PENGARUH PEMBERIAN JU Linn.) TERHADAP PERKEM Untuk

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH ANGGUR MERAH ((Vitis vinifera
Linn.) TERHADAP PERKEMBANGAN JANIN MENCIT HAMIL YANG
TERPAPAR ASAP ROKOK
SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar sarjana farmasi
Oleh :
MOH. ZAPRULLAH ALPANI
050111a035
PROGRAM STUDI FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
FEBRUARI, 2016
HALAMAN KESEDIAAN PUBLIKASI
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama
: MOH. ZAPRULLAH ALPANI
Nomor Induk Mahasiswa
: 050111a035
Program Studi
: FARMASI
Menyatakan memberi kewenangan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi
Waluyo
untuk
menyimpan,
mengalih
media/formatkan,
merawat,
dan
mempublikasikan skripsi saya dengan judul Pengaruh Pemberian Jus Buah
Anggur Merah (Vitis vinifera Linn.) Terhadap Perkembangan Janin Mencit Hamil
yang Terpapar Asap Rokok untuk kepentingan akademis.
Ungaran, Februari 2016
Yang membuat pernyataan
Moh. Zaprullah Alpani
050111a035
MOTTO
“Harga Kebaikan Manusia Adalah Diukur Menurut Apa Yang Telah
Dilaksanakan/Diperbuatnya”
(Ali Bin Abi Thalib)
PERSEMBAHAN
Dengan segala puja dan puji syukur kepada ALLAH SWT. dan atas
dukungan dan do’a dari orang-orang tercinta, akhirnya skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya hingga memperoleh gelar
sarjana farmasi. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya khaturkan
rasa syukur dan terimakasih saya kepada:
ALLAH SWT, karena hanya atas izin dan karuniaNyalah maka skripsi ini dapat
dibuat dan selesai pada waktunya. Puji syukur yang tak terhingga pada ALLAH
SWT. penguasa alam yang meridhoi dan mengabulkan segala do’a.
MEK tercinta dan almarhum WOK, Kang Emi’, Kang Izar dan Kang Wawan
yang telah menjadi motivasi dan inspirasi serta do’a yang tiada henti untuk
kesuksesan saya, karena tiada kata seindah lantunan do’a dan tiada do’a yang
paling khusuk selain do’a yang terucap dari kedua orang tua dan seorang kakak.
Tanpa keluarga, manusia sendiri di dunia, gemetar dalam dingin.
Terimakasih yang tak terhingga kepada dosen-dosen saya, terutama dosen
pembimbing “Ibu Dian dan Ibu Niken” terhormat yang tak pernah lelah dan sabar
memberikan bimbingan dan arahan kepada saya.
Terimakasih buat Mas Andhika dan Kang Mahali yang tak henti meberikan
dukungan, do’a dan motivasi serta pijitan special dikala saya terlalu capek selama
saya menjalani skripsi. Terimakasih saya ucapkan kepada adinda Atika Puspa
Irawati yang tak pernah lelah membantu dan memberikan semangat selama masa
skripsi saya. Sahabat-sahabat yang senantiasa menjadi penyemangat disetiap
revisi, Roza, Karin, dek Heny yang terimut lagi baik hatinya, mba Iis, Sisbond,
Rema dan semua angkatan Farmasi 2011 yang tak bisa saya cantumkan semua
disini. Tanpa semangat, dukungan dan bantuan kalian semua tak kan mungkin
saya sampai dititik terakhir ini, terimakasih untuk canda tawa, tangis, dan
terimakasih untuk kenangan manis yang telah mengukir selama ini. Kalian sudah
menjadi sebagian dari keluarga saya
Terimakasih yang sebesar-besarnya, akhirul kalam, saya persembahkan skripsi ini
untuk kalian semua, orang-orang yang saya sayangi dan cintai. Dan semoga
skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di
masa yang akan datang, Amiin humma amiin.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas Kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, anugrah serta kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Pemberian Jus Buah Anggur
Merah (Vitis vinifera Linn.) Terhadap Perkembangan Janin Mencit Hamil Yang
Terpapar Asap Rokok ”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus
dipenuhi untuk meraih gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi
pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran.
Penulis menyadari bahwa tanpa adanya bimbingan dan pengarahan dari
pembimbing, penyusunan skripsi ini akan banyak menemui hambatan dan
kesulitan, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada :
1. Dr. Sugeng Maryanto, M.Kes, selaku Ketua STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.
2. Drs. Jatmiko Susilo, Apt., M.Kes, selaku Ketua Program Studi Farmasi
STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.
3. Dian Oktianti, S.Far., Apt., M.Sc. selaku Pembimbing Utama yang selalu
memotivasi, memberikan bimbingan, kritik dan saran dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Niken Dyahariesti, S.Farm., Apt., M.Si. selaku Pembimbing Pendamping yang
telah memberikan dorongan, nasehat, petunjuk dan bimbingannya kepada
penulis selama penelitian berlangsung.
5. Para dosen dan Staf Pengajar STIKES Ngudi Waluyo Ungaran yang telah
membekali
berbagai
pengetahuan
sehingga
penulis
mampu
untuk
menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
6. Semua pihak yang tak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas
kebersamaan, do’a, bantuan, kritik dan saran semoga tetap terjalin tali
persaudaraan yang tak pernah putus.
Dalam penyusunan skripsi, penulis telah berusaha dengan segala
kemampuan yang dimiliki, namun penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi
ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca guna perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan institusi
kesehatan khususnya.
Ungaran,
Februari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................
iii
HALAMAN PERNYATAAN......................................................................
iv
HALAMAN KESEDIAAN PUBLIKASI ...................................................
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN...............................................................
vi
PRAKATA .................................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................
ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xv
INTISARI ..................................................................................................... xvi
ABSTRACT .................................................................................................. xvii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................
1
B. Rumusan Masalah ......................................................................
3
C. Tujuan Penelitian .......................................................................
4
D. Manfaat Penelitian .....................................................................
4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori ...............................................................................
5
1. Uraian Tumbuhan ................................................................
5
a. Klasifikasi Anggur Merah (Vitis vinifera Linn.) ............
6
b. Morfolgi Tanaman ..........................................................
6
c. Jenis Buah Anggur..........................................................
7
d. Khasiat dan Kegunaan ....................................................
8
e. Kandungan Kimia ...........................................................
9
f. Likopen .......................................................................... 12
2. Vitamin E .............................................................................. 14
3. Uraian Teratogen .................................................................. 16
a. Definisi .......................................................................... 16
b. Periode Kritis Perkembangan Janin ................................ 19
c. Proses Masuk Zat Asing ke dalam Sel Embrio .............. 20
d. Zat Teratogenik............................................................... 22
B. Penelitian yang Relevan ............................................................ 26
C. Rancangan Penelitian ................................................................ 27
1. Jenis dan Rancangan Penelitian ........................................... 27
2. Variabel Penelitian .............................................................. 27
a. Variabel Bebas ............................................................... 27
b. Variabel Tergantung ...................................................... 27
c. Variabel Terkendali ....................................................... 28
3. Sampel serta Teknik Pengambilannya ................................. 28
D. Kerangka Teori ........................................................................... 29
E. Kerangka Konsep ....................................................................... 30
F. Hipotesis .................................................................................... 30
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan .......................................................................... 31
1. Alat ...................................................................................... 31
2. Bahan ................................................................................... 31
B. Prosedur Penelitian .................................................................... 32
1. Determinasi Tanaman .......................................................... 32
2. Pembuatan Asap Rokok ....................................................... 32
3. Pembuatan Jus Buah Anggur Merah (Vitis vinifera Linn.) . 32
4. Perhitungan Dosis Vitamin E .............................................. 33
5. Prosedur Kerja ..................................................................... 34
C. Analisa Data .............................................................................. 36
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi Tanaman ................................................................ 37
B. Persiapan Bahan dan Pembuatan Jus Anggur Merah ................ 38
C. Mengawinkan dan Pengelompokan Hewan Uji ........................ 38
D. Pemberian Asap Rokok .............................................................. 39
E. Tahap Penelitian ......................................................................... 40
F. Hasil Penelitian .......................................................................... 42
1. Data PKBP ........................................................................... 42
2. Data Rata-rata Berat Badan Fetus Mencit ............................ 45
3. Data Jumlah Fetus ............................................................... 48
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .............................................................................. 52
B. Saran .......................................................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 53
LAMPIRAN ................................................................................................... 58
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Kandungan Gizi Buah Anggur Setiap 100 Gram ........................ 12
Tabel 2.2 Perbandingan Frekuensi Sesuai dengan Jenis Cacat..... .............. 17
Tabel 4.1 Nilai PKBP Mencit Hamil ......................................................... 43
Tabel 4.2. Hasil Uji Normalitas PKBP......................................................... 43
Tabel 4.3. Hasil Uji Homogenitas PKBP Mencit Hamil .............................. 44
Tabel 4.4. Nilai Uji Kruskal-Wallis Terhadap PKBP .................................. 44
Tabel 4.5. Rata-rata Berat Badan Fetus Mencit ........................................... 45
Tabel 4.6. Hasil uji Normalitas Berat Badan Fetus Mencit.......................... 45
Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Data Rata-rata Berat Badan Fetus
Mencit.......................................................................................... 46
Table 4.8. Nilai (p) Uji Kruskal-Wallis Terhadap Berat Badan Fetus
Mencit.......................................................................................... 46
Tabel 4.9. Hasil Uji Mann-Whitney Berat Badan Fetus .............................. 47
Tabel 4.10. Rata-rata Jumlah Fetus ............................................................... 49
Tabel 4.11. Hasil uji Normalitas Data Rata-rata Jumlah Fetus Mencit ......... 49
Tabel 4.12. Hasil Uji Homogenitas Data Rata-rata Jumlah Fetus Mencit ..... 50
Tabel 4.13. Hasil (p) Uji Kruskal-Wallis Rata-rata Jumlah Fetus Mencit ..... 50
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Tanaman Buah Anggur Merah (Vitis vinifera Linn.) ................
5
Gambar 2.2 Struktur α-Tocoferol................................................................... 15
Gambar 2.3 Kerangka Teori........................................................................... 29
Gambar 2.4 Kerangka Konsep ...................................................................... 30
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian................................................................ 35
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Surat Hasil Determinasi Buah Jambu (Psidium Guajava
Linn) ....................................................................................... 55
Lampiran 2.
Gambar Persiapan Alat .......................................................... 58
Lampiran 3.
Persiapan Bahan ..................................................................... 61
Lampiran 4.
Mengawinkan Mencit ............................................................. 63
Lampiran 5.
Pengamatan Efek Asap Rokok pada Mencit Hamil ............. 64
Lampiran 6.
Hasil Penelitian....................................................................... 66
Lampiran 7. Hasil Analisa Data ..................................................................... 75
STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
PROGRAM STUDI FARMASI
Pengaruh Pemberian Jus Buah Anggur Merah (Vitis vinifera Linn.)
Terhadap Perkembangan Janin Mencit Hamil Yang Terpapar Asap Rokok
Moh. Zaprullah Alpani*, 050111a035
Dian Oktianti** Dan Niken Dyahariesti***
SKRIPSI, Februari 2016
Pustaka : 69
INTISARI
Kandungan rokok sangat berbahaya bagi perokok maupun dengan
orang-orang disekitarnya (perokok pasif). Dampak negatif rokok dan asapnya
terhadap ibu hamil diantaranya ancaman persalinan prematur, ketuban pecah
sebelum waktunya, ancaman lepasnya plasenta sebelum lahir, dan plasenta previa,
sedangkan dampak terhadap janin adalah berat badan janin lebih rendah dari
normal, kematian janin di dalam rahim, meningkatkan resiko kematian janin
mendadak. Tubuh memerlukan antioksidan yang dapat membantu melindungi
serangan radikal bebas dengan menghambat dampak negatif senyawa yang
terdapat dalam asap rokok. Jus buah anggur merah kaya akan likopen yang
diketahui memiliki efek sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh pemberian jus buah anggur merah terhadap perkembangan
janin mencit hamil yang terpapar asap rokok.
Jenis rancangan penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan post
test only control group design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang
terdiri dari satu kelompok kontrol negatif (paparan asap rokok), satu kelompok
kontrol positif (vitamin E dosis 130 IU 0,2ml/20gBB/hari), dan 3 kelompok
perlakuan jus buah anggur merah konsentrasi 100%v/v; 75%v/v; dan 50%v/v.
Data yang didapat berupa data PKBP induk mencit, berat badan fetus, dan jumlah
fetus mencit. Data dianalisis menggunakan SPSS 17,0 for Windows dengan taraf
kepercayaan 95%.
Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney jus buah anggur merah (Vitis vinifera
Linn.) dengan konsentrasi 50%v/v memiiki efek yang sebanding dengan vitamin
E dosis 130 IU 0,2ml/20gBB mencit dilihat dari berat badan fetus mencit yang
terpapar asap rokok.
Kata kunci
*
**
***
: Buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.), likopen, efek asap
rokok, vitamin E.
: Mahasiswa
: Dosen pembimbing utama
: Dosen pembimbing pendamping
NGUDI WALUYO SCHOOL OF HEALTH UNGARAN
PHARMACY STUDY PROGRAM
The Effect of Administering Juiced Red Grape (Vitis vinifera Linn.) toward
Fetal Development of Pregnant Mice Exposed to Cigarette Smoke
Moh. Zaprullah Alpani*, 050111a035
Dian Oktianti** and Niken Dyahariesti ***
FINAL ASSIGNMENT, February 2016
References: 69
ABSTARCT
The content of cigarette is very harmful for the smokers and people around
them (passive smoker). The negative effects of cigarette and its smoke for
pregnant women such as placenta abruption before birth, and placenta previa,
whereas the impact on the fetus such as fetal death in utero, increase the risk of
sudden fetal death. The body needs antioxidant that may help protecting the body
against free radicals by inhibiting the negative effects of substances in cigarette
smoke. Red grapes juice are rich in lycopene wich has know having antioxidant
effects. The purpose of this study is to find the effect of juiced red grape on fetal
development of pregnant mice exposed to cigarette smoke.
This was a purely experimental study with post-test only control group
design with completely randomized design (CRD) consisted of one group as
negative control (treated by cigarettes smoke exposure), one group as positive
control (treated by vitamin E at the dose of 130 IU 0,2ml/20g-BW/day), and three
treatment groups of juiced red grapes with each concentration of 100%v/v;
75%v/v; and 50%v/v. The data were obtained in the form of PKBP of mice’s
parents, fetal weight and number of fetal. The data were analyzed by using SPSS
17.0 for Windows with the 95% confidence level.
