faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2

advertisement
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA LANJUT USIA
DI POS PEMBINAAN TERPADU
KELURAHAN CEMPAKA PUTIH
TAHUN 2012
SKRIPSI
OLEH:
ERNIATI
NIM: 108101000019
PEMINATAN GIZI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN GIZI
Skripsi, 22 Mei 2013
ERNIATI, NIM : 108101000019
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Lanjut Usia
di Pos Pembinaan Terpadu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
xiv + 89 halaman, 19 tabel, 9 Grafik, 5 lampiran
ABSTRAK
Meningkatnya populasi lansia dan juga terjadinya perubahan gaya hidup akibat
pengaruh globalisasi mengakibatkan timbulnya transisi epidemiologi dimana terjadi
pergeseran pola penyakit menular yang diganti oleh penyakit degeneratif. Salah satu
penyakit degeneratif yang menjadi masalah penting pada lansia adalah diabetes melitus
(DM) di mana jenis DM pada lansia umumnya adalah DM tipe 2.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
DM tipe 2 pada lansia di posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012. Penelitian ini
merupakan penelitian epidemiologi analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan
data dilakukan melalui pengukuran gula darah dengan glucosemeter, wawancara dengan
kuesioner dan FFQ semikuantitatif serta pengukuran lingkar pinggang dengan pita meteran.
Responden penelitian ini adalah lansia yang berusia ≥60 tahun yang dipilih melalui metode
simple random sampling. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari analisis data
univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi-square dan uji t independen serta analisis
data multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM tipe 2 pada lansia sebesar
21.5%. Berdasarkan hasil uji bivariat dengan tingkat kemaknaan 10% dapat diketahui
bahwa faktor yang berhubungan dengan DM tipe 2 adalah konsumsi serat, konsumsi
magnesium, beban glikemik, aktivitas fisik, dan riwayat keluarga DM. Sedangkan faktor
yang tidak berhubungan terhadap DM tipe 2 adalah konsumsi lemak, merokok, dan lingkar
pinggang. Dan berdasarkan hasil uji multivariat diperoleh bahwa faktor risiko yang paling
dominan terhadap DM tipe 2 adalah riwayat keluarga DM.
Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan upaya pencegahan dan
penanggulangan berupa peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat tentang gaya
hidup sehat dan pola makan yang baik terutama mereka yang sudah memiliki riwayat
keluarga DM melalui penyuluhan ke sekolah – sekolah dengan materi penyuluhan yang
spesifik untuk penyakit DM, pengadaan kegiatan jalan kaki sore atau senam lansia yang
dipandu salah satu lansia, pemberian informasi tentang manfaat dan sumber serat yang baik,
serta pembentukan lebih banyak posbindu agar bisa menjangkau semua lansia yang ada
dalam kelurahan tersebut.
Daftar bacaan : 57 (1991 – 2010)
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM
SPECIALISATION OF NUTRITION
Undergraduate Thesis, May 22nd,2013
ERNIATI, NIM: 108101000019
The Factors That Associated with Type 2 Diabetes Mellitus in Elderly at Posbindu
Cempaka Putih Village 2012
xiv + 89 pages, 19 tables, 9 graphs, 5 attachments
ABSTRACT
Increased of elderly population and also a change in lifestyle due to the influence of
globalization resulted in epidemiological transition in which a shift in the pattern of
infectious diseases replaced by degenerative diseases. One of degenerative diseases which
is an important problem in elderly is diabetes mellitus (DM) especially type 2 diabetes
mellitus.
This study aims to determine the factors that associated with type 2 diabetes in
elderly at Posbindu Cempaka Putih Village in 2012. This study is an analytic epidemiologic
study with cross-sectional design. Data is collected by measuring blood sugar with
glucosemeter, interviews with questionnaires and semiquantitative FFQ and the
measurement of waist circumference with measuring tape. Respondents of this study were
elderly aged ≥ 60 years that were selected through simple random sampling method.
Analysis of the data in this study consists of univariate analysis, bivariate analysis using the
chi-square test and independent t-test and multivariate analysis using multiple logistic
regression.
The results showed that the prevalence of type 2 diabetes in the elderly was 21.5%.
Based on the results of the bivariate test with a significance level of 10% can be known that
the factors that are associated with type 2 diabetes is the consumption of fiber, magnesium
intake, glycemic load, physical activity, and family history of diabetes. While the factors
that are not related to type 2 diabetes is fat consumption, smoking, and waist circumference.
And based on the results of multivariate analysis, it is found that family history of diabetes
is the most dominant factor associated with type 2 diabetes mellitus.
Therefore, it is advisable to carry out prevention and control efforts by increasing
motivation and awareness of a healthy lifestyle and a good diet, especially those who
already have a family history of diabetes through counseling to schools with counseling
materials specific to diabetes, implementing afternoon walk activities or doing gymnastics
which guided by one of the elderly, providing information about the benefits and good
sources of fiber and magnesium, as well as the formation of more posbindu in order to
reach all the elderly in the village.
Reference: 57 (1991 - 2013)
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
: Erniati
Tempat/Tanggal Lahir
: Sidojadi, 14 November 1990
Jenis Kelamin
: Perempuan
Status
: Belum Menikah
Kewarganegaraan
: Indonesia
Agama
: Islam
No Telepon/Hp
: 085297774831
Email
: [email protected]
Alamat
: Desa Sidojadi, Kec. Bukit Malintang, Kab. Mandailing
Natal, Sumatra Utara
Riwayat Pendidikan:
 1996 – 2002
SD Indpres No 144446 Lumban Dolok
 2002 – 2005
MTsN Siabu
 2005 – 2008
MAN 2 Model Padangsidimpuan
 2008 – Sekarang Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Jakarta
vii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
yang telah memberikan rahmat, karunia dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Faktor-faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2
pada Lanjut Usia di Pos Pembinaan Terpadu Kelurahan Cempaka Putih Tahun
2012”. Dalam Penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Orang tua dan Abang yang selalu mendoakan dan memberikan support agar
penulis tetap semangat dalam proses penyusunan skripsi.
2. Prof. Dr. (hc).dr. M.K Tadjudin, Sp.And. selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Febrianti, M.Si selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran dan Ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen
pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM sebagai dosen pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat yang sudah memberikan
ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
viii
6. Staf Puskesmas Ciputat Timur dan Kader Kelurahan Cempaka Putih yang telah
membantu penulis dalam pengambilan data di Kelurahan Cempaka Putih.
7. Para lansia yang sudah bersedia jadi responden dalam penelitian skripsi ini.
8. Teman seperjuangan (Eka, Rini, dan Titi) yang telah membantu dalam
pengambilan data skripsi.
9. Semua pihak yang terkait dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai
pihak sehingga menjadi sebuah ilmu dan pembelajaran bagi penulis di masa yang
akan datang.
Wassalamualaikum, Wr. Wb.
Jakarta, 22 Mei 2013
ERNIATI
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. i
ABSTRAK ........................................................................................................ ii
LEMBAR PERSETUJUAN .............................................................................. iv
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP........................................................................... vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii
DAFTAR BAGAN .......................................................................................... xiv
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 4
1.3 Pertanyaan Penelitian .................................................................... 5
1.4 Tujuan ........................................................................................... 7
1.5 Manfaat .......................................................................................... 8
1.6 Ruang Lingkup ............................................................................... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 10
2.1 Lanjut Usia .................................................................................. 10
x
2.2 Diabetes Melitus .......................................................................... 10
2.3 Kerangka Teori ............................................................................ 22
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ............ 24
3.1 Kerangka Konsep ........................................................................ 24
3.2 Definisi Operasional ................................................................... 27
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 30
4.1 Desain Penelitian ........................................................................ 30
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 30
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian .................................................. 30
4.4 Pengumpulan Data ....................................................................... 33
4.5 Pengolahan Data .......................................................................... 37
4.6 Analisis Data ................................................................................ 40
BAB V HASIL ................................................................................................. 43
5.1 Gambaran Umum Posbindu Kelurahan Cempaka Putih ............. 43
5.2 Analisis Univariat ....................................................................... 44
5.2.1 Gambaran DM Tipe 2 ........................................................ 44
5.2.2 Gambaran Konsumsi Serat ................................................ 45
5.2.3 Gambaran Konsumsi Lemak ............................................. 46
5.2.4 Gambaran Konsumsi Magnesium ..................................... 47
5.2.5 Gambaran Beban Glikemik ............................................... 49
5.2.6 Gambaran Aktivitas Fisik .................................................. 50
5.2.7 Gambaran Kebiasaan Merokok ......................................... 50
xi
5.2.8 Gambaran Riwayat Keluarga DM ..................................... 51
5.2.9 Gambaran Lingkar Pinggang ............................................. 51
5.3 Analisis Bivariat .......................................................................... 52
5.3.1 Hubungan Konsumsi Serat dengan DM Tipe 2 ................. 52
5.3.2 Hubungan Konsumsi Lemak dengan DM Tipe 2 .............. 52
5.3.3 Hubungan Konsumsi Magnesium dengan DM Tipe 2 ...... 53
5.3.4 Hubungan Beban Glikemik dengan DM Tipe 2 ................ 53
5.3.5 Hubungan Aktivitas Fisik dengan DM Tipe 2 .................. 54
5.3.6 Hubungan Merokok dengan DM Tipe 2 ........................... 54
5.3.7 Hubungan Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2 ...... 55
5.3.8 Hubungan Lingkar Pinggang dengan DM Tipe 2 ............. 55
5.4 Analisis Multivariat ..................................................................... 56
BAB VI Pembahasan ....................................................................................... 59
6.1 Keterbatasan Penelitian ............................................................... 59
6.2 Gambaran DM Tipe 2 ................................................................. 60
6.3 Hubungan Konsumsi Serat dengan DM Tipe 2 ........................... 62
6.4 Hubungan Konsumsi Lemak dengan DM Tipe 2 ........................ 64
6.5 Hubungan Konsumsi Magnesium dengan DM Tipe 2................. 67
6.6 Hubungan Beban Glikemik dengan DM Tipe 2 .......................... 68
6.7 Hubungan Aktivitas Fisik dengan DM Tipe 2 ............................. 71
6.8 Hubungan Merokok dengan DM Tipe 2 ...................................... 73
6.9 Hubungan Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2 ................ 74
xii
6.10 Hubungan Lingkar Pinggang dengan DM Tipe 2 ...................... 76
BAB VII Simpulan dan Saran .......................................................................... 79
7.1 Simpulan ..................................................................................... 79
7.2 Saran ........................................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 83
xiii
DAFTAR TABEL
No Tabel
Judul Tabel
Halaman
3.1
27
Definisi Operasional
4.1
31
Hasil Perhitungan Besar Sampel
5.1
Jumlah Anggota Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih
43
Tahun 2012
5.2
Gambaran Karakteristik Responden di Kelurahan Cempaka
44
Putih Tahun 2012
5.3
Gambaran Konsumsi Serat Pada Lansia di Posbindu
45
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5.4
Gambaran Konsumsi Lemak Pada Lansia di Posbindu
46
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5.5
Gambaran Konsumsi Magnesium Pada Lansia di Posbindu
47
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5.6
Gambaran Beban Glikemik Pada Lansia di Posbindu
49
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5.7
Distribusi Rata-rata Konsumsi Serat Berdasarkan DM Tipe
52
2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun
2012
5.8
Distribusi Rata-rata Konsumsi Lemak Berdasarkan DM
52
Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
5.9
Distribusi Rata-rata Konsumsi Magnesium Berdasarkan DM
53
Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
5.10
Distribusi Rata-rata Beban Glikemik Berdasarkan DM Tipe
53
2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun
2012
5.11
Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dengan DM
54
Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
5.12
Distribusi Responden Menurut Kebiasaan Merokok dengan
54
DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih Tahun 2012
5.13
Distribusi Responden Menurut Riwayat Keluarga DM
55
dengan DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
5.14
Distribusi Responden Menurut Lingkar Pinggang dengan
55
DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih Tahun 2012
xiv
No Tabel
5.15
5.16
5.17
Judul Tabel
Halaman
Hasil Analisis Bivariat Hasil Analisis Bivariat Faktor57
Faktor yang Berhubungan dengan DM Tipe 2 Pada Lansia
di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda antara
57
Konsumsi Serat, Konsumsi Magnesium, Beban Glikemik,
Aktivitas Fisik, dan Riwayat Keluarga DM dengan DM
Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
Hasil Analisis Multivariat antara Konsumsi Serat,
58
Aktivitas Fisik, dan Riwayat Keluarga DM dengan DM
Tipe 2 pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
DAFTAR BAGAN
No Bagan
Judul Bagan
Halaman
2.1
Kerangka Teori
23
3.1
Kerangka Konsep
26
4.1
Tahapan Penentuan Status DM
35
xv
DAFTAR GRAFIK
No Grafik
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
Judul Grafik
Halaman
Distribusi DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan
45
Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Frekuensi Konsumsi Serat Pada Lansia Posbindu
46
di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Frekuensi Konsumsi Lemak Pada Lansia
47
Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Frekuensi Konsumsi Magnesium Pada Lansia di
48
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Frekuensi Beban Glikemik Pada Lansia
49
Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Aktivitas Fisik Pada Lansia di Posbindu
50
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Distribusi Merokok Pada Lansia di Posbindu Kelurahan
50
Cempaka Putih Tahun 2012
51
Distribusi Riwayat Keluarga DM Pada Lansia Posbindu di
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5.9
Distribusi Lingkar Pinggang Pada Lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
51
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Form Pernyataan Persetujuan Responden
Lampiran 2
Form Kuesioner
Lampiran 3
Form FFQ Semikuantitatif
Lampiran 4
Hasil Analisis Data
Lampiran 5
Surat Izin Penelitian
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan teknologi yang tengah terjadi
akibat adanya globalisasi berdampak pada perubahan karakteristik demografi
masyarakat. Persaingan ekonomi telah mendorong orang untuk mementingkan karir dan
menunda berkeluarga atau mempunyai anak. Demikian pula, harapan hidup dapat
diperpanjang akibat kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran yang telah dicapai saat ini.
(Sriyana, 2008). Akibat adanya pembangunan di segala bidang tersebut menimbulkan
terjadinya transisi demografi di mana awalnya kondisi penduduk ditandai dengan tingkat
fertilitas dan mortalitas yang tinggi yang berubah menjadi keadaan penduduk dengan
tingkat fertilitas dan mortalitas yang rendah.
Transisi demografi ini mengubah struktur populasi penduduk menuju ageing
population yang ditandai dengan percepatan pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia).
Proporsi penduduk lansia di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan selama
30 tahun terakhir dengan populasi 5,3 juta jiwa (4,48 persen dari total keseluruhan
penduduk Indonesia) pada tahun 1971 menjadi 19,3 juta (8,37 persen dari total
keseluruhan penduduk Indonesia) pada tahun 2009 (Komnas Lansia, 2010). Dan
menurut proyeksi Bappenas jumlah penduduk lansia 60 tahun atau lebih akan meningkat
dari 18.1 juta pada 2010 menjadi dua kali lipat (36 juta) pada 2025.
Proses menua menghasilkan perubahan fisiologis yang menyebabkan disfungsi
organ dan kegagalan suatu organ atau sistem tubuh tertentu (Fatmah, 2010). Jenis
1
2
penyakit yang sering dikaitkan dengan proses penuaan adalah penyakit degeneratif
(Timmreck, 2004). Meningkatnya populasi lansia dan juga terjadinya perubahan gaya
hidup akibat pengaruh globalisasi dapat mengakibatkan timbulnya transisi epidemiologi
dimana terjadi pergeseran pola penyakit menular yang diganti oleh penyakit degeneratif.
Salah satu penyakit degeneratif yang menjadi masalah penting pada lansia adalah
diabetes melitus (DM).
DM merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik dimana penderita
diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tubuh tidak
mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga terjadilah kelebihan glukosa di
dalam darah dan baru dirasakan setelah terjadi komplikasi lanjut pada organ tubuh. DM
sering disebut sebagai the great imitator karena penyakit ini dapat mengenai semua
organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan dengan gejala sangat bervariasi
(Misnadiarly, 2006).
DM jangka panjang menimbulkan rangkaian gangguan metabolik yang
menyebabkan kelainan patologis makrovaskular dan mikrovaskular. Komplikasi
mikrovaskuler yang berkaitan dengan DM meliputi retinopati, nefropati dan neuropati.
Pengidap DM menghadapi peningkatan risiko untuk menderita penyakit kardiovaskular,
serebrovaskular dan penyakit vascular perifer (Gibney, 2008).
Pada lansia komplikasi DM akan lebih cepat muncul dibandingkan dengan
kelompok usia lainnya. Hal ini disebabkan karena pada lansia sendiri sudah terjadi
penurunan fungsi sistem organ tubuh yang menjadikan risiko terjadinya komplikasi DM
pada lansia menjadi lebih besar. Misalnya penyakit katarak, penyakit ini biasa terlihat
pada orang usia lanjut akibat adanya pengerasan lensa yang tak terhindarkan. Namun,
3
pada penderita DM penyakit ini bisa muncul sekitar 10 tahun lebih awal daripada nonDM (Ali, 2010).
Pada tahun 2000 Indonesia menduduki peringkat keempat jumlah pengidap
diabetes terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan India dimana posisi
Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan tetap bertahan dalam daftar 4 besar negara
dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia dan diprediksi akan terjadi
kenaikan jumlah pengidap DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi
sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Wild, 2004).
DM pada lansia umumnya adalah DM tipe 2 (Misnadiarly, 2006). Menurut hasil
penelitian Handayani (2003), faktor-faktor risiko DM tipe 2 meliputi inaktivitas, riwayat
keluarga DM, umur ≥45 tahun, dan praktik yang buruk dalam mencegah DM.
Sedangkan menurut Bazzano (2005), faktor-faktor risiko DM yang dapat dimodifikasi
terdiri dari obesitas, asupan alkohol, merokok, inaktivitas fisik, dan faktor diet seperti
asupan lemak, serat, serta beban glikemik. Selain itu, Lopez-Ridaura (2004)
membuktikan bahwa asupan magnesium memiliki hubungan berbanding terbalik dengan
risiko DM.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh
bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 55-64 tahun
menduduki ranking ke-2 baik pada laki-laki (10.5%) maupun perempuan (12%) di mana
penyebab kematian ke-1 adalah stroke dengan persentase 22.5% pada laki-laki dan
20.7% pada perempuan. Dan menurut data Dinas Kesehatan Tangerang Selatan (Dinkes
Tangsel) tahun 2011, DM juga merupakan penyakit kedua terbanyak pada lansia.
Dengan demikian, DM masih menjadi masalah kesehatan yang penting pada lansia yang
4
berada di wilayah Tangerang Selatan, termasuk Kelurahan Cempaka Putih yang menjadi
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur. Itulah sebabnya penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan DM tipe 2 pada
lansia di Kelurahan Cempaka Putih.
1.2 Rumusan Masalah
Menurut data Riskesdas (2007), prevalensi DM pada kelompok lansia sudah
berada di atas prevalensi nasional 1,1%, yaitu sebesar 3,7% pada kelompok usia 55 – 64
tahun, 3,4% pada kelompok usia 65–74 tahun, dan 3,2% pada kelompok usia 75 tahun
ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa DM merupakan masalah kesehatan yang penting
bagi lansia. Menurut data Dinkes Tangsel (2011) DM merupakan penyakit kedua
terbanyak pada lansia di wilayah Tangsel. Dan penyakit ini juga termasuk dalam daftar
10 besar penyakit terbanyak pada lansia berdasarkan laporan bulanan (LB1) bulan
Januari – Juni tahun 2012 di Puskesmas Ciputat Timur. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih diperoleh bahwa persentase lansia
yang menderita DM sebanyak 30%. Persentase ini jauh berada di atas prevalensi
nasional 1,1%. Dengan demikian, DM masih menjadi masalah kesehatan bagi lansia
yang terdaftar di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih.
