DBD - DSpace UII

advertisement
BAB II.
TELAAH PUSTAKA
2.1 Telaah Pustaka
2.1.1 Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue/ Dengue
Shock Syndrome (DSS)
a. Definisi
∑
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus
yang gelajanya disertai dengan adanya perdarahan. Infeksi virus ini dibawa
atau ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk yang terinfeksi virus dengue.
Nyamuk terinfeksi virus dengue karena menghisap darah penderita dengue
yang mengandung virus dengue. Penyakit ini ditandai dengan adanya demam
tinggi dan mendadak, nyeri dibelakang bola mata, sakit, nyeri sendi dan
disertai dengan ruam kulit, limfadenopati, leukopeni, trombositopeni dan
diatesis hemoragik. Dikatakan sebagai suspek penyakit DBD jika keadaan
diatas menyertai dan sesudah 5-7 hari demam akan berakhir (Soedarto, 2012).
Infeksi
virus
dengue
pada
manusia
mengakibatkan
spektrum
manifestasi klinis berariasi antara penyakit paling ringan (mild undifferentiated
febrile illness), demam dengue, demam berdarah dengue (DBD) hingga disertai
dengan syok atau (dengue shock syndrome). (Soedarmo, S. S P., dkk,2012
∑
Sindrom Syok Dengue/Dengue Shock Syndrome (DSS)
Dengue Shock Syndrome adalah bentuk dengue yang paling berbahaya
dimana penderita menunjukkan gejala antara lain penderita merasa sangat haus,
pucat dan keringat dingin ( karena tekanan darah sangat rendah ), gelisah dan
merasa sangat lemah (Soedarto, 2012).
Menurut U.S Departement Of Health And Human Service, dengue
shock syndrome adalah kasus yang memenuhi empat kriteria dari DBD dan
memiliki bukti kegagalan sirkulasi.
6
b. Etiologi dan Vektor
Demam berdarah disebabkan oleh arbovirus, yaitu virus yang
ditularkan melalui arthropoda. Virus yang menyerang adalah virus dengue
yang ditularkan ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang
terinfeksi. Terdapat dua vektor utama dengue yaitu Aedes (Stegomyia) aegypti
dan Aedes (Stegomyia) albopictus. Nyamuk aedes ini sudah beradaptasi dengan
lingkungan sekitar untuk tumbuh dan berkembang maupun lingkungan hidup
manusia itu sendiri. Nyamuk yang membawa dan sebagai vektor penyakit
DBD ini adalah nyamuk betina, yang menghisap darah pada siang hari, selain
itu nyamuk betina ini sering berpindah dari manusia satu sebagai pejamu ke
pejamu yang lain karena mereka mudah terganggu saat menggigit. Nyamuk Ae.
Aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropics yang ditemukan di bumi,
yang tidak akan bertahan hidup pada musim dingin. Distribusi Ae. Aegypti juga
dibatasi oleh ketinggian 1000 m (WHO, 2012).
Selain vektor nyamuk yang mengakibatkan terjadinya penyakit DBD
ada pula faktor lain yang mempengaruhi terjadinya infeksi penyakit tersebut.
Faktor tersebut adalah faktor host (pejamu/hospes) dan faktor lingkungan
(environment). Faktor hospes lebih kepada kerentanan dari hospes itu sendiri
serta sistem imun sebagai pertahanan dari hospes. Jika imun hospes rendah
maka nyamuk yang membawa virus dengue akan semakin mudah untuk
menyerang hospes tersebut dan akhirnya akan terinfeksi dan terjadi DBD. Jika
virus dengue sudah menjangkit ke hospes,maka virus akan berada di dalam
aliran darah (viremia) dan pada akhirnya akan memunculkan manifestasi klinis
dan gejala dari DBD itu sendiri. Di dalam tubuh hospes itu sendiri, virus
dengue mempunyai masa inkubasi selama 3-14 hari untuk berkembangbiak.
Selain dari sistem imun hospes, lingkungan juga berpengaruh besar dalam
keberadaan dan kehidupan dari nyamuk Ae. Aegypti itu sendiri. Biasanya
dengan lingkungan yang lembab atau bahkan banyak genangan, nyamuk
tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Replikasi dan penularan
virus dengue ke hospes terdapat beberapa tahap, yaitu (1) virus ditularkan ke
manusia melalui saliva nyamuk (2) virus bereplikasi dalam organ target (3)
7
virus menginfeksi sel darah putih dan jaringan limfatik (4) virus dilepaskan dan
bersirkulasi dalam darah (Soegijanto, 2006).
