Artikel Undang-undang Perbankan Syariah

advertisement
UNDANG – UNDANG PERBANKAN SYARIAH
SEBAGAI HUKUM YANG DICITA-CITAKAN
Dipublikasikan pada Jurnal Ilmu Hukum LITIGASI
Volume 5 No 2 Juni 2004 halaman 191-203 ISSN : 0853-7100
A. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Tidak dapat disangkal lagi bahwa pembangunan memerlukan dana yang tidak
sedikit dan berkesinambungan. Dalam hal pengerahan dana masyarakat tidak dapat
dikesampingkan peranan lembaga perbankan.
Bank sebagai lembaga yang bekerja berdasarkan kepercayaan masyarakat, memiliki
peran dan posisi yang sangat strategis dalam pembangunan nasional. Sebagai lembaga
perantara keuangan masyarakat ( financial intermediary ), bank menjadi media
perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus of fouds) dengan pihakpihak yang kekurangan / memerlukan dana (lack of fouds)1.
Di Indonesia, lembaga
perbankan memiliki misi dan fungsi sebagai agen pembangunan ( agent of development
), yaitu sebagai lembaga yang bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional
dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional
ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.2
Tidak ragu lagi bahwa perbankan menunjukan pelayanan khusus dan bermanfaat
terhadap masyarakat dan tidak ada masyarakat modern yang dapat mencapai kemajuan
pesat atau bahkan dapat mempertahankan angka pertumbuhannya tanpa bank.3
1
Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal.67, Menurut
Muchdarsyah Sinungan, bankir-bankir yang mengelola banknya menurut sistem dan metode yang
mengacu pada tingkat produktivitas usaha para nasabah (baik industri, pedagang, maupun petani) akan
mampu melihat ke depan dan mengambil keputusan gemilang bagi perkembangan ekonomi negaranya.
Manajemen Dana Bank, Bina Usaha, Jakarta, 1993, hal.1.
2
Tujuan Perbankan Nasional seperti yang tertera dalam Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998.
3
Afzalur Rahman, Economic Doctriness of Islam. Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, 1996, hal. 338.
1
Kaitannya dengan perekonomian nasional, Compton menyatakan ketidakmungkinan
memberi gambaran mengenai ekonomi nasional yang berjalan efisien, tumbuh dengan
mantap atau bertahan untuk suatu kurun waktu tanpa dukungan sistem perbankan yang
kuat.4
Seperti telah dimaklumi, bahwa kasus-kasus perbankan yang terjadi pada masa lalu
– yang hingga saat ini akibatnya masih dirasakan - baik langsung maupun tidak
langsung telah membawa akibat bagi perkembangan perekonomian negara. Untuk
menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan sebagai upaya memulihkan
krisis perbankan pemerintah harus menyediakan talangan dana yang tidak kecil
setidaknya 410 trilyun rupiah harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk bantuan kredit
likuiditas.5
Kondisi perbankan nasional yang demikian telah memberi andil timbulnya krisis
perekonomian nasional. Kondisi ini dikarenakan banyak faktor penyebab, salah satunya
adalah kebijakan / policy perbankan. Mengenai hal ini Muladi mengatakan bahwa
penyebab timbulnya kondisi perbankan yang sangat parah dewasa ini yang secara
signifikan memberi andil dalam krisis ekonomi saat ini, di samping akibat dari anomie
of succes atau unfortunate mistake atau business - malpractice atau human errors atau
business etchic atau kombinasi faktor-faktor di atas dan sedikit banyak tidak terlepas
dari administrative policy failure.Selain itu disadari pula bahwa hal ini disebabkan
adanya berbagai kesalahan dalam kebijakan penyelenggaraan pembangunan di masa
lalu. Jika dicermati terdapat dua faktor penyebab utama, yakni pembangunan yang
dilaksanakan secara terpusat dan pembangunan yang tidak seimbang. Pola
pembangunan demikian tercermin dalam proses pembangunan yang tidak melibatkan
partisipasi masyarakat dan kurang memperhatikan pemberdayan ekonomi rakyat.6
4
Eric N. Compton. Principle of Banking. (terjemahan Alexander Oey). Jakarta : Akademika Pressindo.
1991, hal. 330.
5
Pada Februari 1999 posisi minus seluruh bank mencapai 198.019.000.000.000 (seratus sembilan puluh
delapan trilyun sembilan belas milyar rupiah). Nidyo Pramono. Mengenal Lembaga perbankan di
Indonesia Sebuah Pendekatan dari Perspektif Hukum Ekonomi. Makalah pada Penataran Hukum perdata
dan Ekonomi, FH. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 23-30 Agustus 1999.
6
PROPENAS 2000 – 2004 ( Undang – undang No. 25 Tahun 2000 ) BAB II Tentang Prioritas
Pembangunan Nasional angka 1, hlm. 12 - 13.
2
Untuk itu berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk memulihkan perbankan
nasional, baik melalui rekapitulisasi maupun pengambilalihan kepemilikan bank. Selain
itu dilakukan penyesuaian peraturan perbankan nasional. Selain untuk memulihkan
perbankan nasional, revisi peraturan perbankan dilakukan karena telah diratifikasinya
beberapa perjanjian internasional di bidang perdagangan barang dan jasa, sehingga
diperlukan
penyesuaian
terhadap
peraturan
perundang-undangan
di
bidang
perekonomian, khususnya sektor perbankan, agar peraturan perbankan mengacu pada
komitmen Indonesia dalam berbagai forum internasional.7
Terdapat Lima Pokok Perubahan UU No. 7 Tahun 1992 dalam UU No. 10 Tahun
1998 8, salah satunya berkaitannya dengan keberadaan Bank Syariah, Dengan diaturnya
berbagai hal tentang Bank Syariah dalam UU Perbankan, menunjukan bahwa Bank
Syariah dewasa ini memiliki kedudukan yang mantap dan berdiri sejajar dengan Bank
Konvensional. Dengan dimungkinkannya Bank Umum Konvensional
9
menggunakan
prinsip syari’ah dan bukan prinsip syariah sekaligus. Hal ini terbukti dari banyaknya
permohonan bank konvensional kepada Bank Indonesia untuk membuka kantor cabang
atau kantor di bawah cabang yang akan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syari’ah.
Di Indonesia, bank yang beroperasi berdasarkan syari’ah Islam telah dimulai sejak
tahun 1990-an. Setelah sembilan tahun sejak Bank Syariah yang pertama kali berdiri di
Indonesia - yaitu Bank Muamalat Imdonesia – banyak minat bank konvensional
menggunakan pola usaha berdasarkan prinsip syariah10.
Dua dekade terakhir,
perkembangan bank syariah pun mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan baik
dilihat dari jumlah maupun penyebarannya di dunia. 11
7
Penjelasan Umum UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan.
8
Penjelasan Umum UU No. 1 Tahun 1998.
9
Meminjam istilah Muhammad Syafi’i Antonio untuk menunjukkan bank yang beroperasi tidak
menggunakan prinsip syari’ah. Istilah ini kini digunakan dalam UU Perbankan.
10
Bank IFI, Bank BSB, BNI, BRI, dan sejumlah Bank Swasta lainnya menunjukkan minatnya
mengembangkan Bank Syar’ah, persiapan pembukaan sejumlah kantor cabang syariah di berbagai kota.
Republika, 11 November 1999.
11
Perbankan Syariah telah ada di hampir lebih 60 negara, kebanyakan di wilayah Timur Tengah dan
Asia. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh International Association pf Islamic Bank pada tahun
3
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat merupakan bagian dari
masyarakat internasional. Sebagai bagian dari masyarakat internasional, Indonesia tidak
dapat melepaskan diri dari pranata hukum internasional, termasuk di dalamnya
perkembangan di bidang hukum ekonomi internasional. Perkembangan hukum ekonomi
internasional yang perlu dicermati, diantaranya adalah hasil – hasil perundingan
Uruguay Round yang telah berlangsung dari tahun 1986 dan berakhir pada bulan April
1994 di Marakesh - Maroko. Salah satu hasil perundingan ini adalah disepakatinya
pembentukan GATT ( General Agreement on Tariff and Trade ), dan WTO ( World
Trade Organization ). WTO merupakan organisasi payung yang membawahi seluruh
perjanjian dalam Uruguay Round, dan mengadministrasikan semua perjanjian,
menyediakan forum untuk negosiasi di kemudian hari, mengadministrasikan sistem
penyelesaian sengketa dan memantau kebijaksanaan perdagangan dan bekerjasama
dengan lembaga ekonomi lainnya.12
Arus globalisasi yang ditandai dengan berlakunya persetujuan kerjasama regional
dan internasional di bidang perdagangan ( perekonomian ), akan menciptakan peluang
sekaligus tantaangan. Peluang dan tantangan perekonomian nasional akan terasa sulit di
tahun – tahun mendatang apabila persoalan – persoalan yang timbul tidak mampu
diinventarisir, dianalisis dan dipersiapkan. Pembenahan aturan terutama di bidang
kerjasama perdagangan dan perusahaan yang direfleksikan pada prinsip – prinsip
GATT, dan WTO dan AFTA ( Asia Free Tade Area ), merupakan pantauan awal agar
hukum tidak selalu tertinggal sementara aspek perekonomian dan perdagangan melaju
pesat jauh ke depan.13
Berkaitan dengan masalah di atas, makalah ini akan mencoba menganalisa masalah
pembangunan hukum nasional di era globalisasi, yakni berkaitan dengan hukum
perbankan, khususnya bank syariah. Mengingat luasnya ruang lingkup kajian masalah
1977, ada lebih 176 lembaga keuangan di sektor publik dan privat baik di negara – negara muslim dan
non muslim.
12
H.S. Kartadjoemena, GATT WTO dan Hasil Uruguay Round, UI-Pres, Jakarta, 1997, hlm. 313
13
Aslan Noor, Peranan hak – hak atas Tanah dalam mengembangkan Bisnis Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah di Era Globalisasi, Makalah Seminar Kesiapan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Jawa
4
perbankan syariah ini, bahasan pada makalah ini dibatasi pada beberapa hal yang
dirumuskan pada bagian Identifikasi masalah.
b. Identifikasi Masalah
1. Bagaimana Kontribusi Perbankan Syariah dalam Pembangunan Nasional ?
2. Apakah Filosofi dan Prinsip – prinsip Bank Syariah sesuai dengan Filosofi yang
melandasi lahirnya Era Globalisasi ?
3. Apa urgensi Undang – undang Perbankan Syariah dalam Pembangunan Nasional di
Era Globalisasi ?
B. PEMBAHASAN
a. Kontribusi Perbankan Syariah dalam Pembangunan Nasional.
Perkembangan perekonomian nasional maupun internasional yang begitu cepat
menimbulkan tantangan yang tidak sedikit terhadap lembaga-lembaga keuangan.