Faktor risiko terjadinya DM tipe 2 terdiri dari faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor genetik terdiri dari riwayat keluarga DM dan etnis/ras. Sedangkan
faktor risiko lingkungan yang utama untuk terjadinya DM meliputi: usia, obesitas dan
obesitas pada bagian perut, faktor makanan/gizi serta jarang melakukan aktivitas fisik
(Gibney, 2008). Faktor diet yang berperan dalam timbulnya DM terdiri dari asupan serat,
5
konsumsi lemak, alkohol, magnesium dan beban glikemik (Bazzano (2005) dan Lopez
Ridaura (2004)). Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan diperoleh persentase
lansia yang memiliki tingkat aktivitas fisik kurang sebesar 60%, merokok sebesar 10%,
yang mempunyai riwayat keluarga DM sebesar 30%, dan yang memiliki ukuran lingkar
pinggang berisiko sebesar 60%. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti
faktor-faktor yang berhubungan dengan DM tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih.
1.3 Pertanyaan Penelitian
1) Bagaimana gambaran DM tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih Tahun 2012?
2) Bagaimana gambaran konsumsi serat pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012?
3) Bagaimana gambaran konsumsi lemak pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012?
4) Bagaimana gambaran konsumsi magnesium pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012?
5) Bagaimana gambaran beban glikemik pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012?
6) Bagaimana gambaran aktivitas fisik pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih Tahun 2012?
7) Bagaimana gambaran merokok pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih Tahun 2012?
6
8) Bagaimana gambaran riwayat keluarga DM pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
9) Bagaimana gambaran lingkar pinggang pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012?
10) Apakah ada hubungan antara konsumsi serat dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
11) Apakah ada hubungan antara konsumsi lemak dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
12) Apakah ada hubungan antara konsumsi magnesium dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
13) Apakah ada hubungan antara beban glikemik dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
14) Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
15) Apakah ada hubungan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
16) Apakah ada hubungan antara riwayat keluarga DM dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
17) Apakah ada hubungan antara lingkar pinggang dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012?
18) Apa faktor yang paling dominan berhubungan dengan DM tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012?
7
1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan DM tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012.
1.4.2 Tujuan Khusus
1) Mengetahui gambaran DM tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
2) Mengetahui gambaran konsumsi serat pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
3) Mengetahui gambaran konsumsi lemak pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
4) Mengetahui gambaran konsumsi magnesium pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
5) Mengetahui gambaran beban glikemik pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
6) Mengetahui gambaran aktivitas fisik pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
7) Mengetahui gambaran merokok pada lansia di Posbindu Kelurahan
Cempaka Putih Tahun 2012
8) Mengetahui gambaran riwayat keluarga DM pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
9) Mengetahui gambaran lingkar pinggang pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
8
10) Mengetahui hubungan antara konsumsi serat dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
11) Mengetahui hubungan antara konsumsi lemak dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
12) Mengetahui hubungan antara konsumsi magnesium dengan kejadian DM
tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
13) Mengetahui hubungan antara beban glikemik dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
14) Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
15) Mengetahui hubungan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2 pada
lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
16) Mengetahui hubungan antara riwayat keluarga DM dengan kejadian DM
tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
17) Mengetahui hubungan antara lingkar pinggang dengan kejadian DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
18) Mengetahui faktor yang paling dominan berhubungan dengan DM tipe 2
pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012
1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Puskesmas Ciputat Timur
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk
merancang program kegiatan untuk mengatasi permasalahan DM pada lansia.
9
1.5.2 Bagi Masyarakat Kelurahan Cempaka Putih
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat
Kelurahan Cempaka Putih terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan DM pada
lansia sehingga dapat menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat
yang dapat mencegah penyakit DM.
1.5.3 Bagi Peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan bagi peneliti lain
untuk meneliti faktor yang berhubungan dengan DM tipe 2 pada lansia secara lebih
mendetail dan mendalam.
1.6 Ruang Lingkup
Penelitian ini meneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan terhadap DM
tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012. Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilaksanakan
pada bulan September 2012 – Mei 2013 oleh mahasiswa peminatan Gizi Program
Studi Kesehatan Masyarakat. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran gula
darah dengan glucosemeter, wawancara dengan kuesioner dan FFQ semikuantitatif
serta pengukuran lingkar pinggang dengan pita meteran. Responden penelitian ini
adalah lansia yang berusia ≥60 tahun yang dipilih melalui metode simple random
sampling.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lanjut Usia
Lansia merupakan kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses
perubahan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Menurut WHO, lansia
dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age)
: usia 45 – 59 tahun
2. Lansia (elderly)
: usia 60 – 74 tahun
3. Lansia tua (old)
: usia 75 – 90 tahun
4. Usia sangat tua (very old)
: usia di atas 90 tahun
Sedangkan Depkes RI (2006) memberikan batasan lansia sebagai berikut:
1. Virilitas (prasenium): masa persiapan usia lanjut yang menampakkan
kematangan jiwa (usia 55 -59 tahun).
2. Usia lanjut dini (senescen): kelompok yan mulai memasuki masa usia lanjut dini
(usia 60 – 64 tahun).
3. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif: usia di atas
65 tahun (Fatmah, 2010).
2.2 Diabetes Melitus (DM)
2.2.1 Definisi DM
DM adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa
darah (hiperglikemia). Mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan tubuh untuk
10
11
berespons terhadap insulin dan/atau penurunan atau tidak adanya pembentukan
insulin oleh pankreas. Kondisi ini mengarah pada hiperglikemia, yang dapat
menyebabkan terjadinya komplikasi metabolik akut seperti ketoasidosis diabetik dan
sindrom hiperglikemik hiperosmolar non-ketosis (HHNK). Hiperglikemia jangka
panjang dapat menunjang terjadinya komplikasi mikrovaskular kronis (penyakit
ginjal dan mata) serta komplikasi neuropati. Diabetes juga berkaitan dengan
peningkatan kejadian penyakit makrovaskular, termasuk infark miokard, stroke, dan
penyakit vascular perifer (Baughman, 2000).
2.2.2 Diagnosis DM
Diagnosis harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah dan tidak
dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam menentukan
diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara
pemeriksaaan yang dipakai. Untuk diagnosis DM, pemeriksaan yang dianjurkan
adalah pemeriksaaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma
vena. Untuk memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya
dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya (yang melakukan program
pemantauan kendali mutu secara teratur). Walaupun demikian sesuai dengan kondisi
setempat dapat juga dipakai bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler
dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai
pembakuan oleh WHO (Soegondo, 2005).
Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM
berupa poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya. Jika ada keluhan khas, pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥
12
200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Hasil pemeriksaan kadar
glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM.
Untuk kelompok tanpa keluhan khas DM, hasil pemeriksaan glukosa darah yang
baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM.
Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka abnormal, baik
kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl
pada hari yang lain, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan
kadar glukosa darah pasca pembebanan ≥ 200 mg/dl (Soegondo, 2005).
2.2.3 Klasifikasi Etiologi DM
Klasifikasi etiologi DM dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel
Klasifikasi Etiologi Kelainan Glikemia (DM)
Tipe 1
Ditandai dengan kegagalan produksi insulin yang parsial
(5 – 10% penderita
atau total oleh sel-sel ẞ pankread. Faktor penyebab masih
diabetic adalah tipe I)
belum dimengerti dengan jelas tetapi beberapa virus
tertentu, penyakit autoimun, dan faktor-faktor genetik
mungin turut berperan
Tipe 2
Ditandai dengan resistensi insulin ketika hormon insulin
(90 – 95% penderita
diproduksi dengan jumlah yang tidak memadai atau
diabetic adalah tipe II)
dengan bentuk yang tidak efektif. Ada korelasi genetik
yang kuat pada tipe diabetes ini dan proses terjadinya
berkaitan dengan obesitas
Tipe spesifik lainnya
Defek genetik pada sel ẞ
Defek genetik pada kerja insulin
Penyakit pada kelenjar ensokrin pancreas
Endokrinopati
Ditimbulkan oleh obat-obatan atau zat kimia
13
Infeksi
Bentuk immune-mediated diabetes yang langka
Kadang-kadang sindrom genetik lain yang disertai
diabetes
Diabetes gestasional
Bentuk
diabetes
yang
terjadi
selama
kehamilan.
Kebanyakan, tapi tidak semuanya, akan sembuh setelah
melahirkan
Sumber : (Gibney, 2008)
2.2.4 Faktor Risiko Terjadinya DM Tipe 2
DM tipe 2 merupakan penyakit multifaktorial dengan komponen genetik dan
lingkungan yang memberikan kontribusi sama kuatnya terhadap proses timbulnya
penyakit tersebut. Sebagian faktor ini dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya
hidup, sementara sebagian lainnya tidak dapat diubah (Gibney, 2008).
a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
1) Riwayat Keluarga (Genetik)
Bukti adanya komponen genetik berasal dari koefisien keselarasan
(corcodance) DM yang meningkat kepada kembar monozigot, prevalensi DM
yang tinggi pada anak-anak dari orang tua yang menderita diabetes, dan
prevalensi DM yang tinggi pada kelompok etnis tertentu (Gibney, 2008).
Menurut Handayani (2003), riwayat keluarga memiliki pengaruh bermakna
dengan kejadian DM tipe 2. Risiko untuk terjadi DM tipe 2 pada subyek yang
memiliki riwayat keluarga DM tipe 2 sebesar 5,9 kali dibandingkan dengan
mereka yang tidak tahu keluarganya menderita DM tipe 2.
2) Usia
14
Pertambahan usia merupakan faktor risiko yang penting untuk DM.
Hasil penelitian Handayani (2003) membuktikan bahwa umur ≥45 tahun
memiliki pengaruh yang bermakna dengan kejadian DM tipe 2. Orang yang
berusia ≥45 tahun berisiko terkena DM tipe 2 sebesar 7,5 kali dibandingkan
dengan mereka yang berumur <45 tahun.
Menurut Petersen penuaan berhubungan erat dengan resistensi insulin,
seperti halnya resistensi insulin terkait dengan DM tipe 2. Petersen juga
menemukan bahwa lansia yang memiliki berat badan normal juga mengalami
resistensi insulin, yang menunjukkan bahwa bertambahnya usia (menjadi tua)
itu sendiri meningkatkan risiko mengalami diabetes tipe 2 (Curry, 2012).
3) Ras
Prevalensi diabetes tipe 2 pada orang dewasa sekitar tiga sampai lima
kali lebih besar pada orang Afrika-Karibia dan Asia Selatan dibandingkan
dengan populasi kulit putih Eropa. Sedangkan prevalensi diabetes pada orang
Cina tidak berbeda secara substansial dibandingkan dengan populasi umum
di Inggris (Oldroyd, 2005).
Ada bukti bahwa kelompok etnis tertentu memiliki kecenderungan
untuk mengidap diabetes tipe 2 dengan adanya faktor risiko yang sama.
Misalnya, pada orang dewasa Asia Selatan terdapat tingkat obesitas dan
distribusi lemak pusat yang lebih tinggi yang mengakibatkan resistensi
insulin dibandingkan dengan populasi kulit putih. Tingkat kebiasaan aktivitas
fisik yang lebih rendah juga berperan dalam meningkatkan risiko diabetes
pada populasi ini (Oldroyd, 2005).
15
b. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
1) Obesitas dan Obesitas pada Perut
Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya DM.
Hubungannya dengan DM tipe 2 sangat kompleks. Sekalipun masih berada di
dalam kisaran berat badan yang dapat diterima, namun kenaikan berat badan
dapat meningkatkan risiko DM, khususnya jika ada predisposisi familial. Di
antara faktor-faktor lingkungan, obesitas memiliki korelasi yang paling kuat.
Risiko terjadinya diabetes meningkat seiring indeks massa tubuh (IMPT)
meningkat, dan keadaaan ini menunjukkan korelasi dose-response antara
lemak
tubuh
dan
resistensi
insulin.
Faktor-faktor
yang
mungkin
mempengaruhi resistensi insulin pada obesitas meliputi kadar asam lemak
yang tinggi di dalam darah yang beredar dan intrasel. Kadar asam lemak
bebas yang tinggi di dalam darah dan sel ini dapat mempengaruhi fungsi
insulin (lipotoksisitas) dan sejumlah sitokin yang dilepaskan oleh jaringan
adipose (adipoksin); sitokin ini meliputi leptin, adinopektin, dan resistin.
Dibandingkan dengan obesitas, distribusi lemak tubuh lebih penting
artinya sebagai prediktor DM. Adipositas tubuh bagian atas/obesitas pada
perut memiliki keterkaitan yang lebih erat dengan DM pada sejumlah
penelitian cross-sectional dan prospektif (Gibney, 2008). Obesitas pada perut
atau berbentuk apel (lingkar pinggang> 40 inci untuk pria > 35 inci untuk
wanita) adalah faktor risiko yang sangat potensial untuk resistensi insulin.
Resistensi insulin mengurangi pasokan glukosa ke dalam sel. Hal ini akan
mendorong sel-sel beta pankreas untuk memproduksi dan mengeluarkan
16
insulin tambahan. Kadar insulin yang lebih tinggi dari normal umumnya
cukup untuk menjaga glukosa darah terkendali selama beberapa tahun.
Namun, sel-sel dalam pankreas akan menjadi lelah, karena terlalu banyak
pekerjaan. Dalam kasus tersebut, produksi insulin semakin lambat atau akan
terhenti dan, sebagai akibatnya, glukosa menumpuk dalam darah (Brown,
2005).
2) Aktivitas Fisik
Pentingnya gaya hidup kurang gerak sebagai faktor risiko untuk
diabetes dan efek protektif aktivitas fisik sudah banyak diteliti. Orang yang
mempertahankan gaya hidup aktif secara fisik mengalami gangguan toleransi
glukosa dan DM tipe 2 lebih jarang daripada mereka yang memiliki gaya
hidup kurang gerak. Helmrich dkk (1991) menguji aktivitas fisik pada waktu
senggang dan perkembangan diabetes pada 5.990 alumni laki-laki dari
University of Pennsylvania selama 14 tahun. Mereka menemukan bahwa pria
yang berolahraga secara teratur, dengan intensitas sedang atau berat,
memiliki risiko 35% lebih rendah menderita DM tipe 2 daripada pria kurang
gerak.
Aktivitas fisik diduga dapat meningkatkan pembuangan glukosa yang
dirangsang insulin pada dosis insulin yang ditetapkan. Selain itu, orang yang
terlatih secara fisik mungkin mengalami peningkatan yang lebih kecil dalam
konsentrasi insulin plasma sebagai respons terhadap beban glukosa
dibandingkan dengan orang yang memiliki gaya hidup sedentari/kurang
17
gerak. Hal ini menunjukkan bahwa training/olahraga dapat meningkatkan
sensitivitas jaringan terhadap insulin (Bazzano, 2005).
3) Konsumsi Karbohidrat Kompleks/Serat
Karbohidrat biasanya digolongkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu
monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Pengelompokan tersebut
berdasarkan susunan kimia yang dimiliki tiap jenis. Namun, pengelompokan
yang hanya berdasarkan susunan kimia tidak memberikan panduan yang
penting untuk kesehatan. Yang lebih penting adalah klasifikasi berdasarkan
kemampuan mereka untuk dicerna dan diserap di usus kecil manusia,
sehingga memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung kepada
karbohidrat glikemik; dalam klasifikasi ini karbohidrat yang tidak dicerna
dan diserap di usus kecil manusia disimpan terpisah dari karbohidrat
glikemik, dan di antara mereka serat makanan merupakan kelompok yang
paling penting pengaruhnya bagi kesehatan terutama pada penyakit DM
(Parillo, 2004).
Efek menguntungkan dari serat makanan diperoleh mungkin karena
kandungan magnesiumnya yang tinggi, sehingga dapat melindungi dari
diabetes mengingat perannya sebagai kofaktor penting bagi enzim yang
terlibat dalam metabolisme glukosa dan pengaruhnya terhadap kerja insulin
dan homeostasis glukosa (Larsson, 2007). Selain itu, menurut Hopping dkk
(2010) asupan serat total dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes baik
pada pria dan wanita. Sementara asupan tinggi serat gandum dapat
mengurangi resiko diabetes secara signifikan sebesar 10% pada pria dan
18
wanita. Dan asupan tinggi serat sayuran dapat menurunkan risiko sebesar
22% pada pria.
4) Indeks glikemik dan Beban glikemik
Indeks glikemik (GI) adalah skala yang membagi tingkatan makanan
yang mengandung karbohidrat melalui berapa banyak makanan tersebut
dapat meningkatkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan standar
makanan. Standar makanan yang digunakan adalah glukosa dan roti putih.
Meskipun mekanisme pasti bagaimana diet tinggi GI dapat mengubah risiko
diabetes tipe 2 belum jelas, namun ada 2 jalur utama yang sudah sering
dipaparkan, yaitu:
Pertama, makanan tinggi GI menghasilkan konsentrasi glukosa darah yang
lebih tinggi dan permintaan insulin yang lebih besar daripada makanan
rendah GI meskipun jumlah karbohidrat yang dikandungnya sama. Dengan
meningkatnya permintaan insulin secara kronis menimbulkan kelelahan
pankreas yang dapat mengakibatkan intoleransi glukosa (Willet, 2002).
Kedua, diet makanan tinggi GI secara langsung dapat meningkatkan
resistensi insulin. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap hewan, diet
tinggi amilopektin atau glukosa menghasilkan resistensi insulin lebih cepat
dan lebih parah daripada diet berbasis amilosa (Higgins, 1996).
Meskipun GI mengukur kualitas karbohidrat, namun GI tidak
memperhitungkan jumlah/kuantitas karbohidrat dan dengan demikian tidak
dapat menjelaskan keseluruhan potensi peningkatan kadar glukosa dari diet
karbohidrat. Beban glikemik (GL) menyesuaikan nilai GI makanan untuk
19
jumlah karbohidrat yang terkandung dalam makanan. GL, sebuah konsep
divalidasi oleh Brand-Miller dan rekan, dihitung sebagai produk dari GI dan
jumlah diet karbohidrat. Untuk makanan individu, GL lebih relevan daripada
GI (Roberts, 2009).
5) Konsumsi Magnesium
Magnesium berperan penting dalam produksi dan fungsi insulin.
Kekurangan magnesium akan menurunkan sekresi insulin di pankreas dan
meningkatkan resistensi insulin dalam jaringan tubuh (Sendih, 2006). Hal
serupa juga dikemukakan oleh Larsson dkk (2007) yang menyatakan bahwa
peran proteksi asupan magnesium terhadap diabetes tipe 2 dapat disebabkan
oleh peningkatan sensitivitas insulin.
Asupan magnesium memiliki hubungan berbanding terbalik dengan
kejadian diabetes tipe 2. Peningkatan konsumsi makanan kaya magnesium
seperti biji-bijian, kacang-kacangan, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun
hijau dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 (Lopez-Ridaura, 2004 dan
Larsson, 2007).
6) Konsumsi Lemak
Lemak makanan dapat berkontribusi pada etiologi diabetes tipe 2.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thanopoulou dkk (2003) diperoleh
temuan bahwa asupan lemak sangat terkait dengan DM tipe 2 baik diabetes
tipe 2 yang sudah terdiagnosis atau diabetes tipe 2 tidak terdiagnosis. Adanya
diabetes tipe 2 ini terutama dikaitkan dengan asupan lemak hewani.
Distribusi kasus diabetes terakumulasi/menumpuk pada kuartil asupan lemak
20
hewani yang lebih tinggi. Dengan kata lain, peningkatan konsumsi lemak
hewani dapat menyebabkan peningkatan kejadian/insiden diabetes.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meyer dkk
(2001). Setelah dilakukan adjustmet faktor kovariat diet dan non-diet, Meyer
dkk (2001) menemukan bahwa lemak nabati memiliki hubungan berbanding
terbalik dengan insidens diabetes pada populasi lansia perempuan Iowa.
Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa mengganti asam lemak jenuh
dengan asam lemak tak jenuh ganda dapat mengurangi laju/perkembangan
diabetes.
7) Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol dalam jumlah yang rendah sampai sedang dapat
menurunkan perkembangan diabetes dengan meningkatkan sensitivitas
insulin dan memperlambat penyerapan glukosa dari makanan. Sedangkan
asupan alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan asupan energi yang
berlebih
dan
obesitas,
induksi
pankreatitis,
gangguan
metabolisme
karbohidrat dan glukosa, dan gangguan fungsi hati (Bazzano, 2005).
Menurut Facchini dkk (1994), perbedaan asupan alkohol berperan
dalam perubahan dalam metabolisme insulin. Konsumsi alkohol dalam
jumlah rendah sampai sedang pada pria dan wanita sehat berhubungan
dengan peningkatan penyerapan
glukosa
yang diperantarai insulin,
menurunkan glukosa plasma dan konsentrasi insulin dalam respon terhadap
glukosa oral, dan konsentrasi kolesterol HDL lebih tinggi. Facchini dkk
(1994) juga mengungkapkan bahwa individu yang diklasifikasikan sebagai
peminum alkohol ringan sampai sedang relatif memiliki insulin lebih sensitif
21
dan memiliki kadar insulin plasma yang lebih rendah dibandingkan yang
bukan peminum .
Penelitian dengan topik yang sama juga dilakukan oleh Wei dkk (2000).
Namun, kriteria sampel yang diteliti pada dua studi tersebut agak berbeda
karena Facchini dkk (1994) hanya meneliti pada peminum alkohol ringan
sampai sedang dan bukan peminum, sedangkan Wei dkk (2000) memiliki
kriteria sampel yang lebih luas, yaitu peminum alkohol ringan, sedang, dan
peminum berat serta yang bukan peminum.
Walaupun kriteria sampelnya agak berbeda namun hasil penelitian
Facchini dkk (1994) selaras dengan penelitian Wei dkk (2000). Wei dkk
(2000) menemukan hubungan yang berbentuk U antara konsumsi alkohol dan
insiden diabetes, peminum moderat memiliki resiko terendah untuk diabetes,
dan bukan peminum dan peminum berat memiliki risiko lebih tinggi.
8) Merokok
Merokok dapat meningkatkan risiko terkena diabetes melalui beberapa
cara. Merokok telah terbukti dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi
glukosa darah
dan
dapat
meningkatkan
resistensi
insulin.
Seperti
dikemukakan oleh Frati dkk (1996) merokok secara akut dapat menyebabkan
toleransi glukosa terganggu dan menurunkan sensitivitas insulin.
Dari hasil studi yang dilakukan oleh Rimm dkk (1993) diketahui bahwa
di antara peserta dari Nurses Health Study, wanita yang merokok lebih dari
25 batang per hari memiliki risiko 42% lebih besar (95% CI, 1,18-1,72)
terkena diabetes dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok, setelah
22
disesuaikan dengan obesitas dan faktor risiko lainnya. Pada perempuan,
merokok mungkin memiliki efek "antiestrogenik", menyebabkan perubahan
negatif dalam rasio pinggang-pinggul. Rasio pinggang-pinggul yang
meningkat telah terbukti secara signifikan berkorelasi positif dengan
resistensi insulin, kadar glukosa plasma dan overt diabetes. Oleh karena itu,
efek merokok terhadap perkembangan diabetes mungkin dimediasi melalui
perubahan dalam distribusi lemak.
Studi tentang merokok dan risiko DM juga dilakukan oleh Sairenchi
dkk (2004) yang menemukan bahwa merokok secara independen terkait
dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2 pada laki-laki dan perempuan
yang tergolong dalam kelompok middle-aged dan lansia.
2.3 Kerangka Teori
Menurut Gibney (2008), faktor risiko terjadinya DM tipe 2 terdiri dari faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik terdiri dari riwayat keluarga DM dan
etnis/ras di mana menurut Oldroyd (2005) terdapat bukti bahwa kelompok etnis tertentu
memiliki kecenderungan untuk mengidap diabetes tipe 2 dengan adanya faktor risiko
yang sama. Misalnya, pada orang dewasa Asia Selatan terdapat tingkat obesitas dan
distribusi lemak pusat yang lebih tinggi yang mengakibatkan resistensi insulin
dibandingkan dengan populasi kulit putih serta tingkat kebiasaan aktivitas fisik yang
lebih rendah juga berperan dalam meningkatkan risiko diabetes pada populasi ini.
Sedangkan faktor risiko lingkungan yang utama untuk terjadinya DM meliputi: usia,
23
obesitas dan obesitas pada bagian perut, jarang melakukan aktivitas fisik serta faktor
makanan/gizi (Gibney, 2008).
Faktor diet yang berperan dalam timbulnya DM menurut Bazzano (2005) terdiri
dari asupan serat, lemak dan konsumsi alcohol serta beban glikemik. Selain itu, LopezRidaura (2004) menemukan bahwa asupan magnesium juga berhubungan dengan DM
tipe 2. Berdasarkan beberapa teori tersebut, kerangka teori yang digunakan dalam
penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut.
Konsumsi
Lemak
Ras
GI/GL
Aktivitas
Fisik
Obesitas dan
obesitas pada
perut/lingkar
pinggang
Konsumsi
Serat
Konsumsi
Magnesium
DM tipe 2
Genetik/
Riwayat
Keluarga DM
Konsumsi
Alkohol
Usia
Merokok
Bagan 2.1
Kerangka Teori
Sumber: Bazzano (2005), Gibney (2008), Lopez-Ridaura (2004), dan Oldroyd (2005)
24
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya DM tipe 2 yang
terdiri dari faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
Faktor-faktor tersebut tidak semuanya diteliti. Dalam penelitian ini ada 8 faktor yang
akan diteliti meliputi:
1) Konsumsi serat
Konsumsi serat berpengaruh terhadap DM tipe 2 dengan cara memperbaiki
respon glukosa darah dan indeks insulin dalam tubuh.
2) Konsumsi lemak
Konsumsi lemak berperan dalam DM tipe 2 dikarenakan asam lemak
mempengaruhi metabolisme glukosa dengan mengubah fungsi membran sel,
aktivitas enzim dan sinyal insulin.
3) Konsumsi magnesium
Konsumsi magnesium berperan dalam DM tipe 2 dikarenakan kadar magnesium
intraseluler penting untuk menjaga sensitivitas insulin pada otot rangka atau
jaringan adiposa.
4) Beban glikemik
Beban glikemik berpengaruh terhadap DM tipe 2 melalui perannya dalam
perubahan kadar CRP dan IL-6 yang merupakan biomarker inflamasi. Inflamasi
24
25
berhubungan dengan disfungsi atau perubahan permeabilitas endotel. Perubahan
permeabilitas endotel dan berkurangnya aliran darah perifer dapat membatasi
pengiriman insulin dan meningkatkan resistensi insulin pada jaringan aktif secara
metabolik.
5) Aktivitas fisik
Aktivitas fisik berperan dalam DM tipe 2 karena dapat mempengaruhi resistensi
insulin.
6) Merokok
Merokok berpengaruh terhadap DM tipe 2 karena merokok secara langsung
dapat merusak fungsi sel ẞ atau menginduksi peradangan pankreas kronis
sehingga dapat menganggu sekresi insulin.
7) Riwayat keluarga DM
Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang
penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM di
mana dalam kasus DM tipe 2 persentase yang memiliki riwayat keluarga untuk
menderita DM sebesar 30%.
8) Lingkar pinggang
Lingkar pinggang berperan dalam DM tipe 2 karena lemak pada organ – organ
perut lebih mudah diolah untuk memperoleh energi. Ketika lemak diolah untuk
memperoleh energi, kadar asam lemak meningkat yang dapat meningkatkan
resistensi terhadap insulin melalui aksinya terhadap hati dan otot – otot tubuh.
Sedangkan faktor-faktor yang tidak diteliti terdiri dari: konsumsi alcohol, ras,
dan usia. Faktor konsumsi alkohol tidak diteliti karena berdasarkan data Riskesdas
26
(2007) tingkat konsumsi alkohol masyarakat di wilayah Tangerang masih rendah
yaitu sebesar 2,3%. Persentase ini masih berada di bawah persentase konsumsi
alkohol secara nasional yaitu 4,6%. Dan faktor ras tidak diteliti karena masyarakat di
Kelurahan Cempaka Putih sebagian besar berasal dari ras yang sama. Sedangkan
faktor usia tidak diteliti karena hasil penelitian Handayani (2003) membuktikan
bahwa faktor yang menjadi risiko terjadinya DM tipe 2 yaitu berusia ≥45 tahun.
Dalam penelitian ini responden yang diteliti semuanya berusia minimal 60 tahun.
Dengan kata lain, semua responden sudah berisiko terkena DM tipe 2. Hal ini
nantinya akan mempengaruhi hasil analisis data karena data variabel usia tidak
variatif mengingat tidak ada responden yang berusia di bawah 45 tahun.
Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1
Faktor Diet
1. Lemak
2. Serat
3. Magnesium
4. Beban glikemik
Aktivitas Fisik
DM tipe 2
Merokok
Riwayat keluarga DM
Lingkar pinggang
Bagan 3.1
Kerangka Konsep
27
3.2 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi
1
DM tipe 2
Status penyakit DM yang
diderita oleh lansia
berdasarkan diagnosis
dokter atau hasil ukur gula
darah kapiler sewaktu
≥200 mg/dl dengan ada
tidaknya keluhan khas
berupa poliuri, polidipsi,
polifagi, dan penurunan
berat badan drastis.
2
Konsumsi
Lemak
Rata-rata lemak dari
makanan yang dikonsumsi
lansia dalam sehari
3
Konsumsi
serat
Rata-rata serat dari
makanan yang dikonsumsi
lansia dalam sehari
Tabel 3.1
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Glucosemeter
Pengambilan
spesimen
darah
responden
Wawancara
Semi-Quantitatif
FFQ
Wawancara
Semi-Quantitatif
FFQ
Hasil Ukur
0. DM, jika:
a) Terdiagnosa oleh dokter
atau;
b) Ada keluhan khas dan
hasil pengukuran kadar
gula darah sewaktu ≥200
mg/dl atau;
c) Tidak ada keluhan khas
dan 2 kali hasil
pengukuran kadar gula
darah sewaktu ≥200
mg/dl yang diukur pada
hari yang berbeda.
1. Non DM, jika tidak sesuai
dengan kriteria DM.
(Soegondo, 2005)
Konsumsi lemak dalam gram
Konsumsi serat dalam gram
Skala Ukur
Ordinal
Rasio
Rasio
28
No
Variabel
4
Beban
glikemik
5
Konsumsi
Magnesium
6
7
Riwayat
Keluarga
DM
Merokok
Definisi
Rata-rata nilai beban
glikemik dari makanan
yang dikonsumsi lansia
dalam sehari
Rata-rata magnesium dari
makanan yang dikonsumsi
lansia dalam sehari
Ada atau tidaknya anggota
keluarga sedarah (ayah,
ibu, saudara laki-laki dan
perempuan sekandung)
yang terkena DM
berdasarkan diagnosis
dokter
Kebiasaan lansia
menghisap rokok.
Cara Ukur
Wawancara
Wawancara
Alat Ukur
Semi-Quantitatif
FFQ
Semi-Quantitatif
FFQ
Skala Ukur
Rasio
Konsumsi magnesium dalam mg
Rasio
Kuesioner
0. Ada
1. Tidak ada
(Handayani, 2003)
Ordinal
Kuesioner
0. Merokok, jika responden
masih aktif merokok
sampai
pengumpulan
data.
1. Tidak merokok, jika
responden tidak pernah
merokok atau sudah
berhenti merokok lebih
dari 1 tahun sebelum
pengumpulan
data
dilakukan.
(Qiao, 1999)
Ordinal
Wawancara
Wawancara
Hasil Ukur
-
29
No
8
9
Variabel
Definisi
Cara Ukur
Aktivitas
Fisik
Segala aktivitas fisik yang
dilakukan terus menerus
selama 10 menit atau lebih
dalam setiap kali kegiatan
dan dikumulasikan selama
seminggu.
Wawancara
Lingkar
pinggang
Ukuran keliling pinggang
lansia yang diukur melalui
pusar.
Pengukuran
lingkar
pinggang
Alat Ukur
Kuesioner
Pita meteran
Hasil Ukur
Skala Ukur
0. Kurang/rendah, jika:
Ordinal
a) Melakukan aktivitas fisik
berat < 20 menit/hari
selama 3 hari.
b) Melakukan aktivitas fisik
sedang < 5 hari atau
berjalan < 30 menit/hari.
1. Cukup/sedang, jika:
a) Melakukan aktivitas fisik
berat
minimal
20
menit/hari selama 3 hari
atau lebih, atau
b) Melakukan aktivitas fisik
sedang selama 5 hari atau
lebih atau berjalan paling
sedikit 30 menit/hari.
(Junita S, 2010)
0. Berisiko, jika ≥80 cm untuk
wanita dan ≥90 cm untuk lakilaki.Tidak berisiko, jika <80
Ordinal
cm untuk wanita dan <90 cm
untuk laki-laki.
(Cahyono, 2008)
30
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi analitik dengan desain
penelitian cross-sectional di mana pengambilan data variabel independen dan
variabel dependen dilakukan dalam waktu bersamaan. Penelitian ini bersifat analitik
karena akan melihat hubungan antara varibel independen dan varibel dependen.
Variabel independen yang diteliti adalah konsumsi serat, lemak, magnesium, beban
glikemik, aktivitas fisik, merokok, riwayat keluarga DM, dan lingkar pinggang.
Sedangkan variabel independennya adalah DM tipe 2.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cempaka Putih pada bulan September 2012 –
Mei 2013.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia yang terdaftar di Pos pembinaan
terpadu (Posbindu) Kelurahan Cempaka Putih.
4.3.2 Sampel Penelitian
a. Besar Sampel
30
31
Jumlah sampel pada penelitian ini diperoleh melalui rumus uji hipotesis beda
proporsi (Ariawan, 1998) yaitu:
⁄
√
√
Keterangan:
N
= jumlah sampel yang dibutuhkan
Z1-a/2
= derajat kemaknaan
Z1- 
= kekuatan uji
P
= proporsi gabungan, P = (P1 +P2)/2
Nilai P1 dan P2 diperoleh dari hasil penelitian Handayani (2003) sehingga jumlah
sampel berdasarkan perhitungan dengan rumus uji hipotesis beda proporsi adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.1
Hasil Perhitungan Besar Sampel Berdasarkan Hasil Penelitian Handayani (2003)
Diet
lemak
Variabel
kecukupan
P1
0, 431
P2
0, 569
α(%)
1
5
10
Riwayat keluarga
0,375
0,625
1
β (%)
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
n
306
389
465
626
205
274
339
478
162
223
282
410
92
117
140
142
32
Variabel
Riwayat keluarga
P1
0,375
P2
0,625
α(%)
5
10
Obesitas
0,653
0,347
1
5
10
Inaktivitas
0,944
0,056
1
5
10
β (%)
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
80
90
95
99
n
62
82
101
142
49
67
84
122
61
77
92
123
41
54
67
94
32
44
56
80
6
7
8
9
4
5
5
5
3
4
4
5
Dari hasil perhitungan sampel pada tabel 4.1 dipilih jumlah sampel sebanyak
32 orang dengan tingkat kemaknaan sebesar 10% dan kekuatan uji 80% sehingga
jumlah sampel minimal menjadi:
33
b. Kriteria Sampel
Kriteria inklusi adalah :
 Berusia ≥ 60 tahun
 Bersedia menjadi responden
 Bersedia diperiksa kadar glukosa darah
Kriteria eksklusi adalah:
 Tergantung insulin/ menjalani pengobatan injeksi insulin
c. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling
dengan menggunakan jumlah proporsional per posbindu. Pengambilan
sampel dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1) Menyusun kerangka sampel yang berisi daftar nama lansia yang terdaftar
di posbindu.
2) Melakukan pengambilan secara acak (pengundian) dari kerangka sampel
sampai terambil sebanyak 93 orang dari 136 lansia yang terdaftar.
4.4 Pengumpulan Data
4.4.1 Sumber Data
a. Data Primer
34
Data primer yang dikumpulkan meliputi:
1) Data variabel dependen (DM tipe 2)
2) Data variabel independen (konsumsi serat, konsumsi lemak, konsumsi
magnesium dan beban glikemik serta variabel merokok, aktivitas fisik,
riwayat keluarga DM dan lingkar pinggang).
b. Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian meliputi data penyakit yang
terdapat dalam LB1 Puskesmas Ciputat Timur bulan Januari – Juni tahun 2012,
data 10 penyakit terbesar pada lansia di Tangerang Selatan tahun 2011, dan
profil Kelurahan Cempaka Putih.
4.4.2 Cara Pengumpulan Data
a. Data DM diperoleh melalui beberapa tahapan berikut:
1) Menanyakan apakah responden menderita DM berdasarkan hasil
diagnosa dokter. Jika responden menjawab “ya” berarti responden
dikategorikan menderita DM.
2) Jika responden menjawab tidak, maka responden ditanyakan apakah
memiliki keluhan khas berupa berupa poliuria, polidipsi, polifagia,
dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
serta diperiksa gula darahnya. Jika ada keluhan khas dan
pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl berarti responden
dikategorikan menderita DM. Untuk kelompok tanpa keluhan khas
DM, hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja
35
abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM.
Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi
angka abnormal, baik kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, kadar
glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain (Soegondo,
2005).
Menanyakan apakah
responden menderita DM
berdasarkan hasil diagnosa
dokter
Responden menjawab
“Ya”
Responden menjawab
“Tidak” atau “Belum
pernah memeriksakan ke
Dokter”
Diabetes Melitus
Memeriksa kadar gula
darah dan Menanyakan
keluhan khas DM
Keluhan khas (-) dan
kadar gula darah ≥200
Keluhan khas (+) dan
glukosa darah ≥200
Pemastian diagnosa dgn
cara pemeriksaan kadar
gula darah lagi
Diabetes Melitus
Diperoleh kadar/angka
abnormal
Diabetes Melitus
Bagan 4.1
Tahapan Penentuan Status DM
36
Pengukuran glukosa darah dilakukan oleh peneliti yang merupakan
mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat melalui tahapan sebagai
berikut:
1) Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, yaitu glucosemeter dengan
merk Easy Touch GCU model ET – 301, alkohol, kasa/kapas, jarum
penusuk (lancet) dan alat penusuk (lancing device) dan test strip
2) Memasukkan jarum penusuk (lancet) ke dalam alatnya (lancing
device). Jarum yang dimasukkan harus masih baru dan steril dan
hanya digunakan untuk sekali pakai.
3) Membersihkan ujung jari yang akan ditusuk dengan kasa atau kapas
beralkohol untuk menghindari infeksi.
4) Menusukkan jarum ke ujung jari responden.
5) Memasukkan test strip ke alat pengukur (glucose meter) dan
memastikan bahwa test strip yang digunakan belum kadaluwarsa.
6) Menempelkan ujung test strip ke bulatan darah sampai terbasahi
merata bagian untuk sampelnya. Jangan meneteskan darah ke strip
dan jangan terlalu keras menempelkan test strip. Bila sampel
darah sudah memadai maka alat akan mulai mengukur (waktu
pengukuran terlihat di display dalam hitungan mundur).
7) Menempelkan kasa atau kapas beralkohol ke ujung jari yang
tertusuk untuk menghentikan perdarahan.
8) Melihat hasil pengukuran di glucose meter.
37
Pada penelitian ini, kadar glukosa responden diperoleh melalui glukosa
darah kapiler yang diukur dengan menggunakan alat glucosemeter.
