Memperbandingkan Konsep Dosa dan Kehendak Bebas Manusia

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Permasalahan
Jean Paul Sartre seorang filsuf eksistensialis dari Perancis mengatakan bahwa manusia
dilahirkan begitu saja ke dalam dunia ini, dan ia harus segera menanggung kebebasan yang
dimilikinya dengan segala konsekuensi yang ada didalamnya. Artinya bahwa manusia itu
pertama kali mengada mendapatkan dirinya terlempar di dunia, kemudian dia memperkenalkan
diri oleh karena itu dia tidak dapat didefinisikan, karena dia bermula dari ketiadaan, sampai
bagaimana dia membuat dirinya 1 . Dengan kata lain manusia itu tidak bisa diasalkan dari sesuatu
yang lain, atau sebagai manusia eksistensi mendahului esensinya. Sehingga manusia adalah
mahluk satu-satunya yang tidak mempunyai esensi tertentu, ini terserah kepada kebebasannya.
Karena menurutnya, jika manusia ada essensi tertentu, maka essensi itu yang akan menentukan,
tak lain dia hanya merupakan perkembangan essensi itu. Jadinya manusia itu dibuat, bukan
membuat dirinya sendiri. Kebebasan sebagai hal yang otonom dan mutlak, bukanlah suatu
keberadaan atau suatu kualitas tambahan dari eksistensi manusia, akan tetapi keberadaan
manusia itu sendiri. Dengan demikian, kebebasan adalah serta-merta begitu ada manusia,
kebebasan itu ada; begitu kesadaran ada, maka kebebasan pun ada 2 .
Berbicara soal Tuhan, Sartre jelas menolak akan adanya Tuhan. Jika Tuhan didefinisikan
sebagai maha pencipta tentu Tuhanlah yang menciptakan essensi manusia. Dan jika Tuhan yang
menciptakan essensi manusia maka manusia bukan lagi mengada karena dirinya sendiri, dan itu
berarti bahwa manusia tidak bebas. Hanya ada dua pilihan yaitu, manusia bebas yang berarti
tidak berasal dari Tuhan, atau jika tergantung kepada Tuhan berarti ia tidak bebas3 . Kebebasan
mutlak manusia menjadi dasar bahwa Tuhan tidak ada. Kebebasan menjadi hakekat dari
manusia. Dalam kebebasan termasuk didalamnya kebebasan untuk menentukan norma-normanya
sendiri. Tidak ada pemahaman bahwa ada norma atau hukum yang berasal dari Tuhan. Semua
norma dan hukuman ditentukan manusia berdasarkan kebebasannya. Jika Tuhan menentukan
1
Drs. H. Muzairi. MA, Eksistensialisme Jean Paul Sartre, 2002, p.133
Scn 1. p. 135
3
Scn 1. p. 147
2
1
norma dan hukum, kemudian manusia harus melaksanakan itu, bukankah manusia menjadi tidak
bebas lagi. Tuhan harus tidak ada demi kebebasan mutlak manusia.
Dari pemahaman Sartre yang sudah diuraikan di atas mengenai hubungan antara
kebebasan manusia dan keberadaan Tuhan, memancing penulis untuk lebih jauh memahami
hubungan antara keduanya dengan apa yang dipahami di dalam iman Kristen. Namun di sini
penulis tidak hanya sampai kepada masalah kebebasan saja melainkan lebih jauh kepada masalah
kehendak bebas manusia. Hal ini menarik perhatian penulis karena masalah yang dihadapi oleh
Sartre adalah kebingungan dalam melihat kaitan antara keberadaan manusia dengan
kebebasannya dan juga keberadaan Tuhan dengan kemahakuasaanNya. Kebingungan Sartre ini
sebenarnya seringkali juga muncul dalam berbagai hal dalam memahami persoalan-persoalan di
dalam iman Kristen. Yang menarik adalah bahwa Sartre berani untuk mengambil suatu
keputusan yang tegas bahwa Tuhan itu tidak ada kerena kebebasan manusia adalah mutlak. Jika
hal ini kita tempatkan juga dalam posisi iman Kristen maka akan menjadi sangat sulit, kerena di
satu pihak dalam iman Kristen keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang mutlak tetapi di lain pihak
kebebasan terlebih lagi kehendak bebas manusia juga ada.