Demikian halnya terhadap lembaga perbankan. Peran strategis lembaga perbankan yang
mengemban tugas utama sebagai wahana yang dapat menghimpun dan menyalurkan
dana secara efektif dan efisien, memerlukan penyempurnaan yang terus menerus agar
mampu memiliki keunggulan komparatif. Lembaga perbankan mempunyai fungsi dan
tanggung jawab yang sangat besar, selain memiliki fungsi tradisional, yaitu untuk
menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat dalam arti sebagai perantara pihak
yang berlebihan dana dan kekurangan dana, yakni fungsi financial intermedidiary, juga
berfungsi sebagai sarana pembayaran. Seperti telah dikemukakan, perbankan Indonesia
mempunyai fungsi yang diarahkan sebagai agent pembangunan (agent of development),
yaitu sebagai lembaga yang bertujuan guna mendukung pelaksanaan pembangunan
Barat untuk Mengembangkan Bisnis dalam Era Globalisasi, 7 Agustus 2003, Fakultas Hukum Unpad,
Bandung, 2003, hlm.1.
5
nasional dalam rangka pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan
ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. 14
Perbankan nasional berfungsi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat dan seluruh
kekuatan ekonomi nasional, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi. Untuk
mencapainya perbankan Indonesia harus memiliki komitmen. Komitmen ini oleh
Nyoman Moena diterjemahkan ke dalam bahasa perbankan, yaitu perbankan Indoensia
berfungsi sebagai : 15

Lembaga kepercayaan;

Lembaga pendorong pertumbuhan ekonomi;

Lembaga pemerataan
Jika diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk tanggung jawab, maka bentuk-bentuk
tanggung jawab perbankan, adalah :

Tanggung jawab prudential (bank harus sehat);

Tanggung jawab komersial (bank harus untung);

Tanggung jawab finansial (bank harus transparan);

Tanggung jawab sosial (kemampuan mengakomodir harapan stake holderes secara
adil).
Sedangkan menurut Heru Soepraptomo, sebagai agen dari pembangunan, bank
diharapkan dapat memberikan kontribusi pada usaha meningkatkan tabungan nasional,
menumbuhkan
kegiatan-kegiatan
menumbuhkan
kegiatan
usaha
usaha
dan
meningkatkan
meningkatkan
tabungan
alokasi
nasional,
sumber-sumber
perekonomian. 16
Berkaitan dengan hal ini tidak dapat dilepaskan peran perbankan syariah. Embrio
fungsi perbankan syariah telah ada sejak awal Islam yakni pada fungsi-fungsi
perorangan terutama seperti yang dipraktekkan oleh rasulullah sebagai seorang
14
Muhammad Djumhana, Op.Cit., hal 77.
Nyoman Moena, Rangkuman Sajian Analisi Efisiensi dan Efektivitas Hukum Perbankan, Makalah pada
pertemuan Ilmiah BPHN, Desember 1996, hal. 1-2.
6
15
pedagang dan penerima titipan dari orang-orang kaya yang ada di Mekkah. Perbankan
Islam sebagai institusi mulai dipraktikkan pada tahun 1940-an dan mulai berkembang
pada tahun pada awal tahun 1970-an. Bank syariah tumbuh dengan cukup pesat dengan
cakupan yang sangat luas tidak hanya di negara-negara muslim, tetapi juga telah
dipraktikkan oleh bank-bank konvensional di negara-negara Barat. Hal ini disebabkan
disamping faktor layanan keuangan perbankan Islam ada juga faktor besar pangsa
pasarnya.
Perbankan Syariah di Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan yang pesat baik
dari segi aset dan jaringan kantor maupun dari dukungan masyarakat, terutama setelah
krisis ekonomi tahun 1998. Perbankan syariah terbukti dapat bertahan melewati deraan
krisis ekonomi, hal ini disebabkan oleh adanya karakteristik operasional yang menjadi
keunggulan kompetitif dan komparatif bagi perbankan syariah sehingga dapat menjadi
alternatif sistem perbankan selain perbankan konvensional.
Selain itu perbankan
syariah secara konsisten menjalankan fungsi intermediasi, hal ini terlihat dalam angka
Financing to Deposit Ratio yang cukup tinggi dibanding dengan perbankan
konvensional.
Tahun 2002 di Indonesia terdapat dua bank umum syariah, enam bank umum
konvensional yang memiliki unit syariah, serta 83 BPR yang beroperasi berdasarkan
syariah. Penyebaran jaringan terdiri dari 55 Kantor Cabang, 8 Kantor Cabang
Pembantu, dan 48 Kantor Kas. Pertumbuhan aset 74 % per tahun selama kurun waktu
1998 – 2001.17
Hal tersebut membuktikan bahwa pada praktiknya perbankan syariah walau
dibandingkan dengan total aset perbankan nasional masih relatif kecil, tetapi perbankan
syariah memiliki peluang untuk berkembang secara terus menerus. Perbankan syariah
telah menunjukkan potensi manfaat yang dapat dikembangkan untuk mendukung
perekonomian nasional ke arah yang lebih baik.
16
Heru Soepraptomo, Analisis Ekonomi terhadap Hukum Perbankan, makalah pada pertemuan Ilmiah
tentang Analisis Ekonomi terhadap Hukum dalam Menyongsong Era Globalisasi, BPHN – Departemen
Kehakiman, Jakarta, 10-11 Desember 1996, hal. 1.
7
Secara internasional, saat ini volume operasi perbankan Islam cukup signifikan.
Perkembangan tersebut telah difasilitasi Islamic Development Bank (IDB) dan beberapa
negara anggota dengan mendirikan International Islamic Financial Market (IIFM) pada
bulan November 2001.
Selain itu IMF telah memfasilitasi pembentukan Islamic
Financial Service Board (IFSB) pada bulan September 2002. Perkembangan ini telah
melengkapi institusi yang dibutuhkan dalam rangka peningkatan kualitas operasi dan
efisiensi perbankan syariah secara internasional.18
b. Filosofi dan Prinsip Bank Syariah kaitannya dengan Paham yang Melandasi
Lahirnya Era Globalisasi
1.Globalisasi dan Paham Neo Liberalisme
Globalisasi menurut bahasa adalah “ Proses masuknya ke dalam ruang lingkup
dunia “.19 A. Sandiwan mengungkapkan makna utama globalisasi . Menurutnya Botton
line globalisasi tidak lain adalah persaingan dan persekutuan atau competition and
cooperation, yang kadar dan intensitasnya benar – benar berkualitas internasional.
Tidak lagi berskala serta berkualitas nasional, apalagi lokal.20
Pada dasarnya semua proses pengintegrasian ekonomi nasional menjadi ekonomi
global
(
globalisasi ) merupakan harapan dan hasil perjuangan dari
perusahaan-perusahaan transnasional karena pada dasarnya merekalah yang paling
diuntungkan dari proses tersebut. Selama dua dasawarsa menjelang berakhirnya abad
Millenium, perusahaan-perusahaan transnasional berskala raksasa tersebut (TNCs)
meningkat jumlahnya secara pesat dari sekitar 7000 TNCs pada tahun 1970, dan dalam
17
Sumber data : Naskah Akademik Rancangan Undang – undang tentang Bank Syariah. Law Office of
Remy dan Darus, Jakarta, Oktober 2002, Hlm. 64
18
Naskah Akademik Rancangan Undang – undang tentang Bank Syariah. Law Office of Remy dan
Darus, Jakarta, Oktober 2002, Hlm. iii
19
Departemen Pendidikan dan Kebudaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm.
320
20
A. Sandiwan, Dari Meja Tanri Abeng Managing atau Chaos ? Tantangan Globalisasi dan
Ketidakpastian., Pustaka sinar Harapan, Jakarta, 2000, hlm. 6
8
tahun 1990 jumlah itu mencapai 37.000 TNCs. Selain jumlahnya meningkat, TNCs juga
dapat menguasai perekonomian dunia. Kekuatan ekonomi TNCs yang luar biasa
tersebut akan semakin bertambah jika globalisasi berjalan. Mereka pada saat yang lalu
saja berhasil menguasai 67% dari perdagangan dunia antar TNCs dan menguasai 43,1%
total perdagangan global. Lebih lanjut TNCs juga telah menguasai 75% dari total
investasi global. Ada 100 TNCs dewasa ini menguasai ekonomi dunia. Mereka mampu
mengontrol sampai 75% perdagangan dunia. 21
Dari uraian di atas, tampaklah bahwa aktor yang justru sangat berkuasa dan justru
lebih terpenting setelah WTO adalah Transnational Corporations (TNCs). Merekalah
yang sebenarnya yang berada di balik semua proses kesepakatan dalam WTO. Mereka
adalah perusahaan-perusahaan transnasional yang sangat berkepentingan melalui
mekanisme globalisasi sistem poduksi, investasi dan pasar yang pengaturan mekansime
dari semua sistem produksi dan pasar tersebut ditetapkan di WTO. Dengan demikian,
forum WTO pada hakikatnya menjadi arena perjuangan bagi perusahaan transnasional
untuk memperjuangkan cita-cita mereka dalam penguasaan dunia. Hal itu berarti bahwa
segala yang melalui proses dan mekansime globalisasi juga merupakan perebutan
kekuasaan ekonomi dari kekuasaan negara-negara kepada TNCs.22
Selanjutnya perlu ditelaah konstruksi, konsep, mekansime, maupun anatomi dari
globalisasi. Globalisasi sebagai proses pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam
sistem ekonomi dunia pada dasarnya diperankan oleh aktor-aktor utama proses tersebut.
Ada tiga aktor utama, pertama, adalah TNCs, yakni perusahaan multinasional yang
besar yang dengan dukungan negara-negara yang diuntungkan oleh TNCs tersebut
membentuk suatu dewan perserikatan perdagangan global yang dikenal dengan WTO
yang menjadi aktor kedua. Ketiga, adalah lembaga keuangan global IMF, dan Bank
Dunia. Ketiga aktor globalisasi tersebut menetapkan aturan-aturan seputar investasi.
Intellectual Property Rights dan kebijakan internasional. Kewenangan lainnya adalah
mendesak atau mempengaruhi serta memaksa negara-negara melakukan penyesuaian
21
Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 2002.