The results of this study by using the Mann-Whitney test indicate that the
juiced red grapes (Vitis vinifera Linn.) with a concentration of 50%v/v, it has a
comparable effects with vitamin E at the dose 130 IU 0,2ml/20g-BW of mice that
seen from body weight of fetal mice that exposed by cigarettes smoke.
Keywords : Red grapes (Vitis vinifera Linn.), lycopene, effect of cigarette
smoke, vitamin E
*
**
***
: Student
: First advisor
: Second advisor
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelainan
kongenital
merupakan
kelainan
morfologik
dalam
pertumbuhan struktur bayi yang dijumpai sejak bayi lahir. Selain itu,
pengertian lain tentang kelainan sejak lahir adalah defek lahir, yang dapat
berwujud dalam bentuk berbagai gangguan tumbuh-kembang bayi baru lahir,
yang mencakup aspek fisik, intelektual dan kepribadian. Sedangkan anomali
kongenital atau yang umum disebut kelainan kongenital merupakan defek
morfologik yang dijumpai sejak bayi lahir. Angka kejadian kelainan
kongenital yang besar berkisar 15 per 1000 kelahiran. Angka kejadian ini akan
menjadi 4 - 5% bila bayi diikuti terus sampai berumur 1 tahun
(Markum,1991).
Hasil penelitian akhir-akhir ini telah dilaporkan bahwa penyebab cacat
lahir adalah 7 - 10 % disebabkan karena faktor lingkungan, 6 - 15 % oleh
faktor genetik, 20 - 25 % karena faktor kombinasi antara genetik dan faktor
lingkungan dan 50 – 60 % masih belum diketahui dengan jelas (Razak, 2005).
Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan cacat lahir salah satunya
adalah rokok. Kandungan rokok sangat berbahaya bagi perokok maupun
dengan orang – orang sekitarnya (perokok pasif). Asap rokok yang terhirup
dapat menyebabkan penyakit berbahaya, yaitu kanker, penyakit jantung dan
emfisema. Pada organ reproduksi akan menyebabkan gangguan seperti
kemandulan (pria dan wanita), impotensi, gangguan kehamilan dan
perkembangan janin (Aditama, 1992).
Dampak negatif rokok dan asapnya terhadap ibu hamil diantaranya
ancaman persalinan prematur, ketuban pecah sebelum waktunya, ancaman
lepasnya plasenta sebelum lahir, dan plasenta previa, sedangkan dampak
terhadap janin adalah berat badan janin lebih rendah dari normal, kematian
janin di dalam rahim, meningkatkan resiko kematian janin mendadak (Sudden
Infant Death Syndrom/SIDS) (Valleria, 2009).
Tubuh memerlukan antioksidan yang dapat membantu melindungi
tubuh dari serangan radikal bebas dengan menghambat dampak negatif
senyawa yang terdapat dalam rokok. Penelitian sebelumnya dengan pemberian
vitamin E pada mencit yang diberi ekstrak air tembakau memberikan hasil
bahwa vitamin E terbukti sebagai antiteratogen (Rahmadina, 2008). Selain
vitamin E, tanaman yang memiliki efek antioksidan salah satunya adalah
anggur.
Anggur merah (Vitis vinifera Linn.) memiliki beberapa kandungan
penting, diantaranya adalah anthosianin, proanthosianidin, prosianidin,
flavonoid, polifenol, dan resveratrol (Nassiri dan Hosseintadeh, 2009). Pada
kulit anggur terdapat likopen, yang merupakan pigmen pemberi warna merah
pada kulit anggur (Winarsi, 2007). Telah dibuktikan secara in vitro bahwa
likopen merupakan penangkal radikal bebas yang paling efektif diantara
karotenoid yang lain, termasuk β-caroten. Kandungan antioksidan ini bisa
meredam radikal bebas yang memicu pertumbuhan sel kanker. Senyawa
karotenoid ini dikenal baik sebagai senyawa yang memiliki daya antioksidan
tinggi, senyawa ini mampu melawan radikal bebas akibat polusi dan radiasi
sinar UV (Youngson, 2005). Kemampuannya mengendalikan radikal bebas
100 kali lebih efisien daripada vitamin E atau 12.500 kali dari pada gluthation.
Selain sebagai anti skin aging, likopen juga memiliki manfaat untuk mencegah
penyakit kardiovascular, kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker
terutama kanker prostat (Mascio Di dkk,1989).
Bagi masyarakat, anggur sudah tidak asing lagi, dalam kehidupan
sehari - hari anggur biasa dikonsumsi langsung ataupun dibuat sebagai jus
buah. Namun, kurangnya pengetahuan terhadap anggur menyebabkan
masyarakat Indonesia memandangnya hanya sebagai buah atau jus yang dijual
begitu saja tanpa ada produk turunan dari buah tersebut. Oleh karena itu,
penelitian ini dikembangkan untuk memberikan informasi ada atau tidak
adanya pengaruh jus buah anggur merah terhadap efek teratogen dari paparan
asap rokok sebagai sebuah antioksidan yang baik, agar buah ini lebih dikenal
masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah jus buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.) berpengaruh terhadap
efek teratogen dari paparan asap rokok pada mencit hamil?
2. Pada konsentrasi berapakah jus buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.)
mempunyai pengaruh terhadap mencit hamil yang terpapar asap rokok
yang sebanding dengan vitamin E dosis 0,2ml/kgBB?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui ada atau tidak ada pengaruh jus buah anggur merah
terhadap perkembangan janin mencit hamil yang terpapar asap rokok.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui berat badan mencit selama kehamilan, berat badan
fetus, jumlah fetus yang lahir, jumlah fetus yang mati, kecacatan dan
resorpsi pada fetus yang diberi jus buah anggur merah dan paparan asap
rokok.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Menambah daftar data ilmiah tentang obat tradisional Indonesia.
2. Bagi Peneliti
a.
Sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka
pengembangan obat tradisional khususnya untuk buah anggur merah
(Vitis vinifera Linn.)
b.
Untuk menguji kemampuan penulis dalam mengimplementasikan
ilmu yang didapat.
3. Bagi Masyarakat
Memberi informasi dan manfaat buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.)
sebagai obat tradisional yang diduga dapat sebagai antiteratogen.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Uraian Tumbuhan
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Spermathopyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Rhamnales
Suku
: Vitaceae
Genus
: Vitis
Species
: Vitis viniferaLinn.(Greybeard, 2008)
Gambar 2.1 Buah Anggur Merah (Vitisvinifera Linn.)(Wiryanta, 2007)
5
a. Nama Daerah
Sumatera
: Jabib (Aceh), Agu (Nias), Buwah anggur
(Melayu)
Jawa
: Anggur (Jawa)
Nusa Tenggara
: Atar (Flores), Kuku-aek (Roti)
(Wiryanta, 2007)
b. Morfologi Tanaman
Anggur merupakan tanaman perdu, yang merambat dari famili
vitaceae yang memiliki akar tunggang dan batang bulat yang jelas
berkayu (Wiryanta, 2007). Batang Vitis vinifera dapat tumbuh sampai
15
meter
dan
tumbuh
ke
arah
cahaya
matahari,
dimana
pertumbuhannya membutuhkan alat penunjang yaitu cabang pembelit
(Setiadi, 2008). Daun Vitis vinifera termasuk daun tunggal. Ujung
daun runcing dengan pangkal daun tidak bertemu, terpisah oleh
pangkal ibu tulang daun dan berbentuk emarginatus. Tepi daunnya
mempengaruhi bentuk daun yaitu bertepi daun berlekuk menjari.
Susunan tulang daun menjari. Daun berwarna hijau dengan permukaan
daun berambut (Wiryanta, 2007). Bunga Vitis vinifera termasuk bunga
majemuk tidak berbatas yang berbentuk malai, bersifat polisimetris
dengan tajuk bunga beraturan membentuk mangkok. Bunga yang
semula berbentuk malai, setelah berbuah menjadi bentuk lonjong atau
bulat dengan ukuran 1 - 2,5 cm (Wiryanta, 2007). Buah Vitis vinifera
ialah buah sejati tunggal yang berdaging. Bentuknya hampir bulat
dengan permukaan epikarpiumnya dilapisi tepung. Biji buah Vitis
vinifera berbentuk lonjong berwarna coklat muda (Wiryanta, 2007).
Anggur berasal dari Armenia, namun budidaya anggur sudah
dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Anggur mulai
menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika Selatan, Asia termasuk
Indonesia dan Australia sejalan dengan perjalanan Columbus (Setiadi,
2008).
c. Jenis Buah Anggur
Anggur yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis vinifera
dan Vitis labrusca.Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai
ciri:
1) Kulit tipis, rasa manis, segar dan mampu tumbuh dari dataran
rendah hingga 300 m dari permukaan laut beriklim kering.
2) Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan
Putih, Situbondo Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden
Champion.
Sedangkan tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunyai ciri :
1) Kulit tebal, rasa masam, kurang segar dan mampu tumbuh dari
dataran rendah hingga 900 m dari permukaan laut.
2) Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon
dan Isabella (Wiryanta, 2007).
Jenis anggur yang banyak dikembangkan di Indonesia dan
direkomendasi oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah
jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo Biru dan
Alphonso Lavalle (Setiadi, 2008). Pada saat ini daerah penanaman
anggur semakin meluas baik di daerah sentra produksi lama maupun
daerah pengembangan baru, sehingga diharapkan nilai produksi dapat
meningkat. Pada awalnya daerah sentra anggur di dataran rendah
seperti Probolinggo menanam varietas anggur Probolinggo Biru dan
Probolinggo Putih, tetapi pada tahun 2002 anggur merah varietas
Probolinggo Super dan Prabu Bestari mulai menyebar dan berkembang
di daerah ini, sebagai tanaman pekarangan maupun ditanam pada skala
luas (Setiadi, 2008). Anggur merah ini mempunyai sejumlah
keunggulan dibandingkan jenis lain yaitu rasanya manis dengan tekstur
yang keras, jumlah biji relatif sedikit, dan tidak mudah busuk dalam
penyimpanan (Setiadi, 2008).
d. Khasiat dan Penggunaan
Kandungan zat yang terdapat dalam anggur merah sudah
diproduksi secara massal di berbagai negara sebagai obat fitofarmaka
dan dipakai untuk pengobatan berbagai macam penyakit, antara lain
sebagai antioksidan, obat kardiovascular, hematologi, anti inflamasi,
dan anti neoplastik (Xia dkk, 2007). Penelitian di Jepang
mengungkapkan bahwa anggur merah dapat digunakan untuk
menurunkan atherosclerosis (Yamakoshi dkk, 1999). Penelitian di
China
juga
mengungkapkan
anggur
merah
digunakan
untuk
menurunkan kadar kolesterol dan digunakan pula melindungi sel dari
sinyal
proinflamasi
melalui
mekanisme
pengaturan
distribusi
kolesterol (Xia dkk, 2007).
Anggur merah dapat digunakan untuk melancarkan aliran darah
dan sebagai obat penderita liver, ginjal, dan sistem pencernaan. Jus
anggur bermanfaat bila diberikan pada penderita tukak lambung,
radang usus kecil, migrain, radang sendi, rematik, dan keracunan.
Anggur juga dapat mencegah kanker karena dapat menghentikan
penyebaran dari sel–sel kanker (Astawan dan Andreas, 2008). Manfaat
anggur lainnya yaitu mampu membersihkan toksin-toksin didalam hati,
membantu memperbaiki fungsi ginjal, pembentukan sel darah,
antivirus dan antikanker, serta mampu mencegah kerusakan gigi.
Anggur bersifat basa sehingga dapat menetralkan darah yang terlalu
asam yang dapat berefek merugikan tubuh (Wiryanta, 2007).
e. Kandungan Kimia
Beberapa kandungan yang terdapat pada anggur, antara lain:
1) Resveratrol
Resveratrol
(trans-3,5,4'-trihydroxystilbene)
merupakan
komponen terbesar yang terdapat pada kulit anggur (McElderry,
1999). Resveratrol ini hanya didapatkan pada anggur merah dan
tidak pada anggur putih. Zat ini mulai diteliti dan digunakan
sebagai obat alami setelah melihat French Paradox (Kopp, 1998).
Fenomena rendahnya insidens penyakit jantung pada orang Prancis
yang makan dengan menu yang mengandung lemak relatif tinggi.
Setelah diamati, ternyata mereka dalam sehari pasti meminum wine
(minuman anggur merah) (McElderry, 1999). Resveratrol terdapat
pula pada tanaman merambat, akar, bibit, dan batang, namun
kandungan terbesar terdapat pada kulit buah anggur merah (50-100
mg/g) (Jang, 1997). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
resveratrol
merupakan
antioksidan
yang
efektif.
Zat
ini
menghambat peroksidasi lipid dari LDL (Belguendouz dkk, 1998).
Resveratrol juga melindungi sitotoksisitas dari LDL yang
teroksidasi dan melindungi sel dari lipid peroksidasi. Resveratrol
digunakan
untuk
atherosclerosis
melalui
mekanisme
penghambatan agregasi platelet (Rotondo, 1998). Efek tersebut
dapat dijadikan untuk mencegah infark miokard (Penumathsa dkk,
2006).
2) Anthosianin
Anthosianin merupakan golongan phytochemical dari buah
anggur merah. Zat ini tidak hanya memberi warna pada kulit
anggur, tetapi juga memliki khasiat tertentu. Beberapa penelitian
menunjukkan efek proteksi dari anthosianin sebagai antioksidan
untuk melindungi dari kerusakan oksidatif (Xia dkk, 2007).
Terhadap kolesterol darah, anthosianin memiliki efek yang tidak
signifikan terhadap kenaikan LDL kolesterol (Nielsen dkk, 2005).
3) Proanthosianidin
Proanthosianidin merupakan komponen polifenol terbesar
pada buah anggur (Yamakoshi dkk, 1999). Proanthosianidin juga
memiliki kemampuan untuk mengikat reaktif oksigen dengan
demikian akan menghambat oksidasi dari LDL. Hal ini jelas
menggambarkan aktifitas anti atherosclerosis (Yamakoshi dkk,
1999).
4) Likopen
Likopen merupakan pigmen yang disintesis secara alami
yang memiliki fungsi untuk melindungi sel dari serangan
fotosensitisasi dan mempersiapkan pigmen penyerap sinar selama,
fotosintesis. Likopen memiliki sifat yang larut dalam lemak,
komponen ini didapati terkonsentrasi dalam bentuk LDL dan very
low density lipoprotein (VLDL). Senyawa ini juga dapat
menetralisir
antikolesterol
reaksi
oksidasi
Likopen
pada
ditunjukkan
kolesterol
melalui
LDL.
