Theobroma cacao L

advertisement
JURNAL APLIKASI FISIKA
VOLUME 8 NOMOR 1
FEBRUARI 2012
Pengaruh Beda Temperatur Terhadap Daya
Modul Termolistrik
Nur Untoro
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Haluoleo
Kampus Bumi Tri Dharma Anduonohu, Kendari, Sulawesi Tenggara
Abstrak
Pembakit daya termolistrik (thermoelectric generator) telah lama digunakan untuk menghasilkan
energi listrik secara langsung dari sumber panas. Keunggulan dari alat ini adalah sumber panas yang
digunakan dari berbagai sumber, sehingga dapat digunakan untuk pemanfaatan panas yang terbuang atau
limbah panas. Daya yang dihasilkan oleh suatu modul termolistrik bergantung pada beda temperatur antara
dua sisi modul termolistrik tersebut. Penelitian ini mempelajari pengaruh beda temperatur terhadap daya
maksimum modul termolistrik. Modul termolistrik yang digunakan berukuran 4cm x 4cm, dengan 56
sambungan. Pengujian dilakukan dengan memanaskan sisi panas termolistrik dengan pemanas berupa
seterika listrik yang suplai tegangannya divariasikan. Daya listrik maksimum untuk berbagai beda
temperatur diperkirakan berdasarkan hambatan dalam modul termolistrik dan koefisien Seebeck. Perkiraan
daya maksimum diperbandingkan dengan daya listrik diukur dengan teknik pembebanan. Hasil pengujian
menunjukkan daya maksimum modul termolistrik meningkat sebanding dengan kuadrat beda temperatur
antara kedua sisi modul termolistrik.
Kata kunci: modul termolistrik, hambatan dalam, koefisien Seebeck,daya maksimum
Absract
Thermoelectric generators module have long been used to generate electricity directly from heat sources.
The advantages of this tool is the source of heat used from various sources, so it can be used for waste heat.
Power generated by a thermoelectric module depends on the temperature difference between the two sides of
the thermoelectric module. This research studied the effect of different temperature on the maximum power of
thermoelectric module. Modules are used thermoelectric module sized 4cm x 4cm, with 56 couple. Tests
carried out by heating the hot side thermoelectric module with iron, which the voltage was varied. The
maximum electrical power for a variety of different temperatures were estimated from the internal resistance
of the thermoelectric module and Seebeck coefficient. Estimated maximum power compared with the
electrical power measured by the loading technique. Test results showed maximum power thermoelectric
module increases proportional to the square of the temperature difference between the two sides of the
thermoelectric module.
Key words: thermoelectric module, resistivity, Seebeck coefficient, the maximum power
Efek Seebeck dan efek peltier terus
diteliti untuk berbagai jenis material yang
mengarah pada pencarian material yang
menghasilkan
efisiensi
tinggi
dalam
mengkonversi energi panas menjadi energi
listrik atau sebaliknya. Peralatan yang bekerja
berdasarkan efek Seebeck dan efek Peltier
antara lain: termokopel, termofil, pendingin
termolistrik, dan generator termolistrik.
Generator listrik dikehendaki memiliki
tegangan tertentu dan memiliki daya tertentu
juga, sesuai kebutuhan. Berdasarkan efek
1. Pendahuluan
Tahun 1826, seorang fisikawan
Jerman bernama Thomas Johann Seebeck
mempublikasikan penemuannya bahwa dua
sebuah konduktor berbeda jenis yang
disambung pada ujung-ujungnya dan terdapat
gradien temperatur, maka akan menghasilkan
tegangan listrik[1]. Gejala ini disebut efek
Seebeck atau termoelektrik. Sebaliknya arus
listrik dialirkan pada persambungan dua jenis
logam akan menghasilkan perpindahan kalor,
yang dikelal sebagai efek Peltier.
1
2
JAF, Vol. 8 No. 1 (2012), 1-5
Seebeck, potensial listrik yang dihasilkan oleh
suatu modul termolistrik bergantung pada beda
temperatur persambungannya. Oleh karenanya
daya listrik yang dihasilkan juga bergantung
pada perbedaan persambungannya. Bagaimana
kebergantungan potensial listrik dan daya
maksimum modul termolistrik dikaji lebih
lanjut dalam penelitian ini.
.
2. Dasar Teori
Gradien temperatur pada sebatang
logam menyebabkan perbedaan kerapatan
pembawa muatan. Perbedaan rapat pembawa
muatan ini menimbulkan difusi, di lain pihak
perbedaan muatan juga menghasilakan medan
listrik. Difusi pembawa muatan berlangsung
dari rapat muatan tinggi ke rapat muatan
rendah, atau dari temperatur rendah ke
temperatur tinggi. Difusi pembwa muatan
tersebut ditentang oleh medan listrik, hingga
terjadi kesetimbangan. Dari peristiwa inilah
gradien temperatur menghasilkan medan
listrik.
Penelitian lebih lanjut ternyata
persambungan dua semikonduktor tipe p dan n
menghasilkan tegangan lebih besar
Gambar 2. EfekPeltier
Temperatur mempengaruhi distribusi
rapat muatan, semakin tinggi temperatur rapat
pembawa muatan makin rendah, dan
sebaliknya. Perbedaan temperatur dari titik
ketitik dalam konduktor
atau gradien
temperatur perbedaan rapat pembawa muatan
yang menyebabkan difusi. Difusi dihambat
oleh
kehadiran
medan
listrik
yang
menimbulkan menimbulkan potensial (built-in
potential):
S 
V
 Vhot  Vcold  / Thot  Tcold  (2)
T
Buit-in Potential
Cold
Th
Tc
hot
Vc
Vh
Temperature gradient
Gambar 3. Gradien temperatur menimbulkan
perbedaan rapat pembawa muatan
Gambar 1. Seebeck
Arus listrik dalam konduktor isotermal
J e  nev  neE  E 
E

