Pemanfaatan Biochar dan Efisiensi Pemupukan Kedelai

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
Pemanfaatan Biochar dan Efisiensi Pemupukan Kedelai Mendukung
Program Pengelolaan Tanaman Terpadu di Provinsi Aceh
Utilization of Biochar and Fertilizing Efficiency on Soybean in Supporting
Integrated Crop Managament Program in Aceh Province
Abdul Azis*), Chairunas, Basri AB1), Didi Darmadi2) dan Yuana J3)
1)
Peneliti 2)Penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh
3)
Penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan
Jalan Panglima Nyak Makam No. 27 Lampineung Banda Aceh Telp. 0651-7551811
*)
Corresponding author: Email: [email protected] ; [email protected]
HP. 08116824215 dan 08126913990
ABSTRACT
The concept of ICM cultivation system and the use of biochar are expected to maintain the
enviroment so that the crop are able to be optimal and sustsinable.. The purpose of this
study is to determine the influence of biochar on growth and yield of soybean, as well as
the efficiency of inorganic fertilizer on sustainable soybeans. The study is conducted in
Dayeuh village, Sakti subdistrict, in Pidie district started from May to November 2014.
This study uses factorial block design with three replications. Factors that are studied were
biochar 0, 10 and 20 t / ha and fertilizer consisted of 0, 50 and 100%. Observations were
carried out on the crop height, number of branches per crop, number of pods, number of
filled / empty pods per crop, dry seed yield of tile 4 x 2 m and a weight of 100 seeds. The
study showed that soybean indeed response to NPK fertilization-bast and Biochar supply.
The highest yield which is obtained in the combination of NPK fertilization-bast = 100kg /
ha and a biochar 20 ton / ha, is 33.38 ku / ha of dry grain, which is 44.45% higher than
without fertilization and biochar. In accordance with the nature of biochar which is stable
in the soil.
Key words: Biochar utilization, fertilization efficiency, soybean and ICM
ABSTRAK
Konsep sistem budidaya PTT dan penggunaan biochar pada sistem budidaya yang
dilakukan diharapkan mampu menjaga kesehatan dari lingkungan tumbuh tanaman
budidaya sehingga tanaman mampu untuk berproduksi secara optimal dan berkelanjutan.
Tujuan pengkajian untuk mengetahui pengaruh biochar terhadap pertumbuhan dan hasil
kedelai, serta efisiensi penggunaan pupuk anorganik pada kedelai yang bekelanjutan.
Kegiatan dilaksanakan pada lahan kering di desa Dayah kecamatan Sakti kabupaten Pidie
mulai bulan Mei sampai Nopember 2014. Pengkajian mengunakan rancangan acak
kelompok faktorial, tiga ulangan. Faktor yang diteliti yaitu biochar 0, 10 dan 20 t/ha, dan
rekomendasi pupuk terdiri 0, 50 dan 100%. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi
tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah polong, jumlah polong isi/hampa per
tanaman, hasil biji kering dari ubinan 4 x 2 m dan bobot 100 biji. Hasil pengkajian
menunjukkan bahwa kedelai respon terhadap pemupukan NPK-bast dan pemberian
Biochar. Hasil tertinggi diperoleh pada kombinasi pemupukan NPK-bast=100kg/ha dan
biochar 20 ton/ha yaitu 33,38 ku/ha biji kering panen, lebih tinggi 44.45 % dibandingkan
dengan tanpa pemupukan dan tanpa biochar. Sesuai dengan sifat biochar yang stabil di
dalam tanah.
101
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
Kata kunci: Biochar, efisiensi pupuk, kedelai dan PTT
PENDAHULUAN
Limbah pertanian seperti sekam padi, tempurung kelapa, tongkol jagung, tandan
buah kosong kelapa sawit dapat diubah menjadi arang dan biochar (arang aktif) yang
kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pengendali residu bahan agrokimia (pestisida dan
pupuk) dan logam berat di lahan pertanian melalui ameliorasi.
Namun, pemanfaatan biochar dari limbah pertanian untuk kegiatan pertanian ramah
lingkungan dalam skala luas belum diterapkan dan dikenal di tingkat petani (Harsanti
dan Ardiwinata 2011).