Hlm. 214
9
kebijakan nasionalnya bagi kelancaran proses pengintegrasian ekonomi nasional ke
dalam ekonomi global. 23
Proses memperlicin jalan pengintegrrasian tersebut ditempuh dengan cara mengubah
semua aturan kebijakan yang menghalangi ketiga aktor-aktor globalisasi, terutama
TNCs
untuk beroperasi dalam bentuk ekspansi produksi, pasar maupun ekspansi
investasi. Dengan demikian, sesungguhnya globalisasi tidak ada sangkut pautnya
dengan kesejahteraan rakyat ataupun keadilan sosial di negara-negara Dunia Ketiga,
melainkan lebih didorong demi motif kepentingan pertumbuhan dan akumulasi kapital
berskala global.24
Semua mekanisme dan proses globalisasi yang diperjuangkan oleh aktor-aktor
globalisai melalui kesepakatan yang dibuat di WTO sesungguhnya dilandaskan pada
suatu ideologi yang dikenal dengan neo liberalisme. Paham neo liberalisme yang lama,
hanya saja karena waktu, konteks pemunculannya kembali serta skala dan strateginya
yang berbeda sudah tentu jawabannya berlainan. Dengan demikian neo liberalisme
merupakan kembalinya paham liberalisme lama di era yang baru.25
Apa yang menjadi pendirian neo liberalisme dicirikan sebagai berikut : kebijakan
pasar bebas yang mendorong perusahaan-perusahaan swasta dan pilihan konsumen,
penghargaan atas tanggung jawab personal dan inisiatif kewiraswastaan, serta
menyingkirkan birokrasi dan “parasit” pemerintah yang tidak akan pernah mampu,
meskipun dikembangkan. Aturan dasar kaum neo liberal adalah, “liberalisasikan
perdagangan dan finansial, biarkan pasar menentukan harga. Akhiri inflasi, (stabilisasi
ekonomi-makro,dan privatisasi) kebijakan pemerintah haruslah “menyingkir dari
penghalang jalan” (Chomsky, 1999). Paham inilah yang saat ini mengglobal dengan
mengembangkan “konsensus” yang dipaksakan yang dikenal dengan globalisasi
sehingga terciptalah suatu tata dunia. 26
b.Filosofi dan Prinsip Perbankan Syariah
22
Mansour Fakih, Op.Cit., hlm 215
Mansour Fakih, ibid
24
Mansour Fakih, Op.Cit., hlm 216
25
Mansour Fakih, Ibid
23
10
Kegiatan perbankan sebagai salah satu institusi perekonomian Islam, sebagaimana
halnya seluruh aspek kehidupan manusia mengacu dan berlandaskan syariah Islam,
yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karenanya perbankan tidak dapat dilepaskan dan
tercerabut dari nilai-nilai ajaran Islam. Ajaran Islam terdiri dari tiga komponen, yaitu :
Aqidah, Syariah, dan Akhlaq. Aqidah sifatnya konstan dan tidak mengalami
perubahan dengan berbedanya waktu dan tempat. Syari’ah senantiasa diubah menurut
kebutuhan dan taraf peradaban ummat di mana seorang Rosul diutus. Asas penetapan
syraiah Islam adalah menghilangkan keberatan dan tidak menyulitkan, menciptakan
kemaslahatan dan menciptakan keadilan. 27
Syariah Islam sebagai suatu syariat yang dibawa oleh Rosul terakhir memiliki sifat
yang comprehensif dan universal. Comprehensif berarti merangkum seluruh aspek
kehidupan manusia baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Universal artinya
dapat diterapkan dalam setiap waktu dapat tepat.28
Menurut ajaran Islam, lembaga perbankan adalah suatu institusi perekonomian yang
merupakan wujud dari muamalah. Perbankan sebagai salah satu institusi ekonomi dalam
sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam itu sendiri menurut Amin Aziz, 29 adalah
sistem ekonomi yang kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang diambil
dalam melaksanakan kebijakan ekonomi dipengaruhi / dilandasi oleh syariah Islam.
Perekonomian Islam berpedoman pada prinsip-prinsip ekonomi Islam, antara lain :
30
Manusia adalah makhluk pengemban amanat Allah untuk memakmurkan kehidupan
di bumi, dan diberi kedudukan sebagai khalifah (wakilnya) yang wajib melaksanakan
petunjuk-Nya; Kerja adalah yang sesungguhnya menghasilkan (produktif); Islam
26
Mansour Fakih, Op.Cit., hlm 218
Muhammad Djafar, Pengantar Ilmu Fiqh : Suatu Pengantar tentang Ilmu Hukum Islam dalam
berbagai Mahzab, Jakarta, Kalam Mulia, 1993, hal. 30-42.
28
M. Syafi’i Antonio, Potensi dan Peranan Ekonomi Islam dalam Upaya Pembangunan Umat Islam
Nasional, makalah tanpa tahun, hlm.2.
29
Amin Aziz, Tantangan, Prospek dan Strategi Sistem Perekonomian syariah di Indonesia dilihat dari
pengalaman pengembangan BMT, PINBUK, Jakarta, 1996, hal. 2.
30
Ahmad Ashar Basyir, artikel pada Berbagai Aspek Ekonomi Islam (editor M. Rusli Karim), P3EI – FE
UII bekerjasama dengan Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992, hlm. 13-14.
11
27
menentukan berbagai macam bentuk kerja yang halal dan yang haram, kerja yang halal
saja yang dipandang sah; Hak milik manusia dibebani kewajiban-kewajiban yang
diperuntukan bagi kepentingan masyarakat. Hak milik berfungsi sosial; Harta jangan
beredar di kalangan kaum kaya saja, tetapi diratakan dengan
jalan memenuhi
kewajiban-kewajiban kebendaan yang telah ditetapkan dan menumbuhkan keperdulian
sosial berupa anjuran berbagai macam shodaqoh; Harta difungsikan bagi kemakmuran
bersama
tidak
hanya
ditimbun
tanpa
menghasilkan
sesuatu
dengan
jalan
diperkembangkan secara sah; Kerjasama kemanusiaan yang bersifat saling menolong
dalam usaha memenuhi kebutuhan ditegakkan; Nilai keadilan dalam kerjasama
kemanusia ditegakkan; Campur tangan negara dibenarkan dalam rangka penertiban
kegiatan ekonomi menuju tercapainya tujuan;
Secara filosofis, orientasi dasar ekonomi Islam dilandaskan pada asas ketuhanan (
tauhid ), yaitu adanya hubungan dari aktivitas ekonomi, tidak saja dengan sesama
manusia, tetapi juga dengan tuhan sebagai pencipta. Dari landasan tauhid ini timbul
prinsip – prinsip dasar bangunan kerangka sosial, hukum, dan tingkah laku, yang di
antaranya adalah prinsip khilafah, keadilan ( ‘adalah ), kenabian ( nubuwwah ),
persaudaraan ( ukhuwwah ), kebebasan yang bertanggung jawab ( Al huriyah wal
mas’uliyyah ). Disamping itu ada nilai – nilai instrumental, yaitu larangan riba, zakat,
kerjasama ekonomi, jaminan sosial dan peran negara.31
Berdasarkan landasan filosofis dan prinsip-prinsip syariah dalam ekonomi bank
syariah dijalankan dengan tidak mendasarkan kepada prinsip bunga karena dianggap
riba dan dilarang, transaksi yang digunakan adalah transaksi bagi hasil pengembangan
zakat dan usaha yang halal dan thoyib, serta adanya prinsip kesesuaian kehendak dalam
perjanjian-perjanjian ( arridha’iyyah ).32
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip utama dalam operasionalisasi perbankan
syariah, yang memiliki keunikan (khas) dalam opersionalnya, sesuai dengan karakter
31
Ahmad Ashar Basyir, Ibid
Law Office of Remy & Darus, Naskah Akademik Rencana Undang – undang tentang Perbankan
Syariah, Jakarta, Oktober 2002, hlm. 60
32
12
dari ajaran Islam itu, dalam opersionalisasi perbankan syariah diperlukan pengaturan
yang khusus agar berjalan sesuai dengan sifat dan kekhususannya tersebut dengan tidak
mengurangi prinsip universal dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu bertujuan membawa
kebaikan bagi semua pihak
( rahmatan lil ‘alamin ).33
c.Urgensi Undang – undang Perbankan Syariah dalam Pembangunan Nasional di
Era Globalisasi
Paradigma pembangunan yang sudah berjalan secara mendunia dengan pendekatan
teori – teori ekonomi liberal kapitalistik dan marxist berikut teori pengembangannya
yang bertentangan dengan nilai kemaunian dan ketuhanan
( agama ), dianggap telah
gagal membawa tujuan dari pembangunan ekonomi untuk memakmurkan dan
menyejahterakan masyarakat. Oleh karenanya perlu paradigma baru yang dapat
memberikan alternatif atas kekurangan dan kegagalan teori yang sudah ada. Paradigma
ini berdasarkan pada konsep ajaran agama samawi yang mendasarkan pada prinsip
ketuhanan. 34
Sebelum diuraikan tentang urgensi Undang – undang Perbankan Syariah dalam
Pembangunan nasional pada Era globalisasi, penting untuk terlebih dahulu dikaji
tentang Pembangunan Hukum Nasional. Menurut Artidjo Alkostar, pembangunan
hukum senantiasa menuntut adanya visi dari proses yang secara sadar diarahkan kepada
pertumbuhan dan pembangunan hukum. Pembangunan hukum tidak mungkin hanya
dipercayakan dan tergantung pada penguasa saja karena eksistensi hukum tidak bisa
dilepaskan dari dinamika sosial. Prioritas “political will” penguasa pemerintahan akan
lebih mudah dicurahkan pada pembangunan ekonomi dan teknologi dibandingkan
dengan pembangunan hukum dan keadilan. 35
33
Law Office of Remy & Darus ibid.
Law Office of Remy & Darus ibid.
35
Mochtar Mas’oed ( editor ), Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan,UII Pres, Jogjakarta, 1997,
hlm. 340 - 344
34
13
Lebih jauh Alkostar mengatakan bahwa Pembangunan hukum yang dirancangbangun oleh dan dengan desain dominasi kebijaksanaan pemerintah, maka akan muncul
bangunan hukum yang hanya memberi naungan bagi kekuasaan dan birokrasi. Dalam
hubungan ini, jika pemerintahan Orde Lama banyak memberlakukan hukum warisan
Kolonial dan hukum buatan Indonesia yang represif serta otorioter sebenarnya
merupakan refleksi dari pola pembangunan yang lebih menekankan pada ideologi
stabilitas. Pembentukan undang-undang terkait dengan proses politik. Proses-proses
politik antaranya terlihat pada pembuatan hukum (undang-undang, peraturan). Di sini
pembuatan hukum tidak kita lihat sebagai proses hukum melainkan sebagai manifestasi
dari kegiatan politik yaitu membuat deskripsi mengenai keadaan ideal dan memobilisasi
sumber-sumber daya untuk mencapainya melalui pembangunan kekuasaan,
36
Sedangkan negara yang menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi menyaratkan
adanya partisipasi penuh masyarakat secara politik serta keterkaitan maksimal dari
rakyat dalam menentukan kebijaksanaan yang menyangkut kepentingan publik. Begitu
pula dalam pembangunan hukum nasional, nilai-nilai yang ada dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat mutlak harus dijadikan fondasi bangunan, agar hukum yang
berlaku tidak tercabut dari bumi budaya masyarakatnya.
Alkostar
memahami kritik – kritik yang dilontarkan terhadap ilmu hukum.
Menurutnya dalam realita pelaksanaan hukum banyak fenomena yang mengundang
insinuasi-insinuasi sinis dan mempertanyakan Visi pengembangan Ilmu Hukum saat ini.
