Perairan Indonesia

advertisement
Konservasi Kawasan
Perairan Indonesia
Bagi Masa Depan Dunia
1
Profil Konservasi Sumberdaya Ikan Kini dan Mendatang:
Konservasi Kawasan Perairan Indonesia Bagi Masa Depan Dunia
Pengarah:
M. Syamsul Maarif
(Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil)
Penulis:
Yaya Mulyana dan Agus Dermawan
Penyelaras Akhir:
Suraji
Pendukung:
Subdit Identifikasi dan Pemetaan Konservasi
Subdit Rehabilitasi Kawasan Konservasi
Subdit Konservasi Ikan dan Pemanfaatan Kawasan Konservasi
Subdit Konservasi Kawasan Perairan dan Taman Nasional Laut
Foto:
Peter Mous, cipto aji gunawan, Koleksi Dit Konservasi dan KTNL, Coremap II
Rancang Grafis:
HERI SUROSO
Pencetakan Buku ini dibiayai oleh Satuan Kerja Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut
Diterbitkan oleh Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,
Departemen Kelautan dan Perikanan
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16, Jakarta 10110
Telp./Fax. +62-21 352 2045
Email: [email protected]
www.dkp.go.id
Cetakan pertama, 2008
ISBN 978-979-3556-65-9
Dipersilahkan mengutip sebagian atau keseluruhan buku ini dengan menyebutkan sumber sitasi.
2
3
Sekapur Sirih
K
onservasi kawasan perairan merupakan bagian dari upaya konservasi
ekosistem yang ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya
ikan yang berkelanjutan. Upaya ini memerlukan pendekatan pengelolaan
yang lebih spesifik, antara lain, karena terkait dengan dinamika ekosistem perairan
yang senantiasa bergerak serta karakteristik biota perairan yang tidak mengenal
pemisahan wewenang maupun batas-batas wilayah administrasi pemerintahan. Di lain
pihak, efisiensi dan efektivitas pelaksanaan wewenang urusan–urusan pemerintahan
di bidang konservasi kawasan dan konservasi jenis ikan berkaitan erat dengan tugas
pokok dan fungsi serta kompetensi masing-masing instansi pelaksana mandat.
Makna konservasi sumberdaya ikan bukan saja perlindungan semata, namun
secara seimbang melaksanakan upaya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan
terhadap sumberdaya ikan. Mengingat harapan pelestarian sumberdaya ikan terletak
di jantung kawasan konservasi perairan, Departemen Kelautan dan Perikanan
khususnya melalui Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut sejauh ini telah
melakukan pembinaan, sosialisasi dan bantuan teknis bagi lembaga/instansi/Dinas
Kelautan dan Perikanan, baik kabupaten maupun provinsi, dalam mengembangkan
kawasan konservasi perairan di daerah. Di tengah perubahan selama satu
dekade terakhir, terutama menyangkut otonomi daerah dan tuntutan partisipasi
masyarakat yang lebih terbuka, upaya-upaya konservasi kawasan perairan tersebut
telah mendapat perhatian penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat.
Buku ini disusun untuk memberikan gambaran tentang upaya-upaya konservasi
sumberdaya ikan yang telah dilakukan utamanya terkait tugas pokok dan fungsi
Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut. Buku ini diawali dengan catatan
kecil tentang bagaimana menjaga laut demi masa depan, bukan hanya untuk anakcucu, tetapi sekaligus menjaga kelangsungan hidup ekosistem dunia, dilanjutkan
dengan untaian refleksi kisah konservasi kawasan perairan, memaknai aturan
konservasi, upaya harmonisasi konservasi kawasan perairan dan jenis ikan beserta
penatakelolaannya, hingga kepada perkembangan konservasi pada masa kini serta
diakhiri dengan menatap masa depan konservasi perairan. Beragam upaya dalam
mengembangkan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya ikan,
baik di tingkat ekosistem, jenis dan genetik, diharapkan fajar konservasi perairan
menjadi makin benderang. Tidak saja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak
generasi mendatang atas sumber daya ikan, tetapi juga untuk mencapai kejayaan
dan kelestarian wilayah perairan Nusantara.
Akhirnya, Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas
terselesaikannya buku ini, tak lupa terimakasih dan memberikan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung
maupun tidak langsung mulai dari proses pengumpulan materi, penulisan hingga
terselesaikannya buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi pihak-phak yang
membutuhkannya.
Jakarta, September 2008
Penulis
4
5
Pengantar
I
ndonesia merupakan negara kaya dengan berlimpah potensi
sumberdaya yang teramat bernilai. Hampir 75 % dari seluruh
wilayah Indonesia merupakan perairan pesisir dan lautan. Indonesia
adalah negeri kepulauan, negeri bahari dengan 2,7 juta kilometer
persegi zona ekonomi eksklusif (ZEE). Perairan laut Indonesia teramat
kaya dan beragam sumberdaya hayati. Kondisi ini menempatkan
Indonesia pada peringkat ke-2 yang memiliki terumbu karang terluas
di dunia setelah Australia. Indonesia juga merupakan pusat segitiga
terumbu karang dunia yang dikenal dengan istilah “The Coral Triangle”
yang merupakan kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati yang
sangat tinggi dengan lebih dari 70 genera dan 500 spesies. The Coral Triangle tersebut
meliputi enam negara yaitu Malaysia, Philipina, Timor Leste, Papua Nugini, Indonesia dan
Solomon Islands. Posisi ini tentunya membuat terumbu karang Indonesia menjadi jauh
lebih penting lagi, karena disamping menjadi sumber penghidupan masyarakat Indonesia
juga bagi dunia.
Konservasi memegang peranan penting dalam mengimbangi kegiatan ekploitatif
maupun terdegradasinya sumberdaya sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia.
Upaya konservasi, khususnya sumberdaya ikan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan
dengan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara keseluruhan. Mengingat
karakteristik sumberdaya ikan dan lingkungannya mempunyai sensitifitas yang tinggi
terhadap pengaruh iklim maupun musiman serta aspek-aspek keterkaitan ekosistem
antar wilayah, maka dalam pengelolaan konservasi sumberdaya ikan harus berdasarkan
prinsip kehati-hatian.
Komitmen Departemen Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan upaya
pelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan tidak terlepas dari implementasi misi
Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya
kelautan dan perikanan berkelanjutan, yang seringkali menimbulkan konflik kepentingan
bagi masyarakat dan nelayan yang berada di sekitar wilayah kawasan konservasi. Selain
itu, belum efektifnya pengelolaan konservasi perairan serta banyaknya permasalahan
yang dihadapi dalam pengelolaannya menambah keyakinan bahwa pengelolaan perikanan
yang berkelanjutan tidak dapat terpisahkan dari manajemen konservasi perairan secara
utuh, sehingga harmonisasi program, pembinaan dan peningkatan kapasitas sumberdaya
manusia serta kerjasama multipihak menjadi penting.
Akhir kata, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Kami sampaikan
selamat dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas terbitnya buku konservasi
yang cukup memberi kesan tersendiri, semoga karya berharga ini mampu mengilhami
dan memotivasi berbagai pihak dalam konservasi sumberdaya ikan untuk kesejahteraan
generasi kini dan mendatang.
Jakarta, September 2008
Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M. Eng.
Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
6
7
DAFTAR ISI
Konservasi Kawasan Perairan Indonesia Bagi Anak Cucu Kita 10
“Cobalah kita bertanya pada diri sendiri,
mengapa Tuhan memberi dua pertiga luas negara kita
adalah lautan.”
Laksdya TNI (Purn) Freddy Numberi, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Menengok Kisah Konservasi Kawasan Perairan Indonesia
16
Memaknai Aturan Konservasi
36
Harmonisasi Pengelolaan Konservasi Kawasan
Perairan dan Jenis Ikan
52
Kawasan Konservasi Perairan Pada Masa Kini 72
Menatap Masa Depan Konservasi Kawasan Perairan
8
92
9
Konservasi Kawasan
Perairan Indonesia
Bagi Anak Cucu Kita
P
ergilah ke kawasan perairan. Anda niscaya akan mendapati panorama yang
unik, entah itu perairan yang berada di wilayah darat maupun perairan yang
membatasi kawasan pesisir.Yang terakhir ini menyajikan belaian lembut pasir laut
pada sepasang kaki Anda, sementara sepasang mata menikmati panorama lautan yang
membentang berbatas cakrawala langit. Negara kita justru memiliki bentang laut seluas
dua pertiga dari luas keseluruhan wilayah. Inilah rumah bagi terumbu karang yang
cantik, berbagai jenis ikan, dan sumber daya hayati lainnya. Indonesia tercatat sebagai
negara kepulauan terbesar di dunia, yang telah diakui oleh konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the
Sea/UNCLOS) pada tahun 1982. Wilayah yang luas itu dengan pantai sepanjang 95.186
kilometer dengan sekitar 17.480 pulau yang membentang pada garis katulistiwa dengan
iklim tropis.
Diapit oleh dua samudra (Samudra Hindia dan Pasifik) dan benua (Asia dan Australia,
Laut Indonesia memiliki posisi yang strategis, yang dapat memberikan keuntungan
ekonomi. Seiring pergeseran pusat ekonomi dunia, dari Poros Atlantik ke Asia Pasifik,
kapal-kapal pengangkut internasional secara rutin melintasi perairan dalam Indonesia.
Para ahli ekonomi memperkirakan bahwa potensi ekonomi jasa perhubungan laut
mencapai 12 miliar dolar AS per tahun. Angka ini berdasarkan pada perhitungan, sejak
15 tahun terakhir negara kita mengeluarkan devisa lebih dari 10 miliar dolar per tahun
untuk membayar armada pelayaran asing yang selama ini mengangkut 95 persen dari
total barang untuk ekspor dan impor. Armada tersebut juga memobilisasi 45 persen
dari total barang yang dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), yang
meliputi Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan laut-laut lainnya.
Jalur laut Indonesia memang telah memegang peranan penting sejak zaman nenek
moyang. Peninggalan pada zaman pra sejarah mengindikasikan adanya penguasaan
teknologi pembuatan perahu dan kemampuan mengarungi lautan Nusantara dan
singgah di kawasan sekitarnya. Pada masa Hindu-Buddha mulai menyebar di kepulauan
Nusantara, kerajaan-kerajaan Nusantara pun melakukan kegiatan maritim aktif, baik
intra-insular ataupun ekstra-insular, hingga ke India dan China. Kekayaan komoditas
perdagangan dari sumber daya alam dan posisi geografis yang strategis kepulauan
Nusantara, menjadikan wilayah ini berkembang sebagai jalur perdagangan dan
transportasi penting.
Laut juga menjadi saksi bagaimana pengorbanan para pahlawan kita saat berjuang
merebut Irian Barat dari tangan penjajah Belanda. Pada tanggal 15 Januari 1962,
suatu pertempuran terjadi di Laut Aru, Maluku. Saat itu, dua jenis kapal jenis perusak,
10
Ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi melintasi wilayah perairan Indonesia, yang memiliki ekosistem terumbu
karang yang indah. Saat ini berbagai pihak telah menyuarakan semangat pelestarian untuk melindungi sumber
daya ikan yang kita miliki bagi anak cucu kita di masa mendatang.
pesawat jenis Neptune, dan Frely milik Belanda menyerang KRI Macan Tutul, KRI
Macan Kumbang, dan KRI Harimau milik Indonesia yang tengah berpatroli. Komodor
Yos Sudarso yang memimpin armada Indonesia, yang saat itu berada di KRI Macan
Tutul, berhasil melakukan manuver untuk mengalihkan perhatian musuh. Pihak musuh
akhirnya hanya memusatkan penyerangan ke KRI Macan Tutul. Dua kapal lainnya selamat,
sementara KRI Macan Tutul tenggelam beserta awaknya. Yos Sudarso menyerukan
pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran.”
Bagi para peneliti kelautan negara kita merupakan tempat penelitian yang sangat
penting. Pasalnya, tiga lempengan kerak Bumi saling bertabrakan sehingga menjadikan
topografi dasar laut Indonesia bervariasi. Bentuknya mulai dari kawasan paparan laut
yang dangkal (< 200 meter) di Laut Jawa, hingga kawasan cekungan yang dalam di Laut
Banda dan deretan palung laut yang memanjang dan ultra dalam (> 7.000 meter) di
selatan Pulau Jawa. Kombinasi beragam kedalaman laut ini memberikan keuntungan
dikaitkan dengan sirkulasi air laut yang mendukung ekologi dan menjadi habitat berbagai
ikan bernilai ekonomis, beserta pasokan alami makanan ikan yang berkesinambungan.
Pada Oktober 2002, Tim Ekspedisi Laut Dalam Indonesia-Jepang berhasil menyelam
pada kedalaman lebih dari 2.000 meter di Palung Jawa. Menggunakan kapal selam
riset Jepang, Shinkai 6500, para ilmuwan itu mencari jawaban ilmiah terhadap Patahan
Sumatra, endapan gas metana di dasar laut, dan keberadaan biota laut dalam yang
hidup tanpa cahaya matahari.
Keindahan terumbu karang yang hidup di perairan dangkal negara kita berhasil
memikat hati setiap penyelam,entah yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara.
Di wilayah perairan terumbu karang yang jernih, hewan-hewan membekali diri mereka
11
Keindahan terumbu karang yang hidup di perairan dangkal negara kita berhasil memikat hati setiap penyelam,
seperti yang ditemukan di dekat sebuah dermaga (halaman sebelah). Menjadi salah satu ikon penting perairan
Indonesia, penyu adalah satwa laut yang membutuhkan perlindungan dari sejumlah ancaman masa kini (atas).
dengan warna-warna yang mencolok. Pada kawasan yang berlimpah cahaya matahari
ini perubahan warna yang terjadi pada seekor ikan, misalnya ikan kambing-kambing
(Pomacanthus imperator), juga berhasil memancing minat para peneliti dan olahragawan
selam.
Menghampar sepanjang kurang lebih 50.000 kilometer persegi, kawasan terumbu
karang membentengi pulau-pulau Indonesia.Wilayah terumbu karang itu juga termasuk
kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle) yang merupakan pusat keanekaragaman
hayati laut dunia. Kawasan itu memiliki luas terumbu karang sekitar 75.000 km2 yang
mencakup Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan
Solomon. Lebih dari 120 juta orang hidupnya sangat bergantung dari terumbu karang
di kawasan tersebut. Hal ini menjadi alasan yang sangat kuat untuk melakukan upaya
konservasi terumbu karang di kawasan tersebut.
Kawasan segitiga terumbu karang sendiri memiliki lebih dari 500 spesies karang.
Hingga saat ini, kepulauan Raja Ampat merupakan lokasi dengan keanekaragaman hayati
terumbu karang tertinggi di dunia dengan sekitar 537 jenis karang (CI, 2001). Jumlah
jenis karang tersebut merupakan 75% jenis karang yang ditemukan di dunia. Akibat
letaknya yang dekat dengan garis pantai dan mudah diakses masyarakat setempat,
ekosistem terumbu karang mengalami tekanan yang hebat. Praktik penangkapan ikan
menggunakan racun sianida dan bahan peledak merupakan contoh umum dalam
kegiatan perusakan. Untuk itu, sudah sepantasnya kita menyelamatkan laut negara kita
demi masa depan, bukan hanya untuk anak-cucu, tetapi sekaligus menjaga kelangsungan
hidup ekosistem dunia. w
12
13
14
15
Menengok Kisah
Konservasi Kawasan
Perairan Indonesia
M
embentang di garis khatulistiwa, perairan laut Nusantara menopang aneka
kehidupan hayati. Lautan tropis seluas 5,8 juta kilometer persegi (km2)
menutupi hampir 70 persen dari sekitar 7,8 juta km2 wilayah Indonesia.
Samudera raya itu bersentuhan langsung dengan 17.480 pulau besar dan kecil yang
membentuk bibir pantai tropis sepanjang 95.186 km.
Perpaduan unik antara letaknya di pinggang Bumi, variasi iklim dengan interaksi
lintasan arus dua samudera menjadikan bentang laut Nusantara kaya akan
keanekaragaman sumber daya ikan dan lingkungannya. Ragam ekosistem bisa dijumpai,
mulai dari ekosistem pantai, muara, mangrove, laut terbuka, padang lamun, terumbu
karang hingga laut teluk.
Dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, tersebar sekitar 4,5 juta
hektar ekosistem mangrove yang membentengi daratan dari gempuran ombak. Selain
itu, ekosistem yang ditumbuhi vegetasi Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia ini menjadi
habitat bagi dua alam peralihan antara laut dan daratan. Di daratan, tumbuhan bakau
menjadi rumah bagi burung air, amfibia, reptilia maupun primata, seperti bekantan,
Bagi hewan akuatik, perairan mangrove menjadi tempat pemijahan dan asuhan untuk
kelangsungan hidupnya.
Pada kedalamannya, laut Indonesia memendam hamparan terumbu karang yang
ditempati lebih dari 500 spesies dari 70 genera terumbu karang. Taman air dangkal ini
membentuk relung-relung ekologi yang didiami ratusan ikan karang, alga, crustacea,
moluska, mamalia, dan reptilia laut. Komunitas biota laut dan terumbu karang ini
berpadu membentuk surga bawah laut yang indah.
Berdampingan dengan ekosistem terumbu karang, terserak hampir sekitar 12 juta
hektar ekosistem padang lamun. Ekosistem tumbuhan berbunga ini ibarat belantara
laut yang dihuni sedikitnya 12 jenis lamun dari tujuh marga. Di sini hidup bermacam
biota air, dari moluska, krustasea, cacing hingga ikan. Duyung, Dugong dugong, adalah
mamalia laut yang hidupnya sangat tergantung pada kehadiran lamun. Hamparan lamun
yang luas juga berfungsi sebagai penyaring sedimen dari daratan dan pelindung pantai.
Topografi dasar samudera pun tak kalah menarik. Segala rupa dasar laut bisa
dijumpai di Indonesia: paparan dangkal, palung laut, lereng landai dan curam hingga
gunung api. Meski hening dan gersang, laut jeluk didiami beragam hidupan: ikan, teripang,
cumi-cumi dan sebagainya. Mereka ini, salah satunya, berperan sebagai pemulung jasad
organisme laut yang mati dan jatuh ke dasar samudera.