Siklus nyamuk Ae. Aegypti terdapat 4 stadium, yaitu stadium telur,
larva, pupa dan dewasa. Nyamuk betina setelah menghisap darah sekitar 4-5
hari akan bertelur dan meletakkannya pada tempat sedikit diatas permukaan air
karena telur tersebut hanya kana menetas jika tempat tersebut tergenang air.
Selanjutnya, telur menetas sekitar 1-2 hari dan akan menjadi larva yang
langsung dapat mencari makan sendiri untuk hidupnya. Setelah sekitar 5-10
hari larva tersebut akan berubah dan tumbuh menjadi pupa, dan selanjutnya
hanya dalam waktu 2 hari pupa tersebut akan berkembang menjadi nyamuk
dewasa. Nyamuk dewasa setelah keluar dari pupa akan langsung mengawini
nyamuk betinanya dan nantinya hanya dalam waktu 24-36 jam akan mencari
darah hospes yang menjadi mangsanya. Nyamuk dewasa tersebut nantinya
akan tumbuh dan bertahan hidup hanya dalam waktu 3 minggu sebelum
nyamuk tersebut mati (Soedarto, 2012).
c. Patogenesis dan Patofisiologi
Pada kasus demam berdarah dengue (DBD) terdapat beberapa
perubahan fisiologis dalam tubuh, seperti :
i.
Peningkatan permeabilitas endotel, yang akan menyebabkan terjadinya
kebocoran plasma, hipovolemia hingga dapat menyebabkan syok
(WHO, 2005). Peningkatan permeabilitas endotel tersebut diakibatkan
karena kerusakan atau disfungsi endotel akibat infeksi. Jika terdapat
kerusakan dari endotel maka terdapat mekanisme alamiah terhadap
endotel tersebut yang berfungsi mencegar agar pembentukan jaringan
fibrin sebagai mekanisme kerusakan tidak berlebihan. Gangguan
tersebut biasa dikatakan sebagai gangguan fungsional yaitu peningkatan
permeabilitas endotel. Peningkatan permeabilitas endotel tersebut akan
mengakibatkan gambaran histopatologi yaitu ptekie dan ekimosis yang
keduanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan uji tourniquet yang
positif
sebagai
tanda
adanya kebocoran
plasma. Jika
dilihat
menggunakan mikroskop elektron maka terlihat gambaran endotel yang
8
membengkak dan terisi gelembung-gelembung (Sutaryo, 2004). Pada
kebocoran plasma akan mengakibatkan perpindahan volume plasma
dari intravaskuler yang dapat melalui interseluler, menerobos sel
ataupun keduanya. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan volume
plasma (hipovolemia) yang akan berlanjut menjadi syok jika tidak
ditangani. Selain itu, pada DBD ini terdapat cirri khusus pada
kebocoran plasma yaitu adanya kebocoran kearah rongga pleura dan
peritoneum
dan
periode
kebcoran
cukup
singkat
24-48
jam
(WHO,2005).
ii. Hemokonsentrasi, terjadi akibat adanya kebocoran karena peningkatan
permeabilitas endotel. Hemokonsentrasi dapat diartikan sebagai
kenaikan jumlah atau jumlah hematokrit dalam darah. Pada kasus DBD
terjadi kenaikan jumlah trombosit >20 % (Soedarto, 2012).
iii. Trombositopenia, yang akan mengakibatkan hemostasis yang abnormal
pada tubuh. Trombositopenia adalah penuruan jumlah trombosit
dibawah batas normal, pada kasus DBD ini akan terdapat penurunan
trombosit secara drastis dibawah 100.000/mm3 (WHO,2005). Terdapat
beberapa faktor yang dapat mengakibatkan trombositopenia pada kasus
DBD, yaitu insufisiensi sumsung tulang, gangguan trombosit di
sirkulasi (agregasi, menempel pada endotel yang rusak, destruksi
perifer dan kompleks imun) (Sutaryo, 2004).
Pada kejadian syok kasus dengue shock syndrome, terbentuknya
kompleks
virus-antibodi
akan
menyebabkan
terjadinya
meningkatnya
permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi perembesan plasma ke ruang
ekstravaskuler. Hal tersebut dapat terbukti dari peningkatan hematokrit,
penurunan jumlah natrium dan terjadinya efusi pleura serta asites (Soedarto,
2012).