(1)
Bila konduktor A dengan koefisien
Seebeck SA disambung ujung-ujungnya
dengan konduktor B dengan koefisien Seebeck
SB, dengan temperatur sambungan T1 dan T2,
menghasil beda potensial :
T2
V   S A T   S B T dT
(3)
T1
Penemuan Seebeck ini memberikan inspirasi
pada Jean Charles Peltier untuk melihat
Pengaruh Beda Temperatur Terhadap Daya Modul Termolistrik …………….……..(Nur Untoro)
kebalikan dari fenomena tersebut. Dia
mengalirkan listrik pada dua buah logam yang
direkatkan dalam sebuah rangkaian. Ketika
arus listrik dialirkan, terjadi penyerapan panas
pada sambungan kedua logam tersebut dan
pelepasan panas pada sambungan yang
lainnya. Pelepasan dan penyerapan panas ini
saling berbalik begitu arah arus dibalik.
Penemuan yang terjadi pada tahun 1834 ini
kemudian dikenal dengan efek Peltier.
Fluks panas J q  nqv 
q
J e  J e
e
ZT 

(6)
Dengan T adalah temperatur rata-rata:
T 
TH  TC
2
(7)
Daya yang dihasilan termolistrik
Panas/kalor yang masuk (QH) ke termolistrik
sebagian diubah menjadi energi listrik dan
panas buangan QC. [3]
QH  P  QC
(8)
QH  S  I  TH  I 2 R  KT
A
K
L
Termolistrik
R
R
DC
L
(4)
Dengan q adalah kalor per muatan, Je rapat
arus listrik dan  adalah koefisien Peltier.
Performa
material
termolistrik
dapat
diungkapkan [2]:
(5)
Z  S / 
Dengan Z adalah figure of merit dari material,
S adalah koefisien Seebeck,  adalah
resitivitas, dan  konduktivitas termal. Figure
of merit ini dibuat menjadi tidak berdimensi
dengan mengalikan temperature:
S 2T
3
(9)
(10)
Dengan P adalah daya, R adalah hambatan
divais, RL hambatan beban, K konduktansi, 
konduktivitas panas, A luas penampang divais,
L panjang divais.
Gambar 4. Model rangkaian termolistrik
Daya
P  I 2 RL
Voc
I
R  RL
Voc  ST
(11)
T  TH  TC
(14)
(12)
(13)
Dari (12) dan (13), maka (11):
2
2
 V

