PENGARUH BELANJA PEGAWAI, INVESTASI PEMERINTAH, DAN

advertisement
PENGARUH BELANJA PEGAWAI, INVESTASI PEMERINTAH, DAN
PEMBAYARAN UTANG PEMERINTAH DAERAH TERHADAP
FENOMENA FLYPAPER EFFECT
(Studi Empiris Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat 2007 – 2011)
Rina Anita1, Dwi Fitri Puspa1, Herawati1
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Bung Hatta
Email : [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study is to proves empirically the effect of personnel expenditure,
government investment, and local government debt payments to the phenomenon of flypaper
effect. The data used were obtained from the Report of Actual Revenue and Expenditure (budget)
by using a sample of 19 districts / cities in West Sumatra Province from 2007 to 2011. The
sampling method using census sampling where all the population sampled. Analysis of the data
using logistic regression.
The results of this study proves that personnel expenditure, government investment and
local government debt payments do not affect the flypaper phenomenon.
Keywords: Personnel expenditure, government investment, local government debt payments,
flypaper effect phenomenon.
kewajiban daerah untuk mengatur dan
PENDAHULUAN
Pelaksanaan
di
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
Indonesia sudah menjadi bagian dari proses
kepentingan masyarakat setempat sesuai
desentralisasi.
dengan
dengan peraturan perundang – undangan.
diberlakukannya UU No 32 Tahun 2004
Implikasi langsung dari praktek otonomi
tentang Pemerintahan Daerah dan UU
daerah adalah kebutuhan untuk dana yang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
besar. Sumber pendanaan utama pemerintah
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah
Pemerintahan
(PAD), yang dikeluarkan untuk membiayai
merupakan
otonomi
daerah
Sejalan
Daerah,
suatu
hak
otonomi
daerah
wewenang
dan
pengeluaran rutin dan pembangunan. Selain
itu,
pemerintah
daerah
setempat
juga
telah dijadikan sumber utama pendapatan
mendapatkan dukungan dari pemerintah
daerah dibandingkan dengan pendapatan asli
pusat dalam bentuk dana perimbangan.
daerah tersebut. Kondisi pendapatan asli
Dana perimbangan yang terdiri dari
daerah
di
Provinsi
Sumatera
Barat
DAU, DAK, dan DBH didistribusikan
khususnya pendapatan asli daerah Kab/Kota
adalah untuk mengurangi kesenjangan fiskal
selain Kota Padang dan beberapa daerah
vertikal
antara
lainnya hanya berkisar 10% dari APBD nya
pemerintah pusat dan daerah), disparitas
dan lebih kurang 75% dari APBD tersebut
fiskal horizontal (kesenjangan keuangan
dipergunakan untuk biaya rutin termasuk
antara pemerintah daerah) serta untuk
didalamnya
membantu pembiayaan pemerintah daerah.
(www.padangmedia.com).
(kesenjangan
keuangan
Permasalahan yang muncul saat ini adalah
pemerintah
daerah
terlalu
banyak
untuk
belanja
pegawai
Berdasarkan masalah diatas, adapun
maksud dan tujuan penelitian yang ingin
mengandalkan dana perimbangan untuk
dicapai
membiayai
dan
faktor/penyebab yang mendasar terjadinya
tanpa
fenomena flypaper effect pada Kab/Kota
yang
Provinsi Sumatera Barat. Adapun faktor-
dimiliki yang dikenal dengan istilah flypaper
faktor yang digunakan dalam penelitian ini
effect.
adalah
pengeluaran
pembangunan
rutin
mereka
mengoptimalkan
potensi
Roemer
dan
daerah
Silvestre
(2000)
adalah
belanja
berpendapat bahwa flypaper effect secara
pemerintah
umum
pemerintah daerah.
dapat
dipahami
ketidaksepadanan
pengaruh
sebagai
pengeluaran
publik dari bantuan pemerintah federal dan
dan
untuk
mengetahui
pegawai,
pembayaran
investasi
utang
Belanja pegawai adalah semua pengeluaran
negara yang digunakan untuk membiayai
peningkatan pendapatan dengan jumlah
kompensasi dalam bentuk uang atau barang
yang sama.