Kekayaan hidupan laut yang melimpah itu sekaligus menyimpan keanekaragaman
sumber daya ikan. Artinya, plasma nutfah perairan masih berpotensi besar untuk bisa
16
Pemanenan berlebihan serta caranya yang serampangan adalah ancaman lain yang bersifat langsung terhadap
sumber daya laut. Penangkapan tanpa bersandar pada daya pulih biota perairan akan berdampak buruk bagi
kelestarian hidupan laut. Cara lain yang memberikan dampak buruk adalah bahan peledak dan racun.
dimanfaatkan secara lestari di masa depan. Di sisi lain, seiring dengan melimpahnya
keanekaragaman hayati beserta fungsi ekologi yang diembannya, secara tidak langsung
mintakat perairan mengisyaratkan sebuah tantangan besar. Selain bermanfaat bagi
kehidupan bangsa selama ratusan tahun, laut juga sedang menghadapi tekanan hebat dari
dua sisi, dari kawasan daratan—polusi, limbah, dan sekaligus di perairan—pemanenan
ilegal dan destruktif.
Aktivitas terestrial telah mengirim bahan-bahan buangan yang mengancam
kehidupan laut. Sumber pencemaran itu berasal dari kegiatan industri, pemukiman,
perkotaan, pertambangan, pelayaran, pertanian dan budidaya perikanan. Begitu
juga kegiatan manusia di tubir laut yang merombak kawasan pesisir, pantai, muara
dan mangrove. Umumnya ancaman di pesisir berupa perluasan pemukiman, akitivas
pariwisata bahari hingga konversi mangrove untuk keperluan lain.
Pemanenan berlebihan serta caranya yang serampangan adalah ancaman lain yang
bersifat langsung terhadap sumber daya laut. Penangkapan tanpa bersandar pada daya
pulih biota perairan akan berdampak buruk bagi kelestarian hidupan laut. Pun, teknik
tangkap dengan bahan beracun, bahan peledak dan pukat harimau menyebabkan efek
sampingan bagi organisme lain.
Tekanan-tekanan dari manusia itu, makin berdaya rusak tinggi jika dikaitkan
dengan gejala pemanasan global. Bumi yang makin menghangat menyebabkan iklim
tak lagi normal. Fenomena El Nino, misalnya, telah menyebabkan pemutihan karang
dalam skala luas. Dengan demikian, diperlukan upaya konservasi untuk melindungi,
melestarikan, dan memastikan pemanfaatan sumber daya ikan sejalan dengan kaidahkaidah pembangunan yang berkelanjutan.
17
Menjadi bagian dari segitiga terumbu karang dunia, periran di Raja Ampat menyajikan panoram yang indah
nan menawan (halaman sebelah). Upaya melestarikan kawasan perairan membutuhkan dukungan sejumlah
pihak, suatu kerja bersama yang berupaya menggalang semangat pengelolaan sumber daya ikan.
Kronik Pelestarian Perairan Nusantara
Sebagai negara bahari, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi
dengan samudera yang menjadi bagian penting dari kesatuan wilayahnya. Salah satu
bentuk interaksi itu adalah pemanfaatan perairan, sekaligus pelestariannya, yang bisa
dilihat jejaknya ke masa lampau. Namun sebelum menapaki babak demi babak, perlu
dipahami bahwa kesadaran tentang konservasi perairan di Indonesia tumbuh selaras
dengan gerak konservasi internasional.
Zaman Kolonial
Sebelum masuknya Belanda ke tanah air, masyarakat pesisir dan pulau kecil
Nusantara telah akrab dengan alam perairan selama berabad silam. Bukti otentik
kehidupan samudera bisa ditarik sampai abad VIII yang terlihat pada relief Jatakawadhana
dan Gandawyuha bergambar perahu layar bercadik di Candi Borobudur. Salah satu
bentuk pemanfaatan kawasan pesisir sebagai tambak garam ditengarai telah dilakukan
sejak abad ke-13, di pantai utara Jawa bagian timur. Hal ini tercantum dalam kitab
Kutaramanawa, undang-undang Majapahit, yang mengatur tentang pengelolaan air.
Hingga kini, jejak kearifan lokal dalam mengelola sumber daya ikan dan lingkungannya
masih bisa dilihat. Di Sulawesi Utara, misalnya, masyarakat Sangihe-Talaud memiliki
tradisi eha laut sebagai masa jeda panen ikan selama tiga hingga enam bulan. Usai
eha, dilakukan upacara mane’e, pola pemanenan ikan tradisional yang telah disepakati
bersama oleh tetua adat. Di Sumatera, juga dapat dijumpai tradisi lubuk larangan, sebuah
larangan menangkap ikan pada kawasan perairan dan jangka waktu yang ditentukan.
Selain itu, jejak perlindungan perairan dari peninggalan salah satu kerajaan Nusantara,
18
19
Kutai Kertanegara, di Provinsi Kalimatan Timur sekarang, bisa menjadi bukti bentuk
pemanfaatan perairan yang lestari. Selain mewariskan Cagar Alam Kerajaan Kutai—
kini dikenal sebagai Taman Nasional Kutai, kerajaan ini juga memiliki Suaka Perikanan
Danau Loa Kang dan Batu Bumbun.
Zaman Perjuangan Kemerdekaan
Era ini sangat dipengaruhi oleh geliat ilmu pengetahuan Barat yang menekankan
eksplorasi sejarah alam dengan mengumpulkan temuan-temuan baru—hewan dan
tumbuhan. Dengan demikian untuk melihat perkembangan konservasi perairan tak bisa
dilepaskan dari gairah itu. Adalah G.E. Rumphius yang meretas jalan di bidang biologi,
baik terestrial maupun perairan, lewat dua karyanya: d’Amboinsche Rareteitkamer, 1705,
dan Herbarium Amboinense, 1741-1750. Dua risalah Rumphius, yang bisa dipandang
sebagai bapak biologi laut Indonesia, itu memuat pertelaan flora-fauna Ambon dan
sekitarnya. Sekitar pertengahan abad ke-19, tercatat perkembangan penting dalam ilmu
soal ikan di Nusantara dengan Pieter Bleeker, seorang ahli ikan (ichthyologist), sebagai
tokoh utamanya. Di samping ratusan risalah ilmiah tentang ikan, dia juga menghasilkan
karya besar Atlas Ichthyologique.
Selain itu, selama babak ini tercatat pula sejumlah penjelajahan ilmiah dari berbagai
negara mengarungi ataupun melintasi perairan Indonesia. Seperti Ekspedisi Beagle
antara 1832-1836 dari negara penguasa laut dunia, Inggris. Dari ekspedisi ini, pakar
biologi Charles Darwin menciptakan teori evolusi bersama Alfred Russel Wallace.
Tokoh terakhir ini dengan jeli menangkap perubahan fauna dari wilayah barat ke timur
kepulauan Nusantara. Warisannya hingga kini dikenang sebagai Garis Wallace, sebuah
batas maya fauna antara Bali dengan Lombok dan memisahkan Kalimantan dengan
Sulawesi. Belanda, dengan Ekspedisi Sibolga pada 1899-1900, menelisik perairan timur
Indonesia dan menemukan spesies-spesies baru. Salah satu hasil penyusuran Sibolga
berupa peta dasar laut pertama bagi Indonesia.
Tabel 1. Beberapa armada riset yang berlabuh di perairan Nusantara:
Tahun
Ekspedisi
1817-1820 Physicienne
1822-1825Coquille
1826-1829Astrolabe
1832-1836 Beagle
1836-1837 Bonite
1872-1876Challenger
1898-1899Valdivia
1899-1900 Siboga
1906-1907 Planet
1929-1930 Snellius
Keterangan
Prancis
Prancis
Prancis
Inggris, dari hasil ekspedisi ini, Charles Darwin menciptakan teori evolusi.
Prancis
Inggris, mengitari Bumi yang meletakkan dasar-dasar bagi ilmu kelautan dunia.
Jerman
Belanda, menyusuri perairan timur Nusantara dan menemukan berbagai spesies baru biota bahari.
Jerman
Belanda, mengarungi perairan timur dengan fokus riset geologi laut.
Langkah pertama pelestarian alam sebenarnya bisa dirunut sampai 1714 ketika
C. Chastelein menghibahkan 6 ha tanah di Banten untuk digunakan sebagai natuur
20
Kemitraan di wilayah regional untuk menyelamatkan kawasan periairan yang tak mengenal batas administrasi telah memberikan kepercayaan diri pada Indonesia untuk berbicara lebih banyak mengenai konservasi
perairan. Penyelamatan ini tentu akan mendukung keberlanjutan sumber daya ikan.
reservaat atau cagar alam. Baru seabad lebih kemudian, tepatnya 1889, Direktur Kebun
Raya Bogor mengikuti jejak Chastelein dengan mengesahkan cagar alam pertama
di Cibodas, Jawa Barat. Cagar ini untuk melindungi hutan pegunungan yang masih
perawan di daerah itu. Watak pelestarian masa ini memang berbentuk pencadangan
areal tertentu untuk memastikan hewan dan tumbuhan yang hidup di dalamnya aman.
Tahun 1910 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonnantie tot Bescherming
van sommige in het levende Zoogdieren en Vogels, Undang-undang Perlindungan Mamalia
dan Burung Liar, yang berlaku di seluruh wilayah Hindia Belanda. Ordonansi itu dipicu
oleh kekhawatiran hilangnya burung cendrawasih akibat perburuan untuk diekspor ke
daratan Eropa.
Sementara itu, momen bersejarah bagi dunia perikanan terjadi pada 1904 kala
Direktur Kebun Raya Bogor Dr. Koningsberger meresmikan Visscherij Station, Stasiun
Perikanan, di Jakarta. Pada masa jayanya, stasiun ini dilengkapi kapal penelitian Gier
untuk melakukan berbagai penelitian perikanan.
Gagasan melestarikan alam makin menguat dengan berdirinya Nederlandsch
Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming, atau Perkumpulan Perlindungan Alam
Hindia Belanda pada 1912. Setahun kemudian, ketua pertama perkumpulan ini, Dr. S.H.
Koorders bersama koleganya, mengajukan sejumlah 12 kawasan perlindungan: Pulau
Krakatau, Gunung Papandayan, Ujung Kulon, Gunung Bromo, Nusa Barung, Alas Purwo,
beberapa situ di daerah Banten, Kawah Ijen beserta dataran tingginya. Sejak organisasi
ini berdiri, usaha pencagaran terus berlanjut.
Tak lama kemudian, 1916, pemerintahan Hindia Belanda mengambil alih urusan
pelestarian alam dari perkumpulan tersebut. Dengan Staatsblad tahun 1916, No. 278
pemerintahan waktu itu berwenang menetapkan kawasan cagar. Pada tahun itu juga,
21
Menjadi salah satu tempat beraktivitas - ekonomi maupun sosial, pesisir memerlukan perhatian secara seksama. Kegiatan yang cenderung merusak dan tidak berkelanjutan dapat mengancam kelestarian kawasan
yang mendukung ekosistem sekitar di masa depan. Inilah yang memerlukan perhatian.
Hindia Belanda mengatur perikanan mutiara dan bunga karang melalui Parelvisscherij en
Sponsenvisscherijordonnantie (Staatsblad tahun 1916, No.157). Lantas, disusul Visscheri
Jordonnantie (Staatsblad tahun 1920, No. 396) untuk melindungi ikan yang mencakup
telur, benih ikan dan semua kerang-kerangan. Pasal 2 peraturan itu, misalnya, melarang
penangkapan ikan dengan bahan beracun, bius ataupun bahan peledak. Pada 1919,
Visscherij Station dikembangkan menjadi Laboratorium voor het Onderzoek der Zee,
atau Laboratorium Penelitian Laut, dengan fasilitas akuarium laut yang terkenal pada
zamannya.
Masa ini bisa dijumpai beberapa peraturan yang melindungi satwa, seperti Dierenbeschermingsverordening (Staatsblad tahun 1931, No. 134) yang berlaku secara nasional. Pada
saat hampir bersamaan, keluar Jachtordonantie 1931 (Staatsblad tahun 1931, No.133)
yang mengatur tentang perburuan dan Jachtordonantie Java en Madoera 1940 (Staatsblad
tahun 1940, No. 733) yang hanya berlaku untuk Jawa dan Madura. Selanjutnya, perlindungan alam diatur dengan Natuurbeschermingordonantie 1941 (Staatsblad tahun 1941,
No. 167) menggantikan Natuur Monumenten en Wildressrvaten Ordonantie 1932 (Staatsblad tahun 1932, No. 17) yang menata soal cagar alam dan suaka margasatwa.
Dalam pada itu, antara tahun 1942 hingga 1945-an, pendudukan Jepang di Indonesia
hampir tidak ada usaha pelestarian, kecuali masih adanya kelonggaran bagi beberapa
penelitian laut yang dilakukan oleh sarjana Belanda.
Zaman Kemerdekaan
- Masa Orde Lama
Hingga kurang lebih dua dasawarsa pertama setelah merdeka, Indonesia masih
mewarisi langkah-langkah konservasi dari Hindia Belanda. Lima tahun usai meraih
22
23
kemerdekaan, 1950, Laboratorium voor het Onderzoek der Zee diubah menjadi Lembaga
Penyelidikan Laut (LPL), yang pada 1952 memiliki kapal riset Samudera. Meski belum
ada sarjana Indonesia, Samudera meneliti perairan Indonesia secara teratur. Memasuki
dasawarsa 1960-an, jumlah kapal riset maritim terus bertambah. Jalanidhi, 1963, dan
Burudjulasad, 1966, adalah dua armada riset yang kian meneguhkan usaha penelitian
laut. Tak kurang ada tiga ekspedisi ilmiah selama 1960-1970: Operasi Baruna I, 1964;
Operasi Baruna II, 1966; dan Operasi Cendrawasih, 1967.
Lompatan besar era ini ditandai dengan adanya konsep Wawasan Nusantara melalui
Deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957, yang kemudian diperkuat dengan Undangundang (UU) No. 4 tahun 1960. Wawasan Nusantara menjamin bahwa mintakat laut
dan daratan merupakan satu-kesatuan wujud yang tak terpisahkan: Negara Kepulauan
Indonesia. Deklarasi itu juga memastikan seluruh sumber daya perairan, pesisir dan
pulau-pulau kecil yang masuk wilayah Indonesia dapat dikelola secara lestari.
Secara bersamaan, pada dekade 1960-an di Bogor, kota pusat penelitian dan
perlindungan alam selama masa Hindia Belanda, dibentuk Bagian Pengawetan
Alam yang bernaung di bawah Kebun Raya Bogor; sementara itu, lembaga Jawatan
Kehutanan memiliki Bagian Perlindungan Alam. Kedua lembaga itu kemudian digabung
menjadi Bagian Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA) yang dikelola oleh Jawatan
Kehutanan. Dengan begitu, kewenangan Kebun Raya Bogor dalam bidang perlindungan
alam juga berakhir.
Salah satu kawasan konservasi perairan di wilayah Kalimantan, Berau merupakan salah satu kisah sukses
dalam pembangunan perikanan yang berkelanjutan. Kisah ini telah tercatat dalam sejarah konservasi perairan
Indonesia dan menjadi acuan bagi wilayah lain yang akan mengadaptasi pola yang sama.
- Masa Orde Baru
Dengan terus meningkatnya perhatian atas kelestarian alam—waktu itu lebih
tertuju pada kelestarian hutan, konservasi di Indonesia terus mencari bentuk. Untuk
mengurus perlindungan alam lebih serius, pada tahun 1971 dibentuk Direktorat
Perlindungan dan Pengawetan Alam (Dit. PPA), menggantikan Bagian PPA, di bawah
Direktorat Jenderal Kehutanan (Ditjen Kehutanan), Departemen Pertanian.
Pada level internasional, tahun 1973 Indonesia ikut meratifikasi CITES (Convention
on International Trade in Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna), yang kemudian
sah menjadi hukum nasional melalui Keputusan Presiden No. 43 tahun 1978. Sejak
meratifikasi konvensi itu, Indonesia harus memisahkan otoritas keilmuan (scientific
authority), yang dimandatkan pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan
otoritas penge­lolaan (management authority) dipegang oleh Departemen Kehutanan,
dan berdasarkan PP No.60 tahun 2007, Departemen Perikanan dan Kelautan medapat
mandat dalam otoritas pengelolaan konservasi sumber daya ikan. Artinya, langkah
pengaturan perdagangan flora fauna langka, dari maupun ke negara kita dildasarkan
menurut prosedur CITES.
Rentang 1974-1983, dengan dukungan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture
Organization/FAO), pemerintah melaksanakan Program Pengembangan Taman Nasional.
Program ini untuk membangun sistem kawasan konservasi daratan dan perairan di
seluruh Indonesia sekaligus menentukan skala prioritasnya. Momentum berharga
berlangsung di Denpasar, Bali, waktu Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Taman
Nasional Internasional III tahun 1982. Saat peristiwa ini, pemerintah meresmikan 10
taman nasional baru di Indonesia;
Sejalan dengan makin meningkatnya kesadaran akan konservasi, setahun setelah
konferensi di Bali, 1983, Departemen Kehutanan dibentuk dari hasil pemekaran
Departemen Pertanian. Dengan perubahan institusi itu, bidang konservasi sumber
daya alam dipegang oleh Departemen Kehutanan melalui Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) yang kini bernama Direktorat
Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). Pada periode yang sama,
untuk mengurus masalah lingkungan secara khusus dibentuk juga Kementerian Negara
Lingkungan Hidup—awalnya, Kementerian Negara Pengawasan Pembangunan dan
Lingkungan Hidup (PPLH).
Departemen Kehutanan, tahun 1984, saat itu melalui PHPA, menyiapkan sebuah
rencana Sistem Kawasan Pelestarian Bahari Nasional yang berisi kerangka-kerja bagi
berbagai aktivitas perlindungan perairan, dasar-dasar pemilihan dan penetapannya.
Meskipun begitu, sejatinya, usulan pertama tentang kawasan pelestarian laut telah
diperkenalkan semenjak tahun 1975; misalnya, untuk kawasan Kepulauan Seribu, yang
baru berstatus sebagai cagar alam tahun 1982—sekarang taman nasional laut.
Nilai penting sumber daya perairan dalam pembangunan nasional mulai dimasukkan
dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1988. Dalam dokumen ini, secara
singkat dinyatakan bahwa kawasan pesisir, laut, daerah aliran sungai dan udara harus
dikelola dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alamnya.
Pengelolaan areal laut, secara khusus, harus ditingkatkan agar berdaya guna dan
berkelanjutan.
Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem mendapat dukungan secara hukum
dengan disahkannya UU No. 5 tahun 1990, yang mengatur seluruh aspek perlindungan,
pengawetan, dan pemanfaatan lestari sumber daya hayati dan ekosistem. Menurut
peraturan ini, konservasi dilakukan dengan perlindungan sistem penyangga kehidupan,
24
25
sebaran kawasan konservasi perairan laut daerah di indonesia
Berau, Kalimantan Timur
Luas: 1.321.207 Ha
Tahun: 2005
Indramayu, Jawa Barat
Luas: 720 Ha
Tahun: 2004
Alor, Nusa Tenggara Timur
Luas: 21.850 Ha
Tahun: 2002
Muna, Sulawesi Tenggara
Luas: 27.936 Ha
Tahun: 2004
Raja Ampat, Papua Barat
Luas: 900.000 Ha
Tahun: 2007
Pesisir Selatan, Sumatera Barat
Luas: 733 Ha
Tahun: 2006
Daftar Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah
1. Kawasan Wisata Laut P. Penyu, Pesisir Selatan, SUMBAR
2.Wilayah Pengelolaan Terumbu Karang Senayang Lingga, Kep Riau,
RIAU
3. Kawasan Konservasi dan Wisata Laut P. Biawak dan sekitarnya,
Indramayu, JABAR
4. Kawasan Wisata Laut Gili Sulat dan Gili Lawang, Lombok Timu, NTB
5. Konservasi Taman Wisata Bahari P. Gili Banta, Bima, NTB
6. Taman Laut Selat Pantar dan sekitarnya, Alor, Alor, NTT
7. Kawasan Konservasi dan Wisata Alam Laut Bengkayang (Pulau
Randayan dan sekitarnya), Bengkayang, KALBAR
8. Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau, Berau, KALTIM
9. Kawasan Konservasi
dan Wisata Laut Pulau Laut Barat-Selatan dan
26
P. Sembilan, Kotabaru, KALSEL
10. Kawasan Wisata Laut Selat Tiworo, Muna, SULTRA
11. Kawasan Konservasi Laut Pulau Liwutongkidi (Buton), Buton, SULTRA
12. Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), Perairan dan Pesisir Distrik
Abun, Sorong, PAPUA
13. Kawasan Konservasi Laut Daerah Pantai Ujungnegoro - Roban
kabupaten Batang, Batang, JAWA TENGAH
14. Perairan Pulau Pinang, Siumat dan Simanaha (Pisisir) sebagai Kawasan
Konservasi Laut Daerah (KKLD), Simeulue, NAD
15. Pulau Kasiak sebagai Daerah Konservasi Penyu dan Kawasan Wisata
Bahari, Pariaman, SUMATERA BARAT
16. KKLD Desa Ole’e, Bone Bolango, GORONTALO
17. KKLD:ayau-asia,teluk mayalibit,selat dampier,wayag-sayang-piay,
misool selatan; 1 SML, Raja ampat, PAPUA
18. Kawasan Linau,Merpas, dan Sekunyit sebagai KKLD Kab.Kaur, Kaur,
Bengkulu
19. kawasan konservasi perairan payau di Jorong Maligi, Pasaman barat,
SUMBAR
20. Pesisir Tanjung cantik dan sekitarnya sebagai kawasan pelestarian
plasma nuftah flora dan fauna, Nunukan, KALTIM
21Wilayah Perairan laut Pesisir timur Kec.Gunung Kijang dan Kec. Bintan
Timur, Perairan Kep. Tambelan sebagai KKLD Kabupaten Bintan, Bintan,
KEP. RIAU
22 Marine Management Area, Batam, KEP. RIAU
23. KKLD kab. Kep. Mentawai (lokasi Desa Saibi Samukop,Saliguma dan
desa Katurai, Kep. Mentawai, SUMBAR
24Wilayah laut Bunguran Utara,wilayah laut pulau Tiga-Sedanau dan
wilayah laut Pesisir Timur Bunguran sebagai Kawasan Konservasi Laut
Kab. Natuna, Kab. Natuna, KEP. RIAU
25. KKLD Kab. Lampung Barat (Pantai muara Tembulih, Sukanegara,
Gedung Cahya Kuningan, Pulau Betuah ), Lampung Barat, LAMPUNG
26. KKLD Kab. Sergai, sebagian P. Berhala, P. Sokong Nenek dan P.Sokong
Siembah, Serdang Berdagai, SUMUT
27. Kawasan KLD Kab. Nias, Nias, SUMUT
28. KKLD Kab. Tapteng, Tapanuli Tengah, SUMUT
29. KKLD Kab. Banggai Kepulauan (Pulau Tolobundu, P. Bandang Besar,
P. Makaliu, P. Lesampuang, P. Togong Sagu, P. Panteh, P. Maringkih, P.
Pesopo, P.Sonit, P. Banggai), Banggai Kepulauan, SULTENG
30 Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Ciamis, Ciamis, JAWA BARAT
31 KKLD Kabupaten Kaimana, Kaimana, Papua Barat 27
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Tahun 1992, Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai Lingkungan
dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development/UNCED)
dilaksanakan di Rio de Jeniro, Brasil. Salah satu hasil Konferensi yang sering dikenal
sebagai Earth Summit ini adalah Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on
Biological Diversity). Berselang dua tahun, pemerintah mengesahkan konvensi ini melalui
UU No. 5 tahun 1994. Konvensi itu dan UU No. 5 tahun 1990 menggeser paradigma
pelestarian yang hanya bertumpu pada pencadangan area—suatu model pelestarian
warisan Hindia Belanda—menjadi konservasi ekosistem, spesies dan genetik.
Walaupun arah konservasi masih terfokus pada wilayah daratan, pada masa ini
sejumlah kawasan konservasi yang mencakup perairan telah didirikan. Cagar Alam
Taman Laut Banda, misalnya, telah disahkan oleh menteri pertanian sejak 1977 lewat
keputusan No. 221/Kpts/Um/4/1977. Setelah itu, perlahan tapi pasti, sejumlah kawasan
konservasi yang memasukkan gatra perairan terus disahkan. Sampai 1997, tak kurang
seluas 2.600.000 ha perairan masuk dalam 24 kawasan konservasi, enam di antaranya
berstatus taman nasional laut: Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Teluk Cendrawasih,
Bunaken, Wakatobi, dan Taka Bone Rate.
Dengan demikian, terlihat bahwa dalam satu dekade terakhir pemerintahan
Orde Baru, antara 1988 sampai 1998, sebenarnya telah berkembang wacana tentang
pentingnya pemanfaatan dan pelestarian sumber daya laut. Namun, hingga tahun 1998
bidang perikanan dan kelautan masih berada di Departemen Pertanian, sedangkan
konservasi alam tetap di Departemen Kehutanan.
- Masa Reformasi
Wilayah perairan mulai digarap serius saat Departemen Eksplorasi Laut dan
Perikanan (DELP) dibentuk oleh pemerintahan pertama masa reformasi, yang sekarang
menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Departemen ini memangku
tugas di bidang kelautan, perikanan dan konservasi sumber daya ikan (SDI). Sesuai
dengan Konvensi Keanekaragaman Hayati, DKP menekankan konservasi SDI pada
tingkat ekosistem perairan, spesies dan genetik hidupan air. Pada tahap awal, DKP
mengembangkan konsep konsep dan memfasilitasi upaya konservasi sumber daya
ikan dan lingkungannya dengan memasukkan partisipasi masyarakat dalam proses
pembentukan kawasan konservasi hingga pengelolaannya oleh pemerintah daerah, kini
dikenal sebagai kawasan konservasi laut daerah (KKLD).
Satu Dekade Reformasi
Kian meluasnya kepedulian terhadap konservasi kawasan perairan memberi
tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk berkiprah banyak dalam pengelolaan
sumber daya perairan. Pada skala internasional makin disadari peran ekologis perairan
dalam menahan laju pemanasan global; sementara di dalam negeri, searah dinamika
reformasi, terjadi banyak pergeseran dalam pembangunan nasional.
Untuk tingkat nasional, di samping perangkat peraturan yang sudah ada, sejumlah
peraturan diterbitkan untuk menjawab semangat konservasi SDI yang sedang
bergairah. Dalam bidang perikanan, pemerintah membuat UU No. 31 tahun 2004
yang memandatkan DKP, salah satunya, untuk melakukan usaha konservasi ekosistem,
28
Spesies yang unik, mirip dengan pohon cemara, menghiasi ekosistem terumbu karang yang indah hingga
menerbitkan keingintahuan para peneliti dan penyalam. Pemerintah pusat dan daerah, yang didukung oleh
masyarakat, berupaya menyelamatkan salah satu kekayaan hayati yang menyokong peradaban sekitar.
jenis dan genetik ikan. Di dalam undang-undang ini, terdapat empat jenis kawasan
konservasi: taman nasional perairan, taman wisata perairan, suaka alam perairan, dan
suaka perikanan. Dengan diterbitkan pula UU No. 27 tahun 2007 cakupan kawasan
konservasi di wilayah pesisir dan pulau kecil meliputi ekosistem daratan pesisir (hingga
batas administrasi wilayah kecamatan), dan ekosistem perairan laut sejauh 12 mil.
Selanjutnya, diturunkan dalam sebuah peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan yang
menambah deretan penamaan kawasan konservasi. Saat ini paling tidak terdapat enam
nomenklatur kawasan konservasi selain sempadan pantai yang notabenenya telah
diatur dengan undang-undang tersendiri. Nama-nama kawasan itu adalah suaka pesisir,
taman pesisir, suaka pulau kecil, taman pulau kecil, daerah perlindungan adat maritim,
dan daerah perlindungan situs budaya maritim.
Sejauh ini telah dideklarasikan kawasan konservasi perairan (KKP) oleh bupati/
wakil seluas lebih kurang 3,2 juta ha sehingga luas keseluruhan KKP Indonesia dengan
yang diinisiasi oleh Dephut (5,5 juta ha) mencapai sekitar 8,7 juta ha. Selain itu tengah
dilakukan proses kawasan perairan seluas 5.705.839,00 ha untuk KKP nasional di
Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, dan Laut Sulu, Nusa Tenggara Timur. Serempak
melalui program COREMAP II (Coral Reef Rehabilitation and Management Program),
Marine and Coastal Resources Management Program (MCRMP) dan Coastal Community
Development and Resources Management Project (COFISH), DKP juga memfasilitasi
pembentukan daerah perlindungan laut (DPL) dan daerah perlindungan mangrove
(DPM) seluas 2.085,90 ha serta suaka perikanan (453,23 ha).
Secara kelembagaan, untuk memudahkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
tersebut, DKP membentuk Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut di
29
Terletak di antara dua samudra dan pertemuan dua arus, perairan Indonesia secara rutin menjadi perlintasan
mamalia laut dunia: paus (atas). Warna-warni ikan di ekosistem terumbu karang menjadi bagian penting untuk
menunjang keberlanjutan ekosistem yang ada didekatnya - rantai makanan alami di muka Bumi.
bawah Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Lembaga ini untuk
mewujudkan peningkatan dan penguatan pengelolaan di dalam dan sekitar KKP baik di
tingkat nasional maupun lokal serta pelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya.
Untuk mewadahi peran pemerintah daerah yang semakin luas dalam mengelola
sumber daya ikan, terutama setelah terbitnya UU No. 32 tahun 2004, pemerintah
mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) No. 60 tahun 2007. Peraturan terakhir ini
memungkinkan pemerintah daerah, untuk mengembangkan KKP setingkat kabupaten
ataupun provinsi, yang disebut dengan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).
Partisipasi pemerintah daerah dalam pelestarian bahari nampak dari banyaknya
KKLD yang dideklarasikan pada masa ini. Sedikitnya, sampai pertengahan tahun 2008,
terdapat 31 KKLD di Tanah Air yang mencakup luasan 3,9 juta ha; dan tak kurang 19
KKLD seluas 13,5 juta ha sedang menunggu untuk diresmikan.
Seiring dengan usaha itu, dilakukan pula harmonisasi dengan berbagai sektor, dan
pemangku kepentingan lainnya, antara lain dengan Departemen Kehutanan yang masih
mengemban mandat yang mencakup kawasan konservasi perairan dan biota laut sesuai
dengan UU No. 5 tahun 1990. Sejumlah lokasi TWAL, CAL dan SML direncanakan
pengelolaannya akan dialihkan ke DKP.
Untuk menunjukkan kiprah Indonesia di tingkat internasional dalam konservasi
perairan, pemerintah bertekad untuk membentuk KKP laut seluas 10 juta ha sampai
2010. Target ini kemudian ditegaskan kembali saat forum Konferensi Antarpihak
Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/COP) di Brasil,
Maret 2006, yang akan memperluas KKL hingga 20 juta ha pada akhir 2020.
30
31
Upaya konservasi bukan hanya ditunjukkan pada tingkat negara, tetapi masyarakat pesisir yang peduli akan
lingkungan memberikan apresiasi yang sama - seperti membangun tempat penetasan telur penyu (atas). Di
ekosistem terumbu karang terdapat ghostpipe fish dan gorgonian yang cantik (halaman sebelah).
Pemerintah, melalui DKP, terus mendorong inisiatif-inisiatif konservasi perairan
pada tingkat regional. Program COREMAP, misalnya, merupakan bentuk kolaborasi
para pemangku kepentingan dalam pengelolaan terumbu karang secara lestari.
Pemerintah menyadari pentingnya konservasi perairan yang berwatak lintas batas yang
juga meliputi aspek ekologi, sosial, budaya, dan ekonomi. Untuk mewujudkan kesadaran
itu, DKP memakai pendekatan pengelolaan KKL berbasis ekoregion (ecoregion).
Bersama Malaysia dan Filipina, Indonesia telah bersepaham untuk mengembangkan
jaringan pengelolaan kawasan ekoregion perairan Sulu–Sulawesi (Sulu–Sulawesi Marine
Ecoregion/SSME). Begitu juga, bergandengan dengan Papua Nugini dan Kepulauan
Solomon, dikembangkan KKL untuk ekoregion di kawasan perairan Bismarck dan
sekitarnya atau Bismarck Solomon Seas Ecoregion (BSSE). Dengan skala yang lebih luas,
Indonesia juga menumbuhkembangkan jaringan Coral Triangle Initiative (CTI) yang
melibatkan enam negara tersebut di atas ditambah Timor Leste.
Semua langkah-langkah strategis skala regional tersebut dimaksudkan agar perairan
Indonesia dapat berkontribusi positif atas semua masalah lingkungan dunia, seperti
pemanasan global dan perubahan iklim. w
32
33
34
35
Memaknai Aturan
Konservasi
P
roses penyelarasan (harmonisasi) pengelolaan kawasan perairan dan konservasi
jenis ikan dimungkinkan karena berbagai argumentasi dan latar belakang. Dasardasar berupa aturan-aturan yang pernah dibuat di masa silam menjadi pendukung
utama mengapa pada akhirnya penyelarasan menjadi penting untuk dilakukan.
Aturan mengenai perlindungan kawasan perairan Nusantara sendiri sebenarnya
lahir puluhan tahun lalu dari kesadaran bangsa ini akan kekayaan alamnya. Sebagai
negara kepulauan dengan wilayah perairan terluas di dunia (tidak kurang dari 5,8 juta
km2), Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menjaga sumber daya
yang terkandung di dalamnya.
Sejak Konvensi PBB untuk Hukum Kelautan (UNCLOS) 1982 ditetapkan dan
kemudian diikuti lahirnya Undang-Undang No. 5 tahun 1985 tentang Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia (ZEEI), secara geografis 75% wilayah negeri ini merupakan laut. Dari
aspek geografi inilah para ahli sejarah ekonomi memulai kajian nusantara. Salah satu
kesimpulannya adalah peran perikanan sebagai salah satu industri di pesisir nampak
masih sangat kecil (10% dari PDB Pertanian).
Berdasarkan data yang dilaporkan peneliti Belanda van der Eng sektor ini masih
berada di bawah sektor lainnya dalam kurun waktu lebih dari satu abad terakhir. Sektor
perikanan dan kelautan mulai mendapat perhatian lebih ketika Presiden Abdurrahman
Wahid menetapkan lahirnya Departemen Ekplorasi Laut dengan Keppres 136 tahun
1999, atau kini disebut Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP).
Potensi sumber daya alam yang besar dan daya serap tenaga kerja yang diperkirakan
lebih dari 10 juta orang menjadikan sektor ini penting. Tahun lalu, produksi perikanan
mencapai 7,7 juta ton, penerimaan devisa US$ 3,2 miliar, konsumsi ikan 28 kg/kapita/
tahun, penyerapan tenaga kerja 7,7 juta orang, dan kontribusi terhadap produk domestik
bruto (PDB) nasional 3,1%.
Fakta tersebut tidaklah mengherankan.Terletak pada pusat segi tiga terumbu karang
(coral triangle), negeri ini dikaruniai wilayah pesisir dan lautan dengan keanekaragaman
hayati terbesar di dunia. Tingginya keanekaragaman hayati tersebut bukan hanya
disebabkan oleh letak geografis yang begitu strategis, melainkan juga dipengaruhi oleh
faktor lain seperti variasi iklim musiman, arus atau massa air laut yang memengaruhi
massa air dari dua samudra, serta keragaman tipe habitat dan ekosistem yang terdapat
di dalamnya.
Keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dan laut meliputi keanekaragaman
genetik, spesies, dan ekosistem. Karena itu, agar proses pengelolaannya sejalan dengan
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dibutuhkan
upaya yang lebih serius dan terukur terhadap potensi-potensi biodiversitas.Tujuannya
agar bisa dirasakan manfaatnya baik secara ekonomis, sosial, maupun budaya oleh
36
Semburat semangat menjelang pergantian hari menyajikan panorama unik khas kawasan pesisir topis.
Keunikan yang berbalut keindahan itu menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi di sektor pariwisata, yang memerlukan keterampilan pengemasan dan promosi poduk akhir.
seluruh bangsa Indonesia.
Atas dasar itulah maka dirumuskan seperangkat undang-undang yang terus
bertambah dan disempurnakan dari tahun ke tahun menyesuaikan dengan perkembangan
kebutuhan akan regulasi.
Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistemnya dipandang sebagai . Undang-undang ini mengatur semua aspek yang
berkaitan dengan konservasi, baik cakupan ruang maupun sumber daya alamnya. Dalam
bagian penjelasan, disebutkan bahwa undang-undang ini bertujuan untuk mengatur
pelindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari SDA hayati.
Selain mengatur sistem dan kekayaan sumber daya alam, undang-undang tersebut
juga merumuskan kebijakan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam tersebut
untuk kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya perangkat hukum ini ditujukan bagi
peningkatan mutu kehidupan manusia.
Secara lebih detail undang-undang ini mendefinisikan berbagai terminologi agar
tidak terjadi miskonsepsi dalam implementasinya. Misalnya saja, dalam Pasal 1 ayat
& disebutkan bahwa satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/
atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup
bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Tak sampai di situ, pasal ini memiliki
penjelasan: ikan dan hewan ternak tidak termasuk satwa liar, tetapi digolongkan
dalam pengertian satwa.
