perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa fitness

advertisement
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN
PENGGUNA JASA FITNESS CENTER DI HELIOS
FITNESS CENTER PURWOKERTO
SKRIPSI
Oleh
RENDY DWINANDA
EIA008017
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA
JASA FITNESS CENTER DI HELIOS FITNESS CENTER
PURWOKERTO
SKRIPSI
Disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana
pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Oleh
RENDY DWINANDA
EIA008017
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2012
i
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA
JASA FITNESS CENTER DI HELIOS FITNESS CENTER
PURWOKERTO
Oleh:
RENDY DWINANDA
E1A008017
Disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Diterima dan Disahkan
Pada Tanggal :
Penguji I/
Pembimbing I
Desember 2012
Penguji II/
Pembimbing II
Hj. Rochani U. S, S.H., M.S. Suyadi, S.H., M.Hum.
NIP. 19520603 198003 2 001
Penguji III
I Ketut K.N, S.H., M.Hum.
002
NIP. 19611010 198703 1 001 NIP.19610520 198703 1
Mengetahui,
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Dekan,
Dr. Angkasa, S.H., M.Hum.
NIP. 19640923 198901 1 001
ii
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul :
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA
JASA
FITNESS
CENTER
DI
HELIOS
FITNESS
CENTER
PURWOKERTO
Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan semua sumber data
serta informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa
kebenarannya.
Bila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi
termasuk pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Purwokerto, 10 Desember 2012
RENDY DWINANDA
E1A008017
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat, berkah, dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA
JASA FITNESS CENTER DI HELIOS FITNESS CENTER. Skripsi ini
disusun guna memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum.
Penulis menyadari, sesuai dengan kodrat manusia sebagai hamba ciptaan
Allah SWT, skripsi ini belum merupakan sebuah karya yang sempurna. Sebab
sebagai seorang manusia yang masih jauh dari kesempurnaan senantiasa berada
dalam proses pembentukan diri untuk mencapai yang terbaik. Dalam posisi ini
penulis tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan dengan berbagai pihak.
Karenanya, kritik dan saran semua pihak merupakan masukan yang berharga bagi
penulis, sehingga memberikan kontribusi yang amat besar dalam penyempurnaan
skripsi ini, baik langsung maupun tidak langsung.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga skripsi dapat
terselesaikan dengan baik. Secara tulus ikhlas penulis sampaikan ucapan
terimakasih tersebut kepada :
1. Bapak
Dr. Angkasa, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman;.
2. Ibu Hj. Rochani Urip Salami, S.H., M.S., selaku dosen Pembimbing Skripsi I
yang telah memberikan waktu dan kesabarannya dalam membimbing penulis
hingga selesainya skripsi ini;
iv
3. Bapak Suyadi, S.H., M.Hum. selaku dosen Pembimbing II yang berkenan
membagi ilmunya kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini;
4. Bapak I Ketut Karmi Nurjaya, S.H., M.Hum. selaku dosen penguji yang telah
memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan skripsi ini;
5. Bapak Djumadi, S.H.,S.U. selaku dosen pembimbing akademik yang selalu
memberi arahan, bimbingan dan motivasi dalam studi.
6. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Dosen yang kenal dengan saya, terima kasih atas
segala motivasi, informasi, data dan masukan selama pembuatan skripsi.
Seluruh staf dosen dan karyawan di lingkungan Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman
7. Papa dan Mama tercinta, Kakakku Irfan Parama Riski yang sudah menjadi
Sarjana Hukum dari UNSOED. Terimakasih atas segala perhatian, support
dan kasih sayangnya.
8. Rekan-rekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, khususnya
angkatan 2008;
9. Segenap karyawan Helios Fitness yang telah membantu saya dalam bekerja,
terima kasih atas kerja samanya.
10. Semua pihak yang turut membantu penyusunan skripsi ini.
Purwokerto, 10 Desember 2012
Penulis
v
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………….i
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………….ii
PERNYATAAN…………………………………………………………...iii
KATA PENGANTAR…………………………………………………….iv
ABSTRAK…………………………………………………………………ix
ABSTRACT………………………………………………………………..x
DAFTAR ISI………………………………………………………………vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………1
B. Perumusan Masalah…………………………………………...7
C. Tujuan Penelitian……………………………………………...8
D. Kegunaan Penelitian………………………………………......8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perlindungan Hukum…………..……………………………...9
1. Pengertian Hukum………………………………………...9
2. Konsep Perlindungan Hukum…………………………....10
B. Hukum Perlindungan Konsumen…………………………….11
1. Perlindungan Konsumen………………………………....11
2. Asas-Asas Hukum Perlindungan Konsumen…………….12
3. Sumber Hukum Perlindungan Konsumen………………..14
4. Tujuan Perlindungan Konsumen…………………………21
C. Konsumen……………………………………………………23
vi
1. Pengertian Konsumen & Pengaturannya………………...23
2. Hak & Kewajiban Konsumen…………………………...28
D. Pelaku Usaha………………………………………………...37
1. Pengertian Pelaku Usaha………………………………...37
2. Hak & Kewajiban Pelaku Usaha………………………...38
3. Larangan Bagi Pelaku Usaha……………………………41
E. Hukum Perjanjian…………………………………………....43
1. Pengertian Perjanjian…………………………………….43
2. Unsur Perjanjian……………………………………….....46
3. Asas-Asas Perjanjian……………………………………..47
4. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian……………………........50
5. Jenis-Jenis Perjanjian………………………………….....54
6. Berakhirnya Perjanjian…………………………………...56
F. Fitness Center (Pusat Kebugaran)…………………………...57
1. Olahraga…………………………………………….........57
2. Manfaat Olahraga………………………………………..58
3. Jenis-Jenis Olahraga……………………………………...59
4. Sejarah Fitness……………………………………….......60
5. Pengertian Fitness Center………………………………..62
6. Fitness……………………………………………………64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian…………………………………………...67
vii
B. Spesifikasi Penelitian………………………………………...67
C. Lokasi Penelitian…………………………………………….67
D. Jenis Data……………………………………………………67
E. Metode Pengumpulan Data…………………………………68
F. Metode Penyajian Data……………………………………..69
G. Metode Analisis Data……………………………………….69
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian…………………………………………......71
B. Pembahasan…………………………………………………89
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................106
B. Saran ....................................................................................108
DAFTAR PUSTAKA
viii
ABSTRAKSI
Kesehatan adalah modal yang sangat penting bagi kita semua dalam
melakukan segala aktivitas sehari-hari. Olahraga adalah salah satu cara dalam
menjaga kesehatan. Salah satu olahraga yang saat ini digemari adalah fitness.
Tentunya fitness haruslah dilakukan di fitness center (pusat kebugaran). Sudah
banyak didirikan pusat-pusat kebugaran di kota Purwokerto ini. Namun, dalam
kenyataanya di lapangan pusat-pusat kebugaran tersebut kuranglah
memperhatikan pelayanan kepada konsumennya. Berdasarkan hal tersebut, maka
diperlukan perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa fitness center
(pusat kebugaran) agar konsumen mendapatkan pelayanan jasa fitness center
secara maksimal. Perlindungan Konsumen telah diatur dalam Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang tersebut
merupaka payung yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di
bidang Perlindungan Konsumen. Peraturan perlindungan konsumen lainnya yang
mengatur tentang jasa fitness center (pusat kebugaran) adalah Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perlindungan yang
diberikan oleh pihak fitness center terhadap konsumen berdasarkan UndangUndang Perlindungan Konsumen. Penelitian ini menggunakan metode yuridis
normative dengan spesifikasi penelitian secara deskripstif, dengan harapan dapat
memperoleh informasi yang mendalam dari obyek yang sedang diteliti. Penelitian
ini dilakukan di Helios Fitness Center Purwokerto.
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa pihak Helios
Fitness dalam memberikan pelayanan kepada konsumennya telah secara
maksimal. Pelayanan-pelayanan yang diberikan pihak Helios Fitness, bertujuan
agar konsumen dapat memperoleh hak-haknya sebagaimana telah diatur dalam
Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Berkaitan dengan Pasal 4 Undang-undang Perlindungan Konsumen mengenai
hak-hak konsumen, pelaku usaha jasa fitness center telah memenuhi hak tersebut.
Upaya penyelesaian sengketa antara pihak Helios Fitness dan pihak konsumen
adalah melalui musyawarah, apabila tidak tercapai maka konsumen dapat
menggugat melalui pengadilan. Pengaturan upaya penyelesaian sengketa ini
bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum kepada konsumen.
Kata kunci :
Perlindungan Hukum,Perlindungan Konsumen, Konsumen Fitness
Center.
ix
ABSTRACT
Health is a very important asset for all of us to do all daily activities.
Sports is one way in maintaining health. One sport that is currently popular is the
fitness. Obviously fitness should be done in the fitness center (gym). Already
many established fitness centers in the city this Purwokerto. However, the reality
in the field fitness centers are kuranglah attention to service their customers.
Based on this, the necessary legal protection of consumers of service fitness
center (gym) so that consumers get the services to the maximum fitness center.
Consumer protection has been regulated in Law No. 8 of 1999 on Consumer
Protection. Act be an umbrella that integrate and strengthen law enforcement in
the field of consumer protection. Other consumer protection regulations governing
service fitness center (gym) is Law No. 3 of 2005 on National Sports System, Act
No. 36 of 2009 on Health, and the Indonesian Government Regulation No. 16 of
2007 on the Implementation of Sport.
The purpose of this study was to determine the protections provided by the
fitness center to the consumer by the Consumer Protection Act. This study uses
juridical normative specifications deskripstif research, hoping to obtain in-depth
information of the object being studied. The research was conducted in Helios
Fitness Center Purwokerto.
Based on these results it can be seen that the Helios Fitness in providing
services to their customers have the maximum. Services given the Helios Fitness,
intended that consumers can obtain their rights as stipulated in Article 4 of Law
No. 8 of 1999 on Consumer Protection. With regard to Article 4 of the Consumer
Protection Act regarding the rights of consumers, business service fitness center
meets these rights. Efforts dispute between the Helios Fitness and the consumer is
to deliberation, if not achieved then the consumer can sue through the courts.
Setting dispute resolution efforts aimed to provide legal protection to consumers.
Keywords: Law Protection, Consumer Protection, Consumer Fitness Centre.
x
HALAMAN PERSEMBAHAN
SKRIPSI INI SAYA
PERSEMBAHKAN UNTUK
KELUARGA TERCINTA
PAPA + MAMA
&
IRFAN PARAMA RIZKI
RENDY DWINANDA
THANKS TO :
1.
Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridhonya skripsi ini
dapat terselesaikan walaupun agak sedikit lebih lama dari waktu
biasanya.
Alhamdulillah.......Selesai,
Finish,
The
End,
Rampung...............................
2. Papa Tercinta, Terima Kasih Pah, walaupun aku ga’ terlalu
banyak omong tapi aku bisa buktiin kalo ak bisa nyelesaiin
skripsi ini sambil kerja. Dan thanks buat kesabarannya dan juga
dukungan materiil dan imateriilnya.
3. Mama Tercinta, Terima Kasih semuanya mah dan juga dah
sabar buat nunggu aku garap skripsinya sambil kerja, aku bisa
buktiin ko’ kalo aku bisa nyelesaiin ini. Dan ga perlu banyak
omong dulu.
4. Kakak Tersayang, Terima Kasih buat semua dukungan dan
konsultasi-konsultasi yang diberikan trus juga apa aja yang bisa
ngebantu lah, makasi banyak.
5. Seluruh Keluarga Besar Papa dan Mama, Foto Copy Mulyo
makasi semuanya...
6. Helios Fitness Purwokerto beserta seluruh karyawan yang ada
di dalamnya (Pak Wibowo sebagai Bos nya Helios Fitness,
Mba Tary sebagai Manajer, Mba Dwi sebagai Asisten
Manajer, Mba Ari sebagai Resepsionis, Mba Vivi sebagai
Resepsionis, Mas Giat sebagai Leader Instruktur, Mas Surya
sebagai calon leader instruktur, Febri sebagai Leader
Attendant, Surat sebagai Attendant, Sepri sebagai Attendant)
Makasi aku bisa bergabung di dalamnya mencari sesuap nasi
dan sebongkah emas,hahaha
7. Makasi buat temen-temen yang udah dateng ke seminarku, jam
8 pagi dah ngampus padahal dah ga pernah kuliah jam 7 pagi, (
Zein, Mudrik, Chandra, Bernadus, Deni YP, Aji Suharto,
Faizin, Cristelia ), dan teman-teman yang ga bisa satu-satu aku
sebutin, thanks banget buat bantuan semuanya.
8. Makasi buat temen-temen Helios Fitness yang udah dateng ke
seminarku (Reza Aldila, Toni Ardila, Fahmi Aditya, Haris
Apriadi). Thanks juga buat Rangga yang udah bantu nyiapin
materi seminar n bantu aku bisa kerja di Helios Fitness. Trus
juga saudara Nawir yg udah kasi ide bikin skripsi ini. Thanks a
lot.
Semoga kompak selalu walaupun Helios dah ga ada,hoho……
9. Team PLKH PIDANA, PERDATA, PTUN
Dan semua akhirnya bisa dapet nilai A, walaupun dengan
berbagai masalah yang ada.
10.Semua Team KKN TEMATIK PARIWISATA Kecamatan
Somagede, terutama desa Piasa Kulon, yang cuma bertiga tapi
tetep gelut bae, dan desa-desa lainnya, ga bakal terlupakan
kenangan hidup 35 hari bareng disana dengan segala kegiatan
yang ada, (yang ada cuma plesiran,hahaha)
Dan akhirnya semua dapet nilai A.
11.Dan Terima Kasih buat temen-temen mahasiswa fakultas
hukum Unsoed angkatan 2008 dan masih banyak lagi orangorang yang berjasa buat aku yang mungkin aku lupa sebutin.
Thanks All.
KEEP SPIRIT, KEEP
HEALTHY, AND
MORE STRONG
[email protected]
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu anugrah yang paling berharga adalah memilki tubuh dan jiwa
yang sehat. Kesehatan menjadi sangat penting manakala kesadaran akan
kerugian dan hal-hal negatif karena sakit mulai dirasakan oleh penderita.
Namun kesadaran untuk menjaga kesehatan hendaknya dimiliki oleh setiap
orang. Kesehatan mempengaruhi segala aspek kehidupan, dengan adanya
kesehatan seseorang akan dapat melaksanakan aktifitasnya dengan lebih
maksimal, penampilanpun akan menjadi maksimal dibandingkan mereka yang
sakit, jadi lengkaplah sudah alasan yang menjadikan kesehatan sebagai sesuatu
yang mahal dan harus dijaga.
Seperti yang didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia atau
WHO :
Sehat adalah “suatu keadaan sehat yang baik, baik fisik, mental maupun
sosial”. (Tujuan dari WHO adalah tercapainya tingkat kesehatan yang
paling tinggi oleh semua orang). Kebugaran fisik didefinisikan sebagai
“kemampuan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari dengan bertenaga
dan penuh kesiagaan, tanpa kelelahan yang tidak semestinya dan dengan
cukup energi, sehingga tetap dapat menikmati waktu terluang dan
menanggulangi keadaan-keadaan mendadak yang tidak diperkirakan”.1
1
C.K. Giam & K.C. Teh, Ilmu Kedokteran Olahraga, Jakarta, Binarupa Aksara, 1992, hal. 8.
2
Kesadaran menjaga kesehatan, kebugaran dan penampilan saat ini
menjadi hal yang sangat “diburu” oleh setiap orang. Dalam bebarapa
lingkungan kerja saat inipun menuntut pelaku kerja untuk memiliki kebugaran,
serta penampilan yang menarik, namun dengan tuntutan aktifitas yang ada
bukanlah hal yang mudah untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan
penampilan tersebut, yang ada saat ini justru pola makan, gaya hidup, tuntutan
kerja, serta pola kegiatan seringkali bertolakbelakang dengan upaya menjaga
kesehatan. Namun ada salah satu cara yang saat ini marak dilakukan untuk
menjaga kesehatan yaitu dengan mendatangi serta melakukan aktiifitasaktifitas di pusat-pusat kebugaran, sesuai dengan instruksi yang benar.
Adanya pusat kebugaran ( fitness center ) terbukti sangat membantu
seseorang untuk mau berolahraga dan lebih menjaga penampilan, hal ini
dikarenakan ketersediaan waktu yang ditawarkan oleh pusat-pusat kebugaran
tersebut sangat membantu mereka yang tidak bisa berolahraga karena cuaca,
keterbatasan waktu, serta kesadaran untuk berolahraga sendiri. Di fitness center
tersebut para pekerja dapat berolahraga di malam hari, tidak selalu di pagi hari.
Di fitness center pun menjadi lebih semangat berolahraga karena adanya
instruktur dan banyak orang-orang yang beraktifitas sama di sana.
Berbagai kelebihan jasa yang ditawarkan oleh fitness centre bukan
terlepas dari cela. Beberapa permasalahan juga terjadi di sana, berbagai
keluhan sering disampaikan oleh anggota ( member ) di fitness centre tersebut.
Adanya rasa kurang nyaman karena alat-alat yang disediakan tidak memadahi,
3
kurang terawat, serta kurangnya kebersihan dari pusat kebugaran tersebut
menjadi hal yang paling umum disampaikan oleh member yang merasa
dirugikan. Member sebagai konsumen dari fitness centre juga tidak jarang
mengalami cidera akibat dari peralatan fitness yang kurang terawat, akibat
instruksi dari pelatih (instruktur) yang kurang benar ataupun akibat kurang
adanya pengawasan dari instruktur. Sehingga member dalam berlatih salah
dalam melakukan gerakan yang seharusnya dan mengakibatkan cidera
misalnya terkilir bahkan hingga patah tulang. Selain permasalahan yang timbul
seperti hal tersebut, masih ada lagi permasalahan yang terjadi di dalam fitness
center seperti hilang dan rusaknya barang-barang yang dibawa oleh member
ketika berlatih di fitness centre. Dari berbagai permasalahan yang dipaparkan
diatas timbul suatu pertanyaan, “apakah dari hal-hal yang merugikan pihak
konsumen tersebut dalam hal ini member, pihak fitness centre akan
bertanggung jawab sepenuhnya ?”. Karena dalam hal ini hubungan hukum
antara pihak fitness center dan pihak member sebagai konsumen kurang begitu
jelas terlihat adanya. Apakah pada awal ketika seseorang itu datang dan
mendaftar sebagai member di fitness center untuk berlatih ada suatu perjanjian
yang disepakati oleh kedua pihak atau tidak.