Biochar adalah arang yang dapat menyerap anion, kation dan molekul dalam
bentuk senyawa organik maupun anorganik, larutan ataupun gas. Biochar merupakan
bahan kimia yang saat ini banyak digunakan dalam industri yang menggunakan proses
absorpsi dan purifikasi (Soetomo 2012).
Pori biochar sebagai rumah ideal bagi bakteri Pseudomonas sp yang berfungsi
sebagai pendegradasi karbofuran hingga lebih dari 50% . Kualitas arang aktif ditunjukkan
dengan nilai daya serap Iod di mana berdasarkan ketetapan dari SNI 06-3730-1995
(Harsanti dan Ardiwinata, 2011).
Menurut Murata dan Matshushima (1978) kadar nitrogen tinggi diatas 3,5% sudah
cukup untuk merangsang pembentukan anakan tanaman padi, sedangkan pada kadar 2,5%
pembentukan anakan akan terhenti, dan bila kadar N tanaman kurang dari 1,5% anakananakan akan mati.
Keragaan dan produksi panen yang optimal pada tanaman pangan seperti padi,
jagung dan kedelai dapat dicapai melalui berbagai upaya seperti intensifikasi dan
ekstensifikasi. Intensifikasi yang dilakukan berupa peningkatan indeks pertanaman (IP),
penggunaan pupuk, pemberantasan hama dan penyakit secara terpadu, penggunaan varietas
unggul dan pelak-sanaan sistem budidaya sesuai kondisi (spesifik lokasi).
Integrated Crop Management atau lebih dikenal Pengendalian Tanaman Terpadu
(PTT) pada sistem budidaya tanaman pangan (padi, jagung, kedelai), merupakan salah satu
model atau pendekatan pengelolaan usaha tani, dengan mengimplementasikan berbagai
komponen teknologi budidaya yang memberikan efek sinergis (Pramono et al.2005).
Komponen teknologi yang diterapkan dalam PTT dikelompokkan ke dalam
teknologi dasar dan pilihan. Komponen teknologi dasar sangat dianjurkan untuk
diterapkan di semua lokasi padi sawah. Penerapan komponen pilihan disesuaikan dengan
kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat (Deptan 2009).
Potensi biochar sebagai pembenah tanah dan penerapan sistem budidaya PTT
diharapkan mampu bersinergis dengan baik dan berkonstribusi positif terhadap keragaan
dan produksi tanaman pangan secara optimal. Sistem budidaya PTT menerapkan
penggunaan bahan organik sebagai pembenah tanah, dan pemupukan tanaman berdasarkan
kebutuhan tanaman.
Konsep sistem budidaya PTT dan penggunaan biochar pada sistem budidaya yang
dilakukan diharapkan mampu menjaga kesehatan dari lingkungan tumbuh tanaman
budidaya sehingga tanaman mampu untuk berproduksi secara optimal dan berkelanjutan.
Tujuan kegiatan untuk mengetahui pengaruh biochar terhadap pertumbuhan dan hasil
kedelai, serta efisiensi penggunaan pupuk anorganik pada kedelai yang bekelanjutaan.
102
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan pada lahan kering di desa Dayah kecamatan Sakti
kabupaten Pidie mulai bulan Mei
sampai Nopember 2014, merupakan daerah
pengembangan lahan kering terluas dan sentra produksi kedelai lahan kering di Provinsi
Aceh.
Rancangan Penelitian
Pengkajian mengunakan rancangan acak kelompok faktorial, tiga ulangan. Faktor
yang diteliti yaitu biochar 0, 10 dan 20 t/ha, dan rekomendasi pupuk terdiri 0, 50 dan
100% (Tabel 1).
Tabel 1.
Kombinasi perlakuan biochar dan pupuk rekomendasi pada kedelai di lahan
kering desa Dayah kecamatan Sakti kabupaten Pidie.
Dosis Pupuk rekomendasi (%)
Perlakuan
Biochar (t/ha)
B0P0
B0P1
B0P2
B1P0
B1P1
B1P2
B2P0
B2P1
B2P2
0
0
0
10
10
10
20
20
20
Urea
0
25
50
0
25
50
0
25
50
SP36
0
50
100
0
50
100
0
50
100
KCl
0
50
100
0
50
100
0
50
100
Apabila hasil uji F memberi pengaruh yang nyata, maka analisis akan
dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% (BNT0,05).