Sifat
penghambatan
terhadap aktifitas HMG-CoA reduktase, namun sifat anti kolesterol
ini sangat rendah (Winarsi, 2007). Senyawa likopen yang terdapat
dalam 100 gram anggur merah adalah 3,36 mg. Selain itu, buah
anggur juga memiliki beberapa zat penting seperti air 70-80%,
karbohidrat 15-25%, asam organik 0,3-1,5%, tanin 0,01-0,1%,
protein 0,0001-0,01%, amino 0,017-0,011%, amoniak 0,0010,012%, dan mineral 0,3-0,6% (Setiadi, 2008).
Tabel I. Kandungan Gizi Buah Anggur Setiap 100 Gram
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Komponen
Energi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium
Fosfor
Serat
Besi
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin C
Niasin
Jumlah
75 kal
0,4 gram
0,36 gram
19,7 gram
6 gram
24,4 gram
1,7 gram
0,4 gram
66 SI
0,05 mg
0,02 mg
3 mg
0,2 gram
(Wiryanta, 2007)
f. Likopen
Secara struktural, likopen terbentuk dari delapan unit isoprene.
Banyaknya ikatan ganda pada likopen menyebabkan elektron untuk
menuju ke transisi yang lebih tinggi membutuhkan banyak energi
sehingga likopen dapat menyerap sinar yang memiliki panjang
gelombang tinggi (sinar tampak) dan mengakibatkan warnanya
menjadi merah terang. Jika likopen dioksidasi, ikatan ganda
antarkarbon akan patah membentuk molekul yang lebih kecil yang
ujungnya berupa — C=O. Meskipun ikatan —C=O merupakan ikatan
yang bersifat kromophorik (menyerap cahaya), tetapi molekul ini tidak
mampu menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang tinggi
sehingga likopen yang teroksidasi akan menghasilkan zat yang
berwama pucat atau tidak berwarna. Elektron dalam ikatan rangkap
akan menyerap energi dalam jumlah besar untuk menjadi ikatan jenuh,
sehingga energi dari radikal bebas yang merupakan sumber penyakit
dan penuaan dini dapat dinetralisir oleh likopen (Mascio Di dkk,1989).
Ada dua kelas utama dalam karetenoid yaitu karoten
hidrokarbon dan derivate xantofil oksigenasi. Likopen termasuk dalam
kelas karoten hidrokarbon. Likopen adalah senyawa nonpolar dan
mempunyai rantai asiklik yang hanya berisi hydrogen dan karbon.
Tidak seperti karotenoid lainnya, likopen tidak punya aktivitas
provitamin A karena tidak punya struktur cincin β ionion
(Bruno,2001).
Likopen dapat mengalami degradasi melalui proses isomerisasi
dan oksidasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya degradasi
pada likopen antara lain: (1) suhu, semakin tinggi suhu dan semakin
lama pemanasan maka semakin besar kehilangan likopen, (2) oksigen,
adanya oksigen akan meningkatkan degradasi likopen, (3) cahaya,
semakin besar pencahayaan yang dilakukan terhadap bahan makanan
sumber likopen semakin besar pula kehilangan likopen dalam bahan
makanan tersebut, (4) teknik pengeringan, (5) proses pengelupasan,
80-90% kandungan likopen berada pada pericarp luar dan kulit,
sehingga jika proses pengelupasan tidak tepat dapat membuat likopen
ikut terbuang, (6) penyimpanan dan (7) asam (Shi dan Maguer, 2000).
Likopen merupakan suatu antioksidan yang sangat kuat.
Kemampuannya mengendalikan single oxygen (oksigen dalam bentuk
radikal bebas) 100 kali lebih efisien daripada vitamin E atau 12.500
kali dari pada gluthation. Single oxygen merupakan prooksidan yang
terbentuk akibat radiasi sinar ultra violet dan dapat menyebabkan
penuaan dan kerusakan kulit. Selain sebagai anti skin aging, likopen
juga memiliki manfaat untuk mencegah penyakit cardiovascular,
kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker (kanker kolon,
payudara, endometrial, paru-paru, pankreas, dan terutama kanker
prostat). Ini semua diakibatkan banyaknya ikatan rangkap dalam
molekulnya (Mascio Di dkk, 1989). Sebagai antioksidan, likopen dapat
melindungi DNA, di samping sel darah merah, sel tubuh, dan hati.
Kemampuan likopen dalam meredam oksigen tunggal dua kali lebih
baik daripada beta karoten dan sepuluh kali lebih baik daripada alfatokoferol (Sunarmani dan Tanti, 2008).
2. Vitamin E
a.
Definisi dan Struktur Kimiawi
Vitamin E merupakan vitamin larut dalam lemak, terdiri dari 4
tokoferol (a, ß, γ, d) dan 4 tokotrienol (a, ß, γ, d). Vitamin E
merupakan pemutus rantai peroksida lemak pada membran dan Low
Density Lipoprotein (LDL). Vitamin E merupakan antioksidan yang
melindungi polyunsaturated fatty acid’s (PUFAs) dan komponen sel
serta membran sel dari oksidasi radikal bebas (Hariyatmi, 2004).
α -tokoferol merupakan bentuk tokoferol yang paling aktif dan
paling penting untuk aktivitas biologi tubuh, sehingga aktivitas
vitamin E diukur sebagai α –tokoferol (Milczarek, 2005).
Gambar 2.2 Struktur α-Tocoferol ( Goodman dan Gilman 2007)
b.
Sifat dan Fungsi
Secara fisik vitamin E larut dalam lemak. Vitamin ini tidak
dapat disintesa oleh tubuh sehingga harus dikonsumsi makanan dan
suplemen (Lamid, 1995). Vitamin E murni tidak berbau dan tidak
berwarna, sedangkan vitamin E sintetik yang dijual secara komersial
biasanya berwarna kuning muda hingga kecoklatan. Vitamin E larut
dalam lemak dan dalam sebagian besar pelarut organik, tetapi tidak
larut dalam air (Almatsier, 2009).
Fungsi utama vitamin E di dalam tubuh adalah sebagai
antioksidan alami yang membuang radikal bebas dan senyawa
oksigen. Secara spesifik, vitamin E juga penting dalam mencegah
peroksidasi membran asam lemak tak jenuh (Lyn, 2006).
Vitamin E dalam tubuh diketahui dapat menghambat
konversi nitrit dalam asap rokok menjadi nitrosamin dalam perut.
Nitrosamin dikenal sebagai promotor tumor kanker yang berbahaya
(Lamid, 1995). Vitamin E berada di dalam lapisan fosfolipid membran
sel dan berfungsi melindungi asam lemak jenuh ganda dan komponen
membran sel lain dari oksidasi radikal bebas. Vitamin E memutuskan
rantai peroksida lipid yang banyak muncul karena adanya reaksi
antara lipid dan radikal bebas dengan cara menyumbangkan satu atom
hidrogen dari gugus OH pada cincinnya ke radikal bebas, sehingga
terbentuk radikal vitamin E yang stabil dan tidak merusak (Hariyatmi,
2004). Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin
E daripada asam lemak tidak jenuh, dan membentuk radikal
tocoferoksil. Selanjutnya radikal tocoferoksil berinteraksi dengan lain
antioksidan seperti vitamin C, yang akan membentuk kembali
tocoferol (Gunawan, 2007).
3. Uraian Teratogen
a. Definisi
Teratogenesis adalah pembentukan cacat bawaan. Kelainan ini
sudah diketahui selama beberapa dasawarsa dan merupakan penyebab
utama morbiditas serta mortilitas pada bayi yang baru lahir. Setelah
pembuahan, sel telur mengalami proliferasi sel, diferensiasi sel, dan
organogenesis. Embrio kemudian melewati suatu metamorfosis dan
periode perkembangan janin sebelum dilahirkan (Lu, 1995).
Teratologi adalah studi tentang mekanisme dan manifestasi dari
perkembangan yang menyimpang dari sifat struktural dan fungsional
(Anonymous, 2003). Zat kimia yang secara nyata mempengaruhi
perkembangan janin menimbulkan efek yang berubah-ubah mulai dari
kematian sampai kelainan bentuk (malformasi) dan hambatan
pertumbuhan (Young, 2001). Menurut Loomis (1978) secara kolektif
respon-respon ini disebut efek embriotoksik. Banyak zat kimia yang
mempunyai sifat embriotoksik. Beberapa zat dapat mengakibatkan
letal sedang yang lainnya mampu menimbulkan kelainan pada janin.
Harbison (1980) berpendapat malformasi janin tersebut disebut terata
dan zat kimia yang menimbulkan terata disebut zat teratogen atau zat
teratogenik.
Teratologi merupakan cabang embrio yang khusus mengenai
pertumbuhan struktural yang abnormal. Pertumbuhan yang abnormal
itu lahir bayi atau janin yang cacat. Pada orang setiap 50 kelahiran
hidup rata-rata 1 yang cacat. Sedangkan dari yang digugurkan
perbandingan itu jauh lebih tinggi. Perbandingan bervariasi sesuai
dengan jenis cacat. Contoh daftar berikut :
Tabel II. Perbandingan frekuensi sesuai dengan jenis cacat
Jenis cacat
Lobang antara atrium
Cryptorchidisme
Sumbing
Albino
Hemophilia
Tak ada anggota
Frekuensi
1:5
1 : 300
1 : 1000
1 : 20.000
1 : 50.000
1 : 500.000
(Yatim, 1994).
Prosentase bagian tubuh yang sering terkena cacat adalah: SSP
(susunan saraf pusat) sebesar 60%, saluran pencernaan 15%,
kardiovaskuler 10%, otot dan kulit 10% dan alat lain sebesar 5%.
Cacat yang sering juga ditemukan adalah sirenomelus (anggota seperti
ikan duyung), phocomelia, jari buntung, ada ekor, cretinisme, dan
gigantisme (Yatim, 1994).
Menurut Widyastuti dan Widyani (2000), bobot badan dapat
digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan tingkat kesehatan
anak. Bobot badan yang rendah sejak lahir menunjukkan kondisi bayi
yang kurang sehat, sebaliknya jika berat badan bayi masih dalam
kisaran normal, maka dapat dipastikan bayi dalam keadaan sehat.
Efek toksik terhadap suatu janin secara eksperimental dapat
diperoleh dengan cara memberikan suatu zat kepada induknya. Janin
mengandalkan induknya untuk pertumbuhan dan pemeliharaannya
(Siswosudarmo, 1988). Efisiensi plasenta yang bertindak sebagai
penghalang perpindahan suatu zat dari induk ke janinnya tergantung
pada umur kehamilan. Menurut Goldstein dkk (1969) pada awal
kehamilan tebal barrier plasenta adalah 25 mikrometer dan pada akhir
kehamilan adalah 2 mikrometer. Fungsi pengeluaran atau bahkan
fungsi endokrin dari plasenta mungkin secara langsung dapat
dipengaruhi oleh zat kimia, yang mengakibatkan suatu efek merusak
tidak langsung terhadap keselamatan janin. Apabila suatu zat dapat
mengakibatkan toksisitas terhadap induk, efek seperti itu akan
diperkirakan dapat mempengaruhi lingkungan intrauterin janin
(Loomis, 1978).
Sifat teratogenik atau dismorfogenik suatu zat tergantung pada
beberapa faktor antara lain kepekaan spesies, dosis obat/zat kimia, dan
yang terpenting adalah periode kritis perkembangan yaitu ketika janin
dalam fase organogenesis (Kumolosasi dkk, 2004). Pada manusia
periode kritis ini terjadi antara minggu ke-3 sampai ke-8 pasca
konsepsi (Siswosudarmo, 1988).
b. Periode Kritis Perkembangan Janin
Dalam periode praimplantasi hingga implantasi, pengaruh luar
suat u teratogen biasanya bersifat letal, sehingga kelainan berakhir
dengan abortus (Harbison, 1980). Pada periode ini obat/zat kimia lebih
bersifat embrio toksik (janin dalam masa embriotik). Periode
berikutnya adalah organogenesis mulai dari hari ke-13 sampai hari ke60 (pada manusia) sedangkan pada tikus mulai hari ke-7 sampai hari
ke-17 kebuntingan (bila hari kawin dianggap hari ke-0 kebuntingan).
Pada periode ini terjadi diferensiasi sel-sel untuk membentuk
kelompok khusus yang mempunyai kesamaan fungsi yang disebut
organ. Setiap gangguan dalam diferensiasi pada periode ini bila tidak
mengakibatkan kematian selalu menghasilkan kelainan bawaan yang
berat, dalam arti yang sempit suatu obat/zat kimia disebut teratogenik
apabila pengaruhnya terjadi pada periode ini sehingga menyebabkan
kelainan bawaan yang berat ( Siswosudarmo, 1988).
Menurut Tuchmann (1975) teratogen yang mengenai fetus,
yang organ-organnya telah terbentuk dan sedang tumbuh, maka
kepekaan terhadap teratogen berkurang. Akan tetapi masih ada
beberapa organ seperti serebelum, korteks serebri, bagian urogenital
yang masih dalam fase diferensiasi, sehingga pada stadium fetus
organ-organ ini masih peka terhadap teratogen sampai berakhirnya
masa kehamilan (Ramelan dan Syahrun, 1994).
c. Proses Masuk Zat Asing ke dalam Sel Embrio
Menurut Tuchmann (1975) masuknya zat asing ke dalam
embrio mamalia adalah melalui plasenta. Agen kimia dan fisika
dengan berat molekul kecil dapat masuk embrio dengan mudah
melewati
halangan
plasenta.
Permeabilitas
membran
plasenta
menentukan banyak sedikitnya zat asing yang dapat masuk ke embrio
(Howland, 1975).
Plasenta adalah organ sementara dan merupakan tempat
berlangsungnya pertukaran fisiologik antara induk dan fetus dan
bersifat permeabel (Junqueira dkk, 1998). Fungsi utama plasenta
adalah memungkinkan difusi bahan makanan dari darah ibu ke dalam
darah fetus dan difusi hasil-hasil ekskresi dari fetus kembali ke dalam
tubuh induk (Tuchmann, 1975). Pada awal perkembangan janin
permeabilitas plasenta relatif sedikit, luas permukaan plasenta masih
kecil dan membran vili plasenta tebalnya belum mencapai minimal
(Siswosudarmo, 1988).