Pemilihan metode pengukuran ini berdasarkan beberapa pertimbangan,
yaitu alatnya praktis, mudah dibawa kemana-mana, cepat memberikan
hasil, dan keterbatasan dana peneliti.
b. Data konsumsi zat gizi berupa serat, lemak, dan magnesium serta beban
glikemik diperoleh melalui wawancara tentang kebiasaan konsumsi jenis
makanan yang terdapat dalam FFQ semikuantitatif.
c. Data aktifitas fisik, riwayat keluarga, merokok diperoleh melalui
wawancara dengan kuesioner.
d. Data lingkar pinggang diperoleh melalui pengukuran lingkar pinggang
dengan pita meteran.
4.5 Pengolahan Data
Data-data yang telah terkumpul akan diolah melalui tahapan berikut:
1. Editing Data
Tahap ini merupakan tahap kegiatan pengecekan data yang telah diisi.
Kegiatan yang dilakukan dalam editing adalah pengecekan dari sisi
kelengkapan, relevansi dan konsistensi jawaban.
Kelengkapan data diperiksa dengan cara memastikan bahwa jumlah kuesioner
yang terkumpul sudah memenuhi jumlah sampel minimal yang ditentukan dan
memeriksa apakah setiap pertanyaan dalam kuesioner sudah terjawab dengan
lengkap dan jelas. Relevansi dan konsistensi jawaban diperiksa dengan cara
38
melihat apakah ada data yang bertentangan dengan data yang lain. Misal: pada
data usia responden tercantum 65 tahun dan tanggal lahir 14 September 1942.
Data tersebut sudah berarti tidak konsisten karena usia responden berdasarkan
tanggal kelahirannya adalah 70 tahun. Jika ada data yang tidak lengkap dan
tidak konsisten, maka responden akan dihubungi kembali melalui nomor
kontak yang sudah ditanyakan pada saat wawancara.
2. Coding Data
Setelah melakukan editing data, selanjutnya adalah melakukan kegiatan coding.
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data
berbentuk angka/bilangan. Misal: untuk jawaban “ya” diberi kode 1 dan untuk
jawaban “tidak” diberi kode 0. Berikut pengkodingan yang dilakukan pada tiap
variabel dalam penelitian ini:
a) DM tipe 2: 0 = DM, jika: Terdiagnosa oleh dokter atau; ada keluhan khas
dan hasil pengukuran kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dl atau; tidak ada
keluhan khas dan 2 kali hasil pengukuran kadar gula darah sewaktu ≥200
mg/dl yang diukur pada hari yang berbeda dan 1 = Non DM, jika tidak
sesuai dengan kriteria DM.
b) Merokok: 0 = Merokok, jika responden masih aktif merokok sampai
pengumpulan data dan 1 = Tidak merokok, jika responden tidak pernah
merokok atau sudah berhenti merokok lebih dari 1 tahun
sebelum
pengumpulan data dilakukan.
c) Aktivitas fisik: 0 = Kurang, jika melakukan aktivitas fisik berat < 20
menit/hari selama 3 hari atau; melakukan aktivitas fisik sedang < 5 hari
39
atau berjalan < 30 menit/hari dan 1 = Cukup/sedang, jika melakukan
aktivitas fisik berat minimal 20 menit/hari selama 3 hari atau lebih, atau
melakukan aktivitas fisik sedang selama 5 hari atau lebih atau berjalan
paling sedikit 30 menit/hari.
d) Riwayat keluarga: 0 = Ada, jika ada anggota keluarga sedarah (ayah, ibu,
saudara laki-laki atau perempuan sekandung) yang pernah mengidap DM
dan 1 = tidak, jika tidak ada anggota keluarga sedarah yang menderita DM.
e) Lingkar pinggang: 0 = Berisiko, jika ≥80 cm untuk wanita dan ≥90 cm
untuk laki-laki dan 1 = Tidak berisiko, jika <80 cm untuk wanita dan <90
cm untuk laki-laki.
3. Struktur Data
Sebelum memasukkan data ke dalam komputer terlebih dahulu dibuat struktur
data tiap variabel berupa nama, tipe data, lebar data dan desimalnya, serta
membuat values. Misalnya, struktur data untuk variabel aktivitas fisik terdiri
dari:
 Nama: aktivitas_fisik
 Tipe data : numerik
 Lebar data : 1 dan desimal : 0
 Values: 0 = kurang dan 1 = cukup.
4. Entry Data
Setelah dibuat struktur data maka langkah selanjutnya adalah memasukkan
data ke dalam software statistik.
5. Cleaning
40
Tahap ini merupakan tahapan memeriksa kembali data yang telah masuk dalam
komputer, apakah ada kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalamnya. Cleaning
data dapat dilakukan dengan mengamati distribusi frekuensi atau diagram tebar
tiap variabel dan memeriksa apakah ada nilai-nilai yang menyimpang. Misal:
pada variabel lingkar pinggang ada nilai 2, padahal kode untuk variabel lingkar
pinggang hanya 0 dan 1.
4.6 Analisis Data
Jenis analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah :
4.6.1 Analisis Univariat
Analisis univariat merupakan suatu analisis untuk mendeskripsikan masingmasing variabel yang diteliti. Analisi univariat bertujuan untuk mendapat
gambaran atau deskripsi dari variabel dependen dan independen pada penelitian ini,
yaitu variabel DM tipe 2, konsumsi serat, konsumsi lemak, konsumsi magnesium,
serta variabel merokok, aktivitas fisik, riwayat keluarga, dan obesitas.
4.6.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan suatu analisis untuk melihat hubungan antara
variabel dependen dan independen. Dalam penelitian ini, ada dua uji yang
digunakan yaitu uji chi square dan uji t independen. Uji chi square merupakan uji
yang dipakai untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel
dependen yang masing-masing memiliki data kategorik. Sedangkan uji t
independen dipakai untuk mengetahui hubungan antara variabel independen yang
memiliki jenis data numerik dan variabel dependen yang mempunyai jenis data
41
kategorik. Uji chi square digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel
aktivitas fisik, merokok, riwayat keluarga DM dan lingkar pinggang dengan
variabel DM tipe 2. Sementara uji t digunakan untuk mengetahui hubungan antara
variabel konsumsi serat, konsumsi lemak, konsumsi magnesium dan beban
glikemik dengan variabel DM tipe 2.
Dalam penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0.1 (10%) dengan
pertimbangan responden yang diteliti adalah lansia yang sudah mengalami
penurunan daya ingat, sementara data konsumsi makanan diperoleh dengan
mengandalkan ingatan dan alat yang digunakan adalah glucosemeter yang
menggunakan bahan darah kapiler di mana menurut Ningsih dkk (2008) jika
menggunakan sampel darah kapiler masih akan ditemukan peluang kesalahan
sebesar 10,1%. Dari uji statistik nantinya akan diperoleh nilai p. Hubungan antara
dua variabel dikatakan bermakna jika mempunyai nilai p ≤ 0.1 dan dikatakan tidak
bermakna jika mempunyai nilai p > 0.1.
4.6.3 Analisis Multivariat
Analisis multivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara satu variabel
dependen dengan seluruh variabel independen, sehingga dapat diketahui variabel
independen mana yang paling dominan berpengaruh terhadap pola penyakit pada
lansia dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Uji regresi logistik ganda
yang digunakan dalam penelitian ini adalah model prediksi dengan tujuan untuk
memperoleh model yang terdiri dari beberapa variabel independen yang dianggap
terbaik memprediksi kejadian variabel dependen. Tahapan dalam permodelan ini
adalah:
42
a) Memasukkan hasil uji bivariat yang mempunyai nilai Pvalue <0.25 ke dalam
kandidat model dan dilanjutkan ke analisis multivariat.
b) Memilih variabel yang masuk ke dalam model dengan mempertahankan
variabel yang hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan Pvalue ≤0.1.
Untuk variabel yang Pvalue >0.1 dikeluarkan satu persatu secara bertahap
dimulai dari variabel yang memiliki nilai Pvalue paling besar.
c) Melakukan uji interaksi sesama variabel independen, apabila secara substansi
diduga terjadi interaksi antara variabel independen. Penentuan variabel
interaksi sebaiknya melalui pertimbangan logika substantif. Pengujian interaksi
dilihat dari kemaknaan uji statistik (Pvalue ≤0.1). Bila variabel mempunyai
nilai bermakna, maka variabel interaksi penting dimasukkan dalam model.
d) Menginterpretasikan model terakhir.
43
BAB V
HASIL
5.1 Gambaran Umum Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih
5.1.1 Letak dan Jenis Kegiatan Posbindu
Posbindu adalah Posbindu yang ada di Kelurahan Cempaka Putih berjumlah 3
yaitu Posbindu Kenanga, Anggrek, dan Cempaka. Ketiga posbindu tersebut terletak
pada alamat berikut:
1. Posbindu Kenanga
: Jl. Mesjid Al-Husaini RT 02 RW 04
2. Posbindu Anggrek
: Jl. Jambu RT 04 RW 05
3. Posbindu Cempaka
: Jl. Sukun RT 03 RW 06
Kegiatan di posbindu terdiri dari:
a. Pemeriksaan tekanan darah
b. Pengukuran tinggi badan dan berat badan
c. Pemeriksaan gula darah
d. Konseling
5.1.2 Gambaran Populasi
Tabel 5.1
Jumlah Anggota Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Posbindu
Kenanga
Anggrek
Cempaka
Total
Jumlah Anggota Usia ≥60 Tahun
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
21
54
31
106
5
16
9
30
26
70
40
136
*Sumber: Data Posbindu di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
43
44
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa jumlah anggota posbindu yang paling banyak
ada di Posbindu Anggrek dan yang paling sedikit ada di Posbindu Kenanga.
5.1.3 Gambaran Karakteristik Responden
Tabel 5.2
Gambaran Karakteristik Responden di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Total
Lama Menderita DM Tipe 2
< 5 Tahun
≥ 5 Tahun
Total
Jumlah Batang Rokok yang Dihisap
< 20 Batang
≥ 20 Batang
Total
Jumlah (Orang)
20
73
93
9
11
20
11
3
14
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis
kelamin perempuan. Untuk responden yang menderita DM sebagian besar sudah
mengidap penyakit tersebut selama jangka waktu lebih dari 5 tahun. Dan untuk
responden yang merokok sebagian besar menghisap rokok lebih kecil dari 20 batang.
5.2 Analisis Univariat
5.2.1 Gambaran DM Tipe 2
45
DM tipe 2
21.5%
Bukan DM
78.5%
Grafik 5.1
Distribusi DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Grafik 5.1 menunjukkan bahwa lansia yang menderita DM tipe 2 lebih sedikit
dibandingkan dengan lansia yang tidak menderita DM tipe 2.
5.2.2 Gambaran Konsumsi Serat
Hasil penelitian seperti yang terlihat dalam tabel 5.3 menunjukkan bahwa ratarata konsumsi serat pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih berada pada
interval 14.5 –16.4 gram.
Tabel 5.3
Gambaran Konsumsi Serat Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
Konsumsi (gr)
Rata-rata pada CI 90%
Standar Deviasi
Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
14.5 – 16.4
5.5
6.8
30.3
Sedangkan distribusi konsumsi serat dapat dilihat pada grafik 5.2 berikut
46
Grafik 5.2
Dari grafik 5.2 dapat diketahui bahwa frekuensi konsumsi serat paling banyak
ada pada interval 13.3 – 15.0 gram.
5.2.3 Gambaran Konsumsi Lemak
Tabel 5.4
Gambaran Konsumsi Lemak Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
Konsumsi (gr)
Rata-rata pada CI 90%
Standar Deviasi
Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
63.1 – 67.5
12.8
41.1
95.6
47
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi lemak pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih berada pada interval 63.1 – 67.5 gram. Untuk
lebih jelasnya, sebaran data konsumsi lemak bisa dilihat pada grafik 5.3
Grafik 5.3
Distribusi Frekuensi Konsumsi Lemak Pada Lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Dari grafik 5.3 dapat diketahui bahwa frekuensi konsumsi lemak paling banyak
ada pada interval 56.7 – 60.0 gram.
5.2.4 Gambaran Konsumsi Magnesium
Tabel 5.5
Gambaran Konsumsi Magnesium Pada Lansia
di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
48
Konsumsi (mg)
Rata-rata pada CI 90%
Standar Deviasi
Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
399.3 – 443.2
127.5
193.3
694.3
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi magnesium pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih berada pada rentang 399.3 – 443.2 mg. Untuk
lebih jelasnya, distribusi konsumsi lemak bisa dilihat pada grafik 5.4
Grafik 5.4
Dari grafik 5.4 dapat diketahui bahwa frekuensi paling banyak ada pada
rentang 433.3 – 466.6 miligram.
49
5.2.5 Gambaran Beban Glikemik
Hasil penelitian seperti yang terdapat dalam tabel 5.6 menunjukkan bahwa
rata-rata beban glikemik pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih berada
pada rentang 92.2 – 102.8.
Tabel 5.6
Gambaran Beban Glikemik Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
Konsumsi
Rata-rata pada CI 90%
Standar Deviasi
Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
92.2 – 102.8
30.8
47.0
195.9
Sedangkan distribusi beban glikemik dapat dilihat pada grafik 5.5 berikut
Grafik 5.5
Grafik 5.5 dapat menunjukkan bahwa frekuensi paling banyak ada pada
rentang 80 – 90.
50
5.2.6 Gambaran Aktivitas Fisik
Distribusi aktivitas fisik pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih dapat dilihat pada grafik 5 di bawah ini.
Cukup
44.1%
Kurang
55.9%
Grafik 5.6
Distribusi Aktivitas Fisik Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
Dari grafik 5.6 dapat diketahui bahwa persentase lansia yang memiliki aktivitas fisik
kurang lebih besar daripada lansia yang memiliki aktivitas fisik cukup.
5.2.7 Gambaran Merokok
100
50
84.9
15.1
Persentase
0
Merokok
Tidak Merokok
Grafik 5.7
Distribusi Merokok Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
51
Dari grafik 5.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar lansia yang menjadi
responden termasuk kategori bukan perokok.
5.2.8 Gambaran Riwayat Keluarga DM
100
0
Persentase
Ada
Tidak Ada
Persentase
Ada
23.7
Tidak Ada
76.3
Grafik 5.8
Distribusi Riwayat Keluarga DM Pada Lansia Posbindu
di Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Grafik 5.8 menunjukkan bahwa prevalensi lansia yang memiliki riwayat keluarga
menderita DM lebih kecil daripada lansia yang tidak memiliki riwayat keluarga DM.
5.2.9 Gambaran Lingkar Pinggang
Tidak Berisiko
35.5%
Berisiko
64.5%
Grafik 5.9
Distribusi Lingkar Pinggang Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
52
Grafik 5.9 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia yang menjadi responden
memiliki ukuran lingkar pinggang yang berisiko.
5.3 Analisis Bivariat
5.3.1 Hubungan Konsumsi Serat Dengan DM Tipe 2
Dari hasil analisis didapatkan rata–rata konsumsi serat lansia lebih rendah pada
lansia menderita DM tipe 2 dibandingkan lansia yang bukan DM tipe 2. Berdasarkan
hasil uji statistik seperti tercantum dalam tabel 5.7 dapat diketahui bahwa ada
hubungan signifikan antara konsumsi serat dengan DM Tipe 2 pada lansia karena p
value < 0.1.
Tabel 5.7 Distribusi Rata-rata Konsumsi Serat Berdasarkan DM Tipe 2 Pada Lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
DM Tipe 2
Bukan DM
n (93)
20
73
Mean
13.64
15.98
SD
4.893
5.631
Pvalue
0.094
5.3.2 Hubungan Konsumsi Lemak Dengan DM Tipe 2
Salah satu syarat uji t adalah data berdistribusi normal. Data konsumsi lemak
tidak memenuhi syarat tersebut sehingga tidak bisa dilakukan uji t. Untuk
menganalisisnya digunakan uji Mann-whitney.
Tabel 5.8 Distribusi Rata-rata Konsumsi Lemak Berdasarkan DM Tipe 2 Pada
Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
DM Tipe 2
Bukan DM
n (93) Mean
20
63.62
73
65.81
SD
9.63
13.57
Pvalue
0.815
53
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa rata–rata konsumsi lemak lansia yang menderita
DM tipe 2 lebih kecil dibandingkan lansia yang bukan DM tipe 2. Hasil uji statistik
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara konsumsi lemak dengan
DM Tipe 2 pada lansia karena p = 0.815, yang berarti nilai p > 0.1.
5.3.3 Hubungan Antara Konsumsi Magnesium Dengan DM Tipe 2
Dari hasil analisis dalam tabel 5.9 dapat diketahui bahwa rata–rata konsumsi
magnesium lansia yang menderita DM tipe 2 lebih rendah daripada lansia yang
bukan DM tipe 2. Dari hasil uji statistik dapat diketahui bahwa pada alpha 10% ada
hubungan signifikan antara konsumsi magnesium dengan DM Tipe 2.
Tabel 5.9 Distribusi Rata-rata Konsumsi Magnesium Berdasarkan DM Tipe 2 Pada
Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
n (93)
Mean
SD
20
367.58
123.399
DM Tipe 2
73
435.97
125.428
Bukan DM
5.3.4 Hubungan Beban Glikemik Dengan DM Tipe 2
Pvalue
0.033
Uji yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel beban
glikemik dengan DM tipe 2 adalah uji Mann-whitney karena data beban glikemik
tidak memiliki distribusi data normal sehingga uji yang digunakan bukanlah uji t.
Tabel 5.10 Distribusi Rata-rata Beban Glikemik Berdasarkan DM Tipe 2 Pada
Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
DM Tipe 2
Bukan DM
n (93)
20
73
Mean
88.58
99.94
SD
29.13
30.99
Pvalue
0.048
Tabel 5.10 menunjukkan bahwa rata–rata beban glikemik lansia yang
menderita DM tipe 2 lebih rendah daripada rata-rata beban glikemik pada lansia
54
yang bukan DM tipe 2. Berdasarkan hasil uji statistik dalam tabel 5.10 dapat terlihat
bahwa pada alpha 10% terdapat hubungan signifikan antara beban glikemik dengan
DM Tipe 2 pada lansia.
5.3.5 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan DM Tipe 2
Tabel 5.11 Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dengan DM Tipe 2 Pada
Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
Aktivitas Fisik
DM Tipe 2
Bukan DM
Pvalue
n
%
n
%
15
75
37
50.7
Kurang
5
25
36
49.3
0.092
Cukup
20
100
73
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 5.11 dapat diketahui bahwa lansia yang menderita DM tipe 2
lebih banyak yang memiliki aktivitas fisik yang kurang. Berdasarkan hasil uji
statistik diperoleh nilai p value < 0.1 yang berarti ada hubungan signifikan antara
aktivitas fisik dengan DM Tipe 2.
5.3.6 Hubungan Merokok Dengan DM Tipe 2
Tabel 5.12 menunjukkan bahwa masing-masing pada penderita DM tipe 2 dan
bukan DM tipe 2 lebih banyak yang memiliki status tidak merokok. Hasil uji statistik
diperoleh nilai p = 1, berarti pada alpha 10% terlihat tidak ada hubungan signifikan
antara kebiasaan merokok dengan DM Tipe 2.