Pengamatan
Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah
polong, jumlah polong isi/hampa per tanaman, hasil biji kering dari ubinan 4 x 2 m dan
bobot 100 biji serta hama yang dominan pada tanaman. Ukuran plot percobaan 5 m x 6 m,
jarak antara perlakuan 1 m dan jarak antara ulangan 1 m. Pengamatan dilakukan terhadap
pertumbuhan dan komponen hasil dari 10 tanaman sampel pada masing-masing plot.
Pelaksanana Penelitian
Analisis tanah dilakukan sebelum dan sesudah penelitian terhadap sifat kimia
tanah, meliputi ; pH tanah, N-total, P-total dan P-tersedia, K-tersedia, bahan organik.
Olah tanah yang dilakukan secara konvensional yaitu pengolahan tanah yang
dilakukan pada semua areal lahan. Pemberian biochar diberikan setelah semua selesai
dilakukan pengolahan tanah, pemberian dilakukan dengan cara ditaburkan pada masing
plot-plot perlakuan percobaan .
Pemberian Biochar sesuai perlakuan
Pemberian biochar sekam padi dilakukan sesuai dengan dosis, pemberian disebar
merata di dalam petak, kemudian diaduk dengan tanah. Dibiarkan selama 1 minggu, jika
tidak ada hujan lahan disiram air sampai kapasitas lapang.
Penanaman Kedelai
Penanaman dilakukan dengan cara tugalan sedalam ± 4 cm, jarak tanaman kedelai
103
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
20 cm x 40 cm, yaitu jarak menurut jalur 20 cm dan jarak menurut baris 40 cm
sehingga diperoleh 20 jalur tanaman dan 20 baris tanaman dengan jumlah tanaman
375 batang/plot. Setiap lubang diisi 2 benih/lubang dan dipelihara 1 tanaman untuk
dijadikan sampel, bila ada tanaman yang tidak tumbuh atau mati pada periode awal
pertumbuhan sampai batas waktu 2 minggu akan dilakukan penyulaman kembali.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur 15 hari setelah tanam
(HST). Jenis pupuk yang digunakan adalah Urea, SP36 dan KCl dengan dosis sesuai
perlakuan. Cara pemberian pupuk ditugal sedalam 3-5 cm dengan jarak 5 cm disamping
tanaman kemudian lubang pupuk ditutup dengan tanah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi tanaman
Hasil analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk majemuk (NPK-bast)
berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 75 hari setelah tanam
(HST). Pada perlakuan biochar, tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur
75 HST. Interaksi keduanya pada analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk
NPK dan biochar tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 75 HST. Rata-rata
tinggi tanaman kedelai pada umur 75 HST akibat perlakuan pupuk NPK dan biochar
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 .
Rata-rata tinggi tanaman kedelai umur 75 HST akibat pengaruh dosis biochar
dan dosis pupuk NPK-bast pada MK-2014.
Biochar
(ton ha-1)
0
10
20
Rata-rata
BNT 0,05=6.259
0
96,67
93,87
94,80
95,11a
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
100
200
cm
96,13
104,33
97,13
102,93
105,00
101,67
99,4ab
Rata-rata
99,04
97,98
100,49
102,98b
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05
Tanaman kedelai respon terhadap pemberian pupuk. Pemupukan NPK-bast nyata
meningkatkan tinggi tanaman kedelai. Pemberian biochar yang dikombinasikan dengan
pemberian pupuk NPK-bast dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat
fisika tanah sehingga perakaran tanaman dapat tumbuh dengan baik, ketersediaan hara
tercukupi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman kedelai. Pemberian
biochar sampai 20 ton/ha dapat memperbaiki sifat fisik tanah sehingga tanaman dengan
mudah menyerap unsur hara baik yang tersedia maupun yang ditambahkan untuk
menunjang pertumbuhan tanaman (Gani, 2009).
