BAB I PENDAHULUAN

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada akhir Perang Dunia II tepatnya tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, dunia
terutama Jepang dikejutkan dengan dijatuhkannya bom atom (nuklir) diatas kota
Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Kedua bom hasil rancangan para ilmuwan
Amerika Serikat tersebut telah menimbulkan korban jiwa hampir 200.000 ribu
orang dan membawa dampak kerusakan yang parah bagi pemerintah Jepang.
Namun bagi Amerika Serikat dan pasukan sekutu lainnya, bom nuklir tersebut
dianggap telah merubah sejarah dunia dan mampu menghentikan Perang Dunia II
yang telah berlangsung hampir 3,5 tahun dengan ditandai menyerahnya tentara
Jepang tanpa syarat kepada tentara sekutu. Bagi Paul Warfield Tibbets, seorang
pilot pesawat Enola Gay yang membawa bom nuklir untuk dijatuhkan ke kota
Hiroshima, bahwa apa yang telah dilakukannya adalah penting untuk mengurangi
lebih banyak pertumpahan darah. Dengan menjatuhkan bom atom, Tibbets
percaya ia telah menghentikan perang secepat mungkin 1.
Pengeboman nuklir di kota Hiroshima dan Nagasaki meskipun dapat
menghentikan Perang Dunia ke II, justru menimbulkan konflik baru yang
mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Keberhasilan teknologi
nuklir dalam pembuatan persenjataan yang bersifat perusak massal (mass
1
Majalah Angkasa, Agustus 2005 hlm:34
destructive) memicu ketegangan yang lebih besar dengan lahirnya era
perang dingin yang ditandai dengan perlombaan persenjataan nuklir antara
negara-negara blok barat (Amerika Serikat) dengan negara-negara blok timur (Uni
Sovyet). Perang dingin juga mendorong negara penghasil nuklir seperti Amerika
Serikat dan Uni Sovyet memasok bahan-bahan maupun senjata nuklir dan
membantu pembangunan instalasi nuklir kepada negara-negara ketiga.
Pemasokan bahan-bahan nuklir dari negara-negara nuklir tersebut yang
menyebabkan
semakin
meluas
dan
meningkatnya
negara-negara
yang
mengembangkan teknologi nuklir. Namun kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi-lah yang sebenarnya mendorong negara-negara untuk memiliki dan
membangun instalasi-instalasi nuklir untuk meningkatkan prestise di mata dunia.
Nuklir dalam perkembangannya tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer
saja, seperti pembuatan senjata nuklir, namun nuklir juga dapat digunakan untuk
kepentingan sipil seperti pembangkit tenaga listrik tenaga nuklir (PLTN), dan juga
penelitian-penelitian tentang nuklir.
Peranan nuklir memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap hubungan
internasional negara-negara di dunia. Bahaya nuklir sangat disadari oleh setiap
negara yang dapat membawa negara-negara tersebut selaku subyek hukum
internasional menyelesaikan benturan kepentingan-kepentingan mereka dalam
bidang nuklir melalui upaya perundingan, diplomasi maupun propaganda.
Kekhawatiran negara-negara tentang penggunaan nuklir untuk pengembangan dan
penggunaan senjata nuklir mendorong lahirnya traktat-traktat internasional dalam
bidang persenjataan nuklir. Salah satu traktat internasional dalam bidang
persenjataan nuklir adalah Treaty on the Non Proliferation of Nuclear Weapon
(NPT) yang ditandatangani tanggal 1 Juli 1968 dan mulai berlaku tanggal 5 Maret
1970. Satu hal yang menonjol dalam perjanjian ini bahwa negara non nuklir
dilarang untuk membuat atau memiliki senjata nuklir, sedangkan bagi negara
nuklir tidak ada larangan untuk mengembangkan, membuat, atau bahkan
menggunakan senjata nuklirnya 2.