Konsumen dan pelaku usaha adalah pihak yang saling membutuhkan
karena pelaku usaha tanpa ada konsumen yang membeli barang dan/ atau
jasanya tidak akan berkembang usahanya. Pelaku usaha harus memperhatikan
dan melaksanakan kewajibannya apabila ia menginginkan hak dari konsumen
4
dan konsumen juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan
perlindungan hukum.
Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (UUPK), hak-hak konsumen yaitu :
a. Hak
atas
kenyamanan,
keamanan,
dan
keselamatan
dalam
mengkonsumsi barang dan/ atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan/ atau jasa serta mendapatkan barang
dan/ atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan
yang diwajibkan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/ atau jasa.
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/ atau
jasa yang digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya.
5
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan dalam peraturan perundangundangan lainnya.
Berbagai permasalahan yang timbul dari hubungan keperdataan yang
terjadi antara pihak member dan pihak fitness center tersebut diatas, Penulis
akan mencoba meneliti salah satu pusat kebugaran yang ada di kota
Purwokerto yaitu Helios Fitness Center. Helios Fitness Center terletak di pusat
kota di kompleks Ruko (Rumah dan Toko) Permata Hijau Purwokerto.
Kebanyakan member disana adalah para pekerja dan mahasiswa. Beberapa
keunggulan ditawarkan oleh Helios Fitness Center untuk memuaskan
membernya, namun tidak jarang juga member menyampaikan keluhan-keluhan
seperti yang telah dijelaskan di alinea sebelumnya. Adanya keluhan-keluhan
dan kerugian-kerugian yang timbul akibat dari pelayanan Helios Fitness Center
kepada membernya apakah akan sepenuhnya ditanggung oleh pihak Helios
Fitness Center. Adanya keluhan oleh member sebagai konsumen hendaknya
ditanggapi oleh Helios Fitness Centre sebagai pelaku usaha pemberi jasa
dengan baik. Hal ini sesuai apa yang diamanatkan oleh Undang –Undang
Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ( UUPK ). Berbagai
hak konsumen termuat di dalam Pasal 4 UUPK, diantaranya adalah hak untuk
mendapatkan kenyamanan, serta hak untuk mendapatkan ganti kerugiaan
apabila kenyamanan tersebut tidak diperoleh dengan baik, hal ini sebagaimana
disebutkan dalam Pasal 4 huruf a dan huruf h UUPK.
6
Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dimaksudkan untuk
menjamin keamanan dan keselamatan dalam penggunaan barang dan
atau jasa yang diperolehnya, sehingga keamanan dapat terhindar dari
kerugian (fisik maupun psikis).2 Hak untuk memperoleh keamanan
penting ditempatkan pada kedudukan utama, karena berabad-abad
berkembang suatu falsafah berfikir, bahwa konsumen adalah pihak yang
wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha.3
Adanya jaminan atas hak kenyamanan, keamanan, serta keselamatan
juga disebutkan dalam Pasal 4 huruf h UUPK, yaitu hak untuk mendapatkan
kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Abdulkadir Muhamad menjelaskan bahwa :
ganti rugi itu terdiri dari 3 unsur (Pasal 1246 KUH Perdata) yaitu :
1. Ongkos-ongkos atau biaya-biaya yang telah dikeluarkan (Cost).
2. Kerugian karena kerusakan, kehilangan atas barang kepunyaan
kreditur akibat kelalaian debitur (damage). Kerugian disini adalah
sungguh-sungguh diderita.
3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan (interest).
Ganti kerugian harus dihitung berdasarkan nilai uang, bukan berupa
barang. Undang-Undang memberikan batasan-batasan mengenai
besarnya ganti kerugian yang tercantum dalam Pasal 1247 dan Pasal
1248 KUH Perdata.4
Hak-hak konsumen tentunya tidak terlepas juga dari kewajibannya
sehingga tercipta suatu adanya keseimbangan diantara keduanya agar jika
2
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, PT. RajaGrafindo
Persada, 2007, hal. 57.
3
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (PT. Grasindo, Jakarta, 2000). hal. 22.
4
Abdulkadir Muhamad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992, hal. 39.
7
terjadi permasalahan yang dijelaskan diatas tidak hanya pihak pelaku usaha
saja yang disalahkan tetapi konsumen mungkin saja yang tidak atau lalai
melaksanakan kewajibannya. Kewajiban konsumen terdapat dalam Pasal 5
Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu :
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan atau jasa, demi keamanan dan keselamatan.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan atau jasa.
c. Membayar dengan nilai tukar yang disepakati.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.
Dari berbagai permasalahan yang ada di fitness center penulis ingin
mengetahui bagaimanakah pertanggungjawaban yang dilakukan oleh pihak
Helios Fitness Center kepada kerugian yang dialami oleh membernya.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan dalam penelitian
ini adalah :
Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa
fitness center di Helios Fitness Center Purwokerto ?
8
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui perlindungan hukum yang didapatkan oleh konsumen
pengguna jasa fitness akibat adanya hubungan hukum yang terjadi diantara
kedua pihak, sehingga terlihat hubungan hukum diantara kedua pihak. Selain
itu juga terlihat tanggung jawab yang dilakukan pihak kedua dalam hal ini
fitness center terhadap konsumen pengguna jasa fitness center apabila terjadi
hal-hal yang merugikan konsumen.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini, yaitu :
1. Kegunaan Teoretis
Dengan adanya penelitian tersebut diharapkan dapat menambah
pengetahuan serta informasi mengenai perlindungan hukum terhadap
konsumen jasa fitness center (pusat kebugaran).
2. Kegunaan Praktis
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi mereka yang akan
menggunakan jasa fitness center (pusat kebugaran), khususnya pada Helios
Fitness Center Purwokerto.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perlindungan Hukum
1. Pengertian Hukum
Hukum tercipta karena adanya kepentingan individu-individu,
dimana kepentingan individu-individu itu berbeda-beda dan beraneka.
Hukum diciptakan agar tidak ada perbenturan antara individu-individu
tersebut dalam usaha mereka untuk memperoleh kepentingan tersebut.
Menurut Surojo Wignojodipuro :
Hukum mempunyai peranan dalam mengatur dan menjaga
kepentingan masyarakat, yang diantaranya adalah mengatur
hubungan antara sesama warga masyarakat yang satu dengan yang
lain. Hubungan tersebut harus dilakukan menurit norma atau
kaidah yang berlaku. Adanya kaidah hukum itu bertujuan untuk
mengusahakan kepentingan-kepentingan yang terdapat dalam
masyarakat sehingga dihindarkan kekacauan dalam masyarakat.5
Berdasarkan
perlindungan
kutipan
kepentingan
di
atas,
manusia,
hukum
agar
berfungsi
kepentingan
sebagai
manusia
terlindungi hukum harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat
berlangsung secara normal dan damai, akan tetapi pelaksanaan hukum
juga dapat terjadi karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang
telah dilanggar harus ditegakkan. Dalam penegakkan hukum mengenal
5
Surojo Wignojodipuro, Pengantar Ilmu Hukum, Bandung, Alumni, 1974, hal. 11.
10
tiga unsur, yaitu: kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan.
Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum karena dengan
adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib, sebaliknya
masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakkan
hukum. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan atau
penegakkan hukum hendaknya memberikan manfaat bagi masyarakat.
Unsur ketiga adalah keadilan, bahwa dalam penegakkan atau
pelaksanaan hukum keadilan harus diperhatikan.
2. Konsep Perlindungan Hukum
Kata perlindungan berasal dari kata dasar lindung. Perlindungan
berarti cara, proses, atau perbuatan melindungi.6
Sedangkan kata hukum berarti 1) peraturan/adat yang dianggap
mengikat yang dikeluarkan oleh pemerintah/penguasa atau otoriter.
2) undang-undang, peraturan dan sebagainya, otoritas untuk
mengatur
pergaulan
hidup
masyarakat.
3)
patokan
(kaidah/ketentuan) mengenai peristiwa (alam dsb.) yang tertentu.
4) keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim ( di
pengadilan), vonis.7 Hukum juga dapat diartikan sebagai peraturanperaturan yang bersifat memaksa yang menentukan tingkah laku
manusia dalam lingkup masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan
resmi yang berwajib; pelanggaran terhadap peraturan-peraturan
tersebut berakibat suatu tindakan.8
Berdasar pengertian perlindungan dan hukum, dapat diambil suatu
pemikiran, bahwa perlindungan hukum itu mempunyai konsep
terlaksananya fungsi-fungsi aturan-aturan yang sengaja dibuat oleh
penguasa, yang bersifat memaksa yang tujuannya untuk
6
Kamus Besar Bahasa Indonesia ,edisi kedua ( Jakarta, Balai Pustaka ), hal. 595.
Ibid, hal. 369
8
J.T.S. Simorangkir, Rudi T. Erwin, J.T. Prasetyo, Kamus Hukum, (Sinar Grafika ;Jakarta,
2000), hal. 66.
7
11
melindungi adanya perbenturan kepentingan dalam kehidupan
bermasyarakat.9
Atau dengan kata lain perlindungan hukum dapat disimpulkan
sebagai upaya untuk menjamin penegakkan atau pelaksanan kaidahkaidah dalam masyarakat demi tercapainya tujuan hukum untuk
mengatur dan menjaga keharmonisan masyarakat agar kepentingannya
terlindungi.
B. Hukum Perlindungan Konsumen
1. Perlindungan Konsumen
Setiap orang, pada suatu waktu baik dalam posisi tunggal atau
sendiri maupun berkelompok bersama orang lain, dalam keadaan
apapun, pasti menjadi konsumen untuk suatu produk atau jasa
tertentu. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi
menunjukan adanya berbagai kelemahan pada konsumen sehingga
konsumen tidak mempunyai kekdudukan yang “aman”.10
Perlindungan konsumen adalah istilah yang dipakai untuk
menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen
dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang dapat
merugikan konsumen itu sendiri.11
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa Perlindungan konsumen
adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
9
Iswanto, Pengantar Ilmu Hukum (Purwokerto ; UNSOED, 2005 ), hal. 63.
Abdul Halim Barkatulah, Hukum Perlindungan Konsumen kajian teoritis dan
perkembangan pemikiran, Bandung, Nusa Media,2008, hal. 18
11
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya
Bakti, 2006, hal. 9.
10
12
memberikan perlindungan kepada konsumen. Dari pengertian tersebut,
tampak bahwa pembentuk undang-undang mengartikan secara luas
mengenai perlindungan konsumen.
Rumusan pengertian perlindungan konsumen yang terdapat dalam
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen tersebut cukup memadai. Kalimat yang
menyatakan “segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum”, diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan tindakan
sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk
kepentingan konsumen.12
2. Asas-Asas hukum Perlindungan Konsumen
Asas hukum bukan merupakan hukum konkrit, melainkan
merupakan pikiran dasar yang umum dan abstrak, atau merupakan latar
belakang peraturan konkrit yang tersirat dalam peraturan perundangundangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat
ditemukan dengan mencari sifat-sifat atau ciri-ciri yang umum dalam
peraturan konkrit tersebut.13
UUPK ini diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5
(lima) asas yang relevan dengan pembangunan nasional sebagaimana
yang tercantum dalam Pasal 2 UUPK, yaitu :
1. Asas Manfaat
Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala
upaya dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen harus
12
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, PT.
RajaGrafindo Persada, 2007, hal. 1.
13
Suyadi, Buku Ajar : Dasar-dasar Hukum Perlindungan Konsumen, Purwokerto: FH
Unsoed, 2007, hal. 1.
13
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen
dan pelaku usaha secara keseluruhan.
2. Asas Keadilan
Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat
diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan
melaksanakan kewajibannya secara adil.
3. Asas Keseimbangan
Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan
antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam
materiil dan spiritual.
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk
memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada
konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang
dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
5. Asas Kepastian Hukum
Asas kepastian hukum dimaksudkan agar pelaku usaha maupun
konsumen manaati hukum dan memperoleh keadilan dalam
menyelenggarakan perlindungan konsumen, serta negara manjamin
kepastian hukum.
Kelima asas di atas yang disebutkan dalam pasal 2 UUPK tersebut
bila diperhatikan substansinya, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) asas yaitu :
14
a. Asas kemanfaatan yang didalamnya meliputi asas keamanan dan
keselamatan konsumen;
b. Asas keadilan yang didalamnya meliputi asas keseimbangan;
c. Asas Kepastian Hukum14
Asas-asas Hukum Perlindungan Konsumen yang dikelompokkan
dalam 3 (tiga) kelompok diatas yaitu asas keadilan, kemanfaatan,
dan kepastian hukum. Dalam hukum ekonomi keadilan
disejajarkan dengan asas efisiensi. Asas kepastian hukum yang
disejajarkan dengan asas efisiensi karena menurut Himawan,
bahwa “Hukum yang berwibawa berarti hukum yang efisien, di
bawah naungan mana seseorang dapat melaksanakan kewajiban
dan hak-haknya tanpa ketakutan dan melaksanakan kewajibannya
tanpa penyimpangan.”15
3. Sumber Hukum Perlindungan Konsumen
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen, bukanlah satu-satunya pengaturan tentang perlindungan
konsumen. Perlindungan terhadap konsumen juga terdapat di dalam
berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, sekalipun
peraturan perundang-undangan itu tidak khusus diterbitkan untuk
konsumen atau perlindungan konsumen. Hal tersebut sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 64 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, yang berbunyi: “Segala ketentuan peraturan
perundang-undangan yang bertujuan melindungi konsumen yang telah
ada pada saat undang-undang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku
14
15
Ahmadi miru & Sutarman Yodo, Op. Cit, hal. 26.
Ibid, hal. 33.
15
sepanjang tidak diatur secara khusus dan/atau tidak bertentangan dengan
ketentuan dalam undang-undang ini.”
A.Z Nasution memberikan penjelasan bahwa :
Hukum perlindungan merupakan bagian dari hukum konsumen
yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah yang bersifat mengatur,
dan juga mengandung sifat melindungi kepentingan konsumen.
Hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan
kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum dan
masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan
barang dan /atau jasa konsumen didalam pergaulan hidup.16
Hukum konsumen memiliki skala yang lebih luas meliputi
berbagai aspek hukum yang di dalamnya terdapat kepentingan pihak
konsumen, ini adalah aspek perlindungannya, misalnya bagaimana cara
mempertahankan hak-hak konsumen terhadap gangguan pihak lain.
Mengenai hal ini, Shidarta berpendapat sama.
Menurut Shidarta bahwa istilah “hukum Konsumen” dan “hukum
perlindungan konsumen” sudah sangat sering didengar. Namun,
belum jelas benar apa saja yang masuk ke dalam materi keduanya.
Juga, apakah kedua “cabang” itu identik.
Posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh
hukum. Salah satu sifat, sekaligus tujuan hukum itu adalah
memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Jadi,
sebenarnya hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen
adalah dua bidang yang sangat sulit dipisahkan dan ditarik
batasnya.
16
C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang
Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2002, hal. 11.
16
Hukum perlindungan konsumen adalah bagian dari hukum
konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah yang bersifat
mengatur, dan juga mengandung sifat melindungi konsumen.17
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pada
dasarnya bukanlah awal dan akhir dari hukum yang mengatur
perlindungan konsumen, sebab sampai pada terbentuknya UU No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ini telah ada beberapa
undang-undang yang materinya melindungi kepentingan konsumen.
Beberapa
peraturan
yang
juga
dijadikan
sumber
hukum
perlindungan konsumen diantaranya sebagai berikut :
1. Undang-Undang Dasar 1945 dan Ketetapan MPR
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam alinea IV yang
berbunyi “...kemudian daripada itu untuk membentuk suatu
pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa
Indonesia...” menyiratkan bahwa Hukum Perlindungan Konsumen
medapatkan landasan hukumnya.
Kata “melindungi” menurut Az. Nasution mengandung asas
(hukum) pada segenap bangsa tersebut. Perlindungan terhadap
segenap bangsa mengandung makna bahwa perlindungan hukum
tersebut diberikan kepada segenap bangsa, baik laki-laki maupun
17
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Jakarta, PT Grasindo, 2000, hal. 9.
17
perempuan, baik kaya maupum miskin, baik orang desa atau orang
kota, baik tua maupaun muda, baik orang asli maupun keturunan seta
perlindungan hukum baik bagi pelaku usaha maupun konsumen.
Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, menyatakan bahwa tiap warga
negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,
artinya penghidupan yang layak merupakan hak dasar bagi setiap
warga negara dan hak bagi setiap orang atau hak rakyat secara
menyeluruh.
Pasal 28 UUD 1945, yang berbunyi:
“Kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang.”
Penjelasan Pasal ini menyatakan bahwa, Pasal ini mengenai
kedudukan penduduk. Pasal ini juga memuat hasrat bangsa Indonesia
untuk membangun Negara yang bersifat demokratis dan hendak
menyelenggarakan keadilan sosial dan prikemanusiaan. Berbagai hak
yang dimiliki konsumen telah masuk dalam kedua Pasal tersebut,
sehingga dapat dikatakan bahwa UUD 1945 merupakan suatu sumber
hukum bagi perlindungan konsumen karena hak konsumen terdapat
didalamnya.