Adapun kerangka patogenesis infeksi dengue pada demam berdarah
dengue (DBD) adalah sebagai berikut :
9
Infeksi Virus Dengue
Demam
anoreksia
muntah
Trombositopen
Hepatomegali
Permeabilitas
Vaskuler naik
Perdarahan
Komplek
AgAb
Dehidrasi
I
Kebocoran Plasma :
- Hemokonsentrasi
- Hipoproteinemia
- Efusi Pleura
- Asites
II
III
Hipovolemi
DIC
Syok
Perdarahan
saluran cerna
Anoksia
IV
Asidosis
Meninggal
DBD derajat I-II-III-IV
Gambar 2.1. Patogenesis infeksi dengue
( Sumber : Hadinegoro. S. R. H., dan Satari. H.I., 2002 )
10
e. Manifestasi Klinis
Demam berdarah dengue biasanya menunjukkan gejala pada masa akut
yang berlangsung sekitar 1-3 hari karena ketika masa inkubasi yang
berlangsung 5-9 hari jarang diikuti dengan gejala klinis. Gejala klinis yang
pertama kali adalah demam tinggi yang mendadak hingga dapat 390C yang
berlangsung 3-7 hari, demam kemudian akan berulang atau biasa disebut
dengan demam bifastik yaitu demam yang di kura akan membentuk gambaran
“pelana kuda”. Bersamaan dengan demam pelana kuda tersebut juga akan
terlihat gejala klinis perdarahan, yaitu terjadi perdarahan pada bekas suntikan
saat pengambilan darah, perdarahan kecil (petekie) juga terlihat di awal fase
demam dan terdapat dibeberapa bagian seperti wajah, ketiak, tangan dan kaki
serta di daerah palatum lunak. Selain itu juga terdapat gejala klinis berupa
muka merah, anoreksia, muntah, sakit kepala, nyeri otot, tulang serta nyeri
sendi. Terdapat pula sakit tenggorokan, yang disertai batuk dan pilek serta
dapat terjadi nyeri perut dan sakit epigastrum (Soedarto, 2012).
Ketika demam berdarag dengue (DBD) sudah memasuki derajat III dan
IV atau DBD dengan syok maka akan muncul manifestasi nadi cepat dan
lemah, tekanan darah ≤ 20 mmHg hipotensi, akral dingin atau sampai kea rah
syok berat dengan tanda tidak terabanya nadi dan tidak terukurnya tekanan
darah ( Hadinegoro, 2002).
f. Diagnosis
Untuk dapat menegakkan diagnosis sebagai demam berdarah dengue
(DBD) maka dibutuhkan informasi yang terkait secara rinci dan mendalam dari
proses anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.
Pada anamnesis yang dilakukan adalah menggali informasi mengenai
gejala klinis yang timbul, terutama demam yang terjadi seperti pelana kuda
yang menjadi kunci untuk menyingkirkan diagnosis banding yang lain. Selain
demam, pada pasien anak kurang dari 15 tahun dapat digali pula keluhan lain
seperti lesu, muntah, gejala perdarahan seperti petekie, ekimosis, sakit kepala,
nyeri tulang otot dan sendi karena biasanya menyertai keluhan utama tersebut.
11
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan hepatomegali (pembesaran
hati) dan hasil positif pada uji tourniquet (Rumple Leede).
Diagnosis DBD dapat ditegakkan dengan menggunakan kriteria WHO
(1997) yang dikutip oleh Subaiki (2013) sebagai berikut :
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari
2. Terdapat beberapa gejala klinis perdarahan , termasuk uji tourniquet
positif, petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
melena dan hepatomegali.
3. Trombositopeni (trombosit < 100.000/mm3)
4. Terdapat peningkatan permeabilitas vaskuler
-
Hematokrit meningkat > 20%
-
Penurunan hematokrit > 20% setelah rehidrasi
-
Tanda - tanda seperti efusi pleura, asites dan hipoproteinemia
Menurut WHO (2012), diagnosis DSS dapat pula ditegakkan dengan
keempat kriteria DBD ditambah dengan bukti adanya gagal sirkulasi yang
dimanifestasikan sebagai berikut :
∑
Nadi lemah dan cepat, dan
∑
Tekanan nadi menyempit ( mmHg (2,7 kPa))
Atau dimanifestasikan dengan :
∑
Hipotensi untuk usia, dan
∑
Kulit dingin dan lembab serta gelisah.
