BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuntansi memiliki fungsi untuk menyediakan data yang dapat digunakan
dalam pengambilan keputusan, maka akuntansi sering disebut sebagai bahasa
bisnis. Akuntansi dalam bentuk laporan keuangan menjadi media komunikasi
terkait informasi keuangan antara pihak manajer dengan pihak luar perusahaan.
Sama halnya seperti yang diungkapkan Sofyan Syafri Harahap (2006:57) bahwa
akuntansi merupakan bahasa bisnis yang dapat memberikan informasi tentang
kondisi bisnis dan hasil usahanya pada suatu waktu atau periode tertentu. Bahkan
Horngren (1997) menyatakan bahwa para manajer akan merasa canggung untuk
berurusan dengan pihak dalam maupun pihak luar jika pengetahuan akuntansinya
kurang cukup atau campur-aduk.
Informasi akuntansi bermanfaat karena menolong pihak internal maupun
pihak eksternal perusahaan dalam membaca kondisi keuangan perusahaan, yang
tentunya tergantung pada data akuntansi sebagai pedoman di dalam mengambil
keputusan. Horngren et.al (1997:9) menyatakan bahwa data yang dapat
diandalkan adalah data yang dapat dibuktikan atau ditelusuri kebenarannya, dan
dapat dikonfirmasikan oleh setiap pengamat yang independen.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2
Sebagai suatu sistem, setiap organisasi menerima input dan mengubahnya
menjadi output dalam bentuk produk atau jasa. Sekolah menerima berbagai input
seperti dana, jam kerja, tenaga pengajar dan para siswa, dan mengubah input
tersebut menjadi beragam output untuk tujuan umum pendidikan dan memajukan
ilmu pengetahuan. Secara konseptual, seluruh organisasi mencapai tujuannya
melalui proses alokasi sumber daya, sebagai hasil dari proses pengambilan
keputusan manajerial sebagaimana yang diungkapkan oleh Bodnar dan Hopwood
(2003:2).
Fungsi manajerial di sekolah dipegang oleh kepala sekolah. Dalam
Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
disyaratkan lima kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah. Lima
kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang kepala sekolah adalah; (1)
kompetensi kepribadian, adalah integritas pribadi yang kuat, berkeinginan
mengembangkan diri, terbuka dan minta dalam menjalankan jabatan kepala
sekolah; (2) kompetensi manajerial, adalah kemampuan kepala sekolah dalam
mengorganisasi dan mengembangkan sumber daya sekolah, “dana merupakan
salah atu sumber daya yang secara langsung menunjang efektivitas dan efisiensi
pengelolaan pendidikan” (Mulyasa, 2002); (3) kompetensi supervisi, adalah
pengetahuan dan kemampuan kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan
dan menindaklanjuti supervisi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah; (4)
kompetensi sosial, adalah kemampuan kepala sekolah dalam bekerjasama dengan
orang lain, peduli sosial dan memiliki kepekaan sosial; dan (5) kompetensi
kewirausahaan adalah kemampuan kepala sekolah dalam mewujudkan aspirasi
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3
kehidupan mandiri yang dicirkan dengan kepribadian kuat, dan bermental
wirausaha.
Sebagai pihak yang berfungsi manajerial, kepala sekolah harus mampu
melaksanakan tugasnya berdasarkan kompetensi yang telah ditetapkan dalam
Permendiknas No. 13 Tahun 2007, diantaranya (1) keterampilan membuat
perencanaan; (2) mengorganisasi sumber daya; (3) mengelola sarana dan
prasarana
sekolah;
(4)
mengelola
keuangan
sekolah
terkait
urusan
penyelenggaraan otorisasi sekolah, urusan uang sekolah dan uang sarana dan
prasarana murid, usaha-usaha penyediaan biaya bagi penyelenggaraan pertemuan
dan perayaan serta keramaian; (5) mengelola ketatausahaan sekolah; (6)
mengelola sistem informasi sekolah dalam mendukung penyusunan program dan
pengambilan keputusan; (7) dan melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan
pelaksanaan anggaran sekolah serta program kegiatan sekolah.
