DAN IKAN TONGKOL

advertisement
STUDI KERAGAMAN CACING PARASITIK PADA SALURAN
PENCERNAAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DAN
IKAN TONGKOL (Euthynnus spp.)
ARIE OKTAVIANI SANTI ADJI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
ABSTRAK
ARIE OKTAVIANI SANTI ADJI. Studi Keragaman Cacing Parasitik pada Saluran
Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Tongkol (Euthynnus
spp.). Dibawah bimbingan RISA TIURIA dan ADHI RACHMAT SUDRAJAT
HARIYADI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman cacing parasitik yang
ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami (Oshpronemus gouramy) dan ikan
tongkol (Euthynnus spp.) dengan cara mengidentifikasi cacing parasitik tersebut.
Kemudian dapat mengetahui tingkat prevalensi dan intensitas kecacingan yang
ditimbulkan pada saluran pencernaan ikan gurami dan ikan tongkol. Penelitian ini
dilakukan dengan mengambil 15 sampel ikan gurami (Osphronemus gouramy) dan 16
sampel ikan tongkol (Euthynnus spp.). Kemudian mengisolasi cacing dari sampel
ikan gurami dan tongkol. Organ yang diperiksa yaitu saluran pencernaan. Spesimen
ikan dibedah dengan cara dibuat sayatan pada bagian ventral ikan. Sayatan dimulai
dari operkulum untuk memaparkan insang terlebih dahulu kemudian dilanjutkan ke
arah posterior sampai arah kloaka untuk memaparkan saluran pencernaan (usus).
Organ usus diletakkan ke dalam cawan petri yang berisi NaCl fisiologis 0,85% dan
diidentifikasi dengan mikroskop cahaya. Spesimen diawetkan dengan alkohol 70%
untuk dianalisis lebih lanjut ke pewarnaan. Cacing trematoda diberikan pewarnaan
Semichon's acetocarmine. Cacing nematoda diberikan KOH 10% dan pewarnaan
minyak cengkeh. Pada ikan gurami didapatkan cacing parasit yaitu Procamallanus
sp. dan Camallanus sp.. Nilai prevalensi pada ikan gurami sebesar 26,67% termasuk
kategori often (sering muncul) dan nilai intensitas kecacingan pada ikan gurami
sebesar 1. Pada ikan tongkol didapatkan cacing Digenea (kemungkinan
Lechitochirium sp.) dan Spinitectus sp.. Nilai prevalensi pada ikan tongkol sebesar
12,5% dan termasuk kategori often (sering muncul). Berdasarkan hasil penelitian,
cacing parasit yang didapatkan tidak zoonosis pada manusia.
Kata kunci : Digenea, Nematoda, Ikan, Cacing Parasit.
ABSTRACT
The aim of this research to identify the variety of endoparasite that was found
in intestine of giant gouramy (Osphronemus gouramy) and little tuna (Euthynnus
spp.) by identified the parasitic worms, to know the degree of prevalency and
intensity value of them. This research was conducted by taking sample on 15 Giant
Gouramys (Osphronemus gouramy) and 16 little tunas (Euthynnus spp.). Isolation
procedure was applied on the sample of little tunas and Giant Gouramys with
digestive tracts as the target organ. The fish specimen was incised on the ventral side
of the fish, where insicion began from operculum with roll out in a gill's fish and then
it was continue to posterior side in cloaca direction to roll out the intestine. The
organs were put in NaCl fisiologis and were identified by lighting microscope. That
spesimens were preservatived to analize in the alcohol and then colouring act was
applied to the specimen. The trematoda worm was stained using Semichon's
acetocarmine, while nematode worm were stained by KOH 10% and clove oil. The
result showed that Giant Gouramys hosted some parasite worms such as
Procamallanus sp. and Camallanus sp.. The prevalency of parasitic helminth
infection in the Giant Gouramys was 26,67%, classifield as often category where the
intensity value was 1. In the little tuna Digenea (possibility from Lechitochirium sp.)
and Spinitectus sp were found.. The prevalency value in the little tunas was 12,5%, so
it fit into often category. Based on the result mention above, we concluded that the
parasite worms were found both in Giant Gouramy and little tuna were not
zoonotic.
Key words : Digenea, Nematode, Fish, Parasite worm.
STUDI KERAGAMAN CACING PARASITIK PADA SALURAN
PENCERNAAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DAN
IKAN TONGKOL (Euthynnus spp.)
ARIE OKTAVIANI SANTI ADJI
B04104030
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian
: Studi
Keragaman
Cacing
Parasitik pada Saluran
Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy) dan
Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)
Nama Mahasiswa
: Arie Oktaviani Santi Adji
Nomor Pokok
: B04104030
Program Studi
: Kedokteran Hewan
Disetujui,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Drh. Risa Tiuria, MS.
NIP : 131 690 352
Adhi Rachmat Sudrajat Hariyadi, BSc, MSi.
Diketahui,
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB
Dr. Nastiti Kusumorini
NIP : 131 699 942
Tanggal Pengesahan : ....../....../......
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 8 Oktober 1986.
Penulis merupakan anak kedua dari Bapak Drs. Adji Saptadji dan Ibu Mariati, Spd
yang memiliki seorang putra dan dua orang putri.
Pada tahun 1990 penulis memasuki TK Dharma Wanita Asembagus.
Kemudian pada tahun 1992 bersekolah di SD Asembagus 1 sampai tahun 1997
kemudian pindah ke SD Curah Jeru 1 Panji dan lulus SD tahun 1998 di SD Curah
Jeru 1 Panji. Penulis melanjutkan studinya ke SMP 2 Panji pada tahun 1998
kemudian lulus dan melanjutkan ke SMA 1 Situbondo pada tahun 2001. Penulis
diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan yang lolos melalui seleksi
USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB) IPB pada tahun 2004.
PRAKATA
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan
limpahan rahmat, izin dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan sripsi
yang berjudul "Studi Keragaman Cacing Parasitik Pada Saluran Pencernaann Ikan
Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)".
Dengan segala kerendahan hati, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. drh. Risa Tiuria, MS selaku pembimbing pertama atas bimbingan, ilmu,
dorongan, motivasi dan nasehat serta waktu yang telah diluangkan beliau
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Adhi Rachmat Sudrajat Hariyadi, BSc, MSi selaku pembimbing kedua
atas ilmu, waktu, motivasi dan kesabaran beliau sehingga skripsi ini dapat saya
selesaikan.
3. drh. Elok Budi Retnani, Ms selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan
nasehat, arahan serta bimbingan untuk menyelesaikan penulisan ini.
4. Bapak Dr. drh. Syahrun Hamdani Nasution selaku pembimbing akademik yang
selalu memberikan saran dan motivasi kepada saya.
5. Ibu Ir. Yani Hadiroseyani, MM dosen parasit ikan Budidaya Perairan Fakultas
Perikanan & Ilmu Kelautan (BDP FPIK) IPB yang telah memberikan ilmu dan
saran kepada saya.
6. Ayah, Ibu, Mas Yoga dan Adek Ade beserta keluarga besar atas cinta & kasih
sayang, motivasi serta do'anya yang selama ini diberikan kepada saya.
7. Anis Berry beserta keluarga yang selalu memberikan semangat, kasih sayang,
cinta dan do'a. makaci Qynk!
8. Sahabat-sahabatku yang paling gokil abiz yang ada di team renang dadakan yakni
Arios, Ivan, Bagus, Dhani, Agus Prastowo dan sahabat gilaku Renny, Eka Popon,
Muri, Mungky, Riza, Dordia dan Yuda. Thanks ya guys!
9. Teman-temanku Abhyn, Rico, Ita, Satrio, Fuad, Debby, Anny, Wahyu
Kusumaningrum, Fitriana Dewi, Ellyta Puput, Fina, Iin, Ipin, Winda MSP, Nina,
Gusmayanti, Dini, Puput, Yus, Gege, Ana, Uni Betty dan mbak Ratna. Thakz ya
prenz!
10. Team penelitianku ( Dwi Susanto, Erlina, Shio, Nova, Renalda, Astri, Yulia
Erika, Vonti dan Mones).
11. Pak Eman, Ibu Irawati, Pak Kos yang setia membantu kami selama di
Laboratorium Helminthologi.
12. Teman-temanku terutama di kelas P yang selalu kompak.
13. Teman- teman kosan Jaika (Mbak Farida, Mbak Eny, Mbak Karin, Mbak Ninda,
Mbak Mia, mbak Leni, Ike, Sari, Kiky).
14. Teman-teman kosan Jayawijaya (Mbak Santi, Lita, Mbak Cony, Mbak Dewi,
Mbak Ida, Lita, Mbak Dian, Dini) beserta bapak Acep Husein beserta Keluarga.
15. Semua teman-teman Astroidea'41.
16. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah banyak
membantu untuk keberhasilan penulis.
Segala kritik dan saran dari pembaca senantiasa penulis harapkan, karena
penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan.
Bogor, September 2008
Arie Oktaviani Santi Adji
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL………………………………………………………….
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………
PENDAHULUAN………………………………………………………….
Latar Belakang……………………………………………………...
Tujuan Penelitian…………………………………………………...
Manfaat Penelitian………………………………………………….
TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………
Sejarah dan Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)……
Sejarah dan Klasifikasi Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)…………...
Jenis Cacing Parasit Pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
dan Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)………………………………...
Nemathelminthes…………………………………………...
Nematoda…………………………………………..
Platyhelminthes…………………………………………….
Distribusi dan Keragaman parasit…………………………………..
Tipe-tipe Parasitisme dan Resistensi Inang………………………...
Efek Parasit Terhadap Inang………………………………………..
BAHAN DAN METODE………………………………………………….
Tempat dan Waktu Penelitian………………………………………
Alat dan Bahan……………………………………………………..
Metoda……………………………………………………………...
Pengambilan sampel………………………………………..