Selain kriteria tersebut, terdapat kriteria minimum menurut WHO yang
dikutip oleh Soedarto (2012) yang dapat membantu menegakkan diagnosis
demam berdaraha dengue, yaitu :
-
Demam
-
Manifestasi perdarahan (hemokonsentrasi, trombositopeni, tes
tourniquet positif)
-
Kegagalan
sirkulasi
(tanda-tanda
peningkatan
vaskuler : hipoproteinemia, efusi cairan)
-
Hepatomegali
12
permeabilitas
Sedangkan derajat keparahan demam berdarah dengue (DBD) menurut
WHO (1997) yang dikutip oleh Subaiki (2013) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Derajat I , dijumpai demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya
manidestasi perdarahan adalah uji tourniquet positif.
b. Derajat II, gejala seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit
dan perdarahan lain.
c. Derajat III, didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis
di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah.
d. Derajat IV, ditemukan syok berat nadi tidak dapat diraba dan tekanan
darah tidak terukur.
Adapun algoritma untuk mengetahui serta membedakan diagnosis DBD
dengan diagnosis demam lainnya sebagai berikut :
Infeksi virus dengue
Asimtomatik
Undifferentiated
fever (sindrom
infeksi virus)
Simtomatik
Demam Dengue
(DD)
Tanpa
perdarahan
Demam berdarah
dengue (DBD)
disertai
perembesan
Expanded dengue
syndrome
Isolated
organopathy
Unusual
manifestations
Disertai
perdarahan
DBD
DBD tanpa
dengan syok
syok
Gambar 2.2 Algoritma kriteria diagnosis infeksi dengue menurut WHO 2011
(Sumber : World Health Organization-South East Asia Regional Office.
Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue
Hemorrhagic Fever. India: WHO; 2011)
13
g. Penatalaksanaan
Menurut WHO (2009), penatalaksanaan dan manajemen pengobatanan
pada pasien demam berdarah dengue (DBD) dapat dibedakan berdasarkan fasefase penyakit tersebut, yaitu :
a. Fase Demam
Pada fase demam pasien dapat diberikan antipiretik + cairan rumatan /
jika pasien masih mau untuk minum diberikan cairan oral dan setelah
itu dilakukan pemantauan setiap 12-24 jam.
b. Fase Kritis
Pada fase kritis pasien lebih membutuhkan pemberian cairan yaitu
dapat diberikan cairan rumatan + defisit, dan disertai dengan
pemantauan gejala klinis serta keadaan laboratorium setiap 4-6 jam.
c. Fase Penyembuhan
Pada fase penyembuhan ini pasien masih memerlukan cairan rumatan
atau cairan oral seperti fase-fase sebelumnya, dan masih harus
dimonitor tiap 12-24 jam.
Menurut WHO (2009), selain penatalaksaan diatas yang berdasarkan
dengan fase-fase penyakit ada pula penatalaksanaan DBD pada anak yang
dibedakan
dari
manifestasi
yang
timbul
dan
menyertai.
Adapaun
pembagiannya yaitu demam berdarah dengue tanpa syok dan demam berdarah
dengue dengan syok.
a. Tatalaksana demam berdarah dengue tanpa syok (anak dirawat di
rumah sakit)
-
Berikan anak banyak minum untuk mengganti cairan yang hilang
akibat kebocoran plasma, demam dan muntah atau diare.
-
Berikan parasetamol jika demam.
-
Berikan infuse dengan dehidrasi sedang :
o Berikan hanya larutan isotonic seperti ringer laktat/asetat
o Kebutuhan cairan parenteral sesuai dengan berat badan anak
o Pantau tanda ital dan dieresis setiap jam, serta periksa
laboratorium setiap 6 jam
14
o Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik,
turunkan jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil.
-
Apabila terjadi perburukan klinis maka berikan tatalaksana sesuai
dengan tatalaksana syok terkompensasi.
b. Tatalaksana demam berdarah dengue dengan syok
-
Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4
L/menit secara nasal.
-
Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/asetat
secepatnya.
-
Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian
kristaloid 20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau
pertimbangkan pemberian koloid 10-20ml/kgBB/jam maksimal 30
ml/kgBB/24 jam.
-
Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin
menurun pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi;
berikan transfuse darah/komponen.