Tabel 5.12 Distribusi Responden Menurut Kebiasaan Merokok dengan DM Tipe 2
Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
55
Kebiasaan
Merokok
Merokok
Tidak Merokok
Jumlah
Status DM
DM Tipe 2
n
%
3
15
17
85
20
100
Bukan DM
n
%
11
15.1
62
84.9
73
100
Pvalue
1
5.3.7 Hubungan Riwayat Keluarga DM Dengan DM Tipe 2
Tabel 5.13 menunjukkan bahwa lansia yang tidak menderita DM tipe 2 lebih
banyak yang tidak memiliki riwayat keluarga DM. Pada penderita DM tipe 2 juga
ditemukan bahwa lebih banyak yang tidak memiliki riwayat keluarga DM. Namun,
jika dibandingkan antara penderita DM tipe 2 dengan yang bukan DM tipe 2 bisa
dilihat bahwa selisih perbedaan frekuensi dan persentase antara lansia yang memiliki
riwayat keluarga DM dan yang tidak memiliki riwayat keluarga DM lebih besar pada
lansia yang bukan DM tipe 2. Dari hasil uji statistik dapat diketahui bahwa ada
hubungan signifikan antara riwayat keluarga DM dengan DM Tipe 2 karena p value
< 0.1.
Tabel 5.13 Distribusi Responden Menurut Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2
Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
Status DM
Riwayat
Keluarga
DM Tipe 2
Bukan DM
Pvalue
DM
n
%
n
%
45
9
13
17.8
Ada
55
11
60
82.2
0.017
Tidak ada
100
20
73
100
Jumlah
5.3.8 Hubungan Lingkar Pinggang Dengan DM Tipe 2
Tabel 5.14 Distribusi Responden Menurut Lingkar Pinggang dengan DM Tipe 2
Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
56
Status DM
DM Tipe 2
Bukan DM
Pvalue
n
%
n
%
14
70.0
46
63.0
Berisiko
0.753
6
30.0
27
37.0
Tidak Berisiko
20
100
73
100
Jumlah
Berdasarkan tabel 5.14 dapat diketahui bahwa masing-masing pada penderita
Lingkar
Pinggang
DM tipe 2 dan bukan DM tipe 2 lebih banyak yang memiliki ukuran lingkar
pinggang yang berisiko. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0.753, berarti pada
alpha 10% terlihat tidak ada hubungan signifikan antara lingkar pinggang dengan
DM Tipe 2.
5.4 Analisis Multivariat
Untuk dapat mengetahui faktor risiko yang paling dominan terhadap DM tipe 2
Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih dilakukan analisis multivariat
dengan menggunakan uji regresi logistik ganda dengan model prediksi. Tahap yang
dilakukan dalam analisis multivariat dengan model prediksi adalah sebagai berikut:
1) Pemilihan variabel sebagai kandidat model
Dalam penelitian ini terdapat 8 variabel yang diduga menjadi faktor risiko
terhadap DM tipe 2 yaitu konsumsi serat, lemak, magnesium, beban glikemik,
aktivitas fisik, kebiasaan merokok, riwayat keluarga DM, dan lingkar pinggang.
Untuk pemilihan kandidat variabel yang akan dimasukkan dalam model prediksi
uji regresi logistik ganda, maka 8 variabel tersebut terlebih dahulu dilakukan
analisis bivariat dengan variabel dependen yaitu DM tipe 2. Setelah melalui
analisis bivariat, variabel dengan nilai Pvalue < 0.25 dijadikan variabel kandidat
57
yang akan dimasukkan ke dalam analisis multivariat. Hasil analisis bivariat
antara variabel independen dengan variabel dependen dapat dilihat pada tabel
5.15.
Tabel 5.15 Hasil Analisis Bivariat Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan DM Tipe 2
Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
No Variabel
Pvalue
1
Konsumsi Serat
0.094
2
Konsumsi Lemak
0.815
3
Konsumsi Magnesium
0.033
4
Beban Glikemik
0.048
5
Aktivitas Fisik
0.092
6
Kebiasaan Merokok
1.000
7
Riwayat Keluarga DM
0.017
8
Lingkar Pinggang
0.753
Dari tabel 5.15 dapat diketahui ada 5 variabel yang memiliki nilai P value <
0.25 yaitu konsumsi serat, konsumsi magnesium, beban glikemik, aktivitas fisik,
dan riwayat keluarga DM. Dengan demikian, variabel-variabel tersebut masuk ke
dalam model prediksi uji regresi logistik ganda.
2) Penentuan faktor paling dominan berhubungan dengan DM tipe 2
Dalam pemodelan ini semua variabel kandidat dianalisis secara bersamaan.
Variabel yang dimasukkan ke dalam model selanjutnya adalah variabel yang
memiliki Pvalue ≤ 0.1. Sedangkan variabel yang memiliki nilai Pvalue > 0.1
dikeluarkan dari model. Pengeluaran variabel dilakukan secara bertahap mulai
dari variabel yang memililki nilai Pvalue yang paling besar. Secara keseluruhan
hasil pembuatan model faktor penentu dapat dilihat pada tabel 5.16
Tabel 5.16 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Konsumsi Serat,
Konsumsi Magnesium, Beban Glikemik, Aktivitas Fisik, dan Riwayat Keluarga DM
dengan DM Tipe 2 Pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
Tahun 2012
58
No
1
2
3
4
5
Variabel
Model 1 Model 2 Model 3
Konsumsi Serat
0.511
0.162
0.081
Konsumsi Magnesium
0.818
Beban Glikemik
0.341
0.348
Aktivitas Fisik
0.049
0.035
0.034
Riwayat Keluarga DM
0.009
0.006
0.007
Tabel 5.16 menunjukkan bahwa dari 5 variabel yang dianalisis, hanya
terdapat 3 variabel yang tersisa yang memiliki Pvalue ≤ 0.1. Hal ini menunjukkan
bahwa ketiga variabel tersebut merupakan variabel yang berhubungan secara
signifikan dengan DM tipe 2 pada lansia. Hasil analisis multivariat variabel
tersebut dapat dilihat pada tabel 5.17.
Tabel 5.17 Hasil Analisis Multivariat antara Konsumsi Serat, Aktivitas Fisik, dan
Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2 pada Lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012
No
1
2
3
Variabel
Konsumsi Serat
Aktivitas Fisik
Riwayat Keluarga DM
Constant
-2 Log Likelihood = 82.400
Negelkelke R Square = 0.222
B
0.105
1.31
1.594
-1.823
P
0.007
0.034
0.081
OR
1.11
3.705
4.922
90% CI
1.006 - 1.225
1.338 - 10.264
1.851 - 13.088
Dari tabel 5.17 dapat diketahui bahwa variabel riwayat keluarga memiliki
nilai koefisien B dan nilai OR yang paling besar yang berarti di antara ketiga
variabel tersebut, variabel riwayat keluarga DM merupakan faktor paling
dominan berhubungan dengan DM Tipe 2. Berdasarkan hasil analisis model
diketahui nilai Negelkelke R Square sebesar 22.2% artinya variabel konsumsi
serat, aktivitas fisik, dan riwayat keluarga DM menjelaskan DM Tipe 2 sebesar
22.2% dan selebihnya dapat dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian ini.
59
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian
6.1.1 Metode Pengumpulan Data
a) Pada penelitian ini metode penentuan status DM pada responden yang belum
terdiagnosis DM oleh dokter adalah melalui pengukuran menggunakan alat
glucosemeter dengan bahan darah kapiler yang memiliki sensitivitas 70% dan
spesifisitas 90% yang berarti kemampuan alat untuk mendiagnosis secara benar
bahwa responden benar menderita penyakit sebesar 70% dan mendiagnosis
secara benar bahwa responden benar tidak menderita penyakit sebesar 90%.
Menurut Ningsih dkk (2008), hasil pengukuran dengan glucosemeter masih akan
ditemukan peluang kesalahan sebesar 10,1%. Itulah sebabnya, peneliti tidak
hanya mengandalkan hasil pengukuran glucosemeter saja, tapi juga menanyakan
keluhan yang dirasakan oleh responden untuk memperkuat hasil pengukuran
yang diperoleh.
Untuk diagnosis DM, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaaan
glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Dan untuk
memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya dilakukan di
laboratorium klinik yang terpercaya yang melakukan program pemantauan
kendali mutu secara teratur (Soegondo, 2005). Oleh karena itu, diharapkan untuk
peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode pemeriksaan glukosa dengan
59
60
cara enzimatik dan diperiksa di laboratorium yang terpercaya agar memperoleh
data yang lebih akurat.
b) Pengumpulan data konsumsi dengan instumen FFQ semikuantitatif memiliki
beberapa kekurangan yaitu dibutuhkan ingatan yang bagus tentang pola makan
sehari-hari dan kekeliruan dalam mengestimasi frekuensi dan porsi makanan
yang dikonsumsi. Untuk mengatasi kekeliruan dalam estimasi porsi makanan
digunakan food model pada saat pengumpulan data konsumsi makanan.
6.2 Gambaran DM Tipe 2 pada Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih Tahun
2012
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa prevalensi DM tipe 2 pada
Lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih sebesar 21.5%. Prevalensi ini sudah
melebihi prevalensi DM pada lansia secara nasional menurut data Riskesdas 2007,
yaitu sebesar 3,7% pada kelompok usia 55 – 64 tahun, 3,4% pada kelompok usia 65–
74 tahun, dan 3,2% pada kelompok usia 75 tahun ke atas. Prevalensi DM tipe 2 yang
cukup tinggi di kelurahan ini bisa disebabkan karena rata-rata konsumsi serat
lansianya yang masih kurang di bawah angka kebutuhan gizi yang dianjurkan dan
aktivitas fisik yang kurang di mana kedua hal tersebut merupakan faktor-faktor
risiko timbulnya DM tipe 2.
Dalam jangka panjang penyakit DM bisa menimbulkan komplikasi
mikrovaskular dan makrovaskular. Sirkulasi mikrovaskular yang buruk akan
menimbulkan gangguan pada ginjal, retina, dan sistem saraf perifer termasuk neuron
sensorik dan motorik somatik serta mengganggu reaksi imun dan inflamasi (Corwin,
61
2009). Sedangkan komplikasi makrovaskular mempengaruhi pembuluh darah besar
dan menimbulkan penyakit jantung iskemik dan cedera serebrovaskular (Brooker,
2008). Mengingat cukup tingginya prevalensi DM di Kelurahan Cempaka Putih dan
bahaya dari penyakit DM ini maka perlu segera diadakan upaya pencegahan dan
penanggulangan dalam mengatasi penyakit tersebut.
Upaya penanggulangan bisa dilakukan dengan cara mengajak masyarakat yang
sudah terkena DM untuk selalu kontrol gula darah (pemeriksaan teratur) ke Posbindu
di Kelurahan Cempaka Putih atau ke Puskesmas Kecamatan Ciputat Timur.
Penderita DM tipe 2 yang tidak memakai insulin perlu memeriksa darah agar
glukosa darah selalu terkontrol dengan baik. Ada yang memeriksanya setiap hari,
ada pula yang dua kali seminggu. Biasanya yang melakukan diet ketat dan
berolahraga secara teratur, serta minum obat rutin tidak perlu memeriksa glukosa
darah terlalu sering. Untuk pemastian kapan dan seberapa sering dilakukan
pemeriksaan glukosa darah harus dikonsultasikan dengan dokter karena jadwal
pemeriksaan gluksoa darah tergantung pada tipe diabetes dan rencana pengobatan
dari dokter. Dari pemeriksaan tersebut, lansia bisa mengetahui kadar glukosanya
sehingga lebih berhati-hati dalam menjaga pola makannya dan bisa memperoleh obat
antidiabetes yang dapat menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi sehingga dapat
meminimalisir resiko terkena komplikasi diabetes dengan penyakit lain.
Sedangkan upaya pencegahan bisa dilakukan dengan cara memberikan
penyuluhan atau penyebaran leaflet kepada masyarakat dari kalangan usia remaja,
dewasa, dan lansia untuk menerapkan pola hidup sehat. Penggunaan leaflet sebagai
media promosi kesehatan memiliki beberapa keunggulan, yaitu: pengguna dapat
62
melihat isinya pada saat santai, dapat belajar mandiri dan informasi yang ada bisa
dibagi dengan keluarga dan teman. Oleh karena itu, diharapkan kepada Dinkes
Tangerang Selatan dan Puskesmas Ciputat Timur untuk memberikan penyuluhan ke
sekolah – sekolah karena pencegahan dari usia remaja tentu akan lebih baik hasilnya.
Materi penyuluhan sebaiknya spesifik untuk penyakit DM sehingga remaja bisa
mengetahui informasi tentang DM dengan baik, misalnya informasi tentang resiko
lebih besar terkena DM pada remaja yang memiliki riwayat keluarga DM sehingga
remaja tersebut semakin termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat. Selain itu,
Kelurahan Cempaka Putih bekerja sama dengan Puskesmas Ciputat Timur
diharapkan untuk membentuk posbindu yang lebih banyak karena posbindu yang ada
hanya terdapat di 3 RW, sementara RW di kelurahan tersebut berjumlah 11 sehingga
pelayanan belum bisa menjangkau semua lansia yang ada dalam kelurahan.
6.3 Hubungan Konsumsi Serat dengan DM Tipe 2
Serat adalah komponen dinding sel pada tumbuhan yang tidak dapat dicerna
atau diserap oleh tubuh. Serat banyak terdapat dalam sayuran, kacang-kacangan,
buah-buahan, biji-bijian, dan produk gandum (Lau, 2009). Dari hasil penelitian
diperoleh bahwa rata-rata konsumsi serat lansia di Kelurahan Cempaka Putih berada
pada interval 14.5 –16.4 gram. Nilai ini masih kurang dari angka kebutuhan yang
dianjurkan yaitu 25 gram. Rendahnya konsumsi serat ini disebabkan karena sebagian
besar lansianya jarang mengkonsumsi sayur dan buah yang merupakan sumber serat
yang utama. Padahal menurut Pedoman Gizi Seimbang (PGS) konsumsi sayur yang
dianjurkan adalah sebanyak 3 – 5 porsi dan buah sebanyak 2 – 3 porsi per hari.
63
Selain frekuensi yang jarang, porsi sayuran yang sering dikonsumsi oleh lansia
jumlahnya sedikit. Kebanyakan lansia mengkonsumsi jenis sayur seperti sayur asem
dan sop dimana jumlah sayur dalam makanan memang bervariasi tapi jumlahnya
sedikit sehingga menyebabkan serat yang dikonsumsi juga sedikit. Oleh karena itu,
perlu adanya upaya meningkatkan konsumsi serat pada masyarakat terutama lansia
yang memiliki risiko lebih untuk terkena DM tipe 2. Upaya tersebut dapat dilakukan
melalui penyebaran leaflet atau penyuluhan mengenai sumber serat yang baik dan
manfaatnya terhadap kesehatan tubuh.
Berdasarkan hasil uji statistik dapat diketahui bahwa ada hubungan signifikan
antara konsumsi serat dengan DM Tipe 2 pada lansia di mana rata–rata konsumsi
serat lansia yang menderita DM tipe 2 lebih rendah dibandingkan rata–rata konsumsi
serat lansia yang tidak menderita DM tipe 2. Hal ini selaras dengan hasil studi
Hopping dkk (2010) yang menemukan bahwa asupan serat total berhubungan
dengan penurunan risiko diabetes baik pada pria dan wanita. Penelitian Meyer dkk
(2000) juga menemukan hasil yang sama bahwa terdapat hubungan berbanding
terbalik antara konsumsi serat dengan perkembangan diabetes pada wanita yang
lebih tua.
Dalam kaitannya dengan DM tipe 2, serat dapat memperbaiki respon glukosa
darah dan indeks insulin sehingga menurunkan risiko terkena penyakit tersebut.
Serat makanan dapat mempercepat rasa kenyang. Hal ini disebabkan karena orang
akan mengunyah lebih lama bila dalam makanan yang mengandung kadar serat yang
tinggi, ketika proses makan melambat, hal ini akan memberikan perasaan kenyang,
dan pada gilirannya membantu mencegah makan secara berlebihan dan berat badan
64
berlebih. Oleh sebab itu, kecenderungan menjadi gemuk yang merupakan salah satu
faktor risiko penyakit DM tipe 2 pada orang yang mengkonsumsi serat dalam jumlah
cukup akan lebih rendah daripada orang-orang yang makanannya mengandung kadar
serat yang rendah. Di dalam usus halus, serat dapat memperlambat penyerapan
glukosa dan meningkatkan kekentalan isi usus yang secara tidak langsung dapat
menurunkan kecepatan difusi permukosa usus halus. Akibat kondisi tersebut, kadar
glukosa dalam darah mengalami penurunan secara perlahan, sehingga kebutuhan
insulin juga berkurang (Nadimin, 2009).
6.4 Hubungan Konsumsi Lemak dengan DM Tipe 2
Salah satu komponen lemak adalah asam lemak yang terdiri dari asam lemak
jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan rangkap
(ganda) atom karbon. Asam lemak tidak jenuh terdiri dari asam lemak dengan ikatan
tidak jenuh tunggal (MUFA = monounsaturated fatty acid) dan mempunyai ikatan
rangkap banyak (PUFA = polyunsaturated fatty acid). Asam lemak PUFA dikenal
dengan asam lemak esensial, yaitu asam lemak yang dibutuhkan oleh tubuh namun
tubuh tidak dapat mensintesisnya. Oleh sebab itu, PUFA harus didatangkan dari luar,
yaitu dari makanan (Khomsan, 2008).
Lemak merupakan salah satu unsur penting yang terdapat di dalam makanan.
Tanpa lemak tubuh kita tidak dapat berfungsi dengan normal, namun lemak yang
berlebih juga dapat menimbulkan penyakit, termasuk DM tipe 2. Menurut Ginsberg
dkk (1981), kualitas lemak dari makanan terutama mempengaruhi komposisi asam
lemak membran sel yang diperkirakan dapat mengubah fungsi seluler, termasuk
65
fluiditas membran, permeabilitas ion, dan afinitas reseptor insulin. Perubahan
tersebut, pada gilirannya, dapat mempengaruhi jaringan dan sensitivitas insulin
tubuh secara keseluruhan. Temuan tersebut diperkuat dengan hasil studi Riserus dkk
(2009) yang juga mengemukakan bahwa konsumsi lemak berperan dalam DM tipe 2
dikarenakan asam lemak mempengaruhi metabolisme glukosa dengan mengubah
fungsi membran sel, aktivitas enzim, sinyal insulin, dan ekspresi gen. Penggantian
lemak jenuh dan asam lemak trans dengan lemak tak jenuh (polyunsaturated
dan/atau monounsaturated) memiliki efek menguntungkan pada sensitivitas insulin
dan kemungkinan akan mengurangi risiko diabetes tipe 2. Di antara lemak tak jenuh
ganda, asam linoleat dari seri n-6 dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Di sisi lain,
asam lemak rantai panjang n-3 tidak terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin
atau metabolisme glukosa. Oleh karena itu, dalam praktek diet agar dapat mencegah
DM tipe 2, makanan yang kaya lemak jenuh dari daging dan produk susu yang kaya
lemak harus diganti dengan makanan kaya minyak nabati, termasuk margarin nonterhidrogenasi, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Konsumsi lemak terhidrogenasi
parsial/lemak trans juga harus diminimalkan. Lemak trans ini biasanya terdapat
dalam margarin, kentang goreng, donat, dan makanan yang dipanggang seperti
crackers dan kue kering atau makanan siap saji lainnya.
Dari hasil studi diperoleh nilai p = 0.815, yang berarti tidak ada hubungan
signifikan antara konsumsi lemak dengan DM Tipe 2 pada lansia. Hasil penelitian ini
tidak selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Thanopoulou dkk (2003)
yang memperoleh temuan bahwa asupan lemak sangat terkait dengan DM tipe 2 baik
diabetes tipe 2 yang sudah terdiagnosis atau diabetes tipe 2 tidak terdiagnosis.
66
Adanya diabetes tipe 2 ini terutama dikaitkan dengan asupan lemak hewani. Selain
itu, Meyer dkk (2001) juga menemukan bahwa lemak nabati memiliki hubungan
berbanding terbalik dengan insidens diabetes pada populasi lansia perempuan Iowa.
Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa mengganti asam lemak jenuh dengan
asam lemak tak jenuh ganda dapat mengurangi laju/perkembangan diabetes.