Seorang manajer yang lebih memahami akuntansi akan lebih mampu untuk
merencanakan dan mengawasi operasi organisasi-organisasinya serta sub-sub
bagiannya (Horngren, 1984:3). Oleh karena akuntansi memiliki cakupan yang
luas, maka pengertian kegunaan dan keterbatasannya sangat diperlukan oleh
setiap manajer perusahaan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya
pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan
ilmu dan teknologi seperti yang tertera dalam penyataan GBHN dalam Mulyasa
(2002:11). Dalam kaitannya fungsi dana dalam MBS pada dasarnya untuk
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4
menunjang penyediaan sarana dan prasarana, yang tentunya pengelolaan dana ini
harus di monitoring oleh kepala sekolah agar sesuai antara alokasi dana dengan
anggaran yang telah dibuat. Sejak Oktober 2010, Kementerian Pendidikan
Nasional menyusun Modul Keuangan Pendidikan (Education Finance) dengan
tujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam menyusun
kebijakan keuangan pendidikan yang tidak hanya dapat dipertanggungjawabkan
substansinya, tetapi juga disusun secara transparan dan partisipatif dengan
melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Modul ini mewajibkan birokrasi
pendidikan untuk membuat tiga bagian utama, yaitu: (1) Penghitungan Biaya
Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Sekolah, (2) Pengalokasian Dana
Berbasis Formula, dan (3) Penyusunan Laporan Keuangan Terpadu (LKT).
Laporan keuangan terpadu merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan
sekolah untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Salah satu indikator
SPM menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan harus menerapkan prinsipprinsip Manajemen Berbasi Sekolah (MBS), termasuk sekolah harus menyusun
laporan sekolah. Laporan keuangan akan sangat tergantung pada integritas
pengelola keuangan di sekolah, khusunya kepala sekolah. LKT merupakan sistem
pelaporan yang diharapkan dapat meminimalkan penyalahgunaan uang di sekolah.
Berdasarkan tujuannya, LKT disusun agar terjadi transparansi dan
akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan sekolah. Oleh karena itu, indikator
pemahaman akuntansi dalam LKT adalah tercapainya akuntabilitas dan
transparansi. Akuntabilitas dapat dilihat dari kesesuaian alokasi dana yang telah
dianggarkan sebelumnya dengan pelaksanaan anggaran atau pembiayaan sekolah.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5
Sementara transparansi dapat dilihat dari pertanggungjawaban laporan keuangan,
khususnya oleh kepala sekolah dan bendahara.
Kepala sekolah mempunyai tanggung jawab dalam melaporkan laporan
keuangan sekolah kepada komite sekolah terkait dengan pengelolaan sumber dana
yang berasal dari masyarakat maupun dana dari pihak ketiga. Ada tiga format
LKT yang harus disusun, yaitu; (1) Form LKT 1 adalah format laporan keuangan
yang menyajikan realisasi pengeluaran menurut sumber dana; (2) Form LKT 2A
adalah format laporan keuangan yang menyajikan perbandingan antara anggaran
dengan realisasi penerimaan sekolah dari berbagai sumber; (3) Form LKT 2B
adalah format laporan keuangan yang menyajikan perbandingan antara anggaran
dengan realisasi pengeluaran per jenis pengeluaran. Disamping kewajiban
membuat LKT, sekolah pun dituntut untuk membuat laporan keuangan untuk tiap
pihak pemberi dana.
Berdasarkan artikel “M. Nuh Nilai Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah
Rendah” (www.republika.com dikutip pada 19 Mei 2013) Menteri Pendidikan
Nasional, Muhammad Nuh mengatakan bahwa kemampuan kepala sekolah
Indonesia dalam mengelola sekolah masih rendah, bahkan di bawah Malaysia dan
Singapura. Belum maksimalnya kemampuan manajerial kepala sekolah di
Indonesia juga dikatakan Kepala Subdirektorat Program Direktorat Tenaga
Kependidikan Ditjen PMPTK Kemendiknas, Abi Sujak. Menurutnya kepala
sekolah di Indonesia hanya bagus dalam kepribadian dan masalah sosial saja,
namun belum handal dalam mengelola sekolah dan supervisi akademik.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6
Dari sisi pengelolaan anggaran sekolah, celah dan model korupsi di sekolah
semakin canggih. Hal ini terungkap dari hasil penelitian Indonesian Corruption
Watch (ICW) sepanjang tahun 2007 hingga 2010. Menurut Ade Irawan, Kepala
Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, masalahnya terletak pada hubungan
antara sekolah dengan dinas pendidikan. Otonomi sekolah yang diwujudkan
melalui program Manajemen Berbasis Sekolah tidak benar-benar membuat
sekolah otonom (www.hukumonline.com dikutip pada 20 September 2013).