Provinsi Sumatera Barat yang terdiri
atas 19 Kabupaten/Kota merupakan salah
satu
provinsi
ketimpangan
pendanaan
yang
memiliki
masalah
fiskal
dalam
sumber
pada
beberapa
dari
PAD
kabupaten dan kota. Dana alokasi umum
yang diberikan kepada pegawai pemerintah
pusat, pensiunan, anggota Tentara Nasional
Indonesia/Kepolisian
Negara
Republik
Indonesia, dan pejabat negara, baik yang
bertugas di dalam negeri maupun di luar
negeri, sebagai imbalan atas pekerjaan yang
oleh pemerintah pusat dalam jangka panjang
telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang
untuk investasi pembelian surat berharga
berkaitan dengan pembentukan modal (UU
dan
Nomor 13 Tahun 2005 Tentang Anggaran
mengembalikan
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun
dengan manfaat ekonomi, sosial, dan/atau
Anggaran 2006).
manfaat
Besarnya
pegawai
jumlah
berimbas
pada
dana
belanja
investasi
langsung,
lainnya
nilai
yang
pokok
dalam
mampu
ditambah
jangka
waktu
tertentu.
pengeluaran
Investasi pemerintah daerah dapat
pemerintah daerah yang juga semakin besar.
dianggarkan apabila jumlah yang akan
Hal ini tidak sebanding dengan pendapatan
dianggarkan
asli daerah yang masih kurang memadai
anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam
dalam menutup pengeluaran pemerintah
peraturan daerah tentang penyertaan modal
daerah.
investasi.
Pengeluaran
belanja
pegawai
disertakan
dalam
tahun
Besarnya
penyertaan
modal
daerah
berimbas
pada
diindikasikan menyerap dana perimbangan
(investasi)
dari pemerintah pusat yang lebih tinggi,
pengeluaran pemerintah daerah. Adanya
maka diduga belanja pegawai menjadi salah
ketidakstabilan pada penambahan jumlah
satu penyebab terjadinya flypaper effect di
investasi yang sangat signifikan diduga
Pemerintah Daerah, (Burhanuddin, 2012).
menjadi salah satu penyebab fenomena
Selain belanja pegawai, investasi
juga merupakan pengeluaran pemerintah
daerah.
Investasi
pemerintah
flypaper
effect
pemerintah
daerah
(Burhannudin, 2012).
dalam
Selain penerimaan dari pemerintah
Peraturan Mentri No. 52 Tahun 2012 adalah
pusat yang berbentuk dana perimbangan,
penempatan sejumlah dana dan / atau barang
pemerintah daerah juga melakukan pinjaman
kepada pihak luar dalam bentuk utang.
Utang merupakan suatu kewajiban daerah
pemerintah pusat, karena Direktorat Jenderal
Perimbangan
tentang
Keuangan
pembayaran
menjelaskan
kembali
pinjaman
yang harus dibayar kepada pihak ketiga
diantaranya berbunyi: “Dalam hal daerah
berdasarkan perjanjian pinjaman jangka
tidak
pendek, jangka menengah dan jangka
memenuhi
kewajiban
membayar
pinjamannya kepada Pemerintah, kewajiban
membayar pinjaman tersebut diperhitungkan
panjang. Menurut Undang-undang No. 25
Tahun 1999, hutang pemerintah daerah
adalah semua transaksi yang mengakibatkan
dengan DAU dan/atau Dana Bagi Hasil yang
menjadi hak daerah tersebut”. Adanya
ketidakstabilan pada pengurangan jumlah
hutang
pemerintah daerah menerima dari pihak lain
sejumlah uang atau manfaat bernilai uang
sehingga
pemerintah
daerah
yang
yang
sangat
signifikan
maka
pembayaran pokok utang diduga menjadi
salah satu penyebab fenomena flypaper
effect di pemerintah daerah (Burhannudin,
2012).
bersangkutan dibebani kewajiban untuk
membayar kembali jumlah uang dalam
jangka waktu tertentu kepada pihak lender.