Ketidaksesuaian hasil penelitian ini dengan studi yang dilakukan oleh Meyer dkk
(2001) bisa disebabkan karena dalam penelitiannya, Meyer dkk (2001)
memperhatikan jenis lemak yang dikonsumsi oleh responden. Sedangkan dalam
penelitian ini, peneliti tidak memperhatikan jenis lemak yang dikonsumsi oleh
responden, hanya mempertimbangkan asupan lemak total responden. Dengan tidak
memperhatikan jenis lemak yang dikonsumsi, bisa mempengaruhi hasil penelitian ini
karena bisa saja responden dalam dietnya sehari-hari lebih banyak mengkonsumsi
lemak tidak jenuh dan sedikit mengkonsumsi lemak jenuh dimana hal tersebut bisa
menurunkan risiko terkena DM tipe 2.
Selain itu, tidak adanya hubungan antara konsumsi lemak dengan DM tipe 2
bisa disebabkan karena sampel minimal variabel ini dari perhitungan besar sampel
penelitian Handayani (2003) sebesar 162 orang dan setelah dimasukkan ke dalam
rumus n = P2 x n’ adalah sebanyak 285 orang. Dalam penelitian ini jumlah sampel
yang diambil adalah 93 orang, jumlah tersebut lebih kecil daripada jumlah sampel
minimal konsumsi lemak sebanyak 285 orang. Hal ini tentunya bisa mempengaruhi
hasil analisis data karena jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini mungkin
belum representatif untuk bisa menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi
67
lemak dengan DM tipe 2 karena untuk variabel ini dibutuhkan sampel minimal
sebanyak 285 orang.
6.5 Hubungan Konsumsi Magnesium dengan DM Tipe 2
Mekanisme seluler atau molekuler yang mendasari dimana asupan magnesium
mempengaruhi resistensi insulin masih belum dipahami dengan baik. Kelainan pada
homeostasis magnesium intraseluler telah dihipotesiskan yang menjadi penghubung
antara resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Mekanisme
pertama, magnesium berfungsi sebagai kofaktor untuk enzim dalam metabolisme
glukosa memanfaatkan ikatan fosfat berenergi tinggi. Kedua, kadar magnesium
intraseluler mungkin penting untuk menjaga sensitivitas insulin pada otot rangka
atau jaringan adiposa. Menurunnya kadar magnesium dapat menurunkan aktivitas
tirosin kinase pada reseptor insulin dan meningkatkan kadar kalsium intraseluler,
yang menyebabkan penurunan sinyal insulin. Ketiga, kadar magnesium intraseluler
dapat mempengaruhi sekresi insulin yang dirangsang glukosa dalam sel β pankreas
melalui pengubahan metabolisme ion seluler atau jalur lain yang terkait dengan stres
oksidatif dan pembentukan radikal bebas (Song, 2004).
Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pada alpha 10% ada hubungan
signifikan antara konsumsi magnesium dengan DM Tipe 2. Hasil studi ini sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lopez–Ridaura dkk (2004) dan Larsson
(2007) yang mengungkapkan bahwa asupan magnesium memiliki hubungan
berbanding terbalik dengan DM Tipe 2. Magnesium memberikan peran proteksi
terhadap DM tipe 2 dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin (Larsson, 2007).
68
Oleh karena itu, perlu adanya upaya promotif dan preventif dengan cara memberikan
informasi tentang makanan yang kaya magnesium seperti: biji - bijian, kacang –
kacangan, dan sayuran hijau. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penyuluhan,
penyebaran leaflet atau media lainnya.
6.6 Hubungan Beban Glikemik dengan DM Tipe 2
Rata-rata beban glikemik lansia di Kelurahan Cempaka Putih berada pada
rentang 92.2 – 102.8. Rata-rata ini termasuk dalam kategori sedang karena masih
berada dalam rentang 80 – 120. Nilai beban glikemik dikategorikan rendah jika
berada dalam rentang 0 – 80 dan dikelompokkan tinggi jika berada di atas 120 (Bean,
2007). Nilai beban glikemik (GL) lansia di kelurahan ini sebagian besar berada
dalam kelompok sedang dan rendah. Hal ini disebabkan porsi makan pada lansia
sudah berkurang atau lebih sedikit dibandingkan kelompok usia lainnya termasuk
jenis makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, roti, ubi, singkong dan
makanan pokok lainnya.
Berdasarkan hasil uji statistik dapat diketahui bahwa pada alpha 10% terdapat
hubungan signifikan antara GL dengan DM Tipe 2 pada lansia. Hasil studi ini selaras
dengan hasil temuan Willet dkk (2002), yaitu beban glikemik dari keseluruhan
konsumsi makanan memiliki hubungan dengan besarnya risiko DM tipe 2 baik pada
laki-laki dan perempuan.
Pereira dan rekannya (2004) mengungkapkan bahwa, dibandingkan dengan
metode konvensional diet pembatasan energi dan rendah lemak, diet rendah GL
menyebabkan pengurangan kecil pada RMR (resting metabolic rate) dan rasa lapar,
69
pengurangan lebih besar dalam resistensi insulin, TG, C-reactive protein (CRP), dan
rata-rata tekanan arteri, dan perubahan komposisi tubuh. Selain itu, Liu dkk (2002)
menunjukkan bahwa GL makanan secara langsung berhubungan dengan kadar
plasma CRP, setelah dilakukan adjustment pada BMI, asupan energi total, dan faktor
risiko koroner lainnya yang diketahui, dan asosiasi itu lebih kuat pada wanita dengan
BMI > 25 kg/m2. Dalam Women’s Health Initiative, diet rendah GL juga dikaitkan
dengan kadar plasma interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha reseptor-2
yang lebih rendah yang dapat menurunkan risiko DM.
Pradhan dan rekan (2001) menemukan hasil studi berupa 2 tanda peradangan
sistemik, CRP dan IL-6, menjadi penentu risiko DM tipe 2 terutama CRP merupakan
prediktor independen yang kuat setelah penyesuaian untuk obesitas, faktor risiko
klinis, dan kadar insulin puasa. Asosiasi paralel juga ditemukan untuk IL-6,
meskipun lebih rendah dalam besarnya dan dari batas signifikansi statistik setelah
penyesuaian multivariat. Menurut Pradhan dkk (2001) data prospektif tersebut
mendukung peran inflamasi dalam diabetogenesis dan sesuai dengan hipotesis
sebelumnya yang dikemukakan oleh Pickup dan Crook bahwa DM tipe 2 dapat
merupakan manifestasi dari respon fase akut dimediasi sitokin yang diprakarsai oleh
sistem kekebalan tubuh bawaan.
Produksi sitokin yang dimediasi obesitas merupakan mekanisme penting untuk
peningkatan sistemik dari kedua biomarker tersebut. Sitokin utama yang terlibat
dalam sintesis hati CRP adalah IL-6, yang juga merupakan molekul penting sinyal
adiposit yang dikeluarkan dari simpanan lemak visceral dan subkutan. Sekitar 25%
IL-6 sistemik in vivo berasal dari jaringan adiposa subkutan dan diperkirakan dapat
70
memodifikasi glukosa adiposit, metabolisme lipid dan berat tubuh. Selanjutnya,
Pradhan dkk (2001) juga mengemukakan bahwa mekanisme lain yang dapat
menjelaskan hasil temuan mereka adalah hubungan antara inflamasi dan disfungsi
endotel. Perubahan permeabilitas endotel dan berkurangnya aliran darah perifer
dapat membatasi pengiriman insulin dan meningkatkan resistensi insulin pada
jaringan aktif secara metabolik. Peningkatan kadar CRP dikaitkan dengan
menurunnya vasoreactivity endotel dan melalui normalisasi CRP dikaitkan dapat
meningkatkan aliran darah.
Mekanisme lainnya adalah peningkatan IL-6 dan CRP sebagian besar mungkin
mencerminkan aktivasi adiposit. Misalnya, IL-6 dan produksi hilir CRP mungkin
terkait dengan pelepasan zat patogen lain yang timbul dari adiposit yang
dirangsang/diaktivasi. Mediator potensial lainnya dari resistensi insulin yang berasal
dari simpanan adiposa adalah tumor necrosis factor α, leptin, asam lemak bebas, dan
resisten (Pradhan, 2001). Dengan demikian, diet rendah GL dapat menurunkan kadar
CRP dan IL-6 di mana dengan rendahnya kedua biomarker tersebut dapat
menurunkan risiko DM tipe 2.
Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya promotif dan preventif melalui
penyuluhan atau penyebaran leaflet yang memberikan informasi tentang makanan
yang mengandung rendah GL seperti sayur – sayuran (brokoli, kangkung, buncis,
tomat, wortel, labu), buah – buahan (buah beri, pir, melon, semangka, buah ceri),
kacang – kacangan (kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, kacang polong), dan
gandum.
71
6.7 Hubungan Aktivitas Fisik dengan DM Tipe 2
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar lansia memiliki
aktivitas fisik yang kurang, yaitu sebanyak 52 orang (55.9%). Penurunan aktivitas
fisik ini bisa disebabkan karena lansia sudah tidak bekerja lagi dan terjadinya
penurunan kondisi fisik tubuh akibat adanya proses menua seperti penurunan fungsi
musculoskeletal yang dapat mengakibatkan imobilitas pada lansia. Menurut Kozier
dkk (2009) penurunan fungsi musculoskeletal pada lansia berupa menurunnya massa
otot secara progresif, penurunan kecepatan, kekuatan, ketahanan terhadap keletihan,
waktu reaksi, dan koordinasi pada lansia yang disebabkan oleh penurunan konduksi
saraf dan tonus otot.
Untuk lansia perempuan, sebagian besar masih melaksanakan pekerjaan rumah
tangga seperti mencuci dan menyapu halaman serta jalan kaki ke tempat pengajian
sehingga persentase antara lansia perempuan yang melaksanakan aktivitas fisik yang
cukup dan kurang tidak jauh berbeda. Namun, untuk lansia laki-laki sebagian besar
sudah tidak melakukan kegiatan fisik apapun, bahkan jalan kaki yang merupakan
jenis aktivitas fisik ringan jarang yang menerapkannya. Oleh karena itu, perlu upaya
promotif dan preventif untuk meningkatkan motivasi dan kesadaran masyarakat
terutama lansia agar melaksanakan aktivitas fisik secara teratur minimal total 30
menit per hari selama 5 hari dalam seminggu harus digalakkan. Aktivitas fisik yang
dilakukan dapat berupa pekerjaan rumah tangga, bercocok tanam, atau berjalan kaki
yang harus dilakukan minimal 10 menit dalam satu kali pelaksanaan kegiatan dan
total waktu pelaksanaan satu jenis kegiatan per harinya minimal 30 menit. Upaya
tersebut dapat dilakukan dengan cara penyebaran pamflet atau poster, penyuluhan,
72
atau pengadaan kegiatan jalan kaki sore atau senam lansia yang dipandu salah satu
lansia.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara
aktivitas fisik dengan DM Tipe 2 pada lansia, di mana lansia yang menderita DM
tipe 2 lebih banyak yang memiliki aktivitas fisik yang kurang. Hasil penelitian ini
selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Helmrich dkk (1991) yang
menemukan bahwa pria yang berolahraga secara teratur, dengan intensitas sedang
atau berat, memiliki risiko 35% lebih rendah menderita DM tipe 2 daripada pria
kurang gerak. Wiardani (2009) juga menemukan hasil yang sama bahwa aktivitas
fisik rendah memiliki risiko DM tipe 2 tiga kali lebih besar dibandingkan dengan
aktivitas fisik tinggi. Temuan tersebut diperkuat juga dengan hasil penelitian
Esteghamati dkk (2009) yang mengungkapkan adanya hubungan berbanding terbalik
antara antara aktivitas fisik dengan resistensi insulin di mana hubungan tersebut
dimanifestasikan sesuai dengan intensitas, tingkat aktivitas fisik, dan pengeluaran
energi selama aktivitas fisik.
Rizzo dkk (2008) mengungkapkan ada beberapa kemungkinan mekanisme
bagaimana aktivitas fisik dapat mempengaruhi resistensi insulin. Aktivitas fisik rutin
dapat mempengaruhi aksi insulin dalam metabolisme glukosa dan lemak pada otot
rangka. Aktivitas fisik yang giat menghasilkan adaptasi fisiologis sel otot rangka
pada orang dewasa. Beberapa adaptasi fisiologis meliputi peningkatan pasokan
kapiler ke otot skeletal, peningkatan aktivitas enzim dari rantai transpor elektron
mitokondria, dan peningkatan secara bersamaan pada volume dan kepadatan
mitokondria. Secara tidak langsung, aktivitas fisik yang teratur dapat berperan dalam
73
mencegah risiko DM dengan meningkatkan massa tubuh tanpa lemak dan secara
bersamaan mengurangi lemak tubuh.
Sedangkan menurut Wiardani (2009)
peningkatan risiko DM pada aktivitas fisik rendah terjadi karena penurunan
kontraksi otot yang menyebabkan berkurangnya permeabilitas membran sel terhadap
glukosa. Akibatnya terjadi gangguan transfer glukosa ke dalam sel dan berkurangnya
respon terhadap insulin yang mengarah pada keadaan resisten.
6.8 Hubungan Merokok dengan DM Tipe 2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia (84.9%) tidak
merokok dan 15.1% adalah perokok. Prevalensi yang tidak merokok lebih besar
daripada prevalensi yang merokok bisa disebabkan karena kebanyakan responden
berjenis kelamin perempuan. Bagi masyarakat Indonesia yang masih menganut adat
ketimuran, merokok bagi wanita merupakan hal yang tabu karena hal ini pastinya
akan melontarkan penilaian-penilaian miring tentang dirinya (Sihite dalam Syamsiah,
2013). Dan hal itu memang terbukti dari persentase yang merokok hampir semuanya
adalah lansia laki-laki dan hanya 1 orang yang berjenis kelamin perempuan.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pada alpha 10% terlihat tidak ada
hubungan antara merokok dengan DM Tipe 2 pada lansia. Hasil penelitian ini selaras
dengan pernyataan Qiao dkk (1999) yang mengungkapkan bahwa merokok memang
meningkatkan risiko diabetes dan TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada lakilaki di mana mereka menjadi rentan untuk mengalami kematian dini, tetapi merokok
dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes pada pria yang bisa bertahan hidup
sampai usia yang jauh lebih tua. Hal ini disebabkan karena orang-orang merokok
74
yang telah selamat sampai usia tua pasti memiliki kemampuan khusus untuk
berjuang melawan efek berbahaya dari merokok terhadap kesehatan.
Selain itu, Qiao dkk (1999) juga menambahkan bahwa sebagian besar bukti
yang menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko diabetes berasal dari studi
pada populasi setengah baya atau bahkan dari kelompok usia yang lebih muda.
Walaupun pada tahun 2004, Sairenchi dkk (2004) mempublikasikan bahwa studi
yang mereka lakukan merupakan studi prospektif pertama yang menunjukkan
hubungan yang signifikan antara merokok dan risiko diabetes di kalangan usia lanjut
pria dan wanita. Namun, penelitian Sairenchi dkk (2004) memiliki keterbatasan yaitu
mereka tidak meneliti faktor aktivitas fisik dan diet di mana kedua faktor tersebut
bisa menjadi faktor confounding dalam hubungan antara merokok dan diabetes. Oleh
karena itu, diperlukan studi lebih lanjut pada populasi lansia untuk memperjelas
hubungan merokok dengan risiko diabetes pada lansia.
Selain itu, tidak ditemukannya hubungan antara merokok dan DM tipe 2 bisa
disebabkan karena data variabel merokok yang relatif homogen. Seperti yang terlihat
pada tabel 5.12 menunjukkan bahwa prevalensi yang tidak merokok sebesar 85%
baik pada kelompok penderita DM tipe 2 dan bukan DM tipe 2. Data yang homogen
tersebut dapat mempengaruhi hasil uji secara statistik.
6.9 Hubungan Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2
Dalam penelitian ini, yang dianggap keluarga hanyalah kerabat dekat seperti
ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung. Jika riwayat DM
pada salah satu anggota keluarga tersebut, maka seseorang memiliki risiko kategori
75
sedang untuk terkena DM tipe 2 dan jika banyak anggota keluarga tersebut yang
memiliki riwayat DM, maka seseorang memiliki risiko yang paling besar untuk
terkena DM tipe 2. Dari hasil uji statistik dapat diketahui bahwa ada hubungan
signifikan antara riwayat keluarga DM dengan DM Tipe 2. Hasil ini sesuai dengan
hasil penelitian Handayani (2003), yaitu riwayat keluarga memiliki pengaruh
bermakna dengan DM Tipe 2 di mana risiko untuk terjadi DM tipe 2 pada subyek
yang memiliki riwayat keluarga DM tipe 2 sebesar 5,9 kali dibandingkan dengan
mereka yang tidak tahu keluarganya menderita DM tipe 2. Hasil ini selaras juga
dengan hasil penelitian Fajarwati dan Kiki Korneliani (2010) yang menemukan
adanya hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga DM dengan DM Tipe 2
pada wanita.
Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang
penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM di
mana dalam kasus DM tipe 2 persentase yang memiliki riwayat keluarga menderita
DM sebesar 30% (Soegondo, 2005). Bukti adanya komponen genetik pada DM tipe
2 berasal dari koefisien keselarasan (corcodance) DM yang meningkat kepada
kembar monozigot, prevalensi DM yang tinggi pada anak-anak dari orang tua yang
menderita diabetes, dan prevalensi DM yang tinggi pada kelompok etnis tertentu.
Keterkaitan DM dengan banyak gen kandidat telah teridentifikasi pada berbagai
populasi, tetapi tidak ada gen yang terlihat sebagai gen utama di dalam proses
terjadinya kelainan tersebut. DM tipe 2 merupakan kelainan poligenik dan tidak
memiliki hubungan yang jelas dengan gen human leucocytes antigen (HLA).
(Gibney, 2008)
76
Dari hasil analisis multivariat dapat diketahui bahwa faktor risiko yang paling
dominan terhadap DM tipe 2 adalah riwayat keluarga. Berdasarkan hal tersebut
diharapkan agar pihak Puskesmas Kecamatan Ciputat Timur bekerjasama dengan
posbindu di Kelurahan Cempaka Putih untuk mengadakan upaya promotif dan
preventif dengan cara memberikan informasi atau penyuluhan tentang gaya hidup
sehat kepada para lansia terutama lansia yang sudah memiliki riwayat keluarga DM
mengingat mereka merupakan kelompok yang memiliki risiko yang lebih besar
untuk terkena DM dibandingkan dengan lansia lainnya yang tidak memiliki riwayat
DM.
6.10 Hubungan Lingkar Pinggang dengan DM Tipe 2
Sebagian besar lansia di Kelurahan Cempaka Putih memiliki ukuran lingkar
pinggang yang berisiko yaitu sebesar 64.5% (60 orang). Hal ini selaras dengan
banyaknya lansia di kelurahan ini yang memiliki aktivitas fisik yang kurang.
Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan penumpukan lemak pada tubuh
termasuk akumulasi lemak pada sekitar daerah abdominal yang ditandai dengan
besarnya ukuran lingkar pinggang. Oleh karena itu, perlu adanya upaya promotif dan
preventif untuk menggalakkan pelaksanaan kegiatan/aktivitas fisik secara rutin
melalui penyebaran leaflet atau penyuluhan tentang manfaat dan jenis aktivitas fisik
yang dapat dilakukan oleh lansia di setiap kegiatan posbindu atau majelis taklim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lingkar
pinggang dengan DM Tipe 2. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Soetiarto dkk (2010) yang menemukan bahwa
77
obesitas sentral berdasarkan lingkar pinggang berperan sebagai faktor risiko
terjadinya DM 2.26 kali dari yang tidak obes sentral.