Alkostar sendiri mengkritik perkembangan hukum di Indonesia. Menurutnya
perkembangan hukum di Indonesia saat ini terbelenggu oleh “kapsul” positivisme
hukum Eropa Kontinental abad 18. Positivisme hukum tidak peduli dengan keadilan,
karena masalah keadilan bukan urusan hukum positif. Aliran positivisme hukum
menekankan pada kepastian hukum. Akibatnya, pertumbuhan hukum Indonesia berjalan
tanpa Visi dan tidak jelas Paradigmanya. Watak hukum Eropa Kontinental bertradisi
tanpa paradigma sosiologi, karena memakai metode berfikir deduktif seperti kebiasaan
36
Satjipto Rahardjo, 1991, hlm. 144
14
Hukum Romawi. Sedangkan karakter Hukum Anglo-Amerika lebih realistis karena
memberi perhatian kepada apa yang berkembang dalam dinamika sosial.
Dari pemaparan tersebut di atas, terlihat bahwa sistem hukum kita belum terpola,
jalinan hubungan antara sub sistem hukum tidak terjalin, dan paradigmanya tidak jelas
dan tidak utuh. Oleh karena itu diperlukan pemikiran yang serius mau seperti apa dan
mau dibawa ke mana pembangunan hukun saat ini ? bagaimana pula dengan tatanan dan
pembangunan hukum ekonomi, khususnya perbankan nasional ?
Kembali ke masalah Perbankan syariah, dewasa ini konsep Bank Syariah,
khususnya dan sistem ekonomi Islam umumnya telah menarik banyak negara bahkan
negara-negara di mana umat Islam sebagai golongan minoritas seperti Amerika Serikat
dan
Inggris,
gencar
melakukan
penelitian
dan
pertemuan
ilmiah
untuk
memperbincangkan sistem ekonomi Islam, seperti Islamic Finance, Syariah Issues in
Islamic Finance, Islamic Economic and Finance, selain diperbincangkan di kampus,
juga lembaga-lembaga seperti Masyarakat Islam Amerika Utara (Islamic Society of
North Amerika – ISNA) secara berkesinambungan melakukan rangkaian panjang
pembicaraan tentang ekonomi Islam.
37
Di Indonesia sesuai dengan Sistem Ekonomi
Kerakyatan, dalam tatanan perekonomian masyarakat madani yang dicita-citakan,
Perbankan Syariah bukan saja memberikan kemungkinan terbelanya golongan
masyarakat yang rentan, tetapi juga terjaganya dengan baik solidaritas sosial. 38
Secara ekonomis perbakan syariah memiliki potensi manfaat yang dapat
dikembangkan dalam mendukung percepatan dan kokohnya ketahanan ekonomi
nasional. Perbankan syariah memiliki karakteristik dari perspektif mikro yang
menekankan aspek kompetensi / professionalisme dan sikap amanah dalam nilai-nilai
shiddiq ( kejujuran dalam mengelola ), tabligh (kemampuan sosialisasi dan edukasi
masyarakat), amanah (kemampuan mengelola perbankan secara hati-hati dan
terpercaya), dan fathonah (professionalisme) ri’ayah (kecermatan, kesantunan
dan
mas’uliyah ( penuh rasa tanggung jawab).
37
38
Harian Umum Republika, 12 November 1999.
Law Office of Remy dan Darus op.cit., hlm 72, 104, dan 163.
15
Dari perspektif makro perbankan syariah menekankan aspek kontribusi
perbankan syariah bagi kesejahteraan masyarakat dengan kaidah pelarangan riba, kaidah
zakat, kaedah pelarangan transaksi spekulatif, kaidah pelarangan gharar. Kekhususan
operasional bank syariah akan memberi dampak pada pertumbuhan pemerataan dan
stablitas ekonomi nasional.
Secara yuridis, eksistensi perbankan syariah di Indonesoa telah memiliki dasardasar hukum kuat yang dapat dijadikan landasan bagi pendirian, kegiatan, aturan
perilaku dan sanksi-sanksi yang dapat dikenakan kepada pihak-pihak yang melakukan
pelanggaran. Namun pengaturan operasional perbankan syariah di dalam UndangUndang No. 10 tahun 1998, masih sangat sumir dan mengandung aturan yang tidak
tegas dan saling bertentangan, hal itu terjadi karena antara perbankan syariah dengan
paerbankan konvensional memiliki karakrteristik yuridis yang sangat berbeda sehingga
tidak mungkin hanya diatur dalam satu undang-undang untuk subjek yang berbeda
tersebut.
Dari tinjauan sosial politik, dukungan masyarakat terhadap pentingnya
pengaturan perbankan syariah tersendiri sangat tinggi, hal ini ditinjau dari persepsi
masyarakat yang berdasarkan alasan keagamaan tidak menerima bank yang berdasarkan
prinsip bunga. Penelitian menunjukkan bahwa regulasi yang mengatur perbankan
syariah secara tersendiri mutlak diperlukan karena adanya karakteristik yang berbeda
pada bank syariah dengan bank konvensional. Selain itu keinginan politik para pembuat
kebijakan juga cukup kondusif untuk pengembangan bank syariah sebagai bagian sistem
perbankan nasional.
Dari perbandingan praktik pengaturan di berbagai negara yang terdapat bank
syariah, terbukti bahwa kebanyakan negara-negara yang diteliti telah memiliki
pengaturan perbankan syariah tersendiri dengan tujuan mendorong pertumbuhan dan
perkembangan perbankan syariah yang sehat dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip utama dalam operasionalisasi perbankan
syariah, yang memiliki keunikan (khas) dalam opersionalnya, sesuai dengan karakter
dari ajaran Islam itu, dalam opersionalisasi perbankan syariah diperlukan pengaturan
16
yang khusus agar berjalan sesuai dengan sifat dan kekhususannya tersebut dengan tidak
mengurangi prinsip universal dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu bertujuan membawa
( rahmatan lil ‘alamin ).39
kebaikan bagi semua pihak
Seperti telah diuraikan di muka, bahwa globalisasi
liberalisme. Pendirian neo liberalisme dicirikan dengan
dilandasi
paham neo
kebijakan pasar bebas,
menyingkirkan peran birokrasi dan “parasit” pemerintah. Hal ini sangat bertentangan
dengan prinsip – prinsip ekonomi Islam. Secara filosofis, orientasi dasar ekonomi Islam
dilandaskan pada asas ketuhanan ( tauhid ), yaitu adanya hubungan dari aktivitas
ekonomi, tidak saja dengan sesama manusia, tetapi juga dengan tuhan sebagai pencipta.
Dari landasan tauhid ini timbul prinsip – prinsip dasar bangunan kerangka sosial,
hukum, dan tingkah laku, yang di antaranya adalah prinsip khilafah, keadilan ( ‘adalah
), kenabian ( nubuwwah ), persaudaraan ( ukhuwwah ), kebebasan yang bertanggung
jawab ( Al huriyah wal mas’uliyyah ). Disamping itu ada nilai – nilai instrumental, yaitu
larangan riba, zakat, kerjasama ekonomi, jaminan sosial dan peran negara.
Urgensi penyusunan Undang – undang Perbankan Syariah dapat dilihat dari
berbagai aspek, yaitu aspek yuridis, ekonomis ( baik ekonomi mikro maupun makro ),
dan sosial politis. Mengembangkan perbankan syariah di Indonesia antara lain melalui
penyusunan Undang – undang Perbankan Syariah,
merupakan salah satu upaya
membendung arus liberalisme dan kapitalisme gaya baru yang dibungkus melalui
globalisasi dalam bidang perbankan.
C. PENUTUP
a.
Kesimpulan
1. Perbankan syariah memiliki karaktiristik operasional yang menjadi keunggulan
kompetitif dan komparatif
sehingga dapat menjadi alternatif sistem perbankan selain
perbankan konvensional. Perbankan Syariah bukan saja memberikan kemungkinan
39
Law Office of Remy dan Darus , ibid.
17
terbelanya golongan masyarakat yang rentan, tetapi juga terjaganya dengan baik
solidaritas sosial. Walaupun dibandingkan dengan total aset perbankan nasional masih
relatif kecil, tetapi perbankan syariah memiliki peluang untuk berkembang secara terus
menerus sehingga dapat menunjukkan potensi manfaat yang dapat dikembangkan untuk
mendukung dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional, khususnya
pembangunan perekonomian.
2. Bank Syariah dilandasi oleh ajaran Islam sebagai landasan filosofis, teoritis dan
operasional. Dari landasan ini timbul prinsip – prinsip dasar bangunan kerangka sosial,
hukum, dan tingkah laku, yang di antaranya adalah prinsip khilafah, keadilan ( ‘adalah
), kenabian ( nubuwwah ), persaudaraan ( ukhuwwah ), kebebasan yang bertanggung
jawab ( Al huriyah wal mas’uliyyah ). Di samping itu terdapat nilai – nilai instrumental,
yaitu larangan riba, zakat, kerjasama ekonomi, jaminan sosial dan peran negara. Hal ini
tidak sesuai dengan Filosofi yang melandasi lahirnya
Era Globalisasi
karena
globalisasi yang terjadi dewasa ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk
menumbuhkan kembali aliran liberalisme – kapitalisme dengan menggunakan hukum
internasional sebagai instrumennya.
3. Dalam pembangunan hukum nasional, perlu dikembangkan nilai – nilai yang hidup
dalam masyarakat sebagai fondasi bangunan agar hukum yang berlaku tidak tercabut
dari bumi dan budaya masyarakatnya. Secara filosofis , orientasi dasar ekonomi Islam
yang menjadi pijakan Perbankan Syariah dilandaskan pada asas ketuhanan ( tauhid ).
Hal ini sesuai dengan nilai – nilai yang tumbuh pada masyarakat Indonesia yang
berketuhanan. Oleh karena itu Perbankan Syariah perlu didukung agar dapat eksis
sebagai salah satu upaya meminimalisir dampak negatif paham liberalis – kapitalis
melalui globalisasi
yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia. Urgensi
penyusunan Undang – undang Perbankan Syariah pada era globalisasi dapat dilihat dari
berbagai aspek, yaitu aspek ekonomis, yuridis dan sosio politis.
b. Saran
1. Diperlukan penelitian dan pengkajian yang mendalam oleh para pakar ilmu hukum
tentang arah pembanguan hukum nasional yang berlandaskan pada nilai - nilai yang
18
tumbuh dan berkembang pada masyarakat. Demikian halnya dalam bidang hukum
Ekonomi. Peraturan perundang – undangan warisan kolonial Belanda yang tidak
sesuai dengan falsafah Bangsa Indonesia menjadi prioritas pembangunan hukum.
2. Perbankan syariah yang memiliki karakter yang khas perlu dikembangkan dengan
dukungan peraturan perundang – undangan yang memadai.
19
DAFTAR PUSTAKA
-
Basyir, Ahmad Asyhar. 1992. Berbagai Aspek Ekonomi Islam. (Editor : M. Rusli
Karim). Yogyakarta : P3EI – FE UII Kerjasama dengan Tiara Wacana.
-
Compton, Eric. 1991. Principle of Banking. (terjemahan Alexander Oey). Jakarta :
Akademika Pressindo.
-
Djumhana, Muhammad. 1993. Hukum Perbankan di Indonsia. Bandung : Citra
Aditya Bakti.
-
Departemen Pendidikan dan Kebudaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Balai Pustaka. Jakarta.
-
Fakih, Mansour. ( editor ). 2002. Runtuhnya Teori Pembangunan dan
Globalisasi. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.