Pengertian konservasi menurut undang-undang ini adalah pengelolaan sumber
daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin
kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya. Konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan
37
Memberikan pemahaman mengenai proses penyelerasan pengelolaan kawasan perairan dan konservasi
jenis ikan, Depertemen Kelautan dan Perikanan telah mendorong terbentuknya aturan perudangan yang mendukung proses itu. Berbagai pihak pun menjadi mitra dalam pelaksanaan penyelarasan kelola perairan.
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
beserta ekosistemnya, dan melalui pemanfaatn secara lestari sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya.
Perangkat hukum lain yang juga bisa dijadikan dasar pijakan dari upaya konservasi
adalah UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Undang-undang ini memuat
aturan konservasi di kawasan hutan. Pasal 1 angka 2 undang-undang ini menyatakan
bahwa yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Selanjutnya Pasal 7 menyatakan bahwa hutan konservasi sebagaimana dimaksud
dalam pasal 6 ayat (2) terdiri dari kawasan hutan suaka alam, kawasan hutan pelestarian
alam, dan taman buru. Walaupun ketentuan konservasi ini masih berorientasi daratan
namun prinsip-prinsip pengaturan mengenai konservasi secara analogi dimungkinkan
untuk diterapkan pada kawasan konservasi di perairan, khususnya yang memberikan
perlindungan hukum terhadap ekosistem yang menjadi habitat satwa langka.
Namun, perangkat perundang-undangan yang khusus mengatur tentang kawasan
perairan bukannya tidak ada. Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan
mengatur penetapan status hukum kawasan perairan. Secara khusus, undang-undang ini
memberikan wewenang kepada menteri untuk menetapkan status suatu bagian perairan
tertentu sebagai kawasan Suaka Alam Perairan, Taman Nasional Perairan, atau Suaka
Perikanan. Penetapan status kawasan perairan tersebut bertujuan untuk melindungi dan
melestarikan sumber-sumber kekayaan alam hayati dan ekosistemnya.
Pasal 7 ayat (1) UU No 31 tahun 2004 ini menyatakan bahwa dalam rangka
mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya ikan, Menteri menetapkan rehabilitas
38
dan peningkatan sumber daya ikan serta lingkungannya, suaka perikanan, dan jenis ikan
yang dilindungi. Pada ayat (5) disebutkan bahwa Menteri menetapkan jenis-jenis ikan
dan kawasan perairan yang masing-masing dilindungi, termasuk taman nasional laut,
untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, dan/atau kelestarian
sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.
Yang dimaksud dengan jenis ikan seperti disebutkan dalam ayat (5) tersebut adalah
pisces (ikan bersirip); krustasea (udang, rajungan, kepiting, dan sebangsanya); moluska
(kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sebangsanya); coelenterata (ubur-ubur dan
sebangsanya); echinodermata (teripang, bulu babi dan sebangsanya); amfibia (kodok dan
sebangsanya); buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya; mamalia (paus,
lumba-lumba, pesut, duyung, dan sebangsanya); algae (rumput laut dan tumbuhan lain
yang hidupnya di dalam air); Biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis
tersebut, semua termasuk bagian-bagiannya dan ikan yang dilindungi.
Pasal lain yang memperkuat soal konservasi perairan adalah pasa 13 ayat (1) yang
menyatakan bahwa untuk mengelola sumber daya ikan, dilakukan upaya konservasi
ekosistem, konservasi jenis ikan, dan konservasi genetika ikan. Selanjutnya dalam pasal
14 ayat (1) disebutkan “pemerintah mengatur dan/atau mengembangkan pemanfaatan
plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan dalam rangka pelestarian
ekosistem dan pemuliaan sumber daya ikan.”
Namun, bukan hanya pemerintah yang berkewajiban melakukan konservasi. Dalam
pasal 14 ayat (2) disebutkan bahwa setiap orang wajib melestarikan plasma nutfah yang
berkaitan dengan sumber daya ikan.
Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga secara
implisit menyebutkan bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan
untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Kewenangan itu meliputi eksplorasi,
eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut. Yang juga termasuk dalam
kewenangan yang dimaksud pasal ini adalah pengaturan administratif, pengaturan tata
ruang, penegakan hukum terhadap aturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang
dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah. Pemerintah daerah juga mesti ikut
serta dalam pemeliharaan keamanan dan pertahanan kedaulatan negara. Kewenangan
di bidang konservasi memungkinkan daerah untuk mencadangkan kawasan konservasi
perairan dan mengelola sesuai dengan kewenangannya.
Aturan yang lebih spesifik tentang konservasi mungkin termaktub dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam. PP ini merupakan pelaksanaaan dari Undang-undang Nomor 5 tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pengertian
Kawasan Suaka Alam menurut peraturan ini adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,
baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga
berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
Sedangkan yang dimaksud kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri
khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.
Serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Lalu, di mana perbedaan antara kawasan suaka alam dengan kawasan pelestarian
alam? Jika melihat dua definisi tersebut terlihat bahwa di kawasan pelestarian alam,
daratan maupun perairan, dimungkinkan untuk dilakukan kegiatan pemanfaatan secara
lestari (berkelanjutan) dengan memerhatikan daya dukung ekosistemnnya. Selanjutnya,
kawasan suaka alam dibagi menjadi cagar alam dan suaka margasatwa, sedangkan
39
Perangkat perundang-undangan
yang khusus mengatur tentang kawasan
konservasi perairan bukannya tidak ada.
Undang-undang Nomor 31 tahun 2004
dan PP Nomor 60 tahun 2007, mengatur
penetapan status hukum kawasan
konservasi perairan
kawasan pelestarian alam dibedakan menjadi taman nasional, taman hutan raya, dan
taman wisata alam.
Nomenklatur (penamaan) kawasan sebagaimana telah dijelaskan di atas secara
analogi dapat dipersamakan dengan pengertian kawasan-kawasan yang termuat di
dalam Undang-undang 31 tahun 2004 tentang perikanan. Sepanjang menyangkut urusan
kelautan dan perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam rangka mendukung
kesiapan pengelolaan sumber daya ikan, menetapkan suaka perikanan - pasal 7 ayat (1)
dan huruf [q].
Aturan lainnya yang dijadikan pijakan untuk pengelolaan konservasi kawasan adalah
Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan
Satwa. Dalam Pasal 1 butir 8, dituliskan bahwa pelaksanaan pengawetan dan pemanfaatan
jenis tumbuhan dan satwa merupakan tanggung jawab menteri yang bertanggung
jawab di bidang kehutanan. Khusus pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar diatur
kemudian dalam Peraturan Pemerintah tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan
dan Satwa Liar, di mana pasal 1 butir 9 PP ini berbunyi ”pelaksanaan pengawetan dan
pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar merupakan tanggung jawab menteri yang
bertanggung jawab di bidang kehutanan.”
Aturan domestik terbaru yang mengatur konservasi kawasan perairan, lebih khusus
konservasi sumber daya ikan adalah Peraturan Pemerintah No 60 tahun 2007 tentang
Konservasi Sumber Daya Ikan. PP ini dimaksudkan untuk melaksanakan ketentuan pasal
13 UU No 31/2004 tentang Perikanan. PP ini juga memberikan kewenangan kepada
Menteri (Kelautan dan Perikanan) untuk menetapkan kawasan konservasi perairan.
Di samping itu, PP ini juga memberi kewenangan kepada Menteri Kelautan dan
Perikanan untuk menetapkan status perlindungan jenis ikan tertentu (pasal 24 ayat 1)
yang meliputi jenis ikan yang dilindungi dan jenis ikan yang tidak dilindungi.
Jenis ikan tertentu dapat ditetapkan sebagai jenis ikan yang dilindungi jika memenuhi
beberapa kriteria, di antaranya: apabila mereka terancam punah, langka, daerah
penyebaranya terbatas dan tingkat kemampuan reproduksinya rendah. Hal utama dari
PP ini yang menjadi dasar terkuat dari proses penyelarasan urusan konservasi perairan
adalah ketentuan bahwa Departemen/Kementerian yang bertanggung jawab di bidang
perikanan ditetapkan sebagai otoritas pengelola konservasi sumber daya ikan. w
40
41
42
43
Membangun Kerja Sama
Internasional
M
engingat wilayah perairan (laut) merupakan sistem yang tidak terpisah secara fisik dengan
negara-negara lain, kerja sama internasional dalam konservasi sangat diperlukan terutama
untuk mencegah kepunahan yang disebabkan oleh pengelolaan dan pemanfaatan yang tidak
berkelanjutan. Beberapa konvensi internasional terkait dengan konservasi yang mengikat secara
hukum di antaranya adalah Convention on International Trade of Endangered Species (CITES),
Ramsar, dan Convention on Biological Diversity (CBD).
Indonesia telah meratifikasi konvensi CITES yang ditandatangani di Washington, D.C. pada
1973 dan telah berlaku secara efektif sejak 1975. Konvensi tersebut telah menjadi hukum
nasional melalui ratifikasi Keputusan Presiden nomor 43 tahun 1978. Ketentuan CITES kemudian
menjadi tanggung jawab bersama dalam pelaksanaannya, namun harus didasari oleh peraturan
perundang-undangan nasional yang memadai. Dalam Article VIII CITES disebutkan bahwa
setiap negara anggota Konvensi wajib mempunyai legislasi nasional (peraturan perundangundangan) yang memadai untuk pelaksanaan CITES dengan efeftif, yang dapat memberikan
mandat kepada setiap negara anggota untuk menunjuk satu atau lebih otoritas pengelola
(Management Authorities) yang berkompeten untuk menerbitkan izin atau sertifikat atas nama
Negara Pihak, dan satu atau lebih Otoritas Keilmuan (Scientific Authorities) untuk memberikan
pendapat atau nasihat kepada otoritas pengelola.
Konvensi lain yang terkait dengan konservasi adalah Konvensi tentang Keanekaragaman
Hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD), yang mengatur tentang konservasi
keanekaragaman hayati, pemanfaatan yang berkelanjutan, serta pembagian yang adil terhadap
pemanfaatan genetik. Beberapa keputusan yang sangat terkait di antaranya adalah tentang
konservasi pesisir, pantai, dan laut. Sementara itu, Konvensi Ramsar memberikan pedoman
tentang pengelolaan dan pemanfaatan yang bijaksana terhadap lahan basah, termasuk jenisjenis yang ada di dalamnya.
Upaya membangun jejaring kerjasama dalam konservasi sumberdaya ikan secara regional
dan internasional telah dikembangkan di kawasan laut sulu Sulawesi, Bismarck Solomon
maupun pada wilayah segitiga karang (the coral triangle)
Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion (SSME) merupakan suatu kawasan ekoregion laut dari
segitiga terumbu karang (coral triangle) yang terletak di laut Sulu dan laut Sulawesi yang secara
yurisdiksi masuk ke dalam wilayah tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Philipina. Ketiga
negara sepakat untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pengelolaan
Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 13 Februari 2004.
Penandatanganan MoU Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion telah memberikan jalan bagi
terbentuknya komite nasional tiga negara atau Tri-National Committee, suatu mekanisme yang
akan mengawasi pelaksanaan kegiatan dalam kerangka kerjasama konservasi di kawasan
ekoregional laut Sulu-Sulawesi.
Konservasi perairan di wilayah ekoregion Bismarck dan sekitarnya, dilakukan melalui
kerjasama antara tiga negara, yaitu Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon,
Salah satu fokus dalam kerjasama ini adalah konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys
44
Memberikan sambutan dalam pertemuan mengenai kemitraan dalam penyelamatan penyu, Menteri
Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi telah memaparkan komitmen Indonesia melindungi aset
bangsa yang amat berharga.
corlacea), yang merupakan penyu tertua dan endemik serta terancam punah. Kerjasama
ini menjamin Penyu Belimbing dengan sebaran geografis paling luas untuk jenis reptil,
untuk bebas bertelur, menetas, mencari makan dan bermigrasi di Ekoregion Laut Bismarck
Solomon. BSSE merupakan habitat Penyu Belimbing dengan luasnya sekitar 2 juta km2,
terbentang dari Semenanjung Vogelkop (Doberai) di Papua Nugini, Indonesia, melintasi
wilayah kenegaraan dan Kepulauan Bismarck di Papua Nugini, sampai Kepulauan Makira
di Kepulauan Solomon. Nota kesepahaman pembentukan jejaring BSSE dalam bidang
konservasi dan pengelolaan Penyu Belimbing di Pasifik Barat (The Tri-National Pastnership
for Western Pacific Leatherback Turtles) ditandatangani dan diresmikan di Bali pada tanggal
28 Agustus 2006.
Coral Triangle Initiative atau CTI merupakan jejaring yang melibatkan enam negara
yaitu Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.
Pada awal bulan September 2007, CTI telah mendapatkan perhatian dari negara-negara
yang hadir dalam APEC Summit di Sydney, Australia. Coral Triangle Initiative ini dimaksudkan
untuk: (1) penentuan bentang laut (seascapes) prioritas yang cukup luas untuk percontohan
pengelolaan yang baik dan berkelanjutan di setiap negara; (2) pengembangan jejaring
kawasan konservasi laut; (3) pengelolaan perikanan berbasis eksositem dan pariwisata
alam; dan (4) pengembangan pendanaan yang berkelanjutan, pembangunan kapasitas dan
pelibatan sektor swasta.
Pengembangan kerjasama dan langkah strategis skala regional maupun internasional
tersebut terus ditindaklanjuti dengan peran aktif dan langkah nyata untuk mendukung
pelaksanaan konseravsi perairan di Indonesia serta berkontribusi positif terhadap
penyelesaian masalah lingkungan dunia.
45
Kebijakan dan Strategi
Konservasi Sumber Daya Ikan
P
ertemuan puncak dunia mengenai pembangunan berkelanjutan di Johannesburg
pada 2002 mendeklarasikan bahwa samudra, laut, pulau dan wilayah pantai
merupakan satu komponen terpadu dan esensial dari ekosistem Bumi yang sangat
penting bagi ketersediaan pangan global yang aman untuk menjaga kemamuran
ekonomi dan kesejahteraan ekonomi banyak negara, terutama di negara-negara
berkembang.
Karena itu, guna memastikan pembangunan konservasi dan pengelolaan
sumber daya ikan yang berkelanjutan membutuhkan koordinasi dan kerja sama
yang efektif, termasuk pada tingkat globa dan regional di antara badan-badan yang
berkepentingan.
Arah kebijakan pembangunan lingkungan hidup dan sumber daya alam tersebut
menunjukkan prinsip-prinsip yang sangat mendasar, dan harmonisasi antara keseimbangan, keselarasan, dan keserasian sistem ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya
Pem-bangunan yang semata-mata menempatkan sistem dan fungsi ekonomi sebagai
prioritas dan mengabaikan fungsi ekologi, sosial, dan budaya akan menimbulkan
masalah-masalah yang pelik dan konflik sosial yang berkepanjangan. Oleh karena
itu, upaya pemerintah untuk membangun dan mengembangkan kesimbangan fungsi
ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya harus dapat terimplementasikan dalam berbagai
perangkat kebijakan maupun program pemerintah. Ini sesuai dengan Kebijakan
Departemen Kelautan dan Perikanan, seperti tertuang dalam visinya, yaitu pengelolaan
sumber daya kelautan dan perikanan yang bertanggung jawab bagi kesejahteraan
anak bangsa.
Sebagai pelaksanaan visi dan misi DKP, maka Direktorat Jenderal Kelautan,
Pesisir, dan Pulau-pulau kecil menetapkan visi, yakni pengelolaan kelautan, pesisir,
dan pulau-pulau kecil secara optimal dan lestari bagi kesejahteraan masyarakat. Visi
ini dijabarkan dalam lima misi, antara lain memfasilitasi terwujudnya penataan ruang
untuk kepentingan dan kepastian hukum bagi pembangunan di wilayah laut, pesisir,
dan pulau-pulau ekcil, memperbaiki sistem pengelolaan pesisir dan lautan untuk
mewujudkan wilayah pesisir dan lautan yang bersih, sehat, produktif dan aman.
Direktorat konservasi dan taman nasional laut, sebagai bagian dari Ditjen
Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil yang mengemban misi mengembangkan
konservasi sumber-sumber daya ikan dan lingkungannya melalui upaya perlindungan,
pelestarian, dan pemanfaatan yang berkelanjutan pada tingkat ekosistem, jenis,
dan genetik, menetapkan strategi pengelolaan konservasi sumber daya ikan dan
lingkungannya dengan mengembangkan kebijakan penyusunan/pengembangan
pedoman, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan,
pengembangan pilot project, bimbingan teknis fasilitasi serta mengembangkan
kerja sama nasional dan internasional di bidang konservasi sumber daya ikan dan
lingkungannya.
46
Membahas kebijakan dan strategi konservasi sumberdaya ikan yang telah disusun pada
kesempatan, para pengambil keputusan menentukan pula program aksi beserta langkah kerja
pelaksanaannya. Hasil-hasil ini yang akan diimplementasikan di lapangan.
Beberapa kebijakan dan strategi Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
yang mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) Ditjen KP3K tahun 2005-2009, di
antaranya adalah mengembangkan strategi utama konservasi keanerkaragaman
hayati laut, kebijakan dan strategi pengelolaan terumbu karang, jejaring kawasan
konservasi laut, serta berbagai panduan maupun pedoman sebagai pelaksanaan dari
kebijakan dan strategi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Pelaksanaan konservasi sumber daya ikan dan lingkungannya pada Direktorat
Konservasi dan Taman Nasional Laut bertujuan untuk mewujudkan konservasi
sumber daya ikan dan lingkungannya melalui upaya perlindungan, pelestarian, dan
pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik. Semuanya
dalam rangka menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan dengan
tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragaman sumber
daya ikan untuk kesejahteraan masyarakat.
Target yang hendak disasar oleh kebijakan ini di antaranya adalah mewujudkan
pengembangan kawasan konservasi perairan seluas 3,5 juta ha (tahun 2009),
terlaksananya pengembangan konservasi jenis dan genetik di tiga wilayah biogeografi.
Selain itu, sasaran yang hendak dicapai adalah rehabilitasi ekosistem sumber daya
ikan dan lingkungannya di delapan provinsi, 15 kabupaten, dan 21 lokasi.