Perjanjian NPT ini mensyaratkan Safeguard System atau sistem
pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional/ International Atomic Enegy
Agency (IAEA) terhadap semua peralatan, bahan-bahan dan instalasi nuklir.
Negara-negara peserta NPT memiliki kewajiban untuk memberi akses bagi IAEA
terhadap setiap program nuklir yang akan maupun tengah dijalankan sehingga
diharapkan laporan IAEA tersebut dapat meyakinkan negara lain bahwa program
nuklir negara peserta NPT hanya ditujukan untuk kepentingan damai, yakni untuk
pembangkit energi listrik, bukan untuk pembuatan senjata nuklir.
Dengan ditegakkannya Traktat Non Proliferasi 1968, proliferasi senjata
nuklir menjadi isu yang terus menjadi bahan perdebatan internasional hingga hari
ini. Salah satu isu proliferasi senjata nuklir tersebut adalah program nuklir Iran
yang kini berkembang menjadi suatu kasus yang sedang di tangani oleh Dewan
Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Kasus nuklir Iran muncul
menjadi perdebatan masyarakat internasional dimulai dengan adanya tuduhan
2
Dahlan Nasution.1989.Politik Internasional:Konsep dan Teori.Jakarta:Erlangga.hlm:143
Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa bahwa program nuklir yang sedang
dikembangkan oleh Iran termasuk dibangunnya sejumlah reaktor nuklir di
sejumlah kota di negara pimpinan Mahmoud Ahmaddinejad tersebut. Inspeksi
IAEA terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran telah dilakukan dan dilaporkan
kepada DK PBB oleh ketua IAEA, Mohamed Elbaradei. Disisi lain, pemerintah
Iran bersikeras membantah bahwa program nuklir yang tengah dikembangkan
pemerintah Iran bukan untuk kepentingan militer dan pembuatan senjata
melainkan untuk kepentingan sipil dan damai, sesuai dengan ketentuan NPT.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai organisasi internasional yang
salah satu tujuannya untuk mempertahankan perdamaian dan kemananan
internasional sesuai dengan Pasal 1 Piagam PBB 1945, melalui organ Dewan
Keamanan-nya sedang berupaya untuk menyelesaikan kasus nuklir Iran tersebut.
Dalam menyikapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut, ada ketentuanketentuan yang harus dipatuhi oleh DK PBB agar permasalahan tidak berkembang
menjadi suatu konflik yang semakin menegang dan meluas. Salah satu ketentuan
yang harus dipatuhi oleh DK PBB adalah ketentuan yang tercantum dalam Piagam
PBB 1945, yang merupakan salah satu instrumen hukum internasional yang
penting dan menjadi dasar berdirinya PBB.
Permasalahan lain yang muncul adalah DK PBB menyikapi kasus nuklir
Iran tersebut di tengah perdebatan mengenai eksistensi PBB itu sendiri, yang
merupakan akumulasi dari sikap skeptis masyarakat internasional terhadap PBB
mengenai ketidakberhasilan setiap kasus-kasus internasional yang ditangani oleh
PBB. Tuntutan adanya reformasi PBB terutama mengenai jumlah anggota tetap
DK PBB terus digalakkan oleh masyarakat internasional. Selama ini, PBB
dianggap gagal dalam menjaga perdamaian dunia akibat sikap dari masing-masing
anggota DK PBB untuk menyelesaikan permasalahan yang menyangkut
keamanan intenasional.
Sikap skeptis juga salah satunya ditunjukkan oleh pemerintah Iran. Pada
kasus nuklir Iran, pemerintah Teheran menegaskan siap melakukan konfrontasi
jika DK PBB melakukan intervensi dalam masalah program nuklir Iran. Hamid
Reza Asefi, juru bicara Iran mengatakan segala tindakan yang dilakukan DK PBB
akan membawa dampak negatif dalam kerja sama Iran dengan Badan Pengawas
nuklir PBB, IAEA 3. Sikap skeptis pemerintah Iran tersebut didukung oleh seluruh
rakyat Iran. Pembelaan Iran terhadap program nuklirnya juga didukung oleh
sejumlah negara lain terutama negara-negara Islam dan negara-negara yang
selama ini memiliki hubungan kurang baik dengan Amerika Serikat .