Pada saat plasenta bertambah tua permeabilitasnya meningkat
secara
progresif
sampai
akhir
masa
kehamilan,
sesudahnya
permeabilitas mulai berkurang kembali. Peningkatan permeabilitas
membran plasenta disebabkan penambahan luas permukaan membran
plasenta dan penipisan progresif lapisan-lapisan vili (Guyton, 1976).
Menurut Delatour (1983) zat asing dalam tubuh (xenobionts)
dapat berupa obat, racun, zat organik atau logam berat serta agen kimia
dan fisika lain yang sebenarnya tidak diperlukan. Kemungkinan
masuknya zat asing ke dalam tubuh ada berbagai jalan yaitu kontak
langsung dari kulit, lewat sistem pernafasan, lewat sistem pencernaan,
secara eksperimen disuntikkan atau disinari, kemudian dibawa oleh
sistem peredaran darah sampai ke sel (Harbison, 1980).
Zat asing dalam asap rokok yang dihirup ibu hamil dapat
menembus sawar plasenta sebagaimana halnya dengan nutrisi yang
dibutuhkan janin, dengan demikian mempunyai potensi untuk
menimbulkan efek pada janin. Janin yang belum berkembang
sempurna tidak dapat memetabolisme zat asing dengan baik sehingga
akan memberikan efek negatif dan mempengaruhi perkembangan
normal janin maupun bayi yang baru lahir (Pacifici, 1995). Menurut
Rubin (1992) kebanyakan zat asing dapat melewati sawar plasenta
dengan mudah, sehingga membuat janin sebagai penerima zat asing
yang tidak berkepentingan.
Jalur utama transfer zat asing melalui plasenta adalah dengan
difusi sederhana. Zat asing yang bersifat lipofilik lebih mudah
menembus plasenta daripada zat nonlipofilik (Lenz and Knapp, 1962).
Menurut Razak (2005) zat asing yang tidak terionisasi pada pH
fisiologis akan lebih mudah berdifusi melalui plasenta dibandingkan
zat asing yang bersifat asam atau basa. Perubahan - perubahan pada
aliran darah plasenta akibat keadaan patofisiologis sekunder (hipertensi
dalam kehamilan) atau karena efek farmakologis zat asing dapat
mempengaruhi transfer zat asing melalui plasenta (Jacobs, 1996).
Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer zat asing melalui
plasenta antara lain adalah berat molekul zat asing, pH saat 50% zat
asing terionisasi, dan ikatan antara zat asing dengan protein plasma
(Krishnamurthy, 1983). Mekanisme transfer zat asing melalui
plasentadapat dengan cara difusi, baik aktif maupun pasif, transport
aktif, fagositosis, dan pinositosis (Fraser, 1992).
Menurut Guyton (1976) oksigen dalam darah yang terdapat
dalam sinus plasenta yang lebar dengan mudah melalui membran vili
masuk ke dalam darah fetus karena selisih tekanan oksigen dari darah
ibu dengan darah fetus. Zat - zat metabolik lain yang diperlukan fetus
berdifusi ke dalam darah fetus dengan cara sama seperti oksigen
(Tuchmann, 1975). Ekskresi melalui membran plasenta dengan cara
difusi karbondioksida dan zat sisa metabolisme dari darah fetus ke
darah induk (Guyton, 1983).
d. Zat Teratogenik
Berbagai zat kimia dan obat yang mempunyai efek teratogenik
menurut Ramelan dan Syahrun (1994) adalah: alkaloid, zat androgen,
antibiotika,
obat
antiepilepsi,
obat
antitumor,
kortikosteroid,
thalidomide, insulin, obat hipoglikemik, obat untuk kelenjar timid,
Asam Dietilamid Lisergat, dan air raksa organik. Sifat teratogenik
obat/zat kimia dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar, yakni
obat/zat kimia dengan sifat teratogen pasti (known teratogens), obat/zat
kimia dengan kecurigaan kuat bersifat teratogen (probable teratogens),
obat/zat kimia yang diduga bersifat teratogen (possible teratogens)
(Siswosudarmo, 1988).
Berdasarkan dosis pemberiannya menurut Ritter (1977) agen
teratogen dosis rendah akan menyebabkan kematian beberapa sel dan
akan
terjadi
pergantian
sel
tetangganya
dengan
hiperplasia
kompensatorik sehingga terjadi fetus yang normal secara morfologis,
akan tetapi ukurannya tetap kecil. Kompensasi sel itu terus
berlangsung selama periode organogenesis, agar terjadi morfogenesis
yang normal akan tetapi bila kompensasi itu gagal dan tidak dapat
mencapai target pada tahap organogenesis maka akan terjadi
malformasi atau cacat bawaan (Tuchmann, 1975). Agen teratogenik
dosis tinggi akan menyebabkan kematian sel dalam jumlah tinggi
sehingga terjadi embrioletalis (Ritter, 1977). Agen teratogenik salah
satunya yaitu rokok.
Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara
70 hingga 120 mm (variasi bergantung kepada negara) dengan
diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah
dicincang. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan
membara supaya asapnya dapat dihisap melalui mulut pada ujung yang
lain (Aditama, 1992).
Beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:
Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa tenang. Tar,
yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan
kimia di antaranya bersifat karsinogen. Sianida, sebagian kimia yang
mengandung kumpulan cyano. Benzene, juga dikenali sebagai bensol,
bahan kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
Cadmium, logam yangsangat beracun dan radioaktif. Metanol (alkohol
kayu), alkohol yang paling mudah yang juga dikenali sebagai metil
alkohol. Asetilena, merupakan sebagian kimia yang juga merupakan
hidrokarbon alkuna yang paling sederhana. Amonia, boleh ditemui di
mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsurunsur tertentu. Formaldehid, zat cair yang sangat beracun yang
digunakan untuk mengawetkan mayat. Hidrogen sianida, racun yang
digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga
digunakan sebagai bahan pembuat plastik dan racun perosak. Arsenik,
bahan yang terdapat dalam racun tikus. Karbon monoksida, bahan
kimia toksik yang ditemui dalam asap buangan kereta (Aditama,
1992).
Salah satu kandungan bahan kimia dalam asap rokok yang
dapat mempengaruhi implantasi adalah nikotin. Pemberian nikotin
secara langsung maupun tidak langsung dapat menghambat proses
pembelahan sel, menghambat pembentukan blastosit, dan mencegah
terjadinya implantasi bahkan mengganggu masuknya embrio ke
rongga
rahim.
Nikotin
dalam
asap
rokok
dicurigai
sebagai
neuroteratogen terhadap janin. Dalam tubuh manusia, 80% dari nikotin
dimetabolisme
menjadi
kotinin
oleh
enzym
CYP2A6,
juga
mengaktivasi asap rokok prokarsinogen. (4-methylnitrosamino)-1 -(3pyridil)-l(butanone). Asap rokok berdampak pada pertumbuhan janin
melalui beberapa mekanisme, beberapa bahan dalam asap rokok
misalnya nikotin, CO dan Polycyclic aromatic hydrocarbon, diketahui
dapat menembus plasenta. Beberapa campuran telah diidentifikasi
dalam janin baru lahir dari perokok dan terpejan asap rokok. CO
mempunyai
afinitas
mengikat
hemoglobin
membentuk
karboksihemoglobin yang menurunkan kapasitas transport oksigen ke
janin (hypoxia). Studi lain juga menggambarkan bahwa selain ibu yang
merokok, bila ayah yang merokok ternyata juga berhubungan dengan
pertumbuhan janin yang terlambat. Ayah yang merokok berhubungan
dengan penurunan berat bayi lahir sebesar 112 gram (Card dan
Mitchell 1979).
Menurut Soeradi (1995), tikus betina yang dipaparkan asap
rokok kretek selama 15 hari, setelah dikawinkan menunjukkan
peningkatan kelainan dan gangguan pada janin secara bermakna, ini
disebabkan karena tingginya kadar nikotin dan tar dalam asap rokok.
Komponen lain yang mempengaruhi kegagalan implantasi menurut
Zenze (2000) adalah kadmiun. Menurut Soeradi (1995), kadmiun
merupakan salah satu komponen karsinogenik utama dalam tar yang
dapat menyebabkan kegagalan dalam proses implantasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rahmadina tahun
2008, mengatakan bahwa pemberian ekstrak air tembakau rokok pada
dosis 2 mg/kgBB terhadap mencit selama periode kritis kehamilan
(hari ke 6-15 kehamilan) mengakibatkan penurunan persentase
kenaikan berat badan induk mencit menjadi 38,8% dibanding kontrol
negatif yaitu 51,7 %.
B. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Lila (2007), tentang "Uji Teratogenitas
Ekstrak Air Tembakau Rokok Kretek pada Mencit" diperoleh hasil
pemberian ekstrak air tembakau rokok pada dosis 1 mg/KgBB, 1,5
mg/KgBB, dan 2 mg/kgBB terhadap mencit selama periode kritis
kehamilan (hari ke 6-15 kehamilan) mengakibatkan terjadinya tapak
resorpsi, kematian pada fetus dan cacat kelopak mata.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yanita (2014), tentang "Penentuan Aktivitas
Antioksidan dan Kadar Senyawa Fenolat Total pada Buah Anggur Merah
(Vitis vinifera Linn.) dan Anggur Hijau (Vitis vinifera Linn. Var.
Chinsiang)"
menyimpulkan bahwa pada uji
aktivitas
antioksidan
didapatkan pada anggur merah 5,763 g/ml, sedangkan pada anggur hijau
5,026 g/ml.
C. Rancangan Penelitian
1.
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental untuk mengetahui
ada atau tidak adanya pengaruh jus buah anggur merah terhadap efek
teratogen dari paparan asap rokok pada mencit hamil. Rancangan
eksperimen yang digunakan untuk penelitian ini adalah Post Test Only
Control Group Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan
randomisasi sederhana penelitian ini membagi sampel menjadi tiga
kelompok, yaitu satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol
positif dan satu kelompok perlakuan. Pengukuran dilakukan pada post test,
dengan membandingkan hasil penghitungan berat badan mencit selama
kehamilan, berat badan fetus, jumlah fetus yang mati, kecacatan dan
resopsi pada fetus yang diberi paparan asap rokok dengan pemberian jus
buah anggur merah dan paparan asap rokok.
2.
Variabel Penelitian
a.
Variabel bebas
Variabel bebas merupakan variabel yang berada bersama variabel lain
dan variabel ini dapat berubah dalam variasinya. Pada penelitian ini
yang menjadi variable bebas, adalah pemberian jus buah anggur
merah (Vitis vinifera Linn.) konsentrasi 50% v/v; 75% v/v; dan
100%v/v yang diberikan pada mencit hamil.
b.
Variabel tergantung
Variabel tergantung merupakan variabel yang dapat berubah karena
variabel bebas. Pada penelitian ini yang ditetapkan sebagai variabel
tergantung adalah berat badan mencit selama kehamilan, berat badan
fetus, jumlah fetus yang mati, kecacatan dan resorpsi pada fetus.
c.
Variabel terkendali
Variabel terkendali adalah variabel yang keberadaannya merupakan
prasyarat bagi bekerjanya suatu variabel bebas terhadap variabel
tergantung. Variabel terkendali meliputi (1) Tanaman didapatkan pada
daerah yang sama. (2) Jenis kelamin, galur, umur dan berat badan
hewan uji sama yaitu mencit hamil, galur swiss webster, 2 - 3 bulan,
20-
30g.
(3)
Tempat
pemeliharaan
dan
cara
pemeliharaan
dikondisikan sama antara kelompok perlakuan maupun kelompok
kontrol. (4) Jenis dan jumlah pakan kelompok perlakuan sama dengan
kelompok kontrol. (5) Waktu saat perlakuan dibuat sama.
3.
Sampel serta teknik pengambilannya
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit hamil
galur Swiss Webster umur 2-3 bulan dengan berat rata-rata 20-30g
sebanyak 27 ekor. Untuk menentukan jumlah sampel hewan uji
menggunakan rumus Federer (Maryanto dan Fatimah, 2004).
(n- 1)(k- 1) > 15
Keterangan :
n = jumlah sampel
k = kelompok sampel
Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, sehingga :
(n- 1) (k- 1)
> 15
(n-1)( 5-1
>15
4(n-1)
>15
4n – 4
> 15
4n
> 15 + 4
4n
> 19
n
> 4,75~ 5
Teknik pengambilan sampel dengan cara random dimana
pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.
D. Kerangka Teori
Kehamilan
Praimplantasi
Implantasi
Lycopene
Embrio
Vitamin E
Organogenesis
Asap rokok
Tidak terbentuk radikal bebas
Gambar 2.3 Kerangka Teori
E. Kerangka Konsep
Variabel bebas
variabel tergantung
Jus anggur merah
Efek antioksidan
Gambar 2.4. Kerangka Konsep
F. Hipotesis
1. Pemberian jus buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.) selama kehamilan
berpengaruh terhadap mencit hamil yang terpapar asap rokok dilihat dari
berat badan mencit selama kehamilan, berat badan fetus, jumlah kematian
fetus, dan jumlah kecacatan.
2. Pada konsentrasi tertentu jus buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.)
berpengaruh terhadap mencit hamil yang terpapar asap rokok sebanding
dengan vitamin E dosis 0,2ml/kgBB.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat untuk pembuatan jus buah anggur merah meliputi Juicer,
saringan jus dan beaker glass. Alat untuk uji farmakologi yaitu kandang
hewan, timbangan tikus, alat bedah hewan percobaan (scalpel, pinset,
gunting, dan jarum), sonde lambung, dan spuit 3 ml. Alat untuk
pengenceran bahan yaitu pipet ukur, beaker glass, gelas ukur, dan labu
takar.
2. Bahan
a. Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah buah anggur
merah yang diperoleh di pasar Ungaran.
b. Makanan mencit yaitu pakan standar BR-2 dan minuman untuk mencit.
c. Asap rokok yang diperoleh dari rokok X.
d. Mencit hamil galur Swiss Webster berumur 2-3 bulan dengan berat
badan 20-30g diperoleh dari peternakan mencit di daerah Bandungan.
e. Senyawa kimia: vitamin E, kloroform, alkohol 70%, aquadest,
ammonium sulfat 10%.
B. Prosedur Penelitian
1. Determinasi Tanaman
Determinasi dilakukan di Laboratorium Ekologi dan Bioteknologi
Jurusan Biologi Fakultas MIPA UNDIP untuk mengetahui kebenaran dari
buah anggur merah (Vitis vinifera Linn.) dan menghindari kesalahan
dalam pengumpulan bahan utama penelitian dan mencegah kemungkinan
tercampur dengan bahan lain.
2. Pembuatan Asap Rokok
Asap rokok digunakan sebagai bentuk paparan radikal bebas.