Adapun hipotesis yang dapat diturunkan
yaitu :
H1:
Adanya pengaruh belanja pegawai
terhadap fenomena flypaper effect
Besarnya jumlah hutang ini berimbas
pada pengeluaran pembayaran pokok hutang
pemerintah
daerah.
Pengeluaran
untuk
pembayaran pokok utang pemerintah daerah
ada
hubungan
secara
tidak
langsung
terhadap penyerapan dan perimbangan dari
H2:
Adanya
pemerintah
pengaruh
daerah
terhadap
investasi
fenomena
flypaper effect
H3:
Adanya pengaruh pembayaran utang
daerah terhadap fenomena flypaper effect
Model Penelitian
Gambar 1
Model Penelitian
METODE PENELITIAN
Pemerintah Daerah pada periode 2007 -
Populasi dan Sampel
2011.
Populasi dalam penelitian ini adalah
Metode Pengumpulan Data.
19 Kab/Kota di Provinsi Sumatera Barat,
Dalam penelitian ini data diperoleh
yang terdiri dari 12 Kabupaten dan 7 Kota
dari website Dirjen Perimbangan Keuangan
dan
Pemerintah
menyajikan
laporan
keuangan
Daerah
:
Kabupaten/Kota dan Realisasi APBD yang
www.djpk.depkeu.go.id,
dikeluarkan
Daerah pada
BPS pusat Sumatera Barat. Dari sumber data
periode tahun 2007 - 2011. Sampel dalam
tersebut diperoleh data kuantitatif berupa
penelitian
data laporan keuangan dan realisasi APBD
Pemerintah
ini
adalah
semua
populasi
dijadikan sampel.
yang dikeluarkan Pemerintah Daerah.
Variabel Penelitian
Jenis dan Sumber Data.
Data
yang
digunakan
1. Variabel Dependen
dalam
Variabel dependen, yaitu variabel
penelitian ini adalah data sekunder berupa
lengkap laporan keuangan dan Realisasi
APBD yang memenuhi kriteria penelitian.
Data diperoleh dari laporan keuangan dan
Realisasi
APBD
www.bps.go.id,
yang
dikeluarkan
yang nilainya dipengaruhi oleh variabel
independen
(Sekaran,
2011).
Variabel
dependen yang digunakan dalam penelitian
ini
adalah
fenomena
Flypaper effect
flypaper
effect.
diukur dengan melihat
pengaruh jumlah PAD dengan dana transfer
Regresi
pusat terhadap belanja daerah melalui
normalitas data pada logistic bebasnya
analisis regresi dengan menggunkan kriteria
(Ghozali 2011:333).
kategori dimana, kriteria nilai 0, untuk
Model
pengaruh
PAD>DAU
terhadap
Belanja
Daerah (tidak terjadi flypaper effect) dan
kriteria nilai 1, untuk pengaruh PAD<DAU
terhadap Belanja Daerah (terjadi flypaper
tidak
regresi
perlu
logistic
asumsi
yang
digunakan untuk menguji hipotesis adalah
sebagai berikut :
Y = α + ß1BP + ß2IPD + ß3PPU + e
dimana :
Y
= Flypaper Effect
α
= Konstanta
ß
= Slope atau koefisien regresi
Variabel independen, yaitu variabel
BP
= Belanja Pegawai
menjadi
atau
IPD
= Investasi Pemerintah Daerah
dependen
PPU
= Pembayaran Pokok Utang
e
= error
effect)
2. Variabel Independen
yang
logistic
sebab
terpengaruhinya
terjadinya
variabel
(Sekaran, 2011). Variabel independen dalam
penelitian ini adalah belanja pegawai,
investasi
pemerintah
daerah,
dan
pembayaran utang pemerintah daerah.