Selanjutnya Han, B dkk., 2002 menyatakan bahwa penambahan pupuk NPK
meningkatkan tinggi tanaman kedelai. Pemupukan NPK pada tanah dapat meningkatkan
kesuburan tanah yaitu perbaikan sifat kimia tanah berupa peningkatan kandungan dan
ketersediaan unsur hara N, P, dan K. Dengan peningkatan ketersediaan hara N, P, dan K
maka tanaman tercukupi ketersediaan hara, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan
104
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
tinggi tanaman. Tanaman kedelai respon terhadap pemberian pupuk. Peningkatan
pertumbuhan ini disebabkan oleh perbaikan sifat kimia tanah diantaranya adalah
meningkatnya kadar N dan P dalam tanah (Muji R., dkk., 1997).
Jumlah cabang per rumpun
Hasil analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK berpengaruh sangat
nyata terhadap jumlah cabang tanaman kedelai. Pada perlakuan biochar, tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah cabang tanaman kedelai. Interaksi keduanya pada analisis ragam
menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK dan biochar tidak berpengaruh nyata terhadap
jumlah cabang tanaman kedelai. Rata-rata jumlah cabang tanaman kedelai akibat
perlakuan pupuk NPK dan biochar disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata jumlah cabang pertanaman kedelai umur 75 HST akibat pengaruh
dosis biochar dan dosis pupuk NPK-bast pada MK-2014.
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
Biochar
Rata-rata
0
100
200
(ton ha-1)
-----------------(cabang)--------------0
3,80
4,07
4,87
4,24
10
3,87
4,53
5,27
4,56
20
4,23
4,80
5,40
4,81
Rata-rata
BNT 0,05=0.611
3,97a
4,47a
5,18b
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05
Pemupukan NPK-bast nyata meningkatkan jumlah cabang tanaman kedelai.
Pemberian biochar yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk NPK-bast dapat
meningkatkan kesuburan tanah terutama hara fosfat dan kalium melalui perbaikan sifat
fisika tanah sehingga perakaran tanaman dapat rumbuh dengan baik, ketersediaan hara
tercukupi sehingga dapat mendorong pembentukan cabang tanaman kedelai. Pemberian
biochar diukuti oleh penambahan pupuk NPK dapat meningkatkan jumlah cabang
tanaman kedelai karena hara tersedia terutama fosfat tercukupi.
Selanjutnya Saleh, N. dkk., (2000) menyatakan bahwa pemberian pupuk NPK
meningkatkan tinggi tanaman kedelai. Pemupukan NPK pada tanah dapat meningkatkan
kesuburan tanah yaitu perbaikan sifat kimia tanah berupa peningkatan kandungan dan
ketersediaan unsur hara terutama fosfat. Dengan peningkatan ketersediaan hara N, P,
dan K maka tanaman tercukupi ketersediaan hara, sehingga dapat meningkatkan jumlah
cabang tanaman kedelai.
Tanaman kedelai respon terhadap pemberian pupuk. Peningkatan pertumbuhan ini
disebabkan oleh perbaikan sifat kimia tanah diantaranya adalah meningkatnya kadar N
dan P dalam tanah (Gani A. 2009).
Jumlah polong isi per tanaman
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa dosis biochar dan dosis pupuk NPK-bast
berpengaruh nyata terhadap jumlah polong isi per tanaman kedelai. Interaksi keduanya
pada analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK dan
biochar tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah polong isi per tanaman kedelai. Rata-rata jumlah
cabang tanaman kedelai akibat perlakuan pupuk NPK dan biochar disajikan pada Tabel
4.
Tabel 4. Rata-rata jumlah polong isi pertanaman kedelai akibat pengaruh dosis biochar
105
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
dan dosis pupuk NPK-bast pada MK-2014.
Biochar
(ton ha-1)
0
10
20
Rata-rata
BNT 0,05=7.706
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
0
100
200
-----------------(polong)--------------50,44
51,87
53,61
50,41
63,80
55,58
56,00
61,67
61,09
52,58a
59,11b
Rata-rata
56,60ab
51,97a
59,59b
56,76ab
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05.
Rata-rata jumlah polong isi kedelai terbanyak terdapat pada perlakuan pemberian
pupuk NPK-bast 200 kg/ha berbeda nyata dengan perlakuan pemberian pupuk 100 kg/ha
dan tanpa pupuk, sedangkan jumlah polong isi kedelai pada perlakuan pemberian pupuk
100 kg/ha berbeda tidak nyata dengan perlakuan tanpa pupuk (Tabel 5). Disamping itu
pemberian biochar juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengisian polong
kedelai, polong isi terbanyak dijumpai pada peralukan pemberian biochar 20 t/ha berbeda
nyata dengan tanpa biochar tertapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan pemberian
biochar 10 t/ha.
Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kedelai varietas Anjasmoro respon terhadap
pemupukan. Pemberian pupuk NPK-bast 100kg/ha belum cukup mendorong pengisian
biji secara nyata (Chairunas, 2008).
Jumlah polong hampa
Hasil analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK berpengaruh sangat
nyata terhadap jumlah cabang tanaman kedelai. Pada perlakuan biochar, tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah cabang tanaman kedelai. Interaksi keduanya pada analisis ragam
menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK dan biochar tidak berpengaruh nyata terhadap
jumlah cabang tanaman kedelai. Rata-rata jumlah cabang tanaman kedelai akibat
perlakuan pupuk NPK dan biochar disajikan pada Tabel 5.
Rata-rata jumlah polong hampa pertanaman kedelai tertinggi terendah terdapat
pada dosis pupuk NPK-bast 100 kg/ha berbeda nyata dengan tanpa pupuk tetapi tidak
berbeda nyata pada pemberian pupuk 200 kg NPK-bast/ha.
Hal ini diduga disebabkan karena pupuk NPK dapat secara langsung memberikan
unsur hara yang dibutuhkan tanaman, terutama unsur Kalium sebagai salah satu unsur
hara makro dibutuhkan tanaman dalam proses tranportasi hasil-hasil asimilasi atau
proses fotosintesa di daun kebagian-bagian tanaman lainnya (akar, tunas/anakan,
biji/gabah) mengatur tekanan osmose (turgor), memperkuat dinding sel sehingga dapat
meningkatkan daya tanah terhadap penyakit. Unsur Kalium juga merupakan aktivator
enzyme pada seluruh proses metabolism tanaman, menunda penuaan (senescence)
daun, meningkatkan jumlah gabah bernas dan menurunkan kehampaan (Arsyad, M.
et al., 1991).
Tabel 5. Rata-rata jumlah polong hampa pertanaman kedelai akibat pengaruh dosis
biochar dan dosis pupuk NPK-bast pada MK-2014.
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
Biochar
Rata-rata
0
100
200
(ton ha-1)
-----------------(polong)--------------0
10,28
5,20
11,37
7,86
106
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
10
20
Rata-rata
BNT 0,05=2,27
10,37
11,37
7,24
8,53
7,14
8,54
10,67a
6,53a
8,39b
8,72
9,02
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05
Bobot 100 butir biji
Hasil analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk majemuk (NPK-bast)
berpengaruh nyata terhadap bobot 100 butir biji kedelai. Pada perlakuan biochar, tidak
berpengaruh nyata terhadap bobot 100 butir biji kedelai. Interaksi keduanya pada analisis
ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK dan biochar tidak berpengaruh nyata
terhadap bobot 100 butir biji kedelai. Rata-rata bobot 100 butir biji kedelai akibat
perlakuan pupuk NPK dan biochar disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata bobot 100 butir biji kedelai akibat
pupuk NPK-bast pada MK-2014.
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
Biochar
0
100
(ton ha-1)
-----------------(gram)--------------0
14,33
14,70
10
14,20
14,43
20
14,40
14,77
Rata-rata
BNT 0,05=0,52
14,31a
14,63ab
pengaruh dosis biochar dan dosis
200
Rata-rata
14,73
14,87
15,00
14,59
14,50
14,72
14,87b
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05
Rata-rata nilai bobot 1.000 butir gabah pada kadar air 14% tertinggi terdapat pada
pada dosis pupuk NPK-bast 100 kg/ha berbeda nyata dengan tanpa pupuk tetapi tidak
berbeda nyata pada pemberian pupuk 200 kg NPK-bast/ha. Pupuk NPK tunggal dan NPK
majemuk nyata meningkatkan Pengaruh biochar terhadap produktivitas tanaman
tergantung pada jumlah yang ditambahkan.
Dengan pemberian sebesar 0,4 sampai 8,0 t C ha -1, pada berbagai tanaman terjadi
peningkatan produktivitas yang nyata berkisar antara 20 ton 220%, dengan produksi
biomasa mencapai 120 sampai 320% dari kontrol (Han, B dkk., 2002).