Rokok yang digunakan adalah jenis kretek. Setiap 3 ekor mencit
dimasukkan dalam kotak dengan ukuran 30 x 15 x 15 cm dengan
menggunakan spuit yang ujungnya diberi rokok yang dibakar, dipapar 1
batang rokok/hari.
3. Pembuatan Jus Anggur Merah
Buah anggur merah diperoleh dari Pasar Ungaran, Kabupaten
Semarang. Buah anggur merah yang masih segar diambil dan dicuci
sampai bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran. Buah
anggur merah ditimbang sebanyak 150g kemudian dipotong kecil-kecil,
kemudian dimasukkan kedalam juicer untuk diambil sarinya. Jus buah
anggur merah dimasukkan kedalam beaker glass. Berdasarkan orientasi
didapatkan sari buah anggur merah dalam 150g sebanyak 81ml kemudian
dibagi menjadi tiga konsentrasi yaitu 100% v/v; 75% v/v; dan 50% v/v.
Sehingga perhitungan dalam penelitian ini sebagai berikut :
150g buah anggur merah
81ml
a. Konsentrasi 100% v/v
C1xV1
100 % x V1
V2
= C2xV2
=100% x 50ml
= 50ml
Pembuatan stok konsentrasi 100% v/v dengan cara memipet 50ml jus
anggur merah. Pemberian 0,5 ml/20gBB.
b. Konsentrasi 75% v/v
C1xV1
100 % x V1
V2
= C2xV2
= 75% x 50ml
= 37,5ml
Pembuatan stok konsentrasi 75% v/v dengan cara memipet 37,5ml jus
anggur merah dan aquadest ad 50ml. Pemberian0,5 ml/20gBB.
c. Konsentrasi 50% v/v
C1xV1
100% x Vl
V1
= C2xV2
= 50% x 50ml
= 25ml
Pembuatan stok konsentrasi 50% v/v dengan cara memipet 25ml jus anggur
merah dan aquadest ad 50ml. Pemberian 0,5 ml/20gBB.
4. Perhitungan Dosis Vitamin E
Dosis vitamin E ditentukan berdasarkan penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Rahmadina (2008) Fakultas Farmasi Universitas Andalas
Padang, bahwa dosis 130 IU/20gBB mencit terbukti sebagai antiteratogen.
Dosis vitamin E untuk mencit (20g) = 130 IU
= 87mg
Stok 1 kapsul vit. E
=
=
,
,
,
= 370,5mg/ml
Dalam 1 ml mengandung 370,5mg vitamin E.
Volume Pemberian =
=
,
/
= 0,234ml
= 0,2ml
5. Prosedur Kerja
Subyek penelitian sebanyak 25 ekor mencit hamil, dibagi ke dalam
5 kelompok secara random, yaitu kelompok kontrol negatif (K1),
kelompok kontrol positif (K2) dan tiga kelompok perlakuan (P).
Kelompok kontrol negatif (K1) diberi asap rokok selama kehamilan hari
ke 5 sampai 15 kehamilan. Kelompok kontrol positif (K2) diberi vitamin E
dosis 130 IU dan paparan asap rokok, sedangkan kelompok perlakuan
pertama (P1) diberi jus anggur merah dengan konsentrasi 100%v/v dosis
0,5ml/20gBB mencit dan paparan asap rokok, kelompok perlakuan kedua
(P2) diberi jus anggur merah konsentrasi 75%v/v dosis 0,5ml/20gBB
mencit dan paparan asap rokok dan kelompok perlakuan ketiga (P3) diberi
jus anggur merah konsentrasi 50%v/v dosis 0,5ml/20gBB mencit dan
paparan asap rokok. Pemberian vitamin E dan jus anggur merah dilakukan
sebelum paparan asap rokok. Asap rokok diberikan setiap hari, dimulai
pada kehamilan hari ke 5 sampai 15 kehamilan. Kelima kelompok
ditimbang berat badannya setiap hari. Kemudian, hari ke 19 kelima
kelompok mencit dikorbankan dengan cara laparaktomi, untuk diambil
fetus. Jumlah implantasi dicatat yang terdiri dari jumlah fetus yang mati,
jumlah fetus yang cacat, dan jumlah fetus yang resorpsi. Selanjutnya
dilakukan pengamatan dengan menimbang berat badan fetus. Pengamatan
embrio yang diresorpsi dilakukan dengan metode Harleman (1979) yaitu
ditetesi ammonium sulfat 10%, ditunggu selama 10 menit diamati bekas
implantasinya.
25ekor mencit hamil
Randomisasi
Kelompok 1
(5Ekor)
Kelompok 2
(5 Ekor)
Kelompok 3
(5 Ekor)
Kelompok 4
(5 Ekor)
Kelompok 5
(5 Ekor)
Kontrol
negatif (-)
Kontrol
positif (+)
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Perlakuan 3
Dipaparkan
asap rokok
selama
kehamilan
hari ke 5
sampai 15.
Diberi
vitamin E
dosis 130 IU
selama
kehamilan
hari ke 0
sampai 15
dan dipapar
asap rokok
dari hari
kehamilan 515.
Diberi jus
anggur
merah
konsentrasi
100%v/v
0,5ml/20gBB
selama
kehamilan
hari ke 0
sampai 15
dan dipapar
asap rokok
dari hari
Diberi jus
anggur
merah
konsentrasi
75%v/v
0,5ml/20gB
B selama
kehamilan
hari ke 0
sampai 15
dan dipapar
asap rokok
dari hari
Diberi jus
anggur
merah
konsentrasi
50%v/v
0,5ml/20gBB
selama
kehamilan
hari ke 0
sampai 15
dan dipapar
asap rokok
dari hari
Timbang berat badan mencit selama periode kehamilan
Laparaktomi
Hari Ke-19
BB fetus, kematian fetus, kecacatan dan resorpsi pada
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian
C. Analisis Data
Data yang diperoleh berupa berat badan mencit selama kehamilan,
berat badan fetus, jumlah fetus yang lahir, kecacatan dan kematian pada
fetus. Kecacatan fetus dilihat dari lengkap tidaknya organ tubuh seperti
kaki, tangan, mata, ekor, dan telinga, kemudian dianalisis dengan SPSS 17.0
for Windows dengan taraf 95% kepercayaan. Untuk mengetahui normalitas
data dengan menggunakan uji Shapiro-wilk karena jumlah sampel kecil (<
50). Data dikatakan terdistribusi normal jika p > 0,05 dan data dikatakan
tidak terdistribusi normal jika p < 0,05. Kemudian dilanjutkan dengan uji
Levene'stest (untuk mengetahui homogenitas data). Jika nilai p > 0,05 maka
data yang diuji adalah homogen dan jika p < 0,05 maka data dikatakan
tidak homogen. Kemudian jika data homogen dan terdistribusi normal, maka
data dianalisa dengan statistik parametrik ANOVA satu jalan kemudian
dilanjutkan dengan uji LSD. Apabila data tidak homogen dan tidak
terdistribusi normal, data dianalisa dengan statistik nonparametrik
menggunakan Kruskal-Wallis kemudian dilanjutkan dengan uji MannWhitney (Dahlan, 2011).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi Tanaman
Determinasi tanaman merupakan langkah awal yang dilakukan dalam
penelitian. Determinasi terhadap tanaman yang akan diteliti ini bertujuan
untuk mengidentifikasi tanaman yang akan digunakan dalam penelitian
sehingga peneliti yakin bahwa tanaman tersebut adalah benar-benar tanaman
yang dimaksud untuk diteliti, sehingga kesalahan dalam pengambilan tanaman
yang akan diteliti dapat dihindari.
Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Jurusan Biologi
Fakultas MIPA Universitas Diponegoro Semarang. Hasil determinasi tanaman
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermathopyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Magnoliopsida (Tumbuhan berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas
: Rosidae
Ordo
: Rhamnales
Famili
: Vitaceae
Genus
: Vitis
Spesies
: Vitis vinifera L.
Kunci Determinasi:
Buah Import, tidak ada kunci identifikasi dalam Steenis (1992) maupun Backer &
Backuizen (1987) (lampiran I).
B. Persiapan Bahan dan Pembuatan Jus Buah Anggur Merah
Bahan baku buah anggur merah yang digunakan berasal dari daerah
Ungaran, Kabupaten Semarang. Buah anggur merah yang masih segar dicuci
bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran. Kemudian
ditiriskan untuk menghilangkan air yang mengalir. Buah anggur merah
ditimbang kemudian dipotong kecil-kecil, dimasukkan kedalam juicer
selanjutnya di juicer dan ditampung sarinya. Jus anggur merah dimasukkan
kedalam beaker glass. Hasil dari buah anggur merah yang telah di juicer lalu
dibuat dalam tiga konsentrasi yaitu konsentrasi 100%v/v, 75%v/v dan
50%v/v.
Metode juicer dipilih karena memiliki fungsi untuk menghancurkan
makanan atau buah-buahan dan memudahkan menakar buah jus yang akan
dikonsumsi, serta akan mempertahankan nutrisi yang ada di dalam makanan
atau buah-buahan itu sendiri. Selain itu jus yang dihasilkan oleh juicer
memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan
blender (Voight, 1995).
C. Mengawinkan dan Pengelompokan Hewan Uji
Mencit betina dikawinkan dengan mencit jantan secara alami dengan
cara menyatukan mencit betina dan mencit jantan dalam satu kandang dengan
perbandingan 3 betina dan 1 jantan. Mencit jantan dimasukkan ke kandang
mencit betina pada pukul empat sore dan dipisahkan lagi besok paginya. Bila
ditemukan sumbat vagina dan adanya sekret kuning berarti mencit telah
mengalami kopulasi dan berada pada hari kehamilan ke nol. Mencit yang telah
hamil dipisahkan dan yang belum kawin dicampur kembali dengan mencit
jantan (Almahdy, 2004).
Tujuan
mengawinkan
mencit
yaitu
untuk
mengendalikan
kemungkinan adanya mencit yang tidak hamil, memastikan mencit yang
diberi perlakuan bunting mulai hari ke 0, dan memastikan mencit berada pada
kehamilan yang sama. Karena dikhawatirkan jika tidak mengawinkan sendiri,
mencit yang digunakan bisa saja tidak hamil atau usia kehamilan mencit
bukan hari ke 0. Mencit betina yang terbukti bunting dikelompokkan secara
acak dengan cara penomoran agar mencit yang digunakan dapat mewakili
populasi keseluruhan.
D. Pemberian Asap Rokok
Asap rokok digunakan sebagai bentuk paparan radikal bebas.
Rokok yang digunakan adalah rokok kretek merk X. Salah satu kandungan
bahan kimia dalam asap rokok yang dapat mempengaruhi implantasi adalah
nikotin. Pemberian nikotin secara langsung maupun tidak langsung dapat
menghambat proses pembelahan sel, menghambat pembentukan blastosit,
dan mencegah terjadinya implantasi bahkan mengganggu masuknya embrio
kerongga rahim (Card dan Mitchell 1979). Tiga (3) ekor mencit dimasukkan
dalam kotak dengan ukuran 30 x 15 x 15 cm kemudian pada bagian
tengahnya diberi sekat dengan menggunakan anyaman kawat dengan lubang
kecil. Kotak tersebut diberi lubang kecil sebanyak 4 lubang sebagai fentilasi
yang bertujuan agar mencit yang diberi perlakuan tidak mati karena tidak
adanya sirkulasi udara. Pemaparannya dengan cara kotak diberi lubang kecil
seukuran spuit injeksi 5ml. Setelah itu, pemaparan asap rokok diberikan
dengan cara rokok yang sudah dibakar ujungnya disambungkan dengan
spuit injeksi 5ml agar memudahkan dalam pemaparan dengan cara
memompa spuit injeksi tersebut. Setiap satu kotak mencit terdiri dari 3 ekor
mencit. Pemaparan asap rokok menggunakan satu batang rokok perhari.
E. Tahap Penelitian
Subyek penelitian sebanyak 25 ekor mencit betina hamil dimulai dari
hari ke 0, dibagi kedalam 5 kelompok secara random, yaitu kelompok
kontrol negatif (K1), kelompok kontrol positif (K2), dan tiga kelompok
perlakuan. Dari 5 kelompok dilakukan penimbangan dari hari ke 0 sampai
hari ke 18 dengan tujuan utuk mengetahui persentase kenaikan berat badan
induk mencit selama kehamilan. Dilanjutkan dengan pemberian vitamin E
dosis 130 IU sebanyak 0,2ml/20gBB pada kontrol positif dimana fungsi
vitamin E sebagai antioksidan. Pada perlakuan I diberi jus buah anggur
merah dimana fungsi jus ini sama dangan fungsi vitamin E yaitu sebagai
antioksidan. Pemberian jus buah anggur merah pada perlakuan I dengan
konsentrasi 100%v/v dan volume pemberian 0,5ml/20gBB, perlakuan II jus
buah anggur merah konsentrasi 75%v/v dengan volume pemberian
0,5ml/20gBB, dan perlakuan III jus buah anggur merah konsentrasi 50%v/v
dengan volume pemberian 0,5ml/20gBB. Pemberian perlakuan dimulai dari
kehamilan hari ke 0-15. Tujuan perlakuan tersebut yaitu sebagai prefentif
(pencegahan) terjadinya efek teratogen dilihat dari variabel yang diteliti
(berat badan induk mencit, berat badan fetus, jumlah fetus yang lahir,
kecacatan dan kematian pada fetus).
Pada masa kehamilan hari ke 5-15, 5 kelompok masing-masing
diberi perlakuan. Kelompok kontrol negative diberi perlakuan pemaparan
asap rokok, kelompok kontrol positif diberi perlakuan vitamin E, dan
pemberian jus buah anggur merah pada perlakuan I, II, dan III. Pemaparan
asap rokok diberikan pada tiap-tiap kelompok. Tujuan diberikannya paparan
asap rokok pada masa kehamilan 5-15 yaitu pada masa ini dimulainya
pembentukan
organogenesis.