-
Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer
mulai membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi
hingga 10 ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap
diturunkan tiap 4-6 jam sesuai kondisi klinis dan laboratorium.
-
Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 3648 jam.
-
Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang
terlalu banyak daripada pemberian yang terlalu sedikit.
15
Tersangka DBD
Demam tinggi, mendadak, terus
menerus < 7 hari, apabila tidak disertai
infeksi saluran napas bagian atas,
dugaan infeksi virus dengue lebih kuat
Tidak ada kedaruratan
Ada kedaruratan
Periksa Uji
Torniquet
Uji Tourniquet (+)
Jumlah trombosit
≤ 100.00/ul
Jumlah trombosit
≥ 100.00/ul
Uji Torniquet (-)
Rawat jalan
parasetamol
kontrol tiap hari
sampai demam
hilang
Rawat jalan
Rawat inap
Nilai tanda klinis
Minum banyak 1,5-2 lt/hari
periksa Hb, Ht,
Parasetamol
trombosit bila demam
Kontrol tiap hari sampai
menetap setelah hari
demam turun
sakit ke-3
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap
hari
Perhatian untuk orangtua
Pesan bila timbul tanda syok, yaitu gelisah, lemah,
kaki/tangan dingin, sakit perut, BAB hitam, BAK kurang
Lab : Hb & Ht naik, trombosit turun
Segera bawa ke rumah sakit
Gambar 2.3. Algoritma pentalaksanaan untuk tersangka DBD
(Sumber : Pedoman Pelayanan Medis IDAI, 2009)
16
Tersangka DBD derajat I dan II tanpa peningkatan Hematokrit
Gejala klinis : demam 2-7 hari
Uji Tourniquet (+) atau perdarahan
spontan
Lab : Ht tidak meningkat
Pasien masih dapat minum
Pasien tidak dapat minum
Beri minum banyak 1-2 lt/hari atau 1
sendok makan tiap 5 menit
Pasien muntah terus menerus
Jenis minuman : air putih, the manis,
sirup, jus buah, susu, oralit
Pasang infuse NaCl 0,9%: Dx 5%
(1:3), tetesan rumatan sesuai berat
badan
Bila suhu > 38,50 C beri paracetamol
Periksa Hb, Ht, Trombosit tiap 6-12
jam
Bila kejang beri obat anti konvulsif
Ht naik dan atau trombosit
Monitor gejala klinis dan lab
Perhatikan tanda syok
Palpasi hati setiap hari
Infus ganti Ringer Laktat
Ukur dieresis setiap hari
(tetesan disesuaikan, lihat bagian 3)
Awasi perdarahan
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap 6-12 jam
Perbaikan klinis dan laboatoris
Pulang
Gambar 2.4. Algoritma penatalaksanaan untuk DBD derajat I atau II
(Sumber : Pedoman Pelayanan Medis IDAI,2009)
17
DBD derajat II dengan peningkatan hematokrit ≥ 20 %
Cairan awal
RL/NaCl 0,9% atau
RLDx 5% NaCl
0,9%+Dx5%6-7
Monitor tanda vital/nilai Ht dan trombosit tiap 6 jam
Perbaikan
Tidak ada perbaikan
Tidak gelisah
Nadi kuat,
Tekanan darah
stabil
Diuresis cukup (1
ml/kg/jam)
Ht turun (2 x px)
Tanda Vital memburuk
Gelisah
Distress
pernapasan
Frekuensi nadi
naik
Diuresis
kurang/tidak ada
Ht meningkat
Tetesan dikurangi
Perbaikan
Tetesan dinaikkan
10-15 ml/kg/jam
Evaluasi 15 menit
5 ml/kg/jam
Tanda vital tidak stabil
Perbaikan
Sesuaikan tetesan
Distress pernapasan
Ht naik
Tek. Nadi ≤ 20
3 ml/kg/jam
IVFD stop pada 24-48 jam
Bila VS/Ht stabil dan
dieresis cukup
Koloid 20-30 ml/kg
Hb/Ht turun
Transfusi darah
segar 10 ml/kg
Perbaikan
Gambar 2.5. Algoritma penatalaksanaan untuk DBD derajat II dengan
peningkatan hematokrit ≥ 20 %
(Sumber : Pedoman Pelayanan Medis IDAI,2009)
18
h. Komplikasi
Pada kasus demam berdarah dengue dapat terjadi komplikasi akibat dari
perjalanan pernyakit itu sendiri maupun akibat dari pengobatan yang diberikan.