Seperti diketahui, salah satu gejala DM adalah terjadinya penurunan berat
badan yang drastis. Pankreas berfungsi memproduksi insulin untuk memproses
asupan glukosa sebagai sumber energi. Pada orang DM, tubuhnya gagal mengelola
glukosa menjadi energi akibat terjadinya resistensi insulin. Karena tubuh
membutuhkan energi, maka tubuh akan mencari sumber energi lain yaitu dengan
cara memecah simpanan lemak menjadi energi. Lemak pada organ perut lebih
mudah diolah untuk memperoleh energi (Ramaiah, 2008). Dan jika simpanan lemak
ternyata tidak mencukupi kebutuhan energi tubuh, maka protein atau otot yang
dipecah sehingga lama-lama berat badan akan menurun dan ukuran lingkar pinggang
juga akan menyusut. Hal ini selaras dengan hasil wawancara terhadap para
responden yang sudah menderita DM sebelum penelitian ini dilakukan bahwa
mereka memang mengalami penurunan berat badan yang drastis serta gejala DM
yang lain sehingga mereka berinisiatif untuk memeriksakan diri ke dokter.
Dari tabel 5.14 dapat diketahui bahwa sebagian besar penderita DM tipe 2
memiliki ukuran lingkar pinggang berisiko. Tapi hasil uji statistik menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antara lingkar pinggang dengan DM tipe 2. Hal ini bisa
terjadi karena saat pengumpulan data dilakukan 90% dari 20 responden yang
dikategorikan sebagai penderita DM tipe 2 sudah mengetahui sejak lama bahwa
mereka menderita DM. Tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia
penderita DM tipe 2 sudah menderita DM dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun.
Tentunya dalam jangka waktu tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa berat
78
badan dan ukuran lingkar responden yang menyusut bisa meningkat kembali karena
dalam masa tersebut mereka bisa mengubah gaya hidup dan pola makan mereka
berdasarkan saran dari dokter.
79
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
a) Gambaran DM tipe 2 pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun
2012, yaitu 21.5%.
b) Rata-rata konsumsi serat pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
tahun 2012 pada CI 90% sebesar 14.5 – 16.4 gr, yang berarti masih kurang dari
nilai AKG (Angka Kebutuhan Gizi) yang dianjurkan.
c) Rata-rata konsumsi lemak pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
tahun 2012 pada CI 90% sebesar 63.1 – 67.5 gr, yang berarti masih berada di
bawah ambang batas konsumsi lemak pada lansia laki-laki dan sudah melebihi
batas konsumsi lemak pada lansia perempuan.
d) Rata-rata konsumsi magnesium pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka
Putih tahun 2012 pada CI 90% sebesar 399.3 – 443.2 mg, yang berarti sudah
mencukupi nilai AKG yang dianjurkan.
e) Rata-rata beban glikemik pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
tahun 2012 pada CI 90% sebesar 92.2 – 102.8, yang berarti masih termasuk
dalam kategori nilai beban glikemik sedang.
f) Gambaran aktivitas fisik pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih
tahun 2012, yaitu 55.9% lansia memiliki aktivitas fisik kurang.
g) Sebagian besar lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012 tidak
merokok, yaitu sebesar 68.8%.
79
80
h) Riwayat keluarga DM pada lansia di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun
2012, yaitu sebesar 23.7%.
i) Sebagian besar lansia (64.5%) di Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012,
yaitu memiliki ukuran lingkar pinggang berisiko.
j) Ada hubungan antara konsumsi serat dengan DM Tipe 2 pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
k) Tidak ada hubungan antara konsumsi lemak dengan DM Tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
l) Ada hubungan antara konsumsi magnesium dengan DM Tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
m) Ada hubungan antara beban glikemik dengan DM Tipe 2 pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
n) Ada hubungan antara aktivitas fisik dengan DM Tipe 2 pada lansia di Posbindu
Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
o) Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan DM Tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
p) Ada hubungan antara riwayat keluarga DM dengan DM Tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
q) Tidak ada hubungan antara lingkar pinggang dengan DM Tipe 2 pada lansia di
Posbindu Kelurahan Cempaka Putih tahun 2012.
r) Faktor yang paling dominan berhubungan dengan DM Tipe 2 adalah riwayat
keluarga DM.
81
7.2 Saran
A. Untuk Kelurahan Cempaka Putih
Bekerja sama dengan Puskesmas Ciputat Timur untuk membentuk lebih
banyak posbindu agar bisa menjangkau semua lansia yang ada dalam kelurahan
tersebut.
B. Untuk Puskesmas Ciputat Timur
1. Memberikan penyuluhan ke sekolah – sekolah dengan materi penyuluhan
yang spesifik untuk penyakit DM, misalnya informasi tentang resiko lebih
besar terkena DM pada remaja yang memiliki riwayat keluarga DM sehingga
pencegahan bisa dilakukan dari sejak dini.
2. Bekerja sama dengan posbindu di Kelurahan Cempaka Putih untuk
meningkatkan motivasi dan kesadaran masyarakat terutama lansia agar
melaksanakan aktivitas fisik secara teratur yaitu minimal 30 menit per hari
selama 5 hari dalam seminggu. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara
penyebaran pamflet atau poster, penyuluhan, atau pengadaan kegiatan jalan
kaki sore atau senam lansia yang dipandu salah satu lansia.
3. Bekerjasama dengan posbindu di Kelurahan Cempaka Putih untuk
memberikan informasi melalui penyebaran leaflet atau penyuluhan tentang
manfaat dan sumber serat yang baik serta batasan dan jenis lemak yang baik
untuk dikonsumsi kepada para lansia terutama lansia yang sudah memiliki
riwayat keluarga DM.
82
4. Memberikan informasi tentang makanan yang kaya magnesium seperti: biji bijian, kacang – kacangan, dan sayuran hijau melalui penyuluhan,
penyebaran leaflet atau media lainnya.
5. Penyuluhan atau penyebaran leaflet yang memberikan informasi tentang
makanan yang mengandung rendah beban glikemik seperti sayur – sayuran
(brokoli, kangkung, buncis, tomat, wortel, labu), buah – buahan (buah beri,
pir, melon, semangka, buah ceri), kacang – kacangan (kacang hijau, kacang
tanah, kacang kedelai, kacang polong), dan gandum.
C. Untuk Peneliti Selanjutnya
1. Pengukuran glukosa darah hendaknya menggunakan metode yang paling
akurat yaitu pemeriksaaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan
darah plasma vena dan di laboratorium yang terpercaya.
2. Meneliti faktor – faktor lain yang tidak diteliti dalam studi ini.
83
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Iskandar. Khasiat & Manfaat Kitoloid Penakluk Gangguan Mata. Jakarta:
Agromedia Pustaka. 2010
Baughman, Diane C, JoAnn C. Hackley. Keperawatan Medikal-Bedah: Buku Saku untuk
Brunner dan Suddarth. Jakarta: EGC. 2000
Bazzano LA, Serdula M, dan Liu S. Prevention of Type 2 Diabetes by Diet and Lifestyle
Modification. J. Am. Coll. Nutr. 2005 24:(5) 310-319.
Bean, Anita. Food for Fitness. London: A & C Black Publishers Ltd. 2007
Brooker, Chris. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC. 2008
Brown, Judith E dkk. Nutrition and The Elderly: Conditions and Intervention in U.
Beate Krinkle dan Lori Roth-Yousey. USA: Thomson Wadsworth. 2005
Cahyono, Suharjo B. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
2008
Chiolero A, Faeh D, Paccaud F, dan Cornuz J. Consequences of Smoking for Body
Weight, Body Fat Distribution, and Insulin Resistance. Am J Clin Nutr
2008;87:801–809.
Corwin, Elizabeth J. Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta: EGC. 2009
Esteghamati A, Khalilzadeh O, Rashidi A, Meysamie A, Haghazali M, Asgari F, Abbasi
M, Rastad S, dan Gouya MM. Association Between Physical Activity and
Insulin Resistance in Iranian Adults: National Surveillance of Risk Factor of
Non-Communicable Diseases (SuRFNCD-2007). Preventive Medicine 49
(2009): 402–406.
Facchini F, Chen YD, Reaven GM. Light-to-Moderate Alkohol Intake is Associated with
Enhanced Insulin Sensitivity. Diabetes Care 17:115–119, 1994.
Fajarwati dan Kiki Korneliani. Beberapa Faktor Risiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 pada Wanita di Rumah Sakit Umum
Daerah 45 Kuningan. Kesehatan Komunitas Indonesia 2010;6 (1):225-234.
Fatmah. Gizi Usia Lanjut. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2010.
Frati AC, Iniestra F, Ariza CR. Acute Effect of Cigarette Smoking on Glucose Tolerance
and Other Cardiovascular Risk Factors. Diabetes Care 1996;19:112–18.
83
84
Foy CG, Bell RA, Farmer DF, Goff DC, dan Wagenknecht LE. Smoking and Incidence
of Diabetes Among US Adults. Diabetes Care 2005;28:2501–2507.
Gibney, Michael J dkk. Diabetes Melitus In Ambady Ramachandan dkk. Gizi Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: EGC. 2008
Handayani, Sri Ani. Tesis “Faktor-Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di Semarang
dan Sekitarnya. Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.
2003
Helmrich SP, Ragland DR, Leung RW, dan Paffenbarger RS. Physical Activity and
Reduced Occurrence of Non-Insulin-Dependet DM. N Engl J Med 1991; 325:
147-152.
Higgins JA, Brand Miller JC, Denyer GS. Development of Insulin Resistance in The Rat
is Dependent on The Rate of Glucose Absorption from The Diet. J Nutr
1996;126:596–602.
Hopping BN, Erber E, Grandinetti A, Verheus M, Kolonel LN, dan Maskarinec G.
Dietary Fiber, Magnesium, and Glycemic Load Alter Risk of Type 2 Diabetes
in a Multiethnic Cohort in Hawaii. J. Nutr 2010; 140: 68-74.
Junita S, Putri. Gambaran Pengetahuan dan Tindakan Penderita Diabetes Melitus Tipe
2 Terhadap Pentingnya Aktivitas Fisik di RSUP H. Adam Malik. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatra Utara Medan. 2010.
Khomsan, Ali dan Faisal Anwar. Sehat itu Mudah, Wujudkan Hidup Sehat dengan
Makanan Tepat. Jakarta: Penerbit Hikmah. 2008
Komnas Lansia. Profil Penduduk Lansia 2009. Jakarta: Komisi Nasional Lansia. 2010
Kozier, Barbara dkk. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb. Jakarta:
EGC. 2009
Larsson SC dan Wolk A. Magnesium Intake and Risk of Type 2 Diabetes: A MetaAnalysis. J Intern Med 2007; 262: 208-214.
Lau, Edwin. Healthy Express Super Sehat dalam 2 Minggu. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama. 2009
Lopez-Ridaura R, Willet WC, Rimm EB, Liu S, Stampfer MJ, Manson JE, and Hu FB.
Magnesium Intake and Risk of Type 2 Diabetes in Men and Women. Diabetes
Care ;27: 134-140. 2004
Meyer KA, Kushi LH, Jacobs DR dan Folsom AR. Dietary Fat and Incidence of Type 2
Diabetes in Older Iowa Women. Diabetes Care 2001; 1528-1535.
85
Misnadiarly. DM: Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala, Menanggulangi, dan
Mencega Komplikasi. Jakarta: Pustaka Populer Obor. 2006
Nadimin, Ayu SD, dan Sadariah. Pengaruh Pemberian Diit DM Tinggi Serat Terhadap
Penurunan Kadar Gula Darah Pasien DM Tipe 2 di RSUD Salewangang
Kab Maros. Media Gizi Pangan 2009; Vol VII, Edisi 1; 29-34.
Ningsih, Nusrah dkk. Uji Diagnostik Pengukuran Glukosa Vena dan Kapiler dan Faktor
yang Mempengaruhi untuk Pengkajian Masalah Gizi Karbohidrat dalam
Proses Asuhan Gizi Klinik. RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar
Fakultas Kedokteran UNHAS Makassar. 2008
Nix, Staci. William’s basic nutrition and diet therapy. Missouri: Mosby, Inc. 2005
Oldroyd J, Banerjee M, Heald A, Cruickshank K. Diabetes and Ethnic Minorities.
Postgrad Med J 2005; 81:486–490.
Pereira MA, Swain J, Goldfine AB, Rifai N, dan Ludwig DS. Effects of A Low-Glycemic
Load Diet on Resting Energy Expenditure and Heart Disease Risk Factors
During Weight loss. JAMA 2004; 292 : 2482-2490.
Pradhan AD, Manson JE, Rifai N, Buring JE, and Ridker PM. C-Reactive Protein,
Interleukin 6, and Risk of Developing Type 2 Diabetes Mellitus. JAMA 2001;
286 :327-334.
Qiao Q, Valle T, Nissinen A, dan Tuomilehto J. Smoking and The Risk of Diabetes in
Elderly Finnish Men. Diabetes Care 22 :1821–1826, 1999.
Ramaiah, Savitri. Diabetes: Cara mengetahui Gejala Diabetes dan Mendeteksinya Sejak
Dini. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer. 2008
Rettyirwanasir. Penyakit Degeneratif muncul akibat perubahan gaya hidup. 2010.
Diakses dari http://www.komnaslansia.or.id/modules.php?name=News&file=
article&sid=50
Rimm EB, Manson JE, Stampfer MJ, Colditz GA, Willett WC, Rosner B, Hennekens
CH, Speizer FE. Cigarette Smoking and the Risk of Diabetes in Women. Am
J Public Health 83:211–214, 1993.
Rimm EB, Chan J, Stampfer MJ, Colditz GA, dan Willet WC. Prospective Study of
Cigarette Smoking, Alcohol Use, and The Risk of Diabetes in Men. BMJ
310:555–559, 1995.
Riserus U, Willet WC, dan Hu FB. Dietary Fats and Prevention of Type 2 Diabetes.
Prog Lipid Res 2009; 48 (1):44 – 51.
86
Rizzo NS, Ruiz JR, Oja L, Veidebaum T, dan Sjostrom M. Associations Between
Physiscal Activity, Body Fat, and Insulin Resistance (Homeostasis Model
Assesment) in Adolescents: The European Youth Heart Study. Am J Clin Nutr
2008;87:586 –92.
Roberts CK, Liu S. Effects of Glycemic Load on Metabolic Health and Type 2 DM. J
Diabetes Sci Technol 2009 3(4): 697 – 704.
Sairenchi T, Iso H, Nishimura A, Hosoda T, Irie F, Saito Y, Murakami A, Fukutomi H.
Cigarette Smoking and Risk of Type 2 Diabetes among Middle-aged and
Elderly Japanese Men and Women. Am J Epidemiol. 2004; 160:158-162.
Sendih, Skolastika dan Gunawan. Keajaiban Teripang Penyembuh Mujarab dari Laut.
Jakarta: AgroMedia Pustaka. 2006
Soegondo, Sidartawan dkk. Penatalaksanaan DM Terpadu Sebagai Panduan
Penatalaksanaan DM bagi Dokter Maupun Edukator. Jakarta: FKUI. 2005
Soetiarto F, Roselinda, dan Suhardi. Hubungan Diabetes Melitus dengan Obesitas
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang. Bul. Penelit.
Kesehat 2010; 38(1): 36-42.
Song Y, Manson JE, Buring JE, dan Liu S. Dietary Magnesium Intake in Relation to
Plasma Insulin Levels and Risk of Type 2 Diabetes in Women. Diabetes Care
27:59–65, 2004.
Sriyana, Jaka. Dampak Transisi Demografi Terhadap Defisit Fiskal di Indonesia. Jurnal
Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No 3, Desember 2008 Hal 175 – 189.
Syamsiah, Ranita. Citra Diri Perempuan Perokok Aktif Berfokus pada Self-Idea.
Universitas Pendidikan Indonesia. 2013
Thanopoulou dkk. Dietary Fat Intake as Risk Factor for the Development of Diabetes.
Diabetes Care. 2003; 26:302-307.
Timmreck, Thomas C. Epidemiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: EGC. 2004
Wahyuni, Sri. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penyakit DM (DM) Daerah
Perkotaan di Indonesia Tahun 2007 (Analisis Data Sekunder Riskesdas
2007). Skripsi. Jakarta: Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah. 2010.
Wei M, Gibbons LW, Mitchell TL, Kampert JB, Blair SN. Alcohol Intake and Incidence
of Type 2 Diabetes in Men. Diabetes Care 23:18–22, 2000.
Wiardani NK. Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Kejadian Diabetes Melitus (DM)
Tipe 2. Jurnal Skala Husada 2009; Vol 6 (1):59 – 64.
87
Willett W, Manson J, Liu S. Glycemc Index, Glycemic Load and Risk of Type 2 Diabetes.
Am J Clin Nutr 2002;76(suppl):274S–280S.
Zhang L, Curhan GC, Hu FB, Rimm EB, dan Forman JP. Association Between Passive
and Active Smoking and Incident Type 2 Diabetes in Women. Diabetes Care
34:892–897, 2011.
88
LAMPIRAN
89
Lampiran 1 (Form Pernyataan Persetujuan Responden)
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA LANJUT USIA DI POS PEMBINAAN
TERPADU
KELURAHAN CEMPAKA PUTIH TAHUN 2012
Pernyataan Persetujuan Menjadi Responden
Dalam penelitian ini, responden akan diperiksa gula darah, diukur lingkar pinggang dan
ditanyakan mengenai beberapa hal terkait keluhan khas DM, riwayat keluarga DM,
aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan informasi mengenai konsumsi makanan sehari –
hari.
Setelah membaca pernyataan di atas dan mendengar penjelasan peneliti, saya telah
memahami maksud dan tujuan penelitian serta penjaminan kerahasiaan informasi dalam
penelitian ini. Saya menyatakan bahwa saya setuju untuk menjadi responden dalam
penelitian ini dengan sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari siapapun dan akan
memberikan informasi yang sejujurnya.
Jakarta, Desember 2012
(…………………………………..)
Peneliti
(…………………………………)
Responden
90
(Lampiran 2 Form Kuesioner)
Kode Responden
:
Hari/Tanggal
:
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIABETES MELITUS
TIPE 2 PADA LANJUT USIA DI POS PEMBINAAN TERPADU KELURAHAN
CEMPAKA PUTIH TAHUN 2012
A. Karakteristik Responden
1
2
3
Nama
Alamat
No Hp/Telp
B. Diagnosis DM
B1
Kadar gula darah
……mg/dl
B2
Apakah Bapak/Ibu mengalami:
a. Poliuri/banyak kencing terutama malam hari
0.Ya 1.Tidak
b.Polidipsi/banyak minum dan selalu merasa haus0.Ya 1. Tidak
c. Polifagi/banyak makan dan sering merasa lapar
0. Ya 1. Tidak
d.Berat badan turun drastis tanpa penyebab yang jelas
0.Ya 1. Tidak
C.
Lingkar Pinggang
D. Riwayat Keluarga DM
..........cm
D1
1.Ya
2.Tidak
E
E2
E3
E4
E5
E6
Apakah ada anggota keluarga baik orang tua, saudara laki-laki
atau saudara perempuan yang menderita
diabetes?
Merokok
Apakah sekarang ini Bapak/Ibu merokok?
0.
Sejak kapan bapak/ibu merokok (tahun berapa)?
0. Ya
1. Tidak  ke E6
0. ≥ 1 thn
1. < 1 thn
Berapa batang rokok yang Bapak/Ibu hisap dalam ……batang
1 hari?
Jenis rokok yang biasa Bapak/Ibu hisap?
a. Filter – selesai
b. kretek - selesai
0. Lainnya,
sebutkan……..selesai
Apakah dulu Bapak/Ibu pernah merokok?
0.Ya
91
1.Tidak - selesai
E7
Sejak kapan bapak/ibu mulai merokok?
Sejak ……tahun yang lalu
E8
Sejak kapan bapak/ibu berhenti merokok?