Kelompok
perlakuan
masing-masing
dilakukan pembedahan pada hari ke 18 dan dilakukan pengamatan yang
terdiri dari berat badan mencit selama kehamilan, berat badan fetus, jumlah
fetus yang lahir, kematian dan kecacatan pada fetus. Pada proses
pembedahan dan penelitian, tidak ditemukan resorpsi (bekas implantasi)
pada fetus setelah direndam menggunakan larutan ammonium sulfat 10%,
dan tidak ditemukan kematian pada fetus,
Pemaparan asap rokok pada kontrol negatif fungsinya sebagai
pembanding terjadinya teratogen. Kontrol negatif digunakan sebagai
pembanding dengan kontrol positif. Untuk melihat apakah ada perbedaan
antara tidak diberi perlakuan dengan adanya perlakuan. Kontrol positif yang
digunakan adalah vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan. Mekanisme
vitamin E sebagai antioksidan yaitu dengan memutuskan rantai peroksida
lipid yang banyak muncul karena adanya reaksi antara lipid dan radikal
bebas dengan cara menyumbangkan satu atom hidrogen dari gugus OH pada
cincinnya ke radikal bebas, sehingga terbentuk radikal vitamin E yang stabil
dan tidak merusak. Pemberian jus buah anggur merah pada perlakuan I,
II,dan III ialah untuk mengetahui pada dosis berapa efek yang sebanding
dengan kontrol positif. Kandungan jus buah anggur merah yang fungsinya
sebagai antioksidan adalah likopen.
F. Hasil Penelitian
1. Data PKBP ( Purata Kenaikan Berat Badan Per hari)
Penelitian dilakukan selama kurang lebih 23 hari dimulai dari
proses mengawinkan mencit. Masa kebuntingan mencit antara 17-22 hari
(Wilson dan Warkany, 1965). Pengumpulan data dilakukan dengan
pengukuran berat badan induk mencit selama kehamilan. Pada masa-masa
kebuntingan induk mencit yang sehat akan selalu mengalami peningkatan
berat badan karena perkembangan janin yang dikandungnya, setiap harinya
semakin sempurna.
Pertumbuhan berat badan mencit hamil yang normal untuk tiap
harinya adalah 1gr/ekor/hari. Hal ini juga terkait dengan konsumsi pakan
untuk tiap harinya adalah 10 gr/ekor/hari akan meningkatkan pertumbuhan
berat badan tiap harinya sebesar 1 gr/ekor/hari (Martijo, 1992).
Tabel 4.1. Nilai Purata Kenaikan Berat Badan Per Hari (PKBP) Mencit
Hamil
Kelompok
Rata – rata PKBP (gram)
±SD
Kontrol negatif
0,7
0,07
Kontrol positif
0,6
0,11
Konsentrasi 100%v/v
0,9
0,11
Konsentrasi 75%v/v
0,6
0,11
Konsentrasi 50%v/v
0,7
0,04
Tabel 4.1 menunjukan bahwa nilai rata-rata PKBP dari semua
perlakuan tidak mendekati nilai standarisasi yaitu 1 gram yang menunjukkan
adanya penurunan pada nilai purata kenaikan berat badan per hari (PKBP).
Hasil rata-rata berat badan fetus mencit diatas menunjukkan adanya
perbedaan dengan nilai standarisasi berat badan fetus yang kurang dari 1
gram. Setelah pengukuran terhadap PKBP, selanjutnya data tersebut dianalisa
secara statistik. Untuk mengetahui hasil normalitas data dapat diketahui
dengan menggunakan Uji Shapiro Wilk, hasil dapat dilihat pada tabel 4.2. Uji
Shapiro Wilk digunakan karena sampelnya kurang dari 50.
Tabel 4.2. Hasil Uji Normalitas Purata Kenaikan Berat Badan Per Hari
(PKBP)
Kelompok
PKBP Induk Mencit (p)
Keterangan
Kontrol negatif
0,325
Normal
Kontrol positif
0,814
Normal
Konsentrasi 100%v/v
0,814
Normal
Konsentrasi 75%v/v
0,814
Normal
Konsentrasi 50%v/v
0,000
Tidak normal
Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi PKBP
tidak normal pada konsentrasi 50%v/v dengan nilai 0,000. Dikatakan tidak
normal jika nilainya kurang dari 0,05 (p<0,05).
Dilanjutkan dengan uji levene’s test (untuk mengetahui homogenitas
data). Hasil uji homogenitas varian menggunakan levene’s test dapat dilihat
pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Hasil Uji Homogenitas Purata Kenaikan Berat Badan Per Hari
(PKBP) Mencit Hamil
Data
PKBP
sig (p)
0,241
Keterangan
Homogen
Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi PKBP
0,241 (P>0,05) ini menunjukkan bahwa data diperoleh dari varian yang sama
(homogen). Selanjutnya dilakukan uji kruskal wallis test karena data tidak
terdistribusi normal pada uji normalitas. Uji kruskal wallis berguna untuk
menentukan adakah perbedaan signifikan secara statistik antara dua atau lebih
kelompok variabel. Hasil uji kruskal wallis test dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Nilai uji Kruskal-Wallis terhadap PKBP
Data
PKBP
Sig (p)
0,626
Hasil analisa kruskal-wallis menunjukkan bahwa nilai signifikansi
PKBP 0,626 (p>0,05) yang artinya menunjukkan bahwa tidak adanya
perbedaan perlakuan yang bermakna antar kelompok, sehingga tidak ada uji
lebih lanjut untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
Dalam penelitian ini dapat dilihat berat badan induk mencit mengalami
penurunan dilihat dari data purata kenaikan berat badan per hari (PKBP),
dikarenakan nikotin pada asap rokok dapat memicu efek adrenalin pada otot
perut sehingga dapat menekan rasa lapar dan mengurangi nafsu makan serta
nikotin juga dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang sehingga
menyebabkan penurunan asupan makanan. Adanya peningkatan zat karbon
monoksida dalam darah menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah.
Seperti diketahui fungsi oksigen adalah untuk mengangkut zat-zat makanan
kedalam seluruh tubuh serta membakar bahan makanan dalam sel, jika
oksigen dalam darah berkurang dapat menyebabkan pembelahan zat-zat
biomolekul dalam tubuh berkurang seperti karbohidrat, protein dan lemak
sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan (Aditama, 1997).
2. Data Rata-rata Berat Badan Fetus Mencit
Berat badan adalah parameter penting untuk mengetahui pengaruh
senyawa asing terhadap fetus, ditunjukkan dengan penurunan berat fetus.
Laju pertumbuhan dan perkembangan fetus menentukan variasi ukuran
anakan. Rerata berat anakan mencit normal pada umur kehamilan hari ke18 adalah 1,4 gram (Wilson dan Warkany, 1965).
Tabel 4.5. Rata-Rata Berat Badan Fetus Mencit
Kelompok
Rata – rata BB Fetus
±SD
(gram)
Kontrol negatif
0,19
0,04
Kontrol positif
0,91
0,03
Konsentrasi 100%v/v
1,05
0,07
Konsentrasi 75%v/v
0,55
0,06
Konsentrasi 50%v/v
0,86
0,09
Tabel 4.5 menunjukan bahwa nilai rata-rata BB Fetus, paling besar
pada konsentrasi 100%v/v yaitu 1,05 ±SD 0,07. Dari rata-rata berat badan
fetus nilai keseluruhan kurang dari standar 1,4. Hal ini disebabkan karena
nikotin dalam asap rokok menyebabkan pembuluh tali pusat (plasenta) dan
uterus menyempit sehingga akan menurunkan jumlah oksigen yang diterima
oleh janin (Xiau, 2000). Dilanjutkan dengan uji normalitas pada tabel 4.6.
Table 4.6. Hasil Uji Normalitas Berat Badan Fetus Mencit
Kelompok
BB Fetus (p)
Keterangan
Kontrol negatif
0,203
Normal
Kontrol positif
0,775
Normal
Konsentrasi 100%
0,325
Normal
Konsentrasi 75%
0,773
Normal
Konsentrasi 50%
0,788
Normal
Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi BB
fetus keseluruhan nilainya lebih dari 0,05 (p>0,05). Hal ini menunjukkan
bahwa data terdistribusi normal. Dilanjutkan dengan uji homogenitas pada
tabel 4.7.
Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Data Rata-rata Berat Badan Fetus
Mencit Hamil
Data
Berat badan fetus
Sig (p)
0,015
Keterangan
Tidak Homogen
Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi PKBP
0,015 (P<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa data tidak diperoleh dari varian
yang sama (tidak homogen). Karena data tidak terdistribusi normal,
dilanjutkan dengan uji Kruskal Wallis untuk menentukan adakah perbedaan
signifikan secara statistik antara dua atau lebih kelompok variabel. Hasil uji
Kruskal Wallis dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8. Nilai p uji Kruskal-Wallis terhadap BB Fetus Mencit
Data
BB janin
Sig (p)
0,000
Hasil analisa Kruskal Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikansi
BB fetus 0,000 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan perlakuan yang
bermakna antar kelompok. Untuk mengetahui perbedaan antara kelompok,
dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney pada tabel 4.9.
Tabel 4.9. Hasil uji Mann-Whitney BB Fetus
Kelompok Perlakuan
Kontrol (-) vs kontrol(+)
Kontrol (-) vs konsentrasi
100%v/v
Kontrol (-) vs konsentrasi
75%v/v
Kontrol (-) vs konsentrasi
50%
Kontrol (+) vs konsentrasi
100%
Kontrol (+) vs konsentrasi
75%
Kontrol (+) vs konsentrasi
50%
Konsentrasi 100%v/v vs
Konsentrasi 75%v/v
Konsentrasi 100%v/v vs
Konsentrasi 50%
Konsentrasi 75% vs
Konsentrasi 50%v/v
Keterangan :
Signifikansi
(p)
0,008
0,008
Keterangan
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,548
Tidak berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
0,008
Berbeda bermakna
Kontrol negatif
: Paparan asap rokok
Kontrol positif
: Vitamin E dosis 0,2ml/20gBB
Konsentrasi 100%v/v
: Jus buah anggur merah Vp 0,5ml/20gBBmencit
Konsentrasi 75%v/v
: Jus buah anggur merah Vp 0,5ml/20gBBmencit
Konsentrasi 50%v/v
: Jus buah anggur merah Vp 0,5ml/20gBBmencit
Tabel 4.9. hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa kelompok
kontrol negatif berbeda bermakna dengan kontrol positif, konsentrasi
100%v/v, 75%v/v dan 50%v/v (p<0,05) yang dilihat dari berat badan fetus
mencit. Kelompok kontrol positif berbeda bermakna dengan konsentrasi
100%v/v dan konsentrasi 75%v/v yang dilihat dari berat badan fetus mencit.
Kelompok kontrol positif tidak berbeda bermakna dengan konsentrasi
50%v/v yang menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif dan konsentrasi
50%v/v memiliki efek antiteratogen yang sebanding bila dilihat dari berat
badan fetus yang meningkat. Penyebab peningkatan berat badan fetus ini
dikarenakan bahan makanan yang dibawa melalui darah induk mencit sampai
kedalam darah fetus diterima dengan baik sehingga kebutuhan nutrisi dan gizi
yang dibutuhkan fetus tercukupi sehingga menyebabkan pertumbuhan yang
normal.
Pemberian nikotin secara langsung maupun tidak langsung dapat
menghambat proses pembelahan sel, menghambat pembentukan blastosit, dan
mencegah terjadinya implantasi bahkan menganggu masuknya embrio ke
rongga rahim. Nikotin dalam asap rokok dicurigai sebagai neuroteratogen
terhadap janin. Asap rokok berdampak pada pertumbuhan janin melalui
beberapa mekanisme, beberapa bahan dalam rokok misalnya nikotin, CO dan
Polycyclic aromatic hydrocarbon, diketahui dapat menembus plasenta.
Beberapa campuran telah diidentifikasi dalam janin baru lahir dari perokok
dan terpejan asap rokok. Studi lain juga menggambarkan bahwa selain ibu
yang merokok, bila ayah yang merokok ternyata juga berhubungan dengan
pertumbuhan janin yang terlambat. Ayah yang merokok berhubungan dengan
penurunan berat bayi lahir sebesar 112 gram (Card dan Mitchell 1979).
3. Data Jumlah Fetus
Setelah penimbangan berat badan fetus kemudian dihitung jumlah
fetus tiap kelompok perlakuan. Normalnya mencit menghasilkan jumlah
anak yang cukup banyak yaitu 5-10 ekor (Anonim, 2009).
Tabel 4.10. Rata-Rata Jumlah Fetus Mencit
Kelompok
Rata–rata Jumlah Fetus
±SD
Kontrol negatif
5,2
2,38
Kontrol positif
7,6
2,07
Konsentrasi 100%v/v
4,6
0,89
Konsentrasi 75%v/v
6
1,58
Konsentrasi 50%v/v
6,4
2,07
Tabel 4.10. menunjukan bahwa nilai rata-rata jumlah fetus mencit
paling rendah pada konsentrasi 100%v/v 4,6 ±SD 0,89, hal ini
menunjukkan bahwa konsentrasi 100%v/v nilainya kurang dari standar 5 –
10 ekor tiap kelahiran pada tiap ekor mencit.
Perbedaan jumlah fetus dapat dipengaruhi oleh faktor genetik,
ukuran masing-masing fetus bervariasi serta adanya kerentanan genetik
yang berbeda, jadi pemberian asap rokok tidak menjadi faktor utama dan
satu-satunya sebagai patokan berkurangnya jumlah fetus sebagai efek
teratogen. Dilanjutkan dengan uji normalitas pada tabel 4.11.
Tabel 4.11. Hasil Uji Normalitas Data Rata-rata Jumlah Fetus Mencit
Kelompok
Jumlah Fetus (p)
Keterangan
Kontrol negatif
0,294
Normal
Kontrol positif
0,171
Normal
Konsentrasi 100%v/v
0,046
Tidak normal
Konsentrasi 75%v/v
0,967
Normal
Konsentrasi 50%v/v
0,754
Normal
Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi berat
badan fetus tidak normal terdapat pada konsentrasi 100%v/v 0,046, nilainya
kurang dari 0,05 (p<0,05). Dilanjutkan dengan hasil uji homogenitas yang
dapat dilihat pada tabel 4.12
Tabel 4.12. Hasil Uji Homogenitas Data Rata-rata Jumlah Fetus Mencit
Data
Jumlah fetus mencit
Sig (p)
0,386
Keterangan
Homogen
Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi ratarata jumlah fetus 0,386 (P>0,05) ini menunjukkan bahwa data diperoleh dari
varian yang sama (homogen).
Karena data tidak terdistribusi normal, dilakukan uji kruskal wallis
test untuk mengetahui adakah perbedaan signifikan secara statistik antara dua
atau lebih kelompok variabel.
Tabel 4.13. Nilai p uji Kruskal-Wallis terhadap Rata-rata Jumlah Fetus
Mencit
Data
Jumlah fetus
Sig (p)
0,137
Hasil analisa kruskal-wallis menunjukkan bahwa nilai signifikansi
jumlah fetus 0,137 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya
perbedaan perlakuan yang bermakna antar kelompok.