Namun masalah kehendak bebas ini bagaimanapun juga akan menyinggung masalah
keberadaan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Apakah manusia jatuh ke dalam dosa itu karena
kehendak bebasnya, ataukah bukan karena kehendak bebasnya ? Dan untuk itulah sama seperti
kebingungan yang dirasakan oleh Sartre, di sini penulis juga merasa perlu untuk mengkaji ulang
pemahaman teologis selama ini dalam melihat hubungan antara dosa, kehendak bebas manusia
dan keberadaan Allah sebagai Maha Pencipta.
b. Permasalahan
Sesungguhnya ada begitu banyak tafsiran dan juga doktrin tentang dosa . Salah satu
doktrin dan pemahaman teologis yang selalu digunakan dalam gereja-gereja main stream adalah
pemahaman Dr. Harun Hadiwijono. Salah satu bukunya yang berjudul “Iman Kristen” adalah
salah satu buku dogma yang ditulis dalam bahasa Indonesia, dan oleh karena itu buku ini sering
dibaca atau digunakan oleh jemaat sebagai dasar berpijak dalam berteologi. Tetapi
bagaimanapun juga sebagian dari pemahaman-pemahaman dogma tersebut masih memberikan
tanda tanya yang besar.
2
Kehendak bebas sering dipahami sebagai hak seutuhnya dan kesadaran sepenuhnya dari
seorang manusia dalam berkehendak atau memutuskan apa yang diingininya. Kehendak bebas
inilah yang dikatakan sebagai nilai atau keunggulan yang dimiliki manusia sebagai mahluk yang
berakal budi. Oleh karena itulah maka manusia memiliki otoritas sepenuhnya atas dirinya yang
kesemuanya itu harus dipertanggungjawabkan dalam hubungannya, baik dengan Tuhan maupun
dengan sesama manusia. Dalam menjalin hubungannya dengan Tuhan maka konsekuensi dari
kehendak bebas manusia ialah dosa. Ketika manusia diperhadapkan pada dua pilihan, mengikuti
perintah Tuhan atau tidak maka jika pilihan itu adalah yang tidak mengikuti perintah Tuhan
maka konsekuensinya adalah dosa dan manusia harus mempertanggungjawabkan itu. Jika
demikian apakah bisa dikatakan bahwa manusia berada dalam posisi yang netral 4 , ataukah
manusia hanya diperhadapkan pada satu pilihan mentaati atau tidak. Dan apakah itu masih bisa
dikategorikan sebagai suatu kehendak bebas.
Ataukah pertanyaan dari mana datangnya kehendak atau keinginan manusia , sehingga
membuat keinginan atau kehendak manusia itu bertentangan dengan kehendak Allah ? Kalau kita
mengatakan hal itu datangnya dari manusia itu sendiri, pertanyaannya siapakah yang
menciptakan manusia ? Apakah sebuah ciptaan itu bisa lepas dari kendali penciptanya. Kalau
demikian harus dipertanyakan kemahakuasaan Allah dan kemahapenciptaan Allah yang sudah
menciptakan manusia. Rasanya ada ketakutan bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa juga
merupakan rancangan dan karya Allah. Lalu jika demikian, apakah itu mengurangi pandangan
bahwa Allah adalah sang Maha Kuasa ? Kalau Allah jugalah yang merancang agar manusia jatuh
ke dalam dosa, bukankah itu justru memperkuat keyakinan bahwa manusia juga sepenuhnya
berada dalam pemeliharaan Allah, baik itu dalam keadaan yang baik maupun buruk. Bukankah
manusia juga tidak akan bisa memahami sepenuhnya rancangan dan karya Allah itu sendiri,
walaupun yang selalu menjadi keyakinan di dalam iman Kristen adalah bahwa Allah senantiasa
memberikan rancangan yang baik kepada ciptaanNya. Jadi jika Allah jugalah yang
mengakibatkan manusia jatuh ke dalam dosa, apa salahnya ?
Karena itulah di sini penulis ingin menganalisa kembali pemahaman teologis selama ini
tentang hakekat manusia dalam kerangka penciptaan dan melihat hubungan antara kehendak
bebas dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, dalam pemahaman iman Kristen. Apakah
manusia memang jatuh ke dalam dosa diakibatkan oleh kehendak bebasnya, ataukah manusia
4
Arie Jan Plaisier, Manusia, Gambar Allah: Terobosan-terobosan Dalam Bidang Antropologi Kristen, Cet. 3, 2002,
p. 99
3
memang diciptakan sebagai bagian dari karya penciptaan itu sendiri, di mana manusia hanya
diberikan kelebihan akal budi namun dia tetaplah sebuah ciptaan yang diciptakan untuk tujuan
tertentu. Apakah manusia layak dikatakan sebagai sekutu Allah ataukah manusia adalah hamba
(ciptaan) yang sadar akan keberadaannya tetapi juga “merasa” bahwa ia memiliki kehendak
bebas, sehingga dia dapat menentukan sendiri jalan hidupnya termasuk keputusan-keputusan
yang akan diambil dalam hidupnya. Jika manusia sungguh-sungguh memiliki kehendak bebas,
seberapa jauh intervensi Allah dalam diri manusia sehingga dapat dikatakan bahwa manusia
sungguh-sungguh memiliki kehendak bebasnya sendiri ? Sungguhkah manusia berdosa ?