Teknik Parasitologi…………………………………………
Metoda Pewarnaan dengan Minyak Cengkeh (Semi
Permanen)…………………………………………………..
Metoda Pewarnaan Semichon's acetocarmine (Permanen)...
Analisis Data………………………………………………………..
HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………….
Identifikasi Jenis Parasit Pada Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy)……………………………………………………………
Procamallanus sp…………………………………………..
Camallanus sp……………………………………………...
Prevalensi dan Intensitas Kecacingan pada Ikan Gurami…………..
Identifikasi Cacing Parasit pada Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)….
Digenea pada Ikan Tongkol………………………………...
Spinitectus sp……………………………………………….
Halaman
xi
xii
1
1
2
3
4
4
9
12
12
12
14
15
15
16
17
17
17
17
17
17
18
18
19
21
21
23
25
28
28
28
30
Prevalensi Kecacingan pada Ikan Tongkol………………………...
KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………
Kesimpulan…………………………………………………………
Saran………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………...
32
33
33
33
34
DAFTAR TABEL
No.
Teks
1 Jenis cacing parasitik………………………………………………
2 Cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan
gurami……………………………………………………………..
3 Cacing parasit yang ditemukan pada ikan tongkol………………...
Halaman
21
21
28
DAFTAR GAMBAR
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Teks
Halaman
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)…………………………
4
Labirin Gurami……………………………………………........
5
Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)………………………………...
9
Persebaran Ikan Tongkol di Dunia……………………………..
11
Grafik Penangkapan Ikan Tongkol di Dunia Berdasarkan
Statistik FAO…………………………………………………...
11
Nematoda……………………………………………………….
13
Daur hidup Nematoda..................................................................
14
Siklus hidup langsung nematoda……………………………….
22
Siklus hidup tidak langsung nematoda…………………………
22
Procamallanus pintoi…………………………………………..
24
Procamallanus sp………………………………………………
24
Morfologi Camallanus maculatus……………………………...
26
Camallanus sp………………………………………………….
27
Camallanus sp………………………………………………….
27
Tongkol 1 Digenea……………………………………………..
29
Lechitochirium sp………………………………………………
29
Morfologi Spinitectus allaeri…………………………………...
31
Spinitectus sp…………………………………………………...
32
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan gurami (Oshpronemus gouramy) merupakan ikan asli Indonesia yang
berasal dari perairan daerah Jawa Barat. Sebagai salah satu ikan budidaya, ikan
gurami sudah dikenal sebagai ikan konsumsi dan ikan hias sejak tahun 1802
(Sitanggang & Sarwono 2000). Permintaan akan ikan ini cukup banyak dan harganya
relatif tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila,
tambakan dan tawes. Hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan yaitu ikan gurami
mudah bertelur (mudah memijah), rasanya enak dan variasi makanan yang baik
(Chakroff 1976). Bagi masyarakat umum, ikan ini dipandang sebagai salah satu ikan
bergengsi dan biasanya disajikan pada acara-acara yang dianggap penting. Oleh
sebab itu, tidak mengherankan apabila ikan gurami menjadi salah satu komoditi
unggulan di sektor perikanan air tawar.
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) juga memiliki protein tinggi,
mengandung asam amino esensial yang berfungsi meningkatkan kecerdasan otak dan
mencegah timbulnya penyakit jantung koroner. Ikan gurami (Osphronemus gouramy)
merupakan ikan jenis air tawar yang berasal dari perairan rawa-rawa dan menyukai
perairan tenang dan jernih. Ikan ini juga bisa hidup di sungai atau danau.
Sumberdaya ikan pelagis dibagi berdasarkan ukuran, yaitu Ikan Pelagis Besar
seperti kelompok Tuna (Thunidae) dan Cakalang (Katsuwonus pelamis), kelompok
Marlin (Makaira sp.), kelompok Tongkol (Euthynnus spp.) dan Tenggiri
(Scomberomorus spp.), Selar (Selaroides leptolepis) dan Sunglir (Elagastis
bipinnulatus), kelompok Kluped seperti Teri (Stolephorus indicus), Japuh
(Dussumieria spp.), Tembang (Sadinella fimbriata), Lemuru (Sardinella longiceps)
dan Siro (Amblygaster sirm), dan kelompok Skrombroid seperti Kembung
(Rastrellinger spp.) (Aziz et al. 1988).
Ikan tongkol (Euthynnus sp.) dikenal juga dengan nama Komo. Sering pula
dicampurbaurkan dengan tongkol pisang
atau
lisong
yang
dalam
nama
perdagangannya disebut frigated mackeral. Tongkol terdapat banyak pada Samudera
Pasifik dan Samudera Hindia sepanjang katulistiwa pada suhu air. Euthynnus sp.
cenderung membentuk kelompok (school). Puncak musim pemijahan bervariasi
tergantung pada daerah, seperti perairan Filipina bulan Maret-Mei, perairan Afrika
Timur pada pertengahan musim barat daya sampai permulaan musim tenggara atau
Januari-Juli dan perairan Indonesia diperkirakan pada bulan Agustus-Oktober
(Collete & Naoen 1983).
Organisme patogen penyebab penyakit antara lain dapat berupa parasit, jamur,
bakteri maupun virus. Salah satu jenis patogen yang sering menyerang ikan adalah
parasit. Parasit merupakan organisme yang mengambil keuntungan dari inangnya
yaitu dengan menempel dan menyerap nutrisi dari inang untuk mendukung
kehidupannya. Parasit dapat menyebabkan kerusakan organ sehingga pertumbuhan
terhambat dan akhirnya menyebabkan kematian. Parasit yang menyerang ikan dapat
dibedakan berdasarkan organ terinfeksi yaitu ektoparasit dan endoparasit (Olsen
1974).
Menurut Sindermann (1990), keberadaan parasit pada ikan berdampak pada
pengurangan konsumsi, kualitas ikan menurun pada usaha budidaya, maupun
pengurangan bobot ikan konsumsi dan penolakan oleh konsumen akibat adanya
morfologi atau bentuk tubuh ikan yang abnormal. Pada usaha budidaya, parasit dapat
menimbulkan kerugian berupa penurunan fekunditas induk ikan dan kematian larva
secara massal (Grabda 1991). Apabila petani ikan tidak dapat mengenali jenis parasit
apa yang menyerang ikan gurami maupun ikan tongkol maka petani ikan tidak dapat
melakukan pencegahan dan pengobatan pada ikan gurami dan tongkol. Pada akhirnya
akan mengurangi nilai keuntungan para pelaku bisnis (eksportir maupun importir)
ikan gurami dan tongkol.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman cacing parasitik
yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami (Oshpronemus gouramy) dan
ikan tongkol (Euthynnus spp.). Selanjutnya dapat mengetahui tingkat prevalensi dan
intensitas kecacingan yang ditimbulkan pada ikan gurami dan ikan tongkol.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi dan data tentang
cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami (Osphronemus
gouramy) dan ikan tongkol (Euthynnus spp.), sehingga kita mendapatkan
pengetahuan tentang jenis-jenis cacing parasit yang terdapat pada saluran pencernaan
ikan gurami dan ikan tongkol dan dapat juga digunakan sebagai dasar untuk
melakukan penelitian di tingkat selanjutnya.
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah dan Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan satu diantaranya yang telah
banyak dibudidayakan. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya Gurami, Gurameh,
orang Sumatra menyebutnya ikan Kalau, Kala, Kalui, sedangkan di Kalimantan
disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya Giant Gouramy, karena ukurannya yang
besar sampai mencapai berat 5 kg (Warintek 2005).
Sirip punggung
Lubang hidung
Ekor
Mata
Sirip dada
Tutup insang
Sirip anal
Gambar 1 Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) (Anonim 2008)
Menurut Saanin (1984), ikan gurami dapat diklasifikasikan sebagai berikut
kingdom Animalia, filum Chordata, kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo
Labyrinthici, subordo Anabantoidei, famili Anabantidae, genus Osphronemus dan
spesies Osphronemus gouramy. Ikan gurami berasal dari perairan Sunda (Jawa Barat,
Indonesia) dan menyebar ke Negara Malaysia, Thailand, Ceylon dan Australia (Huet
1994) dan sekarang menyebar hampir di seluruh Asia Tenggara (Chakroff 1976). Di
habitat asalnya, gurami mendiami perairan yang tenang dan tergenang seperti sungai,
rawa-rawa dan danau (Syafei et al. 1995).
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) mempunyai bentuk badan bundar agak
panjang, lebar atau pipih kesamping (compresses), bagian punggung berwarna merah
sawo dan bagian perut berwarna kekuningan/ keperakan, badan tertutup sisik yang
besar-besar terlihat kasar dan kuat. Bagian kepala gurami muda berbentuk lancip dan
akan menjadi dempak bila sudah besar dan terdapat tonjolan seperti cula pada bagian
kepala ikan jantan yang sudah tua, mulutnya kecil dan bibir bagian bawahnya sedikit
lebih maju daripada bibir atas dan dapat disembulkan (Respati & Santoso 1993).
Menurut Susanto (1991), ikan gurami memiliki sepasang alat peraba yang terletak
pada bagian dada yang sesungguhnya merupakan modifikasi sirip perut menjadi
sepasang benang yang panjang.
Respati dan Santoso (1993), mengatakan bahwa pada ikan gurami muda
terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 7-8 buah dan garis-garis ini akan
hilang pada saat dewasa. Ikan gurami termasuk golongan ikan yang berlabirin yaitu
sebangsa ikan yang mempunyai alat pernapasan tambahan, sehingga mampu
beradaptasi pada kondisi air yang kandungan oksigennya rendah yaitu kurang dari 3
ppm. Lebih lanjut Sumantadinata (1981), mengemukakan bahwa labirin berbentuk
selaput berkelok-kelok yang merupakan penonjolan tepi insang. Alat ini mempunyai
pembuluh darah kapiler yang dapat mengambil oksigen dari udara ketika ikan gurame
muncul ke permukaan, sehingga dapat bertahan tanpa oksigen terlarut dalam air
(Rachmawati 1997).