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan studi lebih lanjut terhadap DK PBB terutama dalam menyikapi kasus
nuklir Iran. Oleh karena itu judul penulisan hukum ini adalah TINDAKAN
DEWAN KEAMANAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (DK PBB)
TERHADAP KASUS NUKLIR IRAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
PERDAMAIAN DUNIA.
3
Solopos, 8 Mei 2006.”Jika DK PBB Intervensi Soal Nulir Iran,Iran Siap Lakukan
Konfrontasi.hlm:5
B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dengan berpedoman pada latar belakang masalah di atas, agar
masalah yang dibahas tidak terlalu luas dan umum, maka penulis
memberikan pembatasan masalah dengan tujuan agar penelitian dilakukan
secara cermat dan sistematis sehingga tujuan penulisan hukum ini dapat
tercapai.
Kasus nuklir Iran yang dikaji dalam penulisan hukum ini adalah
kasus nuklir Iran tahun 2006 terutama Iran dalam masa pemerintahan
presiden Mahmoud Ahmaddinejad. Penulis juga membatasi masalah hanya
pada ketentuan yang diatur dalam Piagam PBB 1945 sebagai ketentuan
hukum DK PBB dalam menyikapi kasus nuklir Iran. Sedangkan
perdamaian dunia yang dimaksud dalam penulisan hukum ini adalah suatu
kondisi aman dan bebas dari ancaman perang dan kekuatan bersenjata
(army forces warfare) yang dapat dilakukan oleh negara-negara di dunia.
2.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan pokok-pokok bahasan yang akan
dibahas dalam penulisan hukum ini. Rumusan masalah yang jelas akan
menghindarkan dari pengumpulan data yang tidak diperlukan sehingga
penelitian akan lebih terfokus pada tujuan yang akan dicapai.
Sesuai dengan latar belakang di atas, maka penulis akan
mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
a.
Bagaimanakah tindakan DK PBB dalam menyikapi kasus
nuklir Iran menurut Piagam PBB 1945?
b.
Faktor-faktor apakah yang menghambat tindakan DK PBB
dalam menyikapi kasus nuklir Iran?
c.
Bagaimanakah implikasi tindakan DK PBB menyikapi kasus
nuklir Iran terhadap perdamaian dunia?
C.Tujuan Penulisan
Kegiatan penulisan ini dilakukan oleh saya agar dapat menyajikan data
akurat sehingga dapat memberi manfaat dan mampu menyelesaikan masalah.
Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian mempunyai tujuan obyektif dan
tujuan subyektif sebagai berikut:
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mengetahui tindakan DK PBB dalam menyikapi kasus
nuklir Iran menurut Piagam PBB 1945.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat tindakan
DK PBB dalam menyikapi kasus nuklir Iran.
c. Untuk mengetahui implikasi tindakan DK PBB menyikapi
kasus nuklir Iran terhadap perdamaian dunia.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis bidang
hukum internasional khususnya mengenai tindakan Dk PBB
dalam menyikapi kasus nuklir Iran dan implikasinya terhadap
perdamaian dunia.
b. Memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar S1
dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
D.Manfaat Penulisan
Penulis berharap bahwa kegiatan penulisan hukum ini akan bermanfaat
bagi saya maupun orang lain. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari
penulisan hukum ini antara lain:
1. Manfaat teoritis
a. Memberikan sumbangan pemikiran dan menambah khasanah
pustaka kajian Hukum Internasional pada umumnya dan
Hukum Organsisasi Internasional pada khususnya.
b. Menambah
informasi
baik
perkembangan kasus nuklir Iran.
semua
pihak
mengenai
2. Manfaat Praktis
a. Menjadi
wahana
bagi
penulis
untuk
mengembangkan
penalaran, membentuk pola pikir ilmiah sekaligus untuk
mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang
diperoleh.
b. Sebagai bahan masukan bagi pihak yang terkait langsung
dengan penelitian ini.