Dengan berbagai program dan kebijakan yang diusung Departemen Kelautan dan
Perikanan, serta dukungan aturan perundang-undangan, maka proses harmonisasi
urusan konservasi kawasan perairan telah memberikan jalan terang dan benang
merah, yakni bahwa pemisahan urusan konservasi terkait erat dengan kompetensi
dan cakupan kebijakan. Dengan adanya penyelarasan, maka upaya konservasi akan
berjalan efektif dan efisien, tanpa tumpang tindih kewenangan, apalagi konflik
kepentingan. Semua demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
47
48
49
50
51
Harmonisasi Pengelolaan
Konservasi Kawasan
Perairan dan Jenis Ikan
E
kosistem perairan, baik kawasan perairan air tawar, perairan payau, atau perairan
laut beserta seluruh komponen ekologi di dalamnya merupakan sebuah sistem
yang kompleks. Sebagai contoh, kawasan konservasi di wilayah perairan saja
mencakup kawasan pesisir dan lautan, termasuk tumbuhan dan hewan yang hidup dan
berkembang di dalamnya. Selain itu, kekayaan laut juga meliputi peninggalan sejarah dan
sosial budaya di bawahnya.
Di luar sistem fisiknya, kawasan ini juga memiliki nilai penting dilihat dari sisi
ekonomi, khususnya dalam pembangunan industri perikanan. Berbagai penelitian
yang dilakukan di beberapa negara menunjukkan bahwa konservasi kawasan perairan
berfungsi untuk meningkatkan produksi telur di dalam kawasan konservasi perairan
hingga sepuluh kali lipat. Dengan konservasi, jumlah kelimpahan ikan bisa mencapai
dua hingga sembilan kali lipat, ukuran rata-rata ikan juga membesar 33-300 persen,
sedangkan keanekaragaman spesies di dalam kawasan konservasi laut lebih tinggi
30-50 persen dibandingkan bila tidak dilakukan langkah-langkah konservasi.
Bersandar pada nilai fisik dan nilai ekonomi tersebut, prinsip-prinsip yang
mesti diterapkan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan mesti mencakup
keterpaduan, partisipasi, serta mesti melibatkan banyak pemangku kepentingan, dengan
berfokus pada manajemen sumber daya perairan secara berkelanjutan.
Lalu, sejauh mana sebuah kawasan bisa ditetapkan sebagai kawasan konservasi
perairan? Tentunya kawasan tersebut harus mempunyai nilai dan kepentingan
konservasi, setidaknya area tersebut harus memiliki keterwakilan ekosistem, memiliki
kemampuan daya pulih, dan memiliki jenis ikan langka (endemik, dan/atau terancam
punah). Sebuah kawasan perairan yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi juga
bisa diajukan sebagai kawasan konservasi.
Hal lainnya yang patut menjadi bahan pertimbangan bagi sebuah kawasan untuk
ditetapkan sebagai kawasan konservasi adalah wilayah tersebut merupakan wilayah
ruaya bagi biota perairan, mengandung aspek sosial-ekonomi regional dan pragmatis
serta potensi biofisik lainnya. Yang tidak boleh dilupakan, kondisi biota dan fisik
lingkungan perairannya masih alami.
Masing-masing elemen tersebut membutuhkan strategi pengelolaan yang khas dan
sistemis. Dengan begitu, para pemangku kepentingan yang terlibat juga perlu duduk
bersama untuk merumuskan tugas dan tanggung jawab semua pihak. Dalam titik inilah
istilah penyelarasan mencuat. Penyelarasan atau harmonisasi urusan bidang konservasi
kawasan dan konservasi jenis ikan menjadi penting dilakukan untuk mewujudkan
efektivitas pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan (sustainable).
52
Di luar sistem fisiknya, kawasan konservasi perairan juga memiliki nilai penting dilihat dari sisi ekonomi, khususnya
dalam pembangunan perikanan. Aktivitas ekonomi inilah yang menjadi potensi besar negeri bahari untuk
memberikan kemakmuran pada rakyat. KM Biawak sebagai salah satu sarana pengamanan di KKLD Indramayu.
Sampai saat ini, kewenangan urusan pemerintahan di bidang konservasi kawasan
perairan dan konservasi jenis ikan dilaksanakan oleh lebih dari satu instansi, dengan
mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berbeda. Dengan sistem pengelolaan
seperti itu, akan timbul tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan. Tumpang
tindih wewenang ini lambat laun dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, sedangkan
benturan kepentingan dapat mengurangi efektivitas dan efisiensi pengaturan. Sebabnya
jelas: perumusan dan pelaksanaan kebijakan dilakukan oleh lebih dari satu otoritas.
Kawasan konservasi perairan memerlukan pendekatan manajemen yang lebih
spesifik, antara lain karena terkait dengan dinamika ekosistem perairan yang senantiasa
bergerak serta karakteristik biota perairan yang tidak mengenal pemisahan wewenang
maupun batas-batas wilayah administrasi pemerintahan.
Di sisi lain, efektivitas dan efisiensi pelaksanaan wewenang urusan-urusan
pemerintahan di bidang konservasi kawasan perairan dan konservasi jenis ikan
berkaitan sangat erat dengan tugas pokok dan fungsi serta kompetensi masing-masing
instansi pelaksana mandat. Selain itu, menurut undang-undang hukum laut internasional,
laut merupakan sumber daya milik umum (public property) sehingga pengelolaannya
memerlukan fleksibilitas dalam penetapan hukum di tingkat nasional.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, hal ini sering menimbulkan ketidakefisienan
dan ketidakefektifan dalam proses penentuan arah kebijakan konservasi sumber daya
perairan. Jalan tengah yang perlu dilakukan adalah perumusan pembagian urusan
secara lebih jelas agar tercipta keselarasan kerja, baik pada tahap pembuatan kerangka
kebijakan dan pengaturan (policy and regulatory framework) maupun pada tahap
implementasinya.
53
54
55
Evaluasi dan pemantauan, dilakukan secara terpadu melalui kunjungan lapang untuk melihat dari dekat
capaian program yang telah dilaksanakan. Kunjungan seperti ini sekaligus memberikan perhatian dan
dorongan kepada masyarakat yang tengah giat melakukan konservasi kawasan perairan.
Upaya tersebut mulai dilakukan dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama
Menteri Kelautan dan Perikanan RI dan Menteri Kehutanan RI pada tanggal 26
Desember 2006 tentang Pembentukan Tim Penyelarasan Urusan Departemen Kelautan
dan Perikanan dan Departemen Kehutanan di Bidang Konservasi dan Pesisir. Tim ini
bertugas menginventarisasi urusan pemerintahan di bidang konservasi kawasan dan
konservasi jenis ikan yang perlu diselaraskan, termasuk merekomendasikan pembagian
urusan dan kompetensi masing-masing departemen dalam urusan konservasi kawasan
dan konservasi jenis ikan. Pertemuan-pertemuan maraton antara pihak-pihak yang
berkepentingan juga dilakukan setelahnya.
Kurun waktu tahun selanjutnya (2002-2004), dilakukan upaya menindaklanjuti
penguatan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Indonesia, khususnya di 6
lokasi TNL, dengan kegiatan pemantapan dan penyerasian program pengelolaan bersama
di bidang kelautan dan perikanan.
Sebagai implikasi kelembagaan dari pengaturan nasional yang berkembang dari
Undang-undang No 5 tahun 1990 dan UU No 31 tahun 2004, juga sejalan dengan
ketentuan Article VIII dan IX CITES, dua lembaga nasional bisa melaksanakan Konvensi
CITES di Indonesia: Dephut bertindak sebagai otoritas pengelola jenis-jenis tumbuhan
dan satwa liar daratan, sedangkan DKP bertindak sebagai otoritas pengelola biota
perairan dan/atau sumber daya ikan. Hal ini sangat dimungkinkan sebagaimana telah
dilakukan di negara lain. Dengan pembagian tugas dan wewenang ini diharapkan tidak
lagi terjadi tumpang tindih kewenangan dalam konservasi sumber daya alam.
Pemisahan ini juga merupakan konsekuensi logis dari dibentuknya Departemen
Eksplorasi Laut dan Perikanan (DELP) pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman
56
Upaya konservasi perairan, termasuk kawasan perairan darat, tidak saja dilakukan oleh pemerintah pusat,
pengelola daerah mampu menunjukkan partisipasi aktif terhadap kearifan lokal yang mereka miliki. Pemerintah
Kabupaten Pesisir Selatan telah memberikan contoh terhadap kearifan seperti lubuk larangan.
Wahid pada 1999. DELP kemudian berganti nama menjadi DKP yang tugas pokoknya
mencakup bidang kelautan dan perikanan, termasuk pengelolaan dan konservasi sumber
daya ikan.
Konservasi Kawasan
Pengaturan konservasi kawasan mengacu pada tiga undang-undang, yaitu
Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi SUmber Daya Alam Hayati
dan Ekosistemnya. UU No 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan UU Nomor 27
tahun 2007, tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
Dalam kaitan dengan pendekatan tersebut, Departemen Kehutanan melalui Ditjen
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) menyelenggarakan konservasi
melalui penetapan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA),
baik di daratan maupun di perairan. Dengan demikian, kebijakan pengelolaan kawasan
konservasi didasarkan pada status hukum yang disesuaikan dengan peruntukannya,
yaitu: cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata
alam, dan taman buru. Pengelolaan KSA dan KPA tersebut memasukkan wilayah
perairan karena UU tidak membatasi ekosistem hanya pada bagian daratan saja.
Selain itu, penetapan ekosistem perairan di dalam jaringan KPA dan KSA
merupakan kebutuhan logis yang didasarkan pada kaidah ilmiah bahwa ekosistem
perairan tersebut perlu diwakili dalam jaringan kawasan konservasi. UU No 27
tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil pasal 28
telah mengamanatkan penetapan kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulaupulau kecil oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.
57
Beraktivitas di wilayah perairan dangkal, para nelayan memerlukan pengetahuan lebih jauh mengenai cara
tangkap yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (halaman sebelah). Peran pemerintah pusat dan daerah
mengembangkan sektor pendidikan bahari sangat dinantikan oleh sejumlah warga (atas).
Saat ini pemerintah RI telah mencanangkan 10 juta ha kawasan konservasi
perairan laut pada 2010 dan realisasi pencapaiannya diharapkan dapat dipercepat
dengan UU tersebut. Hingga kini telah ditunjuk sekitar 8,7 juta ha kawasan
konservasi perairan yang terdiri dari KSA dan KPA, dan KKP yang diinisiasi daerah
dengan fasilitas DKP dan pemda.
Pengembangan kawasan konservasi perairan ini secara khusus ditujukan untuk
mendukung pengelolaan sumber daya ikan pada tataran konservasi ekosistem/
kawasan, konservasi jenis dan konservasi genetik ikan. Sejalan dengan upaya
konservasi perairan yang bertumpu pada pilar tersebut, sebagai turunan UU 31
tahun 2004 telah terbit Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumber Daya
Ikan (PP 60 tahun 2007).
Lalu, bagaimana program dan tindak lanjut upaya konservasi ke depan? Dalam
jangka pendek, pengelolaan kawasan konservasi yang telah melembaga seperti
Balai Taman Nasional yang dikelola Dephut dilaksanakan oleh Dephut. Untuk aspek
perairan dan kelautan bisa lakukan kolaborasi antara Dephut dan DKP. Untuk
kegiatan-kegiatan yang menjadi kepentingan bersama, Dephut dan DKP wajib
berkoordinasi.
Selanjutnya, DKP mengelola konservasi kawasan perairan untuk kawasan
konservasi baru berdasarkan UU No 31 tahun 2004 dan PP No 60 tahun 2007
serta UU No 27 tahun 2007 yang difasilitasi DKP dan pemda, termasuk ketetapan
untuk meningkatkan efisiensi, maka perlu ada penataan kelembagaan. Ke depannya,
seluruh pengelolaan kawasan konservasi perairan mesti dilakukan oleh satu otoritas
demi tercapainya efisiensi dan efektivitas.
58
59
Melestarikan kawasan perairan sekaligus menyelamatkan kehidupan di dalamnya. Satwa unik yang ditemukan dalam ekosistem terumbu karang dapat menjadi modal penting bagi pembangunan wisata bahari masa
mendatang. Akan tetapi, kegiatan penggerak ekonomi itu harus memerhatikan kelestarian ekosistem.
Konservasi Jenis
Dengan diberlakukannya UU 31/2004 yang mengamanatkan upaya konservasi
ekosistem, konservasi jenis ikan, dan konservasi genetika ikan, maka penyelenggaraan
konservasi sumber daya ikan (KSDI) di Indonesia merupakan bagian tidak
terpisahkan dari pengelolaan sumber daya ikan agar berkelanjutan.
Apabila UU ini dikaitkan dengan UU sebelumnya yakni UU No 5/1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang menyebutkan bahwa
ketentuan mengenai satwa yang dilindungi diatur dengan Peraturan Pemerintah,
juga dengan terbitnya PP No 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan
Satwa, yang salah satunya menguraikan jenis satwa yang dilindungi, termasuk habitat
perairan, maka ada titik persinggungan. Objek pengaturan yang bersinggungan
khususnya menyangkut definisi ikan yang termasuk kategori mamalia perairan,
reptilia perairan, dan pisces.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka penyusunan dan penetapan peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan jenis
ikan, termasuk jenis ikan yang dilindungi, perlu juga mengacu pada ketentuan UU
31 tahun 2004 agar tidak timbul dualisme pengaturan. Sedangkan untuk penetapan
status tumbuhan dan satwa yang dilindungi tetap mengacu pada Peraturan
Pemerintah No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Dalam pelaksanaannya dapat dipertimbangkan juga prinsip-prinsip hukum yang
berlaku.
Langkah ke depan untuk konservasi jenis adalah menelaah kembali ketentuan
hukum yang ada agar bisa diterima oleh CITES. DKP juga perlu membuat
Non Detrimen Findings bagi seluruh spesies yang diperdagangkan. Dan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, DKP perlu mengembangkan magang
bagi para personel DKP terkait pelaksanaan CITES.
60
Keterpaduan upaya konservasi perairan, tidak saja dilakukan oleh pemerintah pusat, pengelola daerah
mampu menunjukkan partisipasi aktif terhadap kearifan lokal yang mereka miliki. Harmonisasi urusan
konservasi antara DKP dan Dephut sebagai salah satu wujud nyata.
Budidaya perikanan memerlukan perhatian secara khusus, yang sekaligus mampu memicu aktivitas ekonomi
masyarakat setempat. Penyebaran pengetahuan budidaya yang ramah lingkungan akan menghindarkan daya
dukung ekosistem yang jenuh dan memastikan keberlanjutan sumber daya ikan.
61
Pembelajaran pengelolaan lingkungan yang baik pada suatu wilayah dapat dijadikan contoh untuk
implementasi di wilayah lainnya. Kisah sukses akan terus bergulir dan diadapatasi demi mendukung capaian
target luasan konservasi kawasan perairan di negara kita.
Meminimalkan risiko
Sebuah proses pengalihan tanggung yang begitu besar pasti tidaklah mudah, apalagi
menyangkut institusi/lembaga kenegaraan. Karena itu, proses pengalihan dilakukan
secara bertahap untuk meminimalkan risiko yang mungkin muncul. Yang pertama
dilakukan adalah membahas opsi-opsi penyelarasan urusan.
Agar proses pengalihan dan pembagian wewenang konservasi tidak cacat hukum
maka muncul opsi mengenai revisi peraturan perundang-undangan. Ini adalah pilihan
yang paling berat dan biasanya memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, sehingga
bisa menjadi beban bagi instansi yang berkepentingan. Kajian terhadap pilihan ini
memperoleh kesimpulan bahwa dalam jangka pendek, revisi peraturan perundangundangan bukan merupakan pilihan yang bijaksana, terutama karena dapat diperkirakan
akan memerlukan proses dan waktu serta biaya yang besar. Padahal negara sedang
berada di tengah-tengah kesulitan anggaran.
Namun, jika memang tidak dapat dihindari, singkronisasi peraturan perundangundangan dapat dilakukan melalui revisi terbatas terhadap pasal tertentu dari
perangkat undang-undang yang berkaitan dengan konservasi perairan dan konservasi
jenis. Pengaturan tentang jenis-jenis ikan yang dilindungi, termasuk jenis genetik ikan,
berdasarkan Undang-undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan secara prinsip tidak
akan menimbulkan dualisme kewenangan.
Opsi kedua yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko adalah melakukan
inventarisasi kegiatan-kegiatan yang sudah melembaga. Opsi ini tampaknya lebih rasional
dan bisa segera dilaksanakan. Melalui inventarisasi kegiatan yang sudah melembaga
diharapkan dapat segera diketahui secara objektif kewenangan-kewenangan apa saja
yang telah dilaksanakan secara optimal dan telah dibentuk kelembagaannya. Sebaliknya
melalui proses inventarisasi bisa pula diidentifikasi kewenangan-kewenangan yang
dianggap belum optimal.
62
Melalui inventarisasi pelaksanaan urusan dan pengkajian efektivitasnya maka
kewenangan bisa dipilah dan disesuaikan dengan tupoksi masing-masing, sehingga
diharapkan tidak lagi terjadi tumpang tindih wewenang.
Kajian terhadap pilihan kedua ini memperoleh kesimpulan bahwa inventarisasi
wewenang di bidang konservasi yang telah dilaksanakan secara optimal merupakan
opsi yang paling bijaksana dan dapat segera dilaksanakan.
Opsi terakhir yang bisa dilakukan adalah bedol desa. Pengertian bedol desa di
sini adalah pemindahan unit-unit kerja dan personil konservasi dari Departemen
Kehutanan ke Departemen Kelautan dan Perikanan. Opsi ini walaupun secara normatif
kelihatannya mungkin untuk dilakukan, namun pelaksanaannya tidak semudah yang
dibayangkan.
Setelah dilakukan inventarisasi pilihan-pilihan apa saja yang bisa diambil untuk
meminimalkan masalah di kemudian hari, proses penyelarasan beranjak ke masalah
inti: program dan rencana tindak lanjut.
Untuk program konservasi kawasan, pengelolaan konservasi perairan yang
sudah melembaga, seperti Balai Taman Nasional yang sudah dikelola Dephut tetap
dikelola Dephut. Namun jika menyangkut aspek substantif kelautan dan perikanan
perlu dilakukan kolaborasi pengelolaan dengan DKP. Kegiatan-kegiatan yang menjadi
kepentingan bersama akan dikoordinasikan oleh kedua belah pihak.
Dalam jangka panjang, perlu dipikirkan langkah-langkah perumusan dan pelaksanaan
kawasan konservasi perairan yang dilakukan oleh satu otoritas. Tujuannya jelas:
peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan.