 ST 
(15)
  RL
P   oc   RL  
 R  RL 
 R  RL 
Tampak bahwa daya yang dihasilkan
sebanding dengan kuadrat beda temperatur
persambungan.
Daya maksimum
Daya listrik yang dihasilkan oleh
termolistrik yang bekerja pada beda temperatur
tertentu bergantung pada beban RL, Untuk
menentukan daya maksimum maka dilakukan
diferensiasi (15) terhadap RL:

RL
dP
d 
2

ST 
2 
dRL dRL 
R  R L  


 R 2  2 RR L  RL2  2 R  2 RL RL 
2
 ST  

R  RL 4


 ST 
2
R

 RL2
R  RL 4
2
Kondisi maksimum diperoleh saat
dipenuhi jika RL = R.
Daya maksimum menjadi
dP
 0,
dRL
4
JAF, Vol. 8 No. 1 (2012), 1-5
Thermoelectric
Pmax
 V
  oc
RR

R
2

  R   T   R  1 T 

4 R
 2R 

2
L
A
2
(16)
Efisiensi generator termolistrik
Efisiensi menyatakan perbandingan
daya output dibanding daya input
T T
M 1
(19)
max  H C 
T
TH


H
M 

 TC 
(20)
Dengan Z adalah figure of merit, dan 
adalah resistivitas [6][7]
Berdasarkan (5), (19) dan (20)
efisiensi konversi akan lebih tinggi jika Z
besar begitu juga TH. Figure of merit bernilai
besar jika koefisien Seebeck besar, sedangkan
resistivitas dan konduktivitas panas kecil.
3.
Transformator
variabel
TH
TC
Metode Penelitian
Daya modul termolistrik ditentukan
dari hasil pengukuran dan hasil perhitungan.
Perhitungan teoritis didasarkan pada nilai
hambatan modul termo listrik dan koefisien
Seebeck. Pengukuran daya dilakukan dengan
teknik pembebanan pada beberapa beda
temperature. Penelitian pengaruh beda
temperature terhadap daya termolistrik
digunakan modul termolistrik dengan ukuran
4cm x 4cm dengan 56 sambungan. Sisi panas
ditempelkan pada hotplate, sisi dingin ditempel
dengan heat sink.
V
A
Hot
Cold
(17)
Menurut Rowe, daya output maksimum
meningkat secara parabolik dengan perbedaan
temperatur[4]
Dengan  resistivitas bahan, nilainya
bergantung bergantung pada temperatur [5]:
   o 1   T  T0 
(18)
Koefisien  dapat bernilai positif atau negatif
bergantung pada jenis material.
 1