18
Selanjutnya, untuk melaksanakan perintah UUD 1945
melindungi segenap bangsa, dalam hal ini khususnya melindungi
kepentingan konsumen, Majelis Permusyawaratan Rakyat telah
menciptakan berbagai Ketetapan MPR, khususnya sejak tahun
1978 dengan Ketetapan MPR terakhir tahun 1993 ( TAP MPR)
makin jelas kehendak rakyat akan adanya perlindungan
konsumen, sekalipun dengan kualifikasi yang berbeda-beda, pada
masing-masing ketetapan.18
Dalam TAP MPR tahun 1993 ini terdapat suatu hal yang
menarik, dimana ada keselarasan dan kaitan antara produsen dan
konsumen. Susunan kalimat yang menandakan hal itu adalah :
“...meningkatnya pendapatan produsen dan melindungi kepentingan
konsumen...”
Kalimat di atas menunjukan dengan jelas adanya arahan
kekhususan kepentingan produsen dan kepentingan konsumen.
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Dalam Buku III tentang Perikatan antara lain:
a)
Pasal 1238 KUHPerdata, berbunyi:
“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah
atau sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan, atau demi
perikatannya sendiri, ialah jika ia menetapkan, bahwa si berutang
harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”
Pasal ini menentukan tentang waktu yang dinyatakan
debitur lalai, yaitu jika hingga lewatnya waktu yang ditetapkan,
18
Az. Nasution, hukum perlindungsn konsumen : Suatu pengantar, (Jakarta, Diadit media
2002), hal. 32.
19
debitur belum melaksanakan perikatan atau prestasi yang telah
ditentukan.
b)
Pasal 1267 KUHPerdata, berbunyi:
“Pihak terhadap siapa perikatan tidak terpenuhi, dapat
memilih apakah ia, jika hal tersebut masih dapat dilakukan, akan
memaksa pihak yang lain untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia
akan menuntut pembatalan perjanjian, disertai penggantian biaya
kerugian dan bunga.”
Pasal ini memberikan pilihan kepada debitur untuk menunjuk
pihak debitur karena perbuatan wanprestasi yang dilakukan debitur,
bahwa kepada kreditur dapat memilih tuntutan sebagai berikut:
a. pemenuhan perjanjian;
b. pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi;
c. pembatalan perjanjian;
d. pembatalan disertai ganti rugi.19
c)
Pasal 1365 KUHPerdata, berbunyi:
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa
kerugian kepada seorang yang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian
tersebut.”
Pasal ini mengatur tentang ganti rugi yang diakibatkan
perbuatan melawan hukum, maka Pasal ini juga dapat digunakan
19
R.Subekti, Hukum Perjanjian, PT Intermasa, Jakarta, 1991, hal. 53
20
untuk melindungi hak konsumen, apabila seseorang dalam hal ini
konsumen merasa dirugikan oleh pelaku usaha.
d)
Pasal 1320 KUHPerdata, berbunyi:
Untuk sahnya perjanjian diperlukan 4 syarat, yaitu:
a. ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak yang membuat
perjanjian.
b. ada kecakapan pihak-pihak yang membuat perjanjian.
c. ada suatu hal tertentu.
d. ada suatu sebab yang halal.
Perjanjian tersebut menjadi bukti adanya hubungan atau
transaksi
antara konsumen dan produsen sebagai
dasar
pemenuhan hak dan kewajiban diantara mereka. Jikan syarat 1
dan 2 tidak terpenuhi maka akibatnya adalah dapat dibatalkan
dan apabila syarat 3 dan 4 tidak tepenuhi maka akibatnya batal
demi hukum.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Dalam Buku III tentang Pelanggaran antara lain Pasal 204, 205,
393 KUHP.
4. Peraturan Perundang-Undangan lain
Berbagai peraturan perundangan lain, diantaranya :
21
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tetntang Pangan.
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten.
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merk.
6. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
8. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
9. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
10. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah.
11. Serta berbagai peraturan lain yang termasuk dalam ranah hukum
publik, seperti hukum acara, hukum administrasi, hukum
internasional, dll.
4. Tujuan Perlindungan Konsumen
Tujuan perlindungan konsumen adalah :
1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen
untuk melindungi diri.
22
2. Mengangkat
harkat
dan
martabat
konsumen
dengan
cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan atau
jasa.
3. Meningkatkan
pemberdayaan
konsumen
dalam
memilih,
menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung
unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi.
5. Menumbuhkan
kesadaran
pelaku
usaha
tentang
pentingnya
perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggung jawab dalam berusaha.
6. Meningkatkan kualitas barang dan atau jasa, yang menjamin
kelangsungan usaha produksi barang dan atau jasa, kesehatan,
kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.
Secara umum dengan adanya UU Perlindungan Konsumen ini akan
menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum, kemanfaatan serta keadilan hukum. Akan tetapi
tidaklah mudah untuk mencapai ketiga tujuan hukum tersebut.
Kesulitan memenuhi ketiga tujuan hukum ( umum ) sekaligus
sebagaimana dikemukakan sebalumnya, menjadikan sejumlah
tujuan khusus dalam huruf a sampai dengan f dari pasal 3 tersebut
hanya dapat tercapai secara maksimal apabila didukumg oleh
keseluruhan subsistem perlindungan yang diatur dalam Undang –
undang ini, tanpa mengabaikan fasilitas penunjang dan kondisi
masyarakat. Unsur masyarakat sebagaimana dikemukakan
23
berhubungan dengan perseoalan kesadaran hukum dan ketaatan
hukum, yang seterusnya menentukan efektifitas UUPK,
sebagaimana dikemukakan oleh ahmad ali bahwa kesadaran
hukum, ketaatan, dan efektifitas perundang-undangan adalah tiga
unsur yang saling berhubungan.20
Tujuan UU Perlindungan Konsumen sebenarnya tidak hanya
melindungi konsumen, tetapi juga membantu pelaku usaha yang
mempunyai itikad baik dan niat yang baik agar dalam berusaha tidak
merugikan konsumen dan dapat bersaing dengan sehat.
C. Konsumen
1. Pengertian Konsumen dan Pengaturannya
Istilah “konsumen” sebagai suatu konsep telah diperkenalkan sejak
berpuluh – puluh tahun yang lalu, dan sampai saat ini sudah puluhan
negara yang mempunyai undang-undang atau pengaturan terhadap
perlindungan konsumen dan sekaligus menyediakan sarana peradilannya.
Istilah konsumen berasal dari bahasa inggris yaitu consumers yang secara
harfiah arti kata costumers adalah “(lawan dari produsen)” yaitu setiap
orang yang menggunakan barang, begitu juga kamus bahasa inggrisindonesia memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen.
20
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Op. Cit, hal. 35.
24
Pengertian konsumen dalam Undang-undang No. 8 tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen termuat dalam Pasal 1 butir 2 yang
menjelaskan bahwa konsumen yaitu setiap orang pemakai barang dan
atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan.
Dalam penjelasan resmi Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa
di dalam
kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen
antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu
produk,
sedangkan
konsumen
antara
adalah
konsumen
yang
menggunakan produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk
lain.
Kalimat tidak untuk diperdagangkan dari rumusan pasal tersebut di
atas menunjukkan bahwa konsumen yang dimaksud dalam UU
Perlindungan Konsumen adalah konsumen akhir yang artinya tujuan
pengguanaan barang atau jasa bukan untuk dijual kembali, sehingga
mempunyai tujuan yang non-komersial, seperti untuk kepentingan pribadi
atau rumah tangga.
Adapun batasan mengenai konsumen akhir tersebut adalah :
1.Pemakai terakhir dari barang untuk keperluan sendiri atau orang
lain dan tidak untuk diperjual belikan.
25
2.Pemakai barang atu jasa yang tersedia dalam masyarakat, bagi
keperluan diri sendiri ayau keluarganya atau orang lain dan tidak
untuk diperdagangkan kembali.
3.Setiap orang atu keluarga yang mendapat barang untuk dipakai
dan tidak untuk dipakai lagi.21
Undang – undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat memuat definisi tentang
konsumen seperti yang termuat pada pasal 1 angka 5, yaitu konsumen
adalah setiap pemakai dan/atau jasa, baik untuk keperluan diri sendiri
maupun kepentingan orang lain.
Istilah konsumen, selain dalam undang-undang di atas juga
terdapat dalam berbagai hukum positif di Indonesia, seperti yang terdapat
dalam ;
1. Undang-undang Barang
Dalam undang-undang ini ditegaskan dalam penjelasannya bahwa
rakyat ingin dilindungi kesehatan dan keselamatannya. Dalam
penjelasan undang-undang ini ditegaskan lagi rakyat yang karena mutu
barang kurang atau tidak baik, dibahayakan kesehatannya dan atau halhal merugikan lainnya.
2. Undang-undang Kesehatan
Dalam undang-undang ini tidak digunakan istilah pemakai, pengguna,
barang dan/atau pemafaat jasa kesehatan. Melainkan digunakan istilah
21
Az. Nasution, Op. Cit. hal. 71.
26
setiap orang atau juga dengan istilah masyarakat. Berbeda dengan yang
terdapat dalam UU lalu lintas yang menggunakan istilah setiap
pengguna jasa, yang dalam Pasal 1 butir 10 dapat diartikan sebagai
setiap orang dan atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan,
baik angkutan orang, maupun barang.
3. Dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata ( KUHPerdata)
Terdapat beberapa istilah yang perlu diperhatikan, antara lain, istilah
“pembeli” yang terdapat dalam pasal 1460, 1513, dst. Jo. Pasal 1457.
“penyewa” dalam Pasal 1550 dst. Jo pasal 1548. “penerima hibah”
dalam pasal 1670 dst. Jo. Pasal 1666. “peminjam” dalam pasal 1744.
Sedangkan dalam KUHD ditemukan istilah tertanggung yang terdapat
dalam pasal 246, istilah penumpng yang terdapat dalam pasal
393,394,dst. Jo psal 341.
4. Dalam Berbagai Naskah Akademik.
Naskah akademik yang dimaksud adalah naskah pembahasan
rancangan UU,
penerbitan
atau studi yang terkait persiapan penyusunan
peraturan
perundangan
yang
mengatur
tentang
perlindungan konsumen, misalnya :
a. Batasan Konsumen akhir dari Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, yaitu pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, atau orang lain
dan tidak untuk diperdagangkan lagi.
27
b. Naskah akademis yang dipersiapkan Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (FH-UI), yang bekerja sama dengan Departemen
Perdagangan RI. Berbunyi bahwa konsumen setiap orang atau
keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak ntuk
diperdagangkan.
5. Peraturan Perundang undangan di negara lain :
a. Perundang- undangan Australia, yang secara tegas merumuskan,
bahwa konsumen adalah seyiap orang yang mendapatkan barang
atau jasa tertentu dengan harga maksimum A.$. 15.000,- atau jika
hargamya melebihi jumlah itu, barang atau jasa tersebut umumnya
digunakan untuk keperluan pribadi, keluarga, atau rumah tangga.
b. Perundang undangan belanda sebagai terusan dalam BW Belanda
Baru (NBW) tentang perjanjian pembelian konsumen dalam pasal 5
buku 7 dan tentang syrat – syarat umum pasal 236 dan 237 buku 6
NBW. Konsumen dalam suatu pembelian adalah :pembeli orang
alami yang tidak ( bertindak) dalam rangka pelaksanaan profesi atau
usaha.
c. Undang Undang Perlindungan Konsumen India, memberikan
batasan mengenai konsumen, yaitu setiap pembeli barang atau jasa
yang disepakati, termasuk harga dan syarat-syarat pembayarannya,
28
atau setiap pengguna selain pembeli itu, dan tidak dijual kembali atu
untuk keperluan komersil.22
Pengertian-pengertian di atas menunjukan bahwa konsumen
berbeda dengan pembeli, dimana konsumen memiliki pengertian yang
lebih luas dibandingkan dengan pembeli.
2. Hak dan Kewajiban Konsumen
a. Hak Konsumen
Hak-hak konsumen terdapat dalam pasal 4 Undang-undang No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu :
a.
hak
atas
kenyamanan,
keamanan,
dan
keselamatan
dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b.
hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
c.
hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminanbarang dan/atau jasa;
d.
hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan;
e.
hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f.
22
hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
Az. Nasution, Ibid, hal. 4 – 12.
29
g.
hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
h.
hak
untuk
mendapatkan
kompensasi,
ganti
rugi
dan/atau
penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i.
hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Masyarakat Eropa (Europese Economisce Gemeenscaap atau
EEG) juga telah menyepakati empat dasar hak konsumen sebagai berikut
:
1. Hak perlindungan kesehatan dan keamanan (recht op bescherming van
zijn gezendheid en veilegheid).
2. Hak perlindungan kepentingan ekonomi (recht op bescherming van
zijn economische belangen).
3. Hak atas penerangan (rechtnop voorlichting en vorming).
4. Hak untuk didengar (recht om te worden gehord) (Ahmadi Miru at all,
2004:40)23
Terdapat empat hak dasar yang diakui secara internasional yaitu:
23
1.
Hak untuk mendapatkan keamanan;
2.
Hak untuk mendapatkan informasi;
3.
Hak untuk memilih;
Ibid, hal. 15.
30
4.
Hak untuk didengar.
IOCU
(International
Organization
of
Consumer
Union)
menambahkan beberapa hak seperti hak mendapatkan pendidikan
konsumen, hak mendapatkan ganti kerugian, dan hak mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat.24
b. Kewajiban Konsumen
Kewajiban konsumen terdapat dalam Pasal 5 Undang-undang
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu :
e.
Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur
pemakaian atau pemanfaatan barang dan atau jasa, demi keamanan
dan keselamatan.
f.
Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan
atau jasa.
g.
Membayar dengan nilai tukar yang disepakati.
h.
Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan
konsumen secara patut.
Dari sembilan butir hak konsumen yang termuat dalam UUPK di
atas, terlihat bahwa hak pada pasal 4 huruf a, yaitu hak atas kenyamanan,
24
Ibid, hal. 16.
31
keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan hak yang paling
pokok dan utama dalam perlindungan konsumen.25
Kata “nyaman” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti
1) segar; sehat;2) sedap; sejuk; enak.26 Sifat nyaman merupakan salah
satu sifat yang subjektif, artinya kenyamanan bagi seseorang belum tentu
nyaman bagi orang lain. Namun demikian, secara umum kata “nyaman”
yang dalam padanan bahasa Inggrisnya adalah comfortable dapat
diartikan sebagai kondisi yang menyenangkan. Sebagai contoh, apabila
seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya secara terusmenerus, hal tersebut akan membuat dirinya tidak nyaman atau berada
pada kondisi yang tidak menyenangkan.27
Pengertian “aman” menurut KBBI adalah 1) bebas dari bahaya;
2) bebas dari gangguan (pencuri, hama, dsb); 3) terlindung atau
tersembunyi; tidak dapat diambil orang; 4) pasti; tidak meragukan; tidak
mengandung resiko;, 5) tenteram; tidak merasa takut atau khawatir. Hal
senada juga termuat dalam Tesaurus Bidang Hukum, “aman” adalah
suatu kata benda, yang mempunyai arti bebas dari gangguan, selamat,
tidak merasa takut, tentram, terlindung, dan tersembunyi.28 Sedangkan
kata “selamat” dalam KBBI mempunyai arti 1) terbebas dr bahaya,
25
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal. 10
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua( Jakarta, Balai Pustaka ), hal. 57.
27
http://www.wordpress.com/data/kamus besar bahasa indonesia online. Diakses tanggal 16
Januari 2010.
28
Ajarotni, dkk, Tesaurus Bidang Hukum ( Badan Pembinaan Nasional Departemen Hukum
dan HAM RI, Jakarta 2008 ) hal. 17.
26
32
malapetaka, bencana; terhindar dr bahaya, malapetaka; bencana; tidak
kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan; kerusakan, dsb; 2) sehat; 3)
tercapai maksud; tidak gagal. Jadi dari pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa kondisi yang aman pada seseorang akan mengarah
pada keselamatan dan hal ini lah yang akan menimbulan rasa aman, jadi
dalam pasal ini memang memuat hak-hak yang paling penting dalam
penegakkan perlindungan konsumen, dimana konsumen akan merasa
kebutuhannya yang tertentu tersebut terpenuhi dengan baik.
Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dimaksudkan
untuk menjamin keamanan dan keselamatan dalam penggunaan barang
dan atau jasa yang diperolehnya, sehingga keamanan dapat terhindar dari
kerugian (fisik maupun psikis).29 Hak untuk memperoleh keamanan
penting ditempatkan pada kedudukan utama, karena berabad-abad
berkembang suatu falsafah berfikir, bahwa konsumen adalah pihak yang
wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha.30
Dalam berbagai ketentuan yang bersifat internasional, hak atas
kenyamanan, keamanan dan keselamatan ditempatkan pada nomor
pertama, karena dianggap sebagai hak pokok dan utama dalam
perlindungan konsumen. Bahkan dalam pasal 3 huruf f UUPK
disebutkan asas keamanan dan keselamatan konsumen. Pasal tersebut
29
30
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Op. Cit. hal. 57.
Shidarta, Op. Cit. hal. 22
33
menyatakan bahwa perlindungan konsumen hendaknya dilaksanankan
dengan dan tujuan untuk meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa
yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa,
kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Berdasarkan pasal 3 huruf f UUPK tersebut, berarti dalam sistem
perlindungan terhadap konsumen ada sesuatu yang harus dijamin dari
hak konsumen, yaitu hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan.
Meskipun ukuran rasa nyaman itu sangatlah relatif, namun dapat
disimpulkan bahwa dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa, kualitas
yang baik akan menimbulkan kepuasan bagi konsumen, dan pemenuhan
kepuasan dengan sendirinya akan menimbulkan rasa aman dan nyaman
saat mengkonsumsi barang dan atau jasa. Adanya jaminan atas hak
kenyamanan, keamanan, serta keselamatan juga disebutkan dalan pasal 4
huruf h UUPK, yaitu hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi
dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak
sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Beberapa sarjana memberikan pengertian dan penjelasan tentang
arti kata ganti rugi, diantaranya J. Satrio, menurut J. Satrio dalam
bukunya Hukum Perikatan pada umumnya Kerugian tersiri dari 2
macam :
1. Kerugian yang benar-benar diderita, yang terdiri dari :
34
a. Kerugian prestasi yang diperjanjikan, jika debitur tidak berprestasi
b. Biaya
c. Kerugian keterlambatan
d. Kerugian yang diakibatkan karna prestasi debitur tidak baik.