-
Jafar, Muhammad. 1993. Pengantar Ilmu Fiqh : Suatu pengantar Tentang Ilmu
Hukum Islam dalam berbagai Mazhab. Jakarta : Kalam Hidup.
-
Kartadjoemena, H.S. 1997, GATT WTO dan Hasil Uruguay Round. UI-Pres.
Jakarta.
-
Law Office of Remy dan Darus. 2002. Naskah Akademik Rancangan Undang
– undang tentang Bank Syariah. Jakarta.
-
Rahman. Afzaur. 1995. Economi Doctrines of Islam. Yogyakarta : Dana Bhakti
Wakaf.
Peraturan Perundang-undangan
-
Undang-undang Dasar 1945.
-
TAP MPR No. IV/TAP/MPR/1998 Tentang Garis-Garis Besar Haluan
Negara.
-
PROPENAS 2000 – 2004 ( Undang – undang No. 25 Tahun 2000 )
-
Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-undang No. 7
Tahun 1992 tentang Perbankan.
20
Makalah-Makalah
-
Muladi. Perkembangan Hukum Perbankan di Indonesia dan permasalahannya.
Makalah Pada Seminar Perkembangan Hukum Perbankan di Indonesia dan
permasalahannya. Fakultas Hukum Trisakti. Jakarta. 31 Agustus 1998.
-
Nidyo Pramono. Sebuah Pendekatan dari Perspektif Hukum ekonomi. Makalah
pada Penataran Hukum Perdata dan Ekonomi. Fakultas Hukum Universitas Gadjah
Mada. Jogjakarta. 23-30 Agustus 1999.
-
Zainul Arifin. Perkembangan Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia
Menghadapi Era Globalisasi. Disampaikan pada Seminar Nasional Perkembangan
Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia dalam Menghadapi Era Globalisasi. ICMI
ORWIL Jawa Barat. Bandung 7 September 1996.
-
Muhammad Syafi’i Antonio. Bank Muamalat Indonesia sebagai Alternatif Usaha
Perbankan dalam Menghimpun dan Pemberian kredit. Badan Pembinaan Hukum
Nasional – Departemen Kehakiman RI.
-
----------------------- Tanpa Tahun. Potensi dan peranan Ekonomi Islam dalam upaya
Pembangunan Ekonomi Islam Nasional.
-
Nyoman Moena. 1996. Rangkuman Sajian Analisis Efisiensi dan Efektifitas Hukum
Perbankan. Disampaikan pada pertemuan ilmiah Analisis Ekonomi terhadap
Hukum. BPHN – Departemen Kehakiman R.I.
-
Amin Azis. 1996. Tantangan, Prospek dan Strategi Perekonomian Syariah di
Indonesia dilihat dari Pengalaman pengembangan BMT – PINBUK. Jakarta.
-
Aslan, Noor. 2003.Peranan Hak – hak atas Tanah dalam Mengembangkan
Bisnis Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Era Globalisasi, Makalah
Seminar Kesiapan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Jawa Barat untuk
Mengembangkan Bisnis dalam Era Globalisasi, 7 Agustus 2003, Fakultas
Hukum Unpad. Bandung.
Surat Kabar
21
- Harian Umum Republika, 11 dan 12 November 1999
URGENSI UNDANG – UNDANG
PERBANKAN SYARIAH
DALAM PEMBANGUNAN HUKUN NASIONAL
PADA ERA GLOBALISASI
Penyusun
Neni Sri Imaniyati
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2004
22
ABSTRAK
Di Indonesia, bank yang beroperasi berdasarkan syari’ah Islam telah dimulai sejak
tahun 1990-an. Setelah sembilan tahun sejak Bank Syariah yang pertama kali berdiri di
Indonesia, banyak minat bank konvensional menggunakan pola usaha berdasarkan
prinsip syariah Dua dekade terakhir, perkembangan bank syariah pun mengalami
pertumbuhan yang sangat signifikan baik dilihat dari jumlah maupun penyebarannya di
dunia.
Bank Syariah dilandasi oleh ajaran Islam sebagai landasan filosofis, teoritis dan
operasional. Dari landasan ini timbul prinsip – prinsip dasar bangunan kerangka
sosial, hukum, dan tingkah laku, yang di antaranya adalah prinsip khilafah, keadilan
( ‘adalah ), kenabian ( nubuwwah ), persaudaraan ( ukhuwwah ), kebebasan yang
bertanggung jawab ( Al huriyah wal mas’uliyyah ). Di samping itu terdapat nilai –
nilai instrumental, yaitu larangan riba, zakat, kerjasama ekonomi, jaminan sosial dan
peran negara. Hal ini tidak sesuai dengan filosofi yang melandasi lahirnya Era
Globalisasi karena globalisasi yang terjadi dewasa ini pada hakekatnya merupakan
upaya untuk menumbuhkan kembali aliran liberalisme – kapitalisme dengan
menggunakan hukum internasional sebagai instrumennya.
Oleh karena itu Perbankan Syariah perlu didukung agar dapat eksis sebagai salah
satu upaya meminimalisir dampak negatif liberalis – kapitalis melalui globalisasi.
Urgensi penyusunan Undang – undang Perbankan Syariah pada era globalisasi dapat
dilihat dari berbagai aspek, yaitu aspek ekonomis, yuridis dan sosio politis.
23
PERLINDUNGAN KONSUMEN
DALAM PERSPEKTIF ETIKA BISNIS ISLAM
A. PENDAHULUAN
Pembangunan, khususnya pembangunan perekonomian di bidang
perindustrian dan perdagangan telah membawa manfaat bagi
konsumen, yaitu semakin banyaknya pilihan barang dan jasa yang
ditawarkan, dengan aneka jenis, dan kualitas.
Di era globalisasi dan perdagangan bebas, dengan dukungan ilmu
pengetahuan, teknologi dan informasi, semakin luas arus keluar dan
masuknya barang dan jasa melintasi batas-batas negara. Hal ini mempermudah
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan produk barang dan jasa.
Kondisi demikian telah memberi banyak manfaat bagi konsumen. Namin di sisi lain
konsumen menjadi objek aktivitas bisnis para pelaku usaha yang mengharapkan
keuntungan secara besar-besaran melalui promosi maupun penjualan yang sering kali
merugikan konsumen.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini kedudukan konsumen sangat lemah, antara
lain disebabkan oleh karena tingkat kesadaran dan tingkat pendidikan konsumen yang
relatif masih rendah. Hal ini semakin diperparah oleh etos-etos bisnis yang tidak benar,
seperti bisnis harus bertujuan memperoleh keuntungan semata-mata, bisnis tidak
memiliki nurani, dan lain sebagainya.
Perhatian terhadap perlindungan konsumen sangat diperlukan mengingat setiap
oang, pada suatu waktu, apakah sendiri, atau berkelompok bersama orang lain, dalam
keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu.
Oleh karena itu diperlukan pemberdayaan konsumen.
Dewasa ini, telah tumbuh kesadaran masyarakat tentang perlunya perlindungan
konsumen yang dimulai di negara-negara maju. Apabila di masa-masa lalu pihak
industriawan yang dipandang sangat berjasa bagi perkembangan perekonomian negara
mendapat perahtian sangat besar, maka dewasa ini perlindungan terhadap konsumen
lebih mendapat perhatian sesuai dengan semakin meningkatnya perlindungan terhadap
Hak Asasi manusia. 40
Perlindungan terhadap konsumen berkaitan dengan kegiatan bisnis, yaitu
perdagangan barang dan jasa dalam lingkup kegiatan ekonomi, namun demikian tidak
dapat dilepaskan dari aspek-aspek lain seperti hukum, agama, pendidikan, sosial dan
budaya. Oleh karenanya, berkaitan dengan perlindungan konsumen, perlu ditelaah dari
berbagai sudut pandang.
40
E. Saefullah, Product Liability Tanggung Jawab Produsen di Era Perdagangan Bebas. Jurnal Bisnis
Volume 5, 1998, hal 34.
24
Beberapa hal penting yang perlu penelaah adalah masalah perlindungan konsumen
dalam perspektif ekonomi Islam. Hal ini penting karena penduduk Indonesia mayoritas
beragama Islam, dengan demikian semestinya nilai-nilai ajaran islam melandasi
peraturan perundang-undangan yang mengatur kegiatan perekonomian masyarakat
sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berbagai
bidang, demikian halnya dalam kegiatan perekonomian. Oleh karena itu perlu ditelaah
apakah Islam memberikan rambu-rambu mengenai perlindungan konsumen ?.
Selanjutnya perlu pula ditelaah bagaimana peraturan perundangan-undangan yang
mengatur perlindungan konsumen di Indonesia ? Apakah peraturan tersebut telah
memberikan perlindungan hukum yang cukup memadai bagi konsumen dalam era
globalisasi ? Apakah peraturan tersebut sesuai dengan nilai-nilai etika bisnis Islam ?
B. PANDANGAN PELAKU USAHA TERHADAP ETIKA BISNIS
Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas, dengan strata yang sangat
bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan distribusi
produk barang atau jasa dengan cara-cara yang seefektif mungkin agar dapat mencapai
konsumen yang sangat majemuk tersebut. 41 Oleh karena itu berbagai upaya
dilaksanakan untuk mencapai sasaran tersebut di atas. Upaya-upaya yang dilakukan
tersebut kadang kala menjurus pada hal yang negatif, bahkan dari sejak awal dimulai
dengan itikad tidak baik, antara lain memberikan informasi yang tidak benar, informasi
yang menyesatkan, mutu atau kualitas barang yang rendah, bahkan dalam cara-cara
penjualan yang bersifat memaksakan.
Upaya-upaya yang dilakukan tersebut seringkali lebih diperburuk oleh pandanganpandangan atau lebih dikenal dengan istilah “mitos-mitos” bisnis itu sendiri, seperti
“bisnis adalah kotor”, “sedikit bohong dalam bisnis adalah wajar”, “bisnis dengan jujur
tidak akan untng”, dan lain sebagainya. Oleh karena mitos-mitos bisnis seperti itu, maka
menurut sebagian pelaku bisnis, bisnis tidak perlu etika. Sebagai pelaku bisnis
menyatakan, bahwa dalam berbisnis disertai berpikir dan berbuat moral adalah mustahil.
Hal ini akan membuang-buang waktu saja. Bahkan bisa-bisa bangkrut.
Ada beberapa pandangan yang pro-kontra tentang perlunya etika dalam berbisnis :
Pendapat yang kontra, antara lain beranggapan bahwa : 42
1. Bisnis adalah persaingan : semua pelaku dalam persaingan ingin ke luar sebagai
pemenang. Setiap persaingan itu adalah pertarungan mempunyai aturan sendiri.
2. Bisnis adalah sosial : Aturan bisnis tidak bisa dikawinkan dengan aturan moral
sosial. Ia mempunyai kawasan tersendiri yang tidak mungkin dicampuradukan.
Pikiran sosial bila dituangkan dalam perjanjian bisnis akan menganggu dan
membuat lemah bisnis itu sendiri. Bisnis yang kuat harus dituangkan dengan power,
bukan dengan kasih sayang.