Gambar 2 Labirin Gurami (Anonim 2008)
Ikan gurami termasuk golongan ikan bertulang belakang yang berciri umum
yaitu memiliki insang, tulang belakang, penutup insang (operkulum) pada kedua
tubuhnya. Bentuk
sirip membulat yaitu pinggiran sirip ekor membentuk garis
melengkung dari bagian dorsal hingga ventral. Operkulum membantu air masuk
hanya melalui mulut dan keluar melalui insang dan penutupnya. Sewaktu berenang,
ikan memanfaatkan ekornya sebagai kemudi dan sirip sebagai alat keseimbangan.
Ikan juga mempunyai indera pendengaran, penglihatan, penciuman, dan organ yang
peka
pada
kulit
dan
sirip
untuk
merasakan
pergerakan
disekelilingnya
(Chattopadhyyay 1999).
Ikan gurami dapat hidup dan berkembangbiak di perairan tawar seperti danau,
rawa dan sawah atau sungai-sungai yang airnya tidak begitu deras. Ikan gurami dapat
hidup baik di daerah tropis pada ketinggian tempat antara 0-800 m dari permukaan
laut. Pada perairan bebas ikan gurami dapat berbiak pada musim kemarau tetapi pada
pemeliharaan kolam dapat berbiak sepanjang tahun (Sumantadinata 1981). Ikan
gurami dikenal sebagai ikan yang lambat pertumbuhannya (Ardiwinata 1981). Ikan
gurami (Osphronemus gouramy) yang berumur satu tahun panjangnya 10-12 cm dan
bobotnya hanya 25 gram (Ardiwinata 1981). Busacher et al. (1990) dalam
Rachmawati (1993), menguraikan bahwa pertumbuhan dapat terjadi pada berbagai
tingkatan materi biologis seperti sel, jaringan, organ, organisme utuh, populasi, dan
komunitas.
Pertumbuhan larva ikan gurami berdasarkan beberapa studi menunjukkan
bahwa larva berumur 15 hari memiliki panjang total 10,8 mm, umur 26 hari panjang
totalnya mencapai 14,5 mm, sedangkan larva berumur 42 hari mencapai panjang 17
mm. Berat larva yang berumur 10 hari mempunyai bobot 0,011 gram, umur 15 hari
bobotnya 0,072 gram, umur 50 hari bobotnya 0,8 gram, umur 60 hari bobotnya 12
gram dan 90 hari bobotnya 2,5 gram sampai 3,3 gram (Cahyoko 1995). Menurut
Cahyoko (1995), laju pertumbuhan ikan gurami (10-90 hari) di kolam sebesar 4,13%
sedangkan di akuarium 6,37%.
Jenis gurami yang dikenal di Indonesia menurut Sitanggang (1997), antara
lain gurami soang (angsa), bastar, jepun, batu, porselin, bule, paris, putih, blusafir,
dan gurami jalak. Gurami soang (angsa) berbadan relatif panjang, bersisik lebar
dengan ukuran berat maksimum 65 cm, warna putih abu-abu. Gurami jepun (Jepang)
berbadan lebih pendek dengan bentuk sisik lebih kecil, panjang maksimum 45 cm
dengan berat 8 kg berwarna putih abu-abu dan kemerahan. Gurami porselin dan
gurami paris berwarna abu-abu kehitaman, perbedaan keduanya terletak pada ujungujung sirip, ikan gurami porselin nampak berwarna kuning sedangkan paris tidak
terlihat. Gurami jepun, blausafir, paris, bastard dan porselen banyak dikembangkan di
Jawa Barat, khususnya Bogor. Dibandingkan dengan gurami jenis lain, porselen lebih
unggul dalam menghasilkan telur. Jika induk bastard dalam sarangnya hanya mampu
menghasilkan 2000-3000 telur, porselen mampu 10.000 butir. Oleh karena itu
mayarakat menyebutnya sebagai Top of The Pop dan paling banyak diunggulkan
(Sitanggang dan Sarwono 2002).
Ikan gurami cenderung sebagai omnivora,
larva gurami memakan
mikroorganisme seperti rotifer dan infosaria. Benih ukuran fingerling lebih menyukai
larva serangga, krustacea dan makrozooplankton (Jhirgran 1975 dalam Ang et al.
1989). Menurut Ardiwinata (1981), jenis makanan ikan gurami sampai berumur
sepuluh hari hanya berasal dari makanan cadangan (berupa kuning telur), pada umur
1,5 bulan (1,5 cm) berupa makanan hewani (rayap, ulat, semut merah, ulat dedak
halus). Pada umur 1,5-3,5 bulan (2-3 cm) berupa makanan hewani, tumbuh-tumbuhan
halus, paku air (Azzola) dan bungkil halus. Pada umur 3,5-8 bulan (5-8 cm) berupa
tumbuh-tumbuhan halus berupa Azzola dan umur 8-12 bulan (8-12 cm) berupa
tumbuh-tumbuhan dan macam-macam binatang.
Menurut Susanto (1994) bahwa kematangan kelamin ikan gurami terjadi pada
umur 2-3 tahun dan ikan ini memiliki kebiasaan membuat sarangnya terlebih dahulu
dari ijuk atau rumput-rumputan setiap kali mau memijah. Sarang ini biasanya
berdiameter antara 30-38 cm, yang ditempatkan tersembunyi diantara rumputrumputan atau tanaman air dan pada saat perkawinannya telur-telur dimasukkan
dalam sarang dan dijaga oleh induk jantan tetapi setelah selesai pemijahan biasanya
tanggung jawab penjagaan diserahkan oleh induk betina.
Menurut Sendjaja & Riski (2002) perbedaan antara gurami jantan dengan
gurami betina diantaranya pada gurami jantan memiliki ciri dahi nongol (nongnong/
benjol), dagu lebih menonjol/ tebal/ lebih monyong, ujung sirip lebih membundar,
tutup insang berwarna kekuningan, dasar sirip pectoral (dada) berwarna lebih putih,
perut meruncing. Gurami betina memiliki ciri diantaranya dahi lebih rata/ tidak
benjol, dagu tidak menebal, ujung sirip ekornya rata dan lurus, tutup insang berwarna
putih kecoklatan, dasar sirip pectoral (dada) berwarna lebih hitam, dan perut
membundar.
Faktor utama lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan dan
pertumbuhan ikan gurami adalah suhu, O2 dan ammonia. Suhu merupakan salah satu
faktor fisik yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan ikan
(Handayani 1997). Suhu dapat mempengaruhi nafsu makan, laju pencernaan dan laju
metabolisme yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Wardoyo
(1975) menyatakan bahwa setiap mikroorganisme mempunyai suhu minimum untuk
hidupnya dan mempunyai pola kemampuan menyesuaikan diri pada suhu 24-28°C
(Hora & Pillay 1962). Berdasarkan penelitian Koostati (1994), suhu 31,6 memberikan
nilai konsumsi pakan dan laju pertumbuhan harian individu yang lebih tinggi. Abulias
dalam Koostati (1994) memberikan kisaran suhu air yang lebih luas yaitu antara 1831° C.
Ikan memerlukan oksigen terlarut yang cukup bagi kehidupannya. Ikan dapat
hidup layak jika kandungan oksigen terlarut minimal 4 mg/l (Sylvester dalam
Wardoyo 1975). Menurut Affianti dan Lim dalam Handayani (1997), benih ikan
gurame dalam bobot sekitar 10 mg atau berumur 10 hari pada kandungan oksigen
terlarut 4,21-5,43 ppm dapat tumbuh dan hidup dengan baik. Meskipun demikian
ikan gurami tetap dapat hidup dengan baik pada perairan dengan oksigen terlarut
yang relatif rendah. Hal ini dimungkinkan karena ikan gurami memiliki alat
tambahan yang disebut labirin, yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara.
Amonia dalam bentuk NH3 merupakan senyawa yang beracun bagi ikan.
Zonneveld et al. (1991) menyatakan bahwa meskipun ikan tidak peka terhadap
ammonia karena mudah menyesuaikan diri. Toksisitas ammonia akan terjadi pada
keadaan buruk dimana pH lebih besar dari 8,0. Menurut Byod (1982), kandungan
ammonia antara 6,0-2,0 ppm berbahaya bagi kehidupan ikan. Kandungan ammonia
antara 0,0-0,12 ppm masih menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang
baik bagi gurami (Affiati dan Lim dalam Handayani 1997). Lebih lanjut Pescod
(1973) menyatakan bahwa secara ideal konsentrasi NH3 terkandung dalam air tidak
boleh lebih dari 1 ppm.
Toleransi mikroorganisme di perairan terhadap pH dipengaruhi banyak faktor
antara lain suhu, oksigen terlarut, penyesuaian terhadap iklim dan jenis serta ukuran
organisme air (Pescod 1973). Swingle dalam Wardoyo (1975) dan Byod (1982)
menyatakan bahwa derajat keasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap kehidupan
ikan dan pH perairan yang normal bagi pertumbuhan ikan berkisar antara 6,5-8,5.
Menurut Huet (1971), pH air yang terbaik untuk budidaya adalah yang netral atau
agak alkalin dengan pH antara 7,0-8,0. Lebih lanjut Byod (1979) menjelaskan bahwa
hubungan antara pH air dengan kehidupan ikan adalah sebagai berikut: perairan
dengan pH 4 akan mematikan ikan, pH antara 6,5-9,0 baik untuk budidaya, lebih dari
9,5 membahayakan dan pH 11 mematikan ikan.
