Yogyakarta :
Graha Ilmu), hlm. 71
36
21
maupun konflik. Tetapi pada realitasnya masyarakat masih ada
yang mengalami kekerasan yang tidak tampak serta adanya
ketidakadilan.
b. Perdamaian Positif
Perdamaian diartikan secara positif ketika kekerasan secara
struktural dan kultural sudah bisa dihilangkan. Perdamaian positif
bisa dikatakan seperti suatu mimpi yang sulit diwujudkan. Hal ini
disebabkan karena kebanyakan proses-proses perdamaian hanya
fokus kepada penghentian kekerasan secara langsung, perdamaian
positif bisa dicapai ketika adanya penghapusan terhadap segala
bentuk ketidaksetaraan dalam struktur sosial. Perdamaian positif
bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan setiap individu
yang termasuk didalamnya pengembangan karakter seorang
individu, kebebasan berpendapat, kesetaraan sosial dan ekonomi,
solidaritas, otonomisasi dan partisipasi.39
Dari kategori perdamaian di atas, dapat disimpulkan bahwa
perdamaian negatif adalah perdamaian yang terjadi hanya tetapi masih
banyak menimbulkan akibat negatif yang sulit diperbaiki paska konflik
selesai. Sedangkan perdamaian positif adalah perdamaian yang terjadi dan
memberikan dampak yang positif kepada masyarakat paska konflik selesai.
39
Anak Agung Banyu Perwita, dkk . 2015. Kajian Konflik dan Perdamaian .(Yogyakarta :
Graha Ilmu), hlm. 71-72
22
Perdamaian bukan sekedar menghentikan sengketa, konflik dan
peperangan.
Perdamaian
bukan
pula
berhenti
sejak
para
pihak
menandatangani perjanjian untuk tidak melakukan sengketa konflik dan
peperangan. Perdamaian sebagai akhir dari semua tindak kekerasan yang
dibungkus oleh cinta.40 Perdamaian yang sebenarnya adalah perdamaian
yang mengasilkan dampak positif paska konflik.
Terdapat beberapa klasifikasi mengenai pola hubungan antara
treatment untuk menciptakan perdamaian dalam menghadapi kekerasan dan
konflik:
a.
Peacekeeping
Istilah peacekeeping dibuat oleh lester B Pearson pada
tahun 1956, ketika Krisis Suez rejadi. Perason kemudian
bekerjasama dengan Dag Hammarskjold, Sekretaris Jendral PBB,
untuk membentuk the United Nations Emergency Force (UNEF).
UNEF adalah pasukan militer bersenjata internasional yang
menduduki zona penyangga interpositional diantara pihak
pembenrontak atas izin mereka. Pasukan UNEF dan misi-misi
peacekeeping yang diturunkan setelah Perang Dingin ini
bertujuan
40
untuk
menstabilkan
konflik
internasional
Alo Liliweri. 2011. Komunikasi .(Jakarta : Kencana Prenada Media Group), hlm. 452
dan
23
memberikan waktu dan tempat bagi para politisi dan diplomat
untuk menyusun solusi jangka panjang.41
Peacekeeping atau menjaga perdamaian merupakan
respon yang dilakukan terhadap bentuk kekerasan langsung
(direct violence). Caranya dengan mengendalikan para aktor
sehingga mereka berhenti menghancurkan benda benda maupun
membunuh
orang
(by
changing
conflict
behaviour).
42
Peacekeeping adalah tekanan dari pihak ketiga untuk membantu
wilayah konflik dengan cara memisahkan kedua pihak yang
bertikai. Pihak ketiga yang memisahkan tersebut adalah militer
atau diplomat.
b. Peacebuilding
Proses peacebuilding bukanlah proses yang sederhana,
karena melibatkan tidak hanya berbagai fungsi dan peran, tetapi
juga berbagai rentetan kegitan seperti gencatan senjata dan
penanganan pengungsi hingga pembentukan pemerintah yang
baru dan rekonstruksi ekonomi di wilayah tersebut. Proses
peacebuliding paska konflik kekerasan juga harus dilengkapi
dengan pembangunan kembali infrastruktur dan pemulihan
41
Anak Agung Banyu Perwita, dkk . 2015. Kajian Konflik dan Perdamaian .(Yogyakarta : Graha
Ilmu), hlm. 80
42
Lutfi. Thesis. hlm. 19
24
fungsi
pemerintahan
demi
memenuhi
kebutuhan
dasar
masyarakat.43
Peacebuilding atau membangun perdamaian merupakan
tipe untuk merespon kekerasan struktural (structural violence).