Pemaparan asap rokok yang paling berpengaruh yaitu pada
indikator berat badan fetus mencit yang dilihat dari hasil uji Mann-Whitney
dengan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p<0,05) pada konsentrasi 50%v/v
yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang bermakna. Hasil tersebut
memberikan pengertian bahwa adanya perbedaaan dalam setiap perlakuan.
Asap rokok memberikan pengaruh pada ketiga indikator dilihat
dari hasil penelitian yaitu PKBP induk mencit, BB janin dan jumlah janin.
Akan tetapi indikator yang paling berpengaruh yaitu pada indikator BB janin
dengan konsentrasi 50%v/v. Dari hasil penelitian bila dilihat pada nilai ratarata PKBP induk mencit secara keseluruhan menunjukkan kenaikan yang
tidak terlalu signifikan tetapi nilainya tidak berbeda jauh. Pada indikator BB
janin nilai yang paling mendekati standar yaitu pada konsentrasi 50%v/v.
Sedangkan pada indikator jumlah janin menunjukkan jumlah yang kurang
dari nilai normal. Hal ini menunjukkan keterkaitan antara BB janin yang
mendekati nilai standar dengan jumlah janin yang sedikit. Semakin besar
bobot janin menunjukkan asupan nutrisi dari induk mencit tercukupi, yang
juga dipengaruhi oleh jumlah janin yang sedikit.
Perlakuan dengan konsentrasi 50%v/v pada indikator BB janin
menunjukkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsentrasi
75%v/v dan 100%v/v. Kondisis ini dapat dikaitkan dengan efek negatif dari
konsumsi buah anggur merah dalam jumlah berlebih bagi ibu hamil. Hal
tersebut dapat disebabkan karena kandungan resveratrol yang tinggi dalam
buah anggur merah berpotensi meracuni kandungan dan menyebabkan
hormon di dalam tubuh tidak seimbang. Selain itu, konsumsi buah anggur
berlebih pada ibu hamil juga dapat menyebabkan perut begah, kembung,
maagh dan diare, dimana gejala-gejala tersebut berbahaya bagi ibu hamil
(Anonim, 2013).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1. Pemberian jus buah anggur merah memiliki efek dilihat dari berat badan
fetus mencit yang terpapar asap rokok.
2. Pemberian jus buah anggur merah konsentrasi 50%v/v memiliki efek yang
sebanding dengan vitamin E dosis 130 IU dilihat dari berat badan fetus.
B. SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap efek yang ditimbulkan
akibat paparan asap rokok pada organ induk mencit hamil dan janin
mencit.
2. Perlu dilakukan penelitian ulang dengan tanaman yang berbeda dengan
dosis rokok yang dinaikkan untuk lebih memastikan adanya efek
teratogenik yang disebabkan oleh paparan asap rokok.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Tjandra Yoga. (1992). Rokok dan Kesehatan. Jakarta : UI Press.
Almahdy A., (2001). Skrining Hipokratik, Ld 50 serta Efek Teratogenitas Uncaria
Gambir Roxb. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 6(2), 47-59.
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama. pp 173,187
Anonim. (2003). Teratology. http://www.teratology.org/jfs/teratologyindex.html
Anonim. (2009). Efek Bahaya Asap Rokok. http://organisasi.org – Mon,
07/05/2007. Diakses tanggal 27 Mei 2009.
Anonim. (2013). Dampak Negatif Mengkonsumsi Buah Anggur Dalam Jumlah
Berlebih. http://polahidupsehat.web.id/kenapa-ketika-hamil-tidak-bolehmakan-anggur/. (Diakses 27 Februari 2016).
Astawan M., Amdrteas L. (2008). Khasiat Makanan Mentah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, pp: 57-58.
Backer, C.A & Backuizen van den Brink. (1968). Flora of Java. Vol. I & Vol. II.
Noordhof N.V. Gronigen. The Netherland.
Belguendouz L., Fremont L., Gozzelino MT. (1998). Interaction of
Transresveratrol with Plasma Lipoproteins. Biochemical Pharmacology,
55: 811-816
Bhattacharyya, B & B.M. Johri. (1999). Flowering Plants Taxonomy and
Phyllogeny. Naresa, Publishing House. New Delhi.
Bruno, Richard S., dan Robelt E.C. Wildman. (2001). Handbook of
Nutraceuticalsand Functional Food. London: CRC Press LCC. pp: 157168
Card, J.P., dan Mitchell, J.A. (1979). The Effects of Nicotine on Implamantation
Rat. Biology of Reproduction. 20=532-539
Dahlan, S. (2011). Statistik Untuk Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Delatour, P. (1983). Chemical Induced Teratogenesis in Veterinary
Pharmacologyand Toxycology. Landcasten : MTP Press Limited Boston.
Fraser, V.J. (1992). Prinsip-prinsip Terapi Antimicrobial. Dalam : Woodley M.
Whelan A. eds Pedoman Pengobatan. Yogyakarta :Yayasan Essentia
Medica.
Goldstein, A., Aronow, L., dan Kalman, S.M. (1974). Principle of Drugs
Action.2nd Edition. New York : A Willey Biomedical Health Pub.
Goodman, A.,dan Gilman, H. (2007). Dasar Farmakologi Terapi. Edisi ke-10.
Jakarta: EGC.
Greybeard, M. (2008). Grapevine DNA, The Genetic of Wine.
http://reignofterrior.com/wp-content/uploads/2008/03/vitis_vinifera.
(Diakses 15 Mei 2015).
Gunawan, SG. (2007). Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. pp 786-787
Guyton, A. C. (1976). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Ke-5 (diterjemahkan
oleh Adji Dharma dan P. Lukman). Jakarta : EGC Penerbit Buku
Kedokteran.
Harbison, R. D. (1980). Teratogen in Toxicology the Basic Science of Poison.
New York : Mac Millan Publising Co Inc.
Hariyatmi. (2004). Kemampuan vitamin E sebagai antioksidan terhadap radikal
bebas pada usia lanjut. Jurnal MIPA UMS. 14:52-60.
Harleman, Johannes H., dan Seinen, Williem. (1979). Short-Term Toxicity and
Reproduction Studies in Rats with Hexachloro-(1,3)-butadiene. Toxicology
and Applied Pharmacology 47,1-14. Utrecht : Diakses tanggal 21 Maret
2015.
Howland, J. I. (1975). Environmental Cell Biology. Calitrina: W. A. Benjamin Inc
Jacobs, R.A. (1996). Anti-infective Chemotherapeutic and Antibiotic Agents. In:
Current Medical and Treatment. 35th ed. USA : Lange Med Publ. 13171365.
Jang, M. (1997). Cancer Chemopreventive Activity of Resveratrol, a Natural
Product Derrived From Grapes. Science, 275:218-20.
Junqueira, L.C., J. Carnairo., dan R.O. Keley. (1998). Histologi Dasar. Edisi 6
(diterjemahkan oleh Jan Tambayong). Jakarta : EGC.
Kopp P. (1998). Resveratrol, a Phytoestrogen Found in Red Wine. A Possible
Explanation for The Conundrum of The ‘French Paradox’? European
Journal of Endocrinology, 138;619-20.
Krishnamurthy, S. (1983). The Intriguing Biological Role of Vitamin E,J Chem
Ed, 60: 465-467.
Kumolosasi, E. dkk. (2004). Efek Teratogenik Ekstrak Etanol Kulit Batang Pule
(Alstonia scholaris R.Br) pada Tikus Wistar. Jurnal Matematika dan Sains.
Vol 9 No 2 : 223-227.
Lamid, A. (1995). Vitamin E sebagai Antioksidan. Media Litbangkes. 5(1):14-16
Lenz, W., and Knapp, K. (1962). Thalidomid Embriopathy. Arch Environ
Health.5 : 100-105.
Loomis, T. A. (1978). Toksikologi Dasar Edisi ke-3 (diterjemahkan oleh
Donatus,I.A.). Semarang : IKIP Semarang Pres.
Lu, F.C. (1995). Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran Dan Penilaian Resiko.
Jakarta : UI Press.
Lyn, P. (2006). Lead toxicity part 2 : the role of free radical damage and the use
of antioxidants in the pathology and treatment of lead toxicity. Alternative
Medicine Review. 11(2):114-127.
Markum, A H. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
Martijo. (1992). Kesehatan dan Kemampuan Adaptasi Hewan. Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.
Maryanto., dan Fatimah. (2004). Pengaruh Pemberian Jambu Biji (Psidium
Guajava Linn) pada Lipidemia Serum Tikus (Sprague Dwaley) Hiperkolesterolemia. Skripsi. Jakarta : Media Medika Indonesia, 39 : 105–11.
Mascio, Di. P., Kaiser S., dan Sies H. (1989). Lycopene as The Most Efficient
Biological Carotenoid Single Oxygen Quencher. Archives of Biochemistry
and Biophysics.
MBG
(Missouri
Botanical
Garden).
(2010).
The
http://www.theplantlist.org/tlp/Vitis (20 Januari 2016).
Plant
List.
McElderry.
(1999).
Grape
expectation:
The
Resveratrol
Story.
www.resveratrol600mg.com/information_about_resveratrol/. (Diakses 6
Juni 2015).
Milczarek A. (2005). Vitamin E Disease Mechanism IV: Free Radical Damage
and Antioxydant Drug.
Nielsen I L., Finne, Rasmussen SE., Mortensen A., Ravn-Hraen G., Hain PM.,
Knothsen Pia., Hansen BF., Mcpheil D., Freese R., Breinholt V., Frandsen
H., Dragsted LO. (2005). Anthocyanins Increase Low-density Lipoprotein
and Plasma Cholesterol and do not Reduce Atherosclerosis in Watanabe
Heritable Hyperlipidemic Rabbits Molocular Nutrition & Food Research
49 (4), pp: 301-08
Pacifici, g.m. (1995). Placental transfer of drugs administered to the mother.
Clinpharmacokinet. 28 : 235-69.
Penumathsa, Mahesh T., Srikath K., Bela J., Lijun Z., Rima P., Vonugopal P.,
Menon, Hajime O., Nilanjana M. (2006). Statin and Resveratrol in
combination induces cardioprotection against myocardial infarction in
hypercholesterlemic rat. Journal of Molecular and Cellular Cardiology. 42
(3): 508-16
Rahmadina. (2008). Pengaruh Pemberian Vitamin E terhadap Efek Teratogen dari
Ekstrak Air Tembakau Rokok Kretek pada Mencit Putih, Skripsi. Padang :
UNAND.
Ramelan. W., dan Syahrun, H. M. (1994). Kelainan pada Proses Perkembangan
Embrio (Teratologi), Reproduksi dan Embriologi dari Satu Sel Menjadi
Organisme. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Razak, Datu. (2005). Cacat Lahir Disebabkan Oleh Faktor Lingkungan. Bagian
Anatomi FK Universitas Hasanudin. J. Med Nus. Vol 26 No. 3 JuliSeptember.
Ritter, E.J. (1977). Altered Biosynthesis in: Hard Book of Teratology. Vol 2
(edited by J. G. Wilson and F. C. Fraser). New York : Plenum Press.
Rotondo S. (1998). Effect of Trans-resveratrol, a Natural Polyphenolic
Compound, on Human Polymorphonuclear Leukocyte Function. British
Journal of Pharmacology, 123: 1691-99.
Rubin, P.C. (1992). Drugs in Special Patient Group : Pregnancy and Nursing. In :
Clinical Pharmacology Basic Principles in Therapeutics, 3rd ed 805-25.
Scehefler, W.C. (1987). Statistic for the biological science, edisi 2 terjemahan
Drs Suroso, statistic untuk biologi, farmasi, kedokteran dan ilmu yang
bertautan, ITB, Bandung.
Shi, J., dan Maguer M.L. (2000). Lycopene in tomatoes: Chemical and physical
properties affected by food processing. Crit. Rev. Biotechnol. Vol 20.
pp:293-334.
Siswosudarmo, R. (1988). Efek Samping Obat Terhadap Perkembangan Janin.
Yogyakarta : Yayasan Melati Nusantara.
Soeradi O. (1995). Nikmat Rokok Membawa Sengsara. Detil Journal 1.4.
Universitas Indonesia.
Steenis, CGGJ, (1992). Flora Untuk Sekolah di Indonesia (Terjemahan
Soerjowinoto, M). Penerbit PT Pradnya Paramita, Jakarta.
Sunarmani.,dan Tanti, K. (2008). Parameter Likopen Dalam Standarisasi
Konsentrat Buah Anggur. Penelitian Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Tuchmann, D. (1975). Drug Effect on The Fetus. New York-London : Adis Press.
Valleria,
(2006).
Dampak
Negatif
Rokok
dan
Asapnya.
http://www.klikdoktermenujusehat.org/. (Diakses 27 Juni 2015).
Voight, R., (1995). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh
Soerandi Noerono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta, 566-567.
Widyastuti D., dan Widyani R. (2000). Panduan Perkembangan Anak 0-1 tahun
Cetakan I. Jakarta: Puspa Swara.
Wilson, J.G. and Warkany, J. (1965). Teratology-principles and techniques.
University of Chicago Press, Chicago and London, 16-40.
Winarsi H. (2007). Antioksidan Alami & Radikal Bebas: Potensi dan Aplikasinya
Dalam Kesehatan. Yogyakarta: Kanisium, p: 113.
Wiryanta, B. (2007). Membiakkan Anggur di Dalam Pot dan Pekarangan. 5thed.
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Xia M, Wenhua L., Huilian Z., qing W., Jing M., Mengjun H., Zhihong T., Lan
L., Qinyuan Y. (2007). Anthocyanin Prevent CD40-Activated
Proinflammatory Signaling in Endothelial Cells By Regulating
Cholesterol Distribution. American Heart Association.27: 519.
Yamakoshi J., Kataoka S., Ariga. (1999). Proanthocyanidin-rich Extract From
Grape Seeds Attenuates The Development of Aortic Atherosclerosis in
Cholesterol-fed Rabbits. Japan Science and Technology Agency. 43: 8189.
Yatim, Wildan. (1992). Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Penerbit Tarsito.
Young, V. S. L. (2001). Teratogenicity and Drugs in Breast Milk. In: KodaKimble, Anne. M and Bing, M. 2001. Applied Therapeutics: the Clinical
Use of Drugs. Lippincott Williams and Wilkins.
Zenzes, M.T. (2000). Smoking And Reproduction Gene Demage to Human
Gametes and Embriology. Europe of Society Human Reproduction and
Embriology 6: 122-123.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Hasil Determinasi Buah Anggur Merah (Vitis vinifera
Linn.)