Sejarah dan Klasifikasi Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)
Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan tongkol dapat digolongkan dalam
filum Animalia, subfilum Chordata, kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo
Perchomorphi, subordo Scombrina, famili Scrombidae, genus Euthynnus. Pada siang
hari ikan tongkol berada di dasar perairan membentuk gerombolan yang padat dan
kompak (school), sedangkan pada malam hari naik ke permukaan membentuk
gerombolan yang menyebar (scatted). Adanya kecenderungan bergerombol
berdasarkan kelompok ukuran dan berupaya mengikuti makanannya.
Gambar 3 Ikan Tongkol (Euthynnus spp.) (Anonim 2008)
Di beberapa daerah di Indonesia, ikan tongkol (Euthynnus spp.) dikenal juga
dengan nama Komo. Sering pula dicampurbaurkan dengan tongkol pisang atau lisong
yang dalam nama perdagangannya disebut frigated mackeral. Ikan ini terdapat
banyak pada Samudera Pasifik dan Samudera Hindia sepanjang katulistiwa pada suhu
air 16°-31°C, dekat pantai dengan kadar garam 34‰ dan hampir tidak pernah
berpindah ke daerah subtropis. Ikan tongkol (Euthynnus spp.) terdapat di seluruh
perairan hangat Indo-Pasifik Barat, termasuk laut kepulauan dan laut nusantara.
Hidup di perairan epipelagik, merupakan spesies neuritik yang mendiami perairan
dengan kisaran suhu antara 18°C-29°C.
Puncak musim pemijahan Euthynnus spp. bervariasi tergantung pada daerah,
seperti perairan Filipina bulan Maret-Mei, perairan Afrika Timur pada pertengahan
musim barat daya sampai permulaan musim tenggara atau Januari-Juli dan perairan
Indonesia diperkirakan pada bulan Agustus-Oktober. Euthynnus spp. merupakan
predator yang rakus memakan berbagai ikan kecil, udang, dan cepalopoda, sebaliknya
juga merupakan mangsa dari hiu dan marlin. Panjang baku maksimum 100 cm
dengan berat 13,6 kg, umumnya 60 cm, di Samudera Hindia usia 3 tahun panjang
baku 50-65 cm (Collete dan Nauen, 1983).
Menurut Collete dan Nauen (1983), Euthynnus spp. mempunyai ciri-ciri yakni
badan berukuran sedang, memanjang seperti torpedo, mempunyai dua sirip punggung
yang dipisahkan oleh celah sempit, sirip punggung pertama diikuti oleh celah sempit,
sirip punggung kedua diikuti oleh 8-10 sirip tambahan, tidak memiliki gelembung
renang, warna tubuh pada bagian punggung gelap kebiruan dan terdapat tanda garisgaris miring terpecah dan tersusun rapi.
Ikan tongkol (Euthynnus spp.) ini juga memiliki ciri-ciri diantaranya bentuk
kepala yang tajam serta matanya yang besar, badan padat, berisi pada dada yang
lonjong secara bertahap terus sampai pada ujung ekor yang berdiri tegak lurus.
Terdapat keel atau penyangga yang kuat pada pertemuan badan dengan ekor dan linea
lateralis tubuh hampir lurus. Adanya garis-garis hitam yang melengkung pada bagian
punggung mulai batas bawah bagian tengah sirip punggung pertama merupakan ciri
untuk membedakannya dengan tuna lainnya (Tampubolon 1983).
Sirip punggung pertama tinggi pada bagian depan dan pendek pada bagian
belakang. Sirip punggung kedua, sirip dubur kecil dan sirip dada agak pendek. Antara
sirip dada dan sirip perut biasanya ditemukan enam atau lebih bintik-bintik hitam dan
merupakan tanda yang paling khas pada tuna ini. Bintik- bintik ini tidak ditemukan
pada frigated mackeral, sehingga salah satu tanda pula untuk membedakannya
dengan lisong. Selain itu perbedaan antara tongkol dan lisong yaitu mata yang relatif
lebih besar pada tongkol, jarak antara sirip punggung pertama dengan sirip punggung
kedua yang lebih dekat dengan pada tongkol serta sirip perut dan sirip dubur yang
tidak terlihat dengan jelas pada lisong. Garis-garis tanda di punggung muncul di
belakang sirip punggung pertama pada tongkol pisang, sedangkan pada tongkol
tanda-tanda ini muncul di depan sirip punggung pertama ( Tampubolon 1983).
Tongkol maupun lisong mempunyai warna hijau tua dan hijau muda pada
bagian atas badannya mulai dari batas linea lateralis sampai punggung. Pada bagian
bawah terdapat warna keperak-perakan sering sampai lima tempat di antara sirip dada
dan sirip perut. Tongkol merupakan jenis tuna yang paling kecil dengan ukuran ratarata 2-5 kg per ekor. Rasa dagingnya kurang lezat dibandingkan dengan tuna lainnya
sehingga kurang begitu terkenal dalam perdagangan tuna dunia (Tampubolon 1983).
Persebaran ikan tongkol diseluruh dunia dapat dilihat pada gambar 4 dan
gambar grafik penangkapan ikan tongkol berdasarkan data FAO dapat dilihat pada
gambar 5.
Gambar 4 Persebaran Ikan Tongkol di Dunia (Anonim 2008)
Gambar 5 Grafik Penangkapan Ikan Tongkol di Dunia Berdasarkan Statistik FAO
(Anonim 2008)
Jenis Cacing Parasit Pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan
Tongkol (Euthynnus spp.)
Golongan metazoa yang mungkin menginfeksi ikan gurami (Osphronemus
gouramy) dan ikan tongkol (Euthynnus spp.) adalah filum Nemathelminthes dan
Platyhelminthes (Kabata 1985).
Nemathelmintes
Dari filum Nemathelminthes yang mungkin menyerang ikan gurami adalah
Nematoda (Kabata 1985).
Nematoda
Nematoda sering disebut dengan istilah round worm atau cacing gilig,
biasanya kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih sehingga banyak diantara
nematoda adalah cacing yang mikroskopis (Noble & Noble 1989). Menurut Kabata
(1985), nematoda ini mempunyai tubuh panjang dan silindris dan dilindungi oleh
lapisan kutikula yang kuat di bawahnya terdapat lapisan hypodermis. Noble & Noble
(1989) mengatakan bahwa cacing ini sangat aktif, ramping, biasanya kedua ujungnya
runcing dan mempunyai mulut dan anus, jadi memiliki saluran pencernaan yang
lengkap. Identifikasi nematoda dilakukan berdasarkan bentuk kepala dan ekor,
susunan daerah peralihan antara esofagus, usus dan posisi lubang ekskresi.
Ciri taksonomi terpenting dari nematoda adalah terletak di bagian kepalanya,
dimana mempunyai bentuk yang lonjong dan di dalamnya terletak ganglion kepala
(Kabata 1985). Saluran pencernaan nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari
sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju buccal kapsul (tidak selalu
ada), kemudian ke esofagus berotot yang selanjutnya ke usus. Anus terdapat hampir
di ujung posterior cacing dan sebuah pelebaran yang dinamakan rektum terletak tepat
di ujung anterior anus. Makanan nematoda terdiri dari jaringan darah inang definitif
atau pemotongan jaringan dari usus inang definitif dan akhirnya dicerna (Noble &
Noble 1989).
Dalam perkembangan hidupnya, nematoda menggunakan ikan sebagai inang
definitif maupun sebagai inang antara dari siklus hidup nematoda. Dari empat
tingkatan larva yang terjadi, stadia larva ke-4 merupakan stadia infektif terhadap
inang definitif (Kabata 1985). Menurut Noble & Noble (1989), nematoda biasanya
dioesius dan menunjukkan dimorfisme seksual. Keadaan ini ditunjukkan dengan
salah satu jenis kelamin berbeda dengan jenis kelamin yang lainnya dalam hal
ukuran, bentuk atau warna. Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari satu atau dua
gulungan tubulus yang menyatu membentuk suatu vagina yang bermuara melewati
vulva. Vulva biasanya terletak di bagian anterior tubuh.
Nematoda jantan mempunyai organ reproduksi yang juga merupakan
modifikasi dari gulungan tabung yang panjang. Cacing Nematoda biasanya hanya
mempunyai satu testis yang berada di ujung distal tabung yang melanjutkan sebagai
vas deferens dan bersatu dengan ujung bawah usus pada kloaka (Noble & Noble
1989). Menurut Noble & Noble (1989), sistem syaraf nematoda terdiri dari cincin
jaringan syaraf yang mengelilingi esofagus dan cincin-cincin syaraf lainnya yang
mengelilingi bagian posterior. Sebagian parasit ini mempunyai kemampuan untuk
menghentikan perkembangan dan memasuki stadium istirahat. Untuk nematoda,
penghentian perkembangan mempunyai fungsi untuk membuat serempak daur hidup
parasit (Noble & Noble 1989).
Gambar 6 Nematoda (Anonim 2008)
Gambar 7 Daur hidup Nematoda (Noga 1996)
Platyhelmintes
Kata Plathyhelminthes berasal dari bahasa Yunani yaitu Plathy = pipih dan
Helminthes = cacing. Tubuh cacing ini pipih dorsoventral (Kabata 1985). Filum
Plathyhelmintes termasuk golongan Acelomata yaitu kelompok hewan yang pertama
memperlihatkan pembentukan lapisan dasar ketiga atau mesodermis. Adanya
mesodermis pada embrio memungkinkan terbentuknya sebagian sistem organ pada
Plathyhelminthes dan pada kelompok hewan-hewan berikutnya (Suwignyo et al.
1997). Terbentuknya daerah anterior-posterior dan terjadinya keadaan simetris
bilateral bersamaan waktunya dengan pembentukan mesodermis. Tubuh bagian
anterior adalah yang pertama kali menghadapi lingkungan pada waktu berjalan dan
mempunyai alat indera paling banyak dibanding posterior (Suwignyo et al. 1997).
Distribusi dan Keragaman parasit
Dogiel et al. (1961) menyatakan bahwa parasit memiliki dua habitat dan dua
tipe distribusi. Habitat parasit tersebut adalah mikrohabitat dan makrohabitat.