2. Keuntungan yang diharapkan
Kerugian yang benar-benar diderita merupakan bagian yang telah
nyata diderita oleh debitur, sedangkan keuntungan yang diharapkan
merupakan kerugian yang masih dalam perhitungan.31
Menurut Abdulkadir Muhamad di dalam buku Hukum Perikatan,
/ganti rugi itu terdiri dari 3 unsur (Pasal 1246 KUH Perdata) yaitu :
1. Ongkos-ongkos atau biaya-biaya yang telah dikeluarkan (Cost)
2. Kerugian karena kerusakan, kehilangan atas barang kepunyaan
kreditur akibat kelalaian debitur (damage). Kerugian disini adalah
sungguh-sungguh diderita.
3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan (interest)
Ganti kerugian harus dihitung berdasarkan nilai uang, bukan
berupa barang. Undang-Undang memberikan batasan-batasan mengenai
besarnya ganti kerugian yang tercantum dalam Pasal 1247 dan Pasal
1248 KUH Perdata.32
Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
31
32
J. Satrio, Hukum Perikatan Pada Umumnya, Alumni, Bandung, hal. 17
Abdulkadir Muhamad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992, hal. 39.
35
dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya ini dimaksudkan
untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak (tidak seimbang)
akibat adanya penggunaan barang dan atau jasa yang tidak memenuhi
harapan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya pasal 1365
KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum, yang mengharuskan
pihak yang telah menimbulkan kerugian untuk dapat membayar ganti
rugi tersebut. Keberadaan hak ini sangat terkait dengan penggunaan
barang dan atau jasa yang telah menimbulkan kerugian bagi konsumen,
baik rugi secara materi maupun diri ( sakit, cacat, bahkan mati)
konsumen. Keberadaan hak ini sangat terkait dengan tanggung jawab
pelaku usaha, yang salah satunya diatur dalam pasal 19 UUPK yang
menyebutkan :
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, dan atau kerugian konsumen akibat
mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang
sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau
pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan yang berlaku.
(3) Pemberian gantirugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh)
hari setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana
36
berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur
kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan
tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Batasan yang dapat dijadikan ukuran dalam konsumen menuntut
ganti kerugian adalah jika konsumen merasakan kualitas dan kuantitas
barang dan atau jasa yang dikonsumsinya tidak senilai dengan nilai tukar
yang sudah diberikannya, ia berhak mendapatkan ganti rugi yang pantas,
sedangkan jumlah dan jenis ganti kerugian itu tentu saja harus sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atau kesepakatan masing-masing pihak.
Dan untuk merealisasikan hak ini tentunya harus melalui prosedur baik
diselesaikan secara damai, maupun melalui pengadilan.
Kewajiban merupakan suatu hal yang harus dilaksanakan dan
dilakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sebuah peraturan
perundang-undangan, karena hal tersebut merupakan keharusan yang
perlu ditaati oleh setiap orang khususnya konsumen itu sendiri.
Disamping melaksanakan kewajiban yang terdapat dalam aturan,
konsumen juga harus melaksanakan setiap prosedur yang sudah dibuat
oleh
pelaku
usaha,
sehingga
terdapat
suatu
ketertiban
dalam
melaksanakan kewajibannya, baik konsumen maupun pelaku usahanya.
37
Berdasarkan kewajiban-kewajiban konsumen tersebut diatas,
maka akan lebih mudah dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa,
karena kewajiban tersebut merupakan bentuk kerjasama yang baik antara
konsumen dengan pelaku usaha, sehingga konsumen dapat memperoleh
haknya sesuai dengan kewajiban yang dilaksanakannya. Hal itu
dimaksudkan agar konsumen sendiri dapat memperoleh hasil yang
maksimal atas perlindungan dan/atau kepastian hukum bagi dirinya.
D. Pelaku Usaha
1. Pengertian Pelaku Usaha
Pengertian pelaku Usaha terdapat dalam pasal 1 angka 3 UUPK
yakni Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha,
baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang
didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah
negara hukum negara Republik Indonesia baik sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai
bidang ekonomi.
Dalam penjelasan undang-undang ini, yang termasuk dalam
pengertian pelaku usaha adalahperusahaan, koperasi, Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), importir, pedagang, distributor, dan lain-lain.
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli Dan Persaiangan Usaha Tidak Sehat memuat definisi tentang
38
Pelaku Usaha, yaitu Pelaku usaha adalah setiap perorangan atau badan
usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan bukan badan
hukum yang didirikan, berkedudukan, atau melakukan kegiatan dalam
wilayah negara republik Indonesia, baik berdiri sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam
bidang ekonomi.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Penyelenggaraan Keolahragaan, Pelaku Usaha adalah perseorangan atau
badan hukum yang melakukan kegiatan ekonomi yang terlibat secara
langsung dalam kegiatan olahraga.
Dari berbagai pengertian pelaku usaha diatas dapat disimpulkan
bahwa pengertian pelaku usaha lebih luas dibandingkan pengertian
produsen yang merupakan lawan dari konsumen, karena pengertian
pelaku usaha dapat memberi arti sekaligusbagi kreditur ( penyedia dana),
produsen, penyalur, penjual, dan terminologi lain yang lazim digunakan.
2. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
a. Hak Pelaku Usaha
Hak-hak dari pelaku usaha itu menurut pasal 6 Undang-Undang
Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah sebagai
berikut:
39
a.
Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan
mengenai
kondisi
dan
nilai
tukar
barang
dan/jasa
yang
diperdagangkan;
b.
Hak untuk mendapatkan plindungan hukum dari tindakan konsumen
yang tidak beritikad baik;
c.
Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya dalam didalam
penyelsaian hukum konsumen;
d.
Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum
bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau
jasa yang diperdagangkan
e.
Hak-hak yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lainya;
Tampak bahwa pokok-pokok hak dari produsen/pelaku usaha
adalah menerima pebayaran, mendapat perlindungan hukum, melakukan
pembelaan diri, rehabilitasi nama baik, dan hak-hak lainya menurut
undang-undang.
b. Kewajiban Pelaku Usaha
Kewajiban pelaku usaha menurut pasal 7 Undang-undang Nomor
8 tahun 1999 tentang Perlidungan Konsumen adalah;
a.
Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
b.
Memberikan Informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan/jasa serta memberi penjelasan pengguna,
perbaikan dan pemeliharaan .
40
c.
Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar jujur dan
tidak diskriminatif.
d.
Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang atau
jasa yang berlaku.
e.
Memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menguji/dan/atau
mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan
dan/atau
garansi
atas
barang
yang
dibuat
dan/atau
yang
diperdagangkan
f.
Memberi kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian atas kerugian
akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau
jasa yang diperdagangkan
g.
Memberikan kompensasi, ganti rugi,dan/atau penggantian apabila
barang/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai
dengan perjanjian.
Berdasarkan rumusan pasal tersebut diatas, bahwa pelaku usaha
dalam usahanya memproduksi barang dan/atau jasa berkewajiban
mempunyai itikad baik mengenai kejelasan informasi terkait dengan
barang dan/atau jasa tersebut baik dalam hal mutu barang dan/atau jasa
serta terdapat jaminan dan/atau garansi kepada konsumen yang akan
mengkonsumsi barang dan/atau jasa, sehingga apabila terjadi peristiwa
41
yang tidak dikehendaki maka pelaku usaha berkewajiban membayar
kompensasi dang anti rugi.
Pokok-pokok kewajiban produsen atau pelaku usaha adalah
beritikad baik dalam menjalankan usahanya, memberikan informasi,
memperlakukan
konsumen
dengan
cara
yang
sama,
menjamin
produknya, memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menguji
dan memberi kompensasi.
3. Larangan Bagi Pelaku Usaha
Salah satu tujuan perlindungan konsumen adalah mengangkat
harkat kehidupan konsumen. Untuk mewujudkan tersebut maka berbagai
hal yang membawa pengaruh atau dampak negatif dari pemakaian barang
dan/atau jasa harus dihindarkan dari aktifiyas perdagangan pelaku usaha.
Dan untuk menhhindarkan pengaruh negatif tersebut maka UUPK
mengatur perbuatan yang dilarang oleh pelaku usaha, yang termuat dalam
rumusan pasal 8 UUPK, yaitu :
(1)
Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan
barang dan/atau jasa yang :
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundangundangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah
dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau
etiket barang tersebut;
42
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam
hitungan menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau
kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses
pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana
dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa
tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket,
keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa
tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu
penggunaan pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana
pernyataan "halal" yang dicantumkan dalam label;
i.
tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang
memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto,
komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan,
nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk
penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/ dibuat;
43
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan
barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan
perundangundangan yang berlaku.
(2)
Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat
atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap
dan benar atas barang dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan
yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa
memberikan informasi secara lengkap dan benar.
(4)
Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2)
dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib
menariknya dari peredaran.
Pada intinya substansi pasal ini tertuju pada dua hal, yaitu
larangan memproduksi barang dan/atau jasa, dan larangan
memperdagangkan barang dan/ atau jasa yang dimaksud.
Laranga-larangan yang dimaksud ini, hakikatnya menurut
nurmadjito yaitu untuk mengupayakan agar barang dan/atau jasa
yang beredar di masyarakat merupakan produk yang layak edar,
antara lain asal-usul, kualitas sesuai dengan informasi pengusaha
baik melalui label, etiket, iklan, dan lain sebagainya.33
E. Hukum Perjanjian
1. Pengertian Perjanjian
Perjanjian adalah merupakan sumber dari perikatan disamping
sumber perikatan lainnya yaitu Undang-undang. Buku III Kitab Undangundang Hukum Perdata, dalam ketentuan pasal 1233 menyebutkan bahwa
33
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Op. Cit, hal. 65.
44
perikatan itu dilahirkan karena persetujuan atau perjanjian dan juga
karena Undang-undang. Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
dalam ketentuan pasal 1233 menyebutkan bahwa perikatan lahir karena
persetujuan atau perjanjian dan juga karena Undang-Undang. Definisi
perjanjian itu sendiri yang diatur dalam ketentuan pasal 1313 KUH
Perdata yaitu “Suatu persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu
orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.
Para ahli hukum berpendapat mengenai pengertian tersebut diatas
bahwa definisi dalam ketentuan pasal 1313 KUH Perdata kuranglah
lengkap, sehingga banyak para ahli hukum yang berbeda pendapatnya
tetapi hal tersebut bersifat melengkapi.
Menurut pendapat J. Satrio, pasal 1313 KUH Perdata mengandung
kelemahan-kelemahan yaitu
34
“Suatu yang menimbulkan akibat hukum
yang memang dikehendaki atau yang dianggap oleh undang-undang
dikehendaki disebut tindakan hukum, karenanya kata “perbuatan” dalam
pasal 1313 KUH Perdata lebih tepat kalau diganti dengan kata “perbuatan
tindakan
hukum”.
Dengan
menggunakan
kata
tersebut
dapat
menunjukkan bahwa akibat hukumnya dikehendaki atau dianggap
dikehendaki dan tersimpul “sepakat” yang merupakan cirri dari pasal
1320 KUH Perdata. Sedangkan kata “mengikatkan diri pada satu orang
34
J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Buku I, PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 1995, hal. 24-27.
45
atau lebih” agar meliputi pula perjanjian timbal balik, maka sebaiknya
ditambahkan “atau dimana kedua belah pihak saling mengikatkan diri”
Pendapat-pendapat J.Satrio tersebut dapat disimpulkan dengan
definisi yang lengkap yaitu “Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan
tindakan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang atau lebih dimana kedua belah pihak saling
mengikatkan diri”.
Menurut Subekti, perjanjian adalah “Suatu peristiwa dimana
seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling
berjanji untuk melaksanakan suatu hal”.35 Menurut Wirjono Prodjodikoro
“Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum mengenai harta benda
kekayaan antara dua pihak dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap
berjanji untuk melakukan suatu hal dan pihak yang lain berhak menuntut
atas pelaksanaan janji itu”.36 Sedangkan menurut Abdulkadir Muhammad
bahwa “Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau
lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam
lapangan harta kekayaan”.37
Menurut berbagai pendapat para sarjana diatas, maka yang
dimaksud dengan perjanjian adalah suatu perbauatan atau tindakan
hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap
35
Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, hal. 1
Ahmad Qirom S, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Liberty,
Yogyakarta, 1995, hal. 11.
37
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, 1982, hal. 78.
36
46
satu orang atau lebih, atau dimana kedua belah pihak saling mengikatkan
diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.
2. Unsur Perjanjian
Perjanjian mengandung beberapa unsur yang mempertegas
perjanjian itu sendiri sehingga dapat menimbulkan akibat hukum,
Sudikno Mertokusumo mengelompokkan unsur-unsur perjanjian sebagai
berikut :
1. Unsur Essensialia
Unsur Essensialia adalah unsur yang mutlak harus ada bagi terjadinya
perjanjian. Unsur ini harus ada agar perjanjian itu sah.
2. Unsur Naturalia
Unsur Naturalia adalah unsur yang lazimnya melekat pada suatu
perjanjian, yaitu unsur yang tanpa diperjanjikan secara khusus dalam
perjanjian secara diam-diam dengan sendirinya dianggap ada dalam
perjanjian karena sudah merupakan pembawaan atau melekat pada
perjanjian.
3. Unsur Accidentalia
Unsur Accidentalia adalah unsur yang harus dimuat atau disebut
secara tegas dalam perjanjian. Unsur ini harus secara tegas
diperjanjikan.
47
3. Asas-Asas Perjanjian
Menurut Sudikno Mertokusumo ada tiga asas yang penting dalam
perjanjian yaitu :38
1. Asas Konsensualisme
Asas Konsesualisme disimpulkan berdasarkan ketentuan pasal
1320 ayat (1) KUH Perdata, bahwa perjanjian pada umumnya tidak
diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan
diantara kedua belah pihak. Menurut Subekti, asas konsensualisme
adalah pada dasarnya perjanjian dari perikatan yang timbul
karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik pertama tercapainya
kesepakatan. Dengan kata lain, perjanjian itu sudah sah apabila
sudah sepakat mengenai hal pokok tidaklah diperlukan suatu
formalitas.39
Menurut
Abdulkadir
Muhammad,
bahwa
yang
dimaksud dengan asas konsensual adalah bahwa perjanjian itu terjadi
(ada) sejak tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak. Dengan kata
lain, perjanjian itu sudah sah dan mempunyai akibat hukum sejak
saat tercapainya kata sepakat antara para pihak tentang pokok
perjanjian.40
Terhadap asas konsensualisme ini pengecualian yaitu pada
perjanjian yang bersifat riil dan formil. Menurut J. Satrio, perjanjian
38
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1988,
hal. 99.
39
Subekti, Op. Cit. hal. 15.
40
Abdulkadir Muhammad, Op. Cit. hal. 85.
48
menurut KUH Perdata pada umumnya bersifat konsensuil, kecuali
beberapa perjanjian tertentu yang bersifat riil dan formil.41Perjanjian
riil adalah perjanjian yang baru terjadi bila barang yang menjadi
pokok perjanjian telah diserahkan. Sedangkan perjanjian formil
adalah perjanjian yang disamping kata sepakat juga oleh undangundang ditetapkan suatu formalitas tertentu atau penuangan suatu
perjanjian dalam suatu bentuk tertentu.42
Dapat disimpulkan maksud dari asas ini adalah bahwa untuk
lahirnya suatu perjanjian cukup ada kata sepakat dari mereka yang
membuat perjanjian itu tanpa diikuti dengan perbuatan hukum lain
kecuali perjanjian yang bersifat formal.
2. Asas pacta sunt servanda
Asas
ini
merupakan
asas
yang berhubungan
dengan
mengikatnya suatu perjanjian. Perjanjian yang dibuat secara sah oleh
para pihak adalah mengikat bagi mereka yang membuat seperti
undang-undang.
Asas ini juga berhubungan dengan akibat perjanjian. Hal itu
dapat disimpulkan dalam pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang
menyatakan bahwa :
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
41
42
J. Satrio, Op. Cit, hal. 49.
Ibid, hal. 49-50.
49
Maksud dari pasal tersebut bahwa perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang
membuatnya atau dapat dikatakan bahwa para pihak yang membuat
perjanjian harus tunduk pada perjanjian yang dibuatnya layaknya
tunduk pada undang-undang.
3. Asas Kebebasan Berkontrak
Asas
kebebasan
berkontrak
adalah
suatu
asas
yang
memberikan kebebasan kepada semua orang untuk mengadakan
suatu perjanjian, baik yang telah diatur dalam undang-undang
maupun belum diatur dalam undang-undang.