41
Sri Redjeki Hartono, Aspek-aspek Hukum Perlindungan Konsumen dalam Menghadapi Era
Perdagangan Bebas. Seminar Nasional Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen dalam Sistem Hukum
Nasional Menghadapi Era Perdagangan Bebas, Fakultas Hukum UNISBA, Bandung, 9 Mei 1998, hal. 2.
42
Es. Mahmoedin, Etika Bisnis Perbankan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994, hal. 72-76.
25
3. Bisnis campur moral akan tersingkir, pelaku bisnis yang “bodoh” yang berlaku
moralis. Jika masih ada manusia berbasi-basi dan masih menggunakan ukuran
moral, maka ia akan tersingkirkan.
4. Bisnis harus bertujuan utama keuntungan. Karena tujuan bisnis adalah keuntungan,
maka tanggung jawab sosial adalah tidak relevan dan bertentangan dengan efisiensi.
5. Bisnis harus berkonsentrasi. Jika ada tujuan rangkap, yaitu tujuan ekonomi dan
tujuan sosial, maka akan membigungkan manajer.
6. Bisnis itu makan biaya. Untuk menggerakan kegiatan bisnis diperlukan biaya yang
besar, apalagi jika harus dibebani biaya sosial.
Sony Keraf 43 memberikan contoh tentang pendapat para pelaku bisnis yang
berpandangan bahwa bisnis itu amoral, menurut pandangan tersebut “Bisnis adalah
bisnis”. “Bisnis jangan dicampuradukan dengan etika”. Menurut beberapa ungkapan
sering didengar yang menggambarkan hubungan antara bisnis dan etika. Inilah
ungkapan-ungkapan yang oleh de Goerge disebut sebagai “Mitos Bisnis Amoral”.
Demikian pendapat-pendapat yang mendukung kegiatan bisnis tidak memerlukan
etika. Namun demikian, tidak semua pelaku bisnis memiliki pandangan yang sama.
Sebagian pelaku bisnis memiliki pandangan bahwa kaum bisnis harus menumbuhkan
kepekaan etika dalam menjalankan bisnisnya. hAl ini merupakan sesuatu yang tumbuh
dari dalam tidak diharuskan dari luar.
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa alasan yang mendukung perlunya etika
dalam melakukan kegiatan bisnis. 44
1. Bisnis mempertaruhkan segalanya
2. Bisnis menyangkut hubungan antara manusia
3. Bisnis adalah persaingan yang bermoral
4. Legalitas berkaitan dengan moralitas
5. Bisnis harus mengikuti kemauan masyarakat
6. Bisnis harus disertai kewajiban moral
7. Bisnis harus mengingat sumber daya yang terbatas
8. Bisnis harus menjaga lingkungan sosial
9. Bisnis harus menjaga keseimbangan, tanggung jawab, dan sosial
10. Bisnis harus menggali sumber daya yang berguna
11. Bisnis memberi keuntungan jangka panjang
Oleh karena menurut pandangan di atas, kegiatan bisnis memerlukan dan harus
menggunakan etika, maka disusun Prinsip Etika Bisnis.
Mahmoedin 45 menyatakan bahwa prinsip etika bisnis berkaitan dengan sistem nilai
masyarakat. Oleh karena itu prinsip etika bisnis yang berlaku di Indonesia berkaitan
dengan sistem nilai masyarakat kita. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh
43
Sonny Keraf dan Robert Haryono Imam, Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis sebagai Profesi Luhur,
Pustaka Filsafat Yogyakarta. 1995, hal. 56.
44
Mahmoedin, ibid.hal. 76-80.
45
Mahmoedin, ibid, hal. 81-85.
26
Sony Keraf 46. Menurutnya secara umum prinsip-prinsip yang berlaku dalam kegiatan
bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai
manusia pada umumnya. Demikian pula, prinsip-prinsip itu sangat erta terkait dengan
sistem nilai yang dianut oleh masyarakat masing-masing.
Mahfudin mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut :
a. Bersifat bebas, yaitu para pengusaha tahu apa yang baik dan apa yang buruk, serta
tahu mengenai bidang kegiatannya, situasi yang dihadapinya dan aturan yang
berlaku baginya. Kebebasan adalah syarat yang harus ada agar manusia bisa
bertindak secara etis, manajer harus memiliki kebebasan untuk mengembangan
kegiatan bisnisnya.
b. Bertanggung Jawab : Bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, kepada pemberi
amanah, kepada orang yang terlibat, kepada masyarakat / konsumen.
c. Bersikap jujur
d. Berbuat baik
e. Bersikap adil (contohnya dalam pemberian upah, pekerjaan perseritan,
perlindungan, persamaan)
f. Bersikap hormat
g. Bersikap inovatif
1.
2.
3.
4.
5.
46
47
Sementara menurut Sony Keraf 47 prinsip-prinsip etika bisnis adalah :
Prinsip otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemauan manusia untuk bertindak
berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggap baik untuk dilakukan.
Untuk bertindak secara otonom diandaikan ada kebebasan untuk mengambil
keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan itu.
Otonom juga mengandaikan adanya tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri
sendiri, kepada nuraninya, tanggung jawab kepada orang yang mempercayakan
seluruh kegiatan bisnis dan manajemen itu kepadanya, termasuk tanggung jawab
kepada pihak-pihak yang terlibat dengannya dalam urusan bisnis.
Prinsip kejujuran. Prinsip kejujuran terwujud dalam pemenuhan syarat-syarat
perjanjian dan kontrak, penawaran barang dan jasa dengan mutu baik, hubungan
kerja perusahaan.
Prinsip tidak bertabiat jahat (non maleficence) dan prinsip berbuat baik
(beneficence). Perwujudan prinsip ini mengambil dua bentuk. Pertama, prinsip baik
menuntut agar orang secara aktif dan maksimal berbuat hal yang baik kepada orang
lain. Kedua dalam wujudnya yang minimal pasif, sikap ini menuntut agar kita tidak
berbuat jahat kepada orang lain.
Prinsip keadilan. Prinsip keadilan menuntut agar memperlakukan orang lain sesuai
dengan haknya.
Prinsip hormat kepada diri sendiri. Arti tertentu prinsip ini sudah tercakup dalam
prinsip pertama dan kedua di atas. Tetapi di sini dirumuskan secara khusus untuk
Sonny Keraf, Op.Cit, hal. 70.
Sonny Keraf, ibid, hal. 70-76.
27
menunjukkan bahwa kita semua mempunyai kewajiban moral yang sama bobotnya
untuk menghargai diri sendiri.
Dari uraian di atas, tampak bahwa pelaku bisnis memiliki pandangan yang berbeda
tentang perlu tidaknya etika dalam kegiatan bisnis. Pandangan tersebut tentu
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Baik faktor intern yang terdapat dalam diri pelaku
bisnis itu sendiri seperti pemahaman terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya,
maupun faktor ekstern di luar pelaku bisnis tersebut, misalnya faktor keluarga dan
lingkungan.
Selain itu telah diuraikan pendapat pakar mengenai prinsip-prinsip etika bisnis yang
semestinya dilakukan oleh para pelaku bisnis. Perlu untuk diperhatikan apa yang
dikatakan Mahatma Gandhi, menurut ada tujuh dosa sosial, yaitu politik tanpa prinsip,
kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, pengetahuan tanpa watak, ilmu tanpa
kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan dan bisnis tanpa moral48.
C. ETIKA BISNIS DALAM PANDANGAN ISLAM
Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal. Dikatakan komprehensif,
karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Universal karena daya
berlakunya tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Masalah bisnis, perdagangan, atau
perniagaan, atau perekonomian merupakan salah satu bidang muamalah. Islam telah
menyediakan rambu-rambunya.
Dalam bidang ibadah, Islam menetapkan hukum “Tidak ada ibadah kecuali yang
diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah”. Oleh karena itu ibadah yang dilakukan di luar AlQur’an dan Sunnah termasuk bid’ah. Sedangkan untuk kegiatan muamalah Islam hanya
mengatur prinsip-prinsipnya saja, semua kegiatan muamalah dapat dilakukan asalkan
tidak bertentang dengan prinsip-prinsip tersebut.
Berbicara tentang etika bisnis, maka harus merujuk ke prinsip-prinsip ekonomi
Islam. Islam menetapkan prinsip-prinsip perekonomian, antara lain sebagai berikut 49 :
1. Islam menentukan berbagai macam kerja yang halal dan yang haram. Kerja yang
halal saja yang dipandang sah.
2. Kerjasama kemanusiaan yang bersifat gotong royong dalam usaha memenuhi
kebutuhan harus ditegakkan.
3. Nilai keadilan dalam kerjasama kemanusiaan ditegakkan.
Secara khusus Islam menetapkan nilai-nilai atau etika yang harus dipatuhi dalam
kegiatan bisnis. Salah satunya adalah etika atau moral dalam berdagang yang
merupakan salah satu bentuk kegiatan ekonomi.
Prinsip dasar yang telah ditetapkan Islam mengenai perdagangan dan niaga adalah
tolok ukur kejujuran, kepercayaan dan ketulusan. Menurut Abdul Manan, 50 Dewasa ini
48
Es. Mahmudin, Etika Bisnis Perbankan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994, hal. 67.
Ahmad Aghar Basyir, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam dalam berbagai Aspek Ekonomi Islam, P3EI-FE
UII Bekerjasama dengan Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992, hal. 13-14.
50
Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Seri Ekonomi Islam) No. 2 Edisi Liensi. Dana Bhakti
Wakaf, Yogyakarta, 1995, Hal. 288-289.
28
49
banyak ketidaksempurnaan pasar yang seharusnya dapat dilenyapkan bila prinsip ini
diterima oleh masyarakat bisnis dari bangsa-bangsa berada di dunia. Prinsip
perdagangan dan niaga ini telah ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seperti mengenai
larangan melakukan sumpah palsu, larangan memberikan takaran yang tidak benar dan
keharusan menciptakan itikad baik dalam transaksi bisnis.
1. Larangan Sumpah Palsu
Salah satu hadist nabi yang melarang sumpah palsu, Abu Hurairah berkata :
“Aku mendengar Rasulullah SAW berkata : “Dengan menggunakan sumpah palsu
barang-barang jadi terjual, tapi menghilangkan berkah (yang terkandung
didalamnya).
2. Takaran Yang benar
Dalam perdagangan, nilai timbangan dan ukuran yang tepat dan standar benar-benar
harus diutamkan. Islam meletakkan penekanan penting dari faedah yang
memberikan timbangan dan ukuran yang benar seribu empat ratus tahun yang lalu.
Terdapat perintah tegas baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadist mengenai
timbangan dan ukuran yang sepenuhnya. Demikianlah dalam Al-Qur’an dinyatakan
(Q.S. Al-Mutaffiffin, (83) : 2-7).
“kecelakaan besarlah bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima
takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menukar
atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi …”.