M  1  Z TH  TC 
 2

RL
PLN
Gambar 5. Rangkaian pengukuran pembebanan
termolistrik
4. Hasil Penelitian
Langkah
pertama
pengukuran
hambatan termolistrik. Pengukuran hambatan
termolistrik dilakukan dengan cara langsung
dan tidak langsung. Pengukuran langsung sulit
dilakukan, hal ini karena perbedaan
temperature yang sangat kecil sekalipun akan
menghasilkan ggl yang akan mengganggu
pengukuran hambatan. Cara pengukuran
langsung ditempuh dengan menyamakan
temperatur yang dikontrol dari ggl yang
dihasilkan. Jika ggl tepat nol, baru dilakukan
pengukuran hambatan. Pengukuran hambatan
pada temperatur 30oC adalah sebesar 3,6.
Pengukuran
hambatan
tidak
langsung
dilakukan ketika termolistrik diberikan berikan
panas,
yaitu
dengan
analisa
kurva
pembebanan. Pengukuran pada TH = 51.5oC
dan TC = 43.5oC atau temperatur rata-rata
47,5oC, potensial listrik yang dihasilkan
Voc  0,5V dan I sc  0,115A , dan hambatan
dalam R = 4,348. Berdasarkan hasil
pengukuran dan persamaan (2) potensial
listrik dari modul termolistrik dapat
dinyatakan:
V T   0,0625 T
Sedangkan hambatan dalam termolistrik
berdasarkan persamaan (16) dapat dinyatakan:
RT   3,61  0,013405T 
Berdasarkan persamaan (14) daya maksimum
modul termolistrik dapat diperkirakan:
0,0625T 
1 T 
 0,25 
4 R
3,61  0,013405T 
.Hasil perkiraan potensial listrik modul
termolistrik dan hasil pengukuran adalah
sebagai berikut:
Pmax T  
2
2
Pengaruh Beda Temperatur Terhadap Daya Modul Termolistrik …………….……..(Nur Untoro)
1.8
1.6
Potensial (volt)
1.4
1.2
1
V prediksi
0.8
V ukur
0.6
0.4
0.2
0
0
5
10
15
20
25
30
5
perbedaan temperatur rendah yaitu sebesar
24Co. Sekilas tampak bahwa pada perbedaan
temperatur rendah menghasilkan daya tinggi,
namun sebenarnya bila ditinjau efisiensinya
rendah mengingat persamaan (15) dan (16).
Jadi untuk menghasilkan modul termolistrik
dengan efisiensi tinggi, sisi temperatur rendah
Tc harus dipertahankan serendah mungkin.
Perbedaan Temperatur (celsius derajat)
Gambar 6. Pengaruh beda temperatur terhadap
potensial termolistrik [8]
Daya (watt)
Berdasarkan Gambar 6 tampak bahwa
hasil pengukuran beda potensial modul termo
listrik berbanding lurus dengan beda
temperatur persambungan, sesuai teori efek
Seebeck. Pada beda temperatur 100Co modul
termolistrik ini akan menghasilkan beda
potensial 6,25V. Tegangan ini cocok untuk
mensuplai sebuah radio transistor. Daya
maksimum yang dihasilkan modul termolistrik
adalah seperti Gambar 7.
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
P prediksi
P ukur
0
10
20
30
Daftar Pustaka
[1]. Duckworth, Henry E. Electricity and
Magnetism, pp. 180-181. New York: Holt,
Rinehart and Winston (1960).
[2]. Rowe DM. Thermoelectric waste heat
recovery as a renewable energy source. Int J
Innov Energy Syst Power 2006; 1: 13-23.
[3]. Cobble, M. H.,”Calculation of Generator
Performance”
CRC
Handbook
of
Thermoelectrics, CRC Press, Inc., 1995
[4]. Rowe DM, Min G. Evaluation of
thermoelectric modules for power generation.
J Power Sources 1998; 73: 193-198.
[5]. Halliday.D. Resnick. R. (diterjemah oleh
Pantur Silaban dan Erwin Sucipto). Fisika
jilid 2 edisi ke 3. Jakarta: Penerbit Erlangga,
(1988).
[6]. K.Uemura and I.A.Nishida: Thermoelectric
Semiconductor and its Applications, Nikkan
Kogyo Shimbun Ltd., Tokyo, (1988) in
Japanese.
40
Beda Temperature (celsius derajat)
Gambar 7. Pengaruh beda temperatur terhadap daya
modul termolistrik [8]
Perkiraan daya modul termo listrik
pada perbedaan temperature rendah sangat
dekat dengan hasil pengukuran. Pada beda
temperatur lebih tinggi perkiraan daya sedikit
lebi rendah dibanding hasil pengukuran. Hal
ini terjadi diduga karena hubungan perubahan
temperatur terhadap perubahan hambatan tidak
linier. Pada temperatur tinggi perubahan
hambatan lebih besar. Kondisi ini teramati
jelas karena pendingin atau heat sink tidak
berfungsi dengan baik. Pada temperatur tinggi
120oC, temperatur rendah 96oC, sehingga
temperatur tinggi hanya menimbulkan
[1]. vised Neural Network dan Aplikasinya”,
Yogyakarta: Graha Ilmu, hal 33-46
[2]. Pandjaitan, L W., 2007, “Dasar-dasar
Komputasi Cerdas”, Yogyakarta: Andi
Offset, hal 89-92
[3]. Hines, W J, 1997, “MATLAB Supplement
to Fuzzy and Neural Approaches in
Engineering”, John Wiley & Sons, hal 6891
[4]. Siang, J.J., 2004, “Jaringan Saraf Tiruan
dan
Pemogramannya
menggunakan
MATLAB”, Yogyakarta, hal 97-113
[5]. Puspitaningrum, D, “Pengantar Jaringan
Saraf Tiruan”, Yogyakarta: Andi Offset,
2006, hal 1-4/125-137
[6]. Arhami,
M,
2005,
“Pemograman
MATLAB”, Yogyakarta: Andi Offset.
Download