Mikrohabitat adalah lokasi penempelan parasit sedangkan makrohabitat adalah
lingkungan di luar lokasi penempelan. Dua tipe distribusi parasit terdiri dari distribusi
mikro yaitu penyebaran parasit dan distribusi makro atau penyebaran parasit pada
makrohabitat.
Parasit ikan akan memilih lokasi penempelan sebaik mungkin di tubuh ikan.
Usaha pemilihan ini bertujuan untuk mendapatkan kebebasan mencari makanan dan
kesempatan bereproduksi secara maksimal. Adanya persaingan antara parasit untuk
mendapatkan makanan dan ruang mengakibatkan parasit berusaha untuk mencapai
hampir seluruh jaringan inang. Parasit menemukan organ target berdasarkan
rangsangan dari inang (Noble & Noble 1989).
Distribusi makro parasit di perairan bergantung pada banyak faktor seperti
keberadaan inang antara, komposisi kimia air, zonasi laut, salinitas dan suhu (Dogiel
et al. 1961). Pola migrasi ikan juga berpengaruh terhadap distribusi makro. Ikan-ikan
yang hidup di dua wilayah perairan yang berbeda cenderung mendapat parasit lebih
banyak dibandingkan ikan-ikan yang hanya hidup di satu wilayah perairan (Noble &
Noble 1989).
Tipe-tipe Parasitisme dan Resistensi Inang
Berdasarkan lokasi penempelannya, parasit dapat dibedakan menjadi
ektoparasit, mesoparasit dan endoparasit. Berdasarkan sifat ketergantungannya
terhadap inang parasit dibedakan menjadi fakultatif dan obligat. Menurut Grabda
(1991), ektoparasit adalah parasit yang hidup di kulit, insang, dan bagian permukaan
luar tubuh dan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam sel organ. Menurut
Kabata (1985), mesoparasit adalah parasit yang hidupnya di antara ektoparasit dan
endoparasit. Mesoparasit dapat ditemukan di kolon usus atau rongga tubuh lainnya.
Brown (1979) menyatakan parasit fakultatif adalah parasit yang tidak mutlak
tergantung pada inang sedangkan parasit obligat adalah parasit yang mutlak
bergantung pada inang. Parasit fakultatif hidup sementara (temporer) di tubuh inang
sedangkan parasit obligat hidup permanen di dalam tubuh inang. Menurut Dogiel et
al. (1961) ada tiga ketentuan utama hubungan antara keberadaan parasit dengan umur
atau ukuran ikan, diantaranya:
1. Semakin bertambah ukuran dan meningkatnya umur ikan infestasi parasit juga
bertambah.
2. Perubahan kualitatif dari komposisi parasit dapat merupakan gambaran dari
perubahan yang terjadi pada ekologi inang.
3. Infestasi parasit pada ikan kecil adalah parasit yang mempunyai daur hidup
langsung atau penempelan secara aktif.
Efek Parasit Terhadap Inang
Efek parasit terhadap inang dapat berupa kerusakan mekanik, pengambilan
nutrien, serta efek toksik dan litik (Cheng 1973). Kerusakan mekanik umumnya
disebabkan oleh alat penempel yang ada pada parasit (kait, jangkar, dan capit). Batil
hisap dari digenea dapat merusak lapisan mukosa pada usus ikan. Serkaria digenea
dapat menembus kulit dan masuk ke jaringan sehingga menyebabkan kerusakan pada
organ inang. Efek toksik dan litik parasit terhadap inang dicontohkan oleh nematoda.
Hasil metabolisme nematoda dapat menimbulkan alergi pada inang. Nematoda yang
menginfeksi urat daging ikan dapat merugikan industri perikanan sebab dapat
menurunkan kualitas daging ikan (Grabda 1991).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bogor mulai bulan Juli 2007 hingga bulan Agustus
2007 di laboratorium Helminthologi, bagian Parasitologi dan Entomologi
Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas
Kedokteran Hewan IPB.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan selama penelitian di Laboratorium Helminthologi
Fakultas Kedokteran IPB terdiri dari seperangkat alat bedah (dissecting kit), pipet,
gabus sebagai alas untuk membedah ikan, jarum pentul, timbangan, kaca pembesar,
mikroskop cahaya, mikroskop stereo, video mikrometer, cawan petri, gelas plastik,
botol film, gelas objek, kertas label, tissue. Bahan yang digunakan selama penelitian
adalah ikan gurami, ikan tongkol, NaCl fisiologis 0,85%, aquades, etanol 70%,
pewarna acetocarmin, bubuk KOH, minyak cengkeh, alkohol, xylol dan Entellan.
Metoda
Pengambilan Sampel
Sampel ikan gurami (Osphronemus gouramy) didapatkan dari tambak yang
berasal dari desa Carangpulang kelurahan Karawaci kecamatan Dramaga Bogor
sebanyak 15 ekor dan sampel ikan tongkol (Euthynnus spp.) didapatkan dari perairan
Muara Angke Jakarta Utara sebanyak 16 ekor.
Teknik Parasitologi
Isolasi cacing parasitik dilakukan di laboratorium Helminthologi Fakultas
Kedokteran IPB. Adapun organ ikan yang akan diperiksa adalah saluran pencernaan
(usus). Spesimen ikan dibedah dengan cara dibuat sayatan pada bagian ventral ikan.
Sayatan dimulai dari operkulum untuk memaparkan insang terlebih dahulu kemudian
dilanjutkan ke arah posterior sampai arah kloaka untuk memaparkan saluran
pencernaan (usus). Organ usus diletakkan dalam cawan petri yang berisi NaCl
fisiologis 0,85%. Cacing yang ditemukan di usus kemudian dipindahkan ke dalam
NaCl fisiologis 0,85% dan diidentifikasi dengan mikroskop cahaya. Spesimen yang
didapatkan diawetkan dengan alkohol 70% untuk dianalisis lebih lanjut ke pewarnaan
(Fernando et al. 1972)
Metoda Pewarnaan dengan Minyak Cengkeh (Semi Permanen)
Untuk pemeriksaan struktur morfologi cacing nematoda dipakai KOH 10% dan
minyak cengkeh. Untuk teknik pewarnaan nematoda dilakukan dengan cara spesimen
cacing direndam dalam KOH 10% selama 1-3 menit. Perendaman ini bertujuan untuk
menipiskan lapisan kutikula dan epikutikula (tegumen) agar cacing nematoda dapat
terlihat dengan transparan. Kemudian sampel dimasukkan ke dalam wadah yang
berisi minyak cengkeh selama 30 detik sampai 1 menit. Selanjutnya sampel cacing
yang sudah diwarnai dimasukkan ke dalam alkohol bertingkat, yakni ke dalam
alkohol 70% 15-30 detik, alkohol 85% 15-30 detik, alkohol 95% 15-30 detik dan
alkohol absolut 15-30 detik. Kemudian dimounting dengan Entellan (Muller 1983).
Metoda Pewarnaan Semichon's acetocarmine (Permanen)
Pewarnaan permanen pada trematoda menggunakan Semichon's acetocarmine
(Pritchard & Kruse 1982 dalam Khairunnisa 2007). Pewarnaan spesimen dilakukan
dengan merendam spesimen dalam larutan acetocarmin. Larutan acetocarmin
didapatkan dengan cara 100 ml akuades dicampur dengan 100 ml asam asetat glasial
hingga membentuk larutan. Kemudian bubuk lithium carmine dicampur ke dalam
larutan tersebut hingga menjadi jenuh. Lalu larutan tersebut dipanaskan pada suhu
95° C selama 15 menit. Selanjutnya ditambahkan etanol 70% sebanyak 200 ml ke
dalam larutan tersebut.
Setelah zat warna semichon's acetocarmine selesai dibuat kemudian
pewarnaan morfologi cacing trematoda dilakukan dengan cara spesimen cacing
direndam dalam zat warna Semichon's acetocarmin selama 5-7 menit sampai menjadi
merah. Setelah itu spesimen dimasukkan ke dalam asam alkohol (alkohol 70% yang
mengandung 2-45 tetes HCl) selama 3-5 menit. Asam alkohol ini untuk
menghilangkan warna yang berlebihan. Kemudian didehidratasi dengan alkohol
secara bertingkat (70%, 85%, 95% dan absolut). Selanjutnya clearing, yaitu untuk
membuat spesimen transparan digunakan xylol. Selanjutnya dimounting dengan
Entellan.
Analisis Data
Jenis dan jumlah parasit dari hasil pemeriksaan dicatat. Data intensitas dan
prevalensi dianalisa secara deskriptif.
Prevalensi = Jumlah ikan yang terserang parasit x 100%
Jumlah ikan yang diperiksa
Intensitas = Jumlah parasit yang menginfeksi
Jumlah ikan yang terserang
Kategori infeksi berdasarkan prevalensi (William & Bunkley-William 1996) dalam
Hariyadi (2006)
Frequency of Infection
Always = 100-99%
Almost always = 98-90%
Usually = 89-70%
Frequently = 69-50%
Commonly = 49-30%
Often = 29-10%
Occasionally = 9-1%
Rarely = < 1-0,1%
Very rarely = <0,1-0,01%
Almost never = <0,01%
Prevalensi menunjukkan besarnya persentasi ikan yang terinfeksi cacing
parasit. Kategori always atau selalu menggambarkan bahwa cacing parasit selalu
menginfeksi ikan dan tingkat infeksi kecacingan yang ditimbulkan sangat parah (99100%). Kategori almost always atau hampir selalu menggambarkan bahwa cacing
parasit hampir selalu menginfeksi ikan dan tingkat infeksi kecacingan yang
ditimbulkan parah (98-99%). Kategori usually atau biasanya menggambarkan bahwa
cacing parasit biasanya menginfeksi ikan (70-89%). Kategori frequently atau sering
kali menggambarkan bahwa cacing parasit tersebut sering kali menginfeksi ikan (5069%). Kategori commonly atau biasa menggambarkan bahwa cacing parasit tersebut
biasa menginfeksi ikan (30-49%). Kategori often atau sering menggambarkan bahwa
cacing parasit tersebut sering menginfeksi ikan (10-29%). Kategori occasionally atau
kadang-kadang menggambarkan bahwa cacing parasit kadang-kadang menginfeksi
ikan. Kategori rarely atau jarang menggambarkan bahwa cacing parasit tersebut
jarang menginfeksi ikan (0,1-<1%). Kategori very rarely atau sangat jarang
menggambarkan bahwa cacing parasit tersebut sangat jarang menginfeksi ikan (0,01<0,1%). Kategori almost never atau tidak pernah menggambarkan bahwa cacing
parasit tersebut tidak pernah menginfeksi ikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami
(Osphronemus gouramy) dan ikan tongkol (Euthynnus spp.) dapat dilihat dalam tabel
1.