Asas kebebasan berkontrak merupakan salah satu asas yang
timbul karena Buku III KUH Perdata yang bersifat openbaar system
atau bersifat terbuka. Asas kebebasan berkontrak ini tersimpul dari
ketentuan pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyebutkan
bahwa : “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Dengan menekankan perkataan “semua”, maka pasal tersebut
seolah-olah berisikan suatu pernyataan kepada masyarakat
bahwa setiap orang diperbolehkan membuat perjanjian yang
berupa da berisi apa saja (atau tentang apa saja), dan
perjanjian itu akan mengikat mereka yang membuatnya seperti
undang-undang. Atau dengan perkataan lain, dalam soal
perjanjian, setiap orang diperbolehkan membuat undangundang bagi orang itu sendiri, pasal-pasal dari hukum
perjanjian hanya berlaku apabila atau sekedar orang tidak
50
mengadakan aturan-aturan sendiri dalam perjanjian yang
orang adakan itu.43
Menurut Abdulkadir Muhammad, asas kebebasan berkontrak
mempunyai arti bahwa :
Setiap orang boleh mengadakan perjanjian apa saja walaupun
belum atau tidak diatur dalam undang-undang. Walaupun
berlaku asas ini, kebebasan berkontrak tersebut dibatasi oleh
tiga hal yaitu tidakdilarang oleh undang-undang, tidak
bertentangan dengan kesusilaan dan tidak bertentangan
dengan ketertiban umum.44
4. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian
1. Sepakat mereka yang mengikat dirinya
Menurut Subekti apa yang dimaksud dengan sepakat ini
adalah
“Dengan sepakat atau juga dinamakan perizinan, dimaksudkan
bahwa kedua subyek yang mengadakan perjanjian itu harus
bersepakat, setuju atau seia sekata mengenai hal-hal yang
pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Apa yang
dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki oleh
pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama
secara timbal balik si penjual menginginkan sejumlah uang,
sedang si pembeli menginginkan sesuatu barang dari si
penjual”.45
Kesepakatan ini harus diberikan bebas, artinya bahwa
kesepakatan yang diberikan oleh para pihak harus benar-benar berasal
dari kemauan sendiri atau diberikan secara sukarela, tidak ada
43
Subekti, Op. Cit, hal. 14.
Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal 84.
45
Subekti, Op. Cit, hal. 17.
44
51
paksaan sama sekali dari manapun. Kebebasan bersepakat dari
masing-masing pihak dapat dilakukan :
1. Secara tegas-tegas, baik secara lisan maupun tertulis.
2. Secara diam-diam, baik dengan sikap maupun dengan isyarat.46
Undang-undang menentukan beberapa hal yang membuat para
pihak tidak bebas didalam memberikan kesepakatan yang telah
tercapai menjadi tidak sah karenanya. Pasal 1321 KUH Perdata
menyatakan bahwa :
“Tiada sepakat yang sah, apabila sepakat itu diberikan karena
kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”.
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian
Pada dasarnya seseorang yang telah dewasa dan mempunyai
akal sehat adalah cakap menurut hukum kecuali undang-undang
menentukan lain.
Pasal 1329 KUH Perdata menyebutkan bahwa “Setiap orang
adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika oleh undangundang tidak dinyatakan tak cakap”.
Pasal 1330 KUH Perdata menyebutkan bahwa “Tak cakap
untuk membuat persetujuan-persetujuan adalah
1)
46
Orang-orang yang belum dewasa
Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 89-90.
52
2)
Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan
3)
Orang-orang perempaun, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh
undang-undang dan pada umumnya semua orang kepada siapa
undang-undang
telah
melarang
membuat
persetujuan-
persetujuan tertentu”.
Menurut pasal 330 ayat (1) KUH Perdata, kriteria belum
dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur 21 tahun dan tidak
lebih dahulu kawin. Apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum
umur 21 tahun maka mereka tidak kembali lagi dalam kedudukan
belum dewasa.
Menurut pasal 433 KUH Perdata, orang-orang yang diletakkan
dibawah pengampuan adalah setiap orang dewasa yang selalu berada
dalam keadaan dungu, sakit otak, atau mata gelap dan boros.
Dalamhal ini pembentuk undang-undang memandang bahwa yang
bersangkutan tidak mampu menyadari tanggung jawabnya dan karena
itu tidak cakap bertindak untuk mengadakan perjanjian.
Seorang wanita yang telah bersuami oleh KUH Perdata juga
dipandang tidak cakap untuk mengadakan perjanjian. Namun sejak
tahun 1963 dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3/1963,
yang ditujukan kepada semua Ketua Pengadilan Negeri dan
Pengadilan Tinggi di Indonesia, kedudukan wanita bersuami diangkat
ke derajat yang sama dengan pria, untuk mengadakan perbuatan
53
hukum dan menghadap di depan pengadilan ia tidak perlu lagi dibantu
oleh suaminya.
3. Suatu hal tertentu
Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian dan prestasi
yang perlu dipenuhi dalam suatu perjanjian. Prestasi itu harus tertentu
atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan. Apa yang diperjanjikan
harus cukup jelas, ditentukan jenisnya, jumlahnya boleh tidak
disebutkan asal dapat dihitung atau ditetapkan di kemudian hari.
Syarat bahwa prestasi itu harus tertentu atau dapat ditentukan,
gunanya ialah untuk menetapkan hak dan kewajiban kedua
belah pihak, jika timbul perselisihan dalam dalam pelaksanaan
perjanjian. Jika prestasi kabur, sehingga perjanjian itu tidak
dapat dilaksanakan, maka dianggap tidak ada obyek
perjanjian.47
4. Suatu sebab yang halal
Menurut R. Wiryono Projodikoro, kausa dalam hukum
perjanjian adalah isi dan tujuan suatu perjanjian yang menyebabkan
adanya perjanjian.48
Maksudnya bahwa kausa tersebut adalah isi dan tujuan dari
perjanjian. Jika suatu perjanjian yang dibuat tidak dengan kausa yang
halal (zonder oorzak) maka tidak mempunyai kekuatan hukum. Hal
ini secara tegas diatur dalam pasal 1335 KUH Perdata bahwa “Suatu
47
48
Ibid, hal. 93-94.
R. Wiryono Projodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, PT Bali, Bandung, 1985, hal. 35.
54
perjanjian tanpa sebab atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab
yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan”.
Mengenai suatu sebab atau kausa yang terlarang ditegaskan
dalam pasal 1337 KUH Perdata, bahwa “Suatu sebab adalah terlarang
apabila dilarang oleh undang-undang atau apabila berlawanan dengan
kesusilaan baik atau ketertiban umum”. Sehingga dari pasal tersebut
dijelaskan bahwa kausa atau sebab yang sah adalah
1. Tidak dilarang oleh undang-undang
2. Tidak bertentang dengan kesusilaan
3. Tidak bertentangan dengan ketertiban umum.
5. Jenis-Jenis Perjanjian
Dipandang dari sudut adanya perjanjian dapat dibedakan antara
lain :
1) Perjanjian dipandang dari sudutnya adanya hak dan kewajiban,
dibedakan menjadi :
1. Perjanjian sepihak
Suatu perjanjian yang hanya menimbulkan hak di pihak yang satu
sedangkan di pihak yang lain ada kewajiban.
Contoh : hibah.
2. Perjanjian timbal balik
Suatu perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban pada kedua
belah pihak.
55
Contoh : Jual beli dan sewa-menyewa.
2) Perjanjian dipandang dari sudut prestasi dan contra prestasinya,
dibedakan menjadi :
a. Perjanjian cuma-Cuma
Suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu
memberikan
keuntungan pada pihak yang lain tanpa menerima manfaat bagi
dirinya sendiri (pasal 1314 ayat 2 KUH Perdata).
b. Perjanjian atas beban
Suatu
perjanjian
yang
mewajibkan
masing-masing
pihak
memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu
(pasal 1314 ayat 3 KUH Perdata).
3) Perjanjian dipandang dari sudut saat lahirnya atau timbulnya
perjanjian, dibedakan menjadi :
a. Perjanjian konsensuil
Suatu perjanjian yang lahir atau timbul sejak tercapainya
kesepakatan
atau
kata
sepakat
antara
pihak-pihak
yang
mengadakan perjanjian.
b. Perjanjian riil
Perjanjian yang baru lahir atau terjadi ketika barang yang menjadi
obyek perjanjian telah diserahkan.
c. Perjanjian formal
56
Perjanjian yang baru lahir atau terjadi ketika telah dipenuhinya
formalitas-formalitas yang telah ditentukan.
4) Perjanjian dipandang dari sudut akibat yang ditimbulkan dari adanya
perjanjian tersebut, dibedakan menjadi :
a. Perjanjian obligatoir
Perjanjian-perjanjian yang menibulkan hak dan kewajiban bagi
para pihak untuk melaksanakan isi perjanjian tersebut.
b. Perjanjian kebendaan
Perjanjian untuk memindahkan atau memperalihkan hak milik.
5) Perjanjian dipandang dari sudut pengaturannya dalam undangundang, dibedakan menjadi :
a. Perjanjian bernama
Perjanjian yang mempunyai nama-nama (khusus) yang terdapat
pengaturannya secara khusus dalam undang-undang.
b. Perjanjian tidak bernama
Perjanjian yang secara khusus tidak ada pengaturannya di dalam
undang-undang.
6. Berakhirnya Perjanjian
Menurut R. Setiawan, perjanjian dapat hapus karena :49
1) Ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak. Misalnya perjanjian
akan berlaku untuk waktu tertentu.
2) Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian.
49
R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bima Citra, Bandung, hal. 48.
57
3) Para pihak atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan
terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus.
4) Pernyataan menghentikan perjanjian oleh kedua belah pihak atau
oleh salah satu pihak. Hanya dapat dilakukan pada perjanjian yang
bersifat sementara.
5) Perjanjian hapus karena putusan hakim.
6) Tujuan perjanjian telah tercapai.
7) Dengan persetujuan para pihak.
F. Fitness Center (Pusat Kebugaran)
1. Olahraga
Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia, kata olahraga
merupakan kata kerja yang diartikan gerak badan agar sehat. Sedang
menurut para pakar olahraga, adalah sebuah aktivitas manusia yang
bertujuan untuk mencapai kesejahteraan (sejahtera jasmani dan sejahtera
rohani) manusia itu sendiri. Olahraga adalah sebuah kata dalam bahasa
Inggris yang berarti olahraga. Sedang sportif yang merupakan kata sifat
yang berarti jujur dan ksatria atau gagah. Dan kata sportivitas yang
sebagai kata benda mempunyai arti orang yang melakukan olahraga
tersebut harus memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan
berprilaku saat berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan
peraturan yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati bersama,
terutama saat mengikuti suatu pertandingan atau perlombaan olahraga.
Makna olahraga menurut Ensiklopedia Indonesia,
58
Olahraga adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau
lebih yang merupakan regu atau rombongan.
Menurut Cholik Mutohir,
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan
atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina
potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai
perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan,
perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan
manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan
Pancasila.
2. Manfaat Olahraga
Olahraga memiliki sangat banyak manfaat apabila dilakukan secara
teratur dan benar, disini penulis akan menguraikan beberapa manfaat
olahraga tersebut.
a. Meningkatkan daya tahan tubuh.
Melakukan olahraga secara teratur dapat mempengaruhi
beberapa hormone yang ada dalam tubuh. Misalnya hormone
adrenalin dan serotonin, dimana kedua hormon ini termasuk
hormone yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
b. Meningkatkan kemampuan otak.
Kegiatan olahraga dapat meningkatkan pasokan oksigen dalam
tubuh, memperlancar sirkulasi darah dalam tubuh terutama
aliran darah ke otak. Hal ini dapat dipercaya meningkatkan
kinerja otak lebih baik.
c. Mengurangi stress.
Olahraga dapat meregangkan otot-otot, membuat tubuh dan
otak kita akan terasa segar. Otot dan sel tubuh kita menjadi
lebih rileks dan tak tegang lagi. Hal ini tentu akan dapat
mengurangi stress yang kita alami.
d. Membakar lemak.
Olahraga adalah aktifitas yang sangat dianjurkan untuk
dilakukan secara teratur bagi orang yang ingin melangsingkan
tubuhnya. Karena dengan berolahraga kita menggunakan
energi yang ada dalam tubuh kita untuk melakukan kegiatan
olahraga tersebut. Setelah energi yang bersumber dari makanan
habis barulah tubuh menggunakan cadangan energi yang ada
59
dalam lemak tubuh. Sehingga lemak tubuh pun diubah menjadi
energi untuk berolahraga dan tubuh pun menjadi langsing.
e. Meningkatkan energi tubuh.
Dengan olahraga secara teratur maka tubuh kita pun akan
memperoleh asupan energy yang maksimal. Maka orang yang
sering berolahraga akan memiliki stamina yang bagus, mampu
melakukan pekerjaan berat dan tidak mudah lemas.
f. Metabolisme tubuh meningkat dan menurunkan resiko
penyakit.
Dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi lebih baik,
sehingga kita akan terhindar dari resiko terkena penyakit
seperti kanker usus, menurunkan kadar kolesterol, menuruhkan
tekanan darah tinggi, mengurangi resiko penyakit hati, ginjal
ataupun sembelit.
g. Menunda proses penuaan.
Ketika usia bertambah tua, akan Nampak perubahan pada
tubuh seperti kerutan pada kulit. Kulit keriput disebabkan oleh
sel-sel kulit telah tua dan tidak memperbaharui diri. Dengan
melakukan kegiatan olahraga akan merangsang produktifitas
sel-sel baru pada kulit sehingga kulit akan tampak kencang dan
cerah tanpa kerutan.50
3. Jenis-Jenis Olahraga
Olahraga yang ditawarkan di pusat-pusat kebugaran (fitness center)
adalah olahraga aerobik dan olahraga anaerobik. Olahraga aerobik adalah
olahraga dengan intensitas yang disesuaikan dengan kemampuan yang
dapat dipertahankan dengan durasi minimal delapan menit. Contohnya:
senam aerobik, jogging, berenang dan bersepeda. Olahraga anaerobik
adalah olahraga dengan intensitas yang disesuaikan dengan kemampuan
yang dapat dipertahankan dengan durasi maksimal dua menit. Contohnya
latihan beban (weight training), tinju, dan lari cepat (sprint).
Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Giriwijoyo yaitu:
50
http://www.anneahira.com//manfaat olahraga bagi tubuh. Diakses tanggal 15 Agustus 2012.
60
- Olahraga aerobik (dominan) adalah olahraga dengan intensitas
yang setinggi tingginya yang dapat dipertahankan dengan durasi
minimal delapan menit.
- Olahraga anaerobik (dominan) adalah olahraga dengan
intensitas yang setinggi-tingginya yang dapat dipertahankan
dengan durasi maksimal dua menit.
- Olahraga anerobik dan olahraga aerobik (campuran) adalah
olahraga dengan intensitas yang setinggi-tingginya yang dapat
dipertahankan dengan durasi minimal dua menit dan maksimal
delapan menit.51
4. Sejarah Fitness
Sesungguhnya upaya membentuk tubuh dengan memperbesar masa
otot melalui serangkaian latihan fisik sudah lama dikenal sejak zaman
kuno di Yunani sekitar abad ke-5 SM. Herkules, pahlawan gagah dalam
mitologi Yunani melambangkan maskulinitas dan keperkasaan pria. Hal
itu mungkin merupakan bentuk awal pemuliaan terhadap bentuk fisik
ideal dan simetris dalam kebudayaan dan kesenian Yunani, seperti
nampak dalam patung-patung Yunani klasik.
Olimpiade kuno yang digelar di Olimpia mempertandingkan
olahraga gulat, tinju, dan atletik, merupakan bentuk budaya pemuliaan
dan apresiasi terhadap bentuk tubuh ideal. Para atlet berlaga tanpa busana
dengan sebelumnya mambaluri tubuh mereka dengan minyak dan bedak
51
Giriwijoyo, Santosa, Ilmu Faal Olahraga, FPOK, UPI, Bandung, 2007, hal.426.
61
halus. Acara ini menjadi hiburan, tontonan, sumber kekaguman, serta
kebanggaan bagi masyarakat negara-kota Yunani kuno.
Tahun awal perkembangan binaraga di dunia barat berlangsung
pada kurun waktu 1880 hingga 1953. Binaraga belum benar-benar ada
sebelum akhir abad ke-19 yang dimulai oleh Eugen Sandow dari Prussia
(kini Jerman utara), yang dihormati sebagai "Bapak Binaraga Modern". Ia
dianggap sebagai perintis olahraga ini karena memperbolehkan penonton
menyaksikan fisiknya dalam "penampilan pamer otot". Sebelumnya
pameran fisik pria telah lama dilakukan melalui berbagai pertunjukan
karnaval dan sirkus, akan tetapi lebih bersifat memamerkan kekuatan
tubuh seperti pertandingan gulat, mengangkat beban berat, atau
membengkokkan batang besi.
Sandow adalah orang pertama yang berfokus pada penampilan otot
itu sendiri. Sandow adalah seorang "gracilian" yang sempurna. Istilah ini
merujuk pada standar "ideal" matematis untuk "fisik sempurna" yang
mendekati proporsi tubuh patung Yunani dan Romawi pada era klasik.
Sandow menggelar kontes binaraga perdana dunia pada 14
September 1901 yang disebut "Great Competition" dan digelar di Royal
Albert Hall, London, Inggris. Sandow sendiri menjadi juri bersama Sir
Charles Lawes, dan Sir Arthur Conan Doyle. Kontes ini berlangsung
sukses dengan dihadiri ratusan peminat kontes fisik. Piala bagi juara
62
adalah patung perunggu Sandow yang dibuat oleh pematung Frederick
Pomeroy. Juaranya adalah William L. Murray dari Nottingham.
Pada tahun 1970-an, binaraga semakin terkenal dan mendapatkan
publisitas besar berkat penampilan Arnold Schwarzenegger dan rekanrekannya dalam film Pumping Iron produksi tahun 1977. Pada dekade ini
pula organisasi International Federation of BodyBuilding & Fitness
(IFBB) mulai mendominasi cabang olahraga ini.52
5. Pengertian Fitness Center
Dalam Bahasa Inggris fitness center berasal dari kata fitness dan
center yang dalam Bahasa Indonesia fitness artinya kebugaran dan center
artinya pusat, jadi fitness center adalah pusat kebugaran. Pusat kebugaran
sebagai salah satu yang menyediakan dan menjalankan program-program
latihan kebugaran jasmani, yang tidak saja memberikan manfaat secara
langsung seperti peningkatan derajat kebugaran dan kesehatan jasmani,
tetapi juga memberikan keleluasaan untuk mengekspresikan segala
kebutuhan seperti sosialisasi, aktualisasi, pemanfaatan waktu luang,
bisnis, dan sebagainya.