0. ≥ 1 thn
1. < 1 thn
E9
Berapa batang rokok dulu yang Bapak/Ibu hisap ……batang
dalam 1 hari?
E10 Jenis rokok yang dulu biasa Bapak/Ibu hisap?
c. Filter – selesai
d. kretek - selesai
1. Lainnya,
sebutkan……..selesai
Jenis Aktivitas Fisik
Aktivitas Fisik Berat
Aktivitas Fisik Sedang



























Mengangkut/memikul kayu, beras, batu, pasir
Mencangkul
Menebang pohon
Bersepeda cepat
Angkat besi
Tenis tunggal
Bulutangkis tunggal
Lari cepat
Marathon
Mengayuh becak
Mendaki gunung
Bersepeda membawa beban
Menyapu halaman
Mengepel
Mencuci baju
Menimba air
Bercocok tanam
Membersihkan kamar mandi/ kolam
Tenis ganda
Bulutangkis ganda
Senam aerobic
Senam tera
Renang
Basket
Bola voli
Jogging
Sepak bola
(Lihat Jenis Aktifitas Fisik)
F
F11
Aktivitas Fisik
Apakah Bapak/Ibu biasa melakukan aktivitas fisik berat, yang
dilakukan terus menerus paling sedikit 10
menit setiap kali melakukannya?
0.Ya
1.Tidak 
F14
92
F12
F13
F14
F15
F16
F17
F18
F19
F20
F21
F22
Biasanya berapa hari dalam seminggu, Bapak/Ibu melakukan
aktivitas fisik berat tersebut?
Biasanya pada hari ketika Bapak/Ibu melakukan aktivitas
fisik berat, berapa total waktu yang digunakan
untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut?
(Isi dalam jam dan menit)
Apakah Bapak/Ibu biasa melakukan aktivitas fisik sedang,
yang dilakukan terus menerus paling sedikit
10 menit setiap kali melakukannya?
Biasanya berapa hari dalam seminggu, Bapak/Ibu melakukan
aktivitas fisik sedang tersebut?
Biasanya pada hari ketika Bapak/Ibu melakukan aktivitas
fisik sedang, berapa total waktu yang
digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan
tersebut?
(Isi dalam jam dan menit)
Apakah Bapak/Ibu biasa berjalan kaki atau menggunakan
sepeda kayuh yang dilakukan terus menerus
paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya?
Biasanya berapa hari dalam seminggu, Bapak/Ibu berjalan
kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10
menit terus-menerus setiap kalinya?
Biasanya dalam sehari, berapa total waktu yang Bapak/Ibu
gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda?
(Isi dalam jam dan menit)
Aktivitas/kegiatan apa yang sering Bapak/Ibu lakukan sehari
– hari?
Biasanya berapa hari dalam seminggu, Bapak/Ibu melakukan
kegiatan tersebut?
Biasanya dalam sehari, berapa total waktu yang Bapak/Ibu
gunakan untuk mengerjakan kegiatan tersebut?
…..hari
…..jam
…..menit
0.Ya
1.Tidak 
F17
…..hari
…..jam
…..menit
0.Ya
1.Tidak selesai
…..hari
…..jam
…..menit
……………
…..hari
…..jam
…..menit
93
(Lampiran 3 Form FFQ Semikuantitatif)
No
Bahan Makanan
1 Karbohidrat
Nasi
Mie
Kentang
Singkong
Ubi jalar
Roti
Jagung
Bihun
Biscuit
Kue
2 Protein Hewani
Ayam
Ikan
Telur
Daging sapi
Hati ayam
Hati sapi
Udang
Cumi-cumi
3 Protein Nabati
Tempe
Tahu
Kacang merah
Kacang polong
Kacang hijau
Kacang tanah
Kacang kedele
Hari
Frekuensi Konsumsi
Minggu
Bulan
Thn
Porsi
URT
Gram
Jlh
Gr/Hr
94
No
Bahan Makanan
4 Sayuran
Buncis
Kacang panjang
Daun pepaya
Daun katuk
Kangkung
Daun kacang
panjang
Lobak
Bayam
Sawi
Daun Singkong
5 Buah
Pisang
Apel
Jeruk
Mangga
Strawberi
Alpukat
Semangka
Jambu biji
Sawo
Duku
6 Susu
Susu sapi
Susu kental manis
Hari
Frekuensi Konsumsi
Minggu
Bulan
Thn
Porsi
URT
Gram
Jlh
Gr/Hr
95
No
Bahan Makanan
7 Lemak/Minyak
Minyak goreng
Mentega
Margarin
Santan
8 Lain - lain
Sirup
Gula pasir
Hari
Frekuensi Konsumsi
Minggu
Bulan
Thn
Porsi
URT
Gram
Jlh
Gr/Hr
96
Lampiran 4
HASIL ANALISIS DATA
Analisis Univariat
DM Tipe 2
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Ya
20
21.5
21.5
21.5
tidak
73
78.5
78.5
100.0
Total
93
100.0
100.0
Aktivitas Fisik
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Kurang
52
55.9
55.9
55.9
Cukup
41
44.1
44.1
100.0
Total
93
100.0
100.0
Merokok
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Merokok
14
15.1
15.1
15.1
Mantan perokok
15
16.1
16.1
31.2
Tidak merokok
64
68.8
68.8
100.0
Total
93
100.0
100.0
Riwayat Keluarga
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Ada
22
23.7
23.7
23.7
Tidak ada
71
76.3
76.3
100.0
Total
93
100.0
100.0
Lingkar Pinggang
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Berisiko
60
64.5
64.5
64.5
Tidak berisiko
33
35.5
35.5
100.0
Total
93
100.0
100.0
Descriptives
97
Statistic
Konsumsi Lemak
Mean
90% Confidence Interval for
Mean
65.338
Lower Bound
63.130
Upper Bound
67.545
5% Trimmed Mean
64.896
Median
62.700
Variance
164.153
Std. Deviation
12.8122
Minimum
41.1
Maximum
95.6
Range
54.5
Interquartile Range
16.1
Skewness
.732
Kurtosis
Konsumsi Serat
Mean
90% Confidence Interval for
Mean
1.3286
.250
-.088
.495
15.476
.5745
Lower Bound
14.522
Upper Bound
16.431
5% Trimmed Mean
15.201
Median
14.600
Variance
30.695
Std. Deviation
5.5403
Minimum
6.8
Maximum
30.3
Range
23.5
Interquartile Range
Std. Error
7.0
Skewness
.717
.250
Kurtosis
.061
.495
421.262
13.2206
Konsumsi Magnesium Mean
90% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
399.295
Upper Bound
443.230
5% Trimmed Mean
419.175
Median
418.400
Variance
1.626E4
Std. Deviation
1.2750E2
Minimum
193.3
Maximum
694.3
98
Range
501.0
Interquartile Range
188.3
Skewness
.251
Kurtosis
Beban Glikemik
Mean
90% Confidence Interval for
Mean
-.636
.495
97.498
3.1950
Lower Bound
92.189
Upper Bound
102.807
5% Trimmed Mean
95.495
Median
89.300
Variance
949.345
Std. Deviation
30.8114
Minimum
47.0
Maximum
195.9
Range
148.9
Interquartile Range
.250
38.2
Skewness
Kurtosis
1.038
.250
.483
.495
Analisis Bivariat
Hubungan Konsumsi Serat dengan DM Tipe 2
Group Statistics
Status_DM
Knsmsi_serat
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Ya
20
13.635
4.8934
1.0942
tidak
73
15.981
5.6305
.6590
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of
Variances
F
Knsmsi_ Equal
serat
variances
assumed
Equal
variances not
assumed
.000
Sig.
.984
t-test for Equality of Means
t
Std.
Mean
Error
Sig. (2- Differenc Differe
tailed)
e
nce
df
90% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
-1.695
91
.094
-2.3458 1.3843
-4.6462
-.0454
-1.837
34.100
.075
-2.3458 1.2773
-4.5055
-.1861
99
Hubungan Konsumsi Lemak dengan DM Tipe 2
Group Statistics
Status_DM
Knsmsi_lemak
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Ya
20
63.620
9.6295
2.1532
tidak
73
65.808
13.5734
1.5886
Test Statistics
a
Knsmsi_lemak
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
705.000
915.000
-.234
.815
a. Grouping Variable: Status_DM
Hubungan Konsumsi Magnesium dengan DM Tipe 2
Group Statistics
Status_DM
Knsmsi_mgnesium
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Ya
20
367.580
123.3993
27.5929
tidak
73
435.970
125.4278
14.6802
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of
Variances
Knsmsi_
mgnesium
Equal
variances
assumed
t-test for Equality of Means
90% Confidence
Mean
Std. Error Interval of the
Difference
Difference Difference
Lower Upper
F
Sig.
t
df
Sig. (2tailed)
.134
.715
-2.168
91
.033
-68.3899
31.5500 120.81 -15.9610
87
-2.188
30.631
.036
-68.3899
31.2550 121.40 -15.3767
31
Equal
variances not
assumed
Hubungan Beban Glikemik dengan DM Tipe 2
Group Statistics
Status_DM
Beban_glike
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Ya
20
88.580
29.1320
6.5141
tidak
73
99.941
30.9992
3.6282
100
Test Statistics
a
Beban_glike
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
518.500
728.500
-1.978
.048
a. Grouping Variable: Status_DM
Hubungan Aktivitas Fisik dengan DM Tipe 2
Crosstab
Status_DM
Ya
Aktvtas_fsik
Kurang
% within Status_DM
37
52
11.2
40.8
52.0
75.0%
50.7%
55.9%
5
36
41
8.8
32.2
41.0
25.0%
49.3%
44.1%
20
73
93
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
15
Expected Count
Cukup
tidak
Count
20.0
73.0
93.0
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.052
2.843
1
.092
3.942
1
.047
3.765
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2sided)
df
Fisher's Exact Test
.075
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
Exact Sig.
(2-sided)
3.725
1
.054
93
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.82.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Aktvtas_fsik
(Kurang / Cukup)
For cohort Status_DM = Ya
Lower
Upper
2.919
.961
8.868
2.365
.937
5.969
Exact Sig.
(1-sided)
.044
101
For cohort Status_DM = tidak
N of Valid Cases
.810
.659
.997
93
Hubungan Merokok dengan DM Tipe 2
Crosstab
Status_DM
Ya
new_rokok
merokok
Count
% within Status_DM
11
14
3.0
11.0
14.0
15.0%
15.1%
15.1%
17
62
79
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
17.0
62.0
79.0
85.0%
84.9%
84.9%
20
73
93
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
3
Expected Count
mantan dan tidak
merokok
tidak
20.0
73.0
93.0
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.994
.000
1
1.000
.000
1
.994
.000
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig.
(2-sided)
df
Exact Sig. (2- Exact Sig. (1sided)
sided)
Fisher's Exact Test
1.000
Linear-by-Linear Association
.000
b
N of Valid Cases
1
.650
.994
93
a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.01.
b. Computed only for a 2x2 table
Hubungan Riwayat Keluarga DM dengan DM Tipe 2
Crosstab
Status_DM
Ya
Rwyat_Kluarga
Ada
Count
Expected Count
tidak
Total
9
13
22
4.7
17.3
22.0
102
% within Status_DM
Tidak ada
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
Count
Expected Count
% within Status_DM
45.0%
17.8%
23.7%
11
60
71
15.3
55.7
71.0
55.0%
82.2%
76.3%
20
73
93
20.0
73.0
93.0
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig.
(2-sided)
a
1
.011
5.010
1
.025
5.834
1
.016
6.427
b
Asymp. Sig. (2sided)
df
Fisher's Exact Test
Exact Sig.
(1-sided)
.017
Linear-by-Linear Association
b
N of Valid Cases
6.358
1
.015
.012
93
a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.73.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for Rwyat_Kluarga
(Ada / Tidak ada)
For cohort Status_DM = Ya
For cohort Status_DM = tidak
N of Valid Cases
Lower
Upper
3.776
1.301
10.961
2.640
.699
1.260
.487
5.533
1.004
93
Hubungan Lingkar Pinggang dengan DM Tipe 2
Crosstab
Status_DM
Ya
Lingkr_pinggang
Berisiko
Count
Expected Count
% within Status_DM
tidak
Total
14
46
60
12.9
47.1
60.0
70.0%
63.0%
64.5%
103
Tidak berisiko
Count
Expected Count
% within Status_DM
Total
Count
27
33
7.1
25.9
33.0
30.0%
37.0%
35.5%
20
73
93
20.0
73.0
93.0
100.0%
100.0%
100.0%
Expected Count
% within Status_DM
6
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
a
1
.563
.099
1
.753
.341
1
.559
.335
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1sided)
sided)
sided)
df
Fisher's Exact Test
.610
Linear-by-Linear Association
.331
b
N of Valid Cases
1
.565
93
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.10.
b. Computed only for a 2x2 table
Analisis Multivariat
Logistic Regression
Case Processing Summary
Unweighted Cases
a
Selected Cases
N
Included in Analysis
Missing Cases
Total
Unselected Cases
Total
Percent
93
100.0
0
.0
93
0
93
100.0
.0
100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total number of
cases.
Dependent Variable Encoding
Original Value
Internal Value
Ya
tidak
0
1
Block 0: Beginning Block
Classification Table
Observed
a,b
Predicted
.382
104
Status_DM
Ya
Step 0
Status_DM
tidak
Percentage Correct
Ya
0
20
.0
tidak
0
73
100.0
Overall Percentage
78.5
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500
Variables in the Equation
B
Step 0
Constant
S.E.
1.295
Wald
.252
df
26.316
Sig.
1
.000
Variables not in the Equation
Score
Step 0
Variables
df
Sig.
Rwyat_Kluarga
6.427
1
.011
Aktvtas_fsik
3.765
1
.052
Knsmsi_mgnesium
4.566
1
.033
Beban_glike
2.148
1
.143
Knsmsi_serat
2.845
1
.092
14.025
5
.015
Overall Statistics
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square
Step 1
df
Sig.
Step
15.404
5
.009
Block
15.404
5
.009
Model
15.404
5
.009
Model Summary
Step
1
-2 Log likelihood
81.423
a
Cox & Snell R
Square
Nagelkerke R
Square
.153
.236
a. Estimation terminated at iteration number 6 because
parameter estimates changed by less than .001.
Classification Table
Observed
a
Predicted
Exp(B)
3.650
105
Status_DM
Ya
Step 1
Status_DM
Percentage
Correct
tidak
Ya
4
16
20.0
tidak
4
69
94.5
Overall Percentage
78.5
a. The cut value is .500
Variables in the Equation
90.0% C.I.for EXP(B)
B
Step 1
a
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
Lower
Upper
Rwyat_Kluarga
1.622
.617
6.914
1
.009
5.063
1.836
13.965
Aktvtas_fsik
1.277
.650
3.862
1
.049
3.584
1.231
10.434
Knsmsi_mgnesium
.001
.004
.053
1
.818
1.001
.994
1.008
Beban_glike
.011
.011
.905
1
.341
1.011
.992
1.029
Knsmsi_serat
.070
.107
.432
1
.511
1.073
.900
1.278
-2.688
1.434
3.516
1
.061
.068
Constant
a. Variable(s) entered on step 1: Rwyat_Kluarga, Aktvtas_fsik, Knsmsi_mgnesium, Beban_glike, Knsmsi_serat.
Logistic Regression
Case Processing Summary
Unweighted Cases
a
Selected Cases
N
Included in Analysis
Missing Cases
Total
Unselected Cases
Total
Percent
93
100.0
0
.0
93
0
93
100.0
.0
100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total number of
cases.
Dependent Variable Encoding
Original Value
Ya
tidak
Internal Value
0
1
Block 0: Beginning Block
Classification Table
a,b
Predicted
Status_DM
Observed
Ya
tidak
Percentage
Correct
106
Step 0
Status_DM
Ya
0
20
.0
tidak
0
73
100.0
Overall Percentage
78.5
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500
Variables in the Equation
B
Step 0
Constant
S.E.
1.295
Wald
.252
df
26.316
Sig.
1
.000
Variables not in the Equation
Score
Step 0
Variables
df
Sig.
Rwyat_Kluarga
6.427
1
.011
Aktvtas_fsik
3.765
1
.052
Beban_glike
2.148
1
.143
Knsmsi_serat
2.845
1
.092
14.014
4
.007
Overall Statistics
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square
Step 1
df
Sig.
Step
15.351
4
.004
Block
15.351
4
.004
Model
15.351
4
.004
Model Summary
Step
1
-2 Log likelihood
81.476
a
Cox & Snell R
Square
Nagelkerke R
Square
.152
.235
a. Estimation terminated at iteration number 6 because
parameter estimates changed by less than .001.
Classification Table
Observed
a
Predicted
Exp(B)
3.650
107
Status_DM
Ya
Step 1
Status_DM
Percentage
Correct
tidak
Ya
4
16
20.0
tidak
4
69
94.5
Overall Percentage
78.5
a. The cut value is .500
Variables in the Equation
90.0% C.I.for EXP(B)
B
Step 1
a
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
Upper
Rwyat_Kluarga
1.652
.604
7.480
1
.006
5.217
1.932
14.089
Aktvtas_fsik
1.318
.625
4.451
1
.035
3.737
1.337
10.443
Beban_glike
.010
.011
.882
1
.348
1.011
.992
1.029
Knsmsi_serat
.090
.064
1.956
1
.162
1.094
.984
1.216
-2.609
1.396
3.496
1
.062
.074
Constant
a. Variable(s) entered on step 1: Rwyat_Kluarga, Aktvtas_fsik, Beban_glike,
Knsmsi_serat.
Logistic Regression
Case Processing Summary
Unweighted Cases
a
Selected Cases
N
Included in Analysis
Missing Cases
Total
Unselected Cases
Total
Percent
93
100.0
0
.0
93
0
93
100.0
.0
100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total number of
cases.
Dependent Variable
Encoding
Original
Value
Lower
Internal Value
Ya
tidak
0
1
Block 0: Beginning Block
Classification Table
Observed
a,b
Predicted
108
Status_DM
Ya
Step 0
Status_DM
Percentage
Correct
tidak
Ya
0
20
.0
tidak
0
73
100.0
Overall Percentage
78.5
a. Constant is included in the model.
b. The cut value is .500
Variables in the Equation
B
Step 0
Constant
S.E.
1.295
Wald
.252
df
26.316
Sig.
1
.000
Variables not in the Equation
Score
Step 0
Variables
df
Sig.
Rwyat_Kluarga
6.427
1
.011
Aktvtas_fsik
3.765
1
.052
Knsmsi_serat
2.845
1
.092
13.711
3
.003
Overall Statistics
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square
Step 1
df
Sig.
Step
14.428
3
.002
Block
14.428
3
.002
Model
14.428
3
.002
Model Summary
Step
1
-2 Log likelihood
82.400
a
Cox & Snell R
Square
Nagelkerke R
Square
.144
.222
a. Estimation terminated at iteration number 5 because
parameter estimates changed by less than .001.
Classification Table
a
Predicted
Status_DM
Observed
Ya
tidak
Percentage
Correct
Exp(B)
3.650
109
Step 1
Status_DM
Ya
4
16
20.0
tidak
5
68
93.2
Overall Percentage
77.4
a. The cut value is .500
Variables in the Equation
90.0% C.I.for EXP(B)
B
Step 1
a
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
Lower
Upper
Rwyat_Kluarga
1.594
.595
7.186
1
.007
4.922
1.851
13.088
Aktvtas_fsik
1.310
.619
4.471
1
.034
3.705
1.338
10.264
.105
.060
3.043
1
.081
1.110
1.006
1.225
-1.823 1.047
3.035
1
.081
.161
Knsmsi_serat
Constant
a. Variable(s) entered on step 1: Rwyat_Kluarga, Aktvtas_fsik,
Knsmsi_serat.
Download