Pengukuran
belanja
pegawai
menggunakan persentase belanja pegawai
yaitu belanja pegawai dibagi dengan belanja
daerah setiap tahunnya dengan satuan
nominal hitung. Investasi pemerintah dan
pembayaran utang pemerintah daerah diukur
dengan satuan rupiah kemudian di Lag-kan.
Pengujian hipotesis dalam penelitian
ini menggunakan analisis regresi logistik
(logistic regression) melalui program SPSS
versi 19.0 yang dilakukan secara serentak
ketiga
regresi logistic tidak memerlukan uji asumsi
klasik karena sebelum pengujian hipotesis
dilakukan, langkah pertama adalah menilai
kelayakan model regresi dan menilai model
fit yang merupakan pengganti dari uji
asumsi klasik.
1. Menilai Model Fit
Menilai model fit dilakukan untuk
mengetahui model yang dihipotesiskan fit
dengan data atau tidak. Pengujian dilakukan
Pengujian Hipotesis
terhadap
Pengujian hipotesis dengan menggunakan
variabel
independen.
dengan membandingkan antara nilai -2LL
awal dengan nilai -2LL pada langkah
berikutnya.
Adanya
pengurangan
nilai
antara -2LL awal dengan nilai -2LL pada
langkah berikutnya menunjukkan bahwa
model yang dihipotesiskan fit dengan data.
diinterpretasikan sama seperti nilai R2 pada
Penurunan Log Likelihood menunjukkan
multiple regression (Ghozali 2011:341).
model regresi semakin baik. Hipotesis untuk
menilai
model
fit
adalah
(Ghozali
2011:340):
HASIL
DAN
PEMBAHASAN
2. Menilai Kelayakan Model Regresi
1. Menilai Model Fit
Kelayakan model regresi dinilai
dengan
PENELITIAN
menggunakan
dilakukan
tahapan
and
pengujian model regresi logistic maka
Lemeshow’s Goodness-of-fit Test. Jika nilai
terlebih dahulu menilai model fit dengan
Hosmer and Lemeshow’s Goodness-of-fit
pengujian -2 log Likelihood, pengujian
Test statistic sama dengan atau kurang dari
tersebut
0,05 maka hipotesis nol ditolak yang berarti
ketepatan dari pembentukan model regresi
ada perbedaan signifikan antara model
logistic
dengan
sehingga
penurunan maka model regresi logistic dapat
Goodness fit model tidak baik karena model
dilanjutkan. Berdasarkan hasil pengolahan
tidak dapat memprediksi nilai observasinya.
data yang telah dilakukan diperoleh hasil
nilai
Hosmer
Sebelum
observasinya
(Ghozali,
untuk
2011).
mengetahui
Jika
terjadi
Lemeshow’s
pada block 0 terlihat nilai -2 loglikelihood
Goodness-of-fit Test statistic lebih besar dari
adalah sebesar 97,784 sedangkan pada tabel
0,05 maka hipotesis nol tidak dapat ditolak
block 1 diperoleh nilai -2 loglikehood
dan berarti model mampu memprediksi nilai
mengalami penurunan sebesar 0,293 atau
observasinya atau dapat diaktakan model
menjadi 97,491. Hasil
dapat diterima karena cocok dengan data
menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai
observasinya (Ghozali 2011:341).
-2 loglikehood sehingga dapat disimpulkan
3. Koefisien Determinasi
bahwa ketepatan model yang akan diuji
Jika
nilai
Hosmer
Koefisien
and
dilakukan
determinasi
digunakan
terpenuhi,
oleh
sebab
yang diperoleh
itu
tahapan
untuk mengetahui seberapa besar variabilitas
pengolahan data lebih lanjut dapat segera
variabel-variabel
dilaksanakan.
independen
mampu
menjelaskan variabilitas variabel dependen.
2. Menilai Kelayakan Model Regresi
Koefisien determinasi pada regresi logistik
dapat dilihat pada nilai Nagelkerke’s R2.