Menurut Griwijoyo, berpendapat bahwa:
“pusat kebugaran adalah suatu kegiatan dalam ruangan dengan
menawarkan kegiatan olahraga dari yang tanpa menggunakan alat,
sampai yang menggunakan alat-alat mahal dan canggih, yang
diantaranya bertujuan prestasi”.
52
http://www.wikipedia.com//sejarah fitness. Diakses tanggal 6 Juli 2012.
63
Kemudian Hanafi menjelaskan bahwa:
“pusat kebugaran adalah tempat olahraga dalam ruangan yang
menawarkan berbagai program latihan kebugaran dengan fasilitas
dan peralatan yang mutakhir”.53
Fitness center merupakan salah satu tempat untuk meningkatkan
kebugaran jasmani. Banyak program yang ditawarkan oleh pusat
kebugaran (Fitness Center), baik alternatif tempat atau jenis latihan bagi
wanita untuk berolahraga. Olahraga yang ditawarkan di pusat-pusat
kebugaran (fitness center) adalah olahraga aerobik dan olahraga
anaerobik. Olahraga aerobik adalah olahraga dengan intensitas yang
disesuaikan dengan kemampuan yang dapat dipertahankan dengan durasi
minimal delapan menit. Contohnya: senam aerobik, jogging, berenang
dan bersepeda. Olahraga anaerobik adalah olahraga dengan intensitas
yang disesuaikan dengan kemampuan yang dapat dipertahankan dengan
durasi maksimal dua menit. Contohnya latihan beban (weight training),
tinju, dan sprint.
Fitness Center sendiri merupakan suatu industri yang bergerak
dalam bidang olahraga, menurut pasal 1 angka 18 “industri olahraga
adalah kegiatan bisnis bidang olahraga dalam bentuk produk barang
dan/atau jasa. Yang didalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005
53
http://www.google.com/s_ikor_034446_chapter2(1).pdf . Diakses tanggal 9 Maret 2012.
64
diatur juga mengenai hak-hak warga negara untuk mengembangkan
industry olahraga, hal tersebut diatur didalam pasal 6 huruf f. Dan
tentunya dalam menyelenggarakan industri olahraga tersebut selalu
memperhatikan keselamatan dan keamanan serta keutuhan jasmani dan
rohani, hal tersebut diatur dalam pasal 5 huruf g dan f.
6. Fitness
Fitnes adalah kegiatan olah raga pembentukan otot-otot tubuh/fisik
yang dilakukan secara rutin dan berkala, yang bertujuan untuk menjaga
fitalitas tubuh dan berlatih disiplin. Kata lain dari "fitnes" itu sendiri
adalah "kebugaran" atau kalau boleh lebih berani dielaborasi, fitnes juga
berarti "lebih dari sekedar sehat". Dan gaya hidup fitnes pada dasarnya
adalah gaya hidup yang melibatkan kegiatan ataupun aktivitas yang
membuat orang menjadi lebih bugar.54
Menurut Depdikbud :
Kebugaran jasmani pada hakekatnya berkenaan dengan
kemampuan dan kesanggupan fisik seseorang untuk melaksanakan
tugasnya sehari-hari secara efisien dan efektif dalam waktu yang
relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, dan masih
memiliki tenaga cadangan untuk melaksanakan aktivitas lainnya.
Sedangkan menurut Engkos Kosasih :
Kebugaran jasmani adalah suatu keadaan seseorang yang
mempunyai
kekuatan
(strength),
kemampuan
(ability),
kesanggupan, dan daya tahan untuk melakukan pekerjaannya
54
http://www.google.com/fitness/memiliki motivasi untuk sehat/. Diakses tanggal 9 Maret
2012.
65
dengan efisien tanpa kelelahan. Dapat disimpulkan bahwa
kebugaran jasmani merupakan komponen seseorang untuk
melakukan aktivitas sehari-hari dengan efisien tanpa mengalami
kelelahan yang berarti dan masih mempunyai cadangan tenaga
untuk melakukan aktivitas selanjutnya.55
Kegiatan olahraga dalam ruangan tersebut melibatkan adanya para
pelaku olahraga yang menurut pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2005 tentang Sitem Keolahragaan Nasional “Pelaku Olahraga
adalah setiap orang dan/atau kelompok orang yang terlibat secara
langsung dalam kegiatan olahraga yang meliputi pengolahraga, pembina
olahraga, dan tenaga keolahragaan. Sedangkan menurut pasal 1 angka 6
“pengolahraga
adalah
orang
yang
berolahraga
dalam
usaha
mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. Menurut pasal 1
angka 8 “pembina olahraga adalah
pengetahuan,
kepemimpinan,
orang yang memiliki minat dan
kemampuan
manajerial,
dan/atau
pendanaan yang didedikasikan untuk kepentingan pembinaan dan
pengembangan olahraga. Dan pembina olahraga tersebut dalam dunia
fitness sering disebut instruktur. Arti kata instruktur itu sendiri menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang bertugas mengajarkan
sesuatu dan sekaligus memberikan latihan dan bimbingannya.
Fitness dalam hal ini termasuk olahraga rekreasi yang didalam
pasal 1 angka 12 dijelaskan bahwa olahraga rekreasi adalah olahraga
55
http://www.google.com/pengertian kebugaran jasmani/kumpulan artikel berbahasa Indonesia.
Diakses tanggal 9 Maret 2012.
66
yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan
yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya
masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran dan kegembiraan. Dan
agar olahraga rekreasi yang dimaksud dalam hal ini adalah fitness
berjalan dengan lancar maka dalam pasal 19 ayat 5 dijelaskan bahwa
“Setiap orang yang menyelenggarakan olahraga rekreasi tertentu yang
mengandung resiko terhadap kelestarian lingkungan, keterpeliharaan
sarana, serta keselamatan dan kesehatan wajib :
a. Menaati ketentuan dan prosedur yang ditetapkan sesuai dengan jenis
olahraga dan
b. Menyediakan
instruktur
atau
pemandu
yang
mempunyai
pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan jenis olahraga.
67
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Metode Penelitian
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan pendekatan yuridis normatif. Konsep ini memandang hukum
sebagai norma-norma yang tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh
lembaga atau pejabat yang berwenang dan konsep yang melihat hukum
sebagai sistem normatif yang otonom, tertutup dan terlepas dari kehidupan
dan mengabaikan norma lain selain norma hukum.56
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang dipakai adalah deskriptif, yaitu suatu
penelitian yang hanya menggambarkan obyek atau masalah yang akan
diteliti, dalam hal ini yaitu perlindungan hukum terhadap konsumen
pengguna jasa fitness center.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pusat Informasi Ilmiah (PII) Fakultas
Hukum Universitas Jenderal Soedirman dan Helios Fitness Center
Purwokerto.
4. Jenis Data
a. Data Sekunder
56
Ronny, Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta, Alumni, 1988,
hal. 13.
68
Sumber data dari penelitian ini adalah data sekunder yang berupa
peraturan perundang-undangan, dokumen resmi, dan buku-buku literatur
yang berhubungan dengan obyek penelitian. Menurut Soerjono dan Sri
Mamudji, data sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder dan bahan hukum tersier.57 Data sekunder meliputi:
1. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan yang mengikat berupa
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku.
Penelitian
ini
menggunakan bahan hukum primer berupa peraturan perundangundangan yang berlaku.
2. Bahan hukum sekunder yaitu yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, meliputi hasil-hasil penelitian, hasil karya dari
kalangan hukum, buku-buku literatur, karya ilmiah dari para sarjana,
dan dokumen resmi yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang
diteliti.
3. Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, meliputi
kamus.
b. Data Primer
Data primer berupa keterangan-keterangan dari pemilik dan
pengelola Helios Fitness Center Purwokerto.
5. Metode Pengumpulan Data
57
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Rajawali, Jakarta, 1985, hal. 14-15
69
a. Data sekunder
Data Sekunder diperoleh dengan cara inventarisasi terhadap
peraturan perundang-undangan, buku-buku, hasil penelitian sebelumnya
dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permasalahan yang
selanjutnya di pelajari sebagai pedoman untuk penyusunan data.
b. Data Primer
Dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis juga diperoleh data
primer yang berfungsi sebagai pelengkap atau pendukung data sekunder.
Data primer berupa keterangan-keterangan/hasil wawancara dengan
pemilik dan pengelola Helios Fitness Center Purwoketo tentang hal yang
berhubungan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
6. Metode Penyajian Data
Data yang berupa bahan-bahan hukum yang telah diperoleh
kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif, uraian-uraian yang disusun
secara sistematis, logis, dan rasional. Dalam arti keseluruhan data yang
diperoleh akan dihubungkan satu dengan yang lainnya disesuaikan dengan
pokok permasalahan yang diteliti sehingga merupakan satu kesatuan yang
utuh.
7. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara normatif kualitatif, yaitu
dengan menjabarkan data yang diperoleh berdasarkan norma-norma hukum
atau kaidah
yng relevan dengan pokok permasalahan. Kualitatif
70
dimaksudkan analisis data yang bertitik tolak pada usaha-usaha penemuan
asas-asas dan informasi-informasi dari responden.58
58
Ronny, Hanitijo Soemitro, Op. Cit, hal. 98.
71
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian di Pusat Informasi Ilmiah dan di Helios Fitness
Center Purwokerto, diperoleh data sebagai berikut :
1. Data Sekunder
1.1 Pengertian
1.1.1 Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun
2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
(1) Keolahragaan adalah segala aspek yang berkaitan dengan
olahraga yang memerlukan pengaturan, pendidikan,
pelatihan, pembinaan, pengembangan, dan pengawasan.
(2) Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk
mendorong, membina, serta mengembangkan potensi
jasmani, rohani, dan sosial.
(3) Pelaku olahraga adalah setiap orang dan/atau kelompok
orang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan
olahraga yang meliputi pengolahraga, pembina olahraga,
dan tenaga keolahragaan.
72
(4) Pengolahraga adalah orang yang berolahraga dalam usaha
mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.
(5) Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh
masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai
budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran,
dan kegembiraan.
(6) Industri olahraga adalah kegiatan bisnis bidang olahraga
dalam bentuk produk barang dan/atau jasa.
1.1.2 Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang
untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
1.1.3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.
Pelaku usaha adalah perseorangan atau badan hukum yang
melakukan kegiatan ekonomi yang terlibat secara langsung
dalam kegiatan olahraga.
1.2 Hak dan Kewajiban Konsumen terkait dengan Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
1.2.1 Pasal 6 menyatakan :
73
Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk:
a. melakukan kegiatan olahraga;
b. memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga;
c. memilih dan mengikuti jenis atau cabang olahraga yang
sesuai dengan bakat dan minatnya;
d. memperoleh
pengarahan,
dukungan,
bimbingan,
pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan;
e. menjadi pelaku olahraga; dan
f. mengembangkan industri olahraga.
1.2.2 Pasal 7, menyatakan :
Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental
mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan dalam
kegiatan olahraga khusus.
1.2.3 Pasal 8, menyatakan :
Setiap warga negara berkewajiban untuk berperan serta
dalam kegiatan olahraga dan memelihara prasarana dan
sarana olahraga serta lingkungan.
1.2.4 Pasal 9, menyatakan :
(1) Orang tua mempunyai hak mengarahkan, membimbing,
membantu, dan mengawasi serta memperoleh informasi
tentang perkembangan keolahragaan anaknya.
74
(2) Orang tua berkewajiban memberikan dorongan kepada
anaknya untuk aktif berpartisipasi dalam olahraga.
1.2.5 Pasal 10, menyatakan :
(1) Masyarakat mempunyai hak untuk berperan serta dalam
perencanaan,
pengembangan,
pelaksanaan,
dan
pengawasan kegiatan keolahragaan.
(2) Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber
daya dalam penyelenggaraan keolahragaan.
1.3 Hak dan Kewajiban Konsumen terkait dengan Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
1.3.1 Pasal 4, menyatakan :
Setiap orang berhak atas kesehatan.
1.3.2 Pasal 9, menyatakan :
(1) Setiap
orang
berkewajiban
ikut
mewujudkan,
mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pelaksanaannya meliputi upaya kesehatan perseorangan,
upaya
kesehatan
masyarakat,
berwawasan kesehatan.
1.3.3 Pasal 10, menyatakan :
dan
pembangunan
75
Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain
dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik,
biologi, maupun sosial.
1.3.4 Pasal 11, menyatakan :
Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk
mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan
yang setinggi-tingginya.
1.3.5 Pasal 12, menyatakan :
Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan
derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung
jawabnya.
1.4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional.
1.4.1 Pasal 5, menyatakan :
Keolahragaan diselenggarakan dengan prinsip:
a. demokratis, tidak diskriminatif dan menjunjung tinggi
nilai keagamaan, nilai budaya, dan kemajemukan bangsa;
b. keadilan sosial dan nilai kemanusiaan yang beradab;
c. sportivitas dan menjunjung tinggi nilai etika dan estetika;
d. pembudayaan dan keterbukaan;
e. pengembangan kebiasaan hidup sehat dan aktif bagi
masyarakat;
76
f. pemberdayaan peran serta masyarakat;
g. keselamatan dan keamanan; dan
h. keutuhan jasmani dan rohani.
1.4.2 Pasal 17, menyatakan :
Ruang lingkup olahraga meliputi kegiatan:
a. olahraga pendidikan;
b. olahraga rekreasi; dan
c. olahraga prestasi.
1.4.3 Pasal 19, menyatakan :
(1) Olahraga rekreasi dilakukan sebagai bagian proses
pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran.
(2) Olahraga rekreasi dapat dilaksanakan oleh setiap orang,
satuan
pendidikan,
lembaga,
perkumpulan,
atau
organisasi olahraga.
(3) Olahraga rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertujuan:
a. memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani, dan
kegembiraan;
b. membangun hubungan sosial; dan/atau
c. melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya
daerah dan nasional.
77
(4) Pemerintah,
pemerintah
berkewajiban
daerah,
menggali,
dan
masyarakat
mengembangkan,
dan
memajukan olahraga rekreasi.
(5) Setiap orang yang menyelenggarakan olahraga rekreasi
tertentu yang mengandung risiko terhadap kelestarian
lingkungan, keterpeliharaan sarana, serta keselamatan
dan kesehatan wajib:
a. menaati ketentuan dan prosedur yang ditetapkan
sesuai dengan jenis olahraga; dan
b. menyediakan
instruktur
atau
pemandu
yang
mempunyai pengetahuan dan keterampilan sesuai
dengan jenis olahraga.
(6) Olahraga rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh
perkumpulan atau organisasi olahraga.
1.4.4 Pasal 68, menyatakan :
(1) Pemerintah membina dan mendorong pengembangan
industri sarana olahraga dalam negeri.
(2) Setiap orang atau badan usaha yang memproduksi sarana
olahraga wajib memperhatikan standar teknis sarana
olahraga dari cabang olahraga yang bersangkutan.
78
(3) Sarana olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diproduksi, diperjualbelikan, dan/atau disewakan untuk
masyarakat umum, baik untuk pelatihan maupun untuk
kompetisi wajib memenuhi standar kesehatan dan
keselamatan
sesuai
dengan
peraturan
perundang-
undangan.
(4) Produsen wajib memberikan informasi tertulis tentang
bahan baku, penggunaan, dan pemanfaatan sarana
olahraga untuk memberikan pelindungan kesehatan dan
keselamatan.
1.4.5 Pasal 78, menyatakan :
Setiap pelaksanaan industri olahraga yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat wajib
memperhatikan tujuan keolahragaan nasional serta prinsip
penyelenggaraan keolahragaan.
1.4.6 Pasal 79 ayat (1), menyatakan :
(1) Industri olahraga dapat berbentuk prasarana dan sarana
yang diproduksi, diperjualbelikan, dan/atau disewakan
untuk masyarakat.
(5) Masyarakat yang melakukan usaha industri jasa olahraga
memperhatikan
kesejahteraan
kemajuan olahraga.
pelaku
olahraga
dan
79
1.4.7 Pasal 88, menyatakan :
(1) Penyelesaian sengketa keolahragaan diupayakan melalui
musyawarah dan mufakat yang dilakukan oleh induk
organisasi cabang olahraga.
(2) Dalam hal musyawarah dan mufakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, penyelesaian
sengketa dapat ditempuh melalui arbitrase atau alternatif
penyelesaian
sengketa
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan.
(3) Apabila penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tidak tercapai, penyelesaian sengketa dapat
dilakukan melalui pengadilan yang sesuai dengan
yurisdiksinya.
1.5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007
tentang Penyelenggaraan Keolahragaan
1.5.1 Pasal 23, menyatakan :
(1) Masyarakat
dapat
melakukan
pembinaan
dan
pengembangan olahraga melalui berbagai kegiatan
keolahragaan secara aktif, baik yang dilaksanakan atas
dorongan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah,
maupun atas kesadaran atau prakarsa sendiri.
80
(2) Dalam hal melakukan pembinaan dan pengembangan
olahraga, masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) melaksanakan kegiatan keolahragaan yang antara
lain berkaitan dengan:
a.
organisasi keolahragaan;
b.
penyelenggaraan kejuaraan atau pekan olahraga;
c.
peraturan permainan dan pertandingan;
d.
perlombaan atau pertandingan;
e.
penataran dan pelatihan tenaga keolahragaan;
f.
pengenalan, pemantauan, pemanduan, dan
pengembangan bakat olahragawan;
g.
peningkatan prestasi;
h.
penyediaan tenaga keolahragaan;
i.
pengadaan prasarana dan sarana olahraga;
j.
penerapan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
olahraga;
k.
penyediaan informasi keolahragaan;
l.
pemberian penghargaan;
m. industri olahraga; dan
n.
pendanaan.
(3) Pembinaan dan pengembangan olahraga oleh masyarakat
melalui kegiatan keolahragaan sebagaimana dimaksud
81
pada ayat (2) dilakukan oleh perkumpulan, klub atau
sanggar olahraga di lingkungan masyarakat setempat.