Tabel 1 Jenis cacing parasitik
Ikan Gurami
Ikan Tongkol
Saluran pencernaan
Nematoda
Trematoda
√
Nematoda
Trematoda
6,19-1,51
26,67%
1
-
Habitat
Jenis cacing
Ukuran
(mm)
Prevalensi
Intensitas
Saluran pencernaan
Nematoda
Trematoda
√
√
Nematoda
Trematoda
11,15
1,38
12,5%
-
Identifikasi Jenis Parasit Pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Hasil identifikasi cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan
ikan gurami (Osphronemus gouramy) ini dapat dikelompokkan dalam filum
Nematheminthes, kelas Nematoda yang dapat dilihat dalam Tabel 2.
Tabel 2 Cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami
Gurame
Filum
Kelas
Famili
Genus
Zoonosis
1
Nemathelminthes
Nematoda
Camalanidae
Procamallanus sp.
Tidak
2
-
-
-
-
-
3
-
-
-
-
-
4
-
-
-
-
-
5
Nemathelminthes
Nematoda
Camallanoidea *
-
Tidak
6
-
-
-
-
-
7
Nemathelminthes
Nematoda
Camallanoidea
Camallanus sp.
Tidak
8
-
-
-
-
-
9
-
-
-
-
-
10
-
-
-
-
-
11
Nemathelminthes
Nematoda
Camallanoidea
Camallanus sp.
Tidak
12
-
-
-
-
-
13
-
-
-
-
-
14
-
-
-
-
-
-
-
-
15
Keterangan : * = Bagian posterior tubuh rusak
Ikan merupakan salah satu inang antara atau inang definitif dari nematoda.
Beberapa nematoda yang menginfeksi ikan aquarium memiliki siklus hidup langsung.
Ikan air tawar biasanya terserang Camallanoidea (Noga 2000).
Inang
Definitif
Siklus Hidup Langsung
Larva
Gambar 8 Siklus hidup langsung nematoda (Anonim 2008)
Inang Definitif
Siklus Hidup Tidak
Langsung
Inang Antara
Larva
Gambar 9 Siklus hidup tidak langsung nematoda (Larva nematoda (a) dimakan inang antara
invertebrata (b) seperti kopepoda, cacing tubivex atau larva insekta yang nantinya
akan dimakan oleh inang definitif ikan) (Anonim 2008)
Cacing parasit yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami
(Osphronemus gouramy) diidentifikasi sebagai famili Camallanidae yang berasal dari
kingdom Animalia, filum Nematoda, kelas Secernentea, Subkelas Spiruria dan ordo
Camallanida.
Procamallanus sp.
Menurut Kabata (1985) genus Procamallanus memiliki buccal kapsul
berbentuk seperti barrel dan tidak terbagi menjadi dua katup. Pada dinding bagian
dalam dari buccal kapsul tidak terlihat adanya seperti batangan yang pada
Camallanus sp. disebut moniliform bars. Mulut biasanya hexagonal dengan enam
papila yang belum terbentuk sempurna pada pinggiran mulut dan terdapat empat
papila besar yang letaknya di pertengahan anterior. Esofagus terdiri dari dua bagian
yaitu pada anterior terdapat otot esofagus yang berukuran pendek serta bagian
posterior terdapat kelenjar esofagus yang ukurannya lebih panjang dari otot esofagus.
Procamallanus sp. merupakan nematoda kecil berwarna coklat yang
memiliki lapisan kutikula. Mulut terbuka sirkuler, dikelilingi delapan submedian
papila kepala yang disusun dua buah amphid. Pada betina terdapat deirid kecil pada
buccal kapsulnya sedang pada jantan deirid kecil ini terdapat di posterior sampai
buccal kapsul. Cincin syaraf lebih anterior sampai tengah dari panjang otot esofagus,
lubang eskretori agak sedikit ke arah posterior cinicin syaraf. Saluran pencernaan
berwarna gelap (coklat-hitam), ekor berbentuk corong dengan ujung ekor yang tajam.
Betina memiliki vulva yang terletak ditengah tubuh dan beberapa spesies dekat
posterior. Jantan memiliki ekor berbentuk kerucut dengan atau tanpa alae serta
beberapa pasang papila. Biasanya ukuran betina lebih panjang daripada jantan
(Moravec et al. 1999).
Procamallanus sp. tidak hanya hidup pada ikan perairan air tawar tetapi
menurut McClelland (2005) Procamalanus sp. juga ditemukan pada ikan perairan
laut dan biasa hidup pada lambung, usus dan pylorus sekum. Procamallanus sp.
bersifat viviparus yaitu melepaskan larva dari inang definitif melalui feses (Kabata
1985). Siklus hidup dari Procamallanus sp. tidak langsung atau melalui inang antara
seperti kopepoda atau krustasea.
1
1
2
3
♀
♀
4
5
Keterangan:
1. Buccal kapsul
2. Otot esofagus
3. Cincin syaraf
4. Kelenjar esofagus
5. Usus
Gambar 10 Procamallanus pintoi (Moravec et al.1999 )
A
B
Alae kaudal Anus
Kelenjar esofagus
Otot esofagus
a
Gambar 11 Procamallanus sp. yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan gurami
(Osphronemus gouramy), A. Bagian anterior tubuh, B. Bagian posterior tubuh
(pembesaran objektif 4x), a. Ujung kepala yang terdiri dari amphid, external papilla
kepala, dan internal papilla kepala
Panjang tubuh Procamallanus sp. pada penelitian ini adalah 13,6248 mm dan
lebar tubuhnya sebesar 0,624 mm. Panjang esofagus sebesar 2,324 mm dan lebar
esofagus sebesar 0,311 mm.
Camallanus sp. (Kabata 1985)
Menurut
Kabata
(1985)
perbedaan antara
Camallanus
sp.
dengan
Procamallanus sp. terletak pada rongga kapsul. Pada Camallanus sp., buccal kapsul
terbagi menjadi dua katup sedang pada Procamallanus sp. buccal kapsul tidak
terbagi. Umumnya Camallanus sp. ini menyerang organ usus dan saluran anus.
Parasit ini memiliki ciri khas yaitu memiliki suatu buccal kapsul yang dilapisi
kutikula yang tebal dan sepasang lekukan pada buccal kapsul. Mulutnya seperti
penjepit yang kuat, berbingkai yang dikelilingi oleh buku-buku semacam tanduk.
Bentuk seperti ini akan membuat parasit ini dapat memegang dengan kuat ke dinding
usus dan tidak dapat lepas. Tempat berkaitnya cacing ini pada usus dapat terjadi
pendarahan. Mulut sampai esofagus memiliki dinding otot yang tebal, biasanya
esofagus dilapisi kutikula. Beberapa spesies dari parasit ini dapat berkembang dalam
aquarium karena dapat menghasilkan larva aktif, nantinya parasit ini tidak
memerlukan inang antara setidaknya untuk beberapa generasi (Untergasser 1989).
Camallanus sp. ini dapat menyebabkan camallanosis. Selain menyerang usus,
parasit ini juga menginfeksi pilorus sekum. Adapun siklus hidup parasit ini yakni
cacing dewasa berkopulasi di ikan kemudian betinanya membawa larva menuju
lumen usus. Camallanus sp. ini merupakan cacing vivipar. Larva akhirnya berada di
air. Mereka akan termakan kopepoda yang akan terinfeksi pada hemocoelnya.
Kopepoda sebagai inang antara yang berisi larva stadium ketiga (L3) dari
Camallanus sp. tersebut akan dimakan oleh inang akhir yakni ikan. Melalui ingesti
dan digesti kopepoda, larva cacing melekat pada mukosa dan berkembang menuju
stadium dewasa pada ikan sebagai inang akhir. Inang paratenik mungkin termasuk
dalam siklus parasit ini, dengan cara ini beberapa ikan membawa sejumlah besar
larva dan akan berakhir pada saluran pencernaan ikan. Adapun gejala yang
ditimbulkan yaitu kematian, cacat dan anemia pada ikan (Buchmann & Bresciani
2001).
Camalanus sp. berkembang melalui keberadaan inang antara. Kebanyakan
larvanya dapat hidup bebas di air selama 12 hari. Larva parasit ini menjadi makanan
oleh cyclop krustasea dan berkembang dalam saluran pencernaan, cyclop ini menjadi
inang antara bagi camallanus sp.. Kemudian cyclop akan termakan oleh ikan. Disini
ikan akan menjadi inang definitif bagi camallanus jika ikan ini tidak dimakan oleh
ikan karnivor lebih besar. Parasit ini juga dapat berkembang tanpa inang antara. Pada
inang parasit ini dapat berkembang dan mencapai kematangan seksual untuk
kemudian melepaskan larvanya dan berkembang disana (Untergasser 1989).
Menurut Buchmann & Bresciani (2001), panjang tubuh Camallanus jantan ini
dapat mencapai 6,2 mm dan betinanya dapat mencapai 11 mm. mereka memiliki ciri
khas yakni adanya rongga kapsul yang terbuat dari dua katup lateral, cincin basal dan
dua trident. Betina gravid berisikan larva motil kira-kira panjangnya 0,5 mm.