Untuk rencana program konservasi jenis, konsentrasi utamanya adalah melaksanakan
CITES bagi jenis ikan. Pelaksanaan CITES bisa menggunakan UU No 5 tahun 1990
yang dinilai telah memenuhi syarat pelaksanaan CITES. Penggunaan undang-undang
lain mesti mendapat persetujuan dari CITES Legislation Project di sekretariat CITES.
Apabila penilaian dari CITES dianggap tidak memenuhi syarat, maka negara anggota
CITES akan mengembargo perdagangan jenis-jenis ikan dari Indonesia.
Pada akhirnya, agar proses harmonisasi bisa berjalan lancar, konsekuensi logis yang
harus ditanggung adalah persiapan kelembagaan dan pembiayaan untuk masa transisi.
Dalam hal ini, DKP telah mempersiapkan delapan unit pelaksana teknis (UPT) di
bidang kelautan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan perincian: enam Balai Pengelolaan
Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), dan dua Balai Konservasi Kawasan Perairan
Nasional (BKKPN).
Dengan berbekal persiapan konsep dan teknis pengelolaan serta pembagian urusan
yang jelas dan sistematis, manajemen konservasi kawasan dan konservasi jenis ikan di
area perairan yang kompleks diharapk an bisa terlaksana dengan baik. Semoga. w
63
64
65
Sumber daya ikan menjadi nafas utama bagi masyarakat di kawasan pesisir, yang menyokong kehidupan
ekosistem sekitar. Untuk menjamin keberlanjutan daya dukung lingkungan, sejumlah pihak telah menawarkan
kemitraan dalam penyelamatan kawasan, yang berbasiskan masyarakat setempat.
66
67
Biota penghuni ekosistem terumbu karang, seperti crocodile fish, akan sangat menarik minat para peneliti
dan penyelam (atas). Kegiatan penelitian dan pengambilan dokumentasi mengenai kekayaan perairan laut
Indonesia telah dilakukan oleh sejumlah pihak, termasuk LSM dan masyarakat (halaman sebelah).
Memberikan informasi kepada siapa saja yang mengunjungi kawasan konservasi, pemerintah daerah telah
menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pelestarian sumber daya ikan yang berada di wilayahnya.
Komitmen itu juga ditunjukkan oleh Kabupaten Sorong yang melindungi wilayah pesisir Abun.
68
69
70
71
Kawasan Konservasi
Perairan Pada Masa Kini
K
esadaran akan pentingnya menjaga sumberdaya alam dan keanekaragaman
hayati perairan semakin tumbuh di seluruh dunia. Saat ini sudah 23 negara
yang telah menetapkan lebih dari 100 kawasan konservasi laut (KKL)
sebagai upaya konservasi kawasan perairan dengan tujuan untuk perlindungan
keanekaragaman hayati, pengelolaan perikanan dan memperbarui populasi ikan dan
biota laut lainnya yang terancam punah.
Mengapa kesadaran itu muncul? Beberapa kajian yang telah dilakukan secara
komprehensif terhadap 80 KKL di dunia menunjukkan bahwa KKL yang dikelola
dengan baik dan dilengkapi dengan rencana pengelolaan dan penegakan hukum
telah memberikan manfaat positif bagi pengelolaan perikanan. Manfaat itu misalnya
peningkatan populasi ikan dalam waktu relatif singkat, peningkatan jumlah spesies
dan laju reproduksi biota laut lainnya.
Manfaat yang didapat dengan adanya KKL utamanya berhubungan dengan
proses-proses biofisik, seperti spillover, ekspor spesies ikan dewasa maupun
benih ke daerah penangkapan ikan, ekspor larva ikan dari tempat pemijahan yang
tersedia sebagai stok perikanan. Manfaat KKL kepada perikanan tersebut sangat
tergantung kepada strategi tingkah laku spesies ikan target, dan desain dari KKL
sendiri, termasuk lokasi, ukuran, dan bentuknya. Manfaat lainnya untuk perikanan
yaitu adanya peningkatan stabilitas perikanan.
Oleh karena itu, KKL berperan sebagai landasan dalam pengelolaan perikanan
modern dengan strategi pendekatan kehati-hatian dalam pengelolaan berkelanjutan
(Precautionary management), sehingga akan mengurangi fluktuasi tajam stok ikan
yang berkaitan dengan perikanan tangkap dan dinamika lingkungan laut.
Penelitian yang dilakukan olehWard dkk (Roberts & Hawkins 2000) menunjukkan
bahwa ada keterkaitan erat antara pentingnya KKL sebagai alat untuk pengelolaan
perikanan dalam menjaga dan meningkatkan produksi perikanan.
Perjalanan panjang
Memaparkan kondisi konservasi laut masa kini tidak akan pernah bisa terlepas
dari jalinan upaya yang pernah terukir di masa lalu. Secara formal, konservasi laut,
lebih khusus lagi konservasi sumber daya ikan Indonesia dirintis pada tahun 1960-an
dan 1970-an dengan mulai berkiprahnya Indonesia dalam kancah internasional
pasca-kemelut politik dalam negeri yang menguras perhatian segenap bangsa.
Pada era ini, konservasi sumber daya ikan Indonesia diawali dengan becermin pada
arus utama konservasi global saat itu, yakni melakukan upaya-upaya perlindungan
terhadap jenis-jenis hewan dan tumbuhan langka, termasuk jenis-jenis ikan.
72
Menyapa siapa saja yang menengoknya, seekor penyu juga memberikan peran unik dalam ekosistem perairan dangkal, seperti dalam terumbu karang (atas). Berbagai pihak berupaya melestarikan penyu dengan
menawarkan sejumlah konsep dan program yang akan dijalankan dengan pola kemitraaan.
Namun, jauh sebelum era ini sebenarnya upaya-upaya pengembangan konservasi
kawasan juga telah dimulai semenjak zaman penjajahan Belanda (1640-1942-an),
walaupun fokus pengembangannya masih ke kawasan konservasi hutan. Kemudian
setelah kemerdekaan di masa pemerintahan Orde Lama (1945-1967-an), juga
setelah masa Orde Baru (1968-1998-an), berkembang pula kawasan-kawasan
konservasi, termasuk untuk wilayah perairan.
Sementara itu, untuk suaka perikanan yang diwarisi dari sistem kerajaan yang
pernah ada di Indonesia, misalnya suaka perikanan Danau Loa Kang dan suaka
perikanan Batu Bumbun, telah dikembangkan dan pernah mencapai puncak
kesuksesannya sekitar 500 tahun yang lalu pada masa kerajaan Kutai Kertanegara
di Provinsi Kalimantan Timur--sekarang. Sayangnya, suaka perikanan tersebut
saat ini sudah hampir tidak terdengar lagi sejak dikelola oleh pemerintah dengan
dikeluarkannya Undang-undang nomor 57 tahun 2005 tentang Pemerintahan Desa.
Pengelolaan kawasan konservasi mulai menemukan bentuknya kembali pada
era 1980-an, di mana pengembangan konservasi tidak hanya berfokus pada jenis
dan kawasannya saja, tetapi juga mulai masuk ke dalam isu keanekaragaman hayati
(biodiversity). Hal ini dipengaruhi juga oleh arus utama konservasi global dengan
hadirnya Convention on Biological Diversity (CBD) yang memandatkan negara-negara
anggotanya untuk melestarikan keanekaragaman hayati.
Namun, sayangnya isu biodiversitas ini masih mengutamakan kepentingan
perlindungan aspek biologi dan lingkungannya saja, sedangkan masyarakat belum
mendapat perhatian. Manusia masih dianggap sebagai bagian luar yang bukan
merupakan satu kesatuan dengan lingkungan yang harus dilestarikan.
73
Menerobos perairan dangkal, cahaya mentari menjadi penyokong kehidupan pada ekosistem terumbu
karang (halaman sebelah). Pembangunan resor wisata perlu memerhatikan penataan ruang agar dapat memnimilkan keruskana eksositem terumbu karang, yang memberikan nilai jasa lingkungan tak terkira.
Pada era 1990-an perkembangan konservasi sumber daya ikan di Indonesia
mulai berubah. Di masa ini, masyarakat mulai kritis, dan menuntut agar tidak ada
pembatasan akses terhadap kawasan-kawasan konservasi yang ditetapkan. Pihakpihak civil society mulai memikirkan konsep-konsep pengembangan konservasi
kawasan yang juga memerhatikan akses masyarakat terhadap sumber daya alam,
baik yang berada di luar kawasan maupun di dalam kawasan konservasi. Pengakuan
hak-hak masyarakat menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan
konservasi di tanah air. Di tingkat global pun mulai banyak diperkenalkan metode
pengelolaan sumber daya alam yang berbasis masyarakat.
Lantas di akhir era ini (1999) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) lahir
dengan nama awal Departemen Eksplorasi Laut. DKP saat itu mulai melakukan
pembenahan-pembenahan termasuk di dalamnya melakukan pengembangan
konsep konservasi laut yang memperhitungkan semua kepentingan yang ada,
mulai dari masyarakat sampai pada konsep pengelolaan kawasan konservasi oleh
Pemerintah Daerah.
Namun, sejalan dengan disahkannya Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, yang merupakan perubahan atas UU No 22/1999 tentang
Pemerintahan Daerah, terjadilah perubahan paradigma pembangunan. Wewenang
Pemerintah Daerah semakin besar, termasuk untuk urusan konservasi. DKP
sejak saat itu mulai mengimplementasikan sistem desentralisasi yang memberikan
kewenangan kepada Pemda dan masyarakat setempat, antara lain dalam
mengembangkan KKL.
Di depan para pejabat dari beberapa Negara, Menteri Kelautan dan Perikanan
saat itu, Rokhmin Dahuri, mendeklarasikan target pengembangan KKL seluas 10
74
75
juta ha pada 2010, yang saat itu dirasakan sebagai janji yang ambisius. Namun,
perkembangannya sangat signifikan, sehingga pada bulan Maret 2006 di Brasil, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono melalui catatan sambutannya kembali mempertegas
komitmen Indonesia dengan mendeklarasikan di depan sidang Pertemuan Para
Pihak CBD bahwa Indonesia menargetkan kawasan konservasi laut seluas 10 juta ha
pada 2010 dan diharapkan meningkat dua kalinya sepuluh tahun kemudian. Dalam
berbagai kesempatan, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi senantiasa
mempertegas komitmen tersebut dan sampai saat ini perkembagan capaian
pencadangan kawasan konservasi perairan (laut) tersebut cukup menggembirakan.
Hal ini merupakan tantangan bagi DKP dalam menangani KKL di Indonesia.
Namun, isu agar upaya konservasi tidak melulu berpatokan pada luasnya
kawasan mulai diembuskan kembali di tingkat global. Konservasi semestinya bukan
hanya diukur dari luasnya kawasan melainkan juga harus melalui pengelolaan
yang efektif dan dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Di sisi
lain, Pemerintah Daerah juga mendesak untuk membentuk kawasan konservasi
laut daerah (KKLD) sebagai bentuk implementasi upaya konservasi laut yang
desentralistis.
Isu perubahan iklim akibat pemanasan global juga menjadi perhatian khusus
dalam pengembangan konservasi sumber daya ikan oleh pemerintah Indonesia.
Masyarakat dunia mulai bersuara bahwa laut berperan pula dalam perubahan iklim,
mengingat di laut ada terumbu karang dan padang lamun yang berpotensi dalam
penyerapan karbon. Di sisi lain keseimbangan kehidupan di laut juga berpengaruh
akibat perubahan iklim.
DKP juga tidak tinggal diam dalam menanggapi isu pemanasan global. Bersama
berbagai pihak baik swasta, lembaga swadaya masyarakat, maupun masyarakat
sendiri, DKP mengembangkan berbagai inisiatif dan program nyata dari tingkat
lokal sampai regional. Sebut saja program Coral Reef Rehabilitation and Management
Program (COREMAP) yang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk pengelolaan
terumbu karang secara lestari, antara lain, melalui dorongan bagi daerah untuk
menyusun peraturan daerah maupun rencana strategis daerah tentang pengelolaan
terumbu karang.
Pemerintah daerah bersama masyarakat di wilayah COREMAP juga
mengembangkan kawasan konservasi perairan (laut) di tingkat kabupaten/kota.
Kawasan konservasi ini sebagai upaya rehabilitasi terhadap terumbu karang dan
ekosistem terkait lainnya serta untuk menjamin keberlanjutan sumber daya ikan.
Di wilayah desa, secara partisipatif masyarakat membentuk Daerah Perlindungan
Laut (DPL). Keberadaan DPL dalam sebuah KKL atau jejaring KKL adalah sebagai
zona inti dari KKL.Wilayah DPL ini dapat berfungsi sekaligus sebagai tabungan ikan
bagi masyarakat setempat
Jejaring Kawasan Konservasi Perairan
Selain mengupayakan sistem pengelolaan kawasan konservasi perairan yang
bersifat desentralistis yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat,
konservasi kawasan perairan yang berkelanjutan juga mesti efektif dan efisien.
Karena itu, ide untuk mengembangkan jejaring (network) kawasan konservasi
dirasakan semakin mendesak untuk diimplementasikan. Jaringan kawasan konservasi
76
dapat mengintegrasikan pengelolaan KKL berskala kecil dan besar di Indonesia,
sehingga bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada pada saat ini sekaligus
sebagai antisipasi permasalahan yang akan muncul di masa mendatang.
Jejaring merupakan keterkaitan antara kawasan konservasi laut yang
mempresentasikan daya lenting (resilience) spesies dan habitatnya untuk
mencapai keseimbangan ekosistem melalui pengelolaan bersama. Dengan
adanya jejaring, dapat tergambar keanekaragaman hayati di kawasan konservasi
laut, sehingga keanekaragaman hayati terjaga dan terpelihara. Jejaring juga bisa
memberikan model pemanfaatan kawasan konservasi laut yang mendukung
ekosistem setempat. Sistem jejaring juga efektif dalam upaya memperluas
kawasan konservasi laut.
Model jejaring kawasan konservasi laut bisa dibagi menjadi dua kriteria:
jejaring berdasarkan ekologis dan jejaring berdasarkan pengelolaan. Kriteria
ekologis menunjukkan bahwa kawasan konservasi laut yang satu dengan lainnya
terdapat keterkaitan dalam hal ekologis (ekoregion), baik secara fisik maupun
biologis. Sedangkan kriteria jejaring berdasarkan pengelolaan menunjukkan bahwa
ada keterkaitan dalam hal pengelolaan kawasan konservasi laut, berupa sistem
pengelolaan bersama yang melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholder).
Untuk itu, diperlukan suatu kelembagaan dan pendanaan untuk mengoordinasikan
seluruh pemangku kepentingan.
Poin yang juga patut dicatat adalah KKL sebaiknya tidak dimaknakan hanya
sebagai no take zone (zona larangan tangkap) semata, tetapi juga merupakan sebuah
keseimbangan antara upaya konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Setiap
pemangku kepentingan dalam urusan konservasi laut mesti sadar bahwa konservasi
bukan domain salah satu instansi atau pihak tertentu, melainkan domain dan semua
pihak, dengan tanggung jawab yang proporsional.
Efektivitas kawasan konservasi juga bisa terwujud jika pengelolaan KKL
tidak bersifat keproyekan (project base). Sebagaimana lazimnya proyek, jika
sudah selesai maka selesai pula tanggung jawab. Urusan konservasi sebaliknya,
harus mengarah pada pengembangan program yang menjamin keberlanjutan
dan kesinambungannya.
Keberlanjutan bisa dicapai bila masyarakat setempat, yang sebenarnya
merupakan faktor utama konservasi di tingkat daerah, juga memperoleh edukasi
dan mendapatkan penghasilan alternatif. Penegakan hukum yang konsisten juga
menjadi modal agar upaya konservasi kawasan perairan dapat berjalan lestari.
Karena, berdasarkan pengalaman paling tidak ada tiga akar permasalahan yang
menyebabkan kawasan konservasi laut kurang berkembang, yakni ketidaktahuan
masyarakat, kemiskinan absolut, dan keserakahan serta arogansi kewenangan.
Untuk mereduksi arogansi kewenangan ini, para pembuat kebijakan perlu
mengembangkan mekanisme pengelolaan kolaboratif, di mana tanggung jawab
pengelolaan sumber daya laut dipikul bersama oleh masyarakat setempat, pengguna
sumber daya termasuk swasta, dan lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya
masyarakat. Pendekatan pengelolaan kolaboratif juga perlu dikembangkan untuk
mengeliminasi dampak pemekaran otonomi daerah yang berupa fragmentasi
wilayah pengelolaan perikanan. Pendekatan ini juga diharapkan akan membantu
upaya penegakan aturan perikanan di tingkat lokal. w
77
Makhluk Jurasik yang
Nyaris Tersingkir
B
entuknya unik. Ukuran kepalanya jauh lebih kecil dibandingkan besaran badan
yang diselimuti cangkang, seperti layaknya jenis reptilia. Para peneliti menyebut
cangkang ini dengan dua jenis nama, tergantung pada bagian mana yang akan
kita lihat. Pada bagian perut, mereka mengucapkan nama plastron, sementara sisi
punggung dibilang karapas. Makhluk yang selalu berhasil membuat kita berpaling dan
mengamatinya dengan seksama ini memiliki kulit bersisik dan bernapas dengan paruparu, meskipun dia hampir sepanjang waktu dihabiskan di dalam perairan.
Dengan sejumlah ciri tadi, kami pikir Anda tak akan sulit menebak jenis makhluk
hidup yang akan kami paparkan secara ringkas. Inilah penyu yang merupakan bentuk
modern penghuni laut tertua yang berevolusi hingga berbentuk seperti yang sekarang
kita kenal. Penyu laut, kadangkala dibilang kura-kura oleh sejumlah awam, termasuk
satwa berdarah dingin, sebab suhu tubuhnya tergantung pada lingkungan.
Menurut informasi yang termuat dalam Penyu Sang Duta Laut yang diterbitkan
oleh Conservation International Indonesia, penyu membutuhkan sekitar 25 tahun
untuk menjadi dewasa dan siap bertelur. Selain itu, penyu tidak setiap tahun
bertelur. Musim bertelur terjadi antara dua hingga lima tahun sekali. Dalam satu
musim bertelur, penyu betina akan berkali-kali mendarat di pantai untuk bertelur.