(4) Dalam hal melaksanakan pembinaan dan pengembangan
olahraga, perkumpulan, klub atau sanggar sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dapat membentuk induk
organisasi cabang olahraga sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
1.6 Perjanjian Antara Pihak Helios Fitness Dengan Konsumen
a. Sebelum bergabung dengan Helios Fitness Center, Konsumen
jasa fitness center
(pusat kebugaran) mengisi formulir
pendaftaran yang didalamnya berisi data diri konsumen dan juga
beberapa persyaratan yang harus dipatuhi oleh konsumen
setelah bergabung dengan Helios Fitness Center.
b. Formulir pendaftaran tersebut merupakan perjanjian standar
atau klausula baku yang dibuat oleh pihak Helios Fitness Center
agar dipatuhi oleh para membernya. Yang didalamnya terdapat
pernyataan yang harus ditanda tangani oleh pihak konsumen dan
beberapa syarat serta ketentuan menjadi anggota Helios Fitness
Center. Dengan ditandatanganinya formulir pendaftaran tersebut
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban yang harus
dipenuhi.
82
c. Pernyataan tersebut bahwa “Saya menyatakan menerima dan
mengikatkan diri untuk tunduk dan terikat serta mematuhi syarat
dan
ketentuan
yang
berlaku.
Saya
bertanggungjawab
sepenuhnya untuk membayar semua tagihan atau biaya-biaya
setiap bulannya yang dikenakan dan tercantum pada lembar
penagihan selama saya menggunakan fasilitas yang tersedia atau
tidak. Bila terjadi perubahan data termasuk terminasi, wajib
menyampaikan secara tertulis. Tidak melakukan pembayaran
iuran berarti berhenti dari keanggotaan.”
d. Pada formulir pendaftaran juga tercantum peraturan dan
kebijakan keanggotaan, seperti :
i. Kartu Anggota
Setiap anggota wajib menujukkan kartu keanggotaan sebelum
menggunakan fasilitas. Bila kartu hilang, mohon untuk
melapor dan kartu akan diganti dengan dikenakan biaya.
ii. Hal Yang Khusus Dalam Perjanjian Anggota
Setiap anggota wajib membayar iuran bulanan tepat pada
waktunya meskipun anggota menggunakan fasilitas atau
tidak. Bila anggota berhenti, maka harus memberikan surat
keterangan dan mengembalikan kartu keanggotaannya.
Kemudian bila anggota aktif kembali maka akan dikenakan
biaya administrasi yang berlaku saat itu.
83
iii. Cuti Dinas Keluar Kota
Anggota yang tidak menggunakan fasilitas yang disebabkan
sedang melakukan perjalanan keluar kota selama satu bulan
atau lebih dengan memberikan surat cuti perjalanan dinas
sebelumnya, untuk satu bulan pertama tidak dikenakan biaya
dan bulan berikutnya akan dikenakan biaya administrasi.
iv. Cuti Sakit
Bila anggota tidak menggunakan fasilitas yang disebabkan
sakit dengan atau kecelakaan selama satu bulan atau lebih
dan memberikan fotocopy surat keterangan dokter, tidak
dikenakan biaya adminsitrasi dan iuran keanggotaan.
v. Reciprocal (timbal balik)
Anggota dapat menggunakan fasilitas di pusat kebugaran lain
di Indonesia selama 2 (dua) minggu tanpa dikenakan biaya.
Daftar pusat kebugaran tersedia di Resepsionis.
vi. Keamanan dan Ketertiban
“Kami tidak bertanggung jawab atas setiap kecelakaan,
kerusakan atau kehilangan yang dialami oleh anggota atau
tamu ketika berada di Helios Fitness.”
2. Data Primer
Berdasarkan keterangan dari hasil wawancara dengan manajer
Helios Fitness Center, diperoleh data sebagai berikut :
84
a. Helios Fitness Center :
2.1.1 Alamat
: Jl. Dr. Angka A3-5 Komplek Ruko
Permata Hijau Purwokerto Jawa Tengah
2.1.2 No. Telepon
: (0281) 621121
2.1.3 Jam Operasional : Senin-Jumat
: 06.00-21.00 WIB
Sabtu & Hari Libur : 06.00-19.00 WIB
Minggu
2.1.4 Fasilitas
: -
: 06.00-19.00 WIB
Gym (gedung olahraga)
2. Treadmill
3. Crosstrainer
4. Steper
5. Aerobic Class
6. Spinning / RPM
7. Yoga
8. Locker Room
9. Shower
10. Indovision Chanel
11. Ruangan ber AC
12. Full Music
13. Tempat Parkir luas
2.1.5 Daftar Harga Anggota :
85
- Biaya Pendaftaran
Rp. 50.000
- Reguler / Umum (06.00-21.00)
Bulanan
Rp. 220.000
- Off Peak Hour / OPH (09.00-17.00)
Bulanan
Rp. 125.000
- Pelajar / Mahasiswa (06.00-21.00)
Bulanan
Rp. 125.000
- Class Only (Jam Bebas)
Bulanan
- Single Visit (1x kunjungan)
Rp. 100.000
Rp. 30.000
2.1.6 Tata Tertib Anggota :
a. Setiap anggota / tamu wajib menggunakan pakaian
olahraga yang pantas dan sopan.
b. Setiap anggota / tamu wajib menggunakan sepatu
olahraga.
c. Tidak diperbolehkan merokok.
d. Tidak diperbolehkan makan di area peralatan gym.
e. Tidak diperbolehkan membawa anak-anak dibawah umur.
f. Tidak diperbolehkan melakukan perbuatan asusila.
g. Tidak diperbolehkan membawa senjata tajam.
86
h. Tidak diperbolehkan membawa & menggunakan obat
terlarang.
i. Bagi setiap anggota / tamu yang mengalami gangguan
kesehatan, contoh : sakit jantung, hipertensi, dsb. Wajib
berkonsultasi dengan instruktru sebelum melakukan
kegiatan fitness & aerobic serta olahraga lainnya.
b. Helios Fitness Center selalu mengutamakan pelayanan terhadap
para membernya secara maksimal. Terutama keselamatan,
keamanan dan kenyamanan dalam berlatih baik itu berlatih fitness
ataupun aerobik.
c. Konsumen
yang akan
bergabung untuk
menjadi
anggota
dibebaskan memilih paket yang akan digunakan untuk berlatih.
Paket tersebut tertera seperti yang ada pada daftar harga anggota.
Sebelum menentukan paket yang akan dipilih, sebelumnya pihak
Helios Fitness akan memberikan penjelasan mengenai bagaimana
keadaan (fasilitas) yang ada di Helios Fitness dan juga penjelasan
mengenai daftar harga anggota tersebut.
d. Member / Konsumen Helios Fitnes Center akan didampingi oleh
instruktur / pelatih yang berpengalaman di dalam berlatih. Dengan
tiga (3) orang instruktur fitness yang siap melayani para member
dalam berlatih pihak Helios selalu mengutamakan keselamatan,
keamanan dan kemyamanan pihak konsumen.
87
e. Setelah konsumen tersebut bergabung dengan Helios Fitness
Center kemudian dilanjutkan dengan pengukuran tubuh oleh
instruktur fitness. Dari pengukuran tersebut dapat diketahui
program latihan apa yang harus diberikan oleh instruktur kepada
membernya. Dan pada tahap pengukuran tersebut seorang member
yang akan berlatih juga harus memberikan keterangan tentang
kondisi tubuhnya, apakah dia mempunyai penyakit yang akan
mempengaruhi latihannya atau tidak.
f. Program latihan yang diberikan oleh seorang instruktur pada
umumnya selain untuk menjaga kesehatan dan kebugaran adalah
latihan untuk menurunkan berat badan atau latihan untuk
membentuk tubuh.
g. Member baru yang bergabung dan belum pernah latihan beban
sebelumnya, akan dipandu oleh seorang instruktur bagaimana caracara berlatih beban yang baik dan benar. Agar member merasa
aman dan nyaman serta mengurangi akibat yang tidak diinginkan,
seperti terkilir atau kecelakaan lainnya saat berolahraga. Selain
member baru, member yang sudah lama pun juga terus diawasi
oleh para instruktur agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan. Dan instruktur juga dapat membantu seorang member
yang sedang berlatih mengangkat beban yang sangat berat. Hal itu
88
sebagai wujud pihak Helios Fitness Center dalam hal pelayanan
kepada pihak konsumen secara maksimal.
h. Pihak Helios Fitness menerima segala macam keluhan dan
pendapat yang disampaikan oleh member (konsumen) atas
pelayanan yang diberikan baik itu dari segi pelayanan oleh
karyawan atau dari peralatan yang digunakan untuk berlatih.
i. Dalam hal terjadi kerugian, pihak Helios Fitness Center
memberikan keterangan sebagai berikut :
a. Sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati pada saat
konsumen mengisi formulir pendaftaran yang didalamnya
terdapat ketentuan mengenai data primer nomor 2.7.6 yaitu
tentang Keamanan dan Ketertiban. Pihak Helios Fitness
menyatakan :
“Kami tidak bertanggung jawab atas setiap kecelakaan,
kerusakan atau kehilangan yang dialami oleh anggota atau
tamu ketika berada di Helios Fitness.”
b. Jika terjadi kecelakaan, kerusakan atau kehilangan pihak Helios
Fitness memberikan keterangan bahwa hanya akan memberi
kebijakan secara sukarela, seperti memberikan bebas biaya
iuran bulanan anggota atau memberikan biaya perawatan
secara sukarela terhadap member / anggota yang mengalami
kerugian.
89
j. Penyelesaian sengketa konsumen selama ini dapat diselesaikan
melalui musyawarah, namun apabila tidak tercapai maka
konsumen dapat menggugat melalui pengadilan.
B. PEMBAHASAN
Hukum tercipta karena adanya kumpulan manusia yang disebut masyarakat.
Dalam suatu komunitas tertentu, setiap individu dalam masyarakat tersebut
mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dan semua berusaha untuk memenuhi
semua kepentingannya. Hukum mempunyai peranan yang besar yaitu sebagai
kaidah untuk mengatur tingkah laku manusia dalam memenuhi kepentingannya,
dengan adanya hukum diharapkan tidak akan terjadi bentrokan kepentingan antara
individu yang satu dengan yang lain.
Pihak Helios Fitness dengan konsumennya yang biasa disebut member
dalam melakukan kerjasamanya terjadi hubungan hukum diantara kedua pihak.
Hubungan hukum tersebut terjadi karena ditanda tanganinya formulir pendaftaran
yang diajukan oleh pihak Helios Fitness sebelum konsumen bergabung dengan
Helios Fitness. Formulir tersebut merupakan perjanjian standar atau klausula baku
yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak setelah ditanda tangani oleh pihak
konsumen. Perjanjian tersebut dapat dikualifikasikan kedalam jenis perjanjian
campuran, dalam arti termasuk jenis perjanjian bernama dan tidak bernama yang
diatur dalam Pasal 1319 KUH Perdata.
90
Dalam Pasal 1319 KUH Perdata disebutkan bahwa :
“Semua perjanjian, baik yang mempunyai suatu nama khusus, maupun yang
tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan
umum, yang termuat didalam bab ini dan bab yang lalu.”
Setelah adanya hubungan hukum diantara kedua pihak, maka terdapat hak
dan kewajiban yang harus dipenuhi. Hak dan kewajiban tersebut sudah tertulis
didalam hasil penelitian sebelumnya, yang intinya adalah pihak konsumen harus
mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh pihak Helios Fitness dan pihak
Helios Fitness harus memenuhi hak konsumen agar Pasal 4 UUPK tentang Hak
dan Kewajiban Konsumen dapat terpenuhi.
Terjadinya perjanjian diantara kedua pihak merupakan suatu kewajiban yang
harus dipenuhi seluruh ketentuan yang telah disepakati diantara keduanya. Karena
perjanjian yang lahir tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya, dalam hal ini adalah pihak Helios Fitness dan member (konsumen).
Hal ini sesuai dengan Pasal 1338 KUH Perdata yang menyatakan bahwa :
“Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya”.
Istilah pelindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan hukum. Oleh
karena itu, perlindungan konsumen menngandung aspek hukum. Adapun
materi yang mendapatkan perlindungan hukum itu bukan sekedar fisik,
melainkan terlebih-lebih haknya yang bersifat abstrak. Dengan kata lain,
perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan hukum
yang diberikan kepada hak-hak konsumen.59
59
Shidarta, Op. Cit, hal 19.
91
Pengertian konsumen dari bahasa Belanda konsument diartikan oleh para
ahli sebagai pemakai terakhir barang dan jasa yang diserahkan oleh pengusaha
kepada mereka baik pengusaha itu sebagai produsen maupun pedagang
perantara.60
Shidarta berpendapat bahwa :
Konsumen memang tidak sekedar pembali ( buyer atau koper ), tetapi semua
orang (perorangan atau badan hukum) yang mengkonsumsi jasa dan/ atau
barang. Jadi, yang paling penting terjadinya suatu transaksi konsumen (
consumer transaction ) berupa peralihan jasa, termasuk peralihan
kenikmatan dalam menggunakannya.61
Pengertian konsumen menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah :
Konsumen yaitu setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia
dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain,
maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Pengertian Pasal 1 angka 2 UUPK dan data sekunder nomor 1.1.1 angka 4
tentang pengertian pengolahraga jika dihubungkan dengan pendapat Shidarta dan
AZ. Nasution, maka dapat disimpulkan bahwa pengguna jasa Helios Fitness
Center adalah konsumen yang berhak mendapat perlindungan hukum berdasarkan
UUPK.
Pengertian produsen atau pelaku usaha menurut Pasal 1 angka 3 UUPK
adalah :
60
61
AZ. Nasution, Op. Cit. hal 3.
Shidarta, Op. Cit, hal 22.
92
Setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan
hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah negara hukum negara Republik Indonesia baik
sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan
usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
Berdasarkan penjelasan pasal di atas, bahwa yang termasuk dalam
pengertian tersebut adalah perusahaan, koperasi, BUMN, importer, prdagang
distributor, dan lain-lain.
Definisi pelaku usaha dalam Pasal 1 angka 3 UUPK dan penjelasannya
tersebut mencakup pelaku usaha secara luas. Pelaku usaha yang dimaksud dalam
UUPK tersebut tidak hanya dibatasi pada pabrikan saja, melainkan juga para
distributor, serta termasuk para importer, bahkan pelaku usaha periklanan pun
tunduk pada undang-undang ini.
Menurut AZ. Nasution, pelaku usaha berdasarkan Pasal tersebut diatas
terdiri dari :62
1. Pelaku usaha sebagai pencipta/ pembuat barang yang menjadi sumber
terwujudnya barang yang aman dan tidak merugikan konsumen.
2. Pedagang sebagai pihak yang menyampaikan barang kepada konsumen.
3. Pengusaha jasa.
Berdasarkan data sekunder nomor 1.1.3 tentang pengertian pelaku usaha
apabila dihubungkan dengan Pasal 1 angka 3 UUPK tentang pengertian pelaku
62
AZ. Nasution, Op. Cit. hal 32.
93
usaha dan didukung oleh pendapat AZ. Nasution tentang pelaku usaha maka dapat
dideskripsikan bahwa yang menjadi pelaku usaha adalah Helios Fitness Center
yang menyelenggarakan jasa pusat kebugaran.
Perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa fitness center (pusat
kebugaran) terkait dengan Pasal 4 UUPK diuraikan sebagai berikut :
a.
Hak
atas
kenyamanan,
keamanan,
dan
keselamatan
dalam
mengkonsumsi barang dan/ atau jasa.
UUPK Pasal 4 huruf a menyatakan bahwa “Konsumen berhak atas
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
barang dan/atau jasa.”
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo berpendapat bahwa :
Hak atas keamanan dan keselamatan ini dimaksudkan untuk menjamin
keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang dan/atau
jasa yang diperolehnya, sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian
(fisik maupun psikis) apabila mengkonsumsi suatu produk.63
Konsumen
berhak
mendapatkan
kenyaman,
keamanan
dan
keselamatan atas barang dan/ atau jasa yang diberikan kepadanya. Artinya
produk barang dan/ atau jasa yang dikonsumsi tidak boleh membahayakan,
sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara materiil ataupun psikis.
Berdasarkan data sekunder nomor 1.4.1 tentang prinsip keolahragaan,
1.4.3 angka (5) tentang kewajiban menyelenggarakan olahraga rekreasi dan
63
Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Op. Cit, hal. 41.
94
1.4.4 angka (3) tentang standar kesehatan dan keselamatan sarana olahraga
apabila dikaitkan dengan Pasal 4 huruf a UUPK dan pendapat Ahmadi Miru
dan Sutarman Yodo, maka dapat dideskripsikan bahwa telah terpenuhinya
hak tersebut oleh pelaku usaha kepada konsumen. Helios Fitness dalam
menyelenggarakan usaha jasa keolahragaannya selalu memperhatikan
keselamatan dan keamanan serta kenyamanan. Walaupun didalam ketentuan
pada saat ditanda tanganinya formulir pendaftaran terdapat klausula
eksenorasi, yang mengatur bahwa “Kami tidak bertanggung jawab atas
setiap kecelakaan, kerusakan atau kehilangan yang dialami oleh anggota
atau tamu ketika berada di Helios Fitness”. Hal tersebut boleh saja diatur
dalam perjanjian tertulis karena didalam prinsip-prinsip tanggung jawab
dalam hukum terdapat salah satu prinsip yang memberikan ketentuan
pembatasan tanggung jawab (limitation of liability). Secara umum, prinsipprinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut :64
1. Kesalahan (liability based on fault)
2. Praduga selalu bertanggung jawab (presumption of liability)
3. Praduga selalu tak bertanggung jawab (presumption of nonliability)
4. Tanggung jawab mutlak (strict liability)
5. Pembatasan tanggung jawab (limitation of liability).
Hal tersebut diatas juga didukung oleh pendapat Patrik, yang
menyatakan bahwa :
64
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, 2008,
hal. 92.