Nilai
Nagelkerke’s
R2
dapat
Kelayakan model regresi dinilai
dengan
menggunakan
Lemeshow’s
Hosmer
Goodness-of-fit
and
Test.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan
menjelaskan variabelitas variabel dependen
diperoleh ringkasan hasil nilai signifikan
(Ghozali, 2011). Berdasarkan pengujian
yang diperoleh didalam tahapan pengujian
yang telah dilakukan diperoleh ringkasan
adalah sebesar 0,828 didalam pengujian
hasil nilai Negelkerke’s R2 yang dihasilkan
tingkat kesalahan yang digunakan adalah
adalah sebesar 0,005 hasil yang diperoleh
0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan
menunjukkan
bahwa nilai sig yang dihasilkan adalah
investasi pemerintah daerah dan pembayaran
sebesar 0,828 > alpha 0,05 sehingga dapat
utang
disimpulkan bahwa variabel penelitian yang
memberikan
digunakan yang meliputi belanja pegawai,
menjelaskan
investasi pemerintah daerah dan pembayaran
memprediksi peringkat obligasi sebesar 0,05
utang pemerintah daerah dinyatakan tepat
atau 5% sedangkan sisanya sebesar 95% lagi
(fit)
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak
dijadikan
mempengaruhi
sebagai
variabel
kemungkinan
yang
terjadinya
flypaper effect di Sumatera Barat.
bahwa
pemerintah
variasi
belanja
pegawai,
daerah
mampu
kontribusi
dalam
pengaruhnya
dalam
digunakan didalam model penelitian ini.
4. Pembentukan
Model
Regresi
Logistik
3. Koefisien Determinasi
Untuk mengetahui arah pengaruh
Koefisien determinasi pada regresi
logistic dapat dilihat pada nilai Negelkerke’s
R2. Pengujian Negelkerke’s R2dilakukan
untuk
mengetahui
seberapa
besar
variabelitas variabel independen mampu
yang terbentuk antara variabel independen
terhadap variabel dependen maka sebelum
dilakukan
analisis
terhadap
pengujian
hipotesis
terlebih
dahulu
dilakukan
pembentukkan model regresi logistik.
Variables in the Equation
Step
a
1
X1
X2
X3
Constant
B
-.637
-.025
.012
1.751
S.E.
2.532
.056
.061
1.368
Wald
.063
.200
.041
1.637
df
1
1
1
1
Sig.
.801
.655
.840
.201
Exp(B)
.529
.975
1.012
5.758
a. Variable(s) entered on s tep 1: X1, X2, X3.
Berdasarkan hasil pengujian statistik
bahwa masing – masing variabel penelitian
yang telah dilakukan dilihat dari output spss
yang digunakan didalam penelitian ini dapat
pada variable in the equation table terlihat
dibuat
kedalam
sebuah
model
regresi
logistic
yang
dapat
dibuat
kedalam
Berdasarkan
hasil
pengujian
persamaan dibawah ini :
hipotesis diperoleh nilai koefisien regresi
Y =1.751 - 0,637x1 – 0,025 x2 + 0,012 x3
untuk investasi pemerintah daerah sebesar -
Sesuai dengan persamaan diatas
0,025 dengan nilai signifikansi sebesar
dapat dianalisis dan berikan beberapa alasan
0,655. Proses pengolahan data dilakukan
terhadap hasil pengujian hipotesis yang telah
dengan menggunakan tingkat kesalahan
dilakukan, seperti yang terlihat pada sub bab
sebesar
dibawah ini yaitu :
menunjukkan
0,05.
Hasil
bahwa
yang
nilai
diperoleh
signifikansi
sebesar 0,655, atau lebih besar dari alpha
H1 :
Belanja
Pegawai
berpengaruh
terhadap fenomena flypaper effect
Berdasarkan
hasil
0,05. Dapat disimpulkan bahwa dari hasil
pengujian membuktikan bahwa Ho diterima
pengujian
hipotesis diperoleh nilai koefisien regresi
untuk belanja pegawai sebesar -0,637
dengan nilai signifikansi sebesar 0,801.