E. Metode Penulisan
Metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai
suatu tujuan, untuk mencapai tingkat ketelitian, jumlah dan jenis yang
dihadapi. Metode tersebut dilakukan dengan mengadakan klasifikasi yang
berdasarkan pada pengalaman, dapat ditentukan teratur dan terpikirkannya
alur yang runtut dan baik untuk mencapai suatu maksud 4. Metode penulisan
yang digunakan oleh penulis dalam penulisan ini adalah:
1.Jenis Penulisan
Penulisan ini jika dilihat dari sumber datanya merupakan
penulisan hukum normatif, yakni penulisan dengan cara meneliti
bahan pustaka yang merupakan data sekunder dan juga disebut
sebagai penulisan kepustakaan. Penulisan hukum ada 7 jenis dari
persepektif tujuannya, yakni mencakup penulisan inventarisasi
4
Winarno Surakhmat.1982.Pengantar Penelitian Ilmiah.Yogyakarta:Transito.hlm:131
hukum positif, penulisan asas-asas hukum, penulisan hukum klinis,
penulisan hukum yang mengkaji sistematika peraturan perundangundangan, penelitian yang ingin menelaah sinkronisasi suatu
peraturan perundang-undangan, penelitian perbandingan hukum,
dan penelitian sejarah hukum 5.
Penulisan yang dilakukan oleh saya ini merupakan
penulisan deskrpitif, yakni penulisan yang dimaksudkan untuk
memberikan data awal yang seteliti mungkin tentang manusia,
keadaan atau gejala-gejala lainnya. Maksud dari penulisan ini
terutama
untuk
mempertegas
hipotesa-hipotesa
agar
dapat
membantu dalam memperkuat teori-teori lama atau dalam rangka
penyusunan teori-teori baru 6.
2.Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data
sekunder, yakni data yang diperoleh melalui bahan kepustakaan 7.
Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian hukum ini antara
lain adalah Charter of The United Nations (Piagam PBB 1945),
Security Council’s Resolution 1969, Security Council’s Resolution
1737, Non Proliferation Treaty (NPT) serta bahan-bahan literatur
dan karya ilmiah yang berkaitan dengan tindakan DK PBB
5
Amirudin dan Asikin Zainal.2004Pengantar Metode Penelitian Hukum.Jakarta:PT.Raja
Grafindo Persada.hlm:132
6
Soerjono Soekanto.1986.Pengantar Penelitian Hukum Cet-3.Jakarta.UI Pres.hlm:10
7
Ibid.hlm:12
menyikapi kasus nuklir Iran dan implikasinya terhadap perdamaian
dunia.
3.Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah
sumber data sekunder, yakni sumber data yang bersifat pribadi dan
bersifat publik 8, yang terdiri dari:
1) Bahan hukum primer, yakni bahan hukum yang dikeluarkan
oleh pemerintah dan bersifat mengikat berupa peraturan
perundang-undangan, perjanjian internasional dalam bentuk
traktat dan konvensi 9 yang dalam hal ini berupa Charter
of The United Nation (Piagam PBB 1945).
2) Bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum yang
memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer,
seperti hasil ilmiah para sarjana, hasil penelitian, bukubuku, koran, majalah, internet dan makalah.
3) Bahan hukum tersier, yakni bahan-bahan hukum yang
bersifat menunjang bahan hukum primer dan sekunder yang
berupa kamus bahasa Inggris-Indonesia, Kamus Besar
Bahasa Indonesia.