Dalam banyak hal keterbatasan N merupakan alasan utama berkurangnya respon
tanaman pada pemberian biochar yang tinggi. Gani, A., (2009) menyimpulkan dengan
bertambahnya dosis pemberian biochar respon tanaman pada suatu daerah tertentu
positif sampai dicapainya tingkat maksimum, respon pertumbuhan menjadi negatif,
sebagaimana terlihat pada tanaman kacang-kacangan dengan pemberian 31 sampai 93 t C
ha -1.
Disamping itu, penambahan hara melalui pupuk organik dan inorganik biasanya
diperlukan untuk produktivitas yang tinggi dan menambah respon positif dari pemberian
biochar.
Hasil per hektar
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa dosis biochar dan dosis pupuk NPK-bast
berpengaruh sangat nyata terhadap hasil (berat biji per hektar) kedelai. Interaksi
keduanya pada analisis ragam menujukkan bahwa perlakuan pupuk NPK dan biochar
tidak berpengaruh nyata terhadap hasil kedelai. Rata-rata hasil kedelai akibat perlakuan
107
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
pupuk NPK dan biochar disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Rata-rata hasil (berat biji per hektar) kedelai akibat pengaruh dosis biochar
dan dosis pupuk NPK-bast pada MK-2014.
0
10
20
Pupuk NPK-bast (kg/ha)
0
100
-----------------(ku/ha)--------------23,17
27,25
24,25
33,38
29,17
33,47
Rata-rata
BNT 0,05=5,849
25,53a
Biochar
(ton ha-1)
31,37b
200
Rata-rata
26,27
28,92
32,17
25,26a
31,60b
28,85
29,12ab
Keterangan: Angka-angka dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJI BNT 0.05
Rata-rata hasil biji kedelai per hektar tertinggi terdapat pada perlakuan pemberian
biochar sebanayak 10 ton/ha dengan pemupukan NPK-bast sebanyak 100 kg/ha yang
berbeda nyata dengan perlakuan tanpa biochar dan tanpa pemupukan tetapi tidak
berbeda nyata dengan perlakuan pemberian biochar 20 ton/ha dengan pemupukan
sebanyak 200 kg.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena pupuk NPK dapat secara langsung
memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga dengan adanya unsur hara
yang diberikan oleh pupuk dapat memenuhi nutrisi hara yang dibutuhkan oleh tanaman
yang berpengaruh terhadap meningkatnya hasil biji kedelai per hektar.
Badan Litbang Pertanian (2008) menyimpulkan bahwa pemberian biochar ke tanah
yang paling terdegradasi lebih efektif meningkatkan hasil. Peningkatan ini tidak dapat
diterangkan hanya karena nutrisi tanaman yang lebih baik saja. Hal ini menunjukkan
adanya manfaat biochar yang berhubungan dengan bertambahnya ketersediaan air tanah,
penetrabilitas tanah atau dinamika mikroba tanah.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan produksi dua kali lipat pada tanah sangat
terdegradasi, dari sekitar 3 menjadi sekitar 6 t/ha biji jagung. Dalam tahun berikutnya,
tidak dilakukan pemberian biochar, ternyata hasil tidak berkurang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kedelai respon terhadap pemupukan NPK-bast dan pemberian Biochar . Hasil
tertinggi 33,38 ku/ha biji kering panen diperoleh pada kombinasi pemupukan NPKbast=100kg/ha dan biochar 20 ton/ha, lebih tinggi 44.45 % dibandingkan dengan tanpa
pemupukan dan tanpa biochar. Sesuai dengan sifat biochar yang stabil di dalam tanah,
maka sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat pengaruh residu biochar pada
musim selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. AM; D.Pasaribu; N. Sunarlin; Budiharjo, 1991. Teknologi Budidaya Kedelai
di Lahan Kering P:114-229.n, dalam Prosidding Seminar dan Work Shop
Penelitian Serta Usaha Tanaman Poangan dalam Produksi Kedelai. Bogor
22-23 Januari 1991.
108
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Siaran Pers. tgl 12 Februari 2008.