3. Itikad Baik
Itikad baik dalam bisnis merupakan hakekat dari bisnis itu sendiri hakekatnya. Itikad
baik menimbulkan hubungan baik dalam usaha. Oleh karenanya Islam
menganjurkan, jika melakukan transaksi sebaiknya dinyatakan secara tertulis
dengan menguraikan syarat-syaratnya.
Seperti yang dikemukan Abdul manan, Hamzah 51 lebih memerinci prinsip-prinsip
moral dagang menurut Islam, yaitu :
1. Jujur dalam takaran
2. Menjual barang yang halal : dalam salah satu hadist nabi dinyatakan bahwa apabila
Allah mengharamkan sesuatu barang, maka haram pula harganya (diperjualbelikan).
3. Menjual barang yang baik mutunya : dalam berbagai hadist Rasulullah SAW
melarang menjual buah-buahan hingga jelas baiknya.
4. Jangan menyembunyikan barang yang cacat. Salah satu sumber hilangnya
keberkahan jual beli, jika seseorang menjual barang yang bercacat yang
disembunyikan cacatnya.
5. Jangan main sumpah
Sabda Rasulullah :
“Sumpah itu melariskan dagangan, tetapi menghapuskan keberkahan”.
(HR. Bukhari)
6. Longgar dan bermurah hati
Rasulullah bersabda :
51
Hamzah, Ya’kub, Etika Islam : Pembinaan Akhlaqulkarimah (suatu Pengantar), CV. Diponegoro,
Bandung, 1996, hal. 161-164.
29
“Allah mengasihi orang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli dan waktu
menagih hutang.” (HR. Bukhari)
7. Jangan menyaingi kawan
Rasulullah bersabda :
“Janganlah kamu menjual dengan menyaingi dagangan saudarany.” (HR. Bukhari)
Maksudnya meyaingi kawan dengan cara yang tidak dibenarkan.
8. Mencatat hutang piutang (Q.S. Al-Baqarah ayat 282)
9. Larangan riba (Q.S. Al-Baqarah ayat 276)
10. Zakat 2 ½ % sebagai pembersih harta. Perintah zakat tersebar dalam Al-Qur’an dan
hadist.
D. PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
YANG
MENGATUR
PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA
Satjipto Rahardjo 52 mengemukan bahwa dimensi sosial dari hukum dewasa ini kian
hari kian tampak menonjol. Keterlibatan hukum pada persoalan-persoalan sosial dan
ekonomi bangsa serta tuntutan agar hukum mampu berperan sebagi sarana untuk
memecahkan berbagai problem sosial yang demikian itu menampilkan kisi-kisi yang
lain dari hukum yang tidak hanya yuridis dogmatis.
Di lingkungan masyarakat telah tumbuh etika bisnis – khususnya berkaitan dengan
perlindungan konsumen – yang pada pokoknya telah cukup memberikan perlindungan
kepada konsumen dari tindakan-tindakan pelaku bisnis/pelaku usaha. Namun demikian
etika saja masih dianggap kurang tanpa hukum. 53 Muladi mengatakan bahwa hal ini
dikarenakan hubungan antara etika dan hukum adalah hubungan gradual, artinya sebuah
etika yang belum disahkan oleh pembuat undang-undang sebagai hukum yang
mengikat, maka pelanggaran atasnya tidak dapat dijatuhi sanksi yang bersifat otonom
(dipaksankan oleh kekuatan di luar si pelanggar).
Etika, seperti halnya norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma agama,
sebelum diterima sebagai hukum norma-norma tersebut, sanksi atas pelanggarannya
lebih bersifat heteronom atau datang dari diri dan hatinya sendiri dalam bentuk
penyesalan, rasa malu, rasa berdosa, dan sebagainya. 54 Oleh karena itu agar memiliki
daya pengikat sehingga sanksi kepada para pelanggar dapat dipaksakan – maka
diperlukan hukum (dalam hal ini adalah Undang-undang).
Hingga tahun 1999 telah banyak peraturan perundang-undangan yang memberikan
perlindungan pada konsumen. Peraturan ini tersebar pada berbagai undang-undang,
antara lain 55 :
52
Satjipto Rahardjo, Pembangunan Hukum yang Dirahkan Kepada Tujuan Nasional, Artikel pada
Majalah masalah-masalah Hukum, FH. UNDIP, No. 5-6 tahun XII, 1982, hal. 2.
53
Hukum di sini diartikan secara sempit sebagai undang-undang
54
Moh. Mahfud MD dalam Pewadahan Etika Keilmuan didalam UU Hak Cipta, Artikel pada Jurnal
Hukum Ius Quiaiustum UII Yogyakarta. No. 12 Vol 6 – 1999 hal. 36.
55
Nurmardjito, Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-undangan Tentang Perlindungan Konsumen
dalam Menghadapi Era perdagangan Bebas, Makalah pada Seminar Nasional Perspektif Hukum
30
a. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 202, 203, 204, 205, 263, 264,
382 bis, 383, 388. Pasal-pasal tersebut mengatur pemidanaan dari perbuatanperbuatan seperti memasukkan bahan berbahaya ke dalam sumber air minum,
menjual, menawarkan, menerimakan, membagikan barang yang membahayakan
jiwa, memalsukan surat, melakukan persaingan curang.
b. KUH Perdata : Pasal 1473, 1512, 1320, 1338 : Intinya mengatur perbuatan yang
berkaitan dengan perlindungan kepada pembeli dan pihak-pihak yang terkait dalam
perjanjian.
c. Ordinansi bahan-bahn berbahaya tahun 1949, UU tentang Obat Keras tahun 1949,
UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 10 tahun 61 tentang Barang.
Dilihat dari konsep perlindungan konsumen, peraturan-peraturan tersebut belum
mampu memberikan perlindungan khusus kepada konsumen, sehingga diperlukan
undang-undang tersendiri.
Lahirnya undang-undang perlindungan konsumen, tidak dapat dipisahkan dari
perjalanan panjang gerakan perlindungan konsumen di dunia. 56 Dalam perjalanan
gerakan perlindungan konsumen dikenal dua macam adagium, yaitu caveat emptor
(waspadalah konsumen) yang kemudian menjadi caveat venditor (waspadalah
produsen). Kedua caveat ini erat kaitannya dengan strategi bisnis pelaku usaha.
Pada masa strategi bisnis pelaku usaha berorientasi terutama pada kemampuannya
untuk menghasilkan produk (production oriented / produc-out policy), maka pada masa
itu konsumen harus waspada dalam mengkonsumsikan barang dan jasa yang ditawarkan
oleh pelaku usaha. Pada masa ini konsumen tidak banyak memiliki peluang untuk
memilih barang atau jasa yang akan dikonsumsikan sesuai dengan selera, daya beli dan
kebutuhannya. Konsumen “didikte” oleh produsen.
Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta peningkatan dan pemerataan
kesempatan memperoleh pendidikan dalam masyarakat, konsumen mengalami
peningkatan daya kritis dalam memilih barang dan/atau jasa untuk memenuhi
kebutuhannya. Oleh karena itu pelaku usaha tidak lagi bertahan pada strategi bisnisnya
yang lama dengan resiko barang dan jasa yang ditawarkannya tidak laku di pasaran
tetapi merubah strategi bisnisnya ke arah pemenuhan kebutuhan, selera dan daya beli
pasar (market oriented/market-in policy). Pada masa ini produsenlah yang harus
waspada (caveat venditor) dalam memenuhi kebutuhan barang dan / atau jasa dari
konsumen.
Seperti telah dikatakn bahwa gerakan atau upaya memebrikan perlindungan
terhadap konsumen diawali dari negara-negara maju, yaitu berkaitan erat dengan
pembangunan yang ditempuh oleh negara-negara maju tersebut. Hal ini dikemukakan
Perlindungan Konsumen dalam Sistem Hukum Nasional Menghadapi Era perdagangan Bebas, FH.
UNISBA, bandung, 9 Mei 1998, hal. 4-5.
56
Johanes Gunawan, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1999
Tentang Perleindungan Konsumen, Semniar Sehari “ Penerapan Undang-undang Anti Monopoli dan
Undang-undang Perlindungan Konsumen dalam kegiatan Perekonomian Guna Menghinadri Praktek
Bisnis Curang”, Bandung, 25 Februari 2000, hal. 1.
31
Erman Radjagukguk 57. Menurutnya negeri-negeri sekarang ini yang disebut negaranegara maju telah menempuh pembangunan melalui tiga tingkat : Unifikasi,
industrialisai, dan negara kesejahteraan. Pada tingkat yang pertama yang menjadi
masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan
persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan
ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya dalam tingkat ketiga, tugas negara yang
terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, membetulkan
kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya, dengan menekan kesejahteraan
masyarakat.
Oleh karena itu pada tingkatan pembangunan inilah maka diperlukan undangundang yang dapat melindungi masyarakat dari tindakan yang dirugikan.
Tahun 1999 telah disahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Tujuan disusunnya undang-undang ini adalah :
a. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan
akses dan informasi, serta menjamin kepastian hukum
b. melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku
usaha
c. meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa
d. memberikan perlidnungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu dan
menyesatkan
e. memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan
konsumen dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang-bidang lain.
Walaupun undang-undang tersebut berjudul UU Perlindungan Konsumen, namun
ketentuan didalamnya lebih banyak mengatur tentang perilaku pelaku usaha. Hal ini
dapat dipahami, karena kerugian yang diderita oleh konsumen sering kali akibat dari
pelaku usaha, sehingga perilaku pelaku usaha ini perlu diatur dan bagi para pelanggar
dikenakan sanksi yang setimpal.
Esensi dari undang-undang ini adalah mengatur perilaku pelaku usaha dengan
tujuan agar konsumen terlindungi secara hukum. 58
Undang-undang Perlindungan Konsumen menetapkan lima pokok materi yang
menjadi muatan undang-undang ini, yaitu mengenai :
1. Larangan-larangan
Larangan-larangan ini berkaitan dengan :
a. produk barang atau jasa yang akan diproduksi, diperdagangkan atau
dipromosikan
b. pengusaha yang akan memproduksi, menawarkan, memperdagangkan atau
mempromosikan.
2. Tanggung Jawab Produsen dan Tanggung Gugat produk, mengenai tanggung jawab
ini dapat dilihat pada sekma berikut 59 :
57
Erman Radjagukguk, Pentingnya Perlindungan Konsumen Dalam Era Perdagangan Bebas, makalah
pada Seminar Nasional Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen dalam Sistem Hukum Nasional
Menghadapi Era Perdagangan bebas, FH. UNISBA, bandung, 9 mei 1998, hal.
58
Johanes Gunawan, Op. Cit.,hal.3.