Menurut Ading Sutisna selaku pengurus Komite Sekolah sebuah SMA Negeri di
Jakarta mengatakan bahwa praktek penyimpangan keuangan sekolah menurut
pengamatannya berawal dari tidak jelasnya Departemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas) dalam memberi pedoman kepada sekolah-sekolah tentang bagaimana
menyusun
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Sekolah
(APBS)
(www.antikorupsi.org dikutip pada 22 Agustus 2013).
SMA Negeri X merupakan sekolah unggulan eks RSBI yang membebankan
biaya pada siswa didik dengan nominal Rp. 250.000. Pembebanan biaya pada
siswa didik tersebut merupakan pembebanan biaya tertinggi bila dibandingkan
dengan pembebanan biaya siswa didik di sekolah lain pada area kabupaten
Majalengka. Besarnya pendanaan tersebut tentu harus diirngi dengan alokasi dana
yang relevan dengan pembiayaan sekolah, sehingga diperlukan pemahaman
informasi akuntansi agar tercapainya tujuan laporan keuangan terpadu, yaitu
akuntabilitas dan transparansi.
Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Darti Djuharni (2012)
menyimpulkan bahwa penyusun laporan keuangan sudah memahami proses
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
7
pembuatan laporan keuangan, namun pada praktiknya penyusun keuangan masih
bingung karena buku catatan yang digunakan terlalu banyak sehingga para
penyusun laporan merasa enggan untuk mengulangi catatan pada buku-buku
catatan lainnya yang saling terkait. Menurut Sudarman, tingkat pemahaman
laporan keuangan dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan pelatihan. Sejalan
dengan hasil penelitian oleh Annisa Sekar Mulia yang menyatakan bahwa
pemahaman akuntansi dari sudut pandang kecerdasan spiritual diperoleh dari
proses belajar selama perkuliahan serta kemampuan pendidik dalam pembentukan
pemahaman mahasiswa.
Berdasarkan berbagai uraian diatas, maka peneliti bermaksud untuk
mengadakan penelitian dan membahas “Mengungkap Pemahaman Informasi
Akuntansi dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X (Studi
Fenomenologi Pada SMA Negeri X)”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini
adalah mengingat adanya kewajiban sekolah dalam membuat laporan keuangan,
maka diperlukan pemahaman kepala sekolah dan dalam membuat Laporan
Keuangan Terpadu sehingga tercapai tujuan dari LKT yaitu akuntabilitas dan
transparansi, maka penulis mencoba merumuskan masalah :
1. Bagaimana pemahaman kepala sekolah tentang informasi akuntansi dalam
upaya mencapai akuntabilitas.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8
2. Bagaimana pemahaman kepala sekolah tentang informasi akuntansi dalam
upaya mencapai transparansi.
3. Apa saja kendala yang dialami dalam membuat informasi di sekolah.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam melakukan penelitian ini
adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman infornasi akuntansi yang dimiliki
oleh kepala sekolah dalam upaya mencapai akuntabilitas.
2. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman informasi akuntansi yang dimiliki
kepala sekolah dalam upaya mencapai transaparansi.
3. Untuk mengetahui apa saja kendala yang dialami dalam membuat informasi
akuntansi di sekolah.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan baik dari segi
teoritis maupun dari segi praktis.
1.4.1 Kegunaan Teoritis
1. Untuk menambah wawasan, pengetahuan dari segi akuntansi terutama
untuk sektor pendidikan dan lebih khusus mengenai Laporan Keuangan
Terpadu.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
9
2. Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan memberikan sumbangan
bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pemahaman informasi
akuntansi di sekolah.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangan saran serta
dijadikan referensi tentang pentingnya pemahaman informasi akuntansi di sekolah
sehingga dapat meminimalisasi kecurangan dalam pengelolaan keuangan sekolah.
Setiap satuan pendidikan harus menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS), termasuk sekolah harus menyusun laporan sekolah. Laporan
keuangan akan sangat tergantung pada integritas pengelola keuangan di sekolah,
khusunya kepala sekolah.
Tia Adityaningsih, 2014
Mengungkap Pemahaman Informasi Akuntansi Dari Sudut Pandang Kepala Sekolah SMA Negeri X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Download