Camallanus sp. ini memiliki kebiasaan menghisap darah sehingga menyebabkan
anemia. Perlekatan dengan rongga kapsulnya menyebabkan erosi pada mukosa.
Camallanus banyak menyerang Poecilidae dan jenis ikan ovipar lain sebagai
inang akhir (Noga 1996). Menurut Noga (1996), parasit ini akan kelihatan keluar dari
anus dan berwarna merah jika ikan diam tidak bergerak. Saat ikan mulai bergerak
cacing masuk lagi ke dalam usus sehingga anus akan terlihat menonjol. Cacing betina
panjangnya dapat mencapai 10 mm, sementara cacing jantan mencapai 3 mm. Infeksi
Camallanus sering diakibatkan oleh inang perantara lain seperti burung, krustasea
atau larva serangga. Namun kemungkinan besar infeksi terjadi melalui pakan alami
(Untergasser 1989).
1
1
2
3
4
Keterangan:
1.Rongga kapsul
2. Otot esofagus
3. Cincin syaraf
4. Kelenjar esofagus
5. Usus
Spikulum
5
Gambar 12 Morfologi Camallanus maculatus ( Martin et al. 2007)
B
A
Spikulum
Rongga kapsul
Otot esofagus
Gambar 13 Camallanus sp. yang ditemukan pada saluran pecernaan ikan gurami
(Osphronemus gouramy) A. Bagian anterior tubuh B. Bagian posterior
(pembesaran objektif 4x)
Panjang tubuh Camallanus sp. (gambar 13) ini yaitu sebesar 22.5323 mm,
lebar tubuh 0,5131 mm. Panjang esofagus 0,3753. Panjang buccal kapsul sebesar
0,1333 mm dan lebar buccal kapsul sebesar 0,1710 mm.
Rongga kapsul
Otot esofagus
Kelenjar esofagus
Alae kaudal
Usus
Anus
Gambar 14 Camallanus sp. yang ditemukan pada saluran pencernaan gurami (Osphronemus
gouramy), A. Bagian anterior tubuh, B. Bagian posterior tubuh (pembesaran objektif
4x).
Panjang tubuh Camallanus sp. (gambar 14) ini sebesar 6,1935 mm dengan
lebar tubuh 1,513 mm. Panjang buccal kapsul 0,0883 mm dan lebar 0,0698 mm
Prevalensi dan Intensitas kecacingan pada ikan gurami
Prevalensi kecacingan pada ikan gurami sebesar 26,67% berarti masuk ke
dalam kategori Often atau sering menginfeksi yakni berkisar antara 10-29%.Intensitas
kecacingan pada ikan gurame yang diakibatkan oleh nematoda sebesar 1.
Identifikasi Cacing Parasit Pada Ikan Tongkol (Euthynnus spp.)
Tabel 3 Cacing parasit yang ditemukan pada ikan tongkol
Tongkol
Filum
Kelas
Ordo
Genus
PxL (mm)
n
1
Plathyhelminthes
Nemathelminthes
-
Trematoda
Nematoda
-
Digenea
Camallanida
-
Spinitectus sp.
-
1,38 x 0,33
-
1
1
-
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
11,15 x 0,27
-
Keterangan: P = Ukuran Panjang dan L = Ukuran Lebar; n = Jumlah cacing pada ikan tongkol
Digenea pada Ikan Tongkol
Digenea memiliki bentuk tubuh pipih dorsoventral dengan permukaan ada
yang halus, berduri atau berombak. Digenea mempunyai batil hisap di sekitar ujung
anterior mulut dan bagian ventral (acetabulum) kedua batil hisap berfungsi sebagai
alat penempel dan penggerak (Grabda 1991). Siklus hidup digenea sangat kompleks
yaitu melibatkan dua inang antara dan satu inang definitif. Perkembangan stadia
dimulai dari telur yang menetas menjadi mirasidium (larva bersilia) kemudian
mencari inang antara pertama seperti siput. Selanjutnya silia hilang dan berubah
menjadi seperti kantung yang disebut sporosit yang akan berkembang menjadi redia
dan sel reproduktifnya berkembang menjadi serkaria yang dilengkapi dengan alat
penggerak, ekor dan mempunyai kemampuan untuk menembus membran inang
kedua. Pada inang antara kedua, serkaria berkembang menjadi stadia metaserkaria
lalu bermetamorfosis menjadi dewasa di dalam inang definitif (Sindermann 1990).
Batil hisap oral
Testis
Acetabulu
m
Gambar 15 Tongkol 1 Digenea (perbesaran objektif 4x)
Gambar 16 Lechitochirium sp
(Shih et al. 2004)
Cacing yang ditemukan hanya dapat diidentifikasi hanya sampai ordo digenea
saja karena bagian dalam tubuh dari cacing tidak jelas. Hanya terlihat adanya batil
hisap oral dan acetabulum saja. Ukuran panjang digenea ini adalah 1,38 mm dan
lebar 0,33 mm. Kemungkinan cacing ini merupakan Lechitochirium sp. yang berasal
dari genus Lechithocrium dan Famili Hemiuridae. Kemungkinan ini didasarkan pada
habitat cacing tersebut. Lechithochirium sp. ini memiliki ciri tubuh memanjang,
kemudian meruncing terhadap kedua ujung tubuhnya. Batil hisap anterior berbentuk
spherical (bola) atau subspherical dan letaknya subterminal. Diameter acetabulum
dua kali diameter batil hisap oral. Acetabulum terletak di tengah tubuh. Faring
berbentuk seperti tong, esofagus pendek, usus halus memanjang sampai ujung
posterior. Lubang genital di sebelah median dari faring atau esofagus. Testis letaknya
dekat acetabulum, ovarium kadang-kadang di samping kiri testis. Ekskretori vesikel
berbentuk Y (Kabata 1985).
Spinitectus sp. (Campana-Rouget 1961)
Spinitectus sp. termasuk famili Cystidicolidae, berwarna agak keputihputihan, merupakan nematoda berukuran kecil yang memiliki duri tebal. Akhir bagian
dari kepala membulat dan bagian posterior tubuhnya meruncing. Permukaan tubuh
terdiri dari jaringan atau cincin transversal yang berisikan duri yang mengkerucut dan
beberapa ruas posterior tubuh tidak lengkap. Semakin ke arah posterior tubuh, duri
semakin berkurang dan berukuran kecil. Tubuh betina penuh dengan duri hingga
ujung posterior, sedangkan bagian posterior dari jantan tidak ada duri. Celah mulut
oval, perpanjangan dorsoventral, dikelilingi empat labia yang kurang berkembang.
Submedia labia rendah, dua subdorsal dan dua subventral dengan perluasan, batas
dorsoventral dan dorsolateral oral terbuka. Menurut Margolis (1977), sublabium
merupakan struktur keras yang sederhana, sempit, batas agak sedikit bebas, melekat
di dasar sampai bagian dalam permukaan setiap labium. Pseudolabia lateral lebih
besar, secara anterior melebihi labia. Pada anterior, pseudolabia bagian dalam datar
menutupi sebagian oral yang merupakan perluasan dorsoventral, bentukan dua (satu
laterodorsal dan satu lateroventral) segitiga memanjang dengan ujung berbentuk
kerucut tajam pada setiap pseudolabium. Batas dalam kedua dorsoventral pseudolabia
lurus, paralel satu sama lain, sempit dan bagian dalam setiap pseudolabium
diteruskan ke arah posterior menuju penebalan dua perpanjangan submedian papilla
kepala dan amphid kecil. Vestibula lurus atau berbentuk huruf S, dinding tipis,
dengan anterior berakhir menggembung pada bentuk kecil bentukan corong prostom
pada lateral. Lubang eksekskretori dibawah jaringan keempat yang berisikan duri.
Pada Spinitectus sp. jantan, ujung posterior tubuh berbentuk gelungan spiral,
vesikula ale subventral mencapai hampir posterior ekor. Papila kaudal terdiri dari
empat pasang preanal dimana papila satu dan ketiga akan terletak lebih lateral
daripada papila kedua dan keempat. Terdapat satu pasang papila ad-anal dan lima
pasang papila post-anal. Sepasang papila kecil seperti phasmid terletak posterior
akhir papila post-anal. Ekor berbentuk kerucut dengan ujung kutikula tajam. Pada
betina, otot vagina lansung terletak pada anterior vulva.
1
2
3
4
♀
Keterangan :
p = Pseudolabium
m = subventral submedian labium
1. Otot esofagus
2. Cincin syaraf
3. Kelenjar esofagus
4. Usus
Gambar 17 Morfologi Spinitectus allaeri (Moravec et al.1999)
a
Spikulum
Kutikula berduri
Gambar 18 Spinitectus sp. (perbesaran objektif 4x); A. Bagian anterior, B. Bagian
posterior; a bagian yang terdiri dari subventral submedian labium
dan pseudolabium
Panjang tubuh Spinitectus sp. ini sebesar 11,152 mm dengan lebar tubuh
0,272 mm.
Prevalensi kecacingan pada ikan Tongkol
Prevalensi kecacingan pada ikan tongkol sebesar 12,5% dan termasuk dalam
kategori Often atau sering menginfeksi ikan (William & Bunkley-Williams 1996).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pada penelitian ini cacing parasit yang sering menginfeksi ikan gurami yakni
dari golongan nematoda adalah famili Camallanidae dengan prevalensi kecacingan
26,67%, derajat infeksi termasuk dalam kategori often (sering) dan intensitas
kecacingan pada gurame yang diakibatkan oleh nematoda sebesar 1. Selanjutnya pada
penelitian ini cacing parasit yang sering menyerang ikan tongkol adalah digenea
(kemungkinan Lechitochirium sp.) dan nematoda yakni Spinitectus sp. dengan nilai
prevalensi kecacingan sebesar 12,5% dan derajat infeksi tersebut termasuk dalam
ketegori often (sering).