Model ini dilakukan dengan mengatasi kontradiksi di akar
formasi konflik dan menghilangkan kontradiksi struktural dan
ketidakadilan
(by
removing
structural
contradictons
and
injustices) seperti halnya menanggulangi kemiskinan yang
menyebabkan
banyaknya
kematian.44
Peacebuilding sendiri
adalah fase untuk mencegah konflik datang kembali. Dalam fase
ini biasanya dijalankan oleh lembaga nonpemerintahan yang
bergerak pada nilai-nilai HAM dan sebagainya
4. Pengertian Film
Undang-Undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman pada Bab 1
pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan film adalah karya seni budaya
yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat
berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat
dipertunjukan.45
43
Anak Agung Banyu Perwita, dkk . 2015. Kajian Konflik dan Perdamaian .(Yogyakarta : Graha
Ilmu), hlm. 87
44
Lutfi. Thesis. hlm. 19
45
Nawiroh Vera.2014.Semiotika Dalam Riset Komunikasi. (Bogor : Ghalia Indonesia), hlm. 91
25
Film merupakan salah satu media komunikasi massa karena
merupakan bentuk komunikasi massa yang menggunakan saluran (media)
dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massa, dalam
arti berjumlah banyak, tersebar dimana-mana, khalayaknya heterogen dan
anonim, dan menimbulkan efek tertentu.46
Film adalah suatu media visual, yaitu media yang memaparkan
“berita” yang ditangkap, baik melalui indera mata maupun telinga dengan
sangat efektif dalam mempengaruhi peonton.
Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa
manusia yang sedang memirsanya. Disaat sedang menonton film, terjadi
suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis.
Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau
meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.47
Dalam bahasa semiotik, sebuah film dapat didefinisikan sebagai
sebuah teks yang pada tingkat penanda, terdiri atas serangkaian imaji yang
mempresentasikan aktivitas dalam kehidupan nyata.48
Film mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan dengan
media massa lain, diantaranya adalah 49:
46
Ibid.,
Muhammad Arifin. Dakwah Multimedia Terobosan Baru Bagi Para Da’I (Surabaya : Graha
Ilmu Mulia), hlm. 15
48
Marcel Danesi. 2011. Pesan, Tanda, dan Makna .(Yogyakarta : Jalasutra), hlm.100
49
Nawiroh Vera.2014.Semiotika Dalam Riset Komunikasi. (Bogor : Ghalia Indonesia), hlm. 92
47
26
a. Layar Luas
Kelebihan media film dibandingkan dengan televisi adalah
layar yang digunakan untuk pemutaran film lebih berukuran besar
atau luas. Dengan layar film, telah memberikan keleluasaan
penontonnya untuk melihat adegan-adegan yang disajikan dalam
film.
b. Pengambilan Gambar
Layar yang lebar memungkinkan pengambilan gambar dari
jarak jauh atau extreme long shot dan panomaric shot.
Pengambilan gambar yang seperti ini dapat memunculkan kesan
artistik dan suasana yang sesungguhnya.
c. Identifikasi Psikologis
Konsentrasi penuh saat kita menonton bioskop, tanpa kita
sadari dapat membuat kita benar-benar menghayati apa yang ada
dalam film tersebut. Penghayatan yang dalam itu membuat kita
secara tidak sadar menyamakan diri kita sebagai salah seorang
pemeran dalam film tersebut.
27
Pada dasarnya film dapat dikelompokkan ke dalam dua pembagian
besar, yaitu kategori film cerita dan noncerita. Pendapat lain suka
menggolongkan menjadi film fiksi dan film nonfiksi.50
Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang
dikarangdan dimainkan oleh actor dan aktris. Pada umumnya, film cerita
bersifat komersial, artinya dipertunjukan di bioskon dengan harga karcis
tertentu atau diputar di televise dengan dukungan sponsor iklan tertentu.
Film noncerita merupakan kategori film yang mengambil kenyataan
sebagai subyeknya. Jadi, merekam kenyataan daripada fiksi tentang
kenyataan.51
Film dapat dikategorikan menjadi beberapa macam sebagai berikut:
a. Film Berita (news reel)
Film berita atau news reel adalah film mengenai fakta
peristiwa yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya berita, maka
film yang disajikan kepada publik harus mengandung berita (news
value).
b. Film Dokumenter
Titik berat dari film dokumenter adalah fakta atau peristiwa
yang terjadi. Membuat film dokumenter dapat dilakukan dengan
pemikiran dan perencanaan yang matang sehingga berbeda dengan
film berita yang sifatnya tergesa-gesa.
50
Marceli Sumarno.1996. Dasar-Dasar Apresiasi Film .(Jakarta : PT Grasindo), hlm.10
Ibid.,
51
28
c. Film Cerita (Story Film)
Film cerita adalah jenis film yang mengandung sebuah cerita,
yaitu yang lazim dipertunjukan di gedung-gedung bioskop dengan
para bintang flmnya yang terkenal. Film jenis ini didistribusikan
sebagai barang dagangan dan diperuntukkan semua publik di mana
saja.
d. Film Kartun
Titik berat pembuatan film kartun adalah seni lukis. Setiap
lukisan memerlukan ketelitian. Satu per satu dilukis dengan
seksama untuk kemudian dipotret satu per satu.52
Ika Kurnia Utami. 2013. Semiotika Taubat Dalam Film “Mama Cake”. Fakultas Ilmu
Dakwah Dan Ilmu Komunikasi (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. hlm : 14-15
52
Download