Lampiran2. Gambar Persiapan Alat
a. Beaker glass
b. Spuit Injeksi
c. Timbangan
d. Timbangan Analitik
e. Juicer
f.
Cara pengasapan
g. Alat bedah seisar
Lampiran3. Persiapan Bahan
a. Buah Anggur Merah
b. Vitamin E
c. Rokok X
d. Klorofom
Lampiran 4. Mengawinkan Mencit
a. Proses perkawinan
b. Tanda Kebuntingan (Pembengkakan vagina )
Lampiran 5. Pengamatan Efek Asap Rokok pada Mencit Hamil
a. Perlakuan per oral hewan uji
b. Pembiusan Hewan Uji
c. PembedahanSeisar
d. Fetus lahir normal padakelompokpositif
Lampiran 6. HasilPenelitian
A. Hasil Penelitian
Mencit
PKBP
Mencit
1
2
3
4
5
Jumlah
janin
K 75%v/v
K 100%v/v
0,6
0,7
0,6
0,8
0,5
0,7
0,7
0,6
0,7
0,7
0,7±0,07
0,6±0,11
0,7±0,083
0,6±0,11
0,7±0,04
0,20
0,24
0,12
0,21
0,2
0,86
0,91
0,93
0,92
0,96
1,05
1,04
1,06
1,05
1,05
0,62
0,54
0,59
0,47
0,54
0,87
0,93
0,79
0,97
0,74
Mean± 0,19±0,04 0,91±0,03 1,05±0,07
SD
0,55±0,06
0,86±0,09
Mean±
SD
BB
Janin
Kontrol Kontrol K 50%v/v
Negative positif
0,7
0,7
0,8
0,8
0,8
0,7
0,7
0,6
0,9
0,7
0,7
0,7
0,6
0,5
0,6
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
4
3
6
9
4
Mean± 5,2±2,38
SD
6
8
7
11
6
7,6±2,07
6
4
4
5
4
4,6±0,89
6
8
4
5
7
6±1,58
4
6
8
5
9
6,4±2,07
a. Data
beratbadanindukmencitbetina
bunting
kelompokkontrolnegatif
(gram)
Hari Ke
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
RataRata
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
26,5
27
27
28,5
28,5
31
32,5
33
34,5
36
38
39
39,5
41
41,5
39
41
40
40
26,5
26,5
27
28
29
29,5
31,5
32,5
34
35,5
38,5
38,5
40
40
41
40,5
39,5
39
39,5
27
27,5
27,5
28
29
30
31,5
32
35
35
37
37,5
38
39
39,5
40
40,5
39,5
39
27,5
28
28,5
29,5
30
31
32
33
33.5
34
36
34
35
34,5
36
37
40,5
39
39
27
27,5
28
30,5
31
32,5
33
35
37
36,5
38,5
38
40
39,5
39
38,5
38,5
38
38
26,9
27,3
27,6
30,9
29,5
30,8
32,1
33,1
34,8
35,4
37,6
37,4
38,5
38,8
39,4
39
40
39,1
39,1
PKBP
0,7
0,8
0,7
0,7
0,6
0,7
b. Data beratbadanindukmencitbetina bunting kelompokkontrolpositif (gram)
Hari Ke
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
27
28
29,5
31
31,5
32
34
35
35,5
36
38
39
40
43
41
39,5
41,5
41
40
27,5
28
28,5
29
29,5
30
31,5
32,5
34
35,5
37
38,5
40
40,5
41
40,5
40
39,5
39,5
28,5
28,5
29
29,5
30
30,5
31,5
32
34
35
36,5
37,5
38,5
39
39,5
40
40,5
40
39,5
27,5
28
28,5
29,5
30,5
31
32,5
33
33.5
34
36
34,5
35
34,5
36
38
40,5
39,5
39
28
28,5
29
30,5
31
32,5
33,5
35
37
37,5
38,5
39
40
40
39,5
39
38,5
38,5
38
RataRata
27,7
28,2
28,9
29,9
30,5
31,2
32,6
33,5
34,8
35,6
37,2
37,7
38,7
39,4
39,4
39,4
40,2
39,7
39,2
PKBP
0,7
0,8
0,6
0,7
0,5
0,6
c. Data beratbadanindukmencitbetina bunting kelompokkonsentrasi 100%v/v
volume pemberian 0,5ml/20gBB (gram)
Hari Ke
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
RataRata
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
26
27
27,5
29
31
32,5
33,5
35
36
36
38
38,5
40
41
41
40,5
40
39,5
39,5
26,5
27
28
28,5
29,5
31
31,5
32,5
34
36
37
38
39,5
40,5
41
40,5
40,5
40
40
25,5
26,5
27
28,5
30
30,5
31
32,5
34
35
36,5
37
38
39
39,5
40,5
40
26
27,5
28,5
29
30,5
31
32
33,5
33.5
34
36
34,5
35
35
36
38
40
39,5
39,5
26,5
28
29
30
31,5
32
33,5
35
36,5
37,5
38
39
39,5
40
40,5
40
39,5
39
39
26,1
27,2
28
29
30,5
31,4
32,3
33,7
34,5
35,7
37,1
37,4
38,4
39,1
39,6
39,9
40
39,6
39,5
PKBP
0,8
0,7
0,9
0,7
0,6
0,7
d. Data beratbadanindukmencitbetina bunting kelompokkonsentrasi75%v/v
volume pemberian 0,5ml/20gBB (gram)
Hari Ke
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
RataRata
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
28
28,5
28
29
30
31
32,5
34
35,5
36
37
38,5
39,5
40,5
41
42
40,5
40
40
26,5
27
28
28,5
30
31
32
32,5
34,5
36
37,5
38
40
40,5
41,5
41
41
40,5
40
27
27,5
28
28,5
30
31,5
32
32,5
33
35
36,5
37
38,5
39
40
40,5
39,5
40
39
26
27,5
28,5
29
30
31,5
32
33
33.5
34
36
35
34,5
35
36,5
37
38
39,5
39,5
27
28
28,5
29,5
30,5
31
32,5
34
35,5
37
38
39
39,5
41
40,5
40
39,5
38,5
38
26,9
27,7
28,2
28,9
30,1
31,2
32,2
33,2
34,4
35,6
37
37,5
38,4
39,2
39,9
40,1
39,7
39,7
39,3
PKBP
0,6
0,7
0,6
0,8
0,5
0,7
e. Data beratbadanindukmencitbetina bunting kelompokkonsentrasi50%v/v
volume pemberian 0,5ml/20gBB (gram)
Hari Ke
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
RataRata
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
27
27,5
28
29,5
30
31
32
34,5
35,5
36
37,5
38,5
39,5
40,5
41,5
42
41,5
41
40,5
26,5
27
28
28
30
30,5
32
32,5
34
35,5
37
37,5
39
40,5
41
41
40,5
41
41
29
30
30,5
29,5
30
31,5
32
32
33,5
35
36
37,5
38
39
40,5
41
40,5
40
40
26
27,5
28
28,5
29
30,5
31,5
33
33.5
34
36
35,5
34,5
35
36,5
37
38
39
39
27,5
28
28,5
29,5
30,5
31
33
34
35
36,5
37
39
39,5
41
40,5
40
40,5
40
40
27,2
28
28,6
29
29,9
30,9
32,1
33,2
27,6
35,4
36,7
37,6
38,1
39,2
40
40,2
40,2
40,2
40,1
PKBP
0,7
0,7
0,6
0,7
0,7
0,7
f. Beratbadanjaninmencitkelompokkontrolnegatif (gram)
Janin
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Rata-rata
Rata-rata
keseluruha
n
Mencit 1
0,27
0,20
0,16
0,19
Mencit 2
0,25
0,29
0,18
Mencit 3
0,10
0,15
0,12
0,14
0,16
0,09
0,20
0,19
0,24
0,12
Mencit 4
0,21
0,25
0,15
0,18
0,16
0,20
0,28
0,23
0,24
0,21
Mencit 5
0,27
0,17
0,21
0,15
0,2
g. Beratbadanjaninmencitkelompokkontrolpositif (gram)
Janin
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Rata-rata
Rata-rata
keseluruha
n
Mencit 1
0,94
0,79
1,05
0,88
0,73
0,82
Mencit 2
0,96
1,01
0,97
0,74
0,96
0,87
0,90
0,88
Mencit 3
0,85
0,99
1,01
0,87
0,98
0,93
0,91
0,86
0,91
0,91
0,93
Mencit 4
1,01
0,94
0,99
0,82
1,11
1,00
0,95
0,87
0,81
0,78
0,90
0,92
Mencit 5
1,04
0,93
1,03
0,91
0,89
0,96
0,96
h. Beratbadanjaninmencitkelompokkonsentrasi100%v/v volume pemberian
0,5ml/20gBB Mencit (gram)
Janin
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
1
1,13
1,04
0,99
1,17
1,11
2
1,06
1,12
1,02
1,08
0,94
3
1,11
0,98
1,01
1,12
1,03
4
0,97
1,02
0,99
0,90
1,12
5
1,01
6
1,04
Rata-rata
1,05
Rata-rata
1,05
1,01
1,04
1,06
1,05
1,05
keseluruha
n
i. Beratbadanjaninmencitkelompokkonsentrasi75%v/v volume pemberian
0,5ml/20gBB Mencit (gram)
Janin
Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5
1
0,56
0,62
0,47
0,59
0,42
2
0,81
0,48
0,70
0,35
0,58
3
0,62
0,52
0,54
0,40
0,49
4
0,55
0,36
0,65
0,53
0,52
5
0,43
0,71
0,48
0,64
6
0,74
0,44
0,60
7
0,65
0,58
8
0,57
Rata-rata
0,62
Rata-rata
0,55
keseluruha
n
0,54
0,59
0,47
0,54
j. Beratbadanjaninmencitkelompokkonsentrasi50%v/v volume pemberian
0,5ml/20gBB Mencit (gram)
Janin
Mencit 1
1
0,88
2
0,94
3
0,76
4
0,90
5
6
7
8
9
0,87
Rata-rata
0,86
Rata-rataa
keseluruha
n
Mencit 2
1,02
1,05
0,98
1,01
0,72
0,84
Mencit 3
0,76
0,54
0,80
1,00
0,88
0,97
0,78
0,64
Mencit 4
1,08
1,01
0,89
0,88
0,98
0,93
0,79
0,97
Mencit 5
0,76
0,72
0,86
0,97
0,66
0,69
0,78
0,58
0,66
0,74
k. Jumlahjaninmencit
Mencit
1
2
3
4
5
Jumlah
Ratarata
Kontrol
(-)
4
3
6
9
4
26
5,2
Kontrol
(+)
6
8
7
11
6
38
7,6
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
6
4
4
5
4
23
4,6
6
8
4
5
7
30
6
4
6
8
5
9
32
6,4
Lampiran 7. HasilAnalisa Data
a. TesNormalitas
Tests of Normality
a
PKBP
BB_Janin
Jml_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
Kolmogorov-Smirnov
Statistic
df
Sig.
,300
5
,161
,237
5
,200*
,237
5
,200*
,237
5
,200*
,473
5
,001
,354
5
,040
,235
5
,200*
,300
5
,161
,217
5
,200*
,168
5
,200*
,292
5
,188
,224
5
,200*
,349
5
,046
,136
5
,200*
,180
5
,200*
Statistic
,883
,961
,961
,961
,552
,853
,955
,883
,955
,957
,877
,842
,771
,987
,952
Shapiro-Wilk
df
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
Sig.
,325
,814
,814
,814
,000
,203
,775
,325
,773
,788
,294
,171
,046
,967
,754
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
b. Tes Homogenitas
Test of Homogeneity of Variance
PKBP
BB_Janin
Jml_Janin
Based on Mean
Based on Median
Based on Median and
with adjusted df
Based on trimmed mean
Based on Mean
Based on Median
Based on Median and
with adjusted df
Based on trimmed mean
Based on Mean
Based on Median
Based on Median and
with adjusted df
Based on trimmed mean
Levene
Statistic
1,497
,769
df1
4
4
df2
20
20
Sig.
,241
,558
,769
4
16,900
,560
1,515
4,038
2,975
4
4
4
20
20
20
,236
,015
,044
2,975
4
13,456
,059
3,971
1,094
,457
4
4
4
20
20
20
,016
,386
,766
,457
4
13,287
,766
1,033
4
20
,415
c. Kruskal Wallis Test PKBP dan Berat Badan Janin
Ranks
PKBP
BB_Janin
Jml_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
Total
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
Total
kontrol negatif
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
Total
N
5
5
5
5
5
25
5
5
5
5
5
25
5
5
5
5
5
25
Mean Rank
14,30
11,70
16,40
9,90
12,70
3,00
16,10
23,00
8,00
14,90
9,80
18,70
7,90
13,80
14,80
Test Statisticsa,b
Chi-Square
df
Asymp. Sig.
PKBP
2,607
4
,626
BB_Janin
22,049
4
,000
Jml_Janin
6,974
4
,137
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
d. Hasil Mann-Whitney Berat Badan Janin
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
kontrol positif
Total
N
5
5
10
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,619
,009
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
konsentrasi 100%v/v
Total
N
5
5
10
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,652
,008
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
konsentrasi 75%v/v
Total
N
5
5
10
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,627
,009
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol negatif
konsentrasi 50%v/v
Total
N
5
5
10
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,619
,009
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol positif
konsentrasi 100%v/v
Total
N
5
5
10
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,643
,008
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol positif
konsentrasi 75%v/v
Total
N
5
5
10
Mean Rank
8,00
3,00
Sum of Ranks
40,00
15,00
Mean Rank
6,10
4,90
Sum of Ranks
30,50
24,50
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,619
,009
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
kontrol positif
konsentrasi 50%v/v
Total
N
5
5
10
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
9,500
24,500
-,629
,530
a
,548
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 75%v/v
Total
N
5
5
10
Mean Rank
8,00
3,00
Sum of Ranks
40,00
15,00
Mean Rank
8,00
3,00
Sum of Ranks
40,00
15,00
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,652
,008
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
konsentrasi 100%v/v
konsentrasi 50%v/v
Total
N
5
5
10
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,643
,008
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Ranks
BB_Janin
Kelompok_Perlakuan
konsentrasi 75%v/v
konsentrasi 50%v/v
Total
N
5
5
10
Test Statisticsb
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed
Sig.)]
BB_Janin
,000
15,000
-2,619
,009
a
,008
a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok_Perlakuan
Mean Rank
3,00
8,00
Sum of Ranks
15,00
40,00
Download