Ia akan menyimpan lebih dari 100 butir telur di dalam lubang pasir yang digalinya
dan ditutup kembali dengan pasir itu dalam sekali pendaratan. Tujuan penimbunan
telur-telur itu dengan pasir supaya terjadi masa inkubasi, yang membutuhkan waktu
antara 45 hingga 60 hari, tergantung dengan jenis penyu. Setelah masa inkubasi,
telur menetas menjadi tukik.
Ketika menetas, tukik-tukik itu berlarian menuju perairan dari pasir putih
yang lembut. Meskipun jumlahnya sangat banyak, para peneliti dan ahli penyu
memperkirakan bahwa mungkin hanya satu dari seribu butir telur penyu yang mampu
tumbuh menjadi penyu dewasa. Apa pasal? Telur penyu dan tukik saat ini mendapat
tekanan yang luar biasa dari pemangsa alami dan aktivitas manusia. Yang terakhir
ini mendapatkan sorotan tajam dari para peneliti dan ahli penyu. Karena itu untuk
menjaga kestabilan tingkat populasi, penyu dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun
dengan masa reproduksi yang cukup panjang.
Penyu yang hidup di perairan sub-tropis Australia dan perairan tropis, seperti di
negara kita, mampu berenang hingga ribuan kilometer antara lokasi bertelur dan
tempat mencari makan. Dalam hal ini, penyu juga memiliki keunikan lain: sejauhjauhnya melaut ke belahan samudera nan luas, seekor penyu betina akan selalu
kembali dan bertelur di pantai yang sama tempat ia ditetaskan. Di negara kita terdapat
sejumlah tempat bertelur penyu, seperti Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur;
Taman Nasional Alas Purwo dan Meru Betiri, Jawa Timur; Pantai Perancah di Bali;
Jamursbamedi, Pulau Sayang, dan Piai, Papua.
Dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam di antaranya bertelur dan
78
mencari makan di perairan
Indonesia. Keenam penyu tersebut
adalah penyu lekang/abu-abu
olivacea),
penyu
(Lepidochelys
belimbing (Dermochelys coriacea),
penyu hijau (Chelonia mydas),
penyu sisik
penyu pipih (Natator depressus),
penyu tempayan
(Eretmochelys imbricata) dan
penyu di negara kita
(Caretta caretta). Tentu, kehadiran
membawa keuntungan bagi ekosistem perairan
dangkal. Satwa ini
bertugas untuk mencegah terjadinya dominasi
jenis pemangsa tertentu
sehingga spesies lainnya dapat tumbuh dan
berkembang dengan
baik. Kita bisa ambil contoh, penyu hijau yang
banyak
ditemukan
bertelur di sebagian besar pantai di wilayah
pesisir
Indonesia.
Penyu hijau memakan lamun tua sehingga
pertumbuhan lamun di
perairan dangkal lebih terkendali. Dengan demikian,
lamun muda yang
lebih bernutrisi dapat berkembang biak dengan baik. Ini menguntungkan penghuni
ekosistem lainnya, seperti ikan-ikan pemangsa ikan kecil dan udang renik yang hidup
menempel pada lamun.
Dalam dekade belakangan populasi penyu di habitat asli mengalami penurunan
yang sangat tajam. Oleh karena itu, satwa ini dikenal sebagai biota laut langka.
Pemerintah kita telah melakukan upaya melindungi populasi penyu di habitat aslinya.
Perannya yang begitu besar dalam menyokong ekosistem perairan laut tentu dapat
dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Upaya penyelamatan penyu, termasuk
menetapkan habitat peneluran dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi
penyu dan turunannya sebagai biota perairan yang dilindungi, sebagai kawasan
konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Penyu dan telur penyu merupakan satwa serta bagiannya yang dilindungi oleh
Undang-undang No 5 tahun 1990 serta Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999
mengenai pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Di dalam lampiran peraturan
pemerintah tersebut, penyu kembali ditegaskan sebagai satwa yang dilindungi, yang
tidak boleh diperdagangkan, dimusnahkan, disimpan atau dimiliki telur dan atau
sarangnya.
Berkaitan dengan bidang perikanan, penyu termasuk kelompok reptil yang
tergolong pada jenis ikan yang pengertian tersebut telah diatur menurut Undangundang No 31 tahun 2004 mengenai perikanan serta Peraturan Pemerintah No 60
tahun 2007 mengenai konservasi sumber daya ikan. Pengaturan jenis ikan yang
dilindungi itu telah di atur dalam pasal 23 dalam undang-undang tersebut.
Kami hanya ingin menarik sebuah kesimpulan bahwa penyu yang memiliki arti
penting bagi ekosistem dan makhluk purba yang masih dapat kita jumpai di wilayah
perairan laut kita adalah satwa yang dilindungi. Semua itu telah diatur oleh undangundang yang terbit pada tahun 1990 dan peraturan pemerintah pada 1999. Undangundang No 31 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No 60 tahun 2007 bersifat lex
specialist yang merupakan penguatan dan komplementer dari aturan sebelumnya.
79
Lika-liku Pembentukan
Kawasan Konservasi Laut di Daerah
S
ebagai wujud konsistensi terhadap semangat otonomi daerah, DKP mendorong berkembangnya
kawasan konservasi perairan (laut). Sejak 2002 hingga pertengahan tahun 2008 telah
dicadangkan 31 KKLD yang tersebar di seluruh Tanah Air (lihat Tabel 1), meski hanya beberapa
yang sudah diformalkan. Ada pun penamaan kawasan KKLD beragam, dan ada kecenderungan
masyarakat menghindari istilah seperti perlindungan semata, untuk kawasan konservasi yang
konotasinya laut harus ditutup sehingga dapat menimbulkan konflik dengan nelayan.
Upaya pengembangan KKLD juga mendapat dukungan dari lembaga donor maupun LSM,
seperti: Asian Development Bank, World Bank, The Nature Conservancy, Conservation International,
WWF Indonesia, Yayasan Kehati, Yayasan Terangi, dan lainnya yang telah memintal kerjasama
dengan DKP.
Meski DKP mempromosikan desentralisasi, namun masih ada persoalan. Saat ini desentralisasi
hanya dipahami sebagai desentralisasi pada tingkat pemerintah daerah dan belum sampai pada
tingkat masyarakat.
Ketidakjelasan peran masyarakat dikhawatirkan akan menyebabkan meningkatnya konflik
dengan nelayan sebagaimana marak terjadi pada kebanyakan KKP yang telah berdiri. Di
sinilah dimensi perjuangan baru mesti dilakukan; perjuangan terhadap hak-hak nelayan yang
dulunya mereka miliki namun hilang karena intervensi pihak luar atas nama konservasi. Proses
desentralisasi juga efektif terhadap pengelolaan karena adanya rasa memiliki masyarakat
terhadap hak-hak mereka: laut tempat mereka hidup.
80
81
Kisah Sukses KKLD Berau
K
abupaten Berau merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya pesisir
dan laut yang tinggi dan beragam di Indonesia. Di wilayah laut kabupaten ini terdapat
terumbu karang yang luas dengan kondisi yang cukup baik. Keragaman terumbu karang
Berau diperkirakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Raja Ampat dan ketiga di dunia.
Hutan mangrove ditemukan di Delta Berau dan di sepanjang daerah pesisir. Sejumlah
pulau kecil dan ekosistem padang lamun juga terdapat di daerah ini. Beberapa spesies
yang dilindungi dapat ditemukan seperti penyu, paus, lumba-lumba, duyung, dan beberapa
spesies lainnya. Perairan Berau dikenal sebagai wilayah yang memiliki habitat penyu hijau
terbesar di Indonesia. Selain itu, potensi perikanan dan pariwisatanya masih baik.
Namun demikian, di kawasan pesisir dan laut Berau terdapat berbagai permasalahan
seperti perusakan terumbu karang, penurunan populasi penyu, praktik penangkapan ikan
yang tidak ramah lingkungan, dan lain sebagainya.
Dengan potensi sumber daya pesisir dan laut yang besar beserta permasalahannya,
wilayah pesisir dan laut Kabupaten Berau perlu dikelola dengan baik dan tepat. Hal ini
guna menjaga kelestarian dan berjalannya fungsi dari sumber daya tersebut sehingga
dapat mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Sesuai dengan program pemerintah (DKP) yang tengah menggalakkan pembentukan
KKL di berbagai daerah, Kab Berau menyambut baik upaya ini melalui pembentukan
Kawasan Konservasi laut Kabupaten Berau (KKL Berau). KKL Berau ditetapkan melalui
Peraturan Bupati Berau tahun 2005. Hal ini sejalan dengan kewenangan Pemerintah Kab
Berau melalui Peraturan Daerah No 3 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kab Berau. Batas KKL ke arah darat ditetapkan sesuai dengan batas kawasan lindung
hutan mangrove berdasarkan Perda No 3 tahun 2004. Luas KKL Berau sendiri sebesar
1.222.988 ha. Secara umum, tujuan pembentukan KKL Berau adalah untuk melindungi
keanekaragaman laut, serta menjamin pemanfaatan sumber daya perikanan dan pariwisata
bahari berkelanjutan di Kab Berau.
Secara administratif Kab Berau merupakan salah satu dari 13 kabupaten/kota di
Kalimantan Timur. Luas wilayahnya 3.426.070 ha dengan luas laut sekitar 1.222.988
ha. Kabupaten ini berbatasan dengan Kab Bulungan di sebelah barat dan utara, Selat
Makassar di sebelah timur, dan Kab Kutai Timur di sebelah selatan.
KKL Berau terletak Antara Pulau Panjang, Tanjung karangtigau dengan karang
Baliktaba di utara, menghadap ke Selat Makassar ke arah timur dan Semenanjung
Mangkalihat di sebelah selatan. Luas wilayah KKL meliputi seluruh wilayah pesisir dan laut
termasuk kawasan mangrove, yaitu 1.222.988 ha, meliputi 7 kecamatan pesisir di atas,
kecuali Kec Sambaliung.
Untuk memudahkan pengelolaan, KKL Berau diusulkan menjadi 3 kawasan
pengelolaan, yakni bagian utara, tengah, dan selatan. Kawasan bagian utara meliputi
82
Satwa yang berhasil melewati masa jurasik, penyu kerapkali menjadi target aktivitas yang tidak bertanggung jawab. Reptil laut yang tak mengenal batas wilayah suatu negara ini telah memiliki jalur migrasi
dan jelajah yang rutin untuk melanjutkan kehidupannya. Inilah yang perlu diperhatikan oleh kita.
wilayah laut, pulau-pulau kecil, terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove di
Kec Pulau Derawan dan Maratua. Bagian tengah meliputi wilayah laut dan hutan mangrove
Kec Tabalr, Balatan Lempake, dan Talisayan. Sedangkan bagian selatan mencakup laut,
pulau-pulau kecil, terumbu karang, lamun dan hutan mangrove di Kec Batu Putih dan
Biduk-biduk.
Zonasi pada KKL Berau mencakup kawasan yang dilindungi penuh (no take zones),
terutama kawasan yang sangat penting untuk peningkatan stok ikan, seperti kawasan
pemijahan dan proses-proses ekologis yang lain. Zonasi KKL juga mencakup kawasan
pemanfaatan ekstraktif dan kawasan pemanfaatan terbatas. Zonasi itu ditujukan untuk
perlindungan keanekaragaman hayati dengan menjamin pemanfaatan sumber daya laut
secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat pengguna lokal.
Bekerja secara kolaborasi sebagai satu tim dalam pengembangan dan pengelolaan KKL
Berau merupakan hal yang paling tepat dibandingkan bekerja sendiri-sendiri. Hal ini karena
keterbatasan sumber daya masing-masing lembaga dalam mengelola wilayah yang demikian
luas. Di Berau dibentuk suatu forum yang disebut Sekretariat Bersama Kelautan (Sekber)
Berau. Forum ini berfungsi sebagai pusat koordinasi antar Lembaga Non-Pemerintah dan
Pemerintah Kab Berau. Saat ini anggota Sekber Berau dari non-Pemerintah ada 6 (enam),
yaitu Bestari, Kalbu, TNC, Mitra Pesisir, WWF, dan Kehati.
Meski bukan tanpa masalah, kesuksesan model zonasi dan sistem kerja koalisi dan
kolaboratif di KKL Berau merupakan langkah yang patut dicontoh oleh pengembanganpengembangan KKL di daerah lain.
83
Kawasan konservasi perairan tak hanya melestarikan kehidupan bawah laut tetapi sekaligus
menyokong pembangunan perikanan laut yang berkelanjutan. Sumber daya ikan merupakan faktor
utama bagi kaum nelayan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi di wilayah mereka.
Kawasan Konservasi Laut di Indonesia
Luas KKL Indonesia pada awal tahun 2005 sekitar 7,2 juta ha. Pada saat ini telah
mencapai 8,7 juta ha. Tabel 3 memperlihatkan luasan masing-masing kawasan termasuk
calon kawasan konservasi perairan yang dalam proses inisiasi.
����������������������������������������������
��
������������
������
�������
�
�
����������������
����������������������������
��������������������������������
������������������������
������������������������������
�������������
���������������������������������������
�������������
�������������������������������������������������������
��������������
�����������������������
���������������������������������������������
������������
84
���������
�
��
�
�
������������
����������
����������
����������
��
��
�
�������������
�������������
��������
�
�
������
������������
��
�������������
85
Manfaat Kawasan Konservasi Laut
I
ndonesia sebagai negara kepulauan memiliki luas laut lebih besar daripada luas daratan.
Wilayah laut Indonesia yang terletak pada garis khatulistiwa terkenal memiliki kekayaan
dan keanekaragaman sumber daya alam, baik sumber daya alam yang dapat pulih seperti
perikanan, hutan mangrove, terumbu karang, dan lainnya, maupun yang tidak dapat pulih
seperti minyak, gas, dan bahan tambang. Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan
antara ekosistem darat dan laut, memiliki potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan
yang mengundang daya tarik berbagai pihak untuk memanfaatkannya.
Sumber daya kelautan merupakan salah satu kekayaan alam yang banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat. Akan tetapi pemanfaatannya sampai saat ini kurang
memerhatikan kelestariannya. Akibatnya, terjadi penurunan fungsi, kualitas serta
keanekaragaman hayati yang ada. Sebagai contoh adalah degradasi ekosistem terumbu
karang yang telah teridentifikasi sejak tahun 1990-an. Hasil penelitian Pusat Penelitian
Oceanografi LIPI tahun 2006 menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang yang sangat
baik hanya tinggal 5,23 %, baik 24,26 %, cukup 37,34 % dan yang kurang baik atau
rusak sebesar 33,17 %. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan data
pada tahun sebelumnya dimana yang sangat baik masih tercatat sebesar 5,8 %, baik
25,7 %, cukup 37,34 % dan kurang baik atau rusak sebesar 31,9 %.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar terumbu karang di Indonesia dalam
keadaan rusak. Kerusakan tersebut pada umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan
destruktif, yaitu penggunaan bahan peledak, racun sianida, penambangan karang,
pembuangan jangkar perahu dan sedimentasi. Pelaku perusakan tidak hanya dilakukan
oleh nelayan-nelayan tradisional, tetapi juga oleh nelayan-nelayan modern dan nelayan
asing.
Dalam rangka mengatasi dergradasi sumber daya kelautan di Indonesia, diperlukan
suatu desain pengelolaan yang komprehensif. Desain pengelolaan ini diharapkan dapat
menyatukan beberapa kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan
masyarakat. Desain pengelolaan tersebut adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki
potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, gejala alam dan keunikan, serta
ekosistemnya menjadi kawasan konservasi laut (KKL). Desain pengelolaan ini telah
diterapkan di banyak negara.
Di beberapa tempat, KKL telah terbukti menjadi alat yang efektif dalam melindungi
keanekaragaman hayati pesisir dan laut, serta pengelolaan pemanfaatan sumber daya
secara berkelanjutan, seperti perikanan tangkap dan pariwisata.
Banyak contoh tentang dampak dari dibentuknya kawasan konservasi laut, Terdapat
dua bukti dampak kawasan konservasi laut dalam mendukung perikanan berkelanjutan.
Pertama, terdapat bukti yang kuat bahwa wilayah no-take-zone memiliki persediaan
ikan yang lebih besar, ukuran ikan yang lebih besar serta komposisi spesies yang lebih
86
Kawasan Konservasi Laut telah
terbukti menjadi alat yang efektif dalam
melindungi keanekaragaman hayati pesisir
dan laut, serta pengelolaan pemanfaatan
sumber daya secara berkelanjutan, seperti
perikanan tangkap dan pariwisata
beragam (spesies ikan komersial berukuran lebih besar) bila dibandingkan dengan
wilayah penangkapan. Namun dampak langsung manfaat perikanan jauh lebih sulit
untuk dibuktikan di lapangan dan oleh karenanya dari berbagai kajian yang telah
dilaksanakan, banyak yang menggunakan model matematis alih-alih observasi lapangan
untuk mengkuantifikasi manfaat perikanan. Sebagian besar model menunjukkan bahwa
perikanan benar-benar dapat memperoleh manfaat dari kawasan konservasi laut,
dan model tersebut juga menunjukan bahwa penangkapan yang berkelanjutan dapat
dimaksimalkan jika kurang lebih 30% habitat sepenuhnya dilindungi dari kegiatan
penangkapan (Roberts & Hawkins 2000).
Selain itu, Roberts & Hawkins (2000) menyatakan bahwa seringnya kecenderungan
nelayan untuk memfokuskan kegiatan penangkapan di dekat kawasan perlindungan
(‘fishing the line’) menunjukan bukti manfaat dari wilayah perlindungan bagi perikanan
komersial. Selanjutnya, McClanahan 1994 dalam Robert&Hawkins (2000) juga
menjelaskan bahwa dari 110 spesies yang tercatat di dalam wilayah terumbu karang
yang dilindungi, 52 di antaranya tidak dijumpai di wilayah penangkapan.
Beberapa cuplikan tentang dampak kawasan konservasi laut di wilayah Indo-Pasifik
berdasarkan negara. Antara lain: Indonesia--Biomassa dan rata-rata ukuran spesies
ikan tertentu lebih besar yang berada di dalam daripada di sekitar wilayah perlindungan
kecil di Sulawesi Utara (Blongko and Kakarotan) (McClanahan et al. 2006); Papua New
Guinea--Biomassa dan rata-rata ukuran spesies ikan tertentu lebih besar yang berada
di dalam daripada di sekitar wilayah perlindungan yang dikelola secara tradisional
(Muluk and Ahus) (McClanahan et al. 2006); Philipina--Biomassa predator ukuran besar
meningkat 8 kali di wilayah perlindungan. Di wilayah penangkapan, rata-rata kerapatan
dan keragaman spesies dari predator besar juga meningkat (Russ & Alcala 1996, in
Roberts & Hawkins 2000); Hawaii--Persediaan ikan tercatat 63% lebih banyak di dalam
wilayah larangan penangkapan (Grigg, 1994, in Roberts & Hawkins 2000). Kenya-Persediaan spesies ikan komersial utama (groupers, snappers, and emperors) tercatat
10 kali lebih banyak di dalam wilayah yang sepenuhnya dilindungi di Kisite Marine
87
National Park bila dibandingkan di wilayah perlindungan di mana penangkapan diizinkan
(Watson & Ormond 1994, in Roberts & Hawkins 2000).