Saran
Untuk cacing parasitik yang didapatkan dari ikan laut sebaiknya dilakukan
pengamatan langsung di bawah mikroskop jika hendak diidentifikasi tanpa diberikan
pewarnaan terlebih dahulu. Agar organ pada spesimen cacing tidak rusak atau hancur
sebaiknya pada saat pengambilan cacing dari organ harus hati-hati dengan cara
cacing di dalam organ tersebut direlaksasi sebaik mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Ang KJ, AT Law and SH Chech. 1989. National Culture of Giant Gouramy
(Osphronemus gouramy) in Floating Net Cages. Wagenigen.
Anonim. 2008.
http://webs.lander.edu/rsfox/rsfoximages1/fluke26L_x550_x_897x.gif
[17 Februari 2008].
_______. 2008.
http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.geocities.com/dchiayee/
[17 Februari 2008].
_______.2008.
http://www.geocities.com [17 Februari 2008].
_______.2008.
Sumber: http://www.fao.org/fishery/ [17 Februari 2008].
_______.2008.
http://www.fao.org/fishery/species/2491 [17 Februari 2008].
______.2008.
http://www.fao.org/fishery/species/2491 [17 Februari 2008].
______. 2008.
www.web.pml.ac.uk/nematode/nematodes/index.htm [17 Februari 2008].
______.2008.
http://images.google.co.id/ [17 Februari 2008].
Ardiwinata RO. 1981. Pemeliharaan Gurame. Bandung: Penerbit Sumur Bandung.
Aziz, Kiagus Abdul et al. 1998. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya
Ikan Laut di Perairan Indonesia. ISBN.
Buchmann K. and Bresciani J. 2001. An Introduction to Parasitic Diseases of
Freshwater Trout. Denmark: DSR Publisher.
Brown ME. 1957. Experimental Study on Growth. New York: Academic Press.
Byod CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. USA: Elsevier
Scientific Publishing Company.
Cahyoko. 2000. Budidaya Ikan Tawar. Jakarta: Kanisius.
Campana-Rouget Y, Petter AJ, Kremer M, Molet B, Miltgen F. 1976. Présence du
Nématode Camallanus fotedari dans le tube digestif de poissons d'aquarium
de divers provenances. Bull. Acad. Vét. Fr. 49: 205-210.
Chairunnisa. 2007. Minyak Cengkeh (Eugenia aromatica) dan Kalium Hidroksida
10% Sebagai Bahan Pewarna Semi permanen Pada Cacing Nematoda dan
Acanthocephala Ikan Air Laut. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan,
IPB. Bogor.
Chakroff M. 1976. Freshwater Fish Pond Culture and Management. Drubent, L
(Eds). VITA Publication. 196 p.
Chattopadhyay P. 1999. Fish: Catching and Handling, Spoilage of Fish. San Diego:
Academic Press. Hal 806-820
Cheng TC. 1973.General Parasitology. Orlando, Florida: Academic Press Inc.
Collete BB and Nauen CE, 1983. FAO Species Catalogue Vol 2 Scombrids of the
World An Introduction and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerel,
Bonetos, and related species unkown to date. FAO, Rome.
Dogiel VA, GK Petrushevski dan YI Polyanski. 1961. Parasitology of Fishes.
London: Oliver and Byod Ltd.
Fernando CH, JI Furtado, AV Gusev, G Hanek and S A Kakonge. 1972. Methods For
The Study Of Freshwater Fish Parasites. Univ. Waterloo, Biol. Series 12:
76pp.
Grabda J. 1991. Marine Fish Parasitology. New York: Polish Scientific Publisher.
Handayani. 1997. Dosis Optimum 3,5,3 Triyodotironin (T3) Dalam Pakan Untuk
Pertumbuhan Gurame (Osphronemus gouramy). [Tesis]. Bogor : IPB.
Hariyadi AR. 2006. Pemetaan Infestasi Cacing Parasitik dan Resiko Zoonosis pada
Ikan Laut di Perairan Indonesia Bagian Selatan. [Tesis]. Bogor: Fakultas
Kedokteran Hewan IPB.
Hora SL and TVR Pillay. 1962. Handbook on Fish Culture in the IndoPasific Region.
FAO Fisheries Biology Tech.
Huet M. 1994. Textbook of Fish Culture Breeding and Cultivation of Fish 2rd Ed.
Finishing News Books. Cambridge. 436p.
Jhingran VG. 1975. Fish and Fisheries of India. India: Hindustan Publishing
Coorporation.
Kabata Z. 1985. Parasites and Diseases Of Fish Cultured In The Tropics. London:
Taylor and Prancis.
Koostati R. 1994. Pengaruh Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Gurame
(Osphronemus gouramy) Pada Suhu Yang Berbeda. [Skripsi]. Bogor: IPB.
Margolis . 1977. Caballeronema gen. nov. forMetabronema wardlei Smedley, 1934
(Nematoda, Spiruroidea) from the marine fish Scorpaenichthys marmoratus
from the Pacific coast of Canada. Excerta Parasitológica. Instituto de
Biología Publicaciones Especiales, UNAM, México, pp. 447-454.
Martins ML, F. Garcia, RS Piazza, L. Ghiraldelli. 2008. Camallanus maculatus n. sp.
(Nematoda: Camallanidae) in an ornamental fish Xiphophorus maculatus
(Osteichthyes: Poeciliidae) cultivated in São Paulo State, Brazil. Escola de
Veterinária UFMG. Departamento de Aqüicultura - UFSC Caixa Postal
476 88040-900 - Florianópolis, SC and Pólo Regional do Noroeste Paulista,
APTA - Instituto de Pesca - Votuporanga, SP. Belo Horizonte MG Brazil.
Moller H and K Anders. 1986. Diseases and Parasites of Marine Fishes. Germany:
Scanner Studio Nord.
Moravec František , J. Wolter and W. Körting. Some Nematodes and
Acanthocephalans From Exotic Ornamental Freshwater Fishes Imported Into
Germany. 1999. Folia Parasitologica 46: 296-310.
Muller GH, Scott DW. 1983. Small Animal Dermatology. Edisi ke-3. Philadelphia:
WB Saunder Company
Nimai C. On the development and life cycle of Camallanus anabantis (Nematoda:
Camallanidae), a parasite of the climbing perch, Anabas testudineus. Folia
Parasitologica. 1999. 46: 205-215.
Noble ER and GA Noble. 1989. Parasitologi Biologi Parasit Hewan. Terjemahan
drh. Widiarto. Gajah Mada Press. Ed 5. 1102 h.
Noga EJ. 1996. Fish Diseases Diagnosis and Treatment. United States Of
America: Iowa State University Press.
Olsen OW. 1974. Animal Parasites Their Life Cycle and Ecology. Baltimore,
London: University Park Press.
Pescod MP. 1973. Investigation of National Effluen and Strem Standard for Tropical
Countries. Thailand: Asuian Institut of Technology Bangkok.
Rachmawati R. 1995. Karakter Morfologis Ikan Gurame (Osphronemus gouramy
Lac.). [Skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan IPB.
Respati dan Santoso. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Gurami. Jakarta:
Kanisius.
Riponeta, MY. 2007. Identifikasi Cacing Acanthocephala Pada Saluran
Pencernaan Ikan Tuna (Family Scrombidae). [Skripsi]. Fakultas
Kedokteran Hewan, IPB. Bogor.
Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bandung:
Binacipta.
Sendjaja TJ & Mh Riski. 2002. Usaha Pembenihan Gurami. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Shih H, W. Liu and Z. Qiu. 2004. Digenean Fauna in Marine Fishes from Taiwanese
Waters with the Description of a New Species, Lecithochirium tetraorchis
sp. nov. Zoological Studies 43(4): 671-676 Department of Life Science and
institute of Zoology, National Taiwan University, Taipei, Taiwan 106,
R.O.C and Department of Biology, Nankai University, Tianjin 300071,
China.
Sindermann CH. 1990. Principles Diseases of Marine Fish and Shellfish. 2nd ed.
San Diego: Academic Press Inc.
Sitanggang M. dan B. Sarwono. 2000. Budidaya Gurami. Jakarta: Penebar Swadaya.
Soulsby EJL. 1982. Helminth, Atropoods and Protozoa of Domesticated Animal.
Edisi ke-7. Baillire Tindall. London.
Sumantadinata K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia.
Jakarta: Sastra Hudaya.
Susanto H. 1993. Budidaya Gurami. Jakarta: Penebar Swadaya.
________. 2000. Maanvis. Jakarta: Penebar Swadaya. 72h.
Suwignyo S, B Widigdo, Y Wardianto dan M Krissanti. 1997. Avertebrata Air. Jilid
1. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 103 hal.
Syafei D, B Addul Malik, H Suherman dan Asnawati. 1995. Pengenalan Jenis-jenis
Ikan Perairan Umum Jambi. Jambi: Dinas Perikanan Propinsi Dati 1 Jambi.
Tampubolon SM. 1983. Ikan Tuna dan Perdagangannya. Jakarta: Gaya Baru.
Untergasser D. 1989. Handbook and Diseases. T.F.H Publication Inc. Translated by
Howard H. Hirschorn. Neptune City. United States. 159 h.
Wardoyo STH. 1995. Pengelolaan Kualitas Air. Bogor: IPB.
Warintek. 2005. Gurame ( Osphronemus gouramy).
http://warintek.progessio.or.id/perikanan/Gurame.htm [17 Februari 2008].
Williams EH Jr. and LB Williams. 1996. Parasites of Offshore Big Game Fishes of
Puerto Rico and the Western Atlantic. Puerto Rico: Departement of Natural
and Environmental Resources and University of Puerto Rico.
Zonneveld N, EA Huisman dan JH Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Download