Komplikasi yang dapat terjadi berupa sepsis, infeksi pneumonia, infeksi luka ,
overhydration akibat pemberian cairan jika pasien tersebut mengalami syok.
Kelebihan yang terjadi akan berakibat jangka panjang pula terjadinya
kegagalan jantung dan paru-paru, selain itu komplikasi gagal ginjal akut juga
dapat terjadi walaupun kemungkinan terjadinya sangat kecil.
19
2.1.2. Trombosit
Trombosit adalah komponen darah yang dihasilkan oleh jaringan
hemopoetik, dan berfungsi utama dalam proses pembekuan darah.
Trombosit mempunyai jumlah normal 200.000-400.000 per miroliter
darah (Sutedjo., AY, 2009). Selain berfungsi untuk pembekuan darah,
trombosit juga berfungsi untuk menyumbat lubang-lubang kecil pada
pembuluh darah. Trombosit melepaskan ADP yang akan menyebabkan
sebagian atau sejumlah besar dari trombosit tersebut bersatu untuk
membentuk sumbat trombosit atau sumbat hemostatik. Trombosit dapat
diukur menggunakan teknik apusan darah tepi yang diambil dari ujung
jari. Dari hasil apusan darah tepi tersebut maka dapat dihitung jumlah
trombositnya. Jika nilai trombosit dari pemeriksaan didapatkan hasil
<200.000 per mircroliter darah maka akan disebut trombositopenia.
Trombositopenia dapat diakibatkan karena adanya infeksi, salah satu
contoh infeksinya adalah infeksi nyamuk dengue yaitu pada penyakit
DBD. Infeksi tersebut dapat mengakibatkan penurunan produksi jumlah
trombosit dalam tubuh, sehingga akan muncul manifestasi perdarahan.
Pada DBD salah satu manifestasi yang tampak yaitu perdarahan (petekie),
oleh sebab itu trombositopenuia merupakan salah satu indicator dalam
pemeriksaan untuk DBD. Selain trombositopenia, jumlah trombosit dalam
tubuh dapat mengalami kenaikan yang disebut trombositosis. Dapat
disebut trombositosis jika hasil dari pemeriksaan di dapatkan hasil
>500.000 per mikroliter darah. Pada kasus DBD trombosit akan menurun
pada fase demam yang dialami pasien dan akan semakin menurun dengan
jumlah terenda ketika memasuki masa syok. Fungsi trombosit pada DBD
terbukti menurun mungkin disebabkan karena proses imunologis yang
terjadi ketika berlangsungnya infeksi dengan ditemukannya kompleks
imun di dalam darah pasien. Hal tersebutlah yang banyak dianggap
penyebab perdarahan pada kasus DBD (Soedarmo, S. S P., dkk,2012).
20
2.2.
Kerangka Teori
Vektor nyamuk DBD
( Aedes aegypti )
Kompleks virusantibodi
Infeksi DBD
Perdarahan masif
Trombositopenia
Leukopenia
Pemeriksaan darah
∑ Jumlah trombosit
∑ Jumlah leukosit
∑ Jumlah limfosit
∑ Jumlah hematokrit
∑ Jumlah volume
plasma
Derajat Klinik DBD
∑ Derajat I
∑ Derajat II
(DBD tanpa syok)
Derajat Klinik DBD
∑ Derajat III
∑ Derajat IV
(DBD dengan syok/DSS)
Pemberian terapi
DBD tanpa syok
Pemberian terapi
DBD dengan syok
Gambar. 2.6. Kerangka Teori
21
2.3.
Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan landasan teori di atas, maka peneliti meneruskan kerangka
konsep penelitian sebagai berikut :
Variabel Independen
Jumlah Trombosit
Variabel Dependen
Variabel Pengganggu
Pasien Dengue
Shock Syndrome
(DSS) / DBD
dengan syok
Kondisi Host :
-
Sistem imun
Keadaan nutrisi
Jumlah leukosit
Jumlah
volume
plasma
- Penyakit autoimun
- Penyakit terkait
trombosit
- Riwayat
DBD/DSS
Kondisi Lingkungan
- Temperatur udara
- Curah hujan
- Kelembaban udara
Gambar. 2.7. Kerangka Konsep Penelitian
2.4.
Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jumlah trombosit
dengan kejadian dengue shock syndrome (DSS) pada pasien anak di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantuk Yogyakarta.
22
Download