KKL berbeda dengan sistem pengelolaan perikanan tangkap yang ada saat ini,
seperti pengaturan armada, alat, dan hasil tangkap. KKL lebih memerhatikan ekosistem
secara keseluruhan dibandingkan satu atau beberapa spesies yang bernilai ekonomis.
Salah satu funsgi KKL adalah sebagai daerah perlindungan habitat dan spesies ikan.
Dengan demikian KKL diharapkan dapat berfungsi sebagai bank sumber daya perikanan
yang dapat mendukung peningkatan dan keberlanjutan pendapatan masyarakat,
khususnya nelayan.
Nilai penting kawasan konservasi bagi kepentingan ekonomi, khususnya dalam
pembangunan perikanan, telah dilakukan berbagai penelitian di beberapa Negara,
antara lain: Peningkatan produksi telur di dalam kawasan konservasi laut hingga 10 kali
lipat, Kelimpahan jumlah ikan di dalam kawasan konservasi laut hingga 2 sampai 9 kali
lipat, Peningkatan ukuran rata-rata ikan di dalam kawasan konservasi laut antara 33 –
300 %, Peningkatan keanekaragaman species di dalam kawasan konservasi laut antara
30 – 50 %, dan Peningkatan hasil tangkapan ikan di luar cagar alam antara 40 – 90 %
(Sumardja, 2002).
Pengelolaan KKL bersifat lebih adaptif sesuai dengan karakteristik masing-masing
wilayah. Karakteristik initerlihat melalui zonasi yang memungkinkan diterapkannya tingkat
pemanfaatan yang berbeda pada zona-zona yang berbeda. Pada zona larang ambil (no
take zone) masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan wisata terbatas. Pemanfaatan
untuk pariwisata bahari pada zona perikanan berkelanjutan mampu memberikan
masukan devisa yang cukup signifikan. Sementara di zona lainnya bisa saja dimanfaatkan
secara ekstraktif dengan penggunaan alat yang tidak merusak habitat ikan.
Pemerintah, melalui DKP mencoba mengembangkan suatu pendekatan dengan
memberikan tanggung jawab lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengelola
wilayah lautnya. Untuk itu pemerintah telah menetapkan kawasan-kawasan konservasi
laut yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Model pengelolaan seperti ini diberi
nama Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).
KKLD merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya kelautan yang
sedang digalakkan secara nasional, selain kawasan konservasi nasional yang telah ada.
Sebagaimana diatur dalam UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya untuk kawasan konservasi nasional, lebih lanjut, penetapan
kawasan konservasi perairan juga diatur dalam UU No 31 tahun 2004 tentang perikanan.
Landasan hukum untuk KKLD diatur dalam UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Dalam pasal 18 UU ini dijelaskan salah satu kewenangan daerah di wilayah laut
adalah eksploitasi dan konservasi sumber daya alam di wilayahnya.
88
89
90
91
Menatap Masa Depan
Konservasi Kawasan Perairan
S
elepas memasuki Era Reformasi kawasan perairan Indonesia menyambut fajar
baru bagi kelestariannya. Tidak sebatas pemanfaatan dan eksplorasi sumber
daya, samudera mahaluas Nusantara juga sudah lama menunggu sentuhan
pelestarian. Dengan demikian disadari dengan baik bahwa aspek konservasi perairan
mencakup pemanfaatan, perlindungan dan pelestarian. Di sisi lain, pelestarian gatra
maritim juga harus bersifat holistik yang meliputi konservasi ekosistem, spesies
dan genetik. Keseimbangan antara aspek pemanfaatan, perlidungan dan pelestarian
di satu pihak, dengan konservasi yang holistik di sisi lain, merupakan paradigma
konservasi perairan saat ini dan masa datang.
Kelanggengan sumber daya perairan menjadi jaminan bagi generasi penerus
untuk dapat memanfaatkannya. Berkaitan dengan hal itu, langkah-langkah konservasi
laut di masa depan berkaitan erat dengan pengelolaan kawasan konservasi laut.
Kawasan-kawasan konservasi perairan akan menjadi tandon plasma nutfah sumber
daya laut masa depan. Kendati demikian, menatap masa depan konservasi perairan
berarti pula memandang dua sisi yang saling berpautan: peluang dan tantangan. Dua
hal ini bisa dirunut dengan melihat keadaan terkini.
Prospek pertama konservasi kawasan perairan Indonesia datang dengan
dibentuknya Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP). Harapan cerah
pelestarian laut Indonesia berada pada upaya pengembangan lembaga ini. Institusi
DKP memegang tanggung jawab sebagai otoritas pengelola (management authority)
bagi seluruh aspek pelestarian laut maupun konservasi sumberdaya ikan. Tugas
pokok dan fungsi DKP secara jelas diuraikan dalam Peraturan Pemerintah No. 25
tahun 2000 serta Keputusan Presiden No. 31 tahun 2001.
Untuk mengurus konservasi secara tersendiri dibentuk Direktorat Konservasi
dan Taman Nasional Laut (dit. KTNL) di bawah Direktorat Jenderal Kelautan,
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K). Hingga sewindu DKP berdiri, tercatat
beberapa perkembangan dalam hal konservasi laut: mulai dari lahirnya sejumlah
peraturan, pengembangan lembaga dan sumber daya manusia, hingga inisiatif-inisiatif
kerjasama regional maupun internasional.
Sejumlah capaian bidang penguatan kelembagaan dalam kaitannya dengan
konservasi sumberdaya ikan, antara lain: terbentuknya 2 (dua) unit pelaksana teknis
(UPT) konservasi sumber daya ikan di Ditjen KP3K, yang akan ditingkatkan menjadi
enam unit pada 2009, serta Harmonisasi antar-departemen dalam urusan kawasan
konservasi dan pesisir.
92
Dengan adanya departemen teknis tersendiri, semakin dipahami keperluan
sumber daya manusia yang memadai. Tantangan ini menjadi pendorong bagi
DKP untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya. Salah satu
jalan yang sudah ditempuh adalah pelatihan penyelaman dan monitoring kondisi
sumberdaya perairan, Pembinaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi
perairan, pembinaan SDM dalam penanganan urusan CITES, serta pertemuan
teknis mengenai konservasi baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini juga tersurat
pada Rencana Strategis 2005-2009 Ditjen KP3K, yang akan meningkatkan sejumlah
250 personil sumber daya manusia, baik melalui pelatihan, pembinaan maupun
pendidikan formal S-1, S-2 dan S-3.
Masa depan konservasi kawasan perairan makin terang dengan adanya dukungan
hukum: Undang-Undang No. 31tahun 2004, tentang perikanan dan Undang-undang
No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Dua perangkat hukum itu menjadi fondasi bagi kepastian pengelolaan konservasi
perairan. Dengan begitu, upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber
daya kelautan dan perikanan tak lagi samar-samar.
Secara rinci undang-undang yang pertama telah diterjemahkan dalam Peraturan
Pemerintah (PP) No. 60 tahun 2007 tentang konservasi sumberdaya ikan (KSDI).
Lahirnya peraturan pemerintah itu memberi kesempatan besar bagi Departemen
Perikanan dan Kelautan (DKP) selaku pemegang mandat pengelolaan konservasi
perairan. Peraturan pemerintah itu juga menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan
beragam jenis ikan sekaligus melestarikan kekayaan genetiknya. Sementara itu,
turunan UU No. 27 tahun 2007 sedang dalam proses bagi penerapannya. Turunan
organik UU 27/2007 terkait dengan kawasan konservasi di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor PER. 17/MEN/2008. Beberapa hal tersebut memberi tengarai tentang
kebutuhan untuk segera membuat kebijakan turunan dari undang-undang itu.
Untuk lebih menjamin daya terap kedua undang-undang itu memang diperlukan
turunannya pada tingkat peraturan pemerintah hingga keputusan menteri.
Peraturan lanjutan yang lebih operasional dibutuhkan agar pelaksanaannya
berlangsung efektif dan efisien. Untuk itu, selain peraturan-peraturan di atas,
DKP juga telah dan sedang bekerja keras untuk menerbitkan beberapa keluaran
kebijakan, antara lain:
1. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 38/Men/2004, tentang
pedoman umum pengelolaan terumbu karang,
2. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 17/MEN/2008 tentang
kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
3. Kebijakan dan Strategi Konservasi Sumber Daya Ikan di Perairan Daratan,
4. Strategi Utama Jejaring Kawasan Konservasi Laut,
5. Strategi Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut,
6. Pedoman Umum Identifikasi Kawasan Konsevasi Laut Daerah,
7. Pedoman Umum Penataan Batas Kawasan Konservasi Laut,
8. Pedoman Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut
Daerah,
9. Pedoman Umum Restocking Ikan terancam Punah di Perairan Umum
93
10. Pedoman Pelaksanaan Dana Tugas Pembantuan
11. Penyiapan peraturan setingkat menteri sebagai turunan dari UU 31/2004,
UU 27/ 2007 dan PP 60/2007.
Mengingat harapan pelestarian sumberdaya ikan terletak di jantung kawasan
konservasi perairan, DKP sejauh ini telah melakukan pembinaan, sosialisasi dan
bantuan teknis bagi lembaga-lembaga Dinas Kelautan dan Perikanan, baik kabupaten maupun provinsi, dalam mengembangkan kawasan konservasi perairan di
daerah. Di tengah perubahan selama satu dekade terakhir, terutama menyangkut
otonomi daerah dan tuntutan partisipasi masyarakat yang lebih terbuka, upayaupaya konservasi perairan telah mendapat perhatian penuh dari pemerintah
daerah—provinsi dan kabupaten. Pemerintah pusat, melalui DKP berusaha untuk
bekerja sama dengan pemerintah daerah maupun masyarakat di sekitar kawasan
konservasi perairan.
Secara simultan, DKP bersama pemerintah daerah akan terus menggalang
kerjasama dalam menginisiasi dan pengelolaan kawasan konservasi perairan.
Untuk keperluan sosialiasi dan pembinaan, misalnya, DKP telah mencetak materi
dan informasi tentang kawasan konservasi laut daerah. Dari aspek legal, juga telah
diterbitkan Pedoman Umum Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Terumbu Karang. Tak hanya itu, agar pengelolaan terumbu karang
di daerah berjalan baik, juga telah dibuat Pedoman Umum Penyusunan Rencana
Strategis Pengelolaan Terumbu Karang Daerah.
Disamping telah memfasilitasi pencadangan 31 KKLD dan inisiasi dua calon
kawasan konservasi perairan nasional, juga terus dilakukan identifikasi dan
pemetaan kawasan bakal kawasan konservasi perairan—laut dan perairan daratan.
Target 10 juta ha kawasan konservasi perairan sampai saat ini telah tercapai seluas
lebih dari 8,7 juta ha sehingga dengan segala daya upaya kekurangan seluas 1, 3 juta
ha diharapkan terpenuhi pada tahun 2010.
Perkembangan yang pesat dalam memenuhi cita-cita tersebut harus diimbangi
dengan kesiapan fasilitas pendukung—seperti, lembaga, dana, sumber daya manusia
dan infrastruktur, sehingga pengelolaannya berjalan baik. Sekurangnya, agar tata
kelolanya berlangsung efektif, saat ini telah dibuat rencana pengelolaan bagi belasan
lokasi KKLD. Seiring program COREMAP II, juga dilaksanakan rehabilitasi ekosistem
sumber daya ikan di delapan provinsi dan 15 kabupaten/kota.
Untuk melengkapi usaha pelestarian berbasis kawasan, juga dikembangkan
konservasi spesies dan genetik. Salah satunya, langkah pengelolaan bagi spesies
tertentu diantaranya: labi-labi, duyung, teripang, kuda laut, kima dan hiu di kawasan
biogeografi oriental atau Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Hal
itu dibuktikan dengan telah dibuatnya sejumlah pedoman umum pengelolaan bagi
jenis-jenis biota laut, di antaranya:
1.
2.
3.
4.
5.
94
Pedoman Umum Pengelolaan Duyung,
Pedoman Umum Pengelolaan Penyu,
Pedoman Umum Pengelolaan Kuda laut,
Pedoman Umum Pengelolaan Kima, dan,
Pedoman Umum Pengelolaan Teripang.
95
Perairan nasional di masa datang akan lebih berperan nyata melalui kerjasama
antarnegara, antar instansi pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat
(LSM), baik nasional maupun internasional. Dalam pengelolaan kawasan konservasi
laut, pemerintah telah bekerjasama dengan sejumlah lembaga non pemerintah,
seperti World Wide Fund for Nature (WWF), The Nature Conservancy (TNC),
Conservation International (CI) Indonesia, Marine Aquarium Council (MAC), Yayasan
Kehati, Yayasan Terangi serta berbagai organisasi non pemerintah lainnya. Untuk
memadukan langkah-langkah pelestarian, juga dilakukan koordinasi bersama Komisi
Nasional Konservasi Laut (Komnaskolaut) dan Komisi Nasional Lahan Basah.
Kelompok-kelompok komunitas juga dibangun dalam berbagai bentuk mailing list
maupun kelompok formal seperti Indonesian Coral Reef Society (INCRES). Kerjasamakerjasama lain di tingkat regional juga terus dilakukan, seperti yang telah dilakukan
bersama beberapa negara: Malaysia, Filipina, Timor Leste, Kepulauan Solomon, dan
Papua Nugini.
Upaya konservasi perairan Indonesia juga ditunjukkan dengan melaksanakan
dan/atau meratifikasi berbagai konvensi internasional yang berkaitan dengan
konservasi jenis ikan. Indonesia tetap memiliki komitmen untuk terus meningkatkan
pelaksanaannya di dalam negeri. Untuk memenuhi kewajiban Konvensi
Keanekaragaman Hayati, misalnya, DKP telah mengeluarkan sejumlah kebijakan
yang berkaitan dengan konservasi pesisir dan laut, serta konservasi jenis ikan yang
terancam punah dan atau dilindungi.
Dengan beragam upaya dalam mengembangkan pelestarian tersebut di
muka, baik di tingkat ekosistem, jenis dan genetik, diharapkan fajar pelestarian
laut menjadi makin benderang. Tidak saja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak
generasi mendatang atas sumber daya ikan, tetapi juga untuk mencapai kejayaan
dan kelestarian wilayah perairan Nusantara. w
Mengail ikan air tawar, para pemancing begitu menikmati aktivitas yang dikembangkan di perairan sungai
(kiri). Apabila dikemas dengan baik kegiatan pemanfaatan lubuk larangan dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat sekitar. Kita dapat melihat contoh tersebut di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
96
Ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi melintasi wilayah perairan Indonesia, yang memiliki ekosistem terumbu
karang yang indah. Saat ini berbagai pihak telah menyuarakan semangat pelestarian untuk melindungi sumber
daya ikan yang kita miliki bagi anak cucu kita di masa mendatang.
Bahan Bacaan
Anonim. 2006. Strategi Utama Jejaring Kawasan Konservasi Laut. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Program
Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Anonim. 2007. Membangun Konservasi Perairan untuk Perikanan Berkelanjutan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Anonim. 2008. Konservasi Sumberdaya Ikan di Indonesia. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Departemen
Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency. Jakarta.
Balmford A., P. Gravestock, N. Hockley, C.J. McClean & C. M. Roberts 2004. The worldwide costs of marine protected areas. PNAS
101: 9694-9697
CCIF 2006. Seven year financial model PT Putri Naga Komodo, Sanur, Bali, Indonesia.
CI. 2001. Raja Ampat Marine Rapid Assesment Program Report. Woshington DC USA.
Conservation International IndonesiaI. 2004. Penyu Sang Duta Laut. Jakarta, Indonesia.
Direktorat jenderal Kelautan, Peisisr dan Pulau-pulau Kecil, 2006. Rencana Strategik Pembangunan Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
tahun 2005 – 2009. Direktorat jenderal Kelautan, Peisisr dan Pulau-pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta,
DPI 2002. Fish Habitat Areas: Sustaining Queensland’s Fisheries. Brochure from the State of Queensland, Dept of Primary
Industries. 6 p.
Erdmann M.V., P.R. Merrill, M. Mongdong, I. Arsyad, Z. Harahap, R. Pangalila, R. Elverawati & P. Baworo 2004. Building Effective
Co-Management Systems for Decentralized Protected Areas Management in Indonesia: Bunaken National Park Case Study. Natural
Resources Management Program, Jakarta, Indonesia. 150 p.
McClanahan T.R., M.J. Marnane, J.E. Cinner, & W.E. Kiene 2006. A Comparison of Marine Protected Areas and Alternative Approaches
to Coral-Reef Management. Current Biology 16: 1408–1413
Mackinnon, K. 1992. Nature Treasurehouse The Wildlife of Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan.
Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, dan M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas, Part II. Periplus Edition.
Pacific Consultants International 2001. Study on Fisheries Development Policy Formulation. Volume I. White Paper. Report by Pacific Consultants
International under Jakarta Fishing Port / Market Development Project (Phase IV: JBIC Loan No. IP-403). 234 p. + Annexes
Pet-Soede C., H.S.J. Cesar & J.S. Pet 1999. An economic analysis of blast fishing on Indonesian coral reefs. Environmental Conservation
26: 83-93
PISCO (2002) The science of marine reserves. http://www.piscoweb.org. 22 p
Roberts CM, Hawkins JP. 2000. Fully Protected Marine Reserver: A Guide , WWF in Woshington DC USA. University of York, York. UK.
Sumardja E. 2002. Kawasan Konservasi Laut (KKL): Kini Bukan Untuk Konservasi Saja. Bahan Presentasi pada WCPA Workshop di
Bangkok Thailand.
Sembiring, S.N. dan F. Husbani. 1999. Kajian Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia : Menuju Pengembangan
Desentralisasi dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat. Lembaga Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia /ICEL.
Ward T, Eddie Hegeri, 2003. Wilayah Suaka Laut dalam Manajemen Perikanan Berbasis Ekosistem. Departemen Lingkungan Hidup dan
Kelestarian Alam. Jakarta
97
98
99
100
Download