8
9
Ibid.hlm:12
Burhan Ashofa.Metode Penelitian Hukum.Jakarta:Rineka Cipta.hlm:103
4.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
hukum ini adalah studi kepustakaan dengan cara membaca, mengkaji
dan menelaah dengan teliti sumber data dalam hubungannya dengan
masalah-masalah yang diteliti mengenai tindakan DK PBB dalam
menyikapi kasus nuklir Iran dan implikasinya terhadap perdamaian
dunia ditinjau dari Piagam PBB 1945.
5.Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah poses mengorganisasikan dan
mengurutkan data ke dalam pola, ketegori dan satuan pola
sehingga dapat ditentukan dengan tema dan dapat dirumuskan
hipotesis kerja seperti disarankan oleh data 10.
Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis dalam
penulisan ini adalah teknik analisis data kualitatif, yakni suatu
uraian tentang cara-cara analisis berupa kegiatan mengumpulkan
data kemudian diedit dahulu untuk selanjutnya dimanfaatkan
sebagai bahan analisis yang sifatnya kualitatif 11.
Teknik analisis data ini dilakukan dengan teknik analisis data
yang logis dengan mendasarkan pada pola pikir deduktif dan induktif
mengenai tindakan DK PBB dalam menyikapi kasus nuklir Iran dan
10
11
Ibid.hlm:22
Burhan Ashofa.2001.Metode Penelitian Hukum.Jakarta:Rineka Cipta.hlm:61-62
implikasinya terhadap perdamaian dunia ditinjau dari Piagam PBB
1945 yang diolah secara sistematis dengan mencari hubungan antara
pemikiran penulis dengan teori-teori yang diteliti serta dengan
dikaitkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku, khususnya Piagam
PBB 1945 dengan tetap berpegang pada kerangka permasalahan
yang ada.
F.Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkan penulisan hukum ini, maka penulis
dalam penulisannya membagi menjadi empat bab dan tiap-tiap bab
dibagi dalam sub bab yang disesuaikan dengan luas pembahasannya.
Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
BAB I
: PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan tentang Latar Belakang
Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat
Penulisan, Metodologi Penulisan yang kemudian diakhiri
dengan Sistematika Penulisan Hukum
BAB II
: TINJAUAN PUSTAKA
Dalam
mengenai
bab
ini
kerangka
Sejarah/Pengertian
penulis
teori
tentang
akan
yang
menguraikan
berisi
organisasi
tentang
Internasional
,Tinjauan tentang Penyelesaian sengketa Internasional
dan
yang
terakhir
menguarikan
tentang
PBB
(Perserikatan Bangsa – bangsa).
BAB III
: GAMBARAN UMUM:
Dalam bab ini diuraikan mengenai tentang
gambaran umum dimana yang menguraikan tentang
Struktur/Gambaran
umum
tentang
Badan
Atom
Internasional (IAEA) dan Tinjauan tentang Nuklir,lalu
membahas tentang Negara Iran sebagai subjek Hukum
Internasional dan terakhir membahas tentang peranan
Organisasi Internasional dalam Perdamaian Dunia.
BAB IV
: BEBERAPA KONFLIK NEGARA DALAM
ORGANISASI PBB.
Dalam bab ini menguraikan tentang pembahasan
atas permasalahan pada penulisan Skripsi, yang mana
menguraikan tentang tindakan Dewan Keamanan PBB
dalam menyikapi kasus Nuklir Iran menurut Piagam
PBB. Dan selanjutnya juga menguraikan mengenai
faktor-faktor
yang
menghambat
tindakan
Dewan
Keamanan PBB dalam menyikapi kasus Nuklir Iran. Dan
yang terakhir menguraikan mengenai implikasi tindakan
Dewan Keamanan PBB dalam menyikapi kasus Nuklir
Iran terhadap Perdamaian Dunia.
BAB V
: P EN U T U P.
Dalam Bab ini menguraikan tentang kesimpulan
dari isi keseluruhan permasalahan pembahasan dalam
Skripsi ini. Dan juga dalam bab ini memberikan saran dan
kritik terhadap permasalahan dan pembahasan Skripsi ini.
Download