c. Batasan Permasalahan
Dalam
skripsi
ini
penulis
akan
membatasi
permasalahan
dalam
kerangka
memperbandingkan pemahaman dan juga doktrin mengenai konsep dosa dan kehendak bebas
manusia dalam teologi Harun Hadiwijono dengan hasil tafsir Kejadian 3. Di sini penulis akan
melihat hubungan antara pemahaman Harun Hadiwijono mengenai kejatuhan manusia ke dalam
dosa dengan cerita yang terdapat di dalam Kejadian 3. Kejatuhan manusia ke dalam dosa itu
sendiri dalam pemahaman H.Hadiwijono sangat berkaitan erat dengan masalah kehendak bebas
manusia, dan oleh karena itu penulis juga akan melihat keterkaitan antara kehendak bebas
manusia dengan cerita yang terdapat di dalam Kejadian 3.
Dengan menafsirkan kejadian 3 sebagai dasar perbandingan dalam menentukan kaitan
antara dosa dan kehendak bebas manusia, penulis berharap menemukan suatu rumusan yang
jelas. Sehingga nantinya dapat dicapai suatu jawaban yang menentukan sejauh mana pengaruh
Allah dan juga kodrat manusia yang mengakibatkan manusia dikatakan jatuh ke dalam dosa.
d. Alasan Pemilihan Judul
Judul ini dipilih karena penulis melihat bahwa adalah penting untuk meninjau kembali
pemahaman-pemahaman doktrin khususnya doktrin dalam iman Kristen. Salah satu tema yang
sering dibicarakan adalah masalah dosa dan kehendak bebas. Dan untuk itu dalam rangka
berteologi penulis tertarik untuk meninjau kembali pemahaman tentang dosa dan kehendak bebas
tersebut dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber, yaitu cerita yang terdapat dalam Kejadian
3:1-24. Mengapa perikop ini adalah kerena perikop ini sering dijadikan acuan dalam
membicarakan masalah dosa.
4
Untuk itu skripsi ini diberi judul :
“ Memperbandingkan Konsep Dosa dan Kehendak Bebas Manusia dalam Teologi Harun
Hadiwijono dengan Perspektif Tafsir Kejadian 3 ”
e. Metode Pembahasan.
Metode yang akan digunakan penulis dalam membahas persoalan di atas adalah metode
Tafsir Naratif. Penulis terlebih dahulu akan memaparkan pemahaman dosa dan kehendak bebas
manusia menurut Harun Hadiwijono. Lalu kemudian penulis akan menafsirkan Kejadian 3
dengan menggunakan metode tafsir naratif. Dari situ penulis akan
menganalisa dan
membandingkan hasil penafsiran dari Kejadian 3 dengan pandangan Harun Hadiwijono
mengenai konsep dosa dan kehendak bebas manusia. Setelah itu penulis akan memberikan
kesimpulan atas perspektif yang sudah dikaitkan dengan hasil tafsir Kejadian 3 dan pandangan
Harun Hadiwijono.
f. Sistematika Penulisan.
Berdasarkan metode pembahasan di atas penulis akan mensistematikakan penulisan
sebagai berikut :
BAB I. Pendahaluan
Di sini penulis akan memaparkan apa yang menjadi latar belakang permasalahan, permasalahan,
judul, dan juga pembahasan
BAB II. Konsep Dosa dan Kehendak Bebas Manusia menurut Harun Hadiwijono
Pada bagian ini penulis akan mendiskripsikan konsep dosa dan kehendak bebas manusia menurut
Harun Hadiwijono.
BAB III. Tafsir Kejadian 3
Di sini penulis akan mencoba menafsirkan Kejadian 3. Untuk itu penulis akan menggunakan
tafsir naratif sebagai metode tafsir.
BAB IV. Perbandingan antara pandangan Harun Hadiwijono dengan hasil tafsir Kejadian 3
5
Pada Bab ini penulis akan memberikan perspektif tentang apa yang sudah ditafsirkan dari
Kejadian 3 dan memperbandingkannya dengan teologi Harun Hadiwijono.
BAB V. Kesimpulan
Di sini penulis akan memberikan kesimpulan dari apa yang sudah diuraikan pada Bab-bab
sebelumnya.
6
Download