Ketersediaan Teknologi Dalam Mendukung Peningkatan Produksi Kedelai
Menuju Swasembada. Jakarta
Chairunas, 2008. Developing Technology for Soybean in Tsunami-Affected in the
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Proceeding International Worshop on Post
Tsunami Soil Management. Bogor, Indonesia, 1-2 Juli 2008. Page 163-167.
Gani, 2009. Iptek Tanaman Pangan (ISSN 1907-4263) Vol.4 No.1 Juli 2009.
Gani A. 2009. Biochar Penyelamat Lingkungan. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Vol. 31: 6.
Glaser, B., Lehmann, J. and Zech, W., 2002. Ameliorating Physical and Chemical
Properties of Highly Weathered Soils in The Tropics With Carcoal – A review.
Biol and Fertility of Soils 35, 219-230.
Gusmailina, Tati R, Heryati Y. 2008. Upaya Peningkatan hara melalui kandungan hara
media melalui campuran top soil dan arang aktif untuk pertumbuhan semai
Eucalyptus urophylla. Mitra Hutan Tanman. Vol. 3:1. 21-32. www.
[22
Januari 2013].
Gusmini, Yulnafatmawita dan Anita Febriani Daulay, 2008. Pengaruh pemberian
beberapa jenis bahan organik terhadap peningkatan kandungan hara N, P, K
Ultisol, kebun percobaan Paferta Padang. Jurnal Solum Vol. V No. 2 Juli
2008 : 57-65. ISSN: 1829-7994
Han. B. Darman, MA., dan Nazariah 2002 Rekomendasi Paket Teknologi Kedelai
pada Lahan Kering di Kecamatan Meurah Mulia dan Tanah Luas di Aceh Utara
serta Kecamatan Peureulak di Aceh Timur dalam Rekomendasi Hasil Paket
Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian
(LPTP) Banda Aceh. 156 hal.
Muji Rahayu, Lalu Wirajaswadi dan Awaluddin Hip, 1997. Peningkatan
Produktivitas Kedelai Melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (Ptt)
Di Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu.
Nurida, NL., A. Dariah dan A. Rachman, 2010. Kualitas Limbah Pertanian Sebagai
Bahan Baku Pembenah Tanah Berupa Biochar Untuk Rehabilitasi Lahan.
Puslitbangtan, 2009 Petunjuk Pelaksanaan Pendampingan SL-PTT Departemen Pertanian.
Jakarta.
Saleh, N; T. Adisarwanto; A.Kasno dan Sudaryono, 2000. Teknologi Kunci dalam
Pengembangan Kedelai di Indonesia dalam Makarim AK, dkk. Tonggak
Kemajuan Teknologi Produksi Pangan. Simposium Penelitian Tanaman Pangan
IV. Bigir, 22 – 24 Nopember 1999.
Santi, LP., dan Goenadi, DH., 2010. Pemanfaatan biochar sebagai pembawa mikroba
untuk pemantap agregat tanah ultisol dari Taman Bogo-Lampung. Jurnal Menara
Perkebunan 2010, 78(2), 55-63
Sinar Tani, 2010. Agro inovasi, pembuatan biochar. Online. Edisi 13-19 Oktober
2010, pustaka.litbang.deptan.go.id/new/index.php?option=com.
Diakses
tanggal 25 Mei 2011 pukul 15.00 WIB.
Soeharsono, Supriadi dan Prayitno, 2004. Potensi dan Pengelolaan Limbah Pertanian
dalam Mendukung Ketersediaan Pakan Ternak Sepanjang Tahun di Lahan
Kering. Makalah Seminar Nasional dan Ekspose Inovasi Teknologi dan
Kelembagaan Agribisnis. Malang, 8-9 September 2004.
Subagyono, K., Abdurachman, A. and Nata Suharta, 2001. Effects of puddling various
soil types by harrows on physical properties of new developed irrigated rice
areas in Indonesia. Proceeding of the meeting of Indonesian Student
Association, Tokyo, Japan.
109
Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2016, Palembang 20-21 Oktober 2016
ISBN .........................
Steiner, C.,2007. Soil charcoal amandments maintain soil fertility and establish
carbon sink-research and prospects. Soil Ecology Res Dev, 1-6. Online,
www.biochar.org/Expert%20Comment%20Stei..., diakses tanggal 15 Oktober
2012 pukul 23.30 WIB.
110
Download