32
Barang
Ada
(privity of contract)
Jasa
Hubungan
Pelaku
Usaha
Dengan
Konsumen
CONTRACTUAL LIABILITY
(tanggungjawab kontraktual)
PROFESSIONAL LIABILITY
(tanggungjawab pemberi jasa)
STRICY LIABLITY
(tanggungjawab langsung)
Tidak ada
Barang
(no privity of contract)
Hubungan
Pelaku Usaha
dengan
Negara
PRODUCT LIABILITY
(tanggungjawab produsen)
CRIMINAL LIABILITY
(tanggungjawab pidana)
3. Perjanjian atau klausula baku
Masalah Perjanjian atau pencantuman klausula baku dalam perjanjian baku diatur
dalam Pasal 18. Mengingat posisi konsumen yang lemah, maka undang-undang
memandang perlu untuk mengatur perjanjian baku yang mencantumkan exoneration
clause atau exemption clause (pengalihan kewajiban-kewajiban, yang seharusnya
menjadi tanggung jawab pelaku kepada konsumen).
4. Penyelesaian sengketa
Undang-undang Perlindungan Konsumen mengenai dua macam institusi dalam
penyelesaian sengketa ganti rugi antara pelaku usaha dengan konsumen, yaitu :
a. pengadilan, atau
59
Johanes Gunawan, ibid, hal. 5.
33
b. di luar pengadilan oleh Badan penyelesaian sengketa Konsumen (BPSK),
berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
5. Ketentuan pidana
Ketentuan pidana yang diatur dalam undang-undang ini meliputi :
a. penetapan bahwa perusahaan adalah subjek hukum pidana
b. jenis pidana yang ditentukan terdiri dari pidana kurungan, denda, dan pidana
tambahan berupa : perampasan barang tertentu, pengumuman keputusan hakim,
pembayaran ganti kerugian, pencabutan ijin usaha, perintah penghentian
kegiatan tertentu, penarikan barang dari peredaran.
c. Penyidik yang diberikan kewenagan untuk melakukan pemeriksaan atau
penyidikan tindak pidana adalah penyidik umum sebagaimana diatur dalam UU
No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
E. PENEGAKAN ETIKA BISNIS ISLAM PADA MASYARAKAT INDONESIA
DALAM ERA GLOBALISASI
Setelah diuraikan Etika Bisnis dalam pandangan Islam, khususnya yang menyangkut
perlindungan terhadap konsumen, serta undang-undang yang mengatur/memuat
perlindungan konsumen di Indonesia, perlu dikaji. Apakah Undang-undang
perlindungan Konsumen tersebut sesuai dengan nilai-nilai/ etika bisnis Islam ? dan
bagaiman upaya law enforcement (penegakan hukumnya).
Perlindungan konsumen dalam era globalisasi menjadi sagat penting, karena
konsumen disamping mempunyai hak-hak yang bersifat universal juga mempunyai hakhak yang bersifat spesifik (baik situasi maupun kondisi). Dengan demikian peraturan
perundang-undangan harus memuat niali-nilai yang universal dan niali-nilai yang
spesifik sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat.
Dengan mengkaji pasal demi pasal dalam Undang-undang perlindungan Konsumen,
tampak bahwa beberapa ketentuan yang tertera dalam undang-undang tersebut seseuai
dengan nilai-nilai etika bisnis Islam – walaupun dengan redaksi yang berbeda akan
tetapi substansi dan tujuannya adalah sama - yaitu untuk melindungi konsumen, hal
ini dapat terlihat dari aturan-aturan mengenai keharusan beritikad baik dalam
melakukan usaha (Pasal 7 huruf a), jujur (Pasal 7 huruf b), jujur dalam takaran atau
timbangan (Pasal 8 ayat (1) huruf a,b,c,d,e) menjual barang yang baik mutunya (Pasal 8
ayat (2,3,4), larangan menyembunyikan barang yang cacat (Pasal 8), tidak main
sumpah (memberikan informasi, iklan yang tidak benar), jangan menyaingi kawan
dengan cara mengelabui konsumen dengan hadiah.
Namun demikian dalam beberapa hal etika bisnis Islam tidak ter “cover” dalam
Undang-undang Perlindungan Konsumen tersebut, seperti : larangan memperjualbelikan
barang/jasa yang haram, dam larangan riba dan keharusan zakat.
Untuk hal-hal yang belum tercover tersebut, perlu dukungan dari masyarakat – yang
nota bene mayoritas Islam – untuk mendesak pemerintah agar membuat aturan yang
mengandung nilai-nilai tersebut.
34
Walaupun dalam belum seluruhnya sesuai dengan etika bisnis Islam, selanjutnya
perlu dipikirkan bagaiman upaya penegakan hukum – yaitu peraturan yang telah sesuai
dengan etika bisnis Islam tersebut.
Sesuai dengan fungsi hukum dalam masyarakat, hukum berfungsi untuk
mengintegrasikan proses-proses sosial, politik, ekonomi dan sebagainya sehingga
tercipta suatu pola-pola hubungan yang jelas dan mapan, yang umumnya disebut dengan
ketertiban itu. 60 Namun hukum bukan merupakan sarana atau instrumen yang sudah
siap belaka, hukum bukan sebagai sarana yang utuh, “solid” sehingga tinggal melihat
hasilnya saja. Hukum dipengaruhi oleh unsur-unsur dan berbagai faktor.
Lebih jauh Satjipto Rahardjo mengemukakan bahwa agar hukum dapat bekerja
sesuai dengan harapan masyarakat, maka diperlukan pembangunan hukum itu sendiri.
Pembangunan hukum tersebut meliputi :
1. Pembuatan hukum yang baik. Tolok ukur adalah : Pembuatan hukum suatu
peraturan yang memiliki efektivitas tinggi untuk tujuan yang hendak dicapainya.
Untuk hal ini diperlukan banyak fasilitas pendukungnya.
2. Manusia-manusia yang berhubungan dengan pelaksanaan hukum. Di sini diperlukan
mentalitas manusia-manusia (aparat penegak hukum dan masyarakat itu sendiri).
3. Dukungan kekuatan-kekuatan di luar hukum yang memadai yang memungkinkan
hukum itu dijalankan dengan baik, yaitu kemauan politik dari pemerintah untuk
menjalankan hukum dengan seksama.
F. PENUTUP
a. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan :
a. Terdapat pendapat yang berbeda dari para pelaku bisnis tentang perlu tidaknya
etika dalam kegaiatan bisnis. Satu pihak berpendapat bahwa dalam kegiatan
bisnis tidak diperlukan etika. Pendapat lain mengatakan bahwa bisnis perlu
beretika.
b. Islam telah menentukan nilai-nilai etika bisnis yang bertujuan antara lain
memberikan perlindungan kepada konsumen melalui keharusan beritikad baik,
larangan sumpah palsu, larangan mengurangi takaran, larangan menjual barang
yang buruk, larangan riba, dan keharusan berzakat.
c. Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam
beberapa hal sesuai dengan etika bisnis Islam, namun beberapa larangan dan
keharusan dalam etika bisnis Islam masih belum tercover, yaitu mengenai
larangan jual beli barang/jasa yang haram, larangan riba dan keharusan berzakat.
d. Upaya penegakan etika bisnis Islam diperlukan berbagai langkah, yaitu
penyusunan peraturan yang baik yang ditunjang oleh sarana dan fasilitas, mental
manusia-manusia, termasuk aparat penegak hukum dan dukungan di luar
hukum, yaitu dukungan berupa kemauan politik dari pemerintah.
b. Saran-saran
60
Satjipto Rahardjo, Op.Cit.,hal. 7.
35
Sesuai dengan arus reformasi dan tumbuh-kembangnya kesadaran masyarakat
untuk membentuk masyarakat madani, maka diperlukan upaya yang sungguhsungguh dalam menagakan etika bisnis Islam, salah satunya bertujuan untuk
memberikan perlindungan kepada konsumen. Oleh karena itu diperlukan langkahlangkah :
a. Perlu segera dibuat Peraturan Pemerintah dan Peraturan pelaksana lainnya agar
masyarakat mengetahui dan mempunyai kejelasan mengenai mekanisme
pengaduan.
b. Perlu dibentuk Lembaga Perlidnungan/Pengaduan Konsumen untuk memberikan
informasi mengenai hak-hak konsumen dan membantu masyarakat dalam
menyampaikan pengaduan jika merasa dirugikan oleh perilaku pelaku usaha.
c. Etika Bisnis Islam perlu menjiwai seluruh peraturan perundang-undangan,
khususnya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekonomian
dan perdagangan.
d. Diperlukan kemauan politik dari pemerintah untuk melaksanakan undangundang dengan seksama.
DAFTAR PUSTAKA
- Ahmad Aghar Basyir, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam dalam berbagai Aspek Ekonomi
Islam, P3EI-FE UII Bekerjasama dengan Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta.
- Johanes Gunawan, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Menurut Undang-undang No. 8
Tahun 1999 Tentang Perleindungan Konsumen, Seminar Sehari “Penerapan Undangundang Anti Monopoli dan Undang-undang Perlindungan Konsumen dalam kegiatan
Perekonomian Guna Menghindari Praktek Bisnis Curang”, Bandung, 25 Februari 2000.
- Hartono, Sri Redjeki. Aspek-aspek Hukum Perlindungan Konsumen dalam
Menghadapi Era Perdagangan Bebas. Makalah pada seminar Nasional Perspektif
Hukum Perlindungan Konsumen dalam Sistem Hukum Nasional Menghadapi Era
Perdagangan Bebas. Fakultas Hukum UNISBA. Bandung.
- Keraf, Sonny dan Robert Haryono Imam. 1995. Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis
sebagai Profesi Luhur. Pustaka Filsafat Yogyakarta.
- Mahmoedin, Es. 1994. Etika Bisnis Perbankan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
- Manan, Abdul. 1995. Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Seri Ekonomi Islam) No. 2
Edisi Liensi. Dana Bhakti Wakaf. Yogyakarta.
- Mahfud, Moch, MD. Pewadahan Etika Keilmuan didalam UU Hak Cipta, Artikel
pada Jurnal Hukum Ius Quiaiustum UII Yogyakarta. No : 12 Vol 6– 1999.
- Nurmardjito. Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-undangan Tentang
Perlindungan Konsumen dalam Menghadapi Era perdagangan Bebas. Makalah pada
Seminar Nasional Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen dalam Sistem Hukum
Nasional Menghadapi Era perdagangan Bebas, FH. UNISBA, Bandung, 9 Mei 1998.
- Radjagukguk, Erman. Pentingnya Perlindungan Konsumen Dalam Era Perdagangan
Bebas. Makalah pada Seminar Nasional Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen
36
dalam Sistem Hukum Nasional Menghadapi Era Perdagangan bebas. FH. UNISBA.
Bandung, 9 Mei 1998.
- Rahardjo, Satjipto, Pembangunan Hukum yang Diarahkan Kepada Tujuan Nasional.
Artikel pada Majalah Masalah-masalah Hukum. FH. UNDIP. No. 5-6 tahun XII. 1982.
- Saefullah, Product Liability Tanggung Jawab Produsen di Era Perdagangan Bebas.
Jurnal Bisnis Volume 5. 1998.
- Ya’kub, Hamzah. Etika Islam : Pembinaan Akhlaqulkarimah (suatu Pengantar). CV.
Diponegoro. Bandung. 1996.
- Sonny Keraf dan Robert Haryono Imam, Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis
sebagai Profesi Luhur. Pustaka Filsafat Yogyakarta. 1995.
37
Download