Proses pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan tingkat kesalahan sebesar
0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan
dan Ha ditolak atau dengan kata lain
investasi
pemerintah
daerah
tidak
berpengaruh terhadap fenomena flypaper
effect.
Hasil
ini
menunjukkan
bahwa
investasi pemerintah daerah bukanlah faktor
penyebab terjadinya flypaper effect pada
Kab/Kota Provinsi Sumatera Barat.
nilai signifikansi sebesar 0,801, atau lebih
besar dari alpha 0,05. Dapat disimpulkan
bahwa untuk hipotesis pertama adalah Ho
diterima dan Ha ditolak, atau dengan kata
lain belanja pegawai tidak berpengaruh
terhadap fenomena flypaper effect. Hasil ini
menunjukkan
bukanlah
bahwa
faktor
belanja
penyebab
pegawai
terjadinya
flypaper effect pada Kab/Kota Provinsi
Sumatera Barat.
H2
:
Investasi
daerah berpengaruh terhadap fenomena
flypaper effect
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
diperoleh nilai koefisien regresi untuk
investasi pemerintah daerah sebesar 0,012
dengan nilai signifikansi sebesar 0,840.
Proses pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan tingkat kesalahan sebesar
pemerintah
daerah
berpengaruh terhadap fenomena flypaper
effect
H3 : Pembayaran Utang pemerintah
0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa nilai signifikansi sebesar 0,840, atau
lebih besar dari
alpha 0,05. Dapat
disimpulkan bahwa dari hasil pengujian
membuktikan bahwa Ho diterima dan Ha
ditolak atau dengan kata lain pembayaran
utang pemerintah daerah tidak berpengaruh
terhadap fenomena flypaper effect. Hasil ini
menunjukkan bahwa pembayaran utang
pemerintah
daerah
bukanlah
faktor
penyebab terjadinya flypaper effect pada
Kab/Kota Provinsi Sumatera Barat.
PENUTUP
Berdasarkan
hasil
analisis
dan
pembahasan penelitian dapat disimpulkan
bahwa
belanja
pemerintah
dan
pemerintah
daerah
pegawai,
investasi
pembayaran
tidak
utang
berpengaruh
terhadap fenomena flypaper effect pada
Kab/Kota
Provinsi
Sumatera
Barat.
Keterbatasan pada penelitian ini adalah
sampel yang terlalu kecil sehingga tidak
memperlihatkan faktor – faktor penyebab
terjadinya flypaper effect. Saran untuk
di
Jawa”.
Jurnal
Ekonomi
Pembangunan. Vol. 11 No. 1. hlm. 1 –
12
Bastian, I. 2006. “Akuntansi Sektor Publik”.
Jakarta: Erlangga.
Burhanuddin, Ahmad. 2012. “Pengaruh
Belanja
Pegawai,
Investasi
Pemerintah, dan pembayaran Utang
Pemerintah
Daerah
Terhadap
Fenomena
Flypaper
Effect
”.
Accounting Analysis Journal
Febrian,
Riandasa,
Anugrah.
2011.”Flypaper Effect di Indonesia”
http://accounting1st.wordpress.com/20
11/06/26flypaper-effect-diIndonesia.html.
Ghozali, Imam. 2011. “Aplikasi Analisis
Multivariate dengan program SPSS 19
Edisi 4”, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
Halim, Abdul. 2007. “Akuntansi Keuangan
Daerah”, Penerbit Salemba Empat.
Hastuti, Indhi. 2011. “Analisis Flypaper
Effect Dana Alokasi Umum (Dau),
Pendapatan Asli Daerah (Pad) Dan
Kinerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Skpd)(Studi Pada Kota Dan
Kabupaten Semarang)”. Undip.
pada pemerintah daerah Kab/Kota.