95
Orang tidak ingin menderita kerugian terlalu besar terhadap perjanjian yang
ia buat, ia berusaha membebaskan atau membatasi tanggung jawabnya
dengan mencantumkan syarat-syarat itu dalam perjanjiannya.65
Pencantuman klausula eksonerasi memang boleh dilakukan namun di
lain hal terdapat larangan membuat atau mencantumkan klausula baku pada
setiap dokumen dan/ atau perjanjian, ini terdapat dalam Bab V Pasal 18
UUPK. Hal-hal yang diatur dalam Pasal 18 UUPK adalah melarang pelaku
usaha yang menawarkan barang dan/ atau mencantumkan klausula baku
pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian apabila :
a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha.
b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali
barang yang dibeli konsumen.
c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali
uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh
konsumen.
d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik
secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala
tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh
konsumen secara angsuran.
e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau
pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen.
65
Suyadi, Op. Cit, hal. 47.
96
f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli
jasa.
g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan
baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat
sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa
yang dibelinya.
h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha
untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan
terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.
Sehingga konsumen dalam memakai jasa haruslah dapat juga menjaga
dirinya sendiri dari hal-hal yang merugikannya selain dari pihak Helios
Fitness yang berkewajiban untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/ atau jasa semaksimal
mungkin.
b.
Hak untuk memilih barang dan/ atau jasa serta mendapatkan barang
dan/ atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
diwajibkan.
Pasal 4 huruf b UUPK menyatakan bahwa :
97
“Konsumen berhak untuk memilih barang dan/ atau jasa serta mendapatkan
barang dan/ atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan
yang diwajibkan”.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo menyatakan bahwa :
Hak memilih dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada
konsumen untuk memilih produk-produk tertentu sesuai dengan
kebutuhannya tanpa ada tekanan dari pihak luar. Berdasarkan hak
untuk memilih ini konsumen berhak memutuskan untuk membeli atau
tidak terhadap suatu produk, demikian pula keputusan untuk memilih
baik kiualitas maupun kuantitas jenis produk yang dipilihnya.66
Berdasarkan data sekunder nomor 1.2.1 tentang hak warga negara
dalam berolahraga, 1.2.2 tentang hak warga negara dalam berolahraga yang
memiliki kelainan fisik dan/ atau mental, 1.2.4 tentang hak orang tua untuk
mengarahkan anaknya dalam berolahraga, dan 1.4.4 tentang kewajiban
produsen memberikan informasi mengenai sarana olahraga. Dari data
tersebut diatas apabila dikaitkan dengan Pasal 4 huruf b UUPK dan pendapat
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo maka dapat dideskripsikan bahwa telah
terpenuhinya hak tersebut oleh pelaku usaha kepada konsumen. Konsumen
diberi kebebasan untuk memilih jenis paket yang dapat digunakan untuk
berlatih sesuai dengan daftar harga anggota.
c.
Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/ atau jasa.
66
Ibid, hal.42.
98
Pasal 4 huruf c UUPK menyatakan bahwa :
“Konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/ atau jasa”.
Hak ini dimaksudkan agar kosumen mendapatkan informasi yang benar
terhadap suatu produk barang dan/ atau jasa sehingga sebelum konsumen itu
membelinya mengerti keadaan yang sebenarnya dari barang dan/ atau jasa
yang dibelinya.
Pasal 7 huruf b UUPK juga mengatur perihal tersebut namun dari
sudut pandang kewajiban pelaku usaha, yaitu bahwa :
“Kewajiban pelaku usaha adalah memberikan informasi yang benar, jelas
dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi
penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan”.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo menyatakan bahwa :
Hak atas informasi yang jelas dan benar dimaksudkan agar konsumen
memperoleh gambaran yang benar tentang suatu produk, karena
dengan informasi tersebut, konsumen dapat memilih produk yang
diinginkan sesuai kebutuhannyan serta terhindar dari kerugian akibat
dari kesalahan dalam penggunaan produk.67
Shidarta menyatakan bahwa :
Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai
informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak
sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan/
atau jasa. Informasi ini dapat disampaikan dengan berbagai cara,
seperti secara lisan kepada konsumen melalui iklan berbagai media
atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang).68
67
68
Ibid, hal. 41.
Shidarta, Op. Cit. hal. 23.
99
Berdasarkan data sekunder nomor 1.2.1 tentang hak warga negara
dalam berolahraga, 1.2.4 tentang hak orang tua untuk mendapatkan
informasi
tentang
perkembangan
keolahragaan
anaknya
apabila
dihubungkan dengan Pasal 4 huruf c UUPK dan pendapat Ahmadi Miru dan
Sutarman Yodo serta pandapat Shidarta, maka dapat dideskripsikan bahwa
hak untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai
kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa sudah terpenuhi.
d.
Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/ atau
jasa yang digunakan.
Hak untuk didengar merupakan hak konsumen untuk menyampaikan
keluhannya mengenai suatu produk kepada pelaku usaha, hal ini erat
kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi yang jelas dan benar
serta jika terjadi kerugian pada konsumen terhadap produk dan/ atau jasa
yang digunakan. Hak ini dapat disampaikan oleh konsumen baik secara
perorangan ataupun kolektif dan juga dapat disampaikan langsung maupun
diwakili oleh lembaga tertentu.
Hak ini tercantum dalam Pasal 4 huruf d UUPK yang menyatakan
bahwa :
“Konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang
dan/ atau jasa yang digunakan”.
100
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo menyatakan bahwa :
Hak untuk didengar dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hak
yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi yang
diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukah berupa
pengaduan adanya kerugian yang dialami akibat penggunaan suatu
produk atau berupa pernyataan atau pendapat tentang suatu kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen.69
Berdasarkan data sekunder nomor 1.2.5 tentang peran serta
masyarakat dalam keolahragaan, nomor 1.4.3 tentang kewajiban menjaga
keselamatan dan kesehatan dalam keolahragaan apabila dihubungkan
dengan Pasal 4 huruf d UUPK dan pendapat Ahmadi Miru dan Sutarman
Yodo maka dapat dideskripsikan bahwa pelaku usaha jasa fitness center
(pusat kebugaran) senantiasa mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat
dari para konsumennya sehingga hak untuk didengar pendapat dan
keluhannya atas barang dan/ atau jasa yang digunakan telah terpenuhi.
e.
Hak
untuk
mendapatkan
advokasi,
perlindungan
dan
upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Bentuk suatu pertanggungjawaban dari pelaku usaha terhadap produk
barang dan/ atau jasa yang dijualnya adalah hak konsumen untuk
mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut yang berkaitan dengan pemberian ganti
rugi kepada konsumen yang dirugikan akibat menggunakan suatu produk
barang dan/ atau jasa.
69
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op. Cit. hal. 43.
101
Hak ini tercantum dalam Pasal 4 huruf e UUPK yang menyatakan
bahwa :
“Konsumen berhak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut”.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo menyatakan bahwa :
Hak untuk mendapatkan upaya penyelesaian hukum secara patut
dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah
dirugikan akibat penggunaan produk.70
Berdasarkan data sekunder nomor 1.4.7 tentang penyelesaian
sengketa keolahragaan apabila dihubungkan dengan Pasal 4 huruf e UUPK
dan pendapat Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, maka dapat dideskripsikan
bahwa hak tersebut yang diberikan oleh pelaku usaha kepada konsumen
telah terpenuhi.
f.
Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
Hak ini tercantum dalam Pasal 4 huruf f UUPK yang menyatakan
bahwa :
“Konsumen berhak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan
konsumen”.
Menurut Shidarta yang menyatakan bahwa :
Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang
baru. Oleh karena itu, wajar bila masih banyak konsumen yang belum
menyadari hak-haknya. Kesadaran akan hak tidak dapat dipungkiri
70
Ibid, hal. 46.
102
sejalan dengan kesadaran hukum. Makin tinggi tingkat kesadaran
hukum masyarakat, makin tinggi penghormatannya pada hak-hak
dirinya dan orang lain. Upaya pendidikan konsumen tidak selalu
harus melewati jenjang pendidikan formal tetapi dapat melalui media
massa dan kegiatan lembaga swadaya masyarakat.71
Berdasarkan data sekunder nomor 1.5.1 tentang peran serta
masyarakat dalam melakukan pembinaan dan pengembangan keolahragaan
apabila dihubungkan dengan Pasal 4 huruf f dan pendapat Shidarta maka
dapat dideskripsikan bahwa hak untuk mendapatkan pembinaan dan
pendidikan konsumen yang dilakukan oleh pelaku usaha telah terpenuhi.
g.
Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif.
Hak ini tercantum dalam Pasal 4 huruf g UUPK yang menyatakan
bahwa :
“Konsumen berhak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur
serta tidak diskriminatif”.
Dari sudut pandang pelaku usaha, UUPK juga turut mengaturnya yaitu pada
Pasal 7 huruf c yang menyatakan bahwa :
“Pelaku Usaha harus memperlakukan atau melayani konsumen secara benar
dan jujur serta tidak diskriminatif”.
Berdasarkan data sekunder nomor 1.2.1 tentang hak warga negara
dalam keolahragaan, 1.2.2 tentang hak warga negara dalam berolahraga
71
Shidarta, Op. Cit. hal. 33.
103
yang memiliki kelainan fisik dan/ atau mental, 1.4.1 tentang prinsip
penyelenggaraan keolahragaan jika dihubungkan dengan Pasal 4 huruf g
UUPK, maka dapat dideskripsikan bahwa pelaku usaha jasa fitness center
(pusat kebugaran) dalam melakukan pelayanannya sesuai dengan kebutuhan
konsumen sehingga hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan
jujur serta tidak diskriminatif telah terpenuhi.
h.
Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian
apabila barang dan/ atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Hak ini tercantum dalam Pasal 4 huruf h UUPK yang menyatakan
bahwa :
“Konsumen berhak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau
penggantian apabila barang dan/ atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya”.
Selain Pasal 4 huruf h tersebut Pasal 7 huruf f dan g UUPK juga turut
mengaturnya tetapi dari sudut pandang pelaku usaha yang menyatakan
bahwa :
Pasal 7 huruf f :
“Kewajiban Pelaku Usaha adalah memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
104
Pasal 7 huruf g :
“Kewajiban Pelaku Usaha adalah memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan
tidak sesuai dengan perjanjian”.
Pasal 19 UUPK mengatur tanggung jawab dari pelaku usaha yaitu :
a. Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat
mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
b. Ganti kerugian dapat berupa :
1) Pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa
yang sejenis atau setara nilainya.
2) Perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku.
c. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7
(tujuh) hari setelah tanggal transaksi.
d. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan
pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya
unsur kesalahan.
Menurut Shidarta yang menyatakan bahwa :
105
Jika konsumen merasakan kuantitas dan kualitas barang dan/ atau jasa
yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang
diberikannya, ia berhak mendapatkan ganti kerugian yang pantas.72
Menurut Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo yang menyatakan bahwa :
Hak atas ganti kerugian dimaksudkan untuk memulihkan keadaan
yang telah menjadi rusak (tidak seimbang) akibat adanya penggunaan
barang dan/ atau jasa yang tidak memenuhi harapan konsumen. Hak
ini sangat terkait dengan penggunaan produk yang yang telah
merugikan konsumen, baik yang berupa kerugian materi maupun
kerugian yang menyangkut diri (sakit, cacat bahkan kematian)
konsumen. Untuk merealisasikan hak ini tentu saja harus melalui
prosedur tertentu, baik yang diselelsaikan secara damai (di luar
pengadilan) maupun yang diselesaikan melalui pengadilan.73
Berdasarkan Pasal 4 huruf h dan Pasal 19 UUPK serta pendapat
Shidarta dan Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo diatas apabila dihubungkan
dengan data hasil penelitian nomor 2.13 huruf b maka dapat dideskripsikan
bahwa Helios Fitness pada dasarnya telah memenuhi tanggung jawab
kepada konsumen, hal itu dibuktikan dengan adanya pemberian ganti rugi
kepada konsumen secara sukarela menurut kebijakan perusahaan. Namun
dalam hal ini pihak Helios Fitness dapat saja memberikan kebijakan tidak
akan mengganti rugi kepada pihak konsumen yang dirugikan dengan alasan
klausula eksonerasi yang sudah disepakati di awal pendaftaran.
72
73
Shidarta, Op. Cit. hal. 28.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op. Cit. hal. 44.
106
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka
dapat diambil simpulan bahwa :
Pihak Helios Fitness dengan pihak konsumen terdapat hubungan hukum
yang terjadi diantara keduanya dengan adanya perjanjian standar atau klausula
baku yang berbentuk formulir pendaftaran yang dikeluarkan oleh pihak Helios
Fitness untuk ditanda tangani oleh pihak konsumen. Perjanjian tersebut termasuk
kedalam perjanjian campuran, yang diatur dalam Pasal 1319 KUH Perdata.
Sehingga masing-masing pihak terikat oleh suatu perjanjian yang keduanya harus
memenuhi hak dan kewajiban yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini sesuai
dengan Pasal 1338 KUH Perdata yang menyatakan bahwa :
“Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya”.
Perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna jasa kebugaran (fitness
center) berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, yaitu :
a. Hak
atas
kenyamanan,
keamanan,
mengkonsumsi barang dan/ atau jasa
dan
keselamatan
dalam
107
b. Hak untuk memilih barang dan/ atau jasa serta mendapatkan barang
dan/ atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/ atau jasa
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/ atau
jasa yang digunakan
e. Hak
untuk
mendapatkan
advokasi,
perlindungan
dan
upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut
f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/ atau jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya
Dari kedelapan hak konsumen tersebut di atas hak yang telah terpenuhi
oleh pihak Helios Fitness terhadap konsumennya secara penuh adalah huruf a-g
dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007
tentang Penyelenggaraan Keolahragaan. Sedangkan hak yang kurang terpenuhi
oleh pihak Helios Fitness adalah huruf g karena adanya klausula eksonerasi yang
108
dibuat oleh pihak Helios sebagai pembatasan tanggung jawab terhadap
konsumennya dan klausula tersebut telah menjadi ketentuan pada saat awal
pendaftaran konsumen menjadi anggota.
B. Saran
1. Bagi Pihak Helios Fitness
Walaupun dalam formulir pendaftaran tercantum adanya klausula
eksonerasi dalam membatasi tanggung jawab terhadap konsumen, pihak
Helios fitness haruslah selalu memperhatikan konsumennya secara
maksimal. Agar didalam menikmati jasa yang diberikan konsumen merasa
puas dan terlindungi.
Sebaiknya dalam melakukan perjanjian sebagai awal pendaftaran
konsumen bergabung dengan Helios Fitness memperhatikan usia dari
konsumen. Sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian adalah kecakapan
untuk membuat suatu perikatan. Orang yang belum dewasa termasuk tak
cakap dalam membuat suatu perjanjian. Orang yang belum dewasa adalah
mereka yang belum mencapai usia dua puluh satu tahun dan tidak lebih
dahulu telah kawin. Hal ini diatur dalam Pasal 330 KUH Perdata.
2. Bagi Konsumen
Konsumen haruslah senantiasa berhati-hati didalam membeli
barang dan/atau jasa. Selalu dipelajari dari awal tentang ketentuanketentuan yang ada, agar tidak menyesal di kemudian hari. Dalam hal ini
109
apabila sedang berlatih fitness agar selalu menjaga dirinya sendiri karena
pihak Helios Fitness yang sudah berusaha memaksimalkan pelayanannya
dapat saja ada kekurangannya. Maka dari itu masing-masing pihak saling
menjaga satu sama lain agar tercipta kondisi yang aman dan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
A. Literatur:
Giam, C.K. & K.C. The. 1992. Ilmu Kedokteran Olahraga.
Binarupa Aksara.
Jakarta:
Halim Barkatulah, Abdul. 2008. Hukum Perlindungan Konsumen kajian
teoritis dan perkembangan pemikiran. Bandung: Nusa Media.
Hanitijo Soemitro, Ronny. 1988. Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri.
Jakarta: Alumni.
Iswanto. 2005. Pengantar Ilmu Hukum. Purwokerto: UNSOED.
Kansil, C.S.T dan Christine S.T Kansil. 2002. Pokok-Pokok Pengetahuan
Hukum Dagang Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Miru, Ahmadi & Sutarman Yodo. 2007. Hukum Perlindungan Konsumen.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Setiawan. R. Pokok-Pokok Hukum Perikatan. Bandung: Bima Citra.
Shidarta. 2000. Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia. Jakarta: PT
Grasindo.
Sidabalok, Janus. 2006. Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia.
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Simorangkir, J.T.S, Rudi T. Erwin, J.T. Prasetyo. 2000. Kamus Hukum.
Jakarta: Sinar Grafika.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. 1985. Penelitian Hukum Normatif
Suatu Tinjauan Singka., Jakarta: Rajawali.
Subekti. Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa.
Suyadi. 2007. Buku Ajar : Dasar-dasar Hukum Perlindungan Konsumen.
Purwokerto: FH Unsoed.
Tri Siwi Kristiyanti, Celina. 2008. Hukum Perlindungan Konsumen.
Jakarta: Sinar Grafika.
Wignojodipuro, Surojo. 1974. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung: Alumni.
B. Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
(Lembaran Negara)
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
Nasional. (Lembaran Negara)
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan
Keolahragaan. (Lembaran Negara)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. (Lembaran Negara)
C. Sumber – sumber lain :
http://www.wordpress.com/data/kamus besar bahasa Indonesia online.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, Jakarta, Balai Pustaka
http://www.google.com/pengertian fitness centre/. Diakses tanggal 9
Maret 2012.
http://www.google.com/fitness/memiliki motivasi untuk sehat/. Diakses
tanggal 9 Maret 2012.
http://www.google.com/pengertian kebugaran jasmani/kumpulan artikel
berbahasa Indonesia. Diakses tanggal 9 Maret 2012.
http://www.google.com/s_ikor_034446_chapter2(1).pdf . Diakses tanggal
9 Maret 2012.
Download