Hidayat, Ryan. 2013. “Pengaruh Belanja
Pegawai, Investasi Pemerintah, dan
pembayaran
Utang
Pemerintah
Daerah Terhadap Fenomena Flypaper
Effect Pada Kota/Kabupaten Di
Provinsi Jawa Tengah Dan Provinsi
D.I.Y”,
Tesis
UPN
Veteran
Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.djpk.depkeu.go.id/datadjpk/37/K
onsep-Pinjaman-Daerah
Agus, P, Bambang. 2010. “Flypaper Effect
pada Pengeluaran Pemerintah Daerah
Kuncoro, Thesauran. 2007.
Pengelolaan
Keuangan
peneliti
selanjutnya
yaitu
memperluas
sampel dalam menguji flypaper effect
penelitian
karena
memperluas
sampel
penelitian memungkinkan akan memperlihat
faktor penyebab terjadinya flypaper effect
“Analisis
Daerah
terhadap Kemandirian Daerah”. Tesis.
Semarang: Undip
Listiorini. 2012. “Fenomena Flypaper Effect
pada
Dana
Perimbangan
dan
Pendapatan Asli Daerah terhadap
Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota
di Sumatera Utara”. Jurnal Keungan
dan Bisnis. Vol. 4 No. 2.
Mahmudi. 2010. “Manajemen Keuangan
Daerah”. Penerbit Erlangga.
Maimunah, Mutiara. (2006). “Flypaper
Effect pada Dana Alokasi Umum
(DAU) dan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) terhadap Belanja Daerah pada
Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera”.
Simposium Nasional Akuntansi IX.
Padang
Mardiasmo. 2004. “Akuntansi Sektor
Publik”. Penerbit Andi Yogyakarta.
Nugroho, Fajar. 2012. “Pengaruh Belanja
Modal Terhadap Pertumbuhan Kinerja
Keuangan
Daerah
Dengan
Pendapatan Asli Daerah Sebagai
Variabel Intervening (Studi Kasus Di
Propinsi Jawa Tengah)”. Undip
Peraturan
Menteri
Dalam
Negeri
(Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006
tentang
Pedoman
Pengelolaan
Keuangan Daerah
Peraturan
Menteri
Dalam
Negeri
(Permendagri) Nomor 52 Tahun 2012
tentang
Pedoman
Pengelolaan
Investasi Pemerintah Daerah.
Purnomo,
Hernawan,
Bayu.
2011.
“Flypaper Effect Pada Pengaruh
Transfer Tidak Bersyarat Dan
Pendapatan Asli Daerah Terhadap
Pertumbuhan
Ekonomi
Daerah
Kabupaten/Kota Di Kalimantan Tahun
2007-2010”. Unpad (Available online
accesed octobert 2013)
Oates, Wallace. E. 1999. An Essay on Fiscal
Federalism. Journal of economic
literature.
Rahmawati, Nur, Indah. 2010. “Pengaruh
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan
Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap
Alokasi Belanja Daerah (Studi Pada
Pemerintah Kabupaten/Kota Di Jawa
Tengah)”. Undip
Roemer, J. E., and Joaqium, Silvestre. 2000.
The Flypaper Effect is not an Anomaly.
Journal of Economic Literature.
Sekaran. (2011). “Metode Penelitian Bisnis”
: Penerbit Salemba Empat.
Undang-Undang Republik Indonesia No.1
tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara. www.bapenas.go.id
Undang-Undang Republik Indonesia No.13
tahun 2005 tentang APBD Anggaran
tahun 2006. www.bapenas.go.id
Undang-Undang Republik Indonesia No.17
tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
www.bapenas.go.id
Undang-Undang Republik Indonesia No.25
Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat
dan
Daerah.
Jakarta.
www.bapenas.go.id
Undang-Undang Republik Indonesia No.32
tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. www.bapenas.go.id
Undang-Undang Republik Indonesia No.33
tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah
Daerah.
www.bapenas.go.id
www.bps.go.id
www.djpk.depkeu.go.id
Download